National Business Case Competition Optimizing CSR Programs for Sustainable Competitive Advantage Using a Strategy Tripod and

Analytical Hierarchy Process (AHP) Benefit-Cost Ratio Analysis Approach

DISUSUN OLEH : YOSTA YOSERIZAL 1. MUHAMMAD HUSNI RIZAL 2. WAYAN SUGOSA

PROGRAM MAGISTER MANAJEMEN TEKNOLOGI BIDANG KEAHLIAN MANAJEMEN INDUSTRI PROGRAM PASCASARJANA INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER SURABAYA 2011

BAB 1 CSR SEBAGAI BAGIAN DARI STRATEGI PERUSAHAAN UNTUK MENCAPAI SUSTAINABLE COMPETITIVE ADVANTAGE Hingga saat ini, prioritas pertanggung jawaban beberapa perusahaan kepada pemilik modal masih cenderung berorientasi pada keuntungan atau profit semata. Hal ini membuat perusahaan untuk cenderung melakukan eksploitasi sumber-sumber alam dan masyarakat sosial secara tidak terkendali, sehingga mengakibatkan kerusakan lingkungan alam dan pada akhirnya mengganggu kehidupan manusia. Para pemilik modal, yang hanya berorientasi pada laba material, telah merusak keseimbangan kehidupan dengan cara menstimulasi pengembangan potensi ekonomi yang dimiliki manusia secara berlebihan yang tidak memberi kontribusi bagi peningkatan kemakmuran mereka tetapi justru menjadikan mereka mengalami penurunan kondisi sosial [Galtung &Kada (1995) dan Rich (1996) dalam Anggraini (2006)]. Pada saat ini banyak perusahaan menjadi makin berkembang, sehingga sangat memungkinkan terjadinya kesenjangan sosial dan kerusakan lingkungan sekitarnya. Maka dari itu, muncul suatu konsep yang disebut sebagai Corporate social responsibility (CSR). CSR merupakan suatu elemen penting dalam kerangka keberlanjutan usaha suatu industri yang mencakup aspek ekonomi, lingkungan dan sosial budaya. Menurut Lingkar studi CSR Indonesia di dalam Rakor oleh ASDEP PEMBINAAN KEMITRAAN DAN BINA LINGKUNGAN, definisi CSR adalah upaya sungguh sungguh dari entitas bisnis meminimumkan dampak negatif dan memaksimumkan dampak positif operasinya terhadap seluruh pemangku kepentingan dalam ranah ekonomi, sosial dan lingkungan untuk mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan. Dunia usaha berperan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang sehat dengan mempertimbangan pula faktor lingkungan hidup. Kini dunia usaha tidak lagi hanya memperhatikan catatan keuangan perusahaan semata (single bottom line), melainkan sudah meliputi aspek keuangan, aspek sosial, dan aspek lingkungan biasa disebut triple bottom line. Sinergi dari tiga elemen ini merupakan kunci dari konsep pembangunan berkelanjutan (sustainable development). Pemerintah sebagai agen penghubung antar entitas CSR, yaitu badan usaha dan lingkungan sekitar usaha telah mengesahkan beberapa regulasi yang mengatur pelaksanaan CSR di Indonesia. Pada tanggal 20 Juli 2007 pemerintah mengesahkan Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas yang mengatur kewajiban perusahaan untuk melaksanakan tanggung jawab sosial perusahaan atau lebih dikenal Corporate Social

Responsibility (CSR). Kementerian Negara Badan Usaha Milik Negara, sebagai lembaga pemerintah yang menaungi dan mengayomi institusi BUMN, turut menindaklanjuti Pasal 88 UU RI No. 19 Tahun 2003 tersebut dengan diterbitkannya Peraturan Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara No. Per-05/MBU/2007 tentang Program Kemitraan Badan Usaha Milik Negara dengan Usaha Kecil dan Program Bina Lingkungan (PKBL) yang telah mulai diberlakukan untuk tahun buku 2007 dan ditetapkan pada tanggal 27 April 2007. Kementerian Negara BUMN menjabarkan peran dan partisipasi BUMN kedalam 2 program, yakni : Program Kemitraan dan Program Bina Lingkungan. Dengan berlakunya regulasiregulais tersebut, diharapkan dapat meningkatkan luas pengungkapan CSR yang dilakukan perusahaan karena CSR yang semula bersifat voluntary menjadi bersifat mandatory bagi perusahaan. Pada kenyataanya, CSR pada saat ini tidak lagi hanya sebatas sebuah kewajiban atau tindakan sukarela perusahaan dalam mematuhi regulasi- regulasi pemerintah. Penerapan CSR tidak lagi dianggap sebagai cost, melainkan investasi perusahaan. Investasi dalam bentuk CSR akan menjadi strategi bisnis dalam perusahaan untuk menjaga atau meningkatkan daya saing melalui reputasi dan kesetiaan merek produk (loyalitas) atau citra perusahaan. Hal ini tentu saja akan sangat berpotensi untuk menjadi suatu keunggulan kompetitif perusahaan yang berkelanjutan. Salah satu perusahaan di Indonesia yang menggunakan CSR dalam salah satu konsep strategi bisnisnya adalah PT. Semen Gresik, Tbk. Program CSR pada PT. Semen Gresik Tbk ideal-nya dapat ditentukan melalui pendekatan kualitatif, yaitu dengan cara mengidentifikasi seluruh potensi dampak dan isu yang dihasilkan dan diterima oleh perusahaan, baik dari sisi ekonomi, sosial, maupun lingkungan. Dari seluruh isu yang telah terindentifikasi akan ditentukan pihak- pihak yang berkepentingan. Pihak- pihak tersebut sering disebut sebagai stakeholder. Setelah itu dilakukan penentuan prioritas terhadap program CSR yang dilakukan sesuai dengan tingkat dampak yang dihasilkan dan isu- isu permasalahan sosial, ekonomi, dan lingkungan yang sedang hangat dibahas di tingkat nasional maupun daerah. Makna CSR bagi PT. Semen Gresik Tbk disini adalah untuk meminimalkan seluruh dampak dan isu negatif dan memaksimalkan seluruh dampak dan isu positif yang berpotensi dihasilkan dan terjadi di lingkungan perusahaan. Pelaksanaan CSR pada PT. Semen Gresik Tbk memiliki visi untuk mewujudkan hubungan yang harmonis antara perusahaan dengan masyarakat, serta tercapainya usaha kecil dan koperasi yang mandiri, tangguh dan berdaya saing dengan tetap mempertahankan penyerapan tenaga kerja melalui pengelolaan yang profesioanal. Dalam rangka mencapai

tujuan tersebut, program CSR pada perusahaan dilakukan dalam dua jenis program, yaitu program kemitraan dan program bina lingkungan. Program kemitraan terdiri dari penyaluran pinjaman dan penyaluran hibah pelatihan dan promosi, sedangkan program bina lingkungan terdiri dari bidang pendidikan, bidang kesehatan, bidang keagamaan, bidang sarana dan prasaran umum, bidang bencana alam, dan pelestarian alam. Seiring dengan berkembangnya operasional industri, isu, regulasi, dan pedoman CSR di tingkat domestik dan internasional, maka pihak manajemen yang terkait harus mampu menentukan aplikasi program CSR yang dapat memenuhi semua kepentingan, baik kepentingan stakeholder dari internal perusahaan, maupun stakeholder dari luar perusahaan. Pada study case ini permasalahan umum ditekankan pada bagaimana PT. Semen Gresik, Tbk dapat mengoptimalkan program CSR-nya, sehingga dapat menjadi sustainable competitive advantage bagi perusahaan. Permasalahan tersebut di-breakdown menjadi beberapa permasalahan strategis yang menyangkut pada tiga permasalahan utama. Masalah pertama adalah tentang pemilihan program CSR, apakah lebih baik dilakukan seperti saat ini atau lebih fokus kepada satu jenis program. Ke-dua, adalah bagaimana apabila kepengurusan program CSR dikelola oleh yayasan yang dibentuk khusus untuk menanganinya, seperti PT. Semen Gresik Tbk foundation atau yayasan terkait lainnya. Pada dua permasalahan ini akan dianalisa implikasinya terhadap reputasi dan keuangan perusahaan, UU No. 40 tahun 2007 dan Permen No. 05 tahun 2007, serta ISO 26000. Permasalahan yang ke-tiga adalah bagaimana dampak kebijakan penyaluran dana CSR yang diserahkan melalui pemerintah provinsi Jawa Timur terhadap program CSR dan kinerja sosial, serta keuangan dari PT. Semen Gresik Tbk, serta strategi apakah yang tepat dilakukan oleh PT. Semen Gresik Tbk untuk menghadapi dampak- dampak tersebut. Dalam rangka mewujudkan konsep strategi CSR dalam pencapaian Sustainable competitive advantage, kerangka solusi yang ditawarkan kepada PT. Semen Gresik, Tbk adalah dengan menggunakan tiga kerangka strategis (Strategy Tripod), yaitu Industry-based competition, Firm-spesific resources and capabilities, dan Institutional conditions and transitions (Peng., et al, 2009). Perumusan strategi CSR berdasarkan strategy tripod merupakan strategi optimal untuk mencapai Sustainable competitive advantage setelah penentuan prioritas alternatif bidang program CSR terhadap isu sosial, ekonomi, dan lingkungan dilakukan. Penentuan prioritas alternatif bidang CSR dapat dilakukan dengan menggunakan pendekatan benefit and cost ratio dengan menggunakan metode AHP. Pendekatan dengan metode AHP ini sangat sesuai digunakan dalam melakukan analisa

benefit and cost ratio ketika data kuantitatif yang digunakan untuk proses pengukuran tidak mencukupi atau terbatas. .

Konsep CSR yang berbeda akan membuat perusahaan menjadi perusahaan first mover. Firm-spesific resources and capabilities. Teori ini menekankan pada bagaimana suatu perusahaan dapat memiliki competitive advantages (CA). supplier domestik yang agresif. ada beberapa aspek yang tidak terdapat dalam persamaan Porter ini.. perusahaan dapat memperoleh (CA) karena adanya faktor-faktor dari eksternal. dan Institutional conditions and transitions. Perusahaan menerima manfaat dari adanya persaingan di pasar domestik. Pada kenyataannya. Konsep strategy tripod tersebut dapat dilihat pada Gambar 2. 2009).p. yaitu konsep ini hanya mengedepankan strategi yang bersifat eksternal atau kemampuan berkompetisi secara langsung dengan para pesaing (Peng et al.1. (2009.1 Konsep Strategy Tripod Source: Peng et al. Strategi CSR yang dapat dipakai pada konsep Industry-based competition adalah bagaimana membuat program CSR yang berbeda (Source of differentiation) dan mampu membuka kesempatan pasar baru bagi perusahaan (Source of Opportunity). 15) Konsep pertama Industry-based competition merupakan teori yang sangat terkenal dengan sebutan teori porter. Gambar 2. serta pasar lokal yang memiliki permintaan tinggi. berupa tekanan dan tantangan. diamond model-nya Porter telah menuai banyak kritik dari berbagai kalangan. Dalam perjalanan waktu..BAB 2 TEORI KONSEP STRATEGY TRIPOD UNTUK SUSTAINABLE COMPETITIVE ADVANTAGE Konsep Strategy Tripod terdiri dari tiga konsep utama. Menurut Barney (1991). First mover . yaitu Industry-based competition.

yaitu kemampuan dalam mengelola dan memanfaatkan sumber daya yang ada. Keunggulan dalam lingkup internal itu terwujud dalam konsep Firm-spesific resources and capabilities. Menurut Eisenhardt (2000). Konsep Firm-spesific resources and capabilities secara lebih lengkap dapat dilihat pada Gambar 2. Konsep ini melengkapi kelemahan konsep Industry-based competition yang hanya fokus ke ruang lingkup eksternal. Resource pada suatu industri dapat berupa aset fisik (pabrik dan lokasi).2. 2000) Gambar di atas menjelaskan bahwa resourced based merupakan teori yang lebih tepat dalam melengkapi aplikasi teori porter. mereka akan memiliki suatu competitive advantage. financial resource. Human Resource. Program tersebut merupakan salah satu bentuk CSR yang dapat membuka peluang pasar baru bagi perusahaan komunikasi tersebut. suatu industri akan dapat mencapai suatu “sustainable competitive advantage” apabila mereka juga memiliki keunggulan dalam lingkup internalnya. dan Organizational asset. Konsep berikutnya adalah Firm-spesific resources and capabilities.memiliki peluang yang lebih besar untuk membentuk persepsi positif dari konsumen. pada teori ini dijelaskan bahwa perusahaan akan memiliki kompetensi apabila mereka memiliki capabilities. kenyataanya. Gambar 2. Misalnya adalah pada perusahaan China Mobile yang turut membantu instalasi jaringan komunikasi di daerah pedalaman.2. Konsep Firm-spesific resources and capabilities (Sumber : Eisenhardt. Competitive advantage ini akan dapat menjadi sustainable competitive advantage . Program CSR juga disarankan untuk dilakukan membuka peluang pasar baru bagi perusahaan. Dengan demikian.

cukup jelas bahwa sebenarnya suatu perusahaan itu akan dapat bersaing tidak hanya apabila mereka unggul di lingkungan eksternal. Teori ini menjelaskan bahwa strategi yang diambil suatu perusahaan itu harus mempertimbangkan formal institution dan informal institution.(unik. dan pekerja yang memiliki motivasi yang baik. Physical asset merupakan aset fisik berupa fasilitas manufaktur. pabrik dan lokasi yang dapat memberikan efek terhadap daya saing perusahaan. pemberian pelatihan dan motivasi positif berupa reward atau remunerasi. Rare. dan susah ditiru) apabila suatu perusahan memiliki keunggulan kompetitif sumber daya yang Valuable. dan kemungkinan investasi di masa yang akan datang. menciptakan iklim kerja yang baik. tetapi mereka juga harus memiliki kondisi internal (resource) yang bagus. Industry-based competition dan Firm-spesific resources and capabilities sudah lama diterapkan. muncul teori baru. 40 tahun 2007. dan lain. innovativeness. pekerja yang baik dan berdedikasi. Perusahaan juga harus melihat pada regulasi lainnya. Formal Institution dapat berupa peraturan perundang-undangan dan kebijakan pemerintah. Perencanaan CSR untuk konsep ini dapat diperoleh dalam waktu yang relatif panjang. kesuksesan dalam pasar. Halhal tersebut dapat memperkuat human resourced based yang merupakan salah satu pilar penting dalam Firm-spesific resources and capabilities. relative cost position. Permen No. Financial resource based merupakan kekuatan perusahaan dilihat dari sisi finansial yang berpengaruh terhadap daya saing perusahaan. 05 tahun 2007 juga telah menambahkan regulasi pemerintah untuk BUMN dengan program PKBL-nya. dan sejarah pada perusahaan dan lingkungan industri itu berada (Peng et al. Tetapi pada kenyataanya masih belum dapat merepresentasikan kondisi global saat ini. Human resource based dapat berupa kepemimpinan perusahaan yang kuat. financial resource based. Berdasarkan penjelasan ini. sedangkan informal dapat berupa norma. yaitu physical asset. and ability to adapt and learn as circumstances change (Eisenhardt. dan organizational asset. Organizational assets merupakan aset perusahaan yang dapat berupa firms manufacturing experience. 2009). brand equity.. human resource based. budaya. Firmspesific resources and capabilities terdiri dari 4 elemen. Program pelatihan karyawan yang terencana dengan baik. formal institution telah diatur dengan UU No. Salah satu contoh program CSR yang dapat digunakan pada strategi Firm-spesific resources and capabilities adalah CSR internal terhadap Human Capital Right.lain. Dalam konsep CSR perseroan. yaitu Institutional conditions and transitions. 2000). Program CSR seharusnya direncanakan untuk memperkuat resource perusahaan. efisien. dan non-subtituable. Maka dari itu. .

perusahaan harus peka terhadap norma atau budaya yang berlaku di perusahaan dan lingkungan perusahaan pada saat memutuskan program CSR. maka salah satu program CSR yang dilakukan juga harus mempertimbangkan aspek agama. Sebagai informal institution. perusahaan tentu saja wajib menjalankan regulasi tersebut. Dalam memposisikan diri sebagai formal institution. Misalnya adalah.khususnya yang mengatur tentang lingkungan. perusahaan yang berada pada suatu lingkungan industri dengan norma dan budaya agama yang kuat. .

Berdasarkan definisinya. Penjelasan mengenai pertimbangan implikasi pemilihan program CSR terhadap beberapa hal di atas akan dijelaskan sebagai berikut : a. perekonomian. Selama ini perusahaan telah melakukan program CSR yang menyasar di berbagai bidang (kesehatan. sosial. Artinya. Keputusan untuk memilih tetap menyasar berbagai program CSR atau lebih fokus ke satu bidang harus dilakukan dengan mempertimbangkan berbagai implikasi yang akan terjadi. pendidikan. Wacana reorientasi program CSR tersebut tentu saja harus dirumuskan dan diputuskan setelah perusahaan melakukan identifikasi dampak dan isu terhadap masalah ekonomi. Hal ini terjadi karena lembaga tersebut telah memiliki penilaian yang positif dari masyarakat. Reputasi suatu perusahaan sangat tergantung pada diri lembaga tersebut. . dan lingkungan yang terjadi.BAB 3 CASE ANALYSIS 3. apakah perusahaan lebih memilih untuk sekedar mendapatkan citra yang baik atau memilih juga memiliki reputasi positif dari masyarakat.1 Wacana untuk Reorientasi Sasaran Program CSR Wacana reorientasi sasaran program CSR untuk menjadi lebih fokus kepada satu bidang merupakan permasalahan strategis yang harus mampu diselesaikan dengan baik oleh manajemen terkait PT. maka pemberitaan tersebut bisa jadi hanya sementara. karena meskipun pemberitaannya jelek. khususnya di sekitar lokasi pabrik. tidak sekedar hanya berupa citra dalam bentuk persepsi positif semata. Tbk. sedangkan “reputasi” lebih kepada penilaian. pelestarian alam. Implikasi terhadap Reputasi dan Keuangan Perusahaan Sebuah pertanyaan tentu saja dapat dialamatkan pada suatu perusahaan. “citra” diartikan sebagai hasil dari persepsi masyarakat terhadap sesuatu. perusahaan yang telah memiliki reputasi positif dari masyarakat lebih memiliki dampak positif yang bersifat jangka panjang bagi perusahaan daripada hanya sekedar memiliki citra positif saja. implikasi terhadap keberadan perusahaan perseroan dan BUMN yang kegiatan CSR-nya diatur oleh regulasi pemerintah. dan sosial). Hasil pertimbangan dari berbagai hal tersebut dapat digunakan perusahaan untuk memutuskan. tetapi lembaga tersebut mempunyai kredibilitas yang tinggi. apakah tetap memilih menyasar ke berbagai bidang atau fokus ke salah satu bidang saja. yaitu implikasi terhadap reputasi dan keuangan perusahaan. Semen Gresik. serta implikasi terhadap pelaksanaan ISO 26000.

praktik sehat terhadap karyawan. baik dalam bentuk plant atau produk. ukuran perusahaan. seperti kinerja keuangan.program CSR yang sustainable dengan disertai tingkat pengungkapan sosial yang optimal. Berdasarkan pada pernyataan di atas. Misalnya adalah. Semen Gresik. melainkan juga menginginkan reputasi yang baik dan kondisi keuangan yang sehat. maka dapat disimpulkan bahwa CSR memiliki hubungan keterkaitan yang signifikan terhadap reputasi dan kondisi keuangan perusahaan. Survey dilakukan terhadap 25 ribu konsumen di 23 negara yang dituangkan dalam The Millenium Poll on CSR pada tahun 1999 (lihat Bisnis dan CSR. Sedangkan faktor fundamental bisnis. Conference Board (AS). ketika perusahaaan tersebut memiliki etika bisnis dan kredibilitas yang baik di mata masyarakat. dampak terhadap lingkungan. Tentu saja perusahaan sebesar PT. hanya dipilih oleh 30% responden (Ismuniarti. Artinya. reputasi perusahaan yang baik juga dapat meningkatkan nilai perusahaan. Environics International (Kanada). merupakan unsur utama mereka dalam menilai baik atau tidaknya suatu perusahaan. Tbk tidak akan hanya sekedar mengejar citra positif saja. khususnya di bidang sosial melalui luas pengungkapan sosial pada laporan keberlanjutan perusahaan. Perusahaan dengan reputasi yang baik juga berpotensi untuk mendapatkan profit yang tinggi. Mudahnya perusahaan untuk melakukan ekspansi dan tingginya minat investor untuk menanamkan modalnya. Maka dari itu. Calon investor dapat mengetahui dan menilai reputasi perusahaan. perusahaan ini harus memiliki program. 2007: 88-90). strategi perusahaan atau manajemen. 2010). luas pengungkapan sosial dalam program CSR harus disesuaikan dengan dampak dan isu lingkungan yang terjadi sebagai dampak dari keberadaan perusahaan. Nilai perusahaan dalam hal ini didefinisikan sebagai nilai pasar.Tiga lembaga internasional independen. perusahaan dengan reputasi positif tentu saja akan lebih mudah melakukan ekspansi. membuat perusahaan tersebut makin sehat kondisi keuangannya. . Perusahaan akan lebih mudah diterima keberadaanya. dan Prince of Wales Business Leader Forum (Inggris) melakukan survey tentang hubungan antara CSR dan reputasi perusahaan. Perusahaan dengan reputasi yang baik tentu saja akan menarik calon investor untuk menanamkan sahamnya di perusahaan tersebut. Hasil survey menunjukkan bahwa mayoritas responden (60%) menyatakan bahwa CSR seperti etika bisnis. Bagi perusahaan Go Public.

sosial. Pemerintah daerah Pemerintah daerah. Pemerintah daerah Penduduk sekitar.1 Identifikasi Dampak dan Isu pada PT. Tabel 3. dan lingkungan yang diakibatkan atau berhubungan dengan keberadaan PT. Penduduk Sekitar Pemerintah daerah. Identifikasi dampak dan isu di lingkungan sekitar PT.program CSR perusahaan yang dicontohkan pada kasus awal ini. Semen Gresik. langkah awal yang dapat dilakukan untuk menjawab permasalahan ini adalah dengan melakukan identifikasi dampak dan isu ekonomi. Semen Gresik. Identifikasi dampak dilakukan berdasarkan isuisu eksternal (ekonomi. Pemerintah daerah Penduduk sekitar. Penduduk Sekitar Sosial Lingkungan Isu Global Warming Isu pemanfaatan lahan setelah penambangan Isu berkurangnya cadangan air tanah Isu ketidakseimbangan ekosistem alam pasca penambangan . dan lingkungan) sesuai dengan program. Tbk Variabel Dampak dan Isu Ekonomi Dampak dan Isu Isu rendahnya kesejahteraan ekonomi masyarakat sekitar Isu Kesenjangan tingkat pendidikan antara pendatang dengan penduduk lama Isu peningkatan kriminalitas dan konflik sosial Isu tingkat pengangguran yang tinggi Isu menurunnya tingkat kesehatan penduduk sekitar pabrik Isu pencemaran udara Isu pencemaran air Isu Limbah B3 non B3 Stakeholder Terkait Pelaku usaha UKM. Tbk. dan calon investor. Pemerintah daerah Penduduk sekitar. Penduduk Sekitar Pemerintah daerah. Semen Gresik. Penduduk Sekitar Pemerintah daerah. Penduduk Sekitar Pemerintah daerah. pemerintah. dapat disimpulkan bahwa dalam kaitannya untuk mendapatkan penilaian positif dari masyarakat.1. Semen Gresik. Tbk dituntut untuk menyentuh semua kepentingan eksternal stakeholder yang secara langsung atau tidak langsung terkena dampak dari keberadaan perusahaan. maka CSR PT. Penduduk Sekitar Pemerintah daerah. Dengan demikian. Tbk dapat dilihat pada Tabel 3. Pemerintah daerah Penduduk sekitar.Dari penjelasan di atas. sosial. Penduduk Sekitar Pemerintah daerah.

PT. perusahaan juga perlu melakukan koordinasi dan mensinergikan program CSR dengan pemerintah daerah sebagai bentuk tindakan CSR terhadap pemerintah. Hal ini dapat terlihat pada visi yayasan Sampoerna Foundation. Semen Gresik. sosial. Tbk. Semen Gresik. baik di bidang pembangunan ekonomi. Tbk kurang tepat apabila melakukan reorientasi pada luas pengungkapan sosialnya untuk menjadi lebih fokus seperti halnya pada Sampoerna Foundation atau Rajawali Foudation yang fokus pada salah satu aspek sosial. Tabel 3. Aktivitasaktivitas yang dilakukan dalam rangka mencapai profit mutlak harus dipertanggung jawabkan oleh perusahaan. Artinya. 2010). yaitu “Bersama-sama menciptakan pemimpin yang kompeten dan berbudi luhur melalui pendidikan berkualitas tinggi. Dengan demikian. Hal ini perlu dilakukan agar semua kepentingan stakeholder dapat terpenuhi.1 juga menjelaskan tentang luasnya dampak dan isu lingkungan (eksternal) pada PT. stakeholder yang terkait secara langsung rata-rata terdiri dari penduduk sekitar dan juga pemerintah setempat. sehingga penilaian positif sebagai perusahaan yang memiliki etika sosial yang baik dalam berbisnis dapat diperoleh dari pihak. Tbk menghasilkan dampak dan . Keberadaan perusahaan secara langsung juga akan berpengaruh terhadap kebijakan. Semen Gresik. maupun pengelolaan lingkungan. Semen Gresik.kebijakan dan program yang ditetapkan oleh pemerintah daerah setempat. maka jelas sudah bahwa PT. Selain itu. Dengan menggunakan dasar dampak dan isu lingkungan tersebut dapat disimpulkan bahwa perusahaan harus mempertanggung jawabkan semuanya dalam bentuk program CSR yang sesuai.” (Anonymous. Tbk harus setimpal dengan dampak yang dihasilkan. Atas penjelasan di atas. Luas pengungkapan sosial PT. Pemerintah setempat di sini berkedudukan sebagai mediator dan fasilitator stakeholder antara perusahaan dengan penduduk sekitar.pihak tersebut. reputasi dan kondisi keuangan yang baik dan sehat secara jangka panjang juga akan berpotensi untuk terwujud. Sampoerna Foundation bisa fokus pada pendidikan saja. yaitu pada bidang pendidikan. karena organisasi yayasan tersebut memang dibentuk untuk khusus menangani bidang pendidikan. Tbk yang merupakan perusahaan yang kompleks dan didirikan dengan maksud mencapai profit. Semen Gresik. Pada visi tersebut terlihat bahwa yayasan tersebut didirikan fokus untuk mencetak pemimpin melalui program pendidikan. Maka dari itu. Hal ini sangat berbeda dengan PT.Berdasarkan pada identifikasi dampak dan isu di atas dapat disimpulkan bahwa isu lingkungan terdistribusi cukup banyak pada ranah lingkungan dan sosial.

Visi CSR perusahaan ini juga mengandung makna yang cukup luas.bersinggungan dengan berbagai isu ekonomi. maka perusahaan harus tetap mempertahankan program. yaitu perbandingan antara benefit dengan cost (Ahmad. prioritas dapat ditentukan melalui penilaian program CSR dengan menggunakan pendekatan hirarki . maka akan timbul penolakan masyarakat atas keberadaan perusahaan. maka dapat dipastikan reputasi perusahaan khususnya di mata masyarakat akan turun. Benefit cost ratio (B/C R) merupakan suatu analisa pemilihan proyek atau program yang biasa dilakukan karena kemudahannya. Penciptaan hubungan yang harmonis dengan masyarakat tentu saja tidak bisa hanya dikaitkan dengan satu program CSR saja.program CSR yang dilakukan oleh perusahaan. Akibatnya adalah. Seiring dengan menurunya reputasi. apabila perusahaan ingin mempertahankan reputasi positif dan kekuatan finansial seperti pada saat ini. bahwa perusahaan harus tetap menjalankan program CSR yang menyasar di berbagai bidang. Tbk. dan pada akhirnya para penanam modal sebagai shareholder akan meninggalkan perusahaan. Sebagai manfaatnya adalah PT. maka langkah selanjutnya yang diusulkan adalah menganalisa benefit and cost ratio dari program. Setelah terjawab. Perusahaan ini telah mencoba untuk terus memberikan program. dan lingkungan yang cukup kompleks. Dengan demikian. dan berdaya saing. Dalam konteks permasalahan sosial seperti pada penentuan prioritas program CSR di PT. 2010). kondisi keuangan perusahaan pun juga akan menurun. Semen Gresik. image konsumen terhadap produk juga akan menurun. Jika perusahaan memutuskan untuk fokus dalam satu bidang saja. Tbk bisa disebut telah mendapatkan pengakuan berupa penilaian yang positif. baik dari masyarakat maupun pemerintah. yaitu “menciptakan hubungan harmonis dengan masyarakat dan mewujudkan usaha kecil yang mandiri. Sebagai buktinya adalah kecepatan ekspansi dan berbagai penghargaan lingkungan dan investasi yang diberikan oleh pemerintah kepada perusahaan. karena kepentingan masyarakat sebagai akibat dari keberadaan perusahaan juga sangat kompleks. sosial.program CSR bagi lingkungan eksternal yang sesuai dengan dampak dan isu yang terkait dengan perusahaan. karena tentu saja kepentingan mereka pasti ada yang tidak terpenuhi. tangguh. serta mampu menyerap tenaga kerja”. Semen Gresik. dana sebesar apapun yang dikeluarkan oleh perusahaan tidak akan optimal apabila hanya digunakan untuk fokus pada satu jenis CSR saja.program CSR dengan luas pengungkapan sosial seperti yang sudah dilakukan pada tahun 2010. Akibatnya.

2010). Prioritas bidang CSR sendiri dapat ditentukan berdasarkan ranking dari hasil rasio tersebut. Model AHP yang diusulkan dapat dilihat pada Gambar 3. . begitu juga sebaliknya. AHP juga dapat membantu dalam penentuan bobot dari faktor terpenting yang digunakan dalam proses pengambilan suatu keputusan (Hemaida and Everett. Responden dari kuesioner AHP dapat diberikan perusahaan kepada para ahli terkait yang kompeten dan para stakeholder yang terkait. 2003). dengan harapan nantinya kriteria dampak akan dapat dikembangkan oleh perusahaan berdasarkan pada permasalahan dan isu yang sifatnya dinamis. kuantitatif maupun kualitatif. maupun masyarakat. yaitu tidak mengalami keutungan atau kerugian (Ahmad.hal yang memungkinkan menjadi hambatan pada keberhasilan aplikasi program CSR.AHP (Analytical Hierarchy Process). Alternatif program yang memiliki ratio benefit dan cost lebih dari satu (> 1) akan dianggap optimal. dan juga memperhitungkan adanya konflik maupun perbedaan (Handojo dan Buliali. Adapun kriteria dampak negatif dibangun melalui identifikasi terhadap hal. Anggota lomba diasumsikan mengetahui dan expert pada bidang CSR ini. AHP adalah teknik pengambilan keputusan yang memasukkan kriteria ganda. Dampak positif bagi perusahaan dibangun dari kerangka Strategy tripod. Langkah ini merupakan tahapan yang disarankan untuk dilakukan oleh perusahaan agar program CSR yang dilaksanakan dapat menjadi sustainable competitive advantage dengan memaksimalkan dampak positif dan meminimalkan dampak negatif baik bagi perusahaan. Model AHP yang diusulkan ini merupakan sebuah usulan model. Pada model ini benefit diartikan sebagai dampak positif yang diakibatkan oleh CSR. Selain itu. Output dari pendekatan ini dapat digunakan perusahaan dalam mengambil keputusan terkait alokasi dana pada beberapa program CSR yang akan disasar. karena telah mendapatkan mata kuliah etika bisnis dan capita selekta yang sangat erat kaitanya dengan masalah CSR. pengisian kuesioner dilakukan oleh anggota kelompok bussiness case competition dengan jumlah tiga responden. Selain itu. Pada model AHP tahap usulan ini. 2007). baik yang bersifat nyata atau tidak nyata. Adapun nilai rasio sama dengan 1 (= 1) dianggap bahwa program CSR yang dilakukan adalah marginal.1. studi pustaka juga dilakukan oleh para responden untuk memeperkuat pemahaman mengenai CSR di perusahaan. sedangkan cost adalah dampak negatif yang berpotensi ditimbulkan oleh alternatif program CSR.

Tbk Potensi Timbulkan Kecemburuan Sosial Baru Keagamaan . Semen Gresik . Tbk Good Institutional image Source of Differentiation Butuh Dana yang Tinggi Dampak Positif Source of Opportunity Dampak Negatif Source of Resources Program Kemitraan Bantuan Bencana Alam Tingkatkan Kualitas Hidup Masyarkatat Dan lingkungan Internal Eksternal Bantuan Pendidikan dan Pelatihan Peningkatan Kesehatan Menbangun Sarana dan Prasarana Potensi Hanya Hasilkan Pencitraan Sementara Pelestarian Lingkungan Potensi mengurangi Konflik sosial Gambar 3.1 Model Usulan Struktur Benefits and Cost Ratio pada PT.CSR PT. Semen Gresik.

utamanya yang terkait pada ketiga program tersebut agar dapat menjadi sumber perusahaan menuju keunggulan kompetititf yang berkelanjutan. Pendidikan merupakan prioritas utama yang harus dilakukan oleh perusahaan dengan peresentase 35 %. kemudian akan dicari nilai rasio benefit and cost-nya dengan membandingkan masing. Pendidikan memiliki kontribusi yang sangat signifikan terhadap terwujudnya dampak positif CSR.masing alternatif Program CSR Pada Gambar 3.program CSR. Penentuan bobot terhadap semua kriteria dan alternatif akan dilakukan terlebih dahulu.2 Prioritas Program berdasarkan Benefit/Cost ratio pada masing. Selain itu. Apabila dilihat dari sisi konsep Firmspesific resources and capabilities. lingkungan.2. Hasil pengolahan Benefit and Cost Ratio menghasilkan usulan prioritas program yang dapat dilihat pada Gambar 3. Usulan Prioritas Program CSR 1% 5% 9% 9% 35% Pe ndidikan&Pe latihan Pe starian lingkungan le Program ke mitraan Pe ningkatan ke hatan se Ke agamaan 14% 27% Sarana dan Prasarana Umum Be ncana Alam Gambar 3. perusahaan juga perlu men-setting program.masing alternatif melalui perbandingan antara sigma kriteria dampak positif dengan sigma kriteria dampak negatif. pelaksanaan program pelatihan dan pendidikan . maupun bagi masyarakat dan lingkungan (eksternal). baik bagi perusahaan (internal). dan kemitraan merupakan prioritas program yang perlu diutamakan oleh perusahaan. Perusahaan dapat mengalokasikan dana lebih untuk ketiga program tersebut.Pengolahan Data perhitungan benefit and cost benefit ratio dengan menggunakan AHP dapat dilihat pada Lampiran 1.2 dapat disimpulkan bahwa program pendidikan.

merupakan salah satu upaya perusahaan untuk meningkatkan kualitas dan skill Sumber Daya Manusia. Tbk sebagai BUMN dengan reputasi yang baik dirasa perlu berkolaborasi dengan pemerintah untuk menyelesaikan permasalahan ini. Semen Gresik. Tidak salah apabila permasalahan pendidikan menjadi isu hangat yang dibicarakan di kota Gresik. Hal ini merupakan salah satu strategi CSR yang tepat untuk mencapai keunggulan kompetitif yang berkelanjutan di masa yang akan datang. SDM hasil program CSR ini berpotensi untuk menjadi source of resource berupa human capital yang handal bagi perusahaan. Sebagai suatu Formal Institutional. Hal ini dikarenakan bantuan program pendidikan yang dicanangkan oleh pemerintah masih belum merata dan menyentuh seluruh lapisan masyarakat yang membutuhkan. Maka dari itu. Selain itu. khususnya di lingkungan PT. Apabila perusahaan mampu membina dan membantu para UKM untuk menjadi lebih mandiri dan sukses dan hal ini belum pernah dicapai oleh BUMN atau perusahaan yang lain. mengingat perusahaan adalah salah satu BUMN yang memanfaatkan hasil Sumber Daya Alam pada bisnisnya. Program lingkungan menempati urutan berikutnya dengan persentase 27 %. 05 tahun 2007 yang mewajibkan BUMN untuk menjalankan CSR pada bidang ini. Dalam jangka panjang.program CSR di bidang lingkungan juga berpotensi akan menjadi source of differentiation bagi perusahaan. Apabila ingin mencapai CSR yang berkontribusi menciptakan keunggulan kompetitif yang berkelanjutan.program lingkungan inovatif seperti Green Belt perlu dipertahankan dan ditingkatkan lagi oleh perusahaan. isu biaya pendidikan yang tinggi juga menjadi pertimbangan perusahaan untuk lebih fokus pada program itu. . Selain itu. PT. Tbk berada. Program ini menjadi cukup penting dan perlu diprioritaskan juga. Semen Gresik. mengingat adanya regulasi Permen No. Lingkungan harus tetap diprioritaskan oleh perusahaan. Program kemitraan menempati prioritas ke-tiga dengan persentase 14 %. Program. maka program. maka source of differentiation yang menghasilkan reputasi positif dan sustainable competitive advantage akan dapat diperoleh perusahaan melalui program kemitraan ini. masalah pendidikan juga merupakan akar dari berbagai permasalahan sosial yang lain. perusahaan juga harus mematuhi regulasi pemerintah berupa UU yang mengatur tentang lingkungan. sehingga manfaatnya dapat dirasakan lebih luas lagi oleh masyarakat sekitar.

40 tahun 2007 dan Permen No. yaitu Institutional conditions and transitions dapat juga digunakan sebagai alasan kuat mengapa perusahaan harus menjalankan regulasi pemerintah terkait dengan pelaksanaan CSR. Pada UU No. Posisi PT. apabila melihat dari UU No. Semen Gresik. Penyikapan terhadap Regulasi Pemerintah Kebijakan reorientasi atau tidaknya program CSR di PT. makin memperkuat bahwa salah satu hal yang harus dipertimbangkan oleh perusahaan pada saat merumuskan segala strategi CSR-nya adalah dengan melakukan penyesuaian terhadap regulasi pemerintah yang terkait. Semen Gresik. Berdasarkan pada UU ini. 40 tahun 2007 dijelaskan bahwa “ perseroan yang menjalankan kegiatan usahanya di bidang dan/atau berkaitan dengan sumber daya alam wajib melaksanakan tanggung jawab sosial dan lingkungan. PT. Tanggung jawab sosial dan lingkungan tersebut merupakan kewajiban perseroan yang dianggarkan dan diperhitungkan sebagai biaya perseroan yang pelaksanaannya dilakukan dengan memperhatikan kepatutan dan kewajaran”. Kedudukan perusahaan sebagai suatu “formal institution”. kemudian baru akan ditarik kesimpulan jawaban setelah dibandingkan dengan Permen No. di dalam UU ini tidak disebutkan dengan jelas mengenai program apa saja yang harus dilakukan oleh perseroan. Pembahasan juga akan dilakukan secara parsial dengan merunut pada UU No . Semen Gresik. Tbk juga harus mempertimbangkan regulasi dari pemerintah. Tbk tentu saja terkena “kewajiban” untuk melaksanakan program CSR karena aktivitas perusahaan yang berkaitan dengan sumber daya alam. agar program CSR yang dilaksanakan dapat menjadi competitive advantage yang berkelanjutan bagi perusahaan.40 tahun 2007 terlebih dahulu. Mengenai masalah reorientasi program atau tidak. Maka dari itu. Tbk sebagai BUMN makin memperkuat bahwa perusahaan merupakan bagian dari pemerintah dan harus memenuhi segala regulasi yang telah disahkan oleh pemerintah.b. Semen Gresik. PT.regulasi yang telah ditetapkan oleh pemerintah. 05 tahun 2007. Regulasi pemerintah berkaitan dengan CSR yang dikaji pada study case ini adalah UU No.sah . Pembahasan pada kajian UU dan Permen ini diasumsikan hanya mempertimbangkan aspek regulasi saja dengan tidak mempertimbangkan keterkaitan aspek dampak terhadap reputasi perusahaan seperti penjelasan pada poin a. Salah satu konsep strategy tripod. Program CSR yang different atau inovatif-pun tidak akan bisa berjalan dengan optimal ketika perusahaan tersebut melanggar atau bertabrakan dengan regulasi. 05 tahun 2007. 40 tahun 2007 ini. Tbk tentu sah.

yang dimaksud dengan Program Kemitraan dengan usaha kecil adalah program untuk meningkatkan kemampuan usaha kecil agar menjadi tangguh dan mandiri melalui pemanfaatan dana dari bagian laba BUMN. Pada Permen ini dengan jelas disebutkan bahwa PT.satunya dasar bagi PT. Peraturan ini menggantikan peraturan sejenis terdahulu yakni Keputusan Menteri Badan Usaha Milik Negara No. sesuai dengan Pasal 11 ayat (1) Permen. Program Kemitraan yang dilakukan oleh BUMN. pemerintah cq. Adapun Program Bina Lingkungan sendiri diatur dengan Pasal 11 ayat (2) huruf e Permen. PT. Dengan peraturan tersebut. Tbk dalam penentuan program CSR. Selain UU No. No 40 tahun 2007 menjadi tidak relevan lagi untuk dijadikan sebagai satu. yakni : Program Kemitraan dan Program Bina Lingkungan. dan pinjaman khusus untuk membiayai kebutuhan dana pelaksanaan kegiatan usaha Mitra Binaan yang bersifat pinjaman tambahan dan berjangka pendek dalam rangka memenuhi pesanan dari rekanan usaha Mitra Binaan. Berdasarkan pada uraian mengenai Permen No. 05 tahun 2007 dapat ditarik kesimpulan bahwa UU. Maka dari itu. 05 tahun 2007 yang berisi tentang Program Kemitraan Badan Usaha Milik Negara dengan Usaha Kecil dan Program Bina Lingkungan (PKBL) yang telah mulai diberlakukan untuk tahun buku 2007 dan ditetapkan pada tanggal 27 April 2007.BUMN tersebut. Kementerian Negara BUMN menjabarkan peran dan partisipasi BUMN ke dalam dua program. Kep-236/MBU/2003 tanggal 17 Juni 2003. pendidikan dan/atau pelatihan.40 tahun 2007 tersebut. sarana ibadah. diberikan dalam bentuk bantuan-bantuan untuk korban bencana alam. sedangkan pada pasal 1 angka 6 ditambahkan bahwa yang dimaksud dengan Program Bina Lingkungan adalah program pemberdayaan kondisi sosial masyarakat oleh BUMN melalui pemanfaatan dana dari bagian laba BUMN. Semen Gresik sebagai BUMN “wajib” menjalankan program kemitraan dan bina lingkungan. pemerintah melalui Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara juga mengeluarkan Permen No. Tbk tidak bisa melakukan program CSR dengan fokus pada satu . diberikan dalam bentuk : pinjaman untuk membiayai modal kerja dan/atau pembelian aktiva tetap dalam rangka meningkatkan produksi dan penjualan. peningkatan kesehatan. Semen Gresik. Program bina lingkungan pun juga dibagi menjadi beberapa sasaran bidang. Berdasarkan Pasal 1 Angka 5 Permen BUMN tersebut. pengembangan sarana dan prasarana umum.BUMN tersebut.saja apabila melaksanakan reorientasi program tersebut untuk menjadi lebih fokus pada satu program saja. atau pelestarian alam. Semen Gresik.

Implikasi terhadap ISO 26000 Konsep terbaru yang berisi tenang pedoman dalam menjalankan program CSR terangkum dengan lengkap di ISO 26000. yang disebut sebagai core subject. Rachman. Konsep yang ditawarkan oleh ISO 26000 adalah konsep holistik. Semen Gresik. 05 tahun 2007. Misalnya adalah investor atau supplier dari luar negeri. Core subject dapat dilihat pada Gambar 3. perilaku etis. Prinsip-prinsip tersebut yaitu akuntabilitas. Sementara. dimana konsep CSR tidak hanya dilakukan secara eksternal saja. menghormati aturan hukum.beda. menghormati kepentingan stakeholder. mengidentifikasi masalah-masalah dan menetapkan prioritas. lingkungan. . ada tujuh prinsip dan core subject didalamnya. serta keterlibatan masyarakat dan pembangunan. yaitu menjalankan CSR tanpa kerterikatan dengan Permen No.3.bisang saja. Hal ini tidak berlaku bagi perseroan swasta. Perusahaan harus tetap menyasar beberapa bidang sesuai ketentuan regulasi pada Permen tersebut seperti dengan yang telah dilakukan pada tahun 2010. organisasi harus membahas subjek inti. pasti akan mempertanyakan penerapan inisiatif corporate social responsibility (CSR) yang terkandung dalam prinsip dan core subject di ISO 26000. c. maupun menyasar beberapa bidang juga sesuai dengan dampak yang mereka akibatkan terhadap lingkungan dan masyarakat sekitar. sehingga mereka bisa menetapkan program CSR-nya baik fokus. ISO 26000 bukan sebagai suatu kewajiban ataupun berbentuk sertifikasi. Selanjutnya. Proses kerjasama dengan investor atau supplier terutama dari luar negeri. Kandungan ISO 26000 ini menurut Direktur Interdev Prakarsa Nurdizal M. No 40 tahun 2007 saja. hak asasi manusia. ISO 26000 akan menjadi sangat penting apabila perusahaan memiliki hubungan dengan mitra bsnis dari luar negeri. transaparansi. untuk menentukan ruang lingkup tanggung jawab sosial perusahaan. Core subject terdiri dari tata kelola perusahaan.program tersebut dapat dilakukan PT. praktik operasi yang adil. namun bukan berarti ISO 26000 ini bisa diabaikan begitu saja. praktik perburuhan. Meski hanya sebuah panduan. konsumen. Perseroan swasta hanya dikenai kewajiban sesuai dengan UU. melainkan lebih kepada pedoman tentang bagaimana menjalankan CSR yang telah disepakati oleh dunia. Tbk dengan prioritas kegiatan dan alokasi dana yang berbeda. menghormati norma-norma internasional mengenai perilaku dan menghormati hak asasi manusia (HAM). Program. melainkan juga harus menyentuh lingkup internal juga.

Tbk sebagai perusahaan yang memiliki visi untuk menjadi perusahaan persemenan bertaraf internasional tentunya sangat memerlukan pelaksanaan CSR yang berpedoman pada ISO 26000. 2010) : . 2010) PT. berarti Semen Gresik akan melanggar regulasi pemerintah dalam Permen BUMN No. Merunut pada pertanyaan apakah program CSR perlu diorientasi menjadi lebih fokus atau tidak. Tentu saja jawabnya adalah tidak mungkin program itu diorientasi lagi. 05 tahun 2007. Hal.program CSR seperti yang dituliskan pada study case. Apabila program tersebut diorientasi menjadi lebih fokus.3 Core Subject ISO 26000 (Sumber : ISO Central Secretariat. Apabila melihat program. Semen Gresik dalam melaksanakan CSR berdasar konsep ISO 26000 adalah (ISO Central Secretariat. Semen Gresik. Hal ini sangat tidak sesuai dengan konsep ISO 26000 yang salah satu prinsipnya adalah menghormati aturan hukum.Gambar 3. tentu saja masih jauh dari pedoman ISO 26000.hal yang dapat dijadikan sebagai pijakan oleh PT. bahkan programprogram tersebut perlu ditekankan lebih lagi pada program yang lebih holistik (ruang lingkup internal dan eksternal).

buruh lingkungan.prinsip CSR yang termasuk dalam ISO 26000 di atas sebenarnya sudah terdapat pada perumusan GCG (Good Corporate Governance). Hal yang perlu dikritisi adalah pada core subject dari CSR-nya. Perusahaan hanya perlu lebih menojolkan lagi aktivitas. Perusahaan dirasa juga perlu berlaku transparan terhadap isu ini. atau aturan hukum. dengan memperhatikan kepentingan para stakeholders berdasarkan ketentuan Anggaran Dasar dan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Semen Gresik.norma internasional dan HAM 2. Identifikasi dan kerjasama dengan pemangku kepentingan 3. praktek. Core subject dari CSR. Memperhatikan prinsip-prinsip CSR yang akuntabilitas. seperti tata kelola organisasi atau perusahaanm HAM. PT. Semen Gresik.isu CSR terkait 4. prinsip. Tbk adalah proses dan struktur yang digunakan oleh Organ Perusahaan untuk menentukan kebijakan dalam rangka meningkatkan keberhasilan usaha dan akuntabilitas Perusahaan sehingga dapat meningkatkan nilai tambah bagi pemegang saham dalam jangka panjang. transparansi. Pada GCG.1. Definisi Tata Kelola Perusahaan yang Baik (Good Corporate Governance) pada PT. Tbk makin menguatkan bahwa salah satu aktivitas yang dilakukan oleh perusahaan dalam konsep GCG adalah dengan melakukan CSR.masing dari core subject ini memilki berbagi isu. Masing. isu-isu konsumen dan pelibatan dan pengembangan masyarakat. perhatian terhadap pemangku kepentingan. kode etis.aktivitas yang disebutkan dalam GCG tersebut. Semen Gresik.praktek yang fair. Kehadiran ISO 26000 akan menggeser pandangan atau paradigma lama menjadi paradigma baru. Panduan teknis untuk menerapkan dan mengintegrasikan CSR di organisasi/perusahaan Dalam prakteknya. Berdasarkan pada definisi di atas PT. Konsekuensinya adalah bahwa paradigma lama mengatakan CSR itu adalah kegiatan pendukung dalam . norma. Begitu juga mengenai masalah identifikasi dan kerjasama dengan para stakeholder. bahwa aktivitas tersebut sebenarnya adalah penggambaran teknis CSR holistik yang dilakukan oleh perusahaan. Hal lain yang perlu diperhatikan dalam menjalankan konsep ISO 26000 adalah dengan meninggalkan paradigma lama mengenai CSR yang dianggap hanya sebagai salah satu kegiatan pendukung perusahaan saja. Tbk belum terlalu jelas dalam hal pencantuman isu tentang praktik perburuhan di dalamnya.

Implikasi terhadap reputasi dan keuangan Saat ini PT. khususnya untuk Industry-based competition dan Firm-spesific resources and capabilities disarankan untuk tidak diserahkan kepada yayasan lain.menjalankan perusahaan.2 Wacana untuk Menyerahkan Pengelolaan Program CSR Pada Kasus terdapat wacana untuk menyerahkan program CSR pada yayasan lain. Jenis CSR pada Program yang sekiranya memiliki tujuan strategis (merunut pada strategi Tripod).masing penjelasan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut.program tersebut. karena tidak semua program dapat diberikan kepada pihak lain. Semen Gresik. tim. PT. Keputusan ini tentu saja akan berdampak pada reputasi perusahaan. Selain program. Tbk telah mempunyai wadah yayasan Semen Gresik Foundation yang mengurusi kegiatan-kegiatan amal. Program. Semen Gresik Tbk. mendirikan unit organisasi khusus yang mengelola Program Kemitraan dan Program BL yang merupakan bagian dari organisasi di bawah pengawasan seorang direksi.benar diseleksi lagi. Namun secara internal PT. CSR adalah bagian dari strategi bisnis untuk meningkatkan nilai perusahaan. Sementara paradigma baru dalam ISO 26000 menjelaskan. lingkungan. juga kegiatan yang hanya ditugasakan pada unit. penyerahan program tersebut harus benar. meskipun saat ini telah terdapat Semen Gresik Foundation. Tbk. dan sekitarnya. . serta budaya perusahaan dan melekat pada semua unit kerja. Tbk sebenarnya sah. divisi corporate social (CS). namun pengelolaan program CSR tetap dikelola di bawah direksi untuk mempermudah pelaksanaan dan pengawasan dari direksi terhadap pelaksanaannya. Berikut adalah masing. Berdasarkan pada perhitungan Benefit and cost ratio diperoleh hasil bahwa program yang memiliki kontribusi cukup tinggi untuk tercapainya keunggulan kompetitif yang berkelanjutan adalah program pendidikan.sah saja apabila menyerahkan pengelolaan program CSR-nya kepada yayasan yang telah eksis lainya. dan kemitraan. Dengan kata lain. Semen Gresik. 3. Semen Gresik.program tersebut memiliki potensi penting sebagai source of differentiation dan source of resource. Akan tetapi. selain itu keputusan untuk melaksanakan program ini juga perlu mempertimbangkan regulasi pemerintah mengenai CSR dan implikasinya terhadap ISO 26000. pendidikan maupun sosial keagamaan di lingkungan PT. Permasalahan awal ini dapat dijawab dengan memposisikan perusahaan sebagai perseroan tanpa memperhatikan beberapa peraturan (regulasi) yang dikeluarkan pemerintah kepada perusahaan BUMN. a.

Pelatihan sifatnya berbeda dengan hanya sekedar memberi bantuan dana atau peralatan. Semen Gresik. Maka dari itu. Dengan demikian. Pelatihan sangat erat kaitannya dengan rencana strategis jangka panjang perusahaan (source of resource). b. diatur bahwa BUMN dapat melakukan kerjasama dengan BUMN penyalur yang bersifat channeling atau executing. Program pendidikan yang sifatnya hanya sumbangan peralatan sekolah. dan beasiswa bisa saja diberikan kepada yayasan lain.Per05/MBU/2007 tentang PKBL dan SE-14/MBU/2008 tentang Optimalisasi Penyaluran Dana PK. Hal ini dikarenakan. bahkan bisa menjadi lebih meningkat. perangkat komputer.40 tahun 2007 tidak terlihat pasal yang mengharuskan atau melarang perusahaan untuk bekerja sama dengan pihak lain. . Selain itu. Peraturan yang menjelaskan tentang hubungan kerjasama terkait dengan penyaluran dana pelaksanaan CSR justru terdapat pada Permen No. 05 tahun 2007 Pada UU. penyerahan pengelolaan CSR kepada yayasan lain tidak akan merusak reputasi perusahaan asalkan atribut perusahaan pada program CSR tersebut masih terlihat dan pesan program tersebut sampai ke tangan stakeholder yang dituju. Bahkan apabila program CSR yang tidak terlalu memiliki dampak positif bagi perusahaan diserahkan pengelolaanya kepada yayasan lain. No 40 tahun 2007 dan Permen No. Meskipun demikian.khususnya untuk bantuan bencana alam dapat diberikan kepada yayasan lain dalam pengelolaanya. Pada pasal 8 Peraturan Menteri Negara BUMN No. justru akan membuat perusahaan untuk dapat lebih fokus dalam inti bisnis dan lebih optimal dalam mengurusi program. Dari segi reputasi PT. Khususnya adalah pada program pendidikan.program CSR yang bersifat strategis. sehingga dilihat dari segi finansial pun perusahaan juga tidak akan terlalu berpengaruh. Jenis kegiatan. kinerja perusahaan akan menjadi lebih optimal. program tersebut seharusnya tetap dikelola oleh internal perusahaan. tidak semua jenis aktivitas CSR dalam program. program pelatihan yang diberikan bisa disesuaikan dengan kebutuhan perusahaan dalam jangka waktu yang panjang.No. perusahaan juga harus aktif dalam kontrol kegiatan CSR tersebut.program tersebut termasuk dalam rencana srtategis. Tbk.05 tahun 2007. Penyikapan terhadap UU. Berbeda apabila program pendidikan dilakukan dengan cara pelatihan.kegiatan itu tidak terlalu memiliki dampak jangka panjang bagi perusahaan. khususnya pada BUMN yang belum optimal dalam penyaluran dana program kemitraan.

Hal ini dikarenakan pihak luar tidak memungkinkan untuk dapat masuk ke dalam internal perusahaan. tetapi dalam lingkup kerjasama dengan BUMN penyalur dana. program CSR harus dilakukan oleh perusahaan itu sendiri. Adapun program CSR yang fokus ke internal perusahaan (stakeholder internal). maka pilihan yang paling tepat adalah dengan merujuk jawaban pada poin b. Implikasi terhadap implementasi ISO 26000 Pada konteks ini sudah sangat jelas bahwa ISO 26000 merupakan pedoman pelaksanaan CSR yang holistik. Tbk sebagai BUMN tidak bisa melakukan kerjasama dengan yayasan independen lainnya dimana pengelolaanya sepenuhnya akan diserahkan kepada yayasan tersebut. sebagai formal institution. Artinya adalah. maka dapat disimpulkan bahwa PT. Hal ini juga masih perlu dipilah sesuai dengan yang dilakukan di kasus awal (kasus a). PT. Selain itu. Dalam pelaksanaanya. Semen Gresik. pelaksana dari program CSR tersebut masih dikelola oleh organisasi khusus yang merupakan bagian dari perusahaan. Berdasarkan pada penjelasan ini. CSR harus menyentuh semua aspek. yang dapat digunakan untuk menjawab pertanyaan ini. maka dapat dijelaskan bahwa kerjasama dengan yayasan memungkinkan untuk dilaksanakan oleh perusahaan apabila konteksnya adalah pada program CSR yang bersifat eksternal (stakeholder eksternal). meliputi aspek internal maupun aspek eksternal. Berdasarkan pembobotan prioritas dampak positif terhadap perusahaan untuk mencapai keunggulan kompetitif yang berkelanjutan.05 tahun 2007. BUMN bisa bekerjasama. Jawaban yang diberikan merupakan jawaban parsial. c. Pada pernyataan di atas jelas bahwa sebagai BUMN. yaitu berdasarkan regulasi pemerintah. yang menyatakan bahwa pelaksana daripada kedua program tersebut (PK dan BL) adalah unit organisasi khusus yang merupakan bagian dari organisasi BUMN yang berada dibawah pengawasan seorang direksi (Angka 16 Pasal 1 jo. perusahaan sangat perlu melakukan . kriteria institutional merupakan yang paling prioritas.Terdapat rujukan pasal lagi pada Permen No. Semen Gresik. Ketiga jawaban di atas memiliki pandangan yang berbeda pada masing. Pasal 5 huruf a). Melihat permasalahan ini.masing permasalahanya. Bagaimanapun apabila perusahaan harus memilih. Tbk dibatasi dalam suatu regulasi dalam pelaksanaan kerjasama CSR. yaitu menjawab dengan tidak menghubungkan satu kondisi dengan kondisi yang lainnya.

go. atau untuk kesejahteraan warga. Pengelolaan dana CSR ini dapat diwujudkan dengan pembangunan infrastruktur.jatimprof. Tiap pelaku usaha nantinya akan diberi kewajiban untuk menyampaikan datadata program TSP ini yang akan dan sedang dilakukan. . Di setiap kota nantinya perusahaan-perusahaan membuat forum perkumpulan pengusaha. dan program langsung pada masyarakat. termasuk strategi yang berkaitan dengan CSR. yang diatur hanya langkahlangkah koordinasi.id) bahwa Rancangan Peraturan Daerah Jawa Timur mengenai kewajiban perusahan-perusahaan yang beroperasi di Jawa Timur untuk melaksanakan Corporate Social Responsibility (CSR) atau Tanggungjawab Sosial Perusahaan (TSP) dimaksudkan untuk memberikan perlindungan hukum atas pelaksanaan program CSR di Jatim. Selain memungut. forum ini juga dapat mengelola pendapatan dari pungutan CSR dengan koordinasi dengan Bappeprov. Sementara pemerintah daerah juga menyampaikan data CSR yang akan dan tengah dilakukan di daerahnya masingmasing. Forum inilah yang nantinya akan memungut dana CSR dari perusahaan. Kegiatan CSR yang diatur dalam Perda ini meliputi bina lingkungan dan sosial. serta memberikan arahan dan batasan yang jelas tentang kegiatan CSR.3 Wacana Tentang Rancangan Peraturan Daerah Inisiatif Tentang Tanggung Jawab Sosial Perusahaan (TSP) di Provinsi Jawa Timur Seperti yang diutarakan oleh Ketua Pansus TSP yang sekaligus Ketua Komisi E DPRD Jawa Timur Ahmad Iskandar dalam situs resmi Pemerintah Daerah Jawa Timur (www. dalam Perda ini dimungkinkan untuk mengajukan sasaran CSR ke Pemprop untuk kemudian dikoordinasikan dengan forum CSR perusahaan di Jatim. yang kemudian hasil pungutan tersebut akan disetor ke kas. Sedangkan untuk daerah yang tidak memiliki perusahaan yang memiliki program CSR dalam nilai besar. Tidak ada unsur paksaan dalam perda ini pada pelaku usaha untuk menentukan program CSR mereka. 3.penyesuaian dengan segala regulasi yang ada pada saat akan merumuskan suatu strategi. kemitraan UKM.

Beberapa pertanyaaannya adalah : 1) Bagaimana Pembentukan forum komunikasi perusahaan pelaksana TSP. Menurut M.Tentunya dengan adanya wacana tentang Raperda TSP/CSR Jawa Timur ini. ahli dalam bidang tertentu. Tentang pelaksanaanya akan diatur melalui Peraturan Gubernur. secara umum bahwa Draf Raperda Tanggung jawab Sosial Perusahaan sudah cukup representatif untuk dijadikan sebagai dasar hukum pelaksanaan Tanggung jawab Sosial Perusahaan di Jawa Timur.kelompok orang. yang meliputi: 1. Namun terdapat beberapa aspek yang cukup penting secara eksplisit belum dijelaskan di dalam Raperda Tanggung jawab Sosial. Mengenai kelembagaan yang berwenang mengkordinasian pelaksanaan Tanggung jawab Sosial Perusahaan. . pelaksanaan dan pengendalian TSP”. harmonis dan efisien dalam kordinasi forum. perusahaan-perusahaan yang beroperasi di Jawa Timur termasuk PT. Pasal 25 ayat (1) menyebutkan bahwa “Setiap orang. Hal ini secara implicit diatur dalam beberapa pasal di dalam Draf Raperda Pertama. Subaidi Muchtar dalam “Kajian Tentang Tanggung Jawab Sosial Perusahaan dalam Rangka Pembahasan Raperda Tanggung Jawab Sosial Perusahaan Provinsi Jawa Timur”. Tbk harus siap dengan segala kemungkinan bergulirnya regulasi baru tersebut. akademisi. Beberapa Muatan Raperda yang Membutuhkan Perhatian Ada beberapa muatan dalam Raperda CSR Jawa Timur yang sebenarnya perlu mendapatkan perhatian.” Kedua. pasal 22 yang berbunyi “Perusahaan membentuk forum komunikasi perusahaan pelaksana TSP agar program.program TSP terencana secara terpadu. a. profesional dan tokoh masyarakat berhak ikut serta dalam kegiatan perencanaan. kelompok swadaya masyaakat. sebelum perusahaan bisa menentukan strategi yang tepat dalam menghadapi regulasi yang baru ini nantinya. Semen Gresik.

Penandatanganan kesepakatan ini telah dilaksanakan di Ngawi yang disaksikan oleh Presiden RI Bapak D. 3) Bagaimana pertanggung jawabannya Forum. Forum yang telah atau terbentuk MoU ini antara telah menjembatani dengan terselenggaranya corporate tentang penandatanganan Gubernur penyelenggaraan PKBL/CSR di Jawa Timur. Soesilo Bambang Yudoyono. Adapun penyelenggara PKBL/CSR yang terlibat dalam penandatangan MoU dengan Gubernur Jatim ini sebanyak 14 Corporate. Forum PKBL/CSR ini dibentuk oleh Bappeda untuk melakukan koordinasi. Belum ada kepastian akan besaran yang pasti tentang dana yang harus disetorkan masing-masing perusahaan serta apakah perusahaan masih diberikan kewenangan untuk mengatur dana CSR nya tersebut untuk kepentingan program CSR oleh perusahaannya sendiri ataukah sepenuhnya harus dikelola oleh pemerintah. sebagaimana diatur dalam pasal 27 dan pasal 28.2) Bagaimana batas-batas kewenangan Forum komunikasi perusahaan pelaksana TSP. 2. 3. Implikasi Raperda TSP Jatim pada Program CSR PT. Mengenai besaran serta sistem pengelolaan dana CSR yang nantinya akan dikelola oleh forum komunikasi perusahaan dengan koordinasi Bapeprof. belum jelas secara secara eksplisit memasukkan klasul sanksi sebagaimana diatur dalam UU No. b. Mengenai sanksi dan penghargaan. 4) Bagaimana hubungan Forum dengan peran serta masyarakat sebagaimana diatur dalam pasal 25 ayat (1). sharing informasi dan sinkronisasi dalam upaya pengintegrasian program agar lebih konvergen antara program pemerintah dengan corporate penyelenggara PKBL/CSR. Belum secara eksplisit misalnya menyatakan bahwa penghargaan berupa keringanan kewajiban fiskal dirumuskan dalam pasal yang mengatur tentang penghargaan. Beberapa pertanyaan tersebut mungkin telah terjawab dengan telah dibentuknya Forum PKBL/CSR per 18 Januari 2010. Tbk . Semen Gresik. 25/2007 tentang Penanaman Modal serta terkait dengan penghargaan hanya bersifat normatif dan adminiatratif.

Semen Gresik. Semen Gresik. Pada posisinya saat ini. sehingga kekawatiran yang muncul adalah apabila tujuan pelaksanaan program CSR nantinya akan kurang optimal atau kurang mengena bagi kepentingan perusahaan khususnya terkait dengan kepentingan core competences. Tbk terus meningkatkan dana yang dikucukkan untuk pelaksanaan program CSR/PKBL nya. masih banyak pertanyaan mengenai beberapa hal yang berkaitan dengan pelaksanaan program CSR masing-masing perusahaan nantinya. Tbk sebagai BUMN telah memiliki dasar peraturan pelaksanaan program CSR/PKBL bagi BUMN yaitu UU no. Tbk tidak terlalu terpengaruh oleh regulasi baru yang akan diterapkan oleh pemerintah Provinsi Jawa Timur itu. Namun jika dilihat dari implikasi terhadap kinerja sosialnya. Raperda ini dapat dirasa mengurangi dampak optimal dari beberapa tujuan pelaksanaan CSR oleh PT. serta pencitraan public. memang sebelum digulirkannya Raperda Inisiatif tentang Tanggungjawab Sosial Perusahaan. Dengan adanya pembentukan forum komunikasi perusahaan yang mengatur pelaksanaan program CSR di Jawa Timur memang mempunyai harapan mengenai adanya keterpaduan antara program CSR perusahaan dengan program pemerintah sehingga tidak terjadi overlapping program. Selama ini. bahwa dalam Rancangan Perda TSP Jatim yang tengah digodok. Bahkan dibuktikan dengan setiap tahunnya PT. 05 Tahun 2007. PT. Apalagi disebutkan bahwa dana CSR akan dikelola oleh forum CSR dengan koordinasi Bapeprof. PT. Semen Gresik. Seperti yang telah diutarakan. termasuk mengenai pembentukan forum komunikasi perusahaan pelaksana TSP serta peran serta masyarakat yang termuat dalam draf Raperda tersebut. Semen Gresik. promosi. Secara umum program pengembangan CSR di . tentunya akan menjadi sebuah regulasi baru yang harus dipatuhi dan dilaksanakan oleh perusahaan.Dengan disahkannya Raperda Provinsi Jawa Timur tentang Tanggungjawab Sosial Perusahaan (TSP) bagi seluruh perusahaan yang ada di Jawa Timur termasuk Semen Gresik. Sehingga secara kinerja keuangan sebenarnya PT. dengan mempertimbangkan prioritas program-program pembangunan di Jawa Timur telah dirancang oleh pemerintah Provinsi. Tbk yang selama ini telah dilaksanakan. Pengembangan guna memadukan program CSR dengan program kemitraan yang saat ini tengah dilaksanakan oleh dunia usaha. 40 Tahun 2007 dan Permen no. Tbk tentunya harus melakukan beberapa penyesuaian kebijakan pelaksanaan CSR yang selama ini telah dilaksanakan sebelumnya. Semen Gresik.

kolusi dan nepotisme (KKN). Jangan sampai dana sosial dari perusahaan ini diselewengkan oleh organisasi atau partai politik untuk kepentingan politik maupun kekuasaan. pemerintah dan masyarakat setempat. Kekhawatiran lain yang akhirnya muncul adalah tentang kontroling serta pertanggungjawaban forum. sehingga program ini benar-benar dapat menyelesaikan problem sosial dan lingkungan yang terjadi di sekitar lokasi industri. . Bagaimanapun kegiatan ini mesti dikontrol secara ketat baik oleh perusahaan.Jawa Timur digambarkan dalam skema berikut (sesuai dengan usulan dari riset tentang PKBL/CSR melalui Kerjasama Pemprov Jatim dengan Lembaga Penelitian Universitas Negeri Malang berjudul “Penyusunan Strategi Kebijakan Efektivitas Pemanfaatan Corporate Social Responsibiliti (CSR) Untuk Kinerja Pembangunan Daerah”). Transparansi dalam pengelolaan kegiatan ini juga diperlukan untuk menghindari terjadinya praktek korupsi. sehingga melenceng jauh dari semangat CSR.

Beberapa hal yang mungkin dapat diambil sebagai bentuk sikap PT. yang dipadukan dengan program pembangunan bidang ekonomi dan Program Kerjasama Kemitraan korporasi di Jawa Timur. Semen Gresik. Pada dasarnya PT. sedangkan informal dapat berupa norma. tentunya perlu diingat konsep strategy tripod yang telah dijelaskan di depan yang salah satu konsepnya adalah mengenai Institutional conditions and transitions. dan sejarah pada perusahaan dan lingkungan industri itu berada. Semen Gresik.4. Tbk tidak setuju apabila seluruh dana CSR yang telah dialokasikan setiap tahunnya harus disetorkan kepada pemerintah untuk dikelola sepenuhnya. 2009) c. (Sumber : Universitas Negeri Malang. Skema pengembangan program CSR.Gambar 3. Strategi yang diambil suatu perusahaan salah satunya harus mempertimbangkan formal institution dan informal institution agar memiliki daya saing yang berkelanjutan (Sustainable Competitive Advantage). Tbk dalam menghadapi wacana Raperda CSR ini diantaranya : 1. Strategi Semen Gresik dalam Menghadapi Perda CSR Jatim Sebagai sebuah BUMN yang mengelola sumber daya alam. mau tidak mau Semen Gresik memiliki kewajiban untuk melaksanakan regulasi-regulasi pemerintah yang telah ada termasuk Raperda CSR Jatim yang telah digodok DPRD Jatim nantinya. budaya. Formal Institution dapat berupa peraturan perundang-undangan dan kebijakan pemerintah. Hal ini didasari beberepa pertimbangan penting diantaranya : Rawannya terjadi penyalahgunaan dana oleh kepentingan politik dan kekuasaan serta praktek praktek KKN. . Namun untuk mencapai keselarasan serta tujuan yang optimal dari pelaksanaan CSR oleh Semen Gresik.

Bagaimanapun responbsibility dalam konsep CSR merupakan salah satu prinsip dalam good coorporate government (GCG). dll). dengan tanpa membatasi kepentingan perusahaan terkait dengan CSR (misal. Tiga prinsip lainnya adalah fairness. dan sharing program. pencitraan.- Kepentingan perusahaan yang menyangkut SCR seperti aspek promosi. yaitu tanggung jawab terhadap pelestarian sumberdaya alam sebagai penompang keberlanjutan kehidupan. perlindungan aset. aspek promosi. 2. masyarakat dan lingkungan. - Pemerintah perlu memberikan penghargaan terhadap perusahaan yang dengan suka rela melaksanakan CSR karena tanggungjawab sosial dan moral. Semen Gresik. Sedangkan dalam akuntabilitas. Apabila memang Raperda ini nantinya akan disahkan. namun demikian aturan tersebut tetap memberikan peluang pada korporasi untuk menuangkan aspirasinya terkait dengan kepentingan perlindungan terhadap core competences. Bentuk fasilitasi pemerintah dapat berupa fasilitasi perijinan pelaksanaan CSR. Semen Gresik. sosialisasi tentang CSR kepada masyarakat. keringanan fiscal dan fasilitasi pemerintah terhadap korporasi yang melaksanakan CSR. dan accountability. serta pencitraan publik. Tbk harus terus ikut mengontrol perkembangan pelaksanaan regulasi tersebut termasuk keikutsertaan aktif pada forum komunikasi perusahaan yang berkoordinasi dengan pemerintah. peningkatan kapasitas. . terutama yang berdampak pada karyawan. maka PT. serta kepentingan lainnya akan kurang mengena ke tujuan. Dalam keikutsertaannya yang aktif diharapkan PT. perlindungan asset. juga menjadi bagian yang tak terpisahkan sehingga harus saling menopang. - Aturan yang disusun hendaknya mengacu pada filosofi CSR. pemangku kepentingan mengharapkan perusahaan memiliki kinerja yang baik dalam bidang non-finansial seperti dalam hak asasi manusia. Tbk dapat memberikan beberapa usulah menyangkut kepentingan perusahaan dalam program CSR diantaranya : - Bahwa keberadaan pemerintah adalah memfasilitasi pelaksanaan CSR oleh korporasi. Bentuk penghargaan bisa berupa dukungan kebijakan kepada korporasi. promosi. Prinsip transparansi menuntut perusahaan untuk memaparkan dan mengkomunikasikan kebijakan dan praktik-praktik yang dijalankannya. penyediaan data. transparency.

diharapkan masyarakat bisa mengetahui kesesuainnya.usulan program CSR yang dapat dipertimbangkan oleh PT. merupakan potensi source of opportunity. Pelatihan tukang-tukang khususnya yang berada di luar Jawa. Tbk. dengan tujuan untuk mengurangi jumlah sampah kertas zak semen dimana saat ini penetrasi pasar di Indonesia 80% berupa semen dalam zak. 3. Pemanfaatan titik-titik distribusi yang sudah dimiliki oleh jaringan anak perusahaan PT. Dengan terbukanya apa yang diberikan perusahaan kepada pemerintah. dan apa yang diperoleh pemerintah dari perusahaan itu. perlu juga pengadopsian prinsip EITI (Extractive Industries Transparency Initiative) dalam kegiatan CSR.4 Usulan Kegiatan CSR untuk mencapai Sustainable Competetive Advantage Bab ini merupakan bab tambahan yang berisi tentang usulan. tapi juga akuntabel dan transparan dengan membuat standar audit sosial atas praktik bisnis. 2. dan adanya auditor independen. Selain itu. Tbk. Program-program yang kami usulkan dapat dilakukan sebagai pendekatan yang memperkaya program-program yang sudah berjalan sebelumnya adalah: 1. . seperti batching plant Varia Usaha Beton yang tersebar di banyak daerah sebagai titik konversi pemanfaatan semen dari paper bag menjadi bulk. Semen Gresik. Kegiatan CSR dengan demikian bisa dikelola secara transparan dan akuntabel. atau transmigran- transmigran baru yang ada di daerah. termasuk anggaran untuk CSR. dengan tujuan mempercepat proses pembangunan di daerah luar Jawa disebabkan banyak sekali proyek-proyek infrastruktur maupun pembangunan skala menengah dan kecil membutuhkan tenaga kerja yang banyak. Percepatan pembangunan di luar Jawa. Semen Gresik. Diharapkan dengan berkurangnya persentase distribusi semen dalam zak / paper bag digantikan dengan meningkatnya persentase distribusi dalam bulk / curah akan meningkatkan efisiensi biaya distribusi disamping tujuan utama berkontribusi dalam pengurangan sampah sisa pembangunan.kebijakan lingkungan dll. Targetnya yakni membuat seluruh praktik bisnis tidak hanya bertanggung jawab secara sosial. dalam pelaksanaannya nanti. Prinsip utama EITI ini adalah membuka dan memverifikasi semua pembayaran baik dari perusahaan kepada pemerintah maupun yang diterima pemerintah dari perusahaan. dan selama ini disuplai mayoritas hanya dari Jawa dan sekitarnya.

Semen Gresik. Garam adalah bahan baku utama pada industri kimia sodium karbonat atau soda ash sebagai komponen utama dalam industri pembuatan kaca. Tbk. Namun kondisi tersebut berjalan dengan kondisi kurang optimal dimana dengan stakeholder BUMN pembina PT. saluran air. di mana source of opportunity akan terwujud apabila perusahaan melakukan program CSR ini. 5. Tbk. maka akan terbuka kesempatan bagi perusahaan untuk mendapatkan pasar baru (competitive advantage). Tbk. batako. dimana hal ini dilakukan untuk mendukung rencana strategis PT. seperti industri genteng. 2008). Garam Persero saja yang mendampingi maka proses produksi garam dan pengayaan garam dengan yodium untuk aplikasi makanan menjadi terbatas. dan ekonomi yang dilakukan oleh PT. Dengan seluruh program CSR di bidang lingkungan. Semen Gresik. untuk membuka lahan tambang kapur baru di Madura sebagai bagian dari pengembangan komunitas sekitar. Tbk. hal ini juga merupakan diversifikasi pangsa pasar semen yang pada akhirnya akan meningkatkan penetrasi produk PT. dimana perusahaan akan dapat memperoleh material dengan mudah sebagai dampak positif dari program CSR ini. Sosialisasi dan penyusunan kerangka kerja untuk perdagangan karbon. pada kalangan lebih luas. pot tanaman. Pelatihan dan pendampingan UKM yang business processnya berhubungan dengan PT. muncul suatu tema baru yang diajukan sebagai solusi alternatif pendekatan pengelolaan dampak industri terhadap lingkungan yang disebut dengan Perdagangan Karbon/Emisi. sebagai contoh penanaman green belt atau green barrier pada areal bekas . Semen Gresik. Hal ini sama halnya dengan program nomer 2. Selain dimaksudkan untuk meningkatkan daya saing dan perekonomian masyarakat. Hingga saat ini pulau Madura merupakan produsen garam utama Indonesia dengan luas total lahan produksi garam rakyat lebih dari 60% luas pulau secara keseluruhan yang didukung oleh iklim dan kondisi tanah di daerah tersebut. 4. Dalam pandangan kerangka kerja terhadap dampak-dampak yang ditimbulkan oleh perubahan iklim global. sebenarnya sudah menggambarkan sebagian dari konsep kerangka kerja yang diinginkan. selain untuk aplikasi makanan juga garam berkadar kemurnian tinggi untuk aplikasi industri sabun dan pembersih dalam bentuk caustic soda.Dengan makin cepatnya pembangunan di luar Jawa. Semen Gresik. Kebutuhan garam Indonesia saat ini masih ditopang dengan suplai impor dari negara lain seperti Australia. Pelatihan dan pendampingan proses produksi. pengayaan industri garam yang baik di Madura. Program ini berpotensi menjadi source of resource. 3. dll. sosial. (Hough.

Jepang oleh lebih dari 180 negara pada Desember 1997. serta kemudian menentukan program apa saja yang perlu dilakukan kedepan untuk memperkuat posisi PT. dll.25% pada periode 2008 hingga 2012. dapat mengambil langkah strategis dengan melakukan audit energi menyeluruh terhadap semua proses produksinya.galian tambang di Gresik dan Tuban. Sebagai ilustrasi jika sebuah negara membeli karbon. 5. dan negara yang menjual karbon memberikan hak untuk membakar karbon yang dimilikinya. Dalam hal ini PT. Semen Gresik. 5. kemudian menginventarisir program apa saja yang sudah dilakukan dan mengukur dampaknya.2 Mekanisme Perdagangan Karbon . Semen Gresik. Namun yang belum dilakukan adalah membuat suatu kerangka kerja yang mewadahi semua kegiatan dan program CSR tersebut dalam satu tema besar yang terarah dan sinergis.1 Sekilas mengenai Perdagangan Karbon Istilah perdagangan karbon muncul sebagi respon terhadap Protokol Kyoto. protokol tersebut mensyaratkan kepada 38 negara-negara industri untuk mengurangi emisi gas rumah kaca atau karbondioksida hingga level 5. Dengan berakhirnya Protokol Kyoto pada 2012 mendatang maka akan semakin banyak industri besar khususnya di negara-negara maju yang menggalakkan investasi hijau atau green investment untuk mendukung kerangka kerja tersebut. Ide dibalik perdagangan karbon sebenarnya sederhana mirip dengan memperdagangkan saham atau komoditas di pasar. Tbk. Karbon diberikan suatu nilai ekonomi yang memungkinkan perusahaan atau negara memperdagangkannya. dalam memasuki pasar global. Karbon adalah senyawa yang disimpan dalam bahan bakar fosil seperti batubara dan minyak bumi. maksudnya adalah membeli hak untuk membakarnya. pendampingan UKM yang mengolah sampah kertas dan plastik menjadi kerajinan atau benda bernilai ekonomi tinggi. dimana ketika bahan ini dibakar akan melepaskan karbondioksida yang disebut sebagai gas rumah kaca karena efek yang ditimbulkannya ketika mencapai atmosfer bumi dan berkumpul membuat semacam lapisan pembatas satu arah yang memungkinkan panas matahari masuk ke bumi namun pantulan panas tersebut tidak bisa keluar kembali melewati atmosfer sehingga menyebabkan suhu bumi semakin meningkat yang biasa disebut fenomena global warming. Tbk. Ditandatangani di Kyoto.

dan diperkirakan setiap tahunnya Indonesia dapat menjual 20. maka Indonesia dapat meraup keuntungan hingga USD 528 juta. Berkaitan dengan fungsi hutan tersebut. Disebutkan bahwa biomas pohon dan vegetasi hutan berisi cadangan karbon yang sangat besar yang dapat memberikan keseimbangan siklus karbon bagi keperluan seluruh makhluk hidup di muka bumi ini. muncullah paradigma baru akan manfaat hutan yang berperan didalam penyimpanan karbon.3 Tantangan Ke Depan Menurut Menteri Negara Lingkungan Hidup Rachmat Witoelar sektor energi memiliki potensi penjualan karbon hingga 60 juta ton. P 14 Tahun 2004. Jika saat ini harga pasaran karbon di dunia internasional mencapai USD 5-6/ton. dimana secara fisika dalam proses fotosintesis hutan menghasilkan O2 dan menyerap CO2. Mendasari Protokol Kyoto dengan mewujudkan Mekanisme Pembangunan Bersih. 1. Tinggi pohon minimal 5 meter. sehingga keseimbangan dapat terjaga.Hutan kita yang dikenal sebagai “paru-paru dunia” karena masuk dalam hutan tropis. Fungsi hutan disini sebagai penyerap buangan atau emisi yang dikeluarkan dari aktivitas makhluk hidup secara keseluruhan yakni CO2. Persentase penutupan tajuk 30 %. Mekanisme baru yang muncul dalam perdagangan karbon berkaitan dengan hutan adalah negara-negara industri dan negara-negara penghasil polutan terbesar diberi kesempatan untuk melakukan kompensasi dengan cara membayar negara-negara berkembang untuk mencadangkan hutan tropis yang mereka miliki sehingga terjadi “sequestration” (penyimpanan sejumlah besar karbon). sedangkan sektor kehutanan memiliki potensi hingga 28 juta ton.25 Ha. 5. Luas hutan minimal 0. 3. Pemerintah telah memberikan batasan kriteria hutan sebagaimana yang diatur dalam Peraturan Menteri Kehutanan No. merupakan siklus penting bagi kelangsungan seluruh makhluk hidup di dunia. Lalu muncul pertanyaan hutan yang seperti apa yang layak untuk dilakukan kompensasi.000 ton karbon. tentang Tata Cara Aforestasi Dan Reforestasi Dalam Kerangka Mekanisme Pembangunan Bersih menyebutkan bahwa hutan dalam rangka mewujudkan Mekanisme Pembangunan Bersih adalah . . 2.

sampai kepada sistim pembagian kompensasi yang diperoleh.-/tahun.000. Sebagai wacana bahwa aktivitas perdagangan karbon telah dilakukan di Wana Riset Semboja (kalimantan). apalagi dengan luasan hutan Indonesia yang 91 juta hektar. (Razak. 2007) . Jika dikaji secara ekonomis. 2. Kesiapan regulasi yang mengatur secara detail mulai dari tata ruang wilayah. sehingga mengurangi akses mereka terhadap hutan. yang telah disertifikasi dan di jual ke Jerman dengan harga USD 5 /ton. Jumlah karbon per hektar adalah 25 ton. kerjasama Gibon Indonesia dan BOS (Balikpapan Orang Utan Survive Foundation). sehingga dapat meningkatkan taraf hidup mereka. 125.Perlu digaris bawahi bahwa didalam kegiatan penghutanan bukan hanya penanaman. dimana terdapat areal hutan seluas 100 ha. tetapi juga pemeliharaan. pengamanan dan lain-lain yang membutuhkan dana tidak sedikit. Kompensasi yang dihasilkan pertahun adalah kurang lebih Rp. Harapan dari kompensasi ini adalah dana tersebut dapat dinikmati langsung oleh masyarakat. Beberapa hal yang menyebabkan kurang efektifnya sistim perdagangan karbon ini diterapkan di Indonesia terlepas dari nominal harga yang ditawarkan antara lain adalah: 1. Kesiapan kelembagaan untuk mengkoordinir alokasi dana yang dikompensasikan. maka ini cukup besar.000.

Usulan skema aliran dana.5.al.. kredit karbon dan distribusi pembayaran dalam pelaksanaan proyek karbon kehutanan.Gambar 3. (Boer et. 2009) .

Rakor. Fakultas Ilmu Sosial dan Ekonomi.php? option=com_content&task=view&id=9958&Itemid=2 . USA Hough.jatimprov. MESA Journal Geological Survey Branch.M. Stanford University. Penguatan Kerjasama Pengelolaan Peluang Kerja Dan Peluang Usaha. Benefit and Cost Analysis. chemin de la VoieCreuse Case postale 56 CH .iso. 1991. Prosiding Seminar Hasil-Hasil Penelitian IPB.1211 Genève 20 Switzerland www.org © ISO. Salt Production in South Australia. Dep. Pendidikan Ekonomi.org/old/id/AboutPSF/visi-dan-misi. Pusat Studi Pengelolaan Peluang dan Resiko Iklim LPPM IPB. Stanford. diakses pada 24 Agustus 2011 Ahmad. 2009.. Prosiding Seminar Nasional Manajemen Teknologi V Program Studi MMT-ITS.html. Firm resources and sustained competitive advantage. Yogyakarta Anggraini. Journal of Management 17(1): 99–120 Boer. page 67-76 Dinas Komunikasi dan Informatika Prov. Visi dan Misi. Simposium Nasional Akuntansi IX. Surabaya Hemaida. Fr. Dynamic Capabilities: What Are They? Department of Management Science and Engineering.sampoernafoundation.DAFTAR PUSTAKA Anonymous. R and S. 2000. “Pertengahan April. Employee Performance Evaluation Using The Analytic Hierarchy Process. Academy of Information and Management Sciences Journal Vol 6 Number 2. R. 2006.diakses tanggal 21 Agustus 2011 Eisenhardt. 2010. Padang. Bandung Barney JB. R. Cheetam.go. 2010. Jatim. Joanne K. Muhammad Ardiansyah. Buliali. California. Everett.Modul Mata Kuliah Evaluasi Proyek. A. 2008. Perancangan Aplikasi Penilaian Pegawai di Universitas x dengan Metode Fuzzy. Manajemen Hutan. Raperda TSP Akan Disahkan”http://www. A. Bramasto Nugroho. Fakultas Kehutanan IPB. K. 2010. Jefrey A. 2010. Universitas Negeri Yogyakarta.id/index.M. Australia International Organization for Standardization ISO Central Secretariat 1. 2003. ISBN 978-92-67-10538-3 . 23-26 Agustus ASDEP PEMBINAAN KEMITRAAN DAN BINA LINGKUNGAN. Rizaldi. dan J. http://www. PIRSA. 2007. Pengungkapan Informasi Sosial dan Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pengungkapan Informasi Sosial dalam Laporan Keuangan Tahunan. Bogor Handojo. Analisis Potensi Perdagangan Karbon Kehutanan dalam Rangka Mengatasi Krisis Keuangan.

2010. Sunny Li Sun. Abdul. Kelayakan Kompensasi yang Ditawarkan dalam Perdagangan Karbon. 2009. Universitas Negeri Malang.Program Studi Manajemen Konservasi Sumber Daya Aalam dan Lingkungan Universitas Gadjah Mada. The Institution-Based View as a Third Leg for a Strategy Tripod.Surakarta Peng. (2007). 2010. Muchtar .W. Fakultas Ekonomi Universitas Sebelas Maret. SOSIAL DAN FAKTOR – FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PENGUNGKAPAN INFORMASI PERTANGGUNGJAWABAN SOSIAL DALAM LAPORAN KEUANGAN TAHUNAN. M. Skripsi. Brian Pinkham. Malang . 2009. Makalah Manajemen Hutan Lanjutan Program Pasca Sarjana / S2 . Jombang Universitas Negeri Malang. and Hao Chen. Kajian Tentang Tanggung Jawab Sosial Perusahaan dalam Rangka Pembahasan Raperda Tanggung Jawab Sosial Perusahaan Provinsi Jawa Timur. Penyusunan Strategi Kebijakan Efektivitas Pemanfaatan Corporate Social Responsibiliti (CSR) Untuk Kinerja Pembangunan Daerah. Academy of Management Perspectives Razak. Yogyakarta Subaidi M.Ismuniarti. W.

Pengolahan Data AHP 1. Kuesioner Perbandingan Berpasangan b. Bobot Prioritas Kriteria Dampak Positif Internal .1 Pembobotan Prioritas Kriteria Dampak Positif CSR terhadap Internal (Perusahaan) a.Lampiran 1.

Lanjutan 1.2 Pembobotan Prioritas Kriteria Dampak Positif CSR terhadap Eksternal Perusahaan a. Bobot Prioritas Kriteria Dampak Positif Eksternal . Kuesioner Perbandingan Berpasangan b.

Kuesioner Perbandingan Berpasangan b.Lanjutan 1. Bobot Prioritas Kriteria Dampak Negatif .3 Pembobotan Prioritas Kriteria Dampak Negatif CSR yang dapat Menghambat Pencapaian Optimal Program CSR Perusahaan a.

1.Bobot Kontribusi Alternatif.Bobot Kontribusi Alternatif. Terhadap Dampak Positif Internal (benefit) .Alternatif Bidang CSR terhadap Source of Opportunity .Bobot Kontribusi Alternatif.Alternatif Bidang CSR terhadap “Good Institutional” image .alternatif Bidang CSR terhadap Source of Resources .4 Pembobotan Kontribusi Alternatif terhadap terwujudnya Dampak CSR a.

Bobot Kontribusi Alternatif.Bobot Kontribusi Alternatif.alternatif Bidang CSR terhadap dampak “Mengurangi Konflik Sosial” . Terhadap Dampak Positif Eksternal (benefit) .Bobot Kontribusi Alternatif..Alternatif Bidang CSR terhadap Source of Differentiation b.alternatif Bidang CSR terhadap Dampak “Meningkatnya Kualitas Hidup Masyarakat dan Lingkungan” .

alternatif Bidang CSR terhadap Dampak Negatif “Potensi Menciptakan Pencitraan Sementara (tidak berkelanjutan)” - Bobot Kontribusi Alternatif.alternatif Bidang CSR terhadap Dampak Negatif “Butuh Dana yang Tinggi” .d. Terhadap Dampak Negatif (cost) - Bobot Kontribusi Alternatif.alternatif Bidang CSR terhadap Dampak Negatif “Potensi Timbulkan Kecemburuan Sosial Baru” - Bobot Kontribusi Alternatif.

02664 0.237831 0.16667 0.29407 0.265137 0.086284 0.18031 .07823 0.06371 0.350703 1 0.13493 0.082612 1 0. Perhitungan Bobot Tingkat Kontribusi Alternatif Program pada Dampak Positif Internal dan Eksternal (Benefit) Internal Source of Source opportunit of Source of y resource Institusional 0.20571 1 0.212391 1 0.282924 1 Total Total Program kemitraan Bencana Alam Pendidikan&Pelatihan Peningkatan kesehatan Sarana dan Prasarana Umum Keagamaan Pelestarian lingkungan Total 0.060311 0.123056 0.10696 0.034698 0.259411 0.048717 0.5 Perhitungan Cost and Benefit Ratio a.055225 0.199333 0. sosial 0.115452 0.10606 0.83333 0.155737 0.1321 0.09178 0.038885 0.25765 0.031311 1 0.155049 0.18361 1 Eksternal Tingkatkan Kurangi kualitas konflik Masy.085368 0.30233 0.30398 0.108663 0.125794 0.17102 0.136359 1 0.110356 5 0.02855 0.066994 0.1.11147 0.04357 0.03641 0.214703 9 0.16534 0.17934 0.028851 0.16936 0.05329 1 Alternatif Program Source of different 0.62233 0.13154 0.&Ling.20026 0.251224 0.201907 0.04695 0.19484 0.186826 3 0.065557 0.

008905 6.989724 1.26434 Bencana Alam 0.562918 1.982053 1.069812 0.058931 Pelestarian lingkungan 0.095357 Sarana dan Prasarana Umum 0.b.104729 0.160003 0.776346 Sarana dan Prasarana 0.13777 0.222519 0. baik untuk perusahaan maupun eksternal Program berkontribusi kurang optimal .307745 Keagamaan 0.739454 9% Keagamaan 9 0.25623 0.442565 5.833772 35 % Pendidikan&Pelatihan 3 3.masing Dampak (Internal dan Eksternal) = dalam Pencapaian dampak positif.100341 0.7574 Pelestarian lingkungan 2.390724 2.047599 0.234133 0.21918 1 Total 0.76607 9% Peningkatan kesehatan 8 0.128377 0.824867 0.053475 0.Masing Dampak Negatif (Cost) Pencitraan Kecemburuan sementara Sosial Alternatif Program 0.206181 0.636986 0.351085 27 % Butuh Dana Tinggi 0.332968 0.258285 Program kemitraan 0.033176 5% Umum 1 0.170031 3.273086 0.107189 0.90852 2.147635 Pendidikan&Pelatihan 0.470258 0.046781 Total 1 1 Alternatif Program Dampak Total % Ratio Internal Eksternal 1.13434 0.060883 0.07904 0.122197 0.057342 0.07382 c.66381 14 % Program kemitraan 2 1.08412 0.079211 Peningkatan kesehatan 0.23467 0.292229 1% Bencana Alam 8 0. Perhitungan Benefit and Cost Ratio pada masing. Perhitungan Bobot Tingkat Kontribusi Alternatif Program pada Masing.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful

Master Your Semester with Scribd & The New York Times

Special offer for students: Only $4.99/month.

Master Your Semester with a Special Offer from Scribd & The New York Times

Cancel anytime.