P. 1
Laporan Kelompok B Malnutrisi

Laporan Kelompok B Malnutrisi

|Views: 255|Likes:
Published by Silmi Rosmala

More info:

Published by: Silmi Rosmala on Dec 20, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/11/2014

pdf

text

original

LAPORAN HASIL DISKUSI Pediatrik Nutrition SKENARIO

Penyusun / kelompok B 1. Hanif Alamudin 2. Ahadyah M.U. 3. Amelia Faradina 4. Aulia Riska I 5. Ayu Intan Safitri 6. Citra Dewi Larasati 7. Ineke Marita O. 8. Nakhrisa 9. Nuril Rahmawati 10. Silmi Rosmala Hayati 11. Vivian Damayanti (0810730006) (0810730009) (0810730015) (0810730020) (0810730022) (0810730027) (0810730042) (0810730049) (0810730056) (0810733014) (0810733015)

JURUSAN GIZI FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG 2011

BAB I KEGIATAN DISKUSI

A. SKENARIO Balita yang memenuhi inclusion criteria sebagai SAM dengan komplikasi harus rawat inap. Pada fase awal balita baru masuk yang mempunyai kesadaran baik untuk menghindari hypoglicemia harus segera diberikan cairan tertentu. Untuk mencegah dehydrasi, balita diberikan ORS khusus dengan kandungan dan jumlah sesaui rekomendasi WHO. Pada initial phase balita diberikan F75 sedangkan pada fase rehabilitation phase diberikan F100. Intervensi yang tepat dapat meningkatkan recovery rate sehingga balita segera dapat memenuhi discharge criteria B. UNCLEAR TERM 1 SAM Nuril : Severe acute malnutrition, keadaan di mana

BB/TB < -3 SD Nakhrisa : BB < 80% BBI Ineke 2 ORS Nuril : kriteria lain menggunakan LILA < 11 cm.

: Oral Rehidration Solution, cairan untuk penanganan dehidrasi

3

Initial Phase

Hanif buruk. Vivian

: fase stabilisasi pada 10 tata laksana gizi

: fase pertama dari penanganan gizi buruk dimana diberikan F75 dan sejumlah mikronutrien seperti vitamin A dan vitamin C.

4

F75

Fara

: Makanan cair untuk anak gizi buruk, diberikan pada fase stabilisasi selama 3 – 7 hari. Bahan dasar terdiri dari campuran susu skim, gula pasir, dan minyak kelapa, dengan kandungan energi 75 Kkal / 100 ml

5

Dehidrasi

Vivian

: kehilangan air dari tubuh dan jaringan (Ahmad Ramli. Kamus kedokteran. Jakarta. FK Universitas Indonesia)

6 7

Recovery rate Hipoglikemi

Ayu Intan : kecepatan sembuh pasien Citra : kadar glukosa di dalam darah kurang dari

Ayu Intan : kriteria pemulangan balita sehat yang ditinjau dari suhu tubuh. Kriteria balita terkena dehidrasi . LEARNING OBJECTIVE 1. dengan kandungan energi 100 Kkal / 100ml. Komplikasi-komplikasi yang menyertai SAM 3. ada tidaknya muntah atau diare atau edema. selera makan anak. 9 Rehabilitation Phase Vivian : fase ketiga dari penanganan gizi buruk. gula dan minyak kelapa. Monev penanganan balita SAM dan discharge criteria 7. Intervensi tiap fase penanganan balita SAM dan indikatornya 6. D. Bahan dasar terdiri dari susu skim. kenaikan berat badan. perkembangan harus mencapai minimal 80% BB / TB normal untuk anak seusia pasien dengan gender yang sama. dimana diberikan F135 dan terdapat tambahan Fe. Kriteria Balita dengan SAM 2. Faktor penyebab terjadinya SAM 4. Konsentrasi gula di dalam darah dikatakan normal apabila pada keadaan puasa tidak melebihi 100 mg/dL. CUES Ahli gizi mampu membuat intervensi terhadap balita dengan SAM dan komplikasinya mulai dari inititial phase sampai dengan rehabilitation phase untuk mencegah dehidrasi dan hipoglikemia sehingga dapat meningkatkan recovery rate.mg/dL). diberikan pada fase transisi selama 30 hari. (Kamus Gizi) C.keadaan normal (kurang dari 7. Perbedaan penanganan SAM komplikasi dan SAM tanpa komplikasi 5. 10 F100 Silmi : makanan cair untuk anak gizi buruk. (Kamus Gizi) 8 Discharge criteria Ineke : terkait dengan SAM.

Penanganan balita dengan hipoglikemi E.8. lengan. Komposisi dari ORS dan tata cara pemberiannya 9. gunakan tanda klinis berupa anak tampak sangat kurus (visible severe wasting) dan tidak mempunyai jaringan lemak bawah kulit terutama pada kedua bahu. PEMBAHASAN 1.komplikasi yang menyertai SAM Jawab :   Demam yang berhubungan dengan infeksi sistemik terutama infeksi koliform Gram negative seperti Escherichia coli dan Klebsiella pneumonia Respiratory distress . tulang iga terlihat jelas. Jika BB/TB atau BB/PB tidak dapat diukur. Management of acute moderate and severe childhood malnutrition. 2008. Bjm volume 337 p: 1227 -1230) 2. dengan atau tanpa adanya edema ( WHO. Manary J M. Buku Saku Pelayanan Anak di Rumah Sakit. Edema pada kedua punggung kaki sampai seluruh tubuh (kwashiorkor: BB/TB >-3SD atau marasmik-kwashiorkor: BB/TB <-3SD 3. pantat dan paha. Komplikasi. Malnutrisi sedang (moderate)  z-score BB/TB ( -2 sampai -3 SD ) dan ada odeme (Sandige H L.2009. Kriteria Balita dengan SAM Jawab : 1. Depkes RI) 4. BB/TB < -3 SD atau <70% dari median (marasmus) 2. lingkar lengan atas <110 mm 5.

USA. seperti pengucilan Tingkat Kesehatan yang buruk di suatu Negara Inadequate Household Food Security Inadequate care and feeding practice Poor Public Health Access and Environment Caroline Grobler-Tanner. 2006. Mark J Manary and Heidi L Sandige. 2008. Sandige. 368. hypokalemia.1228 3. 2008. 22 november 2008 . Steve Collins. Washington University School of Medicine St. USAID Amerika Serikat. Louis USA. et al. A special report by the Famine Early Warning Systems Network (FEWS NET). hypoglycemia Anorexia Anemia Diare profuse Shock Mark j.      Heart failure Electrolyte derangements. including hypophosphatemia. 2006. Management of acute moderate and severe childhood malnutrition. Clinical Review Volume 337. Faktor penyebab terjadinya SAM Jawab : Penyebab Severe Acute Malnutrition        Inadekuate intake makronutrient Kemiskinan/Status Ekonomi Status Sosial. Department of pediatric. Management of Acute Moderate and Severe Childhood Malnutrition. Page. Publish Journal Vol. Understanding nutrition data and the causes of malnutrition in Niger. Management of Severe Acute Malnutrition in Children. Manary & Heidi L. 2 Desember 2006.

Makanan ini ekivalen dg F100. Intervensi tiap fase penanganan balita SAM dan indikatornya Jawab : Alur Pelayanan SAM di Rumah Sakit . Penanganan Severe Acute Malnutrition dengan komplikasi:      Harus dirawat inap. atau dengan manajemen berbasis komunitas Energi drekomendasikan 100 kcal/kg/day dalam bentuk susu F75 setiap 2-3 jam Untuk mencegah hipoglikemia diberikan 3-4 mmol/kg /hari kalium dan 2 mmol/kg/hari untuk fosfor Anak sebaikanya dibungkus selimut dan dekat dengan pengasuh untuk mencegah hipotermi Jika komplikasi teratasi. dan diberi perawatan rawat jalan dengan Ready to use therapeutic food  Balita dengan sepsis harus diperhatikan dan diwaspadai kemungkinan terjadinya syok 5. paling baik ditangani dengan rawat jalan. namun keefektifannya sudah teruji di beberapa studi. Diakukan pengawasan atau check-up setiap 1. tinggi protein. dapat diberi makanan tinggi energi.2 minggu.4. tetapi mengandung 175 kcal (733J)/ kg/ day. dengan diberikan makanan terapeutiksiap pakai (ready to use therapeutic food) yang dapat dialkukan secara manajemen berbasis komunitas. dan mengandung mikronutrien yang dibutuhkan untuk tumbuh kejar. Perbedaan penanganan SAM komplikasi dan SAM tanpa komplikasi Jawab : Penanganan Severe Acute Malnutrition tanpa komplikasi : Anak malnutrisi berat tanpa komplikasi dengan nafsu makan baik. Hal tersebut relatif baru.

10 Langkah Utama . syok .BB/U > 60% + edema) dengan gejala lain : .BB/U < 60% (.tidak nafsu makan .Kriteria lain untuk perawatan di RS : BB sangat rendah : . hipotermia.dehidrasi berat .tanda infeksi sistemik/lokal.edema (M-K) .diare persisten dan/atau muntah .BB/TB < 70% .usia < 1 thn 5 ASPEK TATALAKSANA SAM : A. sal nafas .anemia berat ( Hb < 5 g/dl) .ikterus .sangat pucat.

Pengobatan penyakit penyerta C. Pulang sebelum pemulihan tuntas E. Tindakan pada kegawatan Fase Penangangan Anak Gizi Buruk Dalam proses pelayanan KEP berat/Gizi buruk terdapat 3 fase yaitu fase stabilisasi. Petugas kesehatan harus trampil memilih langkah mana yang sesuai untuk setiap fase. Kegagalan pengobatan D. Tata laksana ini digunakan pada pasien Kwashiorkor. Marasmus maupun Marasmik-Kwashiorkor. dan fase rehabilitasi. fase transisi.B. Bagan dan jadwal pengobatan sebagai berikut: .

Pemberian Makanan Awal Prinsip pemberian nutrisi pada fase stabilisasi:  Porsi kecil tapi sering dgn formula rendah laktosa dan hipo/isoosmolar Berikan secara oral/NGT Energi: 80-100 kal/kgBB/hari Protein: 1-1.1. maka berikan sisa formulatersebut melalui pipa nasogastrik (dibutuhkan ketrampilan petugas)    Pada fase ini jangan beri makanan lebih dari 100 Kkal/Kg bb/hari Pada hari 3 s/d 4 frekwensi pemberian formula diturunkan menjadisetiap jam dan pada hari ke 5 s/d 7 diturunkan lagi menjadi setiap 4 jam Lanjutkan pemberian makan sampai hari ke 7 (akhir minggu 1) Pantau dan catat : .5 g/kgBB/hari Cairan: 130 ml/kgBB/hari ( 100ml bila edema (+) ASI diberikan setelah pemberian formula Keterangan : Pada anak dengan selera makan baik dan tidak edema. maka tahapanpemberian formula bisa lebih cepat dalam waktu 2-3 hari (setiap 2jam)  Bila pasien tidak dapat menghabiskan Formula WHO75/pengganti/Modisco ½ dalam sehari.

mula-mula berat badannya akan berkurang kemudian berat badan naik Formula khusus: F-WHO-75 .o o o o o Jumlah yang diberikan dan sisanya Banyaknya muntah Frekwensi buang air besar dan konsistensi tinja Berat badan (harian) Selama fase ini diare secara perlahan berkurang pada penderita dengan edema.

JENIS. DAN JUMLAH MAKANAN YANG DIBERIKAN JUMLAH CAIRAN (ml) SETIAP MINUM FASE WAKTU PEMBERIAN JENIS MAKANAN FREKWENSI MENURUT ANAK 4 Kg 6 Kg 8 Kg 10 Kg BB Stabilisasi Hari 1-2 F75/modifikasi/Modisco ½ 12 x ( dg ASI 45 ) 12 x ( tanpa ASI) 45 65 65 90 110 Hari 3-4 F75/modifikasi/Modisco½ 8 x ( dg ASI) 8 x (tanpa 65 65 100 - - 100 130 160 .JADWAL.

ASI) 100 150 175 BB Kg < 7 Makanan lumat/makan lembik sari buah 3 x 1 porsi - - - - 1x 100 100 100 100 BB >7 Kg Makanan lunak/makan An biasa Buah 3 x 1 porsi - - - - 1 –2 x 1 - - - - buah *) 200 ml = 1 gelas Contoh : Kebutuhan anak dengan berat badan 6 Kg pada fase rehabilitasi diperlukan : Energi : 1200 Kkal 400 kalori dipenuhi dari 3 kali 100 cc F 135 ditambah 800 kalori dari 3 kali makanan lumat/makanan lembik dan 1 kali 100 cc sari buah CARA MEMBUAT 1.F75/Modifikasi/Modisco Hari 5-7 ½ ASI) 90 6 x (dg ASI) 6 x (Tanpa ASI) 90 130 - 130 175 220 Transisi Minggu 2-3 F100/modifi kasi/Modisco I Atau II 4 x ( dg ASI ) 130 195 - - 6 x ( tanpa 90 ASI) 130 175 220 Rehabilita Si Minggu 3-6 F135/modifi kasi/Modisco ditambah 3 x(dg/tanpa 90 III. Larutan Formula WHO75 Campurkan susu skim. minyak sayur. diencerkan dengan air hangat sedikit demi sedikit sambil diaduk sampai homogen dan volume menjadi 1000 ml. dan larutan elektrolit. gula. Larutan ini bisa langsung diminum .

atau Formula WHO 135. 2.5H2O 224 81 76 g g g 8. tepung beras. Tambahkan air sehingga mencapai 1 L (liter) dan didihkan hingga 5-7 menit. Tambahkan air sampai 1000 ml. untuk membuat 1000 ml Formula WHO 75. dengan ditambah air). terdiri atas : KCL Tripotassium Citrat MgCL2.4 g Air sampai larutan menjadi 2500 ml (2. Formula WHO 100. Larutan modifikasi : Tempe dikukus hingga matang kemudian dihaluskan dengan ulekan (blender. 3. 1000 mg Kalium yang terkandung dalam 20 ml larutan elektrolit tersebut bisa didapat dari 2 gr KCL atau sumber buah-buahan antara lain sari buah tomat (400 cc)/jeruk (500cc)/pisang (250g)/alpukat (175g)/melon (400g).9-1. tepung. gula.Larutan modifikasi : Campurkan susu skim/full cream/susu segar. minyak. Larutan Formula WHO 100 dan modifikasi Formula WHO 100 Cara seperti membuat larutan Formula WHO 75. Tambahkan susu.5 L) Ambil 20 ml larutan elektrolit. Selanjutnya tempe yang sudah halus disaring dengan air secukupnya.0 g per100 ml) dengan formula khusus lanjutan (energi 100 Kkal danprotein 2.Modifikasi bubur/makanan keluarga dapat digunakan asalkan dengankandungan energi dan protein yang sama. .9 gram per 100 ml) dalam jangka waktu 48 jam. Memfasilitasi Tumbuh Kejar Meliputi 2 fase: transisi & rehabilitasi A. Larutan elektrolit Bahan untuk membuat 2500 ml larutan elektrolit mineral. 2. Transisi: • Pemberian makanan pada fase transisi diberikan secara berlahan-lahan untuk menghindari risiko gagal jantung. masak hingga mendidih selama 5-7 menit. dan larutan elektrolit. minyak. yang dapat terjadibila anak mengkonsumsi makanan dalam jumlah banyak secaramendadak • Ganti formula khusus awal (energi 75 Kkal dan protein 0.2 g 1. gula. Bila bahan-bahan tersebut tidak tersedia.6H2O Zn asetat 2H2O Cu SO4.

teruskan ASI. ulangimenaikkan volume seperti di atas.• Kemudian naikkan dengan 10 ml setiap kali. Setelah normal kembali. Timbang anak setiap pagi sebelum diberi makan B. Energi : 150-220 Kkal/kg bb/hari Protein 4-6 gram/kg bb/hari Bila anak masih mendapat ASI. frekwensi nafas 2. tetapi juga beri formula WHO 100/Pengganti/Modisco 1. ditambah denganmakanan Formula ( lampiran 2 ) karena energi dan protein ASI tidakakan mencukupi untuk tumbuh-kejar. Setelah fase rehabilitasi (minggu ke3-7) anak diberi : o o o o Formula WHO-F 135/pengganti/Modisco 1½ dengan jumlah tidakterbatas dan sering Energi : 150-220 kkal/kgbb/hari Protein 4-6 g/kgbb/hari Bila anak masih mendapat ASI. Baik bila kenaikan bb : 50 g/Kg bb/minggu. o Secara perlahan diperkenalkan makanan keluarga Pemantauan fase rehabilitasi Kemajuan dinilai berdasarkan kecepatan pertambahan badan : • • • • Timbang anak setiap pagi sebelum diberi makan. anak diberi: o o o o Formula WHO 100/pengganti/Modisco 1 dengan jumlah tidak terbatasdan sering. kurangivolume pemberian formula. perlu re-evaluasimenyeluruh . 3. frekwensi denyut nadiBila terjadi peningkatan detak nafas > 5 kali/menit dan denyut nadi> 25 kali /menit dalam pemantauan setiap 4 jam berturutan. Pemantauan pada fase transisi: 1. Kurang bila kenaikan bb < 50 g/Kg bb/minggu. sampai hanya sedikitformula tersisa. karena energi dan protein ASI tidakakan mencukupi untuk tumbuh-kejar. biasanya pada saat tercapai jumlah 30 ml/kgbb/kali pemberian (200 ml/kgbb/hari). Setiap minggu kenaikan bb dihitung. teruskan. Rehabilitasi: Setelah fase transisi dilampaui.

Departemen Kesehatan RI. atau tanggal dan penyebab kematian. tanggal masuk. WHO. Dietary Managementof PEM (Not Published. WHO. berisi informasi tentang berat badan. Hasil Penataran Petugas KesehatanDalam Rangka Pelayanan Gizi Buruk di Puskesmas dan Rumah Sakit. Jakarta 19973. Direktorat Bina Gizi Masyarakat. Direktorat Bina Gizi Masyarakat.Indikator Keberhasilan Tata Laksana Gizi Buruk o o o Dikatakan tatalaksana gizi buruk berhasil jika: kenaikan BB 10-15g/kg/hari atau status gizi mjd 90% dlm 2-4mgg Dikatakan kegagalan sekunder tatalaksana gizi buruk jika: kenaikan BB < 5g/kg/hari Dikatakan kegagalan primer tatalaksana gizi buruk jika: hari ke4 tidak ada nafsu makan. London School of Hygiene and Tropical Medicine. Audit mortalitas Catatan medik pada saat masuk. pulang dan kematian harus disimpan. 4. Oktober 1981. Guideline for the Inpatient Treatment of SeverelyMalnourished Children. Protein Energy Malnutrition. Jakarta 1997.6.4. 1998)5. umur. Monev penanganan balita SAM dan discharge criteria Jawab : Pemantauan dan Evaluasi Kualitas Perawatan Balita Severe Malnutrisi Akut (SAM) 1. PedomanPenanggulangan Kekurangan Energi Protein (KEP) dan PetunjukPelaksanaan PMT pada Balita. tentukan apakah sebagian besar kematian terjadi: . Departemen Kesehatan RI. 5. Waterlaw JC. tanggal pulang. hari ke10 edema masih ada Sumber : 1. BLKCimacan. London 6. 6. Pedoman Pelaksanaan Pojok Gizi (POZI) di Puskesmas. jenis kelamin. Buku Bagan ManajemenTerpadu Balita Sakit (MTBS) Indonesia.2. WHO Searo. Ditjen Binkesmas Depkes. Untuk mengidentifikasi faktor yang dapat diperbaiki selama perawatan. Unicef. 2. 3. 1998. Jakarta 19977. Edward Arnold .

atau pemberian cairan rehidrasi/infus yang kurang tepat (jumlah kurang atau kelebihan)  dalam waktu 72 jam: periksa apakah volume pemberian makan terlalu banyak pada setiap kali makan. tentukan:   apakah hal ini terjadi pada semua kasus yang ditangani (jika ya. Kenaikan berat badan pada fase rehabilitasi Lakukan kalibrasi alat dan cara penimbangan di bangsal. septisemia. Sebelum menimbang jarum harus pada angka 0. atau formulanya salah (terlalu tinggi kalori dan protein). Jika kenaikan berat badan < 5 g/kgBB/hari. dengan pakaian minimal. 2. dst). Penilaian kenaikan berat badan:    Kurang: < 5 g/kgBB/hari Cukup: 5–10 g/kgBB/hari Baik: > 10 g/kgBB/hari. PEMANTAUAN DAN EVALUASI PENGOBATAN DAN DIET . dalam waktu 24 jam: dianggap lambat atau tidak tertanganinya hipoglikemia. anemia berat. sebelum makan pagi. sudah diberi kalium dan antibiotik?   pada malam hari: mungkin terjadi hipotermia karena anak tidak terselimuti dengan baik atau hipoglikemia karena tidak diberi makan pada malam hari saat mulai pemberian F-100: mungkin peralihan dilakukan terlalu cepat pada fase transisi dari formula awal ke formula tumbuh kejar. hipotermia. Timbang anak pada waktu dan kondisi yang sama (misalnya pagi hari. perlu dilakukan kaji ulang yang menyeluruh tentang tatalaksana kasus) apakah hal ini terjadi pada kasus tertentu (lakukan penilaian ulang pada anak ini seperti pada kunjungan baru).

4x untuk anak yang hipotermi atau febrile) d. warna konjungtiva. urin. Kriteria Untuk Melangkah Ke Fase Transisi : a. kulit. dehidrasi. Tanda-tanda klinis yang penting (kesadaran. Oedema berkurang . Berat b. respirasi. 2008. Nafsu makan anak meningkat b. muntah. Gizi FK Univ. Jakarta: WHO Indonesia. Makanan : volume yang dimakan atau dimuntah. Komplikasi dan infeksi bisa dikendalikan c. nadi.Sumber: 1. batuk. mata. Brawijaya. 2. anak harus diperiksa setiap hari atau sehari 2 kali. N. Tata Laksana Anak Gizi Buruk Di RS/Puskesmas Perawatan. WHO. Memantau setiap hari : a. dan tenggorokan) e. Pada hari pertama. mulut. 2009. Derajat oedema c. ukuran hari. Pedoman Pelayanan Kesehatan Anak di Rumah Sakit: Pedoman Bagi Rumah Sakit Rujukan Tingkat Pertama Di Kabupaten/Kota. Monitoring Pada Fase Stabilisasi. Temperatur tubuh (2x per hari. Muslihah.

dll. Derajat oedema c. Tanda-tanda klinis yang penting (kesadaran. 2011) . Kriteria Pasien Harus Kembali Ke Fase Stabilisasi : a. batuk. Makan minimal 75% dari jumlah sehari RUTF yang disesuaikan dengan berat badannya. mata. Version 2. Peningkatan berat badan yang terlalu cepat (10 g/kg/hari) yang mengindikasikan adanya retensi cairan yang berlebihan. (Sumber : Saboya. dan tenggorokan) e. urin. e. Namun jika kondisi-kondisi ini tidak terjadi selama 4 hari tersebut. MANAGEMENT OF SEVERE ACUTE MALNUTRITION. 4x untuk anak yang hipotermi atau febrile) d. ukuran hari. Oedema sudah berkurang hingga ringan atau moderate (1 atau 2+) c. Jika komplikasi terjadi dan dibutuhkan pemberian cairan intravena atau NGT. b. Komplikasi bisa dikendalikan. mulut. d. nadi. muntah.Monitoring Pada Fase Transisi Memantau setiap hari : a. b. Peningkatan terjadinya oedema c. Kriteria Pasien Dapat Menuju Fase Rehabilitasi : a. dehidrasi. Berat b. Proses ini membutuhkan waktu sekitar 2-4 minggu. warna konjungtiva. Makanan : volume yang dimakan atau dimuntah. Harmonised Training Package (HTP): Resource Material for Training on Nutrition in Emergencies. respirasi. anak tidak makan sesuai aturan. Montse dan Tanya Khara. 2011. Ada tanda-tanda lain dari retensi cairan seperti ukuran hati membesar dengan cepat. kulit. Jika kondisi anak tidak berkembang selama fase transisi. maka dia harus kembali ke fase stabilisasi. Temperatur tubuh (2x per hari. maka penanganan medis yang lebih mendalam perlu dilakukan untuk mengetahui penyebabnya (seperti komplikasi yang tidak terdeteksi. abdominal distension atau re-feeding diare dengan penurunan berat badan. dll) dan memperbaikinya.

Admission Criteria for SAM for Children Under 5 Admission and Discharge Criteria for SAM for Children Under 5 .

mirip tanda anak dehidrasi. 2008.Sumber: 1. 2009. Tanya ibu apakah mata cekung tersebut sudah ada seperti biasanya ataukah baru beberapa saat timbulnya 5 Mulut dan lidah Raba dengan jari yang kering dan bersih untuk menentukan . Pedoman Pelayanan Kesehatan Anak di Rumah Sakit: Pedoman Bagi Rumah Sakit Rujukan Tingkat Pertama Di Kabupaten/Kota. Government of Southern Sudan Ministry of Health. Jakarta: WHO Indonesia 2. Kriteria balita terkena dehidrasi dan penanganannya Jawab : No 1 Tanda Letargis Cara melihat dan menentukan Anak yang letargis tidak bisa bangun dan apatis. WHO. Interim Guidelines Integrated Management of Severe Acute Malnutrition 7. Dia tampak mengantuk dan tidak menunjukkan ketertarikan terhadap kejadian disekelilingnya 2 Anak gelisah dan rewel 3 4 Tidak ada air mata Mata cekung Anak selalu gelisah dan rewel terutama bila disentuh atau dipegang untuk suatu tindakan Lihat ada air matanya atau tidak pada saat anak menangis Mata an ak yang gizi buruk selalu tampak cekung.

Jika kulit masih terlipat (belum balik rata selama > 2 detik). Buku Bagan Tatalaksana Anak Gizi Buruk. Posisikan tangan anda sejajar/lurus dengan garis tubuh. lihat apakah anak masih ingin minum lagi 7 Kembalinya cubitan/turgor kulit lambat Gunakan ibu jari dan jari telunjuk saat mencubit kulit perut bagian tengah antara umbilicus dan sisi perut. bukan melintang. diberikan berselang seling setiap 1 jam dengan F-75. Saat cangkir itu disingkirkan. dikatakan cubitan kulit/turgor kulit lamban (cacatan: cubitan kulit biasanya lambat pada anak “wasting”) (sumber : Depkes RI. resomal diberikan setiap ½ jam. Pada 10 jam selanjutnya. Jakarta : Departemen Kesehatan) Mengatasi Dehidrasi Dehidrasi dapat diatasi dengan memberikan larutan resomal/ORS (oral rehidration salt). WHO dan UNICEF merekomendasikan untuk menggunakan larutan ORS dengan komposisi sebagai berikut: Pemberian F-75 dan Vitamin . Tarik lapisan kulit dan jaringan bawah kulit pelanpelan. Cubit selama 1 detik dan lepaskan.kering 6 Haus apakah lidah dan mulutnya kering Lihat apakah anak ingin meraih cangkir saat diberi ReSoMal. 2003. Pada 2 jam pertama.

Aturan pemberian F-75 adalah sebagai berikut: Klasifikasi SAM SAM dengan WFH < .9 g protein/100 ml) 130 ml /kg BB/hari setara dengan 100 kcal/kg BB/hari 100 ml/kg BB/hari. Terapi ini dapat menurunkan efek dari diare dan meningkatkan berat badan ketika dikombinasikan dengan terapi diet yang benar.000 SI (warna biru) 1 kapsul vitamin A dosis 100.selanjutnya 1 mg/hari. Diberikan hingga oedema berkurang. F-75 diberikan dengan interval 2 jam. Diberikan 5 mg pada hari ke1. 0. F-75 tidak diformulasikan untuk penambahan berat badan . F-75 mengembalikan dengan cepat fungsi metabolisme normal dan keseimbangan zat gizi serta elektrolit. juga untuk mengurangi dampak dari diare. Komposisi dari ORS dan tata cara pemberiannya Jawab : ORAL REHYDRATION THERAPY Terapi rehidrasi oral (ORT) merupakan intervensi yang diberikan untuk mencegah dehidrasi. Terapi ini dapat dilakukan di pelayanan kesehatan maupun di rumah oleh ibu sendiri dengan panduan khusus. Ketiganya diberikan dalam bentuk multivitamin.F-75 diformulasikan untuk memenuhi kebutuhan anak tanpa melampaui kemampuan metabolisme tubuh.000 SI (warna biru) 1 kapsul vitamin A dosis 200. Pemberian tablet Fe tidak diperbolehkan pada fase ini. setara dengan 75 kcal/kg BB/hari. Pemberian Vitamin A selama fase stabilisasi dapat dilakukan dengan kriteria sebagai berikut : Bayi umur < 6 bln Bayi umur 6 – 11 bln Balita Umur 12 – 60 bln ½ kapsul vitamin A dosis 100. 8.000 SI (warna merah) Vitamin lain yang diberikan adalah vitamin C. B kompleks.3 SD atau MUAC < 11 cm SAM dengan oedema Dosis F-75 (75 Kcal. ORT seharusnya dilakukan di rumah dengan memberikan larutan ORS . dan asam folat. dengan volume setiap pemberian 11 ml/kg BB. karena itu akan berbahaya bagi anak-anak pada fase penanganan ini.

Lebih dari 20 tahun WHO dan UNICEF merekomendasikan formula ini untuk mencegah atau menangani dehidrasi dari diare. pertama digunakan pada tahun 1969 dan diterima. Studi menyatakan bahwa untuk anak dengan non-kolera diare akut. Salah satu komposisi dari ORS ini adalah sodium 90 mEq/l dengan total osmolaritas 311 mOsm/l. Pada tahun 1984. ORS lebih baik dalam mengatasi masalah dehidrasi saat osmolaritasnya dikurangi sehingga WHO mengeluarkan standar baru untuk ORS yang diberikan untuk semua diare dengan segala etiologi pada semua kelompok . Salah satu pengembangan dari ORS adalah pengurangan osmolaritas ORS untuk mencegah adanya kemungkinan efek negatif berupa hipertonicity. glukosa 75 mmol/l dan total osmolaritasnya 245 mOsm/l. direkomendasikan dan didistribusikan oleh UNICEF dan WHO sebagai obat untuk intervensi pada dehidrasi ke seluruh dunia. terdapat larutan lain dengan salah satu komposisinya adalah trisodium citrate sebagai pengganti hydrogen karbonat (sodium bicarbonate) dengan tujuan meningkatkan stabilitas ORS pada iklim panas dan lembab.(Oral Rehydration Salt) atau larutan gula dan garam. Selama digunakan. Pemberian dilakukan saat muncul gejala diare untuk mencegah dehidrasi Komposisi ORS ORS merupakan nama lain dari larutan seimbang glukosa-elektrolit. Selain itu beberapa studi juga menyatakan bahwa ORS yang osmolaritasnya dikurangi sampai 210-268 mOsm/l dan sodium 50-75 mEq/l dapat mengurangi volume diare sampai 20% dan mengurangi kejadian muntah sampai 30%. penanganan menggunakan ORS yang tepat adalah ORS yang konsentrasi Sodium-nya dikurangi sampai 75 mEq/l. hal ini dapat dicegah dengan menurunkan konsentrasi glukosa dan garam. Pengembangan dari ORS masih terus dilakukan agar ORS memberikan manfaat kesehatan lainnya. ORS cenderung efektif dan tidak menunjukkan adanya efek negatif.

menggantikan osmolaritas lama yaitu 311 mOsm/l.umur. Sitrat pada ORS lebih menguntungkan daripada bikarbonat karena lebih stabil pada negara tropis dimana saat suhu mencapai 60o C tidak ada . Glukosa membantu absorpsi sodium dengan molar 1:1 di usus halus 2. Osmolaritas yang dianjurkan adalah 245 mOsm/l. Sodium dan potassium dibutuhkan untuk menggantikan ion yang hilang karena diare dan atau muntah 3. Farmakokinetik dan farmakoterapi dari masing-masing substrat antara lain: 1. Sitrat membantu mengatasi asidosis yang muncul karena diare dan dehidrasi Untuk bahan yang digunakan dalam membuat ORS tersebut ada pada Tabel 2.

. WHO – UNICEF.perubahan warna seperti [ada ORS dengan menggunakan bikarbonat dan dapat bertahan sampai 2-3 tahun Sumber: Oral Rehydration Salts – Production Of The New ORS. Larutan gula dapat dibuat dengan melarutkan 10 gram gula (2 sendok teh penuh) ke dalam 100 ml air. Penanganan balita dengan hipoglikemi Jawab : Hipoglikemia dapat diatasi dengan pemberian larutan gula/glukosa. Geneva-Switzerland 9. 2006.

2011 Kelly. GenevaSwitzerland Direktorat Bina Gizi Masyarakat. Jakarta : Departemen Kesehatan Emergency Nutrition Network. Clinical Management of Acute Diarrhoea WHO. N. WHO – UNICEF. 368.Oral Rehydration Solution: A “Low-Tech” Oft Neglected Therapy . 2006. Pedoman Pelayanan Kesehatan Anak di Rumah Sakit: Pedoman Bagi Rumah Sakit Rujukan Tingkat Pertama Di Kabupaten/Kota. 2 Desember 2006. Harmonised Training Package (HTP) : Resource Material for Training on Nutrition in Emergencies. Manary J M. Steve Collins. Understanding nutrition data and the causes of malnutrition in Niger. Management of Acute Moderate and Severe Childhood Malnutrition. BLKCimacan. Buku Bagan Tatalaksana Anak Gizi Buruk. Brawijaya. USAID Amerika Serikat. 2006. USA. 2008. Oktober 1981. Government of Southern Sudan Ministry of Health.DAFTAR PUSTAKA Sandige H L. Sandige. 2004.1228 Caroline Grobler-Tanner. Management of Severe Acute Malnutrition. Gizi FK Univ. Tata Laksana Anak Gizi Buruk Di RS/Puskesmas Perawatan. Nutrition Issues in Gastroenterology Series 21 WHO/UNICEF Joint Statement. Module 13. Depkes RI.2. Hasil Penataran Petugas KesehatanDalam Rangka Pelayanan Gizi Buruk di Puskesmas dan Rumah Sakit. et al. Publish Journal Vol. Management of Severe Acute Malnutrition in Children. 2009. Management of acute moderate and severe childhood malnutrition. 2004. 2003. 2006. Darlene G.Version 2. 2008. Bjm volume 337 p: 1227 -1230 Mark j. 2009. A special report by the Famine Early Warning Systems Network (FEWS NET). Manary & Heidi L. Muslihah. . Page. Jakarta: WHO Indonesia. 2008. Interim Guidelines Integrated Management of Severe Acute Malnutrition Oral Rehydration Salts – Production Of The New ORS.

Unicef. Buku Bagan ManajemenTerpadu Balita Sakit (MTBS) Indonesia. Dietary Managementof PEM (Not Published. WHO Searo. WHO. 1998. Departemen Kesehatan RI. Ditjen Binkesmas Depkes.6. Direktorat Bina Gizi Masyarakat.4. 1998)5. WHO. London . London School of Hygiene and Tropical Medicine. Jakarta 1997. Jakarta 19973. Protein Energy Malnutrition. Guideline for the Inpatient Treatment of SeverelyMalnourished Children. Pedoman Pelaksanaan Pojok Gizi (POZI) di Puskesmas. Waterlaw JC. PedomanPenanggulangan Kekurangan Energi Protein (KEP) dan PetunjukPelaksanaan PMT pada Balita.Departemen Kesehatan RI. Edward Arnold . Jakarta 19977.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->