BAB II

Keselamatan dan kesehatan kerja mengutamakan upaya prefentif. Oleh sebab itu perlu upaya untuk identifikasi, evaluasi dan pengendalian resiko dan bahaya potensial yang ada di tempat kerja. Identifikasi bahaya dapat dilakukan melalui inspeksi, survey dan monitoring tempat kerja dan lingkungan kerja. Untuk tempat kerja serta berbagai analisis yang bersifat prediktif seperti analisis keandalan sistem, studi bahaya dan pengoperasian dan sebagainya. Untuk mengidentifikasi masalah keselamatan dan kesehatan kerja baik masalah manajemen maupun tieknik keselamatan dan kesehatan kerja maka diperlukan audit k3. Pelaksanaan audit untuk menilai pelaksanaan program dilakukan apabila manajemen telah menetapkan kebijaksanaan keselamatan dan kesehatan kerja serta menyusun dan melaksanakan program keselamatan dan kesehatan kerja. Berdasarkan program ayng dibuat dan hasil yang dicapai, maka presentasi di bidang keselamatan dan kesehatan kerja dapat dinilai. Audit juga bisa dilakukan pada perusahaan yang baru memulai upaya keselamatan dan kesehatan kerja utuk identifikasi masalah serta menyusun data dasar sebagai pembandig keberhasilan pelaksanaan keselamatan dan kesehatan kerja. Audit K3 dapat diartikan sebagai suatu sistem pengujian terhadap kegiatan oeprasi yang dilakukan secara kritis dan sistematis untuk menentukan kelemahan unsur sistem (manusia, sarana, lingkungan kerja dan pereangkat lunak) sehingga dapat dilakukan langkah perbaikan sebelum timbul kecelakaan. Audit K3 merupakan alat manajemen untuk menentukan kelemahan pada unsur sistem operasi/produksi sebelm timbul gangguan operasi atau kerugian sehingga dapat dilakukan langkah perbaikan secara dini. di dalam undang-undang nomor 1 tahun 1970 perusahaan wajib melaksanakan syarat-syarat keselamatan dan kesehatan kerja, yang bertujuan agar setiap tenaga kerja dan orang lain yang berada di tempat kerja terjamin keselamatannya, sehingga proses produksi dapat berjalan lancar dan dapat meningkatkan produktivitas kerja.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful