KAYU

Makalah ini dibuat untuk memenuhi salah satu tugas dalam mata kuliah Material dan Konstruksi. Dosen : Fauzi Rahmannullah. S. Pd., MT

disusun oleh : Agi Arianto Wibowo 1100593

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN TEKNIK ARSITEKTUR FAKULTAS PENDIDIKAN TEKNOLOGI DAN KEJURUAN UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA 2011

Daftar Isi

Daftar isi 1. Definisi 1.1 Bagian Kayu 1.2 Sifat-sifat Kayu 1.2.1 Sifat Fisik Kayu 1.2.2 Sifat Makanik Kayu 1.2.3 Sifat Kimia kayu 1.3 Komposisi Kimia Kayu 1.3.1 Zat-zat Makromolekul 1.3.2 Zat-zat Berat Molekul Rendah 1.4 Sifat Struktur 2. Bahan Baku 2.1 Jenis Pepohonan 2.2 Penebangan Pohon dan Pengolahan Kayu 2.3 Pengeringan Kayu 2.4 Pengawetan kayu 2.5 Cacat Kayu 2.6 Cara Membedakan Kayu Berdaun Lebar Dan Kayu Berdaun Jarum 2.7 Pengerutan dan Pengembangan Kayu 3. Fungsi 4. Jenis 4.1 Penggolongan Produk kayu di Pasaran 4.2 Klasifikasi Produk Kayu 4.3 Kelas Kuat Kayu 4.4 Kelas Awet Kayu 4.5 Beberapa Jenis Kayu Berdasarkan Kelompoknya 4.5.1 Kelompok Jenis Meranti/Kelompok Komersial Satu

i 1 1 5 6 11 15 16 16 19 21 23 23 24 25 27 27 29 30 31 36 36 37 38 39 40 41

^tçâ

Page i

4.5.2 Kelompok Jenis Kayu Rimba Campuran/ Kelompok Komersial Dua 4.5.3 Kelompok Jenis Kayu Eboni/Kelompok Indah Satu 4.5.4 Kelompok Jenis Kayu Indah/Kelompok Indah Dua 5. Kelebihan dan Kekurangan 5.1 Kelebihan Kayu 5.2 Kekurangan Kayu 6. Aplikasi 7. Konstruksi 7.1 Sistem Struktur dan Sambungan dalam Konstruksi Kayu 7.1.1 Alat Sambung Untuk Struktur Kayu a) Alat Sambung Paku b) Alat Sambung Sekerup 7.1.2 Konstruksi Sambungan Gigi 7.1.3 Konstruksi Sambungan Baut 7.1.4 Sambungan dengan cincin belah (Split Ring) dan plat geser 7.1.5 Sambungan dengan Plat Logam (Metal Plate Conector) 7.2 Aplikasi Struktur dan Konstruksi Kayu 7.2.1 Perhitungan Kekuatan Kayu 7.2.2 Analisis Struktur Kolom 7.2.3 Analisis Kolom Gabungan 7.2.4 Analisis Struktur Balok 7.2.5 Konstruksi Pondasi, Kaki Kolom, dan Kolom 7.2.6 Konstruksi Balok 7.2.7 Konstruksi Rangka Batang Kayu 7.2.8 Produk Penyambung Struktur Rangka Batang 7.2.9 Konstruksi Struktur Jembatan Kayu 7.2.10 Konstruksi Pelengkung Kayu Lampiran 1 Gambar Beberapa Jenis Serat Kayu Lampiran 2 Harga Kayu Beserta Bahan Jadinya 45 50 50 53 53 53 54 66 66 72 72 75 79 75 83 85 86 86 86 88 89 89 91 95 96 99 100 102 104

^tçâ

Page ii

Daftar Pustaka

ix

^tçâ

Page iii

KAYU
1. DEFINISI
Kayu, tentunya kita sudah tidak asing lagi dengan kata itu. Dalam kehidupan seharihari kita sudah sangat sering sekali menjumpai bahkan menggunakan kayu dalam bergbagai kebutuhan. Dan kayu sudah sangat dikenal oleh semua orang di dunia. Namun apa sih sebenarnya kayu itu? Kayu adalah bagian batang atau cabang serta ranting tumbuhan yang mengeras karena mengalami lignifikasi (pengayuan). Menurut Dumanauw.J.F kayu ialah sesuatu bahan, yang diperoleh dari hasil pemungutan pohon-pohon di hutan, yang merupakan bagian dari pohon tersebut, setelah diperhitungkan bagian-bagian mana yang lebih banyak dimanfaatkan untuk sesuatu tujuan penggunaan. Baik berbentuk kayu pertukangan, kayu industri maupun kayu bakar.

1.1 Bagian Kayu

Gambar 1.1 Penampang melintang kayu Sumber : Wikipedia.org

Gambar 1.2 Pola lapisan pada permukaan kayu Sumber : Wikipedia.org

^tçâ

Page 1

Bagian-Bagian Kayu : 1. Kulit kayu terdapat pada bagian terluar, yang terdiri dari : a) Kulit Dalam ( Phloem )/Bast Kulit dalam berada tepat dibalik kulit luar sebatang pohon, diluar lapisan kambium, yang berfungsi menyampaikan makanan dari daun ke seluruh bagian kayu. b) Kulit Luar ( Cortex )/Outer Bark Kulit luar merupakan pelindung bagi pohon yang sedang tumbuh, yang berfungsi mencegah penguapan dari lapisan kambium dan kayu gubal. Kulit kayu terdiri dari sel-sel berbentuk pembuluh-pembuluh dan mendapatkan makanan dari kulit dalam. Apabila pohon tumbuh keluar, kulit luar akan pecah dan digantikan oleh lebih banyak kulit luar yang disalurkan oleh kulit dalam. Adakalanya, dengan terbentuknya kulit luar yang baru, kulit luar lama yang telah mati terlepas dari pohon. 2. Kambium/Cambium Lapisan kambium merupakan jaringan yang lapisannya tipis dan bening, mengelilingi kayu, ke arah luar membentuk kayu baru sebagai pengganti kayu lama yang telah rusak dan ke arah dalam membentuk kayu baru. Kambium terletak diantara kulit dalam dan kayu gubal. Dengan adanya kambium ini maka pohon semakin lama bertambah besar. 3. Kayu a) Kayu Gubal ( Alburmum ) Kayu Gubal merupakan bagian dari pohon yang melingkari kayu inti. Terdiri dari sel-sel yang masih hidup. Sel-sel kayu gubal membawakan air dan

^tçâ

Page 2

garam-garam mineral ke dahan yang selanjutnya menuju daun, untuk diubah sebagai sumber makanannya dan sekaligus berfungsi sebagi tempat menyimpan makanan. Kayu gubal tidak begitu berharga sebagai kayu pertukangan. Hal ini disebabkan karena adanya zat-zat tepung didalam selselnya yang dapat menyebabkan kayu tersebut mudah diserang serangga dan mudah lapuk. Tebal lapisan kayu gubal bervariasi menurut jenis pohon antara 2 cm sampai 10 cm dan relatif tetap sepanjang hidup pohon. b) Kayu Teras Terdiri dari sel-sel yang yang sudah tua atau mati. Kayu teras ini awalnya adalah kayu gubal yang menua sehingga tidak bisa berfungsi sebagai penyalur cairan atau zat hara dan sebagai penyimpanan hasil fotosintesis. Pada kayu teras dapat mengandung berbagai zat–zat ekstraksi yang memberikan warna gelap. Hal ini berlaku untuk jenis-jenis kayu yang terasnya berisi tiloses. Pada beberapa jenis tertentu kayu teras banyak mengandung bahan-bahan ekstraktif, yang memberikan keawetan pada kayu tersebut. Untuk keperluan konstruksi yang dimanfaatkan adalah kayu teras. 4. Hati Kayu ( Medulla )/Galih Hati kayu terletak dipusat lingkaran tahun. Pada mulanya, hati kayu merupakan pohon muda yang pertama kali dibentuk oleh kambium yang kemudian menjadi pusat dari pohon yang tumbuh selanjutnya, yang merupakan komposisi lunak dari sel-sel yang sudah mati. Hati kayu bersifat rapuh atau lunak, sehingga tidak berguna sebagai kayu pertukangan. 5. Lingkaran Tahun ( Annual Ring ) Kondisi pertumbuhan suatu pohon ditentukan oleh lingkunan tumbuh yaitu iklim. Pada daerah yang mempunyai perbedaan musim yang jelas pengaruh iklim terhadap pertumbuhan dapat terlihat adanya perbedaan antara kayu

^tçâ

Page 3

yang terbentuk pada permulaan dan pada akhir musim. Perbedaan ini menunjukkan zona-zona berupa lingkaran yang mengelilingi sumbu batang, bagian yang renggang berwarna terang dan yang lebih rapat berwarna gelap secara bergiliran yang kedua-duanya terjadi pada periode satu tahun. Zonazona yang berbentuk lingkaran ini yang disebut dengan lingkaran tahun. Pada musim kering, pertumbuhan diameter (membesar) terganggu disebabkan adanya pengguguran daun. Sehingga lingkaran tahun dapat terdiri lebih dari satu lingkaran tahun dalam satu musim yang sama. Hal ini disebut lingkaran semu. Lingkaran tahun ini dapat menunjukkan umur suatu pohon pada tempat tertentu. 6. Jari-Jari Kayu/Rays Jari-jari kayu adalah jaringan kayu yang dibentuk dengan susunan sel secara radial yang berfungsi menyampaikan makanan dari kulit dalam kebagian dalam pohon. Jari-jari teras mempunyai ukuran yang berbeda-beda pada pohon yang berlebihan. Sementara pada pohon oak, jari-jari pohon menampakkan sebuah pola yang indah pada potongan kayu.

Gambar 1.3 Bagian-Bagian Kayu Sumber : vano-architect.blogspot.com

^tçâ

Page 4

1.2 Sifat-sifat Kayu
Kayu merupakan hasil hutan yang mudah diproses untuk dijadikan barang sesuai dengan kemajuan teknologi. Kayu memiliki beberapa sifat yang tidak dapat ditiru oleh bahan-bahan lain. Pemilihan dan penggunaan kayu untuk suatu tujuan

pemakaian, memerlukan pengetahuan tentang sifat-sifat kayu. Sifat-sifat ini penting sekali dalam industri pengolahan kayu, sebab dari pengetahuan sifat tersebut tidak saja dapat dipilih jenis kayu yang tepat serta macam penggunaan yang memungkinkan, akan tetapi juga dapat dipilih kemungkinan penggantian oleh jenis kayu lainnya apabila jenis yang bersangkutan sulit didapat secara kontinyu atau terlalu mahal. Kayu berasal dari berbagai jenis pohon yang memiliki sifat-sifat yang berbedabeda. Bahkan dalam satu pohon, kayu mempunyai sifat yang berbeda-beda. Dari sekian banyak sifat-sifat kayu yang berbeda satu sama lain, ada beberapa sifat yang umum terdapat pada semua jenis kayu yaitu : 1. Kayu tersusun dari sel-sel yang memiliki tipe bermacam-macam dan susunan dinding selnya terdiri dari senyawa kimia berupa selulosa dan hemiselulosa (karbohidrat) serta lignin (non karbohidrat). 2. Semua kayu bersifat anisotropik yaitu sifat-sifatnya elastis tergantung dari arah gaya terhadap serat-serat dan lingkaran tahun. Tetapi untuk keperluankeperluan praktis kayu dapat dianggap Ortotropis, yang artinya mempunyai tiga bidang simetri elastis yang saling tegak lurus, yaitu Longitudinal ( aksial ), Tangensial, dan Radial. Dimana sumbu Longitudinal ( aksial ) adalah sejajar serat-serat, sumbu Tangensial adalah garis singgung cincin-cincin pertumbuhan, dan sumbu Radial adalah tegak lurus pada cincin-cincin pertumbuhan. Perubahan dimensi kayu akibat pengeringan dari perubahan suhu, kelembaban, pembebanan mekanis juga menunjukkan sifat kayu anisotropis.

^tçâ

Page 5

Gambar 1.4 Bentuk Gambar Arah Tangensial, Radial dan Longitudinal
( Sumber : Awaluddin, ali. 2005. Konstruksi Kayu.. KTSM UGM : Yogyakarta )

3. Kayu merupakan bahan yang bersifat higroskopis, yaitu dapat menyerap atau melepaskan kadar air (kelembaban) sebagai akibat perubahan kelembaban dan suhu udara disekelilingnya. 4. Kayu dapat diserang oleh hama dan penyakit dan dapat terbakar terutama dalam keadaan kering. 1.2.1 Sifat Fisik Kayu 1. Berat Jenis Berat jenis kayu biasanya berbanding lurus dengan kekuatan daripada kayu atau sifat-sifat mekanisnya. Makin tinggi berat jenis suatu kayu maka makin tinggi pula kekuatannya. Mengingat kayu terbentuk dari sel-sel yang memiliki bermacam-macam tipe, memungkinkan terjadinya suatu penyimpangan tertentu. Pada perhitungan berat jenis kayu semestinya berpangkal pada keadaan kering udara, yaitu sekering-keringnya tanpa pengeringan buatan .

^tçâ

Page 6

Berat jenis didefenisikan sebagai angka berat dari satuan volume suatu material. Berat jenis diperoleh dengan membagikan berat kepada volume benda tersebut. Berat jenis juga didefenisikan berat jenis relatif benda tersebut terhadap berat jenis standard, dalam hal ini berat jenis air dalam gr / cm3. Air dipakai sebagai bahan standard karena berat 1 cm3 adalah 1 gr. Dapatlah dikatakan bahwa berat jenis suatu benda adalah berat benda tersebut relatif terhadap berat jenis standard yaitu air. 2. Keawetan Keawetan adalah ketahanan kayu terhadap serangan dari unsur-unsur perusak kayu dari luar seperti jamur, rayap, bubuk dll. Keawetan kayu tersebut disebabkan adanya zat ekstraktif didalam kayu yang merupakan unsur racun bagi perusak kayu. Zat ekstraktif tersebut terbentuk pada saat kayu gubal berubah menjadi kayu teras sehingga pada umumnya kayu teras lebih awet dari kayu gubal. 3. Warna Warna kayu bermacam-macam seperti kuning, coklat muda, coklat tua, kehitam-hitaman, kemerahan dan lain-lain. Kadang kala warna kayu dapat dengan mudah mengidentifikasi jenis kayu tersebut. Pada pengenalan kayu, warna kayu yang dipakai adalah warna kayu terasnya. Warna kayu dapat berbeda karena dipengaruhi zat ekstraktif yang dikandung kayu dan dipengaruhi oleh fakor – factor seperti tempat di dalam pohon, umur pohon dan kelembaban. 4. Tekstur Tekstur adalah ukuran relatif sel-sel kayu. Berdasarkan teksturnya, kayu digolongkan kedalam kayu bertekstur halus (contoh: giam, kulim dll), kayu

^tçâ

Page 7

bertekstur sedang (contoh: jati, sonokeling dll) dan kayu bertekstur kasar (contoh: kempas, meranti dll). 5. Arah Serat Arah serat dapat ditentukan oleh alur-alur yang tedapat pada permukaan kayu. Jika alurnya sejajar sumbu batang maka kayu berserat lurus. Jika serat agak menyimpang sumbu batang dikatakan serat mencong. Serat mencong dibagi lagi menjadi serat berpadu, serat berombak, serat berpilin dan serat diagonal. Serat dikatakan berpadu jika arah serat menyimpang berselang seling kekiri dan kekanan secara bergantian terhadap sumbu batang. Serat berombak, arah seratnya menggambarkan permukaan yang berbentuk ombak. Serat berpilin jika arah seratnya membuat gambaran terpilin seolah-olah batang kayu mengelilingi sumbu. Serat diagonal yaitu serat yamg dapat pada potongan kayu atau papan yang digergaji sedmikian rupa sehingga tepinya tidak sejajar arah sumbu tetapi memebentuk sudut dengan sumbu. 6. Kesan Raba Kesan raba adalah kesan yang diperoleh pada saat meraba permukaan kayu (kasar, halus, licin, dingin, berminyak dll). Kesan raba tiap jenis kayu berbeda-beda tergantung dari tekstur kayu, kadar air, kadar zat ekstraktif dalam kayu. 7. Bau dan Rasa Bau dan rasa kayu mudah hilang bila kayu lama tersimpan di udara terbuka. Beberapa jenis kayu mempunyai bau yang merangsang dan untuk menyatakan bau kayu tersebut, sering digunakan bau sesuatu benda yang umum dikenal misalnya bau bawang (kulim), bau zat penyamak (jati), bau kamper (kapur) dsb.

^tçâ

Page 8

8. Nilai Dekoratif Nilai dekoratif tergantung dari warna kayunya, pola dan arah serat kayu kilap kayunya serta sifat kayunya terhadap zat pemutih, pengisi, politur dan sebagainya. Kayu yang memiliki dekoratif tinggi biasanya di utamakan untuk membuat perabot rumah tangga daripada untuk keperluan arsitektur. Kayu yang memiliki nilai dekoratif antara lain Oak, Jati, Rengas dan Ebony. 9. Kadar air ( kadar lengas ) kayu Kayu sebagai bahan bangunan dapat mengikat air dan juga dapat melepaskan air yang dikandungnya. Keadaan seperti ini tergantung pada kelembaban suhu udara disekelilingnya dimana kayu itu berada. Kayu mempunyai sifat peka terhadap kelembaban. Karena pengaruh kadar airnya menyebabkan mengembang dan menyusutnya kayu serta mempengaruhi pula sifat-sifat fisik dan mekanis kayu. Kadar air sangat besar pengaruhnya terhadap kekuatan kayu, terutama daya pikulnya terhadap tegangan desak sejajar arah serat dan juga tegak lurus arah serat kayu. Sel-sel kayu mengandung air, yang sebagian merupakan bebas yang mengisi dinding sel. Apabila kayu mengering, air bebas keluar dahulu dan saat air bebas itu habis keadaannya disebut titik jenuh serat ( Fiber Saturation Point ). Kadar air pada saat itu kira-kira 25 % - 30 %. Apabila kayu mengering dibawah titik jenuh serat, dinding sel menjadi semakin padat sehingga mengakibatkan serat-seratnya menjadi kokoh dan kuat. Maka dapat diambil suatu kesimpulan bahwa turunnya kadar air mengakibatkan bertambahnya kekuatan kayu. Pada umumnya kayu-kayu di Indonesia yang kering udara mempunyai kadar air ( kadar lengas ) antara 12 % - 18 % , atau rata-rata adalah 15 % .

^tçâ

Page 9

10. Sifat Kayu terhadap Suara, yang terdiri dari : a. Sifat akustik, yaitu kemampuan untuk meneruskan suara berkaitan erat dengan elastisitas kayu. b. Sifat resonansi, yaitu turut bergetarnya kayu akibat adanya gelombang suara. Kualitas nada yang dikeluarkan kayu sangat baik, sehingga kayu banyak dipakai untuk bahan pembuatan alat musik (kulintang, gitar, biola dll). 11. Daya Hantar Panas Sifat daya hantar kayu sangat jelek sehingga kayu banyak digunakan untuk membuat barang-barang yang berhubungan langsung dengan sumber panas. 12. Daya Hantar Listrik Pada umumnya kayu merupakan bahan hantar yang jelek untuk aliran listrik. Daya hantar listrik ini dipengaruhi oleh kadar air kayu. Pada kadar air 0 %, kayu akan menjadi bahan sekat listrik yang baik sekali, sebaliknya apabila kayu mengandung air maksimum (kayu basah), maka daya hantarnya bisa dikatakan sama dengan daya hantar air. 13. Kekerasan Terdapat hubungan langsung antara kekerasan kayu dengan berat kayu. Kayu-kayu yang keras termasuk kayu-kayu yang berat dan kayu yang lunak termasuk kayu yang ringan. Cara menetapkan kekerasan kayu dengan memotog kayu arah melintang. Kayu yang keras akan sulit dipotong dengan pisau dan hasilnya akan memberikan kilauan pada kayu sedangkan kayu yang lunak akan mudah rusak jika dipotong melintang.

^tçâ

Page 10

1.2.2 Sifat Mekanik Kayu 1. Keteguhan Tarik Keteguhan tarik adalah kekuatan kayu untuk menahan gaya-gaya yang berusaha menarik kayu. Kekuatan tarik pada kayu adalah pada sejajar serat. Gaya tarik ini berusaha melepas ikatan antara serat-serat kayu tersebut. Sebagai akibat dari gaya tarik (P), maka timbullah di dalam kayu tegangan-tegangan tarik, yang harus berjumlah sama dengan gaya-gaya luar P. Bila gaya tarik ini membesar sedemikian rupa, serat-serat kayu terlepas dan terjadilah patahan. Dalam suatu konstruksi bangunan, hal ini tidak boleh terjadi untuk menjaga keamanan. Tegangan tarik yang masih diizinkan dimana tidak timbul suatu perubahan atau bahaya pada kayu, disebut tegangan tarik yang diizinkan dengan notasi : -σ tr // ( kg / cm2 ). Misalnya, untuk kayu dengan mutu E24 tegangan tarik yang diizinkan dalam arah serat adalah 560 kg / cm2 (-σ tr // = ± 560 kg / cm2).

Serat Kayu

P

P

Gambar 1.5 Batang Kayu Menerima Gaya tarik Sejajar Serat Sumber : scribd.com

2. Keteguhan tekan/Kompresi Keteguhan tekan/kompresi adalah kekuatan atau daya tahan kayu terhadap gaya-gaya tekan yang bekerja sejajar atau tegak lurus serat kayu. Gaya tekan yang bekerja sejajar serat kayu akan menimbulkan bahaya tekuk pada kayu tersebut.

^tçâ

Page 11

Sedangkan gaya tekan yang bekerja tegak lurus arah serat akan menimbulkan retak pada kayu. Batang-batang yang panjang dan tipis seperti papan, bahaya kerusakan karena menerima gaya tekan sejajar serat adalah lebih besar, jika dibandingkan dengan gaya tekan tegak lurus serat kayu. Sebagai akibat adanya gaya tekan ini akan menimbulkan tegangan tekan pada kayu. Tegangan tekan yang terbesar dimana tidak menimbulkan adanya bahaya disebut tegangan tekan yang diizinkan, dengan notasi −σ tr ┴ ( kg / cm2 ).

P
Serat Kayu

a

P
Bahaya Tekuk

P

P
b

Gambar 1.6 a) Batang kayu menerima gaya tegak lurus sejajar serat. b) Batang kayu menerima gaya tekan sejajar serat. Sumber : scribd.com

^tçâ

Page 12

3. Keteguhan Geser Keteguhan geser adalah kemampuan kayu untuk menahan gaya-gaya yang membuat suatu bagian kayu tersebut turut bergeser dari bagian lain di dekatnya. Terdapat 3 (tiga) macam keteguhan yaitu : a. Keteguhan geser sejajar arah serat b. Keteguhan geser tegak lurus arah serat dan c. Keteguhan geser miring Keteguhan geser tegak lurus serat jauh lebih besar dari pada keteguhan geser sejajar arah serat. Tegangan geser terbesar yang tidak akan menimbulkan bahaya pada pergeseran serat kayu disebut tegangan geser yang diizinkan , dengan notasi −τ ( kg / cm2 ).

Gaya Geser

P P

Gambar 1.7 Batang kayu yang menerima gaya geser tegak lurus arah serat Sumber : scribd.com

4. Keteguhan lengkung (lentur) Keteguhan lengkung/lentur adalah kekuatan untuk menahan gaya-gaya yang berusaha melengkungkan kayu atau untuk menahan beban mati maupun hidup selain beban pukulan. Terdapat 2 (dua) macam keteguhan yaitu : a. Keteguhan lengkung statik, yaitu kekuatan kayu menahan gaya yang mengenainya secara perlahan-lahan.

^tçâ

Page 13

b. Keteguhan lengkung pukul, yaitu kekuatan kayu menahan gaya yang mengenainya secara mendadak. 5. Kekakuan Kekakuan adalah kemampuan kayu untuk menahan perubahan bentuk atau lengkungan. Kekakuan tersebut dinyatakan dalam modulus elastisitas. 6. Keuletan Keuletan adalah kemampuan kayu untuk menyerap sejumlah tenaga yang relatif besar atau tahan terhadap kejutan-kejutan atau tegangan-tegangan yang berulang-ulang yang melampaui batas proporsional serta

mengakibatkan perubahan bentuk yang permanen dan kerusakan sebagian. 7. Kekerasan Kekerasan adalah kemampuan kayu untuk menahan gaya yang membuat takik atau lekukan atau kikisan (abrasi). Bersama-sama dengan keuletan, kekerasan merupakan suatu ukuran tentang ketahanan terhadap pengausan kayu. 8. Keteguhan Belah Keteguhan belah adalah kemampuan kayu untuk menahan gaya-gaya yang berusaha membelah kayu. Sifat keteguhan belah yang rendah sangat baik dalam pembuatan sirap dan kayu bakar. Sebaliknya keteguhan belah yang tinggi sangat baik untuk pembuatan ukir-ukiran (patung). Pada umumnya kayu mudah dibelah sepanjang jari-jari (arah radial) dari pada arah tangensial.

^tçâ

Page 14

Ukuran yang dipakai untuk menjabarkan sifat-sifat kekuatan kayu atau sifat mekaniknya dinyatakan dalam kg/cm2. Faktor-faktor yang mempengaruhi sifat mekanik kayu secara garis besar digolongkan menjadi dua kelompok : a. Faktor luar (eksternal): pengawetan kayu, kelembaban lingkungan, pembebanan dan cacat yang disebabkan oleh jamur atau serangga perusak kayu. b. Faktor dalam kayu (internal): berat jenis, cacat mata kayu, serat miring dsb. 1.2.3 Sifat Kimia kayu Susunan kimia kayu digunakan sebagai pengenal ketahanan kayu terhadap serangan makhluk perusak kayu. Selain itu dapat pula menentukan pengerjaan dan pengolahan kayu, sehingga didapat hasil yang maksimal. Pada umumnya komponen kimia kayu daun lebar dan kayu daun jarum terdiri dari 3 unsur : Unsur karbohidrat terdiri dari selulosa dan hemiselulosa. Unsur non-karbohidrat terdiri dari lignin. Unsur yang diendapkan dalam kayu selama proses pertumbuhan dinamakan zat ekstraktif. (Dumanauw.J.F, 1993) Tabel 1.1 Komposisi unsur kayu Unsur Karbon Hidrogen Oksigen Nitrogen Abu % berat kering 49 6 44 Sedikit 0,1
(Haygreen.J.G, 1987)

^tçâ

Page 15

1.3 Komposisi Kimia Kayu
1.3.1 Zat – zat makromolekul Sel kayu terutama terdiri atas selulosa, hemiselulosa, dan lignin. Dimana selulosa membentuk kerangka yang dikelilingi oleh senyawa-senyawa lain yang berfungsi sebagai matriks (hemiselulosa) dan bahan-bahan yang melapisi (lignin). Sepanjang menyangkut komponen kimia kayu, maka perlu dibedakan antara komponen-komponen makromolekul utama dinding sel selulosa, poliosa (hemiselulosa) dan lignin, yang terdapat pada semua kayu, dan komponen-komponen minor dengan berat molekul kecil (ekstraktif dan zat-zat mineral). Perbandingan dan komposisi kimia lignin dan poliosa berbeda pada kayu lunak dan kayu keras, sedangkan selulosa merupakan komponen yang seragam pada semua kayu. (Sjostrom.E, 1993) Gambar 1.4 Bagan umum komponen kayu Kayu

Senyawa berat molekul kecil

Senyawa makromolekul

Bahan organik

Bahan anorganik

Polisakarida

lignin

Ektraktif

Abu

Selulosa

Poliosa

(Fengel.D, 1995)

Unsur-unsur penyusun kayu tergabung dalam sejumlah senyawa organik: selulosa, hemiselulosa dan lignin. Proporsi lignin dan hemiselulosa sangat bervariasi di antara spesies-spesies kayu, dan juga antara kayu keras dan kayu lunak.

^tçâ

Page 16

Tabel 1.2 Komponen kimia menurut golongan kayu % Berat Kering Tipe Selulosa Kayu Keras Kayu Lunak 40-44 40-44 Hemiselulosa 15-35 20-32 Lignin 18-25 25-35

Sumber : Kollmann dan Cote (1968) (Haygreen.J.G, 1987)

1) Selulosa Jelas bahwa pemanfaatan selulosa secara tradisional yang terpenting, yang merupakan setengah dari zat penyusun kayu, adalah sebagai bahan baku untuk produksi kertas. Dalam berbagai bentuk pulp, selulosa mewakili bahan baku untuk produksi berbagai tipe kertas dan karton, dan juga menghasilkan produk-produk selulosa yang

dimodifikasi. (Hohnholz.J.H, 1988) Selulosa merupakan komponen kayu yang terbesar, yang dalam kayu lunak dan kayu keras jumlahnya mencapai hampir setengahnya. Selulosa merupakan polimer linear dengan berat molekul tinggi yang tersusun seluruhnya atas β-D-glukosa. Karena sifat-sifat kimia dan fisiknya maupun struktur supramolekulnya maka ia dapat memnuhi fungsinya sebagai komponen struktur utama dinding sel tumbuhan. (Fengel.D, 1995) Bahan dasar selulosa ialah glukosa, dengan rumus C6H12O6. Molekulmolekul glukosa disambung menjadi molekul-molekul besar, panjang dan berbetuk rantai dalam susunan menjadi selulosa. Selulosa merupakan bahan dasar yang penting bagi industri-industr yang memakai selulosa sebagai bahan baku, misalnya : pabrik kertas, pabrik sutera tiruan dan lain sebagainya. (Dumanauw.J.F, 1993) 2. Poliosa (Hemiselulosa) Persentase dalam kayu lembek lunak (softwood) rata-rata lebih rendah (15-25%). Di samping itu, strukturnya dibedakan dalam dua tipe kayu.

^tçâ

Page 17

Dalam kayu keras dan tanaman tahunan yang dominan adalah jenis pentose (terutama xilan), sedangkan dalam hemiselulosa kayu lunak yang dominan adalah jenis hexosa mudah diisolasi dari kayu dan lebih mudah dihidrolisis dibandingkan tanaman yang kadang-kadang terikat rapat oleh selulosa. Dalam pulp kertas atau dalam kertas, hemiselulosa berperanan sebagai perekat alam dan memperkuat ikatan antara serat ke serat. (Hohnholz.J.H, 1988) Beberapa polisakarida kayu secara ekstensif dapat larut di dalam air. Jenis pohon tropis tertentu membentuk suatu getah secara spontan, yang dikeluarkan berupa cairan kental pada bagian yang diberi luka/goresan dan setelah pengeringan getah tersebut akan mengeras, getah-getah yang mengeras tersebut yang berbentuk kecil-kecil kaya akan polisakarida. Sebagai contoh dari getah ini adalah getah arabic, yang terdiri dari polisakarida yang dapat larut dalam air. (Sjostrom.E, 1993) Jumlah hemiselulosa dari berat kering kayu biasanya antara 20 dan 30%. Komposisi dan struktur hemiselulosa dalam kayu lunak secara khas berdeda dari kayu keras. Perbedaan-perbedaan yang besar juga terdapat dalam kandungan dan komposisi hemiselulosa antara batang, cabang, akar dan kulit kayu. Seperti halnya selulosa kebanyakan hemiselulosa berfungsi sebagai bahan pendukung dalam diding sel. (Sjostrom.E, 1995) 3. Lignin Lignin adalah komponen makromolekuler dinding sel ketiga. Lignin tersusun dari satuan-satuan fenilpropan yang satu sama lain dikelilingi berbagai jenis zat pengikat. Persentase rata-ratanya dalam kayu lunak adalah antara 25-35% dan dalam kayu keras antara 20-30%. Perbedaan struktural yang terpenting dari lignin kayu lunak dan lignin kayu keras, adalah bahwa lignin kayu keras mempunyai kandungan metoxil (OCH3) yang lebih tinggi. (Hohnholz.J.H, 1988)

^tçâ

Page 18

Lignin adalah suatu polimer yang kompleks dengan berat molekul tinggi, tersusun atas unit-unit fenilpropan. Meskipun tersusun atas karbon, hydrogen dan oksigen, lignin bukanlah suatu karbohidrat dan bahkan tidak ada hubungannya dengan golongan senyawa tersebut. Sebaliknya, lignin pada dasarnya adalah suatu fenol. Lignin sangat stabil dan sukar dipisahkan dan mempunyai bentuk yang bermacammacam karenanya susunan lignin yang pasti didalam kayu tetap tidak menentu. Lignin terdapat di antara sel-sel dan di dalam dinding sel. Di antara selsel, lignin berfungsi sebagai perekat untuk mengikat sel-sel bersamasama. Dalam dinding sel, lignin sangat erat hubungannya dengan selulosa dan berfungsi untuk memberikan ketegaran pada sel. Lignin juga berpengaruh dalam mempertinggi sifat racun kayu yang membuat kayu tahan terhadap serangan cendawan dan serangga.

Gambar 1.5 Bentuk umum lignin (Haygreen.J.G, 1987)

1.3.2 Zat – zat Berat Molekul Rendah Di samping komponen-komponen dinding sel, terdapat juga sejumlah zat-zat yang disebut bahan tambahan atau ekstraktif kayu. Meskipun komponen-komponen tersebut hanya memberikan saham beberapa persen pada massa kayu, komponen tersebut dapat

^tçâ

Page 19

memberikan pengaruh yang besar pada sifat-sifat dan kualitas pengolahan kayu. Beberapa komponen, seperti ion-ion logam tertentu, bahkan sangat penting untuk kehidupan pohon. Zat-zat berat molekul rendah berasal dari golongan senyawa kimia yang sangat berbeda hingga sukar untuk membuat sistem klasifikasi yang jelas tetapi komprehensif. Klasifikasi yang mudah dapat dibuat dengan membaginya ke dalam zat organic dan anorganik. Bahan organik lazim disebut dengan ekstraktif, sedangkan bahan anorganik disebut dengan abu. (Fengel.D, 1995) 1) Zat Ekstraktif Zat ekstraktif umumnya adalah zat yang mudah larut dalam pelarut seperti : eter, alkohol, bensin dan air. Banyaknya rata-rata 3 – 8% dari berat kayu kering tanur. Termasuk di dalamnya minyakminyakan, resin, lilin, lemak, tannin, gula, pati, dan zat warna. Zat ekstraktif memiliki arti yang penting dalam kayu karena : − dapat mempengaruhi sifat keawetan, warna, bau, dan rasa suatu jenis kayu − dapat digunakan untuk mengenal suatu jenis kayu. (Dumanauw. J. F, 1993) Kandungan dan komposisi ekstraktif berubah-ubah di antara spesies kayu. Tetapi juga terdapat variasi yang tergantung pada tapak geografi dan musim. Pada sisi lain, komposisi ekstraktif dapat digunakan untuk determinasi kayu-kayu tertentu yang sukar dibedakan secara anatomi. Komposisi ekstraktif dapat berubah selama pengeringan kayu, terutama senyawa-senyawa tak jenuh, lemak dan asam lemak terdegradasi. Fakta ini penting untuk produksi pulp karena ekstraktif tertentu dalam kayu segar mungkin menyebabkan noda kuning (gangguan getah) atau penguningan pulp. Ekstraktif dapat juga mempengaruhi kekuatan pulp, perekatan

^tçâ

Page 20

dan pengerjaan akhir kayu maupun sifat-sifat pengeringan. (Fengel.D, 1995) 2) Abu Di samping persenyawaan-persenyawaan organik, di dalam kayu masih ada beberapa zat organik, yang disebut bagian-bagian abu (mineral pembentuk abu yang tertinggal setelah lignin dan selulosa habis terbakar). Kadar zat ini bervariasi antara 0,2 – 1% dari berat kayu. (Dumanauw.J.F, 1993) Kayu hanya mengandung komponen-komponen anorganik dengan jumlah yang agak rendah, diukur sebagai abu yang jarang melebihi 1% dari berat kayu kering. Namun kandungan abu dalam tugi, daun, dan kulit dapat jauh lebih tinggi. Abu ini asalnya terutama dari berbagai garam yang diendapkan dalam dinding-dinding sel dan lumen. Endapan yang khas adalah berbagai garam-garam logam, seperti karbonat, silikat, oksalat, dan fosfat. Komponen logam yang paling banyak jumlahnya adalah kalsium diikuti kalium dan magnesium. (Sjostrom.E, 1995)

1.4 Sifat Struktur
Sifat struktur/mikroskopis adalah sifat yang dapat kita ketahui dengan mempergunakan alat bantu, yaitu kaca pembesar (loupe) dengan pembesaran 10 kali. Sifat struktur yang diamati adalah : a. Pori (vessel) adalah sel yang berbentuk pembuluh dengan arah longitudinal. Dengan mempergunakan loupe, pada bidang lintang, pori terlihat sebagai lubang-lubang beraturan maupun tidak, ukuran kecil maupun besar. Pori dapat dibedakan berdasarkan penyebaran, susunan, isi, ukuran, jumlah dan bidang perforasi). b. Parenkim (Parenchyma) adalah sel yang berdinding tipis dengan bentuk batu bata dengan arah longitudinal. Dengan mempergunakan loupe, pada bidang lintang, parenkim (jaringan parenkim) terlihat mempunyai warna yang lebih

^tçâ

Page 21

cerah dibanding dengan warna sel sekelilingnya. Parenkim dapat dibedakan berdasarkan atas hubungannya dengan pori, yaitu parenkim paratrakeal (berhubungan dengan pori) dan apotrakeral (tidak berhubungan dengan pori). c. Jari-jari (Rays) adalah parenkim dengan arah horizontal. Dengan

mempergunakan loupe, pada bidang lintang, jari-jari terlihat seperti garis-garis yang sejajar dengan warna yang lebih cerah dibanding warna sekelilingnya. Jari-jari dapat dibedakan berdasarkan ukuran lebarnya dan keseragaman ukurannya. d. Saluran interseluler adalah saluran yang berada di antara sel-sel kayu yang berfungsi sebagai saluran khusus. Saluran interseluler ini tidak selalu ada pada setiap jenis kayu, tetapi hanya terdapat pada jenis-jenis tertentu, misalnya beberapa jenis kayu dalam famili Dipterocarpaceae, antara lain meranti (Shorea spp), kapur (Dryobalanops spp), keruing (Dipterocarpus spp), mersawa (Anisoptera spp), dan sebagainya. Berdasarkan arahnya, saluran interseluler dibedakan atas saluran interseluler aksial (arah longitudinal) dan saluran interseluler radial (arah sejajar jari-jari). Pada bidang lintang, dengan mempergunakan loupe, pada umumnya saluran interseluler aksial terlihat sebagai lubang-lubang yang terletak diantara sel-sel kayu dengan ukuran yang jauh lebih kecil. e. Saluran getah adalah saluran yang berada dalam batang kayu, dan bentuknya seperti lensa. Saluran getah ini tidak selalu dijumpai pada setiap jenis kayu, tapi hanya terdapat pada kayu-kayu tertentu, misalnya jelutung (Dyera spp.) f. Tanda kerinyut adalah penampilan ujung jari-jari yang bertingkat-tingkat dan biasanya terlihat pada bidang tangensial. Tanda kerinyut juga tidak selalu dijumpai pada setiap jenis kayu, tapi hanya pada jenis-jenis tertentu seperti kempas (Koompasia malaccensis) dan sonokembang (Pterocarpus indicus). g. Gelam tersisip atau kulit tersisip adalah kulit yang berada di antara kayu, yang terbentuk sebagai akibat kesalahan kambium dalam membentuk kulit. Gelam tersisip juga tidak selalu ada pada setiap jenis kayu. Jenis-jenis kayu yang

^tçâ

Page 22

sering memiliki gelam tersisip adalah karas (Aquilaria spp), jati (Tectona grandis) dan api-api (Avicennia spp).

2. BAHAN BAKU
Kayu berasal dari pepohonan yang sudah cukup umur untuk dipotong atau ditebang. Setiap jenis pohon menghasilkan jenis kayu yang berbeda.

2.1 Jenis Pepohonan
Pepohonan dapat dibagi menjadi beberapa golongan-golongan sebagai berikut : 1) Golongan pohon berdaun jarum. Golongan ini tumbuh di daerah berhawa dingin. Meskipun pada musim dingin daunya tidak gugur. Tumbuhnya cepat dan lurus. Kayunya rata-rata tidak keras. Gelang tahunnya terlihat jelas, karena endapan damar yang terbentuk pada musim gugur. Jenis yang banyak mengandung damar lebih awet dan kayunya sulit di-cat. 2) Golongan pepohonan yang berdaun lebar. Golongan ini tumbuh di daerah tropik dan sub-tropik. Tumbuhnya lambat, batangnya benjol-benjol dan ratarata kayunya keras. Banyak diantaranya yang pori-porinya terlihat jelas, bila diketam memanjang. Ada 90 jenis pohon yang sudah diketahui dapat digunakan sebagai bahan bangunan. 3) Golongan pohon palm. Tumbuhnya di daerah tropic dan berhawa panas. Di daerah pegunungan yang tingginya 600 m di atas permukaan laut, sudah tidak mau tumbuh.tidak terdapat perdangan khusus sebagai bahan bangunan. 4) Golongan rumput yang batang-batangnya dapat digunakan oleh manusia sebagai bahan bangunan adalah dari family bamboo, yang dapat juga dikatakan golongan rumput raksasa.

^tçâ

Page 23

Gambar 2.1 Pohon jenis palm Sumber : inamardiahhaq.blogspot.com

Gambar 2.2 Pohon berdaun jarum Sumber : riyan92-iyan.blogspot.com

Gambar 2.3 Pohon berdaun lebar Sumber : andimanwno.wordpress.com

Gambar 2.4 Bambu Sumber : mataairyangsegar.blogspot.com

2.2 Penebangan Pohon dan Pengolahan Kayu
Penebangan pohon yang dilakukan, bila pohon telah cukup umurnya, sehingga mutu kayu cukup baik. Penebangan pohon sekarang dilakukan dengan gergaji rantai yang digerakkan dengan motor. Setelah dipotong-potong pada panjang yang tertentu ( 4 m atau 8 m ) diangkat ke tempat pengrajin untuk dijadikan papan dan dimasukkan ke dalam los-los terbuka untuk dikeringkan. Cara pengrajin langsung menjadikan papan

^tçâ

Page 24

dengan ukuran perdagangan dimaksudkan untuk menghindari timbulnya retakretak pada kayu karena penyusutan. Tanpa mempehitungkan susut tersebut, hasil gegajian akan menghasilkan bentuk kurang berkualitas. Sebelum digergaji menjadi papan-papan sebaiknya batang-batang pohon direndam dulu dalam air yang mengalir, sehingga getah-getah dalam pohon larut dalam air dan membunuh serangga yang ada dalam kayu. Lamanya perendaman sebaiknya setahun lebih. Untuk menghasilkan produk kayu gergajian yang baik dan efisienterdapat teknologi gergajian yang harus diketahui dalam kaitannya dengan penyusutan kayu pada saat pengeringan. Terdapat tiga metode penggergajian, lurus (plain sawing), perempat bagian (quarter sawing) dan penggergajian tipikal (typical sawing).

Gambar 2.5 Metoda penggergajian kayu dan profil serat yang dihasilkan Sumber : Forest Products Laboratory USDA, 1999

2.3 Pengeringan Kayu
Kayu baru tebang memiliki kadar air yang tinggi, 200% - 300%. Setelah ditebang kandungan air tersebut berangsur berkurang karena menguap. Mulanya air bebas atau air di luar serat (free water) yang menguap. Penguapan ini masih menyisakan

^tçâ

Page 25

25% - 35% kandungan air. Selanjutnya penguapan air dalam serat (bound water). Kayu dapat di keringkan melalui udara alam bebas selama beberapa bulan atau dengan menggunakan dapur pengering (kiln). Kayu dapat dikeringkan ke kadar sesuai permintaan. Kadar air kayu untuk kuda - kuda biasanya harus kurang dari atau sama dengan 19 persen. Kadang diminta kadar air kayu hingga 15% (MC 15). Namun karena kayu bersifat higroskopis, pengaruh kelembaban udara sekitar kayu akan mempengaruhi kadar air kayu yang akan mempengaruhi kembang susut kayu dan kekuatannya.

Gambar 2.6 Tampang melintang kayu dan arah penyusutan kayu Sumber : Forest Products Laboratory USDA, 1999

Gambar 2.7 Penyusunan kayu saaat proses pengeringan Sumber : Forest Products Laboratory USDA, 1999

^tçâ

Page 26

2.4 Pengawetan Kayu
Proses ideal olah produk kayu selanjutnya adalah pengawetan. Pengawetan dapat dilakukan dengan cara merendam atau mencuci dengan maksud membersihkan zat makanan dalam kayu agar tidak diserang hama. Sedangkan cara lain adalah dengan pemberian bahan kimia melalui perendaman dan cara coating atau pengecatan.

2.5 Cacat Kayu
Pada sebuah batang kayu, terdapat ketidak teraturan struktur serat yang disebabkan karakter tumbuh kayu atau kesalahan proses produksi. Ketidak teraturan atau cacat yang umum adalah mata kayu, yang merupakan sambungan cabang pada batang utama kayu. Mata kayu ini kadang berbentuk lubang karena cabang tersambung busuk atau lapuk atau diserang hama atau serangga. Cacat ini sudah tentu mengurangi kekuatan kayu dalam menerima beban konstruksi. Secara umum cacat fisik kayu berupa : 1. Mata kayu, kayu dikatakan kasar apabila mengandung mata kayu. Mata kayu ini tidak samam sifatnya dengan kayu-kayu di sekelilingnya. Kadang-kadang keras sekali kadang-kadang lunak, selalu mengadakan perubahan arah serat. 2. Cacat retak-retak, cacat retak-retak ini terdapat di dekat hati, retak lingkaran tahun dan retak angin. 3. Hati yang busuk, cacat ini sukar dilihat sebelum pohon ditebang. Biasanya terdapat pada pohon yang sudah tua dan besar batangnya 4. Cacat lapuk, kayu yang masih muda bilamana ditumpuk terlalu lama dan belum dikuliti cepat menjadi cacat lapuk. Kelapukan ini dipengaruhi oleh susunan penumpukan dan kelembaban udara.

^tçâ

Page 27

Gambar 2.8 Cacat kayu : (a) mata kayu; (b) lapuk; (c) wane / tepian batang bulat; (d) retak Sumber : Forest Products Laboratory USDA, 1999

Cacat akibat proses produksi umumnya disebabkan oleh kesalahan penggergajian dan proses pengeringan penyusutan. Cacat ini dapat berupa retak, crooking, bowing, twisting (baling), cupping dan wane (tepian batang bulat) karena penggergajian yang terlalu dekat dengan lingkaran luar kayu.

Gambar 2.9 Cacat produk kayu gergajian yang sering terjadi Sumber : Forest Products Laboratory USDA, 1999

^tçâ

Page 28

Tabel 2. 1 Cacat Maksimum Untuk Setiap Kelas Mutu Kayu

Macam Cacat
Mata Kayu : a) Terletak di muka lebar b) Terletak di muka sempit Retak Pingul Arah serat Saluran dammar Gubal Lubang serangga

Kelas Mutu A
1/6 lebar kayu 1/8 lebar kayu 1/5 lebar kayu 1/10 lebar kayu 1:13 1/5 lebar kayu Diperkenankan Diperkenankan asal terpencar dan ukuran dibatasi dan tidak ada tanda-tanda serangga hidup Tidak diperkenankan

Kelas Mutu B
1/4 lebar kayu 1/6 lebar kayu 1/6 lebar kayu 1/6 lebat kayu 1:9 2/5 lebar kayu Diperkenankan Diperkenankan asal terpencar dan ukuran dibatasi dan tidak ada tanda-tanda serangga hidup Tidak diperkenankan

Kelas Mutu C
1/2 lebar kayu 1/4 lebar kayu 1/2 lebar kayu 1/4 lebar kayu 1:6 1/2 lebar kayu Diperkenankan Diperkenankan asal terpencar dan ukuran dibatasi dan tidak ada tanda-tanda serangga hidup Tidak diperkenankan

Cacat lain (lapuk, hati rapuh, retak melintang)

2.6 Cara Membedakan Kayu Berdaun Lebar Dan Kayu Berdaun Jarum
Terdapat perbedaan yang mendasar antara sifat struktur kayu daun lebar dan sifat struktur kayu daun jarum. Kayu-kayu daun jarum tidak mempunyai pori-pori kayu seperti halnya kayu-kayu daun lebar. Untuk menentukan jenis sepotong kayu, kegiatan pertama yang harus dilakukan adalah memeriksa kayu tersebut dengan memeriksa sifat kasarnya. Apabila dengan cara tersebut belum dapat ditetapkan jenis kayunya, maka terhadap kayu tersebut dilakukan pemeriksaan sifat strukturnya dengan mempergunakan loupe. Untuk memudahkan dalam menentukan suatu jenis kayu, kita dapat mempergunakan kunci pengenalan jenis kayu. Kunci pengenalan jenis kayu pada dasarnya merupakan suatu kumpulan keterangan tentang sifat-sifat kayu yang telah dikenal, baik sifat struktur maupun sifat kasarnya. Sifat-sifat tersebut kemudian didokumentasikan dalam bentuk kartu (sistim kartu) atau dalam bentuk percabangan dua (sistem dikotom).

^tçâ

Page 29

Pada sistem kartu, dibuat kartu dengan ukuran tertentu (misalnya ukuran kartu pos). Disekeliling kartu tersebut dicantunkan keterangan sifat-sifat kayu, dan pada bagian tengahnya tertera nama jenis kayu. Sebagai contoh, kayu yang akan ditentukan jenisnya, diperiksa sifat-sifatnya. Berdasarkan sifat-sifati tersebut, sifat kayu yang tertulis pada kartu ditusuk dengan sebatang kawat dan digoyang sampai ada kartu yang jatuh. Apabila kartu yang jatuh lebih dari satu kartu, dengan cara yang sama kartu-kartu itu kemudian ditusuk pada sifat lain sesuai dengan hasil pemeriksaan sampai akhirnya tersisa satu kartu. Sebagai hasilnya, nama jenis yang tertera pada kartu terakhir tersebut merupakan nama jenis kayu yang diidentifikasi. Dikotom berarti percabangan, pembagian atau pengelompokan dua-dua atas dasar persamaan sifat-sifat kayu yang diamati. Kayu yang akan ditentukan jenisnya diperiksa sifat-sifatnya, dan kemudian dengan mempergunakan kunci dikotom, dilakukan penelusuran sesuai dengan sifat yang diamati sampai diperolehnya nama jenis kayu yang dimaksud. Kunci cara pengenalan jenis kayu di atas, baik sistem kartu maupun dengan sistem dikotom, keduanya mempunyai kelemahan. Kesulitan tersebut adalah apabila kayu yang akan ditentukan jenisnya tidak termasuk ke dalam koleksi. Walaupun sistem kartu ataupun sistem dikotom digunakan untuk menetapkan jenis kayu, keduanya tidak akan dapat membantu mendapatkan nama jenis kayu yang dimaksud. Dengan demikian, semakin banyak koleksi kayu yang dimiliki disertai dengan pengumpulan mengumpulkan sifat-sifatnya ke dalam sistem kartu atau sistem dikotom, akan semakin mudah dalam menentukan suatu jenis kayu.

2.7 Pengerutan dan Pengembangan Kayu
Pengerutan dan pengembangan kayu dimaksudkan adalah suatu keadaan perubahan bentuk pada kayu yang disebabkan oleh tegangan-tegangan dalam, sebagai akibat dari berkurangnya atau bertambahnya kadar air kayu. Pengerutan terjadi karena dinding-dinding maupun isi sel kehilangan sebagian besar kadar

^tçâ

Page 30

airnya, ini juga terjadi pada serat-seratnya. Begitu pula sebaliknya. Besarnya pengerutan maupun pengembangan pada berbagai jenis kayu dan arah kayu adalah tidak sama. T = Pengerutan kayu arah tangensial ± 7 % - 10 % R = Pengerutan kayu arah radial ± 5 % A = Pengerutan kayu arah aksial (longitudinal) ± 0.1 % (sangat kecil, dapat diabaikan) Pengerutan kayu dalam arah lingkaran-lingkaran pertumbuhan (tangensial) lebih besar daripada arah radial, karena dapat ditemui bahwa di sebelah luar batang, sel-selnya masih muda dan banyak mengandung kadar air. Pada pengeringan batang kayu glondong, keliling mengerut hampir dua kali jarijari yaitu sebanyak garis tengah, sehingga terjadi rengat-rengat pengeringan Jika pada batang yang belum dikeringkan (basah) digergaji menjadi papan atau balok akan melipat atau melentur.
Secara teoritis, besarnya pengerutan berbanding lurus dengan banyaknya air yang keluar setelah dikeringkan. Contohnya, bila suatu batang kayu mempunyai lebar asal pada arah tangensial, pada kadar air 20 % adalah 26 cm. Setelahdikeringkan lebarnya menjadi 24 cm, maka pengerutan kayu arah tangensial dalam persen (%) adalah =

3. FUNGSI
Selama periode prasejarah dan sesudahnya kayu tidak hanya digunakan untuk bahan bangunan tetapi juga semakin penting sebagai bahan mentah kimia untuk pembuatan arang (digunakan dalam peleburan besi), ter dan getah (digunakan untuk mengawetkan dan melapisi lambung kapal), dan kalium (digunakan dalam pembuatan

^tçâ

Page 31

gelas dan sebagai bahan pemucat kain dan tekstil kapas). Namun disisi lain kayu merupakan bahan dasar yang sangat modern. Kubah-kubah kayu yang besar dan perabot rumah yang indah membuktikan kagunaan dan keindahannya. Bahkan dalam bentuk alih seperti kayu lapis, papan partikel dan papan serat, kayu telah menjadi bahan bangunan yang berharga. Penggunaan kayu untuk suatu tujuan pemakaian tertentu tergantung dari sifat-sifat kayu yang bersangkutan dan persyaratan teknis yang diperlukan. Jenis-jenis kayu yang mempunyai persyaratan untuk tujuan pemakaian tertentu antara lain dapat dikemukan sebagai berikut : 1. Bangunan (Konstruksi) Persyaratan teknis : kuat, keras, berukuran besar dan mempunyai keawetan alam yang tinggi. Jenis kayu : balau, bangkirai, belangeran, cengal, giam, jati, kapur, kempas, keruing, lara, rasamala. 2. Veneer biasa Persyaratan teknis : kayu bulat berdiameter besar, bulat, bebas cacat dan beratnya sedang. Jenis kayu : meranti merah, meranti putih, nyatoh, ramin, agathis, benuang. 3. Veneer mewah Persyaratan teknis : disamping syarat di atas, kayu harus bernilai dekoratif. Jenis kayu : jati, eboni, sonokeling, kuku, bongin, dahu, lasi, rengas, sungkai, weru, sonokembang.

^tçâ

Page 32

4. Perkakas (mebel) Persyaratan teknis : berat sedang, dimensi stabil, dekoratif, mudah dikerjakan, mudah dipaku, dibubut, disekrup, dilem dan dikerat. Jenis kayu : jati, eboni, kuku, mahoni, meranti, rengas, sonokeling, sonokembang, ramin. 5. Lantai (parket) Persyaratan teknis : keras, daya abrasi tinggi, tahan asam, mudah dipaku dan cukup kuat. Jenis kayu : balau, bangkirai, belangeran, bintangur, bongin, bungur, jati, kuku. 6. Bantalan Kereta Api Persyaratan teknis : kuat, keras, kaku, awet. Jenis kayu : balau, bangkirai, belangeran, bedaru, belangeran, bintangur, kempas, ulin. 7. Alat Olah Raga Persyaratan teknis : kuat, tidak mudah patah, ringan, tekstur halus, serat halus, serat lurus dan panjang, kaku, cukup awet. Jenis kayu : agathis, bedaru, melur, merawan, nyatoh, salimuli, sonokeling, teraling. 8. Alat Musik Persyaratan teknis : tekstur halus, berserat lurus, tidak mudah belah, daya resonansi baik.

^tçâ

Page 33

Jenis kayu : cempaka, merawan, nyatoh, jati, lasi, eboni. 9. Alat Gambar Persyaratan teknis : ringan, tekstur halus, warna bersih. Jenis kayu : jelutung, melur, pulai, pinus. 10. Tong Kayu (Gentong) Persyaratan teknis : tidak tembus cairan dan tidak mengeluarkan bau. Jenis kayu : balau, bangkirai, jati, pasang. 11. Tiang Listrik dan Telepon Persyaratan teknis : kuat menahan angin, ringan, cukup kuat, bentuk lurus. Jenis kayu : balau, giam jati, kulim, lara, merbau, tembesu, ulin. 12. Patung dan Ukiran Kayu Persyaratan teknis : serat lurus, keras, tekstur halus, liat, tidak mudah patah dan berwarna gelap. Jenis kayu : jati, sonokeling, salimuli, melur, cempaka, eboni. 13. Korek Api Persyaratan teknis : sama dengan persyaratan veneer, cukup kuat (anak korek api), elastis dan tidak mudah pecah (kotak). Jenis kayu : agathis, benuang, jambu, kemiri, sengon, perupuk, pulai, terentang, pinus.

^tçâ

Page 34

14. Pensil Persyaratan teknis : BJ sedang, mudah dikerat, tidak mudah bengkok, warna agak merah, berserat lurus. Jenis kayu : agathis, jelutung, melur, pinus. 15. Moulding Persyaratan teknis : ringan, serat lurus, tekstur halus, mudah dikerjakan, mudah dipaku. Warna terang, tanpa cacat, dekoratif. Jenis kayu : jelutung, pulai ramin, meranti dll. 16. Perkapalan Lunas Persyaratan teknis : tidak mudah pecah, tahan binatang laut. Jenis kayu : ulin, kapur. Gading Persyaratan teknis : kuat, liat, tidak mudah pecah, tahan binatang laut. Jenis kayu : bangkirai, bungur, kapur. Senta Persyaratan teknis : kuat, liat, tidak mudah pecah, tahan binatang laut. Jenis kayu : bangkirai, bungur, kapur. Kulit Persyaratan teknis : tidak mudah pecah, kuat, liat, tahan binatang laut.

^tçâ

Page 35

Jenis kayu : bangkirai, bungur, meranti merah. Bangunan dan dudukan mesin Persyaratan teknis : ringan, kuat dan awet, tidak mudah pecah karena getaran mesin. Jenis kayu : kapur, meranti merah, medang, ulin, bangkirai. Pembungkus as baling-baling Persyaratan teknis : liat, lunak sehingga tidak merusak logam. Jenis kayu : nangka, bungur, sawo. Popor Senjata Persyaratan teknis : ringan, liat, kuat, keras, dimensi stabil. Jenis kayu : waru, salimuli, jati. 17. Arang (bahan bakar) Persyaratan teknis : BJ tinggi. Jenis kayu : bakau, kesambi, walikukun, cemara, gelam, gofasa, johar, kayu malas, nyirih, rasamala, puspa, simpur.

4. JENIS
4.1. Penggolongan Produk Kayu di Pasaran
Saat ini produk kayu sangat beragam. Produk kayu solid/asli umumnya berupa kayu gergajian baik berupa balok maupun papan. Sedangkan produk kayu buatan

^tçâ

Page 36

dapat merupa vinir (veneer), papan lapis, triplek/plywood/multiplek dan bahkan kayu laminasi (glue laminated timber).

4.2. Klasifikasi Produk Kayu
Penggolongan kayu dapat ditinjau dari aspek fisik, mekanik dan keawetan. Secara fisik terdapat klasifikasi kayu lunak dan kayu keras. Kayu keras biasanya memiliki berat satuan (berat jenis) lebih tinggi dari kayu lunak. Klasifikasi fisik lain adalah terkait dengan kelurusan dan mutu muka kayu. Terdapat mutu kayu di perdagangan A, B dan C yang merupakan penggolongan kayu secara visual terkait dengan kualitas muka (cacat atau tidak) arah - pola serat dan kelurusan batang. Kadang klasifikasi ini menerangkan kadar air dari produk kayu.

Kayu mutu kering udara 1. Besar mata kayu maksimum 1/6 lebar kecil tampang / 3,5 cm 2. Tak boleh mengandung kayu gubal lebih dari 1/10 tinggi balok 3. Miring arah serat maksimum adalah 1/7 4. Retak arah radial maksimum 1/3 tebal dan arah lingkaran tumbuh 1/4 tebal kayu

Kayu mutu kering udara 15% - 30% 1. Besar mata kayu maksimum 1/4 lebar kecil tampang / 5 cm 2. Tak boleh mengandung kayu gubal lebih dari 1/10 tinggi balok 3. Miring arah serat maksimum adalah 1/10 4. Retak arah radial maksimum ¼ tebal dan arah lingkaran tumbuh 1/5 tebal kayu

Konsekuensi dari kelas visual B harus memperhitungkan reduksi kekuatan dari mutu A dengan faktor pengali sebesar 0.75 (PKKI, 1961, pasal 5)

^tçâ

Page 37

4.3. Kelas Kuat Kayu
Sebagaimana di kemukakan pada sifat umum kayu, kayu akan lebih kuat jika menerima beban sejajar dengan arah serat dari pada menerima beban tegak lurus serat. Ini karena struktur serat kayu yang berlubang. Semakin rapat serat, kayu umumnya memiliki kekuatan yang lebih dari kayu dengan serat tidak rapat. Kerapatan ini umumnya ditandai dengan berat kayu persatuan volume / berat jenis kayu.

Gambar 4.1 Arah serat dan kekuatan kayu terhadap tekanan dan tarik Sumber : Forest Products Laboratory USDA, 1999

Gambar 4.2 Arah serat dan kekuatan kayu terhadap lentur dan geser Sumber : Forest Products Laboratory USDA, 1999

Angka kekuatan kayu dinyatakan dapan besaran tegangan, gaya yang dapat diterima per satuan luas. Terhadap arah serat, terdapat kekuatan kayu sejajar (//) serat dan kekuatan kayu tegak lurus (⊥) serat yang masing - masing memilki besaran yang berbeda. Terdapat pula dua macam besaran tegangan kayu,

^tçâ

Page 38

tegangan absolute / uji lab dan tegangan ijin untuk perancangan konstruksi. Tegangan ijin tersebut telah memperhitungkan angka keamanan sebesar 5 - 10. Dalam buku Peraturan Konstruksi Kayu Indonesia (PKKI - NI - 5) tahun 1961, kayu di Indonesia diklasifikasikan ke dalam kelas kuat I (yang paling kuat), II, III, IV (paling lemah).
Tabel 4.1 Kelas Kuat Kayu Sumber : PKKI, 1979 Tekan-Tarik // Serat (Kg/cm2) Absolut > 650 425-650 300-425 215-300 < 215 Izin 130 85 60 45 Tarik ┴ Serat (Kg/cm2) Absolut Izin 20 12 8 5 Kuat Lentur (Kg/cm2) Absolut > 1100 725-1100 500-725 360-725 < 360 Izin 150 100 75 50 -

Kelas Kuat I II III IV V

Berat jenis ≥ 0.90 0.6--0.90 0.400.90 0.300.40 ≤ 0.30

4.4. Kelas Awet
Berdasarkan pemakaian, kondisinya dan perlakuannya, kayu dibedakan atas kelas awet I (yang paling awet) – V (yang paling tidak awet). Kondisi kayu dimaksud adalah lingkungan/tempat kayu digunakan sebagai batang struktur. Sedangkan perlakuan meliputi pelapisan/tindakan lain agar kayu terhindar/terlindungi dari kadar air dan ancaman serangga.

^tçâ

Page 39

Tabel 4.2 Kelas Awet Kayu Sumber : PKKI, 1979
Kelas Awet Kondisi Tempat Kayu Dipakai I Selalu berhubungan dengan tanah lembab Hanya dipengaruhi cuaca, tapi dijaga supaya tidak 20 tahun terndam air dan kekurangan udara Di bawah atap, tidak berhubungan dengan tanah lembab dan tidak kekurangan udara Di bawah atap, tidak berhubungan dengan tanah Tak lembab dan tidak kekurangan udara dan dipelihara terbatas dengan baik serta dicat dengan teratur Sangat Serangan rayap tanah Tidak Jarang Cepat cepat Hampir Serangan bubuk kayu kering Tidak Tidak tidak berarti cepat Tidak cepat Sangat Sangat terbatas terbatas Tak Tak 20 tahun 20 tahun Tak terbatas Tak terbatas Sangat lama 15 tahun 10 tahun tahun Beberapa Pendek tahun pendek 8 tahun II 5 tahun III 3 tahun pendek Beberapa pendek Sangat IV Sangat V Sangat

4.5. Beberapa Jenis Kayu Berdasarkan Kelompoknya
Indonesia memiliki sekitar 4.000 jenis pohon, yang berpotensi untuk digunakan sebagai kayu bangunan. Akan tetapi hingga saat ini hanya sekitar 400 jenis (10%) yang memiliki nilai ekonomi dan lebih sedikit lagi, 260 jenis, yang telah digolongkan sebagai kayu perdagangan. Berikut ini adalah daftar nama-nama kayu atau kelompok kayu menurut nama perdagangannya, sesuai dengan Lampiran Keputusan Menteri Kehutanan Nomor: 163/Kpts-II/2003 tanggal 26 Mei 2003 tentang Pengelompokan Jenis Kayu Sebagai Dasar Pengenaan Iuran Kehutanan; dengan beberapa penyesuaian.

^tçâ

Page 40

4.5.1. Kelompok Jenis Meranti/Kelompok Komersial Satu Nama No. Perdagangan Damar (Jw.), dama (Slw.), damar 1. Agatis Agathis spp. bindang (Klm.), damar sigi (Smt.). (Ingg.): kauri pine. Shorea spp. (misalnya S. Damar laut (Smt.), semantok (Aceh), materialis Ridl., S. maxwelliana 2. Balau King, S. scrobiculata Burck); (Klm.) Parashorea spp. Balau laut, damar laut merah, batu Shorea spp. (mis. S. collina Ridl., 3. Balau merah S. guiso (Blanco) Bl.) red selangan. Shorea spp. (mis. S. kunstleri King, S. laevis Ridley, S. 4. Bangkirai laevifolia Endert); Hopea spp. (mis. H. celebica Burck, H. semicuneata Sym.) Araucaria spp. (mis. A. Alloa, ningwik, pien (Pap.). Ingg.: 5. Damar cunninghamii D. Don, A. araucaria. hunsteinii K.Schum.) Durio spp. (terutama Durio 6. Durian carinatus Mast.); Coelostegia spp. 7. Gia Durian burung, lahong, layung, apun, begurah, punggai, durian hantu, enggang Benuas, balau mata kucing, hulo dereh, puguh, jangkang putih, kerangan (Smt.), bubuh (Bk.) tuyang, putang, lempung abang. Ingg.: amperok, anggelam, selangan batu Nama Ilmiah Nama-nama Daerah

Homalium tomentosum (Roxb.) Delingsem (Jw.), kayu batu, melunas,

^tçâ

Page 41

Benth., Homalium foetidum (Roxb.) Benth.

kayu kerbau, momala (Slw.)

Giam durian, resak bukit tembaga; Cotylelobium spp. (mis. C. giam padi, resak daun kecil, resak 8. Giam burckii Heim, C. lanceolatum batu; giam tembaga, resak daun lebar; Craib, C. melanoxylon Pierre resak gunung 9. Jelutung Dyera spp. Dryobalanops spp. (di antaranya D. oblongifolia Dyer, Kamper (kayu), kayu kayatan, empedu, 10. Kapur D. sumatrensis (Gmelin) Kosterm.) Kapur 11. petanang Dryobalanops oblongifolia Dyer kelansau (Swk.) Kerantai, ki tuwak, binjau, asam-asam, Canarium spp., Dacryodes spp. , 12. Kenari Santiria spp., Trioma spp. bayung, ranggorai, mertukul Keruing arong, kekalup; Lagan sanduk, Dipterocarpus spp. (mis. D. mara keluang; Keruing tempudau; 13. Keruing applanatus V.Sl., D. baudii tempurau, merkurang, kawang, Korth., D. elongatus Korth. dll.) apitong 14. Kulim 15. Malapari Scorodocarpus borneensis Becc. Kayu bawang hutan (Klm.) Pongamia pinnata (L.) Pierre Pometia spp.; mis. P. pinnata 16. Matoa Malapari kedondong (kedundung), resung, Kapur guras (Smt.), kapur paya (Mly.), keladan Pulai nasi, pantung gunung, melabuai

Kasai, taun, kungki, hatobu, kayu sapi

Forster & Forster, P. ridleyi King (Jw.), tawan (Mlku.), ihi mendek (Irian

^tçâ

Page 42

Jaya) Sintuk, sintok lancing, ki teja, ki tuha, ki 17. Medang Cinnamomum spp. sereh, selasihan Shorea spp. (di antaranya: S. acuminatissima Sym., S. Meranti 18. kuning faguetiana Heim, S. gibbosa Brandis, Shorea scollaris V.Sl.; kuyung; Damar tanduk. Ingg.: yellow seraya. Majau, meranti merkuyung; Meranti Shorea spp. (di antaranya: S. ketrahan; Meranti tembaga, kontoi johorensis Foxw., S. lepidota BI., bayor; Meranti kelungkung; Meranti 19. merah palembanica Miq., S. Seraya merah, campaga, lempong, platyclados V.Sl. ex Foxw., S. kumbang, meranti ketuko, cupang. leptoclados Sym., dll.) Ingg.: red seraya, red lauan. Damar mesegar; Bunyau, damar kedontang; Damar mata kucing, damar Shorea spp. (di antaranya: S. assamica Dyer, S. bracteolata Dyer, S. javanica K. et. Val., S. Meranti 20. putih Sym., S. retinodes V.SI., S. virescens Parijs, S. koordersi Brandis, dll.) lamellata Foxw., S. ochracea kaca, damar kucing; Damar tunam, damar pakit; Damar kebaong, baong, bayong, baung, belobungo, kontoi tembaga; Balamsarai, damar mansarai; Damar maja, kontoi sabang; Kikir, udang, udang ulang, damar hutan, anggelam tikus, maharam potong, pongin, awan punuk, mehing (Smt., Kal.); Damar lari-lari, lalari, temungku, tambia putih (Slw.), Damar tenang S. leprosula Miq., S. ovalis BI., S. Tengkawang majau; Banio, ketir; balanocarpoides Sym., S. karamuku; Damar buah, merengDamar hitam, damar kalepek; Damar hitam katup; Bangkirai guruk,

^tçâ

Page 43

putih, hili, honi (Mlku.). Ingg.: white meranti. Hopea spp. (mis. H. dasyrrachis Tekam, tekam rayap; Bangkirai tanduk, 21. Merawan V.Sl., H. dyeri Heim, H. sangal Korth., dll.) emang, amang besi; Cengal, merawan telor; Ngerawan, cengal balau Merbau asam, ipi (NT.), kayu besi Intsia spp. (terutama I. bijuga 22. Merbau O.K., I. palembanica Miq.) (Mlku.) Anisoptera spp. (mis. A. laevis 23. Mersawa Ridl., A. marginata Korth., A. thurifera Bl.) Cengal padi, damar kunyit; Masegar (Smt.), ketimpun (Klm.), mersawa daun besar; tabok, tahan Suntai, balam, jongkong, hangkang, Palaquium spp., Payena spp., 24. Nyatoh Madhuca spp. bakalaung, ketiau, jengkot, kolan Heritiera (Tarrietia) spp.; mis. H. javanica (Bl.) Kosterm., H. Mengkulang, teraling; Dungun, 25. Palapi simplicifolia (Mast.) Kosterm., talutung, lesi-lesi. H. littoralis Ait., H. sylvatica S. Vidal Rempelas, ki jeungkil, ki endog (Sd.), 26. Penjalin Celtis spp. cengkek (Jw.), pusu (Sumbawa) Lophopetalum spp.; mis. L. 27. Perupuk javanicum (Zoll.) Turcz., L. multinervium Ridl., L. subobovatum King, L. Kerupuk (Smt.), pasana (Klm.), mandalaksa (Jw.), aras katingan, mayang batu, bunut, kedang, (Papua); Ipil, anglai, maharan; Tanduk

^tçâ

Page 44

wightianum Arn. Melunak, ki sigeung, ki sinduk, 28. Pinang Pentace spp. kelembing Alstonia spp. (di antaranya A. pneumatophora Back., A. 29. Pulai Kayu gabus, rita, gitoh, bintau, basung,

scholaris R.Br., A. spatulata Bl., pule, pulai miang. Ingg.: white A. macrophylla Wall., A. spectabilis R.Br.) Tulasan (Smt.), mandung (Min.), mala cheesewood, milkwood, milky pine.

30. Rasamala

Altingia excelsa Noroña (Jw.) Vatica spp.; mis. V. maingayi

31. Resak

Dyer, V. oblongifolia Hook.f., V. Damar along, resak putih rassak Bl.

4.5.2. Kelompok Jenis Kayu Rimba Campuran/Kelompok Komersial Dua No. Nama Perdagangan Nama Ilmiah Rhizophora spp. dan 1. Bakau Bruguiera spp 2. Bayur 3. Benuang Pterospermum spp. Putut, Busing, Mata buaya Balang, Walang, Wadang, Wayu Nama-nama Daerah Tumu, Lenggadai, Jangkar, Tanjang,

Octomeles sumatrana Miq. Benuang bini (Klm.), winuang (Slw.) Adina minutiflora Val.); Kayu lobang, Barumbung, Kayu gatal Bintangor, penaga; Nyamplung;
Page 45

4. Berumbung Pertusadina spp. 5. Bintangur Calophyllum spp.; mis. C.

^tçâ

calaba L., C. inophyllum L., C. papuanum Lauterb., C. pulcherrimum Wall.ex Choisy, C. soulattri Burm.f. 6. Bipa Pterygota spp. Serianthes minahassae 7. Bowoi Merr. & Perry (Syn. Albizia minahasae Koord.) Koordersiodendron 8. Bugis pinnatum Merr. 9. Cenge 10. Duabanga Mastixia rostrata BI. Duabanga moluccana BI. Eucalyptus spp.; mis. E. alba

Sulatri; Bunoh, bintangur bunut

Kayu wipa

Rayango, Merang, Terangkuse

Grepau

Cenge, Cingo Benuang laki, Takir, Aras, Raju mas

Kayu putih; Leda, aren (Mlku.), 11. Ekaliptus Reinw.ex Bl., E. deglupta Bl., tampai; Ampupu (Timor), E. urophylla S.T. Blake 12. Gelam 13. Gempol 14. Gopasa Melaleuca spp. Nauclea spp. Vitex spp. Cratoxylum spp.; mis. C. Madang baro; Mampat, butun; 15. Gerunggang/Derum arborescens (Vahl) Bl., C. kemutul, temau; edat cochinchinense (Lour.) Bl. Anthocephalus spp. (A. chinensis (Lamk.) A.Rich ex Kelampayan (Mly.), laran (Klm.), semama (Amb.). Ingg.: cadamba. Kayu putih Wosen, Klepu pasir, Anggrit Teraut, Laban

16. Jabon

^tçâ

Page 46

Walp. dan A. macrophyllus (Roxb.) Havil.) 17. Jambu-jambu Syzygium spp. [3] Exbucklandia populnea R. 18. Kapas-kapasan Brown Rengas sumpung, Merpauh, Bagel 19. Kayu kereta Swintonia spp. mirah 20. Kecapi 21. Kedondong Hutan 22. Kelumpang Kembang 23. semangkok Koompassia malaccensis 24. Kempas Maing. 25. Kenanga Cananga sp. Dialium spp.; mis. D. indum 26. Keranji L., D. platysepalum Baker, D. Kayu lilin; Maranji procerum (v.Steen.) Stey 27. Ketapang 28. Ketimunan 29. Lancat Terminalia spp. Timonius spp. Mastixiodendron spp. Kalumpit, Klumprit, Jelawai, Jaha Seranai, Temirit, Kayu reen Kundur, Modjiu, Raimagago Kananga Hampas, impas, tualang ayam Scaphium macropodum J. B. Kepayang, merpayang (Smt.) Sandoricum spp. Spondias spp. Sterculia spp. Papung, Kelam, Sentul Coco, Kacemcem leuweung Kepuh, Kalupat, Lomes Hapas-hapas, Tapa-tapa, Leman Kelat, Ki tembaga, Jambu

^tçâ

Page 47

Metrosideros spp. dan 30. Lara Xanthostemon spp. 31. Mahang Macaranga spp. Litsea firma Hook f.; 32. Medang Dehaasia spp. Mezzetia parviflora Becc.; Mahabai, Hakai rawang, Empunyit, 33. Mempisang Xylopia spp.; Alphonsea Jangkang, Banitan, Pisang-pisang spp.; Kandelia candel Druce Darah-darah, Tangkalak, Au-au, Ki 34. Mendarahan Myristica spp., Knema spp. mokla, Kumpang, Kayu luo, Huru 35. Menjalin Xanthophyllum spp. Dactylocladus stenostachys 36. Mentibu Oliv. 37. Merambung 38. Punak Vernonia arborea Han. Tetramerista glabra Miq. Schima spp.; terutama S. 39. Puspa wallichii Korth. Gluta aptera (King) Ding 40. Rengas Hou Sarangan (Jw.), ki hiur (Sd.), 41. Saninten Castanopsis argentea A. DC. kalimorot 42. Sengon Paraserianthes falcataria (L) Jeungjing, Tawa kase, Sika (Maluku) Rengas tembaga, Rangas madang gatal (Klm.) Merambung, sembung Kayu malaka (Smt.), cerega (Klm.) Seru (Jw.), simartolu (Smt.), Jongkong, merebung Lilin, Ki endog, Segi landak Wuru, Kunyit Merkubung, Mara, Benua Manggah, Huru kacang, Keleban, Lompopaito, Nani, Langera

^tçâ

Page 48

Nielsen 43. Sepat Berrya cordofolia Roxb. Endospermum spp.; mis. E. Sendok-sendok, kayu labuh (Smt.), diadenum (Miq.) Airy Shaw, 44. Sesendok E. moluccanum (T & B) Kurz, Kayu raja (Mlku.) E. peltatum Merr. Dillenia spp.; mis. D. 45. Simpur grandifolia Wall., D. obovata Sempur, segel, janti, dongi Hoogl., D. pentagyna Roxb. 46. Surian Toona sureni Merr. Fagraea spp.; mis. F. Tomasu (Smt.), kulaki (Slw.), 47. Tembesu fragrans Roxb., F. sororia J.J. malbira, ki tandu Sm. 48. Tempinis Sloetia elongata Kds. Damuli, Kayu besi Banitan, Pemelesian, Kayu tinyang, 49. Tepis Polyalthia glauca Boerl. Kayu bulan, Banet, Kayu kalet 50. Tenggayun 51. Terap Parartocarpus spp. Artocarpus spp. Campnosperma spp.; mis. C. 52. Terentang auriculatum (Bl.) Hook.f., C. Tumbus (Smt.), pauh lebi brevipetiolatum Volkens, dll. 53. Terentang ayam Buchanania spp. Pauhan, Antumbus, Talantang Buku ongko, Pejatai, Purut bulu Cempedak, Kulur, Tara, Teureup Suren, kalantas kayu bulan (Mly.), garung (Klm.); Waru gunung, Kalong

^tçâ

Page 49

54. Tusam 55. Utup

Pinus spp. Aromadendron sp.

Pinus, Damar batu, Uyam Utup

4.6.3. Kelompok Jenis Kayu Eboni/Kelompok Indah Satu Nama No. Perdagangan Eboni 1. bergaris 2. Eboni hitam Diospyros rumphii Bakh. Diospyros spp.; di antaranya D. areolata King et G., D. cauliflora Baniak, Toli-toli, Kayu arang, Kanara, 3. E b o n i BI., D. ebenum Koen, D. ferrea Gito-gito, Bengkoal, Malam Bakh., D. lolin Bakh., D. macrophylla BI. Kayu hitam, Maitem, Kayu waled Diospyros celebica Bakh. Maitong, Kayu lotong, Sora, Amara Nama Ilmiah Nama-nama Daerah

4.5.4. Kelompok Jenis Kayu Indah/Kelompok Indah Dua Nama No. Perdagangan 1. Bongin Irvingia malayana Oliv. Pauh kijang, Sepah, Kayu batu Ketangi, wungu (Jw.), tekuyung, 2. Bungur Lagerstroemia speciosa Pers. benger Minjaran, Wasian, Manglid, Sitekwok, 3. Cempaka Michelia spp., Elmerrillia spp. Kantil (Jw.), Capuka Nama Ilmiah Nama-nama Daerah

^tçâ

Page 50

4. Cendana

Santalum album L. Dracontomelon spp.; mis. D.

Kayu kuning, Lemo daru

Dao, basuong (Smt.), sengkuang 5. Dahu dao Merr. & Rolfe, D. (Mly.), koili mangiferum Bl. 6. Johar 7. Kuku 8. Kupang 9. Lasi Senna spp.[4] Pericopsis mooniana Thw. Ormosia spp. Adina fagifolia Ridl. Swietenia spp.; mis. S. 10. Mahoni macrophylla King, S. mahagoni Mahoni (L.) Jacq. Alau, cemantan (Klm.); Jamuju, kayu Dacrydium spp.; Podocarpus embun (Slw.), sampinur bunga (Smt.); 11. Melur spp. dan Phyllocladus spp. Mis. Sampinur tali; Kayu cina; Ki merah, Dacrydium junghuhnii Miq. Sandu Ambacang, Asam, Limus piit, 12. Membacang Mangifera spp. Mempelam, Wani, Mangga Melia spp.; terutama M. 13. Mindi azedarach L. 14. Nyirih 15. Pasang Xylocarpus granatum J. Konig Quercus spp. Nyireh, Niri Mempening, Baturua, Kasunu, Triti Marapat, Teruntum batu Bawang kungut Juar, Trengguli, Sebusuk, Bobondelan Kayu laut, Papus, Nani laut Kayu ruan, Saga Adina, Kilaki

16. Perepat darat Combretocarpus rotundatus

^tçâ

Page 51

Dans. 17. Raja bunga 18. Rengas Adenanthera spp Saga, Segawe, Klenderi

Gluta spp.; Melanorrhoea spp. Ingas, Suloh, Rangas, Rengas burung Gaharu buaya, Medang keladi, Keladi,

19. Ramin

Gonystylus bancanus Kurz Miang Manilkara spp.; mis. M.

20. Sawo kecik

fascicularis H.J. Lam & Maas Geest., M. kauki (L.) Dub.

Subo, Ki sawo

21. Salimuli

Cordia spp. Sindora spp.; mis. S. bruggemanii de Wit, S.

Kendal, Klimasada, Purnamasada

Sepetir (Mly.), sasundur (Klm.), mobingo (Slw.)

22. Sindur coriacea Maing., S. wallichii Graham 23. Sonokembang Pterocarpus indicus Willd. 24. Sonokeling 25. Sungkai 26. Tanjung 27. Tapos Dalbergia latifolia Roxb. Peronema canescens Jack Mimusops elengi L. Elateriospermum tapos BI. Angsana, Linggua, Nala, Candana Linggota, sono sungu, sonobrits Jati seberang, Jati londo Sawo manuk (Jw.), karikis (Slw.) Kelampai, Setan, Kedui, Wayang

28. Tinjau belukar Pteleocarpus lampongus Bakh. Lontar kuning Manilkara kanosiensis H.j. L. et 29. Torem B. M. Sawai, Torem

^tçâ

Page 52

30. Trembesi 31. Ulin 32. Weru

Samanea saman Merr. Eusideroxylon zwageri T.et B. Albizia procera Benth.

Ki hujan Kayu besi, bulian, kokon Beru, Ki hiyang, Bengkal

5. KELEBIHAN DAN KEKURANGAN
5.1. Kelebihan Kayu
Berikut ini beberapa kelebihan kayu : • Murah dan mudah dikerjakan; • Mempunyai kekuatan yang tinggi dan bobotnya rendah; • Mempunyai daya penahan tinggi terhadap pegaruh listrik (bersifat isolasi), kimia; • Bila ada kerusakan dengan mudah dapat diganti dan bisa diperoleh dalam waktu singkat; • Pembebanan tekan biasanya bersifat elastic; • Bila terawat dengan baik akan tahan lama.

5.2 Kekurangan Kayu
Berikut ini beberapa kekurangan kayu : • • • • Kurang homogen ketidaksamaan sebagai hasil alam; Cacat-cacat pada kayu; Mudah terbakar; Terjadinya lendutan yang cukup besar.

^tçâ

Page 53

6. APLIKASI
Kayu merupakan salah satu material yang penting dalam konstruksi maupun dekoratif dalam bangunan. Dengan sifat kayu yang kuat dan mudah diterapkan kayu merupakan material yang sangat berharga dalam sejarah manusia. Sebalum mangenal beton dan baja manusia sudah menggunakan kayu dalam konstruksi bangunan. Sejak masa prasejarah hingga sekarang manusia masih menggunakan kayu dalam konstruksi bangunan dan dekoratif bangunan. Hal ini membuktikan betapa berharganya kayu sebagai bahan material dalam kontruksi bangunan. Dalam penggunaannya kayu harus memenuhi syarat: • Mampu menahan bermacam-macam beban yang bekerja dengan aman dalam jangka waktu yang direncanakan. • • Mempunyai ketahnan dan keawetan yang memadai melebihi umur pemakainya. Serta mempunyai ukuran penampang dan panjang yang sesuai pemakaiannya dalam konstruksi. Kayu bangunan adalah kayu olahan yang diperoleh dengan jalan mengkonversikan kayu. bulat menjadi kayu berbentuk balok, papan atau bentuk-bentuk yang sesuai dengan tujuan penggunaannya. • Ukuran nominal kayu untuk bangunan, tebal dan lebar minimal (10x10) mm, (10x30) mm, (20x30) nm, sampai (120x120) mm, (25x30) mm, (30x30) nm, (30x50) mm, (60x80) mm, (60x100) mm, 60x120)mm, (80x80) mm, (80x100) mm, 120x120) mm. • • • Ukuran kayu berdasarkan penggunaan (Tabel): Ukuran panjang nominal (m): 1; 1.5; 2; 2.5; 3; 3.5; dst 5.5. Ukuran untuk bangunan rumah dan gedung: Kusen pintu dan jendela (mm): 60 (100, 120, 130, 150) ; 80 (100, 120, 150). Kuda-kuda (mm): 80 (80, 100, 120, 150, 180), 100 (100, 120, 150, 180). Kaso (mm) : 40x60; 40x80; 50x70. Tiang balok (mm) :80 (80, 100, 120); 100 (100, 120); 120 (120, 150).

^tçâ

Page 54

Balok antar tiang (mm): 40 (60, 80); 60 (80, 120, 150); 80 (120, 150, 180), 100 (120, 150). Balok langit (mm): 80 (120, 150, 180, 200); 100 (150, 180, 200). • Toleransi ukuran panjang kayu ditetapkan berdasarkan ukuran nominal 100 mm dan toleransi ukuran tebal dan lebar kayu ditetapkan 0-15 mm dari ukuran nominal. • Ketentuan kadar air kayu adalah ukuran kayu gergajian dalam keadaan kering udara, maksimum 23%, kecuali untuk kusen daun pintu, daun jendela, jelusi dan elemen lainnya mempunyai kadar air maksimum 20% Tabel 6.1. Ukuran kayu berdasar penggunaan Jenis Tebal (mm) Penggunaan Lis dan Jalusi 10 15 20 Papan 20 30 40 Reng dan kaso 20 25 35 50 Balok 60 100 10,30,40,50, 60, 80 30,40,50,60,80,100,120,150,180,200,220 40, 50,60,80, 100, 120 150, 180,200,220,250 180,200,220,250,300 180,200,220,250 30 30,40,60,80, 100, 120 30,40,60,80,100,120,150 70,80,100,120,130,150,180,200,220,250 80,100,120,130,150,180,200,20,250 100, 120, 130, 150, 180,200,220,250 Lebar (mm)

Setelah kayu mengalami proses pengolahan menjadi kayu bangunan kayu sudah dapat diaplikasikan dalam bangunan. berikut ini beberapa pengaplikasi kayu dalam bangunan.

^tçâ

Page 55

1. Rangka Atap Salah satu aplikasi kayu dalam bangunan adalah dalam penggunaannya pada rangka atap. Dalam konstruksi rangka atap dibutuhkan banyak sekali kayu yang memiliki berbagai macam ukuran yang tentunya sudah merupakan ukuran standar konstruksi. Dalam konstruksi rangka atap kuda-kuda merupakan bagian yang paling penting, selain itu juga dilengkapi dengan reng, kaso, dan gording. Berikut ini beberapa material penyusun rangka atap. 1) 2) 3) 4) 5) 6) 7) 8) 9) Balok/alas kuda-kuda (6/12), (8/12), (8/15) Kaki kuda-kuda (6/12), (8/12), (8/15) Batang penggantung (6/12), (8/12), (8/15) Batang tekan/schor (6/12), (8/12) Balok bubungan (6/12) Papan bubungan Karpus Gording Kaso

10) Reng 11) Anak kuda-kuda 12) Ring balok 13) Dinding 14) Balok sambungan kuda-kuda

^tçâ

Page 56

Gambar 6.1 Ilustrasi Model Rangka Kayu Sumber : its.ac.id

^tçâ

Page 57

Gamabar 6.2 Ilustrasi Model Rangka Atap Kayu Sumber : its.ac.id

^tçâ

Page 58

2. Penutup Lantai Kayu juga dapat diaplikasikan sebagai penutup lantai pada bangunan atau yang lebih dikenal dengan parkit. Parkit merupakan slah satu produk kayu yang didesain khusus sebagai penutup lantai. Umumnya parkit dibuat dari kayu yang memiliki motif yang indah seperti ulin. Jati, kempas, merbau, dsb. Keuntungan dari penggunaan parkit adalah selain dari tampilannya yang lebih indah, parkit juga lebih aman dibandingkan keramik kareana sifatnya yang lebih lunak. Rumah berlantai kayu memang sangat sesuai untuk masyarakat yang tinggal di daerah tropis. Pada saat musim hujan, kayu menghangatkan suasana dengan warna kecoklatan yang temaram, dan saat musim panas, kayu mendinginkan ruangan. Jenis parkit : Parket Kayu Solid Terbuat dari kayu solid (kayu murni) atau juga campuran, dengan bahan kayu bervariasi semisal kayu daru, merbau, jati dan kayu durian. Parket Kayu Semi Solid Hanya bagian atasnya saja yang terbuat dari solid kayu sedang bawahnya dilapisi tripleks. Parket Kayu Laminated Parket laminating yang terbuat dari serbuk kayu yang dipress kemudian dilapisi kertas bermotif kayu yang lalu dilaminating. Baik solid, semi solid dan laminating memiliki plus-minusnya. “Misalnya saja untuk yang laminating tahan terhadap goresan dan rayap, semi solid bila tergores bisa dipoles kembali namun rentan terhadap rayap sedang solid rentan akan goresan namun tahan terhadap rayap tapi dengan harga yang relatif mahal.

^tçâ

Page 59

Gambar 6.3 Aplikasi Parkit pada Bangunan Sumber : google.com/images

Gambar 6. Mozaic Parquet Sumber : google.com/images

Gambar 6. Bagian-Bagian Parkit Sumber : nteriorapartmen-tattoo.blogspot.com

^tçâ

Page 60

3. Penutup Atap Umumnya bahan yang digunakan pada bangunan modern adalah genteng, namun kayu juga dapat diaplikasikan sebagai penutup atap atau yang lebih dikenal dengan sirap. Pada bangunan tradisional sirap telah lama digunakan sebagai penutup atap, dan sekarang sirap merupakan salah satu pilihan alternatif sebagai penutup atap pada bangunan. Biasanya sirap dibuat dari kayu ulin. Cara pemasangan sirap sama seperti cara pemasangan genteng pada umumnya yaitu disusun dari bawah keatas secara bertumpuk dengan interval tertentu, namum bedanya pada atap sirap biasanya dipasang 3-4 lapis. Lapisan-lapisan ini terdiri dari (dari lapisan paling bawah): sirap layer 1-tripleks-aluminium foil-sirap layer 2-sirap layer 3-sirap layer 4. Dan pada pemasangan atap sirap menggunakan paku sebagai penahannya.

Gambar 6.1 Atap Sirap Sumber : gazebojepara.com

4. Dinding Biasanya dinding terbuat dari susunan bata merah, namun dapat digantikan dengan material lain seperti kayu, bamboo, dan GRC. Pada susunan dinding kayu terdapat beberapa konstruksi diantaranya : 1) Dinding kayu batang tersusun Merupakan konstruksi dinding kayu yang paling tua. Pada konstrumsi dinding batang tersusun, konstruksi rangka disusun secara setingkat-setingkat. Kuda-kuda penopang di sudut-sudut rumah pada umumnya diatur, sehingga beban angin langsung disalurkan dari sudut ke bantalan. Penyusutan konstruksi rangka tersusun di bagian-bagian konstruksi yang melintang tidak beraturan, bantalan-

^tçâ

Page 61

bantalan, balok lantai dan balok loteng penyusutan besar. Di bagian konstruksi yang tegak berupa tiang-tiang penyusutan kecil. 2) Dinding kayu batang melintang Gording merupakan bagian atas penutup atap, yang mendukung seluruh beban atap. Pada bangunan yang bertingkat gording juga berfungsi mendukung dinding atasnya. Tinggi gording disesuaikan dengan beban dan jarak tiang, akan tetapi minimal 12 cm. 3) Dinding kayu batang tegak Konstruksi tiang menentukan tinggi dinding, tiang berdiri tegak lurus antara bantalan dan gording dinding. Tiang biasanya berpenampang bujur sangkar. Kalau penampang ini tidak sesuai pada suatu titik, maka dapat digunakan tiang ganda yang ditanam disambung dengan baut. 4) Dinding kayu batang miring Kuda-kuda penopang membagi segiempat bidang dinding yang goyah dalam bidang segiempat yang mantap. Menjaga agar dinding tidak bergerak oleh benturan atau tekanan angin. 5) Dinding kayu rangka terusan (lajur) Pada umumnya bagian luar dan dalam dilapisi dengan papan. Tiang-tiang menembus melalui semua tingkat bangunan, oleh karena itu penyusutannya sedikit dan pada dasarnya tergantung dari bagian-bagian konstruksi yang melintang. Maka bagian ini harus memenuhi syarat-syarat teknis. Konstruksi rangka terusan biasanya terbuat dari papan. Beberapa cara pemasangan papan dinding yang digunakan adalah sebagai berikut : b. Pemasangan papan dinding vertikal Papan dipasang seacra vertikal pada rangka kayu. c. Pemasangan papan dinding horizontal Papan dipasang secara horizontal pada rangka kayu. d. Pemasangan papan dinding sirap Papan dipasang secara bertingkat pada reng yang terdapat dalam rangka kayu.

^tçâ

Page 62

5. Pelapis Dinding Kayu juga dapat digunakan sebagai pelapis dinding. Kayu yang biasa digunakan untuk pelapis dinding biasanya kayu yang memiliki motif yang indah yang berbentuk lembaran papan. Keuntungan dari penggunaan kayu sebagai pelapis dinding ruangan akan lebih hangat. 6. Pelat Lantai Yang dimaksud dengan pelat lantai adalah lantai yang tidak terletak di atas tanah langsung, jadi merupakan lantai tingkat. Pelat lantai ini didukung oleh balok-balok yang bertumpu pada kolom-kolom bangunan. Guna pelat lantai adalah: Memisahkan ruang bawah dengan ruang atas. Sebagai tempat berpijak penghuni di lantai atas. Untuk menempatkan kabel listrik dan lampu pada ruang bawah. Meredam suara dari ruang atas maupun dari ruang bawah. Menambah kekakuan bangunan pada arah horizontal. Pelat lantai dibagi menjadi dua yaitu: 1) Balok Lantai Pelat lantai kayu umumnya dibuat dari rangkaian papan kayu yang disatukan menjadi kesatuan yang kuat, sehingga membentuk bidang injak yang luas. Ukuran lebar papan umumnya 20 – 30 cm, tebal papan dapat dipilih ukuran 2 – 3 cm, dengan jarak balok-balok pendukung antara 60 – 80 cm. Ukuran balok berkisar antara 8/12, 8/14, 10/14 untuk bentangan 3 – 3,5 m. balok-balok kayu ini dapat diletakkan di atas pasangan bata 1 batu atau ditopang oleh balok beton. Bahan kayu yang dipakai harus mempunyai berat jenis 0,6 – 0,8 (t/m3) atau dari jenis kayu klas II. Beberapa keuntungan dan kerugian pelat lantai dari kayu. a. Keuntungan: Harga relatif murah, berarti biaya bangunan rendah. Mudah dikerjakan, berarti pekerjaan lebih cepat selesai. Beratnya ringan, berarti menghemat ukuran pondasi.

^tçâ

Page 63

Memunculkan Kesan Alami. Membuat Ruangan Menjadi hangat. Lebih leluasa dalam memilih motif yang sesuai dengan desain interior. b. Kerugiannya: Hanya boleh untuk konstruksi bangunan sederhana dengan beban ringan. Bukan peredam suara yang baik, suara gaduh atau hentakan kaki dari penghuni atas dapat mengganggu penghuni di lantai bawahnya. Sifat bahan permeable (rembes air) jadi tidak dapat dibuat kamar mandi/WC di lantai atas. Mudah terbakar, jadi tidak boleh membuat dapur di atasnya. Tidak dapat dipasang tegel, jadi mengurangi kesan mewah (hanya dapat ditutup karpet, vinyl, atau sejenisnya). Dapat dimakan bubuk atau serangga, berarti keawetan bahan terbatas. Mudah rusak oleh pengaruh cuaca yang berubah-rubah (panas dan hujan) jadi hanya cocok untuk bangunan yang terlindung. 2) Balok Loteng Balok Loteng memisahkan dua tingkat (ruang atas dan ruang bawah). Sekaligus menopang plafond dan lantai. Sesuai tempat dan tugasnya, maka balok masing-masing dalam suatu susunan balok mempunyai nama sendirisendiri, yaitu: Balok Induk, adalah semua balok yang melintang tanpa topang pada seluruh lebar bangunan dan pada kedua ujungnya bertumpu pada kolom. (biasanya mempunyai bentang ± 3 meter). Balok Anak, adalah balok yang pada kedua ujungnya bertumpu pada balok induk, digunakan untuk memperkecil petak-petak lantai disetiap ruangan. (biasanya mempunyai bentang ± 2 meter). Balok Bagi, adalah balok yang pada kedua ujungnya bertumpu pada balok anak atau balok induk atau pada salah satunya bertumpu pada balok anak

^tçâ

Page 64

atau balok induk. Digunakan untuk memperkecil petak-petak lantai disetiap ruangan. (biasanya mempunyai bentang ± 1 meter). 7. Dinding pemisah Ruang (Partisi) Partisi adalah ruang pemisah antar ruangan, biasanya partisi pada bangunan modern menggunakan dinding bata. Tetapi bias juga menggunakan material lain seperti kayu yang disusun membentuk dinding. 8. Jendela dan Pintu Pintu dan jendela merupakan konstruksi yang dapat bergerak, bergeraknya pintu atau jendela dipengaruhi oleh perletakan/penempatan, efisiensi ruang dan fungsinya. Umumnya bahan yang digunakan adalah kayu. Dalam merencanakan pintu dan jendela, ada 4 (empat) hal yang harus dipertimbangkan, yaitu : 1. Matahari Pintu dan jendela merupakan sumber pengurangan dan penambahan panas, sehingga jendela dapat diletakkan di sisi sebelah timur dan/atau barat 2. Penerangan Untuk menghasilkan penerangan alami sebuah ruangan, dengan menempatkan jendela dekat sudut ruangan maka dinding didekatnya disinari cahaya akan memantulkan ke dalam ruangan. 3. Pemandangan Jendela sebaiknya ditempatkan untuk memberi bingkai pada pemandangan. Ketinggian ambang atas jendela sebaiknya tidak memotong pemandangan orang yang duduk ataupun berdiri di dalam ruangan, juga jangan sampai kerangka jendela membagi dua atau lebih suatu pemandangan. 4. Penampilan Jendela akan dapat mempengaruhi penampilan ekterior rumah/bangunan. 9. Tangga Tangga adalah sebuah konstruksi yang dirancang untuk menghubungi dua tingkat vertikal yang memiliki jarak satu sama lain. Tangga dapat dibuat dari beberapa bahan. Penggunaan bahan ini dapat dikelompokan secara struktural dan nonstruktural.

^tçâ

Page 65

Penggunaan bahan yang bersifat struktural umumnya meliputi kayu, baja, dan beton. Sedangkan penggunaan bahan pada tangga yang bersifat non-struktural dapat meliputi kaca, karet (sebagai pelapis anti licin pada injakan atau pegangan tangan) ataupun plastik (pada desain-desain khusus). 10. Plafon Plafon adalah bagian dari konstruksi banginan yang berfungsi sebagai langit-langit bangunan. Pada dasarnya plafon dibuat untuk mencegah agar cuaca panas atau dingin tidak langsung masuk ke dalam rumah setelah melewati atap, plafon juga berfungsi untuk mempercantik interior bagunan. Biasanya plafon dibuat dengan ketinggian tertentu, namun untuk variasi ada yang dibuat tidak rata. Variasi tersebut dinamakan drop celling. Kegunaan dari plafon antara lain sebagai berikut : Supaya ruangan di bawah atap selalu bersih dan tidak tampak kayu dari atapnya. Untuk menahan kotoran yang jatuh dari bidang atap melalui celah-celah genteng. Untuk menahan percikan air, agar seisi ruangan selalu terlindung. Untuk mengurangi panas dari sinar matahari melalui bidang atap.

7. KONSTRUKSI
7.1 Sistem Struktur dan Sambungan dalam Konstruksi Kayu
Hampir semua sistem struktur yang menggunakan kayu sebagai material dasar dapat digolongkan ke dalam elemen linear yang membentang dua arah. Susunan hirarki sistem ini adalah khusus.

^tçâ

Page 66

Gambar 7.1 Sistem konstruksi untuk struktur kayu Sumber : Schodek, 1999

b) RANGKA RINGAN. Sistem struktur joits ringan pada gambar 7.1 (a) adalah konstruksi kayu yang paling banyak digunakan saat ini. Sistem struktur joists ringan pada Gambar 7.1(a) adalah konstruksi kayu yang paling banyak digunakan pada saat ini. Sistem joists lanta terutama sangat berguna untuk beban hidup ringan yang terdistribusi merata dan untuk bentang yang tidak besar. Kondisi demikian umumnya dijumpai pada konstruksi rumah. Joists pada umumnya menggunakan

tumpuan sederhana karena untuk membuat tumpuan vang dapat menahan

^tçâ

Page 67

momen diperlukan konstruksi khusus. Pada umumnya, lantai dianggap tidak monolit dengan joists kecuali apabila digunakan konstruksi khusus

yang menyatukannya.

Gambar 7.1 Sistem konstruksi untuk kayu (lanjutan) Sumber : Schodek, 1999

Sistem tumpuan vertikal yang umum digunakan adalah dinding pemikul beban yang dapat terbuat dari bata atau dari susunan elemen kayu (plywood). Dalam hal yang terakhir ini, tahanan lateral pada susunan struktur secara keseluruhan terhadap beban horizontal diperoleh dengan menyusun dinding berlapisan plywood yang berfungsi sebagai bidangbidang geser. Struktur demikian pada

^tçâ

Page 68

umumnya dibatasi hanya sampai tiga atau empat lantai. Pembatasan ini tidak hanya karena alasan kapasitas pikul bebannya, tetapi juga karena persyaratan keamanan terhadap kebakaran yang umum diberikan pada peraturan-peraturan mengenai gedung. Karena setiap elemen pada sistem struktur ini diletakkan di tempatnya secara individual, maka banvak fleksibilitas dalam

penggunaan sistem tersebut, termasuk juga dalam merencanakan hubungan di antara elemen-elemennya. c) ELEMEN KULIT BERTEGANGAN (STRESSED SKIN ELEMENTS). Elemen kulit bertegangan tentu saja berkaitan dengan sistem joists standar [lihat Gambar 7.1(b). Pada elemen-elemen ini, kayu lapis disatukan dengan balok memanjang sehingga sistem ini dapat. berlaku secara integral dalam molekul lentur. Dengan demikian, sistem yang diperoleh akan bersifat sebagai plat. Kekakuan sistem ini juga meningkat karena adanya penyatuan tersebut. Dengan demikian, tinggi struktural akan lebih kecil dibandingkan dengan sistem joist standar. Elemen kulit bertegangan ini pada umumnya dibuat tidak di lokasi, dan dibawa ke lokasi sebagai modul-modul. Kegunaannya akan semakin meningkat apabila modul-modul ini dapat dipakai secara berulang. Elemen demikian dapat digunakan pada berbagai struktur, termasuk juga sistem plat lipat berbentang besar. d) BALOK BOKS. Perilaku yang diberikan oleh kotak balok dari kayu lapis [lihat Gambar 7.1(c)] memungkinkan penggunaannya untuk berbagai ukuran bentang dan kondisi pembebanan. Sistem yang demikian sangat berguna pada situasi bentang besar atau apabila ada kondisi beban yang khusus. Balok boks dapat secara efisien mempunyai bentang lebih besar daripada balok homogen maupun balok berlapis. KONSTRUKSI KAYU BERAT Sebelum sistem joists ringan banyak digunakan, sistem balok kayu berat dengan papan transversal telah banyak

^tçâ

Page 69

digunakan [lihat Gambar 7.1(e)]. Balok kayu berlapisan sekarang banyak digunakan sebagai alternatif dari balok homogen. Sistem demikian dapat mempunyai kapasitas pikul beban dan bentang lebih besar daripada sistem joist. Sebagai contoh, dengan balok berlapisan, bentang yang relatif besar adalah mungkin karena tinggi elemen struktur dapat dengan mudah kita peroleh dengan menambah lapisan. Elemen demikian umumnya bertumpuan sederhana, tetapi kita dapat juga memperoleh, tumpuan yang mampu memikul momen dengan menggunakan konstruksi khusus. e) RANGKA BATANG Rangka batang kayu merupakan sistem berbentang satu arah yang paling banyak digunakan karena dapat dengan mudah menggunakan banyak variasi dalam konfigurasi dan ukuran batang. Rangka batang dapat dibuat tidak secara besarbesaran, tetapi dapat dibuat secara khusus untuk kondisi beban dan bentang tertentu. Sekalipun demikian, kita juga. membuat rangka batang secara besarbesaran (mass production). Rangka batang demikian umumnya digunakan pada situasi bentang tidak besar dan beban ringan. Rangka batang tnissed rafter pada Gambar 7.1(g) misalnya, banyak digunakan sebagai konstruksi atap pada bangunan rumah. Sistem yang terlihat pada Gambar 7.1(b) analog dengan balok baja web terbuka dan berguna untuk situasi bentang besar (khususnya untuk atap). Sistem penumpu vertikal pada struktur ini umumnya berupa dinding batu atau kolom kayu. Tahanan terhadap beban lateral pada struktur ini umumnya diperoleh dengan menggunakan dinding tersebut sebagai bidang geser. Apabila bukan dinding, melainkan kolom yang digunakan, pengekang (bracing) dapat pula digunakan untuk meningkatkan kestabilan struktur terhadap beban lateral. Peningkatan kestabilan dengan menggunakan titik hubung kaku dapat saja digunakan untuk struktur rendah, tetapi hal ini jarang dilakukan.

^tçâ

Page 70

f) PLAT LIPAT DAN PANEL PELENGKUNG Banyak struktur plat lengkung atau plat datar yang umumnya berupa elemen berbentang satu, yang dapat dibuat dari kayu. Kebanyakan struktur tersebut menggunakan kayu lapis. Gambar 7.1(j) dan (k) mengilustrasikan dua contoh struktur itu. g) PELENGKUNG Bentuk pelengkung standar dapat dibuat dari kayu. Elemen berlapisan paling sering digunakan. Hampir semua bentuk pelengkung dapat dibuat dengan menggunakan kayu. Bentang yang relatif panjang dapat saja diperoleh. Strukturstruktur ini umumnya berguna sebagai atap saja. Kebanyakan bersendi dua atau tiga, dan tidak dijepit. h) LAMELLA Konstruksi lamella merupakan suatu cara untuk membuat permukaan lengkung tunggal atau ganda dari potongan-potongan kecil kayu [lihat Gambar 7.1(l)]. Konstruksi yang menarik ini dapat digunakan untuk membuat permukaan silindris berbentang besar, juga untuk struktur kubah. Sistem ini sangat banyak digunakan, terutama pada struktur atap. i) UKURAN ELEMEN Gambar 7.2 mengilustrasikan kira-kira batas-batas bentang untuk berbagai jenis struktur kayu. Bentang "maksimum" yang diperlihatkan pada diagram ini bukanlah bentang maksimum yang mungkin, melainkan batas bentang terbesar yang umum dijumpai. Batasan bentang minimum menunjukkan bentang terkecil yang masih ekonomis. Juga diperlihatkan kira-kira batas-batas tinggi untuk berbagai bentang setiap sistem. Angka yang kecil menunjukkan tinggi minimum yang umum untuk sistem yang bersangkutan dan angka lainnya menunjukkan tinggi maksimumnya. Tinggi sekitar L/20, misalnya, mengandung arti bahwa elemen struktur

^tçâ

Page 71

yang bentangnya 16 ft (4,9 m) harus mempunyai tinggi sekitar 16 ft/20 = 0,8 ft (0,24 m). Kolom kayu pada umumnya mempunyai perbandingan tebal terhadap tinggi (t/h) bervariasi antara 1 : 25 untuk kolom yang dibebani tidak besar dan relatif pendek, atau sekitar 1 : 10 untuk kolom yang dibebani besar pada gedung bertingkat, Dinding yang dibuat dari elemen-elemen kayu mempunyai perbandingan t/h bervariasi dari I : 30 sampai I : 15.

Gambar 7.2 Perkiraan batas bentang untuk berbagai system kayu Sumber : Schodek, 1999

7.1.1. Produk Alat Sambung Untuk Struktur Kayu a) Alat Sambung Paku Paku merupakan alat sambung yang umum dipakai dalam konstruksi maupun struktur kayu. Ini karena alat sambung ini cukup mudah pemasangannya. Paku tersedia dalam berbagai bentuk, dari paku polos hingga paku ulir. Spesifikasi produk paku dapat dikenali dari panjang paku dan diameter paku. Ilustrasi produk paku terhadap karat dan noda ditunjukkan pada Gambar 7.3.

^tçâ

Page 72

Gambar 7.3 Beragam produk paku
Sumber : Forest Products Laboratory USDA, 1999

Dengan begitu tampilan paku dapat dipertahankan. Namun adanya coating tersebut menyebabkan kuat cabut paku berkurang karena kehalusan coating tersebut.
Tabel 7.1 Spesifikasi Ukuran Paku Sumber : PKKI, 1979 Paku Polos Panjang Diameter Ukuran (mm) (mm) 6d 8d 10d 12d 16d 20d 30d 40d 50d 60d 50.8 63.5 76.2 82.6 88.9 101.6 114.3 127 139.7 152.4 2.67 3.33 3.76 3.78 4.11 4.98 5.25 5.72 6.2 6.65 Paku Ulir Panjang Diameter (mm) (mm) 50.8 63.5 76.2 82.6 88.9 101.6 114.3 127 139.7 152.4 177.8 203.2 225.6 3.05 3.05 3.43 3.43 3.75 4.5 4.5 4.5 4.5 4.5 5.26 5.26 5.26

Ukuran 6d 8d 10d 12d 16d 20d 30d 40d 50d 60d 70d 80d 90d

Ujung Paku. Ujung paku dengan bagian runcing yang relatif panjang umumnya memiliki kuat cabut yang lebih besar. Namun ujung yang runcing bulat tersebut sering menyebabkan pecahnya kayu terpaku. Ujung yang tumpul dapat

^tçâ

Page 73

mengurangi pecah pada kayu, namun karena ujung tumpung tersebut merusak serat, maka kuat cabut paku pun akan berkurang pula. Kepala paku. Kepala paku badap berbentuk datar bulat, oval maupun kepala benam (counter sunk) umumnya cukup kuat menahan tarikan langsung. Besar kepala paku ini umumnya sebanding dengan diameter paku. Paku kepala benam dimaksudkan untuk dipasang masuk – terbenam dalam kayu. Pembenaman Paku. Paku yang dibenam dengan arah tegak lurus serat akan memiliki kuat cabut yang lebih baik dari yang dibenam searah serat . Demikian halnya dengan pengaruh kelembaban. Setelah dibenam dan mengalami perubahan kelembaban, paku umumnya memiliki kuat cabut yang lebih besar dari pada dicabut langsung setelah pembenaman. Jarak Pemasangan Paku. Jarak paku dengan ujung kayu, jarak antar kayu, dan jarak paku terhadap tepi kayu harus diselenggarakan untuk mencegah pecahnya kayu. Secara umum, paku tak diperkenankan dipasang kurang dari setengah tebal kayu terhadap tepi kayu, dan tak boleh kurang dari tebal kayu terhadap ujung. Namun untuk paku yang lebih kecil dapat dipasang kurang dari jarak tersebut. e. Kuat cabut paku Gaya cabut maksimum yang dapat ditahan oleh paku yang ditanam tegak lurus terhadap serat dapat dihitung dengan pendekatan rumus berikut. P = 54.12 G5/2 DL (Metric: kg) P = 7.85 G5/2 DL (British: pound) (8.1) Dimana : P = Gaya cabut paku maksimum L = kedalaman paku dalam kayu (mm, inc.) G = Berat jenis kayu pada kadar air 12 % D = Diameter paku (mm, inch.)

^tçâ

Page 74

f. Kuat lateral paku Pada batang struktur, pemasangan paku umumnya dimaksudkan untuk menerima beban beban tegak lurus/lateral terhadap panjang paku. Pemasangan alat sambung tersebut dapat dijumpai pada struktur kuda-kuda papan kayu. Kuat lateral paku yang dipasang tegak lurus serat dengan arah gaya lateral searah serat dapat didekati dengan rumus berikut P = K D2 (8.2) Dimana: P = Beban lateral per paku D = Diameter paku K = Koefisien yang tergantung dari karakteristik jenis kayu. b) Alat Sambung Sekerup Sekrup hampir memiliki fungsi sama dengan paku, tetapi karena memiliki ulir maka memiliki kuat cabut yang lebih baik dari paku. Terdapat tiga bentuk pokok sekerup yaitu sekerup kepala datar, sekerup kepala oval dan sekerup kepala bundar. Dari tiga bentuk tersebut, sekerup kepala datarlah yang paling banyak ada di pasaran. Sekerup kepala oval dan bundar dipasang untuk maksud tampilan–selera. Bagian utama sekerup terdiri dari kepala, bagian benam, bagian ulir dan inti ulir. Diameter inti ulir biasanya adalah 2/3 dari diameter benam. Sekerup dapat dibuat dari baja, alloy, maupun kuningan diberi lapisan/coating nikel, krom atau cadmium. Ragam produk sekerup dapat ditunjukkan pada Gambar 7.4 berikut.

^tçâ

Page 75

Tabel 7.2 Nilai K untuk Perhitungan Kuat Lateral Paku dan Sekerup Sumber : Forest Products Laboratory USDA, 1999 Berat Jenis G K Paku Gr/cc met-(inc) Kayu Lunak (Soft Wood) 0.29-0.42 50.04-(1.44) 0.43-0.47 62.55-(1.80) 0.48-0.52 76.45-(2.20) Kayu Keras (Hard Wood) 0.33-0.47 50.04-(1.44) 0.48-0.56 69.50-(2.00) 0.57-0.74 94.72-(2.72) K Sekerup met-(inc) 23.17-(3.36) 29.79-(4.32) 36.40-(5.28) 23.17-(3.36) 29.79-(4.32) 44.13-(6.40) K Lag Screw met-(inc) 23.30-(3.38) 26.34-(3.82) 29.51-(4.28) 26.34-(3.82) 29.51-(4.28) 34.13-(4.95)

Tabel 7.3 Ukuran Sekerup Sumber : Alen, 1999 Nomor Sekerup 4 5 6 7 8 9 10 11 12 14 18 19 20 24 Diameter mm 2.84 3.18 3.51 3.84 4.17 4.50 4.83 5.16 5.49 6.15 6.81 7.47 8.13 9.45 Gambar 7.4 Tipe utama produk sekerup Sumber : Allen, 1999

^tçâ

Page 76

a.

Kuat Cabut Sekerup

Kuat cabut sekerup yang dipasang tegak lurus terhadap arah serat (Gambar 8.13) dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut. P = 108.25 G2 DL (Metric unit: Kg, cm ) P = 15.70 G2 DL (British unit: inch–pound) Dimana: P = Beban cabut sekerup (N, Lb) G = Berat jenis kayu pada kondisi kadar air 12 % kering oven D = Diameter sekerup terbenam / shank diameter (mm, in.), L = Panjang tanam (mm,in.) b. Kuat lateral sekerup Kuat lateral sekerup yang dipasang tegak lurus serat dengan arah gaya lateral searah serat dapat didekati dengan rumus yang sama dengan kuat lateral paku . Sekerup Lag (Lag Screw) Sekerup lag, seperti sekerup namun memiliki ukuran yang lebih besar dan berkepala segi delapan untuk engkol. Saat ini banyak dipakai

karena kemudahan pemasangan pada batang struktur kayu dibanding dengan sambungan baut–mur. Umumnya sekerup lag ini berukuran diameter dari 5.1 – 25.4 mm (0.2 – 1.0 inch) dan panjang dari 25.4 – 406 mm (1.0 – 16 inch).

^tçâ

Page 77

Gambar 7.5 Detail pemasangan sekerup Sumber : Forest Products Laboratory USDA, 1999

a. Kuat Cabut Sekerup Lag. Kuat cabut sekerup lag dapat dihitung dengan formula sebagai berikut. P = 125.4 G3/2 D3/4L (Metric unit: Kg, cm ) P = 8,100 G3/2 D3/4L (British unit: inch–pound) Dimana: P = Beban cabut sekerup (N, Lb) G = Berat jenis kayu pada kondisi kadar air 12 % kering oven D = Diameter sekerup terbenam / shank diameter (mm, in.) L = Panjang tanam (mm,in.) b. Kuat lateral sekerup lag Kuat lateral sekerup lag dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut. P = c1 c2 K D2 Dimana: P= Beban lateral per sekerup D= Diameter sekerup

^tçâ

Page 78

K= Koefisien yang tergantung karakteristik jenis kayu C1= Faktor pengali akibat ketebalan batang apit tersambung C2= Faktor pengali akibat pembenamam sekrup lag
Tabel 7.4 Faktor Kekuatan Lateral Sekerup lag Sumber : Forest Products Laboratory USDA, 1999 Ratio tebal kit apit inci diameter sekerup 2 2.5 3 3.5 4 4.5 5 5.5 6 6.5 Diameter benam sekerup mm 4.8 6.4 7.9 9.5 11.1 12.7 15.9 19.0 22.2 25.4

Faktor C1 0.62 0.77 0.93 1.00 1.07 1.13 1.18 1.21 1.22 1.22

Faktor C2 1.00 0.97 0.85 0.76 0.70 0.65 0.60 0.55 0.52 0.50

7.1.2. Konstruksi Sambungan Gigi Walaupun sambungan ini sebenarnya malah memperlemah kayu, namun karena kemudahannya, sambungan ini banyak diterapkan pada konstruksi kayu sederhana di Indonesia utamanya untuk rangka kuda-kuda atap. Kekuatan sambungan ini mengandalkan kekuatan geseran dan atau kuat tekan / tarik kayu pada penyelenggaraan sambungan. Kekuatan tarikan atau tekanan pada sambungan bibir lurus di atas ditentukan oleh geseran dan kuat desak tampang sambungan gigi. Dua kekuatan tersebut harus dipilih yang paling lemah untuk persyaratan kekuatan struktur. P geser = τ ijin a b Dimana : τ ijin = Kuat / tegangan geser ijin kayu tersambung

^tçâ

Page 79

b = lebar kayu a = panjang tampang tergeser P desak = ijin b t Dimana : ijin = Kuat / tegangan ijin desak kayu tersambung b = lebar kayu t = tebal tampang terdesak

Gambar 7.6 Contoh sambungan gigi Sumber : Forest Products Laboratory USDA, 1999

7.1.3 Konstruksi Sambungan Baut

Gambar 7.7 Model baut yang ada di pasaran Sumber : Forest Products Laboratory USDA, 1999

Hampir sama dengan sambungan gigi, sambungan baut tergantung desak baut pada kayu, geser baut atau kayu. Desak baut sangat dipengaruhi oleh panjang

^tçâ

Page 80

kayu tersambung dan panjang baut. Dengan panjangnya, maka terjadi lenturan baut yang menyebabkan desakan batang baut pada kayu tidak merata. Berdasarkan NI-5 PKKI (1961) gaya per baut pada kelas kayu tersambung dapat dihitung rumus sebagai berikut : Kayu kelas I: Sambungan tampang 1 untuk λb = bmin / d = 4.8 S = 50 d b1 (1 – 0.6 Sin α) S = 240 d2 (1 – 0.35 Sin α) Sambungan tampang 2 untuk λb = bmin / d = 3.8 S = 125 d b3 (1 – 0.6 Sin α) S = 250 d b1 (1 – 0.6 Sin α) S = 480 d2 (1 – 0.35 Sin α) Kayu kelas II: Sambungan tampang 1 untuk λb = bmin / d = 5.4 S = 40 d b1 (1 – 0.6 Sin α) S = 215 d2 (1 – 0.35 Sin α) Sambungan tampang 2 untuk λb = bmin / d = 4.3 S = 100 d b3 (1 – 0.6 Sin α) S = 200 d b1 (1 – 0.6 Sin α) S = 430 d2 (1 – 0.35 Sin α)

^tçâ

Page 81

Gambar 7.8 Perilaku gaya pada sambungan baut Sumber : Forest Products Laboratory USDA, 1999

Kayu kelas III: Sambungan tampang 1 untuk λb = bmin / d = 6.8 S = 25 d b1 (1 – 0.6 Sin α) S = 170 d2 (1 – 0.35 Sin α) Sambungan tampang 2 untuk λb = bmin / d = 5.7 S = 60 d b3 (1 – 0.6 Sin α) S = 120 d b1 (1 – 0.6 Sin α) S = 340 d2 (1 – 0.35 Sin α) Dimana : S = Kekuatan per baut dalam kg α = Sudut arah gaya terhadap arah serat b1 = Tebal kayu tepi (cm) b3 = Tebal tengah (cm) d = Diameter baut (cm)

^tçâ

Page 82

Masing kelas kayu tersebut di ambil harga terkecil untuk mendapat jumlah baut dalam satu sambungan. Untuk pemasangan baut, disyaratkan pula jarak antar baut dalam satu sambungan. Dengan memperhatikan sketsa ilustrasi

sambungan seperti Gambar 8.17, ketentuan jarak baut utama yang sering digunakan dapat dikemukakan sebagai berikut. Ilustrasi secara lengkap diterakan dalam PKKI – NI (1961)

Gambar 7.9 Syarat jarak minimum peletakan baut pada sambungan Sumber : Forest Products Laboratory USDA, 1999

• Jarak antar baut searah gaya dan serat = 5 φ baut • Jarak antar baut tegak lurus gaya dan serat = 3 φ baut • Jarak baut denga tepi kayu tegak lurus gaya dan serat = 2 φ baut • Jarak baut dengan ujung kayu searah gaya dan serat = 5 φ baut • Jarak antar baut searah gaya – tegak lurus serat = 3 φ baut 7.1.4. Sambungan dengan cincin belah (Split Ring) dan plat geser Produk alat sambung ini merupakan alat sambung yang memiliki perilaku lebih baik dibanding alat sambung baut. Namun karena pemasangannya agak rumit dan memerlukan peralatan mesin, alat sambung ini jarang diselenggarakan di Indonesia. Produk sambung ini terdiri dari cincin dan dirangkai dengan baut. Dalam penyambungan, alat ini mengandalkan kuat desak kayu ke arah sejajar maupun arah tegak lurus serat. Seperti halnya alat sambung baut, jenis kayu yang disambung akan memberikan kekuatan yang berbeda. Produk alat

^tçâ

Page 83

sambung ini memiliki sifat lebih baik dari pada sambungan baut maupun paku. Ini karena alat sambung ini mendistribusikan gaya baik tekan maupun tarik menjadi gaya desak kayu yang lebih merata dinading alat sambung baut dan alat sambung paku.

Gambar 7.10 Produk alat sambung cincin belah dan cara pemasangannya Sumber : Forest Products Laboratory USDA, 1999

Gambar 7.11 Produk alat sambung cincin dan plat geser Sumber : Forest Products Laboratory USDA, 1999

Gambar 7.12 Perilaku gaya pada sambungan cincin dan plat geser Sumber : Forest Products Laboratory USDA, 1999

^tçâ

Page 84

Jumlah alat sambung yang dibutuhkan dalam satu sambungan dapat dihitung dengan membagi kekuatan satu alat sambung pada jenis kayu tertentu. Tabel 7.5 menampilkan besaran kekuatan per alat sambung terendah untuk pendekatan perhitungan. 7.1.5. Sambungan dengan Plat Logam (Metal Plate Conector) Alat sambung ini sering disebut sebagai alat sambung rangka batang (truss). Alat sambung ini menjadi populer untuk maksud menyambung struktur batang pada rangka batang, rangka usuk (rafter) atau sambungan batang struktur berupa papan kayu. Plat sambung umumnya berupa plat baja ringan yang digalvanis untuk menahan karat, dengan lebar/luasan tertentu sehingga dapat menahan beban pada kayu tersambung.
Tabel 7.5 Kekuatan per alat untuk alat sambung Cincin dan plat Geser Sumber : Forest Products Laboratory USDA, 1999

Prinsip alat sambungan ini memindahkan beban melalui gerigi, tonjolan (plug) dan paku yang ada pada plat. Jenis produk ini ditunjukkan pada Gambar 7.13.

^tçâ

Page 85

Untuk pemasangan plat, menanam gerigi dalam kayu tersambung, memerlukan alat penekan hidrolis atau penekan lain yang menghasilkan gaya besar.

Gambar 7.13 Produk alat penyambung sambungan plat logam Sumber : Forest Products Laboratory USDA, 1999

7.2

Aplikasi Struktur dan Konstruksi Kayu

7.2.1 Perhitungan Kekuatan Kayu Karena arah serat sangat mempengaruhi kekuatan kayu, keadaan serat yang miring terhadap arah memanjang pada suatu batang struktur alan mengalami reduksi kekuatan. Besaran kuat tekan atau tarik kayu pada serat miring (σα) dapat dihitung berdasarkan rumus berikut.

7.2.2 Analisis Struktur Kolom Kolom merupakan batang struktur yang menerima beban tekan, termasuk batang tekan pada struktur kuda-kuda kayu. Batang kolom dapat berupa batang tunggal atau batang gabungan. Berdasrkan panjang, kolom dibagi menjadi tiga, kolom pendek, kolom sedang, dan kolom panjang. Pada kolom pendek, kekuatan tekan kayu. Sedangkan pada kolom sedang tegangan tekan dilampaui. Karena kolom harus deiperhitungkan adanya tekuk.

^tçâ

Page 86

Semakin langsing kolom panjang dengan tampang melintang kecil, semakin mudah kolom tersebut tertekuk. Angka kelangsingan (λ) kolom dinyatakan sebagai berikut.

Dari angka kelangsingan tersebut kemudian dicari faktor tekuk (ω) berdasarkan tabel. Tegangan yang terjadi dihitung sebagai berikut.

Tabel 7.6 Angka Kelangsingan Sumber : PKKI, 1979

^tçâ

Page 87

7.2.3 Analisis Kolom Gabungan

Gambar 7.14 Penampang kolom dari batang gabungan Sumber : Forest Products Laboratory USDA, 1999

Untuk pertimbangan kekuatan dan penampilan, kadang kolom kayu dibuat lebih dari satu batang, umumnya berupa batang ganda yang dirangkai atau berupa boks. Gambar menunjukkan contoh kolom dari batang gabungan. Untuk menghitung kolom ganda, dianggap kolom tersebut memiliki lebar yang sama dengan jumlah lebar batang gabungan. Sehingga didapat besaran jari-jari (i) dan momen inersia yang diperhitungkan (I) untuk batang kolom ganda sebagai berikut :

Syarat lain yang harus dipenuhi untuk perhitungan adalah bahwa jarak antar bagian (a) harus diambil dua kali jarak tebal bagian, a =2b dan besaran momen inersia tiap elemen/bagian kolom (le) harus memenuhi persamaan berikut (PKKI, 1961).

^tçâ

Page 88

Selanjutnya perhitungan tegangan yang terjadi () dihitung seperti persamaan tegangan pada kolom tunggal dengan memperhitungkan kelangsingan dan factor tekuk. 7.2.4 Analisis Struktur Balok Struktur balok kayu akan menerima beban tegak lurus yang mengakibatkan balok akan mengalami geser tegak batang balok, geser kea rah memanjang dan momen lenturan (bending moment). Geser arah tegak lurus serat dapat diabaikan, karena kayu memiliki geser tegak lurus yang cukup besar. Yang umumnya diperhitungkan adalah geseran arah memanjang dan lenturan. Sedang syarat kekuatan geseran balok dengan tampang persegi panjang dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut. 7.2.5 Konstruksi Pondasi, Kaki Kolom, dan Kolom Bangunan kayu umumnya merupakan bangunan relative ringan disbanding dengan baja maupun beton. Pondasi untuk bangunan kayu umumnya merupakan pondasi sederhana berbentuk umpak/pondasi setempat atau pondasi dinding menerus dari bahan pasangan batu atau beton. Pemasangan kolom kayu selain memerlukan jangkar (anchor) ke pondasi diperlukan penyekat resapan dari tanah, baik berupa beton kedap atau pelat baja agar kayu terhindar dari penyebab lapuk/busuk. Jika dipasang plat kaki keliling, harus terdapat lubang pengering, untuk menjaga adanya air tertangkap pada kaki kolom tersebut. Terlebih jika kolom tersebut berada diluar bangunan yang dapat terekspose dengan hujan dan/atau kelembaban yang berlebihan. Kaki kolom sederhana dengan penahan hanya di dua sisi seperti pada Gambar 7.15 sangat disarankan untuk memungkinkan adanya drainase pada kaki kolom.

^tçâ

Page 89

Gambar 7.15 Kaki kolom kayu dengan plat dan jangkar Sumber : Forest Products Laboratory USDA, 1999

Kolom kayu dapat berupa kolom tunggal, kolom gabungan dan kolom dari produk kayu laminasi seperti ditunjukkan pada Gambar 7.16. Kolom gabungan dapat disusun dari dua batang kayu atau berupa papan yang membentuk bangun persegi. Bentuk lain adalah berupa kolom dari kayu laminasi. Kayu Laminasi merupakan kayu buatan yang tersusun dan direkatkan dari kayu tipis.

Gambar 7.16 Kolom tunggal, kolom ganda, dan produk kolom laminasi Sumber : Forest Products Laboratory USDA, 1999

Batang struktur kolom dapat menerima beban dari balok, balok loteng, maupun beban rangka atap. Untuk dapat menahan beban di atasnya dan terhindar dari tekuk sangat disarankan dan sebisa mungkin menghindari pengurangan tampang efektif kolom. Sambungan gigi umumnya mengurangi tampang efektif kolom yang relatif besar sehingga tidak disarankan penggunaannya. Penggunaan

^tçâ

Page 90

klos sambung mungkin akan cukup baik, namun akan menjadi mahal karena menambah volume kayu yang tidak sedikit. Penyelenggaraan sambungan yang mendekati ideal dapat menggunakan pelat sambung seperti yang ditunjukkan pada Gambar 7.17. Dengan penggunaaan alat sambung kolom dengan balok tersebut, pengurangan tampang kolom yang terjadi hanya akibat lubang baut.

Gambar 7.17 Sambungan kolom dengan balok Sumber : Forest Products Laboratory USDA, 1999

7.2.6. Konstruksi Balok Pada bangunan gedung, struktur balok dapat berupa balok loteng balok atap, maupun gording. Struktur balok kayu dapat berupa kayu solid gergajian, kayu laminasi, atau bentuk kayu buatan lainnya. Untuk penyambungan, batang balok dengan balok perlu menghindari sambungan yang menerima momen yang relatif besar. Karenanya sambungan balok umumnya dilakukan tepat di atas struktur dudukan atau mendekati titik dudukan. Dengan begitu momen yang terjadi pada sambungan relatif kecil.

^tçâ

Page 91

Gambar 7.18 Struktur dari balok kayu solid ditumpukan pada kolom dan struktur balok laminasi bertumpu pada balok Sumber : Forest Products Laboratory USDA, 1999

Gambar 7.19 Struktur balok I dari produk kayu buatan Sumber : Forest Products Laboratory USDA, 1999

Gambar 7.20 Sambungan balok dengan balok Sumber : Forest Products Laboratory USDA, 1999

^tçâ

Page 92

Balok sering dibebani penggantung plafon atau komponen konstruksi lain di bawahnya. Agar pembebanan tersebut tidak merusak struktur, pengantung dipasang di atas separoh tinggi balok untuk menghindari sobek batang balok akibat pembebanan tersebut. Penyelenggaraan beugel untuk penggantung sangat disarankan untuk maksud tersebut.

Gambar 7.21 Pembebanan yang keliru pada strutur balok Sumber : Forest Products Laboratory USDA, 1999

Pada dudukan dan sambungan antar balok secara tegak lurus, hindarkan pengurangan tampang, sehingga bahaya sobek pada balok kayu tidak terjadi. Gambar 8.30 merupakan contoh sambungan antara balok, balok anak lantai disambungkan pada balok utama/induk dari kayu laminasi. Penyambung pada balok diletakkan di bagian atas untuk menghindari sobek.

Gambar 7.22 Struktur balok lantai bertumpu pada balok kayu induk Sumber : Forest Products Laboratory USDA, 1999

^tçâ

Page 93

Kayu merupakan bahan yang higroskopis, mudah mengembang atau menyusut oleh kadar air. Pada pembuatan sambungan dengan bahan lain, misal plat baja, hindarkan sobek batang struktur akibat sifat kembang dan susut kayu. Hal ini karena angka muai baja dan kayu saling berkebalikan. Salah satu cara menghindari sobek akibat kembang dan susut kayu adalah dengan cara memisah/memecah plat baja seperti yang ditunjukkan Gambar 7.23. Cara lain adalah dengan membiarkan tampang bagian atas tidak terkekang, yakni dengan menggunakan plat sadel seperti Gambar 7.24.

Gambar 7.23 Contoh sambunga keliru dan sambungan benar pada balok karena sifat kembang susut kayu Sumber : Forest Products Laboratory USDA, 1999

Gambar 7.24 Contoh lain sambungan balok terkait dengan sifat kembang dan susut kayu Sumber : Forest Products Laboratory USDA, 1999

^tçâ

Page 94

7.2.7. Konstruksi Rangka Batang Kayu Struktur rangka batang kayu umum digunakan pada bangunan rumah tinggal, perkantoran, bangunan pertokoan, hingga jembatan. Rangka batang merupakan struktur rangka yang disusun batang membentuk bangun segitiga dengan simpul / titik sambung, dapat menerima beban struktur. Dengan susunan tersebut diperolehlah struktur yang relatif ringan dan kuat pada bentangan yang lebih panjang. Pemakaian rangka batang untuk struktur kayu memungkinkan terbentuknya ruang terbuka yang luas dan partisi / penyekat ruang dapat dirubah tanpa harus mempertimbangkan integritas struktural dari bangunan. Alasan penyelenggaaran rangka batang antara lain: (1) Sangat bervariasibentuknya, (2) Dapat menampilkan keindahan khusus, (3) dapat melayani bentang relatif panjang, (4) memungkinkan kemudahan penyelenggaraan sistem instalasi layanan bangunan, misal listrik, plumbing, maupun langitlangit, (5) kompatibel terhadap elemen struktur lain, misal beton, pasangan maupun baja.

^tçâ

Page 95

Gambar 7.25 Berbagai bentuk struktur rangka batang kayu Sumber : Forest Products Laboratory USDA, 1999

Gambar 7.26 Contoh penggunaan struktur rangka batang kayu Sumber : Forest Products Laboratory USDA, 1999

7.2.8. Produk Penyambung Struktur Rangka Batang Disamping digunakan penyambung tradisional, sambungan gigi, paku maupun baut, penyambung plat fabrikasi telah banyak pula digunakan, lebih-lebih untuk rangka batang fabrikasi. Produk alat sambung terakhir merupakan alat sambung yang dapat memberikan konsistensi hasil sambungan baik kekuatan dan kemudahan penyelenggaraan secara masal. Penyambung plat ini mengandalkan

^tçâ

Page 96

gigi dan tonjolan pada plat untuk memindahkan gaya dari dan ke batang kayu yang disambung. Gambar 7.27 merupakan contoh penggunaan plat sambung pada struktur rangka batang kayu.

Gambar 7.27 Contoh struktur rangka batang kayu dengan plat sambung Sumber : Forest Products Laboratory USDA, 1999

Rangka batang kayu lemah secara lateral, sehingga sangat mungkin mengalami deformasi secara lateral yang merusak sambungan pada saat mobilisasi dan atau saat ereksi konstruksi. Karenanya tata cara penyimpanan, mobilisasi hingga ereksi sangat memegang peranan penting agar plat sambung tersebut berfungsi baik sebagai elemen penyambung struktur rangka batang kayu. Untuk penyimpanan maupun penempatan, rangka batang kayu seharusnya diletakkan secara rata dengan ganjal atau dengan cara berdiri dan dilengkapi dengan penyokong (Gambar 7.28).

^tçâ

Page 97

Gambar 7.28 Cara penyimpanan struktur rangka fabrikasi Sumber : Allen, 1999

Di negara maju, rangka batang kayu yang dibuat di pabrik telah dilengkapi dengan fasilitas penggantung dilengkapi dengan petunjuk untuk mengangkat baik saat mobilisasi maupun saat ereksi konstruksi. Terdapat beberapa cara, antara lain: sudut tali pengangkat < 60 derajat, gunakan batang pembentang, pengaku rangka untuk panjang rangka lebih dari 18 meter. Cara pengangkatan struktur rangka ditunjukkan pada Gambar 7.29 berikut:

Gambar 7.29 Syarat dan cara mengangkat struktur rangka Sumber : Forest Products Laboratory USDA, 1999

^tçâ

Page 98

7.2.9. Konstruksi Struktur Jembatan Kayu Sebelum abad 20, kayu menjadi bahan bangunan utama bahkan sebagai bahan struktur jalan kereta dan jembatan. Jembatan terdiri dari struktur bawah dan struktur atas. Struktur bawah terdiri dari abutment, tiang dan struktur lain untuk menyangga struktur atas yang terdiri dari balok jembatan dan lantai jembatan. Bentuk penyusun struktur dapat berupa kayu gelondong/log, kayu gergajian, hingga kayu laminasi atau kayu buatan lainnya. Hingga produk glulam tersebar, ketersediaan ukuran kayu menjadi kendala penyelenggaraan kayu untuk jembatam. Kalaupun ada, jembatan kayu merupakan jembatan sementara dengan umur pakai dibawah 10 tahun.

Gambar 7.30 Struktur jembatan kayu Sumber : Forest Products Laboratory USDA, 1999

^tçâ

Page 99

Gambar 7.31 Struktur jembatan dengan kayu laminasi Sumber : Forest Products Laboratory USDA, 1999

Struktur kayu laminasi telah membantu kapabilitas bentangan struktur yang diperlukan untuk jembatan. Gelegar laminasi ukuran 0.60 m x 1.80 m mampu mendukung suatu sistem deck laminasi hingga bentangan 12 m – 30 m bahkan lebih. Balok laminasi dapat membentuk suatu deck/ lantai jembatan yang solid dan jika dirangkai dengan batang tarik pengekang dapat membentuk suatu deck laminasi bertegangan tarik. Kayu laminasi lengkung dapat dipakai untuk memproduksi beragam jembatan yang indah. 7.2.10. Struktur Pelengkung Kayu Struktur pelengkung kayu telah banyak diselenggarakan untuk mendapatkan ruang cukup lapang pada bangunan tempat ibadah, bangunan rekreasi hingga hanggar terlebih saat teknologi kayu laminasi/glulam ditemukan. Struktur ini disusun dari struktur tarikan di bagian bawah dan struktur tekan di bagian pelengkung atas. Struktur bagian bawah bisa berbentuk lengkung atau lurus. Jika lurus maka atap bangunan akan membentuk seperti payung. Sedangkan jika bagian bawah lengkung simetris dan berpusat pada satu pusat, maka atap dome akan menyerupai bola.

^tçâ

Page 100

Gambar 7.32 Struktur pelengkung kayu Sumber : Forest Products Laboratory USDA, 1999

^tçâ

Page 101

Lampiran 1 Gambar Beberapa Jenis Serat Kayu

Kayu jati doreng

Kayu jati mata mati

Kayu jati mata sehat

Kayu balau

Kayu jati putih sedikit

Kayu jati serat halus Kayu jati serat mahkota Kayu agava

Kayu bangkirai

Kayu kamper

Kayu mahoni

Kayu balau merah

Kayu meranti

Kayu merbau

Kayu sonokeling

Kayu damar minyak

Kayu sungkai

Kayu kelapa

Kayu agatis

Kayu durian

Kayu rasmala

Kayu kulim

Kayu bayur

Kayu belian

Kayu bitangor

Kayu chengal

Kayu kapur

Kayu malam

^tçâ

Page 102

Kayu derum

Kayu entapuloh

Kayu geronggang

Kayu giam

Kayu kempas

Kayu kembang semangkuk Kayu keruning

Kayu kedongdong

Kayu merapuh

Kayu mata ulat

Kayu medang

kayu nyantoh

Kayu pulai

Kayu pauh kijang

Kayu karet

Kayu ranggu

Kayu senumpul

Kayu terap

Kayu oak

Kayu alan bunga

Kayu babai

Kayu bekak

Kayu berangan

Kayu bitis

Kayu dedali

Kayu meranti merah

Kayu gerutu

Kayu eboni

^tçâ

Page 103

Lampiran 2 Harga Kayu Beserta Bahan Jadinya
No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 Material Reng Meranti (2x3) Reng Meranti (3x4) Reng Borneo (2x3) Reng Borneo (3x4) Reng Kamper (2x3) Reng Kamper (3x4) Kaso Meranti (4x6) Kaso Meranti (5x7) Kaso Borneo (4x6) Kaso Borneo (5x7) Kaso Kamper (4x6) Kaso Kamper (5x7) Galar Meranti (5x10) Galar Borneo (5x10) Galar Kamper (5x10) Balok Meranti (6x12) Balok Meranti (8x12) Balok Borneo (6x12) Balok Borneo (8x12) Balok Kamper (6x12) Balok Kamper (8x12) Kayu Jati 10/20 x 3,5m Kayu balau Kayu bengkirai Kayu Kamper 8/12, 6/12.6/15 Kayu Kamper 3/30 x 3m Kayu kamper 5/7, 4/6, 3/5, 2/3 Kayu meranti 8/12,6/12,6/15 Kayu merenti 3/30 x 3m Kayu meranti 5/7,4/6,3/5,2/3 Kayu Meranti (papan begesting) Kayu randu ( Papan Begisting ) 4m Kayu kruing 8/12,6/12,6,15 Kayu Kruing 2/20 x 3m Kayu bakar Satuan per batang per batang per batang per batang per batang per batang per batang per batang per batang per batang per batang per batang per batang per batang per batang per batang per batang per batang per batang per batang per batang M3 M3 M3 M3 M3 M3 M3 M3 M3 M3 M3 M3 M3 M3 Harga (Rp) 8,000 14,000 8,000 10,000 15,000 20,000 30,000 40,000 25,000 35,000 40,000 60,000 60,000 50,000 80,000 75,000 110,000 70,000 90,000 170,000 190,000 16,000,000 7 ,500,000 7 ,500,000 7 ,500,000 8,250,000 6,600,000 4,400,000 5,000,000 4,300,000 4,400,000 10,000 5,100,000 5,500,000 125,000

^tçâ

Page 104

No 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55

Material Kayu Kruing 5/7,4/6,3/5,2/3 List Kayu Polos 1/5 x 2m List Kayu Profil 2/5 x2m Dolken Kayu Jati D = 0,13 x 3m Gedeg guling Bambu Bongkotan Triplek lapis almunium Triplek 90.210.3 mm Triplek 90.210.4 mm Triplek 120.240.2 mm Triplek 120.240.3 mm Triplek 120.240.4 mm Triplek 120.240.6 mm Triplek 120.240.9 mm Triplek 120.240.12 mm Teakwood 122.244.3 mm Teakwood 122.244.4 mm Plywood 122.244.6 mm Plywood 122.244.9 mm Hardplank 30 cm x 4 m

Satuan M3 M M Bt M2 Bt Lbr Lbr Lbr Lbr Lbr Lbr Lbr Lbr Lbr Lbr Lbr Lbr Lbr Lbr

Harga (Rp) 4,750,000 3,300 5,500 90,000 15,000 16,500 84,700 33,000 38,500 34,650 44,000 57,000 71,500 107,800 148,500 98,000 90,750 98,000 121,000 93,500

^tçâ

Page 105

Daftar Pustaka

Wijoyo, Sutopo Edi dan Prabowo, Bhakti. (1977). Ilmu Bahan Bangunan. Jakarta : Departemen Pendidiakan dan Kebudayaan. Anonim. Kayu. [online]. Tersedia : http://id.wikipedia.org/wiki/Kayu. Anonim. Daftar Kayu di Indonesia. [online]. Tersedia : http://id.wikipedia.org/wiki/Daftar_kayu_di_Indonesia. Anonim. Pengenalan Jenis Kayu dan Manfaat Pengenalan Jenis Kayu. [online]. Tersedia : http://www.dephut.go.id/Halaman/STANDARDISASI_&_LINGKUNGAN_KEHUTANAN/INF O_III01/III_III01.htm. Anonim. Produk Kayu Olahan dari Berbagai Jenis Kayu. [online]. Tersedia : http://www.sari-jati.com/kayu.html. Anonim. TEKNIK STRUKTUR BANGUNAN DENGAN KONSTRUKSI KAYU 12.2. [online]. Tersedia : http://www.crayonpedia.org/mw/TEKNIK_STRUKTUR_BANGUNAN_DENGAN_KONSTRUK SI_KAYU_12.2. Anonim. Kayu dan Baja Ringan. [online]. Tersedia :http://www.ilmusipil.com/kayu-danbaja-ringan Anonim. SIFAT-SIFAT KAYU DAN PENGGUNAANNYA. [online]. Tersedia :http://www.dephut.go.id/Halaman/STANDARDISASI_&_LINGKUNGAN_KEHUTANAN/INF O_V02/VII_V02.htm Anonim. PENGENALAN JENIS KAYU Manfaat Pengenalan Jenis Kayu. [online]. Tersedia :http://www.dephut.go.id/Halaman/STANDARDISASI_&_LINGKUNGAN_KEHUTANAN/INF O_III01/III_III01.htm

^tçâ

Page ix

Batubara, Ridwan. (2006). Teknologi Pengawetan Kayu Perumahan dan Gedung dalam Upaya Pelestarian Hutan. Kayu. (2006). Kayu. : Universitas Sumatera Utara. SPESIFIKASI UKURAN KAYU UNTUK BANGUNAN RUMAH DAN GEDUNG. SPESIFIKASI UKURAN KAYU UNTUK BANGUNAN RUMAH DAN GEDUNG. Jakarta: Departeman Pekerjaan Umum. Anonim. Daftar Harga Material Bangunan. [online]. Tersedia : http://westpex.co.id. Mancer, Veno. (2010). Atap SIrap. [online]. Tersedia : http://vmancer.blogspot.com/2010/08/atap-sirap.html. Muller, Veni. (2006). LANTAI KAYU PARQUET MULLER. [online]. Tersedia : http://www.lantaikayuparquet.com/. Fardheny, Arie Febry. (2010). STRUKTUR KAYU BERDASARKAN STANDAR TATA CARA PERENCANAAN KONSTRUKSI KAYU UNTUK BANGUNAN GEDUNG (SNI KAYU) TAHUN 2002. Kalimantan Selatan : Universitas Lambung Mangkurat. Hardiansyah. (2010). PENELITIAN TERHADAP KEGAGALAN STRUKTUR RANGKA ATAP KAYU BENTANG 12 METER DAN METODE PERBAIKAN STRUKTURNYA. Skripsi Sarjana pada SUBJURUSAN STRUKTUR DEPARTEMEN TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS SUMATERA UTARA : diterbitkan. Jyutriani, Evie. (2011). kusen-atap-dinding kayu-plafond. [online]. Tersedia : http://www.scribd.com/doc/50762781/39/Dinding-Kayu-Rangka-Terusan-Lajur. Anonim. (2011). Mengenal Pelat Lantai Dari Kayu . [online]. Tersedia : http://developerdankontraktor.blogspot.com/2011/05/mengenal-pelat-lantai-darikayu.html. Anonim. Tangga. [online]. Tersedia : http://id.wikipedia.org/wiki/Tangga. Referensi gambar kayu : http://woodwizard.my/report.asp?ItemID=33, dan http://google.co.id/images. Cumi. (2011). KAYU BAGIAN. [online]. Tersedia : http://www.scribd.com/doc/57097877/21/Keteguhan-Tarik.

^tçâ

Page x

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful

Master Your Semester with Scribd & The New York Times

Special offer for students: Only $4.99/month.

Master Your Semester with a Special Offer from Scribd & The New York Times

Cancel anytime.