PENDAHULUAN Tujuan penelitian adalah untuk mengkaji hubungan antara peringkat Daya Tarik Investasi dengan Pendapatan Asli

Daerah (PAD) dan Pajak Daerah kabupaten/kota di Indonesia. Sample yang diambil adalah 10 kabupaten/kota yang menempati urutan teratas dalam pemeringkatan daya tarik investasi tahun 2001. Data dalam penelitian ini merupakan data sekunder yang diperoleh dari Komite Pemantauan Pelaksanaan Otonomi Daerah – KPPOD (untuk data tentang peringkat daya tarik investasi kabupaten/kota selama tiga tahun) dan DJPKPD (untuk data tentang jumlah PAD dan Pajak Daerah). Pengujian dilakukan dengan menggunakan SpearmanRank Correlation karena jenis data merupakan non-parametrik. Hasil pengujian menunjukkan bahwa terdapat hubungan “berbanding terbalik” yang “sangat lemah” (-0,149) antara peringkat daya tarik investasi dengan PAD kabupaten/kota yang menjadi sample penelitian ini. Demikian juga ketika dilakukan pengujian terhadap Pajak Daerah (-0,207). Artinya, semakin tinggi peringkat daya tarik investasi suatu kabupaten/kota maka akan semakin kecil jumlah PAD dan Pajak Daerah-nya. Demikian pula sebaliknya.

Kondisi inilah yang mampu menggerakan sektor swasta untuk ikut serta dalam menggerakan roda ekonomi. diperlukan kelembagaan yang demokratis. efisiensi pengelolaan sumberdaya. dan pemberian insentif fiskal/non fiskal guna menciptakan iklim usaha yang kondusif bagi para pelaku ekonomi (BUMN. ketersediaan lahan. Keberhasilan daerah untuk meningkatkan daya tariknya terhadap investasi salah satunya tergantung dari kemampuan daerah dalam merumuskan kebijakan yang berkaitan dengan investasi dan dunia usaha serta peningkatan kualitas pelayanan terhadap masyarakat. potensi ekonomi daerah yang dapat digerakkan sebagai sumber pendapatan Daerah. baik dalam bentuk penanaman modal dalam negeri (PMDN) maupun pananaman modal asing (PMA) membutuhkan adanya iklim yang sehat dan kemudahan serta kejelasan prosedur penanaman modal. investasi memegang peran penting untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. Secara umum investasi akan masuk ke suatu daerah tergantung dari daya tarik daerah tersebut terhadap investasi. Iklim investasi juga dipengaruhi oleh kondisi makroekonomi suatu negara atau daerah. sumber pembiayaan. Dalam upaya mendukung pelaksanaan otonomi daerah yang efektif. dan Swasta) serta pengaturan perimbangan keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah yang adil dan proporsional. Koperasi. Hal ini menuntut perubahan orientasi dari peran pemerintah. Namun. SDM dan aspek lainnya di daerah. dan adanya iklim investasi yang kondusif.LATAR BELAKANG MASALAH Dalam konteks pembangunan regional. Dengan demikian. dijumpai beberapa aspek yang satu dengan lainnya saling berkaitan dalam berbagai aktifitas perekonomian. sehingga peran swasta dalam perekonomian dapat berkembang optimal. pengadaan bahan. selain makroekonomi yang kondusif juga adanya pengembangan sumber daya manusia dan infrastruktur dalam artian luas. Secara umum investasi atau penanaman modal. Kemampuan daerah untuk menentukan faktor-faktor yang dapat digunakan sebagai ukuran daya saing perekonomian daerah relatif terhadap daerah lainnya juga sangat penting dalam upaya meningkatkan daya tariknya dan memenangkan persaingan. aparatur yang berkualitas. BUMD. Hal yang juga penting untuk diperhatikan dalam upaya menarik investor. harus diubah menjadi supervisor. misalnya budaya masyarakat setempat. yang semula lebih bersifat sebagai regulator. keberhasilan otonomi daerah sangat .

Selain itu. SDM. dan pada tahun 2003 bertambah menjadi 200 kabupaten/kota. kekayaan alam. terdapat 90 kabupaten/kota yang berhasil dilakukan pemeringkatan. serta latar belakang budaya. pendapatan daerah yang dipengaruhi secara langsung oleh investasi adalah pajak. .dipengaruhi adanya kesesuaian dan optimalisasi pemanfaatan potensi wilayah. dan kondisi sosial ekonomi. Penelitian ini berusaha untuk mengungkap bagaimana hubungan peringkat daya tarik investasi suatu kabupaten/kota dengan Pendapatan Asli Daerah (PAD) dan Pajak Daerah sebagai bagian terpenting dalam PAD. Tahun 2001. karena investasi di suatu daerah dengan sendirinya akan merangsang pertumbuhan ekonomi daerah tersebut untuk kemudian meningkatkan jumlah pendapatan daerah dari pajak. KPPOD (Komite Pemantauan Pelaksanaan Otonomi Daerah) sejak tahun 2001 telah melakukan pemeringkatan daya tarik investasi terhadap kabupaten/kota di seluruh Indonesia dari perspektif dunia usaha. Dilakukannya pengujian secara khusus terhadap Pajak Daerah karena di beberapa daerah. pajak merupakan sumber utama PAD. daerah dengan peringkat daya tarik investasi yang tinggi akan memiliki jumlah PAD yang tinggi pula – demikian pula sebaliknya. Secara teoritis. Tahun 2002 jumlah tersebut meningkat menjadi 134 kabupaten/kota.

Pendapatan nasional akan naik dan turun karena perubahan investasi. 7 indikator tersebut meliputi: 1) Keamanan. kabupaten/kota yang merupakan tujuan investasi para pelaku bisnis memiliki peluang yang lebih besar untuk meningkatkan jumlah PAD-nya dibandingkan dengan kabupaten/kota yang daya tarik investasinya rendah. Bagaimana hubungan antara peringkat Daya Tarik Investasi dengan PAD kabupaten/kota di Indonesia? 3. 6) Peraturan Daerah. Pemeringkatan pada tahun 2001 dilakukan dengan menggunakan 7 (tujuh) indikator utama sebagai parameternya. pendapatan nasional – dan juga Pendapatan Daerah – akan mengalami kemerosotan ketika investasi turun. 3) Sumber Daya Manusia. 2) Potensi Ekonomi. 4) Budaya Daerah. Dari kerangka teori inilah maka masalah dalam penelitian ini dirumuskan sebagai berikut: 1. penelitian sejenis kembali dilakukan oleh KPPOD dengan menambah jumlah sampel menjadi 134 kabupaten/kota.RUMUSAN MASALAH Dalam kerangka teori yang dibangun oleh Paul Samuelson. yang terperinci dalam 14 variabel. maka pendapatan nasional – dalam skala regional kita sebut dengan Pendapatan Daerah – akan mengalami peningkatan ketika terjadi rangsangan investasi. Bagaimana perubahan peringkat daya tarik investasi kabupaten/kota di Indonesia selama tiga tahun pemeringkatan? 2. Pada tahun 2002. Demikian pula sebaliknya. dan 42 . Dalam penelitian ini. dan 7) Keuangan Daerah. Bagaimana hubungan antara perubahan peringkat Daya Tarik Investasi dengan Pajak Daerah kabupaten/kota di Indonesia? Pengertian Daya Tarik Investasi Penelitian yang dilakukan Komite Pengawas Pelaksanaan Otonomi Daerah (KPPOD) pada tahun 2001 berhasil melakukan pemeringkatan daya tarik investasi terhadap 90 kabupaten/kota (68 kabupaten dan 22 kota) di 24 Provinsi seluruh Indonesia. Sehingga dengan demikian. yang terbagi dalam 17 (tujuh belas) sub indikator. ada 5 (lima) faktor yang digunakan untuk menilai daya tarik investasi suatu daerah. 5) Infrastruktur. Menurut pandangan ini.

Pada tahun 2003. 32/2004). 4) Faktor Ketenagakerjaan dan Produktivitas. PAD bertujuan memberikan kewenangan kepada Pemerintah Daerah untuk mendanai pelaksanaan otonomi daerah sesuai dengan potensi Daerah sebagal perwujudan Desentralisasi. 2) hasil retribusi daerah. 33 tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah dinyatakan bahwa Pendapatan Asli Daerah. Pengertian Pendapatan Asli Daerah (PAD) Menurut UU No 25 tahun 1999 yang kemudian direvisi dengan UU No. . dan 5) Faktor Infrastruktur Fisik. dan (e) komisi. (Pasal 158 UU No. 3) Faktor Perekonomian Daerah. PAD bersumber dari: (1) Pajak Daerah. Sedangkan yang dimaksud dengan ’hasil pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan’ sebagaimana dimaksud dalam Pasal 157 huruf a angka 3 anta lain adalah bagian laba dari BUMD. (c) pendapatan bunga. (d) keuntungan selisih nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing. hasil kerjasama dengan pihak ketiga. ataupun bentuk lain sebagai akibat dari penjualan dan/atau pengadaan barang dan/atau jasa oleh Daerah. (b) jasa giro. 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah menyatakan bahwa salah satu dari tiga sumber pendapatan daerah adalah Pendapatan Asli Daerah yang selanjutnya disebut PAD yang terdiri dari: 1) hasil pajak daerah. Pajak daerah dan retribusi daerah ditetapkan dengan Undang-Undang yang pelaksanaannya di daerah diatur lebih lanjut dengan Perda. 3) hasil pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan. selanjutnya disebut PAD adalah pendapatan yang diperoleh Daerah yang dipungut berdasarkan Peraturan Daerah sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Pemerintahan daerah dilarang melakukan pungutan atau dengan sebutan lain di luar yang telah ditetapkan undang-undang. hasil penjualan aset daerah. dan 4) lain-lain PAD yang sah.indikator. dan (4) lain-lain PAD yang sah yang meliputi: (a) hasil penjualan kekayaan Daerah yang tidak dipisahkan. KPPOD dengan menggunakan variabel yang sama dengan tahun 2002 kembali melakukan pemeringkatan terhadap 200 kabupaten/kota di Indonesia. potongan. (2) Retribusi Daerah. 2) Faktor Sosial Politik. (3) hasil pengelolaan kekayaan Daerah yang dipisahkan. Kelima faktor yang digunakan dalam penelitian ini yaitu. ’Lain-lain PAD yang sah’ sebagaimana dimaksud dalam Pasal 157 huruf a angka 4 antara lain penerimaan daerah di luar pajak dan retribusi daerah seperti jasa giro. 1) Faktor Kelembagaan. Pengertian Pajak Daerah Pasal 157 UU No.

maka pendapatan nasional – dalam skala regional kita sebut dengan Pendapatan Daerah – akan mengalami peningkatan ketika terjadi rangsangan investasi.Hubungan (Daya Tarik) Investasi dengan PAD dan Pajak Daerah Paul Samuelson yang oleh Robert H. Demikian pula sebaliknya. Menurut pandangan ini. Nelson penulis buku Economics as Religion (Penn State. Tujuan Penelitian Penelitian ini dilakukan dengan tujuan: 1. 2. Untuk mengkaji hubungan antara peringkat Daya Tarik Investasi dengan Pendapatan Asli Daerah (PAD) kabupaten/kota di Indonesia 3. pendapatan nasional – dan juga PAD – akan mengalami kemerosotan ketika investasi turun. dalam buku teks Introductory Economics menyederhanakan kehidupan ekonomi setiap masyarakat seperti gambar berikut (Mubyarto. 2003): Pendapatan nasional menurut Samuelson naik dan turun karena perubahan investasi yang pada gilirannya tergantung pada perubahan teknologi.2001) disebut sebagai seorang Nabi yang berhasil. Untuk menganalisis perubahan peringkat daya tarik investasi kabupaten/kota di Indonesia selama tiga tahun pemeringkatan 2. kabupaten/kota yang merupakan tujuan investasi para pelaku bisnis memiliki peluang yang lebih besar untuk meningkatkan jumlah PADnya dibandingkan dengan kabupaten/kota yang daya tarik investasinya rendah. pertumbuhan penduduk. Hypotesis H1 : Peringkat Daya Tarik Investasi mempunyai hubungan dengan Pendapatan Asli Daerah (PAD) kabupaten/kota di Indonesia H2 : Peringkat Daya Tarik Investasi mempunyai hubungan dengan Pajak Daerah kabupaten/kota di Indonesia TUJUAN DAN MANFAAT PENELITIAN 1. Sehingga dengan demikian. dan faktor-faktor dinamis lainnya. penurunan tingkat bunga. Manfaat / Kontribusi Penelitian . Untuk menganalisis hubungan antara peringkat Daya Tarik Investasi dengan Pajak Daerah kabupaten/kota di Indonesia.

Dalam kaitan ini digunakan uji Spearman-Rank Correlation. METODE PENELITIAN Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh kabupaten/kota di Indonesia. analisis ini dilakukan untuk menguji hubungan antara daya tarik investasi dengan PAD dan hubungan antara daya tarik investasi dengan Pajak Daerah. dan 2003 yang diperoleh dari situs Komite Pengawas Pelaksanaan Otonomi Daerah (KPPOD). dan 2003. Variabel dalam penelitian ini adalah: 1. Sedangkan sample yang diambil adalah 10 kabupaten/kota peringkat teratas dalam pemeringkatan Daya Tarik Investasi tahun 2001 yang telah dilakukan oleh KPPOD. yaitu dengan cara menjabarkan pemeringkatan daya tarik investasi kabupaten/kota seIndonesia berdasarkan hasil pemeringkatan yang telah dilakukan oleh KPPOD untuk tahun 2001. dan 2003. yaitu data tentang peringkat Daya Tarik Investasi kabupaten/kota seIndonesia pada tahun 2001. Pajak Daerah. adalah pendapatan yang diperoleh Daerah yang dipungut berdasarkan Peraturan Daerah sesuai dengan peraturan perundang-undangan 1. Pendapatan Asli Daerah (PAD). Sedangkan data Pendapatan Asli Daerah (PAD) kabupaten/ kota tahun yang sama diperoleh dari situs DJPKPD (Dirjen Perimbangan Keuangan Pusat dan Daerah) Departemen Keuangan RI.Penelitian ini diharapkan dapat memberikan gambaran tentang hubungan antara peringkat daya tarik investasi dengan PAD dan pajak daerah kabupaten/kota di Indonesia. 2002. 2002. 2. 2002. Rumusan masalah kedua dan ketiga akan dikaji dengan menggunakan analisis statistik. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder. karena data . Analisis data dilakukan dengan cara: 1. Untuk menjawab rumusan masalah pertama. Hasil penelitian ini juga dapat digunakan sebagai referensi bagi kabupaten/kota untuk mengkaji kembali kebijakan-kebijakan berkaitan dengan upaya untuk meningkatkan PAD terkait dengan arus investasi ke daerah. merupakan penerimaan daerah yang berasal dari potensi sumber daya yang ada di daerah dari aspek perpajakan. Perangkingan tersebut didasarkan pada pemeringkatan daya tarik investasi kabupaten/kota yang dilakukan oleh KPPOD pada tahun 2001. yaitu posisi (rangking) kabupaten/kota se-Indonesia berdasarkan daya tarik investasinya yang dipersepsi oleh dunia usaha. Peringkat Daya Tarik Investasi. 1. digunakan analisis deskpriptif.

KPPOD melakukan pemeringkatan terhadap 200 . (2) Sosial politik dan budaya. 10 kabupaten/kota yang menempati posisi teratas dalam pemeringkatan tahun 2002 adalah: Rangking 1 : Kota Semarang Rangking 3 : Kota Tegal Rangking 5 : Kota Batam Rangking 7 : Kabupaten Bekasi Rangking 9 : Kota Pekanbaru Rangking 2 : Kota Balikpapan dan Kota Sawah Lunto Rangking 4 : Kabupaten Dairi Rangking 6 : Kota Tangerang Rangking 8 : Kota Kediri Rangking 10 : Kabupaten Kendal Sedangkan pada tahun 2003. (4) Tenaga kerja & produktivitas. 10 kabupaten/kota yang menempati posisi teratas dalam pemeringkatan tahun 2001 adalah: Rangking 1 : Kabupaten Badung Rangking 3 : Kota Denpasar Rangking 5 : Kabupaten Kampar Rangking 7 : Kabupaten Musi Rawas Rangking 9 : Kabupaten Musi Banyuasin Rangking 2 : Kabupaten Gianyar Rangking 4 : Kota Bekasi Rangking 6 : Kabupaten Tabanan Rangking 8 : Kabupaten Indramayu Rangking 10 : Kabupaten Bogor Pada tahun 2002. Pengujian dilakukan dengan menggunakan program SPSS for Windows. ANALISIS DESKRIPTIF KPPOD telah mulai melakukan studi pemeringkatan daya tarik investasi terhadap kabupaten/kota di Indonesia sejak tahun 2001. Indikator utama/varibel pemeringkatan dibuat menjadi lima (5). (3) Ekonomi daerah. Kali ini jumlah kabupaten/kota yang menjadi sample meningkat menjadi 134.dalam penelitian ini non-parametrik. KPPOD kembali melakukan pemeringkatan. yaitu: (1) Kembagaan. dengan tetap menggunakan lima (5) indikator utama/variable yang sama dengan tahun 2002. Studi pemeringkatan pada tahun ini dilakukan terhadap 90 daerah otonom yaitu kabupaten dan kota. dan (5) Infrastuktur fisik.

Setidaknya ada tiga (3) kemungkinan yang menyebabkan terjadinya pergeseran yang cukup tajam terhadap posisi kabupaten/kota tersebut dalam pemeringkatan daya tarik investasi. sedangkan pada tahun 2002 meningkat menjadi 134 dan tahun 2003 meningkat lagi menjadi 200 kabupaten/kota. JenePonto Rangking 4 : Kota Batam Rangking 6 : Kabupaten Kuningan Rangking 8 : Kabupaten Barito Utara Rangking 10 : Kab. Tasikmalaya dan Kota Cirebon Dalam penelitian ini. maka potensi PAD dan Pajak Daerahnya akan semakin tinggi pula’. sample yang diambil adalah kabupaten/kota yang menduduki posisi 10 teratas dalam pemeringkatan tahun 2001. Besar kemungkinan daerah-daerah yang memiliki daya tarik investasi cukup tinggi pada tahun 2001 belum menjadi objek pemeringkatan. Data yang dihimpun dari KPPOD tentang perubahan posisi ke-sepuluh kabupaten/kota tersebut selama tiga (3) tahun adalah sebagai berikut: TABEL 1 DI SINI Tabel 1 menggambarkan bahwa terjadi pergeseran posisi yang cukup signifikan terhadap kesepuluh kabupaten/kota yang pada tahun 2001 menempati urutan teratas dalam pemeringkatan daya tarik investasi. jumlah kabupaten/kota yang menjadi objek pemeringkatan pada tahun 2001 hanya 90.kabupante/kota di Indonesia (156 kabupaten dan 44 kota) di 29 propinsi dari 416 daerah (328 Kabupaten dan 88 Kota) di seluruh Indonesia. sehingga ketika daerah-daerah tersebut menjadi bagian dari kabupaten/kota yang diperingkat daya tarik . yaitu: Pertama. Pengujian ini terkait dengan asumsi bahwa ‘semakin tinggi posisi daya tarik investasi sebuah kabupaten/kota. 10 besar dalam pemeringkatan kali ini adalah sebagai berikut: Rangking 1 : Kabupaten Purwakarta Rangking 2 : Kabupaten Magelang Rangking 3 : Kabupaten Bulungan Rangking 5 : Kabupaten Jembrana Rangking 7 : Kabupaten Enrekang Rangking 9 : Kab. Ke-sepuluh kabupaten/kota tersebut akan diuji selama tiga (3) tahun pemeringkatan dikaitkan dengan PAD dan Pajak Daerah.

dan Kabupaten Musi Banyuasin – semua daerah mengalami peningkatan jumlah PAD dari tahun 2001. penerimaan daerah yang terkait secara langsung dengan aktivitas investasi adalah Pajak Daerah. TABEL 3 DI SINI Agak berbeda dengan jumlah PAD. Namun alasan ini tidak terlalu kuat. Pajak Daerah merupakan salah satu bagian dari PAD.58%) dari tahun 2001. Kedua. TABEL 2 DI SINI Tabel 2 menunjukkan bahwa selain tiga kabupaten – yakni Kabupaten Badung. atau sebaliknya. Selain itu. . namun dalam penelitian ini Pajak Daerah diperlakukan khusus karena pada sebagian besar kabupaten/kota. Bahkan Kabupaten Indramayu peningkatannya di atas 100%. perkembangan jumlah Pajak Daerah yang merupakan salah satu bagian dari PAD relatif berimbang antara yang mengalami penurunan dan peningkatan. Ketiga. Pajak Daerah merupakan sumber penerimaan utama dari PAD. sebab posisi kabupaten/kota tersebut juga mengalami pergeseran yang cukup signifikan dari tahun 2002 ke 2003 dengan variabel yang sama. jumlah indikator utamanya ada tujuh (7). Kabupaten Musi Rawas. Pada tahun 2001. Tingkat percepatan pembangunan yang berbeda di masingmasing daerah inilah yang kemungkinan bisa menjadi pemicu bergesernya daya tarik investasi di suatu daerah dari rendah menjadi tinggi.investasinya dengan sendirinya menggeser posisi kabupaten/kota yang pada tahun 2001 menempati urutan teratas. indikator utama/variabel pemeringkatan yang digunakan pada tahun 2001 ‘sedikit berbeda’ dengan variabel pemeringkatan tahun 2002 dan 2003. Khusus Kabupaten Musi Banyuasin hanya pada tahun 2002 yang jumlah PAD-nya menurun. Pendapatan Asli Daerah dan Pajak Daerah Dua (2) Tabel dibawah ini menjabarkan jumlah Pendapatan Asli Daerah (PAD) dan Pajak Daerah 10 kabupaten/kota yang menjadi sample penelitian ini. masing-masing daerah melakukan aktivitas pembangunan di berbagai sektor. sedangkan tahun 2002 dan 2003 jumlahnya menjadi lima (5). sedangkan pada tahun 2003 melonjak cukup tajam (112. dalam kurun waktu 2-3 tahun.

PEMBAHASAN Studi yang dilakukan oleh KPPOD tentang pemeringkatan daya tarik investasi 90 kabupaten/kota di Indonesia diperoleh temuan bahwa 10 kabupaten/kota paling menarik untuk berinvestasi. Demikian pula sebaliknya. semakin tinggi peringkat daya tarik investasi suatu kabupaten/kota maka akan semakin kecil jumlah PAD-nya. TABEL 4 DI SINI Hasil perhitungan koefisien korelasi spearman (rs) sebagaimana pada tabel 4 diperoleh nilai 0. 2003).ANALISIS STATISTIK Untuk mengetahui hubungan (korelasi) antara peringkat daya tarik investasi dengan PAD dan Pajak Daerah digunakan Spearman-Rank Correlation dengan bantuan program SPSS under Windows. 2001 – 2003 dengan menggunakan pooling data.207 yang berarti bahwa terdapat hubungan negatif yang lemah antara peringkat daya tarik investasi dengan Pajak Daerah kabupaten/kota. yakni Kabupaten Bandung (peringkat 1). . meskipun hubungannya lemah.149 yang berarti bahwa terdapat hubungan negatif yang lemah antara peringkat daya tarik investasi dengan PAD. Dengan demikian. hasil perhitungan koefisien korelasi spearman (rs) sebagaimana pada tabel 5 diperoleh nilai -0. TABEL 5 DI SINI Seperti halnya dengan PAD. Artinya. 2001 – 2003 dengan menggunakan pooling data. maka hipotesis kedua yang menyatakan bahwa: “Peringkat Daya Tarik Investasi mempunyai hubungan dengan Pajak Daerah kabupaten/kota di Indonesia” dapat diterima. Hubungan Peringkat Daya Tarik Investasi dengan PAD Tabel 4 di bawah ini adalah output uji Spearman-Rank Correlation yang dilakukan terhadap 10 kabupaten/kota selama tiga (3) tahun. Dengan demikian maka hipotesis “Peringkat Daya Tarik Investasi mempunyai hubungan dengan Pendapatan Asli Daerah (PAD) kabupaten/kota di Indonesia” dapat diterima. Hubungan Peringkat Daya Tarik Investasi dengan Pajak Daerah Tabel 5 di bawah menunjukkan output uji Spearman-Rank Correlation yang dilakukan terhadap 10 kabupaten/kota selama tiga (3) tahun. Spearman-Rank Correlation merupakan alat uji statistik non-parametrik yang dapat digunakan untuk melihat hubungan dua variabel. empat (4) berada di pulau Bali. Dalam Spearman-Rank Correlation. ukuran keeratan hubungan antara dua variabel dapat diketahui melalui koefisien korelasi rangking (Algifari.

dan tiga (3) di pulau Sumatera. Kabupaten Tabanan (peringkat 6). Bogor (peringkat 10). Tabel 8 berikut dapat menjadi referensi mengenai tingginya animo pemerintah daerah untuk memungut pajak dan retribusi dalam rangka meningkatkan jumlah PAD-nya TABEL 6 DI SINI Aktivitas ‘pemungutan’ yang dilakukan oleh pemerintah daerah dalam rangkat meningkatkan PAD tersebut sering kali mengabaikan aspek-aspek yang menjadi pemicu masuknya investasi . Kota Denpasar (peringkat 3). Misalnya dengan ‘memajaki’ dan ‘meretribusikan’ berbagai aktivitas masyarakat. sejauh ini beberapa kabupaten/kota lebih mengedepankan upaya-upaya yang secara langsung dapat meningkatkan jumlah PAD. Hasil penelitian ini yang menunjukkan adanya hubungan yang tidak signifikan antara peringkat daya tarik investasi dengan PAD dan Pajak Daerah memperkuat catatan hasil pemeringkatan yang dilakukan oleh KPPOD bahwa potensi ekonomi suatu daerah tidak berkorelasi secara signifikan dengan daya tarik investasi. Faktor ini merupakan penentu utama dalam pertimbangan keputusan investasi. yaitu : Kabupaten Kampar (peringkat 5). Kab. Munculnya berbagai Peraturan Daerah (Perda) yang mengatur tentang pungutan pemerintah daerah terhadap aktivitas masyarakatnya menunjukkan tingginya kegairahan tersebut. Penelitian ini juga membuktikan bahwa peningkatan ataupun penurunan jumlah PAD dan Pajak Daerah yang diterima oleh sebuah kabupaten/kota tidak berhubungan (secara kuat) dengan peringkat daya tarik investasi yang mereka peroleh. Kabupaten Musi Rawas (peringkat 7). Beberapa catatan – yang sudah barang tentu masih membutuhkan pengujian secara empiris – yang dapat dikemukakan dalam konteks ini adalah: Pertama. dan Kabupaten Musi Banyuasing (peringkat 9). Indramayu (peringkat 8). Tiga (3) di pulau Jawa. Indikator untuk pemeringkatan yang mendapat bobot terbesar adalah faktor keamanan. yaitu : Kota Bekasi (peringkat 4). Kab. tetapi kemampuannya sangat menonjol dalam menghadirkan rasa aman dan memiliki sumber daya manusia serta perilaku birokrasi dan masyarakat yang memiliki komitmen tinggi untuk pembangunan ekonomi produktif. Kabupaten/kota yang ada di Bali meskipun potensi ekonominya kalah jauh dibandingkan dengan daerah lain.Kabupaten Gianyar (peringkat 2).

51. Peraturan Daerah (Perda) 5.59%.62%. maka bisa diasumsikan bahwa persepsi tersebut sekedar sebuah persepsi. dan variabel keuangan daerah memperoleh bobot 4. pemeringkatan yang dilakukan oleh KPPOD tersebut adalah merupakan sebuah hasil penelitian yang memaparkan persepsi para pengusaha nasional dan daerah serta para pengamat ekonomi tentang daya tarik investasi suatu daerah. Kedua. Disamping jenis variabel dan pembobotan yang berbeda antara tahun 2001 dengan tahuntahun berikutnya. budaya daerah 12.73%. pembobotan ini bisa jadi kontrak produktif dengan concern dari masingmasing kabupaten/kota pada periode tertentu sehingga berdampak pada peringkat daya tarik investasi yang diperoleh.61%. maka dengan sendirinya PAD daerah tersebut juga akan terimplikasi. variabel infrastruktur fisik dan variabel tenaga kerja & produktivitas masing-masing 13%. variabel keamanan mendapat bobot 32. pembobotan yang dilakukan oleh KPPOD terhadap masing-masing variabel bisa jadi menjadi salah satu faktor tidak adanya hubungan yang kuat antara peringkat daya tarik investasi dengan PAD dan Pajak Daerah.masuk ke daerah. Ketika kemudian daerah yang menduduki peringkat atas dalam pemeringkatan tersebut namun jumlah PAD dan Pajak Daerah-nya justru menurun. Sedangkan tahun 2003. sosial politik budaya bobotnya 26%. Artinya. Sumber Daya Manusia (SDM) 13. Padahal jika ada investasi yang masuk ke suatu daerah. Misalnya untuk pemeringkatan tahun 2001. infrastruktur 9. . Ketiga. variabel kelembagaan mendapat bobot 31%.41%. potensi ekonomi bobotnya 21. para pengusaha yang mempersepsi suatu daerah ‘menarik’ untuk berinvestasi tidak dengan serta merta melakukan investasi di daerah tersebut.55%. ekonomi daerah 17%.

Kesimpulan Dari penjabaran pada bagian-bagian sebelumnya. 2. 1. Bentuk hubungan tersebut adalah ‘berbanding terbalik’ sebagaimana ditunjukkan pada tabel 4 dengan notasi minus (-). dapat disimpulkan hal-hal sebagai berikut: 1. A. Artinya. Pengkajian terhadap 10 kabupaten/kota yang menjadi sample dalam penelitian ini menunjukkan bahwa terjadi pergeseran posisi yang cukup signifikan terhadap kesepuluh kabupaten/kota yang pada tahun 2001 menempati urutan teratas dalam pemeringkatan daya tarik investasi. semakin tinggi peringkat daya tarik investasi suatu kabupaten/kota maka akan semakin kecil jumlah PAD-nya. Demikian pula sebaliknya 4. (b) adanya perbedaan indikator utama/variabel pemeringkatan yang digunakan antara tahun 2001 dengan tahun-tahun berikutnya. Pergeseran posisi kabupaten/kota tersebut bisa terjadi karena beberapa kemungkinan: (a) perbedaan jumlah kabupaten/kota yang menjadi objek pemeringkatan antara tahun 2001 dengan tahun-tahun berikutnya. Namun hubungan tersebut sangat lemah karena berada pada kisaran 0. Perkembangan jumlah Pajak Daerah yang merupakan salah satu bagian dari PAD relatif berimbang antara yang mengalami penurunan dan peningkatan.20 atau hanya 14. (c) adanya perbedaan tingkat percepatan pembangunan di masing-masing daerah dalam kurun waktu yang diteliti. 2.9%.PENUTUP 1. Jumlah PAD pada sebagian besar kabupaten/kota yang menjadi sample penelitian ini menunjukkan adanya peningkatan.01 – 0.149 yang berarti bahwa terdapat hubungan antara peringkat daya tarik investasi dengan PAD kabupaten/kota yang menjadi sample penelitian ini.207 yang berarti bahwa terdapat hubungan antara peringkat daya tarik investasi dengan Pajak Daerah . Hal yang hampir sama juga diperoleh ketika dilakukan pengujian terhadap Pajak Daerah. Hasil perhitungan koefisien korelasi spearman (rs) diperoleh nilai -0. 3. Hasil perhitungan koefisien korelasi spearman (rs) diperoleh nilai -0.

Adanya pembobotan terhadap variabel yang dilakukan oleh KPPOD dalam melakukan pemeringkatan dengan sendirinya menempatkan PAD dan Pajak Daerah tidak pada posisi yang ‘strategis’ untuk menentukan peringkat daya tarik investasi suatu daerah.7%. (c) Pembobotan yang dilakukan oleh KPPOD terhadap masing-masing variabel bisa jadi kontra produktif dengan concern dari masingmasing kabupaten/kota pada periode tertentu sehingga berdampak pada peringkat daya tarik investasi yang diperoleh. Beberapa catatan yang dapat dikemukakan terkait dengan hasil penelitian ini adalah: (a) sejauh ini beberapa kabupaten/kota lebih mengedepankan upaya-upaya yang secara langsung dapat meningkatkan jumlah PAD dan relatif mengabaikan aspek-aspek yang dapat mengundang hadirnya investasi. Namun hubungan tersebut lemah karena berada pada kisaran 0.kabupaten/kota yang menjadi sample penelitian ini. semakin tinggi peringkat daya tarik investasi suatu kabupaten/kota maka akan semakin kecil jumlah Pajak Daerah-nya. B. 3. Karena PAD dan Pajak Daerah yang diuji dalam penelitian ini merupakan perolehan yang makro. maka data tersebut tidak bisa dengan tepat menjelaskan hubungannya dengan peringkat daya tarik investasi.21 – 0. Bentuk hubungan tersebut adalah ‘berbanding terbalik’ sebagaimana ditunjukkan pada tabel 6 dengan notasi minus (-). . 5. Artinya. Demikian pula sebaliknya.40 atau hanya 20. (b) pemeringkatan yang dilakukan oleh KPPOD tidak lebih dari sebuah branding bagi kabupaten/kota. misalnya karena keterbatasan data maka angka PAD dan Pajak Daerah yang di-entry adalah merupakan PAD dan Pajak Daerah secara keseluruhan (makro) dan bukan merupakan PAD dan Pajak Daerah yang terkait dengan aktivitas investasi. 2. Ada kemungkinan bias dalam pengujian ini. Keterbatasan Penelitian Peneliti mengakui adanya beberapa keterbatasan dalam penelitian ini: 1. Sehingga ketika dilakukan pengujian ulang tentang hubungan peringkat daya tarik investasi dengan PAD dan Pajak Daerah. hasilnya konsisten bahwa PAD dan Pajak Daerah bukan merupakan pertimbangan utama bagi investor dalam melakukan investasi di suatu daerah. Para pengusaha yang mempersepsi suatu daerah ‘menarik’ untuk berinvestasi tidak dengan serta merta melakukan investasi di daerah tersebut.

Hal ini memungkinkan jika penelitian dilakukan secara studi kasus sehingga hasilnya akan lebih fokus dan mendalam. Untuk penelitian berikutnya tentang topik serupa. Hasil analisis faktor tersebutlah yang kemudian diuji hubungan dan atau pengaruhnya terhadap pendapatan daerah. sebaiknya untuk penelitian berikutnya dilakukan dengan cara melakukan ekstraksi terhadap faktor-faktor (analisis faktor) yang dijadikan dasar dalam melakukan pemeringkatan daya tarik investasi suatu daerah. Secara umum.Saran Terkait dengan hasil penelitian dan beberapa keterbatasannya. seyogyanya kabupaten/kota tidak ‘terjebak’ dengan paradigma dalam otonomi daerah dalam upaya meningkatkan jumlah PAD dan mengabaikan aspek-aspek yang dapat mengundang investasi. sebaiknya diupayakan agar dapat memperoleh data tentang pendapatan daerah yang dihasilkan secara langsung dari aktivitas investasi. 2. 3. . Menindaklanjuti pembobotan variabel yang dilakukan oleh KPPOD. maka dapat diajukan beberapa saran: 1.

Mardiasmo. & C. Research report kerjasama dengan Lembaga Administrasi Negara Perwakilan Jawa Barat. Undang-undang Republik Indonesia No. Otonomi & Manajemen Keuangan Daerah. Undang-undang Republik Indonesia No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah. Yogyakarta. Badan Koordinasi Penanaman Modal Daerah Propinsi Jawa Barat. ——————. Penerbit Erlangga. Cooper. 2002. Republik Indonesia. Daya Tarik Investasi Kabupaten/Kota di Indonesia tahun 2003.kppod.. 34 Tahun 2004 tentang Pajak dan Retribusi Daerah .org. ——–.org. www. 1998. Daya Tarik Investasi Kabupaten/Kota di Indonesia tahun 2002. diakses pada 22 Januari 2005. Willian Emory. Jurnal Ekonomi Rakyat. www. Statistik Induktif untuk Ekonomi dan Bisnis. Tahun II – No. Teori Investasi dan Pertumbuhan Ekonomi dalam Ekonomi Pancasila.org.. UPP AMP YKPN. Undang-undang Republik Indonesia No.kppod. 4 – Juli 2003. Peranan Birokrasi dalam Pelayanan Investasi di Jawa Barat. 2003. 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan Pusat dan Daerah ——-.kppod. www.. ——————. diakses pada 20 Januari 2005. Donald R. 1999. Daya Tarik Investasi Kabupaten/Kota di Indonesia tahun 2001. Jakarta. Komite Pengawas Pelaksanaan Otonomi Daerah (KPPOD). diakses pada 24 Januari 2005.DAFTAR PUSTAKA Algifari. Penerbit ANDI Yogyakarta Mubyarto. Metode Penelitian Bisnis.

Ulum. 2002. 2004. Akuntansi Sektor Publik. Penerbit UMM-Press. Malang. Statistik non-Parametrik. Yogyakarta. . Penerbit Elex Media Komputindo. Ihyaul. Jakarta Widayat & Amirullah.Santyoso. Singgih. 2004. Penerbit Graha Ilmu. Riset Bisnis.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful