You are on page 1of 27

I.

Definisi Apendisitis Apendiks adalah organ tambahan kecil yang menyerupai jari, melekat pada sekum tepat di bawah katup ileosekal (Brunner dan Sudarth, 2002 hal 1097). Pada posisi yang lazim, apendiks terletak pada dinding abdomen di bawah titik McBurney (yang terletak di pertengahan antara umbilikus dan spina anterior dari ilium). Karena apendiks mengosongkan diri dengan tidak efisien dan lumennya kecil, maka apendiks mudah mengalami obstruksi dan rentan terhadap infeksi (apendisitis). Apendisitis merupakan penyebab yang paling umum dari inflamasi akut kuadran kanan bawah rongga abdomen dan penyebab yang paling umum dari pembedahan abdomen darurat. Apendisitis ditandai dengan adanya peradangan yang biasanya mengenai semua lapisan dinding organ apendiks. II. Anatomi dan Fisiologi Appendix Pada neonatus, apendix vermiformis (umbai cacing) adalah sebuah tonjolan dari apex caecum, tetapi seiring pertumbuhan dan distensi caecum, appendix berkembang di sebelah kiri dan belakang kira-kira 2,5 cm di bawah valva ileocaecal (Lawrence, 2006). Istilah usus buntu yang sering dipakai di masyarakat awan adalah kurang tepat karena usus buntu sebenarnya adalah caecum. Appendix merupakan organ berbentuk tabung, panjangnya sekitar 10 cm (3-15 cm). Lumennya sempit di bagian proximal dan melebar di bagian distal. Namun, pada bayi, appendix berbentuk kerucut, lebar di pangkal, dan sempit di ujung (Syamsuhidajat, 1997). Ontogenitas berasal dari mesogastrium dorsale. Kebanyakan terletak intraperitoneal dan dapat digerakkan. Macam-macam letak appendix : retrocaecalis, retroilealis, pelvicum, postcaecalis, dan descendentis (Budiyanto, 2005). Pangkal appendix dapat ditentukan dengan cara pengukuran garis Monroe-Pichter. Garis diukur dari SIAS dextra ke umbilicus, lalu garis dibagi 3. Pangkal appendix terletak 1/3 lateral dari garis tersebut dan dinamakan titik Mc Burney. Ujung appendix juga dapat ditentukan dengan pengukuran garis Lanz. Garis diukur dari SIAS dextra ke SIAS sinistra, lalu garis dibagi 6. Ujung appendix terletak pada 1/6 lateral dexter garis tersebut (Budiyanto, 2005).

Appendix menghasilkan lendir 1-2 ml perhari. Lendir tersebut secara normal dicurahkan ke dalam lumen dan selanjutnya mengalir ke caecum. Imunoglobulin sekretoar yang dihasilkan oleh GULT yang terdapat disepanjang saluran cerna termasuk appendix adalah IgA. Imunoglobulin ini sangat efektif sebagai pelindung terhadap infeksi (Syamsuhidajat, 1997). III. Etiologi Apendisitis Apendisitis merupakan infeksi bakteri yang disebabkan oleh obstruksi atau penyumbatan akibat : 1. Hiperplasia dari folikel limfoid 2. Adanya fekalit dalam lumen appendiks. 3. Tumor appendiks 4. Adanya benda asing seperti cacing askariasis 5. Erosi mukosa appendiks karena parasit seperti E. Histilitica. Penyebabnya hampir selalu akibat obstruksi lumen appendix oleh apendikolit, fekalomas (tinja yang mengeras), parasit (biasanya cacing ascaris), benda asing, karsinoid, jaringan parut, mukus, dan lain-lain (Subanada, dkk, 2007, Price dan Wilson, 2006). IV. Epidemiologi Insiden apendisitis akut lebih tinggi pada negara maju dibandingkan dengan n e g a r a b e r k e m b a n g . Namun dalam tiga sampai empat dasawarsa terakhir menurun secara bermakna, yaitu 100 kasus tiap 100.000 populasi mejadi 52 tiap 100.000 populasi. Kejadian ini mungkin disebabkan oleh perubahan pola makan. Menurut data epidemiologi apendisitis akut jarang terjadi pada balita, sedangkan meningkat pada pubertas, dan mencapai puncaknya pada saat remaja dan awal usia 20-an, dan angka ini menurun pada usia menjelang dewasa. Insiden apendisitis memiliki rasio yang sama antara wanita dan laki-laki pada masa prapubertas. Sedangkan pada masa remaja dan dewasa muda rasionya menjadi 3:2.

Pada anak-anak dan dewasa muda terinfeksi sistemik seperti infeksi pernapasan dapat menyebabkan hyperplasia jaringan limfoid pada appendiks dimana respon hiperplastik dapat melibatkan lumen appendiks dan mulai terjadi appendicitis. Rata-rata insiden yaitu 1-2 per 1000 dengan dewasa muda antara 20-30 tahun. Namun demikian apendisitis dapat menyerang semua kelompok termasuk lanjut usia. (Doughty, D. B. et al. (1993). V. Patofisiologi Apendisitis Apendisitis biasanya disebabkan oleh penyumbatan lumen appendiks. Obstruksi tersebut menyebabkan mukus yang diproduksi mukosa appendiks mengalami bendungan. Semakin lama mukus tersebut semakin banyak, namun elasitas dinding appendiks mempunyai keterbatasan sehingga menyebabkan peningkatan tekanan intra lumen. Tekanan tersebut akan menghambat aliran limfe yang mengakibatkan edema dan ulserasi mukosa. Pada saat itu terjadi apendisitis akut fokal yang ditandai dengan nyeri epigastrium. Bila sekresi mukus berlanjut, tekanan akan terus meningkat. Hal tersebut akan menyebabkan obstruksi vena, edema bertambah dan bakteri akan menembus dinding sehingga peradangan yang timbul meluas dan mengenai peritoneum yang dapat menimbulkan nyeri pada abdomen kanan bawah yang disebut apendisitis supuratif akut. Apabila aliran arteri terganggu maka akan terjadi infrak dinding appendiks yang diikuti ganggren. Stadium ini disebut apendisitis ganggrenosa. Bila dinding appendiks rapuh maka akan terjadi prefesional disebut appendikssitis perforasi. Bila proses berjalan lambat, omentum dan usus yang berdekatan akan bergerak ke arah appendiks hingga muncul infiltrat appendikkularis. Pada anak-anak karena omentum lebih pendek dan appendiks lebih panjang, dinding lebih tipis. Keadaan tersebut ditambah dengan daya tahan tubuh yang masih kurang memudahkan untuk terjadi perforasi, sedangkan pada orang tua mudah terjadi karena ada gangguan pembuluh darah.

VII. Gambaran Klinis Gejala awal adalah nyeri atau rasa tidak enak disekitar umbilicus. Gejala ini umumnya berlangsung lebih dari 1 2 hari. Dalam beberapa jam nyeri begeser ke kuadran kanan bawah dengan disertai anoreksia, mual, dan muntah. Dapat juga terjadi nyeri tekan disekitar titik McBurney. Kemudian dapat timbul spasme otot dan nyeri tekan lepas. Biasanya ditemukan demam ringan dan leukositosis sedang. Apabila terjadi ruptur apendiks, tanda perforasi dapat berupa nyeri, nyeri tekan, dan spasme. Penyakit ini sering disertai oleh hilangnya rasa nyeri secara dramatis untuk sementara. VIII. Uji Laboratorium dan diagnostik Pemeriksaan penunjang pada kasus apendisitis berupa uji laboratorium dan diagnostik, antara lain :
1. Hitung darah lengkap (complete blood count, CBC)

Biasanya ditemukan leukositosis (lebih dari 10.000 sel darah putih per mm 3) dengan pergeseran ke kiri jika apendiks menjadi ganggrenosa atau ruptur 2. Urinalisis Pemeriksaan ini dibutuhkan untuk menyingkirkan infeksi saluran kemih, dan adanya keton digunakan sebagai penanda penyakit 3. Pemeriksaan foto abdomen Saat dilakukan pemeriksaan sinar-X abdomen, kurang dari 25% kasus akan memperlihatkan fekalit yang berkalsifikasi. Hasil pemeriksaan sinar-X lain yang didapatkan meskipun tidak spesifik antara lain penurunan pola gas, batas udara-cairan, pengaburan bayangan psoas, obliterasi tanda bantalan lemak, dan lengkungan skoliotik kea rah kanan. (Schwartz, 2004) 4. Ultrasonografi Pada pemeriksaan ini dapat ditemukan fekalit tidak berkalsifikasi, apendiks tidak berperforasi, serta abses apendiks (Sowden, 2009)

IX. KOMPLIKASI Komplikasi utama adalah perforasi appediks yang dapat berkembang menjadi peritonitis atau abses apendiks Tromboflebitis supuratif adalah invasi/perluasan mikroorganisme patogen yang mengikuti aliran darah disepanjang vena dan cabang-cabangnya yang bersifat akut. Abses subfrenikus merupakan pengumpulan cairan antara diafragma dan hati atau limfa. Obstruksi intestinal dalah kerusakan atau hilangnya pasase isi usus yang disebabkan oleh sumbatan mekanik

X. Penatalaksanaan Apendisitis 1. Pembedahan diindikasikan jika terdiagnosa apendisitis, lakukan apendiktomi secepat mungkin untuk mengurangi resiko perforasi. Metode : insisi abdominal bawah di bawah anastesi umum atau spinal 2. Berikan antibiotik dan cairan intravena sampai pembedahan dilakukan 3. Analgesik dapat diberikan setelah diagnosa di tegakkan. Penatalaksanaan Bedah : Anak dengan dugaan apendisitis dimasukkan ke rumah sakit, diberi infus intavena dan antibiotik, serta di observasi : perkembangan gejala yang cepat akan membuat diagnosis tanp gejala. Selang nasogastrik (NGT) dipasang bila anak mengalami muntah. Apendiks dikeluarkan melalui insisi di kuadran kanan bawah atau diangkat dengan laparoskopi. Drain dipasang dan luka dibiarkan terbuka untuk mencegah infeksi luka serta pembentukan abses.

Jika apendiksnya telah perforasi, rongga abdomen diirigasi. Pada beberapa kasus, sebuah kateter kecil tetap dipasang ditempatnya untuk memberi antibiotik setelah dilakukan pembedahan, posisikan anak tersebut pada posisi semi fowler selama 24 jam pertama. Drainase lambung dan pemberian cairan intravena serta antibiotik dilanjutkan, obat narkotik atau analgesik dipakai untuk mengatasi nyeri. Makanan oral mulai diberikan dalam 1 atau 2 hari dan ditingkatkan sesuai toleransi bila fungsi usus sudah kembali. XI. Klasifikasi Apendik dapat dibagi atas dua bagian yaitu. a. Apendik Akut : jarang ditemui pada anak dibawah 5 tahun dan orang tua diatas 50 tahun. Apendicitis dapat dibagi atas tiga bagian : 1) Apendicitis acut focalik atau segmentalis. Terjadi pada bagian distal yang meradang seluruh rongga apendiks sepertiga distal berisi nanah. 2) Apendicitis acut purulenta diffusa. Pembentukan nanah yang berlebihan jika radangnya lebih hebat dan dapat terjadi mikrosis dan pembusukan yang disebut appendicitis gangrenous. perut dan mengakibatkan peritonitis. 3) Apendicitis acut traumatic. Disebabkan oleh karena trauma karena kecelakaan pada operasi didapatkan tampak lapisan eksudat dalam rongga maupun permukaan. b. Appendicitis kronik. Appendicitis kronik dibagi atas dua bagian antara lain : 1) Appendicitis cronik focalis. Secara mikroskopis nampak fibrosis setempat yang melingkar, sehingga dapat menyebabkan stenosis. 2) Appendicitis cronik obliterative. Terjadi fibrosis yang luas sepanjang appendiks pada jaringan sub mukosa dan sub serosa, sehingga terjadi obliterasi (hilangnya lumen) terutama dibagian distal dengan menghilangnya selaput lender pada bagian tersebut. Pada appendicitis gangrenous dapat terjadi perfulasi akibat mikrosis kedalam rongga

XII. Asuhan Keperwatan XII.1. PENGKAJIAN (Pre Operative dan Post Operative)

A. DATA DASAR Identitas pasien Nama Umur Jenis kelamin Status perkawinan Agama Suku bangsa Pendidikan Pekerjaan Alamat Diagnosa medis Sumber informasi Tanggal masuk Tanggal pengkajian : : : :: : : : : : Apendisitis : Keluarga dan pasien : : : Penanggung jawab :EE : : : : : : :

Hubungan dengan pasien

B. RIWAYAT KEPERAWATAN 1. Keluhan utama Klien mengeluh nyeri atau rasa tidak enak disekitar titik McBurney disertai anoreksia, mual, dan muntah.

2. Riwayat Penyakit Paisen datang ke RS dengan keluhan nyeri perut kanan bawah disertai muntah, nyeri ulu hati dan panas badan. Pasien menjalani OK dan dirawat di bangsal XX. 3. 4. Riwayat penyakit dahulu Riwayat kesehatan keluarga Sebelumnya pasien tidak pernah mengalami saki tapendisitis. Anggota keluarga tidak ada yang menderita penyakit tersebut.
5. Riwayat Psikososial

Psikologis pasien terganggu, karena pengaruh dari penyakit yang diderita.


6. Pola-Pola Fungsi Kesehatan (Riwayat bio-psiko-sosial-spiritual) a) Pola persepsi dan pengetahuan

Perubahan kondisi kesehatan dan gaya hidup akan mempengaruhi pengetahuan dan kemampuan dalam merawat diri.
b) Pola nutrisi dan metabolisme

Adanya mual dan muntah, penurunan nafsu makan selama sakit, Keluarga mengatakan saat masuk RS px hanya mampu menghabiskan porsi makanan, Saat pengkajian keluarga mengatakan px sedikit minum, sehingga diperlukan terapi cairan intravena.
c) Pola eliminasi

Mengkaji pola BAK dan BAB px


d) Pola aktifitas dan latihan

Pasien terganggu aktifitasnya akibat adanya kelemahan fisik, tetapi px mampu untuk duduk, berpindah, berdiri dan berjalan.
e) Pola istirahat

Px mengatakan tidak dapat tidur dengan nyenyak, pikiran kacau, terus gelisah.
f)

Pola kognitf dan perseptual (sensoris) Adanya kondisi kesehatan mempengaruhi terhadap hubungan interpersonal dan peran serta mengalami tambahan dalam menjalankan perannya selama sakit, px mampu memberikan penjelasan tentang keadaan yang dialaminya.

g) Pola persepsi dan konsep diri

Pola emosional px sedikit terganggu karena pikiran kacau dan sulit tidur.

h) Peran dan tanggung jawab Keluarga ikut berperan aktif dalam menjaga kesehatan fisik pasien.
i) Pola reproduksi dan sexual

Mengkaji perilaku dan pola seksual pada px


j) Pola penanggulangan stress

Stres timbul akibat pasien tidak efektif dalam mengatasi masalah penyakitnya, px merasakan pikirannya kacau. Keluarga px cukup perhatian selama pasien dirawat di rumah sakit.
k) Pola tata nilai dan kepercayaan

Timbulnya distres dalam spiritual pada pasien, maka pasien akan menjadi cemas dan takut, serta kebiasaan ibadahnya akan terganggu, dimana px dan keluarga percaya bahwa masalah px murni masalah medis dan menyerahkan seluruh pengobatan pada petugas kesehatan. 7. Pemeriksaan fisik a. Kesan Umum Kesadaran BB TB Warna kulit Turgor kulit b. Gejala Kardinal TD Suhu Nadi RR c. Keadaan Fisik Kepala Mata Hidung : : : ..x/menit : ..x/menit : Composmentis : x kg : x cm :Sawo matang : Elastis

Mulut dan Gigi Telinga Persyarafan Abdomen Ekstremitas Pemeriksaan penunjang

XII.2. DIAGNOSA KEPERAWATAN A. Analisa Data Sebelum Operasi No. Data Standar Normal Masalah Keperawatan

1.

DS : Mengeluh nyeri di daerah pusar menjalar ke daerah kanan bawah,menjadi lebih berat saat melakukan aktivitas. Skala nyeri 7 DO : Nyeri tekan di titik Mc Burney, wajah pasien meringis menunjukan expresi nyeri,tungkai kanan tidak dapat diluruskan , pergerakan terbatas , abdomen ditahan agar tidak nyeri

Pasien tidak mengeluh nyeri Dari 1-10 skala nyeri pasien 0-1 Pasien tampak rileks

Nyeri Akut

2.

DS : Pasien mengeluh badan demam DO : Peningkatan suhu tubuh 370c 380c,kulit teraba hangat

Suhu tubuh pasien

Hipertermia

normal, 36,50c-37,50c

3.

DS : Pasien mengeluh mual dan muntah DO: -

Pasien tidak mengeluh

Risiko pada Kekurangan Volume Cairan Ansietas

mual dan muntah


Pasien tidak cemas dan

4.

DS : Pasien mengatakan cemas,dan menanyakan hal hal yang belum diketahui. DO : Gelisah,sering bertanya tentang prosedur pembedahan.

tenang sebelum pembedahan

Setelah Operasi No. Data

Standar Normal

Masalah Keperawatan

1.

DS : Pasien mengeluh nyeri di perut kanan bawah tepatnya pada luka bekas operasi, nyeri bertambah jika pasien bergerak. Skala nyeri 5. DO : Pasien tampak meringis saat mengubah posisi

Pasien mengeluh nyeri

tidak

Nyeri Akut

Pasien tampak rileks

2.

DS

Keluarga

mengatakan

Pasien sudah flatus setelah 6 jam post operasi

Risiko Perubahan Nutrisi Kurang Tubuh dari Kebutuhan

pasien belum flatus sehingga belum boleh makan. DO : Pasien puasa sejak 2 hari yang lalu 3. DS : DO : Terdapat luka post operasi di perut kanan bagian bawah.

Tidak ada tanda-tanda infeksi

Risiko Infeksi

B. Diagnosa Keperawatan Sebelum operasi 1.


2.

Nyeri akut b.d distensi jaringan usus oleh inflamasi. Hipertermia b. d respon inflamasi Risiko pada kekurangan volume cairan b.d mual dan muntah Ansietas b.d perubahan status kesehatan.

3. 4.

Setelah operasi 1. Nyeri akut b.d adanya insisi bedah 2. Risiko perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d penurunan intake per oral

3. Risiko infeksi b.d tempat masuknya organism sekunder akibat pembedahan dan masukan parenteral. XII.3. INTERVENSI KEPERAWATAN A. Prioritas masalah : Sebelum operasi : 1. Dx 1 2. Dx 2 3. Dx 3 4. Dx 4 1. Dx 1 2. Dx 2 3. Dx 3 : Nyeri akut : Hipertermia : Risiko pada kekurangan volume cairan : Ansietas : Nyeri akut : Risiko perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh : Risiko infeksi

Setelah operasi :

B. Perencanaan Keperawatan Sebelum Operasi Hari/Tanggal Dx 1 Setelah asuhan Tujuan diberikan keperawatan persepsi pasien nyeri dengan tidak Intervensi Kaji dan catat kualitas, lokasi dan skala dengan dari (nyeri buruk). Observasi tanda-tanda vital Dengan mengobservasi TTV 0 durasi nyeri pasien (tidak paling nyeri. Gunakan Rasional Berguna pengawasan keefektifan obat,dan membedakan karakteristik Perubahan karakteristik menunjukan terjadinya abses atau peritonitis nyeri. pada nyeri dalam

selama 1 2 jam diharapkan subjektif tentang menurun, kriteria hasil : Pasien meringis -Skala nyeri 5

ada nyeri) 10

dapat tingkat

diketahui

perkembangan pasien

Ajarkan bantu pasien

dan

Meningkatkan relaksasi meningkatkan kemampuan pasien koping rasa dan

teknik relaksasi dan distraksi Bantu pasien optimal Pertahankan pasien sebelum pembedahan Kolaborasi pemberian analgetik 2 Setelah asuhan selama diharapkan akan mempertahankan suhu tubuh yang normal, dapat dilihat tanda sebagai berikut: diberikan keperawatan 1-2 jam pasien Berikan kompres hangat kolaborasi: pemberian anti piretik Pantau suhu : puasa posisi untuk

Mengurangi nyeri

kenyamanan

Menurunkan ketidaknyamanan pada peristaltic usus dini dan iritasi rasa gaster/muntah Mengurangi nyeri

Untuk pasien Dapat Untuk

mengetahui suhu membantu mengurangi pada

tubuh pasien

perubahan

mengurangi demam demam dengan aksi sentralnya hipotalamus

-suhu 37,50c -bebas

tubuh

dalam

batas normal 36,50cdari 3 Setelah asuhan selama diharapkan akan mempertahankan keseimbangan cairan yang normal, dapat dilihat tanda sebagai berikut : -bibir tiadak kering -mukosa lembab, -turgor kulit baik, tidak kering membran diberikan keperawatan 1-2 jam pasien Kontrol terhadap peningkatan suhu, peningkatan frekwensi nadi, hipotensi tiap 4 jam Auskultasi bising flastus Pasang dan dengan program medik Kontrol cairan keluar masuk dan Memberikan informasi sirkulasi kebutuhan Berikan sejumlah kecil minuman dan Menurunkan meminimalkan iritasi gaster/muntah untuk tentang dan status cairan/volume usus, dan infus pipa catat kelancaran gerakan usus Mempertahankan volume sirkulasi dan memperbaiki ketidakseimbangan Indikator kembalinya peristaltic,kesiapan untuk peroral pemasukan TTV Tanda membantu mengindentifikasi volume intravascular yang

kedinginan

lambung sesuai

lanjutkan dengan diet sesuai toleransi 4 Setelah diberi asuhan keperawatan 1-2 jam, diharapkan akan dengan evaluasi: -pasien mengungkapkan pengetahuan tentang prosedur pembedahan termasuk persiapan preoperasi dan sensasi dan perawatan operasi - mendemonstrasikan latihan dan pascaoperasi menggunakan atau periode pasien meningkatkan kriteria Kaji pemahaman pasien tentang diagnosis, prosedur bedah, ritunitas preoperasi dan program pascaoperasi Jelaskan tentang diagnosa prosedu pembedahan sesuai kebutuhan Jelaskan tentang peristiwa preoperasi Jelaskan aktivitas, latihan dan kewaspadaan pascaoperasi. Izinkan pasien kembali dan

kehilangan cairan

Mengetahui pengetahuan membuat

dasar pasien pilihan

yang memungkinkan untuk informasi yang akan diberikan

pengetahuannya

Menurunkan kecemasan

Dengan mengetahui, diharapkan menurunkan kecemasan Menurunkan kecemasan dapat

alat sebelum prosedur pembedahan pada selama pascaoperasi kedaruratan

mendemonstras ikan alat dan latihan berikut dengan cepat : -Napas dan batuk -Gerakkan naik turun tempat tidur Berikan waktu pada untuk mengajukan pertanyaan dan mengekspresika n perasaan pasien Meningkatkan proses belajar mengambil keputusan menurunkan kecemasan dan dan dari dalam latihan

Setelah Operasi

Hari/Tanggal

Dx 1 Setelah asuhan selama pasien dengan

Tujuan diberikan keperawatan 2x24 jam nyeri terkontrol kriteria

Intervensi Tentukan karakteristik dan lokasi nyeri

Rasional Untuk membedakan karakteristik khusus dari nyeri, membantu membedakan pasca operasi terjadinya komplikasi nyeri dan

diharapkan

evaluasi: -pasien tidak meringis -skala nyeri menjadi 2 -pasien tampak rileks -TTV stabil Motivasi pasien untuk mobilisasi secara bertahap Beri posisi Observasi TTV

Dapat tingkat

diketahui

perkembangan pasien Mempertahankan peredaran sehingga mempercepat penyembuhan Mengurangi nyeri Mengurangi ketegangan sehingga nyeri berkurang : Mengurangi nyeri rasa rasa yang nyaman Ajarkan teknik relaksasi distraksi Kolaborasi pemberian analgetik dan darah dapat

Setelah asuhan

diberikan keperawatan nutrisi

Pertahankan kebersihan mulut pasien

Mengurangi sensasi yang tidak sedap pada mulut

2x24 jam diharapkan kebutuhan

pasien dengan evaluasi:

adekuat kriteria -pasien tidak

dengan baik Delegatif dalam pemberian obat Kolaborasi dalam pemberian cairan parenteral Meningkatkan nafsu makan pasien Untuk pasien membantu memenuhi kebutuhan

puasa -masukan peroral adekuat -kadar albumin dalam batas normal 3 Setelah asuhan diberikan keperawatan infeksi dengan

Anjurkan keluarga untuk menjaga kebersihan luka bekas pasien operasi

Mencegah berkembangnya kuman penyakit

2x24 jam, diharapkan tanda-tanda tidak ada

kriteria evaluasi: -suhu tubuh pasien dalam batas normal (36,50-37,50) -Push (-)

Tingkatkan cuci Kaji tangan tandayang baik

Melindungi dari infeksi

pasien

Untuk infeksi

mengetahui

tanda infeksi Batasi prosedur invasive septik dalam melakukan tindakan Pantau TTV atau aseptik gunakan teknik

secara dini adanya Mencegah kontaminasi kuman pada luka operasi

Peningkatan nadi dan

suhu

tubuh

mengindikasikan terjadinya infeksi Kolaborasi pemberian antibiotik : Menghambat tumbuh kembangnya kuman

XII.4. IMPLEMENTASI Sebelum operasi Waktu,Tanggal Dx 1 Implementasi Mengkaji dan mencatat kualitas, lokasi pasien dan durasi nyeri. Menggunakan skala nyeri dengan Evaluasi respon Pasien mengatakan nyeri pada perut bagian kanan dengan nyeri 7 Mengobservasi TTV Suhu: 380c, Nadi:120x/menit , RR: 28 x/menit

Paraf

bawah skala

Ajarkan dan bantu pasien teknik relaksasi dan distraksi

Pasien dan yang

mengerti mau

melakukan seperti diinstruksikan

Pasien kooperatif Pasien kooperatif Obat alergi (-) masuk,

Membantu posisi pasien untuk kenyamanan optimal

Mempertahankan

pasien

puasa

sebelum pembedahan 2

Memberikan analgetik 380c Pasien nyaman Obat alergi (-) Suhu: 380c, masuk, merasa

Memantau suhu tubuh pasien Memberikan kompres hangat

Memberikan anti piretik

Nadi:110x/menit , RR: 25 x/menit Pasien kooperatif Keluarga kooperatif Pasien kooperatif pasien

Mengontrol TTV

Pasang infus dan pipa lambung sesuai dengan program medik

Kontrol cairan keluar dan masuk

Pasien kooperatif

Berikan sejumlah kecil minuman dan lanjutkan dengan diet sesuai toleransi Pasien mengerti

tentang prosedur

Mengkaji tentang

pemahaman diagnosis,

pasien prosedur

yang dijelaskan Pasien dan mengerti dapat

bedah, ritunitas preoperasi dan program pascaoperasi

mengulang yang telah dijelaskan Pasien kooperatif dan dapat mengulang yang telah dijelaskan

Jelaskan tentang diagnosa dan prosedur kebutuhan pembedahan sesuai

Jelaskan preoperasi

tentang

peristiwa

Jelaskan aktivitas, latihan dan kewaspadaan Izinkan pasien mendemonstrasikan pascaoperasi. kembali alat dan

Pasien

bertanya

dan tidak cemas

latihan berikut dengan cepat : -Napas dalam dan latihan batuk -Gerakkan naik turun dari tempat tidur Berikan waktu pada pasien untuk mengajukan pertanyaan dan mengekspresikan perasaan

Setelah operasi Waktu,Tanggal Dx 1 Implementasi Menentukan lokasi nyeri karakteristik dan Evaluasi respon Pasien mengatakan nyeri pada luka bekas operasi,skala nyeri 5 Mengobservasi TTV Suhu: 370c, Nadi:110x/menit , RR: 25 x/menit Motivasi pasien untuk mobilisasi secara bertahap Pasien dan yang diinstruksikan Memberikan posisi yang nyaman Ajarkan distraksi teknik relaksasi dan Pasien kooperatif Pasien kooperatif dan mau melakukan seperti mengerti mau Paraf

melakukan seperti

yang diinstruksikan Memberikan analgetik Obat alergi (-) 2 Mempertahankan kebersihan Pasien keluarga kooperatif Memberikan cairan parenteral Pasien kooperatif dan masuk,

mulut pasien dengan baik

Menganjurkan operasi pasien

keluarga

untuk

Keluarga kooperatif

pasien

menjaga kebersihan luka bekas Mencuci tangan sebelum

melakukan tindakan Mengkaji tanda-tanda infeksi Tidak ada tandatanda infeksi, pus (-) Membatasi prosedur invasive dan menggunakan aseptik tindakan Memantau TTV Suhu: 370c, Nadi:100x/menit , RR: 20 x/menit Memberikan antibiotik Obat alergi (-) masuk, teknik septik dalam melakukan Keluarga pasien ikut memahami

XII.5. EVALUASI Sebelum operasi Hari/Tanggal Dx 1 S Evaluasi : Pasien mengatakan nyerinya berkurang, skala menjadi 5 Paraf

O : Skala nyeri 1-10 telah diberikan A : Tujuan tercapai P 2 S : Lanjutkan intervensi : Pasien tidak mengeluh demam lagi

O : Suhu tubuh normal, 370c A : Tujuan tercapai, masalah teratasi P 3 S : Pertahankan kondisi pasien :-

O : Sudah terpasang infuse A : Tujuan tercapai, masalah teratasi P : Perhatikan kondisi infuse

: Pasien mengatakan tidak cemas lagi

O : Pasien dapat menjelaskan prosedur pascaoperasi yang diberikan A : Tujuan tercapai, masalah teratasi P : Pertahankan kondisi pasien

Setelah operasi Hari/Tanggal Dx 1 S Evaluasi : Pasien tidak mengeluhkan nyeri lagi Paraf

O : Skala nyeri 1-10 telah diberikan A : Tujuan tercapai, masalah teratasi P 2 S : Pertahankan kondisi pasien :-

O : Pasien mampu menghabiskan makanan porsi dari makanan yang diberikan A : Tujuan tercapai, masalah teratasi P 3 S : Pertahankan kondisi pasien :-

O : Tidak terdapat tanda-tanda infeksi A : Tujuan tercapai, masalah teratasi P : pertahankan kondisi pasien

DAFTAR PUSTAKA

1.

Price, SA, Wilson,LM. (1994). Patofisiologi Proses-Proses Penyakit, Smeltzer, Bare (1997). Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Swearingen. (1996). Keperawatan Medikal Bedah. Edisi 2. K\Jakarta. http://www.foxitsoftware.com For evaluation only.

Buku Pertama. Edisi 4. Jakarta. EGC


2.

Edisi 8. Volume 2. Jakarta, EGC


3.

EGC 4.
5.

Carpenito Lynda Juall .(2001) Buku Saku Diagnosa Keperawatan ,Edisi 8. Jakarta. EGC Martha&Kelly. (2010). Diagnosa Keperawatan Nanda, Yogyakarta. Digna Pustaka

6.