Dari Internasionalisme Ke Globalisasi Eko Bimo Koesprabowo – 071045017

Globalization and The Fringes: Rapping Across Language And Other Borders

Globalisasi, pada suatu keadaan, beserta yang berkembang bersamanya seakan meminggirkan masyarakat bahkan budaya yang sebelumnya telah ada. Berkembang bersama globalisasi adalah medernitas dan kemajuan teknologi yang terkadang tak dapat dijangkau hingga ke masyarakat yang jauh dari kota. Tampak, terutama di negara berkembang yang lebih memerhatikan pertumbuhan ekonomi ketimbang pemerataan. Orang pinggiran, atau orang yang terpinggirkan bukan hanya oleh lokasi namun juga oleh sistem tidak dapat menikmati yang dianggap baik oleh beberapa pihak (pasar, kapitalis, modernis) tentang globalisasi. Diawali dengan pembahasan tentang fringe dan sedikit ulasan tentang globalisasi, kemudian berusaha menjawab beberapa pertanyaan. Pertama, bagaimanakah dampak globlisasi bagi kelompok masyarakat 'pinggiran'? Kedua, apakah mereka diuntungkan atau dirugikan di tengah persaingan global? Dan ketiga, survival strategy apakah yang dilakukan oleh kelompok-kelompok ini? Contoh kasus yang diambil adalah budaya jawa di Jogjakarta dan upaya memadukan budaya lokal dengan budaya urban Amerika lewat musik Hiphop oleh komunitas Jogja Hiphop Foundation. Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan, lebih banyak didasarkan pada pengalaman ketika tinggal di wilayah contoh kasus1 dipadukan dengan studi pustaka dan informasi di berbagai media. Globalization and the Fringes The benefits of globalization are not equally distributed and tend to be concentrated among a relatively small number of countries, particularly the more advanced ones.2 Sekaligus menjawab pertanyaan pertama, keadaan di Jogjakarta, selanjutnya disebut sebagai
1 Penulis sering kali mengunjungi Jogja dan pernah bekerja di Jogjakarta tahun 2008-2009. Selama bekerja, penulis tinggal di kawasan sub-urban sekitar kampus UGM dan UNY dan sering ‘blusukan’ jika sempat, sekedar ingin tahu tentang kehidupan sekitar. 2 Streeten, Paul. 2001. Globalization: Threat or Opportunity? Copenhagen Business School Press. Page 30, dalam BLSW. Wardani, materi ajar Dari Internasionalisme Ke Globalisasi, 17 November 2011.

yang sebenarnya juga merupakan wujud atau upaya untuk menunjukkan identitas dan pandangan berbeda mengenai kondisi populer. Musik hiphop. juga globalisasi. menyadari tentang memadukan musik hiphop. Dalam album itu. mulai terpinggirkan oleh modernitas. ketika musik rap pertama diperkenalkan di awal tahun 1990an oleh Iwa K. wayang orang dan lain sebagainya. G-Tribe adalah salah satu grup musik rap dari Jogja yang mengawali cross-culture. akibat kekuasaan yang ada tidak mampu memeratakan kemajuan yang ada. Musik hiphop adalah salah satunya. bahkan internet masuk desa. Tidak hanya itu. Dab. namun mengena karena memang pengakses terbanyak adalah remaja. sengaja maupun tidak. yang berasal dari berbagai daerah. Meski dapat diperdebatkan mengenai bagaimana musik hiphop lahir. Tinggal orang-orang tua saja yang tidak mampu mengakses teknologi informasi karena keterbatasan pendidikan mereka. telefon. Meski hanya dapat diakses oleh sebagian masyarakat. lewat modernitasnya. Dari judul . Budaya menjadi korban dan meminggirkan para pekerja seni yang sebenarnya berupaya untuk mempertahankan keberadaan budaya sebagai identitas diri. yang masih mempertahankan nilai-nilai tradisi dan budaya lokal yang tidak terakses oleh modernitas. Di Jogja sendiri mulai terjadi penggeseran ketika mulai banyak masuk pendatang utamanya pelajar. gamelan. utamanya rap dengan menggunakan bahasa jawa. sejak listrik. Muncul pertama di era kompilasi musik rap. sedikit demi sedikit mulai mengeser musik lokal. Jogja selain dikenal sebagai kota budaya juga sebagai kota pelajar. di pinggiran kota atau malah lebih parah masyarakat pedesaan. Disisi inilah bagaimana globalisasi. Namun semenjak televisi mulai dapat diakses di pedesaan. Melalui media televisi (MTV dan acara lainnya) yang banyak menampilkan kemajuan jaman dan memperlihatkan apa-apa yang sedang terjadi dan menjadi tren di dunia. Kemajuan teknologi juga turut berperan ketika budaya urban barat (Amerika Serikat) ikut masuk bersamaan dengan arus informasi yang masuk. dengan kreatifitasnya. dan berbagai genre musik lainnya. para remaja mulai meninggalkannya. sebagian remaja di sub-urban kota jogja yang menyukai musik hiphop. namun juga masyarakatnya. pemikiran-pemikiranpun juga ikut dipinggirkan. Pesta Rap I. dan kebanyakan daerah lain di Indonesia. Disaat yang bersamaan.Jogja. Negara berfokus pada pencapaian pertumbuhan ekonomi dan mulai mengesampingkan identitas diri sebagai bangsa. Hanya sebagian kecil saja yang masih menjaga tradisi dan berbagai bentuk budaya lokal seperti gamelan. wayang kulit. G-Tribe menampilkan lagu andalannya yang berjudul Watch Out. Yang tersisa hanyalah sebagian masyarakat sub-urban. mulai menggeser tidak hanya budayanya.

Yang membedakan antara Jogja Hiphop Foundation. Mereka menyukai musik hiphop. tak peduli lingkungan tanpa toleransi.Dari Internasionalisme Ke Globalisasi Eko Bimo Koesprabowo – 071045017 sudah menunjukkan perpaduan budaya. mengapa tidak memadukannya saja. Di lain pihak. sementara dab merupakan bahasa slang lokal Jogja yang berarti mas (kakak. saudara dalam bahasa inggris). serta Ngelmu Pring karya Sindhunata. begitu mereka menamakan diri mereka. hidup tanpa pikir panjang. pendiri dan penggagas Jogja Hiphop Foundation. menghormati yang lebih tua bahkan orang tuanya sendiri. setidaknya sub-culture. tidak lagi peduli dengan tradisi unggahungguh. sebagai wadah berekspresi dikalangan komunitas mereka. mereka juga terpikat oleh perkembangan modern. muncul kembali sekumpulan remaja yang mencoba menghidupkan kembali. Kesadaran mereka telah mencapai titik bahwa. yang didirikan pada tahun 2003. Jogja Hiphop Foundation. Sementara G-Tribe hanya menggunakan bahasa jawa tanpa ada unsur etnis lokal pada musik mereka. Memulai perjalanan dari panggung ke panggung dengan uang mereka sendiri. Musik rap sempat tenggelam di Indonesia terimbas oleh industri musik yang berpihak kepada pasar. Liriknya sederhana namun berisi kritik sosial tentang perilaku remaja yang sesuka hati. tidak hanya lirik bahasa jawa namun juga memasukkan unsur etnik dalam musik mereka. dan globalisasi termasuk kemajuan teknologi dan sub-culture hiphop. Dan yang istimewa. harus ada tindakan jika tidak ingin budaya Jogja menghilang begitu saja. dengan G-Tribe yang telah ada satu dekade sebelumnya adalah it's rappin' in javanese language with hip-hop beat combined with some javanese instruments sound of gamelan. melalui musik rap dengan bahasa jawa. bahkan . namun juga tradisi dan budaya yang telah makin terpinggirkan. tidak hanya rap jawa. mereka juga menggunakan puisi-puisi dari kitab satra jawa kuna yang dinyanyikan dengan cara nge-rap seperti Sinom 231 dan lingsir wengi yang diambil dari Serat Centhini. Watch Out dalam bahasa inggris berarti waspada juga hati-hati. Lalu. begitu kata Marzuki Mohammad aka Kill the DJ. Jogja Hiphop Foundation dianggap sebagai pioneer hiphop jawa di era abad ke-21 dengan tingkatan yang lebih tinggi. dan mereka tidak ingin kehilangan nilai-nilai budaya yang telah melekat pada diri mereka sebagai origin dan identitas mereka. Namun sekitar satu dekade kemudian ketika teknologi informasi tidak lagi menjadi hal yang sulit diakses. bahasa jawa) atau dalam bahasa slang bro (brother.

co. bahkan hingga kemanca negara. atau hanya bagi sebagian saja. entah karena memang ada di posisi tersebut maupun yang terdorong kepinggir. yang mampu atau dapat mengaksesnya. rapping across language and other borders. Jogja Hiphop Foundation memperkenalkan musik mereka kepada masyarakat dari kampung ke kampung dan menyatakan bahwa. sekaligus menjadi materi dalam iklan komersial produk CPU intel core i5. Jogja Hiphop Foundation mulai dikenal luas ketika pada suatu ketika Kill the DJ hadir sebagai bintang tamu dan diinterview di Kick Andy. MetroTV.4 Dan puncaknya ketika mendapat bantuan sponsor dari Intel Computer. Bahkan diliput dalam The Rolling Stones Indonesia. Di Jogjakarta. para muda yang tinggal di sekitar sub-urban mulai menyadari bahwa tradisi dan budaya yang mereka miliki makin tergerus oleh perkembangan jaman.co. mereka juga ikut menikmati dan menyukai dengan apa yang disajikan globalisasi.diorganisir oleh mereka sendiri.id/read/2011/04/11/170746/1613813/1093/jogja-hip-hop-foundation-akan-tur-di-ibukota-australia-canberra . Pihak intel dalam iklan tersebut menampilkan cuplikan perjalanan Jogja Hiphop Foundation dan kegunaan teknologi informasi dan segala kemudahannya dalam membantu proses pembuatan lagu maupun video.nefa. inilah hal terkecil yang setidaknya bisa mereka lakukan bagi masyarakat dalam upayanya memperjuangkan dan mempertahankan budaya dari kepunahan. apakah kesempatan itu berlaku bagi semua pihak. Mereka memutuskan untuk bertindak dan melakukan sesuatu untuk mempertahankan identitas mereka. tidak semua pihak dapat menikmati keunggulan globalisasi. sebuah majalah lifestyle edisi Indonesia. ternyata tidak mampu mengakses globalisasi dan membuat mereka melakukan sesuatu yang tidak hanya untuk menunjukkan identitasnya namun juga untuk menunjukkan eksistensi mereka. New England Foundation For The Arts (NEFA) bahkan menyebut mereka sebagai Indonesia’s foremost crew stands in the cultural cross-hairs. Hanya permasalahannya. sebuah talkshow di stasiun berita nasional. Disaat yang sama dengan upaya mewujudkan pertumbuhan ekonomi yang tinggi ternyata tidak diikuti oleh pemerataan dan hasilnya. Conclusion Globalisasi di satu sisi memang menjanjikan kesempatan yang sangat terbuka bagi siapa saja.org/grant_services/jogja_hip_hop_foundation . Utamanya musik hiphop sebagai sub-culture barat yang berkembang di Amerika 3 http://rollingstone. Jogja Hiphop Foundation mulai mendapat banyak sorotan dari berbagai media. http://rollingstone. Pihak yang berada di pinggiran. Di lain pihak.id/read/2011/05/08/143509/1634897/1093/jogja-hip-hopfoundation-akan-tampil-eksklusif-di-new-york-city 4 http://www.3 Tidak hanya dalam negeri.

Watch Out Dab. . selama bisa mengakses globalisasi. namun juga memasukkan unsur budaya jawa lainnya seperti musik gamelan dan bahkan puisi-puisi dari kitab sastra jawa kuna. globalisasi bisa saja merugikan. yah. dalam term teknologi tentunya. So. Meski mungkin perlu ada beberapa hal yang bisa saja menjadi korban seperti desakralisasi atau komodifikasi budaya dan. Jogja Hiphop Foundation membawa ke tingkatan yang lebih tinggi dengan tidak hanya musik hiphop berbahasa jawa saja. Dan skitar satu dekade kemudian. menjadi hiphop jawa. maka bisa menjadi keuntungan dalam mempertahankan eksistensi dan identitasnya. dengan musik hiphop. Dalam hal budaya. yang menjadi bahasa lokal Jogjakarta. dalam contoh Jogja Hiphop Foundation adalah memadukan budaya asli dengan budaya baru. Bahkan bagi mereka yang dapat mengakses juga dapat merugikan jika tidak mampu menyadari keuntungan yang sebenarnya telah mereka miliki. G-Tribe mengawalinya di awal tahun 1990an dengan rap berbahasa jawa. Lalu mengapa tidak mengkombinasikannya. Perlu adanya kesadaran intelektual untuk memanfaatkan globalisasi dan membaliknya dari keadaan merugikan menjadi suatu keuntungan. budaya dan bahasa jawa. bagi mereka yang tidak mampu mengaksesnya.Dari Internasionalisme Ke Globalisasi Eko Bimo Koesprabowo – 071045017 Serikat.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful