LAPORAN ASUHAN KEPERAWATAN PADA AN. A DENGAN PNEUMONIA DI RUANG PICU RSUP DR.

SARDJITO

Disusun Oleh: YULIASIH 07/254189/KU/12427

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS GADJAH MADA YOGYAKARTA 2011

PNEUMONIA PADA ANAK

Definisi Pneumonia adalah salah satu penyakit infeksi saluran pernafasan bagian bawah. Pada penyakit infeksi saluran pernafasan akut, sekitar 15-20% ditemukan pneumonia ini. Pneumonia didefinisikan sebagai penyakit infeksi dengan gejala batuk dan disertai dengan sesak nafas (WHO, 1989). Definisi lainnya adalah pneumonia merupakan suatu sindrom (kelainan) yang disebabkan agen infeksius seperti virus, bakteri, mycoplasma (fungi), dan aspirasi substansi asing, berupa radang paru-paru yang disertai eksudasi dan konsolidasi. Pneumonia aspirasi merupakan peradangan yang mengenai parenkim paru, distal dari bronkiolus terminalis yang mencakup bronkiolus respiratorius, dan alveoli, serta menimbulkan konsolidasi jaringan paru dan gangguan pertukaran gas setempat.yang disebabkan oleh aspirasi benda asing baik yang bersal dalam tubuh maupun di luar tubuh penderita. Pemeriksaan histologis terdapat pneumonitis atau reaksi inflamasi berupa alveolitis dan pengumpulan eksudat yang dapat ditimbulkan oleh berbagai penyebab dan berlangsung dalam jangka waktu yang bervariasi. Terdapat 3 macam penyebab sindroma lambung yang menyebabkan pneumonia aspirasi, yaitu aspirasi asam

pneumonia kimiawi, aspirasi bakteri dari oral dan

oropharingeal menyebabkan pneumonia bakterial, Aspirasi minyak, seperti mineral oil atau vegetable oil dapat menyebabkan exogenous lipoid pneumonia. Apirasi benda asing

merupakan kegawatdaruratan paru dan pada beberapa kasus merupakan faktor predisposisi pneumonia bakterial. Patofisiologi Jalan nafas secara normal steril dari benda asingdari area sublaringeal sampai unit paru paling ujung. Paru dilindungi dari infeksi bakteri dengan beberapa mekanisme: 1. Filtrasi partikel dari hidung. 2. Pencegahan aspirasi oleh reflek epiglottal. 3. Penyingkiran material yang teraspirasi dengan reflek bersin. 4. Penyergapan dan penyingkiran organisme oleh sekresi mukus dan sel siliaris. 5. Pencernaan dan pembunuhan bakteri oleh makrofag. 6. Netralisasi bakteri oleh substansi imunitas lokal. 7. Pengangkutan partikel dari paru oleh drainage limpatik.

Infeksi pulmonal bisa terjadi karena terganggunya salah satu mekanisme pertahanan dan organisme dapat mencapai traktus respiratorius terbawah melalui aspirasi maupun rute hematologi. Ketika patogen mencapai akhir bronkiolus maka terjadi penumpahan dari cairan edema ke alveoli, diikuti leukosit dalam jumlah besar. Kemudian makrofag bergerak mematikan sel dan bakterial debris. Sisten limpatik mampu mencapai bakteri sampai darah atau pleura viseral. Jaringan paru menjadi terkonsolidasi. Kapasitas vital dan pemenuhan paru menurun dan aliran darah menjadi terkonsolidasi, area yang tidak terventilasi menjadi fisiologis rightto-left shunt dengan ventilasi perfusi yang tidak pas dan menghasilkan hipoksia. Kerja jantung menjadi meningkat karena penurunan saturasi oksigen dan hiperkapnia.

Klasifikasi Secara klinis, pneumonia dapat terjadi baik sebagai penyakit primer maupun sebagai komplikasi dari beberapa penyakit lain. Secara morfologis pneumonia dikenal sebagai berikut: 1. Pneumonia lobaris, melibatkan seluruh atau satu bagian besar dari satu atau lebih lobus paru. Bila kedua paru terkena, maka dikenal sebagai pneumonia bilateral atau “ganda”. 2. Bronkopneumonia, terjadi pada ujung akhir bronkiolus, yang tersumbat oleh eksudat mukopurulen untuk membentuk bercak konsolidasi dalam lobus yang berada didekatnya, disebut juga pneumonia loburalis. 3. Pneumonia interstisial, proses inflamasi yang terjadi di dalalm dinding alveolar (interstisium) dan jaringan peribronkial serta interlobular. Pneumonia lebih sering diklasifikasikan berdasarkan agen penyebabnya, virus, atipikal (mukoplasma), bakteri, atau aspirasi substansi asing. Pneumonia jarang terjadi yang mingkin terjadi karena histomikosis, kokidiomikosis, dan jamur lain. 1. Pneumonia virus, lebih sering terjadi dibandingkan pneumonia bakterial. Terlihat pada anak dari semua kelompok umur, sering dikaitkan dengan ISPA virus, dan jumlah RSV untuk persentase terbesar. Dapat akut atau berat. Gejalanya bervariasi, dari ringan seperti demam ringan, batuk sedikit, dan malaise. Berat dapat berupa demam tinggi, batuk parah, prostasi. Batuk biasanya bersifat tidak produktif pada awal penyakit. Sedikit mengi atau krekels terdengar auskultasi.

meliputi pneumokokus. Paling sering terjadi pada usia 6 bulan – 3 tahun dengan suhu mencapai 39.5 bahkan dengan infeksi ringan. pneumonia dapat diklasifikasikan: 1. Krekels krepitasi halus di berbagai area paru. bila ada tarikan kuat dinding dada bagian bawah atau nafas cepat yaitu frekuensi nafas 60 x/menit atau lebih. Tanda dan gejala 1. Pneumonia. nyeri dapat menyebar ke abdomen. meningismus. malaise. ditandai secara klinis oleh sesak nafas yang dilihat dengan adanya tarikan dinding dada bagian bawah. menggigil. tetapi tanpa terikan dinding dada bagian bawah dan tanpa adanya nafas cepat. anoreksia. 2. Bukan pneumonia. Pneumonia atipikal. ditandai secara klinis oleh batuk pilek biasa dapat disertai dengan demam. dan pada usia 1-5 tahun 40 x/menit atau lebih. dan pneumonia streptokokus. Pneumonia bakterial. Awitannya tiba-tiba. 3. keras. sakit kepala. b. toksik. batuk kering. lebih menonjol di tempat dengan konsidi hidup yang padat penduduk. biasanya didahului dengan infeksi virus. Pneumonia berat.5 – 40. b. Usia 0 – 2 bulan a. malaise. Pada awalnya batuk bersifat tidak produktif. Usia 2 bulan – 5 tahun a. c. bila tidak ada tarikan kuat dinding dada bagian bawah dan tidak ada nafas cepat. terjadi terutama di musim gugur dan musim dingin. Yang diikuti dengan rinitis. Bukan pneumonia. mikro-organisme individual menghasilkan gambaran klinis yang berbeda. mialgia. sakit tenggorokan. batuk. ditandai secar aklinis oleh adanya nafas cepat yaitu pada usia 2 bulan – 1 tahun frekuensi nafas 50 x/menit atau lebih.2. Mungkin tiba-tiba atau berat. nyeri dada sering diperberat dengan nafas dalam. Pneumonia berat. mengigil (pada anak yang lebih besar). sampai mukopurulen atau bercak darah. tampilan menderita sakit yang akut . . demam. stafilokokus. manifestasi klinis berbeda dari tipe pneumonia lain. sering tampak sebagai tanda infeksi yang pertama. Demam. Berdasarkan usaha terhadap pemberantasan pneumonia melalui usia. Gejala sistemik umum seperti demam. kemudian bersputum seromukoid. agen etiologinya adalah mikoplasma. pernafasan cepat dan dangkal.

ASI merupakan makanan paling . Sumbatan nasal. tetapi dapat menetap selama sakit. Faktor risiko pneumonia pada anak 1. Status gizi buruk. Dapat menjadi bukti hanya selama faase akut. Seringkali merupakan bukti awal dari penyakit. mengi. pasase nasal kecil dari bayi mudah tersumbat oleh pembengkakan mukosa dan eksudasi. Diare. 11. diare sementara tetapi dapat menjadi berat. 8. BB/TB. 10. merupakan gambarab umum dari penyakit pernafasan. 4. Status gizi yang buruk dapat menurunkan pertahanan tubuh baik sistemik maupun lokal juga dapat mengurangi efektifitas barier dari epitel serta respon imun dan reflek batuk. anak kecil mudah muntah bersamaan dengan penyakit yang merupakan petunjuk untuk awitan infeksi. Nyeri abdomen. bergantung pad tipe dan atau tahap infeksi. merupakan keluhan umum. merupakan hal yang umum yang disertai dengan penyakit masa kanak-kanak. anak yang tidak mendapat ASI yang cukup sejak lahir ( kurang 4 bulan) mempunyai risiko lebih besar terkena pneumonia. Auskultasi terdengar mengi. seperti batuk. Khususnya karena virus. 3. mengorok. dan akan berkurang saat suhu turun. dapat mempengaruhi pernafasan dan menyusu pada bayi. Batuk. Sering menyertai infeksi pernafasan. Status ASI buruk. 9. Muntah. 2. 6. Terjadi dengan awitan demam yang tiba-tiba dengan disertai sakit kepala. Meningismus. adanya tanda kernig dan brudzinski. Menetap sampai derajat yang lebih besar atau lebih sedikit melalui tahap demam dari penyakit. 2. Keluaran nasal.Mungkin malas dan peka rangsang atau terkadang eoforia dan lebih aktif dari normal. Kadang tidak bisa dibedakan dari nyeri apendiksitis. 5. Mungkin encer dan sedikit (rinorea) atau kental dan purulen. Biasanya berlangssung singkat. krekels. menempati urutan pertamam pada risiko pneumonia pada anak balita. Ditandai dengan anak akan menolak untuk minum dan makan per oral. biasanya ringan. Bunyi pernafasan. 7. yaitu tanda-tanda meningeal tanpa infeksi meninges. dengan tiga kriteria antopometri yaitu BB/U. Anoreksia. nyeri dan kekakuan pada punggung dan leher. Sakit tenggorokan. beberapa anak bicara dengan kecepatan yang tidak biasa. sering menyertai infeksi pernafasan. seringkali memanjang sampai ke tahap pemulihan. TB/U. merupakan keluhan yang sering terjadi pada anak yang lebih besar.

Titer antistreptolisin serum. anak dengan wheezing berulang akan sulit mengeluarkan nafas. Kepadatan penghuni rumah. 3. Kadang ditemukan anemia ringan atau berat. Riwayat imunisasi buruk atau tidak lengkap. dan mempertahankan sel-sel epitel. pemberian vitamin A pada anak berpengaruh pada sistem imun dengan cara meningkatkan imunitas nonspesifik. Wheezing terjadi karena penyempitan saluran nafas (bronkus). ada hubungan bermakna antara tingkat penghasilan keluarg dengan pendidikan orang tua terhadap kejadian pneumonia anak.000/mm. Leukosit. b. d. Riwayat BBLR. Status vitamin A. anak dengan riwayat BBLR mudah terserang penyakit infeksi karena daya tahan tubuh rendah. Leukopenia menunjukkan prognosis yang buruk. Rumah dengan penghuni banyak memudahkan terjadinya penularan penyakit dsaluran pernafasan. keadaan ini memudahkan pneumonia pada anak. Protein di atas 2. c. biologik. Vitamin A diperlukan dalam peningkatan daya tahan tubuh. 8. 5. Pemberian imunisasi campak menurunkan kasusu pneumonia. Status sosial ekonomi. produksi sekresi mukosa. 7. disamping untuk kesehatan mata. Riwayat wheezing berulang. pada infeksi streptokokus meningkat dan dapat menyokong diagnosa. pertahanan integritas fisik. 4. dan jaringan epitel. sehingga anak rentan terhadap penyakit infeksi termasuk pneumonia. dan vitamin untuk pertumbuhan bayi. Demikian pula imunisasi DPT dapat menurunkan kasus pneumonia karena Difteri dan Pertusis dapat menimbulkan komplikasi pneumonia. rumah dengan penghuni yang padat meningkatkan risiko pneumonia dibanding dengan penghuni sedikit. Pemeriksaan penunjang 1. Cairan pleura. dan penyempitan ini disebabkan karena adanya infeksi. umumnya pneumonia bakteri didapatkan leukositosis dengan predominan polimorfonuklear. Secara biologis dan kejadian infeksi berulang ini menyebabkan terjadinya destruksi paru. 6. kalori. Pemeriksaan laboratorium a. eksudat dengan sel polimorfonuklear 300-100. khususnya imunisasi campak dan DPT.penting bagi bayi karena ASI mengandung protein.5 g/dl dan glukosa relatif lebih rendah dari glukosa darah. karena sebagian besar penyakit campak menyebabkan komplikasi dengan pneumonia. ASI mengandung kekebalan penyakit infeksi terutama pneumonia. .

Tekniknya antara lain: Conunter Immunoe Lectrophorosis. aspirasi trachea fungsi pleura.v 50-60% sesuai kebutuhan.2. Spesimen: darah atau urin. Berikan cairan i. Sering disertai efudi pleura yang berat. b. latex agglutination. 3. sekresi nasofaring. 4. Sebagai upaya untuk mendiagnosis dengan cepat b. Bayi dan anak-anak gambaran konsolidasi lobus jarang ditemukan. Disstres respirasi diatasi dengan oksidasi. Terapi 1. Pneumonia pneumokokus: gambaran radiologiknya bervariasi dari infiltrasi ringan sampai bercak-bercak konsolidasi merata (bronkopneumonia) kedua lapangan paru atau konsolidasi pada satu lobus (pneumonia lobaris). c. c. cairan pleura atau aspirasi paru. < 20% mengenai kedua paru. Pneumonia streptokokus. gambaran radiologiknya tidak khas pada permulaan penyakit. Mendeteksi baik antigen maupun antigen spesifik terhadap kuman penyebab. 5. kemudian memadat dan mengenai keseluruhan lobus atau hemithoraks. Setelah hidrasi cukup. a. atau latex coagulation.v sekaligus antibiotika bila oral tidak memungkinkan. Perhatikan hidrasi. gambaran radiologis berbeda-beda untuk tiap mikroorganisme penyebab pneumonia. d. spesimen: usap tenggorok. Infiltrat mula=mula berupa bercak-bercak. Diagnosa definitif jika kuman ditemukan dari darah. Pemeriksaan mikrobiologik a. turunkan ccairan i. kadang terdapat adenopati hilus. 6. ELISA. aspirasi paru. Pengobatan antibiotik: . Pemeriksaan radiologis. 3. bilasan bronkus atau sputum darah. b. Pneumonia stapilokokus. Perpadatan hemithoraks umumhya penekanan (65%). Perhatikan volume cairan agar tidak ada kelebihan cairan karena seleksi ADH juga akan berlebihan. 2. Pemeriksaan imunologis a. 4. gambagan radiologik menunjukkan bronkopneumonia difus atau infiltrate interstisialis. konsentrasi tergantung dengan keadaan klinis pengukuran pulse oksimetri.

d proses inflamasi 6. d. Punya aktivitas 10 kali erirtomisin terhadap C. Pola nafas tidak efektif b. 5. Cemas b. peningkatan sekresi.000 V/kali/hari atau amphisilin 1000 mg/kgBB/hari .d adanya organisme infektif. ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen. Nyeri b. misal sefatoksim. inflamasi. Untuk yang resisten terhadap ampisillin.d obstruksi mekanis. pneumonie in vitro dan mempenetrasi jaringan lebih baik. Biasanya penisilin S IV 50. Pneumoniae. Aeruginosa umumnya resisten terhadap ampisillin dan derivatnya. Influensa.d proses inflamasi 2. 3. Lama terapi 7 – 10 hari untuk kasus yang tidak terjadi komplikasi. 7. Amoksisillin atau amoksisillin plus ampisillin. Klebsiella. b. Bersihan jalan nafas tidak efektif b. Klaritromisin.d kesulitan bernafas.d proses inflamasi. P. 4.000 unit/kg/hari atau penisilil prokain i.m 600. e. Untuk pneumonia karena M. Kombinasi flukosasillin dan gentamisin atau sefalospirin generasi ketiga. c.a. Dapat diberi kloramfenikol 100 mg/kgBB/hari aatu sefalosporin. Dosis 2 kali sehari meningkatkan compliance dan efficacy. . Diagnosa keperawatan yang mungkin muncul 1. H. nyeri. Golongan makrolit seperti eritromisin atau roksittromisin. Kloramfenikol atau sefalosporin.d penyakit dan atau hospitalisasi anak. Risiko tinggi infeksi b. f. Penisillin dan derivatnya. Intoleransi aktivitas b. Roksitromisin mempenetrasi jaringan lebih baik dengan rasio konsentrasi antibiotik di jaringan dibanding plasma lebih tinggi. Perubahan proses keluarga b. prosedur dan lingkungan yang tidak dikenal (rumah sakit).

dapat ventilasi. tidur dengan penjadualan NIC: Mechanical yang tepat. anak istirahat dan tidur dengan tenang. meningkatkan tentang pengetahuan teknik meningkatkan kepatenan jalan nafas. gedong respiratory status: ketat. anak sedikitnya 30 terbuka jalan nafas.  Hisap sekresi jalan nafas sesuai kebutuhan. pernafasan tidak sulit.  Untuk untuk  Pakaian menghindari pernafasan tetap dalam batas normal. Kriteria hasil: jalan kesejajaran tubuh yang tepat. menghambat perkembangan nafas. pakaian yang atau  Untuk terlalu  Relaksasi meningkatkan keadekuatan oksigen.  Pendidikan dapat kesehatan ventilatory weaning. anak bernafas dengan aspirasi sekresi. Status vital  Tingkatkan istirahat dan sign. .  Bantu anak pertukaran mencegah nafas tetap bersih. dalam serta paru baik yang dan mempertahankan jalan nafas paten. Perpiratory:  Hindari airways patency. Kriteria hasil: Tujuan Intervensi Rasional  Mengurangi stres pada anak dan anak dapat beristirahat menunjukkan  Beri posisi yang nyaman pernafasan  Posisikan untuk ventilasi yang maksimum (pertahankan peninggian  Untuk mempertahankan kepala derajat)  Periksa dengan posisi sering. pemberian posisi yang tepat). NOC: penekanan diafragma. 2 Klien dapar  Posisikan anak pada  Memungkinkan ekspansi lebih perbaikan gas.  Ajarkan pada anak dan keluarga tindakan mempermudah pernafasan tentang yang upaya (misal: mengurangi kecemasan.  Dorong teknik relaksasi. yang ketat memastikan bahwa anak tidak merosot.Rencana asuhan keperawatan No Dx 1 Klien fungsi normal.

Kriteria hasil: anak energi yang anak. pengalihan yang sesuai  Untuk mencegah anak dengan usia. kemampuan.  Beri ekspektoran sesuai ketentuan. NIC: suctioning hipersekresi. . dan minat anak.  Fisioterapi membantu mengeluarkan sputum  Untuk aspirasi mencegah cairan (pada dada menahan atau membebat area insisi atau cedera dengan takipnea hebat).  Bantu anak dalam mengencerkan dahak sehingga sputum dapat dikeluarkan. NOC: Status respirasi: kepatenan jalan nafas. fisioterapi  Sputum yang keluar akan mengurangi efek hambatan jalan nafas.  Untuk memaksimalkan efek Klien mempertahankan  Kaji tingkat adekuat.mudah.  Pengurangan nyeri mengurangi kebutuhan oksigen. NOC: endurance NIC: energi. dan untuk stimulasi tumbuh kembang.  Berikan penatalaksanaan  Ekspektoran obat untuk nyeri yang tepat. airways  Puasakan anak.  Lakukan dada. dari rasa bosan. kondisi.  Berikan aktivitas penggunaan yang berlebihan. 3 tingkat toleransi  Tujuannya agar aktivitas anak sesuai dengan kemampuannya. Menejemen mungkin  Agar melebihi toleransi.  Bantu anak dalam batuk dan fisioterapi dada. tidak terjadi energi aktivitas hidup seharihari yang mentoleransi peningkatan aktivitas. pernafasan mengeluarkan sputum.  Untuk jalan membersihkan nafas akibat dalam batas normal.

oleh  Rencanakan memberikan analgesik  Maksudnya agar efek . Ajarkan fisioterapi dada yang baik. Kriteria hasil: anak bukti gejala  infeksi nosokomial. dan distraksi dapat membuat nyeri dapat lebih ditoleransi. untuk anak relaksasi. nafas dalam.  keseimbangan oksigenasi mengurangi oksigen berlebihan. untuk sesuai kesukaan anak dan kemauan mengkonsumsi nutrisi. Beri periode istirahat dan  Untuk tidur yang sesuai dengan usia dan kondisi. menunjukkan penurunan infeksi.  perlindungan Beri antibiotik sesuai  ketentuan. anak sesuai  Untuk mencegah atau mengatasi infeksi. NIC: Kontrol infeksi  dan infeksi.  Instruksikan anak untuk beristirahat jika lelah. menggunakan penghisap dengan kateter potensial terjadi komplikasi tanda infeksi sekunder. Isolasi indikasi. teknik mencuci tangan yang baik. Berikan diit pertahanan tubuh alami. Untuk penggunaan menjaga dan konsumsi yang mencegah oksigen yang berlebihan. diterima strategi  Teknik-teknik seperti nonfarmakologis untuk membantu mengatasi nyeri. 5 Klien tidak mengalami  Lakukan nyeri atau penurunan nyeri/ketidaknyamanan sampai tingkat yang dapat anak. bergizi  Membantu mengurangi sputum yang ada di dalam dada. Untuk mendukung NOC: Risk contol dan  status imun. 4 Klien menunjukkan tidak  tanda- Pertahankan lingkungan  Mencegah aseptik. mencegah infeksi steril dan  Untuk penyebaran nosokomial.

 Bantu orangtua anak menggunakan atau minta atau sebelum lebih mungkin menjadi untuk membantu anak berfokus pada tindakan yang diperlukan. orang orang tua yang strategi beberapa biarkan salah  Karena adalah paling anaknya. nyeri  Berikan analgesik  Untuk nyeri dapat diterima dengan baik.sc. 6 Klien mengalami  Jelaskan prosedur dan  Dengan peralatan dikenal dengan sesuai yang pada istilah dengan tidak anak yang tahap pendidikan penurunan rasa cemas. Conscious Level dengan rute traumatik yang paling kecil jika mungkin. tidak mengalami nyeri atau tingkat sebelum prosedur. dan meningkatkan kemampuan koping.  Ajarkan anak mengetahui untuk  Karena pendekatan ini strategi tampak paling efektif pada nyeri ringan. Kriteria hasil: Anak tidak menunjukkan disstres atau kesehatan . Untuk memudahkan pembelajaran anak dan penggunaan toleransi nyeri. pelatihan diperlukan menggunakan nonfarmakologis khusus sebelum terjadi  Karena nyeri nyeri berat. klien akan berkurang kecemasan dan disstres emosional. menghindari tambahan. NOC: kenyamanan. satunya. membantu dengan stratei selama nyeri aktual.  Libatkan rang tua dalam pemilihan strategi. NIC: sedation.  Gunakan strategi yang  dikenal gambarkan strategi anak dan memilih anak atau Hindari injeksi i.  Ciptakan hubungan .m atau i. dapat tanda-tanda pernafasan perkembangan.Kriteria hasil: anak yang ditentukan puncaknya tepat dengan kejadian nyeri.

orangtua  dan bila keterlibatan memberikan rasa aman pada anak dan dapat menurunkan kecemasan anak.  Gunakan  Beri cara yang orangtua adalah orang yang dikenal oleh anak. dan kesehatan yang tepat bagi orangtua.  Dukungan objek (misak: membantu dapat anak untuk sering selama fase akut penyakit.  Tetap bersama anak  Memberi pada rasa aman karena anak kecemasan dan koping.  Menjadi suportif dan kehadiran yang pendekatan mendukung komunikasi. orangtua keluarga peningkatan kehadiran  Khadiran orangtua mungkin. mengurangi orangtua melakukan koping.  Untuk rencana 7 Klien mengalami pengurangan kecemasan peningkatan kemampuan (keluarga) Kenali kekuatiran dan kebutuhan orangtua membuat pendidikan untuk informasi dan dan  untuk dukungan. tenang dan meyakinkan.  Untuk  Untuk kecemasan mengetahui kecemasan orangtua.  Beri kenyamanan diinginkan anak (misal: mengayun. mengurangi kecemasan. tindakan  Memberi rasa percaya yang kepada anak dan menurunkan kecemasan.  Berikan kedekatan mainan  Anjurkan yang membelai. meningkatkan keluarga. kedekatan berpusat memberikan rasa aman pada anak. kenyamanan anak.  Dapat perawatan  Objek pada dengan selimut. NOC: Kontrol anak dan orangtua. boneka). musik). .ketidaknyamanan fisik. Gali perasaan orangtua dan “masalah” sekitar hospitalisasi penyakit anak. Penurunan selama prosedur. NIC: kecemasan.

mendiskusikan kondisi dan perawatan anak dengan tenang serta terlibat secara positif dalam perawatan anak. NIC: family support.  Memberi pada rasa dapat berpusat koping keluarga dan anjurkan anggota keluarga agar terlibat perawatan anak. Beri dukungan sesuai kebutuhan.  Dukungan mendorong pembentukan yang positif. NOC: functioning. Anjurkan yang perawatan pada dan meningkatkan koping Orangtua mengajukan pertanyaan yang tepat. teaching: process disease Family kemampuan orangtua.Kriteria hasil:    Jelaskan tentang terapi dan perilaku anak. . dalam aman dan orangtua membantu membuat orangtua keputusan tentang terapi anaknya.

A : 28 november 2011 : Klaten.FORMAT PENGKAJIAN STASE: KEPERAWATAN ANAK Nama mahasiswa Tanggal Praktek Tempat praktek : Yuliasih : 28-30 November 2011 : PICU I. IDENTITAS DATA.55. W : IRT : SD : Islam : Jawa : Pandanrejo. Jateng : 1. S : Buruh : SD : Ny. Nama Tgl Pegkajian TTL Usia Nama Ayah Pekerjaan Pendidikan Nama ibu Pekerjaan Pendidikan Agama Suku Bangsa Alamat No. Klaten. RM Tgl masuk : An. 12 Mei 2011 : 6 bulan : Tn.35 : 25 Oktober 2011 .27.

riwayat kuning. tidak panas. dirawat di inkubator 11 hari. bayi langsung menangis. ritin dapat tambah darah dan vitamin. Periksa ke poliklinik RSST dengan diagnosis RF. demam. biru-biru. tidak ada trauma saat kehamilan. diobeti oleh bidan sembu. A hanya obat-obatan yang diberikan oleh dokter 4. Anak menetek sering putus-putus. pilek. Gizi buruk tipe marasmik III. gerak tidak aktif. UK 8 bulan. Pernah dirawat dirumah sakit : BBLR. KELUHAN UTAMA Pneumonia aspirasi terpasang ventilator III. W kontrol di dokter Klaten IV. bengkak (+). Intra natal : lahir spontan ditolong oleh dokter RS. Riwayat penyakit Dahulu BBLR. 10 HSMRS Anak tampak lemah. tidak ada sesak napas. Penyakit waktu kecil 2.II. Terapi: salbutamol. D mengatakan obat-obatan yang dikonsumsi An. tidak ada DM< tidak ada flek. menetek putus-ptus. Prenatal : kontrol di bidan. 3. bayi kuning disinar 1 hari 1 malam. Gizi buruk tipe marasmik : Sebelumnya dirawat di RSST Klaten dengan diagnosis Gizi buruk tipe marasmik susp VSD dd ASD. Kecelakaan : Reintubasi hari ke 16 : tidak ada aalergi : tidak pernah . RIWAYAT KEHAMILAN DAN KELAHIRAN 1. suntik TT 1. tidak sesak napas. BBL 1500 gr. PDA 3. Tindakan (operasi) 5. 2. dinyatakan sembuh. RIWAYAT PENYAKIT Riwayat penyakit sekarang 20 HSMRS Anak batuk. tidak ada biru-biru. Obat-obatan yang digunakan : Ny. RIWAYAT MASA LAMPAU 1. tidak ada biru-biru. tidak demam. Alergi 6. Post natal : Ny. hipertensi saat hamil 7 bulan.

Pemeliharaan dan persepsi kesehatan : . (11 Pola kesehatan Gordon) 1. KESEHATAN FUNGSIOLNAL.4 bulan  Polio  Campak : 3x pada umur 0.1 bulan  BCG : 1x pada umur 1 bulan  DPT : 2x pada umur 2. RIWAYAT KELUARGA ( genogram) Keterangan : …………. : Klien : Laki-laki : Perempuan VII.4 bulan : belum pernah V.7.2. Imunisasi :  Hepatitis B : 2x pada umur 0.

W harus meninggalkan dua anaknya dirumah untuk  Stressor pada anak/keluarga menjaga AN. Tidur dan istirahat  Pola tidur  Kebiasaan sebelum tidur 5. lemah : rumah terbuat dari tembok. R terlihat kurus. aktivitas miring kanan kiri dibantu oleh perawat 4. A terpasang ventilator sehingga suara tangisan ataupun ocehan tidak dapat keluar 8. Eleminasi : : tidur 8 jam sehari. An. malam hari sulit tertidur : tidak ada kebiasaan khusus  BAB : 2x/hari. A terlihat lemah. atap genteng lantai  Lingkungan rumah keramik : ibu/Ny. volume 150 cc/hari  BAK : An. W selalu menunggu anaknya. W mengatakan anaknya sudah sakit sejak kurang lebih dua bulan yang lalu. terpasang ventilator. Nutrisi : Jenis makanan Pola makan/jam : ASI : sebelum sakit An. Setelah sakit ASI diberikan lewat NGT 8 x 35 cc/ hari. cair. Kongnitif dan persepsi . Tn. terkadang 7. A minum ASI sering sekitar 8-10 x/ hari jika merasa lapar. Aktivitas : An. 3. sudah diperiksa ke dokter tetapi tidak sembuh kemudian diperiksakan ke RSST dan dirujuk ke RSS 2. A memakai pempers.Ny. volume BAK ± 350cc/hari 6. A ketika sedang tidak bekerja Pembawaan secara umum : An. warna kuning kehijauan. Pola hubungan  Yang mengasuh    Hubungan dengan anggota keluarga keluarga menjenguk secara bergantian Hubungan anak dengan orang tua : Ny. W sendiri : hubungan dengan keluarga baik. A di RS sudah kurang lebih 2 bulan. S terkadang terlihat menjenguk An. ekstremitas bergerak aktif. Koping keluarga : : Ny.

. Seksual : anak berjenis kelamin perempuan dan tidak ada kelainan genital 11. tidak ada edema  Kulit  Tanda vital : warna sawo matang. sklera tidak ikterik. pendengaran tidak ada gangguan : tidak ada kaku kuduk dan tidak ada pembesaran kelenjar limfe : simetris. ictus cordis tampak : suara jantung S1 tunggal S2 slit tak tampak. Konsep diri : tidak terkaji 10. RR: 50x menit. terpasang ET no 3 kedalaman 8 cm oleh ventilator mode PSIMV. perkusi sonor. Pendengaran : tidak ada gangguan  Penglihatan : An A penglihatan normal  Penciuman : normal  Taktil dan pengecapan : normal 9. terdengar bising jantung grade : 35 cm : konjungtiva anemis. frekuensi 50  Abdomen  Genetalia : Pembesaran Hepar dan lien tak teraba. tidak ada gangguan penglihatan : tidak ada epistaksis. suhu: 37. KEADAAN KESEHATAN SAAT INI. tidak ada diatensi abdomen : tidak tidak kelianan genital  Ekstremitas : akral hangat. integritas utuh : nadi: 158x/menit. . terdengar wheezing. mukosa lembab. turgor kulit baik. tidak ada gangguan penciuman : tidak ada stomatitis. Nilai dan kepercayaan : anak beragama Islam VIII. Pernapasan dibantu : tidak ada discharge. CM  PB/ BB/LLA : 56 cm/3200 gr/10cm  Lingkar kepala  Mata  Hidung  Mulut dari bibir  Telinga  Tengkuk  Dada  Jantung 2/6  Paru-paru : suara vesikular.1oC IX. PEMERIKSAAN FISIK  Keadaan umum : KU lemah.

diuresis rata-rata 4. Tindakan operasi : tidak ada 3. Status nutrisi : An. Obat-obatan       : meropenem 40 mg/kgBB/hr. microchepali ec.1. A tiduran di tempat tidur. pergerakan ekstremitas aktif 6. Tindakan keperawatan : 16/11/2011: Mengobservasi KU pasien memonitor intake nutrisi mengukur vital sign mengkaji frekuensi muntah. Hasil laboratorium : Hasil dan nilai normal Interpretasi Tanggal/jenis pemeriksaan . Sebelum sakit anak dapat minum sesuai keinginan tetapi setelah sakit anak mendapat diit ASI per sonde 8 x 35 cc/hari. Aktivitas 7. A masih diberikan ASI ekssklusif. gizi buruk tipe marasmik fase rehabilitasi. 4x24 mg PO asam folat 1x1 mg Sanbeplex 1x0. anemia mikrositik hipokromik.3 cc Parecetamol 40 mg k/p Zink 1x20 mg PO (hari ke 3) : An. 3x125 mg iv (hari ke 7) clindamicin 6 mg/kgBB/hr. warna. Diagnosa medis : pneumonia aspirasi. ARDS. atelektasis lobus susp pulmo dextra. 2. BB/TB: < -3SD (gizi buruk) 4. Status cairan : Balance cairan – 170 cc/hari. TORCH. Diare cair akut tanpa dehidrasi.4 cc/kg/jam 5. volume memberikan terapi paracetamol 300 mg 8.

5 mmHg (35-45) 79.6% (5.45) 26.9 mmol/L (98-107) 7.5 gr/dl (3.1 mg/dl (7-18) 0.5) 5.0 g/dl (14-18) 62 IU/L (10-42) 32 IU/L (10-40) 2.69 x 106 IU (4.35-7.7-6.6 mmHg (35-45) 55.343 (7.5-11. PEMERIKSAAN PENUNJANG Ro.26/11/2011 WBC NE LY MO RBC HGB SGOT SGPT ALB Cl BUN Creat GDS Na 19.8) 17.6-1.4 mmHg (83-108) Rendah Tinggi Rendah X.2% (43-65) 18% (20. Thorax tanggal 26/11/2011 Kesan: Pneumonia dextra terutama lobus superior dextra Efusi pleura sinistra .5-45.447 (7.7) 3.5-5) 83.4 X 103 /UL (4.10) 10.3) 70 mg/dl (80-140) 135.4 mmol/L (80-140) Tinggi Rendah Rendah Normal Rendah Rendah Tinggi Normal Rendah Rendah Normal Rendah Rendah Rendah 27/11/2011 PH PCO2 PO2 SO2% 7.14 mg/dl (0.8-10.45) 60.35-7.5 mmHg (83-108) 96.3 (95-98) Normal Normal Rendah Normal 28/11/2011 PH PCO2 PO2 7.

A dapat menggenggam tetapi lemah 3.XI. Tanggal 14-25 Oktober dirawat di Melati 4. RINGKASAN CATATAN PERKEMBANGAN KLIEN.9% k/p . mengucap 1 kata pada usia 1 tahun 4. mendapat tarepi antara lain: 14-19 Oktober 2011 Lasix 2 x 2 mg iv Captopril 2 x 0. PEMERIKSAAN TINGKAT PERKEMBANGAN (Gunakan Denver DDST/ Denver).5 mg/kgBB/hari Captopril 0. Ruang Kelas 3 dengan gizi buruk.3 mg/kgBB/hr 2x 1 mg PO Asmet 1 mg/kgBB/hr 1 x 4 mg PO Aminofilin 1 mg/kgBB/hr 1 x 3. Bahasa: mengoceh. Personal Sosial: tersenyum. A dapat miring kanan kiri pada usia 3 bulan XI.3 cc Tanggal 25 dilakukan intubasi dengan ET no 3 9 cm dari bibir  pindah PICU 25 oktober 2011 di PICU Sedasi milos 2mcg/kgBB/mnt Ceftriaxone 100 mg/kgBB/hr 2 x 180 mg iv Lasix 0.5 mg iv Pasang DC 26 Oktober 2011 – 20 November 2011 Midazolam 4 mg/KgBB/hari Kultur sputum Nebul NaCl 0. 1. Motorik kasar: An.3 mg/KgBB Amphisilin 100 mg/KgBB/hr 20-25 Oktober 2011 Lasix 2 x 2 mg iv Captopril 2 x 0.3 mg/KgBB Asmet 1 mg/kgBB/hr Sanbeplex 1 x 0. bergaul 2. Motorik halus: An.

- Amikasin 25gr/KgBB/hr Imipenem 3 x 90gr 21 Oktober 2011 Ceftasidime 100 gr (3 x 100 gr iv) 24 Oktober 2011 Meropenem 40 mg 3 x 130 gr iv .

ANALISIS DATA .

ET no 3 dengan kedalaman 8 cm dari bibir 2 28 November 2011 DS:DO: Anak terpasang ET hari ke 16.400/ UL Resiko Infeksi Prosedur invasif . terpasang infus hari ke 3. RR: 50x/menit. produksi sekret anak berlebih. Nadi: 158x/menit Ketidakefektifan bersihan jalan napas Obstruksi jalan napas (adanya jalan napas buatan) 3 28 November 2011 DS: DO: anak terpasang ET. terpasang ogt hari ke 5.hari ke 16. AL: 19.NO 1 HARI/ TANGGAL 28 November 2011 DS: - DATA MASALAH Gangguan ventilasi spontan ETIOLOGI Faktor Metabolik DO: Anak terpasang ventilator dengan Mode PSIMV. frekuensi 50.

45) Saturasi oxygen dalam rentang normal (9598%) Tidak ada sianosis Ventilasi Mekanik INTERVENSI (NIC) 1. Gunakan teknik aseptik 7. Monitor tekanan ventilator dan suara napas 8. Monitor efek samping pemakaian ventilator (infeksi.35-7. Melakukan fisioterapi dada . Cek koneksi ventilator secara rutin 6.PERENCANAAN KEPERAWATAN NO . Monitor adanya kegagalan respirasi 3.1 DIAGNOSIS/ MASALAH KOLABORASI Gangguan ventilasi spontan b. penurunan cardiac output) 11. Monitor seting ventilator secara rutin 5. Kolaborasi dengan dokter untuk penggunaan CPAP atau PEEP untuk meminimalisir hipoventilasi alveoli 12. Monitor kelelahan otot pernapasan 2. barotrauma. Konsultasi dengan tenaga kesehatan lain tentang pemilihan mode ventilator 4.d faktor metabolik TUJUAN (NOC) Respiratory status: Gas exchange Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama 3 x 24 jam gangguan ventilasi spontan dapat dimonitor dengan kriteria hasil: Partial pressure of oxygen in arterial blood (PaO2) dalaam rentang normal (83-108 mmHg) Partial pressure of carbon dioxide in arterial blood (PaCO2) dalam rentang normal (3545 mmHg) PH arteri dalam rentang normal (7. Matikan alarm ventilator ketika melakukan suction 9. Monitor kemajuan pasien pada mode ventilator dan ubah mode sesuai order 10.

Monitor efek ventilator pada perubahan level oksigenasi (PaO2. PH. Pastikan alarm ventilator dalam posisi on 15. SaO2) 2 Ketidakefektifan bersihan jalan napas b. Hentikan suction dan berikan oksigen yang adekuat jika .13. Kaji kebutuhan suction oral dan atau trackea 2. PCO2. Monitor status oksigenasi pasien (SaO2) dan sttatus haemodinamik (irama jantung) selama melakukan suction 9.d Obstruksi jalan napas (adanya jalan napas buatan) Respuratory Status: Airway Patency Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama 3 x 24 jam ketidakefektifan bersihan jalan napas dapat diatasi dengan kriteria hasil: Frekuensi respirasi dalam rentang normal (20-30x/menit) Tidak ada akumulasi sputum Ritme respirasi dalam batas normal Airway Suctioning 1. Lepaskan koneksi ET dengan ventilator selama melakukan suction 8. Gunakan universal precaution saat melakukan suction Berikan hiperoksigenasi dengan saturasi oksigen 100% dengan manual bag 5. Suction orofaring setelah selesai mellakukan suction trackea 10. Promosikan edekuat intake cairan dan nutrisi 14. Informasikan kepada keluarga tentang prosedur suction 4. Gunakan peralatan yang disposible tiap melakukan suction 6. Auskultasi suara napas sebelum dan sesudah suction 3. Pilih ukuran cateter suction setengah diameter ET 7.

Anjurkan orang tua untuk mencuci tangan sebelum dan sesudah melakukan aktivitas 4.pasien mengalami bradicardi 11. Pertahankan lingkungan aseptik ketika mengganti IV line 7. Ajarkan cara mencuci tangan orang tua 3. Ajarkan pada keluarga tanda dan gejala infeksi 13. Catat tipe dan jumlah sekret 3 Resiko Infeksi b. Gunakan sarung tangan dalam setiap tindakan 6. Berikan cairan dan istirahat yang cukup 11. Ganti IV line sesuai protap 8. Gunakan perawatan aseptik pada IV line 9. Bebas dari tanda infeksi 2. Oral tua mampu mendemonstrasikan tindakan higiene seperti mencuci tangan Kontrol infeksi 1. Meningkatkan partisipasi keluarga dalam perawatan pasien . Kolaborasi pemberian antibiotik 12. Gunakan sabun anti mikroba untuk cuci tangan 5.d prosedur invasif Kontrol resiko Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama 3 x 24 jam pasien diharapkan mampu mengontrol resiko infeksi dengan kriteria hasil: 1. Bersihkan lingkungan secara rutin 2. Berikan intake nutrisi yang adekuat 10.

PaO2: 79.TANGGAL / JAM 28 November 2011 07. barotrauma. frekuensi 50. RR: 38x/menit SaO2: 84% (rendah). PCO2: 26. PH: 7.00 11. PIP/PEEP: 6/8. suara napas vesikular. penurunan cardiac output) Memastikan alarm ventilator dalam posisi on Memonitor efek ventilator pada perubahan level (normal). suhu: 37.447 09.00 - IMPLEMENTASI EVALUASI S: Menerima operan jaga mengkonsultasikan dengan tenaga kesehatan lain tentang pemilihan mode ventilator O: Mode ventilator: PSIMV.5 mmHg (rendah). N: 156x/menit. terdengar wheezing di kedua paru.30 10.30 08.1oC.5 mmHg (rendah).00 Memonitor seting ventilator secara rutin Memonitor tekanan ventilator dan suara napas Memonitor efek samping pemakaian ventilator (infeksi. Tidak ada sianosis (warna kulit normal) A: gangguan ventilasi spontan belum taratasi P: .CATATAN PERKEMBANGAN DIAGNOSA/ MASALAH KOLABORASI Gangguan ventilasi spontan b.d faktor metabolik HARI.

343 (rendah). PIP/PEEP: 10/8.00 10. suhu: 37oC. SaO2) S: O: Anak terlihat sianosis sehingga dilakukan pemberian bantuan pernapasan dengan air bag. N: 145x/menit. SaO2) - Lanjutkan intervensi Melakukan fisioterapi dada Monitor efek ventilator pada perubahan level oksigenasi (PaO2. PCO2. RR: 48x/menit. terdengar wheezing di kedua paru. PCO2: 60. Mode ventilator: PCIMV. PCO2. PH. SaO2: 91% (normal). PH. barotrauma.30 Menerima operan jaga Memonitor seting ventilator secara rutin Memonitor efek samping pemakaian ventilator (infeksi. PCO2. PH.6 (tinggi) mmHg.30 09. kemudian ventilator dilakukan kalibrasi.oksigenasi (PaO2. penurunan cardiac output) Memastikan alarm ventilator dalam posisi on Melakukan kolaborasi dengan fisioterapis untuk melakukan fisiotarapi dada 11. SaO2) 29 November 2011 07. PaO2: 55. PH: 7. SaO2) . PCO2.4 mmHg (rendah). A: gangguan ventilasi spontan belum taratasi P: Lanjutkan intervensi Melakukan fisioterapi dada Monitor efek ventilator pada perubahan level oksigenasi (PaO2. PH. frekuensi 50.00 Memonitor efek ventilator pada perubahan level oksigenasi (PaO2. suara napas vesikular.

00 09.30 November 2011 07.30 09. penurunan cardiac output) Memastikan alarm ventilator dalam posisi on Melakukan kolaborasi dengan fisioterapis untuk melakukan fisiotarapi dada 12. RR: 38x/menit.2 (rendah) mmHg.8oC. SaO2) . PaO2: 43. PCO2. barotrauma. frekuensi 50.343 (rendah).1 mmHg (tinggi). SaO2) S: O: Mode ventilator: PSIMV. N: 142x/menit.30 11. PCO2.00 Menerima operan jaga Memonitor seting ventilator secara rutin Memonitor efek samping pemakaian ventilator (infeksi. PH. terdengar wheezing di kedua paru. PIP/PEEP: 10/8. PH. suara napas vesikular. PCO2: 54. SaO2: 90% (normal). PH: 7.00 Memonitor efek ventilator pada perubahan level oksigenasi (PaO2. Tidak ada sianosis (warna kulit normal) A: gangguan ventilasi spontan teratasi sebagian P: Lanjutkan intervensi Melakukan fisioterapi dada Monitor efek ventilator pada perubahan level oksigenasi (PaO2. suhu: 36.

RR: bersihan jalan napas 07.d Obstruksi jalan 09. irama jantung SR (irama sinus).00 napas (adanya jalan napas buatan) .30 b.DIAGNOSA/ MASALAH KOLABORASI Ketidakefektifan HARI. ukuran suction FG-14.TANGGAL / JAM 28 November 2011 - IMPLEMENTASI EVALUASI S: Menerima operan jaga Mengkaji kebutuhan suction oral dan atau trackea Melakukan auskultasi suara napas sebelum dan sesudah suction Menggunakan universal precaution saat O: Anak terlihat mengeluarkan sekret dari mulutnya. sekret berwarna kuning kental jumlah ± 10 cc. terdengar wheezing di kedua lapang paru terutama di kedua apex paru.

RR: 48x/menit. terdengar wheezing di kedua lapang paru terutama di kedua apex paru.30 08.melakukan suction 09. irama jantung SR (irama sinus).00 Menerima operan jaga Mengkaji kebutuhan suction oral dan atau trackea Melakukan auskultasi suara napas sebelum dan sesudah suction Menggunakan universal precaution saat melakukan suction Menggunakan peralatan yang disposible tiap melakukan suction Memilih ukuran cateter suction setengah diameter Mencatat tipe dan jumlah sekret 38x/menit. fiksasi ET terlihat basah A: ketidakefektifan bersihan jalan napass teratasi sebagian .15 Menggunakan peralatan yang disposible tiap melakukan suction Memilih ukuran cateter suction setengah diameter ET Melepaskan koneksi ET dengan ventilator selama melakukan suction Memberikan hiperoksigenasi dengan saturasi oksigen 100% dengan manual bag Memonitor status oksigenasi pasien (SaO2) dan status haemodinamik (irama jantung) selama melakukan suction 29 November 2011 07.30 09. sekret berwarna kuning kental jumlah ± 5 cc. tidak ada sianosis A: ketidakefektifan bersihan jalan napass teratasi sebagian P: lanjutkan intervensi Mengkaji kebutuhan suction oral dan atau trackea S: O: Anak terlihat mengeluarkan sekret dari mulutnya. ukuran suction FG-14. tidak ada sianosis.

ET 09. RR: 38x/menit.10 Melepaskan koneksi ET dengan ventilator selama melakukan suction Memberikan hiperoksigenasi dengan saturasi oksigen 100% dengan manual bag Memonitor status oksigenasi pasien (SaO2) dan status haemodinamik (irama jantung) selama melakukan suction 09. irama jantung SR (irama sinus). terdengar wheezing di kedua lapang paru terutama di kedua apex paru. ukuran suction FG-14.15 Mencatat tipe dan jumlah sekret Melakukan dressing ET P: Lanjutkan intervensi Mengkaji kebutuhan suction oral dan atau trackea 30 November 2011 07.30 Menerima operan jaga Mengkaji kebutuhan suction oral dan atau trackea Melakukan auskultasi suara napas sebelum dan sesudah suction Menggunakan universal precaution saat melakukan suction Menggunakan peralatan yang disposible tiap S: O: Anak terlihat mengeluarkan sekret dari mulutnya. sekret berwarna kuning kental jumlah ± 5 cc. tidak ada sianosis .

melakukan suction Memilih ukuran cateter suction setengah diameter ET Melepaskan koneksi ET dengan ventilator selama melakukan suction Memberikan hiperoksigenasi dengan saturasi oksigen 100% dengan manual bag Memonitor status oksigenasi pasien (SaO2) dan status haemodinamik (irama jantung) selama melakukan suction Mencatat tipe dan jumlah sekret A: ketidakefektifan bersihan jalan napass teratasi sebagian P: Lanjutkan intervensi Mengkaji kebutuhan suction oral dan atau trackea .

DIAGNOSA/ MASALAH KOLABORASI HARI. ASI masuk 35 cc per NGT A: resiko infeksi teratasi sebagian .30 08.00 08. suhu: 37. NGT hari ke 5. anak terpasang infus D51/2NS 5 cc/jam di tangan kiri hari ke 0. anak terpasang infus D51/2NS 5cc/jam di kaki kiri hari ke 3.15 09.TANGGAL / JAM IMPLEMENTASI EVALUASI Resiko Infeksi b. ET hari ke 17.d 28 November 2011 prosedur invasif 07.1oC. NGT hari ke 6.00 - Menerima operan jaga Mencuci tangan sebelum dan sesudah tindakan Menggunakan sarung tangan saat tindakan Memandikan anak Mengganti pampers Mengganti alat tenun Mengukur suhu S: orang tua mengatakan selalu mencuci tangan sebelum mengunjungi anaknya O: tidak ada kemerahan dan bengkak di tempat insersi infus.00 08. ASI masuk 35 cc per NGT Kolaborasi pemberian antibiotik meropenem 40 A: resiko infeksi teratasi sebagian mg/kgBB/hr. 3x125 mg iv (hari ke 7) Memberikan ASI 35 cc per NGT P: Lanjutkan intervensi Kolaborasi pemberian antibiotik 11.00 - Menganjurkan pada orang tua cuci tangan sebelum dan sesudah mengunjungi anak meropenem 40 mg/kgBB/hr.30 08. ET hari ke 16.15 Menerima operan jaga Mencuci tangan sebelum dan sesudah tindakan Menggunakan sarung tangan saat tindakan Memandikan anak Mengganti pampers S: O: tidak ada kemerahan dan bengkak di tempat insersi infus. 3x125 mg iv Berikan ASI 35 cc/3 jam 29 November 2011 07. suhu: 37oC.

30 08. 3x125 mg iv Berikan ASI 35 cc/3 jam .8oC. NGT hari ke 7.00 08. anak terpasang infus D51/2NS 5 cc/jam di tangan kiri hari ke 1. 3x125 mg iv (hari ke 8) Memberikan ASI 35 cc per NGT Mengganti infus P: Lanjutkan intervensi Kolaborasi pemberian antibiotik meropenem 40 mg/kgBB/hr.00 - S: Menerima operan jaga Mencuci tangan sebelum dan sesudah tindakan Menggunakan sarung tangan saat tindakan Memandikan anak Mengganti pampers Mengganti alat tenun Mengukur suhu Kolaborasi pemberian antibiotik meropenem 40 mg/kgBB/hr.00 - 30 November 2011 07. suhu: 36.00 - Mengganti alat tenun Mengukur suhu Kolaborasi pemberian antibiotik meropenem 40 mg/kgBB/hr.09. 3x125 mg iv (hari ke 9) Memberikan ASI 35 cc per NGT O: tidak ada kemerahan dan bengkak di tempat insersi infus. ET hari ke 18.15 09. ASI masuk 35 cc per NGT A: resiko infeksi teratasi sebagian P: Lanjutkan intervensi Kolaborasi pemberian antibiotik meropenem 40 mg/kgBB/hr. 3x125 mg iv Berikan ASI 35 cc/3 jam 10.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful