Tipologi Morfologis Abad XIX

Posted on March 15, 2010 by palupipalulu 1. 1. Pendahuluan Perbandingan morfologis masih memerlukan bantuan struktur fonologis (fonetis,fonemis, kondisi varian fonem-fonem). Berdasarkan kemiripan-kemiripan morfemis pada bentuk-bentuk terikat (morfem terikat) dan kemiripan-kemiripan pada morfem dasar, para ahli telah mencoba mengadakan pengelompokan-pengelompokan. Mula-mula lebih menekankan kemiripan pada morfem-morfem terikat, kemudian melangkah lebih jauh dengan memberi perhatian yang lebih besar pada bentuk dasar. Moroflogi menyediakan kemungkinan yang jauh lebih luas untuk mengadakan klasifikasi bahasa bila dibandingkan dengan bidang fonologi. Sejak permulaan abad ke XIX telah mulai diusahakan klasifikasi dengan menggunakan tipe-tipe morfologis bahasa, sejalan dengan klasifikasi genealogis. Namun hasilnya tidak begitu populer, bila dibandingkan dengan klasifikasi geneologis. Walaupun pada dasarnya klasifikasi tipologi morfologis yang dikembangkan selama abad ke XIX sampai dengan awal abad XX sama saja, masih dapat diadakan beberapa pengelompokan berdasarkan titik tolak yang dipergunakan. Kelompok yang pertama adalah para sarjana yang semata-mata mempergunakan bentuk-bentuk bahasa untuk dijadikan dasar klasifikasinya, yaitu von schlegel bersaudara, von humboltdt, A.F,pott,yang juga mempengaruhi sarjana bahasa rusia seperti furtunatov dan marr. Kelompok yang kedua mempergunakan akar kata sebagai landasan klasifikasi yaitu franz bopp dan max miller, kelompok yang ketiga adalah para sarjana yang menggunakan bentuk sintaksis dalam klasifikasinya seperti heymann steinthal dan franz mistelli. Klasifikasi morfologis tetap menggunakan kelima prinsip bahasa sebagai dasar pemikiran dan titik tolak klasifikasi morfologis. Morfologi bahasa-bahasa pada umumnya memberi peluag yang jaug lebih luas, bila dibandingkan dengan tipologi fonologis. Tipe-tipe morfem yang berbeda antara bahasa-bahasa, cara-cara menggabungkan tipe-tipe itu, serta pilihan atas tipe mana yang akan digunakan, memberi peluang yang sangat besar dalam klasifikasi. 1. 2. Tipologi Von Schlegel Friederich von schlegel dan August wilhelm von schlegel mempergunakan morfem dasar atau bentuk bentuk dasar bahasa (steam) dan morfem-morfem terikat sebagai landasan klasifikasinya. 2.1 Klasifikasi Friedrich von sclegel Friederich vin schlegel mengajukan suatu klasifikasi atas bahasa-bahasa di dunia ini menjadi dua kelompok : 1. Bahasa-bahasa yang berafiks ( sprachem durch affixa)

Bahasa yang memepergunakan afiks. 4. yaitu atas bahasa sintetis dan bahasa analitis. Ciri utama dari kelas bahsa ini adalah penggunaan melimpah afiks-afiks yang dalam bahasa-bahasa lain biasanya dinyatakan dengan bentuk bebas atau dalam beberapa kata. yunani. Keempat kelas bahasa yang dikemukakanya adalah : 1. misalnya bahasa cina 2. 5. sebaliknya bahasa analitis memiliki artikel bagi kata-kata bendanya. 3. Bahasa-bahasa yang berfleksi ) sprachen durch flexion) Istilah fleksi pada waktu itu diartikan dengan perubahan internal dalam akar kata seperti : singsang-sung. 1. sedangkan bahsa fleksi yang analitis diwakili oleh bahasa inggris dan jerman. tetapi tetap transparan (jelas batasanya). 2.2. Seluruh konstruksi bergantung pada . misalnya bahasa turki. dan sansekerta. Tipologi von Humboldt Humboldt mengajukan suatu klasifikasi baru yang didasarkan pada empat kelas bahasa. Bahasa sintetis tidak menggunakan pesona sebelum kata kerja. Bahasa yang berfleksi. Von Schlegel August von schlegel mengembangkan klasifikasi menjadi tiga kelas bahasa : 1. 3. Bahasa fleksi yang sintetis dapat dibedakan dari bahasa fleksi yang analitis berdasarkan ciri-ciri berikut : 1. Sedangkan pengertian afiks menurut von schlegel adalah unsur yang digabungkan dengan morfem dasar atau steam. sebaliknya bahasa analitis menggunakan kata bantu dalam konjungsinya. sebaliknya bahasa analitis menggunalan pesona. Baha sintetis tidak menggunakan preposisi untuk menyatakan relasi antar kata. Bahasa isolatif Bahasa aglutinatif Bahasa fleksi Bahasa inkorporatif Untuk pertama kali dalam sejarah perbandingan bahasa von humboldt mempergunakan istilah aglutinatif untuk menggantikan bahasa berafiks yang digunakan von schlegel. Bahsa sintetis tidak menggunakan kata bantu dalam konjungsinya. sebaliknya bahasa analitis menggunalan adverbium. Bahasa tanpa struktur gramatikal. Bahasa suntetis menggunakan bentuk-bentuk gramatikal. 3. 2. Bahasa sintetis tidak memiliki artikel bagi kata bendanya. sebaliknya bahasa analitis menggunakanya. Bahsa sintetis diwakili oleh bahsa bahasa latin. August von schlegel lebih jauh membagi lagi bahasa fleksi dalam dua sub kelas.2 Klasifikasi August W. misalnya bahasa indo-eropa. 3. di-did-done. 4. 2.

August Friedrich pott August friedrich pott memperkuat klasifikasi von humboldt. Bahasa dengan akar silabis. 4. . Unsurunsur yang dimaksud adalah : R = Akar (radix) r = akar kedua. Kelas bahasa ini tidak mempunyai kemampuan untuk berkomposisi. 1. dan bermacam-macam keteangan menjadi sebuah kata. 5. ia mengemukakakn suatu pendirian bahwa bahasa-bahasa dapat diklasifikasikan berdasarkan cara penggunaan bunyi untuk menyatakan kedua hal itu.subjek. 4. Ia bertolak dari asumsi bahwa bahasa-bahasa memiliki makna dan relasi. Akar kata bahasa ini ditandai oleh tiga konsonan sebagai dasar pembentukan katanya. 6. Bahasa dengan akar kata yang mampu berkomposisi.schleicher mengusulkan suatu klasifikasi berdasarkan struktur morfologis. 4. yang sekaligus menjadi pendukung makna kata. yang bersifat yukstapositif dan terpisah.sebuah prediket verbal. 1. Kelas bahasa ini memiliki gramar karena kemampuanya berkomposisi. Selanjutnya schleicher memperinci klasifikasi tadi dengan menambahkan beberapa konsep berikut untuk menjelaskan proses-proses morfologis yang tercakup dalam tiap kelas tadi. Franz Bopp Franz bopp mengemukakan suatu klasifikasi berdasarkan akar kata. Prisnsip umum pembentukan katanya adalah pertalian akar verbal dan pronominal. Bahasa dengan akar yang monosilabis. dan berfungis menyatakan relasi tertentu dengan R. Bahasa inkorporatif atau bahasa polisintetis relatif sebagai digunakan oleh vin humboldt mengangkut kemungkinan penyatukan sejumlah morfem leksikal menjadi sebuah kata. dan membagi bahasa-bahasa menjadi : 1. 2. Bahasa unkorporatif menggabungkan sebuah kata kerja.objek. Contoh : bahasa cina dan vietnam. Contoh : bahasa indo-eropa 3. 2. August J. Bahasa-bahasa isolatif Bahasa-bahasa aglutinatif Bahasa-bahasa fleksional Bahasa-bahsa inkorporatif Menurut pott bahasa fleksional adalah bahasa yang normal sementara bahasa isolatoif dan bahasa aglutinatif adalah bahasa infranormal. 3. dan dengan demikian tidak memiliki gramar. Sebab itu. yaitu : 1. Schleicher August J.

bukan makna.S P I X = sufixs = prefiks = Infiks = variasi teratur yang ditulis sebagai supersctipt.i. Makna dalam bahasa ini merupakan satu-satunya aspek yang dinyatakan oleh bentuk. Bahasa monosilabis (einsylbig). latin dan sansekerta 1. tetapi dengan cara yangs edemikian rupa sehingga difusikan dalam sebuah kata. maka scheleicher mengajukan tipologinya sebagai berikut : 1. Berdasarkan kedua dasar diatas. Bahasa fleksi. Unsur s. Klasifikasi ini mempergunakan bentuk. yaitu 1. Relasi antar kata tidak dinyatakan secara terbuka (eksplisit). Heymann Steinthal Heymann mengajukan satu klasifikasi berdasarkan tipe-tipe afiks dan fleksi dalam sebuah bahasa. Bunyi-makna (=kata) tidak berubah dan selalu terpisah.p. Dalam bahasa ini relasi dinyatakan secara fonologis atau morfologis serta diafiksasi secara longgar kepada bunyi makna )= stem. 7. inggris. Kelas bahas ini dibagi lagi menjadi dua : 1. Kelas bahasa ini dibagi lagi menjadi dua. Bahasa aglitinatif. bentuk dasar) yang tidak berubah. Bahasa aglutinatif yang sintetis : bahasa-bahasa ini memiliki kata-kata yang berstruktur : Rs Ri pRs : Seperti bahasa finno-ugris : seperti bahasa tush : seperti bahasa indonesia 1. 2. Bahasa fleksi yang analitis : kata katanya mengandung struktur : RxSx + r : bahasa prancis. 1. tetapi bukan bentuk morfologis melainkan . Makna relasi dalam bahasa ini dinyatakan oleh bunyi. Bahasa fleksi yang sintetis : kata-katanya mengandung struktur : Rx : PRx RxSx : bahasa arab dan ibrani : bahasa yunani. jerman. dan x membentuk bagian dari kata dan berfungsi menyatakan relasi.

Dua akar dapat disatukan untuk membentuk kata. 1. Bahasa ini sebelumnya disebut sebagai monosabilis karena kata-katanya terdiri dari satu suku kata. Bentuk sintaksis yang dipakai adalah relasi antara kata yang membentuk sebuah kalimat. 5. Dari kedua landasan itu. Bahasa tahap terminasional. Memiliki korporasi 4. 1. 8. 0.Bahasa isolatif 3. b. Bahasa derovatif 1. steinthal mengajukan klasifikasinya sebagai berikut : 1. Landasan kedua dalam tipologi steinthal adalah pembedaan antara kolokasi dan derivasi. I. Franz Mistelli Mistelli membagi bahasa-bahasa di dunia ke dalam enam kelas bahasa yang bersama-sama membentuk dua kelompok besar dengan empat subkelompok. Bahasa dengan kata yang berbentuk kalimat. Bahasa kolokatif 2. 9. 2. Max Muller Max mengusulkan klasifikasinya sebagai berikut : 1. a. Bahasa-bahasa yang tak terbentuk 1. Bahasa tahap infleksional. yaitu : 1. Dengan sufiks sebenarnya. bahasa yukstaposing c. Bahasa-bahasa yang tak terbentuk 1. 2. Dengan perubahan pada akar bahasa 3. dan dalam penggabungan ini kedua akar dapat kehilangan kebebasanya. bahasa isolatif dasar 4. bahasa dengan kata yang jelas . Dua akar kata dalam bahasa ini dapat disatukan untuk membentuk kata. Memiliki reduplikasi dan prefiks 2. Tiap akar menjaga kebebasanya yang penuh. misalnya bahasa amerindian. 2. Bahasa tahap radikal. Bahasa tanpa kata 2. Akar dapat dipakai sebagai kata. Memiliki sufiks 3. Bahasa derivatif 1. Dengan yuktaposisi unsur gramatikal 2. 3. dan dalam penggabungan itu salah satu akar kehilangan kebebasanya.bentuk sintaksis. dan belum mengalami perkembangan apa pun. Bahasa kolokatif 2. Bahasa-bahasa berbentuk 1.

yaitu memperhatikan penggabungan antara bentuk dasar dengan afiknya. seperti bahasa yunani 3. Bahasa inkorporatif. 2. Kelompok I : friedrich von schlegel. seperti bahasa samoa 3. bahasa manusia terdiri dari dua proses. a. . Franz Nicolaus Finck Menurut finck. II. Schlegel. 11. Proses penyatuan situasi-situais riil ke dalam suatu kesatuan. Bahasa infleksi akar. Selanjutnya finck menambahkan kels ketiga yang umumnya mendatangkan kesulitan pada tipologi yang lain.J schleicher. Bahasa yukstaposing. F.N. Bila kita mengadakan pengelompokan lagi semua hasil klasifikasi itu. 10. misalnya bahasa indi-eropa dan semit. Bahasa isolatif akar. yaitu : 1.yang tidak membedakan dasar-dasar morfologis dan sintaksis. Bahasa infleksi 1. seperti bahasa eskimo. wilhelm von humboldt. Kesimpulan Dapat dilihat secara umum. Bahasa – bahasa yang berbentuk 6. yang mempergunakan bentuk-bentuk morfologis kata. seperti bahasa subiya. seperti bahasa turki. untuk menentukan kekomppleksan itu harus diadakan analisa situasi riil tadi ke dalam komponen-komponen pembentuknya. a. maka finck membagi bahasa sebagai berikut : 1. Bahasa isolatif dasar. Finck. 3. Bahasa infleksi dasar. c.1. Berdasarkan alasan diatas. 4. Ciri bahasa ini mencakup interpedensi bagian-bagian kalimat yang dinyatakan dengan struktur intern dari kata. Bahasa isolatif 1. 2. Bahasa infleksi kelompok. seperti bahasa baskia. Klasifikasi-klasifikasi yang lain hanyalah merupakan usaha untuk memperinci lebih lanjut klasifikasi von schlegel. maka didapat : 1. tetapo tidak diinfeksi 1. Oleh sebab itu. seperi bahasa cina 2. b. bahasa dengan kata yang sesungguhnya. august w. klasifikasi yang meninjol dan dapat bertahan adalah klasifikasi dari august wilhelm schlegel. A. Finck juga membagi bahasa infleksi kedalam dua kelas yaitu bahasa infleksi akar dan ahasa infleksi dasar. Bahasa yang menggabungkan komponenya. seperti bahasa semit 2. Untuk mendapatkan ciri fragmenter tersebut harus dilakukan pemulihan kembali ke dalam suatu kesatuan melalui kata-katanya. Infleksi akar adalah bahasa-bahasa yang akarnya tetap tidak berubah pada waktu terjadi infleksi intern.f pott. Bahasa aglutinatif.

yang berusaha mengelompokan bahasa-bahasa dengan mempergunakan akar kata. . yang mempergunakan bentuk relasi. Kelompok II : franz bopp. max muller. franz mistelli. 3. Kelompok III : heymann steinthal. walaupun apa yang mereka artikan dengan entuk berbeda-beda.2.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful