BAB I PENDAHULUAN 1.1.

Latar Belakang Masalah Pembangunan nasional di bidang kesehatan adalah terciptanya kemampuan hidup sehat setiap penduduk agar dapat mewujudkan derajat kesehatan masyarakat yang optimal sebagai salah satu unsur kesejahteraan umum dari pembangunan nasional. Untuk terwujudnya tujuan tersebut perlu peran serta masyarakat guna

memanfaatkan pekarangan rumah untuk menanam tanaman obat-obatan. Karena tanaman ini sangat besar manfaatnya bagi masyarakat itu sendiri, selain untuk dikonsumsikan, juga dapat dijadikan obat tradisional bahkan dapat menambah penghasilan masyarakat dari hasil penjualan tanaman apotik hidup tersebut. Pembangunan nasional di bidang kesehatan adalah usaha untuk meningkatkan kemampuan hidup bersih dan sehat setiap penduduk agar dapat mewujudkan derajat kesehatan masyarakat yang optimal sebagai salah satu unsur kesejahteraan umum dari pembangunan nasional. Depkes RI (2001 : 62) menjelaskan: “untuk mencapai tujuan tersebut perlu diusahakan kesehatan yang bersifat menyeluruh, terpadu, dapat dan diterima serta terjangkau oleh seluruh lapisan masyarakat”. Kesehatan dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti, faktor keturunan, pelayanan, perilaku, sosial ekonomi dan sosial budaya serta lingkungan. Salah satu faktor yang tersebut di atas adalah faktor perilaku, yang mencerminkan seseorang merata,

dalam meningkatkan derajat kesehatannya. Pembangunan kesehatan bertujuan untuk meningkatkan kesadaran dan kemampuan serta kemauan hidup sehat bagi setiap penduduk agar dapat mewujudkan derajat kesehatan yang optimal. Dengan perkataan lain masyarakat diharapkan untuk mampu berpartisipasi aktif dalam memelihara dan meningkatkan derajat kesehatan sendiri, dengan demikian masyarakat mampu menjadi subjek dalam pembangunan kesehatan. Usaha pengobatan melalui penggunaan tanaman obat sangat perlu dilakukan oleh masyarakat, sehingga tanaman obat dapat diramu menjadi obat tradisional yang dapat dimanfaatkan untu penyembuhan penyakit bagi masyarakat. Tanaman obat di pekarangan rumah penduduk perlu dipelihara dengan baik sehingga masyarakat lebih mengenal jenis tanaman yang dapat dapat dijadikan sebagai obat tradisional. Manfaat dan kegunaan obat tradisional sangat banyak sekali jika masyarakat bisa meramu dan menggunakan jenis-jenis tanaman yang berkhasiat sebagai obat tradisional. Beberapa faktor yang mempengaruhi terjadinya perilaku, khususnya di bidang kesehatan yaitu teori Notoatmodjo (2003 : 42) dikatakan bahwa: Kesehatan dipengaruhi oleh dua faktor,yaitu faktor perilaku dan faktor non perilaku, sedangkan perilaku itu sendiri khususnya perilaku kesehatan dipengaruhi oleh tiga faktor yaitu faktor predisposisi, yaitu terwujudnya pengetahuan, sikap, kepercayaan, keyakinan dan nilai-nilai. Faktor pendukung yang terwujud dalam lingkungan fisik. Faktor pendorong yang terwujud dalam sikap dan perilaku dari petugas kesehatan. Untuk mengetahui derajat kesehatan diperlukan berbagai upaya pelayanan kesehatan yang meliputi upaya pencegahan, upaya peningkatan, upaya pengobatan, dan upaya pemulihan kesehatan yang dilaksanakan secara konprehensif. Indonesia adalah negara yang sangat dikagumi akan keadaan alamnya, di samping kekayaan-kekayaan alam yang sudah digali dan dimanfaatkan secara baik. Namun masih banyak kekayaan alam yang harus diolah sehingga dapat dimanfaatkan,

salah satu kekayaan alam yang terdapat di Indonesia adalah tumbuh-tumbuhan sebagaimana disebutkan Jamiran, (1999:10) yakni: Tumbuhan tidak dapat dipisahkan dengan kehidupan manusia dan organisme lainnya, karena tumbuhan adalah sebagai sumber penyedian makanan dan perlindungan. Jika tumbuhan tidak ada maka manusia dan hewan tidak dapat mempertahankan hidupnya. Lama sebelum makhluk-makhluk yang berupa manusia dan hewan muncul dimuka bumi ini, tumbuhan telah giat melakukan fotosintesis”. Dengan demikian berarti tumbuhan sudah lebih dahulu menempati permukaan bumi ini. Tumbuhan sangat banyak manfaatnya bagi kehidupan, karena disamping sebagai sumber makanan juga dapat sebagai obat. Kadang-kadang untuk menyembuhkan suatu penyakit tidak hanya dapat disembuhkan dengan pengobatan modern, tetapi juga disembuhkan dengan menggunakan dari tanaman obat-obat berkasiat (Widyawati, 1999:34). Tumbuhan obat tradisional, sangatlah penting dalam keluarga. Dengan menanam tanaman obat-obatan di pekarangan, selain dimanfaatkan untuk obat dapat juga ditata dengan baik sebagai penghias pekarangan. Pekarangan rumah menjadi tanpak asri dan penghuninya dapat memperoleh obat-obatan yang diperlukan untuk mejaga kesehatan. Pemanfaatan berbagai jenis tumbuhan pekarangan rumah merupakan salah satu gambaran masyarakat yang telah menyadari arti penting tumbuhan tersebut bagi penyembuhan penyakit, dengan adanya tumbuhan tradisional dapat digunakan sebagai obat tradisional yang khusus diramu untuk digunakan sesuai dengan jenis penyakit yang diderita. Oleh karena itu, budidaya tumbuhan obat tradisional perlu digalakkan oleh masyarakat dengan memanfaatkan pekarangan rumah sehingga

dapat memberikan manfaat terhadap dirinya, keluarga dan masyarakat di daerah tersebut. Desa Kandang yang merupakan salah satu desa yang berada dalam wilayah Kabupaten Aceh Selatan dengan luas wilayah 530 Ha dengan jumlah penduduk 455 jiwa atau 76 kepala keluarga. Setiap perumahan penduduk masih memiliki

pekerangan yang luas dan mempunyai tanah kosong yang dapat dimanfaatkan oleh penduduk untuk menanami berbagai jenis tumbuhan obat tradisional. Mengamati Desa kandang memiliki pekarangan yang luas, dan mata pencaharian penduduk ratarata sebagai petani, maka sangat tepat jika tumbuhan obat dilestarikan di pekarangan rumah masing-masing. Banyak jenis tumbuhan yang dapat dimanfaatkan oleh

masyarakat Desa Kandang untuk ditanam di pekarangan rumah, seperti tanaman obatobatan, sayur-sayuran dan buah-buahan namun demikian belum diketahui jenis-jenis tumbuhan tersebut untuk dijadikan sebagai obat tradiosional. Berdasarkan permasalahan tersebut, penulis tertarik untuk mengetahui tentang: “Jenis tanaman obat di pekarangan penduduk desa Kandang Kabupaten Aceh Selatan”.

1.2. Perumusan Masalah Berdasarkan latar belakang di atas, maka dapat diidentifikasikan

permasalahannya adalah, Jenis tanaman obat

apa saja yang ada di pekarangan

penduduk desa Kandang Kabupaten Aceh Selatan.

1.3. Tujuan Penelitian Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui jenis-jenis tanaman obat apa saja yang terdapat di pekarangan penduduk desa Kandang Kabupaten Aceh Selatan.

1.4. Ruang Lingkup Penelitian Mengingat keterbatasan biaya dan tenaga serta untuk menghindari meluasnya pembahasan ini maka dibatasi pada Jenis-jenis tanaman obat yang ada di pekarangan rumah penduduk, Tumbuhan obat tanaman yang sudah dikenal oleh masyarakat dan yang kurang dimanfaatkan.

1.5.

Manfaat Penelitian Setelah penelitian ini dilaksanakan, diharapkan dapat menjadi masukan bagi 1.5.1. Masyarakat di Desa Kandang, untuk bahan perbandingan tentang jenis tanaman obat di pekarangan serta dapat mengenal berbagai jenis

tanaman obat tradisional. 1.5.2. Menambah wawasan guna meningkatkan pengetahuan penulis yang diterima di bangku kuliah dan mencoba menerapkan dalam bentuk karya ilmiah terutama tentang keanekaragaman tanaman obat pekarangan rumah penduduk desa Kandang. di

1.5.3. Sebagai bahan perbandingan bagi peneliti selanjutnya yang berminat tentang objek penelitian ini yaitu keanekaragaman tanaman obat tradisional. BAB II LANDASAN TEORITIS 2.1. Pembahasan Teori 2.1.1. Pengertian Tanaman Obat Tanaman obat-obatan tradisional adalah tanaman yang dapat dipergunakan sebagai obat, baik yang sengaja ditanam maupun tumbuh secara liar. Tanaman tersebut dimanfaatkan oleh masyarakat untuk diramu dan disajikan sebagai obat guna penyembuhan penyakit. Pada umumnya yang dimaksud dengan obat tradisional adalah ramuan dari tumbu-tumbuhan yang berkhasiat obat. Tumbuhan obat adalah salah satu bahan utama produk-produk jamu. Kartasapoetra (1992 : 3) menyatakan bahwa: “Tanaman obat adalah bahan yang berasal dari tanaman yang masih sederhana, murni, belum tercampur atau belum diolah”. Sedangkan Siswanto

(1997:3) menyebutkan tumbuhan obat adalah: “Tanaman atau bagian tanaman yang digunakan sebagai bahan obat tradisional atau jamu, tanaman atau bagian tanaman yang digunakan sebagai bahan pemula bahan baku obat”. Tanaman atau bagian tanaman yang diekstraksi dan ekstrak tumbuhan

tersebut digunakan sebagai obat. Tanaman obat adalah obat tradisional yang berasal dari tanaman-tanaman yang mempunyai khasiat ssebagai obat atau diperkirakan

mempunyai khasiat sebagai obat. Di mana khasiatnya diketahui dari hasil telaah

secara ilmiah yang secara klinis terbukti bermanfaat bagi kesehatan dan juga dari penuturan serta pengalaman orang-orang tua terdahulu.

2.1.2. Jenis-jenis Tanaman Obat Disekitar tempat tinggal penduduk banyak tumbuh jenis tanaman yang

bermanfaat bagi kesehatan manusia, untuk itu masyarakat dapat mengusahakan sendiri untuk menanam tanaman tersebut di pekarangan. Misalnya seperti jenis

tanaman sayur-sayuran, tanaman obat-obatan dan tanaman buah-buahan yang secara langsung bermanfaat bagi kehidupan masyarakat itu sendiri. Dalam membudidayakan berbagai tanaman dalam rangka mewujudkan apotik hidup yang dapat dikembangkan pada lahan-lahan pekarangan rumah atau dalam mengembangkannya pada sebidang tanah yang khusus diperuntukkan tanamantanaman yang dapat digunakan untuk dikonsumsi, seperti sayur, buah-buahan atau tanaman yang berkhasiat obat-obatan, tanaman ini perlu pengelolaan yang baik

supaya memberikan hasil yang baik pula, baik itu untuk sendiri ataupun yang dibutuhkan oleh masyarakat untuk dijadikan sebagai obat-obatan. Jenis tanaman yang berkhasiat obat sebagaimana dijelaskan Kartasapoetra (1992 : 33) antara lain adalah: “gandarusa, daun ungu, kembang coklat, pegagan, tapak dara, pepaya, greges otot, peria, cocor bebek, jarak parak, gedung hitam, kayu Aceh, tebu hitam, iler, kumis kucing, kacar, jambu biji, kayu usin, pandan wangi, lomba, brotoli, serei, ginseng, rimbang, kayu gambir, bangle, rimbang, jerango, temu lawak, kunyit, lempunyang, lengkuas, dan jahe”.

Tanaman obat adalah salah satu bahan utama produk-produk jamu, obat tradisional yaitu obat yang berdasarkan pengalaman turun-menurun dibuat dari bahan atau paduan bahan-bahan tanaman. Kartasapoeatra, (1992:3) menyatakan bahwa: “tanaman obat adalah bahan yang berasal dari tanaman yang masih sederhana, murni, belum tercampur atau belum diolah“ sedangkan Siswanto, (1997:3) menyatakan jenis tanaman obat adalah: 1 Tanaman atau bagian tanaman yang digunakan sebagai bahan yang digunakan sebagai jamu. Tanaman atau bagian tanaman yang digunakan sebagai bahan pemula bahan baku Tanaman atau bagian tanaman yang diektradisi dan ektratanaman tersebut digunaka sebagai obat. Bagian tanaman yang digunakan oleh masyarakat diramu sebagai obat adalah, seperti daun, bunga, buah, akar dan kulit, sesuai dengan jenis tanaman. Bagian-bagian tersebut dapat dimanfaatkan oleh masyarakat untuk diramu sesuai dengan kebutuhan dan dapat dijadikan sebagai obat tradisional;.

2 3

2.1.3. Jenis-jenis Tanaman obat yang dibudidayakan Masyarakaat Jenis tanaman obat yang sering ditanam masyarakat dan mudah didapatkan di pekarangan-pekarangan rumah penduduk adalah seperti papaya, daun pacar, temu lawak, kunyit, lengkuas, mengkudu dan jerus nipis. Masyarakat sudah sering menggunakan jenis tanaman tersebut, karena banyak ditanam penduduk atau di kebun-kebun. Menurut Siswanto, (1997:3) jenis tanaman obat yang sering dibudidayakan oleh masyarakat adalah: “tanaman obat yang penanaman dan pemeliharaan mudah di pekarangan

dilakukan dan tidak membutuhkan tempat-tempat penanaman yang khusus. Tanaman obat tersebut juga mudah diramu sebagai obat tradisional”. Tanaman yang sering dibudidayakan oleh masyarakat adalah jenis tanaman yang sering digunakan atau dimanfaatkan. Karena masyarakat sudah mengenai tanaman tersebut, baik dalam pemanfaatan sebagai obat, dan meramupun mudah dilakukan sehingga tanaman tersebut sering dibudidayakan oleh masyarakat. Di sekitar tempat tinggal penduduk banyak tumbuh dengan tanaman yang bermanfaat bagi kesehatan manusia, untuk itu masyarakat dapat mengusahakan

sendiri untuk menanam tanaman tersebut di pekarangan. Misalnya seperti jenis sayursayuran, tanaman obat-obatan dan tanaman buah-buahan yang secara langsung bermanfaat bagi kehidupan masyarakat itu sendiri. Dalam membudidayakan berbagai tanaman dalam rangka mewujudkan aptotik hidup yang dapat dikembangkan pada lahan-lahan pekarangan rumah atau dalam mengembangkan pada sebidang tanah yang khusus diperuntukkan untuk menanam tanaman apotik hidup yang dapat digunakan untuk dikonsumsikan, seperti sayur, buah-buahan atau tanaman yang berkhasiat obat. Tanaman ini perlu pengelolaan yang baik supaya memberikan hasil yang baik pula, baik itu untuk sendiri ataupun yang dibutuhkan oleh masyarakat untuk dijadikan sebagai obat-obatan. Beberapa tanaman obat dapat diusahakan di pekarangan rumah yang biasanya mudah didapat, dipelihara dan dikembangkan. Pada umumnya tanaman tersebut

memenuhi kriteria seperti disebutkan Kartasapoetra (1992 : 1) sebagai berikut: 1. Sudah lazim digunakan di daerah setempat 2. Sudah dikembangkan dan tidak perlu penanaman khusus serta tidak perlu pemeliharaan yang rumit.

3. Dapat memanfaatkan untuk keperluan lain, misalnya untuk sumber makanan, bumbu dapur, kayu bakar dan bahan-bahan kerajinan. 4. Dapat diolah menjadi obat dengan cara yang sederhana 5. Ada pula yang merupakan tanaman liar. Dengan demikian jelaslah bahwa tanaman obat sangat bermanfaat bagi masyarakat terutama untuk diramu sebagai obat tradisional guna menyembuhkan penyakit. Tanaman obat perlu dibudidayakan dan ditanam di pekerangan rumah, sehingga selain dapat meningkatkan pendapatan keluarga, dapat dijadikan sebagai obat tradisional. Tanaman yang dapat dipergunakan sebagai obat, sebagaimana diuraikan di atas perlu dibudidayakan dan dimanfaatkan oleh masyarakat dengan baik, sehingga tumbuhan tersebut dipentingkan dan menjadi salah satu faktor penting untuk dijadikan sebagai obat tradisional. Penggunaan tumbuhan obat bagi masyarakat perlu diketahui khasiat dan manfaat dari tumbuhan tersebut, jika tidak maka banyak sekali dijumpai tumbuhan yang berkhasiat obat diabaikan oleh masyarakat atau tidak dimanfaatkan, sehingga khasiat dari tanaman obat tersebut menjadi rendah dikarenakan masyarakat belum memahami meramu tanaman obat tersebut untuk digunakan sebagai obat penyebut pada bagian-bagian yang sakit.

2.1.4. Manfaat Tanaman Obat Banyak manfaat yang dapat dirasakan oleh masyarakat dengan adanya tanaman obat. Tanaman obat dapat dibudidayakan berbagai jenis tanaman seperti, tanaman obat-obatan, tanaman hias seperti bunga dan berbagai jenis sayur mayur dan

tanaman buah-buahan. Bahkan tanaman obat-obatan dapat dimanfaatkan sebagai obat tradisional bagi masyarakat. Meskipun kemajuan dalam bidang teknologi dan ilmu pengetahuan terus berkembang pesat, namun penggunaan tumbuhan sebagai obat tradisional oleh masyarakat terus meningkat dan perkembangannya terus semakin maju. Hal ini dapat dilihat terutama dengan semakin banyaknya obat tradisional dan jamu-jamu yang beredar di masyarakat yang diolah oleh industri-industri. Menurut Surpiono, (1997:19) ada beberapa manfaat tumbuhan obat seperti: 1. Menjaga kesehatan. Fakta keampuhan obat tradisional dalam menunjang kesehatan telah terbukti secara empirik, penggunaannyapun terdiri dari berbagai lapisan, mulai anak-anak, remaja dan orang lanjut usia. 2. Memperbaiki status gizi masyarakat. Banyak tanaman apotik hidup yang dapat dimanfaatkan untuk perbaikan dan peningkatkan gizi, seperti: kacang, sawo dan belimbing wuluh, sayur-sayuran, buah-buahan sehingga kebutuhan vitamin akan terpenuhi. 3. Menghijaukan lingkungan, meningkatkan penanaman apotik hidup salah satu cara untuk penghijauan lingkungan tempat tinggal. 4. Meningkatkan pendapatan masyarakat. Penjualan hasil tanaman akan menambah penghasilan keluarga. Dari uraian di atas dapat diketahui bahwa tumbuhan pekarangan rumah selain dapat digunakan untuk peningkatan gizi keluarga, juga sebagai pelestarian lingkungan dan meningkatkan pendapatan masyarakat. Untuk itu pembudidayaan tanaman yang bermanfaat bagi kehidupan masyarakat perlu dilestarikan dengan baik. Tanaman obat yang ditanam di pekarangan rumah penduduk memiliki banyak manfaatnya, selain dapat dijadikan sebagai obat tradisional yang diramu dan dibuat sebagai obat, tanaman tersebut dapat dimanfaatkan untuk menambah pendapat

keluarga. Dengan demikian disamping dijadikan sebagai penyembuhan penyakit, tanaman obat-obatan juga dapat meningkatkan pendapatan keluarga.

2.1.5. Tujuan Menanam Tanaman Obat Tradisional Tujuan pembangunan kesehatan adalah tercapainya hidup sehat bagi setiap penduduk, agar dapat mewujudkan derajat kesehatan masyarakat yang bertujuan untuk meningkatan taraf hidup sehat masyarakat disamping menjadikan lingkungan asri dan sejuk, serta dapat menciptakan keindahan. Keanekaragaman tanaman adalah jumlah jenis tumbuhan pada suatu tempat tertentu, oleh karena itu pada pekarangan rumah dapat dimanfaatkan untuk menanam berbagai jenis tanaman apotik hidup, baik untuk dikonsumsikan bagi keluarga, maupun untuk menambah penghasilan. Jufri, (1995:19) mengatakan:

“keanekaragaman jenis tanaman apotik hidup dapat dijadikan suatu sifat deskripsi suatu komunitas yang sama nilainya dengan daftar semua jenis tumbuhan pada komunitas suatu pekarangan”. Selanjutnya Djoko, (1985:22) menyebutkan bahwa: Pemanfaatan pekarangan rumah untuk menanam berbagai jenis tanaman apotik hidup sangat perlu sehingga dapat memberikan manfaat bagi keluarga serta dapat menambah pendapatan. Jenis tanaman yang dibudidayakan dalam pekarangan tempat tinggal adalah tanaman yang dapat dipanen dalam waktu yang cepat sehingga dapat memberikan arti dan manfaat untuk kepentingan keluarga, baik untuk dikonumsikan sehari-hari maupun untuk diambil khasiatnya sebagai obat tradisional. Menurut Sudjana, (1996:13) “pekarangan dapat bermanfaat untuk keindahan pemandangan, lumbung hidup, perbaikan gizi, penambahan pendapatan keluarga, menyediakan bahan bangunan dan kerajian tangan”. Tanaman dapat ditanam di pekarangan rumah seperti, bayam, cabai, tomat, mangga, jenis tanaman obat-obatan

dan sebagainya. Selanjutnya Sudjana, (1996:21) menyatakan: “pada dasarnya tanaman yang dapat ditanam di pekarangan rumah terdiri dari golongan tanaman penutup tanah, tanaman perdu dan pohon-pohonan. Ketiga tanaman ini berfungsi sebagai tanaman hias, tanaman untuk kebutuhan sehari-hari dan tanaman untuk diperdagangkan”. Sudjana, (1996:21) pemeliharaan tanaman perkarangan, yaitu: 1. Sanitasi tanah harus diusahakan agar selalu dalam keadaan gembur dan bersih dari rerumputan. 2. Penyiraman dilakukan setiap pagi dan sore secara teratur dan cukup, terutama diwaktu tidak ada hujan semenjak tanaman ditanam. 3. Tanaman harus selalu diperhatikan dan diperiksa kalau-kalau terserang hama penyakit, usahakan agar pemberantasannya sedapat mungkin tidak dengan pertisida, ulat-ulat yang menyerang daun atau tanaman dan telur-telurnya diberantas. 4. Pemupukan tanaman di pekarangan rumah dilakukan menurut jadwal dan dosis yang dianjurkan. Sehubungan dengan pemanfaatan pekarangan rumah, Widyawati, (2000:23) menyebutkan bahwa: Pekarangan rumah perlu dimanfaatkan dengan baik oleh keluarga, baik dalam menanam tanaman apotik hidup, menanam bunga dan tanaman jenis obatobatan sehingga selain dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan keluarga dapat juga dijadikan sebagai penambahan pendapatan sehingga keluarga dapat menambah penghasilan sampingan untuk memenuhi keperluan sehari-hari. Dari pernyataan tersebut jelaslah bahwa rumah yang memiliki pekarangan yang luas, jika tidak dimanfaatkan akan terbengkalai, di samping tidak ada manfaat juga dapat menjadikan pekarangan kotor karena tidak dibenahi. Akan tetapi jika pekarangan yang tersedia dengan luas bisa dimanfaatkan oleh keluarga untuk menanam tanaman apotik hidup ataupun tanaman lainnya, maka pekarangan tersebut selain bersih juga dapat bermanfaat kepada keluarga dari hasil tanaman tersebut. Selanjutnya Jufri, (1995:67) menyatakan bahwa:

Bagi warga yang memiliki pekarangan yang luas atau mencukupi untuk menanam jenis tanaman, maka sebaiknya perlu pengelolaan pekarangan rumah yang baik dan dapat ditanam berbagai jenis tanaman yang bermanfaat. Tujuan pemanfaatan pekarangan dalam menanam berbagai jenis tanaman adalah selain kelihatan pekarangan bersih juga hasil yang diperoleh dapat digunakan untuk kebutuhan sehari-hari. Dengan demikiam jelaslah bahwa, bagi setiap warga yang memiliki pekarangan rumah yang luas, diperlukan untuk menata dengan baik yaitu dengan menanam berbagai jenis tanaman yang bermanfaat, sehingga dapat digunakan untuk keperluan sehari-hari dalam menambah kebutuhan keluarga. Dalam meningkatkan tanaman apotik hidup di pekarangan rumah, perlu peran serta ibu-ibu rumah tangga, baik dalam pembudidayaan tanaman, pemeliharaan serta memotivasikan masyarakat setempat untuk memanfaatkan pekarangan rumah guna menanam berbagai jenis tanaman yang bermanfaat dalam kehidupan sehari-hari. Untuk meningkatkan penanaman tanaman obat di pekarangan rumah, masyarakat perlu mengetahui arti dan manfaat tanaman obat bagi dirinya dan masyarakat pada umumnya, karena komunitas tanaman obat memiliki beberapa ciri khas, seperti yang dikemukakan Michael, (1989:268) bahwa, : "komunitas tanaman memiliki beberapa ciri yang khas yang dapat diukur dan dipelajari antara lain keanekaragaman jenisnya, bentuk tanaman dan strukturnya serta suksesi dari komunitas", dengan demikian ibu-ibu rumah tangga perlu meningkatkan peranannya dalam pemanfaatan pekarangan rumah untuk menanam tanaman obat tradisional. Peranan masyarakat dalam menanam tanaman obat-obatan sangat penting, baik dalam memilih pekarangan yang sesuai untuk menanam tanaman, maupun dalam menyediakan bibit tanaman yang bermanfaat untuk ditanam di pekarangan rumah.

Untuk jenis tanaman yang rendah, seperti jenis sayur-sayuran dapat ditanam dibelakang rumah atau disamping rumah, akan tetapi perlu diperhatikan agar tanaman tersebut tidak mengganggu suasana pemandangan. Jika jenis tanaman tinggi seperti pohon jambu, mangga, jerus nipis dan sebagainya, maka dapat memilih tempat yang agak berjauhan dengan rumah sehingga akan terciptanya keamanan. Selain itu masyarakat beserta anggota keluarganya melakukan pemeliharaan tanaman obat misalnya seperti membuat pagar pekarangan yang aman. Tanaman obat perlu adanya perawatan atau pengelolaan yang baik, minimal 1 kali dalam sehari, baik menyiram maupun pembersihan rumput-rumput yang dapat mengganggu tanaman. Pemeliharaan tanaman obat memelukan teknik dan cara yang baik,

sehingga tanaman dapat tumbuh dengan baik dan subur sehingga tidak terganggu dengan berbagai serangan hama penyakit. Pemeliharan tanaman obat dalam pengelolaan dan penanaman diperlukan kesabaran bagi masyarakat dan ibu-ibu rumah tangga untuk menangani dengan baik, sehingga tanaman tersebut akan tumbuh dengan baik, bila perlu tanaman obat yang berkhasiat dan selalu diberikan pupuk untuk penyuburan, baik itu pupuk kandang maupun pupuk organik. Dengan melalui pemupukan maka tanaman apotik hidup akan tumbuh subur. Bagi masyarakat yang mempunyai pekarangan yang luas, dapat menanaman beberapa jenis tanaman, sehingga akan terciptanya kelengkapan tanaman

dipekarangan yang dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan sehari-hari. Perlu diketahui bahwa tanaman yang ditanaman adalah jenis tanaman yang memberikan manfaat kepada kehidupan sehari-hari, jika tanaman tersebut dimanfaatkan dalam waktu yang

lama, sebaiknya jangan ditanam di pekarangan rumah, akan tetapi jenis tanaman seperti itu dapat ditanaman dikebun-kebun.

Peningkatan pengetahuan masyarakat terhadap pentingnya kesehatan bagi keluarga merupakan salah satu faktor yang berpengaruh terhadap peran serta keluarga dalam masyarakat terhadap pengelolaan tanaman obat sangat penting. Bagi masyarakat yang pengetahuannya tinggi, maka merasa penting dan menyadari hidup sehat, sehingga memanfaatkan waktu dan tenaga untuk pengelolaan tanaman obat yang tujuannya adalah untuk menambah kebutuhan keluarga dalam pemenuhan makanan bergizi serta dapat digunakan sebagai obat tradisional. Perilaku masyarakat sehubungan dengan pemanfaatan tanaman obat serta pencarian pengobatan baru akan muncul jika seseorang menderita suatu penyakit dan juga ia rasakan sebagai rasa sakit. Perilaku yang sering terjadi dimasyarakat sehubungan dengan pencarian obat-obatan tradisional yang bisa digunakan dan diramu untuk menjadi obat Sarwono (1998 : 87) adalah: 1. Masyarakat tersebut bertindak mengobati sendiri penyakitnya. Tindakan ini dilakukan dengan alasan karena masyarakat tersebut sudah percaya pada diri sendiri, sudah merasa bahwa berdasarkan pengalamanpengalaman yang lalu dari usaha pengobatan sendiri dapat mendatangkan kesembuhan, alasan lain juga ditujukan karena menganggap jenis penyakitnya tidak parah. 2. Masyarakat mencari pengobatan ke fasilitas-fasilitas pengobatan tradisional, untuk masyarakat pedesaan khususnya pengobatan tradisional ini masih menduduki tempat teratas dibandingkan dnegan pengobatanpengobatan yang lain.

3.

Masyarakat mencari pengobatan ke fasilitas-fasilitas pengobatan modern yang diadakan oleh pemerintah atau lembaga-lembaga kesehatan swasta lainnya. 4. Masyarakat tidak bertindak apa-apa atas penyakit yang dideritanya, alasannya antara lain bahwa kondisi yang dialaminya tidak mengganggu kegiatan mereka sehari-hari. Dalam sistem pengobatan, masyarakat mengalami kesulitan untuk memilih dan menentukan sistem pengobatan kedokteran dan pengobatan tradisional, pada umumnya masyarakat membedakan penyakit antara yang diobati dengan sistem kedokteran modern dan pengobatan tradisional. Dengan demikian dalam masyarakat sering dilihat bahwa mereka memanfaatkan kedua jenis pengobatan tersebut. Perilaku masyarakat dalam mencari pelayanan kesehatan atau tempat-tempat pelayanan kesehatan, khususnya untuk memperoleh pengobatan sangat ditentukan oleh kebutuhan yang dirasakan oleh masyarakat itu sendiri (Budianto, 1992 : 54). “Perilaku kesehatan individu cenderung dipengaruhi oleh kepercayaan orang yang bersangkutan terhadap kondisi kesehatan yang diinginkan dan kurang berdasarkan pada pengetahuan biologis yang dimiliki individu tersebut”. Setiap individu mempunyai cara yang berbeda dalam mengambil tindakan penyembuhan, meskipun gangguan kesehatan sama. Pada umumnya tindakan yang diambil berdasarkan

penilaian individu atau mungkin dibantu oleh orang lain terhadap gangguan kesehatan yang terjadi. Oleh karena itu diharapkan kepada masyarakat supaya dapat meningkatkan pengetahuannya tentang pemanfaatan obat tradisional untuk

penyembuhan penyakit, khususnya masyarakat yang menanam tanaman obat dipekarangan.

2.2. Kajian Penelitian Terdahulu

Notoatmodjo (2003 :143) : "tumbuhan tradisional dapat dijadikan sebagai obat ramuan yang bermanfaat bagi penyembuhan penyakit. Selain dapat dijadikan sebagai obat juga dapat dijual untuk menambah pendapatan masyarakat". Jenis tanaman obat dapat ditanam di pekarangan rumah penduduk, sehingga tanaman tersebut dapat dipergunakan sebagai obat ketika diperlukan. Banyak masyarakat yang belum mengenal seluruhnya tanaman obat sehingga masyarakat belum memfungsikan pekarangan untuk menanam tumbuh-tumbuhan obat

tradisional.

2.3. Kerangka Pemikiran dan Argumentasi Keilmuan Menurut Kartaspoetra (1992:38) menjelaskan bahwa: masyarakat banyak yang belum mengenal jenis tanaman yang berkhasiat obat, sehingga tanaman tersebut kurang dibudidayakan di pekarangan rumah. Tumbuhan obat adalah bahan yang berasal dari tanaman yang masih sederhana, murni, belum tercampur atau belum diolah. Siswanto (1997 : 3) menyebutkan tumbuhan obat adalah: Tumbuhan atau tradisional atau jamu.

bagian tumbuhan yang digunakan sebagai bahan obat

Tumbuhan atau bagian tumbuhan yang digunakan sebagai bahan pemula bahan baku obat. Tumbuhan atau bagian tumbuhan yang diekstraksi dan ekstrak tumbuhan tersebut digunakan sebagai obat. Sedangkan Basiah (2001:12) mengatakan: tanaman obat banyak terdapat di pekarangan-pekarangan rumah penduduk, akan tetapi jarang dimanfaatkan oleh masyarakat untuk obat, hal ini dikarenakan masyarakat masih kurang mengenal jenis tanaman yang berkhasiat obat.

2.4. Hipotesis Hipotesis yang dirumuskan dalam penelitian ini adalah "jenis tanaman obat di pekarangan masyarakat Desa Kandang Aceh Selatan bervariasi".

2.5. Definisi Operasional Variabel Adapun beberapa definisi operasional variable pada penelitian ini adalah : 2.5.1. Pekarangan dalam bentuk umumnya adalah suatu bidang ruangan di dekat rumah tempat tinggal yang biasanya ditanam dengan beraneka ragam tanaman untuk memenuhi keperluan konsumsi sehari-hari maupun untuk perdagangan. Pekarangan merupakan sebidang tanah, baik luas ataupun sempit yang terdapat di luar bangunan rumah. Pekarangan adalah sebidang tanah di sekitar rumah yang biasanya dipagari dan ditanami berbagai tanaman pohon, buah-buahan, sayursayuran, bunga-bungaan serta jenis tanaman obat-obatan tradisional lainnya. 2.5.2. Tanaman obat adalah bahan yang berasal dari tanaman yang masih sederhana, murni, belum tercampur atau belum diolah. Tanaman obat adalah: “Tanaman atau bagian tanaman yang digunakan sebagai

bahan obat tradisional atau jamu, tanaman atau bagian tanaman yang digunakan sebagai bahan pemula bahan baku obat.

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

3.1. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian dilaksanakan di Desa Kandang Kabupaten Aceh Selatan yang berlangsung dari tanggal 7-10 Februari 2007.

3.2. Populasi dan Sampel Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh tanaman di pekarangan rumah penduduk di Desa Kandang yaitu berjumlah 63 rumah. Sampel yang diambil dalam penelitian ini adalah seluruh populasi yaitu 63 rumah penduduk Desa Kandang yang memiliki pekarangan dan menanam tanaman obat. Dengan demikian penelitian ini adalah penelitian populasi atau total populasi. Objek penelitian jenis-jenis tumbuhan yang dapat digunakan sebagai tanaman obat. Sampelnya adalah jenis tanaman yang dijadikan sebagai obat.

3.3. Metode dan Instrumen Penelitian

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif dengan parameter data penelitian adalah seluruh tanaman di pekarangan rumah penduduk Untuk Memperoleh data penelitian digunakan instrumen yang terdiri dari tabel yang telah dipersiapkan dengan nama-nama tanaman obat tradsional, alat tulis menulis dan kamera.

3.4. Metode Analisis Data Data yang diperoleh, dianalisis dengan menggunakan rumus persentase sebagai berikut :
P= F ×100 % ………………………………………(Arikunto, 1993 : 151) N

Keterangan : P F N = Persentase yang dicari = Frekuensi jawaban responden = Besarnya sampel

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Gambaran Umum Lokasi Penelitian Desa Kandang merupakan salah satu desa yang berada dalam wilayah Kabupaten Aceh Selatan. Desa Kandang dengan luas wilayah lebih kurang 530 Ha dengan jumlah penduduk 455 jiwa atau 76 Kepala Keluarga. Desa Kandang banyak terdapat jenis tanaman obat di pekarangan rumah penduduk, akan tetapi masih banyak penduduk yang tidak memanfaatkan jenis tanaman tersebut karena masyarakat kurang mengetahui tentang jenis tanaman yang berkhasiat obat. Masyarakat Desa Kandang yang memiliki pekarangan dan digunakan untuk menanami jenis tanaman obat adalah 63 rumah. Jenis tanaman yang ditanam oleh masyarakat ada yang khusus dikelola dan dipelihara dengan baik dan ada juga yang tumbuh sendiri tanpa dikelola, sehingga banyak tanaman obat yang belum dikelola dengan baik sehingga masyarakat masih kurang mengetahui jenis tanaman yang bisa dijadikan sebagai obat tradisional.

4.2. Hasil Penelitian 4.2.1 Jenis Tanaman Obat yang Terdapat di Pekarangan Rumah Penduduk Desa Kandang Kabupaten Aceh selatan merupakan sebuah Desa yang keadaan tanahnya masih tergolong subur dan masih berpeluangnya menanami

berbagai jenis tanaman obat, baik di pekarangan rumah penduduk maupun di kebunkebun terbuka. Di pekarangan rumah penduduk banyak tumbuh jenis tanaman yang bermanfaat bagi kesehatan manusia, untuk itu masyarakat dapat mengusahakan sendiri untuk menanam tanaman tersebut di pekarangan. Membudidayakan berbagai tanaman dalam rangka mewujudkan masyarakat sehat dan dapat memanfaatkan tanaman pekarangan dan dapat juga dikembangkan pada lahan-lahan pekarangan rumah atau dalam mengembangkannya pada sebidang tanah yang khusus diperuntukkan tanaman-tanaman yang dapat digunakan untuk berbagai jenis penyembuhan penyakit yang berkhasiat obat-obatan, tanaman ini perlu pengelolaan yang baik supaya memberikan hasil yang baik pula, baik itu untuk sendiri ataupun yang dibutuhkan oleh masyarakat untuk dijadikan sebagai obatobatan. Tanaman obat adalah salah satu bahan utama produk-produk jamu, obat tradisional yaitu obat yang berdasarkan pengalaman turun-menurun dibuat dari bahan atau paduan bahan-bahan tanaman. tanaman obat adalah bahan yang berasal dari tanaman yang masih sederhana, murni, belum tercampur atau belum diolah. Tanaman atau bagian tanaman yang digunakan sebagai bahan yang digunakan

sebagai jamu. Tanaman atau bagian tanaman yang digunakan sebagai bahan pemula

bahan baku

Tanaman atau bagian tanaman yang diekstrasi dan ektrak tersebut

digunakan sebagai obat. Bagian tanaman yang digunakan oleh masyarakat diramu sebagai obat adalah, seperti daun, bunga, buah, akar dan kulit, sesuai dengan jenis tanaman. Bagian-bagian tersebut dapat dimanfaatkan oleh masyarakat untuk diramu sesuai dengan kebutuhan dan dapat dijadikan sebagai obat tradisional. Adapun jenis

tumbuhan pekarangan rumah sebagai obat tradisional yang terdapat dirumah penduduk adalah sebanyak 35 jenis tanaman. Sampel yang diteliti dalam penelitian ini adalah 63 rumah penduduk yang memiliki pekarangan untuk menanam berbagai jenis tumbuhan obat-obatan. Adapun jenis tumbuhan obat yang banyak terdapat di pakrangan rumah penduduk adalah sebagai terlibat pada tabel 4.1 di bawah ini. TABEL 4.1 JENIS TANAMAN OBAT YANG BANYAK TERDAPAT DI PEKARANGAN RUMAH PENDUDUK DESA KANDANG KABUPATEN ACEH SELATAN No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. Jenis tanaman Daun pacar Jahe Jeruk nipis Kunyit Kencur Lidah buaya Nenas Pepaya Pinang Serai Seledri Sirih Jumlah Jumlah (rumah) 51 43 32 54 13 8 26 23 20 12 12 37 63 Persentase (%) 81 68 51 86 21 13 41 37 32 19 19 59 100

Sumber: Hasil Penelitian diolah, 2007 Berdasarkan tabel 4.1 di atas menunjukkan bahwa jumlah tumbuhan obatobatan yang terdapat di pekarangan rumah penduduk Desa Kandang adalah yang paling banyak tanaman obat kunyit yaitu 54 rumah (86%), daun pacar 51 orang (81%). Kemudian jahe 43 rumah (68%). Sedangkan jenis tumbuhan obat yang sedikit terdapat di pekarang rumah penduduk Desa Kandang adalah jahe dan sirih 37 rumah (59%) dan pinang, jeruk nipis 32 rumah (51%). Tanaman yang paling sedikit

terdapat dirumah penduduk adalah lidah buaya yaitu 8 rumah (13%), serai 12 rumah (19%) dan kencur 13 rumah (21%). Sedangkan tumbuhan obat yang jarang terdapat di pekarangan rumah penduduk adalah, daun mangkok, jarak, temulawak, belimbing wuluh, lengkuas, jambu mente, patikan kebo, mengkudu, jambu biji, jeruk purut, pecut kuda, pegagan, tapak limau, srikaya, jambu biji, bambu, seledri, alang-alang dan putri malu.

4.2.2 Jenis Tumbuhan Obat yang Sudah dan Belum dikenal oleh Masyarakat 4.2.2.A Tanaman obat yang sudah dikenal masyarakat Sering kali kita jumpai bahwa kebanyakan masyarakat belum banyak mengenal jenis tanaman obat yang berkhasiat, walaupun tanaman tersebut banyak terdapat di pekarangan rumah maupun yang tumbuh di kebun-kebun. Hal ini

dikarenakan masyarakat masih mengabaikan atau kurang memanfaatkan tanaman obat tersebut sebagai obat tradisional. Tanaman obat adalah bahan yang berasal dari tanaman yang masih sederhana, murni, belum tercampur atau belum diolah. Tanaman bagian tumbuhan yang

digunakan sebagai bahan obat tradisional atau jamu. Tanaman atau bagian tumbuhan yang diekstraksi dan ekstrak tumbuhan tersebut digunakan sebagai obat. Tanaman obat adalah obat tradisional yang berasal dari tumbuh-tumbuhan yang mempunyai khasiat sebagai obat. Dimana khasiatnya diketahui dari hasil telaah secara ilmiah yang secara klinis terbukti bermanfaat bagi kesehatan dan juga dari penuturan serta pengalaman orang-orang tua terdahulu. Namun demikian masyarakat banyak yang belum mengenal bahkan belum pernah menggunakan jenis tanaman obat tersebut untuk dijadikan sebagai obat tradisional, hal ini disebabkan karena masih kurangnya pengetahuan masyarakat terhadap pemanfaatan tanaman obat yang ada di pekarangan rumah. Adapun jenis tanaman obat-obatan yang sudah dikenal oleh masyarakat Desa Kandang seperti yang tercantum dalam tabel 4.2. TABEL 4.2 JENIS TANAMAN OBAT YANG SUDAH DIKENAL OLEH MASYARAKAT PENDUDUK DESA KANDANG KABUPATEN ACEH SELATAN No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 Jenis tanaman Daun pacar Jarak Jeruk nipis Jahe Jambu biji Jeruk perut Kunyit Kencur Lengkuas Lidah buaya Mengkudu Melati Nenas Pepaya Pinang Putri malu Serai Sirih Keterangan Sangat dikenal Dikenal Sangat dikenal Sangat dikenal Kurang dikenal Sangat dikenal Sangat dikenal Sangat Dikenal Dikenal Dikenal Dikenal Dikenal Sangat dikenal Sangat dikenal Sangat dikenal Kurang dikenal Sangat dikenal Sangat dikenal

19 Seledri 20 Temulawak 21 Tapak Limau Sumber: Hasil Penelitian diolah, 2007

Dikenal Dikenal Kurang dikenal

Berdasarkan Tabel 4.2. tersebut dapat dilihat bahwa ada 21 jenis tumbuhan obat yang sudah dikenal oleh masyarakat Desa Kandang, bahkan ada masyarakat yang sering memanfaatkan tanaman obat tersebut, baik untuk dijadikan sebagai bumbu dapur maupun diramu untuk dijadikan sebagai obat tradisional.

4.2.2.B Jenis Tanaman Obat yang Kurang Dimanfaatkan oleh Masyarakat Jenis tanaman obat-obatan yang ada di pekarangan rumah penduduk yang kurang dimanfaatkan adalah jenis tanaman yang jarang terdapat. Biasanya tanaman obat ini tumbuh di tempat-tempat liar, dikebun-kebun kosong dan kurang adanya perawatan dari masyarakat sehingga dengan langkanya jenis tanaman obat di pekarangan rumah penduduk masyarakat tidak mengenal bahwa tanaman tersebut sebenarnya berkhasiat sebagai obat tradisional. Adapun jenis tanaman obat-obatan kurang dimanfaatkan oleh masyarakat Desa Kandang seperti yang tercantum dalam tabel 4.3. TABEL 4.3 JENIS TANAMAN OBAT YANG BELUM DIKENAL OLEH MASYARAKAT PENDUDUK DESA KANDANG KABUPATEN ACEH SELATAN No. 1 2 3 4 5 6 7 Jenis tanaman Alang-alang Belimbing wuluh Bunga matahari Jambu mente Kembang sepatu Kembang pukul empat Kumis kucing Nama Ilmiah Imperata cylindrical L Averrhoa bilimbi L Centella aciatica V Anacardium occodentele L Hibiscus rosusinensis Linn Mirabilis jalapa Orthasipan aristatus

8 Melati 9 Nenas 10 Patikan kebo 11 Pegagan 12 Putri malu 13 Pecut kuda 14 Serai Sumber: Hasil Penelitian diolah, 2007

Jasminum sambak L Ananas sativus Euphorbia hirta L Centella aciatica V Mimosa pudica Stachytarpheta Cymbopogan nardus

Berdasarkan Tabel 4.3. tersebut dapat dilihat bahwa ada 14 jenis tumbuhan obat yang kurang dimanfaatkan oleh masyarakat, akan tetapi tanaman obat tersebut ada di pekarangan rumah penduduk. Tanaman obat yang kurang dimanfaatkan oleh masyarakat ini biasanya tidak dipergunakan, karena masyarakat belum mengetahui secara jelas tanaman tersebut berkhasiat sebagai obat. Kurangnya pengetahuan

masyarakat terhadap jenis tanaman tersebut merupakan salah satu faktor tidak digunakan tanaman tersebut sebagai obat tradisional. Tanaman obat yang kurang dimanfaatkan oleh masyarakat terdapat di beberapa pekarangan rumah penduduk, namun demikian masyarakat sering mengabaikan dan tidak dilakukan perawatan dengan baik dikarenakan masyarakat belum mengetahui khasiat tanaman obat tersebut serta penggunaan tanaman obat tersebut untuk diramu guna mengobati penyakit.

4.2.3. Manfaat Tanaman Obat Tanaman obat banyak sekali manfaatnya terutama untuk menyembuhkan berbagai jenis penyakit. Banyak manfaat yang dapat dirasakan oleh masyarakat

dengan adanya tumbuhan tradisional. Tumbuhan dapat dibudidayakan berbagai jenis seperti, tanaman obat-obatan, tanaman hias seperti bunga dan berbagai jenis sayur

mayur dan tanaman buah-buahan. Bahkan tanaman obat-obatan dapat dimanfaatkan sebagai obat tradisional bagi masyarakat. Meskipun kemajuan dalam bidang teknologi dan ilmu pengetahuan terus berkembang pesat, namun penggunaan tumbuhan sebagai obat tradisional oleh masyarakat terus meningkat dan perkembangannya terus semakin maju. Hal ini dapat dilihat terutama dengan semakin banyaknya obat tradisional dan jamu-jamu yang beredar di masyarakat yang diolah oleh industri-industri obat dan jamu. Ada beberapa manfaat tumbuhan obat yang pertama dapat menjaga kesehatan. Fakta keampuhan obat tradisional dalam menunjang kesehatan telah terbukti secara empirik, penggunaannyapun terdiri dari berbagai lapisan, mulai anak-anak, remaja dan orang lanjut usia. Kedua dapat memperbaiki status gizi masyarakat. Banyak tanaman apotik hidup yang dapat dimanfaatkan untuk perbaikan dan peningkatkan gizi, seperti: kacang, sawo dan belimbing wuluh serta sayur-sayuran, buah-buahan sehingga kebutuhan vitamin akan terpenuhi. Ketiga dapat menghijaukan lingkungan, meningkatkan penanaman apotik hidup salah satu cara untuk penghijauan lingkungan tempat tinggal. Keempat dapat meningkatkan pendapatan masyarakat. Penjualan hasil tanaman akan menambah penghasilan keluarga. Tanaman pekarangan rumah selain dapat digunakan untuk peningkatan gizi keluarga, juga sebagai pelestarian lingkungan dan meningkatkan pendapatan masyarakat. Untuk itu pembudidayaan tanaman yang bermanfaat bagi kehidupan masyarakat perlu dilestarikan dengan baik. Manfaat tanaman obat yang terdapat di pekarangan rumah penduduk antara lain adalah:

Pepaya, bagian yang digunakan adalah batang, daun dan buah, kegunaan pepaya adalah sebagai obat deman. Jarak, bagian yang digunakan adalah biji yang mengandung minyak, kegunaan jarak ini untuk obat kumur dan penderita gusi berdarah. Serei bagian yang diambil adalah daun dan akar, kegunaan untuk

menghilangkan sakit gigi. Jahe, bagian yang digunakan adalah rimpang yang khasiatnya untuk obat masuk angin, menambah nafsu makan dan obat sesak nafas. Temulawak, bagian yang digunakan rimpang kegunaannya untuk mengobati jerawat dan penyakit kulit, serta menyembuhkan kelesuan. Belimbing wuluh, bagian yang digunakan adalah daun, buah dan bunga. Kegunaannya adalah obat sakit perut, encok, deman, batuk, sariawan, gusi berdarah, jerawat dan tekanan darah tinggi. Kunyit, bagian yang digunakan adalah rimpang kegunaannya untuk penyakit kulit seperti kudis, panu, tekanan darah tinggi, menghilangkan bau yang tidak sedap dan keringatan. Lengkuas, bagian yang digunakan daun dan rimpang, kegunaan untuk mengobati penyakit kulit. Sirih diambil daunnya, kegunaannnya untuk

menghilangkan bau badan, membunuh kuman, menghilangkan gangguan pencernaan dan melancarkan peredaran darah. Daun pacar, bagian yang digunakan daun untuk kegunaan penebalan kulit, menghilangkan sakit maag. Pinang bagian yang digunakan buah yang masih muda untuk kegunaan mencegah gatal-gatal dan menghaluskan kulit. Mengkudu, bagian yang digunakan adalah buah dan daun, kegunaannya adalah untuk obat pelangsing, menambah nafsu makan, obat kencing manis, biri-biri, sariawan, ketombe, memperlancar buang air besar. Jeruk nipis bagian yang

digunakan buah, kulit dan akar, kegunaannya adalah obat pelangsing, turun panas dan demam. Jambu mente bagian yang digunakan adalah buah, getah buah muda, Jeruk perut, bagian yang

kegunaannya adalah obat untuk pelancar kencing.

digunakan buah, kegunaannya untuk membersihkan kulit. Pecut kuda, bagian yang digunakan herba, bunga, kegunaannya pelancar haid dan pelancar kulit, pegagan bagian yang digunakan seluruh bagian kecuali akar, kegunaannya adalah kencing darah, batuk kering, bisul, campak dan demam. Serta kencing keruh. Srikaya, bagian yang digunakan daun dan biji dapat digunakan untuk pelancar haid, dan menambah nafsu makan. Jambu biji yang digunakan adalah daun, buah, mengkal, ranting muda dan akar, kegunaan untuk obat gusi berdarah, dan penyakit kulit. Seledri bagian yang digunakan adalah batang dan daun, khasiat dari seledri adalah untuk sembelit dan pelancar datang haid. Lidah buaya, bagian yang digunakan adalah daun yang berdaging, khasiatnya adalah untuk memperlancar pengeluaran air seni, menurunkan panas dan tekanan darah. Alang-alang adalah yang digunakan daun, khasiatnya mengobati penyakit kulit. Putri malu yang digunakan daun untuk kecantikan dan kebugaran. Kencur yang digunakan rimpang, kegunaannya adalah mengurangi keluarnya asam lambung yang berlebihan. Nenas yang digunakan adalah buah untuk penyakit darah manis. Dengan demikian dapat dijelaskan bahwa, manfaat tumbuhan obat bagi masyarakat sangat besar sekali, oleh karena itu perlu mengupayakan menanam tumbuhan obat dengan memanfaatkan pekarangan rumah, sehingga dapat dirasakan

manfaatnya bagi penyembuhan penyakit dan sekaligus dapat memperoleh penghasilan dari hasil penjualan tanaman obat tersebut.

4.3. Pembuktian Hipotesis Hipotesis yang telah dirumuskan pada bab sebelumnya yaitu jenis tanaman obat di pekarangan masyarakat Desa Kandang Kabupaten Aceh Selatan bervariasi diterima kebenarannya. Hasil ini dibuktikan melalui hasil penelitian bahwa terdapat 35 tanaman. Dari 35 jenis tersebut hanya 21 jenis yang sudah dikenal dan sudah dimanfaatkan di Desa tersebut.

4.4.Pembahasan Pemanfaatan pekarangan rumah merupakan salah satu faktor yang perlu diperhatikan oleh masyarakat yang memiliki pekarangan luas sehingga dapat menanam berbagai jenis tumbuhan obat untuk digunakan dalam penyembuhan penyakit sebagai obat tradisional. Masyarakat Desa Kandang telah memanfaatkan Berdasarkan

pekarangan untuk menanam berbagai jenis tanaman obat-obatan.

pengamatan penulis ke lapangan terdapat 35 jenis tumbuhan obat yang telah ditanam oleh masyarakat di berbagai pekarangan rumah. Namun demikian belum sepenuhnya masyarakat mengenal dan memanfaatkan jenis tanaman yang tumbuh di pekarangan rumah. Padahal tumbuhan obat tersebut sangat besar manfaatnya untuk dijadikan sebagai obat tradisional. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (Tabel 4.2) ada 21 jenis tumbuhan obat yang sudah dikenal oleh masyarakat Desa Kandang, bahkan ada masyarakat

yang sering memanfaatkan tanaman obat tersebut, baik untuk dijadikan sebagai bumbu dapur maupun diramu untuk dijadikan sebagai obat tradisional. Namun demikian kategori dikenal oleh masyarakat terhadap jenis tanaman yang ada di pekarangan rumah penduduk berdasarkan hasil wawancara penulis antara lain sebagai berikut: 33utrid, serei, jahe, kunyit, sirih, daun pacar, pinang, jeruk nipis, jeruk perut, kencur dan nenas. Sedangkan jenis tumbuhan obat-obatan yang terdapat di pekarangan rumah penduduk Desa Kadang yang dikenal adalah, jarak, temu lawak, lengkuas, seledri, mengkudu dan lidah buaya. Selanjutnya jenis tanaman obat yang ada di pekarangan rumah penduduk yang kurang dimanfaatkan adalah 33utrid malu dan jambu mente. Disekitar tempat tinggal penduduk banyak tumbuh jenis tanaman yang bermanfaat bagi kesehatan manusia, untuk itu masyarakat dapat mengusahakan sendiri untuk menanam tanaman tersebut di pekarangan. Misalnya seperti jenis tanaman sayur-sayuran, tanaman obat-obatan dan tanaman buah-buahan yang secara langsung bermanfaat bagi kehidupan masyarakat itu sendiri. Dalam membudidayakan berbagai tanaman dalam rangka mewujudkan apotik hidup yang dapat dikembangkan pada lahan-lahan pekarangan rumah atau dalam mengembagkannya pada sebidang tanah yang khusus diperuntukkan tanamantanaman yang dapat digunakan untuk dikonsumsi, seperti sayur, buah-buahan atau tanaman yang berkhasiat obat-obatan, tanaman ini perlu pengelolaan yang baik

supaya memberikan hasil yang baik pula, baik itu untuk sendiri ataupun yang dibutuhkan oleh masyarakat untuk dijadikan sebagai obat-obatan. Jenis tanaman yang berkhasiat obat sebagaimana dijelaskan Kartasapoetra (1992 : 33) antara lain adalah:

gandarusa, daun ungu, kembang coklat, pegagan, tapak dara, 34utrid, greges otot, peria, cocor bebek, jarak pagar, gedung hitam, kayu Aceh, tebu hitam, iler, kumis kucing, kacar, jambu biji, kayu usin, pandan wangi, lomba, brotoli, serei, ginseng, rimbang, kayu gambir, bangle, rimbang, jerango, temu lawak, kunyit, lempunyang, lengkuas, dan jahe. Tanaman obat adalah salah satu bahan utama produk-produk jamu, obat tradisional yaitu obat yang berdasarkan pengalaman turun-menurun dibuat dari bahan atau paduan bahan-bahan tanaman. Kartasapoeatra, (1992:3) menyatakan bahwa: tanaman obat adalah bahan yang berasal dari tanaman yang masih sederhana, murni, belum tercampur atau belum diolah“ sedangkan Siswanto, (1997:3) menyatakan tanaman obat adalah: Tanaman atau bagian tanaman yang digunakan sebagai bahan yang digunakan sebagai jamu, sebagai bahan pemula bahan baku Tanaman atau bagian tanaman yang diektrak dan ektrak tanaman tersebut digunakan sebagai obat. Dengan demikian dapat dijelaskan bahwa pemanfaat pekarangan untuk menamam berbagai jenis tumbuhan obat sangat bermanfaat sekali, disamping dapat diramu sebagai obat tradisional juga dapat dijual ke pasar untuk menambah penghasilan keluarga. Tanaman obat yang terdapat di pekarangan rumah penduduk perlu dibudidayakan dengan baik sehingga dapat bermanfaat untuk dijadikan sebagai obat tradisional.

BAB V SIMPULAN DAN SARAN

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah disajikan pada bab sebelumnya, maka pada bab penutup ini ditarik simpulan dan mencoba memberikan saran-saran yang bermanfaat tentang pemanfaatan berbagai jenis tumbuhan pekarangan rumah sebagai obat tradisional di Desa Kandang Kabupaten Aceh Selatan.

5.1. Simpulan 5.1.1. Jenis tanaman obat terdapat di Desa Kandang bervariasi. Tanaman obat yang sudah dikenal oleh masyarakat adalah 21 jenis adalah 35utrid, serei, jarak, temu lawak, jahe, kunyit, lengkuas, sirih, daun pacar, pinang, jeruk nipis,

seledri, belimbing manis, mengkudu, jeruk perut, daun mangkok, 36utrid malu, lidah buaya, jambu, kencur dan nenas. Jenis tanaman obat yang ada di pekarangan rumah penduduk yang kurang dikenal adalah 36utrid malu dan jambu. 5.1.2. Tanaman obat yang kurang dimanfaatkan oleh masyarakat Desa Kandang adalah terdapat 14 jenis tanaman obat di Desa Kandang yaitu patikan kebo, belimbing wuluh, putrid malu, pecut kuda, pegagan, jambu mente, srikaya, kembang pukul empat, jambu biji, kumis kucing, alang-alang, bunga matahari, melati dan kembang sepatu.

5.1.3. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 21 jenis tumbuhan obat yang sudah dikenal oleh masyarakat Desa Kandang, bahkan ada masyarakat yang sering memanfaatkan tanaman obat tersebut, baik untuk dijadikan sebagai bumbu dapur maupun diramu untuk dijadikan sebagai obat tradisional.

5.2. Saran-saran 5.2.1. Kepada masyarakat Desa Kandang diharapkan dapat memanfaatkan pekarangan untuk menanam jenis tumbuhan obat, karena masih ada pekarangan rumah penduduk yang belum dimanfaatkan untuk menanam jenis tumbuhan obat, sehingga akan terbengkalai. 5.2.2. Perlu meningkat pengetahuan masyarakat dengan lebih baik tentang manfaat obat tradisional serta meningkatkan motivasi masyarakat untuk memanfaatkan

tumbuhan obat yang ada di pekarangan rumah sebagai obat tradisional untuk penyembuhan penyakit. 5.2.3. Perlu memperbanyak jenis tanaman obat, jangan hanya satu jenis saja sehingga di pekarangan rumah penduduk terdapat beberapa jenis tumbuhan obat yang bermanfaat. 5.2.4. Perlu adanya penyuluhan dari petugas kesehatan di Puskesmas Kabupaten Aceh Selatan sehingga masyarakat dapat mengetahui manfaat tanaman obat tradisional bagi peningkatkan kesehatan masyarakat.

ABSTRAK Membudidayakan berbagai tanaman dalam rangka mewujudkan apotik hidup yang dapat dikembangkan pada lahan-lahan pekarangan rumah atau dalam mengembangkannya pada sebidang tanah yang khusus diperuntukkan tanamantanaman yang dapat digunakan untuk dikonsumsi, seperti sayur, buah-buahan atau tanaman yang berkhasiat obat-obatan, tanaman ini perlu pengelolaan yang baik, sehingga dapat bermanfaat bagi masyarakat itu sendiri. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui jenis-jenis tanaman obat apa saja yang terdapat di pekarangan penduduk desa Kandang. Kegiatan penelitian dilakukan pada tanggal 7-10 Februari 2007. Sampel yang diteliti adalah 63 rumah yang ada pekarangan dan menanam tanaman obat, pengolahan data dilakukan dengan metode deskriptif yaitu menentukan jenis tanaman obat. Hasil penelitian bahwa jenis tanaman obat yang sudah dikenal oleh masyarakat Desa Kandang 21 jenis. Tanaman obat yang kurang dimanfaatkan oleh masyarakat Desa Kandang adalah 14 jenis. Kesimpulannya adalah masyarakat belum sepenuhnya memanfaatkan pekarangan rumah untuk menanam berbagai jenis tanaman obat, karena masih banyak tanaman obat yang belum ditemukan di pekarangan rumah penduduk.

Lampiran 1: Jenis Tanaman Obat, Nama Ilmiah dan Famili No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 Nama Indonesia Alang-alang Belimbing Wuluh Belimbing Manis Bunga Matahari Daun Pacar Daun Mangkok Jarak Jahe Jeruk Nipis Jeruk Purut Jambu Biji Jambu Mente Kunyit Kumis Kucing Kencur Kembang Sepatu Kembang Pukul Empat Lengkuas Lidah Buaya Mentimun Melati Nama Ilmiah Imperata cylindrical Averrhoa belimbi L Averrhoa carambola L Heliantur annus L Lawsonia inermis L Notophanax scutallum Merr Jatropha curcas L Zingiber aficnalis R Citrus aurantifolia swigle Citrus histriy Psidium guajava L Anacardium occodentele L Curcuma domestica Val Orthosipon aristatus Kaemferia galangal L Hisbiscus rosusinensis Linn Mirabilis jalapa L Languas galaga L Pugostemon cablin L Cucumis sativus L Jasminum sambac L Familia Gramineacea Oxalidacea Oxalidaseae Compositae Meliaceae Caraliaceae Euphorbiaceza Zingiberaceae Rutaceae Rutaceae Murtaceae Myrtaceae Zingiberaceae Lamiaceze Zingiberaceze Meliaceae Nyctaginaceae Zingiberaceae Labiatae Cucurbitaceze Oleaceze

22 Mengkudu Morinda olivera L 23 Nenas Ananas sativus 24 Pepaya Carica papaya L 25 Pinang Areca catechu L 26 Putri Malu Mimosa pudica 27 Patikan Kebo Euphorbia hirta L 28 Pegagan Centella aciatica V 29 Pecut Kuda Stachytarpheta jamaicensis 30 Serai Cymbopogan nardus 31 Sirih Peper betle L 32 Seledri Apium graveolens L 33 Srikaya Anona sguamosa linn 34 Temulawak Curcuma xanthorrhiza R 35 Tapak Liman Elephanthopus scaber L Sumber: Hasil penelitian diolah, 2007

Rubiaceae Bromeliaceae Caricaceae Palmae Gramineae Euphorbiaceae Umbelliferae Verbenaceae Gramineae Lythraceae Apiaceze Anonaceae Zingiberaceae Asteraceze

DAFTAR ISI Halaman KATA PENGANTAR …………………………………. ………………… DAFTAR ISI ………………………………………………………………… DAFTAR TABEL ……………………………………………………….. ABSTRAK ………………………………………………………………….. BAB I. PENDAHULUAN ………………………………………………. 1.1. Latar Belakang Masalah…………………………….............. 1.2. Rumusan Masalah ……………............................................... 1.3. Tujuan Penelitian.................................................................... 1.4. Ruang Lingkup Penelitian ...................................................... 1.5. Manfaat Penelitian................................................................... BAB II. LANDASAN TEORITIS ………………………………….......... asan Teori ............................................................................... 2.1.1. Pengertian Tanaman Obat .............................................. 2.1.2. Jenis-jenis Tanaman Obat ............................................ i ii iv vi 1 1 4 5 5 5 7 7 7 8

2.1..................................................................................................... Pembah

2.1.3. Jenis-jenis Tanaman obat yang Dibudidayakan Masyarakat .............................................................................. 2.1.4. Manfaat Tumbuhan Tradisional ................................... 2.1.5. Tujuan Menanam Tanaman Obat Tradisional .............. 2.2..................................................................................................... Penelitian Terdahulu ............................................................. 2.3. Kerangka Pemikiran dan Argumen Keilmuan ..................... 2.4. Hipotesis ............................................................................... 2.5. Definisi Operasional Variabel ................................................. BAB III METODE PENELITIAN ………………………….................. 3.1. Lokasi dan Waktu Penelitian................................................. 3.2. Populasi dan Sampel .............................................................. 3.3. Metode dan Instrumentasi Penelitian ..................................... 3.4. Metode Analisis Data ............................................................. 9 11 12 Kajian 18 19 20 20 22 22 22 23 23

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN …………......... 4.1. Gambaran Umum Lokasi Penelitian...................................... 4.2. Jenis Tanaman Obat yang Terdapat di Pekarangan Rumah Penduduk .............................................................................. 4.3. Jenis tumbuhan obat yang sudah dan belum dikenal oleh Masyarakat ............................................................................ 4.4. Manfaat Tanaman Obat ......................................................... 4.5. Pembuktian Hipotesis ............................................................. 4.6. Pembahasan ............................................................................

23 23 23 27 29 34 34 38 38 39 40

BAB V. SIMPULAN DAN SARAN .......................................................... 5.1. Kesimpulan ............................................................................. 5.2. Saran-saran ............................................................................. DAFTAR KEPUSTAKAAN ………………………………………………

LAMPIRAN Lampiran 1: Jenis Tanaman Obat, Nama Ilmiah dan Famili Lampiran 2 : Manfaat Obat Tradisional BIODATA PENULIS

DAFTAR PUSTAKA Arikunto, S (1998). Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktek, Jakarta: PT. Rineka Cipta. Budiyanto, (1992). Lingkungan Rumah yang Asri, Pustaka Nasional, Jakarta. Depkes RI, 2001. Sistem Kesehatan Nasional, Departemen Kesehatan Republik Indonesia, Jakarta. Djoko, Wijoseputro, (1995). Dasar Pengetahuan Ilmu Tanaman, Penerbit Angkasa, Bandung. Jamiran, I, (1999). Peranan IPTEK dalam Pengembangan Agro Industri Tanaman Obat, Prosiding, Jakarta.

Jufri, (1995), Pemanfaatan Tanaman Obat-obatan, (Skripsi), ITB, Bogor. Kartasapoetra, (1992). Teknologi Penanganan Pasca Panen, Rineka Cipta, Jakarta. Michael K, (1989). Upaya Peningkatkan Kesehatan Masyarakat, Buku Kedokteran, UI, Jakarta. Notoatmodjo, S, (2003), Ilmu Kesehatan Masyarakat Prinsip-prinsip dasar, Jakarta, Rineka Cipta. Sarwono, (1998). Faktor Pengetahuan yang Mempengaruhi Perilaku Masyarakat, Rineka Cipta, Jakarta. Siswanto, (1997). Sayuran Dataran Tinggi, Jakarta, Penebar Swadaya. Sudjana, (1996), Metode Statistik, LP3ES, Jakarta. Supriono, (1997). Kedelai dan Cara Bercocok Tanam, Bogor Pusat Penelitian Tanaman Pangan, Bogor. Widyawati, (1999). Bertanam Kedelai, Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, Bogor. ----------------, (2000), Tanaman Obat Tradisional, Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, Bogor. Lampiran 2 : Manfaat Obat Tradisional No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Jenis Tanaman Obat Alang-alang Belimbing Wuluh Belimbing Manis Bunga Matahari Daun Pacar Daun Mangkok Jarak Jahe Jeruk Nipis Bagian Yang Digunakan Akar Buah Buah Pangkal bunga Daun Daun Daun Rimpang Buah Khasiat Batuk Batuk Influenza Rematik Maag Bau keringat Luka Sakit Kepala, masuk angin Obat batuk Cara Pemakaian Direbus Lalu airnya diminum Ditumbuk halus lalu airnya diminum Buah di Jus lalu saring airnya kemudian diminum Rebus sampai kental dan tempelkan pada bagian sakit Digiling dihancurkan, lalu airnyadiminum Daun muda dimakan sebagai lalap Ditumbuk, atau getahnya dioleskan pada bagian luka Rimpang direbus sampai matang ditambah gula merah lalu diminum Air diperas lalu diminum

10 11 12 13 14 15 16

Jeruk Purut Jambu Biji Jambu Mente Kunyit Kumis Kucing Kencur Kembang Sepatu

Buah Daun Daun Rimpang Daun Rimpang Daun

Batuk Demam dan Batuk Demam dan Batuk Maag Keputihan Batuk demam

Air diperas lalu diminum Diremas lalu dioleskan pada sekujur tubuh Diremas lalu dioleskan pada sekujur tubuh Daun digiling atau dilunakkan lalu dimakan Rebus bersama jintan hitam lalu diminum airnya Direbus atau bias juga digiling airnya diminum Daun diremas dicampur dengan air yang sudah matang kemudian diperas airnya disaring kemudian diminum Bunga direbus lalu airnya diminum Rimpang ditumbuk halus, tambah garam tambah minyak tanah kemudian ditempelkan Diremas lalu dioleskan pada sekujur tubuh Buah Dimakan Direbus kemudian airnya diminum Diparut buahnya, diperas, lalu airnya diminum Isinya diparut lalu dimakan atau diminum Daun pepaya dilunakan, airnya diperas dan kemudian diminum 15 menit sebulum makan Buah pinang yang sudah masak kemudian dimakan Daun ditumbuk halus kemudian dioleskan pada sekujur tubuh Daun direbus lalu diminum airnya Pegagan dibersihkan atau dipotong-potong direbus lalu didinginkan diminum sedikit demi sedikit Direbus lalu airnya diminum

17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28

Kembang Pukul Empat Lengkuas Lidah Buaya Mentimun Melati Mengkudu Nenas Pepaya Pinang Putri Malu Patikan Kebo Pegagan

Bunga Rimpang Daun Buah Bunga Buah, daun Buah Daun Buah Daun Daun Akar, Batang, Daun Seluruh Bagian

Bisul Panu Demam Darah Rendah Sesak nafas Sariawan Darah Manis Menambah darah Disentri Gatal Disentri Wasir

29

Pecut Kuda

Pelancar Haid

30 31 32 33 34 35

Serei Sirih Seledri Temulawak Tapak Liman Srikaya

Akar, Batang Daun Daun Rimpang Akar Daun

Masuk Angin Gatal Obat gatal Sakit Kepala, masuk angin Hipertensi Pelancar haid

Ditumbuk, diambil airnya kemudian digosok Daun yang sudah tua direbus digunakan untuk mencuci bagian yang terkena gatal Daun ditumbuk halus lalu dioleskan pada yang gatal Rimpang direbus sampai matang kemudian airnya diminum Direbus lalu airnya yang sudah hangat diminum Daun direbus lalu airnya diminum

BIODATA PENULIS

I.Identitas Penulis Nama Tempat/Tgl. Lahir Agama Pekerjaan Jenis Kelamin Status Alamat II.Identitas Orang Tua Nama Ayah Pekerjaan Nama Ibu Pekerjaan Alamat : Jasri : Wiraswasta : Lasma Wati : IRT : Jl. Cempaka I Ujung Tanah Desa Kandang Kec. Kluet Selatan Kab. Aceh selatan III.Riwayat Pendidikan 1. SDN 1 Kutacane 2. SLTP Negeri 2 Meulaboh 3. SLTA Negeri 1 Aceh Selatan 4. FKIP MIPA Biologi Universitas Abulyatama : : : : tahun lulus 1996 tahun lulus 1999 tahun lulus 2002 tahun masuk 2002 : EVARIA SUSANTI : Kuta Cane, 15 Februari 1983 : Islam : Mahasiswi : Perempuan : Belum kawin : Jln. K. Saman Lr. Buntu No. 8 Beurawe Banda Aceh

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful