P. 1
fraktur cruris_

fraktur cruris_

|Views: 244|Likes:

More info:

Published by: N'cieezk Lophee Chim on Dec 27, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

08/13/2014

pdf

text

original

http://www.infofisioterapi.com/fraktur-cruris.

html Fraktur cruris adalah terputusnya kontinuitas tulang dan ditentukan sesuai jenis dan luasnya, terjadi pada tulang tibia dan fibula. Fraktur terjadi jika tulang dikena stress yang lebih besar dari yang dapat diabsorbsinya. (Brunner & Suddart, 2000) Jenis fraktur a. Fraktur komplet : patah pada seluruh garis tengah tulang dan biasanya mengalami pergeseran. b. Fraktur tidak komplet: patah hanya pada sebagian dari garis tengah tulang c. Fraktur tertutup: fraktur tapi tidak menyebabkan robeknya kulit d. Fraktur terbuka: fraktur dengan luka pada kulit atau membran mukosa sampai ke patahan tulang. e. Greenstick: fraktur dimana salah satu sisi tulang patah,sedang sisi lainnya membengkak. f. Transversal: fraktur sepanjang garis tengah tulang g. Kominutif: fraktur dengan tulang pecah menjadi beberapa frakmen h. Depresi: fraktur dengan fragmen patahan terdorong ke dalam i. Kompresi: Fraktur dimana tulang mengalami kompresi (terjadi pada tulang belakang) j. Patologik: fraktur yang terjadi pada daerah tulang oleh ligamen atau tendo pada daerah perlekatannnya. Etiologi a. Trauma b. Gerakan pintir mendadak c. Kontraksi otot ekstem d. Keadaan patologis : osteoporosis, neoplasma Manifestasi Klinik a. Nyeri terus menerus dan bertambah beratnya sampai fragmen tulang diimobilisasi, hematoma, dan edema b. Deformitas karena adanya pergeseran fragmen tulang yang patah c. Terjadi pemendekan tulang yang sebenarnya karena kontraksi otot yang melekat diatas dan dibawah tempat fraktur d. Krepitasi akibat gesekan antara fragmen satu dengan lainnya e. Pembengkakan dan perubahan warna lokal pada kulit Pemeriksaan Penunjang a. Pemeriksaan foto radiologi dari fraktur : menentukan lokasi, luasnya b. Pemeriksaan jumlah darah lengkap c. Arteriografi : dilakukan bila kerusakan vaskuler dicurigai d. Kreatinin : trauma otot meningkatkanbeban kreatinin untuk klirens ginjal Penatalaksanaan a. Reduksi fraktur terbuka atau tertutup : tindakan manipulasi fragmen-fragmen tulang yang patah sedapat mungkin untuk kembali seperti letak semula. b. Imobilisasi fraktur Dapat dilakukan dengan fiksasi eksterna atau interna c. Mempertahankan dan mengembalikan fungsi ? Reduksi dan imobilisasi harus dipertahankan sesuai kebutuhan ? Pemberian analgetik untuk mengerangi nyeri

Non union : tulang yang tidak menyambung kembali Pengkajian 1. Pengkajian sekunder a. bunyi jantung normal pada tahap dini.Circulation TD dapat normal atau meningkat . b. Neurosensori ? Kesemutan ? Deformitas. dingin. Delayed union : proses penyembuhan yang terus berjlan tetapi dengan kecepatan yang lebih lambat dari keadaan normal. Sirkulasi ? Hipertensi ( kadang terlihat sebagai respon nyeri/ansietas) ? Hipotensi ( respon terhadap kehilangan darah) ? Tachikardi ? Penurunan nadi pada bagian distal yang cidera ? Cailary refil melambat ? Pucat pada bagian yang terkena ? Masa hematoma pada sisi cedera c. nyeri. Pengkajian primer .Airway Adanya sumbatan/obstruksi jalan napas oleh adanya penumpukan sekret akibat kelemahan reflek batuk . sianosis pada tahap lanjut 2. Mal union : tulang patah telahsembuh dalam posisi yang tidak seharusnya.Breathing Kelemahan menelan/ batuk/ melindungi jalan napas. krepitasi. Kenyamanan ? nyeri tiba-tiba saat cidera ? spasme/ kram otot e. hipotensi terjadi pada tahap lanjut. suara nafas terdengar ronchi /aspirasi .Aktivitas/istirahat ? kehilangan fungsi pada bagian yangterkena ? Keterbatasan mobilitas b. disritmia. pemendekan ? kelemahan d. c. kulit dan membran mukosa pucat.? Status neurovaskuler (misal: peredarandarah. Keamanan ? laserasi kulit ? perdarahan ? perubahan warna ? pembengkakan lokal . takikardi. perabaan gerakan) dipantau ? Latihan isometrik dan setting otot diusahakan untuk meminimalakan atrofi disuse dan meningkatkan peredaran darah Komplikasi a. timbulnya pernapasan yang sulit dan / atau tak teratur.

1995). biasanya patahan tersebut lengkap dan fragmen tulangnya bergeser. Pemerintah Indonesia telah menyusun kebijakan nasional mengenai pembangunan berwawasan kesehatan sebagai strategi nasional menuju Indonesia sehat 2010. maka akan berdampak pada pemulihan dengan hasil sisa atau sequele. penanganan yang dilakukan Rumah Sakit terutama dalam bidang ilmu bedah. 1995).angsur semakin berkembang seiring dengan perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi. upaya penyembuhan (kuratif) dan upaya pemulihan (rehabilitatif). pencegahan. Adams. Dalam kasus ini.blogspot. Kriteria bahwa kesejahteraan umum dikatakan berhasil jika derajat kesehatan masyarakat yang optimal dapat tercapai.com/2011/11/penangananfisioterapi-pada-post. disebut fraktur tertutup sedangkan jika salah satu dari rongga tubuh tertembus disebut fraktur terbuka (Appley. Selain itu.html Penanganan fisioterapi pada post operasi fraktur cruris 1/3 distal BAB I PENDAHULUAN Dalam pembukaan UUD 1945 alenia 4 disebutkan tujuan Pembangunan Nasional adalah tercapainya kesejahteraan umum yang berarti mewujudkan masyarakat makmur dan berkeadilan sosial. Rumah Sakit merupakan salah satu bentuk pelayanan kesehatan bagi masyarakat dalam hal pengobatan. Upaya pelayanan kesehatan yang semula mengutamakan aspek pengobatan saja berangsurangsur berkembang dan mencakup upaya peningkatan (promotif). hal ini dikarenakan fragmen fraktur sulit untuk menyambung dengan baik. Fisioterapi sebagai salah satu tenaga kesehatan juga menyediakan pelayanan kesehatan bagi masyarakat umum dalam mengembangkan. mempunyai peran yang sangat penting terutama dalam mengatasi . Pada kasus ini metode operasi yang digunakan internal fixasi karena dengan metode konservatif sudah tidak mungkin dapat dilakukan. Secara tidak langsung hasil sisa tersebut terutama pada fraktur cruris mengalami gangguan fungsional sehingga berakibat pada produktivitas kerja yang akhirnya akan menurunkan pendapatan perkapita negara sebagai sumber dana dan sarana pembangunan nasional. Salah satu penyebab fraktur adalah adanya tekanan atau hantaman yang sangat keras dan diterima secara langsung oleh tulang. upaya pencegahan (preventif). Alasan lain. penyambungan tulang kontak fragmen langsung lebih baik dari pada tanpa operasi (Appley. Fraktur adalah suatu perpatahan pada kontinuitas struktur tulang. penyembuhan serta rehabilitasi medik. karena proses penyambungan tulang lebih cepat sehingga pasien tidak kehilangan banyak waktu serta biaya untuk rawat inap di Rumah Sakit (John C. Fisioterapi sebagai salah satu tenaga medis. 1992). Jika kulit diatasnya masih utuh. Patahan tadi mungkin tidak lebih dari suatu retakan atau perimpilan korteks.http://dhitaprianthara. memelihara dan memulihkan kapasitas fisik dan kemampuan fungsional. Sebanding dengan banyaknya pasien kasus fraktur di Rumah Sakit yang mendapatkan pelayanan medis kurang adekuat atau kurang optimal oleh karena keterbatasan biaya dan fasilitas. Pelayanan pada Rumah Sakit berangsur . functional limitation dan disability. adalah dengan metode operatif yaitu suatu bentuk operasi dengan pemasangan Open Reduction Internal Fixatie (ORIF) dimana jenis internal fiksasi yang digunakan dalam kasus ini berupa plate and screw. Pada kasus fraktur terutama post operasi fraktur cruris menimbulkan berbagai macam gangguan yaitu impairment.

Latar Belakang Masalah Menurut gambaran epidemiologinya. Disamping itu timbul juga adanya ketidakmampuan dalam melaksanakan aktivitasnya seperti semula yaitu sebagai buruh yang disebut dengan disability. Tujuan Penulisan . tahun 2004 sebanyak 889 orang dengan penderita fraktur cruris 54 orang. (3) keterbatasan lingkup gerak sendi ankle. dan tahun 2005 sebanyak 4549 orang dengan penderita fraktur cruris 1613 orang (RSO Dr. Dengan permasalahan permasalahan tersebut rumusan masalah yang dapat penulis kemukakan adalah (1) apakah breathing exercise dapat mencegah komplikasi paru pada pasien post operasi? (2) static contraction yang dikombinasi dengan elevasi dapat mengurangi oedem sehingga nyeri dapat berkurang? (3) apakah passive exercise dapat memelihara dan mengembalikan luas gerak sendi ankle? (4) apakah active exercise dapat memelihara luas gerak sendi ankle? (5) apakah latihan jalan dapat meningkatkan kemampuan fungsional jalan? C. Soeharso Surakarta menunjukkan bahwa penderita fraktur pada tahun 2002 sebanyak 863 orang dengan penderita fraktur cruris 74 orang. (2) posisioning (3) static contraction. Peran fisioterapi sangat penting dalam mengatasi permasalahan akibat dari tindakan operasi yaitu dengan memberikan terapi latihan yang berupa (1) static contraction yang dikombinasi dengan positioning (elevasi) untuk pengurangan oedem pada tungkai bawah sehingga nyeri dapat berkurang (Kisner. Macam dari terapi latihan tersebut diantaranya (1) breathing exercise. berdiri dan berjalan. (5) active exercise. tahun 2003 sebanyak 830 orang dengan penderita fraktur cruris 66 orang. A. Terapi latihan disini bermanfaat dalam mengurangi nyeri akibat oedem dan luka incisi. (4) gangguan aktivitas fungsional dalam melakukan aktivitas sehari-hari seperti berjalan. mempertahankan. (2) latihan gerak pasif untuk pemeliharaan dan pengembalian luas gerak sendi ankle (Kisner. Modalitas yang digunakan oleh fisioterapi dalam upaya pemulihan dan pengembalian kemampuan fungsional pada pasien fraktur adalah dengan terapi latihan. keterbatasan luas gerak sendi ankle. 1996). (3) latihan gerak aktif untuk pemeliharaan luas gerak sendi ankle (Kisner. 1996). (2) nyeri. functional limitation dan disability. karena berhubungan dengan impairment. Terapi latihan merupakan salah satu upaya pengobatan dalam fisioterapi yang pelaksanaannya menggunakan latihan gerak pasif dan aktif (Kisner. Dampak lebih lanjut adalah adanya satu bentuk functional limitation yang berupa kesulitan dalam melakukan aktivitas fungsional terutama jongkok. 1996). fracture cruris 1/3 distal dextra dapat menimbulkan berbagai tingkat gangguan yaitu impairment berupa bengkak pada ankle dan tungkai bawah. Data yang tercatat di RSO Dr. Dilihat dari aspek fisioterapi. (6) latihan jalan. (4) passive exercise. fraktur merupakan masalah kesehatan yang dapat menimbulkan kecacatan paling tinggi dari semua trauma kendaraan bermotor.permasalahan akibat tindakan operasi. Rumusan Masalah Adapun permasalahan yang muncul pada post operasi fracture cruris 1/3 distal dextra dengan pemasangan plate and screw di tinjau dari segi fisioterapi sangat kompleks. mengurangi adanya pembengkakan pada daerah sekitar fraktur. nyeri sekitar luka operasi. B. menambah atau memelihara luas gerak pergelangan kaki serta melatih aktivitas jalan sehingga dengan latihan tersebut pasien diharapkan bisa kembali beraktivitas seperti semula. Soeharso). Pada kondisi post operasi fracture cruris 1/3 distal dextra akan menimbulkan problematik seperti (1) oedem. (4) latihan ambulasi untuk aktivitas fungsional berjalan secara bertahap. 1996). Adapun modalitas yang digunakan fisioterapi pada kasus fraktur cruris 1/3 distal dextra disini adalah dengan terapi latihan.

baik secara aktif maupun pasif (Kisner.20˚ yang diukur pada posisi anatomis (Russe. 1989). saat dorsal fleksi ankle talus akan sliding kea rah posterior dan fibula akan bergerak kea rah proximal.0˚-50˚. Patologi dan Problematika Fisioterapi 1. B. Fraktur cruris 1/3 distal dextra Fraktur adalah suatu perpatahan pada kontinuitas struktur tulang (Appley. Dengan adanya kontraksi dari otot akan timbul gerakan pada sendi atau tulang.0˚. Deskripsi Kasus 1. Gerakan yang dapat dilakukan sendi pergelangan kaki adalah plantar fleksi. Otot penggerak pergelangan kaki adalah otot gastrocnemius. (5) untuk mengetahui manfaat latihan jalan terhadap peningkatan kemampuan aktifitas fungsional jalan. otot peroneus longus (Daniels and Wortingham. sedangkan tulang fibula disebut juga dengan tulang betis. otot soleus.latihan gerak tubuh. Dilihat dari aspek arthrokinematika. Sedangkan tulang fibula terletak di sebelah lateral tibia. BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. mencegah timbulnya komplikasi. (3) untuk mengetahui manfaat passive exercise terhadap pemeliharaan dan pengembalian luas gerak sendi ankle. Tibia adalah tulang pipa dengan sebuah batang dan mempunyai dua ujung. diaphysis dan epiphysis distalis. sedang luas gerak sendi untuk gerak eversi . sedangkan otot merupakan alat gerak tubuh aktif. Luas gerak sendi pergelangan kaki untuk gerak plantar fleksi . c. 1975). dorsi fleksi.inversi R 40˚. (4) active exercise. Anatomi Fungsional a. (3) passive exercise. Sedangkan cruris adalah tungkai bawah yang terdiri dari tulang tibia dan fibula. b. eversi. 1/3 distal dextra adalah 1/3 bagian bawah dari tungkai kanan. (2) static contraction.Tujuan dari penulisan Karya Tulis Ilmiah ini adalah (1) untuk mengetahui manfaat breathing exercise untuk mencegah komplikasi paru post operasi (2) untuk mengetahui manfaat static contraction dan positioning (elevasi) terhadap pengurangan oedem sehingga nyeri dapat berkurang. yaitu epiphysis proksimalis. Definisi a. Sistem Sendi Sendi pergelangan kaki terdiri dari 3 persendian yaitu sendi tibiofibularis distalis. otot tibialis. mengurangi nyeri dan oedem serta melatih aktivitas fungsional. 1995). otot extensor digitorum longus. Tujuan dari terapi latihan adalah untuk mengatasi gangguan fungsi dan gerak. sendi talocruralis dan sendi subtalaris. Sistem otot Tulang merupakan alat gerak tubuh pasif. Tulang tibia terletak disebelah medial fibula yang terdiri dari 3 bagian. (4) untuk mengetahui manfaat active exercise terhadap pemeliharaan luas gerak sendi ankle. otot plantaris. Sistem Tulang Tungkai bawah terdiri dari 2 tulang yaitu tulang tibia dan tulang fibula. b. fraktur cruris 1/3 distal dextra adalah patah tulang . dan juga terdiri dari 3 bagian. 1996). Terapi latihan Terapi latihan adalah salah satu upaya pengobatan dalam fisioterapi yang pelaksanaannya menggunakan latihan .dorsal fleksi S 20˚.1995). Jenis terapi latihan yang digunakan dalam kasus ini antara lain (1) breathing exercise. Jadi. (5) latihan transver dan ambulasi. otot fleksor halucis longus. dan inversi (Norkin. Tulang tibia sering disebut juga dengan tulang kering.

Hematoma Hematoma adalah suatu proses perdarahan dimana darah pada pembuluh darah tidak sampai pada jaringan sehingga osteocyt mati. (2) fraktur yang disebabkan oleh kelelahan pada tulang. Pada operasi ini dilakukan incisi untuk pemasangan internal fixasi berupa plate and screw sehingga akan terjadi kerusakan kulit. Open Reduction Internal Fixatie (ORIF) Open Reduction Internal Fixatie (ORIF) adalah suatu jenis operasi dengan pemasangan internal fixasi yang dilakukan ketika fraktur tersebut tidak dapat direduksi secara cukup dengan close reduction. 1992). nyeri. bukti mikroskopik dari penyembuhan biasanya dapat terlihat pada tempat fraktur dalam 15 jam setelah cedera (Garrison. Pada fraktur yang tidak kompleks. pasokan darah pada fraktur. Etiologi Menurut etiologinya fraktur dibedakan menjadi 3 yaitu (1) fraktur yang disebabkan oleh trauma. c. b. Waktu penyembuhan fraktur sangat bervariasi antara individu satu dengan individu lainnya. 1974). c. fibroblast dan osteoblast. Stadium ini berlangsung 1 sampai 3 hari (Gartland. atau ketika plaster gagal untuk mempertahankan posisi yang tepat pada fragmen fraktur (John C. Tulang mempunyai kemampuan menyambung setelah terjadi patah tulang. baik langsung maupun tak langsung. Setelah 24 jam suplai darah ke area fraktur mulai meningkat. yang berlangsung 3 hari sampai 2 minggu (Gartland. lokasi fraktur. Pada stadium ini terjadi pembentukan granulasi jaringan yang banyak mengandung pembuluh darah. Haematoma merupakan dasar untuk proses penggantian dan penyembuhan tulang. Cairan ini akan menekan ujung saraf sensoris sehingga akan timbul nyeri dan pergerakan pada daerah tersebut menjadi terbatas. 1996). akibatnya terjadi necrose.1995). banyaknya displacement fraktur. proses penyambungan tulang dibagi dalam 5 tahap yaitu: a. jaringan lunak dan luka pada otot yang menyebabkan terjadinya oedem. Faktor-faktor yang mempengaruhi penyembuhan fraktur antara lain: usia pasien. Adams. maka cairan dalam sel akan menuju jaringan dan menyebabkan pembengkakan. Etiologi atau penyebab lain dari permasalahan ini adalah adanya tindakan operasi untuk reduksi dan pemasangan fixasi. Hematoma yang banyak mengandung fibrin melindungi tulang yang rusak.yang terjadi pada tulang tibia dan fibula bagian kanan yang terletak pada 1/3 bagian bawah dari tulang. Proliferasi Proliferasi adalah proses dimana jaringan seluler yang berisi cartilage keluar dari ujung – ujung fragmen sehingga tampak di beberapa tempat bentukan pulau – pulau cartilage. Perubahan Patologi Operasi pada fraktur cruris 1/3 distal dextra akan dilakukan incisi pada tungkai bawah bagian lateral. Bila pembuluh darah terpotong. Dengan operasi ini akan mengakibatkan kerusakan jaringan lunak ataupun kerusakan saraf sensoris sehingga akan menimbulkan nyeri. Pada fraktur. 1974). Biasanya digunakan pada fraktur tulang panjang dengan tipe simple tranverse dan simple oblique fraktur. 2. yang terjadi perpatahan pada 1/3 distal cruris dextra. Internal fixasi yang digunakan pada kasus ini berupa plate and screws yang merupakan sebuah lempengan besi dan berupa sekrup yang dipasang pada tulang yang patah dan berfungsi sebagai immobilisasi. Pembentukan callus atau kalsifikasi Pembentukan callus atau kalsifikasi adalah proses dimana setelah terjadi bentukan cartilago yang kemudian berkembang menjadi fibrous callus sehingga tulang akan menjadi sedikit . keterbatasan luas gerak sendi serta gangguan fungsional pada tungkai. dan kondisi medis yang menyertai. Pada kasus ini penulis memilih fraktur yang disebabkan karena trauma langsung yaitu karena kecelakaan lalulintas atau benturan. jenis fraktur. (3) fraktur karena keadaan patologi (Appley. 3.

spasme otot. serotonin. 1995). (2) rasa nyeri akibat adanya oedem dan luka incise post operasi. Oedem Oedem dapat timbul karena adanya kerusakan pada pembuluh darah akibat incisi. Fase ini biasanya butuh waktu 3 minggu sampai 6 bulan. kelemahan otot sehingga pasien enggan untuk bergerak dan beraktivitas. Fase ini berlangsung 2 sampai 6 minggu (Gartland. Sedangkan untuk komplikasi karena fraktur. dan otot disekitar sendi dan terjadi perlengketan antar jaringan lunak. ligamen. Nyeri Nyeri merupakan adanya kerusakan jaringan. Keadaan ini menyebabkan perlengketan jaringan dan keterbatasan luas gerak sendi yang dalam jangka waktu lama akan berpengaruh pada penurunan kemampuan aktivitas fungsional terutama berjalan. d. b. Kekakuan sendi Kekakuan sendi biasanya terjadi akibat oedem dan fibrosis pada kapsul. antara lain: a. c. 1996). antara lain: a. 1974). Shorthening Shorthening terjadi karena pemendekan pada tulang yang diakibatkan mal union. komplikasi yang mungkin terjadi yaitu komplikasi yang berhubungan dengan setelah dilakukannya tindakan operasi.1974). sehingga cairan yang melewatinya tidak lancar dan terjadi akumulasi cairan sehingga timbul bengkak. histamine sebagai reaksi dari kerusakan jaringan. Komplikasi Pada pasien post operasi fraktur cruris 1/3 distal dextra. Remodeling Remodeling adalah proses dimana tulang sudah terbentuk kembali atau tersambung dengan baik. 5. Tanda dan Gejala Tanda dan gejala klinis yang sering ditemukan pada pasien post operasi fraktur cruris 1/3 distal dextra antara lain (1) oedem disekitar tungkai bawah. b. Tahap ini berlangsung selama 6 minggu sampai 1 tahun (Gartland. 1974). b. . Perubahan patologi setelah dilakukan operasi timbul permasalahan yang berupa : a. Keterbatasan LGS Permasalahan ini timbul karena adanya rasa nyeri. Pembentukan ini terjadi setelah granulasi jaringan menjadi matang. Pada tahap ini tulang sudah kuat tapi masih berongga. Komplikasi kulit Immobilisasi tanpa alat pemulih. Mal union Mal union merupakan penyambungan yang tidak sesuai dengan posisi yang semestinya.osteoporotik. c. (4) gangguan aktivitas fungsional. Infeksi Infeksi biasanya terjadi karena luka incisi yang tidak steril yang dapat menimbulkan adanya nyeri. zat kimia tersebut akan merangsang nociseptik yang akan menambah nyeri daerah tersebut (Kisner. terutama gangguan jalan (Appley. loss of bone dan gangguan epiphysial plate pada anak – anak. Jika stadium putus maka proses penyembuhan luka menjadi lama. Konsolidasi Konsolidasi adalah suatu proses dimana terjadi penyatuan pada kedua ujung tulang. 4. dimana jaringan akan mengeluarkan zat kimia seperti bradikinin. (3) keterbatasan gerak sendi ankle. 1996). e. tekanan yang semestinya dan adanya aplikasi gips pada daerah fraktur yang tidak benar dapat menyebabkan timbulnya ulkus tekan (Garrison. Callus yang tidak diperlukan mulai diabsorbsi (Gartland. oedem. Pada tahap ini tulang semakin menguat secara perlahan – lahan terabsorbsi dan terbentuk canalis medularis.

overlapping dan rotasi. (2) adanya nyeri gerak pada ankle akibat luka sayatan operasi yang menyebabkan ujung . (3) quo ad fungsionam baik jika pasien dapat melakukan aktivitas fungsional.seperti angulasi. Impairment Problematika yang muncul adalah (1) adanya oedem pada ankle dan tungkai bawah terjadi karena suatu reaksi radang atau respon tubuh terhadap cidera jaringan. Beberapa tempat yang sering mengalami penyambungan lambat dengan sirkulasi yang kurang diantaranya os naviculare dari os carpalia. (2) quo ad sanam baik jika jenis perpatahan ringan. c. Deskripsi Problematika Fisioterapi Problematika fisioterapi yang sering muncul pada post operasi fraktur cruris 1/3 distal dextra meliputi impairment. Prognosis dikatakan baik jika penderita secepat mungkin dibawa ke rumah sakit sesaat setelah terjadi trauma. Dalam proses rehabilitasi. bagaimana operasinya. dan peran dari fisioterapi. Disability Disability merupakan ketidakmampuan dalam melaksanakan kegiatan yang berhubungan dengan lingkungan disekitarnya yaitu kesulitan dalam melakukan aktivitasnya sebagai seorang buruh karena pasien mengalami gangguan dalam aktivitas berjalan. Delayed union Delayed union adalah terjadinya penyambungan tulang yang terlambat karena infeksi. 6. tidak terdapat infeksi pada fraktur dan peredaran darah lancar. 1986). b. Functional limitation Pada functional limitation terdapat keterbatasan aktifitas fungsional terutama dalam melakukan aktivitas fungsional terutama berdiri dan berjalan. Penanganan yang diberikan seperti operasi dan pemberian internal fiksasi juga sangat mempengaruhi terutama dalam memperbaiki struktur tulang yang patah. Hal ini karena pembentukan callus terganggu dan ujung – ujung fragmen tertutup oleh jaringan fibrocartilago (Bloch. kemudian jenis fraktur yang diderita ringan. d. Distribusi gaya tekan yang tidak baik menyebabkan gangguan fungsi dan timbulnya perubahan – perubahan osteoarthritis yang lebih awal pada sendi – sendi yang berdekatan. 7. bentuk dan jenis perpatahan simple. Prognosis Prognosis pada post operasi fraktur cruris 1/3 distal dextra tergantung pada jenis dan bentuk fraktur. Pemberian terapi latihan yang tepat akan memberikan prognosis yang baik bilamana (1) quo ad vitam baik jika pada kasus ini tidak mengancam jiwa pasien. peran fisioterapi sangat penting terutama dalam mencegah komplikasi dan melatih aktivitas fungsionalnya. c.. usia pasien relative muda dan tidak ada infeksi pada fraktur. (4) quo ad cosmeticam yang disebut juga dengan proses remodeling baik jika tidak terjadi deformitas tulang. functional limitation dan disability. colum femoris dan spertiga bagian bawah tibia (Bloch. usia pasien relative muda. 1986). Setelah operasi dengan pemberian internal fiksasi berupa plate and screw.ujung saraf sensoris teriritasi dan karena adanya oedem pada daerah sekitar fraktur. C. (3) penurunan luas gerak sendi ankle karena adanya nyeri dan oedem pada daerah sekitar fraktur. Non union Non union adalah keadaan dimana fragmen gagal untuk menyambung walaupun telah diimobilisasi. 1986). diperlukan terapi latihan untuk mengembalikan aktivitas fungsionalnya. a. kondisis umum pasien baik. Bila ada gangguan fungsi berat tindakan rekonstruksi harus dilakukan terhadap tulang atau sendi yang mengalami mal union (Bloch. suplai darah tidak lancar dan adanya gerakan pada ujung fragmen. Teknologi Intervensi Fisioterapi Terapi latihan merupakan salah satu modalitas fisioterapi yang pelaksanaannya menggunakan .

Tujuan active exercise (1) memelihara dan meningkatkan kekuatan otot. 1996). Untuk mengurangi oedema pada tungkai. Dimulai dari aktivitas di tempat tidur seperti bergeser (bridging). individu atau bagian tubuh lain dari individu itu sendiri (Kisner. 2. Kekuatan luar tersebut dapat berasal dari gravitasi. gerakan yang dihasilkan oleh kontraksi dengan melawan gravitasi (Basmajian. Latihan ini dilakuakan secara bertahap. Terapi latihan yang dilakukan adalah: 1. 4. duduk dengan kaki terjuntai ke bawah (high sitting) kemudian latihan berdiri. stabilitas. Tujuan dari gerakan ini untuk melatih otot secara pasif. Hal ini dilakukan untuk mencegah timbulnya komplikasi paru pada post operasi akibat bius general. Active exercise Active exercise merupakan gerakan yang dilakukan karena adanya kekuatan otot dan anggota tubuh sendiri tanpa bantuan. Tujuan static contraction adalah memperlancar sirkulasi darah sehingga dapat membantu mengurangi oedem dan nyeri serta menjaga kekuatan otot agar tidak terjadi atrofi. sehingga diharapkan otot menjadi rileks dan dapat mengurangi nyeri akibat incisi serta mencegah terjadinya keterbatasan gerak dan elastisitas otot (Kisner. rileksasi. 1996). b. Passive exercise Passive exercise merupakan suatu gerakan yang dihasilkan dari kekuatan luar dan bukan merupakan kontraksi otot yang disadari. 1996). ketahanan dan kemampuan kardiovaskuler. Tujuan gerakan ini untuk mencegah terjadinya kontraktur dan menambah luas gerak sendi serta untuk mencegah timbulnya perlengketan jaringan (Kisner. Positioning Positioning yaitu perubahan posisi anggota gerak badan yang sakit. Gerakan ini terbagi menjadi 2 gerakan: a. maka tungkai dielevasikan dengan cara di ganjal bantal setinggi 30° 450. 1978). Breathing Exercise Breathing exercise merupakan suatu tehnik latihan pernafasan dengan menarik nafas lewat hidung atau inspirasi dan mengeluarkan nafas lewat mulut atau ekspirasi. untuk meningkatkan oksigenasi dan mempertahankan volume paru. 3. 6. (3) mengembalikan koordinasi dan ketrampilan motorik untuk aktivitas fungsional (Kisner. Selama pasien sadar. 1996). Static contraction Static contraction merupakan suatu terapi latihan dengan cara mengontraksikan otot tanpa disertai perubahan panjang otot maupun pergerakan sendi (Kisner. Tehnik latihan pernafasan ini menekankan pada inspirasi maksimal dan panjang lalu dihembuskan dengan perlahan sampai akhir expirasi dengan tujuan mempertahankan alveolus tetap mengembang. 5. ambulasi berupa jalan dengan menggunakan . dosisnya adalah satu jam tungkai dielevasikan dan satu jam tungkai dikembalikan ke posisi semula.gerak tubuh baik secara aktif maupun pasif untuk pemeliharaan dan perbaikan kekuatan. mesin. mobilitas dan fleksibilitas. keseimbangan dan kemampuan fungsional (Kisner. Latihan jalan Latihan jalan merupakan aspek terpenting pada penderita sehingga mereka dapat kembali melakukan aktifitasnya seperti semula. bangun. Tehnik latihan pernafasan yang digunakan dalam kasus ini adalah deep breathing exercise. 1996). (2) mengurangi bengkak disekitar fraktur. 1996). Force passive exercise Force passive exercise gerakan berasal dari terapis atau luar dimana pada akhir gerakan diberikan penekanan. koordinasi. Relaxed passive exercise Relaxed passive exercise merupakan gerakan murni yang berasal dari terapis tanpa disertai gerakan dari anggota tubuh pasien. mobilisasi thorak.

2. Latihan berjalan secara Non Weight Bearing (NWB) dengan menggunakan metode three point gait pada hari ke 3 atau sesuai kemampuan pasien kemudian ditingkatkan dengan cara Partial Weight Bearing (PWB) jika pada pasien tersebut sudah terjadi pembentukan callus atau kurang lebih 3 minggu (Gartland. Dosis awal latihan 30% menumpu berat badan dan kemudian ditingkatkan menjadi 80% menumpu berat badan. (3) jenis kelamin. hobi. Tujuan dari latihan ini agar pasien dapat melakukan ambulasi secara mandiri walaupun masih dengan bantuan alat. (2) umur. Macam anamnesis ada 2 yaitu autoanamnesis dan heteroanamnesis. gastrointestinal. Pemeriksaan fisik . serta musculoskeletal yaitu apakah terdapat kerterbatasan gerak pada sendi pergelangan kaki serta adanya penurunan kekuatan otot-otot penggerak sendi pergelangan kaki. Anamnesis Anamnesis merupakan pengumpulan data dengan melakukan tanya jawab dengan sumber data. Anamnesis khusus Anamnesis khusus merupakan data informasi tentang keluhan utama pasien. a. Dengan anamnesis dapat diperoleh data-data yang dibutuhkan dalam menentukan diagnosa dan terapi latihan yang akan diberikan. sudah pernah dibawa kemana saja dalam menangani fraktur tersebut dan ditanyakan juga tentang faktor apa saja yang dapat memperingan atau memperberat keluhan utama dari pasien. Pada kasus ini anamnesis yang dilakukan secara autoanamnesis. Anamnesis umum Anamnesis umum berisi tentang identitas pasien secara lengkap. (6) alamat. Riwayat pribadi merupakan riwayat tentang riwayat pribadi pasien seperti aktivitas sehari – hari.walker kemudian ditingkatkan dengan menggunakan kruk (tergantung kondisi umum pasien). 1974). Riwayat penyakit dahulu ditanyakan tentang penyakit apa saja yang pernah diderita oleh pasien. misalnya gangguan kepala dan leher. Pengkajian Fisioterapi 1. adanya nyeri dan bengkak pada tungkai dan kaki. Data yang diperoleh akan digunakan untuk tujuan terapi akhir yang diprogramkan dan disesuaikan dengan kegiatan keseharian dari pasien. bagaimana proses terjadinya. adanya penurunan LGS pada sendi pergelangan kaki. seperti (1) melakukan aktivitas sendiri atau dengan bantuan orang lain untuk berlatih seperti yang telah diajarkan. persarafan. lalu ditingkatkan lagi dengan latihan Full Weight Bearing. (3) kurang lebih selama 2 minggu atau lebih setelah post operasi pasien dianjurkan untuk tidak menumpu dengan kaki yang sakit sampai terjadi penyambungan callus. kardiovaskuler. (2) untuk mengurangi bengkak pasien dianjurkan mengganjal tungkai yang sakit dengan guling saat pasien tidur terlentang. (5) pekerjaan. Riwayat penyakit sekarang ditanyakan tentang kapan terjadinya fraktur. dan lain – lain. 7. keluarga. posisi jatuhnya. BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. ataupun penyakit menular orang terdekat. Riwayat keluarga bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya penyakit – penyakit yang bersifat menurun dari keluarga. b. adanya gangguan dalam aktivitas jalan. Riwayat penyakit penyerta berisikan tentang berbagai macam penyakit yang diderita pasien saat itu. respirasi. (4) agama. Berdasarkan anamnesis sistem dapat diketahui tentang keluhan yang terjadi. Edukasi Edukasi yang perlu diberikan pada pasien yaitu home program yang dapat dilakukan di bangsal maupun di rumah. Dalam anamnesis ditemukan data seperti (1) nama.

terapis melihat dan memberikan aba-aba. Inspeksi Inspeksi merupakan suatu pemeriksaan dengan cara melihat dan mengamati keadaan pasien. Pada ankle meliputi gerakan dorsi fleksi. b. dan inversi. c. c. Kemampuan aktivitas fungsional Terapis melihat apakah pasien sudah bisa bergeser ke kanan atau ke kiri. mengenai keadaan umum. apakah pasien sudah bisa duduk tegak. 2002). panjang garis mulai dari titik tidak nyeri sampai titik yang ditunjuk menunjukkan besarnya nyeri (Sri Surini. Pemeriksaan spesifik Pemeriksaan ini dilakukan untuk mengetahui informasi khusus yang belum diperoleh pada pemeriksaan dasar.a. Penilaian dilakukan pada saat pasien diam. Tujuan tes ini adalah untuk mendapatkan data informasi tentang bagaimana LGS aktif ankle. b. Posisi netral untuk gerakan dorsi fleksi adalah sesuai dengan posisi anatomis kaki. stabilitas sendi. apakah sudah dapat berdiri dengan atau tanpa bantuan dari orang lain. obesitas dan sebagainya. sikap tubuh. 4. dan warna kulit. mampu miring sendiri. d. (4) temperatur. dengan meraba. digerakkan secara pasif dan aktif oleh terapis. Dalam melakukan pemeriksaan as goniometer diletakkan 15 cm dari malleolus lateralis. (2) denyut nadi. tacikardi. b. Gerak aktif Pasien diminta menggerakkan anggota gerak yang diperiksa secara aktif. rasa nyeri dan end feel. plantar fleksi. Perlu ditanyakan juga apakah pasien dalam buang air besar mengalami gangguan dan apakah pasien sudah bisa berjalan.100) dengan besarannya dalam satuan milimeter. Pemeriksaan pada kasus ini meliputi: a. Tujuan dari pemeriksaan gerak pasif untuk mendapatkan data informasi tentang luas gerak sendi pasif ankle. kemudian pasien diminta untuk menunjuk salah satu titik dalam garis tersebut yang dapat mewakili rasa nyeri yang dirasakan pada saat itu. hipotensi. Tangkai statis sejajar dengan axis longitudinal tulang tibia sedangkan . 3. Palpasi Palpasi adalah suatu pemeriksaan yang secara langsung kontak dengan pasien. yaitu pengukuran derajat nyeri dengan sepuluh skala penilaian yaitu dengan menunjukkan satu titik pada sebuah garis pada skala nyeri (0 . (3) pernapasan. Pemeriksaan nyeri Pemeriksaan dengan menggunakan Visual Analogue Scale (VAS). Gerakan pada ankle terjadi pada bidang sagital dan axis gerakannya pada bidang frontal yaitu pada malleolus lateralis. Terapis menjelaskan terlebih dahulu kepada pasien tentang penilaian diatas. Dilakukan dengan cara pasien disuruh mengkontraksikan otot dan mencoba untuk melakukan gerakan tapi diberi panahanan oleh terapis sehingga tidak terjadi gerakan dan penambahan luas gerak sendi. eversi. dan memegang bagian tubuh pasien untuk mengetahui nyeri tekan dan suhu. Data tersebut digunakan untuk mengetahui apakah ada hipertensi. menekan. Pemeriksaan LGS Pemeriksaan luas gerak sendi dengan menggunakan goniometer. Tandatanda vital Tanda-tanda vital terdiri dari (1) tekanan darah. Gerak pasif Pemeriksaan gerakan yang dilakukan oleh terapis kepada pasien dimana pasien dalam keadaan pasif dan rileks. Gerak isometric melawan tahanan Tujuan dari tes ini adalah untuk mengetahui ada tidaknya nyeri dan adanya penurunan kekuatan otot terutama sendi ankle. Pemeriksaan gerak dasar a. rasa nyeri dan nilai kekuatan otot.

berkaitan dengan derajat nyeri saat melakukan aktivitas. Aktivits yang dites meliputi berdiri dari posisi duduk. terapis dapat melihat perkembangan pasien mulai dari jongkok. Pengukuran lingkar segmen yang mengalami oedem perlu dilakukan. c. kemudian dibandingkan antara tungkai yang sakit dengan tungkai yang sehat. 1980 dikutip oleh Slamet. (3) ketergantungan. Pemeriksaan aktivitas fungsional Untuk menilai perkembangan aktivitas fungsional dari pasien pada saat sebelum dan sesudah pemberian terapi latihan. Dalam menilai masing – masing dimensi yaitu dengan menggunakan pilihan ganda yang masing – masing dimensi dibagi menjadi 4 skala untuk dimensi nyeri dan 5 skala untuk dimensi kesulita dan ketergantungan ( Jette AM. (2) kesulitan. 2000 ). Pada prinsipnya pengukuran lingkar anggota gerak dilakukan dengan menggunakan patokan yaitu tuberositas tibiae sampai malleolus lateralis. TABEL I SKALA JETTE Bentuk aktivitas Kemampuan beraktivitas Nilai Berdiri dari posisi duduk Nyeri 1: tidak nyeri 2: nyeri 3: nyeri sedang 4: nyeri sangat Kesulitan 1: sangat mudah 2: agak mudah 3: agak mudah juga tidak sulit 4: agak sulit 5: sangat sulit Ketergantungan 1: tanpa bantuan 2: butuh bantuan alat 3: butuh bantuan orang lain 4: butuh bantuan alat dan orang lain 5: tidak dapat melakukan Berjalan 15 meter Nyeri 1: tidak nyeri 2: nyeri 3: nyeri sedang 4: nyeri sangat Kesulitan 1: sangat mudah 2: agak mudah 3: agak mudah juga tidak sulit 4: agak sulit 5: sangat sulit Ketergantungan 1: tanpa bantuan 2: butuh bantuan alat 3: butuh bantuan orang lain 4: butuh bantuan alat dan orang lain . Alat ukur yang digunakan adalah midline. berjalan 15 m dan naik turun tangga 3 trap. berdiri dan berjalan.tangkai dinamis sejajar dengan axis longitudinal tulang metatarsal V (Russe. Alat ukur yang digunakan dalam pengukuran aktivitas fungsional yaitu menggunakan skala Jette. Selain itu dilakukan pengukuran panjang tungkai dari SIAS sampai malleolus medialis. Anthropometri Pengukuran lingkar segmen tubuh sangat penting dalam pemeriksaan ada tidaknya pembengkakan. d. Keterangan penilaian (1) nyeri. 1975). berkaitan dengan deajat kesulitan untuk malaukan aktivitas. berkaitan dengan derajat ketergantungan untuk melakukan aktivitas.

Pada disability gangguan yang terjadi yaitu adanya ketidakmampuan dalam melaksanakan aktivitas yang berhubungan dengan lingkungan sekitar yang berupa berinteraksi atau bersosialisasi dengan orang lain. (3) keterbatasan LGS ankle. Latihan dilakukan secara hati – hati pada hari pertama post operasi dengan posisi awal pasien terlentang dimana . Pelaksanaannya dengan cara pasien diminta untuk menghirup nafas dalam melalui hidung dan menghembuskannya melalui mulut secara perlahan. Breathing exercise Breathing exercise yang dilakukan adalah deep breathing exercise. dengan posisi terapis berada disamping penderita. Tujuan Fisioterapi Pada kasus ini terapi yang diberikan bertujuan untuk (1) mengurangi oedem. (2) nyeri karena oedem dan luka incisi. kemudian pasien diminta menekan tangan terapis ke bed. 2.45˚ selamadisertai kaki yang sakit dielevasikan antara 30 10 – 15 menit. (3) menigkatkan luas gerak sendi pada ankle. Passive exercise a. Rencana Pelaksanaan Terapi 1. B. Posisi pasien pada hari pertama masih tidur terlentang dengan . Static contraction Tujuan dari static contraction adalah untuk mengurangi oedem sehingga nyeri berkurang.5: tidak dapat melakukan Naik turun tangga Nyeri 1: tidak nyeri 2: nyeri 3: nyeri sedang 4:nyeri sangat Kesulitan 1: sangat mudah 2: agak mudah 3: agak mudah juga tidak sulit 4: agak sulit 5: sangat sulit Ketergantungan 1: tanpa bantuan 2: butuh bantuan alat 3: butuh bantuan orang lain 4: butuh bantuan alat dan orang lain 5: tidak dapat melakukan (Slamet Parjoto. Kemudian tangan terapis diletakkan pada pergelangan kaki pasien. biasanya satu atau dua hari setelah operasi. Diagnosa Fisioterapi Pada pasien post operasi fraktur cruris 1/3 distal dimungkinkan terjadi gangguan impairment yaitu (1) oedem pada tungkai bawah dan ankle. 3. pasien diminta untuk menekan tangan terapis. Gerakan dilakukan 5 -10 kali hitungan diselingi dengan menarik nafas dalam untuk rileksasi. Rileks passive movement Tujuan dari latihan ini yaitu mencegah terjadinya keterbatasan gerak. Gerakan ini dilakukan 4 – 6 kali. Terapis meletakkan tangannya dibawah betis pasien. 2000) 5. Dimulai setelah pasien sadar dari tindakan operasi. (2) mengurangi nyeri. Deep breathing exercise ini dilakukan dengan posisi pasien tidur terlentang. gerakan ini diulang 4 kali. Sedangkan gangguan yang terjadi pada functional limitation yaitu penurunan ambulasi dan perawatan diri yaitu adanya keterbatasan dalam aktivitas fungsional tungkai bawah. C. (4) mengajarkan latihan jalan pada pasien sehingga dengan diberikannya terapi latihan ini diharapkan pasien dapat kembali beraktivitas seperti semula.

Posisi pasien rileks. Posisi terapis homolateral pada ankle yang dilatih. 7. pasien berdiri dengan kaki menggantung atau Non Weight Bearing (NWB) dengan 2 kruk pada hari ketiga dengan threepoint gait metode swing to kemudian ditingkatkan dengan Partial Weight Bearing (PWB) jika sudah terjadi pembentukan callus kurang lebih dalam jangka waktu 2 atau 3 minggu. Gerakan ini dilakukan 8 kali hitungan dengan 2 kali pengulangan. Latihan jalan Dari posisi pasien duduk ongkang-ongkang ( high sitting ).plantar fleksi. adduksi . Sebagai awal latihan jalan terapis dapat melatih pasien dengan walker jika pasien sudah lanjut usia dan dengan menggunakan kruk jika pasien masih relatif muda atau keseimbangan pasien masih baik dengan dibantu terapis. Latihan dilakukan pada sendi pergelangan kaki. Pada sendi pergelangan kaki dengan melakukan gerakan dorsal . kemudian diikuti rileksasi pada pola antagonisnya kemudian digerakkan secara aktif maupun pasif kearah antagonis. Posisi pasien tidur terlentang atau bisa juga dengan duduk. tangan yang lain memegang tumit. Sedang tungkai yang sakit mengikuti turun dengan disangga tangan terapis tanpa menapak pada lantai.8 kali pengulangan (Yulianto Wahyono. jari-jari pada kedua tungkai. b. inverse . Latihan diberikan beberapa hari setelah operasi. Edukasi Bila pasien sudah pulang. Tehnik pelaksanaan sama dengan rileks passive movement tetapi pada akkhir gerakan diberikan penekanan.abduksi. seperti menggerakkan anggota tubuh untuk mencegah kekakuan dan atrofi otot.ekstensi.jari kaki dengan melakukan gerakan fleksi . menghindari penumpuan berat badan berlebih pada tungkai yang mengalami fraktur. Rencana Evaluasi . 4. 2002). Force passive movement Tujuan dari latihan ini adalah untuk meningkatkan lingkup gerak sendi pergelangan kaki. Salah satu tangan terapis fiksasi lutut pasien dan tangan satunya diletakkan diatas ankle. Pola gerak keterbatasan untuk gerak fleksi adalah fleksi – adduksi – eksorotasi dan fleksi – abduksi – endorotasi. Dosis awal latihan 30% menumpu berat badan lalu ditingkatkan menjadi 80% menumpu berat badan dan ditingkatkan lagi dengan latihan Full Weight Bearing.eversi dan pada jari . Serta pasien bebas melakukan gerakan sendiri tanpa bantuan. Satu tangan terapis memfiksasi pada pergelangan kaki.pergelangan kaki pada tungkai yang sakit tersangga dengan baik oleh bed. Terapis memberi tahanan yang meningkat secara perlahan. Posisi awal pasien tidur terlentang sementara terapis di samping bed. mengelevasikan kaki bila terasa nyeri. Hold relax Tujuan dari latihan adalah untuk menambah luas gerak sendi pergelangan kaki. Gerakan ini dilakukan 5 . penguluran diawali pada sendi ankle kemudian dilanjutkan gerakan dorsi fleksi dan plantar fleksi secara bergantian. D. tungkai yang sehat turun dengan kedua tangan berpegangan pada bed. mengurangi nyeri dan rileksasi otot. terapis bisa memberikan program latihan yang harus dilakukan dan memberikan penjelasan tentang aktivitas yang harus dihindari agar tidak terjadi refraktur. Gerakan dilakukan secara aktif maupun pasif pada pola agonis hingga batas keterbatasan gerak pasien dimana nyeri mulai timbul. Kemudian terapis memberi abaaba "pertahankan disini". Gerakan dilakukan 8 kali hitungan dengan 2 kali pengulangan. Free active movement Tujuan dilakukannya free active movement adalah untuk memelihara luas gerak sendi. Dan yang terpenting adalah melatih kemandirian pasien dalam melakukan aktivitas sehari – hari sehingga tidak selalu tergantung dengan orang lain. 5. Sedangkan untuk keterbatasan gerak ekstensi adalah ekstensi – abduksi – endorotasi dan ekstensi – adduksi – eksorotasi. Salah satunya pasien harus melaksanakan program latihan yang diberikan oleh terapis untuk mengembalikan kemampuan fungsional pasien. 6.

Evaluasi ini meliputi (1) oedem dengan menggunakan midline dan dibandingkan dengan sisi yang sehat. Secara fisiologis. Pada fraktur. jaringan lunak dan luka pada otot yang menyebabkan terjadinya oedema. Lalu 1/3 distal dextra adalah letak suatu patahan terjadi pada 1/3 bawah dari tungkai sebelah kanan. Apabila stabilitas antar fragmen baik maka penyembuhan akan sesuai dengan target waktu yang dibutuhkan atau diperlukan. Sedangkan cruris adalah tungkai bawah yang terdiri dari dua tulang panjang yaitu tulang tibia dan fibula. Jadi pengertian dari fraktur cruris 1/3 distal dextra adalah patah tulang yang terjadi pada tulang tibia dan fibula yang terletak pada 1/3 bagian bawah sebelah kanan. tulang mempunyai kemampuan untuk menyambung kembali setelah terjadi perpatahan pada tulang. Pada fraktur cruris 1/3 distal dextra disebabkan karena adanya trauma pada tungkai bawah kanan akibat benturan dengan benda yang keras. hal pertama yang dapat dilakukan adalah dengan incisi. Ini dilakukan karena pada kasus ini memerlukan pemasangan internal fiksasi untuk mencegah pergeseran antar fragmen pada waktu proses penyambungan tulang (Apley. nyeri. baik secara langsung maupun tidak langsung. endosteum dan jaringan otot. 2004). Pada operasi ini dilakukan incisi untuk pemasangan internal fiksasi yang dapat berupa intra medullary nail sehingga akan terjadi kerusakan pada kulit. Dalam kasus fraktur cruris 1/3 distal dextra. Oedema ini akan menekan saraf sensoris sehingga akan menimbulkan nyeri pada sekitar luka incisi. Pada fraktur cruris 1/3 distal dextra upaya penanganan dilakukan tindakan operasi dengan menggunakan internal fiksasi. jenis fraktur.Evaluasi pelaksanaan terapi pada kondisi paska operasi fraktur cruris 1/3 distal dilakukan dengan 2 tahap yaitu evaluasi sebelum pelaksanaan terapi dan sesudah diberikannya terapi yang terakhir. proses penyambungan tulang dibagi dalam 5 tahap yaitu : . Setelah fraktur dapat terjadi kerusakan pada sumsum tulang. Dan yang paling penting adalah stabilitas fragmen pada tulang yang mengalami perpatahan. keterbatasan lingkup gerak sendi serta gangguan fungsional pada tungkai bawah. (2) nilai tentang derajat nyeri dengan Visual Analogue Scale (VAS). banyaknya displacement. (4) kemampuan fungsional jalan dengan melihat perkembangan dari penggunaan alat bantu jalan dan pola jalan dengan menggunakan skala Jette. Hal ini akan menimbulkan perlengketan jaringan otot sehingga terjadi fibrotik dan menyebabkan penurunan lingkup gerak sendi (LGS) yang dekat dengan perpatahan dan penurunan nilai kekuatan otot. Apabila pembuluh darah terpotong dan rusak maka cairan dalam sel akan menuju jaringan dan menyebabkan oedema. Fraktur atau patah tulang adalah terputusnya kontinuitas jaringan tulang yang umumnya disebabkan oleh ruda paksa (Sjamsuhidajat. Bila terasa nyeri biasanya pasien cenderung untuk malas bergerak. Waktu penyembuhan pada fraktur sangat bervariasi antara individu satu dengan individu lainnya. Dengan incisi maka akan terjadi kerusakan pada jaringan lunak dan saraf sensoris. pasokan darah pada fraktur dan kondisi medis yang menyertai (Garrison. 1996). lokasi fraktur. tindakan yang biasa dilakukan untuk reposisi antar fragmen adalah dengan reduksi terbuka atau operasi. 1995). (3) luas gerak sendi pada ankle dengan menggunakan goniometer dan membandingkan dengan luas gerak sendi normal. Faktor-faktor yang mempengaruhi penyembuhan fraktur antara lain : usia pasien. Pada kasus ini.

Sumber: http://id. b. 2001). semakin kuat tulang baru tersebut (Maurice King. Hematoma yang membeku perlahan-lahan diabsorbsi dan kapiler baru yang halus berkembang ke dalam daerah itu (Apley. periosteum dan endosteum menghasilkan callus yang penuh dengan sel kumparan yang aktif.shvoong. Konsolidasi Selam¬a stadium ini tulang mengalami penyembuhan terus-menerus. Ini adalah proses yang lambat dan mungkin perlu beberapa bulan sebelum tulang cukup kuat untuk membawa beban yang normal (Apley. d. e. Remodeling Tulang yang baru terbentuk. Pembentukan callus Selama beberapa minggu berikutnya. Proliferasi Dalam 8 jam setelah fraktur terdapat reaksi radang akut disertai proliferasi sel di bawah periosteum dan di dalam saluran medulla yang tertembus. 1995). 2001). 2001).a. 1995). Hematoma Pembuluh darah robek dan terbentuk hematoma di sekitar dan di dalam fraktur (Apley. Semakin sering pasien menggunakan anggota geraknya. Hal ini mengakibatkan gangguan suplay darah pada tulang yang berdekatan dengan fraktur dan mematikannya (Maurice King. c. 1995). Fragmen yang patah tetap dipertahankan oleh callus sedangkan tulang mati pada ujung dari masing-masing fragmen dihilangkan secara perlahan. dan ujungnya mendapat lebih banyak callus yang akhirnya menjadi tulang padat (Maurice King.com/medicine-and-health/orthopedic-surgery/1993247-frakturcruris/#ixzz1gEjcCgu8 . dibentuk kembali sehingga mirip dengan struktur normal (Appley. 1995). Dengan pergerakan yang lembut dapat merangsang pembentukan callus pada fraktur tersebut (Maurice King. 2001).

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->