BAB I LAPORAN KASUS A. IDENTITAS PASIEN Nama Umur Alamat Masuk RS B.

ANAMNESIS Keluhan Utama: Tidak bisa melihat sejak ± 6 bln SMRS. Riwayat Perjalanan Penyakit : Os mengeluhkan tidak bisa melihat sejak ± 6 bulan SMRS. Hal ini terjadi perlahan-lahan, diawali dengan pandangan kabur. Os juga mengeluhkan telinga susah mendengar dan bicara kadang tidak nyambung. ± 2 tahun belakangan ini os sering merasakan sakit kepala, sakit dirasakan semakin hari semakin hebat, tidak sembuh dengan mengkonsumsi obat sakit kepala, dan os sering muntah-muntah tiba-tiba tanpa didahului suatu penyebab. Demam (-), batuk (-), pilek (-). BAB normal, BAK Normal Riwayat Penyakit Dahulu • •

: Siti Aminah : 35 tahun : Rt. 34 Kel. Teluk Nilau, Kec Pengabuan : 29-9-2011

Jenis Kelamin : Perempuan

:

Riwayat Darah Tinggi disangkal Riwayat Trauma kepala disangkal Riwayat mengalami sakit yang sama sebelumnya disangkal Riwayat Operasi sebelumnya : (-)

C. PEMERIKSAAN FISIK Status Generalisata : Keadaan Umum Kesadaran : Tampk sakit sedang : Compos mentis

1

Tekanan Darah Nadi Pernapasan Suhu Kepala

: 110/80 mmHg : 80 x/menit : 20 x/menit : 36,50C :Conjungtiva anemis (-/-), Sklera ikterik (-/-), pupil midriasis (+), lensa Keruh, refleks cahaya (+/+), Visus 1/~

Telinga Hidung Mulut Lidah Tenggorok Leher Thorax : Cor : I P P A Pulmo: I P P A Abdomen : I A P P -

: Sekret (-/-), serumen (-/-) : Septum di tengah, sekret (-/-), clotting (-/-) : Mukosa basah, bibir merah muda : Tidak kotor :Tonsil tidak hiperemis, faring tidak hiperemis, dinding rata. : JVP 5-2 cm H2O, trakea medial, struma (-), pembesaran KGB (-), Kaku kuduk (-) : ictus cordis tidak tampak : ictus cordis teraba di ICS V linea midclavikula sinistra : Batas jantung normal : BJ I-II regular, murmur (-), gallop (-) : simetris kanan-kiri : stem fremitus ka=ki : sonor di kedua lapang paru : vesikuler normal, rhonki (-/-), wheezing (-/-). : Datar, tidak ada lesi kulit. : Bising Usus ( + ) Normal. : Lunak, nyeri tekan (-), H/L tidak teraba. : Thympani : Tidak tampak skoliosis, kifosis, dan lordosis

Tulang Belakang

2

-

Anus anus Genitalia Kulit tidak ada ulkus. Ektremitas

: Lubang intak, tidak tampak massa yang keluar dari : Tidak diperiksa : Kuning langsat, turgor kulit baik, tidak ikterik, : Akral hangat, kekuatan motorik 5 5 , edema 5 Status Neurologis : : Mesosefal, Nyeri tekan : (-), Simetri : (+) 5

Kesadaran : GCS E4 M6 V5 = 15 Kepala Bentuk Leher : Sikap Pergerakan Kaku kuduk •

Mata : Pupil anisokor kanan Ø 3mm ≠ kiri Ø 1 mm, reflek cahaya (-/-), : Lurus : Bebas : (-) Nervus Kranialis :

N. I (olfactorius ) : tidak ada kelainan N.II (Opticus) Tajam penglihatan : Lapang pandang : 0 0 kanan 3 mm bulat : : : : normal 1 mm bulat normal kanan 0 0 kiri

N.III (Occulomotorius) kiri Pupil : Bentuk : Reflek cahaya Diplopia Strabismus Nistagmus

Pergerakan bulbus :

N.IV (Trochlearis)

3

VIII (vestibulocochlearis) : lateralisasi ke kanan : memendek Keseimbangan saat berdiri/berjalan: cenderung jatuh ke arah kanan N.V (Trigeminus) Membuka mulut Mengunyah Menggigit Reflek kornea • • : : : : normal normal (+)↓ (+)↓ (+)↓ (+)↓ kesegala arah : : : + + + kanan ↓ + + + kiri + - Sensibilitas muka : N.XII (hypoglossus) 4 : reflek batuk & muntah (+) : simetris : ↓ : ↓ : + : + .VII (Facialis) Mengerutkan dahi Menutup mata Memperlihatkan gigi Perasaan lidah • Detik Arloji: Tes Rinne Tes Weber Tes Scwabach • : positif : tidak dilakukan N.Pergerakan bulbus : • N.VI (Abdusens) Pergerakan mata : N.IX (Glossopharyngeus) Perasaan lidah belakang : tidak dilakukan Sensibilitas faring • N.IX (Accesorius) Mengangkat bahu Memalingkan kepala • N.X (Vagus) Arkus faring Menelan Berbicara • N.

tidak ada lateralisasi ::Superior + 5/5 + E +N Superior + + tidak dilakukan + Inferior + 5/5 + E +N -/Inferior + + tidak dilakukan + Artikulasi (disatria): tidak jelas (+) Sensibilitas : Dalam batas normal Vegetatif : Miksi Defekasi Gerakan-gerakan abnormal : • • • • • • • Tremor Athetosis Miokloni Khorea : (+) : (+) : (+) : (-) : (-) : (-) : (-) : dalam batas normal : dalam batas normal Koordinasi. gait. dan keseimbangan : Romberg tes Disdiadokokinesis Dismetri Tanda Rangsang Meningeal : 5 .Pergerakan lidah Tremor lidah Deviasi Ekstremitas Motorik Pergerakan Kekuatan Tonus Trofi Reflek fisiologis Reflek Patologis Klonus Sensibilitas Nyeri Taktil Thermal Lokasi : bebas.

• • • • Kaku kuduk : (-) Perasat Brudzinski I : (-) Perasat Brudzinski II : (-) Perasat Kernig : (-) D.9 H 103/mm3 : 4. PEMERIKSAAN ANJURAN : CT-Scan Kepala G. Citicholin 3 X 500 mg Manitol 3 X 100 CC bila TD > 100/70 mmHg Pyracetam Syr 3 X 1 C H. Ranitidin 2 X 50 mg Inj. PENATALAKSANAAN : • • • • • • • IVFD RL XX gtt/menit Inj. DIAGNOSA : Suspek SOL F.6 g/dl : 37. PEMERIKSAAN PENUNJANG : Hasil Laboratorium WBC RBC HGB HCT PLT : : 16.96 106/mm3 : 11.7 % : 331 H 103/mm3 E. Dexamethason 3x 5 mg Inj. Cefotaxim 2 X 1 gr Inj. SARAN : • • Konsul Mata Konsul THT 6 .

Direc : 0. Total : 7.Follow up Tanggal Perjalanan Penyakit 4 – 10 – 2011 S : mata tidak bisa melihat O : KU: Tampak sakit sedang Kes : Compos Mentis TD : 110/70 mmHg N : 80 X/i RR : 18 X/I T : 360C Bil. Indirec : 0.1 Ureum : 28. Ranitidin 2 X 50 mg • Inj. Cefotaxim 2 X 1 gr • Inj.4 Albumin : 4.9 Kolesterol : 241 HDL : 50 GDS :124 Therapi • IVFD RL XX gtt/menit • Inj.total : 0.7 Bil.9 Trigliserida : 87 LDL : 174 CT-Scan Kepala : Bil. Citicholin 3X 500 mg • Manitol 3 X 100 CC bila TD > 100/70 mmHg • Piracetam Syr 3 X 1 C Telah dilakukan pemeriksaan CT Scan kepala potongan Axial tanpa dan dengan kontras dengan hasil sbb : Sistem ventrikel asimetris & terdesak 7 .8 Asam Urat : 2. Dexamethason3x5 mg • Inj.3 Prot.9 Creatinin :0.2 Globulin : 2.

Citicholin 3X 500 mg • Manitol 3 X 100 CC bila TD > 100/70 mmHg • Piracetam Syr 3 X 1 C 6 – 10 – 2011 S : Mata tidak bisa melihat. Infratentorium : Pons & cerbellum tak tampak les. Cefotaxim 2 X 1 gr • Inj. Dexamethason3x5 mg • Inj. didaerah parieto-occipitaalis sinistra dengan perifocal edema (+). Tampak midline shifk ke arah kanan. Ranitidin 2 X 50 mg • Inj.c SOL A : Meningioma 5 – 10 – 2011 S : Mata tidak bisa melihat O : KU: Tampak sakit sedang Kes : Compos Mentis TD : 120/70 mmHg N : 84 X/i RR : 20 X/I T : 360C • IVFD RL XX gtt/menit • Inj. batas tegas. Diferensiasi grey & White matter jelas.c Menningioma Konsul SP. Cefotaxim 2 X 1 gr • Inj. sakit kepala (+) O : KU: Tampak sakit sedang Kes : Compos Mentis TD : 100/60 mmHg • Rencana operasi craniotomi • IVFD RL XX gtt/menit • Inj. Ranitidin 2 X 50 mg • Inj. Dexamethason3x5 mg • Inj.Mata : Pupil atropi OAD e.Cysterna menyempit. bentuk bulat. Tampak mass effek dengan isodens precontras menjadi post contrast enhancement. Tak tampak kalsifikasi patologis Bola mata dan sinus paranasal baik Tulang-tulang tak tampak kelainan Kesan : Brain Mass e. Citicholin 3X 500 mg 8 .

Citicholin 3X 500 mg • Manitol 3 X 100 CC bila TD > 100/70 mmHg • Piracetam Syr 3 X 1 C • Rencana operasi craniotomi 9 . Ranitidin 2 X 50 mg • Inj. Dexamethason3x5 mg • Inj. Cefotaxim 2 X 1 gr • Inj.N : 82 X/i RR : 20 X/I T : 360C 7 – 10 2011 S : Mata tidak bisa melihat O : KU: Tampak sakit sedang Kes : Compos Mentis TD : 120/70 mmHg N : 84 X/i RR : 20 X/I T : 360C • Manitol 3 X 100 CC bila TD > 100/70 mmHg • Piracetam Syr 3 X 1 C • Rencana operasi craniotomi • IVFD RL XX gtt/menit • Inj.

prostate. dapat dilihat pada Tabel 10 . ginjal dan lain-lain. Apabila sel-sel tumor berasal dari jaringan otak itu sendiri. kanker paru.klasifikasi tumor otak yang penting dari segi klinis. Neoplasma pada jaringan otak dan selaputnya dapat berupa tumor primer maupun metastase. disebut tumor otak sekunder. disebut tumor otak primer dan bila berasal dari organ-organ lain (metastase) seperti . payudara. 1 Berdasarkan gambaran histopatologi. membentuk massa dalam ruang tengkorak kepala (intra cranial) atau di sumsum tulang belakang (medulla spinalis).1 Tumor Otak Secara Umum Tumor otak adalah suatu lesi ekspansif yang bersifat jinak (benigna) ataupun ganas (maligna).BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.

Diperkirakan 2% penyebab 11 . Adanya nyeri kepala dengan psikomotor asthenia perlu dicurigai tumor otak. 2. labil. umumnya bertambah berat pada malam hari dan pada saat bangun tidur pagi serta pada keadaan dimana terjadi peninggian tekanan tinggi intrakranial. Nyeri Kepala Diperkirakan 1% penyebab nyeri kepala adalah tumor otak dan 30% gejala awal tumor otak adalah nyeri kepala. 3. umumnya muntah bersifat proyektif dan tak disertai dengan mual. yang dapat dirasakan oleh keluarga dekat penderita berupa: mudah tersinggung. Lebih sering dijumpai pada tumor di fossa posterior. karena pada awalnya menunjukkan berbagai gejala yang menyesatkan dan eragukan tapi umumnya berjalan progresif. Muntah Terdapat pada 30% kasus dan umumnya meyertai nyeri kepala. Gejala ini berjalan progresif dan dapat dijumpai pada 2/3 kasus 1. mungkin diketemukan ansietas dan depresi. dan lebih dari 35% kasus pada stadium lanjut. perlambatan aktivitas mental dan sosial. Manifestasi klinis tumor otak dapat berupa: • Gejala serebral umum Dapat berupa perubahan mental yang ringan (Psikomotor asthenia). kehilangan inisiatif dan spontanitas. Sedangkan gejala lanjut diketemukan 70% kasus. Kejang Bangkitan kejang dapat merupakan gejala awal dari tumor otak pada 25% kasus. emosi. Sifat nyeri kepala bervariasi dari ringan dan episodik sampai berat dan berdenyut.Tumor otak merupakan penyakit yang sukar terdoagnosa secara dini. pelupa.

kejang fokal Bila menekan permukaan media dapat menyebabkan inkontinentia Bila tumor terletak pada basis frontal menimbulkan sindrom foster kennedy Pada lobus dominan menimbulkan gejala afasia • • • 12 . Lobus frontal • • Menimbulkan gejala perubahan kepribadian Bila tumor menekan jaras motorik menimbulkan hemiparese kontra lateral. Selain itu dapat dijumpai parese N. muntah proyektil dan enurunan kesadaran. Tumor-tumor yang sering memberikan gejala TTIK tanpa gejala-gejala fokal maupun lateralisasi adalah meduloblatoma. 40% pada pasen meningioma. 50% pasen dengan astrositoma. Perlu dicurigai penyebab bangkitan kejang adalah tumor otak bila: • • • • • • Bagkitan kejang pertama kali pada usia lebih dari 25 tahun Mengalami post iktal paralisis Mengalami status epilepsi Resisten terhadap obat-obat epilepsi Bangkitan disertai dengan gejala TTIK lain Bangkitan kejang ditemui pada 70% tumor otak dikorteks. Gejala Tekanan Tinggi Intrakranial Berupa keluhan nyeri kepala di daerah frontal dan oksipital yang timbul pada pagi hari dan malam hari. haemangioblastoma serebelum dan craniopharingioma. spendimoma dari ventrikel III. Pada pemeriksaan diketemukan papil udem. dan 25% pada glioblastoma. Gejala spesifik tumor otak yang berhubungan dengan lokasi: 1.VI oleh TTIK. 4.VI akibat teregangnya N.bangkitan kejang adalah tumor otak. Keadaan ini perlu tindakan segera karena setiap saat dapat timbul ancaman herniasi.

Lobus parietal • Dapat menimbulkan gejala modalitas sensori kortikal hemianopsi homonym Bila terletak dekat area motorik dapat timbul kejang fokal dan pada girus angularis menimbulkan gejala sindrom gerstmann’s • 3. dan penurunan kesadaran 6. Lobus temporal • Akan menimbulkan gejala hemianopsi. Tumor di cerebello pontin angie • • Tersering berasal dari N VIII yaitu acustic neurinoma Dapat dibedakan dengan tumor jenis lain karena gejala awalnya berupa gangguan fungsi pendengaran 13 . yang didahului dengan aura atau halusinasi Bila letak tumor lebih dalam menimbulkan gejala afasia dan hemiparese Pada tumor yang terletak sekitar basal ganglia dapat diketemukan gejala choreoathetosis. • • 4. parkinsonism. pasen tiba-tiba nyeri kepala. penglihatan kabur. objeckagnosia • 5. Lobus oksipital • Menimbulkan bangkitan kejang yang dahului dengan gangguan penglihatan Gangguan penglihatan yang permulaan bersifat quadranopia berkembang menjadi hemianopsia.2. bangkitan psikomotor. Tumor di ventrikel ke III • Tumor biasanya bertangkai sehingga pada pergerakan kepala menimbulkan obstruksi dari cairan serebrospinal dan terjadi peninggian tekanan intrakranial mendadak.

bangkitan 8.3 Epidemiologi dan Insidensi Tumor ini mewakili 20% dari semua neoplasma intrakranial dan 12 % dari semua tumor medulla spinalis. Hal ini menjelaskan mengapa meningioma tumbuh disekitar sinus dursl.dwarfism.• Gejala lain timbul bila tumor telah membesar dan keluar dari daerah pontin angel 7. amenorrhoe. Tumor fosa posterior • Diketemukan gangguan berjalan. Pertumbuhannya lamban dan umumnya benigna. gangguan cairan dan elektrolit.2 2. biasanya merupakan gejala awal dari medulloblastoma Meningioma Meningioma adalah tumor meningen di susunan saraf pusat yang berasal 2. tetapi bisa kambuh setelah diangkat. yaitu muncul dari sel-sel meningoendotelial yang banyak terkonsentrasi di vili arachnoid. Meningioma biasanya jinak.2 dari neuroektoderm. Tumor Hipotalamus • • Menyebabkan gejala TTIK akibat oklusi dari foramen Monroe Gangguan fungsi hipotalamus menyebabkan gejala: gangguan perkembangan seksuil pada anak-anak. Tumor di cerebelum • Umumnya didapat gangguan berjalan dan gejala TTIK akan cepat erjadi disertai dengan papil udem Nyeri kepala khas didaerah oksipital yang menjalar keleher dan spasme dari otot-otot servikal • 9. nyeri kepala dan muntah disertai dengan nystacmus. Tumor ini lebih sering ditemukan pada wanita dan biasanya muncul pada usia 40-60 tahun. tetapi tidak tertutup kemungkinan muncul pada masa kanak-kanak atau pada usia yang lebih lanjut.Paling banyak meningioma 14 .

3.2. sejarah payudara kanker. dan sering terjadi pada usia muda. Fungsi reseptor ini belum sepenuhnya dipahami. Beberapa meningioma memiliki reseptor yang berinteraksi dengan hormon seks progesteron.4 Etiologi Para ahli tidak memastikan apa penyebab tumor meningioma. baik pada pria dan wanita.2. Sebelumnya radiasi ke kepala. sering kali menantang bagi dokter untuk menasihati pasien perempuan mereka tentang penggunaan hormon jika mereka memiliki sejarah suatu meningioma. NF2 merupakan gen supresor tumor pada 22Q12. Pasien dengan NF2 dan beberapa non-NF2 sindrom familial yang lain dapat berkembang menjadi meningioma multiple. Ekspresi progesteron reseptor dilihat paling sering pada meningioma yang jinak. Disamping itu. ditemukan tidak aktif pada 40% meningioma sporadik. Para peneliti sedang mempelajari beberapa teori tentang kemungkinan asal usul meningioma.5 Anatomi 15 . Meningioma juga sering memiliki salinan tambahan dari platelet diturunkan faktor pertumbuhan (PDGFR) dan epidermis reseptor faktor pertumbuhan (EGFR) yang mungkin memberikan kontribusi pada pertumbuhan tumor ini.3 2.tergolong jinak (benign) dan 10 % malignan. terutama mereka dengan neurofibromatosis tipe 2.meningioma benign lebih banyak terjadi pada wanita. Multiple meningioma terjadi pada 5% sampai 15% dari pasien. atau neurofibromatosis tipe 2 dapat risiko faktor untuk mengembangkan meningioma. Penyebab kelainan ini tidak diketahui. peneliti telah mengamati bahwa kadang-kadang mungkin meningioma tumbuh lebih cepat pada saat kehamilan. dan jarang estrogen.4 2.4 Kromosom ini biasanya terlibat dalam menekan pertumbuhan tumor. namun beberapa teori telah diteliti dan sebagian besar menyetujui bahwa kromoson yang jelek yang meyebabkan timbulnya meningioma. androgen. deplesi gen yang lain juga berhubungan dengan pertumbuhan meningioma . Di antara 40% dan 80% dari meningiomas berisi kromosom 22 yang abnormal pada lokus gen neurofibromatosis 2 (NF2). Meningioma malignant dapat terjadi pada wanita dan laki-laki. dan demikian. Meskipun peran tepat hormon dalam pertumbuhan meningioma belum ditentukan.

Vena-vena duramater mengiringi arteri-arteri meningeal dan juga dapat terobek pada fraktur calvaria.6 • Lapisan endosteal (periosteal) sebelah luar dibentuk oleh periosteum yang membungkus permukaan dalam calvaria. lapis antara yang menyerupai sarang labalaba.Meninges craniales (pembungkus-pembungkus meningeal otak) terdiri dari tiga lapis. yakni arteria meningea media.6 Arteri-arteri duramater mengantar lebih banyak darah kepada calvaria dibandingkan kepada duramater cranialis. Duramater cranialis terdiri dari dua lapisan:5. yaitu:5. Arteri meningeal terbesar. dan berbelok ke arah superolateral pada ala major ossis spheinodalis. Ramus posterior melintas ke superoposterior dan melepas cabang-cabang untuk bagian posterior cranium. lapis terdalam yang halus dan mengandung banyak pembuluh darah. lapis luar yang tebal dan kuat. Arteria meningea media memasuki cavitas cranii melalui foramen spinosum. dan disini terbagi menjadi ramus posterior dan anterior. melintas ke arah lateral pada dasar fossa cranii media.3 Persarafan duramater cranialis terutama terjadi melalui ketiga divisi nervus cranialis V. cabang-cabang sensoris juga berasal dari nervus vagus ( nervus cranialis X) dan ketiga saraf servikal teratas. Badan-badan akhir sensoris dalam duramater cranialis terdapat lebih banyak sepanjang kedua sisi sinus sagittalis superior dan dalam tentorium cerebelli disbanding dasar cranium.6 • • Duramater craniales. Arachnoidea mater craniales. lalu melengkung ke posterior dan naik kea rah puncak kepala. Ramus anterior melintas ke superiorke titik pterion. • Lapisan meningeal sebelah dalam adalah suatu selaput fibrosa yang kuat yang berlanjut terus di foramen magnum dengan duramater spinalis yang membungkus medulla spinalis. adalah cabang arteria maxillaries. • Piamater cranialis. Vaskularisasi dan persarafan duramater cranialis5. Serabut untuk 16 .

spatium epidurale bersifat potensial. ruang potensial inimenjadi ruang yang nyata. • Spatium subarachnoideum yang tedapat antara arachnoidea mater dan piamater. berisi CSS. Anatomi lapisan otak 17 . Gambar 1. tertimbun didalamnya) • Spatium subdural adlah sebuah ruang potensial yang dapat berkembang pada bagian terdalamduramater setelah cedera kepala.rasa sakit jugabanyak terdapat pada tempat arteri-arteri dan vena-vena menembus duramater cranialis Ruang-ruang meningeal Salut-salut otak berhubungan dengan tiga ruang meningeal: • Spatium epidurale terdapat ossa cranii dan lapis endostial duramater cranialis (karean duramater melekat pada tulang-tulang. jika darah dari pembuluh darah yang koyak.

dapat dilakukan kemoterapi.2.6 Patofisiologi Seperti banyak kasus neoplasma lainnya. mungkin pertumbuhannya sangat baik jika diobservasi dengan MRI secara periodik. 7 b. Meningioma grade II biasanya membutuhkan terapi radiasi setelah pembedahan. Grade I Meningioma tumbuh dengan lambat. Jika tumor semakin berkembang. Kebanyakan meningioma grade I diterapi dengan tindakan bedah dan observasi yang berkelanjutan.4 2. Jika terjadi rekurensi tumor. Grade III Meningioma berkembang dengan sangat agresif dan disebut meningioma malignan atau meningioma anaplastik. maka pada akhirnya dapat menimbulkan gejala.7 18 .7 Klasifikasi WHO mengembangkan sistem klasifikasi untuk beberapa tumor yang telah diketahui.7 c. Kaskade eikosanoid diduga memainkan peranan dalam tumorogenesis dan perkembangan edema peritumoral. Pembedahan adalah penatalaksanaan awal pada tipe ini. Tumor diklasifikasikan melalui tipe sel dan derajat pada hasil biopsi yang dilihat di bawah mikroskop. jika tumor tidak menimbulkan gejala. Meningioma malignan terhitung kurang dari 1 % dari seluruh kejadian meningioma. Tumor otak yang tergolong jinak ini secara histopatologis berasal dari sel pembungkus arakhnoid (arakhnoid cap cells) yang mengalami granulasi dan perubahan bentuk. kemudian penatalaksanaan bedah dapat direkomendasikan. masih banyak hal yang belum diketahui dari meningioma. Jenis ini tumbuh lebih cepat dibandingkan dengan grade I dan juga mempunyai angka kekambuhan yang lebih tinggi. termasuk meningioma. Grade II Meningioma grade II disebut juga meningioma atypical. Pembedahan adalah penatalaksanaan yang pertama untuk grade III diikuti dengan terapi radiasi.7 a. Patofisiologi terjadinya meningioma sampai saat ini masih belum jelas. Penatalaksanaannya pun berbeda-beda di tiap derajatnya.

8 Gambaran Histopatologi Meningioma intrakranial banyak ditemukan di regio parasagital. nervus yang menghubungkan otak dengan hidung. Falx adalah selaputyang terletak antara dua sisi otak yang memisahkan hemisfer kiri dan kanan. gangguan kencing. d. Tipe meningioma ini terdapat Meningioma Sphenoid (20%) Daerah Sphenoidalis berlokasi pada Meningioma Olfactorius (10%). Terjadi di bagian atas sella tursica. 2. permukaan bawah bagian belakang otak. Tipe ini terjadi di sepanjang Meningioma fossa posterior (10%). Meningioma Convexitas (20%). Akan selalu terjadi pda medulla spinbalis setingkat thorax dan dapat menekan spinal cord. g. Parasagital meningioma terdapat di sekitar falx. Banyak terjadi pada wanita pada permukaan atas otak. c. Banyak terjadi pada wanita. daerah belakang mata. namun jarang menyebuk ke jaringan otak. dan nyeri tungkai. f.Meningioma juga diklasifikasikan ke dalam subtipe berdasarkan lokasi dari tumor7 : a. Tipe ini berkembang Meningioma Intraventrikular (2%). Meningioma spinalis dapat menyebabkan gejala seperti nyeri radikuler di sekeliling dinding dada. Di kanalis spinalis meningioma lcbih sering menempati regio torakal. Tipe ini berkembang di Meningioma suprasellar (10%). e. yang berumur antara 40 dan 70 tahun. selanjutnya di daerah permukaan konveks lateral dan falx cerebri. Meningioma Intraorbital (kurang dari 10%). Meningioma falx dan parasagital (25% dari kasus meningioma). h. berisi cairan di seluruh bagian otak. Kadang-kadang ditemukan fokus-fokus kalsifikasi kecil-kecil 19 . sebuah kotak pada dasar tengkorak dimana terdapat kelenjar pituitari. Pertumbuhan tumor ini mengakibatkan tekanan hebat pada jaringan sekitamya. Spinal meningioma (kurang dari 10%). i. Falx cerebri mengandung pembuluh darah besar. b. Terjadi pada ruangan yang paa atau di sekitar mata cavum orbita.

3 2. misalnya pandangan kabur.9 Diagnosa Gejala meningioma dapat bersifat umum (disebabkan oleh tekanan tumor pada otak dan medulla spinalis) atau bisa bersifat khusus (disebabkan oleh terganggunya fungsi normal dari bagian khusus dari otak atau tekanan pada nervus atau pembuluh darah).yang berasal dari psammoma bodies. Dikatakan atipikal jika ditemukan proses mitosis pada 4 sel per lapangan pandang elektron atau terdapat peningkatan selularitas. Secara umum. nuklear pleomorphism. 20 . meningioma biasanya berbentuk globuler dan meliputi dura secara luas. bahkan dapat ditemukan pembentukan jaringan tulang baru.7 Gejala umumnya seperti :6. tampak pucat translusen atau merah kecoklatan homogen serta dapat seperti berpasir. 80% menunjukkan adanya epithelial membrane antigen (EMA) yang positif. • Perubahan mental • Kejang • Mual muntah • Perubahan visus. Sedangkan pada anaplastik akan ditemukan peningkatan jumlah mitosis sel. Imunohistokimia dapat membantu diagnosis meningioma. rasio small cell dan nukleus sitoplasma yang tinggi. Pada pasien dengan meningioma. abnormalitas pola pertumbuhan meningioma dan infiltrasi serebral. Stain negatif untuk anti-Leu 7 antibodi (positif pada Schwannomas) dan glial fibrillary acidid protein (GFAP). uninterupted patternless dan sheet-like growth.6.7 • Sakit kepala. dapat berat atau bertambah buruk saat beraktifitas atau pada pagi hari. meningioma tidak bisa didiagnosa pada gejala awal.4 Secara histologis. Pada permukaan potongan.

tidak ditemukan kelainan pada pemeriksaan radiografi. Kalsifikasi tanpa adanya tumor pada foto polos kepala dapat menunjukkan hasil false-negatif pada meningioma. Banyak pasien dengan meningioma otak dapat ditegakkan secara langsung dengan menggunakan CT atau MRI. Osteolisis jarang mengakibatkan meningioma yang jinak dan malignan. gangguan gaya berjalan. Meningioma dapat mengakibatkan reaktif hyperostosis yang tidak berhubungan dengan ukuran tumor.10 Pemeriksaan Radiologi Umumnya pada banyak pasien. kebutaan. Foto polos kepala dapat memberikan gambaran kalsifikasi karena ada meningioma pada dasar tulang kepala dengan bentuk yang konveks.8 a. • Meningioma fossa posterior : nyeri tajam pada wajah. gangguan lapangan pandang. dan bentuk sphenoid . perubahan status mental • Meningioma Sphenoid : kurangnya sensibilitas wajah. Gambaran yang sering terlihat plak yang hyperostosis. dan penglihatan ganda. • Meningioma Olfactorius : kurangnya kepekaan penciuman. masalah visus • Spinal meningioma : nyeri punggung.8 Pemeriksaan foto polos kepala sebagai penunjang penyakit meningioma masih memiliki derajat kepercayaan yang tinggi. • Meningioma suprasellar : pembengkakan diskus optikus. mati rasa. pusing 2. nyeri dada dan lengan • Meningioma Intraorbital : penurunan visus. dan spasme otot-otot wajah. Foto polos Otak 21 . gangguan menelan. sakit kepala. defisit neurologis fokal. masalah visus. dan pterion.7 • Meningioma falx dan parasagittal : nyeri tungkai • Meningioma Convexitas : kejang. penonjolan bola mata • Meningioma Intraventrikular : perubahan mental. sakit kepala.Gejala dapat pula spesifik terhadap lokasi tumor :6. berkurangnya pendengaran.

Pembesaran pembuluh darah meninx menggambarkan dilatasi arteri meninx yang mensuplai darah ke tumor. dan adanya dilatasi ventrikel. • Dapat terlihat juga adanya hiperostosis kranialis.5. Tumor juga memberikan gambaran komponen kistik dan kalsifikasi pada beberapa kasus. dan gambaran peningkatan densitas yang homogen pada foto kontras. Tampak erosi tulang dan dekstruksi sinus sphenoidales. maka dapat dengan jelas menampilkan sistem ventrikel dan sistem otak. udem otak yang terjadi sekitar tumor.6. sangat membantu dalam diagnosis tumor intrakranial. Tampak gambaran isodense hingga hiperdense pada foto sebelum kontras.6 Gambaran CT-Scan pada meningioma adalah sebagai berikut :9 • • Tanpa kontras gambaran meninioma 75% hiperdens dan 14. kalsifikasi dan lesi litik pada tulang tengkorak.Hiperostosis adalah salah satu gambaran mayor dari meningioma pada foto polos.7.4% isodens Gambaran spesifik dari meninioma berupa enchancement dari tumor dengan pemberian kontras. Kalsifikasi terdapat pada 20-25% kasus dapat bersifat fokal maupun difus. Meninioma tampak sebagai masa yang homogen dengan densitas tinggi. struktur substansia grisea dan substansia alba serta jaringan lesi. Foto polos diindikasikan untuk tumor pada meninx. Udem peritumoral dapat terlihat dengan jelas.8 b. 22 . tepi bulat dan tegas. Computed Tomography (CT scan) Karena CT-Scan dapat menampilkan perbedaan halus absorbsi sinar X berbagai jaringan intracranial.7 CT-scan kontras dan CT-scan tanpa kontras memperlihatkan paling banyak meningioma. Perdarahan dan cairan intratumoral sampai akumulasi cairan dapat terlihat. destruksi tulang.

c. gambaran meningioma 62-70 terdapat dural tail. MRI dengan zat kontras potongan sagittal T1 menunujukkan perlekatan sebagian tumor. dan massa lobus atau multi lobules yang hanya dapat digambarkan dengan ultrasonografi. Angiografi 23 . perubahan kista yang terdapat di bagian dalam dan luar massa tumor. kalsifikasi. Potongan Koronal T2 menunjukkan massa padat yang menunjukkan jaringan padat. e. Ultrasonografi (USG) Ultrasonografi dapat memberikan gambaran lokasi dari intratumoral hemorrhage. Gambaran ini menunjukkan meningioma fibroblastik. B.Gambar Meningioma Parasagital. invasi parenkim oleh meningioma malignan. dengan gejala tergantung pada lokasi tumor berada. A. C.6 d. MRI potongan axial T1 dengan zat kontras menujukkan hiperintensitas yanr terletak di sumsum tulang. MRI memperlihatkan lesi berupa massa. MRI nonkontras potongan sagital T1 menunjukkan massa dural yang padat dengan invasi dan kompresi terhadap korteks parietal. Magnetic Resonance Imaging (MRI) pencitraan yang sangat baik digunakan untuk MRI merupakan mengevaluasi meningioma. D.

Agiografi masih bisa digunakan jika terjadi embolisasi akibat tumor. Basal meningiomas pada anterior dan fossa cranial media dan meningioma pada tulang sphenoid umumnya mendapat vaskularisasi dari arteri carotid interna.11 Penatalaksanaan Penatalaksanaan meningioma tergantung dari lokasi dan ukuran tumor itu sendiri. Meningioma supratentorial divaskularisasikan dari arteri carotid interna dan eksternal.5. 2. Gambar Meningioma Otak. Terapi meningioma masih menempatkan reseksi operatif sebagai pilihan pertama. Angiograpi proyeksi lateral dari arteri carotid menunjukkan mutipel tumor yang opak dengan dikelilingi pembuluh darah.Umumnya meningioma merupakan tumor vascular. Selanjutnya arteri dan kapiler memperlihatkan gambaran vascular yang homogen dan prominen yang disebut dengan mother and law phenomenon. vaskularisasi dan pengaruh 24 . yang belakangan ini merupakan alat diagnostik yang kuat untuk mengetahui embolisasi dan perencanaan untuk operasi. Angiografi dapat menunjukkan peta distribusi arterial yang berguna untuk persiapan preoperasi embolisasi. Beberapa faktor yang mempengaruhi operasi removal massa tumor ini antara lain lokasi tumor. Terlihat carotid supraclinoid sirkumferensial.6. ukuran dan konsistensi. Lihat gambar berikut. Parasellar meningioma.7 Magnetic resonance angiography (MRA and MRV) merupakan pemeriksaan penunjang yang berkembang dari ilmu angiografi klasik. Dan dapat menimbulkan gambaran “spoke wheel appearance”. Meningioma mendapat asupan makanan oleh meningeal branches dari arteri carotid internal dan external.

5. Pemberian antibiotik perioperatif digunakan sebagai profilaksis pada semua pasien untuk organisme stafilokokkus. serta pemberian metronidazol (untuk organisme anaerob) ditambahkan apabila operasi direncanakan dengan pendekatan melalui mulut. kasus-kasus rekurensi baik yang didahului dengan operasi sebelumnya ataupun tidak. keadaan pasien yang buruk.5. external 25 . riwayat operasi sebelumnya dan atau radioterapi. dan rekurensi tumor. Tindakan operasi tidak hanya mengangkat seluruh tumor tetapi juga termasuk dura.6.7 • Grade I : Reseksi total tumor. sinus paranasal. dan tulang untuk menurunkan kejadian rekurensi. pemberian antikonvulsan dapat segera diberikan. atau mastoid. Pada kasus meningioma yang tidak dapat dioperasi karena lokasi yang sulit.7 Rencana preoperatif Pada pasien dengan meningioma supratentorial. telinga. rencana operasi dan tujuannya berubah berdasarkan faktor resiko. perlekatan dural dan tulang abnormal • Grade II : Reseksi total tumor. tanpa reseksi atau koagulasi dari perlekatan dura atau mungkin perluasan ekstradural ( misalnya sinus yang terserang atau tulang yang hiperostotik) • Grade IV : Reseksi parsial tumor • Grade V : Dekompresi sederhana (biopsy) 2. dan pemberian cephalosporin generasi III yang memiliki aktifitas terhadap organisem pseudomonas. dan pada kasus rekurensi.12 Radioterapi Penggunaan external beam irradiation pada meningioma semakin banyak dipakai untuk terapi. jaringan lunak. deksametason diberikan dan dilindungi pemberian H2 antagonis beberapa hari sebelum operasi dilaksanakan.6. koagulasi dari perlekatan dura • Grade III : Reseksi total tumor.7 Klasifikasi Simptom dari ukuran reseksi pada meningioma intracranial5. pola. External beam irradiation dengan 4500-6000 cGy dilaporkan efektif untuk melanjutkan terapi operasi meningioma reseksi subtotal.terhadap sel saraf. atau pada pasien yang menolak dilakukan operasi.6. Lebih jauh lagi.

Kondziolka dan kawan-kawan memperhitungkan pengontrolan pertumbuhan tumor dalam 2 tahun pada 96 % kasus. Mereka menemukan sekitar 88% pertumbuhan tumor ternyata dapat dikontrol. terutama pada lesi dengan diameter kurang dari 2. Setelah itu penggunaan stereotaktik radioterapi ini semakin banyak dilakukan untuk meningioma. Steiner dan koleganya menganalisa pasien meningioma yang diterapi dengan gamma knife dan diobservasi selama 5 tahun. Teori terakhir menyatakan terapi external beam irradiation tampaknya akan efektif pada kasus meningioma yang agresif (atyppical.beam irradiation masih belum menunjukkan keefektifitasannya.5 cm 12.7 Kemoterapi Modalitas kemoterapi dengan regimen antineoplasma masih belum banyak diketahui efikasinya untuk terapi meningioma jinak maupun maligna. tetapi informasi yang mendukung teori ini belum banyak dikemukakan. Kejadian defisit neurologis baru pada pasien yang diterapi dengan stereotaktik tersebut kejadiannya sekitar 5 %. yang paling sering digunakan adalah sinar foton yang berasal dari Co gamma (gamma knife) atau linear accelerators (LINAC) dan partikel berat (proton. Efektifitas dosis yang lebih tinggi dari radioterapi harus dengan pertimbangan komplikasi yang ditimbulkan terutama pada meningioma. Kemoterapi 26 . malignan). Baru-baru ini peneliti yang sama melakukan studi dengan sampel 99 pasien yang diikuti selama 5 hingga 10 tahun dan didapatkan pengontrolan pertumbuhan tumor sekitar 93 % kasus dengan 61 % massa tumor mengecil. Saraf optikus sangat rentan mengalami kerusakan akibat radioterapi.5. Semua teknik radioterapi dengan stereotaktik ini dapat mengurangi komplikasi. Sumber energi yang digunakan didapat melalui teknik yang bervariasi.6. Radiasi Stereotaktik Terapi radiasi tumor menggunakan stereotaktik pertama kali diperkenalkan pada tahun 1960an menggunakan alat Harvard proton beam. ion helium) dari cyclotrons. Komplikasi lain yang dapat ditimbulkan berupa insufisiensi pituitari ataupun nekrosis akibat radioterapi 12.

5. Terdapat pertumbuhan tumor pada 10 pasien. Dilaporkan juga terapi ini kurang menimbulkon toksisitas dibanding pemberian dengan kemoterapi. walaupun regimen tersebut efektifitasnya sangat baik pada tumor jaringan lunak.5. terdapat pertumbuhan ulang pada salah satu pasien tersebut. dan vincristine dapat memperbaiki angka harapan hidup dengan rata-rata sekitar 5. Pemberian obat kemoterapi lain seperti hydroxyurea sedang dalam penelitian. dan respon minimal atau parsial pada tiga pasien. dan pengurangan 27 . stabilisasi sementara pertumbuhan tumor pada 6 pasien. Preparat yang dipakai biasanya tamoxifen (anti estrogen) dan mifepristone (anti progesteron). Tamoxifen (40 mg/m2 2 kali/hari selama 4 hari dan dilanjutkan 10 mg 2 kali/hari) telah digunakan oleh kelompok onkolologi Southwest pada 19 pasien dengan meningioma yang sulit dilakukan reseksi dan refrakter. Pada studi yang kedua dari kelompok Netherlands dengan jumlah pasien 10 orang menunjukkan pertumbuhan tumor berlanjut pada empat pasien.7 Pemberian hormon antogonis mitogen telah juga dilakukan pada kasus dengan meningioma. Pertumbuhan sel pada meningioma dihambat pada fase S dari siklus sel dan menginduksi apoptosis dari beberapa sel dengan pemberian hydroxyurea.6. tetapi terapi menggunakan regimen kemoterapi (baik intravena atau intraarterial cis-platinum.3 tahun.6. Dan dilaporkan pada satu kasus pemberian hydroxyurea ini memberikan efek pada pasien-pasien dengan rekurensi dan meningioma yang tidak dapat direseksi. Pemberian Alfainterferon dilaporkan dapat memperpanjang waktu terjadinya rekurensi pada kasus meningioma yang agresif. Pada studi yang pertama didapatkan 5 dari 14 pasien menunjukkan perbaikan secara objektif yaitu sedikit pengurangan massa tumor pada empat pasien dan satu pasien gangguan lapang pandangnya membaik walaupun tidak terdapat pengurangan massa tumor.sebagai terapi ajuvan untuk rekuren meningioma atipikal atau jinak baru sedikit sekali diaplikasikan pada pasien.7 Pada dua studi terpisah dilakukan pemberian mifepristone (RU486) 200 mg perhari selama 2 hingga 31 bulan. Laporan dari Chamberlin pemberian terapi kombinasi menggunakan cyclophosphamide. decarbazine (DTIC) dan adriamycin) menunjukkan hasil yang kurang memuaskan (DeMonte dan Yung). stabil pada tiga pasien. adriamycin.

6 DAFTAR PUSTAKA 1.9% dan (1957– 1966) adalah8. Angka kematian (mortalitas) meningioma sebelum operasi jarang dilaporkan. Degenerasi keganasan tampak bila ada invasi dan kerusakan tulang tumor tidak berkapsul pada saat operasi invasi pada jaringan otak.5. Tumor otak.ukuran yang minimal pada tiga pasien. Jakarta. Diperkirakan angka kematian post operasi selama lima tahun (1942–1946) adalah 7. dilaporkan survival rate lima tahun adalah 75%.5. 2003. Iskandar Japardi. karena pengangkatan tumor yang sempurna akan memberikan penyembuhan yang permanen. 2011. Tiga jenis obat tersebut sedang dilakukan penelitian dengan jumlah sampel yang lebih besar pada meningioma tetapi sampai sekarang belum ada terapi yang menjadi prosedur tetap untuk terapi pada tumor ini. Oktober 16]. dengan kemajuan teknik dan pengalaman operasi para ahli bedah maka angka kematian post operasi makin kecil. Availble from: 28 . : Fakultas Patogenesis.7 2.(diakses tanggal 16 oktober 2011) Sadewo Wismaji.5.6 Sejak 18 tahun meningioma dipandang sebagai tumor jinak. Pada orang dewasa snrvivalnya relatif lebih tinggi dibandingkan pada anak-anak. Hal 393-394.13 Prognosis Pada umumnya prognosa meningioma adalah baik. Hal 145 Kedokteran Universtas Indonesia. dan bila letaknya mudah dapat diangkat seluruhnya. Cetakan pertama. Departemen Bedah Saraf FKUI-RSCM. Sidharta P. Pada anak-anak lebih agresif. perubahan menjadi keganasan lebih besar dan tumor dapat menjadi sangat besar.com/2008/10/23/602/ 2.6. Sinopsis Ilmu Bedah Saraf. Sebab-sebab kematian menurut laporan-laporan yang terdahulu yaitu perdarahan dan edema otak. dan klasifikasi meningioma[cited 2011 diunduh dari : http://belibis-a17.5%. : Mardjono M. Pada penyelidikan pengarang-pengarang barat lebih dari 10% meningioma akan mengalami keganasan dan kekambuhannya tinggi. 4. 3. histopatologi. Dalam: Neurologi klinis dasar.

2008.%20histopatologi%20dan %20klasifikasi%20meningioma. Buku Ajar Onkologi Klinis. Meningioma. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia: Jakarta. Diunduh dari : http://www.abta. Dalam: Anatomi susunan saraf pusat.com/articles/Patogenesis. (diakses tanggal 16 oktober 2011).org/meningioma. Anonim. Makassar: Bagian Anatomi Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin. Edisi 2. Anonim. Hal 320-324 http://www. Wan Dosen.neuroonkologi.http://www. Menings. 2003. Luhulima JW.doc 5. %2 8. Makalah Radio. 6.com/articles/Patogenesis.pdf 7.%20histopatologi%20dan Laporan Kasus 29 .neuroonkologi. (diakses tanggal 16 oktober 2011).

CASE REPORT SECTION MENINGIOMA Pembimbing: dr. S.Ked (G1A105042) KEPANITRAAN KLINIK SENIOR BAGIAN ILMU BEDAH RUMAH SAKIT UMUM DAERAH RADEN MATTAHER JAMBI FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS JAMBI 2011 30 . Apriyanto. Sp. BS Oleh: Afriska Norma Utama.

Oleh karena itu. Sp.KATA PENGANTAR Segala puji syukur kepada ALLAH SWT. karena atas berkat dan rahmatNya sehingga penulis dapat menyelesaikan laporan kasus dengan judul Meningioma. semoga bermanfaat. amin. Oktober 2011 Penulis 31 . Jambi.BS selaku pembimbing yang telah membantu penyelesaian laporan kasus ini. Penulis menyadari sepenuhnya bahwa dalam penyusunan laporan kasus ini masih banyak terdapat kesalahan dan kekurangan. dan semua pihak yang telah membantu dalam menyelesaikan laporan kasus ini. Demikianlah penulisan laporan ini. segala saran dan kritik yang bersifat membangun sangat kami harapkan. Penulisan juga mengucapan terima kasih kepada teman-teman. Apriyanto. Di kesempatan ini penulis juga mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada dr.

BS 32 . Sp. Apriyanto.HALAMAN PENGESAHAN LAPORAN KASUS JUDUL : MENINGIOMA Oleh: AFRISKA NORMA UTAMA (G1A105042) Telah diterima dan disetujui sebagai salah satu syarat dalam mengikuti Kepaniteraan Klinik Senior di Bagian Ilmu Bedah Fakultas Univesitas Jambi Rumah Sakit Umum Daerah Raden Mattaher Jambi Jambi. Oktober 2011 dr.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful