KAJIAN IMPLEMENTASI OTONOMI DAERAH BERKAITAN DENGAN WACANA PEMBENTUKAN PROPINSI CIREBON

BIRO OBSERVASI DEPARTEMEN KEBIJAKAN PUBLIK LEMBAGA EKSEKUTIF MAHASISWA UNIVERSITAS SWADAYA GUNUNG JATI CIREBON DISAMPAIKAN DALAM KONFERENSI BEM WILAYAH III CIREBON CIREBON, 17 – 18 OKTOBER 2009

OLEH : KURNIAWAN T ARIEF

PENDAHULUAN
• Menurut Pakar Otonomi Daerah Eko Prasojo (2007) Pemekaran memang tidak boleh diharamkan, tetapi pemekaran yang tidak tepat menyebabkan inefisiensi penggunaan keuangan negara. Sebab bagaimanapun, kekuatan keuangan negara untuk membiayai penyelenggaraan pemerintah memiliki keterbatasan. Problem pemekaran terjadi karena kepentingan politik elite lebih menonjol daripada kepentingan kesejahteraan masyarakat. Secara politis, pemekaran juga diartikan sebagai "pembukaan" lapangan pekerjaan politik menjadi anggota DPRD dan lapangan jabatan baru lain yang muncul sebagai konsekuensi terbentuknya daerah otonom.

SASARAN PEMEKARAN DAERAH YANG DIHARAPKAN SEBAGAI IMPLEMENTASI OTONOMI DAERAH ( MENURUT PP 78 2007 ) ADALAH :

• • •


• •

Tercapainya sinkronisasi dan harmonisasi peraturan perundang-undangan pusat dan daerah, Meningkatnya kerjasama antar pemerintah daerah. Terbentuknya kelembagaan pemerintah daerah yang efektif, efisien, dan akuntabel. Meningkatnya kapasitas pengelolaan sumberdaya aparatur pemerintah daerah yang profesional dan kompeten. Terkelolanya sumber dana dan pembiayaan pembangunan secara transparan, akuntabel, dan profesional Tertatanya daerah otonom baru.

DASAR PEMIKIRAN
– – – – – UU No. 22 Tahun 1999 Tentang Pemerintahan Daerah UU No 25 Tahun 1999 Tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah PP No. 78 Tahun 2007 Tentang Tata Cara Pembentukan, Penghapusan dan Penggabungan Daerah UU Nomor 32 Tahun 2004 Wacana Pembentukan Provinsi Cirebon ( P3C )

MAKSUD DAN TUJUAN PENYUSUNAN KAJIAN
• 1.
• • • •

Membuat analisa kebijakan berdasarkan kajian akademis yang berimbang 2. Memperoleh rekomendasi untuk kemudian diolah menjadi sebuah referensi kebijakan secara empiris 3. Membuat hipotesa terapan berdasar literature yang berasal dari berbagai data dan studi yang dapat dijadikan pembanding serta penyeimbang kebijakan 4. Mengawal proses pendewasaan politik local yang berimplikasi bagi kesejahteraan masyarakat wilayah regional bukan untuk aspirasi satu kelompok local yang berkepentingan saja 5. Memfollow up dan membudayakan goodgoverment dan ibagi iklim birokrasi pemerintahan di Wilayah III Cirebon

beberapa permasalahan yang timbul akibat pelaksanaan otonomi daerah
• • Penyelenggaraan otonomi daerah oleh Pemerintah Pusat selama ini cenderung tidak dianggap sebagai amanat konstitusi sehingga proses desentralisasi menjadi tersumbat. Kuatnya kebijakan sentralisasi membuat semakin tingginya ketergantungan daerah-daerah kepada pusat yang nyaris mematikan kreatifitas masyarakat beserta seluruh perangkat pemerintahan di daerah. Adanya kesenjangan yang lebar antara daerah dan pusat dan antardaerah sendiri dalam kepemilikan sumber daya alam, sumber daya budaya, infrastruktur ekonomi, dan tingkat kualitas sumber daya manusia. Adanya kepentingan melekat pada berbagai pihak yang menghambat penyelenggaraan otonomi daerah Salah wacana politik lokal yang cukup hangat sejak otonomi penuh ini adalah pemekaran wilayah. akhir-akhir ini merupakan salah satu tema politik yang menggelembung dimasyarakat.

11 Penilaian kuantitatif terhadap kajian daerah pemekaran. ( Pasal 6 PP 78 2007)
• • • • • • • • • • • Kependudukan, Kemampuan Keuangan, Kemampuan Ekonomi masyarakat, Sosial Budaya, Sosial Politik Potensi Daerah, Luas Daerah, Pertahanan, Keamanan, Tingkat Kesejahteraan Masyarakat Rentang kendali penyelenggaraan pemerintahan.

ANALISA PENGEMBANGAN KAJIAN
• Dalam beberapa tahun terakhir, usulan pembentukan beberapa daerah dilakukan melalui mekanisme hak inisiatif DPR sehingga alasan politis lebih dominan dibandingkan alasan teknis. • Bahkan dari hasil wawancara terungkap bahwa Kepala Pemerintah dari daerah induk sendiri awalnya tidak tahu adanya usulan pemekaran daerah dari masyarakatnya yang disampaikan ke DPR.

ASPEK- ASPEK PENENTU KEBERHASILAN
Analisa yang akan dibuat dalam makalah ini berdasarkan referensi dari PP 78 2007 pasal 22 ayat 1 dan 2 dimana di pasal tersebut disebutkan bahwa daerah otonom baru dapat dihapus kembali apabila setelah melalui proses evaluasi terhadap kiner4ja penyelenggaraan pemerintahan dan evaluasi kemampuan penyelenggaraan otonomi daerah dinyatakan tidak mampu dan mengalami disorientasi tujuan penyelanggaraan otonomi daerah dan pemekaran wilayah

ASPEK KESEJAHTERAAN MASYARAKAT
• Aspek kesejahteraan masyarakat adalah satu syarat mutlak yang paling nyata terasa dalam penilaian berhasil/ tidaknya pembangunan yang dilaksanakan dalam suatu lingkup wilayah. Cakupan penilaian itu meliputi indeks Pembangunan Manusia yang terkomposisi dari aspek pendidikan, kesehatan, daya beli,akses pelayanan public, dan pemenuhanan sarana dan prasarana.

ASPEK PELAYANAN PUBLIK
Pelayanan publik atau pelayanan umum dapat didefinisikan sebagai segala bentuk jasa pelayanan, baik dalam bentuk barang publik maupun jasa publik yang pada prinsipnya menjadi tanggung jawab dan dilaksanakan oleh Instansi Pemerintah di Pusat, di Daerah, dan di lingkungan Badan Usaha Milik Negara atau Badan Usaha Milik Daerah, dalam rangka upaya pemenuhan kebutuhan masyarakat maupun dalam rangka pelaksanaan ketentuan peraturan perundangundangan.

Sementara itu, sebuah penelitian yang dilakukan pada akhir 2008 menyebutkan bahwa Kota Cirebon menempati peringkat ke-41 dengan skor 3,82. Peringkat IPK (Indeks Persepsi Korupsi) ini adalah peringkat ke 9 tingkat kota dengan Indeks korupsi terparah Se-Indonesia. Kemudian pada tahun 2010 IPK Cirebon berada pada tingkat terburuk se-Indonesia dengan peringkat skor 3,61. Survei yang dilakukan oleh Transparency International Indonesia dan Departemen Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dilaksanakan sejak September hingga Desember 2008.itu melibatkan responden pengusaha (60%), pejabat publik (30%), dan tokoh masyarakat (10 %).

Yang menjadi pertanyaan kembali adalah, ‘ Bagaimana bisa mencapai tujuan dari manfaat otonomi derah yang sudah disebutkan dalam pendahuluan makalah ini, apabila SDM aparatur dan Institusi public yang ada di kota Cirebon belum mampu untuk mengemban amanah yang seharusnya. Dikarenakan budaya korupsi sudah sangat tidak layak untuk ditutup-tutupi keberadaanya di lingkungan intistusi pelayanan public yang ada di wilayah Cirebon. Ironis memang, manakala SDM aparatur belum memilki kesiapan, mereka sudah bernafsu untuk mengelola SDA secara lebih leluasa tanpa adanya pengawasan yang lebih intens dan kontuinitas.

Hasil Kajian
• 1. harus ada suatu penghimpunan data dan Studi analisa secara empiris dan faktual yang mampu mewakili seluruh penduduk Wilayah III Cirebon apakah menolak/menerima pembentukan provinsi baru berdasarkan mekanisme kajian derah yang disebutkan dalam PP 78 2007

Hasil kajian (lanjutan)
• 2. perlu dilakukan terlebih dahulu penguatan kemampuan ekonomi masyarakat yang tentunya setelah pembentukan wilayah baru, nantinya masyarakatlah yang paling terbebani dengan perimbangan keuangan wilayah baru yang merupakan konsistensi pemekaran wilayah sebagai penyandang dana retribusi serta pajak – pajak daerah yang akan semakin besar mengikuti besaran kebutuhan biaya pembangunan awal dari Pemekaran dan pembentukan wilayah baru. • Acuan Penguatan Kemampuan Keuangan Daerah sebagai subsistem Penopang APBD Pembangunan daerah yang salah satunya bersumber dari sektor kemampuan ekonomi masyarakat dalam hal Kenaikan tarif Pajak dan Retribusi yang nantinya akan dibebankan ke masyarakat untuk membiayai development cost yang tinggi.

• 3. Perbaiki dan tingkatkan terlebih dahulu indeks Kualitas Human Resources (SDM) dalam godgovernance culture yang ada sebelum mengelola SDA. 4. Hentikan segala bentuk penghasutan kepada publik yang tidak berdasarkan data dan fakta yang valid tentang keuntungan pembentukan Propinsi Cirebon.

Kesimpulan
• Pemekaran daerah otonom baru dalam implementasinya memang diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat, • Namun, Tujuan ini dapat diwujud nyatakan melalui peningkatan profesionalisme birokrat daerah untuk dapat menyelenggarakan pemerintahan yang efisien dan efektif, dapat meningkatkan pelayanan dasar publik, dapat menciptakan kesempatan lebih luas untuk masyarakat, serta dapat akses langsung pada unit‐unit pelayanan publik yang tersebar dan mudah dijangkau oleh masyarakat pedesaan maupun kota.

• Hasil survei menunjukkan semua daerah pemekaran baru tidak mempunyai dokumentasi mengenai berbagai indikator teknis, serta batas fisik yang masih diperdebatkan antara Daerah Induk dan daerah Otonom Baru.( Analisis manfaat dan biaya pemekaran derah, Departemen Keuangan RI Ditjen Perimbangan Keuangan Tim Asistensi Menteri Keuangan Bidang Desentralisasi Fiskal Tahun 2008)

Dari hasil studi disarankan perlu dilakukan moratorium pemekaran daerah, serta penerapan mekanisme pembentukan/pemekaran daerah otonom baru sesuai aturan yang berlaku, yaitu harus memenuhi persyaratan administratif, teknis dan fisik kewilayahan.

Hasil Dan Tujuan Dari Pemekaran Wilayah Dapat Tercapai Manakala Terjadi Sinergitas Dan Keseimbangan Dengan Aset – Aset Serta Kesiapan Stake Holder Yang Ada Untuk Bisa Memaksimalkan Potensi Kedaerahan Yang Ada

• “Hasil evaluasi, 76 persen daerah-daerah hasil pemekaran ternyata malah mundur, salah satu indikatornya ialah kemiskinan” (Priyo Budi Santoso; 2007)

TERIMA KASIH

Master your semester with Scribd & The New York Times

Special offer for students: Only $4.99/month.

Master your semester with Scribd & The New York Times

Cancel anytime.