PARAPARESE INFERIOR LESI UMN I.

DEFINISI

Paraparese inferior lesi Upper Motor Neuron (UMN) adalah kelemahan kedua anggota gerak bawah yang disebabkan oleh gangguan pada proyeksi korteks ke V neuron korteks serebri yang mengatur gerakan volunter melalui jaras piramidal dan ekstrapiramidal. II. KLASIFIKASI

Klasifikasi berdasarkan Onset : Paraparese inferior lesi tipe UMN : - Akut : Infeksi non spesifik (ex:myelitis transversa). Trauma (ex: kontusio, whisplash injury). Tumor (tu tumor ganas & metastasis) - Kronik : Infeksi spesifik (TBc) Tumor (tu tumor jinak). Penyakit Degeneratif.

1

TUMOR MEDULLA SPINALIS A. DEFINISI Tumor Medulla spinalis adalah tumor di daerah spinal yang dapat terjadi pada daerah cervica l pertama hingga sacral. B. KLASIFIKASI Tumor ini dapat dibedakan atas : A.Tumor primer: 1) jinak a) Osteoma dan kondroma berasal dari tulang b) Neurinoma (Schwannoma) berasal serabut saraf c) Meningioma berasal dari selaput otak d) Glioma, Ependinoma berasal dari jaringan otak. 2) ganas a) Astrocytoma, Neuroblastoma, yang berasal dari jaringan saraf. b) sel muda seperti Kordoma. B. Metastasis à Ca. mamae, prostat, Berdasarkan letak : Intradural - ekstramedular Intradural - intramedular Ekstradural C. EPIDEMIOLOGI Tumor primer medula spinalis à 10%-19% dari total tumor SSP dan insidennya meningkat seiring dengan umur. Meningioma à >> pada wanita. Ependymoma à >> laki-laki. 70% à intradural ekstramedular 30% à intradural intramedular.

2

D. DIAGNOSIS Gejala-gejala gangguan MS yang disebabkan oleh tumor MS mempunyai karakteristik SBB : • • • • • • • • • Gangguan fungsi motorik : kelumpuhan otot, tanda gangguan piramidal. Gangguan sensorik distal, awal penyakit à tidak jelas batasnya. Gangguan urinaria. gangguan sensorik radikuler (meyebar) hilangnya refleks superfisial & regleks tendon. Nyeri skiatika deformitas kolumna vertebralis X-Foto : destruksi tulang, pelebaran kanalis servikalis, destruksi processus spinosus, hemangioma vertebralis. LP : kadar protein sangat tinggi (SINDROM FRUIN)

Pemeriksaan Penunjang Foto Polos Foto polos tulang belakang berguna untuk skrining, memperlihatkan kelainan pada 90 % pasien dengan tumor sekunder kolom tulang belakang. Evaluasi foto polos harus termasuk penilaian : 1. Perubahan tulang kualitatif (litik, blastik, sklerotik). Kebanyakan metastasis spinal memperlihatkan perubahan osteolitik. Perubahaan sklerotik atau osteoblastik paling sering terjadi pada metastasis dari payudara atau prostat. 2. Daerah yang terkena (elemen posterior, pedikel, badan tulang belakang). Tidak lazim metastasis spinal mengenai hanya elemen posterior (spine dan lamina). Lebih sering fokus tumor berlokasi di badan tulang belakang, menyebabkan kompresi kantung dural serta isinya dari depan. Paling sering, metastasis spinal mengenai dari lateral, didaerah pedikel, dan meluas keanterolateral dan keposterolateral. Erosi pedikel lebih dini dan

3

paling sering kelainannya tampak pada foto polos tulang belakang pasien dengan metastasis spinal. Radiograf anteroposterior tulang belakang biasanya menampilkan “totem of owls”. Erosi pedikel menimbulkan tanda “winking owls”; erosi pedikel bilateral menampilkan tanda “blinking owl”. 3. Temuan lain (bayangan jaringan lunak paraspinal, tulang belakang yang kolaps, fraktura dislokasi patologis, dan mal alignment). Daerah erosi pedikel sering bersamaan dengan bayangan jaringan lunak paravertebral. Hilangnya integritas struktural bisa menyebabkan kolaps tulang belakang dengan kompresi baji. Destruksi lebih lanjut badan tulang belakang bisa berakibat fraktura dislokasi patologis. Fraktura dislokasi patologis paling sering terjadi didaerah servikal, dimana pergerakan leher luas, posisi tergantungnya kepala, dan hilangnya sanggaan rangka iga, semua berperan menempatkannya pada risiko integritas struktural kolom spinal dan alignment anatomik kanal spinal. Sken Tulang Menggunakan radioisotop, bisa memperlihatkan adanya tumor spinal metastatik pada tahap lebih awal dibanding foto polos. Diduga 50-75 % ruang meduler vertebral tergantikan sebelum perubahan radiografik tampak. Namun sken tulang relatif tidak spesifik. Perubahan degeneratif dan infeksi, seperti tumor spinal, menyebabkan take positif. Kegunaan sken tulang adalah untuk menunjukkan adanya pertumbuhan skeletal multipel. Mielografi Dimasa lalu merupakan standar untuk menunjukkan lokasi dan tingkat kord spinal dan akar saraf yang terganggu tumor spinal. Tumor spinal ekstradural, intradural ekstrameduler dan intrameduler dibedakan dengan pola khas mielografik. Deviasi kolom kontras menunjukkan asal (anterior, lateral, posterior) massa penekan. Bila tingkat blok total ditemukan dengan mielografi lumbar adalah berbeda dengan penilaian klinis, mielografi sisternal harus dilakukan untuk menentukan perluasan lesi soliter atau untuk menentukan tingkat yang lebih

4

atau fokus tumor berbeda pada tingkat multipel. juga memberi data mengenai integritas penulangan tulang belakang. Sasaran realistik adalah palliasi. Rekonstruksi horizontal dan koronal memberikan informasi penting atas geometri tumor. E. berguna dalam merencanakan operasi dekompresi. PENGELOLAAN Tumor Jinak Tindakan atas neurilemmoma. dan perluasan paraspinal dari lesi dalam dataran horizontal. Namun mengurangi nyeri serta 5 . MRI sudah menggantikan mielografi sebagai prosedur diagnostik. MRI memungkinkan penampilan kolom spinal menyeluruh dalam potongan sagital untuk memastikan tingkat terbatas yang terkena. penting dalam memutuskan rekonstruksi tulang belakang. Terapi radiasi tidak diindikasikan. Mgnetic Resonance Imaging (MRI) Pemeriksaan terpilih untuk tumor spinal termasuk metastasis. neurofibroma dan meningioma adalah reseksi bedah yang biasanya dapat dilakukan lengkap. pergeseran kord spinal dan akar saraf. penyebaran tumor berdekatan pada tingkat multipel.proksimal yang terkena. derajat destruksi tulang. Juga efektif membedakan kelainan degeneratif jinak tulang belakang dari lesi neoplastik. Tomografi Aksial Terkomputer (CT scanning) Berguna menampilkan distribusi tumor spinal. MRI mungkin kontra indikasi pada pasien dengan prostetik dan implant. dimana disini dilakukan mielografi disertai CT. Tumor Metastasis Dirancang untuk mengurangi nyeri dan untuk mempertahankan atau memperbaiki fungsi neurologis.

Operasi dipikirkan sebagai pilihan terakhir. F. PROGNOSIS Prognosis pasien dengan metastasis spinal simptomatis bervariasi. lokasi tumor dan derajat penyakit. diagnosis tidak diketahui. Indikasi operasi biasanya adalah gagal atas radiasi. Tindakan radiasi. jenis tumor. terutama efektif untuk lesi limforetikuler. Keluaran tindakan tergantung beratnya defisit.menjaga atau memulihkan fungsi neurologis berperan tidak ternilai dalam menjaga kualitas sisa hidup penderita kanser dan mengurangi kesulitan perawatan. 6 . bedah atau kombinasinya tetap kontroversi. fraktur/dislokasi patologis dan paraplegia yang berlangsung cepat atau sudah berjalan lanjut. Radioterapi biasa dipikirkan sebagai terapi inisial bagi kebanyakan pasien dengan tumor spinal sekunder radiosensitif yang bergejala dengan tanpa defisit neurologis atau minimal. lamanya gejala.

Saat ini dengan adanya perbaikan pelayanan kesehatan. A. berturut-turut ialah daerah torakal terutama bagian bawah. Akibat perkejuan akan terbentuk abses yang dapat meluas ke sekitamya dan mencari jalan keluar. Daerah yang paling sering terkena. berkumpuldalam fosa iliaka sampai terjadi fistel kulit.SPONDILITIS TUBERCULOSA Spondilitis tuberculosa (Tb) merupakan salah satu penyakit tertua yang telah didokumentasikan disaat zaman besi dan mumi kuno di mesir dan peru pada tahun 1779 oleh percivall pott tetapi hal tersebut tidak dihubungkan dengan basil tuberkulosa hingga ditemukannya basil tersebut oleh Koch tahun 1882. yang terutama berusia 3 – 5 tahun. Di waktu yang lampau.sehingga etiologi untuk kejadian tersebut menjadi jelas. Paling sering mengikuti fasia otot psoas. DEFINISI Spondilitis Tb atau Pott disease ialah suatu osteomielitis kronik tulang belakang yang disebabkan oleh kuman tbc. maka insidensi usia ini mengalami perubahan sehingga golongan umur dewasa menjadi lebih sering. penyakit spondilitis Tb ini mulai jarang ditemukan di negara maju memiliki potensi morbiditas yang cukup serius meliputi defisit neurologi permanent dan deformitas. terutama di Asia. daerah lumbal dan servikal 1 .4. dimana malnutrisi dan kepadatan penduduk masih menjadi merupakan masalah utama. kesehatan Penyakit ini masyarakat. EPIDEMIOLOGI Saat ini spondilitis tuberkulosa merupakan sumber morbiditas dan mortalitas utama pada negara yang belum dan sedang berkembang. Perlu dicermati bahwa di Amerika dan Inggris insidensi penyakit 7 . spondilitis tuberkulosa merupakan istilah yang dipergunakan untuk penyakit pada masa anak-anak. Setelah ditemukannya obat anti Tb dan berkembangnya kualitas namun angka penyakit ini masih tinggi di negara berkembang. B. Infeksi umumnya mulai dari korpus vertebra lalu ke diskus intervertebralis dan ke jaringan sekitarnya. Terapi dengan obat-obatan atau kombinasi terapi dengan operasi dapat mengontrol penyakit ini pada sebagian besar penderita.

8 .ini mengalami peningkatan pada populasi imigran. lutut dan tulang-tulang lain di kaki. Area torako-lumbal terutama torakal bagian bawah (umumnya T 10) dan lumbal bagian atas merupakan tempat yang paling sering terlibat karena pada area ini pergerakan dan tekanan dari weight bearing mencapai maksimum. akan tetapi tulang yang mempunyai fungsi untuk menahan beban (weight bearing) dan mempunyai pergerakan yang cukup besar (mobile) lebih sering terkena dibandingkan dengan bagian yang lain. Hal ini berhubungan dengan insidensi usia terjadinya infeksi tuberkulosa pada tulang belakang. Defisit neurologis muncul pada 10-47% kasus pasien dengan spondilitis tuberkulosa. Di negara yang sedang berkembang penyakit ini merupakan penyebab paling sering untuk kondisi paraplegia non traumatik(7). penyakit ini terutama mengenai dewasa. Di Amerika Utara.tunawisma lanjut usia dan pada orang dengan tahap lanjut infeksi HIV (Medical Research Council TB and Chest Diseases Unit 1980). sedangkan tulang di lengan dan tangan jarang terkena. Pada kasus-kasus pasien dengan tuberkulosa. terjadi lebih tinggi pada orang dewasa dibandingkan dengan anakanak. kecuali pada dekade pertama dimana sangat jarang ditemukan keadaan ini. Eropa dan Saudi Arabia. dengan usia rata-rata 40-50 tahun sementara di Asia dan Afrika sebagian besar mengenai anak-anak (50% kasus terjadi antara usia 1-20 tahun). Insidensi paraplegia. Selain itu dari penelitian juga diketahui bahwa peminum alkohol dan pengguna obat-obatan terlarang adalah kelompok beresiko besar terkena penyakit ini. lalu dikuti dengan area servikal dan sakral. Walaupun setiap tulang atau sendi dapat terkena. diikuti kemudian oleh tulang panggul. 1983). tulang belakang merupakan tempat yang paling sering terkena tuberkulosa tulang (kurang lebih 50% kasus)(Gorse et al. keterlibatan tulang dan sendi terjadi pada kurang lebih 10% kasus. Dari seluruh kasus tersebut.

2. insidensi ini kemudian meningkat kembali pada wanita setelah melahirkan anak. Bayi dan anak muda dari kedua jenis kelamin mempunyai kekebalan yang lemah. Hingga usia 2 tahun infeksi biasanya dapat terjadi dalam bentuk yang berat seperti tuberkulosis milier dan meningitis tuberkulosa. leukemia meningkatkan resiko terkena penyakit tuberkulosa. diabetes. 4. leprosi. yang berasal dari penyebaran secara hematogen. Faktor toksik Perokok tembakau dan peminum alkohol akan mengalami penurunan daya tahan tubuh. FAKTOR RESIKO 1. 9 . 5. Nutrisi Kondisi malnutrisi (baik pada anak ataupun orang dewasa) akan menurunkan resistensi terhadap penyakit. silikosis. Lingkungan yang buruk (kemiskinan) Kemiskinan mendorong timbulnya suatu lingkungan yang buruk dengan pemukiman yang padat dan kondisi kerja yang buruk disamping juga adanya malnutrisi. Angka kejadian pada pria terus meningkat pada seluruh tingkat usia tetapi pada wanita cenderung menurun dengan cepat setelah usia anak-anak. Penyakit Adanya penyakit seperti infeksi HIV. sehingga akan menurunkan daya tahan tubuh. tetapi menjadi lemah dalam mencegah penyebaran penyakit di paru-paru. Usia dan jenis kelamin Terdapat sedikit perbedaan antara anak laki-laki dan anak perempuan hingga masa pubertas. Setelah pubertas daya tahan tubuh mengalami peningkatan dalam mencegah penyebaran secara hematogen. Puncak usia terjadinya infeksi berkisar antara usia 40-50 tahun untuk wanita. sementara pria bisa mencapai usia 60 tahun.C. 3. Demikian pula dengan pengguna obat kortikosteroid atau immunosupresan lain.

atau infeksi dapat juga berdiseminasi ke vertebra yang jauh melalui abses paravertebral. berpenetrasi ke dalam korteks tipis korpus vertebra sepanjang ligamen longitudinal anterior. Hal inilah yang menyebabkan pada kurang lebih 70% kasus. Area infeksi secara bertahap bertambah besar dan meluas. sementara pada 20% kasus melibatkan tiga atau lebih vertebra. PATOFISIOLOGI Tuberkulosa pada tulang belakang dapat terjadi karena penyebaran hematogen atau penyebaran langsung nodus limfatikus para aorta atau melalui jalur limfatik ke tulang dari fokus tuberkulosa yang sudah ada sebelumnya di luar tulang belakang. melibatkan dua atau lebih vertebrae yang berdekatan melalui perluasan di bawah ligamentum longitudinal anterior atau secara langsung melewati diskus intervertebralis. ginjal.6. penyakit ini diawali dengan terkenanya dua vertebra yang berdekatan. fokus infeksi primer tuberkulosa dapat bersifat tenang. Terjadinya nekrosis perkijuan yang meluas mencegah pembentukan tulang baru dan pada saat yang bersamaan menyebabkan tulang menjadi avascular 10 . Sumber infeksi yang paling sering adalah berasal dari sistem pulmoner dan genitourinarius. Penyebaran basil dapat terjadi melalui arteri intercostal atau lumbar yang memberikan suplai darah ke dua vertebrae yang berdekatan. Infeksi tuberkulosa pada awalnya mengenai tulang cancellous dari vertebra. D. tonsil). Pada anak-anak biasanya infeksi tuberkulosa tulang belakang berasal dari fokus primer di paru-paru sementara pada orang dewasa penyebaran terjadi dari fokus ekstrapulmoner (usus. mempunyai mempunyai daya tahan tubuh yang kurang terhadap penyakit ini. Terkadang dapat ditemukan fokus yang multipel yang dipisahkan oleh vertebra yang normal. Pada penampakannya. yaitu setengah bagian bawah vertebra diatasnya dan bagian atas vertebra di bawahnya atau melalui pleksus Batson’s yang mengelilingi columna vertebralis yang menyebabkan banyak vertebra yang terkena. Ras Ditemukan bukti bahwa populasi terisolasi contohnya orang Eskimo atau Amerika asli.

sehingga mengakibatkan ankilosis tulang vertebra yang kolap. Discus intervertebralis. maka hal tersebut merupakan tanda bahwa penyakit ini sudah meluas. Dengan kolapsnya korpus vertebra maka jaringan granulasi tuberkulosa. jadi akan timbul deformitas berbentuk kifosis yang progresifitasnya (angulasi posterior) tergantung dari derajat kerusakan. sekunder karena perubahan kapasitas fungsional dari end plate. level lesi dan jumlah vertebra yang terlibat. kolaps hanya bersifat minimal. Cold abcesss ini kemudian berjalan sesuai dengan pengaruh gaya gravitasi sepanjang semakin terganggu dengan timbulnya endarteritis yang menyebabkan 11 .sehingga menimbulkan tuberculous sequestra. Suplai darah juga akan tulang menjadi nekrosi. Proses penyembuhan kemudian terjadi secara bertahap dengan timbulnya fibrosis dan kalsifikasi jaringan granulomatosa tuberkulosa. Terkadang jaringan fibrosa itu mengalami osifikasi. Bila sudah timbul deformitas ini. terutama di regio torakal. Penyempitan rongga diskus terjadi karena perluasan infeksi paradiskal ke dalam ruang diskus. Pembentukan abses paravertebral terjadi hampir pada setiap kasus. yang avaskular. kalaupun tampak hal itu disebabkan karena sebagian besar berat badan disalurkan melalui prosesus artikular. Destruksi progresif tulang di bagian anterior dan kolapsnya bagian tersebut akan menyebabkan hilangnya kekuatan mekanis tulang untuk menahan berat badan sehingga kemudian akan terjadi kolaps vertebra dengan sendi intervertebral dan lengkung syaraf posterior tetap intak. sedangkan di bagian servikal. hilangnya tulang subchondral disertai dengan kolapsnya corpus vertebra karena nekrosis dan lisis ataupun karena dehidrasi diskus. Di regio torakal kifosis tampak nyata karena adanya kurvatura dorsal yang normal di area lumbar hanya tampak sedikit karena adanya normal lumbar lordosis dimana sebagian besar dari berat badan ditransmisikan ke posterior sehingga akan terjadi parsial kolaps. bahan perkijuan. dan tulang nekrotik serta sumsum tulang akan menonjol keluar melalui korteks dan berakumulasi di bawah ligamentum longitudinal anterior. relatif lebih resisten terhadap infeksi tuberkulosa.

Terbanyak ditemukan di regio lumbal. serta lesi artikuler yang berada di sendi intervertebral 12 . lesi di pedikel. E. (2) Sentral Infeksi terjadi pada bagian sentral korpus vertebra. Pola ini diduga disebabkan karena adanya pulsasi aortik yang ditransmisikan melalui abses prevertebral dibawah ligamentum longitudinal anterior atau karena adanya perubahan lokal dari suplai darah vertebral. lamina. Keadaan ini sering menimbulkan kolaps vertebra lebih dini dibandingkan dengan tipe lain. KLASIFIKASI Berdasarkan lokasi infeksi awal pada korpus vertebra dikenal tiga bentuk spondilitis: (1) Peridiskal / paradiskal Infeksi pada daerah yang bersebelahan dengan diskus (di area metafise di bawah ligamentum longitudinal anterior / area subkondral). terisolasi sehingga disalahartikan sebagai tumor. Dapat menimbulkan kompresi. (4) Bentuk atipikal Dikatakan atipikal karena terlalu tersebar luas dan fokus primernya tidak dapat diidentifikasikan. iskemia dan nekrosis diskus. prosesus transversus dan spinosus. Termasuk didalamnya adalah tuberkulosa spinal dengan keterlibatan lengkung syaraf saja dan granuloma yang terjadi di canalis spinalis tanpa keterlibatan tulang (tuberkuloma). (3) Anterior Infeksi yang terjadi karena perjalanan perkontinuitatum dari vertebra di atas dan dibawahnya. Gambaran radiologisnya mencakup adanya scalloped karena erosi di bagian anterior dari sejumlah vertebra (berbentuk baji). sehingga menghasilkan deformitas spinal yang lebih hebat. Banyak ditemukan pada orang dewasa. Terbanyak di temukan di regio torakal. Sering terjadi pada anak-anak.bidang fasial dan akan tampak secara eksternal pada jarak tertentu dari tempat lesi aslinya. Dapat terjadi kompresi yang bersifat spontan atau akibat trauma.

Biasanya onset Pott's disease berjalan secara mendadak dan berevolusi lambat. Insidensi tuberkulosa yang melibatkan elemenposterior tidak diketahui tetapi diperkirakan berkisar antara 2%-10%. Gambaran adanya penyakit sistemik : kehilangan berat badan. Pola jalan merefleksikan rigiditas protektif dari tulang belakang. Lesi di torakal atas akan menampakkan nyeri yang terasa di dada dan intercostal. Rigiditas pada leher dapat bersifat asimetris sehingga menyebabkan timbulnya gejala klinis torticollis. 5. keringat malam. Rasa nyeri ini hanya menghilang dengan beristirahat.posterior. Infeksi yang mengenai tulang servikal akan tampak sebagai nyeri di daerah telinga atau nyeri yang menjalar ke tangan. sementara tangan lainnya di oksipital. Durasi gejala-gejala sebelum dapat ditegakkannya suatu diagnosa pasti bervariasi dari bulan hingga tahun sebagian besar kasus didiagnosa sekurangnya dua tahun setelah infeksi tuberkulosa. Langkah kaki pendek. 2. demam yang berlangsung secara intermitten terutama sore dan malam hari serta cachexia. Untuk mengurangi nyeri pasien akan menahan punggungnya menjadi kaku. Adanya riwayat batuk lama (lebih dari 3 minggu) berdahak atau berdarah disertai nyeri dada. mempertahankan kepala dalam posisi ekstensi dan duduk dalam posisi dagu disangga oleh satu tangannya. Anamnesa dan inspeksi 1. Nyeri terlokalisir pada satu regio tulang belakang atau berupa nyeri yang menjalar. Pada lesi di bagian torakal bawah maka nyeri dapat berupa nyeri menjalar ke bagian perut. karena mencoba menghindari nyeri di punggung. 4. DIAGNOSA Gambaran klinis spondilitis tuberkulosa bervariasi dan tergantung pada banyak faktor. F. 3. Bila infeksi melibatkan area servikal maka pasien tidak dapat menolehkan kepalanya. Pasien juga mungkin mengeluhkan rasa 13 .

6. 1992). spondilolistesis. Adanya kontraktur otot psoas akan menimbulkan deformitas fleksi sendi panggul. Adanya gejala dan tanda dari kompresi medula spinalis (defisit neurologis). Bila berbalik ia menggerakkan kakinya. Terjadi pada kurang lebih 10-47% kasus. terutama pada anak. pola jalan yang spastik dengan kelemahan motorik yang bervariasi. Jika terdapat abses. maka tampak pembengkakan di kedua sisi leher. dan dislokasi. Tampak adanya deformitas. Insidensi paraplegia pada spondilitis lebih banyak di temukan pada infeksi di area torakal dan servikal. Dapat pula terjadi gangguan fungsi kandung kemih dan anorektal. 14 . sementara kompresi medulla spinalis pada orang dewasa akan menyebabkan tetraparesis (Hsu dan Leong 1984).nyeri di leher atau bahunya. subluksasi. 7. Di regio torakal akan menyebabkan punggung tampak menjadi kaku. Hal ini perlu diperhatikan karena gambaran klinisnya serupa dengan tuberkulosa di regio servikal (Lal et al. Jarang sekali pus dapat keluar melalui fistel dalam pelvis dan mencapai permukaan di belakang sendi panggul. dapat berupa : kifosis (gibbus/angulasi tulang belakang). Di regio lumbar : abses akan tampak sebagai suatu pembengkakan lunak yang terjadi di atas atau di bawah lipat paha. Dislokasi atlantoaksial karena tuberkulosa jarang terjadi dan merupakan salah satu penyebab kompresi cervicomedullary di negara yang sedang berkembang. Abses yang besar. 9. Jika timbul paraplegia akan tampak spastisitas dari alat gerak bawah dengan refleks tendon dalam yang hiperaktif. akan mendorong trakhea ke sternal notch sehingga akan menyebabkan kesulitan menelan dan adanya stridor respiratoar. skoliosis. bukan mengayunkan dari sendi panggulnya. bayonet deformity. 8. Saat mengambil sesuatu dari lantai ia menekuk lututnya sementara tetap mempertahankan punggungnya tetap kaku (coin test). Pasien tampak berjalan dengan lutut dan hip dalam posisi fleksi dan menyokong tulang belakangnya dengan meletakkan tangannya diatas paha.

Pembengkakan di sendi yang berjalan lambat tanpa disertai panas dan nyeri akut seperti pada infeksi septik. yang membedakan dengan abses piogenik yang teraba panas). Onset yang lambat dari pembengkakan tulang ataupun sendi mendukung bahwa hal tersebut disebabkan karena tuberkulosa. sering tampak tenderness. • Tuberculin skin test / Mantoux test / Tuberculine Purified Protein Derivative (PPD) positif. Dapat dipalpasi di daerah lipat paha. Bila terdapat abses maka akan teraba massa yang berfluktuasi dan kulit diatasnya terasa sedikit hangat (disebut cold abcess. Spasme otot protektif disertai keterbatasan pergerakan di segmen yang terkena Perkusi Pada perkusi secara halus atau pemberian tekanan diatas prosesus spinosus vertebrae yang terkena. paraplegia ini biasanya terjadi pada pasien berusia kurang dari 10 tahun (kurang lebih 2/3 kasus) dan tidak ada predileksi berdasarkan jenis kelamin untuk kejadian ini. fossa iliaka. Dapat juga teraba di sekitar dinding dada. 2. tergantung dari level lesi. Salah satu defisit neurologis yang paling sering terjadi adalah paraplegia yang dikenal dengan nama Pott’s paraplegia. Laboratorium : • Laju endap darah meningkat (tidak spesifik).10. atau di sisi leher (di belakang otot sternokleidomastoideus). Paraplegia ini dapat timbul secara akut ataupun kronis (setelah hilangnya penyakit) tergantung dari kecepatan peningkatan tekanan mekanik kompresi medula spinalis. Perlu diingat bahwa tidak ada hubungan antara ukuran lesi destruktif dan kuantitas pus dalam cold abscess. Pada penelitian yang dilakukan Hodgson di Cleveland. retropharynx. dari 20 sampai lebih dari 100mm/jam. Palpasi 1. 11. 15 . Pemeriksaan Penunjang 1.

ulangi pemeriksaan. • Tes darah untuk titer anti-staphylococcal dan anti-streptolysin haemolysins. Pada tahap akut responnya bisa berupa neutrofilik seperti pada meningitis piogenik (Kocen and Parsons 1970. Bila dibiarkan pada suhu ruangan akan menggumpal. Kandungan protein meningkat. • Kultur cairan serebrospinal. 16 . sputum dan bilas lambung (hasil positif bila terdapat keterlibatan paru yang aktif) • Apus darah tepi menunjukkan leukositosis dengan limfositosis yang bersifat relatif. 2.• Kultur urin pagi (membantu bila terlihat adanya keterlibatan ginjal). Traub et al 1984). paratyphoid dan brucellosis (pada kasus-kasus yang sulit dan pada pusat kesehatan dengan peralatan yang cukup canggih) untuk menyingkirkan diagnosa banding. Tanda radiologis baru dapat terlihat setelah 3-8 minggu onset penyakit.  oto rontgen dada dilakukan pada seluruh pasien untuk mencari bukti adanya F tuberkulosa di paru (2/3 kasus mempunyai foto rontgen yang abnormal). Foto polos seluruh tulang belakang juga diperlukan untuk mencari bukti adanya tuberkulosa di tulang belakang. Pleositosis (dengan dominasi limfosit dan mononuklear). Kandungan protein cairan serebrospinal dalam kondisi spinal terblok spinal dapat mencapai 14g/100ml. Kandungan gula normal pada tahap awal tetapi jika gambaran klinis sangat kuat mendukung diagnosis. Radiologis Gambarannya bervariasi tergantung tipe patologi dan kronisitas infeksi. Xantokrom. • Cairan serebrospinal dapat abnormal (pada kasus dengan meningitis tuberkulosa). typhoid. Adanya basil tuberkel merupakan tes konfirmasi yang absolut tetapi hal ini tergantung dari pengalaman pemeriksa dan tahap infeksi.

osteoporosis regional yang kemudian berlanjut sehingga tampak penyempitan diskus intervertebralis yang berdekatan. Tampak bentuk fusiform atau pembengkakan berbentuk globular dengan kalsifikasi. 17 . - Keterlibatan bagian lateral corpus vertebra akan menyebabkan timbulnya deformita scoliosis (jarang) Pada pasien dengan deformitas gibbus yang sudah lama akan tampak tulang vertebra yang mempunyai rasio tinggi lebih besar dari lebarnya ( long vertebra atau tall vertebra) - - Dapat terlihat keterlibatan jaringan lunak. Kerugiannya adalah dapat terlewatinya fragmen tulang kecil dan kalsifikasi di abses. Computed Tomography – Scan (CT) Terutama bermanfaat untuk memvisualisasi regio torakal dan keterlibatan iga yang sulit dilihat pada foto polos. 5.- Tahap awal tampak lesi osteolitik di bagian anterior superior atau sudut inferior corpus vertebrae.Infeksi tuberkulosa jarang melibatkan pedikel. Keterlibatan lengkung syaraf posterior seperti pedikel tampak lebih baik dengan CT Scan. 3. lamina. Bermanfaat untuk membantu memutuskan pilihan manajemen apakah akan bersifat konservatif atau operatif dan membantu menilai respon terapi. mungkin diperlukan pada kasus yang sulit tetapi membutuhkan pengalaman dan pembacaan histologi yang baik (untuk menegakkan diagnosa yang absolut) (berhasil pada 50% kasus). Neddle biopsi / operasi eksplorasi (costotransversectomi) dari lesi spinal. Abses psoas akan tampak sebagai bayangan jaringan lunak yang mengalami peningkatan densitas dengan atau tanpa kalsifikasi pada saat penyembuhan. seperti abses paravertebral dan psoas. Magnetic Resonance Imaging (MRI) Mempunyai manfaat besar untuk membedakan komplikasi yang bersifat kompresif dengan yang bersifat non kompresif pada tuberkulosa tulang belakang. prosesus transversus atau prosesus spinosus. 4. serta erosi corpus vertebrae anterior yang berbentuk scalloping karena penyebaran infeksi dari area subligamentous.

Untuk mencapai tujuan itu maka terapi untuk spondilitis tuberkulosa terbagi menjadi :  Terapi konservatif 1. Jika cepat diterapi sering berespon baik (berbeda dengan kondisi paralisis pada tumor). MRI dan mielografi dapat membantu membedakan paraplegi karena tekanan atau karena invasi dura dan corda spinalis.6. KOMPLIKASI  Cedera corda spinalis (spinal cord injury). Dapat terjadi karena adanya tekanan ekstradural sekunder karena pus tuberkulosa. H. lalu kemudian dapat diinokulasi di dalam guinea babi. Pemberian nutrisi yang bergizi 2. Pyrazinamide (PZA) dosis : 15-30mg/kg/hari Ethambutol (EMB) dosis : 15-25 mg/kg/hari Streptomycin (STM) dosis : 15 mg/kg/hari – 1 g/kg/hari 18 . G. Pemberian kemoterapi atau terapi anti tuberkulosa. Obat anti tuberkulosa yang utama adalah : - Isoniazid (INH) dosis INH adalah 5 mg/kg/hari – 300 mg/hari Rifampin (RMP) dosisnya : 10 mg/kg/hari – 600 mg/hari. MANAJEMEN TERAPI Tujuan terapi pada kasus spondilitis tuberkulosa adalah : 1.  Empyema tuberkulosa karena rupturnya abses paravertebral di torakal kedalam pleura. Mengeradikasi infeksi atau setidaknya menahan progresifitas penyakit 2. Aspirasi pus paravertebral yang diperiksa secara mikroskopis untuk mencari basil tuberkulosa dan granuloma. sekuestra tulang. Mencegah atau mengkoreksi deformitas atau defisit neurologis. sekuester dari diskus intervertebralis (contoh : Pott’s paraplegia –prognosa baik) atau dapat juga langsung karena keterlibatan korda spinalis oleh jaringan granulasi tuberkulosa (contoh : menigomyelitis – prognosa buruk).

sehingga dicapai keadaan yang tenang dengan melihat tanda-tanda klinis. Istirahat tirah baring (resting) Terapi pasien spondilitis tuberkulosa dapat pula berupa local rest pada turning frame / plaster bed atau continous bed rest. Obat ini membantu pasien yang terancam mengalami spinal block disamping mengurangi oedema jaringan (Ogawa et. Pada pasien-pasien yang diberikan kemoterapi harus selalu dilakukan pemeriksaan klinis. operasi debridement dengan fusi dan dekompresi juga diindikasikan bila: 1. Terapi Operatif  Sebenarnya sebagian besar pasien dengan tuberkulosa tulang belakang mengalami perbaikan dengan pemberian kemoterapi saja (Medical Research Council 1993). Intervensi operasi banyak bermanfaat untuk pasien yang mempunyai lesi kompresif secara radiologis dan menyebabkan timbulnya kelainan neurologis. radiologis dan pemeriksaan laboratorium secara periodik. Selain indikasi diatas. radiologis dan laboratorium. Tindakan operasi juga dilakukan bila setelah 3-4 minggu pemberian terapi obat antituberkulosa dan tirah baring (terapi konservatif) dilakukan tetapi tidak memberikan respon yang baik sehingga lesi spinal paling efektif diterapi dengan operasi secara langsung dan tumpul untuk mengevakuasi “pus” tuberkulosa. mengambil sekuester tuberkulosa serta tulang yang terinfeksi dan memfusikan segmen tulang belakang yang terlibat.Obat antituberkulosa sekuder adalah para-aminosalicylic acid (PAS). ethionamide. Terdapat instabilitas setelah proses penyembuhan 19 . cycloserine. Pemberian gips ini ditujukan untuk mencegah pergerakan dan mengurangi kompresi dan deformitas lebih lanjut. 3.al 1987). Istirahat dapat dilakukan dengan memakai gips untuk melindungi tulang belakangnya dalam posisi ekstensi terutama pada keadaan yang akut atau fase aktif. Peran steroid pada terapi medis untuk tuberculous radiculomyelitis masih kontroversial. Diagnosa yang meragukan hingga diperlukan untuk melakukan biopsi 2. Istirahat di tempat tidur dapat berlangsung 3-4 minggu. kanamycin dan capreomycin.

5. Setelah tindakan operasi pasien biasanya beristirahat di tempat tidur selama 3-6 minggu. b. Fusi secara signifikan. Usia Pada anak-anak. a. f. c. tetapi juga dapat menyebabkan timbulnya defisit neurologis atau kegagalan pernafasan dan jantung karena keterbatasan fungsi 20 . Mortalitas Mortalitas pasien spondilitis tuberkulosa mengalami penurunan seiring dengan ditemukannya kemoterapi (menjadi kurang dari 5%. Defisit neurologis pada pasien spondilitis tuberkulosa dapat membaik secara spontan tanpa operasi atau kemoterapi. I. d. derajat berat dan durasi defisit neurologis serta terapi yang diberikan.3. prognosis lebih baik dibandingkan dengan orang dewasaf. penyakit yang lanjut dengan kerusakan tulang yang nyata dan mengancam atau kifosis berat. Relaps Angka kemungkinan kekambuhan pasien yang diterapi antibiotik dengan regimen medis saat ini dan pengawasan yang ketat hampir mencapai 0%. prognosis membaik dengan dilakukannya operasi dini. Terdapat abses yang dapat dengan mudah didrainase 4. e. Kifosis Kifosis progresif selain merupakan deformitas yang mempengaruhi kosmetis paru. jika pasien didiagnosa dini dan patuh dengan regimen terapi dan pengawasan ketat).Defisit neurologis. Penyakit yang rekuren. PROGNOSA Prognosa pasien dengan spondilitis tuberkulosa sangat tergantung dari usia dan kondisi kesehatan umum pasien. Tetapi secara umum.

wikipedia. 1979 Diakses dari www. Diakses dari www. dkk. De Jong.id pada tanggal 6 juli 2010.ac.Fusi tulang yang solid merupakan hal yang penting untuk pemulihan permanen spondilitis tuberkulosa. Pustakaunpad.com 21 . Neurologi Klinis Dasar.residenneurologi. Buku Ajar Ilmu Bedah ed 4 . 1988.com pada tanggal 6 juli 2010. DAFTAR PUSTAKA Mardjono M. Diakses dari www.multiply. Jakarta : Dian Rakyat. Philadelphia : Harper & Row Hangersteron.

• • Nyeri punggung setinggi pusar sejak 2 minggu yang lalu. Riwayat batuk lama disangkal. Riwayat berkeringat dingin di malam hari sejak 2 bulan yang lalu • • 22 . M. • : Arfison : Laki-laki : 39 tahun : 698051 : 21 Juni 2010 Awalnya pasien mulai rasakan lemah tungkai sejak 2 tahun yang lalu namun masih bisa berjalan dengan menyeret dan bertumpu pada dinding. BB menurun 7 kg dalam 2 bulan ini. • Lemah disertai dengan berkurangnya rasa raba ditungkai kanan sejak 2 minggu yang lalu. Riwayat Penyakit Sekarang : • Lemah tungkai kiri semakin berat sejak 2 minggu yang lalu dan tidak bisa berjalan.ILUSTRASI KASUS IDENTITAS PASIEN Nama Jenis kelamin Umur MR Tanggal Masuk Anamnesis Seorang pasien laki-laki umur 39 tahun dirawat di bangsal Syaraf RS Dr. Djamil Padang tanggal 21 Juni 2010 dengan : Keluhan Utama : lemah tungkai kiri.

Riwayat Pribadi dan Sosial Os seorang supir Merokok (+).8 º C 23 . obat selama 6 bulan. penyakit jantung. mengkonsumsi obat selama 6 bulan. Sekresi keringat normal. Tidak ada anggota keluarga yang menderita batuk-batuk lama dan Tidak ada anggota keluarga yang menderita keganasan. Riwayat Penyakit Keluarga • • • • • Tidak ada anggota keluarga yang menderita penyakit seperti ini. Riwayat Penyakit dahulu • • • Riwayat hipertensi. dan sudah berhenti sejak 14 tahun yang lalu PEMERIKSAAN FISIK Vital sign : Keadaan umum Kesadaran Tekanan Darah Frekuensi nadi Frekuensi nafas Suhu Status Internus : • • Kulit : tidak ada kelainan KGB : Leher Aksila : tidak ada pembesaran : tidak ada pembesaran : Tampak Sakit Sedang : CMC GCS15 ( E4M6V5) : 150/100 mmHg : 92 x/menit : 23 x /menit : 36. Riwayat keluarga menderita batuk-batuk lama atau mengkonsumsi 3 tahun yang lalu tapi kontrol tak teratur. BAB dan BAK normal. serum asam urat tinggi sejak Riwayat menderita keganasan tidak ada.• • • Demam disangkal.

bising tidak Inspeksi • Jantung Inspeksi Palpasi Perkusi Auskultasi ada. : bunyi jantung murni.Inguinal • • • • Sklera Telinga Hidung : tidak ada pembesaran : tidak ikterik Mata : Konjungtiva : tidak anemis. distensi tidak ada : supel. deformitas tidak Pa : Nyeri tekan tidak ada • Alat kelamin : tidak diperiksa Inspeksi Palpasi Perkusi Auskultasi • ada Punggung 24 . • Abdomen : perut tidak membuncit. irama teratur. : tidak ada kelainan : tidak ada kelainan Leher : JVP : 5 – 2 cmH2O • Thorak : • Paru : : normochest. ronkhi (-). wheezing (-) : ictus tidak terlihat : ictus teraba 1 jari medial LMCS RIC V : batas jantung dalam batas normal. : timpani : bising usus (+) normal : I : Penonjolan tidak ada. simetris kiri dan kanan statis dan dinamis Palpasi Perkusi Auskultasi : fremitus kiri = kanan : sonor kiri = kanan : vesikuler. hepar dan lien tidak teraba.

I ( Olfaktorius ) Penciuman • • Subjektif Objectif ( dengan bahan) Kanan + + Kiri + + N.Status neurologikus: 1.III ( Okulomotorius ) Kanan • • Bola mata Ptosis ortho Kiri ortho - 25 . Reflek cahaya +/+ 3. Pemeriksaan Nervus Kranialis N. Tanda Rangsangan Selaput Otak Kaku kuduk :Brudzinski I :- Brudzinski II : 2.diameter 3mm/3mmm. Tanda Peningkatan Intrakranial Tanda Kernig : - Pupil :isokor.II ( Optikus ) Penglihatan • • • • Tajam penglihatan Lapangan pandang Melihat warna Funduskopi Kanan + Normal + Kiri + normal + N.

V ( Trigeminus ) Kanan Motorik Kiri 26 .IV ( Trochlearis ) Kanan • Gerakan mata ke Kiri + Ortho - + Ortho - bawah • Sikap bulbus • Diplopia N.• • • • • Gerak bulbus Strabismus Nistagmus Ekso/endopthalmus Pupil - - o Bentuk o Reflek cahaya o Reflek akomodasi o Reflek konvergensi Bulat + Normal Normal bulat + Normal Normal N. VI ( Abdusen ) Kanan • Gerakan mata ke medial bawah • Sikap bulbus • Diplopia + ortho Kiri + ortho - N.

VII ( Fasialis ) Kanan Raut wajah Sekresi air mata Fisura palpebra Menggerakkan dahi Menutup mata Mencibir/ bersiul Memperlihatkan gigi Sensasi lidah 2/3 belakang Hiperakusis Plika nasolabialis Normal Normal Simetris + Normal + + + + + Kiri simetris + Normal + + + + + 27 .• • • • Membuka mulut Menggerakkan rahang Menggigit Mengunyah + + + + + + + + Sensorik • Divisi oftalmika + + + + o Reflek kornea o Sensibilitas • Divisi maksila o Reflek masseter o Sensibilitas • Divisi mandibula o Sensibilitas + + + + + + N.

N.IX ( Glossopharingeus ) Kanna Sensasi lidah 1/3 belakang Reflek muntah (Gag reflek) + + + Kiri + 28 . VIII ( Vestibularis ) Kanan Suara berbisik Detik arloji Rinne test Weber test Scwabach test • • Memanjang Memendek + + Tidak dilakukan Tidak dilakukan Tidak dilakukan Kiri + + Tidak dilakukan Tidak dilakukan Tidak dilakukan Nistagmus • • • Pendular Vertikal Siklikal - Pengaruh posisi kepala N.

XII ( Hipoglosus ) Kanan Kedudukan lidah kanan Kedudukan lidah dijulurkan Tremor Fasikulasi Atrofi Normal Normal Normal Kiri Normal 29 .X ( Vagus ) ( sukar dinilai/dilakukan karena pasien tidak sadar ) Kanan Arkus faring Uvula Menelan Artikulasi Suara Nadi Kiri Simetris Ditengah Baik Baik Normal N.XI ( Asecorius ) Kanan Menoleh ke kanan Menoleh ke kiri Mengangkat bahu kanan Mengangkat bahu kiri + + + + + Kiri + + + N.N.

Pemeriksaan Fungsi Motorik A. Berdiri dan berjalan Tremor Atetosis Mioklonik Khorea C.4. Badan Respirasi Duduk B. Pemeriksaan Koordinasi Cara berjalan Rumberg test Ataksia Rebound Phenomen Tes tumit lutut Normal Tes hidung jari Baik Disartria Disgrafia Supinasi-pronasi Tes jari hidung Baik Baik 5. Pemeriksaan Sensibilitas 30 . Ekstremitas Superior Kanan Gerakan Kekuatan Tropi Tonus Baik 555 Eutropi Eutonus Kiri Baik 555 eutropi eutonus Inferior kanan h ipoaktif 444 eutropi eutonus Kiri hipoaktif 333 Eutropi Eutonus Gerakan spontan Baik Normal Baik Baik normal Baik 6.

Sensibilitas taktil Sensibilitas nyeri Sensibilitas termis Sensibilitas kortikal Stereognosis Pengenalan 2 titik Pengenalan rabaan Pengenalan getar Pengenalan posisi sendi Berkurang di tungkai Berkurang di tungkai Berkurang di tungkai Berkurang di tungkai Berkurang di tungkai Berkurang di tungkai Berkurang di tungkai Berkurang di tungkai Berkurang di tungkai 7. Patologis Lengan Hofmann Tromner Kanan Tungkai - Kiri - - - Babinski 31 . Sistem Refleks A. Fisiologis Kornea Barbangkia Laring Masseter Dinding perut Kanan + Kiri + Biseps Triseps KPR APR Kanan ++ ++ +++ +++ Kiri ++ ++ +++ +++ Bulkokaver Tidak nosus dilaku kan • • • Atas Tengah Bawah Kanan Kiri Cremaster Sfingter ++ ++ ++ ++ B.

Chaddoks - - Oppenheim Gordon Scaeffer Klonus paha Klonus kaki - - 8. Fungsi Otonom Miksi Defekasi Sekresi keringat :baik. neurogenik bladder (-) :baik :berkurang setinggi dermatom Th X kebawah. Fungsi Luhur Kesadaran • • • Reaksi bicara Fungsi intelek Reaksi emosi Baik Baik Baik Tanda demensia • Reflek glabela • Reflek snout Reflek menghisap Reflek memegang Reflek palmomental - 32 . 9.

7 gr % : 6200/mm3 : 46 vol % : 278. kesan sinus takikardi.6 : 142 mMol/L : 4. DIAGNOSA • • • • TERAPI 1. ST elevasi-. St depresi -.PEMERIKSAAN LABORATORIUM Darah :Hb Leukosit Ht Trombosit GDR Ureum Kreatinin Na+ K+ Cl : 14. Khusus • • Metil prednisolon 3x1 amp (IV) tapering off Ranitidin 2x1 amp (IV) Diet MB RG II 1900 kkal Diagnosis klinik Diagnosis topik Diagnosis etiologi Diagnosis skunder : paraparese inferior tipe UMN : medulla spinalis setinggi thorakal VIII : Tumor medulla Spinalis : Hipertensi stage I kebawah 33 .4 mMol/L : 110 PEMERIKSAAN PENUNJANG 1. HR 92x/i. EKG :Irama Sinus. Umum • 2.000/mm3 : 126 : 22 : 0.

tanda peningkatan TIK (-) Nn.• Amlodipin 1x10 mg (p.50 C SI/ SN/ Dalam batas normal TRM (-). Cranialis : Baik 34 .o) RENCANA PEMERIKSAAN SELANJUTNYA • • • • Rontgent Thorax PA Rontgent Thorakolmbal sentrasi Th VIII Lumbal Punksi MRI Tulang Belakang PROGNOSA Quo ad vitam : bonam Quo ad sanam : dubia at bonam (tergantung jenis tumor dan terapi yang dilakukan) Quo ad vitam : dubia ad bonam (tergantung jenis tumor dan terapi yang dilakukan) FOLLOW UP Tanggal 22-06-2010 A/ Perjalanan Penyakit Lemah tungkai kiri Kurang rasa raba tungkai kanan BAB dan BAK baik VS/ KU Kes TD Nadi : Sedang : GCS15 ( E4M6V5) : 150/90 mmHg : 89 x/menit Terapi dan Rencana Nafas : 18 x/menit Suhu : 36.

50 C SI/ SN/ Dalam batas normal TRM (-).Sensorik Motorik Otonom RF: ++/+++ DK/ spinalis : hipoestesi tungkai kanan : 555/555 444/333 : sekresi keringat berkurang RP: -/- setinggi dermatom torakal X kebawah. Cranialis : Baik Sensorik Motorik Otonom RF: ++/+++ Lab : Hb Leukosit Ht : 14. tanda peningkatan TIK (-) Nn.7 gr % : 6200/mm3 : 46 vol % : hipoestesi tungkai kanan : 555/555 444/333 : sekresi keringat berkurang RP: -/setinggi dermatom torakal X kebawah. 35 . paraparese inferior tipe UMN ec tumor medulla 23-06-2010 A/ Lemah tungkai kiri Kurang rasa raba tungkai kanan BAB dan BAK baik Thy/ Diet Rendah Lemak dan Rendah Purin MtylPrednisolon 2x125 mg Ranitidin 2x500 mg Amlodipin 1x10 mg Simvastatin 1x10 mg Allopurinol mg P/ Ro Thoracolumbal 1x400 VS/ KU Kes TD Nadi : Sedang : GCS15 ( E4M6V5) : 150/90 mmHg : 80 x/menit Nafas : 18 x/menit Suhu : 36.

Trombosit LED DC Kolesterol LDL HDL As. tanda peningkatan TIK (-) Nn. BAK baik Thy / Diet TKTP OAT Simvastatin 1x10 mg Amlodipin 1x10 mg Dulcolax 2x1 VS/ KU Kes TD Nadi : Sedang : GCS15 ( E4M6V5) : 140/90 mmHg : 80 x/menit 0 Suhu : 37 C Nafas : 20 x/menit SI/ SN/ Dalam batas normal TRM (-).0 Paraparese inferior tipe UMN ec tumor medulla Hipertensi stage I Hiperkolesterol Hiperurisemi Spinalis.Urat DK/ : 278. Cranialis : Baik Sensorik Motorik Otonom RF: ++/+++ : hipoestesi tungkai kanan : 555/555 444/333 : sekresi keringat berkurang RP: -/setinggi dermatom torakal X Ro/ kesan : spondilitis Th 7-8 36 .000/mm3 : 85 : 0/0/2/78/19/1 : 214 :174 : 25 : 7. 24-06-2010 A/ Lemah tungkai kiri Kurang rasa raba tungkai kanan BAB (-).

A/ Paraparese inferior tipe UMN ec Spondilitis Tb A/ Lemah tungkai kiri Kurang rasa raba tungkai kanan BAB dan BAK baik VS/ KU Kes TD Nadi : Sedang : GCS15 ( E4M6V5) : 140/90 mmHg : 70 x/menit 0 25-06-2010 Thy/ Pemakaian OAT 2 bulan Rifampisin 1x600 mg INH 1x400 mg PZA 1x1000 mg Etambutol 1x750 mg Amlodipin 1x10 mg Nafas : 21 x/menit Suhu : 37 C SI/ SN/ Dalam batas normal TRM (-). tanda peningkatan TIK (-) Nn. Cranialis : Baik Sensorik Motorik Otonom RF: ++/+++ : hipoestesi tungkai kanan P/ Cek Faal Hepar : 555/555 444/333 : sekresi keringat berkurang RP: -/setinggi dermatom torakal X A/ Paraparese inferior UMN ec Spondilitis Tb A/ Lemah tungkai kiri Kurang rasa raba tungkai kanan BAB dan BAK baik VS/ KU Kes TD Nadi : Sedang : GCS15 ( E4M6V5) : 140/90 mmHg : 70 x/menit Neurobion 1x5000 mg 26-06-2010 Thy / OAT Amlodipin 1x10 mg Nafas : 21 x/menit Suhu : 370 C SI/ SN/ Dalam batas normal TRM (-). tanda peningkatan TIK (-) 37 .

Nafas : 20 x/menit Suhu : 370 C SI/ SN/ Dalam batas normal TRM (-). Cranialis : Baik Sensorik Motorik : hipoestesi tungkai kanan : 555/555 444/333 A/ Paraparese inferior tipe UMN ec Spondilitis Tb A/ Lemah tungkai kiri Kurang rasa raba tungkai kanan BAB dan BAK baik VS/ KU Kes TD Nadi : Sedang : GCS15 ( E4M6V5) : 140/90 mmHg : 80 x/menit 29-06-2010 Thy/ Lanjut Dosis rifampisin dan pirazinamid diturunkan. Cranialis : Baik Sensorik Motorik : hipoestesi tungkai kanan : 555/555 444/333 RF: ++/+++ RP: -/A/ Paraparese inferior tipe UMN ec Spondilitis Tb A/ Lemah tungkai kiri Kurang rasa raba tungkai kanan BAB dan BAK baik VS/ KU Kes TD Nadi : Sedang : GCS15 ( E4M6V5) : 140/90 mmHg : 70 x/menit 27-06-2010 Thy / Lanjut Nafas : 21 x/menit Suhu : 370 C SI/ SN/ Dalam batas normal TRM (-). tanda peningkatan TIK (-) 38 .Nn. tanda peningkatan TIK (-) Nn.

Cranialis : Baik Motorik : 555/555 444/333 A/ Paraparese inferior tipe UMN ec Spondilitis Tb 39 . tanda peningkatan TIK (-) Nn. SGOT dan SGPT meningkat A/ Paraparese inferior tipe UMN ec Spondilitis Tb A/ keluhan (-) VS/ KU Kes TD Nadi : Sedang : GCS15 ( E4M6V5) : 140/90 mmHg : 70 x/menit 01-06-2010 Thy/ lanjut Nafas : 20 x/menit Suhu : 370 C SI/ SN/ Dalam batas normal TRM (-). Cranialis : Baik Motorik : 555/555 444/333 Lab .Nn.

Cranialis : Baik Motorik : 555/555 444/333 A/ Paraparese inferior tipe UMN ec Spondilitis Tb A/ VS/ keluhan (-) KU Kes TD Nadi : Sedang : GCS15 ( E4M6V5) : 140/90 mmHg : 70 x/menit 03-06-2010 Thy/ Lanjut Nafas : 20 x/menit Suhu : 370 C SI/ SN/ Dalam batas normal TRM (-). Cranialis : Baik Sensorik : membaik Motorik : 555/555 444/333 A/ paraparese inferior tipe UMN ec Spondilitis Tb A/ VS/ keluhan (-) KU : Sedang 40 .02-06-2010 A/ VS/ keluhan (-) KU Kes TD Nadi : Sedang : GCS15 ( E4M6V5) : 140/90 mmHg : 70 x/menit Thy/ lanjut Nafas : 20 x/menit Suhu : 370 C SI/ SN/ Dalam batas normal TRM (-). tanda peningkatan TIK (-) Nn. tanda peningkatan TIK (-) Nn.

tanda peningkatan TIK (-) Nn. Cranialis : Baik Sensorik : membaik Motorik : 555/555 444/333 A/ paraparese inferior tipe UMN ec Spondilitis Tb A/ VS/ keluhan (-) KU Kes TD Nadi : Sedang : GCS15 ( E4M6V5) : 130/90 mmHg : 70 x/menit Nafas : 20 x/menit 05-07-2010 SI/ SN/ Suhu : 370 C Dalam batas normal TRM (-).Kes 04-07-2010 TD Nadi : GCS15 ( E4M6V5) : 140/100 mmHg : 70 x/menit Thy/ lanjut Nafas : 20 x/menit Suhu : 370 C SI/ SN/ Dalam batas normal TRM (-). Cranialis : Baik Sensorik : membaik Motorik : 555/555 444/333 A/ paraparese inferior tipe UMN ec Spondilitis Tb Thy/ lanjut 41 . tanda peningkatan TIK (-) Nn.

tanda peningkatan TIK (-) Nn. Cranialis : Baik Sensorik : membaik Motorik : 555/555 444/333 A/ paraparese inferior tipe UMN ec Spondilitis Tb Thy/ lanjut p/ CT-Scan A/ VS/ keluhan (-) KU Kes TD Nadi : Sedang : GCS15 ( E4M6V5) : 140/90 mmHg : 70 x/menit Nafas : 20 x/menit Suhu : 370 C SI/ SN/ 07-07-2010 Dalam batas normal TRM (-). Cranialis : Baik Sensorik : membaik Motorik Hasil CT-Scan Tampak massa isoden homogan (HLL 40-47) di daerah : 555/555 444/333 42 . tanda peningkatan TIK (-) Nn.A/ VS/ keluhan (-) KU Kes TD Nadi : Sedang : GCS15 ( E4M6V5) : 140/90 mmHg : 70 x/menit Nafas : 20 x/menit Suhu : 370 C 06-07-2010 SI/ SN/ Dalam batas normal TRM (-).

yang menyempitkan canalis spinalis.IX. VIII.ekstramedular vertebra Th VI. mendestruksi corpus vertebre Th VI.IX A/ paraparese inferior tipe UMN ec tumor medula spinalis DD/ paraparese inferior tipe UMN ec metastasis 43 .VII.VII.VIII. tampak destruksi prosesus spinosus vertebre Th VII Kesan: massa ekstrameduler ekstradural di daerah Th VI .

BB menurun 7 kg (85%)dalam 2 bulan ini. terjadi penurunan sensibilitas pada ekstremitas inferior dekstra. riwayat batuk lama disangkal. dipertimbangkan untuk memberikan Obat Anti Tuberculosa pada pasien ini. Diagnosa ditegakkan berdasarkan anamnesa berupa adanya. kekuatan menurun. Seiring dengan berjalannya waktu ternyata keluhan pasien berkurang terutama keluhan rasa lemah dan baal di kedua tungkai. umur 39 tahun dengan diagnosis klinik paraparese inferior tipe UMN ec Spondilitis Tuberculosis. Dari pemeriksaan fungsi motorik ditemukan gerakan hipoaktif. hipotrofi dan hipotonus pada kedua ekstremitas inferior. Dari pemeriksaan fisik didapatkan Tekanan darah 150/100. Berdasarkan spondilitis thorakolumbal.selain itu juga ditemukan peningkatan reflek fisiologis ekstremitas inferior. Awalnya diagnosa yang ditegakkan yaitu paraparese inferior tipe UMN ec Tumor Medulla Spinalis. keluhan lemahnya tungkai kiri yang semakin berat dan diikuti dengan lemah tungkai kanan sejak 2 minggu dimana awalnya hanya berupa lemah tungkai kiri sejak 2 tahun yang lalu. dan demam disangkal. Selain itu nyeri punggung dirasakan setinggi pusar sejak 2 minggu yang lalu. pemeriksaan radiologi tersebut.DISKUSI Telah dilaporkan seorang laki-laki. Sedangkan pada pemeriksaan fungsi saraf sensorik. Dari pemeriksaan limfositosis dan penunjang pada didapatkan rontgen kesan LED meningkat. Namun 44 . Gangguan fungsi saraf otonom ditandai dengan berkurangnya ekresi kerngat setinggi dermatom X ke bawah.

Dari hasil CT-scan. dari pemeriksaan didapatkan kesan terdapat massa ekstrameduler. simvastatin. CT-Scan dan MRI. Rendah Purin. etambutol dan pirazinamid. ekstradural di daerah Th VI-IX. Kemudian pada pasien ini dilakukan pemeriksaan CT-scan tulang vertebre. 45 . Terapi berikutnya setelah ditegakkan diagnosa spondilitis yaitu pengobatan dengan menggunakan obat anti tuberkulosis yaitu INH. Pemeriksaan penunjang lainnya terutama pemeriksaan laboratorium mengesankan adanya hiperkolesterol dan hiperurisemi. rifampisin.hasil ini sebenarnya masih harus dikonfirmasi dengan beberapa pemeriksaan penunjang lainnya seperti Rontgen thorak. pasien di rujuk ke poliklinik orthopedi untuk pemeriksaan lebih lanjut. allupurinol dan amlodipin untuk hiperkolesterolemi. sedangkan berupa metyl prednisolon berguna untuk mengurangi efek udem jaringan. hiperurisemi dan hipertensi. Pengobatan yang diberikan pada awal masuk berupa diet Rendah Lemak.Lumbal Punksi.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful