HUBUNGAN HIPERGLIKEMIA DENGAN INSIDEN STROKE ISKEMIK DAN STROKE HEMORAGIK PERBANDINGAN ANTARA KADAR GULA DARAH PUASA

DAN GULA DARAH 2 JAM POSTPRANDIAL
Dikutip dari Stroke 2009;40;1633-1637
OLEH : DR. DEDI SUTIA P E M B I M B I N G : D R . S YA R I F I N D R A , S P. S M O D E R AT O R : P R O F. D R . H . BA S J I RU D D I N A , S P. S ( K) O P P O N E N T : D R . TAT I K H A I R A N I DA N D R . L I N A EKA DEWI

Abstrak
y Latar Belakang dan Tujuan: pengaruh hiperglikemia

terhadap insiden stroke iskemik serta hemoragik dengan membandingkan gula darah puasa dengan 2 jam pp. y Metode: - 9 penelitian kohort Eropa, 18.360 individu - usia 25-90 tahun - lama follow up 4.9 -36.8 tahun - Hazards Ratio (CI 95%) untuk insiden stroke - model Cox proportional hazard, disesuaikan dengan faktor resiko yang diketahui.

03).08 sampai 2.12 (1.72.14 (1.22) dan pada gula darah 2 jam postprandial adalah 1. .Abstrak y Hasil: . P=0.38]) serta untuk diabetes yang terdeteksi pada saat skrining berdasarkan kadar gula darah puasa (1. hazards ratio analisis multivariat untuk stroke iskemik yang sesuai dengan peningkatan 1 SD pada kadar gula darah puasa adalah 1.16]).48[1. .60[1.kadar gula darah puasa tidak memperbaiki prediksi model kadar gula darah 2 jam postprandial (x2=0.62).Menambahkan kadar gula darah 2 jam postprandial ke dalam model kadar gula darah puasa memberikan perbaikan yang signifikan terhadap model untuk insiden stroke iskemik (x2=4.25.Suatu peningkatan rasio resiko yang signifikan juga diobservasi untuk penderita diabetes yang telah dikenali (2.18 sampai 2.05 sampai 1.02]) dan model kadar gula darah 2 jam postprandial (1.24).Yang riwayat diabetes sebelumnya (-). Tidak satupun dari kriteria tersebut yang memprediksi stroke hemoragik.26[1.51 sampai 3. . P=0. .02 sampai 1.

Abstrak y Kesimpulan: .Prediksi lebih kuat pada peningkatan kadar gula darah 2 jam PP daripada gula darah puasa.Diabetes dapat menimbulkan stroke iskemik. . namun tidak stroke hemoragik. .

lebih kuat dipengaruhi oleh kadar glukosa 2 jam PP daripada puasa. y Aterosklerosis sebagai faktor resiko stroke sering muncul lebih awal pada penderita diabetes. y Diabetes sering muncul bersamaan dengan hipertensi yang telah diketahui memiliki hubungan yang kuat dengan stroke hemoragik. . namun tidak untuk stroke hemoragik y Patofisiologi stroke iskemik berbeda dengan hemoragik.Pendahuluan y Diabetes terkenal sebagai faktor resiko independen untuk stroke iskemik.

Pendahuluan y Tujuan penelitian : bagaimana hubungan antara insiden stroke iskemik serta stroke hemoragik dengan keadaan hiperglikemia. dan untuk mendapatkan perbandingan antara kriteria gula darah puasa dan 2 jam PP .

985 dan 8.9 . Swedia sampai 2004) Lama follow up maks 4.8 thn. 9 studi kohort di y y y y y Finlandia dan Swedia 18.360 orang peserta penelitan (9. . rata-rata 12. dikonfirmasi dengan dokumen terkomputerisasi nomor identitas dari setiap peserta penelitian Populasi penelitian berumur antara 25-90 tahun.Populasi Penelitian y Analisis subdata studi DECODE.36.375 ) Follow up berkesinambungan (Finlandia sampai 2006.9 thn Data morbiditas dan mortalitas akibat stroke dari pusat data nasional penyebab kematian serta pusat data nasional pasien keluar RS.

0 mmol/L toleransi glukosa terganggu) ~ GDP < 6.1 mmol/L GDP normal ~ GD 2 jam PP < 7.1 mmol/L diabetes baru dikenal ~ hiperglikemia intermediet (GDP 6.8 mmol/L toleransi glukosa N .0 mmol/L dan GD 2 jam PP • 11.8-11. atau GD 2 jam PP 7.Populasi Penelitian y Klasifikasi : diabetes yang sudah dikenal yang belum terdiagnosis kriteria WHO 2006 ~ GDP • 7.1-6.9 mmol/L GDP terganggu.

yang fatal: 160-161. atau ada riwayat CVD (termasuk stroke) pada survei awal dikeluarkan dari analisis data. 9 dan revisi 10 . 434 dan 163 .stroke tak tergolongkan: 160-161 y Individu yang pindah. y Insiden stroke diberi kode berdasarkan ICD 8.stroke hemoragik: 430-431 . . 436 .stroke yang tidak fatal: 430-431. 433-434. riwayat kesehatann tidak dapat dikonfirmasi.Definisi y Kejadian stroke pertama (insiden): kejadian stroke akut pada individu yang tidak memiliki riwayat stroke sebelum survei awal. 163-164 .stroke iskemik: 433.

y Kadar GDP dan GD 2 jam PP dibagi menurut SD agar dapat dibandingkan.0.Metode Statistik y Analisis data: SPSS versi Window 15. y Hazard ratio (CI 95 %) pada insiden stroke untuk kategori glukosa yang berbeda dan juga untuk peningkatan 1 SD pada kriteria kadar gula darah 2 jam postprandial (mmol/L) serta kadar gula darah puasa (mmol/L) dengan menggunakan model Cox proportional hazard. y Model linear umum analisis univariat perkirakan mean kelas GDP dan GD 2 jam PP sesuai dengan umur. . jenis kelamin dan pusat penelitiannya.

Mean arterial pressure didefenisikan sebagai [(2xdiastolik)+sistolik]/3. mean arterial pressure (MAP). pusat penelitian.uji rasio kemungkinan untuk mengevaluasi apakah terdapat perbedaan pada kedua kriteria glukosa dalam prediksinya terhadap kejadian stroke baru. Digunakan log Chi square . Status merokok dikategorikan sebagai perokok masa kini. status merokok dan jenis kelamin. . body mass index (BMI).Metode Statistik y Analisis disesuaikan berdasarkan umur. BMI dihitung menggunakan berat dalam kilogram yang dibagi dengan kuadrat dari tinggi badan dalam meter. kolesterol darah total. mantan perokok. atau bukan perokok.

events rates. dan tingkat faktor resiko diantara penelitian-penelitian ini. terutama penelitan diantara polisi tua Finlandia. dimana ³penelitian´ dianggap sebagai suatu kovariat. maka disusun kembali suatu analisis Cox regresi bertingkat dan hasilnya ditampilkan serta dibandingkan dengan hasil yang didapatkan dari model. .Metode Statistik y Mengingat adanya variasi dalam hal lama masa follow up. Suatu analisis sensitifitas yang memotong lama masa follow up pada 15 tahun dilakukan untuk memeriksa sejauh mana perbedaan lama masa follow up menimbulkan efek.

1%) merupakan stroke iskemik. Diantara 1. Individu baik yang terdiagnosis maupun tidak terdiagnosis diabetes termasuk dalam kelompok umur yang lebih tua dan memiliki BMI yang lebih tinggi dibandingkan dengan individu yang tanpa diabetes (Tabel 2). dan 45 (0.Hasil y Data dasar demografi dan jumlah subjek penelitian pada setiap kohort ditampilkan di Tabel 1. 196 (1. 536 (43%) hanya memenuhi kriteria kadar gula darah 2 jam postprandial. Dari total 998 (5.4%) kejadian insiden stroke yang diobservasi. Karakteristik subjek penelitian menurut kategori glukosa yang berbeda ditampilkan dalam Tabel 2.2%) adalah stroke tak tergolongkan (Tabel 1). 757 (4. 350 (28%) memenuhi kedua kriteria diagnostik untuk diabetes .1%) merupakan stroke hemoragik.254 individu yang terdeteksi diabetes saat skrining. 368 (29%) hanya memenuhi kriteria kadar gula darah puasa.

62) maupun insiden stroke keseluruhan (x2=0. yang memberikan rasio resiko 1.97. namun tidak untuk subtipe stroke hemoragik (Tabel 3).25.65).03). namun penambahan kadar gula darah puasa pada model dengan kadar gula darah 2 jam postprandial tidak memperbaiki prediksi model (x2=0. P=0. P=0.21.05-1. CI 95%) untuk stroke iskemik. Hasil yang sama juga didapatkan dari analisis Cox regresi bertingkat. . P=0. Uji rasio menunjukkan bahwa inklusi dari kadar gula darah 2 jam postprandial pada model dengan kadar gula darah puasa memperbaiki prediksi stroke iskemik (x2=4. secara signifikan dapat memprediksi insiden stroke iskemik dan stroke keseluruhan. dan semua subtipe stroke (x2=4. CI 95%) dan 1. P=0. inklusi kadar gula darah puasa pada model dengan kadar gula darah 2 jam postprandial tidak memperbaiki prediksi baik stroke iskemik (x2=0.72.11 (1.22.14 (1. sesuai dengan kenaikan 1 SD pada kadar gula darah puasa dan kadar gula darah 2 jam postprandial secara bersamaan. P=0.03).37) (Tabel 3).93.02-1. Berlawanan dengan hal ini. P=0.Hasil y Hazard ratio multivariat yang disesuaikan dengan kenaikan 1 SD baik dalam kadar gula darah puasa maupun kadar gula darah 2 jam postprandial.03). Analisis Cox regresi bertingkat juga memperlihatkan bahwa penambahan kadar gula darah 2 jam postprandial pada model dengan kadar gula darah puasa memperbaiki prediksi model (x2=4.79.24.

CI 95%) untuk stroke iskemik. P=0. bila dibandingkan dengan kadar gula darah puasa (x2= 0.05-1. P=0. CI 95%) dan 1.24.14 (1.30.11 (1.25. .Hasil y Mengganti mean arterial pressure dengan tekanan darah sistolik pada analisis regresi Cox tidak merubah hasil secara substansial dengan hazard ratio 1.62). Analisis dengan tekanan darah sistolik secara konsisten menunjukkan bahwa kadar gula darah 2 jam postprandial adalah faktor prediksi yang lebih baik (x2= 4.04) untuk stroke iskemik. sesuai dengan kenaikan 1 SD pada kadar gula darah puasa dan kadar gula darah 2 jam postprandial.22.021.

Hasil y Sebagaimana dibandingkan dengan individu yang memiliki kadar glukosa normal. . yang lama masa follow up dipotong pada 15 tahun adalah sesuai dengan penemuan ini. Hasil dari analisis sensitifitas. Peningkatan kadar gula darah puasa dan juga kadar gula darah 2 jam postprandial tidak bisa memprediksi stroke hemoragik. hazard ratio untuk stroke iskemik lebih tinggi pada individu yang sebelumnya telah terdiagnosis diabetes dan mereka yang terdeteksi diabetes saat skrining baik dengan kriteria kadar gula darah puasa maupun kadar gula darah 2 jam postprandial (Tabel 4).

Resiko stroke iskemik secara jelas meningkat pada individu yang sebelumnya telah terdiagnosis diabetes maupun yang terdeteksi diabetes pada saat skrining. Namun begitu.Diskusi y pada individu yang tanpa diagnosis diabetes sebelumnya. resiko untuk terkena stroke iskemik meningkat dengan adanya kenaikan pada kadar kadar gula darah puasa dan kadar gula darah 2 jam postprandial. namun kadar gula darah 2 jam postprandial memberikan resiko yang lebih besar daripada kadar gula darah puasa. . tidak terdapat hubungan antara tingkat hiperglikemia dengan stroke hemoragik.

. Peningkatan resiko stroke iskemik juga ditemukan pada individu yang mengalami kenaikan pada kadar gula darah puasa dan random.Diskusi y Meskipun tidak semuanya. Aterosklerosis. perbandingan antara kedua kriteria glukosa dengan subtipe stroke diteliti dalam studi ini. Penelitian yang membandingkan berbagai level hiperglikemia yang berdasarkan kriteria kadar gula darah puasa dan kadar gula darah 2 jam postprandial dengan insiden stroke masih jarang. serta individu yang dinyatakan diabetes berdasarkan kadar kadar gula darah puasa dan kadar gula darah 1 jam postprandial. telah menunjukkan peningkatan insiden stroke iskemik dan hal ini lebih tampak jelas hubungannya dengan kenaikan kadar gula darah 2 jam postprandial daripada dengan kadar kadar gula darah puasa. Dengan jumlah sampel yang banyak. yang diperberat oleh stenosis arteri karotis atau oleh penebalan tunika intimamedia arteri karotis. namun beberapa penelitian telah melaporkan adanya peningkatan resiko stroke iskemik pada individu yang terdiagnosis diabetes. dan didapatkan bahwa peningkatan kadar gula darah 2 jam postprandial memiliki pengaruh yang lebih kuat daripada kadar gula darah puasa dalam hal prediksi stroke iskemik pada keseluruhan populasi penelitian.

. Pada penelitian ini ditemukan bahwa tidak terdapat hubungan antara stroke hemoragik dengan peningkatan kadar gula darah puasa maupun kadar gula darah 2 jam postprandial. Penelitian telah menemukan bahwa peningkatan resiko stroke hemoragik pada individu yang terdiagnosis diabetes berdasarkan kadar gula darah puasa.Diskusi y Hubungan antara stroke hemoragik dengan diabetes masih kontroversial. dan berarti faktor resiko untuk terjadinya kedua jenis stroke tersebut juga berbeda. Etiologi dan patofisiologi dari stroke iskemik berbeda dari stroke hemoragik. namun tidak ada hubungannya pada individu yang telah jelas menderita diabetes ataupun yang terdiagnosis diabetes berdasarkan ukuran kadar gula darah 1 jam postprandial. atau penurunan resiko pada individu yang telah jelas menderita diabetes.

Diskusi y Kelebihan penelitian ini : masa follow up yang lama analisis data kolaboratif analisis data secara rinci. Keakuratan diagnosis stroke dan informasi tentang follow up dari register kematian nasional serta data pasien keluar dari rumah sakit di Finlandia dan Swedia cukup baik .

Diskusi y Kekurangan penelitian ini: tidak terdapat ukuran lain yang diteliti selain kadar glukosa. bagaimanapun hasil utama dan kesimpulan tetap tak berubah tanpa menghiraukan strategi analisis data apa yang dipakai. Untuk mengatasi keterbatasan ini. Semua hasil ditampilkan dalam manuskrip. lalu analisis data ditampilkan berdasarkan setiap penelitian tunggal daripada menggabungkan semua penelian secara bersama-sama dan juga melakukan analisis regresi Cox bertingkat yang diatur multivariat. variabel glukosa dianalisis baik dalam bentuk kategorikal maupun linear setelah distandarisasi menjadi kenaikan 1 SD. . Kemudian studi kohort disusun kembali menjadi suatu kovariat dalam aanalis data. Menukar MAP dengan tekanan darah sistolikpada analisis data juga tidak merubah hasilnya.

terutama ketika dipakai kriteria yang ketat untuk stroke akut. sejumlah kecil stroke hemoragik telah mengurangi perkiraan yan tepat tentang pengaruh hiperglikemia pada stroke hemoragik. . Hal ini membuat tidak mungkin dilkukan analisis data secara terpisahuntuk laki-laki dan perempuan. lama masa follow up untuk kebanyakan studi kohort masih singkat dimana hanya sedikit kasus stroke yang bisa dikumpulkan. Juga. serta masih butuh penelusuran lebih jauh di masa yang akan datang.Diskusi y Tanpa menghiraukan jumlah sampel yang relatif besar. karena itu tetap tidak bisa diketahui apakah efeknya akan sama terhadap laki-laki dan perempuan.

resiko stroke iskemik meningkat dengan adanya kenaikan kadar gula darah puasa dan kadar gula darah 2 jam postprandial. dimana kadar gula darah 2 jam postprandial memberikan resiko yang lebih besar daripada kadar gula darah puasa. baik yang telah terdiagnosis sebelumnya maupun yang terdeteksi saat skrining. penelitian ini menunjukkan bahwa pada individu yang tanpa penyakit diabetes sebelumnya. .Kesimpulan y Sebagai kesimpulan. mempunyai hubungan dengan peningkatan resiko stroke iskemik secara nyata. Diabetes. Tidak terdapat hubungan antara hiperglikemia dengan resiko stroke hemoragik.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful