P. 1
Orang Awam Mencoba Memahami Ajaran Yesus Di Injil Yohanes - By Justinus Darmono

Orang Awam Mencoba Memahami Ajaran Yesus Di Injil Yohanes - By Justinus Darmono

|Views: 501|Likes:
Published by Gilbert Hanz
Allah sejati yang menjilma menjadi manusia sejati, menyamakan Diri-Nya dengan manusia kebanyakan. Pada waktu itu Dia berperan sebagai manusia, maka Dia mengajak dan mengajar kita untuk menyebut Allah Sang Pencipta sebagai Bapa.
Allah sejati yang menjilma menjadi manusia sejati, menyamakan Diri-Nya dengan manusia kebanyakan. Pada waktu itu Dia berperan sebagai manusia, maka Dia mengajak dan mengajar kita untuk menyebut Allah Sang Pencipta sebagai Bapa.

More info:

Published by: Gilbert Hanz on Jan 02, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial Share Alike

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/21/2014

pdf

text

original

8:37 "Aku tahu, bahwa kamu adalah keturunan Abraham, tetapi kamu berusaha untuk
membunuh Aku karena firman-Ku tidak beroleh tempat di dalam kamu. 8:38. Apa yang
Kulihat pada Bapa, itulah yang Kukatakan, dan demikian juga kamu perbuat tentang apa
yang kamu dengar dari bapamu."
8:39 Jawab mereka kepada-Nya: "Bapa kami ialah Abraham." Kata Yesus kepada mereka:
"Jikalau sekiranya kamu anak-anak Abraham, tentulah kamu mengerjakan pekerjaan
yang dikerjakan oleh Abraham. 8:40 Tetapi yang kamu kerjakan ialah berusaha
membunuh Aku; Aku, seorang yang mengatakan kebenaran kepadamu, yaitu kebenaran
yang Kudengar dari Allah; pekerjaan yang demikian tidak dikerjakan oleh Abraham. 8:41
Kamu mengerjakan pekerjaan bapamu sendiri."
Jawab mereka: "Kami tidak dilahirkan dari
zinah. Bapa kami satu, yaitu Allah."
8:42 Kata Yesus kepada mereka: "Jikalau Allah adalah Bapamu, kamu akan mengasihi
Aku, sebab Aku keluar dan datang dari Allah. Dan Aku datang bukan atas kehendak-Ku
sendiri, melainkan Dialah yang mengutus Aku. 8:43 Apakah sebabnya kamu tidak mengerti
bahasa-Ku? Sebab kamu tidak dapat menangkap firman-Ku. 8:44 Iblislah yang menjadi

60

bapamu dan kamu ingin melakukan keinginan-keinginan bapamu. Ia adalah pembunuh
manusia sejak semula dan tidak hidup dalam kebenaran, sebab di dalam dia tidak ada
kebenaran. Apabila ia berkata dusta, ia berkata atas kehendaknya sendiri, sebab ia adalah
pendusta dan bapa segala dusta. 8:45 Tetapi karena Aku mengatakan kebenaran
kepadamu, kamu tidak percaya kepada-Ku.
8:46. Siapakah di antaramu yang membuktikan bahwa Aku berbuat dosa? Apabila Aku
mengatakan kebenaran, mengapakah kamu tidak percaya kepada-Ku? 8:47 Barangsiapa
berasal dari Allah, ia mendengarkan firman Allah; itulah sebabnya kamu tidak
mendengarkannya, karena kamu tidak berasal dari Allah."

Pengajaran Tuhan Yesus memang begitu sulit untuk dicerna dengan nalar. Sepertinya Tuhan
Yesus lebih menekankan yang rohani, yang harus diterima oleh hati, jiwa dan akal budi kita.
Allah bisa berbuat menurut kehendak-Nya sendiri, yang sering kali mencelikkan mata kita.
Tuhan Yesus yang keluar dan datang dari Allah sendiri, karena memang Dia Allah itu sendiri
yang menjilma menjadi manusia. Dan inilah yang sulit diterima akal pada waktu itu.

Orang Yahudi adalah keturunan Abraham yang menjadi bapak bangsa. Mereka juga
mengakui bahwa Bapa hanya satu yaitu Allah sendiri. Jika mereka melaksanakan apa yang
telah dilakukan Abraham, mematuhi kehendak Allah yang baru dia kenal, mestinya mereka
mengerti. Paling tidak mencermati dengan hati bening bahwa Tuhan Yesus juga menyebut
Allah sebagai Bapa. Dia mengenal Bapa seperti Bapa mengenal Dia. Dia keluar dan datang
dari Allah sendiri. Dan Dialah Mesias yang telah dijanjikan, dengan tanda-tanda atau mukjizat
yang mereka lihat.

Pertanyaan yang mungkin paling penting adalah, percayakah kita bahwa Yesus Kristus yang
menyebut diri sebagai Anak Manusia adalah Allah sendiri. Jawabannya mungkin ada tiga,
percaya, tidak percaya dan ragu-ragu. Sepertinya Tuhan Yesus sendiri tidak pernah memaksa
manusia harus begini dan begitu. Semuanya diserahkan kepada kita dengan segala macam
risikonya.

Bagi penulis sendiri, penulis begitu yakin dan percaya bahwa Dia adalah Tuhan Allah sendiri.
Walaupun dalam keyakinan tersebut banyak hal yang masih membingungkan dan penuh
misteri. Rasanya belum pernah ada orang sehebat apapun, yang berani berkata dan berbuat
seperti Tuhan Yesus. Dia tidak pernah meminta didoakan malahan mendoakan banyak orang
yang menganiaya-Nya. Dia tidak pernah membalas dengan dendam, namun sebaliknya
memberi pengampunan. Dia selalu menyebarkan damai dan kasih maupun penghiburan.

Barangsiapa berasal dari Allah, ia mendengarkan firman Allah. Jika demikian, bukan kita
yang mencari Tuhan, namun Tuhanlah yang memilih kita. Mungkin kita percaya bahwa
sebenarnya kita hanya salah satu ciptaan-Nya. Ciptaan menurut citra Allah, yang berarti
semuanya berasal dari Allah sendiri. Mungkin yang bukan berasal dari Allah adalah
keinginan kita untuk berbuat dosa. Ada nafsu roh jahat yang menyelimuti kita sehingga
bagaikan berada di dalam kegelapan yang kelam. Sentuhan Tuhan dalam kegelapan tersebut
tidak kita rasakan, karena sibuk dengan diri sendiri. Kita bisa membayangkan seorang anak
yang sedang asyik dengan mainannya. Panggilan atau bahkan sentuhan diabaikan, karena
semua konsentrasi tertuju kepada mainan tersebut. Dia akan merengek katika mainan tersebut
ada masalah, dan barulah memanggil bapak atau ibunya.

Sering kita baru ingat Tuhan setelah menghadapi masalah. Dalam kenikmatan dunia kita lupa
diri dan asyik dengan mainan kita. Kita lupa untuk bersyukur bahwa semuanya berasal dari
Allah. Begitu mainan dunia itu menjadi boomerang, kita meminta tolong dan berteriak.

61

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->