P. 1
Orang Awam Mencoba Memahami Kata-Kata Yesus Di Injil Markus - By Justinus Darmono

Orang Awam Mencoba Memahami Kata-Kata Yesus Di Injil Markus - By Justinus Darmono

5.0

|Views: 3,309|Likes:
Published by Gilbert Hanz
Menyampaikan kesaksian bukanlah menyombongkan diri, namun berbagi pengalaman bagaimana Tuhan telah menolong dan menyembuhkan kita.
Menyampaikan kesaksian bukanlah menyombongkan diri, namun berbagi pengalaman bagaimana Tuhan telah menolong dan menyembuhkan kita.

More info:

Published by: Gilbert Hanz on Jan 02, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial Share Alike

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/27/2014

pdf

text

original

10:28 Berkatalah Petrus kepada Yesus: "Kami ini telah meninggalkan segala sesuatu dan
mengikut Engkau!"

10:29 Jawab Yesus: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya setiap orang yang karena Aku dan
karena Injil meninggalkan rumahnya, saudaranya laki-laki atau saudaranya perempuan,
ibunya atau bapanya, anak-anaknya atau ladangnya, 10:30 orang itu sekarang pada masa ini
juga akan menerima kembali seratus kali lipat: rumah, saudara laki-laki, saudara perempuan,
ibu, anak dan ladang, sekalipun disertai berbagai penganiayaan, dan pada zaman yang akan
datang ia akan menerima hidup yang kekal. 10:31 Tetapi banyak orang yang terdahulu akan
menjadi yang terakhir dan yang terakhir akan menjadi yang terdahulu."

Hal ini juga adalah janji Tuhan Yesus sendiri. Siapa yang siap mengikuti Dia dan Injil-Nya
akan menerima hidup kekal. Apa saja yang ditinggalkan akan mendapat ganti beberapa kali
lipat walaupun disertai penganiayaan. Mengikut Dia berarti siap masuk menjadi anggota
tubuh Gereja-Nya, dengan segala konsekuensi. Semuanya menjadi saudara dalam Kristus
dimana Tuhan sebagai kepala-Nya.

Dalam pemahaman penulis, Tuhan Yesus tidak menekankan harus meninggalkan semua
saudara sedarah dan harta miliknya. Namun memberi janji bagi orang yang telah berani
melepaskan diri dari ikatan duniawi karena mengikut Dia dan Injil-Nya, akan mendapatkan
ganti lebih banyak. Mungkin kita bisa melihat berbagai peninggalan yang dikelola oleh
mereka yang telah berani meninggalkan segalanya, begitu hebat dan berlimpah. Dengan
penuh misteri kita bisa melihat bagaimana para imam, biarawan biarawati, sepertinya tidak
pernah kekurangan sesuatu dan tetap bisa berkarya. Saudaranya semakin banyak, ladangnya
berada dimana-mana. Gereja-gereja dan biara yang megah bisa kita nikmati bersama,
berkumpul dalam persaudaraan sejati dalam Allah. Kita semua menjadi saudara dan Allah
menjadi Bapa kita bersama.

Namun kalimat penutup Tuhan Yesus cukup membingungkan, banyak orang yang terdahulu
akan menjadi yang terakhir dan sebaliknya. Sepertinya hal ini sangat berkaitan dengan yang
begitu rohani dan bukan duniawi. Mungkin secara tidak sadar seseorang bisa merasa lebih
senior, lebih berpengalaman dalam hal rohani. Kemudian menganggap yang masih baru-baru
itu belum ada apa-apanya. Atau merasa bahwa sudah menjadi orang yang lebih baik,
mengikuti segala aturan yang berlaku yang bisa dilihat orang lain. Pujian manusia datang
bertubi-tubi yang secara pelan mempengaruhi, dan menumbuhkan kesombongan rohani.
Kemudian secara tidak sadar mulai membuat kasta, mengelompokkan sekumpulan orang
sebagai yang tidak baik yang perlu dijauhi. Jangan-jangan yang masih baru bergabung dan
dianggap belum baik ini malah diterima lebih dahulu, karena mereka berani mengakui diri
sebagai orang yang bukan apa-apa. Malah lebih bisa bersyukur dan berterima kasih karena
diakui sebagai keluarga Allah.

Jangan-jangan yang merasa lebih senior, lebih dekat dengan Tuhan, merasa lebih tahu
siapakah Tuhan itu, menjadi sombong dalam rohani. Mungkin disinilah Tuhan malah tidak

Dar/memahami Markus 69

70

berkenan. Hal ini bisa kita bayangkan dalam kehidupan sehari-hari yang kita alami. Betapa
senang sewaktu kita orang awam ini bertemu walikota, gubernur bahkan presiden. Rasanya
susah dibayangkan sewaktu kita bisa bersalaman dengan mereka, bisa untuk bahan
pembicaraan kalau nanti pulang ke rumah. Kita bersalaman dengan penuh hormat dan
merasakan senyuman yang keluar dari para pejabat tersebut. Jangan-jangan orang-orang dekat
yang mengelilingi beliau malah jarang bersalaman, saking sudah biasanya. Jangan-jangan
malahan mereka sering dimarahi kalau ada sesuatu yang keliru dalam kerjanya. Yang kita
lihat dan kita bayangkan hanya enaknya saja karena kedekatan dengan penguasa. Kita yang
merasa hampir tidak mungkin bertemu dengan beliau, bagaikan mendapat durian runtuh
ketika berkesempatan berhadapan muka.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->