P. 1
Orang Awam Mencoba Memahami Kata-Kata Yesus Di Lukas - By Justinus Darmono

Orang Awam Mencoba Memahami Kata-Kata Yesus Di Lukas - By Justinus Darmono

|Views: 2,446|Likes:
Published by Gilbert Hanz
Untuk mengikuti jejak-jejak pelayanan Santo Lukas, kita harus meneliti Kisah ParaRasul. Kita tidak memiliki informasi kapan Santo Lukas bertobat dan menjadi Kristen,tetapi dengan meneliti tulisan pada kitab tersebut, kita bisa melihat dimana diabergabung dengan Santo Paulus.
Untuk mengikuti jejak-jejak pelayanan Santo Lukas, kita harus meneliti Kisah ParaRasul. Kita tidak memiliki informasi kapan Santo Lukas bertobat dan menjadi Kristen,tetapi dengan meneliti tulisan pada kitab tersebut, kita bisa melihat dimana diabergabung dengan Santo Paulus.

More info:

Published by: Gilbert Hanz on Jan 02, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial Share Alike

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/23/2014

pdf

text

original

22:54. Lalu Yesus ditangkap dan dibawa dari tempat itu. Ia digiring ke rumah Imam Besar. Dan
Petrus mengikut dari jauh. 22:55 Di tengah-tengah halaman rumah itu orang memasang api dan
mereka duduk mengelilinginya. Petrus juga duduk di tengah-tengah mereka. 22:56 Seorang hamba
perempuan melihat dia duduk dekat api; ia mengamat-amatinya lalu berkata: "Juga orang ini
bersama-sama dengan Dia."
22:57 Tetapi Petrus menyangkal, katanya: "Bukan, aku tidak kenal
Dia!"
22:58 Tidak berapa lama kemudian seorang lain melihat dia lalu berkata: "Engkau juga
seorang dari mereka!"
Tetapi Petrus berkata: "Bukan, aku tidak!" 22:59 Dan kira-kira sejam
kemudian seorang lain berkata dengan tegas: "Sungguh, orang ini juga bersama-sama dengan
Dia, sebab ia juga orang Galilea."
22:60 Tetapi Petrus berkata: "Bukan, aku tidak tahu apa yang
engkau katakan."
Seketika itu juga, sementara ia berkata, berkokoklah ayam. 22:61 Lalu
berpalinglah Tuhan memandang Petrus. Maka teringatlah Petrus bahwa Tuhan telah berkata
kepadanya: "Sebelum ayam berkokok pada hari ini, engkau telah tiga kali menyangkal Aku."
22:62 Lalu ia pergi ke luar dan menangis dengan sedihnya.

Dalam pemahaman penulis, Petrus sebagai orang Kapernaum di Galilea, tidak begitu dikenal
secara khusus di Yerusalem. Api unggun yang dinyalakan tidak memberikan pandangan
secara jelas. Mungkin logat bicaranya juga agak berbeda dengan orang Yerusalem pada
umumnya. Dalam kumpulan dimana Petrus sebagai orang asing, maka bisa ditebak pastilah
dia salah satu pengikut Tuhan Yesus. Mungkin bentuk tubuh, raut wajah dan logat bicara
mempunyai peran penting untuk membedakan asal seseorang.

Dengan yakin dan nekadnya Petrus menyangkal mereka, seolah-oleh tidak kenal dengan Sang
Guru. Dia hanya ikut-ikutan berkumpul karena malam-malam koq ada keramaian di rumah
Imam Besar. Pasti ada suatu kejadian besar yang perlu ditengok dan didatangi. Menyangkal
kenal Sang Guru sampai tiga kali, dengan segala macam alasan. Mungkin yang dipikirkan
Petrus pada waktu itu campur aduk tidak karuan. Hasrat bergelora ingin melihat bagaimana
keadaan gurunya bercampur dengan kekawatiran manusiawi apabila ikut ditangkap dan
diadili. Akal budi yang kacau bagaikan beras diinteri dalam penampi. Roh jahat ikut
menyelinap ke dalam tubuh Petrus dan membantu akal budi untuk menyangkal dengan
alasannya.

189

Kokok ayam di waktu menjelang pagi dan pandangan Tuhan Yesus yang berpaling
kepadanya, seakan-akan langsung menyentuh hati sanubari. Teringatlah dia akan kata-kata
Tuhan Yesus kepadanya. Dia merasakan dan mengerti apa yang dimaksud kata-kata Tuhan
Yesus sebelumnya. Betapa imannya begitu kecil dan kalah oleh pengaruh iblis, sehingga
terjadi perang batin bagai gandum diinteri atau ditampi. Keberanian yang baru beberapa
waktu lalu dipertunjukkan, dengan begitu cepat berubah menjadi penyangkalan. Dia insyaf,
sedih dan menyesal sepenuh hati sampai menangis seperti anak kecil. Tangisan penyesalan
yang tulus dan tidak bisa ditahan. Hal tersebut menjadi pengalaman yang tak terlupakan.

Kemungkinan besar Petrus pergi menemui para rasul lainnya dan menceritakan apa yang
terjadi dengan dirinya. Kita bisa membayangkan bagaimana raut wajah Petrus yang masih
lebam bekas tangis, mengakui tanpa malu-malu. Betapa kata-kata Sang Guru benar apa
adanya bahwa dia akan menyangkal. Biarlah apa yang sudah terjadi, dan mulai sekarang perlu
bersatu padu agar tetap teguh dalam iman. Berdoa dan berdoa agar dijauhkan dari segala
macam pencobaan. Kesombongan rohani tidak perlu dipertahankan malah harus dilepaskan,
agar tidak menjadi batu sandungan di kemudian hari.

Dalam kehidupan sehari-hari, mungkin kita pernah mengalami sutiasi yang hampir mirip
dengan Petrus. Kita berani berbicara dengan lantang sewaktu masih di dalam kelompok
sendiri. Begitu dihadapkan kepada situasi sendirian dimuka orang-orang lain yang berbeda
pandangan, apalagi jika wajahnya garang, kelantangan tersebut hilang lenyap tak berbekas.
Bedanya mungkin hanya satu, kita tidak berani mengakui secara langsung di dalam
kelompok, bahwa telah kalah oleh iblis. Mungkin jawaban gurau sebagai alasan pembenaran
diri, yang waras ngalah.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->