P. 1
Orang Awam Mencoba Memahami Kata-Kata Yesus Di Lukas - By Justinus Darmono

Orang Awam Mencoba Memahami Kata-Kata Yesus Di Lukas - By Justinus Darmono

|Views: 2,446|Likes:
Published by Gilbert Hanz
Untuk mengikuti jejak-jejak pelayanan Santo Lukas, kita harus meneliti Kisah ParaRasul. Kita tidak memiliki informasi kapan Santo Lukas bertobat dan menjadi Kristen,tetapi dengan meneliti tulisan pada kitab tersebut, kita bisa melihat dimana diabergabung dengan Santo Paulus.
Untuk mengikuti jejak-jejak pelayanan Santo Lukas, kita harus meneliti Kisah ParaRasul. Kita tidak memiliki informasi kapan Santo Lukas bertobat dan menjadi Kristen,tetapi dengan meneliti tulisan pada kitab tersebut, kita bisa melihat dimana diabergabung dengan Santo Paulus.

More info:

Published by: Gilbert Hanz on Jan 02, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial Share Alike

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/23/2014

pdf

text

original

9:49 Yohanes berkata: "Guru, kami lihat seorang mengusir setan demi nama-Mu, lalu kami cegah
orang itu, karena ia bukan pengikut kita."
9:50 Yesus berkata kepadanya: "Jangan kamu cegah,
sebab barangsiapa tidak melawan kamu, ia ada di pihak kamu."

Siapa yang tidak melawan kita, berarti berada di pihak kita. Hal ini mengajarkan kepada kita
untuk tidak menjadi fanatik. Kita diajar untuk tidak tergesa-gesa mengambil suatu kesimpulan
yang bertentangan dengan kebenaran sejati. Dalam masyarakat yang begitu majemuk, kita
diajar untuk bisa berkomunitas dan menyatu dengan semuanya berdasarkan kasih. Demikian
juga dalam masyarakat yang begitu bermacam agama dan kepercayaan, kita diajar untuk bisa
berdoa bersama siapa saja, dimana saja. Iman kepercayaan memang begitu pribadi, makanya
perlu juga berkomunitas dalam satu iman.

Mungkin ada saja suatu kelompok yang menganggap dan mengajarkan bahwa Allah kita
berbeda dengan Allah mereka. Buku atau Kitab Sucinya saja sudah berbeda. Bagi penulis
Allah Sang Maha Pencipta ya hanya satu. Mau disebut apapun nama-Nya tidak ada masalah.
Allah pasti tidak akan marah bila nama tersebut ditujukan hanya untuk Dia. Pada pokoknya
Tuhan Allah hanya mengajarkan satu hal, yaitu kasih yang tanpa syarat. Penjabarannya
mungkin saja agak berbeda, karena cara pengungkapan, situasi, kondisi, budaya dan hal-hal
lain yang mempengaruhinya.

87

Alangkah indahnya jika dalam masyarakat yang begitu bermacam-macam, kita bisa sehati
sepikir setujuan menuju damai sejahtera bersama. Menurut penulis, pada dasarnya setiap
orang menginginkan kehidupan yang aman dan damai, berpenghasilan cukup, tidak
merepotkan orang lain. Namun demikian, begitu Iblis menyebarkan virus keserakahan,
kesombongan, iri dengki ingin menang sendiri, merasa paling benar, segalanya menjadi
runyam. Impian yang begitu harmonis mulai runtuh, pecah berantakan dan tinggal impian
belaka. Muncullah pemaksaan kehendak, yang bisa dilakukan secara halus maupun kasar;
apalagi kalau merasa sudah kuat dan menangan. Persatuan yang didambakan sedikit demi
sedikit mulai runtuh dan timbullah perpecahan. Perbedaan pendapat sampai perbedaan
keyakinan dianggap menjadi sandungan, terus dimasukkan dalam hati dan diproses menjadi
iri dengki yang berbuah benci. Kebencian bagaikan virus yang sangat berbahaya karena
buahnya keinginan untuk “mematikan” yang dia benci.

Jika kita rasakan kata-kata Yohanes di atas, sepertinya pada saat itu Yohanes masih termasuk
orang yang sombong. Merasa lebih berhak, lebih tinggi lebih benar atau apapun namanya,
apabila berkaitan dengan gurunya. Dia merasa sebagai salah seorang murid pilihan,
dibandingkan dengan orang lain. Apalagi bagi yang bukan pengikut gurunya, jangan coba-
coba.

Dalam kehidupan sehari-haripun seringkali kita berbuat dan berkelakuan seperti Yohanes
pada waktu itu. Merasa lebih mempunyai wewenang, mempunyai hak dibanding orang lain
karena kedekatan kita kepada yang kita hormati atau segani. Sepertinya kita lebih tahu
segalanya dibandingkan orang-orang lain yang tidak sedekat kita. Apalagi untuk orang-orang
yang tidak mengenal orang yang kita segani tadi. Mereka kita anggap tidak tahu apa-apa dan
perlu kita beri pengajaran khusus.

Nyatanya Tuhan Yesus tidak sependapat dengan Yohanes. Banyak orang yang mungkin
sehaluan dan selaras dengan apa yang diajarkan Tuhan Yesus, namun belum pernah bertemu
sendiri dengan Dia. Disinilah salah satu hebatnya Tuhan Yesus yang tidak pernah mencegah
perbuatan baik seseorang dalam nama-Nya, walaupun mereka bukan pengikut-Nya. Berarti
siapapun orang yang berkehendak baik dan benar, tanpa memandang ras, suku, agama,
kepercayaan dan segalanya, mereka sehaluan dengan ajaran Tuhan Yesus. Mereka tidak perlu
dicegah karena tidak bertentangan dengan kita.

Secara tidak langsung sepertinya kita diajar untuk tidak fanatik, merasa paling benar, paling
dekat dengan Allah. Nyatanya Allah bisa saja berkarya kepada orang lain yang kelihatannya
tidak sehaluan dengan kita. Kebenaran dan kebaikan nyatanya milik kita bersama bagi semua
orang yang mau melakukannya. Dan Allah tidak pernah membedakannya, seperti kita
manusia ini.

9:51. Ketika hampir genap waktunya Yesus diangkat ke sorga, Ia mengarahkan pandangan-Nya
untuk pergi ke Yerusalem, 9:52 dan Ia mengirim beberapa utusan mendahului Dia. Mereka itu
pergi, lalu masuk ke suatu desa orang Samaria untuk mempersiapkan segala sesuatu bagi-Nya.
9:53 Tetapi orang-orang Samaria itu tidak mau menerima Dia, karena perjalanan-Nya menuju
Yerusalem. 9:54 Ketika dua murid-Nya, yaitu Yakobus dan Yohanes, melihat hal itu, mereka
berkata: "Tuhan, apakah Engkau mau, supaya kami menyuruh api turun dari langit untuk
membinasakan mereka?"
9:55 Akan tetapi Ia berpaling dan menegor mereka. 9:56 Lalu mereka
pergi ke desa yang lain.

Kita bisa melihat bagaimana Yakobus dan Yohanes pada waktu itu diliputi oleh rasa marah
yang berkobar-kobar. Makanya mereka berdua sering disebut sebagai putra halilintar,
menggelegar menakutkan yang kekuatan petirnya bisa menghanguskan. Kemarahan

88

berkembang menjadi kebencian menuju antipati sampai ingin mematikan orang Samaria.
Karena merasa mempunyai Guru yang begitu sakti, tumbuhlah kesombongan bahwa bisa
berbuat apa saja kepada orang lain yang tidak sehaluan. Inginnya mau pamer kekuatan biar
ditakuti oleh semua orang. Beruntunglah Tuhan Yesus menegor mereka. Sayang tidak
dijelaskan bagaimana ucapan Tuhan Yesus sewaktu menegor mereka. Mungkin seperti
mengebaskan debu dari jubah yang dipakai.

Kita bisa membayangkan bagaimana wajah Yakobus dan Yohanes pada waktu mereka ditegor
Tuhan Yesus. Mereka yang terpilih khusus, mendapat pembelajaran baru agar tidak
mengumbar kemarahan namun mengembangkan kesabaran dan legowo. Kita diajar untuk bisa
memaklumi pemikiran dan perbuatan orang lain, walau tidak sesuai dengan apa yang kita
harapkan. Diajar untuk tidak memaksakan kehendak walaupun kita anggap keinginan tersebut
positif.

Kemungkinan besar orang Yahudi memang tidak menyukai orang Samaria; begitu juga
sebaliknya. Pasti pernah ada suatu konflik dalam sejarah yang membuat mereka saling tidak
menyukai. Ada yang menceritakan bahwa orang Samaria adalah keturunan orang Yahudi
yang kawin campur dengan orang non Yahudi. Mereka dianggap sudah tidak murni dan tidak
sekelas lagi dengan orang Yahudi yang masih murni. Merekapun berbeda kepercayaan dan
adat kebiasaan. Kebanyakan orang Samaria bertempat tinggal di perbatasan antara daerah
Galilea dan daerah Yudea. Orang-orang dari utara yang melakukan perjalanan ke Yerusalem
kemungkinan besar akan melewati desa orang-orang Samaria. Dan umumnya orang Yahudi
ke Yerusalem pasti ke Bait Allah. Itu tidak sepaham dengan kepercayaan orang Samaria yang
masih menyembah berhala. Mungkin agak berbeda apabila yang lewat adalah pengembara
yang tidak berkaitan dengan Yerusalem dengan Bait Allahnya.

Disini Tuhan Yesus mengajarkan kepada kita yang lebih dalam lagi. Jika sebelumnya tidak
mencegah perbuatan bukan pengikut-Nya namun yang selaras dengan ajaran-Nya, sekarang
untuk tidak membalas perlakuan yang tidak menyenangkan. Padahal keinginan Yakobus dan
Yohanes pada waktu itu begitu menggelora ingin membinasakan. Bukan mendapatkan
persetujuan namun malahan menerima tegoran. Jangan membalas!

Dalam kehidupan sehari-haripun sering kita alami, kalau kita merasa kuat dan mampu. Sering
kita tonjolkan kekuatan dan kemampuan kita untuk menekan yang lemah, yang tidak sehaluan
dengan kita. Mungkin tidak sampai tingkat membinasakan, namun kepenginnya menggencet,
menginjak sampai tidak bisa bergerak. Paling tidak kita pojokkan terus kita kucilkan. Segala
pendapatnya kita mentahkan dengan seribu satu macam teori dan argumentasi sampai tidak
bisa bicara lagi. Bisa kita terjemahkan menurut selera kita.

Apabila kita yang ditekan dan dipojokkan, tidak diberi kebebasan dan merasa kalah, jangan-
jangan kitapun lapor kepada Tuhan agar mereka dibalas dengan keras oleh-Nya. Kita juga
sama dengan Yakobus dan Yohanes walaupun dalam situasi dan kondisi yang agak berbeda.
Dan nyatanya Tuhan Yesus tidak berkenan dan tidak setuju.

Membalas tersebut bisa bermacam-macam cara, dari yang halus sampai yang kasar. Intinya
tetap ingin membalas agar gantian merasa tidak senang, biar impas. Namun jika kita
renungkan dengan hati yang bening, terus apa bedanya kita dengan orang tersebut? Ungkapan
bahasa Jawa “sing waras ngalah” mungkin lebih selaras dengan ajaran Tuhan Yesus. Tidak
boleh, tidak sependapat ya tidak apa-apa. Ini semua kan bagian dari kehidupan kita yang harus
kita jalani dengan bebas, tanpa beban dan penuh sukacita. Bukan pemaksaan kehendak yang
memuaskan kita, yang kalau tidak sejalan ingin membalas.

89

Tuhan Yesus, aku ingin berdoa seperti Engkau. Ampunilah mereka karena mereka tidak tahu
apa yang mereka lakukan. Amin.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->