PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP NASABAH BANK DITINJAU DARI UNDANG-UNDANG NO.

8 TAHUN 1999 TENTANG PERLINDUNGAN KONSUMEN

BAB I Latar Belakang Masalah Bank, baik bank sentral maupun bank umum merupakan inti dari sistem keuangan setiap negara. Bank merupakan lembaga keuangan yang menjadi tempat bagi perusahaan, badan-badan pemerintah dan swasta, maupun perorangan menyimpan dana-dananya. Melalui kegiatan perkreditan dan berbagai jasa yang diberikan, bank melayani kebutuhan pembiayaan serta melancarkan mekanisme sistem pembayaran bagi semua sektor perekonomian. Bank merupakan pemasok (supplier) dari sebagian besar uang yang beredar, yang digunakan sebagai alat tukar atau alat pembayaran sehingga mekanisme kebijaksanaan moneter dapat berjalan. Hal-hal tersebut menunjukkan bahwa bank, baik bank sentral maupun bank umum merupakan suatu lembaga keuangan yang sangat penting dalam menjalankan kegiatan perekonomian dan perdagangan. Bank umum atau bank komersial dalam kegiatannya dibina dan diawasi oleh bank sentral, sedangkan bank sentral dalam menjalankan tugas pokoknya berdasarkan kebijaksanaan yang ditetapkan pemerintah.

-----------------------------------------1 1 Thomas Suyatno, dkk, Kelembagaanan, Gramedia, Bandung, 1997,Hal. 1.
Melli Meilany : Perlindungan Hukum Terhadap Nasabah Bank Ditinjau Dari Undang-Undang NO.8 Tahun

Bank dengan fungsinya yang antara lain sebagai perantara pihak-pihak yang mempunyai kelebihan dana {surplus of funds) dengan pihak-pihak yang kekurangan dan memerlukan dana (lack of funds), serta juga melayani kebutuhan pembiayaan serta melancarkan mekanisme sistem pembayaran bagi semua sektor perekonomian masyarakat. Dengan kondisi yang demikian, maka bank adalah lembaga yang mengandalkan kepercayaan masyarakat. Guna tetap mengekalkan kepercayaan masyarakat terhadap bank, pemerintah hams berusaha melindungi masyarakat dari tindakan lembaga ataupun oknum pegawai bank yang tidak bertanggungjawab dan merusak sendi kepercayaan masyarakat. Undang-Undang tersebut dimaksudkan untuk menjadi landasan hukum yang kuat, baik untuk pemerintah maupun masyarakat itu sendiri secara swadaya untuk melakukan upaya pemberdayaan konsumen. Undang-Undang tentang

perlindungan konsumen ini dirumuskan dengan mengacu pada filosofi pembangunan nasional bahwa pembangunan nasional termasuk pembangunan hukum yang memberikan perlindungan terhadap konsumen adalah dalam rangka membangun manusia Indonesia seutuhnya yang berlandaskan pada falsafah.

2 Muhammad Djumhana, Hukum Perbankan di Indonesia, PT. Citra Aditya Bakti, Bandung, 2006, Hal. 337.

Melli Meilany : Perlindungan Hukum Terhadap Nasabah Bank Ditinjau Dari Undang-Undang NO.8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen, 2008

Perlindungan Konsumen di Indonesia. 3 . 309. Melli Meilany : Perlindungan Hukum Terhadap Nasabah Bank Ditinjau Dari Undang-Undang NO. Citra Aditya Bakti. Hal. Bandung.2006.8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen.Janus Sidabalok. PT. 2008.

Batasan Masalah Sistem perlindungan hukum memiliki cakupan yang sangat luas. Adapun manfaat penulisan ini adalah : 1. Secara teoritis. hasil penelitian dapat dijadikan sebagai : a. Tujuan dan Manfaat Penulisan Adapun tujuan penulisan ini adalah : Untuk mengetahui dan menggambarkan bagaimanakah perlindungan hukum terhadap nasabah bank ditinjau dari Undang-Undang No. 8 tahun 1999 tentang perlindungan konsumen. Untuk itu penulis melakukan pembatasan masalah yaitu hanya sebagai perlindungan hukum bagi sipenyimpan dana atau nasabah.pelayanan dan perlindungan hukum terhadap masyarakat sebagai nasabah bank maka dapat meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap sektor perbankan. Bahan kajian bagi akademis untuk menambah wawasan ilmu pengetahuan khususnya hukum perbankan. Bagaimanakah pertanggungjawaban bank apabila nasabah mengalami kerugian. . Perumusan Masalah Adapun permasalahan-permasalahan yang penulis angkat dalam ini adalah sebagai berikut : Bagaimanakah perlindungan hukum terhadap nasabah bank ditinjau dari Undang-Undang No. Untuk mengetahui dan menggambarkan bagaimanakah pertanggungjawaban bank apabila nasabah mengalami kerugian. 8 tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen.

Melli Meilany : Perlindungan Hukum Terhadap Nasabah Bank Ditinjau Dari Undang-Undang NO. Sebagai suatu bentuk penambahan literatur tentang perbankan terutama pemberian perlindungan kepada nasabahnya. 2008 .b.8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen.

13. PT. Sebab pada masa zaman pertengahan pihak bankir Itali yang memberikan pinjaman-pinjaman melakukan tersebut dengan duduk dibangku dihalaman Membicarakan bank. Melli Meilany : Perlindungan Hukum Terhadap Nasabah Bank Ditinjau Dari Undang-Undang NO. Secara praktis. Munir Fuady. Opcit. Pengertian Bank Apabila kita menelusuri sejarah dari terminologi bank. Citra Aditya Bakti. Pengertian Bank dan Nasabah 1.2. namun untuk lebih jelasnya penulis mengutip pendapat beberapa para sarjana terkemuka mengenai pengertian bank. 2008. Buku I. BAB II A. 5 Thomas Suyatno. maka kita temukan bahwa kata ³bank´ yang berarti ³bonce´ yang berarti bangku tempat duduk. peradilan dan praktisi hukum dalam menentukan kebijakan dan langkah-langkah untuk memutuskan dan menyelesaikan perkara yang sedang dihadapi. hasil penelitian dapat digunakan : a. Secara sederhana hal ini memang demikian adanya. Hal.8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen. 1. Sebagai suatu bentuk sumbangan pemikiran dan masukan para pihak yang berkepentingan terutama masyarakat luas tentang hak-hak yang dimiliki mereka apabila dirugikan oleh dunia perbankan. 4 . maka yang terbayang dalam benak kita adalah suatu tempat dimana kita dapat menyimpan uang ataupun meminjam uang dengan memakai bunga. Bandung. 1999. b. Hal. dkk. Hukum Perbankan Modern. Sebagai pedoman dan masukan bagi pemerintah.

2. Tjipto Adinugroho.hal. Andi Offset. R. 2008. 1985.8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen. . Perbankan Masalah Permodalan Dana Potensial.10 Tahun 1998 adalah ³Pihak yang menggunakanjasa bank . Pengertian Nasabah Nasabah menurut Pasal 1 ayat (17) UUNo. R. Hal. Nasabah Penyimpan adalah nasabah yang mendapatkan dananya di bank dalam bentuk simpanan berdasarkan perjanjian bank dengan nasabah yang Ruddy Tri Santoso. 10 Tahun 1998 Nasabah ini dibagi 2 yaitu: a. Mengenal Dunia Perbankan. Yogyakarta. 5. Padya Paramita. Jakarta. 1996. 10 Tahun 1998 Tentang Perbankan.11 7 6 Melli Meilany : Perlindungan Hukum Terhadap Nasabah Bank Ditinjau Dari Undang-Undang NO. Dalam Undang-Undang No. 8 UU No.

Ketiga. b. orang lain. baik bagi kepentingan diri sendiri. nasabah deposan yaitu nasabah yang menyimpan dananya pada suatu bank. Pengertian Konsumen Konsumen umumnya diartikan sebagai pemakai terakhir dari produk yang diserahkan kepada mereka oleh pengusaha yaitu setiap orang yang mendapatkan barang untuk dipakai dan tidak untuk diperdagangkan atau diperjualbelikan lagi. Menurut Pasal 1 angka 2 Undang-Undang Nomor 8 tahun 1999 tentang perlindungan konsumen bahwa ³ Konsumen adalah setiap orang pemakai barang dan/atau jasa yang tersedia dalam masyarakat. Nasabah Debitur adalah nasabah yang memperoleh fasilitas kredit atau pembiayaan berdasarkan prinsip syariah atau yang dipersamakan dengan berdasarkan perjanjian bank dengan nasabah yang bersangkutan. misalnya kredit usaha kecil.bersangkutan. Dari praktek-praktek perbankan. Kedua.8 tahun 1999 1. misalnya dalam bentuk deposito atau tabungan lainnya.perlindungan Konsumen Menurut Undang-Undang no. setidaknya dikenal tiga macam nasabah. yang memanfaatkan fasilitas kredit perbankan. maupun makhluk hidup lain dan tidak untuk diperdagangkan Sebagaimana disebutkan dalam penjelasan Pasal 1 angka 2 tersebut bahwa . Pertama. Misalnya transaksi antara importir sebagai pembeli dengan eksportir di luar negeri dengan menggunakan fasilitas letter of credit. B. kewarga. kredit pemilikan rumah dan sebagainya. nasabah yang melakukan transaksi dengan pihak lain melalui bank {walk in customer).

Makalah Pada Simposium Aspek-Aspek Hukum Perlindungan Konsumen.Tentang Perlindungan Konsumen. Melli Meilany : Perlindungan Hukum Terhadap Nasabah Bank Ditinjau Dari Undang-Undang NO.8 Tahun 1999. 1990. 13 Undang-Undang No. Mariam Darus.konsumen yang dimaksud adalah konsumen akhir yang dikenal dalam kepustakaan ekonomi. Perlindungan Terhadap Konsumen Ditinjau Dari Segi Standar Kontrak. 2008. BPHN-Bina Cipta. Jakarta. hal.59-60.8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen. USU Repository © 2009 12 .

dan pengecer protesional. khususnya teknologi manufaktur dan teknologi informasi. kewarganya ataupun untuk memelihara/merawat harta bendanya.Dengan demikian. Persoalan hubungan produsen dengan konsumen biasanya dikaitkan dengan produk (barang dan/atau jasa) yang dihasilkan oleh teknologi. leveransir.8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen. dalam konteks perlindungan konsumen. Melli Meilany : Perlindungan Hukum Terhadap Nasabah Bank Ditinjau Dari Undang-Undang NO. DKIH Belanda-Indonesia. grosir. Dengan demikian. Dengan perkataan lain. Beberapa Hal yang Terkait dengan Perlindungan Konsumen Produsen sering diartikan sebagai pengusaha yang menghasilkan barang dan jasa. Maka persoalan perlindungan konsumen erat kaitannya dengan persoalan teknologi. Sejarah dan Perkembangannya di Beberapa Negara. 2008. Ujungpandang. Dengan makin berkembangnya industri dan teknologi memungkinkan semua lapisan masyarakat terjangkau oleh produk teknologi. Sifat profesional merupakan syarat mutlak dalam hal menuntut pertanggungjawaban dari produsen. Toar. yaitu setiap orang/badan yang lkut serta dalam penyediaan barang dan jasa hingga sampai ke tangan konsumen. dapat dikatakan bahwa semua orang adalah konsumen karena membutuhkan barang dan jasa untuk mempertahankan hidupnya sendiri. produsen tidak hanya diartikan sebagai pihak pembuat pabrik yang menghasilkan produk saja. 1988. produsen diartikan secara Agnes M. yang berarti juga memungkinkan semua masyarakat terlibat dengan masalah perlindungan konsumen ini. tetapi juga mereka yang terkait dengan penyampaian/peredaran produk hingga sampai ke tangan konsumen. hal 2. Dalam pengertian ini termasuk di dalamnya pembuat. USU Repository © 2009 14 . Tanggung Jawab Produk.

Sebagai penyelenggara kegiatan usaha. sama seperti seorang produsen. Pasal 1 angka 3 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen tidak memakai istilah produsen. baik sendiri maupun bersama-sama melalui perjanjian menyelenggarakan kegiatan usaha dalam berbagai bidang ekonomi´. . dan Iain-lain. tetapi memakai istilah lain yang kurang lebih sama artinya. maka produsennya adalah mereka yang terkait dalam proses pengadaan makanan hasil industri (pangan olahan) itu hingga sampai ke tangan konsumen.luas. Mereka itu adalah pabrik (pembuat). pedagang eceran. koperasi dan perusahaan swasta. Dalam pengertian ini. pelaku usaha adalah pihak yang harus bertanggung jawab atas akibat-akibat negatif berupa kerugian yang ditimbulkan oleh usahanya terhadap pihak ketiga. distributor. Sebagai contoh. distributor. importir. termasuklah perusahaan (korporasi) dalam segala bentuk dan bidang usahanya. baik berupa pabrikan. dalam hubungannya dengan produk makanan hasil industri (pangan olahan). yaitu konsumen. dan pengecer. yaitu pelaku usaha yang diartikan sebagai berikut: ³Pelaku usaha adalah setiap orang perorangan atau badan usaha. baik yang berbentuk badan hukum maupun bukan badan hukum yang didirikan dan berkedudukan atau melakukan kegiatan dalam wilayah hukum negara Republik Indonesia. baik yang berbentuk badan hukum ataupun yang bukan badan hukum. eksportir atau importir. seperti BUMN.

Hal. IBI.Cit. Kebebasan Berkontrak dan Perlindungan yang Seimbang Bagi Para Pihak dalam Perjanjian Kredit Bank. 69. 26 Pengawasan penggunaan standar kontrak misalnya dapat dilakukan terlebih dahulu pada standar kontrak yang dipergunakan oleh perusahaan-perusahaan yang melibatkan kepentingan masyarakat banyak. dirasa perlu untuk mengaturnya sehingga tidak disalahgunakan dan atau menimbulkan kerugian bagi pihak lain. Asas ini menghendaki bahwa pengaturan dan penegakan hukum 25 St. 2. Namun demikian. lihat Janus Sidabalok.8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen. serta 5) Asas kepastian hukum Asas manfaat dimaksudkan untuk mengamanatkan bahwa segala upaya dalam penyelenggaraan perlindungan konsumen harus memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi kepentingan konsumen dan pelaku usaha secara keseluruhan. Melli Meilany : Perlindungan Hukum Terhadap Nasabah Bank Ditinjau Dari Undang-Undang NO. 2008 . Remy Syahdeini. ada sejumlah asas yang terkandung di dalam usaha memberikan perlindungan hukum kepada konsumen. Perlindungan konsumen diselenggarakan sebagai usaha bersama seluruh pihak yang terkait. 105. Hal. Op. Jakarta. pelaku usaha dan pemerintah berdasarkan lima asas. yang menurut Pasal 2 Undang-Undang Perlindungan Konsumen Nomor 8 Tahun 1999 ini adalah: 1) Asas manfaat 2) Asas keadilan 3) Asas keseimbangan 4) Asas keamanan dan keselamatan konsumen. Asas-asas Perlindungan Konsumen Berkaitan dengan tujuan di atas. Tinggal bagaimana pengawasan penggunaan standar kontrak itu sehingga tidak dijadikan sebagai alat untuk merugikan orang lain. 1993. masyarakat.suatu kenyataan yang memang lahir dan kebutuhan masyarakat.

dan pemerintah memperoleh manfaat yang seimbang dari pengaturan dan penegakan hukum perlindungan konsumen. apa yang menjadi haknya. tetapi adalah untuk memberikan kepada masing-masing pihak. Asas keadilan dimaksudkan agar partisipasi seluruh rakyat dapat diwujudkan secara maksimal dan memberikan kesempatan kepada konsumen dan pelaku usaha untuk memperoleh haknya dan melaksanakan kewajibannya secara adil. Kepentingan antara konsumen. pelaku usaha dan pemerintah dalam arti materiil dan spiritual. 27 Asas keseimbangan ini juga dianut oleh Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktik Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat. diharapkan bawha pengaturan dan penegakan hukum perlindungan konsumen bermanfaat bagi seluruh lapisan masyarakat dan pada gilirannya bermanfaat bagi kehidupan berbangsa. produsen dan konsumen. pelaku usaha (produsen). 2008 . Asas keseimbangan dimaksudkan untuk memberikan keseimbangan antara kepentingan konsumen. Melli Meilany : Perlindungan Hukum Terhadap Nasabah Bank Ditinjau Dari Undang-Undang NO. Dengan demikian. Asas ini menghendaki agar konsumen. konsumen dan produsen dapat berlaku adil melalui perolehan hak dan penunaian kewajiban secara seimbang.8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen. Karena itu.perlindungan konsumen tidak dimaksudkan untuk menempatkan salah satu pihak di atas pihak lain atau sebaliknya. dan pemerintah diatur dan harus diwujudkan secara seimbang sesuai dengan hak dan kewajibannya masing-masing dalam kehidupan berbangsa atas kepentingannya yang lebih besar dari pihak lain sebagai komponen bangsa dan negara. produsen. Asas ini menghendaki bahwa melalui pengaturan dan penegakan hukum perlindungan konsumen ini. undangundang ini mengatur sejumlah hak dan kewajiban konsumen dan pelaku usaha (produsen).

dan kemandirian konsumen untuk melindungi diri. kemampuan. . serta negara menjamin kepastian hukum. Meningkatkan kesadaran. undang-undang ini membebankan sejumlah kewajiban yang harus dipenuhi dan menetapkan sejumlah larangan yang harus dipatuhi oleh produsen dalam memproduksi dan mengedarkan produknya.8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen. Melli Meilany : Perlindungan Hukum Terhadap Nasabah Bank Ditinjau Dari Undang-Undang NO. baik pelaku usaha maupun konsumen menaati hukum dan memperoleh keadilan dalam penyelenggaraan perlindungan konsumen. undang-undang ini mengharapkan bahwa aturan-aturan tentang hak dan kewajiban yang terkandung di dalam undang-undang ini harus diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari sehingga masing-masing pihak memperoleh keadailan. Karena itu. Artinya. b. Asas ini menghendaki adanya jaminan hukum bahwa konsumen akan memperoleh manfaat dari produk yang dikonsumsi/dipakainya. Oleh karena itu. Mengangkat harkat dan martabat konsumen dengan cara menghindarkannya dari ekses negatif pemakaian barang dan/atau jasa. 2008.Asas keamanan dan keselamatan konsumen dimaksudkan untuk memberikan jaminan atas keamanan dan keselamatan kepada konsumen dalam penggunaan. dan sebaliknya bahwa produk itu tidak akan mengancam ketentraman dan keselamatan jiwa dan harta bendanya. Asas kepastian hukum dimaksudkan agar. Sedangkan tujuan yang ingin dicapai melalui Undang-Undang Perlindungan Konsumen ini sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 adalah : a. negara bertugas dan menjamin terlaksananya undang-undang ini sesuai dengan bunyinya. pemakaian dan pemanfaatan barang dan/atau jasa yang dikonsumsi atau digunakan.

2008 28 . Hal. Melli Meilany : Perlindungan Hukum Terhadap Nasabah Bank Ditinjau Dari Undang-Undang NO. d. Menumbuhkan kesadaran pelaku usaha mengenai pentingnya perlindungan konsumen sehingga tumbuh sikap yang jujur dan bertanggung jawab dalam berusaha. dan keselamatan konsumen. Menciptakan sistem perlindungan konsumen yang mengandung unsur kepastian hukum dan keterbukaan ionformasi serta akses untuk mendapatkan informasi. kesehatan. 40. Mengamati tujuan dan asas yang terkandung di dalam undang-undang ini. jelaslah bahwa undang-undang ini membawa misi yang besar dan mulia dalam mewujudkan kehidupan berbangsa dan bernegara.c. Yogyakarta. f. dan menuntut hak-haknya sebagai konsumen. Mengenai Hukum. keamanan. kenyamanan. jelaslah bahwa undang-undang ini. e. 1986. menentukan. Liberty. Meningkatkan kualitas barang dan/atau jasa yang menjamin kelangsungan usaha produksi barang dan/atau jasa. Meningkatkan pemberdayaan konsumen dalam memilih. Suatu Pengantar. Sudikno Mertokusumo.8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen.

Bank Sumut Syariah untuk melindungi nasabahnya adalah : Data diperoleh dari Bank Sumut Syariah. 10 Tahun 1998 Tentang Perbankan. Hak PT.Landasan Hukum Yang Dapat Dipergunakan Oleh Nasabah Apabila la Dirugikan Oleh Bank Landasan hukum yang dapat dipergunakan oleh nasabah terhadap bank adalah didasarkan pada Undang-Undang No. Melli Meilany : Perlindungan Hukum Terhadap Nasabah Bank Ditinjau Dari Undang-Undang NO. 2008. PI. Dalam hal ini landasan hukum PT. USU Repository © 2009 31 .2008. Bank Sumut Syariah didasarkan kepada Undang-Undang No 10 Tahun 1998 Tentang Perbankan yang terdapat dalam Pasal 1 angka 12 yaitu pembiayaan berdasarkan prinsip syariah dan Pasal 1 angka 13 yaitu prinsip syariah.8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen. Bank Sumut Syariah berusaha memenuhi hak dan kewajiban sebagai bank pada umumnya yang dilandasi dengan syarat dan ketentuan berdasarkan sistem perbankan syariah di bawah pengawasan Bank Indonesia.

Dan kewajiban PT. 2008. Bank Sumut Syariah untuk melindungi nasabahnya adalah Bank mempunyai kewajiban mengelola ditempatkan nasabah di bank tersebut sebaik-baiknya dan selalu bertanggung jawab untuk menyediakan dana itu kembali apabila nasabah tersebut ingin mengambilnya kembali. Karena pada dasarnya apabila seorang nasabah memasuki suatu sistem pelayanan perbankan maka ia akan dihadapkan pada pilihan yang disediakan oleh bank itu sendiri.a. Atau dengan kata lain apabila nasabah adalah seorang nasabah penabung maka itu berarti ia akan mendapatkan bunga atas tabungannya.undang No. 10 Tahun 1998 tidak ada menentukan landasan hukum yang dapat dipergunakan oleh nasabah apabila ia dirugikan oleh bank. . Undang . sistem manajemen yang diterapkan tidak Melli Meilany : Perlindungan Hukum Terhadap Nasabah Bank Ditinjau Dari Undang-Undang NO. baik disebabkan oleh tidak efektifnya pemberian dan pengawasan kredit. Perlindungan hukum kepada nasabah perbankan ini pada dasarnya timbul karena kurangnya pengelolaan bank secara. maka berdasarkan perjanjiannya yang dibuatnya.8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen. apabila ia tidak melunasi kewajibannya. pihak bank dapat menyita agunan yang diajukannya kepada pihak bank. b. Kepada nasabah yang ingin melakukan pembukaan rekening yaitu bank berhak mengetahui identitas dan latar belakang nasabah tersebut sesuai dengan prinsip Know Your Customer (KYC). dan apabila nasabah tersebut adalah nasabah debitur maka ia wajib melunasi hutangnya dengan pihak perbankan. Dalam kredit. bank tersebut mendapatkan kembali uang yang dipinjamkan kepada nasabah dan hasil keuntungan yang diperoleh oleh debitur.

Ketikan nasabah menhadi kreditur dalam bentuk giro. Tidak terlindunginya konsumen sebagai nasabah bank. Pada posisi ini nasabah telah dirugikan dan dalam menuntut haknya ia hams berserah kepada ketentuan pemerintah. sertifikat deposito. 2008. deposito berjangka. dimana ia tidak dapat mengambil dananya pada bank yang dilikwidasi secara tunai atau cash. Meskipun pada kenyataanya dana deposan yang disimpan oleh nsabah pada bank yang telah dilikwidasi kembali. kecuali modal kepercayaan bank. yang mengakibatkan bank tersebut sulit untuk melakukan operasinya. .mendukung operasi bank. tidak ada agunan apapun yang diberikan bank kepada nasabah. sehingga merugikan prilaku ekonomi nasabah penyimpan itu sendiri.ketentuan yang diambil oleh pihak Bank Indonesia. Pelaksanaan likwidasi inilah yang merugikan nasabah terutama nasabah deposan.8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen. sehingga terkadang ia hanya berserah kepada ketentuan . Dengan demikian maka apabila nasabah penyimpan melakukan tuntutan atas bank dengan dasar perbuatan melawan hukum maupun wanprestasi tentulah ia akan kehilangan dana dan waktu yang cukup panjang.bank tersebut dilikwidasi. Melli Meilany : Perlindungan Hukum Terhadap Nasabah Bank Ditinjau Dari Undang-Undang NO. Apabila dihubungkan dengan pelaksanaan penuntutan dengan dasar perbuatan melawan hukum (Pasal 1365 KUH Perdata) serta wanprestasi maka si nasabah penyimpan tersebut akan mengeluarkan dana yang cukup besar untuk melakukan penuntutan dengan waktu yang juga tidak pendek untuk terlaksananya proses penuntutan. sudah sejak nasabah pertama kali berhubungan dengan bank. tabungan atau bentuk lain yang dipersamakan. tetapi kembalinya dana tersebut dalam tempo yang lama tidak serta merta. Hubungan keduanya tidak imbang. sehingga oleh pemerintah bank .

keadaan atau gejala-gejala lainnya dengan membatasi permasalahan dan pendekatannya. mengabaikan norma lain selain norma hukum. Suatu penelitian deskriptif dimaksudkan untuk memberikan data yang seteliti mungkin tentang manusia. Lokasi Penelitian . Spesifikasi Penelitian Penelitian ini menggunakan spesifikasi penelitian deskriptif. Penelitian Penelitian Penelitian Perbandingan terhadap terhadap terhadap asas-asas sistematika taraf hukum hokum hukum sinkronisasi dan B. tertutup dan terlepas dari kehidupan. Konsep ini memandang hukum sebagai norma-norma tertulis yang dibuat atau diundangkan oleh lembaga atau pejabat yang berwenang dan konsep melihat hukum sebagai sistem normatif yang otonom. C.BAB III METODE PENELITIAN A. yaitu suatu penelitian yang bertujuan untuk menggambarkan keadaan atau gejala dari obyek yang akan diteliti tanpa bermaksud mengambil kesimpulan yang berlaku umum. Ruang lingkup penelitian hukum normatif menurut Soerjono Soekanto meliputi (1) (2) (3) (4) (5)Sejarah Hukum. Metode Pendekatan Metode pendekatan yang dipakai dalam penelitian ini adalah Yuridis Normatif yaitu metode pendekatan yang menggunakan konsepsi yang legal positivis.

Primer Data primer berupa keterangan dari pihak-pihak atau staf yang bidang kerjanya terkait dengan masalah yang diteliti dilingkungan Kantor PT. penelitian yang Data akan dilakukan. Pusat Informasi Ilmiah Fakultas Hukum USU. baik merupakan studi pustaka atau di lapangan atau survei. peneliti tidak tergantung dari ruang lingkup dan tujuan 2. buku harian. Data Primer Data primer dilakukan dengan cara mengadakan wawancara dengan pihak-pihak atau staf yang bidang kerjanya terkait dengan masalah yang diteliti di Kantor PT.Lokasi penelitian menunjukkan tempat dimana penelitian itu dilakukan. Lokasi penelitian terkait erat dengan metode penelitian yang dipilih oleh seorang peneliti. hasil penelitian yang berwujud laporan. yang selanjutnya dikaji sebagai satu kesatuan yang utuh. Penelitian ini dilakukan di PT. Bank Sumut cabang medan sebagai pendukung data sekunder. Perbedaan lokasi penelitian juga secara otomatis menghasilkan proses penelitian yang berbeda pula. . yang dikumpulkan dengan melakukan studi pustaka di Perpustakaan Fakultas Hukum Universitas USU. Sumber 1. buku-buku. 1. D. 2. Bank Sumut cabang medan. dan sebagainya yang terhadap data tersebut. Metode Data Pengumpulan Data Sekunder Data diperoleh dengan cara inventarisasi terhadap buku-buku kepustakaan dan peraturan perundang-undangan yang ada relevansinya dengan permasalahan. Data Data Sekunder Data sekunder adalah data pustaka yang mencakup dokumen-dokumen resmi.

yaitu dengan menjabarkan data yang telah diperoleh berdasarkan norma-norma hukum atau kaidah yang relevan dengan pokok permasalahan.Metode penyajian data dalam penyusunan penelitian ini akan disajikan dalam bentuk uraian yang disusun secara sistematis. Setelah sebelumnya dilakukan pengolahan. Analisis Data Data yang diperoleh dianalisis secara normatif kualitatif. . sehingga tersusun sebagai satu kesatuan yang utuh didasarkan pada norma hukum/kaidah-kaidah hukum serta doktrin hukum yang relevan dengan pokok permasalahan.Bank Sumut Syariah cabang medan. analisa dan konstruksi data. yakni data sekunder yang diperoleh dilakukan sinkronisasi antara data yang satu dengan data lainnya dan data primer diuraikan berdasarkan pengumpulan data.

Dams. Buku I. 1990. 2006. Kanisius. Huijbers. Hukum Perbankan Modern. Sudikno Mertokusumo. Jakarta. BUKU Arrasjid. Makalah Pada Simposium Aspek-Aspek Hukum Perlindungan Konsumen. Citra Aditya Bakti. Jakarta.Binacipta. Filsafat Hukum. Chainur. Bandung. Hukum Perbankan di Indonesia. PT. Sinar Grafika. Mertokusumo. Muhammad. 2000. 1999. Mengenal Hukum : Suatu Pengantar.DAFTAR PUSTAKA A. Mariam. Citra Aditya Bakti. 1980. Makalah Pada Simposium Aspek-Aspek Hukum Perlindungan Konsumen. Liberty. 1990. PT. Jakarta. Jakarta. Fuady. Djumhana. Melli Meilany : Perlindungan Hukum Terhadap Nasabah Bank Ditinjau Dari Undang-Undang NO. Dasar-dasar Ilmu Hukum.8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen. 2008. Gandi. Yogyakarta. Munir. Bandung. 1986. Perlindungan Konsumen Dilihat dari Sudut Pengaturan Standarisasi Hasil Industri. Theo. USU Repository © 2009 . BPHN . Perlindungan Terhadap Konsumen Ditinjau dari Segi Standar Kontrak (Baku). BPHN-Bina Cipta.

Tanggung Jawab Produk. 65 Subekti. Tebbens. 11 Mei 1993. Perlindungan Konsumen di Indonesia. LPM FE-UI. Gramedia. Perbankan Masalah Permodalan Dana Potensial. Deregulasi Ekonomi Sebagai Jalan Keluar Peningkatan Perhatian Terhadap Kepentingan Konsumen.Nasution. Jakarta. 1989. Cetakan XXII. Sijthoff & International Publishers. Kelembagaan Perbaikan.8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen. Jakarta. Toar. PT. Padya Paramita. Aspek-aspek Hukum Perbankan di Indonesia. Peraturan Perundang-undangan Melli Meilany : Perlindungan Hukum Terhadap Nasabah Bank Ditinjau Dari Undang-Undang NO. Kebebasan Berkontrak dan Perlindungan yang Seimbang Bagi Para Pihak dalam Perjanjian Kredit Bank. Santoso. UGM. Nomor 3 Thn. Jakarta. Iklan dan Konsumen (Tinjauan dari Sudut Hukum dan Perlindungan Konsumen). PT. Makalah pada Seminar Nasional Upaya Peningkatan Perlindungan Konsumen Produk Pangan. 1996. Thomas.Z. Yogyakarta. Diedit Media. 2006. Mengenal Dunia Perbankan. Rahmadi. A. R. Yogyakarta. Ading. 64 Syahnr. Andi Offset. 1985. Gramedia Pustaka Utama. Netherland. IBI. International Product Liability. Syahdeini. Tjipto Adinugroho. R. 2002. Agnes M. dkk. 2008. Usman. DKIH Belanda-Indonesia. 1989. 1997. Janus Sidabalok. 1994. 1993. --------Hukum Perlindungan Konsumen Suatu Pengantar. Jakarta. Remy. Jakarta. Pokok-pokok Hukum Perdata. Upaya Pemerintah dalam Meningkatkan Perhatian Terhadap Kepentingan Konsumen Produk Pangan. Dalam Manajemen dan Usahawan Indonesia. Harry Duintjer. Intermasa. Suryana. Sidabalok. St. USU Repository © 2009 . Citra Aditya Bakti. 1980. Ujung Pandang. Bandung.ni. Suyatno. Ruddy Tri. 2001. Jakarta. YLKICESDA-LP3ES. XXIII. Makalah Pada Seminar Demokrasi Ekonomi dan Arah Gerakan Perlindungan Konsumen. Sejarah dan Perkembangannya di Beberapa Negara. Jakarta. 10 Januari 1989. 1988. 1993. B. Jakarta.

8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen. 2003. Undang-Undang No.PT. Kitab Undang-undang hukum perdata. 2005 .Yogyakarta. Jakarta.Undang-Undang No. Pustaka Yustisia.Rineka Cipta. PT.Gramedia Pustaka Utama. 2006. 10 Tahun 1998 Tentang Perbankan. Jakarta.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful