Afifi Rahmadetiassani 083112620150008

Pendahuluan
United Nations Conventions on Biological Diversity (UN CBD) diselenggarakan pada Konferensi Tingkat Tinggi Bumi (Earth Summit) pada tanggal 3-14 Juni 1992 di Rio de Janerio, Brazil Menghasilkan lima dokumen, yaitu : € Deklarasi Rio; € Konvensi Acuan tentang Perubahan Iklim; € Konvensi Keanekaragaman Hayati; € Prinsip-Prinsip Pengelolan Hutan; dan € Agenda 21.

Pada saat CBD Rio 1992, dibentuk : € Ad Hoc Working Group of Experts on Biological Diversity (kelompok kerja khusus yang berisi pakar di bidang keanekaragaman hayati). € Ad Hoc Working Group of Legal and Technical Experts (yang memiliki kewenangan dalam merundingkan perangkat hukum internasional untuk pelestarian dan pemanfaatan keanekaragaman hayati secara lestari)

Setelah pengesahan ini dikeluarkan resolusi CBD pada tanggal 22 Mei 1992 sebanyak 42 pasal dan 2 lampiran yang berisi tentang : € Kesepakatan Finansial Sementara ( Interim Financial Agreement). € Kerjasama Internasional untuk konservasi keanekaragaman hayati dan pemanfaatan yang berkelanjutan untuk menuju CBD € Adanya saling keterhubungan antara CBD dengan promosi pertanian yang berkelanjutan € Penghargaan kepada Pemerintah Repubik Kenya.

Prinsip CBD
€

€

Prinsipnya adalah bahwa setiap negara mempunyai hak berdaulat untuk memanfaatkan sumber ± sumber daya hayati sesuai dengan kebijakan pembangunan lingkungannya sendiri dan mempunyai tanggung jawab untuk menjamin bahwa kegiatan ± kegiatan yang dilakukan di dalam yurisdiksinya tidak menimbulkan kerusakan terhadap lingkungan negara lain atau kawasan d luar batas yuridiksi nasional. Indonesia telah meratifikasi Konvensi Keanekaragaman Hayati melalui UU No. 5/1994 tentang Pengesahan United Nations Convention on Biological Diversity (Konvensi PBB mengenai Keanekaragaman Hayati)

Konsep CBD
Konsep-konsep mengenai keanekaragaman hayati yang telah ada perlu dilakukan dalam bentuk hukum yang dapat ditaati oleh negara-negara di dunia. Hal ini karena keanekaragaman hayati sudah merupakan kekayaan dunia yang bermanfaat bagi proses kehidupan di bumi yang juga kelak akan diwariskan bagi generasi mendatang. Konvensi ini mengatur banyak persoalan di hampir seluruh bidang seperti politik, sosial, biologi, ekonomi, hukum, hingga masalah teknologi. Namun demikian hal ini dimaksudkan untuk mempermudah dan memperlancar operasionalisasi konvensi ini.

Tujuan
1. 2.

Konservasi keanekaragaman hayati Pemanfaatan berkelanjutan dari komponen ± komponen keanekaragaman hayati

3.

Pembagian

keuntungan

dari

pemanfaatan

sumber daya genetik secara adil dan merata

Manfaat
1.

2.

3.

Penilaian dan pengakuan dari masyarakat internasional bahwa Indonesia peduli atas keanekaragaman hayati dan pengakuan ketentuan yang berlaku di negara masing ± masing anggota atas sumber daya alam hayati yang dimilikinya Mendorong untuk mendapatkan leuntungan bersama yang dihasilkan dari pendayagunaan sumber daya genetik Republik Indonesia pada pertemuan ± pertemuan konvensi keanekaragaman hayati Kepentingan untuk melindungi sumberdaya megabiodiversiti

Tanggung Jawab
1. 2.

3.

4. 5.

Mengembangkan strategi nasional untuk konservasi dan pembangunan berkelanjutan keanekaragaman hayati Menetapkan kawasan lindung, memperbaiki ekosistem yang rusak, mengendalikan species asing dan menetapkan fasilitas konservasi ex-Situ Melaksanakan program pelatihan dan penelitian untuk perlindungan dan pemanfaatan keanekaragaman hayati secara berkelanjutan Meningkatkan pendidikan da kesadaran masyarakat mengenai perlindungan dan pemanfaatan berkelanjutan Melaksanakan analisis mengenai dampak lingkungan sebelum dilaksanakan kegiatan/proyek yang dapat mengurangi keanekaragaman hayati

Tanggung Jawab
6.

7. 8. 9.

10.

11.

Mengakui hak pemerintah untuk mengatur akses terhadap sumber genetiknya dan apabila dimungkinkan memberikan pihak lain akses terhadap sumber daya genetik untuk pemanfaatan yang ramah lingkungan Mendorong transfer teknologi dan bioteknologi khususnya kepada negara berkembang Menetapkan pertukaran informasi antar pihak mengenai seluruh subjek yang berkaitan dengan keanekaragaman hayati Meningkatkan kerjasama teknis dan ilmiah antar pihak untukn memungkinkan para pihak untuk melaksanakan konvensi keanekaragaman hayati Menjamin keuntungan negara yang menyediakan sumber daya genetik mempunyai akses terhadap keuntungan yang berasal darinya Menyediakan sumber keuangan kepada negara berkembang untuk memungkinkan mereka melaksanakan ketentuan yang terdapat dalam konvensi keanekaragaman hayati

Agenda 21
Agenda ini membahas tentang upayauntuk menghubungkan isu lingkungan dengan berbagi macam masalah pembangunan. Rencana kerja yang dirumuskan antara lain untuk menghadapi masalah-masalah atmosfir, degradasai lahan, desertifikasi, pembangunan kawasaan pegunungan, pertanian dan perkembangan desa, deforestasi, lingkungan akutik dan polusi.

Penerapan CBD di Indonesia
€ € € € € € €

Meratifikasi CBD dengan UU no. 5.1994 tentang pengesahan UN CBD. Penyusunan Strategi dan Rencana Aksi Keanekaragaman Hayati Indonesia 2003-2020 Melakukan penyeliaan pelaksanaan CBD dengan menyusun Laporan Nasional ke-3 Pengembangan Kerangka Kerja Nasional Keanekaragaman Hayati Meratifikasi Protokol Cartagena dengan UU no. 21/ 2004 tentang pengesahan Protokol Cartagena atas CDB Menerbitkan PP no.21/2005 tentang Keamanan Hayati Produk Rekayasa Genetika Pengembangan modul modular untuk harmonisasi perlaporan nasional CBD.

Peran Indonesia dalam CBD
Indonesia menjadi tuan rumah dalam acara Konvensi tingkat Mentri tentang Keanekaragaman Hayati, Ketahanan Pangan dan Perubahan Iklim yang diselenggarakan tanggal 11 Maret 2011 di Nusa Dua, Bali. Kegiatan yang dihadiri oleh sekitar 48 negara ini merupakan kerjasama yang baik pemerintah Indonesia dengan FAO.

Peran Indonesia dalam CBD
Dalam pertemuan ini terdapat tiga isu besar diangkat, yaitu (1) Teknologi baru untuk Agrobiodiversity dan ketahanan pangan dalam menghadapi perubahan iklim (2) memanfaatkan Benefit-sharing Fund (BSF) dan (3) Protokol Nagoya tentang CBD. Indonesia berkomitmen untuk terus melestarikan lingkungan melalui kerjasama tingkat global. Penurunan 26% emisi gas rumah kaca pada tahun 2020

Penutup
€

€

€

CBD Rio de Janerio-Brazil tahun 1992 sebagai awal gerakan internasional dalam menyelamatkan keanekaragaman hayati Indonesia sebagai salah satu pusat keanekaragaman hayati dunia memiliki peran penting dalam melestarikan keanekaragaman hayati dunia Komitemen Indonesia diwujudkan dengan meratifikasi CBD melalui UU RI No.5/1994 dan beberapa tindakan lainnya

Daftar Pustaka
Hardjasoemantri, K. Hukum Perlindungan Lingkungan; Konservasi Sumberdaya Alam Hayati dan Ekosistemnya. Gajah Mada University Press. Yogyakarta, 1991 Indrawan, M. Primack, R. B. Supriyatna, J. Biologi Konservasi. Yayasan Obor Indonesia. Jakarta, 2007 Mac Kinnon, K. Alam Asli Indonesia. Yayasan Hijau-PT Gramedia. Jakarta, 1986 McNeely, J.A. Ekonomi dan Keanekaragaman Hayati. Yayasan Obor Indonesia. Jakarta, 1992 Pramudianto, A. Keanekaragaman Hayati Dalam Perkembangan Hukum Lingkungan Internasional. www.staff.blog.ui.ac.id/andreas.pramudianto/keanekaragaman_hayati_ dalam_ perkembangan_hukum_lingkungan_internasional/htm. 4 November 2011. Terjemahan Resmi Salinan Naskah Asli Konvensi Perserikatan BangsaBangsa Tentang Keanekaragaman Hayati UNEP Newsletter Asia Pasifik October-Desember 1993 Vol 10 No. 4 United Nations. The Global Partnership for Environment and development, A Guide to Agenda 21. UNCED. Geneva, 1992

Terima Kasih

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful