TUGAS KEPERAWATAN ANAK HIPERAKTIF

Disusun oleh : 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. Ferry Irawan Gustin Nurhidayah Kukuh Pambudi Maritha Wahyu R Oktavia Eka S Pratomo Nurdiamsyah Rosiana Dwi Y Sherlyta Hermawati ( P17420209012 ) ( P17420209014 ) ( P17420209020 ) ( P17420209025 ) ( P17420209030 ) ( P17420209031 ) ( P17420209036 ) ( P17420209037 )

KEMENTRIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA POLITEKNIK KESEHATAN SEMARANG PROGRAM STUDI KEPERAWATAN PURWOKERTO 2011

1

BAB I PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG Perilaku siswa-siswi usia sekolah saat ini beragam, salah satu perilakunya adalah anakanak yang sangat sulit di atur, tidak bisa diam dan seolah-olah tidak memperhatikan pelajaran di kelas. Anak-anak tersebut biasanya mengalami gangguan dalam perkembangannya yaitu gangguan hiperkinetik yang secara luas di masyarakat disebut sebagai anak hiperaktif. Anak hiperaktif adalah anak yang mengalami gangguan pemusatan perhatian dengan hiperaktivitas (GPPH) atau attention deficit and hyperactivity disorder (ADHD). Kondisi ini juga disebut sebagai gangguan hiperkinetik. Dahulu kondisi ini sering disebut minimal brain dysfunction syndrome. Terhadap kondisi siswa yang demikian, biasanya para guru sangat susah mengatur dan mendidiknya. Di samping karena keadaan dirinya yang sangat sulit untuk tenang, juga karena anak hiperaktif sering mengganggu orang lain, suka memotong pembicaraan guru atau teman, dan mengalami kesulitan dalam memahami sesuatu yang diajarkan guru kepadanya. Selain itu juga, prestasi belajar anak hiperaktif juga tidak bisa maksimal. Untuk itulah dibutuhkan suatu pendekatan untuk membantu anak-anak yang hiperaktif tersebut supaya mereka dapat memaksimalkan potnsi diri dan meningkatkan prestasinya. Ditinjau secara psikologis, hiperaktif adalah gangguan tingkah laku yang tidak normal yang disebabkan disfungsi neurologia dengan gejala utama tidak mampu memusatkan perhatian. Begitu pula anak hiperaktif adalah anak yang mengalami gangguan pemusatan perhatian. Gangguan ini disebabkan kerusakan kecil pada system saraf pusat dan otak sehingga rentang konsentrasi penderita menjadi sangat pendek dan sulit dikendalikan. Penyebab lainnya dikarenakan temperamen bawaan, pengaruh lingkungan, malfungsi otak, serta epilepsi. Atau bisa juga karena gangguan di kepala seperti geger otak, trauma kepala karena persalinan sulit atau pernah terbentur, infeksi, keracunan, gizi buruk, dan alergi makanan. Pendekatan ini yaitu dengan adanya bimbingan konseling berupa layanan / treatment yang sesuai dengan kebutuhannya. Sehingga dengan demikian, diharapkan setiap anak akan memperoleh haknya untuk mendapatkan pendidikan yang terbaik tanpa terkecuali, karena pengajaran yang diberikan telah disesuaikan dengan kemampuan dan kesulitan yang dimilikinya. 2

Di Indonesia angka kejadiannya masih belum angka yang pasti, meskipun tampaknya kelainan ini tampak cukup banyak terjadi. Di Indonesia, belum ada data nasional karena belum banyak dilakukan penelitian. Penelitian di kecamatan Gamping, kabupaten Sleman, DIY, mendapatkan prevalensi 3%. Kejadian GPP dengan atau tanpa hiperaktivitas lebih banyak terjadi pada laki-laki daripada perempuan. Data yang diperoleh dari Pusat pengkajian dan Pengamatan Tumbuh Kembang Anak RSUD Dr. Sardjito dalam kurun tahun 1992-1998, menunjukkan 17,685 dari total pasien adalah anak yang mengalami GPP dengan atau tanpa hiperaktivitas. Atau, 9,56% dari total pasien adalah anak-anak yang mengalami GPP dengan atau tanpa hiperaktivitas. Penelitian yang dilakukan oleh Gamayanti, Kumara, dan Firngadi (1999) pada murid Tk kelas A se-Kotamadya Yogyakarta menunjukkan dari 3233 anak, ditemui 215 penyandang GPP dengan atau tanpa hiperaktivitas (6,68%). Dari jumlah tersebut, 82,4% atau 177 anak menyandang GPP dan 17,6% atau 38 anak menyandang GPPH. (Perilaku Anak Usia Dini; hal:147) Terkadang seorang anak hanya dianggap 'nakal' atau 'bandel' dan 'bodoh', sehingga seringkali tidak ditangani secara benar, seperti dengan kekerasan yang dilakukan oleh orang tua dan guru akibat dari kurangnya pengertian dan pemahaman tentang ADHD. Terdapat kecenderungan lebih sering pada anak laki-laki dibandingkan anak perempuan. Secara epidemiologis rasio kejadian dengan perbandingan 4 : 1. Namun tampaknya semakin lama tampaknya kejadiannya semakin meningkat saja. Sering dijumpai pada anak usia pra sekolah dan usia sekolah, terdapat kecenderungan keluhan ini akan berkurang setelah usia Sekolah Dasar. Meskipun tak jarang beberapa manifestasi klinis tersebut dijumpai pada remaja atau orang dewasa. ADHD adalah gangguan perkembangan yang mempunyai onset gejala sebelum usia 7 tahun. Setelah usia anak, akan menetap saat remaja atau dewasa. Diperkirakan penderita ADHD akan menetap sekitar 15-20% saat dewasa. Sekitar 65% akan mengalami gejala sisa saat usia dewasa atau kadang secara perlahan menghilang. Angka kejadian ADHD saat usia dewasa sekitar 2-7%. Predisposisi kelainan ini adalah 25 persen pada keluarga dengan orang tua yang membakat. (hiperaktif/152-deteksi-dini-adhd-attention-deficithyperactive-disorders.htm) Berdasarkan hal di atas maka kelompok kami mengambil kasus tentang anak hiperaktif untuk memenuhi tugas keperawatan anak dan untuk lebih mengenal anak hiperaktif dengan ciri-cirinya serta mengetahui penyebab dan penanganan untuk anak hiperaktif. Sehingga kita dapat mengaplikasikannya dalam memberikan asuhan keperawatan kepada anak hiperakti.

3

BAB II TINJAUAN TEORI

A. 1.

PENGERTIAN Sindroma hiperaktivitas merupakan istilah gangguan kekurangan perhatian menandakan gangguan-gangguan sentral yang terdapat pada anak-anak, yang sampai saat ini dicap sebagai menderita hiperaktivitas, hiperkinesis, kerusakan otak minimal atau disfungsi serebral minimal. (Nelson, 1994).

2.

Dr. Seto Mulyadi dalam bukunya “Mengatasi Problem Anak Sehari-hari“ mengatakan pengertian istilah anak hiperaktif adalah : Hiperaktif menunjukkan adanya suatu pola perilaku yang menetap pada seorang anak. Perilaku ini ditandai dengan sikap tidak mau diam, tidak bisa berkonsentrasi dan bertindak sekehendak hatinya atau impulsif.

3.

Sani Budiantini Hermawan, Psi., Ditinjau secara psikologis hiperaktif adalah gangguan tingkah laku yang tidak normal, disebabkan disfungsi neurologis dengan gejala utama tidak mampu memusatkan perhatian.

4.

Definisi hiperaktifitas adalah suatu peningkatan aktifitas motorik hingga pada tingkatan tertentu yang menyebabkan gangguan perilaku yang terjadi, setidaknya pada dua tempat dan suasana yang berbeda.

5.

Anak hiperaktif adalah anak yang mengalami Gangguan Pemusatan Perhatian dengan Hiperaktivitas (GPPH) atau Attention Deficit and hyperactivity Disorder (ADHD).

B.

ETIOLOGI Pandangan-pandangan serta pendapat–pendapat mengenai asal usul, gambaran–

gambaran, bahkan mengenai realitas daripada gangguan ini masih berbeda–beda serta dipertentangkan satu sama lainnya. Beberapa orang berkeyakinan bahwa gangguan tersebut mungkin sekali timbul sebagai akibat dari gangguan–gangguan di dalam neurokimia atau neurofisiologi susunan syaraf pusat. Istilah gangguan kekurangan

4

perhatian merujuk kepada apa yang oleh banyak orang diyakini sebagai gangguan yang utamanya. Sindroma tersebut diduga disebabkan oleh faktor genetik, pembuahan ataupun racun, bahaya–bahaya yang diakibatkan terjadinya prematuritas atau immaturitas, maupun rudapaksa, anoksia atau penyulit kelahiran lainnya. Telah dilakukan pula pemeriksaan tentang temperamen sebagai kemungkinan merupakan faktor yang mempermudah timbulnya gangguan tersebut, sebagaimana halnya dengan praktek pendidikan serta perawatan anak dan kesulitan emosional di dalam interaksi orang tua anak yang bersangkutan. Sampai sekarang tidak ada satu atau beberapa faktor penyebab pasti yang tidak dapat diperlihatkan. (hiperaktif/asuhankeperawatan-sindroma-hiperaktivitas.html) Beberapa hal yang dapat menyebabkan perilaku hiperaktif ialah : a. Kondisi saat hamil & persalinan. Misalnya keracunan pada akhir kehamilan (ditandai dengan tingginya tekanan darah, pembengkakan kaki & ekskresi protein melalui urin), cedera pada otak akibat komplikasi persalinan. b. Cedera otak sesudah lahir,yang disebabkan oleh benturan kuat pada kepala anak. c. Faktor lingkungan, kondisi lingkungan yang buruk, seperti adanya timah atau nitrat dalam air keran, buangan uap atau gas, pestisida, dan zat kimia lain juga dapat menyebabkan anak menjadi hiperaktif. Tingkat keracunan timbal yang parah dapat mengakibatkan kerusakan otak. Hal ini ditandai dengan kesulitan konsentrasi, belajar dan perilaku hiperaktif. Polusi timbal berasal dari industri peleburan baterai, mobil bekas, asap kendaraan atau cat rumah yang tua. Obat untuk mengeluarkan timbal dari dalam tubuh hanya diberikan dibawah pengawasan dokter bagi anak kadar timbalnya sudah sangat tinggi, karena obat tersebut mempunyai efek samping. d. Lemah pendengaran, yang disebabkan infeksi telinga sehingga anak tidak dapat mereproduksi bunyi yang didengarnya. Akibatnya, tingkah laku menjadi tidak terkendali & perkembangan bahasanya yang lamban. Segeralah hubungi dokter THT jika anak menunjukkan ciri berikut : perkembangan bahasa yang lambat, lebih banyak memperhatikan mimik lawan bicara & lebih banyak berreaksi terhadap perubahan mimik & isyarat.

5

e. Faktor psikis, yang lebih banyak dipengaruhi oleh hubungan anak dengan dunia luar. Meskipun jarang, hubungan dengan anggota keluarga dapat pula menjadi penyebab hiperaktivitas. Contoh kasus, orang tua yang bersikap sangat tegas menyuruh anak berdiri 15 menit di pojok ruangan untuk mengatasi ketidakdisiplinannya. Tapi setelah 15 menit berlalu, maka anak malah mempunyai energi berlebih yang siap meledak dengan akibat lebih negatif dibanding kesalahan sebelumnya. f. Kekurangan asam lemak esensial, dari hasil penelitian di Inggris dan Amerika Serikat ditemukan beberapa anak hiperaktif juga menderita kekurangan sam lemak esensial. Gejala kekurangan asam lemak esensial adalah rasa haus yang hebat, kulit dan rambut kering, sering buang air kecil, serta ada riwayat alergi seperti asma dan eksema. g. Kekurangan zat gizi, beberapa anak hiperaktif menderita kekurangan zinc, magnesium, atau vitamin B12. h. Makanan, zat penambah makanan, pewarna, pengawet makanan, coklat, gula, makanan dari susu, gandum, tomat, nitrat,jeruk, telur, dan makanan lain diduga sebagai penyebab hiperaktif. (Toddlercare Pedoman Merawat Balita; hal:89) C. PATOFISIOLOGI Kurang konsentrasi/gangguan hiperaktivitas ditandai dengan gangguan konsentrasi, sifat impulsif, dan hiperaktivitas. Tidak terdapat bukti yang meyakinkan tentang sesuatu mekanisme patofisiologi ataupun gangguan biokimiawi. Anak pria yang hiperaktiv, yang berusia antara 6 – 9 tahun serta yang mempunyai IQ yang sedang, yang telah memberikan tanggapan yang baik terhadap pengobatan–pengobatan stimulan, memperlihatkan derajat perangsangan yang rendah (a low level of arousal) di dalam susunan syaraf pusat mereka, sebelum pengobatan tersebut dilaksanakan, sebagaimana yang berhasil diukur dengan mempergunakan elektroensefalografi, potensial–potensial yang diakibatkan secara auditorik serta sifat penghantaran kulit. Anak pria ini mempunyai skor tinggi untuk kegelisahan, mudahnya perhatian mereka dialihkan, lingkup perhatian mereka yang buruk serta impulsivitas. Dengan 3 minggu pengobatan serta perawatan, maka angka–angka laboratorik menjadi lebih mendekati normal serta penilaian yang diberikan oleh para guru

6

mereka memperlihatkan tingkah laku yang lebih baik. (hiperaktif/asuhan-keperawatansindroma-hiperaktivitas.html) D. 1. MANIFESTASI KLINIK Ciri utama anak yang menderita Sindroma Hiperaktivitas , yaitu: Tidak ada perhatian memusatkan perhatian atau ketidak mampuan untuk Ketidakmampuan

berkonsentrasi pada beberapa hal seperti membaca, menyimak pelajaran. Dan sering tidak mendengarkan perkataan orang lain.

2.

Hiperaktif

Mempunyai terlalu banyak energi. Misalnya berbicara terus menerus, tidak mampu duduk diam, selalu bergerak, dan sulit tidur. 3. Impulsif Sulit untuk menunggu giliran dalam permainan, sulit mengatur pekerjaannya, bertindak tanpa dipikir, misalnya mengejar bola yang lari ke jalan raya, menabrak pot bunga pada waktu berlari di ruangan, atau berbicara tanpa dipikirkan terlebih dahulu akibatnya. 4. Anak Menentang dengan gangguan hiperaktivitas umumnya memiliki sikap

penentang/pembangkang atau tidak mau dinasehati. Misalnya, penderita akan marah jika dilarang berlari ke sana kemari, coret-coret atau naik-turun tak berhenti. Penolakannya juga bisa ditunjukkan dengan sikap cuek. 5. Destruktif Perilakunya bersifat destruktif atau merusak. Ketika menyusun lego misalnya, anak aktif akan menyelesaikannya dengan baik sampai lego tersusun rapi. Sebaliknya anak hiperaktif bukan menyelesaikannya malah menghancurkan mainan lego yang sudah tersusun rapi. Terhadap barang-barang yang ada di rumah, seperti vas atau pajangan lain, kecenderungan anak untuk menghancurkannya juga sangat besar. Oleh karena itu, anak hiperaktif sebaiknya dijauhkan dari barang-barang yang mudah dipegang dan mudah rusak. 6. Tanpa tujuan

7

Semua aktivitas dilakukan tanpa tujuan jelas. Kalau anak aktif, ketika naik ke atas kursi punya tujuan, misalnya ingin mengambil mainan atau bermain peran sebagai Superman. Anak hiperaktif melakukannya tanpa tujuan. Dia hanya naik dan turun kursi saja. 7. Tidak sabar dan usil Yang bersangkutan juga tidak memiliki sifat sabar. Ketika bermain dia tidak mau menunggu giliran. “Ketika dia ingin memainkan mobil-mobilan yang sedang dimainkan oleh temannya, dia langsung merebut tanpa ba-bi-bu,” komentar Sani. Tak hanya itu, anak hiperaktif pun seringkali mengusili temannya tanpa alasan yang jelas. Misalnya, tiba-tiba memukul, mendorong, menimpuk, dan sebagainya meskipun tidak ada pemicu yang harus membuat anak melakukan hal seperti itu. 8. Intelektualitas rendah Seringkali intelektualitas anak dengan gangguan hiperaktivitas berada di bawah ratarata anak normal. Mungkin karena secara psikologis mentalnya sudah terganggu sehingga ia tidak bisa menunjukkan kemampuan kreatifnya. Ciri-ciri khusus anak yang hiperaktif diantaranya ialah sebagai berikut : 1. Sering menggerak-gerakkan tangan atau kaki ketika duduk, atau sering menggeliat. 2. Sering meninggalkan tempat duduknya, padahal seharusnya ia duduk manis. 3. Sering berlari-lari atau memanjat secara berlebihan pada keadaan yang tidak selayaknya. 4. Sering tidak mampu melakukan atau mengikuti kegiatan dengan tenang. 5. Selalu bergerak, seolah-olah tubuhnya didorong oleh mesin. Juga, tenaganya tidak pernah habis. 6. Sering terlalu banyak bicara. 7. Sering sulit menunggu giliran. 8. Sering memotong atau menyela pembicaraan. 9. Jika diajak bicara tidak dapat memperhatikan lawan bicaranya (bersikap apatis terhadap lawan bicaranya). E. PEMERIKSAAN PENUNJANG Tidak ada pemeriksaan laboratorium yang akan menegakkan diagnosis gangguan kekurangan perhatian. Anak yang mengalami hiperaktivitas dilaporkan memperlihatkan 8

jumlah gelombang-gelombang lambat yang bertambah banyak pada elektorensefalogram mereka, tanpa disertai dengan adanya bukti tentang penyakit neurologik atau epilepsi yang progresif, tetapi penemuan ini mempunyai makna yang tidak pasti. Suatu EEG yang dianalisis oleh komputer akan dapat membantu di dalam melakukan penilaian tentang ketidakmampuan belajar pada anak itu.

F. 6. 7. 8.

KOMPLIKASI Diagnosis sekunder- gangguan konduksi, depresi dan penyakit ansietas. Pencapaian akademik kurang, gagal di sekolah, sulit membaca dan Hubungan dengan teman sebaya buruk (sering kali akibat perilaku agresif dan mengerjakan aritmatika (sering kali akibat abnormalitas konsentrasi). kata-kata yang diungkapkan).

G. 1.

PENATALAKSANAAN Medis Rencana pengobatan bagi anak dengan gangguan ini terdiri atas penggunaan psikostimulan, modifikasi perilaku, pendidikan orang tua, dan konseling keluarga. Orang tua mungkin mengutarakan kekhawatirannya tentang penggunaan obat. Resiko dan keuntungan dari obat harus dijelaskan pada orang tua, termasuk pencegahan skolastik dan gangguan sosial yang terus menerus karena pengunaan obat-obat psikostimulan. Rating scale Conners dapat digunakan sebagai dasar pengobatan dan untuk memantau efektifitas dari pengobatan. Psikostimulanmetilfenidat (Ritalin), amfetamin sulfat (Benzedrine), dan dekstroamfetamin sulfat (Dexedrine)- dapat memperbaiki rentang perhatian dan konsentrasi anak dengan meningkatkan efek paradoksikal pada kebanyakan anak dan sebagian orang dewasa yang menderita gangguan ini. 2. Keperawatan a. Terapi Bermain Terapi bermain sangat penting untuk mengembangkan ketrampilan, kemampuan gerak, minat dan terbiasa dalam suasana kompetitif dan kooperatif dalam 9

Beberapa terapi yang dapat diberikan pada anak hiperaktif:

melakukan kegiatan kelompok. Bermain juga dapat dipakai untuk sarana persiapan untuk beraktifitas dan bekerja saat usia dewasa. Terapi bermain digunakan sebagai sarana pengobatan atau terapitik dimana sarana tersebut dipakai untuk mencapai aktifitas baru dan ketrampilan sesuai dengan kebutuhan terapi. b. Terapi Perilaku Seorang terapis perilaku terlatih untuk mencari latar belakang dari perilaku negatif yang sering muncul pada anak hiperaktif dan mencari solusinya dengan merekomendasikan perubahan lingkungan dan rutin anak tersebut untuk memperbaiki perilakunya, c. Terapi Perkembangan Floortime, Son-rise dan RDI (Relationship Developmental Intervention) dianggap sebagai terapi perkembangan. Artinya anak dipelajari minatnya, kekuatannya dan tingkat perkembangannya, kemudian ditingkatkan kemampuan sosial, emosional dan Intelektualnya. Terapi perkembangan berbeda dengan terapi perilaku seperti ABA yang lebih mengajarkan ketrampilan yang lebih spesifik. Selain itu beberapa cara yang bisa dilakukan oleh orang tua untuk mendidik dan membimbing anak-anak mereka yang tergolong hiperaktif : a. b. c. d. Orang tua perlu menambah pengetahuan tentang gangguan hiperaktifitas Kenali kelebihan dan bakat anak Membantu anak dalam bersosialisasi Menggunakan teknik-teknik pengelolaan perilaku, seperti

menggunakan penguat positif (misalnya memberikan pujian bila anak makan dengan tertib), memberikan disiplin yang konsisten, dan selalu memonitor perilaku ana e. f. g. h. Memberikan ruang gerak yang cukup bagi aktivitas anak untuk Menerima keterbatasan anak Membangkitkan rasa percaya diri anak Dan bekerja sama dengan guru di sekolah agar guru memahami menyalurkan kelebihan energinya

kondisi anak yang sebenarnya

10

i.

Disamping itu anak bisa juga melakukan pengelolaan perilakunya

sendiri dengan bimbingan orang tua. Contohnya dengan memberikan contoh yang baik kepada anak, dan bila suatu saat anak melanggarnya, orang tua mengingatkan anak tentang contoh yang pernah diberikan orang tua sebelumnya.

ASUHAN KEPERAWATAN A. 1. Pengkajian Kaji riwayat keluarga melalui wawancara atau genogram. Data yang dapat diperoleh apakah anak tersebut lahir premature, berat badan lahir rendah, anoksia, penyulit kehamilan lainnyan atau ada faktor genetik yang diduga sebagai penyebab dari gangguan hiperaktivitas pada anak. 2.

Kaji riwayat perilaku anak. Riwayat perkembangan, dimana dulu seorang bayi yang gesit, aktif dan banyak menuntut, yang mempunyai tanggapan – tanggapan yang mendalam dan kuat, dengan disertai kesulitan – kesulitan makan dan tidur, kerap kali pada bulan – bulan pertama kehidupannya, sukar untuk menjadi tenang pada waktu akan tidur serta lambat untuk membentuk irama diurnal. Kolik dilaporkan agak umum terjadi pada mereka. Laporan guru tentang permasalahan – permasalahan akademis serta tingkah laku di dalam kelas.

B.

Diagnosa Keperawatan

1. Kerusakan interaksi social 2. Gangguan konsep diri 3. Resiko tinggi penatalaksanaan program terapeutik tidak efektif 4. Resiko tinggi perubahan peran menjadi orang tua 5. Resiko tinggi kekerasan 6. Resiko tinggi mencederai diri sendiri 11

C. komunitas. 1. a.

Perencanaan

Intervensi keperawatan umumnya diimplementasikan pada pasien rawat jalan dan Bantu orang tua dalam mengimplementasikan program perilaku agar Latih kefokusan anak

mencakup penguatan yang positif. Jangan tekan anak, terima keadaannya. Perlakukan anak dengan hangat dan sabar, tapi konsisten dan tegas dalam menerapkan norma dan tugas. Kalau anak tidak bisa diam di satu tempat, coba pegang kedua tangannya dengan lembut, kemudian ajak untuk duduk dan diam. Mintalah agar anak menatap mata anda ketika bicara atau diajak berbicara. Berilah arahan dengan nada lembut. b. Telatenlah Jika anak telah betah untuk duduklebih lama, bimbinglah anak untuk melatih koordinasi mata dan tangan dengan cara menghubungkan titik – titik yang membentuk angka atau huruf. Selanjutnya anak diberi latihan menggambar bentuk sederhana dan mewarnai. Bisa pula mulai diberikan latihan berhitung dengan berbagai variasi penjumlahan, pengurangan, perkalian, dan pembagian. Mulailah dengan penjumlahan atau pengurangan dengan angka-angka di bawah 10. Setelah itu baru diperkenalkan konsep angka 0 dengan benar. c. Bangkitkan kepercayaan diri anak Gunakan teknik pengelolaan perilaku, seperti menggunakan penguat positif. Misalnya memberikan pujian bila anak makan dengan tertib. Tujuannya untuk meningkatkan rasa percaya diri anak. d. Kenali arah minatnya Jika anak bergerak terus jangan panik, ikutkan saja dan catat baik-baik, kemana sebenarnya tujuan keaktifan dari anak. Yang paling penting adalah mengenali bakat anak secara dini. e. Minta anak bicara Anak hiperaktif cenderung susah berkomunikasi dan bersosialisasi. Karena itu Bantu anak dalam bersosialisasi agar ia mempelajari nilai – nilai apa saja yang diterima di kelompoknya. 2. Sediakan struktur kegiatan harian

12

Anak hendaknya mempunyai daftar kegiatan harian yang berjalan dengan teratur menurut jadwal yang ditetapkan dan hendaknya segera mengikuti serta melaksanakan kegiatan rutinnya itu, sebagaimana iharkn dari dirinya dan untuk itu anak dihadiahi kata – kata pujian. Perangsangan yang berlebihan serta kelelahan yang sangat hebat hendaknya dihindarkan. Anak membutuhkan saat santai setelah bermain, terutama setelah ia melakukan kegiatan fisik yang kuat dan keras. Periode sebelum tidur harus merupakan masa tenang, dengan cara menghindarkan acara televisi yang merangsang, permainan yang keras dan jungkir balik. 3. a. Beri obat stimulans sesuai instruksi. Stimulans dapat dihentikan sementara pada akhir pekan dan hari libur. Di mana untuk menentukan apakah kemampuan pengendalian yang dimiliki oleh anak itu sendiri telah mengalami suatu kemajuan. b. Stimulans tidak diberikan sesudah pukul 3 atau 4 sore, dimana efek samping stimulans adalah insomnia. Insomnia dapat dicegah dengan tidak lagi memberikan pengobatan perangsang setelah jam 3 sore serta mengatur sedemikian rupa, sehingga periode sebelum tidur itu merupakan saat yang tenang serta tidak merangsang. D. Rumah 1. 2. Didik dan bantu orang tua dan anggota keluarganya. Berkolaborasi dengan guru dan libatkan orang tua. Dorong orang tua untuk menjamin bahwa guru dan perawat sekolah mengetahui tentang nama, dosis dan waktu minum obat. 3. 4. 5. Pastikan bahwa anak mendapatkan evalusi dan bimbingan akademik yang Pantau kemajuan dan respons anak terhadap pengobatan. Rujuk ke spesialis perilaku dan orang tua untuk mengembangkan dan diperlukan. Memasukkan anak dalam kelas pendidikan khusus sering kali diperlukan. Perencanaan Pemulangan (Discharge Planning) dan Perawatan di

mengimplementasikan rencana perilaku. E. Hasil yang Diharapkan

13

1. 2. 3.

Prestasi di sekolah meningkat, dibuktikan oleh nilai dan tugas-tugas yang Perilaku anak semakin baik menurut penilaian guru dan orang tua. Anak menunjukkan hubungan yang positif dengan teman sebaya.

diselesaikan anak.

BAB III PENUTUP
i. Kesimpulan

Sindroma hiperaktivitas merupakan istilah gangguan kekurangan perhatian menandakan gangguan-gangguan sentral yang terdapat pada anak-anak, yang sampai saat ini dicap sebagai menderita hiperaktivitas, hiperkinesis, kerusakan otak minimal atau disfungsi serebral minimal. (Nelson, 1994). Ciri utama anak yang menderita sindroma hiperaktivitas yaitu tidak ada perhatian, hiperaktif, impulsif, menentang, destruktif, tanpa tujuan, tidak sabar dan usil, intelektualitas rendah. Beberapa hal yang dapat menyebabkan perilaku hiperaktif ialah : 1. Kondisi saat hamil dan persalinan. 2. Cedera otak sesudah lahir. 3. Faktor lingkungan 4. Lemah pendengaran 5. Faktor psikis. 6. Kurang asam lemak esensial.

14

7. Kekurangan zat gizi. 8. makanan Beberapa terapi yang dapat diberikan pada anak hiperaktif: 1. Terapi Bermain 2. Terapi Perilaku 3. Terapi Perkembangan Selain itu beberapa cara yang bisa dilakukan oleh orang tua untuk mendidik dan membimbing anak-anak mereka yang tergolong hiperaktif : 1. Orang tua perlu menambah pengetahuan tentang gangguan hiperaktifitas 2. Kenali kelebihan dan bakat anak 3. Membantu anak dalam bersosialisasi 4. Menggunakan teknik-teknik pengelolaan perilaku, seperti menggunakan penguat positif (misalnya memberikan pujian bila anak makan dengan tertib), memberikan disiplin yang konsisten, dan selalu memonitor perilaku ana 5. Memberikan ruang gerak yang cukup bagi aktivitas anak untuk menyalurkan kelebihan energinya 6. Menerima keterbatasan anak 7. Membangkitkan rasa percaya diri anak 8. Dan bekerja sama dengan guru di sekolah agar guru memahami kondisi anak yang sebenarnya 9. Disamping itu anak bisa juga melakukan pengelolaan perilakunya sendiri dengan bimbingan orang tua. Contohnya dengan memberikan contoh yang baik kepada anak, dan bila suatu saat anak melanggarnya, orang tua mengingatkan anak tentang contoh yang pernah diberikan orang tua sebelumnya. ii. Saran Dalam memberikan perawatan kepada anak dengan gangguan hiperaktivitas ditujukan kepada keadaan sosial lingkungan rumah dan ruangan kelas penderita serta kepada kebutuhan-kebutuhan akademik dan psikososial anak yang bersangkutan, dengan disertai pemakaian obat-obat yang bijaksana. Perawat harus memberikan penjelasan yang terang mengenai keadaan anak tersebut kepada kedua orang tuanya dan kepada anak itu sendiri.

15

16

DAFTAR PUSTAKA J.I.G.M. Drost, S.J, dkk. Perilaku anak Usia Dini. Jakarta. Familia. 2001 L. Betz, Cecily, A. Sowden, Linda. Buku Saku Keperawatan Pediatri. Edisi 3. Alih Bahasa Jan Tambayong. Jakarta, EGC, 2002 Nelson. Ilmu Kesehatan Anak. Bagian 1. Alih Bahasa Hunardja S. Jakarta, Widya Medika, 2002 Nelson, Ilmu Pediatri Perkembangan. Alih Bahasa Moelia Radja Siregar. Jakarta, EGC, 1994 Pilliteri, Adelle, Child Health Nursing Care of The Child and Family. Philadelphia, Lippincott, 1999 Thompson, june. Toddlecare Pedoman Merawat Balita. Alih Bahasa dr. Novita Jonathan, MPH. Jakarta. Erlangga. 2003 Penanganan Anak Hiperaktif. 2004. http://www.republika,co.id
HIPERAKTIF/152-DETEKSI-DINI-ADHD-ATTENTION-DEFICIT-HYPERACTIVE-DISORDERS.HTM

hiperaktif/asuhan-keperawatan-sindroma-hiperaktivitas.html
HIPERAKTIF/MAKALAH-ANAK-HIPERAKTIF.HTML HIPERAKTIF/MAKALAH%20ATTENTION%20DEFICIT%20HYPERACTIVITY%20DISORDER%20%28ADHD

%29%20%C2%AB%20UMMI%20SAMAN%20M.HTM
HIPERAKTIF/MAKALAH-GANGGUAN-PEMUSATAN-PERHATIAN.HTML

17

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful