1

BAB I PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG Dalam rentang sejarah bangsa-bangsa, pemuda selalu berada di garis depan dalam hingar bingar pembangunan. Idealisme telah membentuk pemuda menjadi sosok yang ingin mengubah dunia menjadi lebih baik. Bagi bangsa-bangsa yang sedang mengejar kemajuan, komponen masyarakat yang paling vital dalam pengembangan modal sosial adalah pemuda. Dalam hal ini siswa, pelajar dan mahasiswa yang menjadi sorotan karena mereka-merekalah yang akan menjadi penerus bangsa dan mereka juga rentan terpengaruh ke hal-hal yang negatif. Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual

keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya , masyarakat, bangsa dan Negara. Pendidikan nasional adalah pendidikan yang berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang berakar

2

pada nilai-nilai agama, kebudayaan nasional Indonesia dan tanggap terhadap tuntutan perubahan zaman. Perkembangan zaman, baik yang terjadi dinegara maju maupun di negara yang sedang berkembang membawa dampak yang sangat banyak. Dampak yang ditimbulkan dapat berupa dampak positif maupun dampak negatif, dimana dampak-dampak tersebut ternyata sangat berpengaruh terhadap masyarakat. Pada saat ini kehidupan masyarakat mulai berubah khususnya pada kalangan remaja. Mereka beranggapan bahwa seiring dengan kemajuan zaman mereka dapat bebas dalam segala hal, baik dalam pergaulan maupun yang lain. Anggapan serta pola pikir remaja yang salah terhadap kebebasan dalam melakukan segala hal, khususnya dalam hal bergaul, salah satu penyebab adalah kurangnya pengetahuan remaja tentang apa yang dimaksud dengan kebebasan itu sendiri yang akhirnya dapat menyebabkan timbulnya perilaku yang menyimpang, salah satunya adalah kecenderungan perilaku delikuensi ( kenakalan remaja ) yang akhir-akhir ini banyak terjadi. Derasnya arus informasi dan teknologi yang kian canggih seperti saat sekarang ini, masuknya budaya barat ke Indonesia pun semakin banyak. Bebagai mode, trend dan gaya menjadi bagian tersendiri bagi kaum mudamudi dalam bergaul khususnya anak sekolah. Searah ilmu pengetahuan dan teknologi para generasi penerus` bangsa terkdang menyelewengkannya kea rah negatif. Pesatnya arus teknologi membuat siswa dengan mudahnya

3

membuka situs website yang tidak seharusnya dibuka, dan makin hebatnya ilmu pengetahuan seperti ilmu kedokteran yang gampang diselewengkan kearah negatif, contohnya seperti penyalahgunaan obat-obatan dan zat adiktif yang dilarang dipergunakan dan dijual bebas. Dua hal ini ternasuk dalam kategori kenakalan remaja yang sudah sangat kompleks dan sudah menjadi bagian tersendiri dalam suatu bangsa termasuk Indonesia. Masalah penyalahgunaan narkotika,psikotropika, dan zat adiktif lainnya yang populer dikenal masyarakat sebagai NARKOBA (Narkotika dan Bahan/Obat berbahaya) merupakan masalah yang sangat kompleks, yang memerlukan upaya penanggulangan secara komprehensif dengan melibatkan kerjasama multisektor, dan peran serta masyarakat secara aktif yang dilaksanakan secara berkesinambungan, konsekuen, dan konsisten. Menurut soedjono D, SH dalam bukunya narkotika dan remaja, khususnya di Indonesia mengenai penyalahgunaan narkotika menjangkau masyarakat sejak puluhan tahun silam. Penggunaan narkoba akan menjadi kontrol diri mennjadi sangat berkurang atau hilang, rasa malu menipis, kesadaran memudar dan semua ini memudahkan terjun dalam kegiatan-kegiatan yang negatif seperti seks bebas, mencuri, perkelahian dan keonaran di masyarakat. Kebutuhan yang mendesak tidak kenal kompromi, sehingga menghalalkan segala cara untuk

mendapatkan narkoba.

4

Keluarga sebagai satuan terkecil dari masyarakat bisa menjadi filter dan tempat bagi anak untuk menerima pendidikan awal yang lebih baik, dan bias dilihat ciri atau watak dan serta sikap anak terbentuk dari lingkunagan keluarga, oleh karena itu dalam suatu lingkungan keluarga yang baik akan menciptakan anak-anak yang baik. Tetapi selain keluarga ada lembaga formal yang punya andil besar daalam terciptanya suatu generasi yang baik. Menurut Undang-Undang Sisdiknas tahun 2003, bahwa pendidikan nasional

berdasarkan pancasila bertujuan untuk menjadikan manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga Negara yang demokratis dan bertanggung jawab. Sekolah sebagai tempat bagi siswa untuk menemukan jati diri dan identitas bagi siswa, berbagai budaya masuk dan berakulturasi menjadi satu, inilah yang biasanya menjadi hal yang vital. Siswa terkadang terjerumus dalam cara bergaul yang salah seperti penyalahgunaan narkoba. Sekolah menjadi suatu tempat yang aman untuk beredarnya barang haram tersebut, banyaknya anak-anak yang tersandung narkoba maka banyak sekolahan yang mensosialisasikan akan bahaya narkoba tersebut, dan itu merupakan tugas tersendiri bagi pihak sekolah, di lain pihak selain teman sekolah, dan teman sepergaulannya, hal ini menjadi penting dari sekolah untuk menjadikan sekolah bebas dari belenggu narkoba.

5

Dari hal ini pula kita dapat melihat bagaimana upaya sekolah dalam mensosialisasikan bahaya narkoba seperti sekarang ini, termasuk di SMP ISLAM SULTAN AGUNG 3 sebagai yayasan sekolah islam yang cukup dikenal dan punya andil besar dalam mencetak generasi bangsa yang handal, cerdas, bertanggung jawab dan religius. Sebgai sekolah yang baik dan religius berbagai upaya pencegahan pun dilakukan seperti mensosialisasikan bahaya narkoba. Berdasarkan hal tersebut maka penulis mengangkat permasalahan tersebut menjadi sebuah topik skripsi dengan judul “UPAYA SEKOLAH DALAM MENSOSIALISASIKAN BAHAYA NARKOBA PADA SISWA DI SMP ISLAM SULTAN AGUNG 3 KECAMATAN KALINYAMATAN KABUPATEN JEPARA”.

B. RUMUSAN MASALAH Sekolah sebagai tempat bagi siswa untuk menemukan jati diri dan identitas bagi siswa, berbagai budaya masuk dan berakulturasi menjadi satu, inilah yang biasanya menjadi hal yang vital. Siswa terkadang terjerumus dalam cara bergaul yang salah seperti penyalahgunaan narkoba. Sekolah menjadi suatu tempat yang aman untuk beredarnya barang haram tersebut, banyaknya anak-anak yang tersandung narkoba maka banyak sekolahan yang

6

mensosialisasikan akan bahaya narkoba tersebut, dan itu merupakan tugas tersendiri bagi pihak sekolah, di lain pihak selain teman sekolah, dan teman sepergaulannya, hal ini menjadi penting dari sekolah untuk menjadikan sekolah bebas dari belenggu narkoba. Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan diatas, maka masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: Bagaimana upaya sekolah dalam mensosialisasikan bahaya narkoba pada siswa di SMP islam Sultan Agung 3 Kecamatan Kalinyamatan Kabupaten Jepara.

C. TUJUAN PENELITIAN Sekolah sebagai tempat bagi siswa untuk menemukan jati diri dan identitas bagi siswa, berbagai budaya masuk dan berakulturasi menjadi satu, inilah yang biasanya menjadi hal yang vital. Siswa terkadang terjerumus dalam cara bergaul yang salah seperti penyalahgunaan narkoba. Sekolah menjadi suatu tempat yang aman untuk beredarnya barang haram tersebut, banyaknya anak-anak yang tersandung narkoba maka banyak sekolahan yang mensosialisasikan akan bahaya narkoba tersebut, dan itu merupakan tugas tersendiri bagi pihak sekolah, di lain pihak selain teman sekolah, dan teman

7

sepergaulannya, hal ini menjadi penting dari sekolah untuk menjadikan sekolah bebas dari belenggu narkoba. Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan diatas, maka tujuan penelitian dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. Untuk mengetahui jenis-jenis narkoba dan zat adiktif yang membahayakan siswa di SMP Islam Sultan Agung 3 Kecamatan Kalinyamatan Kabupaten Jepara. 2. Untuk mengetahui hambatan apa saja yang dialami sekolah dalam mensosialisasikan bahaya narkoba pada siswa SMP Islam Sultan Agung 3 Kecamatan Kalinyamatan Kabupaten Jepara. 3. Untuk mengetahui apa saja upaya sekolah dalam mensosialisasikan penyalahgunaan narkoba pada siswa SMP Islam Sultan Agung 3 Kecamatan Kalinyamatan Kabupaten Jepara.

D. MANFAAT PENELITIAN 1. Manfaat bagi penulis Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan penulis tentang narkoba.

8

2. Manfaat bagi sekolah Dengan upaya sosialisasi ini sekolah bisa lebih mengetahui pencegahan narkoba dikalangan pelajar. 3. Manfaat bagi fakultas Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi lembaga sebagai koleksi pustaka sehingga dengan koleksi ini diharapkan dapat bermanfaat bagi para mahasiswa untuk mereferensi dalam melakukan penelitian lanjutan.

E. PENEGASAN ISTILAH Untuk menghindari adanya penafsiran yang berbeda serta untuk mewujudkan kesatuan pandangan dan pengertian yang berhubungan dengan rencana penelitian ini maka perlu ditegaskan istilah – istilah sebagai berikut : 1. Upaya

9

Diartikan dengan usaha, akal, ikhtiar, yang digunakan untuk maksud memecahkan persoalan atau mencari jalan keluar,

(Poerwodarminto,1998). 2. Sekolah Sekolah adalah bangunan atau lembaga yang digunakan sebagai tempat untuk belajar dan mengajar dan juga sebagai tempat menerima dan memberi pelajaran. 3. Sosialisai Suatu proses pembentukan sikap atau perilaku seorang anak sesuai dengan perilaku atau norma-norma dalam kelompok atau keluarga. 4. Bahaya Suatu yang mendatangkan kecelakaan (bencana, kesengsaraan) 5. Narkoba Narkoba adalah zat atau obat, baik yang berasal dari tanaman maupun bukan tanaman yang dapat menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran, hilangnya rasa, mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri, dan menimbulkan ketergantungan dan kecanduan. 6. Siswa

10

Siswa yang dimaksud adalah keseluruhan peserta didik yang duduk di SMP Islam Sultan Agung 3 Kecamatan Kalinyamatan Kabupaten Jepara.

F. SISTEMATIKA SKRIPSI Garis besar skripsi terbagi dalam tiga bagian, yaitu bagian awal skripsi, bagian pokok skripsi, dan bagian akhir skripsi. Bagian awal skripsi terdiri dari Sampul, Lembar berlogo, Halaman judul, Persetujuan pembimbing, Pengesahan kelulusan, Pernyataan, Motto dan persembahan, Prakata, Abstraksi, Daftar isi, Daftar lampiran. Pada bagian pokok atau isi skripsi “Upaya sekolah dalam mensosialisasikan bahaya narkoba pada siswa di SMP Islam Sultan Agung 3 Kecamatan Kalinyamatan Kabupaten Jepara”, penulisan ditempuh dengan cara membagi menjadi 5 (lima) Bab yaitu: Bab I tentang pendahuluan yang terdiri dari 6 (enam) sub bab yakni, Latar Belakang, Rumusan Masalah, Tujuan Penelitian Manfaat Penelitian, Penegasan Istilah, kemudian diakhiri dengan Penulisan Skripsi. Bab II tentang tinjauan kepustakaan yang terdiri dari 8 (delapan) sub bab pokok, yang didalam bagian ini akan diuraikan beberapa konsepsi yang

11

relevan dengan topik penelitian yaitu: pengertian narkoba, jenis-jenis narkoba, dan sosialisasi narkoba. Bab III mengenai metode penelitian yang akan digunakan dalam penulisan skripsi ini. Oleh karena itu bab ini penulis membahas tentang: Jenis Penelitian, Lokasi Penelitian, Fokus Penelitian, Sumber Data Penelitian, Metode Pengumpulan Data, dan Metode Analisis Data. Bab IV tentang hasil penelitian dan pembahasan, yaitu: menguraikan upaya sekolah dalam mensosialisasikan bahaya narkoba. Bab V berupa penutup yang terdiri dari Kesimpulan dan Saran. Pada bagian akhir skripsi berisi: daftar pustaka, dan lampiran-lampiran.

12

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

1. Pengertian Narkoba NAPZA adalah kependekan dari Narkoba Psikotropika dan Zat Adiktif. Menurut UU RI No. 22/1997 tentang narkotika, Yang dimaksud dengan narkoba ialah zat atau obat , baik yang berasal dari tanaman maupun bukan tanaman , baik antetis maupun sintetis, yang dapat menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran, hilangnya rasa, mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri, dan menimbulkan ketergantungan dan kecanduan. (Poerwodarminto Edi, 1998:3)

13

2. Jenis-Jenis Narkoba a. Narkotika Narkotika dibedakan menjadi 3 golongan yaitu:
1) Narkotika Golongan I, adalah narkotika yang hanya dapat

digunakan untuk tujuan pengembangan ilmu pengetahuan dan tidak digunakan dalam terapi, serta mempunyai potensi sangat tinggi menimbulkan ketergantungan. Yang termasuk dalam narkotika jenis ini antara lain:
a) Tanaman papaver somniferium L dan semua bagian-bagiannya

termasuk buah dan jeraminya, kecuali bijinya.
b) Opium mentah, yaitu getah yang membeku sendiri, diperoleh

dari buah tanaman

papaver somniferium L yang hanya

mengalami pengolahan sekedar untuk pembungkus dan pengangkutan tanpa memperhatikan kadar morfinnya.
c) Opium masak terdiri dari:

 Candu, hasil yng diperoleh dari opium mentah melalui suatu rentetan dan pengolahan peranginan khusus, dengan pelarutan, atau tanpa

pemanasan

14

penambahan

bahan-bahan

lain

dengan

maksud

mengubahnya menjadi suatu ekstrak cocok untuk pemadatan.  Jicing, sisa-sisa dari candu setelah dihisap tanpa memperhatikan apakah candu itu dicampur dengan daun atau bahan lain.  Jicingko, hasil yang diperoleh dari pengolahan jicing.
d) Tanaman koka, tanaman dari semua genus erythoxylon dari

keluarga erythoxylacecae termasuk buah dan bijinya.
e) Kokain mentah, semua hasil-hasil yang diperoleh dari daun

koka yang dapat diolah secara langsung untuk mandapatkan kokain.
f) Kokain (metil ester-I-bensoil ekgonina), diperoleh dari daun

tanaman Erythoxylon coca yang tumbuh didaerah Amerika selatan bagian barat. Kokain berupa serbuk Kristal berwarna putih atau tidak berwarna. Crack merupakan salah satu bentuk padat dari kokain basah.

15

g) Tanaman ganja, semua tanaman cannabis dan semua bagian

dari tanaman termasuk biji, buah, jerami hasil olahan tanaman ganja termasuk dammar ganja dan hasis.
2) Narkotika Golongan II, adalah narkotika yang berkhasiat untuk

pengobatan digunakan sebagai pilihan terakhir dan dapat digunakan dalam terapi atau untuk tujuan pengembangan ilmu pengetahuan serta mempunyai potensi mengakibatkan

ketergantungan, yang termasuk dalam golongan ini antara lain:
a) Morfin, merupakan alkaloida yang terdapat dalam opium candu

yang berasal dari tanaman papaver somniferum L, morfin berupa serbuk berwarna putih yang digunakan dalam pengobatan untuk menghilangkan rasa nyeri. Dalam bentuk sustained release tablet digunakan untuk menghilangkan rasa nyeri yang sangat pada penderita kanker, operasi, dan lain-lain. Morfin dapat mengakibatkan ketergantungan fisik, psikis, dan toleransi sehingga penggunaan dalam pengobatan sangat dibatasi dan merupakan obaat pilihan terakhir.
b) Fentanil, merupakan narkotika sintetis yang sering digunakan

untuk anestesi umum.

16

3) Narkotika golongan III, adalah narkotika yang berkhasiat untuk

pengobatan dan banyak digunakan dalam terapi dan tujuan pengembangan ilmu pengetahuan serta mempunyai potensi ringan, mengakibatkan ketergantungan. Yang termasuk narkotika jenis ini antara lain:
a) Kodeina, merupakan alkaloid yang terdapat dalam opium

candu atau sintesa dari morfin, kodein berupa serbuk putih atau dalam bentuk tablet, digunakan dalam pengobatan untuk menekan batuk atau antitusif dan penghilang rasa nyeri atau analgesic. Kodeina dapat juga sangat ringan bila dibandingkan dengan morfin.
b) Etil morfina (dionina), merupakan senyawa semi sintetik dari

morfina yang sifat-sifatnya serupa dengan kodeina dan digunakan terutama penekan batuk. UU. Narkotika tersebut menyebutkan (pasal 45) bahwa pecandu narkotika wajib menjalankan pengobatan dan perawatan. Menurut UU RI NO. 5/1997 tentang psikotropika, hanya dapat digunakan untuk tujuan ilmu pengetahuan dan tidak digunakan dalam terapi, serta mempunyai potensi amat kuat mengakibatkan sindrom ketergantungan.

17

b. Psikotropika Psikotropika dibagi menjadi 4 golongan, meliputi :
1) Psikotropika golongan I, adalah psikotropika yang hanya dapat

digunakan untuk tujuan ilmu pengetahuan dan tidak digunakan untuk tujuan ilmu pengetahuan dan tidak digunakan dalam terapi, serta mempunyai potensi amat kuat mengakibatkan sindroma ketergantungan. Termasuk dalam golongan ini antara lain :
a)

MDMA (extasi), merupakan turunan amfetamina,

berbentuk serbuk berwarmna putih atau kekuningan bersifat halusinogen kuat nama lain : xtc, adam, essence, dll.
b)

Psilosibina dan psilosina, diperoleh dari sejenis jamur

yang tumbuh di Meksiko, efek yang dihasilkan menyerupai meskalina. Di Indonesia pernah diketemukan pada jamur tahi sapi.
2) LSD (Lisergik Dietilamida), berasal dari sejenis jamur ergot

yang tumbuh pada tanaman gandum hitam atau putih. Merupakan halusinugen kuat, menimbulhan gangguan persepsi yang salah mengenai pikiran, suara, warna, dan lain-lain. LSD mengakibatkan

18

ketergantungan fisik, psikis dan juga toleransi. Ditemukan dijalur gelap dengan bentuk tablet atau stiket (blotter paper).
3) Psikotropika golongan II, adalah psikotropika yang berkhasiat

untuk pengobatan dan dapat digunakan dalam terapi dan untuk tujuan ilmu pengetahuan serta mempunyai potensi kuat

mengakibatkan sindroma ketergantungan. Termasuk golongan ini antara lain: Amferamina, methafetamina,meta kualona, mitilfenidat, dan lainlain.
4) Psikotropika golongan III, adalah psikotropika yang berkhasiat

untuk pengobatan dan banyak digunakan dalam terapi atau untuk tujuan ilmu pengetahuan serta mempunyai potensi sedang mengakibatkan sindrom ketergantungan. Termasuk dalam golongan ini antara lain : Amobarbital, flunitrazepam, Katina dan lain-lain.
5) Psikotropika golongan VI, adalah psikotropika yang berkhasiat

untuk pengobatan dan sangat luas digunakan untuk terapi atau untuk tujuan ilmu pengetahuan serta mempunyai potensi ringan mengakibatkan sindrom ketergantungan.

19

Termasuk golongan ini antara lain : Barbital, Bromozepam, Diazepam, Eatazolam, Fenobarbital, Klobazam, Lorazepam, Nitrazepam, dan lain-lain. UU psikotropika tersebut menyebutkan (pasal 37) bahwa pengguna psikotropika yang menderita sindrom ketergantungan

berkewajiban unrtuk ikut serta dalam pengobatan dan perawatan. c. Zat Adiktif Zat adiktif adalah bahan atau zat yang berpengaruh psikoaktif diluar yang disebut narkotika dan psikotropika, meliputi :
1) Minuman beralkohol, mengandung etanol (etil alcohol) yang

berpengaruh menekan susunan syaraf pusat dan sering menjadi bagian dari kehidupan manusia sehari-hari dalam kebudayaan tertentu. Jika digunakan sebagai campuran dengan narkotika atau psikotropika, memperkuat pengaruh obat atau zat itu dalam tubuh manusia. Ada tiga golongan minuman beralkohol, yaitu : -

Golongan A Golongan B jenis

: kadar etanol 1 – 5 % (bir) : kadar etanol 5 - 20 % (berbagai

20

minuman anggur)
-

Golongan C

: kadar atanol 20-45 % (whiskey, vodka, TKW, manson house jhony walker, kamput).

2) Inhalansia (gas yang dihirup) dan solven (zat pelarut), mudah

menggunakan berupa senyawa organic yang terdapat pada berbagai barang keperluan rumah tangga,kantor dan sebagai peluams mesin. Yang sering disalahgunakan antara lain: lem, thinner, penghapus cat kuku, bensin.
3) Tembakau, pemakain tembakau sangat luas dimsyarakat. Pada

upaya penanggulangan NAPZA di masyarakat, pemakaian rokok dan alkohol terutama pada remaja harus menjadi bagian dari upaya pencegahan, karena rokok dan alkohol sering menjadi pintu masuk penyalahgunaan NAPZA lain yang lebih berbahaya. (Poerwanto Edi, 1998:9) 3. Bahaya Akibat Narkoba a. Gangguan Fisik 1) Pengguna morphine, heroin

21

Bahaya

dari

penggunaan

morphin,

heroin

dapat

mengakibatkan berbagai macam penyakit seperti: infeksi/abses atau bekas infeksi pada kulit akibat penyuntikan, infeksi pada paru dapat berupa bronchitis, paru-paru basah maupun TBC, infeksi pada jantung, gangguan fungsi hati yang menimbulkan hepatitis B dan C, penularan HIV/AIDS, terjadi gangguan pencernaan, badan kurus, banyaknya gigi berlubang, gangguan menstruasi pada wanita, sedang pada laki-laki dapat terjadi impotensi. Kematian seringkali disebabkan karena overdosis dengan akibat berupa komplikasi medik yaitu pembengkakan paru-paru akut sehingga pernafasan berhenti. 2) Penggunaan metamfetamin (shabu-shabu atau ekstasi) bahaya dari penggunaan metamfetamin seperti: denyut nadi yang keras dan meningkat, tidak teratur, tekanan darah meningkat, kelainan jantung, kekurangan cairan sampai pingsan, keringat berlebihan atau kedinginan, badan panas, mual dan muntah. Kematian sering terjadi yang disebabkan karena overdosis Yang disebabkan karena rangsangan susunan saraf otak berlebihan dengan akibat: kegelisahan, pusing, refleks meninggi, gemetar (tremor), tidak dapat tidur, mudah tersinggung atau pemarah,

22

bingung, halusinasi, pannik dan kehilangan kesadaran (koma) dan akhirnya meninggal. 3) Pengunaan kokain Bahaya penggunaan kokain banyak menimbulkan perforasi atau terjadi lubang pada sekat hidung, gangguan paru-paru yang berupa bronchitis, pneumonia atau paru-paru basah dan penekanan pernafasan sehingga akhirnya dapat mengakibatkan kematian. 4) Penggunaan marijuana atau cannabis atau ganja Bahaya dari penggunaan gangguan pada fungsi paru-paru misalnya bronchitis, hipertensi, denyut jantung tidak teratur, imunitas atau kekebalan tubuh, kerusakan jaringan otak pada sistem limbic, dan gangguan system hormonal sehingga terjadi gangguan menstruasi dan kemandulan pada laki-laki. Pada umumnya orang menghisap NAPZA jenis ini dengan maksud untuk melarikan diri dari kenyataan, ingin membebaskan diri dari beban pikiran yang sedang kusut, tanpa disadari pelarian ini justru menjerumuskan ke dalam dunia khayal sampai pada gangguan jiwa skizofernia, bahkan merupakan awal gangguan jiwa skizofernia sesungguhnya.

23

5) Penggunaan alkohol dan minuman keras Akibat dari penggunaan alkohol dan minuman keras akan menyebabkan terjadinya kerusakan sel hati atau sirosis hepatitis, gangguan pencernaan terutama pada lambung, penekanan

pernafasan, kekurangan oksigen, emboli, denyut jantung tidak beratur dasn hipertensi, anemia, kekurangan sel darah putih, terjadi penurunan gen homo seksual, gangguan ginjal, serta gangguan syaraf tepi dan syaraf mata. 6) Penggunaan inhalen (lem aica aibon, thinner, penghapus cat kuku) Akibat penggunaan inhalen akan terjadi kekakuan pada pembuluh paru-paru, penekanan pernafasan, denyut jantung tidak teratur, merupakan racun dalam hati, gangguan ginjal, dan gangguan pada mata.

b. Gangguan Mental Emosional 1) Penggunaan morphin, heroin

24

Akibat

dari

penggunaan

morphin

heroin

dapat

menyebabkan daya ingat menurun sehingga keluhan pelupa cukup menonjol. Oleh kerenanya peringatan atau nasehat dan larangan yang diberikan kepadanya, seringkali dilarang berulang kali karena dia sesungguhnya tidak ingat terhadap pesan-pesan yang telah diterimanya. Tidak mampu berkonsentrasi dan memusatkan perhatian pada sesuatu obyek, misalnya pelajaran atau

pembicaraan. 2) Penggunaan metamphetamin (shabu-shabu atau ekstasi) Akibat dari penggunaan metamphetamin ini dapat

menyebabkan perilaku yang hiperaktif (tidak dapat diam selalu bergerak), rasa gembira (elation). Dapat menyebabkan rasa gembira yang berlebihan (euphoria) seringkali lepas kendali dan melakukan tindakan-tindakan yang bersifat asusila (Linda Devidel, 1991). Hal ini terjadi karena NAPZA jenis alphetamine ini menghilangkan dorongan atau impulse agresivitas seksual dengan kata lain fungsi pengendalian diri (self control) seksual melemah. 3) Penggunaan kokain Akibat dari penggunaan kokain ini antara lain: agitasi psikomotor, menunjukkan kegelisahan, tidak dapat diam dan

25

agitatif. Rasa gembira yang berlebihan sehingga ketelitian dan ketekunan menurun. 4) Penggunaan marijuana atau ganja Akibat dari penggunaan marijuana atau ganja: euphoria yaitu rasa gembira tanpa sebab dan tidak wajar, perasaan waktu berjalan lambat. Misalnya 10 menit bisa dirasakan sebagai 1 jam. 4. Lingkungan Sekolah Sekolah merupakan lembaga pendidikan dimana situasinya berisikan pendidikan, namun tidak jarang menimbulkan kenakalan, karena sekolah merupakan tempat berkumpulnya dan berinteraksinya antara anak yang berbeda. Pendidikan yang kurang menguntungkan dan simpatik tidak mempunyai dedikasi dan profesi, tidak menguasai metodik. Sehingga menyampaikan materi dangkal yang tidak sesuai dengan kebutuhan siswa dan tidak menarik peserta didiknya, begitu juga ada guru yang tidak mempunyai kesabaran, tidak mempunyai humor dan mudah tersinggung. Dari keadaan tersebut, jelas pendidikan kurang menciptakan proses belajar mengajar yang baik. Akibatnya timbul kekecewaan pada diri peserta didik dan tidak lagi mempunyai kesempatan unruk belajar, maka timbul model

26

membolos, tidak kerasan disekolah sehingga pada gilirannya akan tertarik pada hal-hal yang bersifat non sekolah. Menurut Waluyo (2001:41) ada beberapa hal yang digolongkan sabagai faktor resiko sekolah, antara lain : (a) Kegagalan Akademik Kegagalan akademik meningkatkan resiko pengguna obat-obatan (narkoba) atau sebaliknya meningkatkan kegagalan akademik. (b) Komitmen Rendah Terhadap Sekolah Anak yang benci akan sekolah yang datang ke sekolah hanya untuk bertemu dengan teman dan merokok, yang hilang komitmen sebagai pelajar dan mendapatkan pendidikan, mereka memiliki resiko penggunaan narkoba pada generasi muda. (c) Transasi Sekolah Ketika anak sekolah dasar masuk ke Sekolah Menengah Pertama lalu Menengah Umum, prestasi akademis menurun, partisipasi

ekstrakurikuler menurun, merasa anonym dan menjadikan tingkat penggunaan obat-obatan (narkoba) meningkat. 5. Lingkungan Masyarakat

27

Sebagai anggota masyarakat dalam lingkungan RT/RW atau lingkungan sosial lainnya, bila mengetahui seorang anak ketahuan memakai narkoba, sebaliknya tidak mengejek, memojokkan, membuang muka, mencibirkan bersikap sinis, apalagi memukul dan menganiaya. Carilah waktu yang tepat untuk bersama-sama tetangga yang prihatin tentang masalah ini, ditemani dengan ketua RT/RW bertandang ke rumah menemui orang tuanya dan member tahu secara hati-hati dan bijaksana dan tidak menuduh atau bersikap sinis. Ada kemungkinan orang tuanya sudah mengetahuinya. Bila demikian, katakanalah bahwa warga akan membantu mengatasiny ( NAPZA, 2001 : 63-64) 6. Perilaku Kenakalan Remaja Remaja merupakan terjemahan dari kata dari kata adolescence yang berasal dari bahasa latin adolescence/ adults yang berarti menjadi dewasa atau dalam perkembangannya menjadi dewasa. Banyak ahli yang mengemukakan tentang usia remaja. Hurlock (1973) mengatakan bahwa masa remaja berlangsung dari usia 13-18 tahun, dan membaginya menjadi dua periode, yaitu masa remaja awal yang nerlangsung dari usia 13-16 atau 17 tahun dan masa remaja akhir yang berlangsung dari usia 16 atau 17-18 tahun.

28

Monks, dkk (2002) mengatakan bahwa remaja berlangsung dari usia 12-21 tahun, dan membaginya menjadi tiga periode yaitu remaja awal atau masa puber yang berlangsung dari usia 12-15 tahun, remaja pertengahan yang berlangsung dari usia 15-18 tahun, dan yang terakhir adalah remaja akhir yang berlangsung dari usia 18-21 tahun. Perkembangan kognisi remaja berimplikasi pada perkembangan sosialnya. Dalam sosial remaja dapat dilihat adanya dua macam gerak yaitu gerak meninggalkan diri dari keluarga dan gerak menuju teman sebaya. Gerak tersebut merupakan reaksi dari status interim yang dialami remaja (Monks, dkk., 2002) yang mengisyarakatkan usaha remaja untuk masuk kedalam lingkup sosial yang lebih luas. Kecenderungan adalah hasrat atau keinginan yang selalu timbul berulang-ulang (Sudarsono, 2004). Menurut Chaplin (1999)

kecenderunagn merupakan suatu susuanan sikap untuk bertingkah laku dengan cara tertentu. Menurut Soekanto (1990), kecenderungan

merupakan suatu dorongan yang muncul dalam diri individu secara inheren menuju suatu arah tertentu, untuk menunjukkan suka atau tidak. Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulakan bahwa

kecenderungan merupakan suatu pola sikap yang berwujud pada keinginan yang mengarah pada suatu objek tertentu.

29

Menurut Gold dan Petronio (Sarwono, 1994) kenakalan remaja merupakan tindakan oleh seseorang yang belum dewasa, yang sengaja melanggar hukum dan diketahui oleh anak itu sendiri bahwa jika perbuatannya itu sempat diketahui oleh petugas hukum, ia bisa dikenai hukuman. Kartono (1989) mendefinisikan kenakalan remaja adalah anakanak muda (biasanya di bawah usia 18 tahun) yang selalu melakukan kejahatan dan melanggar hukum, yang dimotivir oleh keinginan mendapatkan lingkungannya. Walgito ( Sudarsono, 2004) mendefinisikan kenakalan remaja sebagain besarnya kemungkinan remaja untuk melakukan tindakan yang melanggar hukum dan peraturan yang berlaku, dan jika dilakukan oleh orang dewasa maka perbuatan itu merupakan kejahatan. Kenakalan remaja atau yang sering disebut Juvenille Delinguency bukanlah menunjuk suatu perbuatan biasa sehingga dapat dimaklumi atau diterima begitu saja. Tetapi kenakalan remaja disini juga tidak dapat disamakan begitu saja. dengan perbuatan kejahatan (crime) yang dipakai untuk menunjukkan perbuatan kriminal orang dewasa. Perlu dibedakan sifat dan bentuk seorang anak remaja dengan perbuatan orang dewasa. perhatian, status sosial, dan penghargaan dari

30

Perbuatan orang dewasa telah didasari oleh keputusan dan tanggung jawab penuh dalam arti sosial maupun pribadi, sedangkan untuk anak remaja perlu dipertimbangkan proses perkembangannya yang belum difinit, karena mereka masih berada dalam masa pencarian identitas diri dalam masa transisi yang secara fisik dan mental belum matang. Pengaruh lingkungan atau faktor eksternal masih banyak mempengaruhi pembentukan identitas seorang remaja. Umumnya bila lingkungannya baik, maka memungkinkannya menjadi seorang yang matang pribadinya. Tanpa harus mengalami masalah-masalah atau beban yang menghambat perkembangannya. Sedangkan apabila lingkungan yang buruk, akan mendorongnya kepada hal yang cenderung negatif. Pendapat lain mengenai pengertian kenakalan remaja adalah perbuatan dan tingkah laku, pelanggaran terhadap norma-norma hukum pidana dan pelanggaran terhadap kesusilaan yang dilakukan oleh anak. Sedangkan menurut Fuad Hasan (Sudarsono, 2004) adalah perbuatan anti sosial yang dilakukan oleh anak remaja yang bilamana dilakukan oleh orang dewasa dikualifikasikan sebagai tindakan kejahatan. Menurut Kartono (2003) kejahatan adalah bentuk tingkah laku yang bertentangan dengan moral kemanusiaan, merugikan masyarakat, asosial sifatnya dan melanggar hukum serta undang-undang pidana.

31

Berdasarkan

pendapat

diatas

dapat

disimpulkan

bahwa

kecenderungan kenakalan remaja dapat diartikan sebagai tinggi rendahnya kemungkinan remaja untuk melakukan perbuatan atau kejahatan atau pelanggaran yang bersifat mengarah melanggar hukum, anti sosial, antisusila dan menyalahi norma agama. Kenakalan remaja meliputi perbuatan-perbuatan anak remaja yang bertentangan dengan peraturan hukum tertulis, baik yang terhadap KUHP (Kitab Undang Hukum Perdata) maupun Undang-Undang diluar KUHP.
7. Penyalahgunaan Narkoba pada Siswa

Penyebab penyalahgunaan narkoba sangatlah kompleks yang merupakan akibat interaksi antara faktor yang terkait dengan individu, lingkungan dan mudah tersedianya narkoba di sekolah. Bila dilihat secara secara spesifik beberapa siswa mempunyai tingkat resiko lebih besar menggunakan dan menyalahgunakan narkoba kerena sifat dan latar belakang kehidupan atau orang disekitarnya. Tapi perlu dicatat bahwa keduanya dibagi menjadi faktor individu dan faktor lingkungan. Faktor tersebut memang tidak selalu menjadi patokan pada seseorang bahwa siswa dapat dikatakan pengguna, dan secara saingkat faktor penyebab siswa menyalahgunakan narkoba adalah sebagai berikut: a. Faktor individu, yang meliputi:

32

Rasa ingin tahu yang kuat dan ingin mencoba. − Tidak bersikap tegas terhadap tawaran atau pengaruh teman sebaya.

Penilaian diri yang negatif (low self-esteem) seperti merasa

kurang mampu dalam pelajaran, pergaulan, penampilan diri atau status sosial ekonomi yang rendah.

Rasa kurang percaya diri (low self-confidence) dalam

menghadapi tugas. − Mengurangi rasa tidak enak, ingin menambah prestasi. − Tidak tekun dan cepat jenuh. − Sikap memberontak terhadap peraturan dan tata tertib. − Pernyataan diri sudah dewasa. − Identitas diri kabur akibat proses identitas dengan orang tua atau penggantinya yang kurang berjalan dengan baik, atau gangguan identitas jenis kelamin, merasa kurang jantan. − Mengalami depresi, cemas dan hiperkinetik. − Persepsi yang tidak realistis.

33

− Kepribadian dissosial (perilaku menyimpang dari norma yang berlaku). − Penghargaan sosial yang kurang.

Keyakinan bahwa penggunaan zat merupakan lambang

keperkasaan dan kemodernan (anticipatory belief) b. Faktor lingkungan, yng meliputi: − Mudah memperoleh zat adiksi − Komunikasi antara orang tua dan anak yang kurang efektif. − Hubungan antar orang tua (ayah-ibu) kurang harmonis. − Orang tua atau anggota keluarga lainnya yang menggunakan zat adiksi. − Lingkungan keluarga terlalu ketat dan disiplin. − Orang tua yang otoriter atau dominan. − Berteman dengan pengguna narkoba. − Tekanan kelompok sebaya yang sangat kuat. − Ancaman fisik dari teman atau pengedar.

34

− Lingkungan sekolah tidak tertib atau disiplin. − Lingkungan sekolah yang tidak member fasilitas bagi penyaluran minat dan bakat para siswanya. − Banyaknya iklan minuman beralkohol dan rokok. − Lemahnya penegak hokum. − Mudahnya NAPZA didapat dimana-mana dengan harga relatif murah. (Poerwanto Edi, 1998:11). 8. Upaya sekolah dalam mensosialisasikan bahaya narkoba Upaya sekolah dalam mensosialisasikan bahaya narkoba pada siswa dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut: a. Memberikan sosialisasi kepada siswa tentang bahaya dan akibat dari penyalahgunaan NAPZA. b. Melibatkan siswa dalam perencanaan pencegahan dan

penanggulangan penyalahgunaan NAPZA disekolah. c. Melatih siswa untuk menolak tawaran pemakain zat,

membentuk citra diri

yang positif, mengatasi stress dan

35

menyelesaikan masalah, mengembangkan keterampilan untuk tetap bebas dari pemakain NAPZA atau rokok. d. Menyediakan siswa(kegiatan pilihan kegiatan yang sehingga bermakna mereka bagi tidak

ekstrakurikuler),

terjerumus pada kegiatan yang negative. e. Meningkatkan kegiatan konseling yang dilakukan oleh guru BK untuk membantu menaangani masalah yang terjadi pada siswa sejak awal. (Poerwanto Edi, 1993:15) BAB III METODOLOGI PENELITIAN

1. Jenis penelitian Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif diskriptif yaitu penelitian yang menuturkan, mengklasifikasikan, menggambarkan dan menganaliasa data untuk memecahkan masalah yang ada (winarno surachmad, 1990:139). Dalam penelitian ini menggambarkan sosialisasi bahaya narkoba di SMP Islam Sultan Agung 3 Kecamatan Kalinyamatan Kabupaten Jepara.

36

2. Lokasi penelitian Penelitian ini dilaksanakan di SMP Islam Sultan Agung 3 Kecamatan Kalinyamatan Kabupaten Jepara.

3. Fokus penelitian Fokus dalam penelitian ini adalah upaya sekolah dalam mensosialisasikan bahaya narkoba pada siswa di SMP Islam Sultan Agung 3 Kecamatan Kalinyamatan Kabupaten Jepara yang selanjutnya dapat diuraikan sebagai berikut: a. Bagaimana upaya sekolah dalam sosialisasi bahaya narkoba. b. Hambatan apa saja yang dihadapi sekolah dalam sosialisasi bahaya narkoba. c. Bagaimana upaya sekolah dalam penanggulangan penyalahgunaan narkoba Adapu indikator dalam penelitian ini adalah: a. b. Adakah siswa yang terkena masalah narkoba. Upaya sekolah dalam mensosialisasikan bahaya narkoba.

37

c. d.

Sikap sekolah bila ada siswa-siswi yang terkena narkoba. Hambatan yang dialami sekolah dalam mensosialisasikan

bahaya narkoba.

4. Sumber data penelitian Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu dengan cara sbb: a. Data primer

Sumber data ini diperoleh secara langsung dari obyek penelitian atau narasumber yang di lapangan yang kemudian akan di analisa. Dalam menemukan sumber data ini dilakukan wawancara dari beberapa guru antara lain kepala sekolah, guru bimbingan konseling (BK) dan wakil kepala kesiswaan.

b.

Data sekunder

Sumber data sekunder ini merupakan sumber data yang diperoleh dari penelitian kepustakaan dengan cara menelusuri atau mempelajari

38

literatur serta dokumen-dokumen resmi yang sesuai dengan obyek penelitian.

5. Metode pengumpulan data Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah: a. Observasi

Observasi atau pengamatan adalah kegiatan pemusatan perhatian terhadap suatu obyek dengan menggunakan seluruh alat indera. Jadi mengobservasi dapat dilakukan melalui penglihatan, penciuman, pendengaran, peraba, dan pengecap. (suharsimi, 2002:146) Observasi dilakukan untuk mengamati peranan guru dalam pelaksanaan sosialisasi bahaya narkoba di SMP Islam Sultan Agung 3 Kecamatan Kalinyamatan Kabupaten Jepara. b. Interview (wawancara)

wawancara disebut juga interview yaitu sebuah dialog yang dilakukan pewawancara untuk memeperoleh inormasi dari terwawancara (arikunto,1996:144).

39

Dalam penelitian ini penulis mengadakan wawancara dengan kepala sekolah, guru BK, dan wakil kepala kesiswaan, nara sumber untuk mengumpulkan data tentang sosialisasi di SMP Islam Sultan Agung 3 Kecamatan Kalinyamatan Kabupaten Jepara. c. Dokumentasi

Metode dokumentasi adalah cara pengumpulan data yang bersumber pada dokumen. Metode ini digunakan untuk mendapatkan jumlah nama siswa, dan literatur tentang UU narkoba.

6. Metode analisis data Analisis pengumpulan data dengan mengembangkan mekanisme kerja terhadap data yang telah tekumpul. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif yaitu data yang diperoleh dipenelitian dan diseleksi menurut kualitas dan dipergunakan untuk menggambarkan keadaan menjadi obyek penelitian untuk selanjutnya dijabarkan berdasarkan pengertian-pengertian sosialisasi bahaya narkoba ynag terdapat dalam kepustakaan, kemudian dengan teiri dengan peraturan yang ada sehingga dperoleh kesimpulan yang merupakan jawaban dari permasalahan.

40

Analisis data dilakukan dengan cara mengadakan pengumpulan data yaitu dengan mengadakan penelitian langsung pada obuek penelitian yang kemudian disajikan pada data yang diteliti. Setelah data disajikan dilakukan analisis data, penganalisaan disesuaikan dengan apa yang menjadi permasalahan dalam penelitian ini. Apabila data yang dilakukan penelitian dikembalikan kembali disajikan data sehingga data lengkap. Setelah dianalisis diadakan penarikan kesimpulan dari data yang diteliti, dengan adanya penarikan kesimpulan data dapat dikerjakan penyusunan naskah penelitian. a. Pengumpulan data

Pengumpulan data adalah melakukan penelitian langsung pada obyek yang diteliti, kemudian disajikan dalam data yang akan diteliti. b. Reduksi data

Reduksi adalah pemilihan, pemusatan perhatian pada penyederhanaan, pengabstrakan data kasar yang muncul dari catatan-catatan tertulis dilapangan. (miles,1992:17) Dalam penelitian ini proses reduksi data dilakukan dengan mengumpulkan data dari hasil wawancara, observasi, dan dokumentasi kemudian dipilih dan dikelompokkan berdasarkan kemiripan data.

41

c.

Penyajian data

Penyajian data adalah data yang telah dikategorikan kemudian diorganisasikan pengumpulan informasi terusan yang memberi kemungkinan adanya penarikan kesimpulan dan pengambilan data. (miles,1992:18) Penyajian data disajikan secara deskriptif yang didasarkan pada aspek yang diteliti, sehingga dimungkinkan dapat memberi gambaran seluruhnya atau sebagian tertentu dari aspek yang diteliti, sehingga dapat menggambarkan seluruh atau sebagian tertentu dari aspek yang diteliti. d. Penarikan kesimpulan

Penarikan kesimpulan yang didasrkan pada pemahaman terhadap data yang telah disajikan dan dibuat dalam pernyataan yang singkat dan mudah dipahami dengan mengacu pada pokok permasalahan yang diteliti. Proses reduksi data, penyajian data dan penarikan atau verifikasi lebih jauh dapat digambarkan sbb:

42

Bagan Analis data

Pengumpulan data

Sajian data

Pengumpulan data

Penarikan kesimpulan

Sumber: (miles, 1992:18). Berdasarkan gambar diatas dapat dijelaskan bahwa pengumpulan data menggunakan daftar pertanyaan yang diajukan kepada guru. Data tersebut lalu disajikan berupa laporan yang dapat ditarik kesimpulan. Akan tetapi sajian data dapat direduksi atau dikoreksi kemudian kembali disajikan, yang pada akhirnya penarikan kesimpulan.

43

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Deskripsi Lokasi Penelitian

44

Sebagai sekolah islam yang tergolong favorit pastinya berupaya untuk dapat menciptakan generasi penerus bangsa yang cerdas, rajin, pandai, terampil, ulet, jujur, bertanggung jawab. Tapi dilain hal sebagai sekolah islam, SMP Islam Sultan Agung 3 juga menghasilkan generasi penerus bangsa yang religius, beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Banyaknya persaingan dengan sesame sekolah atau yayasan islam lain, SMP Islam Sultan Agung 3 punya berbagai visi dan misi yang cukup baik untuk memenangi persaingan dengan yang lain. Berikut ini akan diberikan gambaran singkat tentang lokasi penelitian: 1. Sejarah Sekolah SMP Islam Sultan Agung 3 Jepara diselenggarakan oleh Yayasan Badan Wakaf Sultan Agung berdiri pada tahun 1964, letak sekolahan berada di jalan welahan-gotri, status sekolahan adalah disamakan dan terakreditasi A. SMP Islam Sultan Agung 3 merupakan salah satu sekolah swasta terfavorit di kota jepara. 2. Tujuan sekolah a. Menyusun bahan ajar meliputi materi pokok dan pengayaan sehingga memenuhi SKL baik nasional maupun internasional b. Menyusun bahan ajar sejalan dengan konsep-konsep Qur’an.

45

c. Tersusunnya

buku-buku

panduan

managemen

sekolah

yang

menyeluruh dan dinamis. d. Mewujudkan standar nasional pendidikan secara bertahap dan berkelanjutan. e. Secara bertahap dan berkelanjutan menerapakan model pembelajaran Contextual Teaching and Learning (CTL). f. Terselenggaranya diservikasi metode pembelajaran secara terus menerus sesuai dengan kemajuan bahan ajar. g. Terselenggaranya sarana dan prasarana pendidikan yang memenuhi standar mutu dan standar nasional. h. Terselenggaranya teknologi pembelajaran yang bermutu tinggi. i. Terselenggaranya secara berekelanjutan peningkatan kualitas guru dalam penguasaan bahan ajar dan pengembangannya, diservikasi metodologi pendidikan dan kemajuannya. j. Terwujudnya kesalehan pribadi dan kesalehan sosial guru yang tafaquh fiddin sehingga mampu mengawal jamaah sekolah. k. Terwujudnya inovasi managemen kelas agar keberadaan siswa sebagai subyek pembelajaran menjadi nyata.

46

3. Letak Geografis Sekolah Keadaan SMP Islam Sultan Agung 3 cukup strategis dan mudah dijangkau lewat arah manapun dengan angkutan umum dan sekolah ini beridentitas: Nama sekolah Alamat Kecamatan Kab/Kota Kode pos Telepon : SMP Islam Sultan Agung 3 Jepara : Jl. Welahan-Gotri, kriyan kalinyamatan : Kalinyamatan : Jepara : 59462 : (0291) 754063

SMP Islam Sultan Agung 3 yang beralamat di Jl. Welahan-Gotri, kriyan kalinyamatan kota jepara ini berbatasan dengan: Sebelah Utara Sebelah Timur Sebelah Selatan Sebelah barat 4. Visi dan Misi : SD Islam Sultan Agung : Jl. Welahan-Gotri : SMA Islam Sultan Agung 2 : Rumah penduduk

47

a. Visi sekolah Mampu berkompetisi dan berprestasi untuk berkembang menjadi generasi khoiro ummah. Indikatornya: 1) Terselenggaranya pendidikan dasar yang maju dan islami 2) Terwujudnya kurikulum yang dinamis 3) Terwujudnya proses pembelajaran aktif, kuatif, efektif, dan menyenangkan 4) Tersedianya sarana dan prasarana pendidikan yang relevan dan mutakhir 5) Terwujudnya SDM yang kompeten dan professional 6) Terwujudnya keluaran yang beriman, cerdas, terampil, dan berakhlak mulia b. Misi sekolah 1) Mengembangkan materi bahan ajar sejalan dengan perkembangan IPTEK dan sejalan dengan nilai-nilai islam 2) Mengembangkan MBS sejalan dengan prinsip-prinsip islam

48

3) Mengembangkan kurikulum yang berorientasi pada kebutuhan dan kemajuan 4) Mengembangkan perangkat kurikulum yang standard dan dinamis 5) Mengembangkan pendekatan pembelajaran yang berorientasi pada peserta didik 6) Mengembangkan metode pembelajaran yang relevan 7) Mewujudkan prasarana pendidikan sesuai standar nasional 8) Mewujudkan sarana pendidikan sejalan dengan kemajuan IPTEK 9) Mewujudkan tenaga kependidikan yang memiliki sertifikasi dan kompetensi yang profesional dan tafaquh fiddin 10) Menjadikan kenajuan dan keberhasilan peserta didik sebagai pusat dan tujuan utamadalam semua kegiatan. 5. Sumber-sumber Belajar Selain dari jumlah siswa danjumlah para pengajar yang professional, para siswa tidak hanya mendapat pengajaran dari guru saja tapi mempunyai sumber-sumber belajar yang bisa dimanfaatkan siswa semaksimal mungkin, seperti misalnya: perpustakaan, laboratorium, dan ruang multi media.

49

B. Hasil Penelitian Setelah penulis melakukan penelitian maka penulis berhasil

mengumpulkan berbagai data. Pengumpulan data dari hasil wawancara dengan kepala sekolahan, waka kesiswaan, dan guru BK. Maka penulis akan memaparkan hasil pengumpulan data sebagai berikut:
1. Upaya sekolah dalam mensosialisasikan bahaya narkoba?

Sosialisasi yaitu suatu proses yang diberikan kepada seseorang yang semula tidak tahu menjadi tahu. (Sumber Bu Sidem, S.pd, kepala sekolah) − Melakukan bimbingan klasikal dari kelas ke kelas. Yang dimaksud yaitu guru memberikan sosialisasi dari kelas ke kelas tanpa terkecuali. − Mengirim delegasi untuk mengikuti seminar narkoba. Delegasi yang dikirim antara lain anggota PMR dan OSIS untuk mengikuti seminar narkoba yang diselenggarakan oleh POLRES kota jepara.

50

− Penyuluhan tentang bahaya narkoba yang dikaitkan dengan mata pelajaran Dalam hal ini sosialisasi disampaikan disetiap mata pelajaran-mata pelajaran tertentu misal PPKn, dan Pendidikan agama islam. (Sumber Bu Sidem, S.pd, kepala sekolah) Upaya yang dilakukan sekolah dalam mensosialisasikan bahaya narkoba pada siswa sudah lebih cukup apalagi ditambah dengan dikaitkan pada setiap mata pelajaran misalnya PKn, dan Agama. Di SMP islam sultan agung 3 setiap pagi juga diadakan mengaji sebelum memulai pelajaran dan sholat dhuhur bersama agar mempertebal keimanan siswa. Dengan adanya beberapa penyuluhan yang diberikan kepada siswa pasti lebih banyak menanamkan pengetahuan pada siswa tentang bahaya narkoba, serta akibat yang ditimbulkan dari pemakaian narkoba. Pemberian ekstrakurikuler yang lebih variatif dan bermakna pasti akan membuat siswa jadi lebih berprestasi dan mampu mencurahkan bakat minatnya dalam kegiatan tersebut. Di sekolah ini juga menjalin kerjasama dengan para wali murid untuk mengawasi anak-anaknya dalam pergaulannya dirumah. 2. Hambatan dalam upaya sosialisasi bahaya narkoba

51

− Waktu di sekolah sangat sebentar Yang dimaksudkan disini yaitu siswa disekolah hanya sampai jam yang telah ditentukan jadi disini guru tidak bisa mengawasi siswanya sampai dirumah. − Anak ada yang paham dan tidak paham Yang dimaksudkan disini yaitu siswa ada yang paham dan tidak paham tentang apa itu bahaya narkoba sehingga guru merasa kesulitan. − Pengaruh keluarga Yang dimaksudkan disini yaitu misalkan orang tuanya bercerai sehingga menjadikan siswa mudah terjerumus ke narkoba. − Efek globalisasi Efek globalisasi juga merupakan suatu hambatan karena guru tidak bisa mengawasi siswanya ketika diluar misalnya saja warnet (sumber pak Akrib, A.Md, waka kesiswaan) Efek globalisasi juga merupakan suatu hambatan karena guru tidak bisa mengawasi siswanya ketika diluar misalnya saja warnet. (sumber pak Akrib, A.Md, waka kesiswaan).

52

Upaya menyelesaikan hambatan dalam upaya sosialisasi narkoba yaitu adanya kerjasama dengan berbagai pihak seperti BKKBN, POLRES kab. Jepara, dan klinik setempat untuk mensosialisasikan bahaya narkoba. Upaya pemecahan masalah yang menghambat dalam upaya sosialisasi bahaya narkoba selalu di upayakan. Kurangnya pengawasan dari guru yang diakibatkan waktu disekolah sangat sebentar dapat ditutupi dengan adanya kerjasama dengan para orang tua murid agar lebih bisa mengawasi pergaulan anak mereka.
3. Upaya sekolah dalam penanggulangan peredaran narkoba disekolah

− Siswa diberi bekal akhlak, budi pekerti, dan bekal agama. Perlunya siswa diberi bekal akhlak, budi pekerti, dan bekal agama, dimaksudkan supaya mempertebal keimanan mereka terhadap tuhan YME bahwasanya narkoba merupakan barang yang haram dan supaya siswa dapat menolak ajakan teman pergaulan mereka yang tidak sesuai dengan norma − Siswa keluar harus ijin terlebih dahulu jika ada siswa yang keluar meninggalkan jam pelajaran harus ijin terlebih dahulu dimaksudkan supaya guru dapat mengawasi siwa tersebut diluar apa alasan mereka meninggalkan jam pelajaran

53

− Melarang orang yang tidak berkepentingan masuk Dimaksudkan supaya orang yang berniat mengedarkan narkoba dilingkungan sekolah tidak dapat masuk area sekolah dengan bebas. − Mengadakan operasi secara mendadak Dimaksudkan agar siswa tidak bisa membawa barang-barang yang dilarang sekolah tidak terkecuali narkoba. (sumber bu Sarni, S.pd, guru BK) Mudahnya narkoba masuk kedalam lingkungan sekolah membuat resah semua pihak sekolah dan itu menjadi bagian tersendiri dalam upaya pencegahan peredaran narkoba disekolah. Perlunya siswa diberi bekal akhlak, budi pekerti, dan bekal agama, dimaksudkan supaya mempertebal keimanan mereka terhadap tuhan YME bahwasanya narkoba merupakan barang yang haram dan supaya siswa dapat menolak ajakan teman pergaulan mereka yang tidak sesuai dengan norma, jika ada siswa yang keluar meninggalkan jam pelajaran harus ijin terlebih dahulu dimaksudkan supaya guru dapat mengawasi siwa tersebut diluar apa alasan mereka meninggalkan jam pelajaran kegiatan razia secara mendadak pada setiap kelas juga sering diadakan secara mendadak.

54

Tetapi ada satu upaya yang tidak mudah untuk dilakukan yaitu melakukan pengawasan kepada murid, salah satunya tadi yang telah disebutkan diatas yaitu sedikitnya waktu berada disekolah. 4. Sikap sekolah bila ada siswa yang terkena narkoba − Memberi pengarahan kepada siswa Dimaksudkan supaya siswa yang terkena narkoba mengetahui bahaya narkoba dan guru bisa bertanya kepada siswa yang bersangkutan apa latar belakang siswa tersebut menggunakan narkoba. − Memberi tahu orang tua siswa Dimaksudkan agar orang tua siswa yang bersangkutan bisa mendiskusikannya untuk dirawat di pantai rehabilitasi agar siswa tersebut bisa sembuh seperti semula dan dapat melanjutkan kegiatan belajarnya kembali seperti sedia kala. (Sumber Bu Sidem, S.pd, kepala sekolah) Menurut kepala sekolah jika ada siswanya yang terkena jerat narkoba siswa tersebut tidak dikeluarkan dari sekolah melainkan diberi pengarahan akan bahaya narkoba dan siswa ditanya kenapa bisa dapat narkoba dan memakai narkoba, dari situlah kemudian dapat diketakui

55

kenapa siswa tersebut menggunakan narkoba. Setelah itu pihak sekolah memberi tahu orang tua siswa yang bersangkutan tentang apa yang telah dialami anaknya, selain itu pihak sekolah dan orang tua siswa yang bersangkutan bisa mendiskusikannya untuk dirawat di pantai rehabilitasi agar siswa tersebut bisa sembuh seperti semula dan dapat melanjutkan kegiatan belajarnya kembali seperti sedia kala 5. Dorongan sekolah bila ada siswa yang terkena narkoba. − Mendorong siswa untuk meningkatkan iman dan taqwa pada Tuhan YME. Dimaksudkan agar siswa yang terkena narkoba lebih

meningkatkan iman dan taqwa pada Tuhan YME dan bisa lepas dari ketergantungan menggunakan narkoba. − Mendorong siswa untuk berfikir kearah yang lebih positif Dimaksudkan agar siswa yang terkena narkoba lebih

membangkitkan semangat untuk sembuh dan bisa menjauhkan siswa dari jerat narkoba dan dorongan untuk lebih giat belajar − Mendorong siswa untuk sembuh dan bebas dari narkoba Dimaksudkan agar siswa yang bersangkutan bisa hidup normal lagi agar benar-benar sembuh dan bebas dari narkoba.

56

(sumber pak Akrib, A.Md, waka kesiswaan). Menurut waka kesiswaan disekolah juga penah ada yang menggunakan obat distro (termasuk obatan terlarang tapi tidak mempunyai efek seperti narkoba) siswa tersebut kelihatan seperti tidak mandi, setelah ditanya ternyata setiap pagi mau berangkat kesekolah siswa tersebut memang tidak mandi karena menurut pengakuan siswa tersebut setelah dia memakai obat itu ternyata takut mandi. Dorongan dari pihak sekolah pada siswa berupa dorongan moril yang bisa lebih membangkitkan semangat untuk sembuh dan bisa menjauhkan siswa dari jerat narkoba dan dorongan untuk lebih giat belajar dan berprestasi tanpa penggunaan narkoba serta membimbing siswa untuk berfikir yang positif. Dorongan spiritual seperti mendorong siswa untuk lebih meningkatkan iman dan taqwa pada Tuhan YME. C. Pembahasan Beberapa faktor penyebab pelajar menyalahgunakan narkoba yang dikemukakan oleh informan secara garis besar sesuai dengan teori yang dikemukakan oleh badan narkotika nasional: faktor individu dan faktor lingkungan. Penyalahgunaan narkoba bukan hanya disebabkan oleh satu faktor saja. Namun kedua faktor tersebut mempunyai pengaruh bagi pelajar untuk menyalahgunakan narkoba. Faktor yang menjadi penyebab

57

utama pelajar menyalahgunakan naroba yaitu faktor individu itu sendiri. faktor menjadi faktor pendorong atau faktor pendukung dari lemahnya faktor kepribadian in divide. Individu yang memiliki kepribadian yang kuat tidak akan mudah terpengaruh oleh hal-hal yang mengarah kepada tindakan yang negatife salah satunya adalah menyalahgunakan narkoba. Dengan adanya kepribadian yang kuat pelajar akan lebih mudah didalam menghindarkan diri untuk tidak menyalahgunakan narkoba. Sehingga meskipun faktor lingkungan berpotensi mempengaruhi individu maka pelajar tidak akan melakukan penyalahgunaan narkoba. Individu yang memiliki kepribadian ynag kuat memiliki beberapa ciri seperti: adanya keimanan dan ketaqwaan kepada Tuhan YME yang kuat, tidak mudah putus asa, mempunyai pengendalian diri yang kuat, adanya penilaian diri yang positif. Faktor-faktor penyebab penyalahgunaan narkoba bagi pelajar yang dikemukakan oleh informan sesuai dengan teori yang disampaikan oleh BNN tentang penyebab penyalahgunaan narkoba, adapun beberapa teori tersebut antara lain yaitu: 1. Teori biologis

Narkoba menyebabkan ketergantungan, hal ini dikarenakan adanya narkoba yang telah digunakan akan berpengaruh pada otak. Otak membaca tanggapan yang diakibatkan adanya pen garuh dari narkoba.

58

Akibatnay otak akan membuat suatu program yang akhirnya mengakibatkan kecanduan terhadap obat yang digunakan. Pemakaian pertama akan memberikan efek yang enak akan tetapi semakin lama dapat menyebabkan kematian. 2. Teori psikologi

Teori psikologi menyatakan bahwa remaja merupakan masa yang paling rentan terhadap penyalahgunaan narkoba yang ditandai dengan: a. Masa remaja ditandai oleh perubahan jasmani, emosional, seksual, kebingungan, perasaan tertekan sampai kepada depresi. Situasi tersebut dapat memicu remaja menyalahgunakan narkoba. b. Masa remaja adalah masa npencarian jati diri yang ditandai oleh pembeontakan terhadap aturan, ototitas dan dominasi orang tua ataupun orang dewasa. Kondisi kejiwaan yang labil mudah berubah sikap dan pendirian serta mudah terpengaruh. c. Masa remaja juga penuh keinginan kuat untuk diterima oleh kelompok sebayanya, apabila teman sebayanya tersebut

menyalahgunakan narkoba maka kemungkinan besar remaja akan terjerumus kedalam penyalahgunaan narkoba. d. Masa remaja adalah masa penjelajahan dan petualangan. Penyalhgunaan narkoba dipandang sebagai salah satu cara penjelajahan dan petualangan atau bisa dikatakan suka coba-coba. Beberapa hal tersebbut menjadi pendorong pelajar

59

menyalahgunakan narkoba. Untuk memenuhi kebutuhan dari dorongan emosional dari pelajar yang tidak stabil tersebut mereka mudah mengambil keputusan dengan cepat sehingga sulit untuk memilih suatu keputusan yang tepat. 3. Teori sosiologis

Teori ini mengemukakan bahwa: a. Ketergantungan merupakan lanjutan dari perbuatan anti sosial, menolak tanggung jawab dan kedewasaan. b. Penyalahgunaan narkoba disebabkan adanya kelembagaan masyarakat serta pengawasan sosial yang lemah. Kedua hal tersebut menjadi faktor penyebab pelajar menyalahgunakan narkoba. Pelajar tidak mau dikatakan berbeda dengan teman sebayanya sehingga apabila teman sebayanya termasuk orang yang suka melakukan perbuatan yang anti sosial serta tidak bertanggaung jawab maka dia akan melakukan hal yang sama aagar dapat diterima oleh kelompoknya tersebut. Kurangnya pengawasan sosial dalam hal ini kepedulian sosial terhadap penyalahgunaan narkoba menjadi salah satu penyebab pelajar menyalahgunakan narkoba. 4. Teori pendekatan kesehatan masyarakat

Teori ini menyatakan bahwa factor individu menentukan adanya seseorang itu terdorong untuk melakukan penyalahgunaan narkoba. Disini factor lingkungan social yang paling langsung yaitu keluarga

60

sangat berpengaruh terhadap penyalahgunaan narkoba. Dengan adanya suatu kondisi yang tidak harmonis memungkinkan anak untuk berusaha menghilangkan suatu kenyataan bahwa kedua orang tuanya telah bercerai ataupun hanya untuk mencari perhatian keluarga dengan melakukan tindakan negatif yaitu mengkonsumsi narkoba. Teman sebaya juga berpengaruh terhadap penyalahgunaan narkoba karena agar diterima oleh lingkungannya dan tiadak diakatakan kurang pergaulan maka dia melakukan kebiasaan negative yang dilakukan teman-temannya. 5. Teori pendekatan moral

Teori ini menekankan bahwa rendahnya moralitas pribadi dan masyarakat merupakan factor utama penyebab timbulnya

penyalahgunaan narkoba. Lemahnya keimanan sseseorang menjadi penyebab pelajar menyalahgunakan narkoba, karena apabila keimanan mereka kuat maka sangat sulit untuk dipengaruhi orang lain untuk melakukan hal-hal yang negative. Untuk mencegah dan

menanggulanginya perlu diadakan pendidikan dan penanaman moral pada anak didalam lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat. 6. Teori pendekatan sosial budaya

Teori penyalahgunaan narkoba dipandang sebagai penyimpangan perilaku yang merugikan diri pelakunya, keluarga dan masyarakatnya. Penyimpangan perilaku tersebut akibat salah satunya adanya

61

modernisasi.

Pengaruh

globalisasi

memang

sangat

besar,

perkembangan teknologi yang semakin maju menjadikan para Bandar narkoba lebih mudah untuk melakukan sindikat perdagangan narkoba. Modernisasi mengubah pola piker seseorang untuk menjadi orangorang yang hedonis dan konsumtif, serta orang yang suka melakukan pelanggaran moral etika. Sebagai suatu gambaran penanngulangan narkoba bagi pelajar, sesuai teori yang disampaikan oleh Lydia Martono H yaitu: 1. Model moral-legal model moral legal ini menganggap bahwa narkoba merupakan penyebab masalah. Tujuan pencegahannya adalah bagaimana

menjauhkan narkoba dari penggunaannya oleh pelajar. 2. Model medik dan kesehatan masyarakat Model ini masih menganggap narkoba sebagia penyebab masalah. Namun, narkoba disini diartikan sebagai penyebab ketergantungan bukan menjadi suatu hal yang berbahaya.

Pencegahannya tidak jauh berbeda dengan model yang pertama. 3. Model psikososial Model psikososial menempatkan individu sebagai unsure yang aktif dalam mencegah penyalahgunaan narkoba. Pencegahan ditujukan pada faktor perilaku individu. Faktor penangkal utama didalam

62

mencegah penyalahgunaan narkoba yaitu faktor individu itu sendiri. Dalam diri individu memerlukan tingkat ketaqwaan yang kuat sehingga tidak mudah dipengaruhi oleh hal-hal yang negatif. Di lingkungan sekolah diberikan pendidikan moral dan keagamaan namun perlu juga ditanamkan lebih dini tentang bentuk pendidikan didalam lingkungan keluarga. 4. Model komprehensif Kita sadar bahwa masalah penyalahgunaan narkoba sangat kompleks. Tidak mungkin masalah itu didekati hanya dari satu sisi saja. Oleh karena itu, agar upaya pencegahan efektif dan efisien, perlu dilakukan secara bersama-sama, semua pihak mengambil bagian masing-masing sesuai dengan kompetensi dan tugasnya. 5. Model informatif Merupakan upaya pencegahan penylahgunaan narkoba dengan memberikan informasi yang berkaitan dengan narkoba. Pemberian informasi biasanya disampaikan dengan menekankan dampak buruk atau negatif pemakaian narkoba. 6. Model afektif Model afektif didasarkan pada teori perkembangan kepribadian yang menyatakan bahwa pemakain narkoba oleh remaja adalah bagian dari perilaku remaja, sebagi tanda keinginan mereka unutuk mandiri. Model ini tidak menekanakan pada penyalahgunaan naroba, tetapi

63

lebih pada kebutuhan mental emosionalnnya, sehingga dapat mengurangi alasan pemakaian narkoba. Untuk mengatasi

permasalahan yang dihadapi oleh siswa disekolah atau suatu layanan yang diberikan kepada siswa yaitu berupa Bimbingan dan Konseling. Hal ini dapat membantu siswa untuk dapat mengatasi suatu permasalahan seningga meminimalkan penyalahgunaan narkoba akibat dorongan emosional dan masalah siswa yang tidak bisa diatasi sendiri yang akhirnya mendorong dirinya melakukan penyalahgunaan narkoba.
7. Model pendidikan yang berorientasi pada situasi penawaran dan

latihan peningkatan percaya diri (Social Assertivenes Skills) serta latihan inkolusi sosial. Pemakain narkoba dapat juga dicegah dengan meningkatkan kompetensi sosial dan keberhasilan seseorang. Kompetensi sosial diartikan sebagai kepercayaan diri, yaitu kemampuan unutuk tidak menyetujui, menolak, mengajukan permintaan, dan untuk memulai percakapan. Sedangkan keberhasilan seseorang diartikan sebagai kemampuan seseorang menampilkan perilakunya agar menghasilkan sesuatu yang sesuai dengan harapan. Anak perlu memahami dan terampil menghadapi kemungkinan penawaran narkoba, karena penyalahgunaan narkoba selalu diawali penggunaan pertama kali sebagai pemakai coba-coba, didorong oleh keingin tahuan. Oleh

64

karena itu anak perlu dilatih agar terampil menolak tawaran pemakaian dan peredaran narkoba. Program ini untuk melatih pelajar agar dapat menghadapi segala situasi yang memungkinkan mereka

menyalahgunakan narkoba. Strategi ini dilakukan sosialisasi kepada pelajar dan penataran kepada guru-guru agar setiap guru dapat memberikan informasi kepada siswa untuk dapat memberikan kewaspadaan sehingga tidak terjerumus dengan berbagai macam penawaran yang dilakukan oleh bandar narkoba. 8. Model kegiatan alternatif Dengan kegiatan alternatif sebagai pengganti pemakaian narkoba, akan mengarahkan perilaku pelajar untuk lebih positif. Ada beberapa kegiatan yang dapat dilakukan yaitu: a. Memberikan kegiatan yang cocok dengan kebutuhan remaja b. Mendorong partisipasi pada kegiatan-kegiatan yang telah ada c. Member kesempatan agar remaja mengembangkan kegiatannya Dilingkungan sekolah disediakan berbagai fasilitas dan bahkan berbagai macam-macam kegiatan ekstrakurikuler sehingga hal ini dapat dimanfaatkan oleh pelajar untuk mengisi waktunya dengan halhal yang positif. 9. Model keterampilan kognitif dan keterampilan mengelola kehidupan sehari-hari.

65

Komponen utama model ini adalah memberikan informasi yang tepat sesuai dengan kebutuhan pribadinya. Informasi yang perlu diketahui yaitu pengaruh pendek dan jangka panjang narkoba. Informasi angka penggunaan diantara remaja untuk mengoreksi harapan tiap pengurangan pemakaian narkoba, informasi mengenai pengaruh narkoba dalam tubuh. Teknik menolak teman sebaya untuk merokok dan minum minuman beralkohol. Latihan yang perlu dilakukan oleh siswa yaitu: a. Melatih siswa mengelola situasi sehari-hari melalui pendekatan pemecahan masalah dan mengemukakan pendapat b. Teknik untuk melatih siswa agar dapat mengendalikan diri dari perilaku mereka c. Melatih cara menyesuaikan diri dengan stress, tekanan dengan teknik relaksasi (menenangkan diri) d. Mengembangkan kemampuan berkomunikasi untuk meningkatkan percaya diri. Langkah ini juga dilakukan melalui sosialisasi dan penanganan kasus siswa oleh bimbingan dan konseling disekolah. Sebenarnya akan lebih efektif lagi bila didalam kurikulum sekolah diharuskan materi yang secara khusus membahas tentang pendidikan anti narkoba, sehingga beberapa langkah pencegahan tersebut akan lebih efektif

66

didalam penyampaiannya. Namun saat ini kurikulum pendidikan kita belum dapat merealisasikannya. Dalam upaya mensosialisasikan bahaya narkoba SMP Islam Sultan Agung 3 telah menempuh beberapa cara antara lain:
a.

Memberikan sosialisasi kepada siswa tentang bahaya

dan akibat dari penyalahgunaan NAPZA. b. Melibatkan siswa dalam perencanaan pencegahan dan

penanggulangan penyalahgunaan NAPZA disekolah. c. Melatih siswa untuk menolak tawaran pemakain zat, yang positif, mengatasi stress dan

membentuk citra diri

menyelesaikan masalah, mengembangkan keterampilan untuk tetap bebas dari pemakain NAPZA atau rokok. d. Menyediakan pilihan kegiatan yang bermakna bagi ekstrakurikuler), sehingga mereka tidak

siswa(kegiatan

terjerumus pada kegiatan yang negatif. e. Meningkatkan kegiatan konseling yang dilakukan oleh

guru BK untuk membantu menaangani masalah yang terjadi pada siswa sejak awal. Selain yang dikemukakan diatas tadi SMP Islam Sultan Agung 3 juga melakukan sosialisasi antara lain: − Melakukan bimbingan klasikal dari kelas ke kelas.

67

− Mengirim delegasi untuk mengikuti seminar narkoba. − Penyuluhan tentang bahaya narkoba yang dikaitkan dengan mata pelajaran − Mengadakan penyuluhan yang bekerja sama dengan pihak terkait: klinik setempat, PMR kota Jepara, dan dari pihak kepolisian. Dalam melakukan sosialisasi sekolah juga mendapat hambatan dalam upaya sosialisasi bahaya narkoba antara lain − Waktu di sekolah sangat sebentar − Anak ada yang paham dan tidak paham − Pengaruh keluarga − Efek globalisasi Upaya menyelesaikan hambatan dalam upaya sosialisasi narkoba yaitu adanya kerjasama dengan berbagai pihak seperti BKKBN, POLRES kab. Jepara, dan klinik setempat untuk mensosialisasikan bahaya narkoba. Upaya pemecahan masalah yang menghambat dalam upaya sosialisasi bahaya narkoba selalu di upayakan. Kurangnya pengawasan dari guru yang diakibatkan waktu disekolah sangat sebentar dapat ditutupi

68

dengan adanya kerjasama dengan para orang tua murid agar lebih bisa mengawasi pergaulan anak mereka.

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan Berdasarkan atas hasil penelitian dan pembahasan maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut: 1. Upaya sekolah dalam mensosialisasikan bahaya narkoba? − Melakukan bimbingan klasikal dari kelas ke kelas. − Mengirim delegasi untuk mengikuti seminar narkoba. − Penyuluhan tentang bahaya narkoba yang dikaitkan dengan mata pelajaran

69

2. Hambatan dalam upaya sosialisasi bahaya narkoba − Waktu di sekolah sangat sebentar − Anak ada yang paham dan tidak paham − Pengaruh keluarga − Efek globalisasi
3. Upaya sekolah dalam penanggulangan peredaran narkoba

− Siswa diberi bekal akhlak, budi pekerti, dan bekal agama. − Siswa keluar harus ijin terlebih dahulu − Melarang orang yang tidak berkepentingan masuk − Mengadakan operasi secara mendadak 4. Sikap sekolah bila ada siswa yang terkena narkoba − Memberi pengarahan kepada siswa − Memberi tahu orang tua siswa 5. Dorongan sekolah bila ada siswa yang terkena narkoba. − Mendorong siswa untuk meningkatkan iman dan taqwa pada Tuhan YME.

70

− Mendorong siswa untuk berfikir kearah yang lebih positif − Mendorong siswa untuk sembuh dan bebas dari narkoba B. SARAN-SARAN Berdasarkan dari penarikan kesimpulan diatas, maka penulis memberikan saran sebagai berikut: 1. Setiap kelas ditempeli poster-poster yang berkaitan dengan bahaya narkoba. 2. Lebih sering lagi dikaitkan dengan mata pelajaran-mata pelajaran tertentu.
3. Minimnya kegiatan ekstrakurikuler dapat membawa pengaruh negatif

bagi siswa, maka dari itu penulis memberikan saran bagi sekolah untuk lebih memperbanyak kegiatan ekstra kurikuler supaya siswa lebih banyak kegiatan didalam lingkungan sekolah dan siswa dapat menyalurkan bakat dan minatnya.
4. Memperbanyak sarana dan prasarana belajar di sekolah agar siswa

lebih giat dalam belajar dan membuat kondisi sekolah yang nyaman dan tenang sebagai tempat belajar mengajar 5. Sebaiknya sekolah melibatkan siswanya dalam setiap kegiatan yang dilaksanakan oleh pihak sekolah.

71

DAFTAR PUSTAKA

Agoes, Dariyo.2004. Psikologi Perkembangan Remaja . Ghalia Indonesia Bogor. Arikunto, Suharsimi.1996. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta : Rineka Cipta. DEPKES RI.2001. NAPZA.JAKARTA

72

Ikina Ghari H, dan Abu Chanif.1986.Bahaya Penyalahgunaan Narkotika/Obat Keras dan Penanggulangannya. Jakarta : Bp sadaan. Bina Taruna. Kartini kartono, Dr.1998.Patologi Sos 2 Kenakalan Remaja. Jakarta : Raja Gratindo Persada. Kartono,K.2002.Patologi Sosial 2 Kenakalan Remaja.Jakarta: Rajawali. Kartono,K.1985.Bimbingan Bagi Anak dan Pelajar Yang Bermasalah.Jakarta : PT Raja Grafindo Persada. Miles dan Hilberman. 1992.Analisis Data Kuantitatif. Terjemahan Tjetjep Rohandi. Jakarta : Oi Press. Moeloeng lexy.1998. Metode Penelitian Kuantitatif. Bandung : Remaja Rosda Karya. Poerwanto Edi.1998. Psikotropika Pencegahan Penyalahgunaan dan Solusinya. Semarang : UNDIP Semarang. Poerwodarminto.1985. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta : Balai Pustaka.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful