P. 1
Warta Bea Cukai Edisi 389

Warta Bea Cukai Edisi 389

|Views: 2,466|Likes:
Published by bcperak

More info:

Published by: bcperak on Nov 03, 2008
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/25/2012

pdf

text

original

TAHUN XXXVIII EDISI 389

APRIL 2007

FASILITAS YANG PERLU PENYEMPURNAAN

Kawasan Berikat
PROFIL

MENUNGGU IMPLEMENTASI
OZA OLAVIA
“BEKERJA DENGAN PERATURAN DAN JALUR YANG ADA SESUAI KEINGINAN HATI NURANI”

WAWANCARA

IBRAHIM A. KARIM
“SAAT INI SEDANG DIKEMBANGKAN POLA PENGAWASAN BERBASIS IT”

DARI REDAKSI

umat 16 Maret 2007, Warta Bea Cukai (WBC) kedatangan tamu istimewa. Hari itu, Direktur Jenderal Bea dan Cukai Anwar Suprijadi bertandang untuk pertama kalinya ke dapur WBC. Kunjungan ini sangat mendadak, tidak ada pemberitahuan sebelumnya, bahkan Dirjen hanya ditemani oleh seorang PKD. Sambil melihat-lihat, selama kurang lebih 20 menit Dirjen berbincang-bincang dengan kru yang ada. Perbincangan yang mengalir berlangsung dengan santai dan rileks, jauh dari kesan formal. Sekalipun singkat, kunjungan Dirjen Bea Cukai Anwar Suprijadi terasa mendalam dan sangat bermakna buat seluruh kru WBC. Karena tidak hanya Dirjen bisa mengenal lebih banyak kru yang ada, mengetahui lebih baik tentang bagaimana operasional WBC, namun WBC juga berkesempatan menyampaikan beberapa hal penting kepada Dirjen dalam rangka mendukung kinerja majalah ini. Satu hal sebagai contoh yang kami harap dapat terealisasi adalah, kesempatan WBC untuk ikut serta dalam kunjungan Dirjen ke kantor-kantor bea cukai terutama yang berada di wilayah jauh ataupun terpencil. Sejak lama kami selalu menyuarakan keinginan untuk bisa meliput kantor atau pos bea cukai yang ada di sudut-sudut peta wilayah, entah itu di Tual, Nunukan, Atapupu, Biak, Merauke ataupun di Natuna. Sayangnya, keterbatasan dana sering menjadi kendala untuk kami bisa menjangkau daerah-daerah dimaksud. Buat jurnalis seperti kami, merupakan tantangan untuk bisa memperlihatkan ke masyarakat luas bahwa bea cukai tersebar di pelosok nusantara, dan di dalamnya ada banyak petugas yang setia dengan tugasnya, bekerja di wilayah yang jauh dari Mal, 21, apalagi padang golf. Kunjungan Dirjen juga terasa bermakna terlebih di bulan April ini tepatnya tanggal 25, WBC merayakan hari jadinya yang ke-39. Artinya 39 tahun sudah WBC hadir di tengah-tengah pembaca yang mayoritas adalah pegawai DJBC. Terima kasih kami sampaikan atas dukungan yang diberikan selama ini, sebagai pembaca setia, nara sumber, penulis, koresponden, kolumnis, kontributor, dan atas begitu banyak bantuan, saran, serta kritik demi kemajuan WBC. Dengan segala keterbatasan yang ada kami akan berusaha tampil lebih baik lagi dari waktu ke waktu. Terima kasih juga kami sampaikan kepada Dirjen Bea Cukai, Anwar Suprijadi atas kunjungannya ke WBC dan atas saran-saran demi perbaikan kualitas majalah ini. Satu usulan menarik dalam hal pemberitaan sempat dilontarkan oleh Dirjen, semoga hal tersebut bisa diwujudkan dalam waktu dekat. Kami tetap menantikan saran dan kritik sehingga WBC bisa membantu mendukung tugastugas Dirjen dalam mengelola institusi ini. Dan seperti pesan Dirjen kepada seluruh kru di akhir perbincangan untuk tetap semangat, maka WBC akan tetap semangat dalam bekerja menjadi media komunikasi dan informasi Direktorat Jenderal Bea dan Cukai, di tahun demi tahun yang Tuhan ijinkan untuk berkarya. Lucky R. Tangkulung

J

BC 1 di WBC

TERBIT SEJAK 25 APRIL 1968
MISI: Membimbing dan meningkatkan kecerdasan serta Jende kesadaran karyawan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai terhadap tugas negara Mendekatkan Hubungan antara atasan dan Jende bawahan serta antara karyawan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai dengan masyarakat IZIN DEPPEN: NO. 1331/SK/DIRJEN-G/SIT/72 TANGGAL, 20 JUNI 1972 ISSN.0216-2483 PELINDUNG Direktur Jenderal Bea dan Cukai: Drs. Anwar Suprijadi, MSc PENASEHAT Direktur Penerimaan & Peraturan Kepabeanan dan Cukai: Drs. M. Wahyu Purnomo, MSc Direktur Teknis Kepabeanan Drs. Teguh Indrayana, MA Direktur Fasilitas Kepabeanan Drs. Ibrahim A. Karim Direktur Cukai Drs. Frans Rupang Direktur Pencegahan & Penyidikan Drs. Erlangga Mantik, MA Direktur Verifikasi & Audit Drs. Thomas Sugijata, Ak. MM Direktur Kepabeanan Internasional Drs. Kamil Sjoeib, M.A. Direktur Informasi Kepabeanan & Cukai Dr. Heri Kristiono, SH, MA Kepala Pusat Pendidikan dan Pelatihan Bea dan Cukai Drs. Endang Tata Inspektur Bea dan Cukai Edy Setyo KETUA DEWAN PENGARAH Sekretaris Direktorat Jenderal Bea dan Cukai: Dr. Djunaedy Djusan WAKIL KETUA DEWAN PENGARAH/ PENANGGUNG JAWAB Kepala Bagian Umum: Sonny Subagyo, S.Sos DEWAN PENGARAH Drs. Nofrial, M.A., Drs. Patarai Pabottinggi, Dra. Cantyastuti Rahayu, Ariohadi, SH, MA. Marisi Zainuddin Sihotang, SH.,M.M. Drs. Martediansyah M.P.M, J. Didit Krisnady, SH Ir. Sucipto, M.M, Ir. Azis Syamsu Arifin PEMIMPIN REDAKSI Lucky R. Tangkulung REDAKTUR Aris Suryantini, Supriyadi Widjaya, Ifah Margaretta Siahaan, Zulfril Adha Putra FOTOGRAFER Andy Tria Saputra KORESPONDEN DAERAH Donny Eriyanto (Balikpapan), Bendito Menezes (Denpasar), Bambang Wicaksono (Surabaya) Ari Widodo (Medan) KOORDINATOR PRACETAK Asbial Nurdin SEKRETARIS REDAKSI Kitty Hutabarat PIMPINAN USAHA/IKLAN Piter Pasaribu TATA USAHA Mira Puspita Dewi S.Pt., M.S.M., Untung Sugiarto IKLAN Wirda Renata Pardede SIRKULASI H. Hasyim, Amung Suryana BAGIAN UMUM Rony Wijaya PERCETAKAN PT. BDL Jakarta ALAMAT REDAKSI/TATA USAHA Kantor Pusat Direktorat Jenderal Bea dan Cukai, Jl. Jenderal A. Yani (By Pass) Jakarta Timur Telp. (021) 47865608, 47860504, 4890308 Psw. 154 - Fax. (021) 4892353 E-Mail : - wbc@cbn.net.id - majalah_wbc@yahoo.com REKENING GIRO WARTA BEA CUKAI BANK BNI CABANG JATINEGARA JAKARTA Nomor Rekening : 8910841 Pengganti Ongkos Cetak Rp. 10.000,-

EDISI 389 APRIL 2007

WARTA BEA CUKAI

1

DAFTAR ISI

Laporan Utama
Untuk menarik investor asing dan mensiasati daya saing industri dalam negeri, Pemerintah Indonesia memberikan beberapa insentif kepada para investor agar tertarik menanamkan investasinya. Salah satunya dengan memberikan fasilitas kawasan berikat.

5-18

Wawancara

19-21
Aturan yang terkait dengan fasilitas kawasan berikat terusmenerus mengalami perubahan, seiring dengan perkembangan dan kemajuan industri yang terkait dengan fasilitas ini. Lebih jauh mengenai hal tersebut, WBC melakukan wawancara dengan Direktur Fasilitas Kepabeanan DJBC, Ibrahim A Karim.

Peristiwa
Sebagai salah satu elemen warga dan pemerintah, DJBC ikut peduli terhadap korban bencana alam melalui suatu lembaga penanggulangan bencana alam yang bernama Pos Peduli Umat (P2U). Salah satu kegiatan yang telah dilakukan adalah penyaluran bantuan terhadap korban tsunami di Pangandaran.

39

Pengawasan

22-27
Untuk meningkatkan kinerja aparat DJBC dalam pelaksanaan tugas-tugasnya, salah satunya adalah dengan melakukan pemeriksaan mendadak (spot check), Belum lama ini Inspektorat Jenderal Departemen Keuangan dan DJBC melakukan penandatangan Peraturan Bersama mengenai pemeriksaan mendadak. Disamping juga berita mengenai penegahan yang dilakukan aparat DJBC.

Daerah ke Daerah
Berbagai kegiatan di daerah mewarnai isi rubrik ini, antara lain; KPBC Bojonegoro, KPBC Juanda Surabaya serta acara serah terima jabatan dan pisah sambut pejabat eselon III di Kanwil II DJBC Sumatera Utara. Ada juga kabar-kabari dari PPLB Skow Wutung, perbatasan Indonesia dan PNG.

28-38

Profil

76-79
Dia bukanlah tipe orang yang membeda-bedakan kemampuan dibidang pekerjaan antara laki-laki dan perempuan. Karena menurutnya jika orang lain terutama laki-laki bisa melakukan suatu pekerjaan, ia harus mencoba untuk bisa melakukannya juga. Sepanjang hal itu normal dan bisa bersaing.

2

WARTA BEA CUKAI

EDISI 389 APRIL 2007

1 3 4 40 44

46

51

53

54

55

60

66

73 74 80

DARI REDAKSI SURAT PEMBACA KARIKATUR SEPUTAR BEACUKAI SIAPA MENGAPA - Andar Manalu - Toupik Kurohman - M. Solafudin KEPABEANAN INTERNASIONAL Langkah Strategis DJBC Dalam Memberantas Pembajakan KEPABEANAN BC Bentuk Komite Penyusunan Profil INFORMASI KEPABEANAN & CUKAI Cyber Law ? KONSULTASI KEPABEANAN & CUKAI Importir Sebenarnya Pada MBL KOLOM - Jerat UU Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi Terhadap Tindak Pidana Kepabeanan - Mengawal Perubahan Pada DJBC OPINI - Jalur Prioritas : Jalur atau Predikat Importir ? - Fasilitas Kawasan Berikat Antara Kemudahan dan Kendalanya di Lapangan INFO PEGAWAI - Sosialisasi Kantor Pelayanan Utama Bea dan Cukai - Kantor Pelayanan Utama Bea dan Cukai, Langkah Strategis Memperbaiki Citra dan Kinerja Institusi - Tim Peduli Bencana DJBC Salurkan Bantuan Untuk Korban Banjir Jakarta - Pegawai Pensiun Per 1 April 2007 INFO PERATURAN RUANG INTERAKSI Panik dan Gempa Bumi APA KATA MEREKA - Dave Hendrick - Lembu, Club Eighties

Surat Pembaca
Kirimkan surat anda ke Redaksi WBC melalui alamat surat, fax atau e-mail. Surat hendaknya dilengkapi dengan identitas diri yang benar dan masih berlaku.

HARAPAN ITU BERNAMA KPU
Kantor Pelayanan Utama atau yang disingkat menjadi KPU (tapi bukan komisi pemilihan umum lho), sekarang ini menjadi tumpuan harapan sekaligus primadona Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC). Bagi para “penentu” kebijakan atau think tank DJBC, pembentukan KPU merupakan “jawaban” atas tuntutan masyarakat maupun pemerintah untuk peningkatan kinerja dan perbaikan citra Direktorat Jenderal Bea dan Cukai. Sebaliknya bagi sebagian besar pegawai DJBC, KPU adalah “tumpuan” untuk perbaikan nasib mereka di masa yang akan datang. Sehingga tidaklah mengherankan ketika dibuka lowongan untuk menjadi pegawai di Kantor Pelayanan Utama maka hampir semua pegawai yang memenuhi persyaratan “berbondong-bondong” mendaftarkan diri untuk mencoba “keberuntungan mereka” dengan mengikuti ujian seleksi sebagai persyaratan untuk menjadi pegawai di Kantor Pelayanan Utama. Pertanyaannya sekarang adalah, “Apakah semua pegawai yang mengikuti seleksi mengetahui “misi besar” sebagai dasar pembentukan KPU”? Menurut Dirjen Bea dan Cukai, Anwar Suprijadi yang membedakan antara KPU dengan Kantor Pelayanan lainnya dari sisi pegawai, KPU based-nya pada performance (kinerja) dan rencananya sistem remunerasi (penghargaan) dan sistem kenaikan pangkat ditetapkan berdasarkan kinerjanya. Sementara seperti yang dikatakan oleh Nofrial, bahwa KPU, adalah suatu terobosan baru dibidang organisasi yang diharapkan menjadi primadona bagi pelayanan Bea dan Cukai. “Kita harapkan tidak ada permasalahan, jadi pelayanan dan juga pengawasannya bagus. Kenapa bisa bagus ? Karena sistem dan gajinya cukup bagus. Ini sesuatu yang kita harapkan ke depan”. (WBC edisi 386 Januari 2007, hal. 14) Dari apa yang disampaikan oleh Dirjen Bea dan Cukai, Anwar Suprijadi, maupun Nofrial maka bila kita cermati, disamping adanya iming-iming gaji yang lebih baik, maka pegawai pada KPU juga dituntut untuk mempunyai kinerja yang sangat baik atau setidak-tidaknya di atas pegawai Bea dan Cukai pada umumnya. Apakah konsekuensi tersebut sudah dipahami oleh para pegawai yang mengikuti tes seleksi KPU ? Bila kita cermati nampaknya masih banyak para pegawai yang belum memahami hal tersebut. Hal ini bisa dilihat dari beragamnya latar belakang atau alasan para pegawai mengikuti tes seleksi KPU. Dari “penelitian” kecil-kecilan yang penulis lakukan ada cukup banyak alasan dibalik keikutsertaan para pegawai mengikuti tes seleksi untuk menduduki posisi di KPU. Alasan tersebut diantaranya adalah : 1. Adanya “iming-iming” gaji yang besar yang jumlahnya lebih besar dari yang biasa diterima saat ini (merupakan alasan terbesar pegawai mengikuti tes seleksi KPU). 2. Agar dapat berperan serta dalam program perbaikan citra Bea dan Cukai (alasan pegawai yang tinggi idealismenya). 3. Takut dicap anti reformasi (alasan sebagian pegawai yang saat ini menempati posisi yang “strategis”). 4. Agar bisa pindah dari tempat tugas kantor sekarang (alasan sebagian besar pegawai yang ditugaskan di daerah-daerah terpencil dan kantor-kantor yang tidak “strategis”). Dengan melihat beragamnya latar belakang (alasan) keikutsertaan pegawai dalam mengikuti seleksi KPU tersebut, maka sebenarnya kita patut agak pesimis kalau “misi” dibentuknya KPU dapat tercapai sesuai harapan. Akan tetapi dengan adanya seleksi yang sangat ketat yang melibatkan pihak luar maka diharapkan para pegawai yang lulus seleksi dan nantinya ditempatkan di KPU adalah para pegawai yang benar-benar memahami “misi” KPU sehingga apa yang diharapkan dari pembentukan KPU yaitu tercapainya target penerimaan, waktu pelayanan yang cepat, kecepatan waktu untuk penetapan jalur merah, jalur hijau dan jalur prioritas, keandalan dari audit dan nota hasil intelijen serta berkurangnya keluhan dari klien dapat terwujud. Semoga. Abl AzFa
Nama dan alamat ada pada Redaksi

EDISI 389 APRIL 2007

WARTA BEA CUKAI

3

KARIKATUR
JUARA III

LOMBA KARIKATUR DALAM RANGKA HARI PABEAN SEDUNIA KE-55 TAHUN 2007
KARYA : BENEDICTUS JACKSON NIP : 060089780 UNIT KERJA : KPBC TIPE A1 SOEKARNO HATTA

4

WARTA BEA CUKAI

EDISI 389 APRIL 2007

LAPORAN UTAMA

Satu Insentif Yang Diberikan Pemerintah
Salah satu upaya pemerintah dalam mensiasati daya saing industri dalam negeri serta untuk menarik investor asing agar berlomba melakukan investasi di Indonesia, adalah dengan mendirikan suatu kawasan yang disebut dengan kawasan berikat.
Dari penjelasan tersebut dapat diketahui, bahwa kawasan berikat memiliki perlakuan khusus untuk bidang perpajakan, seperti bea masuk dan PDRI, dan segala perijinannya diserahkan kepada Presiden melalui Menteri Keuangan, yang dalam hal ini dijalankan oleh Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) yang selain akan memberikan pelayanan terhadap kawasan berikat juga melakukan pengawasan penuh kepada kawasan berikat tersebut. Menurut Kepala Seksi Tempat Penimbunan I Subdit Tampat Penimbunan dan Kemudahan Ekspor Direktorat Fasilitas Kepabeanan, Putut Tedjo Ismojo Djati, untuk tatacara pendirian kawasan berikat saat ini sebenarnya telah diatur dengan jelas pada pasal 10-15 Kep. Dirjen Bea Cukai nomor 63/BC/1997 tentang tatacara pendirian dan tatalaksana pemasukan dan pengeluaran barang ke dan dari kawasan berikat. Selain hal tersebut, sesuai dengan keputusan Menteri Keuangan nomor 32/KMK.01/2007 tentang pelimpahan wewenang dari Menteri keuangan kepada Direktur Jenderal Bea dan Cukai, saat ini wewenang untuk mengeluarkan ijin penetapan kawasan berikat berada pada Direktur Jenderal Bea dan Cukai untuk dan atas nama Menteri Keuangan, dan berdasarkan P 22/BC/2007, kewenangan tersebut telah didelegasikan kepada Direktorat Fasilitas Kepabeanan untuk menandatangani ijin penetapan kawasan berikat. Tetapi Kantor Pusat DJBC tidak dapat memutuskan sendiri dalam memberikan ijin penetapan kawasan berikat tersebut, mengingat terdapat beberapa persyaratan tertentu yang melibatkan Kantor Pelayanan Bea dan Cukai (KPBC) yang berfungsi sebagai kantor pengawas yaitu dalam hal pemeriksaan lokasi yang dituangkan dalam bentuk berita acara pemeriksaan lokasi. Berita acara pemeriksaan tersebut harus disertai dengan rekomendasi dari Kepala KPBC yang menyatakan lokasi calon kawasan berikat telah memenuhi syarat sesuai ketentuan yang berlaku serta dapat dipertimbangkan untuk diberikan persetujuan sebagai kawasan berikat. “Saat ini jumlah seluruh pengusaha kawasan berikat (PKB) dan pengusaha di kawasan berikat (PDKB) yang ada di Indonesia adalah kurang lebih 1.254 perusahaan, dan dari jumlah tersebut sebanyak 810 PKB/PDKB berada di wilayah IX DJBC Jawa Barat,” jelas Putut.
EDISI 389 APRIL 2007 WARTA BEA CUKAI

Berikat

Kawasan

N

ilai lebih suatu negara, sering dilihat oleh banyaknya investasi yang masuk kenegara tersebut. Semakin banyak investor yang menanamkan modalnya di negara tersebut, maka semakin menguntungkannya negara tersebut bagi kalangan industri dan pasar dari industri tersebut. Indonesia sebagai negara berkembang, sejak dulu telah gencar mempromosikan negerinya kepada investor asing agar mau menanamkan modalnya disini. Dengan kiat promosi lokasi yang strategis dan pangsa pasar yang menjanjikan, Indonesia juga memberikan beberapa insensif kepada para investor agar tertarik. Salah satu insentif yang diberikan pemerintah Indonesia untuk menarik investor tersebut, yaitu dengan memberikan fasilitas penangguhan bea masuk untuk barang impor dan pajak dalam rangka impor (PDRI) bagi perusahaan yang mendapatkan fasilitas kawasan berikat. Apakah menguntungkan fasilitas kawasan berikat ini dan bagaimana cara investor untuk mendapatkan fasilitas kawasan berikat ? Sebelum menjabarkan hal tersebut, ada baiknya untuk mengetahui dulu apa yang dimaksud dengan fasilitas kawasan berikat tersebut. Menurut Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 22 tahun 1986 tentang kawasan berikat, dijelaskan pada pasal 1, bahwa kawasan berikat (Bonded Zone) ialah suatu kawasan dengan batas-batas tententu di wilayah pabean Indonesia yang di dalamnya diberlakukan ketentuan khusus di bidang pabean, yaitu terhadap barang yang dimasukan dari luar daerah pabean atau dari dalam pabean Indonesia lainnya tanpa terlebih dahulu dikenakan pungutan bea, cukai dan/atau pungutan negara lainnya sampai barang tersebut dikeluarkan untuk tujuan impor, ekspor atau re-ekspor.

MANFAAT FASILITAS KAWASAN BERIKAT

5

LAPORAN UTAMA
WBC/ATS

MASIH BISA DIJUAL KE DPIL

Dengan jumlah tersebut dapat digambarkan kalau para investor memang sangat terbantu dengan fasilitas kawasan berikat tersebut, karena selain penangguhan pajak yang akan dikenakan, para investor juga dapat mengamankan kondisi keuangannya. Selain itu pada keputusan Menkeu nomor 101/PMK.04/ 2005 tentang perubahan ketujuh atas keputusan Menteri Keuangan nomor JODY KOESMENDRO. Kanwil IX DJBC Jawa Barat 291/KMK.05/1997 telah membuat mapping dan lebih memberdayakan fungsi intelijen untuk memudahkan sistem tentang kawasan pengawasan yang saat ini kurang optimal. berikat, pada pasal 10 ayat 7, memberikan keuntungan lain bagi penerima fasilitas ini dimana untuk pengeluaran barang dari kawasan berikat ke daerah pabean Indonesia lainnya (DPIL) diberikan dalam bentuk beberapa prosentase. Seperti, sebanyak-banyaknya 50 persen dari nilai hasil produksi tahun berjalan, untuk barang yang tidak memerlukan proses lebih lanjut dan dapat berfungsi sendiri tanpa bantuan barang lainnya serta digunakan oleh konsumen akhir, dan 60 persen untuk barang selain yang dimaksud tersebut. Sementara itu 75 persen dapat dikeluarkan ke DPIL oleh PDKB yang hasil produksinya digunakan untuk mensuplai perusahaan pertambangan, minyak dan gas, serta PDKB yang bergerak dibidang industri perminyakan dan gas, perkapalan di dalam negeri dan industri oleochemical. Terkait kebijakan tersebut, Putut menyatakan dengan peraturan tersebut DJBC tidak mengalami kesulitan dalam melaksanakan fungsi pengawasannya, sepanjang kawasan berikat sesuai fungsi merupakan tempat untuk mengolah bahan baku menjadi barang jadi lalu mengekspor yang memang merupakan kegiatan utamanya. Selain itu perpindahan barang ke kawasan berikat lain juga dimungkinkan WBC/ATS karena tempat tujuan barangnya adalah kawasan berikat juga yang dalam hal ini masih berada di bawah pengawasan DJBC (under customs control) “Sementara itu untuk yang dijual ke DPIL masih dapat dilakukan oleh pengusaha kawasan berikat sepanjang memenuhi ketentuan keputusan Menteri Keuangan nomor 101/PMK.04/ 2005, yang artinya disamping harus dilakukan pemeriksaan fisik oleh petugas I GUSTI PUTU SURYAWIRAWAN. Perlu bea dan cukai, juga revitalisasi dan koordinasi yang baik untuk harus dibayar kwasan berikat, sehingga implementasinya pungutan BM dan dapat berjalan lebih baik lagi. 6
WARTA BEA CUKAI EDISI 389 APRIL 2007

PDRI yang melekat terhadap barang tersebut, karena barang-barang tersebut pada saat masuk kawasan berikat belum dipungut BM dan PDRI-nya,” kata Putut.

PERLAKUAN DI PULAU BATAM BEDA
Jika demikian samakah perlakukan kawasan berikat yang ada di seluruh daerah pabean Indonesia? Menurut Putut, pemberlakukan kawasan berikat juga ada yang lebih dikhususkan, yaitu untuk di Pulau Batam pemberlakuan kebijakannya berlainan dengan yang ada di luar pulau Batam. Ada empat perbedaan yang cukup krusial mengenai perlakuan kawasan berikat di pulau Batam dan luar pulau Batam, yaitu perijinan, prosedur, fasilitas perpajakan dan kepabeanan, dan fasilitas perdagangan. Untuk perijinan ada empat poin yang membedakan, diantaranya, untuk luar Batam, perijinan kawasan berikat diberikan oleh Menteri Keuangan dan perijinan gudang berikat (GB), toko bebas bea (TBB) dan entrepot untuk tujuan pameran (ETP) diberikan oleh Direktur Jenderal atas nama Menteri Keuangan. Sementara untuk di Batam semua itu cukup dengan persetujuan Kepala KPBC atas nama Menteri Keuangan. Untuk Prosedur ada delapan poin yang membedakan, diantaranya pemasukan barang dari luar daerah pabean (LDP) ke tempat penimbunan berikat (TPB) dilakukan penyegelan oleh bea dan cukai bagi yang di luar pulau Batam, di pulau Batam tidak dilakukan penyegelan. Pengeluaran barang dari TPB ke DPIL menggunakan dokumen pabean, di pulau Batam tidak. Pemasukan dan pengeluaran barang ke dan dari TPB menggunakan dokumen BC 2.3 kecuali pengeluaran barang dari TPB ke DPIL menggunakan dokumen BC 2.0 (PIB). Untuk pulau Batam, pemasukan barang dari LDP ke TPB menggunakan dokumen pemberitahuan pabean single administration documen (PPSAD) Batam, Bintan, Karimun (BBK) dan pengeluaran barang dari TPB menggunakan dokumen BC 2.5 BBK. Dokumen PPSAD dan BC 2.5 BBK lebih sederhana. Untuk luar pulau Batam, pengeluaran hasil produksi kawasan berikat ke DPIL dapat dilakukan setelah ada realisasi ekspor dengen ketentuan sebesar 50 persen dari nilai realisasi ekspor (untuk barang yang dapat berfungsi sendiri) atau sebesar 60 persen dari nilai realisasi ekspor (untuk barang yang masih perlu proses lebih lanjut). Untuk di Pulau Batam, pengeluaran hasil produksi kawasan berikat ke DPIL tidak dipersyaratkan untuk dilakukan ekspor lebih dahulu, tidak dikaitkan dengan nilai realisasi ekspor (semua hasil olahan PDKB dapat dijual ke DPIL). Satu hal lagi, untuk di luar pulau Batam pengawasan kepabeanan di TPB dilakukan dengan menempatkan pegawai bea cukai, sedangkan di pulau Batam, di TPB tidak dilakukan pengawasan kepabeanan. WBC/ATS Pada fasilitas perpajakan dan kepabeanan, di luar pulau Batam pengeluaran hasil olahan dari PDKB ke DPIL dipungut BM dan PDRI, untuk pulau Batam juga tidak dipungut kecuali empat komoditi, yaitu kendaraan bermotor, hasil tembakau, minuman mengandung alkohol, dan produk elektronik. Dan untuk fasilitas perdagangan, di luar pulau Batam importasi barang modal bukan baru (termasuk relokasi PUTUT TEDJO ISMOJO DJATI. Pada dasarnya pabrik) perlu ijin setiap petugas bea dan cukai yang bertugas dan Deperdag dan Cer- melayani kawasan berikat harus paham akan tificate of inspection seluruh peraturan tentang kawasan berikat.

dari surveyor, sedangkan di pulau Batam tidak memerlukannya. Diluar pulau Batam pengeluaran barang modal bukan baru dari TPB ke DPIL perlu ijin Deperdag, sedangkan di Pulau Batam ijin cukup diberikan oleh dinas perdagangan pemerintah kabupaten/kota. Mengapa kawasan berikat di pulau Batam mendapatkan perlakuan khusus sementara di luar Pulau Batam tidak, hal ini sebenarnya juga telah dijelaskan pada keputusan Menteri Keuangan nomor 291/KMK.05/1997 tentang kawasan berikat yang mana pada pasal 27 dijelaskan kalau segala peraturan yang ada tersebut tidak berlaku untuk kawasan berikat di Batam. Namun demikian keputusan tersebut telah diubah beberapa kali dan kini kawasan berikat di Batam tetap dijadikan pilot project baik untuk kebijakan yang bersifat nasional maupun kebijakan yang bersifat internasional. Dengan berbagai kemudahan yang diperoleh pengusaha kawasan berikat saat ini, maka tak heran kalau jumlah permohonan untuk mendapatkan fasilitas tersebut juga meningkat tiap tahunnya, namun demikian seiring bertambahnya jumlah penerima fasilitas kawasan berikat, ternyata tidak diiringi dengan bertambahnya jumlah pegawai DJBC baik untuk melayani maupun untuk melakukan pengawasannya.

PULAU BATAM. Kawasan berikat yang ada di pulau Batam dibedakan perlakuannya dengan yang ada di luar pulau Batam.

PERLU ADANYA SISTEM BARU UNTUK PENGAWASAN
Seperti halnya untuk wilayah IX DJBC Jawa Barat, saat ini jumlah penerima fasilitas kawasan berikat yang ada di wilayah tersebut telah mencapai 810 perusahaan yang tersebar di beberapa KPBC. Memang untuk wilayah ini ada beberapa KPBC yang memiliki kawasan industri sehingga untuk pelayanan dan pengawasannya tidak sulit, namun demikian kendala masih tetap ada, yaitu jumlah petugas yang melakukan pelayanan dan pengawasan sudah tidak sepadan lagi. Menurut Kepala Kantor Wilayah IX DJBC Jawa Barat, Jody Koesmendro, walaupun wilayah ini akan dipecah dengan Banten, namun penerima fasilitas kawasan berikat jumlahnya tetap banyak, untuk yang berada di KPBC Bekasi dan Purwakarta memang hampir 70 persen berada di kawasan industri, namun untuk wilayah Bandung yang tidak memiliki kawasan industri, penerima fasilitas kawasan berikatnya terpencar dimana-mana sementara itu jumlah mereka juga tidak sedikit. “Dengan kondisi ini kami mencoba untuk membuat mapping, artinya kami akan memetakan mana-mana perusahaan yang baik dan mana-mana perusahaan yang berindikasi nakal. Hal ini kami lakukan karena dari jumlah petugas kami sudah tidak memungkinkan lagi untuk melakukan pengawasannya, padahal industri disini didominasi oleh produk tekstil dan garmen yang saat ini mendapat atensi karena sering melakukan penyimpangan dan produk ini jika beredar di DPIL kan sangat merugikan negara khususnya terhadap produksi dalam negeri,” tutur Jody. Lebih lanjut Jody menambahkan, selain membuat mapping, Kanwil IX juga sedang berusaha untuk membuat sistem baru khusus untuk pengawasan kawasan berikat yang lebih efisien yang nantinya akan disampaikan kepada kantor pusat. Sistem tersebut bisa berbentuk elektronik online seperti TPS online, karena idealnya yang akan datang itu kawasan berikat tidak bisa di “tongkrongi”, yang bekerja adalah sistem yang tentunya ada laporannya baik pertiga bulan yang dapat di lihat secara manual, dan ditambah hasil dari analis-analis yang memberikan peringatan apakah ada indikasi penyimpangan atau tidak. “Fasilitas ini sebenarnya ada di seluruh negara dan yang benar itu seperti yang ada di kawasan berikat nusantara yang ada di Cakung, karena disitu one gate jadi ada PDKB ada kawasan berikatnya semua perijinannya telah diatur disana, namun pada perkembangannya jumlah penerima fasilitas ini terus bertambah dan tersebar dimanamana sementara pengawasannya kita tidak mungkin punya
EDISI 389 APRIL 2007 WARTA BEA CUKAI

7

LAPORAN UTAMA
DOK.WBC

BERADA DI KAWASAN INDUSTRI. Idealnya seluruh penerima fasilitas kawasan berikat berada di kawasan ini.

petugas sebanyak itu. Seperti saat ini satu kawasan berikat memerlukan tiga petugas kalau dikalikan jumlah kawasan berikat yang ada, berapa banyak jumlah petugas yang diperlukan,” ungkap Jody. Sistem baru lain yang berusaha diupayakan saat ini oleh Kanwil IX Jawa Barat beserta seluruh kepala kantor-nya , yaitu di kawasan-kawasan industri sedang mempersiapkan untuk penyelesaian barang ekspornya yang akan dikirim ke pelabuhan Tanjung Priok, di kawasan industri masing-masing. Dengan cara, membuat fasilitas TPS atau dry port (pelabuhan kering) yang semua kewajiban dan persyaratan ekspornya, termasuk kewajiban pabean, untuk memenuhi persyaratan ekspor, seperti dengan kartu ekspor disatu tempat. Kegiatan pelayanan ini dapat berjalan, apabila semua TPS di kawasan industri dan dry port dapat diberlakukan on truck on board atau on train on board jika menggunakan kereta api. Sehingga dapat mencegah terjadinya kemacetan pada jam-jam sibuk di pelabuhan Tanjung Priok. “Dengan dapat di-online-kannya antara pelabuhan muat, pelabuhan bongkar (Tanjung Priok) dan kantor Bea Cukai pengawas (KPBC Purwakarta, Bekasi, dan lain-lain). Maka proses rekonsiliasi akan lebih cepat dan aman, karena kita memiliki data base yang dipakai oleh kantor-kantor pengawas, dan sebenarnya di kantor-kantor pengawasan tersebut sudah kita pasangi komputer besar hanya saat ini pemakaiannya belum optimal, karena transaksi dengan kawasan berikat masih bersifat manual,” imbuh Jody. Dengan demikian maka Kanwil IX DJBC Jawa Barat akan lebih aktif dalam pemecahan masalah pengawasan di kawasan berikat, terlebih lagi adanya single administration dokumen (SAD), karena menurut Jody, SAD paling bermanfaat jika diberlakukan untuk kawasan berikat, karena pada kawasan berikat telah lengkap segala dokumen yang diperlukan, seperti BC 2.3, PIB dan PEB yang dapat disatukan menjadi satu dokumen.

KOORDINASI DENGAN INSTANSI LAIN
Sementara itu, terkait sistem pengawasan dan pelayanan yang ada pada kawasan berikat saat ini, menurut Direktur Industri Logam Direktorat Jenderal Industri Logam, Mesin Tekstil dan Aneka, Departemen Perindustrian, I Gusti Putu Suryawirawan, yang juga beberapa kali mendampingi DJBC dalam pengembangan kawasan berikat di pulau Batam, untuk kawasan berikat saat ini memang idealnya harus berada di dalam kawasan industri, karena dengan berada di kawasan industri justru akan memudahkan petugas Bea dan Cukai dalam melayani dan mengawasi, terlebih lagi juga menjadi daya tarik investor karena segala sesuatunya telah tersedia. “Saya melihat sejak dilahirkannya ide kawasan berikat sampai saat ini, kelihatan kalau kawasan berikat itu seolah-olah hanya milik DJBC, padahal kawasan berikat itu milik rakyat Indonesia yang dioperasikan oleh DJBC, jadi pihak lain menganggap persoalan kawasan berikat adalah urusan DJBC. Padahal, DJBC 8
WARTA BEA CUKAI EDISI 389 APRIL 2007

tidak bisa bekerja sendiri karena tugasnya hanya memberikan ijin, mengawasi dan memungut pajaknya,” ujar Putu. Lebih lanjut diterangkan oleh Putu, apa yang terjadi dalam keseharian di kawasan berikat, tentunya bukan hanya DJBC saja yang terlibat, ada Departemen Perhubungan, Departemen Perdagangan, Perindustrian, Energi dan Sumber Daya Mineral, Pekerjaan Umum, dan banyak pihak lain yang terlibat. Sehingga kawasan berikat yang sifatnya pemberian insentif fiskal, akan benar-benar dibedakan dengan perusahaan yang tidak mendapatkan fasilitas tersebut. Untuk itu Putu juga meyakini kalau para perusahaan penerima kawasan berikat harus berada di dalam suatau kawasan industri, maka investor akan lebih tertarik lagi. Karena, dalam sejarah dilahirkannya kawasan berikat itu agar Indonesia dapat memberdayakan lokasi yang dimilikinya yang secara geografis memiliki beberapa keuntungan, salah satunya yaitu berada di kawasan Asean yang memiliki 660 juta penduduk yang tentunya juga menjadi market yang cukup besar. “Saat ini yang perlu dilakukan adalah revitalisasi kawasan berikat, karena DJBC tidak bisa bekerja sendiri harus ada koordinasi yang lebih intensif antar departemen maupun dengan Kadin. Selain itu kawasan berikat saat ini juga perlu diberikan insentif kalau dia telah memenuhi segala kriteria yang telah ditetapkan, jadi bisa dibuat seperti penjaluran ada kawasan berikat tingkat I, tingkat II, tingkat III dan seterusnya, sehingga jika dia menjadi kawasan berikat tingkat I maka segala bentuk dokumen dapat dirampingkan hingga akhirnya tidak memerlukan dokumen lagi, nah ini yang harus dilakukan saat ini bukannya kita lantas mencari modus-modus baru untuk membuat kawasan khusus,” kata Putu. Segala perijinan di negara ini memang masih perlu dirampingkan dan disempurnakan, seperti halnya dengan kawasan berikat, adanya ketentuan kawasan berikat harus berada di kawasan industri tentunya juga bukan bermaksud menambah birokrasi yang ada. Dengan berada di kawasan industri DJBC akan lebih mudah dalam melakukan pelayanan dan pengawasan karena mereka telah “dikandangi” sehingga memudahkan untuk melakukan kontrolnya. Akan hal tersebut Putu menilai DJBC telah tepat dalam menempuh kebijakan, karena selain dapat pemberdayakan pengembang kawasan industri yang ada saat ini, juga dapat memberikan kepastian kepada investor untuk marketnya. Namun jika ada daerah yang memang tidak memiliki kawasan industri, Putu mengharapkan agar DJBC juga aktif dalam berkoordinasi dengan pemerintah daerah setempat, artinya DJBC jangan hanya melemparkan suatu kebijakan namun tidak ada tindak lanjutnya. “Jadi dalam implementasinya harus ada koordinasi yang lebih baik dari saat ini, atau di Direktorat Fasilitas perlu dibentuk suatu tim koordinasi yang permanen khusus menangani kawasan berikat yang mengkoordinasikan dengan instansi-instansi terkait lainnya guna menumbuhkan kawasan berikat itu sendiri,” jelas Putu. Persoalan kawasan berikat memang tidak sebatas pada perijinan dan koordinasi saja, kurang optimalnya sistem pengawasan yang ada saat ini terkadang juga dijadikan celah oleh oknum kawasan berikat untuk melakukan penyimpangan. Dan kalau saat ini Kanwil IX DJBC Jawa Barat lebih memberdayakan intelijen di kawasan-kawasan berikat, hal tersebut memang menjadi satu solusi yang baik terhadap kendala pengawasan saat ini. Dan hal tersebut sebenarnya juga dapat dilakukan oleh wilayah lain yang memiliki kendala tersebut, baik terhadap penerima fasilitas kawasan berikat atau dibidang lainnya, seperti cukai ataupun kepabeanan. Untuk itulah maka sejalan dengan re-organisasi di tubuh DJBC, dan untuk memperluas fungsi kawasan berikat, pelayanan kawasan berikat yang selama ini dijalankan oleh Direktorat Teknis Kepabeanan, kini dilimpahkan kepada Direktorat Fasilitas Kepabeanan. Hal ini tidak lain karena, hasil analisa dan pembahasan oleh tim khusus, sampai pada kesimpulan bahwa tugas pokok dan fungsi Subdit Tempat Penimbunan lebih menitikberatkan pada pemberiaan fasilitas kepabeanan, seperti kawasan berikat, gudang berikat, TBB, dan ETP serta lainnya, dan diputuskan bahwa Subdit Tempat Tenimbunan dirasa lebih tepat berada di bawah Direktorat Fasilitas Kepabeanan. adi

Skala Prioritas Pengawasan Tahun 2007
U
Kendati pelabuhan sudah diperketat pengawasannya, Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) tetap tidak bisa lengah, karena para “pencari keuntungan” akan mencari celah melalui perusahaan penerima fasilitas seperti kawasan berikat untuk tetap memasukan barangnya.
TEKSTIL KOMODITI HIGH RISK

Kawasan Berikat,

KANWIL HARUS MENJEMPUT BOLA DALAM MENGGALANG SEGALA INFORMASI YANG ADA

“ ”

namun di jual ke daerah pabean Indonesia lainnya (DPIL). Kegiatan ini tentunya sangat merugikan negara, baik dari pajak yang seharusnya dikenakan juga berdampat buruk pada produk dalam negeri sendiri.

Salah satu primadona produk yang kerap disalahgunakan peruntukannya adalah tekstil dan produk tekstil yang menurut Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) telah mematikan banyak industri-industri tekstil dalam negeri. Memang dari seluruh jumlah penerima fasilitas kawasan berikat hampir 70 paya penyelundupan memang selalu dilakukan persen umumnya mengolah tekstil dan produk tekstil, maka oleh oknum-oknum yang ingin mencari keuntungan tak heran jika komoditi ini menjadi primadona untuk selalu dengan jalan yang tidak halal atau menyalahi disalahgunakan. segala aturan yang ditentukan. Segala celah yang Menurut Kepala Subdirektorat Penindakan Direktorat ada tentunya akan dilihat dan dicermati dengan Penindakan dan Penyidikan, Marisi Zainuddin Sihotang, baik agar penyelundup dapat memasukan barangnya ke untuk mekanisme pengawasan terhadap wilayah pabean Indonesia. WBC/ATS kawasan berikat, hal utama yang dilihat Indonesia memang negara yang meadalah relevansi pasar saat ini, dimana miliki pangsa pasar yang begitu besar tekstil dan produk tekstil yang banyak untuk segala macam produk, hal ini tidak terserap oleh pasar. Setelah itu dilakulain karena jumlah penduduknya yang kan mapping tentang kondisi kawasan cukup banyak disamping letak geografisberikat yang ada, juga dibantu oleh infornya yang terdiri dari pulau-pulau yang masi-informasi lain yang kemungkinan menyebabkan niatan pemasukan barang terlewatkan pada mapping ini. “Karena ke Indonesia juga dengan berbagai untuk kawasan berikat juga banyak modus. ‘pemain-pemain hebatnya’, sehingga kita DJBC sebagai penjaga pintu gerbang tidak bisa hanya mengandalkan mapbangsa, tentu sudah bekerja ekstra ping, dan ini dapat dilakukan dengan keras agar upaya-upaya penyelundupan menghidupkan jaringan intelijen.” ini dapat ditekan seminimal mungkin. “Kalau melihat kawasan berikat, Salah satu modus yang dilakukan oknum mungkin masalahnya antara jumlah kapenyelundup adalah dengan menggunawasan berikat dengan jumlah petugas kan fasilitas yang telah diberikan negara, yang mengawasi sangat jauh berbeda, yaitu dengan fasilitas kawasan berikat. itu pertama. Kedua, yang menjadi Pada fasilitas ini segala bea masuk masalah karena ada pegawai disana lalu dan pajak dalam rangka impor (PDRI) barang BC 2.3 yang dari pelabuhan tidak ditangguhkan sejauh bahan baku yang diperiksa kemudian dibawa ke pabrik, diimpornya diolah untuk kemudian disehingga disitu dapat terjadi segala ekspor kembali. Namun apa yang terjadi kemungkinan, bisa barang tidak sampai pada kenyataan saat ini, banyak tujuan atau juga diganti, artinya BC 2.3 pengguna fasilitas kawasan berikat tidak MARISI ZAINUDDIN SIHOTANG. Perlu mengolah bahan baku tersebut ataupun penyempurnaan segel dan ketentuan alat angkut nya bisa sampai namun barangnya tidak, lalu bisa saja ditukar,” kata Marisi. jika diolah tidak untuk diekspor kembali untuk masalah kawasan berikat.
EDISI 389 APRIL 2007 WARTA BEA CUKAI

9

LAPORAN UTAMA
WBC/ATS

DITEGAH. Dari skala prioritas yang diterapkan saat ini, banyak penerima fasilitas kawasan berikat yang menyimpang dan berhasil ditegah.

PERLU PENYEMPURNAAN SEGEL
Lebih lanjut dijelaskan oleh Marisi, yang harus dilakukan saat ini adalah mekanisme mulai dari pembongkaran terlebih dahulu, karena selama ini BC 2.3 sering kali barang dibongkar kemudian masuk ke dalam kontainer dan disegel, faktanya terkadang penempelan segel dilakukan secara asal. Lalu, alat angkutnya yang harus diperhatikan, kalau berbentuk kontainer akan lebih aman dalam penyegelan, tapi kalau dalam bentuk bak terbuka yang hanya tertutup terpal penyegelan akan silit, karena yang disegel juga tidak jelas. Terkait hal tersebut, Marisi juga menyatakan yang harus dicermati saat ini oleh DJBC agar mekanisme pengawasan terhadap kawasan berikat dapat menjadi efektif adalah, pertama soal segel yang saat ini mudah rusak, selain itu saat ini pelekatannya juga agak sulit, jika dilekatkan agak renggang dia mudah rusak, namun jika terlalu rekat maka ketika dibuka segel itu tidak rusak namun utuh dan itu dapat digunakan kembali oleh oknum. “Skala prioritas pengawasan tahun 2007 ini adalah kawasan berikat, bukan artinya tahun sebelumnya tidak mendapat prioritas, dan saya juga sudah mencoba mengusulkan agar khusus untuk alat angkut BC 2.3 harus menggunakan kontainer tidak lagi dengan bak terbuka, selain itu untuk segel tidak menggunakan segel stiker seperti sekarang tapi menggunakan segel botol dan hanya dapat dibuka oleh petugas bea cukai saja. Untuk segel ini memang 10
WARTA BEA CUKAI EDISI 389 APRIL 2007

terkait dengan dana, namun hal tersebut akan jauh lebih efektif dalam pengawasannya ketimbang dengan segel stiker,” ujar Marisi. Dari skala prioritas ini memang sudah dapat dibuktikan, kalau di Kantor Pelayanan Bea dan Cukai (KPBC) yang memiliki pengawasan kawasan berikat, sudah menunjukan hal yang cukup memuaskan. Seperti di KPBC Bogor yang belum lama menegah puluhan kontainer berisikan tekstil dari kawasan berikat yang akan dijual ke DPIL. Ini menunjukan kalau unit pengawasan saat ini sudah benar-benar bergerak walaupun dari banyak sisi juga menghadapi kendala teknis dan non-teknis. Sementara itu Menurut Kepala Bidang Penindakan dan Penyidikan (P2) Kantor Wilayah (Kanwil) VII DJBC Jakarta I, Rahmat Subagio, ada dua mekanisme pengawasan yang dilakukan oleh Kanwil VII DJBC Jakarta I untuk pengguna kawasan berikat, pertama, pengawasan secara fisik dengan melakukan pemantauan pemasukan dan pengeluaran barang ke dan dari kawasan berikat. Kedua, pengawasan secara dokumen dengan melakukan audit dibidang kepabeanan. “Saat ini pengawasan lebih difokuskan terhadap pengusaha di kawasan berikat (PDKB) yang melakukan pemasukan barang impor yang sifatnya strategis seperti produk tekstil namun dengan tidak melupakan pengawasan produk-produk lainnya. Risk manajemen yang dijalankan saat ini juga sudah berjalan cukup baik walaupun belum maksimal dan efisien

WBC/ATS

WBC/ATS

mengingat pemasukan barang ke kawasan berikat menggunakan sistem manual. Untuk itu kami melakukan pemetaan dan profiling terhadap PDKB yang berada di bawah pengawasan kami,” kata Rahmat. Namun demikian, Rahmat juga mengakui kalau sarana dan prasarana yang ada masih dirasakan kurang, sehingga saat ini prosedur pemasukan barang ke PDKB menggunakan BC 2.3 yang masih dilakukan RAHMAT SUBAGIO. Modus yang sering digunakan oleh penerima fasilitas kawasan secara manual beberikat saat ini adalah, pemberitahuan tidak lum terintegrasi sebenar, sub kontrak, dan antar pulau. cara jaringan. Selain itu keberadaan kawasan berikat yang tersebar membutuhkan SDM yang cukup untuk melakukan pengawasan. Kendala lain yang juga saat ini dihadapi Kanwil VII DJBC Jakarta I, adalah pemahaman perusahaan yang memperoleh fasilitas kawasan berikat terhadap peraturan-peraturan kawasan berikat masih sangat kurang, seperti aturan bahwa untuk pengerjaan sub kontrak harus mendapat ijin dari kepala kantor pelayanan. Selain itu untuk pengawasan pengeluaran barang hasil olahan PDKB ke kawasan berikat di lain tempat juga kurang dipahami. “Upaya-upaya yang kami lakukan agar tidak terjadi penyimpangan adalah, dengan melakukan audit kepabeanan terhadap PDKB, melakukan rolling petugas yang berada di PDKB secara rutin, dan melakukan pembinaan kepada pengusaha kawasan berikat dan petugas. Ini kami lakukan dengan harapan kedepan tidak terjadi penyimpangan baik yang dilakukan oleh pengusaha kawasan berikat maupun keterlibatan petugas dengan kawasan berikat. Untuk itu kedepan juga agar dikembangkan sistem komputerisasi yang terhubung antara pihak bea cukai dengan PDKB sehingga pengawasan lebih efektif, termasuk didalamnya komputerisasi BC 2.3,” ungkap Rahmat.

OPERASI CITRA KANWIL IX DJBC JAWA BARAT
Dalam hal pemetaan dan profiling, hal yang sama juga telah dilaksanakan olek Kanwil IX DJBC Jawa Barat. Menurut Kepala Bidang Penindakan dan Penyidikan Kanwil IX DJBC Jawa Barat, Gatot Hariyo Sutejo, karena jumlah penerima fasilitas kawasan berikat yang ada di wilayahnya terbanyak dari seluruh wilayah yang ada, maka selain mapping unit pengawasan juga telah membuat rencana operasi untuk melakukan pengawasan terhadap fasilitas kawasan berikat. “Operasi ini kami sebut dengan operasi citra, yang dimulai sejak Januari 2007, dengan cara meningkatkan jaring-

an dengan konsolidasi kepada seluruh seksi P2 diseluruh KPBC yang berada dibawah Kanwil IX Jawa Barat, dengan mengevaluasi mulai dari kebutuhan SDM maupun rencana operasi masingmasing KPBC, sehingga KPBC mempunyai rencana operasi yang sama dengan Kanwil, polanya dengan surveillance, undercover, dan penggalangan informasi,” ujar Tejo. Lebih jauh dijelaskan oleh Tejo, dengan hal terseGATOT HARIYO SUTEJO. Kanwil IX DJBC Jawa Barat saat ini tengah melaksanakan but maka Kanwil operasi citra khusus untuk pengawasan harus menjemput kawasan berikat. bola dalam menggalang segala informasi yang ada, dan lebih meningkatkan kinerja unit pengawasan di lapangan masing-masing. Hasil operasi ini juga telah ditunjukan dengan beberapa hasil tegahan dan penyidikan yang dilakukan oleh Kanwil IX Jawa Barat terhadap pelanggaran yang dilakukan oleh kawasan berikat. Seperti halnya di Kanwil VII Jakarta I, Kanwill IX Jawa Barat juga memiliki kendala yang sampai saat ini belum dapat teratasi. Kendala tersebut adalah terbatasnya jumlah SDM di unit pengawasan sehingga perlu ekstra kerja keras agar pengawasan yang dilakukan memang benar-benar efektif dan optimal. Menurut Tejo, jumlah petugas di unit pengawasan saat ini tidak sebanding dengan jumlah kawasan berikat, dari satu petugas ternyata harus mengawasi tiga hingga empat kawasan berikat, padahal di wilayahnya terdapat kurang lebih 800 hingga 1000 kawasan berikat. Untuk itulah unit pengawasan harus mensinergikan baik yang ada di WBC/ATS wilayah maupun yang ada di KPBC. “Industri garmen adalah industri yang high risk, untuk itu jaringan intelijen harus dapat menjemput bola terhadap informasi yang ada, tidak semata-mata kita tongkrongi terus, kita juga telah membuka akses baru yang sifatnya tertutup, lalu mengevaluasi setiap informasi yang masuk, yang ternyata hasilnya cukup banyak kita lakukan penegahan,” tutur Tejo.

AUDIT KUNCI UTAMA PENGGUNAAN FASILITAS
Sementara itu menurut Kepala Bidang Audit Kanwil IX DJBC Jawa Barat, Pardamean Sudabutar, peran Kanwil IX Jawa Barat dalam melakukan audit kepabeanan sebagai salah satu instrumen pengawasan menjadi sangat signifikan, karena harus berurusan dengan perusahaan penerima fasilitas. Disatu sisi, audit adalah konsekusnsi logis dari berlakunya sistem self assesment dalam undang-undang, di sisi lainnya kita menghendaki agar semua pengguna fasilitas kepabeanan
WARTA BEA CUKAI

PARDAMEAN SUDABUTAR. Sebagai konsekuensi dari fasilitas yang mereka terima, perusahaan harus benar-benar menggunakan fasilitas sesuai dengan tujuan yang diberikannya.

EDISI 389 APRIL 2007

11

LAPORAN UTAMA
DOK. PRIBADI

melaksanakan semua ketentuan yang telah diatur. “Sejalan dengan komitmen DJBC untuk mendorong terciptanya iklim perekonomian yang kondusif, maka pemeriksaan secara post arrival inspection adalah solusi yang kita jalankan terhadap mereka. Intinya dalam praktek kegiatan audit dilakukan untuk periodeperiode transaksi tertentu sehingga tidak mengganggu kegiatan produksi pihak yang diaudit. SUPRI ADY. Mekanisme pengawasan yang Dari sisi pelayandilakukan sudah sesuai dengan aturan yang ada. an, kita sudah mengutamakan proses clearance di pelabuhan masuk, tinggal kita lihat bagaimana tanggung jawab perusahaan,” kata Pardamean. Dengan audit yang dilakukan terhadap perusahaan penerima fasilitas kawasan berikat, hal ini adalah kunci utama bagi DJBC dalam melihat apakah kawasan berikat tersebut telah menjalankan bisnisnya dengan baik atau menyimpang dari bisnis yang sesungguhnya. Dengan audit ini Kanwil IX Jawa Barat juga mendapatkan informasi selain informasi yang diterima dari unit pengawasan, kalau kawasan berikat yang berhasil ditegah juga kedapat menyimpang dari mean bisnis mereka. “Apabila mengacu pada hasil pelaksanaan audit dalam bentuk tagihan berupa bea masuk, PDRI, serta denda administrasi, maka selama tiga tahun ini hasil yang kita peroleh adalah, tahun 2004 terdapat 266 laporan hasil audit (LHA) dengan tagihan Rp. 38.592.146.554. Tahun 2005 terdapat 239 LHA dengan tagihan Rp. 25.218.290.927. Tahun 2006 terdapat 242 LHA dengan tagihan Rp. 117.491.528.957,” ujar Pardamean. Dengan hasil tersebut Pardamean menyatakan, angka tambah bayar tersebut tidak berarti tingkat kepatuhan auditee di Kanwil IX Jawa Barat tidak bagus, namun lebih dikarenakan volume transaksi yang banyak dan periode pemeriksaan yang cukup lama. Sementara itu untuk mencapai tingkat kepatuhan 100 persen adalah hal yang sulit mengingat jumlah dan beragamnya jenis perusahaan yang harus diawasi. Untuk itu yang dapat dilakukan adalah melakukan pembinaan secara berkelanjutan dengan melakukan audit secara periodik serta menerapkan sanksi secara tegas untuk setiap penyalagunaan fasilitas yang ditemukan. Lalu bagaimana dengan wilayah yang memiliki jumlah kawasan berikatnya tidak terlalu banyak, apakah juga membuat mapping seperti halnya di Jakarta dan Jawa Barat? Menurut Kepala Bidang Penindakan dan Penyidikan Kanwil XI Jawa Timur I, Supri Ady, diwilayahnya sekalipun penerima fasilitas kawasan berikatnya tidak sebanyak di Jawa Barat, namun tetap melakukan mapping. “Walaupun sepanjang tahun 2006 hingga awal 2007 ini belum ditemukan penyalahgunaan oleh penerima fasilitas kawasan berikat, namun tetap menjadi perioritas pengawasan, dan mekanisme yang kami lakukan juga sudah sesuai dengan ketentuan yang telah ada dan berjalan dengan baik,” kata Supri Ady. Terkait soal kendala SDM, Supri Ady mengatakan hal ini memang juga dialami, namun dengan lebih meningkatkan jaringan intelijen yang ada maka pengawasan yang dilakukan pun dapat berjalan dengan efektif dan optimal.”Umumya kawasan berikat yang ada disini patuh dan jumlahnya juga tidak banyak, jadi pengawasan kami tidak terlalu rumit,” tandas Supri Ady. 12
WARTA BEA CUKAI EDISI 389 APRIL 2007

B

Kanwil IX DJBC Jawa Barat Ungkap Jaringan Penyalahgunaan Fasilitas Kawasan Berikat

ermula dari laporan Kepala KPBC Bogor tentang adanya pelanggaran di bidang kepabeanan oleh perusahaan PT. PRG yang ditindaklanjuti dengan audit oleh Kantor Wilayah (Kanwil) IX DJBC Jawa Barat, terhadap perusahaan penerima fasilitas kawasan berikat ini, akhirnya diketahui kalau perusahaan tersebut telah menyalahgunakan fasilitas kepabeanan yang mengarah pada pelanggaran pidana. Pelanggaran yang melibatkan banyak pihak ini, akhirnya dapat diungkap secara tuntas oleh Kanwil IX DJBC bahkan jaringan yang ada pun dapat terungkap, baik pemilik maupun penadah barang, setelah dilakukan penyidikan selama kurang lebih sembilan bulan. Menurut Kepala Kanwil IX DJBC Jawa Barat, Jody Kuesmendro, PT. PRG adalah perusahaan penerima fasilitas kawasan berikat sejak awal tahun 2006, dan produksi yang dihasilkannya adalah tekstil dan produk tekstil. “PT. PRG sejak awal berdirinya memang mempunyai niatan lain dari fasilitas yang diterimanya, hal ini diketahui dari modus yang dilakukannya dengan mengimpor tekstil yang bukan miliknya atau untuk kepentingan usahanya, dengan maksud untuk dikeluarkan ke pemilik barang yang sebenarnya, tanpa melalui proses pengolahan lebih lanjut di perusahaan. Tekstil tersebut dikeluarkan dengan modus untuk pengerjaan lebih lanjut melalui sub kontrak ke perusahaan lain diperedaran bebas,” ungkap Jody. Lebih lanjut diungkapkan Jody, terbongkarnya jaringan tekstil ini juga atas dorongan dari Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) yang menilai kasus penyelundupan tekstil telah mematikan industri tektil di dalam negeri. Untuk itu Jody juga meminta API untuk turut memantau hasil persidangan yang akan digelar, karena saat ini sanksi yang ada belum terlalu berat dan tidak menimbulkan efek jera bagi pelakuknya. Hasil tegahan yang digelar pada acara press release di halaman Kantor Pusat DJBC pada 8 Maret 2007, juga dihadiri oleh Ketua API, Benni Sutrisno, Kadin, dan asosiasi pengusaha kawasan berikat yang ada di Jawa Barat. Pada acara tersebut disebutkan, dari 13 kontainer yang ditegah tersebut merupakan sisa bahan baku yang berhasil diamankan, sementara itu sisa dari barang tersebut masih dalam proses penyitaan. Dengan terungkapnya jaringan penyalagunaan fasilitas kawasan berikat untuk komoditi tekstil ini, maka dari PT. PRG berhasil diamankan Sdr, SNJ warga negara Korea, dan dikenakan sanksi berupa pidana penjara paling lama lima tahun dan/atau denda paling banyak Rp. 250.000.000. Sementara itu untuk potensi kerugian negara atas kegiatan PT.PRG ini masih dalam tahap perhitungan. adi

Fasilitas kawasan berikat memang kerap dijadikan cara untuk melakukan penyelundupan. Untuk itu DJBC melalui unit pengawasan diharapkan dapat lebih meningkatkan lagi dari apa yang sudah dilaksanakan saat ini. Bila jaringan intelijen telah dikerahkan semua dan upaya mencari infomasi sebanyak-banyaknya juga telah dilaksanakan, kini tinggal waktu saja yang berbicara, apakah kawasan berikat tersebut melakukan penyimpangan atau tidak. adi

Jumlah SDM
Menjadi Persoalan Pokok
Tidak sebandingnya jumlah sumber daya manusia (SDM) yang harus melayani dan mengawasi kawasan berikat, terkadang harus disiasasti dengan bantuan pegawai dari Kantor Wilayah, namun kenyataannya tetap saja satu petugas harus melayani tiga hingga empat kawasan berikat.

BEGITU MEREKA RUGI, MEREKA LANGSUNG PERGI BEGITU SAJA, ASET YANG ADA JUGA TERKADANG LEASING

S

ebagai instansi yang mengeluarkan perijinan fasilitas kawasan berikat, DJBC memang tidak dapat menolak jika ada permohonan yang masuk, karena fasilitas ini adalah fasilitas yang diberikan negara sebagai salah satu bentuk insentif dibidang fiskal untuk industri yang ada di Indonesia. Namun dari perijinan yang telah dikeluarkan saat ini, jumlah penerima fasilitas kawasan berikat sudah tidak sebanding lagi dengan jumlah pegawai DJBC. Akan kelemahan ini terkadang dimanfaatkan oleh penerima fasilitas kawasan berikat untuk melakukan penyimpangan, dan ini terbukti dari beberapa hasil tegahan DJBC yang didapat dari penerima fasilitas kawasan berikat. Seperti halnya yang ada di wilayah kerja KPBC Tipe A2 Bogor, di KPBC ini satu petugas melayani 3 hingga 4 kawasan berikat dimana jumlah kawasan berikat di Bogor saat ini telah mencapai 105. Padahal jumlah WBC/ATS keseluruhan pegawai di KPBC Tipe A2 Bogor sebanyak 114 pegawai. Tentu saja sudah tidak ideal lagi jika keseluruhan pegawai KPBC Bogor diperuntukan untuk mengawasi kawasan berikat, maka hanya akan tinggal sembilan pegawai yang melayani administrasinya. Menurut Kepala KPBC Tipe A2 Bogor, Karlan Sjuaibun Lubis, dengan kondisi ini KPBC Bogor mensiasastinya dengan melakukan mapping dan lebih memberdayakan unit pengawasan yang ada, sehingga dari sisi administrasi menjadi lebih jelas dan penerima fasilitas kawasan berikat pun menjadi lebih baik dalam menjalankan aturan karena mereka diawasi secara ketat. “Ini terbukti dari beberapa KARLAN SJUAIBUN LUBIS. hasil tegahan kami belum lama Penertiban administrasi ini, yang mana dari hasil menjadikan pengawasan kawasan tersebut dapat dilihat kalau unit berikat jauh lebih baik.

pengawasan kami benar-benar bergerak dan sekaligus sebagai tanda bagi penerima fasilitas yang ada di wilayah Bogor kalau kami tidak tidur. Jadi kalau pun ada niatan untuk melakukan penyimpangan itu hanya tinggal waktu saja,” kata Karlan. KPBC Tipe A2 Bogor yang memiliki wilayah kerja yang cukup luas mulai dari Depok hingga ke Sukabumi, secara garis besar memang hampir sama dengan KPBC Tipe A3 Bandung yang tidak memiliki kawasan industri. Sehingga pengawasan menjadi lebih rumit, terlebih lagi lokasi penerima fasilitas kawasan berikat yang ada terpencar dimana-mana. Akan hal tersebut, Karlan menilai rencana kebijakan kawasan berikat harus berada di kawasan industri akan lebih memudahkan KPBC baik dalam melakukan pelayanan maupun pengawasannya. “Kebijakan itu harus didukung dan sangat baik kalau sudah diterapkan, selain itu perijinan kawasan berikat juga harus diperketat, maksudnya agar DJBC dapat mendeteksi secara dini apa maksud pendiriannya. Memang kemampuan industri saat ini sudah berkembang begitu pesat dan perlu dukungan kebijakan yang lebih efektif lagi, makanya DJBC saat ini juga terus melakukan perbaikan baik dari sisi peraturan maupun dari sisi sistemnya,” ujar Karlan.

“ ”

KAWASAN BERIKAT HARUS BERADA DI KAWASAN INDUSTRI
Kebijakan penerima fasilitas kawasan berikat harus berada di kawasan industri, memang menimbulkan pro dan kontra di kalangan pengusaha. Terkait hal tersebut, menurut Kepala KPBC Tipe A2 Bekasi, WBC/ATS Istyastuti Wuwuh Asri, sangat setuju dengan kebijakan tersebut, karena dengan berlokasi di kawasan industri, maka lokasi mudah dijangkau dan monitoring terhadap eksistensi dan aktifitas perusahaan relatif lebih mudah. Sehingga lebih memudahkan dalam proses pelayanan dan pengawasan. “Saya yakin investasi tidak akan terhambat hanya karena pemusatan pengusaha kawasan berikat di suatu lokasi kawasan industri, yang penting ISTYASTUTI WUWUH ASRI. Harus Dipikirkan pelayanan yang disegera bagaimana EDI/PDE diterapkan untuk berikan tetap prima. kawasan berikat
EDISI 389 APRIL 2007 WARTA BEA CUKAI

13

LAPORAN UTAMA
WBC/ATS WBC/ATS

Dan di pemerintah daerah tingkat manapun pasti telah menata wilayahnya sesuai peruntukannya,” jelas Isty. Dari seluruh KPBC yang menangani kawasan berikat, KPBC Tipe A2 Bekasi adalah yang paling banyak melayani fasilitas ini, yaitu 343 kawasan berikat. Namun demikian dari seluruhnya itu hampir 80 persen berada di kawasan industri yang lebih mudah dalam melayani dan mengawasi. SUDI RAHARJO. Masalah pencabutan yang berlarut-larut perlu diitindaklanjuti dengan cepat Namun, tidak dan cermat. serta merta KPBC Tipe A2 Bekasi bebas dari masalah SDM, justru di KPBC inilah jumlah SDM menjadi kendala yang utama. Dengan jumlah kawasan berikat yang melebihi jumlah pegawai, tentunya KPBC Tipe A2 Bekasi harus mensiasastinya dengan cermat. Menurut Isty, salah satu cara pengawasan pergerakan barang ke dan dari kawasan berikat, yaitu ditempatkan pegawai di perusahaan penerima fasilitas kawasan berikat, maka pada ketentuan diatur bahwa pengusaha kawasan berikat harus menyediakan tempat. “Di KPBC Bekasi terdapat 343 kawasan berikat, jika masingmasing ditempatkan pegawai satu orang itu membutuhkan pegawai yang banyak. Pelayanan 24 jam per hari, 7 hari per minggu, kalau dengan pergantian 8 jam berarti butuh tiga kali itu, dan saat ini jumlah pegawai 254 orang saja. Saya tahu tidak mungkin kebutuhan pegawai sebanyak itu dapat terpenuhi. Untuk itu harus dipikirkan segera bagaimana EDI/PDE diterapkan segera. Pengusaha yang memiliki syarat untuk memohon fasilitas kawasan berikat tidak mungkin ditolak, artinya jumlah kawasan berikat akan meningkat terus sedangkan pegawai tidak bertambah,” ungkap Isty. Lebih lanjut Isty menambahkan, dengan kondisi demikian kemampuan pegawai pun juga perlu mendapat perhatian yang serius, karena pada KPBC Bekasi hampir seluruh pengguna jasa adalah pengusaha tempat penimbunan berikat (TPB), jadi tidak ada importir umum. Memang dilihat dari kuantitas kurang, dilihat dari kualitas/kompetensi sedang, dilihat dari usia juga menyedihkan. Jika usia produktif adalah 30-40 tahun, jumlahnya hanya 40 orang, usia muda dan belum berpengalaman terdapat 20 orang tetapi masih bisa dibina. Selebihnya sudah tidak produktif lagi, artinya tidak inovatif untuk pemikiran terobosan hal yang lebih baik. “Diperlukan pemimpin yang rajin melakukan chek and rechek, setelah diinstruksikan satu hari kemudian harus dicek apakah sudah dilaksanakan dan di cek lagi sampai instruksi dilaksanakan. Penanganan SDM itu perlu kemampuan seni karena manusia itu unik tidak ada yang sama, ada yang cukup diberitahu secara halus, ada yang harus dikerasi bahkan perlu diancam sanksi baru menjalankan dengan baik,” jelas Isty.

PROSES PENCABUTAN MASIH RUMIT
Lalu, bagaimana dengan KPBC Tipe A3 Jakarta yang juga melayani fasilitas kawasan berikat cukup banyak. Menurut Kepala KPBC Tipe A3 Jakarta, Sudi Rahardjo, wilayah kerjanya membawahi 134 kawasan berikat atau 50,56 persen dari seluruh fasilitas yang ada, yang tersebar kawasan industri, seperti Kawasan Berikat Nusantara (KBN) yang berada di Cakung, dan sebagian lagi ada juga yang berada diluar kawasan industri. Disamping kawasan berikat, KPBC Tipe A3 Jakarta juga membawahi tiga 14
WARTA BEA CUKAI EDISI 389 APRIL 2007

ETP, sembilan TBB, dan 119 gudang berikat. “Untuk kemampuan pegawai dalam menguasai segala peraturan yang terkait dengan kawasan berikat, memang ada sebagian kecil yang kurang memahami, untuk itu kami tidak pernah absen dalam melakukan P2KP dan sosialisasi peraturan kawasan berikat baik internal maupun kepada para pengusaha, karena para pengusaha juga terkadang tidak mema- AZHAR RASYIDI. Tuntutan pegawai yang bertugas di kawasan berikat, harus menunjukan hami peraturan pakemampuan, dedikasi, loyalitas, dan integritas dahal peraturan itu yang tinggi untuk melaksanakan rangkap jabatan. sudah lama. Selain itu jika kami mengadakan sosialisasi yang datang bukan pimpinannya, tapi pegawai biasa yang hasilnya tidak disampaikan kepada pimpinan,” kata Sudi. KPBC Tipe A3 Jakarta memang cukup terbantu dalam hal pelayanan dan pengawasan, karena kawasan berikat yang ada hampir 90 persen berada di KBN. Namun kendala tetap masih ada, khususnya dalam hal pencabutan fasilitas kawasan berikat. Menurut Sudi, banyak kawasan berikat yang berada di wilayah kerjanya sudah tutup namun masih tetap diawasi karena menunggu hasil audit yang dilakukan kantor pusat, padahal para pengusaha itu sudah banyak juga yang pergi meninggalkan perusahaannya, sehingga jika ada tagihan sangat sulit untuk menagihnya berdampak pada proses pencabutannya berlarut-larut. “Ini benar-benar kendala bagi kita, karena begitu mereka rugi, mereka langsung pergi begitu saja, aset yang ada juga terkadang leasing, bahkan tidak ada sama sekali. Selain itu mereka juga masih meninggalkan hutang atau tagihan kepada beberapa pihak, seperti gaji karyawan, sewa bangunan, bank , pajak, bea masuk, dan lain-lain. Makanya banyak penerima fasilitas kawasan berikat yang melakukan penyimpangan, itu karena mereka ingin mendapatkan keuntungan secara cepat, sedangkan sanksinya saat ini belum berat,” kata Sudi. Sudi menambahkan, untuk menutupi kerugian negara dapat mencairkan jaminan, tapi kadang-kadang jaminan itu juga dimanipulasi oleh mereka, artinya jaminan tersebut tidak sebesar nilai real barang yang di sub kontrakan itu. Selain hal tersebut, Sudi juga menyatakan kalau kendala yang dihadapi kawasan berikat di wilayah kerjanya adalah semakin menurunnya order dari buyer di luar negeri yang mengakibatkan pengusaha kawasan berikat ini menjadi sub kontrak dari pengusaha di DPIL untuk diproduksi yang kemudian dikembalikan lagi ke pengusaha tersebut.”Secara aturan ini memang tidak menjadi masalah, sepanjang ada dokumennya, yaitu BC 4.0. Keluhan lainnya adalah terkait dengan pengeluaran sisa barang dari produksi, hal ini sebenarnya dikarenakan ketidaktahuan pengusahanya saja, karena secara aturan juga sudah dijelaskan agar dibuatkan dokumen dengan PIBT atau PIB dan membayar bea-bea nya atau ya dimusnahkan,” tutur Sudi. Terkait soal pencabutan, KPBC Bekasi juga mengalami kendala yang sama, untuk itu KPBC Bekasi mengusulkan, karena mengingat tindak lanjut terhadap usulan pencabutan kawasan berikat memakan waktu lama, untuk mengantisipasi usaha-usaha pelarian hak-hak negara, diusulkan terhadap perusahaan yang sudah pernah dilakukan audit dan untuk priode maksimal satu tahun terakhir boleh dilakukan langkah-langkan pengaman oleh KPBC, diantaranya Stock opname, verifikasi dokumen pabean dan dokumen terkait, penetapan nilai pabean, menentukan bea

masuk dan PDRI yang terhutang, melakukan pembekuan, dan melaporkan ke Direktorat Audit. “Ketika KPBC melaporkan ada perusahaan kawasan berikat yang sudah tidak aktif selama 12 bulan diusulkan untuk diaudit dan dicabut, ternyata harus mengikuti antrian panjang, artinya dimasukan rencana audit dulu padahal ada banyak faktor yang dapat mempengaruhi waktu pelaksanaan audit, seperti banyaknya objek audit, skala prioritas perusahaan, lamanya proses audit dan pembuatan LHA,” kata Isty.

Jumlah KPBC Yang Melayani Dan Mengawasi Perusahaan Penerima Fasilitas Per 1 Februari 2007
No. Kantor Wilayah 1 I KPBC Belawan Kuala Tanjung Pematang Siantar Teluk Bayur Kuala Enok Tanjung Pinang Dumai Tanjung Uban Pekan Baru Batam Bandar Lampung Bengkulu Palembang Jambi Jakarta Tanjung Priok Soekarno-Hatta Bekasi Purwakarta Bogfor Bandung Cirebon Merak Tanjung Emas Semarang Surakarta Yogyakarta Cilacap Tegal Kudus Pasuruan Juanda Tanjung Perak Malang Probolinggu Gresik Ngurah Rai ……………. Samarinda Kota Baru Balikpapan Ujung Pandang Bitung Biak Lhok Seumawe
TBB PETP

PKB/ PGB/ PDKB PPGB 45 6 2 1 6 8 12 3 12 1 11 1 2 1 147 11 149 343 138 106 47 4 23 57 2 12 6 3 1 1 32 34 3 3 2 6 3 — 1 1 — 3 3 1 1 1 — 5 — — 1 — — 1 1 — — — 1 212 — 48 166 47 8 — — 27 7 — — 1 1 2 4 15 3 — — 5 5 — 6 — — — — 1

TBB 1 — — — — — — —. 5 — — — — 7 — 7 — — — — — — — — — — — — — — — — — — — 5 — — — 3 — — — —

PETP — — — — 1 — — — — — — — — 5 — — — — — 3 — — — — — — — — — — 1 — — — — 1 — — — — — — — —

PEMENUHAN PEGAWAI BELUM DAPAT DILAKSANAKAN
Melihat apa yang menjadi kendala tersebut, baik KPBC Bogor, Bekasi, dan Jakarta, mengakui kalau pengawasan yang dilakukan memang kurang optimal kendati banyak kawasan berikat yang ada di wilayah kerja KPBC ini berada di kawasan industri. Untuk itu peraturan yang ada sekarang tentunya juga perlu adanya penyempurnaan. Menurut Isty, karena usia undangundang yang ada sudah 10 tahun lebih, tentunya ini tidak bisa lagi menampung pola perdagangan, kemajuan informasi dan perubahan lingkungan dunia usaha saat ini, dan ini memang sedang dalam proses penyempurnaan. “Dari sisi kepentingan, pengusaha berorientasi pada keuntungan yang sebesar-besarnya, sedangkan aparat fiskal bertugas untuk mencapai target penerimaan yang sudah ditetapkan undang-undang APBN. Hal ini dapat mendorong oknum-oknum tertentu untuk sengaja mencari celah-celah peraturan dan kelemahan pegawai untuk dimanfaatkan mencari keuntungan besar, meskipun sesungguhnya melanggar ketentuan yang berlaku,” ungkap Isty. Terkait dengan kurangnya jumlah SDM yang ada saat ini baik untuk melakukan pelayanan maupun untuk melakukan pengawasan terhadap fasilitas kawasan berikat, menurut Kepala Bagian Kepegawaian DJBC, Azhar Rasyidi, kondisi ini memang sangat dilematis, disatu sisi perkembangan jumlah kawasan berikat tidak berbanding lurus dengan penambahan jumlah pegawai. Disisi lain dalam rangka meminimalisasi contact person, seharusnya sistem dan prosedur yang ada diciptakan untuk mendukung minimalisasi contac person tersebut. “Misalnya dengan menggunakan pertukaran data elektronik (PDE), apabila sistem yang digunakan sudah elektronik, sangat diyakini akan membuat sistem pelayanan dan pengawasan menjadi lebih efisien, sehingga penambahan pegawai di masa mendatang bukan lagi menjadi suatu masalah,” kata Azhar. Memang untuk penempatan pegawai saat ini, DJBC pada prinsipnya sesuai dengan tour of area atau tour of duty, serta dengan memperhitungkan beban kerja tiap-tiap unit kerja, baik di Kantor Pusat, Kanwil, maupun KPBC. Namun Azhar mengakui, proses penempatan dan mutasi pegawai pada tiap-tiap KPBC belum menggunakan pola yang ideal, artinya penempatan dan
WBC/ATS

2

II

3

III

4 5

IV V

6

VI

7

VII

8 9 10

VIII IX X

11 12 13

XI XII XIII

PAHAM PERATURAN. Selain harus paham akan peraturan tentang kawasan berikat, petugas juga diharapkan mempunyai integritas tinggi.

Keterangan : PKB : Pengusaha Kawasan Berikat PDKB : Pengusaha Di Kawasan Berikat PGB : Pengusaha Gudang Berikat PPGB : Pengusaha Pada Gudang Berikat

: Toko Bebas Bea : Pengusaha Enterpot Untuk Tujuan Pameran

Sumber : Direktorat Fasilitas Kepabeanan. WARTA BEA CUKAI

EDISI 389 APRIL 2007

15

LAPORAN UTAMA
mutasi pegawai masih dilakukan secara “tambal sulam”. “Kondisi tersebut terjadi antara lain komposisi pegawai DJBC sangat heterogen ditinjau dari pendidikan formal dan syarat diklat teknis yang harus dimiliki, sehinga muncul dikotomi pegawai pelaksana administrasi dan pelaksana pemeriksa. Namun demikian, kami dari KP DJBC selalu berusaha memenuhi SDM yang dibutuhkan kantor-kantor vertikal. Untuk itu peran kepala kantor vertikal juga sangat besar, terutama pada saat penempatan dan rotasi pegawai yang dibawahinya,” jelas Azhar. Prioritas memang akan tetap dilakukan oleh KP DJBC terkait dengan kurangnya jumlah SDM untuk melayani dan mengawasi kawasan berikat, dan banyaknya pelanggaran yang terjadi di kawasan berikat. Akan tetapi bidang tugas lain bukan berarti tidak diprioritaskan, kesemuanya ini diarahkan pada kondisi ideal dengan mengoptimalkan segala SDM yang dimiliki. Untuk itu, benang merahnya adalah tuntutan terhadap pegawai dalam menunjukan kemampuan, dedikasi, loyalitas, dan integritas yang tinggi yang diutamakan. Jika hal tersebut telah dijalankan, maka tidak akan ada lagi keluhan tentang kurangnya SDM dan lemahnya petugas dalam menjalankan tugas di kawasan berikat. Karena kurikulum yang disusun dalam rangka penyelenggaraan diklat teknis tidak disusun secara khusus hanya untuk pegawai yang akan ditempatkan di kawasan berikat. Kurikulum yang disusun, dirancang secara umum untuk diberikan kepada peserta didik di Pusdiklat Bea Cukai, sehingga diharapkan lulusan Pusdiklat Bea Cukai dapat melaksanakan seluruh tugas-tugas teknis di bidang kepabeanan dan cukai. Selain itu, pemenuhan jumlah pegawai di KPBC yang mempunyai jumlah kawasan berikat yang tidak sebanding, sebenarnya hanya tinggal menunggu waktu saja, karena saat ini KP DJBC sedang konsentrasi pada Kantor Pelayanan Utama (KPU) yang tentunya juga kantor-kantor lainnya akan menerima pegawai dari kantor yang akan dijadikan KPU. Jalan keluar yang cukup bijak dari kendala ini, mungkin DJBC harus cepat memikirkan sistem baru yang berbasis teknologi informasi agar proses pelayanan dan pengawasan untuk kawasan berikat dapat lebih efektif dan optimal. Jika kawasan berikat atau tempat penimbunan berikat (TPB) seluruhnya sudah dielektronikan, tentunya DJBC akan lebih mudah dalam melakukan monitoring sehingga penyalahgunaan fasilitas ini dapat dengan cepat terdeteksi. adi 16
WARTA BEA CUKAI

Manfaat Kawasan Berikat Bagi Industri
Fasilitas kawasan berikat ternyata sangat membantu industri yang ada di Indonesia, kendati banyak persoalan yang kerap dihadapi, namun semua itu dapat terselesaikan dengan baik sesuai dengan peraturan yang berlaku.

S

ebagai investor yang telah banyak menyumbangkan devisa maupun penyerapan tenaga kerja di Indonesia, tentunya tidak berlebihan jika mereka menuntut agar diberikan kemudahan maupun fasilitas yang dapat mendukung industrinya sehingga cita-cita luhur mereka untuk tetap dapat eksis di Indonesia berjalan dengan lancar sesuai dengan apa yang mereka inginkan. Pemerintah selaku regulator dalam melayani sekaligus mengawasi industri tersebut, tentunya juga tidak menginginkan investasi yang ada menjadi hancur ataupun hengkang dari negeri ini. Salah satu kemudahan atau fasilitas yang ditawarkan oleh pemerintah kepada industri tersebut adalah dengan memberikan penangguhan bea masuk dan pajak dalam rangka impor (PDRI) atau yang lebih dikenal dengan fasilitas kawasan berikat. Sejak dilahirkannya ide kawasan berikat, hingga kini jumlah perusahaan penerima fasilitas tersebut kian tahun kian bertambah jumlahnya, hal ini tidak lain karena para pengusaha merasa sangat terbantu dengan fasilitas yang diberikan tersebut. Selain mereka dapat penangguhan bea masuk, mereka juga dapat melakukan ekspor dengan lancar, bahkan sebagian dari produksi mereka atau sebanyak 25 persen dapat dijual ke daerah pabean Indonesia lainnya (DPIL). Bukti tersebut menunjukan kalau pemerintah memang sangat menginginkan terciptanya iklim investasi yang kondusif, sehingga negara juga mendapatkan pemasukan yang jumlahnya cukup besar. Bukti lain dari peran pemerintah pada fasilitas kawasan berikat ini adalah dengan selalu mengikuti perkembangan trend bisnis yang ada serta selalu mengikuti pola perdagangan dunia yang setiap saat mengalami perubahan yang signifikan. Untuk itulah maka pemerintah melalui Menteri Keuangan yang kemudian didelegasikan kepada Direktorat Jenderal Bea dan Cukai, membuat peraturan yang
WBC/ATS WBC/ATS

KAWASAN BERIKAT. Perlu persyaratan yang . ketat dan selektif.

POS BEA CUKAI. Ditintut pelayanan yang lebih prima dan pengawasan yang ekstra ketat.

EDISI 389 APRIL 2007

WBC/ADI

walaupun perusahannya baru tiga tahun mendapatkan fasilitas kawasan berikat, namun manfaat yang dirasakannya sudah sangat banyak sekali.”Untuk mendapatkan fasilitas kawasan berikat memang tidak mudah, dari tahapantahapan yang ada terlihat kalau persyaratan yang ada cukup ketat sekali. Sementara dari pihak DJBC juga tidak melepas begitu saja, pengawasannya tetap ada, baik dari KPBC maupun dari unit penindakan dan penyidikan (P2),” ujar Edi. Dari hal tersebut, Edi juga melihat kalau pihak pengusaha sudah semakin sadar bahwa dengan diberikannya fasilitas kawasan berikat, manfaat yang mereka terima banyak sekali, dibandingkan sebelum mendapatkan fasilitas kawasan berikat, PENGURUSAN DOKUMEN MENJADI LEBIH sehingga mereka tidak ingin main-main. CEPAT “Waktu kami ingin mengajukan fasilitas Melihat antusias pemerintah dalam kawasan berikat, sebenarnya didasari oleh mengatur fasilitas kawasan berikat agar D. SUPRIYANTO. Hendaknya seluruh petugas stimulis di tahun 2004 dimana kami sedang industri dapat menjalankan bisnisnya peraturan kawasan berikat sehingga banyak mengalami masalah terutama dengan baik, tentunya juga harus dibarengi paham akan setara dengan bea cukai negara lain. DJBC dapat dalam inklaring barang, yang harus dengan upaya para pengusaha kawasan dikenakan jalur merah, dan ini sangat berikat dalam aktifitas sehari-hari. Karena mengganggu kondisi keuangan kami. Untuk itulah setelah kami tidak jarang dari pengusaha tersebut yang mengajukan fasilitas pelajari fasilitas kawasan berikat ternyata manfaatnya banyak kawasan berikat namun mempunyai niatan yang tidak baik, dan sekali, selain kami mendapatkan penangguhan bea masuk dan ini sudah terbukti dari beberapa hasil tegahan DJBC terhadap PDRI, ekspor kami pun menjadi lebih lancar,” tutur Edi. pengusaha kawasan berikat. Terkait masalah peraturan, Edi menyatakan kalau hal tersebut Menurut Exim Dept. PT. Mahesa Niaga Jaya, D. Supriyanto, dapat dilihat dari planning-nya, jika planning sudah baik maka dengan fasilitas kawasan berikat yang diberikan pemerintah, peraturan-peraturan yang ada juga tidak menjadi masalah. Jadi perusahaannya merasa sangat terbantu sekali, karena selain perusahaan harus merencanakan segala sesuatunya dengan dapat mengamankan keuangan perusahaan, juga dari segi baik, kalau itu sudah dilaksanakan, peraturan yang bagaimana ekspor impor mereka dapat dengan cepat melakukannya tanpa pun tentunya tidak akan menjadi hambatan. harus mengantri dokumen ke Kantor Pelayanan Bea dan Cukai Satu hal yang kini menjadi hambatan bagi PT. Panarub (KPBC). Industry adalah dengan adanya rencana kebijakan fasilitas “Dengan adanya fasilitas kawasan berikat ini, kami merasa kawasan berikat harus berada di dalam kawasan industri. sangat terbantu karena dalam pengurusan dokumen dapat lebih Menurut Edi, kebijakan tersebut akan menghambat investasi cepat. Sementara sebelum mendapatkan fasilitas kawasan yang ada, karena khusus untuk wilayahnya di Tanggerang berikat kami harus jalan ke Tanjung Priok dulu untuk urus tidak tersedia kawasan industri, dan jika perusahannya ingin dokumen, sekarang untuk urus dokumen cukup disini saja dan menambah fasilitas kawasan berikat untuk dua industrinya di pengawasan yang dilakukan di pabrik dapat menjadi lebih efektif lokasi yang sama, hal ini tentunya menjadi hambatan yang dan efisien,” kata Supriyanto. cukup berarti. Untuk peraturan yang terkait dengan kawasan berikat, “Kami sebagai produsen sepatu Adidas kecenderungannya Supriyanto pun merasa sudah cukup baik, dan pihaknya tidak inline, dalam artian tidak mau supportingpernah mengalami masalah dengan perWBC/ATS nya berasal dari luar kami. Katakanlah yang aturan yang ada. Namun demikian, Suptadinya kami sub kontrakan bordir di luar, riyanto juga mengharapkan agar petugas sekarang kami harus satu perusahaan, jadi bea cukai yang ditempatkan di kawasan segala sesuatu yang terkait dengan sepatu berikat mempunyai pengetahuan yang Adidas harus berada pada satu cukup. Hal ini tidak lain karena dirinya juperusahaan,” kata Edi. ga pernah mengalami hambatan ketika Lebih lanjut Edi menyatakan, dengan terjadi pergantian petugas yang ternyata rencana kebijakan tersebut sangat sulit bagi tidak memahami peraturan kawasan perusahaannya. Disatu pihak tidak boleh di berikat. sub kontrakan, dan pihak lain harus berada “Itu pernah kami alami, dan kami mendi kawasan industri. Kalau pun harus coba untuk mendiskusikannya dengan relokasi itu adalah hal yang tidak mungkin, melihat peraturan yang ada. Tapi kendala dan untuk mensiasati ini pihaknya terpaksa lain untuk petugas di hanggar ini juga harus membuka divisi baru yang ternyata terkadang masih ada yang tidak menguasai juga sangat merepotkan. penggunaan komputer sehingga kami me“Kami mengharapkan kebijakan untuk rasa terganggu juga. Untuk itu kami harapberada di kawasan industri tidak dilaksanakan kedepan kendala tersebut tidak terjadi kan, atau mungkin dipermudah untuk DPIL lagi dan petugas yang ditempatkan di kaatau dimudahkan PDKB. Dengan begitu wasan berikat memang petugas yang siap kami tinggal mengundang sub kontrak di dengan peraturan dan sarana yang ada,” luar untuk masuk kesini mendapatkan harap Supriyanto. PDKB, bukan kami harus invest sendiri. Itu yang sangat kami harapkan, sehingga KAWASAN INDUSTRI EDI SUSILO WIDJAJA. Kebijakan kawasan dapat mempercepat produksi yang otomatis Sementara itu menurut Direktur PT. berikat harus berada di kawasan industri, ekspor juga semakin cepat. Dan satu hal Panarub Industry, Edi Susilo Widjaja, sangat menghambat investasi kami. sebisa mungkin tidak memberatkan para investor dan juga memudahkan DJBC baik dalam melayani maupun dalam melakukan pengawasannya. Jika peraturan awal kawasan berikat dimulai dengan peraturan Menteri Keuangan nomor 291/KMK.05/ 1997, hingga kini peraturan tersebut telah mengalami perubahan sebanyak tujuh kali, dengan perubahan terakhir nomor 101/ PMK.04/2005. Sedangkan peraturan pendukungnya lainnya dari DJBC melalui keputusan Direktur Jenderal Bea dan Cukai, terdapat 1 kali perubahan, sedangkan untuk surat edaran Direktur Jenderal Bea dan Cukai tentang kawasan berikat, hingga kini telah mencapai 39 surat edaran.
EDISI 389 APRIL 2007 WARTA BEA CUKAI

17

LAPORAN UTAMA
WBC/ATS

Terhadap ketatnya seleksi untuk mendapatkan fasilitas kawasan berikat, diamini juga oleh Impex Manager PT. Dewhirst, Ade R. Sudrajat, yang juga merupakan sekretaris dari Asosiasi Pengusaha Kawasan Berikat (APKB),. Menurutnya, niatan pengusaha untuk mendapatkan fasilitas kawasan berikat memang ada yang baik dan tidak, untuk itulah DJBC harus benar-benar selektif JADILAH dan jika perlu dapat mendeteksi lebih dini apa niatan pengusaha PERUSAHAAN tersebut mengajukan fasilitas kawasan berikat. WHITE LIST “Kami selaku asosiasi pengusaha kawasan berikat juga selalu Kawasan berikat selektif dalam menerima anggota baru, karena kami tidak mau harus berada di kaJHONNY HM SIREGAR. Jika ingin mendapatkan asal masuk namun perusahaan tersebut tidak baik dalam menjaperlakukan yang lebih baik, jadilah pengusaha yang wasan industri melankan segala aturan. Walaupun dari wilayah Jawa Barat dan mang masih menjamasuk dalam daftar white list. Jawa Timur anggota kami baru sekitar 100 perusahaan, namun di pro dan kontra di mereka cukup baik dan memang benar-benar menjalankan amakalangan pengusaha itu sendiri, seperti diungkapkan oleh nah dari fasilitas yang diberikan,” tutur Ade. Assistant Manager PT. LG Electronics Indonesia, Jhonny HM Terkait peraturan yang ada, pihaknya juga selalu melakukan Siregar. Menurut Jhonny, pengusaha kawasan berikat memang komunikasi baik dengan Kantor Wilayah maupun dengan Kantor idealnya harus berada di kawasan industri, sehingga dalam Pusat, hal ini tidak lain agar setiap peraturan yang ada dapat pengawasan dan pengontrolannya mudah. cepat diketahui dan dapat dengan cepat disosialisasikan kepada “Investasi di dalam kawasan industri memang jauh lebih maseluruh anggota asosiasi. Namun demikian, Ade juga menyahal ketimbang di luar kawasan industri, namun kawasan berikat yangkan kalau masih ada beberapa kebijakan yang sifatnya adalah fasilitas yang mendapatkan penangguhan bea masuk dan sentralistik, padahal pihaknya sudah meminta untuk dapat PDRI, sehingga ada baiknya berada di kawasan industri yang didelegasikan ke Kantor Wilayah atau KPBC, namun hingga kini tentunya memudahkan dalam melakukan pengawasannya,” kata belum dapat terlaksana. Jhonny. “Kami hampir tiga bulan sekali mengadakan pertemuan Selain itu Jhonny menambahkan, untuk dikatakan menghamdengan DJBC melalui Kantor Wilayah, dan dari pertemuan itu bat investasi, dirinya merasa kurang yakin, karena untuk investasi kami selalu mengutarakan apa keluhan dan persoalan yang di dalam kawasan industri memiliki nilai plus dan minus-nya. sedang kami hadapi saat ini. Ya Alhamdulillah, dipertemuan itu Namun hal itu dikembalikan lagi kepada pengusahanya, menurutjuga masalah kami dapat terselesaikan, baik soal peraturan nya mana yang terbaik bagi kelangsungan industrinya. maupun soal kebijakan lainnya,” ujar Ade. PT. LG Electronic Indonesia memang telah mendapatkan whiUntuk masalah pengawasan, Ade menilai, DJBC sudah baik te list dari DJBC sehingga segala permasalahan yang dihadapidalam menjalankan tugasnya, karena bagaimanapun fasilitas nya dapat dengan cepat terselesaikan. Akan hal tersebut, Jhonny kawasan berikat adalah fasilitas yang mendapat penangguhan menghimbau agar perusahaan penerima fasilitas kawasan beribea masuk dan PDRI, sehingga pengawasan juga harus ketat. kat, harus jujur dalam menjalankan bisnisnya, jika mereka sudah Dan dari hasil tegahan DJBC juga sudah merupakan bukti kalau jujur dan patuh dengan segala peraturan yang ada, tentunya pengawasan yang dilakukan tidak hanya ucapan saja. pemerintah pun akan dengan senang hati memberikan perhatian “Makanya kami mengharapkan jangan ada dusta diantara yang lebih seperti dengan dimasukannya kedalam white list. kita, artinya DJBC dengan kebijakan yang Dengan white list tersebut bukan berarti WBC/ATS ada dapat benar-benar memberikan kami tidak mengalami kendala, ada satu kemudahan, sementara kami juga harus kendala namun kita telah mendapatkan kejujur dalam menjalankan bisnis. Jika ini bijakan dari Direktur Fasilitas, yaitu masalah sudah tercipta dengan baik, maka fasilitas ijin BC 2.3 parsial. Kami ini banyak sekali kawasan berikat adalah fasilitas yang memiliki vendor, sehingga banyak memerlubenar-benar sangat membantu dan dapat kan dokumen, untuk itu kami mengajukan menciptakan iklim investasi yang kondusif,” cukup satu dokumen master list saja, dan kekata Ade. luarnya memakai fotocopy dari master dan Agar terciptanya kondisi inilah, Ade keluarnya parsial. Ini sudah berjalan dan hammenyarankan agar DJBC dapat dengan batan kami telah teratasi,” ungkap Jhonny. cepat memikirkan solusi yang lebih efektif Dari solusi yang diberikan tersebut, dan efisien baik dalam pelayanan maupun maka Jhonny menilai segala peraturan dalam pengawasan kawasan berikat, yang ada tentang kawasan berikat sudah karena saat ini jumlah penerima fasilitas berjalan dengan baik, namun jika saat ini kawasan berikat sudah sedemikian masih banyak pengusaha kawasan banyaknya dan DJBC tidak mungkin berikat yang nakal, Jhonny mengatakan, mempunyai pegawai yang cukup untuk itu. harus dilihat dari perusahaan itu sendiri, “Saat ini perlu sistem yang terintegrasi apa tujuan mereka mendirikan kawasan di kawasan berikat, karena dengan sistem berikat. Sementara itu untuk pengawasyang sudah terintegrasi pelayanan dan an yang dilakukan DJBC, Jhonny melihat pengawasan akan menjadi lebih efektif dan sudah cukup baik, bahkan dari persyaratefisien. Dan DJBC pun tidak akan lagi an untuk mengajukan kawasan berikat punya kendala dengan SDM seperti yang juga sudah cukup ketat sehingga yang ADE R. SUDRAJAT. Perlu komunikasi yang intensi selama ini dikeluhkan,” tandas Ade. adi mendapatkan fasilitas kawasan berikat antara DJBC dengan pengusaha kawasan berikat. 18
WARTA BEA CUKAI EDISI 389 APRIL 2007

yang juga perlu mendapat perhatian, hendaknya DJBC juga jangan menilai semua yang ingin mendirikan kawasan berikat itu nakal sehingga penilaianya menjadi jelek, apalagi saat ini kita mengharapkan semua order tidak pindah ke negara lain,” harap Edi.

adalah perusahaan-perusahaan yang benar-benar qualified. “Kalau kita melihat dari daftar tujuan kawasan berikat, adalah kepercayaan. Karena kita mendirikan kawasan berikat melalui syarat yang cukup ketat, sehingga pada akhirnya pun kita akan tetap diaudit. Jadi buat apa kita tidak benar, kalau diaudit nanti kita juga bakal ketahuan, untuk itu dengan berbuat jujur saja dalam usaha kita sudah mendapat kemudahan, jadi gak usalah lah buat curang toh nantinya akan menyusahkan dirinya juga,” kata Jhonny.

PERLU SELEKSI LEBIH KETAT

WAWANCARA

Ibrahim A. Karim
Direktur Fasilitas Kepabeanan

“Pelanggaran Yang Terjadi Karena Aturannya Tidak Dijalankan”
Sebagai negara berkembang Indonesia menginginkan agar investasi dapat banyak yang masuk sehingga dapat menyerap tenaga kerja dan tentunya juga pendapatan devisa negara menjadi bertambah. Salah satu daya tarik yang diberikan oleh pemerintah kepada industriindustri yang ada, adalah dengan memberikan fasilitas penangguhan bea masuk dan pajak dalam rangka impor (PDRI) selama barang yang diimpornya kemudian diolah lalu diekspor kembali. Dan fasilitas tersebut disebut dengan fasilitas kawasan berikat (KB). Dari sejarah dilahirkannya kawasan berikat hingga kini, perkembangan industri terus berubah sehingga segala peraturan yang terkait dengan fasilitas kawasan berikat juga harus menyesuaikan dengan kondisi yang ada. Untuk mengetahui kondisi kawasan berikat saat ini dan kendala yang dihadapi oleh para pengusaha kawasan berikat, reporter WBC Supriyadi. W mewawancarai Direktur Fasilitas Kepabeanan, Ibrahim A Karim. Berikut petikan wawancaranya :
EDISI 389 APRIL 2007 WARTA BEA CUKAI

19

WAWANCARA
Bagaimana kondisi kawasan berikat saat ini, apakah fasilitas yang pengusaha dapatkan sudah sesuai dengan yang diharapkan oleh DJBC? Dari sudut pengguna fasilitas, fasilitas yang diterima sudah sesuai dengan peraturan yang berlaku yaitu terhadap barang impor diberikan penangguhan bea masuk (BM) dan tidak dipungut pajak dalam rangka impor (PDRI) dan apabila barangnya dari daerah pabean Indonesia lainnya (DPIL) tidak dipungut pajak pertambahan nilai (PPN). Dari sudut harapan Bea dan Cukai, dengan diberikannya fasilitas kawasan berikat (KB), investasi meningkat (indikator sederhana dapat dilihat dari permohonan fasilitas KB oleh investor baru dimana dari waktu ke waktu mengalami peningkatan yang signifikan sementara permintaan penutupannya relatif kecil), tenaga kerja terserap, devisa meningkat, dan lain-lain. Bagaimana dengan perijinan saat ini, apakah kebijakan penerima fasilitas kawasan berikat yang harus berada di kawasan industri justru akan menghambat investasi? Tidak, justru di kawasan Industri sudah tersedia fasilitasfasilitas untuk investasi, sehingga lebih mempermudah investor untuk menanamkan investasinya dan dari sisi pelayanan dan pengawasan akan menjadi lebih efektif dan efisien Bagaimana jika perusahaan tersebut telah menerima fasilitas kawasan berikat namun diluar kawasan industri dan berniat mengajukan fasilitas kawasan berikat untuk dua industrinya dilokasi yang sama? Apakah masih memungkinkan? Sesuai dengan ketentuan yang berlaku, hal tersebut masih memungkinkan, namun mengingat pola pengawasan saat ini yang masih bersifat fisik sehingga dengan jumlah pegawai yang tersedia pengawasan yang dilakukan tidak dapat optimal, dan untuk memudahkan/mengoptimalkan pengawasan diharapkan agar ijin KB baru seyogyanya berada di kawasan industri (KI). Perlu diinformasikan bahwa saat ini sedang dikembangkan pola pengawasan berbasis teknologi informasi (IT) yang tentu saja dalam pelaksanaannya memerlukan proses waktu yang lama. Sebelum proses IT tersebut dapat dilaksanakan, maka dengan pola pengawasan yang saat ini dilaksanakan dan dalam rangka mengoptimalkan pengawasan serta untuk memudahkan pengawasan, maka untuk sementara ijin baru KB diarahkan ke kawasan industri. Beberapa perusahaan penerima fasilitas kawasan berikat banyak yang mengutarakan kalau kebijakan yang sekarang masih bersifat sentralistik, bahkan yang bersifat operasional masih ditentukan oleh kantor pusat. Apakah kebijakan itu memungkinkan untuk dilimpahkan kepada kantor wilayah atau kantor pelayanan? Perlu diperjelas mengenai pengertian kebijakan yang sentralistik. Memang ada kebijakan-kebijakan yang saat ini disentralisasi di pusat, seharusnya bisa didelegasikan ke daerah. Hal ini sudah dilakukan antara lain untuk kebijakan menerima subkon dari DPIL yang telah dilimpahkan ke Kantor Pelayanan Bea dan Cukai (KPBC). Dan untuk KB yang ada di Batam, semua perijinan telah didelegasikan kepada KPBC. Namun untuk hal-hal tertentu seperti pemberian penangguhan BM dan ijin-ijin tertentu lainnya yang karena sifatnya perlu pengawasan yang terkoordinasi, harus tetap ditangani oleh Kantor Pusat (KP) DJBC. Bagaimana dengan ketentuan khusus yang bersifat petunjuk pelaksanaan yang sampai saat ini masih belum banyak dijabarkan secara jelas. Misalnya perihal pemindahtanganan barang modal yang tidak dipakai lagi oleh kawasan berikat baik yang akan dipindahtangankan ke DPIL atau PDKB lainnya? 20
WARTA BEA CUKAI EDISI 389 APRIL 2007

Ketentuan pemindahtanganan barang modal yang tidak dipakai lagi oleh kawasan berikat baik ke DPIL maupun ke PDKB lain secara tegas memang tidak diatur, namun atas pemindahan tersebut secara implisit diatur didalam Pasal 15 KMK No.291/KMK.05/1997. Untuk penyempurnaannya (dalam rangka mempertegas ketentuan tersebut) saat ini telah dilakukan perbaikan terhadap KMK No.291/KMK.05/ 1997 dan sudah dalam tahap pembahasan final di Kantor pusat DJBC Bagaimana dengan ketentuan pajak yang masih dikenakan kepada pengusaha kawasan berikat selain bea masuk dan PDRI? Bahwa fasilitas yang diberikan kepada pengusaha kawasan berikat berkaitan dengan kegiatan perusahaan yang bersangkutan adalah atas pajak barang impor/pembelian barang dalam bentuk PPN, PPnBM dan PPh Pasal 22 Impor (PDRI), untuk pungutan pajak lainnya tetap dikenakan sesuai ketentuan perpajakan yang berlaku seperti PPh Pasal 29 WP Badan, Pajak Bumi dan Bangunan dan PPN atas penggunaan jasa angkutan yang memang harus tunduk kepada ketentuan perpajakan Menurut Bapak, apakah pelanggaran yang dilakukan oleh perusahaan penerima fasilitas kawasan berikat, lebih dikarenakan peraturannya masih longgar? Atau terlalu membebaninya peraturan tersebut hingga akhirnya disimpangkan? Bahwa aturan mengenai kawasan berikat dibuat dengan mengamsusikan kondisi yang akan terjadi adalah kondisi ideal. Namun dalam pelaksanaan di lapangan aturan diatas tidak dijalankan secara benar sehingga apabila hal tersebut terjadi maka pelaksanaannya merupakan bentuk pelanggaran. Dengan demikian sebenarnya aturan tentang KB tersebut bukannya longgar tetapi pelanggaran yang terjadi tersebut adalah sematamata aturannya tidak dijalankan secara benar. Mengenai bahwa peraturan tersebut terlalu membebani menurut pendapat saya sebenarnya tidak tepat karena pengusaha KB dengan telah menerima fasilitas-fasilitas yang lebih dibandingkan dengan bukan Pengusaha Kawasan Berikat maka sebagai konsekuensinya harus menjalankan peraturan tersebut secara benar. Kalau ada penyimpangan seperti yang di maksud itu karena adanya tindakan oknum yang tidak bertanggung jawab. Apakah peraturan tentang kawasan berikat saat ini masih perlu disempurnakan? Dan apa yang menjadi kendala DJBC saat ini untuk melayani dan mengawasi kawasan berikat? Ya, memang masih perlu disempurnakan karena kondisi pada saat aturan KMK Nomor 291/KMK.05/1997 dibuat dengan kondisi saat ini memang berbeda dan untuk itu perlu dilakukan penyesuaian-penyesuaian sejalan dengan perkembangan teknologi dan globalisasi perekonomian. Saat ini sedang dilakukan pengkajian dan perumusan perubahan KMK Nomor 291/KMK.05/1997 tentang Kawasan Berikat. Terlebih lagi dengan disahkannya Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2006, maka ketentuan tentang KB khususnya dan TPB pada umumnya harus disesuaikan. Salah satu kendala DJBC untuk melayani dan mengawasi kawasan berikat adalah jumlah pegawai yang ada di KPBC tidak sebanding dengan jumlah KB yang sudah ada ditambah lagi calon KB yang telah mengajukan permohonan ke DJBC, hal ini terjadi karena pola pengawasan KB saat ini masih dilakukan secara fisik sehingga memerlukan banyak pegawai. Untuk kedepannya saat ini telah dilakukan usahausaha untuk menggantikan pola pengawasan secara fisik dengan pola pengawasan yang berbasis teknologi Saat ini pemberlakuan peraturan kawasan berikat di pulau Batam berbeda dengan di luar Batam. Apakah

diluar pulau Batam ini nantinya akan mendapat perlakuan yang sama dengan yang dipulau Batam? Untuk menjawab pertanyaan ini memang perlu pengkajian yang mendalam karena kondisi geografis antara Batam dengan di luar Batam sangat berbeda. Sebagai contoh DJBC telah menerbitkan aturan untuk tidak menggunakan dokumen pabean atas pemindahtanganan barang dari dan ke KB yang berada di wilayah kerja satu Kantor Bea Cukai pengawas (misalnya KPBC Batam). Hal ini sudah melalui proses pertimbangan sehingga dalam pelaksanaannya dapat berjalan dengan lancar. Namun apabila hal ini diterapkan di luar Pulau Batam saya rasa belum bisa, karena menggunakan dokumen pabean saja (yang merupakan salah satu media pengawasan) masih diselewengkan apalagi kalau tidak menggunakan dokumen pabean. Ada usulan kalau penerima fasilitas kawasan berikat saat ini diberikan tingkatan seperti halnya penjaluran, jika perusahaan tersebut memang benar-benar baik dalam menjalankan peraturan yang terkait dengan kawasan berikat maka tidak lagi memerlukan pengawasan ataupun dokumen seperti saat ini. Apakah ini memungkinkan? Mungkin saja dapat dilakukan, tetapi terkait dengan masalah penjaluran, dengan sistem yang sekarang saja pengusaha KB sudah mendapatkan jalur hijau (kecuali dalam hal ada NHI). Apabila berdasarkan penilaian suatu KB memang benar-benar baik (asas profiling) maka nantinya dapat saja diberikan fasilitas lebih berupa pengawasan yang khusus yang berbeda dengan KB-KB lainnya. Mengenai dokumen, hal tersebut tidak mungkin mengingat dokumen tersebut merupakan persyaratan yang harus dipenuhi oleh KB dan akan digunakan oleh auditor sebagai obyek audit perusahaan KB. Bagaimana dengan pengawasan yang dilaksanakan saat ini? Apakah sudah cukup efektif? Pengawasan terhadap KB saat ini terdiri dari 3 tahapan, yaitu pengawasan pada saat barang masuk ke KB, barang keluar dari KB dan pengawasan audit. Pengawasan tersebut akan efektif apabila tersedia pegawai yang cukup untuk mengawasi hal tersebut. Namun hal tersebut tidak mungkin dilakukan, dan untuk mengatasinya adalah dengan menerapkan manajemen risiko, sehingga pengawasan yang dilakukan adalah dengan memperhatikan tingkatan risiko perusahaan dan dengan demikian penempatan pegawai dapat dilakukan secara proporsional sesuai dengan tingkat risiko KB yang ada. Kedepannya akan menjadi lebih efektif apabila pengawasan dilakukan dengan sistem yang berbasis Teknologi. Apakah kawasan berikat saat ini harus diawasi secara penuh 24 jam oleh DJBC? Berdasarkan SE DJBC Nomor : SE-22/BC/2005 telah diatur bahwa untuk TPB yang terletak di Kawasan Industri, kegiatan pelayanan dan pengawasan kepabeanan dan cukai bagi pejabat/petugas bea dan cukai adalah 7 (tujuh) hari selama 24 jam atau mengikuti hari dan jam kerja kegiatan TPB yang bersangkutan. Untuk TPB yang terletak di luar Kawasan Industri, kegiatan pelayanan dan pengawasan kepabeanan dan cukai bagi pejabat/petugas bea dan cukai mengikuti hari dan jam kerja nasional/normal. Dalam hal suatu TPB memerlukan pelayanan kepabeanan dan cukai diluar jam kerja (untuk yang diluar Kawasan Industri) Pengusaha TPB dapat mengajukan permohonan kepada Kepala KPBC yang mengawasi. Bagaimana dengan keluhan KPBC yang pegawainya harus melayani sekaligus mengawasi suatu kawasan berikat dengan perbandingan 1 pegawai mengawasi 4 hingga 5 kawasan berikat?

Sebenarnya keluhan tersebut tidak perlu terjadi apabila pola pengawasan sudah dilakukan sesuai dengan yang saya sampaikan sebelumnya yaitu dengan menerapkan manajemen risiko untuk mengawasi KB-KB. Namun dalam pelaksanaannya disamping jumlah KB yang tidak sebanding secara proporsional dengan pegawai yang mengawasi, lokasi-lokasi KB tersebut terpencar sehingga akan menyulitkan pola pengawasan yang saat ini dilakukan (secara fisik). Oleh karena itu kedepannya sebelum pengawasan yang berbasis teknologi dijalankan secara penuh maka penerapan manajemen risiko untuk mengawasi KB adalah suatu keharusan yang tidak bisa ditawar lagi. Disamping itu yang harus dilakukan adalah mengarahkan lokasi KB sedemikian rupa sehingga lokasinya berada di Kawasan Indusri atau paling tidak lokasi KB-KB itu harus tersentralisasi (tidak terpencar). Apakah pegawai di kawasan berikat sudah memahami seluruhnya akan peraturan tentang kawasan berikat? Pada dasarnya setiap petugas bea dan cukai yang bertugas mengawasi dan melayani kawasan berikat harus paham akan seluruh peraturan tentang kawasan berikat. Bahkan Direktorat Fasilitas Keapabeanan (sebelumnya di Direktorat Teknis Kepabeanan) sendiri selama ini selalu mengadakan sosialisasi kepada KPBC-KPBC apabila ada peraturan baru mengenai kawasan berikat. Dan di KPBCKPBC-pun sebenarnya telah ada sarana untuk mensosialisasikan peraturan-peraturan tentang kepabeanan dan cukai termasuk peraturan tentang KB kepada para pegawainya yaitu P2KP, sehingga diharapkan selama menjalankan tugasnya pegawai-pegawai tersebut tidak berpotensi menghambat pelayanan dan pengawasan. Namun secara jujur harus diakui bahwa masih terdapat beberapa pegawai yang bertugas dilapangan yang belum mengerti peraturan tentang kawasan berikat. Hal ini dimungkinkan karena antara lain pegawai tersebut baru dimutasikan ke tempat tersebut dan baru melaksanakan tugas untuk melayani dan mengawasi KB. Untuk itu kedepannya dalam rangka meningkatkan pelayanan dan pengawasan kepada pengguna fasilitas kawasan berikat, sudah menjadi keharusan bagi pimpinan (terutama kepada Kepala KPBC) untuk lebih meningkatkan pembinaan kepada para pegawai di wilayah kerjanya. Bagaimana dengan pengertian impor untuk kawasan berikat yang saat ini masih belum ada kesepakatan antara DJBC dengan pajak? Pengertian Impor antara DJBC dengan DJP sebenarnya tidak berbeda. Yang berbeda adalah pada saat barang dari KB dikeluarkan ke DPIL (lokal) yang berarti barang tersebut akan diimpor untuk dipakai. Dari sudut pandang DJBC perlakuannya adalah sama dengan apabila barang tersebut diimpor dari luar negeri ke DPIL dan berlaku ketentuan umum dibidang impor serta sesuai PP 33 Pasal 5 maka atas barang tersebut tidak perlu dikenakan PPN dua kali (PPN masukan dan PPN keluaran), tetapi dari sudut pandang DJP karena KB tersebut sudah dianggap di dalam negeri, maka apabila suatu barang dari KB dikeluarkan ke DPIL maka atas barang tersebut disamping dikenakan PPN masukan juga dikenakan PPN keluaran atas penyerahan barang dari KB ke DPIL (penyerahan dalam negeri). Kedepan, atas perbedaan ini memang perlu dibicarakan dengan DJP untuk menyamakan sudut pandang (persepsi) tersebut. Apa harapan Bapak ke depan untuk kawasan berikat ini? Harapannya adalah agar fasilitas kawasan berikat dapat dimanfaatkan oleh investor sedemikian rupa sehingga atas pemanfaatan tersebut dapat meningkatkan investasi, sektor riil bangkit, pendapatan perkapita naik, menyerap lapangan pekerjaan, meningkatkan devisa dan secara umum perekonomian nasional dapat tumbuh dan berkembang sesuai harapan pemerintah dan rakyat Indonesia.
EDISI 389 APRIL 2007 WARTA BEA CUKAI

21

PENGAWASAN
WBC/ATS

P
22

kinerja DJBC, baik yang berhubungan dengan kinerja sistem dan prosedur maupun kinerja pegawai yang melaksanakan sistem dan prosedur dimaksud. Pemeriksaan ini dilakukan secara insidentil oleh pejabat Irjen Depkeu tanpa adanya pemberitahuan terlebih dahulu kepada petugas DJBC. Pelaksanaan pemeriksaan dilakukan dengan tetap memperhatikan kepentingan importir dan kelancaran arus barang. Di samping itu, para importir atau pemilik barang tidak perlu khawatir, karena segala biaya yang berkaitan dengan pemeriksaan mendadak ditanggung oleh Departemen Keuangan. Sehubungan dengan hal itu, pada 15 Pebruari 2007, bertempat di Ruang Loka Utama Lantai 1 Kantor PENANDATANGANAN PERATURAN BERSAMA. Untuk pemeriksaan mendadak dibidang Kepabeanan. Pusat DJBC berlangsung penandatanganan peraturan bersama antara Inspektur Jenderal (Irjen) Depkeu, Dr. Permana Agung dengan Direktur Jenderal (Dirjen) Bea dan Cukai, Drs. Anwar Suprijadi MSc. Peraturan bersama Irjen Depkeu dengan Dirjen Bea dan Cukai yang bernomor PER-01/1/2007 dan P04/BC/2007, merupakan perubahan keputusan bersama Inspektur JenUntuk meningkatkan kinerja aparat Direktorat deral dan Direktur Jenderal Bea dan Cukai Nomor :101/JI/2003 dan Nomor : 08/BC/2003 tentang Petunjuk Pelaksanaan PemeJenderal Bea dan Cukai (DJBC) serta riksaan Mendadak Kepabeanan di bidang impor. meningkatkan pengawasan atas Dalam suatu kesempatan wawancara dengan WBC di ruang pelaksanaan tugas-tugasnya, salah satu kerjanya, Irjen Depkeu, Permana Agung, menjelaskan tujuan diadakannya peraturan bersama, disamping itu ia juga kembali caranya adalah dengan melakukan pemeriksaan mendadak kepabeanan atau lebih menegaskan mengenai peran dan fungsi Inspektorat Jenderal. Dengan adanya perjanjian ini, menurut Permana Agung langdikenal dengan istilah spot check yang kah berikut yang harus dilakukan DJBC adalah melakukan sosialdilakukan oleh Inspektorat Jenderal (Itjen) isasi agar seluruh jajaran DJBC mengetahui betul fungsi Itjen dan manfaat yang ingin dicapai dari kerjasama tersebut supaya meDepartemen Keuangan (Depkeu). reka bisa mengantisipasi untuk tidak melakukan penyimpangan. Lebih lanjut ia menjelaskan, Menteri Keuangan (Menkeu) merupakan pengelola keuangan negara tertinggi setelah Presiemeriksaan mendadak pada saat pengeluaran barang den mendelegasikannya kepada menteri. Dalam pelaksanaan mulai dilakukan sejak 1 April 2003, melalui Keputusan tugasnya, Menkeu mendelegasikan kewenangannya kepada paMenteri Keuangan (KMK) Nomor : 111/KMK.04/2003 ra dirjen yang berada di seluruh jajaran Depkeu, termasuk Dirjen (yang kemudian dirubah dalam KMK Nomor 114/PMK. Bea dan Cukai beserta seluruh jajarannya berkaitan dengan ma04/2006), merupakan salah satu bagian dari program salah administrasi kepabeanan. Reformasi Kepabeanan yang ketika itu sedang digalakkan oleh Lantas bagaimana sekarang Menkeu mempunyai keyakinan DJBC. Ini dilakukan untuk memastikan apakah petugas bea cukai bahwa Dirjen Bea dan Cukai beserta seluruh jajarannya telah telah melaksanakan tugas penanganan barang-barang impor melaksanakan tugasnya sesuai dengan kebijakan Menkeu dan tersebut sesuai dengan ketentuan kepabeanan. peraturan perundangan yang berlaku ? Untuk itu, lanjut Permana Upaya ini dilakukan untuk mengevaluasi atau mengawasi

Spot Check
Itjen Depkeu dan DJBC

Peraturan Bersama

WARTA BEA CUKAI

EDISI 389 APRIL 2007

Agung, ada Inspektur Jenderal. “Jadi pengelolaan keuangan negara sepanjang berkaitan dengan administrasi kepabeanan didelegasikan ke dirjen bea cukai, tapi menkeu pada saat yang sama juga punya kewajiban manajemen yang namanya kontrol.” Di Depkeu, lanjut Permana Agung, terdapat 12 unit eselon I, yang tidak mungkin secara sendiri Menkeu melakukan kontrol. Karena itu kewenangan mengontrol diperjelas melalui Itjen untuk meyakinkan semua unit eselon I di Departemen Keuangan melaksanakan tugas sesuai dengan kebijakan. Irjen melakukan pengawasan fungsional terhadap pelaksanaan tugas seluruh unsur di Depkeu yang memiliki 12 Direktorat Jenderal. Tujuannya adalah untuk mengetahui apakah para aparatnya telah melaksanakan tugas dan kewajibannya sesuai peraturan perundangan dan kebijakan Menkeu. “Tidak heran jika Itjen keberadaannya tidak populer di ke-12 unit ini, karena kita ngawasi mereka, apakah sesuai dengan ketentuan atau tidak. Boleh dibilang sparing partner atau provosnya Depkeu, karena masing-masing punya program. Ibarat ‘P2’ nya Depkeu untuk penegakkan aturan,” tegasnya. Lantas pertanyaannya adalah bagaimana Itjen melaksanakan fungsi tersebut dalam hubungannya dengan DJBC ? Menurut Permana Agung, dalam hal ini Itjen memiliki kewenangan melakukan pemeriksaan rutin, terutama dibawah Inspektorat Bidang 4 yang menangani masalah kepabeanan dan cukai. Dibantu juga oleh Inspektorat Bidang Investigasi. Perlu diketahui, Inspektorat Bidang 4 mempunyai tugas melaksanakan pengawasan fungsional terhadap pelaksanaan kebijakan dan aturan hukum yang berlaku pada unit yang menangani bidang pabean dan cukai, bidang pengawasan, tugas lainnya dari Inspektur Jenderal serta pembinaan teknis pelaksanaan pengawasan. “Apabila dalam melaksanakan tugas yang sifatnya rutin, inspektorat menemukan bukti awal terjadinya penyimpangan dan terjadinya penyalahgunaan yang berindikasi korupsi dibidang pelayanan kepabeanan misalnya, maka itu bisa ditindak,” ujar Permana Agung.

Pemeriksaan Mendadak Itjen dan Bea Cukai
Bertujuan sebagai pengujian secara acak atas kebenaran dokumen pemberitahuan kepabeanan yang diajukan kepada Bea dan Cukai dengan fisik barang sebenarnya, serta salah satu pengujian kepatuhan pengguna jasa terhadap ketentuan kepabeanan (compliance check). Selain itu, dimaksudkan pula sebagai upaya menjaga kualitas kerja dan kinerja pegawai Bea dan Cukai dalam melaksanakan tugasnya (quality control). Dasar Hukum Dituangkan dalam : 1. Keputusan Menteri Keuangan, Nomor: 114/ PMK.04/2006 2. Keputusan Bersama Itjen Depkeu dengan DJBC, Nomor : PER-01/1/2007 dan P-04/BC/2007, Hal yang Diatur l Dilaksanakan oleh pejabat Inspektorat Jenderal berdasarkan Surat Tugas yang diterbitkan Inspektur Jenderal l Tim Pemeriksaan Mendadak menetapkan obyek pemeriksaan secara acak dari daftar SPPB/ dokumen pengeluaran barang l Pelaksana spot check langsung menghubungi pejabat hanggar. Pejabat hanggar menghubungi Kasi P2, lalu Kasi P2 menerbitkan surat penindakan l Obyek Barang : i. Barang impor sementara dan barang impor untuk dipakai, dilakukan penelitian kesesuaian dokumen dan fisik barang ii. Barang diangkut lanjut, diangkut terus, dan pindah lokasi. Dilakukan penelitian dokumen l Teknis pemeriksaan mengacu kepada ketentuan pemeriksaan kepabeanan l Hasil pemeriksaan disampaikan kepada Inspektur Jenderal dengan tembusan kepada Direktur Jenderal Bea dan Cukai l Biaya yang timbul, dibebankan kepada mata anggaran Depkeu yang diusulkan Itjen.

TIDAK MENGGANGGU ARUS BARANG
Dalam melakukan pemeriksaan, terdapat bidang-bidang yang akan turun melakukan pemeriksaan rutin, baik pemeriksaan keuangan maupun pemeriksaan kinerja. Itu dilakukan dengan cara mengaudit. Jika dalam proses audit ternyata ditemukan bukti-bukti awal terjadinya penyimpangan dan penyalahgunaan wewenang yang mempunyai WBC/ZAP implikasi terjadinya kerugian negara, maka bisa diangkat untuk disidik. Itu yang menurut Permana Agung merupakan konsep lama. Sedangkan saat ini dalam konsep yang baru, menginginkan adanya konsep spot check yang tidak saja rutin dan sudah terjadwal. Tetapi harus ada pemeriksaan mendadak yang waktunya tidak ditentukan. Tujuannya adalah untuk mengetahui pelaksanaan tugas dan fungsi organisasi, apakah sudah sesuai dengan aturan atau tidak. Seperti telah diketahui bersama, saat ini di Bea dan Cukai sudah memiliki satu sistem yang dimulai dari pengajuan dokumen, pemeriksaan administrasi, pemeriksaan fisik sampai jalur merah, nota pemberitahuan jalur merah sampai Surat DR. PERMANA AGUNG. Idealnya, indikator keberhasilan dilihat dengan Perintah Pengeluaran Barang Keluar, jadi ibaratnya seperti artidak adanya lagi penyimpangan di go meter. “Jika ini sedang bersuatu direktorat jenderal.

jalan lantas tiba-tiba aparat Itjen datang dan melakukan pemeriksaan mendadak jangan sampai ini menjadi tidak ada kepastian.” “Maka itu, perlu ada satu pemahaman, satu kesepakatan dan satu aturan yang memungkinkan jika aparat Itjen datang, dan di tengah-tengah proses mereka masuk, ada sistem yang memungkinkan di break sementara, sebab akan kita periksa. Itu yang diatur di dalam kesepakatan. Intinya kita tidak mengganggu arus barang, supaya ada kesisteman yang bisa mengakomodir dengan suatu kepastian,” ujar Permana Agung.

AUDIT INTEGRATIF
Lebih lanjut disampaikan Permana Agung, ada hal yang lebih baru dalam melakukan pemeriksaan oleh Itjen yang disebut dengan pemeriksaan integratif, maksudnya adalah di Itjen saat ini ada 7 bidang yang melakukan pengawasan. Dulunya bidang itu terpisah-pisah dan otomatis kantornya juga masing-masing memiliki sendiri. Padahal, dalam satu transaksi bisa sekaligus mengait pada lebih satu unit eselon I. Misalnya untuk impor, harus membayar Bea Masuk, PPN Impor, dan sebagainya, termasuk kewajiban importir untuk menyelesaikan kewajiban ke Kantor Pelayanan Bea dan Cukai dan Kantor Pajak. Begitu juga dengan
EDISI 389 APRIL 2007 WARTA BEA CUKAI

23

PENGAWASAN
WBC/ATS

UNTUK MENINGKATKAN KINERJA aparat Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) serta meningkatkan pengawasan atas pelaksanaan tugas-tugasnya, salah satu caranya adalah dengan melakukan pemeriksaan mendadak.

cukai, harus pesan pita cukai, mengurus dokumen CK1, bayar cukai, bayar PPN yang bisa dihitung dan dikomputerisasikan kompensasinya untuk satu masa pajak. Itu misalnya. “Nah dulu itu sendiri-sendiri, sekarang saya gabungkan. Jadi ada tim dari Itjen bidang 1, 2,3,4 atau tim dari Itjen bidang 5,6,7 yang terkait dengan masalah tadi untuk turun bersama memeriksa satu tema. Bisa dilihat di bea cukainya, kalau ada kaitannya ke pajak langsung pemeriksaannya ke kantor pajak, dan sebagainya. Ini yang paling penting dan namanya audit integratif,” jelasnya. Untuk pelaksanaan audit integratif ini, lanjut Permana Agung, tidak lama lagi akan segera diberlakukan dan sebagian sudah berjalan. Misalnya, berkaitan dengan Bea Cukai dan Pajak, seperti PPN Impor yang juga harus di check apakah sudah masuk ke Kantor Pelayanan Kas dan Perbendaharaan Negara (KPKPN), sehingga ada inspektorat bidang 5 dapat turun bersama-sama. Latar belakang dilakukannya audit integratif, menurut Permana Agung, hal itu berdasarkan pemikiran bahwa jika dilakukan pemeriksaan yang rutin secara terpola akan mudah sekali dihindari. Ia pun meragukan keefektifan pemeriksaan yang dilakukan secara rutin dibandingkan pemeriksaan secara mendadak. “Jadi memang beda. Pemeriksaan mendadak maksudnya supaya mereka selalu merasa di awasi dan kapan saja Itjen bisa datang, karena itu mudah-mudahan mereka tidak tergoda melakukan kesalahan. Dalam hal ini sasaran tempatnya tidak ada yang tahu, termasuk kapan waktunya. Dimana kita mau datang, dan apa temanya, tidak ada yang tahu. Misalnya ke Priok, dia tidak tahu kapan waktunya, apa temanya, apakah periksa SPPB-nya, nilai pabeannya atau perijinannya ? Tidak ada yang tahu. Itulah namanya pemeriksaan mendadak,” tegasnya. Dikemukakan Permana Agung, Dirjen Bea dan Cukai mengharapkan peran dari Itjen dapat membantu mengurangi sejauh mungkin terjadinya penyalahgunaan dan penyimpangan kewenangan di Bea dan Cukai. “Karena itu saya berpesan pada teman-teman di bea cukai, laksanakan tugas sesuai aturan, lakukanlah yang benar, bukan yang baik. Beda antara benar dengan yang baik. Yang baik menurut saya belum tentu menurut anda baik, tapi kalau benar atau salah, menurut siapapun itu kalau benar ya benar kalau salah ya salah. Lakukan yang benar, bukan yang baik dan bukan hasil kompromi,” tegasnya.

PEMBERIAN REKOMENDASI
Setelah dilakukannya penelitian dan diketahui adanya penyimpangan maka Itjen memberikan rekomendasi kepada 24
WARTA BEA CUKAI EDISI 389 APRIL 2007

dirjen yang bersangkutan. Dalam aturan mainnya, jika Itjen menemukan kesalahan atau pelanggaran maka dilakukan rapat dan gelar perkara, lalu dibuatlah rekomendasi kepada dirjen yang bersangkutan untuk menjatuhkan sanksi kepada aparatnya yang melakukan pelanggaran. Namun diakui Permana Agung, masih terkesan Itjen seolah-olah hanya memberikan rekomendasi saja karena rekomendasi yang telah diberikan terkadang masih belum dilaksanakan atau masih ada ‘tawar menawar’. “Kadang-kadang ada yang coba untuk menawar rekomendasi yang dikeluarkan Itjen alasannya sanksi terlalu berat atau kurang manusiawi, sebab Itjen lebih sering membuat keputusan membebastugaskan artinya dicopot jabatannya, dicopot dari pekerjaannya misalnya untuk 5 tahun. Itu kadang dinilai terlalu berat atau kurang manusiawi. Jadi hanya macan kertas sedangkan pelaksanaannya kurang menggigit.” Permana Agung menegaskan jika dalam pelaksanaannya rekomendasi yang dikeluarkan Itjen tidak dilaksanakan, maka langkah yang diambil Irjen adalah melaporkannya kepada Menkeu dan ia yang menentukan langkah selanjutnya. “Jadi kalau rekomendasi saya tidak dijalankan ya saya lapor sama ‘yang punya ditjen’ untuk langkah selanjutnya.” Menurut Permana Agung mestinya Irjen mempunyai kewenangan untuk menjatuhkan sanksi. Memang ada keinginan upaya ke arah itu dengan melakukan perubahan mengenai dasar hukum kewenangan Itjen, melalui Inspectorat General Law, (IG Law) begitu ia menamakannya, yang saat ini sedang dalam proses perumusan dengan berbagai masukan dari kalangan akademisi. Disamping itu juga, IMF (International Monetary Fund) dan USAID (United States Agency for International Development)juga diminta pendapatnya mengenai seperti apa based practices-nya inspektorat jenderal di dunia internasional. “Selama ini yang digunakan hanya PP No.30 tentang sanksi terhadap pegawai negeri sipil, jadi yang kita atur hanya prosedur dalam lingkup direktorat jenderal. Kita hanya bisa masuk sampai disitu tanpa mengganggu sistem. Jadi tatarannya disitu saja.” Ketika disinggung mengenai rencana program institusi yang dipimpinnya tahun 2007 ini, Permana Agung mengatakan seperti yang ia sampaikan kepada seluruh jajaran di Itjen, bahwa harus ada semangat baru karena jaman sudah berubah begitu pula dengan tantangan yang semakin berat. Untuk itu ia lebih menitikberatkan pada kedisiplinan di lingkungan Itjen selain itu juga menetapkan penandatanganan faktur integritas setiap kali aparatnya akan turun ke lapangan. “Faktur integritas itu penting, isinya mereka tidak akan menerima apapun, baik itu fasilitas, uang, maupun janji dan itu juga ditandantangani oleh kepala kantor yang akan diperiksa.” Kepada pengawas audit di jajarannya pun juga dilakukan peningkatan kualitas. Menurutnya ada semacam penilaian kinerja para auditor, melalui Komite Pengawas Kualitas Audit (KPKA) melalui penetapan penilaian dengan range nilai tertentu. Jadi ada unit yang menjaga kualitas audit termasuk bidang investigasi, ini dilakukan setiap 3 atau 6 bulan sekali dan harus ada laporan akuntabilitas kinerja dari Inspektorat Bidang, karena memang Itjen harus jadi contoh dari direktorat jenderal. “Untuk program tahun 2007 ada rencana strategis, yaitu pedoman implementasi good governance di Itjen Depkeu. Terus terang ini semua masih baru. Jadi semangat, pengalaman dan pengetahuan saya mencoba untuk menggerakkan Itjen. Prioritas utama saya ada semacam quality control untuk 12 unit eselon I di lingkungan Depkeu dalam melaksanakan tugas sesuai dengan prinsip good governance tadi karena saya adalah instrumen dari Menkeu untuk melakukan ini. Jadi Itjen harus benar-benar independen,” tegasnya. Ketika disinggung mengenai indikator keberhasilan dari Itjen, Permana Agung menekankan bahwa indikator keberhasilan bukan didasarkan pada banyaknya temuan, karena jika berpedoman bahwa keberhasilan dilihat dari banyaknya temuan berarti masih banyak penyimpangan di suatu direktorat jenderal. Yang paling ideal menurutnya indikator keberhasilan adalah tidak ada lagi penyimpangan di suatu Direktorat Jenderal. ris

WBC/RIS

l

l

l

warga negara Singapura yang datang dari India pada 28 Pebruari dengan pesawat Lufthansa Airlines LH-778 36 pasang perhiasan yang dibawa penumpang inisial MLM warga negara Belanda yang datang dari India pada 5 Maret 2007 dengan pesawat Air India A1-472 62 pasang perhiasan yang dibawa penumpang inisial SU warga negara Belanda yang datang dari India pada 5 Maret 2007 dengan pesawat Air India A1-472 33 tas dan sepatu yang dibawa penumpang inisial MN warga negara Indonesia yang datang dari Singapura pada 10 Maret 2007 dengan pesawat Singapore Air Lines SQ-154.

SANKSI AKAN MAKIN BERAT
Dalam penegahan yang dilakukan kali ini diperkirakan harga tafsiran barang sebesar Rp. 2.3000.000.000 (dua miliar tiga ratus juga rupiah) dan hak keuangan negara berupa Bea Masuk, PPN dan PPh yang dapat diselamatkan diperkirakan mencapai sebesar Rp. 1.100.000.000 (satu milyar seratus juta rupiah) sehingga nilai seluruhnya mencapai total Rp. 3,3 miliar rupiah. Selaku Kepala KPBC Tipe A Soekarno Hatta, mewakili Direktorat Jenderal Bea dan Cukai, Agung Kuswandono menegaskan bahwa dalam masa transisi perubahan undangundang kepabeanan kembali dihimbau kepada masyarakat yang berpergian ke luar negeri, agar pada saat kembali ke Indonesia supaya memberitahukan barang bawaannya dengan cara menuliskan jumlah dan jenis barang yang dibawanya dalam Customs Declaration BC.2.2. Bila kewajiban tersebut tidak dilaksanakan, maka penumpang yang bersangkutan sesuai dengan Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2006 sebagai revisi dari Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1995 tentang Kepabeanan, perbuatan tersebut adalah merupakan tindak pidana dengan ancaman pidana penjara paling singkat dua tahun dan paling lama delapan tahun dan atau denda paling sedikit Rp. 100 juta dan paling banyak Rp. 5 miliar. “Melalui momen ini sekaligus saya ingin mensosialisasikan kepada para penumpang khususnya yang datang dari luar negeri agar memberitahukan secara benar kepada petugas bea cukai untuk menghindari adanya tindak pidana. Formulir BC.2.2 atau pemberitahuan pabean merupakan dasar hukum bagi pegawai kami untuk melaksanakan tugasnya. Perlu diketahui juga, saat ini aturannya akan menjerat pada pasal tindakan pidana. Untuk kasus yang baru diungkap ini pelaku masih dikenakan denda administratif, namun dalam waktu dekat jika ada pelanggaran seperti ini lagi mereka bisa dikenakan pasal pidana dengan hukuman seperti yang sudah saya sampaikan tadi, juklaknya saat ini sedang dibuat,“ tegasnya. Hadir dalam press release yang berlangsung di Media Center Gedung A KPBC Tipe A1 Soekarno-Hatta, pada 12 Maret 2007, Direktur Jenderal Bea dan Cukai, Anwar Suprijadi, Kakanwil IX DJBC Jawa Barat, Jody Koesmendro, beberapa pejabat eselon III di lingkungan DJBC, Kepala Kepolisian Bandara SH, Kepala Imigrasi Bandara SH dan undangan lainnya. ris
WBC/RIS

PRESS RELEASE yang berlangsung di Media Center Gedung A KPBC Tipe A1 Soekarno-Hatta, pada 12 Maret 2007.

Aparat Bea Cukai SH Sita Perhiasan dan Barang Penumpang Lainnya
Penanganan barang penumpang internasional dan domestik di Bandara Soekarno-Hatta akan semakin dipertegas lagi aturan mainnya. Sanksi bagi pelanggar kewajiban pabean sesuai dengan UU No. 17 Tahun 2006 akan semakit diperberat.

P

etugas Kantor Pelayanan Bea dan Cukai (KPBC) Tipe A1 Soekarno-Hatta berhasil menegah sejumlah barang antara lain perhiasan, tas, sepatu dan beberapa unit laptop yang akan masuk ke Indonesia tanpa melalui prosedur kepabeanan yang telah ditentukan. Untuk alasan penegahan barang-barang berupa perhiasan dikarenakan penumpang yang bersangkutan tidak memenuhi kewajibannya untuk memberitahukan barang yang dibawanya kepada petuas Bea dan Cukai dengan mengisi formulis Customs Declaration (BC.2.2). Sementara itu untuk penegahan laptop dan asesories dilakukan aparat KPBC Soekarno-Hatta atas informasi dari Bea dan Cukai Batam . Perbuatan ini masih bersifat pelanggaran administratif dengan sanksi administrasi berupa denda. Untuk penegahan tas dan sepatu dilakukan karena pemberitahuan yang disampaikan oleh si pemilik barang tidak sesuai dengan prosedur kepabeanan. Berikut barang-barang hasil tegahan yang kini diamankan oleh petugas KPBC Soekarno Hatta: l 110 pasang perhiasan yang dibawa penumpang inisial YK warga negara Indonesia yang datang dari Amerika pada 23 Pebruari 2007 dengan pesawat Emirat Airlines EK-348. l 2 koper laptop dan assesories eks impor yang dibawa penumpang inisial DK warga negara Indonesia yang datang dari Batam pada 23 pebruari 2007 dengan pesawat Adam Air K1-271 l 17 pasang perhiasan yang dibawa penumpang inisial NNM

BARANG-BARANG HASIL TEGAHAN yang kini diamankan oleh petugas KPBC Soekarno Hatta. EDISI 389 APRIL 2007 WARTA BEA CUKAI

25

PENGAWASAN
WBC/ATS

IMPORTASI DAGING ILLEGAL. Diberitahukan pada PIB sebagai makanan hasil laut.

Kanwil VII DJBC Jakarta I Ungkap Dua Kasus Pelanggaran Kepabeanan
Pelaku memberitahukan barang yang diimpor dan ekspor dengan secara tidak benar.

dalam tiga hari pengurus atau pemilik barang harus menarik kontainer ke lapangan pemeriksaan untuk dilakukan pemeriksaan fisik barang oleh petugas. Setelah tiga hari sejak pengajuan PIB, pengurus atau pemilik barang tidak menarik kontainer tersebut ke lapangan pemeriksaan. Curiga dengan keadaan tersebut, petugas yang dibekali dengan surat tugas pemeriksaan, memeriksa kontainer tersebut. Hasil kecurigaan petugas terbukti dimana kontainer tersebut ternyata berisi barang yang dilarang untuk diimpor seperti daging bebek China (Chinese rice duck), potongan daging ayam (Whole yellow chiken, Brazil chiken whole wing) potongan daging sapi (beef tendon, Brazil ID beef cube roll, Brazil beef tongue) yang tidak diberitahukan dalam PIB sehingga kemudian dilakukan penangkapan dan penahanan pada akhir Februari 2007 lalu. Importasi illegal tersebut lanjut Heru menyalahi ketentuan pada Undang-Undang Kepabeanan nomor 10 tahun 1995 jo Undang-Undang Nomor 17 tahun 2006 pasal 103 huruf (a) dengan sanksi maksimal 5 tahun dan denda Rp. 250 juta rupiah. Petugas juga telah menetapkan satu orang tersangka yaitu HAH customs broker PT EUK, dan untuk kelancaran pemeriksaan beberapa orang telah dimintai keterangan. Sementara barang bukti berupa satu unit kontainer beserta dengan isinya ditahan oleh petugas bea dan cukai Tanjung Priok Jakarta. Atas terungkapnya kasus tersebut, negara berpotensi mengalami kerugian yang sifatnya immaterial yaitu ancaman wabah penyakit PMK dan flu burung di wilayah Indonesia dikarenakan dagingdaging asal China dan Brazil tersebut belum bebas dari PMK dan flu burung

PENYELUNDUPAN ROTAN

D

Tidak hanya itu saja, petugas bea cukai pelabuhan Tanjung Priok juga berhasil mengagalkan pengiriman rotan asalan ke China, dengan menggunakan modus tidak memberitahukan secara benar isi kontainer dalam Pemberitahuan Ekspor Barang (PEB). Hal tersebut dilakukan dengan maksud untuk menghindari pungutan ekspor serta aturan larangan ekspor rotan ua kasus pelanggaran kepabeanan dibidang impor asalan dari pemerintah. Dalam PEB isi kontainer disebutkan maupun ekspor berhasil diungkap petugas bea dan sebagai kerajinan rotan. cukai Pelabuhan Tanjung Priok Jakarta. Hal ini Petugas bea cukai menurut Heru curiga terhadap eksportasi disampaikan Kepala Kantor Wilayah VII DJBC Jakarta I atas nama CV. SA yang jenis barangnya disebutkan sebagai Heru Santoso kepada pers Selasa, 6 Maret 2007. Pada kerajinan rotan tadi sebanyak tiga kontainer dengan tujuan China. kasus pelanggaran kepabeanan dibidang impor, petugas Tindak lanjut dari kecurigaan tersebut menegah masuknya daging bebek, daging WBC/ATS petugas mengeluarkan Nota Hasil Intelejen ayam dan daging asal China dan Brazil (NHI) untuk melakukan penegahan dan yang diimpor dari Hongkong. Modus opepemeriksan atas barang tersebut. randi yang dilakukan adalah dengan tidak Kecurigaan petugas terbukti dimana memberitahukan dalam Pemberitahuan pada pemeriksaan fisik barang kontainer Impor Barang (PIB) secara benar dengan tersebut bukan berisi kerajinan rotan melamaksud menghindari larangan pemerintah inkan 396 bales rotan asalan dan bukan tentang pemasukkan hewan dan bahan asal kerjainan rotan seperti yang diberitahukan hewan dari negara yang tertular Penyakit dalam PEB sehingga dilakukan penegahan Mulut dan Kuku (PMK). untuk proses hukum lebih lanjut. Impor daging illegal tersebut dilarang Petugas telah menetapkan dua orang pemerintah karena China dan Brazil yang tersangka yaitu TD dari customs broker PT. merupakan negara asal daging tersebut AIBT yang telah ditangkap dan HM, termasuk negara yang tertular dan terkena seorang Broker yang kini masih dalam wabah PMK yang sesuai dengan Surat Daftar Pencarian Orang (DPO). Tersangka Edaran Menteri Pertanian No. TN.510/94/A/ dijerat dengan UU No.17/2006 tentang IV/2001 tanggal 20 April 2001. Perubahan Atas UU No. 10/1995 tentang Impor daging tersebut lanjut Heru dilakuKepabeanan pasal 102 A huruf (b) Jo. 103 kan CV. CB dengan mengajukan PIB nomor huruf (a) dengan sanksi maksimal penjara 045026 dengan pemberitahuan barang yang 10 tahun dan denda Rp. 5 Miliar. diimpornya pada PIB sebagai makanan haPotensi kerugian negara atas sil laut seperti octopus, cuttle fish, shell museksportasi illegal tersebut, mencapai sel, jelly fish, scallops dan kernel corn. Oleh ROTAN. Akibat ekspor illegal rotan terjadi Rp.46.107.000 dari penerimaan sektor sistem komputer bea cukai, PIB tersebut kerugian immaterial yaitu langkanya bahan Pajak Ekspor (PE). zap terkena jalur merah dan menurut prosedur baku rotan yang menopang industri
WARTA BEA CUKAI EDISI 389 APRIL 2007

26

DOK. KPBC TANJUNG PRIOK III

Eksportasi Timah Ilegal

Digagalkan Petugas KPBC Tanjung Priok III

K

Sesuai ketentuan Keputusan Menteri Keuangan RI Nomor: 07/M-DAG/4/2005 tanggal 19 April 2005 tentang Perubahan atas Lampiran keputusan Menperindag RI Nomor 558/ MPP/Kep/1998 tentang Ketentuan Umum di Bidang Ekspor sebagaimana telah diubah beberapa kali dengan Keputusan Menperindag RI Nomor: 385/MPP/KEP/6/2004, dijelaskan bahwa untuk jenis barang biji timah dan konsentratnya dinyatakan sebagai barang yang dilarang untuk di eskpor. Mengacu pada pasal 53 ayat 3 Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1995 tentang Kepabeanan, atas party barang impor tersebut selanjutnya ditetapkan sebagai barang yang dikuasai negara dengan keputusan Kepala Kantor Pelayanan Bea dan Cukai Tanjung Priok Nomor: Kep-294/WBC.04/KP.03/2006 tanggal 7 September 2006. untuk menyelesaikan EKSPORTASI ILEGAL. Timah yang akan diekspor berhasil ditegah petugas KPBC Tanjung Priok III . tangkapan bongkahan material mengandung timah tersebut, KPBC Tanjung Priok III telah melakukan koordinasi dengan PT. Tambang Timah. Dengan keberhasilan aparat Bea dan Cukai KPBC Tipe A Khusus Tanjung Priok III mengagalkan upaya Pengecekan past record eksportasi seperti alamat eksportir eksportasi timah secara illegal, secara tidak langusng tidak ditemukan berdampak pada pengendalian ekspor beberapa komoditi tertentu sesuai dengan ketentuan internasional mengenai antor Pelayanan Bea dan Cukai (KPBC Tipe A1 lalu lintas barang. Kpbc Tanjung Priok III / zap Tanjung Priok III) baru-baru ini berhasil mengagalkan eksportasi barang secara ilegal yakni barang ekspor DOK. KPBC TANJUNG PRIOK III dengan pemberitahuan 205 MT of Ball Clays E-1 Packed Inused Jumbo Bags, dengan eksportir PT. NSP sebanyak 9 kontainer yang masing-masing berukuran 20 feet.Eksportasi secara ilegal tersebut dapat dideteksi melalui analisa intelejen yang dilakukan petugas P2 KPBC Tipe A1 Tanjung Priok III. Selama ini sangat jarang eksportasi diberitahukan dengan jenis barang clay (Tanah liat) sedangkan selama ini clay merupakan jenis barang yang sering diimpor. Atas dasar analisa tersebut ditambah dengan pengecekan past record eksportasi seperti alamat eksportir tidak ditemukan, maka atas barang tersebut dikenakan Nota Hasil Intelejen (NHI). Berdasarkan pemeriksaan fisik kedapatan 118 bag dengan berat 204,8 ton bongkahan material berwarna abu-abu kehitam-hitaman. Untuk memastikan kandungan bongkahan material tersebut, KPBC Tanjung Priok III telah mengirimkan contoh untuk dilakukan uji laboratorium oleh Balai Pengujian dan Identifikasi Barang (BPIB) dan berdasarkan hasil pengujian disimpulkan bongkahan tersebut merupakan besi yang telah bercampur dengan timah. Untuk penyelidikan dan penyidikan, Petugas KPBC Tanjung Priok III memanggil eksportir dan Perusahaan Penyedia Jasa Kepabeanan (PPJK), namun eksportir dan PPJK tersebut tidak memenuhi panggilan. Begitu pula ketika dilakukan pengejaran, penanggung jawab perusahaan tidak ditemukan. Berdasarkan hasil pemeriksaan terhadap PPJK tersebut, kasus ini tidak memenuhi unsur-unsur untuk disidik. TIMAH. Contoh timah yang gagal di ekspor
EDISI 389 APRIL 2007 WARTA BEA CUKAI

27

DAERAH KE DAERAH
DOK. WBC

alam pertemuan itu Ketua Program Studi Magister Akuntansi menceritakan asal-usul mengenai munculnya mata kuliah Kepabeanan dan Cukai dalam program tersebut. Bahwa Program Studi ini didirikan berdasarkan Surat Ijin Penyelenggaraan Program Studi Magister Akuntansi pada Universitas Airlangga dari Dirjen Pendidikan Tinggi Nomor: 2377/D/T/2001 tanggal 12 Juli 2001. Program Studi ini menerima calon mahasiswa yang bergelar Sarjana dari Program Studi Akuntansi, Manajemen, Studi Pembangunan, Perpajakan serta Administrasi Niaga. Untuk mata kuliah Kepabeanan dan Cukai mulai dilaksanakan pada tahun 2004 karena permasalahan kepabeanan dan cukai juga merupakan permasalahan KANWIL XI DJBC JAWA TIMUR I, sejak tahun 2004 mulai memperkenalkan mata kuliah Kepabeanan dan Cukai di perpajakan. Mata kuliah Pascasarjana Program Magister Akuntansi Universitas Airlangga, Surabaya. tersebut terdiri dari 3 SKS dan dilaksanakan pada perkuliahan malam hari jam 18.30 s.d. 21.30. Sebagai tindak lanjut pertemuan tersebut, Kepala Kantor Wilayah membentuk Tim Pengajar yang terdiri dari 5 orang yaitu Heryanto Budi Santoso, S.H., M.M., Drs. Roeslan M. Soetedjo, M.M., Drs. Abdul Kharis, Apt., M.A., Chairul Saleh, S.H., M.Si. dan Listrijono, S.Hut., M.A. Tugas masing-masing pengajar akan dibagi berdasarkan keahlian masingPada bulan Pebruari 2004, Kantor Wilayah VII masing dan akan dilaksanakan dalam 14 kali pertemuan DJBC Surabaya (sekarang Kanwil XI DJBC di semester II (genap).

D

Mengenalkan Bea dan Cukai
di Mahasiswa Pascasarjana
PENGENALAN BEA CUKAI

Jawa Timur I) menerima surat permohonan pengajar di Program Magister Akuntansi, Universitas Airlangga untuk mata kuliah Kepabeanan dan Cukai dari Program Pascasarjana, Universitas Airlangga, Surabaya. Atas permohonan tersebut, Kepala Kantor Wilayah waktu itu, Heryanto Budi Santoso, mengumpulkan pegawai-pegawai yang telah mempunyai kualifikasi S2 untuk bertemu dengan Drs. Tjiptohadi Sawarjuwono, M.Ec., Ph.D., Ak sebagai Ketua Program Studi Magister Akuntansi, Universitas Airlangga.
WARTA BEA CUKAI EDISI 389 APRIL 2007

Kuliah perdana pada bulan Maret 2004 dipimpin langsung Kepala Kantor Wilayah yang dihadiri oleh seluruh mahasiswa Pascasarjana Program Magister Akuntansi dan didampingi oleh Ketua Program Studi. Awal pembukaan kuliah dimaksudkan untuk menjajagi pengetahuan mahasiswa pascasarjana mengenai Bea Cukai serta mengenalkan kepada mahasiswa tentang tugas dan fungsi Bea Cukai. Yang menarik dalam kuliah ini adalah banyak mahasiswa pascasarjana yang tidak tahu mengenai keberadaan Bea Cukai dan apa tugas-tugasnya. Mereka diberi kebebasan untuk menyampaikan jawaban mengenai pengetahuan mereka tentang Bea Cukai. Kebanyakan

28

jawaban tidak sesuai dengan harapan karena memang pengenalan mereka atas tugas Bea Cukai sangat minim. Kemudian oleh Kepala Kantor Wilayah para mahasiswa diberi lembaran-lembaran berita di surat kabar yang menceritakan tangkapan-tangkapan oleh petugas Bea Cukai baik di pelabuhan laut maupun di bandara udara. Setelah itu baru diberi penjelasan secara umum mengenai tugas dan fungsi Bea Cukai. Dari kuliah perdana tadi maka diambil kesimpulan bahwa kebanyakan mahasiswa maupun masyarakat umum tidak begitu tahu mengenai tugas dan fungsi Bea Cukai. Atas kesimpulan tersebut maka Tim Pengajar Bea Cukai semakin merasa tertantang untuk lebih intensif memasyarakatkan mengenai tugas dan fungsi Bea Cukai terutama kepada mahasiswa. Dimana diketahui bahwa mahasiswa adalah generasi masa depan yang dikenal sangat kritis atas kebijakan pemerintah. Apabila mereka mengenal Bea Cukai secara utuh dapat digunakan sebagai alat koreksi atas informasi-informasi yang selama ini bias terhadap keberadaan Bea Cukai.

KONTINUITAS MENGAJAR
Sampai saat ini Tim Pengajar telah dilakukan pergantian berkali-kali dikarenakan ada beberapa pengajar yang telah mutasi. Namun masih ada 2 pengajar yang saat ini masih ada yaitu Abdul Kharis, dan penulis. Diharapkan nantinya mata kuliah Kepabeanan dan Cukai akan terus berlanjut dengan adanya pengajar-pengajar yang berkualifikasi S2di Kantor Wilayah DJBC Surabaya. Hal ini juga bisa menjadi kebanggaan tersendiri bagi Bea Cukai untuk memperkenalkan ilmu Kepabeanan dan Cukai kepada mahasiswa Pascasarjana dan mendekatkan Bea Cukai kepada masyarakat umum. Juga diharapkan adanya buku teks mengenai Kepabeanan dan Cukai yang bisa diterbitkan guna menjadi acuan bagi mahasiswa dan menjadi pengetahuan bagi masyarakat umum maupun masyarakat usaha agar informasi mengenai Bea Cukai tidak menjadi bias.

Listrijono/ salah satu pengajar sekarang berdinas di KPBC Juanda Sebagai Kasi Kepabeanan II

TANTANGAN DALAM MENGAJAR
Seperti diketahui bahwa untuk mata kuliah Kepabeanan dan Cukai di Pascasarjana, Tim di tuntut untuk mengajar dengan pola yang berbeda apabila mengajar untuk kalangan mahasiswa S1 maupun diklat PPJK. Hal ini dimaklumi karena mahasiswa pascasarjana sangat kritis dalam bertanya. Tim tidak bisa hanya menjelaskan sistem dan prosedur kepabeanan dan cukai yang ada dalam peraturan namun juga harus menjelaskan maksud dan filosofi apa yang terkandung dalam peraturan-peraturan tersebut. Tantangan lain bahwa ilmu kepabeanan dan cukai tidak ada dalam buku-buku teks yang diterbitkan secara umum. Di lain pihak buku-buku teks mengenai perpajakan sudah banyak dan tersebar bahkan semua masyarakat dapat mempelajarinya melalui buku tersebut. Hal ini yang menjadi kekurangan Tim pada waktu mahasiswa akan melakukan penulisan thesis mengenai Bea Cukai. Namun hal-hal tersebut di atas tidak menghambat Tim untuk terus menerus melakukan perbaikan-perbaikan dalam metode pengajaran. Setiap pertemuan di kelas, Tim akan memunculkan kasus-kasus kepabeanan dan cukai yang muncul di surat kabar maupun kasus-kasus yang ada di instansi Bea Cukai sendiri. Mahasiswa diajak untuk mengemukakan pendapat atas komentarkomentar yang muncul di suratkabar dan menganalisa kebenaran berita tersebut berdasar pengetahuan yang selama ini mereka dapat. Sedangkan pada waktu dilakukan ujian tengah semester maupun ujian akhir, mahasiswa diberi kesempatan mengerjakan soal-soal di rumah karena soal-soal tersebut berupa kasus yang memerlukan analisa yang mendalam dan jawaban soal tersebut juga bisa relatif bergantung kemampuan mahasiswa dalam menangkap materi waktu kuliah.
EDISI 389 APRIL 2007 WARTA BEA CUKAI

29

DAERAH KE DAERAH
FOTO : ARI WIDODO

P

kan dengan pembacaan Keputusan Menteri Keuangan Nomor: KM-31/KM.1/UP.11/2007 tanggal 17 Januari 2007 tentang Mutasi Para Pejabat Eselon III di Lingkungan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Departemen Keuangan. Kemudian acara dilanjutkan dengan Penandatanganan Naskah Serah Terima Jabatan dari para Pejabat Eselon III disaksikan oleh Kakanwil Heryanto Budi Santoso. Adapun para pejabat yang melakukan serah terima jabatan adalah : dari Surendro Suprijadi kepada Supraptono (Kepala KPBC Tipe A3 Medan), dari Eddy Kusuma kepada Harry Mulya (Kepala KPBC Tipe A1 Belawan), dari Harry Mulya kepada Bapak Zul Achir Siregar (Kepala Bagian Umum) dan dari Amirullah Saidi kepada Buhari Sirait (Kepala KPBC Tipe A3 Teluk Bayur). Setelah penandatangan NasPENANDATANGAN NASKAH SERAH TERIMA JABATAN. Edy Kusuma salah satu pejabat yang pindah kah Serah Terima Jabatan, acara melakukan penandatanganan dihadapan Kakanwil DJBC Medan. dilanjutkan dengan serah terima Memori Pengakhiran Jabatan dari para pejabat tersebut di atas, kemudian penyerahan Memori Pengakhiran Jabatan dari Supraptono selaku Kepala Bidang Verifikasi kepada Kepala Kantor Wilayah I DJBC Sumatera Utara. Akhirnya acara Serah Terima Jabatan ditutup dengan laporan dari Komandan Upacara kepada Kepala Kantor Wilayah II DJBC Sumatera Utara. Ada 4 jabatan yang diserahterimakan. Setelah itu acara dirangkaikan dengan acara Pisah Sambut para Pejabat Eselon III. Kali ini acara berjalan lebih ada Jumat 16 Februari 2007 telah diselenggarakan santai, diawali dengan persembahan sebuah lagu dari acara Serah Terima Jabatan dan Pisah Sambut para Paduan Suara Kantor Wilayah II DJBC. Kemudian Pejabat Eselon III pada Kantor Wilayah II DJBC penyampaian kesan dan pesan dari para pejabat yang Sumatera Utara. Pada acara ini ada 4 jabatan yang meninggalkan Kantor Wilayah II DJBC, diwakili oleh diserahterimakan, yaitu Kepala KPBC Tipe A1 BelaSurendro Suprijadi. Setelah itu kesan dan pesan dari para wan, Kepala KPBC Tipe A3 Medan, Kepala Bagian Umum pejabat yang baru masuk ke lingkungan Kantor Wilayah II dan Kepala KPBC Tipe A3 Teluk Bayur. DJBC yang diwakili oleh Zul Achir Siregar. Kemudian Acara dimulai pada pukul 09.30 WIB dengan laporan dari sambutan dari Bapak Heryanto Budi Santoso. Komandan Upacara kepada Kepala Kantor Wilayah I DJBC Pada kesempatan tersebut Heryanto meminta Surendro Sumatera Utara Heryanto Budi Santoso. Kemudian dilanjut-

Serah Terima Jabatan dan Pisah Sambut Pejabat Eselon III Kantor Wilayah II DJBC Sumatera Utara

FOTO : ARI WIDODO

PENYERAHAN CENDERAMATA. Dari para pegawai kepada para pejabat yang pindah

30

WARTA BEA CUKAI

EDISI 389 APRIL 2007

Suprijadi dan nyonya untuk tampil ke depan membacakan puisi yang telah dipersiapkan. Lalu meminta juga Bapak Eddy Kusuma dan nyonya untuk melakukan hal yang sama. Setelah itu baru Heryanto memberikan kesan dan pesannya. Acara selanjutnya adalah penyerahan cendera mata. Diawali dengan penyerahan cendera mata dari para pegawai kepada para pejabat yang pindah. Ada keunikan tersendiri saat para pejabat diminta membuka bungkusan cendera mata, ternyata bungkusan tersebut berisi karikatur para pejabat. Tepuk tangan dan tawa meriah menggema saat setiap karikatur dibuka dan diangkat tinggitinggi oleh para pejabat. Tidak ketinggalan Heryanto dan para Pejabat Eselon III juga memberikan cendera mata untuk para pejabat yang meninggalkan Kantor Wilayah I DJBC Sumatera Utara. Acara berikutnya adalah ramah tamah, di mana para undangan dipersilakan menikmati hidangan yang disediakan dan juga menikmati hiburan dari Paduan Suara Kantor Wilayah II DJBC. Para pejabat pun tidak mau kalah menyumbangkan suara emasnya. Di antaranya Grup Band “Wonder Boys” yang terdiri dari Sahat Simamora, Eddy Kusuma, Supraptono, Surendro Suprijadi dan Kunto Prasti Trenggono. Dan terakhir ditutup dengan manis dengan alunan lagu dari Heryanto bersama dengan para pejabat yang baru masuk ke lingkungan Kantor Wilayah II DJBC. Sebagai tambahan, selain yang telah disebut di atas, pejabat yang meninggalkan Kantor Wilayah II DJBC Sum-ut adalah Noviandi yang menjadi Kepala Bidang Audit di Kantor Wilayah DJBC Sumatra Barat. Sedangkan pejabat yang baru masuk ke lingkungan Kantor Wilayah II DJBC Medan adalah Sudirman sebagai Kepala Bidang Informasi Kepabeanan dan Cukai. Ari Widodo (Medan)

ada Kamis 15 Februari 2007 yang lalu telah dilaksanakan Sosialisasi Peraturan Direktur Jenderal Bea dan Cukai Nomor P-01/BC/2007 tentang Perubahan Kelima Atas Keputusan Direktur Jenderal Bea dan Cukai Nomor KEP81/BC/1999 tentang Petunjuk Pelaksanaan Penetapan Nilai Pabean untuk Penghitungan Bea Masuk. Sosialisasi ini dihadiri oleh lebih dari 200 orang pegawai yang berasal dari para Pejabat Eselon II, para Pejabat Eselon III, para Pejabat Eselon IV, para Koordinator Pelaksana dan para Pelaksana dari Kantor Wilayah (Kanwil) II DJBC PEMBICARA. Para pembicara yang menyampaikan sosialisasi kepada Sum-ut, Kantor Wilayah para peserta. DJBC Tanjung Balai Karimun, Kantor Wilayah I Banda Aceh dan juga kantor-kantor pelayanan yang berada di lingkungan Kantor-kantor Wilayah tersebut. Adapun sosialisasi ini diberikan oleh Tim Sosialisasi dari Kantor Pusat DJBC, yang terdiri dari Iswan Ramdana yang juga menjabat sebagai Kepala Kantor Wilayah DJBC Banten, didampingi oleh KusuSosialisasi ini diberikan oleh Tim Sosialisasi ma Santi, Amin dan Rizal. dari Kantor Pusat DJBC Sedangkan maksud dari diselenggarakannya sosialisasi tersebut adalah bahwa pokok-pokok substansi yang diatur dalam peraturan tersebut mengalami perubahan yang cukup signifikan dibandingkan dengan ketentuan dan peraturan sebelumnya dan harus mulai diberlakukan mulai tanggal 1 Maret 2007. Selain itu perubahan tersebut akan berpengaruh pada sistem pelayanan lain di bidang kepabeanan. Acara sosialisasi diadakan di Ruang Aula Kantor Wilayah II DJBC Sum-ut, dimulai pada pukul 08.00 WIB dan selesai pada pukul 12.00 WIB. Tepat pada pukul 08.00 WIB acara dibuka oleh Kepala Kantor Wilayah I DJBC Medan Heryanto Budi Santoso, selanjutnya disampaikan pemaparan materi oleh Iswan Ramdana dan diteruskan oleh Ibu Kusuma Santi. Pada pelaksanaannya FOTO : ARI WIDODO sosialisasi berjalan cukup menarik karena materi yang disampaikan terkait dengan kegiatan dan tugas sehari-hari para pegawai, sehingga banyak muncul pertanyaan-pertanyaan, mulai dari yang sekedar minta penegasan/konfirmasi sampai dengan pertanyaan-pertanyaan kritis. Namun semua keingintahuan para pegawai tersebut terpuaskan dengan jawaban-jawaban dari Tim Sosialisasi. Pada pukul 12.00 WIB acara ditutup oleh Kakanwil II DJBC Heyanto Budi Santoso.

P

Penetapan Nilai Pabean

Sosialisasi Peraturan Direktur Jenderal Bea dan Cukai Tentang

SUASANA SOSIALISASI. Peserta yang cukup antusias mengkuti sosialisasi EDISI 389 APRIL 2007

Ari Widodo (Medan)

WARTA BEA CUKAI

31

DAERAH KE DAERAH

Kantor Pelayanan Bea dan Cukai Tipe B, Bojonegoro

Berusaha Secara Optimal Meningkatkan Kinerja dan Citra
Mencermati keadaan industri di wilayah Bojonegoro dan Tuban dan prospeknya, KPBC Bojonegoro optimis penerimaan negara dalam bentuk cukai, bea masuk maupun devisa ekspor akan cenderung meningkat.
KPBC Bojonegoro ketika ditanya mengenai kiat-kiatnya memimpin kantor ini. Situasi dan kondisi yang kondusif itu akan sangat menentukan bagi KPBC Bojonegoro untuk menetapkan langkah-langkah strategis dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat usaha dan pencapaian target penerimaan negara. Selanjutnya dengan adanya gedung kantor baru di bawah pimpinan Beni Ridwan beserta jajaran pegawai KPBC Bojonegoro bertekad akan selalu berusaha secara optimal untuk meningkatkan kinerja dan citra dalam mengemban tugas yang diamanatkan oleh undang-undang.

D

engan adanya gedung kantor baru di atas tanah ukuran 21x30 m2, berlantai dua, dan bergaya arsitek minimalis yang merupakan hasil renovasi kantor lama, Kantor Pelayanan Bea dan Cukai (KPBC) Tipe B Bojonegoro terasa sangat berbeda suasananya. Rasa lega, nyaman, tempat parkir yang cukup luas, merupakan gambaran baru mengenai jati diri fisik KPBC Bojonegoro. Gambaran suasana yang sangat menyenangkan itu tidaklah ada artinya apabila tidak diimbangi dengan suasana kerja yang kondusif, baik hubungan impersonal antar pegawai yang satu dengan yang lain, hubungan antara petugas KPBC Bojonegoro dengan masyarakat usaha maupun hubungan antara petugas KPBC Bojonegoro dengan petugas dari instansi lainnya. “Menciptakan rasa persaudaraan merupakan hal yang terpenting di lingkungan kerja baik dengan pegawai, pihak luar antara lain kepolisian, kejaksaan, pemerintah daerah, dan pengguna jasa kepabeanan dan cukai yang baik merupakan faktor pendukung dalam menciptakan pelayanan prima,” demikian kata Beni Ridwan, Kepala
FOTO : BAMBANG WICAKSONO

KOTA PENGHASIL TEMBAKAU
KPBC Bojonegoro sendiri terletak di jantung kota Bojonegoro tepatnya di Jl. Basuki Rahmat 67 dan wilayah kerjanya meliputi dua kabupaten yaitu Kabupaten Tuban dan Kabupaten Bojonegoro. Meskipun dalam wilayah kerja tersebut terdapat pantai , tapi hanya ada pelabuhan khusus untuk PT Semen Gresik dan PT. Trans Pasific Petrochemical Indonesia (TPPI )di Tuban. Kota Bojonegoro sendiri berjarak kurang lebih 108 km dari kota Surabaya dan sekitar 27 km dari kota Babat . Perjalanan dapat ditempuh dengan jalan darat dengan menggunakan kereta api,bis umum, atau kendaraan pribadi dari Surabaya dengan waktu tempuh sekitar dua jam. Kota Bojonegoro merupakan daerah Tingkat II dan dipimpin seorang Bupati. Keadaan geografis Kabupaten Bojonegoro dan Tuban yang panas dengan tanah tandus sangat cocok untuk
FOTO : BAMBANG WICAKSONO

GEDUNG KPBC BOJONEGORO YANG LAMA

GEDUNG KPBC BOJONEGERO YANG BARU

32

WARTA BEA CUKAI

EDISI 389 APRIL 2007

FOTO : BAMBANG WICAKSONO

di bidang kepabeanan dan cukai, perpertanian tembakau sebagai bahan baku lindungan kepada masyarakat dan utama industri rokok. Hasil tembakau pengamanan penerimaan negara serta yang melimpah tersebut menstimulasi pencegahan terhadap terjadinya tumbuhnya perusahaan-perusahaan perdagangan barang illegal khususnya rokok baik golongan kecil sekali maupun peredaran rokok dengan pita palsu non kecil sekali. Sampai saat ini ada 88 dan tanpa pita cukai. Mengenai hasil perusahaan rokok di wilayah KPBC pencapaian di bidang pengawasan Bojonegoro yang sangat prospektif tahun 2006, ditemukan tidak ada petumbuh karena bahan baku dan tenaga langgaran baik di bidang kepabeanan kerja yang relatif murah, sehingga maupun cukai. keberhasilan perusahaan-perusahaan tersebut sangat dipengaruhi oleh manajemen pemasaran masing-masing TARGET DAN REALISASI PENERIMAAN perusahaan. Potensi yang dimiliki oleh Kantor Di samping industri berbahan baku Pelayanan Bea dan Cukai Tipe C tembakau, sejak beberapa tahun terakhir Bojonegoro secara umum antara lain telah ditemukan beberapa deposit potensi yang mendukung pengumpulan minyak bumi yang berhasil dideteksi penerimaan negara di sektor bea masuk oleh perusahaan Mobil Cepu Limited dan cukai yaitu : (Exxon Mobil), JOB PertaminaPetrochina East Java dengan hasil a. Dari sektor Bea Masuk : KEPALA KPBC BOJONEGORO, Beni Ridwan, berproduksi berupa minyak mentah, dan PT. usaha untuk menerapkan pola Good Gorvenance 1. Pelabuhan PT. Semen Gresik di dimana ada transparasi, profesionalisme, Trans Pasific Petrochemical Indotama Tuban, aksesibilitas, responsibilitas, dan akuntabilitas. (TPPI) dengan hasil produksi 2. Pelabuhan khusus TPPI di Tuban diantaranya berupa gas oil, kerosene 3. Barang Operasi Pertambangan dan lain-lain, akan mendorong produksi minyak mentah yang 4. PT. JOB Petrochina East Java kemungkinan menjadi komoditi ekspor. Selain minyak terdapat pula industri pengolahan semen di b. Dari sektor Cukai Untuk Perusahaan Rokok terdiri : Tuban yaitu P.T. Semen Gresik yang sebagian produksinya diekspor ke manca negara. PERKEMBANGAN JUMLAH PHT SKT SELAMA TIGA TAHUN TERAKHIR KPBC TIPE C BOJONEGORO PELAYANAN DAN PENGAWASAN KPBC Tipe B Bojonegoro berada di bawah dan TAHUN PHT JUMLAH bertanggung jawab langsung kepada Kepala Kantor Wilayah XI DJBC Jawa Timur I mempunyai tugas melaksanakan 2004 GOLONGAN I 1 pelayanan dan pengawasan kepabeanan dan cukai dalam GOLONGAN II 1 daerah wewenangnya berdasarkan peraturan perundangGOLONGAN IIIA DAN IIIB 57 undangan yang berlaku. KPBC Bojonegoro membawahi 3 Pos Pengawasan Bea dan Cukai antara lain : 2005 GOLONGAN I 1 GOLONGAN II 2 l Pos Pengawasan Bea dan Cukai Glondong GOLONGAN IIIA 10 l Pos Pengawasan Bea dan Cukai Socorejo Jenu (PL) GOLONGAN IIIB 67 l Pos Pengawasan Bea dan Cukai Tuban (PL). KPBC Bojonegoro memiliki potensi di bidang kepabeanan dan cukai. Di bidang kepabeanan terutama melayani dan mengawasi pelabuhan khusus PT Semen Gresik di Tuban, PT. Petrochina East Java dengan hasil produksi berupa pemuatan minyak bumi (ekspor dan domestik), dan PT. Trans Pasific Petrochemical Indonesia (TPPI ). Sedangkan di bidang cukai terutama pelayanan terhadap pabrik hasil tembakau yang dalam tahun terakhir ini tumbuh sangat pesat, dengan jumlah Pengusaha Hasil Tembakau sebanyak 92 PHT (Pengusaha Hasil Tembakau). Adapun peran strategis KPBC Bojonegoro sebagai trade fasilitator guna memperlancar arus barang dan dokumen, sebagai community protector untuk memberikan perlindungan terhadap industri dalam negeri dan masyarakat, serta sebagai revenue collector dalam rangka pemungutan penerimaan negara di bidang Kepabeanan dan Cukai. Di bidang pelayanan, KPBC Bojonegoro mampu memberdayakan segenap sumber daya yang ada untuk memenuhi tuntutan dunia usaha dan industri tersebut, antara lain dengan menjamin kelancaran arus dokumen dan barang, mengurangi ekonomi biaya tinggi dan menciptakan iklim usaha yang kondusif. Jumlah dokumen yang telah dilayani selama 2006 antara lain :Dokumen Pemberitahuan Ekspor Barang ( PEB) 262 buah, Dokumen Pemberitahuan Impor Barang (PIB) 60 buah, dan dokumen CK I 758 Buah. Sedangkan di bidang pengawasan, KPBC Bojonegoro melakukan pengawasan dalam rangka penegakan hukum 2006 GOLONGAN I GOLONGAN II GOLONGAN IIIA GOLONGAN IIIB 1 2 11 71

Lebih lanjut penggolongan PHT berdasar jenis dan golongan sebagai berikut : SKT 1 PHT Golongan 1 2 PHT Golongan 2 11 PHT Golongan 3A 71 PHT Golongan 3B SKM 1 PHT Golongan 3 KLB 3 PHT Golongan 1 3 PHT Golongan 2

Potensi lain yang mendukung pelaksanaan tugas pokok dan fungsi KPBC Tipe C Bojonegoro yang tak kalah pentingnya adalah berupa jalinan dan kerja dengan mitra kerja yaitu dengan Persatuan Perusahaan Rokok Bojonegoro (PPRB) dan instansi pemerintah terkait. KPBC Bojonegoro dalam pemberian pelayanan dan pengawasan di bidang kepabeanan dan cukai maupun penerimaan bea masuk, pajak dalam rangka impor dan cukai mengalami perkembangan yang cukup signifikan. Hal ini dapat dilihat dari data awal dan beberapa tahun terakhir pada tabel sebagai berikut :
EDISI 389 APRIL 2007 WARTA BEA CUKAI

33

DAERAH KE DAERAH
FOTO : BAMBANG WICAKSONO

KEPALA KPBC BOJONEGORO BESERTA STAF bertekad akan selalu berusaha secara optimal untuk meningkatkan kinerja dan citra dalam mengemban tugas yang diamanatkan oleh undang-undang.

PENCAPAIAN PENERIMAAN SELAMA 4 TAHUN TERAKHIR KPBC TIPE C BOJONEGORO TAHUN 2003 2004 2005 2006 PENERIMAAN CUKAI BEA MASUK CUKAI BEA MASUK CUKAI BEA MASUK CUKAI BEA MASUK TARGET (JUTA Rp.) 337,848.453 683.063 311,905.110 666.530 336,562.980 660.610 433,319.730 10,373.900 PENCAPAIAN (JUTA Rp.) PROSEN 301,921.450 442.400 312,571.498 942.651 368,423.474 3,586.579 444,658.102 8,229.343 89.37% 64.77% 100.21% 141.43% 109.47% 542.92% 102.62% 79.33%

1. Penerimaan Bea Masuk Sebelum dilakukan Revisi : Target : Rp. 7.690.900.000 Realisasi : Rp. 8.229.343.394 Realisasi penerimaan Bea Masuk TA 2006 ini melebihi target yang ditetapkan yaitu sebesar Rp. 538.443.394,00 atau (107,00 %) Sesudah Dilakukan Revisi Target : Rp. 10.373.900.000 Realisasi : Rp. 8.229.343.394 Realisasi penerimaan Bea Masuk TA 2006 setelah dilakukan revisi menjadi berkurang dari target ditetapkan, kekurangannya sebesar Rp. 2.144.556.606,00 atau (79,33 %) 2. Penerimaan Cukai Sebelum direvisi Target : Rp. 423.744.640.000 Realisasi : Rp. 444.658.101.976 Realisasi penerimaan Cukai TA 2006 ini melebihi target yang ditetapkan oleh Kantor Pusat DJBC dengan selisih lebih sebesar Rp.20.913.461.976,00 atau (104,94 %) Sesudah dilakukan direvisi Target : Rp. 433.319.730.000 Realisasi : Rp. 444.658.101.976

Lebih lanjut realisasi dan target penerimaan Bea masuk dan Cukai tahun 2006 sebelum revisi APBN-P dapat terealisasi sedangkan setelah revisi dari sektor bea masuk belum memenuhi target tetapi total target terpenuhi karena penerimaan cukai yang melebihi target yang ditetapkan. Adapun rincian pencapaian target penerimaan Bea Masuk dan Cukai selama Tahun Anggaran 2006 pada Kantor Pelayanan Bea dan Cukai Tipe C Bojonegoro adalah sebagai berikut : 34
WARTA BEA CUKAI EDISI 389 APRIL 2007

Realisasi penerimaan cukai TA 2006 setelah dilakukan revisi masih terdapat kelebihan sebesar atau Rp.11.338.371.976,00 atau (102,62 %). TARGET REALISASI PENERIMAAN KANTOR PELAYANAN BEA DAN CUKAI TIPE C BOJONEGORO SETELAH REVISI DATA PER 31 DESEMBER 2006 No. 1 2 Sektor Penerimaan Bea Masuk setelah revisi Cukai Jumlah Target (rupiah) 10.373.900,000 433.319.730.000 443,693,630,000 Realisasi (rupiah) 8.229.343,394 444.658.101.967 452,887,445,361 Prosentase 79,33% 102,62% 102.07%

Pada 2007 ini KPBC Bojonegoro mendapat peningkatan beban target penerimaan baik dari sektor bea masuk maupun sektor cukai masing-masing sebesar Rp10.769.210.000 dan Rp 503.270.470.000. “ Kami optimis realisasi penerimaan cukai dapat terealisasi tetapi untuk penerimaan bea masuk masih belum bisa yakin karena adanya penurunan tariff bea masuk impor bahan baku Gypsum CEPT yang diimpor PT Semen Gresik, menurun dari 5 persen menjadi 0 persen selain itu barang impor sementara proyek pertambangan telah berakhir,” tutur Beni

PERMASALAHAN YANG DIHADAPI

Dalam melaksanakan kegiatannya pada tahun 2006, Kantor Pelayanan Bea dan Cukai Bojonegoro tidak terlepas dari permasalahan yang berpotensi menghambat pelaksanaan tugas dan pencapaian tujuan yang ditetapkan. Upaya pemecahan terus dilaksanakan sehingga permasalahan-permasalahan yang menghambat pelaksanaan tugas dapat diselesaikan dengan baik. Selama tahun anggaran 2006, dapat diidentifikasi permasalahanpermasalahan yang muncul . Ketika ditanya mengenai kendala Beni mengatakan ada kendala internal dan eksternal. ”KendaFOTO : BAMBANG WICAKSONO la internal utama dalam menciptakan layanan prima di KPBC Bojonegoro adalah masalah keterbatasan sumber daya manusia. Untuk yang akan datang kiranya perlu ditambah sekarang jumlah pegawai hanya 24 orang termasuk kepala kantor dirasa kurang, idealnya total 50 orang termasuk korlak umum yang kosong. Selain itu perlu tenaga penyidik (PPNS) untuk menangani permasalahan pelanggaran kepabeanan dan cukai. Dibutuhkan pegawai tambahan itu karena wilayah pelayanan dan pengawasan yang sangat luas,” tutur Beni. Kendala internal kedua adalah Sarana dan Prasarana ,sesuai DIPA TA 2006 untuk menunjang kinerja para Pegawai telah dilaksanakan renovasi Kantor Pelayanan Bea dan Cukai Bojonegoro dan pembangunan Rumah Dinas baru, sehingga kekurangan Meja, Kursi, Gordyn, Air Conditioner, Sound System, Computer, Pengadaan Systim PABX, Pengadaan Rak Data dan Perlu adanya Genset. “Kendala lainnya yang juga penting adalah perlunya penambahan kendaraan dinas untuk melakukan pengawasan INDUSTRI ROKOK JENIS KLOBOT (home industry) yang berada di wilayah pelayanan dan pengawasan dan pembinaan/ bimbingan yang KPBC Bojonegoro
EDISI 389 APRIL 2007 WARTA BEA CUKAI

optimal kepada pengusaha Barang Kena Cukai (BKC). Mengingat luasnya wilayah pengawasan. “tutur Beni “Kemudian terbatasnya dana yang tersedia dalam setiap mata anggaran terutama dalam pembagian dana dalam penyusunan DIPA antara lain untuk : keperluan sehari-hari honor untuk petugas keamanan masih di bawah UMR daerah (sama dengan tahun lalu), untuk pemeliharaan kendaraan bermotor dan gedung kantor, dan dana untuk perjalanan dinas. Belum adanya alokasi dana untuk : Penyuluhan dan sosialisasi, Petugas Keamanan Dalam (PKD), dan pengurusan sertifikat tanah. Untuk masalah tanah masih ada sebagian kelebihan tanah di sekitar rumah dinas yang menjadi sengketa, “cerita Beni. “Selanjutnya untuk kendala eksternal adalah pihak bankbank di Bojonegoro masih membatasi waktu penyetoran cukai dan PNBP, sehingga mempersulit pengusaha hasil tembakau. Kendala lainnya adalah pernah terjadi keterlambatan pengiriman pita cukai dari kantor pusat sehingga diklaim oleh pengusaha hasil tembakau, untungnya sejauh ini mereka mau mengerti ketika diberikan penjelasan atas keterlambatan tersebut .Meski mereka sempat berencana akan demo, “ ujar Beni. Beni menegaskan dengan berbagai kendala dan kekurangan yang ada KPBC Bojonegoro tetap bertekad memberikan pelayanan yang terbaik bagi stakeholder sebagai trade facilitator. KPBC Bojonegoro juga selalu berusaha mencapai target yang ditentukan oleh Ditjen Bea dan Cukai. Selain itu KPBC Bojonegoro berusaha untuk menerapkan pola Good Gorvenance dimana ada transparasi, profesionalisme, aksesibilitas, responsibilitas, dan akuntabilitas. Ketika ditanya mengenai harapan ke depan, yang utama Beni mengatakan, tidaklah berlebihan jika kedepan KPBC Bojonegoro ditingkatkan statusnya karena dimasa mendatang Tuban dapat menjadi lokasi pergudangan dan relokasi perusahaan yang terkena dampak Lumpur Lapindo Selain itu seiring perkembangan perkonomian di Bojonegoro dan sekitarnya yang menunjukkan trend naik dan mendapat perhatian dari Bupati terhadap eksistensi pabrik rokok yang bersifat home industry serta kesadaran masyarakat akan pentingnya perijinan untuk menjadi pengusaha hasil tembakau. bambang wicaksono

35

DAERAH KE DAERAH

Skow-Wutung
Perbatasan Indonesia dan PNG
Pintu gerbang Indonesia di ujung paling timur Nusantara

PPLB

P

os Pengawasan Lintas Batas (PPLB) Skow merupakan tempat pengawasan para pelintas batas di perbatasan negara Republik Indonesia dengan negara Papua New Guinea (PNG). Lokasi PPLB Skow berkisar lebih kurang 55 km ke arah timur kota Jayapura dengan dibatasi dua kabupaten yaitu Kabupaten Jayapura dan Kabupaten Keerom. Pos Pengawasan Lintas Batas ini merupakan pintu pengawasan antara penduduk Indonesia dan Papua New Guinea (PNG) yang biasa bertransaksi kebutuhan sehari-hari. Kami mencoba melakukan perjalanan ke PPLB Skow untuk mengetahui keberadaan serta situasi dan kondisi di sana. Perjalanan kami menuju PPLB Skow dari Kota Jayapura ditempuh dalam waktu kurang lebih 1 jam. Akses menuju ke Skow ditempuh dengan kendaraan roda empat berupa mobil Panther khusus yang disediakan untuk petugas Bea dan Cukai yang bertugas di PPLB Skow-Wutung. Perjalanan ditempuh melalui jalan darat berupa aspal yang sudah sangat memadai. Berangkat dari Kantor Pelayanan Bea dan Cukai Tipe A4 Jayapura yang beralamatkan di Jalan Koti No. 13 Jayapura, perjalanan dimulai menuju Abepantai kemudian terus menuju Distrik Muara Tami yang merupakan daerah transmigran. Sepanjang perjalanan kita akan disuguhi pemandangan alam yang luar biasa dan kita juga bisa merasakan manisnya jagung Koya yang di jual di sepanjang jalan Koya menuju PPLB Skow-Wutung. Perjalanan dari Jayapura menuju Abepantai, kita bisa menikmati pemandangan berupa pesisir pantai dengan paparan bukit dan gugusan pulau-pulau kecil disekitarnya dan tidak jarang terlihat binatang-binatang liar di bukit seperti monyet dan burung-burung. Selanjutnya setelah melewati daerah Abepantai kita akan melihat daerah transmigrasi di sekitar daerah Koya Timur dan memasuki daerah Muara Tami. Kemudian perjalanan dilanjutkan dengan pemandangan berupa hutan rimba yang masih perawan dan pemandangan ini terus berlanjut dan hanya diselingi satu sungai besar dengan jembatan yang kokoh sampai dengan tujuan di PPLB Skow yang dijaga oleh satu peleton tentara dari Kodam IV Diponegoro, dan tidak ketinggalan buaya-buaya sungai yang sedang berjemur di pinggiran Kali Tami. Pada mulanya terbesit rasa ragu dan sedikit khawatir saat pertama kali melakukan perjalanan menuju PPLB Skow
WARTA BEA CUKAI EDISI 389 APRIL 2007

mengingat adanya rumor yang beredar bahwa gerakan separatis kerap melancarkan aksi operasi mereka disepanjang jalur perjalanan menuju PPLB Skow. Namun berkat lancarnya komunikasi dan koordinasi antara pihak Bea dan Cukai dengan aparat keamanan setempat, maka sedikit mengikis kekhawatiran tersebut. Dalam perjalanan menuju PPLB Skow kita akan menemui beberapa pos penjagaan TNI yang siap siaga dalam waktu 24 jam. Setelah sampai di PPLB Skow, kita bisa melihat kegiatan transaksi di pasar antara warga Wutung-Vanimo dengan warga Skow di wilayah perbatasan RI. Vanimo merupakan salah satu ibukota propinsi di PNG yang letaknya berdekatan dengan wilayah RI. Namun berdasarkan informasi dari warga setempat, aktivitas perdagangan di Vanimo kalah ramai dengan Jayapura, bahkan masih lebih ramai Abepura yang merupakan kota pendidikan di Papua. Barang dagangan yang diperjualbelikan di pasar PPLB Skow lumayan beragam. Mulai dari buah pinang, baju, beras, keperluan rumah tangga sampai dengan peralatan elektronik berupa televisi berwarna, radio, tape dan lain sebagainya. Pada saat cuaca baik dan ramai tidak kurang dari 200 orang warga negara PNG masuk wilayah Indonesia untuk belanja di Marketing Point di wilayah PPLB Skow.

BEA CUKAI
Sesaat setelah beristirahat sebentar, kemudian kami melanjutkan tinjauan dengan melihat lingkungan di sekitar PPLB Skow yang merupakan salah satu pintu perbatasan Indonesia yang terletak di ujung paling timur nusantara ini. Wilayah perkantoran di PPLB Skow telah direnovasi oleh BPKD (Badan Perbatasan dan Kerjasama Daerah) Propinsi Papua untuk menjadi berstandar internasional. PPLB Skow memiliki beberapa fasilitas seperti X-Ray Scan seperti yang dimiliki bandara udara internasional. Selain itu nampak kokoh berdiri menara pengawasan Republik Indonesia. Dalam kompleks perkantoran dinas yang dikelola oleh BPKD Propinsi Papua, Bea dan Cukai tidak sendirian dalam melaksanakan tugasnya. Terdapat instansi Imigrasi, Karantina, Kepolisian (Polsek Muara Tami) bahkan dari asuransi. Memang saat ini PPLB Skow mendapat perhatian dari pemerintah pusat maupun daerah mengingat statusnya sebagai pintu gerbang wilayah RI di ujung paling timur nusantara. Selain itu PPLB Skow-Wutung juga dipandang sebagai wilayah perbatasan yang cukup penting bagi

36

DOK. PENULIS

DOK. PENULIS

MENARA PENGAWAS RI di PPLB SKOW-WUTUNG

PINTU GERBANG batas wilayah Republik Indonesia.

kegiatan perekonomian antara negara Republik Indonesia dan Papua New Guiena. Perlu diketahui pula bahwa PPLB Skow saat ini juga menanti peresmian oleh Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono. Namun rencana ini sempat tertunda disebabkan oleh beberapa hal diantaranya belum siapnya pihak instansi perbatasan Papua New Guiena (PNG). Pada bulan Desember 2006 yang lalu Kepala Kanwil XII Bea dan Cukai Ambon (sekarang Kanwil XVII), C.F. Sidjabat didampingi Kepala KPBC Tipe A4 Jayapura Sudardjo, berkesempatan melakukan kunjungan kerja di PPLB Skow untuk melihat situasi dan kondisi aparat Bea dan Cukai yang bertugas di Pos Pengawasan Lintas Batas. Setelah puas melihat-lihat lingkungan perkantoran di perbatasan yang termasuk wilayah Indonesia, selanjutnya perjalanan kami lanjutkan dengan berjalan kaki sekitar lebih kurang 200 meter menuju wilayah Papua New Guinea. Selanjutnya tanpa kami sadari kami sudah menginjakkan kaki di negara lain, yaitu negara Papua New Guinea (PNG),
DOK. PENULIS

tepatnya di desa Wutung. Kami disambut dengan senyum para pelintas batas dari desa Wutung dan Vanimo, bahkan tidak hanya itu, kami juga disapa dengan salam dalam bahasa Indonesia. Memang sebagian dari warga desa Wutung-PNG dapat mengatakan beberapa kata salam dalam bahasa Indonesia dan harga barang dalam rupiah. Hal ini mengingat interaksi yang terjadi antara warga Skow-RI dan Wutung-PNG terbatas pada transaksi barang keperluan sehari-hari, dan selebihnya mereka pakai bahasa “tarzan”. Demikian pula dengan aparat pemerintah PNG yang bertugas di perbatasan. Kami sempat berjabat tangan dan “say hello”, dan pada mulanya kami mengira mereka terampil berbahasa Inggris, namun ternyata hanya itu saja yang mereka bisa, selebihnya kami berkomunikasi pakai bahasa Inggris sekenanya. Memang salah satu kendala antara aparat Bea dan Cukai Indonesia dengan aparat Bea dan Cukai PNG adalah bahasa. Bahasa nasional PNG adalah Fiji Melanesia (campuran bahasa Inggris dengan bahasa ibu PNG).
DOK. PENULIS

POS Pengawas Lintas Batas PNG.

POS Pengawas Lintas Batas Skow-RI. EDISI 389 APRIL 2007 WARTA BEA CUKAI

37

DAERAH KE DAERAH
DOK. PENULIS

Apabila dilihat dari data yang tersedia pada aktivitas perdagangan antara warga Skow-RI dan Wutung-PNG, Indonesia mengalami surplus perdagangan mengingat nilai dan volume perdagangan Indonesia keluar PNG lebih besar daripada PNG ke Indonesia. Berdasarkan informasi yang ada tidak kurang dari Rp. 50 juta atau sekitar 16.667 Kina (PNG) perputaran uang di Marketing Point Skow setiap harinya. Selain itu transaksi ekonomi di perbatasan RI-PNG terus meningkat dari tahun ke tahun. Dengan demikian keberadaan Marketing Point yang berada di area PPLB Skow sangat vital keberadaannya untuk mendukung kegiatan ekonomi ini. Begitu pula dengan keberadaan aparat Bea dan Cukai di Pos KUNJUNGAN KERJA Kepala Kantor Wilayah Ambon, CF. Sidjabat di PPLB Skow-Wutung. Batas sangat diperlukan mengingat adanya arus barang yang keluar dan masuk daerah pabean Indonesia. Kemudian kami dipersilahkan untuk melihat-lihat Tanpa terasa hari sudah sore, maka kami memutuskan lingkungan sekitar perkantoran PNG. Selanjutnya nampak untuk segera kembali ke Jayapura mengingat perjalanan dari kejauhan sebuah desa yang tertata rapi dengan rumahyang akan kami tempuh melewati daerah hutan belantara. rumah tradisional di pinggiran pantai Samudera Pasifik Dalam perjalanan pulang ke kota Jayapura kami tidak berikut hamparan pasir putih yang indah. Desa tersebut lupa untuk menyempatkan membeli beberapa souvenir adalah desa Wutung yang berjarak tidak jauh dari pos lintas dari pedagang kaki lima di wilayah Wutung-PNG. batas RI-PNG. Setiap harinya warga sekitar desa Wutung Perjalanan di PPLB Skow-Wutung menjadi pengalaman memasuki wilayah Republik Indonesia sebagai pelintas yang tidak terlupakan dengan keramahan penduduk batas dengan melakukan barter atau membeli kebutuhan setempat dan pemandangan alam yang sangat memukau. sehari-hari seperti beras, mi instan, sabun, pakaian dan lain Memang belum lengkap rasanya apabila kita memiliki sebagainya. Mereka kebanyakan membawa pinang untuk kesempatan mengunjungi kota Jayapura tanpa datang ke dijual di Indonesia. Selain itu PNG dikenal sebagai negara Pos Pengawasan Lintas Batas (PPLB) Skow-Wutung. penghasil vanilli dan mereka cukup banyak melakukan Selamat Tinggal PPLB Skow-Wutung. transaksi dengan Indonesia melalui pengawasan Kantor Pelayanan Bea dan Cukai Tipe A Jayapura. Eko Adi Kuncoro, Korlak Administrasi Impor KPBC Tipe A Jayapura
DOK. PENULIS DOK. PENULIS

PEDAGANG kaki lima di wilayah Wutung-PNG.

SAAT BERTUGAS di Pos Pengawasan Lintas Batas Skow-Wutung. Dari kiri ke kanan : Penulis, M. Affar, Arif S, Iwan Y, Syors Kespo, Renald Sahara. EDISI 389 APRIL 2007

38

WARTA BEA CUKAI

PERISTIWA
FOTO : WAWAN HERMAWAN FOTO : WAWAN HERMAWAN

PERAHU. Tim P2U bersama tim pendampingan mencoba perahu hasil bantuan di Laut Pangandaran

PENYERAHAN BANTUAN. Penyerahan bantuan diserahkan kepada perwakilan warga Pangandaran

DJBC Peduli Pangandaran

S

Setelah tsunami mendera Pangandaran, DJBC sebagai salah satu institusi pemerintah mencoba meringankan beban masyarakat dengan menyalurkan bantuan

DJBC PEDULI
Sebagai salah satu elemen warga dan pemerintah, Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) segera menghimpun dana untuk disalurkan ke Pangandaran. Melalui Pos Peduli Umat (P2U) yang merupakan suatu lembaga penanggulangan bencana alam yang berada di DJBC dan pengelolaannya berada di bawah lembaga Zakat Infak dan Sadaqah (ZIS) Mesjid Baiturahman KP-DJBC, segera melakukan insitiaf penggalangan dana melalui penyebaran kupon kepada para pegawai di Kantor Pusat DJBC. Menurut salah satu relawan P2U Wawan Hermawan yang bertugas di Dit IKC, dari penyebaran kupon tersebut terkumpul sejumlah dana. Masih menurutnya sebelum penyaluran bantuan dilaksanakan P2U melakukan survei sebanyak dua kali yang bertujuan untuk mengidentifikasi keadaan para korban dan juga kebutuhan mereka. Pada survei pertama di bulan September 2006, didapati fakta yang luar biasa. Korban sudah tidak lagi membutuhkan bantuan sembako. Hal ini lanjut Wawan dikarenakan banyaknya bantuan yang kebanyakan berupa sembako mengalir. Setelah tim melakukan koordinasi dengan relawan setempat, akhirnya diputuskan bahwa DJBC melalui P2U memberikan bantuan berupa sarana kerja bagi para korban. Pada survei kedua atau tepatnya tiga bulan setelah survey pertama, P2U yang berkoordinasi dengan relawan pendampingan korban tsunami, menyepakati akan memberikan bantuan berupa dua buah perahu lengkap dengan mesin gantar dengan kekuatan 7 PK, sepuluh unit jaring lengkap, dan satu buah traktor sawah untuk petani, serta bahan bangunan untuk perbaikan sarana ibadah. Penyerahan bantuan dilakukan pada tanggal 3 Desember 2006 dimana Tim P2U yang terdiri dari enam orang mewakili DJBC melakukan penyerahan bantuan. Sebelumnya P2U bersama dengan tim pendamping melakukan pendataan agar bantuan tepat guna dan tepat sasaran Pada penyerahan bantuan lanjut Wawan dihadiri oleh elemen masyarakat dari PPNSI ( Perhimpunan Petani Nelayan Sejahtera Indonesia ), tim Pendampingan, juga elemen masyarakat lainnya. Usai penyerahan bantuan tim lanjutnya berkesempatan berkeliling untuk melihat kondisi pengungsi. Ternyata meski telah lebih dari 5 bulan, masih banyak korban yang tinggal dipengungsian, ditenda-tenda, dan dirumah-rumah tenda. Warga lanjut Wawan berharap agar pemerintah dan para relawan tidak melupakan mereka. Meski telah lama musibah itu terjadi, namun sejatinya masa-masa tersulit bagi mereka untuk memulai hidup baru adalah ketika bencana tersebut usai.

enin 17 Juli 2006, sehari setelah International Kite Festival yang diikuti oleh lebih dari seratus peserta dari berbagai belahan dunia, langit Pangandaran tampak jingga merona, diiringi suara adzan ashar yang terdengar bersahutan puluhan nelayan tampak bergegas pulang, sementara sebagian lainnya masih menarik jaring mengais tangkapan ikan hari itu. Ditengah kebiasaan masyarakat nelayan tadi, tiba-tiba air laut surut beberapa meter, dan dalam hitungan detik air laut yang surut tadi berbalik dengan cepat, disertai gelombang yang sangat tinggi. Dibeberapa titik, ketinggiannya mencapai 14 meter, dan mencapai daratan hampir sejauh 2 km. Warga hanya dapat melihat terpana, sekejap baru disadari bahwa hal tadi merupakan tanda bahaya yang luar biasa. Semua berlarian, berteriak dalam cemas yang tak terkirakan. Dan tidak lebih dari dua puluh menit gelombang tsunami ini meluluhlantakkan kota Pangandaran dan sekitarnya. Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) mengatakan gelombang tersebut berawal dari gempa berkekuatan 6,8 skala richter yang disertai 2 kali gempa susulan dengan kekuatan 5,5 dan 6,1 pada skala richter. Besarnya gempa bahkan terasa sampai Jakarta dan Surabaya. Tidak pelak korban pun berjatuhan. Malam yang biasanya indah di Pangandaran berubah jadi lautan puing dan mayat. Hiruk pikuk ambulans bersahutan dengan tangis kedukaan. Anak-anak menjadi yatim. Para istri menjadi janda. Dan ratusan keluarga tercerai berai. Evakuasi pun segera dilakukan oleh semua elemen masyarakat dan pemerintah. Tsunami ini terjadi disepanjang pesisir pantai selatan Pulau Jawa mulai dari Pameungpeuk, Garut sampai dengan Pantai Ayah di Cilacap dan Kebumen. Bencana ini menelan korban lebih dari 600 orang meninggal, 300 orang dinyatakan hilang dan 75.000 orang luka-luka. Presiden SBY menyempatkan diri untuk menengok para korban di Pangandaran dan mengajak semua elemen bangsa untuk menggalang bantuan sebagai bentuk keprihatinan. Dan seperti yang sudah-sudah sebelum himbauan ini pun, warga masyarakat secara sepontan mengalirkan bantuan terbaiknya untuk para korban. Ratusan truk setiap hari hilir mudik menyalurkan bantuan, untuk meringankan beban para korban.

ZAP/Wawan Hermawan - Dit. IKC
WARTA BEA CUKAI

EDISI 389 APRIL 2007

39

SEPUTAR BEACUKAI
WBC/ATS

JAKARTA. Di Aula Grahasawala Depkeu, Menteri Keuangan Sri Mulyani pada 9 Maret 2007 melantik 16 pejabat eselon II dilingkungan Depkeu yakni 3 pejabat dari Direktorat Jenderal Pajak dan 13 pejabat dari Direktorat Jenderal Bea dan Cukai. Pelantikan didasarkan Keputusan Menteri Keuangan RI. Nomor 1046/KMK.01/ UP.11/2006 yo Nomor 67/KMK.01/UP.11/2007 dan yo Nomor 70/KMK.01/UP.11/2007, dihadiri para pejabat dilingkungan Depkeu beserta ibu, dan ditandai penandatangan naskah jabatan disaksikan dua saksi yakni Sekretaris Depkeu Mulia Panusunan Nasution dan Kepala Inspektorat Jenderal Depkeu Permana Agung.
FOTO : KIRIMAN

JAKARTA. Bapors Tenis Departemen Keuangan menyelenggarakan pelatihan tenis (Coaching Clinic) pada 11 Maret 2007 di Lapangan Tenis Bea dan Cukai Bojana Tirta Rawamangun. Pelatihan tenis diikuti kurang lebih 51 orang dilingkungan Departemen Keuangan, diawali dengan kata sambutan ketua panitia dari Bea dan Cukai yakni Irwan Djuhais, dan selanjutnya dibuka oleh Pembina Club Tenis Depkeu, Permana Agung dengan menghadirkan pelatih nasional yang memandu acara pelatihan yakni Dedy Prasetyo. Kiriman Panitia Bapors Tenis DJBC
FOTO : DONNY ERIYANTO FOTO : DONNY ERIYANTO

BALIKPAPAN. Sebagai bentuk apresiasi terhadap dedikasi dan jasa pegawai yang telah memasuki masa purna tugas, pada tanggal 8 Februari 2007 Kanwil XV DJBC Kalimantan Bagian Timur mengadakan pelepasan masa purna tugas untuk pegawai pelaksana administrasi, Paulina Yunus Taruk. Bertempat di Aula Kanwil XV DJBC Kalimantan Bagian Timur, Paulina yang memasuki purna tugas per tanggal 23 Januari 2007 ini menerima sejumlah cinderamata dari para pejabat dan pegawai Kanwil XV DJBC Kalimantan Bagian Timur. Seperti tampak dalam foto, Kasi Audit, M. Heru Subagyo, memberikan cinderamata kepada Paulina. Don’s, Balikpapan

BALIKPAPAN. Tanggal 8 Februari 2007, bertempat di Aula Kanwil XV DJBC Kalimantan Bagian Timur, Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kanwil XV DJBC Kalimantan Bagian Timur mengadakan acara pisah sambut untuk para anggotanya yang mengikuti pindah tugas para suaminya. Tampak dalam gambar, Ketua DWP Kanwil XV DJBC Kalimantan Bagian Timur, Ny. Ismartono tengah memberikan cindera mata. Don’s, Balikpapan

40

WARTA BEA CUKAI

EDISI 389 APRIL 2007

FOTO : DONNY ERIYANTO

BALIKPAPAN. Bertempat di Aula Kanwil X DJBC Balikpapan (sekarang Kanwil XV DJBC Kalimantan Bagian Timur), pada tanggal 17 Pebruari 2007 diadakan acara pisah sambut pejabat Eselon III dan IV di lingkungan Kanwil X Balikpapan. Acara yang dihadiri oleh Kakanwil X Balikpapan, Ismartono dan para pejabat eselon II dan IV serta pegawai di lingkungan Kanwil X Balikpapan ini diisi dengan pemberian cindera mata kepada para pejabat yang pindah tugas. Tampak dalam gambar, Kakanwil tengah memberikan cindera mata dan dilanjutkan dengan foto bersama. Don’s, Balikpapan

WBC/ATS

JAKARTA. Sosialisasi Nilai Pabean yang diselenggarakan di Auditorium KP-DJBC pada 5 Januari 2007 dibuka oleh Direktur Teknis Kepabeanan Teguh Indrayana. Tampil sebagai pembicara dalam sosialisasi satu hari ini Kepala Kanwil VI DJBC Banten Iswan Ramdana (sebelumnya menjabat sebagai Kasubdit Nilai Pabean Dit Teknis Kepabeanan) yang memaparkan tentang Nilai pabean serta Kepala Seksi Nilai Pabean I Dit. Teknis Kepabeanan Kusuma Santi yang memaparkan tentang B.C.F. 2.7. Sosialisasi diikuti oleh seluruh pegawai KP-DJBC, selain itu juga hadir Direktur PPKC Wahyu Purnomo dan beberapa pejabat eselon III dan IV lainnya.

WBC/ATS

FOTO : DONNY ERIYANTO

JAKARTA. Kanwil IV DJBC Jakarta (sekarang Kanwil VII DJBC Jakarta I) menyelenggarakan Sosialisasi Nilai Pabean di gedung induk KPBC Tanjung Priok pada 6 Januari 2007. Sosialisasi yang dibuka oleh Kakanwil DJBC Jakarta Heru Santoso dan dihadiri oleh Direktur Teknis Kepabeanan Teguh Indrayana, ditujukan kepada pejabat Fungsional Pemeriksa Barang, pejabat eselon IV dan para pegawai. Dua pembicara dari Kantor Pusat yakni Kasubdit Nilai Pabean Dit Teknis Kepabeanan Iswan Ramdana (sekarang Kepala Kanwil VI DJBC Banten) dan Kepala Seksi Nilai Pabean I Dit. Teknis Kepabeanan Kusuma Santi.

BALIKPAPAN. “Inna Lillahi Wa Inna Lillahi Rojiun” pada 7 Februari 2007, keluarga besar KPBC tipe A3 Balikpapan tengah diliputi suasana duka dengan telah berpulang ke Rahmatullah, alm. Suneth Tahir (Korlak TU/RT). Almarhum yang tahun ini akan memasuki masa pensiun dimakamkan pada tanggal 8 Februari 2007 dengan diantar oleh para pegawai KPBC Balikpapan. Tampak dalam gambar, beberapa pegawai menggotong jenazah di rumah duka dalam prosesi menuju pemakaman. Selamat jalan, Kawan… Don’s, Balikpapan

EDISI 389 APRIL 2007

WARTA BEA CUKAI

41

SEPUTAR BEACUKAI
FOTO : KIRIMAN

SEMARANG. Dihadiri oleh pegawai dan masyarakat usaha dilingkungan Kanwil VI DJBC Semarang (sekarang Kanwil X DJBC Jawa Tengah), diselenggarakan Sosialisasi UU No. 17 Tahun 2006 Kanwil VI DJBC Semarang tanggal 30 Januari – 1 Pebruari 2007 yang dibuka oleh Kepala Kantor Wilayah VI DJBC Semarang, Zeth A. Likumahwa, dengan menampilkan pembicara dari Kantor Pusat dihari pertama dipaparkan oleh Kasubdit Penyuluhan Dit. PPKC Muhammad Zein, dan Kepala KPBC Tipe A4 Bontang, Lupi Hartono. Sementara pada hari kedua dan ketiga dipaparkan oleh Kasi Impor Kanwil VI DJBC Semarang, Hendy Norman (nomor 1 dari kanan) dan Kasi P2 KPBC Tanjung Emas, Ambang Priyonggo (nomor 1 dari kiri). Sosialisasi yang diselenggarakan selama tiga hari ini ditutup oleh Kabid Kepabeanan dan Cukai Kanwil VI DJBC Semarang Iwan Riswanto (nomor 2 dari kiri) selaku Ketua Panitia. Kiriman Kanwil VI DJBC Semarang
FOTO : KIRIMAN

BONTANG. Pada tanggal 21 Januari 2007 bertempat di Bale Mahoni PT. Badak NGL Bontang, KPBC Bontang mengadakan “family Gathering” dalam rangka lebih meningkatkan hubungan antar keluarga pegawai. Tampak pada gambar Kepala KPBC Bontang, Yusmariza didampingi Ibu Yusmariza berada di tengah-tengah keluarga pegawai (berdiri tengah). Kiriman KPBC Bontang

FOTO : KIRIMAN

JAKARTA. Pada 1 Maret 2007 bertempat di BPIB Tipe A Jakarta diselenggarakan acara pelepasan J.B. Bambang Widyastata dalam memasuki masa Purna Bakti dan Muhammad Sutartib ke unit kerja yang baru. Acara berlangsung meriah serta dihadiri para undangan dan kerabat terdekat. Tampak pada gambar, J.B. Bambang Widyastata dan Nyonya tengah bernyanyi sesuai dengan hobinya. Usai acara tersebut dilanjutkan dengan foto bersama dengan seluruh pegawai BPIB Tipe A Jakarta. Kiriman BPIB Tipe A Jakarta

42

WARTA BEA CUKAI

EDISI 389 APRIL 2007

FOTO : KIRIMAN

BONTANG. Pada tanggal 28 Pebruari 2007 bertempat di Restoran Rega PT. Badak NGL Bontang, diadakan Acara Perpisahan Kepala Kantor Pelayanan Bea dan Cukai Bontang Ir. Yusmariza, MA. Tampak pada gambar Yusmariza didampingi Ibu Yusmariza berada di tengah-tengah keluarga pegawai (berdiri tengah). “Selamat Jalan Bapak Ir. Yusmariza, MA. Semoga Sukses di Tempat Tugas yang Baru”. Kiriman KPBC Bontang

FOTO : KIRIMAN

SEMARANG. Sosialisasi Peraturan DJBC Nomor : P-1/BC/2007 dilaksanakan pada 19 Pebruari 2007 dan dibuka oleh Kepala Kanwil VI DJBC Semarang (sekarang Kanwil X DJBC Jawa Tengah), Zeth A. Likumahwa, dihadiri para pejabat dan pegawai dilingkungan Kanwil VI DJBC Semarang. Sosialisasi ini menampilkan pembicara dari KP-DJBC yakni Direktur Teknis Kepabeanan Teguh Indrayana, Kakanwil VI DJBC Banten dan Kasi Nilai Pabean I Dit. Teknis Kepabeanan KP-DJBC, Kusuma Santi. Kiriman Kanwil VI DJBC Semarang

EDISI 389 APRIL 2007

WARTA BEA CUKAI

43

SIAPA MENGAPA

○○○○○○○○○○○○○○○○○○○○○○○○○○○○○○○○○○○○○○○○○○○○○○○○○○○○○○○○○○○○○○○○○○○○○○○○○○○○○○○

ANDAR MANALU SH., MM. Bertugas dimanapun dan seberat apapun, tidak masalah bagi pegawai yang satu ini. “Asalkan kita sungguh-sungguh dengan niat yang baik menerima tugas itu maka seberat apapun tugas tersebut, selalu ada jalan yang paling baik agar dapat menyelesaikannya,” ujar Andar. Pegawai kelahiran Tapanuli Utara tahun 1952 ini sudah 30 tahun berkarir di Bea dan Cukai. Ia mengawali karirnya di KPBC Teluk Nibung tahun 1977. Setelah itu, sejak 1980 ia bertugas di Kanwil I Medan selama 21 tahun. Kemudian pindah ke KPBC Medan selama satu tahun enam bulan. Hingga sekarang (sejak 2001) ia ditempatkan di KPBC Merak. Andar mengaku sebagai pegawai bea cukai, tugas-tugas yang dipikulnya sangat berat, apalagi saat ia ditempatkan di bagian P2 dimana ia harus siap bekerja siang dan malam. Namun demikian Andar tidak mengeluh dan tidak merasa bosan dalam menjalankan tugasnya. Ia menjalankan tugas-tugasnya tersebut dengan gembira. Andar yang punya motivasi mencari pengalaman dan mengabdi kepada negara ini, memiliki pengalaman menarik saat baru dimutasi ke KPBC Merak, Banten. Saat itu ia belum mengetahui situasi daerah tempat ia bertugas. Pada suatu sore, ia mendapat tugas memeriksa kontainer berisi barang-barang yang mendapat fasilitas ekspor. Karena ia merupakan pegawai yang baru dimutasi ke KPBC Merak, ia tidak tahu lokasi barang ekspor tersebut. Akhirnya, pada pukul 17.00 WIB, Andar dijemput oleh pihak perusahaan pemilik barang ekspor tersebut menuju lokasi barang. Setibanya di lokasi, Andar melakukan pemeriksaan terhadap 50 kontainer dan selesai pada pukul 19.00 WIB. “Karena sudah malam dan sudah tidak ada kendaraan yang lalu lalang, saya meminta pihak perusahaan untuk mengantarkan saya pulang,” imbuh Andar. Namun, pihak perusahaan tidak bisa menyanggupi permintaannya lantaran kendaraan operasional milik perusahaan tidak ada satupun yang berada di lokasi perusahaan alias sudah pulang semua. Alhasil, Andar terpaksa harus pulang jalan kaki sambil kebingungan karena tidak tahu ke arah mana ia harus melangkah pulang (lokasi perusahaan tersebut berada ditengah-tengah kawasan industri-red). Ditengah kebingungan tersebut, tiba-tiba dari kejauhan Andar melihat sepeda motor TOUPIK KUROHMAN, SE. Alasan klasik yang banyak dipakai oleh pegawai yang memutuskan kuliah di Prodip STAN adalah lantaran tidak perlu mengeluarkan biaya kuliah dan langsung bisa bekerja. Alasan tersebut juga diamini oleh Toupik karena pada saat lulus SMA, ia yang pada waktu itu juga diterima UMPTN dan IAIN, memutuskan untuk memilih Prodip STAN. Ia mengaku mendapatkan dukungan dari guru-gurunya untuk melanjutkan kuliah di Prodip STAN, selain ia bisa meringankan beban orangtuanya. Toupik merupakan lulusan STAN Prodip 3 Akuntasi. Toupik mulai ditempatkan di Bea dan Cukai pada tahun 2002 pada bagian Verifikasi Audit Kantor Pusat DJBC selama empat tahun. Setelah itu ia dimutasi ke Kanwil Palembang hingga sekarang. Toupik yang punya hobi menulis, berhasil meraih juara III lomba karya tulis Bahasa Indonesia dalam rangka Hari Pabean Sedunia ke-55 tahun 2007. Ia mengaku merasa senang karena karya tulisnya mampu meraih juara, sebab ini merupakan pertama kalinya ia mengikuti lomba. Terlebih lagi , hadiah yang diperoleh langsung diserahkan oleh Menteri Keuangan Sri Mulyani usai upacara memperingati Hari Pabean Sedunia. “Sebenarnya, saya memang sudah niat untuk mengikuti lomba karya tulis Hari Pabean Sedunia. Namun pada saat lomba tersebut diumumkan, saya tidak membacanya secara detail karena berbarengan dengan mengurus kepindahan saya ke Jakarta dalam rangka tugas belajar,” ungkapnya. Ia pun mencoba membuka data-data dan bahan-bahan tulisan terdahulu tentang Bea dan Cukai yang telah ditulis secara umum. Dua hari menjelang hari H pengumpulan karya tulis, ia memperoleh informasi bahwa lomba yang diadakan bertemakan pembajakan. Alhasil, dengan sisa waktu itu Toupik mencoba secara maksimal mengumpulkan data. Setelah berusaha keras, ia pun berhasil menyelesaikan karya tulisnya, dibantu dengan sang adik yang bertugas mengedit karya tulisnya. Menurut Toupik, hobi menulis yang dimilikinya timbul secara alami. Ia selalu menuangkan ide-ide yang ada atau gagasan-gagasan yang timbul dari dirinya kedalam secarik kertas. “Pernah pada saat saya sedang jalan-jalan, tiba-tiba dibenak saya timbul ide, karena saya terbiasa langsung menuangkannya kedalam tulisan maka ide tersebut saya tulis dalam kertas kardus yang ditemui dijalan,” katanya. Dari situ ia mulai berpikir bahwa mungkin ide-ide atau gagasan-gagasannya ini bisa M. SOLAFUDIN,SE, MM. Pegawai yang satu ini adalah sosok yang murah senyum dan ramah ketika ditemui di ruang kerjanya saat WBC berkunjung ke KPBC Kalianget. Pengabdiannya di DJBC telah mencapai 13 tahun, sekarang ia menjabat sebagai Koordinator Pelaksana KPBC Tipe C Kalianget dan berpangkat penata muda Tk I. Solafudin mulai meniti karir di Bea Cukai sejak tahun 1993 .Menjadi pegawai negeri sipil bukan merupakan cita-citanya, sejak kecil sebenarnya ia ingin menjadi insinyur kimia. “Cita-cita saya waktu SMA menjadi insinyur kimia dan kebetulan ketika saya lulus SMA saya diterima di ITS jurusan Teknik Kimia dan Prodip III spesialisasi Bea dan Cukai, tetapi karena diminta orang tua untuk masuk Bea dan Cukai karena masa depan sudah jelas akhirnya saya menurutinya,” kata ayah dua putra ini. Penempatan pertama dilalui di P2 KP-DJBC hingga pada 1994, kemudian ia dipindahtugaskan ke KINSP Panjang Bandar Lampung sampai tahun 1996. Setelah itu menjadi auditor di KP-DJBC dan pada 1997 sampai 2006 menjadi auditor di Kanwil VII DJBC Surabaya.Terakhir ia dipromosikan menjadi Korlak P2 di KPBC Kalianget. Selain kenyang dengan pengalaman tugas yang berpindah-pindah, ia juga mengenyam berbagai pendidikan dan latihan di lingkungan kerja antara lain : PPNS pada 1994, PKN pada 1995, Asisten Akuntan tahun 1996, EDP pada 1998, UPKP V pada 2002, UPKP VI pada 2006. Selanjutnya Solafudin tidak pernah menyia-nyiakan waktu untuk menimba ilmu bidang Ekonomi di Universitas Surabaya dan berhasil meraih gelar sarjana hukum pada tahun 2001. Tidak puas dengan hanya memiliki gelar S1-nya, Solafudin

44

WARTA BEA CUKAI

EDISI 389 APRIL 2007

melaju ke arahnya. Saat sepeda motor tersebut mendekat, Andar mencoba menghadang agar kendaraan tersebut berhenti. Si pengendara motor terlihat ketakutan. “Orang itu mengira saya ini kalau bukan polisi ya perampok,” kata Andar. Tetapi untunglah di kegelapan malam si pengendara motor mau menghentikan kendaraannya dan bersedia mengantarkannya sampai ke jalan besar sehingga Andar mudah memperoleh angkutan umum untuk pulang. Selama berkarir di Bea dan Cukai, Andar mampu meraih banyak hal. Andar telah mengikuti berbagai diklat seperti diklat DPT I, DPT II dan Komputer. Kemudian, pada 1988 ia melanjutkan kuliahnya di Medan. Tahun 1990 ia berhasil memperoleh gelar Sarjana Hukum dari Universitas UMA. Setelah lulus, Andar diangkat menjadi dosen di kampusnya tersebut untuk mengajar kelas malam dengan pangkat III/a oleh Menteri Pendidikan Nasional dan dilakoninya hingga 2001. Pada 2006, saat bertugas di KPBC Merak, ia berhasil memperoleh pasca sarjananya (S2). Selain menjadi dosen selama 10 tahun, Andar juga dipercaya oleh DJBC untuk menjadi pengajar di Balai Diklat I Medan selama 13 tahun dan di Medan pula ia juga pernah menjadi anggota tim penerimaan pegawai baru dari tamatan SMA, S1 dan S2 untuk Departemen Keuangan selama tujuh tahun serta mendapat penghargaan Satya Lencana Karya 20 tahun dari Presiden RI. Dengan waktu yang tersisa tinggal satu tahun lagi mengabdi di Bea dan Cukai, Andar berencana akan mengajar kembali di Fakultas Hukum UMA, Medan. Ia juga berharap agar institusi Bea dan Cukai kedepannya dapat memberikan kesempatan pada seluruh pegawainya untuk melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi. Tujuannya agar wawasan para pegawai bertambah luas sehingga dapat memberikan pelayanan yang prima. ats memberikan kontribusi terhadap kantor tempat ia bekerja. Oleh sebab itu, sewaktu bertugas di Kanwil Palembang, ia sempat mengajukan diri untuk menjadi koresponden WBC demi menyalurkan hobinya. Namun keinginannya tersebut tidak bisa terwujud lantaran ada kekhawatiran dapat mengganggu tugastugasnya di kantor. Walaupun tidak menjadi koresponden, ia merasa bersyukur karena tulisan yang kerap ia kirim ke WBC telah dimuat. Kedepannya, Toupik berharap agar DJBC go public, dalam artian lebih terbuka keluar. Salah satu caranya dengan membuat buku yang berisi bagaimana pengelolaan dan bagaimana mengurus kepabeanan seperti yang dilakukan Direktorat Jenderal Pajak (DJP) dimana buku-buku terbitan DJP sudah banyak diproduksi, bahkan sudah menjadi sebuah kurikulum di perguruan tinggi. “Atau DJBC membuat buku tentang ekspor, kita buat buku untuk meningkatkan daya saing produk dalam negeri dimana dalam hal ini DJBC banyak berperan didalamnya,” ujar Toupik yang menambahkan pada dasarnya banyak materi buku yang dapat mengangkat citra DJBC. Diakhir wawancara, pegawai kelahiran Cirebon tahun 1981 ini berharap agar institusi yang ia cintai ini tetap eksis dan bisa menjalankan perannya, jangan sampai diambil alih oleh pihak lain. Menurutnya, tantangan bagi pegawai bea cukai adalah bagaimana memberikan kontribusi secara maksimal dan melakukan yang terbaik untuk DJBC. Tak lupa ia juga berharap agar WBC sebagai satusatunya media center pegawai bea cukai, bisa menjadi sebuah media yang dekat dengan pegawai. Tak hanya itu saja, ia berharap agar pegawai merasa memiliki WBC, bukan sekedar (mohon maaf) “terbebani” karena setiap bulan harus dipotong gajinya untuk mendapatkan WBC. ats melanjutkan pendidikan pascasarjana, meskipun memiliki kesibukan di kantor. Gelar Magister Manajemen di Universitas Tujuh Belas Agustus Surabaya berhasil disandangnya pada tahun 2005. Lebih lanjut di luar jam dinas (hari Sabtu) ia mengajar ekspor impor di suatu lembaga pendidikan di Surabaya. Aktivitas lainnya ia juga sebagai sekretaris RT di lingkungan tempat tinggal. Selama masa bertugas, ia punya kisah menarik yaitu ketika patroli laut di KPBC Kalianget pada 2006. “ Waktu itu saya dan rekan-rekan menggunakan boat untuk patroli di perairan Madura, karena ombak yang kencang sedangkan boat yang kita kendarai kecil hampir saja terbalik. Itu mengakibatkan saya mabuk laut berat, “kenang pria kelahiran Rembang 12 Desember 1971. Ketika ditanya mengenai prinsip hidup ia mengatakan bahwasanya hidup harus banyak bersyukur dan selalu berusaha membahagiakan orang tua karena mereka merupakan pintu rezeki. Solafudin memiliki suatu harapan kepada institusi DJBC yang sangat ia cintai ini di masa yang akan datang.” Bea Cukai sebagai ujung tombak negara harus memiliki pegawai yang selalu meningkatkan wawasan sehingga mampu sejajar dengan institusi kepabeanan internasional,” harap pria yang hobby bulutangkis ini. bambang w., sby

info buku
BILA ANDA BERMINAT,
MAJALAH WARTA BEA CUKAI MENYEDIAKAN BUKU SEBAGAI BERIKUT:

BUNDEL WBC 2006
Bundel Majalah Warta Bea Cukai Tahun 2005 (Edisi Januari - Desember)

Rp. 120.000

CATATAN: Ongkos kirim buku wilayah Jabotabek Rp. 25.000
○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○

LANGGANAN MAJALAH WARTA BEA CUKAI

No Lama Berlangganan 1 3 Bulan (3 edisi) 2 6 Bulan (6 edisi) 3 1 Tahun (12 edisi)

Diskon Harga Jabotabek 0% 40. Rp. 40.500 5% 78.000 Rp. 78.000 10% 150 50.000 Rp. 150.000

Harga luar Jabotabek 43. Rp. 43.500 84.000 Rp. 84.000 162 62.000 Rp. 162.000

Sudah Termasuk Ongkos Kirim

Kantor Pusat Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Jl. A. Yani (By Pass) Jakarta Timur 13230 Telp. (021) 47860504, 4890308 ex. 154 Fax. (021) 4892353 / E-mail: wbc.cbn.net.id dengan Hasim / Kitty
EDISI 389 APRIL 2007

MAJALAH WARTA BEA CUKAI

WARTA BEA CUKAI

45

KEPABEANAN INTERNASIONAL JUARA III LOMBA KARYA TULIS BAHASA INDONESIA DALAM RANGKA HARI PABEAN SEDUNIA KE-55

Dalam Memberantas Pembajakan
Oleh: Toupik Kurohman, SE

Langkah Strategis DJBC

F

enomena pembajakan di Indonesia sangat memprihatinkan. Indonesia seakan menjadi surga bagi para pembajak. Produk bajakan di Indonesia sangat mudah ditemui dimana-mana, mulai dari lapak-lapak kaki lima sampai mal-mal mewah. Produk yang marak dibajak antara lain film, VCD, DVD, LD, atau hasil industri musik, software, buku bahkan sudah merambah dunia farmasi. Beberapa waktu silam ditemukan selain obat-obatan palsu, sekarang susu formula pun dipalsukan. Sungguh menyedihkan fenomena ini. Hasil studi yang dilakukan International Data Corporation (IDC) menunjukkan sepanjang tahun 2005, 87 persen software yang digunakan di Indonesia adalah hasil bajakan. Tingginya angka pembajakan yang tidak bergerak sejak 2004 menempatkan Indonesia sebagai negara pembajakan terbesar ketiga di dunia setelah Vietnam dan Zimbawe. Potential lost (potensi kerugian) dari penjualan software di pasar Indonesia mencapai sekitar 1,8 miliar dollar AS dalam setahun (Kompas Cyber Media 10/11). Kantor Perwakilan Perdagangan Amerika Serikat United States Trade Representative (USTR) menempatkan Indonesia masuk ke dalam peringkat negara Watch List sedikit lebih baik dari Priority Watch List (PWL) sehingga dikhawatirkan dapat menghambat perdagangan Indonesia ke Amerika Serikat. Asim El Sheikh, Abdullah Abdali Rashed, Bashar Al Qudah, dan A. Graham Peace dalam artikel An Exploratory Study of Software Piracy in Jordan yang mengemukakan hasil penelitian pembajakan perangkat lunak di negaranegara berkembang dengan studi kasus Yordania mengemukakan bahwa penyebab pembajakan di negara berkembang lebih tinggi di banding negara maju adalah tingkat kesadaran hukum masyarakat rendah. Mereka tidak menyadari bahwa meng-copy prangkat lunak adalah perbuatan ilegal/melawan hukum, namun mereka sebagian besar percaya bahwa perbuatan tersebut tidak etis.
WARTA BEA CUKAI EDISI 389 APRIL 2007

Penyebab lainnya adalah harga yang relatif terhadap perangkat lunak. Perangkat lunak dengan harga global akan terasa lebih mahal bagi negara sedang berkembang dibandingkan dengan negara sudah berkembang. Jika harga terlalu jauh dari kemampuan konsumen untuk membeli perangkat lunak, maka pembajakan akan selalu terjadi. Idealnya para produsen menerapkan strategi harga yang dibagi kedalam kelas-kelas sebagai metode yang potensial untuk mengurangi pembajakan pada negara sedang berkembang. Apapun alasannya peredaran produk bajakan merupakan tindakan pelanggaran hukum dan tidak etis. Pembajakan tidak hanya menimbulkan kerugian material bagi pemegang hak cipta, pembajakan berarti tidak menghargai jerih payah, kretifitas dan karya seseorang. Ketika produk yang dibajak adalah hasil karya anak negeri, pembajakan akan membuat potensi besar bangsa ini semakin terkubur dan selalu tertinggal serta mengekor pada bangsa lain. Orang-orang berpotensi di bangsa ini akan malas berkreatifitas dan berkarya, karena mereka tidak dihargai dan para pembajak lah yang menikmati jerih payah. Ketika produk yang dibajak adalah produk impor maka para eksportir akan lari, investor pun enggan menanamkan modalnya di negeri kita dan citra bangsa ini di dunia internasional akan tercoreng. Pembajakan adalah masalah serius yang harus ditanggani oleh pemerintah, LSM dan perusahaan swasta. Ketiga pihak ini merupakan pihak yang paling bertanggungjawab untuk meningkatkan kepedulian masyarakat dari pelanggaran hak kekayaan intelektual yang ilegal dan tidak etis.

PEMBAJAKAN VS CUKAI
Penanggulangan pembajakan di Indonesia belum menunjukkan tanda-tanda perbaikan. Setidaknya upaya

46

pemerintah untuk melawan pembajakan terus dilakukan. Salah satunya adalah diberlakukannya Undang-undang No. 19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta pada tanggal 29 Juli 2003. Pada saat mulai diberlakukannya hampir seluruh pedangang CD, VCD dan DVD bajakan tidak tampak di pinggir-pinggir jalan, di tempat mereka biasa menggelar barang dagangannya. Namun beberapa minggu kemudian, sedikit-demi sedikit para pedagang tersebut mulai tampak menggelar kembali barang dagangannya, dan hingga sampai saat ini mereka dengan sangat leluasa dan terang-terangan berani menjual

kembali barang dagangannya di tempat keramaian. Kondisi ini semakin diperburuk dengan tindakan para aparat penegak hukum yang hanya melakukan razia terhadap para pedagang tetapi tidak terhadap sumber produk bajakan tersebut, sehingga produksi barang bajakan terus berlanjut. Hal ini menunjukkan bahwa pemerintah belum tuntas menyelesaikan masalah pembajakan, masih banyak produsen yang leluasa memproduksi barang bajakan tersebut secara masif belum tersentuh oleh aparat penegak hukum. Pada medio tahun 2004 pemerintah dalam hal ini DJBC mengambil inisiatif untuk melakukan penanggulangan pembajakan yang sudah menggrogoti 90 % pasar dalam negeri dengan instrumen pengenaan cukai melalui pengenaan pita cukai pada produk rekaman kaset, compact disc (CD), video compact disc (VCD) digital video disc (DVD) dan laser disc (LD). Pengenaan cukai terhadap hasil rekaman ini juga berpotensi untuk menambah penerimaan negara. Hal ini didukung oleh hasil survei Badan Analisis Fiskal– BAF (Sekarang BKF, Badan Kebijakan Fiskal) Depkeu, potensi penerimaan dari pengenaan tarif cukai pada kaset, CD, VCD, DVD, dan LD, dengan asumsi harga Rp 750 per produk, penerimaan tahun pertama untuk asumsi tarif sebesar 30 persen akan diperoleh penerimaan cukai Rp 98,41 miliar. Kemudian, untuk asumsi tarif 40 persen, maka diperoleh hasil Rp 122,35 miliar. Untuk tarif 50 persen, maka penerimaan negara mencapai Rp 146,29 miliar. Adapun untuk tarif sebesar 60 persen, akan diperoleh hasil sebesar Rp 170,23 miliar Langkah ini walaupun disetujui Komisi IX DPR-RI untuk diberlakukan efektif mulai Januari 2005 menimbulkan pro kontra luas di tengah-tengah masyarakat. Para pengusaha rekaman, asosiasi, LSM, dan musisi menolak rencana ini, walaupun beberapa dari mereka ada juga yang menerima. Mereka yang menolak meragukan keberhasilan pengenaan cukai dapat menanggulangi pembajakan. Beberapa argumen yang mereka kemukakan antara lain : 1. Produk hasil rekaman tidak dapat dikategorikan sebagai obyek cukai. Mereka menilai Undang-undang Nomor. 11 tahun 1995 tentang Cukai dipandang tidak dapat memasukan barang-barang ini sebagai obyek cukai. Dalam pasal 2 ayat (1) disebutkan :
EDISI 389 APRIL 2007 WARTA BEA CUKAI

47

KEPABEANAN INTERNASIONAL
jakan hendaklah didudukan pada tugas pokok dan fungsi “Barang-barang tertentu yang mempunyai sifat atau DJBC sebagai berikut : karakteristik yang ditetapkan dikenai cukai berdasarkan Undang-undang ini”. 1. Industrial Assistence, mendorong dan membantu Di dalam penjelasannya, dikatakan bahwa yang dimaksud pertumbuhan industri yang mendapat lisensi untuk dengan “barang-barang tertentu yang mempunyai sifat mengedarkan, menyiarkan dan memperbanyak produk atau karakteristik yang ditetapkan” adalah barang-barang yang dilindungi hak cipta. Mencegah pihak-pihak yang yang dalam pemakaiannya, antara lain, perlu dibatasi dan tidak mendapatkan hak lisensi untuk membajak. diawasi. Mereka berpendapat produk rekaman tidak dapat Melindungi pemegang hak dari kerugian material dan non dikategorikan barang yang perlu dibatasi dan diawasi. material dari tindakan para pelanggar hak cipta. 2. Pengenaan cukai akan menambah pembajakan Memberikan kepastian dan perlindungan kepada mereka berkembang lebih dahsyat untuk memperoleh haknya seperti royalti. Pengenaan cukai dinilai membuka kesempatan bagi para 2. Trade Facilitator, menciptakan iklim perdagangan dan produsen barang bajakan untuk meningkatkan persaingan yang sehat, memberikan perlindungan produksinya memenuhi kebutuhan konsumen yang tidak terhadap produk hak cipta dari aneka produk bajakan dan dapat membeli produk aslinya karena produk asli akan tiruan yang dapat merusak harga pasar. Menjaga citra semakin mahal akibat pengenaan cukai. bangsa dari percaturan komunitas perdagangan interna3. Pengenaan cukai tumpang tindih dengan UU Hak sional dari bahaya pembajakan yang dapat mempengaCipta ruhi investasi dan kepercayaan dunia internasional. Praktek pembajakan yang merupakan pelanggaran 3. Community Protector, memberikan perlindungan terterhadap UU Hak Cipta, sudah sepatutnya jika sanksi hadap semua pihak, menjaga martabat bangsa, pidana yang dikenakannya didasarkan pula pada UU Hak melindungi hasil karya anak bangsa dalam berbagai Cipta. Dengan dikenakannya cukai terhadap produk bidang kehidupan serta mejaga kekayaan rekaman, maka dikhawatirkan ketentuan intelektual. Perlunya pembatasan dan pidana yang terdapat dalam UU Hak Cipta pengawasan atas produk hasil rekaman tidak dapat efektif, akan terjadi tumpang seperti VCD, DVD dan LD dilakukan untuk tindih dengan ketentuan pidana pada UU memberi perlindungan pada konsumen. Cukai, sehingga dikhawatirkan aturan huSeperti kita ketahui, sekarang ini untuk kum yang ada tidak diterapkan secara APAPUN produk tersebut khususnya film sudah ada tegas kepada para pelanggar Hak Cipta. anjuran untuk dibatasai berdasarkan 4. Cukai mematikan industri musik dan ALASANNYA tingkat usia. Merebaknya kasus kekerasan rekaman PEREDARAN pada anak dan pornografi disebabkan oleh Pengenaan cukai akan menjadi komponen merebaknya produk tersebut secara bebas, penambah biaya. Biaya produksi yang selama ini sudah tinggi karena berbagai PRODUK BAJAKAN tragisnya justru yang paling banyak beredar adalah produk bajakannya. kenaikan harga akan semakin membengMERUPAKAN 4. Revenue Collector, mengamankan kak bila harus dibebani cukai. Dampaknya TINDAKAN penerimaan negara akibat penyalahgunaan harga jual produk akan semakin mahal kekayaan intelektual. dan sulit terjangkau masyarakat. Turunnya PELANGGARAN barang hasilbarang-barang hasil bajakan Beredarnya daya beli masyarakat menyebabkan penumenyebabkan penerimaan negara yang runan penjualan dan industri rekaman terHUKUM DAN seharusnya diperoleh dari hasil penjualan ancam gulung tikar. barang hasil kekayaan intelektual tidak 5. Cukai merugikan dan membebani TIDAK ETIS dapat dipungut karena umumnya barangkosumen barang tersebut beredar secara ilegal. Bertambahnya ongkos produksi yang haSelama ini disinyalir banyak beredar rus ditanggung oleh pihak industri rekambarang hasil kekayaan intelektual tidak an akibat pengenaan cukai pada akhirnya dilengkapi dengan stiker PPN artinya akan dibebankan kepada masyarakat terjadi penggelapan pajak, hal ini terjadi karena stiker pembeli, oleh karena sudah pasti harga jual terhadap proPPN tidak seperti cukai yang melekat didalamnya duk rekaman akan meningkat. Sehingga produk rekaman fungsi pengawasan. akan menjadi barang eksklusif yang tidak dapat dinikmati oleh masyarakat secara luas. Berbagai advokasi, sosialisasi, hearing yang dilakukan DJBC 6. Cukai menghalang kreatifitas dan apresiasi terhadap kesenian untuk menanggulangi pembajakan tidak dilakukan dengan pendekatan prioritas fungsi DJBC seperti yang disebutkan dalam Kesenian akan menjadi barang mewah dan aktifitas urutan diatas. Selama ini prespektif yang ditangkap publik kebudayaan pun pada umumnya akan menjadi semakin eksklusif dan semakin jauh dari rakyat. cendrung negatif. DJBC dituding hanya menjadikan alasan pembajakan untuk memperoleh tambahan pendapatan negara Pemberlakuan cukai dapat menjadi ancaman bagi aktifitas berkesenian dan produk-produk kesenian, juga dari sektor cukai. Fungsi revenue collector lebih dominan dibanding ketiga fungsi lainnya yang merupakan cerminan dari ancaman terhadap apresiasi rakyat terhadap kesenian fungsi pelayanan yang diberikan DJBC kepada masyarakat. dan kebudayaan. Hak rakyat atau publik untuk mengapresiasikan atau menikmati karya-karya seni Prespektif publik yang positif dalam arti mereka menjadi semakin turun. mendukung langkah DJBC untuk menanggulangi pembajakan dengan kewenangan yang dimiliki dapat diarahkan ketika dari awal proses komunikasi yang dibangun DJBC, WHAT’S UP ? dilakukan dengan pendekatan fungsi pelayanan. Dengan DJBC sebagai institusi yang memiliki kewenangan di pendekatan ini semua yang menjadi kekhawatiran mereka bidang kepabenanan dan cukai mempunyai kesempatan dapat dijawab dengan mudah. Lagi-lagi masalah komunikasi yang sangat bagus untuk memainkan peran strategisnya publik, fungsi humas DJBC yang tidak berjalan. bagi kepentingan bangsa ini. Inisiatif untuk menangani Implementasi yang paling logis dilakukan DJBC dalam pembajakan harus terus didukung. DJBC jangan sampai menangani pembajakan adalah dengan pendekatan terjebak lagi pada posisi dilematis dan terkesan bagi kewenangan yang dimiliki, sehingga DJBC dapat menerapsebagian masyarakat menjadi masalah baru dari rumitnya kan aspek prioritas dalam penanggulangan pembajakan. menangai pembajakan di negeri ini. Penanganan pemba-

“ ”

48

WARTA BEA CUKAI

EDISI 389 APRIL 2007

terdiri dari Kepolisian, DJBC, Ditjen HaKI Dep. Hukum & HAM 1. Kewenangan di Bidang Kepabeanan tetapi tetap saja belum optimal. Dalam menjalankan kewenangan dibidang kepabeanan Mengambil pelajaran dari mekanisme penerapan cukai tidak dapat dipungkiri bahwa DJBC mendapat ’titipan’ yang selama ini belaku di Indonesia terhadap 3 jenis barang peraturan yang harus dilaksanakan, salah satunya adalah yaitu etil alkohol, MMEA dan hasil tembakau. Jauh lebih peraturan mengenai hak cipta. Indonesia melalui Undangsedikit dibanding Malaysia yang memasukan 10 jenis barang undang Nomor 19 tahun 2002 sudah meratifikasi berbagai yaang menjadi obyek cukai atau Thailand yang memasukan konvensi internasional tentang perlindungan hak cipta 20 jenis barang kena cukai. Pemberlakuan cukai terhadap diantaranya adalah Agreement Establishing the World Trade barang-barang yang dimasukan kedalam Barang Kena Cukai Organization (persetujuan pembentukan organisasi (BKC) dapat digunakan untuk melaksanakan fungsi pengenperdagangan dunia) yang mencakup Agreement on Trade dalian, pengawasan sampai pada penindakan terhapap baRelated Aspects of Intellectual Property Rights (persetujuan rang bajakan yang tidak terakomodir dalam Undang-undang tentang aspek-aspek dagang hak kekayaan intelektual ), Nomor. 19 tahun 2002. Dalam Undang-undang No. 11 tahun selanjutnya disebut TRIPs, melalui Undang-undang No 7 1995 tentang Cukai mengatur secara jelas peredaran BKC Tahun 1994. Selain itu, Indonesia juga meratifikasi Berne mulai dari berapa jumlah barang yang diproduksi, sampai Convention for the Protection of Artisct and Literary Works kepada siapa tanggung jawab atas BKC tersebut berada. (konvensi berne tentang perlindungan karya seni dan satra ) Pasal 3 ayat 1 Undang-undang No. 11 tahun 1995 melalui Keputusan Presiden No 18 Tahun 1997 dan World menyebutkan ”Pengenaan cukai mulai berlaku untuk Barang Intellectual Property Organization Copyrigths Treaty Kena Cukai yang dibuat di Indonesia pada saat selesai (perjanjian hak cipta WIPO), selanjutnya disebut WTC, dibuat dan untuk Barang Kena Cukai yang diimpor pada saat melalui Keputusan Presiden no 19 Tahun 1997. pemasukannya ke dalam Daerah Pabean sesuai dengan Sudah menjadi bagian dari tugas DJBC sebagai ketentuan Undang-undang tentang Kepabeanan.” Hal ini penjaga perbatasan lalu lintas barang dari dan ke luar nemenunjukan bahwa pengendalian atas geri untuk mencegah barang-barang yang peredaran BKC dilakukan sejak dari awal dikategorikan melanggar hak kekayaan insebelum barang itu beredar. telektual. DJBC dapat melakukan penegakPihak produsen atau pemasok melalui mean hukum terhadap barang-barang bajakan kanisme cukai melaporkan secara jelas jumlah dan barang palsu sesuai dengan ketentuan produk mereka yang akan dilempar ke pasar, dan yang berlaku. Kita semua sepakat bahwa MEREKA DJBC memberikan pita cukai sesuai dengan ini merupakan peran pemberantasan permohonan mereka atas dasar jumlah barang tindakan pembajakan yang sangat mungkin YANG yang dilaporkan tersebut. Jika mekanisme ini dan bisa dilakukan DJBC, tanpa adanya MENOLAK diterapkan pada barang-barang yang dilindungi resistensi dari pihak manapun. hak cipta maka peredaran barang hak cipta dapat MERAGUKAN diketahui secara pasti, sisanya kalau ada barang 2. Kewenangan di Bidang Cukai beredar Solusi penerapan cukai sebagai instruKEBERHASILAN sama yangilegal. dapat dipastikan bahwa barang itu men untuk mengatasi pembajakan khususPENGENAAN Pasal 3 ayat 2 Undang-undang No. 11 nya produk rekaman mendapat reaksi betahun 1995 menyebutkan ”Tanggung jawab ragam. Imbasnya pengesahan RUU Cukai CUKAI DAPAT cukai untuk Barang Kena Cukai yang dibuat di sampai mengalami penundaan, dimana salah satu yang masih menyisakan pemba- MENANGGULANGI Indonesia berada pada Pengusaha Pabrik atau Pengusaha Tempat Penyimpanan, dan hasan adalah perluasan objek cukai. untuk Barang Kena Cukai yang diimpor beraSebagai perbandingan DPR baru-baru ini PEMBAJAKAN da pada Importir atau pihak-pihak lain sebamengadakan studi banding ke Malaysia gaimana dimaksud dalam Undang-undang dan Thailand untuk melihat sejauh mana tentang Kepabeanan”. Dalam penjelasannya penerapan cukai disana. DJBC sendiri dari disebutkan bahwa memperhatikan pengertian awal berkeyakinan bahwa cukai dapat dijatentang Pengusaha Pabrik dan Pengusaha dikan instrumen yang paling efektif untuk Tempat Penyimpanan sebagaimana diatur dalam Pasal 1, mengendalikan dan pengawasan terhadap peredaran bamaka tanggung jawab cukai atas Barang Kena Cukai apabila rang bajakan, mengapa? masih berada dalam Pabrik terletak pada Pengusaha Pabrik, sedangkan apabila berada dalam Tempat Penyimpanan, MENGATASI KELEMAHAN UU HAK CIPTA maka tanggung jawab beralih kepada Pengusaha Tempat Undang-undang Nomor 19 tahun 2002 tentang Hak Cipta Penyimpanan. tidak ditopang oleh peraturan yang mengatur masalah tata Jika pada barang hasil kekayaan intelektual dapat niaga peredaran barang hak cipta dan mekanisme diperlakukan seperti ini maka pemilik/pemegang hak cipta pengawasan peredaran hasil kekayaan intelektual. Inilah akan mendapat jaminan kepastian hukum atas hasil karya celah yang menyebabkan Undang-undang Nomor 19 tahun mereka. Lisensi yang mereka berikan kepada para produsen 2002 tidak dapat berjalan efektif. dan terus berjenjang sampai ketingkat pengecer menjadikan Undang-undang Nomor 19 tahun 2002 memang sudah para produsen mempunyai tanggungjawab atas produksi dan secara lengkap mengatur aspek-aspek legalitas hak cipta, penyebaran barang hak cipta begitupun juga para penjual. pendaftaran, penyelesaian sengketa oleh pengadilan niaga, Pihak-pihak yang tidak memiliki hak lisensi akan sulit untuk arbitrase, ketentuan pidana dan denda atas pelanggaran hak melakukan pembajakan karena disamping mereka terkena terkait. Namun, karena tidak ada instrumen yang melakukan delik melakukan tidakan ilegal terhadap hak cipta mereka fungsi pengendalian dan pengawasan terhadap barang hasil juga akan kesulitan berhadapan dengan prosedur cukai. kekayaan intelektual yang beredar di pasar tetap saja pembajakan merajalela. Pemberantasan pembajakan seringkali dilakukan setelah ASPEK PENERAPAN CUKAI YANG ADIL ada pengaduan dan keresahan masyarakat dan itupun aspek Istilah cukai dulu diartikan sebagai pajak kenikmatan. Tapi pembuktiannya sulit dilakukan. Diperparah lagi dengan lekemudian pengertian ini bergeser seiring dengan relativitas mahnya koordinasi aparat penegakan hukum dan kewenangdari kata ’kenikmatan’ itu sendiri. Parameter kenikmatan an masing-masing yang tidak diatur secara spesifik membuat suatu produk sangat relatif bisa berbeda pada setap orang, para pembajak masih leluasa bergerak. Tim Nasional Pembewaktu dan kondisi tertentu. Kemudian ada pula yang rantasan Pembajakan memang sudah dibentuk, anggotanya mendefenisikan cukai adalah adalah pajak yang dikenakan

“ ”

EDISI 389 APRIL 2007

WARTA BEA CUKAI

49

KEPABEANAN INTERNASIONAL
terhadap barang-barang yang mempunyai efek negatif, sehingga harus diawasi dan dibatasi peredarannya. Barang kena cukai dalam penjelasan Undang-undang Nomor 11 tahun 1995 menyebutkan karakteristik dibatasi dan diawasi dalam pemakainnya. Dalam RUU amandemen UU Cukai karakteristik barang kena cukai diperluas menjadi barang yang konsumsinya perlu dikendalikan, peredarannya perlu diawasi, produksi dan/atau pemakainya dapat memberikan dampak negatif bagi masyarakat atau lingkungan hidup, atau pemakaiannya perlu pembebanan pungutan negara dalam rangka keadilan dan keseimbangan. Barang-barang hasil kekayaan intelektual dapat dimasukan menjadi obyek cukai berdasarkan karakteristik diatas. Pembajakan dan pemalsuan yang berkembang cukup marak telah menimbulkan dampak negatif serta keresahan ditengah-tengah masyarakat. Produksi dan/atau pemakaian barang bajakan dapat memberikan dampak negatif bagi masyarakat. Jelas sekali bahwa konsumsi barang bajakan tidak hanya harus dikendalikan tetapi harus dihilangkan. Sehingga menjadi sebuah konsekuensi untuk mencegah pembajakan, produksi dan peredaran hasil kekayaan intelektual perlu diawasi dan dibatasi agar barang bajakan dapat diidentifikasi secara jelas dan ditindak dengan tegas. Pita cukai itu dapat dijadikan bahan penyelidikan, bahkan ketika barang kena cukai Haki tidak ada pita cukainya bisa langsung ditindak. Penerapan cukai tidak dapat dilakukan secara pukul rata terhadap semua produk. Perlu beberapa terobosan kebijakan baik dari tarif dan penerapannya sesuai dengan aspirasi masyarakat. Strategi penerapan cukai harus dilakukan secara cermat dan memenuhi rasa keadilan. Berbagai kekhawatiran masyarakat akan dampak negatif akibat penerapan cukai harus ditanggapi dengan bijak. Berbagai kritik yang muncul seiring dengan inisiatif pemberlakukan cukai, dapat diantisipasi dengan mengemukanan berbagai alasan yang logis, realistis dan keberpihakan terhapap masyarakat. Dari 6 (enam) kritik diatas yang muncul di masyarakat, kalau kita kaji lebih dalam kekhawatiran terbesar yang mereka suarakan adalah masalah konsekuensi kenaikan harga yang akan terjadi akibat penerapan cukai. Kenaikan harga inilah yang menjadi masalah dasar yang berujung pada ekses munculnya masalah-masalah lain seperti menimbulkan beban yang semakin memberatkan konsumen, menurunkan daya beli masyarakat sehingga mengganggu pertumbuhan industri rekaman. Menurunnya tingkat konsumsi masyarakat mengakibatkan masyarakat beralih kepada produk bajakan sehingga produksi barang bajakan ini akan melonjak karena tingginya permintaan masyarakat. DJBC seyogianya dapat menerapkan strategi kebijakan cukai dengan mengedepankan kepedulian terhadap masalah pemberantasan pembajakan dari pada memaksakan kebijakan tarif untuk mendongkrak penerimaan negara. Kepala BKF Anggito Abimanyu dalam sebuah kesempatan wawancara di sebuah stasiun televisi mengemukakan langkah pertama penerapan cukai atas produk rekaman adalah dalam rangka penegakan hukum. ”Cukai itu hanya instrumen,” kata Anggito. Anggito menambahkan hingga saat ini, besaran dan tanda cukai belum ditentukan. Pemerintah bisa saja tak menarik tarif apapun apabila kalangan musisi tetap keberatan. Menurut dia, dana untuk membuat tanda cukai bisa diambil dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara. Namun, diakui pemasangan tanda cukai akan menambah ongkos produksi barang rekaman. Besaran biaya tambahan inilah yang perlu dibicarakan dengan kalangan musisi dan industri rekaman. Yang pasti, diusahakan tidak membebani lagi konsumen (Liputan6.Com 8/8). Penerapan cukai untuk produk rekaman dan software dapat dilakukan dengan pendekatan berdasarkan pendekatan asal produk yang paling banyak dibajak yaitu : 50
WARTA BEA CUKAI EDISI 389 APRIL 2007

1. Produk asal impor Keresahan para produsen asing yang mengalami kerugian akibat pembajakan produknya bisa kita prioritaskan untuk pengenaan cukai. Seperti misalnya Microsoft yang sangat terpukul dan merasakan dampak pembajakan produk sofware. Resistensi mereka terhadap penerapan cukai ini nyaris tidak ada bila dibandingkan dengan produsen lokal. 2. Produk dalam negeri Untuk produsen dalam negeri dan kepentingan melindungi industri dalam negeri kebijakan cukai tetap dilakukan dengan memberikan insentif dan fasilitas dibidang cukai. Dengan kebijakan ini diharapkan dapat melindungi industri dalam negeri dan agenda melawan pembajakan tetap dapat berjalan. Diharapkan cukai juga dapat menciptakan iklim indusri rekaman yang sehat dengan menjamin kepastian hukum terhadap seluruh pihak yang terkait mulai dari pemilik/pemegang hak cipta (seperti artis, musisi, ilmuan dll), produsen/perusahaan rekaman/broadcasting, para penjual sampai kunsumen. Contohnya selama ini sering kita saksikan pertentangan antara terdengar artis dengan produsen/perusahaan rekaman/broadcasting atau asosianya menyangkut masalah royalti. Dengan adanya cukai diharapkan mampu memberikan jaminan kepada semua pihak untuk dapat mempertanggungjawabkan dan menunaikan masing-masing hak dan kewajibannya terkait dengan peredaran produk tersebut.

DJBC TIDAK BISA JALAN SENDIRI
Langkah-langkah yang ditempuh DJBC dalam rangka melawan pembajakan dan barang palsu tidak bisa dilakukan sendirian. Penting melakukan upaya-upaya untuk dapat bersinergi dengan pihak-pihak lain dilingkup internal pemerintah seperti Ditjen HaKI Departemen Hukum dan HAM, Kepolisian untuk menyamakan persepsi dan menyelaraskan langkah masing-masing sesuai dengan kewenangan yang dimiliki untuk memberantas pembajakan sampai tuntas. Dan selanjutnya bersama mereka atas nama pemerintah melakukan upaya-upaya untuk menggandeng perusahaan swasta dan LSM untuk mendukung dan melakukan kampanye anti penyelundupan keseluruh lapisan masyarakat. Sehingga terciptalah kesadaran masyarakat akan hukum dan prilaku tidak etis untuk tidak melakukan dan mendukung tindakan pembajakan. Waullahu a’lam.
Referensi : 1. Undang-Undang No. 11 Tahun 1995 tentang Cukai 2. Undang-Undang No. 19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta 3. Undang-Undang No.17 Tahun 2006 Tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1995 Tentang Kepabeanan 4. Draf RUU Amandemen Cukai, www.beacukai.go.id 5. Kalangan Artis Tetap Menolak Cukai Rekaman; Pemungutan Cukai Produk Rekaman Disetujui DPR; Artis Menolak Pengenaan Cukai Produksi Rekaman; Pemungutan Cukai Produk Rekaman Disetujui DPR.,www.liputan6.com 6. Benang Kusut Pembajakan Software di Indonesia; Pemerintah Indonesia Komitmen Berantas Pembajakan; Penegakan HaKI di Indonesia, Lambat tapi Pasti. KOMPAS CYBER MEDIA_files 7. ‘lonceng Kematian’ Bernama Cukai Rekaman Audi; Pappri Yakin Pita Cukai Vcd Bisa Tekan Pembajakan Hingga 50%; Pengenaan Cukai Produk Rekaman Diupayakan Tak Memberatkan. Detikinet 8. CUKAI MENGHALANGI KREATIFITAS Dan APRESIASI Terhadap KESENIAN, FreeLists - ppi - Sikap JAKER (Jaringan Kerja Kebudayaan Rakyat) terhadap cukai film dan rekaman musik 9. Tekan Pembajakan, Produk Rekaman Akan Dikenai Cukai, www.bisnisjakarta.com 10. Angka Pembajakan Software Kian Mengkhawatirkan, Brama Setyadi, www.infokomputer.com 11. EFEKTIFITAS PENGENAAN PITA CUKAI REKAMAN TERHADAP PEMBERANTASAN TINDAK PIDANA PEMBAJAKAN oleh: Frans Hendra Winarta Oktober 2004, Komisi Hukum Nasional RI 12. dll

BIODATA PENULIS Nama NIP Unit Kerja : : : Toupik Kurohman, SE 060104237 Bagian Verifikasi dan Audit Kanwil III DJBC Palembang1

KEPABEANAN
WBC/ATS WBC/ATS

SOSIALISASI. Sosialisasi P-01/BC/2007 di Auditorium Kantor Pusat DJBC.

WAJIB. BCF 2.7 wajib dibuat oleh petugas yang menetapkan nilai pabean. Hal itu untuk mengantisipasi jika suatu saat nanti terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, seperti keberatan atau banding dari importir terhadap keputusan penetapan nilai yang dilakukan petugas bea cukai.

BC Bentuk Komite Penyusunan Profil
kan up dating terhadap profil importir. Secara periodik, up dating terhadap profil importir tersebut akan terus dilakukan. Tugas daripada Komite itu sendiri antara lain mengkoordinasikan tugas-tugas yang sebenarnya sudah rutin, seperti penilaian profil perusahaan. Hanya saja, tugas-tugas tersebut kini dibahas dalam komite agar masukan yang diperoleh gar penetapan nilai pabean dapat dilakukan lebih banyak dalam menilai profil suatu perusahaan. Dengan dengan lebih efektif dan efisien serta penggunaan demikian, yang paling mendesak saat ini adalah menyiapkan data base harga dapat digunakan secara optimal, profil importir yang sudah ada, seraya terus melakukan evaluasi. Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) Dalam melakukan analisa profil importir terdapat 3 menerbitkan Peraturan Direktur Jenderal Bea dan kategori importir, yakni importir high risk, medium risk dan low Cukai Nomor P-01/BC/2007 tentang Petunjuk Pelaksanaan risk. Sejak importir mengajukan SPR (surat pemberitahuan Penetapan Nilai Pabean untuk Penghitungan Bea Masuk registrasi), penelitian terhadap importir tersebut telah yang berlaku mulai tanggal 1 Maret 2007. dilakukan. Dalam penelitian tersebut, kepemilikan, eksistensi Menurut Dwi Teguh W, Kepala Seksi Nilai Pabean IV, Dit. perusahaan, pembukuan dan hal-hal lainnya mempengaruhi Teknis Kepabeanan, terbitnya P-01/BC/2007 tersebut dikarenaskor atau penilaian terhadap importir tersebut. kan beberapa sebab. Pertama, juklak (petunjuk pelaksanaan) Menurut Teguh, dalam hal pembukutersebut dibuat agar penetapan nilai pabean WBC/ATS an, jika perusahaan melakukan pembudapat dilakukan lebih sistematis dan berkuan sesuai dengan standar, misalnya urutan. “Jadi, cara pemeriksaannya mulai sesuai dengan sistem akutansi Indonedari awal seperti mulai dari uji kewajaran, sia, maka perusahaan tersebut bisa kemudian masuk ke analisa profil importir, diakui atau masuk dalam daftar low risk. pemenuhan ketentuan nilai pabean dan Pasalnya, pembukuan merupakan yang terakhir disesuaikan dengan hasil pecermin dari segala kegiatan perusahaan meriksaan fisik,” jelasnya. yang tercatat didalamnya. Sehingga, jika Kemudian, yang kedua adalah membepembukuannya tidak bisa mencerminkan rikan kepastian pelayanan dan perlakuan kegiatan perusahaan maka pembukuan yang baik kepada importir. Ketiga, tersebut sangat diragukan. menerapkan prinsip manajemen risiko pada “Kalau pada importir low risk itu ditepelaksanaan penetapan nilai pabean. mukan pelanggaran misalnya ada temuMengingat pentingnya mengetahui an dari P2 atau Audit, maka peringkatnya profil importir, saat ini DJBC telah membisa diturunkan menjadi medium atau bentuk Komite Penyusunan Profil berdahigh risk,” tambah Teguh yang juga sarkan Kep 03/BC/2007. Komite tersebut merupakan Anggota Sekretariat Komite telah berjalan sejak Januari 2007 dan Penyusunan Profil tersebut. terdiri dari lima direktorat, yakni Informasi “Untuk itu kami tidak mau mengambil Kepabeanan dan Cukai (IKC), Penindakresiko, misalnya pada awalnya kami nyataan dan Penyidikan (P2), Audit, Penerimakan bahwa barang milik importir tersebut an dan Peraturan Kepabeanan dan semuanya merupakan nilai transaksi, Cukai (PPKC) dan Teknis Kepabeanan. padahal setelah dilakukan audit ternyata Masing-masing direktorat tersebut, ditidak terjadi transaksi, bahkan sudah tidak bantu dengan anggota dari seluruh Kan- DWI TEGUH. pegawai harus yakin dan ditemukan lagi perusahaannya. Itu berarti wil yang ada, membentuk suatu task bertanggung jawab dengan nilai pabean yang sangat merugikan negara,” kata Teguh. force yang akan menindaklanjuti melaku- ditetapkannya.

A

Juklak penetapan nilai pabean untuk penghitungan bea masuk berlaku mulai 1 Maret 2007.

EDISI 389 APRIL 2007

WARTA BEA CUKAI

51

KEPABEANAN
TITIK BERAT P-01
Teguh menjelaskan bahwa perubahan yang ada pada P-01/ BC/2007 tersebut menitikberatkan pada pertama, pelayanan, terutama pada importir low risk yang selain bisa menikmati jalur hijau, juga bisa langsung diterima dan ditetapkan nilai pabeannya selama bukan merupakan nilai transaksi dengan menggunakan metode II – VI. Hal itu disebabkan pembukuan yang dilakukan importir low risk sudah mencerminkan kegiatan perusahaan. Selain itu juga, pada importir low risk tidak diharuskan menyerahkan INP-DNP (informasi nilai pabean-deklarasi nilai pabean). Karena selain membutuhkan waktu yang lama, hal tersebut juga dapat menyebabkan time release yang lama. Sehingga akan menimbulkan masalah baru. Sedangkan untuk importir medium risk, mekanisme yang dilakukan seperti biasa, yakni harus menyerahkan INP-DNP. Sementara untuk importir high risk, penetapan nilai pabeannya menggunakan metode II - VI. Pasalnya, sangat sulit menemukan pembukuan yang benar pada importir high risk. Penetapan dengan metode II - VI tersebut berlaku untuk semua importir high risk baik itu importir umum maupun produsen. Sebab, Teguh tidak menampik adanya kemungkinan importir produsen yang tergolong high risk dan terkena jalur merah. Titik berat yang kedua, hal-hal yang menjadi perhatian, khususnya bagi pegawai bea cukai dalam menetapkan nilai pabean adalah INP diberlakukan hanya untuk medium risk, serta penggunaan profil importir sebagai analisa profil sebagai dasar bagi petugas bea cukai dalam melakukan penetapan nilai pabean. Ketiga, petugas bea cukai yang menetapkan nilai pabean wajib membuat atau mengisi dokumen BCF 2.7. Dokumen BCF 2.7 merupakan risalah penetapan nilai pabean yang harus dilakukan oleh petugas bea cukai yang menetapkan nilai pabean. Karena, semua keputusan, baik itu diterima maupun ditolak, ditambah bayar dan sebagainya, semua itu harus ada penelitian atau keputusannya. Keputusan tersebut harus dituangkan dalam bentuk tertulis, dimana hal itu terlupakan selama ini. “Jadi selama ini saya kira banyak dokumen PIB yang tidak memiliki risalah sama sekali,” kata Teguh. Hal itu dikarenakan risalah tersebut memang tidak diwajibkan sebelumnya. Tetapi, sejak keluarnya P-01/BC/2007, risalah tersebut menjadi wajib dibuat oleh petugas. Hal itu untuk mengantisipasi jika suatu saat nanti terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, seperti keberatan atau banding dari importir terhadap keputusan penetapan nilai yang dilakukan petugas bea cukai. “Dengan begitu, petugas yang menetapkan nilai pabean terhadap suatu barang tidak lagi bermodalkan angan-angan atau bermodalkan ingatan berapa nilai penetapannya yang dulu, karena kenyataannya sampai hari ini pun, kalau ada hal-hal yang kita tanyakan pada petugas, misalnya mengenai dokumen yang dulu, mereka baru membuat risalahnya sekarang. Sehingga, kalau kita tanya nota pembetulan itu berasal dari mana, mereka juga akan bingung menghitungnya karena sebelumnya memang tidak ada hitungannya atau tidak jelas,” imbuh Teguh. Untuk itu semua pihak yang terkait dengan penetapan nilai pabean dituntut untuk membuat risalah tersebut. Pasalnya, risalah itu bisa menjadi argumen dari masing-masing pejabat dari PFPD atau seksi pabean dalam mempertanggung jawabkan apa yang telah diputuskan. “Saya juga mengingatkan bahwa kita sekarang di dalam UU 17/2006 tentang Perubahan Atas UU No 10/1995 tentang Kepabeanan, didalamnya ada sesuatu yang berat atau sanksi bagi pegawai kalau salah menetapkan nilai pabean sehingga terjadi kekurangan penerimaan negara. Hal itu (dalam pasal 113B-red) dinyatakan sebagai pidana. Hal itu yang kita jaga,” jelasnya. Untuk itu Teguh menyarankan agar semua pegawai menyamakan persepsi karena pegawai juga harus yakin dan bertanggung jawab dengan nilai pabean yang ditetapkannya. Selain itu, P-01/BC/2007 juga mengakomodir DNP tanpa perlu menerbitkan INP. Jadi, seandainya importir merasa bahwa barang yang diimpornya bukan barang transaksi (jual-beli), misalnya barang pemberian, konsinyasi maupun royalti, maka terhadap barang-barang tersebut, terlebih dahulu harus diberitahukan dalam DNP. Pasalnya, terhadap barang-barang 52
WARTA BEA CUKAI EDISI 389 APRIL 2007

tersebut (seperti royalti-red) sangat sulit untuk ditetapkan nilai pabeannya di awal atau di Kantor Pelayanan (front line). Kalau barang-barang tersebut tidak diberitahukan sejak awal, maka importir akan dikenakan denda atau pinalti yang besarnya hingga 1000 persen. “Tetapi kalau sebelumnya importir telah jujur mengatakan bahwa barang tersebut nilainya bukan berdasarkan nilai transaksi, berarti importir tersebut siap membayar nilai pabean berdasarkan ketetapan dari petugas bea cukai,” tambah Teguh.

PERSEPSI YANG BERBEDA-BEDA
Teguh mengakui, hingga saat ini masih ada beberapa pengertian/persepsi yang berbeda dalam menetapkan nilai pabean antar pegawai bea cukai. Ia mencontohkan pada saat ia melakukan sosialisasi di beberapa KPBC di beberapa daerah pada Pebruari lalu. Menurut Teguh, selama ini peserta sosialisasi beranggapan, barang yang tidak ditetapkan di kantor pelayanan, misalnya tidak ditambah bayar, merupakan barang yang diterima dengan metode I. Padahal importir barang-barang itu termasuk importir high risk. Untuk itu, pada saat sosialisasi tersebut ia menyampaikan bahwa metode II - V dalam penetapkan nilai pabean, sulit untuk dilakukan di Kantor Pelayanan. Hal itu disebabkan beberapa alasan. Diantaranya, metode II (barang identik) dan metode III (barang serupa) merupakan barang-barang yang sudah pernah di impor dan sudah diterima dan ditetapkan nilai pabeannya berdasarkan metode I (nilai transaksi). “Padahal kita tahu bahwa pembuktian metode I hanya bisa dilakukan dengan audit karena yang mengetahui transaksi hanyalah penjual dan pembeli. Jadi, segala sesuatu kegiatan perusahaan tercermin dalam pembukuan, dari pembukuan tersebut otomatis kita bisa melihat berapa transaksinya, apakah ada biaya-biaya tambahan yang dimasukan dalam transaksi tersebut. Untuk melihat hal itu hanya bisa dilakukan dengan audit,” terang Teguh. Kemudian untuk metode IV (deduksi) adalah menghitung nilai pabean barang impor berdasarkan harga jual dari barang impor yang bersangkutan, barang impor yang identik atau barang impor yang serupa di pasar dalam daerah pabean, dikurangi biaya atau pengeluaran untuk komisi/keuntungan, transportasi, asuransi, bea masuk dan pajak. Untuk mengetahui hal itu, caranya juga melihat melalui pembukuan, berapa biaya-biaya yang ditambahkan di dalam harga pembelian impor sehingga menjadi harga jual. Untuk mengetahui hal itu juga melalui audit. Sementara itu metode V (komputasi) adalah menghitung kembali berdasarkan harga supplier di luar negeri. Hal itu tidak mungkin dilakukan mengingat besarnya biaya yang harus dikeluarkan untuk pergi keluar negeri hanya karena ingin menetapkan nilai pabean saja. Oleh karena itu Teguh yakin yang paling banyak digunakan dalam penetapan nilai pabean di KPBCKPBC adalah metode VI, yakni menggunakan fleksibilitas maupun data-data yang terukur lainnya. Namun demikian, sistem hirarki dalam melakukan penelitian nilai pabean bisa dilakukan. Sesuai dengan Pasal 15 UU No. 17/ 2007, dimungkinkan mendahulukan menggunakan metode V daripada metode IV dan importir boleh/berhak menggunakan hal itu. Tetapi, lanjut Teguh, hal itu belum diakomodir oleh P-01/BC/ 2007 karena belum dilakukan perubahan terhadap Kep Menkeu No. 690/KMK.05/1996 tentang Nilai Pabean untuk Penghitungan Bea Masuk. Kalau Kep Menkeu tersebut diubah, itu berarti mendahulukan ke metode V daripada metode IV bisa dilakukan. Saat ini, perubahan tersebut sedang disusun oleh Tim RUU Kepabeanan untuk dibuat peraturan pelaksanaannya. Setelah sosialisasi dilakukan terhadap seluruh pegawai bea cukai yang bidang tugasnya terkait dengan pelaksanaan nilai pabean di seluruh Indonesia, sosialisasi kepada pengguna jasa belum bisa dilakukan. Menurut Teguh, hal itu disebabkan waktu untuk sosialisasi ke seluruh pegawai di seluruh Indonesia baru selesai dilakukan Pebruari lalu dalam kondisi cuaca yang buruk. Untuk itu, saat ini diharapkan agar pegawai yang bertugas di Kantor Wilayah maupun Kantor Pelayanan dapat menjelaskan secara langsung P-01 tersebut pada pengguna jasa di daerahnya. ifa

INFORMASI KEPABEANAN & CUKAI

Cyber Law ?
Teknologi Informasi dan Komunikasi saat ini berkembang dengan sangat pesat membuat pihakpihak yang terkait di dalamnya saling berlomba untuk menciptakan inovasi baru agar tidak dikatakan “ketinggalan zaman” atau untuk mencari pasar produk yang dihasilkannya.

S

ecara alamiah, manusia tidak mungkin dilepasdisadari bahwa penggunaan sistem komputer dan sistem kan dari kemajuan teknologi yang tujuannya komunikasi juga berakibat hadirnya suatu Media adalah untuk memudahkan kehidupannya. Komunikasi baru dalam penyajian informasi kepada Secara alamiah pula, manusia tidak mungkin masyarakat, yakni dari perkembangan dari media cetak dilepaskan dari hukum yang tujuannya adalah menjadi media elektronik. Sehingga menjadi lebih jauh menjaga eksistensi keberadaannya. Bagi manusia, teklagi, istilah TELEMATIKA juga kemudian menjadi jargon nologi tanpa disertai dengan hukum akan berakibat pada yang ditujukan untuk memperlihatkan perkembangan kekacauan yang pada gilirannya akan merusak kehidupan konvergensi antara teknologi TELEKOMUNIKASI, MEDIA, manusia itu sendiri. Sebaliknya hukum yang semata-mata dan INFORMATIKA yang semula masing-masing membatasi kemajuan teknologi akan memasung peradabberkembang secara terpisah. an manusia. Disinilah perlunya keseimbangan Setelah memperhatikan dan menyimak halantara hukum dan teknologi. hal tersebut di atas, kemudian muncul suatu Sehubungan dengan hal tersebut di atas, pertanyaan, manakah lebih tepat kita gunakan saat ini telah lahir suatu rezim hukum baru sebagai istilah yang baku ”cyberspace” ataukah yang dikenal dengan nama Hukum Siber. ”telematika”. Jika kita berbicara tentang Istilah ”hukum siber” diartikan sebagai cyberspace berarti kita akan berbicara tentang ”CYBER padanan kata dari Cyber Law, yang saat ini halusinasi alam virtual, sedangkan jika secara internasional digunakan untuk istilah melakukan pendekatan dengan istilah LAW” hukum yang terkait dengan pemanfaatan telematika berarti kita akan melihat kepada LEBIH teknologi informasi. hakekat cyberspace itu sendiri yakni sebagai suatu sistem elektronik yang lahir dari hasil PANTAS perkembangan dan konvergensi CYBER (LAW) DAN (HUKUM) TELEMATIKA Norbert Wiener (Seorang matematikawan DIGUNAKAN telekomunikasi, media, dan informatika itu sendiri. Oleh sebab itu, istilah ”telematika” lebih pernah mencetuskan suatu teori yang dikenal ATAU baik digunakan ketimbang ”cyberspace” karena dengan nama Cybernetics Theory yakni teori memperlihatkan hakekat yang ditujukan untuk pendekatan interdisipliner DITUJUKAN istilah tersebut lebih layak untuk digunakan keberadaannya dan (interdisciplinary approach) dalam mempelajari sebagai definisi guna melakukan pengkajian sistem kendali dan komunikasi dari hewan, UNTUK hukum. manusia, mesin, dan organisasi) mengakui HUKUMDengan melihat hakekat yang mendasari bahwa istilah Cyber itu sendiri sendiri pernah lahirnya cyberspace adalah konvergensi dikemukakan oleh Ampere yang namanya HUKUM TELEMATIKA, maka untuk menghindari digunakan sebagai satuan kuat arus. Jadi, jika kesalahpahaman seharusnya kita lebih kita melihat asal usul kata Cyber, maka istilah FISIKA... mempopulerkan istilah Hukum Telematika Cyber ditujukan untuk penamaan kawat listrik. ketimbang Hukum Cyberspace. Hal ini berarti Sehingga tidak mengherankan, jika istilah bahwa domain-domain ketentuan hukum yang tersebut juga digunakan untuk organ buatan mungkin semula dipahami per sektor, (baik listrik CYBORG yang merupakan singkatan telekomunikasi, media, dan informatika) akan dari Cybernetics Organics. menjadi semakin konvergen. Sehingga kita tidak Oleh sebab itu, istilah ”cyber law” lebih pantas menyatakan adanya kevakuman hukum, melainkan akan digunakan atau ditujukan untuk hukum-hukum fisika yang menarik suatu pembidangan hukum yang lebih khusus berlaku terhadap arus listrik dalam kawat, bukan namun tidak menafikan keberlakuan bidang-bidang husebagaimana yang dipahami oleh masyarakat sekarang kum yang telah ada dalam sistem hukum yang berlaku. ini sebagai hukum yang tumbuh dalam medium cyberspace. Jadi sepatutnya, jika kita mengkaji kembali DAFTAR PUSTAKA apa yang dimaksud oleh masyarakat sebagai ”Cyber Law” Makarim, Edmon. SH.S.Kom. Kompilasi Hukum Telematika. cet.1. Jakarta: itu sendiri, maka sepatutnya istilah yang digunakan PT. RajaGrafindo Persada, 2003. adalah ”cyberspace law” bukan ”cyber law”. Ramli, H. Ahmad M. Prof.DR. SH. MH. Cyber Law dan HAKI Dalam Sistem Istilah TELEMATIKA berasal dari istilah Perancis Hukum Indonesia. Cet.1. Bandung: PT.Refika Aditama, 2004. ”TELEMATIQUE” yang kemudian menjadi istilah umum di Eropa untuk memperlihatkan bertemunya sistem jaringan Carl A.H.S. Tampubolon komunikasi dengan teknologi informasi. Kemudian baru Pelaksana pada Direktorat Informasi Kepabeanan dan Cukai

“ ”

EDISI 389 APRIL 2007

WARTA BEA CUKAI

53

KONSUL TASI
KEPABEANAN & CUKAI
Dengan ini kami informasikan agar setiap surat pertanyaan yang masuk ke Redaksi Warta Bea Cukai baik melalui pos, fax ataupun e-mail, agar dilengkapi dengan identitas yang jelas dan benar. Redaksi hanya akan memproses pertanyaan-pertanyaan yang diajukan dengan menyebutkan identitas dan alamat yang jelas dan benar. Dan sesuai permintaan, kami dapat merahasiakan identitas anda. Demikian pemberitahuan ini kami sampaikan, atas perhatiannya kami ucapkan terimakasih. Redaksi

Importir Sebenarnya Pada MBL
Perusahaan kami bergerak dibidang Forwarding, dalam penyelesaian formalitas kepabeanan impor memakai House Bill of Lading (HBL) sebagai dokumen pelengkap pabean. Sehubungan dengan pemberlakuan SAP PDE Manifest Impor per tanggal 1 Juli 2006, dan sesuai jawaban atas pertanyaan saya di WBC edisi 382 September 2006 oleh Bp. Endang Tata, Dir P2 pada waktu itu. Tentang ketentuan penggunaan HBL dapat dilaksanakan sepanjang data-data yang tercantum dalam dokumen pemberitahuan pabean sesuai dengan data-data yang tercantum di BC 1.1 Dalam SK Menkeu No 39/PMK/04/06 Tentang Rencana Kedatangan Sarana Pengangkut (RKSP) Inward Manifest dan Outward Manifest yang pelaksanaannya diatur dalam Peraturan DJBC No. P10/BC/2006. Pasal pada peraturan-peraturan tersebut di atas, tidak secara teknis mewajibkan pencantuman nama importir sebenarnya (actual/real consignee) pada MBL. Sebelum mandatory manifest pada MBL, shipper dan consignee adalah nama freight forwader. Implementasi di lapangan agen pelayaran meminta agar pada MBL dicantumkan nama importir sebenarnya, dan freight forwarder sebagai pihak yang diberitahu (Notify Party) yang menurut mereka ini yang harus diisi dalam Modul Pengangkut dalam link Pos Manifest. Kelalaian mencantumkan nama importir sebenarnya akan mengakibatkan perbaikan BC.1.1 (redress consignee) Akibat penerapan peraturan ini, menurut hemat saya akan merugikan perusahaan-perusahaan jasa transportasi (freight forwarder) di Indonesia, yang mayoritas perusahaan bumiputera, dimana perusahaan pelayaran di Indonesia lebih bertindak sebagai agen pelayaran asing. Dengan diketahui importir sebenarnya oleh perusahaan agen pelayaran disini dan di negara asal, cepat atau lambat akan mematikan kegiatan usaha dibidang freight forwader yang dengan susah payah mencari klien, sebelumnya perusahaan sejenis kami dapat merahasiakan klien sebenarnya agar tak dapat diketahui oleh agen pelayaran. Pertanyaan saya adalah : 1. Apakah memang ada aturan yang mengatur tentang kewajiban memasukan nama importir sebenarnya pada modul pengangkut utamanya pada pos manifest ? 2. Kami mendukung penerapan SAP PDE Manifest sebagai alat kontrol lalu lintas barang ekspor impor, namun apakah ada mekanisme dimana perusahaan freight forwader dapat merahasiakan klien dari perusahaan agen pelayaran ? Tanggapan atas pertanyaan-pertanyaan ini sangat saya tunggu. Sebelum dan sesudahnya saya ucapkan banyak terima kasih HERA Y MELATI Bukit Duri Putaran No. 13-14 - Jkt 12840 Jawaban : Dari uraian pada Surat tersebut dapat disimpulkan, bahwa : Sebelum mandatory SAP Manifest, pada Master B/L yang tertulis sebagai Shipper dan Consignee adalah Freight Forwarder. Dan setelah mandatory SAP Manifest para Agen Pelayaran (Shipping Line) meminta agar pada Master B/L dicantumkan nama 54
WARTA BEA CUKAI EDISI 389 APRIL 2007

Actual / Real Consignee (Importir sebenarnya), sedangkan Freight Forwarder sebagai pihak yang diberitahu (Notify Party). Data Actual / Real Consignee (Importer sebenarnya) harus diisikan pada Modul Pengangkut untuk dikirim ke Kantor Pelayanan Bea dan Cukai (KPBC) dengan menggunakan sistem PDE. Terhadap hal-hal tersebut, Saudara menanyakan : 1. Apakah memang ada aturan yang mengatur tentang kewajiban memasukan nama importir sebenarnya pada modul pengangkut utamanya pada pos manifest ? 2. Apakah ada mekanisme dimana perusahaan Freight Forwarder dapat merahasiakan kliennya dari perusahaan pelayaran ? Atas pertanyaan tersebut, dapat dijawab sebagai berikut : Jawaban atas pertanyaan no. 1 Sesuai Peraturan Direktur Jenderal Bea Dan Cukai Nomor P-10/BC/2006 tanggal 16 Juni 2006 Tentang Tata Cara Penyerahan Dan Penatausahan Pemberitahuan Rencana Kedatangan Sarana Pengangkut, Manifes Kedatangan Sarana Pengangkut, dan Manifes Keberangkatan Sarana Pengangkut, pada Lampiran V, Lampiran VI, dan Lampiran VII mengenai Tata Cara Penyerahan dan Penatausahaan Pemberitahuan Inward Manifest secara Manual, melalui Media Penyimpan Data Elektronik, atau melalui Sistem PDE, dinyatakan bahwa Pengangkut harus menyiapkan dan menyerahkan Pemberitahuan Inward Manifest dengan elemen data yang ditetapkan, diantaranya adalah : - nama dan alamat pengirim (shipper/supplier); - nama dan alamat penerima (consignee); - nama dan alamat pemberitahu (notify address/notify party); Jawaban atas pertanyaan no. 2 Berdasarkan Peraturan Direktur Jenderal Bea Dan Cukai Nomor P-10/BC/2006 tanggal 16 Juni 2006 pada Pasal 6, pasal 7 dan Lampiran VIII mengenai Tata Cara Perbaikan terhadap BC1.1, diatur bahwa perbaikan terhadap BC 1.1 dapat diajukan oleh Pihak Pengangkut (Shipping Line / Air Line) atau pihak-pihak lain yang bertanggungjawab atas barang (Freight Forwarder, Cargo Handling, Yang mendapat Kuasa) dengan mempersyaratkan dapat dibuktikan dengan dokumen pendukung. Jadi data Inward Manifest (BC 1.1) yang diserahkan oleh Agen Pelayaran ke KPBC, pada isian kolom Consignee dapat berisikan data Freight Forwarder atau actual / real Consignee (Importer). Dalam hal kolom Consignee pada Inward Manifest (BC 1.1) berisikan data Freight Forwarder, maka harus dilakukan perbaikan BC 1.1. Khusus untuk Freight Forwarder, mekanisme pengajuan perbaikan BC 1.1 (redress) dapat ditempuh dengan melalui salah satu diantara 2 (dua) pilihan, yaitu : a. Melalui Agen Pelayaran, dan segala perbaikan data BC 1.1 diajukan oleh Agen Pelayaran ke KPBC, dan otomatis Agen Pelayaran mengetahui data Master atau House B/L yang berkaitan dengan Freight Forwarder ; b. Pihak Freight Forwarder melakukan perbaikan data Inward Manifest (BC 1.1) langsung ke KPBC, sehingga Actual / Real Consignee tidak diketahui oleh Shipping Line (Agen Pelayaran). TIM MANIFEST

KOLOM

Jerat UU Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi
Terhadap Tindak Pidana Kepabeanan

Oleh : Mohammad Gauss Sitompul

MASYARAKAT INTERNASIONAL SUDAH MENGKUALIFIKASIKAN KORUPSI SEBAGAI “KEJAHATAN LUAR BIASA”

“ ”

K

orupsi merupakan suatu tindak kejahatan yang terjadi tidak hanya di negara yang sedang berkembang namun terjadi pula di negara maju dan modern sekalipun. Dimensi efek kehancuran akibat korupsi sangat luas, menyeluruh dan nyata yang sekarang pun dirasakan oleh seluruh rakyat bangsa ini. Lebih lagi dalam skala sangat dahsyat dapat menghapus eksistensi suatu negara dalam tataran pergaulan internasional. Secara sederhana dari sisi pemerintah, korupsi dapat diartikan tindakan pegawai, aparat, oknum, pimpinan melakukan penyalahgunaan kewenangan dengan cara melakukan penyimpangan, melanggar aturan dalam rangka meraih keuntungan pribadi atau kelompok yang pada akhirnya merugikan kepentingan negara dan masyarakat. Dalam rangka memberantas korupsi beserta turunannya pemerintah Republik Indonesia telah mengeluarkan UndangUndang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana yang telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (untuk selanjutnya disebut UU PTPK). Agar tidak melebar dan lebih terfokus pada judul, uraian selanjutnya hanya membatasi pada ketentuan/ pasal UU PTPK yang mana dapat digunakan penegak hukum dalam menjerat orang/PNS yang diduga melakukan tindak pidana kepabeanan. Selain itu agar lebih mudah menelaahnya diasumsikan bahwa setiap petugas DJBC memahami UU Kepabeanan secara baik dan benar

sisi lain melayani stakeholder dengan memberikan fasilitas kepabeanan yang bertujuan menciptakan iklim yang kondusif bagi dunia usaha sehingga menimbulkan geliat di sektor perekonomian yang pada akhirnya tercipta perekonomian nasional yang stabil. Dalam memberikan fasilitas kepabeanan unsur kehatihatian merupakan syarat mutlak terutama pada ketaatan pada peraturan dan prosedur yang harus dilaksanakan. Selanjutnya terhadap pengawasan dan sanksi terhadap pelanggaran aturan harus dilaksanakan tanpa tebang pilih sehingga pada akhirnya menimbulkan efek jera bagi setiap subjek pelanggaran (detterent effect). Mengapa hal ini perlu dimunculkan ? Harus diakui bahwa selama ini seringkali dalam memberikan fasilitas kepabeanan petugas Bea dan Cukai lalai terhadap berbagai hal sehingga timbulah kerawanan dan selanjutnya tercipta celah hukum (loop hole) untuk pelanggaran dimana akibatnya penegak hukum diluar PPNS DJBC dapat masuk dan menyeret kelalaian tersebut sebagai dasar untuk mengembangkan penyelidikan dan penyidikan jika didapat cukup bukti.

CONTOH KASUS
Dengan tetap mengedepankan asas “Praduga tak bersalah” bahwa setiap orang yang disangka, ditangkap, ditahan, dituntut, dan atau dihadapkan dimuka sidang pengadilan wajib dianggap tidak bersalah sampai adanya putusan pengadilan yang menyatakan kesalahannya dan memperoleh kekuatan hukum tetap . Salah satu kasus yang sedang berjalan pemeriksaannya dalam kompetensi relatif PN Jakarta Utara adalah yang intinya fasilitas kepabeanan atas impor barang diberikan berupa Gudang Berikat dan Eigenloosing, tapi ternyata disalahgunakan oleh Importir dan pada akhirnya barang impor tersebut beredar di pasaran dengan tidak memenuhi kewajiban kepabeanannya yaitu berupa pembayaran pajak dalam rangka impor. Padahal terhadap kasus ini mekanisme secara hukum untuk menagih dan atau menyelesaikan bea masuk dan pajak dalam rangka impor sudah jelas aturannya. Misalnya post clearance audit (PCA), surat paksa, penyitaan dan pelelangan terhadap harta benda milik importir oleh Badan Piutang dan Lelang Negara.
EDISI 389 APRIL 2007 WARTA BEA CUKAI

SEKILAS TENTANG BEA DAN CUKAI
Tugas pokok dan fungsi DJBC antara lain adalah l Fasilitator perdagangan dan industri l Pengumpul pajak dalam rangka impor Berangkat dari salah satu tugas dasar tersebut tergambar betapa berat, rumit dan rawannya DJBC dalam pelaksanaan tugasnya. Betapa tidak, ibarat mata uang logam di satu sisi mengemban tugas mencari dan mengumpulkan pendapatan negara melalui sektor pungutan pajak dalam rangka impor,

55

KOLOM
Secara rinci pasal per pasal dalam UU Kepabeanan sebagai berikut : l Psl 30. Importir bertanggung jawab terhadap bea masuk yang terutang sejak tanggal pemberitahuan pabean atas importasinya. l Psl 38 (1). Utang atau tagihan kepada negara berdasarkan Undang-undang ini yang tidak atau kurang dibayar dikenakan bunga sebesar 2% setiap bulannya untuk selama-lamanya 24 bulan, dihitung sejak tanggal jatuh tempo sampai hari pembayaran dan bagian bulan dihitung satu bulan. l Ps 39 (1). Negara mempunyai hak mendahului untuk tagihan pabean atas barang-barang milik yang berutang. l Ayat (3). Hak mendahului untuk tagihan pabean melebihi segala hak mendahului lainnya. l Psl 41 (penjelasan). Utang yang tidak dapat diselesaikan berdasarkan ketentuan dalam undang-undang ini penagihannya diserahkan kepada instansi pemerintah yang mengurusi penagihan piutang negara. Mengacu pada sifat melawan hukum tindak pidana korupsi maka kejahatan ini merupakan “Delik Formil” yaitu adanya unsur-unsur perbuatan telah terpenuhi yang tidak memperdulikan akibatnya. Berbeda dengan kualifikasi delik materiil yaitu mensyaratkan akibat dari perbuatan berupa kerugian yang timbul harus sudah terjadi.
l

Unsur melawan hukum itu sendiri adalah tindakan yang dilakukan dimana termasuk dalam rumusan delik, bersifat melawan hukum dan dapat dicela. Unsur merugikan keuangan negara dapat tergambar dalam 2 hubungan yang ekstrim yaitu : 1. Nyata-nyata merugikan keuangan negara 2. Kemungkinan dapat merugikan perekonomian negara

l

Diantara dua hubungan diatas sebenarnya masih ada hubungan yang “belum nyata terjadi” tetapi dengan mempertimbangkan keadaan khusus dan konkrit disekitar Atas mekanisme hukum tersebut jelas sistem penagihan peristiwa yang terjadi atau peristiwa yang melatarbelakanginya, dalam proses kepabeanan memiliki khususan yang artinya secara logis dapat disimpulkan bahwa akan ada suatu akibat segala kemungkinan yang patut diduga akan menimbulkan yang akan terjadi yaitu kerugian keuangan negara. kerugian bagi keuangan negara telah diantisipasi dan diatur. Unsur-unsur pasal 2 (1) dan pasal 3 UU PTPK memang diciptakan dan dibuat sengaja untuk menjangkau seluruh bentuk tindak pidana korupsi. Mengapa demikian ? Seperti sekarang ini UNSUR MELAWAN HUKUM MERUGIKAN KEUANGAN NEGARA korupsi terjadi sangat dalam, parah dan luas Didalam mengupas unsur melawan ibaratnya penyakit kanker kronis. hukum tindak pidana korupsi, tulisan ini hanya Khususnya di negara Republik Indonesia mengupas pasal 2 (1) dan pasal (3) UU kegiatan administrasi dan struktur pemerintahan PTPK yaitu, sering kali tidak menciptakan kepastian hukum, berbagai peraturan baik yang diundangkan Pasal 2 ayat (1) DIMENSI EFEK pemerintah pusat maupun pemerintah daerah Setiap orang yang secara melawan hukum KEHANCURAN banyak yang menciptakan peluang untuk melakukan perbuatan memperkaya diri PNS, sendiri atau orang lain atau suatu korporasi AKIBAT KORUPSI keleluasaan monopoli ditambah dengan dan aparat keamanan, pejabat tinggi negara yang dapat merugikan keuangan negara atau lain sebagainya telah juga menciptakan iklim perekonomian negara dipidana dengan pidaSANGAT LUAS, dan sistem korupsi yang sistematis didukung na penjara seumur hidup atau pidana penjara MENYELURUH DAN pula oleh persoalan gaji, standar hidup dan paling singkat 4 (empat) tahun dan paling ekonomi biaya tinggi yang makin menguatkan lama 20 (dua puluh) tahun dan denda paling NYATA YANG perilaku korupsi. sedikit Rp. 200.000.000, (dua ratus juta Atas perilaku tersebut bahkan masyararupiah) dan paling banyak Rp. 1.000.000.000, SEKARANG PUN kat internasional sudah mengkualifikasikan (satu milyar rupiah) DIRASAKAN OLEH korupsi sebagai “ kejahatan luar biasa”. Oleh itu dalam penanganannya pada Penjelasan pasal 2 (1) SELURUH RAKYAT karenapenyelidikan, penyidikan, penuntutan tahap Yang dimaksud dengan “Secara melawan dan penjatuhan putusan pengadilan harus hukum” dalam pasal ini mencakup perbuatanBANGSA INI dilakukan secara luar biasa juga (extraordiperbuatan melawan hukum dalam arti formil nary measures). maupun dalam arti materiil yakni meskipun perbuatan tersebut tidak diatur dalam peraturUnsur memperkaya diri sendiri an perundang-undangan, namun apabila permengandung pengertian bahwa penggunaan buatan tersebut dianggap tercela karena tidak keuangan negara tidak diperuntukkan bagi kepentingan pesesuai dengan rasa keadilan atau norma-norma kehidupan nyelenggaraan negara tetapi untuk kepentingan diri pelaku sosial dalam masyarakat, maka perbuatan tersebut dapat tindak pidana korupsi. dipidana.

“ ”

Pasal 3 : Setiap orang yang dengan tujuan menguntungkan diri sendiri atau orang lain atau suatu korporasi menyalahgunakan kewenangan, kesempatan atau sarana yang ada padanya karena jabatan atau kedudukan yang dapat merugikan keuangan negara atau perekonomian negara, dipidana dengan pidana seumur hidup atau pidana penjara paling singkat 1 (satu) tahun dan atau denda paling sedikit Rp. 50.000.000. (lima puluh juta rupiah) dan paling banyak Rp 1.000.000.000, (satu milyar rupiah) Unsur-unsur melawan hukum pasal 2 ayat (1) UU PTPK ialah : l Unsur perbuatan melawan hukum l Unsur memperkaya diri sendiri atau orang lain atau suatu korporasi l Unsur dapat merugikan keuangan negara atau perekonomian negara. 56
WARTA BEA CUKAI EDISI 389 APRIL 2007

Sedangkan unsur penyalahgunaan kewenangan (abuse of power) pada pasal 3 menunjuk pada memberikan keuntungan yang tidak selalu indentik dengan penambahan harta kekayaan tetapi dapat juga memperoleh kenikmatan atau keuntungan yang bersifat materiil dan/atau immateriil berupa fasilitas dan kemudahan untuk melakukan sesuatu tindakan. Jangkauan yang lebih keras dan luas lagi dalam hal telah terjadi percobaan yang didalam Kitab Hukum Undang Pidana merupakan delik yang tidak sempurna pada tindak pidana korupsi merupakan suatu tindak pidana yang bersifat satu kesatuan bulat dan lengkap serta diancam pidana yang sama dengan delik sempurna bahkan terhadap pengembalian kerugian keuangan negara tidak menghapus unsur pidananya.

PENERAPAN UNDANG-UNDANG
Kitab Undang Hukum Pidana dalam pasal 63 (2) menen-

tukan, “Jika bagi suatu perbuatan terancam oleh ketentuan pidana umum ada ketentuan istimewa/khusus, maka ketentuan pidana istimewa itu saja yang dipergunakan. Dan ini bersesuaian dengan adagium/asas Lex spesialais derogat lex generali. Ahli hukum pidana, Schaffmeister berpendapat sebagaimana dikutip oleh Prof Dr. A.Z. Abidin dan Prof Dr. Jur. Andi Hamzah dalam bukunya yang berjudul “Bentuk-bentuk khusus perwujudan delik dan hukum penentisier” pada hal 318, bahwa ketentuan dalam pasal 63 (2) KUHP dinyatakan sebagai pidana bentuk kekhususan yang sistematis. Secara jelas Schaffmeister memberikan contoh suatu perkara penyelundupan sebagaimana diatur dalam UU Kepabeanan apabila seseorang menyelundupkan barang berarti tidak membayar bea masuk dan menjadi bagian yang dapat disebut memperkaya diri sendiri atau orang lain dan pasti merugikan keuangan negara yang artinya memenuhi semua bagian inti delik korupsi sesuai UU PTPK, namun UU PTPK tidak boleh diterapkan karena bersifat umum, ada bentuk khusus delik penyelundupan yang disebut dalam pasal 102 UU Kepabeanan, dengan demikian jika hal tersebut dipaksakan maka jelas merupakan pelanggaran atas kekhususan yang sistematis. Kembali pada episiode tindak pidana kepabeanan ditinjau dari penyertaan dalam melakukan perbuatan pidana, dari sisi pelaku (dader) dapat dikualifikasikan sebagai berikut; 1. Melakukan, yang menyuruh melakukan, dan yang turut serta melakukan perbuatan. 2. Mereka yang memberi atau menjanjikan sesuatu dengan menyalahgunakan kekuasaan atau martabat atau memberi kesempatan, sarana atau keterangan, sengaja menganjurkan orang lain supaya bertindak sesuatu. Dari klasifikasi pelaku pada umumnya modus tindak pidana kepabeanan bila tidak sesuai dengan rumusan delik pasal 102 UU Kepabeanan, sering kali melibatkan konspirasi oknum pegawai. Terlepas dari modus operandi, yang menjadi pertanyaan penegak hukum adalah apakah UU Kepabeanan mengatur tentang sanksi bagi oknum pegawai yang terlibat berkonspirasi dalam tindak pidana kepabeanan sehingga keuangan negara dirugikan ? Apakah dengan diberikan sanksi berdasarkan PP 30 Tahun 1980 tentang disiplin PNS menghapuskan kesalahan perbuatan dan ancaman pidana ? Terhadap importir kewajiban kepabeanan berdasarkan sistem self assesment tegas diatur sehingga apapun yang menjadi alasan importir untuk menghindar dari kewajibannya tidak akan pernah lepas dari perangkap sanksi UU Kepabeanan. Tugas PPNS DJBC-lah untuk memproses sesuai ketentuannya. Hasil penyidikan dapat dilihat dan buktikan bersama dengan adanya beberapa keputusan pengadilan yang inkracht (Bravo PPNS DJBC). Hakekat PNS (ambtenaar) adalah idealnya seseorang yang mengemban tugas mulia dengan sumpahnya kepada Tuhan Yang Maha Esa untuk mencurahkan, mengorbankan dan membaktikan hidupnya dalam menjalankan tugas dan tanggung jawab terhadap negara dengan segala konsekuensi resiko demi terciptanya kesejahteraan masyarakat. Terhadap PNS yang terlibat berkonspirasi dalam tindak pidana kepabeanan penegak hukum mencoba menjerat dengan dasar UU PTPK yaitu unsur memperkaya orang lain dan tidak melaksanakan kewenangan yang dimilikinya sehingga keuangan negara dirugikan. Terlepas dari usaha penegak hukum mencoba menyeret tersangka pelaku tindak pidana kepabeanan berdasarkan UU PTPK diputus bersalah atau bebas oleh pengadilan, sudah seyogyanyalah masing-masing pegawai introspeksi dan membenahi diri agar instansi yang dibanggakan ini dapat terus memberikan kontribusi terhadap keuangan negara dan mengawal Republik Indonesia tercinta ini.

Perubahan Pada DJBC

“ ” Mengawal
Oleh : Rinsan Siagian

PERUBAHAN ADALAH TANDA ADANYA KEHIDUPAN

A

Penulis adalah Staf Pelaksana Biro Hukum Sekertaris Jenderal Depkeu, Mantan Kepala KPBC Atapupu/Atambua, NTT

ngin perubahan di organisasi Bea dan Cukai semakin mengalir dengan cepat. Perubahan dalam struktur organisasi, rencana pembentukan Kantor Pelayan Utama, PDE dan bahkan rencana single windows menjadi hal yang menggairahkan bukan saja bagi pegawai Bea dan Cukai tapi juga bagi seluruh bangsa Indonesia. Tentu saja dengan satu harapan, melalui perubahan ini Bea dan Cukai dapat berperan dengan baik dalam mendorong laju roda pergerakan perekonomian Indonesia yang terus berusaha keluar dari krisis multidimensi. Sangat besar harapan agar pelaksanaan perubahan dapat berjalan dengan baik dan berhasil hingga akhir yang diinginkan. Untuk itu pelaksanaan perubahan ini harus dikawal agar terus berada pada jalan-jalan yang menuju keberhasilan. Agar dapat terus melakukan perubahan dengan baik dan berhasil, John P. Kotter mengemukakan bahwa terdapat dua komponen yang pokok dalam melakukan perubahan, pertama perubahan itu harus dilakukan melalui tahap-tahap dan berurutan. Proses perubahan memiliki delapan tahap yaitu : menetapkan makna urgensi perubahan, menciptakan koalisi pengarah, mengembangkan visi dan strategi, mengkomunikasikan visi perubahan, memberdayakan dan melibatkan banyak orang untuk melakukan tindakan, menghasilkan output jangka pendek, mengkonsolidasikan pencapaian-pencapaian dan menghasilkan lebih banyak perubahan dan melembagakan praktek-praktek baru dalam kultur baru organisasi. Pelaksanaan satu tahap dengan baik dalam prosesnya akan memberikan landasan yang kuat bagi tahap pelaksanaan berikutnya demikian seterusnya, ibarat roda didalam roda. Bila hanya melakukan beberapa tahap saja atau langsung melompat pada tahap selanjutnya tanpa landasan yang kuat, lebih sering menghadapi masalah dalam pelaksanaan perubahan. Komponen kedua adalah pendorong proses perubahan adalah kepemimpinan, kepemimpinan dan sekali lagi masih tetap membutuhkan kepemimpinan. Kepemimpinan menentukan arah
EDISI 389 APRIL 2007 WARTA BEA CUKAI

57

KOLOM
dengan mengembangkan visi dan misi masa depan dan menentukan strategi-strategi untuk menghasilkan perubahan-perubahan untuk mencapai visi itu, mengarahkan para karyawan pada visi, memberikan motivasi dan inspirasi kepada anggota organisasi meskipun terdapat hambatan. Bisa dikomunikasikan : mudah dijelaskan dalam waktu lima menit

4. MENGKOMUNIKASIKAN PERUBAHAN
Gagasan akan visi yang telah ditetapkan agar sampai kepada seluruh organisasi harus dilakukan dengan baik, jangan sampai mengirimkan pesan yang tidak konsisten. Elemen-elemen kunci dalam komunikasi yang efektif : - Kesederhanan : Informasi bebas dari jargon-jargon. - Metafor, analogi dan contoh : Sebuah gambaran verbal bisa mengungkapkan ribuan kata. - Berbagai macam forum : Rapat-rapat besar, dan kecil, memo dan terbitan berkala, interaksi formal dan informal – semuanya merupakan sarana yang efektif untuk menyebarluaskan informasi. - Pengulangan : Gagasan-gagasan bisa mengakar dalam hanya setelah semua itu didengar berulang kali. - Kepemimpinan berdasarkan contoh : Perilaku dari orangorang penting yang tidak konsisten dengan visi yang telah ditentukan mengalahkan bentuk komunikasi lainnya. - Penjelasan mengenai ketidakkonsistenan yang terjadi : Ketidakkonsistenan (inkonsistensi) yang tidak diatasi menghambat kredibilitas semua komunikasi. - Memberi dan menerima : Komunikasi dua arah selalu lebih kuat dibandingkan komunikasi satu arah.

1. MENETAPKAN MAKNA URGENSI
Menetapkan tingkat urgensi adalah menentukan alasan mengapa melakukan perubahan. Perubahan dapat didorong oleh kondisi internal maupun tuntutan eksternal. Krisis ekonomi suatu negara dapat menjadi pendorong untuk melakukan perubahan sebuah organisiasi. Dengan memiliki tingkat urgensi yang tinggi untuk melakukan perubahan, organisasi akan membuat kebijakan-kebijakan baru dan mencari praktek-praktek yang terbaik untuk menciptakan performance yang lebih baik. Keinginan untuk memperbaiki kondisi ini akan menginventaris masalah yang ada dan mencari peluang penyelesaian dangan baik dan norma yang berlaku adalah kerjakan sekarang juga.

2. MEMBENTUK KOALISI ATAU TIM PENGARAH
Melakukan perubahan besar merupakan pekerjaan yang sangat sulit untuk itu sangat diperlukan kekuatan yang besar untuk melakukan perubahan tersebut. Diperlukan tim dengan komposisi yang tepat agar peruabahan berjalan dengan baik. Semua anggota tim harus memiliki kesalingpercayaan yang tinggi, mewakili kelompok-kelompok yang ada dalam organisasi, memiliki komitmen dan tujuan yang sama dalam perbaikan organisasi. Empat karakteristik pokok yang penting untuk membentuk koalisi pengarah yang efektif : - Kekuatan posisi : tim pengarah terdiri dari pelaku kunci dalam top manajemen, terutama manajer lini utama - Keahlian : memiliki wawasan dan sudut pandang yang luas tim memiliki disiplin ilmu yang relevan, pengalaman kerja relevan dan lainnya sehingga dapat membuat keputusan yang matang dan komprehensif. - Kredibilitas : memiliki reputasi kerja yang baik sehingga pernyataannya akan benar-benar diperhatikan dan dilaksanakan dengan baik. - Kepemimpinan : tim pengarah melibatkan pemimpin yang baik sehingga mampu mendorong terjadinya proses perubahan.

5. MEMBERDAYAKAN DAN MELIBATKAN BANYAK ORANG UNTUK MELAKUKAN TINDAKAN
Transformasi harus dilakukan oleh semua unsur dalam organisasi, dengan memberdayakan semua orang untuk melakukan tindakan dengan cara menghilangkan sebanyak mungkin hambatan dalam mengimplementasikan visi perubahan. Empat hambatan yang penting dikelola dengan baik : - Hambatan struktural : harus ada kesesuaian antara visi dan struktur organisasi antara lain berkaitan dengan konsumen, pendelegasian wewenang dengan tepat. - Keterampilan : peningkatan keterampilan diperlukan dalam perubahan. - Sistem : menyatukan sistem dengan visi. Sistem yang sumber daya manusia (SDM) Penilaian Kerja. Kompensasi. Promosi. Perencanaan Suksesi. - Supervisor : dikembangkannya dialog yang jujur dengan para manajer yang enggan melakukan perubahan. Para karyawan yang patah semangat dan lemah akan menjadi beban dalam proses perubahan, tetapi dengan membuat struktur, pelatihan, sistem dan supevisor yang tepat dapat menjadi sumber kekuatan pembangkit yang sangat besar untuk meningkatkan kinerja organisasi.

3. MENGEMBANGKAN VISI DAN STRATEGI
Visi mengacu pada gambaran organisisasi dimasa depan dengan beberapa komentar implisit atau eksplisit mengenai mengapa orang harus berusaha dengan keras untuk menciptakan masa depan seperti itu. Visi yang baik mempunyai tiga tujuan penting, pertama, menjelaskan tujuan umum dari perubahan tersebut dengan mengatakan “Kita harus mengadakan perubahan arah dalam beberapa tahun dari posisi kita sekarang ini”, visi ini menyederhanakan ratusan bahkan ribuan keputusan yang lebih terinci. Kedua, visi akan memotivasi banyak orang untuk melakukan tindakan ke arah yang benar, sekalipun langkahlangkah awal menyakitkan mereka sendiri. Ketiga, visi akan membantu mengkoordinasikan tindakan-tindakan banyak orang berbeda, bahkan ribuan orang secara cepat dan efisien. Visi yang efektif paling tidak harus memiliki enam karateristik pokok : - Dapat dibayangkan : mengambarkan bentuk aktivitas organisasi kelak di masa depan. - Menarik : menyatakan dengan jelas mengenai sederatan kemungkinan yang menjadi kepentingan karyawan, konsumen yang menghadapi risiko dalam situasi itu. - Realisitis, bukan fantasi yang tampak menyenangkan tetapi tidak mempunyai peluang untuk direalisasikan. - Terfokus : cukup jelas untuk memberikan bimbingan dalam pengambilan keputusan - Fleksibel : cukup umum untuk memungkinkan individu mengambil inisiatif dan respons alternatif dalam hubungannya dengan kondisi yang berubah 58
WARTA BEA CUKAI EDISI 389 APRIL 2007

6. MENGHASILKAN KEUNTUNGAN JANGKA PENDEK
Penentuan sasaran yang harus dicapai dalam jangka pendek dengan perencanaan kegiatan, anggaran-anggaran dan mengatur implementasinya dalam jangka pendek dan mengontrol proses itu pada jalur yang ditentukan sangat dibutuhkan dalam perubahan. Dalam hal ini peranan manajer dan kepemimpinan. Hal-hal yang kecil yang dapat dicapai dengan baik akan menjadi pendorong bagi perubahan kecil lainnya dan terus mengalir sehingga tercapai perubahan yang lebih besar.

7. MENGKONSOLIDASIKAN PENCAPAIAN-PENCAPAIAN DAN MENGHASILKAN LEBIH BANYAK PERUBAHAN
Keberhasilan dalam perubahan kecil adalah keberhasilan kecil, jangan cepat merasa puas diri, ini hanya untuk menarik napas sejenak dan selanjutnya kita harus siap mengalirkan keberhasilan ini untuk menggerakkan ratusan bahkan ribuan elemen-elemen lainnya yang dapat saling terkait dan pasti akan memerlukan waktu, dan tenaga yang sangat besar, pasti lebih melelahkan. Mengidentifikasi keberhasilan harus dapat dijaga sebagai

momentum untuk melakukan perubahan yang lebih banyak perubahan. Dalam perjalanan perubahan yang memerlukan tenaga besar dalam waktu yang panjang memerlukan pemimpin yang dapat mengarahkan proses perubahan itu. Perubahan dalam sistem yang sangat saling tergantung sering kali juga harus mengubah hampir segala sesuatunya, transformasi organisasi menjadi pekerjaan besar, jalan panjang yang melelahkan dan memakan waktu bertahuntahun bahkan dekade. Sekali lagi kepemimpinan memegang peranan yang sangat penting dalam menciptakan visi-visi yang menantang, bersedia berpikir jangka panjang, mengarahkan pada tujuan yang diharapkan.

8. MENCANANGKAN PRAKTEK-PRAKTEK BARU KE DALAM KULTUR
Praktek-praktek operasional yang telah berhasil dicapai selama proses perubahan harus ditanamkan dalam kultur organisasi. Kultur adalah mengacu pada perilaku dan nilai-nilai yang diyakini bersama diantara sekelompok orang. Norma perilaku merupakan cara bertingkah-laku yang lazim atau meresap dalam sebuah kelompok dan yang muncul karena para anggota kelompok cenderung berperilaku dalam cara-cara yang mengajarkan praktek-praktek ini kepada anggota baru, memberikan penghargaan kepada mereka yang berperilaku sesuai dan memberikan sanksi kepada mereka yang berperilaku tidak sesuai. Nilai-nilai yang diyakini bersama merupakan perhatian penting dan tujuan-tujuan bersama oleh sebagian besar orang dalam sebuah kelompok dan yang sering berlangsung lama sekalipun keanggotaan kelompok sudah berubah. Praktek-praktek baru harus dapat mengantikan kultur yang lama. Mengubah dan mengendalikan kultur yang lama menjadi kultur yang baru dapat berjalan bila kita berhasil menetapkan urgensi, menciptakan koalisi pengarah, mengembangkan visi dan strategi, mengkomunikasikan visi perubahan, memberdayakan banyak orang untuk melakukan tindakan, menghasilkan output jangka pendek, mengkonsolidasikan pencapaian-pencapaian dan menghasilkan lebih banyak perubahan. Hampir selama perubahan kultur terjadi dalam tahap 8 bukan tahap 1. Adalah kesalahan besar jika kita menjadikan “perubahan kultur” pada tahap 1. Kultur bukanlah sesuatu yang dapat dimanipulasi dengan mudah. Untuk itu diperlukan pemahaman yang mendalam tentang kultur organisasi sejak awal pelaksanaan perubahan untuk membentuk kultur di setiap proses pada setiap tahap agar dapat mencipkatan perubahan kultur total. Pengelolaan perubahan kultur dilakukan sejak awal hingga akhirnya akan telihat hasilnya pada tahap akhir dan selanjutnya ditanamkan pada secara dalam sebagai kultur organisasi. Dalam mencanangkan perubahan kultur : - Hasilnya baru terlihat pada tahap akhir, walapun harus dilakukan sejak tahap awal - Pendekatan-pendekatan baru biasanya berakar dalam kultur hanya setelah semuanya menjadi sangat jelas bahwa pendekatan-pendekatan itu bisa berjalan dan lebih baik dibandingkan metode-metode lama - Diperlukan instruksi dan dukungan lisan agar semua anggota organisasi dapat mengetahui kesahihan praktek-praktek yang baru - Kadang-kadang satu-satunya cara untuk mengubah kultur adalah dengan mengganti pelaku-pelaku utama - Dalam membuat keputusan mengenai suksesi, promosi harus benar-benar menggunakan praktek-praktek yang baru, sehingga tidak menimbulkan apriori dan segera kembali ke kultur yang lama Hal-hal yang dikemukakan oleh John P. Kotter di atas dapat menjadi langkah-langkah yang dilalui dalam mengawal perubahan di Bea dan Cukai. Adanya urgensi yang tinggi di lingkungan Bea dan Cukai baik urgensi yang didorong oleh lingkungan internal maupun

lingkungan eksternal telah memberi arahan bahwa Bea dan Cukai harus berubah. Tuntutan akan pelayanan yang profesional dalam mendorong roda perekonomian di tengah-tengah usaha pemulihan ekonomi Indonesia, di tengah-tengah arus globalisasi yang terus bergulir, merupakan hal pendorong dilakukannya perubahan di organisasi Bea dan Cukai. Dan perubahan ini harus dikawal agar perubahan yang dilakukan dapat sampai pada tujuan yang diharapkan. Diperlukan Tim Pengarah Perubahan di Bea dan Cukai seperti Tim KPU, Tim Pengkaji Struktur Organisasi dan Tim lainnya hendaknya beranggotakan orang-orang yang memiliki kekuatan posisi, keahlian, kredibilitas dam kepemimpinan agar terdapat tingkat kepercayaan akan proses perubahan yang berlangsung. Penyataan visi dan misi Bea dan Cukai di masa depan harus jelas. Mungkin membingungkan membayangkan Bea dan Cukai dimasa mendatang dimana terdapat BC KPU dengan pola kerja dan kesejahteraan yang cukup baik dengan non-KPU dengan pola kerja dan kesejahteraan yang belum jelas. Dan Bea Cukai yang dituntut sejajar dengan Bea Cukai sedunia tetapi kesejahteraan jauh dibandingkan negara lainnya. Bea dan Cukai perlu merumuskan visi dengan baik. Visi dan misi, praktek-praktek baru, gagasan-gagasan baru harus dikomunikasikan dengan baik sehingga semua pegawai yang tersebar di seluruh Indonesia dapat mengetahui proses perubahan yang telah, sedang dan hendak berlangsung. Tanpa komunikasi yang baik akan terjadi kebingungan di tengah-tengah pegawai. Warta Bea Cukai dapat menjadi media yang bagus dalam mengkomunikasikan proses perubahan yang berlangsung. Perubahan di Bea dan Cukai harus melibatkan semua sumber daya yang ada. Struktur organisasi yang dinamis dengan memperhatikan wilayah kerja dan volume kerja masing-masing Kantor Wilayah dan dan Kantor Pelayanan. Tentu rentang kendali Kanwil di Jakarta akan berbeda dengan rentang kendali di Kanwil Indonesia bagian timur. Peningkatan keterampilan harus benarbenar diarahkan sesuai kebutuhan organisasi. Penilaian kerja, kompensasi, promosi, dan perencanaan suksesi yang terukur dan transparan. Kompensasi juga harus memperhatikan perhitungan biaya hidup tiap daerah yang sangat berbeda. Dan terus melakukan dialog yang jujur dengan para pegawai yang masih enggan terhadap perubahan. Sistem jaringan online yang kuat pada seluruh intern kantor Bea dan Cukai yang tersebar di seluruh Indonesia, tentu akan mendukung penggunaan teknologi berbasis elektronik untuk melayani stakeholders. Sistem pelayanan dan pengawasan oleh Bea dan Cukai sangat terkait dengan instansi lain, dengan itu perubahan sistem di Bea dan Cukai akan membutuhkan perubahan juga pada instansi terkait. Dengan perencanaan yang matang dapat memperlihatkan hasil jangka pendek. Mengkonsolidasikan pencapaianpencapaian untuk menghasilkan perubahan yang lebih banyak akan memperlihatkan bahwa pendekatan-pendekatan baru itu bisa berjalan dan lebih baik dibandingkan metode-metode lama. Masalah kultur bukanlah masalah chicken and egg situation. John P Kotter mengemukakan bahwa pemahaman terhadap kultur pada setiap tahap perubahan sangat penting untuk menciptakan praktek-praktek baru dalam organisasi dan perlahan-lahan menanamkannya sejak awal perubahan dalam 8 tahap perubahan dan hasilnya akan terlihat pada tahap akhir perubahan dan terus tertanam pada organisasi sebagai kultur baru, bila praktek-praktek baru dapat berjalan dengan baik. Perubahan adalah tanda adanya kehidupan. To live is to change and to be perfect is to change often.
Daftar Pustaka : 1. 2. 3. John P Kotter1996 Leading Change. Menjadi Pionir Perubahan. Harvard Business School Press Gary Hamel, C.K Prahalad 1994, Competing for the Future, Harvard Business School Press Arie de Geus 1997, The Living Company, Harvard Business School Press

Penulis adalah Kasi Verifikasi Impor pada KWBC XII Ambon, Peserta DTU Self Development 04-08 Desember 2006
EDISI 389 APRIL 2007 WARTA BEA CUKAI

59

OPINI

Jalur Atau Predikat Importir ?
D
alam Warta Bea Cukai edisi Juli 2005 dimuat hasil survei JICA (Japan International Cooperation Agency) sebagai laporan utama. Survei tersebut berjudul “The Study on Trade Related Systems and Procedures”, yang antara lain menghitung lamanya waktu pelayanan Bea dan Cukai dalam menangani barang impor di pelabuhan Tanjung Priok. Ada satu hal yang ditanyakan oleh reporter WBC kepada pihak JICA dalam hal ini adalah Jitsuya Hasegawa, mengapa jalur prioritas tidak disinggung atau diteliti tersendiri dalam survei tersebut. Oleh Hasegawa dijawab bahwa jalur prioritas termasuk jalur hijau. Memang survei tersebut hanya meneliti jalur hijau dan jalur merah saja tanpa menyinggung keberadaan jalur prioritas. Saya kira tidak hanya reporter WBC saja yang menanyakan hal ini, banyak pejabat Bea Cukai yang juga menanyakan kepada pihak JICA mengapa jalur prioritas tidak diteliti tersendiri. Jawaban pihak JICA sama saja yaitu jalur prioritas termasuk jalur hijau. Padahal di Indonesia jalur prioritas adalah jalur tersendiri yang bukan jalur hijau dan bukan jalur merah.

Jalur Prioritas:

Oleh : Wirawan Sahli

ISTILAH PRIORITAS INI LEBIH COCOK DIGUNAKAN SEBAGAI PREDIKAT IMPORTIR DARIPADA NOMENCLATUR PENJALURAN

“ ”

PERBEDAAN KERANGKA ACUAN
Disini terlihat adanya kesenjangan atau kesalahpahaman antara Bea Cukai Indonesia dan JICA yang penelitinya umumnya adalah orang Bea Cukai Jepang. Kesenjangan ini terjadi karena perbedaan term of reference atau kerangka acuan dalam penjaluran. Mereka menggunakan kriteria ada dan tidaknya pemeriksaan dokumen dan pemeriksaan fisik sebelum barang direlease. Jalur hijau apabila barang bisa direlease tanpa pemeriksaan dokumen dan tanpa pemeriksaan fisik sebelumnya, sedangkan jalur merah apabila barang baru bisa direlease setelah dilakukannya pemeriksaan dokumen dan pemeriksaan fisik. Sebenarnya dalam sistem pabean internasional juga dikenal satu jalur lagi yaitu jalur kuning dimana barang bisa direlease hanya dengan pemeriksaan dokumen saja tanpa pemeriksaan fisik. Memang jika kita menggunakan kerangka acuan tersebut diatas menimbulkan pertanyaan apakah jalur prioritas itu suatu jalur atau bukan. Kalau kita perhatikan, importir jalur prioritas memperoleh kemudahan barang impornya tidak 60
WARTA BEA CUKAI EDISI 389 APRIL 2007

diperiksa secara fisik yang berarti masuk jalur hijau tetapi untuk impor sementara, barang re-impor, barang tertentu yang ditetapkan pemerintah (misalnya beras, gula dan kendaraan bermotor terpasang) atau yang terkena nota intelejen dilakukan pemeriksaan fisik yang berarti masuk jalur merah. Jadi sebagian jalur prioritas masuk jalur hijau dan sebagian masuk jalur merah. Jalur hijau disini artinya barang dapat dilepas (release) tanpa pemeriksaan dokumen dan tanpa pemeriksaan barang dan jalur merah artinya barang baru dilepas setelah melalui pemeriksaan dokumen dan pemeriksaan fisik. Kalau berdasarkan peraturan perundangan yang berlaku yaitu Keputusan Dirjen Bea dan Cukai nomor KEP-07/BC/ 2003 tanggal 31 Januari 2003, definisi Jalur Prioritas adalah fasilitas dalam mekanisme pelayanan kepabeanan di bidang impor yang diberikan kepada importir yang mempunyai reputasi baik dan memenuhi persyaratan/kriteria yang ditentukan untuk mendapatkan pelayanan khusus, sehingga penyelesaian importasinya dapat dilakukan dengan lebih sederhana dan cepat. Definisi ini berbeda dengan kriteria jalur yang umumnya dipakai di kalangan pabean internasional karena definisi tersebut tidak menyebutkan apakah dilakukan pemeriksaan dokumen atau tidak dan juga tidak disebutkan apakah diperlukan pemeriksaan fisik atau tidak untuk bisa merelease barang. Demikian juga dalam Pasal 17 keputusan yang sama tidak ditegaskan apakah terhadap Jalur Prioritas dikenakan pemeriksaan dokumen dan pemeriksaan fisik. Bunyi ayat (3) dari pasal tersebut adalah sebagai berikut : (3) Kriteria sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) menentukan bentuk pemeriksaan pabean, yaitu : a. Jalur Merah dilakukan penelitian dokumen dan periksaan fisik barang; b. Jalur Hijau hanya dilakukan penelitian dokumen; c. Jalur Prioritas tidak dilakukan Pemeriksaan Pabean sebagaimana yang dilakukan terhadap jalur merah atau hijau. Dari kriteria di atas hanya kriteria Jalur Merah yang sama dan sejalan dengan kriteria penjaluran yang digunakan di kalangan pabean internasional yaitu adanya

melakukan pelanggaran. Mestinya importir prioritas ini tidak pemeriksaan dokumen dan pemeriksaan fisik sedangkan akan dikenakan jalur merah. Di negara lain juga kalau sudah untuk jalur hijau disebutkan adanya penelitian dokumen diberi predikat importir bonafide, importir teladan atau apapun padahal kriteria jalur hijau internasional adalah tanpa istilah yang digunakan, barang impornya tidak akan kena pemeriksaan dokumen dan tanpa pemeriksaan fisik. jalur merah. Kalau ada pemeriksaan dokumen setelah barang dilepas Disini kita lagi-lagi agak menyimpang dari kelaziman itu tidak menjadi kriteria penjaluran karena kalau barang internasional karena sudah disebut sebagai importir prioritas sudah di peredaran bebas baru dilakukan pemeriksaan (berarti statusnya istimewa sekali) tetapi masih bisa kena dokumen itu tidak menghambat arus barang. Mereka jalur merah untuk impor sementara atau barang re-impor. tidak menjadikan pemeriksaan barang setelah pelepasan Tentu hal ini tidak konsisten dengan kriteria istimewa yang (release) sebagai kriteria penjaluran karena barang diledimiliki importir prioritas. pas setelah penjaluran. Untuk impor biasa ke peredaran bebas saja importir prioTidak ada gunanya menjadikan kegiatan setelah ritas diberikan jalur hijau mengapa untuk impor sementara pelepasan sebagai kriteria penjaluran karena pelepasan itu dan untuk barang re-impor harus masuk jalur merah. Impor terjadinya setelah penjaluran. Jadi kalau yang dimaksud sementara adalah impor untuk diekspor kembali artinya dengan penelitian dokumen dalam keputusan Dirjen diatas barang itu akan kembali lagi ke luar negeri, di dalam daerah adalah pemeriksaan dokumen setelah release ini tidak pabean hanya sementara saja tetapi mengapa harus diperiksejalan dengan kriteria penjaluran menurut kelaziman dalam sa fisiknya sedangkan yang akan dikonsumsi dan dipakai dunia kepabeanan. Karena kelaziman penjaluran dalam sampai habis disini saja tidak dikenakan pemeriksaan fisik. kepabeanan internasional hanya menggunakan kriteria Mungkin ada yang berpendapat karena kalau barang kegiatan sebelum barang dilepas. impor sementara harus dibuktikan bahwa barang tersebut Kriteria Jalur Prioritas dalam ayat tersebut juga tidak setelah dipakai disini akan diekspor kembali, jadi waktu secara tegas menyebutkan apakah jalur prioritas itu harus masuk dan waktu keluar harus diperiksa. Ini memang benar diperiksa dokumennya maupun fisiknya atau tidak. kalau untuk importir biasa tetapi kalau kita sudah berani Namun kenyataannya Jalur Prioritas mau tidak mau akan memberikan predikat prioritas kepada importir tersebut dan masuk jalur hijau atau jalur merah tergantung jenis pasti kita sudah yakin akan kejujuran dan bonafiditasnya barang yang diimpor atau jenis importasinya. Jika barang tentu kita juga akan percaya bahwa barang yang diimpor tersebut termasuk yang ditetapkan pemerintah seperti sementara tadi pasti akan diekspor dalam bentuk yang sama gula dan beras akan masuk jalur merah. Demikian pula meskipun kita tidak memeriksa secara fisik. jika jenis importasinya adalah impor Sama halnya untuk barang re-impor yang sementara atau re-impor akan masuk jalur juga harus masuk jalur merah meskipun merah. Untuk barang lainnya akan masuk importir prioritas. Disini juga kita tidak konsisten jalur hijau dalam arti tanpa pemeriksaan karena barang re-impor adalah barang buatan dokumen dan tanpa pemeriksaan fisik, SEBENARNYA Indonesia yang dikembalikan (reject) karena barang dapat dilepas. Jalur prioritas disini hal tetapi mengapa harus dikenakan ternyata juga harus diperiksa dokumennya DALAM SISTEM suatumerah sedangkan yang jelas-jelas buatan jalur setelah barang dilepas sama dengan jalur luar negeri yang diimpor oleh importir prioritas hijau. PABEAN tidak kena jalur merah. Barang re-impor bisa Dalam membuat definisi atau kriteria kita harus berhati-hati dan harus konsisten INTERNASIONAL saja barang yang bahan bakunya 100% buatan karena kalau tidak konsisten akan JUGA DIKENAL dalam negeri atau barang impor yang belum dibayar beanya. Mungkin pembuat peraturan menimbulkan salah paham seperti kejadian berpendapat bahwa barang tersebut harus pada awal tulisan ini. Kalau kita ikut seminar SATU JALUR diperiksa secara fisik untuk dicocokkan dengan atau simposium internasional yang dokumen ekspor yang lalu. Atau mungkin membahas penjaluran dan kita LAGI YAITU menggunakan definisi dan kriteria yang kita JALUR KUNING berpendapat kalau nanti barang tersebut harus diekspor kembali jadi harus diperiksa secara pakai disini tentu akan menimbulkan fisik. kesalahpahaman dengan ahli-ahli pabean di Kembali lagi, bukankah kita sudah sepakat tingkat dunia. memberi predikat prioritas kepada importir Untuk berbicara pada tingkat dunia kita tersebut dan untuk memperoleh predikat itu harus menggunakan kerangka acuan yang kita sudah menetapkan syarat-syarat yang ketat dan melakusama untuk menghindarai kesalahpahaman. Ini tidak hakan penelitian sedemikian rupa, mengapa kepercayaan itu nya berlaku di kalangan pabean tetapi pada seluruh diambil kembali justru untuk barang yang akan diekspor bidang ilmu yang lain. Orang-orang asing memang sangat kembali. Untuk barang impor biasa kita percaya bahwa yang rasional dan konsisten dalam merumuskan kerangka ada didalam kontainer itu sesuai dengan dokumennya tetapi acuan, definisi ataupun kriteria. untuk barang impor sementara dan barang reimpor kita tidak Dalam bidang zoologi misalnya kalau kita menyebut ikan percaya kepada importir yang sama. Barangkali ini juga yang maka kriterianya adalah binatang yang bernafas dengan menjadi penyebab sedikitnya importir yang mengajukan insang dan reproduksinya dengan bertelur. Maka ikan paus permohonan menjadi importir jalur prioritas. dan lumba-lumba tidak termasuk golongan ikan karena Dalam keputusan Dirjen tersebut diatas banyak ditemui bernafas dengan paru-paru dan cara reproduksinya dengan kalimat-kalimat yang menunjukkan bahwa Jalur Prioritas melahirkan anak. Ikan paus dan lumba-lumba termasuk sebenarnya adalah predikat importir. Kalimat-kalimat tersebut binatang menyusui. Kalau ada ahli zoologi kita mencoba antara lain: membuat definisi yang lain misalnya menggolongkan ikan 1. Importir Jalur Prioritas menyiapkan PIB dengan paus dalam golongan ikan karena hidup di air pasti akan menggunakan program aplikasi PIB modul importir membingungkan ahli-ahli zoologi dari negara lain. miliknya sendiri. 2. Dalam hal Importir Jalur Prioritas memanfaatkan IMPORTIR PRIORITAS fasilitas pembayaran berkala. Kalau kita mengkaji peraturan-peraturan yang berlaku 3. Dalam hal Importir Jalur Prioritas mendapat fasilitas untuk jalur prioritas sebenarnya istilah prioritas ini lebih cocok pembebasan atau keringanan bea masuk. digunakan sebagai predikat importir daripada nomenclatur 4. Dalam hal Importir Jalur Prioritas mendapat fasilitas penjaluran. Jadi tidak ada jalur prioritas yang ada adalah Impor Sementara. importir prioritas yaitu importir yang jujur dan tidak pernah

“ ”

EDISI 389 APRIL 2007

WARTA BEA CUKAI

61

OPINI
Kalimat-kalimat tersebut menunjukkan bahwa Jalur Prioritas sebenarnya tidak ada, yang ada adalah Importir Prioritas. Jalur yang dikenakan tetap saja jalur hijau atau jalur merah. Barangkali yang dimaksud jalur dalam Jalur Prioritas disini adalah proses pengolahan informasi dalam sistem aplikasi impor misalnya dari A —B— C—D dan seterusnya. Kalau ini yang dimaksud sama halnya dengan rute atau jalan yang ditempuh dalam suatu proses. Ini berbeda dengan pengertian jalur (channel) yang dibakukan oleh kalangan pabean internasional. Jalur menurut pengertian mereka adalah saluran keluarnya barang. Kalau barang dilepas tanpa pemeriksaan dokumen dan tanpa pemeriksaan fisik artinya lewat jalur hijau, kalau dilepas setelah melalui pemeriksaan dokumen dan pemeriksaan fisik artinya lewat jalur merah, kalau dilepas setelah pemeriksaan dokumen tanpa pemeriksaan fisik berarti lewat jalur kuning. Kalau Jalur Prioritas memang jalur seperti halnya jalur merah atau jalur hijau pasti akan melalui jalurnya sendiri, tetapi disini ternyata jalur prioritas kadang masuk jalur merah kadang masuk jalur hijau (de facto). Jadi Jalur Prioritas sebenarnya bukan jalur, sama dengan Planet Pluto yang berdasarkan kesepakatan para astronom dunia sekarang ini tidak dianggap sebagai planet karena setelah diamati ternyata orbitnya memotong orbit planet lain. Kalau visi kita adalah sejajar dengan institusi kepabeanan internasional dalam kinerja dan citra tentunya kita juga harus menyeragamkan kerangka acuan, definisi dan kriteria yang dipakai oleh pabean internasional. Jangan malah membuat sendiri tetapi tidak dimengerti orang lain. Selama ini karena jumlah jalur prioritas sangat sedikit jika dibandingkan dengan jalur merah dan jalur hijau kita lantas membuat program atau rencana bagaimana meningkatkan jumlah jalur prioritas. Namun kalau kita menyadari bahwa jalur prioritas ini sebenarnya bukan jalur tentunya kita tidak perlu membandingkan atau menyandingkan dengan jalur merah dan jalur hijau sebab bukan satu jenis. Program seperti ini hanya akan menghabiskan waktu, tenaga dan biaya. Lebih baik kita menganggap jalur prioritas tidak ada dan yang ada adalah importir prioritas kemudian kita membuat program untuk menambah jumlah importir prioritas. Namun predikat importir prioritas sebaiknya kita berikan tanpa yang bersangkutan mengajukan permohonan tetapi memang murni berdasarkan penilaian kita sendiri bahwa importir tersebut pantas menyandang gelar importir prioritas. Semua data dan profile importir ada pada Bea Cukai dan pasti kita bisa menilai sendiri mana yang layak dan mana yang tidak layak memperoleh predikat tersebut.

Oleh : Suwondo

Kawasan Berikat Antara Kemudahan Dan
Kendalanya di Lapangan

” Fasilitas

KETENTUAN YANG BERLAKU DI KAWASAN BERIKAT YANG ADA SAAT INI MASIH BERSIFAT SENTRALISTIK

F

KESIMPULAN DAN SARAN
1. Jalur prioritas berdasarkan kerangka acuan penjaluran yang lazim dipakai oleh kalangan pabean internasional sebenarnya tidak ada, yang ada adalah importir prioritas. Dalam pembicaraan dengan pihak luar sebaiknya kita mengatakan bahwa kita menerapkan jalur merah dan jalur hijau saja. 2. Untuk mendapatkan status atau predikat importir prioritas sebaiknya perusahaan yang bersangkutan tidak perlu mengajukan permohonan tetapi Bea Cukai sendiri yang aktif menilai untuk memberikan status ini. 3. Seyogyanya importir prioritas tidak dikenakan jalur merah untuk impor sementara dan barang re-impor karena sudah diteliti dan diamati dalam waktu yang lama bahwa mereka jujur dan dapat dipercaya.

asilitas Kawasan Berikat diberikan oleh pemerintah Indonesia dengan tujuan untuk meningkatkan daya tarik investor baik dalam rangka PMA, PMDN dan non PMA-PMDN untuk menanamkan modalnya di Indonesia, serta untuk menciptakan iklim usaha yang menguntungkan. Dengan pemberian fasilitas Kawasan Berikat ini diharapkan dapat menghasilkan suatu produk dengan harga yang dapat bersaing di pasaran internasional sehingga dapat meningkatkan ekspor non migas. Bagi perusahaan-perusahaan yang berorientasi ekspor dan telah menggunakan fasilitas Kawasan Berikat, memang tidak dapat dipungkiri bahwa banyak kemudahan dan manfaat yang bisa diperoleh dibandingkan dengan fasilitas lainnya yang ada, antara lain : a. Membantu penyehatan cash-flow perusahaan Hal ini sangat dimungkinan karena pada saat memasukkan barang dan atau bahan serta barang modal dan peralatan pabrik dari Luar Daerah Pabean ke dalam Kawasan Berikat tidak dikenakan Bea Masuk, PPn, PPnBm dan PPh pasal 22 impor. Dengan demikian dana

MANFAAT FASILITAS KAWASAN BERIKAT

Penulis adalah pensiunan Bea dan Cukai
EDISI 389 APRIL 2007

62

WARTA BEA CUKAI

Jenderal Bea dan Cukai juga mengeluarkan sejumlah keputusan dan surat edaran yang mengatur pelaksanaannya di lapangan. Berdasarkan hasil pencarian dari berbagai sumber yang dilakukan penulis selama ini, ketentuan tentang Kawasan Berikat sejak dikeluarkannya Peraturan Menteri Keuangan nomor 291/KMK.05/1997 tahun 1997 yang lalu, telah mengalami perubahan sebanyak tujuh kali, dengan perubahan terakhir Nomor 101/PMK.04/2005 tanggal 19 Oktober 2005. Keputusan Direktur Jenderal Bea dan Cukai ada 1 kali perubahan. Sedangkan surat edaran yang dikeluarkan oleh Direktur Jenderal Bea dan Cukai yang mengatur tata cara atau petunjuk pelaksanaan di lapangan yang memang tidak diatur secara eksplisit dalam peraturan menteri, tidak kurang dari 39 surat edaran. Usaha-usaha yang sudah dilakukan pemerintah tersebut diatas sangatlah wajar, namun dampak daripada banyaknya perubahan ketentuan ini menjadi kendala tersendiri bagi semua pihak yang terlibat di dalamnya. Fakta yang ada di lapangan menunjukkan bahwa tidak semua perusahaan pengguna fasilitas Kawasan Berikat, terlebih lagi perusahaan-perusahaan yang baru saja mendapatkan persetujuan fasilitas Kawasan Berikat, mendapatkan informasi yang jelas Meskipun banyak manfaat yang dapat diperoleh dari dan cepat tentang adanya perubahan suatu ketentuan, penggunaan fasilitas Kawasan Berikat sebagaimana tersebut karena selama ini sangat jarang bahkan diatas, tidak sedikit pula kendala-kendala yang hampir tidak pernah ada sosialisasi jika ada terjadi dalam praktek di lapangan sehingga perubahan ketentuan. adakalanya kendala-kendala tersebut benarDi samping itu, jarang sekali atau hampir benar kontra produktif dengan filosofi fasilitas tidak dapat dijumpai pengusaha bahkan Kawasan Berikat itu sendiri. PENGAMATAN pejabat Bea Cukai di kantor pelayanan Dari sekian banyak kendala yang kerap di lapangan, yang terjadi dan dihadapi oleh perusahaan PENULIS... LEBIH ataupun yang bertugas ketentuan tentang mau mengumpulkan semua pengguna fasilitas Kawasan Berikat, menurut Kawasan Berikat sehingga dapat dijadikan pehemat penulis, penyebab utamanya dapat DARI 75% doman dalam melaksanakan tugasnya madibedakan menjadi 2 (dua) hal, yaitu : l Ketentuan tentang Kawasan Berikat itu PETUGAS BC DI sing-masing. Dengan kondisi tersebut diatas, sendiri LAPANGAN TIDAK adalah suatu keniscayaan saja apabila seorang pengusaha di Kawasan Berikat dan bahl Human Resources (Sumberdaya Manusia) ada di lapangan DIBEKALI DENGAN kan petugas bea cukai yangmengingat semua tidak hafal atau tidak dapat KETENTUAN TENTANG KAWASAN BERIKAT aturan main yang ada. Kendala dilapangan yang disebabkan CUKUP karena faktor ketentuan-ketentuan yang PENGETAHUAN Kedua, ketentuan yang berlaku di Kawasberlaku di Kawasan Berikat, dapat dibedakan an Berikat yang ada saat ini masih bersifat sebagai berikut : TENTANG sentralistik, yang mengandung pengertian bahwa segala kebijakan di Kawasan Berikat Pertama, karena terlalu banyaknya perubahKETENTUAN bahkan yang bersifat operasional masih an yang terjadi baik perubahan atas keputusan YANG BERLAKU ditentukan oleh Kantor Pusat, meskipun menteri atau yang sekarang dirubah menjadi perkebijakan tertentu sebenarnya dapat dilakukan aturan menteri dan keputusan serta surat edaran DI KAWASAN oleh Kepala Kantor Pelayanan yang Direktur Jenderal Bea dan cukai. mengawasi Kawasan Berikat, atau setidakSebagaimana kita ketahui bersama bahwa BERIKAT tidaknya Kepala Kantor Wilayah setempat. Hal ketentuan dan atau petunjuk pelaksanaan ini tentunya sudah sangat tidak cocok dengan tentang kegiatan di Kawasan Berikat ini diatur kondisi perekonomian yang ada saat ini yang dengan Keputusan Menteri Keuangan Nomor menuntut kecepatan dalam pengambilan 291/KMK.05/1997 dan Keputusan Direktur keputusan. Jenderal Bea dan Cukai Nomor Kep-63/BC/ Sebagai contoh misalnya penjualan sisa bahan baku 1997 yang dikeluarkan tahun 1997. Pada saat kedua peryang benar-benar tidak dapat digunakan lagi dalam aturan ini dibuat, kegiatan bisnis masih relatif sederhana. proses produksi karena pergantian mode (dead-stock) Dalam kurun waktu terakhir ini kegiatan bisnis sudah namun masih bisa digunakan oleh pengusaha lain di berkembang dengan sangat pesatnya dan begitu komplek. DPIL atau Kawasan Berikat lainnya, penangguhan Era teknologi informasi sudah sedemikian hebatnya pembayaran bea masuk dan tidak dipungut pajak dalam merambah segala sendi kehidupan. Kegiatan bisnis yang rangka impor atas importasi barang modal yang tidak pada saat itu masih dapat ditunda pelaksanaan dan berhubungan langsung dengan produksi. Untuk kegiatanpenyelesaiannya, sekarang harus dikerjakan pada saat itu kegiatan pengusaha di Kawasan Berikat harus juga, karena jika tidak kita akan semakin ketinggalan dengan mengajukan surat permohonan persetujuannya ke Kantor negara lain, yang pada akhirnya berpengaruh pada iklim Pusat Bea dan Cukai di Jakarta. investasi di Indonesia. Hal tersebut memang bukanlah merupakan hal yang Karena tuntutan atas perkembangan yang sangat pesat serius bagi perusahaan yang berlokasi dan atau yang dalam dunia bisnis itulah antisipasi atau usaha pemerintah mempunyai kantor perwakilan yang dekat dengan Kantor dalam hal ini Menteri Keuangan banyak mengeluarkan Pusat, namun bagi perusahaan-perusahaan yang jauh sejumlah peraturan yang menyempurnakan dan atau dari Kantor Pusat seperti yang berlokasi di Jawa Timur melengkapi peraturan sebelumnya, meskipun perubahan atau luar Jawa misalnya, merupakan kendala yang serius yang dilakukan terkesan masih lambat. Begitu juga Direktur tersebut dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan bisnis lainnya. b. Kelancaran arus barang dan dokumen Pemasukan barang dari Luar Daerah Pabean ke dalam Kawasan Berikat tidak diberlakukan ketentuan tatalaksana kepabeanan di bidang impor khususnya dalam hal pemeriksaan fisik di pelabuhan bongkar serta melalui proses administrasi yang sederhana sehingga proses pengeluarannya memakan waktu yang singkat. c. Meningkatkan daya saing produk Bea masuk dan sewa gudang di pelabuhan merupakan salah satu faktor biaya yang diperhitungan dalam menentukan harga jual produk. Dengan tanpa kewajiban membayar Bea Masuk pada saat pengimporan bahan baku serta proses custom clearance yang cepat sehingga menekan biaya sewa gudang di pelabuhan, maka harga jual produk yang dihasilkan dapat bersaing di pasar internasional. d. Perusahaan pengguna fasilitas Kawasan Berikat masih dimungkinkan untuk menjual sebagian produknya ke pasar dalam negeri.

“ ”

EDISI 389 APRIL 2007

WARTA BEA CUKAI

63

OPINI
Kawasan Berikat. Dalam praktek bisnis terutama pada perusahaan-perusahaan yang mempunyai hasil olahan atau produk yang sama, misalnya industri garmen, sangat dimungkinkan apabila diantara kedua perusahaan mempunyai bahan baku yang sama, misalnya benang, suatu saat bahan baku Ketiga, ketentuan yang ada khususnya yang bersifat tersebut tidak gunakan oleh perusahaan yang satu namun petunjuk pelaksanaan, banyak yang tidak menjabarkan masih dibutuhkan oleh perusahaan lainnya. secara jelas tentang tata cara atau prosedur bagaimana Ada kalanya juga karena keterlambatan bahan baku suatu kegiatan harus dilakukan. Akibat dari tidak jelasnya asal impor, perusahaan yang satu ingin meminjam bahan prosedur atas suatu kegiatan tertentu merupakan kendala baku pada perusahaan lainnya demi menjaga yang sangat banyak dikeluhkan oleh para pengusaha kelangsungan produksinya dan mengembalikannya jika Kawasan Berikat di lapangan. order bahan baku pesanannya telah tiba di perusahaanSebagai contoh dapatlah kita kemukakan misalnya perihal nya. Atas kegiatan inipun terpaksa tidak dapat dilakukan pemindah-tanganan barang modal yang tidak dipakai lagi oleh para perusahaan di Kawasan Berikat karena tidak oleh pengusaha di Kawasan Berikat, baik yang akan ada ketentuannya, dan akhirnya keputusan yang dipindah-tangankan ke DPIL atau PDKB yang lain. ditempuhkan adalah penghentian proses produksi karena Berdasarkan ketentuan yang berlaku di Kawasan Berikat saat keterlambatan bahan baku. Sungguh suatu keputusan ini, tidak disebutkan bagaimana prosedur dan mekanisme yang sangat disayangkan karena berdampak pengeluarannya. Namun dalam prakteknya, pada penurunan kegiatan ekspor yang pengusaha di Kawasan Berikat harus mengajusebenarnya kontroversi dengan keinginan kan surat permohonan persetujuan terlebih pemerintah dalam memacu ekspor. dahulu ke kantor pusat Jakarta dengan melamContoh lain yang juga belum diatur pirkan dokumen pemasukan awal dan FAKTA DI namun banyak terjadi di lapangan misalnya pendukung lainnya. penyimpanan sementara bahan baku yang Karena hal tersebut tidak diatur secara jelas LAPANGAN dikeluarkan dari Kawasan Berikat ke gudang dalam ketentuan yang ada terutama dokumen luar Kawasan apa saja yang harus dilampirkan dalam surat MENUNJUKKAN umum diBerikat. Dalam Berikat atau di Gudang kondisi tertentu, pengajuan, sudah barang tentu berakibat pada lamanya waktu yang diperlukan untuk proses TIDAK SEMUA sangat dimungkinkan terjadinya over-stock baku ataupun tersebut. Hal ini yang seringkali terjadi karena PERUSAHAAN bahan dibatalkannya barang jadi sebagai akibat pesanan dari customer dokumen pendukung yang dilampirkan sudah atau sebab lain sehingga gudang yang ada dirasa lengkap oleh pengusaha di Kawasan PENGGUNA di perusahaan Kawasan Berikat tidak cukup Berikat, ternyata masih dianggap kurang oleh untuk menampungya. pejabat di Kantor Pusat Bea dan Cukai, sehingFASILITAS Apabila hal ini terjadi, tidak ada solusi ga memaksa pengusaha untuk mondar-mandir KAWASAN yang terbaik bagi pengusaha kecuali untuk melengkapi dokumen yang diperlukan. menyimpannya di gudang yang berada di Hal lain yang masih berkaitan dengan maBERIKAT... luar Kawasan Berikat. Namun, karena hal ini salah persetujuan pemindah-tanganan barang modal ini adalah keharusan melampirkan MENDAPATKAN tidak diatur, kegiatan semacam ini tidak dapat dilakukan dan pada akhirnya pengusdokumen pemasukannya. Bagaimana mungkin INFORMASI aha Kawasan Berikatlah yang merugi karena seorang pengusaha dapat menunjukkan dokubarang tidak ditimbun di tempat sebagaimamen impor atas barang modal yang diimpor YANG JELAS na mestinya yang bisa berakibat pada penulebih dari 10 tahun yang lalu, mengingat dokurunan harga jual karena penurunan kualitas men-dokumen impor yang telah melebihi 10 taDAN CEPAT produk. hun, sesuai ketentuan yang berlaku, dapat TENTANG Kecenderungan lain yang berkembang dimusnahkan. dalam dunia bisnis yang juga belum diatur ADANYA adalah kegiatan yang melibatkan tiga pihak Keempat, ketentuan yang ada saat ini di dua negara, dimana seller (penjual) ada di sudah saatnya untuk secepatnya digantikan PERUBAHAN Indonesia dan buyer (pembeli) ada di luar dengan peraturan yang lebih komprehensif, SUATU negeri, namun end-user (penerima barang) yang mampu menampung atau mengakomoada di Indonesia. Dalam transaksi ini, semua dasikan semua perkembangan yang telah KETENTUAN, kegiatan jual beli termasuk order pembelian, terjadi hingga saat ini. pembayaran dan lain-lain akan dilakukan Banyak kegiatan yang terjadi dalam dunia antara eksportir di Indonesia dan importir di bisnis yang tidak dapat dilaksanakan hanya kaluar negeri, namun penyerahan fisik barang rena mekanismenya tidak diatur dalam ketentuakan dilakukan di salah satu perusahaan di an yang berlaku saat ini. Beberapa contoh yang Indonesia yang merupakan partner dari pembeli tersebut dapat dikemukakan misalnya masalah re-impor oleh Kawasyang ada di Indonesia. an Berikat. Dengan semakin banyaknya pesaing di pasar internasional, sangat mungkin produk dari negara kita yang sudah tiba di negara pembeli, tiba-tiba ditolak karena alasan SUMBER DAYA MANUSIA (HUMAN RESOURCES) kualitas dan harus dikembalikan ke Indonesia, atau di rePermasalahan yang sering muncul di lapangan yang impor. Apabila barang tersebut diekspor oleh perusahaan disebabkan oleh sumber daya manusia (SDM), menurut non Kawasan Berikat, maka tidak ada kendala saat dilakukan hemat penulis, juga dikelompokkan menjadi dua kelompok, re-impor karena prosedurnya sudah diatur secara jelas. yaitu: a). Sumber daya manusia dari dalam perusahaan di Namun hal tersebut menjadi kendala tersendiri apabila Kawasan Berikat itu sendiri, dan b). Sumber daya manusia yang melakukan ekspor saat itu adalah perusahaan di dari Direktorat Jenderal Bea dan Cukai yang ditugaskan di Kawasan Berikat, mengingat ketentuan re-impor yang ada lapangan. saat ini tidak relevan kalau digunakan atas kegiatan re-rimpor yang dilakukan oleh pengusaha di Kawasan Berikat. a) SDM dari perusahaan di Kawasan Berikat Disamping masalah re-impor oleh Kawasan Berikat Permasalahan yang muncul pada umumnya terjadi tersebut, ada lagi kegiatan yang juga belum diatur yaitu pada perusahaan-perusahaan yang baru saja mendapatpemindah-tanganan dan atau peminjaman bahan baku antar kan persetujuan dan beroperasi sebagai Kawasan mengingat pengurusan surat persetujuan tersebut jelasjelas memerlukan waktu, tenaga dan biaya, sedangkan bahan baku tersebut sangat diperlukan oleh pembeli.

64

WARTA BEA CUKAI

EDISI 389 APRIL 2007

Berikat. Hal ini sangatlah wajar mengingat petugas dari perusahaan pada umumnya belum mengerti ketentuanketentuan yang berlaku di Kawasan Berikat. Mereka tidak banyak mendapatkan informasi yang komprehensif baik dari Kantor Pelayanan Bea dan Cukai atau seminar-seminar serta kursus yang ada sebelum memulai beroperasi sebagai Kawasan Berikat. Namun demikian, permasalahan SDM dari perusahaan di Kawasan Berikat ini sekarang dapat segera diatasi apabila petugas dari perusahaan yang bersangkutan mau segera bergabung dengan asosiasi yang sudah ada, yang saat ini sudah berdiri di Bandung sebagai kantor pusatnya dan di Jawa Timur sebagai cabangnya dengan nama Asosiasi Pengusaha Kawasan Berikat atau lebih dikenal dengan nama APKB. Dengan bergabung menjadi anggotanya, maka petugas dari perusahaan yang bersangkutan bisa bertanya dan belajar kepada sesama petugas dari perusahaan yang telah lebih dulu menggunakan dan beroperasi sebagai Kawasan Berikat. b) SDM dari Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Banyak faktor yang menyebabkan timbulnya permasalahan di lapangan sehubungan dengan SDM dari Direktorat Jenderal Bea Cukai ini, antara lain : Pertama, kurangnya pengetahuan petugas tentang ketentuan Kawasan Berikat. Berdasarkan pengamatan penulis selama ini dapatlah dikatakan bahwa lebih dari 75% petugas Bea Cukai yang ditugaskan di lapangan tidak dibekali dengan cukup atas pengetahuan tentang ketentuan-ketentuan yang berlaku di Kawasan Berikat. Pada umumnya, mereka baru belajar tentang Kawasan Berikat pada saat bertugas di lapangan. Akibat dari ketidak mengertian tentang ketentuan yang berlaku ini seringkali menimbulkan salah paham dengan petugas dari perusahaan di Kawasan Berikat. Pernah ada sebuah perusahaan di Kawasan Berikat mengeluh kepada penulis dimana perusahaan tersebut menanyakan tatacara untuk melakukan suatu aktifitas tertentu kepada pejabat yang bertugas di perusahaannya. Bukan solusi yang didapatkan melainkan suatu vonis yang menyatakan bahwa kegiatan tersebut tidak dapat dilaksanakan dan melanggar peraturan kepabeanan, yang pada akhirnya membuat si pengusaha merasa frustasi karena bisnisnya tidak bisa berjalan dan ingin berhenti saja dari Kawasan Berikat.

perusahaan dan petugas dari Bea Cukai, bahkan antar petugas Bea Cukai itu sendiri. Akibatnya, pekerjaan yang seharusnya dapat dengan segera diselesaikan, namun justru memerlukan waktu yang lama dan mengganggu kelancaran arus barang. Salah satu contoh yang pernah ditanyakan kepada penulis misalnya adalah pengertian bahan baku yang rusak atau busuk di Kawasan Berikat. Menurut penjelasan petugas Bea Cukai di lapangan bahwa bahan yang rusak atau busuk hanya terbatas pada barang hasil olahan saja, bukan termasuk bahan baku yang belum diolah. Kenyataan di lapangan, apabila ada bahan baku yang salah dalam penanganan handling-nya oleh pihak transportasi atau terkena bencana alam seperti banjir misalnya, dapatlah dikategorikan sebagai bahan baku yang rusak karena tidak memungkinkan diolah menjadi barang jadi yang sesuai dengan standar kualitas yang diterapkan. Atas kenyataan ini, timbulah perbedaan pendapat apabila bahan baku tersebut akan dijual ke DPIL karena memakan tempat penyimpanan. Pemahaman dari petugas perusahaan bahan baku tersebut AKIBAT DARI dikategorikan sebagai bahan baku yang rusak dan dapat dijual ke DPIL berdasarkan harga TIDAK penyerahan dengan menggunakan PIB sesuai Kep-63/BC/1997 pasal 51, namun dari JELASNYA petugas Bea dan Cukai menganggap bahan baku tersebut dikategorikan sebagai barang PROSEDUR mengajukan permohonan ATAS SUATU sisa dan harus Direktur Jenderal sesuai SEpersetujuan ke 09/BC/2000 sebelum dijual ke DPIL. KEGIATAN Akibat lain yang timbul karena perbedaan persepsi ini adalah adanya perbedaan waktu TERTENTU proses penyelesaian kepabeanan antara Kantor MERUPAKAN Pelayanan Bea dan Cukai yang satu dengan lainnya. Sebagai contoh, misalnya penjualan KENDALA hasil olahan dari Kawasan Berikat ke DPIL. Sesuai ketentuan yang ada, tatacaranya adalah YANG pengusaha membuat PIB atas barang hasil SANGAT olahan yang akan dijual ke DPIL tersebut, membayar BM dan PDRI di bank, mengajukan BANYAK PIB ke kantor pelayanan, barang diperiksa DIKELUHKAN secara fisik kemudian diterbitkan SPPB. Namun ada Kantor Pelayanan Bea dan OLEH PARA Cukai yang mengharuskan mengajukan surat PENGUSAHA permohonan persetujuan terlebih dahulu sebelum pembuatan PIB. Dengan adanya perbedaan ini, penyelesaian kepabeanan atas KAWASAN penjualan barang hasil olahan dari KB ke DPIL BERIKAT DI memerlukan 2-3 hari saja di satu kantor pelayanan, namun di kantor pelayanan lain bisa LAPANGAN memerlukan lebih dari 1 minggu.

Kedua, terlalu seringnya pergantian (rotasi) petugas di lapangan. Pada kenyataannya, petugas Bea dan Cukai yang ditugaskan di suatu perusahaan Kawasan Berikat diganti setidaknya setiap 2-3 bulan sekali. Akibat sering bergantinya petugas tersebut, seringkali pelayanan yang biasanya dapat diselesaikan dalam waktu kurang dari 10 menit, bisa berubah menjadi beberapa jam karena petugas dari perusahaan harus menjelaskan sesuatu dari awal sampai akhir suatu proses. Hal tersebut kadang diperparah oleh suatu kondisi dimana adanya petugas yang baru dan kurang memahami ketentuan Kawasan Berikat namun mengedepankan egonya. Ketiga, perbedaan persepsi atas maksud suatu ketentuan. Seringkali dijumpai di lapangan adanya perbedaan persepsi atas suatu ketentuan antara petugas dari

KESIMPULAN

Dari apa yang telah diuraikan diatas, dapatlah ditarik kesimpulan sebagai berikut : a. Ketentuan tentang Kawasan Berikat yang komprehensif sebagai pengganti ketentuan yang ada saat ini agar segera disusun oleh para pengambil kebijakan sehingga dapat mengakomodasikan kegiatan-kegiatan dalam dunia bisnis yang saat ini belum diatur ketentuannya, ataupun sudah diatur namun tersebar di berbagai surat edaran direktur jenderal yang menyulitkan banyak pihak. b. Ketentuan yang dibuat khususnya yang berhubungan dengan petunjuk pelaksanaan di lapangan hendaknya dibuat sejelas mungkin untuk menghindarkan multi interpretasi bagi semua pihak. c. Setiap ada perubahan ketentuan, seyogyanya segera disosialisasikan baik kepada para pengguna jasa maupun di lingkungan pejabat Bea Cukai sendiri khususnya yang ditugaskan di lapangan.

Penulis adalah Ketua Asosiasi Pengusaha Kawasan Berikat (APKB) Jawa Timur
EDISI 389 APRIL 2007 WARTA BEA CUKAI

65

INFO PEGAWAI
WBC/ATS

P
66

sedang menghadapi beberapa masalah. Pertama, adanya ekonomi biaya tinggi yang dirasakan pengguna jasa. Hal itu terjadi karena ketidak primaan dan tidak transparannya pelayanan yang dilakukan Bea dan Cukai. Bea dan Cukai juga dianggap tidak melaksanakan good governance atau tata pemerintahan yang baik. Kedua, dalam melakukan penegakan hukum, masih terjadi diskriminasi terhadap perlakuan penegakan hukum. Ketiga, masalah integritas dan code of condact yang ada di DJBC dan keempat, masalah manajemen. Melihat hal itu, DJBC mencoba melakukan reformasi di bidang kepabeanan dan cukai. Salah satunya dengan membentuk Kantor Pelayanan Bea dan Cukai Utama (KPU) di Tanjung Priok dan Batam, yang akan dioperasikan pada Juli 2007. “Tanjung Priok adalah ukuran negeri kita. Kalau KPU di Tanjung Priok berhasil maka insya Allah citra kita akan lebih baik. Selanjutnya Soekarno Hatta dan kantor lainnya akan mengikuti. Sehingga, tanpa dukungan dan restu dari semua, apa yang kita lakukan tidak akan berhasil,” tandas Anwar. Untuk itu, Anwar berharap agar para stakeholder harus comply terhadap Bea dan Cukai, begitu pula dengan instansiinstansi terkait seperti Karantina, Perdagangan, BPOM dan lainnya. Sehingga sistem yang ada bisa dilakukan dengan menggunakan teknologi informasi karena pada dasarnya DJBC ingin menghindari contact person untuk menghindari biaya tinggi. Ia juga menjelaskan, dalam KPU terdapat client coordinator, yang akan menjadi tempat bertanya bagi stakeSOSIALISASI. Sekitar 700 orang hadir pada acara sosialisasi Pembentukan KPU Tanjung Priok yang holder yang mempunyai masalah. “Kita mengambil tempat di Auditorium KP DJBC. menggunakan manajemen resiko, bagi client yang baik akan kami beri pelayanan yang baik, bagi yang kurang baik akan kita bina, tapi yang sama sekali tidak ada harapan ya terpaksa kita good bye sajalah, itu yang dinamakan adil. Untuk itu saya juga berharap PPJK akan comply dengan kita sebab banyak juga PPJK yang ‘buka warung’ sehingga menurut saya sudah tidak cocok lagi,” imbuh Anwar. Sebelum membentuk KPU, DJBC telah melakukan beberapa langkah. Para pengguna jasa menanti implementasi KPU sesuai Pertama, menyiapkan pemikiran untuk dengan konsep yang ada. melakukan yang terbaik. Kedua, menata organisasi dimana Kantor Pelayanan Bea dan Cukai Tanjung Priok saat ini dirasakan sudah tidak memadai. Ketiga, menangani masalah ada 13 Maret 2007, Auditorium Kantor Pusat Direktorat sumber daya manusia (SDM) di Bea dan Cukai dan penataan Jenderal Bea dan Cukai tampak penuh sesak. Sekitar kembali sistem penggajian. 700 orang pengguna jasa menghadiri acara sosialisasi “Untuk pegawai yang dalam pekerjaannya berisiko tinggi Pembentukan Kantor Pelayanan Bea dan Cukai Utama mendapatkan remunerasi yang berbeda degan pegawai yang Tanjung Priok. Tampak para peserta sosialisasi antusias pekerjaannya berisiko rendah,” kata Anwar. Ia melanjutkan, dari mengikuti jalannya sosialisasi yang menghadirkan pembicara dari sekitar 3000 pegawai yang mengikuti tes (untuk duduk di KPUTim Percepatan Reformasi Kebijakan Bidang Pelayanan Bea red), sekitar 1000 pegawai yang berhasil lulus. Tes itu sendiri Cukai, yakni Thomas Sugijata (selaku Ketua Tim), Kusdirman, dilakukan oleh pihak independen dari kalangan akademisi UI Heru Pambudi dan Lupi Hartono. (Universitas Indonesia). Acara yang dimulai sejak pukul 09.00 - 12.00 WIB tersebut, Saat ditemui WBC di sela-sela acara sosialisasi, Lily Bandradibuka oleh Direktur Jenderal Bea dan Cukai, Anwar Suprijadi. naya, Country Manager, Operations & Government Liaisons, PT. Dalam pidatonya Anwar mengatakan, saat ini Bea dan Cukai

Sosialisasi Kantor Pelayanan Utama Bea dan Cukai

WARTA BEA CUKAI

EDISI 389 APRIL 2007

WBC/ATS

BDP International, mengatakan bahwa rencana Bea dan Cukai membentuk KPU sangat bagus. Namun ia menegaskan, yang paling penting adalah agar KPU tersebut dapat diimplementasikan sesuai dengan konsep yang ada. “Kalau terlalu banyak teori tapi prakteknya tidak sama kan percuma juga. Jadi, saya sungguh sangat menerima dengan baik rencana KPU ini karena ini merupakan suatu titik terang untuk semuanya,” katanya. Selain dalam hal pengurusan dokumen akan menjadi lebih mudah, dengan adanya KPU ini ia berharap agar pungli dapat dihilangkan. “Kalau kita (pengguna jasa-red) memang tidak menyalahi peraturan yang ada, seharusnya kan tidak ada pungli. Seperti yang tadi diinfokan, kalau kita tidak tahu, tolonglah agar pegawai KPBC memberitahu SOSIALISASI khusus jalur prioritas jalan yang sebetulnya, kecuali kalau memang kita yang nakal, pasti kita akan terima risikonya,” imbuhnya. Selain itu, ia juga berharap adanya unit one shop service, call center atau call information dalam KPU. Unit tersebut nantinya akan menjadi front desk yang paling utama untuk bisa memberikan segala informasi pada pengguna jasa. Sebab, pada dasarnya pengguna jasa tidak mau menyalahi peraturan. “Kami bukan perusahaan yang mau berdiri cuma 2 minggu, kami ingin seterusnya bisa berdiri. Kami minta kontribusi yang baik, toh kami kan membayar impor duty, jadi saling menguntungkan. Kami tahu untuk berubah memang butuh waktu. Jadi tolong, teori yang sangat indah ini dipraktekan juga sampai ke bawah. Jangan teorinya saja yang bagus, tapi prakteknya tidak,” pintanya.
WBC/ATS

KHUSUS JALUR PRIORITAS
Sementara itu, keesokan harinya (14/3), sosialisasi kepada pengguna jasa mengenai Pembentukan Kantor Pelayanan Bea dan Cukai Utama Tanjung Priok juga dilakukan. Dengan mengambil tempat di Ruang Loka Muda Gedung B, Kantor Pusat DJBC, sosialisasi digelar khusus pengguna jasa yang mendapatkan jalur prioritas. Hadir sebagai pembicara dari Tim Percepatan Reformasi Kebijakan Bidang Pelayanan Bea dan Cukai, yakni Frans Rupang (Wakil Ketua Tim), Heru Pambudi, Lupi Hartono, Bagus Nugroho dan M. Danang. Kepada peserta sosialisasi, Frans mengatakan, pimpinan di DJBC sangat menyadari, dilihat dari sisi kepuasan stakeholder, apa yang dilakukan selama ini masih belum optimal. Namun demikian, DJBC berupaya untuk terus memperbaikinya. Salah satunya adalah dengan

DIRJEN BEA DAN CUKAI. Tanpa dukungan dan restu dari semua pihak, apa yang kita lakukan tidak akan berhasil.

membentuk kantor unggulan yang disebut KPU, dimana KPU ini dengan sendirinya akan mempunyai warna yang berbeda dari pada Kantor Pelayanan Bea dan Cukai pada umumnya. Perbedaan tersebut antara lain, para pegawai yang akan duduk di KPU dipilih melalui suatu tes penyaringan yang sangat ketat, yang dilakukan lembaga manajemen UI. Dengan demikian, pegawai yang terpilih diharapkan dapat lebih baik dari yang ada saat ini. Kemudian, pelayanan yang dilakukan mengarah pada paperless. “Kalau selama ini untuk ekspor sudah paperless, impor juga akan kita arahkan ke paperless, dan mungkin akan kita mulai dari importir yang mendapatkan jalur prioritas,” tambah Frans. Pada kesempatan itu pula, Frans mengatakan bahwa dalam KPU, importir yang mempunyai reputasi yang bagus dan sudah comply dengan Bea dan Cukai akan diberikan pelayanan yang berbeda, yang lebih baik. Untuk itu ia berharap, dengan adanya KPU ini, akan lebih banyak lagi pengguna jasa yang comply dengan Bea dan Cukai. Saat ditemui WBC usai acara sosialisasi, Marcella, Import & Export Manager, PT. Astra Honda Motor, menyambut baik rencana DJBC membentuk KPU. “Kalau kantor di Tanjung Priok dijadikan satu semua dan menggunakan sistem paperless, maka proses administrasi yang tadinya memakan waktu cukup lama bisa jadi cepat dan menghemat waktu dan biaya,” katanya. Sebagai pengguna jasa yang memperoleh fasilitas jalur prioritas, ia berharap agar pada saat praktek dilapangan bisa sesuai dengan apa yang dicita-citakan oleh Bea dan Cukai. Dengan demikian, tercipta keadaan yang saling menguntungkan antara pengguna jasa dan Bea dan Cukai. Senada dengan Marcella, Firman Satria, Import & Export Staff, PT. Astra Daihatsu Motor, mendukung adanya KPU. Menurutnya, dengan adanya KPU ini, akan terjadi kemudahan terutama dalam hal menyerahkan dokumen impor maupun ekspor. “Karena kadang kita kesulitan kalau mau menyerahkan dokumen, kadang kita tidak tahu harus menyerahkan kemana. Dengan adanya KPU ini kami berharap agar penyerahan dokumen menjadi lebih mudah dan cepat,” katanya. Selain itu, ia juga berharap orang-orang yang duduk di KPU dapat memberikan pelayanan yang pasti. “Yang tadi saya dengar, orang-orang yang pilih itu kan orang-orang yang berkualitas jadi saya harap dengan begitu bisa mengurangi pungli dan bersifat jujur dalam melayani kami,” tambahnya. Tak hanya di Tanjung Priok, ia juga berharap agar KPU juga dibentuk di kantor-kantor lainnya seperti di Soekarno Hatta. ifa
EDISI 389 APRIL 2007 WARTA BEA CUKAI

67

INFO PEGAWAI

Kantor Pelayanan Utama Bea dan Cukai
Langkah Strategis Memperbaiki Citra dan Kinerja Institusi

D

dan Wakil Ketua Sekretaris Direktorat Jenderal, serta anggota para Direktur di lingkungan Kantor Pusat DJBC dan Kelompok Kerja yang diketuai oleh Thomas Sugijata, dan Wakil Ketua Frans Rupang serta beranggotakan pejabat dan pegawai dari Sekretariat dan seluruh Direktorat di lingkungan ewasa ini perdagangan internasional sangat Kantor Pusat DJBC. berkembang pesat baik dalam volume dan jenisnya. Dari hasil kajian yang dilakukan oleh tim, diketahui bahwa Dari hasil kajian yang dilakukan oleh JICA pada dunia usaha dan masyarakat masih banyak yang tahun 2004, disebutkan bahwa pelaku bisnis yang mengeluhkan dan merasa perlu adanya perbaikan terhadap terlibat dengan perdagangan internasional efektifitas pelayanan dan pengawasan yang dilakukan DJBC. membutuhkan administrasi kepabeanan yang memberikan Misalnya dalam hal integritas pegawai yang masih perlu ”pelayanan prima” (excellent service with swift, transparent, ditingkatkan, masalah time release, masih adanya barangand immediate response) dan pelayanan cepat dan murah barang selundupan, perbaikan sistem remunerasi, (faster, cheaper, and better). Direktorat Jenderal Bea dan penyederhanaan sistem dan prosedur, serta akuntabilitas Cukai (DJBC) sebagai salah satu lembaga pemerintah yang organisasi. Intinya, dunia usaha menuntut agar DJBC berkaitan langsung dengan perdagangan internasional memberikan kepastian hukum, waktu dan biaya. dituntut untuk dapat senantiasa memperbaharui diri (selfMelihat hal tersebut, DJBC melakukan berbagai upaya reinventing) sesuai dengan aspirasi masyarakat dan serius dan menempuh langkah-langkah strategis guna perkembangan mutakhir teknologi keuangan serta melakukan perbaikan secara sistemik, yang diwujudkan administrasi publik. dengan upaya pembentukan Kantor Pelayanan Utama Bea Menjawab tuntutan tersebut, sejak lama DJBC telah meladan Cukai (KPU). KPU merupakan Kantor Pelayanan DJBC kukan reformasi kepabeanan. Reformasi tahun 2002 yang yang memberikan pelayanan prima dan pengawasan yang dilaksanakan dengan asistensi dari IMF dirasa masih belum efektif kepada pengguna jasa kepabeanan dan cukai, dengan memenuhi harapan masyarakat akan kinerja pelayanan DJBC mengimplementasikan cara kerja yang yang dapat memberikan kepastian hukum, WBC/ATS cepat, efisien, transparan dan responsif waktu, dan biaya. terhadap kebutuhan pengguna jasa. Dalam pengarahannya pada Rapat Untuk melaksanakan pembentukan Pimpinan DJP dan DJBC di awal masa KPU tersebut, telah disusun Cetak Biru kerja Direktur Jenderal Bea dan Cukai Pembentukan KPU sebagai roadmap yang baru (Anwar Suprijadi-red), Menteri yang komprehensif, sistematis, terarah Koordinator Bidang Perekonomian, dan terukur. Pada tahap awal, titik berat Budiono, memberikan arahan agar progupaya pembentukan KPU dilakukan di ram kerja DJBC diharapkan fokus Tanjung Priok dan Batam yang kepada sasaran konkrit yang berdampak merupakan pintu utama bagi kegiatan signifikan terhadap penciptaan iklim usaekspor impor dan mempunyai pengaruh ha yang kondusif dan peningkatan citra sangat signifikan terhadap pertumbuhan DJBC. Senada dengan rekannya, Menteekonomi nasional serta menjadi etalase ri Keuangan, Sri Mulyani, juga memberi bagi dunia internasional. Hal ini sesuai arahan bahwa program kerja DJBC dengan arahan Menteri Keuangan dan harus terkait good governance dan harus Menteri Koordinator Bidang bisa mengatasi masalah penerimaan Perekonomian untuk membentuk kantor (dengan mengurangi kebocoran peneripelayanan prima di Tanjung Priok dan maan negara), komplain dari masyarakat Batam dimana pembentukan KPU terkait dengan kinerja bea dan cukai dan diharapkan juga sekaligus dapat menata meningkatkan integritas untuk mengurapelabuhan. ngi misconduct. Dari data empiris, Tanjung Priok Untuk itu, berdasarkan Kep-66/BC/ mempunyai kegiatan yang signifikan jika 2006 tanggal 14 Juni 2006 yang diubah dilihat dari sisi penerimaan bea masuk dengan Kep-10/BC/2007 tanggal 18 THOMAS SUGIJATA. KPU merupakan suatu (BM). Pada tahun 2006, penerimaan BM Januari 2007, telah dibentuk Tim Percemanifestasi dari upaya DJBC untuk melakukan patan Reformasi Kebijakan Bidang Pela- perubahan secara sistemik baik dari sisi sistem di Tanjung Priok (KPBC Tanjung Priok I – III) mencapai sekitar Rp 6,6 trilyun atau yanan Bea dan Cukai dengan Tim Peng- dan prosedur, organisasi, SDM dan tingkat 54,4 persen dari total penerimaan BM di arah yang diketuai oleh Direktur Jenderal kesejahteraan pegawainya.
WARTA BEA CUKAI EDISI 389 APRIL 2007

Dunia usaha menuntut kepastian hukum, waktu dan biaya.

68

WBC/ATS

KPU TANJUNG PRIOK. Selain remunerasi, pegawai KPU juga harus didukung dengan sarana dan prasarana yang memadai.

KPBC seluruh Indonesia. Oleh sebab itu, Tanjung Priok dipilih karena mempunyai pengaruh sangat signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi nasional. Sedangkan untuk Batam dipilih karena merupakan etalase terkait dengan kegiatan yang berhubungan dengan negara tetangga seperti Singapura dan Malaysia. Apakah pembentukan KPU di Batam dan Tanjung Priok ada kaitannya National Single Window atau NSW (piloting portal single window juga dilakukan di Batam dan piloting Indonesia NSW di Tanjung Priok-red)? Thomas Sugijata mengatakan bahwa NSW merupakan Program Nasional, dimana DJBC menjadi ujung tombaknya. NSW dan KPU tentunya secara sinergi dan terintegrasi akan dapat meningkatkan kinerja DJBC.

DIPIMPIN ESELON II
Setelah Batam dan Tanjung Priok, dalam kurun waktu 2007 – 2013 akan dibentuk KPU lainnya di seluruh Indonesia, antara lain Soekarno-Hatta dan Tanjung Perak. “Kita punya program dari tahun 2007 hingga 2013 untuk meng-KPU-kan semua Kantor Bea Cukai yang feasible,” kata Thomas. Thomas menambahkan, KPBC Tanjung Priok I – III akan melaksanakan masa transisi sebagai KPU pada April hingga Juni 2007, sedangkan untuk KPBC Batam pada Mei 2007 hingga Juni 2007. Keduanya (KPU Tanjung Priok dan KPU Batam-red) akan diimplementasikan secara penuh mulai 1 Juli 2007. “Masa transisi di kedua lokasi tersebut harus dilakukan untuk dilakukan penyesuaian-penyesuaian terkait

dengan proses bisnis yang akan diterapkan pada KPU nantinya,” imbuhnya. KPU Tanjung Priok itu sendiri merupakan penggabungan antara Kantor Wilayah VII DJBC Jakarta I, KPBC Tanjung Priok I, II dan III, yang dipimpin oleh pejabat tingkat eselon II. Sedangkan KPU Batam merupakan penggabungan antara KPBC Batam dan KPBC Muka Kuning yang juga dipimpin oleh pejabat eselon II. Dengan demikian, secara otomatis hal itu akan merubah struktur organisasi. Pejabat dan pegawai yang akan masuk dalam KPU harus melalui assessment test yang dilakukan secara obyektif dan transparan. Tes yang diberikan meliputi antara lain tes kompetensi jabatan, yang mencakup masalah integritas, minat dan kepemimpinan. DJBC melibatkan UI (Universitas Indonesia) sebagai pihak yang independen dalam melakukan assesment test. Menurut Thomas, dari sekitar 1070 pegawai yang telah memenuhi kriteria sebagai calon pegawai KPU akan mendapatkan training yang bersifat umum dan spesialisasi, sebelum nantinya akan dipanggil dan ditempatkan secara bertahap. Dalam training tersebut pegawai akan diberi pengarahan, salah satunya oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang memberikan materi menyangkut masalah integritas. Selain KPK, ada juga pembicara dari pihak swasta, yakni Astra Internasional yang memberikan materi seputar masalah budaya kerja. Dipilihnya Astra dikarenakan perusahaan tersebut telah terkenal dengan etos kerjanya yang tinggi. Terakhir, ada tim dari Trustco yang memberikan arahan mengenai masalah motivasi, komunikasi dan kerjasama tim. Trustco merupakan suatu lembaga yang berpengalaman saat mendidik pegawai dari Direktorat Jenderal Pajak yang duduk dalam LTO (large tax office) atau yang lebih dikenal sebagai kantor pajak modern. Karena status pegawai KPU sama dengan pegawai lainnya, maka pegawai yang duduk di KPU juga akan mengikuti pola mutasi yang umum. “Jadi, dari KPU Tanjung Priok tidak lantas di pindahkan ke KPU Batam, tapi bisa kemana saja, seperti mutasi pada umumnya. Hanya saja yang ingin duduk di KPU harus melewati assessment test. Jadi, kedepannya akan ada assessment test lagi untuk penempatan pegawai di KPU,” jelas Thomas. Setelah duduk di KPU pada Juli nanti, setiap pegawai yang ada akan dievaluasi. Evaluasi terhadap kinerja pegawai akan ditangani secara khusus oleh Bidang Kepatuhan Internal KPU. Terhadap hasil evaluasi kinerja pegawai tersebut akan diterapkan reward and punishment yang jelas dan tegas. Pegawai KPU memang dituntut memiliki kinerja yang tinggi dan bekerja secara cermat. Evaluasi itu sendiri akan dilakukan secara periodik, sehingga kinerja pegawai akan terus diikuti. Bidang Kepatuhan Internal sendiri akan dievaluasi kinerjanya oleh Kepala KPU. Namun demikian, pengawasan tersebut tidak hanya dilakukan secara internal tapi juga melalui komplain dari masyarakat usaha. Karena, lanjut Thomas, dalam sistem KPU, masyarakat usaha memang diberikan ruang untuk melakukan penilaian secara independen melalui sarana pengaduan dan pemberian pujian (complaints and compliments) di KPU. Dalam KPU juga akan diterapkan Key Performance Indicator (KPI). KPI menjadi alat bagi manajemen untuk menilai apakah KPU sudah berjalan secara efektif dan efisien sesuai dengan target yang telah ditetapkan. Dengan adanya KPI maka proses pengambilan keputusan dan perencanaan strategis di KPU dapat berjalan dengan lebih efektif, sekaligus sebagai instrumen bagi peningkatan transparansi, akuntabilitas, dan integritas KPU.

BUKAN KARENA GAJINYA LEBIH BESAR
Banyak yang mengatakan bahwa gaji pegawai KPU lebih besar dari pegawai bea cukai pada umumnya. Lantas, apakah hal itu yang membuat KPU ini begitu spesial? Thomas menolak anggapan tersebut. Menurutnya, hal itu merupakan salah persepsi dari sebagian orang. Ia meminta agar orang
EDISI 389 APRIL 2007 WARTA BEA CUKAI

69

INFO PEGAWAI
WBC/ATS

Oleh sebab itu, Thomas berharap agar pegawai yang duduk di KPU menjadi SDM yang profesional, berintegritas, jujur, berkompetensi dan memiliki akuntabilitas. “Artinya, SDM yang ada diharapkan mempunyai knowledge atau bisa mengoptimalkan pengetahuan dan keahlian yang dimiliki untuk melakukan pekerjaan yang menjadi tanggung jawabnya dengan sikap atau attitude sesuai dengan budaya organisasi yang sudah disepakati,” ujarnya. Saat disinggung mengenai masalah sosialisasi, Thomas menjelaskan bahwa sosialisasi kepada seluruh pegawai Tanjung Priok telah dilakukan, juga kepada seluruh pegawai yang dipanggil untuk mengikuti training sebagai persiapan calon pegawai KPU. Pada Maret lalu, sosialisasi juga telah TRAINING. Dari sekitar 1070 pegawai yang telah dipanggil untuk mengikuti training secara bertahap akan ditempatkan di KPU. dilakukan dengan mengundang para stakeholder. Ketika ditanya bagaimana tanggapan para pengusaha jangan melihat dari masalah gaji atau remunerasi yang akan mengenai pembentukan KPU, Thomas menjawab bahwa diterima pegawai KPU. Dari hasil kajian yang dilakukan oleh pada dasarnya pengusaha tidak keberatan karena hal itu Tim, sistem remunerasi hanya salah satu sisi yang harus merupakan suatu perubahan yang besar. Artinya, pengusaha dibenahi. setuju dengan pembentukan KPU karena ingin adanya Namun yang paling utama adalah, KPU merupakan suatu perubahan menuju ke arah perbaikan. Sebab, keuntungan manifestasi dari upaya DJBC untuk melakukan perubahan yang bisa diperoleh bagi pengusaha dengan adanya KPU ini secara sistemik baik dari sisi sistem dan prosedur, organisaadalah adanya kepastian hukum, waktu, dan biaya. si, SDM, dan remunerasi pegawainya. “Jadi, ini suatu Misalnya saja, dengan adanya pelayanan satu atap perubahan sistemik dan strategis. Sehingga, perubahan terdimana pengusaha dapat menyelesaikan sebagian besar sebut cukup signifikan dan menjadi suatu hal yang berbeda kegiatan clearance barang pada KPU, termasuk dalam hal dengan kantor pelayanan yang ada saat ini,” kata Thomas. pengajuan fasilitas, perijinan, dan keberatan. Tak hanya itu, Menurutnya, ketika membentuk KPU, yang harus keuntungan lain yang diperoleh pengusaha adalah adanya dipikirkan terlebih dahulu bukanlah masalah gaji atau Client Coordinator (CC) bagi importir yang memiliki tingkat remunerasi. “Kita ingin menempatkan pegawai yang kepatuhan yang tinggi. Sedangkan bagi importir lainnya profesional di KPU dimana para pegawai tersebut sudah diberikan layanan informasi melalui Consultation Desk (CD). dipilih melalui assessment test. Mereka dituntut bekerja CC dan CD berfungsi untuk memberikan bimbingan, dengan profesional dan dengan integritas yang tinggi. Kalau menyediakan informasi dan menjelaskan ketidakpahaman mereka salah akan dihukum. Sanksinya sesuai dengan pengusaha terhadap suatu aturan. CC dan CD juga akan sanksi administrasi kepegawaian,” imbuhnya. menindaklanjuti komplain dari pengusaha agar menjadi Dengan demikian, tuntutan yang tinggi terhadap pegawai masukan bagi DJBC. tersebut harus diimbangi dengan remunerasi yang memadai, Dalam KPU juga akan ditetapkan Client Service Charter yang membuat pegawai merasa nyaman dalam bekerja. Jadi, (CSC). CSC ini adalah komitmen KPU dalam memberikan perbedaan KPU dengan kantor lainnya bukan berdasarkan kualitas pelayanan kepada para stakeholder-nya. Jika remunerasi melainkan pegawai yang duduk dalam KPU pelayanan yang diberikan oleh KPU tidak sesuai dengan dipilih secara selektif, harus bekerja secara professional dan CSC, importir dapat saja mengajukan komplain melalui terhadap pekerjaannya dilakukan kontrol/pengawasan. sarana pengaduan dan pujian yang tersedia di KPU. Selain remunerasi, pegawai KPU juga harus didukung Selain pada stakeholder, DJBC secara intensif juga dengan sarana dan prasarana yang memadai, misalnya melakukan koordinasi dengan instansi-instansi terkait yang kendaraan untuk operasional pegawai, perangkat software ada di pelabuhan dan bandara. Instansi-instansi tersebut dan hardware maupun equipment lainnya, untuk menciptakan antara lain PT Pelindo II, PT Angkasa Pura II, BKPM, Ditjen kantor yang nyaman. Tujuannya agar pegawai yang bekerja Perdagangan Luar Negeri, Administrator Pelabuhan Tanjung merasa nyaman dan mampu bekerja secara maksimal Priok, Administrator Bandara Soekarno-Hatta, Badan dengan memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi Karantina, Departemen Kelautan dan Perikanan, Ditjen secara optimal. Perhubungan Laut, Ditjen Perhubungan Udara, Departemen Lantas, bagaimana melakukan pengawasan terhadap Kehutanan, Departemen Kesehatan dan BPOM. pegawai KPU agar integritasnya tetap terjaga? Thomas Pertemuan itu dirasa sangat penting, lanjut Thomas, mengatakan, seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, mengingat kerjasama dengan instansi lain merupakan salah dalam KPU ada yang disebut dengan Bidang Kepatuhan satu key success factor pembentukan KPU. Oleh sebab itu, Internal. Tugasnya adalah untuk melakukan pengawasan, Thomas berharap, dengan adanya KPU, image Bea dan penilaian, evaluasi kerja serta penegakan pelaksanaan Cukai atau kinerja dan citra Bea dan Cukai akan menjadi kode etik dan integritas atau menjamin pegawai bekerja lebih baik di mata masyarakat maupun stakeholder. ifa secara efisien dan efektif. 70
WARTA BEA CUKAI EDISI 389 APRIL 2007

TPB. Melakukan penggalangan dana yang berasal dari pegawai KP-DJBC

Tim Peduli Bencana DJBC Salurkan Bantuan Untuk Korban Banjir Jakarta
Seratus orang pegawai Kantor Pusat DJBC dan tiga orang pegawai Cleaning Service menjadi korban Banjir Jakarta pada awal Februari 2007.

B

anjir yang sempat melumpuhkan kota Jakarta dan sekitarnya pada awal Februari 2007 meninggalkan cerita sedih bagi sebagian warganya, tidak terkecuali bagi para pegawai DJBC yang berada di didaerah tersebut. Untuk meringankan beban sebagian warga Jakarta yang tertimpa musibah tersebut, Kantor Pusat DJBC melalui tim Peduli Bencana (TPB) yang dibentuk oleh Direktorat Jenderal Bea dan Cukai melalui Peraturan Direktur Jenderal Bea dan Cukai Nomor : P-03/ BC/2007 tanggal 7 Februari, telah berhasil menyalurkan bantuan yang berasal dari donasi para pegawai di lingkungan Kantor Pusat DJBC kepada para korban banjir Jakarta. Menurut Muhammad Lukman Ketua TPB yang juga Kasubag Umum Kepegawaian Kantor Pusat DJBC, donasi yang berasal dari para pegawai tersebut digalang tepat pada saat musibah banjir melanda Jakarta pada awal bulan Februari 2007 dan berlangsung selama dua pekan. Lukman menambahkan, dalam penggalangan dana yang berlangsung selama dua pekan tersebut berhasil terkumpul dana sebesar Rp.90.685.000 (rincian lihat Tabel) dan penyaluran bantuan dilakukan oleh TPB ke berbagai posko banjir yang ada di Jakarta. Posko-posko tersebut meliputi posko banjir yang berada di Kali Sodong, Cipinang Lontar,
EDISI 389 APRIL 2007 WARTA BEA CUKAI

71

INFO PEGAWAI
DOK. TPB

Cipinang Muara, Cipinang Besar Utara,Kampung Melayu Kecil dan Jatinegara. Terhadap posko-posko tersebut disalurkan bantuan berupa makanan, minuman, selimut, pakaian, peralatan kebersihan dan lain sebagainya. (Rincian Pengeluaran LihatTabel) Untuk penyaluran bantuan yang berupa barang, TPB bekerja sama dengan Kopesat. Kopesat lanjut Lukman menyediakan bantuan dalam bentuk barang, dan TPB melengkapi barang bantuan tersebut, apabila ada barang bantuan tidak tersedia di Kopesat.”Untuk melengkapi barang bantuan, kami membelinya dari sumbangan tersebut,”ujarnya. Selain posko banjir bantuan juga disalurkan ke beberapa dapur umum, bantuan diantaranya disalurkan untuk dapur umum yang berada di Manggarai dan Utan Kayu Selatan, selain bantuan pelayanan kesehatan paska banjir di Kerawang Jawa Barat. Lukman menambahkan, bantuan juga disalurkan kepada para pegawai dan juga pegawai Cleaning Service (CS) yang mengalami musibah banjir tersebut. Tercatat 100 pegawai Kantor Pusat DJBC dan tiga orang CS mengalami musibah banjir. Dan bantuan yang disalurkan kepada mereka diberikan dalam bentuk uang yang didasarkan pada parah tidaknya banjir yang dialami. zap

PENYERAHAN BANTUAN. Selain daerah di sekitar KP-DJBC, bantuan juga disalurkan ke Kerawang Jabar

PEGAWAI PENSIUN T.M.T 01 APRIL 2007
NO 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 NAMA Ibrahim A. Karim, Drs. Bambang Sudjatmoko, Drs. Ganjar Nugraha, Drs. Soedjita, Drs. Pudjo Wibowo, S.E. Jonson Utama Prapat, S.E. Tumpak Manaek Sianturi, BA. Ida Bagus Made Sutrisna Saut Tahi Napitupulu Wagiyono, S.Pd. Ngisa Suhari Maman Tama NIP 060027872 060059690 060059697 060035513 060041109 060045597 060033026 060032166 060045525 060045484 060045247 060057857 060041169 060056945 GOL IV/d IV/b IV/b IV/a IV/a III/d III/d III/b III/b III/b III/a II/d II/b II/a JABATAN Direktur Fasilitas Kepabeanan Kepala Subdirektorat Penyuluhan dan Publikasi Kepala Kantor Pelayanan Bea dan Cukai Kepala Bagian Umum Kepala Pangkalan Sarana Operasi Bea dan Cukai Kepala Seksi Kepabeanan II Kepala Seksi Tempat Penimbunan IV Koordinator Pelaksana Administrasi Penerimaan dan Jaminan Koordinator Pelaksana Administrasi Impor Koordinator Pelaksana Administrasi Tempat Penimbunan Berikat Pelaksana Pelaksana Pelaksana Pelaksana KEDUDUKAN Direktorat Fasilitas Kepabeanan Direktorat PPKC Kantor Pelayanan Bea dan Cukai Tipe A Khusus Tanjung Priok III Kantor Wilayah IX DJBC Pontianak Pangkalan Sarana Operasi Bea dan Cukai Tipe B Tanjung Priok Kantor Pelayanan Bea dan Cukai Tipe A Belawan Kantor Pelayanan Bea dan Cukai Tipe A Bekasi Kantor Pelayanan Bea dan Cukai Tipe A Ngurah Rai Kantor Pelayanan Bea dan Cukai Tipe A Jakarta Kantor Pelayanan Bea dan Cukai Tipe A Tanjung Emas Kantor Pelayanan Bea dan Cukai Tipe A Tanjung Emas Kantor Pelayanan Bea dan Cukai Tipe A Merak Direktorat Fasilitas Kepabeanan Kantor Pelayanan Bea dan Cukai Tipe B Bogor

BERITA DUKA CITA
Telah meninggal dunia, I WAYAN DRESTA TJAHU, (80), pensiunan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai, pada hari Minggu, 25 Pebruari 2007, pukul 22.40 WIB di RS. Mitra Internasional Jatinegara, Jakarta. Jenazah telah dikremasi hari Rabu, 28 Pebruari 2007, berangkat dari rumah duka RS. Gatot Subroto, pukul 07.00 WIB. Segenap jajaran Direktorat Jenderal Bea dan Cukai menyatakan duka yang sedalam-dalamnya. Bagi keluarga yang ditinggalkan semoga diberikan ketabahan dan kekuatan oleh Tuhan Yang maha Esa 72
WARTA BEA CUKAI EDISI 389 APRIL 2007

INFO PERATURAN

PERATURAN MENTERI KEUANGAN Per Maret 2007
No. PERATURAN Nomor 1. 07/PMK.04/2007 Tanggal 06-02-07 Penetapan Tarif Bea Masuk Atas Impor Barang Dalam Rangka Early Harvest Package (EHP) ASEAN-CHINA Free Trade Area (AC-FTA). 2. 08/PMK.04/2007 06-02-07 Penetapan Tarif Bea Masuk Atas Impor Barang Dalam Rangka Early Harvest Package (EHP) Bilateral IndonesiaChina Free Trade Area (FTA). 3. 11/PMK.03/2007 14-02-07 Perubahan Ketiga Atas Keputusan Menteri Keuangan Nomor 155/KMK.03/001 Tentang Pelaksanaan Pajak Pertambahan Nilai Yang Dibebaskan Atas Impor Dan/Atau Penyerahan Barang Kena Pajak Tertentu Yang Bersifat Strategis. 4. 21/PMK.05/2007 23-02-07 Kerja Lembur Dan Pemberian Uang Lembur Bagi Pegawai Negeri Sipil. 5. 22/PMK.05/2007 23-02-07 Pemberian Uang Makan Bagi Pegawai Negeri Sipil. P E R I H A L

PERATURAN DIREKTUR JENDERAL BEA DAN CUKAI Per Maret 2007
PERATURAN No. 1. Nomor P-04/BC/2007 Tanggal 16-02-07 P E R I H A L

Tentang Petunjuk Pelaksanaan Pemeriksaan Mendadak Kepabeanan Di Bidang Impor .

2.

P-05/BC/2007

28-02-07

Perubahan Keputusan Direktur Jenderal Bea dan Cukai Nomor KEP-14/BC/2001 Tentang Pemblokiran Perusahaan Di Bidang Kepabeanan.

SURAT EDARAN DIREKTUR JENDERAL BEA DAN CUKAI Per Maret 2007
PERATURAN No. 1. 2. Nomor SE-02/BC/2007 SE-03/BC/2007 Tanggal 15-02-07 23-02-07 P E R I H A L

Peningkatan Pengawasan Terhadap Mesin SKM. Pembayaran Biaya Pengganti Pita Cukai

EDISI 389 APRIL 2007

WARTA BEA CUKAI

73

RUANG INTERAKSI

dan Gempa Bumi
Pelajaran akan bencana dan cara penyelamatan merupakan keterampilan atau setidaknya pengetahuan yang harus dimiliki setiap orang yang tinggal di daerah rawan bencana seperti Indonesia.

Panik

Oleh: Ratna Sugeng

PANIK JUGA MEMBUAT ORANG BERTINDAK OTOMATIS TANPA PIKIR

“ ”

G
TSUNAMI

empa berkekuatan 5.8 SR mengguncang Sumatera Barat, pusat gempa dikatakan berada di 16 km barat Batusangkar di kedalaman 33 km. Kepanikan menyengat semua orang yang merasakan gempa yang menurut laporan sebuah stasiun televisi berita, terjadi empat kali dengan dua kali guncangan kuat pada pukul 11.00 dan 12.49 hari Selasa 6 Maret 2007. Kepanikan bukan saja karena terkejut dihadapkan pada bahaya, tetapi juga karena bayangan tsunami masih melekat di benak banyak orang Indonesia.

menyelamatkan pasiennya dan tetap bertanggung jawab atas tugasnya menolong orang (dalam hal ini pasien), artinya sikap dasar bertanggung jawab atas pekerjaannya tetap berjalan, sementara ada juga orang-orang yang hanya sibuk mengatasi dirinya sendiri. Situasi mendadak, tak diantisipasi dan mengancam jiwa membuat lengkung refleks saraf terpicu berespon mengaktifkan seluruh otot untuk menghadapi bahaya. Refleks memang diciptakan guna menanggulangi diri dari bahaya. Refleks dapat dilatih, sehingga spontanitas terarah. Lepas kerjanya logika membuat saraf bekerja mengikuti arah rangsang listrik dari indera. Begitu terdengar teriakan, terutama tentang ancaman selanjutnya maka kepanikan menjadi makin membuat bingung. Katakanlah teriakan tersebut sebuat aba-aba: ”Lari ke gunung”, maka secara spontan banyak orang mengambil langkah ini. Demikian maka setiap ada dominasi baik suara maupun gerombolan orang, akan diikuti oleh massa tanpa pikir.

Sebutannya indah, ujudnya amat menakutkan dengan bayangan air laut menggunung menghempas daratan beserta apa saja yang dilaluinya. Istilah tsunami berasal dari bahasa Jepang, Tsu artinya pelabuhan dan Nami artinya gelombang laut. Dari kisah inilah muncul istilah tsunami. Awalnya tsunami berarti gelombang laut yang menghantam pelabuhan (Kompas Cybermedia). Tsunami memang dapat terjadi bila ada gempa bumi. Sebagai manusia awam banyak orang berpikir tsunami akan terjadi ketika ada gempa bumi, sesungguhnya tsunami hanya akan terjadi jika pusat gempa berada di dasar laut dengan kedalaman kurang dari 60 km.

CEMAS DAN BINGUNG
Sesaat setelah tahu diri selamat, terjadi kecemasan dan kebingungan. Anak-anak sekolah menangis berteriak-teriak, seorang perawat terlihat serba salah gelisah menangis dan bingung. Cemas dan bingung dipicu oleh ketidakmampuan berpikir selanjutnya, juga oleh ketidakpastian kabar orang-orang yang dicintai, keraguan arah membawa diri apakah pulang atau mengungsi, dimana tempat mengungsi, naik apa pulang, dengan apa mengirim atau mencari berita, dan banyak lagi pertanyaan lalu lalang dalam pikiran. Masa cemas dan bingung ini sering dimanfaatkan oleh mereka yang berpikiran licin untuk menangguk keuntungan bagi diri sendiri dengan merugikan orang lain, seperti menjarah barang, menambah kebingungan orang yang cenderung berbakat bingung, memanfaatkan ketidakberdayaan.

PANIK
Terlihat dalam berita televisi begitu terjadi gempa, orang menjadi hiruk pikuk tak peduli apapun segera keluar dari gedung. Tak pelak lagi, itu juga yang dilakukan para pekerja kesehatan di rumah sakit. Kepanikan bahkan sempat menimbulkan kemarahan dan nasib tak berdaya ketika banyak orang terkunci dalam ruang terali besi di sebuah rumah sakit. Rupanya pemegang kunci hengkang sampai lupa akan tanggung jawab kerjanya diruangan dan meninggalkan orang banyak dalam keterkurungan. Panik juga membuat orang bertindak otomatis tanpa pikir. Otak berhenti sejenak dari logika, refleks bekerja secara spontan. Terlihat juga petugas rumah sakit yang 74
WARTA BEA CUKAI EDISI 389 APRIL 2007

APA YANG TERJADI PASKA BENCANA
1. Tak seorang pun pernah menyangka bahwa dirinya akan mengalami bencana, hampir semua orang tak pernah menyiapkan diri menghadapi bencana. Ketidaksiapan ini memungkinkan kepanikan, kecemasan dan kebingungan berkepanjangan, sehingga menurunkan kemampuan diri untuk berpikir dan bertindak terarah. Bahkan kecemasan berkepanjangan akan menurunkan produktivitas seseorang, artinya kemampuan konsentrasi dan atensi

FOTO : ISTIMEWA

menurun. Hal ini dapat dialami oleh individu maupun oleh masyarakat. Jadi yang mengalami trauma dapat perorangan ataupun masyarakat. 2. Kebanyakan orang akan mempunyai ikatan kebersamaan sesudah bencana dan dapat saling menolong karena bencana menggugah semangat kebersamaan mereka dalam satu nasib: mengalami bencana. 3. Stres dan duka merupakan reaksi normal pada setiap situasi abnormal. Reaksi emosional dari mereka yang selamat kebanyakan berupa masalah hidup yang telah ada sebelum bencana datang. Ketika bantuan untuk memulihkan masalah emosional akibat bencana datang dari orang asing, sebagian orang akan merasa marah, frustasi, dan makin merasa tidak berdaya, apalagi jika bantuan tidak sesuai dengan budaya yang dianut. 4. Kebanyakan orang tidak merasa membutuhkan pertolongan memulihkan stres dan kecemasan mereka, sehingga seringkali uluran pertolongan terkait pemulihan stres ditolak. Karena itu bantuan psikologik hendaklah disesuaikan dengan budaya masyarakat setempat dan dengan aktif mendorong aktivitas masyarakat sehari-hari. Mendorong kegiatan mereka kembali hanya akan direspon bila disampaikan dengan tulus dan ikhlas, serta sesuai dengan fase bencana itu sendiri. Pemulihan ditentukan juga oleh dukungan sistem sosial masyarakat itu sendiri.

APA YANG DAPAT DILAKUKAN
Banyak yang dapat dilakukan untuk meminimalisasi korban bencana secara fisik, disini kita bicarakan sisi manusia, lebih tepatnya segi psikologiknya. Pelajaran akan bencana dan cara penyelamatan merupakan keterampilan atau setidaknya pengetahuan yang harus dimiliki setiap orang yang tinggal di daerah rawan

bencana seperti Indonesia. Pengetahuan dan keterampilan ini akan menurunkan kecemasan dan kebingungan. Keterampilan dan pengetahuan akan dapat diadopsi oleh sistem refleks terutama jika dipelajari dengan perhatian yang tinggi. Kemampuan diri berenang, menyelinap dari penghalang, melompat jauh, berlari kencang, akan banyak menolong mengasah refleks. Salah satu sekolah di Sumatera Barat, paska bencana telah menggelar simulasi evakuasi murid jika menghadapi gempa. Suatu langkah maju yang patut dikembangkan, bukan hanya evakuasi tetapi juga mengenal gempa, siapa yang dihubungi paska gempa, kemana mencari pertolongan, dan sebagainya. Kepemimpinan untuk mengarahkan massa yang panik harus dimiliki oleh beberapa orang dalam masyarakat. Mengingat massa yang panik akan mudah diarahkan dan diselamatkan oleh orang yang lantang memimpin. Dalam hal bencana pesawat, awak kabin dan pilot merupakan pemimpin yang mengarahkan penumpang yang panik. Tokoh ibu atau ayah (guru) yang matang dapat membantu mengarahkan masyarakat kecil (anak, murid) yang panik. Sifat menolong membangun perasaan kebersamaan dan menyingkirkan ketamakan menguasai ruang dan waktu. Dalam bencana, keikhlasan menolong dapat menumbuhkan harga diri bahwa diri ini cukup berharga untuk orang lain. Rasa berharga akan membuat keseimbangan baru dari rasa ketidakberdayaan akibat bencana. Dengan demikian rasa cemas berkepanjangan atau depresi dapat dihindari. Berikan bantuan untuk korban bencana sesuai dengan budaya dan kebiasaan mereka. Bantuan makanan misalnya akan lebih sesuai jika makanan lokal, juga pakaian. Membantu korban tsunami Aceh dengan pakaian lengan pendek untuk perempuan tentu saja sulit diterima.
EDISI 389 APRIL 2007 WARTA BEA CUKAI

75

PROFIL

Oza Olavia, S.Si, Apt, M.Si.
Kepala Bidang Informasi Kepabeanan dan Cukai Kanwil XIII DJBC Bali, NTB dan NTT

“Tekuni Pekerjaan yang Kita Pilih...”
Diusianya yang terbilang cukup muda, Oza Olavia sudah masuk dalam jajaran pejabat eselon III di Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC). Berarti saat ini tercatat baru empat orang pegawai perempuan menjadi pejabat eselon III. Menurut Oza, demikian ia dipanggil, SDM perempuan di DJBC sudah menempati berbagai level, tinggal bagaimana peluang dan kesempatan yang sama diberikan pada mereka.

S

ebagai pegawai perempuan di lingkungan birokrasi terutama di Bea dan Cukai yang lebih dominan kaum laki-lakinya, Oza bukanlah tipe orang yang membedabedakan kemampuan dibidang pekerjaan antara lakilaki dan perempuan. Karena menurutnya jika orang lain terutama laki-laki bisa melakukan suatu pekerjaan, ia harus mencoba untuk bisa melakukannya juga. Sepanjang hal itu normal dan bisa bersaing, maka ia akan kerjakan karena tidak ada alasan untuk membeda-bedakan. Mengenai populasi perempuan di Bea dan Cukai yang dinilainya masih sedikit dibandingkan laki-laki, menurutnya mungkin ada alasan tersendiri dari departemen sehingga dibatasi jumlahnya, seperti di pendidikan program diploma jurusan Bea Cukai sudah tidak lagi menerima mahasiswa perempuan. Meski perempuan masih sedikit jumlahnya namun dibidang pekerjaan perempuan sudah banyak berperan. Dikarenakan bidang pekerjaan di Bea dan Cukai lebih banyak di lapangan, mungkin saja pimpinan di Bea dan Cukai menilai bahwa pekerjaan itu tidak cocok untuk perempuan, apalagi bila melihat dari nilai-nilai ketimuran, demikian menurutnya. “Tetapi sebenarnya paradigma seperti itu sudah mulai berubah karena menurut saya jika seseorang tidak pernah coba ditempatkan, kita mana akan tahu seseorang itu mampu atau tidak ? Sebenarnya di bea cukai, perempuan bisa ditempatkan dimana saja. Mungkin dibeberapa bidang tertentu tidak memungkinkan perempuan bertugas di sana, seperti patroli, tetapi itu kembali lagi ke budaya kita. Untuk ke depan saya berharap agar perempuan lebih banyak lagi diberikan kesempatan untuk promosi di posisi yang strategis,” ujar Oza.

DIDIKAN MANDIRI SEJAK KECIL
Anak ketiga dari delapan bersaudara kelahiran Bukit Tinggi pada 8 Januari 1971 ini mengaku menjalani masa kecil layaknya anak seusianya ketika itu yang senang bermain bersama temantemannya. Saat berada di rumah Oza bersama saudarasaudaranya senang melakukan pekerjaan rumah seperti membersihkan rumah dan memasak. Memang, sikap mandiri ini diajarkan kedua orang tuanya, Haji Mudahar YS dan Hajjah Adifah, yang kedua-duanya merupakan pensiunan pegawai di Pemda Agam, Sumatera Barat. Mereka berdelapan diajarkan untuk menjalankan tugas di rumah selama kedua orang tuanya bekerja. “Kami masingmasing diberi tugas. Karena terbiasa menjalankan tugas sendiri maka tidak heran kalau saya merasakan punya pembantu hanya sampai kelas 6 SD. Bukannya pembantu tidak mau bekerja dengan kami, tetapi karena kami sudah terbiasa berbagi tugas bersama,” kenang Oza. Sekolah SD sampai SMA dilalui Oza di kota kelahirannya. Baru pada saat meneruskan kuliah, Oza meninggalkan tanah kelahirannya menuju Kota Padang dan berkuliah di Universitas Andalas Padang. Diakuinya prestasi selama ia sekolah sampai tamat SMA lumayan-lumayan saja namun selalu mendapat ranking. 76
WARTA BEA CUKAI EDISI 389 APRIL 2007

Mengutamakan pendidikan adalah prinsip kedua orang tuanya dalam membesarkan kedelapan anaknya. Menurut Oza, pada prinsipnya orang tuanya menginginkan semua anaknya bisa kuliah, bagaimanapun caranya. Dan tidak pernah memaksa anak-anaknya untuk memilih bidang pendidikan yang akan dijalani yang terpenting adalah mereka mau terus belajar. “Pokoknya mau tidak mau harus selesai S-1, itu target orang tua kami, ketika itu. Mungkin itulah yang diwariskan kepada anakanaknya. Alhamdulillah kini kami berdelapan sudah selesai kuliah dan semuanya dari universitas negeri.” Farmasi, bidang yang dipilihnya saat dibangku kuliah semula bukan bidang yang diinginkannya. Orang tua, terutama ibunya menginginkan Oza kuliah di fakultas kedokteran, sedangkan Oza sendiri lebih menyukai bidang sosial, karena diakuinya ia termasuk orang yang penjijik, sehingga tidak berminat masuk kedokteran. Salah satu kakaknya yang mahasiswa kimia ketika itu menyarankan ia masuk ke bidang farmasi, mengingat lingkungan teman-teman kakaknya banyak yang mahasiswa farmasi. Oza pun mengikuti saran kakaknya dan ia memilih jurusan farmasi. Tahun 1995, Oza menyelesaikan sarjana farmasi. Kesempatan mengikuti program profesi apoteker pun tidak disiasiakannya. Selama 11 bulan ia mengikuti program tersebut. Menjelang kelulusan dari program apoteker yang juga diambilnya di Universitas Andalas, Oza mendapat informasi dari kawannya bahwa Departemen Keuangan (Depkeu) sedang membuka lowongan untuk sarjana. Kawannya menganjurkan untuk mencoba mendaftar lowongan tersebut dengan tenggat waktu pengiriman berkas lamaran sudah memasuki hari terakhir. Setelah menunggu beberapa waktu akhirnya ia mendapat panggilan untuk mengikuti ujian masuk Depkeu di Padang dan kebetulan pula saat itu Oza telah lulus dari program apotekernya. Dinyatakan lulus dan diterima sebagai calon pegawai negeri di Depkeu, Oza kemudian di panggil ke Jakarta (Kantor Pusat DJBC) untuk mengikuti pendidikan dan latihan (diklat) di Pusdiklat tepatnya pada 1996. Sebelum diklat, Oza sempat beberapa bulan ditempatkan di Direktorat Cukai yang saat itu UU Cukai baru saja rampung dan mulai berlaku tahun 1997. Beberapa bulan di cukai kemudian diklat DPT III dan Samapta.

BANYAK KESAN DI BPIB JAKARTA
Selesai diklat, Oza kemudian ditempatkan di Direktorat Pabean (sekarang Direktorat Teknis Kepabeanan) hanya beberapa bulan saja, karena setelah itu ia ditempatkan di Balai Pengujian Impor Barang (BPIB) Bea dan Cukai Jakarta di Cempaka Putih. Di tempat inilah Oza memperoleh promosi eselon IV sebagai Kepala Seksi Pelayanan Teknis. Bidang pekerjaan Oza selama di BPIB bukanlah hal asing baginya karena sejak mahasiswa selalu berhubungan dengan laboratorium sehingga sebagai sarjana farmasi ia bisa menerapkan ilmunya saat kuliah dulu. Ia pun merasa beruntung bisa ditempatkan di BPIB Jakarta karena tidak semua temantemannya yang basic-nya esakta bisa ditempatkan pertama kali

penugasannya di laboratorium. “Saya rasa penempatan di BPIB merupakan tempat yang tepat sesuai dengan bidang, banyak sarjana farmasi atau kimia tidak ditempatkan disana. Saya pada waktu itu ditempatkan berdua dengan Ibu Eha, baru beberapa bulan kemudian ada tambahan sarjana. Saya beruntung karena bisa memanfaatkan basic science disana untuk melakukan pengujian, pokoknya learning by doing. Sambil belajar, ada sample dikerjakan lalu kita belajar lagi, saya merasa senang pertama kali ditempatkan disana,” ujarnya. Jujur diakuinya, sewaktu pertama kali masuk ke BPIB ia langsung diminta menjalankan tugas tanpa training sebelumnya. Pada saat itu kondisi lab belum seperti sekarang, dimana alat, standar dan metoda uji belum lengkap. Hal itu bisa dimakluminya karena tenaga di BPIB sangat sedikit saat itu sedangkan beban kerja cukup banyak. Namun beruntung karena pimpinannya ketika itu, Bambang Widyastata mensuport-nya sehingga kerjasama antara pimpinan dan staf di BPIB bisa terjalin baik dan pelaksanaan tugas lab bisa berjalan lancar. “Pak Ganot memberi dukungan yang besar dan kami mulai menata lab pada masa beliau memimpin. Kemudian dimulailah berbagai pelatihan, penyiapan dokumen, penataan dan akhirnya berkat bantuan berbagai pihak termasuk mantan-mantan pegawai lab dan kerja keras pegawai BPIB saat itu upaya mendapatkan ISO (International Organization for Standardization) bisa terwujud. Lucunya ketika itu yang menjadi manajer di lab semuanya perempuan,” kenang Oza. Meskipun berupa lab, tetapi menyangkut manajemen administrasi dan teknis, diakui Oza, BPIB Jakarta saat ini sangat bagus. Dengan pedoman kerja tulis apa yang anda kerjakan dan kerjakan apa yang anda tulis, membuat segala prosedur yang ada di lab menjadi tertata baik, termasuk administrasi, pelaksanaan tugas dan juga pengawasannya yang dilakukan oleh unit luar, sehingga obyektifitasnya tinggi. Jadi antara belajar dan bekerja bisa berlangsung dengan baik, benar dan terstruktur. “Selesai terlibat proses ISO ternyata banyak memberi manfaat khususnya buat saya, dalam bidang pekerjaan saya terbiasa melakukannya secara prosedural dan terstruktur termasuk bagaimana membuat dokumen yang baik dan terstruktur, saya rasa itu sangat berguna dibidang manapun. Nah saat ini saya banyak terlibat dalam pembuatan suatu peraturan dan prosedur, karena pekerjaan saya
EDISI 389 APRIL 2007 WARTA BEA CUKAI

77

PROFIL
DOK. PRIBADI DOK. PRIBADI

SAAT DI BPIB. Kegiatan rutin sehari-hari melakukan pengujian di BPIB Bea dan Cukai Jakarta.

SAAT MENJADI KOMANDAN PASUKAN pada Hari Pabean Sedunia tahun 2007

sebelumnya sudah seperti itu jadi no problem, saya bisa nyambung ke bagian manapun,” kata penyuka berbagai macam bacaan yang diakui hobinya ini mengikuti kebiasaan ayahnya. Oza sejak kecil suka berbagai macam bacaan, ia tidak pilihpilih jenis bacaan, apalagi sekarang dengan kondisi pekerjaan di bea cukai yang dirasanya memang spesifik. Antara membahas cukai atau pabean akan berbeda materinya. Jika tidak mengikutinya, dengan membaca misalnya maka akan tertinggal. “Kalaupun kita tidak ditempatkan di bidang tersebut paling tidak akan memiliki pengetahuan dan jika diajak berbicara mengenai hal yang berkaitan dengan masalah tersebut kita bisa ikut berdiskusi.” Jika ditanya, penempatan tugas yang mana yang membuatnya berkesan, menurut prinsipnya dimanapun ia ditempatkan baginya memberikan kesan tersendiri di masing-masing tempat. Karena memiliki kesempatan paling lama di BPIB, maka tempat itulah termasuk memberikan kesan tersendiri. Di BPIB ia merasa banyak diberi kesempatan untuk mengembangkan BPIB dan kebetulan sekali teman-temannya di BPIB bisa sejalan, sehinga pada akhirnya dapat bersama-sama membangun. Segala daya upaya dan kerjasama dengan Universitas Indonesia dilakukan, mulai dari pelatihan untuk meningkatkan kompetensi staf BPIB dan pengembangan manajemen di BPIB, pengembangan metode pemeriksaan dan pengujian standar termasuk pengembangan infrastruktur fisik laboratorium. Usaha ini membuahkan hasil, BPIB Jakarta dinyatakan memenuhi standar Customs Laboratory Guide WCO dan ISO 17025, tepatnya pada 6 November 2002. BPIB Jakarta meraih akreditasi
DOK. PRIBADI

BERSAMA DIRJEN CCL (Central Customs Laboratorium) saat mengikuti job training mengenai customs analisys training di Jepang tahun 1998.

ISO 17025:1999 (SNI-19-17085-2000) dari Komite Akreditasi Nasional sebagai Laboratorium Penguji. ”Untuk meraih ISO bukanlah kerja ringan waktu itu karena saat itu masih banyak pro dan kontra dan bagaimana caranya kita menjadikan yang kecil untuk mendapat standar mutu pelayanan. Ini baru satu-satunya di Bea dan Cukai. Ini merupakan hasil kerja keras seluruh pegawai BPIB beberapa tahun,” ujar Oza. Oza pun menyampaikan terimakasih atas dukungan dan bantuan dari semua pihak. Tanpa bantuan semua pihak ia rasa tidak bisa sukses seperti saat ini. Itulah hal yang membuatnya terkesan selama menjalankan tugasnya sebagai pegawai bea cukai. Karena bisa meninggalkan satu kenangan yang sampai saat ini masih ia ikuti terus perkembangannya. Harapannya, mudah-mudahan ke depan laboratorium BPIB bisa lebih maju lagi karena menurutnya bagaimanapun Bea dan Cukai tidak lagi hanya berperan sebagai pengumpul penerimaan negara bahkan mungkin akan semakin turun karena perannya lebih ke pelayanan dan pengawasan. Untuk pengawasan maka dibutuhkan instrumen-instrumen atau tools lain untuk pengujian, salah satu instrumennya dengan manfaatkan laboratorium. Menurutnya, di negara luar peran laboratorium sangat tinggi, misalnya di negara Jepang dan kebetulan ia pernah training job selama hampir 6 bulan tepatnya tahun 2000. Apapun pekerjaan di sana akan langsung link dengan laboratoriumnya. Karena itu peranan laboratorium sangat tinggi bahkan setingkat eselon 1. Peran laboratorium akan sangat diperlukan untuk mengetahui jenis barang, pengklasifikasian barang, harga barang, masalah larangan dan pembatasan, barang purbakala, pengambilan keputusan dan lain sebagainya. Ketika WBC menanyakan pemikiran dan masukannya untuk kemajuan laboratorium Bea dan Cukai, ia menekankan bahwa laboratorium bisa dimaksimalkan seoptimal mungkin perannya. Maka itu harapannya untuk ke depan laboratorium tidak hanya setingkat eselon III melainkan bisa menjadi eselon II supaya dapat dibuat bidang-bidang tertentu yang lebih spesifik. Kondisi yang sekarang memang belum spesifik, apalagi pekerjaan BPIB masih banyak yang diambil departemen lain, padahal sebenarnya Bea dan Cukai sendiri bisa memeriksanya. “Diperaturan kita harus lewat Departemen lain padahal Bea dan Cukai sendiri juga bisa. Lalu mengapa harus ke instansi lain padahal kita juga bisa ? Jadi mengapa harus orang luar yang periksa padahal kita juga bisa,” ujarnya. Menurut Oza, SDM yang dimiliki BPIB Jakarta sudah mencukupi khususnya tenaga analisis setingkat SMA dan D3 seperti analisis kimia, analisis tekstil, teknik kimia dan berbagai macam level eksak untuk tingkat SMA dan D3 di BPIB. Sedangkan diakuinya, untuk tingkat sarjana memang masih terbatas sebab rekrutmen tingkat sarjana yang terakhir tahun 1999 hanya 3 orang. Dan pengembangan BPIB ke depan adalah memanfaatkan apa yang telah ada di BPIB Jakarta untuk bisa berperan serta dalam menjalankan tugas Bea dan Cukai, karena dirasakan Oza, keber-

78

WARTA BEA CUKAI

EDISI 389 APRIL 2007

DOK. PRIBADI

adaan laboratorium terutama sebagai instrumen pengawasan dan pelayanan oleh Bea dan Cukai belum optimal dimanfaatkan.

PROMOSI ESELON III
Dari BPIB, Oza dipindahkan ke KPBC Tanjung Priok III sebagai PFPD (Pejabat Fungsional Pemeriksa Dokumen). Selanjutnya dari Priok dipindahkan ke KPBC Kediri sebagai Seksi Kepabeanan IV yang hanya berlangsung satu tahun dan lebih banyak berada di Jakarta karena sering terlibat dengan tim pembuatan Buku Tariff Bea Masuk maupun RUU Peraturan Menteri Keuangan. Bahkan pada saat mendapat promosi eselon III sebagai Kabid IKC (Informasi Kepabeanan dan Cukai) di Kanwil XIII DJBC Bali, NTB dan NTT, Oza sedang tugas kumandah membahas rancangan Peraturan Menteri Keuangan sehubungan dengan adanya amandemen UU Kepabeanan. Ketika ditanya mengenai perasaannya sebagai satu-satunya perempuan pegawai di DJBC yang mendapat promosi eselon III pada tahun ini dan tercatat sebagai pejabat eselon III termuda, ia mengaku senang dan kepercayaan itu merupakan amanah dan bagian dari tanggung jawabnya. Sungguh diakuinya ia tidak mengetahui alasan mengapa dirinya dipercaya menjadi pejabat eselon III. Namun apapun alasannya, ia harus dapat memberikan sesuatu untuk instansi tempatnya mengabdi. “Dengan cara bagaimanapun, mungkin ada hal-hal yang perlu saya kerjakan. Perubahan kedepan akan saya usahakan nanti, setidaknya memberikan suatu warna atau suatu masukan untuk DJBC dimasa mendatang. Insya allah.” “IKC, bidang baru bagi saya. Namun begitu Insya allah saya siap. IKC di tingkat wilayah merupakan satu bidang baru jadi otomatis semuanya sama-sama belajar karena memang kita lihat belum lengkap struktur organisasinya sampai ke bawah juga belum lengkap dan petunjuk pelaksanaannya juga belum. Nanti kalau sudah ada juklaknya kita lihat job-nya apa yang akan perlu kita sediakan dan kita kembangkan,” ujar Oza yang mengisi waktu luang di luar kerja dengan kegiatan yang berhubungan dengan apoteker dan usaha lainnya bersama teman-temannya. Dalam benak wanita yang menyukai olah raga santai seperti tenis meja dan jogging ini, IKC bisa menjadi pusat informasi data di wilayah, supaya jika diperlukan suatu masukan dari wilayah harusnya bisa mengambil data yang sudah dianalisa, sehingga data yang akan dikeluarkan sebagai produknya wilayah akan lebih baik dan otomatis di Kantor Pusat untuk data yang masuk akan jauh lebih baik. Dengan ini akan lebih meningkatkan peranan informasi kepabeanan dan cukai di wilayah untuk mendukung kegiatan Bea dan Cukai secara keseluruhan.

POTENSI PEREMPUAN DI BEA DAN CUKAI
Kesempatan yang diberikan bagi pegawai perempuan di Bea
DOK. PRIBADI

MELUANGKAN WAKTU dengan berlibur setelah mengikuti training customs analisys training di Jepang.

dan Cukai, menurut penilaiannya di bidang tertentu memang telah ada yang diberi kesempatan, namun masih juga ada bidang yang didominasi laki-laki. Jujur ia melihat pekerjaan yang dominan lebih banyak yang diambil laki-laki, namun secara keseluruhan kenyataannya memang laki-laki lebih banyak berperan karena jumlah perempuan di DJBC sedikit sehingga tidak terlihat, padahal ada beberapa posisi yang telah menempatkan perempuan. Hanya saja, lanjutnya, posisi strategis belum banyak pegawai perempuan MESKI PEREMPUAN masih sedikit jumlahnya dibidang pekerjaan namun ditempatkan. “Saya sendiri belum sudah banyak berperan. tahu alasannya apa ? Apa karena belum cocok atau ada alasan lain saya tidak tahu. Di luar konteks gender atau bukan saya tidak tahu, tetapi karena belum dicoba bagaimana kita tahu,” ujar lulusan S-2 dari Universitas Indonesia yang mengambil program material science lulusan tahun 2005 dan berkeinginan untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang S-3. Menurutnya dari segi kemampuan tidak ada perbedaan antara laki-laki dan perempuan. Masalah gender saat ini bukan masalah yang menarik lagi untuk dibicarakan, tetapi memang akan tetap ada isu gender selama dunia ini masih ada karena memang manusia diciptakan dengan jenis yang berbeda. Tetapi kalau membicarakan masalah gender, misalnya perempuan tidak cocok untuk suatu bidang tertentu, rasanya itu bukan lagi jamannya. Dicontohkannya, saat ini perempuan telah bekerja diberbagai bidang, misalnya, Menteri Keuangan era sekarang juga perempuan dan Indonesia pernah dipimpin seorang presiden perempuan. Jadi menurutnya Bea dan Cukai kedepan akan lebih maju, karena sudah banyak petinggi-petinggi di instansi ini melihat bahwa sebagian perempuan sudah bisa berpotensi dan bisa menghasilkan suatu masukan, hanya saja jumlahnya perlu ditingkatkan lagi karena saat ini jumlah antara laki-laki dan perempuan yang mendapat posisi strategis tidak sebanding. SDM perempuan di DJBC menurutnya sudah menempati berbagai posisi, baik level pelaksana maupun pejabat, tinggal bagaimana bisa lebih memberikan peluang dan kesempatan yang sama, baik dalam hal pekerjaan dan pendidikan. Dirasakannya bahwa diklat saat ini masih dibatasi kesempatannya untuk perempuan, misalnya dalam pendidikan dan pekerjaan masih didominasi laki-laki, mestinya diberikan kesempatan yang sama. sepanjang perempuan bisa dan mampu. “Terkadang ada yang siap tetapi sebenarnya tidak mampu, kemudian ada yang mampu karena ada alasan yang lain sehingga tidak siap. “Harapan saya kaum perempuan diberi kesempatan yang lebih bagus disemua bidang untuk bisa bersaing dan bersamasama membangun Bea dan Cukai, namun disisi lain perempuan jangan berhenti belajar berbagai hal dan mencari pengalaman ataupun menggali pengalaman kebeacukaian dari berbagai pihak,” begitu harap pegawai yang bermotto hidup bekerja dengan peraturan dan jalur yang ada sesuai keinginan hati nurani. Baginya, menjadi wanita karir merupakan suatu pilihan dan hidup juga merupakan suatu pilihan karena itu karir yang sudah dipilih haruslah ditekuni, sebab kesempatan wanita saat ini sudah sangat luas. Jika pada akhirnya harus menghadapi tantangan maka itu sudah merupakan resiko. ris
EDISI 389 APRIL 2007 WARTA BEA CUKAI

79

APA KATA MEREKA
○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○

“Sok Akrab Aja... ”
Saat ditemui WBC usai pagelaran wayang gokil, Dave Hendrick, memberikan komentarnya terhadap pertunjukkan wayang tersebut. “Wayang gokil ini seru, karena konsepnya beda dan gokil, sayangnya membernya (para pemainnyared) tidak semua hadir. Kalau hadir kan jadi lebih terasa serunya,” imbuhnya. Saat ini, Dave yang masih aktif sebagai penyiar di salah satu radio di Jakarta, tengah dikontrak secara ekseklusif di salah satu televisi swasta. Dengan gayanya yang ‘khas’, cowok berperawakan sedang dan berkulit putih ini memandu acara kuis rejeki satu milyar dan espresso prime time, di stasiun televisi swasta tersebut. “Untuk yang di radio (sebagai penyiar-red) itu harus gue pertahankan karena itu nafkah batin gue,” katanya. Walaupun pernah mencoba bermain sinetron di awal karirnya, Dave mengaku tidak memiliki keinginan menekuni sinetron yang dianggap bukan dunianya. Ia sudah menetapkan keinginannya untuk professional di bidang penyiar, presenter dan MC. Ketika ditanya tentang kesannya pada petugas bea cukai di bandara, Dave yang malam itu ditemani oleh asistennya mengaku tidak pernah mendapat masalah saat ia berhadapan dengan petugas bea cukai di bandara seperti di Soekarno Hatta. Selama ini petugas melayani dengan penuh senyum dan ramah tamah. Pada dasarnya, Dave memang tidak pernah membawa barang-barang yang berlebihan sepulangnya dari luar negeri. Berbeda dengan teman-temannya yang mostly perempuan, yang kerap membeli banyak barang. Ia sering mendengar cerita dan keluhan dari teman-temannya yang barangnya sering ditahan oleh petugas bea cukai dan diperiksa secara berlebihan. “Mungkin karena aku pasang bemper duluan kali ya, aku pasang senyum duluan dan ramah pada petugas. Tapi sampai saat ini semuanya baik-baik aja, nggak pernah dapat pengalaman yang gak enak,” tambahnya. Diakui atau tidak, Dave merasa hal itu disebabkan dirinya dianggap selebritis sehingga hal itu mempermudahnya saat berhadapan dengan petugas. “Karena mereka (petugas-red) kenal gue, jadi gue sok akrab aja...” katanya. Ia yang kerap berpergian ke luar negeri bersama teman-temannya juga mengaku tidak tahu tugas dan fungsi Bea dan Cukai. “Sepanjang yang gue tahu, Bea dan Cukai adalah suatu badan yang mengontrol keluar masuknya barang. Betul gak? (diam sejenak) Emang tugas sebenarnya apaan?” ujarnya balik bertanya seraya terkekeh. Namun demikian, Dave menyarankan agar petugas bea cukai memberikan perlakuan yang sama pada setiap penumpang, tidak membeda-bedakan. Ia bercerita bahwa petugas yang memeriksanya selalu dengan wajah yang ramah. Tetapi ketika petugas itu memeriksa orang lain (yang kebetulan berada di belakang Dave-red), petugas langsung memasang wajah yang kurang menyenangkan. “Padahal petugasnya sama dengan yang melayani gue, tapi karena mungkin petugasnya kenal gue kali ya jadi mau gak mau dia ramah. Sementara dengan orang yang dia gak kenal mukanya jadi agak sedikit kenceng. Seharusnya dia memberikan perlakuan yang sama kepada semua orang, kenal atau gak kenal,” saran Dave yang biasanya pergi keluar negeri sekitar setahun 2 kali dalam rangka liburan. ifa

Dave Hendrick

“Punya Cost Khusus... ”
Lazimnya orang mengenal wayang sebagai salah satu kesenian yang dimiliki bangsa Indonesia. Ada wayang golek, wayang kulit, wayang orang dan… wayang gokil, hah? Anda pasti mengernyitkan dahi mendengar nama wayang gokil. Wayang gokil merupakan pertunjukkan wayang kulit yang dikemas mengikuti trend masa kini, dengan menggunakan bahasa gaul, theme song yang lagi trend saat ini dan ceritanya pun agak melenceng dari pakem yang ada. Adalah sekelompok selebritis muda Jakarta yang ingin menyelamatkan warisan leluhur bangsa. Dengan mengambil lakon Ramayana, awal Januari lalu (10/1), bertempat di Museum Wayang, Jakarta, digelar pertunjukkan wayang gokil. Tidak seperti pertunjukkan wayang kulit pada umumnya, tugas dalang dalam pagelaran wayang gokil hanyalah menggerakkan wayangwayang tersebut. Sementara dialog cerita menggunakan alih suara (dubbing) yang disuarakan oleh beberapa artis seperti Dian Sastro (sebagai Shinta), Farhan (Rahwana), Indra Bekti (Narator) dan Lembu Club Eighties (Rama). Saat ditemui WBC sebelum pertunjukkan dimulai, Lembu, Vokalis grup band Club Eighties mengatakan, wayang gokil digelar karena melihat semakin hari pertunjukkan wayang kurang diminati, terutama oleh kaum muda. Ada beberapa hal yang menyebabkan itu terjadi, pertama karena bahasanya tidak dimengerti (bahasa Jawa-red), musiknya kurang diminati (gamelan dan sinden-red), serta ceritanya yang dianggap monoton. “Kedepannya, bukan hanya cerita legenda aja yang ingin gue tampilkan tapi gue ingin memasukkan pesan-pesan moral seperti anti narkoba dan sebagainya kedalam pertunjukkan wayang gokil ini. Jadi wayang gokil ini memang gokil (gila-red), dalam arti gue bisa masukin apa aja disini, tanpa merubah struktur cerita aslinya,” kata Lembu yang berharap wayang gokil ini bisa terus berkembang. Saat ditanya mengenai kesannya pada petugas bea cukai di bandara internasional seperti di Soekarno Hatta, Lembu mengaku sudah terbiasa berurusan dengan petugas bea cukai yang menurutnya ujung-ujungnya adalah uang dan hal itu sudah menjadi rahasia umum. Oleh sebab itu terkadang ia merasa khawatir kalau membawa banyak barang sepulangnya dari luar negeri. Ia sendiri pernah mengalami kekecewaan saat mengimpor spare part untuk moge (motor gede-red) miliknya. Alih-alih ingin menghemat dengan mengimpor sendiri, ternyata cost yang harus ia bayar sama dengan jika membeli lewat dealer. Pasalnya, banyak prosedur dan meja yang harus ia lewati. Ia sendiri tidak tahu apakah itu memang suatu permainan atau jatah tiap instansi yang ada di bandara. “Jadi waktu itu gue kena denda ini, musti bayar itu, musti tunggu seminggu lagi, ribet deh. Tapi karena gue butuh spare part itu akhirnya gue pasrah, gue sendiri gak tau prosedur yang sebenarnya itu seperti apa,” katanya. Tak hanya itu, Lembu yang juga menjabat sebagai Art Director disebuah agency advertising, kerap mengalami kejadian yang kurang menyenangkan saat membawa banyak tape yang berisi dubb iklan untuk ditransfer ke format layar bioskop yang biasanya ia lakukan di Hongkong atau Australia. “Kalau tidak ada surat jalan dari PH (production house-red) tempat iklan tersebut dibuat, biasanya tape tersebut ditahan oleh petugas. Padahal iklan itu kejar tayang, harus segera beredar di seluruh bioskop di Indonesia. Makanya kita punya cost khusus untuk mengantisipasi kalau ada apa-apa di bandara,” tuturnya. Ia sendiri mengaku kalau tindakannya tersebut seperti mensupport korupsi. Tapi hal itu terpaksa dilakukan mengingat ia butuh waktu yang cepat. Untuk itu ia berharap agar ada koordinasi dan prosedur yang jelas di setiap instansi yang ada di bandara. “Jangan karena memiliki wewenang di bandara, lantas petugas dengan seenaknya mempermainkan harga, mempersulit prosedur dan sebagainya,” pintanya. ifa

Lembu, Club Eighties

80

WARTA BEA CUKAI

EDISI 389 APRIL 2007

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->