PRAKTIS

Komponen Darah untuk Transfusi
ISSN: 0125-913 X I 175 / vol.37 no. 2 / Maret - April 2010

146

http.//www.kalbe.co.id/cdk

Efek Pemberian Cairan RL dibandingkan NaCl 0,9% terhadap Keseimbangan Asam-Basa (Stewart Approach) pada Sectio Caesaria

HASIL PENELITIAN

Endometriosis Suatu penyakit yang dewasa ini paling banyak menarik perhatian para ahli di dunia.

TINJAUAN PUSTAKA

Dr. Suryono Slamet Iman Santoso, SpOG, Hidup Jangan Terlalu Ngoyo

PROFIL

CDK Maret April DR.indd 81

2/23/2010 4:13:48 AM

CDK Maret April DR.indd 82

2/23/2010 4:13:58 AM

Petunjuk untuk Penulis

CDK

menerima naskah yang membahas berbagai aspek kesehatan, kedokteran dan farmasi, bisa berupa tinjauan kepustakaan ataupun hasil penelitian di bidang-bidang tersebut, termasuk laporan kasus. Naskah yang dikirimkan kepada Redaksi adalah naskah yang khusus untuk diterbitkan oleh CDK; bila pernah dibahas atau dibacakan dalam suatu pertemuan ilmiah, hendaknya diberi keterangan mengenai nama, tempat dan saat berlangsungnya pertemuan tersebut. Naskah ditulis dalam bahasa Indonesia atau Inggris; bila menggunakan bahasa Indonesia, hendaknya mengikuti kaidah-kaidah bahasa Indonesia yang berlaku. Istilah medis sedapat mungkin menggunakan istilah bahasa Indonesia yang baku, atau diberi padanannya dalam bahasa Indonesia. Redaksi berhak mengubah susunan bahasa tanpa mengubah isinya. Setiap naskah harus disertai dengan abstrak dalam bahasa Indonesia dan Inggris. Bila tidak ada, Redaksi berhak membuat sendiri abstrak berbahasa Inggris untuk karangan tersebut. Naskah berisi 2000 - 3000 kata ditulis dengan program pengolah kata seperti MS Word, spasi ganda, font Eurostile atau Times New Roman 10 pt. Nama (para) pengarang ditulis lengkap, disertai keterangan lembaga/ fakultas/institut tempat bekerjanya. Tabel/skema/grafik/ilustrasi yang melengkapi naskah dibuat sejelas- jelasnya dan telah dimasukkan dalam program MS Word. Kepustakaan diberi nomor urut sesuai dengan pemunculannya dalam naskah; disusun menurut ketentuan dalam Cummulated Index Medicus dan/atau Uniform Requirement for Manuscripts Submitted to Biomedical Journals (Ann Intern Med 1979; 90 : 95-9). Contoh : 1. Basmajian JV, Kirby RL.Medical Rehabilitation. 1st ed. Baltimore, London: William and Wilkins, 1984; Hal 174-9. 2. Weinstein L, Swartz MN. Pathogenetic properties of invading microorganisms. Dalam: Sodeman WA Jr. Sodeman WA, eds. Pathologic physiology: Mechanism of diseases. Philadelphia: WB Saunders, 1974 ; 457-72. 3. Sri Oemijati. Masalah dalam pemberantasan filariasis di Indonesia. CDK. 1990; 64: 7-10. Jika pengarang enam orang atau kurang, sebutkan semua; bila tujuh atau lebih, sebutkan hanya tiga yang pertama dan tambahkan dkk. Naskah dikirim ke redaksi dalam bentuk softcopy / CD atau melalui e-mail ke alamat : Redaksi CDK Jl. Letjen Suprapto Kav. 4 Cempaka Putih, Jakarta 10510 E-mail: cdk.redaksi@yahoo.co.id Tlp: (021) 4208171. Fax: (021) 42873685

DAFTAR ISI
EDITORIAL ENGLISH SUMMARY ARTIKEL Endometriosis Ali Baziad Deteksi Dini Kanker Serviks Melalui Uji Sitologi dan DNA HPV Sinta Sasika Novel, Ratu Safitri, Sukma Nuswantara Efektifitas dan Toksisitas Terapi Radiasi Eksternal pada Kanker Serviks Stadium IIb-III di RS Sanglah Denpasar, Uji Klinik Historical Control I Ketut Suwiyoga, IGN Dharma Putra Profil Operasi Seksio Saesaria di SMF Obstetri & Ginekologi RSUP Sanglah Denpasar, Bali Tahun 2001 dan 2006 Harry K Gondo, Kadek Sugiharta Efek Pemberian Cairan RL dibandingkan NaCl 0,9% terhadap Keseimbangan Asam-Basa (Stewart Approach) pada Sectio Caesaria M Mukhlis Rudi P GliSODin Meningkatkan Potensi Sel Punca Post Cesarean Placenta Increta Eddy Suparman BERITA TERKINI AAA: Aspirin Tidak Direkomendasikan Sebagai Pencegahan Primer Kejadian Kardiovaskular Angkak plus Modifikasi Gaya Hidup Sebagai Terapi Alternatif Pasien yang Intoleran terhadap Statin Apakah Semua Antihipertensi Golongan ARB Bermanfaat Melindungi Ginjal? FDA Menyetujui Colesevelam Sebagai Terapi Bagi Anak-Anak Hiperkolesterolemia Fibrosis Hati pada Pasien HIV Positif dengan Populasi Umum Memadukan Layanan TB, HIV dan Pengguna Narkoba Suntikan Menunda Mengobati Infeksi Menular Seksual Sering Dianggap Tidak Berisiko oleh Pasien Merkuri di Dalam Ikan Terkait dengan Tekanan Darah Tinggi Obat Baru Memberi Harapan dalam Melawan Hipertensi yang Sulit Diatasi Omega 3 dan Glukosamin Baik untuk Kesehatan Sendi Pasca Imunisasi Tidak Perlu Parasetamol Polusi Udara Penyebab Usus Buntu Respon Gen IL-28 Terhadap Pengobatan Berbasis Interferon untuk Hepatitis C Kronis Rosuvastatin Sebagai Terapi Bagi Pasien Pediatri dengan Hiperkolesterolemia Familial Testosterone Deficiency Syndrome pada Pria Manfaat Zinc pada Pnemonia Atorvastatin 80 mg Pada Pasien Pasca SKA Mengurangi Kejadian Iskemik dan Stroke Untuk Pasien STEMI Clopidogrel 600 mg Loading Dose Sebelum PCI Lebih Baik dibandingkan Dosis 300 mg. PRAKTIS PROFIL INFO PRODUK GERAI RPPIK 84 86

87

90

95

99

104 109 112

115

118 121 123 124 125 126 128 129 130 131 132 134 135 136 137 139 143 146 150 153 154 158

Mengingat saat ini CDK sudah dapat diakses lewat internet (online) maka (para) penulis hendaknya menyadari bahwa makalah yang diterbitkan juga akan dapat lebih mudah dimanfaatkan oleh lingkungan yang lebih luas. Korespondensi selanjutnya akan dilakukan melalui e-mail; oleh karena itu untuk keperluan tersebut tentukan contact person lengkap dengan alamat e-mailnya.

Tulisan dalam majalah ini merupakan pandangan/pendapat masing-masing penulis dan tidak selalu merupakan pandangan atau kebijakan instansi/lembaga tempat kerja si penulis.

CDK 175 / vol.37 no. 2 / Maret - April 2010

83

CDK Maret April DR.indd 83

2/23/2010 4:14:00 AM

Editorial
KANKER serviks merupakan salah satu kanker ganas tersering di kalangan perempuan; selain kanker payudara. Dan masalah yang selalu mengemuka dalam penanganan kanker pada umumnya ialah deteksi dini; deteksi dini penting agar kasus bisa ditangani secepat mungkin dan dengan demikian memperbaiki prognosis. Artikel di edisi ini antara lain membahas beberapa aspek diagnostik dan terapi kanker serviks, dilengkapi dengan beberapa bahasan lain mengenai sectio caesarea – salah satu tindakan obstetrik yang paling sering dengan indikasi yang beragam. Bahasan lain juga tidak kalah menarik untuk dibaca, semoga bisa memenuhi kebutuhan informasi sejawat akan perkembangan dunia kedokteran, antara lain dapat sejawat baca di rubrik berita terkini. Selamat membaca,

Redaksi

84

CDK 175 / vol.37 no. 2 / Maret - April 2010

CDK Maret April DR.indd 84

2/23/2010 4:14:06 AM

Redaksi Kehormatan
Prof. Drg. Siti Wuryan A Prayitno, SKM, MScD, PhD
Bagian Periodontologi, Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia, Jakarta

Prof. Dr. Abdul Muthalib, SpPD KHOM
Divisi Hematologi Onkologi Medik, Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia/RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo, Jakarta

ISSN: 0125-913 X http://www.kalbe.co.id/cdk Alamat Redaksi Gedung KALBE Jl. Letjen. Suprapto Kav. 4 Cempaka Putih, Jakarta 10510 Tlp: 021-420 3030, 425 5000 Fax: 021-425 0412 E-mail: cdk.redaksi@yahoo.co.id http://twitter.com/CDKMagazine Nomor Ijin 151/SK/DITJEN PPG/STT/1976 Tanggal 3 Juli 1976 Penerbit Kalbe Farma Pencetak Dian Rakyat

Prof. Dr. Djoko Widodo, SpPD-KPTI
Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia/ RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo, Jakarta

Prof. DR. Dr. Charles Surjadi, MPH
Pusat Penelitian Kesehatan Unika Atma Jaya Jakarta

Prof. DR. Dr. H. Azis Rani, SpPD, KGEH
Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia/ RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo, Jakarta

Prof. DR. Dr. Sidartawan Soegondo, SpPD, KEMD, FACE
Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia/ RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo, Jakarta

DR. Dr. Abidin Widjanarko, SpPD-KHOM
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia/RS Kanker Dharmais, Jakarta

DR. Dr. med. Abraham Simatupang, MKes
Bagian Farmakologi, Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Indonesia, Jakarta

Prof. Dr. Sarah S. Waraouw, SpA(K)
Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi, Manado

Prof. DR. Dr. Rully M.A. Roesli, SpPD-KGH
Bagian Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran/RSUP Dr. Hasan Sadikin, Bandung

Dr. Aucky Hinting, PhD, SpAnd
Bagian Biomedik Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga Surabaya

DR. Dr. Yoga Yuniadi, SpJP
Departemen Kardiologi dan Kedokteran Vaskular FKUI/Pusat Jantung Nasional Harapan Kita, Jakarta

Prof. DR. Dra. Arini Setiawati
Bagian Farmakologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta

Prof. Dr. Faisal Yunus, PhD, SpP(K)
Departemen Pulmonologi & Ilmu Kedokteran Respirasi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia/SMF Paru RS Persahabatan, Jakarta

Prof. DR. Dr. Rianto Setiabudy, SpFK

Susunan

Redaksi

Bagian Farmakologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta

Dr. R.M. Nugroho Abikusno, MSc., DrPH
Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti, Jakarta

Prof. DR. Dr. Wimpie Pangkahila, SpAnd, FAACS
Fakultas KedokteranUniversitas Udayana Denpasar, Bali

Ketua Pengarah Dr. Boenjamin Setiawan, PhD Pemimpin Umum Dr. Erik Tapan Ketua Penyunting Dr. Budi Riyanto W. Manajer Bisnis Nofa, S.Si, Apt. Dewan Redaksi Prof. Dr. Sjahbanar Soebianto Zahir, MSc. Dr. Michael Buyung Nugroho Dr. Karta Sadana Dr. Sujitno Fadli Drs. Sie Djohan, Apt. Ferry Sandra, Ph.D. Budhi H. Simon, Ph.D. Tata Usaha Dodi Sumarna
CDK 175 / vol.37 no. 2 / Maret - April 2010

Prof. DR. Dr. Ignatius Riwanto, SpB(K)
Bagian Bedah Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro/RS Dr. Kariadi, Semarang

Dr. Tony Setiabudhi, SpKJ, PhD
Universitas Trisakti/ Pusat Kajian Nasional Masalah Lanjut Usia, Jakarta

Prof. DR. Samsuridjal Djauzi, SpPD, KAI
Sub Dept. Alergi-Imunologi, Dept. Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia/RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo, Jakarta

Dr. Prijo Sidipratomo, SpRad(K)
Departemen Radiologi FKUI/RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo, Jakarta

Prof. DR. Dr. Johan S. Masjhur, SpPD-KEMD, SpKN
Departemen Kedokteran Nuklir Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran/ RSUP Dr. Hasan Sadikin, Bandung

Dr. Hendro Susilo, SpS(K)
Dept. Neurologi Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga/RS Dr. Soetomo, Surabaya

Prof. DR. Dr. Darwin Karyadi, SpGK
Institut Pertanian Bogor, Bogor, Jawa Barat

Dr. Ike Sri Redjeki, SpAn KIC, M.Kes
Bagian Anestesiologi & Reanimasi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran/RSUP Dr. Hasan Sadikin, Bandung

85

CDK Maret April DR.indd 85

2/23/2010 4:14:12 AM

ENGLISH SUMMARY
Result. Pre operative strong ion difference (SID) of RL (38,58 + 2,28) show alkalosis state, while SID of NaCl (37,42 + 1,18) show acidosis. Post operative mean of RL SID (37,79 + 1,18) is more stable than alkalosis NaCl SID (39,67 + 3,10). Conclusion. Administration of RL solution in caesarean section is more beneficial than sodium chloride (NaCl) 0,9% because of lacks of effect on SID acidbase balance shift. Key words. Crystalloid solution, Stewart Acid base balance, sectio caesaria, regional anesthesia. CDK 2010; 104-108

IMAGE BANK

Post Caesarean Placenta Increta
Eddy Suparman
Dept. of Obstetrics and Gynecology, Sam Ratulangi University/General Hospital, Manado, Indonesia

Cytologic and DNA HPV test for Cervical Cancer Early Detection
Sinta Sasika Novel1, Ratu Safitri2, Sukma Nuswantara3
1

tection to prevent transmission, for example through cytology and DNA HPV test. CDK 2010; 90-94

Student in Biology, Faculty of Mathematics

and Natural Sciences, Padjadjaran University, Bandung, Indonesia, 2Lecturer, Dept. of Microbiology, Faculty of Mathematics and Natural Sciences, Padjadjaran University, Bandung, Indonesia. 3Biotech Coordinator, Sandia Biotech Diagnosis Centre, Santosa Bandung International Hospital, Bandung, Indonesia.

Acid-base Balance in Caesarean Section (Stewart Approach)
M Mukhlis Rudi P
Dept. of Anesthesiology & Reanimation, Faculty of Medicne, Jenderal Soedirman University, Prof. DR Margono Soekarjo Regional Hospital, Purwokerto, Central Java, Indonesia

Post partum bleeding is still a major cause of mortality and morbidity during delivery. The incidence is about 5 % in normal delivery, more commonly in primipara. It can occur after placental retention, sub-involution of placenta implantation site and in incision site, lysis of clot and thrombus. This case was primipara, 28 years old, 43-44 weeks of pregnancy, first stage of labor; intrauterine fetal, singleton, alive, cephalic presentation, macrosomia, with decreased of fetal heart sound. The patient had vaginal bleeding 5 days after operation. This case was managed with hysterectomy due to uncontrolled bleeding. Subtotal hysterectomy was chosen to minimize bleeding. The histopathology finding was placental increta. CDK 2010; 112-114

ABSTRACT Cervical cancer has been known to have E6 and E7 carcinogen proteins. Genes E6 and E7 are HPV vectors - the carcinogen protein carrier. This fact opens an opportunity for primary and secondary prevention. The primary prevention is through vaccination to prevent HPV infection, whereas secondary prevention is through various methods of early de-

Background. Administration of crystalloid solution in surgery, especially caesarean section can cause electrolyte imbalance and influence metabolic and healing process. Post operative electrolyte blood level examination is important. Method. A double blind randomized control trial method was done to compare Ringer Lactate or NaCl 0,9% solution for correcting acid base balance (Stewart method).

86

CDK 175 / vol.37 no. 2 / Maret - April 2010

CDK Maret April DR.indd 86

2/23/2010 4:14:14 AM

TINJAUAN PUSTAKA

Endometriosis
Ali Baziad
Departemen Obstetri dan Ginekologi, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta, Indonesia

Endometriosis, suatu penyakit yang dewasa ini paling banyak menarik perhatian para ahli di dunia. Menarik karena penyakit ini dapat menyebabkan seorang perempuan susah mendapatkan keturunan, bahkan dapat menurunkan kualitas hidupnya. Nyeri haid yang disebabkan oleh endometriosis menyebabkan kaum perempuan sulit melakukan kegiatannya sehari-hari. Di Amerika Serikat, nyeri haid dialami oleh 30-50% perempuan usia reproduksi. Sekitar 15 % di antaranya terpaksa kehilangan kesempatan kerja, bahkan tidak dapat masuk sekolah berhari-hari. 25-30 % penyebab infertilitas primer adalah endometriosis. Nyeri haid menjelang atau saat haid merupakan gejala klinis paling utama yang ditemukan pada penderita endometriosis. Dahulu nyeri haid pada remaja dikatakan merupakan hal yang normal dan dianjurkan untuk segera kawin, karena begitu seorang perempuan hamil, maka keluhan nyeri haidnya akan hilang; memang akibat kadar hormon estrogen dan progesteron yang tinggi selama kehamilan, keluhan nyeri haid akan hilang. Namun pendapat tersebut menimbulkan perdebatan karena jika perempuan tersebut tidak hamil, maka penyakit tersebut akan terus berkembang ke stadium yang lebih lanjut, yang pada akhirnya akan sangat sulit mendapatkan anak. Endometriosis disebut juga penyakit misterius, banyak pasien dengan endometriosis, bahkan endometriosis stadium lanjut sekalipun, dapat mendapatkan keturunan, namun banyak juga pasien endometriosis ringan, sangat sulit mendapatkan keturunan; hingga kini penyebab pastinya belum diketahui. Dalam satu hal para ahli semua sepakat, bahwa pertumbuhan endometriosis dipicu oleh hormon steroid, terutama estrogen, sehingga pengobatan medikamentosa bertujuan untuk menekan produksi hormon estrogen, baik yang dihasilkan oleh ovarium maupun yang dihasilkan oleh jaringan lemak perempuan gemuk. Lemak perempuan gemuk dapat menghasilkan estrogen dalam jumlah besar. Endometriosis disebut juga sebagai penyakit ”kanker jinak”, karena penyakit ini dapat menyebar sampai ke paru-paru, otak, diaphragma, usus, kandung kemih dan mata. Bila misalnya seorang perempuan mengeluh sesak nafas sampai batuk darah menjelang atau saat haid, atau sering pingsan, atau kolik usus dan kencing berdarah saat atau menjelang haid perlu dipikirkan adanya endometriosis di organ-organ tersebut. Baku emas diagnosis endometriosis adalah dengan laparoskopi. Alat USG tidak dapat digunakan untuk menCDK 175 / vol.37 no. 2 / Maret - April 2010

diagnosis endometriosis, namun dapat mendeteksi ada tidaknya kista endometriosis. Dengan alat laparoskopi dapat ditentukan stadium endometriosis, mulai yang minimal ringan (stadium 1-II), sedang ( stadium III) atau berat ( stadium IV). Dikatakan stadium berat, bila diketemukan kista endometriosis (kista coklat) uni atau bilateral disertai perlekatan berat. Pengobatan akan sangat tergantung, apakah saat masih remaja, sudah kawin dan ingin anak, sudah kawin belum ingin anak, atau pada usia perimenopause. Selain itu juga sangat tergantung dari stadium endometriosis itu sendiri. Pengobatan dapat secara medikamentosa atau secara pembedahan. Prinsip dasar pengobatan endometriosis adalah, memilih cara pengobatan yang paling efektif dan yang paling kecil angka rekurensinya, karena endometriosis akan terus ada. Oleh karena itu, setelah pengobatan, jangan pernah mengatakan bahwa penyakit tersebut sudah tidak ada lagi. Cukup dikatakan saat ini penyakit sudah tidak terlihat dan kemungkinan kambuh di masa depan tetap ada. Pengobatan medikamentosa yang angka kekambuhannya paling rendah adalah dengan pemberian Gn-RH agonis, maupun antagonis. Kedua jenis obat ini menekan produksi hormon estrogen di ovarium saja. Dewasa ini mulai banyak digunakan obat penghambat enzim aromatase (aromatase inhibitor). Obat jenis ini selain menghambat pembentukan estrogen di ovarium, juga menghambat pembentukan estrogen di jaringan lemak. Pengaruh lingkungan terhadap endometriosis Endometriosis banyak ditemukan pada perempuan di kotakota besar, yang tingkat polusinya tinggi. Para ahli menduga bahwa beberapa senyawa kimia seperti dioksin, DDT atau merkuri berpengaruh terhadap timbulnya endometriosis Diagnosis endometriosis dan penatalaksanaannya Perlu dilakukan anamnesis yang cermat. Yang paling khas adalah pasien mengeluh nyeri haid, yaitu menjelang haid dan puncaknya pada hari pertama dan ke dua siklus haid, kadang-kadang disertai perdarahan abnormal, mual dan muntah. Pada umumnya pasien sampai menggunakan obat penghilang rasa sakit. Pasien yang sudah menikah tidak jarang mengeluh nyeri saat sanggama. Pada pasangan suami istri yang sulit mendapatkan anak (infertilitas) perlu dipikirkan adanya endometriosis. Pada 50 % pasutri infertil ditemukan endometriosis dan pada 70-80% perempuan dengan infertilitas tidak terjelaskan, ditemukan endometriosis.

87

CDK Maret April DR.indd 87

2/23/2010 4:14:16 AM

TINJAUAN PUSTAKA
Pada pemeriksaan ginekologik, kadang-kadang teraba nodul-nodul di kavum Douglasi, yang disertai nyeri. Perlu dicari adanya massa di kedua aneksa (tumor ovarium). Tidak jarang ditemukan lesi coklat atau merah di vagina dan serviks. Nyeri siklik saat buang air besar perlu dipikirkan disebabkan endometriosis di usus. Pada nyeri siklik suprapubik dan saat berkemih, dan air seni bercampur darah, perlu dipikirkan kemungkinan endometriosis di vesika urinaria. Pada nyeri kepala hebat, yang kadang-kadang disertai pingsan, mungkin endometriosisnya ada di otak; nyeri dada, sesak dan kadang-kadang disertai batuk darah, kemungkinan sangat besar sekali endometriosisnya ada di paru-paru. Perlu ditekankan, bahwa semua rasa nyeri, bila munculnya menjelang, pada hari pertama dan ke dua puncak menstruasi, perlu dicurigai disebabkan endometriosis. Dengan USG atau CT Scan dapat terlihat adanya massa kistik di satu atau ke dua ovarium yang mengarah ke kista coklat, atau ditemukan bercak-bercak endometriosis dalam miometrium (adenomiosis). Pemeriksaan serologik terhadap marker endometriosis, seperti CA 125 masih mengecewakan, karena sensitivitasnya hanya 60 % dan spesifisitas 90 %. Pada kecurigaan endometriosis, laparoskopi merupakan pemeriksaan utama dan pasti. Dengan laparoskopi akan tampak semua jenis lesi endometriosis dan sekaligus dapat ditentukan stadiumnya. Berbagai jenis lesi endometriosis dapat dilihat pada Gambar 1.

Gambar 1. Berbagai jenis lesi endometriosis
FOTO-FOTO: IMAGE BANK

1.a. Lesi Endometriosis bentuk tonjolan, warna keputihan/kuning

1.b. Lesi endometriosis yang hipervaskularisasi

1.c. Lesi endometriosis berbentuk papil

1.d. Lesi endometriosis yang dikelilingi oleh nodul fibrotik dan daerah seperti parut

88

CDK 175 / vol.37 no. 2 / Maret - April 2010

CDK Maret April DR.indd 88

2/23/2010 4:14:18 AM

CDK 175 / vol.37 no. 2 / Maret - April 2010

89

CDK Maret April DR.indd 89

2/23/2010 4:14:21 AM

TINJAUAN PUSTAKA
Bila tidak tersedia peralatan laparoskopi, cara sederhana adalah uji fungsional dengan Gn-RH analog. Gn-RH analog diberikan satu kali saja pada saat haid dan setelah itu dinilai pada saat berikutnya apakah keluhan menghilang atau tidak. Andaikata keluhan menghilang, maka kemungkinan besar (70-80 %) pasien tersebut menderita endometriosis dan Gn-RH analog dilanjutkan untuk 5 bulan lagi. Selain itu, berdasarkan lokasi nyeri dapat diduga letak lesi endometriosis. Misalnya, rasa nyeri di perut bagian bawah, menunjukkan endometriosis berada di peritoneum. Nyeri saat sanggama, kemungkinan besar endometriosisnya berada di vagina atau kavum Douglasi, dan nyeri di seluruh perut merata seperti tertarik-tarik, atau melilit-lilit, kadang-kadang disertai mual, muntah dan sampai pingsan, menunjukkan endometriosisnya berada di rongga pelvis. Pengobatan endometriosis sangat tergantung, apakah pasien menginginkan anak atau tidak. Pada saat laparoskopi, lesi endometriosis yang terlihat perlu dikauter, dan bila ditemukan kista coklat > 4 cm, perlu dilakukan kistektomi. Untuk diketahui, meskipun telah dilakukan kauterisasi secara menyeluruh dan benar, lesi-lesi endometriosis tidak akan pernah 100% hilang. Pada perempuan yang belum menikah, terutama remaja, atau pada perempuan yang sudah menikah, namun tidak menginginkan anak, cukup pengobatan medikamentosa saja. Berbagai jenis obat dapat diberikan, seperti analgetika, progestogen, kontrasepsi oral kombinasi maupun yang mengandung progestogen saja. Sayangnya, obat-obat jenis ini kurang efektif menekan pertumbuhan endometriosis, bahkan kadang-kadang hanya menghilangkan nyeri. Gn-RH analog, baik jenis agonis maupun antagonis merupakan pengobatan yang paling efektif menekan produksi estrogen di ovarium, sehingga angka kekambuhannya paling rendah. Gn-RH analog diberikan selama 6 bulan saja. Karena penekanan terhadap produksi estrogen begitu kuat, dapat muncul keluhan-keluhan seperti yang dialami perempuan menopause, seperti rasa panas di wajah dan dada, berkeringat dan nyeri tulang dan otot. Oleh karena itu, selama pemberian Gn-RH analog harus ditambahkan estrogen + progestogen alamiah, yang dikenal dengan istilah ”addback therapy”; Yang paling banyak digunakan adalah tibolon. Jangan memberikan pil kontrasepsi kombinasi sebagai addback therapy, karena estrogen di dalam pil kontrasepsi masih sanggup memicu endometrium yang mengakibatkan terjadi perdarahan bercak. Pada perempuan yang ingin anak, pengobatan sangat tergantung dari stadium endometriosis. Pada stadium minimalringan ( I-II) dapat langsung diberi obat pemicu ovulasi. Bila setelah 3 siklus tidak terjadi konsepsi, dilanjutkan dengan inseminasi intra uterus, dan bila dengan cara ini juga tidak terjadi konsepsi, maka berikan Gn-RH analog 3 bulan, setelah itu pasien dipersiapkan mengikuti program fertilisasi in vitro (!VF). Bila cara ini juga gagal, ada dua pilihan, yaitu pemberian medikamentosa, atau histerektomi totalis dan salfingoofarektomi bilateral (HT-SOB). Pemberian GnRH analog jangka panjang dapat menyebabkan osteoporosis, sehingga harus disertai addback therapy, kalsium, atau bifosfonat. Pengobatan stadium sedang (III) sama seperti stadium I-II. Yang paling sulit adalah pengobatan stadium berat (IV). Pada stadium ini biasanya ditemukan kista coklat uni/bilateral dan perlekatan sangat berat. Pasien langsung dimasukkan ke dalam program IVF, namun sebelumnya diberi Gn-RH analog 3 bulan. Bila cara ini gagal, maka pilihannya adalah HT-SOB atau, bila pasien menolak, diberi pengobatan medikamentosa saja. Kepada pasien-pasien yang menjalani HT-SOB, jangan lupa diberi terapi hormon dengan estrogen + progestogen (HRT) selama tidak ada kontraindikasi. Dewasa ini mulai dicoba pemberian obat penghambat enzim aromatase, namun penelitiannya masih sedikit. Di Indonesia, obat jenis ini dijual untuk indikasi kanker payudara. Otak dan tulang sangat membutuhkan enzim aromatase agar androgen dapat diubah menjadi estrogen. Bila kedua organ tersebut kekurangan estrogen, maka sangat mudah terjadi osteoporosis dan dementia.

DAFTAR PUSTAKA 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Schweppe KW. Diagnostik der Endometriose. Der Frauenarzt 1995:36:325-33 Working document. Gn-RH agonist in management of endometriosis. Presented of the 4th International Symposium on GN-RH analogues in Cancer and Human Reproduction. Geneva, February 8-11, 1996 Shaw RW. GN-RH agonist /antagonist. Clinical applications. Eur J Obstet Gynecol Reprod Biol 1988;28: 109-21 Bulun SE, Zeitoun K, Takayama K, Noble L, Michael DM, Simpson E. Estrogen production in endometriosis and use of aromatase inhibitors to treat endometriosis. Endocr Related Cancer 1996;6: 293-301 ESHRE guideline for diagnosis and treatment of endometriosis. Human Reproduction 2005;20: 2698-2704 CNGOF Guidelines for the Management of Endometriosis. 2006, http:// www.cngof.asso.fr/D. English translation M.Canis (2007) Baziad A. Endokrinologi Ginekologi, edisi ke dua. Media Aesculapius FKUI, 2003: 1-22

90

CDK 175 / vol.37 no. 2 / Maret - April 2010

CDK Maret April DR.indd 90

2/23/2010 4:14:22 AM

TINJAUAN PUSTAKA

Deteksi Dini Kanker Serviks Melalui Uji Sitologi dan DNA HPV
Sinta Sasika Novel1, Ratu Safitri2, Sukma Nuswantara3
1

Mahasiswa Biologi, Dosen Mikrobiologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Padjadjaran, Bandung, Indonesia
3

2

Biotech Coordinator, Sandia Biotech Diagnosis Centre, Santosa Bandung International Hospital, Bandung, Indonesia

ABSTRAK

Kanker serviks adalah jenis kanker yang telah diketahui protein karsinogennya yaitu protein E6 dan E7. Gen E6 dan E7 merupakan vektor pembawa protein karsinogen dari HPV(1) ; oleh karena itu sesungguhnya kanker serviks dapat diatasi dengan pencegahan primer dan sekunder. Pencegahan primer yaitu mencegah infeksi HPV melalui vaksinasi(2), sedangkan pencegahan sekunder adalah melalui deteksi dini yang dapat dilakukan dengan berbagai metode, di antaranya uji sitologi dan uji DNA HPV(3).

PENDAHULUAN Kanker adalah suatu proses perubahan pada sel normal yang berproliferasi tanpa kendali akibat mutasi gen. Mutasi gen dapat disebabkan oleh berbagai agen, seperti agen bahan kimia, radiasi, dan virus. Virus penyebab kanker disebut v-onkogen. HPV adalah salah satu jenis virus yang dapat menyebabkan perubahan pada siklus sel normal. Infeksi HPV dapat menyebakan kutil dan kanker serviks. Di Indonesia kanker serviks telah menjadi masalah penting karena telah menempati urutan pertama penyebab kanker pada wanita, melebihi jumlah penderita kanker payudara. Banyaknya kasus memerlukan kewaspadaan melalui deteksi dini (4). KANKER SERVIKS Infeksi HPV ditandai oleh perubahan morfologi dan pembelahan sel yang tak terkendali akibat percepatan proliferasi dan terhambatnya diferensiasi sel. Sifat kelainan ada yang tetap jinak dan ditandai oleh batas yang tegas dengan jaringan normal(5). (1) (2)

Secara seluler, mekanisme terjadinya kanker serviks berkaitan dengan siklus sel yang diekspresikan oleh HPV. Protein utama yang terkait dengan karsinogen adalah E6 dan E7. Bentuk genom HPV sirkuler jika terintegrasi akan menjadi linear dan terpotong di antara gen E2 dan E1. Integrasi antara genom HPV dan DNA manusia menyebabkan gen E2 tidak berfungsi, jika E2 tidak berfungsi akan merangsang E6 dan E7 berikatan dengan gen p53 dan pRb(2). Ikatan antara E6 dan p53 akan menyebabkan p53 kehilangan fungsi sebagai gen tumor supresor yang bekerja di fase G1. Gen p53 akan menghentikan siklus sel di fase G1, agar sel dapat memperbaiki kerusakan sebelum berlanjut ke fase S. Mekanisme kerja p53 adalah dengan menghambat kompleks cdk-cyclin(6) yang akan merangsang sel memasuki fase selanjutnya sehingga ketika E6 berikatan dengan p53 akan menyebabkan sel terus bekerja, terus membelah dan menjadi abnormal(7). Jalur yang digunakan p53 melalui p21 yang akan melawan aktivitas kompleks cdk-cyclin, karena itu inaktivasi p21 mengakibatkan jalur regulasi p53 terganggu(8). Sedangkan E7 akan berikatan dengan pRb, yang seharusnya pBR berikatan dengan E2F. E2F adalah gen yang akan merangsang siklus sel melalui aktivasi proto-onkogen c-myc, N-myc(2). Ikatan pRB-E2F menghambat gen yang mengatur sel keluar dari fase G1. Jika E2F tidak terikat akan menyebabkan E2F menstimulasi proliferasi sel(8). Siklus sel yang tidak terkontrol menyebabkan proliferasi sel melebihi batas normal sehingga berubah menjadi sel karsinoma(9). Beberapa faktor risiko terkena kanker serviks antara lain aktivitas seksual (oral-genital, mekanik-genital, genital-genital) pada usia muda(10) sering berganti pasangan seksual; aktivitas seksual melalui anal(11), homoseksual, sering menderita infeksi di daerah kelamin; melahirkan banyak anak; kebiasaan merokok (risiko dua kali lebih besar); defisiensi

Gambar 1. (1) serviks yang telah terinfeksi HPV (2) serviks normal
Sumber : (1) http://embryology.med.unsw.edu.au/ (2) www.jinekolognet.com

CDK 175 / vol.37 no. 2 / Maret - April 2010

91

CDK Maret April DR.indd 91

2/24/2010 1:45:11 PM

TINJAUAN PUSTAKA
vitamin A,C,E; penggunaan alat kontrasepsi oral(7); faktor nutrisi rendah; imunitas rendah; koinfeksi dengan HIV(10). TES SITOLOGI 1. Pap Smear Pap smear adalah suatu test yang aman dan murah dan telah dipakai bertahun-tahun lamanya untuk mendeteksi kelainan sel epitel serviks. Pap smear merupakan cara deteksi kanker serviks yang paling umum dikenal. WHO merekomendasiikan semua wanita yang telah menikah atau telah melakukan hubungan seksual untuk menjalani pemeriksaan Pap smear minimal setahun sekali sampai usia 70 tahun. Pap smear screening dapat mengidentifikasi potensi pra-kanker(12), pemeriksaan sitologi konvensional ini untuk mengetahui kondisi sel-sel serviks apakah masih normal atau sudah mengalami perubahan. Beberapa sel abnormal dapat menjadi pre-kanker dan dapat berubah menjadi sel-sel kanker. Perubahan sel-sel epitelium serviks yang terdeteksi dini akan memungkinkan tindakan pengobatan sebelum sel-sel tersebut dapat berkembang menjadi sel kanker(13). tapi dengan intensitas yang kurang dan cepat menghilang; ini yang membedakannya dengan proses pra-kanker di mana epitel putih lebih tajam dan lebih lama menghilang karena asam asetat berpenetrasi lebih dalam sehingga terjadi koagulasi protein yang lebih banyak(17).

(1)

(2)

Gambar 3. (1) Serviks sebelum uji IVA dan (2) setelah uji IVA
Sumber : Novel, 2008

Gambar 2. Sel epitelium yang telah di uji pap smear
Sumber : http://upload.wikimedia.org/wikipedia

2. TES IVA (Inspeksi Visual Asam Asetat) IVA merupakan pemeriksaan skrining alternatif dari Pap smear karena murah, praktis, sangat mudah untuk dilakukan dengan peralatan sederhana, dapat dilakukan oleh tenaga kesehatan selain dokter ginekologi(9,14,15). Pemeriksaan ini dengan cara melihat serviks yang telah diberi asam asetat 3-5% secara inspekulo. Zat ini akan meningkatkan osmolaritas cairan ekstraseluler epitel abnormal. Cairan ekstraseluler hipertonik ini akan menarik cairan intraseluler sehingga membran akan kolaps dan jarak antar sel semakin dekat. Akibatnya jika permukaan epitel disinari maka sinar tersebut tidak akan diteruskan ke stroma namun akan dipantulkan dan permukaan epitel abnormal akan berwarna putih(16). Daerah metaplasia yang merupakan daerah peralihan juga akan berwarna putih setelah pengusapan asam asetat te-

Makin putih dan makin jelas, makin tinggi derajat kelainan histologiknya. Demikian pula makin makin tajam batasnya, makin tinggi derajat jaringannya; sehingga dengan pemberian asam asetat akan didapatkan hasil gambaran serviks yang normal (merah homogen) dan bercak putih (displasia). Dibutuhkan satu sampai dua menit untuk dapat melihat perubahan-perubahan pada epitel. Serviks yang diberi larutan asam asetat 5% akan merespon lebih cepat daripada larutan 3%(17). Efek akan hilang setelah sekitar 50-60 detik. Lesi yang tampak sebelum aplikasi larutan asam asetat bukan merupakan epitel putih namun dikatakan suatu leukoplasia. Dari beberapa penelitian didapatkan sensitivitas 65-96% dan spesifisitas 64-98%. Sedangkan penelitian efektivitas IVA oleh bidan di Jakarta mendapatkan sensifitas 90% dan spesifisitas 99,8% dengan nilai duga positif 83,3%(17). UJI DNA HPV 1. PCR dan elektroforesis PCR pertama kali dikembangkan oleh Kary Mullis pada tahun 1985(18). Pada tahun 1990 Ting dan Manos telah mengembangkan suatu metode deteksi HPV dengan PCR(16). Prinsip PCR dalam deteksi dini kanker serviks adalah pada keberadaan DNA HPV di dalam sel serviks; dengan isolasi DNA, amplifikasi DNA, dan deteksi menggunakan elektroforesis akan diketahui keberadaan DNA HPV pada sel uji. Amplifikasi sangat berkaitan dengan pelacak DNA, pelacak untuk HPV terbagi dua yaitu (1) pelacak generik adalah pelacak DNA yang didesain untuk banyak tipe tetapi tidak semua HPV dan (2) pelacak spesifik adalah pelacak yang didesain untuk mendeteksi hasil amplifikasi(19).
CDK 175 / vol.37 no. 2 / Maret - April 2010

92

CDK Maret April DR.indd 92

2/24/2010 1:45:14 PM

TINJAUAN PUSTAKA
2. Hybrid Capture II Teknik pemeriksaan dengan hibridisasi dikenal dengan istilah teknik Hybrid Capture II System (HC-II). Teknik ini yang merupakan teknologi terbaru di bidang biologi molekuler. HC-II pada intinya adalah melakukan hibridisasi yang dapat mendeteksi semua tipe HPV high risk pada seseorang yang diduga memiliki virus HPV dalam tubuhnya Teknik komputerisasi dilakukan untuk pemeriksaan di tingkat DNA dan RNA, apakah pasien tersebut sudah terinfeksi HPV(20). SIMPULAN Uji DNA HPV bukan pengganti uji sitologi untuk mendeteksi dini kanker serviks, tetapi mendampingi tes sitologi untuk keakuratan diagnosis.

(1)

(2)

(3)

(4)

Gambar 4. Hybrid Capture System II
Sumber : Novel dkk, 2008

Langkah-langkah dasar konsep HC-II : (1) mengeluarkan Asam Nukleat, spesimen steril digabungkan dengan solusi basa yang mengacaukan virus atau bakteri dan mengeluarkan DNA target. Tidak dibutuhkan perlakuan yang khusus terhadap persiapan sampel, (2) Hibridisasi RNA probe dengan DNA target, DNA target bergabung dengan RNA Probe spesifik menghasilkan RNA: DNA hybrids, (3) Capture Hybrids, RNA Multiple DNA hybrids ditangkap di fase solid dengan penangkapan secara keseluruhan antibodi yang spesifik untuk RNA:DNA hybrid, (4) Penandaan untuk Pendeteksian; Captured RNA : DNA hybrids dideteksi dengan antibodi yang bekonjugasi dengan alkalin fosfat. Hasilnya sinyal dapat dikuatkan sampai 3000 lipat, dan (5) Pendeteksian, Pembacaan dan Intrepetasi Hasil. Ikatan alkalin fosfatase dideteksi dengan substrat chemiluminescent dioxetane dengan menggunakan alkalin fosfatase, yaitu substrat yang memproduksi cahaya yang dapat diukur luminometer (4).
CDK 175 / vol.37 no. 2 / Maret - April 2010

DAFTAR PUSTAKA 1. Thomas M, Narayan N, Pim D et al. Human Papillomaviruses, Cervical Cancer and Cell Polarity. Oncogene 2008; 27(55): 7018-7030. 2. Rasjidi I., Sulistiyanto H. Vaksin Human Papillomavirus dan Eradikasi Kanker Mulut Rahim. Jakarta: Sagung Seto; 2007. 3. Castle PE, Lorincz IM. Lohnas et al. Result of Human Papillomavirus DNA Testing Wwith The Hybrid Capture II Assay Are Reproducible. Clinical Microbiol. 2002; 40: 1088-1090. 4. Novel SS, Safitri R, Nuswantara S. Aplikasi Hybrid Capture II System dalam Deteksi Dini Kanker Serviks. CDK 2009; 36(1): 24-26. 5. Myers ER, McCrory DC, Nanda K, Bastian L, Matchar DB.. Mathematical Model for The Natural History of Human Papillomavirus Infection and Cervical Carcinogenesis. Am. J. Epidemiol. 2000; 151(12): 1158-1171. 6. Bheda A, Creek KE. Pirisi L Loss of p53 Induces Epidermal Gowth Factor Reseptor Promoter Activity in Normal Human Keratinocytes. Oncogene 2008; 27(31): 4315-4323. 7. Castellsagué X, Munoz N.. Cofactors in Human Papillomavirus Carcinogenesis-role of Parity, Oral Contraceptives and Tobacco Smoking. J. Nat. Cancer Institute Monograph 2003; 31: 20-28. 8. Holland TA, Elder J, McCloud JM et al. Subcellular Localisation of Cyclin D1 Protein in Colorectal Tumours is Associated with p21 Expression and Correlates with patient survival. Cancer 2001; 95: 302-306. 9. Goldie SJ, Kuhn L, Denny L, Pollack A, Wright TC. Policy Analysis of Cervical Cancer Screening Strategies in Low-resource: Clinical Benefits and Cost-effectivess. JAMA 2001; 285: 3107-3115. 10. Clifford GM, Rana RK, Franceschi S, et al. Human Papillomavirus Genotype Distribution in Low-Grade Cervical Lesions: Comparison By Geographic Region And With Cervical Cancer. Cancer Epidemiol Biomarkers 2005; 14(5): 1157-1164. 11. Zuna RE, Allen RA, Moore WE, Lu Y, Mattu R, Dunn ST. Distribution of HPV Genotypes in 282 Women with Carvical Lessions: Evidence for Three Categoris of Intraepithelial Lesions Based on Morphology And HPV Type. Modern Pathol 2006; 20: 167-174. 12. Walboomers JM, Jacobs MV, Manos MM et al. Human Papillomavirus is a Necessary Cause of Invasive Cervical Cancer Worldwide. Pathol. 1999; 189(1): 12-19.http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/10735343 13. Schiffman MH, Brinton LA. The epidemiology of cervical carcinogenesis. Cancer 1995; 76: 1888-1901. 14. Singh V, Sehgal A, Luthra UK.. Screening for Cervical Cancer by Direct Inspection. BMJ 1992; 304: 534-536. 15. Sankaranarayanan R, Wesley R, Somananthan T, Dhakad N, Shyamalumary B,. Amma NS. Visual Inspection of the Uterine Cervix After the Application of Acetic Acid in the Detection of Cervical Carcinoma and its Precursors. Cancer 1998; 83: 2150-2155. 16. Novel SS, Safitri R, Nuswantara S. Aplikasi Hybrid Capture II System Dalam Deteksi Dini Kanker Serviks. Jatinangor: Biologi FMIPA-UNPAD; 2008. 17. Hanafi I. Efektifitas Pemeriksaan Inspeksi Visual dengan Asam Asetat oleh Bidan Sebagai Upaya Mendeteksi Lesi Pra-kanker Serviks. Tesis. Depok: Bagian Obstetri Ginekologi FKUI. 2002. 18. Nuswantara S. Pendekatan Molekuler Untuk Mendeteksi Penyakit Manusia. Bandung: Sanbe Farma, Biotech&Research Division; 2002. 19. Yuwono T. Teori dan Aplikasi Polymerase Chain Reaction. Yogyakarta: Penerbit Andi, 2006. 20. Lörincz AT, Reid R, Jenson AB, Greenburg MD, Lancaster W, Kurman RJ. Human Papillomavirus Infection of the Cervix: Relative Risk Associations of 15 Common Anogenital Types. Obstet Gynecol. 1992; 79:328-337.

93

CDK Maret April DR.indd 93

2/23/2010 4:14:28 AM

HASIL PENELITIAN

Efektifitas dan Toksisitas Terapi Radiasi Eksternal pada Kanker Serviks Stadium IIb-III di RS Sanglah Denpasar Uji Klinik Historical Control
I Ketut Suwiyoga, IGN Dharma Putra
Sub Divisi Gineko Onkologi Bagian Obstetri dan Ginekologi, Fakultas Kedokteran Universitas Udayana, Denpasar

ABSTRAK

Tujuan: Mengetahui perbedaan efektifitas dan toksisitas antara terapi gabungan internal dan eksternal dengan terapi radiasi eksternal. Bahan dan Cara: Studi eksperimental historical control di RS Sanglah Denpasar selama tahun 1999-2001. Populasi adalah kanker serviks; kelompok kasus adalah kanker serviks jenis epitelial stadium IIb-III yang diberi terapi radiasi eksternal saja. Kelompok kontrol adalah kanker serviks jenis epitelial stadium IIb-III selama tahun 1990-1992 yang telah diterapi radiasi kombinasi yaitu radiasi internal dengan Cesium dan radiasi eksternal dengan Radium. Penentuan kasus secara consecutive dan kontrol secara acak serta dilakukan matching variabel umur, paritas, jenis histopatologik. Besar sampel dihitung dengan rumus Pocock negatif dan data hasil penelitian diolah dengan SPSS 10 for Windows serta hasilnya disajikan dalam bentuk tabel dan narasi. Hasil: Sejumlah 60 sampel dibagi atas masing-masing 30 di kelompok kasus dan kontrol. Efektivitas di kelompok kasus adalah 46,6% dan di kelompok kontrol 83,33%. Efektivitas terapi di kelompok kontrol 11,7 kali (OR=11,7 95%CI 4,89-15,75) lebih besar dibandingkan dengan di kelompok kasus. Toksisitas yaitu mualmuntah, diare, gangguan miksi, dan gangguan defekasi tidak berbeda bermakna antar kelompok (semua nilai p>0,05). Simpulan dan Saran: Efektivitas radiasi gabungan lebih baik dibandingkan dengan terapi radiasi eksternal untuk kanker serviks jenis epitelial stadium IIb-III ; toksisitasnya tidak berbeda bermakna. Hasil penelitian ini diharapkan dapat sebagai asupan untuk pengelola rumahsakit akan kepentingan terapi radiasi after loading. Kata kunci: kanker serviks jenis epitelial stadium IIB-III, terapi radiasi, efektivitas, toksisitas.

PENDAHULUAN Kanker serviks merupakan masalah kesehatan karena insiden dan mortalitasnya menempati urutan pertama di Indonesia.1 Mortalitas yang tinggi terutama karena 90-95% diagnosis kanker serviks ditegakkan pada stadium invasif, lanjut bahkan stadium terminal, pasien sosial-ekonomi rendah, keadaan umum inferior, dan jenis morfologi histopatologik.1,2 Terapi operatif tidak dapat dilakukan dan khemoterapi terhambat karena alasan harga obat sitostatika. Dengan demikian, terapi radiasi merupakan pilihan utama sebelum pilihan terapi paliatif. Terapi radiasi yang bertujuan kuratif dibedakan atas dua jenis yaitu radiasi interna dan radiasi eksterna.3,4,5

Sejak tahun 1993, sarana terapi radiasi internal Cesium di RS Sanglah Denpasar telah ditarik oleh Badan Atom Nasional untuk diganti dengan radiasi afterloading. Sampai tahun 2002, modalitas pengganti tersebut belum beroperasi. Dengan demikian, pasien kanker serviks stadium IIb-III yang tidak mampu mendanai sitostatika disarankan menjalani terapi radiasi eksternal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektifitas dan toksisitas terapi radiasi eksterna pada kanker serviks stadium IIb-III. Hasil penelitian ini diharapkan dapat sebagai masukan kepada pengelola RS Sanglah dalam upaya penanganan kanker serviks invasif.
CDK 175 / vol.37 no. 2 / Maret - April 2010

94

CDK Maret April DR.indd 94

2/23/2010 4:14:32 AM

HASIL PENELITIAN
BAHAN DAN CARA KERJA Rancangan penelitian adalah uji klinik. Subjek penelitian adalah kanker serviks tipe epidermoid stadium IIb-III yang bersedia ikut penelitian dan memenuhi syarat untuk terapi radiasi. Kelompok kasus adalah sampel yang menjalani terapi radiasi eksternal, kemudian dievaluasi klinis dan dites Pap. Kelompok kontrol adalah kanker serviks tipe epidermoid yang mendapat terapi gabungan radiasi internal Cesium dan radiasi internal Radium yang dilakukan antara tahun 1990-1992 di RS Sanglah Denpasar (historical control). Efektivitas terapi dibedakan atas respon cukup dan respon jelek. Kasus ditentukan dengan consecitive sampling dengan matching faktor umur dan paritas. Besar sampel dihitung dengan rumus trial negatif Pocock: Efektivitas terapi radiasi Kelompok kontrol diambil dari data penelitian 1990-1992 (historical control). Efektivitas terapi radiasi pada kanker serviks jenis epitelial dapat dilihat pada tabel 2. Tabel 2. Efektivitas terapi radiasi pada kasus dan kontrol
Kelompok penelitian Kasus Kontrol N 30 30 Efektivitas terapi Cukup 11 (36,7%) 25 (83,3%) Jelek 19 (63,3%) 5 (16,7%) OR 11,7 CI 95% 4,89 15,75 p 0,001

n = 1/d2 {2P (1-P) x f (αβ)}
dengan asumsi respon pada terapi kombinasi p = 80%, terapi radiasi eksternal d = 30%, α = 0,05, dan β = 0,20 diperoleh besar sampel adalah 30. Data dicatat pada formulir penelitian kemudian diolah dengan SPSS 10 for Windows, uji X2, dan hasil analisis disajikan dalam bentuk tabel dan narasi. Definisi operasional variabel. 1. Kanker serviks tipe epidermoid adalah kanker tipe epidermoid pada serviks didiagnosis dengan pemeriksaan histopatologi di Bagian Patologi Anatomi Fakultas Kedokteran Universitas Udayana Denpasar. 2. Radiasi eksternal adalah terapi kanker serviks dengan memakai Radium 6000 cGy pada titik A,B, dan C pelvis. 3. Radiasi internal adalah terapi kanker serviks dengan tandon Cesium dosis 4000 cGy intrakaviter dan para servikalis. 4. Respon cukup jika perdarahan berhenti dan permukaan serviks licin. 5. Respon jelek jika perdarahan berlanjut dan permukaan serviks kasar. HASIL DAN PEMBAHASAN Sebanyak 30 kasus kanker serviks epidermoid stadium IIb-III selama tahun 1999-2001 dimasukkan sebagai kelompok kasus. Kontrol dipetik dari formulir penelitian kanker serviks jenis epidermoid stadium IIb-III selama tahun 1991-1992 pada 43 kasus kanker serviks yang diberi terapi radiasi kombinasi. Dilakukan analisis komparabilitas umur dan paritas (tabel 1). Rerata umur dan paritas antara kelompok kasus dengan kelompok kontrol tidak berbeda bermakna (p> 0,05). Tabel 1. Hasil uji K-S umur dan paritas
Kasus (n=30) Rerata Umur Paritas 49,10 4,03 SD 10,52 1,75 Kontrol (n=30) Rerata 48,97 4,13 SD 9,76 1,57

Efektivitas terapi pada kelompok kasus 11,7 kali lebih kecil daripada kelompok kontrol; berarti terapi radiasi kombinasi lebih efektif dibandingkan dengan terapi radiasi eksternal saja. Terapi radiasi pada kanker serviks stadium IIb-III merupakan pilihan kedua setelah kemoterapi.6,7 Terapi radiasi ini dipilih pada kanker serviks inoperable, biaya relatif murah, sebagai neoajuvan, dan paliatif.6,8 Kanker serviks stadium IIb-III termasuk inoperable dan sebagian besar kasus dengan sosial ekonomi rendah serta tidak mampu membiayai kemoterapi. Peneliti lain mendapatkan respon terapi radiasi gabungan sebesar 67,21-74,35% dengan harapan hidup lima tahun sebesar 30,5-32,0%.9,10 Five-year survival rate (5YSR) pada radioterapi gabungan adalah 73,0-79,3% untuk kanker serviks stadium II dan 53,0-55,0% untuk kanker serviks stadium III.11,12,13 Choy dan Wong mendapatkan bahwa 5YSR pada kanker serviks dengan radioterapi gabungan adalah 90,0% untuk stadium Ib, 82,1% untuk stadium IIa, 72,0% untuk stadium IIa, 51,5% untuk stadium IIIa, dan 50,0% untuk stadium IIIb.13 Herman dkk mendapatkan 5YSR untuk stadium I adalah 95,4%, untuk stadium II adalah 71,4%, dan untuk stadium III adalah 57,9%.12 Toksisitas terapi radiasi Toksisitas terapi radiasi dapat dilihat pada tabel 3. Tabel 3. Toksisitas terapi radiasi pada kelompok kasus dan kontrol.
Kelompok penelitian Mual dan muntah Diare Gangguan miksi Gangguan defekasi Tidak ada Jumlah Efek samping Kasus 8 (26,7%) 5 (16,7%) 1 (3,3%) 5(16,7%) 11(36,7%) 30 (100,0%) Kontrol 10 (33,3%) 5 (16,7%) 6 (20,0%) 5 (16,7%) 4 (13,3%) 30 (100,0%) Total 18 (30,0%) 10 (16,7%) 7(11,7%) 10 (16,7%) 15 (25,0%) 60 (100,0%) p 0,247 0, 240 0,100 0, 240 0,120

t 0,51 0,223

p 0,96 0,82

Pada tabel 3 dapat dilihat bahwa toksisitas/efek samping antara kasus dengan kontrol tidak berbeda bermakna (p>0,05) dalam hal mual-muntah, diare, gangguan miksi, dan gangguan defekasi. Patel et al (1994) mendapatkan gangguan miksi defekasi 4,56 kali lebih kecil pada radiasi internal di-

CDK 175 / vol.37 no. 2 / Maret - April 2010

95

CDK Maret April DR.indd 95

2/24/2010 1:46:33 PM

HASIL PENELITIAN
bandingkan dengan eksternal.14 Hammer et al (1993) dan Thesima et al (1993) melaporkan bahwa persentase komplikasi radiasi eksternal masing-masing 32,81-34,63% dan 37,23-39,75% dan pada radiasi internal adalah 12,12% dan 8,23%.15,16 Terapi radiasi interna relatif lebih aman; efek samping sebagian terbesar dihubungkan dengan terapi radiasi eksternal. Hasil penelitian ini juga menunjukkan hal yang tidak berbeda. SIMPULAN DAN SARAN Efektifitas terapi radiasi eksterna saja 11,7 (OR=11,7 CI95% 4,89-15,75) kali lebih kecil dibandingkan dengan terapi radiasi gabungan pada kanker serviks stadium IIb-III. Toksisitas radiasi gabungan dan toksisitas terapi radiasi eksternal saja pada kanker serviks stadium IIb-III tidak berbeda (p>0,05). Saran untuk pengelola RS Sanglah Denpasar agar dapat mendayagunakan terapi radiasi internal afterloading.
3. Djakaria M, Radiotherapi dalam ginekologi. Dalam: Wiknjosastro H, Saifuddin AB, eds. Ilmu Kandungan, ed II. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo 1997: 693-6,. Jones HW. Cervical intra epithelial neoplasma, In: Jones REW, Wents AC, Burnett eds. Novak’s Textbook of Gynecology, 12thed. Baltimore: Williams and Wilkins 2000:1111-40. Hatch KD, Fu YS. Cervical and vaginal cancer. In: Berek JS, Adashi EY, Hillard PA eds, Novak,s Textbook of Gynecology, 11th ed. Baltimore: Williams and Wilkins 1996: 1111-40. Khalil M, Principles of radiation therapy, In : Preveir MS, ed. Manual of Gynecologic Oncology and Gynecology, 1 st ed., Boston: Little Brown and Co 1989.hal.184-93, Bantuk H, Sutoto. Respon klinik serta histologi pada terapi penyinaran carsinoma servicis uteri, Semarang: bagian Obstetri dan Ginekologi FK UNDIP, 1990. Leopold GK. The effects of therapeutic procedures and drugs on the epithelia of the female genital tract, In: Leopold GK ed. Diagnostic Cytology, 4th ed.: JB Lippincott Co. 1999.hal. 663-75, Nana S, Tansil H. Pengobatan radiasi pada kanker leher rahim stadium lanjut, Jakarta: Bagian Radiologi FK UI/RSCM.

4.

5.

6.

7.

8.

9.

10. Luther WB. Carcinoma of the uterine cervix, In: Carlos AP, ed. Principles and practise of radiation oncology. Philadelpia, JB, Lippincott Company, 933-45, 1999. 11. Shindu, IB, Suwiyoga K, Evaluasi respon terapi radiasi pada kanker serviks di RSUP Denpasar, 1993. 12. Herman T, Christen N, Atlheit HD, Gynecologic brachytherapy from low dose rate to high tech, Strahlenther Oncol 169: 141-51,1993. 13. Choy D, Wong LC, Shan J, Ngan HY, Ma HK, Dose tumor response of carcinoma of cervix: an analysis of 594 patients treated by radiotherapy, Gynecol Oncol 49: 311-7, 1993.

DAFTAR PUSTAKA 1. Farid A, Kampono N, Sjamsuddin S, Djakaria M, Manual prekanker dan kanker serviks uterus. Jakarta: Bagian Obstetri dan Ginekologi FK UI/ RSCM 1989:1-24. Chion JF, Liu MT, Lai YL, Chang KH, High dose rate afterloading brachytherapy in carcinoma of the uterine cervix, J Formos Med Assoc 1993; 92: 16573.

14. Patel FD, Sharma SC, Negi PS, Ghoshal S, Gupta BD, Low dose rate vs high dose rate brachitherapy in the treatment of carcinoma of uterine cervix: a clinical trial. Int J Radiat Oncol Biol Phys 28: 335-41, 1994 15. Hammer J, Zoidi JP, Atendorfer C, Seewald DH, Combine external and high dose rate infracavitary radiotherapy in the primary treatment in cancer of the uterine cervix, Radiother. Oncol 27: 66-8, 1993. 16. Thesima T, Inoue T, Ikeda T. High dose rate and low dose rate intracavitary therapy for carcinoma of the uterine cervix. Concern 72: 2409-14, 1993.

2.

96

CDK 175 / vol.37 no. 2 / Maret - April 2010

CDK Maret April DR.indd 96

2/23/2010 4:14:33 AM

HASIL PENELITIAN

Profil Operasi Seksio Sesarea di SMF Obstetri & Ginekologi RSUP Sanglah Denpasar, Bali Tahun 2001 dan 2006
Harry K Gondo, Kadek Sugiharta
Divisi Obstetri dan Ginekologi Sosial, SMF Obstetri & Ginekologi RSUP Sanglah Denpasar, Fakultas Kedokteran Universitas Udayana, Bali

ABSTRAK

Seksio sesarea sering dikerjakan terutama di negara-negara maju, dengan alasan yang bervariasi. Alasan berbeda di antara institusi pendidikan dan populasi umum, namun secara nasional angka seksio sesarea makin meningkat. Beberapa faktor peningkatan itu adalah terlambat mendapat keturunan, jumlah anak yang diinginkan makin kecil, dan meningkatnya usia ibu saat hamil. Permintaan ibu juga berkontribusi untuk peningkatan angka seksio sesarea. Persalinan sesarea yang lebih aman menjadi alasan memilih persalinan sesarea berencana. Masalah yang masih dalam perdebatan termasuk menghindari trauma pelvis selama persalinan pervaginam, mengurangi risiko trauma janin, dan alasan kenyamanan.

PENDAHULUAN Seksio sesarea atau persalinan sesaria adalah prosedur pembedahan untuk melahirkan janin melalui sayatan perut dan dinding rahim. Seksio sesaria makin meningkat sebagai tindakan akhir dari berbagai kesulitan persalinan. Indikasi yang banyak dikemukakan adalah; persalinan lama sampai persalinan macet, ruptura uteri iminens, gawat janin, janin besar, dan perdarahan antepartum. Meskipun dalam 10 tahun terakhir ini banyak perhatian difokuskan pada upaya mengurangi angka kejadian seksio sesaria (SS), persalinan SS atas indikasi permintaan penderita (Cesarean Section on request, maternal request CS) tetap unik dan eksperimental. Indikasi SS tidak semata alasan medis. Mengacu pada WHO, Indonesia mempunyai kriteria angka SS standar antara 15 – 20% untuk RS rujukan. Angka itu dipakai juga untuk pertimbangan akreditisasi Rumah Sakit Sayang Ibu. Sejak tahun 1986 di Amerika satu dari empat persalinan diakhiri dengan seksio sesaria. Di Inggris angka kejadian seksio sesaria di Rumah Sakit Pendidikan relatif stabil yaitu antara 11-12 %, di Italia pada tahun 1980 sebesar 3,2% 14,5%, pada tahun 1987 meningkat menjadi 17,5%. Dari tahun 1965 sampai 1988, angka persalinan sesarea di Amerika Serikat meningkat progresif dari hanya 4,5% menjadi 25%. Sebagian besar peningkatan ini terjadi sekitar tahun 1970an dan tahun 1980-an di seluruh negara barat. Pada tahun
CDK 175 / vol.37 no. 2 / Maret - April 2010

2002 mencapai 26,1%, angka tertinggi yang pernah tercatat di Amerika Serikat. 1,2,3,4 Di Indonesia angka persalinan dengan seksio sesaria di 12 Rumah Sakit Pendidikan berkisar antara 2,1%-11,8%. Di RS Sanglah Denpasar insiden seksio sesaria selama sepuluh tahun (1984-1994) 8,06% - 20,23%; rata-rata pertahun 13,6%, sedangkan tahun 1994-1996 angka kejadian seksio sesaria 17,99% dan angka kejadian persalinan bekas seksio 18,40%.1,6,7 TINJAUAN PUSTAKA Seksio sesaria atau persalinan sesaria didefinisikan sebagai melahirkan janin melalui insisi dinding abdomen (laparatomi) dan dinding uterus (histerotomi). Definisi ini tidak mencakup pengangkatan janin dari kavum abdomen dalam kasus ruptur uteri/kehamilan abdominal. Ada beberapa alasan yang menyebabkan peningkatan angka SS di negara maju antara lain:4,8,9,10 1. Jumlah anak lebih sedikit, sehingga sebagian besar kelahiran adalah nullipara, yang merupakan risiko tinggi. 2. Umur rata-rata ibu khususnya nullipara meningkat, merupakan risiko persalinan. 3. Pemantauan janin secara elektronik telah menyebar luas. Teknik ini dihubungkan dengan peningkatan angka persalinan sesarea dibandingkan dengan auskultasi denyut jantung janin secara intermiten. Walaupun hanya sebagian kecil persalinan sesarea atas indikasi ”gawat

97

CDK Maret April DR.indd 97

2/23/2010 4:14:35 AM

HASIL PENELITIAN
janin”, pada banyak kasus kekhawatiran frekuensi denyut janin abnormal mendorong dilakukannya persalinan sesarea. Sebagian besar janin dengan presentasi bokong sekarang dilahirkan dengan sesarea. Kejadian pelahiran forseps midpelvik dan vakum menurun Angka induksi persalinan terus meningkat, khususnya di antara nullipara, meningkatkan risiko persalinan. Prevalensi obesitas meningkat; obesitas juga meningkatkan risiko persalinan. Kekhawatiran tuntutan malpraktik telah secara bermakna berperan meningkatkan angka persalinan sesarea. Lebih dari satu dekade yang lalu, tidak dilakukannya persalinan sesarea sehingga terjadi kelainan neurologis atau cerebral palsy pada neonatus merupakan klaim yang dominan dalam tuntutan malpraktik obstetrik di Amerika Serikat. Beberapa persalinan sesarea berencana dilakukan pada rongga panggul sempit untuk menghindari trauma lahir pervaginam. Tabel 2 : Jumlah Ibu Partus Primigravida di SMF Obstetri dan Ginekologi RSUP Sanglah, Denpasar Bali, 2001 dan 2006.
Paritas Primigravida Non Primigravida TOTAL 2001 Jumlah 244 7119 7363 % 18,23 81,77 100,00 Jumlah 335 4621 4956 2006 % 26,30 73,70 100,00

4. 5. 6. 7. 8.

Tabel 3 : Indikasi Operasi Seksio Sesarea di SMF Obstetri dan Ginekologi RSUP Sanglah Denpasar, Bali, 2001 dan 2006
No 01 02 03 04 05 Indikasi SC Fetal Distress/ KTG Pathologis Distosia e.c Power Distosia e.c Passage & Passenger LMR (Previous CS) APB Placenta Previa Solutio Placenta 06 07 Prolaps Tali Pusat Pre Eklampsia PE Berat PE Ringan Eklampsia 08 09 10 11 12 Partus Kasep KPD > 12 Jam (Gagal Drip/Febris) On Request (Sosial,Infertil,Primitua) Malpresentasi & Malposisi Multi Fetus Gemelli Triplet 13 14 Bad Obstetric History Komplikasi Jantung Asthma Sindrom Nefrotik Kondiloma Akuminata (STD) HNP 15 16 Oligohidramnion Impending Uterine Rupture TOTAL 2001
Jumlah %

2006
Jumlah %

232 17,3 40 133 99 134 5 12 64 49 7 8 84 228 31 26 26 13 13 7 2 1 1 2 10 0,73 5 0,35 1341 100 1 1 6,3 17 2,5 2 4,7 3 9,9 7,4

267 21,13 22 96 136 137 126 4 7 62 44 9 9 50 166 64 188 31 30 1 5 14 5 4 2 0 3 23 12 1273 1,8 1 100 0,4 1,1 3,9 13 5 14,8 2,4 4,9 1,7 7,55 10,7 10,8

9.

151 11,2

Mengapa Angka SS Harus Ditekan Atau Diturunkan? Standar yang sudah disepakati untuk SS, adalah antara 1520% sesuai dengan status RS bersangkutan; angka SS yang terlalu tinggi atau terlalu rendah akan memberikan luaran neonatal yang kurang baik. Risiko plasenta previa dan abortus pada kehamilan setelah SS akan meningkat. Kenyataannya partus percobaan pasca SS bahkan dengan induksi dengan misoprostol cukup berhasil meskipun harus hati-hati. SS juga bisa menyebabkan morbiditas ibu berupa infeksi puerperalis. Ruptur uteri bisa terjadi jika tanpa pengawasan adekuat. Partus percobaan pasca SS lebih mudah berhasil pada ibu bersalin pasca SS yang pernah melahirkan pervaginam, pernah sukses partus percobaan dan inpartu spontan serta yang mempunyai skor pelvik (Bishop Score) di atas 6. Partus percobaan hanya sedikit meningkatkan ruptur uteri dibandingkan SS elektif, sebaliknya angka morbiditas ibu berupa demam, transfusi darah dan risiko histerektomi jauh lebih rendah.

212 15,8

CARA PERSALINAN DI SMF OBSTETRI DAN GINEKOLOGI RSUP SANGLAH (2001 DAN 2006) Tabel 1 : Jumlah Persalinan Pervaginam dan Seksio Sesarea di SMF Obstetri dan Ginekologi RSUP Sanglah, Denpasar Bali, 2001 dan 2006.
Jumlah Persalinan Persalinan Normal SC Data TOTAL 2001 Jumlah 6022 1341 7363 % 77,73 22,27 100,00 Jumlah 3683 1273 4956 2006 % 65,44 34,56 100,00

Grafik 1 : Grafik jumlah Persalinan Pervaginam dan Seksio Sesarea di SMF Obstetri dan Ginekologi RSUP Sanglah, Denpasar Bali, Periode tahun 2001 dan 2006.
7.000 6.000 5.000 4.000 3.000 2.000 1.000 0 2001 2002 1.341 1.273 3.683 Persalinan Normal Seksio Sesarea 6.022

98

CDK 175 / vol.37 no. 2 / Maret - April 2010

CDK Maret April DR.indd 98

2/24/2010 1:47:27 PM

HASIL PENELITIAN
Grafik 2 : Grafik perbandingan prosentase Persalinan Pervaginam dan SS pada tahun 2001 dan 2006.
2001 100% 90% 80% 70% 60% 50% 40% 30% 20% 10% 0% Persalinan Normal (%) Seksion Sesarea (%) 2006

penderita yang sebelumnya seksio sesaria dengan insisi transversa, banyak ahli meneliti keberhasilan dan keamanan persalinan pervaginam pada bekas seksio sesaria. Keuntungannya : mempersingkat lama rawat inap, pemulihan kesehatan ibu lebih cepat, biaya lebih murah, kesempatan persalinan alamiah, dan risiko infeksi lebih kecil. Pada dasarnya peningkatan seksio sesaria ulang pada pasien bekas seksio sesaria adalah karena risiko ruptura uteri pada parut uterus. Beberapa penelitian mendapatkan insiden ruptura uteri meningkat 4,3 – 8,8 % pada irisan klasik sedangkan pada irisan segmen bawah rahim hanya 0,2 – 0,8 %. Seiring kemajuan teknologi, tindakan seksio sesaria memberikan hasil yang makin baik, dengan penyembuhan luka operasi lebih sempurna dan menjadi lebih aman. Berangsurangsur diktum EB Craigin ditinggalkan dan ditinjau kembali menjadi “sekali seksio tidak selalu diikuti seksio sesaria”. Persalinan percobaan pada kasus riwayat seksio sesaria sebelumnya sering dilakukan, namun informasi keberhasilan dan hasil akhirnya masih minim. Oleh karena itu, penelitian ini mencoba mengevaluasi persalinan pada penderita dengan riwayat seksio sesaria sebelumnya Partus percobaan pasca seksio sesaria tidak diindikasikan pada kasus dengan: • • • • • • • Insisi klasik pada seksio sebelumnya. Seksio sesaria ≥3 kali. Disertai kelainan letak. Adanya ancaman ruptura uteri. Plasenta previa. Adanya kelainan kongenital. Kehamilan ganda

Grafik 3 : Indikasi Operasi Seksio Sesarea (dalam prosentase) di SMF Obstetri dan Ginekologi RSUP Sanglah Denpasar, Bali Periode tahun 2001 dan 2006, nomor sesuai indikasi pada tabel 3
300 250 200 150 100 50 1 2 3 4 5 6 7 2001 8 9 10 11 12 13 14 15 16 2006 0

PEMBAHASAN SEKSIO SESAREA karena BEKAS SEKSIO SESAREA (PREVIOUS CESAREAN SECTION) Dalam waktu 5 tahun, antara tahun 2001 dan tahun 2006 ada peningkatan signifikan SS (sekitar 45%) karena Previous CS dari 7,4% (2001) menjadi 10,7% (2006). Di Amerika Serikat sampai dengan tahun 1979 tidak banyak laporan keberhasilan persalinan pervaginam pada penderita bekas seksio sesaria, karena adanya kepercayaan bahwa pernah seksio sesaria adalah kontraindikasi absolut untuk melahirkan pervaginam (diktum EB Craigin : sekali seksio sesaria selalu seksio sesaria). Terjadi kenaikan angka seksio sesaria : sebelum tahun 1970 di bawah 5% naik tiga kali lipat di tahun 1985 menjadi 15,2% dan mencapai puncaknya di tahun 1988 sebesar 24,7% ; 48% di antaranya adalah seksio sesaria ulangan.5,10,11 Setelah The American College of Obstetricians and Gynecologist (1988) menganjurkan partus percobaan pada
CDK 175 / vol.37 no. 2 / Maret - April 2010

Faktor kondisi sebelumnya yang dapat mempengaruhi hasil akhir partus percobaan adalah: 1. 2. 3. 4. 5. 6. Bekas seksio karena disproporsi kepala panggul. Bekas seksio karena letak sungsang. Persalinan pervaginam sebelumnya. Bekas seksio lebih dari satu kali. Pemakaian oksitosin. Lamanya inpartu dan pembukaan serviks pada seksio sebelumnya.

Tidak terdapat perbedaan bermakna pada morbiditas dan mortalitas maternal antara seksio sesaria elektif dengan partus percobaan paska seksio. Tindakan partus percobaan pada bekas seksio sesaria harus memenuhi beberapa kriteria sebagai berikut: 2,7,8,9 • • Indikasi seksio sesaria yang lalu. Seksio sesaria dilakukan segera, bila indikasinya pang-

99

CDK Maret April DR.indd 99

2/23/2010 4:14:37 AM

HASIL PENELITIAN
gul sempit atau kehamilan dengan kelainan letak, ketuban pecah dini, kepala tinggi, dan adanya ancaman ruptura uteri. Irisan seksio membujur (corpore) merupakan kontraindikasi partus percobaan. Observasi ketat dengan kemungkinan response time seksio sesaria dalam waktu 30 menit. Gawat janin dan nyeri perut bagian bawah merupakan indikasi penting untuk segera melakukan seksio sesaria. 1. Terletak di kota besar 2. Pasien berasal dari kalangan strata ekonomi yang cukup 3. Tingkat pendidikan ibu yang melahirkan di RS penelitian ini cukup baik. 4. Ibu melahirkan pada umumnya berasal dari strata ekonomi mampu. Ada beberapa faktor nonmedis yang mempengaruhi pemilihan SS ibu yang melahirkan, yang pada penelitian ini disebutkan sebagai “fenomena sosial” dalam pemilihan SS, yaitu :5,7,8,9,10 1. Keadaan ekonomi Makin tinggi tingkat ekonomi ibu melahirkan, makin tidak ada masalah pendanaan dalam SS. Ibu melahirkan dengan SC banyak berasal dari strata ekonomi mampu. Keadaan ini dapat dimengerti karena biaya untuk SS jelas lebih tinggi atau mahal daripada proses kelahiran tanpa operasi.. 2. Keadaan masyarakat sekitarnya Termasuk masyarakat perkotaan atau pedesaan. Ibu melahirkan di kota lebih memilih nyaman, bebas dari rasa sakit, cepat, dan bila perlu tetap terjaga estetika kewanitaannya. Fenomena ini ada, dan mulai berkembang terutama pada ibu dari kalangan sosio-ekonomi yang baik. Selain lingkungan perkotaan, beberapa etnis tertentu juga memanfaatkan kemajuan di bidang kedokteran ini sebagai sarana untuk menjalankan adat istiadatnya. Misalkan : pemilihan hari lahir, bahkan jam lahir yang sama sekali terlepas dari indikasi medis. 3. Psikologi ibu melahirkan Tak dapat dipungkiri, makin tinggi strata ekonomi ibu melahirkan, makin ingin nyaman ibu tersebut dalam melahirkan. Ibu yang berasal dari sosio ekonomi baik, umumnya kurang bisa mentoleransi rasa nyeri alamiah saat akan melahirkan (inpartu). Keadaan ini menambah atau menyumbang tingginya angka SS 4. Gravida Jumlah kehamilan bisa masuk indikasi medis maupun sosial, sehingga perlu penelitian lebih lanjut. Pada kasus pasangan suami istri yang sudah lama menikah dan lama tidak mempunyai anak, janin mempunyai nilai sosial yang tinggi. Sedangkan pada riwayat obstetri yang jelek, jumlah kehamilan jelas memiliki nilai indikasi medis yang tinggi . SIMPULAN Beberapa peneliti telah membuktikan adanya kemungkinan menurunkan angka persalinan sesarea secara bermakna di institusi kesehatan tanpa meningkatkan morbiditas atau mortalitas perinatal. Program untuk mengurangi persalinan sesarea yang tidak diperlukan umumnya difokuskan pada upaya pendidikan dan pengawasan sesama kolega, menCDK 175 / vol.37 no. 2 / Maret - April 2010

• • •

Karena alasan monitoring yang belum maksimal maka di RSUP Sanglah sebagai RS pendidikan tidak dilakukan induksi persalinan terhadap kehamilan pada bekas seksio dan kehamilan letak sungsang. Ada kecenderungan dokter spesialis di RS Swasta lebih cepat memutuskan SS dengan berbagai alasan dan pengalamannya. Di RSUP Sanglah setelah menjadi Perjan sejak tahun 2000, dan dokter spesialis diberi kesempatan melayani pasien VIP; terdapat peningkatan keputusan SS. Keputusan tindakan SS lebih cepat dibandingkan dengan protokol standar.1,3 SEKSIO SESAREA ON REQUEST Hidup di jaman modern ditandai oleh sesuatu yang serba cepat dan instan. Segala sesuatu yang diperoleh lebih cepat akan memberi keuntungan yang lebih; “modern” identik dengan serba cepat atau instan. Kesibukan tugas dan kewajiban membebani setiap orang untuk bekerja dan mengambil keputusan lebih cepat. Mengapa menantikan persalinan bayi harus berjam-jam bahkan berhari-hari? Mengapa tidak memilih seksio sesarea sebagai cara persalinan yang paling modern dan paling cepat? Karena wanita hidup di era serba cepat dan penuh perencanaan, mereka akan memilih waktu yang tepat untuk ulang tahun kelahiran bayinya, yaitu dengan seksio sesarea. Di samping itu seksio sesarea lebih nyaman, bebas nyeri, lebih cepat dibandingkan cara persalinan lainnya. Antara tahun 2001 dan tahun 2006 ada peningkatan 100% CS on request: 2,5% pada tahun 2001 menjadi 5% pada tahun 2006. Melindungi otot-otot dasar panggul sering dipakai sebagai alasan memilih seksio sesarea antara lain oleh ahli kebidanan perempuan di London; mereka percaya bahwa persalinan bayi akan merusak dasar panggul, dan seksio sesarea bisa secara efektif mencegah inkontinensia, mencegah prolaps, dan mencegah disfungsi seksual. Di samping itu, trauma pada persalinan sebelumnya menyebabkan ibu-ibu memilih seksio sesarea sebagai alternatif paling menyenangkan untuk persalinan bayinya.2,8,9, Tingginya angka SS on request saat ini tidak dapat dianggap lagi “tabu” ; asumsi SS merupakan kegagalan ANC tidak lagi sepenuhnya benar. Tingginya angka SS juga dapat karena pemilihan tempat persalinan, misalnya:

100

CDK Maret April DR.indd 100

2/23/2010 4:14:37 AM

HASIL PENELITIAN
dorong percobaan persalinan pada wanita dengan riwayat persalinan sesarea transversal, dan membatasi persalinan sesarea atas indikasi distosia persalinan pada wanita yang memenuhi kriteria yang ditentukan secara ketat. Apabila seorang ibu menginginkan tindakan seksio sesarea untuk melahirkan bayinya, hendaknya dilakukan konseling yang memadai. Keinginan ibu bukanlah merupakan indikasi untuk seksio sesarea, oleh karena itu alasan yang lebih spesifik harus digali dan didiskusikan. Apabila gagal menemukan alasan yang tepat untuk seksio sesarea tersebut, hendaknya dipertimbangkan keuntungan dan risiko tindakan seksio itu dibandingkan persalinan pervaginam. Pada akhirnya, semuanya kembali pada hubungan antara dokter dan pasien. Dokter tetaplah harus berprinsip yang terbaik bagi kesehatan dan kesembuhan pasien, demikian pula pasien berhak mendapatkan haknya. Jika seorang dokter sudah beritikad baik, tetapi pasien tetap memaksa SS dengan berbagai alasan (infertilitas, kesakitan, adat, sosial, dll) tanpa indikasi medis, seyogyanya seorang dokter bertindak dan berpikir bijaksana dalam menyikapi kondisi ini. Dokter tetaplah manusia, yang juga memiliki faktor psikososial dalam menentukan suatu tindakan.
DAFTAR BACAAN 1. Suwardewa TGD, Seksio Sesarea On Request : Pendidikan Kedokteran Berkelanjutan (PKB) II Obsgin. Denpasar, Divisi Fetomaternal Bagian ./SMF Obstetri Ginekologi FK UNUD/RS Sanglah, 2005. Royal Collage Obsteric Gynecology, Cesarean Section Clinical Guideline, London, 2004 Karkata K, Meningkatkan Keselamatan Operasi Bedah Sesar. Denpasar, Divisi Fetomaternal Bagian ./SMF Obstetri Ginekologi FK UNUD/RS Sanglah, 2005. Caesarean Sections, Parliamentary Office Science and Technology, No 184, London, Oktober 2004. Arulkumaran S,Devendra K, Should Doctors Perform an Elective Caesarean Section On Request?. Ann.Acad.Med.Sing 2003; 23(5). Sedana KP, Keberhasilan Persalinan Pervaginam Pada Kehamilan Aterm Bekas Seksio Sesaria Dengan Ketuban Pecah Dini. Denpasar, SMF Obstetri Ginekologi FK UNUD/RS Sanglah, 2004. Gondo HK, Fenomena Sosial Operasi Seksio Sesarea di Salah Satu Rumah Sakit Swasta Besar Surabaya Periode 1 Januari 2000 – 31 Desember 2005. Dexa Media 2006;19(2): 72-79. Royal College of Obstetricians and Gynaecologits (RCOG) Clinical Effectiveness Support Unit, The National Sentinel Caesarean Section Audit Report. London: RCOG Press, 2001. Petrou S, Henderson J, Glazener C, Economic aspect of caesarean section and alternative mode of delivery. Oxford, National Perinatal Epidemiology Unit, Institute of Health Sciences, University of Oxford, 2000.

2. 3.

4. 5. 6.

7.

8.

9.

10. Robson S, Mooloy D,Tippett C, Elective Caesarean Section at Maternal Request, Obstetricians find themselves somewhere between a rock and a fairly indurated place. O&G Austral.J. Med. 2004;6(3) : 186 – 189. 11. Bettes BA, Coleman V, Zinber, et all. Cesarean delivery on maternal request, Obstetrian gynecologist knowledge, perception, and practice patterns. Am. Coll. .Obstetr. Gynecol. 2007;109

CDK 175 / vol.37 no. 2 / Maret - April 2010

101

CDK Maret April DR.indd 101

2/23/2010 4:14:38 AM

HASIL PENELITIAN

Efek Pemberian Cairan RL dibandingkan NaCl 0,9% terhadap Keseimbangan Asam-Basa (Stewart Approach) pada Seksio Sesarea
M Mukhlis Rudi P
Bagian Anestesiologi & Reanimasi FKIK Universitas Jenderal Soedirman, RSUD Prof. DR Margono Soekarjo, Purwokerto

ABSTRAK

Latar belakang. Pemberian cairan pada pasien yang akan dioperasi, khususnya sectio caesaria (SC), jarang didahului pemeriksaan elektrolit; padahal gangguan keseimbangan elektrolit dapat mempengaruhi proses metabolik dan penyembuhan. Pemeriksaan elektrolit setelah operasi penting karena intervensi cairan selama operasi untuk mengontrol elektrolit dan keseimbangan asam-basa. Metode. Penelitian eksperimental uji klinik tahap 2 secara acak tersamar ganda untuk mengetahui cairan yang lebih baik, RL atau NaCl 0,9% terhadap strong ion difference (SID) keseimbangan asam-basa berdasarkan metode Stewart. Pada pasien calon operasi SC; dipasang jalur intravena dan diambil darah venanya di ruang bedah sentral; premedikasi serta loading cairan untuk mencegah hipotensi akibat obat regional anestesi. Selama operasi pasien diberi cairan kristaloid. Setelah selesai, dilakukan pemeriksaan darah vena. Uji statistik menggunakan t-test. Hasil. Rerata sebelum operasi SID RL (38,58±2,28) menunjukkan alkalosis, sedangkan SID NaCl (37,42±4,35) menunjukkan asidosis. Rerata setelah operasi SID RL (37,79±1,18) menunjukkan kestabilan dibandingkan rerata SID NaCl (39,67±3,10) yang alkalosis. Kesimpulan. Pemberian RL pada pasien sectio caesaria lebih menguntungkan dibandingkan NaCl, karena NaCl mempengaruhi pergeseran SID keseimbangan asam-basa Stewart. Kata kunci. Cairan kristaloid, keseimbangan asam-basa Stewart, sectio caesaria, anestesi regional.

PENDAHULUAN Kasus-kasus dengan perdarahan hingga 15% EBV banyak ditemukan pada sectio caesaria, laparotomi tanpa reseksi usus, bedah urologi, pasien trauma ortopedi tertutup, trauma kepala (EDH), dan operasi-operasi lain. Selama ini, penggantian cairan pada pasien operasi dengan perdarahan kurang dari 15% EBV lebih banyak menggunakan cairan kristaloid Ringer Laktat (RL) atau NaCl 0,9% dibandingkan koloid hydroxy ethyl starch (HES), sementara pasien dengan regional anestesi lebih banyak menggunakan koloid. Keseimbangan asam-basa merupakan keseimbangan antar komponen elektrolit cairan tubuh yang dinilai dengan

menggunakan persamaan Stewart. Penilaian berdasarkan hasil pemeriksaan laboratorium BGA, albumin, dan elektrolit (Na, K, Cl, Mg, PO4) preoperatif dan postoperatif.1,2 Pemilihan keseimbangan asam-basa Stewart karena di ICU (intensive care unit) RSDK, terapi cairan berdasarkan cara Henderson-Hasselbach tidak lebih baik daripada cara Stewart , dinilai dari hasil pemeriksaan blood gas analysis (BGA), elektrolit, albumin, dan kondisi obyektif pasien. Berdasarkan hal tersebut, perlu dilakukan penelitian yang membandingkan cairan dasar (RL dengan NaCl 0,9%), karena kedua cairan tersebut selain murah juga mudah didapat di daerah. Dilakukan penghitungan strong ion difference (SID) berdasarkan hasil pemeriksaan elektrolit; albumin dan
CDK 175 / vol.37 no. 2 / Maret - April 2010

102

CDK Maret April DR.indd 102

2/23/2010 4:14:39 AM

HASIL PENELITIAN
pCO2 tidak diperiksa karena SID (strong ion difference) lebih mewakili status keseimbangan asam-basa Stewart.3 METODE PENELITIAN Metode eksperimental berupa uji klinik tahap 2 acak tersamar ganda untuk mengetahui efektivitas pemberian infus RL dan infus NaCL terhadap keseimbangan asam-basa (metode Stewart). Subyek penelitian adalah semua pasien RSDK dengan operasi elektif ataupun cito sectio caesaria usia 20-35 tahun dengan status fisik ASA I-II, berat badan 50-70 kg, tinggi badan 150-170 cm, tidak ada indikasi kontra untuk tindakan anestesi regional. Lama operasi antara 60120 menit. Penelitian dilakukan di Instalasi Bedah Sentral RS. Dr. Kariadi Semarang antara 19 Oktober 2006 hingga 20 Desember 2006. HASIL Analisis dilakukan pada karakteristik penderita berdasarkan umur dan lama operasi, distribusi SID kedua kelompok sebelum dan sesudah operasi, rerata SID kedua kelompok sebelum dan sesudah operasi, serta rerata masing-masing kelompok sebelum dan sesudah operasi. Penelitian dilakukan terhadap 48 pasien yang terbagi 2 kelompok, 24 orang diberi RL dan 24 orang diberi NaCl 0,9%. Tabel 1.1 Karakteristik Pasien Kelompok RL dan NaCl 0,9%
Karakteristik Kelompok SID RL (n=24) 26,54 ±2,963 84,79±13,947 Kelompok SID NaCl (n=24) 26,58±3,55 84,79±12,022 p

Nilai SID kelompok SID RL dan SID NaCl diuji t (p = 0,01) dan Mann-Whitney (p = 0,043), berarti nilai SID kelompok SID RL dan SID NaCl setelah operasi berbeda bermakna. Tabel 1.2 Rerata SID pada Kelompok RL, NaCl Pra dan Pasca Operasi
Waktu Operasi Sebelum operasi (Pra) Setelah operasi (Pasca) Kelompok SID RL 38,58±2,28 37,79±1,18 Kelompok SID NaCl 37,42±4,35 39,67±3,10 p 0,253 0,01*

*Significant<0,05 (independent t test)

SID RL sebelum operasi secara garis besar alkalosis, sedangkan SID NaCl sebelum operasi secara garis besar asidosis. SID RL setelah operasi secara garis besar asidosis, sedangkan SID NaCl setelah operasi secara garis besar alkalosis. Tabel 1.3 Rerata SID pada kelompok NaCl pra dan pasca operasi
Waktu Operasi Sebelum dan sesudah operasi (Pra dan Pasca) Kelompok SID NaCl Pra 37,42±4,35 Kelompok SID NaCl Pasca 37,92±4,14 p

0,218

Rata-rata SID NaCl sebelum operasi bersifat asidosis (<38), sedangkan SID pasca operasi juga bersifat asidosis (<38) (tabel 1.3). Tabel 1.4 Rerata SID pada kelompok RL pra dan pasca operasi
Waktu Operasi Sebelum dan sesudah operasi (Pra dan Pasca) Kelompok SID RL Pra 38,58±2,28 Kelompok SID RL Pasca 37,96±0,91 p 0,074

1. Umur (Tahun) 2. Lama Operasi (menit)

0,965 1

Nilai rata-rata ± simpangan baku tidak berbeda bermakna ( p > 0,05). Di kelompok RL pra operasi pasien asidosis 33,33%, alkalosis hipernatremik 58,33% dan normal 8,33%. Di kelompok NaCl 0,9% didapatkan asidosis sebesar 58%, yang alkalosis 42%. Data nilai SID RL pra operasi tidak normal (uji KolmogorovSmirnov p = 0,017). Data nilai SID NaCl pra operasi normal. (uji Kolmogorov-Smirnov SID p 0,733 >0,05). Nilai SID kelompok SID RL dan SID NaCl sebelum operasi tidak berbeda (uji t p = 0,253) dan Mann Whitney p = 0,264; p > 0,05). Pasca operasi pasien kelompok RL yang mengalami asidosis 25% (6 orang) dan yang mengalami alkalosis 29,16% (7 orang), sisanya 45,83% (11 orang) normal. Distribusi SID kelompok NaCl pasca operasi menunjukkan bahwa pasien asidosis 54 % (13 orang), sedangkan sisanya 46% (11 orang) mengalami alkalosis (uji KS 0,063 > 0,05 distribusi normal); data nilai SID NaCl pasca operasi normal (uji KS 0, 455 > 0,05)
CDK 175 / vol.37 no. 2 / Maret - April 2010

Rata-rata SID RL sebelum operasi bersifat alkalosis (>38), sedangkan SID RL setelah operasi turun bersifat netral (=38). PEMBAHASAN Pemilihan cairan pengganti selama tindakan operasi, selama ini masih kontroversial Keduanya dianggap merupakan cairan dasar yang paling baik kandungannya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa infus NaCl 0,9% akan berpengaruh pada pergeseran keseimbangan asam-basa Stewart, karena pada pasien dengan SID < 38, larutan NaCl 0,9% dalam jumlah sesuai kebutuhan, mungkin menjadi asidosis lebih berat atau bahkan alkalosis yang lebih berat, karena keseimbangan kadar natrium dan klorida dalam cairan tersebut. Namun, bila diberi larutan RL, pergeseran keseimbangan asam-basanya tidak besar, karena kandungan

103

CDK Maret April DR.indd 103

2/23/2010 4:14:39 AM

104

CDK 175 / vol.37 no. 2 / Maret - April 2010

CDK Maret April DR.indd 104

2/23/2010 4:14:40 AM

HASIL PENELITIAN
natrium dan kloridanya tidak sama, selain itu juga ada tambahan laktat, yang akan dimetabolisme melalui siklus Krebb dan kemudian akan di buffer oleh bikarbonat menjadi asam bikarbonat dan akhirnya akan dilepaskan melalui paru-paru4, sehingga tidak menggeser keseimbangan asam-basa secara berlebihan. Hasil SID untuk kelompok RL dan SID NaCl dengan menggunakan uji t (p=0,253) dan Mann Whitney (P=0,264), tidak berbeda bermakna (p > 0,05), hal ini mungkin karena intervensi cairan hanya 500 ml dan berfungsi sebagai ”loading” untuk mengatasi kemungkinan hipotensi akibat anestesi regional. Untuk menimbulkan perubahan yang nyata pada SID, paling tidak dibutuhkan intervensi hingga 3 kali perdarahan yang hilang. Kondisi elektrolit pasien sebelum operasi juga akan sangat mempengaruhi SID pasca intervensi. Nilai SID dari kelompok SID RL dan SID NaCl setelah operasi berbeda bermakna (uji t (p=0,01) dan Mann-Whitney (p = 0,043), p < 0,05). Pemberian cairan yang disesuaikan dengan perdarahan, akan mengakibatkan perubahan keseimbangan elektrolit, karena setiap perdarahan atau keluarnya cairan tubuh akan disertai dengan perubahan keseimbangan elektrolit tubuh.5,6,7 Selain itu, NaCl 0,9% lebih hipertonis dibandingkan dengan RL, karena mengandung Na+ (154 mmol/L) yang tinggi, serta Cl- yang tinggi (154 mmol/L). Padahal kandungan Na+ plasma hanya berkisar antara 135 – 147 mmol/L, sedangkan Cl- plasma sebesar 94 – 111 mmol/L. Pemberian infus NaCl 0,9% dalam jumlah yang besar akan berakibat asidosis.4 Selama penelitian, tidak ditemukan gangguan akibat pemberian cairan, seperti alergi dan mual – muntah. Rasa mual, biasanya lebih sering disebabkan oleh manipulasi operator selama operasi. Menurut Magner dkk (2004), oksigenasi selama operasi akan berperan dalam menurunkan kejadian mual – muntah pasca operasi (PONV).6 Distribusi data SID pada kelompok RL dan NaCl sebelum operasi menunjukkan 33,33% (SID < 35) terjadi pada pasien dengan pemberian NaCl awal, sedangkan 8,33% (SID = 38) terdapat pada pemberian RL. Alkalosis banyak terjadi pada pasien dengan pemberian RL sebelum operasi (58,33%), sedangkan pada NaCl hanya 16,66%. Distribusi data SID pasca operasi, menunjukkan bahwa asidosis berat (SID < 35) terjadi pada pemberian NaCl (25%), alkalosis juga lebih banyak terjadi pada pemberian NaCl (25%). Rerata SID kelompok NaCl pra operasi sebesar 37,42+4,35 dan pasca operasi 37,92±4,14 menunjukkan bahwa NaCl bersifat asidosis (<38). Sedangkan pada RL rata-rata SID sebelum operasi adalah 38,58 ± 2,28 berarti alkalosis (>38), sedangkan SID setelah operasi turun menjadi 37,96 ± 0,19 berarti netral (=38).
CDK 175 / vol.37 no. 2 / Maret - April 2010

Berdasarkan analisis data, penggunaan RL atau NaCl secara statistik berbeda tidak bermakna, akan tetapi perbedaan sebesar 1,00 secara klinis sangatlah bermakna. Pemberian cairan kristaloid (RL / NaCl 0,9%) pada kedua kelompok pasien yang menjalani SC sangat bervariasi, disesuaikan dengan jumlah perdarahan selama operasi; sehingga perbedaan klinis SID kedua cairan sangat penting, karena pergeseran keseimbangan sedikit saja akan berakibat fatal. Distribusi SID pemberian cairan kristaloid pasca operasi, menunjukkan bahwa SID 24 pasien yang diberi RL berkisar antara 35 – 41. Sedangkan yang diberi NaCl < 35 dan > 41 tanpa SID yang normal, yang berarti memperberat kondisi asidosis aataupun alkalosis. Cairan pengganti diberikan berdasarkan 5 aspek utama5 : 1. jenis cairan yang harus diberikan 2. jumlah cairan harus jelas 3. kriteria petunjuk terapi cairan harus jelas 4. kemungkinan efek samping yang harus dipertimbangkan 5. biaya Hipovolemi berhubungan dengan aliran yang tidak bisa memenuhi jalur nutrisi sirkulasi. Selama hipovolemi yang berhubungan dengan disfungsi hemodinamik, organisme mencoba mengkompensasi defisit perfusi dengan meredistribusi aliran ke organ vital (jantung dan otak) yang mengakibatkan kurangnya perfusi ke organ lain seperti usus, ginjal, otot, dan kulit. Aktifasi sistem saraf simpatis dan sistem renin-angiotensin-aldosteron merupakan mekanisme kompensatorik untuk menjaga perfusi perifer. Banyaknya substansi vasoaktif yang beredar dan mediator inflamasi merupakan kejadian tambahan pada situasi tersebut. Kompensasi aktivasi neurohumoral awalnya bermanfaat, tetapi mekanisme ini bisa merusak dan mungkin mengakibatkan hasil buruk pada pasien kritis. Jadi, perbaikan adekuat volume intravaskuler tetap merupakan tindakan yang penting dalam pengaturan pasien bedah.16,17 Cairan mungkin bertahan dalam kompartemen intravaskuler atau seimbang dengan kompartemen cairan interstisial/ intraseluler. Tujuan utama penatalaksanaan cairan adalah jaminan hemodinamik yang stabil oleh perbaikan sirkulasi volume plasma, tetapi akumulasi cairan, terutama dalam jaringan interstisial harus dihindari. Hipotesis Starling menganalisis dan menjelaskan perubahan cairan yang melintasi membran biologis. Berdasarkan persamaan tersebut, tekanan onkotik koloid merupakan faktor penting dalam menentukan aliran cairan yang melintasi membran kapiler antara ruang intravaskuler dan interstisial. Jadi, adanya manipulasi tekanan onkotik koloid menjadi jaminan sirkulasi volume intravaskuler yang adekuat.14 Besar dan durasi efek volume tergantung pada : 1. kapasitas substansi ikatan air yang spesifik 2. berapa banyak substansi yang diinfuskan bertahan di rongga intravaskuler

105

CDK Maret April DR.indd 105

2/23/2010 4:14:52 AM

HASIL PENELITIAN
Karena sifat fisikokimia yang berbeda, umumnya penggunaan cairan pengganti dibedakan berdasarkan pada tekanan onkotik koloid, efek volume, dan lamanya bertahan dalam intravaskuler. Keseimbangan elektrolit dan asam-basa harus dinilai dan harus dikoreksi jika perlu, karena pemberian cairan kristaloid (RL/NaCl) akan sangat berpengaruh. Kekurangan waktu paruh intravaskuler dan hiponatremia, biasanya mengurangi penggunaaan cairan saline < 0,9% untuk cairan resusitasi dan pemeliharaan intraoperatif. Penyebab utama pemilihan NaCl dan RL atau larutan garam berimbang yang lain adalah efeknya terhadap rasio Na ekstraseluler dan keseimbangan asam-basa. Tabel 1.5 Pertimbangan kualitatif dalam pemilihan terapi cairan intraoperatif8
Pertimbangan Kapasitas angkut oksigen Faktor koagulasi Tekanan onkotik koloid Edema jaringan Keseimbangan elektrolit Keseimbangan asam-basa Metabolisme glukosa / nutrisi Abnormalitas serebral

Aldosteron meningkat segera mengikuti dan selama operasi, jadi meningkatkan absorbsi tubulus distal renal. Peningkatan aviditas tubulus terhadap natrium, memerlukan pendampingan absorbsi ion negatif (Cl) yang lain atau sekresi hidrogen atau ion K untuk menjaga netralitas elektrik tubulus renal. Jadi, jumlah Cl berhubungan dengan peningkatan Na, yang mungkin terjadi pada pemberian NaCl 0,9% jumlah besar ; sekresi hidrogen dan K akan diminimalkan dengan akibat hiperkloremi yang dipicu oleh asidosis metabolik non-gap. Pemberian RL, bagaimanapun juga akan lebih fisiologis (seimbang) dan tidak mengakibatkan asidosis. Pemberian RL dalam jumlah besar mungkin akan mengakibatkan alkalosis metabolik pasca operasi yang berkaitan dengan adanya peningkatan bikarbonat dari metabolisme laktat.9,10,11,12 SIMPULAN Pemberian infus RL dan infus NaCl 0,9%, yang mulai diberikan sebelum, selama, dan setelah operasi, kemudian dilakukan penilaian terhadap SID (strong ion difference) menunjukkan hasil bahwa : 1. Pemberian RL lebih baik dibandingkan NaCl 0,9%. 2. NaCl 0,9% dapat lebih mungkin menimbulkan asidosis ataupun alkalosis dibandingkan RL.

DAFTAR PUSTAKA 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. Stewart PH. How to Understand Acid-Base : a Quantitative Acid – Base Primer for Biology and Medicine. From : http://www. acidbase..org. Boldt J. Intraoperative Fluid Therapy – Crystalloid or Colloid Debate. Revista Mexicana de Anesthesiologia. 2005; 28 : 23-28 Mustafa I, George YWH. Keseimbangan Asam-Basa (Paradigma Baru). Anesthesia & Critical Care. Vol 21. Jakarta. 2003 Leksana E. SIRS, Sepsis, Keseimbangan Asam-Basa, Syok dan Terapi Cairan. CPD IDSAI Jateng-Bagian Anestesi dan Terapi Intensif FK Undip. Semarang. 2006 Boldt J. Intraoperative Fluid Therapy – Crystalloid or Colloid Debate. Revista Mexicana de Anesthesiologia. 2005; 28 : 23-28 Magner JJ, McCaul C, Carton E, Gardiner J, Buggy D. Effect of Intraoperative Intravenous Crystalloid Infusion on PONV after Gynaecological Laparoscopy :Comparison of 30 and 10 ml kg-1. BJA. 2004 ; 93(3) : 381-385. Schierhout G, Roberts I. Fluid Resuscitation with Colloid or Crystalloid Solutions in Critically Ill Patients : A Systematic Review of Randomized Trials. BMJ. 1998; 316 : 961-4 Soenarjo. Fisiologi Cairan. Simposium Tatalaksana Cairan, Elektrolit dan Asam-Basa (Stewart Approach). Semarang, 2006. Norris MC. Handbook of Obstetric Anesthesia. Lippincott, Philadelphia. 2000.

10. Hood Vl, Tannen RL. Protection of Acid Base Balance by pH Regulation of Acid Production. NEJM 1998; 12 : 819-825. 11. Cooper N. Acute Care : Volume Resuscitation. BMJ. 2004; 12 : 145-146. 12. Singh G, Chaudry KI, Chaudry IH. Crystalloid is as Effective as Blood in the Resuscitation of Hemorrhagic Shock. J. Ann.Surg.. 1992; 04 : 377-382.

106

CDK 175 / vol.37 no. 2 / Maret - April 2010

CDK Maret April DR.indd 106

2/23/2010 4:14:59 AM

HASIL PENELITIAN
IMAGE BANK

GliSODin Meningkatkan Potensi Sel Punca
Agnes O. Lizandi1, Caroline T. Sardjono2, Frisca1, Wahyu Widowati2, Rimonta F. Gunanegara2, Ferry Sandra1
1

Stem Cell and Cancer Institute, Jakarta, 2Fakultas Kedokteran, Universitas Kristen Maranatha, Bandung

Dewasa ini, masyarakat semakin mengenal apa yang disebut dengan sel punca (stem cell) dan mulai menaruh perhatian lebih pada peranan sel tersebut dalam bidang kesehatan. Sel punca merupakan sel yang secara alami terdapat dalam tubuh yang akan dilepaskan menuju organ yang mengalami kerusakan untuk memperbaikinya. Hal ini dapat terjadi karena sifat dari sel punca yang belum mempunyai karakteristik tertentu dan berpotensi untuk memperbanyak diri sehingga dapat berubah menjadi sel yang identik dengan sel asalnya menurut signal biologis yang diterimanya. Oleh karena itu, sel punca menjadi sangat penting dalam proses regenerasi jaringan. Proses regenerasi jaringan secara natural terjadi di dalam tubuh, namun dengan seiring bertambahnya usia, kemampuan regenerasi ini akan semakin berkurang. Untuk mempertahankannya, diperlukan suatu perlakuan khusus yang dapat mempertahankan jumlah dan potensi sel punca. Telah diketahui bahwa dengan mempertahankan jumlah sel punca dalam tubuh baik dengan memberikan asupan tertentu dapat menekan angka timbulnya penyakit sehingga kesehatan umum dapat ditingkatkan.
CDK 175 / vol.37 no. 2 / Maret - April 2010

Pertumbuhan sel punca tentunya dipengaruhi oleh beberapa faktor, salah satunya adalah lingkungan tempat hidupnya (microenvironment). Reactive Oxygen Species (ROS) merupakan salah satu senyawa yang mengganggu pertumbuhan sel karena mengakibatkan reaksi autooksidasi dalam sel yang dapat mengoksidasi lipid pada membran sel yang pada akhirnya mengakibatkan kematian sel. Oleh karena itu dibutuhkan suatu tindakan untuk menekan pembentukan senyawa tersebut, antara lain adalah dengan memberikan asupan anti-oksidan. GliSODin adalah produk yang mengandung anti-oksidan extramel yang didapatkan dari buah melon (Cucumis melo) dan dilapisi dengan gliadin agar tidak rusak jika terkena asam lambung dan baru berfungsi sebagaimana mestinya jika sudah mencapai usus halus. Extramel ini memiliki aktivitas sebagai enzim Super Oxide Dismutase (SOD) yang akan memecah anion peroksida, senyawa reaktif yang dihasilkan pada reaksi auto-oksidasi, menjadi oksigen dan hidrogen peroksida (Gambar 1). Hidrogen peroksida juga merupakan senyawa yang toksik bagi sel, sehingga akan dipecah kembali oleh enzim katalase menjadi oksigen dan air. Produk ini juga telah dilaporkan dapat menurunkan oksidan dalam tubuh.

107

CDK Maret April DR.indd 107

2/23/2010 4:14:59 AM

HASIL PENELITIAN

O2
NAD(P)H Xanthine oxidase NADPH oxidase
Persentase

1,1 1,2 1 0,8 0,6 0,4 0,2 4 2 0

NAD (P)+

Mitochondrial Electron Transport Chain

O2-.

H+

Superoxide dismutase

Catalase

H2O2

Glutathione peroxidase

Kontrol

Extramel

Gambar 2 Perbedaan jumlah sel antara kontrol dengan kultur yang diberi perlakuan extramel.

H2O 2GSH

H 2O GSSG

Glutathione reductase

Selama proses kultur, sel punca mengalami diferensiasi karena pada medium kultur terdapat faktor pertumbuhan yang dapat mengarahkan sel punca menjadi sel progenitor endotel / endothelial progenitor cell (EPC). Akan tetapi tidak menutup kemungkinan bahwa setelah tujuh hari, masih terdapat sel punca yang belum terdiferensiasi (Gambar 2). Oleh karena itu, perlu diuji juga apakah penambahan extramel mempengaruhi laju diferensiasi atau tidak.

Gambar 1 Jalur pembentukan dan pemecahan ROS. Sel Punca (belum berdiferensiasi) Di laboratorium telah dilakukan eksperimen secara invitro untuk mengetahui secara langsung pengaruh extramel pada pertumbuhan serta proses diferensiasi sel punca menjadi sel progenitor. Penelitian ini ingin mengetahui pengaruh extramel terhadap proliferasi sel, kadar ROS dalam sel, apoptosis pada sel, diferensiasi sel, dan kemampuan angiogenesis. Sel yang digunakan untuk penelitian adalah sel yang berasal dari darah tepi yang dikultur pada wadah kultur dan dianalisis perbandingan antara sel yang diberi perlakuan extramel dan yang tidak diberi extramel (kontrol) pada hari ketujuh. Yang pertama kali ingin diketahui adalah efek dari extramel terhadap laju pertumbuhan sel punca. Pada sel punca yang ditumbuhkan pada medium yang diberi extramel, pertumbuhannya lebih cepat sehingga jumlah sel punca yang dihasilkan lebih banyak daripada kontrol. Pada Gambar 2 ditunjukkan bahwa jumlah sel bertambah pesat dari 3.45 juta sel menjadi 17 juta sel setelah penambahan extramel. Selanjutnya, ingin dilihat pengaruh penambahan extramel terhadap kadar ROS di dalam sel dan apoptosis sel. Dari hasil percobaan, diketahui bahwa penambahan extramel pada konsentrasi tertentu juga memberikan dampak positif, yaitu mengurangi kadar ROS sebanyak 41% serta tidak menimbulkan apoptosis pada sel, yang berarti extramel tidak bersifat toksik pada sel (cytotoxic)

Sel EPC (sudah berdiferensiasi)

Gambar 2 Perbedaan morfologi sel punca dan sel EPC. Untuk mengetahui laju diferensiasi maka dilakukan deteksi sel penanda pada permukaan sel. Sel punca yang belum berdiferensiasi memiliki protein penanda CD34, sedangkan sel endotel dewasa telah dilaporkan memiliki protein penanda KDR. Pada sel yang ditumbuhkan dengan penambahan extramel, ekspresi kedua protein penanda tersebut sebanyak dua kali lipat jika dibandingkan dengan kontrol. Pada Gambar 3 diperlihatkan bahwa ekspresi protein penanda CD34 meningkat dari 0.24% menjadi 0.70% dan ekspresi protein penanda KDR meningkat dari 0.60% menjadi 1.20%.
CDK 175 / vol.37 no. 2 / Maret - April 2010

108

CDK Maret April DR.indd 108

2/23/2010 4:15:03 AM

HASIL PENELITIAN
FOTO-FOTO: IMAGE BANK

CDK 175 / vol.37 no. 2 / Maret - April 2010

109

CDK Maret April DR.indd 109

2/23/2010 4:15:05 AM

HASIL PENELITIAN

1,1 KDR 1,2

1

0,8 KDR Persentase 0,6

CD34

0,4 CD34 0,2

Gambar 4 Struktur tube formation.
0 Kontrol Extramel

Gambar 3 Perbandingan ekspresi protein penanda CD34 dan KDR.

Setelah mengetahui bahwa penambahan extramel meningkatkan laju proliferasi dan diferensiasi serta mengurangi kadar ROS, sel yang dihasilkan juga harus diuji apakah penambahan extramel juga memberi pengaruh yang positif pada fungsi sel tersebut. Peran dari EPC adalah membentuk struktur pembuluh darah yang baru (angiogenesis). Dari percobaan yang sudah dilakukan, dapat diketahui bahwa sel yang diberi perlakuan extramel membentuk struktur tube formation yang lebih baik (Gambar 4).

Sel punca belum memiliki sifat atau fungsi sel yang spesifik tetapi sel ini dapat berubah menjadi sel lain tergantung pada sinyal biologis yang diterimanya sehingga sel ini dapat berperan dalam perbaikan sel serta dapat diaplikasikan untuk mengatasi proses penuaan. Pertumbuhan sel punca dipengaruhi lingkungan tempat hidupnya dan terkadang terbentuknya senyawa ROS dalam tubuh terus bertambah seiring bertambahnya usia. Dari penelitian yang sudah dilakukan pada laboratorium SCI, telah diketahui bahwa extramel yang merupakan senyawa inti dari produk GliSODin dapat membantu menurunkan kadar radikal bebas, tidak bersifat toksik, meningkatkan potensi pembelahan sel, mempercepat diferensiasi, serta meningkatkan kualitas sel. Maka dapat disimpulkan bahwa produk GliSODin mampu meningkatkan potensi sel punca.

Daftar Pustaka 1. 2. 3. 4. 5. Boonstra J, Post JA. Molecular events associated with reactive oxygen species and cell cycle progression in mammalian cells. Gene. 2004; 337:1-13. Germano C. SOD/Gliadin : The ultimate defense against disease and aging. Kensington Publishing Corp. 2001. Hlm 121-135. Hill J, Zalos G, Halcox JPJ, dkk. Circulating Endothelial Progenitor Cells, Vascular Function, and Cardiovascular Risk. N Engl J Med 2003;348;593-600. Matés JM, Sánchez-Jiménez FM. Role of reactive oxygen species in apoptosis: implications for cancer therapy. The Int J Biochem & Cell Biol 1999; 32(2): 157-170. Aitken RJ, Roman SD. Antioxidant Systems and Oxidative Stress in the Testes. Adv Exp Med Biol 2008;636:154-71.

110

CDK 175 / vol.37 no. 2 / Maret - April 2010

CDK Maret April DR.indd 110

2/23/2010 4:15:07 AM

LAPORAN KASUS

Post Cesarean Placenta Increta
Eddy Suparman
Dept. of Obstetrics and Gynecology, Sam Ratulangi University/General Hospital, Manado, Indonesia

ABSTRAK Perdarahan post partum masih merupakan penyebab utama mortalitas dan morbiditas persalinan. Angka kejadiannya sekitar 5 % dari persalinan normal. Perdarahan post partum dapat dibagi atas perdarahan post partum dini jika terjadi sebelum 24 jam pasca persalinan ; terutama disebabkan karena laserasi vagina, atonia uterus, retensio plasenta, dan koagulopati. Dan perdarahan post partum lambat jika terjadi setelah 24 jam post partum ; dapat disebabkan oleh retensio plasenta, sub-involusi, dari tempat implantasi, lisis bekuan dan trombus. Laporan kasus ini mengenai seorang wanita 28 tahun dengan kehamilan 43 – 44 minggu yang menjalani seksio sesarea atas indikasi makrosomia. Meskipun operasi berjalan lancar, pada hari ke lima post seksio sesarea timbul perdarahan dari jalan lahir. Setelah dilakukan kuretase dan tampon utero-vaginal tetap terjadi perdarahan, maka dilakukan histerektomi subtotal. Pemeriksaan histopatologi menemukan suatu plasenta inkreta. Kata kunci: perdarahan post partum, plasenta inkreta

INTRODUCTION Post partum bleeding is still a major cause of mortality and morbidity during delivery. 1,2,3 Post partum bleeding defined as 500 – 1000 ml blood loss after vaginal delivery or more than 1000 ml after cesarean section.1 The incidence is about 5 % in normal delivery. Post partum hemorrhage can be classified as primary if occurred within the first 24 hour usually caused by vaginal laceration, uterine atony, placenta retention, or coagulopathy; and secondary if occurred after 24 hours, usually within 5 to 14 days with mean at day 7. It can occur after placental retention, sub-involution of placenta implantation site and in incision site, lysis of clot and thrombus. It is occurred more commonly in primipara.1, 2 Retained placenta is a common cause of postpartum hemorrhage. The etiology can be functional such as weak contraction, adhesive placenta or abnormal placental site: placental accreta, increta, percreta. These abnormal placental site caused by absence of whole or part of decidual base and improperly developed fibrous tissue, allowing invasion of placental villi into myometrium (accreta) or penetrate through myometrium (percreta).1,2,5 The adhesion can be total - all cotyledon invades the myometrium, or partial or focal. The incidence was 1 in about 7000 deliveries.5 The problem may occurred at delivery, especially during placenta delivery. Bleeding depends on depth or width or the amount of adhesive cotyledon. In total adhesion, the bleeding is minimal or not occured until placental manual procedure. Total adhesion can cause uterus inversion after pulling the cord, and also placenta delivery failure.2, 6 Partial or focal adhesion usually caused more bleeding because of
CDK 175 / vol.37 no. 2 / Maret - April 2010

partial removal in placental implantation site, and rsidual cotyledon after placental manual. The management consist of hysterectomy and blood transfusion. Hysterectomy is operative approach to evacuate whole or part of uterus (excluding cervix). Finney (John Hopkins University) indicates that this operation was for life saving, to eliminate symptoms and deformities. Hill and Beischer reported that hysterectomy was done in uncontrolled postpartum hemorrhage.7-10 This paper featured a case of hysterectomy done in 5th day after cesarean section because of undiagnosed placenta increta. The proper diagnosis and management, complication, prognosis and social aspect will be discussed. CASE REPORT A 28 year-old woman was sent by local midwife with lower abdominal pain. The amnion was already ruptured. She had 5 ANC visits at Kombos PHC and the last one at Manado General Hospital. USG and NST was scheduled three days later, but she failed to come. She married for one and half years; her last menstrual period was November 5th, 2000. Her pregnancy is about 43 to 44 weeks. She never had abortion before. Vital signs were within normal limits. Body height was 156 cm and the body weight was 64 kg. The fundal height was 37 cm with left back cephalic presentation. Estimated fetal weight was about 4000g. Fetal heart sound was decreasing and intrauterine resuscitation was done followed with emergency cesarean section. A female baby was born, 4080g, 51 cm, with APGAR score 3-5-7; there was slight meconium and 40% infarction of placenta. No bleeding was found. Uterus, both fallopian tube

111

CDK Maret April DR.indd 111

2/23/2010 4:15:08 AM

LAPORAN KASUS
and both ovaries were normal. After surgery, patient was in good condition. On fifth day post surgery, the patient had vaginal bleeding. The blood pressure was 100/60 mmHg, pulse rate was 96 and her hemoglobin was 6.4 g/dL. Uterus contraction was not good, treated with uterotonic injection; fundal height was 2 fingers below umbilicus. Three bags of whole blood transfusion was given. There was still bleeding. Blood pressure dropped to 90/60 mmHg and the patient became anemic. Curettage was done, evacuating rest placenta but there was still bleeding even though tamponade had been done. So laparotomy was done : the uterus was as big as baby’s head with weak contraction. The bleeding came from placental site at posterior corpus uteri. No bleeding from cavum abdomen or low segment incision. Subtotal hysterectomy was done. The patient condition was good after operation.The histopathology finding on myometrium was normal smooth muscle cells invaded by placental tissue. There was fibrin with focal necrosis and inflammation. No neoplasm was found. Conclusion: placental increta. DISCUSSION This case was primipara, 28 years old, 43-44 weeks of pregnancy, first stage of labor; intrauterine fetal, singleton, alive, cephalic presentation, macrosomia, with decreased of fetal heart sound. Macrosomia was diagnosed from fundal height (37 cm - Johnson’s rule is 4030g). The patient had vaginal bleeding 5 days after operation. The conjunctivae were anemic. This is a late postpartum hemorrhage that could happen between 5th to 14th day postpartum, usually on 7th day, because of clot lysis and thrombosis removal.1,3 At inspection, the bleeding was from external os. There was no vaginal laceration and also no incision bleeding. Fundal height was 2 fingers below umbilicus and hemoglobin was 6.2 g/dL. It was uterine atony. Predisposition factor of uterine atony are low nutritional status, uterine muscles’ weakness, deliveries under anesthesia and overdistended pregnancy.1, 2, 3 This patient had overdistended uterus and anemia. The management of uterine atony is uterus massage, uterotonic (oxytocine 10 IU IM and 40 IU in 500ml normal saline/ RL), intravenous fluid for restoring fluid and drugs delivery. If bleeding still continues and the uterus cannot contract well, bimanual compression can be done. Misoprostol 400mg can also be given per rectal to induce contraction. If still unsuccessful, ligation of uterine arteries can be done. If the bleeding still continues, hysterectomy is the last choice.3 This patient had cesarean section; so vaginal laceration, trauma, uterine rupture, and uterine inversion can be excluded. Residual placenta is the common cause of late postpartum hemorrhage, especially in primipara; trophoblast invading the myometrium can cause sub-involution and perform thrombus recanalization after delivery.1, 2 This case had already have uterine massage and uterotonic also had been given; but there was rebleeding. Evacuation of about 300 ml of clot and placental tissues from cavum uteri has been done digitally; continued by curettage. This patient was prepared for laparotomy, to seek other causes of uncontrolled bleeding.7, 8 The histopathology finding was placental increta. This condition is difficult to detect on prenatal examination and can only be diagnosed properly by histopathology that showed invading villi chorialis into myometrium. Placental implantation can be totally or just partially invaded. In total condition there will be less or no bleeding until manual placenta procedure. Inversion of uterine can occur during pulling out the umbilical cord, and also at placental removal.8 Partial or focal condition usually cause more bleeding. MANAGEMENT This case was managed with hysterectomy due to uncontrolled bleeding. Subtotal hysterectomy was chosen to minimize bleeding.3,4 The outcome depended on the correct timing of hysterectomy and blood transfusion. Methrotrexate can help in focal placental accreta, but its efficacy and safety is uncertain.1 Hysterectomy was delayed because of misdiagnosis. Since there were no difficulties in placenta delivery during the cesarean section, abnormalities on placental implantation were not considered. Placental increta can be diagnosed only by histopathology examination.5, 7 PROGNOSIS Postpartum hemorrhage is still unpredictable despite careful attention. It is still an important cause of maternal death. This case got a ‘dubia ad bonam’ prognosis, both for the mother and the baby.

REFERENCES 1. Cohen WR, Post Partum Hemorrhage and Hemorrhagic Shock. In Cherry and Mekattz’s Complication of Pregnancy. Lippincott Williams & Wilkins, Philadelphia, 2000; 803-15 2. Cunningham G, Mac Donald P, Gant NF. Obstetric Hemorrhage. In : Williams Obstetrics 20th ed. Connecticutt: Appleton and Lange, 1997: 765-67 3. Perdarahan Setelah Bayi Lahir. Dalam: Buku Acuan Nasional. Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal, JNPPKR-POGI, edisi 1, Jakarta 2000: 173-84 4. Hankin V, Clark L, Cunningham G. Obstetric Hysterectomy. In: Operative Obstetrics. Connecticutt: Appleton and Lange, 1995: 333-42 5. Ella O, Rence T, Marwan O. Creatine Kinase as a Biochemical Marker in Diagnosis of Placenta Increta. Am J Obstet Gynecol; 1999: (4);180: 1039-40 6. Lauria MR, Cotton DB. Modern Management of Placenta Previa and Placenta Accreta. In: Sciarra JJ. Gynecology and Obstetrics Vol. 2. Philadelphia: Lippincott-Raven, 1977: Ch. 49 7. Plauche WC. Cesarean Hysterectomy. In: Sciarra JJ. Gynecology and Obstetrics Vol. 2. Philadelphia: Lippincott-Raven, 1977: Ch. 84 8. Darnel JE, Shackelford. Supracervical Hysterectomy: Back to The Future. Am J Obstet Gynecol 1999; (3);180: 513-15 9. Thomson JD. Hysterectomy. In: Te Linde’s Operative Gynecology. Thomson JD, Rock JA eds. 7th ed. Philadelphia:Lippincott Co, 1996; 663-732 10. Kjerulff KH, Langenberg PW, Rhodes JC, et al. Effectiveness of Hysterectomy. Obstetr. Gynecol. 2000; (93):319-26

112

CDK 175 / vol.37 no. 2 / Maret - April 2010

CDK Maret April DR.indd 112

2/23/2010 4:15:09 AM

BERITA TERKINI

AAA: Aspirin Tidak Direkomendasikan Sebagai Pencegahan Primer Kejadian Kardiovaskular

IMAGE BANK

O

bat-obat antiplatelet seperti aspirin telah digunakan secara luas dengan tujuan mengurangi kejadian vaskular. Secara umum, ada konsensus yang telah diterima secara luas mengenai manfaat pemberian aspirin jangka panjang dalam mengurangi risiko kematian, infark miokard dan stroke pada pasien-pasien risiko tinggi. Aspirin juga telah digunakan sebagai terapi pencegahan bagi pasien SKA (Sindroma Koroner Akut) yang akan menjalani angioplasti dan sebagai terapi jangka panjang untuk pencegahan kejadian kardiovaskular dan serebrovaskular.

aspirin tidak bermanfaat mengurangi kejadian kardiovaskular dibandingkan plasebo; pemberian aspirin juga meningkatkan risiko perdarahan mayor. Dr. Gerry Fowkes mengatakan bahwa dengan hasil ini, tidak ada alasan cukup kuat untuk menggunakan aspirin sebagai pencegahan primer kejadian vaskular pada populasi umum. Hasil penelitian AAA ini berlawanan dengan penemuan metaanalisis ATT (Antithrombotic Trialists), yang hasilnya telah diumumkan sebelumnya di Lancet. ATT merupakan penelitian metaanalisis atas 6 penelitian pencegahan primer dan 16 penelitian pencegahan sekunder, yang membandingkan pemberian aspirin jangka panjang dengan kontrol. Hasil penelitian ATT memperlihatkan bahwa dalam penelitian pencegahan primer, aspirin bermanfaat mengurangi kejadian vaskular berat (0.51% aspirin vs 0.57% kontrol per tahun, p=0,0001). Sedangkan dalam penelitian pencegahan sekunder, pemberian aspirin juga mengurangi kejadian vaskular berat dibandingkan kontrol (6.7% vs 8.2% per tahun, p<0,0001). Penelitian AAA dilakukan di pusat Skotlandia, tempat dengan kejadian tinggi penyakit jantung koroner dan ke-

Namun para peneliti AAA, berpendapat lain. Pemberian aspirin dosis rendah sebagai pencegahan kejadian kardiovaskular pada individu sehat dengan atherosklerosis asimptomatik tidak direkomendasikan. Pernyataan ini berdasarkan hasil penelitian AAA (Aspirin for Asymptomatic Atherosclerosis), yang dipresentasikan oleh dr. Gerry Fowkes dari University of Edinburgh, Skotlandia pada kongres ESC (European Society of Cardiology) 2009 di Barcelona, Spanyol. Sejumlah 3.350 pasien dengan ABI (ankle-brachial index) rendah (<0,95) dilibatkan dalam penelitian ini dan ternyata
CDK 175 / vol.37 no. 2 / Maret - April 2010

113

CDK Maret April DR.indd 113

2/23/2010 4:15:09 AM

114

CDK 175 / vol.37 no. 2 / Maret - April 2010

CDK Maret April DR.indd 114

2/23/2010 4:15:16 AM

BERITA TERKINI
matian karena penyakit jantung. Para peneliti AAA antara tahun 1998 sampai 2001 mengundang pria dan wanita usia 50 hingga 75 tahun untuk menjalani pesapihan (screening) atherosklerosis asimptomatik dengan mengukur ABI. Angka ABI yang rendah pada individu usia sehat berhubungan dengan peningkatan kejadian kardiovaskular pada masa yang akan datang. Karena pemeriksaan ini sederhana dan tidak invasif, pemeriksaan menggunakan ABI memiliki potensi sebagai pemeriksaan pesapihan pada individu risiko tinggi. Dari 166.000 undangan yang dikirim, para peneliti melakukan penyapihan pada 28980 individu. Dari semua individu ini, 3350 pasien memiliki ABI yang rendah dan cocok untuk dilibatkan dalam penelitian AAA. Tiga ribu tiga ratus limapuluh pasien tersebut secara acak diberi terapi aspirin enteric-coated 100 mg sehari atau plasebo selama rerata (mean) 8,2 tahun. Endpoint primer penelitian ini adalah gabungan kejadian awal koroner fatal atau non-fatal, stroke atau revaskularisasi. Endpoint sekunder semuanya adalah kejadian vaskular, yang mencakup gabungan awal kejadian koroner fatal dan non-fatal, stroke atau revaskularisasi, angina, klaudikasio intermiten, transient ischemic attack, dan kematian karena semua sebab. Pasien kedua kelompok sesuai dalam hal usia (rerata 62 tahun), jenis kelamin (30% pria) dan faktor komorbid. Sepertiga peserta penelitian perokok. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa aspirin tidak mengurangi kejadian kardiovaskular maupun serebrovaskular. Secara keseluruhan, ada 357 kejadian, 181 (10,8%) di kelompok aspirin dan 176 (10,5%) di kelompok plasebo (hazard ratio 1,03; 95% CI 0,84–1,27) (tabel 1). Tabel 1. Hasil Endpoint Primer untuk Aspirin vs Plasebo
Endpoin Kejadian koroner fatal Stroke fatal Kejadian koroner nonfatal Stroke non-fatal Revaskularisasi koroner Revaskularisasi perifer Aspirin (n=1675), n (%) 28 (1.7) 7 (0.4) 62 (3.7) 37 (2.2) 24 (1.4) 23 (1.4) Placebo (n=1675), n (%) 18 (1.1) 12 (0.7) 68 (4.1) 38 (2.3) 20 (1.2) 20 (1.2) 4. 3.

Selain itu, dr. Gerry Fowkes menambahkan bahwa hasil penelitian memperlihatkan bahwa kematian karena kanker pada kelompok plasebo lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok aspirin (HR 1,71; 95% CI 0,99–2,97). Dr. Carlo Patrono dari Catholic University School of Medicine, Roma, Italia, mengatakan bahwa penelitian AAA ini memiliki metoda penelitian yang kurang sahih dan hal inilah yang membuat hasil negatif. Untuk menindaklanjuti hasil penelitian AAA yang kontradiktif dengan penelitian ATT, dr. Colin Baigent dari Oxford University, Inggris, pemimpin penelitian ATT dan dr. Gerry Fowkes sepakat untuk meneliti lebih lanjut apakah penelitian AAA cocok untuk dimasukkan ke dalam penelitian metaanalisis ATT. Hasil penelitian lanjutan ini akan disampaikan oleh the Clinical Trial Service Unit. SIMPULAN 1. Dalam penelitian AAA diperlihatkan bahwa aspirin tidak berbeda bermakna dibandingkan dengan plasebo dalam menurunkan kejadian vaskular. 2. Efek samping perdarahan di kelompok aspirin lebih besar dibandingkan dengan kelompok plasebo. 3. Berdasarkan hasil penelitian AAA, pemberian aspirin dosis rendah sebagai pencegahan primer kejadian kardiovaskular pada pasien sehat dengan atherosklerosis asimptomatik tidak direkomendasikan, dan perlu ditelaah lebih lanjut. (YYA)

REFERENSI : 1. 2. Aspirin and Clopidogrel: Efficacy, Safety, and the Issue of Drug Resistance. Arterioscler Thromb Vasc Biol 2004; 24; 1980-7. Heartwire. Use of Low-Dose Aspirin in Primary Prevention of Cardiovascular Events Not Recommended. Abstract. [cited Oct. 1, 2009]. Available from: http://www.medscape.com/viewarticle/708139?src=top10&uac=117 092CG Aspirin in the primary and secondary prevention of vascular disease: collaborative meta-analysis of individual participant data from randomised trials. Abstract. [cited Oct. 1, 2009]. Available from: http://www.ncbi.nlm. nih.gov/pubmed/19482214?dopt=Abstract Zimmermann N, Gams E, Hohlfed T. Aspirin in coronary artery bypass surgery: new aspects of and alternatives for an old antithrombotic agent. Eur J Cardiothorac Surg 2008; 34: 93-108.

Dalam penelitian ini juga ditemukan bahwa efek samping perdarahan mayor lebih besar pada kelompok aspirin (tabel 2). Tabel 2. Perbandingan efek samping aspirin vs plasebo
Efek samping Perdarahan mayor Ulkus Gastrointestinal Aspirin (n=1675), n (%) 34 (2.0) 14 (0.8) Placebo (n=1675), n (%) 20 (1.2) 8 (0.5)

CDK 175 / vol.37 no. 2 / Maret - April 2010

115

CDK Maret April DR.indd 115

2/23/2010 4:15:23 AM

BERITA TERKINI
IMAGE BANK

Angkak plus Modifikasi Gaya Hidup Sebagai Terapi Alternatif Pasien yang Intoleran terhadap Statin

emberian angkak, yang dikombinasikan dengan modifikasi gaya hidup bermanfaat mengurangi kadar kolesterol LDL (low-density lipoprotein) dan tidak disertai peningkatan kreatinin fosfokinase maupun derajat nyeri. Oleh sebab itu, angkak plus modifikasi gaya hidup dapat menjadi terapi alternatif bagi pasien-pasien yang tidak bisa mentoleransi efek samping mialgia karena terapi statin. Kesimpulan ini didasarkan pada hasil penelitian dr. David J. Backer dan rekan dari Chestnut Hill Hospital, University of Pennsylvania School of Medicine, Philadelphia, Pennsylvania, Amerika Serikat. Hasil penelitian ini telah dipublikasikan dalam jurnal Annals of Internal Medicine edisi bulan Juni 2009. Angkak telah dikenal penduduk China sejak ratusan tahun yang lalu. Penggunaan angkak pertama kalinya didokumentasikan pada masa dinasti Tang tahun 800 sesudah

P

Masehi. Angkak sejak dahulu digunakan untuk membuat anggur beras, sebagai pengawet untuk mempertahankan warna dan rasa daging/ikan, serta sebagai obat. Dalam farmakope China kuno dari Dinasti Ming (1368–1644), dicatat bahwa angkak dapat memperbaiki sirkulasi darah. Penelitian-penelitian terkini pada binatang percobaan dan pada manusia memperlihatkan bahwa angkak dapat menurunkan kadar kolesterol darah. Bahkan dalam sebuah penelitian acak terkontrol, tersamar ganda dan prospektif, yang telah dipublikasikan dalam The American Journal of Clinical Nutrition tahun 1999, diketahui bahwa angkak terbukti dapat menurunkan kadar kolesterol total, serta menurunkan kolesterol LDL. Dr. David J. Backer dan rekan melakukan sebuah penelitian
CDK 175 / vol.37 no. 2 / Maret - April 2010

116

CDK Maret April DR.indd 116

2/23/2010 4:15:23 AM

BERITA TERKINI
Tabel 1. Perbandingan penurunan kadar LDL pada minggu ke-12 dan minggu ke-24, antara kelompok I (diterapi dengan angkak), dengan kelompok II (diterapi dengan plasebo)
Kelompok I (n=31) Penurunan kadar LDL pada minggu ke-12, dibandingkan dengan titik awal (baseline). Penurunan kadar LDL pada minggu ke-24, dibandingkan dengan titik awal (baseline). 1.11 mmol/L (43 mg/dL) 0.90 mmol/L (35 mg/dL) Kelompok II (n=31) 0.28 mmol/L (11 mg/dL) 0.39 mmol/L (15 mg/dL) Nilai p P<0,001

P=0,011

untuk mengetahui efektifitas dan tolerabilitas angkak plus modifikasi gaya hidup sebagai terapi pada pasien-pasien dislipidemia yang intoleran terhadap terapi statin karena efek samping mialgia. Penelitian ini merupakan penelitian acak terkontrol, melibatkan 62 pasien dislipidemia yang berhenti menggunakan statin karena efek samping mialgia. Pasien secara acak dibagi menjadi 2 kelompok: Kelompok I (n=31 pasien) menerima terapi angkak 1.800 mg, 2 kali sehari; dan Kelompok II (n=31 pasien) diberi plasebo, dua kali sehari. Terapi diberikan selama 24 minggu. Selain itu, pasien menjalani program modifikasi gaya hidup selama 12 minggu. Outcome primer adalah kadar kolesterol LDL pada titik awal (baseline), minggu ke-12 dan pada minggu ke-24. Outcome sekunder meliputi kadar kolesterol total, kadar kolesterol HDL (high-density lipoprotein), kadar trigliserida, kadar enzim hati dan kadar kreatinin fosfokinase, berat badan, serta penilaian skor Brief Pain Inventory. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa kadar LDL pada kelompok I secara bermakna lebih rendah dibandingkan dengan kelompok II Selain itu kelompok I juga mengalami perbaikan kadar kolesterol lebih baik secara bermakna dibandingkan dengan

kelompok II (p<0,001 pada minggu ke-12 dan p = 0,016 pada minggu ke-24). Kadar kolesterol HDL, trigliserida, kadar enzim hati, kreatinin fosfokinase, penurunan berat badan dan skor derajat nyeri tidak berbeda bermakna antara kedua kelompok, baik pada minggu ke-12 maupun pada minggu ke-24. Para ahli dalam penelitian ini mengatakan bahwa angkak dan modifikasi gaya hidup dapat menurunkan kadar kolesterol LDL tanpa meningkatkan kadar kreatinin fosfokinase maupun meningkatkan nyeri. Terapi angkak plus modifikasi gaya hidup dapat menjadi terapi alternatif bagi pasienpasien yang tidak dapat mentoleransi efek samping mialgia karena terapi statin. Karena penelitian ini melibatkan sedikit pasien , perlu dilakukan penelitian lanjutan dengan pasien yang lebih banyak untuk memberikan data yang lebih banyak mengenai efektifitas angkak sebagai terapi dislipidemia. SIMPULAN Terapi angkak plus modifikasi gaya hidup dapat menjadi terapi alternatif bagi pasien-pasien dislipidemia yang tidak dapat mentoleransi efek samping mialgia pada terapi statin. (YYA)

REFERENSI : 1. 2. 3. 4. 5. Becker DJ, Gordon RY, Halbert SC, French B, Morris PB, Rader DJ, et al. Red yeast rice for dyslipidemia in statin-intolerant patients: a randomized trial. Ann Intern Med. 2009; 150(12): 830-9. Abstract. [cited 2009 October 15]. Available from: http://www.annals.org/cgi/content/short/150/12/830 Heber D, Yip I, Ashley JM, Elashoff DA, Elashoff RM, Go VLW. Cholesterol-lowering effects of a proprietary Chinese red-yeast-rice dietary supplement. Am. J. Clinical Nutr 1999;69: 231 - 6. Medscape. Red yeast rice for dyslipidemia in statin-intolerant patients: a randomized trial. Abstract. [cited 2009 October 15]. Available from: http://cme.medscape.com/viewarticle/709441?src=cmemp&uac=117092CG Red Rice Indonesia. Angkak...apa itu? [cited 2009 October 20]. Available from: http://angkak100.com/ Wikipedia. Angkak. Abstract. [cited 2009 October 20]. Available from: http://id.wikipedia.org/wiki/Angkak

CDK 175 / vol.37 no. 2 / Maret - April 2010

117

CDK Maret April DR.indd 117

2/23/2010 4:15:28 AM

BERITA TERKINI
IMAGE BANK

Apakah Semua Antihipertensi Golongan ARB Bermanfaat Melindungi Ginjal?

D

alam jurnal Annals of Internal Medicine edisi bulan Juli 2009, dipublikasikan 2 penelitian besar, TRANSCEND dan DIRECT, yang menunjukkan bahwa telmisartan dan candesartan diragukan manfaatnya dalam pencegahan penyakit ginjal maupun mikroalbuminuria. Penelitian TRANSCEND (Telmisartan Randomised Assessment Study in ACE [angiotensin-converting enzyme] Intolerant Subjects with Cardiovascular Disease) oleh dr. Johannes F.E. Mann dan rekan dari Ludwig Maximilians University di Munich, Jerman, dilakukan untuk mengetahui efek terapi telmisartan pada pasien-pasien yang memiliki penyakit kardiovaskular atau diabetes, dengan kerusakan target organ namun tanpa mikroaluminuria. Penelitian ini merupakan penelitian tersamar ganda, terkontrol, melibatkan 5927 pasien yang secara acak diberikan terapi telmisartan 80 mg sehari (n=2954) atau plasebo (n=2972). Selain itu pasien juga diberi terapi standar selama rerata 56 bulan. Endpoint primer penelitian ini adalah outcome ginjal gabungan yang terdiri atas hemodialisis atau

peningkatan kadar kreatinin serum, perubahan laju filtrasi glomerulus dan perubahan albuminuria. Hasil penelitian ini memperlihatkan bahwa endpoint primer (outcome ginjal gabungan) lebih banyak terjadi pada kelompok telmisartan dibandingkan dengan kelompok plasebo. Pasien-pasien dalam kelompok telmisartan mengalami peningkatan albuminuria yang lebih kecil dibandingkan dengan plasebo; di kelompok telmisartan pasien yang harus menjalani hemodialisis 7 orang, sedangkan pada kelompok plasebo 10 orang. Tetapi kadar kreatinin serum meningkat lebih banyak di kelompok telmisartan, juga laju filtrasi glomerulus mengalami penurunan yang lebih besar di kelompok telmisartan. Mengacu pada hasil penelitian, para ahli dalam penelitian TRANSCEND ini menyimpulkan bahwa telmisartan tidak lebih baik secara bermakna dibandingkan dengan plasebo terhadap outcome ginjal. Bagaimana manfaat antihipertensi ARB lainnya, candesarCDK 175 / vol.37 no. 2 / Maret - April 2010

118

CDK Maret April DR.indd 118

2/23/2010 4:15:29 AM

BERITA TERKINI

CDK 175 / vol.37 no. 2 / Maret - April 2010

119

CDK Maret April DR.indd 119

2/23/2010 4:15:38 AM

BERITA TERKINI
Tabel 1. Hasil penelitian TRANSCEND, perbandingan outcome antara kelompok terapi telmisartan dengan kelompok plasebo.
Kelompok terapi telmisartan Jumlah pasien dengan outcome ginjal gabungan Pasien yang akhirnya menjalani hemodialisis Peningkatan kadar kreatinin serum (2 kali lipat) Peningkatan albuminuria Penurunan laju filtrasi glomerulus 58 pasien (1,96%) 7 pasien 56 pasien 32% –3.2 mL/minute/ 1.73 m2 Kelompok terapi plasebo 46 pasien (1,55%) 10 pasien 36 pasien 63% –0.26 mL/minute/ 1.73 m2 Nilai P P=0,20 0,031 P<0,001 P<0,001

tan, terhadap outcome ginjal? Penelitian DIRECT (The Diabetic Retinopathy Candesartan Trial) merupakan penelitian yang melibatkan 3326 pasien diabetes tipe 1 dan 1905 pasien diabetes tipe 2, yang berasal dari 309 pusat kesehatan. Pasien-pasien dalam penelitian ini rata-rata memiliki tekanan darah normal dan normoalbuminuria, yang dinyatakan sebagai nilai ekskresi rerata albumin urin 5.0 μg/menit. Pasien secara acak diterapi dengan candesartan 16 mg sehari (ditingkatkan hingga 32 mg sehari) atau plasebo. Follow-up dilakukan dalam rerata 4,7 tahun. Setiap pasien menjalani pemeriksaan urin setiap tahun untuk menentukan nilai ekskresi albumin urin. Outcome primernya adalah kejadian mikroalbuminuria baru, yang didefinisikan sebagai ekskresi albumin urin sebesar ≥ 20 μg/menit (sebanyak 3-4 kali pemeriksaan). Sedangkan outcome sekundernya adalah perubahan rerata albuminuria. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa candesartan tidak berpengaruh secara bermakna terhadap mikroalbuminuria (pooled HR, 0,95; 95% CI, 0,78 – 1,16; P = 0,60). Walau kelompok candesartan memiliki nilai perubahan tahunan albuminuria sebesar 5,53% lebih rendah dibandingkan dengan kelompok plasebo (95% CI, 0,73% - 10,14%; P = 0,024), para peneliti mengatakan bahwa candesartan 32 mg sehari selama 4,7 tahun tidak mencegah mikroalbuminuria pada pasien-pasien diabetes tipe 1 dan 2. Walau obat-obat antihipertensi golongan ARB dikenal bermanfaat mengurangi progresifitas albuminuria dan kejadian nefropati nyata pada pasien-pasien diabetes melitus, penelitian TRANSCEND dan DIRECT memperlihatkan bahwa telmisartan dan candesartan diragukan manfaatnya dalam mencegah penyakit ginjal atau mikroalbuminuria. Tampaknya, hingga kini, dari semua golongan ARB, hanya irbesartanlah yang memiliki evidence base yang paling baik mengenai manfaatnya sebagai ARB yang dapat melindungi ginjal (renoproteksi).

Penelitian-penelitian besar seperti IDNT (Irbesartan Diabetic Nephropathy Trial), IRMA 2 (Irbesartan in Patients with Type 2 Diabetes and Microalbuminuria), dan PRIME (Program for Irbesartan Mortality and Morbidity Evaluation), menunjukkan bahwa irbesartan terbukti mengurangi inflamasi, mencegah terjadinya proteinuria klinis pada pasien-pasien dengan mikroalbuminuria, serta menghambat progresifitas nefropati pada pasien-pasien dengan proteinuria. Manfaat renoproteksi irbesartan melampaui kemampuannya menurunkan tekanan darah. SIMPULAN Penelitian TRANSCEND dan DIRECT memperlihatkan bahwa telmisartan dan candesartan diragukan manfaatnya dalam mencegah penyakit ginjal atau mikroalbuminuria, sehingga manfaat penurunan albuminuria oleh beberapa ARB lainnya seperti irbesartan diperkirakan bukan merupakan class effect. Hingga kini, hanya irbesartanlah yang terbukti dapat melindungi ginjal, dengan kata lain bersifat renoprotektif. (YYA)

REFERENSI : 1. Lewis EJ, Hunsicker LG, Clarke WR, Berl T, Pohl MA, Lewis JB, et al. Renoprotective Effect of the Angiotensin Receptor Antagonist Irbesartan in Patients With Nephropathy Due to Type 2 Diabetes. N Engl J Med 2001; 345: 851-60. 2. 3. Medscape. Telmisartan, Candesartan May Not Prevent Renal Disease or Microalbuminuria. Persson F, Rossing P, Hovind P, Stehouwer CDA, Schalkwijk C, Tarnow L, et al. Inflammatory Activity in Patients With Type 2 Diabetes and Microalbuminuria An IRMA 2 Substudy. Diabetes 2006; 55: 3550–5. 4. Ravera M, Ratto E, Vettoretti S, Parodi D, Deferrari G. Prevention and Treatment of Diabetic Nephropathy: The Program for Irbesartan Mortality and Morbidity Evaluation. J Am Soc Nephrol 2005; 16: S48–S52.

120

CDK 175 / vol.37 no. 2 / Maret - April 2010

CDK Maret April DR.indd 120

2/23/2010 4:15:39 AM

BERITA TERKINI
IMAGE BANK

libatkan 194 anak laki-laki dan perempuan pasca menarche berusia 10-17 tahun. Dari semua pasien, 24% diberi terapi colesevelam dan 76% lainnya tidak mendapatkan terapi. Penelitian berlangsung selama 8 minggu. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa terapi colesevelam 3,8 gram sehari menurunkan kadar LDL (-13%) dan meningkatkan kadar HDL (+6%) dari garis dasar (baseline) lebih baik dibandingkan dengan plasebo (p ≤ 0,05 untuk kedua parameter). Dalam penelitian ini, efek samping pemberian colesevelam relatif jarang, yang teramati di antaranya adalah nyeri kepala, lemah, peningkatan kadar kreatinin fosfat, dan mual. Tidak ada efek bermakna terhadap pertumbuhan anak, kematangan seksual, kadar vitamin larut dalam lemak maupun faktor pembekuan darah. Seperti pada pasien dewasa, dosis colesevelam yang dianjurkan pada pasien anak adalah 6 tablet sehari atau 3 tablet dua kali sehari, bersamaan dengan makanan atau minuman. Dalam bentuk suspensi oral, paket 3,75 gram atau paket 1,875 gram dua kali sehari dapat dicampur dengan 4-8 ounce air dan diberikan bersama makanan. Suplemen mengandung vitamin larut dalam lemak (A, D, E dan K) serta dengan obat-obatan dengan indeks terapi sempit (seperti fenitoin dan warfarin) diberikan 4 jam sebelum pemberian colesevelam karena colesevelam dapat mengganggu absorpsi vitamin dan obat-obat ini. SIMPULAN 1. FDA Menyetujui Colesevelam Sebagai Terapi Bagi Anak-Anak Hiperkolesterolemia 2. Persetujuan ini memperluas pilihan terapi bagi anakanak hiperkolesterolemia. (YYA)

FDA Menyetujui Colesevelam Sebagai Terapi Bagi Anak-Anak Hiperkolesterolemia

FDA

(Food and Drug Administration) telah memberikan persetujuan perluasan indikasi colesevelam HCl sebagai terapi tambahan di samping diet dan olah raga untuk menurunkan kadar kolesterol LDL (Low Density Lipoprotein) pada anak laki-laki dan perempuan pasca menarche usia 10-17 tahun dengan hiperkolesterolemia familial heterozigot. Sebelumnya, colesevelam, yang merupakan obat hiperlipidemia golongan bile sequestrant, direkomendasikan pemberiannya sebagai terapi tambahan di samping diet dan latihan fisik untuk mengurangi kadar kolesterol LDL pada pasien dewasa dengan hiperipidemia primer, baik sebagai monoterapi atau terapi kombinasi dengan statin. Dalam penelitian, selain efektif menurunkan kadar kolesterol LDL juga ditoleransi dengan baik oleh pasien. Dr. Evan A. Stein, pemimpin Metabolic & Atherosclerosis Research Center, di Cincinnati, Ohio, Amerika Serikat, mengatakan bahwa persetujuan FDA ini memperluas pilihan terapi bagi anak-anak hiperkolesterolemia, yang sangat rentan terhadap penyakit kardiovaskular di kemudian hari. Persetujuan dari FDA ini berdasarkan pada penelitian untuk meneliti efek pemberian colesevelam pada anak-anak dengan hiperkolesterolemia. Penelitian tersebut merupakan penelitian tersamar ganda, kontrol plasebo, yang me-

REFERENSI 1. Aldrige MA, Ito MK. Colesevelam hydrochloride: a novel bile acid-binding resin. The Annals of Pharmacotherapy 2001; 35(7): 898-907. [cited 2009 November 27 ]. Available from: 2. http://www.theannals.com/cgi/content/abstract/35/7/898?maxtoshow=& HITS=&h its=&RESULTFORMAT=&fulltext=colesevelam&andorexactfullte xt=and&searchid=1&FIRSTINDEX=0&resourcetype=HWCIT 3. Insull W, Toth P, Mullican W, Hunninghake D, Burke S, Donovan JM et al. Effectiveness of colesevelam hydrochloride in decreasing LDL cholesterol in patients with primary hypercholesterolemia: a 24-week randomized controlled trial. Mayo clinic 2009; 84 (12). Abstract [cited 2009 November 27 ]. Available from: 4. http://mayoclinproc.highwire.org/content/76/10/971.abstract?HITS=&ma xtoshow=&resourcetype=HWCIT&RESULTFORMAT=&FIRSTINDEX=10&s earchid=1&hits=&andorexactfulltext=and&fulltext=colesevelam 5. Medscape. FDA Approves Colesevelam for Children With Familial Hypercholesterolemia. [cited 2009 November 27 ]. Available from: http://www. medscape.com/viewarticle/710136?src=mpnews&spon=2&uac=117092CG

CDK 175 / vol.37 no. 2 / Maret - April 2010

121

CDK Maret April DR.indd 121

2/23/2010 4:15:39 AM

BERITA TERKINI
FLICKR.COM

Fibrosis Hati pada Pasien HIV Positif Serupa dengan Populasi Umum
udah terkenal bahwa fibrosis hati umum pada Odha yang koinfeksi dengan virus hepatitis B (HBV) atau virus hepatitis C (HCV). Penelitian menunjukkan bahwa koinfeksi dikaitkan dengan peningkatan risiko fibrosis. Namun, prevalensi dan tingkat keparahan fibrosis hati di antara orang HIV-positif tanpa HBV atau HCV serta faktor risiko lain, belum diteliti secara luas. Dalam penelitian ini, para peneliti Italia menilai secara prospektif fibrosis hati pada pasien HIV-positif tanpa penyebab pasti penyakit hati dan memeriksa faktor yang mungkin mempengaruhi penyakit hati. Fibrosis hati dinilai dengan transient elastography (FibroScan), metode tanpa bedah yang memakai gelombang suara untuk mengukur “pengerasan” hati (dinyatakan dalam kilopascal, atau kPa). Para peneliti mengamati secara berturut-turut pasien HIV-positif tanpa penyakit hati di kliniknya di Florence antara September 2007 dan Desember 2008. Sejumlah 175 pasien, sebagian besar (85%) laki-laki dengan usia rata-rata 45 tahun; sebagian besar (87%) menerima kombinasi terapi antiretroviral (jangka waktu rata-rata 6,3 tahun), jumlah CD4 rata-rata adalah 417, dan 65% memiliki viral load < 50. Rata-rata kadar ALT 31 dan AST 27; 21% memiliki sindrom metabolisme (kriteria NCEP). Hasil FibroScan dijelaskan berdasarkan skor Metavir, memperkirakan ketiadaan atau fibrosis ringan (skor F0-F1) apabila pengerasan hati < 7,1kPa, dan fibrosis atau sirosis (F2-F4) apabila pengerasan hati > 7,1 Pa. Faktor klinis, biokimia, dan perilaku dikaitkan dengan pengerasan hati berdasarkan analisis univariat dan multivariat. HASIL Tingkat pengerasan hati adalah rendah; rata-rata 5,7kPa (skor F0).

S

Secara keseluruhan, 23 pasien (13%) memiliki skor yang menunjukkan fibrosis hati yang bermakna (F2-F4), serupa dengan tingkat yang tampak dalam penelitian pada populasi umum. Dalam analisis univariat, jenis kelamin, tingkat enzim hati, dan seluruh ukuran yang termasuk dalam sindrom metabolisme (misalnya, tekanan darah tinggi, resistensi insulin, obesitas di perut) dikaitkan dengan pengerasan hati. Namun, tidak ada hubungan yang bermakna antara pengerasan hati dan usia pasien, kegiatan berisiko penularan (60% adalah laki-laki yang berhubungan seks dengan lakilaki), jumlah CD4 , viral load HIV, rejimen obat antiretroviral (ARV) tertentu atau gabungan masa penggunaan ART. Dalam analisis multivariat, fibrosis hati yang bermakna secara independen dikaitkan dengan tingkat AST dan ALT serta sindrom metabolisme. Berdasarkan temuan tersebut, para peneliti menyimpulkan bahwa pasien HIV-positif tanpa penyebab penyakit hati yang jelas menunjukkan penyebaran fibrosis hati yang tidak berbeda dengan masyarakat umum. (NFA)

Referensi 1. HIV Positive People without Viral Hepatitis or Other Risk Factors Have a Fibrosis Distribution Similar to the General Population - http://www.hivandhepatitis.com/2009icr/ias/docs/080709_b.html 2. Marino N, Mazzotta F. Liver fibrosis assessment in a cohort of HIV positive patients without overt cause of liver disease. 5th International AIDS Society Conference on HIV Pathogenesis, Treatment, and Prevention (IAS 2009). July 19-22, 2009. Cape Town, South Africa. Abstract WePeB221.

122

CDK 175 / vol.37 no. 2 / Maret - April 2010

CDK Maret April DR.indd 122

2/23/2010 4:15:44 AM

BERITA TERKINI
ubungan antara HIV, TB dan penggunaan narkoba suntikan, didukung oleh bukti statistik yang jelas, adalah tegas dan pasti. Dalam serangkaian presentasi yang disampaikan dalam konferensi International Harm Reduction ke-20 di Bangkok, Thailand, kebutuhan adanya program layanan terpadu ditekankan sebagai unsur kunci yang diperlukan pada program pengurangan dampak buruk (harm reduction). Di antara kurang lebih 16 juta pengguna narkoba suntikan (penasun) di seluruh dunia, kurang lebih tiga juta saat ini terinfeksi HIV. Penasun merupakan 10% pada kasus infeksi HIV baru. Di wilayah Asia-Pasifik, keadaan itu bahkan lebih rumit. Menurut Christian Gunneberg dari WHO, persentase penasun dengan HIV berkisar dari 11,5% di India hingga tingkat yang sangat tinggi 41,5% di Nepal dan 42,5% di Indonesia. Mukta Sharma dari SEARO, WHO, juga mengonfirmasi bahwa di wilayah Asia Tenggara, prevalensi HIV di antara penasun kurang lebih sepertiga populasi. Risiko penasun mengalami tuberkulosis (TB) sama tingginya. Penelitian menunjukkan bahwa penasun 10-30 kali lebih mungkin terinfeksi TB. Di dalam lembaga pemasyarakatan (lapas) risiko itu dapat meningkat hingga 50 kali lipat. TB adalah penyakit yang dapat disembuhkan, tetapi tanpa pengobatan yang sesuai dapat mematikan – yang terjadi pada sejumlah besar penasun yang meninggal setahun setelah tertular TB. Resistensi terhadap berbagai jenis obat (TB-MDR) di antara penasun dengan TB dan HIV adalah fenomena bermakna lain di negara seperti Rusia dan India. Koinfeksi TB dan HIV di antara penasun meningkatkan risiko kesakitan dan kematian secara luar biasa. Oleh karena itu, ada kebutuhan besar untuk memadukan unsur layanan bagi penasun dengan TB dan HIV. Dmytro Sherembey dari Ukraina menjelaskan kemajuan selama sepuluh tahun terakhir setelah pengembangan tersebut. “Sampai dengan 1995, penasun dengan TB atau HIV atau keduanya, tidak memiliki pilihan selain menunggu kematian,” dia mengatakan. “Sama sekali tidak ada layanan yang tersedia, tidak ada akses pada layanan kesehatan. Orang biasanya meninggal bukan karena penyakit tetapi karena ketiadaan pengobatan dan dukungan yang sesuai. Sistem layanan kesehatan hanya menyediakan tempat tidur usang dan makanan yang tidak cukup.” Sherembey mengatakan dia dan rekan di All Ukrainian Network of PLHIV berjuang mendapatkan hak untuk penasun, dan pada 2008, ada perubahan bermakna sebagian akses layanan kesehatan untuk penasun di Ukraina. Sherembey berharap bahwa kemajuan selanjutnya di Ukraina dan juga di negara lain di dunia. “Ini adalah cerita kecil tentang kemenangan besar. Kita harus melanjutkan upaya advokasi kita apabila kita ingin menyelamatkan sahabat dan keluarga kita,” dia mengatakan. Myanmar dan Malaysia memiliki pengalaman menarik yang
CDK 175 / vol.37 no. 2 / Maret - April 2010

H

Memadukan Layanan TB, HIV pada Pengguna Narkoba Suntikan

serupa. Di kedua negara itu, tingkat kesadaran tentang HIV dan TB di antara penasun ditemukan sangat rendah. Program di tingkat nasional di Myanmar menemukan sama sekali tidak ada bahan komunikasi, informasi, dan edukasi (KIE) dan kapasitas di seluruh sistem kesehatan luar biasa lemahnya untuk menangani masalah yang begitu rumit. Survei menarik pada penasun di Malaysia mengungkapkan bahwa hampir separuh penasun berpendapat bahwa memakai jarum suntik bergantian tidak berpengaruh terhadap infeksi HIV dan hampir 64% berpendapat bahwa TB dapat dicegah dengan penggunaan kondom. Kebutuhan untuk mengupayakan pendekatan bersama pada TB dan HIV di antara penasun adalah mendesak. WHO telah memprakarsai pembentukan Policy Guidelines on Collaborative TB and HIV Services untuk penasun. Kebijakan itu memiliki tiga unsur utama tentang pelaksanaan yang menekankan rencana pemberian layanan bersama, paket layanan secara menyeluruh, dan menangani hambatan untuk menemukan dan mengobati kelompok sasaran. Walau kebijakan itu tampak sangat baik dalam tulisan, perlu kehati-hatian pada unsur penerapannya khususnya diseminasi kebijakan secara luas di tingkat lokal. Pada ketiga unsur tersebut di atas, jaringan berbagai tingkat sistem kesehatan adalah penting. Hubungan sering terputus di antara layanan kesehatan di tingkat tersier, primer dan komunitas. Keadaan semacam itu bahkan lebih buruk di negara yang didominasi oleh sistem kesehatan swasta, yang melebarkan celah tersebut.. WHO sepakat ada masalah pelaksanaan penerapan kebijakan di tingkat dasar karena ketiadaan koordinasi, kebijakan penekanan nasional dan lingkungan setempat. Namun demikian, tindakan lebih lanjut dengan pendekatan bersama mungkin dapat menunjukkan hasil yang baik pada beberapa tahun mendatang. Tidak ada kata terlambat ! (NFA) Artikel asli: Integrating services for HIV, TB and drug users

123

CDK Maret April DR.indd 123

2/23/2010 4:15:45 AM

BERITA TERKINI

124

CDK 175 / vol.37 no. 2 / Maret - April 2010

CDK Maret April DR.indd 124

2/23/2010 4:15:46 AM

BERITA TERKINI
IMAGE BANK

Menunda Mengobati Infeksi Menular Seksual Sering Dianggap Tidak Berisiko oleh Pasien

L

ebih dari sepertiga pasien yang memiliki masalah genital dan saluran kencing (genitourinarius) menolak tawaran perjanjian kunjungan ke klinik pengobatan dalam waktu 48 jam sesuai dengan batas yang ditentukan di Inggris. Hal itu berdasarkan penelitian yang diterbitkan dalam International Journal of STD and AIDS edisi September 2009. Alasan penolakan yang paling umum adalah kesibukan kerja. Munculnya gejala tidak mempengaruhi kemungkinan menolak janji dalam waktu 48 jam. Para peneliti juga menemukan bahwa sebagian besar pasien yang menolak janji berpendapat tidak ada risiko kesehatan apabila menunda diagnosis dan pengobatan infeksi menular seksual (IMS). Peneliti tersebut menulis, “Ada sekelompok pasien yang memiliki gejala IMS tetapi tidak menganggapnya sebagai risiko terhadap kesehatan mereka apabila pemeriksaan dan pengobatan ditunda.” Pengobatan yang tepat untuk IMS adalah membantu menghindari penyakit dan ketidaknyamanan pasien dan juga membantu mencegah penularan IMS selanjutnya. Sasaran pemerintah Inggris adalah semua pasien yang ingin membuat janji layanan di klinik kesehatan seksual harus ditawari layanan dalam waktu 48 jam sejak mereka mengajukannya. Sasaran tambahan adalah 95% harus dilayani dalam waktu 48 jam sejak perjanjian, walaupun beberapa dokter mempertanyakan apakah hal itu memang perlu. Peneliti dari Department of Sexual Health at the Countess of Chester Hospital, Chester, Inggris, klinik besar pengobatan genitourinarius di barat laut Inggris, merancang penelitian untuk mengamati apakah pilihan pasien agar ditangani dalam waktu 48 jam terkait dengan adanya gejala IMS. Peneliti juga ingin memastikan pendapat pasien mengenai dampak kesehatan apabila IMS tidak diobati. Dua kelompok pasien dilibatkan dalam penelitian. Kelompok pertama terdiri dari 110 orang yang mengisi angket di klinik. Kelompok kedua melibatkan 138 pasien yang dihubungi melalui telepon dan ditanyai keputusan mereka untuk menerima atau menolak janji dalam waktu 48 jam.

Catatan menunjukkan bahwa semua orang yang menghubungi klinik ditawari janji dalam 48 jam. Di antara orang yang diwawancarai ketika datang ke klinik, 16% mengaku pernah menolak tawaran tersebut. Kesibukan kerja adalah alasan paling umum orang menunda janji kunjungan ke klinik (75%). Sebanyak 37% di antara orang yang diwawancarai melalui telepon menolak janji dalam 48 jam. Gejala IMS dilaporkan oleh 45% orang yang menolak janji yang sudah dikonfirmasi, dan kesibukan kerja sekali lagi menjadi alasan yang paling umum (87%) untuk menunda kehadiran di klinik. Para peneliti kemudian menggabungkan hasil kedua survei. Mereka menemukan bahwa orang yang memenuhi janji dalam 48 jam, dibandingkan dengan pasien yang menolak janji, secara bermakna lebih cenderung berpendapat bahwa menunda kehadiran mereka di klinik berisiko bagi kesehatan mereka (41/80 banding 9/60, p <0,0001). “Data kami menunjukkan bahwa 37% pasien lebih suka tidak menerima tawaran janji untuk dilayani dalam waktu 48 jam. Angka itu tinggi,” komentar para peneliti. Mereka menambahkan, “pasien ingin dapat memilih waktu janji yang sesuai, bahkan apabila lebih dari 48 jam sejak kontak.” “Kita harus menyediakan informasi mengapa penanganan dalam 48 jam mungkin penting,” para peneliti menambahkan “temuan kami menunjukkan dasar pertimbangan yang jelas untuk meningkatkan kesadaran masyarakat pada bahaya IMS.” Walaupun mereka mengakui pentingnya pilihan pasien mengenai waktu perjanjian, para peneliti menekankan pentingnya “pilihan mereka berdasarkan pemahaman penuh.” (NFA)
SUMBER: 1. 2. Patients often perceive no risk if they delay attending STI clinics - http://www. aidsmap.com/en/news/9C4281B1-B702-4215-BE92-801665B4619B.asp Steedman NM et al. Acceptance of genitourinary medicine appointments within 48 hours is influenced by patient perception of risk but not by symptoms. Internat. J. STD and AIDS 20: 644-46, 2009.

CDK 175 / vol.37 no. 2 / Maret - April 2010

125

CDK Maret April DR.indd 125

2/23/2010 4:15:51 AM

BERITA TERKINI

126

CDK 175 / vol.37 no. 2 / Maret - April 2010

CDK Maret April DR.indd 126

2/23/2010 4:15:53 AM

BERITA TERKINI
IMAGE BANK

Merkuri di Dalam Ikan Terkait dengan Tekanan Darah Tinggi

M

eskipun penelitian baru menghubungkan merkuri dalam seafood dengan tekanan darah tinggi, hal ini bukan alasan yang cukup bagi kebanyakan orang untuk berhenti makan ikan. Menurut Dr Eric Dewailly, seorang profesor di Department of Social and Preventive Medicine Universitas Laval di Quebec dan penulis utama laporan di jurnal Hypertension edisi 5 Oktober 2009, peningkatan kecil tekanan darah akibat metilmerkuri tidak sebanding dengan manfaat asam lemak omega 3.

Mereka menemukan rata-rata kadar merkuri darah 50 nanomol per liter darah, jauh lebih tinggi daripada kadar umum populasi Amerika Serikat sebesar 4 nanomol. Mereka juga menemukan hubungan antara kadar merkuri darah dan tekanan darah, setelah disesuaikan untuk faktor-faktor lain, seperti merokok dan aktivitas fisik. Menurut Dewally, penelitian ini telah menunjukkan bahwa paparan merkuri lingkungan dapat mempengaruhi endotelium, lapisan halus pembuluh darah, dan mengurangi kemampuan relaksasi otot polos, yang dapat menjelaskan sedikit peningkatan tekanan darah dalam penelitian ini. Itu bukan dampak yang luar biasa, katanya. ”Untuk setiap 10 persen peningkatan tingkat merkuri dalam darah, terjadi peningkatan tekanan darah sebesar 0,2 milimeter,” kata Dewailly. ”Bahkan jika Anda menerapkan untuk seluruh penduduk, tetap merupakan efek kecil.” Jika dilihat bahwa nutrisi ikan terkait dengan begitu banyak manfaat, hal ini bukan alasan untuk menghindari ikan. Tapi penting untuk makan ikan yang tepat. Siapa pun yang khawatir tentang tekanan darah harus menghindari ikan yang memiliki kadar rendah lemak omega-3 asam dan merkuri tinggi, seperti ikan predator besar, termasuk ikan pedang, marlin dan hiu. Penny Kris-Etherton, profesor gizi di Pennsylvania State University dan anggota American Heart Association Council on on Nutrition Metabolism and Physical Activity Committee, menyatakan banyak orang Amerika bisa dengan aman menikmati makan ikan sebagai bagian rutin dari diet mereka untuk mencapai manfaat kesehatan asam lemak omega 3. Termasuk ikan tuna kalengan, yang secara signifikan lebih rendah merkuri daripada tuna putih. (NFA)

Diet kaya asam lemak omega 3 dari minyak ikan, seperti lemak sarden, ikan herring, trout dan salmon, dalam banyak studi semuanya berkaitan dengan penurunan risiko kematian akibat serangan jantung, stroke dan penyakit kardiovaskular lainnya. American Heart Association merekomendasikan makan makanan yang mengandung 4 - 6 ounce ikan tersebut dua kali seminggu. Tapi karena ikan dapat mengandung metil merkuri kadar tinggi, yang dapat mengganggu perkembangan normal sistem saraf dan otak pada janin dan bayi baru lahir, US FDA menyarankan agar wanita hamil, mereka yang berusaha/berencana untuk hamil, menyusui, perempuan dan anak-anak agar membatasi asupan ikan. Panduan FDA membatasi asupan ikan rendah merkuri bagi individu sampai 12 ounce seminggu dan ikan kadar merkuri tinggi untuk tiga porsi 6 ounce sebulan. FDA juga menyarankan menghindari ikan yang mirip satu sama lain seperti hiu, todak, king mackerel dan tilefish. Pada awalnya, studi Kanada muncul untuk menambah tekanan darah tinggi ke daftar masalah yang terkait dengan metil merkuri dalam ikan. Dewailly dan rekan-rekan melakukan survai terhadap penduduk Inuit dari 14 komunitas Nunavik di utara Quebec, makanan tradisional mereka didasarkan pada ikan dan mamalia laut.
CDK 175 / vol.37 no. 2 / Maret - April 2010

127

CDK Maret April DR.indd 127

2/23/2010 4:15:59 AM

BERITA TERKINI

128

CDK 175 / vol.37 no. 2 / Maret - April 2010

CDK Maret April DR.indd 128

2/23/2010 4:16:02 AM

BERITA TERKINI
IMAGE BANK

Obat Baru Memberi Harapan dalam Melawan Hipertensi yang Sulit Diatasi
enelitian baru melaporkan obat baru bagi penderita tekanan darah tinggi yang tidak dapat dikontrol oleh obat-obatan yang ada, sangat baik dalam uji klinis. Penelitian ini dilaporkan dalam Lancet edisi online 13 September. Penurunan tekanan darah substansial dicapai dengan berbagai dosis obat darusentan, untuk orang yang masih hipertensi walaupun sudah menggunakan tiga atau lebih obat-obatan. Obat baru ini “berpotensi sangat bermanfaat” untuk tekanan darah tinggi yang resisten, menurut Dr Kirk Garratt, direktur klinis penelitian jantung intervensi di Lennox Hill Hospital, New York City. Menurut Garratt, penurunan tekanan darah yang terlihat dalam studi ini sangat menggembirakan; dan hanya membutuhkan perubahan kecil untuk memberikan manfaat pada pasien. Obat ini berpotensi mengurangi risiko orang-orang yang sulit diobati. Menurut Nathan Kaiser, juru bicara Gilead Sciences, perusahaan yang sedang mengembangkan obat, hasil kajian akan diserahkan kepada US Food and Drug Administration sebagai bagian dari permohonan untuk persetujuan pemasaran. Uji coba yang lebih besar telah selesai awal tahun ini untuk pendaftaran. Data uji klinis diharapkan ada pada akhir tahun. Sambil menunggu hasil studi kedua, mereka dapat mengajukan permohonan untuk mendapatkan persetujuan paling cepat pada kuartal keempat tahun 2010. Beberapa studi mengatakan 30 persen orang dengan tekanan darah tinggi – faktor risiko utama untuk masalahmasalah kardiovaskular seperti serangan jantung dan stroke – yang resisten, tekanan darah tidak dapat mencapai tingkat yang diinginkan meskipun menggunakan tiga atau lebih obat-obatan.
CDK 175 / vol.37 no. 2 / Maret - April 2010

P

Darusentan bertindak memblokir aktivitas endotelin, molekul yang menyebabkan penyempitan arteri. Cara kerjanya melibatkan jalur molekuler yang berbeda dari yang ditargetkan oleh obat tekanan darah konvensional, seperti penghambat kanal kalsium dan diuretik. Penelitian dilakukan di 117 lokasi di seluruh dunia, pada 379 orang dengan tekanan darah sistolik ≥ 140 mmHg (130 mmHg untuk orang-orang dengan diabetes atau penyakit ginjal kronis). Tekanan darah yang direkomendasikan adalah 120/80. Semua pasien menerima 14 minggu pengobatan dengan dosis harian 50, 100 atau 300 mg. darusentan atau plasebo. Rata-rata, tekanan darah sistolik peserta turun 17 poin dengan 50 mg. darusentan dan 18 poin dengan 100 mg. dan 300 mg darusentan. Penurunan 9 poin tercatat dalam kelompok plasebo. Penulis utama studi Dr Michael A. Weber, profesor kedokteran di divisi kardiologi dari State University of New York, Downstate College of Medicine menjelaskan bahwa penurunan tekanan darah ini sangat bermakna; bahkan jika Anda memperhitungkan yang terjadi di kelompok plasebo, masih ada penurunan sekitar 10 poin, yang penting secara klinis karena mengurangi kemungkinan stroke dan kardiovaskular lainnya. Efek samping utama adalah edema, akumulasi kelebihan cairan, yang terjadi pada 27 persen dari orang yang memakai obat aktif dan 14 persen dari mereka yang memakai plasebo. Karena edema ini, “agar benar-benar efektif, mungkin darusentan harus digunakan bersama-sama diuretik,” kata Weber. Jika darusentan bekerja sebagaimana yang diharapkan, maka akan sangat berguna bagi orang tua dengan tekanan darah tinggi resisten, kata Weber. Mereka cenderung setengah baya atau lebih tua, sering dengan gangguan fungsi ginjal. (NFA)

129

CDK Maret April DR.indd 129

2/23/2010 4:16:04 AM

BERITA TERKINI

130

CDK 175 / vol.37 no. 2 / Maret - April 2010

CDK Maret April DR.indd 130

2/23/2010 4:16:08 AM

BERITA TERKINI
IMAGE BANK

Omega 3 dan Glukosamin Baik untuk Kesehatan Sendi

enggabungkan asam lemak omega 3 dengan glukosamin akan menghasilkan perbaikan kesehatan sendi lebih besar dibandingkan dengan glukosamin saja. Penelitian yang dipublikasikan di jurnal Advanced in Therapy adalah uji klinis pertama untuk mengetahui efek kombinasi glukosamin/asam lemak omega 3 pada penderita osteoarthritis (OA). Selama ini, glukosamin yang ada di pasaran diekstraksi dari kerang, udang dan kepiting. Bahan bakunya juga sering dikombinasikan dengan kondroitin sulfat yang diektraksi dari kartilago binatang misalnya dari ikan hiu. Diperkirakan sekitar tujuh juta orang di Inggris menderita masalah kesehatan sendi dalam jangka panjang. Sekitar 206 juta hari kerja hilang karena OA dan ini setara dengan hilangnya £18 miliar produktifitas. Dari 177 pasien OA yang menggunakan glukosamin dan asam lemak omega 3, 27% lebih merespon pengobatan dibandingkan dengan glukosamin saja, dan perbedaannya bermakna secara statistik. Dr. Gruenwald merekrut 177 pasien OA pinggul dan lutut derajat sedang-berat dan secara acak diberi glukosamin sulfat atau glukosamin yang dikombinasi dengan asam lemak omega 3. Pada penelitian ini tidak digunakan plasebo dengan alasan etis, karena subyek penelitian adalah penderita OA derajat sedang-berat. Setelah diterapi selama 26 minggu, perbedaan bermakna terlihat pada tingkat nyeri yang diukur menggunakan skor Western Ontario and McMaster Universities Arthrosis index (WOMAC).
CDK 175 / vol.37 no. 2 / Maret - April 2010

M

Sesungguhnya, obat kombinasi menurunkan kekakuan pagi hari, nyeri pinggul dan lutut antara 48,5 - 55,6% dibandingkan penggunaan glukosamin saja yang penurunannya sebesar 41,7 - 55,3%. Dengan hasil ini peneliti menyimpulkan bahwa asam lemak omega 3 menghambat proses inflamasi pada OA, sementara glukosamin sulfat memperbaiki substansi kartilago yang hilang. Hasil penelitian Burn sebelumnya juga mendukung. Burn et al. menemukan bahwa pemberian asam lemak omega 3 dapat menurunkan rasio asam arakhidonat dengan eicosapentaenoic acid pada pasien sehat dan pasien dengan penyakit pembuluh koroner yang menetap (stable CAD). (SFN)

REFERENSI: 1. Daniells S. Omega-3 plus glucosamine ‘superior’ for joint health: Study. Breaking News on Supplements & Nutrition -North America. November 30, 2009. Available from http://www.nutraingredients-usa.com/content/ view/print/268999 2. Gruenwald J, Petzold E, Busch R, Petzold HP, Graubaum HJ. Effect of glucosamine sulfate with or without omega-3 fatty acids in patients with osteoarthritis. Advances in Therapy. 26 (9), 858-71 3. Burns T, Maciejewski SR, Hamilton WR, Zheng M, Mooss AN, Hilleman DE. Effect of Omega-3 Fatty Acid Supplementation on the Arachidonic Acid:Eicosapentaenoic Acid Ratio. Available from http://www.atypon-link.com/PPI/doi/abs/10.1592/phco.27.5.633? cookieSet=1&journalCode=phco

131

CDK Maret April DR.indd 131

2/23/2010 4:16:11 AM

BERITA TERKINI

132

CDK 175 / vol.37 no. 2 / Maret - April 2010

CDK Maret April DR.indd 132

2/23/2010 4:16:15 AM

BERITA TERKINI
IMAGE BANK

Pasca Imunisasi Tidak Perlu Parasetamol
munisasi merupakan hak anak paling dasar, terutama di Indonesia dengan berbagai macam bakteri dan virus yang siap menyerang buah hati kita. Imunisasi merangsang sistem imunologi tubuh untuk membentuk antibodi spesifik sehingga dapat melindungi tubuh dari serangan mikroorganisme tersebut. Karena itu, imunisasi pun rutin bagi anak Indonesia. Demikian juga konsumsi obat penurun panas untuk mencegah atau mengatasi demam yang muncul sebagai kejadian ikutan pasca imunisasi (KIPI). Pemberian parasetamol sebagai pencegah demam memang sering dilakukan oleh orangtua maupun dokter untuk mengurangi kekhawatiran orangtua terhadap timbulnya demam setelah imunisasi. Center for Disease Control and Prevention (CDC) pun menyebutkan bahwa hal ini bermanfaat terutama untuk anak yang berisiko tinggi kejang yang dicetuskan oleh demam tinggi. Sebuah penelitian pada 459 bayi di Republik Ceko dan dimuat dalam Lancet edisi 17 Oktober 2009, menunjukkan bahwa pemberian parasetamol pada 24 jam pertama setelah imunisasi memang efektif mencegah demam tinggi pada anak. Hanya 42% anak dalam grup parasetamol yang mengalami demam > 38°C setelah imunisasi, dibandingkan dengan 66% pada grup yang tidak mendapatkan obat. Namun, dari penelitian tersebut juga ditemukan hubungan antara pemberian parasetamol dengan kadar antibodi spesifik dalam darah beberapa vaksin, seperti HiB, DPT, Hepatitis B, polio, dan pneumokokus. Anak yang diberi
CDK 175 / vol.37 no. 2 / Maret - April 2010

I

parasetamol memiliki kadar antibodi yang lebih rendah dibandingkan dengan pada grup yang tidak mendapat obat. Kadar tersebut tetap rendah secara signifikan pada grup ini walaupun telah diberi vaksinasi booster sewaktu anak berusia 12 – 15 bulan. Berdasarkan 10 penelitian lain mengenai pemberian vaksin, ditemukan juga bukti-bukti pendukung bahwa penggunaan parasetamol untuk mencegah demam sebagai KIPI dapat menekan respon sistem imun. Namun, hal ini tidak berlaku jika pemberian obat tersebut untuk mengatasi demam yang memang sudah timbul. Memang perlu dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai relevansi klinis penemuan ini, ujar Profesor Roman Prymula, ketua penelitian ini. Namun, ia menambahkan bahwa berdasarkan hasil penelitian ini, “pemberian parasetamol sebagai pengobatan profilaksis (pencegahan) setelah imunisasi sebaiknya tidak direkomendasikan lagi.” Dengan hasil penelitian ini, orangtua maupun dokter di Indonesia hendaknya berpikir lebih seksama dalam memberikan parasetamol untuk mencegah demam sebagai KIPI pada anak. Sebaiknya obat tersebut hanya diberikan jika memang sudah muncul gejala demam. Orangtua pun tidak perlu khawatir karena demam merupakan tanda bahwa sistem kekebalan tubuh bekerja dengan baik dan secara tidak langsung menunjukkan bahwa imunisasi yang dilakukan juga efektif sehingga merupakan reaksi yang wajar.
(NFA)

133

CDK Maret April DR.indd 133

2/23/2010 4:16:17 AM

BERITA TERKINI
IMAGE BANK

Polusi Udara Penyebab Usus Buntu

P

olusi udara saat ini sudah dikaitkan dengan penyakit saluran pernapasan dan penyakit kardiovaskular. Baru-baru ini para peneliti mengatakan bahwa udara kotor yang dihirup juga dapat menyebabkan radang usus buntu. Studi baru yang diterbitkan dalam Canadian Medical Association Journal edisi 5 Oktober 2009 menemukan bahwa kasus radang usus buntu naik ketika kualitas udara lebih kotor. Dr Gilaad G. Kaplan, penulis senior studi dan asisten profesor kedokteran divisi gastroenterologi di University of Calgary di Alberta mengatakan bahwa hal ini membuat kita berpikir bahwa penyebab radang usus buntu mungkin bisa dikaitkan dengan polusi udara. Polusi udara merupakan faktor risiko yang dapat dimodifikasi; sehingga jika temuan ini dikonfirmasi dan kita mampu membuat undang-undang untuk mengendalian polusi udara lebih baik, udara lebih bersih, maka mungkin kita bisa mencegah lebih banyak kasus usus buntu. Ahli lain mengingatkan bahwa dalam penelitian ini, dampaknya belum begitu jelas. Dr F. Paul Buckley III, asisten profesor bedah di Texas A & M Health Science Center College of Medicine dan seorang ahli bedah di Scott & White Healthcare Round Rock, Texas mengatakan bahwa hal ini provokatif, tapi ada perbedaan besar antara menghubungkan sejumlah faktor dengan penyakit dan membuktikan bahwa faktor-faktor ini bisa menyebabkan penyakit; dan penelitian ini gagal menunjukkan sebab-akibat. Buckey meragukan penurunan polusi akan mengurangi insiden usus buntu. Kasus radang usus buntu naik secara signifikan pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20, ketika industrialisasi memegang kendali. Kasus menurun di tengah dan kemudian bagian terakhir abad 20, pada saat undang-undang udara bersih diberlakukan. Sementara itu, menurut penulis studi, negara-negara industrialisasi baru mengalami kenaikan tingkat polusi. Sebuah teori yang berlaku adalah bahwa usus buntu terjadi ketika pembukaan ke usus buntu yang seperti sebuah kan-

tong di usus besar, terhalang. Secara spesifik, beberapa ahli percaya bahwa asupan serat yang lebih rendah di kalangan warga negara-negara industri mengakibatkan tersumbatnya apendiks oleh tinja. Tapi itu tidak menjelaskan insiden penurunan usus buntu di paruh kedua abad ke-20, kata Kaplan. Polusi udara sudah terhubung dengan berbagai kondisi kesehatan, terutama penyakit pernapasan dan penyakit jantung, termasuk serangan jantung dan stroke. Kaplan dan rekan-rekannya mengamati lebih dari 5.000 orang dewasa yang dirawat di rumah sakit di Calgary dengan usus buntu antara 1 April 1999 sampai akhir tahun 2006. Data ini direferensi silang dengan analisis polutan udara pada minggu sebelum masuk rumah sakit. Mereka menemukan individu-individu dengan radang usus buntu lebih cenderung datang dalam minggu dengan konsentrasi polusi udara yang lebih tinggi, khususnya ozon dan nitrogen dioksida. Lebih banyak kasus usus buntu terjadi selama bulan paling hangat di Kanada (April hingga September, ketika orangorang lebih cenderung di luar rumah), dan laki-laki tampak lebih dipengaruhi oleh polusi udara daripada wanita. Tidak jelas mengapa ada perbedaan gender ini, kata para peneliti. Kaplan berteori bahwa peradangan mungkin menjelaskan kaitan, jika terbukti ada, antara kualitas udara dan radang usus buntu. ”Ini masih spekulatif, tapi mungkin polusi udara yang memicu peradangan usus buntu,” katanya. ”Masih beberapa langkah lagi sebelum kita dapat membuat pernyataan itu. Kita perlu mengkonfirmasi dan mengulang penemuan-penemuan ini. ” Kaplan dan rekan-rekan penulis merencanakan studi di berbagai kota di Kanada. Tahun lalu, oleh majalah Forbes Calgary dinilai sebagai kota terbersih dunia dan Baku, Azerbaijan, sebagai yang paling kotor. (NFA)
CDK 175 / vol.37 no. 2 / Maret - April 2010

134

CDK Maret April DR.indd 134

2/23/2010 4:16:22 AM

BERITA TERKINI

Respon Gen IL-28 terhadap Pengobatan Berbasis Interferon untuk Hepatitis C Kronis
eragaman satu tempat (single-position variations) pada wilayah gen yang memberi sinyal pada interleukin 28 (IL-28, juga disebut interferon lambda) dapat membantu memprediksi siapa yang mungkin tanggap (respond) terhadap obat hepatitis C (HCV) yang memakai interferon pegilasi plus ribavirin. Hal itu berdasarkan dua penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Nature Genetics edisi Oktober 2009. Meramalkan kemungkinan penanggap dapat menyelamatkan pasien yang mungkin tidak akan menanggapi pengobatan, menghindari efek samping dan biaya pengobatan. PENELITIAN AUSTRALIA Tim peneliti internasional melakukan penelitian terhadap hubungan seluruh genom (genome-wide association study), menganalisis unsur genetika dari lebih dari 800 pasien HCV kronis yang menerima terapi berbasis interferon. Mula-mula, penulis mengamati hubungan genetika virus dengan tanggapan terhadap pengobatan pada kelompok 293 warga Australia dengan hepatitis C kronis genotipe 1 (131 penanggap interferon pegilasi/ribavirin dan 162 nonpenanggap). Hasil penelitian itu kemudian dicocokkan dengan kohort kontrol independen dari 555 pasien. Para peneliti menemukan hubungan antara tanggapan virologi yang bertahan (sustained virological response/SVR) dan polimorfisme nukleosida tunggal (single nucleotide polymorphism/SNP), atau perbedaan di satu tempat – yang disebut sebagai rs8099917 – di daerah gen pada kromosom 19 yang memberi sinyal pada IL-28 (terletak di antara lapisan untuk IL-28 A dan subunit B). SNP yang sama juga sangat berhubungan erat dengan SVR pada kelompok kontrol (gabungan rasio odds [OR] 1,98 pada kedua kohort). Penulis penelitian mencatat bahwa IL-28B menyokong resistensi terhadap virus dan dikenal dapat dikendalikan oleh interferon dan oleh RNA virus infeksi misalnya HCV. “Data ini menunjukkan bahwa genetika induk mungkin berguna untuk prediksi tanggapan terhadap obat” dan mendukung penelitian peran IL-28B dalam pengobatan HCV dan penyakit lain yang diobati dengan interferon alfa”. PENELITIAN JEPANG Dalam laporan kedua, dijelaskan penelitian lain tentang hubungan terkait seluruh jenis genom, penelitian ini mengamati 154 pasien dengan HCV genotipe 1 (72 penangCDK 175 / vol.37 no. 2 / Maret - April 2010
3.

K

gap interferon pegilasi/ribavirin dan 82 non-penanggap) di Jepang.
IMAGE BANK

Tim peneliti menemukan dua SNP tunggal di dekat gen IL-28B pada kromosom 19 – rs12980275 dan, sekali lagi, rs8099917 – terkait sangat erat dan bermakna dengan tanggapan virologi. Temuan ini juga dikonfirmasi oleh kohort kontrol independen yang terdiri dari 174 pasien. SNP IL-28B terdeteksi pada 85% pasien yang tidak menanggapi pengobatan. Pemetaan wilayah secara lebih baik mengungkapkan bahwa 7 SNPs (rs8105790, rs11881222, rs8103142, rs28416813, rs4803219, rs8099917, dan rs7248668) di wilayah IL-28B menunjukkan hubungan yang paling bermakna dengan tanggapan pada pengobatan. Lebih lanjut, tes PCR terhadap sel mononuklear darah perifer menunjukkan bahwa pembawa alele kecil ini, atau jenis lainnya, secara bermakna telah mengurangi tingkat keberadaan IL-28B. LANGKAH MENDATANG Kedua penelitian itu – serta penelitian terkini lainnya yang menunjukkan respon gen IL-28 terhadap pengobatan hepatitis C – menawarkan kemungkinan pengembangan tes skrining sebelum memberikan perawatan yang dapat digabungkan dengan ciri-ciri induk dan virus yang saat ini dipakai – misalnya genotipe HCV, viral load, resistensi terhadap insulin, obesitas, dan tingkat fibrosis hati – agar dapat meramalkan siapa yang akan menanggapi terapi secara lebih tepat. Lebih lanjut di masa yang akan datang, temuan tersebut dapat menginformasikan penelitian tentang interferon lambda untuk pengobatan hepatitis C, serta pengembangan bakal terapi yang meniru manfaat genetika penanggap yang baik. (NFA)

SUMBER: 1. 2. http://www.hivandhepatitis.com/hep_c/news/2009/100609_b.html Suppiah V, Moldovan M, Ahlenstiel G et al. IL28B is associated with response to chronic hepatitis C interferon-alpha and ribavirin therapy. Nature Genetics 41(10): 1100-1104. October 2009. (Abstract). Tanaka Y, Nishida N, Sugiyama M et al. Genome-wide association of IL28B with response to pegylated interferon- and ribavirin therapy for chronic hepatitis C. Nature Genetics 41(10): 1105-1109. October 2009. (Abstract).

135

CDK Maret April DR.indd 135

2/23/2010 4:16:24 AM

BERITA TERKINI
IMAGE BANK

(Food and Drug Administration) telah menyetujui pemberian rosuvastatin sebagai terapi pada pasien-pasien anak (usia 10-17 tahun) yang menderita hiperkolesterolemia familial. Terapi rosuvastatin dapat diberikan bila modifikasi gaya hidup berupa diet gagal mengurangi kadar kolesterol LDL (Low Density Lippoprotein). Persetujuan FDA dilakukan berdasarkan hasil penelitian PLUTO (Pediatric Lipid Reduction Trial of Rosuvastatin), yang merupakan penelitian acak terkontrol selama 12 minggu, untuk menguji efek pemberian rosuvastatin pada pasien-pasien pediatrik dengan hiperkolesterolemia familial. Penelitian melibatkan 177 pasien. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa terapi dengan rosuvastatin secara bermakna menurunkan kadar kolesterol LDL lebih baik dibandingkan dengan plasebo.

FDA

Rosuvastatin Sebagai Terapi Pasien Pediatri dengan Hiperkolesterolemia Familial

Tabel 1. Perubahan kadar kolesterol LDL dari baseline hingga minggu ke-12.
Parameter lemak Perubahan rerata kolesterol LDL setelah 12 minggu Nilai p Rosuvastatin 5 mg (n=42) 38.5% Rosuvastatin 10 mg (n=44) 44.4% Rosuvastatin 20 mg (n=44) 50.2% Plasebo (n=46) -0.5% Tidak ada perubahan bermakna

<0,001

<0,001

<0,001

Hasil penelitian PLUTO ini memperlihatkan bahwa pemberian rosuvastatin pada pasien-pasien pediatrik dengan hiperkolesterolema familial, secara bermakna menurunkan kadar kolesterol LDL dalam 12 minggu. Pemberian rosuvastatin ditoleransi dengan baik oleh pasien, tanpa peningkatan efek samping serius. FDA memberikan persetujuan untuk penggunaan rosuvastatin sebagai terapi bagi pasien pediatrik dengan hiperkolesterolemia familial didasarkan pada hasil penelitian PLUTO, yang memperlihatkan bahwa pemberian rosuvastatin pada pasien pediatrik dengan hiperkolesterolemia familial menurunkan kadar kolesterol LDL secara bermakna dan ditoleransi dengan baik oleh pasien. (YYA)

REFERENSI : 1. 2. 3. Medscape. Rosuvastatin Cleared for Pediatric FH. Abstract. [citied 2009 november 04]. Available from: http://www.medscape.com/viewarticle/710993?src=mpnews&spon=2&ua c=117092CG A phase IIIb, efficacy, and safety study of rosuvastatin in children and adolescents 10 to 17 years of age with heterozygous familial hypercholesterolemia (HeFH): a 12-week, double-blind, randomized, multicenter, placebocontrolled study with a 40-week, open-label, follow-up period. PLUTO: Pediatric Lipid-redUction Trial of rOsuvastatin. 4. http://www.astrazenecaclinicaltrials.com/_mshost2715844/content/content/resources/media/2958892/PLUTO

136

CDK 175 / vol.37 no. 2 / Maret - April 2010

CDK Maret April DR.indd 136

2/23/2010 4:16:25 AM

BERITA TERKINI

Testosterone Deficiency Syndrome pada Pria
estosteron merupakan hormon seks steroid (androgen) pria yang umumnya diproduksi oleh testis setelah kematangan pembentukan kelenjar seks pria (testis). Testosteron bertanggung jawab terhadap perkembangan anak laki-laki menjadi seorang pria pada masa pubertas. Testoteron berperan dalam seksualitas, pembentukan fisik, mental dan performa pria. Testosteron merupakan hormon seks pria yang paling penting. Pria akan mengalami penurunan kadar testosteron darah aktif sekitar 1,2 persen per tahun dari kadar semula ketika memasuki usia 40 tahun. Sementara saat mencapai usia 70 tahun, pria akan mengalami penurunan kadar testosteron darah sebanyak 35 persen dari kadar semula. Testosteron Deficiency Syndrome (TDS) atau sindrom kekurangan testosteron merupakan suatu keadaan produksi testosteron testis tidak memadai. Gejala TDS berupa rendahnya dorongan seksual dan menurunnya libido, menurunnya fungsi ereksi, penurunan massa otot dan kekuatannya, kenaikan berat badan, kurang konsentrasi, mudah lelah, depresi berat, kelemahan fisik yang parah, osteoporosis dan anemia. TDS pada pria juga akan mengakibatkan konsekuensi medis seperti sindrom metabolisme seperti obesitas, disregulasi insulin (menyebabkan tingkat kadar gula darah abnormal), kolesterol tinggi dan hipertensi ringan. Pada akhirnya kondisi ini dapat mengarah pada penyakit diabetes mellitus dan jantung. Pria dianggap menderita TDS apabila tingkat testosteron dalam darah berada di bawah angka 12 nmol/L; kisaran normal antara 12-40 nmol/L. Penyebab umum terjadinya TDS adalah pertambahan usia pada pria. Tipe ini disebut sebagai slow onset atau low onset TDS. Proses penuaan pada pria akan berdampak pada sistem endokrin, sistem genital, komposisi tubuh dan sistem muskular, sistem kardiosvaskular dan sistem saraf. TDS juga merujuk pada disfungsi sistem endokrin (produksi androgen) dan sistem eksokrin (produksi sperma). Di samping itu, penyebab TDS lainnya adalah kerusakan fungsi testis (kemungkinan karena keturunan), terpapar zat beracun, tumor,
CDK 175 / vol.37 no. 2 / Maret - April 2010

T

operasi, dan sebagainya. Diabetes mellitus atau penyakit-penyakit metabolik lainnya ; juga lemak perut atau perut buncit (visceral obesity); dapat mempercepat terjadinya penurunan kadar testosteron. Diketahui pula bahwa pria dengan central obesity cenderung mempunyai kadar testosteron lebih rendah dibandingkan dengan pria tanpa central obesity. Pria dengan diabetes mellitus cenderung mempunyai kadar testosteron lebih rendah dibandingkan dengan pria tanpa diabetes mellitus. Pria dengan ciri-ciri dan gejala yang mengarah pada TDS disarankan untuk berkonsultasi dengan dokter dan memeriksa kadar testosteronnya. Karena jika tidak ditangani dengan benar, akan mengakibatkan munculnya gejala di atas serta menurunkan kualitas hidup pada pria baik di usia produktif maupun usia lanjut. Satu gejala umum yang terjadi akibat TDS adalah penurunan fungsi ereksi. Prevalensi pria TDS dengan penurunan fungsi ereksi dilaporkan sekitar 20 persen. Penurunan fungsi ereksi dapat diobati hanya dengan testosteron, khususnya apabila penyebab utamanya adalah kekurangan testosteron. Penanganan TDS bertujuan untuk memulihkan parameter metabolik kedalam kondisi normal (eugonadal), meningkatkan massa, kekuatan dan fungsi otot, memelihara BMD (Bone Mineral Density) dan menurunkan risiko fraktur, meningkatkan fungsi neuropsikologis (kognisi dan mood), meningkatkan fungsi psikoseksual serta meningkatkan kualitas hidup. Namun, kurangnya informasi mengenai kondisi TDS mengakibatkan pria yang terkena penyakit tersebut mengabaikan dan tidak menyadari gejala-gejala penyakit tersebut sebagai kondisi medis yang membahayakan; hal ini membuat mereka berupaya mengobati sendiri penyakit ini dengan produk yang dijual bebas, tanpa mempertimbangkan bantuan profesional dalam upaya mengobati penyebab penyakit ini. Padahal, jika dibiarkan tidak diobati, penyakit ini dapat secara serius mempengaruhi kesehatan seksual, fisik, dan mental pria. Oleh karena itu disarankan bagi pria dengan gejala-gejala mengarah pada TDS untuk memeriksakan kadar testosteron mereka. (NFA)

137

CDK Maret April DR.indd 137

2/23/2010 4:16:28 AM

BERITA TERKINI

138

CDK 175 / vol.37 no. 2 / Maret - April 2010

CDK Maret April DR.indd 138

2/23/2010 4:16:32 AM

BERITA TERKINI
IMAGE BANK

Manfaat Zinc pada Pneumonia
plasebo selama 12 bulan. Subyak dinilai setiap minggu dengan beberapa parameter meliputi: kejadian diare dan pneumonia, serta kejadian infeksi saluran nafas. Adapun hasilnya adalah sebagai berikut: neumonia merupkaan salah satu penyebab utama kesakitan dan kematian pada anak kurang dari 5 tahun. Diperkirakan sekitar 20% (1,9 juta) kematian pertahun dari anak-anak usia kurang dari 5 tahun ini disebabkan oleh pneumonia. Dan hampir 2/3-nya terjadi pada bayi, dan lebih dari 90% terjadi di negara-negara berkembang.
Diarrhoea

P

Zinc (child years = 427) 1881 4834

Placebo (childyears = 511) 2407 6294

Relative risk P value (95% Cl) 0,94 (0,88-0,99) 0,92 (0,88-0,97) 0,88 (0,79-0,99) 0,58 (0,41-0,82) 0,83 (0,73-0,95) 0,51 (0,03-0,67) 0,15 (0,03-0,67)

0,030 0,001

Zinc atau seng merupakan mineral yang mempunyai potensi meningkatkan status imunologi, dan beberapa studi yang ada menunjukkan zinc bermanfaat mencegah dan memperpendek waktu diare. Efek zinc sebagai imunomodulator ini diperkirakan bermanfaat untuk membantu mempercepat penyembuhan infeksi maupun mencegah kekambuhan; zinc akan membantu meningkatkan daya tahan tubuh melalui kaskade atau langkah-langkah peningkatan imunitas yang diawali dengan mobilisasi dan sekuestrasi zinc pada jaringan kaya atau banyak mengandung zinc-metallothionein, yang selanjutnya akan mempercepat upregulasi sintesis protein sebagai bahan untuk imun spesifik, serta aktivasi makrofag, limfosit, dan sel NK. Anak-anak dengan status zinc yang baik secara umum mempunyai respon imunologis lebih baik jika dibandingkan dengan anak-anak dengan status zinc yang lebih jelek. Jika saat in penggunaan zinc merupakan salah satu acuan dalam penanganan diare, bagaimana halnya manfaat zinc untuk kasus pnemonia ? Suatu studi melibatkan anak-anak usia antara 2 – 23 bulan dengan pneumonia, masing-masing 270 anak diberi preparat zinc 20 mg per hari atau mendapat plasebo, yang ditambahkan pada terapi antibiotik; hasilnya menunjukkan bahwa pada kelompok yang mendapat preparat zinc terjadi penurunan darajat keparahan pneumonia serta penurunan gejala-gejala pneumonia yang lebih bermakna jika dibandingkan dengan kelompok anak yang mendapat plasebo. Studi lain adalah studi yang melibatkan 1665 anak dengan rentang usia 60 hari - 12 bulan, yang selanjutnya diacak untuk mendapatkan zinc 70 mg/ minggu atau mendapat
CDK 175 / vol.37 no. 2 / Maret - April 2010

Upper respiratory infection Reactive airways disease or bronchiolitis Suppurative otitis media Pneumonia Severe pneumonia Death

232

314

0,042

394 199 18 2

572 286 42 14

0,002 0,004 0,016 0,013

Dari studi tersebut penulis menyimpulkan bahwa: suplementasi zinc sebesar 70 mg per minggu, mampu menurunkan kejadian pneumonia serta kematian pada anakanak, walaupun pemberian sekali seminggu mungkin akan meningkatan risiko kelupaan konsumsi zinc. (KTW)

Referensi: 1. Brooks WA., Yunus M., Santosham M., et al. Zinc for severe pneumonia in very young children: double-blind placebo-controlled trial. Lancet 2004;363:1683-88. 2. Brooks WA, Mathuram S, Aliya N, et al. Effect of weekly zinc supplements on incidence of pneumonia and diarrhoea in children younger than 2 years in an urban, low-income population in Bangladesh:randomised controlled trial. Lancet 2005; 366: 999–1004

139

CDK Maret April DR.indd 139

2/23/2010 4:16:35 AM

140

CDK 175 / vol.37 no. 2 / Maret - April 2010

CDK Maret April DR.indd 140

2/23/2010 4:16:40 AM

BERITA TERKINI
IMAGE BANK

Atorvastatin 80 mg Pada Pasien Pasca SKA Mengurangi Kejadian Iskemik dan Stroke

enelitian-penelitian terdahulu memperlihatkan bahwa terapi statin pada pasien-pasien penderita penyakit jantung koroner stabil dapat mengurangi kematian dan kejadian iskemik non-fatal, Penelitian MIRACL (The Myocardial Ischemia Reduction with Aggressive Cholesterol Lowering) dilakukan dengan tujuan untuk meneliti apakah terapi atorvastatin yang secara intensif pada pasien pasca serangan SKA (Sindroma Koroner Akut), dapat mengurangi
CDK 175 / vol.37 no. 2 / Maret - April 2010

P

kematian dan kematian dan mengurangi kejadian iskemik non-fatal dalam 16 minggu setelah SKA. Penelitian MIRACL adalah penelitian acak, tersamar ganda yang membandingkan atorvastatin 80 mg sehari dengan placebo, pada 3086 pasien dengan angina tidak stabil atau infark miokard akut gelombang non-Q. Terapi dimulai 24 jam – 96 jam setelah pasien dirawat dan terapi dilanjutkan

141

CDK Maret April DR.indd 141

2/23/2010 4:16:42 AM

BERITA TERKINI

Kelompok Atorvastatin

Kelompok plasebo

Keterangan

Endpoin primer

228 pasien (14,8%)

269 pasien (17,4%)

Relative risk, 0.84; 95% CI , 0.70 - 1.00. p= 0,048.

Risiko iskemia yang memerlukkan perawatan di rumah sakit

6,2%

8,4%

RR, 0.74; 95% CI, 0.57-0.95; P=0,02

Kejadian stroke Peningkatan kadar transminase (> 3 kali batas atas nilai normal)

12 kejadian 2,5%

24 kejadian 0,6%

RR, 0,49; 95% CI, 0,24 - 0.98; p= 0,045). P<0,001

Tabel 1. Perbandingan outcome atorvastatin 80 mg dengan plasebo pada pasien-pasien pasca SKA

hingga 16 minggu. Endpoin primer gabungan penelitian ini adalah kematian, infark miokard akut non-fatal, henti jantung dengan resusitasi atau perburukan angina dengan kejadian iskemia baru yang perlu perawatan gawat darurat di rumah sakit. Endpoin sekunder adalah komponen endpoin primer, yang diantaranya adalah stroke, revaskularisasi koroner, perburukan gagal jantung kongestif dan perburukan angina tanpa kejadian baru iskemia. Hasil penelitian MIRACL memperlihatkan bahwa endpoin primer lebih banyak terjadi pada kelompok plasebo dibandingkan dengan kolompok atorvastatin. Sehubungan dengan endpoin sekunder, kejadian stroke lebih banyak pada kelompok plasebo dibandingkan dengan kelompok atorvastatin Manfaat atorvastatin yang paling besar terjadi pada perburukan angina dan kejadian baru iskemia yang memerlukan rawat inap, yang lebih sedikit secara bermakna di-

bandingkan dengan kelompok plasebo. Kematian, infark miokard non-fatal dan henti jantung lebih sedikit terjadi pada kelompok atorvastatin dibandingkan dengan kelompok plasebo, namun perbedaannya tidak bermakna. Dalam kelompok atorvastatin, kadar rata-rata kolesterol LDL menurun dari 123 menjadi 72 mg/dL (3,2 mmol/L menjadi 1,9 mol). Para ahli dalam penelitian MIRACL berpendapat bahwa terapi atorvastatin 80 mg sehari pada pasien yang mengalami fase akut angina tidak stabil atau infark miokard tanpa gelombang Q, mengurangi kejadian iskemik berulang dan iskemia berulang yang memerlukan rawat inap. KESIMPULAN: Pada pasien dengan SKA, pemberian atorvastatin 80 mg sehari mengurangi kejadian iskemik ulangan pada 16 minggu pertama. Kejadian stroke lebih sedikit pada kelompok atorvastatin. (YYA)

REFERENSI : 1. 2. 3. Gotto AM, Farmer JA. A Myocardial Ischemia Reduction With Aggressive Cholesterol Lowering (MIRACL) Substudy. Circulation 2002; 106; 1595-8. Schwartz GG, Olsson AG, Ezekowitz MD, Ganz P, Oliver MF, Waters D, et al. The Myocardial Ischemia Reduction with Aggressive Cholesterol Lowering (MIRACL) Trial: Effects of Intensive Atorvastatin Treatment on Early Recurrent Events After an Acute Coronary Syndrome. Circulation 2000; 102; 2672 Waters DD, Schwartz GG, Olsson AG, Zeiher A, Oliver MF, Ganz P, et al. Effects of Atorvastatin on Stroke in Patients With Unstable Angina or Non–Q-Wave Myocardial Infarction A Myocardial Ischemia Reduction with Aggressive Cholesterol Lowering (MIRACL) Substudy. Circulation. 2002;106:1690-1695

142

CDK 175 / vol.37 no. 2 / Maret - April 2010

CDK Maret April DR.indd 142

2/23/2010 4:16:45 AM

BERITA TERKINI

Untuk Pasien STEMI Clopidogrel 600 mg Loading Dose Sebelum PCI Lebih Baik dibandingkan Dosis 300 mg.

IMAGE BANK

erapi clopidogrel 600 mg loading dose pada pasienpasien STEMI (ST-Elevation Myocardial Intervention) yang akan menjalani PCI (Percutaneous Coronary Intervention) disertai penurunan kejadian iskemik lebih baik dibandingkan dosis clopidogrel 300 mg. Penurunan kejadian iskemi tidak disertai peningkatan perdarahan. Kesimpulan ini diperoleh dari penelitian HORIZONS-AMI (Harmonizing Outcomes With Revascularization and Stents in Acute Myocardial Infarction). Penelitian HORIZONS-AMI melibatkan 3.602 pasien STEMI yang secara acak menerima terapi bivalirudin atau heparin tak terfraksinasi (unfractionated heparin, UFH), plus penghambat GP IIb/IIIa. Penelitian yang dipublikasikan dalam Journal of the American College of Cardiology ini dilakukan untuk membandingkan pengaruh pemberian clopidogrel
CDK 175 / vol.37 no. 2 / Maret - April 2010

T

dosis 600 mg dengan clopidogrel 300 mg sebagai loading dose, terhadap outcome klinik dalam 30 hari setelah tindakan PCI pada pasien-pasien STEMI. Dr George Dangas dari Columbia University Medical Center, New York, Amerika Serikat, yang memimpin penelitian ini, menjelaskan bahwa clopidogrel loading dose sebesar 600 mg memberikan penghambatan platelet yang lebih besar dan mula kerjanya lebih cepat dibandingkan dengan clopidogrel 300 mg. Manfaat ini sangat penting bagi pasienpasien STEMI, karena selang waktu pemberian clopidogrel hingga dilakukannya PCI sangat singkat, sehingga diperlukan dosis yang dapat dengan cepat menghambat platelet. Hasil penelitian HORIZON-AMI memperlihatkan bahwa dibandingkan dengan clopidogrel loading dose 300 mg, dosis

143

CDK Maret April DR.indd 143

2/23/2010 4:16:46 AM

144

CDK 175 / vol.37 no. 2 / Maret - April 2010

CDK Maret April DR.indd 144

2/23/2010 12:41:20 PM

BERITA TERKINI

Outcome Kejadian mayor kardiovaskular Perdarahan mayor

HR 0,72 0,87

95% CI 0,53-0,98 0,66-1,14

p 0,04 0,30

Tabel 1. Analisa Multivarian HORIZONS-AMI: Hazard Ratio kejadian mayor kardiovaskular dan perdarahan mayor antara clopidogrel 600mg vs 300mg. Kejadian mayor kardiovaskular diantaranya adalah kematian, infak berulang, revaskularisasi dan stroke.

600 mg disertai dengan angka kejadian kematian setelah 30 hari yang lebih rendah, kejadian infark berulang dan trombosis stent yang lebih rendah, serta merupakan predictor independen terhadap tidak adanya kejadian mayor kardiovaskular (Major Adverse Cardiovascular Events, MACE) selama 30 hari, dan tidak berhubungan dengan peningkatan perdarahan mayor. Pertanyaan menarik berikutnya adalah, bagaimana perbandingan antara clopidogrel 600 mg dengan prasugrel atau ticagrelor? Dr. George dan rekan menekankan bahwa dalam penelitian TRITON (TRial to Assess Improvement in Therapeutic Outcomes by Optimizing Platelet InhibitioN with Prasugrel), pemberian prasugrel memang disertai dengan penurunan kejadian kardiovaskular, namun terjadi peningkatan perdarahan dibandingkan dengan clopidogrel loading dose 300 mg pada pasien SKA yang akan menjalani PCI. Mereka juga menekankan bahwa hingga kini, perbandingan antara clopidogrel loading dose 600 mg dengan prasugrel yang diberikan secepat mungkin (dalam ambulan atau ruangan gawat darurat) pada pasien-pasien STEMI yang akan menjalani PCI belum pernah dilakukan. Beliau juga menambahkan bahwa mulai saat ini lebih banyak dokter yang akan menggunakan clopidogrel dengan loading

dose 600 mg pada situasi akut, walau beberapa dokter di unit gawat darurat merasa perlu berhati-hati dengan clopidogrel dosis 600 mg sehubungan dengan risiko perdarahan yang tinggi Penelitian yang pernah dipresentasikan di kongres European Society of Cardiology 2009, CURRENT OASIS-7, juga memperlihatkan bahwa pemberian clopidogrel loading dose 600 mg lebih baik dibandingkan dengan dosis 300mg. Dr. George mengatakan bahwa hasil penelitian HORIZONS sesuai dengan hasil penelitian CURRENT OASIS-7. Hingga kini penelitian-penelitian terkini menunjukkan bahwa pemberian dosis dan waktu pemberian obat golongan thienopyridine sebelum prosedur PCI sangat penting karena mempengaruhi outcome klinik. SIMPULAN Penelitian HORIZONS AMI memperlihatkan bahwa terapi clopidogrel 600 mg loading dose pada pasien-pasien STEMI yang akan menjalani PCI disertai penurunan kejadian iskemik lebih baik dibandingkan dosis clopidogrel 300 mg. Manfaat lebih dari dosis 600 mg ini tidak disertai peningkatan kejadian perdarahan. (YYA)

REFERENSI : 1. Dangas D, Mehran R, Guagliumi G, Caixeta A, Witzenbichler B, Aoki J, et al. Role of Clopidogrel Loading Dose in Patients With ST-Segment Elevation Myocardial Infarction Undergoing Primary Angioplasty: Results From the HORIZONS-AMI (Harmonizing Outcomes With Revascularization and Stents in Acute Myocardial Infarction) Trial. J Am Coll Cardiol, 2009; 54:1438-46. http://content.onlinejacc.org/cgi/content/abstract/54/15/1438?maxtoshow=&HITS=&hits=&R ESULTFORMAT=&fulltext=clopidogrel+600+mg+horizons+ami&andorexactfulltext=and&searchid=1&FIRSTINDEX=0&resourcetype=HWCIT 2. Medscape. Doubling Dose of Clopidogrel Benefits STEMI Patients Without Risk of Bleeding. Abstract. [citied 2009 November 27 ]. Available from: http://www. medscape.com/viewarticle/709553?src=mpnews&spon=2&uac=117092CG

CDK 175 / vol.37 no. 2 / Maret - April 2010

145

CDK Maret April DR.indd 145

2/23/2010 4:16:55 AM

Penggunaan antibiotika selama kehamilan

M

enurut hasil studi berbasis populasi, kasuskontrol di berbagai lokasi, yang telah dilaporkan dalam Archives of Pediatric & Adolescent Medicine November 2009, banyak antibiotika yang telah digunakan selama kehamilan, kecuali sulfonamide dan nitrofurantoin, tidak dikaitkan dengan kelainan janin. Krista S.Crider, PhD dkk dari US Centers for Disease Control and Prevention di Atlanta, Georgia, menulis bahwa antimikroba dan antibiotika khususnya, merupakan obat yang sering digunakan selama kehamilan karena terapi infeksi penting untuk kesehatan ibu dan janinnya. Meskipun tampaknya beberapa golongan antibiotika relatif aman digunakan selama kehamilan, namun sebelumnya belum ada studi skala besar yang menilai keamanan atau risiko berbagai golongan antibakteri. Tujuan The National Birth Defects Prevention Study yang dilakukan di AS tersebut adalah menilai kaitan antara penggunaan antibiotika selama fase perkembangan pada kehamilan awal (dari 1 bulan sebelum kehamilan hingga 3 bulan usia kehamilan) dengan kelainan janin. Studi tersebut melibatkan 13.155 ibu yang janinnya mengalami 1 kelainan saat lahir yang dideteksi melalui program surveilens kelainan janin di 10 negara bagian. Subyek kontrol adalah 4941 ibu yang secara acak dipilih dari daerah geografik yang sama. Dalam studi ini dicatat penggunaan antibiotika oleh ibu hamil selama periode 1 bulan sebelum hamil hingga akhir trimester pertama, dan parameter penilaian utama adalah odd ratio (OR) yang menggambarkan kaitan antara penggunaan antibiotika spesifik dan kelainan janin yang telah ditentukan. Selama kehamilan, penggunaan antibiotika dilaporkan meningkat dan puncaknya selama bulan ketiga. Penggunaan antibiotika pada satu waktu selama periode 3 bulan sebelum hamil hingga akhir

kehamilan dilaporkan sebesar 29,4% pada ibu yang janinnya mengalami kelainan saat lahir dan 29,7% pada subyek kontrol. Kelainan janin yang dikaitkan dengan sulfonamide adalah anensefali (OR 3,4), sindroma jantung kiri hipoplastik (OR 3,2), koarktasio aorta (OR 27), atresia koanal (OR 8,0), kelainan alat gerak transversal (OR 2,5), dan hernia diafragmatik (OR 4,2). Kelainan janin yang dikaitkan dengan nitrofurantoin adalah anoftalmia atau mikroftalmos (OR 3,7) sindrom jantung kiri hipoplastik (OR 4,2), defek septm atrium (OR 1,9), dan celah bibir dan palatum (OR 2,1). Eritromisin dikaitkan dengan 2 defek dan penisilin, sefalosporin serta kuinolon masing-masing dikaitkan dengan 1 defek. Meskipun penisilin, eritromisin, dan sefalosporin sering digunakan oleh ibu hamil, tidak dikaitkan dengan kebanyakan kelainan janin. Sedangkan sulfonamid dan nitrofurantoin dikaitkan dengan beberapa kelainan janin sehingga memerlukan tambahan penelitian yang cermat. Keterbatasan studi ini meliputi disain retrospektif yang tidak mampu menentukan kaitan penyebab; penentuan penyebab kelainan janin merupakan hal yang problematik, kelainan tunggal dapat terjadi karena berbagai penyebab, selain itu adanya kemungkinan bias dan kesulitan menentukan apakah kelainan janin dikaitkan dengan antibiotika khusus atau dengan infeksi yang dialami. Meskipun tidak dapat menentukan keamanan obat selama kehamilan, tetapi studi ini menunjukkan risiko yang dikaitkan dengan banyak golongan antibakteri yang digunakan selama kehamilan. (EKM)
Referensi 1. Many Antibiotics Used During Pregnancy Are Not Associated With Several Birth Defects http://www.medscape.com/viewarticle/711665_print 2. Antibiotic Use During Pregnancy And Birth Defects: Study Examines Associations. http://www.sciencedaily.com/ releases/2009/11/091102171417.htm CDK 175 / vol.37 no. 2 / Maret - April 2010

146

CDK Maret April DR.indd 146

2/23/2010 2:10:24 PM

PRAKTIS

Komponen Darah untuk Transfusi
Nuchsan Umar Lubis
Bagian Ilmu Kesehatan Anak, Rumah Sakit Umum Daerah Langsa, Aceh Timur

ABSTRAK Transfusi darah adalah suatu usaha untuk mengembalikan volume darah pada perdarahan dan kelainan darah, untuk menggantikan komponen seluler maupun kimia dalam darah. Untuk transfusi darah dapat diberikan whole blood, packed red cell, washed red blood cell, sel darah merah beku, suspensi granulosit, trombosit dan plasma tergantung indikasinya. Transfusi darah dapat berisiko karena darah mengandung bermacam-macam antigen, zat-zat metabolik dan mungkin penyakit yang dapat dipindahkan melalui transfusi darah.

PENDAHULUAN Transfusi darah adalah suatu usaha mengembalikan volume darah normal pada pendarahan, atau bertujuan menggantikan komponen seluler maupun kimia dalam darah, misalnya pada: anemia, trombositopenia, hipoprotombinemia, hipo fibrinogenemia(6). Dulu pemakaian darah merupakan satu satunya cara; saat ini dengan kemajuan teknik penggolongan dan pemisahan darah, dapat dilakukan pemberian komponen darah spesifik untuk keadaan tertentu atau kelainan pembekuan.(19). Pemberian suspensi trombosit pada penderita leukemia dan anemia aplastik yang mengalami perdarahan dapat mengurangi angka kematian(22). Transfusi darah bukanlah suatu tindakan tanpa risiko mengingat dalam darah terdapat beberapa macam antigen, zat metabolit dan mungkin bakkteri/virus patogen yang dapat dipindahkan melalui transfusi darah. Pada setiap tindakan transfusi sebaiknya diperhitungkan risiko: • Perbedaan imunologik antara donor dan resipien. • Zat antikoagulan dan akumulasi hasil metabolit. • Penyakit yang dapat ditularkan misalnya malaria, hepatitis, siflis, AIDS dsb. • Kelebihan cairan dan zat besi(15). HAL YANG HARUS DIPERHATIKAN Golongan Darah 1. Dengan dikenalnya golongan darah ABO oleh Landsteiner dan Weiner serta Levine dan Stetson pada tahun 1940, juga test anti globulin oleh Coombs dkk., pemberian darah donor kepada resipien dapat berlangsung aman(15). Dalam pelaksanaan sehari-hari darah diberikan kepada resipien dengan golongan darah ABO dan rhesus yang sesuai(15).
CDK 175 / vol.37 no. 2 / Maret - April 2010

Dengan sistem ABO dapat ditetapkan 4 macam golongan darah yaitu : A, B, AB dan O (tabel 1) Tabel 1. Golongan Darah sistem ABO
Gol. Darah Fenotipe O A B AB Genotipe OO AA (AO) BB (BO) AB Antigen A B A&B Antibodi Anti A & Anti B Anti B Anti A -

2. Sistem Rhesus Diuraikan oleh Landsteiner dan Weiner (1940) setelah sebelumnya Levine dan Stetson menemukan antibodi yang sama (16). Oleh Fisher zat anti ini disebut anti D dan antigen rhesus disebut antigen D. Darah manusia yang mengandung antigen Rh (D) menimbulkan reaksi aglutinasi terhadap anti D; disebut rhesus positif (14). 3. Leukosit dan Trombosit. Pada penderita kanker angka kematian dapat dikurangi dengan pemberian suspensi leukosit dan suspensi trombosit. (1,18,20). Pemeriksaan Laboratorium Pra Transfusi Umumnya dilakukan test rutin : • Golongan darah donor dan resipien dalam sistim ABO dan rhesus. • Reverse grouping, yaitu menentukan antibodi dalam serum donor dan resipien terutama sistim ABO. • Crossmatch terhadap donor darah dan resipien yang sama.

147

CDK Maret April DR.indd 147

2/23/2010 4:16:57 AM

PRAKTIS
• Pemeriksaan lain terhadap infeksi, misal : Lues, malaria, hepatitis serum, AIDS(6). 2. Suspensi Granulosit Suspensi granulosit dihasilkan sebagai produk samping pembuatan suspensi trombosit, satuan yang dipakai ialah unit: 1 unit merupakan hasil dari 1 unit darah lengkap (Glasser 1979). Penyimpanan Suspensi Granulosit pada suhu 60 C atau 240 C, ini dapat bertahan dalam 24 jam (Lauh & Wudle 1979). Penyimpanan pada suku beku tidak memuaskan(19). 3. Suspensi Trombosit Trombosit dapat diberikan dalam bentuk plasma kaya trombosit (platelet rich plasma) atau suspensi trombosit, dan juga dapat diberikan dalam bentuk darah segar(5). 4. Plasma dan Derivatnya Sebagai sumber plasma dapat dipakai darah segar, atau hasil samping produksi komponen darah lainnya (suspensi trombosit, granulosit atau sel darah merah padat). Plasma dapat dibuat langsung dari donor dengan teknik plasmaferesis: 1 unit darah donor langsung disentrifuge, plasma dipisah dan sel darah merah dikembalikan kepada donor, teknik ini dipakai pula untuk membuat komponen darah lainnya seperti Suspensi Granulosit, Trombosit(9). TRANSFUSI KOMPONEN DARAH Tujuan terapi komponen darah ialah memberikan komponen darah spesifik sesuai keperluan(5). Dari segi imunologis maupun ekonomis, pemberian komponen darah lebih dapat dibenarkan dibanding pemberian darah lengkap (Lourick dkk 1976). 1. Transfusi Sel Darah Merah Jika tujuan transfusi darah ialah meningkatkan daya angkut oksigen, komponen yang tepat adalah sel darah merah; dibandingkan dengan darah lengkap, sel darah merah lebih banyak dapat diberikan dalam setiap volume transfusi, sehingga hipervolemia dapat dihindari, oleh karena itu pemberian sel darah merah merupakan terapi pilihan untuk anemia kronik yang membutuhkan transfusi (15). 2. Transfusi Darah Lengkap (Whole Blood) Transfusi darah lengkap diberikan bila penderita membutuhkan sel darah merah dan plasma sekaligus; digunakan pada perdarahan atau trauma untuk mengganti volume darah dan sel darah merah. Bila perdarahan sangat banyak, sebaiknya diberi darah segar untuk mencegah hilangnya trombosit dan faktor pembekuan. Pengobatan perdarahan kronik tergantung beratnya anemi saat diagnosis ditegakkan(2,11). 3. Transfusi Sel Darah Merah Padat (Packed Red Cells). Makin berat anemia penderita, makin berangsur diberikan untuk menghindarkan komplikasi payah jantung. Jumlah darah yang diperlukan adalah : 6 X BB X kenaikan
CDK 175 / vol.37 no. 2 / Maret - April 2010

Untuk transfusi suspensi granulosit atau trombosit juga perlu penentuan golongan darah ABO, test kompatibilitas terhadap antigen leukosit atas trombosit(3). Reaksi transfusi darah berupa demam tinggi, menggigil dan kadang-kadang kongesti paru dapat merupakan suatu reaksi inkompatibilitas leukosit atau trombosit(3,19). Transfusi gronulosit dapat diberikan dengan mencocokkan golongan darah ABO; bila tidak mungkin dapat diberi steroid, antihistamin bersama transfusi. KOMPONEN DARAH DAN DERIVAT PLASMA Dari satu unit darah lengkap (whole blood) dapat dipisahkan komponennya, misalnya sel darah merah, trombosit dan leukosit dan komponen plasma. Proses pemisahan secara sedimentasi atau sentrifugasi, sedangkan komponen plasma dapat dipisahkan lagi menjadi derivat plasma, misalnya albumin, factor VIII, serum immunoglobulin(17). 1. Sel Darah Merah Bermacam jenis sediaan digunakan untuk indikasi klinik tertentu dengan keuntungan klinis maupun biaya(13). 1.1. Darah Lengkap (whole blood) Satu unit darah lengkap berisi 450 ml dalam kantong bersama zat antikoagulan. Darah disimpan pada suhu 1-60 C untuk memperlambat kerja enzim glikolisis sehingga glukosa tidak cepat habis(22). 1.2. Sel Darah Merah Padat Setelah proses sedimentasi sentrifugasi, 1 unit darah lengkap menjadi sel darah merah padat, dengan mengurangi sekitar 2/3 plasmanya(15). 1.3. Sel Darah Merah dengan sedikit Leukosit Disebut juga Leucocyte-Poor Red Blood Cells, dibuat dengan menghilangkan leukosit dan trombosit melalui proses tertentu secara terbuka, sehingga lama penyimpanan tidak lebih dari 24 jam(15). 1.4. Washed Red Blood Cells Sel darah merah yang dicuci dengan larutan garam faal; hampir semua plasma dan elemen non eritrosit akan hilang. Lama penyimpanan tidak lebih dari 24 jam(15). 1.5. Sel Darah Merah Beku Sel darah merah disimpan dalam suhu minus 450C; mengandung sedikit plasma sehingga mengurangi risiko penularan hepatitis dan sedikit mengandung leukosit dan trombosit, sehingga resiko sensitisasi dapat dikurangi. Selain biaya pembuatan mahal, juga risiko kontaminasi bakteri lebih besar karena sebelum dipakai harus dicairkan dan dilarutkan dalam larutan elektrolit, harus dipakai dalam waktu kurang dari 24 jam setelah dicairkan(15).

148

CDK Maret April DR.indd 148

2/23/2010 4:16:59 AM

CDK 175 / vol.37 no. 2 / Maret - April 2010

149

CDK Maret April DR.indd 149

2/23/2010 4:17:05 AM

PRAKTIS
Hb yang diinginkan(12). Penggunaan packed red cell juga pada :leukemia akut, kronik, aplastik anemia, thalasemia(21). 4. Transfusi Suspensi Trombosit Trombosit memiliki umur 4-10 hari, tetapi efektif berfungsi sekitar 4-5 hari. Jumlah trombosit yang diperlukan(1) = 2/3 ( N X 0,75 X 10) N = Jumlah Trombosit, Vol Darah = 80 ml/kgbb. Indikasi transfusi suspensi trombosit : leukemia, anemia aplastik, ITP. 5. Transfusi Suspensi Granulosit. Bila jumlah granulosit turun sampai 1000/ml, maka risiko infeksi dan mortalitas meningkat. Daya tahan tubuh ditingkatkan dengan cara memberikan suspensi granulosit pada penderita infeksi, sebagai tambahan selama pemberian antibiotika(7). Suspensi granulosit pada penderita sepsis neonatus berhasil baik, dibanding dengan terapi antibiotika saja(10,23). REAKSI TRANSFUSI DARAH Reaksi transfusi darah dapat terjadi segera setelah transfusi, atau pada saat transfusi berlangsung atau lama setelah transfusi. Reaksi transfusi darah dapat dibagi(8) : • Reaksi Immunologik • Hemolitik • Anafilaktik • Demam, Non Hemolitik • Urticaria • Edema Paru Non Kardiogenik Reaksi Non Immunologik a. Gagal Jantung b. Demam Tinggi + Renjatan c. Hipotermia d. Hemolitik e. Emboli f. Hiperkalemi g. Hiperkalsemia

DAFTAR PUSTAKA 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. Aisner J. Platelet transfusion therapy. Med. Clin. N. Am. 1977; 61 : 1133-1145 Beal RW, Schiff P, Castaldi PA, Eckert H, Mastertan JP, Weaver RA, Taft L. I; Wiglay, G.R and Abell, D.A; Recommendations Corcecing the Indications for the use of Blood and Blood products. Aust. M.Z.J.Suro 48 : 230 – 232 (1978) Berkman, E.M; Eisenstaedt, R.S and Caplan, S.N : Suppertive granulocyte transfution in infected severely neutropenic patient. Transfusion 16 : 693 – 700 (1978) Buchholz, D.H; Blood transfusion : The clinical use of red calls, platelet and granulocyte. J. Pedatr. 84 : 1 – 15 (1974). Buchholz, D.H; Blood transfusion : Merita of Component therapy II : The clinical use of plasma derivates. J. Pediatr. 84 : 165-172 (1974). Buku Kumpulan Kuliah Ilmu Kesehatan Anak; Transfusi Darah. Bagian kesatu, cetakan kedua ; 543-548, Jakarta (1974). Herzig, H.H; Herzig, G.P; Graw, R.G; Bull, M.I and Ray, K.K : Succesful granulocyte septimecia. W. Engl. J. Med. 296 : 701-711 (1977) Holland, P.V; Other adverse effect of transfusion, in Petz & Swisher : Clinical Practice of Blood Transfusion pp 783 – 803 (Churchill livingstone, New York, Edinburg, London and Melbourne. 1981) Huestis, D.W; Collection of granulocytes with Haemonetics Advance Seminar (1974) neubron infant. J. Pediatr. 98 : 119 – 122 (1991) 11. Lanzkowsky. P; Hematologic Emergencies.Pediatr. Clin. N. Amer. 26 : 909 – 931 (1973) 12. Moeslichan, S; Transfusi Darah dibidang pediatri. Bull Transfusi darah 85 : 4 – 10 (1980). 13. Moeslichan, S; Markum, A.H; Wahidiyat, I; Maria.A and Gatot, J : Masalah Hepatitis B antigen di Indonesia. Bull. Transfusi Darah BO : 5 – 12 (1982). 14. Mollison, P; Blood Transfusion in Clinical Medicine 5th Ed. (Blackwel Scientific, Oxford. 1972). 15. Nusbacher, J; Transfusion of red blood calls product, in petz, L.D and Swisher, S.N : Clinical pratice of Blood Transfusion. PP 289 – 311 (Churchill Livingtone New York, Edinburg, London and Melbourne, 1981) 16. Ortho Diagnostic; Sistim ABO dan RH (Johnson & Jhonson, Indonesia Divisi Ortho Diagnostic, 1978) 17. Sandler, S.G; Swisher, S.N : Josephenn, A and Shepperd F : Plasmacomponentand derivates. Hematology / Transfusion Education Program of the American Society of Hematology (1980). 18. Schiffer, C.A; Principles of granulocyte transfusion therapy. Med. Clin. N. Amer. 61 : 1119-1131 (1971) 19. Seidl. S; Blood Component therapy. Simposium Hematerapy Jakarta (1979). 20. Tomasulo, P.A; Platelet transfusion for malignant disease in Petz, L.D and Swisher, S.N : Clinical Practice of Blood Transfusion. PP. 527 – 550 (Churchill Living Stone, New York. Edinburd London and Malbourne 1981) 21. Wahidiyat, I; Thalassamia. Thesis, Jakarta (1979) 22. Wintrobe, M.M; Clinical Hematology. 7th Ed. (Lea & Febigar Philadelphia, Igaku Shoin, Asian Ed, 1974) 23. Dorkman, R.D; Favilla, R.J : Strate, R.G and mcCullogn, M. : Granulocyte transfusion for patient with several burns. Transfusion 18 : 142 – 147 (1978). 10. Laurenti, P; Perro, R; Isachi, G; Panero, A; Savingnoni, P.C Malagnino, F; Palermo, D and Succi, C : Polymorphonuclear Leucocyte Transfusion of sepsis in

150

CDK 175 / vol.37 no. 2 / Maret - April 2010

CDK Maret April DR.indd 150

2/23/2010 4:17:06 AM

PROFIL

Dr. Suryono Slamet Iman Santoso, SpOG

Hidup Jangan Terlalu Ngoyo
Dr. Suryono Slamet Iman Santoso, SpOG adalah anak kandung Prof. Dr. Slamet Iman Santoso (alm) tokoh budayawan dan bapak pendidikan. Beliau lahir di Jakarta, 19 Februari 1949 lalu, anak ke lima dari tujuh bersaudara. Suryono memang nama Jawa tetapi beliau hidup di Betawi, dan seluruh pendidikannya ditempuh di Jakarta, yaitu SD Cikini Jakarta , SMP Kanisius Jakarta, dan SMA Kanisius Jakarta . Setelah lulus SMA, Suryono tidak ragu masuk ke Fakultas Kedokteran. “Memang cita-cita saya sejak kecil jadi dokter. Bapak saya dan dua saudara saya dokter,” ujar staf pengajar FKUI ini.“Dari tujuh bersaudara, tiga dokter yaitu satu dari penyakit dalam, satu dokter umum dan satu dari kebidanan, saya sendiri,” tutur Suryono. Suryono lulus dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia tahun 1973. Kemudian tanpa mengikuti PTT, beliau langsung mengikuti program pendidikan spesialis kebidanan. Ia lulus pada tahun 1979. Ketika ditanya mengapa kebidanan, karena Suryono merasa kasihan melihat ibu-ibu hamil, awalnya mereka sehat namun pada saat melahirkan terlihat susah benar, mengeluarkan bayinya. Ada juga yang sampai meninggal pada saat melahirkan. MENOLONG KAKAK MELAHIRKAN Pengalaman adalah guru terbaik. Saat masih mahasiswa beliau mempunyai pengalaman menarik. “Kakak saya sedang hamil anak ke empat, mendadak ingin melahirkan, ” tutur Mantan Kepala Klinik Raden Saleh FKUI ini. Dalam keadaan panik dan bingung, Suryono ingin membawa kakaknya ke rumah sakit atau klinik terdekat. “Tetapi kehendak takdir lain, kakak saya sudah tidak tahan, sehingga terpaksa saya tangani sendiri. Dengan hati-hati saya coba untuk menolong kakak saya,” ujar Suryono. “Alhamdulillah saya berhasil walaupun kakak saya mengalami sedikit robekan pada rahimnya,” tutur Mantan Ketua PKMI Cabang Jakarta tersebut. Walaupun demikian Suryono meminta bantuan bidan terdekat karena takut-takut kesalahan fatal akibat melahirkan secara dini tersebut. Kemudian Suryono dengan semangat menceritakan kembali pengalaman lain. Ketika itu Suryono sudah menjadi

FOTO-FOTO: DOKUMEN PRIBADI

CDK 175 / vol.37 no. 2 / Maret - April 2010

151

CDK Maret April DR.indd 151

2/23/2010 4:17:13 AM

PROFIL
dokter dan bertugas di Rumah Sakit Tangerang (1976). Kondisi rumah sakit saat itu belum memadai, peralatan RS pun sangat sederhana, alat transfusi belum ada. Saat itu rumah sakit terkunci, paramedis yang memegang kunci belum datang, padahal ada pasien yang harus dioperasi. “Maka saya berinisiatif segera mengambil kunci RS ke rumah paramedis,” tuturnya. Untuk mempercepat maka Suryono menjadi supir ambulans dadakan. Ia menjemput suster di rumahnya, lalu menuju ke rumah paramedis tersebut untuk mengambil kunci. “Rumahnya cukup jauh, di luar kota Tangerang,” tutur Suryono mengakhiri kisahnya. MEMBAGI WAKTU Membagi waktu untuk keluarga adalah yang terpenting bagi Suryono. “Bagaimana pun sibuknya kita, tetap harus sisihkan waktu untuk keluarga,” tutur Mantan Ketua Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi (POGI) Cabang Jakarta ini. Dr. Suryono tidak praktek di banyak tempat. Pagi di RSCM, praktek swasta hanya beberapa hari saja dalam seminggu, sehingga waktu untuk keluarga lebih banyak. “Pagi hari saya menyempatkan waktu mengantarkan anak ke sekolah, baru ke rumah sakit,” tutur Suryono. Suryono mempunyai tiga anak -- semuanya perempuan -dan dua cucu. Salah satu anaknya menjadi dokter dan sedang dalam pendidikan spesialis mata. “Yang terpenting dalam hidup ini adalah kita harus berusaha untuk mencapai sesuatu. Namun bila sudah berusaha tapi tetap tidak berhasil, maka jangan kecewa. Hidup tidak perlu terlalu ngoyo, hiduplah dengan sederhana, tetapi kita tetap berusaha,” tutur Bapak yang hobinya berkebun ini. Pendidikan Tambahan Banyak pelatihan atau kursus yang pernah Dr. Suryono ikuti, seperti Course Management of Infertile Couple, Johns Hopkins University Baltimore di USA pada tahun 1980, Pelatihan Endoskopi di Manila 1980, Management of Reversal Program Course, Korean Association for Voluntary Sterilization tahun 1991 di Korea Selatan, dan banyak lagi.

Dr. Suryono juga aktif menjadi pembicara dalam berbagai seminar atau pertemuan ilmiah seperti Kursus Penyegar: Penanganan Kegawatan dan Kasus Penting Bagi Dokter Umum, Simposium Reproduksi Remaja. Pertemuan Ilmiah Tahunan X Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia Indonesia di Ujung Pandang tahun 1997. Dengan segala kesibukannya, Suryono masih sempat menulis berbagai artikel ilmiah yang pernah dipublikasi. Harapan Menyikapi perkembangan kedokteran yang cukup pesat saat ini, Suryono mengingatkan bahwa yang terpenting adalah bagaimana rakyat kecil tetap dapat memperoleh pelayanan kesehatan terbaik. “Jangan sampai rakyat kecil terbengkalai, tidak bisa diobati cuma gara-gara tidak mampu bayar,” ujarnya. Dr. Suryono saat ini masih menjabat Ketua Umum Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia. Ia mengharapkan POGI di masa depan makin baik, kualitasnya harus bertambah, karena jumlahnya makin bertambah.”Dengan adanya panduan praktek kedokteran, maka kita lebih solid, dan lebih terkoodinasi. Fungsi organisasi pun menjadi lebih penting, sehingga anggota-anggotanya menjadi lebih dekat dengan organisasinya,” tutur dokter yang pernah mendapat penghargaan Dokter Teladan tersebut. Anggota POGI sampai saat ini berjumlah 1.490 orang yang tersebar dalam 24 cabang di seluruh Indonesia. Di Jakarta sendiri berjumlah 579 orang. Sampai saat ini program pendidikan kedokteran spesialis obstetri dan ginekologi ada di beberapa pusat pendidikan yaitu di Jakarta, Palembang, Medan, Bandung, Semarang, Yogyakarta, Surabaya, Bali, Makassar dan Manado.
CDK 175 / vol.37 no. 2 / Maret - April 2010

152

CDK Maret April DR.indd 152

2/23/2010 4:17:19 AM

INFO PRODUK
Penggunaan pada pria dengan kanker prostat dengan satu suntikan subkutan Endrolin dengan dosis 11,25 mg dan diberikan setiap 12 minggu. Efek samping terutama berhubungan dengan keadaan hipoestrogenisme pada wanita dan hipotestosteronisme pada pria. Terdapat risiko peningkatan kehilangan trabekula tulang belakang selama terapi endometriosis atau anemia pada pasien dengan leiomioma uteri. Kehilangan densitas tulang ini mungkin ireversibel. Namun kehilangan densitas ini umumnya kecil bila terapi dibatasi untuk 3 bulan untuk leiomioma uteri atau 6 bulan untuk endometriosis, kecuali pada pasien-pasien dengan faktor risiko seperti misalnya riwayat osteoporosis. Walaupun umumnya dapat ditoleransi dengan baik, penggunaan Endrolin® pada wanita dan pria dewasa masih dapat memberikan efek samping lain seperti semburan panas (hot flushes), penglihatan kabur, penurunan libido, pusing, edema, sakit kepala, reaksi di tempat injeksi, serta mual atau muntah. Tidak ada uji klinis interaksi obat untuk Endrolin®. Tetapi, karena Endrolin® merupakan peptida yang terutama dihancurkan oleh peptidase, bukan oleh sitokrom P-450, dan karena ikatan proteinnya rendah (46%), maka interaksi obat diperkirakan tidak terjadi. Selain digunakan untuk pengobatan endometriosis pada wanita, Endrolin® juga digunakan sebagai salah satu alternatif pengobatan penderita kanker prostat pada pria 1. Studi klinis fase tiga oleh Dr. Sharifi dan Dr. Soloway dari Universitas Illinois, Chicago, Amerika Serikat terhadap penderita kanker prostat stadium D2 yang tidak mendapatkan pengobatan sistemik sebelumnya, dilakukan secara terbuka, multisenter, mengevaluasi efikasi dan keamanan serta menggunakan formulasi Leuprolide acetate 7,5 mg intramuskular setiap 4 minggu, selama kurun waktu 24 minggu, menunjukkan penurunan level Testosteron pada minggu ke 3 pertama pengobatan, dengan perbaikan respon (tanpa adanya progresi) pada 81% dari 53 pasien yang dievaluasi 2. Penelitian lain oleh Dr. Fujii dan rekan dari departemen Urologi RS Institut Kanker,Jepang, membandingkan efek pengunaan leuprolide acetate dan goserelin acetate dalam menekan level serum testosteron pasien kanker prostat, pada sekitar 232 pasien kanker prostat; hasilnya ditemukan penurunan level testosterone secara signifikan pada leuprolide dan goserelin pada 1 dan 3 bulan pengobatan dengan efektivitas yang sama baik 3. IWA

ENDROLIN®
Endrolin® mengandung bahan aktif leuprolide acetate atau leuprorelin yang merupakan nonapeptida sintetik analog GnRH alami. Leuprolide acetate bertindak sebagai penghambat poten sekresi gonadotropin bila diberikan secara terus menerus dalam dosis terapi. Suntikan analog GnRH pada awalnya akan menstimulasi, kemudian terjadi penghambatan jangka panjang gonadotropin hipofise. Penelitian-penelitian yang dilakukan pada manusia menunjukkan bahwa setelah stimulasi, pemberian leuprolide jangka panjang menyebabkan penurunan sekresi gonadotropin, yang menyebabkan terhambatnya fungsi testis pada pria dan menginduksi atrofi uterus serta jaringan endometrium ektopik pada wanita ; efek ini reversibel. Setelah pemberian dosis pertama, terjadi peningkatan kadar LH dan FSH dalam sirkulasi, yang diikuti oleh peningkatan kadar steroid gonad (testosteron dan dihidrotestosteron pada pria serta estradiol pada wanita). Bila terapi dilanjutkan, terjadi penurunan kadar LH & FSH dalam 3-4 minggu, sehingga kadar androgen atau estrogen menurun hingga kadar kastrasi atau menopause, selama obat tersebut diberikan1. Secara farmakokinetik, leuprolide acetate yang merupakan polipeptida alami akan dihancurkan di saluran cerna, karena itu biasanya diberikan secara parenteral. Setelah pemberian suspensi leuprolide acetate secara intramuskular atau subkutan, obat tersebut akan dilepaskan secara lambat dan bertahap, sehingga lama kerjanya panjang. Bioavailabilitas setelah injeksi intramuskular diperkirakan sekitar 90%. Waktu paruh kira-kira 3 jam setelah pemberian 1 mg intravena pada sukarelawan pria yang sehat. Waktu untuk mencapai konsentrasi puncak sekitar 4 jam. Eliminasi kurang 5% dari 11,25 mg leuprolide acetate ditemukan dalam urin, sebagai obat induk dan metabolit pertama (pentapeptida)1. Endrolin® diindikasikan untuk pengobatan endometriosis genital dan ekstragenital, serta kanker prostat dengan metastasis pada pria. Penggunaan pada endometriosis harus dimulai selama 5 hari pertama siklus menstruasi. Endrolin dengan dosis 11,25 mg secara subkutan atau intramuskular diulang setiap 12 minggu dan lama terapi tidak melebihi 6 bulan.
CDK 175 / vol.37 no. 2 / Maret - April 2010

REFERENSI 1. 2. 3. Leuprolide acetate (Endrolin®) product monograph Sharifi R, Soloway M. Clinical study of leuprolide depot formulation in the treatment of advanced prostate cancer. J Urol. 1990;143:68-71. Fujii Y, Yonese J, Kawakami S, Yamamoto S, Okubo Y, Fukui I. Equivalent and sufficient effect of leuprolide acetate and goserelin acetate to suppress serum testosterone levels in patients with prostate cancer. BJU Int 2008; 101(9): 1096-100

153

CDK Maret April DR.indd 153

2/23/2010 4:17:21 AM

154

CDK 175 / vol.37 no. 2 / Maret - April 2010

CDK Maret April DR.indd 154

2/23/2010 4:17:22 AM

GERAI

Kunjungan dokter-dokter spesialis neurologi RS. dr Sardjito Yogyakarta di Stem Cell & Cancer Institute (SCI) tanggal 17 Februari 2010 dalam rangka mengenal lebih jauh perkembangan stem cell di Indonesia

Tim Kalbe Farma berpartisipasi pada pameran Indonesian Scientific Meeting on Hypertension (Ina SH), 12 - 14 Februari 2010 di Hotel Mulia Senayan

Pelantikan pengurus Perhimpunan Dokter Umum Indonesia (PDUI) cabang Jakarta, Periode: 2010 - 2013, Sabtu 13 Februari 2010

Presiden Direktur PT Kalbe Farma Tbk, Ibu Irawati Setiady menerima 2 penghargaan dari majalah Warta Ekonomi: CEO terbaik di Industri Farmasi dan Terbaik dari hasil survei lintas industri

CDK 175 / vol.37 no. 2 / Maret - April 2010

155

CDK Maret April DR.indd 155

2/23/2010 2:07:26 PM

AGENDA

KALENDER ACARA BULAN MARET - MEI 2010
MARET 6th World Congress of Perinatal Medicine in Developing Countries 2010 Tanggal Tempat Sekretariat 06 - 10 Mar 2010 Shangri La Hotel, Jakarta, Indonesia CONFERENCE MANAGER Ali Sungkar Fetomaternal Jakarta Kimia No. 5, Jakarta, Indonesia fetomaternal@yahoo.co.id or secretariat@6wcpm2010.com +6221 3928721 +6221 3915041 Ali Sungkar www.6wcpm2010.com 3rd Indonesian PICU NICU Update 2010 Tanggal Tempat Kalangan Sekretariat Email Phone Fax URL Tanggal Tempat Kalangan Sekretariat Email Phone Fax Contact Person URL 16 Apr 2010 - 19 Apr 2010 Hotel Gran Melia, Jakarta Intensivist, GP GEO CONVEX Jl. Kebon Sirih Timur 4 Jakarta Pusat (10340) marketing@geoconvex.co.id +62 +21 3149318 / 3149319 / 2305835 +62 +21 +3153392 www.geoconvex.com 24 Apr 2010 - 25 Apr 2010 Gumaya Hotel, Semarang, Jawa Tengah Dokter umum dan dokter spesialis anak Jl. dr. Sutomo 16 - 18 Semarang ikarsdk@gmail.com 024-8414296 024-8414296 Mbak Cicik www.pediatrics-undip.com

Email Phone Fax Contact Person URL

Update in Pediatric: Perinatology, Respirology and Nephrology

The First Indonesia General Practitioners’s Exhibition # Conference (igpexco 2010) Tanggal Tempat Kalangan Sekretariat 12 - 14 Mar 2010 Jakarta Convention Center, Indonesia GP, Student PDUI (Perhimpunan Dokter Umum Indonesia) Jl. Sam Ratulangi No 29 Menteng Jakarta Pusat 10350 021-7985908 021-7985909 Chidaraji

Phone Fax Contact Person

MEI International symposium on Digestive Diseases (ISDD) 2010 & The 6th International Endoscopy Workshop Tanggal Tempat Kalangan Sekretariat Phone Fax Contact Person Tanggal Tempat Kalangan Sekretariat 05 May 2010 - 08 May 2010 Hotel Borobudur, Jakarta Dokter spesialis, bedah digestif, GP PT. Multi Taruna Sejati (MTS) Event Management Company +62 21 83792121 +62 21 83793131 Ms. Intan T. Senduk 21 May 2010 - 23 May 2010 Hotel Borobudur, Jakarta Dokter umum, dokter spesialis Gedung YARNATI Lt 1 Ruang 103 Jl. Proklamasi no 44 Jakarta pernefri@cbn.net.id 021-3149208 021-3155551 www.pernefri.org

1st Asia Pacific Behavioural and Addiction Medicine Conference 2010 Tanggal Tempat Kalangan Sekretariat 18 - 20 Mar 2010 Furama RiverFront Hotel, Singapore Doctor, student Conference Secretariat & Housing Bureau c/o Ace:Daytons Direct (International) Pte Ltd 2 Leng Kee Road, Thye Hong Centre, #04-01 159086 Singapore admin@apbam.org +65-63-795-259 + 65-64-752-077 Stella Chee www.apbam.org

Email Phone Fax Contact Person URL

The 10th JNHC & SH 2010

APRIL Bali Endocrine Update (BEU) VII Bali Geriatri Update Symposium (BAGUS) IV Tanggal Tempat Kalangan Sekretariat Email Phone Contact Person 30 Apr 2010 - 01 Mei 2010 Inna Grand Bali Beach Dokter umum, dokter spesialis PERKENI cabang Bali perkeni_bali@yahoo.com 0361-7872587, 246274 Dewi 081805637143

Email Phone Fax URL

1. Informasi ini sesuai pada saat dicetak. Apabila ingin mengetahui lebih lanjut, silakan akses http://www.kalbe. co.id/calendar 2. Apabila Anda merencanakan kegiatan ilmiah, beritanya dapat dikirim ke cdk.redaksi@yahoo.co.id

156

CDK 175 / vol.37 no. 2 / Maret - April 2010

CDK Maret April DR.indd 156

2/23/2010 4:17:33 AM

ANTAR SEJAWAT
Sebagai sarana komunikasi antar pembaca Majalah CDK, Redaksi membuka halaman “Antar Sejawat”. Kirimkan saran, tanggapan, kritik dan keluhan atas suatu masalah kepada redaksi majalah CDK. Redaksi CDK akan memilah kiriman sejawat untuk dimuat di halaman ini. Sejawat dapat mengirimkan materi melalui : 1. SMS nomor 085-580-KALBE (52523) dengan awalan “[CDK]” tanpa tanda kutip 2. Melalui email address: cdk.redaksi@yahoo.co.id 3. Bergabung di Facebook CDK : http://www.facebook.com/Majalah.CDK 4. Kirim surat via pos ke alamat redaksi: Majalah CDK : Jl. Letjen. Suprapto Kav. 4 , 5. Cempaka Putih - Jakarta 10510 Redaksi menyediakan beberapa gimmick CDK bagi tulisan pembaca yang menarik di halaman Antar Sejawat ini.

Saya Elvina Diah (mahasiswa FKM UI), ingin bertanya bagaimana kriteria penulis untuk majalah CDK? Apakah hanya seseorang yang telah bekerja di suatu instansi? Bagaimana dengan mahasiswa (baik mahasiswa kedokteran, maupun kesehatan lainnya)? Atas jawaban dari redaksi, Saya ucapkan terima kasih. Dengan hormat, Kami sangat bergembira bahwa sejawat berminat untuk menyumbangkan naskah untuk diterbitkan di majalah kami. Kami sangat terbuka terhadap semua kontribusi naskah dari manapun, dan siapapun, termasuk dari mahasiswa; asalkan mengenai bidang kesehatan. Kami telah pernah menerbitkan beberapa karya mahasiswa , antara lain pada edisi informatika kedokteran. Petunjuk untuk penulis dapat dibaca disetiap edisi majalah kami. Naskah dapat dikirim lewat e-mail ke cdk.redaksi@yahoo.co.id Mununggu kabar lanjutan Assalamualaikum.... Perkenalkan nama Saya Ari Gunawan, dokter muda di RS Zainal Abidin B.Aceh. Melalui E-mail ini saya ingin mengucapkan terima kasih kepada seluruh jajaran direksi majalah CDK yang tetap eksis dan konsisten dalam menyampaikan informasi terbaru seputar dunia kedokteran dan farmasi. Secara lebih luas saya juga berterima kasih kepada pihak Kalbe Farma yang perduli dengan kemajuan teknologi di bidang kedokteran dan farmasi melalui penerbitan majalah CDK yang secara bebas bisa kami download. Semoga usaha yg baik ini bisa terus berlanjut karena majalah CDK ini bisa dikatakan satusatunya majalah kedokteran dan farmasi berbahasa Indonesia yang bisa didownload secara gratis sehingga majalah ini merupakan tumpuan saya dalam meng-up date Ilmu kedokteran yang saya miliki... Semoga Dunia Kedokteran dan Farmasi di Indonesia bisa lebih baik...* Redaksi sangat bergembira jika CDK bisa membantu sejawat dalam mengikuti perkembangan dunia kedokteran. Untuk bisa mencapai tujuan tersebut kami sangat memerlukan sumbangan artikel untuk bisa kami terbitkan dan dengan demikian dapat disebarluaskan ke seluruh pembaca CDK. Menunggu kontribusi selanjutnya, terutama pengalaman di tempat kerja Sejawat yang tentu menarik bagi sejawat yang bekerja di daerah lain. Case report yg saya kirim untuk rcn dipublikasi, kok blm ada tanggapannya ya...biasanya berapa lama sih kita nunggu keputusannya? judul case reportnya tamponade jantung pd perikarditis tuberkulosis... tengkyu...Selamat berkarya! Eva Lydia Munthe Naskah sejawat berjudul : Tamponade Jantung et causa Perikarditis Tuberkulosis rencananya akan diterbitkan pada CDK yang membahas masalah Kardiologi sekitar paruh ke dua tahun 2010; namun masih mungkin lebih awal jika naskah mengenai jantung/kardiologi sudah lengkap. Demikian kami sampaikan, terima kasih atas perhatiannya. Terima kasih telah menyajikan informasi yang menarik dan up to date. Sangat membantu dalam kinerja saya sebagai seorang dokter dan staf pengajar. Dr. Intan Suraya Ellyas Terima kasih atas komentarnya. Majalah CDK, senantiasa menyajikan perkembangan aktual dunia kedokteran. Kami senang informasi yang kami berikan bisa bermanfaat *) Tulisan pembaca terpilih berhak mendapatkan gimmick CDK dari redaksi.

Redaksi

CDK 175 / vol.37 no. 2 / Maret - April 2010

157

CDK Maret April DR.indd 157

2/24/2010 5:43:34 PM

RPPIK

RUANG PENYEGAR DAN PENAMBAH ILMU KEDOKTERAN
Dapatkah sejawat menjawab pertanyaan-pertanyaan di bawah ini? Jawablah B jika benar, S jika salah

Efektifitas dan Toksisitas Terapi Radiasi Eksternal pada Kanker Serviks Stadium IIb-III di RS Sanglah Denpasar - Uji Klinik Historical Control
IMAGE BANK

Deteksi Dini Kanker Serviks Melalui Uji Sitologi dan DNA HPV
Sinta Sasika Novel1, Ratu Safitri2, Sukma Nuswantara3

I Ketut Suwiyoga , IGN Dharma Putra

1. Pada penelitian di RS Sanglah Denpasar ini, subyek penelitian adalah penderita kanker serviks stadium Iib dan stadium III. 2. Kelompok kontrol adalah kelompok radiasi kombinasi 3. Terapi radiasi eksternal menggunakan Cesium 4. Terapi radiasi internal menggunakan Radium

1. Pencegahan primer kanker serviks ialah dengan vaksinasi HPV 2. Pencegahan sekunder kanker serviks ialah dengan uji sitologi 3. Saat ini kanker tersering pada perempuan adalah kanker payudara 4. Awal kanker ditandai dengan perubahan morfologi sel dan terhentinya proses pembelahan 5. Defisiensi vitamin A, C dan E juga diduga merupakan faktor risiko kanker serviks 6. Uji skrining kanker serviks sampai saat ini menggunakan tes Pap 7. Perempuan menopause tidak perlu menjalani uji skrining tes Pap 8. Tes IVA merupakan alternatif tes Pap untuk deteksi kanker serviks 9. Tes IVA menggunakan cairan asam asetat 10. Pada tes IVA sel abnormal akan tampak seperti kembang kol

5. Toksisitas radiasi yang paling sering dijumpai ialah diare 6. Efek samping secara bermakna lebih sering dijumpai di kelompok kontrol 7. Salah satu evalusai klinis menggunakan tes Pap 8. Dianggap respon cukup jika perdarahan berhenti dan permukaan serviks licin

IMAGE BANK

158

CDK 175 / vol.37 no. 2 / Maret - April 2010

CDK Maret April DR.indd 158

JAWABAN: 1.B
2/23/2010 4:17:37 AM

2.B

3.S

4.S

5.S

6.S

7.B

8.B

JAWABAN: 1.B 2.B 3.S 4.S 5.B 6.B 7.S 8.B 9.B 10.S

CDK Maret April DR.indd 159

2/23/2010 4:17:42 AM

CDK Maret April DR.indd 160

2/23/2010 4:17:46 AM

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful