Referat THT-KL

Penatalaksanaan OMSK

BAB I PENDAHULUAN
Otitis media ialah peradangan sebagian atau seluruh mukosa telinga bagian tengah, tuba Eustachius, antrum mastoid dan sel-sel mastoid. Otitis media terbagi atas otitis media supuratif dan otitis media non supuratif. Masing-masing mempunyai bentuk akut dan kronis. Pada beberapa penelitian, diperkirakan terjadinya otitis media yaitu 25% pada anak-anak. Infeksi umumnya terjadi dua tahun pertama kehidupan dan puncaknya pada tahun pertama masa sekolah.1 Radang telinga tengah menahun atau otitis media supuratif kronik (OMSK), yang biasa disebut “congek” adalah radang kronis telinga tengah dengan adanya lubang (perforasi) pada gendang telinga (membran timpani) dan riwayat keluarnya cairan (sekret) dari telinga (otorea) lebih dari 2 bulan, baik terus menerus atau hilang timbul. Sekret mungkin serous, mukous atau purulen.2 Penyakit ini biasanya diikuti oleh penurunan pendengaran dalam beberapa tingkatan.3 Tipe klinik OMSK dibagi atas dua, yaitu tipe tubotimpanal (tipe rinogen, tipe sekunder, OMSK tipe jinak) dan tipe atikoantral (tipe primer, tipe mastoid, OMSK tipe ganas). OMSK tipe jinak (benigna) dengan perforasi yang letaknya sentral, biasanya didahului dengan gangguan fungsi tuba yang menyebabkan kelainan di kavum timpani. Tipe ini disebut juga dengan tipe mukosa karena proses peradangannya biasanya hanya pada mukosa telinga tengah, dan disebut juga tipe aman karena tidak menimbulkan komplikasi yang berbahaya.2 OMSK tipe jinak dibedakan menjadi dua, yaitu tipe aktif dimana pada tipe ini terdapat sekret yang masih keluar dari telinga, dan yang kedua adalah tipe tenang, yang pada pemeriksaan telinga akan dijumpai perforasi total yang kering dengan mukosa telinga tengah yang pucat disertai gejala lainnya seperti vertigo, tinitus, atau suatu rasa penuh dalam telinga.4 Sedangkan OMSK tipe ganas dapat menimbulkan komplikasi ke dalam tulang temporal dan ke intrakranial yang dapat berakibat fatal.2 Insiden OMSK ini bervariasi pada setiap negara. Secara umum, insiden OMSK dipengaruhi oleh ras dan faktor sosioekonomi. Misalnya, OMSK lebih sering dijumpai pada orang Eskimo dan Indian Amerika, anak-anak aborigin Australia dan orang kulit hitam di Afrika Selatan. Walaupun demikian, lebih dari 90% beban dunia akibat OMSK ini dipikul oleh negara1|Page

Referat THT-KL

Penatalaksanaan OMSK

negara di Asia Tenggara, daerah Pasifik Barat, Afrika, dan beberapa daerah minoritas di Pasifik.4 Kehidupan sosial ekonomi yang rendah, lingkungan kumuh dan status kesehatan serta gizi yang jelek merupakan faktor yang menjadi dasar untuk meningkatnya prevalensi OMSK pada negara yang sedang berkembang.2 Survei prevalensi di seluruh dunia, yang walaupun masih bervariasi dalam hal definisi penyakit, metode sampling serta mutu metodologi, menunjukkan beban dunia akibat OMSK melibatkan 65–330 juta orang dengan telinga berair, 60% di antaranya (39–200 juta) menderita kurang pendengaran yang signifikan.4 Secara umum, prevalensi OMSK di Indonesia adalah 3,8% dan pasien OMSK merupakan 25% dari pasien-pasien yang berobat di poliklinik THT rumah sakit di Indonesia.2 Beberapa faktor yang dapat menyebabkan otitis media akut menjadi otitis media kronis yaitu terapi yang terlambat diberikan, terapi tidak adekuat, virulensi kuman yang tinggi, daya tahan tubuh yang rendah (gizi buruk) atau hygiene buruk.4 Proses infeksi pada OMSK sering disebabkan oleh campuran mikroorganisme aerobik dan anaerobik yang multiresisten terhadap standar yang ada saat ini. Kuman penyebab yang sering dijumpai pada OMSK ialah Pseudomonas aeruginosa sekitar 50%, Proteus sp. 20% dan Staphylococcus aureus 25%.3 Otitis Media Supuratif Kronik ini sangat mengganggu dan sering menyulitkan baik dokter maupun pasiennya sendiri.3 Penatalaksanaan OMSK didasarkan pada tipe klinik penyakit. Tujuan penting dalam penatalaksanaan OMSK adalah untuk mengusahakan telinga yang ‘aman’ dan pertimbangan fungsional merupakan tujuan yang sekunder. Terapi medikamentosa ditujukan pada OMSK tipe jinak dan tindakan operasi dikerjakan pada OMSK tipe ganas. 2 Antibiotika merupakan salah satu medikamentosa yang telah digunakan untuk pengobatan OMSK sejak dulu. Namun demikian sampai saat ini masih terdapat perbedaan persepsi mengenai manfaat antibiotika, baik yang diberikan secara topikal maupun sistemik. Perjalanan penyakit yang panjang, terputusnya terapi, terlambatnya pengobatan spesialis THT dan sosioekonomi yang rendah membuat penatalaksanaan penyakit ini tetap menjadi problem di bidang THT. 3

2|Page

Referat THT-KL

Penatalaksanaan OMSK

BAB II PEMBAHASAN

ANATOMI TELINGA TENGAH Telinga tengah terdiri dari : 1. Membran timpani. 2. Kavum timpani. 3. Prosesus mastoideus. 4. Tuba eustachius Membran Timpani

3|Page

puncak ini dinamakan umbo. Bagian ini juga dibentuk oleh pars petrosa tulang temporal dan sebagian lagi oleh skuama dan garis sutura petroskuama. Pars tensa Merupakan bagian terbesar dari membran timpani suatu permukaan yang tegang dan bergetar sekeliling menebal dan melekat pada anulus fibrosus pada sulkus timpanikus bagian tulang dari tulang temporal. dinding posterior. dinding lateral. 3. dimana bagian puncak dari kerucut menonjol kearah kavum timpani. Membrana timpani merupakan kerucut. Kavum Timpani Kavum timpani terletak didalam pars petrosa dari tulang temporal. lantai. Plika maleolaris posterior ( lipatan belakang). Diameter anteroposterior atau vertikal 15mm. Stratum mukosum (lapisan mukosa) berasal dari kavum timpani.Referat THT-KL Penatalaksanaan OMSK Membran timpani dibentuk dari dinding lateral kavum timpani dan memisahkan liang telinga luar dari kavum timpani. Atap kavum timpani. 1. Stratum fibrosum ( lamina propria) yang letaknya antara stratum kutaneum dan mukosum. letaknya dibagian atas muka dan lebih tipis dari pars tensa dan pars flasida dibatasi oleh 2 lipatan yaitu : 1. dinding medial. 2. atau seperti kotak korek api. Kavum timpani mempunyai 6 dinding yaitu : bagian atap. Dibentuk oleh lempengan tulang yang tipis disebut tegmen timpani. Dari umbo kemuka bawah tampak refleks cahaya ( none of ligt). 2. Dinding ini hanya dibatasi oleh tulang yang tipis atau ada kalanya tidak ada tulang sama sekali ( dehisensi). Membran timpani mempunyai tiga lapisan yaitu 1. 4|Page . bentuknya bikonkaf. Pars flasida atau membran Shrapnell. Secara Anatomis membrana timpani dibagi dalam 2 bagian : 1. Plika maleolaris anterior ( lipatan muka).2. 2. sedangkan diameter transversal 2-6 mm. dinding anterior. 2. Stratum kutaneum ( lapisan epitel) berasal dari liang telinga.1. Tegmen timpani memisahkan telinga tengah dari fosa kranial dan lobus temporalis dari otak.

sebelah superior oleh prosesus brevis inkus yang melekat kefosa inkudis. ini juga merupakan dinding lateral dari telinga dalam. Dibelakang dan atas promontorium terdapat fenestra vestibuli atau foramen ovale (oval windows). Suatu ruang secara klinis sangat penting ialah sinus posterior atau resesus fasial yang didapat disebelah lateral kanalis fasial dan prosesus piramidal. atau tidak ada tulang sama sekali hingga infeksi dari kavum timpani mudah merembet ke bulbus vena jugularis. bentuknya seperti ginjal dan berhubungan pada kavum timpani dengan vestibulum. Dinding posterior Dinding posterior dekat keatap. Kanalis ini didalam kavum timpani tipis sekali atau tidak ada tulang sama sekali ( dehisensi).5 mm x 1. 3. Dinding medial. Dibatasi sebelah lateral oleh anulus timpanikus posterosuperior. Didalam promontorium terdapat beberapa saluran-saluran yang berisi saraf-saraf yang membentuk pleksus timpanikus. terletak dibelakang bawah. ditutupi oleh suatu membran yang tipis yaitu membran timpani sekunder. Lebar resesus fasialis 4.Referat THT-KL Penatalaksanaan OMSK 2. Foramen ovale berukuran 3.25 mm x 1.01 mm dan tidak bertambah semenjak lahir. 4.6 mm. yang menghubungkan kavum timpani dengan atrum mastoid melalui epitimpanum. Resesus fasialis penting karena sebagai pembatas antara kavum timpani dengan kavum mastoid sehingga bila aditus ad antrum tertutup karena suatu sebab maka resesus fasialis bisa dibuka untuk menghubungkan kavum timpani dengan kavum mastoid.75 mm. yang disebut promontorium Tonjolan ini oleh karena didalamnya terdapat koklea. mempunyai satu saluran disebut aditus. Dinding ini pada mesotimpanum menonjol kearah kavum timpani. dan ditutupi oleh telapak kaki stapes dan diperkuat oleh ligamentum anularis. Dinding medial ini memisahkan kavum timpani dari telinga dalam. Kedua lekukan dari foramen ovale dan rotundum berhubungan satu sama lain pada batas posterior mesotimpanum melalui suatu fosa yang dalam yaitu sinus timpanikus. Fenestra koklea atau foramen rotundum ( round windows). Dibawah aditus 5|Page . sebagai tempat jalannya nervus fasialis.3 mm pada bagian anterior dan posterior 1. Diatas fenestra vestibuli. Foramen rotundum ini berukuran 1. Lantai kavum timpani Dibentuk oleh tulang yang tipis memisahkan lantai kavum timpani dari bulbus jugularis.

5. 6|Page .  Kavum timpani terdiri dari : 1. Dibawah fosa inkudis dan dimedial dari korda timpani adalah piramid. 2. Diantara piramid dan anulus timpanikus adalah resesus fasialis. stapes). Dinding anterior Dinding anterior kavum timpani agak sempit tempat bertemunya dinding medial dan dinding lateral kavum timpani. Tulang-tulang pendengaran ( maleus. Saraf korda timpani. dinding anterior biasanya tipis dimana ini merupakan dinding posterior dari saluran karotis. tendon yang berjalan keatas dan masuk kedalam stapes. Dibawah tuba. 4. Diatas tuba terdapat sebeuah saluran yang berisi otot tensor timpani. 3. termasuk sel-sel udara mastoid. Malleus ( hammer / martil). tempat terdapatnya tendon muskulus stapedius. Dinding anterior bawah adalah lebih besar dari bagian atas dan terdiri dari lempeng tulang yang tipis menutupi arteri karotis pada saat memasuki tulang tengkorak dan sebelum berbelok ke anterior. inkus. Dibelakang dinding posterior kavum timpani adalah fosa kranii posterior dan sinus sigmoid. Bagian tulang berada diatas dan bawah membran timpani.Referat THT-KL Penatalaksanaan OMSK terdapat lekukan kecil yang disebut fosa inkudis yang merupakan suatu tempat prosesus brevis dari inkus dan melekat pada serat-serat ligamen. kedua sebagai drainase sekresi dari telinga tengah. 6. Disebelah dalam dari piramid dan nervus fasialis merupakan perluasan kearah posterior dari mesotimpani adalah sinus timpani.  Tulang-tulang pendengaran terdiri dari : 1. Pertama menyeimbangkan tekanan membran timpani pada sisi sebelah dalam. Dua otot. Dinding lateral Dinding lateral kavum timpani adalah bagian tulang dan membran. Saraf pleksus timpanikus. Tuba ini berhubungan dengan nasofaring dan mempunyai dua fungsi. Dinding ini ditembus oleh saraf timpani karotis superior dan inferior yang membawa serabut-serabut saraf simpatis kepleksus timpanikus dan oleh satu atau lebih cabang timpani dari arteri karotis internal. Dinding anterior ini terutama berperan sebagai muara tuba eustachius.

Ruang antara kepala dari maleus dan membran Shrapnell dinamakan Ruang Prussak. dimana prosesus brevis menuju antrum. prosesus brevis (lateral). Ujung prosesus longus membengkok kemedial merupakan suatu prosesus yaitu prosesus 7|Page . prosesus longus panjangnya 4. Kepala terletak pada epitimpanum atau didalam rongga atik. bertindak sebagai tempat perlekatan serabut-serabut tunika propria.5 mm pada pinggir dari corpus. leher.0 mm. prosesus longus jalannya sejajar dengan manubrium dan menuju ke bawah. Inkus berukuran 4. Inkus Inkus terdiri dari badan inkus ( corpus) dan 2 kaki yaitu : prosesus brevis dan prosesus longus.Referat THT-KL Penatalaksanaan OMSK 2. Maleus ditahan oleh ligamentum maleus anterior yang melekat ke tegmen dan juga oleh ligamentum lateral yang terdapat diantara basis prosesus brevis dan pinggir lekuk Rivinus. Inkus ( anvil/landasan) 3. lengan (manubrium). Inkus terletak pada epitimpanum.3 mm-5. Manubrium terdapat didalam membrane timpani.5 sampai 9. panjangnya kira-kira 7.5 mm. prosesus anterior. Stapes ( stirrup / pelana) Malleus Malleus adalah tulang yang paling besar diantara semua tulang-tulang pendengaran dan terletak paling lateral.8 mm x 5. Sudut antara prosesus brevis dan longus membentuk sudut lebih kurang 100 derajat. sedangkan leher terletak dibelakang pars flaksida membran timpani.

Kanal ini terletak diatas liang telinga bagian tulang dan terbuka kearah liang telinga sehingga disebut semikanal. Tendon stapedius berinsersi pada suatu penonjolan kecil pada permukaan posterior dari leher stapes. leher. Kedua berhubungan dengan foot plate yang biasanya mempunyai tepi superior yang melengkung.4 mm. hampir lurus pada tepi posterior dan melengkung di anterior dan ujung posterior. Muskulus tensor timpani disarafi oleh cabang saraf kranial ke 5. Kedua krura terdapat pada bagian leher bawah yang lebar dan krura anterior lebih tipis dan kurang melengkung dari pada posterior.Referat THT-KL Penatalaksanaan OMSK lentikularis. dan terletak pada fenestra vestibuli dimana ini melekat pada tepi tulang dari kapsul labirin oleh ligamentum anulare Tinggi stapes kira-kira 3.25 mm. beratnya hanya 2. Tendon berinsersi pada bagian atas leher maleus. Stapes Merupakan tulang pendengaran yang teringan. memberikan respon rotasi terhadap gerakan membran timpani melalui suatu aksis yang merupakan suatu garis antara ligamentum maleus anterior dan ligamentum inkus pada ujung prosesus brevis. Serabut -serabut otot bergabung dan menjadi tendon pada ujung timpanisemikanal yang ditandai oleh prosesus kohleoform. kerja otot ini menyebabkan membran timpani tertarik kearah dalam sehingga menjadi lebih tegang dan meningkatkan frekuensi resonansi system penghantar suara serta melemahkan suara dengan freksuensi rendah. Otot ini melekat pada dinding semikanal tensor timpani.5 mg. Stapes terdiri dari kepala. panjang foot plat e 3 mm dan lebarnya 1. krura anterior dan posterior dan telapak kaki ( foot plate). Terdiri dari : otot tensor timpani ( muskulus tensor timpani) dan otot stapedius ( muskulus stapedius) Otot tensor timpani adalah otot kecil panjang yang berada 12 mm diatas tuba eustachius. Gerakan rotasi tersebut diubah menjadi gerakan seperti piston pada stapes melalui sendi inkudostapedius. Otot-otot pada kavum timpani.5 mm. Gerakan-gerakan tersebut tetap dipelihara berkesinambungan oleh inkudomaleus. Maleus dan inkus bekerja sebagai satu unit. 8|Page . Prosesus ini berhubungan dengan kepala dari stapes. Prosesus ini membuat tendon tersebut membelok kearah lateral kedalam telinga tengah. tingginya 4mm4. yang melekat pada foramen ovale dengan perantara ligamentum anulare.

Saraf intermedius yang terdiri dari saraf sensori dan sekretomotor parasimpatetis preganglionik yang menuju ke semua glandula wajah kecuali parotis. memperlemah transmisi suara dan meningkatkan frekuensi resonansi tulang-tulang pendengaran. Saraf fasial Saraf fasial terutamaterdiri dari dua komponen yang berbeda. 2. PERDARAHAN KAVUM TIMPANI Pembuluh-pembuluh darah yang memberikan vaskularisasi kavum timpani adalah arteriarteri kecil yang melewati tulang yang tebal. Saraf motorik untuk otot-otot yang berasal dari lengkung brankial kedua (faringeal) yaitu otot ekspresi wajah. Saraf Korda timpani Merupakan cabang dari nervus fasialis masuk ke kavum timpani dari kanalikulus posterior yang menghubungkan dinding lateral dan posterior. posterior belly m. yaitu : 1. Serabut-serabutnya bergabung membentuk tendon stapedius yang berinsersi pada apek posterior leher stapes. stapedius. timpanika anterior. Bermula dari dalam kanalnya didalam eminensia piramid. Korda timpani memasuki telinga tengah bawah pinggir posterosuperior sulkus timpani danberjalan keatas depan lateral keprosesus longus dari inkus dan kemudian ke bagian bawah leher maleus tepatnya diperlekatan tendon tensor timpani.stapedius menarik stapes ke posterior mengelilingi suatu pasak pada tepi posterior basis stapes. Setelah berjalan kearah medial menuju ligamentum maleus anterior. maksilaris interna yang 9|Page . stapedius tersebut pada perputarannya yang kedua. Sebagian besar pembuluh darah yang menuju kavum timpani berasal dari cabang arteri karotis eksterna. saraf ini keluar melalui fisura petrotimpani. Korda timpani juga mengandung jaringan sekresi parasimpatetik yang berhubungan dengan kelenjar ludah sublingual dan submandibula melalui ganglion submandibular. M. Keadaan ini stapes kaku. serabut ototnya melekat ke perios kanal tersebut. Stapedius disarafi oleh salah satu cabang saraf kranial ke 7 yang timbul ketika saraf tersebut melewati m. stilohioid. Kerja m. Korda timpani memberikan serabut perasa pada 2/3 depan lidah bagian anterior. Pada daerah anterior mendapat vaskularisasi dari a. Digastrik dan m.Referat THT-KL Penatalaksanaan OMSK Otot stapedius adalah otot yang relatif pendek. yang merupakan cabang dari a.

Pembuluh getah bening kavum timpani masuk ke dalam pembuluh getah bening retrofaring atau ke nodulus limfatikus parotis. Pembuluh vena kavum timpani berjalan bersama-sama dengan pembuluh arteri menuju pleksus venosus pterigoid atau sinus petrosus superior. Bagian tulang tetap terbuka. elevator veli palatini 10 | P a g e . Otot yang berhubungan dengan tuba eustachius yaitu : 1. dan bagian tulang rawan medial masuk ke nasofaring. timpanika psoterior. Bagian tulang terdapat pada bagian belakang dan pendek (1/3 bagian).Referat THT-KL Penatalaksanaan OMSK masuk ke telinga tengah melalui fisura petrotimpanika. Bagian tulang rawan ini berjalan kearah posterior. tensor veli palatini 2. M. a. sedangkan bagian tulang rawan selalu tertutup dan berakhir pada dinding lateral nasofaring. lebih tinggi dibanding dengan ujungnya nasofaring. Disini terdapat silia dengan pergerakannya ke arah faring. mastoidea yaitu a. Epitel tuba terdiri dari epitel selinder berlapis dengan sel selinder. Pada anak-anak. Pada daerah superior mendapat perdarahan dari cabang a. Pada daerah posterior mendapat vaskularisasi dari a. stilomastoidea.1. yang merupakan cabang dari a. lebar dan letaknya mendatar maka infeksi mudah menjalar dari nasofaring ke telinga tengah. depan dan medial dari telinga tengah 13 dan pada anak dibawah 9 bulan adalah 17. bentuknya seperti huruf S. Tempat pertemuan itu merupakan bagian yang sempit yang disebut ismus. Tuba ini merupakan saluran yang menghubungkan kavum timpani dengan nasofaring. Tuba Eustachius Tuba eustachius disebut juga tuba auditory atau tuba faringotimpani. 2. 2. kemudian bersatu dengan bagian tulang atau timpani. Pada orang dewasa panjang tuba sekitar 36 mm berjalan ke bawah. M.5 mm.3. Tuba terdiri dari 2 bagian yaitu : 1. Sekitar ostium tuba terdapat jaringan limfosit yang dinamakan tonsil tuba. Tuba dilapisi oleh mukosa saluran nafas yang berisi sel-sel goblet dan kelenjar mucus dan memiliki lapisan epitel bersilia didasarnya. Bagian tulang rawan terdapat pada bagian depan dan panjang (2/3 bagian). superior dan medial sepanjang 2/3 bagian keseluruhan panjang tuba (4 cm). tuba pendek. timpanika superior dan ramus inkudomalei. Bagian tulang sebelah lateral berasal dari dinding depan kavum timpani. petrosa superior. meningea media juga a.5 cm. Pada orang dewasa muara tuba pada bagian timpani terletak kira-kira 2-2.

1. Aditus antrum mastoid adalah suatu pintu yang besar iregular berasal dari epitisssmpanum posterior menuju rongga antrum yang berisi udara. Dinding medial merupakan penonjolan dari kanalis semisirkularis lateral. Antrum mastoid adalah sinus yang berisi udara didalam pars petrosa tulang temporal.Referat THT-KL Penatalaksanaan OMSK 3. fasialis. Sinus sigmoid terletak dibawah duramater pada daerah ini. Dinding medial adalah dinding lateral fosa kranii posterior. daria atas kebawah 9mm dan dari sisi lateral ke medial 7 mm. Berhubungan dengan telinga tengah melalui aditus dan mempunyai selsel udara mastoid yang berasal dari dinding-dindingnya. Dinding posterior terutama dibentuk oleh tulang yang menutupi sinus. salpingofaringeus Fungsi tuba eustachius sebagai ventilasi telinga yaitu mempertahankan keseimbangan tekanan udara didalam kavum timpani dengan tekanan udara luar. Prosesus Mastoideus Rongga mastoid berbentuk seperti bersisi tiga dengan puncak mengarah ke kaudal. Dinding medial dari antrum berhubungan dengan kanalis semisirkularis posterior dan lebih ke dalam dan inferiornya terletak sakus endolimfatikus dan dura dari fosa kranii posterior. Antrum sudah berkembang baik pada saat lahir dan pada dewasa mempunyai volume 1 ml. Dinding lateral merupakan bagian dari pars skumosa tulang temporal dan meningkat ketebalannya selama hidup dari sekitar 2 mm pada saat lahir hingga 12-15 mm pada dewasa. Pada dinding anterior mastoid terdapat aditus ad antrum. M. panjang dari depan kebelakang sekitar 14 mm. dan sel-sel udara yang terdapat didalam mastoid adalah sebagian dari sistem pneumatisasi yang meliputi banyak bagian dari tulang temporal. tensor timpani 4. Pneumatisasi didefinisikan sebagai suatu proses pembentukan atau perkembangan rongga-rongga udara didalam tulang temporal.4. 11 | P a g e . M. Prosesus mastoid sangat penting untuk sistem pneumatisasi telinga. Dibawah dan sedikit ke medial dari promontorium terdapat kanalis bagian tulang dari n. Selsel prosesus mastoid yang mengandung udara berhubungan dengan udara didalam telinga tengah. drenase sekret dari kavum timpani ke nasofaring dan menghalangi masuknya sekret dari nasofaring ke kavum timpani 2. Atapnya membentuk bagian dari lantai fosa kranii media dan memisahkan antrum dengan otak lobus temporalis. sering disebut sebagai aditus ad antrum. Atap mastoid adalah fosa kranii media.

Referat THT-KL Penatalaksanaan OMSK Bila prosesus mastoid tetap berisi tulang-tulang kompakta dikatakan sebagai pneumatisasi jelek dan sel-sel yang berpneumatisasi terbatas pada daerah sekitar antrum.VII. Selanjutnya stapes menggerakkan tingkap lonjong (foramen ovale) yang juga menggerakkan perilimf dalam skala vestibuli. sehingga menjadi cembung kebawah dan menggerakkan perilimf pada skala timpani. Getaran ini diteruskan ke tulang-tulang pendengaran yang berhubungan satu sama lain. sehingga membran timpani bergetar. Getaran diteruskan melalui membrane Reissener yang mendorong endolimf dan membran basal kearah bawah. perilimf dala m skala timpani akan bergerak sehingga tingkap (forame rotundum) terdorong ke arah luar. 2. FISIOLOGI PENDENGARAN Getaran suara ditangkap oleh daun telinga yang dialirkan keliang telinga dan mengenai membran timpani. Rangsangan fisik tadi diubah oleh adanya perbedaan ion Kalium dan ion Natrium menjadi aliran listrik yang diteruskan ke cabang-cabang n. Skala media yang menjadi cembung mendesak endolimf dan mendorong membran basal. yang kemudian meneruskan rangsangan itu ke pusat sensorik pendengaran diotak ( area 39-40) melalui saraf pusat yang ada dilobus temporalis. dan dengan berubahnya membran basal ujung sel rambut menjadi lurus. Pada waktu istirahat ujung sel rambut berkelok-kelok. 12 | P a g e .2.

Sekret mukoid kronis berhubungan dengan hiperplasia goblet sel. luas dan derajat perubahan mukosa. sedangkan secret yang keluar bisa ada dan bisa pula tidak. KLASIFIKASI OMSK dapat dibagi atas 2 tipe yaitu : 1. 13 | P a g e . OMSK adalah stadium dari penyakit telinga tengah dimana terjadi peradangan kronis dari telinga tengah dan mastoid dan membran timpani tidak intak ( perforasi ) dan ditemukan sekret (otorea).3. Penyakit tubotimpani ditandai oleh adanya perforasi sentral atau pars tensa dan gejala klinik yang bervariasi dari luas dan keparahan penyakit. OTITIS MEDIA SUPURATIF KRONIK 2. purulen yang hilang timbul. inferior atau subtotal. Otitis media kronis terjadi dalam beberapa bentuk melibatkan mukosa dan merusak tulang (kolesteatom). pertahanan mukosa terhadap infeksi yang gagal pada pasien dengan daya tahan tubuh yang rendah.3. Lokasi perforasi sentral ditandai oleh hubungannya dengan manubrium mallei. infeksi saluran nafas atas. serta migrasi sekunder dari epitel skuamous.Referat THT-KL Penatalaksanaan OMSK 2. Gambaran dasar yang sering pada semua kasus OMSK adalah dijumpai membrana timpani yang tidak intak. Menurut Ramalingam bahwa OMSK adalah peradangan kronis lapisan mukoperiosteum dari middle ear cleft sehingga menyebabkan terjadinya perubahan-perubahan patologis yang ireversibel.3. Sekret mungkin encer atau kental. bening atau berupa nanah dan berlangsung lebih dari 2 bulan. Tipe tubotimpani = tipe jinak = tipe aman = tipe rhinogen. disamping itu campuran bakteri aerob dan anaerob. Perforasi sentral adalah pada pars tensa dan sekitar dari sisa membran timpani atau sekurang-kurangnya pada annulus. Perforasi subtotal adalah suatu defek yang besar disekelilingnya dengan annulus yang masih intak. 2. metaplasia dari mukosa telinga tengah pada tipe respirasi dan mukosiliar yang jelek. Defek dapat ditemukan seperti pada anterior. DEFINISI Para ahli otologi beberapa tahun ini membuat kesepakatan untuk penerapan istilah dalam gambaran klinik dan patologi dari OMSK.1. Dari definisi diatas terlihat bahwa adanya perforasi membran timpani merupakan syarat yang harus dipenuhi untuk diagnosa OMSK. posterior.2. Beberapa faktor lain yang mempengaruhi keadaan ini terutama patensi tuba eustachius.

Infeksi saluran nafas yang berulang. atau jika granulasi pada mesotimpanum dengan atau tanpa migrasi sekunder dari kulit. Penyakit tidak aktif Pada pemeriksaan telinga dijumpai perforasi total yang kering dengan mukosa telinga tengah yang pucat. Gejala lain yang dijumpai seperti vertigo. Perluasan infeksi ke sel-sel mastoid mengakibatkan penyebaran yang luas dan penyakit mukosa yang menetap harus dicurigai bila tindakan konservatif gagal untuk mengontrol infeksi.2. Tipe atikoantral = tipe ganas = tipe tidak aman = tipe tulang Pada tipe ini ditemukan adanya kolesteatom dan berbahaya. Faktor predisposisi pada penyakit tubotimpani : 1. Otitis media supuratif akut yang berulang.atau suatu rasa penuh dalam telinga. Pembesaran adenoid pada anak.Referat THT-KL Penatalaksanaan OMSK Secara klinis penyakit tubotimpani terbagi atas: 1. mengkorek telinga dengan alat yang terkontaminasi. Sekret bervariasi dari mukoid sampai mukopurulen. 14 | P a g e . Mandi dan berenang dikolam renang. Penyakit atikoantral lebih sering mengenai pars flasida dan khasnya dengan terbentuknya kantong retraksi yang mana bertumpuknya keratin sampai menghasilkan kolesteatom. atau setelah berenang dimana kuman masuk melalui lia ng telinga luar. rhinosinusitis kronis. tonsilitis kronis. Kolesteatom dapat dibagi atas 2 tipe yaitu : a.1. berwarna put ih. Biasanya didahului oleh perluasan infeksi saluran nafas atas melalui tuba eutachius. Ukuran perforasi bervariasi dari sebesar jarum sampai perforasi subtotal pada pars tensa. Penyakit aktif Pada jenis ini terdapat sekret pada telinga dan tuli. 2. konsistensi seperti mentega. Kolesteatom adalah suatu massa amorf. 1. Kongenital b. tinitus. 5. terdiri dari lapisan epitel bertatah yang telah nekrotis.2. alergi hidung. 4. 3. Jarang ditemukan polip yang besar pada liang telinga luas. Malnutrisi dan hipogammaglobulinemia. Didapat. dimana kadang-kadang adanya sekret yang berpulsasi diatas kuadran posterosuperior. 2. Gejala yang dijumpai berupa tuli konduktif ringan.

Kongenital kolesteatom lebih sering ditemukan pada telinga tengah atau tulang temporal. tuli saraf berat unilateral. teori itu adalah : 15 | P a g e . Pada mulanya dari jaringan embrional dari epitel skuamous atau dari epitel undiferential yang berubah menjadi epitel skuamous selama perkembangan. 2. Sisa-sisa epidermis kongenital yang terdapat di daerah atik. Kolesteatom didapat. 1. Tidak ada riwayat otitis media sebelumnya. menyebabkan invaginasi pars flasida danpembentukan kista. Tekanan negatif dalam atik. 5. Berkembang dibelakang dari membran timpani yang masih utuh.Referat THT-KL Penatalaksanaan OMSK ad a. umumnya pada apeks petrosa. Dapat menyebabkan fasialis parese. Hiperkeratosis invasif dari kulit liang telinga bagian dalam Ada beberapa teori yang mengatakan bagaimana epitel dapat masuk kedalam kavum timpani. dan gangguan keseimbangan. Banyak teori yang diajukan sebagai penyebab kolesteatom didapat primer. 2. 3. Pada umumnya kolesteatom terdapat pada otitis media kronik dengan perforasi marginal. Kriteria untuk mendiagnosa kolesteatom kongenital. Ad b. tetapi sampai sekarang belum ada yang bisa menunjukan penyebab yang sebenarnya. Khasnya perforasi marginal pada bagian posterosuperior. Secondary acquired cholesteatoma: Berkembang dari suatu kantong retraksi yang disebabkan peradangan kronis biasanya bagian posterosuperior dari pars tensa. 4. Terbentuknya dari epitel kanal aurikula eksterna yang masuk ke kavum timpani melalui perforasi membran timpani atau kantong retraksi membran timpani pars tensa. Primary acquired cholesteatoma: Koelsteatom yang terjadi pada daerah atik atau pars flasida 2. Teori-teori itu antara lain : 1. menurut Derlaki dan Clemis (1965) adalah : 1. Hiperplasia invasif diikuti terbentuknya kista dilapisan basal epidermis pars flasida akibat iritasi oleh infeksi. Metaplasia mukosa telinga tengah dan atik akibat infeksi 3. Kolesteatom kongenital.

Beda kongenital kolesteatom.3. merupakan lamellamel. ini tidak berhubungan dengan telinga dan tidak akan menimbulkan infeksi. Ini juga merupakan suatu lubang dalam tenggorok terutama pada os temporal.mula belum timbul peradangan. akan tetapi bertumpuk disini. berhubungan dengan primary acquired cholesteatoma. Epitel dari liang telinga masuk melalui perforasi kedalam kavum timpani dan disini ia membentuk kolesteatom ( migration teori menurut Hartmann). Ada pula kolesteatom yang letaknya pada pars plasida ( attic retraction cholesteatom). 2.3. lambat laun dapat terjadi peradangan. Perforasi pada pinggir postero-superior berhubungan dengan kolesteatom 3. Perforasi sentral Lokasi pada pars tensa. Ini dinamakan “primary acquired cholesteatom” atau genuines cholesteatom”. akibat pada tempat ini terjadi deskuamasi epitel yang tidak lepas. Perforasi marginal yang sangat besar digambarkan sebagai perforasi total. Perforasi marginal Terdapat pada pinggir membran timpani dengan adanya erosi dari anulus fibrosus. kadang-kadang sub total. Kolesteatom yang terjadi ini dinamakan “secondary acquired cholesteatoma”. EPIDEMIOLOGI 16 | P a g e . Mukosa dari kavum timpani mengadakan metaplasia oleh karena infeksi (metaplasia teori menurut Wendt). epitel yang masuk menjadi nekrotis. Embrional sudah ada pulau-pulau kecil dan ini yang akan menjadi kolesteatom. postero-inferior dan postero-superior. 2. bisa antero-inferior. Oleh karena tuba tertutup terjadi retraksi dari membrane plasida. oleh karena ada pula congenital kolesteatom. Kista ini tambah lama tambah besar dan tumbuh terus kedalam kavum timpani dan membentuk kolesteatom. 3. Bentuk perforasi membran timpani adalah : 1. Perforasi atik Terjadi pada pars flasida. terangkat keatas. 2.Referat THT-KL Penatalaksanaan OMSK 1. Inipun terangkat hingga timbul epitelepitel mati. Mula. Dibawahnya timbul epitel baru. Lambat laun epitel ini hancur dan menjadi kista. Dalam lubang ini terdapat lamel konsentris terdiri dari epitel yang dapat juga menekan tulang sekitarnya. Primary dan secondary acquired cholesteatom ini dinamakan juga “ pseudo cholesteatoma. 4.

Otitis media sebelumnya.Referat THT-KL Penatalaksanaan OMSK Prevalensi OMSK pada beberapa negara antara lain disebabkan. terutama apakah insiden OMSK berhubungan dengan luasnya sel mastoid yang dikaitkan sebagai faktor genetik. kondisi sosial. jarang dimulai setelah dewasa. sindrom kemalasan leukosit) dapat manifest sebagai sekresi telinga kronis. tetapi tidak diketahui factor apa yang menyebabkan satu telinga dan bukan yang lainnya berkembang menjadi keadaan kronis 4. Lingkungan Hubungan penderita OMSK dan faktor sosial ekonomi belum jelas. Adanya tuba patulous. Kebanyakan melaporkan prevalensi OMSK pada anak termasuk anak yang mempunyai kolesteatom. ekonomi. 2. tonsilitis.mediated ( seperti infeksi HIV.3. menyebabkan refluk isi nasofaring yang merupakan faktor insiden OMSK yang tinggi di Amerika Serikat. mencapai telinga tengah melalui tuba Eustachius. hygiene dan nutrisi yang jelek. Faktor infeksi biasanya berasal dari nasofaring(adenoiditis. 2. Kelainan humoral (seperti hipogammaglobulinemia) dan cell. tetapi mempunyai hubungan erat antara penderita dengan OMSK dan sosioekonomi. tapi belum diketahui apakah hal ini primer atau sekunder. sinusitis). Fungsi tuba Eustachius yang abnormal merupakan faktor predisposisi yang dijumpai pada anak dengan cleft palate dan Down’s syndrom. tempat tinggal yang padat. Penyebab OMSK antara lain: 1. 3. tetapi tidak mempunyai data yang tepat. apalagi insiden OMSK saja. Faktor Host yang berkaitan dengan insiden OMSK yang relatif tinggi adalah defisiensi immun sistemik. Genetik Faktor genetik masih diperdebatkan sampai saat ini. tempat tinggal yang padat. dimana kelompok sosioekonomi rendah memi liki insiden yang lebih tinggi. tidak ada data yang tersedia. diet. suku. Tetapi sudah hampir dipastikan hal ini berhubungan dengan kesehatan secara umum. Infeksi 17 | P a g e . rinitis. Sistem sel-sel udara mastoid lebih kecil pada penderita otitis media. Secara umum dikatakan otitis media kronis merupakan kelanjutan dari otitis media akut dan / atau otitis media dengan efusi. ETIOLOGI Terjadi OMSK hampir selalu dimulai dengan otitis media berulang pada anak.4.

7. Beberapa faktor-faktor yang menyebabkan perforasi membran timpani menetap pada OMSK : · Infeksi yang menetap pada telinga tengah mastoid yang mengakibatkan produksi sekret telinga purulen berlanjut. namun hal ini belum terbukti kemungkinannya. Autoimun Penderita dengan penyakit autoimun akan memiliki insiden lebih besarterhadap otitis media kronis. · Berlanjutnya obstruksi tuba eustachius yang mengurangi penutupan spontan pada perforasi. Alergi Penderita alergi mempunyai insiden otitis media kronis yang lebih tinggi dibanding yang bukan alergi. dan beberapa organisme lainnya. 5.negatif. Infeksi saluran nafas atas Banyak penderita mengeluh sekret telinga sesudah terjadi infeksi saluran nafas atas. Infeksi virus dapat mempengaruhi mukosa telinga tengah menyebabkan menurunnya daya tahan tubuh terhadap organisme yang secara normal berada dalam telinga tengah. Yang menarik adalah dijumpainya sebagian penderita yang alergi terhadap antibiotik tetes telinga atau bakteria atau toksin-toksinnya.Referat THT-KL Penatalaksanaan OMSK Bakteri yang diisolasi dari mukopus atau mu kosa telinga tengah hamper tidak bervariasi pada otitis media kronik yang aktif menunjukan bahwa metode kultur yang digunakan adalah tepat. 8. Organisme yang terutama dijumpai adalah Gram. Gangguan fungsi tuba eustachius. flora tipe-usus. dimana tuba eustachius sering tersumbat oleh edema tetapi apakah hal ini merupakan fenomen primer atau sekunder masih belum diketahui. · Beberapa perforasi yang besar mengalami penutupan spontan melalui mekanisme migrasi epitel. 6. Pada otitis kronis aktif. 18 | P a g e . Pada telinga yang inaktif berbagai metode telah digunakan untuk mengevaluasi fungsi tuba eustachius dan umumnya menyatakan bahwa tuba tidak mungkin mengembalikan tekanan negatif menjadi normal. sehingga memudahkan pertumbuhan bakteri.

jaringan granulasi atau 19 | P a g e . Terjadinya metaplasia skumosa atau perubahan patologik menetap lainya pada telinga tengah. penebalan timpanosklerosis. kelemahan umum atau perubahan mekanisme pertahanan tubuh. Pada anak dengan infeksi saluran nafas atas.3. Pada keadaan normal. Infeksi hidung dan tenggorok yang kronis atau berulang. Hal ini dapat disebabkan oleh jaringan parut. OM). Proses ini juga mencegah penutupan spontan dari perforasi. b. Fungsi tuba yang belum sempurna. 5. 4. Faktor-faktor konstitusi dasar seperti alergi. yaitu suatu saluran yang menghubungkan rongga di belakang hidung (nasofaring) dengan telinga tengah (kavum timpani). . Gangguan fungsi tuba eustachius yang kronis atau berulang. antara lain : 1. 3. bakteri menyebar dari nasofaring melalui tuba Eustachius ke telinga tengah yang menyebabkan mukosa.Faktor-faktor yang menyebabkan penyakit infeksi telinga tengah supuratif menjadi kronis majemuk. penampang relatif besar pada anak dan posisi tuba yang datar menjelaskan mengapa suatu infeksi saluran nafas atas pada anak akan lebih mudah menjalar ke telinga tengah sehingga lebih sering menimbulkan OM daripada dewasa. tuba yang pendek. Obstruksi anatomik tuba Eustachius parsial atau total 2. Tuba Eustachius ini berfungsi untuk menyeimbangkan tekanan udara telinga tengah dengan tekanan udara luar (tekanan udara atmosfer). Perforasi membran timpani yang menetap. a. muara tuba Eustachius berada dalam keadaan tertutup dan akan membuka bila kita menelan. PATOGENESIS Banyak penelitian pada preparat tulang temporal menemukan bahwa adanya disfungsi tuba Eustachius. 2. 6.5.Referat THT-KL Penatalaksanaan OMSK · Pada pinggir perforasi dari epitel skuamous dapat mengalami pertumbuhan yang cepat diatas sisi medial dari membran timpani. Terdapat daerah-daerah dengan sekuester atau osteomielitis persisten di mastoid. Obstruksi menetap terhadap aerasi telinga atau rongga mastoid. merupakan penyebab utama terjadinya radang telinga tengah ini (otitis media. polip.

Epitel respirasi ini mempunyai sel goblet dan sel yang bersilia. dan leukosit serta sel lokal seperti keratinosit dan sel mastosit akibat proses infeksi tersebut akan menambah permiabilitas pembuluh darah dan menambah pengeluaran sekret di telinga tengah. epitel skuamosa sederhana. mukosa berubah bentuk dari satu lapisan. Kadang-kadang terjadi pembentukan membrana timpani atrifik dua lapis tanpa unsur jaringan ikat. Terjadinya OMSK disebabkan oleh keadaan mukosa telinga tengah yang tidak normal atau tidak kembali normal setelah proses peradangan akut telinga tengah. keadaan tuba Eustachius yang tertutup dan adanya penyakit telinga pada waktu bayi. Ketidakseragaman ini disebabkan karena proses peradangan yang menetap atau kekambuhan ini ditambah dengan efek kerusakan jaringan. Secara umum gambaran yang ditemukan adalah : 1.Referat THT-KL Penatalaksanaan OMSK terjadinya infeksi dari telinga tengah. monosit. Penyembuhan OM ditandai dengan hilangnya sel-sel tambahan tersebut dan kembali ke bentuk lapisan epitel sederhana.3. PATOLOGI Otitis media supuratif kronis lebih sering merupakan penyakit kambuhan dari pada menetap. 20 | P a g e . Ukurannya dapat bervariasi mulai kurang dari 20% luas membrana timpani sampai seluruh membrana dan terkenanya bagian-bagian dari anulus. Keadaan kronis ini lebih berdasarkan keseragaman waktu dan stadium dari pada keseragaman gambaran patologi. Pertumbuhan kedalam ini dapat menutupi tempat perforasi saja atau dapat mengisi seluruh rongga telinga tengah. Membrana ini cepat rusak pada periode infeksi aktif. adanya peningkatan beberapa kadar sitokin kemotaktik yang dihasilkan mukosa telinga tengah karena stimulasi bakteri menyebabkan terjadinya akumulasi sel-sel peradangan pada telinga tengah.6. Mukosa telinga tengah mengalami hiperplasia. Pada saat ini terjadi respons imun di telinga tengah. Selain itu. Kadang-kadang perluasan lapisan tengah ini kedaerah atik mengakibatan pembentukan kantong dan kolesteatom didapat sekunder. Dalam proses penyembuhannya dapat terjadi penumbuhan epitel skuamosa kedalam ketelinga tengah. menjadi pseudostratified respiratory epithelium dengan banyak lapisan sel di antara sel tambahan tersebut. Terdapat perforasi membrana timpani di bagian sentral. penyembuhan dan pembentukan jaringan parut. mempunyai stroma yang banyak serta pembuluh darah. seperti netrofil. Mediator peradangan pada telinga tengah yang dihasilkan oleh sel-sel imun infiltrat. 2.

menghasilkan granulasi pada membran mukosa dan infiltrasi sel datia pada cairan mucus kolesterin. Sekret yang mukus dihasilkan oleh aktivitas kelenjar sekretorik telinga tengah dan mastoid. 2. akan tampak normal kecuali bila infeksi telah menyebabkan penebalan atau metaplasia mukosa menjadi epitel transisional. Keluarnya sekretbiasanya hilang timbul. Dalam berjalannya waktu. Proses ini bukan disebabkan oleh osteomielitis tetapi disebabkan oleh terbentuknnya enzim osteolitik atau kolagenase dalam jaringa ikat subepitel. mastoid mengalami proses sklerotik. cairan yang keluar mukopus yang tidak berbau busuk yang sering kali sebagai reaksi iritasi mukosa telinga tengah oleh perforasi membran timpani dan infeksi. membentuk granuloma kolesterol. Faktor alergi dapat juga merupakan penyebab terjadinya perubahan mukosa menetap. Pneumatisasi mastoid paling akhir terjadi antara 5-10 tahun. hanya ada sedikit sel udara saja sekitar antrum. GEJALA KLINIS 1. putih) atau mukoid ( seperti air dan encer) tergantung stadium peradangan. Biasanya prosesus longus inkus telah mengalami nekrosis karena penyakit trombotik pada pembuluh darah mukosa yang mendarahi inkus ini. 4. Selama infeksi aktif. Nekrosis lebih jarang mengenai maleus dan stapes. Antrum menjadi lebih kecil dan pneumatisasi terbatas. Mastoid OMSK paling sering pada masa anak-anak. sehingga ukuran prosesus mastoid berkurang. Tulang-tulang pendengaran dapat rusak atau tidak. Setelah pengobatan. Meningkatnya jumlah sekret dapat disebabkan infeksi saluran nafas atas atau kontaminasi dari liang telinga luar setelah mandi atau 21 | P a g e .7. Pada OMSK tipe jinak.3. mukosa menjadi tebal dan hiperemis serta menghasilkan sekret mukoid atau mukopurulen. Proses ini bersifat iritatif. sehingga arkus stapes dan lengan maleus dapat rusak. kecuali kalau terjadi pertumbuhan skuamosa secara sekunder kearah ke dalam. Dalam periode tenang. Telinga berair (otorrhoe) Sekret bersifat purulen ( kental.Referat THT-KL Penatalaksanaan OMSK 2. 3. tergantung pada beratnya infeksi sebelumnya. Proses pneumatisasi ini sering terhenti atau mundur oleh otitis media yang terjadi paa usia tersebut atau lebih muda. kristal-kristal kolesterin terkumpul dalam kantong mukus. Mukosa bervariasi sesuai stadium penyakit. penebalan mukosa dan sekret mukoid menetap akibat disfungsi kronik tuba Eustachius. Bila infeksi kronik terus berlanjut.

Nyeri merupakan tanda berkembang komplikasi OMSK seperti Petrositis. Beratnya ketulian tergantung dari besar dan letak perforasi membran timpani serta keutuhan dan mobilitas sistem pengantaran suara ke telinga tengah. Bila tidak dijumpai kolesteatom. Biasanyadijumpai tuli konduktif namun dapat pula bersifat campuran. Gangguan pendengaran mungkin ringan sekalipun proses patologi sangat hebat. 22 | P a g e . Dapat terlihat keping-keping kecil. tetapi sering kali juga kolesteatom bertindak sebagai penghantar suara sehingga ambang pendengaran yang didapat harus diinterpretasikan secara hati-hati. subperiosteal abses atau trombosis sinus lateralis. berwarna kuning abu-abu kotor memberi kesan kolesteatoma dan produk degenerasinya. Pada OMSK tipe maligna biasanya didapat tuli konduktif berat karena putusnya rantai tulang pendengaran. Otalgia ( nyeri telinga) Nyeri tidak lazim dikeluhkan penderita OMSK. Gangguan pendengaran Ini tergantung dari derajat kerusakan tulang-tulang pendengaran. 2. Sekret yang bercampur darah berhubungan dengan adanya jaringan granulasi dan polip telinga dan merupakan tanda adanya kolesteatom yang mendasarinya. Pada OMSK stadium inaktif tidak dijumpai adanya sekret telinga. Pada OMSK keluhan nyeri dapat karena terbendungnya drainase pus. 3. karena daerah yang sakit ataupun kolesteatom. Penurunan fungsi kohlea biasanya terjadi perlahan-lahan dengan berulangnya infeksi karena penetrasi toksin melalui jendela bulat (foramen rotundum) atau fistel labirin tanpa terjadinya labirinitis supuratif. Nyeri dapat berarti adanya ancaman komplikasi akibat hambatan pengaliran sekret. Bila terjadinya labirinitis supuratif akan terjadi tuli saraf berat.Referat THT-KL Penatalaksanaan OMSK berenang. tuli konduktif kurang dari 20 db ini ditandai bahwa rantai tulang pendengaran masih baik. Sekret yang sangat bau. Nyeri telinga mungkin ada tetapi mungkin oleh adanya otitis eksterna sekunder. terpaparnya durameter atau dinding sinus lateralis. dapat menghambat bunyi dengan efektif ke fenestra ovalis. atau ancaman pembentukan abses otak. hantaran tulang dapat menggambarkan sisa fungsi kohlea. berwarna putih. mengkilap. Suatu sekret yang encer berair tanpa nyeri mengarah kemungkinan tuberkulosis. Kerusakan dan fiksasi dari rantai tulang pendengaran menghasilkan penurunan pendengaran lebih dari 30 db. Pada OMSK tipe ganas unsur mukoid dan sekret telinga tengah berkurang atau hilang karena rusaknya lapisan mukosa secara luas. dan bila ada merupakan suatu tanda yang serius.

3.Referat THT-KL Penatalaksanaan OMSK 4. Vertigo Vertigo pada penderita OMSK merupakan gejala yang serius lainnya. Penyebaran infeksi ke dalam labirin juga akan meyebabkan keluhan vertigo. Uji fistula perlu dilakukan pada kasus OMSK dengan riwayat vertigo. karena infeksi kemudian dapat berlanjut dari telinga tengah dan mastoid ke telinga dalam sehingga timbul labirinitis dan dari sana mungkin berlanj ut menjadi meningitis. Vertigo yang timbul biasanya akibat perubahan tekanan udara yang mendadak atau pada panderita yang sensitif keluhan vertigo dapat terjadi hanya karena perforasi besar membran timpani yang akan menyebabkan labirin lebih mudah terangsang oleh perbedaan suhu. Adanya Abses atau fistel retroaurikular 2. Fistula merupakan temuan yang serius. TANDA KLINIS Tanda-tanda klinis OMSK tipe maligna : 1. Vertigo juga bisa terjadi akibat komplikasi serebelum. 23 | P a g e . Jaringan granulasi atau polip diliang telinga yang berasal dari kavum timpani. Foto rontgen mastoid adanya gambaran kolesteatom. dengan demikian dapat diteruskan melalui rongga telinga tengah. Uji ini memerlukan pemberian tekanan positif dan negatif pada membran timpani. Keluhanvertigo seringkali merupakan tanda telah terjadinya fistel labirin akibat erosi dinding labirin oleh kolesteatom. Pus yang selalu aktif atau berbau busuk ( aroma kolesteatom) 4.

nasofaring. Bila didiagnosis kolesteatom. 3.Referat THT-KL Penatalaksanaan OMSK PENATALAKSANAAN Terapi OMSK memerlukan waktu lama serta harus berulang – ulang. dan pasien di edukasi atau dinasehatkan untuk jangan mengorek telinga. Bila fasilitas memungkinkan sebaiknya dilakukan operasi rekonstruksi untuk mencegah infeksi berulang serta gangguan pendengaran. maka mutlak harus dilakukan operasi. perubahan-perubahan anatomi yang menghalangi penyembuhan serta menganggu fungsi.4 24 | P a g e . Pengobatan penyakit telinga kronis yang efektif harus didasarkan pada faktor-faktor penyebabnya dan pada stadium penyakitnya. hidung dan sinus paranasal. 4. jangan masuk air pada telinga sewaktu mandi. Terdapat sumber infeksi di laring. Gizi dan higiene yang kurang. Pembedahan OMSK Benigna Tipe Tenang Keadaan ini tidak memerlukan pengobatan. Konservatif 2. dilarang berenang dan segera berobat bila menderita infeksi saluran napas atas.5 Prinsip pengobatan tergantung dari jenis penyakit dan luasnya infeksi. Adanya perforasi membran timpani yang permanen sehingga telinga tengah berhubungan dengan dunia luar. tetapi obat -obatan dapat digunakan untuk mengontrol infeksi sebelum operasi. Dengan demikian pada waktu pengobatan haruslah dievaluasi faktor-faktor yang menyebabkan penyakit menjadi kronis. dan proses infeksi yang terdapat ditelinga. dimana pengobatannya dapt dibagi atas : 5 1.3. Keadaan ini antara lain disebabkan oleh salah satu atau beberapa keadaan : 5 1. Sekret yang keluar tidak langsung cepat kering atau selalu kambuh lagi.2. 2. Sudah terbentuk jaringan patologi yang irreversibel dalam rongga mastoid.

hal ini dikarenakan biasanya ada gangguan vaskularisasi di telingah tengah sehingga antibiotika oral sulit mencapai sasaran optimal. Keluarnya sekret menandakan adanya perforasi membrana timpani.3 Naser Aminifarshhidmehr (1996) dari Kuwait melaporkan irigasi asamasetat 2% menyebabkan keringnya sekret telinga pada 74 penderita OMSK (77%) dan pada 19 orang di antaranya (19%) perforasi membrana timpani menutup secara spontan. kecuali kasus dengan jaringan patologis yang menetap pada telinga tengah dan mastoid. Pemberian antibiotika topikal jauh lebih baik dibanding pemberian secara oral karena dalam waktu singkat sudah ditemui dengan konsentrasi tinggi pada mukus dan debris di telinga tengah. 2.Referat THT-KL Penatalaksanaan OMSK OMSK Benigna Tipe Aktif Pada OMSK jinak aktif prinsip terapi yang dianjurkan adalah pembersihan secara lokal kavum timpani dan liang telinga luar disertai pemberian obat lokal berupa antibiotik tetes telinga. terapi dilanjutkan dengan memberikan obat tetes telinga yang mengandung antibiotika dan kortikosteroid.1 Riff menganjurkan irigasi dengan garam faal agar lingkungan bersifat lebih asam dan merupakan media buruk untuk tumbuh kuman. Ada beberapa pendapat mengenai penggunaan antibiotika topikal untuk OMSK. propylene glycol adalah yang terbaik untuk keperluan ini. larutan yang dipergunakan harus dilarutkan dalam cairan higroskopik. 3 Supaya didapatkan hasil yang efektif.3 Pembersihan kavum timpani Dengan menggunakan cairan pencuci telinga berupa larutan H2O2 3% selama 3 – 5 hari. 2 25 | P a g e . Garam faal agar lingkungan bersifat asam sehingga merupakan media yang buruk untuk pertumbuhan kuman. Djaafar dan Gitowirjono menggunakan antibiotika topikal sesudah irigasi sekret profus dengan hasil yang cukup memuaskan. oleh karena itu penggunaan antibiotik topikal menjadi praktis dan bermanfaat. 3 Antibiotika topikal Setelah sekret berkurang. Selain itu dikatakan bahwa tempat infeksi pada OMSK sulit dicapai oleh antibiotika topikal.

33%). (90%).23%). 26 | P a g e . dan Proteus sp. (14. Cara pemilihan antibiotika yang paling baik ialah berdasarkan kultur kuman penyebab dan uji resistensi. Bacillus sp. fragilis dan toksik terhadap ginjal dan susunan saraf. Penelitian tersebut menunjukkan sensitifitas kedua kuman tersebut yang dominan pada OMSK jinak aktif terhadap khloramfenikol sebesar 16% dibanding gentamisin sebesar 28%. 2. Klebsiella dan Enterobakter tetapi tidak efektif (resisten) terhadap kuman Gram positif seperti Proteus dan B. Oleh sebab itu. Staphylococcus sp. Kloramfenikol Losin et. dan Pseudomonas sp. Mirabilis. P. Polimiksin B atau Polimiksin E Obat ini bersifat bekterisid terhadap kuman Gram negatif. Aureus. Antibiotika topikal yang sering digunakan untuk pengobatan OMSK adalah: 3 1.23%).3 Mikrooganisme penyebab terbanyak OMSK seperti proteus aeroginosa. jika perlu ditambahkan kortikosteroid untuk mengatasi manifestasi alergi lokal. maka tidak dianjurkan menggunakan antibiotika yang ototoksik dan lamanya tidak lebih dari satu minggu. 2. Pseudomonas. yang tidak sensitif lagi dengan pemberian kloramfenikol dan gentamisin tetes telinga. (62. dan S. bahwa semua obat tetes yang dijual di pasaran saat ini banyak mengandung antibiotika yang bersifat ototoksik. Preparat yang baru yang banyak digunakan sebagi pengganti adalah ofloksasin 0. (60%). Spektrum yang luas meliputi organisme yang ditemuai pada infeksi telinga. coli. (73. Dapat terdistribusi dengan baik pada jaringan yang terinfeksi (telinga tengah).4 Preparat antibiotika topikal untuk infeksi telinga tersedia dalam bentuk tetes telinga dan mengandung antibiotika tunggal atau antibiotika dalam kombinasi. al (1983) melakukan penelitian pada 30 penderita OMSK jinak aktif mendapatkan bahwa sensitifitas kloramfenikol terhadap masing-masing kuman adalah sebagai berikut: Bacteroides sp. Proteus sp.4 Adapun dasar pemilihan antibiotika topikal pada OMSK : 1.3 %. jangan diberikan secara terus menerus lebih dari 1 atau 2 minggu atau pada OMSK yang sudah tenang.3 Banyak ahli berpendapat.Referat THT-KL Penatalaksanaan OMSK Mengingat pemberian obat topikal dimaksudkan agar masuk sampai ke telinga tengah. Amadasun (1991) melakukan penelitian pada penderita OMSK jinak aktif yang tidak sembuh mendapatkan bahwa kloramfenikol tidak efektif terhadap kuman Gram negatif terutama Pseudomonas sp. E.

DNA gyrase adalah suatu enzim yang berperan dalam mengontrol topologi DNA dan replikasi DNA sehingga sintesis DNA dari kuman akan terhambat.3% penelitian Utji (1999) mendapatkan bahwa pemakaian tetes 0. Proteus sp. Penambahan steroid akan menyebabkan peningkatan biaya dua kali lipat. Pada penderita OMSK dengan perforasi membrana timpani. mirabilis dan P. Konsentrasi ofloksasin ditemukan cukup tinggi di mukosa telinga tengah. Antibiotika topikal golongan kuinolon yang lain adalah siprofloksasin 0.3% siprofloksasin pada penderita OMSK lebih berhasil guna dan lebih murah dibanding pemakaian tetes telinga kloramfenikol. Ofloksasin efektif terhadap kuman aerob Gram positif seperti Staphylococcus aureus dan Streptococcus pneumonia serta untuk kuman aerob Gram negatif seperti H. hasilnya tidak lebih baik dari placebo. dan Staphylococcus s. Fradis dan Ben David (1989) pada penelitiannya menganjurkan untuk tidak memberikan gentamisin dan aminoglikosida tetes telinga lainnya untuk penanganan OMSK jangka panjang 4. Telah diketahui bahwa pemberian gentamisin secara sistemik akan menyebabkan efek ototoksik. influenza. Ofloksasin Merupakan derivat quinolon.3%. aeruginosa.3% tidak meningkatkan efektivitasnya. M. P.3% secara tunggal tanpa kombinasi di samping biayanya murah juga sangat efektif untuk melawan organisme berspektrum luas terutama Pseudomonas aeruginosa. dan 27 | P a g e . Gentamisin Gentamisin adalah antibiotika derivat aminoglikosida dengan spektrum yang luas dan aktif untuk melawan organisme Gram positif dan Gram negatif termasuk Pseudomonas sp. Salah satu bahaya dari pemberian gentamisin tetes telinga adalah kemungkinan terjadinya kerusakan telinga dalam.3%. sediaan yang terdapat di pasaran adalah berupa otic solution 0.Referat THT-KL Penatalaksanaan OMSK 3. Gatehouse and Calder (1988) mendapatkan bahwa penambahan steroid pada tetes telinga gentamisin 0. konsentrasi tinggi ofloksasin telah ditemukan 30 menit setelah pemberian solusio ofloksasin 0. catarrhalis. Podoshin. Pada penelitian secara in vitro ofloksasin mempunyai aktivitas yang kuat untuk bakteri Gram negatif dan Gram positif dan bekerja dengan cara menghambat enzim DNA gyrase. Pemberian jangka pendek gentamisin 0. Penelitian Browning.

aminoglikosida Streptokokus : Penisilin. 3 Antibiotika oral Secara oral dapat diberikan antibiotika golongan ampisilin atau eritromisin (bila alergi pada penisilin). Keuntungan lain pemakaian tetes telinga dari golongan kuinolon adalah dapat diberikan secara tunggal tanpa pemberian 2 kali sehari memungkinkan pasien merasa aktifitas kerja maupun sekolah. coli : Ampisilin atau sefalosforin S. Peninggian dosis tidak menambah daya bunuh antimikroba golongan ini. eritromisin.Referat THT-KL Penatalaksanaan OMSK tidak dijumpai efek ototoksik. Pada infeksi yang dicurigai penyebabnya telah resisten terhadap ampisilin. mirabilis : Ampisilin atau sefalosforin P. seftazidinm dan seftriakson) juga aktif terhadap pseudomonas. misalnya golongan aminoglikosida dengan kuinolon. fragilis : Klindamisin Antibiotika golongan kuinolon (siprofloksasin. Golongan sefalosforin generasi III ( sefotaksim. sefalosforin. vulgaris : Aminoglikosida ± Karbenisilin Klebsiella : Sefalosforin atau aminoglikosida E. Antimikroba dapat dibagi menjadi 2 golongan. sefalosforin. Golongan kedua adalah antimikroba yang pada konsentrasi tertentu daya bunuhnya paling baik. Bila terjadi kegagalan pengobatan. Golongan pertama daya bunuhnya tergantung kadarnya.4 Terapi antibiotik sistemik yang dianjurkan pada Otitis media kronik adalah : 4 • • • • • • • • Pseudomonas : Aminoglikosida ± karbenisilin P. perlu diperhatikan faktor penyebab kegagalan yang ada pada penderita tersebut. Tetapi tidak dianjurkan untuk anak dengan umur dibawah 16 tahun. aminoglikosida B. morganii. sebelum hasil tes resistensi diterima. tetapi harus 28 | P a g e antibiotik oral dan dosis nyaman tanpa mengganggu . Makin tinggi kadar obat. misalnya golongan beta laktam. Aureus Anti-stafilikokus : penisilin. eritromisin. P. dan ofloksasin) yaitu dapat derivat asam nalidiksat yang mempunyai aktifitas anti pseudomonas dan dapat diberikan peroral. makin banyak kuman terbunuh. dapat diberikan ampisilin asam klavulanat.1 Pemberian antibiotika tidak lebih dari 1 minggu dan harus disertai pembersihan sekret profus.

Sumber infeksi yang menyebabkan sekret tetap ada atau terjadinya infeksi berulang harus diobati terlebih dahulu. Metronidazol mempunyai efek bakterisid untuk kuman anaerob. memperbaiki membran timpani yang perforasi. dosis 400 mg per 8 jam selama 2 minggu atau 200 mg per 8 jam selama 2-4 minggu. mencegah terjadinya komplikasi serta memperbaiki pendengaran.5 29 | P a g e . meskipun dapat mengatasi OMSK.Referat THT-KL Penatalaksanaan OMSK diberikan secara parenteral. Menurut Browsing dkk metronidazol dapat diberikan dengan dan tanpa antibiotik (sefaleksin dan kotrimoksasol) pada OMSK aktif. 4 Bila sekret telah kering tetapi perforasi masih ada setelah diobservasi selama 2 bulan maka idealnya dilakukan miringoplasti atau timpanoplasti yang bertujuan untuk menghentikan infeksi secara permanen. Terapi ini sangat baik untuk OMA sedangkan untuk OMSK belum pasti cukup.

Fungsi pendengaran tidak diperbaiki. Timpanoplasti.Referat THT-KL Penatalaksanaan OMSK Jenis Pembedahan pada OMSK Ada beberapa jenis pembedahan atau teknik operasi yang dapat dilakukan pada OMSK dengan mastoiditis kronik baik tipe aman atau bahaya. antara lain :1 1. sarana yang tersedia serta pengalaman operator. Mastoidektomi radikal dengan modifikasi. Dengan tindakan operasi ini dilakukan pembersihan ruang mastoid dari jaringan patologik. Pendengaran berkurang sekali. Pendekatan Ganda timpanoplasti (Combined Approach Tympanoplasty). 3. 6. Pasien harus datang dengan teeratur untuk control. Mastoidektomi radikal. 5. Kerugian operasi ini ialah pasien tidak diperbolehkan berenang seumur hidupnya. Sesuai dengan luasnya infeksi atau luas kerusakan yang sudah terjadi. Mastoidektomi sederhana (Simple Mastoidectomy). 4. Pada operasi ini rongga mastoid dan kavum timpani dibersihkan dari semua jaringan patologik dan mencegah komplikasi ke intracranial. supaya tidak terjadi infeksi kembali. 30 | P a g e . Mastoidektomi Sederhana Operasi ini dilakukan pada OMSK tipe aman yang dengan pengobatan konservatif tidak sembuh. 2. sehingga dapat menghambat pendidikan atau karier pasien. Jenis operasi mastoid yang dilakukan tergantung pada luasnya infeksi atau kolesteatom. Tujuannya ialah supaya infeksi tenang dan telinga tidak berair lagi. kadang-kadang dilakukan kombinasi dari jenis operasi itu atau modifikasinya.1 Mastoidektomi Radikal Operasi ini dilakukan pada OMSK tipe bahaya dengan infeksi atau kolestetoma yang sudah meluas. Pada operasi ini fungsi pendengaran tidak diperbaiki. Miringoplasti.

1 Tipe-tipe timpanoplasti Tipe I 31 | P a g e . Timpanoplasti diajukan pertama kali oleh Wullstein tahun 1953 yang kemudian membagi timpanoplasti menjadi V tipe pada tahun 1956. sehingga rongga operasi kering permanen. Tujuan dari timpanoplasti itu sendiri adalah mengembalikan fungsi telinga tengah. dan mempertahankan pendengaran yang masih ada. tetapi belum merusak kavum timpani. Tujuan lainnya membersihkan semua jaringan patologis dimana anatomi dari meatus eksternus termasuk sulkus timpani utuh. Indikasi timpanoplasti dilakukan pada OMSK tipe aman dengan kerusakan yang lebih berat atau OMSK tipe aman yang tidak bisa ditenangkan dengan pengobatan medikamentosa. Pada operasi ini selain rekonstruksi membran timpani sering kali harus dilakukan juga rekonstruksi tulang pendengaran. Aerasi dapat diperoleh dengan membersihkan penyumbatan antara kavum timpani. yaiut meatus liar telinga luar menjadi lebar. mencegah infeksi berulang dan memperbaiki pendengaran. Tujuan operasi ialah untuk membuang jaringan patologik pada rongga mastoid. antrum dan sistem sel mastoid.Referat THT-KL Penatalaksanaan OMSK Modifikasi operasi ini ialah dengan memasang tandur (graft) pada rongga operasi serta membuat meatoplasti yang lebar. Seluruh rongga dibersihkan dan dinding posterior liang telinga tengah direndahkan. untuk membersihkan jaringan patologis.1 Timpanoplasti Timpanoplasti adalah prosedur menghilangkan proses patologik di dalam telinga tengah dan diikuti rekonstruksi sistem konduksi suara pada telinga tengah. Sebelum rekonstruksi dikerjakan lebih dahulu dilakukan eksplorasi kavum timpani dengan atau tanpa mastoidektomi. menutup lubang perforasi telinga tengah. Kavum mastoid dibuka untuk menghindari sistem aerasi yang tertutup.1 Mastoidektomi Radikal dengan Modifikasi (Operasi Bondy) Operasi ini dilakukan pada OMSK dengan kolestetoma di daerah atik. tetapi terdapat cacat anatomi.

Referat THT-KL Penatalaksanaan OMSK Disebut juga dengan miringoplasti. Tujuannya adalah untuk mencegah berulangnya infeksi telinga tengah pada OMSK tipe aman dengan perforasi yang menetap. Indikasi operasi ini dilakukan pada OMSK tipe aman yang sudah tenang dengan ketulian ringan yang hanya disebabkan oleh perforasi membran timpani. Timpanoplasti tipe I 32 | P a g e . Pada tipe I ini seharusnya dapat memulihkan pendengaran konduktif sampai normal atau hampir normal. Gambar. Operasi ini merupakan timpanoplasti yang paling ringan. dengan melakukan rekonstruksi hanya pada membrane timpani dan cangkokan bersandar pada maleus.

Tipe IV (d) 33 | P a g e . Tipe IV Tipe Va Tipe Vb Gambar. Tipe III (c). Timpanoplasti Tipe II (b).Referat THT-KL Penatalaksanaan OMSK Tipe II sampai tipe V dilakukan rekonstruksi membrane timpani dan rekonstruksi tulang pendengaran. Jenis Timpanoplasti Tipe II Keterangan Diindikasikan pada perforasi membrane timpani dengan erosi maleus. Cangkokan menempel pada kaput stapes. Diindikasi bila terjadi destruksi pada dua Tipe III tulang pendengaran dengan stapes masih intak dan mobile. Stapedektomi. Fenestrasi pada kanalis semisirkularis lateralis. Cangkokan menempel pada basis stapes. Cangkokan bersandar pada inkus.

Teknik operasi ini pada OMSK tipe bahaya belum disepakati oleh para ahli. Membersihkan kolesteatoma dan jaringan granulasi di kavum timpani. Timpanoplasti Tipe Va (e).1 34 | P a g e .Referat THT-KL Penatalaksanaan OMSK Gambar. dikerjakan melalui dua jalan (combined approach) yaitu melalui liang telinga dan rongga mastoid dengan melakukan timpanotomi posterior. Tujuan operasi untuk menyembuhkan penyakit serta memperbaiki pendengaran tanpa melakukan teknik mastoidektomi radikal (tanpa meruntuhkan dinding posterior liang telinga). oleh karena sering terjadi kambuhnya kolesteatoma kembali. Tipe Vb (f) Timpanoplasti dengan Pendekatan Ganda (Combined Approach Tympanoplasty) Operasi ini merupakan teknik operasi timpanoplasti yang dikerjakan pada kasus OMSK tipe bahaya atau OMSK tipe aman dengan jaringan granulasi yang luas.

Dengan demikian pada waktu pengobatan haruslah dievaluasi faktor-faktor yang menyebabkan penyakit menjadi kronis. Terapi OMSK tidak jarang memerlukan waktu lama serta harus berulang-ulang. Berdasarkan tipe klinisnya. Sekret yang keluar tidak cepat atau selalu kambuh lagi. antaralain : • • • Adanya perforasi membrane timpani yang permanen Terdapat sumber infeksi di faring. lingkungan kumuh dan status kesehatan serta gizi yang jelek merupakan faktor yang menjadi dasar untuk meningkatnya prevalensi OMSK pada negara yang sedang berkembang. OMSK dibagi atas tipe jinak (tipe tubotimpanal) di mana proses peradangannya hanya terbatas pada mukosa telinga tengah. Penyakit ini ditandai dengan adanya perforasi membran timpani disertai dengan keluarnya cairan dari telinga yang lamanya lebih dari 2 bulan. ras dan faktor sosioekonomi mempengaruhi kejadian OMSK. serta tipe ganas (tipe atikoantral) disertai kolesteatoma yang proses peradangannya sudah melibatkan tulang dan dapat mengakibatkan komplikasi di tulang temporal (ekstrakranial) atau ke dalam otak (intrakranial). kehidupan sosial ekonomi yang rendah. dan sinus paranasal Terbentuk jaringan patologis yang ireversibel dalam rongga mastoid Gizi dan higien yang kurang • Pengobatan penyakit telinga kronis yang efektif harus didasarkan pada faktor-faktor penyebabnya dan pada stadium penyakitnya. Secara umum. nasofaring.8% dan pasien OMSK merupakan 25% pasien yang berobat di poliklinik THT rumah sakit di Indonesia. OMSK merupakan penyakit yang sering dijumpai pada negara yang sedang berkembang. dan proses infeksi yang 35 | P a g e . perubahan-perubahan anatomi yang menghalangi penyembuhan serta menganggu fungsi.Referat THT-KL Penatalaksanaan OMSK BAB III PENUTUP Dapat disimpulkan bahwa OMSK atau yang biasa disebut di masyarakat dengan congek adalah suatu infeksi telinga tengah menahun yang dapat mengakibatkan komplikasi yang fatal. hidung. Indonesia merupakan negara dengan prevalensi tinggi untuk kasus OMSK di mana prevalensi OMSK 3. Keadaan ini antara lain disebabkan oleh satu atau beberapa keadaan.

Mastoidektomi sederhana (simple mastoidectomy) 36 | P a g e . Pengobatan konservatif dengan medikamentosa hanyalah merupakan terapi sementara sebelum dilakukan pembedahan. tetapi obat -obatan dapat digunakan untuk mengontrol infeksi sebelum operasi. aeruginosa. yaitu konservatif dan operasi. Bila terdapat abses subperiosteal. mirabilis dan S. baik tipe benigna atau maligna. Prinsip pengobatan tergantung dari jenis penyakit dan luasnya infeksi. aureus. P.  OMSK Benigna Tipe Aktif Dalam pengobatan kasus otitis media supuratif kronis (OMSK) jinak aktif. dilarang berenang dan segera berobat bila menderita infeksi saluran nafas atas. Penatalaksanaan OMSK Maligna Pengobatan untuk OMSK maligna adalah operasi.3% yang kelihatan efektif melawan mikroorganisme penyebab OMSK.Referat THT-KL Penatalaksanaan OMSK terdapat ditelinga. air jangan masuk ke telinga sewaktu mandi. Preparat terbaru yang tersedia adalah antibiotika tetes telinga ofloksasin 0. prinsip terapi yang dianjurkan adalah pembersihan lokal kavum timpani dan liang telinga luar disertai pemberian antibiotika lokal berupa tetes telinga yang rasional. Bila didiagnosis kolesteatom. maka insisi abses sebaiknya dilakukan tersendiri sebelum kemudian dilakukan mastoidektomi. maka mutlak harus dilakukan operasi. Penatalaksanaan OMSK Benigna  OMSK Benigna Tipe Tenang Keadaan ini tidak memerlukan pengobatan. Ada beberapa jenis pembedahan atau tehnik operasi yang dapat dilakukan pada OMSK dengan mastoiditis kronis. dimana pengobatan dapat dibagi dua. yang tidak sensitif lagi dengan pemberian kloramfenikol dan gentamisin tetes telinga. Mikroorganisme penyebab terbanyak adalah P. dan dinasehatkan untuk jangan mengorek telinga. antara lain : 1.

memperbaiki membran timpani yang perforasi. Miringoplasti 5. serta memperbaiki pendengaran. Timpanoplasti 6. 37 | P a g e . Mastoidektomi radikal 3. Mastoidektomi radikal dengan modifikasi 4. mencegah terjadinya komplikasi atau kerusakan pendengaran yang lebih berat.Referat THT-KL Penatalaksanaan OMSK 2. Pendekatan ganda timpanoplasti (Combined approach tympanoplasty) Tujuan operasi adalah menghentikan infeksi secara permanen.

Referat THT-KL Penatalaksanaan OMSK DAFTAR PUSTAKA 38 | P a g e .

blogspot. 2007 3. 2007 2. Newbrain. 132. Medan : Universitas Sumatera Utara. Restuti RD. Bashiruddin J. Tenggorok. Pemakaian Antibiotika Topikal Pada Otitis Media Supurativa Kronik Jinak Aktif.html 4.co. Lutan R. Otitis Media Supuratif Kronik.scribd. Jakarta : Balai Penerbit FKUI. 2001 : diunduh dari http://www. c2009 (diposkan 28 Juli 2009). Kepala. Pidato Pengukuhan Jabatan Guru Besar Tetap : Radang Telinga Tengah Menahun. dan Leher. Hidung. 2009 : diunduh dari http://www.com/2009/07/otitismedia-supuratif-kronis.blogspot.id/files/cdk/files/14_PemakaianAntibiotikaTopikal.pdf/14_P emakaianAntibiotikaTopikal. Cermin Dunia Kedokteran No. Anonim. Buku Ajar Ilmu Keseharan Telinga. Soepardi EA. Iskandar N. Padang : Otitis Media Supuratif Kronis.html 39 | P a g e . Diunduh dari : http://rieck-newbrain. Wajdi F.com.kalbe.Referat THT-KL Penatalaksanaan OMSK 1. Aboet A.com/doc/13607134/Otitis-Media-Kronik 5.