KATA PENGANTAR

Alhamdulillahirabbil’alamin segala puji syukur saya panjatkan kehadirat Allah SWT, Tuhan semesta alam yang hanya kepada-Nyalah kami berserah diri. Dan atas izin dari-Nyalah kami mampu menyusun makalah ini. Ucapan terimakasih juga saya sampaikan kepada kedua orang tua saya, dosen mata kuliah Pendidikan kewarganegaraan, teman-teman sesama mahasiswa dan pihak-pihak lain yang mendukung terselesaikannya makalah ini. Dalam penyusunan makalah ini saya sadar masih banyak terdapat kekurangan dan kelemahan. Untuk itu penulis mohon maaf dan sangat mengharapkan adanya kritik dan saran yang membangun dari pembaca. Semoga makalah ini bisa bermanfaat khususnya kepada saya selaku penulis dan umumnya kepada anda para pembaca. Akhirnya, semoga Allah senantiasa memberikan rahmat dan hidayah-Nya kepada siapa saja yang mencintai pendidikan. Amin Ya Robbal Alamin.

Serang, 2 Juni 2009

Ttd Penyusun

1

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR………………………………………………………………....i DAFTAR ISI…………………………………………………………………………..ii BAB I PENDAHULUAN

I. 1. Latar Belakang Masalah………………………………………………………….4 I. 2. Rumusan Masalah………………………………………………………………...5 I. 3. Tujuan Penulisan………………………………………………………………….5 I. 4. Tekhnik dan Metode Penulisan...............................................................................6 I. 5. Sistematika Penulisan.............................................................................................6 BAB II TINJAUAN PUSTAKA

II. 1. Pengertian Kenakalan Remaja...............................................................................8 II. 2. Jenis dan Bentuk Kenakalan Remaja...................................................................10 II. 3. Pengertian Globalisasi.........................................................................................14 II. 4. Proses Perkembangan Globalisasi.......................................................................16 II. 5. Pengaruh Globalisasi Terhadap Kehidupan Berbangsa dan Bernegara..............19 BAB III PEMBAHASAN

III. 1. Aspek-Aspek Negatif Globalisasi yang Memengaruhi Kenakalan Remaja.......21 III. 2. Faktor-Faktor dan Masalah-Masalah Penyebab Kenakalan Remaja..................29 III. 3. Kaitan Jenis dan Bentuk Kenakalan Remaja dalam Perkembangan Globalisasi...........................................................................................................48 III. 4. Bentuk dan Macam Solusi Penanggulangan Kenakalan Remaja.......................56 BAB IV PENUTUP

IV. 1. Kesimpulan........................................................................................................64 IV. 2. Saran...................................................................................................................65 DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN

2

BAB I PENDAHULUAN

I. 1. Latar Belakang Masalah
Dewasa ini berbagai macam bentuk penyimpangan sosial semakin meningkat dan marak terjadi di masyarakat. Seiring dengan berkembangnya zaman yang semakin canggih, justru berbagai macam bentuk penyimpanagan sosial semakin bermunculan dan terjadi. Mulai dari berbagai penyimpangan kecil seperti tato ataupun tindik, sampai tindakan penyimpangan besar bahkan bersifat kriminal seperti pembunuhan dan pemerkosaan, seamakin meningkat akhir-akhir ini. Bukan tidak mungkin globalisasi jaman sekarang ini menjadi salah satu faktor cukup dominan dalam peningkatan penyimpangan sosial di masyarakat. Karena pada dasarnya globalisasi itu sendiri identik dengan pasar bebasa dan kapitalis, dimana batas antar negara /warga negara seakan semu sehingga berbagi macam bentuk hal apapun dapat dengan mudah dan cepat tersebar bahkan tersosialisasi, serta bisa dilakukan oleh siapapun, dimanapun, dan kapanpun itu. Termasuk dalam hal perkembangan penyimpangan sosial. Salah satu bentuk penyimpangan sosial yang cukup meresahkan dan mengawatirkan perkembangannya, yakni penyimpangan sosial berupa kenakalan remaja yang akhir-akhir ini semakin marak terjadi. Tentunya seiring berkembangnya waktu, bentuk dan jenis kenakalan remaja semakin beragam dan bervariasi, serta semakin meningkat implementasinya di masyarakat. Para remaja zaman sekarang semakin berani untuk bertindak, dan semakin bebas untuk berekspresi, termasuk dalam hal penyimpangan sosial. Sudah banyak bukti akan perkembangan berbagai macam bentuk penyimpangan sosial berupa kenakalan remaja ini, mulai dari pornografi, merokok, pemerkosaan bahkan 3

sampai tindak anarkis premanisme dan narkoba banyak dilakukan oleh para remaja masa kini. Selain faktor kurangnya kontrrol sekolah dan keluarga, tak bisa dipungkiri faktor globalisasi juga berpengaruh dalam perkembangan kenakalan remaja masa kini. Karena secara langsung maupun tidak langsung globalisasi sudah meliputi proses kehidupan sosial di masyarakat yang pasti sangat mudah berdampak dan berpengaruh pada kehidupan sosial remaja itu sendiri. Kenakalan remaja merupakan salah satu bentuk dinamika sosial, karena biar bagaimanapun hal tersebut akan selalu tetap ada dan terjadi, semua tergantung pada solusi kita untuk penanganannya.

I. 2. Rumusan Masalah
1. Faktor apa sajakah yang mendasari serta mendukung terjadinya kenakalan remaja terkait dengan perkembangan era globalisasi sekarang ini ? 2. Bagaimana perkembangan kenakalan remaja di era globalisasi sekarang ini ? 3. Bagaimana solusi yang tepat untuk menanggulangi perkembangan kenakalan remaja sekarang ini ?

I. 3. Tujuan Penulisan
Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk mengetahui faktorfaktor apa sajakah yang mendasari serta mendukung terjadinya kenakalan remaja terkait dengan perkembangan era globalisasi sekarang ini. Selain itu untuk mengetahui sejauh mana perkembangan kenakalan remaja di era globalisasi sekarang ini, juga untuk mengetahui macam-macam dan jenis-jenis perilaku yang tergolong kenakalan remaja maasa kini. Serta yang terakhir dan terpenting yakni untuk mengetahui dan mencari solusi penanggulangan ataupun pencegahan yang tepat untuk menanggulangi perkembangan kenakalan remaja sekarang ini.

4

I. 4. Tekhnik dan Metode Penulisan
Tekhnik dan Metode penulisan yang dilakukan dalam penulisan makalah ini adalah melalui metode kualitatif dengan tekhnik pengumpulan data berdasar resensi maupun literature dari beberapa sumber buku serta sember internet. Data-data yang didapatkan setelah dihimpun dan disusun kemudian dianalisa serat diidentifikasi sesuai dengan rumusan permasalahannya dan agar terlihat susunan data yang dapat memberikan gambaran fakta tentang obyek penulisan makalah ini. Setelah data dianalisis secara deskriptif dengan menggunakan metode deduktif, kemudian dihubungkan dengan kasus yang sedang dibahas, sehingga dengan demikian dapat ditarik beberapa kesimpulan dan memberikan saran sesuai dengan permasalahan.

I. 5. Sistematika Penulisan
Sistematika dalam penulisan makaalah ini terbagi empat bab. Pembagian penulisan dalam makalah ini untuk memudahkan penulis dalam menyusun hasil penilaian terhadap masalah yang ada. BAB I : Bab I adalah pendahuluan yang terdiri dari pembagian sebagai berikut : latar belakang masalah dan rumusannya, tujuan penulisan, metode penelitian, dan sistematika penulisan. Hal ini dimaksudkan agar dapat memberikan gambaran awal mengenai latar belakang dari pembahasan masalah serta pemecahan masalah dalam penulisan makalah ini. Selain itu dengan bab pendahuluan ini diharapkan akan mempermudah pembahasan bab selanjutnya.

5

BAB II

: Bab II adalah tinjauan pustaka yang akan membahas mengenai teori-teori dasar yang mendukung tentang perkembangan

kenakalan remaja sebagai akibat pengaruh dari efek globalisasi. BAB III : Pada bab III pembahasan yang akan membahas mengenai faktorfaktor penyebab terjadinya kenakalan remaja terkait dengan efekefek negatif globalisasi serta bentuk dan macam solusi

penanggulangan dan pencegahan kenakalan remaja. BAB IV : Selanjutnya pada bab IV merupakan penutup yang berisikan kesimpulan dan saran. Bagian pertama, kesimpulan adalah ringkasan bahasan materi yang penulis ambil dari uraian-uraian bab-bab sebelumnya, dan bagian kedua adalah saran. Disini penulis mencoba memberikan saran terhadap pembahasan dalam penulisan makalah ini, saran tersebut mudah-mudahan bermanfaat.

6

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

II. 1. Pengertian Kenakalan Remaja
Pada dasarnya kenakalan remaja menunjuk pada suatu bentuk perilaku remaja yang tidak sesuai dengan norma-norma yang hidup di dalam masyarakatnya. Kartini Kartono (1988 : 93) mengatakan remaja yang nakal itu disebut pula sebagai anak cacat sosial. Mereka menderita cacat mental disebabkan oleh pengaruh sosial yang ada ditengah masyarakat, sehingga perilaku mereka dinilai oleh masyarakat sebagai suatu kelainan dan disebut “kenakalan”. Dalam Bakolak inpres no: 6 / 1977 buku pedoman 8, dikatakan bahwa kenakalan remaja adalah kelainan tingkah laku / tindakan remaja yang bersifat anti sosial, melanggar norma sosial, agama serta ketentuan hukum yang berlaku dalam masyarakat. Singgih D. Gumarso (1988 : 19), mengatakan dari segi hukum kenakalan remaja digolongkan dalam dua kelompok yang berkaitan dengan norma-norma hukum yaitu : (1) kenakalan yang bersifat amoral dan sosial serta tidak diantar dalam undang-undang sehingga tidak dapat atau sulit digolongkan sebagai pelanggaran hukum ; (2) kenakalan yang bersifat melanggar hukum dengan penyelesaian sesuai dengan undang-undang dan hukum yang berlaku sama dengan perbuatan melanggar hukum bila dilakukan orang dewasa. Tentang normal tidaknya perilaku kenakalan atau perilaku menyimpang, pernah dijelaskan dalam pemikiran Emile Durkheim (dalam Soerjono Soekanto, 1985 : 73). Bahwa perilaku menyimpang atau jahat kalau dalam batas-batas tertentu dianggap sebagai fakta sosial yang normal dalam bukunya “ Rules of Sociological Method” dalam batas-batas tertentu kenakalan adalah normal karena tidak mungkin 7

menghapusnya secara tuntas, dengan demikian perilaku dikatakan normal sejauh perilaku tersebut tidak menimbulkan keresahan dalam masyarakat, perilaku tersebut terjadi dalam batas-batas tertentu dan melihat pada sesuatu perbuatan yang tidak disengaja. Jadi kebalikan dari perilaku yang dianggap normal yaitu perilaku nakal/jahat yaitu perilaku yang disengaja meninggalkan keresahan pada masyarakat. Sudarsono, 1991 dalam bukunya Kenakalan remaja mengatakan Kenakalan Remaja (Juvenille Delinquency) secara estimologis dapat diartikan sebagai kejahatan anak, akan tetapi pengertian tersebut memberikan konotasi yang cenderung negative atau negative sama sekali. Atas pertimbangan yang lebih moderat dan mengingat kepentingan subyek, maka beberapa ilmuwan memberanikan diri untuk mengartikan Juvenille Delinquency sebagai kenakalan remaja Psikolog Drs. Bimo Walgito dalam (Sudarsono, 1991: 11) merumuskan arti selengkapnya dari kenakalan remaja sebagai berikut : tiap perbuatan, jika perbuatan tersebut dilakukan oleh orang dewasa maka perbuatan tersebut merupakan kejahatan, jadi merupakan perbuatan yang melawan hukum, yang dilakaukan anak, khususnya anaka remaja Dr Fuad hasan dan Drs. B. simanjuntak dalam (Sudarsono, 1991: 11) juga memberikan definisi kenakalan remaja sebagai perbuatan anti social yang dilakukan anak remaja yang bilamana dilakukan orang dewasa dikualifikasikan sebagai kejahatan. Dari kedua pengertian diatas Sudarsono menarik benang merah diantara keduanya yaitu, kenakalan remaja adalah perbuatan atau kejahatan atau pelanggaran yang dilakukan oleh anak remaja yang bersifat melawan hukum anti sosial, anti susila dan menyalahi norma-norma agama. John W. Santrock mendefinisikan, kenakalan remaja (Juvenile Delinquency) mengacu pada suatu rentang perilaku yang luas, mulai dari perilaku yang tidak dapat

8

diterima secara sosial (seperti bertindak berlebihan disekolah), pelanggaran (seperti melarikan diri dari rumah), hingga tindakan-tindakan kriminal (seperti mencuri). Keputusan Menteri Sosial (Kepmensos RI No. 23/HUK/1996) menyebutkan anak nakal adalah anak yang berperilaku menyimpang dari norma-norma sosial, moral dan agama, merugikan keselamatan dirinya, mengganggu dan meresahkan ketenteraman dan ketertiban masyarakat serta kehidupan keluarga dan atau masyarakat Dari beberapa definisi diatas dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa kenakalan remaja adalah perilaku yang dilakukan oleh remaja yang bertentangan dengan norma hukum yang telah dengan jelas ditentukan dalam KUHP, norma sosial dan norma agama yang telah diatur dalam Al-Qur’an dan Sunnah Rasul.

II. 2. Jenis dan Bentuk Kenakalan Remaja
1) Jenis-Jenis Kenakalan Remaja Berdasar pada beberapa pandangan teori mengenai perilaku delinkuen diatas, maka delinkuensi remaja dapat dibagi dalam empat kelompok, yaitu: 1) Delinkuensi individual, yaitu perilaku delinkuen anak merupakan gejalah personal atau individual dengan ciri-ciri khas jahat, disebabkan oleh predisposisi dan kecenderungan penyimpangan tingkah laku (psikopat, psokotis, neurotis, a-sosial) yang diperhebat oleh stimuli sosial dan kondisi kultural. 2) Delinkuensi situasional, yaitu delinkuensi yang dilakukan oleh anak yang normal; namun mereka banyak dipengaruhi oleh berbagai kekuatan situasional, stimuli sosial, dan tekanan lingkungan, yang semuanya memberikan pengaruh “menekan-memaksa” pada pembentukan perilaku buruk. 9

3) Delinkuensi sistematik, yaitu delinkuensi yang telah disistematisir dalam suatu organisasi (gang). Semua kejahatan dirasionalisir dan dibenarkan sendiri oleh anggota gang, sehingga kejahatannya menjadi terorganisir atau menjadi sistematis sifatnya. 4) Delinkuensi kumulatif, yaitu delinkuensi yang sudah teresebar dihampir semua ibukota, kota-kota, bahkan sampai dipinggiran desa. Pada hakekatnya delinkuensi ini merupakan produk dari konflik budaya. Ernest R. Hilgard dalam bukunya “Introduction to Psychologi” mengelompokkan delinkuensi remaja dilihat dari pelaku perilaku tersebut kedalam dua golongan, yaitu: 1) Social delinquency, yaitu delinkuen yang dilakukan oleh sekelompok remaja, misalnya “gang”. 2) Individual delinquency, yaitu delikuensi yang dilakukan oleh seorang remaja sendiri tanpa teman. Wright membagi jenis kenakalan remaja dalam beberapa keadaan: 1) Neurotic delinquency, remaja bersifat pemalu, terlalu perasa, suka

menyendiri, gelisa dan mempunyai perasaan rendah diri. Mereka mempunyai dorongan yang kuat untuk berbuat suatu kenakalan seperti: mencuri sendirian, melakukan tindakan agresif secara tiba tanpa alasan karena dikuasai oleh fantasinya sendiri. 2) Unsocialized delinquency, suatu sikap yang suka melawan

kekuasaan seseorang, rasa bermusuhan dan pendendam. 3) Pseudo social delinquency, remaja atau pemuda yang mempunyai

loyalitas tinggi terhadap kelompok atau gang sehingga sikapnya tampak patuh, setia dan kesetiakawanan yang baik. Jika melakukan perilaku kenakalan bukan

10

atas kesadaran diri sendiri yang baik tetapi karena didasari anggapan bahwa ia harus melaksanakan sesuatu kewajiban kelompok yang digariskan. Jensen (1985) yang melihat perilaku delinkuen dari sigi bentuk dan dampak kenakalan, menggolongkan perilaku delinkuen dalam empat jenis, yaitu: 1) Kenakalan yang menimbulkan korban fisik pada orang lain: perkelahian, perkosaan, perampokan, pembunuhan, dan lain-lain. 2) Kenakalan yang menimbulkan korban materi: perusakan, pencurian, pencopetan, pemerasan, dan lain-lain. 3) Kenakalan sosial yang tidak menimbulkan korban difihak orang lain: pelacuran, penyalah gunaan obat, hubungan seks pra-nikah. 4) Kenakalan yang melawan status: misalnya mengingkari status anak sebagai pelajar dengan cara membolos, mengingkari status orang tua dengan cara minggat dari rumah atau membantah perintah mereka dan sebagainya.

2) Bentuk-Bentuk Kenakalan Remaja
William C. Kvaraceus membagi bentuk kenakalan menjadi dua, yaitu: 1) Kenakalan biasa seperti: Berbohong, membolos sekolah, meninggalkan rumah tanpa izin (kabur), keluyuran, memiliki dan membawa benda tajam, bergaul dengan teman yang memberi pengaruh buruk, berpesta pora, membaca buku-buku cabul, turut dalam pelacuran atau melacurkan diri, berpakaian tidak pantas dan minum minuman keras. 2) Kenakalan Pelanggaran Hukum, seperti: berjudi, mencuri, mencopet, menjambret, merampas, penggelapan barang, penipuan dan pemalsuan, menjual gambar-gambar porno dan film-film porno, pemerkosaan, pemalsuan uang, perbuatan yang merugikan orang lain, pembunuhan dan pengguguran kandungan.Bentuk – bentuk perbuatan kenakalan remaja yang lebih banyak

11

dilakukan dalam kaitan remaja yang bersangkutan dengan gangnya atau gerombolan remaja lainnya, hakekatnya mencerminkan suatu sub kultur tersendiri yang dapat dibedakan dalam 3 sub kultur kenakalan yaitu: 1) Sub kultur criminal: suatu bentuk gang kenakalan remaja yang mengarah pada perbuatan pencurian, pemerasan dll perbuatan illegal yang bertujuan untuk mendapatkan penghasilan (uang atau income). 2) Sub kultur konflik: suatu bentuk gang yang mengutamakan perbuatan – perbuatan kekerasan sebagai suatu cara untuk mendapatkan atau meningkatkan status. 3) Sub kultur pengelakan/ pengasingan (rettreatist sub culture): suatu bentuk gang yang menekankan pada penggunaan obat – obatan (secara salah). Perbuatan kenakalan remaja pada hakekatnya merupakan proses usaha pencapaian suatu keberhasilan tertentu dalam perkembangan kehidupan remaja. Kaitan pertumbuhan dan perkembangan individu remaja dengan lingkungannya terhadap struktur sosial dengan jalur – jalur system yang tersedia dan berlangsung di masyarakat untuk mobilitas yang lebih baik. Pada kenakalan remaja sub kultur kriminil, mencerminkan suatu cara adaptasi yang khusus dari para remaja dalam proses penyesuaian dirinya yang gagal untuk dapat mencapai keberhasilan hidup atau memperbaiki keadaannya dengan menempuh jaur – jalur kesempatan yang sewajarnya. Kegagalan ini antara lain karena ketiadaan kemampuan, keterbatasan pendidikan dan tidak adanya kesempatan kerja yang sesuai. Kenakalan remaja sub kultur konflik sering terjadi pada kasatuan masyarakat yang tidak stabil, tidak cukup terorganisir, yang tinggi mobilitas

12

vertikal dan geografisnya, keluarga cenderung berorientasi tidak pada masa depan tetapi pada masa kini dan tidak ada kemajuan sosial. Perbuatan perkelahian antar gang, kebut – kebutan di jalan ramai merupakan contoh kenakalan remaja sub kultur konflik. Kenakalan remaja yang termasuk sub kultur pengelakan/ pengasingan yaitu kenakalan remaja dalam bentuk penyelahgunaan obat – obatan narkotika, merupakan cara adaptasi terhadap keadaan secara pengelakan, menarik diri atau mengaisngkan diri, melepaskan perjuangan dalam mencapai kesuksesan.

II. 3. Pengertian Globalisasi
Globalisasi merupakan perkembangan kontemporer yang mempunyai

pengaruh dalam mendorong munculnya berbagai kemungkinan tentang perubahan dunia yang akan berlangsung. Pengaruh globalisasi dapat menghilangkan berbagai halangan dan rintangan yang menjadikan dunia semakin terbuka dan saling bergantung satu sama lainnya. Globalisasi akan membawa prespektif baru tentang konsep “Dunia Tanpa Tapal Batas” yang saat ini diterima seabagai nrealita masa depan yang akan memengaruhi perkembangan budaya dan membawa perubahan baru. (Aim Abdulkarim, 2007: 116) Globalisasi adalah sebuah istilah yang memiliki hubungan dengan peningkatan keterkaitan dan ketergantungan antarbangsa dan antarmanusia di seluruh dunia dunia melalui perdagangan, investasi, perjalanan, budaya populer, dan bentuk-bentuk interaksi yang lain sehingga batas-batas suatu negara menjadi bias. Dalam banyak hal, globalisasi mempunyai banyak karakteristik yang sama dengan internasionalisasi sehingga kedua istilah ini sering dipertukarkan. Sebagian pihak sering menggunakan istilah globalisasi yang dikaitkan dengan berkurangnya peran negara atau batas-batas negara. 13

Kata "globalisasi" diambil dari kata global, yang maknanya ialah universal. Globalisasi belum memiliki definisi yang mapan, kecuali sekadar definisi kerja (working definition), sehingga tergantung dari sisi mana orang melihatnya. Ada yang memandangnya sebagai suatu proses sosial, atau proses sejarah, atau proses alamiah yang akan membawa seluruh bangsa dan negara di dunia makin terikat satu sama lain, mewujudkan satu tatanan kehidupan baru atau kesatuan ko-eksistensi dengan menyingkirkan batas-batas geografis, ekonomi dan budaya masyarakat. Di sisi lain, ada yang melihat globalisasi sebagai sebuah proyek yang diusung oleh negara-negara adikuasa, sehingga bisa saja orang memiliki pandangan negatif atau curiga terhadapnya. Dari sudut pandang ini, globalisasi tidak lain adalah kapitalisme dalam bentuknya yang paling mutakhir. Negara-negara yang kuat dan kaya praktis akan mengendalikan ekonomi dunia dan negara-negara kecil makin tidak berdaya karena tidak mampu bersaing. Sebab, globalisasi cenderung berpengaruh besar terhadap perekonomian dunia, bahkan berpengaruh terhadap bidang-bidang lain seperti budaya dan agama. Menurut Selo Soemardjan, dalam (Aim Abdulkarim, 2007: 116) globalisasi adalah terbentuknya sistem organisasi dan komunikasi antar masyarakat di seluruh dunia untuk mengikuti sistem dan kaidah-kaidah yang sama. Globalisasi merupakan kecenderungan masyarakat di kota-kota besar untuk menyatu dengan dunia terutam di bidang ilmu pengetahuan, teknologi, pariwisata, dan media komunikasi massa. Menurut kamus bahasa, dalam (Aim Abdulkarim, 2007: 116) globalisasi didefinisikan sebagi fenomena yang menjadikan dunia mengecil dari segi perhubungan manusia. Hal ini dimungkinkan karena perkembangan teknologi yang sangat cepat.

14

Menurut cendekiawan barat dalam (Aim Abdulkarim, 2007: 116) globalisasi adalah satu proses kehidupan yang serba luas, tidak terbatas, dan merangkum segala aspek kehidupan, seperti politik, sosial, dan ekonomi yang dapat dinikmati oleh seluruh umat manusia di dunia ini. Menurut pengertian The American Heritage Dictionary, the act if process or policy making something worldwide in scope or application, dalam (Aim Abdulkarim, 2007: 116) yaitu globalisasi sebenarnya dapat siartikan sebagai suatu tindakan atau proses menjadikan sesuatu yang mendunia (universal) baik dalam lingkupnya atau aplikasinya. Berdasarkan beberapa definisi di atas dapat disimpulkan bahwa pengertian globalisasi dapat dibedakan atas dua hal yaitu : 1) Sebagai Alat Globalisasi merupakan wujud keberhasilan ilmu dan teknologi, terutama di bidang komunikasi. Globalisasi sebagai alat juga mengandung hal-hal yang positif apabila dipergunakan untuk tujuan yang baik. Namun hal tersebut juga dapat mengandung hal-hal negatif bila dipergunakan untuk tujuan yang tidak baik. Jadi tergantung siapa yang menggunakan dan apa tujuannya. 2) Sebagai Ideologi Globalisasi sebagai ideologi berarti sudah mempunyai arti tersendiri dan netralitasnya sangat sedikit. Globalisasi sebagai ideologi pasti memihak suatu kepentingan sehingga akan menimbulkan akibat, baik yang setuju maupun yang tidak setuju. Disinilah timbulnya benturan dan pertentangan.

II. 4. Proses Perkembangan Globalisasi
Proses globalisasi lahir dari adanya perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, transportasi, dan komunikasi. Globalisasi akan memberikan corak budaya 15

baru, dan memberi dampak yang luas terhadap kebebasan budaya setempat dan mengukuhkan dominasi budaya barat dalam budaya masyarakat di negara-negara berkembang melalui penjajahan baru, yaitu penjajahan kebudayaan. Kebudayaan baru yang berasaskan perkembangan teknologi informasi, telekomunikasi, dan satelit akan merombak dan mengubah nilai dan sistem budaya masyarakat negara berkembang selaras dengan visi dan misi globalisasi barat. Gelombang kebudayaan baru yang terjadi melalui pendominasian budaya akan menjadikan negara berkembang semakin beruntung dan terikat pada keputusan yang dibuat oleh penguasa barat. Globalisasi dan perkembangan teknologi ini mengharuskan penduduk dunia untuk bersatu dalam menentukan masa depan dunia yang lebih baik dan terjamin. Isu global yang tengah melanda dan mulai terasa memberi kesan buruk kepada masyarakat dunia menjadi agenda yang menarik perhatian semua pihak. Kesadaran untuk membentuk masyarakat dan pemimpin dunia yang bertanggung jawab untuk menjaga kepentingan, keselamatan, dan keamanan dunia membuka prespektif baru dalam pendekatan isu globalisasi, yaitu isu yang mengancam dunia masa kini dan masa depan. Berkembangnya arus globalisasi jelas memberikan dampak pada kebudayaan manusia. Banyak yang terlihat jelas dalam perubahan dan pergeseran pola hidup masyarakat, yaitu: a. agraris tradisional menjadi masyarakat industri modern; b. kehidupan berasaskan kebersamaan menjadi kehidupan individualis; c. kehidupan lamban menjadi kehidupan serba cepat; d. kehidupan berasas nilai sosial menjadi konsumeris materialis; e. kehidupan yang bergantung pada alam menjadi kehidupan menguasai alam.

16

Dari contoh tersebut, terdapat beberapa macam pengaruh terhadap kehidupan masyarakat. Pengaruh tersebut dapat dibagi menjadi dua macam aspek, yaitu aspek positif dan aspek negatif. Dengan pesatnya perkembangan, aspek positif paling diharapkan manusia. Diantaranya beberapa aspek positif dari arus globalisasi dan perkembangan teknologi yakni : 1) Pola hidup yang serba cepat, 2) Pesatnya perkembangan informasi dan transportasi, 3) Pemanfaaatan sumber daya alam yang melimpah. Selain memberikan aspek positif, perkembangan arus globalisasi juga memberikan dampak negatif bagi kebudayaan masyarakat, diantaranya : 1) Beralihnya masyarakat agraris menjadi masyarakat industri modern, 2) Perubahan dari kehidupan berasaskan kebersamaan menjadi kehidupan individualis, dan dampak negatif yang sekarang paling banyak terlihat dan bermunculan yaitu 3) Masuknya pola hidup budaya barat. Pesatnya teknologi informasi dan transportasi juga mebawa dampak negatif, seperti masuknya budaya barat yang bertolak belakang dengan budaya timur yang sederhana, sopan dan santun. Namun, sekarang banyak remaja yang menggunakan pakaian yang memerlihatkan auratnya, padahal budaya timur jelas melarang hal yang seperti itu. Fenomena anak melawan kepaada orangtua, murid yang mengancam atau melawan gurunya, perkelahian antar-pelajar, mode pakaian yang tidak sesuai, dan pemakaian perhiasan wanita oleh laki-laki, merupakan perilaku menyimpang sebagai dampak negatif dari era globalisasi dan arus informasi yang tidak terbendung. Arus globalisasi yang membonceng nilai-nilai tradisi, budaya, moral, dan agama yang selama ini kita junjung tinggi akan menghilangkan jati diri dari nilai-nilai budaya itu sendiri. Hal ini sesuai dengan pendapat Selo Soemardjan bahwa perubahan budaya yang cepat dan saling menyusul mengakibatkan suasana anomi yang berkepanjangan.

17

Suasana anomi adalah suasana ketika masyarakat yang sedang mengalami perubahan budaya tidak mengetahui secara jelas nilai-nilai budaya mana yang perlu diambil dan nilai-nilai budaya mana yang haru sdikembangkan. Dengan demikian, globalisasi akan selalu menimbulkan dampak positif dan negatif.

II. 5. Pengaruh Globalisasi Terhadap Kehidupan Berbangsa dan Bernegara
Globalisasi memiliki pengaruh yang positif, yaitu membawa kemajuan, kesejahteraan, dan keselamatan bangsa dan negara. Namun globalisasi juga membawa pengaruh positif, seperti adanya budaya Hollywood dan perpustakaan yang negatif, misalnya pendewaan pikiran nasionalisme, ilmu dan teknologi, sekularisme, dan tipisnya iman. Kita menyadari bahwa pengaruh globalisasi tidak mungkin dapat dihindari, kecuali kita dengan sengaja menghindari interaksi dan komunikasi dengan pihak yang lain. Ketika seseorang masih membaca surat kabar, menonton televisi, atau menggunakan alat lainnya, terlebih lagi dengan menggunakan internet, ia tetap akan terperangkap dalam proses dan model pergaulan global. Dalam era globalisasi telah terjadi pertemuan dan gesekan nilai-nilai budaya dan agama di seluruh dunia yang memanfaatkan jasa telekomunikasi, transformasi dan informasi sebagai hasil dari modernisasi teknologi. Pertemuan dan gesekan tersebut akan menghasilkan kompetisi liar yang berarti saling mempengaruhi dan dipengaruhi, saling bertentangan dan bertabrakannya nilai-nilai yang berbeda yang berakhir dengan kalah atau menang, saling bekerja sama yang akan menghasilkan sintesa dan antitesa baru. Ancaman

18

Dengan alat komunikasi seperti TV, parabola, telepon, VCD, DVD, dan internet, kita dapat berhubungan dengan dunia luar. Dengan parabola atau internet, kita dapat menyaksikan hiburan porno dari kamar tidur. Kita dapat terpengaruh oleh segala macam bentuk yang sangat konsumtif. Anak-anak kita dapat terpengaruh oleh segala macam film kartun dan film-film yang seharusnya tidak dilihat. Kita pun dapat dengan mudah terpengaruh oleh gaya hidup seperti yang terjadi di sinetron-sinetron kita (terutama sekali yang bertemakan keluarga) yang lebih dari 90% menebar nilainilai negatif dengan ukuran keberagaman dari setiap agama. Meskipun harus disadari pula bahwa televisi juga banyak menayangkan program-program pengajian, ceramah, diskusi, dan berita yang mengandung nilai positif bahkan agamis. Adegan kekerasan (violence) akan lebih berkesan di benak anak-anak dibandingkan dengan petuah agama. Tantangan dan Peluang Pengaruh globalisasi yang memberikan nilai-nilai positif wajib kita serap, terutama yang tidak menyebabkan benturan dengan budaya kita, misalnya disiplin, kerja keras, menghargai orang lain, rasa kemanusiaan, demokrasi dan kejujuran. Kita wajib menyaring yang baik dan sesuai dengan kepribadian dan moral bangsa kita terima, sebaliknya yang buruk kita tolak. Peluang dan tantangan ayang dapat kita peroleh dari globalisasi debagai berikut. 1. Pasar bebas, yaitu pasar dimana suatu produk menjadi semakin luas dan pemasarannya semakin banyak. 2. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dapat dengan mudah dan cepat diterima. 3. Wawasan budaya semakin luas. Hal ini memudahkan orang untuk beradaptasi dengan masyarakat lain

19

BAB III PEMBAHASAN

III. 1. Aspek-Aspek Negatif Globalisasi yang Memengaruhi Kenakalan Remaja
Globalisasi merupakan suatu fenomena liberal menyeluruh yang menyebar di seluruh penjuru dunia, dimana kita sebagai warga negara dunia tidak akan bisa mengelak dari pengaruh dan dampak-dampaknya. Seperti kita ketahui disamping membawa efek positif, globalisasi juga membawa efek negatif bagi sendi-sendi kehidupan berbangsa dan bernegara masyarakat. Salah satu aspek negatif globalisasi yang paling berpengaruh dalam sendi kehidupan yakni aspek negatif terhadap kehidupan sosial dan kebudayaan suatu bangsa dan negara. Dalam perkembangannya, khususnya di Indonesia. Selain membawa banyak dampak positif, globalisasi justru membawa dampak negatif yang lebih banyak lagi dalam sendi kehidupan masyarakat Indonesia. Khususnya dan utamanya dalam hal kehidupan sosial dan kebudayaan berbangsa dan bernegara. Dan dampak serta sasaran terbesar dari aspek negatif sosial dan budaya globalisasi tersebut, yakni kehidupan para kaum remaja Indonesia. Seperti kita ketahui bahwa kehidupan sosial para remaja zaman sekarang semakin mengkhawatirkan. Ditambah masuk dan berkembangnya globalisasi, memberi dampak yang cukup negatif pula bagi mereka para ramaja yang tiadk bisa menahan diri mereka. Walhasil bertambah banyak penyimpangan-penyimpangan sosial yang diakibatkan oleh ulah para remaja ini, oleh ulah kenakalan remaja sekarng ini.

20

Globalisasi dituding pembawa pengaruh cukup dominan bagi tindakan negatif para remaja ini. Diantaranya aspek-aspek negatif dari globalisasi yang berpotensi menimbulkan penyimpangan sosial berupa kenakalan remaja ini di antaranya ; Masuknya pola hidup budaya barat Faktor ini adalah faktor utama dan paling luas cakupannya dalam hal penyebab kenakalan remaja masa kini. Seperi kita ketahui globalisasi yang berasal dari barat ini sudah pasti membawa kebudayaan sesuai negeri asalnya, dan celakanya bagi negaranegara berbudaya ketimuran yang sangat bertolak belakang dengan kebudayaan barat seperti Indonesia, hal tersebit tidak bisa dihindari dan sudah menyebar dalam praktik kehidupan bermasyarakat Indonesia. Dan yang lebih parahnya lagi pola hidup barat tersebut banyak memengaruhi dan di salah artikan oleh para remaja Indonesia sebagai trend yang justru menjadi boomerang bagi mereka untuk membawa ke arah masa depan kehancuran. Diantaranya contoh pola hidup budaya barat yang memicu kenakalan remaja masa kini yakni ; 1) Kekerasan dan anarkisme Hal tersebut merupakan budaya barat yang sangat bertolak belakang dengan kebudayaan nilai-nilai kehidupan masyarakat Indonesia khususnya. Di kalangan remaja hal anarkis maupun premanisme, serta kekerasan dalam hal apapun, seperti telah menjadi hal yang biasa-biasa saja bagi mereka akhir-akhir ini. Sebenarnya hal anarkis juga bukan merupakan hal yang baru bagi masyarakat Indonesia. Akan tetapi perkembangannya semakin mengawatirkan manakala perkembangan zaman semakin pesat dan muncul globalisasi dengan membawa budaya buruk kehidupannya bagi masyarakat Indonesia. Terlebih lagi hal tersebut semakin memicu kenakalan remaja dalam hal anarkisme ini. Dimanapun dan kapanpun para remaja tak segan melakukan tindakan kekerasan pada siapapun, tak peduli

21

orang yang lebih tua maupun yang lebih muda. Masa remaja yang masih labil menimbulkan salah tafsir pengertian dan implementasi dalam setiap tingkah lakunya. Salah sedikit kekerasan yang berbicara. Hal ini sebenarnya sungguh ironis dan mengenaskan bagi pertumbuahan dan perkembangan kepribadian para remaja. Hal tersebut bisa sangat memengaruhi bahkan merusak mental dan pribadu para remaja di masa depan. Banyak sudah contoh kekerasan yang dilakukan para remja masa kini, mulai dari motif modal gengsi maupun sok kuat, seperti tawuran antar geng maupun sekolah, aksi premanisme dan pemalakkan, sampai kekerasan yang notabene candaan semata tapi sampai menelan korban jiwa. Semua itu merupakan bukti juvenile delinquency yang berupa kekerasan yang bahkan bisa dilakukan oleh para remaja sekarang ini, dan salah satu bentuk dari perkembangan globalisasi ke arah negatif atau mungkin tertafsir negatif. 2) Narkoba dan Minuman keras Narkoba dan minuman keras juga merupakan salah satu diantaranya, kebudayaan negatif barat yang masuk dan menyebar dengan cepatnya di Indonesia. Korban terbesar dari aspek ternegatif globalisasi ini tak lain dan tak bukan adalah para remaja. Remaja adalah kelompok masyarakat yang sangat peka terhadap bahaya penyalahgunaan obat-obatan tersebut. Alasannya, masyarakat pada usia remaja ini memiliki rasa ingin tahu yang besar dan cenderung akan mencoba menggunakan, selain itu godaan dan tekanan yang kuat dari lingkungan pergaulan juga menjadi salah satu faktor maraknya narkoba di kalangan narkoba. Padahal kontrol diri yang dimilikinya sangat lemah karena belum matangnya jiwa mereka. Apabila dibiarkan tanpa pengawasan yang ketat, kalangan remaja akan menjadi pemakai yang ketergantungan obat-obat terlarang. (Idianto, 2004: 159). Sama halnya dengan narkoba, peredaran minuman keras yang tanpa batas di negeri ini, juga

22

membawa dampak negatif bagi para remaja di negeri ini. Banyak para remaja yang terjebak dalam kehidupan malam dan pergaulan yang tak terbatas. Sehingga mengakibatkan banyak dari mereka yang terjerat mabuk-mabukan dan tak jarang mengakibatkan banyak bentuk penyimpangan sosial lain bahkan yang bersifat kriminal, sama halnya dengan narkoba. Pada dasarnya perkembangan adiktif narkoba dan miras di kalangan remaja, lebih pada didasari oleh perkembangan zaman yang semakin pesat. Jangankan di kota miras dan narkoba pun melanda desa. Berbagai alasan tak beralasan seperti ; ketinggalan jaman, ataupun kampungan banyak memengaruhi para remaja dan mendasari mereka mencoba hingga akhirnya kecanduan bahkan tewas akibat baarang haram tersebut. Remaja yang berpikiran pendek dan masih dalam pencarian jati diri tentunya bisa menjadi sasaran empuk pengaruh negatif globalisasi ini. Walhasil, setiap tahunnya banyak remaja terpengaruh dan terjangkit dua hal negatif tersebut. Dan seiring perkembangan pasar global yang semakin pesat baik miras maupun narkoba semakin mengakar dan meluas keberadaannya di Indonesisa ini. 3) Sex bebas Sex bebas juga merupakan salah satu bentuk tindakan penyimpangan kenakalan remaja yang sekarang ini semakin marak terjadi seiring berkembangnya zaman. Seperti kita ketahui sex bebas diluar ikatan pernikahan merupakan salah satu budaya barat yang sangat bertolak belakang dengan budaya ketimuran Indonesia. Akan tetapi dengan berkembangnya globalisasi, dimana batas antar negara seakan hilang, dengan mudahnya, mau tidak mau budaya negatif bagi masyarakat Indonesia tersebut masuk dan berkembang di Indonesia. Dan lagi-lagi korban utama dari kebudayaan negatif ini adalah remaja. Kebanyakan para remaja di Indonesia terjebak akan perilaku seperti ini akibat minimnya pengetahuan mereka

23

akan resiko dan tanggung jawab yang harus ditanggung nantinya. Faktor rentannya kontrol diri dan iman serta godaan lingkungan sosial dan juga rasa keingintahuan yang berlebihan seiring hasrat tanpa pikiran jernih, membuat banyak remaja yang terjerumus dalam budaya surga dunia ini. Kenikmatan sesaat yang didapatkan, bisa berakibat sangat fatal sekali bagi mereka para remaja di masa depan. Dapat diungkapkan bahwa perilaku seksual bebas bisa sangat beresiko bagi para remaja. Mulai dari hamil di luar nikah sampai terjangkitnya penyakit kelamin mematikan seperti AIDS berpotensi sangat besar terjadi bagi mereka para remaja yang melakukannya. Dan yang tak kalah fatalnya, akibat sex bebas pra-nikah ini masa depan mereka bisa hancur begitu saja dan akan menodai nama baik keluarga mereka. Perkembangan informasi dan teknologi Perkembangan informasi dan teknologi merupakan faktor terpenting dalam perkembangan zaman globalisasi di dunia. Karena bagaimanapun juga teknologi dan informasi merupakan symbol dari perkembangan zaman, symbol dari globalisasi dunia. Pesatnya perkembangan teknologi dan informasi, tentunya membawa dua aspek yang saling berlawanan, di satu sisi membawa aspek positif yang sangat membantu, tepi di lain sisi membawa aspek negatif yang bisa sangat merusak. Akan tetapi dal tersebut kembali lagi pada SDM sebagi pengguna dari teknologi dan informasi itu sendiri. Dalam hal kenakalan remaja, perkembangan teknologi juga memiliki peranan penting dalam penyebaran aspek-aspek negatif globalisasi, bisa dikatakan perkembangan teknologi sebagai media pengantar pengaruh-pengaruh, aspek-aspek, maupun kebudayaan-kebudayaan negara lain, khusunya bangsa barat ke negara lainnya di dunia ini. Tak terkecuali Indonesia sebagai negara yang terletak di jalur perdagangan dan penerbangan dunia.

24

Teknologi yang semakin canggih dapat membawa hal apapun, dari manapun, ke manapun dengan cepat dan mudahnya. Berbagai kebudayaan dengan mudahnya menyebar dan diserap oleh bangsa lain baik positif maupun negatif. Dalam hal kenakalan remaja, teknologi telah membawa dampak sangat signifikan dalam perkembangan kenakalan remaja di Indonesia. Kebudayaan barat yang bersifat negatif dapat dengan mudah dan cepatnya masuk dan merusak kehidupan sosial masyarakat Indonesia, utamanya remaja. Baik media elektronik seperti televisi atau internet, maupun media cetak berupa koran dan majalah, banyak yang menampilkan dan membawa hal-hal yang negatif bagi kehidupan para remaja. Utamanya melalui internet, banyak remaja-remaja Indonesia yang menyalahgunakan perkembangan teknologi ini ke arah yang buruk. Contohnya dalam hal kekerasan remaja dan pornografi. Dua hal ini merupakan bentuk kebudayaan barat yang paling menonjol implikasinya dalam kehidupan remaja di Indonesia. Tak hanya melahirkan sebuah kenakalan, tapi juga menimbulkan efek kriminal bagi siapapun yang terjerat. Kita ketahui bersama, bahwa seiring canggihnya zaman, dua hal negatif tersebut semakin mudah pula terakses dan menyebar dalam kehidupan remaja Indonesia. Banyak remaja yang terjebak menyalahgunakan berbagai perkembangan teknologi tersebut untuk hal-hal yang justru merusak diri mereka sendiri. Situs-situs porno yang banyak berkembang di internet dapat dengan mudahnya diakses oleh siapapun, tayangantayangan televisi yang semakin berani menampilkan tayangan-tayangan bergenre kekerasan maupun pornoaksi, serta penyalahgunaan teknologi dalam hal pornografi, pornoaksi, maupun kekerasan semakin memerburuk aspek psikologis para remaja, yang sebagian besar terpengaruh dan tersalahgunakan akan hal-hal tersebut. Hasilnya banayk dari mereka yang tumbuh dewasa sebelum waktunya, dan tak sesuia dengan yang seharusnya. Berbagai kasus kenakalan bahkan kriminal pun banyak terimplikasi

25

di masyarakat, seperti; remaja yang melakukan hubungan sex diluar nikah, remaja yang terkena penyakit kelamin akibat sex bebas tanpa pengaman, remaja yang hamil diluar nikah, remaja yang melakukan aksi anarkis dan premanisme, tawuran antar pelajar, remaja yang vandalis, dll. Dua hal tersebut merupakan beberapa dari sekian banyak hal kebudayaan negatif barat yang masuk dan terimplikasi oleh para remaja melalui penyalahgunaan aspek globalisasi yakni perkembangan teknologi dan informasi. Muncul dan berkembangnya pemikiran-pemikiran dan mental yang liberalis dan hedonis Selain dua hal tersebut diatas, aspek negatif globalisasi yang bisa melahirkan kenakalan remaja masa kini lainnya yakni mulai muncul dan berkembangnya pemikiran-pemikiran sekuleritas dalam kehidupan sosial di masyarakat. Salah satu contoh dan bentuknya adalah “3F”, Food, Fashion, Film. 3hal ini merupakan salah satu bentuk sekuleritas hasil dari globalisasi. Meski tidak secara langsung, 3 hal ini bisa memengaruhi terjadinya kenakalan remaja masa kini. Kita dapat lihat dari bukti yang berkembang sekarang ini. Banyak para remaja Indonesia yang lebih tertarik oleh, makanan, mode, gaya dan film-film barat, ketimbang yang berasal dari negrinya sendiri. Mereka begitu mudahnya terbawa dan mengimplementasikan trend yang berkembang, seperti tak berkepribadian, mereka ikut saja apa yang dibawa oleh trend, selama itu berasal dari luar negeri. Banyak remaja Indonesia yang lebih tertarik makan-makanan fast food/junk food, seperti McDonald, KFC, CFC, dll, yang tidak baik bagi kesehatan ketimbang makanan dalam negeri yang sehat dan bergizi. Banyak pula remaja yang menjadi korban fashion yang pesat berkembang, pakaian ataupun gaya apa yang sedang trend, dengan mudahnya mereka ikuti, tanpa peduli apakah gaya ataupun pakaian yang mereka pakai itu sesuai dan cocok dengan norma-corma

26

yang sedang berlaku di negara kita atau tidak.Seperi pakaian mini, terbuka, ketat, tindik, tato dll. Selama itu beraasal dari luar negeri, semua dianggap sah-sah saja, benar-benar saja. Demikian pula dengan film, banyak remaja Indonesia yang tertarik dengan film-film barat ketimbang film-film domestic, padahal belum tentu film-film barat mengandung nilai-nilai baik sesuai dengan nilai-nilai kehidupan di negara ini, justru yang ada kebanyakan film-film barat menayangkan hal-hal yang bisa merusak dan memicu kenakalan remaja cukup besar, seperti pornografi, pornoaksi, kekerasan, vandalisme, dll. Berdasarkan bukti-bukti tersebut nampak terlihat pemikiran-pemikiran liberalis sudah merasuk pada sebagian besar remaja-remaja Indonesia. Mereka yang masih rentan dan labil dapat dengan mudahnya terpengaruh bahkan terdoktrin untuk mengikuti. Tentu saja dari 3F tersebut bisa memicu kenakalan remaja. Karena semakin banyak dan seringnya remaja Indonesia mengikuti perkembangan 3F tersebut, semakin kuat pula kepribadian dan pemikiran liberalisasi mereka terbentuk, hingga mereka tidak tahu lagi nilai-nilai dan norma-norma yang ada sesungguhnya di masyarakat, dan menganggap yang dia lakukan selau benar, sesuai paham sekuleritas. Hingga akhirnya pola hidup mereka menjadi pola hidup barat, yang tak hanya membawa segi positif, tapi juga segi-segi negatif yang bertentangan dalam nilai-nilai bermasyarakat Indonesia, dan tentunya tak hanya menghasilkan bentuk kenakalan remaja pada akhirnya bahkan kriminalitas pun bisa tercipta, akibat doktrinasi berlebihan secara tidak langsung dari globalisasi ini. Banyak contoh remaja yang seperti di jabarkan sebelumnya, mereka out of control dan terbawa pengaruhpengaruh luar, khususnya yang buruk. dan semua berawal adari hal-hal yang kecil dan tidak mereka sadari.

27

Akibat dari pemikiran sekuleritas berlebihan itu akan terbentuk dan lahirlah pemikiran hedonis (memuja kesenangan dan kenikmatan badani / duniawi). Hedonis sebagai bentuk tindak lanjut dari sekuler pun telah banyak berkembang di Indonesia. Bagi para remaja jelas hal ini saangat berbahaya dan sangat memicu lahirnya kenakalan remaja, karena pada dasarnya orang-orang hedonis, lebih mementingkan kehidupan duniawi dan kesenangan saja, dan cenderung menimbulkan citra hedonis = atheis. Bila hal tersebut merasuk pada diri remaja-remaj Indonesia, dipastikan tindak kenakalan remaja dan kriminalitas semakin meningkat. Karena pada dasarnya mereka akan melakukan apa saja yang menurut mereka itu indah, senang dan nyata, tak peduli akibat yang akan terjadi dari tindakan mereka, meskipun itu sangat bertentangan dengan tatanan nilai dan norma yang berlaku di masyarakat dan sangat merugikan bagi orang lain maupun lingkungan sekitarnya. Berbagai tindak kenakalan remaja sampai yang ekstrim pun bisa terjadi bila pemikiran hedonis merasuk dalam pemikiran para remaja Indonesia. Mulai dari tattoo, tindik, berbagai tindak vandalisme, premanisme, anarkis, free sex, judi, mabuk-mabukan sampai yang mengarah kriminalitas kelas berat seperti pembunuhan dan lainnya bisa terjadi. Itu sebabnya pemikiran liberal dan hedonis ini menjadi salah satu aspek negatif yang mendasar dari globalisasi dalam memengaruhi terjadinya kenakalan remaja.

III. 2. Faktor-Faktor dan Masalah-Masalah Penyebab Kenakalan Remaja
Kenakalan remaja biasanya dilakukan oleh remaja-remaja yang gagal dalam menjalani proses-proses perkembangan jiwanya, baik pada saat remaja maupun pada masa kanak-kanaknya. Secara psikologis, kenakalan remaja merupakan wujud dari

28

konflik-konflik yang tidak terselesaikan dengan baik pada masa kanak-kanak maupun remaja para pelakunya. Seringkali didapati bahwa ada trauma dalam masa lalunya, perlakuan kasar dan tidak menyenangkan dari lingkungannya, maupun trauma terhadap kondisi lingkungannya, seperti kondisi ekonomi yang membuatnya merasa rendah diri. Perilaku 'nakal' remaja bisa disebabkan oleh faktor dari remaja itu sendiri (internal) maupun faktor dari luar (eksternal).

A. Faktor-Faktor Penyebab Kenakalan Remaja
 Faktor Internal

Perilaku delinkuen pada dasarnya merupakan kegagalan sistem pengontrol diri anak terhadap dorongan-dorongan instingtifnya, mereka tidak mampu mengendalikan dorongan-dorongan instingtifnya dan menyalurkan kedalam perbuatan yang tidak bermanfaat. 1) Segi Psikologis Pandangan psikoanalisa menyatakan bahwa sumber semua gangguan psikiatris, termasuk gangguan pada perkembangan anak menuju dewasa serta proses adaptasinya terhadap tuntutan lingkungan sekitar ada pada individu itu sendiri, berupa: a) Konflik batiniah, yaitu pertentangan antara dorongan infatil kekanakkanakan melawan pertimbangan yang lebih rasional. b) Pemasakan intra psikis yang keliru terhadap semua pengalaman, sehingga terjadi harapan palsu, fantasi, ilusi, kecemasan (sifatnya semu tetapi dihayati oleh anak sebagai kenyataan). Sebagai akibatnya anak mereaksi dengan pola tingkah laku yang salah, berupa: apatisme, putus asa, pelarian diri, agresi, tindak kekerasan, berkelahi dan lain-lain.

29

c) Menggunakan reaksi frustrasi negatif (mekanisme pelarian dan pembelaan diri yang salah), lewat cara-cara penyelesaian yang tidak rasional, seperti: agresi, regresi, fiksasi, rasionalisasi dan lain-lain. Selain sebab-sebab diatas perilaku delinkuen juga dapat

diakibatkan oleh : a) Gangguan pengamatan dan tanggapan pada anak-anak remaja. b) Gangguan berfikir dan inteligensi pada diri remaja, hasil penelitian menunjukkan bahwa kurang lebih 30% dari anak-anak yang terbelakang mentalnya menjadi kriminal. c) Gangguan emosional pada anak-anak remaja, perasaan atau emosi memberikan nilai pada situasi kehidupan dan menentukan sekali besar kecilnya kebagahiaan serta rasa kepuasan. Perasaan bergandengan dengan pemuasan terhadap harapan, keinginan dan kebutuhan manusia, jika semua terpuaskan orang akan merasa senang dan sebaliknya jika tidak orang akan mengalami kekecewaan dan frustrasi yang dapat mengarah pada tindakan-tindakan agresif. Gangguangangguan fungsi emosi ini dapat berupa: inkontinensi emosional (emosi yang tidak terkendali), labilitas emosional (suasana hati yang terus menerus berubah, ketidak pekaan dan menumpulnya perasaan. d) Cacat tubuh, faktor bakat yang mempengaruhi temperamen, dan ketidak mampuan untuk menyesuaikan diri (Philip Graham, 1983). Seperti yang telah dijelaskan pada pembahasan sebelumnya, perilaku delinkuen merupakan kompensasi dari masalah psikologis dan konflik batin karena ketidak matangan remaja dalam merespon stimuli yang ada diluar dirinya. Pada remaja yang sering berkelahi, ditemukan

30

bahwa mereka mengalami konflik batin, mudah frustrasi, memiliki emosi yang labil, tidak peka terhadap perasaan orang lain, dan memiliki perasaan rendah diri yang kuat. 2) Segi Kepribadian

Faktor Pribadi yang kotor yang mengacu kepada orang yang akhlaknya atau sifat-sifatnya keji (mazmumah) seperti pemarah, tamak, dengki, pendendam, panas baran, sombong, tidak amanah dan lainnya. Keadaan ini terjadi kerana individu itu telah dikuasai oleh naluri agresif dan tidak rasional yang mewakili nafsu kehaiwanan, yang merupakan hasil daripada pengalaman buruk yang mendendam yang pernah diterimanya sejak kecil. Pribadi yang kotor mungkin telah bermula sejak kecil dan kemudian semakin menguat seiring anak itu beranjak remaja dan menjadi pemicu kenakalan remaja terjadi. Dengan kata lain kepribadian fitrah (baik) anak telah tertimpa oleh kepribadian kotor yang semakin menguat. Remaja yang tidak bisa mempelajari dan membedakan tingkah laku yang dapat diterima dengan yang tidak dapat diterima akan terseret pada perilaku 'nakal'. Begitupun bagi mereka yang telah mengetahui perbedaan dua tingkah laku tersebut, namun tidak bisa mengembangkan kontrol diri untuk bertingkah laku sesuai dengan pengetahuannya. G.W Allport mengatakan bahwa kepribadian adalah suatu organisasi yang dinamis pada sistem psikosomatis dalam individu yang turut menentukan caranya yang unik dalam menyesuaikan dirinya dengan lingkungannya. Dari uraian yang dikemukakan G.W. Allport bahwa kepribadian seseorang dapat menjadi penyebab melakukan kenakalan.

31

Contohnya: Kegiatan di masa remaja sering hanya berkisar pada kegiatan sekolah dan seputar usaha menyelesaikan urusan di rumah, selain itu mereka bebas, tidak ada kegiatan. Apabila waktu luang tanpa kegiatan ini terlalu banyak, pada si remaja akan timbul gagasan untuk mengisi waktu luangnya dengan berbagai bentuk kegiatan. Apabila si remaja melakukan kegiatan yang positif, hal ini tidak akan menimbulkan masalah. Namun, jika ia melakukan kegiatan yang negatif maka lingkungan dapat terganggu. Seringkali perbuatan negatif ini hanya terdorong rasa iseng saja. Tindakan iseng ini selain untuk mengisi waktu juga tidak jarang dipergunakan para remaja untuk menarik perhatian lingkungannya. Perhatian yang diharapkan dapat berasal dari orangtuanya maupun kawan sepermainannya. Celakanya, kawan sebaya sering menganggap iseng berbahaya adalah salah satu bentuk pamer sifat jagoan yang sangat membanggakan. Misalnya, ngebut tanpa lampu dimalam hari, mencuri, merusak, minum minuman keras, obat bius, dan sebagainya. 

Faktor Eksternal

Disamping faktor-faktor internal, perilaku delinkuen juga dapat diakibatkan oleh faktor-faktor yang berada diluar diri remaja, dan justru faktor-faktor eksternal ini memiliki akibat dan pengaruh yang lebih berbahaya bagi para remaja dalam hal kenakalan remaja, seperti: 1) Faktor Keluarga keluarga merupakan wadah pembentukan peribadi anggota keluarga terutama bagi remaja yang sedang dalam masa peralihan, akan tetapi apabila pendidikan dalam keluarga itu gagal akan terbentuk seorang anak

32

yang cenderung berperilaku delinkuen, semisal kondisi disharmoni keluarga (broken home), overproteksi dari orang tua, rejected child, dll. a) Broken Home dan Quasi Broken Home Keadaan rumah tangga yang berantakan dapat membawa pengaruh psikologis buruk bagi perkembangan mental dan pendidikan anak. Karena dasar pribadi anak terutama dibentuk dalam lingkungan keluarga. Jika kehilangan salah satu dari kedua orang tua atau kehilangan keduannya karena meninggal maupun bercerai dan lainlainnya, menyebabkan anak kehilangan contoh model orang dewasa. Kehilangan kasih sayang, kehilangan pendidik atau pemimbing yang sangat ia butuhkan. Menurut pendapat umum pada broken home ada kemungkinan besar bagi terjadinya kenakalan remaja, di mana terutama perseraian atau perpisahan orang tua memengaruhi perkembangan si anak. Keadaan yang tidak normal bukan hanya terjadi pada broken home, akan tetapi dalam masyarakat modern sering pula terjadi suatu gejala adanya “broken homosemu”, (quasi broken home) ialah, kedua orang tuanya masig utuh, tetapi karena masing-masing anggota keluarga (ayah dan ibu) memunyai kesibukan masing-masing sehingga orang tua tidak sempat memberikan perhatiannya terhadap pendidikan anakanaknya. Dalam situasi keluarga yang demikian anak muda mengaalami frustasi, mengalami konflik-konflik psikologis, sehingga keadaan ini juga dapat dengan mudah mendorong anak menjadi delinkuen. (Sudarsono, 2004: 126) b) Over proteksi dan perhatian orang tua

33

Memanjakan anak secara berlebihan dimana anak selalu mendapatkan segala sesuatu dari orang tuanya walaupun hal itu tidak sesuai dengan norma pendidikan. Tidak sedikitpun anak merasa kesulitan dalam hidupnya. Sikap perhatian orang tua yang berlebihan ini dapat menumbuhkan sifat malas, apatis kepada anak dalam menghadapi problema hidup yang sebenarnya sangat penting dan membantu bagi perkembangan dan kematangan anak itu sendiri. Sehingga anak tidak percaya akan dirinya, merasa dirinya berpribadi kecil. Akhirnya anak lebih cenderung kearah kenakalan (juvenile delinquency). Selain over perhatian, proteksi yang berlebihan oleh orang tua pun bisa memicu lahirnya kenakalan pada diri mereka. Sikap orang tua yang otoriter dan keras terhadap anaknya justru sangat berpotensi menimbulkan pergolakan mental dan batin yang sangat kuat dari si anak Anak akan sangat merasa tertekan dan berusaha lepas dari belenggu orang tuanya, dengan melakukan apapun yang bertentangan dari kehendak orang tua, dan anak yang seperti ini tidak akan peduli terhadap nilai-nilai yang dipaksakan oleh orang tuanya, meskipun nilai-nilai itu baik. Dia akan mencari tempat lain yang lebih nyaman dan bebas ketimbang kehidupan keluarga. Dan banyak pelampiasan dari otoritas keluarga ini adalah, bentuk-bentuk penyimpangan sosial yang berupa kenakalan. c) Rejected Childs Rejected Childs merupakan sebutan bagi anak-anak yang ditolak oleh orang tua mereka dan terbuang keberadaannya dari keluarga asalnya. Baik itu terbuang sewaktu masih kecil, maupun saat sudah beranjak

34

remaja. Kebanyakan anak-anak terbuang ini, bermotif sama, yakni tidak dinginkan keberadaannya oleh keluarga asalnya, sehingga mereka dibuang dan ditolak dari sebuah sistem sosial bernama keluarga. Bagi rejected childs, keluarga adalah suatu ironi, dan kemunafikan, tapi jufa keinginan dan harapan yang terdalam. Mereka terlepas dari sistem keluarga dan bertahan untuk hidup sendiri. Hal tersebut tentunya akan berdampak sangat buruk bagi psikologis mereka. Mereka harus menjadi dewasa sebelum waktunya, dan mengetahui kerasnya dunia sebelum waktunya. Tentunya bagi rejected childs, hal-hal negatif sudah bukan hal yang asing lagi, terlebih bagi mereka yang tumbuh besar di jalan. Tak adanya peran orang tua sebagai panutan dan kontrol pribadi tentunya sangat berpengaruh dalam perkenbangan psikologi dan panyerapan nilai-nilai yang ada. Selain karena faktor masa lalu yang buruk akan keluarga, kerasnya kehidupan yang harus dijalani sebelum wajtunya, bisa menjdi pengaruh sangat kuat remaja-remaja ini menjadi nakal bahkan kriminal. d) Pengaruh buruk dari orang tua Banyak orang tua yang tidak dapat berperan sebagai orang tua yang seharusnya. Mereka hanya menyediakan materi dan sarana serta fasilitas bagi si anak tanpa memikirkan kebutuhan batinnya. Orang tua juga sering menuntut banyak hal tetapi lupa untuk memberikan contoh yang baik bagi si anak. Sebenarnya kita melupakan sesuatu ketika berbicara masalah kenakalan remaja, yaitu hukum kausalitas. Sebab, dari kenakalan seorang remaja selalu dikristalkan menuju faktor

35

eksternal lingkungan yang jarang memerhatikan faktor terdekat dari lingkungan remaja tersebut dalam hal ini orangtua. Kita selalu menilai bahwa banyak kasus kenakalan remaja terjadi karena lingkungan pergaulan yang kurang baik, seperti pengaruh teman yang tidak benar, pengaruh media massa, sampai pada lemahnya iman seseorang. Padahal sangat mungkin kenakalan remaja yang terlahir berasal dari pengaruh buruk orang tuanya, berasal dari kenakalan orang tuanya sendiri. Kenakalan orangtua dalam ikatan keluarga Contohnya seperti : Suka berkata-kata kasar, suka menghujat atau memaki, mengajari anak untuk melakukan perlawanan ketika anak diganggu orang lain, suka menyakiti anak secara fisik dan psikis, merokok seenaknya di depan anak-anak, dl (masalah akhlak), mengabaikan pelaksanaan syariat, sholat, melalaikan sholat, bahkan tidak pernah sholat, membiarkan anak-anak gadisnya tidak menutup aurat, membiarkan anak-anaknya bergaul bebas (pacaran), membiarkan anak-anaknya minum-minuman keras, dll. Kenakalan orangtua di masyarakat Contohnya seperti : Berjudi, mabuk-mabukan, berzina, berghibah atau memfitnah,

menghambur-hamburkan uang dengan gaya hidup yang konsumtif, bergaya hidup mewah, menyediakan sarana kemaksiatan, ini misalnya, jadi bandar narkoba, jadi bandar judi, menyediakan tempat hiburan (diskotik), dll.

36

Kenakalan orangtua di pemerintahan Contohnya seperti : Suka korupsi, kolusi, nepotisme, mengeluarkan kebijakan yang bertentangan dengan hajat hidup orang banyak, suka melakukan pungli atau suap menyuap, suka melanggengkan kemaksiatan, memberi izin untuk usaha prostitusi/lokalisasi, perjudian, tempat diskotik, pabrik minuman keras, dengan dalih besar pemasukannya, menutup mata terhadap problem yang diakibatkan usaha prostitusi, perjudian, narkoba, peredaran minuman keras, diskotik, dll. Menerapkan aturan kehidupan yang tidak benar dan tidak baik, yakni KapitalismeSekularisme (termasuk juga Sosialisme-Komunisme). Semua pengaruh buruk orang tua tersebut dalam bentuk kesehariannya, baik langsung maupun tidak lansung akan

memengaruhi mental si anak, untuk melakukan keburukan yang sama dengan orang tuanya. Karena bagi mereka para remaja yang masih labil orang tua adalah panutan, apa yang dilakukan orang tua masih dianggap baik, padahal itu buruk. 2) Faktor Lingkungan Sekolah Sekolah sebagai tempat pendidikan anak-anak dapat menjadi sumber terjadinya konflik-konflik psikologis yang pada prinsipnya memudahkan anak menjadi delinkuen.. Pengaruh negatif yang menangani langsung proses pendidikan antara lain kesulitan ekonomi yang dialami pendidik dapat mengurangi perhatiannya terhadap anak didik. Pendidik / guru sering tidak masuk, akibatnya anak-anak didik terlantar, bahkan sering terjadi guru marah kepada muridnya. Biasanya guru marah apabila terjadi sesuatu

37

yang menghalangi keinfinannya tertentu. Dia akan marah, apabila kehormatan direndahkan, baik secara langsung maupun tisak langsung, atau sumber rejekinya dan sebangsanya dalam keadaan bahaya, sebagian atau seluruhnya atau lain dari itu. Selain itu lingkungan sekolah yang tidak menguntungkan, semisal: kurikulum yang tidak jelas, guru yang kurang memahami kejiwaan remaja, guru yang bersikap reject (menolak), sekolah atau guru yang mendisiplinkan anak didik dengan cara yang kaku dan tanpa menghiraukan perasaan anak dan sarana sekolah yang kurang memadai serta suasana sekolahan buruk, juga bisa menjadi pengaruh negatif perkembangan kenakalan remaja. Dewasa ini sering terjadi perlakuan guru yang tidak adil, hukuman atau sanksi-sanksi yang kurang menunjang tersapainya tujuan – pendidikan, ancaman yang tiada putus-putusnya disertai disiplin yang terlalu ketat, disharmonis antara peserta didik dan pendidik, kurangnya kesibukan belajar dirumah. Proses pendidikan yang kurang

menguntungkan bagi perkembangan jiwa anak kerap kali memberi pengaruh langsung ataupun tidak langsung terhadap peserta didik di sekolah sehingga menimbulkan kenakalan remaja (juvenile delinquency) seperti; anak suka membolos, segan atau malas belajar, melawan peraturan sekolah atau melawan guru, anak meninggalkan sekolah (drop-out) dan lain-lainnya Walaupun demikian faktor yang berpengaruh di sekolah bukan hanya guru dan sarana serta perasarana pendidikan saja. Lingkungan pergaulan antar teman pun besar pengaruhnya. Pergaulan dengan temanteman lainnya di sekolah juga menjadi faktor yang justru lebih kuat dari

38

faktor internal sekolah itu sendiri. Seperti kita ketahui, seiring dengan perkembanagn teknologi dan zaman sekatang ini, remaja-remaja semakin berani membebaskan dirinya dari sistem nilai yang ada, dan menimbulkan perilaku-perilaku menyimpang seperti kenakalan remaja. Banayak remaja yang menjadikan sekolah dan teman-teman sekolahnya sebagai tempat mereka bermaksiat, seperti judi, mabu-mabukan, merokok, bahkan melakukan pornoaksi dan pornografi pun,semua bisa dan banyak sudah terjadi di sekolah. pengaruh teman-teman sekolah memang sangat besar pengaruhnya terhadaap kenakalan remaja sekarang ini. Dan sekolah pun kini bukan hal yang terlarang bahkan tabu lagi bagi remaja masa kini untuk bertingkah semau mereka, termasuk bentuk kenakalan. 3) Faktor lingkungan sekitar /masyarakat (Milieu) Lingkungan merupakan faktor eksternal yang paling dominan dalam perkembangan kenakalan remaja masa kini. lingkungan pun memiliki pengaruh vital dalam pembentukan karakter remaja yang selanjutnya akan diperankan dalam proses sosialisasinya sebagai makhluk sosial, termasuk perannya untuk berbuat kenakalan atau tidak. Seseorang dapat menjadi buruk atau jelek karena hidup dalam lingkungan yang buruk (Eitzen, 1986:10). Lebih jauh dikritisi, kondisi semacam itu memungkinkan seseorang (baca: remaja) melakukan penyimpangan karena lingkungan telah mengalami disorganisasi sosial, sehingga nilai-nilai dan norma yang berlaku telah lapuk atau seakan tinggal nama/ sebagai simbol. Dengan kata lain, sanksi yang ada seolah sudah ‘tidak’ berlaku lagi. Lingkungan sekitar tidak selalu baik dan menguntungkan bagi pendidikan dan perkembangan anak. Lingkungan adakalanya dihuni oleh

39

orang dewasa serta anak-anak muda kriminal dan anti-sosial, yang bisa merangsang timbulnya reaksi emosional buruk pada anak-anak puber dan adolesen yang masih labil jiwanya. Dengan begitu anak-anak remaja ini mudah terjangkit oleh pola kriminal, asusila dan anti-sosial. Anak remaja sebagai anggota masyarakat selalu mendapat pengaruh dari keadaan masyarakat dan lingkungannya baik langsung maupun tidak langsung. Dalam hal kenakalan remaja, faktor lingkungan sekitar menjadi sangat dominan dalam penyebaran dan perkembangan berbagi bentuk kenakalan remaja. Para remaja yang memang belum memiliki jati diri dan masih labil, dapat dengan mudahnya terbawa pengaruh-pengaruh yang buruk. Motif dasar terjerumusnya para remaja ke jurang kenakalan remaja ini, berawal dari ikut-ikutan teman, coba-coba, dan mengikuti trend yang sedang berkembang atau tradisi buruk yang sudah ada. Bagi para remaja yang rentan dan tidak memiliki bekal pendidikan dan iman yang kuat, tentu akan dengan mudahnya terbawa pengaruh dari lingkungan sekitar. Pengaruh dunia luar, apalagi teman, memang sangat kuat daya tariknya bagi para remaja. Sebagian besar para remja terjerumus dalam kenakalan remaja akibat pengaruh teman. Di masa pertumbuhan seperti remaja, peranan teman memang sama kuatnya dengan orang tua, sebab bagaimanapun juga dengan teman dapat meningkatkan kemampuan bersosialisasi seorang anak. Akan tetapi tidak selamanya hal-hal yang positif yang bisa didapat, hal negatif pun dapat dengan mdahnya tersebar lewat sosialisasi dengan teman. Para remaja yang menganggap teman lebih baik dari keluarga, kebanyakan terbawa pengaruh pergaulan yang buruk.

40

Sifat yang masih labil dan keingintahuan yang besar seringkali tersalahgunakan akibat pengaruh dan pergaulan teman. Bermula dari cobacoba dan ikut-ikutan, hingga akhirnya para remaja tersebut benar-benar menjadi anak-anak yang nakal dan tidak segan melakukan penyimpanganpenyimpangan apapun. Banyak sudah contoh kenakalan remaja yang bermula dari pengaruh lingkungan sekitar, termasuk yang berawal dari teman. Mulai dari kenakalan yang berskala kecil seperti tindik, tato, merokok, sampai kenakalan yang berupa tindak kriminal seperti tawuran, narkoba dan sex bebas. Semua berbagai bentuk juvenile delinquency tersebut, dapat denagan mudahnya terasuk dan terimplikasi dalam diri para remaja, jika mereka tidak memiliki mental dan iman yang kuat. Pengaruh teman salah satunya, disertai dengan perkembangan zaman yang semakin cepat, termasuk membawa hal-hal negatif budaya barat, disertai dengan kerentanan dan kelabilan juga keingintahuan yang besar akan sesuatu yang baru dari para remaja. Membuka celah yang sangat besar bagi para remaja untuk melakukan juvenile delinquency bahkan menjadi seorang kriminal. 4) Faktor sosial budaya Faktor budaya adalah bagian dari faktor sosial sehingga sering disebut faktor sosial budaya. Di Indonesia kenakalan remaja umumnya terdapat di kota – kota teristimewa di kota yang besar seperti Jakarta, jarang terjadi di desa – desa walaupun akhir – akhir ini kenakalan remaja telah merambat ke daerah pedesaan juga. Penduduk di desa umumnya berstatus petani, budaya masyarakat desa umumnya monokultural (satu macam budaya) yang cukup kokoh dan

41

diturunkan melalui transmisi nenek moyang. Anak – anak secara dini membiasakan diri dengan berbagai kepercayaan budaya seperti pemujaan nenek moyang, pemujaan roh – roh dan benda – benda. Stimulasi budaya juga didapatkan dari permainan anak- anak. Dalam transmisi budaya seorang anak menerima budaya melalui instruksi, observasi dan imitasi. Berbeda dengan di daerah perkotaan, dengan cepatnya usaha pembangunan yang menggunakan teknologi modern, usaha industrialisasi yang pesat, mobilitas yang tinggi dan urbanisasi yang tidak terbendung sering menyebabkan kegoncangan – kegoncangan sosial disertai dengan frustasi dari anggota – anggota masyarakatnya. Penduduk perkotaan umumnya terdiri dari berbagai ragam budaya (multikultral) serta status sosial ekonomi yang berbeda - beda, sehingga menyulitkan di dalam melakukan kontrol sosial. Mobilitas yang tinggi memungkinkan

pertukaran budaya yang intensif yang akan mempengaruhi transmisi budaya keluarga terutama bagi anak remaja yang kepribadiannya sedang berkembang, mencari bentuk, sangatlah peka terhadap rangsangan – rangsangan dari lingkungannya dan kurang percaya pada diri sendiri hingga terbentuk kebiasaan melalui coba – coba (trial and error). Di dalam usaha melepaskan diri dari dunia anak – anak, umumnya remaja berkeinginan untuk melepaskan diri dari ketergantungan emosional terhadap orangtuanya dan lebih mendekati anak – anak sebaya dengan dirinya (peergroup). Apabila ikatan budaya keluarganya tidak kuat, maka remaja akan mendekati kelompok anak sebaya yang terdiri dari berbagai suku bangsa.

42

Faktor – faktor sosial budaya yang dapat menimbulkan konflik pada remaja: a) Timbul perbedaan besar antara budaya

keluarga dan pertukaran budaya dalam sikap dan nilai. b) Transmisi budaya keluarga sangat

minimal (komunikasi terhambat) orangtua acuh tak acuh terhadap tingkah anaknya (kurang korektif) c) Trasmisi budaya keluarga kadang –

kadang mengalami kesulitan karena kedua orangtua mempunyai kebudayaan yang berlainan (orangtua berasal dari suku yang berbeda) 5) Faktor ekonomi

Faktor ekonomi, juga menjadi salah satu faktor eksternal yang dominan dan tidak kalah penting dalam terciptanya kepribadian anak yang delinquent. Faktor ekonomi yang lemah dan sangat kurang, sangat berpotensi menimbulkan kenakalan dalam psikologis para remaja. Mereka para remaja yang berasal dari orang tua yang berekonomi lemah, kebanyakan terbawa pengaruh teman maupun trend perkembangan zaman yang semakin beragam, sehingga termotivasi untuk melakukan delinquent, maupun menjadi delinquent. Kebanyakan dari mereka berontak karena keinginan mereka akan sesuatu tidak bisa terpenuhi oleh orang tuanya yang berekonomi rendah, sehingga menimbulkan pikiran dan hasrat lain untuk menggapai yang diinginkannya itu, dan mayoritas, para remaj yang berasal dari kalangan ekonomi ke bawah ini, melampiaskannya dalam bentuk kenakalan berupa mencuri, merampok, atau yang lainnya. Mereka beralih melakukan

43

tindakan menyimpang tersebut karena motivasi untuk memiliki sesuatu telah menutupi akal sehat mereka, didorong dengan keadaan keluarganya yang kurang mampu. Pengaruh teman juga sama besarnya, kebanyakan remaja yang kurang mampu ini, termotivasi oleh teman untuk bisa sama seperti mereka, atau memiliki sesuatu yang sama seperti teman mereka yang notabene misalkan orang mampu. Tanpa pikir panjang, kebanyakan para remaja ini mementingkan hasrat mereka ketimbang kenyataan yang mereka sudah terima. Tak hanya berasal dari kalangan ekonomi menengah ke bawah, para remaja yang berasal dari kalangan ekonomi menengah ke atas, juga bisa menjadi remaja delinquent, akibbat terlalu lemahnya pribadi mereka dengan status ekonomi keluarganya yang mapan. Kebanyakan remaja delinquent yang berasal dari kalangan menengah ke atas, tromotivasi menjadi delinquent, karena berbagai hal , seperti, disintegrasi keluarga, pengaruh teman, kurang perhatian, dan sombong serta apatis. Kebanyakan para remaja kelas atas, memanfaatkan kekayaan orang tuanya untuk apapun yang ingin dilakukannya, termasuk hal itu salah. Hal tersebut semakin didukung oleh basic orang tua mereka yang terlewat sayang atau mungkin kurang perhatian dengan para anak-anaknya, serta pengaruh teman dan leingkungan sekitar yang buruk, sehingga semakin

meningkatkanmtivasi untuk menjadi delinkuen. Selain masih ada berbagai motif lain yang melatari lahirnya kenakalan remaja dari faktor ekonomi ini. 6) Faktor media elektronik

44

Tv, video, film dan sebagainya nampaknya ikut berperan merusak mental remaja, padahal mayoritas ibu-ibu yang sibuk menyuruh anaknya menonton tv sebagai upaya menghindari tuntutan anak yang tak ada habisnya. Sebuah penelitian lapangan yang pernah dilakukan di Amerika menunjukkan bahwa film-film yang memamerkan tindak kekerasan sangat berdampak buruk pada tingkah laku remaja. Anak yang sering menonton film-film keras lebih terlibat dalam tindak kekerasan ketika remaja dibandingkan dengan teman-temannya yang jarang menonton film sejenis. Polisi Amerika menyebutkan bahwa sejumlah tindak kekerasan yang pernah ditangani polisi ternyata dilakukan oleh remaja persis sama dengan adegan-adegan film yang ditontonnya. Ternyata anak meniru dan mengindentifikasi film-film yang ditontonnya. Di Indonesia pun faktor film maupun juga sering melatari berbagai kenakalan remaja yang ada. Kebanyakan dari para remaja di Indonesia terindikasi dan termotivasi dari banyak acara di televisi maupun di film, untuk melakukan kenakalan remaja. Bagi para remaja dengan mengikuti berbagai hal yang ada di Tv, video, maupun film, mereka akan termotivasi dan merasa labih abik, merasa keren, dan merasa hebat, padahal kenyataannya itu hanya sebuah fiktif yang bahkan mungkin berdampak negatif bagi mereka dan belum tentu bagus juga bagi mereka yang

mengikutinya. Bila tidak di tanggulangi faktor ini akan sangat berdampak buruk bagi kehidupan remaja. Remaja bisa menjadi lebih dari sekedar delinquent, akibat pengaruh Tv dan sejenisnya. Mereka bisa menjadi kriminal bahkan psycho psikopat karena acara-acara yang buruk ditonton oleh mereka, karena Tv, film, maupun video bisa dengan cepatnya dan

45

ampuhnya memiliki pengaruh besar untuk merombak dan menyimpangkan paradigma dan kepribadian remaja ke arah dan bentuk yang lain dari yang seharusnya.

B. Masalah-Masalah Penyebab Kenakalan Remaja
Masalah-masalah yang sering dihadapi remaja masa kini antara lain : a) Kebutuhan akan figur teladan : remaja

jauh lebih mudah terkesan akan nilai-nilai luhur yang berlangsung dari keteladanan orang tua mereka daripada hanya sekedar nasihat-nasihat bagus yang hanya kata-kata indah. b) Sikap apatis : sikap apatis merupakan

kecenderungan untuk menolak sesuatu dan pada saat yang bersamaan tidak mau melibatkan diri di dalamnya. Sikap apatis ini terwujud di dalam ketidakacuhannya akan apa yang terjadi disekitarnya. c) Kecemasan dan kurangnya harga diri :

kata stress atau frustasi semakin umum dipakai kalangan remaja. Banyak kaum muda yang mencoba mengatasi rasa cemasnya dalam bentuk “pelarian” (memburu kenikmatan lewat minuman keras, obat penenang, seks dan lainnya). d) Ketidakmampuan untuk terlibat :

kecenderungan untuk mengintelektualkan segala sesuatu dan pola pikir ekonomis, membuat para remaja sulit melibatkan diri secara emosional maupun efektif dalam hubungan pribadi dan dalam kehidupan di masyarakat. Persahabatan dinilai dengan untung rugi atau malahan dengan uang. e) Perasaan tidak berdaya : perasaan tidak

berdaya ini muncul pertama-tama karena teknologi semakin menguasai gaya

46

hidup dan pola berpikir masyarakat modern. Teknologi mau tidak mau menciptakan masyarakat teknokratis yang memaksa kita untuk pertama-tama berpikir tentang keselamatan diri kita di tengah-tengah masyarakat. Lebih jauh remaja mencari “jalan pintas”, misalnya menggunakan segala cara untuk tidak belajar tetapi mendapat nilai baik atau ijasah. f) Pemujaan akan pengalaman : sebagian

besar tindakan-tindakan negatif anak muda dengan minumam keras, obatobatan dan seks pada mulanya berawal dari hanya mencoba-coba. Lingkungan pergaulan anak muda dewasa ini memberikan pandangan yagn keliru tentang pengalaman.

III. 3. Kaitan Jenis dan Bentuk Kenakalan Remaja dalam Perkembangan Globalisasi
Seperti kita sudah ketahui sebelumnya, globalisasi telah banyak membawa pengaruh dalam kehidupan sosial masyarakat Indonesia, khususnya pengaruh dalam perkembangan kenakalan remaja di Indonesia. Seiring berkembangnya jaman dengan globalisasi, kenakalan remaja di Indonesia semakin berkembang dan bervariasi bentuk serta macamnya. Baik itu kenakalan remaja bersifat individual maupun yang bersifat berkelompok. Masuk dan berkembangnya pola kehidupan budaya barat sebagai aspek negatif globalisasi berbanding lurus dengan perkembangan kenakalan-kenakalan dan perilaku-perilaku menyimpang yang dilakukan oleh para remaja. Berbagai bentuk kenakalan maupun penyimpangan remaja yang sebelumnya belum pernah ada maupun tidak terangkat dalam implementasi dan implikasinya, kini justru semakin berkembang, bervariasi dan pesat bermunculan dalam kehidupan sosial masyarakat Indonesia. Para remaja zaman sekarang seakan tak memiliki batasan nilai dan norma

47

khususnya dari dalam dirinya sendiri, untuk tidak bertindak hal-hal yang menyimpang dari masyarakat. Mereka seakan tidak malu, dan tidak peduli akan tata sosial yang ada, dan begitu mudahnya terbawa pengaruh buruk globalisasi tersebut. Diantaranya berbagai bentuk dan variasi kenakalan remaja masa kini sebagai implikasi dari perkembangan globalisasi yang ada, sebagai berikut : 1. Narkoba Narkoba merupakan suatu bentuk kenakalan bahkan tindak kriminal sebagai bentuk implikasi dari aspek negatif globalisasi berupa pola kehidupan budaya barat. Dalam hal kenakalan remaja, narkoba bisa terbilang baru dalam perkembangannya di Indonesia. Meskipun sebelum era reformasi, mungkin penggunaan narkoba sudah ada, tapi tidak separah dan semeledak penggunaan narkoba masa kini. Faktor globalisasi yang merupakan tuntutan tak terhindarkan, turut membawa pengaruh besar narkoba dalam tata kehidupan sosial masyarakat Indonesia, khususnya para remaja. Setelah reformasi terlebih measuki era millennium, narkoba semakin marak di Indonesia, dan pengguna terbesar dari barang haram ini adalah remaja. Tak hanya sebagai pengguna, tapi juga para remaja masa kini telah berani menjadi pengedar barang haram tersebut. Berdasarkan data, pengguna narkoba di Indonesia hampir 80% berasal dari kalangan remaja dan anak-anak, sementara sisanya dari kalangan dewasa. Itu merupakan suatu bukti otentik, bagaimana rusaknya moral generasi penerus bangsa Indonesia ini akibat narkoba. Tak hanya berupa kenakalan remaja, narkoba juga bahkan dapat melahirkan berbagai bentuk kenakalan remaja yang lain. mulai dari vandalisme, perilaku seksual, mabuk-mabukan, kekerasan dan lain-lain. Narkoba merupakan salah satu bentuk variasi baru dalam perkembangan kenakalan remaja di Indonesia akibat pengaruh globalisasi saat ini Dalam

48

beberapa daasa warsa terakhir ini penggunaan narkoba di kalangan remaja semakin meningkat pesat. Khusus di Indoesia keadaan ini kerap kali melanda anak-anak remaja di kota-kota besar. Jika ditelusuri secara cermat memang sangat sulit untuk mancari korelasi timbulnya kasus penggunaan narkoba oleh anak remaja dengan kondisi-kondisi tertentu. Para remaja masa kini banyak yang terjerumus ke dalamnya karena berbagai motif yang melatari, mulai dari sekedar coba-coba, pengaruh pihak lain, maupun sebagai bahan pelarian. Dan dalam perkembangannya kenakalan remaja berupa narkoba sangat berpoternsi besar untuk semakin berkembang dan bertambah, utamanya merusak generasi remaja bangsa ini, bila tidak ditindak lanjuti dengan tepat dan berkala. Karena peranan narkoba di masa kini semakin mengakar dan vital bagi kerusakan bangsa ini, utamanya para remaja. Siapapun dapat terpengaruh dan terjangkit virus narkoba ini, khususnya para remaja. 2. Perilaku seksual bebas / Asusila Seiring berkembangnya waktu dan zaman, para remaja masa kini semakin berani mengekspresikan diri mereka, salah satunya dalam hal kebutuhan biologis. Hal ini semakin tersokong oleh adanya perkembangan zaman berupa globalisasi, yang tak hanya membawa dampak positif, tapi juga negatif bagi remaja. Perkembangan teknologi pun kini banyak disalahgunakan sebagai media perusak moral berupa hal-hal anti-susila. Perilaku seksual bebas, merupakan salah satu bentuk kenakalan remaja hasil adaptasi globalisasi di bangsa ini. Masuknya budaya-budaya barat yang tidak relevan dengan nilai sosial masyarakat Indonesia, telah memicu pergolakan moral dan perilaku masyarakat di Indonesia, khususnya remaja. Pornoaksi dan pornografi yang semakin marak saat ini di berbagai media informasi, serta mudahnya akses untuk masuk dan mendapatkannya, banyak

49

disalah gunakan oleh para remaja masa kini sebagai suatu bentuk pembelajaran mereka. Ditambah berkembangnya paham-paham liberalisme dalam kehidupan sosial yang mengutamakan kebebasan, serta panyalahgunaan perkembangan teknologi yang semakin canggih untuk hal-hal yang anti susila semakin melahirkan kebebasan para remaja untuk berekspresi negatif berupa kenakalan remaja. Seperti kita ketahui saat ini banyak sekali perilaku seksual bebas yang dilakukan para remaja di Indonesia. Di usianya yang masih muda, mereka sudah berani beraksi layaknya orang dewasa berhubungan biologis. Melakukan hubungan seks diluar nikah, bercumbu di depan umum, bertindak anti-susila tanpa batas, merupakan diantara bentuk-bentuk kenakalan remaja berupa perilaku seksual bebas ini. Dalam beberapa tahun terakhir ini berbagai kasus tindakan asusila banyak merebak di masyarakat, utamanya video-video porno yang banyak dilakukan para remaja pelajar di Indonesia. Mereka telah berani menyalahgunakan tyeknologi demi perbuatan biologis yang terbentuk akibat dampak negatif perkembangan teknologi itu sendiri. Selain itu kasus seks bebas yang dilakukan para remaja pun semakin berkembang dimana saja. Berdasarkan data dari sebuah LSM, perkembangan perilaku asusila di Indonesia kian memrihatinkan. Jakarta, Yogyakarta, Bandung dan Papua, tercatat sebagai kota-kota besar di Indonesia yang memiliki tingkat perilaku asusila tertinggi di Indonesia. Dan sebagian besar pelakunya berasal dari kalangan pelajar dan mahasiswa. Hal tersebut merupakan suatu bukti bahwa bentuk negatif berupa pola kehidupan budaya barat telah merasuk pada diri remaja-remaja Indonesia, bahkan dianggap oleh mereka sebagai hal yang lumrah dan trendi. Tentunya bukan tanpa akibat kenakaln remaja yang satu ini, perilaku seksual bebas dapat sangat berpengaruh bagi masa depan para

50

remaja, mereka bisa kehilangan masa depan mereka, akibat ; hamil diluar nikah, terjangkit penyakit kelamin, terasingkan dari kehidupan sosial, dikeluarkan dari sekolah. 3. Kekerasan remaja Dewasa ini kekerasan oleh para remaja semakin banyak bermunculan di masyarakat. Para remaja masa kini seakan sangat mudah terpengaruh dengan berbagai hal yang masuk, khususnya yang berasal dari budaya barat. Kekerasan salah satunya. Dengan berkembangnya globalisasi dan masuknya budaya barat, kehidupan sosial para remaja pun perlahan-perlahan mengikuti gaya hidup barat tersebut, tak peduli baik atau buruk perilaku tersebut. Kekerasan yang sangat tidak identik dengan budaya kita sebagai bangsa timur, kini nampaknya semakin menguat implikasinya dalam kehidupan sosial, tak hanya orang dewasa, tapi juga remaja bahkan anak-anak kini mudah tersulut pikiran dan tindakannya dalam bentuk kekerasan. Masuknya budaya barat berupa kekerasan ini, terimplikasi cukup baik dalam kehidupan sosial di Indonesia. Khususnya para remaja yang masih labil, sangat mudah tersulut amarah hingga melakukan aksi anarkisme dan violenisme seenaknya. Bagi sebagian remaja yang berpikiran pendek, hanya dengan kekerasan permasalahan bisa selesai, kekerasan merupakan jalan terbaik untuk menyelesaikan suatu masalah, atau bahkan kekerasan merupakan suatu bentuk selebrasi dari kesengangan akan sesuatu. Kenakalan remaja berupa kekerasan bagi para remaja Indonesia sudah terimplementasi dalam bentuk yang lebih kompleks lagi yakni vandalisme. Maraknya acara-acara maupun film-film yang berisikan kekerasan maupun vandalisme di Tv maupun internet, juga sangat memengaruhi kepribadian para remaja kearah yang negatif, kebanyakan mereka mencontoh tindakan tersebut,

51

karena menurut mereka itu adalah hal yang hebat dan luar biasa dan patut ditiru. Salah satu contohnya adalah tawuran para pelajar di Indonesia ini. Tawuran merupakan bentuk kekerasan yang dilakukan oleh para remaja ini, tak hanya atas nama kemarahan saja mereka tawuran, bahkan untuk sesuatu yang senang, mereka menyerang sekolah lain untuk bertawuran. Selain berkelahi para remja ini juga sering kali bertindak vandalis seenaknya, mereka mencorat-coret sarana umum, merusak sarana umum dengan kasar, menghancurkan berbagai fasilitas umum, selagi mereka bertawuran. Memang tak bisa dipungkiri penyalahgunaan teknologi sekarang ini sangat memengaruhi kekerasan di kalangan remaja. Contoh lainnya adalah banyak beredarnya video-video berisi kekerasan yang dilakukan para remaja putri di beberapa daerah di Indonesia, entah apa sebabnya, mereka bertindak anarkis terhadap teman mereka sendiri dan merekamnya. Ironisnya bukan sebagai pelajaran, justru rekaman-rekaman kekerasan itu menjadi motivasi remaja lain untuk membuat hal yang sama bahkan lebih sadis seperti sebelumnya. Bertindak anarkis kemudian menyalahgunakan teknologi sebagai media nya. Hal tersebut merupakan salah satu bukti tumbuh suburnya kekerasan di budaya bangsa generasi remaja kita. 4. Mabuk-mabukan Kehidupan budaya barat lainnya yang menjadi aspek negatif dari perkembangan globalisasi di Indonesia, yakni minuman keras / mabuk-mabukan. Marak berkembangnya peredaran dan penjualan minuman keras di masyarakat akhir – akhir ini juga telah banyak disalahgunakan oleh sebagian remaja di negeri ini. Kebanyakan dari mereka menjadikan minuman beralkohol sebagai pelampiasan manakala mereka sedang sedih maupun senang, faktor coba-coba dan pengaruh teman pun cukup besar memengaruhi kenakalan remaja ini. Sama halnya dengan

52

narkoba, alcohol pun bisa melahirkan kecanduan yang sangat, remaja yang sudah terjangkit virus minum-minuman keras, akan selau ketergantungan dalam aktifitas kehidupannya. Tentunya hal tersebut sangat berdampak negatif bagi para remaja, selain bisa menimbulkan banyak penyakit, dan merusak tubuh mereka yang masih muda, mendewasakan sebelum waktunya tanpa alamiah, merusak otak dan pikiran. Mabuk-mabukan minuman keras juga bisa melahirkan berbagai kenakalan remaja lainnya bahkan tindakan kriminal, berawal dari mabuk, orang bisa melakukan apapun dibawah ketidaksadaran mereka, vandalisme, berkata kasar, pornoaksi, sex bebas, bahkan narkoba, semua bisa terjadi akibat mabuk minuman keras, sama seperti narkoba. Itu sebabnya minuman keras dan narkoba merupakan dua bentuk kenakalan remaja terbahaya bagi perkembangan fisik dan mental para remaja, karena dua hal ini, seorang remaja bisa melakukan berbagai penyimpanganpenyimpangan lainnya bahkan tindak kriminal seperti pembunuhan serta terjerumus dalam berbagai jurang kehancuran dosa dunia. 5. Tato dan Tindik Tato dan tindik merupakan suatu pola hidup masyarakat barat yang kini semakin berkembang di kalangan remaja Indonesia. Mereka masuk ke Indonesia tentunya melalui globalisasi yang terus berkembang di Indonesia. Bagi masyarakat barat yang menganut sekuleritas dan kebebasan, Tato dan tindik dianggap sebagai suatu lambang kebebasan berekspresi mereka. Dalam konteks kenakalan, tato maupun tindik bisa tergolong kenakalan, sebab bertentangan dengan nilai-nilai sosial dan agama yang berkembang di Indonesia. Tato maupun tindik umumnya di Indonesia, identik dengan hal-hal yang menyimpang dari kebiasaan moral yang ada. Mereka yang bertindik maupun bertato dianggap memberontak dari sistem

53

nilai yang sudah ada di masyarakat, dan bila tato maupun tindik dilakukan oleh remaja akan cenderung melahirkan identitas buruk bagi remaja itu sendiri. Dalam perkembangannya. tato maupun tindik menjadi pro-kontra di negara ini, muncul komunitas masyarakat yang melumrahkan penggunaan tato dan tindik, tapi sebagian besar masyarakat Indonesia masih menolak, dan dianggap

penyimpangan Bagi para remaja di Indonesia kehadiran dan perkembangan tato dan tindik, justru menarik minat mereka untuk mencobanya. Tak sedikit remaja yang bertato bahkan bertindik. Masyarakat pun memiliki penilaian tersendiri terhadapnya, ada yang setuju, tapi lebih banyak yang tidak setuju. Mengapa tato maupun tindik dimasukkan sebagai bentuk kenakalan remaja?. Karena tato dan tindik merupakan penyimpangan dari tata nilai sosial dan utamanya agama yang ada di Indonesia. Remaja yang bertindik atau bertato, cenderung tidak mendapat respect dari masyarakat umumnya, dalam hal apapun, khususnya pekerjaan, mereka dianggap “rebel” dan nakal dalam kehidupannya dan cenderung anarkis dalam tindakannya. 6. Berkata-kata kasar Bentuk kenakalan remaja lainnya yang juga merupakan hasil perkembangan globalisasi, yakni berbicara kasar dan kotor. Seperti kita ketahui salah satu kebudayaan barat yang negatif adalah kata-kata kasar, dalam hal apapun orangorang barat bisa dengan mudahnya berkata kasar. Hal tersebut dimplementasikan oleh banyak remaja masa kini. Remaja-remaja masa kini seakan dengan mudah dan bebasnya berkata-kata kasar dalam konteks apapun dalam keseharian mereka, mereka bebas menyertakan kata-kata kasar tak hanya saat mereka marah, tapi juga bahkan saat senang maupun situasi normal dalam percakapan mereka. Bagi

54

mereka hal tersebut sudah menjadi hal yang lumrah dan biasa, karena memang tak hanya para remaja tapi juga semua lapisan masyarakat di Indonesia khususnya, bebas meggunakan berbagai kata kasar dalam keseharian mereka. Meskipun biasa dan kecil, tapi berkata-kata kasar juga termasuk dalam kenakalan remaja, karena juga merupakan suatu tindak penyimpangan, terlepas dari bisa diterima atau tidaknya penyimpangan tersebut.

III. 4. Bentuk dan Macam Solusi Penanggulangan Kenakalan Remaja
Kenakalan remaja merupakan suatu problematika sosial yang membutuhkan penanngulangan berkalan dan kontinu, tak cukup hanya sekali untuk mengatasinya. Ini bagaikan suatu efek samping yang pasti ada dari kehidupan manusia di dunia. Sehingga lebih tepat penanggulangan yang ada berikut ini hanya sebatas langkah preventif dan minimalisir dari kenakalan remaja yang ada. Karena sebagai suatu resiko dan efek samping dari kehidupan, keberadaan kenakalan remaja akan selalu ada kapanpun, dimanapaun, oleh siapapun di kehidupan sosial manusia di dunia ini.

A.
a)

Remaja Intern
Remaja hendaknya selalu memperkuat iman dan takwanya

terhadap agama, sehingga bias menjadi benteng dasar dari berbagai bentuk tindakan kenakalan maupun criminal. b) Remaja harus bisa mendapatkan sebanyak mungkin figur

orang-orang dewasa yang telah melampaui masa remajanya dengan baik juga mereka yang berhasil memperbaiki diri setelah sebelumnya gagal pada tahap ini. c) Remaja harus membentuk ketahanan diri agar tidak mudah

55

terpengaruh jika ternyata keluarga (orang tua ), teman sebaya atau komunitas yang ada tidak sesuai dengan harapan. d) Remaja harus pandai memilih teman dan lingkungan yang baik

untuk diajak bergaul. e) Remaja harus bisa kreatif dan inovatif, serta penuh percaya diri

dalam perkembangan kepribadian mereka.

B.
Keluarga

Lingkungan Keluarga
merupakan lingkungan pendidikan yang primer dan bersifat

fundamental. Disitulah remaja dibesarkan, memperoleh penemuan-penemuan, belajar dan berkembang. Bermodalkan pengalaman-pengalaman yang

diperolehnya dalam keluarga inilah bergantung kelangsungan hidupnya. Tidak hanya remaja yang belajar menghadapi kehidupannya yang “baru” tetapi orang tua juga perlu banyak belajar menghadapi perubahan-perubahan dan menemukan cara terbaik untuk menghadapinya. Orang tua sebaiknya mempersiapkan diri untuk mengenal lebih jauh dalam membimbing anaknya saat masa remaja : a) Kenali mereka lebih dekat yaitu informasi mengenai remaja dan

perubahan-perubahan yang terjadi di dalam dirinya. b) anak. c) Kenali perubahan emosi remaja dan caranya mencari perhatian Kenali perubahan fisik pada remaja dan dampaknya terhadap diri

orang tua serta reaksi emosinya dalam menghadapi masalah. d) Menciptakan hubungan komunikasi yang harmonis, nyaman dan

penuh kasih sayang bagi remaja, membentuk kebiasaan-kebiasaan yang

56

positif, memberlakukan aturan dalam keluarga, menyikapi “kesalahan” anak, “mengambil hati” anak dan “mencuri perhatian” anak. e) Kenali perubahan lingkungan misalnya peran gender serta rasa

keadilan antara pria dan wanita; teman dan permasalahannya; naksir, ditaksir dan pacaran. f) Berilah pengertian mengenai masalah-masalah seksualitas,

kelainan seksual dan pengaruh buruk yang ada di masyarakat, secara terbuka, sabar, dan bijaksana kepada para remaja. g) Adanya motivasi dari keluarga untuk mendapatkan sebanyak

mungkin figur orang-orang dewasa yang telah melampaui masa remajanya dengan baik juga mereka yang berhasil memperbaiki diri setelah sebelumnya gagal pada tahap mencapai identitas peran dan lemahnya kontrol diri h) mengarahkan untuk mempunyai teman bergaul yang sesuai,

orangtua hendaknya juga memberikan kesibukan dan mempercayakan sebagian tanggung jawab rumah tangga kepada si remaja tidak dengan pemaksaan maupun mengada-ada i) Dalam hal ilmu pengetahuan, arahkanlah agar anak memilih

jurusan sesuai dengan kesenangan dan bakat anak, bukan semata-mata karena kesenangan orang tua. j) Arahkan anak untuk menyenangi dan mengembangkan bakat dan

keinginannya dalam hal yang baik, jangan memberi tekanan pada anak. k) Anak hendaknya diberi pengarahan tentang idealisme dan

kenyataan. Anak hendaknya ditumbuhkan kesadaran bahwa kenyataan sering tidak seperti harapan kita, sebaliknya harapan tidak selalu menjadi kenyataan.

57

l)

orangtua

hendaknya

bersikap

seimbang,

seimbang

antara

pengawasan dengan kebebasan. m) Orangtua hendaknya memberikan pengertian dan teladan dalam

menekankan bimbingan serta pelaksanaan latihan kemoralan. n) Menumbuh kembangkan perasaan malu dan takut melakukan

perbuatan yang tidak baik ataupun berbagai bentuk kejahatan inilah yang akan menjadi 'pengawas setia' dalam diri setiap orang, khususnya para remaja. o) Saat ataupun setelah melakukan kenakalan berikanlah saran agar

dia tidak melakukan maupun mengulangi perbuatan itu lagi. Bila tidak mempan diberi saran, berilah hukuman yang mendidik bila perbuatan itu tetap diulang. Usahakan dengan berbagai cara agar anak tidak lagi mengulangi perbuatan yang tidak baik itu. p) anaknya q) Orang tua hendaklah berlaku adil tanpa pilih kasih terhadap anakmemberikan uraian tentang akibat perbuatan buruk yang dilakukan

anaknya, menerima anak apa adanya tanpa syarat dan pengecualian, walau si anak nakal sekalipun. r) Orang tua hendaknya memilih dan mengawasi tayangan yang baik

dan bermanfaat bagi perkembangan anak remaja mereka. s) Mendisiplinkan anak dengan kasih sayang untuk mengefektifkan

melatih dan memastikan anak mematuhi peraturan tertentu. t) Memberi kesempatan dan kebebasan pada anak untuk terbuka

dalam hal apapun terhaadap orang tua, termasuk dalam hal permasalahan yang menyangkut kenakalan.

58

u)

Memberikan solusi-solusi dan motivasi terhadap permasalahan

yang sedang dihadapi si anak. v) Hendaknya orang tua sabar dalam membimbing anak-anak

remajanya, tanpa bersikap otoriter terhadap anak dalam hal apapun. Selain itu Keluarga sebagai lembaga pendidikan primer dan fundamental harus memiliki peranan ; a) Keluarga sebagai pusat pendidikan : disini orang tua berperan

dalam pembentukan kepribadian remaja karena orang tua mendidik, mengasuh dan membimbing remajanya untuk hidup di dalam masyarakat. b) Keluarga sebagai pusat agama : dalam hal ini orang tua memiliki

peranan yang sangat vital, aagaama merupakan suatu pondasi dasar dari kepribadian seorang remaja. Penanaman, pengembangan, dan

pengimplementasian nilai-nilai keimanan dan ketakwaan wajib hukumnya bagi orang tua, sebagai suatu indikator moral seorang anak. c) Keluarga sebagai pusat ketenangan hidup : dalam mempertahankan

hidupnya sering orang mengalami gangguan pikiran, menemui frustasi dan untuk mendapatkan kekuatannya kembali maka keluarga adalah pangkalan yang paling vital.

C.
a)

Lingkungan Sekolah
Sekolah sebagai pusat pendidikan bagi siswa

dalam rangka menimba pengetahuan, keterampilan seni budaya, olahraga serta meningkatkan budi pekerti yang luhur, untuk ini diperlukan sarana dan prasarana yang memadai serta perlu diciptakan lingkungan yang bersih, sehat, tertib serta aman agar dapat menunjang keberhasilan PBM karena itu guru perlu dapat menciptakannya.

59

b)

Sekolah juga wajib memberikan pendidikan

agama lanjutan setelah keluarga, sebagai indikator pengimplementasian nilai-nilai moral dan agama pada siswa (anak remaja), karena sekolah merupakan tempat kedua remaja sering dan mudah berinteraksi dengan berbagai hal termasuk yang buruk. c) Lingkungan sekolah yang sehat dan dinamis. Guru

adalah orangtua siswa di sekolah karena itu perlu adanya sikap berdialog guru dengan siswa tentang berbagai hal khusus tentang masalah belajar sehingga keberhasilan dalam belajar dapat tercapai. d) Bagi guru layak bersikap objektif terhadap semua

siswa di kelas, jika ada kebiasaan / sifat yang dapat mengganggu interaksi guru dan siswa atau emosional di dalam kelas, selayaknya cepat diubah dan di perbaiki. e) Perhatian guru terhadap siswanya diupayakan agar

dapat mengetahui kelemahan siswa dalam banyak aspek terutama dalam proses belajar dan pergaulan yang sehat sehingga guru menadapat cara yang paling baik untuk menolong dan mengatasi kesulitan lainnya siswanya. f) Motivasi belajar siswa timbul dari dirinya sendiri

sehingga siswa dapat belajar dengan tertib, patuh pada peraturan yang ada di sekolah dan tidak terpengaruh oleh hal – hal yang negative g) Program sekolah yang terpadu. Diberikan kegiatan

intrakurikuler dan ekstrakurikuler secara terpadu. Melalui kegiatan pramuka, olahraga, kesenian, karya wisata, pencinta alam dan sebagainya,

60

dapat memberikan aktivitas yang sehat dan dinamis serta bekal untuk masa depannya.

D.
a)

Lingkungan Masyarakat
Pengadaan karang taruna, remaja masjid, KNPI atau organisasi

pemuda lainnya oleh masyarakat sebagai wadah aktifitas yang bermanfaat bagi para remaja, serta dalam organisasi remaja diharapkan remaja dapat berkomunikasi dengan teman – temannya, membicarakan masalah – masalah atau kesulitan yang dialaminya dengan dibimbing oleh konsultan yang ada di dalam organisasi tersebut. b) Bersama remaja warga masyarakat juga aktif dalam melaksanakan

bakti sosial sehingga diperoleh pengalaman praktis yang positif dari kehidupan bermasyarakat. Hal ini untuk melatih fisik, mental, aktivitas dan kreativitas remaja sehingga terbentuk pribadi yang militant dan dinamis sebagai generasi penerus. c) Masyarakat hendaknya menjadi kontrol sosial terbesar

perkembangan para remaja, dengan mengarahkan remaja kea rah yang baik d) Menutup / membubarkan tempat-tempat / tongkrongan-

tongkrongan remaja yang tidak bermanfaat dan cenderung menimbulkan kemaksiatan, khususnya bagi para remaja. e) Ikut serta dalam menciptakan suasana lingkungan yang kondusif,

yang secara tidak langsung juga akan sangat bermanfaat memengaruhi pertumbuhan tingkah laku serta psikologis remaja.

E.

Pemerintah

61

a)

Dalam hal pendidikan dan ilmu pengetahuan, pemerintah harus

turut serta memberikan penanaman tata nilai dan norma yang baik dan seuai dengan kehidupan sosial dan beragama Indonesia melalui, pemberian bidang studi seperti Pendidikan Agama, Pendidikan Kewarganegaraan, Ilmu Budaya Dasar, Pendidikan Pancasila, dll. b) Dalam hal kehidupan sosial, pemerintah wajib menjadi kontrol

sosial bagi pertumbuhan dan perkembangan generasi muda negaranya, dengan memberi fasilitas-fasilitas sosial baik berupa, bacaan, tayangan maupun teknologi yang mendidik dan membentuk pribadi remaja yang baik. c) Pemerintah harus bersifat selektif dan preventif terhadap aspek-

aspek globalisasi yang masuk maupun dapat merusak generasi remaja bangsa, dalam hal dan bentuk apapun. d) Pemerintah perlu mengadakan berbagai penyuluhan kepada para

remaja mengenai hal-hal negative yang dapat merusak masa depan para remaja. Salah satunya kenakalan remaja.

62

BAB IV PENUTUP

IV. 1. Kesimpulan
Kenakalan Remaja merupakan suatu bentuk problematika sosial yang telah ada dan akan selalu ada dalam kehidupan sosial. Tak hanya sekadar penyimpangan bahkan kenakalan remaja bisa berupa tindak kriminal bila itu sudah merugikan bahkan membahayakan nyawa orang lain. Dalam kaitannya dengan era globalisasi sekarang ini, kenakalan remaja telah menjadi efek langsung yang semakin berkembang implikasinya dalam masyarakat. Pola hidup budaya barat sebagai salah satu aspek bawaan globalisasi, banyak memberi implikasi buruk bagi kehidupan para remaja di Indonesia. Berbagai bentuk kenakalan remaja baru yang belum pernah ada sebelumnya, kini kian merebak dan menyebar dalam diri remaja. Berbagai paket negatif globalisasi membawa banyak dampak perubahan bagi perkembangan psikologis dan fisik remaja di Indonesia. Kian hari remaja Indonesia semakin tak 63

terkendali mengekspresikan diri mereka, berbagai hal menyimpang dan kriminil tak segan di lakukan mereka. Mulai dari narkoba, seks bebas, miras, vandalisme, violenisme, sampai tato dan tindik kini telah berkembang sebagai bentuk kenakalan remaja dan problematika sosial baru di masyarakat. Efek negatif globalisasi terhadap kenakalan remaja yang semakin mengkhawatirkan tersebut, tentunya membutuhkan solusi berkala untuk meminimalisir bahkan mencegah, dari kita semua, tak terkecuali remaja itu sendiri sebagai sumber daya manusia negeri ini dan generasi penerus bangsa ini. Karena kenakalan remaja merupakan suatu problema sosial yang selauada dan menjadi resiko kehidupan manusia di dunia ini, kapanpun, dimanapun, dan oleh siapapun.

IV. 2. Saran
1. Bagi para remaja khususnya, filter (penyaring) yang paling mendasar adalah kita kembali kepada ajaran agama. Keimanan dan ketakwaan yang teguh akan menjadi pondasi dan kepribadian dasar yang menyaring pengaruh kebudayaan barat ataupun kebudayaan buruk lainnya yang dapat menyeret kita ke jurang dosa berupa kenkalan remaja. 2. Perkembangan Iptek di era globalisasi sekarang harusnya bisa dimanfaatkan dengan baik sebagai pembentuk kepribadian generasi cerdas bagi para remaja sekarang ini. Serta bisa disikapi dengan baik dan bijaka akan berbagaid dampak negatif dari perkembangan teknologi ini. Sehingga tidak terlahir kenakalan remaja berupa atau akibat disfungsional teknologi 3. Semua pihak yang terkait, khususnya keluarga dan sekolah sebagai dua lingkungan terdominan remaja, wajib memberi pendidikan dan

pengetahuan yang baik berdasar tata nilai, norma, agama, serta hokum yang berlaku di negarai ini, serta menjadi pembentuk, pembimbing

64

sekaligus pengawas kepribadian dan pertumbuhan remaja ke arah yang positif terhindar dari efek-efek negatif, termasuk salah satunya ke dalam kenakalan remaja.

DAFTAR PUSTAKA

 

Sudarsono. 2004. Kenakalan Remaja. Jakarta: Rineka Cipta. Abdulkarim, Aim. 2007. Pendidikan Grafindo Media Pratama. Kewarganegaraan. Bandung:

 

Mu’in, Idianto. 2004. Sosiologi. Jakarta: Erlangga. Kartini, Kartono. 1986. Psikologi Sosial 2: Kenakalan Remaja. Jakarta: Rajawali.

Sumber Internet :
     http://www.wikipedia.org http://www.psikologi.tarumanagara.ac.id http://www.iscribd.com http://h2dy.wordpress.com http://www.anneahira.com/narkoba

65

  

http://eka-punk.blogspot.com http://h4b13.wordpress.com http://www.ubb.ac.id

KENAKALAN REMAJA
Remaja adalah masa peralihan dari kanak-kanak ke dewasa. Para ahli pendidikan sependapat bahwa remaja adalah mereka yang berusia antara 13 - 18 tahun. Seorang remaja sudah tidak lagi dapat dikatakan sebagai kanak-kanak, namun masih belum cukup matang untuk dapat dikatakan dewasa. Mereka sedang mencari pola hidup yang paling sesuai baginya dan inipun sering dilakukan melalui metoda coba-coba walaupun melalui banyak kesalahan. Kesalahan yang dilakukan sering menimbulkan kekuatiran serta perasaan yang tidak menyenangkan bagi lingkungan dan orangtuanya. Kesalahan yang diperbuat para remaja hanya akan menyenangkan teman sebayanya. Hal ini karena mereka semua memang sama-sama masih dalam masa mencari identitas. Kesalahan-kesalahan yang menimbulkan kekesalan lingkungan inilah yang sering disebut sebagai “kenakalan remaja”. Kenakalan remaja itu harus diatasi, dicegah dan dikendalikan sedini mungkin agar tidak berkembang menjadi tindak kriminal yang lebih besar yang dapat merugikan dirinya sendiri, lingkungan masyarakat dan masa depan bangsa. Setiap periode hidup manusia punya masalahnya sendiri-sendiri, termasuk periode remaja. Remaja seringkali sulit mengatasi masalah mereka. Ada dua alasan hal itu terjadi, yaitu : pertama; ketika masih anak-anak, seluruh masalah mereka selalu diatasi oleh orang-orang dewasa. Hal inilah yang membuat remaja tidak mempunyai pengalaman dalam menghadapi masalah. Kedua; karena remaja merasa dirinya telah mandiri, maka mereka mempunyai gengsi dan menolak bantuan dari orang dewasa. Remaja pada umumnya mengalami bahwa pencarian jati diri atau keutuhan diri itu suatu masalah utama karena adanya perubahan-perubahan sosial, fisiologi dan psikologis di dalam diri mereka maupun di tengah masyarakat tempat mereka hidup. Perubahan-perubahan ini dipergencar dalam masyarakat kita yang semakin kompleks dan berteknologi modern. Arus perubahan kehidupan yang berjalan amat cepat cenderung membuat individu

66

merasa hanya seperti sebuah sekrup dalam mesin raksasa daripada seorang makhluk utuh yang memiliki di dalam dirinya suatu keyakinan akan identitas diri sebagai seorang pribadi. DEFINISI Istilah “kenakalan” yang dimaksud adalah tingkah laku yang dianggap menyimpang dari norma-norma sosial masyarakat dan mengganggu ketentraman masyarakat. Kenakalan remaja (Juvenile Delinquence) adalah merujuk kepada perbuatan dan aktivitias remaja yang berlawanan dengan norma-norma masyarakat, undang-undang negara dan agama, seperti mencuri, merampok, menodong, berzina, membunuh, merampas, durhaka kepada kedua ibu bapak dan sebagainya. Perbuatan remaja dikatakan “nakal” karena remaja dianggap belum matang, belum dewasa dan perbuatan yang mereka lakukan tidak dikenakan hukuman berat. Hukuman yang dijatuhkan kepada mereka ialah remaja itu ditempatkan di pusat-pusat rehabilitasi dan diberi pendidikan khusus. JENIS KENAKALAN REMAJA Kenakalan remaja umumnya dibagi dua : a. Kenakalan perorangan (individual delinquency) b. Kenakalan berkelompok (sociologi delinquency) Yang sering disoroti adalah kenakalan remaja berkelompok atau sering disebut “gang deliquency”. Bentuk – bentuk perbuatan kenakalan remaja yang lebih banyak dilakukan dalam kaitan remaja yang bersangkutan dengan gangnya atau gerombolan remaja lainnya, hakekatnya mencerminkan suatu sub kultur tersendiri yang dapat dibedakan dalam 3 sub kultur kenakalan yaitu: a. Sub kultur criminal: suatu bentuk gang kenakalan remaja yang mengarah pada perbuatan pencurian, pemerasan dll perbuatan illegal yang bertujuan untuk mendapatkan penghasilan (uang atau income) b. Sub kultur konflik: suatu bentuk gang yang mengutamakan perbuatan – perbuatan kekerasan sebagai suatu cara untuk mendapatkan atau meningkatkan status c. Sub kultur pengelakan/ pengasingan (rettreatist sub culture), suatu bentuk gang yang menekankan pada penggunaan obat – obatan (secara salah). Perbuatan kenakalan remaja pada hakekatnya merupakan proses usaha pencapaian suatu keberhasilan tertentu dalam perkembangan kehidupan remaja. Kaitan pertumbuhan dan perkembangan individu remaja dengan lingkungannya terhadap struktur sosial dengan jalur – jalur system yang tersedia dan berlangsung di masyarakat untuk mobilitas yang lebih baik. Pada kenakalan remaja sub kultur kriminil, mencerminkan suatu cara adaptasi yang khusus dari para remaja dalam proses penyesuaian dirinya yang gagal untuk dapat mencapai keberhasilan hidup atau memperbaiki keadaannya dengan menempuh jaur – jalur kesempatan yang sewajarnya. Kegagalan ini antara lain karena ketiadaan kemampuan, keterbatasan pendidikan dan tidak adanya kesempatan kerja yang sesuai. Kenakalan remaja sub kultur konflik sering terjadi pada kasatuan masyarakat yang tidak stabil, tidak cukup terorganisir, yang tinggi mobilitas vertikal dan geografisnya, keluarga cenderung berorientasi tidak pada masa depan tetapi pada masa kini dan tidak ada kemajuan sosial. Perbuatan perkelahian antar gang, kebut – kebutan di jalan ramai merupakan contoh kenakalan remaja sub kultur konflik. Kenakalan remaja yang termasuk sub kultur pengelakan/ pengasingan yaitu kenakalan remaja dalam bentuk penyelahgunaan obat – obatan narkotika, merupakan cara

67

adaptasi terhadap keadaan secara pengelakan, menarik diri atau mengaisngkan diri, melepaskan perjuangan dalam mencapai kesuksesan. PENYEBAB Penyebab kenakalan remaja dari berbagai sumber, antara lain : a. Menurut Freedman : 1) Adanya kegoncangan sosial yang disebabkan oleh perubahan masyarakat ke arah industri modern disertai adanya kemajuan teknologi. 2) Mobilitas yang semakin besar dan urbanisasi ke kota-kota besar sebagai pusat industri tersebut. b. Menurut Cloward dan Ohlin: (berdasarkan teori Merton) Kenakalan remaja kemungkinan besar timbul bila beberapa kelompok dalam masyarakat tidak mampu untuk mencapai tujuan-tujuan budayanya. Ketidak adilan dalam kesempatan mencapai tujuan budaya tersebut, terutama berkisar pada pendapatan finansial, mendorong anak-anak dari kelas bawahan untuk melakukan tindakan kriminal, memasuki kelompok “gang” yang siap tempur atau menarik diri dari realitas yang pahit dengan minum obat-obat narkotika. c. Menurut Friedenberg Kenakalan remaja sering dihubungkan dengan kegagalan sekolah. Anak-anak yang berhasil sekolahnya, umumnya adalah anak-anak yang mampu membuat sekolahan sebagai pusat dari kehidupan berkelompok seusia (peer group life) disamping mendapatkan informasi dan pengetahuan. d. Menurut Shaw dan McKay Tentang teori “keturunan budaya” (cultural transmission). Dari penelitian yang dilakukan pada beberapa kota dengan pendapatan ekonomi yang rendah, selalu dihinggapi adanya kenakalan remaja, yang tidak tergantung pada kelompok nasional yang sedang berkuasa didaerah tersebut. Misalnya yang berkuasa orang Italy atau Polandia, dan lain-lain, timbulnya kenakalan remaja tetap sama besarnya. e. Menurut Y.M Uttamo Thera, kenakalan remaja dapat ditimbulkan oleh beberapa hal sebagian di antaranya adalah: 1) Pengaruh teman sepermainan : di kalangan remaja, memiliki banyak kawan adalah merupakan satu bentuk prestasi tersendiri. Makin banyak kawan, makin tinggi nilai mereka di mata teman-temannya. Apalagi mereka dapat memiliki teman dari kalangan terbatas. Misalnya, anak orang yang paling kaya di kota itu, anak pejabat pemerintah setempat bahkan mungkin pusat, ataupun anak orang terpandang lainnya. Di jaman sekarang, pengaruh kawan bermain ini bukan hanya membanggakan si remaja saja tetapi bahkan juga pada orangtuanya. Orangtua juga senang dan bangga kalau anaknya mempunyai teman bergaul dari kalangan tertentu tersebut. Padahal, kebanggaan ini adalah “semu” sifatnya. Malah kalau tidak dapat dikendalikan, pergaulan itu akan menimbulkan kekecewaan nantinya. Sebab kawan dari kalangan tertentu pasti juga mempunyai gaya hidup yang tertentu pula. Apabila si anak akan berusaha mengikuti tetapi tidak mempunyai modal ataupun orangtua tidak mampu memenuhinya maka anak akan menjadi frustrasi. Apabila timbul frustrasi, maka remaja kemudian akan melarikan rasa kekecewaannya itu pada narkotik, obat terlarang, dan lain sebagainya. 2) Pendidikan : memberikan pendidikan yang sesuai adalah merupakan salah satu tugas orangtua kepada anak. Agar anak dapat memperoleh pendidikan yang sesuai, pilihkanlah sekolah yang bermutu. Selain itu, perlu dipikirkan pula latar belakang agama pengelola sekolah. Hal ini penting untuk menjaga agar pendidikan Agama

68

yang telah diperoleh anak di rumah tidak kacau dengan agama yang diajarkan di sekolah. Berilah pengertian yang benar tentang adanya beberapa agama di dunia. Ketika anak telah berusia 17 tahun atau 18 tahun yang merupakan akhir masa remaja, anak mulai akan memilih perguruan tinggi. Orangtua hendaknya membantu memberikan pengarahan agar masa depan si anak berbahagia. Arahkanlah agar anak memilih jurusan sesuai dengan kesenangan dan bakat anak, bukan semata-mata karena kesenangan orang tua. Masih sering terjadi dalam masyarakat, orangtua yang memaksakan kehendaknya agar di masa depan anaknya memilih profesi tertentu yang sesuai dengan keinginan orangtua. Pemaksaan ini tidak jarang justru akan berakhir dengan kekecewaan. Sebab, meski memang ada sebagian anak yang berhasil mengikuti kehendak orangtuanya tersebut, tetapi tidak sedikit pula yang kurang berhasil dan kemudian menjadi kecewa, frustrasi dan akhirnya tidak ingin bersekolah sama sekali. Mereka malah pergi bersama dengan kawan-kawannya, bersenangsenang tanpa mengenal waktu bahkan mungkin kemudian menjadi salah satu pengguna obat-obat terlarang. 3) Penggunaan waktu luang : kegiatan di masa remaja sering hanya berkisar pada kegiatan sekolah dan seputar usaha menyelesaikan urusan di rumah, selain itu mereka bebas, tidak ada kegiatan. Apabila waktu luang tanpa kegiatan ini terlalu banyak, pada si remaja akan timbul gagasan untuk mengisi waktu luangnya dengan berbagai bentuk kegiatan. Apabila si remaja melakukan kegiatan yang positif, hal ini tidak akan menimbulkan masalah. Namun, jika ia melakukan kegiatan yang negatif maka lingkungan dapat terganggu. Seringkali perbuatan negatif ini hanya terdorong rasa iseng saja. Tindakan iseng ini selain untuk mengisi waktu juga tidak jarang dipergunakan para remaja untuk menarik perhatian lingkungannya. Perhatian yang diharapkan dapat berasal dari orangtuanya maupun kawan sepermainannya. Celakanya, kawan sebaya sering menganggap iseng berbahaya adalah salah satu bentuk pamer sifat jagoan yang sangat membanggakan. Misalnya, ngebut tanpa lampu dimalam hari, mencuri, merusak, minum minuman keras, obat bius, dan sebagainya. Munculnya kegiatan iseng tersebut selain atas inisiatif si remaja sendiri, sering pula karena dorongan teman sepergaulan yang kurang sesuai. Sebab dalam masyarakat, pada umunya apabila seseorang tidak mengikuti gaya hidup anggota kelompoknya maka ia akan dijauhi oleh lingkungannya. Tindakan pengasingan ini jelas tidak mengenakkan hati si remaja, akhirnya mereka terpaksa mengikuti tindakan kawankawannya. Akhirnya ia terjerumus. Tersesat. 4) Uang saku : orangtua hendaknya memberikan teladan untuk menanamkan pengertian bahwa uang hanya dapat diperoleh dengan kerja dan keringat. Remaja hendaknya dididik agar dapat menghargai nilai uang. Mereka dilatih agar mempunyai sifat tidak suka memboroskan uang tetapi juga tidak terlalu kikir. Ajarkan pula anak untuk mempunyai kebiasaan menabung sebagian dari uang sakunya. Menabung bukanlah pengembangan watak kikir, melainkan sebagai bentuk menghargai uang yang didapat dengan kerja dan semangat. Pemberian uang saku kepada remaja memang tidak dapat dihindarkan. Namun, sebaiknya uang saku diberikan dengan dasar kebijaksanaan. Jangan berlebihan. Uang saku yang diberikan dengan tidak bijaksana akan dapat menimbulkan masalah yaitu: anak menjadi boros, tidak menghargai uang, dan malas belajar, sebab mereka pikir tanpa kepandaian pun uang gampang diperoleh. 5) Perilaku seksual : pada saat ini, kebebasan bergaul sudah sampai pada tingkat yang menguatirkan. Para remaja dengan bebas dapat bergaul antar jenis. Tidak jarang dijumpai pemandangan di tempat-tempat umum, para remaja saling berangkulan mesra tanpa mempedulikan masyarakat sekitarnya. Mereka sudah mengenal istilah

69

pacaran sejak awal masa remaja. Pacar, bagi mereka, merupakan salah satu bentuk gengsi yang membanggakan. Akibatnya, di kalangan remaja kemudian terjadi persaingan untuk mendapatkan pacar. Pengertian pacaran dalam era globalisasi informasi ini sudah sangat berbeda dengan pengertian pacaran 15-20 tahun yang lalu. Akibatnya, di jaman ini banyak remaja yang putus sekolah karena hamil. Oleh karena itu, dalam masa pacaran, anak hendaknya diberi pengarahan tentang idealisme dan kenyataan. Anak hendaknya ditumbuhkan kesadaran bahwa kenyataan sering tidak seperti harapan kita, sebaliknya harapan tidak selalu menjadi kenyataan. Demikian pula dengan pacaran. Keindahan dan kehangatan masa pacaran sesungguhnya tidak akan terus berlangsung selamanya. MASALAH-MASALAH YANG SERING DIHADAPI REMAJA MASA KINI Masalah-masalah yang sering dihadapi remaja masa kini antara lain : a. Kebutuhan akan figur teladan : remaja jauh lebih mudah terkesan akan nilai-nilai luhur yang berlangsung dari keteladanan orang tua mereka daripada hanya sekedar nasihat-nasihat bagus yang hanya kata-kata indah. b. Sikap apatis : sikap apatis merupakan kecenderungan untuk menolak sesuatu dan pada saat yang bersamaan tidak mau melibatkan diri di dalamnya. Sikap apatis ini terwujud di dalam ketidakacuhannya akan apa yang terjadi disekitarnya. c. Kecemasan dan kurangnya harga diri : kata stress atau frustasi semakin umum dipakai kalangan remaja. Banyak kaum muda yang mencoba mengatasi rasa cemasnya dalam bentuk “pelarian” (memburu kenikmatan lewat minuman keras, obat penenang, seks dan lainnya). d. Ketidakmampuan untuk terlibat : kecenderungan untuk mengintelektualkan segala sesuatu dan pola pikir ekonomis, membuat para remaja sulit melibatkan diri secara emosional maupun efektif dalam hubungan pribadi dan dalam kehidupan di masyarakat. Persahabatan dinilai dengan untung rugi atau malahan dengan uang. e. Perasaan tidak berdaya : perasaan tidak berdaya ini muncul pertama-tama karena teknologi semakin menguasai gaya hidup dan pola berpikir masyarakat modern. Teknologi mau tidak mau menciptakan masyarakat teknokratis yang memaksa kita untuk pertama-tama berpikir tentang keselamatan diri kita di tengah-tengah masyarakat. Lebih jauh remaja mencari “jalan pintas”, misalnya menggunakan segala cara untuk tidak belajar tetapi mendapat nilai baik atau ijasah. f. Pemujaan akan pengalaman : sebagian besar tindakan-tindakan negatif anak muda dengan minumam keras, obat-obatan dan seks pada mulanya berawal dari hanya mencoba-coba. Lingkungan pergaulan anak muda dewasa ini memberikan pandangan yagn keliru tentang pengalaman. FAKTOR – FAKTOR SOSIAL BUDAYA SEBAGAI LATAR BELAKANG KENAKALAN REMAJA Faktor budaya adalah bagian dari faktor sosial sehingga sering disebut faktor sosial budaya. Di Indonesia kenakalan remaja umumnya terdapat di kota – kota teristimewa di kota yang besar seperti Jakarta, jarang terjadi di desa – desa walaupun akhir – akhir ini kenakalan remaja telah merambat ke daerah pedesaan juga. Penduduk di desa umumnya berstatus petani, budaya masyarakat desa umumnya monokultural (satu macam budaya) yang cukup kokoh dan diturunkan melalui transmisi nenek moyang. Anak – anak secara dini membiasakan diri dengan berbagai kepercayaan budaya seperti pemujaan nenek moyang, pemujaan roh – roh dan benda – benda. Stimulasi budaya juga didapatkan dari permainan anak- anak. Dalam transmisi budaya seorang anak menerima budaya melalui instruksi, observasi dan

70

imitasi. Berbeda dengan di daerah perkotaan, dengan cepatnya usaha pembangunan yang menggunakan teknologi modern, usaha industrialisasi yang pesat, mobilitas yang tinggi dan urbanisasi yang tidak terbendung sering menyebabkan kegoncangan – kegoncangan sosial disertai dengan frustasi dari anggota – anggota masyarakatnya. Penduduk perkotaan umumnya terdiri dari berbagai ragam budaya (multikultral) serta status sosial ekonomi yang berbeda - beda, sehingga menyulitkan di dalam melakukan kontrol sosial. Mobilitas yang tinggi memungkinkan pertukaran budaya yang intensif yang akan mempengaruhi transmisi budaya keluarga terutama bagi anak remaja yang kepribadiannya sedang berkembang, mencari bentuk, sangatlah peka terhadap rangsangan – rangsangan dari lingkungannya dan kurang percaya pada diri sendiri hingga terbentuk kebiasaan melalui coba – coba (trial and error). Di dalam usaha melepaskan diri dari dunia anak – anak, umumnya remaja berkeinginan untuk melepaskan diri dari ketergantungan emosional terhadap orangtuanya dan lebih mendekati anak – anak sebaya dengan dirinya (peergroup). Apabila ikatan budaya keluarganya tidak kuat, maka remaja akan mendekati kelompok anak sebaya yang terdiri dari berbagai suku bangsa. Faktor – faktor sosial budaya yang dapat menimbulkan konflik pada remaja: a. Timbul perbedaan besar antara budaya keluarga dan pertukaran budaya dalam sikap dan nilai. b. Dalam lingkungan keluarga terutama nilai dan sikap dalam budaya keluarga terlalu dipaksakan kepada remaja (sikap orangtua yang kaku) c. Kurangnya pengertian dari pihak orangtua akan kebutuhan remaja terutama kebutuhan emosional d. Transmisi budaya keluarga sangat minimal (komunikasi terhambat), orangtua acuh tak acuh terhadap tingkah anaknya (kurang korektif) e. Keluarga tidak mampu memenuhi kebutuhan materi anaknya f. Kepribadian remaja misalnya kelainan kepribadian g. Trasmisi budaya keluarga kadang – kadang mengalami kesulitan karena kedua orangtua mempunyai kebuayaan yang berlainan (orangtua berasal dari suku yang berbeda) h. Orangtua sering menyimpang dari ketentuan nilai dan sikap budayanya (sering cekcok, berkelahi, berjudi, pulang malam, foya – foya) UPAYA PENCEGAHAN DAN PENANGGULANGAN PERAN KELUARGA BAGI REMAJA Keluarga merupakan lingkungan pendidikan yang primer dan bersifat fundamental. Disitulah remaja dibesarkan, memperoleh penemuan-penemuan, belajar dan berkembang. Bermodalkan pengalaman-pengalaman yang diperolehnya dalam keluarga inilah bergantung kelangsungan hidupnya. Peran keluarga antara lain: a. Keluarga sebagai pusat pendidikan : disini orang tua berperan dalam pembentukan kepribadian remaja karena orang tua mendidik, mengasuh dan membimbing remajanya untuk hidup di dalam masyarakat. b. Keluarga sebagai pusat agama : dengan kesadaran beragama yang diperoleh remaja-remaja dan bimbingan orang tua, remaja akan mengenal agama sehingga membuat mereka untuk berbuat soleh dalam kehidupan. c. Keluarga sebagai pusat ketenangan hidup : dalam mempertahankan hidupnya sering

71

orang mengalami gangguan pikiran, menemui frustasi dan untuk mendapatkan kekuatannya kembali maka keluarga adalah pangkalan yang paling vital. TIPS UNTUK ORANGTUA /KELUARGA Orang tua sebaiknya mempersiapkan diri untuk mengenal lebih jauh dalam membimbing anaknya saat masa remaja : a. Kenali mereka lebih dekat yaitu informasi mengenai remaja dan perubahanperubahan yang terjadi di dalam dirinya. b. Kenali perubahan fisik pada remaja dan dampaknya terhadap diri anak. c. Kenali perubahan emosi remaja dan caranya mencari perhatian orang tua serta reaksi emosinya dalam menghadapi masalah. d. Menciptakan hubungan komunikasi yang hangat, membentuk kebiasaan-kebiasaan yang positif, memberlakukan aturan dalam keluarga, menyikapi “kesalahan” anak, “mengambil hati” anak dan “mencuri perhatian” anak. e. Kenali perubahan lingkungan misalnya peran gender serta rasa keadilan antara pria dan wanita; teman dan permasalahannya; naksir, ditaksir dan pacaran. f. Masalah-masalah seksualitas, kelainan seksual dan pengaruh buruk yang ada di masyarakat. PERAN SEKOLAH BAGI REMAJA a. Sekolah sebagai pusat pendidikan bagi siswa dalam rangka menimba pengetahuan, keterampilan seni budaya, olahraga serta meningkatkan budi pekerti yang luhur, untuk ini diperlukan sarana dan prasarana yang memadai serta perlu diciptakan lingkungan yang bersih, sehat, tertib serta aman agar dapat menunjang keberhasilan PBM karena itu guru perlu dapat menciptakannya. b. Lingkungan sekolah yang sehat dan dinamis. Guru adalah orangtua siswa di sekolah karena itu perlu adanya sikap berdialog guru dengan siswa tentang berbagai hal khusus tentang masalah belajar sehingga keberhasilan dalam belajar dapat tercapai c. Motivasi belajar siswa timbul dari dirinya sendiri sehingga siswa dapat belajar dengan tertib, patuh pada peraturan yang ada di sekolah dna tidak terpengaruh oleh hal – hal yang negatif d. Program sekolah yang terpadu. Diberikan kegiatan intrakurikuler dan ekstrakurikuler secara terpadu. Melalui kegiatan pramuka, olahraga, kesenian, karya wisata, pencinta alam dan sebagainya, dapat memberikan aktivitas yang sehat dan dinamis serta bekal untuk masa depannya PERAN MASYARAKAT BAGI REMAJA Usaha – usaha untuk menciptakan lingkungan sehat dan dinamis dalam kehidupan di masyarakat, kaum remaja dapat mengikuti berbagai kegiatan yang dilaksanakan oleh karang taruna, remaja masjid, KNPI atau oragnisasi pemuda lainnya. Bersama warga masyarakat remaja juga aktif dalam melaksanakan bakti sosial sehingga diperoleh pengalaman praktis yang positif dari kehidupan bermasyarakat. Hal ini untuk melatih fisik, mental, aktivitas dan kreativitas remaja sehingga terbentuk pribadi yang militant dan dinamis sebagai generasi penerus. Dalam organisasi remaja diharapkan dapat berkomunikasi dengan teman – temannya, membicarakan masalah – masalah atau kesulitan yang dialaminya dengan dibimbing oleh konsultan yang ada di dalam organisasi tersebut. Tidak hanya remaja yang belajar menghadapi kehidupannya yang “baru” tetapi orang

72

tua juga perlu banyak belajar menghadapi perubahan-perubahan dan menemukan cara terbaik untuk menghadapinya. Tahapan perkembangan remaja berbeda – beda pada setiap individu sehingga diperlukan pemahaman dan pengenalan secara dini setiap perubahan fisik dan mental yang terjadi pada remaja sehingga perlu diperhitungkan dalam membina dan mengembangkan remaja. Era globalisasi sebagai aspek kemajuan iptek telah membuat segala informasi dan kemajuan dengan cepat tersebar ke segala penjuru dunia tetapi juga penyebaran pola perilaku yang kurang baik (buku porno, blue film, pil koplo, putauw, ecstasy, sabu – sabu dan lain – lain) akan cepat menjalar kemana – mana. Agar terhindar dari pengaruh negatif dari era globalisasi maka diharapkan orangtua, keluarga, guru dan masyarakat dapat membina remaja dengan baik, mengusahakan lingkungan hidup yang sebaik – baiknya agar remaja dapat berkembang ke arah yang kita harapkan serta sesuai dengan kehendak dan kemauan anak sendiri tanpa mengikuti pola perilaku yang kurang baik yang sedang berkembang saat ini. http://eka-punk.blogspot.com

Globalisasi
Globalisasi adalah sebuah istilah yang memiliki hubungan dengan peningkatan keterkaitan dan ketergantungan antarbangsa dan antarmanusia di seluruh dunia dunia melalui perdagangan, investasi, perjalanan, budaya populer, dan bentuk-bentuk interaksi yang lain sehingga batas-batas suatu negara menjadi bias. Dalam banyak hal, globalisasi mempunyai banyak karakteristik yang sama dengan internasionalisasi sehingga kedua istilah ini sering dipertukarkan. Sebagian pihak sering menggunakan istilah globalisasi yang dikaitkan dengan berkurangnya peran negara atau batas-batas negara. Pengertian Kata "globalisasi" diambil dari kata global, yang maknanya ialah universal. Globalisasi belum memiliki definisi yang mapan, kecuali sekadar definisi kerja (working definition), sehingga tergantung dari sisi mana orang melihatnya. Ada yang memandangnya sebagai suatu proses sosial, atau proses sejarah, atau proses alamiah yang akan membawa seluruh bangsa dan negara di dunia makin terikat satu sama lain, mewujudkan satu tatanan kehidupan baru atau kesatuan ko-eksistensi dengan menyingkirkan batas-batas geografis, ekonomi dan budaya masyarakat. Di sisi lain, ada yang melihat globalisasi sebagai sebuah proyek yang diusung oleh negaranegara adikuasa, sehingga bisa saja orang memiliki pandangan negatif atau curiga terhadapnya. Dari sudut pandang ini, globalisasi tidak lain adalah kapitalisme dalam bentuknya yang paling mutakhir. Negara-negara yang kuat dan kaya praktis akan mengendalikan ekonomi dunia dan negara-negara kecil makin tidak berdaya karena tidak mampu bersaing. Sebab, globalisasi cenderung berpengaruh besar terhadap perekonomian dunia, bahkan berpengaruh terhadap bidang-bidang lain seperti budaya dan agama. Ciri globalisasi Berikut ini beberapa ciri yang menandakan semakin berkembangnya fenomena globalisasi di dunia.

73

Hilir mudiknya kapal-kapal pengangkut barang antarnegara menunjukkan keterkaitan antarmanusia di seluruh dunia * Perubahan dalam konsep ruang dan waktu. Perkembangan barang-barang seperti telepon genggam, televisi satelit, dan internet menunjukkan bahwa komunikasi global terjadi demikian cepatnya, sementara melalui pergerakan massa semacam turisme memungkinkan kita merasakan banyak hal dari budaya yang berbeda. * Pasar dan produksi ekonomi di negara-negara yang berbeda menjadi saling bergantung sebagai akibat dari pertumbuhan perdagangan internasional, peningkatan pengaruh perusahaan multinasional, dan dominasi organisasi semacam World Trade Organization (WTO). * Peningkatan interaksi kultural melalui perkembangan media massa (terutama televisi, film, musik, dan transmisi berita dan olah raga internasional). saat ini, kita dapat mengonsumsi dan mengalami gagasan dan pengalaman baru mengenai hal-hal yang melintasi beraneka ragam budaya, misalnya dalam bidang fashion, literatur, dan makanan. * Meningkatnya masalah bersama, misalnya pada bidang lingkungan hidup, krisis multinasional, inflasi regional dan lain-lain. Kennedy dan Cohen menyimpulkan bahwa transformasi ini telah membawa kita pada globalisme, sebuah kesadaran dan pemahaman baru bahwa dunia adalah satu. Giddens menegaskan bahwa kebanyakan dari kita sadar bahwa sebenarnya diri kita turut ambil bagian dalam sebuah dunia yang harus berubah tanpa terkendali yang ditandai dengan selera dan rasa ketertarikan akan hal sama, perubahan dan ketidakpastian, serta kenyataan yang mungkin terjadi. Sejalan dengan itu, Peter Drucker menyebutkan globalisasi sebagai zaman transformasi sosial. [sunting] Teori globalisasi Cochrane dan Pain menegaskan bahwa dalam kaitannya dengan globalisasi, terdapat tiga posisi teroritis yang dapat dilihat, yaitu: * Para globalis percaya bahwa globalisasi adalah sebuah kenyataan yang memiliki konsekuensi nyata terhadap bagaimana orang dan lembaga di seluruh dunia berjalan. Mereka percaya bahwa negara-negara dan kebudayaan lokal akan hilang diterpa kebudayaan dan ekonomi global yang homogen. meskipun demikian, para globalis tidak memiliki pendapat sama mengenai konsekuensi terhadap proses tersebut. * Para globalis positif dan optimistis menanggapi dengan baik perkembangan semacam itu dan menyatakan bahwa globalisasi akan menghasilkan masyarakat dunia yang toleran dan bertanggung jawab. * Para globalis pesimis berpendapat bahwa globalisasi adalah sebuah fenomena negatif karena hal tersebut sebenarnya adalah bentuk penjajahan barat (terutama Amerika Serikat) yang memaksa sejumlah bentuk budaya dan konsumsi yang homogen dan terlihat sebagai sesuatu yang benar dipermukaan. Beberapa dari mereka kemudian membentuk kelompok untuk menentang globalisasi (antiglobalisasi). * Para tradisionalis tidak percaya bahwa globalisasi tengah terjadi. Mereka berpendapat bahwa fenomena ini adalah sebuah mitos semata atau, jika memang ada, terlalu dibesarbesarkan. Mereka merujuk bahwa kapitalisme telah menjadi sebuah fenomena internasional selama ratusan tahun. Apa yang tengah kita alami saat ini hanyalah merupakan tahap lanjutan, atau evolusi, dari produksi dan perdagangan kapital. * Para transformasionalis berada di antara para globalis dan tradisionalis. Mereka setuju bahwa pengaruh globalisasi telah sangat dilebih-lebihkan oleh para globalis. Namun, mereka juga berpendapat bahwa sangat bodoh jika kita menyangkal keberadaan konsep ini. Posisi teoritis ini berpendapat bahwa globalisasi seharusnya dipahami sebagai "seperangkat hubungan yang saling berkaitan dengan murni melalui sebuah kekuatan, yang sebagian

74

besar tidak terjadi secara langsung". Mereka menyatakan bahwa proses ini bisa dibalik, terutama ketika hal tersebut negatif atau, setidaknya, dapat dikendalikan. Sejarah globalisasi Banyak sejarawan yang menyebut globalisasi sebagai fenomena di abad ke-20 ini yang dihubungkan dengan bangkitnya ekonomi internasional. Padahal interaksi dan globalisasi dalam hubungan antarbangsa di dunia telah ada sejak berabad-abad yang lalu. Bila ditelusuri, benih-benih globalisasi telah tumbuh ketika manusia mulai mengenal perdagangan antarnegeri sekitar tahun 1000 dan 1500 M. Saat itu, para pedagang dari Tiongkok dan India mulai menelusuri negeri lain baik melalui jalan darat (seperti misalnya jalur sutera) maupun jalan laut untuk berdagang. Berkas:Mcdonalds oslo 2.jpg Fenomena berkembangnya perusahaan McDonald di seluroh pelosok dunia menunjukkan telah terjadinya globalisasi Fase selanjutnya ditandai dengan dominasi perdagangan kaum muslim di Asia dan Afrika. Kaum muslim membentuk jaringan perdagangan yang antara lain meliputi Jepang, Tiongkok, Vietnam, Indonesia, Malaka, India, Persia, pantai Afrika Timur, Laut Tengah, Venesia, dan Genoa. Di samping membentuk jaringan dagang, kaum pedagang muslim juga menyebarkan nilai-nilai agamanya, nama-nama, abjad, arsitek, nilai sosial dan budaya Arab ke warga dunia. Fase selanjutnya ditandai dengan eksplorasi dunia secara besar-besaran oleh bangsa Eropa. Spanyol, Portugis, Inggris, dan Belanda adalah pelopor-pelopor eksplorasi ini. Hal ini didukung pula dengan terjadinya revolusi industri yang meningkatkan keterkaitan antarbangsa dunia. berbagai teknologi mulai ditemukan dan menjadi dasar perkembangan teknologi saat ini, seperti komputer dan internet. Pada saat itu, berkembang pula kolonialisasi di dunia yang membawa pengaruh besar terhadap difusi kebudayaan di dunia. Semakin berkembangnya industri dan kebutuhan akan bahan baku serta pasar juga memunculkan berbagai perusahaan multinasional di dunia. Di Indinesia misalnya, sejak politik pintu terbuka, perusahaan-perusahaan Eropa membuka berbagai cabangnya di Indonesia. Freeport dan Exxon dari Amerika Serikat, Unilever dari Belanda, British Petroleum dari Inggris adalah beberapa contohnya. Perusahaan multinasional seperti ini tetap menjadi ikon globalisasi hingga saat ini. Fase selanjutnya terus berjalan dan mendapat momentumnya ketika perang dingin berakhir dan komunisme di dunia runtuh. Runtuhnya komunisme seakan memberi pembenaran bahwa kapitalisme adalah jalan terbaik dalam mewujudkan kesejahteraan dunia. Implikasinya, negara negara di dunia mulai menyediakan diri sebagai pasar yang bebas. Hal ini didukung pula dengan perkembangan teknologi komunikasi dan transportasi. Alhasil, sekat-sekat antarnegara pun mulai kabur. Reaksi masyarakat Gerakan pro-globalisasi Pendukung globalisasi (sering juga disebut dengan pro-globalisasi) menganggap bahwa globalisasi dapat meningkatkan kesejahteraan dan kemakmuran ekonomi masyarakat dunia. Mereka berpijak pada teori keunggulan komparatif yang dicetuskan oleh David Ricardo. Teori ini menyatakan bahwa suatu negara dengan negara lain saling bergantung dan dapat saling menguntungkan satu sama lainnya, dan salah satu bentuknya adalah ketergantungan dalam bidang ekonomi. Kedua negara dapat melakukan transaksi pertukaran sesuai dengan keunggulan komparatif yang dimilikinya. Misalnya, Jepang memiliki keunggulan komparatif pada produk kamera digital (mampu mencetak lebih efesien dan bermutu tinggi) sementara Indonesia memiliki keunggulan komparatif pada produk kainnya. Dengan teori ini, Jepang dianjurkan untuk menghentikan produksi kainnya dan mengalihkan faktor-faktor produksinya untuk memaksimalkan produksi kamera digital, lalu menutupi kekurangan penawaran kain dengan membelinya dari Indonesia, begitu juga sebaliknya.

75

Salah satu penghambat utama terjadinya kerjasama diatas adalah adanya larangan-larangan dan kebijakan proteksi dari pemerintah suatu negara. Di satu sisi, kebijakan ini dapat melindungi produksi dalam negeri, namun di sisi lain, hal ini akan meningkatkan biaya produksi barang impor sehingga sulit menembus pasar negara yang dituju. Para proglobalisme tidak setuju akan adanya proteksi dan larangan tersebut, mereka menginginkan dilakukannya kebijakan perdagangan bebas sehingga harga barang-barang dapat ditekan, akibatnya permintaan akan meningkat. Karena permintaan meningkat, kemakmuran akan meningkat dan begitu seterusnya. Beberapa kelompok pro-globalisme juga mengkritik Bank Dunia dan IMF, mereka berpendapat bahwa kedua badan tersebut hanya mengontrol dan mengalirkan dana kepada suatu negara, bukan kepada suatu koperasi atau perusahaan. Sebagai hasilnya, banyak pinjaman yang mereka berikan jatuh ke tangan para diktator yang kemudian menyelewengkan dan tidak menggunakan dana tersebut sebagaimana mestinya, meninggalkan rakyatnya dalam lilitan hutang negara, dan sebagai akibatnya, tingkat kemakmuran akan menurun. Karena tingkat kemakmuran menurun, akibatnya masyarakat negara itu terpaksa mengurangi tingkat konsumsinya; termasuk konsumsi barang impor, sehingga laju globalisasi akan terhambat dan -- menurut mereka -- mengurangi tingkat kesejahteraan penduduk dunia. Gerakan antiglobalisasi Antiglobalisasi adalah suatu istilah yang umum digunakan untuk memaparkan sikap politis orang-orang dan kelompok yang menentang perjanjian dagang global dan lembaga-lembaga yang mengatur perdagangan antar negara seperti Organisasi Perdagangan Dunia (WTO). "Antiglobalisasi" dianggap oleh sebagian orang sebagai gerakan sosial, sementara yang lainnya menganggapnya sebagai istilah umum yang mencakup sejumlah gerakan sosial yang berbeda-beda. Apapun juga maksudnya, para peserta dipersatukan dalam perlawanan terhadap ekonomi dan sistem perdagangan global saat ini, yang menurut mereka mengikis lingkungan hidup, hak-hak buruh, kedaulatan nasional, dunia ketiga, dan banyak lagi penyebab-penyebab lainnya. Namun, orang-orang yang dicap "antiglobalisasi" sering menolak istilah itu, dan mereka lebih suka menyebut diri mereka sebagai Gerakan Keadilan Global, Gerakan dari Semua Gerakan atau sejumlah istilah lainnya. Globalisasi Perekonomian Globalisasi perekonomian merupakan suatu proses kegiatan ekonomi dan perdagangan, dimana negara-negara di seluruh dunia menjadi satu kekuatan pasar yang semakin terintegrasi dengan tanpa rintangan batas teritorial negara. Globalisasi perekonomian mengharuskan penghapusan seluruh batasan dan hambatan terhadap arus modal, barang dan jasa. Ketika globalisasi ekonomi terjadi, batas-batas suatu negara akan menjadi kabur dan keterkaitan antara ekonomi nasional dengan perekonomian internasional akan semakin erat. Globalisasi perekonomian di satu pihak akan membuka peluang pasar produk dari dalam negeri ke pasar internasional secara kompetitif, sebaliknya juga membuka peluang masuknya produk-produk global ke dalam pasar domestik. Menurut Tanri Abeng, perwujudan nyata dari globalisasi ekonomi antara lain terjadi dalam bentuk-bentuk berikut: * Globalisasi produksi, di mana perusahaan berproduksi di berbagai negara, dengan sasaran agar biaya produksi menajdi lebih rendah. Hal ini dilakukan baik karena upah buruh yang rendah, tarif bea masuk yang murah, infrastruktur yang memadai ataupun karena iklim usaha dan politik yang kondusif. Dunia dalam hal ini menjadi lokasi manufaktur global.

76

Kehadiran tenaga kerja asing merupakan gejala terjadinya globalisasi tenaga kerja * Globalisasi pembiayaan. Perusahaan global mempunyai akses untuk memperoleh pinjaman atau melakukan investasi (baik dalam bentuk portofolio ataupun langsung) di semua negara di dunia. Sebagai contoh, PT Telkom dalam memperbanyak satuan sambungan telepon, atau PT Jasa Marga dalam memperluas jaringan jalan tol telah memanfaatkan sistem pembiayaan dengan pola BOT (build-operate-transfer) bersama mitrausaha dari manca negara. * Globalisasi tenaga kerja. Perusahaan global akan mampu memanfaatkan tenaga kerja dari seluruh dunia sesuai kelasnya, seperti penggunaan staf profesional diambil dari tenaga kerja yang telah memiliki pengalaman internasional atau buruh kasar yang biasa diperoleh dari negara berkembang. Dengan globalisasi maka human movement akan semakin mudah dan bebas. * Globalisasi jaringan informasi. Masyarakat suatu negara dengan mudah dan cepat mendapatkan informasi dari negara-negara di dunia karena kemajuan teknologi, antara lain melalui: TV,radio,media cetak dll. Dengan jaringan komunikasi yang semakin maju telah memfantu meluasnya pasar ke berbagai belahan dunia untuk barang yang sama. Sebagai contoh : KFC, celana jeans levi's, atau hamburger melanda pasar dimana-mana. Akibatnya selera masyarakat dunia -baik yang berdomisili di kota ataupun di desa- menuju pada selera global. * Globalisasi Perdagangan. Hal ini terwujud dalam bentuk penurunan dan penyeragaman tarif serta penghapusan berbagai hambatan nontarif. Dengan demikian kegiatan perdagangan dan persaingan menjadi semakin cepat, ketat, dan fair. Thompson mencatat bahwa kaum globalis mengklaim saat ini telah terjadi sebuah intensifikasi secara cepat dalam investasi dan perdagangan internasional. Misalnya, secara nyata perekonomian nasional telah menjadi bagian dari perekonomian global yang ditengarai dengan adanya kekuatan pasar dunia. Kebaikan globalisasi ekonomi * Produksi global dapat ditingkatkan Pandangan ini sesuai dengan teori 'Keuntungan Komparatif' dari David Ricardo. Melalui spesialisasi dan perdagangan faktor-faktor produksi dunia dapat digunakan dengan lebih efesien, output dunia bertambah dan masyarakat akan memperoleh keuntungan dari spesialisasi dan perdagangan dalam bentuk pendapatan yang meningkat, yang selanjutnya dapat meningkatkan pembelanjaan dan tabungan. * Meningkatkan kemakmuran masyarakat dalam suatu negara Perdagangan yang lebih bebas memungkinkan masyarakat dari berbagai negara mengimpor lebih banyak barang dari luar negeri. Hal ini menyebabkan konsumen mempunyai pilihan barang yang lebih banyak. Selain itu, konsumen juga dapat menikmati barang yang lebih baik dengan harga yang lebih rendah. * Meluaskan pasar untuk produk dalam negeri Perdagangan luar negeri yang lebih bebas memungkinkan setiap negara memperoleh pasar yang jauh lebih luas dari pasar dalam negeri. * Dapat memperoleh lebih banyak modal dan teknologi yang lebih baik Modal dapat diperoleh dari investasi asing dan terutama dinikmati oleh negara-negara berkembang karena masalah kekurangan modal dan tenaga ahli serta tenaga terdidik yang berpengalaman kebanyakan dihadapi oleh negara-negara berkembang.

77

* Menyediakan dana tambahan untuk pembangunan ekonomi Pembangunan sektor industri dan berbagai sektor lainnya bukan saja dikembangkan oleh perusahaan asing, tetapi terutamanya melalui investasi yang dilakukan oleh perusahaan swasta domestik. Perusahaan domestik ini seringkali memerlukan modal dari bank atau pasar saham. dana dari luar negeri terutama dari negara-negara maju yang memasuki pasar uang dan pasar modal di dalam negeri dapat membantu menyediakan modal yang dibutuhkan tersebut. Keburukan globalisasi ekonomi * Menghambat pertumbuhan sektor industri Salah satu efek dari globalisasi adalah perkembangan sistem perdagangan luar negeri yang lebih bebas. Perkembangan ini menyebabkan negara-negara berkembang tidak dapat lagi menggunakan tarif yang tingi untuk memberikan proteksi kepada industri yang baru berkembang (infant industry). Dengan demikian, perdagangan luar negeri yang lebih bebas menimbulkan hambatan kepada negara berkembang untuk memajukan sektor industri domestik yang lebih cepat. Selain itu, ketergantungan kepada industri-industri yang dimiliki perusahaan multinasional semakin meningkat. * Memperburuk neraca pembayaran Globalisasi cenderung menaikkan barang-barang impor. Sebaliknya, apabila suatu negara tidak mampu bersaing, maka ekspor tidak berkembang. Keadaan ini dapat memperburuk kondisi neraca pembayaran. Efek buruk lain dari globaliassi terhadap neraca pembayaran adalah pembayaran neto pendapatan faktor produksi dari luar negeri cenderung mengalami defisit. Investasi asing yang bertambah banyak menyebabkan aliran pembayaran keuntungan (pendapatan) investasi ke luar negeri semakin meningkat. Tidak berkembangnya ekspor dapat berakibat buruk terhadap neraca pembayaran. * Sektor keuangan semakin tidak stabil Salah satu efek penting dari globalisasi adalah pengaliran investasi (modal) portofolio yang semakin besar. Investasi ini terutama meliputi partisipasi dana luar negeri ke pasar saham. Ketika pasar saham sedang meningkat, dana ini akan mengalir masuk, neraca pembayaran bertambah bak dan nilai uang akan bertambah baik. Sebaliknya, ketika harga-harga saham di pasar saham menurun, dana dalam negeri akan mengalir ke luar negeri, neraca pembayaran cenderung menjadi bertambah buruk dan nilai mata uang domestik merosot. Ketidakstabilan di sektor keuangan ini dapat menimbulkan efek buruk kepada kestabilan kegiatan ekonomi secara keseluruhan. * memperburuk prospek pertumbuhan ekonomi jangka panjang Apabila hal-hal yang dinyatakan di atas berlaku dalam suatu negara, maka dlam jangka pendek pertumbuhan ekonominya menjadi tidak stabil. Dalam jangka panjang pertumbuhan yang seperti ini akan mengurangi lajunya pertumbuhan ekonomi. Pendapatan nasional dan kesempatan kerja akan semakin lambat pertumbuhannya dan masalah pengangguran tidak dapat diatasi atau malah semakin memburuk. Pada akhirnya, apabila globalisasi menimbulkan efek buruk kepada prospek pertumbuhan ekonomi jangka panjang suatu negara, distribusi pendapatan menjadi semakin tidak adil dan masalah sosial-ekonomi masyarakat semakin bertambah buruk. Globalisasi kebudayaan Sub-kebudayaan Punk, adalah contoh sebuah kebudayaan yang berkembang secara global Globalisasi mempengaruhi hampir semua aspek yang ada di masyarakat, termasuk diantaranya aspek budaya. Kebudayaan dapat diartikan sebagai nilai-nilai (values) yang dianut oleh masyarakat ataupun persepsi yang dimiliki oleh warga masyarakat terhadap berbagai hal. Baik nilai-nilai maupun persepsi berkaitan dengan aspek-aspek

78

kejiwaan/psikologis, yaitu apa yang terdapat dalam alam pikiran. Aspek-aspek kejiwaan ini menjadi penting artinya apabila disadari, bahwa tingkah laku seseorang sangat dipengaruhi oleh apa yang ada dalam alam pikiran orang yang bersangkutan. Sebagai salah satu hasil pemikiran dan penemuan seseorang adalah kesenian, yang merupakan subsistem dari kebudayaan. Globalisasi sebagai sebuah gejala tersebarnya nilai-nilai dan budaya tertentu keseluruh dunia (sehingga menjadi budaya dunia atau world culture) telah terlihat semenjak lama. Cikal bakal dari persebaran budaya dunia ini dapat ditelusuri dari perjalanan para penjelajah Eropa Barat ke berbagai tempat di dunia ini ( Lucian W. Pye, 1966 ). Namun, perkembangan globalisasi kebudayaan secara intensif terjadi pada awal ke-20 dengan berkembangnya teknologi komunikasi. Kontak melalui media menggantikan kontak fisik sebagai sarana utama komunikasi antarbangsa. Perubahan tersebut menjadikan komunikasi antarbangsa lebih mudah dilakukan, hal ini menyebabkan semakin cepatnya perkembangan globalisasi kebudayaan. Ciri berkembangnya globalisasi kebudayaan * Berkembangnya pertukaran kebudayaan internasional. * Penyebaran prinsip multikebudayaan (multiculturalism), dan kemudahan akses suatu individu terhadap kebudayaan lain di luar kebudayaannya. * Berkembangnya turisme dan pariwisata. * Semakin banyaknya imigrasi dari suatu negara ke negara lain. * Berkembangnya mode yang berskala global, seperti pakaian, film dan lain lain. wikipedia.org

Kenakalan Remaja
Oleh: AsianBrain.com Content Tea Kenakalan remaja meliputi semua perilaku yang menyimpang dari norma-norma hukum pidana yang dilakukan oleh remaja. Perilaku tersebut akan merugikan dirinya sendiri dan orang-orang di sekitarnya. Para ahli pendidikan sependapat bahwa remaja adalah mereka yang berusia 13-18 tahun. Pada usia tersebut, seseorang sudah melampaui masa kanak-kanak, namun masih belum cukup matang untuk dapat dikatakan dewasa. Ia berada pada masa transisi.

Definisi kenakalan remaja menurut para ahli
• Kartono, ilmuwan sosiologi Kenakalan Remaja atau dalam bahasa Inggris dikenal dengan istilah juvenile delinquency merupakan gejala patologis sosial pada remaja yang disebabkan oleh satu bentuk pengabaian sosial. Akibatnya, mereka mengembangkan bentuk perilaku yang menyimpang". • Santrock "Kenakalan remaja merupakan kumpulan dari berbagai perilaku remaja yang tidak dapat diterima secara sosial hingga terjadi tindakan kriminal."

79

Sejak kapan masalah kenakalan remaja mulai disoroti?
Masalah kenakalan remaja mulai mendapat perhatian masyarakat secara khusus sejak terbentuknya peradilan untuk anak-anak nakal (juvenile court) pada 1899 di Illinois, Amerika Serikat.

Jenis-jenis kenakalan remaja
• Penyalahgunaan narkoba • Seks bebas • Tawuran antara pelajar

Penyebab terjadinya kenakalan remaja
Perilaku 'nakal' remaja bisa disebabkan oleh faktor dari remaja itu sendiri (internal) maupun faktor dari luar (eksternal). Faktor internal: 1. Krisis identitas Perubahan biologis dan sosiologis pada diri remaja memungkinkan terjadinya dua bentuk integrasi. Pertama, terbentuknya perasaan akan konsistensi dalam kehidupannya. Kedua, tercapainya identitas peran. Kenakalan ramaja terjadi karena remaja gagal mencapai masa integrasi kedua. 2. Kontrol diri yang lemah Remaja yang tidak bisa mempelajari dan membedakan tingkah laku yang dapat diterima dengan yang tidak dapat diterima akan terseret pada perilaku 'nakal'. Begitupun bagi mereka yang telah mengetahui perbedaan dua tingkah laku tersebut, namun tidak bisa mengembangkan kontrol diri untuk bertingkah laku sesuai dengan pengetahuannya. Faktor eksternal: 1. Keluarga Perceraian orangtua, tidak adanya komunikasi antar anggota keluarga, atau perselisihan antar anggota keluarga bisa memicu perilaku negatif pada remaja. Pendidikan yang salah di keluarga pun, seperti terlalu memanjakan anak, tidak memberikan pendidikan agama, atau penolakan terhadap eksistensi anak, bisa menjadi penyebab terjadinya kenakalan remaja. 2. Teman sebaya yang kurang baik 3. Komunitas/lingkungan tempat tinggal yang kurang baik.

Hal-hal yang bisa dilakukan untuk mengatasi kenakalan remaja:
1. Kegagalan mencapai identitas peran dan lemahnya kontrol diri bisa dicegah atau diatasi dengan prinsip keteladanan. Remaja harus bisa mendapatkan sebanyak mungkin figur orang-orang dewasa yang telah melampaui masa remajanya dengan baik juga mereka yang berhasil memperbaiki diri setelah sebelumnya gagal pada tahap ini.

80

2. Adanya motivasi dari keluarga, guru, teman sebaya untuk melakukan point pertama. 3. Kemauan orangtua untuk membenahi kondisi keluarga sehingga tercipta keluarga yang harmonis, komunikatif, dan nyaman bagi remaja. 4. Remaja pandai memilih teman dan lingkungan yang baik serta orangtua memberi arahan dengan siapa dan di komunitas mana remaja harus bergaul. 5. Remaja membentuk ketahanan diri agar tidak mudah terpengaruh jika ternyata teman sebaya atau komunitas yang ada tidak sesuai dengan harapan.

81

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful