P. 1
ACARA IV Biokimia, Bahan Makanan

ACARA IV Biokimia, Bahan Makanan

|Views: 1,436|Likes:
Published by Dian Acha Farhani

More info:

Published by: Dian Acha Farhani on Jan 06, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/08/2013

pdf

text

original

ACARA IV UJI MAKANAN

A. PELAKSANAAN PRAKTIKUM
Tujuan :1) Menentukan dan membandingkan berat jenis air susu (air susu murni, air susu yang diencerkan 1 kali dengan aquades, dan fitrat air susu dari percobaan pengendapan kasein (B3). 1) 2) kasein. 3) 4) 5) 6) kasein. 7) kasein. 8) Menunjukkan adanya ion Ca dan P-anorganik dari fitrat pengendapan kasein. Hari, tanggal Tempat : Selasa, 9 November 2010. : Laboratorium Kimia Dasar, Lantai III, Fakultas MIPA, Universitas Mataram. Menunjukkan adanya laktosa dari fitrat pengendapan Menguji reaksi warna protein dengan menggunakan Menguji kadar P-organik dari kasein dengan beberapa pereaksi. menggunakan pereaksi Neumann. Menguji endapan kasein dengan menggunakan Grease Menunjukkan adanya laktalbumin dari pengendapan Spot Test (Tes Noda Lemak). Menguji reaksi air susu. Menguji air susu secara kualitatif dengan pengendapan

B.

LANDASAN TEORI
Bahan makanan disebut juga komoditas pangan dalam perdagangan, ialah apa yang

kita beli, kita masak, dan kita susun menjadi hidangan. Contoh dari bahan makanan adalah beras, jagung, daging. Telur dan sebagainya. Ada kelompok ahli gizi yang menambahkan air dan oksigen sebagai makanan pula. Bahan makanan itu terdiri dari karbohidrat, protein, lemak dan vitamin. Karbohidrat misalnya, adalah nama kelompok bagi ikatan-ikatan

organik yang mempunyai fungsi menghasilkan energi dan mempunyai karakteristik sejenis. Karbohidrat terdiri dari unsur C, H, O dan merupakan polyalcohol. Lemak juga merupakan kumpulan ikatan-ikatan organik dengan berbagai struktur molekul, tapi mempunyai karakteristik yang sama yaitu larut dalam zat-zat pelarut tertentu. Bahan makanan sering juga disebut bahan pangan dan dalam perdagangan disebut komoditi pangan adalah apa yang kita produksi atau perdagangkan, seperti daging, sayur, buah dan juga termasuk susu (Soediaoetama,2004:17). Ada tiga komponen penting penghasil energi yang sangat dibutuhkan bagi setiap manusia yaitu karbohidrat, lemak dan protein. Dimana ketiga komponen tersebut merupakan bahan makanan yang dibutuhkan oelh tubuh, karbohidrat mempunyai peranan penting dalam menentukan karakteristik bahan makanan, misalnya rasa, warna, tekstur, dan lain-lain, protein merupakan zat gizi yang sangat penting karena paling erat hubungannya dengan proses-proses kehidupan. Di dalam sel, protein terdapat sebagai protein struktural maupun sebagai protein metabolik. Protein dibagi menjadi dua yaitu protein fibrous yang banyak bergantung pada struktur skunder dimana bentuk protein ini boleh diulang, bentuk yang kedua yaitu protein globular (enzim dan antibodi) yang banyak bergantung pada struktur bebas yang terdapat 20 jenis asam amino yang digunakan untuk membentuk rantaian polipeptida (protein) fungsi, bentuk, ukuran dan jenis protein akan ditentukan oleh jenis, bilangan dan taburan asam amino yang terdapat di dalam struktur tersebut. Suber protein diantaranya yaitu salah satunya adalah susu yang lebih dikenal dengan protein hewani (Hartono, 2006: 556). Susu merupakan makanan yang hampir sempurna karena kandungan gizinya yang lengkap. Selain air, susu juga mengandung lemak, protein, karbohidrat, enzim-enzim serta vitamin A dan D dalam jumlah yang memadai. Manfaat susu merupakan interaksi molekulmolekul yang terkandung didalamnya. Umumnya susu yang dikandung masyarakat adalah susu olahan baik dalm bentuk cair (UHT) maupun dalam bentuk bubuk. Susu UHT (ultra high temperature) merupakan susu yang diolah dengan pemanasan suhu yang tinggi dan dalam waktu yang singkat selama 2-5 detik dengan suhu 135-145 0C. Keadaan multilapus susu UHT ini juga kedap cahaya sehingga cahaya ultraviolet tidak akan mampu menembusnya. Dengan terlindungnya dari sinar ultraviolet maka kesegaran susu UHT dapat terjaga. Susu UHT merupakan susu yang sangat higienis karena bebas dari seluruh mikroba serta spora, sehingga potensi kerusakan mikrobioliogis sangat minimal bahkan hampir tidak ada (Astawan, 2007: 154).

Susu adalah minuman bergizi yang mengandung protein 3,2% dan kaya mineral kalsium (143 mg 1100 gr susu) dengan konsumsi relatif rendah, susu selama ini juga dikenal dengan bahan makanan yang diperkirakan mempunyai kemampuan untuk meningkat polutan. Di lingkungan udara pulutan dapat kita hindari jika kita meminum susu (Agroteksos, 2001). Susu sapi mempunyai komposisi molekul-molekul yang mengandung lemak 3,8%, protein 3,2% laktosa 4,8% dan mineral 0,7%. Susu merupakan medium yang baik untuk pertumbuhan mikroba. Hal ini karena komposisi nutrisinya sangat ideal untuk pertumbuhan mikroba. Apabila sapi dalam keadaan sehat, maka susu yang dihasilkannya juga dalam keadaan steril. Mikroba mulai terdapat pada saluran puting susu untuk mengurangi jumlah mikroba awal pada susu, maka pada pemerahan susu sebanyak 3-4 pancaran pertama harus dibuang (Djalip, 1997: 53). Jika mengandung protein total 3,3% protein susu mengandung kesembilan asam amino esensial yang dibutukan manusia ada dua kategori utama protein susu yang dibedakan dari sisi komposisi kimia dan sifat fisiknya. Keluarga kasein mengandung faktor yang akan terkoagulasi atau teredapkan pada pH 4,66. protein serum tidak mengandung fosfor dan protein tetap dalam larutan pH 4,6. dalam susu sapi 82% protein susu adalah kasein dan 18% adalah serum atau protein Whey. Kasein tersuspensi dalam susu dalam kompleks yang disebut mise. Kandungan fosfat yang tinggi pada kasein terkait dengan garam kalsium fosfat sehingga susu menjadi sumber kalsium dalam diet. Protein serum terdiri dari laktoglobulin 50%, laktoglobumin 20% albumin momunaglobumin, laktoferin, transferin dan sebagian kecil protein dan enzim. Protein whey tidak mengandung fosfor tetapi mengandung asam amino sulfur yang membentuk ikatan disulfida, jika ikatan ini rusak maka protein mengalami denatrasi, fungsi protein whey tidak begitu jelas, laktoglobulin diketahui sebagai pembawa Vitamin A, laktoglobulin tidak terdapat dalam susu. Immunoglobulin berperan dalam sistem imun ternak sedangkan pada manusia belum diketahui secara pasti. Laktoferin dan transferin berperan penting dalam adsorpsi (Wiranadi Kusumah, 1997: 85). Susu digunakan sebagai sumber kasein komersil. Biasanya kedalam skin milk atau susu dengan kandungan lemak yang rendah. Ditambahkan asam untuk mengendapkan kasein, susudah dipanaskan dari whey “tahu” dari kasein dicuci dengan air, ditiris, diperes, dipotong-potong, dan dikeringkan. Kasein digunakan sebagai garam kalsium untuk memperbaiki sifat adukan dari krim yang terbuat dari lemak tumbuh-tumbuhan yang digunakan sebagai pelapis atas untuk memperbaiki keseluruhan asam krim dan yogurt,

2003). yaitu reaksi Xantoprotein.16%) dan kadar kalsium tertinggi adalah formulasi susu kedelai murni (10. dimana larutan protein yang mengandung triptofan dapat di reaksikan dengan pereaksi Hopkins-Cole yang mengandung asam glioksilat. Reaksi yang terjadi ialah nitrasi pada inti benzena yang terdapat pada molekul protein.kasein dapat dirubah menjadi lem dibuat bersifat basa dengan penambahan kapur. disamping mempunyai kelebihan susu kedelai juga mempunyai kekurangan yaitu aromanya kurang sedap yang disebakan oleh aktivitas enzim lipoksigenase yang secara alami terdapat di dalam kedelai. biasanya terdapat kira-kira 1000 x 106 butiran lemak dalam setiap mili liter susu. Selain kualitas protein yang baik kedelai juga mudah diperoleh mengandung asam lemak tak jenuh esensial (linoleat) yang cukup tinggi dan tidak mengandung kolestrol sehingga dengan mengkonsumsi kedelai secara rutin dapat mengurangi penyakit degeneratif. Protein susu kedelai mempunyai susunan asam amino yang mirip seperti susu sapi. Susu kedelai diketahui kadar protein yang tertinggi adalah formulasi susu kedelai ditambah kacang hijau (3. asam sulfat dituangkan . Susu kedelai adalah produk seperti susu sapi tetapi dibuat dari ekstrack dari kedelai.09%) (Hamidah. sehingga sangat baik sebagai pengganti susu sapi terutama bagi meraka yang alergi laktointolerance atau bagi mereka yang tidak menyukai susu sapi atau daya belinya kurang. Reaksi Hopkins-Cole digunkan untuk mengdentifikasi triptofan. borak. atau thithano lamina. Lemak atau lapid dalamsusu terdapat dalam bentuk jutaan bola kecil. Sodium karbonat. dan kacang-kacangan lainnya. Pada protein terdapat beberapa reaksi khas. dan kedua karena adanya suatu lapisan tipis (membran) yang membungkus butiran tersebut yang terdiri dari protein dan fospalipid (Djaeni. 2004: 15). Untuk mengetahui tingkat penerimaan masyarakat terhadap formulasi terhadap susu kedelai dilakukan uji organoleptif dengan 8 (delapan) karakter penilaian. dan sebagainya. Reaksi Xntoprotein dimana larutan asam nitrat pekat ditambahkan dengan hati-hati ke dalam larutan protein. Setelah dicampur terjadi endapan putih yang dapat diubah menjadi kuning apabila dipananskan. setelah dicampur dengan pereaksi Hopkins-Cole. reaksi Millon. Butiran-butiran ini mempertahankan keutuhannya karena tegangan permukaan yang disebabkan oleh ukuran yang kecil. Hopkins-Cole. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah eksperimental dengan pendekatan cross sectional populasi penelitian ini adalah 3 (tiga) sampel formulasi. Butiran-butiranini mempunyai daerah permukaan yang luas dan hal tersebut yang menyebabkan susu mudah dan cepat menyerap flavor asing. juga dilakukan uji kadar protein dan kalsium dengan mengugnakan metode makro Kjeldahl dan spectrofotometer. Atau diubah menjadi satu lapidan dalam pembuatan kertas.

karena terbentuknya senyawa merkuri dengan gugus hidroksifenil yang berwarna (Poedjiadi. akan menghasilkan endapan putih yang dapat erubah menjadi merah oleh pemanasan. C. Pada dasarnya reaksi ini positif untuk fenol-fenol. Alat Tabung reaksi Rak tabung reaksi Penjepit Gelas kimia 10 mL Erlenmeyer 10 mL Gelas ukur 25 mL Penangas air Bunsen Neraca analitik Neraca goyang Corong kaca Gelas arloji Piknometer Pipet tetes Batang pengaduk Gelas kimia 250 mL Labu takar 10 mL Labu takar 50 mL Labu takar 250 mL Pipet volume 1mL Pipet volume 5mL Rubber bolb .perlahan-lahan seingga membentuk lapisan di bawah larutan protein. Beberapa saat kemudian terjadi cincin ungu pada batas antara kedua lapisan tersebut. ALAT DAN BAHAN 1. Apabila pereaksi ini ditambahkan pada larutan protein. 2009: 121-122). Pereaksi Millon adalah larutan merkuro dan merkuri nitrat dalam asam nitrat.

1. Air susu murni .2.5% Alpa naftol Kertas saring Amonium Hidroksida Biuret Pereaksi Molish Amoniak solution Fruktosa Glukosa Kertas lakmus Tissue Kertas label Reagen Benedict Larutan formaldeid encer (diencerkan 500 kali) D. Bahan Air susu sapi (Ultra Jaya) Air susu kedelai CH3COOH glassial 2% HNO3 pekat H2SO4 pekat K-oksalat Eter Aquades Fehling A Fehling B Benedict NaOH 40% CuSO4 0. SKEMA KERJA Penetapan Berat Jenis Ditentukan berat jenis air susu piknometer atau labu takar 5ml yang meliputi: b.Dimasukan ke dalam tabung .

Ditentukan berat jenis dari air susu Hasil d. Filtrat air susu (dari endapan kasein) .Dimasukan ke dalam labu takar . Susu murni Dicek dengan lakmus merah Hasil f.Diencerkan satu kali dengan aquades . Susu didiamkan 2 jam Dicek dengan lakmus merah Hasil 3.Ditentukan berat jenisnya Hasil c.Ditimbang .Diencerkan dengan 20 ml air + asam Asetat glasial 2% tetes demi tetes sampai terjadi endapan kasein dan filtrat bening Hasil . Reaksi Air Susu e.. Pengendapan Kasein 20 ml air susu .ditentukan berat jenis filtratnya Hasil 2.disaring . Air susu yang diencerkan 1 kali .

a.Endapan (untuk percobaan 4-6) 4. Reaksi-reaksi warna protein Filtrat (untuk percobaan 7-9) Reaksi Biuret (untuk ikatan peptida) 3 ml larutan protein .5% hingga terjadi warna merah muda atau ungu b.+ 1 tetes larutan formaldehid encer (diencerkan 500 kali) Hasil . Reaksi Xantoprotein (untuk asam amino deengan inti benzena) 3 ml larutan protein Dimasukan ke dalam tabung reaksi + 1 ml Asam Nitrat (HNO3) pekat Hasil Dipanaskan dengan pemanas air Didinginkan dan dibagi menjadi dua mendidih hingga larutan menjadi kuning tabung + 1 tetes reagen merkuri sulfat .Dimasukan ke dalam tabung reaksi . Reaksi Hopkins- Hasil Cole (untuk Triptofan) 1 ml larutan protein .Dimasukan ke dalam tabung reaksi .+ 1 ml larutan NaOH 10% Hasil + 1 tetes larutan CuSO4 0.Digojog dan ditambah 1 mL H2SO4 pekat perlahanlahan Hasil: terjadi lapisan dengan lingkaran ungu di bagian atas c.

Jika isi tabung berwarna coklat atau hitam maka ditambah 1 tetes aam nitrat pekat.Dikeringkan di kertas saring dengan memijatnya Hasil Campuran Dimasukkan dalam tabung reaksi + 2 tetes nitrat pekat .Dipanaskan(dalam lemari asam) sampai keluar asap sulfat putih.Dialirkan 1 ml H2SO4 pekat perlahan-lahan melalui dinding tabung hingga membentuk lapisan di bawah campuran Hasil 5.+ 10 tetes asam sulfat pekat . Reaksi Molish 1 ml larutan protein Dimasukan ke dalam tabung reaksi + 2 ml larutan Alpha Neftol dan dikocok Hasil. . Campuran . Reaksi Neumann untuk Kasein (P-organik dari Kasein) Sisa endapan . .Tabung I Tabung II + Amonia (NH3) Hasil Hasil d.

Sebagian dikocok dengan sedikit ester . Grease Spot Test (Test noda lemak) Endapan kering .Dipanaskan hingga keluar asam putih dan larutan tidak berwarna Campuran . Menunjukan adanya laktobumin Filtrat pengendapan kasein Dibuat pH 5.Diamati Hasil 7.Di asup gelas arloji dengan kertas saring . panaskan Hasil: berupa endapan kuning jeruk bila mengadung sedikit P 6.4 kemudian dipanaskan Hasil adanya koagulan menunjukkan adanya laktalbumin: Disaring dengan kertas saring Filtrat untuk percobaan 7 ..Dituang ke dalam gelas arloji dan diuapkan esternya . digojog.Didinginkan .+ 2 mL ammonium molibdat.

Menunjukan adanya ion Ca dan P-anorganik Filtrat dari percobaan 7 Ditambah beberapa tetes amonium hidroksida kemudian dipanaskan.Reaksi positif jika terjadi warna hijau. .dipanaskan (penangas air) .Reaksi positif jika terbentuk endapan merah bata/coklat Hasil 8. merah. Uji Fehling Filtrat dari percobaan 7 . .Dimasukan ke dalam tabung reaksi . Terdapat endapan yang Hasil kemudian disaring dengan kertas saring Endapan dilarutkan dengan menuangi asam cuka encer di atas kertas saring Hasil .Dimasukan ke dalam tabung reaksi 1 ml benedict ditambah delapan tetes larutan glukosa . oranye.dicoba juga untuk fruktosa Hasil b. Percobaan Benedict Filtrat dari percobaan 7 . dan endapan merah bata. Menunjukan adanya laktosa a.+ campuran pereaksi fehlin A dan B.Masukan ke dalam pemanas air selama 5 menit .8.

panaskan Hasil: berupa endapan kuning jeruk bila mengadung sedikit P E.+ 2 mL ammonium molibdat. c.984gram/ml Berat jenis susu encer : 1. (B3) • • Bandingkan! Kesimpulan berat jenis dengan a.12 gram Berat filtrat air susu = 73.92 gram = 25.Didinginkan . Untuk Susu Sapi (susu Ultra) Langkah kerja Penetapan berat jenis: • Tentukan a.112 gram/ml Berat jenis fitrat susu : 0. berat gelas . c.61 gram dengan aquades percobaan pengeendapan kasein (berat labu takar = 14. No 1 HASIL PENGAMATAN 1. air susu dari kimia 25ml = 40.08 gram. b.08 = 4.08 = 11. digojog.00-14.12 gram) • Berat jenis dari masing-masing susu: Berat jenis susu murni: 0. b.2 -14.73 -40.12 = 33.Filtrat dikumpulkan dalam tabung sebagian Filtrat ditambah K-Oksalat Hasil Hasil berupa fitltrat (untuk menunjukkan fosfat anorganik) .84025 gram/ml piknometer atau sejenisnya untuk: Air susu murni Air susu diencerkan 1 kali Filtrat Berat susu encer Hasil Pengamatan • Berat dari masing-masing air susu: Berat ar susu murni = 19.

5% warna menjadi ungu (+) Reaksi Hopkins-Cole: Setelah ditambah H2SO4 terdapat 2 lapisan 1mL larutan protein + 1 berwarna bening.5% Reaksi a. Setelah ditambahkan dengan CuSO4 0. di atas ungu formaldehid encer Tambahkan 1 tetes CuSO4 Hopkins-Cole (untuk berwarna bening kertas lakmus merah. untuk: dibiarkan ±2 jam 3 Pengendapan Kasein • 20 mL air susu + 20mL air ditamahkan bertetes-tetes asam asetat glasial 2% sampai terjadi endapan. b. • 0. tetes Biuret peptida): NaOH 40% triptofan): (diencerkan 500 kali) + 1 tetes reagen merkuri sulfat. 2 Reaksi air susu: • Selidiki reaksi air susu dengan Reaksi air susu baru yang dicelupkan kertas lakmus adalah terjadi perubahan a. warna dari lakmus merah menjadi biru. • 4 Saringlah endapan dengan kertas saring Reaksi warna protein • Reaksi a.• Kesimpulan: seharusnya semakin kurang kepekatan dari susu maka berat jenisnya akan makin rendah. karena faktor utama yang mempengaruhi berat jenis susu adalah volume total dan volume kadar kasein dari susu tersebut. . terjadi perubahan warna lakmus merah yang sedikit biru (sedikit asam). Larutan tetap bening 3mL larutan protein + 1mL b. • Terbentuknya endapan berwarna putih kekuningan (setelah didiamkan mengering) • Larutan/filtrat kekuningan. b. Air susu yang masih baru Air susu yang sudah Untuk air susu yang dibiarkan selama 2 jam. Semakin besar volume totalnya akan mempengaruhi besarnya berat jenis yang diperoleh. Uji biuret: (untuk ikatan a.

tabung 1 ditamabhkan ammonia tabung 2 tanpa amonia d. 3mL arutan protein + HNO3 pekat b. • Biarkan tabung dingin + 2 mL Kasein + nitrat + H2SO4 pekat larutan berubah menjadi berwarna orange Dipanaskan: berwarna coklat kehitaman+ nitrat 1 tetes dipanaskan lagi. Untuk tabung 1 + ammonia di bagian atas bening.Setelah ditambahkan H2SO4 terdapat 2 Naftol dan dikocok pekat perlahan-lahan 5 Reaksi Neumann untuk Kasein (P-organik dari kasein) • • Sisa endapan dikeringkan di kertas Massukkan + 10 sedikit tetes kasein ke saring dalam tabung reaksi + 2 tetes HNO3 pekat H2SO4 pekat dipanaskan dengan api kecil dalam lemari asam. campuran dibagi 2 tabung. Bandingkan warna tabung 1 dan 2! • Reaksi uji Molisch: lapisan. c. . Alirkan perlahan-lahan + 1 mL H2SO4 kuning bening. • reaksi Xantoprotein (asam amino a. Dipanaskan dengan penangas air mendidih sampai kuning.b. Dinginkan di bawah air leding. b. dengan inti benzena): a. pekat Digojog + asam sulfat (perlahan-lahan) melalui dinding tabung. panaskan sampai larutan tak berwarna. di bawah kuning. warna tidak berubah keluar asap putih + 2mL ammonium. d. warna larutan menjadi coklat susus dipanaskan lagi larutan menjadi kuning jernih. Reaksi Xantoprotein: 3mL protein + 1 mL HNO3 larutan menjadi bening kekuningan Setelah dipanaskan warna larutan kuning (+). c. di atas kuning keruh dan di bawah 1 mL larutan protein + 2 larutan alpha. Yang tanpa ammonia lebih kuning. • Jika tabung berwarna coklat/hitam + tetes HNO3 pekat.

kemudian masukkan tabung dalam penangas air selama 5 menit. 8 selanjutnya. setelah koloid dipanaskan berwarna terbentuk larutan (warna fruktosa kuning merah bata/ kecoklatan dan terdapat endapan merah bata/kecoklatan (warna endapan leebih muda dibandingkan fitratnya). dimasukkan selama 5 menit. • (+) terbentuk laktalbumin : terdapat 2 lapisan di atas bening. kocok Tuangkan dalam kaca arloji dan dalam tabung reaksi. setelah ditambahkan fitrat susu (warna biru muda). kocok dan Diusap dengan kertas saring: kertas saring berwarna bening/ transparan. uapkan eternya. larutan fruktosa. 9 Menunjukkan adanya ino Ca dan Panorganik . sama dengan fruktosa bening)  Untuk Fehling: Fehling A + fehling B (warna biru tua). Kerjakan untuk  Untuk Benedict: 5 ml reagen+ glukosa (orange) berubah warna menjadi bening kekuningan. Fitrat untuk perccobaan dibuat pH 5.5 mL) larutan glukosa. Uji Fehling: • Fitrat ditambahkan dengan reagen dalam penangas air Fehling (Fehling A + Fehling B). Grease spot test (tes noda lemak) • • Kasein kering+ sedikit eter.4 kemudian panaskan. setelah dipanaskan berubah menjadi merah bata (seharusnya. Reaksi Benedict: • 5mL reagen benedict + 8 tetes (0. 7 • Usap denan kertas saring/ Menunjukkan laktalbumin • • • • Fitrat dari pengendapan kasein Adanya koagulan menunjukkan Saring dengan kertas saring. Menunjukkan adanya laktosa Fitrat percobaan nomor 7. di bawah keruh (untuk yang tanpa penambahan CH3COOH). untuk percobaan Benedict dan fehling. panaskan. setelah didiamkan dingin).ammonium 6 molibdat. kerjakan seperti pada percobaan I/ acara I. adanya laktalbumin.

Berat ar susu murni = 42.65 gram.715 gram/ml Berat jenis fitrat susu : 0.69 gram = 55.15gram c. Fitrat dari percobaan nomor 7 + NH4OH beberapa tetes kemudian dipanaskan terjadi endapan. Sebagian fitrat + larutan K-oksalat yang jernih. Filtrat air susu dari percobaan pengeendapan kasein (B3) • • Bandingkan! Kesimpulan kimia 25ml = 37.65 = 24.72 gram (berat labu takar = 38.a. Berat susu encer Hasil Pengamatan • Berat dari masing-masing air susu: a.38 gram) • Berat jenis dari masing-masing susu: Berat jenis susu murni: 0. Larutan keruh (fitrat asam cuka + fitrat 7).37-38. untuk menunjukkan fosfat organik. Air susu murni b. karena b. Air susu diencerkan 1 kali dengan aquades c. Endapan putih. fitrat jernih. Saring endapan di larutkan dalam (2mL aquades + 10 tetes asam asetat glasial) c.07-37. Setelah ditambahkan asam tidak terjadi perubahan c.8 -38. 2.65 = 17. berat gelas . b. e. d.38 = 4. b. Fitrat dikumpulkan dalam tabung bersih. Untuk Susu Kedelai No 1 Langkah kerja Penetapan berat jenis: • Tentukan berat jenis dengan piknometer untuk: a.938gram/ml Berat jenis susu encer : 1. Fitrat percobaan lain kerjakan eperti molibdat ammonium a. Berat filtrat air susu = 63.618 gram/ml • Kesimpulan: seharusnya semakin kurang kepekatan dari susu maka berat jenisnya akan makin rendah.

5% Reaksi Hopkins-Cole (untuk a. Reaksi Xantoprotein (asam amino jam. • 4 Saringlah endapan dengan kertas saring Reaksi warna protein • Reaksi Biuret (untuk ikatan Uji biuret: a. 3ml larutan protein + 1ml NaOH 40% • b. Tambahkan 1 tetes CuSO4 0. b. Setelah ditambahkan dengan CuSO4 0. • Terbentuknya endapan berwarna putih (setelah didiamkan mongering) • Larutan /filtrat berwarna bening kekuningan. kertas lakmus merah. untuk: a. Semakin besar volume totalnya akan mempengaruhi besarnya berat jenis yang diperoleh. Digojog + asam sulfat pekat (perlahan-lahan) • melalui dinding Reaksi Xantoprotein: tabung. tidak terjadi perubahan warna lakmus merah (asam).5% warna menjadi ungu (+) Reaksi Hopkins-Cole: a. peptida): a. Larutan tetap bening b. Air susu yang masih baru b. 2 Reaksi air susu: • Selidiki reaksi air susu dengan Reaksi air susu baru yang dicelupkan kertas lakmus adalah terjadi perubahan warna dari lakmus merah menjadi biru. Air susu yang sudah dibiarkan ±2 Untuk air susu yang dibiarkan selama 2 jam 3 Pengendapan Kasein • 20 ml air susu + 20ml air ditamahkan bertetes-tetes asam asetat glasial 2% sampai terjadi endapan. 1ml larutan protein + 1 tetes frmaldehid encer (diencerkan 500 kali) + 1 tetes reagen merkuri sulfat.faktor utama yang mempengaruhi berat jenis susu adalah volume total dan volume kadar kasein dari susu tersebut. Tidak berhasil karena tidak terbentuk 2 lapisan. triptofan): .

3mL protein + 1 mL HNO3 larutan menjadi bening kekuningan b. kocok terlihat bening/ transparan. Untuk tabung 1 + ammonia: warna larutan agak kuning. Bandingkan warna tabung 1 dan 2! • Reaksi uji Molisch: 1 mL larutan protein + 2 larutan alphaNaftol dan dikocok Alirkan perlahan-lahan + 1 mL H2SO4 pekat perlahan-lahan 5 Reaksi Neumann untuk Kasein (P-organik dari kasein) • • Sisa endapan dikeringkan di kertas Massukkan + 10 sedikit tetes kasein H2SO4 ke ekat saring dalam tabung reaksi + 2 tetes HNO3 pekat dipanaskan dengan api kecil dalam lemari asam. Tabung 2 ditambahkan ammonia e. c. Dipanaskan dengan penangas air mendidih sampai kuning. 3ml arutan protein + HNO3 pekat b. c. TIdak dilakukan panaskan. Tabung 1 tanpa amonia d. • Jika tabung berwarna coklat/hitam + tetes HNO3 pekat. kocok dan ammonium 6 a. Lapisan atas berwarna putih dan terdapat endapan Lapisan bawah berwarna kuning. Dinginkan di bawah air leding.dengan inti benzena): a. d. Tuangkan dalam kaca arloji dan Diusap dengan kertas saring: kertas saring Kasein kering+ sedikit eter. Tabung larutan 2 lebih menunjukkan kuning warna setelah ditambahkan dengan ammonia. . campuran dibagi 2 tabung. panaskan sampai larutan tak berwarna. • Biarkan tabung dingin + 2 mL molibdat. Terdapat 2 lapisan setelah ditambahkan asam sulfat pekat dan terjadi reaksi esoterm pada dasar tabung. Grease spot test (tes noda lemak) • • dalam tabung reaksi. Setelah dipanaskan warna larutan kuning (+).

glukosa. • (+) terbentuk laktalbumin: terlihat adanya koagulan atau endapan putih. Reaksi Benedict: • 5mL reagen benedict + 8 tetes (0. selanjutnya. untuk  Untuk Benedict: Setelah dipanaskan terbentuk partikel yang melayang-layang (koloid). Uji Fehling: • Fitrat ditambahkan dengan reagen dalam penangas air Fehling (Fehling A + Fehling B). fitrat jernih. Larutan keruh (fitrat asam cuka + fitrat 7). Fitrat untuk perccobaan dibuat pH 5. Endapan putih. Setelah ditambahkan asam tidak terjadi perubahan c. adanya laktalbumin. kemudian percobaan Benedict dan fehling.uapkan eternya. adanya endapan putih Kerjakan untuk 9 . larutan fruktosa. Menunjukkan adanya laktosa Fitrat percobaan nomor 7.  Untuk Fehling: Terdapat kekuningan.  Saring endapan di larutkan dalam (2mL aquades + 10 tetes asam asetat glasial)  Fitrat dikumpulkan dalam tabung a. dimasukkan selama 5 menit. 7 • Usap denan kertas saring/ Menunjukkan laktalbumin • • • • 8 Fitrat dari pengendapan kasein Adanya koagulan menunjukkan Saring dengan kertas saring. Menunjukkan adanya ino Ca dan Panorganik  Fitrat dari percobaan nomor 7 + NH4OH beberapa tetes kemudian dipanaskan terjadi endapan.4 kemudian panaskan. b. kerjakan seperti pada percobaan I/ acara I.5 mL) larutan masukkan tabung dalam penangas air selama 5 menit.

 Sebagian fitrat + larutan K-oksalat yang jernih.15 gram : 10mL : 63.12 gram : 33.65 gram : 17.08 gram : 4. 1.bersih.8 gram : 38.08 gram : 11.72 gram : 40 mL Susu diencerkan 1 kali Fitrat air susu  Perhitungan berat jenis: Susu Sapi  Untuk susu murni .07gram : 37.92 gram : 5 mL : 25.69 gram : 5 mL : 55. F.  ANALISIS DATA Berat Jenis Susu murni (susu + labu takar) (labu takar kosong) Susu murni Volume (susu + labu takar) (labu takar kosong) Susu encer Volume (susu + gelas kimia) (gelas kimia kosong) Fitrat air susu Volume : 19.65 gram : 24.37 gram : 38.61 gram : 40 mL susu sapi Susu diencerkan 1 kali Fitrat air susu  susu kedelai Susu murni (susu + labu takar) (gelas kimia kosong) Susu murni Volume (susu + labu takar) (labu takar kosong) Susu encer Volume (susu + gelas kimia) (gelas kimia kosong) Fitrat air susu Volume : 42.38 gram : 4.00 gram : 14.2 gram : 14.73 gram : 40.  Fitrat percobaan lain kerjakan eperti molibdat ammonium untuk menunjukkan fosfat organik.12 gram : 10mL : 73.

84025 gram/mL Susu Kedelai  Untuk Susu murni ρ= m V = 4.15 gram 10 mL = 1.69 gram 5 mL = 0.12 gram 10 mL = 1.61 gram 40 mL = 0.938 gram/mL  Untuk susu encer ρ= m V = 17.92 gram 5 mL = 0.984 gram/mL  Untuk susu encer ρ= m V = 11.112 gram/mL  Untuk fitrat air susu ρ= m V = 33.ρ= m V = 4.715 gram/mL  Untuk fitrat air susu ρ= m V .

Pengendapan Kasein Reaksi Air Susu Filtrat bening Endapan putih kekuningan menunjukan adanya kasein 4.72 gram 40 mL = 0.= 24.  Susu Sapi Susu yang didiamkan : Lakmus Merah à Biru (bersifat basa) Susu yang didiamkan : Lakmus Merah à Sedikit Biru (bersifat sedikit asam)  Susu Kedelai Susu yang didiamkan : Lakmus Merah à Biru (bersifat basa) Susu yang didiamkan : Lakmus Merah à warna tetap (bersifat asam) 3.  Reaksi Warna Protein Reaksi Buret .618 gram/mL 2.

 Reaksi Hopkins-Cole serbuk COOH COOH asam oksalat  Reaksi Xantoprotein Mg CHO COOH asam glioksilat .

kertas menjadi transparan yang mandakan ada lemak Menunjukkan Adanya Laktalbumin Susu sapi (+) terdapat 2 lapisan (di atas bening. 1. di bawah keruh) (+) terdapat koagulan + endapan putih Filtrat kasein (pH 5.  Reaksi Neumann Grease Spot Test (Tes Noda Lemak) Endapan kasein + eter à tidak llarut dalam eter Terdapat tetesan bening. 7.4) ∆  Susu kedelai Filtrat kasein (pH 5.4) ∆ 8. 6. 2. Reaksi Molish 5. Menunjukkan Adanya Ion Ca Dan P-Anorganik . O R C OH Menunjukkan Adanya Laktosa  Reksi Beneddict R HO CH2 Cu2O + + Cu 2 + m e r a h b a t a  Reaksi Fehling A/B O R C OH 2 Cu 2 + + 4OH-(aq) Cu2O m e r a h b a t a 9.

Dari percobaan ini. 1985). Untuk susu yang telah diencerkan memiliki berat jenis yang lebih tinggi dibandingkan dengan berat jenis susu murni. Sedangkan untuk susu kedelai diperoleh berat jenis masing-masing sampel sebesar: 0. seharusnya jika ingin memastikan perbedaan berat jenis secara akurat digunakan volume total yang sama. Hal ini dikarenakan pada susu encer. Adanya perbedaan berat jenis dari masing-masing sampel susu dikarenakan pengaruh dari volume total dan volume tanpa protein (kasein). Untuk air susu sapi diperoleh masingmasing berat jenis sebesar: 0. Berdasarkan analisis data.984gram/mL. sehingga menyebabkan berat jenisnya menjadi lebih besar.Fitrat (nomor 7) + NH4OH ∆ endapan gelartinous dari Ca dan Mg fosfat (endapan putih) Endapan + CH3COOH → tidak terjadi perubahan G. 1. berat molekul protein bertambah akibat adanya pengikatan molekul air oleh senyawa protein dan senyawa penyusun susu lainnya. besarnya berat jenis juga dpengaruhi oleh volume tanpa protein (kasein).715 gram/mL dan 0. menyebabkan terjadinya perbedaan pada berat jenis sampel. Dengan adanya besar volume total yang digunakan pada masing-masing sampel.618 gram/mL. maka akan mempengaruhi pula berat jenis yang ada. Dengan menghilangnya kasein dalam air susu akan menyebabkan beratnya berkurang sehingga berat jenisnya (pada volume 40 mL) manjadi lebih kecil dibandingkan dengan susu murni maupun susu yang telah diencerkan. PEMBAHASAN Pada praktikum acara IV. Untuk berat jenis yang mengandung kasein cenderung memiliki berat jenis yang lebih tinggi dibandingkan dengan berat jenis pada sampel yang tidak mengandung kasein. Untuk ketiga jenis sampel ini menggunakan besar volume yang berbeda-beda.84025 gram/mL. air susu yang telah diencerkan 1 kali serta fitrat air susu dari reaksi pengendapan kasein.938gram/mL. Untuk percobaan pertama yaitu penetapan berat jenis air susu.112 gram/mL dan 0. . yaitu bahan makanan terdiri dari 9 percobaan dimana dalam prosesnya menggunakan bahan dasar susu yang berasal dari susu sapi (susu ultra) dan susu kedelai. Dengan adanya pengaruh dari kasein yang memiliki berat molekul yang cukup besar. Sampel yang tidak mengadung kasein ini adalah filtrat air susu dimana endapanya berupa kasein yang merupakan salah satu jenis protein penyusun susu yang memiliki berat molekul cukup besar karena tersusun dari rantai panjang protein (Buckle. 1. digunakan 3 jenis air susu yaitu air susu murni yang tidak diberikan perlakuan. untuk kedua jenis air susu diperoleh nilai dari berat jenis yang bervariasi.

Dengan struktur penyusun yang mudah terurai (terputus). sehingga menghasilkan massa jenis yang kecil pula.Sedangkan pada susu murni tidak terjadi penambahan air yang berikatan dengan molekul penyusun susu (seperti protein) sehingga berat molekul atau massanya menjadi lebih kecil dibandingkan dengan susu encer meskipun volume total pada susu murni yang digunakan lebih kecil. sedangkan untuk susu yang didiamkan selama 2 jam tidak menunjukkan adanya perubahan pada lakmus merah. Hal ini dikarenakan pada susu kedelai mengandung laktosa dengan komponen penyusun yang sederhana serta daya ikat antarmolekul yang lemah (mudah terputus). diperoleh hasil dimana pada susu sapi murni terjadi perubahan kertas lakmus yang semula merah menjadi berwarna biru. sedangkan untuk air susu yang didiamkan selama 2 jam terjadi perubahan sedikit pada lakmus merah menjadi sedikit berwarna biru. Namun. Kemudian untuk susu kedelai sama seperti susu sapi yaitu pada susu murni yang diuji dengan menggunakan lakmus merah menunujukkan perubahan warna menjadi biru. Untuk percobaan kedua yaitu reaksi air susu. digunakan 2 sampel air susu yaitu air susu murni dan air susu yang didiamkan selama 2 jam. Dimana untuk lakmus merah yang berubah menjadi biru menunjukkan adanya sifat basa dalam larutan air susu sedangkan tidak terjadinya perubahan pada lakmus merah menunjukkan bahwa larutan tersebut (air susu) bersifat asam. Untuk Percobaan ketiga yaitu pengendapan kasein pada susu. Dari analisis data yang diperoleh. Dengan makin mudahnya struktur untuk terurai. berat jenis pada susu kedelai jauh lebih rendah dibandingkan dengan air susu sapi. asam asetat yang ditambahkan dimaksudkan agar protein susu yang telah terderatulasi parsial dengan ikatan antarmolekulnya . pengasaman susu ini disebabkan karena aktivitas bakteri yang memecah laktosa membentuk asam laktat. karena pada percobaan terjadi perubahan sedikit pada kertas lakmus menjadi berwarna biru. Hal ini dikarenakan senyawa penyusun susu kedelai jauh lebih sederhana dibandingkan dengan susu sapi. dimana nilai atau sifat asam dari susu kedelai menujukkan nilai yang lebih tinggi dibandingkan dengan susu sapi. Susu yang didiamkan dapat menyebabkan pembentukan asam dalam susu yang diistilahkan dengan “masam” yang disebabkan karena adanya asam laktat. digunakan susu yang telah diencerkan dan ditambahkan asam asetat glasial 2%. Berdasarkan hasil pengamatan. maka asam laktat yang dihasilkan akan semakin banyak sehingga susu tersebut akan semakin asam. akan memudahkan kerja bakteri dalam proses penguraian menjadi asam laktat. Dimana senyawa penyusun susu kedelai terdiri dari protein nabati dengan stuktur yang sederhana yang memiliki berat molekul kecil. untuk pengujian air susu sapi dengan menggunakan kertas lakmus merah. maka dalam larutan sifat asamnya hanya sedikit. terjadinya perubahan pada kertas lakmus disebabkan oleh pengaruh pH dan sifat larutan.

Hal ini menunjukkan bahwa pada susu sapi diperoleh hasil pengujian yang positif terhadap adanya kandungan triptofan dalam endapan. Pada suhu yang tinggi jumlah asam yang diperlukan untuk koagulasi kasein lebih sedikit dibandingkan jika koagulasi dilakukan pada suhu rendah. Untuk uji pertama yaitu reaksi Biuret. Asam asetat glasial 2% ditambahkan sedikit atau setetes demi tetes agar nantinya terbentuk endapan secara maksimal. Kasein merupakan jenis protein terpenting dalam susu dan terdapat dalam bentuk kalsium kaselnak. Dan dalam praktikum ini digunakan asam untuk mengendapkan protein. dimana larutan menjadi kuning (dengan warna yang sedikit berbeda dari awal). Untuk percobaan yang keempat yaitu reaksi warna protein terdiri dari 4 pengujian. dan kemudian utuk tabung 1 ditambahkan amoniak. yang kemudian setelah ditambahkan dengan CuSO4 0. Asam dapat memindahkan kasein dari sari kalsium. renek. Untuk uji kedua . dan logam berat. susu kedelai dan susu sapi masing-masing ditambahkan asam nitrat. terdapat endapan dan larutannya berwarna kuning. diperoleh filtrat bening dan endapan putih kekuningan yang berupa kasein. Jika dilakukan penambahan asam asetat sekaligus maka proses pemisahan komponen dikhawatirkan kurang optimal dikarenakan terdapat komponen lain yang seharusnya tidak ikut mengendap menjadi ikut mengendap akibat adanya reaksi pengikatan yang kuat oleh asam asetat yang dituangkan sekaligus. sehingga terjadi pemisahan komponen secara optimal. alkohol. Pada uji ini Untuk susu sapi menunjukkan warna kuning yang lebih pekat pada tabung 2 (tanpa penambahan ammonia).5% terjadi perubahan warna larutan menjadi ungu. Reaksi yang terjadi pada uji ini ialah mitrasi pada inti benzena yang terdapat pada molekul protein dalam susu. reaksi Hopkins-Cole. dimana dengan penambahan asam asetat sedikit demi sedikit akan menyebabkan penguaraian atau pemisahan senyawa penyusun protein dapat terjadi secara teratur. Terjadinya perubaan warna ini menujukkan bahwa dalam endapan air susu tersebut terdapat adanya ikatan peptida antarmolekul asam amino penyusunnya. pada susu sapi menunjukkan adanya 2 lapisan (di bagian bawah bening dan di bagian atas ungu) setelah ditambahkan dengan asam sulfat pekat. Sedangkan pada susu kedelai dengan tidak terbentuknya 2 lapisan menunjukkan bahwa dalam endapan susu kedelai tidak engandung triptofan. ke dalam endapan susu sapi dan kedelai yang telah diencerkan ditambahkan dengan NaOH yang mengahasilkan warna larutan bening. sedangkan pada susu kedelai warna yang lebih pekat terdapat pada . Reksi ini positif untuk protein yang mengandung trosin. Dari hasil pengamtan susu kedelai dan susu sapi. Kasein dapat diendapkan dengan asam. Untuk uji ketiga yaitu reaksi Xantoprotein. fenilanin dan triftofan. Sedangkan pada susu kedelai tidak terbentuk dua lapisan.agak membuka. borat. Kasein merupakan partikel-partikel yang berdiamer sekitar 80 mm dan membentuk suspensi kaloid dalam susu.

hal ini dikarenakan endapan (kasein) dari susu sapi terlalu kering dan keras sehingga proses pemutusan atau penguraian ikatannya makin sulit terjadi dan hal ini akan mempengaruhi tingkat kelarutannya dalam eter. fitrat dari pengendapan kasein yang memiliki pH 5. setelah dipanaskan larutan berubah warna menjadi coklat hitam.4 pada susu kedelai membentuk koagulan dimana terdapat adanya endapan berwarna putih. fenilalanin dan triftofan. jumlah fenilalanin dan tirosin lebih mendominasi dibandingkan pada susu sapi sehingga warna menjadi lebih pekat ketika ditambahkan dengan ammonia. Untuk percobaan keenam yaitu uji noda lemak pada susu sapi dan susu kedelai. Warna coklat kehitaman ini tetap tidak berubah meskipun telah ditambahkan dengan 1 tetes nitrat pekat dan dilakukan pemanasan yang menghasilkan asap putih. digunakan endapan yang proleh pada pengendapan kasein.4).tabung 1 (penambahan ammonia). Larutan yang berwarna coklat hitam ini kemudian ditambahkan dengan 2 mL ammonium dan dipanaskan sehingga terjadi perubahan warna larutan menjadi kuning jernih. yang kemudian diendapkan oleh eter. pembentukan koagulannya jauh lebih lama dibandingkan dengan yang tidak ditambahkan asam asetat. hanya saja jumlahnya yang berbeda. Sedangkan pada susu sapi pada penambahan asam asetat yang bertujuan untuk menambah tingkat keasaman (agar pHnya menjadi tepat 5. Terjadinya perbedaan ini menunjukkan bahwa kedua jenis susu ini mengandung tirosin. yang menunjukan bahwa pada susu terdapat lemak. Pada percobaan ini kasein yang ditambahkan dengan nitrat dan asam sulfat pekat menunjukkan perubahan warna larutan menjadi orange. Dimana pada susu kedelai yang tidak mengandung triptofan. Pada percobaan kelima yaitu reaksi Neumann bertujuaan untuk menguji adanya kandungan P-organik pada kasein. Untuk uji adanya laktobumin. tahap kerja selanjutnya tidak dilakukan dikarenakan adanya kekurangan bahan praktikum. Pada percobaan ini. Koagulan yang terbentuk pada . Dengan terbentuknya 2 lapisan ini pada kedua sampel susu menunjukkan adanya hasil yang positif pada pengujian ini terhadap adanya protein tertentu yang tersusun di dalam kasein. Untuk percobaan ini hanya dilakukan pada susu sapi sedangkan pada susu kedelai tidak dilakukan. Pengujian Keempat yaitu reaksi Molish (larutan susu ditambah 2 ml molish + H2SO4 pekat ml) terbentuk 2 lapisan yaitu kuning keruh (atas) dan larutan kuning bening (bawah). Hal ini dibuktikan dari adanya noda yang tertinggal pada kertas saring yang digunakan. Hal ini berarti pada ksein masih terdapat adanya P yang belum seluruhnya berubah menjadi asam fosfat. Adanya perubahan warna larutan menjadi kuning jernih menunjukkan terjadinya perubahan P menjadi asam fosfat yang optimal meskipun tidak semuanya. Pada susu sapi proses pelarutan dengan eter tidak erjalan dengan sempurna.

susu sapi berupa 2 lapisan dengan bagian fitrat bening (yang cenderung berada di bagian atas) dan bagian bawahnya keruh. Sedangkan untuk susu kedelai. Pada prosesnya fitrat yang ditambahakan ammonium hidroksida menunjukkan adanya endapan putih dan fitrat jernih. yang menujukan bahwa uji benedict ini negatif pada susu kedelai. Sedangkan pada susu kedelai. terbentuk koloid dan endapam berwarna merah bata atau kecoklatan. Terbentuknya endapan ini menunjukan bahwa endapan gelartinous dari Ca dan Mg fosfat telah terbentuk. Percobaan kedelapan yaitu percobaan untuk menunjukan adanya laktosa. Pada susu sapi. Namun dikarenakan laktosa dalam susu kedelai telah bereaksi semua membentuk asam laktat akibat penguraian oleh bakteri menyebabkan pada uji laktosa ini menunjukkan hasil yang negatif. setelah dimasukkan ke dalam fitrat menunjukkan perubahan warna mejadi biru muda. tidak dilakukan sampai selesai. Uji fehling ini positif juga untuk susu sapi karena membentuk endapan merah ata atau kecoklatan. Setelah endapan yang diperoleh ditambahkan dengan asam cuka encer tidak menujukkan adanya perubahan apapun. dikarenakan faktor kekurangan bahan uji. fitrat yang ditambahkan reagen benedict dan glukosa yang kemudian dipanaskan menunjukkan adanya endapan berwarna kuning. sampel yang dipanaskan membentuk partikel yang melayang-layang dan tidak membentuk endapan. dilakukan 2 percobaan yaitu dengan uji Benedict dan uji Fehling. maka dilakukan pengujian selanjutnya yaitu uji fehling. Untuk fitrat yang ditambahkan dengan K-oksalat yang jernih. Bagian bawah yang keruh ini merupakan koagulan yang menujukkan adanya laklatbuumin dalam fitrat. Ini berarti bahwa dengan adanya penambahan . setelah fitrat dipanaskan terbentuk endapan putih agak kekuningan yang menujukkan uji ini negatif pula untuk susu kedelai yang mana ini berarti bahwa dalam fitrat susu kedelai tidak terdapat adanya laktosa. Setelah sampel ini dipanaskan. menunjukkan perubahan larutan menjadi keruh yang disebabkan oleh adanya Ca-oksalat yang terbentuk dari reaksi penguaraian antara fitrat yang masih mengandung Ca dengan K-oksalat. yang menujukkan bahwa dalam proses ini tidak terjadi adanya reaksi pembentukan produk baru dalam endapan. namun pada fruktosa endapan kuning tidak terbentuk dikarenakan reagen benedict belum ditambahkan. Fehling A+ B yang berwarna biru tua. sedangkan pada susu kedelai menujukkan hasil yang negatif. Untuk percobaan ini diperoleh hasil yang sama antara susu sapi dengan susu kedelai. Untuk memastikan kebenaran hasil (kandungan laktosa) yang diperoleh. yaitu untuk menunjukkan adanya ion Ca dan P-anorganik. Seharusnya untuk uji laktosa pada susu kedelai menunjukkan hasil yang positif. Untuk percobaan terakhir. Pada uji benedict menunjukkan hasil yang positif pada susu sapi.

• Pada susu murni terjadi perubahan warna lakmus merah menjadi biru yang menujukkan sifat basa dalam larutan.K-oksalat bertujuan untuk membuktikan masih adanya Ca dalam air susu yang masih terdapat pada fitrat sisa tersebut.938gram/mL. • Terbentuknya bagian transparan pada kertas saring pada grease spot test menunjukkan adanya lemak yang terdapat pada endapan pada percobaan pengendapan kasein. • Dengan adanya penambahan asam asetat glasial dapat memindahkan kasein dari sari kalsium yang ditandai oleh terbentuknya endapan kasein dan fitrat bening.715 gram/mL dan 0. sedangkan pada air susu yang didiamkan selama 2 jam tidak menunjukkan adanya perubahan warna pada kertas lakmus (untuk susu kedelai) dan perubahan sedikit warna biru (untuk susu sapi) yang menjukkan bahwa air susu tersebut bersifat asam atau sedikit asam akibat adanya pebentukan asam laktat.618 gram/mL untuk susu kedelai. Xantoprotein maupun Molish. sedangkan pada susu kedelai menunjukkan hasil yang negatif pada uji Fehling dan Benedict yang berarti tidak terdapat adanya laktosa dalam sampel. 1. KESIMPULAN a. • Pada susu sapi menunjukkan hasil positif untuk uji Benedict dan Fehling yang menunjukkan adanya kandungan laktosa dalam fitrat. Kesimpulan • Untuk berat jenis dari masing-masing sampel air susu diperoleh nilai sebesar: 0. Adanya perbedaan berat jenis dari masing-masing sampel susu dikarenakan pengaruh dari volume total dan volume tanpa protein (kasein).112 gram/mL dan 0. . H. Hopkins-Cole. • Pada susu sapi maupun susu kedelai menunjukkan hasil yang positif pada uji warna protein baik dalam reaksi biuret. • Terbentuknya 2 lapisan yang berwarna bening dan keruh yang merupakan koagulan dalam fitrat air susu tersebut menunjukkan adanya laktalbumin atau protein yang terlarut.84025 gram/mL untuk susu sapi dan 0.984gram/mL. • Terbentuknya larutan berwarna coklat hitam menujukkan adanya P yang terdapat dalam endapan yang tidak berubah seluruhnya mmenjadi asam fosfat. 1.

• Terbentuknya larutan yang keruh menujukkan adanya ion Ca yang terdapat dalam fitrat. b. • Dibutuhkan ketelitian dalam proses pengukuran dan analisis data agar diperoleh hasil yang akurat . agar tidak terjadi kesalahan dalam praktikum • Dibutuhkan kehati-hatian dalam mereaksikan senyawa yang sangat berbahaya yang bersifat toksik. Sedangkan terbentuknya endapan putih merupakan endapan gelartinous dari Ca dan Mg fosfat. Saran • Prosedur kerja sebaiknya dibaca dan dipahami dengan baik.

Andry-2006. Medan. Gramedia. 1997. 2003.DAFTAR PUSTAKA Agroteksos. 78. 2004. Ahmad. Hamidah.A. Pusat Data Jurnal dan skrisi. Pusat Jurnal Indonesia. Jakarta: Penerbit Dian Rakyat. 2007. Ilmu Gizi untuk Mahasiswa dan Profesi jilid IA. 2004. Jakarta : Universitas Indonesia Press (UI-Press). Jakarta :Penerbit Dian Rakyat. Jakarta : Buku Kedokteran EGC. Bandung: PT. I Made.2005. Djaeni Achmad. Tingkat Penerimaan Konsumen terhadap Formulasi Susu Kedelai di Kalimantan dan Uji Kadar Protein serta Kalsium.ac. Upaya Penyelamatan Gizi pada Susu. Bandung : ITB Press. Biokimia untuk Mahasiswa Kedokteran. Vol 63. Djaeni. Djalip. Ilmu Gizi Untuk Mahasiswa dan Profesi Jilid A. Achmad. Kusuma Wirahadi. Muhammad. Dasar-dasar Biokimia.undip. http//www:fkm. Jakarta: Penerbit Dion Rakyat. Atik Nehru. Ilmu Gizi Untuk Mahasiswa dan Profesi Jilid IA. Astawan. . 2007. Diet dan Rumah Sakit. Muhammad. 73. Ilmu Pangan. 1985. Biokimia. Anna. Hartono. USU Press. Buckle. Terapi Gizi. Pemanfaatan Susu dalam Menjamin Kesehatan Masayakat di Indonesia. Poedjiadi. K. 2009. Sulaiman. Soediaoetama.id/data indeks. 121. Jakarta: UI-Press. 2001.

LAPORAN MINGGUAN PRAKTIKUM BIOKIMIA PERCOBAAN IV BAHAN MAKANAN DISUSUN OLEH: NAMA : SURAYYAL HIZMI NIM : G1C 008 029 PROGRAM STUDI KIMIA FAKULTAS MIPA UNIVERSITAS MATARAM 2010 .

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->