Sylva Sagita P2BA10014 1 Makalah KBM: Peran Petani dalam konservasi keragaman hayati

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Keanekaragaman hayati Indonesia yang kaya akan berbagai jenis flora dan fauna, sumber daya genetik berikut keragaman ekosistemnya adalah salah satu aset dan modal dasar bagi pembangunan yang tak terhitung nilainya. Keunggulan tersebut harus dilestarikan dan dilindungi keberadaan serta dioptimalkan pemanfaatannya secara berkesinambungan untuk menunjang pembangunan di Indonesia (SLHI, 2007). Pemanfaatan kekayaan keanekaragaman hayati secara tidak bijaksana dan tidak berkesinambungan untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia dan kegiatan pembangunan jangka pendek akan menimbulkan ancaman bagi sumber daya ini. Dimensi masalah penyusutan keanekaragaman hayati bersifat komplek karena adanya keterkaitan erat antara upaya untuk meningkatkan standar hidup manusia dan keinginan memelihara kualitas lingkungan hidup yang baik. Meningkatkan standar hidup berarti manusia harus terus mengeksploitasi lingkungan dan sumber daya yang ada di dalamnya. Eksploitasi yang terus meningkat dapat menyebabkan hilangnya habitat yang pada gilirannya akan berakibat pada lenyapnya sejumlah spesies yang hidup di dalamnya. Punahnya spesies berarti juga hilangnya seperangkat gen yang membawa sifat – sifat khas dari spesies tersebut. Pertumbuhan ekonomi Indonesia sebagai buah keberhasilan pembangunan telah menimbulkan dampak negatif terhadap ketersediaan sumber daya alam dan kualitas lingkungan. Sebagai gambaran, ekosistem pertanian (agroekosistem) sebagai faktor kunci dalam pemenuhan kebutuhan pangan suatu bangsa melalui kegiatan intensifikasi tanaman pangan pada luasan lahan yang ada melalui “revolusi hijau” ditenggarai sebagai alternatif bagi pemenuhan kebutuhan

manusia (Cifor.,2011). Keanekaragaman hayati (biodiversity) yang merupakan semua jenis tanaman, hewan, dan mikroorganisme yang ada dan berinteraksi dalam suatu ekosistem sangat menentukan tingkat produktivitas pertanian. Namun demikian dalam kenyataannya pertanian merupakan penyederhanaan dari keanekaragaman hayati secara alami menjadi tanaman monokultur dalam bentuk

Sylva Sagita P2BA10014 2 Makalah KBM: Peran Petani dalam konservasi keragaman hayati

yang ekstrim. Hasil akhir pertanian adalah produksi ekosistem buatan yang memerlukan perlakuan oleh pelaku pertanian secara konstan. Berbagai hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan berupa masukan agrokimia (terutama pestisida dan pupuk) telah menimbulkan dampak lingkungan dan sosial yang tidak dikehendaki (Altieri, 1999). Dampak dari kegiatan tersebut, sektor pertanian yang bertumpu pada potensi sumber daya alam banyak mengalami pengurasan sehingga ketersediaan dan kualitas sumber daya alam makin menurun (Saptana&Ashari, -). Kemajuan pertanian modern, seringkali mengabaikan prinsip ekologi, akibatnya

agroekosistem menjadi tidak stabil. Jasa-jasa ekologis yang diemban oleh keanekaragaman hayati pertanian, diantaranya jasa penyerbukan, jasa penguraian, dan jasa pengendali hayati (predator, parasitoid, dan patogen) untuk

mengendalikan hama yang sangat penting bagi pertanian berkelanjutan tidak dapat berfungsi optimal (Altieri., 1999). Dalam tataran praktis dan empiris, ada beberapa indikasi adanya penurunan daya dukung sumber daya lingkungan dengan adanya high intensification pada proses produksi pertanian (Subejo., 2007). Dampak negatif yang yang muncul akibat penggunaan masukan atau input luar yang tinggi yang sebagian merupakan produk kimiawi dalam proses produksi pertanian antara lain diindikasikan dengan berubahnya struktur tanah menjadi liat dan keras yang cukup merepotkan dalam pengolahan, aplikasi pestisida yang sangat intensif menyebabkan hama dan penyakit menjadi resisten dan pada gilirannya akan memicu terjadinya ledakan hama yang sangat merugikan seperti kasus serangan hama wereng coklat dan tungro, bahan-bahan kimia dari pupuk dan pestisida yang terakumulasi terus menerus akan mencemari sumber daya air serta merusak lingkung misalnya ditandai dengan hilang atau punahnya beberapa musuh alami hama serta organisme lainnya. Bahan-bahan kimiawi juga berdampak pada peningkatan residu kimiawi pada produk pertanian yang dihasilkan yang dalam jangka panjang akan terakumulasi sampai akhirnya dapat membahayakan kesehatan bagi para konsumen yang mengkonsumsi produk-produk pertanian tersebut. Kasus nyata dapat ditunjukan dengan ditolaknya beberapa produk pertanian dan perikanan kita beberapa saat

Sylva Sagita P2BA10014 3 Makalah KBM: Peran Petani dalam konservasi keragaman hayati

yang lalu oleh konsumen luar negeri seperti udang, kopi, kakao, dan lain-lain karena komoditas tersebut mengandung unsur kimia berbahaya yang melebihi ambang batas standar Dari sudut pandang pembiayaan, input yang tinggi jelas akan sangat memberatkan biaya yang harus ditanggung oleh keluarga tani dan pada akhirnya setelah dikomparasikan dengan pendapatan usahataninya, petani hanya memperoleh margin keuntungan yang relatif kecil (Subejo.,2008). Pentingnya pembangunan pertanian sebagai prioritas pembangunan dalam rangka menunjang perekonomian masyarakat dihadapkan pada permasalahan linkungan dan dampak yang ditimbulkannya. Akibatnya, setelah hampir empat dasawarsa pembangunan berlangsung, kondisi pertanian nasional masih dihadapkan pada berbagai masalah, antara lain: 1) menurunnya kesuburan dan produktivitas lahan, 2) berkurangnya daya dukung lingkungan, 3) meningkatnya konversi lahan pertanian produktif, 4) meluasnya lahan kritis, 5) meningkatnya pencemaran dan kerusakan lingkungan, 6) menurunnya nilai tukar, penghasilan dan kesejahteraan petani, 7) meningkatnya jumlah penduduk miskin dan pengangguran di pedesaan, dan 8) terjadinya kesenjangan sosial di masyarakat (Saptana&Ashari, - ). Masalah tersebut muncul karena pembangunan selama ini cenderung bias pada pemacuan pertumbuhan produksi, serta peran pemerintah dan swasta sangat dominan. Masyarakat petani hanya berperan sebagai objek, bukan sebagai subjek pembangunan (Saptana & Ashari,-). Agar pelaksanaan proyek pertanian dan upaya peningkatan keanekaragaman hayati di areal pertanian dapat berjalan lancar maka diperlukan peran dari penyuluh pertanian maupun partisipasi aktif dari petani (Hadi, 2010). Petani adalah stakeholder penting yang sangat jarang disentuh para penggiat konservasi. Padahal petani adalah pusat dari aktifitas masyarakat di pinggir hutan. Aktifitas mereka kadangkala memicu ancaman terhadap keanekaragaman hayati yang ada. Pengabaian terhadap peran petani berarti mengabaikan masalah konservasi itu sendiri terutama keanekaragaman hayati di areal pertanian. Beberapa alasan mengapa petani berperan sebagai stakeholder penting dalam usaha konservasi, didasarkan pada beberapa hal berikut yakni: bahwa sebagian besar ancaman terhadap usaha pelestarian didorong oleh aktifitas perluasan lahan

Sylva Sagita P2BA10014 4 Makalah KBM: Peran Petani dalam konservasi keragaman hayati

yang dilakukan oleh para petani tradisional, termasuk diantaranya aktifitas lahan berpindah, pembakaran lahan, waktu senggang petani yang sering dipakai untuk memanfaatkan hasil-hasil hutan baik kayu maupun non-kayu secara subsisten. Aktifitas-aktifitas tersebut adalah suatu kesatuan kegiatan yang tidak mudah begitu saja dipisahkan oleh petani terutama di wilayah pinggir/pesisir hutan dimana wilayah untuk pertanian/perkebunan dirasa cukup luas dan memadai bagi mereka. Pekerjaan-pekerjaan ini adalah saling berhubungan satu sama lain sebagai cara untuk memenuhi kebutuhan ekonomi mereka secara subsisten (Hadi, 2010). Selama ini para penggiat konservasi selalu menempatkan istilah jamak „masyarakat‟ dalam melihat khalayak sasaran usaha konservasi. Padahal, istilah jamak masyarakat mengandung pengertian yang luas terhadap stratifikasi dan komposisi sosial kependudukan. Dalam masyarakat pinggir hutan, petani yang pekerjaannya di lahan pertanian adalah adalah unsur dominan dalam stratifikasi dan komposisi tersebut. Inilah alasan mengapa menempatkan petani dalam khalayak sasaran utama (beneficiaries/ penerima manfaat) program-program konservasi begitu penting. Terdapat kecenderungan bahwa mata pencaharian petani di masyarakat pinggir hutan tidak hanya sebatas bertani/berkebun. Mereka kadangkala melakukan aktifitas lainnya seperti berternak hewan, memancing, berburu, mengutip hasil hutan hingga pada waktu tertentu sebagian kecil dari mereka juga ada yang melakukan aktiftas penebangan pohon di hutan untuk menutupi kekurangan penghasilan dari lahan-lahan mereka. Walaupun pekerjaan utama masyarakat pinggir hutan adalah petani, tetapi aktifitas tersebut di atas juga sangat sering dilakukan terutama ketika masa-masa dimana lahan pertanian/perkebunan mereka tidak dalam masa membutuhkan perhatian. Misalnya pada paska panen dan setelah masa penanaman jenis tanaman baru di lahan mereka usai. Dalam peningkatan keragaman hayati di areal pertanian, petani sebagai pelaku utama memiliki kontribusi yang sangat pesar terhadap pengurasan ataupun pengayaan keragaman hayati yang ada. Aktivitas pertanian monokultur yang banyak diterapkan saat ini memiliki resiko hilangnya variasi genetik dan keragaman kultivar tanaman yang ada serta penggunaan pupuk dan pestisida berlebihan akan memperbesar resiko terjadinya serangan hama yang sulit

Sylva Sagita P2BA10014 5 Makalah KBM: Peran Petani dalam konservasi keragaman hayati

dikendalikan. Berdasarkan hal tersebut upaya pelestarian keragaman hayati berupa kultivar-kultivar lokal dan pengendalian hama akan lebih efektif apabila petani dilibatkan dalam berbagai model kegiatan, disertai peningkatan kesadaran dan pengetahuan petani akan pentingnya pelestarian sumberdaya genetik bagi keperluan usahatani generasi yang akan datang (Zuraida&Sumarno, 2003).

Berdasarkan realitas diatas, petani dianggap sebagai khalayak penting (main stakeholder) dalam usaha-usaha konservasi di wilayah terrestrial (Hadi, 2010). Memahami persoalan mereka dan melibatkannya secara utuh adalah bagian yang penting dalam isu konservasi wilayah terrestrial (daratan). Pada makalah ini akan dibahas mengenai keragaman hayati di areal pertanian, dampak pertanian terhadap keragaman hayati serta upaya konservasi keragaman hayati di areal pertanian dengan melibatkan petani sebagai pelaku utama konservasi.

1.2 Tujuan Tujuan dari penulisan makalah ini adalah: 1. Menjelaskan keragaman hayati yang ada di arel pertanian 2. Menjelaskan dampak pertanian terhadap keragaman hayati yang ada 3. Menjelaskan peran petani sebagai pelaku utama konservasi keragaman hayati di areal pertanian. 4. Menjelaskan peran kelembagaan petani dalam menunjang keberhasilan upaya konservasi di areal pertanian.

1.3 Rumusan Masalah Berdasarkan tujuan yang ingin dicapai, dapat dirumuskan beberapa rumusan masalah sebagai berikut: 1. Apa sajakah keragaman hayati yang ada di areal pertanian? 2. Bagaimanakah dampak kegiatan pertanian terhadap keragaman hayati yang ada? 3. Bagaimanakah peran petani dalam mempertahankan dan meningkatkan keragaman hayati yang ada di areal pertanian?

Bagaimanakah fungsi kelembagaan petani sebagai penunjang keberhasilan upaya konservasi di areal pertanian? .Sylva Sagita P2BA10014 6 Makalah KBM: Peran Petani dalam konservasi keragaman hayati 4.

Keanekaragaman hayati menurut World Wildlife Fund dalam Mochamad Indrawan (2007) adalah jutaan tumbuhan. hewan. . termasuk yang mereka miliki. Keanekaragaman genetik. Keanekaragaman spesies. 3. Ketiga tingkatan keanekaragaman hayati itu diperlukan untuk kelanjutan kelangsungan hidup di bumi dan penting bagi manusia. Keanekaragaman hayati dapat digolongkan menjadi tiga tingkat. Hal ini mencakup semua spesies di bumi.Sylva Sagita P2BA10014 7 Makalah KBM: Peran Petani dalam konservasi keragaman hayati BAB II DAMPAK AKTIVITAS PERTANIAN TERHADAP KEANEKARAGAMAN HAYATI 2. Variasi genetik dalam satu spesies baik diantara populasi . hewan dan mikroorganisme. yang membuat bumi ini menjadi tempat yang layak huni dan mampu menyediakan jumlah besar barang dan jasa bagi kehidupan dan kesejahteraan manusia (SLHI. 2007). Keanekaragaman spesies menggambarkan seluruh cakupan adaptasi ekologi.populasi yang terpisah secara geografis. Keanekaragaman hayati dengan pengertian seperti itu mencakup interaksi antara berbagai bentuk kehidupan dengan lingkungannya. jamur. serta ekosistem rumit yang mereka bentuk menjadi lingkungan hidup. yaitu : 1. Keanekaragaman ekosistem. Komunitas biologi yang berbeda serta asosiasinya dengan lingkungan fisik (ekosistem) masing-masing. termasuk bakteri dan protista serta spesies dari kingdom bersel banyak (tumbuhan. serta menggambarkan evolusi spesies terhadap lingkungan tertentu. maupun diantara individuindividu dalam satu populasi. yang bersel banyak atau multiseluler) 2.1 Kondisi Keanekaragaman Hayati Indonesia Keanekaragaman hayati merupakan suatu fenomena alam mengenai keberagaman makhluk hidup. dan komplek ekologi yang menjadi tempat hidup bagi makhluk hidup.

2007).000 spesies.500 spesies tumbuhan berbunga terdapat di Indonesia.6 sampai 1. Indonesia berada di urutan keempat dunia. Keanekaragaman palem di Indonesia menempati urutan pertama. 2007).2 juta ha per tahun. laju kerusakan hutan diperkirakan antara 0..7 juta ha per tahun selama periode 1986 – 1997 (SLHI. Pada periode 1970 – 1990. 155 spesies diantaranya endemik di Kalimantan (SLHI. Meningkatnya aktivitas manusia di dalam memanfaatkan sumber daya hayati yang cenderung eksplotatif dan berlebihan menjadikan ancaman bagi eksistensi berbagai ekosistem dan sistem kehidupan di dalamnya. introduksi spesies asing dalam suatu ekosistem dapat menyebabkan hilangnya suatu ekosistem dan punahnya spesies asli dan pada akhirnya setiap saat akan terjadi kehilangan stok gen pembawa sifat keturunan dari spesies tersebut. perubahan iklim.Sylva Sagita P2BA10014 8 Makalah KBM: Peran Petani dalam konservasi keragaman hayati Keanekaragaman hayati Indonesia menempati posisi kedua di dunia setelah Brazil dalam hal tingkat keanekaragaman hayati. Lebih dari 350 spesies famili Dipterocarpacea sebagai pohon penghasil kayu bernilai ekonomi penting terdapat di Indonesia. Keanekaragaman jenis tumbuhan di Indonesia termasuk dalam peringkat lima besar dunia. . Berdasarkan kekayaan reptil dan primata. meningkat menjadi 1. Keragaman mamalia di Indonesia berada di posisi kedua setelah Brazil dengan 515 spesies atau 12% dari total mamalia dunia. konversi kawasan hutan menjadi lahan pertanian. meliputi lebih dari 38. Kerusakan tutupan hutan terutama disebabkan oleh aktivitas pertanian monokultur. yaitu mencapai 477 spesies. pariwisata. Perubahan tutupan hutan dalam skala besar dimulai sejak awal tahun 1970. pemukiman. Selain itu dengan 17% total spesies burung (1592 spesies) dan 270 spesies amfibi masing-masing menempatkan Indonesia pada posisi kelima dan keenam di dunia (SLHI. di antaranya merupakan tumbuhan endemik dan 10% atau sekitar 27. 2007). Perubahan habitat akibat adanya kegiatan perladangan berpindah. tutupan hutan sebagai salah satu petunjuk bagi kondisi hutan semakin berkurang. Seiring dengan konversi dan eksploitasi yang telah dilakukan.

anthropoda. dan lain-lain. herbivora. edafik. variasinya tergantung dari manajemen dan pengaturan tanaman secara sementara. . memiliki peranan penting dalam keanekaragaman hayati dan kekompleksan agroekosistem   Sumber-sumber biota: makhluk hidup yang memiliki kontribusi terhadap penyerbukan. terdiri dari seluruh tumbuhan dan hewan. gulma. dan lain-lain. manusia dan sosioekonomi. carnivora. dekomposisi. yaitu:     Keragaman tanaman di dalam dan sekitar agroekosistem Keragaman tanaman yang sifatnya permanen di dalam agroekosistem Kekuatan atau keutuhan manajemen Perluasan agroekosistem terisolasi dari tanaman alami Komponen keanekaragaman hayati dalam agroekosistem dapat dikelompokkan berdasarkan hubungan peranan. mikroorganisme. Hal ini melibatkan manajemen dan perencanaan yang baik dalam agroekosistem karena banyak hubungan penting antara tanah. serangga herbivora. tingkat keanekaragaman hayati dalam agroekosistem bergantung pada 4 ciri utama. Menurut Southwood & Way dalam Altieri (1999). Komponen pertama adalah keanekaragaman hayati yang terencana.2 Keanekaragaman Hayati Alami dalam Agroekosistem Keanekaragaman dalam agroekosistem dapat berupa variasi dari tanaman. iklim. Biota perusak: gulma. fungsi.. Ada dua komponen penting keanekaragaman hayati yang dikenal dalam agroekosistem. dan musuh alami (Altieri. Komponen kedua adalah gabungan keanekaragaman hayati. yang dikendalikan oleh petani melalui manajemen budidaya. pepohonan.. mikroba patogen dan lain-lain. yang saling berhubungan atau berinteraksi. pengendalian hayati.Sylva Sagita P2BA10014 9 Makalah KBM: Peran Petani dalam konservasi keragaman hayati 2. pengurai. meliputi tanaman dan hewan yang secara sengaja dimasukkan oleh petani ke dalam agroekosistem. serangga hama. tanaman. 1999). dari lingkungan sekitar yang berkoloni dalam agroekosistem. hewan atau ternak yang dipilih oleh petani. dan sistem pertanaman (Swift et al. dan mikroorganisme yang terlibat beserta faktor-faktor lokasi geografi. 1996) yang terdiri dari:  Biota produktif: tanaman.

Komponen. fungsi. . 1999) Karakteristik sifat-sifat pengaturan sendiri komoditi alami akan hilang bila manusia memodifikasi komoditi tersebut dengan memecah interaksi kehidupan tanaman dan akhirnya menjadi rapuh. KOMPONEN Penyerbuk Predator dan parasitoid Herbivora Vegetasi non tanaman biasa Cacing tanah Mesofauna tanah Microfauna tanah KEANEKARAGAMAN HAYATI AGROEKOSISTEM FUNGSI Penyerbukan Introduksi genetik Pengaturan populasi pngendalian hayati Konsumsi biomasa siklus nutrisi Hubungan Struktur kompetisi tanah alelopati siklus musuh nutrisi tanaman liar Dekomposis predasi sklus nutrisi Siklus nutrien penekanan penyakit UPAYA PENINGKATAN P Tumpang Agroforestri Sari Rotasi Tanaman Penutup Tanpa Pengolahan Tanah Kompos Pupuk hijau Penambahan bahan organik Gambar 2. antara lain: aktivitas biologi tanah. dan strategi meningkatkan keanekaragaman hayati dalam agroekosistem (Sumber: Altieri. pepohonan. siklus nutrisi. yang seluruhnya penting untuk memelihara kestabilan maupun keutuhan agroekosistem. komoditi Strategi melalui yang penambahan dibutuhkan atau peningkatan meningkatkan keanekaragaman untuk keanekaragaman hayati dalam agroekosistem adalah menggalakkan sinergisitas berbagai tanaman. Pemecahan ini dapat diperbaiki dengan pemulihan komponen hayati.Sylva Sagita P2BA10014 10 Makalah KBM: Peran Petani dalam konservasi keragaman hayati Sifat optimal agroekologik bergantung pada tingkat interaksi antara berbagai komponen biotik dan abiotik. peningkatan arthropoda dan antagonis yang menguntungkan dan lain-lain.1. dan hewan-hewan seperti: tumpangsari. Gabungan antara fungsi-fungsi keanekaragaman hayati akan memicu sinergisitas yang dapat membantu di dalam agroekosistem dengan meningkatkan faktor-faktor yang berpengaruh.

sebagian besar lahan pertanian di dunia diusahakan dengan sistem monokultur dan hanya ditanami dengan 12 jenis tanaman gandum. Namun demikian umat manusia hanya bergantung pada 14 spesies mamalia dan burung untuk memenuhi 90% pasokan pangan hewani mereka. Diperkirakan bahwa perluasan lahan pertanian di dunia meningkat dari 265 juta ha pada tahun 1700 menjadi lebih dari 500 juta ha saat ini. (3) Penggunaan . beras. hal ini merupakan contoh yang sangat sederhana dari ketersediaan keragaman (Brown & Young. perbedaan yang sangat kontras bila dibandingkan dengan keragaman tanaman hutan tropis yakni dalam 1 ha terdapat lebih dari 100 jenis tanaman. Secara ekonomi monokultur untuk sementara waktu mungkin menguntungkan bagi para pelaku dibidang pertanian maupun perkebunan. Praktek pertanian modern saat ini dimaksudkan untuk memaksimilkan keuntungan pemilik dana dengan cara meningkatkan hasil panen.3 Dampak Aktivitas Pertanian terhadap keragaman hayati Perlakuan secara global terhadap keanekaragaman hayati tidak asing lagi bagi para pelaku pertanian. Namun dalam jangka waktu panjang tidak demikian adanya. Proses penyederhanaan lingkungan menjadi monokultur pertanian memberi dampak terhadap keanekaragaman hayati. 23 jenis tanaman sayuran. Banyak dampak negatif yang menjadi pemicu dari sistem monokultur. penyempitan keragaman tanaman secara drastis mengakibatkan produksi makanan di dunia akan semakin memburuk. dan sekitar 35 jenis buah dan kacang-kacangan. 1990). pengolahan tanah. tanaman penutup. dan kentang) untuk memenuhi setengah kebutuhan energi nabatinya. kombinasi tanaman-ternak dan lain-lain. karena pertanian yang meliputi 25-30% area di dunia. penggunaan pupuk kompos dan pupuk daun. hanya 4 jenis (gandum. mungkin merupakan kegiatan penting yang mempengaruhi keanekaragaman hayati. jagung. 2.Sylva Sagita P2BA10014 11 Makalah KBM: Peran Petani dalam konservasi keragaman hayati agroforestri. rotasi tanaman. Kenyataannya. seperti: (1) perluasan tanah pertanian yang mengakibatkan hilangnya habitat alami dan (2) kehilangan berbagai jenis serangga akibat hilangnya tanaman liar sebagai sumber makanan.

Demikian pula penggunaan pestisida yang berlebih pada beberapa komoditas pangan telah menimbulkan resistensi dan resurjensi berbagai hama dan penyakit (Yusdja et al. dan SP-36. A.Sylva Sagita P2BA10014 12 Makalah KBM: Peran Petani dalam konservasi keragaman hayati bahan kimia sintetis. petani menggunakan pupuk secara berlebihan. Kebijakan intensifikasi pertanian menggunakan satu macam jenis tanaman pada setiap masa tanam dengan jarak tanam yang cenderung pendek serta persiapan persemaian secara komersial dan penanaman mekanis menggantikan cara alami penyebaran benih. tetapi karena pemupukan sintetis (Zuraida&Sumarno. sehingga menimbulkan residu zat kimia di dalam tanah dan air. -). Implikasinya adalah timbulnya serangan hama dan penyakit secara eksplosif. Pembangunan pertanian yang bias untuk memacu produksi khususnya padi telah berdampak negatif terhadap sumber daya alam dan lingkungan. seperti serangan wereng coklat dan tikus pada tanaman padi. Di beberapa daerah di Jawa. Kesuburan tanah tetap terpelihara bukan karena daur ulang secara alami atau penguraian sisa tanaman yang dipanen. Contoh lainnya adalah pembukaan lahan gambut 1 juta ha di Kalimantan Tengah yang telah menimbulkan dampak menurunnya keanekaragaman hayati. serta (4) terjadinya erosi sumber-sumber genetik yang bervariasi karena peningkatan varietas tanaman berproduksi tinggi yang seragam. ulat grayak pada kedelai. serta berbagai hama dan penyakit pada komoditas hortikultura. TSP. Monokultur dan hilangnya nutrien alami tanah Kebutuhan ekstensifikasi lahan untuk diolah menjadi areal pertanian dan perkebunan atau pertanian semakin meningkat sejalan dengan meningkatnya jumlah penduduk.1992). Hal tersebut memicu terjadinya konversi hutan primer maupun sekunder menjadi areal pertanian serta pemanfaatan lahan sampai pada areal tanah miring yang selanjutnya membuka peluang meningkatnya erosi tanah sehingga terbentuklah lahan-lahan kritis (Moulyutami et al. 2003) . pestisida kimia menggantikan pengendalian alami terhadap hama dan manipulasi genetik menggantikan proses evolusi dan seleksi tanaman secara alami. seperti urea.

Kelemahan dan bahaya penanaman kultivar homogen-homozigot tersebut akan menguras keragaman genetik dari banyak varietas tanaman. kebanjiran. Hal tersebut terjadi karena kebijakan intensifikasi pertanian menggunakan satu macam kultivar unggul secara nasional. Setiap wilayah dengan agroklimat dan masyarakat berbudaya spesifik. seperti kesuburan tanah. kekeringan. (2) adaptasi kultivar terhadap lingkungan usahatani. daya simpan dan terutama adaptasinya terhadap lingkungan tumbuh setempat. Dari upaya petani secara terus menerus memilih dan melestarikan kultivar yang memiliki sifat unggul tersebut. rasa. kini kita memiliki kultivar unggul lokal dari semua jenis tanaman yang teruji keunggulannya. menggiring petani menggunakan hanya satu kultivar tersebut dan mengabaikan kultivar lokal. Oleh karena itu petani secara sadar selalu berusaha memilih. adaptasi atau mutu hasil panen selalu menjadi keinginan petani dalam melakukan usahataninya. kandungan zat gizi tertentu. . selalu tersedia kultivar unggul lokal yang merupakan hasil karya masyarakat lokal. pemilikan sifat unggul akan lebih ditekankan pada persyaratan utama. mencari dan melestarikan bahan tanaman yang mereka nilai memiliki sifat unggul. antara lain : (1) preferensi mutu hasil yang berkaitan dengan rasa. keseragaman hasil panen. suhu.Sylva Sagita P2BA10014 13 Makalah KBM: Peran Petani dalam konservasi keragaman hayati B. Monokultur dan hilangnya varietas tanaman Usahatani moderen memiliki konotasi upaya untuk memaksimalisasi produktivitas. Implikasi dari persyaratan tersebut adalah diperlukannya penanaman satu macam kultivar atau satu klon. kultivar-kultivar unggul lokal tersebut semakin terdesak. 2003). tergantikan dan menjadi musnah. seperti pupuk. keserempakan tanam dan panen. 2003). Sesuai dengan tujuan usahatani. naungan (3) ketersediaan dan tingkat penggunaan sarana produksi. atau herbisida (Zuraida&Sumarno. pola tanam. seperti hasil. Menanam kultivar yang memiliki sifat unggul. sehingga kultivar yang telah teradaptasi lama itu tersisihkan dan akhirnya hilang (Zuraida&Sumarno. daya simpan. pada skala usaha yang luas. baik dari segi produktifitas. pestisida. Dengan adanya program revolusi hijau dan dianjurkannya kultivar unggul nasional untuk seluruh wilayah oleh Pemerintah.

60-70% lahan hanya ditanami 2 atau 3 jenis kacangkacangan. dan tanaman lebih rentan terhadap . Walaupun penggunaan kultivar unggul nasional disertai upaya pelestarian kultivar unggul lokal yang menjadi semakin terdesak. kultivar-kultivar lokal itu hanya sekedar dilestarikan sebagai koleksi secara pasif. risurjensi. 80% dari 7000 jenis apel yang ditanam pada tahun 1804-1904 dan 88% dari 2. C.000 keragaman jenis padi lokal. Monokultur dan kegagalan pengendalian hama secara alami Monokultur adalah implikasi dari penyederhanaan keanekaragaman. hasil akhirnya akan memerlukan campur tangan manusia untuk membentuk ekosistem buatan dalam bentuk pemakaian bahan kimia sintetis yang meningkatkan produksi hanya sementara saja. tanpa ada upaya yang sungguhsungguh untuk memperluas kandungan plasma nutfah kultivar unggul baru yang menggantikannya (Zuraida&Sumarno. namun menurut pengamatan para ahli di dunia.638 jenis pir sudah tidak ditanami lagi. dan mengabaikan keberlanjutan produksi untuk jangka panjang. akan tetapi berdampak terhadap kerusakan lingkungan (matinya serangga penyerbuk dan musuh alami. 1993). dan 53% hanya ditanami dengan 3 jenis kapas (Altieri.Sylva Sagita P2BA10014 14 Makalah KBM: Peran Petani dalam konservasi keragaman hayati Penggunaan kultivar unggul homogen baik homozigot maupun heterozigot dalam skala luas lebih menekankan kepada kepentingan keuntungan jangka pendek. 1999). 72% hanya dengan 4 jenis kentang. 1997). Di Indonesia terjadi penyusutan yang sangat besar terhadap sumberdaya genetik berupa penyusutan 1500 padi kultivar padi lokal akibat pemanfaatan teknologi monokultur menggalakkan padi Pelita Baru sejak tahun 1978 (NCBC. Bukti nyata dampak dari erosi sumber genetik adalah promosi beras hasil Revolusi Hijau di Bangladesh yang menyebabkan kehilangan 7. 2003) Praktek pertanian monokultur menyebabkan terjadinya erosi variasi genetik. Kehilangan keanekaragaman sumberdaya genetik juga terjadi di negara yang sudah berteknologi tinggi seperti Amerika Serikat. resitensi. Filipina sebagai salah satu produsen beras berproduksi tinggi sudah menggantikan lebih dari 300 jenis beras tradisional dengan hanya beberapa jenis yang tersisa (Thrupp. perubahan status hama.

2). Selama sistem monokultur dipelihara sebagai struktur dasar sistem pertanian modern. Di Indonesia contohnya.9 juta ha tahun 2006. Adanya perluasan monokultur tanaman yang mengorbankan vegetasi alami sehingga mengurangi keragaman habitat lokal. terutama melalui ekspansi lahan yang hanya menunjang pertumbuhan satu jenis tanaman. masalah hama akan berlanjut terus karena dampak negatip yang ditimbulkannya juga akan semakin tinggi. Saat ini monokultur telah meningkat secara drastis di seluruh dunia. Konsekuensi dari pengurangan keanekaragaman hayati akan lebih jelas terlihat pada pengelolaan hama pertanian. Komoditi tanaman yang dimodifikasikan untuk memenuhi kebutuhan manusia rusak karena tingginya serangan hama..Sylva Sagita P2BA10014 15 Makalah KBM: Peran Petani dalam konservasi keragaman hayati hama) dan nilai-nilai sosial (keracunan dan penyakit pada manusia serta pencemaran lingkungan). 1996) (Gambar 2. akhirnya menimbulkan ketidakstabilan agroekosistem dan meningkatnya serangan hama. . Umumnya semakin intensif tanaman tersebut dimodifikasi maka akan semakin intensif pula hama yang menyerangnya (Swift et al. perkebunan kelapa sawit dengan luas areal 290 ribu ha pada tahun 1980 telah meningkat 2000% menjadi 5.

2008). perkebunan. yang akhirnya menimbulkan ketidakstabilan agroekosistem dan meningkatnya serangan hama. Mulai tahun 2007 Pemerintah menaikkan anggaran yang dialokasikan untuk kegiatan SLPHT tanaman pangan. bahwa pada tahun 2002 terdaftar 813 nama dagang pestisida. Seperti tercatat di Indonesia. Kenyataan yang terjadi di Indonesia masih jauh dari harapan karena jumlah pestisida yang terdaftar justru semakin meningkat dari tahun ke tahun. 2003).) deltametrin. Pengaruh intensifikasi terhadap keanekaragaman hayati dalam agroekosistem dan hubungannya dengan keanekaragaman artropoda (Swift et al. Meningkatnya serangan hama bukan hanya karena penyederhanaan tanaman. Akan tetapi. Koperasi Ditjen BSP. Hal tersebut disebabkan karena budidaya tanaman monokultur mendorong ekosistem pertanian rentan terhadap organisme serangga hama. 1996). 2004). 2004. 2004). Zuraida&Sumarno. meningkat menjadi 1082 pada tahun 2004 dan lebih dari 1500 pada tahun 2006 (Direktorat Pupuk dan Pestisida.a. demikian pula dengan ulat grayak Spodoptera exigua pada daun bawang merah juga telah resisten terhadap b.2. metoksifenosida Trisyono. sejak tahun 1989 lebih dari satu juta petani dan kelompok tani telah dilatih dengan mengikuti program Sekolah Lapang PHT (SLPHT) termasuk SLPHT Sayuran Dataran Tinggi (Untung. 2002. Di Indonesia..Sylva Sagita P2BA10014 16 Makalah KBM: Peran Petani dalam konservasi keragaman hayati Gambar 2. Salah satu pendorong meningkatnya serangga pengganggu adalah tersedianya makanan terus menerus sepanjang waktu dan di setiap tempat. dan hortikultura. 2008). Perluasan praktek monokultur tanaman dapat mengorbankan vegetasi alami sehingga mengurangi keragaman habitat lokal. keberhasilan program PHT belum berkorelasi dengan menurunnya penggunaan pestisida secara nasional (Trisyono. tetapi juga terjadi karena penggunaan pestisida yang tidak bijaksana (Altieri & Nicholls.a. . Seperti dilaporkan bahwa ulat daun kubis Plutella xylostella di berbagai daerah sentra produksi di Jawa Tengah dan Yogyakarta telah sangat resisten terhadap insektisida dengan bahan aktif (b.

menunjukkan ketergantungan petani yang tinggi terhadap pestisida. ulat kantung. 2008). konsumen. Hasil penelitian Tobing et al.Sylva Sagita P2BA10014 17 Makalah KBM: Peran Petani dalam konservasi keragaman hayati Meningkatnya jumlah pestisida tersebut disebabkan banyaknya pestisida generik yang terdaftar. Meningkatnya jumlah nama dagang pestisida tanpa diikuti dengan meningkatnya jumlah bahan aktif tidak memberikan nilai tambah terkait dengan usaha untuk memperkecil risiko penggunaan pestisida. kumbang tanduk dan tikus. Terjadinya gangguan terhadap fungsi dan faktorfaktor pengendali alami yang ada di dalam ekosistem perkebunan kelapa sawit. bahkan cukup banyak ditemukan satu bahan aktif didaftarkan dengan lebih dari 10 nama dagang. Dalam hal tertentu justu akan memperbesar risiko (Trisyono. Demikian pula dengan perkebunan kelapa sawit milik negara maupun swasta sebagian besar masih menggunakan pestisida untuk pengelolaan hama-hama penting seperti ulat api. belum ada data berapa nilai (rupiah) terhadap lingkungan dan sosial akibat penggunaan . dosis yang tidak tepat dan mencampur berbagai jenis pesitisida. Penggunaan pestisida yang ditemukan pada lahan pertanaman padi di Indonesia. diduga disebabkan kematian musuh alami (parasitoid dan predator). Kekhawatiran saat ini adalah penggunaan pestisida yang sangat tinggi dan akan terus meningkat dalam sistem pertanian. Hal ini jelas sangat merugikan baik bagi petani. Sebenarnya sudah banyak ditemukan musuh-musuh alami yang potensial serta dapat dikembangbiakkan di laboratorium bahkan telah diperdagangkan. (2002) di Kabupaten Karo terhadap petani sayuran di 42 desa dari 6 kecamatan diperoleh bahwa sebagian besar petani menggunakan pesitisida secara berlebihan. Akhir-akhir ini di beberapa perkebunan kelapa sawit terjadi ledakan hama ulat api dan ada kecenderungan frekuensinya menjadi semakin sering setelah aplikasi insektisida sintetik. namun tampaknya tidak menarik untuk digunakan oleh pelaku perkebunan. Hal ini diduga karena daya bunuh mikroorganisme patogen (entomopatogenik) yang bekerja tidak langsung membunuh hama sasaran seperti pestisida tetapi membutuhkan waktu beberapa hari. Di Indonesia. maupun lingkungan.

kerentanan tanaman secara fisiologi terhadap hama dipengaruhi oleh pupuk yang digunakan (pupuk organik vs kimia) (Altieri. Banyak studi menunjukkan bahwa dalam sistem pertanian monokultur. 1999). Hasil penelitian telah membuktikan bahwa tanaman yang diberi pupuk dengan bahan kimia sintetis lebih rentan terhadap serangan hama dibandingkan tanaman organik dan yang tumbuh pada tanah yang aktif secara hayati (Hsu et al. sedangkan menurut Conway & Pretty (1991) di Amerika Serikat mencapai US$ 8 milyar per tahun.Sylva Sagita P2BA10014 18 Makalah KBM: Peran Petani dalam konservasi keragaman hayati pestisida.. . 2009).

2007). mengelola dan memanfaatkan . sistem kerjasama saling menguntungkan (mutual help) dan pertukaran tenaga kerja dalam pengelolaan produksi pertanian yang efisien dan lain sebagainya. bahan pengendali hama dan penyakit tanaman dari bahan hayati lokal. melalui pengalaman dalam mengelola sumber daya lokal yang dimiliki serta yang ada di lingkungan sekitarnya yang senantiasa diselaraskan dengan alam telah menciptakan suasana kedekatan dan persahabatan dengan lingkungan dan alam lokal sekitarnya. kaum petani kita seharusnya didorong untuk mengidentifikasi. inovasi dan budaya produksi lokal yang antara lain ditunjukan dengan dihasilkannya berbagai jenis benih-benih unggul lokal.Sylva Sagita P2BA10014 19 Makalah KBM: Peran Petani dalam konservasi keragaman hayati BAB III PETANI DAN PERANNYA DALAM KONSERVASI KEANEKARAGAMAN HAYATI PERTANIAN Kalau kita cermati lebih jauh ke belakang. Dalam hal penggalian dan pengembangan potensi sumber daya manusia. secara historis sebenarnya petanipetani tradisional kita merupakan kaum yang memiliki indegenous knowledges yang cukup teruji dan tangguh dengan berbagai pengalaman praktis dan kearifan lokal dalam mengembangkan berbagai jenis usaha taninya (Subejo. Suatu pendekatan baru yang sudah semestinya ditempuh adalah bagaimana upaya untuk menggali kembali potensi berbagai indegenous knowledges dan local wisdom yang dimiliki kaum petani kita yang akan termanivestasikan dalam berbagai aktivitas usahatani yang senantiasa selaras dengan alam dengan tetap mendorong peningkatan produktivitasnya.. Penggalian potensi sumber daya lokal tersebut nampaknya dapat dilakukan melalui dua pendekatan yaitu: (1) sumber daya manusia pelaksananya serta (2) sumber daya ekologinya. pemuliaan benih-benih komoditi pertanian unggul lokal. petani kita didorong dan diberi insentif untuk mereproduksi kembali indegenous knowledges serta semangat berkreasi dalam menciptakan inovasi-inivasi lokal misalnya pengetahuan dan keterampilan dalam mengembangkan pupuk dan pestisida organik yang ramah lingkungan. teknologi irigasi tradisional yang murah dan tepat guna. Dari aspek pendekatan sumber daya ekologi. Hal tersebut telah memfasilitasi kaum petani kita dalam mengembangkan pengetahuan. Dengan dan atau tanpa disadarinya.

Hal-hal tersebut mestinya selalu diletakkan dalam kerangka pencapaian produktivitas tinggi.1 Peran Petani dalam Konservasi Tanah dan Air Pada dasarnya. 1998). 3. petani telah memiliki pengetahuan lokal mengenai ekologi. penguatan daya saing dan ramah terhadap lingkungan serta tidak mengeksploitasi secara berlebihan sumber daya yang dimiliki untuk kepentingan jangka pendek saja. Dinamisasi pengetahuan sebagai suatu proses sangat berpengaruh pada corak pengelolaan . bagaimana memanfaatkan berbagai bahan hayati yang tersedia di sekitar lingkungan kita sebagai bahan pupuk dan pestisida organik dan lain sebaginya. Pengetahuan lokal merupakan hasil dari proses belajar berdasarkan persepsi petani sebagai pelaku utama pengelola sumber daya lokal. Pemanfaatan dan pembaharuan sumber daya yang ada harus senantiasa dikaitkan dengan pewarisan terhadap generasi penerus agar tetap dapat menikmati kuantitas dan kualitas sumber daya yang setara bahkan kalau memungkinkan dalam kondisi yang lebih baik. Sebagai contoh bagaimana memanfaatkan sumber daya air dengan sistim irigasi tradisional yang murah namun tetap efektif. Pengetahuan lokal ini berupa pengalaman bertani dan berkebun serta berinteraksi dengan lingkungannya. penyuluhan dari berbagai instansi. karena dapat dipengaruhi oleh teknologi dan informasi eksternal antara lain kegiatan penelitian para ilmuwan. petani memiliki kearifan (farmer wisdom) tertentu dalam mengelola sumber daya alam. Kearifan inilah yang kemudian menjadi dasar dalam mengadopsi informasi dan teknologi sehingga menghasilkan pengetahuan lokal yang sesuai dengan kondisi pertanian setempat (Sinclair dan Walker. pengalaman petani dari wilayah lain. pertanian dan kehutanan yang terbentuk secara turun temurun dari nenek moyang mereka dan berkembang seiring dengan berjalannya waktu. Pengetahuan lokal yang dimiliki petani bersifat dinamis.Sylva Sagita P2BA10014 20 Makalah KBM: Peran Petani dalam konservasi keragaman hayati sumber daya lokal yang tersedia di lingkungan sekitar sebagai input usaha pertanian yang terbarukan. dan berbagai informasi melalui media masa. Sebagai aktor yang paling mengenal kondisi lingkungan dimana ia tinggal dan bercocok tanam.

Dalam upaya mempertahankan sumberdaya alam dan mencari keselarasan dengan alam. Pengetahuan lokal petani yang telah dipraktekkan dalam upaya konservasi tanah dan air antara lain: konstruksi tanah dengan pembuatan teras dan rorak/lubang angin dan sistem agroforestri dengan memanfaatkan tanaman naungan. 2004). -). Selain itu. Kebutuhan ekstensifikasi lahan untuk diolah menjadi areal perkebunan atau pertanian semakin meningkat sejalan dengan meningkatnya jumlah penduduk. Kopi dan pepohonan ditanam mengikuti bentuk konversi sawah ke kebun kopi. Fungsi teras bangku adalah untuk mengurangi tanah yang tererosi. serta penyiangan pada lahan kopi. Petani lokal dengan pengetahuan yang dimilikinya berusaha mengatasi kondisi lahan yang kritis serta meningkatkan produktivitas lahan mereka. Secara karakteristik jarak antara tepi teras dengan teras yang lain melebar secara horisontal. Seringkali praktek sistem pertanian lokal dapat memberikan ide yang potensial dalam pemanfaatan dan pengelolaan sumber daya yang ada secara lestari (moulyotami. Tinggi tepinya antara 0.5–1. Lebarnya dapat bertambah sesuai dengan gradient. Tabel 3.1.. persoalan hak penguasaan tanah baik antar warga. dengan menerapkan teknik konservasi tanah dan air meskipun sifatnya masih sederhana..Sylva Sagita P2BA10014 21 Makalah KBM: Peran Petani dalam konservasi keragaman hayati sumber daya alam khususnya dalam sistem pertanian lokal. Hal-hal tersebut memicu terjadinya konversi hutan primer maupun sekunder menjadi areal pertanian serta pemanfaatan lahan sampai pada areal tanah miring yang selanjutnya membuka peluang meningkatnya erosi tanah sehingga terbentuklah lahan-lahan kritis. . manusia mengembangkan suatu sistem pengetahuan tertentu yang mengarah pada pembentukan pola pengelolaan lahan yang disertai dengan berbagai upaya konservasi (Joshi et al.0 m. Pengetahuan lokal petani tentang konstruksi tanah dan pembuatan teras Jenis Konstruksi Teras Bangku (Bench Terrace) Keterangan Merupakan konversi dari lahan sawah ke kebun kopi. pemerintah maupun pihak swasta juga menjadi faktor penyebab upaya ekstensifikasi lahan.

Dapat dibentuk meskipun kebun kopi sudah ada. Misalnya untuk memecahkan masalah tingginya erodibilitas tanah di areal yang curam perlu dilakukan penurunan limpasan permukaan. Fungsi barisan rumput tersebut adalah untuk menyaring air yang mengalir di permukaan. dan tanaman kopi ditanam di guludan. iklim dan topografi (Moulyotami et al. Laju limpasan permukaan dapat diperkecil dengan adanya siring ini. Upaya konservasi tanah di areal rawan erosi merupakan prioritas untuk mempertahankan sustainabilitas produktivitas lahan dalam jangka pendek dan mencegah penurunan produktivitas tanah dalam jangka panjang. Siring (Drain Terrace) Semacam parit di dalam tepi teras. Pembuatan teras dari tepi teras yang secara gradual mengarah ke lebar teras dapat berlangsung secara alami. sehingga dapat terdekomposisi di lokasi tersebut. .. Pembentukannya harus mengikuti tanaman kopi yang sudah ada. tetapi secara perlahan terbentuk dari siring tersebut. Gulud (Ridge) Gulud dibuat mengikuti kontur diantara barisan kopi. Fungsinya untuk menahan aliran air permukaan serta menahan zat organik. -). Tidak ada platform teras. Fungsinya untuk menahan erosi tanah. teras bangku atau teras kredit dan penanaman tanaman dengan mengikuti kontur tanah (Agus dalam Moulyotami et al..Sylva Sagita P2BA10014 22 Makalah KBM: Peran Petani dalam konservasi keragaman hayati Teras (Terrace) Platformnya mengikuti alur tanaman kopi. Tanaman kopi berada di tepi platform.). Bentuk platformnya secara umum untuk mengurangi proses pencucian tanah dan menahan unsur organik tanah. menahan pupuk kimia dan organik supaya tidak mudah terbawa air dengan menurunkan kecepatan aliran air hujan. Salah satu upaya untuk menurunkan limpasan permukaan adalah dengan mengurangi kemiringan lereng yang dapat dilakukan melalui pembuatan teras. Dapat digunakan untuk media penanaman tanaman cabai dan sayuran lain diantara barisan tanaman kopi. Teras rumput (Strip weed terrace) Barisan rumput yang menutupi teras dapat menstabilkan tanah selama pembentukan teras. Teknik konservasi yang dipilih perlu disesuaikan dengan masalah yang akan dipecahkan seperti tipologi dan struktur tanah. Zat organik tertahan di dalam siring. .

Menanam kultivar yang memiliki sifat unggul.2 Peran Petani dalam konservasi plasma nutfah Upaya dan naluri petani secara turun temurun untuk memilih tanaman yang memiliki karakter unggul dari populasi alam telah menghasilkan kultivar-kultivar lokal yang memiliki karakter khusus dan beradaptasi dengan baik pada agroekologi setempat. daya simpan. tahan kekeringan. kandungan zat gizi tertentu. terbentuk kultivar jagung lokal Madura yang berumur sangat genjah (60 hari–70 hari). Di Delanggu Klaten. rasa. dan rasanya enak. suhu. Sebagai contoh. di Madura yang iklimnya kering dan masyarakatnya makan jagung. sejalan dengan berkembangnya revolusi hijau. Di Papua yang masyarakatnya menggunakan ubijalar sebagai makanan utama. terbentuk kultivar ubijalar lokal yang umbinya tahan lama di pertanaman. Sesuai dengan tujuan usahatani. seperti hasil. yang merupakan wilayah penyedia beras bagi keluarga Kraton Surakarta. aromatik. mudah matang bila dibakar (kadar . biji tahan simpan karena tidak mudah terserang serangga gudang. daya simpan dan terutama adaptasinya terhadap lingkungan tumbuh setempat. antara lain : (1) preferensi mutu hasil yang berkaitan dengan rasa. kebanjiran. kini kita memiliki kultivar unggul lokal dari semua jenis tanaman yang teruji keunggulannya. pulen. dan rasanya enak. baik dari segi produktifitas. adaptasi atau mutu hasil panen selalu menjadi keinginan petani dalam melakukan usahataninya. berkembang padi lokal kultivar Rojolele yang berasnya bermutu tinggi. mencari dan melestarikan bahan tanaman yang mereka nilai memiliki sifat unggul. pestisida. (2) adaptasi kultivar terhadap lingkungan usahatani. seperti pupuk. kekeringan. Oleh karena itu petani secara sadar selalu berusaha memilih. pemilikan sifat unggul akan lebih ditekankan pada persyaratan utama. Dari upaya petani secara terus menerus memilih dan melestarikan kultivar yang memiliki sifat unggul tersebut. atau herbisida. naungan (3) ketersediaan dan tingkat penggunaan sarana produksi. seperti kesuburan tanah. Kultivar unggul lokal banyak digantikan dengan kultivar baru karena adanya anjuran penanaman kultivar unggul nasional. pola tanam.Sylva Sagita P2BA10014 23 Makalah KBM: Peran Petani dalam konservasi keragaman hayati 3.

Tabel 3. Sehubungan dengan kekhawatiran akan musnahnya variabilitas kultivar yang ditanam petani dan menjadi semakin sempitnya „germplasm base‟ basis plasma nutfah yang diusahakan oleh petani. kacang kacangan Kultivar unggul baru. Penanaman oleh beberapa petani – kultivar lokal Penanaman kultivar blending 4.Sylva Sagita P2BA10014 24 Makalah KBM: Peran Petani dalam konservasi keragaman hayati patinya tinggi) dan adaptif pada suhu dingin. tergantikan dan menjadi musnah. dan toleran tanah masam.2. maka dianjurkan untuk melakukan upaya pelestarian dan pemanfaatan kultivar lokal sebagai tetua persilangan dalam program pemuliaan tanaman. Ubi kayu Kultivar unggul lokal. Saran cara pelestarian kultivar unggul lokal tanaman pangan oleh petani (Zuraida&Sumarno. Setiap wilayah dengan agroklimat dan masyarakat berbudaya spesifik. selalu tersedia kultivar unggul lokal yang merupakan hasil karya masyarakat lokal. Di wilayah lahan rawa Sumatera bagian selatan hingga Riau. Penanaman oleh beberapa petani hibrida Penanaman di wilayah khusus 3. Kedelai. 2003) Jenis Tanaman Kultivar unggul yang Cara pelestarian kultivar unggul dominan 1. Penanaman kultivar yang berbeda kultivar unggul baru oleh petani atau kultivar berbeda antar wilayah Satu petani menanam banyak kultivar . Dengan dianjurkannya kultivar unggul nasional untuk seluruh wilayah oleh Pemerintah. Padi Kultivar unggul baru Penaman oleh beberapa petani Penanaman di wilayah khusus Penanaman di batas lahan 2. berkembang padi kultivar lokal yang toleran genangan air yang dalam. Jagung Kultivar unggul baru. kultivar-kultivar unggul lokal tersebut semakin terdesak.

karena kultivar-kultivar lokal adaptif banyak digunakan sebagai tetua dalam persilangan.3 Peran petani dalam pemuliaan tanaman Pemuliaan partisipatif adalah program pemuliaan tanaman yang secara aktif mengikutsertakan para pengguna hasil pemuliaan. Partisipasi aktif meliputi semua tahapan kegiatan pemuliaan. Melestarikan tanaman kultivar kultivar unggul baru unggul lokal Petani menanam banyak kultivar Penanaman kultivar blending 3. dan kesesuaian genotip pada tingkatan usahatani petani. pilihan langsung oleh petani. 2001) Kelebihan dari program pemuliaan partisipatif adalah adanya umpan balik dari petani.. 2001). termasuk petani. pemilihan tetua. pedagang.Sylva Sagita P2BA10014 25 Makalah KBM: Peran Petani dalam konservasi keragaman hayati 5. Keikutsertaan petani dalam proses seleksi terhadap genotip unggul yang adaptif terhadap lingkungan tumbuh setempat telah berhasil membantu pemulia . dan pelepasan kultivar. pemilihan galur. Pemuliaan partisipatif dibagi menjadi dua metode : (1) Pemuliaan partisipatif dibina peneliti. Pemuliaan partisipatif terutama sangat diperlukan untuk menyediakan kultivar unggul adaptif bagi lingkungan marginal. pengolah hasil (processor) dan konsumen (Sperling et al. petani lemah modal yang menggunakan masukan sarana tingkat rendah. yaitu penentuan tujuan. alat pertanian sederhana dan skala usahatani sempit. yaitu apabila petani membantu peneliti dalam seleksi dan pengujian galur-galur. Ubi jalar Kultivar unggul lokal.. apabila peneliti hanya membantu petani dalam tahapan pemuliaan yang tidak dapat dilakukan petani. Dari program pemuliaan partisipatif banyak digunakan kultivar lokal sebagai tetua persilangan dan mungkin akan dilepas kultivar yang heterogenus atau berupa populasi genotip yang lebih stabil adaptasinya terhadap perubahan lingkungan. Pemuliaan partisipatif diyakini dapat mempeluas kandungan plasma nutfah kultivar unggul yang dihasilkan. kriteria seleksi. pengujian galur. sedang tahapan selebihnya dilakukan oleh petani dengan konsultasi peneliti (Sperling et al. (2) Pemuliaan partisipatif dikendalikan petani.

masing 5 baris – 10 baris. Petani diminta untuk memilih galur yang terbaik. Pemulia menanam galur. Kerjasama petani dan pemulia tanaman dapat dilakukan dengan berbagai cara. Kerjasama observasi galur. Genotipe yang dipilih petani diikutkan uji daya hasil atau uji multilokasi. sebanyak 10 hingga 50 genotipe di lahan petani. Galur yang telah mencapai tahap uji adaptasi ditanam di lahan petani. Kerjasama uji adaptasi galur. yang ia sendiri senang untuk menanamnya. masing. Selanjutnya dapat memperkuat upaya penyediaan kultivar unggul yang adaptif terhadap lingkungan dan sesuai dengan keinginan masyarakat setempat.100 m². Kerjasama pilihan final.galur terpilih yang telah mantap atau klon-klon terpilih. Petani sebagai pengguna kultivar unggul perlu dilibatkan secara partisipasif dalam program pemuliaan dan pelepasan kultivar. tanpa ulangan. Hasil pemilihan oleh petani diverifikasi menggunakan data yang diperoleh dari uji adaptasi yang sebenarnya. Petani diminta memilih lima genotipe yang disenangi atau dianggap unggul. Varietas yang banyak dikembangkan merupakan varietas lokal yang terdapat di daerah dimana program diadakan. Hal tersebut sesuai dengan salah satu tujuan PPB yaitu melindungi plasma nutfah lokal yang ada dan . 3. sebagai berikut (Zuraida dan Sumarno. Galur pilihan petani dari beberapa lokasi yang agroekologinya sejenis yang dapat dijadikan pertimbangan. ditanam di lahan petani pada petakan seluas 20 . Program pemuliaan dengan keikutsertaan petani di beberapa negara berkembang merupakan suatu program pemuliaan tanaman alternatif. Galur-galur harapan yang telah siap untuk diusulkan dilepas. Setiap genotipe ditanam dua hingga 10 baris sepanjang 10 m.Sylva Sagita P2BA10014 26 Makalah KBM: Peran Petani dalam konservasi keragaman hayati dalam memutuskan galur mana yang akan dilepas sebagai kultivar unggul. Berarti. petani juga mempunyai andil yang besar dalam melestarikan kultivar unggul lokal. 2. 2002): 1. Petani diminta memberikan rangking pilihan dari yang terbaik (yang paling mereka senangi) hingga yang paling buruk (paling tidak disenangi). Jenis tanaman yang menjadi fokus dalam program tersebut terutama tanaman sereal dan cash crop. galur mana yang pantas diusulkan untuk dilepas.

2007). 2001). Sementara pemulia telah menetapkan arah pemuliaannya sejak awal program pemuliaan dilakukan. Lahan milik petani mempunyai kondisi lingkungan yang sering berubah-ubah sehingga interaksi tiap tanaman dengan lingkungan akan berbeda-beda.Sylva Sagita P2BA10014 27 Makalah KBM: Peran Petani dalam konservasi keragaman hayati sekaligus melakukan perbaikan varietas lokal terutama dalam meningkatkan produksi.. maka tidak semua petani mau menerima varietas baru yang dihasilkan pemulia. Program ini merupakan program pemuliaan partisipatif yang melibatkan petani dalam seleksi varietas berdasarkan preferensi petani pada calon-calon varietas yang berpotensi. Pada PVS kegiatan pemuliaan awal dilakukan di lingkungan lembaga penelitian formal. Untuk mengatasi perbedaan antara pemulia tanaman dan petani dalam menentukan kriteria seleksi maka dilakukan pendekatan dengan program participatory variety selection (PVS) (Subejo. Menurut . dan untuk pengujian selanjutnya hingga didapat calon varietas terbaik dilakukan bekerjasama dengan petani. Program ini telah berhasil diterapkan oleh CIMMYT dalam meningkatkan produksi jagung dengan kondisi low input dan gandum di Australia (Banziger dan Cooper. karena pada dasarnya petanilah yang menentukan kultivar unggul yang mereka akan tanam. Penerapan pemuliaan tanaman partisipatif di Indonesia sendiri masih terhambat beberapa kendala. Hasil akhir yang diharapkan dari program PPB yaitu diperolehnya varietas lokal terbaik yang beradaptasi terhadap lingkungan (spesifik) dengan aspek budidaya yang optimum. Kerjasama antara pemulia dengan petani dalam memilih galur terbaik perlu lebih diintensifikasikan. setelah varietas tersebut dicoba dibudidayakan di lahan milik petani. Pemuliaan tanaman (formal) yang dilakukan oleh pemulia tanaman umumnya dilaksanakan pada kondisi lingkungan yang terkendali untuk mengurangi keragaman lingkungan dan mendapatkan hasil tanaman terbaik. keinginan dan tujuan tersebut. Biasanya petani lebih tertarik akan hasil tanaman yang tinggi dan karakter tanaman tertentu. Hasil yang diperoleh kadang-kadang berbeda dengan yang diharapkan oleh petani. Oleh karena perbedaan cara pandang. Mereka lebih mudah menerima varietas baru yang sesuai dengan karakter-karakter yang mereka inginkan.

Beragamnya kebutuhan pokok petani dapat dicapai dengan menanam dan mempertahankan beragam tanaman dan kultivar. peneliti berlaku dan bersifat tertutup dan khawatir otoritasnya terhadap materi pemuliaan berkurang 3. kegiatan pemuliaan partisipasif yang berupa seleksi atau uji daya hasil galur. kultivar lokal merupakan sumber plasma nutfah bagi petani. lahan petani sangat sempit sehingga petani tidak mau mengambil resiko gagal atas kultivar bahan percobaan yang belum mereka ketahui keunggulannya 5. sehingga meningkatkan keragaman genetik. Dengan keragaman genetik dalam bentuk tanaman campuran dapat mengurangi resiko kerusakan tanaman karena hama penyakit atau mengurangi vulneribilitas terhadap hama dan penyakit. Hal ini merupakan cara yang selaras dengan beragamnya lingkungan agroekologi dan mengurangi resiko kegagalan panen. Terdapat alasan lain mengapa petani menggunakan beragam tanaman dan kultivar. beberapa alasan belum diterapkannnya pemuliaan partisipasif di Indonesia antara lain adalah: 1. Penggunaan beragam kultivar artinya terdapat berbagai genotipe. Salah satu cara yang dapat dilakukan untuk mengatasi masalah tersebut adalah dengan melibatkan partisipasi petani dalam tahapan akhir pemuliaan. sehingga kemajuan yang berarti akan diperoleh dan sekaligus mempertahankan kearifan petani dalam menyimpan sumberdaya. yang lebih mementingkan persentase bagian hasil panen. dan telah beradaptasi dengan lingkungannya. Umumnya bagi sebagian besar negara berkembang. mengurangi pengaruh kompensasi karena perbedaan tanaman dan persaingan.Sylva Sagita P2BA10014 28 Makalah KBM: Peran Petani dalam konservasi keragaman hayati Zuraida dan Sumarno (2003). Keuntungan lain yang dapat diperoleh dengan . Selain itu. tidak didukung oleh petani penggarap atau petani penyewa lahan. Kultivar yang dikembangkan merupakan kultivar unggul yang biasa digunakan petani di daerahnya. Peneliti belum menaruh kepercayaan atas petani 2. kesadaran petani untuk memperoleh kultivar unggul sesuai dengan agroklimat dan kesukaan petani masih rendah 4. berupa uji daya hasil pendahuluan galur-galur harapan sebelum dilepas.

Sementara itu.4. Program pemuliaan partisipasif ini dapat memperkuat upaya penyediaan kultivar unggul yang adaptif terhadap lingkungan dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat spesifik. dengan cara: 1. . Petani sebagai pengguna kultivar unggul perlu dilibatkan secara partisipasif dalam program pemuliaan dan pelepasan kultivar. Menyediakan inang alternatif dan mangsa pada saat kelangkaan populasi inang 2..: inang atau mangsa alternatif. 1996).Sylva Sagita P2BA10014 29 Makalah KBM: Peran Petani dalam konservasi keragaman hayati penanaman kultivar lokal sesuai dengan pilihan petani akan dapat melestarikan kultivar tersebut di lingkungan yang sesuai. Untuk meningkatkan keefektifan musuh alami dapat dilakukan dengan memanipulasi sumber daya non target (mis. nektar. emigrasi dan waktu efektif dari musuh alami tertentu di lahan pertanian. Mengganti atau menambah keragaman pada agroekosistem yang telah ada dapat dilakukan agar musuh alami efektif dan populasinya meningkat (Van Driesche & Bellows Jr. Menjaga populasi hama yang dapat diterima pada waktu tertentu untuk memastikan kelanjutan hidup dari musuh alami Strategi peningkatan musuh alami tergantung dari jenis herbivora dan musuhmusuh alaminya. kondisi fisiologis tanaman. 3. Ukuran keberhasilan peningkatan musuh alami juga dipengaruhi oleh luasnya areal pertanian. karena mempengaruhi kecepatan perpindahan imigrasi. atau efek langsung dari spesies tanaman tertentu. Seluruh strategi peningkatan keragaman yang digunakan harus didasarkan pada pengetahuan akan kebutuhan ekologis dari musuh-musuh alami. Menyediakan pakan (tepung sari dan nektar) parasitoid dewasa 3. keinginan petani dan tipe karakter yang diperlukan petani. Peran Petani dalam Pengendalian Hama Pada pertanaman monokultur sangat sulit dilakukan pengendalian hayati yang tepat dan efisien karena kurang jelasnya penampakan efektif dari musuh alami dan adanya gangguan beberapa perlakuan dalam sistem ini. komposisi dan karakteristik tanaman. pembelajaran bagi pemulia tanaman adalah mengetahui permasalahan di lapangan.

Data memaparkan bahwa kebun buah-buahan dengan tanaman liar dibawahnya menimbulkan kerusakan lebih rendah oleh serangan serangga dibanding dengan kebun buah yang diusahakan bebas dari tanaman lain (clean cultivated). Kemungkinan lain adalah herbivora tertentu lebih memilih habitat pada tanaman sejenis yang menyediakan semua kebutuhannya secara terpusat dan kondisi fisik yang selalu sama. Kecenderungan ini disebabkan oleh kestabilan populasi musuh alami dengan adanya ketersediaan sumber-sumber pakan dan mikro habitat secara terusmenerus. polikultur tanaman tahunan lebih mendukung herbivora ke tingkat lebih rendah daripada monokultur. Manipulasi sumber-sumber daya non-target akan merangsang musuh alami membentuk koloni habitat. 1970). Hasil studi interaksi tanaman-gulma serangga diperoleh bahwa gulma mempengaruhi keragaman dan keberadaan serangga herbivora dan musuh-musuh alaminya dalam sistem pertanian.. juga pada kepadatan tingkat tropik secara alami (Southwood & Way. Ditinjau dari dinamika serangga. sehingga meningkatkan kemungkinan musuh alami tetap tinggal pada habitatnya dan berkembang biak (Van Driesche & Bellows Jr. 1996). Leguminosae.Sylva Sagita P2BA10014 30 Makalah KBM: Peran Petani dalam konservasi keragaman hayati tepungsari. karena melimpahnya jumlah dan efisiensi predator dan parasitoid (Southwood & Way. semakin tinggi keragaman ekosistem dan semakin lama keragaman ini tidak diganggu oleh manusia. Manipulasi dengan menggunakan tanaman penutup tanah (cover crops) juga berpengaruh terhadap serangga hama dan musuh-musuh alaminya. ruang dan waktu). sehingga bukan hanya kelimpahan sumber-sumber daya non-target saja yang dapat mempengaruhi populasi musuh alami. dan Compositae) memegang peranan penting sebagai sumber pakan parasitoid dewasa yang dapat menekan populasi serangga hama (Altieri. Hasil penelitian pada pertanaman jeruk di Kabupaten Karo menunjukkan bahwa serangan lalat buah Bactrocera dorsalis telah mulai mengkhawatirkan . Berbagai penelitian menunjukkan bahwa keanekaragaman tanaman dapat menurunkan populasi serangga herbivor. semakin banyak pula interaksi internal yang dapat dikembangkan untuk meningkatkan stabilitas serangga. 1999). 1970). Stabilitas komunitas serangga selain bergantung pada keragamannya. tetapi juga ketersediaan distribusi spatial dan dispersi sementara. Bunga gulma tertentu (kebanyakan Umbelliferae.

. 2004). Hal yang sama seharusnya dapat dilakukan di pertanaman jeruk di Kabupaten Karo apabila seluruh petani jeruk secara serentak melakukan pengendalian hama lalat buah seperti yang dilakukan di Jepang.2001). 2002. Pengendalian tikus sawah Rattus argentiventer dengan protozoa patogenik Sarcocystis singaporensis (Jäkel et al. Demikian pula kumbang badak Oryctes rhinoceros selain dapat . lalat buah B. serta pelepasan lalat jantan mandul (Iwahashi et al. cucurbitae sejak 1996 setelah digunakannya perangkap ME yang dicampur sedikit dengan insektisida. virus βNudaurelia. 2006. cendawan entomopatogen M. 1996. Tobing et al. Dilaporkan bahwa akibat penggunaan insektisida yang berlebihan di Taiwan. Beauveria bassiana. 2006. Demikian pula untuk hama penting tanaman perkebunan seperti penggerek buah kopi Hypothenemus hampei dan penggerek buah kakao Conopomorpha cramerella telah dapat dikendalikan dengan perangkap feromon (Wiryadiputra. 2009). 1997).Sylva Sagita P2BA10014 31 Makalah KBM: Peran Petani dalam konservasi keragaman hayati dengan persentase kerusakan yang cukup tinggi. Hsu et al. hanya sebagian kecil petani yang tertarik menggunakan perangkap atraktan Metil Eugenol (ME) (Tobing et al. Multiple Nucleopolyhedrosis (MNPV) dan bakteri Bacillus thuringiensis... 2004).. Namun metode pengendalian lalat buah yang dilakukan oleh sebagian besar petani jeruk adalah dengan menggunakan insektisida. Dalam rangka peningkatan keragaman hayati di areal pertanian terdapat beberapa teknik pengendalian hama ramah lingkungan yang sudah tersedia. pengendalian penggerek batang padi kuning dengan menggunakan feromon (Katti et al. 2007).. Kakinohana. dorsalis sejak 1993 dan B.. Penggunaan pestisida yang intensif akan dapat menimbulkan resistensi dan musuh – musuh alami turut terbunuh. Anisopliae dengan konsentrasi 1010 – 1015 spora/ha dapat menurunkan populasi wereng coklat sampai 66% (Santosa & Sulistyo.. meskipun ditemukan keanekaragaman tanaman liar di bawah pertanaman jeruk dan sebagian besar dilakukan tumpangsari dengan berbagai jenis sayuran di lahan jeruk. sehingga perkebunan jeruk dapat terbebas dari lalat buah. dorsalis telah resisten terhadap berbagai insektisida (Hsu & Feng. negara Jepang telah terbebas dari lalat buah B. Pengendalian ulat api dapat menggunakan musuh alami berupa entomopatogenik seperti jamur Cordyceps militaris. Alias et al. Sebaliknya. 2007).

Menempatkan satu sarang (gupon) burung hantu di perkebunan kelapa sawit seluas 25 ha dengan sepasang burung hantu dapat memangsa tikus ± 3000 ekor/tahun (Prawirosukarto et al. Pengendalian tikus yang biasanya dilakukan dengan menggunakan perangkap.. Penggunaan feromon cukup murah karena biayanya hanya 20% dari biaya penggunaan pestisida dan ramah lingkungan. 2003). zat perekat atau racun tikus. . Metarhizium anisopliae dan virus Baculovirus oryctes. juga dengan menggunakan perangkap feromon sintetis yang dapat menangkap kumbang badak dalam jumlah besar. namun akhir-akhir ini beberapa perkebunan kelapa sawit telah memelihara burung hantu (Tyto alba) sebagai predator tikus.Sylva Sagita P2BA10014 32 Makalah KBM: Peran Petani dalam konservasi keragaman hayati dikendalikan dengan jamur entomopatogenik Beauveria bassiana.

air. Pembangunan pertanian.. mengkonservasi sumber daya alam. Pertanian berkelanjutan Perhatian terhadap konsep pembangunan berkelanjutan dimulai sejak Malthus pada tahun 1798 mengkhawatirkan ketersediaan lahan di Inggris akibat ledakan penduduk (Saptana & Ashari. tanaman dan hewan. 1972 dalam Saptana&Ashari. tidak merusak lingkungan. Satu setengah abad kemudian. 2007) Wacana tersebut dan perhatian yang bermunculan selanjutnya memicu lahirnya agenda baru pembangunan ekonomi dan keterkaitannya dengan lingkungan dalam konteks pembangunan yang berkelanjutan. produktif. The Agricultural Research Service (USDA) mendefinisikan pertanian berkelanjutan sebagai pertanian yang pada waktu mendatang dapat bersaing. serta meningkatkan kesehatan. kehutanan. kualitas pangan. Komisi Brundtland mendefinisikan pembangunan berkelanjutan sebagai pembangunan yang memenuhi kebutuhan generasi saat ini tanpa mengurangi kemampuan generasi mendatang untuk memenuhi kebutuhan mereka (Saptana&Ashari. dan keselamatan.. 2007). dan perikanan harus mampu mengkonservasi tanah.Sylva Sagita P2BA10014 33 Makalah KBM: Peran Petani dalam konservasi keragaman hayati BAB IV PERAN ORGANISASI PETANI DALAM PERTANIAN BERKELANJUTAN 4. Dengan ketersediaan sumber daya alam yang terbatas. melindungi lingkungan. Meadow dan kawan-kawan pada tahun 1972 menerbitkan buku yang berjudul The Limit to Growth (Meadow et al. Pertanian berkelanjutan merupakan pengelolaan sumber daya alam serta perubahan teknologi dan kelembagaan sedemikian rupa untuk menjamin pemenuhan dan pemuasan kebutuhan manusia secara berkelanjutan bagi generasi sekarang dan mendatang (Food and Agriculture Organization 1989). Dalam kesimpulannya Meadow mengemukakan bahwa pertumbuhan ekonomi akan sangat dibatasi oleh ketersediaan sumber daya alam. menguntungkan. penyediaan barang dan jasa yang berasal dari sumber daya alam tidak akan dapat dilakukan (Saptana & Ashari.. 2007). 2007).1. serta .

utamanya di negara berkembang. Pembangunan pertanian berkelanjutan memiliki tiga tujuan (Saptana&Ashari 2007). Hal tersebut dapat dilakukan dengan pendekatan sistem dan usaha agribisnis serta kemitraan usaha. yaitu: 1. Dapat menyediakan lapangan kerja dan pendapatan yang layak yang memberikan tingkat kesejahteraan dalam kehidupan yang wajar 3. Pengertian di atas membawa beberapa implikasi pembangunan berwawasan lingkungan. pemasok bahan baku industri serta pasar potensial bagi barang-barang hasil industri. Menghasilkan berbagai produk pertanian. Banyak kalangan berpendapat bahwa kaum petani sebenanya telah memberikan kontribusi yang sangat besar pada tahap awal pembangunan ekonomi di berbagai negara di belahan dunia. yang berkualitas dan higienis serta berdaya saing tinggi. pertanian atau petani sebagai aktornya tetap memiliki peran yang penting dalam proses pembangunan. Dalam agribisnis dikenal konsep agribisnis sebagai suatu sistem dan agribisnis sebagai suatu usaha (perusahaan). Memelihara kapasitas produksi pertanian yang berwawasan lingkungan Mengurangi dampak kegiatan pembangunan pertanian yang dapat menimbulkan pencemaran dan penurunan kualitas lingkungan hidup. . baik untuk generasi masa kini maupun yang akan datang 2. dan secara sosial dapat diterima. Sebagai orang yang terkait langsung dan mengelola sumber daya lokal primer. Namun dalam perkembangannya. Namun demikian. dan 5. petani merupakan pihak yang sangat dekat dengan sumber daya lingkungan.Sylva Sagita P2BA10014 34 Makalah KBM: Peran Petani dalam konservasi keragaman hayati secara teknis tepat guna. banyak kasus mengindikasikan bahwa petani akhirnya menjadi pihak yang terpinggirkan dari berbagai kebijakan pembangunan. Pertanian dapat berperan sebagai penyedia lapangan kerja bagi keluarga tani terutama di daerah pedesaan. Menjamin terpenuhinya secara berkesinambungan kebutuhan dasar nutrisi bagi masyarakat. 4. tujuan sosial (kepemilikan/keadilan). dan tujuan ekologi (kelestarian sumber daya alam dan lingkungan). baik primer maupun hasil olahan. secara ekonomi layak. yaitu tujuan ekonomi (efisiensi dan pertumbuhan). Banyak prioritas pembangunan yang lebih banyak dinikmati oleh sektor industri dan jasa serta utamanya kalangan menegah dan atas. penyumbang PDRB yang cukup besar.

2010).2. dan diperuntukan oleh petani sebagai alat bagi menjalankan gerakan sosial petani itu sendiri. Hanya melalui organisasilah petani dapat secara bersama-sama menggalang . Oleh karena itu pembahasan mengenai sektor dan sistim pertanian secara utuh.. sektor pertanian masih merupakan tema utama yang perlu mendapatkan perhatian dengan sangat serius dari berbagai pihak terkait.. Isu pemberdayaan masyarakat tidak hanya menyangkut aspek ekonomi namun terkait erat dengan aspek-apsek lainnya.7%) dari sekitar 90. kebalikannya adalah gadungan (Bendan.7 juta (43.Sylva Sagita P2BA10014 35 Makalah KBM: Peran Petani dalam konservasi keragaman hayati Bagaimanapun juga membahas tentang pembangunan dan pemberdayaan masyarakat terutama masyarakat petani dan pedesaan di Indonesia. politik. Mubyarto dan Santosa (2003) menyatakan bahwa pertanian (agriculture) bukan hanya merupakan aktivitas ekonomi untuk menghasilkan pendapatan bagi petani saja. Data BPS tahun 2002 menunjukkan bahwa sektor pertanian Indonesia masih merupakan sumber penghidupan yang sangat penting karena masih memberikan lapangan kerja pada sekitar 39. 4.8 juta angkatan kerja di Indonesia (Subejo. melainkan juga sebagai homo socious dan homo religius. Meskipun kontribusi sektor pertanian tidak sebesar sektor industri dan jasa namun sektor pertanian menampung dan menghidupi petani dengan jumlah yang sangat signifikan.Organisasi petani yang sejati adalah organisasi yang didirikan. Posisi dan Peran Organisasi Petani Organisasi petani dapat dibedakan antara organisasi yang sejati dan organisasi petani yang gadungan. 2008). Konsekuensi pandangan ini adalah dikaitkannya unsur-unsur nilai sosial-budaya lokal. Sehingga perencanaan terhadap perubahan kegiatan pertanian harus pula mempertimbangkan konsep dan dampak perubahan sosial-budaya yang akan terjadi. dijalankan. ekonomi dan budaya ke dalam kerangka paradigma pembangunan sistem pertanian. pertanian adalah cara hidup (way of live) bagi sebagian besar petani di Indonesia. yang memuat aturan dan pola hubungan sosial. tidak saja petani sebagai homo economicus. dalam kaitannya dengan pemberdayaan masyarakat tani. Lebih dari itu. Secara lebih jelas.

sehingga tidak terjebak dengan angan-angan semata (Bendang. Posisi strategis Organisasi Petani (Bendang. 2010). .. Menurut Bendang (2010). asumsiasumsi.Sylva Sagita P2BA10014 36 Makalah KBM: Peran Petani dalam konservasi keragaman hayati kekuatan yang mereka miliki. propaganda hitam.tanpa harus menunggu kebijakan.  Organisasi tani harus berposisi sebagai pihak yang mendesakan. yang dilakukan kalangan kapitalisme pangan. Pertempuran di dunia ide adalah dalamrangka melawan teori-teori. mempunyai gagasan-gagasan (basis ide) dan alternatif praktis (basis material) sebagai penjabaran kongkrit dunia baru yang dicita-citakan. Berbicara tentang Pola dan Strategi Organisasi Petani Dalam Pencapaian Kedaulatan Pangan dan Perlindungan /penguasaan/akses Lahan Pertanian tak terlebas dari bagaimana organisasi tani itu di bentuk. dan konsep-konsep pembangunan pertanian yang berpihak kepada petani dijalankan oleh pemerintah karena sampai saat ini kebijakan pemerintah beluk memihak kepada petani itu sendiri. Dengan kata lain petani yang menjadi anggotanya dapat mengkoordinir diri mereka sendiri secara mandiri untuk memperjuangkan kepentingan mereka dalam melawan kapitalisme pangan dan menuangkannya dalam bentuk kerja nyata di lapangan.. Melalui organisasi petani saling memegang peran. bujuk rayu. konsep-konsep. kampanye dan rekayasa psykologi individual dan psykologi massa . merencanakan. menjalankan dan membagi tugas diantara mereka sendiri. organisasi petani harus mampu bertempur di dunia ide dan basis material.  Menempatkan diri secara setara dan saling memberikan dukungan solidaritas dan kerjasama dengan sesama kaum miskin dan tertindas (petani. menikmati. terutama terhadap pihak-pihak yang mempunyai akses untuk memproduksi dan mempengaruhi kebijakan pertanian/agraria. mampu melakukan analisa social terhadap struktur dan sifat penindasan yang dialaminya. buruh. serta mengontrol reforma agrarian dalam rangka mewujudkan kedaulatan pangan. penjinakan. Sedangkan pertempuran dibasis material arti sederhananya adalah : kuasailah secara lansung sumberdaya agraria tanpa yang palig mungkin untuk direbut dengan kekuatan massa. teoriteori. melaksanakan. 2010) :  Menempatkan diri sebagai oposisi terencana dalam bentuk kelompok penekan (pressure group).

Konsolidator Utama untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas aksi untuk mendesak dijalankannya Reforma Agraria yang Sejati. Hubungan antara petani dan pendukungnya adalah hubungan yang “organisasional”(walau tetap memelihara kedekatan personal dan multi personal). nelayan. Sebagai motor utama untuk mensiasati dan menghambat politik pecah belah antar sesama petani.3. bukan hubungan personal (kebaikan hati dan kedermawanan semata).  Mampu menempatkan diri dalam percaturan politik dan ekonomi baik lokal. distribusi dan penentu harga pangan (kedaulatan pangan).Sylva Sagita P2BA10014 37 Makalah KBM: Peran Petani dalam konservasi keragaman hayati nelayan. Kekuatan ini harus ditingkatkan agar setara dengan kalangan lain.. buruh. Terlibat aktif dalam kampanye Reforma Agraria. 4. 2010) :        Konsolidator (pelaku) utama Kekuatan Petani untuk mendesakan Reforma Agraria Sejati. nasional dan internasional. Perlawanan terhadap Neoliberalisme. Peran Strategis Organisasi Petani (Bendang. Konsolidator Utama Pemenuhan Kebutuhan Praktis Petani dan kebutuhan pangan rakyat. dan miskin kota adalah segmen yang paling penting dalam proses produksi. Untuk itu segala sumberdaya yang ada di pedesaan perlu diarahkan/diprioritaskan dalam rangka peningkatan profesionalisme dan posisi tawar petani (kelompoktani). Sebagai bagian integral gerakan sosial yang lebih luas didalam dan diluar negeri.Penguatan Kelembagaan Petani Untuk Meningkatkan Posisi Tawar Petani Kelembagaan petani memiliki titik strategis (entry point) dalam menggerakkan sistem agribisnis di pedesaan. Menjadi organisasi yang dapat memegang kendali dalam hal produksi. miskin kota) dalam rangka memperkuat posisi tawar.Petani. dan pemegang berbicara tertinggi atas nama petani. Saat ini potret petani dan .

A. permasalahan yang masih melekat pada sosok petani dan kelembagaan petani di Indonesia adalah: 1. Masih minimnya wawasan dan pengetahuan petani terhadap masalah manajemen produksi maupun jaringan pemasaran. 3.Sylva Sagita P2BA10014 38 Makalah KBM: Peran Petani dalam konservasi keragaman hayati kelembagaan petani di Indonesia diakui masih belum sebagaimana yang diharapkan. Lemahnya Posisi Tawar Petani Problem mendasar bagi mayoritas petani Indonesia adalah ketidakberdayaan dalam melakukan negosiasi harga hasil produksinya. kelembagaan penyuluh. kelembagaan penyedia input. Dengan demikian. Petani kesulitan menjual hasil . kelembagaan output. dan penguatan kelembagaan petani (seperti : kelompoktani. baik sebagai produsen maupun penikmat hasil jerih payah usahatani mereka terutama diwujudkan melalui tingkat harga output yang layak dan menguntungkan petani. pemberdayaan. Tindakan perlindungan sebagai keberpihakan pada petani tersebut. Belum terlibatnya secara utuh petani dalam kegiatan agribisnis. hal ini merupakan salah satu kendala dalam usaha meningkatkan pendapatan petani. Menurut Dimyati ( 2007). lembaga tenaga kerja. Menurut Branson dan Douglas dalam Sesbana (-). Posisi tawar petani pada saat ini umumnya lemah. Aktivitas petani masih terfokus pada kegiatan produksi (on farm). Untuk mengatasi permasalahan di atas perlu melakukan upaya pengembangan. 2. lemahnya posisi tawar petani umumnya disebabkan petani kurang mendapatkan/memiliki akses pasar. penguatan dan pemberdayaan kelembagaan tersebut juga untuk menghasilkan pencapaian kesinambungan dan keberlanjutan daya dukung SDA dan berbagai usaha untuk menopang dan menunjang aktivitas kehidupan pembangunan pertanian di pedesaan. Peran dan fungsi kelembagaan petani sebagai wadah organisasi petani belum berjalan secara optimal. informasi pasar dan permodalan yang kurang memadai. dan kelembagaan permodalan) dan diharapkan dapat melindungi bargaining position petani.

Peningkatan posisi tawar petani dapat meningkatkan akses masyarakat pedesaan dalam kegiatan ekonomi yang adil. b.. Peningkatan produktivitas pertanian tidak lagi menjadi jaminan akan memberikan keuntungan layak bagi petani tanpa adanya kesetaraan pendapatan antara petani yang bergerak di sub sistem on farm dengan pelaku agribisnis di sub sektor hulu dan hilir.-). Kesetaraan pendapatan hanya dapat dicapai dengan peningkatan posisi tawar petani. Hal ini dilakukan agar pemenuhan modal kerja pada awal masa tanam dapat dipenuhi sendiri. upaya yang harus dilakukan petani untuk menaikkan posisi tawar petani adalah dengan : a. yaitu perencanaan produksi secara kolektif untuk menentukan pola. kuantitas dan siklus produksi secara kolektif. tetapi menghimpun kekuatan dalam suatu lembaga yang betul-betul mampu menyalurkan aspirasi mereka. Kolektifikasi produksi. Menurut Akhmad dalam Sesbana (2007). Lembaga ini hanya dapat berperan optimal apabila penumbuhan dan pengembangannya dikendalikan sepenuhnya oleh petani sehingga petani harus menjadi subjek dalam proses tersebut (Sesbana. meliputi kolektifikasi modal. Konsolidasi petani dalam satu wadah untuk menyatukan gerak ekonomi dalam setiap rantai pertanian. kolektifikasi produksi. akibatnya petani menggunakan sistim tebang jual. Kolektifikasi modal adalah upaya membangun modal secara kolektif dan swadaya. jenis. dan mengurangi ketergantungan kredit serta jeratan hutang tengkulak. Dengan sistim ini sebanyak 40 % dari hasil penjualan panenan menjadi milik tengkulak. sehingga bentuk kesenjangan dan kerugian yang dialami oleh para petani dapat dihindarkan. Hal ini dapat dilakukan jika petani tidak berjalan sendiri-sendiri. misalnya dengan gerakan simpan-pinjam produktif yang mewajibkan anggotanya menyimpan tabungan dan meminjamnya sebagai modal produksi. dari pra produksi sampai pemasaran. Konsolidasi tersebut pertama dilakukan dengan kolektifikasi semua proses dalam rantai pertanian.Sylva Sagita P2BA10014 39 Makalah KBM: Peran Petani dalam konservasi keragaman hayati panennya karena tidak punya jalur pemasaran sendiri. Hal . dan kolektifikasi pemasaran. bukan kebutuhan konsumtif. Oleh karena itu penyuluhan pertanian harus lebih tertuju pada upaya membangun kelembagaan.

agar mereka dapat bersaing dalam melaksanakan kegiatan usahatani dan dapat meningkatkan kesejahteraan hidupnya. Hal ini dilakukan untuk mencapai efisiensi biaya pemasaran dengan skala kuantitas yang besar. namun tujuan utamanya adalah merubah pola relasi yang merugikan petani produsen dan membuat pola distribusi lebih efisien dengan pemangkasan rantai tata niaga yang tidak menguntungkan. Kolektifikasi pemasaran dilakukan untuk mengkikis jaringjaring tengkulak yang dalam menekan posisi tawar petani dalam penentuan harga secara individual. diperlukan kelembagaan ekonomi pedesaan yang mampu memberikan kekuatan bagi petani (posisi tawar yang tinggi). Langkah ini juga dapat menghindari kompetisi yang tidak sehat di antara produsen yang justru akan merugikan. Upaya kolektifikasi tersebut tidak berarti menghapus peran dan posisi pedagang distributor dalam rantai pemasaran. Oleh karena itu. Kelembagaan pertanian dalam hal ini mampu memberikan jawaban atas permasalahan di atas. misalnya dalam irigasi dan jadwal tanam. misalnya dalam penanganan hama dan penyakit. Efisisensi dapat dicapai karena dengan skala yang lebih besar dan terkoordinasi dapat dilakukan penghematan biaya dalam pemenuhan faktor produksi. Dengan partisipasi yang tinggi terhadap . dan menaikkan posisi tawar produsen dalam perdagangan produk pertanian. Arah pemberdayaan petani akan disesuaikan dengan kesepakatan yang telah dirumuskan bersama. c. Kolektifikasi dalam pemasaran produk pertanian. dan kemudahan dalam pengelolaan produksi.Sylva Sagita P2BA10014 40 Makalah KBM: Peran Petani dalam konservasi keragaman hayati ini perlu dilakukan agar dapat dicapai efisiensi produksi dengan skala produksi yang besar dari banyak produsen. Penguatan posisi tawar petani melalui kelembagaan merupakan suatu kebutuhan yang sangat mendesak dan mutlak diperlukan oleh petani. Pengembangan masyarakat petani melalui kelembagaan pertanian/kelompok tani merupakan suatu upaya pemberdayaan terencana yang dilakukan secara sadar dan sungguh-sungguh melalui usaha bersama petani untuk memperbaiki keragaman sistem perekonomian masyarakat pedesaan.

Pembentukan dan pengembangan kelembagaan berdasarkan konsep cetak biru (blue print approach) yang seragam. Sehingga. sehingga kegiatan produktif individu lebih menonjol. Permasalahan Dalam Pengembangan Kelembagaan Petani Petani jika berusahatani secara individu akan terus berada di pihak yang lemah karena petani secara individu akan mengelola usaha tani dengan luas garapan kecil dan terpencar serta kepemilikan modal yang rendah. Kegiatan atau usaha produktif anggota kelompok dihadapkan pada masalah kesulitan permodalan. sehingga lebih bersifat orientasi program. B. 5. dan kurang menjamin kemandirian kelompok dan keberlanjutan kelompok. baik dari segi kelembagaannya maupun permodalannya. ini tercermin dari tingkat kehadiran anggota dalam pertemuan kelompok rendah (hanya mencapai 50%) 3. diharapkan rasa ikut memiliki dari masyarakat atas semua kegiatan yang dilaksanakan akan juga tinggi. Kelembagaan petani di desa umumnya tidak berjalan dengan baik ini disebabkan (Sesbana. 4. yang dicapai melalui prinsip keotonomian dan pemberdayaan.Sylva Sagita P2BA10014 41 Makalah KBM: Peran Petani dalam konservasi keragaman hayati kelembagaan petani. 2. Pembentukan dan pengembangan kelembagaan tidak menggunakan basis social capital setempat dengan prinsip kemandirian lokal.. Partisipasi dan kekompakan anggota kelompok dalam kegiatan kelompok masih relatif rendah. Kelompok sebagai forum kegiatan bersama belum mampu menjadi wadah pemersatu kegiatan anggota dan pengikat kebutuhan anggota secara bersama. ketidakstabilan harga dan jalur pemasaran yang terbatas. pemerintah perlu memperhatikan penguatan kelembagaan lewat kelompoktani karena dengan berkelompok maka petani tersebut akan lebih kuat. -) : 1. Pengelolaan kegiatan produktif anggota kelompok bersifat individu. Introduksi kelembagaan dari luar . Kelompok tani pada umumnya dibentuk berdasarkan kepentingan teknis untuk memudahkan pengkoordinasian apabila ada kegiatan atau program pemerintah.

dan belum berorientasi pasar. meskipun wadahnya sudah tersedia. 8. yaitu hanya kepada pengurus. Untuk ikatan vertikal diserahkan kepada mekanisme pasar. inefisien skala usaha karena umumnya berlahan sempit. dan lemah dari pengembangan aspek kulturalnya. dan politik yang berjalan. guna mendorong usahatani dan meningkatkan akses petani terhadap pasar (Saragih. bukan ikatan vertikal. Pengembangan kelembagaan selalu menggunakan jalur struktural. Selain itu produk yang dihasilkan petani relatif berkualitas rendah. Pembentukan dan pengembangan kelembagaan berdasarkan pendekatan yang top down. . Pembinaan kepada kontaktani memang lebih murah. Selain masalah internal petani tersebut. Kelembagaan-kelembagaan yang dibangun terbatas hanya untuk memperkuat ikatan horizontal. Meskipun kelembagaan sudah dibentuk. karena tidak ada social learning approach. karena umumnya budaya petani di pedesaan dalam melakukan praktek pertanian masih berorientasi pada pemenuhan kebutuhan keluarga (subsisten). Permasalahan yang dihadapi petani pada umumnya adalah lemah dalam hal permodalan. dimana otoritas pemerintah sulit menjangkaunya. Struktural organisasi dibangun lebih dahulu. 9. 2002). Sikap berorganisasi belum tumbuh pada diri pengurus dan anggotanya. lembaga ekonomi pedesaan. namun pendekatan ini tidak mengajarkan bagaimana meningkatkan kinerja kelompok misalnya. Anggota suatu kelembagaan terdiri atas orang-orang dengan jenis aktivitas yang sama. Tujuannya agar terjalin kerjasama yang pada tahap selanjutnya diharapkan daya tawar mereka meningkat. serta kekhasan ekonomi. ketersediaan faktor pendukung seperti infrastruktur. 6. Akibatnya tingkat penggunaan saprodi rendah. dan kebijakan pemerintah sangat diperlukan. 7. namun tidak diikuti oleh pengembangan aspek kulturalnya. sosial. intensitas penyuluhan. menyebabkan tidak tumbuhnya partisipasi masyarakat.Sylva Sagita P2BA10014 42 Makalah KBM: Peran Petani dalam konservasi keragaman hayati kurang memperhatikan struktur dan jaringan kelembagaan lokal yang telah ada. namun pembinaan yang dijalankan cenderung individual. dan karena terdesak masalah keuangan posisi tawar ketika panen lemah.

(3) memiliki kekuatan kelembagaan formal dan (4) bersifat partisipatif. Tujuannya adalah (1) untuk mengorganisasikan kekuatan para petani dalam memperjuangkan hak-haknya.. berupa : kebutuhan fisik. kebutuhan rasa aman. kebutuhan hubungan sosial. Prinsip otonomi (spesifik lokal). Ada empat kriteria agar asosiasi petani itu kuat dan mampu berperan aktif dalam memperjuangkan hak-haknya. sehingga petani dapat meningkatkan pendapatannya dan memiliki akses pasar dan akses perbankan. (2) memperoleh posisi tawar dan informasi pasar yang akurat terutama berkaitan dengan harga produk pertanian dan (3) berperan dalam negosiasi dan menentukan harga produk pertanian yang diproduksi anggotanya (Masmulyadi. Sifatnya tidak linier. yaitu : (1) asosiasi harus tumbuh dari petani sendiri. Pengertian prinsip otonomi disini dapat dibagi kedalam dua bentuk yaitu : . 2007). dan pengembangan pengakuan. Kesadaran Berkelompok Kesadaran yang perlu dibangun pada petani adalah kesadaran berkomunitas/kelompok yang tumbuh atas dasar kebutuhan.Sylva Sagita P2BA10014 43 Makalah KBM: Peran Petani dalam konservasi keragaman hayati C. Prinsip-prinsip yang harus dipenuhi oleh suatu kelembagaan petani agar tetap eksis dan berkelanjutan adalah : 1. sehingga setiap orang dapat mengatur perilakunya menurut kehendak masyarakat (Sesbana. dan sebagai kontrol sosial. maka diharapkan petani mampu berperan sebagai kelompok yang kuat dan mandiri. Dengan terbangunnya kesadaran seperti diatas. D. namun cenderung merupakan kebutuhan individu anggotanya. Prinsip Dasar Pengembangan Kelembagaan Petani Lembaga di pedesaan lahir untuk memenuhi kebutuhan sosial masyarakatnya. (2) pengurusnya berasal dari para petani dan dipilih secara berkala. bukan paksaan dan dorongan proyek-proyek tertentu. pengakuan. -). Manfaat utama lembaga adalah mewadahi kebutuhan salah satu sisi kehidupan sosial masyarakat.

Pemberdayaan mengupayakan bagaiamana individu. Kebebasan inilah yang memungkinkan individuindividu menjadi otonom sehingga mereka dapat mengaktualisasikan segala potensi terbaik yang ada di dalam dirinya secara optimal. harus juga memperhatikann elemen-elemen tatanan yang hidup di desa. dan budaya. 2005). Otonomi desa (spesifik lokal). maupun yang berupa elemen keras (hard element) seperti lingkungan alam dan sumberdayanya.). Kelembagaan.Sylva Sagita P2BA10014 44 Makalah KBM: Peran Petani dalam konservasi keragaman hayati a. . . makna dari prinsip otonomi adalah mengacu pada individu sebagai perwujudan dari hasrat untuk bebas yang melekat pada diri manusia sebagai salah satu anugerah paling berharga dari sang pencipta (Basri. Otonomi individu. dan teknostrukturnya. merupakan identitas dinamis yang senantias menyesuaikan diri atau tumbuh dan berkembang (Sesbana. nilai. termasuk organisasi. Pedesaan di Indonesia. Inti utama pemberdayaan adalah tercapainya kemandirian (Payne. kelembagaan. atau komunitas berusaha mengontrol kehidupan mereka sendiri dan mengusahakan untuk membentuk masa depan sesuai dengan keinginan mereka. -). Disamping itu. Individu-individu yang otonom ini selanjutnya akan membentuk komunitas yuang otonom. Prinsip pemberdayaan. dan perangkat-perangkat aturan dan hukum memerlukan penyesuaian sehingga peluang bagi setiap warga masyarakat untuk bertindak sebagai subjek dalam pembangunan yang berintikan gerakan dapat tumbuh di semua bidang kehidupannya. b.. dan akhirnya bangsa yang mandiri serta unggul (Sesbana. kelompok. Pengembangan kelembagaan di pedesaan disesuaikan dengan potensi desa itu sendiri (spesifik lokal). disamping bervariasi dalam kemajemukan sistem. 2. baik yang berupa elemen lunak (soft element) seperti manusia dengan sistem nilai. Pada tingkat rendah. juga memiliki latar belakang sejarah yang cukup panjang dan beragam pula. 1997).

b. dkk.Sylva Sagita P2BA10014 45 Makalah KBM: Peran Petani dalam konservasi keragaman hayati Pemberdayaan berarti mempersiapkan masyarakat desa untuk untuk memperkuat diri dan kelompok mereka dalam berbagai hal. dan lain-lain). Kebijakan ini diterjemahkan misalnya di bidang ekonomi berupa peningkatan aksesibilitas masyarakat terhadap faktor-faktor produksi dan pasar. Pola pengembangan pertanian berdasarkan luas dan intensifikasi lahan. regional dan global. perluasan kesempatan kerja dan berusaha yang dapat memperluas penghasilan. Perbaikan dan penyempurnaan keterbatasan pelayanan sosial (pendidikan. Pemberdayaan dan pengembangan kelembagaan di pedesaan . kelembagaan/organisasi yang beranggotakan masyarakat lokal. sosial ekonomi. Pemberdayaan kelembagaan menuntut perubahan operasional tiga pilar kelembagaan (Sesbana. dan politik dengan menggunakan basis kebudayaan mereka sendiri (Taylor dan Mckenzie. kepemimpinan. 2003) yaitu : a. c. Untuk keberhasilannya diperlukan kerjasama antara : administrasi lokal. Menciptakan ruang atau peluang bagi masyarakat untuk mengembangkan dirinya secara mandiri dan menurut cara yang dipilihnya sendiri. 1992). sedangkan di bidang sosial politik berupa tersedianya berbagai pilihan bagi masyarakat untuk menyalurkan aspirasinya. b. kesehatan. ada dua prinsip dasar yang harus dipedomani (Saptana. meliputi : a. Program memperkuat prasarana kelembagaan dan keterampilan mengelola kebutuhan pedesaan. pemerintah lokal. gizi. kerjasama usaha. mulai dari soal kelembagaan. Pada proses pemberdayaan.-) : . pelayanan dan bisnis swasta (tiga pilar kelembagaan) yang dapat diintegrasikan ke dalam pasar baik lokal. Mengupayakan agar masyarakat memiliki kemampuan untuk memanfaatkan ruang atau peluang yang tercipta tersebut.

-). komunikatif. mandiri. Disisi lain. Win-win mutualy dengan kemitraan yang kolehial. Pengusahaan komoditas (pangan/non pangan) yang paling menguntungkan. Dukungan SDM yang berpendidikan. dkk. Beberapa kunci dalam pengembangan kelembagaan untuk pemberdayaan adalah : adanya akses kepada informasi. 2003). sikap inklusif dan partisipasi. c. pemberdayaan kelembagaan pada masa depan perlu diarahkan agar berorientasi pada : a). rasional.Sylva Sagita P2BA10014 46 Makalah KBM: Peran Petani dalam konservasi keragaman hayati a. koperasi. Tercipta interdependensi hulu-hilir. namun juga tata hubungan dari keseluruhan kelembagaan tersebut. kompetitif dan transparan melalui sistem informasi bisnis. yang dilakukan tidak hanya secara internal. Koperatif. dan pengembangan organisasi lokal (Saptana.. g). c). serta h). dan partisipatif (inovatif) (Sesbana. informatif. Kelembagaan sistem politik atau pengambilan keputusan di tingkat publik (public sector). Memanfaatkan peluang di setiap subsistem agribisnis. b. e). Kelembagaan lokal tradisional yang hidup dan eksisi dalam komunitas (voluntary sector). d). Inilah yang dimaksud dengan tranformasi kelembagaan sebagai upaya pemberdayaannya. Kelembagaan pasar (private sector) yang dijiwai ideologi ekonomi terbuka. f). Modal berkembang dan kredit melembaga (bank. Skala usaha ekonomis dan teknologi padat karya. b). akuntabilitas. . Ketiga pilar yang menopang kehidupan dan kelembagaan masyarakat di pedesaan tersebut perlu mereformasikan diri dan bersinergis agar sesuai dengan kebutuhan yang selalu mengalami perkembangan. petani).

. Ciri utama kelembagaan tradisional adalah sedikit kelembagaan. 2005). karena dianggap tidak memiliki jiwa ekonomi yang memadai. 2003). namun banyak fungsi. Kegagalan pengembangan kelembagaan petani selama ini salah satunya akibat mengabaikan kelembagaan lokal yang hidup di pedesaan. Beda halnya dengan pada masyarakat modern yang dicirikan oleh munculnya banyak kelembagaan dengan fungsi-fungsi yang spesifik dan sempit-sempit (Saptana. Pemenuhan ekonomi merupakan tanggungjawab kelompok-kelompok komunal genealogis. dimana setiap komponen akan tetap eksis dengan berbagai keragaman (diversity) yang dikandungnya (Amien. Ciri kelembagaan pada masyarakat tradisional adalah dimana aktivitas ekonomi melekat pada kelembagaan kekerabatan dan komunitas. Pendekatan pembangunan melalui cara pandang kemandirian lokal mengisyaratkan bahwa semua tahapan dalam proses pemberdayaan harus dilakukan secara desentralisasi. Prinsip kemandirian lokal. Kemandirian lokal juga menegaskan bahwa organisasi seharusnya dikelola dengan lebih mengedepankan partisipasi dan dialog dibandingkan semangat pengendalian yang ketat sebagaimana dipraktekkan selama ini (Amien. Upaya pemberdayaan yang berbasis pada pendekatan desentralisasi akan menumbuhkan kondisi otonom.Sylva Sagita P2BA10014 47 Makalah KBM: Peran Petani dalam konservasi keragaman hayati E. Kemandirian lokal menunjukkan bahwa pembangunan lebih tepat bila dilihat sebagai proses adaptasi-kreatif suatu tatanan masyarakat dari pada sebagai serangkaian upaya mekanistis yang mengacu pada satu rencana yang disusun secara sistematis. dkk. 2005).

memodifikasi iklim mikro dan meningkatkan peran musuh alami. Pertanian ekologis dalam praktek adalah penerapan metoda dan teknologi pertanian untuk menghasilkan produksi pangan dan pertanian secara berkelanjutan. Konservasi keanekaragaman hayati (agro-biodiversity) merupakan bagian tak terpisahkan dari praktek pertanian ekologis yaitu : . tanaman penutup untuk memperbaiki kesuburan tanah. 2004). serangga dan mikroba tanah untuk kesehatan ekosistem pertanian (agro-ecosystem health) Dengan demikian secara konseptual.Sylva Sagita P2BA10014 48 Makalah KBM: Peran Petani dalam konservasi keragaman hayati BAB V KESIMPULAN Strategi penting dalam ketahanan pertanian agar dapat berkelanjutan adalah melalui praktek pertanian ekologis. agroforestri untuk menghasilkan hubungan yang saling melengkapi diantara komponen dan meningkatkan penggunaan berganda agroekosistem. dan lain-lain (Altieri & Nicholls. konservasi keanekaragaman hayati sesungguhnya adalah tujuan utama dan merupakan bagian yang tak terpisahkan dari pertanian ekologis. Pengembalian keragaman di areal pertanian dapat dilakukan melalui: tumpangsari dan rotasi tanaman untuk penyediaan nutrisi tanaman dan memutuskan siklus hidup serangga hama. polikultur untuk saling melengkapi sehingga akan meningkatkan produksi. gabungan tanaman-ternak untuk meningkatkan luaran biomas yang tinggi dan mengoptimalkan sistem daur ulang. dengan beberapa prinsip : (i) mengurangi ketergantungan dan aplikasi input luar terutama input kimia yang mencemari ekosistem pertanian (ii) memanfaatkan sumberdaya lokal untuk mendukung produksi pertanian dan pangan (iii) penerapan kearifan pengetahuan lokal dan pengembangan teknologi yang sesuai dengan konteks lokal (iv) pemanfaatan keanekaragaman hayati pertanian (agrobiodiversity) baik keaneragaman tanaman. Dalam hal tersebut maka istilah keanekaragaman hayati pertanian (agro-biodiversity) muncul untuk mempertegas bahwa pertanian ekologis merupakan wilayah kelola bagi konservasi keanekaragaman hayati.

Sylva Sagita P2BA10014 49 Makalah KBM: Peran Petani dalam konservasi keragaman hayati a. melalui berbagai praktek multi croping system. penguatan penghidupan masyarakat dan kesehatan ekosistem. Pemanfaatan keanekaragaman tanaman dalam lahan pertanian. Dalam praktek pertanian ekologis merupakan serangkaian kegiatan yang dilakukan oleh petani mulai dari aspek perbenihan. Mereka melestarikan dan menyeleksi benih sesuai dengan kebutuhan dan kondisi lokal. Pengelolaan hama dan penyakit tanaman secara terpadu dengan pemanfaatan musuh alami dan keanekaragaman serangga untuk mengurangi resiko ledakan hama dan penyakit tanaman – insect diversity Dengan berbasis pada pengetahuan lokal dan pengembangan teknologi sesuai konteks lokal maka pertanian ekologis juga memberikan ruang bagi tumbuhnya keragaman pengatahuan (knowledge diversity). pemanfaatan tanaman sela dan tanaman pelindung. dan berbagai fungsi keragaman tanaman dalam ekosistem pertanian – plant diversity c. Pengembangan kesuburan tanah (soil health) dengan pupuk organik dan kompos memberikan kontribusi bagi peningkatan keanekaragaman mikroba berguna dalam tanah – microbial diversity b. pengelolaan tanaman. Praktek pertanian ekologis adalah upaya untuk memberikan nilai tambah dalam produksi sembari menjaga dan memperbaiki kualitas agro-ekosistem pertanian. Dalam aspek perbenihan petani banyak yang telah bernisiatif untuk melakukan konservasi benih. Mulai tumbuh inisiatif petani untuk membangun bank bank benih pada tingkat lokal. Dengan demikian maka dimensi konservasi keanekaragaman hayati dalam konteks pertanian ekologis adalah terintegrasi dalam praktek dan tujuan. Bisa dikatakan bahwa pertanian ekologis adalah pemanfaatan dan pelestarian keanekaragamanhayati untuk produksi pertanian berkelanjutan. pengolahan tanah. Pertanian ekologis juga merupakan bagian dari sistem sosial budaya masyarakat pedesaan yang beragam sehingga memberikan ruang bagi keragaman institusi pengelolaan (institutional diversity). . pengendalian hama dan penyakit dengan menggunakan teknik yang selaras dengan kelestarian lingkungan. Hal ini selaras dengan penganekaragaman hayati jenis tanaman atau plasma nutfah pada tingkat lokal.

. Hal ini merupakan upaya untuk menganekaragamkan kekayaan mikrobiologi dalam tanah. dilengkapi dengan tanaman tanaman sela dan disekeliling lahan. Hal ini akan memacu tumbuhnya keragaman pengetahuan dan mengurangi ketergantungan petani dari pihak luar. petani dalam praktek pertanian ekologis memanfaatkan sumberdaya alam lokal seperti dedaunan dan kotoran ternak sebagai pupuk alami. yang merupakan pengelolaan hama yang menekankan pada prinsip budidaya tanaman sehat dan konservasi musuh alami. Lebih lanjut pertanian ekologis akan merangsang kreatifitas petani serta munculnya inovasi inovasi baru dalam praktek sesuai dengan kondisi lokal yang beragam. Tanaman sela bisa dipilih sesuai dengan kebutuhan untuk mengantisipasi kejatuhan harga pada tanaman utama. Tanaman utama. yang membantu menekan populasi hama.Sylva Sagita P2BA10014 50 Makalah KBM: Peran Petani dalam konservasi keragaman hayati Pada pengolahan tanah. petani dalam praktek pertanian ekologis membuat lanskap pertanian menjadi semakin beragam sesuai dengan kebutuhan produksi. sementara itu tanaman pagar dipilih untuk fungsi fungsi tertentu misalnya sebagai penolak serangan hama atau penarik serangan hama sehingga tanaman utama terlindungi. sehingga selain menyuburkan tanah juga mengurangi resiko serangan penyakit tanaman. Musuh alami adalah serangga predator hama. serta mendukung kemandirian petani melalui penguatan kelembagaan petani. Pertanian ekologis menjadi sarana untuk pemberdayaan petani. Dengan kekayaan tersebut maka akan menekan peran mikroba yang berlaku sebagai penyakit tanaman. Konservasi ini hanya bisa dilakukan jika petani menekan penggunaan pestisida serendah mungkin. Pada praktek pengelolaan tanaman. Kita mengenal praktek pengendalian hama terpadu (PHT).

Johansson. Efficacy of mating disruption using synthetic pheromone for the management of cocoa pod borer.. Cooper. Amri.. 2010. Rezgui and A Yahyaoui. W. M. M. __________.. and M. N. CABI. . Nassif. Van Noordwijk. Euphytica 122: 503-519. A. Entomol. Resistance and synergistic effect of insecticides in Bactrocera dorsalis (Diptera: Tephritidae) in Taiwan. El-Felah. 2004. S. Altieri.. Bendang Sukardi. and M. [on line] Hsu. Morocco and Tunisia. 2002. Mubyarto dan Santosa. Jurnal Ekonomi Rakyat Tahun II No. E. M. Ong C. S. A. Stefanus. Schalenbourg. Tay. Agriculture. Khasanah.B.C. M. 97(5): 1682-1688. Soil and water movement: Combining local ecological knowledge with that of modellers when scalling up from plot to landscape level. 1:46-52.. J. Breeding for low input conditions and consequences for participatory plant breeding: Examples from tropical maize and wheat.H. Cadish (eds. Grando. 2004. Menempatkan Petani sebagai Khalayak Sasaran Utama Untuk Konservasi di wilayah Terestrial/ Dataran. Fagerstrom.. & Feng. Euphytica 122: 521–536. 2001.K.3 Mei 2003. 2010. 44: 303-314. F. Farmer participation in barley breeding in Syria. W. Conopomorpha cramerella (Snellen) (Lepidoptera: Gracillariidae). The ecological role of biodiversity in agroecosystem. Hadi S.. Banziger M. Makalah pada Seminar Pangan Sumatera Barat. Kebijakan Dan Tata Kelola Pangan Menuju Kemandirian Pangan Lokal. dorsalis) to insecticides in Taiwan. Malaysian Cocoa J. Sadao & E. 2003. and G.. Joshi. Econ.. H. Awan. Posisi dan Peran Organisasi Petani dalam Pencapaian Kedaulatan Pangan dan Perlindungan Lahan Pertanian. Plant Protection Bull. E. 2004. Padang 15 Juli 2010. In van Noordwijk. Farmers and Terrestrial Conservation: An Initial Draft from Geumpang.A. Susceptibility of melon fly (Bactrocera cucurbitae) and oriental fruit fly (B. 2001. Basko Hotel. [on line] Ceccarelli.Sylva Sagita P2BA10014 51 Makalah KBM: Peran Petani dalam konservasi keragaman hayati DAFTAR PUSTAKA Alias. 1999. Pembangunan Pertanian Berkelanjutan: Kritik Terhadap Paradigma Agribisnis.) Belowground Interactions in Tropical Agro-ecosystems. UK: 349364. S. J.T. Ecosystems and Environment 74:19-31. Bailey. L. L.

2000. Pembangunan pertanian berkelanjutan Melalui kemitraan usaha. Walker. Acquiring qualitative knowledge about complex agroecosystems. & Syafa‟at N.H. 2001. 2002. Konservasi Tanah dan air Berbasis Masyarakat di Nusa Tenggara Timur. Joshi Laxman. Smith. Sperling.Sylva Sagita P2BA10014 52 Makalah KBM: Peran Petani dalam konservasi keragaman hayati Mulyoutami Elok.L. Pengetahuan lokal petani dan inovasi ekologi Dalam konservasi dan pengolahan tanah Pada pertanian berbasis kopi Di sumberjaya. Jurnal Litbang Pertanian: 26(4). 2 Agustus. 2000. J. Vol IV No. Sinclair. Agricultural Systems 56(3): 341-363. L. 2008. Status Lingkungan Hidup Indonesia: 175 – 213. Simatupang P. 2007. Lampung Barat. A framework f or analyzing participatory plant breeding approaches and results. Partisipasi Petani dalam pemuliaan Tanaman. [on line] . 1998. Stefanus Endy.1: 25 – 39. Ashby. Euphytica 122: 439–450. Makalah disajikan dalam Semiloka Salak. F. 2007. Seminar Nasional Peningkatan Pendapatan Petani Melalui Penerapan Teknologi Tepat Guna. SLHI.A. UGM di Yogyakarta. and D. Saptana & Ashari. E. Penguatan Kelembagaan Petani Untuk Meningkatkan Posisi Tawar Petani. Program Pemuliaan Tanaman Salak di Fakultas Pertanian UGM. Part 1: Representation as natural language. D. Keanekaragaman Hayati. Subejo. Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi alam. 2007... Majalah Cultivar Edisi XXVIII Tahun 2007 [on line] Sujiprihati Sriani. Pengembangan potensi sumberdaya petani melalui Penerapan teknologi partisipatif.E. Weltzien dan S.. M.. McGuire. Pertanian Berkelanjutan Berbasis Pemberdayaan Masyarakat Dan Pelestarian Sumber Daya Lingkungan. Sesbany. Schalenbourg Wim. Prajitno.. Njurumana Gerson ND. 2008. Rahayu Subekti.

. 14 (2) : 67-76. 2003. Partisipasi Petani dalam Pemuliaan Tanaman dan Konservasi Plasma Nutfah Secara ‟On Farm‟.Sylva Sagita P2BA10014 53 Makalah KBM: Peran Petani dalam konservasi keragaman hayati Zuraida N dan Sumarno. Zuriat Vol.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful