Emulsi adalah campuran antara partikel-partikel suatu zat cair (fase terdispersi) dengan zat cair lainnya

(fase pendispersi). Emulsi tersusun atas tiga komponen utama, yaitu: Fase terdispersi, fase pendispersi, dan emulgator. Ada dua tipe emulsi, yaitu: a. Emulsi A/M yaitu butiran-butiran air terdispersi dalam minyak b. Emulsi M/A yaitu butiran-butiran minyak terdispersi dalam air. Pada emulsi A/M, maka butiran-butiran air yang diskontinyu terbagi dalam minyak yang merupakan fase kontinyu, Sedangkan untuk emulsi M/A adalah sebaliknya. Kedua zat yang membentuk emulsi ini harus tidak atau sukar membentuk larutan dispersirenik Zat Pengemulsi (Emulgator) Emulsi merupakan suatu sistem yang tidak stabil. Untuk itu kita memerlukan suatu zat penstabil yang disebut zat pengemulsi atau emulgator. Tanpa adanya emulgator, maka emulsi akan segera pecah dan terpisah menjadi fase terdispersi dan medium pendispersinya, yang ringan terapung di atas yang berat. Adanya penambahan emulgator dapat menstabilkan suatu emulsi karena emulgator menurunkan tegangan permukaan secara bertahap. Adanya penurunan tegangan permukaan secara bertahap akan menurunkan energi bebas yang diperlukan untuk pembentukan emulsi menjadi semakin minimal. Artinya emulsi akan menjadi stabil bila dilakukan penambahan emulgator yang berfungsi untuk menurunkan energi bebas pembentukan emulsi semaksimal mungkin. Semakin rendah energi bebas pembentukan emulsi maka emulsi akan semakin mudah terbentuk. Tegangan

permukaan menurun karena terjadi adsorpsi oleh emulgator pada permukaan cairan dengan bagian ujung yang polar berada di air dan ujung hidrokarbon pada minyak. Daya kerja emulgator disebabkan oleh bentuk molekulnya yang dapat terikat baik dalam minyak maupun dalam air. Bila emulgator tersebut lebih terikat pada air atau larut dalam zat yang polar maka akan lebih mudah terjadi emulsi minyak dalam air (M/A), dan sebaliknya bila emulgator lebih larut dalam zat yang non polar, seperti minyak, maka akan terjadi emulsi air dalam minyak (A/M). Emulgator membungkus butir-butir cairan terdispersi dengan suatu lapisan tipis, sehingga butir-butir tersebut tidak dapat bergabung membentuk fase kontiniyu. Bagian molekul emulgator yang non polar larut dalam lapisan luar butir-butir lemak sedangkan bagian yang polar menghadap ke pelarut air. Pada beberapa proses, emulsi harus dipecahkan. Namun ada proses dimana emulsi harus dijaga agar tidak terjadi pemecahan emulsi. Zat pengemulsi atau emulgator juga dikenal sebagai koloid pelindung, yang dapat mencegah terjadinya proses pemecahan emulsi, contohnya:Gelatin, digunakan pada pembuatan es krim; Sabun dan deterjen; Protein; Cat dan tinta; Elektrolit . Kestabilan Emulsi Bila dua larutan murni yang tidak saling campur/ larut seperti minyak dan air, dicampurkan, lalu dikocok kuat-kuat, maka keduanya akan membentuk sistem dispersi yang disebut emulsi. Secara fisik terlihat seolah-olah salah satu fasa berada di sebelah dalam fasa yang lainnya. Bila proses pengocokkan dihentikan, maka dengan sangat cepat akan terjadi pemisahan kembali, sehingga kondisi emulsi yang

yaitu: 1. Gaya tolak-menolak yang disebabkan oleh pertumpang-tindihan lapisan ganda elektrik yang bermuatan sama. Viskositas tinggi. EMULSI Emulsi adalah suatu sediaan yang mengandung dua zat cair yang tidak mau campur.sesungguhnya muncul dan teramati pada sistem dispersi terjadi dalam waktu yang sangat singkat . Gaya ini akan menstabilkan dispersi koloid Faktor-faktor yang mempengaruhi stabilitas emulsi. adalah: 1. Kestabilan emulsi ditentukan oleh dua gaya. Gaya ini menyebabkan partikel-partikel koloid berkumpul membentuk agregat dan mengendap. Kekuatan mekanik dan elastisitas lapisan antarmuka 3. biasanya air dan minyak dimana caira suatu terdispersi menjadi butir-butir kecil dalam cairan yang lain. Relatifitas phase pendispersi kecil 5. Tolakkan listrik double layer 4. Tegangan antarmuka rendah 2. . 2. Gaya tarik-menarik yang dikenal dengan gaya London-Van Der Waals.

dan tipe A/M dimana fase intern air dan fase ekstern adalah minyak. emulsi merupakan system yang terdiri dari dua fase cair yang tidak bercampur. losion. Fase intern disebut pula dase dispers atau fase discontinue. Pembuatan emulsi . emulgator merupakan film penutup dari minyak obat agar menutupi rasa tak enak itu. Penggunaan emulsi dibagi menjadi dua golongan yaitu emulsi untuk pemakaian dalam dan emulsi untuk pemakaian luar. ukuran kesamaan butir tetes untuk injeklsi intravena. yang terdispersi dalam fase cair lainnya. Flavour ditambahkan pada fase ekstern agara rasanya lebih enak. Emulgator merupakan komponen yang peting untuk memperoleh emulsi yang stabil. Emulsi juga berpaedah untuk menaikan absorbsi lemak melalui dinding usus. Penggunaan emulsi untuk parenteral dibutuhkan perhatian khusus dalam produksi seperti pemilihan emulgator. Emulsi adalah suatu system heterogen. yaitu fase dalam (internal) dan fase luar (eksternal). <st1:place w:st="on"><st1:city w:st="on">Ada dua macam tipe emulsi yang terbentuk yaitu tipe M/A dimana tetes minyak terdispersi ke dalam fase air. cream dan salep. Emulsi untuk penggunaan oral biasanya mempunyai tipe M/A. yang terdiri dari tidak kurang dari sebuah fase cair yang tidak bercampur. dalam bentuk tetesan-tetesan. dengan diameter secara umum. Lecithin tidak pernah dipakai karena menimbulkan hemolisa. Komponen emulsi : • • • Fase dalam (internal) Fase luar (eksternal) Emulsifiying Agent (emulgator) Flavour dan pengawet yang berada dalam fasa air yang mungkin larut dalam minyak harus dalam kadar yang cukup untuk memenuhi yang diinginkan. Emulsi untk pemakaian dalam meliputi per oral atau pada injeksi intravena yang untuk pemakaian luar digunakan pada kulit atau membrane mukosa yaitu linemen. lebih dari 0.1 μm. Secara umum.Emulsi adalah suatu disperse di mana fase terdispers terdiri dari bulatan-bulatan kecil zat cair yang terdistribusi ke seluruh pembawa yang tidak bercampur.

Contoh: suspensi efedrin dalam emulsi M/A bila dipakai pada mukosa hidung di absorbsi lebih lambat si banding larutannya dalam minyak. dan minyak ditambahkan sedikit demi sedikit sambil terus diaduk dengan cepat.2.1. di tampung dalam botol steril dan disterilkan dalam auto klap dan di periksa sterilitas serta ukuran butir. 2 bagian air dan 1 bagian emulgator. Untuk pemakaian kulit dan membrane mukosa digunakan sediaan emulsi tipe M/A atau A/M.2.untuk injeksi dilakukan dengan membuat emulsi kasar lalu dimasukan homogenizer. lalu ditambahkan air sekaligus dan diaduk /digerus dengan cepat dan searah hingga terbentuk korpus emulsi. Metode ini merrupakan . Sehingga diperoleh perbandingan 4 bagian minyak. dan menggunakan perbandingan 4. • Metode Botol Disebut pula metode Forbes (1) . cocok untuk penyiapan emulsi dengan musilago atau melarutkan gum sebagai emulgator. emulsi obat dalam dasar salep dapat menurunkan kecepatan absorbsi dan eksintensinya absorbsi melalui kulit dan membrana mukosa. Metode ini dipilih jika emulgator yang digunakan harus dilarutkan/didispersikan terlebuh dahulu kedalam air misalnya metilselulosa. jadi diperoleh prolonged action. • Metode Gom Basah Disebutt pula sebagai metode Inggris. Emulsi dibuat dengan jumlah komposisi minyak dengan ½ jumlah volume air dan ¼ jumlah emulgator. Tetapi emilsi kadang-kadang dapat menaikan kecepatan absorbsi perkusen dengan kata lain absorbsi kedalam dan melalui kulit . Metode inii digunakan untuk emulsi dari bahan-bahan menguap dan minyak-minyak dengan kekentalan yang rendah.1 sama seperti metode gom kering. 1 bagian gom ditambahkan 2 bagian air lalu diaduk. Metode Pembuatan Emulsi • Metode Gom Kering Disebut pula metode continental dan metode 4. Pertama-tama gom didispersikan kedalam minyak.

c. Emulsifikasi tidak terjadi secepat metode penyabunan. Bahan pengemulsi. • Metode Penyabunan In Situ a. metode ini sama dengan metode penyabunan in situ dengan menggunakan sabun lunak dengan perbedaan bahwa bahan pengemulsi ditambahkan pada fase dimana ia dapat lebih melarut.yang dibuat dengan sederhana yaitu mencampurkan minyak dan air dalam jumlah yang sama dan dikocok kuatkuat. terutama kalsium oleat. Secara umum. emulgator yang digunakan ¼ dari jumlah minyak(2). maka fase eksternal ditambahkan kedalam fase internal dengan pengadukan. basis di larutkan dalam fase air dan asam lemak dalam fase minyak. seperti hand homogenizer . dibentuk secara in situ disiapkan dari minyak sayur alami yang mengandung asam lemak bebas. komponen tersebut dapat dipisahkan dalam dua gelas beker dan dipanaskan hingga meleleh. Ditambahkan dua bagian air lalu dikocok kuat-kuat. Sabun Lunak Metode ini. Emulsi terutama dibuat dengan pengocokan kuat dan kemudian diencerkan dengan fase luar.Demulsifikasi . jika kedua fase telah mencapai temperature yang sama. Beberapa sifat emulsi yang penting: . maka bahan dapat dilelehkan. dapat diencerkan dengan air sampai volume yang tepat(1). Pengemulsi Sintetik Beberapa pustaka memasukkannya dalam kategori metode tambahan (1). suatu volume air yang sama banyak dengan minyak ditambahkan sedikit demi sedikit sambil terus dikocok. Sabun Kalsium Emulsi a/m yang terdiri dari campuran minyak sayur dan air jeruk.variasi dari metode gom kering atau metode gom basah. Dalam botol kering. Jika perlu. Beberapa tipe peralatan mekanik biasanya dibutuhkan. setelah emulsi utama terbentuk. b. Dengan perbandingan untuk emulsifier 2-5%.

emulsi dapat diencerkan. Sedangkan sedimentasi yang terjadi pada emulsi air dalam minyak. Krim atau creaming atau sedimentasi dapat terbentuk pada proses ini. . Sebaliknya. dan perusakan zat pengemulsi. b. emulgator yang larut atau lebih suka air (tween sabun natrium) maka akan terbentuk tipe emulsi M/A dan emulgator akan larut atau suka minyak (sabun kalsium. Teori Emulsifikasi 1. Sifat ini dapat dimanfaatkan untuk menentukan jenis emulsi. apabila kestabilan emulsi ini rusak. span) akan terbentuk tipe emulsi A/M. . Pembentukan krim dapat kita jumpai pada emulsi minyak dalam air.A.Pengenceran Dengan menambahkan sejumlah medium pendispersinya. pendinginan. proses sentrifugasi. Tipe emulsi ditentukan oleh sifat emulgator dan dapat disusun sebagai berikut: 1. Contoh penggunaan proses ini adalah: penggunaan proses demulsifikasi dengan penmabahan elektrolit untukmemisahkan karet dalam lateks yang dilakukan dengan penambahan asam format (CHOOH) atau asam asetat (CH3COOH). apabila kestabilan emulsi ini rusak. fase terdispersi yang dicampurkan akan dengan spontan membentuk lapisan terpisah.Kestabilan emulsi cair dapat rusak apabila terjadi pemansan.maka pertikel-partikel minyak akan naik ke atas membentuk krim. Adsorbsi multi molekuler Emulgator koloid lyofil hidrat dapat dianggap surface active karena dapat tampak pada antarmuka M/A dan perbedaannya dengan S.A sintetik ialah : a. maka partikel-partikel air akan turun ke bawah. penambahan elektrolit. Emulgator koloid lyofil hidrat tidak menurunkan tegangan antar muka Emulgator koloid lyofil membentuk milti molekuler film pada antarmuka Aksinya sebagai emulgator adalah karena membentuk film multimolekuler yang kuat da mencegah terjadinya koalesens. Efeknya sebagai tambahan yang menambah stabilitas ialah menaikkan viskositas media dispers.

Lapisan ini mencegah terjadninya kontak atau berkumpulnya butir-butir tetes cairan yang sama. 2. 3. Tegangan antar muka dapat di bedakan dengan tiga cara: a. jadi memegang bersama-sama dengan kekuatan. secara mekanis melindungi mereka dari penggabungan butir tetes-tetes. teori orientasi bentuk baji teori ini menjelaskan fenomena terbentknya emulsi dengan dasar adanya kelarutan selektif dari bagian molekul emulgator. . Teori tentang terbentuknya emulsi terdiri dari 1. 3. b. bagian polar molekul emulgator umumnya lebih baik untuk melindungi kolesen. Sebaliknya emulsi tipe A/M volume fase intern akan terbatas. c. Penambahan substansi yang mneyususn melintangdiantara permukaan dari dua tetes cairan. Maka itu memungkinkan membuat emulsi M/A volume fase intern yang relative tinggi. apabila air cukup banyak akan terjadi inverse. tipe emulsi juga dapat mempengaruhi viskositas tiap fase. teori tegangan permukaan teori ini dapat menjelaskan bahwa emulsi terjasi bila di tambah suatu substansi yang menurunkan tegangan antar muka diantara dua cairan yang tak tercampur. ada bagian yang bersifat suka air atau mudah larut dalam air dan adanya bagian yang suka minyak atau mudah larut dalam minyak. Efek emulgator disini adalah murni mekanis dan tidak tergantung adanya tegangan permukaan.2. penambahan surfaktan yang menurunkan tekanan antar muka atau antara dua cairan yang tak tercampur. teori film plastic teori ini menjelaskan bahwa enulgator ini mengnedap pada permukaan masing-masing butir tetesan fase disper dalam bentuk film yang plastis. Penambahan zat akan membentuk lapisan film disekeliling butir-butir dari fase dispers.

Bila proses pengocokkan dihentikan. Penilaian Kestabilan Bila dua larutan murni yang tidak saling campur/ larut seperti minyak dan air. jika emulsi krim terjadi pada bagian bawah. maka dengan sangat cepat akan terjadi pemisahan kembali. Secara fisik terlihat seolaholah salah satu fasa berada di sebelah dalam fasa yang lainnya. sedangkan yang lebih mudah di basahi oleh minyak akan membentuk emulsi tipe A/M. jika terjadi krim pada bagian atas. Adsorbsi partikel padat Particle padat teabgi halus dibasahi sebagian oleh minyak sebagian oleh air dapat bekerja sebagai emulgator. Jika densitas relative dari kedua fase diketahui. Kestabilan emulsi ditentukan oleh dua <st1:city w:st="on"><st1:place w:st="on">gaya. <st1:city w:st="on"><st1:place w:st="on">Gaya ini . pembentukan arah krim dari fase dispers dapat menunjukkan tipe emulsi yang ada. 2. sehingga kondisi emulsi yang sesungguhnya muncul dan teramati pada sistem dispersi terjadi dalam waktu yang sangat singkat .3. sehingga. maka keduanya akan membentuk sistem dispersi yang disebut emulsi.Stokes Creaming adalah proses sedimentasi dari tetesan-tetesan terdispersi berdasarkan densitas dari fase internal dan fase eksternal. maka emulsi tersebut merupakan tipe a/m. maka emulsi tersebut adalah tipe m/a. lalu dikocok kuat-kuat. yaitu: 1) <st1:city w:st="on">Gaya tarik-menarik yang dikenal dengan <st1:city w:st="on">gaya <st1:city w:st="on"><st1:place w:st="on">London-Van Der Waals. Stabilitas Fisik Dan Emulsi 1. dicampurkan. densitas fase minyak atau lemak kurang dibandingkan fase air. Creaming dan Hk. Serbuk yang suka di basahi oleh air akan membentuk emulsi tipe M/A. Pada sebagian besar system farmasetik.

3. 2. gerak Brown. pada umumnya emulsi yang dimaksud adalah jenis emulsi yang terdispersi dalam zat cair. Aerosol cair. 4. Koloid Emulsi Emulsi adalah suatu jenis koloid dengan fase terdispresi berupa zat cair dan medium pendispresi berupa zat pada. zat cair. 2) <st1:city w:st="on"><st1:place w:st="on">Gaya tolak-menolak yang disebabkan oleh pertumpang-tindihan lapisan ganda elektrik yang bermuatan sama. dan emulsi padat ( gel). seperti hairspray dan obat nyamuk dalam kemasan kaleng. Aerosol cair juga mempunyai sifat-sifat seperti sol liofob. Emulsi Gas (aerosol cair) Emulsi gas atau aerosol cair merupakan emulsi dalam medium pendispersi gas. 5. Tegangan antarmuka rendah Kekuatan mekanik dan elastisitas lapisan antarmuka Tolakkan listrik double layer Relatifitas phase pendispersi kecil Viskositas tinggi. yaitu emulsi gas (aerosol cair).menyebabkan partikel-partikel koloid berkumpul membentuk agregat dan mengendap. dan kesetabilan dengan muatan partikel. yaitu efek Tyndall. Akan tetapi. . dapat membentuk system koloid dengan bantuan bahan pendorong atau propelan aerosol seperti CFC. 1. atau gas. Ada tiga jenis emulsi. adalah: 1. <st1:place w:st="on"><st1:city w:st="on">Gaya ini akan menstabilkan dispersi koloid Faktor-faktor yang mempengaruhi stabilitas emulsi.

Gel elastis yang terdehidrasi sebagian akan menyerap air apabila dicelupkan ke dalam zat cair. gel non-elastis yang terdehidrasi tidak dapat diubah kembali ke bentuk awalnya. Akibatnya volum gel bertambah atau menggembung.Beberapa gel dapat diubah kemabali menjadi sol cairapabila diberi agitasi(diaduk). Dengan demikian. Emulsi minyak dalam air dan emulsi air dalam lemak. dapat berubah sesuai bentuk jika diberi gaya dan akan kembali ke bentuk semula ketika gaya yang ada di tiadakan. -Sinersis. Biasanya salah satu zat cair ini adalah air (zat cair polar) dan zat lainya seperti munyak (meski dapat berupa lemak). yaitu zat cair polar dan zat cair non-polar. Gel elastis. perak oksida dan cat tiksotropi modern Quick Fact: Bagaimana air dan minyak dapat bercampur membentuk emulsi cair ? . Sebaliknya. Proses ini disebut sinersis. -Menggembung. Rantai ini kemudian akan saling bertaut sehingga membentuk suatu struktur padatan di mana medium pendispersi cair terperangkap dalam lubang-lubang struktur tersebut. Beberapa sifat gel yang penting adalah -Hidrasi. Sedangkan gel non-elastis. Pada menggumpalan ini.2. Terdapat dua jenis gel.Gel elastis yang terdehidrasi dapat diubah kembali menjadi gel elastis dengan menambahkan zat cair. partikel-partikel sol akan bergabung membentuk suatu rantai panjang. Emuldi cair yang terdiri dari air dan minyak dapat digolongkan menjadi dua jenis yaitu. Gel dapat dianggap terbentuk akibat penggumpalan seagian sol cair. 3. yaitu gel elastis dan gel non-elastis.Gel anorganik akan mengerut jika dibiarkan dan diikuti penetesan pelarut. terbentuk suatu massa berpori yang semi-padat denga struktur gel. -Tiksotropo. Emulsi Padat atau Gel Gel merupakan emulsi dalam medium pendispersi zat padat. Sifat ini disebut tiksotropi. Emulsi Cair Emulsi cair melibatkan campuran dia zat cair yang tidak dapat saling melaurtkan. tidak dapat berubah ketika di beri gaya.Contohnya: gel besi oksida.

Bagian berinteraksi dengan minyak atau mengelilingi partikelpartikel minyak. Oleh karena kebanyakan emulsi berupa dispersi minyak dalam air atau dispersi air dalam minyak.Hal ini dapat dilakukan dengan menambahkan suatu pengemulsi (emulgator). bergabung kembali membentuk partikel yang Akibatnya. dengan Sedangkan air. Saus salad atau sistem koloid yang terbentuk kita kenal sebagai mayones. maka butiran -butiran asam tersebut dan secara akan bertahap terpisah yang akan lagi. Untuk jelasnya. non Contoh polar polar polar zat akan akan ini pengemulsi tersebut adalah senyawa organik yang memiliki polar. Pengocokan minyak dan akan mengandung butiran minyak yang terdispersi dalam larutan asam cuka. Namun. Beberapa sifat emulsi yang penting adalah : Demulsifikasi . Saus salad cuka pada awalnya terbuat dari larutan asam cuka menghasilkan campuran yang (polar) dan minyak (non polar). Muatan negatif menyebabkan partikel-partikel minyak saling tolak dan tidak akan bergabung. menolak emulsi menjadi stabil. maka zat pengemulsi tersebut harus dapat larut baik gugus dalam polar air dan maupun non dalam minyak. Untuk menstabilkan saus salad ini dapat ditambahkan zat seperti kuning telur mengandung lesitin. ambil contoh sistem koloid emulsi saus salad. pengemulsi cuka minyak cukup besar. Dengan kata lain. Jika bagian bagian berinteraksi ini terionisasi menjadi bermuatan negatif. setelah pengocokan dihentikan.

maka proses dapat sentrifugasi. Ruahan menjadi globul ditentukan oleh waktu dan kecepatan pengadukkan. 2009 Emulsi adalah… • • dispersi koloidal 2 cairan yang tidak bercampur karena perbedaan kepolaran. Emulsi Filed under: Farmasi — 26 Comments January 4. Pada proses terbentuk krim minyak (creaming) pada ke Pembentukan dijumpai akan emulsi atas pada ke minyak dalam air. Apabila kestabilan emulsi ini rusak. Tahap stabilisasi: mekanisme kerja emulgator.Kestabilan emulsi cair dapat rusak akibat pemanasan. demulsifikasi sedimentasi. dapat diencerkan dengan penambahan fase untuk pendispersinya.000 µm) dalam medium pendispersi. globul terdispersi makromolekul (dengan ukuran 100-100. digunakan Sedangkan sedimentasi air terjadi emulsi air dalam minyak. partikel-partikel krim. Pengenceran Emulsi sejumlah lapisan medium terpisah. Pengadukkan dengan kecepatan tinggi menggunakan ultraturax → sudah pecah (sudah opak seperti susu dan kecepatan diturunkan) → masuk ke dalam tahap stabilisasi. krim penambahan atau elektrolit. Sifat ini dapat Sebaliknya. pendinginan. bawah. Tahap penentu pembentukan emulsi: • • Tahap pemisahan: disrupsi dan distruksi. naik membentuk rusak. Apabila kestabilan emulsi ini maka partikel -partikel akan turun terdispersi yang dicampurkan akan spontan membentuk menentukan jenis emulsi. . dan perusakan zat pengemulsi.

3. Emulgator koloid hidrofil: membentuk lapisan film multilayer pada antar muka globul dan dapat meningkatkan viskositas. Emulgator: film antar muka. Lapisan film multilayer terbentuk karena adanya air sehingga terbentuk crosslink/struktur 3 dimensi di sekitar globul karena adanya ikatan hidrogen sehingga dapat menjerat air. Meningkatkan stabilitas Memperbaiki penampilan Menutupi rasa tidak enak Efek obat diperlambat Faktor yang Mempengaruhi Proses Emulsifikasi: • • • Tegangan permukaan 2 fase cair. Energi bebas permukaan: dapat membentuk koalescen. gom arab. Tidak terbentuk lapisan multilayer dikarenakan partikel halus teradsorpsi pada permukaan globul. Enersi antar muka 2 cairan yang tidak bercampur menyebabkan ketidakstabilan sehingga usaha enersi antar muka minimum. yaitu penggabungan globul. tragakan. Meningkatkan kelarutan 2. dan repulsi sterik untuk emulgator muatan. Veegum dan bentonit harus ditambahkan dengan air panas lalu dikocok dengan blender dengan kecepatan tinggi agar . tolak menolak muatan.Faktor yang harus diperhatikan dalam proses emulsifikasi: 1. nonionik (Span dan Tween). Kekuatan stabilisator pada emulgator partikel halus sangat lemah. Macam2 surfaktan: surfaktan kationik. 3. Koalescen adalah ukuran lapisannya berkurang karena emulgatornya berkurang. 4. karena adanya perbedaan polaritas dan zat cair tersebut. Contoh koloid hidrofil: gelatin. Dibentuk 2 fase stabilisasi dengan fase ketiga adalah emulgator atau multi emulsi (o/w/o. hati-hati terhadap valensi tinggi karena dapat merusak lapisan multilayer sehingga terbentuk koalescen. Polidispersi globul sferis → tergantung dari pengadukkan fasa terdispersi. dan Na-alginat. Bahan peningkat viskositas → dapat mengurangi kecepatan penggabungan globul terdispersi. Emulgator partikel halus: membentuk lapisan monolayer pada antar muka globul karena kemampuan partikel halus teradsorpsi pada permukaan. 5. Stabilisator pada antar muka. agar-agar. 2. Mekanisme Stabilisasi Emulsi: 1. dan zwitter ion. 4. Emulgator surfaktan: membentuk lapisan film monolayer pada antar muka globul. anionik. tergantung dari keruahan minyak. Surfaktan harus dipanaskan karena akan meningkatkan asosiasi globul dan menurunkan viskositas fase terdispersi sehingga lebih mudah terbentuk. Selulosa jika digunakan sebagai koloid hidrofil. dan PGA. 5. 3. Koloid hidrofil harus dikembangkan terlebih dahulu. bentonit. w/o/w) Tujuan Pembentukan Emulsi: 1. 2. karagenan. Contoh yang sering digunakan adalah veegum.

3. misalnya konsistensi. Pemilihan fasa minyak dilihat faktor-faktor yang mempengaruhinya. Penentuan koefisien partisi adalah memakai air-oktanol lalu ditambahkan zat kemudian kocok sekian menit. maka dosis tidak merata. Pengawet. Tipe A/M lebih viskos daripada M/A. Koefisien partisi = [pada minyak]/[pada air] Aditif dalam sediaan emulsi: 1. Fasa pendispersi 3. Hal ini diperlukan agar partikel tidak bergabung. Pengadukkan dapat mendispersikan fase terdispersi. waktu pengadukkan. Hal ini disebabkan karena memberikan energi kinetika yang dapat menyebabkan fase terdisperdi terpecah menjadi globul-globul kecil. Parameter fisikanya adalah: panas. karena kapasitas penetralannya asamnya tidak sempurna. Untuk membuat antasid tidak disarankan menggunakan koloid hidrofil sebagai suspending agent. 4. tergantung dari konsistensi/viskositas dan rheologi. dan kecepatan pengadukkan. Apabila terpecah makan akan tidak dapat membentuk crosslink antar polimer tersebut. Jika partikel bergabung. dan koefisien partisi zat aktif dengan aditif. PGA dikembangkannya tidak boleh dengan di blender karena nanti polimernya akan terpecahpecah. Parameter kimianya: stabilitas kimia (pH) dan penguraian (toksisitas). Lalu tentukan konsentrasi fasa minyak dan fasa air. rasa.partikel dapat dipecah sehingga air bisa berpenetrasi ke dalamnya. Karena mempunyai kemampuan untuk mengadsorpsi sehingga kapasitas penurunanya menurun. Antasid digunakan untuk menetralkan asam lambung akibat gastritis dengan mengadsorpsi asam lambung. Pertimbangan formula. misalnya propil paraben (tidak larut baik dalam air) dan metil paraben. Hal ini dikarenakan dilepaskannya sedikit-sedikit. Komponen aditif Ketiga faktor di atas menentukan: • • Pembentukan emulsi. Contoh A/M adalah TPN (Total Parenteral Nutrition). Formulasi Dalam Emulsi: 1. 2. Tegangan permukaan yang tinggi distabilkan oleh emulgator. dasar pemilihannya adalah misalnya A/M diperlukan dosis yang besar. . Fasa terdispersi 2. Antioksidan Emulgator Flavour M/A atau A/M.

Mikroemulsi: dispersi cair-cair dalam bentuk miselar dengan ukuran partikel 10-100 nm. poligliseril 3-diisostearat. 2. Mikroemulsi: partikel lebih kecil. 4. 5. Derajat solubilisasi: misel surfaktan. Stabilita fisik dan pembentukan sistem yang spontan. globul emulsi. 4. Pengaruh temperatur dan komposisi mikroemulsi. 2. lapisan pelindung tidak menutupi semua bagian globul sehingga 2 globul bersatu membentuk aggregat. dan solubilisasi yang terjadi. Kriming: dikarenakan adanya pengaruh gravitasi sehingga terjadi pemekatan di permukaan dan di dasar. Kinetika solubilisasi tergantung dari derajat solubilisasi dan transisi misel surfaktan dan globul emulsi. 5. Inversi fasa: dikarenakan adanya perubahan viskositas. 3.Bentuk ketidakstabilan emulsi: 1. luas permukaan lebih besar tetapi karena adanya konsentrasi surfaktan dan co-surfaktan yang tinggi menyebabkan partikel terselimuti secara rapat sehingga lebih stabil daripada emulsi biasa dan tidak memerlukan pengocokkan yang kuat. Luas permukaan partikel terdispersi: memepengaruhi enersi antar muka. 3. Breaking/demulsifikasi: pecah akibat hilangnya lapisan film karena pengaruh suhu. Dalam mikroemulsi terjadi solubilisasi miselar dimana misel-misel bergabung dan membutuhkan konsentrasi surfaktan yang tinggi. Contoh co-surfaktan: etoksidiglikol. Koalescens: dikarenakan hilangnya lapisan film dan globul semakin besar dan bersatu. Flokulasi: dikarenakan emulgator kurang. Faktor yang harus diperhatikan dalam mikroemulsi: 1. poligliseril 6-dioleat. Contoh formula: • • • • • Gliserin Trietanolamin Mg-alumunium silikat Metil paraben Air . Co-surfaktan diperlukan untuk menurunkan hidrofilisitas fase air. poligliseril 6-isostearat. Sifat mikroemulsi: • • • • • • Ukuran partikel 10-100 nm Stabil Sederhana Ada kekuatan solubilisasi Ada peningkat aktivitas Penampilan: cair dan transparan.

Pergerakan zigzag ini dinamakan gerak Brown. Untuk koloid dengan medium pendispersi zat cair atau gas. Demikian pula sebaliknya. Gerakan tersebut dapat bersifat acak seperti pada zat cair dan gas( dinamakan gerak brown). Partikel-partikel suatu zat senantiasa bergerak. maka semakin besar energi kinetik yang dimiliki partikel-partikel medium pendispersinya. sedangkan pada zat padat hanya beroszillasi di tempat ( tidak termasuk gerak brown ). Emulgel: sediaan emulsi yang fase airnya ditingkatkan viskositasnya dengan menambahkan gelling agent. Semakin kecil ukuran partikel koloid. Formulasi emulsi dengan rasio fase air-minyak: • • • • • untuk menilai potensial termodinamika dalam sistem 2 fasa pada T&P konstan adalah energi bebas Gibbs → berhubungan dengan HLB. Efek tyndall adalah efek yang terjadi jika suatu larutan terkena sinar. Jika kita amati koloid dibawah mikroskop ultra.Pada mikroemulsi. maka tumbukan yang terjadi cenderung tidak seimbang. cahaya akan . Hal ini dikarenakan agar densitasnya tidak naik sehingga mudah dicampur dan tidak kriming. semakin besar ukuran partikel koloid. Efek Tyndall Efek Tyndall ialah gejala penghamburan berkas sinar (cahaya) oleh partikel-partikel koloid. semakin cepat gerak Brown yang terjadi. Oleh karena ukuran partikel cukup kecil. maka kita akan melihat bahwa partikel-partikel tersebut akan bergerak membentuk zigzag. perubahan spontan akan terjadi karena adanya reduksi energi bebas (ΔG < 0) Komposisi tergantung dari 1 komponen independen dalam sistem 2 fasa. pergerakan partikel-partikel akan menghasilkan tumbukan dengan partikel-partikel koloid itu sendiri. sedangkan pada sistem koloid (gambar kanan). Emulgel mikroemulsi lebih sulit pembuatannya karena konsentrasi surfaktan dan co-surfaktan yang tinggi menyebabkan air sulit berpenetrasi. Tumbukan tersebut berlangsung dari segala arah. semakin rendah suhu sistem koloid. 2. Oleh karena itu sifat itu disebut efek tyndall. maka larutan tersebut tidak akan menghamburkan cahaya. Hal ini disebabkan karena ukuran molekul koloid yang cukup besar. Sehingga terdapat suatu resultan tumbukan yang menyebabkan perubahan arah gerak partikel sehingga terjadi gerak zigzag atau gerak Brown. Demikian pula. gerak Brown dari partikel-partikel fase terdispersinya semakin cepat. semakin lambat gerak Brown yang terjadi. maka gerak Brown semakin lambat. Semakin tinggi suhu sistem koloid. Hal ini menjelaskan mengapa gerak Brown sulit diamati dalam larutan dan tidak ditemukan dalam campuran heterogen zat cair dengan zat padat (suspensi). Efek tyndall ini ditemukan oleh John Tyndall (1820-1893). fase minyak memakai yang viskositasnya rendah. KOLOID SOL 3. Gerak Brown juga dipengaruhi oleh suhu. Pada saat larutan sejati (gambar kiri) disinari dengan cahaya. seorang ahli fisika Inggris. Akibatnya.1 Sifat – sifat koloid sol: 1. Gerak Brown Gerak Brown ialah gerakan partikel-partikel koloid yang senantiasa bergerak lurus tapi tidak menentu (gerak acak/tidak beraturan).

Muatan koloid sol Sifat koloid terpenting adalah muatan partikel koloid.berlebih. gugus –COOH akan mendonorkan proton dan membentuk gugus – COO-. lapisan bermuatan ganda.sehingga bermuatan positif. elektroforesis koloid sol. (ii) Koloid As2S3 bermuatan negatif karena permukaannya menyerap ion S2. Partikel sol Fel (OH)3 kemampuan untuk mengadsorpsi kation dari medium pendisperinya sehingga bermuatan positif. Berikut penjelasannya: ^-^ Koloid protein Koloid protein adalah jenis koloid sol yang mempunyai gugus yang bersifat asam (COOH) dan biasa (-NH2). Adsorpsi koloid Adsorpsi ialah peristiwa penyerapan partikel atau ion atau senyawa lain pada permukaan partikel koloid yang disebabkan oleh luasnya permukaan partikel. Semua partikel koloid memiliki muatan sejenis (positif dan negatif). Beda halnya dengan absorpsi. Pada ph intermediet partikel protein bermuatan netral karena muatan –NH3+ dan COOsaling meniadakan. Sol AgCI dalam medium pendispersi dengan kation Ag+ berlebihan akan mengadsorpsi Ag+ sehingga bermuatan positif. baik partikel netral atau bermuatan (kation atau anion) karena mempunyai permukaan yang sangat luas. Kedua gugus ini dapat terionisasi dan memberikan muatan pada molekul protein. . maka sol AgCI akan mengadsorpsi ion CI. Proses ionisasi gugus permukaan partikel Beberapa partikel koloid memperoleh muatan dari proses ionisasi gugus-gugus yang ada pada permukaan partikel koloid. Sebaliknya. sedangkal partikel sol As2S3 mengadsorpsi anion dari medium pendispersinya sehingga bermuatan negatif. Ph tinggi. yaitu : Proses adsorpsi Partikel koloid dapat mengadsorpsi partikel bermuatan dari fase pendispersinya. 3. Contohnya adalah koloid protein dan koloid sabun/ deterjen. Sistem koloid secara keseluruhan bersifat netral. Partikel koloid tidak dapat bergabung sehingga memberikan kestabilan pada sistem koloid. Sumber muatan koloid sol Partikel-partikel koloid mendapat mutan listrik melalui dua cara. dan proses – proses lainnya pada koloid sol : A. Jenis muatan tergantung dari jenis partikel yang bermuatan. Berikut penjelasan tentang sumber muatan koloid. melainkan di dalam sol padat tersebut. partikel-partikelnya relatif kecil sehingga hamburan yang terjadi hanya sedikit dan sangat sulit diamati. Absorpsi adalah fenomena menyerap semua partikel ke dalam sol padat bukan di atas permukaannya. Partikel koloid sol memiliki kemampuan untuk mengadsorpsi partikel-partikel pada permukaannya. kestabilan. hal itu terjadi karena partikel-partikel koloid mempunyai partikel-partikel yang relatif besar untuk dapat menghamburkan sinar tersebut. maka pertikel-partikel zat cair atau gas tersebut akan terakumulasi pada permukaan zat padat tersebut. Pada ph rendah . Maka terdapat gaya tolak menolak antar partikel koloid. Contoh : (i) Koloid Fe(OH)3 bermuatan positif karena permukaannya menyerap ion H+. 4. gugus basa –NH2 akan menerima proton dan membentuk gugus –NH3.• • dihamburkan. Jika anion CI. pada larutan sejati. Dimana partikelpartikel sol padat ditempatkan dalam zat cair atau gas.

Gugus R. Lapisan bermuatan ganda Pada awalnya. Adanya lapisan ini menyebabkan secara keseluruhan bersifat netral. Gaya tolak – menolak tersebut akan membuat dispersi koloid menjadi stabil.atau ekor non-polar tidak larut dalam air sehingga akan terorientasi ke pusat. Lapisan pertama ialah lapisan padat di mana muatan partikel koloid menarik ion-ion dengan muatan berlawanan dari medium pendispersi. Sabun adalah garam karboksilat dengan rumus R-COO-Na+. molekul ini dapat bergabung membentuk partikel berukuran koloid yang disebut misel. Koloid lain ini disebut koloid pelindung. Salah satu faktor yang mempengaruhi stabilitas koloid ialah muatan permukaan koloid.yang bersifat non pola. Untuk koloid yang berupa emulsi dapat digunakan emulgator yaitu zat yang dapat tertarik pada kedua cairan yang membentuk emulsi. D. cat. Gaya ini terjadi karena pertumpangtindihan lapisan ganda listrik yang bermuatan sama. B. Anion R-COO. Contoh: es krim. . Untuk itu digunakan koloid lain yang dapat membentuk lapisan di sekeliling koloid tersebut. Yaitu. Model lapisan berganda tersebut tijelaskan pada lapisan ganda Stern. Gaya ketiga ialah gaya tarik – menarik antara partikel koloid dengan medium pendispersinya. partikel-partikel koloid mempunyai muatan yang sejenis yang didapatkannya dari ion yang diadsorpsi dari medium pendispersinya. Sedangkan lapisan kedua berupa lapisan difusi dimana muatan dari medium pendispersi terdifusi ke partikel koloid. Terkadang. Penambahan kation pada permukaan partikel koloid yang bermuatan negatif akan menetralkan muatan tersebut dan menyebabkan koloid menjadi tidak stabil.• • • • • • • ^-^ Koloid sabun dan deterjen Pada konsentrasi relatif pekat. Gaya kedua ialah gaya tolak menolak. Gaya ini menyebabkan partikel – partikel koloid berkumpul membentuk agregat dan akhirnya mengendap.terdiri dari gugus R. gaya ini dapat menyebabkan terjadinya agregasi partikel koloid dan gaya ini juga dapat meningkatkan kestabilan sistem koloid secara keseluruhan. Zat yang molejulnya bergabung secara spontan dalam suatu fase pendispersi dan membentuk partikel berukuran koloid disebut koloid terasosiasi. Besarnya muatan pada permukaan partikel dipengaruhi oleh konsentrasi elektrolit dalam medium pendispersi. Elektroforesis Elektroforesis adalah suatu proses untuk menghitung berpindahnya ion atau partikel koloid bermuatan dalam medium cair yang dipengaruhi oleh medan listrik. maka sistem koloid itu akan menarik muatan yang berbeda tersebut sehingga membentuk lapisan ganda. Banyak koloid yang harus dipertahankan dalam bentuk koloid untuk penggunaannya. yaitu sebagai berikut : Gaya pertama ialah gaya tarik – menarik yang dikenaln dengan gaya London – Van der Waals. tinta. Contoh: gelatin pada sol Fe(OH)3. Apabila dalam larutan ditambahkan larutan yang berbeda muatan dengan system koloid. C. Contoh: sabun deterjen sebagai emulgator dari emulsi minyak dan air. Kestabilan koloid Terdapat beberapa gaya pada sistem koloid yang menentukan kestabilan koloid.

artinya fase terdispersi sol liofil dapat dipisahkan dengan koagulasi. @Memberikan efek Tyndall yang lemah @Dapat bermigrasi ke anode. Muatan partikel diperoleh dari adsorpsi partikel-partikel ion yang bermuatan listrik @Viskositas sol hidrofob hampir sama dengan viskositas medium pendispersi @Mudah menggumpal dengan penambahan elektrolit karena mempunyai muatan . philia = senang). atau tidak bermigrasi sama sekali 2. Koloid liofol dan liofob Berdasarkan sifat adsorpsi dari partikel koloid terhadap medium pendispersinya. Koloid liofob yaitu koloid yang ”benci cairan” (phobia = benci). Contoh: susu + sirup masam —> menggumpal lumpur + tawas —> menggumpal Dengan mencampurkan 2 macam koloid dengan muatan yang berlawanan. Dengan penambahan elektrolit (asam. kemudian dapat diubah kembali menjadi sol dengan penambahan medium pendispersinya. Kimia. pendinginan atau pengadukan cepat. dan agar-agar. Dengan terjadinya koagulasi. katode. Contoh koloid liofob adalah sol sulfida dan sol logam.• • • • • • pergerakan partikel – partikel koloid dalam medan listrik ke masing – masing elektrode. 2.Sol Liofob @Tidak dapat dibuat hanya dengan mencampur fase terdispersi dan medium pendisperinya @Memiliki muatan positif atau negative @Partikel-partikel sol liofob tidak mengadsorpsi medium pendispersinya. berarti zat terdispersi tidak lagi membentuk koloid. yaitu terbentuknya lapisan medium pendispersi yang teradsorpsi di sekeliling partikel sehingga menyebabkan partikel sol liofil tidak saling bergabung @Viskositas sol liofil > viskositas medium pendispersi @Tidak mudah menggumpal dengan penambahan elektrolit @Reversibel. F. Partikel koloid tidak mengadsorpsi molekul cairan. kita mengenal dua macam koloid : Koloid liofil yaitu koloid yang ”senang cairan” (bahasa Yunani : liyo = cairan. Contoh: Fe(OH)3 yang bermuatan positif akan menggumpal jika dicampur As2S3 yang bermuatan negatif. E. Ciri – cirinya: 1. basa. Koagulasi Koagulasi adalah penggumpalan partikel koloid dan membentuk endapan. atau garam). Contoh koloid liofil adalah kanji. Partikel koloid akan mengadsorpsi molekul cairan. Sol Liofil @Dapat dibuat langsung dengan mencampurkan fase terdispersi dengan medium terdispersinya @Mempunyai muatan yang kecil atau tidak bermuatan @Partikel-partikel sol liofil mengadsorpsi medium pendispersinya. Cara mekanik dilakukan dengan pemanasan. Prinsip kerja elektroforesis digunakan untuk membersihkan asap hasil industri dengan alat Cottrell. Koloid akan mengalami koagulasi dengan cara: 1. protein. sehingga terbentuk selubung di sekeliling partikel koloid itu. Terdapat proses solvasi/ hidrasi. Mekanik.

AlCl3 (aq) + 3H2O(l) Al(OH) 3 (koloid) + 3HCl(aq) d. Alat yang digunakan untuk cara ini biasa disebut penggilingan koloid. Misalnya.Sol Al(OH)3 dapat diperoleh dari reaksi hidrolisis garam Al dalam air mendidih.untuk membuat sol belerang yang sukar larut dalam air tetapi mudah larut dalam alkohol seperti etanol dengan medium pendispersi air. . . tergantung jenis muatan partikel 3. Baru kemudian larutan belerang dalam etanol tersebut ditambahkan sedikit demi sedikit ke dalam air sambil diaduk. kemudianbaru dalam larutan tersebut ditambahkan etanol maka terjadi kondensasi dan terbentuklah koloid kalsium asetat. kalsium asetat yang sukar larut dalam etanol.Sol Fe(OH3) dapat dibuat dengan hidrolisis larutan FeCl3 dengan memanaskan larutan FeCl3 atau reaksi hidrolisis garam Fe dalam air mendidih.dsb. Reaksi hidrolisis Hidrolisis adalah reaksi suatu zat dengan air. es krim. Sehingga belerang akan menggumpal menjadi pertikel koloid dikarenakan penurunan kelarutan belerang dalam air. FeCl3 (aq) + 3H2O(l) Fe(OH) 3 (koloid) + 3HCl(aq) (Koloid Fe(OH)3 bermuatan positif karena permukaannya menyerap ion H+) . .industri makanan untuk membuat jus buah. Reaksi dekomposisi rangkap Misalnya: .Sol emas atau sol Au dapat dibuat dengan mereduksi larutan garamnya dengan melarutkan AuCl3 dalam pereduksi organic formaldehida HCOH. Misalanya: .Sol As2S3 dibuat dengan gaya mengalirkan H2S dengan perlahan-lahan melalui larutan As2O3 dingin sampai terbentuk sol As2S3 yang berwarna kuning terang. Reaksi pergantian pelarut Cara ini dilakukan dengan mengganti medium pendispersi sehingga fasa terdispersi yang semulal arut setelah diganti pelarutanya menjadi berukuran koloid. 2.Sol AgCl dibuat dengan mencampurkan larutan AgNO3 encer dan larutan HCl encer. yang biasa digunakan dalam: .Sol belerang dapat dibuat dengan mereduksi SO2 yang terlarut dalam air dengan mengalirinya gas H2S . 2AuCl3 (aq) + HCOH(aq) + 3H2O(l) 2Au(s) + HCOOH(aq) + 6HCl(aq) .• • • • • • @Irreversibel artinya sol liofob yang telah menggumpal tidak dapat diubah menjadi sol @Memberikan efek Tyndall yang jelas @Akan bergerak ke anode atau katode. krim. AgNO3 (ag) + HCl(aq) AgCl (koloid) + HNO3 (aq) b. selai. Cara mekanik Cara mekanik adalah penghalusan partikel-partikel kasar zat padat dengan proses penggilingan untuk dapat membentuk partikel-partikel berukuran koloid.Sebaliknya. Reaksi redoks Misalnya: . belarang harus terlenih dahulu dilarutkan dalam etanol sampai jenuh. 2H2S(g) + SO2 (aq) 3S(s) + 2H2O(l) c.2 Pembuatan sistem koloid sol 1. Cara Kondensasi a. As2O3 (aq) + 3H2S(g) As2O3 (koloid) + 3H2O(l) (Koloid As2S3 bermuatan negatif karena permukaannya menyerap ion S2-) . Cara Dispersi a. mula-mula dilarutkan terlebih dahulu dalam air.

Tetapi. bila kertas saring tersebut diresapi dengan selulosa seperti selofan. maka ukuran pori-pori . listrik tegangan tinggi dialirkan melalui dua layer logam yang menyokong selaput semipermiabel. karena pori-pori kertas saring terlalu besar dibandingkan ukuran partikel-partikel tersebut. uapnya kemudian akan terkondensasi dalam medium pendispersi dingin. Kemudian kedua logam dicelupkan ke dalam medium pendispersinya (air suling dingin) sampai kedua ujungnya saling berdekatan. gelatin dalam air. Elektrodialisis hanya dapat digunakan untuk memisahkan partikel-partikel zat terlarut elektrolit karena elektrodialisis melibatkan arus listrik. cat dan zat pewarna. deterjen. kedua elektrode akan diberi loncatan listrik. Contoh: . ginjal berfungsi sebagai alat dialisis darah 2. Dalam tubuh. Sol Fe(OH) 3 kemudian dikelilingi Fe+3 sehingga bermuatan positif .Endapan NiS dipeptisasi oleh H2S . Contohnya.Beberapa zat mudah terdispersi dalam pelarut tertentu dan membnetuk sistem kolid.Industri kimia untuk membuat pelumas padat. Yaitu dengan mengalirkan cairan yang tercampur dengan koloid melalui membran semi permeable yang berfungsi sebagai penyaring. b. Cara kerjanya. Au.Industri-industri lainnya seperti industri plastik. . . semir sepatu. Membran semi permeable ini dapat dilewati cairan tetapi tidak dapat dilewati koloid. 3. Prinsip dialysis ini digunakan dalam proses pencucian darah orang yang ginjalnya tidak berfungsi lagi. farmasi. Penyaring Ultra Partikel-partikel kolid tidak dapat disaring biasa seperti kertas saring. sehingga koloid dan cairan akan berpisah.Sol Fe(OH) 3 diperoleh dengan mengaduk endapan Fe(OH) 33 yang baru terbentuk dengan sedikit FeCl3.• • • • .3 Pemurnian koloid sol 1. Dialisis Dialisis ialah pemisahan koloid dari ion-ion pengganggu dengan cara ini disebut proses dialisis. Cara busur bredig Cara busur Bredig ini biasanya digunakan untuk membuat sol-sol logam. tekstil. 3. Zat pemecah tersebut dapat berupa elektrolit khususnya yang mengandung ion sejenis ataupun pelarut tertentu. Panas yang timbul akan menyebabkan logam menguap. . . Adanya pengaruh medanlistrik akanmempercepat proses pemurnian sistem koloid. maka metode ini dikategorikan sebagai metode dispersi. Sehingga pertikel-partikel zat terlarut dalam sistem koloid berupa ion-ion akan bergerak menuju elektrode dengan muatan berlawanan. dsb. Karena logam diubah jadi partikel kolid dengan proses uap logam.Agar-agar dipeptisasi oleh air . endapan Al(OH) 3 oleh AlCl3. Kemudian. Elektrodialisis Pada dasarnya proses ini adalah proses dialysis di bawah pengaruh medan listrik. Dalam cara ini. sehingga hasil kondensasi tersebut berupa pertikel-pertikel kolid. dan kertas. c. sperti Ag. karet oleh bensin. dan Pt. logam yang akan diubah menjadi partikel-partikel kolid akan digunakan sebagai elektrode. Cara peptisasi Cara peptisasi adalah pembuatan koloid / sistem koloid dari butir-butir kasar atau dari suatu endapan / proses pendispersi endapan dengan bantuan suatu zat pemeptisasi (pemecah).Industri kimia rumah tangga untuk membuat pasta gigi.

Biasanya salah satu zat cair ini adalah air (zat cair polar) dan zat lainnya. Terakhir. Partikel-partikel kolid akan dapat dipisahkan berdasarkan ukurannya. Sedangkan sedimentasi yang terjadi pada emulsi air dalam minyak. Contoh: dalam hutan yang lebat. Proses pemurnian dengan menggunakan penyaring ultra ini termasuklambat. pendinginan. gerak Brown. emulsi dapat diencerkan. untuk dapat membentuk system koloid atau menghasilkan semprot aerosol yang diperlukan. efek Tyndall. CFC (klorofuorokarbon atau Freon). dan kestabilan denganmuatan partikel.jadi butiran minyak di dalam air). cahaya matahari akan disebarkan oleh partikel-partikel koloid dari sistem koloid kabut à merupakan contoh efek Tyndall pada aerosol cair. penambahan elektrolit. emulsi dapat dibagi menjadi: Emulsi Gas Emulsi gas dapat disebut juga aerosol cair yang adalah emulsi dalam medium pendispersi gas. Aerosol cair juga memiliki sifat-sifat seperti sol liofob. . seperti. maka partikel-partikel air akan turun ke bawah. Beberapa sifat emulsi yang penting: . emulsi merupakan jenis koloid dimana fase terdispersinya merupakan zat cair. . Kertas saring yang dimodifikasi tersebut disebut penyaring ultra. anatar lain. apabila kestabilan emulsi ini rusak. berdasarkan medium pendispersinya. dibutuhkan bantuan bahan pendorong/ propelan aerosol. jadi butiran air dalam minyak). Pada aerosol cair. Emulsi Cair Emulsi cair melibatkan dua zat cair yang tercampur.maka pertikel-partikel minyak akan naik ke atas membentuk krim. Pembentukan krim dapat kita jumpai pada emulsi minyak dalam air. BAB IV KOLOID EMULSI • • Seperti yang telah dijelaskan. dengan menggunakan penyaring ultra bertahap. Contoh penggunaan proses ini adalah: penggunaan proses demulsifikasi dengan penmabahan elektrolit untukmemisahkan karet dalam lateks yang dilakukan dengan penambahan asam format (CHOOH) atau asam asetat (CH3COOH). atau emulsi air dalam minyak (cth: margarine yang terdiri dari air yang terdispersi dalam minyak. Kemudian. dapt juga disebut zat cair polar &zat cair non-polar. hairspray dan obat nyamuk dalam kemasan kaleng.Pengenceran Dengan menambahkan sejumlah medium pendispersinya.Demulsifikasi Kestabilan emulsi cair dapat rusak apabila terjadi pemansan. yaitu. Emulsi cair itu sendiri dapat digolongkan menjadi 2 jenis. minyak (zat cair non-polar). proses sentrifugasi.• kertas akan sering berkurang. jadi tekanan harus dinaikkan untuk mempercepat proses ini. emulsi minyak dalam air (cth: susu yang terdiri dari lemak yang terdispersi dalam air. Krim atau creaming atau sedimentasi dapat terbentuk pada proses ini. tetapi tidak dapat saling melarutkan. dan perusakan zat pengemulsi. apabila kestabilan emulsi ini rusak. partikel-pertikel koloid akan teringgal di kertas saring.

sehingga molekul-molekul asam silikat yang terbentuk akan terpolimerisasi dan membentuk gel silika. dan proses ini disebut sineresis. . Contohnya adalah gel besi oksida.• • • • • • Sebaliknya. tetapi sebaliknya. Sehingga volum gel akan bertambah dan menggembung.Hidrasi Gel non-elastis yang terdehidrasi tidak dapat diubah kembali ke bentuk awalanya. Gel elastis dapat dibuat dengan mendinginkan sol iofil yang cukup pekat.Tiksotropi Beberapa gel dapat diubah kembali menjadi sol cair apabila diberi agitasi atau diaduk. Kestabilan buih dapat diperoleh dari . fase terdispersi yang dicampurkan akan dengan spontan membentuk lapisan terpisah.Menggembung (swelling) Gel elastis yang terdehidrasi sebagian akan menyerap air apabila dicelupkan ke dalam zat cair. Buih Cair (Buih) Buih cair adalah sistem koloid dengan fase terdisperasi gas dan dengan medium pendisperasi zat cair. Baerdasarkan medium pendisperasinya. ii. yaitu: 1. gel ini tidak akan berubah jika diberi suatu gaya. Contoh gel elastis adalah gelatin dan sabun. dsb. Rantai tersebut akan saling bertaut sehingga membentuk suatu struktur padatan di mana medium pendispersi cair terperangkap dalam lubang-lubang struktur tersebut. Ada dua jenis gel. Beberapa sifat gel yang penting adalah: .Gel non-elastis Karena ikatan pada rantai berupa ikatan kovalen yang cukup kuat. buih dikelompokkan menjadi dua.Sineresis Gel anorganik akan mengerut bila dibiarkan dan diikuti penetesan pelarut. Fase terdisperasi gas pada umumnya berupa udara atao karbondioksida yang terbetuk dari fermentasi. menambahkan HCl pekat ke dalam larutan natrium silikat. . Sifat ini dapat dimanfaatkan untuk menentukan jenis emulsi. Sifat ini disebut tiksotropi. Emulsi Padat atau Gel Gel adalah emulsi dalam medium pendispersi zat padat. Maksudnya adalah gel ini tidak memiliki sifat elastis. perak oksida. Gel elastis Karena ikatan partikel pada rantai adalah adalah gaya tarik-menarik yang relatif tidak kuat. sehingga gel ini bersifat elastis. dapat juga dianggap sebagai hasil bentukkan dari penggumpalan sebagian sol cair. Salah satu contoh gel ini adalah gel silica yang dapat dibuat dengan reaksi kia. Partikel-partikel sol akan bergabung untuk membentuk suatu rantai panjang pada proses penggumpalan ini. gel elastis yang terdehidrasi dapat diubah kembali menjadi gel elastis dengan menambahkan zat cair. . yaitu: i. maka gel ini dapat bersifat non-elastis. terbentuklah suatu massa berpori yang semi-padat dengan struktur gel. Maksudnya adalah gel ini dapat berubah bentuk jika diberi gaya dan dapat kembali ke bentuk awal bila gaya tersebut ditiadakan. BAB V KOLOID BUIH Buih adalah koolid dengan fase terdisperasi gas dan medium pendisperasi zat cair atau zat padat. Sehingga.

Jika kurang dari 5%.rusaknya film antara dua gelembung gas. karena kerapatan gas dan zat cair yang jauh berbeda.Styrofoam Styrofoam memiliki fase terdisperasi karbondioksida dan udara. Struktur buih cair dapat berubah jika diberi gaya dari luar. Contoh-contoh buih padatyang mungkin kita ketahui: . serta medium pendisperasi polistirena. Jika gaya yang diberikan cukup besar. Buih cair memiliki struktur yang tidak beraturan.0000010 cm. yaitu dapat . Buih Padat Buih padat adalah sistem kolid dengan fase terdisperasi gas dan denganmedium pendisperasi zat padat. Karbondioksida yang dilepas akan membentuk buih dengan bamtuam zat pembuih tersebut. Beberapa sifat buih cair yang penting: Struktur buih cair dapat berubah dengan waktu. tetapi adalah ketebalan film (lapisan tipis) pada daerah antar-fase dimana zat pembuih teradsorbsi. yaitu protein dan glikoprotein yang berasal dari putih telur itu sendiri untukmembentuk buih yang relative stabil. maka bentuk gelembung gas adalah polihedral.• • • • • • adanya zat pembuih (surfaktan). Hal ini disebabkan sifat karakteristik koloid yang penting.Buih hasil akibat pemadam kebakaran Alat pemadam kebakaran mengandung campuran air. . Bila gaya yang diberikan kecil.pemisahan medium pendispersi (zat cair) atau drainase. ukuran kolid berkisar 0.terjadinya difusi gelembung gas yang kecil ke gelembung gas yang besar akibat tegangan permukaan. Zat pembuih protein gluten dari tepung kemudian akan membentuk lapisan tipis mengelilimgi gelembung-gelembung karbondioksida untuk membentuk buih padat. . maka terbentuklah batu apung. karena: . Sehingga putih telur yang dikocok akan mengembang. maka akan terjadi deformasi. . Strukturnya ditentukan oleh kandungan zat cairnya. . Contoh buih cair: . serta suatu zat pembuih. gelembung gas akan mempunyai bentuk hamper seperti bola. maka struktur buih akan kembali ke bentuk awal setelah gaya tersebut ditiadakan. sehingga ukuran gelembung gas menjadi lebih besar. terutama dalam kehidupan sehari-hari.Batu apung Dari proses solidifikasi gelas vulkanik. bukan oleh komposisi kimia atau ukuran buih rata-rata.Roti Proses peragian yang melepas gas karbondioksida terlibat dalam proses pembuatan roti. . Ukuran kolid buih bukanlah ukuran gelembung gas seperti pada sistem kolid umumnya. Jika fraksi zat cair lebih dari 5%. Zat ini teradsorbsi ke daerah antar-fase dan mengikat gelembung-gelembung gas sehingga diperoleh suatu kestabilan. natrium bikarbonat. aluminium sulfat. Kestabilan buih ini dapat diperoleh dari zat pembuih juga (surfaktan).Buih hasil kocokan putih telur Karen audara di sekitar putih telur akan teraduk dan menggunakan zat pembuih. BAB VI KEGUNAAN KOLOID Sistem koloid banyak digunakan pada kehidupan sehari-hari.

deterjen Industri pertanian= Peptisida dan insektisida Industri farmasi= Minyak ikan. maka luka tersebut dapat doibati dengan pensil stiptik atau tawas yang mengandung ion-ion Al+3 dan Fe+3. sabun Industri cat= Cat Industri kebutuhan rumah tangga= Sabun.lumpur. dimana ion-ion tersebut akan membantu menetralkan muatan-muatan partikel koloid protein danmembnatu penggumpalan darah. ^-^Penjernihan Air Air keran (PDAM) yang ada saat ini mengandung partikel-partikel koloid tanah liat. maka ion-ion positif dari air laut akanmenetralkan muatan pasir dan tanah liat. pasta gigi. dan berbagai partikel lainnya yang bermuatan negatif. Hal itu dilakukan dengan cara menambahkan tawas (Al2SO4)3. terjadi koagulasi yang akan membentuk suatu delta. untuk menjadikannya layak untuk diminum. pensilin untuk suntikan ^-^Pemutihan Gula • • • Dengan melarutkan gula ke dalam air.Ion Al3+ yang terdapat pada tawas tersebut akan terhidroslisis membentuk partikel koloid Al(OH)3 yang bermuatan positif melalui reaksi: Al3+ + 3H2O Al(OH)3 + 3H+ Setelah itu. Jika terdapat luka kecil. Untukmemisahkan pengotor ini. dan Ca+2 yang bermuatan positif. Sehingga gula tebu yang masih berwarna dapat diputihkan. ^-^Penggumpalan Darah Darah mengandung sejumlah kolid protein yangbermuatan negative. partikel-partikel koloid kemudian akan mengadsorbsi zat warna tersebut. ^-^Pembentukan Delta di Muara Sungai Air sungai mengandung partikel-partikel koloid pasir dan tanah liat yang bermuatan negatif. . Al(OH)3 menghilangkan muatan-muatan negatif dari partikel koloid tanah liat/lumpur dan terjadi koagulasi pada lumpur. Sedangkan air laut mengandung ion-ion Na+. kemudian larutan dialirkan melalui sistem koloid tanah diatomae atau karbon. Sehingga. mentega. Ketika air sungai bertemu di laut. Mg+2. susu. saus salad Industri kosmetika dan perawatan tubuh= Krim. Lumpur tersebut kemudian mengendap bersama tawas yang juga mengendap karena pengaruh gravitasi. Oleh karena itu. ^-^Pengambilan Endapan Pengotor Gas atau udara yang dialirkan ke dalam suatu proses industri seringkali mangandung zatzat pengotor berupa partikel-partikel koloid. harus dilakukan beberapa langkah agar partikel koloid tersebut dapat dipisahkan. digunakan alat pengendap elektrostatik yang pelat logamnya yang bermuatan akan digunakan untuk menarik partikel-partikel koloid.• • digunakan untuk mencampur zat-zat yang tidak dapat saling melarutkan secara homogen dan bersifat stabil untuk produksi dalam skala besar. Beberapa contoh koloid Industri makanan = Keju.

• .