P. 1
Warta Bea Cukai Edisi 378

Warta Bea Cukai Edisi 378

5.0

|Views: 2,831|Likes:
Published by bcperak

More info:

Published by: bcperak on Nov 05, 2008
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/04/2012

pdf

text

original

TAHUN XXXVIII EDISI 378

MEI 2006

Pejabat Baru
DIREKTUR JENDERAL BEA DAN CUKAI

Anwar Supriyadi
COV. WBC 378-ok.p65 1

WBC/ATS

5/2/2006, 1:53 PM

DARI REDAKSI

A

SELAMAT DATANG

TERBIT SEJAK 25 APRIL 1968
MISI: Membimbing dan meningkatkan kecerdasan serta Jende kesadaran karyawan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai terhadap tugas negara Mendekatkan Hubungan antara atasan dan Jende bawahan serta antara karyawan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai dengan masyarakat IZIN DEPPEN: NO. 1331/SK/DIRJEN-G/SIT/72 TANGGAL, 20 JUNI 1972 ISSN.0216-2483 PELINDUNG Direktur Jenderal Bea dan Cukai: Drs. Anwar Supriyadi, MSc PENASEHAT Direktur Penerimaan & Peraturan Kepabeanan dan Cukai: Drs. M. Wahyu Purnomo, MSc Direktur Teknis Kepabeanan Drs. Teguh Indrayana, MA Direktur Fasilitas Kepabeanan Drs. Ibrahim A. Karim Direktur Cukai Drs. Frans Rupang Direktur Pencegahan & Penyidikan Drs. Endang Tata Direktur Verifikasi & Audit Drs. Thomas Sugijata, Ak. MM Direktur Kepabeanan Internasional Drs. Kamil Sjoeib, M.A. Direktur Informasi Kepabeanan & Cukai Drs. Jody Koesmendro Kepala Pusat Pendidikan dan Pelatihan Bea dan Cukai Drs. Sofyan Permana Inspektur Bea dan Cukai Drs. Bambang Heryanto, Ak KETUA DEWAN PENGARAH Sekretaris Direktorat Jenderal Bea dan Cukai: Drs. Sjahrir Djamaluddin WAKIL KETUA DEWAN PENGARAH/ PENANGGUNG JAWAB Kepala Bagian Umum: Soedirman A. Gani, S.E. DEWAN PENGARAH Drs. Nofrial, M.A., Drs. Hanafi Usman, Drs. Patarai Pabottinggi, Drs. Bachtiar, M.Si., Dra. Cantyastuti Rahayu, Drs. Nasar Salim, M. Si., Drs. Nirwala Dwi Heryanto, Ir. Agung Kuswandono, M.A., Ir. Agus Sudarmadi, M. Sc., Drs. Ahmad Dimyati PEMIMPIN REDAKSI Lucky R. Tangkulung REDAKTUR Aris Suryantini, Supriyadi Widjaya, Ifah Margaretta Siahaan, Zulfril Adha Putra FOTOGRAFER Andy Tria Saputra KORESPONDEN DAERAH Ignatius Agus Nugraha (Medan), Donny Eriyanto (Balikpapan), Bendito Menezes (Denpasar), Bambang Wicaksono (Surabaya) KOORDINATOR PRACETAK Asbial Nurdin SEKRETARIS REDAKSI Kitty Hutabarat PIMPINAN USAHA/IKLAN Piter Pasaribu TATA USAHA Niko Budhi Darma, S. Sos, Untung Sugiarto IKLAN Wirda Renata Pardede SIRKULASI H. Hasyim, Amung Suryana BAGIAN UMUM Rony Wijaya PERCETAKAN PT. BDL Jakarta ALAMAT REDAKSI/TATA USAHA Kantor Pusat Direktorat Jenderal Bea dan Cukai, Jl. Jenderal A. Yani (By Pass) Jakarta Timur Telp. (021) 47865608, 47860504, 4890308 Psw. 154 - Fax. (021) 4892353 E-Mail : - wbc@cbn.net.id - majalah_wbc@yahoo.com REKENING GIRO WARTA BEA CUKAI BANK BNI CABANG JATINEGARA JAKARTA Nomor Rekening : 8910841 Pengganti Ongkos Cetak Rp. 10.000,-

tas nama redaksi, kami menyampaikan permohonan maaf atas keterlambatan penerbitan dan pengiriman WBC edisi kali ini yaitu edisi 378 bulan Mei 2006. Normalnya, WBC mulai didistribusikan setiap akhir bulan pada kisaran tanggal 29-31. Pengecualian terjadi pada edisi ini dimana majalah baru bisa didistribusikan mulai tanggal 8 Mei 2006. Ada alasan kuat dibalik keterlambatan ini. Ketika kami mendengar dan mengetahui bahwa akan ada pergantian posisi Direktur Jenderal Bea dan Cukai, maka diambil keputusan untuk menunda penerbitan dan menunggu pelantikan yang ternyata berlangsung pada Kamis, 27 April 2006, yang artinya sangat melewati batas waktu (deadline) pengolahan naskah, dan bahkan tanggal tersebut seharusnya sedang dalam proses pencetakan majalah di percetakan. Tentu saja peristiwa itu harus kami liput, dan harus kami masukkan di terbitan edisi bulan Mei ini. Berhubung WBC majalah bulanan, maka terlalu jauh ‘gregetnya’ apabila liputan peristiwa tersebut kami masukkan di edisi bulan Juni. Bukan itu saja, kami pun memang berniat untuk menampilkan wajah Dirjen Bea Cukai yang baru di sampul depan majalah selain di halaman dalam pada berita pelantikan (hal. 19). Khususnya bagi anda yang mungkin belum pernah melihat (mungkin anda tidak sempat melihat berita pelantikan di televisi), atau belum terlalu familiar dengan wajahnya berhubung dirjen kali ini bukan dari lingkungan dalam, mudah-mudahan foto yang kami tampilkan di majalah menjadi perkenalan pertama sebelum masuk dalam pigura yang selalu ada di setiap kantor bea cukai. Kembali ke soal keterlambatan, bagaimanapun, kami sadar konsekuensinya berakibat ke pelanggan dan pembaca, dimana majalah tiba diluar waktu yang telah biasa diterima. Untuk itu sekali lagi kami mohon maaf, mudah-mudahan kondisi seperti ini tidak terulang lagi. Sehubungan dengan dilantiknya direktur jenderal yang baru, mungkin anda sebagai pegawai bea cukai punya sesuatu yang ingin disampaikan kepada dirjen baru. Untuk itu kalau anda memang berminat dan punya waktu, saya mengundang pembaca menyampaikan harapan-harapan anda sebagai pegawai atau mungkin sebagai mitra kerja DJBC kepada Dirjen Bea Cukai yang baru, melalui alamat surat atau e-mail WBC. Sertakan identitas anda yang jelas dan berlaku (NIP atau fotocopy KTP, serta nomor yang bisa dihubungi). Opini anda akan kami rangkum dalam sebuah tulisan tersendiri yang akan kami muat pada edisi berikutnya bulan Juni. Redaksi hanya akan mengutip dari sumber yang jelas, dan apabila sungkan nama anda terpampang di majalah harap diinformasikan kepada kami. Di edisi tersebut kami juga akan menghadirkan hasil wawancara Redaksi dengan Dirjen Bea Cukai. Mungkin dalam pertemuan secara langsung nanti kami akan coba sampaikan harapan-harapan anda. Pada akhirnya, atas nama Redaksi, kami ucapkan, selamat datang buat Bapak Anwar Supriyadi di lingkungan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai, semoga sukses dalam menjalankan tugas negara. Dan buat Bapak Eddy Abdurrachman, selamat menjalankan tugas di tempat yang baru. Lucky R. Tangkulung

EDISI 378 MEI 2006

WARTA BEA CUKAI

1

DAFTAR ISI

Laporan Utama
Peran juru sita dilingkungan DJBC terkesan dianggap kecil, sementara tugasnya untuk mengamankan pendapatan negara melalui sita secara paksa cukup signifikan. Selengkapnya mengenai peran dan tugas juru sita dapat disimak dalam laporan utama edisi kali ini.

5

Nasional
“Salah satu masalah besar yang dihadapi bangsa ini, adalah kelemahan dalam kelembagaan” demikan hal tersebut disampaikan Menteri Keuangan Dr. Sri Mulyani Indrawati dalam sambutannya ketika melantik tiga pejabat eselon Satu di lingkungan Departemen Keuangan. Selengkapnya dapat disimak dalam pidato menteri keuangan.

21

Selak

39
Selain terkenal dengan produk arloji dan markas besar beberapa organisasi dunia, Swiss ternyata juga memiliki panorama pemandangan yang indah, selengkapnya mengenai Swiss, dapat disimak dalam rubrik selak.

Daerah ke Daerah
KPBC Tulungagung selalu rajin jemput bola dengan mengadakan sosialisasi ke lapangan khususnya ke pabrik-pabrik rokok yang tersebar di desa-desa, sementara KPBC Sabang di demo warga. Selengkapnya dapat disimak dalam rubrik daerah.

27

Pengawasan
Upaya penyelundupan mobil Mercedes Benz dan pengiriman pil ecstasy, masing-masing berhasil digagalkan aparat Bea Cukai Tanjung Priok III dan Satgas AI Bandara Soekarno Hatta. Selengkapnya dapat disimak dalam rubrik pengawasan.

25

Profil

76
:”Bertindaklah bijak dalam kehidupan…”itulah kalimat yang masih terngiang di telinga Nasir Adenan ketika ia akan kembali ke Jakarta dari Jepang. Selengkapnya mengenai kisah hidupnya, dapat disimak dalam rubrik profil kali ini.

2

WARTA BEA CUKAI

EDISI 378 MEI 2006

1 3 4 19

24

39

44

46

48

51 53

56 60

63 64

66

68

71

80

DARI REDAKSI SURAT PEMBACA KARIKATUR NASIONAL - Pelantikan Direktur Jenderal Bea dan Cukai - Sambutan Menteri Keuangan KEPABEANAN INTERNASIONAL The First Bilateral Meeting antara DJBC - ICA. SELAK Geneve, Suisse Kota Danau yang Damai. SIAPA MENGAPA - Koesnadi - Miskam - Nicolas Leonard Auri RUANG INTERAKSI Menyalahkan Orang, Mengarahkan Telunjuk Pada Diri Sendiri INFO PEGAWAI - Mutasi dan Promosi Sembilan Pejabat eselon III DJBC - Pegawai Pensiun per 1 Mei 2006 SEKRETARIAT Pola Mutasi DJBC PERISTIWA - Paguyuban Dharma Wanita se Kanwil V DJBC Bandung - Diskusi Panel Tentang Keluarga, Perempuan dan Anak SEPUTAR BEA CUKAI KEPABEANAN Evaluasi Triwulan I Target Bea Masuk dan Cukai 2006 RUANG KESEHATAN Gangguan Bicara Pada Anak RENUNGAN ROHANI Metode Pendidikan Rasulullah SAW ENGLISH SECTION Indonesia in Asean : Historical Review of AFTA and Regionalization. INFORMASI KEPABEANAN DAN CUKAI Standar Sertifikasi Teknologi Informasi. KOLOM - Prinsip Pengelolaan SDM DJBC - Manajemen Sumber Daya Manusia (SDM) APA KATA MEREKA - Putri Patricia - Rara Wiritanaya

Surat Pembaca
Kirimkan surat anda ke Redaksi WBC melalui alamat surat, fax atau e-mail. Surat hendaknya dilengkapi dengan identitas diri yang benar dan masih berlaku.

PEMAKAIAN BARET
Terkadang saya melihat di lapangan tentang pemakaian baret, adakala yang memakai miring ke kiri, dan ada kalanya memakai miring ke kanan. Yang ingin saya tanyakan adalah : 1. Sebenarnya pemakaian baret tersebut apakah miring ke kiri atau ke kanan. 2. Jika pemakaian baret tersebut miring ke kiri atau ke kanan, apa dasarnya sebagai acuan untuk pemakaian baret tersebut di lapangan. Demikian pertanyaan dari saya, atas perhatian dan jawabannya diucapkan terima kasih. Hormat saya, HENDRA SAPUTRA NIP. 060110549 Jawaban : Sehubungan dengan surat perihal pertanyaan mengenai pemakaian baret, dengan ini kami menyampaikan bahwa tidak ada ketentuan baku yang mengatur tentang posisi pemakaian baret apakah miring ke kanan atau ke kiri. Akan tetapi menurut kami, hanya penegak hukum di lingkungan Militer dan POLRI seperti Polisi Militer (PM) yang memakai baret dengan emblem atau lambang di sebelah kanan sehingga baret dipakai dengan posisi miring ke kiri. Sedangkan instansi non-militer seperti kita yang menganut prinsip komando (termasuk Nahkoda dan Kru Kapal), seperti juga Militer memakai emblem atau lambang di sebelah kiri sehingga baret dipakai dengan posisi miring ke kanan. Demikian disampaikan, atas kerjasamanya diucapkan terima kasih. Kasubbag Tatalaksana Bagian Organisasi dan Tatalaksana DWI KUSWIYANTO NIP 060076048

EDISI 378 MEI 2006

WARTA BEA CUKAI

3

KARIKATUR

IKHSAN
4
WARTA BEA CUKAI EDISI 378 MEI 2006

UU No.19
P
embangunan nasional yang terus berkelanjutan yang dilakukan pemerintah, salah satu tujuannya adalah untuk mewujudkan masyarakat adil, makmur, sejahtera dalam tata kehidupan bernegara berdasarkan Pancasila dan UUD 1945. Untuk itu, diperlukan usaha serta program pembangunan yang terarah, berkesinambungan dan berkelanjutan merata di seluruh tanah air. Untuk itu dibutuhkan dana dan biaya yang sangat besar yang harus terus digali, terutama dari sumber kemampuan sendiri dengan tetap memperhatikan aspek pemerataan ke segenap wilayah Indonesia. Pajak, sebagai sumber utama penerimaan negara perlu terus ditingkatkan sehingga pembangunan nasional dapat dilaksanakan dengan kemampuan sendiri berdasarkan prinsip kemandirian. Peningkatan kesadaran masyarakat di bidang perpajakan harus ditunjang dengan iklim yang mendukung peningkatan peran aktif masyarakat serta

LAPORAN UTAMA

Tahun 2000,
KEPASTIAN HUKUM BAGI JURU SITA
Keberadaan UU No. 19 Tahun 2000 tentang PPSP dimaksudkan, selain untuk memberikan kepastian hukum dan keadilan, juga diharapkan mampu mendorong kesadaran dan kepatuhan masyarakat memenuhi kewajiban pajaknya.
pemahaman akan hak dan kewajibannya dalam melaksanakan peraturan perundang-undangan perpajakan. Peran serta masyarakat Wajib Pajak (WP) dalam memenuhi kewajiban pembayaran pajak berdasarkan ketentuan perpajakan sangat diharapkan. Namun dalam kenyataannya masih dijumpai adanya tunggakan pajak sebagai akibat tidak dilunasinya utang pajak sebagaimana mestinya. Perkembangan jumlah tunggakan pajak dari waktu ke waktu menunjukkan jumlah yang semakin besar. Peningkatan jumlah tunggakan pajak masih belum dapat diimbangi dengan kegiatan pencairannya, disisi lain, secara umum penerimaan pajak semakin meningkat. Terhadap tunggakan pajak dimaksud perlu dilaksanakan tindakan penagihan pajak yang mempunyai kekuatan hukum yang memaksa. Karena itu pemerintah tahun 1997 mengeluarkan UU. No. 19 tentang PPSP. Kepatuhan WP dalam membayar pajak merupakan

EDISI 378 MEI 2006

WARTA BEA CUKAI

5

LAPORAN UTAMA
posisi strategis dalam peningkatan penerimaan pajak. Dengan demikian pengkajian terhadap faktor-faktor yang dapat mempengaruhi kepatuhan WP sangat perlu mendapat perhatian. Di dalam sistem self assessment yang berlaku sekarang ini penagihan pajak yang dilaksanakan secara konsisten dan berkesinambungan merupakan wujud law enforcement untuk meningkatkan kepatuhan yang menimbulkan aspek psikologis bagi WP. Tindakan penagihan pajak berdasarkan UU No. 19 Tahun 1997, diharapkan memberikan penekanan yang lebih pada keseimbangan antara kepentingan masyarakat WP dan kepentingan negara. Keseimbangan kepentingan dimaksud berupa pelaksanaan hak dan kewajiban kedua belah pihak yang tidak berat sebelah atau tidak memihak, adil, serasi dan selaras dalam wujud tata aturan yang jelas dan sederhana serta memberikan kepastian hukun. Sejalan dengan perkembangan perekonomian Indonesia saat ini dan didukung dengan semangat reformasi, pemerintah merasa perlu kiranya melakukan pembaharuan undangundang penagihan pajak. Maka itu pemerintah kemudian mengeluarkan UU No. 19 Tahun 2000 tentang Perubahan atas UU No 19 Tahun 1997 tentang PPSP. dilakukannya perubahan atau pembaharuan UU No.19 Tahun 1997, antara lain : l Memperhatikan Ketentuan UU lain; seperti UU No. 22 Tahun 1999 tentang Pemerintah Daerah, UU No. 25 Tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah. l Menegakkan keadilan l Memberikan perlindungan hukum,baik kepada Penanggung Pajak maupun pihak ketiga berupa hak untuk mengajukan gugatan dan l Melaksanakan law enforcement secara konsisten dengan berdasar pada jadwal waktu penagihan yang telah ditentukan. Sementara itu, beberapa pokok perubahan yang menjadi perhatian dalam pembaharuan undang-undang penagihan pajak ini adalah untuk : l Mempertegas proses pelaksanaan penagihan pajak dengan menambahkan ketentuan penerbitan Surat Teguran, Surat Peringatan dan surat lain yang sejenis sebelum Surat Paksa dilaksanakan. l Mempertegas jangka waktu pelaksanaan penagihan aktif l Mempertegas pengertian Penanggung Pajak yang meliputi juga komisaris, pemegang saham, pemilik modal l Menaikkan nilai peralatan usaha yang dikecualikan dari penyitaan dalam rangka menjaga kelangsungan usaha Penanggung Pajak
l

l

l

l

l

l

Menambah jenis barang yang penjualannya dikecualikan dari lelang Mempertegas besarnya biaya penagihan pajak yang didasarkan atas prosentase tertentu dari hasil penjualan Mempertegas bahwa pengajuan keberatan atau permohonan banding oleh WP tidak menunda pembayaran dan pelaksanaan penagihan pajak Memberi kemudahan pelaksanaan lelang dengan cara memberi balasan nilai barang yang diumumkan tidak melalui media massa dalam rangka efisiensi Memperjelas hak Penanggung Pajak untuk memperoleh ganti rugi dan pemulihan nama baik dalam hal gugatannya dikabulkan; dan Mempertegas pemberian sanksi pidana kepada pihak yang sengaja mencegah,menghalang-halangi atau menggagalkan pelaksanaan penagihan pajak.

PERATURAN PELAKSANA

Untuk menjalankan undang-undang ini, pemerintah mengeluarkan perangkat peraturan pelaksanaannya, yaitu: l Peraturan Pemerintah RI (PP) No. 3 Tahun 1998, tentang Tata Cara Penyitaan Dalam Rangka Penagihan Pajak dengan Surat Paksa. POKOK-POKOK PEMBAHARUAN l PP No.4 Tahun 1998, tentang Tata Mengenai pokok-pokok pikiran UU Cara Penjualan Barang Sitaan No.19 Tahun 2000 yang melandasi yang Dikecualikan dari Penjualan Secara Lelang Dalam DOK.WBC Rangka Penagihan Pajak Dengan Surat Paksa. l PP No. 5 Tahun 1998, tentang Penyanderaan Dalam Rangka Penagihan Pajak Dengan Surat Paksa. l Keputusan Menteri Keuangan (Kep Menkeu) No.21/ KMK.01/1999 tentang Perubahan Kep Menkeu No.147/ KMK.04/1998 tentang Penunjukan Pejabat Untuk Penagihan Pajak Pusat, Tatacara dan Jadwal Waktu Pelaksanaan Penagihan Pajak. (Lembar tambahan I KMK-147/KMK.04/ 1998 (i-v) l Kep Menkeu No.22/KMK.01/1999 tentang Perubahan Kep Menkeu No. 234/ KMK.05/1996 tentang Tatacara Penagihan Piutang Bea Masuk, MELALUI UU NO.19 TAHUN 2000, memberikan kepastian hukum bagi petugas juru sita menjalankan tugasnya. 6
WARTA BEA CUKAI EDISI 378 MEI 2006

DOK.WBC

l

l

l

Cukai, Denda Administrasi, Bungan dan Pajak Dalam Rangka Impor. (Lembar Tambahan II KMK-234/ KMK.05/1996 (i-viii). Kep Dirjen Bea dan Cukai No. 04/ BC/1999, tentang Bentuk-bentuk Formulir yang Digunakan untuk Penagihan Bea Masuk, Cukai, Denda Adminstrasi, dan Bunga Dalam Rangka Impor. Kep Dirjen Bea dan Cukai No.06/ BC/1999 tentang Petunjuk Pelaksanaan Penagihan Piutang Bea Masuk, Cukai, Denda Administrasi, Bunga dan Pajak Dalam Rangka Impor. Kep Dirjen Bea dan Cukai No. 09/ BC/1999 tentang Penetapan Biaya Penagihan Piutang Bea/Cukai.

KEWENANGAN DJBC
Menurut CF. Sidjabat, Kasubdit Penyidikan Direktorat P2 DJBC, yang setelah diterbitkannya UU No.19 Tahun 1997, ia sangat konsern dan ikut mengkoordinasikan pengadaan diklat jurusita Bea dan Cukai ketika itu, mengatakan, dengan adanya undangundang ini, Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) diberi kewenangan untuk melakukan tindakan penyitaan. Disampingkan UU tadi, dikatakan juga, pada salah satu pasal UU No 10/ 1995 diatur, bilamana importir tidak bisa membayar bea masuk dan pajaknya, maka Bea dan Cukai akan mengeluarkan surat perintah pembayaran kekurangan bea masuk. Apabila belum juga dibayarkan, Bea dan Cukai memberikan surat peringatan sampai tiga kali. Jika belum juga memenuhi ketentuan itu, maka Bea dan Cukai mengeluarkan surat paksa dan akan diakhiri dengan upaya penyitaan jika yang bersangkutan tetap tidak bisa memenuhi kewajibannya. “Dalam tugas penyitaan yang dilakukan jurusita bea cukai, tujuan atau sasaran yang hendak dicapai adalah terlunasinya hutang pajak,” ujar Sijabat yang juga telah menyusun beberapa buku dan materi pelatihan untuk juru sita bea cukai. Berkaitan dengan hal itu, ada beberapa pengertian dalam UU No.19 Tahun 2000 yang perlu diketahui, yaitu ; Pajak. Pengertian Pajak dalam UU ini pada pasal 1 ayat 1, “Pajak adalah semua jenis pajak yang dipungut oleh Pemerintah Pusat, termasuk BM dan Cukai dan pajak yang dipungut oleh Pemerintah Daerah, menurut undangundang dan peraturan daerah. Dengan demikian dapat dipahami bahwa BM dan Cukai termasuk dalam kategori Pajak Pusat yang dapat ditagih secara paksa dalam hal terjadi keterlambatan, penunggakan dan kelalaian dalam pelunasannya. Wajib Pajak, adalah orang pribadi atau badan yang menurut ketentuan

peraturan perundang-undangan perpajakan ditentukan untuk melakukan kewajiban perpajakan, termasuk pemungut pajak atau pemotong pajak tertentu. Mengacu pada pengertian pasal ini dapat ditarik pengertian bahwa seseorang atau badan dapat dikatakan sebagai wajib pajak (Pembayar BM atau Cukai) manakala karena perbuatan hukum yang dilakukannya, dan oleh undang-undang diatur mengenai apa yang diperbuatnya itu, termasuk dalam kategori orang atau badan hukum yang berkewajiban membayar BM atau Cukai. Sebagai contoh; seseorang atau badan hukum yang mengimpor barang tertentu, maka menurut ketentuan, ia diwajibkan untuk membayar sejumlah uang menurut ketentuan yang berlaku sebagai Bea Masuk atas barang yang diimpornya itu. Peristiwa hukum ini menimbulkan adanya suatu kewajiban PAJAK, sebagai sumber utama penerimaan negara perlu terus pada importir sehingga ditingkatkan sehingga pembangunan nasional dapat dilaksanakan berdasarkan prinsip kemandirian. saat itu orang atau badan hukum tersebut berkedudukan sebagai wajib pajak. Paksa, penyitaan dan penyanderaan. Penanggung Pajak, adalah orang Penagihan Pajak, merupakan pribadi atau badan yang bertanggung serangkaian tindakan agar penanggung jawab atas pembayaran pajak, pajak melunasi utang pajak dan biaya termasuk wakil yang menjalankan hak penagihan pajak dengan menegur atau dan memenuhi kewajiban WP menurut memperingatkan, melaksanakan penaketentuan peraturan perundanggihan seketika dan sekaligus, memberiundangan perpajakan. tahukan Surat Paksa, mengusulkan Pengertian Penanggung Pajak ini pencegahan, melaksanakan penyitaan, lebih luas dari pengertian Wajib Pajak. melaksanakan penyanderaan, menjual Hal ini dimaksudkan untuk menghindari barang yang telah disita. kesulitan dalam penagihan pajak Pencegahan, adalah larangan yang terhadap wajib bersifat sementara terhadap Penangpajak. Dengan pengertian yang gung pajak tertentu untuk keluar dari lebih luas ini, penagihan pajak wilayah Negara Republik Indonesia diharapkan menjangkau para berdasarkan alasan tertentu sesuai depenunggak pajak yang selama ini ngan ketentuan peraturan perundangberusaha lolos dengan memanfaatkan undangan. kemudahan peraturan dalam setiap Dengan adanya kewenangan pendirian perusahaan. melakukan penyitaan oleh aparat Sebagai contoh, sering terjadi para pemungut pajak, khususnya bagi DJBC wajib pajak secara formal menunjuk yang mendapat tambahan tugas dan seseorang untuk bertanggung jawab tanggung jawab melaksanakan undangsecara hukum, namun hal ini tidak undang tersebut. harus melakukannya diikuti dengan pemberian tanggung dengan mengaplikasikan cara-cara jawab secara materiil, sehingga pajak penagihan yang komunikatif dan sulit tertagih. Untuk itu wajib pajak profesional, sehingga seluruh pegawai diperluas menjadi penanggung pajak DJBC terutama untuk para jurusita yaitu orang yang nyata-nyata dianggap dirasa perlu memahami segala bertanggung jawab atas jalannya suatu ketentuan berkaitan dengan penagihan badan usaha. tersebut. Hal ini mutlak dilakukan agar Jurusita Pajak (Bea dan Cukai), dalam melaksanakan tugasnya dicapai adalah pelaksana tindakan penagihan hasil optimal, sekaligus menimbulkan pajak yang meliputi penagihan seketika kesadaran untuk membayar pajak bagi dan sekaligus, pemberitahuan Surat para penanggung pajak ris
EDISI 378 MEI 2006 WARTA BEA CUKAI

7

LAPORAN UTAMA

JURUSITA

BEA DAN CUKAI

PERLU PEMBENAHAN

ORGANISASI
U
U No.19 Tahun 1997 yang kemudian disempurnakan lagi menjadi UU No.19 Tahun 2000 tentang Penagihan Pajak dengan Surat Pajak (PPSP), menyebutkan adanya kewenangan baru terhadap penagihan pajak pusat termasuk bea masuk dan cukai. Jadi dalam hal ini jelas bahwa Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) dan Pajak diberikan kewenangan melakukan penagihan dengan menggunakan surat paksa dimana sebelumnya kewenangan ini dilakukan BUPLN (Badan Urusan Piutang dan Lelang Negara) sekarang DJPLN (Direktorat Jenderal Piutang dan Lelang Negara). Mengenai apa yang menjadi kewenangan Bea dan Cukai untuk melakukan penagihan, Cyrus Fidelis Sidjabat, Kasubdit Penyidikan Dit. P2 menjelaskan, dalam hal ini kewenangan menyangkut masalah penagihan Bea Masuk (BM) dan Cukai yang tertunda yang tidak dibayar pada waktunya. Pada prinsipnya setiap penagihan yang tidak memenuhi kriteria artinya ada penundaan atau wan prestasi terhadap BM dan Cukai, secara langsung Bea dan Cukai menerbitkan Surat Penagihan Paksa (SPP). Inilah yang kemudian disebut sebagai penagihan aktif, yaitu penagihan yang timbul akibat adanya kewenangan setelah ada undang-undang yang lain. waktu 30 hari sejak diterbitkannya SPKPBM (Surat Pemberitahuan Kekurangan Pembayaran Bea Masuk) ditambah 7 hari , maka artinya telah terjadi wan prestasi dan timbulah kewenangan Bea dan Cukai untuk menerbitkan Surat Teguran (ST). ST yang dikeluarkan oleh Kepala Kantor apabila selama 30 hari ditambah 7 hari waktu untuk penyelesaian belum juga dilaksanakan maka diterbitkanlah Surat Paksa (SP), dan jika hingga 21 hari SP tidak diindahkan, maka ada dua kemungkinan, pertama, melakukan penyitaan barang untuk disegel dan dinyatakan disita atau yang kedua jika
DOK. WBC

Kemampuan dan kemahiran Jurusita Bea dan Cukai dibidang hukum, harus ditingkatkan untuk mengantisipasi persoalan atau permasalahan hukum yang timbul akibat dilaksanakannya penyitaan dalam rangka PPSP
dilakukan pembayaran maka dicabut keputusan sita segelnya. Namun, jika penyitaan ini juga tidak diindahkan, baru selanjutnya dilakukan koordinasi dengan kantor lelang untuk dilakukan pelelangan. Dan dari hasil lelang itu kemudian digunakan untuk menutupi kekurangan yang menjadi hutangnya. Dalam hal hasil lelang ternyata masih kurang untuk membayar hutang bea masuknya, maka boleh dilakukan penyitaan untuk aset yang lain dan sebaliknya terhadap kelebihan nilai dari hasil lelang tersebut, maka dikembalikan kepada yang bersangkutan. Sidjabat mengilustrasikan penyitaan terhadap suatu gedung. Untuk hal ini pihak Bea dan Cukai harus berkoordinasi dengan Badan Pertanahan Nasional (BPN) untuk mencek kebenaran kepemilikan gedung yang akan disita. Jika benar gedung itu adalah pihak terhutang, itu pun harus dievaluasi kembali untuk melihat apakah obyek yang akan disita bebas dari jaminan pengadilan, yang juga untuk melihat luas tanah dan bangunan serta harga dari obyek sita tersebut dengan tujuan untuk memastikan apakah nilainya bisa untuk membayar besarnya hutang. Ini semua dilakukan untuk memperlancar proses pembayaran hutang. Seperti kasus penyitaan Gedung Inkud, rasanya itu cukup menjadi pelajaran bagi proses-proses penyitaan yang akan datang. Karena dalam kasus penyitaan Gedung Inkud ternyata obyek sita berupa gedung, telah lebih dulu menjadi sita jaminan pengadilan. “Dalam hal ini kita harus menghormati juga institusi pengadilan. Walaupun kita mempunyai hak untuk mendahului, tetapi semua prosedur hukum harus ditempuh.

PROSES PENYITAAN
Tentang proses penyitaan, Sidjabat menjelaskan, pada saat seorang pejabat menerbitkan penagihan pertama, maka terdapat dua penetapan. Pertama, bisa saja penetapan BM karena kekurangan tarif dan nilai pabean, atau yang kedua penetapan administrasi. Jika tidak dipatuhi selama dalam 8
WARTA BEA CUKAI

CF. SIDJABAT. Akan bisa eksis kalau juru sita menguasai peraturan.

EDISI 378 MEI 2006

FOTO : ISTIMEWA

Jadi saya betul-betul melihat bahwa untuk pelaksanaan juru sita ini harus betul-betul orang yang menguasai peraturan. Peraturan apa saja yang berkaitan dengan penyitaan. Jangan seperti kasus ini, ternyata surat gedungnya sudah menjadi sita jaminan. Sekarang kasusnya belum selesai masih menunggu fatwa Mahkamah Agung,” tegas Sidjabat yang pada saat menjabat sebagai Kasubdit Penyuluhan Dit. PPKC banyak menyumbangkan pemikirannya mengenai jurusita Bea dan Cukai dan membuat buku pedoman kerja untuk para juru sita. Sementara itu, mengenai lelang obyek sita yang hasilnya ternyata masih kurang setelah sebelumnya harga ditafsir dan ditetapkan oleh juru tafsir, hal itu dapat dilakukan penyitaan aset atau obyek sita lainnya. Untuk obyek sita yang memiliki nilai DALAM PENYITAAN SUATU GEDUNG, Bea Cukai mesti berkoordinasi dengan Badan Pertanahan Nasional (BPN) untuk Rp. 10 juta atau kurang mencek kebenaran kepemilikan gedung yang akan disita. dari nilai tadi setelah dilakukan penafsiran, maka tidak dilakukan penyitaan, sebab dalam Dalam pasal 4 UU No. 19 tahun 2000 1, dapat dimengerti bahwa diantara jenis hal ini tetap memegang prinsip tidak dan pasal 3 ayat 1 KMK No.149/KMK.04/ pajak yang dapat ditagih salah satunya memutus haknya untuk bekerja sehingga 1999, disebutkan bahwa sebelum meadalah termasuk Bea Masuk dan Cukai. mendapatkan penghasilan. Dengan mangku jabatan, seorang Jurusita Pajak Untuk dapat diangkat sebagai seorang mendapatkan penghasilan diharapkan si (Bea dan Cukai) diwajibkan untuk mengJurusita Bea Cukai ada beberapa pengutang dapat membayar kekuranganangkat sumpah jabatan. Mengenai Jurupersyaratan yuridis yang harus dipenuhi. nya kepada Bea dan Cukai. “Jadi hak sita yang telah diangkat sebelum berlakuDi dalam Pasal 3 ayat 1 UU Nomor 19 untuk hidup harus dikecualikan sehingga nya KMK tersebut, menurut ketentuan tahun 2000 disebutkan bahwa Jurusita untuk nilai yang tadi disebutkan tidak perlu pasal 5 tetap berstatus dan melaksanakan diangkat dan diberhentikan oleh Pejabat. disita,” tegas Sidjabat. Syarat-syarat, tatacara tugasnya sebagai Jurusita Pajak. Selama ini, langkah penyelesaian pengangkatan dan pemberhentian yang diambil pihak terhutang setelah jurusita ditetapkan oleh Menteri TUGAS DAN WEWENANG disampaikan ST , umumnya diselesaikan Keuangan (Pasal 3 ayat 2). Peraturan Dalam UU No.19 Tahun 2000 telah dengan pembayaran uang. Upaya paksa Menteri yang mengatur tentang hal diatur secara jelas apa yang menjadi ini dilakukan sebenarnya bertujuan agar tersebut adalah Keputusan Menteri tugas dan wewenang seorang Jurusita mereka segera mau membayar Keuangan Republik Indonesia Nomor Bea dan Cukai, yang antara lain: hutangnya. 149/KMK.04/1999 tentang Syaratl melaksanakan Surat Perintah Pada dasarnya, pihak penyita pun jusyarat, tatacara pengangkatan dan Penagihan Seketika dan Sekaligus ; ga tidak terlalu menginginkan dilakukanpemberhentian Juru Sita Pajak. l memberitahukan Surat Paksa ; nya pelelangan, sebab nilai barang pasti Keputusan Menkeu ini menyebutkan l melaksanakan Penyitaan atas barangberkurang. Maka itu, diupayakan bahwa syarat-syarat yang harus barang Penanggung Pajak pembayaran dengan menggunakan uang dipenuhi untuk dapat diangkat menjadi berdasarkan ; sebelum upaya akhir yaitu pelelangan Jurusita Bea dan Cukai antara lain: l Surat Perintah Melaksanakan aset jika memang sudah sangat terpaksa Penyitaan; l Berijazah serendah-rendahnya tidak ada uang cukup untuk membayar Sekolah Menegah Umum atau yang l melaksanakan penyanderaan hutang. setingkat dengan itu. berdasarkan Surat Perintah Penyanderaan. l Berpangkat serendah-rendahnya Pengatur Muda/Golongan II/a JURU SITA BEA DAN CUKAI Kewenangan yang dimiliki Jurusita, Dalam UU Nomor 19 tahun 2000, mel Berbadan sehat dan tidak cacat fisik antara lain : mang tidak ditemukan adanya istilah Jurul Lulus pendidikan dan latihan sita Bea dan Cukai, yang ada hanyalah Jurusita Pajak l Jurusita Bea dan Cukai berwenang istilah Jurusita Pajak. Walaupun demikimemasuki dan memeriksa semua l Jujur, bertanggung jawab dan penuh an, mengacu pada ketentuan pasal 1 ayat ruangan termasuk membuka lemari, pengabdian.
EDISI 378 MEI 2006 WARTA BEA CUKAI

9

LAPORAN UTAMA
laci, dan tempat lain untuk menemukan objek sita di tempat usaha dan melakukan penyitaan di tempat kedudukan, atau di tempat tinggal Penaggung Pajak, atau di tempat lain yang dapat diduga sebagai tempat penyimpanan objek sita (pasal 5 ayat 3). Jurusita Bea dan Cukai berwenang melaksanakan penagihan seketika dan sekaligus tanpa menunggu tanggal jatuh tempo pembayaran berdasarkan Surat Perintah Penagihan seketika dan sekaligus yang diterbitkan pejabat apabila (Pasal 6 ayat 1) : * Penanggung BM atau Cukai akan meninggalkan Indonesia untuk selama-lamanya atau berniat untuk itu. * Penanggung BM atau Cukai menghentikan atau secara nyata * mengecilkan kegiatan perusahaan, atau pekerjaan yang dilakukan di Indonesia, ataupun memindahtangankan barang yang dimiliki atau dikuasainya; * Terdapat tanda-tanda bahwa penanggung BM atau Cukai akan membubarkan badan usahanya atau berniat untuk itu; * Badan usaha akan dibubarkan oleh negara; atau Terjadi penyitaan atas barang penanggung bea masuk dan atau cukai oleh pihak ketiga atau terdapat tanda-tanda kepailitan. atau sasaran yang hendak dicapai adalah terlunasinya hutang pajak Untuk itu dalam pelaksanaan penyitaan ini diperlukan teknik komunikasi yang baik. Sedangkan penyitaan yang dilakukan seorang penyidik semata-mata didasarkan pada tujuan dan kepentingan pembuktian dalam penyidikan, penuntutan dan peradilan. Oleh karenanya dalam pelaksanaan sita yang dilakukan penyidik, pendekatan yang dilakukan adalah melalui pendekatan interogatif. Selain kewenangan melakukan penyitaan,Jurusita oleh UU diberi kewenangan melakukan Penyanderaan (Pasal 33-36) berdasarkan Surat Perintah Penyanderaan. Penyanderaan ini menurut Pasal 33 ayat 1 hanya dapat dilakukan terhadap Penanggung Pajak yang Pencegahan ini diatur dalam pasal 29 sampai dengan pasal 32. Menurut ketentuan Pasal 29 UU No.19 tahun 2000, Pencegahan hanya dapat dilakukan terhadap Penanggung Pajak yang mempunyai hutang pajak sekurang-kurangnya Rp.100.000.000. (seratus juta rupiah) dan diragukan iktikad baiknya dalam melunasi utang pajak. Untuk melakukan Pencegahan ini, menurut ketentuan pasal 30 ayat 1 UU No. 19 tahun 2000 , harus dilakukan dengan suatu Keputusan Menteri Keuangan. Hal ini sesuai dengan ketentuan Pasal 11 ayat 1 huruf b Undang-undang Nomor 9 tahun 1992 tentang Keimigrasian yang menyebutkan bahwa sepanjang menyangkut urusan piutang negara Menkeu berwenang untuk meminta dilakukan pencegahan. Jadi pada dasarnya dapat disimpulkan, bahwa Undangundang Nomor 19 tahun 2000 merupakan pengaturan yang bersifat “Lex Specialis”, oleh karenanya merupakan pengecualian terhadap pengaturan yang bersifat umum (Lex Generalis).
DOK. WBC

l

MASIH MENGHADAPI KENDALA

Banyak hal mempengaruhi sehingga peran jurusita Bea dan Cukai terkesan tidak nampak atau masih kurang eksistensinya. Menurut Sidjabat, salah satu yang menjadi faktor adalah kemampuan dari juru sitanya sendiri yang tidak terbangun dikarenakan tidak adanya pelatihan dan bimbingan. Jurusita, lanjut Sidjabat, merupakan pekerjaan yang sulit. Seringkali petugas ini KARAKTERISTIK JURUSITA memperoleh perlakuan kasar PAJAK (BEA CUKAI) dari pihak yang disita. Sebagaimana diketahui, Bentakan dan hardikan dari berdasar Undang-undang pengacara pihak tersita Nomor 19 tahun 2000, merupakan hal biasa yang Jurusita Pajak (Bea Cukai) sering dihadapi jurusita. Hal diberi kewenangan untuk ini dapat dimaklumi, sebab melakukan tindakan pada dasarnya, tidak ada Penyitaan. Kewenangan ini pihak manapun yang serupa di dalam KUHAP merelakan barangnya disita. (Kitab Undang-undang Peristiwa penyitaan bagi Hukum Acara Pidana) yang hampir sebagian orang akan hanya diberikan kepada BEA CUKAI DAN PAJAK diberikan kewenangan melakukan penagihan dengan menggunakan surat paksa setelah terbit UU No.19 Tahun 1997 menimbulkan dampak seorang Penyidik (Pasal 7 psikologis, pertama pihak ayat 1 huruf d KUHAP). mempunyai hutang pajak sekurangtersita kehilangan harta, kemudian kedua Kewenangan yang dimiliki Jurusita Pakurangnya Rp.100.000.000. (seratus juta mereka kehilangan gengsi atau prestisius, jak (Bea Cukai) untuk melakukan penyitarupiah) dan diragukan iktikad baiknya maka itu sebisa mungkin mereka akan an ini, ternyata memiliki beberapa karaktedalam melunasi utang pajak. meminta perlindungan dari pengadilan. ristik yang membedakannya dengan “Kondisi ini akan menimbulkan kewenangan serupa yang dimiliki konsekuensi. Harusnya sejak awal kita penyidik sebagaimana yang diatur dalam PENCEGAHAN sudah bisa membuat porsi-porsi yang KUHAP. Karakteristik tersebut pula yang Salah satu upaya yang dapat baik, bahwa di Kasi Perbendaharaan menyebabkan penyitaan yang dilakukan dilakukan dalam rangka penagihan pajak bersama Kasubsinya memiliki tim yang Jurusita Pajak (Bea dan Cukai) bersifat secara paksa menurut Undang-undang harus menguasai peraturan penagihan sangat khusus. Nomor 19 tahun 2000 adalah hingga penyitaan, sebab dari pengamatan Dalam tugas penyitaan yang dilakukan dilakukannya Pencegahan terhadap saya tugas mereka akan selalu berbuntut oleh Jurusita Pajak (Bea Cukai) tujuan Penanggung Pajak. Ketentuan mengenai 10
WARTA BEA CUKAI EDISI 378 MEI 2006

DOK. WBC

atau terbentur dengan tembok hukum,” kata Sidjabat. “Banyak diantara jurusita kita tidak di back up oleh petugas yang berkaitan dengan hal-hal yang berkompeten dengan masalah hukum, kondisi di lapangan para jurusita bertemu pengacara yang galak-galak, karena itu juru sita perlu diback up!,” lanjut Sidjabat. Dalam menangani kasus penyitaan, menurut penilaiannya, para jurusita kurang memiliki kemampuan terutama pengalaman. Disamping itu, penguasaan pengetahuan mereka tidak berkembang, jadi hanya awal-awal saja. Mereka mendapat pengetahuan yang setara sejak awal dan tidak mengembangkan diri. Ditegaskan Sidjabat, jurusita sering menemui kebuntuan, apalagi jika kasus penyitaan yang dihadapi merupakan perusahaan yang solid yang menyewa tim pengacara. Maka itu sekali lagi ditegaskan Sidjabat, PERLU WADAH yang pas dalam tubuh organisasi DJBC agar pelaksanaan jurusita tidak tumpang tindih atau bahkan juru sita harus dibantu oleh terkesan saling dilepas oleh masing-masing unit kerja. petugas yang mengerti mengenai masalah hukum. berkonsultasi maka mereka tidak akan Bisa jadi, dari yang diamati Sidjabat, dilepas oleh masing-masing unit kerja. dapat berkembang baik dibidang hukum hal ini dikarenakan kurangnya bimbingan. Perlahan tapi pasti, menurut Sidjabat, maupun penguasaann tugas di lapangan. Namun dalam kondisi juru sita seperti saat ternyata kondisi ini sudah terjadi, sehingga “Selama ini dalam banyak hal mereka ini, ada beberapa petugas juru sita yang terkesan tidak jelas siapa yang berkonsultasi ke saya, mereka lihat oh dinilainya bagus, dalam arti mereka bertanggung jawab. Dalam kesempatan dulu Pak Sijabat banyak ngurusin jurusita, mengerti dan menguasai dasar hukum rapat reorganisasi belum lama ini, ia kalau di kantor pelayanan, juru sita ada di yang menjadi landasannya dalam bekerja. mengajukan kepada pimpinan mengenai perbendaharaan, di kasubsi penagihan, Namun beberapa jurusita yang dinilai pentingnya eksistensi jurusita ditempatkan kasubsi TU, kasubsi penerimaan, menguasai tugas di lapangan ini pada salah satu struktur organisasi yang pokoknya ada kasubsinya. Maka itu perlu kebanyakan tidak dapat bertahan lama di baru. Dan diingatkannya, bahwa sejak dilakukan penataan, bagaimanapun yang satu tempat dikarenakan promosi, bahkan adanya UU No. 19 Tahun 1997 DJBC namanya penagihan adalah hak negara seringkali ditempatnya yang baru ini sudah cukup banyak melakukan perlu dikelola. Prospek dan keberadaan mereka ditugaskan di tempat yang tidak penyitaan, tetapi masalahnya di Kantor jurusita sangat-sangat penting dan selama ada kegiatan penyitaan. Pusat sendiri tidak memiliki data tentang ini kami lihat mereka benturannya dengan hasil penyitaan yang dilakukan oleh ahli hukum,” demikian pendapatnya. jurusita Bea dan Cukai. STRUKTUR ORGANISASI PERLU Untuk ke depan, Sidjabat menekankan Tanpa bermaksud mendahului, DIPERJELAS LAGI perlunya peningkatan kemampuan jurusita menurut masukannya, jurusita lebih tepat Sebenarnya DJBC telah memiliki dalam hal penguasaan peraturan. berada di Seksi Penagihan Dit. jurusita dari berbagai strata pendidikan. Menurutnya, latar belakang pendidikan Penerimaan dan Peraturan Kepabeanan Tercatat ada sebanyak 150 tenaga juru sarjana bukanlah jaminan segalanya, dan Cukai (PPKC). “Karena keberatan sita dengan berbagai strata pendidikan. siapapun yang bekerja. ada di PPKC jadi jika ada penagihan juga Mulai dari berpendidikan SMA,S1 dan S2 “Saya rasa akan bisa eksis kalau jurudi sana, termasuk penagihan tertunda. yang tersebar di seluruh wilayah kerja sita menguasai peraturan, maka itu mereKalau pun ada yang lebih baik lagi DJBC. Namun yang menjadi persoalan ka harus dibekali kemampuannya melalui silahkan dievaluasi, strukturnya seperti dalam hal ini adalah struktur organisasi penyuluhan dan penataran. Kemudian apa, tugasnya apa, kalau ada di kantor bagi para jurusita terkesan belum jelas, aktifitas di atas (pimpinan) , bagaimana pelayanan lantas siapa yang memberi siapa yang bertanggungjawab. aktivitas yang di atas membimbing anak nasehat. Saya kira dalam struktur baru ini Perlu digaris bawahi, pentingnya buahnya. Sedangkan mengenai materi di sudah disampaikan.” dilakukan pembenahan organisasi, ini pusdiklat saya rasa sudah cukup, materiMengenai keberadaan jurusita di dalam rangka menunjang kelancaran nya dibuat bersama dengan Pusdiklat tingkat wilayah, yang belum ada pelaksanaan prosedur penagihan ketika saya jadi Kasubdit Penyuluhan dan strukturnya, Sidjabat juga mengusulkan, dengan cepat dalam batas waktu yang saya telah buatkan semacam buku saku setidaknya ada pihak untuk tepat dan didasari dengan administrasi kecil untuk pedoman bagi para jurusita. mengkoordinasikan para jurusita yang ada yang tertib. Karena itu perlu wadah Jadi yang paling penting adalah di kantor pelayanan,sehingga para yang pas dalam tubuh organisasi DJBC penyuluhan pada mereka lebih ditingkatjurusita dapat berkonsultasi. Jika para agar pelaksanaannya tidak tumpang kan lagi,” ungkap Sidjabat. ris jurusita tidak ada tempat untuk tindih atau bahkan terkesan saling
EDISI 378 MEI 2006 WARTA BEA CUKAI

11

LAPORAN UTAMA

JURUSITA

BEA DAN CUKAI

Lebih Proporsional
Dengan keterbatasan fasilitas dan dana, jurusita terkesan masih dianggap berperan kecil, padahal dalam tugas mengamankan penerimaan negara, mereka banyak bersentuhan dengan tantangan-tantangan. Tekanan mental maupun fisik tak jarang mereka temui saat melakukan eksekusi penyitaan.

PERLU PERHATIAN
G
edung milik Induk Koperasi Unit Desa (Inkud) berlantai enam yang berlokasi di Jalan Warung Buncit, Jakarta Selatan, pada 1 Desember 2005 lalu disita pihak Bea dan Cukai. Penyitaan ini dilakukan setelah pihak Inkud tidak membayar Bea Masuk impor beras asal Vietnam senilai Rp 28,5 miliar. Sempat terjadi ketegangan dalam penyitaan ini. Pihak Inkud bersikeras bahwa kasus tersebut masih dalam penyelesaian pengadilan. Sebaliknya, jurusita Bea Cukai, Sugito mengatakan, penyitaan telah sah dilakukan dan sesuai undangundang, yaitu UU No.10 Tahun 1995 tentang Kepabeanan dan UU No.19 Tahun 1997 tentang PPSP. (Sekarang UU N0.19 Tahun 2000) dan terdapat dua orang saksi. Selain menyegel gedung, aparat bea cukai yang berkoordinasi dengan Badan Pertanahan Nasional juga mengukur areal gedung untuk kemudian hasilnya akan diserahkan kepada badang lelang, sehingga proses lelang bisa segera dilaksanakan. Sementara, pihak Inkud melalui kuasa hukumnya menyatakan penyitaan tidak berdasar karena belum memiliki keputusan hukum tetap. Namun, pihak Inkud mengakui adanya penyalahgunaan dokumen impor beras oleh oknum anggota Inkud. Pengacara Inkud tetap tidak bisa menolak penyegelan kantor, meski sebelumnya sempat berdialog dengan aparat bea cukai. Salah seorang pengacara Inkud
WARTA BEA CUKAI

dari S Roy Renaing and Partners menjelaskan, penyegelan semestinya belum bisa dilakukan karena kasusnya dalam proses hukum. Selain itu, Inkud sendiri bukan pemilik beras, tetapi PT Hexatama. Tetapi bagaimanapun, yang jelas dalam surat permohonan impor barang, yang tertulis adalah Inkud. Proses penyegelan yang dimulai pukul 10.30 akhirnya berjalan lancar. Sebelumnya petugas bea cukai hanya masuk ke lobi kantor dan diterima petugas satpam, namun setelah bertemu dengan tim pengacara Inkud akhirnya proses penyegelan bisa dilaksanakan. Sebelumnya, Pengadilan Negeri Jakarta Utara juga telah memvonis 2,5 tahun penjara kepada Nurdin Halid sebagai Ketua Umum Inkud, terkait dengan kasus impor beras itu. Namun, Nurdin melakukan upaya hukum banding. Begitulah, sekelumit cerita saat eksekusi penyitaan Gedung Inkud oleh jurusita Bea dan Cukai. Adalah Sugito, satu dari sekian pegawai bea cukai yang telah mengikuti diklat jurusita. Ia merupakan salah satu jurusita dari yang tercatat 150 orang pegawai yang telah mendapat diklat jurusita yang dimiliki Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC). Menjalani profesi sebagai jurusita DJBC, Sugito lakoni ketika tahun 2000 saat ia ditugaskan di Kantor Pelayanan Bea dan Cukai (KPBC) Tanjung Priok III. Sugito yang kini menjadi Korlak Operasi di KPBC Yogyakarta, mengaku, selama

menjalankan tugas sebagai jurusita dirasakan banyak pengalaman ia hadapi. Dari pengalamannya menyita aset perusahaan besar maupun kelas menengah, salah satu contohnya ketika menyita tagihan dari Bulog mengenai impor gula pasir oleh PT. Goro, kemudian dengan Asuransi Bumiputera Muda sebagai penanggung jaminan customs bond. Kedua kasus itu berhasil dan kedua pihak melunasi kewajibannya. “Rata-rata tidak sampai dilakukan penyitaan, sebab begitu kita segel mereka langsung membayar kekurangannya. Jadi begitu kita tempelkan segel lalu kita jelaskan kesempatan diberikan dalam waktu 1 x 24 jam bahkan diberikan kesempatan satu hari lagi, jika tidak responsif terhadap penyitaan maka akan ditindaklanjuti dengan penyitaan,” kata Sugito memulai ceritanya. “Biasanya dengan sedikit ancaman dan gertakan, mereka buruburu mengurus ke kantor kita dan membayar kekurangannya. Apakah nantinya mereka bayar secara angsur atau tunai tetapi kebanyakan membayar dengan angsur,” tambah Sugito. Untuk sita barang bergerak seperti kendaraan, hingga kini memang belum pernah ia temui, karena sebagian besar yang disita adalah gedung, sepanjang gedung itu diyakini menjadi milik penanggung bea dan cukai. Seperti aset gedung milik Goro, atau Asuransi Bumiputera Muda. Intimidasi yang dialami jurusita

12

EDISI 378 MEI 2006

WBC/RIS

menurut Sugito, justru biasanya bukan pada saat eksekusi penyitaan, melainkan pada saat menyampaikan Surat Paksa (SP). Itu ia maklumi, karena yang jelas pihak manapun tidak akan menerima atau rela jika asetnya disita. Kedatangan jurusita saat mengantarkan SP biasanya tidak diterima dengan baik bahkan banyak menghadapi gertakan. Pada saat menerima SP pun, pihak tersita sudah menyampaikan berbagai argumentasi sehingga jurusita diancam, minimal ancaman secara mental. Namun prinsip Sugito, menghadapi hal itu, janganlah kekerasan di lawan dengan kekerasan. Ia biasanya dengan lemah lembut memberikan penjelasan bahwa jurusita adalah abdi negara yang dilindungi UU. Jika mereka ingin mengadakan perlawanan Sugito mempersilahkan mereka melakukan perlawanan dengan UU atau hukum juga. “Negara kita adalah negara hukum, yang perlu anda ketahui bahwa saya ke sini menjalankan tugas negara, jadi kalau saudara menghalangi-halangi tugas saya, saudara sendiri berhadapan dengan UU. Jadi setelah kita berikan penjelasan begitu mereka kebanyakan mengerti, kalau kekerasan secara fisik belum pernah saya alami, tetapi secara non fisik minimal kata-kata yang begitu kasar dan keras, jadi yang kita hadapi penyiksaan mental,” begitu Sugito menirukan ucapannya saat beradu argumentasi. “Jika ada masalah selama ini kita belum pernah di-back up dari kantor pusat, tetapi untuk yang terakhir kemarin masalah Inkud, kita di-back up secara full dari Kanwil, unsur P2 dari Kantor Pelayanan dan pihak Kepolisian. Sedangkan dari Kantor Pusat memberikan dukungan moral secara penuh,” ujarnya.

INDRA KUSUMA. Upgrading atau penyegaran jurusita diperlukan mengingat selama ini jarang atau tidak pernah dilaksanakan.

dan Pajak Dalam Rangka Impor. Dalam hal ini jurusita diangkat dan diberhentikan oleh pejabat (Kepala Kantor Pelayanan). Tugas jurusita adalah sebagai pelaksanan tindakan penagihan bea masuk dan cukai yang meliputi penagihan seketika dan sekaligus pemberitahuan surat paksa dan penyitaan. Kapasitas Kasi Perbendaharaan, ujar Indra yang juga mantan Kasi Perbendaharaan KPBC Tanjung Priok III, adalah sebagai pejabat yang mengelola administrasi penagihan, mulai dari SPKPBM (Surat Pemberitahuan Kekurangan Pembayaran Bea Masuk),surat teguran sampai dengan surat paksa,
DOK. PRIBADI

mengkoordinasikan kepada jurusita untuk melaksanakan penagihan dengan surat paksa dan memantau penyelesaiannya mulai dari penyampaian surat paksa, penyitaan sampai dengan tahap pelelangan. Dalam proses penyitaan, kapasitas seksi perbendaharaan tetap sebagai Kasi Perbendaharaan, namun dalam hal jurusita mendapat kendala ( seperti kasus Inkud) juru sita meminta Kasi Perbendaharaan atau Korlak Penagihan untuk memback up pelaksanaan sita dan menjadi saksi (tertuang dalam Berita Acara Sita/BAS). Menurut Indra, ada beberapa proses yang harus dilalui sebelum dilakukannya penyitaan. Berikut ini proses atau prosedur sebelum dilakukannya penyitaan: 1. Menyiapkan surat paksa dan surat tugas 2. penyampaian surat paksa kepada penanggung bea cukai 3. apabila lewat waktu 24 jam setelah tanggal pemberitahuan surat paksa, belum juga melunasi utang pajaknya, maka penyitaan dapat dilaksanakan dengan menerbitkan SPMP (Surat Perintah Melakukan Penyitaan) (mekanisme pelaksanaan sesuai Kep.06/BC/1999 lampiran IV dan seterusnya). (Lihat Bagan). Indra mengemukakan, arti penting keberadaan Jurusita Bea dan Cukai adalah memberikan kepastian hukum atas tagihan pajak, kesadaran masyarakat untuk mematuhi kewajiban dan optimalisasi penerimaan negara dari sisi penagihan. Sedangkan kendala sering terjadi apabila penanggung pajak tidak kooperatif menghadapi jurusita dan menghalangi atau menolak penyitaan. “Penunjukan jurusita, dipilih yang benar-benar menguasai atau mampu dan berwibawa dihadapan penanggung bea cukai, karena kemungkinan yang dihadapi adalah kuasa hukum dari penanggung bea dan cukai,” ujarnya. Menurutnya, jurusita bea cukai memang harus berlatar belakang teknis kebeacukaian dan seharusnya dibekali juga dengan pengetahuan hukum atau setidak-tidaknya mengerti tentang hukum yang berkaitan dengan penyitaan. Upgrading atau penyegaran jurusita diperlukan mengingat selama ini jarang atau tidak pernah dilaksanakan. Apabila diadakan penyegaran masalah pengetahuan hukum tersebut harus dimasukkan dalam kurikulum. Sedangkan pendapatnya tentang materi yang diberikan pusdiklat dirasa sudah cukup.
WARTA BEA CUKAI

ALUR PROSES PENYITAAN
Sementara itu menurut Kasubbag Kelembagaan Kantor Pusat DJBC, Indra Kusuma, jurusita Bea Cukai bekerja dengan dasar hukum UU No.19 Tahun 2000 tentang Penagihan dengan Surat Paksa, PP No.3 Tahun 1998 tentang Tata Cara Penyitaan Dalam Rangka Penagihan Dengan Surat Paksa. Kep Menkeu No.147/KMK.04/1998 tentang Penunjukkan Pejabat untuk Penagihan Pajak Pusat, Tata Cara dan Jadwal Waktu Penagihan, sebagaimana telah diubah dengan Kep Menkeu N0.21/KMK.01/1999, Kep DJBC No. Kep-06/BC/1999 tentang Petunjuk Pelaksanaan Penagihan Piutang Bea Masuk, Cukai, Denda Administrasi, Bunga

SUGITO. Baru mengantarkan SP saja biasanya tidak diterima dengan baik bahkan banyak menghadapi gertakan.

EDISI 378 MEI 2006

13

LAPORAN UTAMA
Demikian juga menurut Sugito, materi dari pusdiklat dinilainya sudah cukup, namun perlu lagi dilakukan pelatihan dan pengembangan untuk juru sita. Pengembangan di sini dalam arti untuk kesiapan mentalnya. Namun, berbicara tentang resiko pekerjaan yang dihadapi dengan tunjangan kesejahteraan yang diberikan kepada para jurusita, diakui Sugito, masih nol, sebab reward (penghargaan) tidak pernah ada mereka terima. Sesuai aturan dalam menyampaikan SP diberikan uang transport sebesar Rp. 25 ribu untuk satu SP, lantas transport untuk eksekusi penyitaan sebesar Rp. 75 ribu. “Dalam prakteknya, seandainya dalam 1 bulan mengirimkan 1 sampai 5 SP apakah bisa diminta sebesar itu, rasanya sulit sekali. Jadi saya pikir lebih banyak mengeluarkan biaya mengurusnya dibandingkan tunjangan yang kita terima. Itu yang mungkin perlu dipikirkan oleh pimpinan kita,” ungkap Sugito. Ia mempertanyakan, apakah tidak sebaiknya jurusita nantinya menjadi fungsional sehingga mendapat tunjangan dan lain-lainnya. Itu rasanya perlu dipikirkan. Karena dari pengalaman yang Sugito alami, antara tugas dengan tunjangan dikatakan tidak ada sama sekali, bahkan fasilitas yang diterima pun dari kantor pelayanan tempat jurusita bertugas hampir tidak pernah diperhatikan. Sugito mencontohkan, saat menjalankan tugas, jurusita menyampaikan SP sampai ke sekitar Jabotabek bisa dikatakan menggunakan kendaraan bermotor milik pribadi. “Itu sebetulnya tidak bisa kita bayangkan, bagaimana resiko mental dan fisik yang kita hadapi saat dihardik oleh pihak yang tersita, mereka marah-marah dan bentak-bentak kita, belum lagi resiko menanggung biaya sendiri. Apakah itu tugas yang akan terus kita rasakan ? Namun meski tidak adanya jaminan keamanan, finansial bahkan fasilitas juga tidak ada, tetapi Kasi Perbendaharan bagi saya tugas Kepada Kepala KPBC merupakan amanah jadi apapun akan saya lakukan semampu saya,” tegasnya. Dengan kondisi seperti ini, Sugito melihat ada keengganan menjalankan tugas dari beberapa jurusita karena unsur pimpinan sendiri kurang Juru sita dan memperhatikan keberadaan jurusita, 2 orang saksi padahal tugasnya cukup berat. Sugito, ungkapkan ini, karena memang bagaiamanapun juru sita adalah upaya terakhir instansi DJBC untuk menagih tunggakan tadi. “Dengan aset sita yang sangat tinggi nilainya, misalnya kasus Goro, kita berhasil amankan keuangan negara sekitar Rp. 3 milyar, asuransi

MINIM INTENSIF
Dalam menjalankan tugas, setidaktidaknya Sugito dan sesama rekan jurusita mengerti apa yang menjadi dasar tugasnya. Jadi ia berkeyakinan, dengan UU yang yang dimiliki, membuat jurusita kuat, karena didasari UU dan sepanjang mengetahui isi UU tersebut rasanya tidak ada masalah.

BAGAN/ALUR PENYITAAN JURU SITA
Surat Paksa
t

Penyampaian Surat Paksa
Apabila 2 X 24 Jam Belum dilunasi

Laporan Pelaksanaan Surat Paksa

t

Surat Perintah Melaksanakan Penyitaan (SPMP)
Apabila 14 hari sejak tanggal SPMP Belum juga dilunasi
t

t

Berita Acara Sita

Pelelangan
14
WARTA BEA CUKAI EDISI 378 MEI 2006

t

DOK. PRIBADI

SAAT PENANDANGATANGANAN Berita Acara Sita Gedung Inkud oleh juru sita dan dua orang saksi.

Bumiputera Muda pun juga mencapai angka milyaran rupiah , jadi kayaknya tidak seimbang antara perhatian pimpinan kita dengan tugas yang dilaksanakan jurusita kita,” kata Sugito. Kepada pimpinan di DJBC, Sugito menyampaikan harapannya. Sebaiknya, ada bagian yang membina para jurusita, apakah itu dilakukan Kantor Pelayaan, Kanwil atau Kantor Pusat. Dalam hal ini jurusita tidak menuntut hal yang berlebihan, tetapi berilah perhatian yang proposional (seimbang). Pembinaan sebaiknya tidak saja di Kantor Pelayanan, tetapi juga sampai ke Kanwil dan Kantor Pusat, karena memang tugas para jurusita cukup berat. Selain resiko, perannya juga ada, yaitu mengamankan penerimaan Negara. “Untuk rekan-rekan, ke depan memang mestinya harus dipikirkan begitu, sehingga mereka antusias menjadi juru sita, kami juga usulkan supaya nantinya jurusita harus terdiri dari tenaga muda, karena mental dan fisik juga diperlukan, maka itu tenaga-tenaga muda harus direkrut. Jangan seperti sekarang, jurusita

yang dimiliki bea cukai sudah sepuhsepuh semua,” kata Sugito yang berpedoman setiap menjalankan tugas yang terpenting adalah optimis bahwa tugas bisa diselesaikan, masalah berhasil atau gagal itu urusan nanti. Perlu diketahui, saat ini terdapat 150 pegawai DJBC yang telah dididik menjadi jurusita dan otomatis mereka juga menjadi Jurusita Bea dan Cukai. Para Jurusita ini terdiri dari berbagai strata kepangkatan. Mulai dari pagkat/ golongan IV/b (1 orang), IV/a (2 orang), III/d (9 orang), III/c (32 orang), III/b (34 orang), III/a (24 orang), II/d (30 orang) dan II/c (19 orang). Yang tersebar di wilayah kerja DJBC seluruh Indonesia, mulai dari wilayah Jawa, Sumatera, Bali, Kalimantan, Sulawesi. Antara Lain; Kantor Pusat Jakarta, Surabaya, Pontianak, Dumai, Menado, Gorontalo, Nangroe Aceh Darusalam dan lainnya. Memang benar kenyataan yang disampaikan Sugito, saat ini petugas jurusita yang paling muda yang dimiliki DJBC berasal dari angkatan 1980-an. Sedangkan sebagian besar

adalah angkatan 1978 yang hampir pensiun, termasuk Sugito. “Okelah ada yang sudah tua karena bisa mengendalikan yang muda dan dari pengalaman lebih banyak, tetapi yang muda harus lebih banyak paling tidak 70-30 atau 60-40, jadi lebih banyak yang muda,” begitu masukannya. Indra Kusuma, menguatkan hal itu. Menurutnya, jurusita yang ada merupakan pegawai lama yang kebanyakan sudah berusia lanjut, seperti Sugito yang saat ini berusia 55 tahun. Untuk menggantikan jurusita-jurusita tersebut, regenerasi diperlukan dengan cara merekrut jurusita baru dengan mengadakan diklat. Kriteria apabila diklat jurusita diadakan, lanjutnya, diusulkan merekrut dari pegawai yang masih muda dengan latar pendidikan minimal D3 atau S1 dengan tujuan untuk mengantisipasi kendala yang tadi disebutkan. Sepengetahuan Indra, di Tanjung priok, jurusita ratarata berlatar belakang pendidikan formal SMA/ diklat DPT II. Sedangkan tentang materi yang diberikan pusdiklat Bea dan Cukai dinilainya sudah cukup. ris
EDISI 378 MEI 2006 WARTA BEA CUKAI

15

LAPORAN UTAMA

Melalui Lelang
Piutang Negara adalah sejumlah uang yang wajib dibayar kepada negara atau badan-badan, baik secara langsung maupun tidak langsung dikuasai negara, berdasarkan suatu perjanjian, peraturan atau sebab apapun.

Penyelesaian Piutang
D
alam kenyataannya, banyak sekali piutang negara bermasalah atau macet dan harus diurus karena merupakan harta negara. Salah satu cara mengatasi masalah tersebut adalah dengan melakukan penyitaan pajak dengan surat paksa. Setelah eksekusi penyitaan terhadap obyek sita selesai dilaksanakan, langkah selanjutnya adalah melakukan lelang dari obyek sita tersebut, sehingga nilai dari hasil lelang tersebut digunakan untuk menyelesaikan piutangnya pada negara. Sedangkan yang dimaksud dengan lelang adalah penjualan barang di muka umum yang dipimpin oleh pejabat lelang dengan cara penawaran harga secara terbuka/ lisan dan atau tertutup/tertulis yang didahului dengan pengumuman lelang. Karena itu rencana lelang pada prinsipnya harus lebih dahulu diumumkan kepada masyarakat. Menurut, Syarifuddin Halomoan Gurning, Kasubdit Peraturan & Bantuan Hukum, Direktorat Informasi & Hukum, Direktorat Jenderal Piutang dan Lelang Negara (DJPLN), Departemen Keuangan RI, dilihat dari fungsinya, lelang adalah institusi pasar yang mempertemukan penjual dan pembeli pada saat dan tempat tertentu dengan cara pembentukan harga yang kompetitif. Secara umum, tugas dan fungsi DJPLN adalah melaksanakan sebagian dari tugas Menteri Keuangan dalam pengurusan piutang dan lelang. Untuk masa yang akan datang tugasnya akan ditambahkan dengan pengelolaan kekayaan Negara (barang atau harta milik negara), termasuk di daerah. “Itu yang akan datang, jadi lebih kepada fungsi Menkeu sebagai bendahara umum. Kalau saat ini kita memang masih dianggap sebagai eksekutor, dan kurang terkait dengan tugas Kementerian Keuangan,” demikian Syarifuddin. Lebih lanjut mengenai lelang, selain memberikan rasa adil karena lelang bersifat terbuka (transparan) dan obyektif, kebaikan lain dilakukannya lelang adalah, aman, karena disaksikan pimpinan, dan dilaksanakan oleh Pejabat Lelang selaku Pejabat Umum yang diangkat oleh Pemerintah yang bersifat independen.
WARTA BEA CUKAI
WBC/ZAP

kan penjualan itu sendiri dan juga membuat akte otentik. Dalam hal ini ada dua Jenis Pejabat Lelang: l Pejabat Lelang Kelas I (PL Kelas I) adalah PL yang merupakan pegawai organik Kantor Lelang Negara (KLN), DJPLN yang memberikan pelayanan lelang di tingkat Propinsi. l Pejabat Lelang Kelas II (PL Kelas II) ialah Pejabat yang ditunjuk khusus untuk melayani lelang di Daerah Tingkat II/Kabupaten tertentu Terjadinya proses urusan piutang/ lelang, karena penyerah piutang dalam hal ini kreditur yang merupakan instansi pemerintah badan negara baik tingkat pusat maupun tingkat daerah termasuk pemerintah daerah dan badan usaha yang jumlah saham atau modalnya dimiliki badan usaha milik negara/daerah sesuai peraturan perundangan yang berlaku dan wajib, menyerahkan pengurusan piutang macetnya kepada DJPLN. Dalam hal ini yang menjadi hak penyerah piutang adalah; Menerima hasil pengurusan piutang negara., menarik pengurusan piutang negara dalam rangka penyehatan usaha dan menyampaikan usul pencairan barang jaminan baik penjualan melalui lelang maupun non lelang. Sedangkan yang menjadi kewajiban penyerah piutang adalah; menyerahkan pengurusan piutang macet kepada DJPLN, menyerahkan dokumen asli piutang negara dan barang jaminannya, bersedia memberikan penjelasan/expose jika diminta, bersedia membuat surat permintaan roya atas pembebanan hak tanggungan, bekerja sama dengan DJPLN dalam pengurusan piutang negara.

SYARIFUDDIN HALOMOAN GURNING. Disamping lelang, DJPLN juga melakukan upaya pencegahan, upaya paksa badan dan pemblokiran rekening.

Selain itu cepat dan efisien, karena lelang didahului dengan pengumuman lelang sehingga peserta dapat berkumpul pada saat hari lelang dan pembayarannya tunai. Melalui lelang, harga yang ditawarkan pun merupakan harga wajar karena menggunakan hukum penawaran yang bersifat kompetitif dan transparan. Disamping itu adanya kepastian hukum, karena dilaksanakan oleh Pejabat Lelang dan dibuat Risalah Lelang sebagai akte otentik. Dalam hal ini Pejabat Lelang (PL) adalah jabatan fungsional selaku pejabat umum yang melayani masyarakat untuk memimpin dan menyelenggarakan lelang. PL diangkat oleh Menteri Keuangan. Sebelum memangku jabatannya, seorang PL harus terlebih dahulu mengangkat sumpah. PL memimpin atau menyaksikan sekaligus menjadi semacam hakim yang menentukan seorang peserta lelang menjadi pemenang dalam pelaksanaan lelang. Disamping itu, PL juga membuat akte otentik sebagai bukti pelaksanaan lelang yang disebut Risalah Lelang. Dengan demikian PL tidak hanya menyaksikan tetapi justru dapat menyelenggara-

PROSES LELANG
Lelang yang biasa dilakukan oleh KP2LN (Kantor Pelayanan Piutang dan Lelang Negara) Direktorat Jenderal Piutang dan Lelang Negara (DJPLN) merupakan obyek sita yang berasal dari instansi pemerintah dan BUMN (Badan Usaha Milik Negara). Jenis-jenis piutang negara dapat dibedakan menjadi dua macam yaitu ; pertama, Piutang Negara Perbankan, yaitu kredit macet bank-bank

16

EDISI 378 MEI 2006

DOK. WBC

SIAPA SAJA diperbolehkan mengikuti lelang, karena sifatnya umum, sepanjang peserta melakukan penyetoran.

pemerintah. Seperti bank Tabungan Negara (BTN), Bank Negara Indonesia ( BNI), Bank Mandiri, bank Rakyat Indonesia (BRI). Kedua, Piutang Negara Non Perbankan, berupa tagihan dari lembaga atau instansi atau badan pemerintah selain bank seperti tagihan macet Telkom, PLN, tuntutan ganti rugi, dan lain-lain. Lebih lanjut disampaikan Syarifuddin, proses yang dijalani pada saat akan dilakukan pelelangan melalui beberapa langkah. Langkah itu antara lain; serah terima dan memberikan tanda bukti terima, meneliti dokumen untuk mengetahui kelengkapannya. Jika sudah dinyatakan lengkap lalu dibuatlah surat resmi SP3N (Surat Penerimaan Pengurusan Piutang Negara), yang dibuat Ketua Panitia Urusan Piutang Negara (PUPN) cabang, kemudian ditelitinya untuk memastikan besarnya piutang negara untuk selanjutnya memanggil penanggung hutang (debitur). Penanggung hutang (debitur) adalah badan usaha atau pribadi yang memiliki hutang kepada negara melalui instansi pemerintah baik di tingkat pusat maupun daerah termasuk pemerintah daerah dan badan usaha yang jumlah saham atau modalnya dimiliki badan usaha milik negara/daerah sesuai peraturan perundangan yang berlaku dan wajib menyerahkan pengurusan piutang macetnya kepada DJPLN. Dalam hal ini yang menjadi hak penanggung hutang antara lain: Menerima dokumen barang jaminan setelah hutangnya dinyatakan selesai/ lunas, menarik pengurusan piutang

negara dalam rangka penyehatan usaha. Dan menyampaikan usul pencairan barang jaminan baik penjualan melalui lelang maupun non lelang. Sedangkan yang menjadi kewajiban penanggung hutang antara lain ; menyerahkan pengurusan piutang macet
FOTO : ISTIMEWA

kepada DJPLN , menyerahkan dokumen asli piutang negara dan barang jaminannya, bersedia memberikan penjelasan/ expose jika diminta, bersedia membuat surat permintaan roya (surat tanda lunas) atas pembebanan hak tanggungan dan bekerja sama dengan DJPLN dalam pengurusan piutang negara. “Kita tidak bisa langsung upaya lelang, karena upaya lelang bagi kami adalah upaya terakhir, upaya pertama kita usahakan dia bayar dari kemampuan usahanya dulu, yaitu dalam Pernyataan Bersama (PB) tadi, itu diharapkan dari upaya dia di luar lelang, jadi dari kemampuan dia membayar. Tetapi kalau itu tidak tercapai katakanlah dia menghindar sehingga tidak terjadi pembuatan PB, kita tetapkan sendiri penetapan jumlah piutang negara atau dia datang bikin PB, jika tidak dipenuhi sesuai dengan jadwal yang disepakati, kita berikan peringatan PB lalu dibuatlah surat paksa, yang ditindaklanjuti dengan surat lelang, jadi lelang itu upaya terakhir,” jelas Syarifuddin. Sebenarnya upaya hukum untuk eksekusi diajukan oleh pemenang perkara dengan mengajukan permohonan kembali supaya debitur atau pihak yang kalah memenuhi kewajibannya membayar hutang yang merupakan kewajibannya. Jika debitur tidak bisa membayar hutang atau kewajibannya maka harta kekayaannya disita untuk membayar hutang. “Jadi menurut saya, disiplin itu harus ditanamkan, jangan sampai punya hutang tidak mau bayar, sudah jelas hartanya mau disita masih mau menggugat lagi. Alasannya 1001 macam, tidak ijinlah, harganya terlalu rendah, padahal kita menggunakan harga limit menurut penilaian yang dipakai secara umum. Dalam pengurusan piutang negara yang menentukan harga adalah ketua panitia, dalam hal ini ketua panitia cabang yang tersebar di seluruh Indonesia, setelah sebelumnya dilakukan penilaian berdasarkan standar ,”ujarnya.

PESERTA LELANG
Barang-barang yang dijual secara lelang di DJPLN/KP2LN berasal dari pemohon lelang. Pemohon ini dapat berstatus pemilik barang, pemilik barang yang dikuasakan atau yang karena UU diberi wewenang untuk menjual barang yang bersangkutan. Contoh pemohon lelang seperti PUPN, Direktorat Jenderal Pajak, Pengadilan, Kedutaan Besar Negara Sahabat, Perorangan dan lain-lain. Sedangkan yang boleh menjadi peserta atau pembeli lelang adalah Perorangan maupun Badan Usaha dapat menjadi peserta/pembeli lelang, kecuali yang nyata-nyata dilarang oleh peraturan yang berlaku seperti : Hakim, Jaksa, Panitera, Advokat, Pengacara, Pejabat lelang, Juru Sita, dan Notaris, yang sedang menangani pokok perkara yang barangnya akan dilelang. Barang yang dapat dilelang berupa ; l Barang bergerak seperti kendaraan
EDISI 378 MEI 2006 WARTA BEA CUKAI

DISAMPING LELANG, DJPLN juga melakukan upaya pencegahan, yang merupakan kewenangan dari Menkeu di delegasikan kepada DJPLN khusus untuk piutang Negara. Di samping itu juga ada upaya paksa badan dan pemblokiran rekening.

17

LAPORAN UTAMA
FOTO : ISTIMEWA

l

(mobil,motor, kapal bobot kurang dari 20 ton), barang inventaris (stok bahan baku, perabot kantor, perabot rumah tangga, barang antik, perhiasan dan hasil seni), Elektronik (TV, Kulkas, Pompa air listrik, tape, komputer dsb); Barang tidak bergerak seperti Tanah (tanah perumahan, pabrik, hotel/apartemen dsb.), Kapal dengan bobot diatas 20 ton (kapal penumpang, kapal pesiar, kapal ferry, kapal keruk, kapal tanker, dsb.).

“Yang agak repot itu lelang kapal laut. Bisa saja pada saat penyitaan kapalnya sedang jalan, tetapi teknisnya melaporkan penyitaan itu kepada syahbandar, kita tinggal menunggu waktunya kapan kapal itu kembali ke rutenya, sebab kapal laut memiliki rute yang tetap. Apalagi jika kapal itu sudah tidak operasi bisa saja langsung kita lelang, tapi kesulitannya jika kapal sedang jalan,” ujarnya. Kesulitan lain, ketika menyita bahan baku. Dari Pengalaman Syarifuddin, bahan baku pada saat disita dicatat semua jumlah barangnya. Namun pada saat lelang, barangnya sudah tidak ada atau sudah sebagian berkurang, sebagian besar yang jumlahnya berkurang, biasanya dalam karung-karung. Demikian juga untuk barang yang dititipkan di pelabuhan, biasanya kolinya sudah tidak sesuai dengan penyitaan. Namun pada saat lelang harus diperiksa ulang ditafsir dan dilelang apa adanya setelah sebelumnya pembeli diminta untuk melihat dan dijelaskan kepada peminat lelang, mengenai jumlah barang dan keadaan barang. Dalam hal ini pembeli menanggung semua biaya yang diperlukan dalam pembelian barang tersebut. Dalam melaksanakan lelang, DJPLN mengenakan tarif Bea Lelang yang besarnya bervariatif, seperti tercantum sebagai berikut : JENIS BARANG Barang bergerak Barang tidak bergerak Kayu jati B E A Penjual 3% 1,5% 1,5%

KAPAL DENGAN BOBOT DIATAS 20 TON, ( (kapal penumpang, kapal pesiar, kapal ferry, kapal keruk, kapal tanker, dsb.) merupakan salah satu barang tidak bergerak yang dapat dilelang.

akan digunakan untuk menawar barang yang akan dilelang. Siapa saja, lanjut Syarifuddin, boleh mengikuti lelang, karena sifatnya umum, sepanjang peserta melakukan penyetoran. Tetapi ada juga lelang yang tidak bisa dikategorikan lelang karena bersinggungan dengan peraturan lain, misalnya lelang kayu jati, atau lelang gula. Jika lelang gula, pesertanya sudah ditentukan dari Departemen Perdagangan, tujuannya untuk mengamankan kebijakan pemerintah, sebab dalam jual beli gula ada kuotanya, supaya gula tidak banjir di pasaran, jadi mengamankan pasar dan melindungi petani gula. Biasanya ada 7 peserta dan salah satunya Bulog. Begitu juga dengan lelang dari hasil kayu ilegal (illegal logging) hasil tangkapan Bea dan Cukai yang biasanya pesertanya harus dari anggota yang terdaftar.

Informasi mengenai barang yang akan dilelang oleh KP2LN dapat dicari antara lain melalui ; Surat kabar atau harian yang terbit didaerah dimana KP2LN berada, pengumuman barang yang akan dilelang di papan pengumuman KP2LN, menanyakan ke kantor-kantor seperti Kantor Pelayanan Bea dan Cukai (KPBC), Kantor Pelayanan Pajak (KPP). Bagi peminat lelang, disarankan untuk memperhatikan tips sebagai berikut: l Peminat disarankan untuk lebih dahulu melihat barang-barang yang akan dilelang. l Setelah melihat barang, peminat dapat menghubungi KP2LN atau Kantor pemohon Lelang untuk menanyakan syarat-syarat lelang dari debitor . l Peminat dapat menanyakan lebih lanjut mengenai dokumen/barang dsb melalui KP2LN atau Kantor pemohon lelang. Dengan informasi-informasi itu, diharapkan peminat sudah dapat memperhitungkan harga atas barang tersebut yang L E L A N G Pembeli 9% 4,5% 3% Ditahan 1,5% 0,375% 1,5% 0,7% 0,4% 0,7% Uang Miskin

PENCEGAHAN
Disamping lelang, DJPLN juga melakukan upaya pencegahan. Upaya pencegahan ini merupakan kewenangan dari Menteri Keuangan yang didelegasikan kepada DJPLN khusus untuk piutang negara. Di samping itu juga ada upaya paksa badan dan pemblokiran rekening. Rekening itu disita untuk ditransfer ke rekening bendaharawan DJPLN. Untuk menghindari adanya gesekan antara tugas DJPLN dengan UU Bank Indonesia (Kerahasiaan Bank), maka sebelum dilaksanakan upaya blokir harus meminta ijin terlebih dulu kepada Direktur Bank Indonesia. Lebih lanjut mengenai pencegahan, terhadap penanggung hutang atau penjamin hutang dapat dicegah untuk berpergian ke luar negeri. Pencegahan tersebut dilakukan dalam hal penanggung hutang atau penjamin hutang tidak memperlihatkan atau diragukan itikad baiknya untuk memenuhi kewajibannya. Dalam hal ini jangka waktu penyelesaian hutang juga ditetapkan oleh DJPLN dimana jangka waktu penyelesaian hutang yang harus diselesaikan penanggung hutang/penjamin hutang paling lama 12 (dua belas) bulan. Sedangkan untuk penyelesaian hutang yang dilakukan secara angsuran, seluruh pembayaran angsuran, pelunasan dan penarikan berkas kasus piutang ditujukan ke Rekening KP2LN di Seluruh Indonesia pada Bank yang ditunjuk. Dalam melaksanakan tugasnya, DJPLN mengenakan tarif Biaya Administrasi (Biad) atas setiap berkas pengurusan piutang negara. Besarnya bervariatif, seperti sebagai berikut: 1 persen dari hutang jika dilunasi kurang dari 3 bulan sejak dikeluarkan Surat Penerimaan Pengurusan Piutang Negara (SP3N), 2,5 persen dari sisa hutang jika pengurusan piutang negara tersebut ditarik kembali oleh penyerah piutang, 10 persen dari jumlah hutang jika lebih dari 3 bulan sejak dikeluarkan SP3N. ris

KETERANGAN : 1. Bea Lelang dan Uang Miskin dihitung dari pokok lelang. 2. Uang Miskin hanya dikenakan kepada pemenang lelang. 3. Lelang ditahan apabila penawaran tertinggi belum mencapai harga limit yang dikehendaki penjual. 4. Lelang barang-barang milik negara, dibebaskan dari pemungutan Bea Lelang Penjual, Bea Penahanan Lelang, dan Bea Pembatalan Lelang. 5. Yang dimaksud dengan Bea Lelang Ditahan adalah Bea Lelang yang dikenakan kepada pemohon lelang apabila meskipun ada penawar tetapi tidak mau melepaskan barang yang dilelang karena barang belum sesuai/dalam mencapai harga limit. 6. Khusus untuk lelang kayu jati (lelang besar) dari tangan pertama (Perum Perhutani), Bea Lelang dipungut dengan tarif khusus, sedangkan untuk jenis kayu lainnya Bea Lelang dipungut sesuai ketentuan untuk barang bergerak. Demikian juga untuk kayu yang bukan dari Perhutani.

18

WARTA BEA CUKAI

EDISI 378 MEI 2006

NASIONAL
WBC/ATS

SERAH TERIMA JABATAN. Usai penandatangan serah terima jabatan, Dirjen Bea dan Cukai yang baru, Anwar Supriyadi dan Mantan Dirjen Bea dan Cukai, Eddy Abdurrachman berjabat erat.

BEA DAN CUKAI
P
ada 27 April 2006, bertempat di ruang Graha Sawala, Gedung Utama, Departemen Keuangan (Depkeu), Jakarta Pusat, diselenggarakan acara pelantikan Direktur Jenderal Bea dan Cukai, Direktur Jenderal Pajak dan Kepala Bapepam yang baru oleh Menteri Keuangan Sri Mulyani. Acara pelantikan tersebut juga diikuti dengan serah terima jabatan dari pejabat lama pada pejabat baru. Berdasarkan Keputusan Presiden RI No. 45/M/2006, tanggal 20 April 2006, Presiden RI memberhentikan dengan hormat dari jabatannya masing-masing, Hadi Purnomo sebagai Dirjen Pajak Depkeu, Eddy Abdurrachman sebagai Dirjen Bea dan Cukai Depkeu, Darmin Nasution sebagai Ketua Badan Pengawas Pasar Modal Depkeu. Berdasarkan Kepres itu pula, Presiden RI mengangkat Darmin Nasution sebagai Dirjen Pajak Depkeu, Anwar

Pelantikan Direktur Jenderal
Menkeu meminta agar Dirjen Pajak dan Dirjen Bea dan Cukai yang baru, melakukan koreksi terhadap citra buruk kedua institusi tersebut.
Supriyadi sebagai Dirjen Bea dan Cukai Depkeu, serta Ahmad Fuad Rachmany sebagai Ketua Bapepam dan Lembaga Keuangan Depkeu. Keputusan tersebut mulai berlaku sejak saat pelantikan. Acara yang berlangsung cukup hikmat tersebut dimulai pukul 10.00 WIB dan dihadiri oleh beberapa anggota DPR-RI, mantan Menkeu Marie Muhammad, pejabat eselon II dilingkungan Departemen Keuangan RI dan para undangan. Sebelum acara pelantikan dimulai, kepada pers Eddy Abdurachman mengatakan, hingga saat ini ia belum mengetahui dimana dirinya selanjutnya akan bertugas. Namun yang jelas, sebagai PNS ia siap melaksanakan perintah dimanapun ia ditugaskan. “Namun saya harapkan yang sesuai dengan kemampuan dan kapasitas saya,” imbuhnya. Saat dicegat WBC saat ingin memasuki ruang Graha Sawala, Direktur Cukai, Frans Rupang mengatakan tidak ada masalah jika institusi Bea dan Cukai dipimpin oleh orang yang bukan berasal dari karir Bea dan Cukai. Dirinya mengaku siap untuk bekerja siapapun pimpinannya. Senada dengan Frans, Direktur Kepabeanan Internasional, Kamil Sjoeib mengatakan pada WBC, bahwa tidak ada masalah jika institusi Bea dan Cukai dipimpin Anwar Supriyadi. Menurutnya, Anwar merupakan orang yang berpengalaman untuk memimpin. “Sehingga kita tinggal mendukung dan berharap semua hal yang baik dapat dilakukan,” katanya. Tak jauh berbeda dengan Kamil, Direktur Informasi Kepabeanan dan Cukai, Jodi Koesmendro mengatakan, karena ia bekerja secara professional maka dirinya siap untuk melakukan tugas siapapun pimpinannya. “Jadi siapapun pimpinannya akan kita support karena itu merupakan bagian dari tugas,” katanya.
WARTA BEA CUKAI

EDISI 378 MEI 2006

19 11

NASIONAL
WBC/ATS

rium Kantor Pusat DJBC, diselenggarakan acara malam pisah sambut Direktur Jenderal Bea dan Cukai. Acara yang berlangsung mulai pukul 19.30 WIB tersebut, dihadiri oleh pegawai bea cukai, mulai dari eselon II hingga pelaksana. Dalam pidatonya, Eddy Abdurrachman mengatakan, selama 3 tahun 7 bulan 21 hari dirinya menjabat sebagai Direktur Jenderal Bea dan Cukai, ia sadar bahwa tugas-tugas yang diemban DJBC bukanlah merupakan tugas yang ringan. “Untuk itu, saya mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya dan penghargaan yang setinggiMALAM PISAH SAMBUT. Dalam pidatonya pada acara tingginya pada seluruh pegawai bea Malam Pisah Sambut, Direktur Jenderal Bea dan Cukai, cukai. Saya juga mohon maaf yang Anwar Supriyadi didampingi oleh istri. sebesar-besar-nya jika ada Kedua, masalah kepercayaan tidak perkataan maupun tindakan saya yang hanya dari atasan pada bawahan tetapi kurang berkenan,” ujar Eddy. juga sebaliknya. Ketiga, melakukan Ia juga mengucapkan selamat datang analsis terhadap produk dari China dan pada Anwar Supriyadi sebagai Direktur Jenderal Bea dan Cukai yang baru. Ia yang terakhir membangun jaringan/ yakin, dibawah kepemimpinan Anwar, networking. “Untuk itu saya membutuhkan dukungan dan masih harus belajar DJBC akan menjadi institusi yang lebih banyak,” katanya. baik. Ia juga meminta agar seluruh Seusai Anwar memberikan kata pegawai bea cukai mendukung Anwar sambutannya, Sekretaris DJBC, Sjahril dalam melaksanakan tugasnya. Sebagai Direktur Jenderal Bea dan Djamaluddin, mewakili seluruh pegawai Cukai yang baru, dalam pidatonya Anwar bea cukai, memberikan tanda cinderamata untuk Mantan Dirjen Bea dan Supriyadi menginginkan agar para Cukai berupa gambar karikatur Eddy pegawai bea cukai tidak berlebihan Abdurrachman beserta istri. memperlakukan dirinya. Apalagi, Setelah itu Eddy dan istri, didaulat lanjutnya, saat ini masyarakat sangat berharap banyak pada Bea dan Cukai untuk mempersembahkan sebuah lagu salam hal reputasi. Ada 4 hal yang ia sebagai kenang-kenangan bagi pegawai tekankan. Pertama sebagai fasilitator, Bea bea cukai. Dengan secarik kertas contekan ditangan, Eddy pun menyanyidan Cukai harus meningkatkan kan lagu Kenangan Yang Terindah dari penerimaan dan memberikan pelayanan grup band Samsons. Alhasil, suasana pun sehingga pegawai harus berpikiran linier MALAM PISAH SAMBUT dan terus berinovasi untuk Dua hari setelah pelantikan, tepatnya menjadi meriah karena seluruh pegawai pengembangan ke arah yang lebih baik. pada Sabtu (29/4), bertempat di Auditoyang hadir pada saat itu ikut bernyanyi dan tiada henti memberikan aplaus. WBC/ATS Saat ditemui WBC disela-sela acara malam pisah sambut, Ny. Emmy Abdurrachman mengatakan, dirinya kini lega dengan berakhirnya jabatan sang suami (Eddy Abdurrachman). “Saya bersyukur pada Allah SWT atas petunjukNya selama ini, sebab jabatan sebagai Dirjen itu bukan suatu pekerjaan yang ringan,” ucapnya. Saat ini dukungan yang ia berikan pada suami tetap seperti biasa. “Dari awal saya selalu mendukung suami, jadi begitu tugas bapak di Bea dan Cukai selesai, tetap saya dukung,” lanjutnya. Disinggung mengenai jabatannya yang juga telah berakhir sebagai Ketua Dharma Wanita Persatuan DJBC, ia berharap dan yakin bahwa dibawah kepemimpinan Ny. Anwar Supriyadi, Dharma Wanita akan lebih bagus dari sebelumnya. “Saya berpesan pada ibu-ibu Dharma Wanita yang dulu pernah mendukung dan membantu saya, hendaknya mereka juga mendukung Ny. Anwar tanpa ada perbedaan,” katanya di CINDERAMATA. Dengan diwakili oleh Sekretaris DJBC, seluruh pegawai bea cukai memberikan akhir wawancara. ifa cinderamata berupa gambar karikatur Eddy Abdurachman dan istri. Dalam sambutannya, Menkeu Sri Mulyani meminta kepada Darmin Nasution dan Anwar Supriyadi agar melakukan koreksi terhadap citra buruk kedua institusi tersebut, serta menjawab kritik dengan perbaikan. (Selengkapnya mengenai sambutan Menkeu pada acara pelantikan dapat di baca mulai hal. 21-red) Usai pelantikan, Direktur Jenderal Bea dan Cukai Anwar Supriyadi kepada pers mengatakan, program jangka pendek yang akan dilakukannya adalah meneruskan apa yang telah dilakukan oleh Dirjen yang terdahulu tetapi dengan melakukan beberapa perbaikan. “Kita butuh check and balancing dari stakeholder karena terus terang, kritik dari masyarakat dan stakeholder sangat diperlukan,” tambahnya. Ketika ditanya oleh pers mengenai banyaknya pejabat bea cukai yang korup, Anwar mengatakan kalau memang hal itu terbukti akan segera ditindak. “Saya juga mohon ijin karena saya baru dilantik jadi saya masih harus banyak belajar,” lanjutnya. Disinggung mengenai biaya operasional yang selalu kurang dalam hal pengawasan, Anwar menjawab akan mengoptimalkan apa yang ada. Baginya yang terpenting adalah memperbaiki citra Bea dan Cukai. Untuk melakukan penertiban terhadap pimpinan bea cukai ia mengatakan akan memulainya dari dirinya sendiri. “Kalau saya bisa tertib insya Allah kebawahnya akan lebih mudah. Sesuai arahan ibu menteri, jangan karena kita memiliki kewenangan lantas kita tidak memiliki batasan. Yang paling penting kita memperbaiki negeri ini, selama kita tertib hukum atau aturan maka kita semua akan selamat,” imbuhnya. 20 12
WARTA BEA CUKAI EDISI 378 MEI 2006

Sambutan Menteri Keuangan
Assalamuallaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh, dan salam sejahtera bagi kita semua. Yang terhormat, 1. Pimpinan dan anggota Komisi XI DPR RI; 2. Pimpinan dan anggota Panitia Anggaran DPR RI; 3. Para Menteri Koordinator dan Menteri Kabinet Indonesia Bersatu; 4. Para Mantan Menteri dan Senior 5. Pejabat Eselon I dan II di lingkungan Departemen Keuangan; 6. Perwakilan Kamar Dagang dan Industri; 7. Para Pelaku Pasar Modal, Direktur Perbankan dan Asuransi; 8. Serta para hadirin yang berbahagia,

PADA UPACARA PELANTIKAN DAN SERAH TERIMA JABATAN DIRJEN PAJAK, DIRJEN BEA CUKAI DAN KETUA BADAN PENGAWAS PASAR MODAL DAN LEMBAGA KEUANGAN

P

ertama-tama mari kita panjatkan puji dan syukur kehadirat Allah SWT karena atas izin Nya dan hidayat Nya lah kita bisa berkumpul pada hari ini dalam acara serah terima jabatan Direktur Jenderal Pajak, Direktur Jenderal Bea dan Cukai serta Ketua Badan Pengawas Pasar Modal (Bapepam) dan Lembaga Keuangan. Acara ini adalah sebuah peristiwa yang amat penting didalam kelanjutan proses reformasi kelembagaan di lingkungan Departemen Keuangan pada khususnya dan reformasi ekonomi di Indonesia pada umumnya. Bapak Ibu hadirin yang saya hormati; Kondisi perekonomian kita saat ini masih belum pulih setelah kenaikan harga BBM dan berbagai guncangan bencana tahun lalu yang kinipun masih terus berlangsung. Pertumbuhan melambat menghalangi upaya pengentasan kemiskinan dan penciptaan kesempatan kerja. Tekanan harga minyak dunia dan agenda persoalan yang merupakan warisan masa lalu menjadi tantangan berat bagi pemerintah. Di pihak lain situasi keuangan internasional yang cenderung jinak dengan melimpahnya likuiditas global yang luapannya juga mengimbas pada perekonomian telah menyebabkan indeks harga saham dan mata uang Rupiah menguat secara dramatis. Tentu hal ini juga disebabkan karena daya tarik perekonomian Indonesia yang dianggap memiliki potensi besar untuk tumbuh cukup tinggi dan kepercayaan pelaku ekonomi yang mulai terbangun baik terhadap arah kebijakan ekonomi, maupun implementasi kebijakan yang dianggap konsisten dan membaik. Pemerintah masih perlu terus waspada, karena situasi keuangan global tidak akan selamanya ramah.
EDISI 378 MEI 2006 WARTA BEA CUKAI

21 13

WB C/A TS

NASIONAL
Kecenderungan suku bunga internasional dan harga minyak yang cenderung terus meningkat, dan ketidakseimbangan ekonomi global yang belum menemukan solusi yang kredibel akan terus menjadi ancaman konstan bagi manajemen ekonomi kita. Ketrampilan reaksi kebijakan ekonomi dalam takaran dan waktu yang tepat akan sangat menentukan kemampuan ekonomi kita untuk bertahan dalam situasi yang tidak pasti. Untuk itu koordinasi, kerjasama, dan komunikasi yang jernih dan baik antar pembuat kebijakan baik fiscal, moneter maupun sektoral makin menjadi sangat penting. Sejarah juga mengajarkan daya tahan ekonomi domestik akan semakin tinggi bila perekonomian dikelola secara fleksibel, dan institusi ekonomi memiliki fondasi yang kuat. Di bidang pembangun institusi ini, Indonesia masih jauh tertinggal dan harus bekerja sangat keras. Bapak Ibu para hadirin yang saya hormati; fungsi jabatan Pajak dan Bea dan Cukai. Dengan sendirinya kekhususan atau keunikan karakter ini juga melekat pada pejabatnya termasuk dan terutama pada kedua Dirjen. Ada dua hal melekat atau inheren di dalam fungsi pekerjaan Pajak dan Bea Cukai. Yang pertama adalah fungsi pengaturan dengan menggunakan kewenangan atau kekuasaan yang dalam bidang pajak, bea dan cukai tingkat kekuasaan dan kewenangan tergolong sangat besar. Yang kedua adalah fungsi pelayanan, melayani publik. Sifat yang antagonistic pada kedua fungsi “kembar” itu, harus dijalankan sekaligus secara sejajar dan searah. Melayani, dan menggunakan kekuasaan terhadap pihak yang dilayani. Pihak yang dilayani memang akan sulit merasa nyaman ketika dihadapkan pada kekuasaan dan kewenangan berdasarkan aturan yang koersif, ketat, dan besar yang dapat digunakan/wajib digunakan untuk memaksa pembayaran bagi para wajib pajak atau wajib bea/cukai. Praktek yang dikeluhkan dan selalu menjadi pusat sorotan terhadap kita adalah dalam menjalankan tugasnya aparat pajak dan bea cukai lebih atau bahkan hanya menonjolkan aspek wewenang pengaturan/ kekuasaan saja dan bukan pada pelayanan. Bahkan sering terdengar kritik bahwa wewenang dan kekuasaan tersebut tidak jarang juga disalahgunakan/diselewengkan untuk kepentingan pribadi.

Salah satu masalah besar yang dihadapi bangsa ini, adalah kelemahan dalam kelembagaan. Kita mencatat berbagai kendala birokrasi, masih meluasnya korupsi, belum berjalannya good governance dan tak efektifnya birokrasi. Birokrasi kerap dianggp sebagai beban dan penghalang, bukan regulator yang menjamin interaksi pelaku pasar secara adil dan efisien. Tentu persoalan ini tidak semata-mata kesalahan birokrat itu sendiri. Kinerja dan tingkah laku institusi dan personelnya tidak terlepas dari system insentif, aturan, konsistensi pelaksanaan (enforcement), kelengkapan untuk saling mengontrol (check and balTAK ADA ances), kepemimpinan, dan bahkan kultur yang melingkupinya. Artinya bila kita serius RUANG BAGI untuk melakukan reformasi kelembagaan, SIKAP BUSImaka keseluruhan aspek tersebut harus dimasukkan dalam agenda reformasinya.

Tugas Dirjen baru Bapak Darmin Nasution sebagai Dirjen Pajak, dan Bapak Anwar Supriadi sebagai Dirjen Bea Cukai adalah melakukan koreksi terhadap citra buruk tersebut dan menjawab kritik dengan perbaikan. Tuntutan masyarakat terhadap NESS AS mutu dan kecepatan layanan makin tinggi, yang harus dijawab dan dipenuhi tanpa Reformasi di lingkungan Direktorat USUAL penundaan. Paradoks melayani publik Jenderal Pajak yang telah dilakukan selama dengan memakai kekuasaan, atau pemegang ini seperti penerapan modernisasi kantorkekuasaan justru melayani, adalah asas atau semboyan kantor pajak, pembenahan administrasi dan sistem yang jadi dasar bagi abdi negara, abdimasyarakat, informasi/data base, penerapan code of conduct dan civilservant. Pemenang Nobel ekonomi Amartya Sen pelaksanaan penalti/hukuman bagi aparat yang menyebutnya Hukum Pelayanan The law of Service yaitu menyalahi aturan sudah dimulai. Pada Direktorat : He who wishes to live long must serve, but he who Jenderal Bea dan Cukai, sejalan dengan upaya wishes to rule does not live long. peningkatan efisiensi dan percepatan arus barang, kita melihat upaya perbaikan didalam sistem pelayanan, Saya menekankan hanya yang memahami “dualisme” pengurangan jalur merah, peningkatan jalur hijau dan sifat fungsi jabatan ini dan berusaha menjalankannya prioritas dan upaya membuat national single window. dengan seimbanglah yang pantas menjadi pelaksana dan Semua itu telah membuahkan beberapa hasil seperti pejabat pajak dan bea cukai. Dan saya memiliki harapan peningkatan perolehan pajak, bea cukai dari tahundan sekaligus mempercayai bahwa kedua pejabat baru ketahun yang patut kita hargai. Untuk itu kepada Bapak memiliki pemahaman yang sangat dalam tentang Hadi Purnomo dan Bapak Eddy Abdurrachman saya dualisme tersebut. Konsekwensi dari pemahaman misi sampaikan penghargaan dan terima kasih atas nama diatas adalah reformasi pajak dan bea cukai harus pemerintah yang setinggi-tingginya terhadap semua diarahkan ke tujuan mengubah sikap, memilih kembali pengabdian, kerja keras serta usaha perbaikan didalam (seleksi dan deseleksi), dan hanya memakai pelaksana Direktorat Jenderal Pajak dan Direktorat Jenderal Bea dan pejabat pajak maupun bea cukai yang sadar akan dan Cukai selama ini. Pengabdian dan sumbangan kerja dualisme sifat dan fungsinya tersebut, yaitu melayani keras kedua pejabat tersebut masih dibutuhkan dan tentu publik, dan memakai kekuasaan justru untuk pelayanan tidak terhenti atau berhenti dengan selesainya jabatan di publik dan kepentingan anggaran negara. Inilah tugas kedua instansi ini. reformasi yang harus dilaksanakan oleh kedua DJ baru secara sistematis, efektif, dan dalam waktu singkat. Namun kita masih mencatat begitu banyak persoalan yang harus diatasi, terutama berkaitan kekecewaan Sejalan dan mendukung langkah fundamental diatas, masyarakat pada sisi pelayanan dan rendahnya telah saya gariskan langkah-langkah yang perlu dilakukan kepercayaan pelaku ekonomi terhadap fungsi, peran, dan pertama, pemisahan antara perumusan kebijakan dengan kinerja kedua instansi penting di departemen keuangan pelaksanaan atau pengadministrasian perpajakan dan tersebut. kepabeanan serta cukai, kedua, penyesuaian (modernisasi) organisasi internal kantor pusat dan kanwilKhusus untuk Direktorat Jenderal Pajak dan Bea kanwil di daerah dengan mefokuskan pada pembenahan Cukai, saya minta untuk dipahami dengan kesadaran administrasi dan aparat dengan focus pada perbaikan tinggi – mengenai karakter khusus yang melekat pada 22 14
WARTA BEA CUKAI EDISI 378 MEI 2006

pelayanan kepada wajib pajak dan ketiga, penggunaan semaksimal mungkin teknologi informasi untuk menghindari pertemuan antara wajib pajak dan importir dengan petugas atau pejabat pajak dan bea cukai.

Bapak Darmin Nasution, Bapak Anwar Supriadi, Bapak Fuad Rahmani,

Kita berhadapan dengan ekspetasi dari masyarakat begitu tinggi, dan skeptisime yang sangat kental karena begitu dalam dan mengakarnya persoalan yang harus kita Saya juga meminta kepada kedua Dirjen tersebut tangani. Tak ada ruang bagi sikap business as usual. untuk segera mengawal proses amandemen UU KUP, Jadikanlah reformasi didalam Direktorat Jenderal Pajak, PPh, PPN, Kepabeanan dan Cukai yang telah diserahkan Bea Cukai dan Bapepam dan Lembaga Keuangan dan sedang dibahas di DPR. Khusus untuk paket RUU sebagai titik awal untuk reformasi yang lebih jauh dan Pajak, Beberapa waktu lalu telah disepakati rumusan menyeluruh. Dengan ini, pemulihan ekonomi dapat kita amandemen RUU bertujuan untuk menciptakan jaga momentumnya dan langkah untuk mencapai impian keseimbangan dalam menjaga dan melindungi hak para bangsa dapat kita kokohkan. Sejarah akan mengenang wajib pajak disatu sisi dan tetap menjaga kewenangan/ keberhasilan seseorang bukan hanya karena apa yang ia kekuasaan aparat Pajak yang harus digunakan secara lakukan, tetapi juga karena hal-hal yang justru tidak bijaksana dan akuntabel. Saya meminta kedua Dirjen dilakukannya—seperti menahan diri untuk tidak menyalah untuk memulai kembali dan menyelesaikan secara segera gunakan wewenang. Langkah untuk pemerintahan yang pembahasan kelima amandemen UU tersebut, yang bersih dapat diawali dari institusi yang saudara-saudara merupakan tonggak reformasi di bidang perpajakan, pimpin. Reformasi ekonomi bukanlah sebuah jalan yang kepabeanan dan cukai untuk meningkatkan kepatuhan mudah. Reformasi tak pernah memberikan hasil yang perpajakan dan memperbaiki iklim investasi. seketika, sementara pengorbanan datang dengan segera. Itu sebabnya, reformasi kerap menimbulkan kekecewaan Bapak Ibu dan hadirin yang saya hormati; didalam prosesnya. Kemampuan mengelola ekspektasi dan mengelola kekecewaan merupakan tantangan Proses perbaikan sector riil dalam menghadapi kepemimpinan yang harus saudara-saudara hadapi. Kita tantangan yang berat erat kaitannya dengan dukungan tidak memerlukan ide-ide baru apalagi yang muluk-muluk dari sektor finansial dan pasar modal. Peran Bapepam untuk menyelesaikan masalah structural kelembagaan, dan lembaga keuangan baik perbankan dan juga non yang kita perlukan adalah ketelatenan, konsistensi, bank amat strategis dan saling melengkapi. Berbagai ketegaran dan keteladanan untuk dapat usaha perbaikan bidang pasar modal, pasar mencabut kebiasaan buruk yang sudah obligasi dalam negeri, dan lembaga mengakar. Seperti John Maynard Keynes, keuangan non bank seperti asuransi, dana ...IMPIAN ekonom terbesar abad 20 pernah menulis: pensiunan, dan lembaga pembiayaan telah yang sulit bukanlah memunculkan ide diidentifikasikan dan diformulasikan dalam KITA YAITU baru, tapi menghilangkan ide lama yang program kerja kita. INDONESIA telah terpaku dibenak kita. Kepada Bapak Darmin Nasution, saya YANG Jabatan publik adalah amanah yang sampaikan penghargaan saya yang setinggimempunyai sisi kewenangan dan tanggung tingginya dan terima ksih untuk dedikasinya LEBIH BAIK jawab. Sumpah yang telah diucapkan adalah selama menjabat Ketua Bapepam dan ikrar untuk menjaga konsistensi tingkah laku, Direktur Jenderal Lembaga Keuangan. judgement, dan kebijakan dan keputusan yang harus kita Pembangunan integritas dan kredibilitas pasar modal, ambil dan laksanakan yang harus dipertanggungjawabkan perkembangan dan pendalaman pasar obligasi, serta kepada masyarakat luas. pembangunan industri dan regulator yang handal di bidang jasa keuangan non bank masih jauh dari tingkat Bapak Ibu para hadirin yang saya hormati yang dibutuhkan oleh perekonomian kita agar dapat maju dan berkembang kedepan maupun disbanding negaraKita memiliki cita-cita tentang Indonesia Indonesia negara tetangga yang setara dengan kita. Tugas inilah yang lebih sejahtera dengan ekonomi yang kuat dan lebih yang harus diemban dan diakselerasi oleh pejabat baru baik. Cita-cita itu masih jauh, terlihat dari persoalanBp. Fuad Rahmany di posisinya yang baru. persoalan yang setiap hari terkuak di depan mata kita. Kekecewaan, keprihatinan, dan kemarahan atas realita Saudara Fuad Rachmany bukanlah orang yang baru di yang masih jauh dari impian memberikan satu pesan saja dunia pasar modal. Sebelum menjabat sebagai salah yakni kita masih harus banyak belajar, dan kita mesti satu Deputi di Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi bekerja lebih keras dan cerdas untuk memperbaiki negeri (BRR) NAD, saudara Fuad adalah Kepala Pusat ini. Indonesia akan menjadi dewasa, ketika harapan Manajemen Obligasi Negara (PMON) di Departemen harus beradaptasi dengan kenyataan. Sejarah pada Keuangan. Saya harapkan penyesuaian ke pengelolaan akhirnya adalah sebuah kronologi tentang kekeliruan. pasar modal tidak membutuhkan waktu yang terlalu lama. Dari kekeliruan itulah perbaikan dilakukan. Kepada pak Fuad saya menginginkan hal-hal sebagai berikut; pertama, segera melakukan konsolodasi kedalam Di hari depan, generasi mendatang akan melakukan dan penyelesaian organisasi internal Bapepam dan rendezvous dengan sejarah untuk mengevaluasi tindakan lembaga keuangan, kedua, siapkan strategi kita hari ini. disana penilaian akan diberikan: apakah yang pengembangan pasar modal kedepan dan benahi kita lakukan hanyalah sekedar untuk menyelesaikan lembaga keuangan bukan bank sehingga menjadi asset persoalan hari ini, atau ia adalah sebuah langkah untuk yang kokoh bagi pengembangan sektor keuangan secara Indonesia masa depan, seperti impian kita yaitu Indonekeseluruhan yang harus bisa dituangkan dalam paket sia yang lebih baik. kebijakan yang terukur dan termonitor, ketiga, tingkatkan integritas regulasi pasar modal dan lembaga keuangan Terima kasih. yang disegani dan tidak memihak serta memberikan perlindungan yang kredibel kepada para palaku pasar Wassalam mualaikum wr.wb modal terutama para pemodal kecil. Sebagai lembaga menjadi ‘watch dog’, Bapepam harus memposisikan Dr. Sri Mulyani Indrawati sebagai wasit yang professional dan bersih serta jujur.
EDISI 378 MEI 2006 WARTA BEA CUKAI

23 15

KEPABEANAN INTERNASIONAL
DOK. KP-DJBC

FOTO BERSAMA. Delegasi DJBC berfoto bersama dengan peserta pertemuan dari ICA.

The First Bilateral Meeting
Antara DJBC-ICA
P
ertemuan Bilateral Pertama antara Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) dan Immigration and Checkpoints Authority (ICA) Singapura telah dilakukan di Singapura pada tanggal 20-22 Maret 2006. Pertemuan pertama ini dimaksudkan untuk meretas jalan menuju pengembangan hubungan dan kerjasama yang konstruktif bagi kedua institusi penegakan hukum ini ke depan, terutama dalam menanggapi perkembangan lingkungan yang berkaitan dengan aspek perdagangan dan keamanan. Dipimpin oleh Direktur Jenderal, Eddy Abdurrachman, delegasi DJBC terdiri dari Direktur Pencegahan dan Penyidikan, Endang Tata, Direktur Kepabeanan Internasional, Kamil Sjoeib, Atase Beacukai di Singapura, Hendra Prasmono, dan Kasi Pencegahan II, Ambang Priyonggo. Selaku tuan rumah, selain Komisioner Eric Tan Chong Sian turut hadir pula dalam pertemuan ini para pejabat teras dan sejumlah komandan operasional ICA. Beberapa aspek kerjasama telah
WARTA BEA CUKAI

Delegasi Indonesia juga berkesempatan untuk meninjau secara langsung berbagai fasilitas dan sistem kerja di lapangan.
dikemukakan dalam pertemuan tiga hari tersebut namun masih dalam tahap penjajagan. Untuk meningkatkan saling pengertian atas tugas dan wewenang masing-masing pihak, pada kesempatan tersebut delegasi ICA menjelaskan tentang latar belakang pembentukan organisasi tersebut, susunan organisasi dan mekanisme kerja termasuk dalam hubungan mereka dengan institusi penegak hukum lainnya di negara itu seperti misalnya dengan Singapore Customs. Delegasi Indonesia juga berkesempatan untuk meninjau secara langsung berbagai fasilitas dan sistem kerja di lapangan. ICA berdiri pada 1 April 2003 sebagai salah satu langkah tanggap Singapura terhadap potensi ancaman menyusul peristiwa serangan 11 September 2001 di Amerika Serikat. ICA berada di bawah Departemen Dalam Negeri dan merupakan peleburan dari institusi Imigrasi dan bagian fungsi penegakan (enforcement) perbatasan dari Bea Cukai Singapura. ICA bertanggungjawab atas pengawasan perbatasan Singapura atas orang, barang, dan sarana pengangkut. Dengan adanya ICA, Bea Cukai Singapura tetap berada di bawah Departemen Keuangan dan menangani masalah administratif kepabeanan dan cukai. Sebelum dengan ICA, DJBC telah menjalin hubungan baik dengan Bea Cukai Singapura baik secara bilateral maupun dalam konteks kerjasama kepabeanan ASEAN. DJBC juga mengadakan kerjasama dengan Central Narcotics Bureau (CNB) Singapura. DJBC-CNB telah mengadakan pertemuan bilateral sebanyak empat kali sejak tahun 2001 dan membuahkan sejumlah kerjasama seperti pertukaran informasi pencegahan narkoba dan training. Sebelum menjabat Komisioner ICA, Eric Tan adalah Direktur CNB sehingga diharapkan dengan kedudukan barunya ini kerjasama DJBC-ICA dapat berkembang dengan cepat di masa mendatang.
Ambang Priyonggo.Kasie Pencegahan II/ZAP

24 8

EDISI 378 MEI 2006

PENGAWASAN

Mercedes Benz S320
P
etugas bea dan cukai Tanjung Priok III berhasil menegah masuk mobil Mercedes Benz tipe S320 ilegal yang didatangkan dari Singapura. Hal ini disampaikan Kepala Seksi Pencegahan dan Penyidikan (Kasi P2) Kantor Pelayanan Bea dan Cukai (KPBC) Tanjung Priok III Cerah Bangun pada acara press release hasil tangkapan pada 31 Maret 2006 di KPBC Tanjung Priok III Jakarta. Menurut Cerah, para pelaku memalsukan dokumen surat persetujuan pengeluaran barang (SPPB) milik importir jalur hijau. Pemalsuan ini masih menurutnya agar pelaku dapat mengelak melakukan pembayaran bea masuk, pajak dalam rangka impor dan menghindar dari kewajiban lainnya. Cerah mengatakan pada uraian barang yang terdapat pada dokumen manifes disebutkan, kontainer berisi 1 lot orchid red powder seberat 18.500 Kg dari pelabuhan asal yaitu Singapura dengan importir PT. ACE di Jakarta. Sedangkan pada kenyataannya kontainer tersebut berisi satu unit mobil Mercedes Benz S320 dengan kondisi baru. Indikasi adanya upaya penyelundupan tersebut, berawal ketika petugas melihat adanya kecurigaan atas kode kantor pada SPPB yang dimaksud, yang kemudian ditindak lanjuti dengan kegiatan intelejen yang dilakukan oleh petugas P2 dilapangan dengan cara melakukan pengintaian terhadap pergerakan kontainer yang dicurigai. Kontainer tersebut diangkut dengan menggunakan truk dengan nomor polisi B 9032 JH menuju jalan raya Cakung Cilincing, dari unit terminal peti kemas satu Jakarta International Container Terminal (UTPK I JICT). Pergerakan kontainer tersebut menurut Cerah, terhenti di gudang PT. E yang terdapat di jalan Raya Cakung Cilincing KM 10, Jakarta Utara yang kemudian ditindaklanjuti dengan pembongkaran oleh petugas P2.”Setelah dilakukan pembongkaran kontainer tersebut, ternyata berisi

GAGAL DISELUNDUPKAN KE INDONESIA
Pada dokumen PIB dinyatakan kontainer berisi orchid red powder, dengan pelabuhan asal Singapura.
WBC/ZAP

CERAH BANGUN. para pelaku memalsukan dokumen dokumen surat persetujuan pengeluaran barang (SPPB) milik importir jalur hijau.

BARANG BUKTI. Mercedes Benz S320 yang kini ditahan oleh petugas KPBC Tanjung Priok III.

satu unit Mercedes Benz tipe S320 baru,”ujar Cerah kepada pada wartawan. Untuk tindakan pengamanan petugas P2 menarik WBC/ZAP kontainer tersebut ke halaman KPBC Tanjung Priok III, sementara untuk kepentingan penyidikan dan penyelidikan petugas mengamankan sopir beserta awak truk yang mengangkut kontainer tersebut. Sedangkan importir ‘nakal’ tersebut, menurut Cerah pihaknya masih melakukan pengejaran. Nilai barang yang diselundupkan menurut Cerah mencapai Rp.1,2 miliar, masih menurutnya tindakan importir ‘nakal’ tersebut memenuhi unsur-unsur pada pasal 102 UndangUndang nomor 10 tahun 1995 tentang Kepabeanan, dengan ancaman pidana penjara paling lama delapan tahun penjara atau denda paling banyak Rp. 500 juta. zap
WARTA BEA CUKAI

EDISI 378 MEI 2006

25

PENGAWASAN

Satgas AI
U
ntuk yang ketiga kalinya di tahun 2006 ini, satgas Airport Interduction (AI) bandara Soekarno-Hatta berhasil menegah ribuan butir ekstasi siap edar yang dikemas ke dalam dua kotak susu Dancow. Tersangka yang diduga seorang kurir ini mengakui mendapatkan barang haram tersebut dari Jakarta untuk diedarkan di Pekanbaru dan Batam. Keberhasilan satgas AI ini tidak telepas dari upaya pengawasan yang ekstra ketat terhadap peredaran barang-barang psikotropika dimana kini Indonesia sudah menjadi negara produsen akan barang-barang haram tersebut. Kecurigaan petugas terhadap 4.919 butir ekstasi siap edar ini, berawal dari pemeriksaan oleh seorang petugas Angkasa Pura pada 8 April 2006 lalu, yang sedang melakukan pemeriksaan di terminal 2 F terhadap para penumpang Garuda

Tegah 4.919 Butir Ekstasi
Untuk mengelabui petugas, ribuan butir ekstasi siap edar dikemas ke dalam dua kotak susu yang dicampur dengan kopi dan makanan ringan lainnya.
Menurut Kepala Kantor Pelayanan Bea dan Cukai Tipe A Khusus Soekarno-Hatta, Achmad Riyadi, hasil tegahan ini merupakan yang ketiga kalinya di tahun 2006 ini, dimana tegahan pertama ditemukan pada penumpang di terminal internasional dan yang kedua melalu kargo. “Hasil ini merupakan upaya dan kerja keras satgas AI terhadap peredaran barang-barang psikotropika. Dengan koordinasi yang baik terhadap masing-masing unit, maka pengawasan yang selama ini dilakukan telah menunjukan hasil yang positif,” papar Achmad Riyadi. Sementara itu menurut Kasat Narkoba Polres bandara SoekarnoHatta, Agung Dewo, tersangka yang kini masih dalam proses pengembangan penyidikan, mengakui kalau barang haram tersebut didapatkan dari Jakarta dan akan diedarkan di wilayah Pekanbaru dan Batam. “Kita masih meWBC/ATS ngejar dua tersangka lagi yang di Pekanbaru dengan inisial A sedangkan yang di Batam juga berinisial A. Sedangkan tersangka yang sudah kita dapatkan untuk sementara waktu masih dalam status kurir bukan bandar, untuk itu kita akan mengembangkan terus kasus ini hingga mendapatkan kedua tersangka lainnya tersebut,” jelas Agung Dewo. Akan perbuatannya ini, tersangka dinyatakan telah melanggar pasal 60 Undang-Undang no. 5 tahun 1997 tentang psikotropika dengan ancaman hukuman 5 tahun penjara dan denda paling banyak Rp 100.000.000 (seratus DALAM KEMASAN SUSU. Kepala Kantor Pelayanan Bea dan Cukai Tipe A khusus Soekarno-Hatta, Achmad Riyadi bersama juta rupiah). adi tersangka dan petugas, saat membuka barang bukti ribuan butir ekstasi yang dikemas ke dalam kotak susu.
WARTA BEA CUKAI EDISI 378 MEI 2006

yang akan menuju Pakanbaru. Saat memeriksa barang bawaan milik Jonni warga Tanjung Pinang dengan X-Ray, petugas merasa curiga akan empat kantung plastik yang dikemas ke dalam dua kotak susu dan di campur dengan kopi dan makanan ringan lainnya. Berdasarkan kecurigaan itu, petugas langsung memeriksa barang bawaan tersebut dan kedapatan di dalam dua kotak susu tersebut terdapat 4.919 butir ekstasi yang siap pakai. Dengan tegahan ini petugas posko security Angkasa Pura langsung menahan tersangka dan menginformasikannya kepada pihak Bea dan Cukai untuk selanjutnya melakukan pemeriksaan ribuan butir ekstasi tersebut dengan narkotes. Dari hasil pemeriksaan dengan narkotes menunjukan kalau barang tersebut positif Amphetamin yang merupakan psikotropika golongan II.

26

DAERAH KE DAERAH
WBC/ADITO WBC/ADITO

RAKERWIL. Demi tercapainya pemenuhan terget penerimaan yang telah ditetapkan, Kanwil VIII DJBC Denpasar membahas segala persoalan yang dihadapi dalam forum Rakerwil.

FOTO BERSAMA. Kakanwil berserta seluruh jajaran pejabat di Kanwil VIII DJBC Denpasar berfoto bersama disela acara Rakerwil.

Rapat Kerja
L
irik di atas adalah sebagian dari bait pada Lagu Mars Bea dan Cukai yang pagi itu dilantunkan oleh Paduan Suara Wilayah VIII bersama dua lagu lainnya yakni Bagimu Negeri dan Bravo Charlie 8 pada acara pembukaan Rapat Kerja Wilayah VIII yang berlangsung pada hari Senin 27 Maret 2006 di Aula Kanwil VIII DJBC Denpasar. Acara reguler yang biasanya diselenggarakan tiap tahun ini, dihadiri oleh seluruh Kepala Kantor Pelayanan Bea dan Cukai yang berada dibawah pengawasan dan koordinasi Kantor Wilayah VIII Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Denpasar yaitu : KPBC Tipe A Ngurah Rai, KPBC Tipe C Benoa, KPBC Tipe C Mataram, KPBC Tipe C Bima, KPBC Tipe C Maumere, KPBC Tipe C Kupang dan KPBC Tipe C Atapupu. Dalam sambutannya ketika membuka acara, Kepala Kantor Wilayah VIII Heryanto Budi Santoso,SH,MM, menyampaikan pentingnya acara ini sebagai sarana untuk melakukan koordinasi dan pembahasan terhadap berbagai persoalan yang dihadapi oleh semua jajaran Bea dan Cukai Wilayah VIII serta untuk mencari solusi yang terbaik untuk menyelesaikannya. Hal ini selaras dengan tema Rakerwil tahun 2006 yaitu : “ Dengan Semangat Profesionalisme dan Kebersamaan Kita Optimalkan Pelayanan dan Pengawasan Kepabeanan dan Cukai” ,sehingga pada

KANTOR WILAYAH VIII DJBC DENPASAR
Bea Cukai kebanggaanku...Visimu jalari jiwaku...misimu aliri darahku...strategimu derap langkahku…seiring puji untuk Tuhan yang Esa...sembahkan bhakti adipura...dan amanat kita tuntaskan...maju terus Bea dan Cukai...
akhirnya apa yang kita inginkan yaitu “To be number one” dapat terwujud dengan memberikan pelayanan yang terbaik kepada para stake holder dengan motto “Give Sex’s” atau Give Smart and excellent services” Tampil sebagai pembicara pertama dalam kesempatan ini adalah Kepala Bagian Umum Kanwil VIII I Wayan Pasek Utara,SH. Dalam pemaparannya berkaitan dengan permasalahan Umum, Ia menekankan bahwa permasalahan aktual yang dihadapi bagian umum diseluruh wilayah VIII adalah kesulitan dalam pelaksanaan DIPA (Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran) yang merupakan sebuah sistem baru dalam sistem akuntansi pemerintah, masalah ketersediaan SDM (Sumber Daya Manusia) yang belum memadai baik secara kualitas maupun secara kuantitas, dan masalah ketersediaan sarana dan prasarana yang digunakan untuk menunjang pelaksanaan tugas pelayanan dan pengawasan. Permasalahan Pengawasan merupakan topik yang dibahas pada kesempatan kedua, dan tampil sebagai pembicara adalah Kepala Bidang Verifikasi dan Audit sekaligus Pemangku Jabatan Sementara Kepala Bidang Pencegahan dan Penyidikan Kanwil VIII DJBC Denpasar Ir. Aziz Syamsu Arifin. Keterbatasan persediaan sarana penunjang seperti X-Ray, Radio Komunikasi, Kapal Patroli, narkotest, dan kurang

optimalnya pemanfaatan Unit Anjing Pelacak Narkotika serta masalah perijinan Senjata Api Dinas menjadi masalahmasalah sentral yang diangkat didalam pembahasan masalah Pengawasan. Hampir semua masalah tersebut diatas dihadapi oleh Kepala Kantor Pelayanan Bea dan Cukai dilingkungan Kanwil VIII. Pada hari kedua tanggal 28 Maret 2006 pejabat dari KP DJBC dijadwalkan akan memberikan penyegaran dalam acara penanggulangan narkotika dan penggunaan narcotest. Sementara itu dari segi pelayanan, sebagaimana yang diungkapkan oleh Ngadiman,SH Kepala Bidang Kepabeanan dan Cukai, persoalan yang dihadapi adalah kekuatiran akan tidak tercapainya target penerimaan sebagaimana yang dibebankan oleh Negara kepada Kanwil VIII DJBC Denpasar secara umum dan masing-masing KPBC sewilayah VIII pada tahun 2006. Permasalahan ini diakibatkan oleh perubahan regulasi dan kebijakan yang diambil oleh pemerintah serta tren kegiatan ekspor dan impor yang tampaknya mengalami penurunan. Namun demikian semua jajaran Bea dan Cukai Kanwil VIII dituntut untuk bekerja keras guna memenuhi target penerimaan dan lebih dari itu untuk mewujudkan komitmen bersama memberikan pelayanan yang terbaik bagi masyarakat dan dunia usaha. Sebagai Moderator yang memandu jalannya diskusi dalam Rakerwil kali ini adalah Kepala Kantor Wilayah VIII DJBC Denpasar. Dalam kata penutupnya, sekali lagi Kakanwil VIII DJBC Denpasar menekankan pentingnya koordinasi dan diskusi untuk mencari solusi terbaik bagi setiap permasalahan yang dihadapi serta membangun kepercayaan diantara pegawai Direktorat Jenderal Bea dan Cukai. Akhirnya Kakanwil juga menyampaikan ucapan terima kasih kepada semua pihak yang telah bekerja keras untuk mempersiapkan Acara Rakerwil tersebut. Viva Bravo Charlie 8 . adito, denpasar
WARTA BEA CUKAI

EDISI 378 MEI 2006

27

DAERAH KE DAERAH

SAMPIT
Kota Sampit terletak di tepi Sungai Mentaya. Dalam bahasa Dayak Ot Danum, Sungai Mentaya itu disebut batang danum kupang bulau (Masdipura, 2003).
juga mulai berdatangan dan menetap disana. Namun sesuai kepercayaan masyarakat Cina, bahwa suatu kota harus dibangun menghadap arah matahari terbit. Sedangkan Seranau menghadap matahari terbenam, yang menurut perhitungan hongsui Cina dianggap kurang baik. Karena itulah, mereka lantas membangun pemukiman baru di seberang Seranau (Sampit sekarang) yang menghadap ke arah matahari terbit. Versi III : Kata “Sampit” berasal dari nama orang pertama yang membuka lahan hutan untuk berladang dan mendirikan tempat tinggal pada tahun 1800-an di sekitar Baamang sekarang. Ini dapat dilihat dari sebuah makam keramat di Baamang Tengah yang bertuliskan nama Djungkir bin Sampit. Makam orang yang bernama Sampit itu sendiri dapat ditemui di Desa Basirih, Kecamatan Mentaya Hilir Selatan. (Seperti yang diceritakan sendiri oleh Dachri bin Djungkir bin Sampit). saat itu yakni areal di belakang Golden dan Kodim saat ini. (Masdipura 2003) Versi II : Pada 1795-1802 terjadi peperangan sengit antara Belanda melawan Inggris. Hal ini mengakibatkan terjadi pemindahan pemukiman warga/penduduk ke pedalaman, tepatnya ke Kota Besi. Pemindahan itu tak terlepas dari adanya gangguan para bajak laut terhadap desa-desa di muara Sungai Mentaya. Pada 1836, eskader Belanda akhirnya dapat menghancurkan gerombolan bajak laut pimpinan Koerwadt yang berkekuatan 25 perahu di sekitar Teluk Kumai dan Tanjung Putting. Tokoh bajak laut Koerwadt akhirnya tewas dan dikuburkan di sekitar Ujung Pandaran. Hingga kini, kuburannya itu dianggap keramat oleh warga setempat. Setelah merasa aman, pada 1836, penduduk kemudian pindah ke Seranau yang dulunya bernama Benua Usang (sekarang : Mentaya Seberang) di mana para pedagang-pedagang Cina waktu itu Versi IV : Menurut legenda rakyat setempat yang masih hidup hingga kini, bahwa Sampit pada masa itu berbentuk sebuah kerajaan bernama Kerajaan Sungai Sampit dan diperintah oleh Raja Bungsu. Sang baginda memiliki dua putra masingmasing Lumuh Sampit (laki-laki) dan Lumuh Langgana (perempuan). Diceritakan, Kerajaan Sungai Sampit akhirnya musnah akibat perebutan kekuasaan antara dua saudara kandung tersebut. Lokasi Kerajaan Sungai Sampit ini diperkirakan sekitar perusahaan PT Indo Belambit sekarang (Desa Bagendang Hilir). Beberapa tahun lampau, tiang bendera kapal bekas kerajaan yang terbuat dari kayu ulin besar masih ada dan terkubur lumpur di bawah dermaga PT Indo Belambit tersebut. Bukti-bukti lain yang menguatkan dugaan ini, bahwa di lokasi tersebut pernah pula ditemukan pecahan keramik tatkala dilakukan penggalian alur parit. Bukti ini kian menguatkan dugaan bahwa di lokasi ini
s

Sekilas Kota dan KPBC Tipe B

Sampit

S

ungai Mentaya ini merupakan sungai utama yang dapat dilayari perahu bermotor, walaupun hanya 67 persen yang dapat dilayari. Hal ini disebabkan karena morfologi sungai yang sulit, endapan dan alur sungai yang terpelihara, endapan gosong, serta bekas-bekas potongan kayu Hingga kini, yang masih menjadi pertanyaan banyak orang adalah asal kata Sampit itu sendiri. Asal usul nama Kota Sampit mempunyai empat versi yaitu : Versi I : Kata “Sampit” berasal dari bahasa Cina yang berarti “31” (sam = 3, it = 1). Disebut 31, karena pada masa itu yang datang ke daerah ini adalah rombongan 31 orang Cina yang kemudian melakukan kontak dagang serta membuka usaha perkebunan. Hasil usaha-usaha perdagangan perkebunan ketika itu adalah rotan, karet dan gambir. Salah satu areal perkebunan karet yang cukup besar

28

WARTA BEA CUKAI

EDISI 378 MEI 2006

DOK. MUKMIN

3. Kecamatan Mentaya Hilir Utara dengan luas 723 Km² 4. Kecamatan Mentawa Baru Ketapang dengan luas 722 Km² 5. Kecamatan Baamang dengan luas 774 Km² 6. Kecamatan Kota Besi dengan luas 2.117 Km² 7. Kecamatan Cempaga dengan luas 2.424 Km² 8. Kecamatan Parenggean dengan luas 1.774 Km² 9. Kecamatan Mentaya Hulu dengan luas 3.364 Km² 10. Kecamatan Antang Kalang dengan luas 2.991 Km² Kabupaten Kotawaringin Timur berbatasan dengan kabupaten lainnya di Propinsi Kalimantan Tengah sebagai berikut : l Sebelah utara berbatasan dengan Kabupaten Katingan dan Kabupaten Seruyan l Sebelah timur berbatasan dengan Kabupaten Katingan l Sebelah selatan berbatasan dengan Laut Jawa l Sebelah barat berbatasan dengan Kabupaten Seruyan Potensi Bisnis dan investasi di Kabupaten Kotawaringin Timur Sampit antara lain : 1. Peluang Investasi dan Bisnis Sektor Kelautan; 2. Peluang Investasi Pengembangan Pelabuhan Laut; 3. Peluang Investasi Transportasi Udara; 4. Peluang Investasi Transportasi Darat, tersedianya jalan trans kalimantan; 5. Peluang Investasi Wisata, Hotel, Restoran dan Agen Travel tersedianya Pantai Ujung Pandaran terletak 85 km sebelah selatan dari pusat kota Sampit; 6. Sektor Kehutanan antara lain Kayu , Kulit Kayu Gembor dan Rotan 7. Sektor Perkebunan antara lain Karet, Kelapa, Kelapa Sawit, Kopi, Lada dan tanaman lainnya. 8. Sektor Pertambangan antara lain Pasir Zirconium, Emas, Batu Granit, Batu Bara dan Bijih Besi; 9. Sektor Pertanian antara lain Tanaman Pangan, Perkebunan, Hutan Bakau dan Hutan Produksi; 10. Sektor Peternakan antara lain Sapi, Kerbau, Kambing, Ayam Buras, Ayam Ras petelur, Ayam Ras pedaging dan Itik/entok; 11. Sektor Perdagangan tersedianya Pusat Perbelanjaan Mentaya, Plaza, Bintang Swalayan dan lainnya.

GEDUNG KPBC TIPE B SAMPIT

pernah ada Kerajaan Sungai Sampit yang pada masa itu sudah mengadakan kontak dagang dengan bangsa-bangsa luar seperti dari Cina, India bahkan Portugis. Diperkirakan, Kerajaan Sungai Sampit berdiri pada masa kekuasaan Dinasti Ming di Cina (abad ke-13). Hal ini dapat dicermati dari ramainya lalu lintas perdagangan dari Cina yang demikian maju sampai kemudian runtuhnya Dinasti Ming dan mereka banyak yang lari ke arah selatan (Kalimantan). Diceritakan pula, bahwa Putri Junjung Buih, istri dari Pangeran Suryanata, pernah pula berkunjung ke Kerajaan Sungai Sampit. Seperti diketahui, Pangeran Suryanata (berkuasa antara 1400-1435) adalah seorang pangeran dari Kerajaan Majapahit pada masa pemerintahan Prabu Wirakrama Wardhana sekitar 13891435 (Masdipura, 2003). Bila ditelisik lebih jauh, Kerajaan Sungai Sampit ini usianya lebih tua dari Negara Dipa (abad ke-14), sehingga di buku Negarakertagama Kerajaan Banjar tidak ditulis. Terbukti pula, kala Putri Junjung Buih hendak dikawinkan dengan Pangeran Suryanata, 40 kerajaan besar dan kecil pada waktu itu bermufakat untuk menyerang Negara Dipa. Namun, mereka dapat ditaklukkan dan sejak itulah kerajaan-kerajaan itu menjadi vazal Kerajaan Banjar. Bukti-bukti ini dapat ditelusuri pada Traktat Karang Intan di mana Sampit sebagai salah satu wilayah yang diserahkan kepada VOC. Kota Sampit juga pernah disebutsebut di dalam buku kuno Negarakertagama. Pada masa itu disebutkan, terutama pada masa keemasan Kerajaan Majapahit, yang diperintah oleh Raja Hayam Wuruk dengan mahapatihnya yang tersohor yaitu Gajah Mada. Di salah satu bagian buku yang ditulis oleh Mpu Prapanca pada 1365 itu disebutkan, bahwa pernah dilakukan ekspedisi perjalanan nusantara

dimana salah satu tempat yang mereka singgahi adalah Sampit dan Kuala Pembuang Kabupaten Kotawaringin Timur merupakan salah satu kabupaten/kota yang ada di Propinsi Kalimantan Tengah dengan ibukotanya Sampit, yang terletak di daerah garis khatulistiwa pada : l 111° 0’ 50” Bujur Timur sampai dengan 113° 0’ 46” Bujur Timur, dan l 0° 23’ 14” Lintang Selatan sampai dengan 3° 32’ 54” Lintang Selatan Kabupaten Kotawaringin Timur mempunyai wilayah seluas 16.496 Km² Terdiri dari 10 (sepuluh) Kecamatan : 1. Kecamatan Mentaya Hilir Selatan dengan luas 928 Km² 2. Kecamatan Pulau Hanaut dengan luas 619 Km²
DOK. MUKMIN

SEKILAS KPBC TIPE B SAMPIT
Sejak tahun 1967 gedung Kantor Pelayanan Bea dan Cukai (KPBC) Tipe B Sampit yang beralamatkan di Jalan Usman Harun Nomor 04 Sampit berdiri di atas tanah milik PT. Pelindo III (Persero) Cabang Sampit seluas 1.350 m2. Dengan
EDISI 378 MEI 2006 WARTA BEA CUKAI

KEPALA KPBC TIPE B SAMPIT, Hardijanto

29

DAERAH KE DAERAH
DOK. MUKMIN

FOTO BERSAMA, pegawai KPBC Sampit dengan Kakanwil

bangunan seluas 480 m2 KPBC Tipe B Sampit cukup banyak mengalami perubahan status kantor yaitu dimulai sejak tahun 1967 - 1977 sebagai Kepala Daerah XX, tahun 1977 - 1980 menjadi Kantor Inspeksi kemudian sejak tahun 1980 - 1983 terjadi penurunan status kantor menjadi Kantor Cabang Tingkat I, kemudian pada tahun 1983 - 1995 kembali menjadi Kantor Inspeksi, tahun 1995 – 2001 berubah menjadi KPBC Tipe C Sampit, selanjutnya Tahun 2001 sampai dengan sekarang menjadi Kantor Pelayanan Bea dan Cukai Tipe B Sampit

kepabeanan saja yaitu kegiatan ekspor berupa Kayu, Rotan, Kernel Kelapa Sawit, Crude palm Oil (CPO), Pasir Zirconium dan Natural Rubber SIR-20 (Karet Alam) serta Kayu Lapis (Plywood). Sedangkan kegiatan impor berupa Barang Modal, Spareparts dan Pupuk untuk perkebunan kelapa sawit. Sedangkan kegiatan di bidang Cukai yaitu melakukan monitoring/pemantauan terhadap peredaran Barang Kena Cukai berupa Harga Jual Eceran Hasil tembakau (HJEHT) dan Minuman Mengandung Etil Alkohol (MMEA). 1. Impor Frekuensi kegiatan impor di KPBC Sampit rata-rata 1 - 2 kali sebulan berdasarkan kedatangan kapal membawa barang impor. Importir yang melakukan kegiatan impor umumnya perusahaan / importir dari grup perusahaan perkebunan kelapa sawit yang berada di Kalteng seperti PT. Agro Indomas, PT. Agri Pacc (Jakarta). Jenis barang impor adalah barangbarang kebutuhan pokok Perusahaan Perkebunan Kelapa Sawit seperti mesin dan peralatan mesin / spare part mesin pengolah minyak sawit dan pupuk compound NPK. Pelayanan penimbunan / pengeluaran barang-barang tersebut dilaksanakan di luar kawasan pabean, di gudang milik importir yang bersangkutan; mengingat KPBC Sampit / Pelabuhan

Sampit tidak memiliki sarana TPS yang memadai untuk menimbun jenis-jenis barang tersebut. Penerimaan Bea Masuk pada KPBC Sampit diperoleh dari pembayaran Bea Masuk atas importasi mesin dan peralatan mesin / spare part dengan tarif Bea Masuk rata-rata 5 % sedangkan pupuk dengan tarif 0 %. 2. Ekspor Kegiatan ekspor di KPBC Sampit ratarata 1 - 2 kali sebulan berdasarkan keberangkatan kapal tujuan ekspor hampir sama dengan kegiatan impor. Kegiatan ekspor dilakukan dengan kapalkapal yang langsung keluar daerah pabean maupun yang tidak langsung keluar daerah pabean transit melalui Surabaya / Banjarmasin. Kegiatan dilakukan di dermaga pelabuhan Sampit dan lebih banyak dilakukan di luar kawasan pabean, di tempat penimbunan / pemuatan pelabuhan eksportir yang bersangkutan. Komoditi ekspor adalah Wood Moulding (kayu olahan), karet, rotan, Pasir Zirconium dan Plywood, sedangkan perolehan pajak ekspor (PE) hanya didapat dari ekspor rotan, Kernel Kelapa Sawit dan Crude Palm Oil 3. Penerimaan Negara : Dalam Tahun Anggaran 2005 KPBC Tipe B Sampit memperoleh penerimaan

WILAYAH KERJA
Wilayah kerja KPBC Sampit berdasarkan lampiran 1-22 Surat Keputusan Menteri Keuangan RI Nomor : 444/KMK.01/2001 tanggal 23 Juli 2001 meliputi Pos Pengawasan Pabean Samuda, Kuala Pembuang, Pegatan Mendawai, dan Bandara H. Asan dan Pelabuhan Sampit. KPBC Sampit berada dibawah dan bertanggung jawab langsung kepada Kantor Wilayah IX Direktorat Jenderal Bea dan Cukai di Pontianak.

PELAYANAN DAN PENGAWASAN
Selama kurun waktu kurang lebih 38 tahun yaitu sejak tahun 1967 sampai dengan sekarang, kegiatan kerja KPBC Sampit bertitik berat pada pemberian pelayanan dan pengawasan di bidang 30
WARTA BEA CUKAI

EDISI 378 MEI 2006

DOK. MUKMIN

negara sebesar Rp. 13.215.865.547,52 terdiri dari : 4 Bea Masuk... Rp. 3.452.822.264,00 4 PPN Impor.... Rp. 4.988.383.324,00 4 PPh Impor.... Rp. 1.247.095.785,00 4 P E……….... Rp. 3.527.564.174,52 4. Monitoring / Pemantauan Peredaran HJEHT dan MMEA Monitoring / Pemantauan Informasi Harga Jual Eceran Hasil Tembakau (HJEHT) secara periodik (Tri wulan) dilaksanakan sesuai Surat Edaran DJBC Nomor 22/BC/2001 tanggal 27 Juli 2001. Monitoring / Pemantauan Peredaran MMEA selalu dilakukan secara selektif terhadap kedatangan / pengangkutan barang yang datang dari Surabaya / Banjarmasin, Semarang, melalui pelabuhan Sampit dengan cara menanyakan kepada pengangkut / pengusaha MMEA untuk menunjukkan dokumen pelindung pengangkutan CK.14 / CK. 16. Barang MMEA tersebut umumnya akan dibawa ke Palangkaraya karena kebijakan Pemda Sampit yang tidak membolehkan adanya barang MMEA kadar lebih dari 5 % beredar di Sampit. 5. Kegiatan lainnya : a. Dalam rangka Koordinasi, Integrasi dan Sinkronisasi (KIS), KPBC Sampit selalu menjalin kerjasama dengan pihak Pemerintah Daerah (Pemda) setempat untuk meningkatkan pengawasan terkait dengan peraturan titipan seperti kegiatan ekspor komoditi Pasir Zirconium dimana menyangkut persetujuan/ ijin ekspor dari Dinas Pertambangan Daerah dan aturan lainnya. Dalam segala kegiatan KPBC Sampit selalu diundang baik oleh Pemda, badan Legislatif maupun Kepala Dinas/ instansi terkait, sehingga koordinasi,

KAKANWIL IX DJBC PONTIANAK, Ismartono (nomor dua dari kiri) dan KaKPBC (nomor dua dari kanan), memberikan arahan kepada seluruh pegawai KPBC Sampit

integrasi dan sinkronisasi dapat berjalan dengan baik dan lancar. b. Selain bekerjasama dengan pihak Pemda setempat, KPBC Sampit juga menjalin kerjasama dengan masyarakat dan pengusaha dengan memberikan sosialisasi mengenai kepabeanan tentang kegiatan eksportasi dan importasi serta kewajiban agen pelayaran dalam rangka memenuhi kewajiban formalitas Pabean.
DOK. MUKMIN

c. Senam Kesegaran Jasmani dilakukan di halaman KPBC Sampit setiap jum’at dan setiap akhir bulan dilaksanakan senam pagi gabungan dengan pihak Adpel, Pelindo dan KPPP Sampit sehingga terjalin KIS dengan unsur-unsur di Pelabuhan Sampit. d. Selain senam kesegaran jasmani pegawai, KPBC Sampit juga aktif menjalankan olah raga lainnya seperti tersedianya jadwal olah raga Tenis Lapangan, Bulu Tangkis, Tenis Meja dan Volly Ball. Dalam mengisi hari libur Ka KPBC sekali-kali mengajak seluruh pegawai/pejabat melakukan kunjungan wisata dan olah raga persahabatan dengan mitra kerja. e. Dalam rangka pembinaan mental dan rohani KPBC Sampit melaksanakan pengajian diawali dengan Sholat Maghrib secara berjamaah dilanjutkan dengan siraman rohani, dalam rangka meningkatkan keimanan dan ketaqwaan pegawai kepada Tuhan Yang Maha Esa. 6. Kunjungan Kerja Pertengahan bulan Pebruari tepatnya hari Kamis 16 Pebruari 2006 pukul 15.00, dengan pesawat Triga Air Foker-27 Kepala Kanwil IX DJBC Pontianak dan Staf tiba di Bandara H. Asan Sampit dalam
EDISI 378 MEI 2006 WARTA BEA CUKAI

DIKLAT. Penyampaian tugas pokok dan fungsi KPBC Sampit pada acara diklat kesamaptaan KPLP di Sampit.

31

DAERAH KE DAERAH
DOK. MUKMIN

PELABUHAN SAMPIT

rangka kunjungan kerja di KPBC Sampit yang mana sehari sebelumnya Kakanwil juga berkunjung di KPBC Pangkalan Bun. Kunjungan kerja Kepala Kanwil dan Staf diawali dengan mengadakan pertemuan kepada seluruh pejabat/ pegawai dan tenaga honorer. Dalam pertemuan yang singkat Kakanwil menyampaikan beberapa pesan kepada seluruh pejabat/pegawai Bea dan Cukai Sampit diantaranya sebagai berikut : a. Tingkatkan Penerimaan Negara melalui peningkatan kualitas data intelijensi untuk akurasi NHI, penelitian dokumen dan pemeriksaan fisik barang dan mengefektifkan penagihan; b. Tingkatkan sistem pengawasan dalam rangka penegakan hukum kepabeanan serta perlindungan masyarakat

melalui mengoptimalkan sarana dan prasarana yang dimiliki dalam pelaksanaan tugas, pengetahuan dan keahlian SDM di bidang kepabeanan dan operasi pasar dalam rangka pengawasan barang kena cukai; c. Tingkatkan pelayanan kepabeanan kepada masyarakat melalui sarana dan prasarana kerja, kualitas dan kuantitas pegawai; d. Pahami dan laksanakan substansi yang terkandung dalam program reformasi kepabeanan.

TANTANGAN DAN KENDALA KERJA
Tantangan yang dihadapi KPBC Sampit adalah bahwa kondisi geografis Sampit yang terdiri dari perairan-perairan sungai dan pantai dengan sibuknya
DOK. MUKMIN

kegiatan yang dilakukan oleh kapal-kapal baik berbendera asing maupun berbendera Indonesia di dalamnya, merupakan tantangan tersendiri bagi KPBC Sampit dalam melaksanakan tugas pelayanan dan pengawasan. Di sisi yang lain, adanya keterbatasan yang dimiliki oleh Direktorat Jenderal mengenai masalah kewenangan. Dalam UU nomor 10 Tahun 1995 tentang Kepabeanan dan UU nomor 11 Tahun 1995 tentang Cukai, tidak ditemukannya kewenangan Direktorat Jenderal untuk melakukan pengawasan terhadap pemuatan dan pengangkutan barang tujuan antar pulau dalam wilayah RI. Hal ini tentunya membuka peluang dilakukannya pemuatan barang tujuan untuk di ekspor dengan modus operandi antar pulau agar tidak terjangkau oleh pengawasan pihak Bea dan Cukai. Kemudian tantangan lainnya adalah kondisi sarana jalan yang tidak memungkinkan dilewati untuk pengangkutan barang ekspor dari lokasi perusahaan ke kawasan pabean / Pelabuhan Sampit, sehingga pelayanan yang diberikan oleh Kepala Kantor Pelayanan untuk mendukung kegiatan ekspor melalui pemberian ijin pemuatan barang tujuan ekspor di beberapa lokasi pemuatan milik perusahaan ekspor yang dianggap memenuhi syarat sesuai dengan ketentuan Menteri Keuangan RI. Kebijaksanaan pemberian ijin ini mengingat letak geografis perusahaan yang berada di sepanjang pinggir sungai dengan melalui pemberian ijin ini diharapkan akan dapat dilaksanakannya penghematan biaya operasi sehingga akan meningkatkan daya saing komoditasnya di pasaran internasional. Terbatasnya sumber daya pegawai pelaksana dan luasnya wilayah kerja KPBC Sampit untuk melakukan pengawasan, yang mana selama ini tugas pengawasan di Pos Pengawasan Pabean dijalankan melalui kumandah secara bergiliran untuk jangka waktu satu bulan sehingga terlihat belum optimal karena tiap lokasi hanya ditempatkan 1 atau 2 petugas saja. Mengingat sampai saat ini KPBC Sampit terdiri dari 22 orang pegawai dengan komposisi 5 orang Jabatan Struktural, 9 orang Koordinator Pelaksana dan 8 orang Pelaksana. Tantangan lainnya yaitu sejalan dengan perkembangan dan pertumbuhan perdagangan dan perekonomian di Kabupaten Kotawaringin Timur (Sampit) adalah lokasi yang disebut Bagendang (± 24 Km sejajar pelabuhan Sampit arah muara laut) direncanakan ke depan akan menggantikan Pelabuhan Sampit sebagai pelabuhan operasional untuk pelayanan kegiatan impor ekspor dan antar pulau; sedangkan pelabuhan Sampit yang sekarang ini masih beroperasi, direncanakan ke depan akan dialih fungsikan sebagai pelabuhan khusus melayani penumpang.

KEGIATAN PEMERIKSAAN, Fisik Barang Impor Barang Modal Pabrik Kelapa Sawit

Mukmin, Korlak Impor & Ekspor KPBC Tipe B Sampit

32

WARTA BEA CUKAI

EDISI 378 MEI 2006

WBC/BAMBANG WICAKSONO

GEDUNG KANTOR KPBC TIPE C TULUNGAGUNG

KPBC TIPE C TULUNGAGUNG

“Harus Rajin Jemput Bola”
Perjalanan menuju KPBC Tulungagung cukup jauh dan melelahkan. Dengan menggunakan bis Patas dari Surabaya dapat kita tempuh dengan waktu kurang lebih 3,5 jam. Kota Tulungagung berjarak 150 km dari kota Surabaya dan sekitar 23 km dari kota Kediri. Daerah Tingkat II dan dipimpin seorang Bupati ini terkenal dengan kerajinan batu marmer yang diolah menjadi hiasan, lantai, dan souvenir.
WBC/BAMBANG WICAKSONO

Di ruang utama terdapat ruang tunggu untuk kenyamanan pengguna jasa saat menunggu penyelesaian dokumennya. Ruang tunggu tersebut meskipun tidak dilengkapi AC tapi cukup sirkulasi udara karena banyak jendela dan dilengkapi pula tempat duduk bersandar, tempat air minum, dan information desk . Para pengguna jasa benar-benar mendapat pelayanan yang baik sehingga merasa nyaman dan betah. Beberapa fasilitas kantor yang tersedia antara lain aula, koperasi, taman, gudang, dan mushola menambah lengkap sarana dan prasarana dalam mendukung kinerja pegawai. Dengan wilayah kerja yang luas tersebut diperlukan SDM yang handal didukung sarana dan prasarana yang memadai untuk mencapai tingkat pelayanan yang prima dan efektif. Saat ini KPBC Tulungagung memiliki pegawai sebanyak 18 orang. Jumlah tersebut masih dirasa kurang mendukung pelaksanaan tugas pelayanan dan pengawasan secara optimal. Dan seperti dikatakan oleh Kepala KPBC Tulungagung, Endro Yuwono SH, MM, idealnya pegawai ditambah 5 orang lagi dengan perincian satu orang korlak P2 dan empat orang tenaga pelaksana.

LINGKUP PELAYANAN
KPBC Tulungagung sebagai salah satu unit pelayanan yang melaksanakan tugas dan fungsi DJBC di Jawa Timur berada di bawah koordinasi dan bertanggung jawab langsung kepada Kantor Wilayah VII DJBC Surabaya. Beberapa perusahaan yang mendapat pelayanan di bidang Cukai dengan perincian sebagai berikut : 1. Perusahaan/pabrik Hasil tembakau sebanyak 137 buah yang terdiri dari : Golongan III : 4 perusahaan Golongan III A : 11 perusahaan Golongan III B : 126 perusahaan 2. Perusahaan/ pabrik Ethyl Alkhohol dan MMEA sebanyak 1 buah yaitu Kan’sWine Co. 3. Tempat penjualan eceran Minuman Mengandung Ethyl Alkhohol sebanyak 3 buah yaitu : Toko “Senang”, PT Arta Boga Cemerlang dan PT Arta Kencana. Volume kerja pada KPBC Tulungagung di bidang cukai dapat dilihat dengan pelayanan CK-1,CK-14,HJE, dan NPPBKC dalam tabel sebagai berikut : (Lihat tabel 1) Hasil penerimaan negara dari cukai yang dikelola KPBC Tulungagung selama empat tahun terakhir dapat dilihat pada tabel berikut ini : (Tabel 2)

K

PBC Tipe C Tulungagung terletak di jantung kota Tulungagung tepatnya di Jl. A Yani Timur No. 74 berhadapan persis dengan kantor Kabupaten Tulungagung. Kantor Pelayanan Bea dan Cukai Tipe C Tulungagung wilayah kerjanya meliputi dua kabupaten yaitu Kabupaten Tulungagung dan Kabupaten Trenggalek. Meskipun dalam wilayah kerja tersebut terdapat pantai , tapi hanya sebagai pelabuhan tradisional untuk penangkapan ikan. Jadi praktis KPBC Tulungagung hanya melakukan pelayanan dan pengawasan di bidang cukai. KPBC Tulungagung memiliki luas bangunan 330 m2 dan luas tanah 860 m2 serta memiliki dua lantai dilengkapi dengan sarana ibadah berupa mushola dan koperasi. Lingkungan yang bersih, rapi, dan indah dikelilingi pepohonan dan taman membuat pegawai terasa betah di dalamnya.

SOSIALISASI “DOOR TO DOOR”
KEPALA KANTOR KPBC TIPE C TULUNG AGUNG, Endro Yuwono SH, MM, idealnya pegawai ditambah 5 orang lagi dengan perincian satu orang korlak P2 dan empat orang tenaga pelaksana.

Sejalan dengan meningkatnya beban target penerimaan KPBC Tulungagung dan meningkatnya jumlah pengusaha hasil tembakau, Endro pun tak segan-segan langsung turun ke desa-desa dengan cara
EDISI 378 MEI 2006 WARTA BEA CUKAI

33

DAERAH KE DAERAH
“door to door” untuk melakukan sosialisasi peraturan cukai terutama hasil tembakau. “Bertugas di KPBC Tulungagung harus rajin jemput bola dengan mengadakan sosialisasi ke lapangan khususnya ke pabrik-pabrik rokok yang jumlahnya mencapai 137 perusahaan meliputi gol III,IIIA dan III B. Pabrik-pabrik tersebut tersebar di desa-desa dan masih tradisional. Ada juga pengusaha rokok yang masih buta huruf, “ kata Endro. Masih menurut Endro, mendirikan perusahaan hasil tembakau tidaklah semudah yang dibayangkan, ada beberapa pengusaha yang baru berdiri tidak lama bangkrut karena tidak menguasai pasar dan hanya atas dasar ikut-ikutan atau coba-coba. Pada kesempatan ini pula WBC diajak Endro melihat salah satu perusahaan rokok Dua Dewi di Desa Tanggulkundung Kecamatan Besuki, Kabupaten Tulungagung yang berjarak kurang lebih 20 Km dari kota Tulungagung. PR Dua Dewi ini memproduksi rokok jenis SKT dan termasuk golongan III A. CK-14 8 7 9 9 1 buah buah buah buah buah HJE 57 32 78 175 136 NPPBKC 1 0 30 72 17 Perusahaan rokok ini merupakan perusahaan keluarga dan tidak begitu besar, dengan peralatan yang sederhana mampu menyerap tenaga kerja sampai 300 orang. Pekerjanya kebanyakan wanita dari penduduk sekitar perusahaan. Hasil produksi rokoknya dipasarkan ke daerah sekitar Tulungagung dan Trenggalek. Meskipun PR Dua Dewi hanya penghasil rokok gol IIIA namun merupakan salah satu sumber penerimaan bagi negara berupa cukai dan sekaligus mampu menciptakan lapangan kerja untuk mengurangi angka pengangguran.

TABEL I
No 1 2 3 4 5 Periode TA 2002 TA 2003 TA 2004 TA 2005 TA 2006* CK-1 289 buah 399 buah 723 buah 1528 buah 290 buah

LINGKUP PENGAWASAN
Karakteristik tugas dan fungsi DJBC memang unik karena di satu sisi diharuskan memberikan pelayanan yang memuaskan kepada pengguna jasa, di sisi lain dituntut untuk waspada dengan melakukan pengawasan terhadap kemungkinan pelanggaran yang terjadi di bidang kepabeanan dan cukai. KPBC Tulungagung sering melakukan pengawasan dengan operasi pasar karena banyaknya hasil tembakau terutama Sigaret Kretek Tangan (SKT) yang banyak beredar dengan berbagai merek. Beberapa kali KPBC Tulungagung berhasil mengungkap kasus pita cukai palsu dan rokok polos yang mengakibatkan kerugian negara. Hasil penegakan hukum selama tahun 2003-2005 ini dapat dilihat pada tabel 3. Langkah-langkah preventif yang Status Vonis Percobaan 10 bulan Dan denda Rp. 500.000

* Januari s.d.15 Maret 2006

TABEL 2
No 1 2 3 4 5 Periode TA 2002 TA 2003 TA 2004 TA 2005 TA 2006 Target* 49.321.301.000 40.509.538.000 50.807.960.000 55.347.600.000 85.301.840.000 Realisasi* 51.515.684.702 38.409.864.480 52.770.122.895 74.041.614.888 sedang berjalan Prosentase 104,45% 94,81% 103,86% 125,25% %

* dalam rupiah

TABEL 3
NO 1 Tanggal Kejadian 18 Desember 2003 Kasus Pita Cukai Palsu Pasal yg Dilanggar Ps 14 ayat 7 Ps 50 Ps 55 (b) UU 11 Tahun 1995 Ps 55 (b) UU 11 Tahun 1995 Ps 52 dan atau Ps.51 dan atau Ps 55 (b) UU 11 Tahun 1995 Ps.51 dan atau Ps.52 dan atau Ps.54 UU 11 Tahun 1995 Ps 55 (b) UU 11 Tahun 1995 Ps 55 (b) Kerugian Negara Rp. 10.939.200

Tersangka KR PR. Surya Bhakti Kencana

2

11 Desember 2004

Pita Cukai Palsu

Rp. 57.544.074

STR. PR. Semanggimas Agung HG SW

Vonis Percobaan 12 bulan Dan denda Rp. 1.000.000

3

25 Februari 2005

Pita Cukai Palsu

Rp. 172.741.440

Vonis Percobaan 12 bulan Dan denda Rp. 6.000.000 Vonis Percobaan 12 bulan Dan denda Rp. 6.000.000

4

25 Februari 2005

Rokok Polos

Rp. 84.855.680

HW PR. Muncul Malang

Vonis Percobaan 3 bulan Dan denda Rp. 4.000.000

5

27 Februari 2005 03 Agustus 2005

Pita Cukai Palsu

Rp. 16.764.800

Puguh S. PR. Ubik HR

Vonis Percobaan 16 bulan Dan denda Rp. 3.000.000 Vonis dihukum 4 bulan 15 hari Dan denda 1.500.000

6

Pita Cukai Palsu UU 11 Tahun 1995

Rp. 765744.000

34

WARTA BEA CUKAI

EDISI 378 MEI 2006

WBC/BAMBANG WICAKSONO

diambil Endro dalam mencegah adanya pelanggaran dilakukan melalui media cetak dengan menyebarkan/ menempelkan pamflet di lokasi tertentu seperti warung, toko, dan tempat umum yang berisi himbauan kepada masyarakat untuk tidak menjual rokok tanpa dilekati pita cukai atau pita cukai palsu. Selain dengan media cetak dilakukan pula dengan media audio yang disiarkan oleh radio-radio tentang pentingnya pula perijinan mendirikan pabrik rokok.

KENDALA YANG DIHADAPI
Untuk mendapatkan prestasi, memang tidak datang begitu saja. Segala usaha yang dilakukan secara berkesinambungan di segala bidang dan dukungan dari seluruh pegawai dan stakeholder akan mampu menciptakan suatu sinergi hubungan kerja. “Menjaga hubungan yang baik dan harmonis antar pegawai serta hubungan pegawai dan stakeholder merupakan faktor pendukung dalam menciptakan pelayanan prima,”kata Endro ketika ditanya mengenai kiat-kiatnya memimpin KPBC Tulungagung. Selain itu memang tidak ada suatu keberhasilan tanpa suatu pengorbanan. Untuk menciptakan suatu pelayanan prima tidak hanya menitikberatkan faktor sumber daya manusia (man) dan sisdur (methode) saja tetapi juga sarana dan prasarana (material )yang memadai, selanjutnya untuk memenuhinya diperlukan uang/dana (money). “Kendala utama dalam menciptakan

PR DUA DEWI, meski hanya penghasil rokok gol IIIA namun merupakan salah satu sumber penerimaan bagi negara berupa cukai dan sekaligus mampu menciptakan lapangan kerja untuk mengurangi angka pengangguran..

layanan prima di KPBC Tulungagung adalah masalah keterbatasan sumber daya manusia, maka itu untuk yang akan datang kiranya perlu tambahan pegawai pelaksana 4 orang dan Korlak P2 yang telah PPNS” tutur Endro. Disamping itu dikemukakan Endro, kendala lainnya adalah masalah seringnya keterlambatan pengiriman pita cukai dari pusat, sehingga sering di-claim oleh pengusaha hasil tembakau. Untungnya sejauh ini mereka mau mengerti ketika diberikan penjelasan atas keterlambatan tersebut. Sedangkan kendala yang juga

penting adalah program komputer mengenai inhouse Cukai mengenai pertukaran data dengan KP DJBC dirasa belum sempurna hingga perlu pembenahan dari kantor pusat, “harap Endro. Dengan berbagai kendala dan kekurangan yang ada, KPBC Tulungagung tetap bertekad memberikan pelayanan yang terbaik bagi stakeholder sebagai trade facilitator. Dalam waktu dekat pun, Endro Yuwono akan didapuk sebagai penasehat asosiasi pengusaha hasil tembakau se-Tulungagung.

Bambang Wicaksono-Koresponden Surabaya
WBC/BAMBANG WICAKSONO

KEPALA KANTOR DAN PARA STAF, bertekad memberikan pelayanan yang terbaik bagi stakeholder sebagai trade fasilitator. EDISI 378 MEI 2006 WARTA BEA CUKAI

35

DAERAH KE DAERAH

Peraturan ”Titipan”
DARI INSTANSI TEKNIS DI KAWASAN SABANG
Tanggal 22 Februari 2006 terjadi demonstrasi di depan KPBC Sabang dengan jumlah pendemo kurang lebih 200 orang yang mendapat penjagaan petugas Kepolisian Resort Sabang

LIKA-LIKU MELAKSANAKAN

S

abang merupakan pulau yang berada di propinsi Nanggroe Aceh Darusalam, orang mengenalnya sebagai pulau paling barat di Indonesia (sebenarnya ada yang lebih barat lagi yaitu Pulau Rondo) dan juga mengenalnya lewat lagu yang sudah tak asing lagi bagi rakyat Indonesia (lagu populer) yaitu lagu dengan judul “Dari Sabang sampai Merauke”.

SABANG SEBAGAI KAWASAN PERDAGANGAN BEBAS DAN PELABUHAN BEBAS
Posisinya di ujung paling barat Indonesia bukan berarti tidak mempunyai ‘apa-apa’, tetapi telah diberi Karunia oleh Allah SWT dengan kedudukan geografis yang sangat strategis dan panorama alam yang indah. Kota Sabang dengan luas 153 km2 terdiri dari Pulau Weh, Pulau Klah, Pulau Rondo, Pulau Seulako dan Pulau Rubiah, dengan jumlah penduduk 25.246 jiwa. Terletak pada jalur pelayaran internasional, dikelilingi oleh Samudera Indonesia, Samudera Hindia, Selat Malaka dan Selat Benggala; dan dekat dengan kota-kota dipinggir barat benua Asia bagian selatan yaitu India, Bangladesh, Myanmar, Malaysia, Thailand dan Singapura. Potensi utama Kota Sabang adalah laut dengan luas 66.563 km2, sumber daya ikannya sebesar 235.000 ton, taman laut seluas 2.600 ha (salah satu yang terindah didunia) yang cocok untuk berenang, snorkling maupun menyelam, hutan wisata seluas 1.413,5 ha, hutan lindung seluas 4.932,98 ha, perkebunan rakyat, sumber air panas dan danau air tawar (aneuk laot) yang merupakan sumber utama air minum penduduk Sabang. Selain itu memiliki pelabuhan alam berupa teluk dengan luas 126 ha dengan kedalaman laut yang bervariasi antara 7-40 meter, yang dasar lautnya berupa pasir berbatu karang yang sangat baik untuk berla36
WARTA BEA CUKAI

buh jangkar dan bersandar di dermaga bagi kapal ukuran 50.000 DWT. Mengingat potensi Sabang yang sangat strategis, maka Pemerintah RI dengan persetujuan DPR telah menetapkan Sabang sebagai Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas (Free Trade Zone dan Free Port Zone) dengan Undang-undang No. 37 tahun 2000. Pengelolaan kegiatan di Sabang dilakukan oleh Badan Pengusahaan Kawasan Sabang, dengan Ketua Dewan Kawasan Sabang adalah Gubernur propinsi NAD. Sesuai UU No. 37 tahun 2000, di Kawasan Sabang berlaku ketentuan semua barang impor boleh masuk kecuali barang larangan (tidak disebutkan jenis barangnya), dan diberikan pembebasan bea masuk, PPN, PPnBM dan PPh.

ngan RI tentang barang pembatasan dan larangan, Badan Pengusahaan Kawasan Sabang (BPKS) selaku pengelola kawasan Sabang tetap menerbitkan surat izin pemasukan gula ke Kawasan Sabang dari tanggal 27 Januari sampai 7 Februari 2006, dengan rincian barang antara lain 11.225 ton gula dan 100 ton beras kepada pengusaha-pengusaha di Kawasan Sabang, dengan alasan UU No. 37 tahun 2000 berlaku khusus untuk Kawasan Sabang dan UU No. 10 tahun 1995 serta Keputusan Menteri Perdagangan RI tidak berlaku di Sabang. Dengan adanya surat izin BPKS dimaksud, Kepala KPBC Sabang telah memberikan penjelasan kepada Kepala BPKS dan telah dipertegas dengan surat Kakanwil XIII DJBC Banda Aceh ditujukan kepada Gubernur NAD selaku Ketua Dewan Sabang bahwa KPBC Sabang tidak dapat melayani pemasukan gula dan apabila dimasukkan ke Kawasan Sabang tanpa persetujuan dari Depatemen Perdagangan RI, maka barang yang bersangkutan harus direekspor, Dirjen Bea dan Cukai juga telah merespon dengan mengirimkan surat tertanggal 15 Februari 2006 kepada Menteri Perdagangan untuk mendapatkan keputusan. Namun demikian BPKS tetap bertahan dan tahap pertama pemasukan gula sebanyak 100 ton datang ke Kawasan Sabang pada tanggal 17 Februari 2006.

BENTROKAN ANTARA BPKS & PENGUSAHA DENGAN KPBC SABANG
Pada hari Jumat tanggal 17 Pebruari 2006 pukul 10.00 Kapal Motor (KM) Surya Indah II tiba di Teluk Sabang yang memuat gula. Dengan adanya kepastian kedatangan kapal, KPBC Sabang mengerahkan anggotanya sebanyak 8 (delapan) orang pegawai yang dipimpin Febra, Pjs. Kasi P2 menuju dermaga. Sampai di dermaga, telah banyak berkumpul orang-orang antara lain dari Pihak BPKS, Agen Kapal, pemilik gula, Kapolres Sabang dan Kepala KP3 Sabang, Kepala Syahbandar Adpel, Kepala Karantina Sabang, Kasi Imigrasi Sabang, Komandan Sub Denpom IM Sabang, Intel AL Sabang, wartawan, buruh-buruh angkut pelabuhan dan masyarakat Sabang yang tinggal di sekitar pelabuhan Sabang. Saat KPBC Sabang meminta kepada Hamdani Kepala PT. Kali Aceh selaku agen kapal KM Surya Indah 2, pihak BPKS dan pemilik barang untuk dilakukan boatzoeking ditengah laut mereka tidak mau dan kapal segera merapat untuk dilakukan pembongkaran sesuai dengan surat izin pemasukan gula yang diberikan oleh BPKS. Setelah berbicara cukup lama, pihak Bea Cukai bersedia melakukan boetzoeking dipinggir dermaga Pelindo Sabang dengan syarat apabila barang yang terdapat di kapal tidak sesuai Manifest maka dilakukan penyegelan diatas kapal, dan apabila sesuai Manifest gula dapat dibongkar dan

KONFLIK ANTARA KPBC SABANG DAN BPKS
Menteri Perdagangan RI dengan surat Nomor : 1573/M-DAG/10/2005 tanggal 26 Oktober 2005 menetapkan impor gula kristal putih merupakan barang pembatasan untuk tahun 2006, dan surat Nomor: : 1718/M-DAG/12/2005 tanggal 26 Desember 2005 menetapkan impor beras sebagai barang larangan sampai dengan 31 juli 2006. Direktorat Jenderal Bea Cukai sebagai instansi pabean yang wajib melaksanakan ketentuan larangan dan pembatasan dari instansi teknis terkait tersebut (Peraturan “Titipan”) sesuai pasal 53 Undang-undang No. 10 tahun 1995 tentang Kepabeanan, menyebutkan untuk kepentingan pengawasan terhadap pelaksanaan ketentuan larangan dan pembatasan, instansi teknis yang menetapkan peraturan larangan dan/atau pembatasan atas impor atau ekspor barang tertentu wajib memberitahukan kepada Menteri Keuangan RI untuk ditetapkan dan dilaksanakan oleh Direktorat Jenderal Bea dan Cukai. Meskipun ada surat Menteri Perdaga-

EDISI 378 MEI 2006

PENGUNJUK RASA. Melakukan orasi dan membawa spanduk di depan KPBC Sabang.

pada pukul 19.30 WIB. Saat petugas bea cukai yang digudang yaitu Rodjianto Pratono, Dimas Pratama dan Tamrizi Riawan hendak melakukan penyegelan atas gudang tersebut, tiba-tiba sebuah minibus van masuk ke dalam gudang untuk memuat gula, akibat kejadian tersebut petugas bea dan cukai langsung bereaksi untuk menahan tindakan tersebut. Terjadilah adu argumentasi antara pihak Bea Cukai yang diwakili oleh Zulkifli, Pjs. Kepala KPBC Sabang dengan Muktar Harun, Kepala Deputi Perdagangan BPKS tentang keabsahan penyegelan oleh Bea dan Cukai sampai situasi menjadi memanas. Kami mencoba mengingatkan kembali kesepakatan kepada Pihak Pemilik Barang dan pihak DOK KPBC SABANG BPKS dan mendapat jawaban bahwa tidak ada perintah untuk disegel dan gula harus tetap keluar (dalam hal ini mereka telah mengingkari janji), bahkan Muktar dengan nada tinggi, penuh emosi menyatakan bea dan cukai menghambat perkembangan Aceh serta memberikan ancaman terhadap petugas KPBC Sabang. Kami mencoba meminta BPKS untuk menandatangani KARUNG GULA. Salah satu gula yang akan masuk ke pelabuhan Sabang. setelah masuk ke gudang disegel oleh Bea dan Cukai dan digembok oleh BPKS. Setelah kesepakatan yang diminta oleh Bea dan Cukai disetujui, kapal diizinkan sandar dan dilakukan boetzoeking kapal dengan hasil jumlah barang sesuai manifes, selanjutnya dilakukan pembongkaran gula untuk ditimbun digudang. Pengawasan pembongkaran gula dilakukan oleh Irwan, Edy Suprapto, Ade Yance, Izan, Rodjianto, Dimas, Tamrizi dan Niko. Pada pukul 17.00 WIB pembongkaran dihentikan sementara untuk beristirahat dengan jumlah barang yang telah selesai dibongkar sebanyak 41,3 ton dengan 17 kali trip pengangkutan, dan direncanakan pembongkaran akan dilanjutkan kembali

Berita Acara yang menyatakan bahwa dia yang akan bertanggung jawab atas pengeluaran gula dari gudang. Tetapi tidak mau dan menyuruh orang-orang yang di sekitar gudang agar tidak ada yang mau menandatangani berkas apapun dari pihak Bea dan Cukai. Pihak Bea Cukai tetap berkehendak untuk menyegel gudang tetapi dihalanghalangi oleh massa, sampai terjadi aksi dorong-mendorong pintu gudang antara petugas Bea dan Cukai dengan massa yang dipimpin BPKS. Pihak kepolisian datang ke lokasi untuk melerai dan menyarankan permasalahan sebaiknya dibicarakan di Kantor Polres karena massa sudah banyak berkumpul, sehingga dikhawatirkan terjadi tindak kekerasan terhadap petugas Bea dan Cukai. Pihak BPKS dan Bea Cukai setuju dan bersama-sama berjalan kaki menuju ke Kantor Polres Sabang yang berjarak sekitar 500 meter. Sebelum berangkat ke Polres, kami memerintahkan petugas bea cukai di lokasi gudang sebanyak 6 orang untuk meninggalkan lokasi dan pergi menuju Kantor KPBC Sabang untuk menunggu instruksi lebih lanjut. Hasil pertemuan di Mapolres, pihak kepolisian tidak dapat mengambil keputusan dan menyerahkan kepada pihak bertikai untuk mengajukan gugatan apabila ada yang merasa dirugikan. Akibatnya situasi kembali meruncing dan pihak BPKS tetap ingin melaksanakan keinginannya. Mengingat keselamatan petugas Bea Cukai di Sabang, maka kami tidak melaEDISI 378 MEI 2006 WARTA BEA CUKAI

37

DAERAH KE DAERAH
DOK KPBC SABANG

LOKASI PENYEGELAN. Upaya penyegelan yang dihalangi oleh massa.

kukan penyegelan gula dan memerintahkan kepada seluruh petugas Bea Cukai yang masih berada di Kantor KPBC Sabang agar menuju ke Mess Bea Cukai untuk bersiaga penuh mengikuti situasi yang berkembang.

PASCA BENTROK
Kejadian bentrokan tersebut dimuat oleh koran Serambi Indonesia di halaman depan headline pada tanggal 19 Pebruari 2006 (koran yang mempunyai oplah paling banyak di propinsi Nanggroe Aceh Darussalam). Imbas dari penegahan gula oleh KPBC Sabang dan berita di koran berakibat petugas KPBC Sabang mendapat ancaman-ancaman baik secara lisan maupun melalui SMS. Atas ancaman tersebut, kami tindak lanjuti dengan mengajukan laporan pengaduan ke Mapolres Sabang pada tanggal 19 Pebruari 2006 dan dires-

pon dengan menyediakan pengawalan oleh Polres Sabang, kami juga meminta bantuan pengamanan kepada Dan Subdenpom Kodam Iskandar Muda Sabang. Kami menegaskan kembali kepada seluruh pegawai KPBC Sabang yang berjumlah 17 orang ditambah 3 pegawai kumandah dari KPBC Ulee-Lheue dan Iskandar Muda (tidak termasuk 4 pejabat KPBC Sabang yang sedang menjalankan tugas negara) untuk selalu hati-hati dan waspada. Tiga hari kemudian, tanggal 22 Februari 2006 terjadi demonstrasi di depan KPBC Sabang dengan jumlah pendemo kurang lebih 200 orang yang mendapat penjagaan petugas Kepolisian Resort Sabang. Mereka melakukan orasi dengan membawa spanduk-spanduk dan memanggil petugas bea cukai untuk keluar. Untuk meredamnya 5 orang perwakilan pendemo diterima oleh KPBC Sabang
DOK KPBC SABANG

untuk menyampaikan aspirasinya dan selanjutnya kami berjanji untuk menyampaikan segala tuntutan kepada atasan lebih tinggi, sudah diteruskan kepada Bapak Direktur Jenderal Bea Cukai sesuai surat No. S-29/WBC.13/KP.03/2006 tanggal 22 Pebruari 2006. Kami bersyukur demo berlangsung dengan aman tanpa diikuti tindakan-tindakan anarkis.. Keesokan harinya, kami menerima fax dari Kantor Pusat DJBC tentang surat Menteri Perdagangan No. 164/M-DAG/2/ 2006 tanggal 22 Pebruari 2006 ditujukan kepada Gubernur Propinsi NAD antara lain berisi untuk kebutuhan masyarakat Sabang, jumlah gula diberikan persetujuan impornya dengan perhitungan : Jumlah penduduk Sabang x 12 kg/kapita/tahun. Terhadap surat izin pemasukan gula yang telah diterbitkan oleh Kepala BPKS namun belum direalisasikan impornya diminta untuk dibatalkan. Sampai saat tulisan ini dibuat tanggapan Gubernur propinsi NAD terhadap surat Menteri Perdagangan RI tersebut belum ada. Sepulang dari mengikuti pendidikan di Jepang, pada tanggal 27 Februari 2006 dan sambil menunggu keputusan dari Direktur Jenderal Bea dan Cukai, Bp. Safuadi Kepala KPBC Sabang mengambil langkah-langkah penyelesaian permasalahan diatas dengan berkoordinasi selalu kepada Kakanwil XIII DJBC Banda Aceh disertai laporan setiap perkembangan situasi di Sabang dan melakukan koordinasi lebih intens ke Instansi terkait yang berada di Sabang maupun di Banda Aceh serta mengirim surat kepada BPKS yang inti isinya agar BPKS berkoordinasi dengan Departemen Perdagangan RI dalam menyelesaikan permasalahan tersebut.

EVALUASI
Dari kejadian tersebut, banyak hikmah yang dapat diambil, secara internal kami semakin kompak untuk bersama-sama dalam menyelesaikan suatu permasalahan yang timbul, dan secara eksternal kami meningkatkan sosialisasi tentang kedudukan, fungsi dan tugas KPBC Sabang di Kawasan Sabang kepada masyarakat Sabang terutama instansi vertikal di Sabang seperti Walikota, Danlanal, Kajari, Kapolres, Dandenpom IM, anggota DPRD maupun instansi yang berada di Banda Aceh. Harapan kami, terhadap peraturanperaturan ‘Titipan’ dari instansi teknis terutama yang diberlakukan di daerah-daerah perbatasan Indonesia dengan Negara lain, kawasan perdagangan bebas dan pelabuhan bebas, kawasan berikat dan kawasan lainnya yang mendapat perlakuan khusus, agar lebih tegas dan jelas ketentuan yang diberikan sehingga petugas yang di lapangan (operasional) dapat mempunyai dasar hukum yang kuat dalam bertindak dan tidak menimbulkan perselisihan dengan instansi lainnya.
Febra Pathurrachman, Kepala Seksi Kepabeanan dan Cukai II, pada saat kejadian diatas merangkap sebagai Pjs. Kasi P2

PENGAMANAN PENYEGELAN. Bantuan pengamanan pasca bentrokan, salah satunya dari Subdenpom Kodam Iskandar Muda.

38

WARTA BEA CUKAI

EDISI 378 MEI 2006

SELAK

Kota Danau yang Damai
G
eneve (Jenewa, Swiss) suatu kata yang menarik buat kami pekerja di bidang kesehatan, sebab kantor pusat World Health Organization (WHO) berada disana. Atas undangan WHO Head Quarter penulis datang untuk bergabung dengan Tim Penyusun Pedoman Program Terapi untuk penyalahguna narkotika, pada tanggal 1-4 November 2005. Mengingat padatnya acara, penulis bersama asisten muda dari rumah, Wika, datang dua hari sebelumnya agar dapat menyajikan tulisan ini kepada pembaca WBC. Perjalanan cukup panjang dari Jakarta-Bangkok-Frankfurt-Geneve. Melihat situasi bandara Frankfurt dan Geneve, nampaknya kemegahan Bandara Soekarno-Hatta diatas segalanya (selera Asia?), namun kecanggihan berinteraksi untuk informasi dan kebersihan nampaknya Indonesia masih banyak harus bebenah. Di bandara Frankfurt dan Geneve tidak disediakan banyak fasilitas seperti di Changi, yang punya city tour gratis untuk mereka yang transit panjang, atau internet gratis; di Frankfurt dan Geneve kocek harus tebal, selain mahal, semua harus bayar.

GENEVE, SUISSE
Hak sangat dihargai di negara ini, juga hak anjing. Jangan coba-coba menendang anjing, Anda akan berurusan dengan polisi, karena dianggap tindak kriminal.
pikuk keramaian menakutkan. Swiss tak punya perkebunan coklat, tetapi ia terkenal sebagai penghasil makanan dan minuman coklat terbaik. Swiss juga terkenal akan arlojinya yang selalu tepat waktu, dan sampai saat ini masih dipertahankan meski banyak jam tangan buatan negara lain yang jauh lebih murah harganya. Rupanya ketepatan, citarasa dan kualitas dijanjikan di negeri ini, dan mempertahankan tradisi kualitas menjadi ciri utamanya. Makanan di Swiss sangat bervariasi, ikan dari danaunya yang bersih merupakan hidangan menggoyang lidah, ditambah minuman susu coklat hangat dinikmati di tepi danau tenang dan damai. Mengunjungi Swiss yang terbayang adalah gunung-gunung tinggi dan danau. Hampir dua pertiga tanah di Geneve merupakan hutan kota atau taman dengan pepohonan. Tersedia 29 tempat untuk berolahraga musim dingin yang terhampar di ketinggian 2800 meter dari permukaan laut. Juga air terjun, kilauan glasier Aletsch lelehan es salju gunung sepanjang 23 kilometer. Sungai Rhone yang mengaliri Geneve dapat juga dinikmati dengan rafting, tak jauh dari kota dengan biaya sekitar 100 Euro atau 150 CRF.

SEKILAS SWISS
Swiss negara paling damai, aman, tak pernah terdengar cerita tentang demonstrasi, meletusnya bom atau hiruk

SORE INDAH DI KOTA GENEVE
Setelah bebersih diri kami segera melancarkan jurus
EDISI 378 MEI 2006 WARTA BEA CUKAI

39

SELAK
DOK. RATNA SUGENG

MT. BLANC

mengamati kota Geneve. Berbagai brosur dipelajari. Hari itu kami berkeliling kota atas kebaikan Pak Sulistyo seorang Asisten Atase Perdagangan kita di Geneve. Kami melihat pameran foto di tengah kota di taman Universitas Geneve (L’Universite de Geneve), 3 foto tentang subak Bali dan tsunami Aceh berada di tengah begitu banyak paparan foto. Keluar dari taman, sampailah kaki kami memandangi pemandangan gedung dengan arsitektur khas Eropa. Patung Jenderal Dufour diatas kudanya berdiri tegak di tengah jalan yang cukup ramai tetapi tidak padat. Berhadapan dengan jalan ini masih di tepi taman terdapat pampangan pameran foto lagi tentang manusia. Karya hasil seni foto nampak diminati banyak orang. Kami pun dengan cermat melihat karya fotografi yang luar biasa bagusnya. Menelusuri kota tua berjalan kaki melihat pemandangan yang akrab, dimana banyak orang duduk dengan teman kelompoknya menikmati secangkir kopi atau coklat sambil mengobrol. Sangat cozy. Kota tua ini mengingatkan kita
DOK. RATNA SUGENG

pada contoh film Ronin, dimana terjadi kejar-kejaran antar mobil di gang sempit diantara rumah-rumah tua penduduk. Kalau di Yogyakarta mirip tempat asal kelompok band Shaggy-Dog, hanya saja gangnya sedikit lebih lebar, cukup untuk lewat 1 mobil dan 1 motor. Disini kita melihat Gereja Kathedral yang megah dan kuno dan gedung balai kota masa lalu.

KOTA DENGAN BANYAK KANTOR LEMBAGA INTERNASIONAL DAN WARGA NEGARA DUNIA
Esoknya kami bermula dari Gare Routiere, stasiun bis antar kota, yang juga pusat tur keliling kota dan kampung di sekitar Geneve. Berbagai pilihan tersedia, dalam jarak waktu 30-40 menit, untuk jarak yang jauh hanya sekali sehari. Kami beruntung, karena hari itu adalah hari terakhir adanya country-side tour, sebab bulan November memasuki bulan dingin, cuaca gelap, sehingga tur ini dihentikan sampai bulan Maret berikutnya. Kami memilih City-Tour dan Country Side. Dalam city tour kami mengendarai bus mengunjungi semua gedung United Nations: World Health Organization, World Trade Center, ILO, Unicef, International Red Cross, lembaga dunia untuk hak intelektual, Telekomunikasi, UNAIDS, Lembaga Gereja Dunia dan banyak lagi. Masuk ke dalam gedung United Nations sangat ketat pemeriksaannya guna memastikan keamanan. Malam harinya saya sempat makan malam bersama kelompok TDG (Technical Development Group) kami di kantor WHO. Disini tersedia semacam restoran untuk kepentingan pegawai dan pengunjung. Sederhana, tidak mewah, bersih dan mahal. Menurut seorang teman dari WHO HQ, WHO mengeluarkan banyak uang untuk berbagai kegiatan menunjang pemerintah di seluruh dunia dalam bidang kesehatan, namun hanya sedikit dana tersedia untuk pemeliharaan gedung, jadi rupanya kesederhanaan membuat irit pemeliharaan juga. Dari kancah pergedungan internasional, kami menyusuri danau Geneve (Lac Leman) masuk ke daerah elit Canton Cologny dimana para selebriti, para olahragawan, politisi dan orang-orang kaya dunia tinggal. Mereka senang tinggal disitu karena sangat dihargai hak pribadinya sebagai orang normal yang beraktivitas ke pasar

SEBUAH DESA DI KAKI GUNUNG

40

WARTA BEA CUKAI

EDISI 378 MEI 2006

atau tempat umum lainnya tanpa disambut kemeriahan juru foto atau fans. Rumah di daerah ini sangat teduh dengan halaman luas dan pohon besar, menghadap danau Geneve dan letaknya diperbukitan, 6 kilometer dari kota Geneve. Indah luar biasa. Kami berpapasan dengan banyak mobil mewah seperti Porsche, Ferrari, Bentley, Mercedez, BMW, VW yang di Indonesia tak dijumpai. Mata menyelidik mencari kijang, dan tak pernah menemukan. Ada mobil mirip Karimun, namanya Wagon RC. Penduduk negara ini memang duapertiganya adalah warganegara dunia lain, sementara penduduk berkewarganegaraan Swiss hanya sepertiganya.

lah dasar dan taman kanak-kanak punya kewajiban menjaga ketertiban dan keselamatan anak didik. Sebagai mana yang kami amati, mereka piket mengatur anak-anak menyeberang dan bermain dengan aman.

ANGGUR DAN WINE
Berjalan menelusuri kampung, dengan daya tarik istana kecil serta rumah-rumah pembuat anggur disertai hamparan luas pohon anggur. Anggur yang ditanam adalah khusus untuk pembuatan minuman, bukan anggur buah. Anggur buah diimpor dari Italia dan Perancis. Kebun-kebun anggur ini letaknya di kaki bukit di perbatasan Perancis. Masuk ke kampung Verniere dengan penduduk sekitar 14.000 orang dengan 150 warga negara berbagai bangsa, kami terus berjalan ke Bourdigny dengan hamparan luas perkebunan anggur yang diwariskan turun temurun. Masa panen antara 15 September-15 Oktober setiap tahun. Di Castil Chouilly yang megah, sekarang dimiliki seorang bankir, kami menyinggahi kedai anggur dan disuguhi minuman anggur merah atau putih yang umurnya baru setahun. Saya tak mengerti enaknya, namun menurut Wika rasanya tak selezat yang di pesawat. Masih terus berjalan ke Laconnex, suatu desa dengan rumah unik yang dindingnya dirambati pepohonan bersulur, membuat pemandangan indah dengan pancaran warna-warni
DOK. RATNA SUGENG

HAK DAN DEMOKRASI

Saya tak pernah mengerti siapa kepala negara Swiss. Seorang teman yang bekerja di WHO HQ (World Health Organization-Head Quarter) bercerita pada saya bahwa ia baru saja mengajukan keberatan atas pajak, dan ia baru tahu bahwa pembuat keputusan tertinggi di negara ini berganti setiap enam bulan antar Canton. Canton adalah sebutan untuk wilayah, yang mungkin identik dengan propinsi di negara kita. Ada 27 Canton di negara indah dan demokrat ini. Begitu demokratisnya, sampai semua hal perlu referendum. Misalnya mereka akan memperbaiki jembatan, maka referendum dilakukan dengan menyediakan tempat memberikan suara, seperti disediakannya papan referendum di taman Universitas Geneve. Atau cara terbaru adalah setiap orang mempunyai identitas pribadi berupa nomor kode untuk mengirimkan pesan singkat melalui ponsel ke alamat pengumpul referendum. Hampir setiap hari ada referendum untuk berbagai kepentingan. Dikatakan pemerintahan dan rakyat di negara ini bersih, artinya tak ada korupsi. Maka amat jarang terjadi pemeriksaan karcis kereta api ataupun bus. Kalaupun mau nakal mungkin dan bernyali besar maka akan sangat mudah untuk naik bus atau kereta api tanpa bayar, sebab tak tersedia sistem pemeriksaan karcis, kecuali inspeksi dadakan dengan hukuman berat. Hak sangat dihargai di negara ini, juga hak anjing. Jangan coba-coba menendang anjing, Anda akan berurusan dengan polisi, karena dianggap tindak kriminal. Pemilik anjing harus dapat menjamin anjingnya tak menggigit atau menggonggong. Tersedia sekolah kesopanan bagi anjing. Memang si pemilik anjing dan anjingnya sama sopannya. Bukan berarti negera bersih, bersih juga dari copet atau pemabuk atau pengguna narkotika. Dimana-mana anda akan melihat pengumuman untuk berhati-hati dengan setiap barang anda, karena copet atau rampok yang biasanya warga negara tetangga siap beraksi. Pengemis juga menjadi urusan polisi disini. Kami melihat beberapa pengemis, ibu menggendong anak atau laki-laki berbaju kumal, dan bukan warga Swiss. Juga sistem pengawasan toilet umum cukup baik. Mengingat toilet merupakan tempat pengguna narkotika melakukan aktivitas menggunakan suntikan atau ‘dragging’, maka di stasiun bis, pintu keluar masuk toilet dikendalikan secara otomatis dari kasir loket karcis. Kami juga melihat ceceran botol alkohol di salah satu taman kota. Hak terikat juga pada kewajiban. Para orangtua, biasanya ibu-ibu, dari murid sekoSIAP NAIK KERETA GANTUNG

EDISI 378 MEI 2006

WARTA BEA CUKAI

41

SELAK
dedaunan ada yang merah, kuning, hijau. Sayang senja sudah turun, sehingga foto tak dapat diambil. Lully-Jardin, sebuah taman tempat penjual aneka tanaman dan bunga hidup sangat menarik. Bukan hanya menarik dari sisi tanaman, tetapi juga lokasi dan suasana desa Eropanya yang damai. Di desa Cartigny (baca : kartinyi) ada istana kecil dengan patung orang mencuci baju dibawah pancuran. Di lokasi inilah, pada jaman dahulu, para perempuan mencuci baju sambil bergosip, karenanya pancuran ini disebut pancuran gosip. Gunung yang membatasi Perancis dan Swiss adalah gunung karang yang terjal: Mount Saleve. Mereka memanfaatkannya untuk paragliding, memanjat tebing dan kegiatan semacam itu. Jika cuaca baik tersedia pesawat kecil mengantar anda melihat Danau Leman, pegunungan Alpen dan Mount Blanc dari udara. Anda harus punya paspor Perancis untuk dapat melintasi gunung Saleve, mengingat douane berjaga di sepanjang perbatasan. Beribu orang Perancis bekerja di Geneve, dan malam itu kami saksikan begitu banyak kendaraan dari arah Swiss ke arah Perancis, pekerja pulang ke rumahnya di Perancis setiap hari. dari Geneve. Mengambil tur dari stasiun bis Gare Routiere di kota Geneve menuju Chamonix seharga 66 Euro atau 95 CRF, akan membawa kita menikmati pegunungan di Perancis. Perjalanan menuju Chamonix sangat menarik, kita bisa melihat pedesaan dan padang rumput Eropa selama perjalanan. Sekitar 10 menit setelah melewati perbatasan Perancis jalan menjadi sangat berkabut, sulit untuk mengemudikan kendaraan dengan jarak pandang sangat pendek. Supir bis kami sudah sangat ahli, jadi bukan masalah untuknya dalam mengemudikan bis dengan aman, dan mobil-mobil di Eropa sudah dilengkapi dengan lampu kabut sehingga mudah bagi pengemudi untuk mengetahui posisi mobil lainnya. Nampaknya karena kabut inilah kebanyakan mobil keluaran negara belahan dunia utara mempunyai lampu kabut (fog lamp). Setiap peserta tur diharuskan membawa paspor dan visa (bagi warga negara non Eropa), mengingat tur ini melewati perbatasan Swiss-Perancis. Ada cerita menarik mengenai masalah visa dan paspor ini. Bersama kami waktu itu ada 2 orang turis dari Etiopia yang tidak mempunyai visa, beruntung ketika kami sampai di perbatasan petugas imigrasi membiarkan kami lewat tanpa melalui pemeriksaan. Mengingat suhu dapat turun mendadak dan memang berada diketinggian 3842 meter dari permukaan laut, setiap peserta tur diharuskan membawa pakaian yang menjaga kehangatan tubuh termasuk topi dan sarung tangan, mengingat suhu akan berkisar antara -3 sampai -9º C. Peserta tur terdiri dari berbagai bangsa dari Afrika, Asia dan Amerika, anak dibawah umur dua tahun tak diperkenankan ikut tur ini. Disarankan pula untuk membawa kaca mata hitam untuk menanggulangi silaunya pantulan cahaya dari salju dan krim tabir surya, serta mulut diberi kegiatan mengunyah (sebaiknya permen karet) untuk mengurangi tekanan pada gendang telinga ketika berada di ketinggian. Kami bergabung menjadi satu rombongan dengan pemandu wisata seorang perempuan paruh baya yang mahir bahasa Inggris, Spanyol dan Perancis, namanya Maggi. Matahari terbaik atau cahaya terindah di gunung berada pada pukul 7-8 pagi, karena itu setiap tur mengejar waktu ini di L’Aguille du Midi. Sembilan puluh menit perjalanan dari Geneve melewati Arve Valley akan membawa kita ke Chamonix, suatu kampung terindah di kaki gunung Blanc di ketinggian 4807 m dari permukaan laut. Kampung ini begitu tenang dan dikelilingi ’dinding’ gunung, seakan kita berada di benteng alam. Chamonix, adalah kampung yang menawan, layaknya kampung-kampung di Eropa lainnya. Dihuni oleh 14.000 penduduk, yang sebagian penduduknya bekerja di bidang pariwisata Chamonix. Ada beberapa pilihan wisata di Chamonix, naik ke kaki gunung Mont Blanc, paragliding, dan melihat glacier. Dalam tur ini paket paragliding tidak ditawarkan, jadi untuk mengikuti keseluruhan paket yang ditawarkan ditambah makan siang (full package) diperlukan uang sebesar CHF 238. Sesampainya di Chamonix, kami diajak keliling kota Chamonix dengan tujuan agar kami mengetahui titik bertemu (meeting point ) untuk berkumpul kembali pulang ke Geneve. Setelah berputar kota Chamonix, kami turun di stasiun kereta gantung yang akan membawa kami dari Chamonix menuju kaki gunung Mont Blanc: Aguille Du Midi. Aiguille du Midi merupakan pegunungan karang di ketinggian 3842 m dengan puncaknya terdekat ke Mont Blanc. Melalui dua tahap kereta gantung selama 20 menit kita dapat mencapai puncak Mont Blanc. Dari sini, pemandangan indah yang tak pernah saya bayangkan meliputi seluruh mata saya. Terlihat lembah Chamonix dan hampir semua puncak gunung yang membatasi Perancis, Swiss dan Alpen Italia. Gunung berselimut salju putih, batu karang menyembul ditengah

IDULFITRI DAN SHALAT JUM’AT
Shalat Idul Fitri (3 November 2005) dimulai pukul 9.00 waktu Geneve di ruangan seluas 10 x 5 meter di kompleks kantor perwakilan Indonesia di Geneve yang dihadiri oleh lebih dari 100 orang. Khatib shalat Idulfitri ini adalah khatib yang telah di ’book’ selama Ramadhan untuk shalat tarawih dan kegiatan keagamaan selama bulan itu. Shalat berakhir pada pukul 9.30. Dikatakan mereka yang akan mengikuti halal bi halal dapat melakukannya di rumah kediaman duta besar pada pukul 11.30. Mengingat hari Raya Idul Fitri bukanlah hari libur resmi di belahan benua Eropa (juga Australia), maka kami tetap lanjut beraktivitas di lembaga internasional tempat kami diundang bekerja untuk datang ke Geneve ini. Dibanding dengan hari Idul Fitri di Perth (tahun 2004 lalu kami Lebaran di Perth – WBC Januari 2005 hal. 52), maka masyarakat Indonesia disini nampaknya tak terlalu kental lagi beranjangsana dari rumah ke rumah, namun tetap menjaga silaturahmi dengan berkumpul di satu tempat yang ditentukan. Halal bi halal dilakukan tiga kali yakni setelah shalat Ied, hari kedua di bulan Syawal dan di akhir pekan.

CHAMONIX : MONT BLANC DAN MONTEVERS
Ini memang bukan bagian Swiss, namun dapat dicapai
DOK. RATNA SUGENG

GEDUNG WTO DI JENEWA, SWISS

42

WARTA BEA CUKAI

EDISI 378 MEI 2006

DOK. RATNA SUGENG

DOK. RATNA SUGENG

BERPOSE DI ATAS GUNUNG MT. BLANC

PENULIS DI DEPAN GEDUNG WHO

selimut putih, dan langit serasa dapat dijangkau tangan. Suhu berubah drastis, dari 10 derajat Celsius di Chamonix menjadi -9 derajat celsius begitu mencapai ketinggian 3842 meter. Sangat dingin, kedua tangan kami menjadi mati rasa, tetapi walaupun begitu rasa senang dan kagum menghangatkan badan kami. Luar biasa senangnya dirasakan ketika pertama kali tangan memegang salju. Perasaan senang merasakan dinginnya suhu yang tidak pernah kita rasakan di Indonesia. Dan rasa kagum yang teramat besar begitu melihat keindahan hasil karya Tuhan yang berjudul pegunungan Alpen dengan puncaknya, Mont Blanc. Nikmat ketika meminum coklat panas di Aguille du Midi, benar-benar pengalaman yang extraordinary, fantastic! Turun dari Mont Blanc kami bersama rombongan tur makan siang di restoran yang khas pegunungan Eropa bernama Brasserie LM. Makanan pembukanya adalah salad dengan daging sapi, lalu dilanjutkan dengan makanan utama yaitu chicken with mushroom sauce served with pasta dan dessertnya adalah apple pie. Kemudian untuk menambah kehangatan suasana, sepasang suami istri dari Etiopia dan pasangan suami istri profesor ekonomi Universitas Malaga yang kesemuanya juga peserta tur membeli masing-masing satu botol wine dan membagi-baginya kepada kami, hmm! Setelah menyantap makan siang, kereta tua menarik 4 gerbong yang masing-masing berkapasitas 32 orang, membawa kita dari Chamonix ke Montevers di ketinggian 1973 meter menuju Mer de Glace yaitu es krim alam leleh di pegunungan atau glacier. Mer de Glace merupakan tempat menyaksikan lelehan salju es atau glacier sepanjang 7 kilometer dengan lebar rata-rata 1200 meter. Di stasiun du Montevers kita dapat menikmati santapan di kafe dengan minuman hangat coklat yang aduhai nyaman dimulut. Di restoran du Montevers terdapat museum yang memamerkan model kereta api. Selain itu kita dapat menikmati galeri kristal dimana batu alam berkilau bak permata dan menjadi hiasan leher atau telinga para wanita rupawan. Masih di tempat ini kita dapat menyaksikan museum fauna Alpen. Dipamerkan fauna yang ada di pegunungan Alpen seperti burung-burung. Selesai mengunjungi Montevers kami berkumpul di meeting point dan segera pulang. Karena selain menjadi bus untuk tur, bus ini juga sebagai bus reguler antar kota, maka kami mengunjungi beberapa desa kecil dalam perjalanan kembali ke Jenewa. Ketika melewati kota-kota kecil (lebih tepat kampung) sepanjang perjalanan dari Chamonix ke Geneva, banyak penumpang yang diambil dari tempat-tempat

tersebut. Terkesan bagi kami betapa efisien pekerjaan, tidak meninggalkan unsur efektif-efisien dan tetap aman. Salah satu desa yang kami lewati adalah Les houches. Desa ini merupkan desa resort ski, dan kejuaraan ski internasional Eropa diadakan disini. Walaupun kadang salju di desa ini kurang mendukung untuk dilaksanakannya kejuaraan, panitia kejuaraan tetap memaksakan kejuaraan berlangsung di daerah ini dengan membuat salju buatan. Meski anjing mempunyai hak asasi tinggi di Swiss, ia tak diperbolehkan ikut tur ini. Namun setelah kita mengunjungi beberapa desa, dalam perjalanan pulang kita dapat menjumpai tempat latihan anjing penggembala yang biasanya menyelamatkan para peseluncur salju ketika terjadi bencana yaitu anjing St. Bernard. Di Mont Blanc terdapat sebuah terowongan sepanjang 11 kilometer yang tiap harinya dilewati oleh 3000 truk. Pada tahun 1999 terjadi kebakaran yang menyebabkan 39 orang meninggal dalam terowongan. Sejak saat itu dibuat peraturan bahwa setiap menit hanya boleh sebuah truk yang lewat. Berbagai aktivitas dapat dilakukan di daerah pegunungan ini seperti mendaki gunung, bermain ski, menaiki kereta ditarik anjing atau sekedar menikmati panorama dari kereta gondola. Mereka menginformasikan sejumlah orang besar yang pernah berkunjung ke tempat ini misalnya Napoleon III, Goethe, Pasteur. Kereta Monteverer dimulai pada tahun 1909, sementara hotel telah ada sejak 1880 yang merupakan hotel tertua di lembah Chamonix.

GENEVE SELAMAT TINGGAL
Tanggal 5 November 2005, kami (saya dan asisten pribadi saya: Wika) meninggalkan Geneve melalui Frankfurt, dan saya harus turun di Bangkok untuk terbang ke Yangon di Myanmar. Dari langit di Mont Blanc saya kembali mendarat di Yangon, negara yang mirip tanah air Indonesia. Kembali saya harus bertugas sebagai fasilitator untuk kegiatan pelatihan konselor dari WHO South East Asia and West Asia Pacific Region. Dua negara: Swiss dan Myanmar, bak langit dan bumi, dan dimanakah Indonesia tanah airku berada? Untuk siapa saya bekerja: WHO Head Quarter, WHO Asia Tenggara dan Asia Barat Pacific atau untuk kebanggaan Indonesia? Itulah pertanyaan yang berkecamuk di diri saya. Dan asisten pribadi saya membawa seluruh kenangan kemegahan Perancis serta Swiss untuk memperluas cakrawala perhatian dalam menempuh perjalanan sebagai generasi sesudah saya. Ia harus kembali ke kampus Universitas Gajah Mada menimba bekal ilmu sebagai cangkul pertamanya di kehidupan kelak.

Ratna Sugeng - kolumnis wbc

EDISI 378 MEI 2006

WARTA BEA CUKAI

43

SIAPA MENGAPA
K O E S N A D I Ayah dari satu orang putra ini tampak selalu fit dan energik. Sebagai Koordiantor Pelaksana Administrasi Penyidikan KPBC Tipe A Malang, ia memiliki banyak kesibukan dalam mengurus tugas penyidikan akhir-akhir ini, terutama dalam kasus pengungkapan pita cukai palsu sebanyak 20 rim. Karena kasus ini pula ia sempat mewakili KPBC Malang di Pengadilan Negeri Malang untuk menghadapi sidang Pra peradilan. Dalam sidang tersebut, hakim pemeriksa menolak permohonan pra peradilan tersangka terhadap KPBC Malang dengan pertimbangan hukum bahwa semua prosedur yang ditempuh KPBC Malang sudah benar. Dengan keluarnya putusan tersebut maka seluruh tindakan penyidik khusus Bea dan Cukai berupa penangkapan, penahanan, maupun penyitaan, semuanya sah. Berkat kerja kerasnya tersebut, Koesnadi memperoleh penghargaan sebagai pegawai berprestasi luar biasa dari Dirjen Bea dan Cukai pada hari Kepabeanan Internasional ke-54 pada 26 Januari 2006. Koesnadi mulai meniti karir di Departemen Keuangan pada 1976 di bagian Radio Telegrafis. Setahun kemudian (1977), ia disalurkan ke Direktorat Jenderal Bea Cukai dengan penempatan pertama di Kantor Inspeksi (KINSP) Bea dan Cukai Mataram, Nusa Tenggara Barat. Sebenarnya, menjadi pegawai bea cukai bukan merupakan cita-citanya, ia ingin menjadi guru. Tetapi nasib menentukan lain, ia sempat menjadi pegawai di PT Centex Jakarta (pada 1974 - 1975) sebelum akhirnya masuk Departemen Keuangan. Setelah berdinas di KINSP Bea dan Cukai Mataram, ia dipindahkan ke Kanwil VII DJBC Surabaya pada 1988. Kemudian melanjutkan tugas ke KPBC Perak pada 1992 - 2002. Pada 2002 Koesnadi dipromosi M I S K A M “Semuanya serba tidak disengaja,” demikian pengakuan Miskam pada WBC ketika ditanya awal mula meniti karir di Bea dan Cukai hingga pengalamannya ngemsi keluar negeri walau hanya sebatas negara-negara ASEAN. Pada saat diwawancara di KPBC Tanjung Priok III, Miskam mengaku bahwa pada awalnya ia tidak tahu-menahu mengenai institusi Bea dan Cukai. Usai mengikuti ujian UMPTN, ia melihat salah seorang temannya masih memegang kartu ujian lain. Ketika ditanya, temannya menjawab bahwa kartu ujian tersebut adalah kartu ujian tes untuk program D3 STAN. “Saat itu saya juga tidak tahu STAN itu sekolah apa,” kata Miskam kelahiran Meda, 5 Juni 1972. Akhirnya, teman-temannya berinisiatif mendaftarkan Miskam untuk mengikuti ujian masuk D3 STAN. Setelah menerima kartu ujian Miskam kembali bingung, ia tidak mengerti dengan jurusan yang tertera pada kartu ujian, jurusan Bea dan Cukai. “Saya bertanya pada teman jurusan Bea dan Cukai itu apa? Kata teman saya, Bea dan Cukai itu orang yang memeriksa barang-barang kalau kita pulang dari luar negeri,” ujarnya Walaupun masih diliputi kebingungan lantaran penjelasan temannya tersebut, Miskam yang baru tiga kali penempatan tugas di Puslatasi (sekarang IKC), KPBC Tanjung Priok III dan per 17 April 2006 ke Kanwil XI DJBC Makassar, tetap mengikuti ujian dan berhasil lulus. Keberangkatannya ke luar negeri sebagai MC (master of ceremony) juga terjadi secara tidak sengaja. Sejak kecil, Miskam senang berkumpul dengan teman-temannya. Oleh karena itu, ia terbiasa ketika harus mengorganizer suatu acara. Tak heran jika ia kerap terlibat dalam beberapa event organizer dan menjabat sebagai spoke person (guest relation officer). Saat pemilihan Abang dan None Jakarta Selatan pada 1999, MC yang bakal memandu acara tiba-tiba memutuskan kontrak. Alhasil, seluruh panitia NICOLAS LEONARD AURI Kalau orang membaca nama belakang yang melekat di pakaian seragamnya, banyak yang mengira Nicolas adalah putra dari Yohanes Auri (mantan bek kiri terbaik tim sepak bola PSSI sepanjang masa-red). Nyatanya Nico, demikian panggilan akrabnya, memang bukan anak kandung Yohanes Auri melainkan keponakan. Seperti kebanyakan orang, minat pada bidang olahraga tidak mungkin timbul begitu saja, tak terkecuali Nico. Kecintaannya pada olahraga sepak bola memang tak lepas dari darah sepak bola dari keluarganya yang mengalir ditubuhnya. Nico mulai menggeluti olahraga sepak bola sejak masih duduk dibangku SD. Saat bertanding di lapangan, Nico sangat lincah menggocek si kulit bundar dan membagi bola dengan teman satu tim. Bahkan, ia cukup tangguh dalam bertahan mengamankan gawang. Namun garis tangan berkata lain, ia tidak menjadi pemain sepak bola malah justru bekerja di Bea dan Cukai. Pada 1998, Nico mulai meniti karir di Bea dan Cukai melalui

44

WARTA BEA CUKAI

EDISI 378 MEI 2006

menjadi Korlak Administrasi Penyidikan di KPBC Malang hingga kini. Selama bertugas, ia mengalami kisah menarik yang terjadi pada 1991. “Waktu itu saya mendapat tugas pengawasan patroli laut sebagai komandan patroli dari Surabaya menuju Mataram dangan membawa kapal patroli BC 9002. Perjalan laut yang jauh tersebut merupakan kenangan tersendiri bagi saya sebagai pegawai bea cukai,” kata Koesnadi. Pengalaman lainnya adalah sewaktu bertugas di KPBC Perak, ia pernah mengikuti gelar pekara sampai ke tingkat Kejaksaan Agung sebagai penyidik PPNS dalam kasus mobil mewah. Selain kenyang bertugas di berbagai tempat, Koesnadi yang aktif dalam klub selam Customs Diving Club, juga sempat mengenyam pendidikan teknis di Bea dan Cukai antara lain, DPT I ( 1984 ), DPT II (1998), PFPB (1991) dan PPNS (1992). Diusianya yang menginjak 53 tahun, Koesnadi yang hobi bermain tenis ini merasa bersyukur dan bangga menjadi pegawai DJBC. Ia berniat dan selalu berpikir untuk berbuat yang terbaik bagi institusi yang dicintainya. Koesnadi memiliki suatu harapan pada pegawai DJBC, “Saya harap pegawai yang telah PPNS jangan segansegan untuk mengembangkan dan menyalurkan ilmunya di kedinasan,” tandas pria kelahiran 17 Pebruari 1953 ini.

info buku
BILA ANDA BERMINAT,
MAJALAH WARTA BEA CUKAI MENYEDIAKAN BUKU SEBAGAI BERIKUT:

BUNDEL WBC 2005
Bundel Majalah Warta Bea Cukai Tahun 2005 (Edisi Januari - Desember)

Bambang W, Koresponden (SBY)

Rp. 120.000

LANGGANAN MAJALAH WARTA BEA CUKAI

penerimaan khusus di Jayapura, Papua. Setelah itu, pada 2000 ia dimutasi ke KPBC Manokwari hingga saat ini. Sejak mengikuti DTSD I pada 2004 di Pusdiklat, kini ia menjabat sebagai Korlak Administrasi perbendaharaan KPBC Manokwari. Pegawai kelahiran 16 Mei 1978 memiliki harapan yang besar terhadap institusi Bea dan Cukai. ”Kalau bisa, putra daerah Papua yang memiliki kualitas dapat diperhatikan,” ujarnya. Ia pun berpesan agar dalam bekerja, pegawai bea cukai harus kokoh mempertahankan kualitas sumber daya manusianya. “Seperti bermain bola, bukan saja bekerja sama untuk menyerang saja melainkan harus kuat mengusung pertahanan,” tandas pegawai yang memiliki filosofi bola yang dipakai dalam bekerja. Leksi Andre Serumena

Sudah Termasuk Ongkos Kirim

Kantor Pusat Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Jl. A. Yani (By Pass) Jakarta Timur 13230 Telp. (021) 47860504, 4890308 ex. 154 Fax. (021) 4892353 / E-mail: wbc.cbn.net.id dengan Hasim / Kitty
EDISI 378 MEI 2006

MAJALAH WARTA BEA CUKAI

○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○

kelabakan mencari penggantinya. Lantaran sulit mencari MC yang terkenal dalam situasi yang mendesak, akhirnya diputuskan MC berasal dari pihak panitia. Maka, ditunjuklah Miskam sebagai MC pengganti. Setelah beberapa kali menjadi MC dan koordinator event organizer, lama kelamaan Miskam dianggap cocok untuk menjadi MC. Ia pun didaulat untuk terus menjadi MC. Bahkan, beberapa event organizer kerap memintanya untuk menjadi MC dalam suatu acara resmi maupun tidak resmi. ”Saya pernah ngemsi di acara resmi afternoon Tea di Sekretariat Negara, afternoon Tea di Istana Negara, gala dinner Walikota Depok dan acara sosial penggalangan dana untuk pendidikan dan bencana alam yang diselenggarakan di kantor Gubernur DKI Jakarta,” kenangnya. Setelah lulus tes yang diselenggarakan oleh JICA Jepang, pergaulan Miskam semakin luas. Secara kebetulan, Departemen Luar Negeri mengontraknya untuk menjadi MC dalam suatu paket acara memperingati Kemerdekaan RI di kedubes RI di Manila dan Bangkok. Tak hanya itu, ia juga didaulat untuk menjadi MC dalam acara Konsulat Jenderal Diraja Malaysia. Diakhir wawancara, dalam menyikapi kegiatan MC yang dilakoninya ini, biasanya ia mengambil job ngemsi diluar jam kerja seperti malam hari atau disaat libur. “Apabila ada kegiatan yang diselenggarakan diluar Indonesia, biasanya saya selalu ambil cuti,” ujar pegawai yang punya moto berikan yang terbaik untuk mendapat hasil yang terbaik. ats

CATATAN: Ongkos kirim buku wilayah Jabotabek Rp. 25.000

No Lama Berlangganan 1 3 Bulan (3 edisi) 2 6 Bulan (6 edisi) 3 1 Tahun (12 edisi)

Diskon Harga Jabotabek 0% 40. Rp. 40.500 5% 78.000 Rp. 78.000 10% 150 50.000 Rp. 150.000

Harga luar Jabotabek 43. Rp. 43.500 84.000 Rp. 84.000 162 62.000 Rp. 162.000

WARTA BEA CUKAI

45

RUANG INTERAKSI

Oleh: Ratna Sugeng

MENYALAHKAN ORANG,
MENGARAHKAN TELUNJUK PADA DIRI SENDIRI
Mereka yang berperangai marah senantiasa mempunyai perilaku mengendalikan orang lain, mencela, menuduh, menyalahkan, mengkritik, dan sulit akrab dengan orang.

M

arah merupakan keadaan sangat kompleks, karena itu hanya sedikit orang yang punya keterampilan mengekspresikannya secara langsung dan aman. Marah dapat dipicu oleh perasaan terancam, baik ancaman terhadap fisik maupun kepemilikan. Bagi kebanyakan orang dewasa marah timbul karena terancamnya harga diri atau tata nilai. Marah yang sehat merupakan momentum yang menghasilkan perubahan, dengan meninggalkan situasi buruk menuju perubahan sosial yang lebih baik. Marah yang sehat adalah marah yang konstruktif yang mengubah suasana ke arah lebih baik, demikian dapat dibaca lebih lanjut pada How to Let Go of Your Mad Baggage, tulisan Lynne Namka, 2002. Bapak Goprak sangat ditakuti oleh bawahan dan juga atasannya. Ia akan marah besar, jika pekerjaan bawahannya tak sesuai harapannya. Kemarahan yang besar ini menakutkan, sehingga semua staf lebih baik bicara ”ABS”, untuk menyenangkan hatinya. Bila tidak, kata-kata kasar, kritik pedas, menyalahkan meluncur dengan fasihnya dari mulut, bahkan meja yang tak bersalah pun dapat retak dibuatnya. Ketika atasan mengubah strategi kebijakan, pada sosialisasinya akan mendapatkan kritikan pedas dan kalau perlu ’walk-out’, sebelum ia dapat mengambil gambaran global dan paham betul apa pokok yang tak disetujuinya.

kemarahannya tidak realistik, kemarahan kanak-kanak lebih mirip hal ini. Kemarahan tak sehat lainnya adalah ketika seseorang menolak bertanggung jawab atas kesalahan yang dilakukannya. Kemarahan disini dasarnya adalah penghindaran rasa bersalah dan malu. Malu, merupakan perasaan dimana diri merasa tak terlindungi, rentan dan tak ada pertahanan. Perasaan malu membuat seseorang merasa kehilangan cinta dan harga diri, merasa direndahkan, sehingga menghancurkan integritas diri Pada keadaan ini marah akan membuat diri menghindar dari rasa menyakitkan, malu dan terinjak harga dirinya. Marah dapat digunakan untuk menutup pintu dari perasaan buruk, menyakitkan, tak berdaya, dan juga marah dapat menjadi alat intimidasi sehingga memaksa orang lain untuk menyerah dan menghentikan kritik mereka. Dengar pernyataan orang, ”Daripada saya dimarahi, lebih baik saya marah duluan.”

but. Menghakimi dengan menuding orang lain yang bersalah akan memisahkan hubungan seorang dengan lainnya atau rasa persaudaraan. Menurut Carl Jung ahli psikologi, menjelekan orang lain atau menyalahkannya adalah penggambaran cerminan diri yang dipantulkan ke orang tersebut, artinya ada bagian masalah dari diri sendiri yang tak pernah diselesaikan. Dengan kata lain mencerminkan sisi buruk diri sendiri dan dipantulkan ke orang lain.

KRITIK KASAR, PENOLAKAN, MEMPERMALUKAN DAN MENGOLOKOLOK ADALAH MEKANISME PERTAHANAN DIRI BERBASIS MALU
Orangtua pengkritik, perfeksionis dan pilih kasih akan melahirkan anak-anak pemalu. Malu berakar dari penolakan, orang tua dengan pengharapan yang terlalu tinggi dan orangtua yang sebenarnya tak mampu dan menyimpan malu. Kerugian terbesar bagi sang anak adalah bahwa ia belajar menolak sisi terbaik dari dirinya yang sebetulnya potensial untuk ditonjolkan. Olok-olok dari teman sebaya atau orang lebih dewasa menciptakan perasaan tak berdaya dan menimbulkan rasa malu. Anak-anak menjadi ketakutan dan merasa dalam cengkeraman teman-temannya. Para korban kekerasan fisik dan seksual akan mempunyai perasaan tak berharga, malu kepada masyarakat sekitar. Demikian juga korban kekerasan serta pelecehan seksual. Penggunaan alkohol, narkotika dan zat adiktif lainnya merupakan indikator dari perasaan malu. Orang yang pemalu dan merasa bersalah, merasa dirinya tak pernah baik, hampir selalu buruk. Menekan perasaan malu dan bersalah membuat seseorang tak dapat

PERASAAN TERANCAM : MARAH DAN SALAHKAN ORANG LAIN
Kemarahan, membungkus rasa rapuh diri agar terlihat kuat dan tegar, sehingga tidak diolok-olok dan dilawan. Jika seseorang merasa bersalah atau malu, kebanyakan akan mencari mekanisme pertahanan diri dengan penyangkalan, menyalahkan orang lain, membuat diri pura-pura tak tahu dan menghapuskannya dari pikiran. Menyalahkan orang lain atas kesalahan diri sendiri atau mengkambinghitamkan disebut proyeksi! Menghakimi, mengkritik dan memberi sebutan (mengatai) adalah cara untuk melindungi diri dari orang lain. Upaya seseorang menyalahkan orang lain akan menghambat proses pertumbuhan kepribadian kedua orang terse-

MARAH TAK SEHAT
Marah tak sehat adalah marah akibat tak tercapainya tujuan tak realistik. Realistik atau tidaknya sebuah harapan atau keinginan diri terkait dengan kenyataan, upaya, bukan hanya keinginan. Jika seseorang berharap akan sesuatu yang tak mungkin nyata, maka 46
WARTA BEA CUKAI

EDISI 378 MEI 2006

mempercayai orang lain, sehingga juga menghancurkan rasa percaya pada dirinya sendiri. Rasa malu membuat diri selalu memandang dari sisi negatif dan terancam. Menjadi pemarah, pengkritik, perilaku macho, dimaksud untuk membangun benteng melindungi rasa malu atau rasa bersalah. Mereka yang berperangai marah senantiasa mempunyai perilaku mengendalikan orang lain, mencela, menuduh, menyalahkan, mengkritik, dan sulit akrab dengan orang.

PARADOKS BERSALAH DAN MALU
Ciri khas respon manusia atas perasaan bersalah dan malu adalah meningkatkan energi untuk membungkus perasaan tersebut agar tidak tercecer bocor. Akibatnya adalah perasaan negatif yang tersimpan rapat di dalam badan yang tak akan lekang sampai kita memaafkan diri sendiri. Semua manusia mempunyai sisi kelam, dan itu tidak selalu harus jadi sisi buruk yang tak termaafkan, semuanya wajar karena manusia mempunyai dua sisi : kelam dan cerah. Sisi emosi negatif membantu kita melihat satu aspek dalam diri kita yang belum serasi dengan tata nilai yang kita anut. Gejala rasa bersalah, malu dan penyebab kemarahan adalah indikator ringan bahwa badan membutuhkan penyesuaian diri. Bertanggung jawablah jika merasa bersalah, sampaikan permintaan maaf, maafkan orang lain dan diri sendiri akan membuat kehidupan kembali berimbang, kata Lynne Namka, penulis buku I’m Sorry I Hurt Someone. Menurunkan atau menghilangkan rasa malu tidaklah semudah menghitung dengan logika. Ia memerlukan latihan menata emosi, bukan intelektual. Pengakuan rasa bersalah akan meringankan proses ini. Dalam proses terapi psikologik, perasaan bersalah, malu akan dapat diangkat untuk dikurangi, dengan demikian rasa sedih, cemas dan depresi dapat diringankan. Pahamilah bahwa mereka yang galak, kasar secara verbal, seksual dan fisik adalah mereka mereka yang mempunyai rasa rendah diri dan berusaha menindas orang lain. Para orangtua pengkritik sebetulnya adalah orangtua yang merasa dirinya jelek dan frustasinya disemprotkan pada kritiknya yang keras menyakitkan. Mengenali situasi diatas, tengoklah diri sendiri guna menemukan simpul kemarahan, maafkan diri sendiri dan mintalah maaf kepada orang lain yang anda kritik habis atau rendah dirikan, maka serasa ada sebongkah beban keluar dari dada dan menuntun anda untuk menyeimbangkan diri. Inilah upaya membangun diri, mengembalikan integritas diri, mematangkan kepribadian. Selamat mencoba.
EDISI 378 MEI 2006 WARTA BEA CUKAI

47

INFO PEGAWAI
WBC/ATS

MUTASI. Sembilan pejabat eselon III dilantik dan diambil sumpahnya untuk segera mengisi posisi jabatan yang kosong.

MUTASI DAN PROMOSI
P
ola baru ini terwujud dengan dilakukannya mutasi dan promosi terhadap sembilan pejabat eselon III yang baru-baru ini dilantik dan diambil sumpahnya. Acara pelantikan dan pengambilan sumpah jabatan terhadap sembilan pejabat eselon III dilingkungan DJBC yang berdasarkan keputusan Menteri Keuangan Nomor 152/KM.1/UP.11/ 2006, berlangsung pada 28 Maret 2006 lalu dan dilaksanakan di aula lantai lima gedung B Kantor Pusat DJBC. Pelantikan dan pengambilan sumpah jabatan yang dilakukan dihadapan Sekretaris Jenderal Bea dan Cukai, Sjahrir Djamaluddin ini juga disaksikan oleh Direktur P2, Endang Tata dan Direktur PPKC,
WARTA BEA CUKAI

SEMBILAN PEJABAT ESELON III DJBC
Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC), kini menerapkan pola mutasi dan promosi yang baru. Tanpa menunggu lama, setiap ada kekosongan jabatan dapat segera terisi kembali, sehingga roda organisasi dapat tetap berjalan dengan baik.
Wahyu Purnomo. Acara yang cukup sederhana namun penuh hikmat ini, juga turut disaksikan oleh pejabat eselon III dan IV dilingkungan Kantor Pusat DJBC. Dalam kata sambutannya Sekretaris Jenderal Bea dan Cukai, Sjahrir Djamaluddin, mengatakan sebagai bagian dari lembaga publik, DJBC memiliki akuntabilitas publik yang harus dipertanggungjawabkan hasil pelaksanaan tugasnya baik kepada negara maupun kepada masyarakat. “Selain itu, tugas DJBC yang menyentuh hajat hidup orang banyak ini membuat institusi kita senantiasa menjadi perhatian dan sorotan masyarakat. Terlepas dari validitas informasi dan akurasi anggapan dan tanggapan masyarakat yang negatif terhadap bea cukai, kita semua, terutama jajaran pimpinan termasuk saudara-saudara ini wajib selalu mawas diri dan siap untuk senantiasa memperbaiki kinerjanya.” “Perlu saya tekankan lagi pentingnya koordinasi di dalam dan antar unit kerja baik secara formal maupun informal, namun harus tetap dalam koridor hierarkis organisasi. Seringkali permasalahan yang muncul dan dilihat oleh masyarakat maupun aparat pengawas fungsional bukan semata-mata masalah teknis operasional tetapi justru karena kurangnya koordinasi baik internal maupun eksternal,” ujar Sjahrir Djamaluddin. Akan pola mutasi yang baru ini menurut Isja Bewirman yang sebelumnya menjabat sebagai Kepala Pangkalan Sa-

48

EDISI 378 MEI 2006

Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 152/KM.1/UP.11/2006 tentang Mutasi Para Pejabat Eselon III Di Lingkungan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Departemen Keuangan
No. N a m a / N I P Pangkat Golongan/ Ruang JABATAN DAN TEMPAT KEDUDUKAN LAMA BARU

DIREKTORAT JENDERAL BEA DAN CUKAI DIREKTORAT PENCEGAHAN DAN PENYIDIKAN : 1 Ir. Johansyah 060079937 Penata TK.I III/d Kepala Seksi Tempat Penimbunan I KPBC Tipe A Purwakarta Pj. Kepala Pangkalan Sarana Operasi Bea dan Cukai Tipe A Tanjung Balai Karimun

DIREKTORAT PENERIMAAN DAN PERATURAN KEPABEANAN DAN CUKAI : 2 Muhammad Zein, S.H., M.A. 060034210 Pembina TK.I IV/b Pelaksana pada Sekretariat Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Kepala Subdirektorat Penyuluhan dan Publikasi Kepabeanan dan Cukai

KANTOR WILAYAH I DJBC TIPE A MEDAN : 3 Ir. Karuna 060079869 Penata TK.I III/d Kepala Seksi Pemantauan Pelaksanaan Audit Direktorat Verifikasi dan Audit Pj. Kepala Bidang Audit

KANTOR WILAYAH II DJBC TIPE KHUSUS TANJUNG BALAI KARIMUN : 4 Ir. Isja Bewirman 060079880 Pembina IV/a Kepala Pangkalan Sarana Operasi Bea dan Cukai Tipe A Tanjung Balai Karimun Kepala Kantor Pelayanan Bea dan Cukai Tipe A Pekanbaru

KANTOR WILAYAH V DJBC TIPE A BANDUNG : 5 Drs. Bambang Wahyudi 060057707 Penata TK.I III/d Kepala kantor Pelayanan Bea dan Cukai Tipe B Bontang Kepala Kantor Pelayanan Bea dan Cukai Tipe B Cirebon

KANTOR WILAYAH VIII DJBC TIPE B DENPASAR : 6 Zul Achir Siregar, S.H., M.M 060040581 Pembina IV/a Kepala Seksi Tempat Penimbunan V KPBC Tipe A Juanda Kepala Bagian Umum

KANTOR WILAYAH X DJBC TIPE B BALIKPAPAN : 7 Ir. Yusmariza, M.A. 060079901 Penata TK.I III/d Kepala Seksi Peraturan Cukai dan Peraturan Lainnya Direktorat Penerimaan dan Peraturan Kepabeanan dan Cukai Kepala Kantor Pelayanan Bea dan Cukai Tipe B Bontang

KANTOR WILAYAH XII DJBC TIPE B AMBON : 8 Budiman Karo Karo, S.E., M.M 060056416 Pembina IV/a Kepala Subbagian Tata Usaha dan Rumah Tangga Kantor Wilayah V DJBC Tipe A Bandung Kepala Bidang Pencegahan dan Penyidikan

BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN : 9 Marisi Zainudin Sihotang, S.H, M.M 060064352 Pembina IV/a Kepala Bidang Pencegahan dan Penyidikan Kantor Wilayah XIII DJBC Tipe B Ambon Kepala Bidang rencana dan Program Pusat Pendidikan dan Pelatihan Bea dan Cukai

rana Operasi Bea dan Cukai Tipe A Tanjung Balai Karimun, dan pada mutasi pada kali ini menjabat sebagai Kepala KPBC Tipe A Pekanbaru, menyatakan kalau pola mutasi yang baru ini jauh lebih bagus dari yang terdahulu, selain itu Isja juga mencontohkan kalau mutasi terdahulu dirasakan kurang efektif sehingga

banyak terjadi kekosongan jabatan yang menyebabkan roda organisasi tidak dapat berjalan dengan baik. “Pola ini jauh lebih baik dari yang sebelumnya, karena dengan pola yang baru ini tidak akan ada lagi kekosongan jabatan yang begitu lama dan roda organisasi juga dapat berjalan dengan

baik tanpa mengalami banyak hambatan,” papar Isja Bewirman. Acara pelantikan dan pengambilan sumpah jabatan pejabat eselon III ini, akhirnya ditutup dengan pembacaan doa oleh rohaniawan Islam dan dilanjutkan dengan acara pemberian selamat kepada pejabat yang baru dilantik. adi
EDISI 378 MEI 2006 WARTA BEA CUKAI

49

INFO PEGAWAI

PEGAWAI PENSIUN
T.M.T 01 MEI 2006 PERIODE T.A 2006
NIP 060034166 GOL IV/c JABATAN Kepala Bagian Umum NO. 1. NAMA Drs. Tarsiwan Nur Rochmat Kali Porkas Uut Udaja Sudjaja Taslimin Soehardjono Suprijati Djunafar Ponirin M a s r i M. S Habsyah Surachmad Sri Sudarmi Fredrik Mangempis Marsumi Sudarwo M. Sjahrir Donny Afrilan Sutrisno KEDUDUKAN Kanwil II DJBC Tg. Balai Karimun 2. 060035369 IV/a Kasie Perbendaharaan KPBC Tipe A Khusus Tg. Priok I 3. 060034191 IV/a Kasubbag TU dan RT Kanwil VI DJBC Semarang 4. 5. 6. 7. 060049085 060061430 060032045 060032068 IV/a III/c III/c III/c Kasie Kepabeanan II Korlak Administrasi TPB Korlak Administrasi TPB Pelaksana KPBC Tipe A Kudus KPBC Tipe A Jakarta KPBC Tipe A Bekasi KPBC Tipe A Khusus Tg. Priok II 8. 9. 060040614 060044760 III/b III/b Pelaksana Pelaksana KPBC Tipe B Bogor KPBC Tipe B Teluk Nibung 10. 11. 060046461 060045526 III/b III/b Korlak Administrasi Impor Pelaksana KPBC Tipe A Dumai KPBC Tipe A Khusus Soekarno Hatta 12. 060052407 III/a Pelaksana KPBC Tipe A Khusus Tg. Priok II 13. 060049499 III/a Korlak Administrasi Impor dan Ekspor 14. 15. 060056071 060056776 II/d II/d Pelaksana Pelaksana KPBC Tipe A Bitung KPBC Tipe A Khusus Tg. Priok II 16. 060056525 II/d Pelaksana KPBC Tipe A Khusus Soekarno Hatta 17. 18. 19. 060058166 060059415 060060025 II/d II/d II/c Pelaksana Pelaksana Pelaksana KPBC Tipe A Tg. Pinang KPBC Tipe A Batam KPBC Tipe A Medan KPBC Tipe B Yogyakarta

Telah meninggal dunia, Larjo, Pelaksana pada Kantor Pelayanan Bea dan Cukai Tipe B Yogyakarta, pada hari Rabu, 8 Maret 2006 di RS. Panti Rini Yogyakarta. Jenazah telah dimakamkan pada hari Kamis, 9 Maret 2006 di Wonogiri Surakarta, Jawa Tengah. Telah meninggal dunia, Sukarno, Koorlak Intelijen pada Kantor Pelayanan Bea dan Cukai Tipe A Samarinda, pada hari Rabu, 12 April 2006. Jenazah telah dimakamkan pada hari Kamis, 13 April 2006 di TPU Muslimin Samarinda. Segenap jajaran Direktorat Jenderal Bea dan Cukai menyatakan duka yang sedalam-dalamnya. Bagi keluarga yang ditinggalkan semoga diberikan ketabahan dan kekuatan oleh Tuhan Yang maha Esa. Amin
50
WARTA BEA CUKAI EDISI 378 MEI 2006

BERITA DUKA CITA

SEKRETARIAT

Pola Mutasi DJBC
Agar lebih maksimal, posisi yang kosong langsung diisi.

P

ada 28 Maret 2006, bertempat di Kantor Pusat Direktorat Jenderal Bea dan Cukai diselenggarakan pelantikan pejabat eselon III. Sebanyak sembilan orang pejabat eselon III di lingkungan DJBC dilantik oleh Sekretaris DJBC, Sjahril Djamaludin. Menurut Jusuf Indarto, Kepala Bagian Kepegawaian Sekretariat DJBC, pelantikan tersebut tidak berbarengan dengan mutasi dan pelantikan eselon III yang terjadi pada akhir 2005 lalu karena keputusannya sendiri baru terbit pada 9 Maret 2006, yaitu Keputusan Menteri Keuangan Nomor 152/KM.1/ 2006. Namun, pada prinsipnya tidak ada perbedaan antara pelantikan kali ini dengan pelantikan akhir tahun 2005 yang lalu. Keduanya merupakan tindak lanjut dari Keputusan Menteri Keuangan tentang Mutasi Para Pejabat Eselon III di Lingkungan DJBC. Mutasi Eselon III yang dikeluarkan pada tanggal 9 Maret 2006 tersebut juga dilakukan untuk mengisi jabatan-jabatan yang kosong karena

kebijakan terdahulu. Sebelumnya, jika ada posisi eselon III yang kosong maka akan ditunjuk pejabat sementara (Pjs.) sehingga Pjs. tersebut posisinya bisa merangkap dua bahkan hingga tiga posisi. Ketika dikonfirmasi oleh WBC, Jusuf menekankan bahwa tidak ada perbedaan kebijakan antara yang terdahulu dan yang sekarang. “Hanya saja sekarang kita ingin lebih maksimal, karena kalau ada posisi yang kosong dan langsung diisi maka semua pihak akan diuntungkan,” terang Jusuf. Dalam hal ini, Direktorat Jenderal dan masyarakat akan diuntungkan karena roda organisasi dan pelayanan akan berjalan dengan lancar. Pegawai juga diuntungkan karena ada kepastian siapa yang dipromosikan ke eselon yang lebih tinggi dan mendapatkan haknya JUSUF INDARTO. Tidak ada perbedaan kebijakan sesuai jabatan yang dipangkunya. antara yang terdahulu dan yang sekarang. Jusuf menambahkan, tujuan dari pelantikan eselon III yang dilakukan pejabatnya pensiun. “Jadi, tidak kapada 28 Maret adalah untuk rena alasan lain,” imbuh Jusuf. pembenahan. Pengisian jabatan Berdasarkan pengamatan WBC, eselon III yang kosong secara cepat kebijakan saat ini berbeda dengan dimaksudkan agar dapat DOK. WBC mendorong peningkatan kinerja dan efektifitas para pegawai. Dengan tidak adanya perangkapan jabatan (Pjs.) diharapkan para pejabat dapat lebih memusatkan perhatian kepada tugas pokok dan fungsinya (tupoksi) masing-masing. Dengan demikian sesuai arahan Sekretaris DJBC (dalam pelantikan eselon III tersebut-red), harapan yang ingin dicapai adalah agar jajaran pimpinan di lingkungan DJBC selalu mawas diri dan siap untuk senantiasa memperbaiki kinerjanya. “Jadi, apabila berdasarkan evaluasi kinerja di kemudian hari pejabat yang menerima amanat dianggap tidak mampu melaksanakan tugas, maka amanat yang dibebankan kepadanya dapat dicabut,” tandas Jusuf. PEGAWAI DJBC. Dengan tidak adanya perangkapan jabatan (Pjs.) diharapkan para pejabat dapat lebih Disamping itu, memusatkan perhatian kepada tupoksinya masing-masing.
EDISI 378 MEI 2006 WARTA BEA CUKAI

DOK. WBC

51

SEKRETARIAT
diharapkan akan ada peningkatan koordinasi di dalam dan antar unit kerja baik secara formal maupun informal dalam koridor hirarkis organisasi. Lantas, bagaimanakah proses atau urut-urutan promosi dan mutasi itu sendiri? Jusuf menerangkan, kalau ada jabatan kosong yang pertama dilakukan adalah meneliti curriculum vitae para pegawai, siapa saja yang memenuhi syarat untuk menduduki jabatan yang kosong tersebut. Penelitian meliputi antara lain kepangkatan, pendidikan formal, pendidikan teknis, pengalaman kerja, usia, dan sebagainya. Calon yang memenuhi syarat diusulkan kepada Menteri Keuangan. Di Departemen Keuangan usulan tersebut diproses oleh Baperjakat (Badan Pertimbangan Kepangkatan dan Jabatan) dan jika disetujui, terbitlah Surat Keputusan Menteri Keuangan tentang pengangkatannya. Surat Keputusan Menteri Keuangan tersebut harus ditindaklanjuti dengan pelantikan dan pengambilan sumpah oleh pejabat yang berwenang selambat-lambatnya tiga puluh hari sejak diterbitkan. “Waktu yang dibutuhkan untuk mengisi jabatan yang kosong, tidak terlalu lama, hanya berkisar antara dua minggu sampai satu bulan,” kata Jusuf. keputusannya, melakukan serah terima terhadap jabatannya yang lama, menerima uang pindah apabila pindah ke kota lain, kemudian berangkat ke kantor tujuan. Ia menjelaskan, latar belakang dan harapan DJBC dengan dikeluarkannya SK mutasi melalui website tersebut adalah untuk memberikan kemudahan akses informasi dan bersikap transparan dalam hal urusan mutasi dan promosi pegawai. Jusuf melihat bahwa SK mutasi yang dapat dilihat melalui website, sangat membantu para pegawai DJBC dalam hal informasi mengenai mutasi dan sangat menghemat waktu maupun biaya. “Sejauh ini belum ditemui adanya kekurangan dalam penyampaian keputusan melalui website, malah sebaliknya dalam penyampaian dan penerimaan keputusan mutasi dan promosi dapat dilakukan secara cepat dan akurat serta memuaskan semua pihak,” tandas Jusuf. ifa
○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○

LIHAT SKEP MUTASI LEWAT WEBSITE
Mulai akhir tahun 2005, keputusankeputusan tentang mutasi para pejabat atau pegawai di lingkungan DJBC sudah bisa diakses melalui internet, dengan alamat www.beacukai.go.id. Apabila setelah melihat website ternyata para pejabat atau pegawai tersebut terkena mutasi, tentu saja tidak lantas langsung pindah, masih ada waktu 30 hari untuk mempersiapkan kepindahannya. Prosesnya masih seperti sediakala, lanjut Jusuf, yaitu pegawai yang bersangkutan akan memperoleh petikan surat
○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○

INFO PERATURAN
No. 1. 2. 3. 4. PERATURAN Nomor 17/PMK.04/2006 16/PMK.04/2006 13/PMK.04/2006 12/PMK.04/2006

PERATURAN MENTERI KEUANGAN Per April 2006
P 01-03-06 01-03-06 20-02-06 16-02-06 E R I H A L Tanggal Perubahan Atas Peraturan Menteri Keuangan Nomor 43/PMK.04/2005 Tentang Penetapan Harga Dasar Dan Tarif Cukai Hasil Tembakau. Kenaikan Harga Dasar Hasil Tembakau Penyesuaian Terhadap Barang Yang Dinyatakan Tidak Dikuasai, Barang Yang Dikuasai Negara, Dan Barang Yang Menjadi Milik Negara. Perubahan Kedelapan Atas Keputusan Menteri Keuangan Nomor 89/KMK.04/ 2002 Tentang Tata Cara Pemberian Pembebasan Bea Masuk dan Cukai Atas Impor Barang untuk Keperluan Badan Internasional Beserta Pejabatnya Yang Bertugas Di Indonesia.

PERATURAN DIREKTUR JENDERAL BEA DAN CUKAI Per April 2006
PERATURAN No. 1. 2. 3. Nomor P-04/BC/2006 P-03/BC/2006 P-02/BC/2006 Tanggal 28-03-06 02-03-06 02-03-06 Perubahan Atas Peraturan Direktur Jenderal Bea dan Cukai Nomor P-22/BC/2005 Tentang Penyediaan Dan Tata Cara Pemesanan Pita Cukai Hasil Tembakau. Penyediaan Dan Tata Cara Pemesanan Pita Cukai Hasil Tembakau Untuk Bulan Maret Tahun 2006. Perubahan Peraturan Direktur Jenderal Bea dan Cukai Nomor 07/BC/2005 Tentang Tata Cara Penetapan Harga Jual Eceran Hasil Tembakau. P E R I H A L

SURAT EDARAN DIREKTUR JENDERAL BEA DAN CUKAI Per April 2006
SURAT EDARAN No. 1 2 3 52 Nomor SE-14/BC/2006 SE-15/BC/2006 SE-16/BC/2006
WARTA BEA CUKAI

Tanggal 02-03-06 17-03-06 17-03-06 Petunjuk Pelaksanaan Penetapan Kenaikan Harga Jual Eceran Hasil Tembakau Dan Pelayanan Pemesanan Pita Cukai Tanda Pendaftaran Tipe Atas Kendaraan Bermotor Impor Pelayanan Pemesanan Pita Cukai (CK-1) Bulan April 2006.

EDISI 378 MEI 2006

P

E

R

I

H

A

L

PERISTIWA
WBC/IFA

LOMBA MEMAKAI KAIN KEBAYA. Para ibu Dharma Wanita tampak berusaha secepat mungkin memakai kain kebaya tradisional.

Paguyuban Dharma Wanita
SE-KANWIL V DJBC BANDUNG
itengah-tengah minimnya kegiatan Dharma Wanita di lingkungan DJBC, pada 13 April 2006, bertempat di SKI Tajur, Bogor-Jawa Barat, KPBC Tipe B Bogor mejadi tuan rumah dalam acara pertemuan rutin Dharma Wanita se-Kanwil V DJBC Bandung. Acara yang bertema Paguyuban Keluarga Besar Dharma Wanita Persatuan Kantor Wilayah V Bandung ini dihadiri oleh sekitar 125 orang ibu-ibu Dharma Wanita yang berasal dari kantor-kantor pelayanan Bea dan Cukai yang berada di bawah Kanwil V DJBC Bandung, seperti Bogor, Soekarno Hatta, Purwakarta, Tasikmalaya, Merak, Bekasi, BandungGede Bage, Cirebon dan tentu saja Kanwil V DJBC Bandung. Sekitar pukul 10.30 WIB, acara tersebut dimulai. Para ibu Dharma Wanita tampak apik mengenakan seragam Dharma Wanita yang mencirikan masing-masing perwakilan. Nuansa busana merah muda dan jingga tampak memenuhi ruangan dilantai dua restoran SKI Tajur. Dengan wajah berseri-seri para ibu Dharma Wanita tampak antusias mengikuti rangkaian demi rangkaian kegiatan yang diadakan oleh panitia penyelenggara (KPBC Bogor-red) diantaranya, pembagian door prize dan unjuk kebolehan masing-masing perwakilan Dharma Wanita dari

Selain untuk meningkatkan tali silaturahmi juga memperingati Hari Kartini.

D

kantor pelayanan. Tak hanya itu, para ibu juga dikejutkan dengan perlombaan memakai kain kebaya dalam waktu 5 menit dan berlenggak-lenggok layaknya peragawati. Masing-masing Dharma Wanita dari kantor pelayanan pun diminta untuk menunjuk seorang wakilnya untuk mengikuti lomba. Alhasil, kehebohan pun terjadi. Para ibu dengan senyum yang terus mengembang, berusaha secepat mungkin memakai kain kebaya dan berlengak-lenggok bak peragawati. Para penonton tak henti-hentinya tertawa melihat tingkah para ibu yang berlomba dan terus memberikan aplaus. Hasilnya, juara I diraih oleh Dharma Wanita dari KPBC Cirebon, juara II dari KPBC Bandung dan juara III dari KPBC Soekarno Hatta. Ketika diwawancara WBC, Ny. Djoko Wiyono, Ketua Paguyuban Keluarga Besar Dharma Wanita Persatuan Kanwil V DJBC Bandung mengatakan, acara ini memang diadakan secara rutin 4 bulan sekali di lokasi yang berbeda-beda. Tujuan diselenggarakan acara ini adalah untuk mengakrabkan para anggota dan mengeratkan tali silaturahmi. Atas dasar inisiatif Dharma Wanita Persatuan KPBC Bogor, selain tujuan tersebut diatas, acara ini sekaligus dilakukan dalam rangka memperingati Hari Kartini yang
EDISI 378 MEI 2006 WARTA BEA CUKAI

53

PERISTIWA
WBC/IFA

○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○

Diskusi Panel
TENTANG KELUARGA, PEREMPUAN DAN ANAK
Keluarga berkualitas merupakan fondasi bangsa dan negara yang kokoh.
etiap warga negara Indonesia, baik anak-anak, perempuan maupun laki-laki, memiliki kedudukan yang sama dan mempunyai hak asasi yang sama sebagai manusia. Anakanak mempunyai hak untuk dapat hidup tumbuh, berkembang dan berpartisipasi secara optimal sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan serta mendapatkan perlindungan dari berbagai bentuk kekerasan dan diskriminasi demi terwujudnya anak-anak Indonesia yang berkualitas, berakhlak mulia dan sejahtera. Karena dalam dirinya melekat harkat, martabat dan hak-hak sebagai manusia yang harus dijunjung tinggi. Setiap warga negara berhak mendapatkan rasa aman dan bebas dari segala bentuk kekerasan terutama kekerasan dalam rumah tangga. Perempuan harus dapat merasakan keadilan dan kesetaraan gender dan menikmati penghapusan segala bentuk diskriminasi. Berangkat dari hal tersebut, tampaknya tepat jika pada 17 April 2006, KPBC Tipe A Bekasi dan Dharma Wanita Persatuan bekerjasama dengan LHAPI (Lembaga Hak Anak dan Perempuan) menyelenggarakan diskusi panel dengan topik Keluarga Berkualitas Merupakan Fondasi Bangsa dan Negara yang Kokoh. Acara yang digelar di ruang serba guna KPBC Bekasi terseWBC/ATS

S

PERTEMUAN RUTIN. Untuk pertama kalinya Dharma Wanita Persatuan KPBC Bogor menjadi tuan rumah dalam pertemuan rutin Dharma Wanita se-Kanwil V DJBC Bandung.

jatuh pada 21 April. “Jadi, selain berkumpul para ibu dapat melakukan kegiatan yang berguna. Karena selama ini kan hanya para bapaknya saja yang sering bertemu,” tambah Ny. Djoko. Dalam acara ini juga dilakukan diskusi untuk memecahkan masalah yang ada di Dharma Wanita di kantorkantor pelayanan. Kemudian dapat saling memberi masukan ataupun menerima input dari luar untuk kemajuan Dharma Wanita. Selaku Ketua Panitia Penyelenggara dari Dharma Wanita Persatuan KPBC Bogor, Ny. Sony Subagyo menjelaskan, acara paguyuban kali ini baru pertama kalinya diselenggarakan oleh KPBC Bogor. Menurutnya, untuk meramaikan suasana, yang istimewa dari acara ini adalah lomba memakai kain kebaya tradisional dalam waktu 5 menit. Lomba tersebut dipilih karena sebelumnya dalam memperingati Hari Kartini kebanyakan orang memakai kain kebaya tradisional. Sehingga, untuk mengingat hal tersebut, dibuatlah lomba memakai kain kebaya. “Terus terang saja, ibu-ibu tersebut sama sekali tidak tahu akan adanya lomba memakai kain ini, jadi kami ingin memberikan kejutan sehingga mereka berlomba tanpa adanya persiapan,” tambahnya. Ia mengaku merasa senang dengan banyaknya anggota Dharma Wanita yang hadir dalam acara ini. “Alhamdulilah saya senang karena kami dari Dharma Wanita KPBC Bogor bisa menyelenggarakan acara ini. Mudahmudahan dimanapun diadakan acara ini dapat berlangsung lancar seperti saat ini,” ujarnya. Tak lupa ia juga mengucapkan terima kasih pada Ny. Djoko yang telah hadir dalam acara ini. Dharma Wanita KPBC Bogor sendiri melakukan kegiatan pertemuan rutin dengan anggotanya tiap dua bulan sekali. Jangka waktu tersebut memang sengaja dipilih karena pada dasarnya para ibu Dharma Wanita memiliki keluarga dan kegiatan dirumah dan lingkungannya masing-masing. Ny. Djoko menambahkan, acara ini sangat bagus untuk saling bertatap muka. Pasalnya, ibu-ibu Dharma Wanita yang berada di daerah yang cukup jauh selalu berharap akan adanya pertemuan seperti ini. “Saya berharap mudah-mudahan selanjutnya hubungan antara ibu-ibu Dharma Wanita akan seperti ini terus sehingga keakraban dapat lebih terjalin lagi,” ucapnya. Menurutnya, Dharma Wanita saat ini berbeda dengan Dharma Wanita jaman dulu. Ibu-ibu Dharma Wanita saat ini sudah lebih maju, mandiri dan lebih pintar. Rencananya, empat bulan kemudian (Agustusred) acara paguyuban Dharma Wanita ini akan diselenggarakan di KPBC Bekasi. ifa 54
WARTA BEA CUKAI EDISI 378 MEI 2006

PEMBICARA. KaKPBC Bekasi, Istyastuti Wuwuh Asri, didampingi oleh Ketua Dharma Wanita Persatuan dan para pembicara.

WBC/ATS

TANYA-JAWAB. Usai pemaparan, para peserta melakukan tanya jawab dengan pembicara.

but dihadiri oleh ibu-ibu Dharma Wanita Persatuan KPBC Bekasi serta para pegawai laki-laki dan perempuan di lingkungan KPBC Bekasi. Selain diskusi panel dan tanya jawab, acara tersebut juga dimeriahkan dengan lomba busana terbaik yang diikuti oleh seluruh peserta yakni ibu-ibu Dharma Wanita. Kali ini diskusi panel menghadirkan empat orang pembicara dari LHAPI dengan sub topik yang berbeda. Mereka adalah Ir. Ambar Rahayu MNS yang mengulas topik membangun keluarga berkualitas; Prof. Dr. Zaitunah yang membahas topik bagaimana menjadi perempuan tegar; Dra. Rahma Fitriani M.Si yang membicarakan topik bagaimana menyiapkan anak sebagai SDM yang handal, serta yang terakhir Anna Rahmadiana SH yang mengemukakan topik bagaimana mencegah pelanggaran hak perempuan dan anak. Sekedar informasi, LHAPI merupakan sebuah Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang baru didirikan pada 2004. Walaupun demikian, kegiatan yang dilakukan sudah cukup banyak, misalnya menyosialisasikan hak perempuan dan anak, pengumpulkan donatur untuk membeli susu bagi anak-anak korban tsunami, mengusulkan perumusan kebijakan hingga ke level amandemen UU, membantu menerbitkan akta kelahiran anak, membantu korban tindak KDRT dan sebagainya. Bila anda memerlukan bantuan LHAPI dapat menghubungi LHAPI di nomor telepon (021) 70417953. Kembali pada kegiatan diskusi panel, Kepala KPBC Bekasi, Istyastuti Wuwuh Asri yang juga merupakan Sekretaris Jenderal LHAPI mengatakan, kegiatan tersebut diselenggarakan dalam rangka memperingati Hari Kartini dan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Tujuannya adalah untuk meningkatkan pengetahuan para pegawai mengenai hak perempuan dan anak serta mencegah pelanggaran terhadap hak perempuan dan anak. Menurutnya, tindak kekerasan di dalam rumah tangga bukan hanya dalam bentuk penyiksaan secara fisik (seperti pemukulan, tendangan dsb-red) tapi juga secara psikis seperti cemoohan, ancaman, paksaan dan sebagainya. Ia berharap agar pegawai dapat lebih jauh mengetahui Undang-Undang No. 23/2002 tentang Perlindungan Anak dan UU No.23 2004 tentang

Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) yang relatif masih baru. Ia menilai, kalau dalam suatu keluarga rumah tangganya harmonis maka dalam bekerja pikiran pegawai akan lebih fresh dan lebih produktif. Akibatnya, pegawai akan menjadi manusia-manusia yang berkualitas. Sehingga tercipta rasa tanggung jawab dari dalam diri pegawai untuk turut mengamankan pelanggaran kepabeanan dan cukai. Kegiatan Dharma Wanita KPBC Bekasi itu sendiri selain mengadakan pertemuan rutin 3 bulan sekali, adalah arisan, ceramah agama dan membina kerukunan dalam rumah tangga. Selama ini Dharma Wanita KPBC Bekasi memang belum pernah mengadakan acara ilmiah seperti diskusi panel. Oleh karena itu, acara diskusi panel yang baru diselenggarakan untuk pertama kalinya ini sangat membantu dan berguna bagi ibu-ibu Dharma Wanita dan para pegawai. “Namun demikian, jangan sampai kegiatan Dharma Wanita menjadi penghalang bagi ibu untuk mengurus rumah tangganya,” kata Isty. Sehingga yang terpenting dari pertemuan rutinDharma Wanita adalah kualitas pertemuan itu sendiri. Isty mengaku dirinya sangat concern terhadap isu perempuan dan anak bukan karena ia perempuan tapi karena ia melihat banyaknya korban kekerasan terhadap perempuan dan anak. “Saya juga melihat kadang-kadang perempuan itu tidak tahu haknya makanya sering menjadi korban. Makanya perempuan itu harus berkualitas dan tegar supaya negara ini menjadi kokoh,” tandasnya. Ketika disinggung rencana Dharma Wanita KPBC Bekasi untuk acara paguyuban Dharma Wanita Persatuan se-Kanwil V DJBC Bandung yang akan diselenggarakan pada Agustus di KPBC Bekasi, Isty berencana untuk kembali memberikan pengetahuan pada ibu-ibu Dharma Wanita mengenai masalah yang aktual. “Entah itu mengenai masalah perempuan yang berupa diskusi atau tanya jawab, atau lainnya. Yang penting acara tersebut mampu menambah pengetahuan ibu-ibu Dharma Wanita,” kata Isty. ifa
EDISI 378 MEI 2006 WARTA BEA CUKAI

55

SEPUTAR BEACUKAI
FOTO : KIRIMAN FOTO : KIRIMAN

BEKASI. KPBC Bekasi pada 1 Maret 2006 lalu menyelenggarakan Sosialisasi selama dua hari tentang akan diberlakukannya pelayanan PIB Disket untuk barang eks Gudang Berikat (GB) ke Daerah Pabean Indonesia lainnya (DPIL). Sosialisasi hari pertama diberikan kepada seluruh pegawai KPBC Bekasi dan hari keduanya kepada perusahaan. Penerapan pelayanan PIB Disket ini bertujuan agar penetapan klasifikasi/pembebanan dan nilai pabean lebih tepat dari sebelumnya. Tampak pada gambar, Kepala Kantor KPBC Bekasi Istyastuti Wuwuh Asri sedang mensosialisasikan peraturan tersebut. Kiriman KPBC Bekasi
FOTO : KIRIMAN FOTO : KIRIMAN

DENPASAR. Pada kamis 16 Maret 2006, bertempat di Aula Kanwil VIII DJBC Denpasar, Kepala Kanwil VIII menerima kunjungan dari mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Jogyakarta. Tampak dalam gambar ketika perwakilan mahasiswa menyerahkan cinderamata kepada Kakanwil VIII Heryanto Budi Santoso. Dan diakhiri dengan foto bersama. Adito Denpasar
FOTO : KIRIMAN FOTO : KIRIMAN

DENPASAR. Tanggal 28 Maret 2006, Jajaran Kanwil VIII DJBC Denpasar menyelengarakan acara perpisahaan untuk menghantar purna tugas Kepala Bagian Umum Kanwil VIII I Wayan Pasek Utara, SH yang memasuki masa pensiun sejak tanggal 1 April 2006. Tampak dalam gambar ketika Kakanwil VIII dan Ibu Haryanto menyerahkan cinderamata kepada Pasek Utara dan Ibu Pasek. Adito Denpasar

56

WARTA BEA CUKAI

EDISI 378 MEI 2006

KEDIRI. Tim Kantor Wilayah VII DJBC Surabaya pada 21 Pebruari 2006 lalu menyelenggarakan kegiatan Penyuluhan Cukai Hasil Tembakau di Kantor Pelayanan Bea dan Cukai (KPBC) Tipe A Kediri. Sosialisasi diberikan kepada pegawai KPBC Kediri dan dihadiri oleh Kepala Kantor KPBC Tipe A Kediri Bambang Sudjatmiko dan para pejabat eselon IV dilingkungan KPBC Tipe A Kediri. Tampak pada gambar, Kepala KPBC Tipe A Kediri dan Staf foto bersama dengan Tim dari Kantor Wilayah VII DJBC Surabaya. Kiriman KPBC Tipe A Kediri

FOTO : KIRIMAN

FOTO : KIRIMAN

KEDIRI. Tim KPBC Tipe A Kediri melakukan kegiatan Sosialisasi Peraturan Harga Jual Eceran (HJE) Baru. Sosialisasi HJE Baru yang diselenggarkan pada 7 Maret 2006 lalu diikuti 84 pengusaha rokok dan dipimpin langsung oleh Kepala KPBC Tipe A Kediri Bambang Sudjatmiko (tengah) didampingi oleh Kepala Seksi Cukai I, Drs Purwadi (kiri), Kepala Seksi Perbendaharaan Wharnomo Fauzy (kanan) dan Kepala sub bagian Umum Muhammad Amin (tidak tampak). Kiriman KPBC Tipe A Kediri

SURABAYA. Kanwil VII DJBC Surabaya pada 23 Maret 2006 menyelenggarakan Sosialisai atau Penyuluhan tentang Larangan Ekspor Bantalan Rel Ka dari Kayu dan Kayu Gergajian serta Kebijakan Ekspor Produk Industri Kehutanan di Aula Kanwil VII DJBC Surabaya. Sosialisasi diberikan kepada pegawai Bea dan Cukai, pengusaha dan mitra kerja Bea dan Cukai yang dipimpin langsung oleh Kepala Kanwil VII DJBC Surabaya Zeth Likumahwa didamping para pemapar sosialisasi dari perwakilan Sucofindo Agus Miadi dan Disperindag Jatim Heru Susetyo. Bambang Wicaksono, Surabaya

FOTO : KIRIMAN

EDISI 378 MEI 2006

WARTA BEA CUKAI

57

SEPUTAR BEACUKAI
WBC/ATS

JAKARTA. Pada 13 April 2006 dilaksanakan serah terima pengurus koperasi yang lama dipimpin oleh Barid Effendi kepada pengurus baru yang dipimpin oleh Oentarto Wibowo yang terpilih secara aklamasi dan disetujui oleh anggota pada waktu Rapat Anggota Tahunan Koperasi DJBC pada 16 Maret 2006. Acara diawali dengan pengarahan hal-hal yang akan dilaksanakan kepada kepengurusan yang baru dan setelah itu dilanjutkan dengan penandatanganan serah terima naskah dan dilanjutkan dengan penyerahan memorandum jabatan. Tampak pada gambar kiri, penandatanganan naskah serah terima jabatan ketua koperasi periode 2006 – 2007 dan gambar kanan, Ketua Koperasi yang baru Oentarto Wibowo (kanan) sedang memberikan arahan.
WBC/ATS

WBC/ATS

DENPASAR. Bertempat di Aula KPBC Ngurah Rai, diselenggarakan sosialisasi penggunaan alat screening surat dan paket pos oleh Tim dari BNN yang dipimpin oleh Kompol Endang. Acara ini dihadiri oleh Petugas P2 dari KPBC Ngurah Rai. Dan dilanjutkan dengan demo penggunaan alat X-ray di Kargo Internasional Bandara Ngurah rai. Adito Denpasar

DENPASAR. Bertempat diaula Kanwil VIII DJBC Denpasar, hari selasa 28 Maret 2006 tim P2 pusat memberikan penyegaran masalah penanggulangan Narkotika dan penggunaan Narcotest dihadapan karyawan dilingkungan Kanwil VIII, KPBC Ngurah Rai, KPBC Benoa dan para kepala KPBC se-wilayah VIII DJBC Denpasar. Tampak seksi Narkotika dan Psikotropika P2 Pusat Sutikno sedang memberikan pengarahan. Adito Denpasar.
WBC/ADI

JAKARTA. Untuk yangke-IV kalinya induk perguruan karate Inkado mengadakan kejuaraan nasional (kejurnas) Inkado yang diikuti oleh 25 koordinator daerah (korda) atau 25 provinsi, dengan jumlah atlet yang mengikuti pertandingan sebanyak 600 atlet. Acara yang berlangsung pada 7 hingga 8 April 2006 di Padepokan Pencak silat Taman Mini indonesia Indah ini dibuka langsung oleh Ketua Umum PB. Forki Luhut Binsar Panjaitan. Sementara itu Yoris Ra yewai yang dalam Muber Inkado kali ini kembali terpilih sebagai Ketua Umum Induk Inkado, dalam kata sambutannya mengatakan ajang kejurnas kali ini adalah sebagai ajang pencarian bibit yang diperuntukan pada event nasional mendatang yaitu Kasad Cup. Keluar sebagai juara umum pada kejurnas kali ini adalah korda Sulawesi Selatan dengan meraih 8 emas dan posisi runner up diraih oleh korda DKI Jaya pimpinan Maman Anurahman yang juga Kepala Bidang P2 Kanwil V DJBC Bandung dengan meraih 4 emas, 4 perak dan 8 perunggu. Sedangkan Korda Jawa Barat pimpinan Agustinus Djoko Pinandjojo (Kepala Seksi P2 KPBC Tipe A Soekarno-Hatta) menduduki posisi ketiga dengan meraih 4 emas, 2 perak dan 5 perunggu, sekaligus meraih gelar best of the best putra danb akan mewakili korda jabar dalam kejurnas Kasad Cup.

58

WARTA BEA CUKAI

EDISI 378 MEI 2006

DENPASAR. Pada bulan Maret 2006 lalu, bertempat diaula KPBC Ngurah Rai diselenggarakan sosialisasi Cukai yang disampaikan oleh Tim Cukai dari KP DJBC. Acara ini dihadiri oleh karyawan Bea Cukai dari Kanwil VIII, KPBC Ngurah Rai, KPBC Benoa dan para mitra kerja Bea Cukai antara lain pengusaha pabrik, pengusaha hotel dan restaurant. Adito Denpasar JAKARTA. Setelah melalui 3 seleksi penerimaan pegawai DJBC yang diselenggarakan Departemen Keuangan yakni Psikotes, Kesehatan dan Nafza dari 281 pendaftar yang lulus seleksi sebanyak 72 calon pegawai. 72 calon pegawai yang akan ditempatkan di Direktorat P2 DJBC tersebut diberi pengarahan di Aula Loka Muda. Pengarahan selama tiga belas hari ini dibuka oleh Kepala Kepegawaian DJBC Yusuf indarto pada 28 Maret 2006. Tiga hari pengarahan dari Kepegawaian yakni tentang pengangkatan Pegawai, Pensiun, cuti pegawai, hak-hak pegawai seperti kenaikan pangkat, kenaikan gaji pegawai, karir pegawai dan satu minggu pengarahan dari Direktorat P2. Pengarahan dihadiri penjabat eselon IV lainnya serta pejabat yang memberi pengarahan. Selain pengarahan diberikan waktu sesi tanya jawab.
WBC/ATS

WBC/ATS

JAKARTA. Kepala Bagian Umum Kantor Pusat DJBC Sudirman A. Ghani, SE melangsungkan pernikahan Putri keduanya yaitu dr. Zulfiani Soedirman (Fia) dengan putra Ismail Awad Thalib, BA yaitu Muhammad Ismail, SE, S.Kom (Muhammad) pada 2 April 2006 di Auditorium Manggala Wanabakti Gatot Subroto Senayan Jakarta. Sebelum acara resepsi diselenggarakan acara akad nikah pada 1 April 2006 di Jl. Kesehatan Raya No 25 Bintaro Jakarta Selatan. Hadir dalam acara resepsi di Manggala Wanabakti tersebut Mantan Sekretaris Departemen Keuangan Dono Iskandar (foto Bersama), Mantan Dirjen Bea dan Cukai Soehardjo dan beberapa pejabat eselon II serta kerabat kerja lainnya.

EDISI 378 MEI 2006

WARTA BEA CUKAI

59

KEPABEANAN

Evaluasi Triwulan I TARGET BEA MASUK DAN CUKAI 2006
Hingga 31 Maret 2006 baru dua Kantor Wilayah (Kanwil) yang target bea masuknya tercapai, sedangkan untuk target cukai baru tiga Kanwil yang tercapai. Dengan kondisi perekonomian yang belum berjalan dengan baik, membuat Kanwil lain harus ekstra kerja keras agar pemenuhan targetnya dapat tercapai.

B

eban target bea masuk dan cukai tahun 2006 memang terbilang cukup tinggi jika dibandingkan dengan target penerimaan bea masuk dan cukai di tahun 2005 lalu, peningkatan yang cukup signifikan ini

tentunya juga membuat Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC), harus bekerja lebih maksimal lagi sehingga apa yang telah dibebankan dapat tercapai. Pencapaian ini tentunya juga

WAHYU PURNOMO. Salah satu penyebab terget penerimaan bea masuk dan cukai belum optimal di triwuan-I, adalah masih belum bergulirnya perekonomian dengan baik di awal tahun ini

Target Dan Realisasi Penerimaan Bea Masuk Tahun Anggaran 2006 Per 31 Maret 2006 (juta Rupiah)
Kantor Wilayah I II III IV V VI VII VIII IX X XI XII XIII Medan TB. Karimun Palembang Jakarta Bandung Semarang Surabaya Denpasar Pontianak Balikpapan Makassar Ambon Banda Aceh Jumlah Target APBN 345,282.43 305,584.30 231,208.03 9,848,051.14 2,677,488.32 438,994.32 2,036,446.31 64,360.91 43,908.44 368,805.50 121,678.60 72,128.85 18,662.86 16,572,600 Target Triwulan I 86,320.61 76,369.07 57,802.01 2,462,012.79 669,372.08 109,748.58 509,111.58 16,090.23 10,977.11 92,201.38 30,419.65 18,032.21 4,665.71 4,143,150 Realisasi Triwulan-I 91,504.64 33,754.06 45,015.74 1,691,527.34 417,806.97 107,600.54 308,780.12 11,587.14 7,184.46 55,580.30 20,632.90 16,791.05 6,900.65 2,814,665.90 % Dari Target Triwulan 106.01% 44.18% 77.88% 68.71% 62.42% 98.04% 60.65% 72.01% 65.45% 60.28% 67.83% 93.12% 147.90% 67.94% % Dari Target Tahunan 26.50% 11.05% 19.47% 17.18% 15.60% 24.51% 15.16% 18.00% 16.36% 15.07% 16.96% 23.28% 36.98% 16.98%

Tabel I

Target Dan Realisasi Penerimaan Cukai Tahun Anggaran 2006 Per 31 Maret 2006 (Juta Rupiah)
Kantor Wilayah I II III IV V VI VII VIII IX X XI XII XIII Medan TB. Karimun Palembang Jakarta Bandung Semarang Surabaya Denpasar Pontianak Balikpapan Makassar Ambon Banda Aceh Jumlah 60 4
WARTA BEA CUKAI

Tabel II

Target APBN 284,643.59 4,335.81 703.36 170,466.16 1,024,151.04 8,929,406.16 26,104,277.97 581.67 0.00 15.47 1,117.55 1.22 0.00 36,519,700
EDISI 378 MEI 2006

Target Triwulan I 71,160.90 1,083.95 175.84 42,616.54 256,037.76 2,232,351.54 6,526,069.49 145.42 0.00 3.87 279.39 0.31 0.00 9,129,925

Realisasi Triwulan-I 79,174.65 500.09 87.97 30,305.14 255,208.35 2,521,058.32 6,478,521.74 140.04 0.00 16.73 136.95 0.00 0.00 9,365,150.23

% Dari Target Triwulan 111.26% 46.14% 50.03% 71.11% 99.68% 112.93% 99.27% 96.30% #DIV/0! 432.59% 49.02% 0.00% #DIV/0! 102.58%

% Dari Target Tahunan 27.82% 11.53% 12.51% 17.78% 24.92% 28.23% 24.82% 24.08% #DIV/0! 108.15% 12.25% 0.00% #DIV/0! 25.64%

Penerimaan Pajak Dalam Rangka Impor Per 31 Maret 2006 (juta Rupiah)
Kantor Wilayah PPN I II III IV V VI VII VIII IX X XI XII XIII Medan TB.Karimun Palembang Jakarta Bandung Semarang Surabaya Denpasar Pontianak Balikpapan Makassar Ambon Banda Aceh Jumlah 264,855.24 366,356.72 870,254.74 4,058,167.85 1,762,786.20 216,821.67 1,346,825.61 90,393.95 13,747.93 125,537.57 14,603.40 26,086.17 3,903.56 9,160,340.60 T O PPnBM 369.64 621.23 25.92 433,990.12 18,591.06 647.75 3,298.29 39.04 61.39 137.32 158.32 285.03 1,432.91 459,658.02 T A L PPh 67,163.05 88,025.50 219,776.48 1,077,743.93 418,811.46 308,944.30 393,144.45 47,395.20 3,443.14 44,469.26 5,113.21 44,161.38 1,910.80 2,720,102.15 PPN HT 11,616.50 0.00 0.00 0.00 37,997.14 590,235.81 1,365,832.85 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 2,005,682.29

Tabel III

dipengaruhi oleh banyak faktor, seperti faktor perekonomian yang memang belum berjalan secara baik, dan adanya penurunan tarif pada pos-pos tertentu yang juga mempunyai pengaruh terhadap terget penerimaan. Hal ini dapat dilihat pada evaluasi triwulan-I target penerimaan bea masuk Tahun 2006, dimana baru dua Kanwil saja yang target triwulannya tercapai, yaitu Kanwil I DJBC Medan dan Kanwil XIII DJBC Banda Aceh, sementara untuk Kanwil lainnya masih belum dapat tercapai (lihat tabel I). Sementara untuk target penerimaan Cukai baru tiga Kanwil yang dapat melebihi targetnya untuk triwulan-I ini, yaitu Kanwil I DJBC Medan, Kanwil VI

DJBC Semarang, dan Kanwil X DJBC Balikpapan. Sedangkan sentra penerimaan Cukai, yaitu Kanwil VII DJBC Surabaya untuk penerimaan cukainya di triwulan-I ini baru mencapai 99 persen (Lihat tabel II). Menurut Direktur Penerimaan dan Perencanaan Kepabeanan dan Cukai (PPKC), Wahyu Purnomo, di triwulan-I ini memang untuk target penerimaan bea masuk belum memuaskan dari apa yang telah ditargetkan, namun demikian semuanya itu mempunyai alasan yang cukup kuat, diantaranya perekonomian yang belum berjalan dengan baik, dan umumnya baru akan bergulir dengan baik setelah triwulan-I ini, dan adanya penurunan tarif pos pada komoditi

tertentu yang sedikit banyak juga mempengaruhi target penerimaan. “Kita telah bekerja keras di triwulan-I ini, memang beberapa kendala yang kita hadapi juga masih seperti tahun lalu, yaitu semakin banyaknya penurunan tarif pada pos-pos tertentu dan tidak adanya importasi pada komoditi-komoditi unggulan kita, seperti beras dan gula, namun demikian tanpa itupun kita tetap optimis target penerimaan akan tetap dapat tercapai kendati akan adanya perubahan di semester I nanti asalkan angkanya tidak berubah dari 16 triliun,” papar Wahyu Purnomo. Lebih lanjut Wahyu Purnomo juga menjelaskan, untuk cukai, kendati ada

Prediksi Penerimaan Bea masuk Tahun Anggaran 2006 (milyar Rupiah)
Uraian 1 KontribusiTerimbang Selama 5 Tahun Target APBN Jan 6.96% Feb 7.07% Mar 8.72% Apr 8.96% Mei 8.74% Jun 8.15% Juli 8.64% Agust Sept 8.38% 8.05% Okt 9.77% Nop 8.18% Des 8.37% Jumlah 100%

Tabel IV

Realisasi 2 Beamasuk 2006 16,572.60 Perkiraan Pencapaian tahunan Pencapaian Rata-Rata 977.17 896.47 993.15 14,038.85 12,675.81 11,383.02 12,699.22

Perkiraan Bulan April S/d Desember Total 1,137.31 1,110.52 1,034.58 1,097.28 1,064.24 1,022.90 1,240.84 1,038.34 1,062.93 12,675.97

Keterangan : 1. Kontribusi terimbang adalah tingkat kontribusi rata-rata masing-masing bulan terhadap realisasi penerimaan selama 5 tahun 2. Data Januari S/D Maret 2006 adalah realisasi 3. Data April S/D Desember 2006 adalah perkiraan realisasi 4. Perkiraan penerimaan tahunan berdasarkan realisasi penerimaan bulan Januari 2006 adalah 977.17 milyar dibagi 6.96%=14.038.85 milyar 5. Perkiraan penerimaan tahunan berdasarkan realisasi penerimaan bulan Februari 2006 adalah 896.47 milyar dibagi 7.07%=12,675.81 milyar 6. Perkiraan penerimaan tahunan berdasarkan penerimaan bulan Maret 2006 adalah 993.15 milyar dibagi 8.72%=11,383.02 milyar 7. Rata-rata perkiraan penerimaan tahunan =(14,038.85+12,675.81+11,383.02)/3 = 12,699.22 milyar 8. Perkiraan penerimaan bulan April 2006 =8.96% dikalikan 12,699.22 milyar = 1,137.31 milyar 9. Perkiraan penerimaan bulan Mei 2006 =8.74% dikalikan 12,699.22 milyar = 1,110.52 milyar 10. Total perkiraan penerimaan tahunan adalah realisasi penerimaan januari S/D maret ditambah perkiraan penerimaan bulan April S/D Desember 2006 = 12,675.97 milyar.

EDISI 378 MEI 2006

WARTA BEA CUKAI

61 5

KEPABEANAN
kenaikan HJE (Harga Jual Eceran), DJBC tetap optimis tergetnya akan tercapai. Namun demikian kendala akan tetap dihadapi, seperti adanya larangan merokok di Jakarta yang telah efektif pada 6 April 2006, sedikit banyaknya juga mempengaruhi penjualan dari pedagang rokok walaupun tidak terlalu signifikan. Upaya untuk dapat terpenuhinya target penerimaan dan cukai tahun 2006 ini, memang terus dilakukan oleh DJBC tanpa mengenal lelah, dengan menekan seminimal mungkin kebocorankebocoran yang ada dan mengetatkan pengawasan di berbagai bidang, diharapkan apa yang telah dibebankan ini dapat terpenuhi semuanya. baik. Salah satu upaya DJBC adalah dengan mengaktualkan segala bentuk peraturan yang baru ditetapkan, sehingga seluruh pegawai dapat mengaksesnya dan menerapkannya di lapangan. Aktualitas ini tercermin pada website DJBC yang kini telah lebih aktual dari sebelumnya baik untuk peraturan yang ada maupun beritaberita terbaru dari DJBC. Menurut Wahyu Purnomo, Direktorat PPKC kini tengah bekerja keras agar segala macam peraturan dari unit-unit teknis lainnya di DJBC dapat diakses dengan cepat oleh seluruh pegawai DJBC, hal ini dimaksudkan agar mereka-mereka yang ada di lapangan dapat lebih baik lagi dalam menjalankan tugas sehingga komplain maupun kesalahan dapat diminimalisir. “Sekarang kita selalu jemput bola untuk mendapatkan informasi dan peraturan terkini baik dari DJBC maupun peraturan titipan dari instansi lain. Dengan kita aktif menjempot bola, maka penyampaian informasi tersebut tidak tersendat pada satu titik saja, selain itu juga akan lebih efisien karena tidak memerlukan biaya yang banyak,” ungkap Wahyu Purnomo. Satu hal yang diharapkan oleh Direktorat PPKC kepada unit teknis lainnya di DJBC ini, adalah untuk setiap informasi atau peraturan yang baru hendaknya dalam pengirimannya tidak hanya cukup pada soft copy-nya saja, karena ini akan menyulitkan pihak pengelola website yang harus mengetik ulang informasi atau peraturan terbaru tersebut. Untuk itu diharapkan dalam penyampaiannya selain soft copy juga disertakan hard copy-nya sehingga lebih memudahkan dan dapat mempercepat penyampaian informasi tersebut. adi

WEBSITE KINI LEBIH AKTUAL
Untuk lebih meningkatkan kinerja jajaran DJBC agar pencapaian target penerimaan dapat terpenuhi dengan

Monitoring Penerimaan Bea Masuk, Cukai dan PDRI Tahun Anggaran 2006 Per 31 Maret 2006 (juta Rupiah)
No. 1 Uraian Pendapatan Bea Masuk BM Kotor a. Bea Masuk b. Bea Masuk Ditanggung Pemerintah c. Pendapatan Pabean lainnya d. Denda Administrasi Pabean e. Bea Masuk dalam rangka KITE Restitusi Bea Masuk a. Pengembalian Bea Masuk dan Denda b. Pengembalian Bea Masuk KITE Pendapatan Cukai Cukai Kotor a. Cukai HT b. Cukai EA c. Cukai MMEA d. Cukai lainnya termasuk denda administrasi e. Denda Administrasi cukai Restitusi Cukai Pajak a.PPn Impor b.PPnBM Impor c.PPh Impor Restitusi Pajak Pungutan Ekspor Pungutan Ekspor Restitusi Pungutan Ekspor Jumlah Target APBN 16,572,600 Januari 977,172.27 982,378.45 961,370.72 51.09 596.62 20,360.02 0.00 5,206.18 1,079.66 4,126.52 36,519,700 2,024,329.91 2,024,329.91 2,005,694.81 10,152.79 8,218.10 157.43 106.78 0.00 4,149,410.90 3,062,239.98 124,649.50 964,222.02 1,700.59 26,255.42 26,255.42 0.00 7,177,168.50 Februari 896,473.46 906,904.82 883,892.45 312.16 391.67 22,308.53 0.00 10,431.36 5,683.89 4,747.47 3,688,906.36 3,688,906.36 3,618,332.86 12,262.87 58,019.24 155.99 135.41 0.00 4,237,664.26 3,138,308.00 177,818.24 922,427.00 888.98 50,984.68 50,984.68 0.00 8,874,028.76 Maret 993,147.84 1,001,710.25 978,959.46 313.97 1,038.72 21,398.11 0.00 8,562.41 1,771.41 6,791.01 3,269,096.08 3,269,096.08 3,218,023.95 7,325.56 42,784.03 387.85 574.69 0.00 4,398,300.43 3,269,991.27 171.104.16 977,755.52 20,550.53 194,548.66 194,548.66 0.00 8,855,093.01 Total 2,866,793.57 2,890,993.51 2,824,222.63 677.22 2,027.00 64,066.66 0.00 24,199.94 8,534.95 15,664.99 8,982,332.35 8,982,332.35 8,842,051.62 29,741.21 109,021.37 701.27 816.88 0.00 12,785,375.59 9,470,539.25 473,571.90 2,864,404.54 23,104.10 271,788.75 271,788,75 0.00 24,906,290.26 24.60% 24.60% % Dari Target 17.30% 17.44%

Tabel V

1

2

2 3

0.00

4 5

0.00

#DIV/0!

53,092,300

Keterangan : Seluruh data bersumber dari Dit.PPKC

62 6

WARTA BEA CUKAI

EDISI 378 MEI 2006

RUANG KESEHATAN

GANGGUAN BICARA PADA ANAK
A
nak saya laki-laki berusia 4 tahun. Dari caranya dia berkomunikasi kepada saya, ibunya, sebenarnya anak saya termasuk anak yang senang berbicara, hanya saja ucapannya tidak ada yang benar dan tidak dimengerti. Misalnya, dia menyebut bola dengan sebutan ‘boa’, menyebut tangkap dengan sebutan ‘pampak’. Padahal kalau dituntun untuk berkata bo-la dia bisa jelas menirukan kata “bola”, namun setelah disuruh mengulang sendiri dia akan berkata ‘boa’ lagi. Sebenarnya apa yang terjadi dengan anak saya dok ?, Apakah ini suatu kelainan. RETNO SUSANTI - Cimanggis lain; retardansi mental (terdapat kemunduran mental) ketulian (gangguan pendengaran), cerebral palsy atau gangguan perkembangan bicara (Developmental Speech Disorder). Kelainan dalam perkembangan bicara ini ada beberapa jenis antara lain : 1. Developmental dyslexia : Gangguan terutama dalam membaca yang bukan berasal dari rtardasi mental, perhatian yang kurang dari orang tua, bukan dari gangguan penglihatan atau bukan dari gangguan urat syaraf. l Anak ini sering mendapat gangguan mengeja atau menulis l Tidak dapat mengubah kata-kata yang diucapkan menjadi huruf tertulis l Mempunyai keinginan membaca dari kanan ke kiri. Banyak ditemukan pada anak laki-laki dan dari riwayat keluarga terdapat lift handed ness, pertolongannya dengan speech therapy dengan melatih membaca seperti mengetahui nama jalan dan sebagainya. 2. Gagap (Stuftering) Gangguan dalam artikulasi kata-kata dan terdapat bunyi tambahan sebagai usaha anak tersebut untuk mengoreksi bicaranya, atau akibat anak tersebut sering mendapat tekanan emosi tetapi anak dapat bernyanyi atau mengucapkan sajak tanpa kesukaran. Banyak ditemukan pada anak laki-laki dan lift handed ness yang di-

Anda Bertanya Anda Bertanya Dokter Menjawab Dokter Menjawab
DIASUH OLEH PARA DOKTER DI KLINIK KANTOR PUSAT DJBC

Jawab : Saya memaklumi perasaan ibu Retno, yang anak laki-lakinya belum jelas ucapannya di usia 4 tahun. Umumnya, seorang anak mulai mengucapkan kata-kata tunggal antara 10-12 tahun, mulai mengucapkan kalimat pendek pada umur 18 bulan dan mengucapkan kalimat sempurna pada kira-kira umur 30 bulan. Kemungkinan bila seorang anak belum mengucapkan kata-kata yang mengandung arti pada umur 2 tahun, harus dicari apa penyebabnya. Ada beberapa sebab yang termasuk dalam gangguan perkembangan bicara : l Perkembangan bicara yang terlambat l Gangguan mengucapkan (pronounciation) l Kesukaran membaca atau menulis Pemeriksaan yang harus dilakukan pada anak dengan gangguan bicara ialah pemeriksaan : l Dokter anak dan dokter saraf yang lengkap l Intelegensi l Pendengaran dan penglihatan Gangguan bicara pada anak dapat dibagi dalam bawaan dari lahir atau yang didapat dari adanya suatu penyakit, (seperti pernah kena benturan pada kepala, pernah kena infeksi/ radang otak atau terkena tumor pada otaknya). Yang termasuk dalam gangguan bicara bawaan/ congenital antara

paksa oleh orangtuanya menggunakan tangan kanannya. Pertolongannya bila gagap ringan dapat hilang sendiri dan dengan speech therapy dapat berhasil dengan baik. 3. Developmental Dysantheria Terdapat gangguan dalam pengucapan yang salah daripada konsonan seperti huruf r, sh, t, s, l , k , c, d, dan sebagainya. Anak ini mempunyai kepandaian (intelegensi) normal dan tidak ada kelainan pendengaran atau urat syarafnya. Pertolongannya dengan speech therapy sangat memuaskan. Anak Ibu Retno, kemungkinan terdapat pada kategori ini yaitu salah dalam pengucapan huruf konsonan tersebut, sehingga “bola” diucapkan “boa” dan sebagainya. Dengan mengajarkan atau membawa anak ke bagian fisiotherapy untuk melatih dia mengucapkan kata-kata yang benar (speech therapy) secepatnya, anak ibu dapat dimengerti ucapannya.

EDISI 378 MEI 2006

WARTA BEA CUKAI

63

RENUNGAN ROHANI

Rasululla
S
Dan hendaklah mereka merasa takut kepada Allah, orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak (keturunan) yang lemah, maka khawatirlah terhadap mereka (anak keturunan yang lemah), oleh sebab itu hendaknya mereka bertaqwa kepada Allah dan hendaknya mereka mengatakan perkataanperkataan yang benar” (QS, an-Nisaa, 4:9).
64
WARTA BEA CUKAI

Metode Pendidikan

ebagai refleksi dari keimanan dan ketaqwaan kita kepada Allah SWT, mari kita laksanakan segala apa-apa yang diperintahkanNYA, menjauhi dan meninggalkan segala apa-apa yang dilarang-NYA. Pendidikan adalah masalah yang selalu aktual untuk dibicarakan, baik oleh bangsa-bangsa yang belum maju, karma maju mundurnya suatu bangsa, corak dan karakter suatu bangsa tergantung dari system pendidikan yang dipedomani oleh bangsa itu. Kita bangsa Indonesia, pada tanggal 2 Mei, merayakan Hari Pendidikan Nasional. Diharapkan dengan adanya Undangundang Sistem Pendidikan Nasional, mudah-mudahan dapat menjadi pedoman bagi para pelaksana pendidikan nasional kita dan bagi pihak-pihak yang terkait langsung dengan dunia pendidikan agar mereka bisa melakukan proses pendidikan atau kegiatan belajar mengajar, guna mendidik dan merubah anak-anak bangsa menjadi penerus yang cerdas dan berakhlak mulia. Berkaitan dengan datangnya datangnya Maulid Nabi Besar Muhammad SAW tanggal 12 Rabiul Awal, mari kita lihat bagaimana Metode Pendidikan Rasulullah SAW. Ajaran agama Islam sangat konsen dalam masalah pendidikan manusia, bahkan ajaran agama Islam memfardukan pengikutnya untuk melaksanakan pendidikan bagi manusia sejak ia masih dalam buaian sampai wafat, nabi Muhammad SAW dalam salah satu hadist beliau menegaskan: Uth-lubul ilma minal mahdi ilal lahdi” yang artinya “Tuntutlah oleh kalian ilmu sejak kalian masih dalam buaian sampai masuk liang lahat”. (al-Hadist). Seorang muslim/muslimah pada saat ia memasuki usia menikah dan memiliki kemampuan untuk melaksanakan pernikahan itu, baginya dianjurkan untuk memilih calon pasangan atau pendamping hidupnya, seorang yang shaleh/ shaleha, karena dari bibit-bibit yang baik/ unggul itu, akan lahir dan tumbuh manusia-manusia muslim/ muslimah yang berkualitas, yang kelak dapat tampil umat Islam sebagai pemimpin-pemimpin peradaban umat manusia. Sejarah telah mencatat, bahwa rasulullah Muhammad SAW dalam tempo seperempat abad telah berhasil secara gemilang mendidik bangsa Arab dari bangsa yang penuh dengan kemusyrikan

menjadi bangsa yang bertauhid, dari bangsa yang beringas menjadi bangsa yang lemah lembut, dari bangsa yang kurang peradaban menjadi bangsa yang berperadaban, dari bangsa yang gemar bermusuhan menjadi bangsa yang cinta damai, dari bangsa yang pasif menjadi bangsa yang aktif. Hal tersebut sebagaimana yang digambarkan dalam firman Allah SWT, artinya : “…..Dan ingatlah akan nikmat-nikmat Allah kepada kalian, ketika kalian dulu (pada masa jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah telah mempersatukan hatihati kalian, lalu menjadilah kalian dengan nikmat Allah orang-orang yang bersaudara. Dan kalian (saat itu)telah berada ditepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kalian dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayatNYA kepada kalian, agar kalian menjadi orang-orang yang mendapatkan petunjuk”. (QS. Ali Imram,3:103). Dalam tempo singkat mereka menjadi pemimpin-pemimpin dunia yang disegani oleh pemimpin-pemimpin baik dari belahan timur maupun belahan barat, keadaan ini digambarkan dalam firman Allah, artinya : ”Kalian adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk umat manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar dan kalian beriman kepada Allah…” (QS.Ali Imran,3:110). Mengingat keberhasilan gemilang yang dicapai Rasulullah Muhammad SAW maka kita dapat menangkap, banyak faktor-faktor keberhasilan beliau dalam mendidik bangsa Arab menjadi bangsa yang dapat menjadi teladan bagi bangsabangsa lain di dunia, namun diantara faktor-faktor yang terpenting adalah faktor keteladanan dengan kemuliaan akhlak budi pekerti beliau. Rasullullah Muhammad SAW dalam mendidik kaumnya selalu menggunakan pendekatan akhlak yang mulia atau akhlakul karimah, diantara akhlak beliau yang mulia itu adalah : Pertama, sikap sidiq atau jujur, beliau selalu menjunjung tinggi kejujuran dan kebenaran, tidak pernah berlaku dusta, selalu sejalan apa-apa yang beliau katakana dengan apa-apa yang beliau lakukan dan kerjakan. Beliau tidak pernah berkata-kata kepada suatu hal yang tidak dapat dibuktikan kebenarannya, satunya

EDISI 378 MEI 2006

ah SAW
perkataan dan perbuatan adalah salah satu karakter hidup beliau dan itulah yang dianjurkan kepada umatnya. Kedua, sikap amanah atau dapat dipercaya, Rasulullah SAW sangat menjunjung tinggi amanah, jauh sebelum beliau menjadi nabi dan rasul, kaumnya telah mengenal bagaimana Muhammad dalam memegang amanah, sehingga kaummnya memberikan gelar “Al-Amin” artinya, orang yang memegang amanat. Dalam sejarah peletakan kembali hajarul aswad pada tempatnya setelah diadakan renovasi Baitullah Ka’bah al-Muharram, bagaimana tindakan dan sikap beliau dalam menghindari terjadinya pertentangan yang nyaris membawa pertumpahan darah diantara para tokoh Quraisy saat itu, dengan keputusan beliau menjadikan semua pihak yang bertikai merasa puas atas tindakan dan keputusan yang beliau ambil. Rasulullah mengindetikkan orangorang yang tidak memiliki sikap amanah termasuk orang-orang yang tidak beragama, sabda beliau:”Laa diina lahu mal-laa amanata lah”, artinya : “Tidaklah beragama seseorang yang tidak memiliki sikap amanah’. (al Hadist). Ketiga, sikap sabar dan tabah, sikap ini yang dicontohkan oleh rasullullah Muhammad SAW tidaklah dapat diukur dan disetarakan dengan sikap kesabaran dan ketabahan manusia pada umumnya, bahkan melebihi kesabaran dan ketabahan nabi Ayyub As, beberapa peristiwa telah membuktikan betapa besar kesabaran dan ketabahan beliau dalam menghadapi kaumnya yang keras kepala yang enggan diajak ke jalan yang benar, bagaimana kesabaran dan ketabahan beliau dalam menghadapi boikot ekonomi dan sosial dari kaumnya, sampai piagam boikot yang digantungkan di ka’bah lapuk dimakan rayap. Dan masih banyak kejadian yang dialami rasulullah yang menguji kesabarannya. Bahkan ketika beliau diejek, dicaci maki, dihujat dan dilempari batu, beliau justru mengangkat tangan dan mendoakan mereka agar tidak mendapatkan murka Allah SWT : “Allahhummah-dii qawmii fainnahum laa ya’lamuun”, artinya: Ya Allah berikanlah petunjuk kaumku, sesungguhnya mereka itu tidak mengerti”. (al-Hadist). Keempat, sikap rahmah atau penuh kasih sayang, sikap kasih sayang ini selalu menghiasi segala sikap dan sepak terjang beliau, sikap ini telah terbentuk dengan kokoh pada diri Rasullullah SAW. Beliau yang sejak kecil telah ditempa untuk hidup mandiri dengan ditinggalkan oleh orang-orang yang mencintai dan mengasihinya, beliau merasakan betapa rasanya seseorang yang tidak memiliki tempat mengadu dalam urusan kehidupannya, semua itu beliau kembalikan kepada Allah SWT semata. Beliau benar-benar dapat merasakan bagaimana itu amat sangat membutuhkan cinta dan kasih sayang. Banyak sekali pesan-pesan beliau mengenai kasih sayang ini, diantara pesan beliau yang memerintahkan kita untuk menyayangi : “Irhamuu man fil ardhi yarhamukum man fisamaa’I”. Artinya “Sayangilah mereka yang ada dimuka bumi, niscaya engkau akan disayangi oleh Dzat yang ada dilangit”, (al-hadist). Rasulullah, sebagai pemimpin bukanlah sosok pemimpin yang otoriter dan pendendam apalagi sombong, walaupun pada saat itu segala keputusan mutlak ada ditangan beliau, tetapi beliau menunjukkan kasih sayangnya yang luar biasa, kasih sayang yang mampu memaafkan kesalahan orang lain, walaupun beliau mengetahui dengan pasti, siapa-siapa yang pernah menyakiti beliau bahkan berupaya dengan segala cara untuk membunuh beliau. Walaupun beliau mengetahui dengan pasti siapasiapa yang telah mengusir para pengikutnya, siapa yang aktif dalam memerangi umat Islam di Badar dan Uhud, siapa yang telah memukul beliau dan membunuh pamannya Hamzah, siapa-siapa dari tokoh-tokoh kafir Quraisy yang telah berperan aktif dalam peperangan-peperangan lainnya. Kasih sayang yang telah dicontohkan oleh Rasulullah SAW memiliki dampak yang amat sangat luar biasa dalam perkembangan dakwah Islam dan sikap umat Islam, sifat kasih sayang beliau mendapt pujian dari Allah SWT, firman Allah, artinya: “Maka disebabkan dengan rahmat dari Allah-lah kamu dapat berlaku lemah lembut terhadap mereka, sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, niscaya mereka akan menjauhkan diri dari sekelilingmu, karena itu berikanlah maaf kepada mereka, mohonkanlah ampunan bagi mereka dan bermusyawarahlah kepada mereka dalam urusan-urusan mereka,

dan apabila kamu membulatkan tekadmu maka bertawakalah kepada Allah, sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal”, (QS. Ali Imran, 3:159). Dewasa ini kita dapati keteladanan sudah semakin langka, pada diri pribadi seseorang yang seharusnya menjadi contoh dan bagi orang-orang disekitarnya, para guru-guru yang seharusnya digugu dan ditiru oleh anak-anak didiknya, tetapi banyak dari mereka bersikap dan perbuatannya menjadi bahan cemoohan dan membuat bingung murid-muridnya. Para pemimpin, baik formal maupun non formal yang seharusnya menjadi panutan dan figure bagi masyarakat dan umat disekitarnya , malah banyak diantaranya yang justru menjadi sumber obrolan yang negatif, para penegak hukum yang seyogyanya menjadi tumpuan harapan bagi pencari keadilan, tetapi justru para pencari keadilan enggan berurusan dengan mereka, bahkan penegak hukum menjadi momok bagi pencari keadilan. Orangtua yang seharusnya menjadi tempat berlindung dan mengadu bagi anak-anak mereka justru menjadi momok bagi putraputri mereka, mereka lari kepada narkotika dan minum-minuman keras. Bila kita renungkan semua itu, tentu akan timbul pertanyaan dalam diri kita, gejala apakah yang saat ini tengah terjadi ? Apa penyebab dari semuanya itu ? Jawabannya adalah akibat dari krisis akut keteladanan dari semua pihak yang seharusnya menjadi teladan. Oleh sebab itu, marilah kita semua, baik sebagai pendidik, pemimpin, orang tua atau sebagai apa saja, mari kita tunjukkan keteladanan kita kepada orangorang yang mengharapkan keteladanan dari kita dengan berpedoman kepada keteladan yang telah dicontohkan oleh Rasulullah Muhammad SAW. Keberhasilan suatu pendidikan tidaklah semata-mata ditentukan oleh sistem pendidikan yang baik, guru-guru yang berkualitas, sarana-sarana yang moderen, tetapi lebih dari itu, keberhasilan suatu pendidikan lebih banyak ditentukan dari keteladanan dan sinergi dari semua yang terkait didalamnya, maka dengan demikian pendidikan dapat membuahkan hasil yang sebaik-baiknya. Semoga dikemudian kelak dunia pendidikan kita akan semakin baik, amien.

Dr. H. Muhammad Matsna, MA.
WARTA BEA CUKAI

EDISI 378 MEI 2006

65

ENGLISH SECTION
After the agreement to accelerate AFTA in 2003, there were objections from Indonesian trade actors as represented by the Indonesian Chamber of Commerce (ICC). They asked the government to postpone the implementation of AFTA until the climate of national trade and industry are ready to face high competition posed by AFTA. This objection was supported by some members of Indonesian Parliament who were in favor for Small and Medium Enterprises (SME). They were questioning the readiness of these industries to compete with products from other ASEAN countries which might enter the country with lower prices. The fact that SME involves millions of labors heightens the eminence of this objection. The 1997 economic crisis that badly hit some countries in Asia had left worst effect on Indonesia. Social unrests and political turbulences prevented the economy from restoring to its normal path and left Indonesia behind from countries who suffered similar problems such as Thailand and Malaysia. Therefore, the ICC considers Indonesian economy is not yet ready to face the challenges that AFTA will impose. In short, there is a big concern in the country whether Indonesia would be able to take the most advantage of the implementation of AFTA or, on the other hand, it would have to pay bigger expenses for the sake of regional integration in the name of economic cooperation. On the other hand, the principle of open regionalization in ASEAN has proven effective to attract external countries to cooperate further with the region. The intention of China and Japan to take part in regional trade liberalization should be noted as the achievement of AFTA to attract other players in regional economic activities. The establishment of ASEAN+3 and the initiative to establish closer regional cooperation under the framework of East Asian Economic Community shows the importance of ASEAN in a wider perspective. These developments present significant progress as expected, or more, by AFTA initiators. The objective of AFTA to create an attracting area for investments has been proven. China shows desire to have a free trade agreement with ASEAN, while Japan starts to have discussion of establishing bilateral free trade with Philippine, Malaysia and Thailand. In the eyes of liberalism, expansion of free trade must be considered as advantage for free movement of capital as required by globalization. But for those who are still in doubt in their competitiveness in open market would rather be skeptical on the benefit of these developments. It is stated previously that Indonesia showed enthusiasm in the idea of regionalization and played key role in the establishment of ASEAN. But when it came to the demand for tighter economic cooperation that was determined as one of ASEAN’s main functions, Indonesia might

INDONESIA IN ASEAN:
Part Two

HISTORICAL REVIEW OF AFTA AND REGIONALIZATION
INDONESIA’S POSITION
ven though the awareness of the importance of trade liberalization had persisted, responses of each member country varied due to their different level of readiness and various interests. Countries with higher level of development in industrialization would be more confident with their competitiveness. On the other hand, those who had enjoyed higher protectionism from their governments would hesitate to enter freer economic integration. Singapore represents the earlier, while Indonesia might be placed in the latter category. Before 1980s Indonesia was considered as the least developed country within ASEAN while Singapore was the most developed one to have achieved the status of a Newly Industrialized Country (NIC). At this particular time, the idea of free trade among ASEAN was already proposed, particularly by Singapore. At this point, Indonesia was cautious about the interests of other countries to exploit its huge market which then had a population of 130 million. National economic development was also focusing on fostering new industries which were very much in need for government supports and protections. Indonesia’s protectionist economic policy was considered as obstruction to the efforts of enhancing regional cooperation. But for Soeharto’s government, the vision of self sufficiency and less dependent to others must be supported with
WARTA BEA CUKAI

E

adequate protections for its newly emerging industries. Considering these differences, ASEAN could only conclude the Preferential Trading Agreement (PTA) as feasible efforts for regional economic cooperation at that time. It is feasible since PTA was conducted, instead of regionally binding, based on agreements both on commodities and level of liberalization reached by related countries. The fact that PTA failed to increase intra region trade was partly due to the low interest of most countries in regional market. As for Indonesia, its trade with United States, Europe and Japan constitutes bigger trade partners rather than with its ASEAN fellows, which in turn contributed to Indonesia’s reluctance to move closer for regional economic cooperation. In addition, protectionism that had been long employed by Indonesia also made the country hesitant to open its economy. Historically, protectionism is the legacy of colonialism as well as the product of nationalism post independence in 1945 where any sign of liberalization would be banished in the name of national interests. Accordingly, protectionism and monopoly became Indonesia’s economic character. However, the global environment supporting further liberalization, as mentioned above, and the need to have stronger regionalization had brought Indonesia to change its point of view toward free trade possibility.

66

EDISI 378 MEI 2006

be the last to agree on the proposals. Until the adoption of AFTA, other field of cooperation seems to attract Indonesian government. One of the reasons might be that, at the time of establishment, Indonesia considered ASEAN regionalization as a media to have international recognition of the new government after an extensive domestic political turmoil. The purpose to promote big changes in foreign political point of view was also expected to be served by using the ASEAN. Dewi Fortuna Anwar believes that Indonesia was being ambivalent in her attitude towards ASEAN. This could be understood by considering three aspects. Firstly, the primary functions of ASEAN for Indonesia had basically been in the political and security areas and only indirectly in the economic field. Secondly, Indonesia’s interests reached well beyond the boundary and scope of ASEAN. In the economic field, Indonesia needed foreign investment and markets for its exports, both of which the country mostly had to look the major economic powers outside the region. In the political field, Indonesia felt the limited scope that ASEAN offered which aspired to play a greater international role. Thirdly, different interests in both politics and economics among members also contribute to the ambivalent attitude of Indonesia.

For example, NAFTA affected jobs in the textile industry when manufacturers moved their factories from the United States to Mexico where wages is much lower. Likewise, NAFTA also affected Mexican corn farmers who lost their jobs to US farmers due to higher corn production efficiency in the US. Learning from available experiences, Indonesia has to start enhancing all the efforts. This is not a simple task that could easily be expected from the government who faces the complexity of domestic problems. However, realizing the challenges to come, in order to avoid loosing from AFTA, i.e. market exploitation and low investments, Indonesia must be able to improve its competitiveness. In general, providing favorable environment for business and offering more attractive incentives for investments would be part of requirements to get ready for the coming increasing challenges. In the end, in order to gain the objective of tightening regional integration,

CONCLUSION
Despite the challenges, AFTA is needed by ASEAN in its effort to gain both regional integration and improved competitiveness in the globalized world. However it is imperative for each member country to prepare OBJECTIVE OF AFTA. To create an attracting area for investments. itself to deal with those challenges, otherwise they AFTA faces challenges since several prewill be “eaten alive” by mayor economies conditions of an ideal Regional Integration under the scheme of free trade. Arrangement (RIA) are not perfectly met. Similar to Indonesia, the hesitation for Fransisco de A. Nadal De Simone, lecturer Malaysia to fully embrace the globalization of National University of Singapore, states process has always been justified by that the pre-conditions widely accepted for essentially the same set of arguments: the a successful RIA refer to the structural preservation of national interests and the characteristics of countries deemed promotion of national strategic sectors. But necessary to make market integration it is believed that the response towards the optimal, inter alia, large intra-regional trade present globalization process should be before the creation of the RIA, a low built on the foundation created by common external tariff, a comparable participation in the international economy stage of development, and similar through trade and investment, not by production and price structure. attempting to reverse the process of The integration of Cambodia, Laos, integration. Therefore, the way forward is Myanmar and Vietnam into ASEAN gives to engage even more fully the international emphasis to the discrepancies among dimension and further open up the members which, according to Simone, national economy. would challenge the market integration vis One experience says that free trade a vis the success of regionalization. His agreements tend to result with win and theory could also explain the Indonesian loose situations where the more attitude toward the idea of AFTA when it competitive party would enjoy the most.

was still at the proposal stage. Due to disparities of economic and industrial development, Indonesia feared to face the high competition it could not win. While at the same time, Indonesia’s showed low interest with intra-regional trade. However, these facts could not justify any implementation of protectionism. As mentioned by Osamu Watanabe, president of JETRO (Japan Trade Organization), that the problem of numerous capital flights from ASEAN countries, especially Indonesia, was somewhat due to protectionism. He believes that the implementation of high tariff, strong non-tariff barriers and inefficiency in procedures contributed to these complex problems, and in return provide less attractive business environment for potential investors. Another view reveals that Asian integration is desirable but hampered by impediments: national interest, which remains more powerful than regional identity or “Asian-ness”; extra-regional forces such as the United States; weak or hesitant leadership in Asia; and legacies of divided countries (China, Korea), as well as legacies of suspcion, namely of Japan, because of its record of militaristic expansion. These opinions were raised on the emergence of ASEAN+3 that its possible institutionalization would be a huge progress in global regionalization. In response to the above impediments, there are optimisms of reasons that will propel regional integration in Asia. One of the strong bases for this optimism is the establishment of Free Trade Agreement that attracts other countries, namely, China, Japan, and South Korea to further participate. In this perspective, it is reasonable to conclude that AFTA has been successfully showing one principle of open regionalism in ASEAN. Therefore, the emergence of ASEAN+3 is one of its achievements. In conclusion, the interdependence among countries and the need of Indonesia to have foreign support in the form of investments do not leave the government with many choices but to move forward with AFTA. Moreover, as mentioned above, AFTA is believed to be the instrument for purposes of enhancing intra-regional trade and providing incentives for foreign investors. This plan is expected to construct the competitiveness of the region within global community and at the same time to strengthen the Southeast Asia regional integration, despite all presented discrepancies.

Dicky Hadi Pratama/Kasi Cukai KPBC Pontianak
WARTA BEA CUKAI

EDISI 378 MEI 2006

67

INFORMASI KEPABEANAN & CUKAI

Standar Sertifikasi

INFORMASI
Perkembangan Teknologi Informasi memacu kebutuhan akan sumber daya manusia yang handal. Namun sumber daya manusia ini tidak dapat dipenuhi sehingga timbul krisis sumber daya manusia.

TEKNOLOGI
tuhkan untuk memudahkan bagi perusahaan atau institusi untuk menilai kemampuan (skill) calon pegawai atau pegawainya. Adanya inisiatif untuk membuat standar dan sertifikasi sangat dibutuhkan. Namun masih terdapat permasalahan seperti beragamnya standar dan sertifikasi. Sebagai contoh, ada standar dari Australian National Training Authority. Standar dan sertifikasi dapat dilakukan oleh badan yang resmi dari pemerintah atau dapat juga mengikuti standar sertifikasi di industri, yang sering juga disebut vendor certification. Untuk contoh yang terakhir (vendor certification), standar industri seperti sertifikat dari Microsoft atau Cisco merupakan standar sertifikasi yang diakui di seluruh dunia. Padahal standar ini dikeluarkan oleh perusahaan, bukan badan sertifikasi pemerintah. Memang pada intinya industrilah yang mengetahui standar yang dibutuhkan dalam kegiatan sehari-harinya. Sebagai salah satu wujud kepedulian Pemerintah terhadap perkembangan Sumber Daya Manusia

D

alam dokumen BHTV (Bandung High Technology Valley), ternyata pada tahun 2010 dibutuhkan sekitar 350.000 tenaga di bidang TI (Teknologi Informasi) di Indonesia. BHTV adalah suatu program Departemen Perindustrian dan Departemen Perdagangan untuk meningkatkan ekspor Indonesia di bidang elektronika dengan bidang TI sebagai ujung tombak. Angka ini masih kecil jika dibandingkan dengan kebutuhan akan tenaga TI di dunia. Untuk menghasilkan SDM yang jumlahnya sangat besar ini dibutuhkan kerjasama antara institusi pendidikan formal (perguruan tinggi, sekolah) dan pendidikan informal (professional training center). Pendidikan formal melalui perguruan tinggi tidak mampu menghasilkan jumlah SDM yang banyak, dan juga kurikulumnya tidak dapat berubah secara cepat mengikuti perkembangan kemajuan teknologi. Padahal, perkembangan dunia TI (khususnya yang terkait Internet) sangat pesat. Oleh sebab itu, lembaga penghasil SDM profesional sangat dibutuhkan. Bidang TI memiliki rentang bidang yang cukup luas. Latar belakang kebutuhan pendidikan pun bervariasi. Ada pekerjaan yang membutuhkan banyak inovasi dan teori yang membutuhkan latar belakang pendidikan formal di perguruan tinggi. Akan tetapi ada pula bidang TI yang tidak membutuhkan pendidikan perguruan tinggi dan dapat dilakukan oleh lulusan setingkat SMU/SMK, dan diploma. Adanya standar kompetensi dibuWARTA BEA CUKAI

(SDM) bidang TI di negara kita ini, pemerintah mengeluarkan sebuah standar kompetensi, yang disebut sebagai Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI). Untuk mendukung standar baru ini, vendorvendor besar seperti Microsoft, Oracle, IBM, dan Sun Microsystem, serta sebuah perusahaan lokal, PT Intellisys Tripratama turut membidani lahirnya SKKNI bidang TI ini. Sehingga SKKNI dikatakan akan komplementer terhadap sertifikat vendor. Menurut materi yang disahkan pada Konvensi Nasional Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia Operator Komputer dan Programer baru-baru ini, konsep dasar dari standar kompetensi ditinjau dari segi etimologi terbentuk atas kata “standar” dan “kompetensi”. Kata “standar” diartikan sebagai ukuran atau patokan yang disepakati. Sedangkan kata “kompetensi” adalah kemampuan melaksanakan tugas-tugas di tempat kerja yang mencakup penerapan keterampilan yang didukung oleh pengetahuan dan sikap yang sesuai dengan kondisi yang disyaratkan.

Tabel 2. LINGKUP STANDAR KOMPETENSI BIDANG PROGRAMER KOMPUTER

Keterangan : 4 : yang akan disusun standar kompetensinya

68

EDISI 378 MEI 2006

Merujuk pada pengertian kedua kata tersebut, maka standar kompetensi diartikan sebagai suatu ukuran atau patokan tentang pengetahuan, keterampilan, sikap kerja yang harus dimiliki oleh seseorang untuk mengerjakan suatu pekerjaan atau tugas sesuai dengan unjuk kerja yang dipersyaratkan. SKKNI Sektor Teknologi Informasi dan Komunikasi Bidang Keahlian Operator dan Programmer Komputer, resmi disahkan oleh Menteri Komunikasi dan Informatika (Depkominfo) pada tanggal 19 Januari 2005. Bisa dibilang, SKKNI bidang TI ini melibatkan sejumlah institusi yang berkepentingan dalam pengembangan TI di tanah air, yang telah ikut dalam proses penyusunan, dalam beberapa tahun ini. Sebut saja lembaga dari pemerintah, yaitu Departemen Komunikasi dan Informasi, Kementrian Ristek/ BPPT, Direktorat Pendidikan Menengah Kejuruan-Depdiknas, dan Depnakertrans. Dari institusi pendidikan, yakni Institut Teknologi Bandung (ITB) dan Pusat Pengembangan Penataran Guru Teknologi Bandung. Selain itu, beberapa asosiasi seperti Asosiasi Piranti Lunak Indonesia (Aspiluki) dan Asosiasi Pengusaha Komputer Indonesia (Apkomindo) dan sejumlah vendor software, turut berkecimpung dalam penyusunan SKKNI tersebut. Dalam materi standar kompetensi ini, terdapat 27 kompetensi yang ditetapkan untuk operator komputer dan 91 kompetensi yang diterapkan untuk programer. Khusus untuk operator komputer, standar kompetensi disiapkan untuk pekerja pada level operasional komputer, dan disusun dalam berbagai jenjang mulai dari asisten operator (delapan unit kompetensi), operator muda (tujuh unit kompetensi), operator madya (enam unit kompetensi), dan operator utama (enam unit kompetensi). Untuk programer, ada 91 unit kompetensi yang terdiri dari keahlian bidang manajemen (18 unit kompetensi), pemrograman umum (33 unit kompetensi). Selain itu ada 40 unit kompetensi untuk spesialisasi keahlian, yang terdiri dari pemrograman basis data (enam unit kompetensi), pemrograman Web/ internet (delapan unit kompetensi), pemrograman muultimedia (tiga unit kompetensi), pengembangan pengujian piranti lunak (empat unit kompetensi), pemrograman dengan progam aplikasi (14 unit kompetensi). Khusus untuk spesifikasi keahlian tertentu, masing-masing bidang boleh dipilih sesuai dengan minat yang ingin ditekuni (Tabel 1). Tabel ini hanya sebagian unit kompetensi dari programmer. Model yang diterapkan pada

Tabel 1. STANDAR KOMPETENSI PROGRAMER

EDISI 378 MEI 2006

WARTA BEA CUKAI

69

INFORMASI KEPABEANAN & CUKAI
pengembangan standar kompetensi ini adalah RMCS (regional model competency standard), dan telah diterapkan di negara-negara Asia Pasifik. Standar kompetensi model ini disusun lewat pendekatan multi skill, dengan cara mengembangkan kompetensi-kompetensi yang sudah ada di industri. Model standar kompetensi RMCS ini dipercaya bersifat fleksibel dan mampu mengantisipasi kemungkinan perubahan mendatang yang terjadi di industri, perusahaan, maupun organisasi lainnya. Lingkup standar kompetensi bidang programer komputer digambarkan pada Tabel 2. Menurut praktisi TI Budi Rahardjo, SKKNI untuk bidang programer hanya mengatur kompetensi “bahasa pemrograman terstruktur” dan juga “berorientasi objek”. Padahal, selain dua macam pemrograman ini, masih ada yang lain, seperti “pemrograman fungsional” (functional programming) yang banyak diberikan di perguruan tinggi. Sebagai contoh, dalam kompetensi melakukan debugging (TIK.PR02.014.01), masih jauh dari lengkap. Tidak ada pengujian cara melakukan debugger, set breakpoint, single step, dan seterusnya. Nampaknya, yang dimaksud debugging di sini hanya difokuskan pada masalah perakitan (compiling) saja. Padahal yang dimaksudkan dengan debugging, umumnya juga meliputi kesalahan logika, sehingga membutuhkan penggunaan debugger. Jadi, tidak semua teknologi atau bahasa pemrograman tercakup dalam SKKNI. Standar kompetensi bidang TI sangat diperlukan, agar bisa menakar kemampuan, pengetahuan, dan keterampilan SDM (sumber daya manusia) di bidang TI. Dengan mengacu pada satu standar kompetensi TI nasional, dalam hal rekrutmen, industri juga bisa mengetahui kebutuhan SDM-nya, dan meningkatkan kapasitasnya. Dengan bermodal sertifikasi kompetensi, akan mempermudah menyiapkan SDM TI yang dapat bersaing secara global karena standar kompetensi TI nasional itu nantinya juga akan mengacu pada standar internasional. Terlepas dari pro kontra yang menyertai lahirnya SKKNI bidang TI, suka tidak suka pemerintah dan para stakeholder yang mendukung sertifikasi profesi untuk operator dan programer ini telah mantap untuk menerapkannya. Bagi yang menolak sertifikasi dari pemerintah ini, saatnya mereka untuk membuka mata dan pasang telinga terhadap kebijakan ini. Terlebih lagi, SKKNI bidang TI ini terbuka untuk direvisi setiap tahunnya.

Hotmauli Simamora. Dit. IKC SubDit. OSPKC

70

WARTA BEA CUKAI

EDISI 378 MEI 2006

KOLOM

Oleh: Toupik Kurohman

SDM DJBC
D
irektorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) sebagaimana diamanahkan oleh undang-undang atau secara eksplisit diberi tugas oleh rakyat, mempunyai peran yang sangat strategis. Peran yang dijalankan oleh DJBC sebagaimana tercantum dalam tugas pokok dan fungsi DJBC akan berdampak besar dalam menunjang keberhasilan pembangunan. Pengamanan penerimaan negara, kelancaran arus barang dari dan ke luar negeri untuk mendukung keberlangsungan dunia usaha dan perputaran roda perekonomian, proteksi terhadap ancaman keamanan dan bahaya sosial yang dapat merusak sendisendi kehidupan bangsa, adalah amanah besar dan sangat mulia. Disinilah reputasi DJBC dipertaruhkan, seperti yang disampaikan Menteri Keuangan Dr. Sri Mulyani Indrawati dalam wawancara di WBC edisi 375, bahwa tantangan paling besar Bea dan Cukai adalah reputasi. Apabila amanah besar itu dapat ditunaikan dengan baik, bukan hanya Menteri Keuangan yang akan memberi apresiasi kepada DJBC tapi seluruh rakyat akan bangga pada kita, dan lebih dari itu kelak kita tidak gagap mempertanggungjawabkan amanah tersebut dihadapan pengadilan Tuhan kelak. Amanah itu bisa berhasil kita tunaikan dengan baik dengan syarat mesin organisasi DJBC berjalan bagus. Hal ini ditandai dengan struktur organisasi telah berfungsi secara optimal dan sinergis mulai dari kantor pusat sampai kantor pelayanan. Setiap bagian bekerja secara profesional sesuai dengan bidang kerjanya masing-masing, ditunjang dengan dukungan sarana dan fasilitas kerja yang cukup memadai. Dan yang terpenting adalah kendaraan DJBC tersebut dioperasikan oleh pegawai-pegawai profesional dan memiliki integritas tinggi, seperti yang Menteri Keuangan tanyakan kepada Departemen Keuangan dan jajaran DJBC, apakah para pegawainya sudah memiliki power integrity sebagai pertahanan pertama. SDM menjadi sebuah elemen penting dalam menunjang keberhasilan sebuah organisasi, tak terkecuali di institusi DJBC yang kita banggakan. Dalam tinjauan ekonomi konvensional SDM merupakan salah satu faktor produksi selain, alam, modal, dan skill. Fungsi faktor produksi adalah berusaha memenuhi prinsip ekonomi yaitu dengan sumber daya yang terbatas mampu memberikan hasil maksimal, artinya apakah dengan faktor

PRINSIP PENGELOLAAN

PEGAWAI ADALAH ASET BERHARGA SEBUAH INSTITUSI...
produksi yang dimiliki, sebuah perusahaan mampu mendapatkan keuntungan maksimal. Begitupun halnya dalam sebuah organisasi, keberhasilannya diukur dari sejauhmana kemampuan mengelola sumber daya yang dimiliki (termasuk SDM didalamnya) untuk dapat merealisaikan tujuan yang ditetapkan. Permasalahannya adalah bagaimana mengelola SDM di lingkungan DJBC, apakah harus disamakan dengan faktor produksi? Mengelola SDM memang tidak semudah membalikkan telapak tangan, manusia adalah makhluk multi kosmik yang sangat unik, banyak sekali literatur yang mengupas manusia baik dari aspek pribadi maupun dalam kerangka organisasi.

Prinsip pengelolaan SDM dalam organisasi adalah menemukan titik singgung antara kepentingan pegawai dengan kepentingan organisasi. Pertemuan titik singgung ini akan melahirkan kepuasan dari pribadi pegawai yang bersangkutan karena ekspektasi/harapan pada organisasi terpenuhi, dan organisasi pun mendapatkan output dari kinerja pegawai tersebut. Prinsip ini dapat menjembatani “rezim” hak dan kewajiban yang terkesan mementingkan satu pihak dan mengorbankan pihak lain. Hubungan antara pemenuhan hak dan pelaksanaan kewajiban tidak akan menjadi ekstrem jika kepentingan kedua pihak terpenuhi. Semakin banyak titik singgung kepentingan keduanya bertemu maka akan melahirkan pegawai yang LAHAP bekerja sehingga organisasi berkembang dinamis dan selalu siap menghadapi tantangan. Keberhasilan pengelolaan SDM di DJBC sangat dipengaruhi oleh kedua sisi tersebut, yaitu sisi pegawai dan sisi manajemen pengelolaan SDM. Ibarat dua sisi mata uang, keduanya tak bisa dipisahkan. Oleh karena itu, pola pengelolaan SDM DJBC harus berorientasi pada kebutuhan kedua sisi tersebut. (Lihat Diagram)

ASPEK PEGAWAI
Berbicara tentang pegawai hendaklah harus kita ubah sudut pandangnya yaitu dengan melihat kepentingan DJBC atas pegawai, bukan kepentingan pegawai atas DJBC (Lihat Diagram). Kalau yang terakhir sudah sering kita dengar atau malah sering kita ungkapkan sendiri. Meminjam istilah John F Kennedy, “Tanyakan kepada dirimu apa yang bisa kau berikan ke negara bukan apa yang bisa negara berikan kepadamu”, artinya sebagai pegawai kita tidak saja hanya berusaha memenuhi kepentingan kantor
EDISI 378 MEI 2006 WARTA BEA CUKAI

71

KOLOM
Simbiosa Titik Temu Kepentingan Pegawai - DJBC

atas kita tetapi sudah lebih tinggi dari itu yaitu berupaya memberikan kinerja lebih pada kantor kita. Jadi kita berupaya ada di atas standar minimal ekspektasi kantor atas kita. Sehingga betapapun keadaan sekarang yang menimpa kita, kita akan tetap ikhlas dan bekerja keras. Inilah posisi yang sulit kita ambil karena hanya dimiliki oleh orang-orang yang mempunyai semangat pengabdian. Semangat pengabdian agaknya sudah memudar di tengahtengah pegawai, sumpah dan janji sewaktu diangkat menjadi pegawai atau diucapkan pada saat pelantikan jabatan yang mensiratkan itikad pegawai untuk memberikan pengabdian kepada bangsa dan negara diatas segala kepentingan, agaknya belum mendarah daging pada perilaku dan sikap kerja kita. Gemblengan pada diklat kesamaptaan (sekarang diperpendek bahkan rencananya akan dihapus) seakan dilupakan dan tidak memberi bekas semangat pengabdian, nilai disiplin dan semangat korps dalam diri pegawai. Masih ada yang terjebak pada kepentingan pragmatis yang tidak jarang justru malah menjual integritas dan semakin merusak citra positif DJBC yang susah payah dibangun. Celakanya, dengan alasan kantor tidak dapat memenuhi kebutuhan pegawai untuk ‘sekadar bisa hidup layak’ malah mencari titik temu kepentingan dengan para pengguna jasa. Karakter pegawai yang dibutuhkan DJBC harus memenuhi kriteria pegawai LAHAP (Layak, Antusias, Handal dan Prima). Seperti layaknya ketika kita melihat seseorang makan, orang yang makannya lahap berarti dia sangat menikmati dan memiliki antusias tinggi terhadap apa yang dia makan, karena mungkin itu makanan kesukaanya, atau memenuhi hasrat laparnya. Agaknya DJBC tak salah kiranya merindukan kehadiran para pegawai yang lahap bekerja. Ciri-ciri pegawai yang lahap bekerja : 1. Layak Pegawai DJBC harus memenuhi 72
WARTA BEA CUKAI

kriteria standar yang dibutuhkan yaitu memiliki integritas tinggi, bekerja secara profesional, serta mendukung visi, misi dan tujuan institusi. Para pegawai yang memenuhi kriteria tersebut berarti siap mengawal arus perubahan yang tengah diusung DJBC. Ketika kriteria ini tidak dapat dipenuhi maka pegawai tersebut dapat dikatakan tidak ‘layak’ berada dalam DJBC, keberadaannya malah bisa menghambat dinamika reformasi DJBC. 2. Antusias Memiliki semangat kerja yang tinggi, senantiasa bekerja dengan sungguhsungguh, penuh motivasi untuk memberikan yang terbaik bagi kantor, proaktif melakukan perbaikanperbaikan di lingkungan kantor tempat bertugas, tidak gampang menyerah dan menyalahkan situasi. 3. Handal Memilki kapabilitas yang dapat diandalkan, mampu menyelesaikan pekerjaan dengan baik, senantiasa belajar meningkatkan kompetensi untuk menjawab tantangan-tantangan institusi yang semakin kompleks. Terdepan dalam inisiatif dan kreatif dalam memecahkan permasalahan yang ada didukung dengan kemampuan teknis yang kokoh. 4. Prima Berupanya senantiasa menampilkan kinerja terbaik, bekerja secara tuntas dan komprehensif dengan tingkat produktifitas optimal bahkan diatas rata-rata. Berusaha memberikan kepuasan pelayanan terhadap para pengguna jasa, stakeholder. Senantiasa menjaga dan menampilkan kewibawaan dan citra DJBC di mata masyarakat.

Pertimbangan disini bukan berarti subyektifitas person to person melainkan pegawai dalam arti keseluruhan aspek pegawai (baca SDM), seperti pertimbangan kepentingan pegawai (Lihat Diagram) yang mencakup kesejahteraan pegawai, kejelasan karier, kepuasan dan kenyamanan kerja. Terpenuhinya ekspektasi pegawai atas DJBC akan semakin menambah pegawaipegawai yang giat bekerja untuk DJBC. Beberapa hal yang mungkin dapat menjadi masukan bagi manajemen untuk mengambil keputusan terkait dengan pengelolaan SDM yang berorientasi pada pemenuhan ekspektasi pegawai antara lain : 1. Kesejahteraan pegawai Peningkatan kesejahteraan hidup adalah harapan semua pegawai. Setiap upaya serta segala komitmen untuk memperjuangkan kesejahteraan pegawai harus kita apresiasi. Kita semua sadar bahwa kita telah “terlanjur” bekerja di institusi yang tidak sedikit dikatakan orang sebagai sektor “basah”. Para pegawai masih terus dihadapkan dengan berbagai kesempatan untuk bisa mendapatkan “sabetan” yang jauh lebih tinggi. Disinilah integritas pegawai benarbenar diuji di satu sisi, dan problem yang harus dituntaskan oleh manajemen di sisi yang lain. 2. Kejelasan karir Menciptakan iklim kompetisi yang sehat antar pegawai, pemerataan informasi, peluang dan kesempatan untuk meningkatkan jenjang karir. Menetapkan parameter-parameter yang jelas baik dari sisi kelengkapan administratif maupun penilaian prestasi kerja yang bisa memacu para pegawai untuk dapat berkompetisi secara fair. Para pegawai diberikan kesempatan seluas-luasnya untuk mengembangkan diri, meningkatkan wawasan dan melanjutkan pendidikan. Ketika pola manajemen karir dapat dilakukan dengan baik dampaknya

ASPEK MANAJEMEN
Manajemen DJBC memegang peranan penting dalam pengelolaan SDM. Kebijakan pengelolaan pegawai selain mempertimbangkan kepentingan institusi juga harus mempertimbangkan kepentingan pegawai secara jelas.

EDISI 378 MEI 2006

adalah akan semakin banyak melahirkan para pegawai yang lahap bekerja dan haus akan prestasi. 3. Kepuasan dan kenyamanan bekerja a. Menciptakan lingkungan kerja yang kondusif Suasana kerja di lingkungan PNS umumnya, dan instansi kita pada khususnya kerap menjadi sorotan publik. Perilaku tidak disiplin, distribusi tugas yang minim dan tidak merata, deskripsi kerja yang tidak dipahami secara jelas oleh pegawai, rantai kerja yang terlalu rumit untuk pekerjaan-pekerjaan yang sebenarnya bisa diselesaikan dengan cepat. Kita tentu sedih ketika melihat ada pegawai yang ‘nganggur’ padahal mereka dapat gaji tiap bulan. Selain pemborosan anggaran tentunya ini juga dapat mematikan potensi yang bersangkutan atau berpeluang memanfaat keluangan waktu tersebut untuk hal-hal yang dapat merugikan kantor. Ini menjadi masalah yang harus kita sadari bersama untuk kita perbaiki. b. Mendukung proses pengembangan diri Selain menjadi sandaran mencari nafkah, dengan kita bekerja kemampuan kita semakin terasah, pengalaman kerja tambah banyak, proses transfer pengetahuan yang kita miliki ke dunia aplikatif teruji, kita juga diberikan kesempatan untuk memperkokoh kemampuan teknis dengan mengikuti diklatdiklat atau pelatihan-pelatihan yang mendukung peningkatan kualitas kerja. c. Kenyamanan berurusan di rumah sendiri Sebagai pegawai terkadang untuk mengurus sesuatu yang sudah menjadi hak pegawai atau berkaitan dengan urusan pekarjaan yang berhubungan dengan bagian lain melalui proses dan prosedur yang sangat lama dan pelik, ini harus menjadi bahan evaluasi sistem prosedur agar lebih smart, mudah, cepat dan accountable. d. Menciptakan budaya kerja yang sehat Paradoks yang terjadi di instansi kita adalah adanya istilah tempat basah dan tempat kering, sehingga seolah mendapatkan anugrah ketika ditempatkan di tempat basah, sebaliknya serasa mendapatkan musibah ketika ditempatkan di tempat yang kering.

Kalau kantor-kantor yang ada di instansi kita sudah menjadi ukuran untuk meningkatkan kesejahteraan pegawai, ada tempat-tempat yang menjadi ‘mata air’ dan ada pula tempat-tempat yang malah mengeluarkan ‘air mata’, ini kan aneh! Bukankah pegawai DJBC di seluruh nusantara sama-sama PNS yang struktur gajinya sudah jelas, hak dan kewajibannya jelas. Apakah mesti seluruh kantor kita dipindahkan ke dekat pelabuhan? Atau setiap bidang disamakan tugas dan kewenangannya? Kan tidak mungkin, ini bukan soal rezeki atau nasib melainkan budaya kerja yang sudah tidak sehat. e. Penempatan pegawai yarng terukur dan terstruktur rapih Mutasi seringkali menjadi momok menakutkan bagi sebagian pegawai, padahal itu sudah merupakan konsekuensi yang siap kita hadapi ketika PNS menjadi pilihan karir kita, lalu apa yang salah? Mungkin pola

dengan tugas dan fungsi kerja yang berbeda serta budaya kerja beraneka ragam satu sama lainnya, berjalannya proses transfer pengalaman serta pemerataan potensi dan kemampuan pegawai untuk peningkatan kinerja kantorkantor tersebut. Jadi arah mutasi jelas sebagai salah satu dari treatment pegawai, sarana pembinaan, pengembangan dan meneropong potensi dari setiap pegawai yang ke depannya sangat berguna bagi DJBC. Proses mutasi harus mempertimbangkan kemampuan untuk meningkatkan kapabilitas pegawai bukan sebaliknya. Dukungan database pegawai yang senatiasa ter-update yang memotret profil pegawai menjadi bahan masukan yang sangat berharga sebelum proses mutasi dilaksanakan. Manajemen bisa memantau pendidikan formal mereka, kinerja mereka, kemampuan teknis mereka, pengalaman kerja mereka, masa kerja mereka di suatu kantor, bahkan sisi pribadi mereka seperti kondisi pribadi dan keluarga sehingga mereka yang akan dimutasikan sudah siap secara mental dan kapasitas mereka untuk berkiprah secara maksimal di tempat yang baru. Aspek coverage geografis pun layak untuk dipertimbangkan terutama untuk mutasi Pelaksana. Misalnya kebijakan mutasi pelaksana adalah dalam satu kantor wilayah. Struktur kantor dan segmentasi kerja antar kantor wilayah pun relatif sama, untuk lebih dapat mematangkan dan mempersiapkan pegawai pelaksana agar dapat mapan dan stabil menjalankan kehidupan mereka, karena mereka tidak hanya hidup di kantor. Lain halnya dengan mutasi vertikal untuk pegawai yang akan menduduki jabatan struktural atau jabatan fungsional, mereka jelas lebih lebih siap karena merupakan konsekuensi jabatan mereka. Hal itu pun dibarengi dengan kompensasi fasilitas penunjang jabatan seperti rumah dinas, kendaraan, dan tunjangan jabatan yang layak sehingga mereka siap memberikan kinerja terbaik dari jabatan yang mereka di tempat baru. Ketika proses mutasi telah dilakukan secara terstuktur, terarah, dan memenuhi ekspektasi pegawai maka stigma like or dislike atau celoteh salah satu pegawai yang mengatakan mutasi itu tergantung pada tiga faktor yaitu sinten? pinten? mboten! Tidak akan muncul ketika skep mutasi itu diterbitkan. Pegawai adalah aset berharga sebuah institusi, investasi pembinaan atas mereka adalah investasi berharga dan bernilai jangka panjang bagi keberlangsungan instansi tersebut. Pegawai hari ini adalah pimpinan di masa mendatang. Wauwlahu A’lam.

APAKAH MESTI SELURUH KANTOR KITA DIPINDAHKAN KE DEKAT PELABUHAN?
mutasi yang kurang ’friendly’ dengan pegawai. Mutasi dilihat dari alur perpindahannya ada tiga macam : l Mobilitas vertikal : perpindahan antar jabatan struktural dan fungsional kantor baik promosi maupun mutasi biasa, mutasi model ini merupakan resiko jabatan atas peningkatan jenjang karier pegawai. l Mobilitas horizontal : perpindahan antar bagian dalam satu kantor, rolling bagian merupakan sarana yang penting untuk peningkatan kemampuan dan penguasaan bidang-bidang pekerjaan yang ada di instansi kita berjalan mudah, sehingga ke depannya akan melahirkan pegawaipegawai DJBC yang memahami DJBC secara utuh dan ekspert dan siap menjadi pemimpin di level dan bidang apapun. l Mobilitas diagonal : perpindahan antar kantor, mutasi ini menggembleng para pegawai untuk mampu beradaptasi di berbagai kantor

Penulis adalah Pelaksana pada Bidang Verifikasi dan Audit Kanwil III DJBC Palembang
WARTA BEA CUKAI

EDISI 378 MEI 2006

73

KOLOM

Oleh: Redy Bambang Sri Gunawan, SH, MH.

MANAJEMEN SUMBERDAYA MANUSIA (SDM)
(BAGIAN I)

S

umber Daya Manusia (SDM) merupakan elemen organisasi yang sangat penting, sebagai pilar penyangga utama sekaligus penggerak roda organisasi dalam usaha mewujudkan visi dan misi serta tujuan. Organisasi bergerak maju, hidup dan berkembang karena manusia. Jadi manusia menjadi pelaku utama di dalam setiap derap langkah organisasi untuk menjalankan visi dan misi serta cita-citanya. Peran SDM didalam organisasi sangat menentukan karena diperlukan manajemen, yaitu cara pengelolaan secara sistematik, terencana dan terpola, agar tujuan yang diinginkan baik itu dimasa sekarang, atau dimasa yang akan datang dapat dicapai secara optimal.

merupakan infrastruktur untuk mencapai tujuan organisasi, didalam prakteknya Manajemen SDM dimulai dari penetapan tujuan, baik tujuan jangka panjang atau tujuan jangka pendek, tujuan tingkat organisasi maupun tujuan fungsional, sebagai contoh antara lain, departemen produksi pada perusahaan otomotif. Secara spesifik tujuan Manajemen SDM didalam suatu organisasi adalah mengelola dan/atau mengembangkan kompetensi personil agar mampu merealisasikan misi organisasi, yang dikenal dengan Competency Based Human Resource Management. Apa yang dimaksud dengan Competency/Kompetensi ? Kompetensi dibagi menjadi tiga macam : a. Kompetensi Individu, merupakan kombinasi pengetahuan, kemampuan/ keterampilan dan tingkah laku yang dimiliki oleh seseorang atau karyawan. b. Kompetensi Kelompok, adalah perpaduan dari kompetensikompetensi individu dalam suatu kelompok atau unit kerja yang secara keseluruhan membentuk suatu kekuatan yang sinergik. c. Kompetensi Inti Organisasi, adalah keunggulan-keunggulan sinergis yang dimiliki oleh suatu organisasi atau suatu perusahaan.

Aspek Psikomotorik / perubahan pada dimensi skill/keterampilan. b. Dampak perubahan perilaku kelompok yang tercermin pada kemampuan kelompok dalam pelaksanaan tugas. c. Dampak yang timbul dan diukur pada skala organisasi, diukur pada tingkat produktivitas, perbaikan, sampai pada peningkatan volume penjualan. d. Dampak yang timbul pada masyarakat secara umum, akibat pengaruh budaya organisasi yang dibawa dari karyawan sebagai individu ke lingkungan tempat tinggal.

PENYEBAB PERMINTAAN SDM
Tantangan yang harus diperhitungkan dalam kegiatan manajemen SDM, yaitu tantangan Internal dan Eksternal. Perlu dianalisis terlebih dahulu tantangan mana yang dihadapi organisasi masa depan. a. Tantangan Eksternal 1. Ekonomi; perkembangan ekonomi mempunyai dampak terhadap permintaan SDM, misalnya inflasi, pengangguran, dan perubahan pola tenaga kerja; 2. Sosial, Politik, dan Peraturan akan mempengaruhi pula permintaan SDM, misalnya jika terjadi perang, maka Departemen Pertahanan harus melakukan rekrutmen; 3. Teknologi; perubahan teknologi yang sulit diprediksi akan menyulitkan perencanaan SDM karena perubahan teknologi cenderung berakibat pada kekurangan kebutuhan SDM; 4. Pesaing, mengakibatkan organisasi merubah strategi mungkin dengan mengkonsolidasikan operasionalnya dan menekan biaya-biaya tenaga kerja. b. Tantangan Internal 1. Rencana strategis, baik jangka

MANAJEMEN
Manajemen adalah suatu proses sistematis untuk mencapai tujuan melalui fungsi perencanaan, pelaksanaan, pemeriksaan dan pengendalian atau tindak lanjut, yang juga disebut sebagai konsep PDCA (Plan-Do-Check-Act), atau yang dikenal dengan Deming Cycle. Arti dari PDCA : Plan : merencanakan / proses perencanaan yang dicapai l Do : melaksanakan / merealisasikan yang terpikir l Check : memeriksa / informasi dan efektivitas informasi l Act : melakukan tindakan / menindaklanjuti
l

DAMPAK MANAJEMEN SDM
Dampak Manajemen SDM, adalah akibat yang secara langsung atau tidak langsung yang ditimbulkan dari aktivitas manajemen sumber daya manusia, yang dapat dijelaskan dalam 4 dimensi, yaitu : a. Dampak secara langsung yang ditimbulkan pada perubahan perilaku individu, yang terdiri dari 3 aspek yaitu : Aspek Kognitif / perubahan dimensi pengetahuan; Aspek Efektif / perubahan dimensi sikap, dan

MANAJEMEN SUMBER DAYA MANUSIA
Manajemen Sumber Daya Manusia, adalah proses sistematis untuk mencapai tujuan-tujuan pengelolaan SDM dalam rangka mendukung pencapaian tujuan organisasi tersebut.

TUJUAN MANAJEMEN SDM
Bukan merupakan suatu tujuan, tetapi 74
WARTA BEA CUKAI

EDISI 378 MEI 2006

panjang maupun jangka pendek. Hal ini akan mempengaruhi jumlah dan jenis SDM yang dibutuhkan dimasa depan; 2. Anggaran, berkurang atau bertambahnya anggaran merupakan faktor yang mempengaruhi kebutuhan SDM; 3. Desain organisasi dan jabatan dapat merubah kebutuhan SDM secara radikal, misalnya adanya perampingan atau penggabungan organisasi. c. Faktor Tenaga Kerja 1. Pensiun; 2. Pengunduran Diri; 3. Pemecatan 4. Kematian, dan sebagainya.

4. Penyeleksi, menganalisa informasi; membandingkan informasi hasil wawancara dan mempertimbangkan kelemahan dan kekuatan para calon dengan mengacu pada kriteria yang telah ditetapkan dan memutuskan calon yang sesuai. 5. Penawaran, menyiapkan surat; mendiskusikan penawaran dengan calon terpilih; menandatangani surat kontrak perjanjian kerja dan mendiskusikan kapan mulai bekerja. Pengembangan Sumber daya manusia pada suatu organisasi tidak secara otomatis menjadikan suatu kekuatan. Kompetensi juga harus dikembangkan secara terencana sesuai dengan rencana pekerjaan dan rencana pengembangan usaha agar menjadi faktor pendukung untuk mencapai tujuan organisasi atau perusahaan. Secara sistematis proses pengembangan kompetensi diawali dengan mengindentifikasi kebutuhan kompetensi melalui analisa kebutuhan pelatihan, dari hasil analisa dibandingkan dengan kompetensi aktual yang terefleksi pada hasil penilaian kerja atau analisa pekerjaan (job analysis). Idealnya pengembangan kompetensi dilakukan secara seimbang antara dimensi mental, sosial, spiritual dan dimensi fisik sehingga menghasilkan kekuatan yang sinergis. Pembudayaan Membangun organisasi tanpa dasar budaya, ibarat mendirikan bangunan tanpa pondasi, organisasi tidak kokoh, anggota boleh cerdas/pintar, namun kecerdasan intelektual tidak diimbangi dengan kecerdasan emosional dan pemikiran rasional maka intelektualitas itu tidak membawa manfaat bagi organisasi. Budaya organisasi (corporate culture), adalah norma-norma/kaidah/aturan dan nilai positif yang menjadi pedoman atau ukuran kepatutan tingkah dan perilaku para anggota organisasi. Jadi pembentukan budaya organisasi adalah proses transformasi dan internalisasi budaya individu yang heterogen menjadi budaya kolektif yang relatif lebih homogen. Pendayagunaan SDM (Sumber Daya Manusia) ibarat pisau bermata dua, yang artinya pada satu sisi dapat berguna pada organisasi dan pada sisi lain dapat sebaliknya. Pengaturan SDM pada penempatannya akan menentukan besar kecilnya kontribusi, The right person in the right place adalah prinsip pendayagunaan SDM yang perlu dipraktekkan secara konsisten. Yang juga termasuk di dalamnya adalah : 1. Penilaian karya 2. Rotasi 3. Mutasi/alih tugas 4. Demosi

5. Promosi 6. Perluasan tugas dan tanggung jawab 7. Pemberian target-target secara progresif, dan sebagainya. Untuk optimalisasi pendayagunaan SDM, perlu pemetaan kompetensi anggota organisasi secara keseluruhan, khususnya kompetensi personil kunci untuk keberhasilan organisasi. Pemeliharaan SDM (Sumber Daya Manusia) tidak dapat diakuisisi seperti layaknya suatu benda, contoh mesin/bahan baku dan lain-lain. Yang artinya hubungan kerja antara karyawan dengan perusahaan hanya terjalin berdasarkan kesepakatan kondisional (yang diikat dengan berbagai kesepakatan persyaratan). Sehingga hubungan kerja pengusaha dan karyawan sifatnya tidak statis, tetapi dinamis. Yang menjadi kendala bagi organisasi dalam memanfaatkan SDM, adalah manusia dilindungi oleh Hukum/Hak Asasi Manusia (HAM), oleh sebab individu/SDM tidak dapat diberlakukan secara semenamena, maka SDM haruslah dikelola dengan baik sehingga tidak akan menjadi ancaman bagi kelangsungan hidup suatu perusahaan atau organisasi. Lalu bagaimana caranya untuk mengatasi hal tersebut, misalnya dengan : 1. Kontrak kerja 2. Mengupayakan kepuasan pekerjaan 3. Membangun iklim kerja yang kondusif 4. Kepastian masa depan 5. Mengembangkan program kepemilikan 6. Memberikan kompensasi progresif 7. Perlakukan khusus, dan sebagainya Secara logika anggota organisasi yang memiliki kompetensi yang sangat diperlukan organisasi perlu untuk diikat, dibina dan dikembangkan, sedangkan yang tidak ada kompetensinya secara alamiah akan mengikatkan diri sendiri (beradaptasi). Pensiun Pada akhirnya anggota organisasi akan meninggalkan tempat secara alamiah, misalnya dengan faktor usia atau menurun kemampuan kerjanya karena proses regenerasi yang telah di rancang perusahaan. Perusahaan/organisasi seharusnya menghindari praktek “habis manis sepah dibuang” yang dampaknya pun akan berimbas pada citra perusahaan/ organisasi itu sendiri. Karena itu sudah sepatutnya perusahaan mempersiapkan anggotanya yang akan purna bhakti dengan penuh keyakinan, misalnya dengan memberikan pelatihan-pelatihan khusus untuk membekali pada calon purna bhakti, seperti pelatihan persiapan mental; pelatihan wirausaha, dan lain-lain. (Bersambung)

MANAJEMEN SDM MODEL 7P
7P Yaitu kepanjangan dari : 1. Perencanaan 2. Penerimaan 3. Pengembangan 4. Pembudayaan 5. Pendayagunaan 6. Pemeliharaan dan, 7. Pensiun Perencanaan Pada tahap ini, fungsi organisasi baik di tingkat puncak, tingkat menengah, maupun tingkat supervisi, terlibat dalam proses perencanaan, yaitu dengan cara menetapkan apa yang akan ingin dicapai dan mengorganisasikan sumber daya untuk mencapai tujuan yang dimaksud dalam organisasi. Pimpinan tingkat puncak (direksi) menjalankan perencanaan jangka panjang atau perencanaan strategis. Pimpinan tingkat menengah (manajer) menjalankan manajemen fungsional atau perencanaan operasional. Supervisor menjalankan aktivitas produk sehari-hari. Penerimaan Penerimaan karyawan merupakan tahap yang sangat kritis, merekrut orang yang tidak tepat ibarat menanam benih yang buruk (right man in the right job). Ia akan menghasilkan buah yang tidak baik di kemudian hari, bahkan satu orang saja yang tidak baik dapat merusak pohon organisasi secara keseluruhan. Secara rinci kegiatan rekrutmen dapat dibagi menjadi lima tahap, yaitu : 1. Persiapan, yaitu mempersiapkan segala sesuatu yang berkaitan dengan penerimaan pegawai dari formasi pegawai, tingkat kebutuhan, kriteria/ persyaratan panitia seleksi hingga kebijakan SDM perusahaan. 2. Penyaringan, screening awal; kualifikasi surat lamaran dan pengecekan pada perusahaan sebelumnya. 3. Wawancara, mengungkap data informasi menyangkut kapabilitas, skil dan karakter individu dari si pelamar; memberikan informasi yang belum diketahui/dipahami si pelamar.

Penulis adalah Kepala Seksi Kepabeanan dan Cukai I, KPBC Tipe B Kotabaru
WARTA BEA CUKAI

EDISI 378 MEI 2006

75

PROFIL

Nasir Adenan
KEPALA KANTOR PELAYANAN BEA DAN CUKAI TIPE A TANJUNG PRIOK I

“TARGET PENERIMAAN
BUKAN UNTUK DICAPAI
DENGAN MENGHALALKAN SEGALA CARA...”
Bertindaklah bijak dalam kehidupan, Jangan biarkan kekuasaan meracuni kerakusan, Jangan biarkan kekayaan meracuni ketamakan, Adil belum tentu benar, Benar belum tentu adil… Wejangan ini yang terngiang dan mengiringi keberangkatan Nasir Adenan dan keluarga dari Tokyo, Jepang, untuk melaksanakan tugas baru di Jakarta.

N

asir Adenan adalah profil WBC kali ini. Ia belum lama tiba di Jakarta, setelah bertugas di Tokyo, Jepang sebagai Kepala Perwakilan Bea dan Cukai pada KBRI, Tokyo (saat WBC mewawancarainya pada 11 April 2006, Nasir baru seminggu bertugas di KPBC Tanjung Priok I-red). Saat ini Nasir menjabat sebagai Kepala Kantor Pelayanan Bea dan Cukai Tipe A Tanjung Priok I. Nasir merupakan anak ke-lima dari 11 bersaudara (sebenarnya anak ke-7, dimana kedua orang kakak tertua meninggal di usia sangat muda karena sakit-red) yang dilahirkan dari seorang ibu bernama Hj. Masnona, putri tertua dari istri tertua kepala suku di Waikunang, Lampung Utara. Sedangkan Ayahnya adalah H. Muhammad Adenan, anak laki-laki pertama dari keluarga tertua di Penagan Ratu, Lampung Utara yang bekerja sebagai seorang pengusaha pribumi yang bergerak dibidang ekspor impor hasil bumi. Nasir yang kerap dipanggil Acing ini lahir di kota Palembang, Sumatera Selatan. Di kota kelahirannya tersebut Nasir mengecap pendidikan hanya sampai kelas 2 SD. Selebihnya, pendidikannya dilanjutkan di Lampung dan Bandung. Dalam hal pendidikan, kedua orangtuanya tidak mengarahkan secara khusus. Orangtuanya (Ayahnya merupakan anggota DPRGR/MPRS dari utusan tokoh masyarakat periode 1967-1972-red) termasuk yang menganut azas demokratis. Mereka tidak pernah memaksakan anakanaknya untuk menjadi apa atau siapa. Di Lampung, tepatnya Tanjung Karang, ia melanjutkan SD-nya di SD Xaverius. Namun, pendidikan dasarnya kurang begitu sukses karena ia termasuk ukuran anak bandel pada waktu itu. Misalnya saja, ia pernah tidak naik kelas dan sering bolos sekolah demi hobinya bermain bola. Kelas 5 SD ia pindah ke SDN 5, Tanjung Karang, dan sudah bisa mengendarai sepeda motor dan mobil.
WARTA BEA CUKAI

Alhasil, saat kelas 6 SD ia telah memiliki SIM A dan SIM C (SIM nembak-red). Lulus SD, ia pun melanjutkan ke SMPN 2 di Tanjung Karang, Lampung. Ketika duduk di bangku SMP, kenakalannya tidak berkurang. Dua kali ia mengalami kecelakaan. Yang pertama, motornya menabrak sapi saat kebut-kebutan di luar kota. Akibatnya selain motor ringsek dan sapi mati, ia mengalami gegar otak ringan. Kedua, mobil yang dikendarai oleh salah satu temannya terguling sebanyak 5 kali dan berhenti pada posisi up-side down dengan bagian muka menghadap kembali ke arah kedatangan. “Akibatnya saya tidak dapat mengikuti ulangan umum, namun mungkin para guru dan wali kelas mempertimbangkan ulangan harian saya, maka saya tetap naik kelas 3 SMP dengan nilai pas-pasan,” ujar Nasir. Tamat SMP ia melanjutkan sekolah di SMAN I di Dago, Bandung. Lulus SMA ia sempat menganggur satu tahun karena cita-citanya ingin masuk ITB (Institut Teknologi Bandung) tidak tercapai (ia tidak lulus tes karena hanya mendaftar di ITB saja-red). Selama satu tahun menganggur ia pun mengambil kursus gitar di Yayasan Musik Indonesia. Pada tahun berikutnya, ia lulus dan diterima di Fakultas Ekonomi UNPAD (Universitas Padjajaran). Selama kuliah, sampai tingkat 3 ia hanya beberapa kali menghadiri kuliah dan datang ke kampus hanya untuk mengikuti ujian saja. Selebihnya, ia hanya sibuk bermain. Namun saat duduk ditingkat 4 (setelah ada penjurusan-red) semuanya berbalik 180 derajat. Saat itu muncul kesadaran bahwa ia harus segera lulus karena beberapa teman sepermainannya telah lulus terlebih dahulu. “Setiap kuliahpun saya duduk paling depan, dan alhamdulillah sejak saya rajin kuliah, nilai ujian saya selalu paling tinggi,” cerita Nasir. Nasir sendiri mengaku bahwa citacitanya dulu ingin mempunyai 5 buah pabrik. Namun saat menginjak SMA dan

kuliah, cita-citanya pun berubah. Ia hanya ingin bagaimana bisa keluar negeri dibiayai oleh orang lain. Ketika disinggung mengenai masalah keluarga, ia mengaku bertemu dengan sang istri, Yayuk Nurul Anggraini, di Jakarta pada 1989, sebelum ia pergi ke Inggris untuk mengikuti SGS Customs Training Course selama 3 bulan. Sekembalinya dari Inggris ia pun menikah. Setahun kemudian lahirlah putri pertamanya, Alvina Kusumawardani yang juga merupakan putri tunggalnya. Walaupun Alvina (saat ini duduk dikelas 1 SMU-red) merupakan anak tunggal, Nasir tidak terlalu memanjakannya, bahkan dapat dikatakan ia agak keras dalam mendidik putrinya tersebut. “Tapi kelak saya tidak akan menghalangi dan membebaskan bila ia ingin menjadi apa atau siapa,” kata Nasir. Dalam membagi waktu, Nasir mencoba untuk tetap berkomunikasi dengan keluarga walaupun ia berada ditempat yang jauh atau diluar kota. Ia juga mengusahakan untuk berkumpul setiap akhir minggu bersama keluarga. “Saya tidak ingin mencampuradukkan masalah di kantor dan di rumah. Sedapat mungkin saya tidak akan membawa pekerjaan kantor ke rumah atau sebaliknya membawa masalah dirumah ke kantor,” tambah Nasir.

CITA-CITANYA KELUAR NEGERI GRATIS TERCAPAI
Usai meraih gelar sarjana ekonomi, ia mengajukan lamaran ke beberapa instansi. Ia pun diterima di Perusahaan Umum Telekomunikasi (Perumtel), Bank Pembangunan Indonesia (Bapindo), serta Departemen Keuangan (Depkeu). Ia sempat bekerja di Bapindo selama dua hari, tetapi kemudian ia mengajukan permohonan berhenti, karena setelah berkonsultasi dengan para seniornya, ia disarankan untuk masuk ke Departemen Keuangan. Penerimaan di Departemen Keuangan

76

EDISI 378 MEI 2006

merupakan hasil tes yang diadakan oleh Dono Iskandar dan Marzuki Usman (saat itu masih pejabat eselon II di Depkeu-red) sewaktu ia masih kuliah tingkat akhir. Waktu itu kedua pejabat tersebut berkeliling ke seluruh Universitas Negeri di Indonesia untuk merekrut mahasiswa-mahasiswa tingkat akhir dan yang baru lulus untuk menjadi PNS di Depkeu. “Pada 1981, setelah melapor di Depkeu saya ditempatkan di DJBC, yang waktu itu saya tidak tahu singkatan dari apa. Setelah dijelaskan baru saya tahu dan segera menuju Kantor Pusat Direktorat Jenderal Bea dan Cukai untuk melapor diri,” katanya. Penempatan pertamanya (1981) sebagai staf TL Yousuf pada Sub Dit Tarif. Pada 1984 untuk pertama kalinya citacitanya tercapai. Saat itu walaupun masih sebagai pelaksana, Yousuf mengajaknya pergi keluar negeri tepatnya ke Brussell, untuk menghadiri HS meeting. Hal tersebut berlangsung selama beberapa tahun. Pada tahun yang sama ia juga mengikuti test untuk tugas belajar mengambil S2 (Strata 2) ke Amerika Serikat. Namun saat mengikuti wawancara akhir dengan Dono Iskandar, ia mengatakan bahwa ia tidak berminat untuk belajar ekonomi lagi karena gelar sarjananya dari jurusan ekonomi. Walaupun begitu, ia mengajukan alternatif lain, ia mau belajar keluar negeri jika ada jurusan yang berkaitan dengan kebeacukaian. Secara kebetulan beberapa bulan kemudian ada tawaran untuk belajar ke Belanda. Pada 1985 (selama hampir setahun-red), sebanyak 15 orang pegawai bea cukai dan 15 orang pegawai pajak diberangkatkan Belanda. Nasir ditunjuk sebagai koordinator untuk kelompok Bea dan Cukai. Di Belanda ia mengikuti pendidikan International Customs Law di Opleiding Institut Fianancien (OIF), The Haque, di Netherlands. Pada 1986 ia pun kembali ke Jakarta. Pada tahun tersebut ia dipromosi sebagai Kepala Seksi Verifikasi di KPBC Halim Perdana Kusuma, Jakarta. Lalu pada 1990 ia menjabat sebagai Kepala Seksi Tarif, KP DJBC Jakarta. Kemudian pada 1993, seusai rapat Tim Tarif, ia dipanggil oleh Yousuf (saat itu sebagai Direktur Pabean-red) dan ditawarkan untuk menempati posisi diluar negeri, yang ia sendiri tidak tahu sebagai apa. Namun setelah berunding dengan keluarga, Nasir belum dapat menerima posisi tersebut. Kemudian pada tahun yang sama (1993) ia dipindahtugaskan ke KPBC Polonia, Medan sebagai Kasubag TU. Pada tahun itu pula ia dipindahkan kembali ke Jakarta sebagai Pejabat Fungsional Pemeriksa Dokumen (PFPD) di KPBC Soekarno Hatta II, Jakarta. Lalu, pada 1996 ia dipindahkan ke KP DJBC Jakarta sebagai Kepala Seksi Hubungan Internasional. Pada akhir 2000 ia kembali dipindahtugaskan ke Kanwil IX, Pontianak, sebagai Kepala Bidang Pabean dan Cukai. Pada tahun tersebut, Nasir berhasil
EDISI 378 MEI 2006 WARTA BEA CUKAI

77

PROFIL
DOK. PRIBADI

KELUARGA. Bersama keluarga saat bertugas di Tokyo, Jepang.

menyelesaikan S2-nya untuk program Manajemen SDM di IPWI, Jakarta. Tahun berikutnya, yakni akhir tahun 2001, ia ditunjuk menjadi Kepala Perwakilan Bea Cukai di KBRI Tokyo, Jepang.

BERTEMU KAISAR JEPANG
Selama bertugas di Subdit Tarif, hal yang paling berkesan baginya adalah ketika ia berdebat dan berdiskusi dengan salah satu pimpinan dari PT. Surveyor Indonesia (SGS – yang saat itu dijabat oleh orang asing-red) yang bertanggung jawab mengenai masalah klasifikasi barang. Dimana pada akhirnya orang asing tersebut menyerah dan mengaku salah. “Sejak saat itu, hanya dengan mengangkat telepon saya dapat meminta beliau (orang asing tersebut-red) untuk mengamandemen Laporan Pemeriksaan Surveyor (LPS) tanpa harus mengajukan surat resmi,” kenangnya. Kemudian pada 1993, selaku Kasubag Umum di KPBC Polonia, Medan, yang pegawainya terdiri dari berbagai kelompok suku, ia mencoba untuk berlaku adil bagi semua pegawai/kelompok, walaupun didalam keadilan belum tentu ada kebenaran. Ia merasa bersyukur bahwa kebijakannya tersebut dapat diterima oleh semua kelompok, terutama mengenai rolling penugasan pemeriksa – yang sebelumnya dirolling 3 bulan sekalidiubah menjadi 1 atau 2 minggu sekali dengan pembagian tugas yang adil. “Sebelumnya, Kasubag umum yang terdahulu selalu mendapat tekanan dan kewalahan menghadapi keinginan para kelompok tersebut,” kata Nasir. Ia menambahkan, dalam bidang administrasi pun ia lakukan perubahan. Pembuatan surat menyurat yang awalnya hanya 78
WARTA BEA CUKAI

dilakukan dengan mesin ketik biasa. Perlahan-lahan ia pun memperkenalkan komputer pada stafnya. Ia memang memiliki keinginan agar seluruh stafnya memperoleh nilai tambah pada saat ia meninggalkan mereka. Kemudian saat ia menjabat sebagai PFPD di KPBC Soekarno-Hatta II, terkadang ia harus mencari pembenaran, manakala ada pesan sponsor dari atas. “Saya merasa bahwa walaupun merasa benar belum tentu adil bagi yang lain, didalam kebenaran belum tentu ada keadilan,” tutur Nasir. Lalu, saat bertugas di Subdit Hubungan Internasional (HI), KP.DJBC, ia mengaku memerlukan seni dan spirit tersendiri. Pasalnya, jika tidak menikmati dan menghayati tugas di Subdit tersebut, akan terasa membosankan, tetapi hal itu tidak terjadi pada dirinya. Di Subdit HI ia dapat memperluas wawasannya. Pola pikirnya jadi berwawasan internasional, ia pun dapat menjalin hubungan dan dapat mengenal lebih dekat berbagai instansi Bea dan Cukai di dunia. “Saya berpendapat bahwa penempatan perwakilan bea cukai di luar negeri belakangan ini sudah on the right track, yaitu bagi mereka yang pernah menduduki jabatan di Dit. Kepabeanan Internasional. Namun yang saya amati akhir-akhir ini, mungkin dengan pertimbangan tertentu, track ini mulai menyimpang kembali,” katanya. Pada akhir 2001, ia ditunjuk untuk menjabat sebagai kepala perwakilan bea cukai di Tokyo, Jepang. Saat di Tokyo, seringkali ia harus menjelaskan (tidak saja kepada teman-teman Deplu di KBRI Tokyo, tetapi juga kepada counterpart Bea

dan Cukai di Jepang-red) bahwa ia bukan hanya mewakili Bea dan Cukai saja tapi juga Depkeu. Oleh karena itu ia menjalin hubungan tidak saja dengan instansi Bea Cukai Jepang tetapi juga dengan National Police Agency Jepang, Financial Intelligence Unit Jepang, serta bidang-bidang lainnya seperti pajak, anggaran, biro internasional dan lainnya. Berbekal pengetahuan yang kurang memadai dari Deplu, Nasir pun mengagendakan program pencerahan (enlightment) untuk menambah wawasan dan pengetahuan bagi para home staff di KBRI-Tokyo. Caranya, dengan meminta para ahli datang ke KBRI untuk memberikan presentasi dibidang masing-masing. Ternyata acara tersebut tidak hanya dihadiri oleh home staff tapi juga semua perwakilan BUMN serta Bank Indonesia di Tokyo. Para ahli tersebut diantaranya adalah Mr. Hino, Direktur IMF untuk Asia Pacific; Mr.Kyoto Ido, Direktur Jenderal Kerjasama Internasional Depkeu Jepang; Prof. Jeff Kinston dari Temple University Tokyo dan Mr Cowley, Direktur Asian Development Bank Institute. Program ini pun didukung oleh Duta Besar RI untuk Jepang, Abdul Irsan, karena sebelumnya memang belum pernah ada program semacam itu di KBRI. Ada beberapa pengalaman yang paling tidak dapat dilupakan Nasir selama di Tokyo. Pertama, saat mendapatkan kehormatan menjadi salah satu pendamping Dubes RI Tokyo untuk mengikuti upacara credential (penyerahan surat kepercayaan-red) menghadap Kaisar Jepang. Saat itu rombongan Dubes RI dijemput dengan kereta kuda kencana dari stasiun Tokyo, menuju istana dan dikawal oleh SP (Special Police). Ia pun memperoleh kesempatan untuk berhadapan dan bersalaman langsung dengan Kaisar Hirohito, yang menurut kepercayaan jepang adalah putra Dewa Amaterasu (Dewa Matahari). “Padahal, penduduk Jepang sendiri hanya dapat melihat wajah kaisarnya paling banyak 2 atau 3 kali dalam setahun,” tutur Nasir.
DOK. PRIBADI

TAIWAN. Nasir Adenan (paling kanan) bersama Dirjen Bea dan Cukai Taiwan (tengah) dalam sebuah acara di National Police University, Taiwan.

EDISI 378 MEI 2006

DOK. PRIBADI

Tak hanya itu, ia sangat terkesan ketika mewakili Dubes RI untuk menghadiri pertandingan nasional karate (seluruh Jepang) di Gedung Nihon Budokan yang berkapasitas ribuan orang dan diliput secara langsung oleh Stasiun TV NHK Jepang. Saat itu ia dianggap sebagai Dubes RI, sehingga ketika acara perkenalan, wajahnya terpampang dilayar lebar panggung serta diberi aplaus oleh penonton, terpaksa ia berdiri sambil membungkuk (bowing-kebiasaan orang Jepang-red) ke arah penonton. Saat di Jepang ia juga didaulat untuk menjadi Ketua (President) Foreign Customs Council Tokyo periode 2004-2005. Pengalaman berikutnya adalah saat menyelesaikan kasus yang ia anggap sangat sensitif bagi institusi Bea dan Cukai saat itu (pihak Jepang mengaitkan kasus tersebut dengan beberapa oknum bea cukai Indonesia). Waktu itu Ketua Asosiasi Eksportir Mobil Jepang (JUMVEA), Mr. Sato, mendapat masalah dengan pengusaha mobil Indonesia. Sebelumnya masalah ini sudah diupayakan penyelesaiannya oleh yang bersangkutan dengan Departemen Perindustrian dan Perdagangan (Deperindag) Indonesia melalui Atase Perdagangan Tokyo, tapi tidak berhasil. Kemudian Atase Perdagangan menyerahkan permasalahan tersebut pada Nasir, mengingat bahwa pihak Jepang (JUMVEA-red) akan mengadukan persoalan ini pada Kementrian Ekonomi, Perdagangan dan Industri Jepang. Nasir pun segera bertindak dengan melakukan kontak dengan pihak-pihak terkait di Indonesia. Ia pun membuat janji dengan pihak Indonesia (terutama importer mobil) dan ketua JUMVEA untuk bertemu di Indonesia. “Alhamdulillah, hanya dalam waktu satu hari permasalahan dapat diselesaikan, walaupun menurut pihak Jepang, mereka mengalami kerugian sekitar USD 2 juta,” terang Nasir. Setelah peristiwa tersebut, Mr. Sato mengungkapkan rasa terima kasih atas bantuan yang diberikan Nasir dalam bentuk surat ke Dubes RI di Tokyo, Jepang.
DOK. PRIBADI

PRESIDEN RI. Saat kunjungan Presiden RI, Soesilo Bambang Yudhoyono, di Hotel Historial, Tokyo, Jepang.

RENCANA UNTUK KPBC TANJUNG PRIOK I
“Saat ini saya sedang mengambil Strata 3 Ekonomi di Universitas Borobudur, Jakarta. Namun karena keterbatasan waktu, saya putuskan untuk cuti sementara. Saya berpendapat bahwa pengalaman adalah pendidikan yang sesungguhnya karena berdasarkan pengalaman pulalah saya melihat korelasi antara pendidikan formal dengan tugas dikantor tidak begitu signifikan,” katanya. Sebagai Kepala KPBC Tanjung Priok I, ia berencana untuk kembali pada misi DJBC, yakni memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat, industri dan perdagangan. Pada saat menghadap Kakanwil Tanjung Priok, ia mengatakan bahwa pencapaian target yang ditetapkan oleh Depkeu bukan merupakan prioritasnya. Yang paling penting baginya adalah meningkatkan pelayanan (sesuai dengan misi DJBC) untuk meningkatkan kelancaran arus barang dan mengurangi, jika mungkin mengeliminasi, keluhan dari para pengguna jasa kepabeanan. Ia pun memetik pelajaran dari pencapaian target tahun 2005, yang direvisi sebanyak 2 kali dimana pada revisi pertama penerimaan meningkat sekitar 10 persen. Tetapi pada revisi kedua meningkat hampir 40 persen. “Peningkatan tersebut saya anggap sudah diluar akal sehat saya. Apa rujukan atau rumusan atau apapun namanya yang digunakan untuk mendapatkan angka revisi tersebut?” tanyanya. Menurutnya penetapan target penerimaan sah-sah saja dilakukan, tetapi hanya sebatas sebagai motivator kerja, bukan untuk dicapai dengan menghalalkan segala cara sehingga akan merusak sistem yang ada. Apakah Bea dan Cukai mampu memaksa importir untuk meningkatkan importasi atau menaikkan tarif bea masuk agar penerimaan naik.

KERETA KENCANA. Nasir Adenan (paling kanan) bersama rombongan Dubes RI menaiki kereta kuda kencana untuk mengikuti upacara credential dan bertemu dengan Kaisar Jepang, Hirohito.

Bea dan Cukai memang aparat fiskal, namun di era globalisasi sekarang penekanan bukan semata-mata pada money collecting, tetapi lebih kepada trade facilitating dan society protecting. Kembali pada rencananya untuk kemajuan KPBC Tanjung Priok I, yaitu mengembalikan misi DJBC ke jalur yang benar, ia berharap setelah misi terlaksana (dimana kinerja pelayanan membaik, arus barang lancar dan meningkat), maka penerimaan akan meningkat. Ia beranggapan bahwa roh daripada misi DJBC sudah sejalan dengan Inpres 3/2006, yakni menciptakan iklim investasi yang kondusif. Dalam melaksanakan tugas ia berupaya untuk mengikutsertakan para stafnya untuk berembuk dan bertukar pikiran. Dengan harapan akan diperoleh solusi terbaik bagi peningkatan kinerja KPBC Tanjung Priok I pada khususnya dan institusi Bea dan Cukai pada umumnya. Apabila diperlukan ia akan bertindak tegas dan akan sangat akomodatif jika memungkinkan. “Prinsipnya, saya lebih mementingkan hasil akhir daripada sibuk ngurusin absensi dan segala hal tetek bengek lainnya,” aku Nasir. Obsesinya untuk memajukan DJBC selanjutnya adalah menghimbau rekanrekan bea cukai, ditengah-tengah tekanan yang datang bertubi-tubi, untuk merapatkan barisan dan tidak saling merasa paling hebat, paling pintar, paling tahu dan “paling-paling” lainnya, serta tidak saling menyalahkan. “Alangkah indahnya jika potensi tersebut dapat disinergikan sehingga dapat meningkatkan kinerja Bea dan Cukai. Harapan saya untuk institusi Bea dan Cukai sederhana saja, yaitu bagaimana mengupayakan agar institusi bea cukai mendapatkan pengakuan dari masyarakat bahwa DJBC memang diperlukan oleh negara dan bangsa ini,” harapnya. ifa
WARTA BEA CUKAI

EDISI 378 MEI 2006

79

APA KATA MEREKA

Putri Patricia

Be More Friendly...

Ketika ditemui WBC saat hendak latihan tembak, Putri Patricia mengaku selama ini tidak pernah mengalami kesulitan dengan petugas bea cukai saat dibandara Soekarno Hatta. Walaupun barangbarangnya dibongkar atau diperiksa petugas, ia melihatnya sebagai suatu hal yang wajar. Ia melihat bahwa petugas bea cukai dibandara tidak membedakannya, karena ia selebritis. Walapun begitu, ia mengaku bahwa terkadang petugas yang mengenali wajahnya kerap menegur. “Mereka kadang bingung setelah melihat pasporku, soalnya namaku di paspor bukan Putri Patricia,” aku cewek yang di KTP-nya bernama Ayu Dewayani. Yang dianggapnya agak mengganggu adalah ketika ia pulang dari luar negeri dimana pada saat kondisi badan yang lelah, ia harus mengangkat barang-barang bawaannya melewati x-ray. “Aku tuh nggak ngerti tujuannya apa?” katanya. Cewek yang lahir 24 Mei 1980 ini mengatakan, dalam setahun tidak tentu berapa kali pergi keluar negeri, kadang lima kali dalam setahun tapi kadang tidak pergi sama sekali. “Biasanya sih aku tergantung duit kalo pergi keluar negeri,” kelakarnya. Namun ia cepat-cepat menambahkan bahwa tujuannya keluar negeri biasanya karena liburan dan tuntutan pekerjaan. Ia menyarankan agar para petugas bea cukai di bandara lebih ramah, nice dan be more friendly. Sebab, ia kadang melihat petugas bea cukai berwajah seram. Namun ia memaklumi hal itu mungkin dikarenakan petugas bea cukai sudah lelah. “Kadang wajahnya itu nakutin, padahal kita nggak ngapa-ngapain tapi pas ngeliat mukanya jadi takut. Tapi mungkin itu taktik mereka ya bermain psikologis membuat kita jadi takut?” tanyanya. Ketika ditanya kesibukannya saat ini, Putri bercerita sedang sibuk syuting dua judul sinetron. Namun ia menolak menyebutkan judul sinetron yang dibintanginya tersebut. Alasannya, terkadang judul pada saat syuting dengan setelah tayang di layar kaca berbeda, jadi untuk urusan judul sifatnya tentatif. Selain sibuk bermain sinetron, cewek tomboy ini juga sedang gandrung mengikuti olahraga scuba diving, go cart dan tembak. Oke deh ifa put, met olahraga ya… (Ifaaaa)

Beberapa pasang mata pelayan sebuah café di bilangan Jakarta Selatan memperhatikan Rara saat WBC melakukan sesi pemotretan di tempat itu. Sore itu WBC memang sengaja menyambangi Rara untuk wawancara seputar pengalamannya ketika berhadapan dengan petugas bea cukai khususnya di bandara Soekarno Hatta. Ketika ditanya WBC apakah ia pernah mengalami kesulitan dengan petugas bea cukai di bandara, Rara menjawab bahwa ia tidak pernah mengalami kesulitan. “Alhamdulillah selama ini tidak pernah ada kejadian atau kesulitan dengan petugas bea cukai ya,” ucapnya. Rara yang mengaku bukan selebritis ini mengatakan bahwa kemudahan yang ditemuinya saat berhadapan pada petugas bea cukai bukan karena petugas bea cukai mengenal dirinya tapi memang ia tidak pernah membawa barangbarang yang dilarang. “Lagian tampang saya kan tampang orang baik-baik,” ujarnya seraya tertawa. Rara yang biasanya pergi keluar negeri dalam rangka liburan menyarankan agar para petugas bea cukai di bandara harus lebih ramah lagi. “Soalnya kalau kita melihat pegawai dengan muka yang kecut itu kan males aja ngeliatnya,” imbuh Rara. Ketika disinggung keterlibatannya sebagai presenter di acara Piknik yang ditayangkan di salah satu stasiun tv swasta, Rara yang telah dua tahun terlibat dalam acara tersebut dengan antusias bercerita. Katanya, acara tersebut sangat membantunya dalam memuaskan hobi travellingnya. Betapa tidak, ia kerap pergi ke berbagai daerah yang ada di wilayah Indonesia untuk meliput wisata yang ada. “Untuk acara piknik ini kita hanya travelling di wilayah Indonesia saja, tidak sampai ke luar negeri karena di Indonesia sendiri sangat banyak tempat-tempat wisata yang bagus dan menarik untuk dikunjungi,” tambahnya. Ia mengaku tiap daerah wisata yang telah dikunjunginya memiliki keunikan tersendiri. Namun ia mengaku terkesan dengan pengalamannya ketika menuju sebuah air terjun di daerah Lombok, Nusa Tenggara Barat. Kala itu ia merasa kelelahan yang amat sangat ketika tiba di lokasi air terjun. “Aku harus melalui jalanan yang menurun dan jauh, kakiku sampai gemetaran karena capek,” ucap Rara yang menyukai kegiatan olahraga scuba diving. Rara sendiri mengaku kurang giat berolahraga. Padahal, acara yang dipandunya mengharuskan ia untuk tampil fit dan prima. Selain menjadi presenter dalam acara piknik, ia juga memandu acara proliga volly mania. Tak hanya itu, ia pun mulai sibuk membintangi FTV (film televisi). Kesibukannya di dunia entertainment cukup menyita waktu, alhasil Rara pun urung menyelesaikan kuliahnya yang hanya tinggal menyusun skripsi. Walaupun demikian, Rara menyempatkan diri untuk ikut kursus bahasa jepang secara intensif. “Padahal kebanyakan orang selain bahasa inggris memilih bahasa mandarin untuk bahasa asing kedua. Tapi entah kenapa aku lebih suka mempelajari bahasa jepang,” imbuhnya. Oke ra, good luck… ifa

Rara Wiritanaya

“Tidak Pernah Ada Kesulitan...”

80

WARTA BEA CUKAI

EDISI 378 MEI 2006

K E P U T U S A N

&

K E T E T A P A N

PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 130/PMK.010/2005 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN MENTERI KEUANGAN NO. 92/PMK.02/2005 TENTANG PENETAPAN JENIS BARANG EKSPOR TERTENTU DAN BESARAN TARIF PUNGUTAN EKSPOR MENTERI KEUANGAN, Menimbang : Bahwa dalam rangka untuk meningkatkan ekspor dan meningkatkan pertumbuhan ekonomi di Indonesia, serta tetap terjaganya persediaan Crude Palm Oi/(CPO) di dalam neged perlu menetapkan Peraturan Menteri Keuangan tentang Perubahan Atas Peraturan Menteri Keuangan No. 92/PMK.02/2005 Tentang Penetapan Jenis Barang EksporTertentu Dan Besaran Tarif Pungutan Ekspor; Mengingat : 1. Undang-Undang No. 10 Tahun 1995 tentang Kepabeanan (LN RI Tahun 1995 No. 75, TLN RI No. 3612); 2. Undang-Undang No. 20 Tahun 1997 tentang Penerimaan Negara Bukan Pajak (LN RI Tahun 1997 No. 43, TLN RI No. 3687); 3. Undang-Undang No. 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara (LN RI Tahun 2003 No. 47, TLN RI No. 4286); 4. Peraturan Pemerintah No. 22 Tahun 1997 tentang Jenis Dan Penyetoran Penerimaan Negara Bukan Pajak (LN RI Tahun 1997 No. 57, TLN RI No. 3694); 5. Peraturan Pemerintah No. 44 Tahun 2003 tentang Tarip Atas Jenis Penerimaan Negara Bukan Pajak Yang Berlaku Pada Departemen Keuangan (LN RI Tahun 2003 No. 95, TLN RI No. 4313); 6. Peraturan Pemerintah No. 35 Tahun 2005 tentang Pungutan Ekspor Atas Barang Ekspor Tertentu (LN RI Tahun 2005 No.82, TLN RI No. 4531); 7. Keputusan Presiden No. 20/P Tahun 2005; 8. Keputusan Menteri Keuangan No. 557/KMK.04/2002 tentang Tatalaksana Kepabeanan Di Bidang Ekspor; 9. Peraturan Menteri Keuangan No. 92/PMK.02/2005 tentang Penetapan Jenis Barang Ekspor Tertentu Dan Besaran Tarif Pungutan Ekspor; MEMUTUSKAN: Menetapkan : PERATURAN MENTERI KEUANGAN TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN MENTERI KEUANGAN NO. 92/PMK.02/2005 TENTANG PENETAPAN JENIS BARANG EKSPOR TERTENTU DAN BESARAN TARIF PUNGUTAN EKSPOR. Pasal I Beberapa ketentuan dalam Peraturan Menteri Keuangan No.92/PMK.02/2005 tentang Penetapan Jenis Barang Ekspor Tertentu Dan Besaran Tarif Pungutan Ekspor diubah sbb.: 1. Pasal 5 dihapus. 2. Besaran tarif Pungutan Ekspor Kelapa Sawit CPO dan Produk Turunannya sebagaimana ditetapkan dalam angka Romawi I Lampiran diubah menjadi sbb.: NO I U R A I A N KELAPA SAWIT, CPO DAN PRODUK TURUNANNYA a. Buah dan Kernel Kelapa Sawit b. Crude Palm Oil (CPO) c. Crude Olein (CRD Olein) d. Refined Bleached Deodorized Palm Oil (RDB PO) e. Refined Bleached Deodorized Palm Olein (RBD Olein) TERMASUK DALAM POS TARIF 1207.10.00.00 1511.10.00.00 1511.90.90.20 1511.90.90.10 1511.90.90.39 TARIF PUNGUTAN EKSPOR 3,0% 1,5% 0,3% 0,3% 0,3%

Pasal II Peraturan Menteri Keuangan ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan dan mempunyai daya laku surut sejak tanggal 10 Oktober 2005. Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengumuman Peraturan Menteri Keuangan ini dengan penempatannya dalam Berita Negara Republik Indonesia. Ditetapkan di Jakarta Pada tanggal 23 Desember 2005 MENTERI KEUANGAN ttd. SRI MULYANI INDRAWATI

BONUS WARTA BEACUKAI EDISI 378 MEI 2006

1

K E P U T U S A N

&

K E T E T A P A N

PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 132/PMK.010/2005 TENTANG PROGRAM HARMONISASI TARIF BEA MASUK 2005-2010 TAHAP KEDUA MENTERI KEUANGAN, Menimbang : a. bahwa dalam rangka melaksanakan kebijakan penyederhanaan prosedur dan fasilitasi ekspor dan impor sebagaimana tercantum dalam Instruksi Presiden Nomor 5 Tahun 2003 perlu merumuskan program harmonisasi tarif Bea Masuk komoditi impor untuk kurun waktu 2005 – 2010; b. bahwa program Harmonisasi Tarif Bea Masuk Tahap Kedua merupakan kelanjutan dari Program Harmonisasi Tarif Bea Masuk Tahap Pertama yang telah ditetapkan dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 591/PMK.010/2004; c. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud huruf a dan b di atas, perlu menetapkan Peraturan Menteri Keuangan tentang Program Harmonisasi Tarif Bea Masuk 2005-2010 Tahap Kedua; Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1994 tentang Pengesahan Agreement on Establishing The World Trade Organization (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1994 Nomor 57, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3564); 2. Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1995 tentang Kepabeanan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1995 Nomor 75, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3612); 3. Keputusan Presiden Nomor 20/P Tahun 2005; 4. Keputusan Menteri Keuangan Nomor 545/KMK.01/2003 tentang Penetapan Sistim Klasifikasi Barang; 5. Keputusan Menteri Keuangan Nomor 547/KMK.01/2003 tentang Penetapan Tarif Bea Masuk Atas Barang Impor; MEMUTUSKAN : Menetapkan : PERATURAN MENTERI KEUANGAN TENTANG PROGRAM HARMONISASI TARIF BEA MASUK 20052010 TAHAP KEDUA. Pasal 1 Menetapkan Pola Umum Program Harmonisasi Tarif Bea Masuk 2005-2010 Tahap Kedua yang meliputi kelompok produk logam, mesin dan maritim, aluminium, alat angkut darat dan kedirgantaraan, elektronika dan teknologi informasi, tekstil dan produk tekstil, aneka lainnya, kimia hulu, kimia hilir, agro, hasil hutan dan selulosa, kimia hasil pertanian dan perkebunan, batu permata, barang seni dan barang kerajinan sebagaimana ditetapkan dalam Lampiran I Peraturan Menteri Keuangan ini. Pasal 2 Tarif Bea Masuk beberapa produk tertentu dalam Pasal 1 dikecualikan dari Pola Umum program harmonisasi tarif Bea Masuk dan diatur tersendiri (Pola Khusus) sebagaimana ditetapkan dalam Lampiran II Peraturan Menteri Keuangan ini. Pasal 3 Pelaksanaan program harmonisasi tarif Bea Masuk sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 dan Pasal 2 ditetapkan dalam Peraturan Menteri Keuangan dengan tetap memperhatikan daya saing barang-barang dimaksud. Pasal 4 Peraturan Menteri Keuangan ini mulai berlaku pada tanggal 1 Pebruari 2006. Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengumuman Peraturan Menteri Keuangan ini dengan penempatannya dalam Berita Negara Republik Indonesia. Ditetapkan di Jakarta pada tanggal 23 Desember 2005 MENTERI KEUANGAN, ttd SRI MULYANI INDRAWATI

2

BONUS WARTA BEACUKAI EDISI 378 MEI 2006

K E P U T U S A N

&

K E T E T A P A N

LAMPIRAN I PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 132/PMK.010/2005 TENTANG PROGRAM HARMONISASI TARIF BEA MASUK 2005 - 2010 TAHAP KEDUA. POLA UMUM PROGRAM HARMONISASI TARIF BEA MASUK INDONESIA TAHUN 2005 – 2010 TAHAP KEDUA NO. 1. KELOMPOK INDUSTRI LOGAM, MESIN DAN MARITIM 2005 0 5 10 15 20 2006 0 5 10 15 20 2007 0 5 10 15 20 2008 0 5 10 12,5 15 2009 0 5 10 12,5 15 2010 5 5 10 10 10

2.

ALUMUNIUM a. b. Industri Hulu Industri Antara I 0 5 10 15 20 10 15 20 5 10 15 0 5 10 15 20 25 35 40 50 60 80 0 5 10 15 0 5 10 15 0 5 10 15 20 10 15 20 5 10 15 0 5 10 15 20 20 25 30 40 50 60 0 5 10 15 0 5 10 15 0 5 10 15 20 10 15 20 5 10 15 0 5 10 15 15 20 25 30 40 40 40 0 5 10 15 0 5 10 15 0 5 10 12,5 15 10 15 20 5 10 15 0 5 10 15 15 15 15 15 15 15 15 0 5 10 15 0 5 10 15 0 5 7,5 10 10 10 15 15 5 10 15 0 5 10 15 15 15 15 15 15 15 15 0 5 10 10 0 5 10 15 5 5 5 5 5 7,5 10 10 5 10 10 5 5 10 10 10 10 10 10 10 10 10 5 5 10 10 5 5 10 10

c.

Industri Antara II dan III

d.

Industri Hilir

3.

ALAT ANGKUT DARAT DAN KEDIRGANTARAAN

4.

ELEKTRONIK DAN TEKNOLOGI INFORMASI

5

TEKSTIL DAN PRODUK TEKSTIL

BONUS WARTA BEACUKAI EDISI 378 MEI 2006

3

K E P U T U S A N
NO. 6. KELOMPOK INDUSTRI ANEKA LAINNYA

&

K E T E T A P A N
2006 0 5 10 15 0 5 10 10 15 0 5 10 15 20 30 0 5 10 15 20 0 5 10 10 15 0 5 10 10 15 0 5 10 15 15 20 2007 0 5 10 15 0 5 10 10 10 0 5 10 15 15 25 0 5 10 15 15 0 5 10 10 15 0 5 10 10 10 0 5 10 15 15 20 2008 0 5 10 15 0 5 10 10 5 0 5 10 10 15 20 0 5 10 15 15 0 5 10 10 15 0 5 5 10 10 0 5 5 15 15 20 2009 0 5 10 15 0 5 10 10 5 0 5 10 10 15 15 0 5 10 15 15 0 5 10 10 10 0 5 5 10 10 0 5 5 15 15 20 2010 5 5 10 10 5 5 5 7,5 5 5 5 5 10 10 10 5 5 5 10 10 5 5 7,5 10 10 5 5 5 5 5 5 5 5 5 10 10

2005 0 5 10 15 0 5 10 10 30 0 5 10 15 20 30 0 5 10 15 20 0 5 10 10 15 0 5 10 10 15 0 5 10 15 15 20

7.

KIMIA HULU

8.

KIMIA HILIR

9.

AGRO

10.

HASIL HUTAN DAN SELULOSA

11.

KIMIA HASIL PERTANIAN DAN PERKEBUNAN

12.

BATU PERMATA, BARANG SENI DAN BARANG KERAJINAN

Ditetapkan di Jakarta pada tanggal 23 Desember 2005 MENTERI KEUANGAN, ttd SRI MULYANI INDRAWATI

4

BONUS WARTA BEACUKAI EDISI 378 MEI 2006

K E P U T U S A N

&

K E T E T A P A N

LAMPIRAN II PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 132/PMK.010 /2005 TENTANG PROGRAM HARMONISASI TARIF BEA MASUK 2005-2010 TAHAP KEDUA POLA KHUSUS PROGRAM HARMONISASI TARIF BEA MASUK INDONESIA TAHUN 2005 – 2010 TAHAP KEDUA NO. 1. KELOMPOK INDUSTRI LOGAM MESIN DAN MARITIM a. Alsintan Rice Milling Unit Thresher Polisher Husker dan Separator Pompa Air Dryer Motor Bensin Combine Harvester Power Spayer Bajak b. Wellhead 2005 2006 2007 2008 2009 2010

0 0 5 0 5 0 5 0 5 0 0 0

7,5 7,5 7,5 7,5 7,5 7,5 7,5 7,5 7,5 7,5 15 15

7,5 7,5 7,5 7,5 7,5 7,5 7,5 7,5 7,5 7,5 15 15

7,5 7,5 7,5 7,5 7,5 7,5 7,5 7,5 7,5 7,5 12,5 12,5

5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 12,5 12,5

5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 10

c. Kapal (Platform Pengeboran) 2. ALUMINIUM Aluminium sheet/coil bahan baku Plate Film Aluminium Foil Bahan baku Meal Dish 3. ALAT ANGKUT DARAT DAN KERDIRGANTARAAN CBU a. KBM Roda 4 atau Lebih

15 15

0 5

0 5

0 5

0 5

0 5

40 45 65 70 75 80 35 60 15 25 50

40 45 60 60 60 60 30 50 15 20 40

40 45 55 55 55 55 30 50 15 20 40

40 45 50 50 50 50 25 40 15 20 40

40 45 50 50 50 50 20 40 15 20 40

40 40 40 40 40 40 20 30 15 20 40

b. c.

Sepeda Motor Trailer/Kendaraan Lainnya

4.

ELEKTRONIKA DAN TEKNOLOGI INFORMASI a. Telematika Produk ITA, Peralatan Audio dan Peralatan Video Elektronika AC Lemari Pendingin Lampu Hemat Energi 0 5 10 15 10 15 5 0 0 0 0 0 0 15 15 15 0 5 0 0 0 0 15 15 15 0 5 0 0 0 0 15 15 15 0 5 0 0 0 0 15 15 15 0 5 0 0 0 0 10 10 10 0 5

b.

5.

TEKSTIL Kapas Benang dan serat tertentu

BONUS WARTA BEACUKAI EDISI 378 MEI 2006

5

K E P U T U S A N
NO. 6. KELOMPOK INDUSTRI ANEKA LAINNYA Kulit Alas kaki dan selain bagian alas kaki KIMIA HULU Bisphenol A Methyltin Dicloride Epichlorohydrin Paracetamol Phthalic Anhydride Pelumas Sintetik KIMIA HILIR Ban Kaca Apung Plastik (SL)

&

K E T E T A P A N
2006 0 25 35 0 0 0 15 5 10 0 15 15 15 20 30 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 15 15 40 150 90 5 2007 0 20 25 0 0 0 15 5 7,5 0 15 15 15 20 30 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 15 15 40 150 90 5 2008 0 20 25 0 0 0 10 5 5 0 15 15 15 20 30 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 15 15 40 150 90 5 2009 0 20 20 0 0 0 10 5 5 0 15 15 15 20 30 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 15 15 40 150 90 5 2010 0 10 10 5 5 5 5 5 5 0 15 10 15 15 25 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 10 10 40 150 90 5

2005 0 10 15 5 5 5 5 10 5 0 15 5 15 20 30 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 40 170 90 0

7.

8.

9.

AGRO Susu Kental Manis Yoghurt Produk Daging (sosis & corned) Biskuit, (termasuk Bread Crumb dan PastryFrozen Dough) Pati jagung/tapioca, dan Tepung Premix Pengolahan buah-buahan dan Jus Kecap Air, termasuk air mineral dan air soda mengandung tambahan gula Pengalengan ikan Kembang Gula Olahan biji kakao Coklat olahan Bir terbuat dari malt Minuman beralkohol (anggur & wisky & sejenis) Grape must & shandy Produk jadi pakan ternak HASIL HUTAN DAN SELULOSA Kayu log, kayu gergajian, rotan, pulp, kertas tertentu dan barang cetakan untuk pendidikan Kertas tulis/cetak yg dilapisi KIMIA HASIL PERTANIAN DAN PERKEBUNAN Linceed Oil Ethil Alcohol KERAJINAN Batu Mulia dan lain-lain batu mulia Semi Batu Mulia (sintetik)

10.

0/5 0/5

0 10

0 10

0 10

0 5

0 5

11.

10 30 0/5 15

0 30 0 5

0 30 0 5

0 30 0 5

0 30 0 5

0 25 0 5

12.

Ditetapkan di Jakarta pada tanggal 23 Desember 2005 MENTERI KEUANGAN, ttd SRI MULYANI INDRAWATI

6

BONUS WARTA BEACUKAI EDISI 378 MEI 2006

K E P U T U S A N

&

K E T E T A P A N

PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 139/PMK.010/2005 TENTANG PENETAPAN TARIF BEA MASUK PRODUK-PRODUK INFORMATION COMMUNICATION TECHNOLOGY (ICT) DALAM THE THIRD AND THE LAST TRANCHE DALAM KERANGKA E-ASEAN AGREEMENT MENTERI KEUANGAN, Menimbang : a. bahwa untuk memenuhi komitmen Indonesia dalam kerjasama ekonomi negara-negara ASEAN khususnya dalam The Third and The Last Tranche dalam kerangka E-ASEAN agreement, dipandang perlu menetapkan tarif Bea Masuk atas beberapa barang impor tertentu khususnya produk-produk Information Communication Technology (ICT); b. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a diatas, perlu menetapkan Peraturan Menteri Keuangan tentang Penetapan Tarif Bea Masuk Produk-Produk Information Communication Technology (ICT) dalam The Third and The Last Tranche Dalam Kerangka E-ASEAN Agreement; Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1995 tentang Kepabeanan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1995 Nomor 75 dan Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3612); 2. Keputusan Presiden Nomor 187/ M Tahun 2004 3. Keputusan Menteri Keuangan Nomor 545/KMK.01/2003 tentang Penetapan Sistem Klasifikasi Barang; 4. Keputusan Menteri Keuangan Nomor 546/KMK.01/2003 tentang Penetapan Tarif Bea Masuk Atas Barang Impor Dalam Rangka Skema Common Effective Preferential Tariff (CEPT); 5. Keputusan Menteri Keuangan Nomor 547/KMK.01/2003 tentang Penetapan Tarif Bea Masuk atas Barang Impor; MEMUTUSKAN : Menetapkan : PERATURAN MENTERI KEUANGAN TENTANG PENETAPAN TARIF BEA MASUK PRODUK-PRODUK INFORMATION COMMUNICATION TECHNOLOGY (ICT) DALAM THE THIRD AND THE LAST TRANCHE DALAM KERANGKA E-ASEAN AGREEMENT. Pasal 1 Menetapkan Tarif Bea Masuk Atas Produk-Produk Informatin Communication Technology (ICT) dalam The Third and The Last Tranche Dalam Kerangka E-ASEAN Agreement sehingga menjadi sebagaimana ditetapkan dalam Lampiran Peraturan Menteri Keuangan ini. Pasal 2 Ketentuan dalam Peraturan Menteri Keuangan ini berlaku terhadap barang impor yang Pemberitahuan Impor Barangnya (PIB-nya) telah mendapat nomor pendaftaran dari Kepala Kantor Pelayanan Bea dan Cukai pelabuhan pemasukan sejak tanggal berlakunya Peraturan Menteri Keuangan ini. Pasal 3 Pada saat Peraturan Menteri Keuangan ini mulai berlaku, ketentuan-ketentuan tentang klasifikasi barang dan tarif Bea Masuk yang telah ada sebelum ditetapkannya Peraturan Menteri Keuangan ini, sepanjang mengenai barang-barang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1, dinyatakan tidak berlaku. Pasal 4 Direktur Jenderal Bea dan Cukai diinstruksikan untuk melaksanakan ketentuan dalam Peraturan Menteri Keuangan ini. Pasal 5 Peraturan Menteri Keuangan ini, mulai berlaku sejak tanggal ditetapkan. Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengumuman Peraturan Menteri Keuangan ini dengan penempatannya dalam Berita Negara Republik Indonesia. Ditetapkan diJakarta Pada tanggal 30 Desember 2005 MENTERI KEUANGAN ttd, SRI MULYANI INDRAWATI

BONUS WARTA BEACUKAI EDISI 378 MEI 2006

7

K E P U T U S A N

&

K E T E T A P A N

LAMPIRAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 139/PMK.010/2005 TENTANG PENETAPAN TARIF BEA MASUK PRODUK-PRODUK INFORMATION COMMUNICATION TECHNOLOGY (ICT) DALAM THE THIRD AND THE LAST TRANCHE DALAM KERANGKA EASEAN AGREEMENT NO. POS TARIF HS CODE U R A I A N B A R A N G D E S C R I P T I O N O F G O O D S % BEA MASUK ICT % ICT IMPORTY DUTY (5)

(1) 85.17

(2)

(3) Aparatus elektris untuk saluran telepon atau telegrap, termasuk perangkat saluran telepon dengan gagang tanpa kabel dan aparatus telekomunikasi untuk sistem saluran pembawa gelombang listrik atau untuk sistem saluran digital, videophone. - Perangkat telepon; videophone : — Perangkat telepon dengan gagang set tanpa kabel [ITA 1/A-026] — Lain-lain : [ITA1/A-027] — Perangkat telepon — Videophone - Aparatus pemindah saluran telefoni atau telegrafi : [ITA1/A-030] — Telefoni - Aparatus lainnya, untuk sistem saluran pembawa gelombang listrik atau untuk saluran sistem digital : [ITA1/A-031] [ex repeaters ITA1/B-192] {ex ITA1/B-194] [ex ITA1/B-202] — Modem termasuk modem kabel dan kartu modem — Konsentrator atau multiplexer — Line-man test set — Set top box yang mempunyai fungsi komunikasi [ITA1/B-203] — Aparatus lainnya untuk telefon — Lain-lain - Aparatus lainnya : {ITA1/A-032] {ex repeater [ITA1/B-192] — Pengacak, termasuk speech inverter dan perlengkapan on-line cypher — Perlengkapan pengaman data — Peralatan encryption — Public Key Infrastructure (PKI) — Digital Subscriber Line (DSL) — Virtual Private Network (VPN) — Computer Telephony Integration (CTI) — Lain-lain : — Untuk keperluan telepfoni — Untuk keperluan telegrafi — Lain-lain Media kosong yang disiapkan untuk

(4) Electrical apparatus for line telephony or line telegraphy including line telephone sets with cordless hansets and telecommunication apparatus for carriercurrent line system or for digital line system; videophone. - Telephone sets; videophones : — Line telephone sets with cordless handsets [ITA1/A-026] — Other : [ITA1/A-027] — Telephone sets — Videophones - Telephonic or telegraphic switching apparatus : [ITA1/A-030] — Telephonic — Other apparaturs, for carrier-curent line sytems or for digital line sytems : [ITA1/A-031] [ex repeaters ITA1/B-192] [ex ITA1B-194] [ex ITA1/B-202] — Modems including cable modems and modems cards — Concentrators or multiplexers — Line-man test sets — Set top boxes which have a communications functions [ITA1/B-203] — Other apparatus for telephony — Other - Other apparatus : [ITA1/A-032] [ex repeater [ITA1/B-192] — Scrambles, including speech inverters and on-line cypher equipment — Data security equipment — Encryption devices — Public Key Infrastructure (PKI) — Digital Subscriber Line (DSL) — Virtual Private Network (VPN) — Computer Telephony Integration (CTI) — Other : — For telephonic use — For telegraphic use — Other Prepared unrecorded media for sound

1

8517.11.00.00 8517.19 8517.19.10.00 8517.19.20.00 8517.30 8517.30.10.00 8517.50

0

2 3

0

4

0

5 6 7 8 9 10

8517.50.10.00 8517.50.20.00 8517.50.30.00 8517.50.40.00 8517.50.50.00 8517.50.90.00 8517.80 8517.80.10.00 8517.80.20.00 8517.80.30.00 8517.80.40.00 8517.80.50.00 8517.80.60.00 8517.80.70.00 8517.80.91.00 8517.80.92.00 8517.80.99.00 85.23

0 0 0 0 0 0

11 12 13 14 15 16 17 18 19 20

0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0

8

BONUS WARTA BEACUKAI EDISI 378 MEI 2006

K E P U T U S A N

&

K E T E T A P A N
recording or similar recording of other phenomena, other than products of Chapter 37 - Magnetic tapes : — Of a width not exceeding 4 mm : [ITA1/A-038] — Computer tape — Other — Of a widht exceeding 4 mm but not exceeding 6.5 mm : [ITA1/A-039] {ITA1/B-201] — Videotape — Computer tape — UMATIC, BETACAM, DIGITAL tape — Other — Of a width exceeding 6.5 mm : [ITA1/A040] [ITA1/B-201] — Videotape — Computer tape — UMATIC, BETACAM, DIGITAL TAPE — In pancake form — Other - Magnetic discs : [ITA1/A-041] [ITA1/B-201] — Computer Hard disks — Video disks — Computer diskettes Transmission apparatus for radio-telephony, radio – telegraphy, radio – broadcasting or television, whether or not incorporating reception apparatus or sound recording or reproducing apparatus; television cameras; still image video cameras and other video camera recorders; digital cameras. - Transmission apparatus : — For radio-broadcasting — For television : — Video senders — Central monitoring systems — Telemetry monitoring systems — Other — Data compression tools — Set top boxes which have a communication function [ITA1/B-203] — For radio-telephony or radio-telegraphy [ITA1/A-048] - Transmission apparatus incorporating reception apparatus : [ITA1/A-049] [ex ITA1/B-197] — Wireless LAN — Internet enabled handphones — Internet video conferencing equipment — Digital radio relay systems — Mobile data network — Set top boxes which have a communication function [ITA1/B-203] — Other : — Other transmission apparatus for radiotelephony or radio-telegraphy

8523.11 21 22 8523.11.10.00 8523.11.90.00 8523.12

23 24 25 26

8523.12.10.00 8523.12.20.00 8523.12.30.00 8523.12.90.00 8523.13 8523.13.10.00 8523.13.20.00 8523.13.30.00 8523.13.40.00 8523.13.90.00 8523.20 8523.20.10.00 8523.20.20.00 8523.20.40.00 85.25

27 28 29 30 31 32 33 34

35 36 37 38 39 40 41 42

8525.10 8525.10.10.00 8525.10.21.00 8525.10.22.00 8525.10.23.00 8525.10.29.00 8525.10.30.00 8525.10.40.00 8525.10.50.00 8525.20

perekaman suara atau perekaman semacam itu dari fenomena lainnya, selain produk dari Bab 37. - Pita magnetik : — Dengan lebar tidak melebihi 4 mm : [ITA1/A-038] [ITA1/B-201] — Pita komputer — Lain-lain — Dengan lebar melebihi 4 mm tetapi tidak melebihi 6,5 mm : [ITA1/A-039] {ITA1/B-201] — Pita video — Pita Komputer — Pita UMATIC, BETACAM, DIGITAL — Lain-lain — Dengan lebar melebihi 6,5 mm : [ITA1/A040] [ITA1/B-201] — Pita video — Pita komputer — Pita UMATIC, BETACAM, DIGITAL — Dalam bentuk pancake — Lain-lain - Cakram magnetik : [ITA1/A-041] [ITA1/B-201] — Hard Disk Komputer — Cakram video — Disket komputer Aparatus transmisi untuk radio-telefoni, radio-telegrafi, radio-penyiaran atau televisi, digabung dengan aparatus penerima atau dengan aparatus perekam atau reproduksi suara maupun tidak; kamera televisi; kamera video gambar tidak bergerak dan kamera perekam video lainnya; kamera digital. - Aparatus transmisi : — Untuk radio-penyiaran — Untuk televisi : — Pengirim video — Sistem monitor sentral — Sistem monitor telemetri — Lain-lain — Data compression tool — Set top box yang mempunyai fungsi komunikasi [ITA1/B-203] — Untuk radio-telefoni atau radio-telegrafi [ITA1/A-048] - Aparatus transmisi yang digabung dengan aparatus penerima : [ITA1/A-049] [ex ITA1/B-197] — LAN tanpa kabel — Handphone dengan akses internet — Perlengkapan konferensi video internet — Sistem relai radio digital — Mobile data network — Set to box yang mempunyai fungsi komunikasi [ITA1/B-203] — Lain-lain — Aparatus transmisi lainnya untuk radiotelefoni atau radio-telegrafi radio

0 0

0 0 0 0

0 0 0 0 0 0 0 0

0 0 0 0 0 0 0 0

43 44 45 46 47 48

8525.20.10.00 8525.20.20.00 8525.20.40.00 8525.20.50.00 8525.20.60.00 8525.20.70.00

0 0 0 0 0 0

49

8525.20.91.00

0

BONUS WARTA BEACUKAI EDISI 378 MEI 2006

9

K E P U T U S A N
50 51 8525.20.92.00 8525.20.99.00 85.44

&

K E T E T A P A N
— Other transmission apparatus for television — Other Insulated (including enamelled or anodised) wire, cable (including co-axial cable) and other insulated electric conductors, whether or not fitted with connectors; optical fibre cables, made up of individually sheathed fibres, whether or not assembled with electric conductors or fitted with connectors. - Other electric conductors, for a voltage not exceeding 80 volts : — Fitted with connectors : — Of a kind used for telecommunications : :[ITA1/A-096] —— Telephone cables, submarine —— Telephone cables, other than submarine —— Telegraph and radio relay cables, submarine —— Telegraph and radio relay cables, other tahan submarine —— Other plastic insulated electric cable having cross section not exceeding 300 mm2 —— Other — Other : —— Plastic insulated electric cable having a cross section not exceeding 300 mm? —— Plastic insulated electric cable having a cross section exceeding 300 mm? —— Plastic insulated electric conductors —— Controlling cables —— Battery cables —— Other — Other — Of a kind used for telecommunications : [ITA1/A-097] —— Telephone, telegraph and radio relay cables, submarine —— Telephone, telegraph and radio relay cables, other than submarine —— Other — Other : - Other electric conductors, for a voltage exceeding 80 volts but not exceeding 1,000 volts : — Fitted with connectors : — Of a kind used for telecommunications : [ITA1/A-098] —— Telephone, telegraph and radio relay cables, submarine —— Telephone, telegraph and radio relay cables, other than submarine —— Other MENTERI KEUANGAN ttd, SRI MULYANI INDRAWATI 0 0

8544.41

52 53 54 55 56

8544.41.11.00 8544.41.12.00 8544.41.13.00 8544.41.14.00 8544.41.15.00

—— Aparatus transmisi lainnya untuk televisi — Lain-lain Kabel (termasuk kabel koaksial), kawat (termasuk dienamel atau dianodisasi) diisolasi, dan konduktur listrik diisolasi lainnya, dilengkapi dengan konektor maupun tidak; kabel serat optis, dibuat dari serat berselubungtersendiri, dirakit dengan konduktor listrik atau dilengkapi dengan konektor maupun tidak. - Konduktor listrik lainnya, untuk voltase tidak melebihi 80 volt : — Dilengkapi dengan konektor : — Dari jenis yang digunakan untuk telekomunikasi :[ITA1/A-096] —— Kabel telefon, bawah air —— Kabel telefon, selain bawah air —— Telegrap dan kabel relai radio bawah air —— Telegrap dan kabel relai radio, selain bawah air —— Kabel listrik diisolasi plastik lainnya mempunyai penampang silang tidak melebihi 300 mm2 —— Lain-lain — Lain-lain : —— Kabel listrik diisolasi plastik mempunyai penampang silang tidak melebihi 300 mm? —— Kabel listrik diisolasi plastik mempunyai penampang silang melebihi 300 mm? —— Konduktor listrik diisolasi plastik —— Kabel pengontrol —— Kabel baterai —— Lain-lain — Lain-lain : — Dari jenis yang digunakan untuk telekomunikasi : [ITA1/A-097] —— Kabel telefon, kabel telegrap dan kabel relai radio, bawah air —— Kabel telefon, kabel telegrap dan kabel pemancar radio, selain bawah air —— Lain-lain — Lain-lain : - Konduktor listrik lainnya, untuk voltase melebihi 80 volt tetapi tidak melebihi 1.000 volt : — Dilengkapi dengan konektor : — Dari jenis yang digunakan untuk telekomunikasi : [ITA1/A-098] —— Kabel telepon, kabel telegrap dan kabel relai radio, bawah air —— Kabel telepon, kabel telegrap dan kabel relai radio, selain bawah air —— Lain-lain

0 0 0 0 0

57 58 59 60 61 62 63

8544.41.19.00 8544.41.91.00 8544.41.92.00 8544.41.93.00 8544.41.94.00 8544.41.95.00 8544.41.99.00 8544.49

0 0 0 0 0 0 0

64 65 66

8544.49.11.00 8544.49.12.00 8544.49.19.00

0 0 0

8544.51

67 68 69

8544.51.11.00 8544.51.12.00 8544.51.19.00

0 0 0

1 0

BONUS WARTA BEACUKAI EDISI 378 MEI 2006

K E P U T U S A N

&

K E T E T A P A N

PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 140/PMK.010/2005 TENTANG PENETAPAN TARIF BEA MASUK PRODUK-PRODUK TELEMATIKA TERTENTU DALAM RANGKA INFORMATION TECHNOLOGY AGREEMENT (ITA) MENTERI KEUANGAN, Menimbang : a. bahwa dalam rangka pelaksanaan komitmen Pemerintah Indonesia dalam Information Technology Agreement (ITA), dipandang perlu menetapkan tarif Bea Masuk produk-produk Telematika tertentu; b. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a diatas, perlu menetapkan Peraturan Menteri Keuangan tentang Penetapan Tarif Bea Masuk Produk-Produk Telematika Tertentu Dalam Rangka Information Technology Agreement (ITA); Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1994 tentang Pengesahan Agreement Establishing The World Trade Organization (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1994 Nomor 57, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3564); 2. Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1995 tentang Kepabeanan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1995 Nomor 75 dan Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3612); 3. Keputusan Presiden Nomor 20/ P Tahun 2005 4. Keputusan Menteri Keuangan Nomor 378/KMK.01/1996 tentang Jadwal Penurunan Tarif Bea Masuk; 5. Keputusan Menteri Keuangan Nomor 545/KMK.01/2003 tentang Penetapan Sistem Klasifikasi Barang Impor; MEMUTUSKAN : Menetapkan : PERATURAN MENTERI KEUANGAN TENTANG PENETAPAN TARIF BEA MASUK PRODUKPRODUK TELEMATIKA TERTENTU DALAM RANGKA INFORMATION TECHNOLOGY AGREEMENT (ITA) Pasal 1 Menetapkan Tarif Bea Masuk produk-produk Telematika tertentu dalam rangka Information Technology Agreement (ITA) sehingga menjadi sebagaimana ditetapkan dalam Lampiran Peraturan Menteri Keuangan ini. Pasal 2 Ketentuan dalam Peraturan ini berlaku terhadap impor barang yang dokumen PIBnya telah mendapat Nomor Pendaftaran dari Kantor Pelayanan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai pelabuhan pemasukan sejak tanggal berlakunya Peraturan Menteri Keuangan ini. Pasal 3 Pada saat berlakunya Peraturan Menteri Keuangan ini, ketentuan-ketentuan tarif Bea Masuk yang telah ada sebelum ditetapkannya Peraturan Menteri Keuangan ini, sepanjang mengenai barang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 Peraturan Menteri Keuangan ini, dinyatakan tidak berlaku. Pasal 4 Direktur Jenderal Bea dan Cukai diinstruksikan untuk melaksanakan ketentuan dalam Peraturan Menteri Keuangan ini. Pasal 5 Peraturan Menteri Keuangan ini mulai berlaku sejak tanggal ditetapkan. Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengumuman Peraturan Menteri Keuangan ini dengan penempatannya dalam Berita Negara Republik Indonesia. Ditetapkan diJakarta Pada tanggal 30 Desember 2005 MENTERI KEUANGAN ttd, SRI MULYANI INDRAWATI

BONUS WARTA BEACUKAI EDISI 378 MEI 2006

1 1

K E P U T U S A N

&

K E T E T A P A N

LAMPIRAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 140PMK.010/2005 TENTANG PENETAPAN TARIF BEA MASUK PRODUK-PRODUK TELEMATIKA TERTENTU DALAM RANGKA INFORMATION TECHNOLOGY AGREEMENT (ITA)
NO. POS TARIF HS CODE 84.71 U R A I A N B A R A N G D E S C R I P T I O N O F G O O D S % BEA MASUK ICT % ICT IMPORTY DUTY

8471.60 1 2 3 4 8471.60.11.00 8471.60.12.00 8471.60.13.00 8471.60.19.00 85.17

5 6 7 8

8517.11.00.00 8517.19 8517.19.10.00 8517.19.20.00 8517.30 8517.30.10.00 8517.50

9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27

8517.50.10.00 8517.50.20.00 8517.50.30.00 8517.50.40.00 8517.50.50.00 8517.50.90.00 8517.80 8517.80.10.00 8517.80.20.00 8517.80.30.00 8517.80.40.00 8517.80.50.00 8517.80.60.00 8517.80.70.00 8517.80.91.00 8517.80.92.00 8517.80.99.00 8517.90 8517.90.10.00 8517.90.20.00 8517.90.90.00 85.18

8518.30

Mesin pengolah data otomatis dan unitnya; pembaca magnetik atau optis, mesin untuk menyalin data pada media dalam bentuk kode dan mesin untuk mengolah data tersebut, tidak dirinci atau termasuk dalam pos lainnya. - Unit masukan atau keluaran, mempunyai unit penyimpan dalam wadah yang sama maupun tidak. [ITA1/A-015] [ex ITA1/B-194, B-195] — Printer dot matriks — Printer ink-jet — Printer laser — Printer lainnya Aparatus elektris untuk saluran telepon atau telegrap, termasuk perangkat saluran telepon dengan gagang tanpa kabel dan aparatus telekomunikasi untuk sistem saluran pembawa gelombang listrik atau untuk sistem saluran digital; videophone. - Perangkat telepon, videophone — Perangkat telepon dengan gagang set tanpa kabel [ITA1/A-026] — Lain-lain : [ITA1/A-027] — Perangkat telepon — Videophone - Aparatus pemindah saluran telefoni atau telegrafi : [ITA1/A-030] — Telefoni - Aparatus lainnya, untuk sistem saluran pembawa gelombang listrik atau untuk saluran sistem digital : [ITA1/A-031] [ex repeaters ITA1/ B-192] [ex ITA1/B-194] [ex ITA1/B-202] — Modem termasuk modem kabel dan kartu modem — Konsentrator atau multiplexer — Line-man test set — Set top box yang mempunyai fungsi komunikasi [ITA1/B-203] — Aparatus lainnya untuk telefon — Lain-lain - Aparatus lainnya : [ITA1/A-032] [ex repeater ITA1/B-192] — Pengacak, termasuk speech inverter dan perlengkapan on-line cypher — Perlengkapan pengamanan data — Peralatan encryption — Public Key Infrastructure (PKI) — Digital Subscriber Line (DSL) — Virtual Private Network (VPN) — Computer Telephony Integration (CTI) — Lain-lain : — Untuk keperluan telefoni — Untuk keperluan telegrafi — Lain-lain - Bagian : [ITA1/A-033] [ex bagian dari repeater [ITA1/B-192] [ITA1/B-199] — Printed circuit boards, dirakit — Dari perangkat telepon — Lain-lain Mikrofon dan penyangganya; pengeras suara dipasang pada rumahnya maupun tidak; headphone dan earphone, dikombinasikan dengan mikrofon maupun tidak dan perangkat yang terdiri dari satu mikrofon dan satu atau lebih pengeras suara; amplifier listrik audiofrequency; perangkat amplifier suara listrik. - Headphone dan earphone, dikombinasikan dengan mikrofon maupun tidak, dan perangkat yang terdiri dari satu mikrofon dan satu atau lebih pengeras suara :

Automotic data processing machines and units thereof; magnetic or optical readers, machines for transcribing data onto data media in coded form and machines for processing such data, not elsewhere specified or including. - Input or output units, whether or not containing storage units in the same housing. [ITA1/A-015] [ex ITA1/B-194, B-195] — Dot matrix printers — Ink-jet printers — Laser printers — Other printers Electrical apparatus for line telephony or line telegraphy including line telephone sets with cordless handsets and telecommunication apparatus for carriercurrent line sytems or for digital line systems; videophone. - Telephone sets, videophone : — Line telephone sets with cordless handsets [ITA1/A-026] — Other : [ITA1/A-027] — Telephone sets — Videophones - Telephonic or telegrapic switching apparatus : [ITA1/A-030] — Telephonic - Other apparatus, for carrier-curent line systems or for digital line systems : [ITA1/A031] [ex repeaters ITA1/B-192] [ex ITA1/B194] [ex ITA1/B-202] — Modems including cable modems and modems cards — Concetrators or multiplexer — Line-man test sets — Set top boxes which have a communications functions [ITA1/A-032] — Other apparatus for telephony — Other - Other apparatus : [ITA1/A-032] [ex repeater ITA1/B-192] — Scramblers, including speech inverters and on-line cypher wquipment — Data security equipment — Encryption devices — Public Key Infrastructure (PKI) — Digital Subscriber Line (DSL) — Virtual Private Network (VPN) — Computer Telephony Integration (CTI) — Other : — For telephonic use — For telegraphic use — Other - Parts : [ITA1/A-033] [ex part of repeater [ITA1/B-192] [ITA1/B-199] — Printed circuit boards, assembled — Of telephone set — Other Microphones and stands therefor; loudspeakers, whether or not mounted in their enclosures; headphones and earphones, whether or not combined with a microphone, and sets consisting of a microphone and one or more loudspeakers; audio-frequency electric amplifiers; electric sound amplifier sets - Headphones and earphones, whether or not combined with a microphone, and sets consisting of a mocrophone and one or more loudspeakers :

0 0 0 0

0 0 0 0

0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0

1 2

BONUS WARTA BEACUKAI EDISI 378 MEI 2006

K E P U T U S A N
28 8518.30.40.00 85.20 8520.10.00.00 8520.20.00.00

&

K E T E T A P A N
— Line telephone handsets [ITA1/A-035] Magnetic tape recorders and other sound recording apparatus, whether or not incorporating a sound reproducing device. - Dictating machines not capable of operating without an external source of power - Telephone answering machines [ITA1/1/A-037 [ITA1/B-199] - Other magnetic tape recorders incorporating sound reproducing apparatus : Prepared unrecorded media for sound recording or similar recording of other phenomena, other than products of Chapter 37. - Magnetic tapes : — Of a width not exceeding 4 mm : [ITA1/A-038] [ITA1/B-201] — Computer tape — Other — Of a width not exceeding 4 mm but not exceeding 6.5 mm : [ITA1/A-039] [ITA1/B-201] — Videotape — Computer tape — UMATIC, BETACAM, DIGITAL tape — Other — Of a width exceeding 6.5 mm : [ITA1/A-040] [ITA1/B-201] — Videotape — Computer tape — UMATIC, BETACAM, DIGITAL tape — In pancake form — Other - Magnetic discs : [ITA1/A-041] [ITA1/b-201] — Computer hard disks — Video disks — Other hard disks — Computer diskettes — Other - Other [ITA1/A-042] [ITA1/B-201] — For video — For computer use Transmission apparatus for radio-telephony, radiotelegraphy, radio-broadcasting or television, whether or not incorporating reception apparatus or sound recording or reproducing apparatus; television cameras; stillimage video cameras and other video camera recorders and other video camera recorders; digital cameras. - Transmission apparatus : — Set top boxes which have a communication function [ITA1/B-203] - Transmission apparatus incorporating reception apparatus: [ITA1/A-049] [ex ITA1/B-197] — Wireless LAN — Internet enabled handphones — Internet video conferencing equipment — Digital radio relay system — Mobile data network — Set top boxes which have a communication function [ITA1/B-203] — Other — Other transmission apparatus for radiotelephony or radio-telegraphy — Other transmission apparatus for television — Other - Still image video cameras and other video camera recorders; digital cameras : — Digital still image video cameras [ITA1/A-050] Parts suitable for use solely or principally with the apparatus of heading 85.25 to 85.28. - Aerials and reflectors of all kind; parts suitable for use therewith : — Aerials or antennae of kind used with apparatus for rado telephony and radio telegraphy [ITA1/A052]; parts of paging alert devices [ITA1/B-197] Printed circuits. [ITA1/A-072] - Single-sided - Double-sided - Multi-layer 0

29 30

85.23

8523.11 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 8523.11.10.00 8523.11.90.00 8523.12 8523.12.10.00 8523.12.20.00 8523.12.30.00 8523.12.90.00 8523.13 8523.13.10.00 8523.13.20.00 8523.13.30.00 8523.13.40.00 8523.13.90.00 8523.20 8523.20.10.00 8523.20.20.00 8523.20.30.00 8523.20.40.00 8523.20.90.00 8523.90 8523.90.10.00 8523.90.20.00 85.25

49

8525.10 8525.10.40.00 8525.20

50 51 52 53 54 55 56 57 58 59

8525.20.10.00 8525.20.20.00 8525.20.40.00 8525.20.50.00 8525.20.60.00 8525.20.70.00 8525.20.91.00 8525.20.92.00 8525.20.99.00 8525.40 8525.40.10.00 85.29 8529.10

60

8529.10.10.00 85.34 8534.00.10.00 8534.00.20.00 8534.00.30.00

61 62 63

— Gagang telepon [ITA1/A-035] Perekam pita magnetik dan aparatus perekam suara lainnya, digabung dengan peralatan reproduksi suara maupun tidak. - Mesin dikte tidak dapat dijalankan tanpa sumber tenaga dari luar - Mesin penjawab telefon [ITA1/A-037 [ITA1/B-199] - Perekam pita magnetik lainnya digabung dengan aparatus pereproduksi suara : Media kosong yang disiapkan untuk perekam suara atau perekam semacam itu dari fenomena lainnya, selain produk dari Bab 37. - Pita magnetik : — Dengan lebar tidak melebihi 4 mm :[ITA1/A038] [ITA1/B-201] — Pita komputer — Lain-lain — Dengan lebar melebihi 4 mm tetapi tidak melebihi 6,5 mm :[ITA1/A-039] [ITA1/B-201] — Pita video — Pita komputer — Pita UMATIC, BETACAM, DIGITAL — Lain-lain — Dengan lebar melebihi 6,5 mm : [ITA1/A-040] [ITA1/B-201] — Pita video — Pta komputer — Pita UMATIC, BETACAM, DIGITAL — Dalam bentuk pancake — Lain-lain - Cakram magnetik : [ITA1/A-041] [ITA1/b-201] — Hard disk komputer — Cakram video — Hard disk lainnya — Disket komputer — Lain-lain - Lain-lain [ITA1/A-042] [ITA1/B-201] — Untuk video — Untuk keperluan komputer Aparatus transmisi untuk radio-telefoni, radiotelegrafi, radio-penyiaran atau televisi, digabung dengan aparatus penerima atau dengan aparatus perekam atau reproduksi suara maupun tidak; kamera televisi ; kamera video gambar tidak bergerak dan kamera perekam video lainnya; kamera digital. - Aparatus transmisi : — Set top box yang mempunyai fungsi komunikasi [ITA1/B-203] - Aparatus tranmisi yang digabung dengan aparatus penerima: [ITA1/A-049] [ex ITA1/B-197] — LAN tanpa kabel — Handphone dengan akses internet — Perlengkapan konferensi video internet — Sistem relai radio digital — Mobile data network — Set top box yang mempunyai fungsi komunikasi [ITA1/B-203] — Lain-lain : — Aparatus transmisi lainnya untuk radio-telefoni atau radio-telegrafi radio — Aparatus transmisi lainnya untuk televisi — Lain-lain - Kamera video gambar tidak bergerak dan kamera perekam video lainnya; kamera digital : — Kamera video gambar tidak bergerak digital [ITA1/A-050] Bagian yang cocok untuk digunakan sematamata atau terutama dengan aparatus dari pos 85.25 sampai dengan 85.28. - Antena dan reflektor dari segala jenis; bagian yang cocok untuk digunakan padanya : — Antena dari jenis yang digunakan dengan aparatus untuk radio-telefoni dan radio-telegrafi [ITA1/A052]; bagian dari peralatan paging alert [ITA1/B-197] Sirkit tercetak. [ITA1/A-072] - Single-sided - Double-sided - Multi-layer

0 0

0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0

0 0 0 0 0 0 0 0 0 0

0

0 0 0

BONUS WARTA BEACUKAI EDISI 378 MEI 2006

1 3

K E P U T U S A N
64 8534.00.90.00 85.44

&

K E T E T A P A N
- Other Insulated (including enamelled or anodised) wire, cable (including co-axial cable) and other insulated electric conductors, whether or not fitted with connectors; optical fibre cable, made up of individually sheathed fibres, whether or not assembbled with electric conductors or not assembled with electric conductors or fitted with connectors. - Winding wire : - Other electric conductors, for a voltage not exceeding 80 volts : — Fitted with connectors : — Of kind used for telecommunication : [ITA1/A-096] —— Telephone cables, submarine —— Telephone cables, other than submarine —— Telegraph and radio relaycables, submarine —— Telegraph and radio relaycables, other than submarine —— Other plastic insulated electric cable having cross section not exceeding 300 mm —— Other — Other —— Plastic insulated electric cable having a cross section not exceeding 300 mm —— Plastic insulated electric cable having a cross section exceeding 300 mm —— Plastic insulated electric conductors —— Controlling cables —— Battery cables —— Other — Other : — Of a kind for telecommunications : [ITA1/A097] —— Telephone, telegraph and radio relay cables, submarine —— Telephone, telegraph and radio relay cables, other than submarine —— Other — Other - Other electrik conductors, for a voltage excedding 80 volts but not exceeding 1,000 volts: — Fitted with connectors : — Of a kind used for telecommunication : [ITA1/A-098] —— Telephone, telegraph and radio relay cables, submarine —— Telephone, telegraph and radio relay cables, other than submarine —— Other - Optical fibre cables : [ITA1/A-099] —— Telephone, telegraph and relay cables, submarine —— Telephone, telegraph and relay cables, other than submarine —— Other Compound optical microscope, including those for photomicrography, cinephotomicropraphy or microprojector. - Stereoscopic microscope : — Other Drawing, marking – out or mathematical calculating instruments (for example, drafting machines, pantographs, protractors, drawing sets, slide rules , disc calculators); instruments for measuring length, for use in the hand (for example, measuring rods and tapes, micrometers, callipers), not specified or included elsewhere in this Chapter. - Parts and accessories : — Parts and accessories including printed circuit assemblies of plotters whether input or output units of heading 84.71 or drawing or drafting machines of heading 90.17 [ITA1/B-199] MENTERI KEUANGAN ttd, SRI MULYANI INDRAWATI 0

8544.41 65 66 67 68 69 70 71 72 73 74 75 76 8544.41.11.00 8544.41.12.00 8544.41.13.00 8544.41.14.00 8544.41.15.00 8544.41.19.00 8544.41.91.00 8544.41.92.00 8544.41.93.00 8544.41.94.00 8544.41.95.00 8544.41.99.00 8544.49 8544.49.11.00 8544.49.12.00 8544.49.19.00

77 78 79

8544.51 80 81 82 83 84 85 8544.51.11.00 8544.51.12.00 8544.51.19.00 8544.70 8544.70.10.00 8544.70.20.00 8544.70.90.00 90.11 9011.10 9011.10.90.00 90.17

86

87

9017.90 9017.90.40.00

- Lain-lain Kabel (termasuk kabel koaksial), kawat (termasuk dienamel atau dianodisasi) diisolasi, dan konduktor listrik diisolasi lainnya, dilengkapi dengan konektor maupun tidak; kabel serat optis, dibuat dari serat berselubung tersendiri, dirakit dengan konduktor listrik atau dilengkapi dengan konektor maupun tidak. - Kawat gulung : - Konduktor listrik lainnya, untuk voltase tidak melebihi 80 volt : — Dilengkapi dengan konektor : — Dari jenis yang digunakan untuk telekomunikasi :[ITA1/A-096] —— Kabel telefon, bawah air —— Kabel telefon, selain bawah air —— Telegrap dan kabel relai radio, bawah air —— Telegrap dan kabel relai radio, selain bawah air —— Kabel listrik diisolasi plastik lainnya mempunyai penampang silang tidak melebihi 300 mm —— Lain-lain — Lain-lain : —— Kabel listrik diisolasi plastik mempunyai penampang silang tidak melebihi 300 mm —— Kabel listrik diisolasi plastik mempunyai penampang silang melebihi 300 mm —— Konduktor listrik diisolasi plastik —— Kabel pengontrol —— Kabel baterai —— Lain-lain — Lain-lain : — Dari jenis yang digunakan untuk telekomunikasi : [ITA1/A-097] —— Kabel telefon, kabel telegrap dan kabel relai radio, bawah air —— Kabel telefon, kabel telegrap dan kabel relai radio, selain bawah air —— Lain-lain — Lain-lain : - Konduktor listrik lainnya, untuk voltase melebihi 80 volt tetapi tidak melebihi 1.000 volt : — Dilengkapi dengan konektor : — Dari jenis yang digunakan untuk telekomunikasi : [ITA1/A-098] —— Kabel telefon, kabel telegrap dan kabel relai radio, bawah air —— Kabel telefon, kabel telegrap dan kabel relai radio, selain bawah air —— Lain-lain - Kabel serat optis : [ITA1/A-099] —— Kabel telefon, kabel telegrap dan kabel relai radio, bawah air —— Kabel telefon, kabel telegrap dan kabel relai radio, selain bawah air —— Lain-lain Mikroskop optis gabungan, termasuk yang untuk fotomikrografi, sinefotomikrografi atau mikroproyeksi. - Mikroskop stereoskopik : — Lain-lain Instrumen penggambar, pemberi tanda atau penghitung matematis (misalnya, mesin perancang, pantograf, protraktor, perangkat gambar, mistar hitung, disc calculator); instrumen untuk mengukur panjang, digunakan dengan tangan (misalnya, batang dan pita pengukur, mikro meter, kaliper), tidak dirinci atau termasuk dalam pos lain dari Bab ini. - Bagian dan aksesori : — Bagian dan aksesori termasuk PCA dari ploter baik sebagai unit masukan atau keluaran dari pos 84.71 atau sebagai mesin gambar atau perancang dari pos 90.17 [ITA1/B-199]

0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0

0 0 0

0 0 0 0 0 0

0

0

1 4

BONUS WARTA BEACUKAI EDISI 378 MEI 2006

K E P U T U S A N

&

K E T E T A P A N

PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 /PMK.04/2006 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 43/PMK.04/2005 TENTANG PENETAPAN HARGA DASAR DAN TARIF CUKAI HASIL TEMBAKAU MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. b. Bahwa dalam rangka meningkatkan penerimaan negara dari sektor cukai, perlu dilakukan penyesuaian Harga Dasar hasil tembakau sebagai dasar penghitungan cukai; bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a, perlu menetapkan Peraturan Menteri Keuangan tentang Perubahan atas Peraturan Menteri Keuangan Nomor 43/PMK.04/2005 Tentang Penetapan Harga Dasar dan Tarif Cukai Hasil Tembakau Mengingat : 1. 2. 3. 4. 5. Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1995 tentang Kepabeanan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1995 Nomor 75, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3612); Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1995 tentang Cukai (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1995 Nomor 76, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3613); Keputusan Presiden Nomor 20/P Tahun 2005; Peraturan Menteri Keuangan Nomor 43/PMK.04/2005 tentang Penetapan Harga Dasar Dan Tarif Cukai Hasil Tembakau; Peraturan Menteri Keuangan Nomor 16/PMK.04/2006 tentang Kenaikan Harga Dasar Hasil Tembakau; MEMUTUSKAN : Menetapkan : PERATURAN MENTERI KEUANGAN TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 43/PMK.04/2005 TENTANG PENETAPAN HARGA DASAR DAN TARIF CUKAI HASIL TEMBAKAU. Pasal I Mengubah Lampiran II, Lampiran III, dan lampiran IV Peraturan Menteri Keuangan Nomor 43/PMK.04/2005, sehingga menjadi sebagaimana ditetapkan dalam Lampiran I, Lampiran II, dan Lampiran III Peraturan Menteri Keuangan ini. Pasal II Peraturan Menteri Keuangan ini mulai berlaku sejak tanggal 1 April 2006. Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengumuman Peraturan Menteri Keuangan ini dengan penempatannya dalam Berita Negara Republik Indonesia. Ditetapkan di Jakarta pada tanggal 1 Maret 2006 MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA, ttd,SRI MULYANI INDRAWATI

BONUS WARTA BEACUKAI EDISI 378 MEI 2006

1 5

K E P U T U S A N
LAMPIRAN I PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17./PMK.04/2006 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 43/PMK.04/2005 TENTANG PENETAPAN HARGA DASAR DAN TARIF CUKAI HASIL TEMBAKAU

&

K E T E T A P A N

LAMPIRAN II PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 /PMK.04/2006 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 43/PMK.04/2005 TENTANG PENETAPAN HARGA DASAR DAN TARIF CUKAI HASIL TEMBAKAU

NILAI TARIF CUKAI DAN BATASAN HARGA JUAL ECERAN HASIL TEMBAKAU BUATAN DALAM NEGERI Jenis Golongan Hasil Pengusaha Tembakau Pabrik I II III I II III I II III/A III/B I II I II III/A III/B Tanpa Golongan Tanpa Golongan HJE Tarif Minimum Cukai Per Batang/ Gram Rp. 510 Rp. 420 Rp. 410 Rp. 320 Rp. 245 Rp. 235 Rp. 440 Rp. 365 Rp. 355 Rp. 255 Rp. 200 Rp. 165 Rp. Rp. Rp. Rp. 45 45 45 35 40 % 36 % 26 % 40 % 36 % 26 % 22 % 16 % 8% 4% 8% 4% 20 % 16 % 8% 4% 20 %

BATASAN HARGA JUAL ECERAN DAN TARIF CUKAI HASIL TEMBAKAU BUATAN DALAM NEGERI BAGI PENGUSAHA PABRIK YANG DAPAT MENGEKSPOR PRODUKSI HASIL TEMBAKAUNYA DALAM JUMLAH MELEBIHI PRODUKSI HASIL TEMBAKAU DARI JENIS YANG SAMA UNTUK PEMASARAN DI DALAM NEGERI DALAM SATU TAHUN TAKWIMSEBELUM TAHUN ANGGARAN BERJALAN Jenis Golongan Hasil Pengusaha Tembakau Pabrik I II III I II III I II III/A III/B I II I II III/A III/B Tanpa Golongan Tanpa Golongan HJE Tarif Minimum Cukai Per Batang/ Gram Rp. 510 Rp. 420 Rp. 410 Rp. 320 Rp. 245 Rp. 235 Rp. 440 Rp. 365 Rp. 355 Rp. 255 Rp. 200 Rp. 165 Rp. 45 Rp. 45 Rp. 45 Rp. 35 Rp. 255 Rp. 255 36 % 32 % 24 % 36 % 32 % 24 % 18 % 13 % 7% 3% 7% 3% 16 % 13 % 7% 3% 13 % 13 %

a. SKM

b. SPM

a. SKM

c. SKT

b. SPM

c. SKT d. KLM, KLB atau SPT

d. KLM, KLB atau SPT e. TIS

e. TIS

f.

CRT

Rp. 255

f. Rp. 255 20 %

CRT

g. HPTL

g. HPTL

MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA ttd SRI MULYANI INDRAWATI

MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA ttd SRI MULYANI INDRAWATI

LAMPIRAN III PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR ……./PMK.04./2006 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 43/PMK.04/2005 TENTANG PENETAPAN HARGA DASAR DAN TARIF CUKAI HASIL TEMBAKAU

BATASAN HARGA JUAL ECERAN DAN TARIF CUKAI HASIL TEMBAKAU YANG DIIMPOR Jenis Hasil Tembakau a. b. c. d. e. f. g. SKM SPM SKT KLM, KLB atau SPT TIS CRT HPTL HJE Minimum Per Batang/Gram Rp. 510 Rp. 320 Rp. 440 Rp. 200 Rp. 45 Rp. 255 Rp. 255 TarifCukai 40 % 40 % 22 % 8% 20 % 20 % 20 %

MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA ttd SRI MULYANI INDRAWATI

1 6

BONUS WARTA BEACUKAI EDISI 378 MEI 2006

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->