PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN PADA PERGURUAN TINGGI Karangan Drs. Dieng Sudirwo, M.

Pd

BAB I Pengantar Pendidikan Kewarganegaraan

1. Pendidikan kewarganegaraan sebagai bagian kelompok MPK Berdasarkan surat keputusan direktur jendral pendidikan tinggi DEPDIKNAS no:

43/DIKTI/kep/2006, tanggal 2 juni 2006 tentang rambu rambu pelaksanaan mata kuliah pengembangan kepribadian di perguruan tinggi maka mata kuliah pendidikan kewarganegaraan dimasukkan kelompok mata kuliah pengembangan kepribadian (MPK). Kompetensi mata kuliah pendidikan kewarganegaraan menjadi ilmuan dan professional yang cinta tanah air, disiplin, dan berpartisipasi aktif dalam membangun kehidupan berdasarkan pancasila. Tiga buah definisi pendidikan kewarganegaraan: 1. John Mahoney Civic education included and involves those teaching that type of teaching metode those student activities; Those administrative supervisory produce which the school may utilize purposively to make for better living together in the democratic way or (sinonimously) to develop better civic behaviors. (Paul R. Hana; 1962: 55). 2. Prof.Dr.H. Achmad Sanusi S.H, MPA Pendidikan kewarganegaraan, sesuai predikatnya, bukan suatu program studi melainkan program pendidikan yang kepentingannya terletak pada sistem nilai - nilai dan dengan demikian pada cita cita , emosi, sikap, cara, dan tingkah laku menurut keharusan dan kepatuhan sebagai warga Negara yang baik 3. Prof.H.M.Nu man Somantri M.SC Pendidikan kewarganegaraan adalah program pendidikan yang berintikan demokrasi politik yang di perluas dengan sumber sumber yang lain, positive incluence pendidikan sekolah, masyarakat, orang tua, yang semuanya itu diproses untuk melatih pelajar - pelajar bersikap kritis dan bertindak demokratis dalah mempersiapkan hidup demokratis. 2. Sejarah pendidikan di perguruan tinggi

Dengan

keluarnya

surat

keputusan

Direktur

Jendral

Pendidikan

tinggi

nomer

267/DIKTI/kep/2000 tanggal 10 Agustus 2000 tentang penyempurnaan kurikulum inti mata kuliah penngembangan kepribadian pendidikan kewarganegaraan pada perguruan tinggi, maka berubahlah mata kuliah kewiraan menjadi mata kuliah kewarganegaraan. Timbulnya mata kuliah kewiraan di perguruan tinggi dirintis dengan adanya latihan kemiliteran bagi mahasiswa dengan sebutan WALA (wajib latih) mahasiswa pada tahun 1959. Pendidikan kewiraan di masa lalu di perguruan tinggi yang terdiri WALA, ilmu pertahanan nasional, WALAWA maupun dengan sebutan pendidikan kewiraan pada hakikatnya merupakan pendidikan kemiliteran. Mulai tahun 1973 1974 WALAWA dihentikan, lalu selanjutnya di tingkatkan menjadi pendidikan kewiraan

dan pendidikan kewiracadangan. Ketetapan dalam surat keputusan tentang pendidikan kewiraan dapat disimpulkan sebagai berikut: 1. Pendidikan kewiraan bertujuan menggambarkan pengertian dan kesadaran HANKAMNAS dilingkungan mahasiswa 2. Pendidikan kewiraan bersifat intrakulikuler, diselenggarakan sebelum menempuh ujian sarjana muda dan menjadi tanggung jawab serta pembiayaan dari departemen P&K. 3. Dibentuk kelompok kerja pendidikan kewiraan yang bertugas merumuskan , merencanakan dan menyelenggarakan pendidikan kewiraan. 4. Pelaksanaan program kerja pendidikan kewiraan dimulai tahun 1974. 5. Kemudian pada tahun 2006 lahirlah UU tahun 2006 tentang kewarganegaraan RI. Dapat dijadikan satu materi dalam perkuliahan PKN.

BAB II FILSAFAT PANCASILA DAN IDENTITAS NASIONAL 1. Pancasila sebagai sistem filsafat Pancasila merupakan suatu sistem filsafat karena sila sila dalam pancasila merupakan bagian dari satu kesatuan yang tidak terpisahkan. Kaelan, dalam bukunya filsafat pancasila mengemukakan berfikir filsafati: 1. Berfikir kritis 2. Bersifat terdalam 3. Bersifat konseptual

4. Kohern (runtut) 5. Bersifat rasional 6. Bersifat menyeluruh (komprehensif) 7. Bersifat universal 8. Bersifat spekulatif 9. Bersifat sistematis 10. Bersifat bebas Beberapa orang yang berpendapat bahwa pancasila merupakan suatu sistem filsafat adalah: 1. Muh. Yamin Ajaran pancasila tersusun secara harmonis dalam satu sistem filsafat 2. Notonagoro Dasar filsafat, asas kerohanian, Negara pancasila adalah cita dalam kehidupan Negara 3. Elly M. Setiadi Sistem filsafat pancasila memiliki kriteria dan sifat sifat universal dan memiliki ciri ciri khas nasional cita yang harus di jelmakan

2. Pancasila sebagai ideology bangsa dan Negara Ahmad Rustandi dkk. dalam bukunya pendidikan pancasila menyatakan:

ideology Negara bersifat imperatif, artinya mengikat seluruh warga, baik yang menyetujui maupun yang tidak. Proses perumusan pancasila sebagai dasar Negara dapat dijelaskan sebagai berikut: A. Mr. Mohammad Yamin menyatakan pemikirannya tentang dasar negara Indonesia merdeka dihadapan sidang BPUPKI pada tanggal 29 Mei 1945. Pemikirannya diberi judul Asas dan Dasar Negara Kebangsaan Republik Indonesia . Mr. Mohammad Yamin mengusulkan dasar negara Indonesia merdeka yang intinya sebagai berikut: 1. 2. 3. 4. peri kebangsaan; peri kemanusiaan; peri ketuhanan; peri kerakyatan;

5. B.

kesejahteraan rakyat.

Sidang BPUPKI tanggal 31 mei 1945, Prof. Dr Soepomo mengemukakan pokok pikiran sebagai berikut: 1. Paham Negara persatuan 2. Penghubungan agama dengan Negara 3. Sistem badan permusyawaratan 4. Sosialisme Negara 5. Hubungan antar bangsa

C.

Pada tanggal 1 Juni 1945 Ir. Sukarno mendapat kesempatan untuk mengemukakan dasar negara Indonesia merdeka. Pemikirannya terdiri atas lima asas berikut ini: 1. kebangsaan Indonesia; 2. internasionalisme atau perikemanusiaan; 3. mufakat atau demokrasi; 4. kesejahteraan sosial; 5. Ketuhanan Yang Maha Esa. Kelima asas tersebut diberinya nama Pancasila sesuai saran teman yang ahli bahasa. Untuk selanjutnya, tanggal 1 Juni kita peringati sebagai hari Lahir Istilah Pancasila.

D.

Sidang panitia kecil BPUPKI tanggal 22 Juni 1945 di pimpin Ir. Soekarno menghasilkan rumusan dasar Negara yang di sebut piagam Jakarta atau Jakarta carter sebagai berikut: 1. Kewajiban menjalankan syariat islam bagi pemeluk pemeluknya 2. Kemanusiaan yang adil dan beradab 3. Persatuan Indonesia 4. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanan dalama permusyawaratan dan perwakilan 5. Keadilan social bagi seluruh rakyat Indonesia

E.

Sidang panitia persiapan kemerdekaan Indonesia (PPKI) tanggal 18 Agustus 1945 mengesahkan UUD 1945 dalam pembukaan UUD 1945 terdapat rumusan pancasila,

sehingga rumusan pancasila inilah yang autentik, berlaku di seluruh wilayah Indonesia. Rumusan yang autentik terdapat dalam pembukaan UUD 1945 sebagai berikut: 1. Ketuhanan Yang Maha Esa 2. Kemanusiaan yang adil dan beradab 3. Persatuan Indonesia 4. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan dan perwakilan 5. Keadilan social bagi seluruh rakyat Indonesia

F.

Rumusan pancasila menurut Mukadimah Konstitusi RIS (tahun 1949) dan menurut Mukadimah UUD sementara RI (tahun 1950), rumusannya sama sebagai berikut: 1. Ketuhanan Yang Maha Esa 2. Perikemanusiaan 3. Kebangsaan 4. Kerakyatan 5. Keadilan Sosial

G.

Dekrit Presiden 5 Juli 1959, yang menyatakan berlakunya kembali kepada UUD 1945 bagi Negara dan bangsa Indonesia. Ini berarti bahwa rumusan pancasila yang berlaku seharusnya yang terdapat dalam Pembukaan UUD 1945. Sehingga pada tanggal 13 April 1968 keluarlah instruksi presiden Republik Indonesia no. 12 tahun 1968 yang isinya menyatakan mencabut inpres no.01 tahun 1967 dan menetapkan rumusan pancasila yang berlaku seperti yang tercantum dalam pembukaan UUD 1945. UUD 1945 saat ini sudah mengalami amandemen yang keempat kalinya pada tanggal 10 Agustus 2002. Namun pembukaan UUD 1945 tidak mengalami perubahan, sehingga rumusan pancasila juga tidak mengalami perubahan. Menurut aturan tambahan pasal II UUD 1945 terdiri dari pembukaan, dan pasal-pasal. Ini berarti penjelasan UUD 1945 tidak berlaku lagi.

3. Karakteristik Identitas Nasional Karakteristik identitas nasional artinya ciri khas jati diri bangsa dalam bernegara. Karakteristik identitas nasional bangsa Indonesia dapat diventarisir sebagai berikut: a. Pancasila adalah falsafah, dasar Negara, ideology bangsa dan Negara b. Bentuk Negara: Negara Kesatuan Republik Indonesia

c. Bentuk Pemerintahan: Republik d. Lambang Negara: Garuda Pancasila dalam lambang Negara tertulis Bhineka Tunggal Ika, yang artinya beraneka ragam suku, adat istiadat, bahasa daerah namun tetap bersatu e. Bendera Negara: Merah putih f. Lagu Kebangsaan: Indonesia Raya

g. Bahasa: Indonesia h. Geografis: Negara kepulauan di daerah khatulistiwa, utara ±6 08 LU, selatan ±11 15 LS, barat ±94 45 BT, timur ±141 05 BT. i. j. Hak asasi manusia: melindungi dan menjunjung tinggi hak asasi manusia Persekutuan Negara: Negara non blok

k. Sifat bangsa Indonesia: cinta damai tetapi lebih cinta kemerdekaan, ramah tamah dan gotong royong l. Terorisme: anti teroris

m. Semboyan: satu nusa, satu bangsa, satu bahasa Indonesia

4. Proses Berbangsa dan Bernegara Proses berbangsa dan bernegara diawali dengan mempelajari asal mula terbentuknya Negara. Menurut M.Solly Lubis ada 4 teori terbentuknya Negara, yaitu: 1. Teori Ketuhanan 2. Teori Perjanjian 3. Teori Kekuasaan 4. Teori Kedaulatan Negara adalah daerah territorial yang rakyatnya diperintah oleh sejumlah pejabat dan yang berhasil menuntut dari warga negaranya ketaatan pada peraturan perundang-undangan melalui penguasaan monopolisis dari kekuasaan yang sah. Negara memiliki sifat memaksa, sifat monopoli dan sikap mencakup semua. Sifat memaksa, agar peraturan perundang-undangan ditaati dan dengan penertiban dalam masyarakat tercapai serta timbulnya anarki dicegah, maka Negara memiliki sifat memaksa, dalam arti mempunyai kekuasaan untuk memakai kekerasan fisik secara legal.

Sifat monopoli, Negara menyatakan bahwa suatu aliran kepercayaan atau aliran politik tertentu hidup dan disebarluaskan, oleh karena dianggap bertentangan dengan tujuan masyarakat. Sifat Mencakup semua, semua peraturan perundang-undangan berlaku untuk semua orang tanpa kecuali. Adapun azas-azas yang dipergunakan dalam penyusunan UU kewarganegaraan RI ini adalah: 1. Ius sanguinis (law of the blood) 2. Ius Soli (Law of the soil) 3. Kewarganegaraan tunggal 4. Kewarganegaraan ganda terbatas Ditambah dengan azas hokum: 1. Kepentingan nasional 2. Perlindungan maksimum 3. Persamaan di dalam hokum dan pemerintahan 4. Kebenaran substantif 5. Non-diskriminatif 6. Pengakuan dan penghormatan terhadap HAM 7. Keterbukaan 8. Publisitas 5. Pendidikan Karakter Bangsa Pendidikan karakter bangsa adalah pendidikan karakter yang berlandaskan pancasila. Ciri-cirinya yaitu: 1. Bangsa yang berketuhanan Yang Maha Esa 2. Bangsa yang menjunjung kemanusiaan yang adil dan beradab 3. Bangsa yang mengedepankan persatuan dan kesatuan bangsa 4. Bangs yang demokratis dan menjunjung tinggi hokum dan hak azasi manusia 5. Bangsa yang mengedepankan keadilan dan kesejahteraan Pendidikan karakter bangsa Indonesia yang berlandaskan pancasila juga berarti menghargai norma UUD 1945, NKRI, dan keberagaman yang tercermnin dalam Bhineka Tunggal Ika.

Pola Pikir Membentuk Watak Secara Bottom Up

Membentuk Watak: Bangsa Masyarakat Lingkungan Keluarga Pribadi

Menggunakan Jalur dari bawah ke atas

Diawali dari diri sendiri

Bab III HAK AZASI MANUSIA and THE RULE OF LAW 1. Pengertian Hak Azasi Manusia Di Indonesia pengakuan terhadap HAM sebenarnya terdpat dalam dasar Negara pancasila, UUD 1945 dan dalam perundang-undangan yang lebih rendah. Dalam pembukaan terdapat dasar Negara pancasila, yang merupakan pengejawantahan adanya HAM. Dalam kalimat pertama pun sudah menggambarkan pengakuan adanya HAM dengan kalimat sebagai berikut: Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu adalah hak segala bangsa dan oleh sebb itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan. Dalam pasal-pasal UUD 1945 terdapat pengejawantahan daripada HAM diantaranya dalam BAB X, berisikan khusus tentang Hak Azasi Manusia, yang terdiri dari 10 pasal yaitu pasal 28 A sampai dengan pasal 28 J, sebagai berikut: Pasal 28A

Setiap orang berhak untuk hidup serta berhak mempertahankan hidup dan kehidupannya.

Pasal 28B (1) Setiap orang berhak membentuk keluarga dan melanjutkan keturunan melalui perkawinan yang sah. (2) Setiap anak berhak atas kelangsungan hidup, tumbuh, dan berkembang serta berhak atas perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi.

Pasal 28C (1) Setiap orang berhak mengembangkan diri melalui pemenuhan kebutuhan dasarnya, berhak mendapat pendidikan dan memperoleh manfaat dari ilmu pengetahuan dan teknologi, seni dan budaya, demi meningkatkan kualitas hidupnya dan demi kesejahteraan umat manusia. (2) Setiap orang berhak untuk memajukan dirinya dalam memperjuangkan haknya secara kolektif untuk membangun masyarakat, bangsa dan negaranya.

Pasal 28D (1) Setiap orang berhak atas pengakuan, jaminan, perlindungan, dan kepastian hukum yang adil serta perlakuan yang sama dihadapan hukum. (2) Setiap orang berhak untuk bekerja serta mendapat imbalan dan perlakuan yang adil dan layak dalam hubungan kerja. (3) Setiap warga negara berhak memperoleh kesempatan yang sama dalam pemerintahan. (4) Setiap orang berhak atas status kewarganegaraan.

Pasal 28E (1) Setiap orang bebas memeluk agama dan beribadat menurut agamanya, memilih pendidikan dan pengajaran, memilih pekerjaan, memilih kewarganegaraan, memilih tempat tinggal diwilayah negara dan meninggalkannya, serta berhak kembali. (2) Setiap orang atas kebebasan meyakini kepercayaan, menyatakan pikiran dan sikap, sesuai dengan hati nuraninya.

(3) Setiap orang berhak atas kebebasan berserikat, berkumpul, dan mengeluarkan pendapat.

Pasal 28F Setiap orang berhak untuk berkomunikasi dan memperoleh informasi untuk

mengembangkan pribadi dan lingkungan sosialnya, serta berhak untuk mencari, memperoleh, memiliki, menyimpan, mengolah, dan menyampaikan informasi dengan menggunakan segala jenis saluran yang tersedia.

Pasal 28G (1) Setiap orang berhak atas perlindungan diri pribadi, keluarga, kehormatan, martabat, dan harta benda yang dibawah kekuasaannya, serta berhak atas rasa aman dan perlindungan dari ancaman ketakutan untuk berbuat atau tidak berbuat sesuatu yang merupakan hak asasi. (2) Setiap orang berhak untuk bebas dari penyiksaan dan perlakuan yang merendahkan derajat martabat manusia dan berhak memperoleh suaka politik dari negara lain.

Pasal 28H (1) Setiap orang berhak hidup sejahtera lahir dan batin, bertempat tinggal, dan medapatkan lingkungan hidup baik dan sehat serta berhak memperoleh pelayanan kesehatan. (2) Setiap orang mendapat kemudahan dan perlakuan khusus untuk memperoleh kesempatan dan manfaat yang sama guna mencapai persamaan dan keadilan. (3) Setiap orang berhak atas jaminan sosial yang memungkinkan pengembangan dirinya secara utuh sebagai manusia yang bermartabat. (4) Setiap orang berhak mempunyai hak milik pribadi dan hak milik tersebut tidak boleh diambil alih secara sewenang-wenang oleh siapa pun.

Pasal 28 I (1) Hak untuk hidup, hak untuk tidak disiksa, hak kemerdekaan pikiran dan hati nurani, hak beragama, hak untuk tidak diperbudak, hak untuk diakui sebagai pribadi dihadapan hukum, dan hak untuk tidak dituntut atas dasar hukum yang berlaku surut adalah hak asasi manusia yang tidak dapat dikurangi dalam keadaan apa pun.

(2) Setiap orang berhak bebas atas perlakuan yang bersifat diskriminatif atas dasar apa pun dan berhak mendapatkan perlindungan terhadap perlakuan yang bersifat diskriminatif itu. (3) Identitas budaya dan hak masyarakat tradisional dihormati selaras dengan perkembangan zaman dan peradaban. (4) Perlindungan, pemajuan, penegakan, dan pemenuhan hak asasi manusia adalah tanggung jawab negara, terutama pemerintah. (5) Untuk menegakan dan melindungi hak assi manusia sesuai dengan prinsip negara hukum yang demokratis, maka pelaksanaan hak asasi manusia dijamin, diatur, dan dituangkan dalam peraturan perundangan-undangan.

Pasal 28J (1) Setiap orang wajib menghormati hak asasi manusia orang lain dalam tertib kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. (2) Dalam menjalankan hak dan kebebasannya, setiap orang wajib tunduk kepada pembatasan yang ditetapkan dengan undang-undang dengan maksud semata-mata untuk menjamin pengakuan serta penghormatan atas hak kebebasan orang lain dan untuk memenuhi tuntutan yang adil sesuai dengan pertimbangan moral, nilai-nilai agama, keamanan, dan ketertiban umum dalam suatu masyarakat demokratis.

Dalam Bab III tentang Hak Azasi Manusia dan kebebasan dasar manusia terdapat 10 hak yang harus dilindungi, yaitu: 1. Hak untuk hidup 2. Hak berkeluarga dan melanjutkan keturunan 3. Hak mengembangkan diri 4. Hak memperoleh keadilan 5. Hak atas kebebasan pribadi 6. Hak atas rasa aman 7. Hak atas kesejahteraan 8. Hak turut serta dalam pemerintahan 9. Hak wanita 10. Hak anak

2. Perlindungan Hukum Terhadap Hak Azasi Manusia Perlindungan hokum terhadap hak azasi manusia diantaranya dapat berwujud: 1. Adanya dasar Negara yang mengandung nilai-nilai hak azasi manusia 2. Ada konstitusi yang mengandung nilai-nilai hak azasi manusia 3. Adanya ketetapan MPR tentang HAM 4. Adanya UU yang mengandung hak azasi manusia 5. Adanya komisi nasional hak azasi manusia 6. Adanya pengadilan hak azasi manusia Kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh Komnas HAM: a. Menyebarluaskan wawasan nasional dan internasional mengenai hak azasi manusia b. Mengkaji berbagai instrument Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang HAM c. Membantu dan Menyelidiki pelaksanaan HAM d. Mengadakan kerjasama regional dan internasional dalam rangka memjukan dan melindungi HAM Perlindungan hokum terhadap HM dapat berlangsung secara internasional, nasional maupun individual. Secara internasional dilakukan oleh PBB. Secara nasional dilakukan melalui Negara masing-masing melalui system hokum yang berlaku di negarany serta lembaga swadiri masyarakat dan pers. Secar individual hendaknya setiap warga Negara berusaha melindungi HAM agar berlaku di sekitar warga Negara. Prof. Dr. H. Muladi, SH, ketua Lembaga Ketahanan Republik Indonesia menyatakan mekanisme perlindungan HAM sebagai berikut: Mekanisme perlindungan HAM a. Secara Internasional Mekanisme mentoring dan penegakkan berbagai instrument HM dilakukan oleh: 1. International Monitoring Bodies 2. International Political Bodies 3. Badan Internasional antara pemerinth yang lai b. Secara nasional Mekanisme mentoring dapat dilakukan melalui:

1. Sistem hokum yang berlku yaitu melalui pengadilan 2. DPR/Parliament 3. NGO s/LSM 4. National Human Rights 5. Melalui mass media c. Bentuk monitoring dilakukan oleh Negara per Negara dengan memberlakukan Universal Yuridiction .

3. Peradilan HAM Peradilan HAM diatur dengan UU No. 26 tahun 2000, yang diundangkan pada tanggal 23 November 2000. Kewenangan HAM: 1. Bertugas dan berwenang dan memutus perkara pelanggaran hak azasi manusia yang berat 2. Berwenang memeriksa dan memutuskn pelanggarn HAM yang berat yang dilakukan di luar batas territorial wilayah Negara RI oleh warga Negara Indonesia 3. Tidak berwenang dan memutus perkara pelanggaran HAM yang berat yang dilakukan oleh seseorang yang berumur dibawah 18 tahun pda saat kejahatan dilakukan Pelanggaran HAM yang berat meliputi kejahatan genosida dan kejahatan terhadap manusia. 4. Hukum Humaniter Hukum Humaniter adalah hokum yang melindungi dan menegakkan hak azasi manusia pada waktu perang. Hukum ini bersifat darurat. Tujuan hukum humaniter: 1. Melindungi kombatan maupun non kombatan dari akibat perang 2. Menjamin kehormatan dan perlindungan HM tertentu terhadp tawanan perang 3. Mengusahakan diakhiri peperangan dalam waktu singkat 4. Membatasi penggunaan cara dan peralatan peperangan yang terbatas 5. Membatasi dan meringankan akibat bencana perang 6. Mempertemukan pencapaian kebutuhan-kebutuhan militer dengn prinsip-prinsip HAM

Komponen hukum humaniter: a. Hukum Den Haag b. Hukum Jenewa c. Hukum gabungan Den Haag dan Jenewa Persaman dan perbedn hukum humaniter dengan HAM: 1. Hukum humaniter terutama diterapkan pada Negara sedangkan HAM pada individuindividu 2. Hukum humaniter diterapkan pada waktu perang sedangkan HAM pada waktu damai 3. Hukum humaniter ditujukan untuk orang orang yang terluka dan sakit, sedangkan HAM untuk semua individu dalam keadaan apapun 4. Kedua-duanya melindungi hak azasi manusia hanya keadaannya saja yang berbeda

5. Hak Azasi Manusia dalam Al-Qur'an a. Dalam Islam kedudukan manusia adalah sederajat.

b. Sesama manusia kedudukannya sama dalam hukum dan bebas dari praduga tak bersalah

c. Kebebasan memeluk agama dijamin dalam islam

Terdapat 2 landasan pokok bagi kehidupan bermasyarakat yang ditur dalam Piagam Madinah, yaitu: 1. Semua pemeluk islam adalah satu umat walaupun mereka berbeda suku bangsa 2. Hubungan antara komunitas musllim dan non muslim didasarkan pada prinsip-prinsip: a. Berinteraksi secara baik dengan sesame tetangga b. Saling membantu dalam menghadapi musuh bersama c. Membela mereka yang teraniaya d. Saling menasehati e. Menghormati kebebasan beragama

BAB IV HAK DAN KEWAJIBAN WARGA NEGARA INDONESIA 1. Azas-azas kewarganegaraan Azas-azas kewarganegaraan pada umumnya kita mengenal ada empat macam yang berasal dari kelahiran dan dari perkawinan. Dari kelahiran kita mengenal adnya ius soli dan ius sanguinis. Dari perkawinan kita mengenal adanya azas kesatuan hukum dan azas persamaan derajat. a. Ius Soli

Ius berarti hukum, dalil, atau pedoman. Sedangkan soli berasal dari kata solum yang berarti negeri, tanah, atau daerah. Dengan demikian ius soli berarti pedoman yang berdasarkan tempat atau daerah. Dalam kaitannya dengan azas kewarganegaraan ini, ius soli berarti kewarganegaraan ditentukan oleh tempat tinggal (Koerniatmanto Soetoprawiro, 1996:10). b. Ius Sanguinis Sanguinis berasal dari kata sanguis yang berasal dari darah. Dengan demikian, ius sanguinis berarti kewarganegaraan seseorang ditentukan keturunan atau orang tuanya. Dewasa ini pada umumnya kedua azas ini dianut secara simultan. Bedanya ada Negara yang menitik beratkan pada penggunaan ius sanguinis, dengan ius soli sebagai kekecualian. Penggunaan kedua azas secara simultan ini mempunyai tujuan agar status apatride atau tidak berkewarganegaraan (stateless) dapat terhindar. Artinya, apabila ada seseorang yang tidak dapat memperoleh Negara yang bersangkutan, masih dapat memperoleh kewarganegaraan dari Negara tersebut berdasarkan kelahiran yang berbeda-beda, dapat menimbulkan masalah bipatride atau dwi kewarganegaraan (berkewarganegaraan rangkap), bahkan multipatride (berkewarganegaraan banyak atau lebih dari dua) (Koerniatmanto Soetoprawiro, 1996:10-11). c. Azas Kesatuan Hukum Azas kesatuan hukum dimaksudkan agar suami/istri yang terikat dalam perkawinan yang berasal dari kewarganegaraan yang berbeda disatukan saja kewarganegaraannya. Sebab perkawinan suami istri yang memiliki kewarganegaraan yang berbeda akan mengakibatkan tiga kemungkinan kewarganegaraan: y Pertama, suami/istri tetap kewarganegaraan masing-masing, y Kedua, suami mengikuti kewarganegaraan istri, y Ketiga, istri mengikuti kewarganegaraan suami. Pada umumnya pihak istrilah yang mengikuti kewarganegaraan suami. d. Azas Persamaan Derajat Dalam azas persamaan derajat ditentukan bahwa perkawinan tidak menyebabkan berubahnya status kewarganegaraan masing-masing pihak. Wanita sama seperti laki-laki, mempunyai hak bebas untuk memilih apa yang terbaik untuk dirinya. Tidaklah cocok jika wanita selalu mengikuti kewarganegaraan suaminya. Naturalisme atau memperoleh kewarganegaraan dapat diperoleh walaupun tidak memenuhi prinsip ius soli maupun ius sanguinis. Naturalisme ada yang aktif dan ada yang pasif. Naturalisme aktif seseorang dapat mengajukan kehendak untuk menjadi warga negara suatu negara . Sedangkan naturalisme pasif adalah seseorang tidak mau diwarganegarakan oleh suatu negara. Dalam hal ini yang bersangkutan dapat menggunakan hak repudiasi, yaitu hak untuk menolak pemberian kewarganegaraan dari suatu negara. 2. Hak dan kewajiban warga negara dalam UUD 1945

Pada tanggal 10 Agustus 2002 telah selesailah Undang-Undang Dasar 1945 diamandemen untuk yang keempat kalinya. Sehingga bunyi pasal-pasal dalam UUD 1945 yang sah berlaku adalah yang sudah diamandemen. Hak dan kewajiban warga negara dalam UUD 1945 dalam pasal 27, 28a sampai dengan 28j, 29, 30 ayat 1 dan 31 ayat 1.

BAB V BELA NEGARA 1. Makna Bela Negara Upaya bela negara adalah sikap perilaku warga negara yang dijiwai oleh kecintaannya kepada negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 dalam menjamin kelangsungan hidup bangsa dan negara (penjelasan pasal 9 UU No. 3 Tahun 2002). Bela negara dalam arti sempit adalah bela negara dalam bidang pertahanan dan keamanan. Bela negara dalam arti luas adalah bela negara dalam bidang idiologi, politik, ekonomi, sosial budaya, pertahanan dan keamanan. Komponen pertahanan negara terdiri dari: 1. Komponen Utama 2. Komponen Cadangan 3. Komponen Pendukung Komponen Utamaadalah TNI yang siap digunakan untuk melaksanakan tugas-tugas pertahanan. Komponen cadangan adalah sumber daya nasional yang telah disiapkan untuk dikerahkan melalui mobilisasi guna memperbesar dan memperkuat kekuatan dan kemampuan komponen utama. Komponen pendukung adalah sumber daya nasional yang dapat digunakan untuk meningkatkan kemampuan komponen utama dan komponen cadangan. Kepolisian negara berfungsi memelihara keamanan dan ketertiban masyarakat, penegakkan hukum, perlindungan, pengayoman dan pelayanan kepada masyarakat. 2. Implementasi Bela Negara Implementasi bela negara dalam arti sempit yaitu membele negara dengan mengangkat senjata. Impelementasi bela negara dalam arti luas adalah membela negara dengan mengangkat apa saja berprestasi sesuai dengan profesinya asalkan untuk mencapai tujuan negara, kesejahteraan masyarakat dan bangsa. Dalam bidang pertahanan warga negara dapat berperan sebagai komponen utama, komponen cadangan ataupun sebagai komponen pendukung sesuai dengan hak dan kewajibannya dalam ikut serta dalam usaha pertahanan dan keamanan negara. Komponen cadangan dan komponen pendukung dalam buku putih Pertahanan Negara RI (2003:51) dijelaskan sebagai berikut:

Komponen cadangan yang terbentuk masih merupakan model yang akan dikembangkan di masa yang akan datang dan masih dalam lingkup kekuatan matra darat. Komponen pendukung adalah segenap warga negara, sumber daya alam, sumber daya buatan, sarana dan prasarana nasional yang secara langsung atau tidak langsung dapat meningkatkan kekuatan dan kemampuan komponen utama dan cadangan. 3. Jihad dalam Rangka Bela Negara Bela negara adalah sebagian dari jihad. Pengertian jihad dari Ensiklopedi Islam Jilid 2 (2002: 315317) sebagai berikut: Jihad (Ar: jihad = pengerahan seluruh potensi [dalam menangkis serangan musuh]). Ulama *fiqih membagi jihad menjadi tiga bentuk, yaitu: (1) berjihad memerangi musuh secara nyata, (2) berjihad melawan syetan, (3) berjihad terhadap diri sendiri. Jihad dalam pengertian umum seperti di atas mencakup juga seluruh jenis ibadah yang bersifat lahir dan batin, sebagaimana dicontohkan dalam sejarah perjuangan Nabi Muhammad SAW selama di Mekah dan Madinah. Disamping pengertian umum tersebut, ada juga pengertian khusus yang dikemukakan oleh ulama. Imam Syafi I mendefinisikan jihad yaitu memerangi kaum kafir untuk menegakan Islam. Pengertian jihad secara khusus inilah yang secara luas dibicarakan dalam kitab-kitab Fiqih yang senantiasa dikaitkan dengan pertempuran, peperangan dan ekspedisi militer. Para ulama menyimpulkan latar belakang perlunya berjihad berdasarkan surah dalam Al-Quran, yaitu surah Al-Baqarah ayat 190-193, surah An-Nisaa ayat 75 dan surah At-Taubah ayat 13-15. Latar belakang tersebut antara lain: (1) mempertahankan diri, kehormatan, harta dan negara dari tindakan sewenang-wenang musuh, (2) memberantas kedzaliman yang ditujukan kepada umat pemeluk agam Islam, (3) menghilangkan fitnah yang ditimpakan kepada umat Islam, (4) membantu orang-orang yang lemah, (5) mewujudkan keadilan dan kebenaran. Tujuan jihad yang dapat disimpulkan dari ayat-ayat Al-Quran adalah terlaksananya *syariat Islam dalam arti yang sebenarnya serta terciptanya suasana yang damai dan tentram. *Ibnu Qoyyim menguraikan bahwa jihad dilihat dari pelaksanaannya, jihad dapat dibagi menjadi tiga bentuk, yaitu: jihad mutlaq, jihad hujjah, dan jihad amm. Jihad mutlaq adalah perang melawan musuh di medan pertempuran. Jihad hujjahi adalah jihad yang dilakukan dalam berhadapan dengan pemeluk agama lain dengan mengemukakan argumentasi yang kuat. Jihad amm adalah jihad yang mencakup segala aspek kehidupan, baik yang bersifat material, terhadap diri sendiri maupun terhadap orang lain di tengah-tengah masyarakat.

BAB VI DEMOKRASI INDONESIA 1. Konsep Demokrasi Demokrasi berasal dari dua kata demos yang berarti rakyat dan cratein dalam bahasa Yunani yang berarti demokrasi dalam bahasa Indonesia adalah kedaulatan atau kekuasaan di tangan rakyat. Pemerintahan yang demokratis adalah pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat, (government of the people,by the people and for the people. Abraham Lioncoln). Demokrasi dengan sendirinya akan melahirkan sistem pemerintahan yang demokratis ditandai adanya the rule of law, sebagai berikut: 1. Perlindungan konstitusional dalam arti bahwa konstitusi, selain dari menjamin hak-hak individu, harus menentukan pula procedural untuk memperoleh perlindungan atas hak-hak yang dijamin. 2. Dalam kehakiman yang bebas dan tidak memihak (Independence and impartial tribunals). 3. Pemilihan umum yang baik. 4. Kebebasan untuk berserikat/berorganisasi dan beroposisi 5. Pendidikan kewarganegaraan (Civic Education). Jadi, salah satu ciri negara demokratis yaitu adanya pendidikan kewarganegaraan (Civic Education) pada negara tersebut. Sedangkan macam-macam demokrasi dapat dibagi menjadi 5 corak atau model menurut Sklar yaitu: 1. Demokrasi Liberal, yaitu pemerintahan yang dibatasi oleh Undang-Undang dan pemilihan umum yang bebas diselenggarakan dalam waktu yang ajeg. 2. Demokrasi Terpimpin, yaitu para pemimpin percaya bahwa semua tindakan mereka dipercaya rakyat. 3. Demokrasi Sosial, yang menaruh kepedulian pada keadilan sosial dan egaliterianisme bagi persyaratan untuk memperoleh kepercayaan politik. 4. Demokrasi Partisipasi, yaitu menekankan hubungan timbal balik antara penguasa dan yang dikuasai. 5. Demokrasi Konstitusional, yaitu menekankan penegakan aturan dan ketentuan dalam menjalankan demokrasi. 2. Demokrasi dalam sistem NKRI Perkembangan demokrasi di Indonesia dapat dibagi menjadi empat periode sebagai berikut: 1. Masa 1945-1959: Demokrasi Parlementer Demokrasi dengan sistem parlementer dimulai sebulan setelah dilakukan proklamasi kemerdekaan kemudian diperkuat UUD 1949 dan 1950. 2. Masa 1959-1965: Demokrasi Terpimpin

Periode ini ditandai dengan dominannya peranan presiden, menguatnya ABRI sebagai unsur sosial politik, berkembangnya pengaruh komunis dan melemahnya peranan partai-partai politik. 3. Masa 1965-1998: Demokrasi Pancasila Era Orde Baru Dalam masa ini demokrasi terpimpin batasan Presiden seumur hidup ditiadakan dan ditinjaunya kembali produk-produk legislative seperti Undang-Undang No. 14/1970 yang menetapkan kebebasan badan-badan pengadilan. 4. Masa 1998-sekarang: Demokrasi Pancasila Era Reformasi Dalam era reformasi demokrasi dikembangkan dengan adanya pers, tumbuhnya banyak parpol dan diadakan pemilu pertama pada era reformasi pada tahun 1999 diikuti oleh 48 partai politik.

BAB VII WAWASAN NUSANTARA HUBUNGANNYA DENGAN GEOPOLITIK INDONESIA

1. Latar belakang filosofi Wawasan Nusantara Hal-hal yang mendasari wawasan nasional suatu bangsa adalah : 1. Dasar falsafah negara 2. Geografi dimana negara itu berada 3. Kejiwaan dari bangsa tersebut Wawasan nasional bangsa Indonesia adalah wawasan Nusan-tara. Pada dasarnya wawasan nusantara adalah cara pandang bangsa Indonesia tentang diri dan lingkungannya berdasarkan berdasarkan pancasila dan UUD 1945 serta geografi negaranya untuk mencapai tujuan nasionalnya. 1. Wawasan nusantara mencakup : a. Perwujudan kepulauan nusantara sebagai kesatuan politik b. Perwujudan kepulauan nusantara sebagai suatu kesatuan sosial dan budaya c. Perwujudan kepulauan nusantara sebagai suatu kesatuan ekonomi d. Perwujudan kepulauan nusantara sebagai suatu kesatuan pertahanan dan keamanan 2. Latar belakang Geografi, Geopolitik dan Geostrategi Indonesia Indonesia adalah negara terbesar di Asia Tenggara merupakan negara kepulauan yang terdiri dari 13.667 pulau dengan batas-batas sebagai berikut: Utara : ± 6° 08 LU (Lintang Utara) Selatan : ± 11° 15 LS (Lintang Selatan) Barat : ± 94° 45 BT (Bujur Timur) Timur : ± 141° 05 BT (Bujur Timur)

Jarak paling jauh antara dua tempat, dengan arah: Utara-Selatan : ± 1888 km Barat-Timur : ± 5110 km Indonesia sebagai suatu negara kepulauan berada dikelilingi samudera Indonesia dan samudera pasifik, diapit oleh dua benua yaitu benua Asia dan benua Australia. Geopolitik artinya politik berdasarkan keadaan bumi. 3. Bermacam-macam wawasan a. Wawasan benua menyatakan pada intinya barang siapa ingin menguasai dunia, kuasailah daratannya. b. Wawasan bahari menyatakan barang siapa menguasai lautan ia akan dapat menguasai dunia. c. Wawasan dirgantara menyatakan barang siapa menguasai udara ia akan dapat menguasai dunia. d. Wawasan kombinasi adalah wawasan yang mengkom-binasiakan ketiga wawasan tersebut. 4. Unsur dasar Unsur dasar wawasan nusantara terdiri dari: wadah, isi dan tata laku. Wadah wawasan nusantara terdiri dari: wujud wilayah, tata inti organisasi dan tata kelengkapan organisasi. 2. Implementasi wawasan nusantara dalam mewujudkan persatuan dan kesatuan bangsa Implementasi wawasan nusantara dalam bidang politik akan menghasilkan iklim penyelenggaraan negara yang sehat dan dinamis. Implementasi wawasan nusantara dalam bidang ekonomi harus tercipta ekonomi kerakyatan, sistem perekonomian yang mampu merealisasikan kesejahteraan ekonomi bagi seluruh warga negara secara baik dan merata. Implementasi wawasan nusantara dalam bidang sosial budaya pada hakekatnya bahwa masyarakat Indonesia adalah satu. Implementasi wawasan nusantara dalam bidang pertahanan dan keamanan negara berarti ancaman suatu daerah atau pulau pada hakekatnya merupakan ancaman terhadap seluruh bangsa dan negara.

BAB VIII KETAHANAN NASIONAL HUBUNGANNYA DENGAN GEOSTRATEGI INDONESIA

1. Konsep ketahanan nasional yang dikembangkan untuk menjamin kelangsungan hidup menuju kejayaan bangsa dan negara

Ketahanan nasional adalah kondisi dinamis suatu bangsa yang meliputi segenap aspek kehidupan nasional yang terintegrasi, berisi keuletan dan ketangguhan yang mengandung kemampuan mengembangkan kekuatan nasional, dalam mengahadapi dan mengatasi segala tantangan, ancaman, membuat hambatan dan gangguan, baik yang datang dari dalam maupun dari luar, untuk menjamin identitas, integritas, dan kelangsungan hidup bangsa dan negara serta perjuangan mencapai tujuan nasional ( Lemhanas, 2000-98). a. Azas-azas ketahanan nasional Azas ketahanan nasional Indonesia adalah tata laku berdasarkan nilai-nilai dasar, falsafah negara pancasila, UUD 1945 dan wawasan nusantara, sebagai berikut: 1. Azas kesejahteraan dan keamanan Azas ini merupakan azas yang sangat mendasar dan harus dipenuhi bagi kebutuhan hidup, individu, masyarakat maupun negara. 2. Azas komperehensif integral Komperehensif integral artinya utuh, menyeluruh dan terpadu. 3. Azas mawas kedalam dan mawas keluar Mawas kedalam atau introspeksi maksudnya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara dalam menciptakan ketahanan nasional kita mau melihat dari diri kita sendiri. 4. Azas kekeluargaan Azas ini mengandung arti bahwa dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara dijalani dengan kearifan, kebersamaan, keadilan gotong royong, tenggang rasa dan tanggung jawab. b. Sifat ketahanan nasional Ketahan nasional mempunyai sifat yang terbentuk dari landasan dan azas yang dimilikinya sebagai berikut: mandiri, dinamis, wibawa, konsultasi dan kerja sama. c. Aspek-aspek ketahanan nasional Ketahanan nasional terdiri atas dua aspek ( gatra ) yaitu aspek statis dan aspek dinamis. Aspek statis atau aspek alamiah terdiri dari tiga aspek (tri-gatra), yaitu: 1. Posisi dan lokasi geografis negara 2. Keadaan dan kekayaan alam 3. Keadaan dan kemampuan penduduk Aspek dinamis atau aspek sosial terdiri dari lima aspek panca-gatra, yaitu IPOLEKSOSBUDHANKAM: 1. 2. 3. 4. 5. Ideologi Politik Ekonomi Sosial budaya Hankam

2. Fungsi ketahanan nasional sebagai kondisi doktrin dan metode dalam kehidupan berbangsa dan bernegara Ketahanan nasional Indonesia setiap saat berubah, tidak stabil sesuai dengan perubahan kondisi asta-gatra yang terjadi pada saat tertentu. Aspek alamiahpun berubah. Ketahanan nasioanl sebagai doktrin dalam mengembangkan kekutan nasional melalui kesejahteraan dan keamanan yang seimbang, serasi, selaras dalam seluruh aspek kehidupan secara utuh, menyteluruh dan terpadu berlandaskan pancasila, UUd 1945 dan wawasan nusantara.

BAB IX POLITIK STRATEGI NASIONAL Politik menurut J. Barents dalam bukunya ilmu poltika: Ilmu politik adalah bagian dari kehidupan masyarakat: ilmu politik mempelajari negara-negara itu melakukan tugas-tugasnya. Lemhannas mendefinisikan strategi nasional adalah seni dan ilmu mengembangkan dan menggunakan kekuatan-kekuatan nasional ( yaitu ideologi, politik, ekonomi, sosial, budaya dan militer) dalam masa damai maupun masa perang untuk mendukung pencapaian tujuan-tujuan yang ditetapkan pleh politik nasional ( 1995; 131). Tugas dan wewenang majelis permusyawaratan rakyat (MPR) diatur oleh UUD 1945 yang telah diamandemen pada pasal 3. MPR terdiri atas anggota DPR dan DPD (Dewan Perwakilan Daerah). Anggota DPR dan DPD dipilih oleh rakyat melalui pemilihan umum. Pemegang kekuasaan pemerintahan negara adalah presiden. DPD dipilih dari setiap propinsi melalui pemilu. Tugas DPD dapat dilihat pada UUD 1945 dan Pasal 22 D. Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) diatur dalam UUD 1945 pada pasal 23 E. Kekuasaan kehakiman dilaksanakan oleh: Mahkamah Agung dan Badan Peradilan yang berada dibawahnya dalam lingkungan peradilan umum, lingkungan peradilan agama, lingkungan peradilan militer, lingkungan peradilan tata usaha negara oleh sebuah mahkamah konstitusi. Kekuasaan kehakiman dalam UUD 1945 tercantum dalam pasal 24. Mahkamah Konstitusi merupakan salah satu lembaga negara yang melakukan kekuasaan kehakiman yang merdeka untuk menyelenggarakan peradilan guna menegakan hukum dan keadilan. Wewenang Mahkamah Konstitusi dalam Undang-Undang tersebut terdapat dalam Pasal 10.

BAB X OTONOMI DAERAH 1. Definisi, tujuan dan kendala otonomi daerah Pada tanggal 1 Januari 2001 otonomi daerah mulai berlaku di seluruh wilayah negara kesatuan republic Indonesia sesuai kemampuan daerahnya masing-masing. Otonomi daerah adalah hak, wewenang dan kewajiban daerah otonom untuk mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan dan kepentingan masyarakat setempat sesuai dengan peraturan perundangan. Tujuan diadakannya otonomi daerah adalah: 1. Memperkokoh persatuan dan kesatuan bangsa 2. Menjamin pembangunan berdasarkan potensi dan aspirasi masyarakat daerah 3. Menjamin pemerintahan menjadi adil, proporsional, rasional, transparan, efektif dan efisien serta bertanggung jawab 4. Menjamin adanya kepastian kewenangan antara pemerintah pusat, pemerinyah propinsi dan pemerintah kabupaten dan kota 5. Menjamin adanya sistem alokasi, penyelenggaraan dan pertanggungjawaban keuangan negara Beberapa pengertian yang perlu diketahui warga negara dalam undang-undang No. 32 Tahun 2004 adalah seperti yang tercantum dalam Pasal 1. Anggaran pendapatan dan belanja daerah adalah selanjutnya disebut APBD adalah rencana keuangan tahunan pemerintahan daerah ditetapkan dengan peraturan daerah. 2. Kewenangan pemerintah pusat, propinsi, kabupaten/kota Urusan pemerintahan pemerintah (pemerintah pusat) : a. Politik luar negeri b. Pertahanan c. Keamanan d. Yustiti e. Moneter dan Fisikla Nasional f. Agama Menurut peraturan pemerintah No. 38 Tahun 2007 tentang pembagian urusan pemerintahan antara pemerintah, pemerintah daerah propinsi dan pemerintah daerah kabupaten/kota menyatakan bahwa urusan pemerinyahan menjadi: 1. Kewenangan pemerintah 2. Kewenangan pemerintah daerah 3. Otonomi daerah dalam bidang pendidikan

Dalam melaksanakan otonomi daerah penyelenggaraan pendidikan merupakan salah satu urusan pemerintahan yang wajib dilaksanakan pemerintah daerah. a. Kewenangan pemerintah dalam bidang pendidikan No. 25 Tahun 2000 tentang kewenangan pemerintah dan kewenangan propinsi sebagai daerah otonom. b. Kewenangan pemerintah propinsi Dalam bidang pendidikan dan kebudayaan terdapat pada Pasal 3 ayat 5. c. Kewenangan pemerintah kabupaten/kota Terdiri dari semua kewenangan pemerintah selain yang menjadi kewenangan pemerintah pusat dan pemerintah propinsi. Bidang pemerintahan yang wajib dilaksanakan diantaranya dalam pendidikan dan kebudayaan. d. Manajemen Berbasis Sekolah Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) atau dalam bahasa inggrisnya disebut School Based Management (SBM) merupakan implementasi otonomi daerah dalam bidang pendidikan berupa reformasi pendidikan pada bidang persekolahan yang pada intinya sekolah memperoleh wewenang, kewajiban dan tanggung jawab yang tinggi dalam mengelola sekolah sesuai dengan tuntutan masyarakat. Kompetensi sebagai agen pembelajaran pada jenjang pendidikan dasar dan menengah serta pendidikan anak usia dini meliputi: a. Kompetensim Pedagogik b. Kompetensi Kepribadian c. Kompetensi Profesional d. Kompetensi Sosial

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful