FRAKTUR KLAVIKULA A.

Pendahuluan Fraktur klavikula (tulang kolar) merupakan cedera yang sering terjadi akibat jatuh atau hantaman langsung ke bahu. Lebih dari 80% fraktur ini terjadi pada sepertiga tengah atau proksimal klavikula. Tulang merupakan alat penopang dan sebagai pelindung pada tubuh. Tanpa tulang tubuh tidak akan tegak berdiri. Fungsi tulang dapat diklasifikasikan sebagai aspek mekanikal maupun aspek fisiologikal. Dari aspek mekanikal, tulang membina rangka tubuh badan dan memberikan sokongan yang kokoh terhadap tubuh. Sedangkan dari dari aspek fisiologikal tulang melindungi organ-organ dalam seperti jantung, paru-paru dan lainnya. Tulang juga menghasilkan sel darah merah, sel darah putih dan plasma. Selain itu tulang sebagai tempat penyimpanan kalsium, fosfat, dan garam magnesium. Namun karena tulang bersifat relatif rapuh, pada keadaan tertentu tulang dapat mengalami patah, sehingga menyebabkan gangguan fungsi tulang terutama pada pergerakan.Patah tulang atau fraktur merupakan hilangnya kontinuitas tulang yang umumnya disebabkan oleh tekanan. Peristiwa ini dapat terjadi karena: 1. Peristiwa trauma oleh tunggal. Patah kekuatan tulang pada tiba-tiba peristiwa ini dapat biasanya berupa

dikarenakan

yang

berlebihan

pemukulan, penekukan, pemuntiran ataupun penarikan. 2. Tekanan yang berulang-ulang.Tekanan yang berulang-ulang dapat

menimbulkan keretakan. Sebagai contoh seorang pelari yang menempuh jarak jauh dapat mengalami retak tulang pada daerah tibia, fibula maupun metatarsal. 3. Fraktur patologik. Pada peristiwa ini tulang mengalami patah oleh tekanan yang normal dikarenakan tulang tersebut lemah atau rapuh. Bisa disebabkan oleh penyakit tertentu, misalnya tumor. Banyak sekali kasus patah tulang yang terjadi dan berbeda-beda pada daerah patah tulang tersebut. Pada kasus ini akan dibahas mengenai patah tulang bagian klavikula

Pada bagian distal klavikula bergabung dengan acromion dari skapula membentuk sambungan acromioclavicular (AC). Pada bagian proksimal tulang clavikula bergabung dengan sternum disebut sebagai sambungan sternoclavicular (SC). Patah tulang klavikula terjadi akibat dari tekanan yang kuat atau hantaman yang keras ke bahu. Etiologi Faktur Klavikula Menurut sejarah fraktur pada klavikula merupakan cedera yang sering terjadi akibat jatuh dengan posisi lengan terputar/tertarik keluar (outstreched hand) dimana trauma dilanjutkan dari pergelangan tangan sampai klavikula. Patah tulang klavikula pada umumnya mudah untuk dikenali dikarenakan tulang klavikula adalah tulang yang terletak dibawak kulit (subcutaneus) dan tempatnya relatif di depan. Tulang ini membantu mengangkat bahu ke atas. Data ini dikemukankan oleh Nowak et a. sedangkan pada orang dewasa sekitar 2. Tulang klavikula juga membentuk hubungan antara anggota badan atas dan Thorax. namun baru-baru ini telah diungkapkan bahwa sebenarnya mekanisme secara umum patah tulang klavikula adalah hantaman langsung ke bahu atau adanya tekanan yang keras ke bahu akibat jatuh atau terkena pukulan benda keras. sedangkan yang lainnya karena trauma bahu. ke luar. Pada anak-anak sekitar 10±16 % dari semua kejadian patah tulang. dan ke belakang thorax. Energi tinggi yang menekan bahu ataupun pukulan langsung pada tulang akan menyebabkan fraktur. Tulang klavikula. tulang humerus bagian proksimal dan tulang skapula bersama-sama membentuk bahu. C.l Nordqvist dan Peterson.6±5 %. Patofisiologi Klavikula adalah tulang pertama yang mengalami proses pengerasan selama perkembangan embrio minggu ke-5 dan 6. . Karena posisinya yang teletak dibawah kulit maka tulang ini sangat rawan sekali untuk patah. Kasus patah tulang klavikula termasuk kasus yang paling sering dijumpai.B. Kasus patah tulang ini ditemukan sekitar 70% adalah hasil dari trauma dari kecelakaan lalu lintas. Patah tulang klavikula karena jatuh dengan posisi lengan tertarik keluar (outstreched hand) hanya 6% terjadi pada kasus.

Dapat juga terlihat kulit yang menonjol akibat desakan dari fragmen patah tulang. Pasien merasakan rasa sakit bahu dan diperparah dengan setiap gerakan lengan. Fraktur lengkap Adalah patah atau diskontinuitas jaringan tulang yang luas sehingga tulang terbagi menjadi dua bagian dan garis patahnya menyeberang dari satu sisi ke sisi lain.D. Gambaran Klinis Gambaran klinis pada patah tulang klavikula biasanya penderita datang dengan keluhan jatuh atau trauma. Kelompok 2: patah tulang klavikula pada sepertiga distal (15-25%). b. tulang tidak menonjol malalui kulit.Pada daerah ini tulang lemah dan tipis. Kelompok 1: patah tulang pada sepertiga tengah tulang klavikula (insidensi kejadian 75-80%).Umumnya terjadi pada pasien yang muda. Klasifikasi Klasifikasi patah tulang secara umum adalah : a. Untuk memperjelas dan menegakkan diagnosis dapat dilakukan pemeriksaan penunjang. . Fraktur tertutup yaitu fraktur tanpa adanya komplikasi. . Lokasi patah tulang pada klavikula diklasifikasikan menurut Dr. 2. sehingga tidak mengenai korteks (masih ada korteks yang utuh). meliputi: a. b. yang membagi patah tulang klavikula menjadi 3 kelompok: 1. kulit masih utuh. . E. karena adanya hubungan dengan lingkungan luar. Pembengkakan lokal akan terlihat disertai perubahan warna lokal pada kulit sebagai akibat trauma dan gangguan sirkulasi yang mengikuti fraktur. FL Allman tahun 1967 dan dimodifikasi oleh Neer pada tahun 1968. maka fraktur terbuka potensial terjadi infeksi. Menurut Black dan Matassarin (1993) yaitu fraktur berdasarkan hubungan dengan dunia luar. Pada pemeriksaan fisik pasien akan terasa nyeri tekan pada daerah fraktur dan kadang-kadang terdengar krepitasi pada setiap gerakan. Fraktur tidak lengkap Adalah patah atau diskontinuitas jaringan tulang dengan garis patah tidak menyeberang. Fraktur terbuka yaitu fraktur yang merusak jaringan kulit.

Tipe 2 B. Patah tulang secara umum pada daerah distal tanpa adanya perpindahan tulang maupun ganguan ligament coracoclevicular. 3. f. Penatalakasanaan Pada prinsipnya penangan patah tulang klavikula adalah untuk mencapai penyembuhan tulang dengan minimum tingkat morbiditas. Ligament tetap utuk melekat pata perioteum. F. Fraktur tidak stabil dan terjadi perpindahan tulang. Tipe 4. Tipe 2 A. d. c. e. Salah satunya terkoyak ataupun kedua-duanya. b. Kelompok 3: patah tulang klavikula pada sepertiga proksimal (5%) Pada kejadian ini biasanya berhubungan dengan cidera neurovaskuler.Terbagi menjadi 3 tipe berdasarkan lokasi ligament coracoclavicular yakni (yakni. Patah tulang yang pada bagian distal clavikula yang melibatkan AC joint. a. hilangnya fungsi. Tipe 1. Tipe 5. Terjadi ganguan ligament. dan ligament coracoclavicular masih melekat pada fragmen. conoid dan trapezoid). Tipe 3. sedangkan fragmen proksimal berpindah keatas. Patah tulang kalvikula terpecah menjadi beberapa fragmen. dan .

Tidakan pembedahan dapat dilakukan apabila terjadi hal-hal berikut : .Terdapat cedera neurovaskuler. karena posisi penyatuan tulang tidak semestinya (malunion).Fraktur terbuka. Bila fraktur 1/3 distal disertai dengan terputusnya ligamen korakoklavikular. tetapi akan lebih baik dilakukan pada saat proses penyatuan tulang yang biasanya dapat dilihat pada minggu ke 4 sampai minggu ke 6 (pada saat fase remodeling pada proses penyembuhan tulang). menarik bahu ke belakang. Tanda klinis penyatuan tulang adalah berkurangnya rasa sakit atau rasa sakit hilang.Masalah kosmetik. Peredaran darah dan saraf kedua lengan harus dipantau. Tindak lanjut perawatan dilakukan dengan pemantauan yang dijadwalkan 1 hingga 2 minggu setelah cedera untuk menilai gejala klinis dan kemudian setiap 2 hingga 3 minggu sampai pasien tanpa gejala klinis. . dan mempertahankan dalam posisi ini. dapat melakukan gerakan bahu secara penuh. akan terjadi pergeseran. Perawatan nonoperative dengan cara mengurangi gerakan di daerah patah tulang. Obat-obat yang dapat digunakan adalah obat kategori analgesik . . yang harus ditangani dengan reduksi terbuka dan fiksasi interna.Tulang memendek karena fragmen fraktur tumpang tindih. Pemeriksaan foto rontgen tidak perlu selama proses perawatan. Fraktur 1/3 distal klavikula tanpa pergeseran dan terpotongnya ligamen dapat ditangani dengan sling dan pembatasan gerakan lengan. Tujuan penanganan adalah menjaga bahu tetap dalam posisi normalnya dengan cara reduksi tertutup dan imobilisasi.Rasa sakit karena gagal penyambungan (nonunion).sisa kelainan bentuk. Modifikasi spika bahu (gips klavikula) atau balutan berbentuk angka delapan atau strap klavikula dapat digunakan untuk mereduksi fraktur ini. Pemberian obat pada kasus patah tulang dapat dilakukan untuk mengurangi rasa nyeri. . . Kebanyakan patah tulang klavikula telah berhasil ditangani dengan metode tanpa operasi. Selama imobilisasi pasien diperkenankan melakukan latihan gerakan tapi harus menghindari aktivitas yang berat. ketiak harus diberi bantalan yang memadai untuk mencegah cedera kompresi terhadap pleksus brakhialis dan arteri aksilaris.Fraktur comminuted. Bila dipergunakan strap klavikula. dan kekuatan kembali normal. .

Haemothorax Komplikasi lambat : .Cedera pembuluh darah . namun tidak dengan bentuk aslinya atau abnormal.Pneumouthorax . hematokrit sering rendah akibat perdarahan. . cedera vena atau arteria subklavia akibat frakmen tulang.Non union: kegagalan penyambungan tulang setelah 4 sampai 6 bulan I. Komplikasi akut: . H. . Komplikasi Komplikasi fraktur klavikula meliputi trauma saraf pada pleksus brakhialis. Pemeriksaan penunjang: Laboratorium : Pada fraktur test laboratorium yang perlu diketahui: Hb. Pada masa penyembuhan Ca dan P meengikat di dalam darah. G. Prognosis Patah tulang akan sembuh dengan baik jika dilakukan tindakan operative. laju endap darah (LED) meningkat bila kerusakan jaringan lunak sangat luas.antiinflamasi seperti acetaminophen dan codeine dapat juga obat golongan NSAIDs seperti ibuprofen. dan malunion (penyimpangan penyatuan).Mal union: proses penyembuhan tulang berjalan normal terjadi dalam waktu semestinya. Malunion merupakan masalah kosmetik bila pasien memakai baju dengan leher rendah.

Resiko infeksi berhubungan dengan trauma.com/issues/2003/1203/housner. luas dan jenis fraktur. Clavicle Fractures. . CT scan untuk mendeteksi struktur fraktur yang kompleks.L Joseph Rubino. John E.HTM 6. Jakarta. CT-scan/ MRI: Memperlihatkan frakur dan mengidentifikasikan kerusakan jaringan lunak. 2003. 2006. EGC. http://www. terbatasnya kognitif DAFTAR PUSTAKA 1.com/orthoped/topic50. Jeffrey A. tekanan dan disuse 4. Jakarta. Chairuddin Rasjad. Kuhn. Yarsif Watampone. http://www. Nyeri akut berhubungan dengan agen injuri fisik (fraktur) 2. Pengantar Ilmu Bedah Ortopedi. 2006. prosedur invasive 6. 4. Richard S. Resiko terhadap cidera berhubungan dengan kerusakan neuromuskuler. 2008. 1995. Buku Ajar Ortopedi dan Fraktur Sistem Applay Edisi 7.physsportsmed. http://www. Clavicle Fractures.htm. Kerusakan mobilitas fisik berhubungan dengan patah tulang 3.emedicine. Kurang pengetahuan tentang penyakit dan perawatannya b/d kurang paparan terhadap informasi.emedicine. Venogram/anterogram menggambarkan arus vascularisasi. Widya Medika. Sindrom kurang perawatan diri berhubungan dengan hilangnya kemampuan menjalankan aktivitas 5. Snell. deformitas dan metalikment. 2. Jakarta. 3. Clavicle Injuries. Scan tulang. A Graham Appley.com/sports/TOPIC25. Anatomi Klinik Edisi 6. Diagnosa keperawatan yang mungkin muncul: 1. Kevin J Eerkes. 2007. 5. Housner. Pemeriksaan rontgen: Untuk menentukan lokasi. J.Radiologi : X-Ray dapat dilihat gambaran fraktur. imunitas tubuh primer menurun.

perubahan status metabolik. 5. 6. Diagnosa keperawatan yang muncul pada pasien dengan post op fraktur (Wilkinson. dan gangguan pola tidur. 3. Kurang pengetahuan tantang kondisi. dan penurunan kekuatan/tahanan. INTERVENSI DAN IMPLEMENTASI Intervensi adalah penyusunan rencana tindakan keperawatan yang akan dilaksanakan untuk . Intoleransi aktivitas berhubungan dengan dispnea. prosedur invasif dan jalur penusukkan. salah interpretasi informasi. stress. Hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan nyeri/ketidak nyamanan. alat traksi/immobilisasi. 1994 : 17). turgor kulit buruk. III. luka/kerusakan kulit. prognosis dan kebutuhan pengobatan berhubungan dengan keterbatasan kognitif. ansietas. kelemahan/keletihan. respons inflamasi tertekan. terdapat jaringan nekrotik. gerakan fragmen tulang. penurunan berat badan. kurang terpajan/mengingat. insisi pembedahan. 2006) meliputi : 1. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan tekanan. kelemahan. kerusakan sirkulasi dan penurunan sensasi dibuktikan oleh terdapat luka / ulserasi. terapi pembatasan aktivitas. 4. Nyeri berhubungan dengan terputusnya jaringan tulang. kerusakan muskuloskletal. ansietas 2. ketidak edekuatan oksigenasi.Diagnosa keperawatan adalah suatu penyatuan dari masalah pasien yang nyata maupun potensial berdasarkan data yang telah dikumpulkan (Boedihartono. Risiko infeksi berhubungan dengan stasis cairan tubuh. edema dan cedera pada jaringan.

pasien mengungkapkan mampu untuk melakukan beberapa aktivitas tanpa dibantu. dan energi terkumpul dapat digunakan untuk aktivitas seperlunya secar optimal. Tujuan : Mencapai penyembuhan luka pada waktu yang sesuai. 2. dimana analgesik berfungsi untuk memblok stimulasi nyeri.luka bersih tidak lembab dan tidak kotor. Bantu pasien dalam memenuhi kebutuhan sesuai kebutuhan. . b. digambarkan dalam istilah seperti kerusakan . R/ mengurangi aktivitas yang tidak diperlukan. R/ menjaga kemungkinan adanya respons abnormal dari tubuh sebagai akibat dari latihan. 1995:40). Intoleransi aktivitas adalah suatu keadaaan seorang individu yang tidak cukup mempunyai energi fisiologis atau psikologis untuk bertahan atau memenuhi kebutuhan atau aktivitas sehari-hari yang diinginkan. . d. d. Melakukan kolaborasi dengan tim medis dalam pemberian analgesik R/ merupakan tindakan dependent perawat. R/ untuk mengetahui perkembangan klien e. Observasi tanda-tanda vital. Kaji tingkat intensitas dan frekwensi nyeri R/ tingkat intensitas nyeri dan frekwensi menunjukkan skala nyeri c. Tujuan : pasien memiliki cukup energi untuk beraktivitas. Jelaskan pada klien penyebab dari nyeri R/ memberikan penjelasan akan menambah pengetahuan klien tentang nyeri. Setelah latihan dan aktivitas kaji respons pasien. Kriteria Hasil : ± Nyeri berkurang atau hilang . mobilisasi dini. awitan yang tiba-tiba atau perlahan dari intensitas ringan samapai berat dengan akhir yang dapat di antisipasi atau dapat diramalkan dan durasinya kurang dari enam bulan. Intervensi dan Implementasi : a. .Klien tampak tenang. R/ tahapan-tahapan yang diberikan membantu proses aktivitas secara perlahan dengan menghemat tenaga namun tujuan yang tepat. Tujuan : nyeri dapat berkurang atau hilang. 2006) meliputi : 1. 3. Intervensi dan Implementasi : a.Koordinasi otot. Berikan latihan aktivitas secara bertahap. Kerusakan integritas kulit adalah keadaan kulit seseorang yang mengalami perubahan secara tidak diinginkan. tulang dan anggota gerak lainya baik.menanggulangi masalah sesuai dengan diagnosa keperawatan (Boedihartono. Intervensi dan implementasi keperawatan yang muncul pada pasien dengan post op frakture Olecranon (Wilkinson. R/ mengurangi pemakaian energi sampai kekuatan pasien pulih kembali. Lakukan pendekatan pada klien dan keluarga R/ hubungan yang baik membuat klien dan keluarga kooperatif b. Kriteria Hasil : ± tidak ada tanda-tanda infeksi seperti pus. Nyeri adalah pengalaman sensori serta emosi yang tidak menyenangkan dan meningkat akibat adanya kerusakan jaringan aktual atau potensial. 1994:20) Implementasi adalah pengelolaan dan perwujudan dari rencana keperawatan yang telah disusun pada tahap perencanaan (Effendi. Rencanakan periode istirahat yang cukup. c. Kriteria hasil : ± perilaku menampakan kemampuan untuk memenuhi kebutuhan diri. .

¾ 2 = memerlukan bantuan dari orang lain untuk bantuan. R/ agar benda asing atau jaringan yang terinfeksi tidak menyebar luas pada area kulit normal lainnya. ukuran. 5. Risiko infeksi berhubungan dengan tidak adekuatnya pertahanan perifer. gunakan plester kertas. Intervensi dan Implementasi : a. Intervensi dan Implementasi : g. R/ sebagai suaatu sumber untuk mengembangkan perencanaan dan mempertahankan/meningkatkan mobilitas pasien. j. R/ mengidentifikasi masalah. pengawasan.. Jika pemulihan tidak terjadi kolaborasi tindakan lanjutan. agar tidak terjadi infeksi. Ajarkan dan dukung pasien dalam latihan ROM aktif dan pasif. R/ mengidentifikasi tingkat keparahan luka akan mempermudah intervensi. pergerakkan fisik yang bermanfaat dari tubuh atau satu ekstremitas atau lebih. Kaji kulit dan identifikasi pada tahap perkembangan luka. Pantau peningkatan suhu tubuh. R/ suhu tubuh yang meningkat dapat diidentifikasikan sebagai adanya proses peradangan. b. prosedur invasif dan kerusakan kulit. Berikan perawatan luka dengan tehnik aseptik. ¾ 4 = ketergantungan. Hambatan mobilitas fisik adalah suatu keterbatasan dalam kemandirian. c. Ajarkan dan pantau pasien dalam hal penggunaan alat bantu. g. . Kolaborasi dengan ahli terapi fisik atau okupasi. Balut luka dengan kasa kering dan steril. R/ tehnik aseptik membantu mempercepat penyembuhan luka dan mencegah terjadinya infeksi. Kolaborasi pemberian antibiotik sesuai indikasi. e. Kriteria hasil : ± penampilan yang seimbang. Setelah debridement.mempertahankan mobilitas optimal yang dapat di toleransi.. warna. i. tidak berpartisipasi dalam aktivitas. h. R/ mengetahui sejauh mana perkembangan luka mempermudah dalam melakukan tindakan yang tepat. d. k. R/ mempertahankan /meningkatkan kekuatan dan ketahanan otot. perubahan sirkulasi. ganti balutan sesuai kebutuhan. . f. R/ balutan dapat diganti satu atau dua kali sehari tergantung kondisi parah/ tidak nya luka. . serta jumlah dan tipe cairan luka. dan pengajaran. 4. dengan karakteristik : ¾ 0 = mandiri penuh ¾ 1 = memerlukan alat Bantu. Kaji lokasi. kadar gula darah yang tinggi. ¾ 3 = membutuhkan bantuan dari orang lain dan alat Bantu. Tentukan tingkat motivasi pasien dalam melakukan aktivitas. Kaji kebutuhan akan pelayanan kesehatan dan kebutuhan akan peralatan.melakukan pergerakkan dan perpindahan. misalnya debridement. bau. Tujuan : pasien akan menunjukkan tingkat mobilitas optimal. R/ menilai batasan kemampuan aktivitas optimal. memudahkan intervensi. R/ mempengaruhi penilaian terhadap kemampuan aktivitas apakah karena ketidakmampuan ataukah ketidakmauan. R / antibiotik berguna untuk mematikan mikroorganisme pathogen pada daerah yang berisiko terjadi infeksi.Tanda-tanda vital dalam batas normal atau dapat ditoleransi.

Kriteria hasil : ± tidak ada tanda-tanda infeksi seperti pus.Tujuan : infeksi tidak terjadi / terkontrol. Infeksi tidak terjadi / terkontrol 6. Pantau tanda-tanda vital. EVALUASI Evaluasi addalah stadium pada proses keperawatan dimana taraf keberhasilan dalam pencapaian tujuan keperawatan dinilai dan kebutuhan untuk memodifikasi tujuan atau intervensi keperawatan ditetapkan (Brooker.luka bersih tidak lembab dan tidak kotor. R/ mengendalikan penyebaran mikroorganisme patogen. b. Evaluasi yang diharapkan pada pasien dengan post operasi fraktur adalah : 1. Tujuan : pasien mengutarakan pemahaman tentang kondisi. kurang terpajan/mengingat. IV. Intervensi dan Implementasi: a. R/ mengetahui seberapa jauh pengalaman dan pengetahuan klien dan keluarga tentang penyakitnya. efek prosedur dan proses pengobatan. 6. R/ untuk mengurangi risiko infeksi nosokomial.Tanda-tanda vital dalam batas normal atau dapat ditoleransi. . 2. Berikan penjelasan pada klien tentang penyakitnya dan kondisinya sekarang. R/ dengan mengetahui penyakit dan kondisinya sekarang. 2001). Kaji tingkat pengetahuan klien dan keluarga tentang penyakitnya. c. prognosis dan kebutuhan pengobatan berhubungan dengan keterbatasan kognitif. klien dan keluarganya akan merasa tenang dan mengurangi rasa cemas. e. Pasien mengutarakan pemahaman tentang kondisi. R/ antibiotik mencegah perkembangan mikroorganisme patogen. http://kuliahbidan. Mencapai penyembuhan luka pada waktu yang sesuai 4. salah interpretasi informasi. Nyeri dapat berkurang atau hilang setelah dilakukan tindakan keperawatan. Intervensi dan Implementasi : a. Minta klien dan keluarga mengulangi kembali tentang materi yang telah diberikan. efek prosedur dan proses pengobatan. R/ diet dan pola makan yang tepat membantu proses penyembuhan. seperti Hb dan leukosit. c. d. kateter. R/ penurunan Hb dan peningkatan jumlah leukosit dari normal bisa terjadi akibat terjadinya proses infeksi. . 5. Kurang pengetahuan tentang kondisi. Kriteria Hasil : ± melakukan prosedur yang diperlukan dan menjelaskan alasan dari suatu tindakan. drainase luka. Anjurkan klien dan keluarga untuk memperhatikan diet makanan nya. Jika ditemukan tanda infeksi kolaborasi untuk pemeriksaan darah. Lakukan perawatan luka dengan teknik aseptik. Lakukan perawatan terhadap prosedur inpasif seperti infus. R/ mengetahui seberapa jauh pemahaman klien dan keluarga serta menilai keberhasilan dari tindakan yang dilakukan. . d. Pasien akan menunjukkan tingkat mobilitas optimal. Pasien memiliki cukup energi untuk beraktivitas. R/ mengidentifikasi tanda-tanda peradangan terutama bila suhu tubuh meningkat. dll. b.wordpress.memulai perubahan gaya hidup yang diperlukan dan ikut serta dalam regimen perawatan. Kolaborasi untuk pemberian antibiotik. 3.com/page/8/ .

Resiko tinggi terhadap trauma berhubungan dengan kehilangan itegritas tulang (fraktur) g. gerakan fragmen tulang. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan tekanan. Rasional : memungkinkan pasien untuk siap secara mental untuk setiap aktifitas. d) Jelaskan prosedur sebelum memulai setiap tindakan. e. Lakukan dan awasi dalam latihan gerak aktif atau pasif.Diagnosa Keperawatan Diagnosa keperawatan adalah pernyataan yang jelas. stress ansietas. Resiko infeksi berhubungan dengan stasis cairan tubuh. insisi pembedahan. 3. f. cedera vaskuler langsung. Diagnosa keperawatan yang muncul pada pasien dengan fraktur menurut Doenges et al (1999) meliputi : a. perubahan posisi. kurang terpajan/ mengingat. singkat dan pasti tentyang masalah pasien dan perkembangannya yang dapat dipecahkan atau diubah melalui tindakan keperawatan (Zaidin. Nyeri berhubungan dengan terputusnya jaringan. Perencanaan/Intervensi Perencanaan adalah penyusunan rencana tindakan keperawatan yang di laksanakan untuk mengatasi masalah sesuai dengan diagnose keperawatan yang telah di tentukan dengan tujuan terpenuhi kebutuhan klien (Zaidin. b. c) Pertahahankan imobilisasi bagian yang sakit dengan tirah baring. edema dan cedera pada jaringan. edema berlebihan. Intervensi keperawatan yang muncul pada pasien dengan fraktur menurut Doenges et al (1999) meliputi : a. terapi pembatasan aktivitas dan penurunan kekuatan d. kerusakan sirkulasi. penurunan sensasi di buktikan oleh terdapatnya luka/ulserasi. b) Kaji tingkat intesitas. salah interpretasi informasi. prognosis dan kebutuhan pengobatan berhubungan dengan keterbatasan kognitif. Rasional: menghilangkan nyeri dan mengurangi kesalahan posisi tulang jaringan yang cedera. alat traksi/imobilisasi. Resiko tinggi terhadap kerusakan gas berhubungan dengan perubahan aliran darah/emboli lemak. pembentukan thrombus. f) . respon inflamasi tekanan. edema dan cedera pada jaringan. juga berpartisipasi dalam mengontrol tingkat ketidaknyamanan. turgor kulit buruk. Rasional : membantu untuk menghilangkan ansietas. 1) Tujuan : Nyeri dapat berkurang atau hilang 2) Kriteria hasil : a) Pasien tampak tenang b) Pasien melaporkan nyeri berkurang atau hilang 3) Intervensi a) Lakukan pendekatan pada klien dan keluarga Rasional: hubungan yang baik membuat klien dan keluarga kooperatif. Nyeri berhubungan dengan terputusnya jaringan. c. luka/kerusakan kulit. 2001). Gangguan musculoskeletal. 2001). Resiko tinggi terhadap disfungsi neurovaskuler perifer berhubungan dengan penurunan aliran darah. prosedur invasive dan jalur penusukan. stress ansietas. g) Berikan tindakan nyaman seperti pijatan punggung. Kurang pengetahuan tentang kondisi. Rasional : mempertahankan kekuatan otot yang sakit dan mempermudahkan dalam resolusi inflamasi pada jaringan yang cedera. terdapat jaringan nekrotis. gerakan fragmen tulang. alat traksi/imobilisasi. skala nyeri (0-10) dan frekuensi nyeri menunjukkan skala nyeri. e) Dorong pasien untuk mendiskusikan masalah sehubungan dengan cedera. h.

b. kemerahan. terapi pembatasan aktivitas dan penurunan kekuatan. turgor kulit buruk. menurunkan area tekanan local dan kelelahan otot. terdapat jaringan nekrotis. 3) Intervensi a) Kaji kulit untuk luka terbuka. benda asing. Rasioanal : memberikan informasi tentang sirkulasi kulit dan masalah yang mungkin disebabkan oleh alat. Dorong pasien dalam menggunakan teknik manajemen stress. 1) Tujuan : Mencapai penyembuhan luka pada waktu yang sesuai. i) Kolaborasi pemberian analgesik sesuai indikasi. penurunan sensasi dibuktikan oleh terdapatnyaluka/ulserasi. b) Kaji kulit dan identifikasi pada tahap perkembangan luka. Rasional : merupakan tindakan dependent perawatan. kerusakan sirkulasi. meningkatkan rasa control dan dapat meningkatkan kempuan koping dalam mananjemen nyeri. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan tekanan. d) Ajarkan dan dukung pasien dalam latihan ROM aktif dan pasif.Rasional : meningkatkan sirkulasi umum. Gangguann mobilitas fisik nyeri/ketidaknyamanan kerusakan musculoskeletal. e) Jika pemulihan tidak terjadi kolaborasi tindak lanjut misalnya debridement Rasional : agar benda asing atau jaringan yang terinfeksi tidak menyebar pada area kulit yang normal lainnya. 2) Kriteria hasil : a) Menyatakan ketidaknyaman hilang b) Menunjukkan prilaku untuk mencegah kerusakan kulit dan memudahkan penyembuhansesuai indikasi. perdarahan dan perubahan warna. Rasional : mengetahui sejauh mana perkembangan luka mempermudah dalam melakukan tindakan yang tepat. c. c) Pantau peningkatan suhu tubuh Rasional : suhu tubuh yang meningkat dapat diidentifikasikan sebagai adanya proses peradangan d) Berikan perawatan luka dengan teknik aseptic. c) Ajarkan dan pantau pasien dalam penggunaan alat bantu Rasional : menilai batasan kemampuan klien dalam melakukan aktivitas optimal. Rasioanal : memfokuskan kembali perhatian. h) . dimana analgesic berfungsi untuk memblok stimulus nyeri. imajinasi visualisasidan sentuhan terapeutik. Rasional : teknik aseptic membantu dalam penyembuhan luka dan menncegah terjadinya infeksi. seperti relaksasi napas dalam. balut luka dengan kasa yang kering dan gunakan plester kertas. 1) Tujuan : Pasien akan menunjukkan tingkat mobilitas optimal 2) Kriteria hasil a) Mempertahankan mobilitas optimal yang dapat ditoleransi b) Meningkatkan fungsi yang sakit c) Melakukan pergerakan dan perpindahan 3) Intervensi a) Kaji kebutuhan akan pelayanan kesehatan dan kebutuhan akan peralatan Rasional : mengidentifikasi masalah dan mempermudahkan intervensi b) Ubah posisi secara periodic dan dorong untuk latihan nafas dalam Rasional : mencegah insiden komplikasi kulit atau pernafasan.

e) Minta keluarga kembali mengulangi materi yang telah diberikan. prognosis dan kebutuhan pengobatan berhubungan dengan keterbatasan kognitif. f. d. 3) Intervensi a) Pantau tanda-tanda vital Rasional : mengidentifikasi tanda-tanda peradangan terutama bila suhu meningkat. b) Luka bersih. b) Memulai perubahan gaya hidup yang di perlukan dan ikut serta dalam perawatan. d) Infeksi kulit untuk adanya iritasi atau robekan Rasional : untuk mengetahui adanya infeksi e) Kaji tonus otot. Resiko tinggi terhadap trauma berhubungan dengan kehilangan integritas tulang (fraktur) 1) Tujuan : . kurang terpajan atau mengingat dan salah interpretasi informasi. 3) Intervensi : a) Kaji tingkat kemampuan klien dan keluarga tentang penyakitnya.Rasional : mempertahankan kekuatan dan ketahanann otot. tidak lembab dan tidak kotor c) Tanda-tanda vital dalam batas normal atau dapat ditoleran. Rasional : menambah pengetahuan dan pembelajaran bagi pasien tentang perawatan luka. e) Kolaborasi dengan ahli terapi Rasional : sebagai suatu sumber untuk mengembangkan perencanaan dan mempertahankan mobilitas pasien. reflex tendon dalam dan kemampuan untuk berbicara. Rasional : tanda perkiraan infeksi e. spasme tonik otot rahang dan difagia menunjukkan terjadinya tetanus. demam dan nyeri. b) Lakukan perawatan luka dengan teknik aseptic Rasional : mencegah kontaminasi silang c) Lakukan perawatan terhadap prosedur invasif seperti infuse. Resiko infeksi berhubungan dengan tidak adekuatnya pertahanan perifer. f) Observasi luka untuk pembentukan krepitasi dan perubahan warna kulit. Rasional : kekauan otot. Rasional : untuk mengurangi resiko infeksi nasokomial. 1) Tujuan Resiko infeksi tidak menjadi actual 2) Kriteria hasil a) Tidak ada tanda-tanda infeksi seperti pus. c) Anjurkan klien dan keluarga untuk memperhatikan diet makanannya. prosedur invasif dan kerusakan kulit. b) Berikan penjelasan pada pada pasien tentang penyakitnya dan kondisinya sekarang Rasional : dengan mengetahui penyakitnya dan kondisinya sekarang klien dan keluarganya merasa tenang dan mengurangi rasa cemas. 2) Kriteria hasil : a) Melakukan prosedur yang dilakukan dan menjelaskan alasan dari suatu tindakan. Kurang pengetahuan tentang kondisi. perubahan sirkulasi. bengkak. kemerahan. d) Berikan penjelasan pada pasien tentang perawatan luka Rasional : menambah pengetahuan dan pembelajaran pasien tentang perawatan luka. Rasional : mengetahui seberapa jauh pengalaman dan pengetahuan klien dan keluarga tentang penyakitnya. Rasional : diet dan pola makan yang tepat membantu proses penyembuhan. 1) Tujuan : Pasien mengutarakan pemahaman tentang kondisi. kateter dan drainase luka. efek prosedur dan proses pengobatan.

sensasi normal. Rasional : meningkatkan stabilitas. d) Tugaskan petugas yang cukup untuk membalik pasien hindari penggunaan papan abduksi untuk membalik pasien dengan gips. Seiring dengan berkurangnya edema. e) Evaluasi pembebat ekstermitas terhadap resolusi edema. menurunkan kemungkinan gangguan posisi. b) Letakkan papan di bawah tempat tidur atau tempatkan pasien pada tempat tidur ortopedik. i) Kolaborasi untuk kaji ulang foto/evaluasi Rasional : memberikan bukti visual mulainya pembentukan kalus/proses penyembuhan untuk menentukan tingkat aktivitas dan kebutuhan perubahan/tambahan terapi. g) Yakinkan bahwa semua klem berfungsi. Rasional : pembebat koaptasi (contoh jepitan jones sugar) mungkin diberikan untuk memberikan imobilisasi fraktur dimana pembengkakan jaringan berlebihan. edema berlebihan dan pembentukan thrombus. sensasi biasa. Traksi tulang memungkinkan penggunaan berat lebih besar untuk pemeriksaan traksi daripada digunakan untuk jaringan kulit. tanda-tanda vital stabildan haluaran urin adekuat untuk situasi individu. 1) Tujuan : Resiko tinggi terhadap neurovaskuler tidak menjadi actual 2) Kriteria hasil : Mempertahankan perfusi jaringan di buktikan oleh terabanya nadi. b) Evaluasi adanya/kualitas nadi periver distal terhadap cedera melalui palpasi. kulit hangat/kering. cedera vaskuler langsung. penilaian kembali pembebat atau penggunaan gips plaster mungkin diperlukan untuk mempertahankan kesejajaran fraktur f) Pertahankan posisi atau integritas traksi Rasional : traksi memungkinkan tarikan pada aksis panjang fraktur tulang dan mengatasi tegangan otot/pemendekan untuk memudahkan posisi/penyatuan. Rasional : tempat tidur lembut atau lentur dapat membuat deformasi gips yang masih basah. Minyaki control dan periksa tali terhadap tegangan. Rasional : mempertahankan integritas tarikan traksi. h) Kaji ulang tahanan yang mungkin timbul karena terapi. pertahankan tahanan posisi netral pada bagian yang sakit dengan bantal pasir.Resiko tinggi trauma tidak menjadi actual 2) Kriteria hasil : a) Mempertahankan stabilisasi dari posisi fraktur b) Menunjukkan mekanika tubuh yang meningkatkan stabilisasi pada farktur c) Menunjukkan pembentukan kalus mulai penyatuan fraktur dengan tepat 3) Intervensi a) Pertahankan tirah baring /ekstermitas sesuai indikasi. . Rasional : gips panggul atau multiple dapat membuat berat dan tidak praktis secara ekstrem. pembebat. g. 3) Intervensi a) Lepaskan perhiasaan dari ekstremitass yang sakit Rasional : dapat membendung sirkulasi bila terjadi edema. Amankan dan tutup ikatan dengan plester perekat. Bandingkan dengan ekstremitas yang sakit. c) Sokong fraktur dengan bantal/gulungan selimut. Rasional : yakinkan bahwa susunan traksi berfungsi dengan tepat untuk menghindari interupsi penyambungan traksi. Resiko tinggi terhadap neurovaskuler perifer berhubungan dengan peniruan aliran darah. Kegagalan untuk menyokong ektremitas yang di gips dapat menyebabkan gips patah. gulungan trokanter dan papan kaki Rasional : mencegah gerakan yang tak perlu dan perubahan posisi. Posisi yang tepat dari bantal juga dapat mencegah tekanan deformitas pada gips yang kering.

peningkatan/penyebaran nyeri terjadi bila sirkulasi pada syaraf tidak adekuat/syaraf rusak. stupor dan kacau. Rasional : ketidakadekuatan volume sirkulasi akan mempengaruhi system perfusi jaringan j) Kolaborasi berikan kompres es di sekitar fraktur sesuai indikasi Rasional : menurunkan edema/pembentukan hematoma. 2) Kriteria hasil : Mempertahankan pernafasan adekuat. . Minta pasien untuk melokalisasi nyeri/ketidaknyaman. e. Atasi jaringan cedera/tulang dengan lembut. dispnea dan perubahan dan mungkin hanya indicator terjadinya emboli paru pada tahap awal. Awasi frekuensi pernafasan dan upanya. warna kulit dan pada fraktur Rasional : kembalinya warna harus cepat (3-5 detik). yang dapat mengganggu sirkulasi h. d) Lakukan pengkajian neuromuskuler. Perhatikan stridor dan penggunaan otot bantu serta terjadinya sianosis sentral. dengan akibat hilangnya aliran darah kedistal. menimbulkan kerusakan atau nekrotik g) Pertahankan peningkatkan ekstremitas yang cedera kecuali di kontraidikasikan dengan menyakinkan adanya sindrom kompartemen Rasional : meningkatkan drainese vena/menurunkan edema h) Selidiki tanda iskemia ekstremitas tiba-tiba Rasional : dislokasi fraktur sendi (terutama lutut) dapat merusak arteri yang berdekatan. kesemutan. Rasional : factor ini di sebabkan atau mengindikasikan tekanan jaringan atau iskemia. Auskultrasi bunyi nafas perhatikan terjadinya ketidaksamaan. perubahan mental. Rasional : perubahan dalam bunyi advestisius menunjukkan terjadinya komplikasi pernafasan. Sedikit keluhan ³rasa terbakar´ dibawah gips. Instruksikan dan bantu dalam latihan nafas dalam dan batuk.Rasional : penurunan/tak adanya nadi dapat menggambarkan cedera vaskulerdan perlunya evaluasi medic segera terhadap status sirkulasi. kulit dingin. khususnya dalam beberapa hari pertama. perhatikan adanya perubahan fungsi motor/sensori. dan kaji kemampuan untuk dorsofleksi ibu jari bila diindikasikan. Rasional : panjang dan posisi syaraf perineal meningkatkan resiko cedera pada fraktur kaki. frekuensi pernafasan dan GDA dalam batas normal 3) Intervensi a. b. Rasional : takipnea. e) Tes sensasi syaraf perifer dengan menusuk pada kedua selaput antara ibu jari pertama dan kedua. c. perhatikan tanda-tanda pucat/sianosis umum. Rasional : gangguan perasaan kebas. Perhatikan peningkatan kegelisahan. i) Awasi tanda-tanda vital. c) Kaji aliran kapiler. letargi. dibuktikan oleh tidak adanya dispnea/sianosis. warna kulit putih menunjukkan gangguan arterial sianosis diduga ada gangguan vena. reposisi dengan sering. Masih adanya tanda/gejala menunjukkan distress pernafasan luas/cenderung kegagalan. Rasional : ini dapat mencegah terjadinya emboli lemak yang erat berhubungan dengan fraktur d. Rasional : meningkatkan drainase secret dan menurunkan kongesti pada paru. edema atau sindrom kompartemen atau malposisi alat traksi f) Kaji jaringan sekitar akhir gips untuk titik yang kasar atau tertekan. Resiko tinggi terhadap kerusakan pertukaran gas berhubungan dengan perubahan aliran darah emboli lemak 1) Tujuan : Tidak terjadi/menjadi actual terhadap kerusakan pertukaran gas.

Menghilangkan nyeri b. Tujuan tercapai sebagian. apabila pasien tidak menunjukkan kemajuan sama sekali bahkan timbul masalah baru. Penatalaksanaan/Implementasi Pelaksanaan adalah pelaksanaan tindakan yang harus di laksanakan berdasarkan diagnosis perawat. f. Mempertahankan integritas kulit c. Komplikasi di cegah atau diminimalkan . Tujuan tidak tercapai. c. Menghilangkan infeksi karena potensial atau gangguan actual e. apabila pasien telah menunjukkan perbaikan atau kemajuan sesuai criteria yang telah ditetapkan. Implementasi yang muncul pada pasien fraktur menurut Doenges et al (1999) meliputi : a. Mempertahankan fungsi neurovaskuler perifer h. apabila tujuan ini tidak tercapai secara maksimal. Pasien menghadapi situasi yang ada secara realities b. meluas pada abdomen/tubuh dan mukosa mulut. sehingga perlu dicari penyebabnya dan cara mengatasinya. 2001) Terdapat dua macam evaluasi yaitu evaluasi formatif (proses) yang menyatakan evaluasi yang dilakukan pada saat memberikan intevensi dengan respon segera dan evaluasi sumatif (hasil) yang merupakan rekapitulasi dari hasil observasi dan analisis status pasien pada waktu tertentu (Hidayat. Menghilangkan kerusakan gas karena potensial atau actual 5. Evaluasi Evaluasi adalah tahapan akhir akhir dari proses keperawatan. Mempertahankan mobilitas fisik d. 4. evaluasi menyediakan nilai informasi mengenai pengaruh intervensi yang telah direncanakan dan merupakan perbandingan dari hasil yang diamati dengan kriteria hasil yang telah dibuat pada tahap perencanaan (Hidayat. Meningkatkan pengetahuan tentang prognosis dan pengobatan f. Dalam hal ini perawat adalah pelaksana asuhan keperawatan yaitu memberikan pelayanan keperawatan dengan tindakan keperawatan dengan menggunakan proses keperawatan (Zaidin. yang mencakup peningkatan kesehatan. pencegahan penyakit. 2001) Terdapat tiga kemungkinan hasil evaluasi (Zaidin. Menghilangkan trauma karena potensial atau gangguan actual g. Pelaksanaan tindakan keperawatan dapat dilaksanakan oleh sebagian perawat. h. Tujuan tercapai. pemulihan kesehatan dan memfasilitasi koping. Evaluasi keperawatan untuk pasien fraktur merujuk pada evaluasi secara umum menurut Doenges et al (1999) meliputi : a. 2001) Tujuan dari pelaksanan membantu pasien dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Kolaborasi bantu dalam spirometri insertif Rasional : memaksimalkan ventilasi/oksigen dan meminimalkan atelektasis. Inspeksi kulit untuk adanya petekie diatas garis putting pada aksila. Observasi sputum untuk tanda adanya darah Rasional : hemodialisa dapat terjadi dengan emboli paru g. Rasional : ini adalah karakteristik paling sering dari tanda emboli lemak yang tampak dalm 23 hari setelah cedera. Cedera dicegah c. perawat secara mandiri atau bekerja sama dengan dengan tim kesehatan luar.Rasional : gangguan pertukaran gas/ adanya emboli pada paru dapat menyebabkan penyimpangan pada tingkat kesadaran pasien seperti terjadinya hipoksemia/asidosis. b. 2001) : a.

Proses penyakit atau prosedur pembedahan. prognosis dan regimen terapeutik dipahami.html .com/2010/08/asuhan-keperawatan-fraktur-femur.blogspot. http://fakhrudin87.d. Rasa sakit dihilangkan atau dikontrol e. Luka sembuh atau fungsi organ berkembang kea rah normal f.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful