You are on page 1of 3

Antara Islam dengan Kufur

Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit,pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat. Dan perumpamaan kalimat yang buruk seperti pohon yang buruk, yang telah dicabut dengan akar-akarnya dari permukaan bumi; tidak dapat tetap (tegak) sedikit pun. (TQS Ibrahim [14]: 24-25). Sebagai agama dan ideologi yang diturunkan Allah Swt, kebenaran Islam tak terbantahkan. Demikian pula keadilan, kebaikan, dan keunggulan seluruh ajarannya, aqidah maupun syariahnya. Realita ini tentu berkebalikan dengan seluruh agama, ideologi, dan pemikiran lainnya yang kufur. Semuanya batil dan tidak dibangun di atas dasar argumentasi yang kuat. Semuanya melahirkan kerusakan dan mengantarkan manusia kepada kesengsaraan. Ayat-ayat ini memberikan penjelasan kepada kita untuk lebih memahami perbandingan antara Islam dengan Laksana Pohon yang Baik Allah Swt berfirman: Alam tara kayfa dharabal-Lâh matsal[an] thayyibat[an] kasyajarat[in] thayyibat[in] (tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik). Seruang ayat ini ditujukan kepada Rasulullah saw. Dijelaskan Ibnu Jarir al-Thabari bahwa ayat ini mengingatkan Nabi-Nya saw: Tidakkah engkaulah lihat dengan mata hatimu, wahai Muhammad, sehingga engkau mengetahui bagaimana Allah telah memberikan permisalan dan penyerupaan. Menurut al-Syaukani, bisa juga seruan tersebut kepada semua orang yang cocok dengan seruan ini. Diberitakan dalam ayat ini bahwa Allah Swt telah memberikan matsal[an] (perumpamaan). Kata almatsal berarti perkataan yang mencakup seluruh penyerupaan sesuatu dengan sesuatu yang lain. Demikian al-Baghawi dalam kitab tafsirnya, Ma¶âlim al-Tanzîl. Perkara yang diberikan perumpamaannya adalah kalimah thayyibah. Menurut Ibnu µAbbas, maksud dari kalimah thayyibah adalah kalimat lâ ilâha illâl-Lâh. Penafsiran yang sama juga dikemukakan alBaghawi. Al-jazairi menafsirkannya kalimat lâ ilâha illâl-LâhMuhammad Rasûlul-Lâh. Tak jauh berbeda, Mujahid dan ibnu Juraij pun menafsirkannya sebagai keimanan. Al-Qasimi lebh luas. Menurutnya, perumpamaan tersebut menunjuk kepada Islam, agama yang dibawa khatâm alanbinyâ`. Islam tersebut diumpamakan seperti syajarah thayyibah (pohon yang baik). Menurut beberapa mufassir, Ibnu Jarir al-Thabari, al-Baghawi, al-Jazairi, dan lain-lain, yang dimaksud dengan pohon yang baik di sini adalah al-nakhlah (kurma). Ada pula yang menyatakan bahwa pohon tersebut berada di surga. Sedangkan Fakhruddin al-Razi lebih memilih untuk menganilis sifat-sifat dari syajarah thayyibah tersebut. Tampaknya, pandangan lebih dapat diterima. Bahwa pohon tersebut memiliki sifat thayyibah. Kata ini mengandung banyak perkara, yakni: bagus bentuk dan susunannya, harum baunya, lezat rasa buah yang dihasilkannya, dan banyaknya manfaat yang dikandungnya. Semua fakta tersebut tercakup dalam kata thayyibah. Di samping itu juga: Ashluhâ tsâbit[un] (akarnya teguh). Akar merupakan bagian pohon terpenting dan paling menentukan bagi sebuah pohon. Sebuah pohon bisa berdiri kokoh manakala akarnya kuat menghunjam ke tanah. Sebuah pohon juga bisa tumbuh subur ketika akarnya sehat. Sebab, akar adalah bagian pohon yang berfungsi untuk menyerap air dan sari-sari makanan dan mengantarkannya ke seluruh bagian batang, ranting, daun, dan buahnya. Inilah sifat pohon baik yang digambarkan ayat ini: ashluhâ tsâbit. Artinya,râsikh âmin min al-inqilⶠ(kokoh dan aman dari

Sifat pohon yang buruk tersebut digambarkan dalam frasa berikutnya: [i]jtutsat min fawq al-ardh (yang telah dicabut dengan akar-akarnya dari permukaan bumi). Demikian penjelasan al-Baghawi. Hakikat al-ijtitsâts adalah akhdz al-jutstsah kullihâ (tercerabut seluruh batangnya). sebagaimana dikemukakan Abdurrahman al-Sa¶di. peringatan. Aqidah yang menjadi akarnya dibangun atas dasar dalil yang kuat dan kokoh sehingga tidak terbantahkan. Wahbah al-Zuhaili mengatakan. yang semuanya benar. Itu artinya. maka pohon . Mengingat akar merupakan bagian paling penting bagi pohon. Dan di sini ada pemalingan pandangan yang mengajak manusia untuk mencermati. Dijelaskan al-Qasimi bahwa keberadaan cabangnya yang menjulang tinggi ke langit menunjukkan kesempurnaan pohon tersebut dari aspek ketinggian batangnya dan kekuatannya dalam menjulang. Termasuk dalam cakupan kalimat tersebut adalah semua agama. dan memahami maksud dari agungnya perumpamaan ini. Kemudian ditegaskan dalam frasa: mâ lahâ min qarâr (tidak dapat tetap [tegak] sedikit pun). maka ketika tercerabut. Inilah gambaran Islam. Dikatakan al-Zuhaili bahwa realitas tersebut sebagaimana syirik kepada Allah. pohon tersebut menghasilkan buah setiap saat. Menurut beberapa mufassir. Syajarah khabîtsahtersebut disebutkan [i]jtutsat min fawq al-ardh. menghilangkan kesamaran dan keraguan sebagaimana perkara yang teraba. pohon itu juga: wa far¶uhâ fî al-samâi (dan cabangnya [menjulang] ke langit). nasihat. secara bahasa berarti al-waqt (waktu). Sedangkan hîn. Demikian al-Syaukani dalam tafsirnya. Pengertian [i]jtutsat adalah [u]stu`shilat(tercerabut akarnya). Ataukalimat al-kufr beserta cabangcabangnya. Mengomentari frasa ini. ideologi. Pasalnya. Demikian al-Razi dalam tafsirnya. Ada juga yang menafsirkannya dengan pohon al-syawk (pohon berduri). kapan pun dibutuhkan. keteguhan. rasanya. sebagaiamana dijelaskan alBaghawi dan al-Zuhaili adalah al-syirk (kemusyrikan). merenungkan. sebagaimana disebutkan ayat ini. Sifat lainnya adalah: Tu`ti ukulahâ kulla hîn bi idzni Rabbihâ (pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya). Sifat ini kebalikan dari syajarah thayyibah yang akarnya menghunjam ke dalam tanah. penyerupaan makna yang sifatnya akliyyah dengan menggunanakan perkara yang terindera dapat mengokohkan makna. Bukan hanya akarnya yang kokoh. daun. Yang penting. Dari aqidah itu pula terpancar syariah yang menjadi cabang. penafsiran tersebut tidak perlu terlalu dipersoalkan. pohon tersebut adalah al-hanthal (sejenis labu. Pengertian ukulaha adalahtsamrataha (buahnya). yakni tidak ada hujjah. maka pengertian kalimah khabîtsah. namun pahit rasanya). bentuknya. Buruk dari sisi baunya. Jika kalimah thayyibahadalah kalimat tauhid. iman. dan kekuatan. dan menggambarkan berbagai makna. dan pemikiran kufur dan sesat. Menurut Fakhruddin al-Razi dalam Mafâtîh al-Ghayb. Semua ide tersebut dalam cakupan kalimah khabîtsah tersebut diserupakan dengansyajarah khabîtsah (pohon yang buruk). atau aqidah Islam. Karena sesungguhnya dalam perumpamaan lebih dapat menambah pemahaman. sekalipun tidak ada faktanya. Syariah tersebut memberikan jawaban dan penjelasan atas seluruh pertanyaan dan permasalahan yang dialami manusia. adil. pohon tersebut khabîtsah(buruk). atau bahkan bahayanya yang banyak. dan buahnya. ³Demikianlah Allah Swt memberikan perumpamaan bagi manusia. yang membuktikan kokohnya akar dan kokohnya pangkalnya. dan mengantarkan manusia kepada kebahagiaan dan kesejahteraan. Pohon tersebut memiliki semua sifat tersebut.´ Laksana Pohon yang Buruk Allah Swt berfirman: Wa matasl kalimat[in] khabîtsat[in] ka syajarat[in] khabîtsat[in] (dan perumpamaan kalimat yang buruk seperti pohon yang buruk).tercerabut) lantaran kokohnya akar pohon tersebut menghunjam dalam tanah. Kemudian ditegaskan: Wa yadhribul-Lâh al-amtsâl li al-nâs la¶allahum yatadzakkarûn(Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat).

ideologi. M. Tidak dibangun atas dasar bangunan yang kokoh dan melahirkan bahaya bagi manusia .(Ustadz Rokhmat S. Akidah yang menjadi akarnya kokoh. dan pemikiran. Perumpamaan tersebut benar-benar sesuai dengan fakta al-kalimah al-khabîtsah. Orang yang berakal.) Ikhtisar: 1. dan pemikiran kufur. Wal-Lâh a¶lam bi al-shawâb. ideologi. Labib. tidak dapat tetap [tegak] sedikit pun). sedangkan syariah yang menjadi batang. meskipun dikemas dengan propganda yang mempesona. cabang. Inilah perumpamaan yang sempurna menggambarkan perbandingan antara Islam dengan seluruh agama.E. Reaitas banyaknya bahaya digambarkan dengan kata khabîtsah. Kekufuran laksana pohon yang buruk. kalimat ini seolah sebagai penyempurna terhadap sifat yang disebutkan sebelumnya. dan buahnya memberikan jawaban sempurna atas seluruh problema manusia 2. Bahwa pohon tersebut mengandung bahaya yang amat banyak dan kosong dari segela manfaat.itu pun lemah dan rapuh.I. Bahwa pohon tersebut tidak memiliki kekuatan yang kukuh. Islam laksana pohon yang baik. tentu tak akan tertarik dengan agama. Menurut al-Razi. Sedangkan kosong dari segala manfaat digambarkan dengan kalimat: [i]jtutsat min fawq al-ardh mâ lahâ min qarâr(yang telah dicabut dengan akar-akarnya dari permukaan bumi.