Agama Islam

Agama itu suatu agama Wahyu (Revealed Religion) yang disampaikan oleh Nabi Muhammad (570-632 M) di semenanjung Arabia pada awal abad ke-7 Masehi, di da1am masa duapuluh tiga tahun (610-632 M). Islam itu bermakna : penyerahan diri. Dimaksudkan ialah penyerahan diri sepenuhnya kepada Allah Maha Esa di dalam tata kehidupan. Hal itulah yang dimaksudkan oleh firman Allah di dalam Surah Zariyat, 51: 56 berbunyi : "Aku tidak menciptakan Jinn dan Manusia itu kecuali untuk menyembah kepada-Ku" Nama bagi agama itu diambil dari firman Allah di dalam Surah Al-Maidah, 5 :3 berbunyi : "Pada hari ini telah Aku sempurnakan untukmu agama kamu, dan telah Aku cukupkan atasmu nikmat-Ku, dan Aku telah rela Islam itu agama bagi kamu." 0leh karena setiap agama Wahyu itu, sejak dari masa Nabi Adam sampai kepada masa Nabi Isa bersipat penyerahan diri kepada Allah Maha Esa, maka itulah semuanya itu dinyatakan : agama Islam. Kitab Suci Al-Qur'an Kitab suci di da1am agama Islam itu dipanggilkan di dalam Surah Al-Isra', 17:9 beserta berbagai Surah lainnya dengan Al-Qur'an. Secara harfiah bermakna : Bacaan. Panggilan itu lebih umum dikenal dah digunakan daripada berbagai panggilan lainnya, yaitu : Al-Kitâb (Baqarah, 2:2), Al-Furqân (Furqan, 1: 1 ), Al-Zikru (Hijr, 15 :9) dan Al-Tanzîl (Syu'ara', 26: 192). Panggilan yang pertama itu, yakni Al-Qur'an (Bacaan), berdasarkan Wahyu yang paling pertama di terimakan Nabi Muhammad pada tahun 610 M di dalam kalwatnya pada puncak Jabal Nur (Bukit Terang), yang terletak lebih kurang 7 mil dari kota Mekkah, berbunyi : Bacalah ! dengan nama Tuhanmu yang rnenciptakan. Menciptakan manusia dari gumpalan darah. Bacalah ! dan Tuhanmu itu maha mulia. Mengajarkan dengan pena, mengajarkan yang manusia belum mengetahuinva. Wahyu yang paling pertama itu termuat dewasa ini di dalam Surah Al-'Alaq, 96: 1-5. Kitab Suci Al-Qur'an itu terbagi kepada 114 buah Sûrah. Setiap Surah terdiri atas himpunan Ayat. Satu persatu Surah itu berbeda jumlah Ayat di dalamnya. Surah yang terpanjang sekali terdiri atas 286 ayat, yaitu Sûrah AlBaqarah. 2: 1-286. Surah yang terpendek sekali terdiri atas 3 ayat saja, yaitu Surah Al-Kawtsar.108: 1-3. Surah yang 114 buah itu terbagi kepada : Makkiyah, himpunan Ayat yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad selama berdakwah di kota Mekkah dalam masa tigabelas tahun (610-622 M). Titikberat

kandungan isinya menanamkan Aqidah, yakni menanamkan dan mempertahankan pokok-pokok Keyakinan di dalam agama Islam. Madaniyah, himpunan Ayat yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad selama memegang pimpinan keagamaan dan kemasyarakatan di kota Madinah di dalam masa sepuluh tahun (622 -632 M). Titikberat kandungan isinya menetapkan Syariat, yaitu himpunan Hukum tentang tata-Bakti dan tata-Hidup. Keseluruhan isi kitab suci Al-Qur'an itu terdiri atas 6666 buah Ayat. Kecuali ayat-ayat mengandung 'Aqidah dan Syariat maka juga berisikan ajaran Nilai-Nilai untuk menjadi pegangan hidup beserta ragam kisah guna tamsil-ibarat. Penaskahan kitab suci Al-Qur'an Nabi Muhammad itu selma berada di Mekkah maupun di- Madinah mempunyai jurutulis (Al-Kuttab) yang bersipat sukarela untuk mencatat setiap Ayat yang diwahyukan kepadanya sesewaktu. Kitab suci Al-Qur'an itu bukan diwahyukan sekaligus secara lengkap tetapi bersipat sesewaktu dalam masa dua puluh tiga tahun menuruti perkembangan keadaan dari waktu ke waktu. Sejarah mencatat nama sekalian jurutulis tersebut sebagai berikut : Abubakar AlShiddiq, Umar ibn Khattab, Utsman ibn Affan, Ali ibn Abitha1ib, Zubair ibn Awwam, Zaid ibn Tsabit, Maawiyah ibn Abi-Soufyan, Ubayya ibn Ka'ab, Muhammad ibn Musallamah, Arqam ibn Abi-Arqam, Ibban ibn Said ibn Ash, Khalid ibn Said ibn Ash, Tsabit ibn Kais, Hanzalahi ibn Rabiah, Khalid ibn Walid, Abdullah ibn Arqam, Allak ibn Otbah, Mughairah ibn Sya'abah, dan Syarhabil ibn Hassanah. Penulisan ayat-ayat tersebut dilakukan di atas pelepah- pelepah tamar yang diraut tipis menurut ukuran-ukuran tertentu dan tersusun oleh benang, dan sebagiannya di atas parkamen, dan diatas papirus yang dimasukkan dari Masir. Semuanya itu tersimpan dengan baik. Sewaktu Nabi Muhammad wafat pada tahun 11 H/632 M maka kumpulan catatan itu tersimpan di tangan janda Nabi Muhammad, Hafshah binti Khattab. Sekalipun sudah ada pencatatan serupa itu akan tetapi para Sahabat Nabi (Al-Shahabi) seumumnya, baikpun dari kalangan Muhajirin maupun dari kalangan Anshar, menghafalkan setiap Ayat itu di luar kepala. Mereka itulah yang dipanggilkan dengan Al-Huffadh), yakni pihak yang hafa1 kitab suci Al-Qur'an. Kumpulan catatan itu tetap tersimpan selama masa pemerintahan Khalifah Abubakar (632-6.44 M) yang dua tahun lamanya, dan juga dalam masa pemerintahan Khalifah Umar ibn Khattab (634-644 M) yang sepuluh tahun lamanya. Dalam masa 12 tahun itu wilayah kekuasaan Islam telah meluas ke luar Arabia, menguasai wilayah imperium Parsi dan berbagai wilayah dari imperium Roma Timur. Tokoh-tokoh terkemuka dari kalangan Al-Muhajirin maupun dari kalangan AlAnshat: banyak tewas dan gugur dalam berbagai medan pertempuran. Jumlah para Sahabat Nabi yang terpandang Al-Huffadz itu makin bertambah kecil. Dikuatirkan kalangan Al-Huffadz itu, yakni pihak yang hafal kitab suci Al-Qur'an, akan makin menciut di ibukota Madinah karena sudah terpencar pada berbagai wilayah yang demikian luasnya.

Oleh karena itulah Khalifah Utsman ibn Affan (644-656 M) pada masa pemerintahannya membentuk sebuah lembaga dibawah pimpinan Zaid bin Tsabit untuk melakukan penaskahan kitab suci Al-Qur'an dari kumpulan catatan yang tersimpan di tangan janda Nabi Muhammad, yakni Hafshah binti Khattab. Kepada setiap Al-Wali (Gubernur) pada setiap wilayah Islam dewasa itu, yang telah terbagi kepada sekian banyak perwalian, dikirimkan sebuah naskah-resmi dari kitab suci Al-Qur'an itu, yang dibubuhi capresmi dari Khalifah Utsman ibn Affan. Itulah yang dikenal sampai kepada masa sekarang ini dengan Mashaf-Utsman. Beberapa naskah diantaranya masih tersimpan dengan baik dewasa ini pada berbagai museum di dunia, dan sebuah diantaranya pada Museum Tashkent di Soviet Uni. Sebuah naskah lain diantaranya dihadiahkan oleh Sulthan Turki kepada Kaisar Wilhelm II (1888--1918) dari Jerman, sebagai naskah-antik yang tiada ternilai harganya. Oleh karena Jerman itu kalah dalam Perang Dunia Pertama (1914-1918) dan terikat Perjanjian Versailles ( 1919) yang terkenal itu maka fasal 246 berbunyi; "Within six months from the coming into force of the present Treaty, Germany will restore to His Majesty the King of the Hedjaz the original Koran of the Caliph Othman, which was removed from Medina by the Turkiah authorities and is stated to have been presented to the ex-Emperor William II", bermakna, "Di dalam tempo enam bulan sesudah Perjanjian ini berlaku, Jerman akan mengembalikan Al-Qur'an yang asli dari Khalifah Utsman kepada Paduka Yang Mulia Raja Hejaz, yang tadinya diangkut dari Madinah oleh pejabat-pejabat Turki dan dinyatakan sudah dihadiahkan kepada bekas Kaisar Wilhem II." Dengan begitu, berbeda dengan kitab suci dari berbagai agama lainnya, agama Islam sampai kepada masa ini memiliki naskah-otentik dari kitab sucinya, yang berasal dari masa Nabi Muhammad. Dengan begitu, agak satu hurufpun, jangankan satu kalimat, tidak pernah mengalami-perubahan dalam masa yang demikian panjangnya. Kitab Al-Hadits A-Hadits itu suatu keterangan berisikan sabda Nabi ataupun perbuatan Nabi ataupun persetujuan diam-diam dari pihak Nabi atas sesuatu perbuatan dari kalangan Al Shahabi, yakni tidak ditegur. Dunia Islam sampai kepada masa sekarang ini mengenal Delapan himpunan Al-Hadits yang merupakan karya delapan Tokoh yang bergiat mengumpulkan dan menghimpun Al-Hadits itu dengan melawat berbagai wilayah Islam pada masa hidupnya. Mereka itu ialah: Al-Imam Malik ibn Anas (97-179 H/7l5-795 M). Muhammad Al-Bukhari (195-256 H/810-870 M). Muslim ibn Hujjaj (202-261 H/8l7-874 M). Abu Daud Al-Sijistani (202-275 H/8l7-888 M). Abu Isa Al-Turmudzi (209-279 H/824-892 M). Ibnu Majah Al-Kazwini (209-273 H/824-886 M). Ahmad Al-Nisayi (wafat 303 H/916 M). Ahmad Al-Baihaqi (wafat 384-H/994 M).

Masa hidup dari satu persatu tokoh itu memperlihatkan bahwa kegiatan pengumpulan dan penghimpunan Al-Hadits itu baulah berlangsung pada abad ke-2 Hijrah beserta abad-abad berikutnya, yakni bermula pada jarak masa yang demikian panjangnva sepeninggal Nabi Muhammad SAW. Setiap Al-Hadits itu punya Sanad. Pemberita terakhir, yang menyampaikan keterangannya kepada salah satu tokoh yang delapan itu, menyebutkan rangkaian nama yang menerimakan keterangan tentang Al-Hadits itu, berhulu pada salah seorang diantara Sahabat Nabi. Satu persatu tokoh yang delapan itu punya kriteria bagi penyaringan setiap Al-Hadits yang diterimakannya. Al-Bukhari dan Muslim punya kriteria yang sangat ketat. Tersebab itulah sesuatu "al-Hadits" yang dinyatakan "shahih" oleh kedua tokoh itu memoperoleh kedudukan yang sangat kuat, terbanding kepada "al-Hadits" dari tokohtokoh lainnya. Di dalam agama Islam, setiap himpunan Al-Hadits itu tidak termasuk kitab suci. Sekalipun begitu, setiap Al-Hadits yang terpandang "shahih" dan kandungan isinya tidak berlawanan dengan isi maupun semangat yang dikandung kitab suci Al-Qur'an, dapat dijadikan sumber Hukum. Sumber: Agama-agama Besar di Dunia

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful