You are on page 1of 22

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Beaumarchais adalah seorang penulis Prancis ternama yang banyak melahirkan berbagai karya pada abad ke-18. Pada awalnya ia menulis sebuah melodrama sentimental dan moral yang sama sekali tidak menunjukkan ciri khas komedi, aliran drama yang akan ia tulis di masa-masa selanjutnya dan membuatnya naik daun. Puncak karir Beaumarchais dicapai setelah ia menelurkan La Folle journée ou Le Mariage de Figaro (1784) dan mendapatkan sambutan yang luar biasa. Karya itu telah disensor sebanyak 6 kali dan mendapat perhatian langsung dari Louis XVI karena dinilai buruk dan tidak pantas dipentaskan. Pada tahun 1783, lakon Le Mariage de Figaro yang semula akan dipentaskan di istana Versailles dilarang untuk ditampilkan pada saat-saat akhir namun, larangan resmi itu justru mendorong kritikan yang dilancarkan oleh lakon Le Mariage de Figaro yang beraliran komedi. Karena pmentasan Le Mariage de Figaro dilarang, maka sebagai ganinya Le Mariage de Figaro akan dipentaskan di lingkungan rumah Monsieur de Vaudreuils. Beberapa waktu kemudian Le Mariage de Figaro ditampilkan kepada masyarakat umum dan menuai kesuksesan. Animo masyarakat pun sangat besar untuk menonton lakon Figaro, hal tersebut menjadi sebuah promosi luar biasa bagi Beaumarchais dan lakon Le Mariage de Figaro itu sendiri. Sebagai drama satir yang berisi kritik sosial, Le Mariage de Figaro lebih berhasil dipentaskan dibandingkan Le Barbier de Séville ou la Précaution inutil1. Tokoh utama dalam drama yang berprofesi sebagai pelayan le Comte berhasil mencuri perhatian masyarakat dengan kecerdasannya. Kritikan-kritikan yang disampaikan menjadi bersifat politik karena ditujukan kepada lembaga-lembaga resmi seperti sensor dan pengadilan. Ada pula menyangkut kebiasaan-kebiasaan yang berlaku di dunia politik waktu itu, seperti intrik, hakhak istimewa kaum bangsawan, dan kesewenang-wenangan. Dari semua karyanya, tokoh yang benar-benar menggambarkan dirinya adalah Figaro (dalam Le Mariage de Figaro). Di dalam cerita Figaro digambarkan sebagai seorang pemuda

1

Drama empat babak karya Beaumarchais yang ditulis pada tahun 1775. Merupakan drama pertama sebelum La Folle journée ou Le Mariage de Figaro dan L’Autre Trartuffe ou La mère coupable.

1

yang mencerminkan orang-orang golongan bawah yang pada masa itu menuntut keadilan sosial dan berkat kecerdikan dalam memainkan peranan dalam menentukan nasib bangsanya.

1.2 Rumusan Masalah Rumusan masalah dalam penulisan makalah ini adalah, “Bagaimana alur dan makna apa saja yang terdapat di dalam drama La Folle journée ou Le Mariage de Figaro?”

1.3 Tujuan Penelitan Penelitian ini dibuat untuk mengetahui alur dan makna di dalam lakon La Folle journée ou Le Mariage de Figaro karya Pierre de Beaumarchais.

1.4 Metode Penelitian Metode penelitian yang digunakan dalam penyususnan makalah ini adalah metode penelitian kepustakaan dengan sumber data sekunder. Ada pun sumber data sekunder yang digunakan adalah naskah drama La Folle journée ou Le Mariage de Figaro.

1.5 Kerangka Teori Teori Plot Cerita oleh Gustav Freytag Analisis plot cerita dalam makalah ini menggunakan teori segitiga Gustav Freytag. Teori Freytag alur berbentuk segitiga sama sisi dengan paparan, analisis gawatan dan penyelesaian serta klimaks pada puncak segitiga. Teori unsur paradigmatik oleh Roland Barthes Pembahasan makna dalam makalah ini menggunakan teori Roland Barthes (1996) mengenai unsur paradigmatik dalam sebuah narasi. Unsur-unsur paradigmatik bersifat menyebar dalam karya sastra dan pengaplikasiannya bersifat pilihan/tidak diharuskan. Unsur-unsur ini dibagi menjadi dua, yaitu indeks yang menerangkan tokoh, hubungannya dengan deskripsi fisik, kondisi psikologis, keadaan, dan interaksi antar-tokoh, dan
2

informan yang menjelaskan unsur yang berhubungan dengan latar ruang dan latar waktu. Penjelasan informan biasanya bersifat eksplisit. Teori Drama oleh Anne Uberfield Landasan teori ini dikutip dari teori drama dalam buku Lire Le Thêàtre karya Anne Ubersfeld untuk menganalisis tokoh dan penokohan, yaitu tokoh yang terdiri atas tokoh dengan himpunan ciri-ciri pembeda dan tokoh sebagai pengujar. Penokohan berdasarkan Ubersfeld dapat dibentuk dalam sebuah skema penokohan seperti berikut : Pengirim (D1) Subyek (S) Obyek (O) Penghambat (Op) Penghambat (Op) Penerima (D2)

3

BAB 2 ANALISIS ALUR DAN MAKNA DRAMA LE MARIAGE DE FIGARO KARYA BEAUMARCHAIS

2.1 Sinopsis Lakon ini berlatarkan hari pernikahan Figaro dan Suzanne. Le Comte adalah majikan Figaro yang menaruh hati pada Suzanne. Ia menggunakan hak-hak istimewanya sebagai seorang bangsawan; ia akan memberikan mahar kepada Figaro dan Suzanne asalkan Suzanne mau menuruti keinginannya. La Comtesse, Suzanne, dan Figaro tidak ada yang menyukai rencana itu. Mereka memutuskan untuk memberi pelajaran kepada le Compte. Figaro dibantu dua temannya, Chérubin dan Bazile, untuk menipu le Compte. Sementara la Comtesse dibantu oleh pelayan setianya, Suzanne. Di lain pihak ada Marceline yang ingin menikah dengan Figaro. Ia dibantu oleh Bartholo untuk menggagalkan pernikahan Figaro dan Suzanne. Belakangan diketahui bahwa Merceline adalah ibu Figaro sedangkan Bartholo adalah ayah Figaro. Pada babak terakhir, la Comtesse menyamar sebagai Suzanne untuk menemui le Comte. Le Comte yang tidak menyadari penyamaran tersebut mengutarakan isi hatinya kepada istrinya yang sedang menyamar. Begitu mengetahui istrinya menyamar sebagai Suzanne, le Comte sangat malu. Figaro dan Suzanne menikah setelah mengatasi kejadian yang penuh intrik pada hari itu. 2.1.1 Alur Alur dalam lakon Le Mariage de Figaro adalah alur maju. Semua kejadian dan perkataan di dalamnya memiliki kronologis waktu satu arah. Drama yang terdiri dari lima babak ini memiliki bagian pemaparan, gawatan, klimaks, dan leraian. Berikut adalah segitiga Freytag yang memilah-milah drama ini secara runtut.

4

Segitiga Freyitag

Exposition. Eksposisi atau pemaparan biasanya berada di awal cerita di mana semua tokoh diperkenalkan kepada para penonton. Tidak hanya tokoh yang diperkenalkan tetapi juga permasalahan yang dimilik para tokoh. Pada lakon Le Mariage de Figaro pemaparan cerita ada di babak pertama. Berikut ini adalah pemaparan permasalahan yang dihadapi oleh Figaro: 1. Keinginan le Comte menjadikan Suzanne sebagai gundiknya dengan memberikan mahar di hari pernikahan Suzanne dan Figaro. 2. Keinginan Marceline menikahi Figaro. 3. Kebencian Bartholo kepada Figaro. 4. Penolakan Bartolo untuk menikahi Marceline sehingga Marceline meminta Bartolo untuk menggagalkan pernikahan Figaro agar Figaro dapat menikah dengannya. Rising Action (Gawatan). Gawatan dalam sebuah darama terdiri dari berbagai peristiwa yang membangun cerita. Seiring berjalannya cerita peristiwa-peristiwa yang terjadi akan semakin rumit dan mempertajam konflik cerita tersebut. Dalam lakon ini yang menjadi gawatan adalah: 5. Ide Figaro membuat cemburu le Comte dengan mengirimkan surat kaleng bahwa ada yang ingin menemui istrinya dan berhasil. Le Comte berpikir istrinya berselingkuh dengan Chérubin. 6. Keinginan Bazile untuk menikahi Marceline, ditolak oleh Marceline karena ia ingin menikah dengan Figaro.
5

7. Ide Suzanne pada la Comtesse untuk menipu le Comte dengan bertukar peran dengan dirinya. 8. Persidangan kasus utang Figaro kepada Marceline. 9. Terungkapnya dokumen-dokumen palsu sehingga membuktikan Figaro tidak bersalah. 10. Terungkapnya fakta bahwa Figaro adalah anak dari Marceline dan Bartolo disertai kesalahpahaman Suzanne melihat kemesraan Figaro dan Marceline. 11. Kecemburuan le Comte terhadap Chérubin yang dia pikir telah mencium istrinya. 12. Pengingkaran janji Bartolo untuk menikahi Figaro apabila anak mereka ditemukan.
13. Pertemuan le Comte dengan Suzanne palsu yang ternyata adalah la Comtesse. 14. Penjelasan Marceline pada Suzanne bahwa ia adalah ibu Figaro, hal itu

menghilangkan kecemburuan di dalam diri Suzanne kepada calon suaminya. Climax (Klimaks). Klimaks dalam drama adalah puncak sebuah konflik. Setelah klimaks tidak ada lagi konflik yang muncul melainkan hanya peristiwa-peristiwa leraian yang menandakan semua konflik telah teratasi. Klimaks dalam Le Mariage de Figaro adalah: 15. Terungkapnya penyamaran la Comtesse sebagai Suzanne sekaligus terungkapnya seluruh keinginan le Comte terhadap Suzanne yang sebenarnya ia sampaikan kepada istrinya yang sedang menyamar. Denouement (Leraian). Leraian adalah sebuah tahap dalam drama yang terjadi setelah klimaks berlangsung. Di dalam leraian biasanya sifat atau cara pandang tokoh-tokoh sudah berubah dikarenakan kejadian yang terjadi pada klimaks. Yang termasuk leraian dalam drama ini adalah: 16. Rasa malu le Comte karena menyatakan perasaan pada Suzanne palsu. 17. Persetujuan le Comte akan pernikahan Figaro dan Suzanne karena rasa malunya. 18. Berlangsungnya pernikahan Figaro dan Suzanne. 2.2 Analisis Paradigmatik
6

2.2.1 Indeks Figaro. Figaro adalah tokoh yang berani melawan ketidakadilan yang ia rasakan atas perlakuan majikannya. Marceline menggambarkan Figaro sebagai orang yang menyenangkan, baik, mempesona, dan suka mencari kesenangan:
MARCELINE: Jamais fâché, [...] ; sémillant, généreux ! généreux… (I, 4) MARCELINE: le beau, le gai, l’aimable Figaro? (I, 4) MARCELINE: donnant le présent à la joie, et s’inquiétant de l’avenir tout aussi peu que du passé (I, 4)

Bagi Suzanne, Figaro adalah orang yang cerdik, berbahaya, tetapi menyenangkan.
SUZANNE: De l’intrigue et de l’argent, te voilà dans ta sphère. (I, 1)

Bagi Bartholo dan le Comte, Figaro adalah sosok yang tidak patuh, mengingat posisi Figaro lebih rendah daripada mereka berdua. Bartholo berpendapat bahwa Figaro adalah seseorang yang banyak bicara, sombong, dan kurang ajar.
BARTHOLO, en colère: Bavard enragé! Laissez-nous. (I, 3) BARTHOLO le regard aller: Ce drôle est toujour le même ! Et à moins qu’on ne l’écroche vif, je prédis qu’il mourra dans le peau plus fier insolent... (I, 4)

Le Comte beranggapan bahwa Figaro adalah pelayan yang licik dan hanya tertarik pada uang.
COMTE: Cent fois je t’ai vu marcher à la fortune, et jamais aller droit. (III, 5)

Selain itu sifat-sifat figaro terdapat padalm monolognya.
FIGARO: un jeune homme ardent au plaisir, ayant tous les goûts pour jouir, ... ambitieux par vanité, laborieux par nécessité, mais paresseux… avec délices ! orateur selon le danger ; poète par délassement ; musicien par occasion ; amoureux par folles bouffées (V, 3)

Le Comte Almaviva. Le Comte adalah tokoh paradoks yang dimunculkan dalam lakon ini. Sebagai seorang bangsawan, le Comte menggunakan kebebasan dan posisinya untuk memiliki gundik. Saat ia menerima surat kaleng yang berisi kabar

7

tentang istrinya yang menemui laki-laki lain selama kepergian le Comte ke London, ia menjadi sangat cemburu.
MARCELINE: il est jaloux et libertin. (I, 4) BARTHOLO: Libertin par ennui, jaloux par vanité ; cela va sans dire. (I, 4) FIGARO: vous êtes infidèle (III, 5)

Kecembuaruan le Comte adalah salah satu unsur penggerak cerita. Pada babak II adegan 2, Figaro sudah menyaipkan rencana untuk melawan le Comte hal tersebut menandakan adanya suatu konflik antara le Comte (majikan) dan Figaro (pelayan). La Comtesse. La Comtesse memiliki karakter yang berlawanan dengan suaminya. Menurut Chérubin, la Comtesse adalah wanita yang cantik.
CHÉRUBIN: elle est noble et belle ! mais qu’elle est imposante ! (I, 7)

La Comtesse sangat takut apabila suaminya tidak mencintainya lagi.
COMTESSE: Il ne m’aime plus du tout. (II, 1) COMTESSE: Je ne la suis plus, cette Rosine que vous avez tant poursuivie ! Je suis la pauvre comtesse Almaviva, la triste femme délaissée, que vous n’aimez plus. (II, 19)

La Comtesse tetap setia kepada suaminya menskipun suaminya berkhianat kepadanya dan meskipun ada laki-laki lain yang menyukainya. La Comtesse rela melakukan apa saja demi mendapatkan suaminya. Ia dibantu Figaro dan Suzanne menyusun rencana agar suaminya kembali padanya dan meminta maaf. La Comtesse adalah wanita yang senang dirayu dan ia akan senang apabila suaminya meminta maaf kepadanya. Hal tersebut dapat dilihat dari babak dua adegan sembilan belas dan babak lima adegan sembilan belas. Suzanne. Menurut Figaro yang sedang kasmaran dengan Suzanne, kekasihnya itu adalah seorang gadis yang mempesona, selalu tesenyum, menyenangkan, dan juga bijaksana. Hal itu diungkapkan Figaro dalam monolognya.
FIGARO: La charmante fille ! toujours riante, verdissante, pleine de gaieté, d’esprit, d’amour et de délices ! mais sage ! (I, 2) 8

Suzanne adalah seorang yang masih memegang erat tradisi dan norma moral dan sangat menghargai cinta dan pernikahan, ini terlihat ketika Figaro menginginkan sebuah ciuman darinya namun ia menolaknya.
FIGARO: Pour m’ouvrir l’esprit, donne un petit baiser. (I, 1) SUZANNE: Et quand dirait mon mari demain ? (I,1)

Ada tiga hal yang dijunjung tinggi Suzanne yaitu kehormatan, martabat dan cinta. Ketiga hal itu lah yang membuat Suzanne berbeda dengan pelayan lainnya dan membuat le Comte jatuh hati padanya. Marceline. Marceline adalah seorang pelayan rumah tangga yang jatuh cinta kepada Figaro. Ia merupakan saingan Suzanne dalam mendapatkan Figaro. Marceline juga merupakan orang kepercayaan le Comte. Pada akhir cerita dikethaui bahwa Marceline adalah ibu kandung Figaro dan Bartholo adalah ayah kandung Figaro. Marceline adalah seorang ibu yang sangat sayang kepada anaknya.
MARCELINE: Sois heureux pour toi ,mon fils ; gai, libre et bon pour tout le monde : il ne manquera rien à ta mère. (III, 17)

Setelah fakta bahwa Figaro adalah anaknya dengan Bartholo, Marceline berada di pihak Figaro dalam rencana menjebak le Comte. Marceline digambarkan sebagai seorang wanita yang mempunya karakter yang kuat. Ia berani untuk terlibat dalam melawan kekuataan seorang pria dan membantu hakhak para wanita yang tertindas. Bisa dikatakan, ia seorang feminis. 2.2.2 Hubungan Antar Tokoh • Skema Aktan 1

Destinateur: Kekuasaan sebagai bangsawan dan kebebasan Sujet: le Comte Objet: Suzanne Opposants: Figaro, la Comtesse, Suzanne

Destinataire: Memuaskan ego pribadi

9

Adjuvants: Bartholo

Skema Aktan 2
Destinateur: Cinta Sujet: Figaro Destinataire: Keinginan untuk menikah

Objet: Suzanne Opposants: Le Comte, Marceline, Bartholo Adjuvants: La Comtesse, Suzanne, Marceline (III, 16)

Skema Aktan 3
Destinataire: Pernikahan yang terancam Sujet: Marceline

Destinateur: Cinta

Objet: Figaro Opposants: La Comtesse, Suzanne, Figaro Adjuvants: Le Comte, Bartholo

a. Hubungan Oposisi • Le Comte - Figaro

Konflik antara le Comte dan Figaro muncul di babak pertama. Penyebab konflik adalah Suzanne yang akan menikah dengan Figaro tetapi juga disukai oleh le Comte. Daripada dikatakan sebagai konflik perasaan antara mereka bertiga, konflik ini lebih pantas dikatakan sebagai konflik antar kelas sosial, yaitu antara golongan penguasa (le Comte) dan golongan rakyat biasa (Figaro).
10

Selain isu tentang kelas sosial, konflik ini juga berkaitan dengan penyalahgunaan wewenang yang dimiliki penguasa (le Comte).
SUZANE: Apprends qu’il la destine à obtenir de moi secrètement, certain quart d’heure, seul à seule, qu’un ancien droit du seigneur… Tu sais s’il était triste ! (I, 1)

“Droit du seigneur” yang dikatakan oleh Suzanne sebenarnya adalah hak yang dimiliki oleh setiap bangsawan untuk tidur dengan wanita yang akan menikah di wilayah kekuasaannya. Dalam lakon ini “droit du seigneur” yang disebutkan Suzanne telah dihapus di cerita sebelumnya, Le Barbier de Séville. Figaro yang mengetahui le Comte menyukai tunangannya, berencana menjebak le Comte untuk membuat pengakuan bahwa “droit du seigneur” benar-benar sudah dihapuskan.
FIGARO: Monseigneur, vos vassaux, touchés de l’abolition d’un certain droit fâcheux, que votre amour pour madame… (I, 10) COMTE: Hé bien, ce droit n’existe plus. Que veux-tu dire ? (I, 10)

Meskipun sedang berkonflik dengan majikannya, Figaro tidak secara terangterangan menunjukkan perlawanannya. Hal ini ditunjukkan penggunaan sapaan hormat yang digunakan Figaro di hadapan majikannya dan jika majikannya tidak ada di dekatnya ia tetap akan menggunakan sebutan yang membesarkan majikannya namun disandingkan dengan kata negatif.
FIGARO: Votre Excellence (III, 5) FIGARO: Ce grand trompeur (I, 1) FIGARO: le perfide ! (V, 3)

Le Comte dan Figaro saling memanfaatkan. Misalnya ketika Figaro merasa bahwa dirinya dalam situasi yang tidak menguntungkan, ia telah mempengaruhi le Comte dengan menggunakan kata-katanya sehingga le

Comte kehabisan kata-kata. Le Comte pun melontarkan kata-kata yang mengakui kekalahannya dan keunggulan Figaro.
COMTE: Le maraud m'embarrassait ! En disputant, il prend son avantage, il vous serre, vous enveloppe... Ah ! 11

friponne et fripon ! vous vous entendez pour me jouer ? (III, 8) COMTE: J'ai voulu ruser avec eux, ils m'ont traité comme un enfant (V, 19)

Untuk dapat memiliki kebahagiaannya, Figaro menjadi lebih berani dalam menyidir majikannya.
FIGARO: Votre Excellence se permet de nous souffler toutes les jeunes ! (III,5)

Di akhir drama le Comte akhirnya menyetujui pernikahan Figaro dan Suzanne.
COMTE: Je sais qu’un grand seigneur s’en est occupé quelque temps, mais soit qu’il l’ait négligée ou que je lui plaise mieux qu’un plus aimable, elle me donne aujourd’hui la préférence. (V, 17) •

Suzanne - le Comte

Konflik antara Suzanne dan le Comte tidak hanya terlihat dari perbedaan status sosial tetapi lebih kepada konflik personal antara laki-laki dan perempuan. Suzanne adalah seorang wanita yang mempesona dan pesonanya itu membuat le Comte menginginkan dirinya lebih dari ia menginginkan wanita-wanita lain untuk menjadi gundiknya. Dengan segala pesona yang dimilikinya, Suzanne harus mempertahankan diri dari usaha-usaha le Comte untuk mendapatkannya. Keinginan-keinginan le Comte untuk mendapatkan Suzanne yang begitu mempesona dapat dilihat dari monolognya.
COMTE: Qui donc m’enchaîne à cette fantaisie ? j’ai voulu vingt fois y renoncer… Etrange effet de l’irrésolution ! si je la voulais sans débat, je la désirerais mille fois moins. (III, 4)

Suzanne juga merupakan seorang wanita yang berani melawan kehendak majikannya.
SUZANNE: Et n’est-ce pas mon devoir d’écouter Son Excellence ? (III, 9)

Suzanne adalah tunangan Figaro yang menjaga martabatnya dengan baik. Untuk menjalankan rencananya bersama la Comtesse untuk menjebak le Comte, ia pandai berpura-pura sehingga le Comte tidak menaruh curiga padanya.
12

COMTE: Pourquoi donc, cruelle fille, ne me l’avoir pas dit plus tôt ? (III, 9) SUZANNE: Est-il jamais trop tard pour dire la vérité ? (III, 9) COMTE: Tu te rendrais sur la brune au jardin ? (III, 9) SUZANNE: Est-ce que je ne m’y promène pas tous les soirs ? (III, 9)

Le Comte mengakui kecerdasan Suzanne atas semua jawaban yang ia berikan kepadaya.
SUZANNE: Mais aussi point de mariage, point de droit du seigneur, Monseigneur. (III, 9) COMTE: Où prend-elle ce qu’elle dit ? d’honneur j’en raffolerai ! (III, 9)

b. Hubungan Aliansi La Comtesse - Suzanne Di awal cerita sudah digambarkan hubungan yang terjalin antara Suzanne dan la Comtesse, hubungan mereka bukan hanya sekedar hubungan antara majikan dan pelayan tetapi ada unsure afeksi dalam hubungan tersebut. Suzanne ingin di hari pernikahannya kelak la Comtesse dating untuk memberikan dukungan dan nasihat kepadanya. Tokoh la Comtesse juga berperan sebagai sosok ibu bagi Suzanne. Afeksi lain yang ditunjukkan dalam hubungan antara Suzanne dan la Comtesse dapat dilihat dari panggilan saying la Comtesse kepada Suzanne, “Suzon”. La Comtesse juga tidak segan-segan untuk menceritakan keresahannya kepada Suzanne. Ia juga ingin membantu Suzanne supaya dapat menikah dengan Figaro.
COMTESSE: Il ne m’aime plus du tout. (II, 1)

Dalam hubungan antara Suzanne dan la Comtesse, kesenjangan antara majikan dan pelayan seaka-akan tidak ada. Hubungan mereka seperti sesama teman, saling mendukung dan menjadi tempat berkeluh kesah satu sama lain. Pada scène 20, l’acte II La Comtesse menyuruh suaminya untuk ikut merayakan pesta pernikahan Suzanne dengan Figaro.
13

COMTESSE: Allons Monsieur le Comte, ils brûlent de s'unir ; leur impatience est naturelle ; Entrons pour la cérémonie. (II, 20)

La Comtesse dan Suzanne merupakan gambaran keadaan masyarakat pada masa itu, yaitu dua orang wanita yang tidak mempunyai kekuasaan dibandingkan dengan pria. Wanita harus selalu menurut dan setia kepada seorang pria. Ini bisa dilihat dari sifat la Comtesse yang tetap setia dan mencintai suaminya walaupun le Comte mengejar wanita lain. Melalui karyanya ini Beaumarchais mengkritik ketidaksamaan derajat antara laki-laki dan perempuan. Laki-laki dapat melakukan apa saja yang mereka inginkan, sedangkan perempuan tidak mempunyai hak sama sekali. Contohnya ketika la Comtesse mendapatkan surat kaleng yang dituduhkan sebagai surat cinta dari Chérubin, ia langsung dianggap tidak setia dan sebagai hukumannya ia harus menetap di biara. 2.2.3 Informan a. Latar Ruang Chambre:

ne chambre à demi démeublée ; un grand fauteuil de malade

est au milieu.(I, didascalie)

ne chambre à coucher superbe, un grand lit en alcôve, une

estrade au-devant. La porte pour entrer s’ouvre et se ferme à la troisième coulisse à droite ; celle d’un cabinet, à la première coulisse à gauche. Une porte dans le fond va chez les femmes. Une fenêtre s’ouvre de l’autre côté. (II, didascalie) La sale dans le château:

une salle du château appelée salle du trône et servant de salle d’audience, ayant sur le côté une impériale en dais, et dessous, le portrait du Roi. (III, didascalie)

une galerie ornée de candélabres, de lustres allumés, de fleurs, de guirlandes, en un mot, préparée pour donner une fête. Sur le devant, à
14

droite, est une table avec une écritoire, un fauteuil derrière.(IV, didascalie) Ruang Publik:

une salle de marronniers, dans un parc ; deux pavillons, kiosques, ou temples de jardins, sont à droite et à gauche ; le fond est une clairière ornée, un siège de gazon sur le devant. (V, didascalie)

b. Latar Waktu Waktu Kejadian. Berdasarkan judul drama ini La Folle Journée ou Le Mariage de Figaro kita sudah dapat melihat bahwa waktu kejadian dalam drama terjadi dalam tempo satu hari.
BAZILE: et qui ce matin encore rôdait ici pour y entrer (I, 9) FIGARO: la cérémonie adoptée, ma fête de ce soir en est la suite (I, 11)

Waktu Pementasan. Drama ini pertama kali dipentaskan di Théâtre de l’Odéon pada 27 April 1784 setelah berpuluh-puluh dilarang akibat terkena sensor yang ketat oleh lembaga pemerintah. Waktu Referensial. Waktu yang menjadi acuan dalam drama ini adalah abad ke-18. 2.2.4 Tema Kritik Terhadap Masyarakat
a. Posisi Perempuan Pada Abad ke-18

Lakon Le Mariage de Figaro memberikan gambaran tentang kedudukan perempuan yang lebih rendah daripada laki-laki dan juga tidak adanya kesamaan hak antara kaum perempuan dan laki-laki. Hal itu tercermin ketika le Comte sedang bosan dengan istrinya dan menginginkan Suzanne untuk menjadi gundiknya tetapi ia cemburu kepada istrinya yang dikiranya memiliki hubungan spesial dengan Chérubin. Menurut le Comte seorang istri haruslah setia kepada suaminya walaupun suaminya memiliki gundik. Rasa cemburu le Comte meledak ketika ia menerima
15

surat kaleng yang memberitahunya bahwa selama kepergiannya, istrinya telah bermain serong. Ia menuduh istrinya tak setia dan ingin membuktikan hal tersebut.
COMTE: Il faut avouer, madame, que vous ou moi sommes entourés d’êtres… bien méchants ! On me donne avis que, dans la journée, quelqu’un que je crois absent doit chercher à vous entretenir. (II, 13)

Dan ketika Comtesse menyatakan bahwa Chérubin lah yang bersembunyi dalam kamar pakaiannya, Comte Almavia segera menuduh itrinya berbuat serong dan ingin membunuh Chérubin tanpa sedikit pun berkaca pada kelakuannya.
COMTE: Et vous vouliez garder votre chambre ! Indigne épouse ! ah ! vousl garderez… longtemps ; mais il faut avant que j’en chasse un insolent, de manière à ne plus le rencontrer nulle part. (II, 16) COMTE: Levez-vous. Ôtez-vous… Tu es bien audacieuse d’oser me parler pour un autre ! (II, 16)

Sebenarnya le Comte sendiri mengkhianati istrinya tetapi, menurutnya ia patut diampuni karena kesalahannya tidak seberapa. Sebaliknya, ia tidak mau memaafkan istrinya.
COMTESSE: Non, monsieur ; un pareil outrage ne se couvre point. Je vais me retirer aux Ursulines, et je vois trop qu’il en est temps. (II, 19)

Di adegan lain, kita juga dapat melihat bahwa nilai-nilai yang berlaku pada masa itu cenderung mengambinghitamkan kaum perempuan. Contoh lain adalah tokoh Marceline yang harus menanggung akibat dari hubungan gelapnya dengan Bartholo. Ia harus menebus kesalahannya seorang diri selama 30 tahun karena Bartholo tidak mau menikah dengannya, juga sesudah Figaro mengetahui bahwa Marceline adalah ibunya dan Bartholo adalah ayah kandungnya. Budaya melimpahkan kesalahan terhadap kaum perempuan memang berlaku pada masa itu dan menjadikan laki-laki sebagai individu yang tidak bertanggung jawab.
BARTHOLO: Des fautes déplorable ! (III, 18) si connues ! une jeunesse

MARCELINE: Oui, déplorable, et plus qu’on ne croit ! Je n’entends pas nier mes fautes ; ce jour les a trop bien prouvées ! mais qu’il est dur de les expier après trente ans d’une vie modeste ! J’étais née, moi, pour être sage, et je la suis devenue sitôt qu’on m’a permis d’user de ma raison. Mais dans 16

l’âge des illusions, de l’inexpérience et des besoins, où les séducteurs nous assiègent pendant que la misère nous poignarde, que peut opposer une enfant à tant d’ennemis rassemblés ? Tel nous juge ici sévèrement, qui, peut-être, en sa vie a perdu dix infortunées ! (III, 18)

Perubahan subyek “je” menjadi “nous” menunjukkan bahwa hal yang dialami Marceline bukan keluhan pribadinya tentang hukuman sosial yang ia terima selama tiga puluh tahun tetapi juga mewakili apa yang dialami oleh para perempuan di masa itu.

b. Kesewenang-wenangan Kaum Bangsawan

Pada masa lakon ini di tulis, para bangsawan masih sangat berkuasa di Prancis. Mereka memiliki hak-hak dan pengaruh-pengaruh yang tak jarang digunakan untuk keuntungan pribadi mereka. Tanpa syarat apa pun, keistimewaan-keistimewaan itu mereka dapat melalui garis keturunan dan karena mereka mendapatkannya tanpa ada usaha yang harus dilalui, mereka sering kali menyalahgunakan keistimewaankeistimewaan tersebut. Beaumarchais mengungkapkan penyalahgunaan kewenangan bangsawan demi keuntungan pribadinya dalam lakon ini. Adegan di mana le Comte mempengaruhi putusan pengadilan sehingga Figaro harus menikah dengan Marceline karena ia tak mampu melunasi utangnya kepada Marceline. Yang menjadi faktor utama le Comte mengambil keputusan seperti itu sebenarnya bukanlah karena Figaro tidak mampu membayar utang kepada Marceline tetapi lebih kepada ketidaksenagan le Comte terhadap rencana pernikahan Figaro dan Suzanne.
COMTE: Mais comme le texte dit : "Laquelle somme je payerai à sa première réquisition, ou bien j’épouserai, etc.", la cour condamne le défendeur à payer deux mille piastres fortes à la demanderesse, ou bien à l’épouser dans le jour. (Il se lève.) (III, 15) FIGARO, stupéfait: J’ai perdu. (III, 15)

Melalui kalimat yang diucapkan le Comte dan Figaro, Beaumarchais ingin menunjukkan bahwa rakyat biasa selal menjadi korban dari perbedaan kelas sosial
17

dan egoisme kaum bangsawan. Ketidaksetujuan Beaumarchais tentang tindakan sewenang-wenang para bangsawan ditunjukkan dalam akhir cerita Le Mariage de Figaro, ia membuat tokoh le Comte yang menggambarkan bangsawan masa itu tidak berkutik di depan istri dan pelayannya. Kritik Terhadap Kekacauan Hukum dan Politik a. Kritik Terhapad Hukum Sindiran terhadap lembaga hukum pada masa itu ditampilkan dalam bab tiga. Beaumarchais memunculkan tokoh Brid’oison sebagai sosok hakim bodoh yang tidak tahu apa-apa. Kasus yang muncul dan harus diselesaika onleh Brid’oison adalah kasus utang-piutang antara Figaro dan Marceline. Marceline sangat ingin memenangkan kasus itu supaya dirinya dapat menikahi Figaro dan dapat kembali ke tengah-tengah masyarakat. Le Comte ingin Figaro kalah dalam kasus itu karena ia tidak ingin Figaro menikah dengan Suzanne. Brid’oison adalah seorang hakim yang berbicaranya gagap. Dalam menangani kasus Figaro dan Marceline Brid’oison beranggapan bahwa setiap kasus, besar atau pun kecil, harus melalui tahapan yang sama dalam penanganannya meskipun hal tersebut sebenarnya tidak perlu.
COMTE: En robe ici, seigneur Brid’oison ! Ce n’est qu’une affaire domestique : l’habit de ville était trop bon. (III, 14) BRID’OISON: C’è-est vous qui l’êtes, monsieur le Comte. Mais je ne vais jamais san-ans elle, parce que la forme, voyez-vous, la forme ! Tel rit d’un juge en habit court, qui-i tremble au seul aspect d’un procureur en robe. La forme, la-a forme ! (III, 14)

Dari perkataan Brid’oison yang berbunyi “Mais je ne vais jamais sans-elle,..” menandakan bahwa ia tetap akan memakai jubahnya walau pun di saat yang tidak perlu. Ucapannya tersebut juga dapat diartikan bahwa Brid’oison tidak akan membeda-bedakan tata cara berjalannyasebuah perkara di pengadilan, sebesar atau sekecil apa pun kasusnya. Tetapi di kalimat selanjutnya ia berkata “..parce que la forme, voyez-vous, la forme !” kalimatnya menandakan bahwa segala yang ia kenakan hanyalah formalitas belaka. Kedua pernyataan yang muncul dalam satu

18

kalimat tidaklah sebanding dengan kemampuan Brid’oison dalam menyelesaikan perkara. Dalam babak tiga ditunjukkan bagaimana Brid’oison sangat bertele-tele dalam menyelesaikan perkara Figaro dan Mareline. Ia membacakan hal-hal tidak perlu yang tidak ada sangkut pautnya dengan kasus yang sedang disindangkan. Yang ingin dikritik Beaumarchais sebenarnya adalah bahwa hakim tidak lebih bodoh dari pada pemuda kebanyakan tetapi mereka bertindak sebagai orang yang tahu segalagalanya.

FIGARO: L’usage, maître Double-Main, est souvent un abus. Le client un peu instruit sait toujours mieux sa cause que certains avocats, qui, suant à froid, criant à tuetête, et connaissant tout, hors le fait, s’embarrassent aussi peu de ruiner le plaideur que d’ennuyer l’auditoire et d’endormir messieurs : plus boursouflés après que s’ils eussent composé l’Oratio pro Murena. Moi, je dirai le fait en peu de mots. Messieurs… (III, 15)

Dengan pernyataannya, Figaro benar-benar mencela kelemahan pengadilan. Dengan mengeluarkan pembelaan tersebut, Figaro juga menunjukkan bahwa dirinya lebih cerdas dari Brid’oison yang seharusnya memahami masalah dan memberikan jalan tengah atau punyelesaian pada kasus tersebut. Kelemahan Brid’oison yang lain juga diungkapkan ketika Bartholo dan Figaro mempertentangnkan tentang sebuah kata yang akan sangat berpengaruh dapa keputusan akhir dan Brid’oison tidak dapat berbuat apa-apa.
BARTHOLO: .. Laquelle somme je lui rendrai à sa réquisition, dans ce château ; et je l’épouserai, par forme de reconnaissance, etc. .. (III, 15) FIGARO: .. laquelle somme je lui rendrai, ET je l’épouserai, » mais « laquelle somme je lui rendrai, OU je l’épouserai.. (III, 15)

Demikianlah situasi pengadilan di masa Beaumarchais, kacau karena para hakim tidak mampu menjalankan tugasnya dengan baik.
19

b. Kritik Terhadap Politik Beaumarchais menjelaskan pandangannya tentang politik melalui tokoh Figaro yang notabene adalah tokoh yang mirip dengan dirinya dalam lako Le Mariage de Figaro. Dalam perjalanannya ke London, Figaro menjelaskan.
FIGARO: Oui, s’il y avait ici de quoi se vanter. Mais feindre d’ignorer ce qu’on sait, de savoir tout ce qu’on ignore ; d’entendre ce qu’on ne comprend pas, de ne point ouïr ce qu’on entend ; surtout de pouvoir au-delà de ses forces ; avoir souvent pour grand secret de cacher qu’il n’y en a point ; s’enfermer pour tailler des plumes, et paraître profond quand on n’est, comme on dit, que vide et creux ; jouer bien ou mal un personnage, répandre des espions et pensionner des traîtres ; amollir des cachets, intercepter des lettres, et tâcher d’ennoblir la pauvreté des moyens par l’importance des objets : voilà toute la politique, ou je meure ! (III, 5)

Keadaan di dalam politik itu sendiri lah yang ingin Beaumarchais sampaikan kepada masyarakat luas bahwa politik hanyalah sebuah kepalsuan dan kepurapuraan. Politik hanya alat untuk menutupi kebenaran dan sering kali dijadikan sebagai alat untuk mencapai tujuan tertentu oleh individu atau pun kelompok. Hal ini disampaikan Beaumarchais karena pada saat itu orang-orang awam beranggapan mereka yang terlibat dalam kancah politik adalah orang-orang hebat dan merupakan suatu hal yang prestis.

20

Bab 3 PENUTUP

Kesimpulan Le Mariage de Figaro adalah drama lima babak karya Beaumarchais yang ditulis pada tahun 1788. Drama ini mengandung beberapa tema antara lain posisi kaum perepmpuan di abad delapan belas, kesewenang-wenangan kaum bangsawan, kritik terhadap hukum, dan lain-lain. Alur drama ini adalah alur maju, terdiri dari pemaparan (exposition), gawatan (rising action), klimaks (climax), dan peleraian (denoumenet). Tokoh-tokoh dalam drama ini terdiri dari dua jenis yaitu tokoh antagonis dan protagonis. Masing-masing tokoh memiliki tujuan yang ingin dicapainya, demi mencapai tujuan tersebut ada beberapa tokoh yang beraliansi untuk mewujudkan keigninannya dan juga mereka beroposisi untuk menghalangi tokoh lain mendapatkan keinginannya.

21

DAFTAR PUSTAKA

Beaumarchais. 1785. La Folle journée ou Le mariage de Figaro. Classique Hachette. Ubersfeld, Anne. 1982. Lire le théâtre. Paris: Éditions sociales. Husen, Ida Sundari. 1999. Mengenal Pengarang-Pengarang Prancis dari Abad ke Abad: Grasindo. http://elisabeth.kennel.perso.neuf.fr/le_mariage_de_figaro.htm#ETUDE diakses pada 23 Desember 2010, :09 WIB) TABULAIRE

22