INFEKSI HIV PADA KEHAMILAN

Disusun oleh : Riza Soraya 030.06.223

Pembimbing : Dr. Slamet Zaeny, Sp. O. G.

Kepaniteraan Klinik Ilmu Kebidanan dan Kandungan RSUD Budi Asih Periode 21 November 2011 ± 28 Januari 2012 Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti Jakarta

1

2

KATA PENGANTAR

Puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan referat yang berjudul Infeksi HIV pada Kehamilan. Dalam kesempatan ini, penulis juga ingin mengucapkan terima kasih kepada Dr. Slamet Zaeny, Sp. O. G. selaku pembimbing dalam penyusunan makalah ini, serta semua khalayak yang telah membantu dalam penyelesaian makalah ini. Makalah ini disusun dalam rangka memenuhi tugas penulis selama mengikuti kepaniteraan Klinik Ilmu Kandungan dan Kebidanan di Rumah Sakit Umum Daerah Budhi Asih periode 21 November 2011 ± 28 Januari 2012. Penulis menyadari bahwa dalam pengumpulan data dan penulisan makalah ini masih dapat banyak kekurangan. Oleh karena itu, kritik dan saran yang membangun sangat diharapkan penulis. Akhirnya penulis berharap semoga makalah ini bermanfaat bagi kita semua.

Jakarta, 9 Januari 2012

Penulis

2

............................................3 DAFTAR ISI Kata Pengantar .............................................................................................................................................................................................................. Daftar isi ................ Patofisiologi......................................................................................................... Pemeriksaan Diagnostik............................................. Pengobatan........... BAB III PENUTUP ............................................................................................................................................................... BAB I PENDAHULUAN .......................................... Gejala HIV AIDS......... Etiologi ............................................................................ BAB II TINJAUAN TEORI .............................................................................................................................................................. Macam Infeksi HIV ................. Periode Penularan HIV ............................................................................................................... Pengertian ................ 3 ....

Terdapat banyak kemiripan diantara HIV±1 dan HIV±2. Saat ini terdapat dua jenis HIV: HIV±1 dan HIV±2. Dalam kelompok M terdapat sekurang±kurangnya 10 sub±jenis yang dibedakan secara turun temurun. Dibandingkan dengan orang yang terinfeksi dengan HIV±1. Pada orang yang terinfeksi dengan HIV±2. keduanya dihubungkan dengan infeksi±infeksi oportunistik dan AIDS yang serupa. 4 . Latar Belakang HIV berarti virus yang dapat merusak sistem kekebalan tubuh manusia.1. Karibia dan Eropa. yaitu kelompok M dan O. namun disini kami akan mencoba membahas bagaiamana HIV AIDS yang dialami ibu hamil dan bagaimana melakukan sebuah proses keperawatan pada ibu hamil dengan HIV AIDS.4 BAB I PENDAHULUAN 1. Japan. Tidak diketahui bagaimana ia terinfeksi. HIV±1 mendominasi seluruh dunia dan bermutasi dengan sangat mudah. mereka dapat dikategorikan dalam kelompok dan sub±jenis (clades). Terdapat dua kelompok. yang berarti virus yang mengunakan sel tubuhnya sendiri untuk memproduksi kembali dirinya. Ini adalah sub±jenis A±J. Keturunan yang berbeda±beda dari HIV±1 juga ada. maka mereka yang terinfeksi dengan HIV±2 ditulari lebih awal dalam proses penularannya. contohnya adalah bahwa keduanya menular dengan cara yang sama. Sub±jenis C ditemukan di Afrika Selatan dan India. HIV±2 teridentifikasi pada tahun 1986 dan semula merata di Afrika Barat. ketidakmampuan menghasilkan kekebalan tubuh terlihat berkembang lebih lambat dan lebih halus. Asal dari HIV tidak jelas. Ini adalah retrovirus. penemuan kasus awal adalah dari sampel darah yang dikumpulkan tahun 1959 dari seorang laki±laki dari Kinshasa di Republik Demokrat Congo. Sub±jenis B kebanyakan ditemukan di America. HIV dapat menular melalui kontak darah. Australia.

Apa saja pemeriksaan diagnostik HIV? 8. Mengetahui macam ± macam infeksi HIV 4. Bagaimana periode penularan HIV pada ibu hamil? 6. Mengetahui konsep Asuhan Keperawatan pada ibu hamil dengan HIV 5 . Tujuan 1. Bagaimana gejala HIV? 7. Rumusan Masalah 1. Bagaimana konsep Asuhan Keperawatan pada ibu hamil dengan HIV? 1. Mengetahui pengertian HIV/AIDS 2.2. Mengetahui gejala HIV 7. Apa saja macam ± macam infeksi HIV? 4. Bagaimana pengobatan HIV? 9.5 1. Apa pengertian HIV/AIDS? 2. Bagaimana etiologi HIV? 3. Mengetahui pemeriksaan diagnostik HIV 8. Mengetahui pengobatan HIV 9. Mengetahui patofisiologi HIV 5.3. Mengetahui etiologi HIV 3. Bagaimana patofisiologi HIV? 5. Mengetahui periode penularan HIV pada ibu hamil 6.

HIV-2 dianggap sebagai virus kurang pathogen dibandingkaan dengan HIV-1.1. Banyak kasus dapat dicegah. sedangkan AIDS sendiri adalah suatu sindroma penyakit yang muncul secara kompleks dalam waktu relatif lama karena penurunan sistem kekebalan tubuh yang disebabkan oleh infeksi HIV. obat-obat supresi imun. 1997 : 17). Ð AIDS adalah penyakit yang disebabkan oleh virus yang merusak sistem kekebalan tubuh manusia (H. Infeksi pada kehamilan adalah penyebab morbiditas ibu dan neonatal yang sudah diketahui. 6 . Ð AIDS merupakan kumpulan gejala penyakit akibat menurunnya sistem kekebalan tubuh (dr. 2. JH. dkk.2.6 BAB II TINJAUAN TEORI 2. HIV pertama kali ditemukan pada tahun 1983 sebagai retrovirus dan disebut HIV-1.1997 : 171). penyakit infeksi yang sudah dikenal dan sebagainya ( Rampengan & Laurentz . 1999 : 09). SKM. Ð AIDS (Acquired Immunodeficiency Syndrome) adalah sindroma yang menunjukkan defisiensi imun seluler pada seseorang tanpa adanya penyebab yang diketahui untuk dapat menerangkan terjadinya defisiensi tersebut sepertii keganasan. Etiologi Penyebab infeksi adalah golongan virus retro yang disebut human immunodeficiency virus (HIV). Pengertian HIV ( Human immunodeficiency Virus ) adalah virus pada manusia yang menyerang system kekebalan tubuh manusia yang dalam jangka waktu yang relatif lama dapat menyebabkan AIDS. dan dalam makalah ini akan dibahas mengenai penyakit infeksi yang sering ditemukan yang dapat terjadi dalam kehamilan. Maka untuk memudahkan keduanya disebut HIV. Pada tahun 1986 di Afrika ditemukan lagi retrovirus baru yang diberi nama HIV-2. JH. Wartono. Syahlan.

karena pada saat itu terjadi kontak secara lansung antara darah ibu dengan bayi sehingga virus dari ibu dapat menular pada bayi. B menurun. Wanita hamil dapat juga menularkan virus ke bayi mereka selama masa kehamilan atau persalinan dan juga melalui menyusui. Dengan mengunakan bersama jarum untuk menyuntik obat bius dengan seseorang yang telah terinfeksi. Ð Cara penularan HIV: 1. lemah. 4. Melalui darah yang terinfeksi yang diterima selama transfusi darah dimana darah tersebut belum dideteksi virusnya atau pengunaan jarum suntik yang tidak steril. 2. Ibu hamil yang terinfeksi HIV dapat menularkan HIV pada bayi yang dikandungnya. Diatas 3 tahun dengan gejala demam. Penularan dari ibu terjadi terutama pada saat proses melahirkan. Melakukan penetrasi seks yang tidak aman dengan seseorang yang telah terinfeksi. Lamanya 4 minggu sampai 6 bulan setelah infeksi. Didapatkan infeksi oportunis berat dan tumor pada berbagai system tubuh. Kondom adalah satu±satunya cara dimana penularan HIV dapat dicegah. limfadenopati. Periode jendela. keringat malam hari. Supresi imun simtomatik. rash. 3. AIDS. Infeksi asimtomatik. dan manifestasi neurologist. 4. 2.7 Transmisi infeksi HIV dan AIDS terdiri dari lima fase yaitu : 1. 3. Fase infeksi HIV primer akut. 2. 7 . Lamanya 1-15 atau lebih tahun dengan gejala tidak ada. Tidak ada gejala. Lamanya 1-2 minggu dengan gejala flu likes illness. neuropati. Ð Penularan secara perinatal 1. lesi mulut. Lamanya bervariasi antara 1-5 tahun dari kondisi AIDS pertama kali ditegakkan. 5. diare.

5. Penderita dapat mengalami pembesaran kelenjar limfe yang luas tanpa gejala yang jelas. kelelahan. ditandai dengan menurunnya pertahanan tubuh penderita secara cepat berupa rendahnya jumlah CD4+.8 3. Keseimbangan klinis dan jumlah CD4+ sel T menjadi normal terjadi dalam waktu 6-12 minggu. Tahap ini umumnya dikenal sebagai AIDS. ditandai oleh viremia transien. fase kronik. Tahap ini dapat mencapai beberapa tahun. Bayi dari ibu/bapak terinfeksi. Tahap menengah. Tahap akhir. Orang yang ketagian obat intravena 3.3. Lelaki homoseksual atau biseks. infeksi HIV dibagi menjadi tiga Tahap : 1. Tahap dini. fase akut. Penerima darah atau produk darah (transfusi). 2. Bayi juga dapat tertular virus HIV dari ibu sewktu berada dalam kandungan atau juga melalui ASI 4. penurunan berat badan. fase krisis. infeksi oportunistik. 2. Petunjuk dari CDC di Amerika Serikat menganggap 8 . masuk ke dalam jaringan limfoid. Ibu dengan HIV dianjurkan untuk PASI Ð Kelompok resiko tinggi: 1. Pada akhir tahap ini terjadi demam. Secara klinis merupakan penyakit akut yang sembuh sendiri dengan nyeri tenggorok. 2. Macam infeksi HIV Atas dasar interaksi HIV dengan respon imun pejamu. dan viremia. diare. Partner seks dari penderita AIDS 4. terjadi penurunan sementara dari CD4+ sel T diikuti serokonversi dan pengaturan replikasi virus dengan dihasilkannya CD8+ sel T antivirus. Tahap kronik dapat berakhir antara 7-10 tahun. 3. dan meningitis aseptik. berupa keadaan laten secara klinis dengan replikasi. kemerahan kulit. mialgia non-spesifik. dan keganasan sekunder. virus yang rendah khususnya di jaringan limfoid dan hitungan CD4+ secara perlahan menurun.

Viral DNA tersebut menjadi bagian dari DNA manusia. yang mana. materi viral (jumlah virus dalam tubuh penderita) turunan yang disebut RNA (ribonucleic acid) berubah menjadi viral DNA (deoxyribonucleic acid) dengan suatu enzim yang disebut reverse transcriptase. mengatur viral kimia untuk membentuk virus±virus yang baru.9 semua orang dengan infeksi HIV dan jumlah sel T CD4+ kurang dari 200 sel/µl sebagai AIDS. dan berhasil menulari lebih banyak sel. Ð Jumlah normal dari sel±sel CD4+T pada seseorang yang sehat adalah 800±1200 sel/ml kubik darah. Dibutuhkan waktu untuk menularkan virus tersebut dari orang ke orang. Respons tersebut mendorong virus untuk menghasilkan kembali dirinya. benda tersebut mulai menghasilkan virus±virus HI. dkk. meskipun gambaran klinis belum terlihat. daripada menghasilkan lebih banyak sel jenisnya. Ketika seorang pengidap HIV yang sel±sel CD4+ T±nya terhitung dibawah 200. dia menjadi semakin mudah diserang oleh infeksi±infeksi oportunistik. Virus±virus baru tersebut keluar dari sel tubuh dan bergerak bebas dalam aliran darah. Pada seseorang dengan sistem kekebalan yang sehat infeksi± infeksi tersebut tidak biasanya mengancam hidup mereka tetapi bagi seorang pengidap HIV hal tersebut dapat menjadi fatal. ( Robbins. Ð Enzim lainnya. Ini adalah sebuah proses yang sedikit demi sedikit dimana akhirnya merusak sistem kekebalan tubuh dan meninggalkan tubuh menjadi mudah diserang oleh infeksi dan penyakit±penyakit yang lain. 9 . Sekali ia berada di dalam. Ð Infeksi±infeksi oportunistik adalah infeksi±infeksi yang timbul ketika sistem kekebalan tertekan.4. 1998 : 143 ) 2. protease. Ð Respons tubuh secara alamiah terhadap suatu infeksi adalah untuk melawan sel± sel yang terinfeksi dan mengantikan sel±sel yang telah hilang. Patofisiologi Ð HIV masuk kedalam darah dan mendekati sel T±helper dengan melekatkan dirinya pada protein CD4.

sel saraf. monosit. limfosit B Immunocompromise HIV.PATHWAY Virus HIV Merusak seluler Menyerang T Limfosit. nyeri Cairan berkurang Nutrisi inadekuat Gangguan rasa nyaman : nyeri Gangguan rasa nyaman : nyeri Tidak efektif pol napas 10 Gangguan body imageapas Tidak efektfi bersihan jalan napas Gangguan mobilisasi Gangguan pola BAB Aktivitas intolerans Cairan berkurang Nutrisi inadekuat hipertermi . sepsis. makrofag.positif ? Invasi kuman patogen Reaksi psikologis Flora normal patogen Organ target Manifestasi oral Manifestasi saraf Gastrointestinal Respiratori Dermatologi Lesi mulut Kompleks demensia Ensepalopati akut Diare Hepatitis Disfungsi biliari Penyakit anorektal Infek si Gatal.

1987). serum antibody membutuhkan waktu sampai 12 minggu untuk berkembang. Tes western blot harus diulangi dalam 1 atau 2 bulan dan pada trimester ketiga. Rhoads et al. Tes HIV sebaiknya ditawarkan kepada wanita beresiko tinggi pada awal mereka memasuki perawatan prenatal. seorang wanita berusia 24 tahun yang mendapatkan perawatan prenatal selama 8 minggu mempunyai hasil tes western blot yang negative. e. Micobacterium tuberculosis. 1987. Siphilis. 1987. C. Wanita yang yakin bahwa dirinya mungkin terjangkit HIV. Candidiasis (oropharingeal atau infeksi Vagian Chronic).Trakomatis. Para wanita yang termasuk dalam kategori beresiko tinggi terhadap infeksi HIV mencakup: a.5. uji fisik dan tes laboratorium harus merefleksikan pengharapan ini jika wanita dan bayinya menerima perawatan yang tepat. 1987. Misalnya. Cytomegalo Virus (CMV).2. Kaplan et al. setelah terinfeksi HIV. d. Namun. 11 . Periode Penularan HIV pada Ibu hamil 1. Wanita yang menderita STD tetap dan kambuhan. Sejarah kesehatan. soronegativitas pada uji prenatal pertama bukan jaminan untuk titer negative yang berlangsung. c. Hepatic B. Herpes yang tetap dan menjadi lebih lama. 1987). Sekitar separuh penderita AIDS mengalami peningkatan titer CMV. Wanita dan atau pasangannya yang berasal dari wilayah geografis dimana HIV merupakan sesuatu yang umum. b. Karena masuknya penyakit CMV memiliki bahaya yang serius terhadap janin. Minkoff. Periode Prenatal Timbulnya HIV pada wanita hamil diperkirakan meningkat (Minkoff. Tes prenatal rutin dapat membantu mengidentifikasi wanita yang terinfeksi HIV (Foster. Wanita dan atau pasangannya yang menggunakan obat-obatan yang disuntikkan melalui pembuluh darah. dan Toxophlasmosis. para wanita hamil dianjurkan dengan yang terinfeksi HIV. Tes ini juga dapat mengungkap Gonhorhea. Namun. Wanita yang menerima tranfusi darah dari pengidap HIV.

Proses persiapan melibatkan alcohol ethyl yang membuat virus tidak aktif. Chin. Cara kelahiran didasarkan hanya pada pertimbangan obstetric karena virus melalui plasenta pada awal kehamilan. dan penurunan berat badan) menyiratkan tanda-tanda dan gejal-gejala infeksi HIV.1987). Penularan HIV belum ditemukan adanya vaksin Rh. Periode Intrapartum Perawatan wanita yang sakit saat melahirkan tidak diubah secara substansial untuk infeksi tanpa gejala dengan HIV (Minkoff. 2. Diagnosa yang berbeda-beda terhadap seluruh keluhan dan gejala infeksi yang disebabkan kehamilan dibenarkan. Jika infeksi HIV telah didiagnosa. Wanita dapat menjadi calon yang menerima Rho D Imunoglobulin. diare kronis lebih dari 1bulan dan demam (kambuhan atau konstan) selama lebih dari 1 bulan. 1987. Tanda-tanda utama infeksi HIV yang semakin memburuk mencakup turunnya berat badan lebih dari 10% dari berat badab sebelum kehamilan. wanita tersebut diberitahukan mengenai konsekwensi yang mungkin terjadi pada bayi. dan reduksi stress. Titer untuk cacar dan rubella ditentukan dan tes kulit tuberkulosa (Derivasi protein yang dimurnikan/puriviet protein derivatif (PPD)) telah dilakukan vaksinasi sebelumnya dengan vaksin rekonbivak Hb dicatat karena vaksin tersebut berisi produk darah manusia (Vaksin ini sekarang bebas dari darah manusia dan produk-produk darah). anoreksia. latihan. Resiko penularan HIV dianggap rendah selama kelahiran vaginal.. 1987). MMWR. Vaksin ini dibuat dari darah yang diambil dari kelompok donor regular yang tidak dikenali. Darah yang digunakan untuk memproduksi vaksin menjalani tes darah yang dapat mendeteksi darah adanya HIV (Francis. EPM (Elektrinic Fetal Monitoring) 12 .12 Sejarah vaksinasi dan kekebalan telah didokumentasikan. tidur. Fokus utama pencegahn penyebaran HIV nosocomial dan perlindungan terhadap pelaku perawatan. istirahat. Untuk mendukung system. wanita hamil harus mendapat nutrisi yang optimal. Beberapa ketidaknyamanan yang dihadapi pada masa prenatal (seperti kelelahan.

BB menurun lebih dari 10% dalam 1 bulan b. seseorang yang melakukan prosedur ini berada pada resiko tertular virus HIV. Ketika infeksi HIV menjadi aktif banyak infeksi lain yang biasa menyertai pada orang dewasa terjadi pada bayi.6. Selama itu antibody yang melalui palang plasenta mungkin tidak terdapat pada bayi yang tidak terinfeksi sampai usia 15 bulan. Wanita dan bayinya diarahkan pada dokter yang berpengalamn dalam pengobatan AIDS dan keadaan-keadaan yang menyertainya. tindak lanjut yang lebih lama telah mengungkap frekwensi penyakit kilinis yang tinggi pada ibu-ibu yang anaknya menderita penyakit (Skott. 1985. Minkoff et al. Pengaruh infeksi pada bayi dan neonatal mungkin tidak jelas. Cerebro Vaskuler Accident. gagal pernapasan dan Lhympaclenophaty. Terdapat kemungkinan inokulasi virus ke dalam neonatus jika dilakukan pengambilan sempel darah pada bayi dilakukan atau jika elektroda jangat kepala bayi diterapkan. Defisit Kognitif. Penurunan kesadaran dan adanya gangguan neurologis d. 1987). 1987). darah di tali pusat akan menunjukkan antibody HIV baik apabila bayi terinfeksi ataupun tidak. Karena virus yang melalui plasenta. Komplikasi yang menyertai infeksi HIV pada bayi mencakup Enchephalopati. Gejala HIV AIDS 1. Walaupun periode postpartum pertengahan tercatat signifikan (update. 3. Microchephalli. Periode Postpartum. Demensia / HIV Ensefalopati 13 .13 eksternal dilakukan jika EPM diperlukan. system saraf pusat (CNS/central nervous system) Lhympoma. Hanya sedikit yang diketahui tentang tindakan klinis selama periode postpartum yang dapat dilakukan pada wanita yang terinfeksi HIV. Diare kronik yang berlangsung lebih dari 1 bulan c. 2. seperti yang dilakukan terhadap semua pasien. Gejala mayor a. Disamping itu. Tindakan pencegahan universal dilakukan terhadap ibu dan bayi.

Hematokrit. Infeksi jamur berulang pada kelamin wanita h. Pada tempat yang kurang baik pengaturannya permulaan dari pengobatan ARV biasanya secara medis direkomendasikan ketika jumlah sel CD4 dari orang yang mengidap HIV/AIDS adalah 200 atau lebih rendah. Batuk menetap lebih dari 1 bulan b. Kandidiasis orofaringeal e.8.7. Adanya herpes zoster yang berulang d. secara umum ini adalah 14 . Gejala minor a. Retinitis Cytomegalovirus 2.14 2. ELISA Western blot P24 antigen test Kultur HIV Tes untuk deteksi gangguan system imun. Dermatitis generalist c. Tes untuk diagnosa infeksi HIV : 2. LED CD4 limfosit Rasio CD4/CD limfosit Serum mikroglobulin B2 Hemoglobulin 2. Untuk lebih efektif. Pemeriksaan diagnostik 1. Limfadenopati generalist g. Herpes simplex kronik progresif f. maka suatu kombinasi dari tiga atau lebih ARV dikonsumsi. Pengobatan Ð Obat±obatan Antiretroviral (ARV) bukanlah suatu pengobatan untuk HIV/AIDS tetapi cukup memperpanjang hidup dari mereka yang mengidap HIV.

persalinan dan masa menyusui. Protease Inhibitors (PI) mengtargetkan protein protease HIV dan menahannya sehingga suatu virus baru tidak dapat berkumpul pada sel tuan rumah dan dilepaskan. Kombinasi dari ARV berikut ini dapat mengunakan: 1. suatu enzim viral yang penting. Ð Pencegahan perpindahan dari ibu ke anak (PMTCT): seorang wanita yang mengidap HIV(+) dapat menularkan HIV kepada bayinya selama masa kehamilan. Suatu rangkaian pendek dimulai pada masa persalinan sekitas 38%. 3. 2. Non±nucleoside Reverse Transcriptase Inhibitors (NNRTI's) memperlambat reproduksi dari HIV dengan bercampur dengan reverse transcriptase. ddC & 3TC).15 mengenai terapi Antiretroviral yang sangat aktif (HAART). delavirdine (Rescripta). Nucleoside Analogue Reverse Transcriptase Inhibitors (NRTI'). Studi menunjukkan bahwa hal ini menurunkan angka penularan mendekati 67%. Dalam ketidakhadiran dari intervensi pencegahan. ddl. Nevirapine: diberikan dalam dosis tunggal kepada ibu dalam masa persalinan dan satu dosis tunggal kepada bayi pada sekitar 2±3 hari. Enzim tersebut sangat esensial untuk HIV dalam memasukan materi turunan kedalam sel±sel. Obat±obatan tersebut adalah: 1. kemungkinan bahwa bayi dari seorang wanita yang mengidap HIV(+) akan terinfeksi kira±kira 25%±35%. Obat±obatan NNRTI termasuk: Nevirapine. mentargetkan pencegahan protein reverse transcriptase HIV dalam mencegah perpindahan dari viral RNA menjadi viral DNA (contohnya AZT. 15 . Dua pilihan pengobatan tersedia untuk mengurangi penularan HIV/AIDS dari ibu ke anak. Ziduvidine (AZT) dapat diberikan sebagai suatu rangkaian panjang dari 14± 28 minggu selama masa kehamilan. efavirenza (Sustiva). Suatu rangkaian pendek dimulai pada kehamilan terlambat sekitar 36 minggu menjadi 50% penurunan. Beberapa studi telah menyelidiki pengunaan dari Ziduvidine (AZT) dalam kombinasi dengan Lamivudine (3TC) 2.

hal tersebut dapat memberikan efek samping yang hebat dan mendorong perilaku seksual yang tidak aman. Antiretrovirals direkomendasikan untuk PEP termasuk AZT dan 3TC yang digunakan dalam kombinasi. Riwayat Penyakit Jenis infeksi sering memberikan petunjuk pertama karena sifat kelainan imun. Dihubungankan dengan permulaan pengunaan dari PEP. keperluan untuk mentaati. kebutuhan untuk mempraktekan hubungan seks yang aman dan memperbaharui pengujian HIV. Konsep Asuhan Keperawatan Pengkajian 1. Biodata Klien 2. maka keuntungannya pun akan menjadi lebih besar. 2. Nevirapine hanya digunakan pada ibu dengan membawa satu tablet kerumah ketika masa persalinan tiba. PEP tidak merekomen dasikan proses terinfeksi secara biasa ke HIV/AIDS sebagaimana hal ini tidak efektif 100%. pengobatan PEP perlu dimulai sekurangnya selama 72 jam. Informasi dan bimbingan perlu diberikan untuk memungkinkan orang tersebut mengerti obat± obatan. Sesudah terkena infeksi yang potensial ke HIV.9. paling kurang 30 hari. untuk mencegah seseorang menjadi terinfeksi dengan HIV sesudah terinfeksi. sementara bayi tersebut harus diberikan satu dosis dalam 3 hari. sekalipun terdapat bukti untuk mengusulkan bahwa lebih awal seseorang memulai pengobatan. Umur kronologis pasien juga mempengaruhi 16 .16 Diperkirakan bahwa dosis tersebut dapat menurunkan penularan HIV sekitar 47%. yang dikonsumsi beberapa kali setiap harinya. maka suatu pengujian HIV harus dijalani untuk menetapkan status orang yang bersangkutan. CDC telah memperingatkan mengenai pengunaan dari Nevirapine sebagai bagian dari PEP yang berhutang pada bahaya akan kerusakan pada hati. baik melalui serangan seksual maupun terinfeksi occupational. Ð Post±exposure prophylaxis (PEP) adalah sebuah program dari beberapa obat antiviral.

Pada lansia. pucat / sianosis. Respon imun sangat tertekan pada orang yang sangat muda karena belum berkembangnya kelenjar timus. Pemeriksaan Fisik (Objektif) dan Keluhan (Subyektif) a) Aktifitas / Istirahat Gejala : Mudah lelah. kortikosteroid. 17 . anemia aplastik. perpanjangan pengisian kapiler. perdarahan lama pada cedera. penuaan. respon fisiologi aktifitas ( Perubahan TD.dan sebagainya. Diabetes meilitus.menurunnya volume nadi perifer. kanker adalah beberapa penyakit yang kronis.menarik diri. globulin anti limfosit. Tanda : Kelemahan otot. menurunnya massa otot. Berikut bentuk kelainan hospes dan penyakit serta terapi yang berhubungan dengan kelainan hospes :  Kerusakan respon imun seluler (Limfosit T ) Terapi radiasi. frekuensi Jantun dan pernafasan ). disfungsi timik congenital. protein liosing enteropati (peradangan usus) 3.perubahan pola tidur. putus asa.17 imunokompetens. b) Sirkulasi Gejala : Penyembuhan yang lambat (anemia). c) Integritas dan Ego Gejala : Stress berhubungan dengan kehilangan. Tanda : Mengingkari. mieloma. defisiensi nutrisi.  Kerusakan imunitas humoral (Antibodi) Limfositik leukemia kronis. Tanda : Perubahan TD postural. mengingkari doagnosa.takut. marah. hipogamaglobulemia congenital.mengkuatirkan penampilan. aplasia timik.cemas.progresi malaise. atropi kelenjar timus dapat meningkatkan kerentanan terhadap infeksi. keberadaan penyakit seperti ini harus dianggap sebagai factor penunjang saat mengkaji status imunokompetens pasien.depresi.intoleran activity. Banyak penyakit kronik yang berhubungan dengan melemahnya fungsi imun. limfoma.

terus menerus. Tanda : Perubahan status mental.perubahan penglihatan. sakit kepala.tremor. lesi rongga mulut. distress pernapasan. kurang perawatan diri. napas pendek progresif.kerusakan status indera. ansietas. diare pekat dan sering. perubahan status mental. kesehatan gigi dan gusi yang buruk. sesak pada dada. 18 . sakit kepala.nyeri dada pleuritis.kejang. perubahan bunyi napas. batuk. g) Neurosensoro Gejala : Pusing.kejang. disfagia Tanda : Turgor kulit buruk.nyeri tekan. nyeri kelenjar. nyeri panggul. rasa terbakar saat miksi Tanda : Feces encer dengan atau tanpa mucus atau darah. adanya sputum. Tanda : Bengkak sendi.tremor. edema f) Hygiene Gejala : Tidak dapat menyelesaikan AKS Tanda : Penampilan tidak rapi. ide paranoid. lesi atau abses rectal. Tanda : Takipnea. rasa terbakar.kelemahan otot.penurunan rentan gerak. sering dengan atau tanpa kram abdominal. mual muntah.hemiparesis.18 d) Eliminasi Gejala : Diare intermitten. perubahan jumlah. refleks tidak normal. warna dan karakteristik urine. h) Nyeri / Kenyamanan Gejala : Nyeri umum / local. perianal. e) Makanan / Cairan Gejala : Anoreksia. nyeri tekan abdominal.pincang. i) Pernafasan Gejala : ISK sering atau menetap.

Pemeriksaan Diagnostik a) Tes Laboratorium Telah dikembangkan sejumlah tes diagnostic yang sebagian masih bersifat penelitian. terbakar. Tanda : Kehamilan. Tanda : Perubahan interaksi. Tes dan pemeriksaan laboratorium digunakan untuk mendiagnosis Human Immunodeficiency Virus (HIV) dan memantau perkembangan penyakit serta responnya terhadap terapi Human Immunodeficiency Virus (HIV) Ð Serologis Tes antibody serum Skrining Human Immunodeficiency Virus (HIV) dan ELISA.19 j) Keamanan Gejala : Riwayat jatuh. penggunaan pil pencegah kehamilan. isolasi.pingsan. Tanda : Perubahan integritas kulit. demam berulang. kesepian.berkeringat malam.transfuse darah.penyakit defisiensi imun. k) Seksualitas Gejala : Riwayat berprilaku seks dengan resiko tinggi. 4. menurunnya libido. l) Interaksi Sosial Gejala : Masalah yang ditimbulkan oleh diagnosis. timbulnya nodul.luka.luka perianal / abses. adanya trauma AIDS. pelebaran kelenjar limfe.herpes genetalia. menurunya kekuatan umum. Hasil tes positif. tapi bukan merupakan diagnosa Tes blot western Mengkonfirmasi diagnosa Human Immunodeficiency Virus (HIV) Sel T limfosit Penurunan jumlah total 19 . tekanan umum.

- P24 ( Protein pembungkus HIV) Peningkatan nilai kuantitatif protein mengidentifikasi progresi infeksi - Kadar Ig Meningkat. terutama Ig A. EMG (pemeriksaan saraf) Tes Lainnya Sinar X dada Menyatakan perkembangan filtrasi interstisial dari PCP tahap lanjut atau adanya komplikasi lain Tes Fungsi Pulmonal Deteksi awal pneumonia interstisial Skan Gallium Ambilan difusi pulmonal terjadi pada PCP dan bentuk pneumonia lainnya. Ig M yang normal atau mendekati normal - Reaksi rantai polimerase Mendeteksi DNA virus dalam jumlah sedikit pada infeksi sel perifer monoseluler. MRI. CT Scan otak. Ig G. sifilis. CMV mungkin positif Ð Neurologis EEG.20 - Sel T4 helper Indikator system imun (jumlah <200> - T8 ( sel supresor sitopatik ) Rasio terbalik ( 2 : 1 ) atau lebih besar dari sel suppressor pada sel helper ( T8 ke T4 ) mengindikasikan supresi imun. Biopsis Diagnosa lain dari sarcoma Kaposi 20 . - Tes PHS Kapsul hepatitis B dan antibody.

Tes tersebut. Pada tahun 1985 Food and Drug Administration (FDA) memberi lisensi tentang uji kadar Human Immunodeficiency Virus (HIV) bagi semua pendonor darah atau plasma. Antibody terbentuk dalam 3 ± 12 minggu setelah infeksi. atau bisa sampai 6 ± 12 bulan. kemampuan mendeteksi antibody Human Immunodeficiency Virus (HIV) dalam darah memungkinkan skrining produk darah dan memudahkan evaluasi diagnostic. Orang yang dalam darahnya terdapat antibody Human Immunodeficiency Virus (HIV) disebut seropositif. ELISA tidak menegakan diagnosa AIDS tapi hanya menunjukkan bahwa seseorang terinfeksi atau pernah terinfeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV). Hal ini menjelaskan mengapa orang yang terinfeksi awalnya tidak memperlihatkan hasil tes positif. maka system imun akan bereaksi dengan memproduksi antibody terhadap virus tersebut. Western Blot Assay Mengenali antibody Human Immunodeficiency Virus (HIV) dan memastikan seropositifitas Human Immunodeficiency Virus (HIV) Indirect Immunoflouresence Pengganti pemeriksaan western blot untuk memastikan seropositifitas. yaitu : Tes Enzym ± Linked Immunosorbent Assay ( ELISA) Mengidentifikasi antibody yang secara spesifik ditujukan kepada virus Human Immunodeficiency Virus (HIV).21 - Bronkoskopi / pencucian trakeobronkial Dilakukan dengan biopsy pada waktu PCP ataupun dugaan kerusakan paru-paru Ð Tes Antibodi Jika seseorang terinfeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV). Tapi antibody ternyata tidak efektif. 21 .

Resiko tinggi penularan infeksi pada bayi berhubungan dengan adanya kontak darah dengan bayi sekunder terhadap proses melahirkan. Tidak efektif koping keluarga berhubungan dengan cemas tentang keadaan yang orang dicintai. malnutrisi. 3. dan menurunnya absorbsi zat gizi. Diagnosa Keperawatan 1. meningkatnya kebutuhan metabolic. 5. kelelahan. 2.22 - Radio Immuno Precipitation Assay ( RIPA ) Mendeteksi protein dari pada antibody. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake yang kurang. 22 . Resiko tinggi defisit volume cairan berhubungan dengan output cairan berlebih sekunder terhadap diare 4. Intolerans aktivitas berhubungan dengan kelemahan. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan imunosupresi. malnutrisi dan pola hidup yang beresiko. pertukaran oksigen. 6.

Anjurkan pasien metoda mencegah terpapar terhadap lingkungan yang patogen. 5. Meyakinkan diagnosis akurat dan pengobatan 5. Gunakan darah dan cairan tubuh precaution bial merawat pasien. malnutrisi dilakukan tindakan dan pola hidup yang keperawatan selama beresiko. 2. N=60-100. Mencegah pasien terpapar oleh kuman patogen yang diperoleh di rumah sakit. Mencegah transimisi infeksi HIV ke orang lain 23 . Cuci tangan sebelum meberikan tindakan. Mencegah bertambahnya infeksi 4. Untuk pengobatan dini 2. Kumpulkan spesimen untuk tes lab sesuai order. RR=1624. . 3×24 jam dengan kriteria hasil: . adanya infeksi keperawatan selama nonopportunisitik yang 3×24 jam dengan dapat ditransmisikan.kontak pasien dan tim kesehatan tidak terpapar HIV . 1.Pemeriksaan leukosit normal (6000-10000) Resiko tinggi infeksi Infeksi HIV tidak (kontak pasien) ditransmisikan setelah berhubungan dengan infeksi dilakukan tindakan HIV.Rencana Keperawatan No 1 Tujuan dan Kriteria hasil Resiko tinggi infeksi Pasien akan bebas berhubungan dengan infeksi setelah imunosupresi. S=3637) . Mempertahankan kadar darah yang terapeutik 2 1.Tanda vital dalam batas normal (TD=110/70. 3.Tidak ada luka atau eksudat. Gunakan masker bila perlu. Anjurkan pasien atau orang penting lainnya metode mencegah transmisi HIV dan kuman patogen lainnya. Diagnosa Intervensi 1. kriteria hasil: . 2. Monitor tanda-tanda infeksi baru. Pasien dan keluarga mau dan memerlukan informasikan ini 2. 4. 3. gunakan teknik aseptik pada setiap tindakan invasif.Tidak terinfeksi patogen lain seperti TBC. Atur pemberian antiinfeksi sesuai order Rasional 1.

24 3 Resiko tinggi defisit volume cairan berhubungan dengan output cairan berlebih sekunder terhadap diare Defisit volume cairan dapat teratasi setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1×24 jam dengan criteria hasil: . Auskultasi bunyi usus Atur agen antimotilitas dan psilium (Metamucil) sesuai order Berikan ointment A dan D. emperburuk perforasi pada intestinal 4. Mengurangi motilitas usus. vaselin atau zinc oside 1.kram perut hilang. Kaji konsistensi dan frekuensi feses dan adanya darah.tidak tegang . yang pelan. Evaluasi Disimpulkan berdasarkan pada sejauh mana keberhasilan mencapai kriteria hasil. atau diganti jika tindakan yang sebelumnya tidak berhasil 24 . Untuk menghilangkan distensi 4. sehingga dapat diputuskan apakah intervensi tetap dilanjutkan. Hipermotiliti mumnya dengan diare 3. Implementasi Didasarkan pada diagnosa yang muncul baik secara aktual. dihentikan. 1. 2. atau potensial. Kemudian dilakukan tindakan keperawatan yang sesuai berdasarkan NCP. resiko. warna normal .perut lunak . 3. Mendeteksi adanya darah dalam feses 2.feses lunak.

Penyebab infeksi adalah golongan virus retro yang disebut human immunodeficiency virus (HIV). diare kronik yang berlangsung lebih dari 1 bulan. orang yang ketagian obat intravena. melalui darah yang terinfeksi. 3. 25 . partner seks dari penderita AIDS.2. Cara penularan HIVmelakukan penetrasi seks. retinitis cytomegalovirus. Saran Dengan dibuatnya makalah HIV pada ibu hamil ini. wanita hamil. dengan mengunakan bersama jarum untuk menyuntik obat bius dengan seseorang yang telah terinfeksi. Kelompok resiko tinggi: lelaki homoseksual atau biseks.1. adanya herpes zoster yang berulang. herpes simplex kronik progresif. Gejala mayor infeksi HIV adalah BB menurun lebih dari 10% dalam 1 bulan. Kesimpulan HIV ( Human immunodeficiency Virus ) adalah virus pada manusia yang menyerang system kekebalan tubuh manusia yang dalam jangka waktu yang relatif lama dapat menyebabkan AIDS. Gejala minor: batuk menetap lebih dari 1 bulan. penurunan kesadaran dan adanya gangguan neurologis. penerima darah atau produk darah (transfusi). infeksi jamur berulang pada kelamin wanita. kandidiasis orofaringeal. demensia / HIV ensefalopati.BAB III PENUTUP 3. diharapkan nantinya akan memberikan manfaat bagi para pembaca terutama pemahaman yang berhubungan dengan bagaimana melakukan sebuah proses asuhan keperawatan maternitas terutama pada ibu hamil yang juga menderita HIV. limfadenopati generalist. karena pada saat itu terjadi kontak secara lansung antara darah ibu dengan bayi sehingga virus dari ibu dapat menular pada bayi. Penularan secara perinatal terjadi terutama pada saat proses melahirkan. bayi dari ibu/bapak terinfeksi. dermatitis generalist.

kswann. Apa itu HIV/AIDS?.26 DAFTAR PUSTAKA Carpenito. http://www. 13.org/. AIDS pada ibu hamil. Ida. EGC. alih bahasa : I Made Kariasa dan Ni Made S. 2000. Pencegahan dan Penatalaksanaan Infeksi HIV (AIDS) pada kehamilan.00 WIB (access online) Yati. 2010. 2009. 10 Desember 2010. 13.10 WIB (access online) Administrator. Pedoman untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien. Jakarta Kuswayan. Diagnosis Keperawatan. Jakarta: EGC Doengoes. dkk. Lamongan.mkb-online. Rencana Asuhan Keperawatan . 10 Desember 2010. 2006.com/WhatisHIVAIDS. http://www. 13.com/docs/.pdf. Lamongan. Lynda Juall.30 WIB (access online) 26 . Marilynn. Lamongan. 2010. http://www. 10 Desember 2010. edisi 3.docstoc.

27 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful