Perkembangan Pemikiran Hak Asasi Manusia Karel Vasak , seorang ahli hukum dari Perancis, membantu kita untuk

memahami dengan lebih baik perkembangan sub stansi hak-hak yang terkandung dalam konsep hak asasi manusia. Vasak menggunakan istilah “generasi” untuk menunjuk pada substansi dan ruang lingkup hak-hak yang diprioritaskan pada satu kurun waktu tertentu. hukum dari Perancis itu membuat kategori generasi Perancis yang terkenal itu, yaitu: “kebebasan, persamaan, dan persaudaraan”.
21

Ahli Menurut

berdasarkan slogan Revolusi

Vasak, masing-masing kata dari slogan itu, sedikit banyak mencerminkan perkembangan dari kategori-kategori atau generasi-generasi hak yang berbeda. Penggunaan istilah “generasi” dalam melihat perkembangan hak asasi manusia memang bisa menyesatkan. Tetapi model Vasak tentu saja tidak dimaksudkan sebagai representasi dari kehidupan yang riil, model ini tak lebih dari sekedar suatu ekspresi dari suatu perkembangan yang sangat rumit. (a) Generasi Pertama Hak Asasi Manusia
Karel Vasak, “A 30-Year Struggle: The Sustained Efforts to Give Force of Law to the Universal Declaration of Human Rights”, Unesco Courier , November, 1977, hlm. 29-32.
21

Bagaimana persisnya generasi-generasi hak

yang dimaksud oleh Vasak? Di bawah ini garis-garis besarnya dielaborasi lebih lanjut.

1

“Kebebasan” atau “hak-hak generasi pertama” sering dirujuk untuk mewakili hak hak sipil dan politik, yakni hak-hak asasi manusia yang “klasik”. Hak-hak ini muncul dari tuntutan untuk melepaskan diri dari kungkungan kekuasaan absolutisme negara dan kekuatan-kekuatan sosial lainnya --sebagaimana yang muncul dalam revolusi hak yang bergelora di Amerika Serikat dan Perancis pada abad ke-17 dan ke-18.

-

Karena itulah

hak-hak generasi pertama itu dikatakan sebagai hak-hak klasik . Hak-hak tersebut pada hakikatnya hendak melindungi kehidupan pribadi manusia atau menghormati otonomi setiap orang atas dirinya sendiri (kedaulatan individu). Termasuk dalam generasi pertama ini adalah hak hidup, keutuhan jasmani, hak kebebasan bergerak, hak suaka dari penindasan, perlindungan terhadap hak milik, kebebasan berpikir, beragama dan berkeyakinan, kebebasan untuk berkumpul dan menyatakan pikiran, hak bebas dari penahanan dan penangkapan sewenang-wenang, hak bebas dari penyiksaan, hak bebas dari hukum yang berlaku surut, dan hak mendapatkan proses peradilan yang adil. Hak-hak generasi pertama itu sering pula disebut sebagai tangan terhadap hak-hak dan kebebasan individual. “hak-hak negatif”.

Artinya tidak terkait dengan nilai-nilai buruk, melainkan merujuk pada tiadanya campur Hak-hak ini menjamin suatu ruang Hakkebebasan di mana individu sendirilah yang berhak menentukan dirinya sendiri.

hak generasi pertama ini dengan demikian menuntut ketiadaan intervensi oleh pihak pihak luar (baik negara maupun kekuatan-kekuatan sosial lainnya) terhadap kedaulatan individu. Dengan kata lain, pemenuhan hak-hak yang dikelompokkan dalam generasi pertama ini sangat tergantung pada absen atau minusnya tindakan negara terhadap hak hak tersebut. Jadi negara tidak boleh berperan aktif (positif) terhadapnya, karena akan mengakibatkan pelanggaran terhadap hak-hak dan kebebasan tersebut. membedakannya dengan hak-hak generasi kedua, konstitusi mereka. (b) Generasi Kedua Hak Asasi Manusia “Persamaan” atau “hak-hak generasi kedua” hak ekonomi, sosial dan budaya.

-

Inilah yang

yang sebaliknya justru menuntut

peran aktif negara. Hampir semua negara telah memasukkan hak-hak ini ke dalam

diwakili oleh perlindungan bagi hak -

Hak-hak ini muncul dari tuntutan agar negara aktif, agar

menyediakan pemenuhan terhadap kebutuhan dasar setiap orang, mulai dari makan sampai pada kesehatan. Negara dengan demikian dituntut bertindak lebih

2

hak-hak tersebut dapat terpenuhi atau tersedia. dirumuskan dalam bahasa yang positif:

22

Karena itu hak-hak generasi kedua ini

“hak atas” (“ right to ”), bukan dalam bahasa adalah hak atas pekerjaan dan

negatif: “bebas dari” (“ freedom from ”). Inilah yang membedakannya dengan hak-hak generasi pertama. Termasuk dalam generasi kedua ini upah yang layak, hak atas jaminan sosial, hak atas pendidikan, hak atas kesehatan, hak atas pangan, hak atas perumahan, hak atas tanah, hak atas lingkungan yang sehat, dan hak atas perlindungan hasil karya ilmiah, kesusasteraan, dan kesenian. Hak-hak generasi kedua pada dasarnya adalah tuntutan akan persamaan sosial. Hak-hak ini sering pula dikatakan sebagai “hak-hak positif”. Yang dimaksud dengan positif di sini adalah bahwa pemenuhan hak-hak tersebut sangat membutuhkan peran aktif negara. Keterlibatan negara di sini harus menunjukkan tanda plus (positif), tidak boleh menunjukkan tanda minus (negatif). Jadi untuk memenuhi hak-hak yang Contohnya, untuk dikelompokkan ke dalam generasi kedua ini, negara diwajibkan untuk menyusun dan menjalankan program-program bagi pemenuhan hak-hak tersebut. memenuhi hak atas pekerjaan bagi setiap orang, negara harus membuat kebijakan ekonomi yang dapat membuka lapangan kerja. Sering pula hak-hak generasi kedua ini diasosiasikan dengan paham sosialis, atau sering pula dianggap sebagai “hak derivatif” -yang karena itu dianggap bukan hak yang “riil”.
23

Namun demikian, sejumlah negara

(seperti Jerman dan Meksiko) telah memasukkan hak-hak ini dalam konstitusi mereka. (c) Generasi Ketiga Hak Asasi Manusia “Persaudaraan” atau “hak-hak generasi ketiga” solidaritas” atau “hak bersama”.
24

diwakili oleh tuntutan atas “hak Melalui tuntutan

Hak-hak ini muncul dari tuntutan gigih negara-negara

berkembang atau Dunia Ketiga atas tatanan internasional yang adil.

atas hak solidaritas itu, negara-negara berkembang menginginkan terciptanya suatu tatanan ekonomi dan hukum internasional yang kondusif bagi terjaminnya hak-hak
Lihat tulisan-tulisan yang disunting oleh Krzysztof, Catarina Krause & Allan Rosas (eds), Sosial Rights as Human Rights: A European Challenge , Abo Academi University Institute for Human Rights, Abo, 1994.
22 23

Lihat kritik yang keras dari Maurice Cranston dalam bukunya,

What are Human Rights? , op. cit.

Lihat pula tulisan Karel Vasak khusus tentang isu ini, For the Third Generation of Human Rights: The Rights of Solidarity , Inaugural Lecture, Tenth Study Session of the International Institute of Human Rights, 2 July 1979.
24

3

berikut : (i) hak atas pembangunan; (ii) hak atas perdamaian; (iii) hak atas sumber daya sendiri; (iv) hak atas lingkungan hidup yang baik; dan (v) hak atas warisan sendiri. Inilah isi generasi ketiga hak asasi manusia itu. kedua generasi hak asasi manusia terdahulu.
25

alam budaya

Hak-hak generasi ketiga ini berkaitan dengan

sebetulnya hanya mengkonseptualisasi kembali tuntutan-tuntutan nilai

Di antara hak-hak generasi ketiga yang sangat diperjuangkan oleh negara-negara berkembang itu, terdapat beberapa hak yang di mata negara-negara Barat agak kontroversial. 26 Hak-hak itu dianggap kurang pas dirumuskan sebagai “hak asasi”. Klaim memuaskan Bagaimana atas hak-hak tersebut sebagai “hak” baru dianggap sahih apabila terjawab dengan bertanggungjawab melaksanakannya , individu , kelompok atau melahirkan keraguan dan optimisme di kalangan para ahli ketika itu. 27 Tetapi dari tuntutannya jelas bahwa memang bisa disebut sebagai “hak”-- akan bukan sekedar tanggungjawab suatu negara. negara?

pertanyaan-pertanyaan berikut: siapa pemegang hak tersebut , individu atau negara? ; siapa yang mekanisme pelaksanaannya? Pembahasan terhadap pertanyaan pertanyaan mendasar ini telah dalam menyambut hak-hak generasi pelaksanaan hak-hak semacam itu --jika

bergantung pada kerjasama internasional, dan

Contoh Perlindungan HAM dalam KUHAP.
BAB VI TERSANGKA DAN TERDAKWA Pasal 50 (1) Tersangka berhak segera mendapat pemeriksaan oleh penyidik dan selanjutnya dapat diajukan kepada penuntut umum. (2) Tersangka berhak perkaranya segera dimajukan ke pengadilan oleh penuntut umum. (3) Terdakwa berhak segera diadili oleh pengadilan. Pasal 51 Untuk rnempersiapkan pembelaan: a. tersangka berhak untuk diberitahukan dengan jelas dalam bahasa yang dimengerti olehnya tentang apa yang disangkakan kepadanya pada waktu pemeriksaan dimulai,

4

b. terdakwa berhak untuk diberitahukan dengan jelas dalam bahasa yang dimengerti olehnya tentang apa yang didakwakan kepadanya Pasal 52 Dalam pemeriksaan pada tingkat penyidikan dan pengadilan, tersangka atau terdakwa berhak memberikan keterangan secara bebas kepada penyidik atau hakim. Pasal 53 (1) Dalam pemeriksaan pada tingkat penyidikan dan pengadilan, tersangka atau terdakwa berhak untuk setiap waktu mendapat bantuan juru bahasa sebagaimana dimaksud dalam Pasal 177. (2) Dalam hal tersangka atau terdakwa bisu dan atau tuli diberlakukan ketentuan sebagainiana dimaksud dalam Pasal 178. Pasal 54 Guna kepentingan pembelaan, tersangka atau terdakwa berhak mendapat bantuan hukum dari seorang atau lebih penasihat hukum selama dalam waktu dan pada setiap tingkat pemeriksaan, menurut tatacara yang ditentukan dalam undang-undang ini. Pasal 55 Untuk mendapatkan penasihat hukum tersebut dalam Pasal 54, tersangka atau terdakwa berhak memiih sendiri penasihat hukumnya. Pasal 56 (1) Dalam hal tersangka atau terdakwa disangka atau didakwa melakukan tindak pidana yang diancam dengan pidana mati atau ancaman pidana lima belas tahun atau lebih atau bagi mereka yang tidak mampu yang diancam dengan pidana lima tahun atau lebih yang tidak mempunyai penasihat hukum sendiri, pejabat yang bersangkutan pada semua tingkat pemeriksaan dalam proses peradilan wajib menunjuk penasihat hukum bagi mereka. (2) Setiap penasihat hukum yang ditunjuk untuk bertindak sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), memberikan bantuannya dengan cuma-cuma. Pasal 57 (1) Tersangka atau terdakwa yang dikenakan penahanan berhak menghubungi penasihat hukumnya sesuai dengan ketentuan undang-undang ini. (2) Tersangka atau terdakwa yang berkebangsaan asing yang dikenakan penahanan berhak menghubungi dan berbicara dengan perwakilan negaranya dalam menghadapi proses perkaranya. Pasal 58 Tersangka atau terdakwa yang dikenakan penahanan berhak meng hubungi dan menerima kunjungan dokter pribadinya untuk kepentingan kesehatan baik yang ada hubungannya dengan proses perkara maupun tidak.

5

Pasal 59 Tersangka atau terdakwa yang dikenakan penahanan berhak diberitahukan tentang penahanan atas dirinya oleh pejabat yang berwenang pada semua tingkat pemeriksaan dalam proses peradilan, kepada keluarganya atau orang lain yang serumah dengan tersangka atau terdakwa ataupun orang lain yang bantuannya dibutuhkan oleh tersangka atau terdakwa untuk mendapatkan bantuan hukum atau jaminan bagi penangguhannya. Pasal 60 Tersangka atau terdakwá berhak menghubungi dan menerima kunjungan dari pihak yang mempunyai hubungán kekeluargaan atau lainnya dengan tersangka atau terdakwa guna mendapatkan jaminan bagi penangguhan penahanan ataupun untuk usaha mendapatkan bantuan hukum. Pasal 61 Tersangka atau terdakwa berhak secara Iangsung atau dengan perantaraan penasihat hukumnya menghubungi dan menerima kunjungan sanak keluarganya dalam hal yang tidak ada hubungannya dengan perkara tersangka atau terdakwa untuk kepentingan pekerjaan atau untuk kepentingan kekeluargaan. Pasal 62 (1) Tersangka atau terdakwa berhak mengirim surat kepada penasihat hukumnya, dan menerima surat dari penasihat hukumnya dan sanak keluarga setiap kali yang diperlukan olehnya, untuk keperluan itu bagi tersangka atau terdakwa disediakan alat tulis menulis. (2) Surat menyurat antara tersangka atau terdakwa dengan penasihat hukumnya atau sanak keluarganya tidak diperiksa oleh penyidik, penuntut umum, hakim atau pejabat rumah tahanan negara kecuali jika terdapat cukup alasan untuk diduga bahwa surat menyurat itu disalahgunakan. (3) Dalam hal surat untuk tersangka atau terdakwa ditilik atau diperiksa oleh penyidik, penuntut umum, hakim atau pejabat rumah tahanan negara, hal itu diberitahukan kepada tersangka atau terdakwa dan surat tersebut dikirim kembali kepada pengirimnya setelah dibubuhi cap yang berbunyi "telah ditilik". Pasal 63 Tersangka atau terdakwa berhak menghubungi dan menerima kunjungan dari rohaniwan. Pasal 64 Terdakwa berhak untuk diadili di sidang pengadilan yang terbuka untuk umum. Pasal 65 Tersangka atau terdakwa berhak untuk mengusahakan diri mengajukan saksi dan atau seseorang yang memiliki keahlian khusus guna memberikan keterangan yang menguntungkan bagi dirinya.

6

Pasal 66 Tersangka atau terdakwa tidak dibebani kewajiban pembuktian. Pasal 67 Terdakwa atau penuntut umum berhak untuk minta banding terhadap putusan pengadilan tingkat pertama kecuali terhadap putusan bebas, lepas dari segala tuntutan hukum yang menyangkut masalah kurang tepatnya penerapan hukum dan putusan pengadilan dalam acara cepat. Pasal 68 Tersangka atau terdakwa berhak menuntut ganti kerugian dan rehabilitasi sebagaimana diatur dalam Pasal 95.

Perkembangan Pemikiran HAM di Indonesia: Perkembangan pemikiran mengenai HAM di Indonesia tebagi dalam dua periode yaitu periode sebelum kemerdekaan (1908-1945) dan periode setelah kemerdekaan (1945sekarang). (1) Periode sebelum kemerdekaan (1908-1945) Pemikiran HAM pada periode melalui organisasi pergerakan pada masa tersebut. Dalam konteks pemikiran HAM, para pemimpin Boedi Oetomo telah memperlihatkan adanya kesadaran berserikat dan mengeluarkan pendapat melalui petisi-petisi yang ditujukan kepada pemerintah kolonial dalam tulisan yang dimuat dalam Goeroe Desa. Selain itu, Boedi Oetomo telah pula memperlihatkan kepeduliannya tentang konsep perwakilan rakyat. Langkah tersebut diambil sebagai bentuk kewajiban mempertahankan negeri di bawah pemerintahan kolonial. Selanjutnya, pemikira HAM pada Perhimpunan Indonesia banyak dipengaruhi tokoh organisasinya seperti Moh. Hatta, Nazir, Pamontjak, Ahmad Soebardjo, A.A Maramis, dan lain-lain.
7

Pemikiran itu lebih menitikberatkan pada hak untuk menentukan nasib sendiri (the right of self-determination). Selanjutnya, Sarekat Islam merupakan organisasi kaum santri yang dimotori oleh H. Agus Salim dan Abdul Muis. Konsep HAM yang dikemukakan oleh organisasi ini menekankan pada usaha-usaha untuk memperoleh penghidupan yang layak dan bebas dari penindasan dan diskriminasi rasial. Selanjutnya, Partai Komunis Indonesia yang merupakan partai yang berlandaskan pada Marxisme. Dari segi pemikiran HAM partai ini lebih condong pada hak-hak yang bersifat sosial dan menyentuh isu-isu yang berkenaan dengan alat-alat produksi. Organisasi yang juga konsen terhadap HAM ada pada Indische Partij yang memiliki konsep pemikiran HAM paling yakni hak untuk mendapatkan kemerdekaan serta mendapatkan perlakuan yang sama. Bahkan, Douwes Dekker menyatakan bahwa kemerdekaan itu harus direbut. Kemudian Partai Nasional Indonesia yang dalam konteks pemikiran HAM mengedepankan hak untuk memperoleh kemerdekaan (the right of self determination). Adapun pemikiran HAM dalam organisasi Pendidikan Nasional Indonesia yang didirikan oleh Moh. Hatta setelah Partai Nasional Indonesia dibubarkan dan merupakan wadah perjuangan yang menerapkan taktik non kooperatif melalui program pendidikan politik, ekonomi dan sosial. Pemikiran HAM sebelum Indonesia merdeka juga terjadi dalam perdebatan pada sidang Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) antara Soekarno dan Soepomo di stau pihak dengan Moh. Hatta dan Moh. Yamin pada pihak lin. Perdebatan HAM yang terjadi dalam berkaitan dengan masalah hak persamaan kedudukan di muka hukum, hak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak, hak untuk memeluk agama dan kepercayaan, hak berserikat, hak berkumpul, hak mengeluarkan pikiran dengan lisan dan tulisan. (2) Periode setelah kemerdekaan (1945-sekarang)
8

(a) Periode 1945-1950 Pemikiran HAM pada awal kemerdekaan masih menekankan pada hak untuk merdeka (self detemination), hak kebebasan berserikat, melalui organisasi politik yang didirikan serta hak kebebasan untuk menyampaikan pendapat terutama di parlemen. (b) Periode 1950-1959 Pada periode 1950-1959 Indonesia melaksanakan sistem pemerintahan Demokrasi Parlementer pemikiran dan aktualisasi HAM pada periode ini mengalami “pasang” dan menikmati “bulan madu” nya kebebasan. Indikatornya antara lain; Pertama, semakin banyak tumbuh partai politik dengan beragam idiologinya masing-masing. Kedua, kebebasan pers sebagai salah satu pilar demokrasi betul-betul menikmati kebebasannya. Ketiga, pemilihan umum sebagai pilar lain dari demokrasi berlangsung dalam suasana kebebasan, fair dan demokratis. Keempat, parlemen atau dewan perwakilan rakyat sebagai representasi dari kedaulatan rakyat menunjukkan kinerja dan kelasnya sebagai wakil-wakil rakyat dengan melakukan kontrol/pengawasan yang semakin efektif terhadap eksekutif. Kelima, wacana dan pemikiran tentang HAM memperoleh iklim yang kondusif, sejalan dengan tumbuhnya sistem kekuasaan yang memberikan ruang kebebasan. (c) Periode 1959-1966 Pada periode ini sistem pemerintahan yang berlaku adalah sistem demokrasi terpimpin sebagai reaksi penolakan Soekarno terhadapsistem demokrasi parlementer. Pada sistem ini kekuasaan terpusat pada tangan presiden. Akibatnya Presiden melakukan tindakan inkonstitusional baik pada tataran suprastruktur politik maupun dalam tataran infrastruktur politik. Dalam perspektif pemikiran HAM, telah terjadi pengekangan hak asasi masyarakat terutama hak sipil dan hak politik.
9

Dengan kata lain telah terjadi restriksi atau pembatasan yang ketat oleh kekuasaan, sehingga mengalami kemunduran (set back) sebagai sesuatu yang berbanding terbalik dengan situasi pada masa Demokrasi Parlementer. (d) Periode 1966-1998 Terjadi peralihan pemerintahan dari Soekarno ke Soeharto, setelah sebelumnya didahului dengan adanya pemberontakan G30S/PKI pada tanggal 30 September 1966 yang diikuti dengan situasi chaos yang terjadi hampir di seluruh wilayah Indonesia. Pergantian tampuk pimpinan nasional ini diikuti oleh suasana pengharapan yang tinggi akan munculnya supremasi hukum dan penghormatan terhadap HAM di Indonesia, sehingga pada masa awal periode ini diadakan berbagai seminar tentang HAM. Dalam kenyataannya, harapan itu tidak juga terwujud, malah pada sekitar awal tahun 1970-an sampai dengan akhir 1980-an persoalan HAM di Indonesia mengalami kemunduran, karena HAM tidak lagi dihormati, tidak dilindungi bahkan tidak ditegakkan karena pemikiran elite penguasa pada masa itu menganggap bahwa HAM merupakan produk Barat dan bersifat individualis, serta bertentangan dengan paham kekeluargaan yang dianut oleh bangsa Indonesia, meskipun begitu bukan berarti usaha untuk menegakkan HAM menjadi stagnan tapi pada periode ini masyarakat yang dimotori oleh LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat) dan masyarakat akademis melakukan berbagai upaya melalui pembentukan jaringan dan lobi internasional terkait dengan pelanggaran HAM yang terjadi seperti kasus Tanjung Priok, kasus Kedung Ombo, kasus DOM di Aceh, kasus di Irian Jaya, dan sebagainya. Upaya dari masyarakat tersebut mulai memperoleh hasil saat menjelang periode 1990-an karena pemerintah telah mulai menindaklanjuti terhadap penegakan HAM. Salah satu sikap akomodatif dari pemerintah dalam memenuhi
10

tuntutan penegakan HAM yakni dengan dibentuknya Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (KOMNAS HAM) pada tanggal 7 Juni 1993 berdasarkan KEPRES No. 50 tahun 1993. (e) Periode 1998-sekarang Pergantian rezim pemerintahan membawa dampak yang sangat penting bagi pemajuan dan perlindungan HAM di Indonesia. Pada periode ini dilakukan pengkajian ulang terhadap beberapa kebijakan pemerintah orde baru yang berlawanan dengan pemajuan dan perlindungan HAM. Demikian pula kajian terhadap instrumen-instrumen internasional HAM ditingkatkan. Hasilnya, banyak normanorma hukum HAM internasional diadopsi dalam peraturan perundang-undangan nasional. Masa ini tampaknya menandai era diterima konsep universalisme HAM. Strategi penegakan HAM pada periode ini melalui dua tahap: Pertama, tahap status penentuan (prescriptive status) dimana pemerintah telah menetapkan beberapa ketentuan perundang-undangan tentang HAM, selain itu pemerintah menerima norma-norman internasional, baik melalui ratifikasi maupun institusionalisasi norma-norma HAM internasional ke dalam sistem hukum nasional. Kedua, tahap penataan aturan secara konsisten (rule consistent behavior), tahap ini akan ditandai oleh penghormatan dan penegakan HAM secara konsisten, baik oleh Pemerintah maupun masyarakat. HAM : Hak milik bersama umat manusia yang diberikan oleh Tuhan untuk selama hidup (Kuntjoro Purbopranoto). PELANGGARAN HAM : Setiap perbuatan seseorang atau kelompok orang termasuk aparat Negara baik disengaja maupun tidak disengaja atau kelalaian yang secara melawan hukum ,mengurangi , menghalangi, membatasi, dan atau mencabut
11

hak asasi manusia seseorang atau kelompok orang yang dijamin oleh undang-undang ini (uu no 39 th 1999), dan tidak mendapatkan atau dikhawatirkan tidak akan memperoleh penyelesaian hukum Yang adil dan benar, berdasarkan mekanisme hukum yang berlaku. Ada dua jenis pelanggaran HAM : 1. Pelanggaran HAM biasa ( Ordenary crime /kejahatan biasa) 2. Pelanggaran HAM yang berat ( Extra Ordenary Crime /kejahatan yang luar biasa) Pelanggaran HAM biasa adalah pelanggaran yang dilakukan oleh seseorang atau kelompok orang termasuk aparat Negara baik disengaja maupun tidak disengaja atau kelalaian yang secara melawan Hukum mengurangi, menghalangi, membatasi, dan atau mencabut hak asasi manusia seseorang atau kelompok orang yang dijamin dalam UU N.39 Th.1999 diluar kejahatan genosida dan kejahatan terhadap kemanusiaan. Pelanggaran HAM biasa berbeda dengan pelanggaran HAM yang berat baik dalam hal pelakunya, modus operandi, tujuan dan proses pertanggungjawabannya. Untuk wilayah yang dapat dilanggar oleh pelanggaran HAM biasa (kejahatan biasa) , dalam perspektif HAM bisa menjangkau baik wilayah HAM yang Non derogable maupun yang derogable. 1) Pelanggaran HAM yang bersifat Non derogable:( adalah hakhak yang tidak dapat ditangguhkan atau dibatasi (dikurangi) pemenuhannya oleh Negara, meskipun dalam keadaan/kondisi darurat sekalipun) Dalam pasal 4 undang-undang HAM menyebutkan HAM yang tidak dapat dikurangi dalam keadaan apapun oleh siapapun adalah (a) hak untuk hidup (b) hak untuk tidak disiksa (c) hak kebebasan pribadi, pikiran dan hati nurani(d) hak beragama (e) hak untuk tidak diperbudak(f) hak untuk diakui sebagai pribadi dan persamaan di
12

hadapan hokum, dan (g) hak untuk tidak dituntut atas dasar hokum yang berlaku surut. Penjelasan pasal tersebut slanjutnya menyatakan bahwa yang dimaksud dengan “dalam keadaan apapun” termasuk keadaan perang, sengketa bersenjata, dan atau keadaan darurat. Sedangkan yang dimaksud “siapapun” adalah Negara,Pemerintah dan atau anggota masyarakat . Contoh pelanggaran HAM yang bersifat Non Derogable: -Pelanggaran atas hak hidup (pasal 9 undang-undang HAM) ; kasus pembunuhan atas Marsinah (buruh),pembunhan Syarifudin (wartawan). - Pelanggaran hak untuk tidak disiksa (pasal 33 ayat (1)undangundang HAM); penyiksaan atas Yudi Astono (kasus Marsinah) kasus narapidana dan tahanan lainnya. - Pelanggaran atas hak kebebasan pribadi ( pasal 15 undangundang HAM),pikiran (pasal 23 undang-undang HAM) dan hati nurani (pasal 23 undang-undang HAM) ; pelarangan pementasan teater (Rendra,Ratna Sarumpaet dll), dan teater buruh. - Pelanggaran hak beragama (pasal 22 undang-undang HAM) - Pelanggaran hak untuk diakui sebagai pribadi dan persamaan dihadapan hokum (pasal 17 undang-undang HAM); peristiwa pengadilan massa atas mereka yang dituduh mencopet,mencuri. 2) Pelanggaran HAM yang bersifat derogable (hak-hak yang masih dapat dikurangi (dibatasi) atau ditangguhkan pemenuhannya oleh Negara dalam kondisi tertentu. Pembatasan tersebut karena ada situasi mendesak,penangguhannya tidak boleh didasarkan diskriminasi ras,warna kulit,jenis kelamin,bahasa,agama atau asal usul dan pembatasan tersebut harus dilaporkan kepada PBB): Dalam undang-undang HAM jenis pelanggarannya antara lain :
13

- pelanggaran atas hak untuk berkumpul, berapat dan berserikat (pasal 24 undang-undang HAM) ; pelarangan pertemuan Paguyuban korban orde baru’ - pelanggaran hak untuk menyampaikan pendapat dimuka umum, hak untuk mogok (pasal 25 undang-undang HAM); - pelanggaran hak untuk bebas bergerak dan bertempat tinggal dalam wilayah RI (pasal 17 dan 40 undang-undang HAM) ;kasus cegah tangkal (cekal). - pelanggaran hak atas rasa aman (pasal 30 dan 35 undangundang HAM);sweeping orang aceh di Jakarta. - pelanggaran atas reproduksi perempuan (pasal 49 undangundang HAM); pelarangan atas hak cuti haid, pelecehan seksual (penggeledahan buruh perempuan pabrik. - Pelanggaran atas hak anak (pasal 58,63 dan 66 undang-undang HAM); perdagangan anak,pelacuran anak (trafikking). Pelanggaran HAM Berat adalah pelanggaran yang meliputi : a. Kejahatan genosida b. Kejahatan terhadap kemanusiaan ( pasal 7 UU No.26 Th 2000) Dalam UU N0 26 Tahun 2000 tentang Pengadilan HAM yang dimakasudkan : (Pasal 8 ) Kejahatan genosida adalah setiap perbuatan yang dilakukan dengan maksud untuk menghancurkan atau memusnahkan seluruh atau sebagian kelompok bangsa, ras, kelompok etnis, kelompok agama, dengan cara : a. Membunuh anggota kelompok b. Mengakibatkan penderitaan fisik atau mental yang berat terhadap anggota-anggota kelompok; c. Menciptakan kondisi kehidupan kelompok yang akan mengakibatkan kemusnahan secara fisik baik seluruh atau sebagiannya ; d. Memaksakan tindakan-tindakan yang bertujuan mencegah kelahiran didalam kelompok, atau
14

e. Memindahkan secara paksa anak-anak dari kelompok tertentu kekelompok lain. (Pasal 9 ) Kejahatan terhadap kemanusiaan adalah salah satu perbuatan yang dilakukan sebagai bagian dari serangan yang meluas atau sistematik yang diketahuinya bahwa serangan tersebut ditujukan secara langsung terhadap penduduk sipil berupa : a. Pembunuhan; b. Pemusnahan c. Perbudakan; d. Pengusiran atau pemindahan secara paksa; e. Perampasan kemerdekaan atau perampasan kebebasan fisik lain secara sewenang –wenang yang melanggar (asas-asas Ketentuan Pokok Hukum Internasional; f. Penyiksaan ; g. Perkosaan, perbudakan seksual, pelacuran secara paksa, pemaksaan kehamilan, pemandulan atau sterilisasi secara paksa atau bentuk-bentuk kekerasan seksual lain yang setara; h. Penganiayaan terhadap suatu kelompok tertentu atau perkumpulan yang didasari persamaan paham politik, ras, kebangsaan, etnis, budaya, agama, jenis kelamin atau alasan lain yang telah diakui secara universal sebagai hal yang dilarang menurut Hukum Internasional; i. Penghilangan orang secara paksa; atau j. Kejahatan apartheid. ; Contoh Kasus Pelanggaran HAM Berat 1.Kejahatan genosida Di Indonesia contoh kasus kejahatan genosida belum ada, karena untuk mengatakan kasus tersebut sebagai kejahatan genosida didalam Statuta Roma pasal 6 ditegaskan bahwa setiap perbuatan yang dilakukan dengan tujuan untuk menghancurkan, seluruhnya atau sebagian , suatu kelompok nasional, etnis, ras dan keagamaan, seperti misalnya:
15

a. membunuh anggota kelompok tersebut b. menimbulkan luka atau mental yang serius terhadap para anggota kelompok tersebut c. secara sengaja menimbulkan kondisi kehidupan atas kelompok tersebut yang diperhitungkan akan menyebabkan kehancuran fisik secara keseluruhan atau sebagian d. memaksakan tindakan-tindakan yang dimaksud untuk mencegah kelahiran dalam kelompok tersebut e. memindahkan secara paksa anak-anak dari kelompok itu kepada kelompok lain. 2. Kejahatan terhadap kemanusiaan Dalam pasal 9 undang-undang pengadilan HAM dikatakan bahwa “ kejahatan terhadap kemanusiaan sebagaimana dimaksud pasal 7 huruf b adalah salah satu perbuatan yang dilakukan sebagai bagian dari serangan yang meluas atau sistematis yang diketahuinya bahwa serangan tersebut ditujukan secara langsung terhadap penduduk sipil, berupa……….. Baik UU No 26 Th 2000 maupun Statuta Roma (1998) tidak memberkan definisi mengenai arti meluas dan sistematis.Oleh karena itu pengertian meluas atau sistematis perlu menggunakan yurisprodensi antara lain Mahkamah Pidana Internasional Ad-Hoc untuk bekas jajahan Yogolavia (The Internasional Criminal Tribunal For the Former Yugoslavia/ICTY) dan Mahkamah Pidana Internasional untuk Rwanda ( The Internasional Criminal Tribunal for Rwanda/ICTR) dan doktrin berdasarkan yuriprodensi internasional. Dalam putusan ICTR terhadap perkara AKAYESU mengartikan “meluas”sebagai tindakan “massive” berulang-ulang dan berskala besar yang dilakukan secara kolektif dengan dampak serius dan diarahkan terhadap sejumlah korban (besar), sedangkan “sistematis”diartikan diorganisasikan secara mendalam dan mengikuti pola tertentu yang terus menerus berdasarkan kebijakan yang melibatkan sumberdaya public atau privat yang substansial meskipun kebijakan tersebut bukan merupakan kebijakan Negara secara formal, rencana tidak harus dinyatakan secara tegas atau
16

terang-terangan. Adapun berbagai pristiwa yang dapat dicurigai sebagai kejahatan terhadap kemanusiaan antara lain: - pembunuhan terhadap ratusan ribu orang yang dituduh sebagai PKI pada tahun 1965/1966; pembunuhan sejumlah orang (yang dituduh) “preman”lewat penembak misterius (petrus); pembunuhan Amir Biki (pimpinan kelompok kasus Tanjung priok) yang terjadi dalam pristiwa “Tanjung Priok”; pembunuhan dalam kasus Talangsari-Lampung; pembunuhan yang terjadi di Aceh selama DOM; kasus Trisakti, Kasus Semanggi (yang diganjal oleh keputusan pansus DPR yang menyatakan bahwa tidak terjadi pelanggaran HAM yang berat meskipun hasil penyelidikan Komnas HAM menyatakan sebaliknya (terjadi pelanggaran HAM yang berat). - pengusiran atau pemindahan penduduk secara paksa (etnis madura dalam pristiwa konflik horizontal di Kal-Bar; pengusiran penduduk asli etnis Aceh oleh milisi-sipil penduduk bukan asli yang didukung oleh militer di Aceh Tengah. - penyiksaan para aktivis mahasiswa yang diculik oleh Kopasus dalam kasus “penculikan aktivis; penyiksaan atas aktivis mahasiswa demokrasi (dalam kasus penculikan aktivis); penyiksaan atas penduduk sipil di Aceh. - perkosaan yang terjadi dalam pristiwa kasus “kerusuhan Mei 1988. - penghilangan orang secara paksa terhadap aktivis mahasiswa dan terhadap penduduk sipil di Aceh selama konflik dll. Bahwa pelanggaran HAM yang berat merupakan suatu kejahatan Internasional dan dikatagorikan sebagai musuh semua umat manusia (hostis humanis generis), karena itu merupakan tanggungjawab semua umat manusia (obligatio erga omnes ) untuk menyelesaikannya secara hokum dan menghukum pelaku secara adil. Pada awalnya doktrin ini berlaku untuk kejahatan “bajak laut dan perdagangan budak”pada abad ke 19 yang selanjutnya berkembang mencakup kejahatan serius seperti genosida dan kejahatan terhadap kemanusiaan.
17

Belum ada definisi yang cukup memadai untuk menjelaskan perbuatan yang dapat dikatagorikan sebagai pelanggaran HAM yang berat (Gross Violation of Human Rights), hal ini dikarenakan berbagai bentuk pelanggaran HAM yang berat tidak cukup diterangkan dalam satu definisi hokum. Begitu juga dengan konsep pelanggaran HAM yang berat berdasarkan UU No 26 Th 2000 tentang Pengadilan HAM, tidak dijelaskan mengenai “definisi dan unsure-unsur dari pelanggaran HAM yang berat tersebut (lihat pasal 8 dan pasal 9 ).Untuk itulah Mahkamah Agung (MA) membuat tafsiran tersendiri mengenai unsure-unsur adanya pelanggaran HAM yang berat yang diterbitkan dalam bentuk buku yang berjudul “pedoman unsure-unsur tindak pidana pelanggaran hak asasi manusia yang berat dan pertanggungjawaban komando”pada tahun 2006, untuk memudahkan dalam memberikan analisa hokum untuk mencari unsure-unsur adanya pelanggaran HAM yang berat yang terjadi dalam yuridiksi Negara Republik Indonesia………………………………..

Pasal 1 angka (3) UU No 26 Th 2000 tentang Pengadilan Hak Asasi Manusia yang selanjutnya disebut Pengadilan HAM adalah pengadilan khusus terhadap pelanggaran hak asasi manusia yang berat . Pelanggaran HAM yang berat meliputi kejahatan genosida dan kejahatan terhadap kemanusiaan. Dengan demikian dapatlah dikatakan bahwa “pengadilan HAM adalah pengadilan khusus mengadili kejahatan genosida dan kejahatan kemanusia.” Selain Pengadilan HAM, dikenal pula Pengadilan HAM Ad Hoc yang eksistensinya berdasarkan ketentuan UU No 26 Th 2000 Pasal 43 ayat (1) yang berbunyi “ Pelanggaran hak asasi manusia yang berat yang terjadi sebelum diundangkanya Undang-undang ini, diperiksa dan diputus oleh Pengadilan HAM ad hoc. Dari ketentuan pasal tersebut dapat diketahui bahwa undang-undang pengadilan HAM dapat diberlakukan surut (retroaktif). Terhadap hal ini timbul
18

kotroversi, karena dalam hukum pidana asas yang dipegang teguh adalah “asas legalitas” (tidak ada penghukuman tanpa adanya pemidanaan terlebih dahulu) selain itu juga larangan berlaku surut terdapat dalam pasal 28 I ayat (1) UUD 1945.Adapun alasan utnuk dapat digunakannya asas retroaktif adalah “bahwa asas legalitas (nullum crimen sine lege) mempunyai landasan fundamental moral yaitu hendak melindungi rakyat dari kezaliman penguasa. Di Indonesia telah begitu banyak korban kejahatan terhadap kemanusiaan yang dilakukan oleh kekuasaan selama puluhan tahun dan tidak ada ketentuan yang melindungi martabat kemanusiaan rakyat , tidak ada kasus yang dibawa ke pengadilan. Dalam masyarakat Internasional sejak 52 tahun yang lalu terdapat peradilan Nurenberg dan Tokyo yang menggunakan prinsip retroaktif untuk mengadili kejahatan terhadap kemanusiaan.Dalam praktek peradilan internasional mengadili para pelaku kejahatan Internasional (pelanggaran HAM yang berat) ditempuh dengan membentuk “ad hoc extra judicial tribunal “ dan telah menjadi kesepakatan universal bahwa sejak berakhirnya PD ke II kejahatankejahatan terhadap kemanusiaan harus diperangi dan diadili. Pradilan ini bersifat extra legal atau extra judicial, karena dibentuk dengan sangat terpaksa untuk mensiasati kekosongan norma-norma Internasional dan adanya pertentangan antara norma Internasional dengan norma Nasional.Penjahat perang yang diahadapkan ke peradilan tersebut telah diadili dengan norma-norma yang dibuat untuk kepentingan pengadilan itu sendiri. Sejak itulah untuk pertama kalinya dilakukan penyimpangan terhadap asas legalitas dengan menerapkan prinsip retroaktif. Penyimpangan terhadap asas legalitas ini bukannya tanpa disadari oleh para pembentuknya, tetapi adanya kesadaran bahwa pelanggaran terhadap asas legalitas karena suatu keadaan yang tidak terelakkan ,dan adanya komitmen yang sungguh –sungguh untuk mebatasi akibatnya. Komitmen untuk membatasi dampak dari pelanggaran asas legalitas ini memberikan sifat ad hoc bagi peradilan tersebut.Di Indonesia keberlakuan asas retroaktif telah dikuatkan dengan Keputusan Mahkamah Konstitusi (MK) yaitu dengan keputusan
19

nomor 065/PUU-II/2004 atas gugatan ABILIO SOARES dalam kasus Timur Timor yang meminta pemberlakuan pasal 43 UU No 26 Th 2000 dibatalkan karena tidak sesuai dengan Konstitusi, namun Mahkamah Konstitusi menolak gugatan tersebut dan menguatkan eksistensi Pengadilan HAM ad hoc. Demikian pula halnya dengan ketentuan Pasal 43 ayat (2) nya yang menyebutkan bahwa” Pengadilan HAM ad hoc sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dibentuk atas usul Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia berdasarkan pristiwa tertentu dengan keputusan Presiden” , serta penjelasan pasal tersebut berbunyi “ Dalam hal Dewan Perwakilan Rakyat Indonesia mengusulkan dibentuknya Pengadilan HAM Ad Hoc Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia mendasarkan pada dugaan terjadinya pelanggaran hak asasi manusia yang berat yang dibatasi pada locus dan tempus delicti tertentu yang terjadi sebelum diundangkannya Undang-Undang ini” Mahkamah Konstitusi berdasarkan Keputusannya Nomor 18/PUU-V/2007 yang diputuskan dalam Rapat Permusyawaratan Hakim pada tanggal 20 Februari Th 2007 dan diucapkan dalam Sidang Pleno Mahkamah Konstitusi terbuka untuk umum pada tanggal 21 Februari Th 2007, Penjelasan Pasal 43 ayat (2) UU Pengadilan HAM sepanjang kata “dugaan” bertentangan dengan UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dan tidak mempunyai kekuatan hokum yang mengikat.Mahkamah Konstitusi dalam putusan a quo berpendapat bahwa untuk menentukan perlu tidaknya pembentukan Pengadilan HAM ad hoc atas suatu kasus tertentu menurut locus dan tempus delicti memang memerlukan keterlibatan institusi politik yang mencerminkan representasi rakyat yaitu DPR. Akan tetapi,DPR dalam merekomendasikan pembentukan Pengadilan HAM ad hoc harus memperhatikan hasil penyelidikan dan penyidikan dari institusi yang berwenang untuk itu. Oleh karena itu , DPR tidak serta merta menduga sendiri tanpa memperoleh hasil penyelidikan dan penyidikan terlebih dahulu dari institusi yang berwenang .,dalam hal ini Komnas HAM sebagai penyelidik dan Kejaksaan Agung sebagai Penyidik sesuai ketentuan UU Pengadilan HAM.Harus dipahami bahwa kata “dugaan” dalam penjelasan Pasal 43 ayat (2) UU
20

Pengadilan HAM dapat menimbulkan ketidakpastian hokum (rechtsonzekerheid)sebagai akibat dapat ditafsirkannya kata “dugaan”berbeda dengan mekanisme sebagaimana diuraikan diatas”. Adapun Kata “ad hoc” yang berasal dari bahasa latin dapat diartikan “khusus” mengandung arti “formed for a particular purpose”(dibentuk untuk suatu tujuan tertentu) juga mengandung pengertian “tidak permanent” artinya keberadaan suatu badan atau lembaga ad hoc akan berakhir apabila maksud pembentukan badan itu telah selesai dilaksanakan. Dari ketentuan UU No 26 Th 2000 (Pasal 1 angka 3 dan Pasal 43 ayat (1) ) dapat diketahui bahwa kewenangan Pengadilan HAM dapat diklasifikasikan dalam dua (2) katagori,yaitu: 1.kewenangan Pengadilan HAM (memeriksa dan memutus perkara pelanggaran HAM berat yang terjadi setelah disahkannya UU No 26 Th 2000) 2.kewenangan Pengadilan HAM Ad Hoc (memeriksa dan memutus perkara pelanggaran HAM berat yang terjadi sebelum disahkannya UU No 26 Th 2000). Kedudukan dan Tempat kedudukan Pengadilan HAM. Dalam pasal 2 UU No 26 Th 2000 dikatakan bahwa Pengadilan HAM merupakan pengadilan khusus yang berada di lingkungan Peradilan Umum, demikian juga dalam pasal 43 ayat (3) nya dikatakan bahwa” Pengadilan HAM Ad Hoc sebagaimana diatur dalam ayat (1) berada dilingkungan Peradilan Umum. Dengan demikian eksistensi Pengadilan HAM maupun Pengadilan HAM Ad Hoc bukanlah pengadilan yang berdiri sendiri seperti yang diatur dalam pasal 2 UU No 4 Th 2004 tentang Kekuasaan Kehakiman “bahwa penyelenggaraan Kekuasaan Kehakiman dilakukan oleh sebuah Mahkamah Agung dan badan peradilan yang berada dibawah nya dalam lingkungan peradilan umum, lingkungan peradilan agama, lingkungan peradilan militer, lingkungan peradilan tata usaha Negara, dan oleh sebuah Mahkamah Konstitusi”.
21

Mengenai tempat kedudukannya sebagaimana diatur dalam pasal 3 : Ayat (1) Pengadilan HAM berkedudukan di daerah kabupaten atau daerah kota yang daerah hukumnya meliputi daerah hukum Pengadilan Negeri yang bersangkutan. Ayat (2) Untuk daerah Khusus Ibu kota Jakarta, Pengadilan HAM berkedudukan ditsetiap wilayah Pengadilan Negeri yang bersangkutan. Dari ketentuan pasal tersebut diketahui bahwa Pengadilan HAM merupakan pengadilan khusus yang berada dilingkungan Peradilan Umum yang daerah hukumnya meliputi daerah hukum pengadilan negeri yang bersangkutan (seperti pengadilan anak dan Prapradilan) .

Kewenangan Mengadili. Dalam UU No 26 Th 2000 ditegaskan: Pasal 4 “ Pengadilan HAM bertugas dan berwenang memeriksa dan memutus perkara pelanggaran hak asasi manusia yang berat “. Dalam hal ini yang dimaksud dengan memeriksa dan memutus dalam ketentuan ini adalah termasuk menyelesaikan perkara yang menyangkut kompensasi, restitusi, dan rehabilitasi sesuai dengan peraturan peundang-undangan yang berlaku (penjelasan pasal 4).Yang dimaksud dengan “kompensasi” adalah ganti kerugian yang diberikan oleh Negara , karena pelaku tidak mampu memberikan ganti kerugian sepenuhnya yang menjadi tanggungjawabnya,” restitusi” adalah ganti kerugian yang diberikan kepada korban atau keluarganya oleh pelaku atau pihak ketiga, restitusi dapat berupa a. pengembalian hak milik b. pembayaran ganti kerugian untuk kehilangan atau penderitaan ; atau c. penggantian biaya untuk tindakan tertentu.Sedangkan “rehabilitasi” adalah pemulihan pada kedudukan semula , misalnya kehormatan, nama baik, jabatan, atau hak-hak lain. Adapun pelanggaran HAM berat yang dimaksud adalah “kejahatan genoside dan kejahatan terhadap kemanusiaan (pasal 7)

22

Pasal 5 “ Pengadilan HAM berwenang juga memeriksa dan memutus perkara pelanggaran hak asasi manusia yang berat yang dilakukan diluar batas teritorial wilayah Negara Republik Indonesia oleh warga Negara Indonesia”. Dalam hal ini dimaksudkan untuk melindungi warga Negara Indonesia yang melakukan pelanggaran hak asasi manusia yang berat yang dilakukan diluar batas teritorial, dalam arti tetap di hukum sesuai dengan undang-undang tentang Pengadilan Hak Asasi Manusia ini (penjelasan pasal 5). Pasal 6 “ Pengadilan HAM tidak berwenang memeriksa dan memutus perkara pelanggaran hak asasi manusia yang berat yang dilakukan oleh seseorang yang berumur 18 (delapan belas ) tahun pada saat kejahatan dilakukan”. Dalam hal ini diperiksa dan diputus oleh Pengadilan Negeri (penjelasan pasal 6). 1.PENYELIDIKAN. Dalam pasal 1 angka 5 UU No 26 Th 2000 di tegaskan “Penyelidikan adalah serangkaian tindakan penyelidik untuk mencari dan menemukan ada tidaknya suatu pristiwa yang diduga merupakan pelanggaran hak asasi manusia yang berat guna ditindaklanjuti dengan penyidikan sesuai dengan ketentuan yang diatur dalam Undang-undang ini. Dalam pelanggaran HAM yang berat, yang berwenang melakukan penyelidikan adalah Komisi Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) yang dibentuk berdasarkan KEPRES NO 50 Tahun 1993. Sebelum berbicara mengenai peranan Komnas HAM dalam pelanggaran HAM berat, terlebih dahulu kita melihat peranan Komnas HAM yang diatur dalam UU No 39 Th 1999 tentang Hak Asasi Manusia (HAM), antara lain: 1) Sebagai lembaga yang bermisi mengembangkan kondisi yang kondusif bagi pelaksanaan HAM dan bermisi meningkatkan perlindungan dan penegakan HAM.
23

2) Sebagai lembaga yang merupakan bagian dari proses penyelesaian pelanggaran HAM yang berat, yakni sebagai lembaga penyelidik proyustisia pelanggaran HAM sebagaimana diatur dalam UU No 26 Th 2000. Mengenai peranan Komnas HAM sebagaimana ad 1) dapat dilihat dalam UU No 39 Th 1999 dari pasal 75 S/d pasal 99. Tujuan Komnas HAM (pasal 75 undang-undang HAM): a. mengembangkan kondisi yang kondusif bagi pelaksanaan hak asasi manusia sesuai denan Pancasila , Undang-Undang Dasar 1945, dan Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa , serta Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia ,dan b. meningkatkan perlindungan dan penegakan hak asasi manusia guna berkembangnya pribadi manusia Indonesia seutuhnya dan kemampuan nya berpartisipasi dalam berbagai bidang kehidupan. Dalam pasal 76 undang-undang HAM ditegaskan bahwa: (1) Untuk mencapai tujuannya, Komnas HAM melaksanakan fungsi poengkajian, penelitian ,penyuluhan, pemantauan dan meditasi tentang hak asasi manusia. (2) Komnas HAM beranggotakan tokoh masyarakat yang professional , berdedikasi dan berintegrasi tinggi , menghayati citacita negara hokum dan negara kesejahteraan yang berintikan keadilan, menghormati hak asasi manusia dan kewajiban dasar manusia. (3) Komnas HAM berkedudukan di ibukota Negara Republik Indonesia. (4) Perwakilan Komnas HAM dapat didirikan di daerah. Dalam pasal 78 undang-undang HAM ditegaskan bahwa: (1)Komnas HAM mempunyai kelengkapan yang terdiri dari: a. sidang paripurna; dan b.sub komisi
24

(2)Komnas HAM mempunyai sebuah Sekretaris Jenderal sebagai unsur pelayanan. Dalam pasal 83 undang-undang HAM ditegaskan bahwa: (1) Anggota Komnas HAM berjumlah 35 (tiga puluh lima) orang yang dipilih oleh Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia berdasarkan usulan Komnas HAM dan diresmikan oleh Presiden selaku Kepala Negara. Penjelasan pasal tersebut menegaskan bahwa “ Yang dimaksud “diresmikan oleh Presiden” adalah dalam bentuk Keputusan Presiden.dan makna presmian oleh Presiden dikaitkan dengan “kemandirian Komnas HAM”. Sedangkan mengenai usulan Komnas HAM yang dimaksud,harus menampung seluruh aspirasi dari berbagai lapisan masyarakat sesuai dengan syarat-syarat yang ditetapkan yang jumlahnya paling banyak 70 (tujuh puluh ) orang.

Dalam rangka Komnas HAM mencapai tujuannya, terdapat beberapa fungsi yang sangat urgent , diantaranya: 1. Fungsi pemantauan Komnas HAM yang diatur dalam pasal 89 ayat (3) undang-undang HAM . fungsi ini dikelompokkan menjadi 6 (enam) tindak: a. pengamatan dan pelaporan; b. penyelidikan dan pemeriksaan pristiwa; c. pemanggilan (korban, saksi, pengadu, dan pihak terkait lainnya); d. peninjauan di tempat kejadian atau tempat lain; e. pemeriksaan setempat; dan f. pemberian pendapat kepada ketua pengadilan. A.Pengamatan dan Pelaporan. Dalam hal ini pengamatan pelaksanaan HAM serta pelaporan hasil pengamatan pelaksanaan HAM kepada pihak terkait
25

merupakan tugas sehari-hari Komnas HAM. Pelaporan tersebut dilakukan secara tertulis yang terkadang didahului dengan pelaporan secara lisan kepada pihak terkait dengan pelaksanaan bidang HAM yang menjadi sasaran pengamatan. Mengenai pelaporan tersebut dapat berisi permintaan penjelasan, permintaan perhatian dan atau rekomendasi tindak demi penegakan HAM dibidang yang bersangkutan. B .Penyelidikan dan Pemeriksaan Peristiwa. Didalam pasal 89 ayat (3) huruf b, secara eksplisit dikatakan” penyelidikan dan pemeriksaan”sebagaimana disebut dalam ketentuan ini dilakukan terhadap” pristiwa “yang timbul dalam masyarakat yang berdasarkan sifat atau lingkupnya patut diduga terdapat pelanggaran HAM”. Sedangkan penjelasan pasal tersebut menyatakan bahwa “ yang dimaksud dengan penyelidikan dan pemeriksaan dalam rangka pemantauan adalah kegiatan pencarian data, informasi, dan fakta untuk mengetahui ada atau tidaknya pelanggaran HAM”. Dengan demikian dapat diketahui bahwa istilah “penyelidikan dan pemeriksaan menurut undang-undang HAM tersebut adalah: 1.Sepanjang istilah penyelidikan tidak sama dengan istilah penyelidikan yang diatur dalam UU No 8 Th 1981 tentang KUHAP (pasal 1 angka 5) dan UU No 26 Th 2000 tentang Pengadilan HAM (pasal 1 angka 5 jo pasal 19 dan penjelasannya). 2.Penyelidikan dan terutama pemeriksaan tersebut dilakukan tidak terhadap orang melainkan terhadap pristiwa. 3.Tindak penyelidikan dan pemeriksaan itu dilakukan dalam bentuk tindak pencarian data, informasi, dan fakta bukan pencarian orang. 4.Maksud pencarian data, informasi, dan fakta tersebut adalah untuk mengetahui ada atau tidaknya pelanggaran HAM, tidak untuk mengindentifikasi orang yang dapat disangka melakukan pelanggaran HAM (dalam hal hasil penyelidikan dan pemeriksaan tersebut menyimpulkan terdapatnya pelanggaran HAM dalam
26

pristiwa yang diselidiki dan diperiksa). Dalam proses pencarian data, informasi, dan atau fakta Komnas HAM memang harus berhubungan dengan orang hanya sebatas melakukan pemanggilan terhadap mereka yang dapat menunjang upaya pengumpulan data, informasi serta fakta dalam proses tersebut.

C. Pemanggilan Korban, Saksi,Pengadu, dan Pihak lain terkait. Berkenaan dengan kewenangan melakukan pemanggilan korban, saksi, pengadu, dan pihak lain yang terkait dalam pelaksanaan fungsi pemantauan diatur dalam pasal 89 ayat (3) huruf c, d,dan f undangundang HAM. Bahwa pemanggilan tersebut dilakukan tidak untuk “memeriksa” pihak yang dipanggil melainkan untuk meminta dan mendengar keterangan mereka(untuk korban dan pengadu), atau untuk meminta dan mendengar kesaksian yang bersangkutan (untuk saksi), atau untuk “meminta penyerahan dokumen yang diperlukan sesuai dengan aslinya”(dengan persetujuan Ketua Pengadilan). HAM : Hak milik bersama umat manusia yang diberikan oleh Tuhan untuk selama hidup (Kuntjoro Purbopranoto). Pasal 1 angka (3) UU No 26 Th 2000 tentang Pengadilan Hak Asasi Manusia yang selanjutnya disebut Pengadilan HAM adalah pengadilan khusus terhadap pelanggaran hak asasi manusia yang berat . Pelanggaran HAM yang berat meliputi kejahatan genosida dan kejahatan terhadap kemanusiaan. Dengan demikian dapatlah dikatakan bahwa “pengadilan HAM adalah pengadilan khusus mengadili kejahatan genosida dan kejahatan kemanusia.” Selain Pengadilan HAM, dikenal pula Pengadilan HAM Ad Hoc yang eksistensinya berdasarkan ketentuan UU No 26 Th 2000 Pasal 43 ayat (1) yang berbunyi “ Pelanggaran hak asasi manusia yang
27

berat yang terjadi sebelum diundangkanya Undang-undang ini, diperiksa dan diputus oleh Pengadilan HAM ad hoc. Dari ketentuan pasal tersebut dapat diketahui bahwa undang-undang pengadilan HAM dapat diberlakukan surut (retroaktif). Terhadap hal ini timbul kotroversi, karena dalam hukum pidana asas yang dipegang teguh adalah “asas legalitas” (tidak ada penghukuman tanpa adanya pemidanaan terlebih dahulu) selain itu juga larangan berlaku surut terdapat dalam pasal 28 I ayat (1) UUD 1945.Adapun alasan utnuk dapat digunakannya asas retroaktif adalah “bahwa asas legalitas (nullum crimen sine lege) mempunyai landasan fundamental moral yaitu hendak melindungi rakyat dari kezaliman penguasa. Di Indonesia telah begitu banyak korban kejahatan terhadap kemanusiaan yang dilakukan oleh kekuasaan selama puluhan tahun dan tidak ada ketentuan yang melindungi martabat kemanusiaan rakyat , tidak ada kasus yang dibawa ke pengadilan. Dalam masyarakat Internasional sejak 52 tahun yang lalu terdapat peradilan Nurenberg dan Tokyo yang menggunakan prinsip retroaktif untuk mengadili kejahatan terhadap kemanusiaan.Dalam praktek peradilan internasional mengadili para pelaku kejahatan Internasional (pelanggaran HAM yang berat) ditempuh dengan membentuk “ad hoc extra judicial tribunal “ dan telah menjadi kesepakatan universal bahwa sejak berakhirnya PD ke II kejahatankejahatan terhadap kemanusiaan harus diperangi dan diadili. Pradilan ini bersifat extra legal atau extra judicial, karena dibentuk dengan sangat terpaksa untuk mensiasati kekosongan norma-norma Internasional dan adanya pertentangan antara norma Internasional dengan norma Nasional.Penjahat perang yang diahadapkan ke peradilan tersebut telah diadili dengan norma-norma yang dibuat untuk kepentingan pengadilan itu sendiri. Sejak itulah untuk pertama kalinya dilakukan penyimpangan terhadap asas legalitas dengan menerapkan prinsip retroaktif. Penyimpangan terhadap asas legalitas ini bukannya tanpa disadari oleh para pembentuknya, tetapi adanya kesadaran bahwa pelanggaran terhadap asas legalitas karena suatu keadaan yang tidak terelakkan ,dan adanya komitmen yang sungguh –sungguh untuk mebatasi
28

akibatnya. Komitmen untuk membatasi dampak dari pelanggaran asas legalitas ini memberikan sifat ad hoc bagi peradilan tersebut.Di Indonesia keberlakuan asas retroaktif telah dikuatkan dengan Keputusan Mahkamah Konstitusi (MK) yaitu dengan keputusan nomor 065/PUU-II/2004 atas gugatan ABILIO SOARES dalam kasus Timur Timor yang meminta pemberlakuan pasal 43 UU No 26 Th 2000 dibatalkan karena tidak sesuai dengan Konstitusi, namun Mahkamah Konstitusi menolak gugatan tersebut dan menguatkan eksistensi Pengadilan HAM ad hoc. Demikian pula halnya dengan ketentuan Pasal 43 ayat (2) nya yang menyebutkan bahwa” Pengadilan HAM ad hoc sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dibentuk atas usul Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia berdasarkan pristiwa tertentu dengan keputusan Presiden” , serta penjelasan pasal tersebut berbunyi “ Dalam hal Dewan Perwakilan Rakyat Indonesia mengusulkan dibentuknya Pengadilan HAM Ad Hoc Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia mendasarkan pada dugaan terjadinya pelanggaran hak asasi manusia yang berat yang dibatasi pada locus dan tempus delicti tertentu yang terjadi sebelum diundangkannya Undang-Undang ini” Mahkamah Konstitusi berdasarkan Keputusannya Nomor 18/PUU-V/2007 yang diputuskan dalam Rapat Permusyawaratan Hakim pada tanggal 20 Februari Th 2007 dan diucapkan dalam Sidang Pleno Mahkamah Konstitusi terbuka untuk umum pada tanggal 21 Februari Th 2007, Penjelasan Pasal 43 ayat (2) UU Pengadilan HAM sepanjang kata “dugaan” bertentangan dengan UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dan tidak mempunyai kekuatan hokum yang mengikat.Mahkamah Konstitusi dalam putusan a quo berpendapat bahwa untuk menentukan perlu tidaknya pembentukan Pengadilan HAM ad hoc atas suatu kasus tertentu menurut locus dan tempus delicti memang memerlukan keterlibatan institusi politik yang mencerminkan representasi rakyat yaitu DPR. Akan tetapi,DPR dalam merekomendasikan pembentukan Pengadilan HAM ad hoc harus memperhatikan hasil penyelidikan dan penyidikan dari institusi yang berwenang untuk itu. Oleh karena itu , DPR tidak serta merta menduga sendiri tanpa memperoleh hasil penyelidikan dan
29

penyidikan terlebih dahulu dari institusi yang berwenang .,dalam hal ini Komnas HAM sebagai penyelidik dan Kejaksaan Agung sebagai Penyidik sesuai ketentuan UU Pengadilan HAM.Harus dipahami bahwa kata “dugaan” dalam penjelasan Pasal 43 ayat (2) UU Pengadilan HAM dapat menimbulkan ketidakpastian hokum (rechtsonzekerheid)sebagai akibat dapat ditafsirkannya kata “dugaan”berbeda dengan mekanisme sebagaimana diuraikan diatas”. Adapun Kata “ad hoc” yang berasal dari bahasa latin dapat diartikan “khusus” mengandung arti “formed for a particular purpose”(dibentuk untuk suatu tujuan tertentu) juga mengandung pengertian “tidak permanent” artinya keberadaan suatu badan atau lembaga ad hoc akan berakhir apabila maksud pembentukan badan itu telah selesai dilaksanakan. Dari ketentuan UU No 26 Th 2000 (Pasal 1 angka 3 dan Pasal 43 ayat (1) ) dapat diketahui bahwa kewenangan Pengadilan HAM dapat diklasifikasikan dalam dua (2) katagori,yaitu: 1.kewenangan Pengadilan HAM (memeriksa dan memutus perkara pelanggaran HAM berat yang terjadi setelah disahkannya UU No 26 Th 2000) 2.kewenangan Pengadilan HAM Ad Hoc (memeriksa dan memutus perkara pelanggaran HAM berat yang terjadi sebelum disahkannya UU No 26 Th 2000). Kedudukan dan Tempat kedudukan Pengadilan HAM. Dalam pasal 2 UU No 26 Th 2000 dikatakan bahwa Pengadilan HAM merupakan pengadilan khusus yang berada di lingkungan Peradilan Umum, demikian juga dalam pasal 43 ayat (3) nya dikatakan bahwa” Pengadilan HAM Ad Hoc sebagaimana diatur dalam ayat (1) berada dilingkungan Peradilan Umum. Dengan demikian eksistensi Pengadilan HAM maupun Pengadilan HAM Ad Hoc bukanlah pengadilan yang berdiri sendiri seperti yang diatur dalam pasal 2 UU No 4 Th 2004 tentang Kekuasaan Kehakiman “bahwa penyelenggaraan Kekuasaan Kehakiman dilakukan oleh
30

sebuah Mahkamah Agung dan badan peradilan yang berada dibawah nya dalam lingkungan peradilan umum, lingkungan peradilan agama, lingkungan peradilan militer, lingkungan peradilan tata usaha Negara, dan oleh sebuah Mahkamah Konstitusi”. Mengenai tempat kedudukannya sebagaimana diatur dalam pasal 3 : Ayat (1) Pengadilan HAM berkedudukan di daerah kabupaten atau daerah kota yang daerah hukumnya meliputi daerah hukum Pengadilan Negeri yang bersangkutan. Ayat (2) Untuk daerah Khusus Ibu kota Jakarta, Pengadilan HAM berkedudukan ditsetiap wilayah Pengadilan Negeri yang bersangkutan. Dari ketentuan pasal tersebut diketahui bahwa Pengadilan HAM merupakan pengadilan khusus yang berada dilingkungan Peradilan Umum yang daerah hukumnya meliputi daerah hukum pengadilan negeri yang bersangkutan (seperti pengadilan anak dan Prapradilan) . Kewenangan Mengadili. Dalam UU No 26 Th 2000 ditegaskan: Pasal 4 “ Pengadilan HAM bertugas dan berwenang memeriksa dan memutus perkara pelanggaran hak asasi manusia yang berat “. Dalam hal ini yang dimaksud dengan memeriksa dan memutus dalam ketentuan ini adalah termasuk menyelesaikan perkara yang menyangkut kompensasi, restitusi, dan rehabilitasi sesuai dengan peraturan peundang-undangan yang berlaku (penjelasan pasal 4).Yang dimaksud dengan “kompensasi” adalah ganti kerugian yang diberikan oleh Negara , karena pelaku tidak mampu memberikan ganti kerugian sepenuhnya yang menjadi tanggungjawabnya,” restitusi” adalah ganti kerugian yang diberikan kepada korban atau keluarganya oleh pelaku atau pihak ketiga, restitusi dapat berupa a. pengembalian hak milik b. pembayaran ganti kerugian untuk kehilangan atau penderitaan ; atau c. penggantian biaya untuk tindakan tertentu.Sedangkan “rehabilitasi” adalah pemulihan pada kedudukan semula , misalnya kehormatan, nama baik, jabatan, atau hak-hak lain. Adapun pelanggaran HAM berat yang dimaksud adalah
31

“kejahatan genoside dan kejahatan terhadap kemanusiaan (pasal 7) Pasal 5 “ Pengadilan HAM berwenang juga memeriksa dan memutus perkara pelanggaran hak asasi manusia yang berat yang dilakukan diluar batas teritorial wilayah Negara Republik Indonesia oleh warga Negara Indonesia”. Dalam hal ini dimaksudkan untuk melindungi warga Negara Indonesia yang melakukan pelanggaran hak asasi manusia yang berat yang dilakukan diluar batas teritorial, dalam arti tetap di hukum sesuai dengan undang-undang tentang Pengadilan Hak Asasi Manusia ini (penjelasan pasal 5). Pasal 6 “ Pengadilan HAM tidak berwenang memeriksa dan memutus perkara pelanggaran hak asasi manusia yang berat yang dilakukan oleh seseorang yang berumur 18 (delapan belas ) tahun pada saat kejahatan dilakukan”. Dalam hal ini diperiksa dan diputus oleh Pengadilan Negeri (penjelasan pasal 6). 1.PENYELIDIKAN. Dalam pasal 1 angka 5 UU No 26 Th 2000 di tegaskan “Penyelidikan adalah serangkaian tindakan penyelidik untuk mencari dan menemukan ada tidaknya suatu pristiwa yang diduga merupakan pelanggaran hak asasi manusia yang berat guna ditindaklanjuti dengan penyidikan sesuai dengan ketentuan yang diatur dalam Undang-undang ini. Dalam pelanggaran HAM yang berat, yang berwenang melakukan penyelidikan adalah Komisi Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) yang dibentuk berdasarkan KEPRES NO 50 Tahun 1993. Sebelum berbicara mengenai peranan Komnas HAM dalam pelanggaran HAM berat, terlebih dahulu kita melihat peranan Komnas HAM yang diatur dalam UU No 39 Th 1999 tentang Hak Asasi Manusia (HAM), antara lain: 3) Sebagai lembaga yang bermisi mengembangkan kondisi
32

yang kondusif bagi pelaksanaan HAM dan bermisi meningkatkan perlindungan dan penegakan HAM. 4) Sebagai lembaga yang merupakan bagian dari proses penyelesaian pelanggaran HAM yang berat, yakni sebagai lembaga penyelidik proyustisia pelanggaran HAM sebagaimana diatur dalam UU No 26 Th 2000. Mengenai peranan Komnas HAM sebagaimana ad 1) dapat dilihat dalam UU No 39 Th 1999 dari pasal 75 S/d pasal 99. Tujuan Komnas HAM (pasal 75 undang-undang HAM): a. mengembangkan kondisi yang kondusif bagi pelaksanaan hak asasi manusia sesuai denan Pancasila , Undang-Undang Dasar 1945, dan Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa , serta Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia ,dan b. meningkatkan perlindungan dan penegakan hak asasi manusia guna berkembangnya pribadi manusia Indonesia seutuhnya dan kemampuan nya berpartisipasi dalam berbagai bidang kehidupan. Dalam pasal 76 undang-undang HAM ditegaskan bahwa: (1) Untuk mencapai tujuannya, Komnas HAM melaksanakan fungsi poengkajian, penelitian ,penyuluhan, pemantauan dan meditasi tentang hak asasi manusia. (2) Komnas HAM beranggotakan tokoh masyarakat yang professional , berdedikasi dan berintegrasi tinggi , menghayati citacita negara hokum dan negara kesejahteraan yang berintikan keadilan, menghormati hak asasi manusia dan kewajiban dasar manusia. (3) Komnas HAM berkedudukan di ibukota Negara Republik Indonesia. (4) Perwakilan Komnas HAM dapat didirikan di daerah. Dalam pasal 78 undang-undang HAM ditegaskan bahwa: (1)Komnas HAM mempunyai kelengkapan yang terdiri dari:
33

a. sidang paripurna; dan b.sub komisi Dalam pasal 83 undang-undang HAM ditegaskan bahwa: (1) Anggota Komnas HAM berjumlah 35 (tiga puluh lima) orang yang dipilih oleh Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia berdasarkan usulan Komnas HAM dan diresmikan oleh Presiden selaku Kepala Negara. Penjelasan pasal tersebut menegaskan bahwa “ Yang dimaksud “diresmikan oleh Presiden” adalah dalam bentuk Keputusan Presiden.dan makna presmian oleh Presiden dikaitkan dengan “kemandirian Komnas HAM”. Sedangkan mengenai usulan Komnas HAM yang dimaksud,harus menampung seluruh aspirasi dari berbagai lapisan masyarakat sesuai dengan syarat-syarat yang ditetapkan yang jumlahnya paling banyak 70 (tujuh puluh ) orang.

Dalam rangka Komnas HAM mencapai tujuannya, terdapat beberapa fungsi yang sangat urgent , diantaranya: 2. Fungsi pemantauan Komnas HAM yang diatur dalam pasal 89 ayat (3) undang-undang HAM . fungsi ini dikelompokkan menjadi 6 (enam) tindak: g. pengamatan dan pelaporan; h. penyelidikan dan pemeriksaan pristiwa; i. pemanggilan (korban, saksi, pengadu, dan pihak terkait lainnya); j. peninjauan di tempat kejadian atau tempat lain; k. pemeriksaan setempat; dan l. pemberian pendapat kepada ketua pengadilan. A.Pengamatan dan Pelaporan. Dalam hal ini pengamatan pelaksanaan HAM serta pelaporan hasil pengamatan pelaksanaan HAM kepada pihak terkait
34

merupakan tugas sehari-hari Komnas HAM. Pelaporan tersebut dilakukan secara tertulis yang terkadang didahului dengan pelaporan secara lisan kepada pihak terkait dengan pelaksanaan bidang HAM yang menjadi sasaran pengamatan. Mengenai pelaporan tersebut dapat berisi permintaan penjelasan, permintaan perhatian dan atau rekomendasi tindak demi penegakan HAM dibidang yang bersangkutan. B .Penyelidikan dan Pemeriksaan Peristiwa. Didalam pasal 89 ayat (3) huruf b, secara eksplisit dikatakan” penyelidikan dan pemeriksaan”sebagaimana disebut dalam ketentuan ini dilakukan terhadap” pristiwa “yang timbul dalam masyarakat yang berdasarkan sifat atau lingkupnya patut diduga terdapat pelanggaran HAM”. Sedangkan penjelasan pasal tersebut menyatakan bahwa “ yang dimaksud dengan penyelidikan dan pemeriksaan dalam rangka pemantauan adalah kegiatan pencarian data, informasi, dan fakta untuk mengetahui ada atau tidaknya pelanggaran HAM”. Dengan demikian dapat diketahui bahwa istilah “penyelidikan dan pemeriksaan menurut undang-undang HAM tersebut adalah: 1.Sepanjang istilah penyelidikan tidak sama dengan istilah penyelidikan yang diatur dalam UU No 8 Th 1981 tentang KUHAP (pasal 1 angka 5) dan UU No 26 Th 2000 tentang Pengadilan HAM (pasal 1 angka 5 jo pasal 19 dan penjelasannya). 2.Penyelidikan dan terutama pemeriksaan tersebut dilakukan tidak terhadap orang melainkan terhadap pristiwa. 3.Tindak penyelidikan dan pemeriksaan itu dilakukan dalam bentuk tindak pencarian data, informasi, dan fakta bukan pencarian orang. 4.Maksud pencarian data, informasi, dan fakta tersebut adalah untuk mengetahui ada atau tidaknya pelanggaran HAM, tidak untuk mengindentifikasi orang yang dapat disangka melakukan pelanggaran HAM (dalam hal hasil penyelidikan dan pemeriksaan tersebut menyimpulkan terdapatnya pelanggaran HAM dalam
35

pristiwa yang diselidiki dan diperiksa). Dalam proses pencarian data, informasi, dan atau fakta Komnas HAM memang harus berhubungan dengan orang hanya sebatas melakukan pemanggilan terhadap mereka yang dapat menunjang upaya pengumpulan data, informasi serta fakta dalam proses tersebut.

C. Pemanggilan Korban, Saksi,Pengadu, dan Pihak lain terkait. Berkenaan dengan kewenangan melakukan pemanggilan korban, saksi, pengadu, dan pihak lain yang terkait dalam pelaksanaan fungsi pemantauan diatur dalam pasal 89 ayat (3) huruf c, d,dan f undangundang HAM. Bahwa pemanggilan tersebut dilakukan tidak untuk “memeriksa” pihak yang dipanggil melainkan untuk meminta dan mendengar keterangan mereka(untuk korban dan pengadu), atau untuk meminta dan mendengar kesaksian yang bersangkutan (untuk saksi), atau untuk “meminta penyerahan dokumen yang diperlukan sesuai dengan aslinya”(dengan persetujuan Ketua Pengadilan). Dalam hal pemanggilan ini Komnas HAM mempunyai kewenangan pemanggilan secara paksa (sub-poena) pasal 95 undang-undang HAM menetapkan bahwa “apabila seseorang yang dipanggil tidak dating atau menolak memberi keterangannya, Komnas HAM dapat meminta Ketua Pengadilan untuk pemenuhan panggilan secara paksa sesuai dengan peraturan perundang-undangan “. D. Peninjauan di Tempat Kejadian. Terhadap peninjauan ditempat kejadian apabila terdapat dugaan pelanggaran HAM , merupakan kebutuhan bagi upaya perolehan data , informasi , dan fakta. Hal ini menjadi kewenangan Komnas HAM yang diatur dalam pasal 89 ayat (3) huruf e dalam proses pemantauan , khususnya dalam proses penyelidikan dan pemeriksaan.
36

E. Pemeriksaan Setempat. Untuk melakukan pemeriksaan setempat (terhadap rumah, perkarangan, bangunan, dan tempat-tempat lainnya yang diduduki atau dimiliki pihak tertentu) merupakan tindakan yang bersifat kuasiyudisial, dan kewenangan Komnas HAM dalam hal ini memerlukan persetujuan Ketuan Pengadilan (pasal 89 ayat (3) huruf g). F. Pemberian Pendapat Kapada Ketua Pengadilan. Berdasarkan pasal 89 ayat (3) huruf h beserta penjelasannya dikatakan Komnas HAM berwenang melakukan tindakan dalam hal: (a) Berdasarkan persetujuan Ketua Pengadilan; (b) Terhadap pristiwa tertentu yang sedang dalam proses peradilan; (c) Bilamana dalam perkara tersebut terdapat pelanggaran HAM: (i) Dalam masalah public antara lain mengenai pertanahan, ketenagakerjaan, dan lingkungan hidup); dan (ii)Dalam acara pemeriksaan oleh pengadilan; dan (d) Hakim wajib memberitahukan pendapat Komnas HAM tersebut kepada para pihak dalam perkara. Ketentuan dalam pasal 89 ayat (3) huruf h tersebut tidak dinyatakan dalam penjelasannya, namun dapatlah diasumsikan bahwa ketentuan ini dimaksudkan untuk memastikan berlangsungnya proses peradilan yang adil (fair trial). G.Tindak Dalam Rangka Pelaksanaan Fungsi Mediasi. Bunyi pasal 89 ayat (4) beserta penjelasannya , khususnya yang berkenaan dengan hiruf b, merancukan maksud istilah “mediasi”, kerancuannya dapat dilihat : (a) Istilah “mediasi” disebut dua kali dalam pengertian yang berbeda, yakni:
37

(i) Yang terdapat dalam Chapeau(pengantar) pasal 89 ayat (4), dengan melihat konteks pasalnya dengan ayat (4) secara keseluruhan berarti “penyelesaian sengketa mengenai HAM secara damai di luar pengadilan”. (ii) Yang terdapat dalam huruf b ayat (4) tersebut, yang menyebut “mediasi” sebagai salah satu dari berbagai cara lain penyelesaian perkara (konsultasi, negosiasi, konsiliasi, dan penilaian ahli); (b) Kemudian penjelasan pasal 89 ayat (4) huruf b yang lebih merancukan pengertian/maksud istilah “mediasi”, karena mediasi yang menurut pasal 89 ayat (4) huruf b disebut sebagai salah satu cara penyelesaian perkara secara damai , didefinisikan dalam penjelasan pasal 89 ayat (4) huruf b sebagai “penyelesaian perkara perdata diluar pengadilan, atas dasar kesepakatan kedua pihak”. -Terhadap hal tersebut diatas , seharusnya jika yang dikehendaki oleh pembentuk undang-undang No 39 Th 1999 , “mediasi” diartikan secara khusus atau sempit sebagaimana dirumuskan dalam penjelasan pasal 89 ayat (4) huruf b, istilah paying yang terdapat dalam pengantar ayat tersebut seharusnya bukan “mediasi”melainkan “penyelesian sengketa secara damai di luar pengadilan”. Karena akibat dari kerancuan tersebut, dalam praktek selama ini, tindak yang dilakukan Komnas HAM dalam rangka pelaksanaan fungsi mediasi , lebih terpusat pada pengertian mediasi dalam arti sempit atau khusus sebagaimana dimaksudkan penjelasan pasal 89 ayat (4) huruf b. Sedangkan secara konseptual pemasukan fungsi “mediasi” dalam arti luas (penyelesaian sengketa secara damai diluar pengadilan “ diragukan “ ketepatannya sebagai salah satu fungsi Komnas HAM , yaitu sarana pencapaian tujuan Komnas HAM “pengemangan kondisi yang kondusif bagi pelaksanaan HAM serta peningkatan perlindungan dan penegakan HAM. -Kerancuan konseptual juga tercermin dalam pasal 96 yang menetapkan sebagai berikut: (a) Penyelesaian menurut”pasal 89 ayat (4) huruf a (perdamaian
38

kedua pihak) dan b (konsultasi,negosiasi,mediasi, konsultasi dan penilaian ahli) dilakukan oleh anggota Komnas HAM yang ditunjuk sebagai mediator”. Ketentuan tersebut merancukan pengertian “perdamaian kedua pihak” karena “konsultasi,negosiasi ,mediasi dan penilaian ahli tidak sama format,proses dan implikasinya. -Kerancuan juga terdapat pada pasal 96 ayat (2) yang menetapakan bahwa penyelesaian menurut pasal 89 ayat (4) huruf a dan b, harus dituangkan dalam bentuk “kesepakatan secara tertulis dan ditandatangani oleh para pihak dan dikukuhkan oleh mediator”. Selain itu juga ketentuan pasal 95 ayat(3) yang menyatakan bahwa kesepakatan tertulis tersebut “merupakan keputusan mediasi yang mengikat secara hokum dan berlaku sebagai alat bukti yang sah”.

Peranan Komnas HAM Berdasarkan UU No 26 Th 2000. Dalam rangka upaya penegakan hukum pelanggaran HAM yang berat, Komnas HAM menerima mandate untuk melakukan tugas dan wewenang tertentu yakni penyelidikan proyustisia berdasarkan UU No 26 Th 2000 tentang Pengadilan HAM . Istilah penyelidikan (proyustisia) didalam undang-undang tersebut telah didefinisikan secara jelas serta tujuannya yang meliputi: a. “Penyelidikan” termaksud adalah serangkaian tindakan penyelidik untuk: (i) mencari dan menemukan ada atau tidaknya suatu peristiwa yang diduga merupakan pelangaran HAM yang berat (pasal 1 angka 5); (ii) penyelidikan demikian dimaksudkan untuk ditindaklanjuti dengan penyelidikan (dalam hasil penyelidikan tersebut menyimpulkan terdapat pelanggaran HAM yang berat dalam peristiwa yang diselidiki); (iii) hasil peyelidikan (dapat) disampaikan kepada penyidik apabila Komnas HAM berpendapat terdapat bahwa” terdapat bukti
39

permulaan yang cukup telah terjadi peristiwa pelanggaran HAM yang berat (pasal 20 ayat 1); (iv) bahwa pelaksanaan penyelidikan dalam pasal 19 “dimaksudkan sebagai rangkaian tindakan Komnas HAM dalam lingkup proyustisia” (penjelasan pasal 19); b. Dalam melakukan penyelidikan proyustisia tersebut Komnas HAM dapat membentuk tim ad hoc yang terdiri dari Komnas HAM dan unsure masyarakat (pasal 18 ayat 2) dan c. Untuk melakukan penyelidikan proyustisia tersebut Komnas HAM sebagai penyelidik diberi kewenangan penyelidikan dan pemeriksaan, penerimaan laporan dan pengaduan, pemanggilan pihak pengadu, korban, pihak yang diadukan, dan saksi untuk diminta dan didengar keterangan atau kesksiannya, peninjauan dan pengumpulan keterangan ditempat kejadian, pemanggilan pihak terkait untuk memberikan keterangan tertulis atau menyerahkan dokumen yang diperlukan sesuai dengan aslinya, dan , atas perintah penyidik melakukan pemeriksaan surat, penggeledahan dan penyitaan, pemeriksaan setempat, dan mendatangkan ahli (pasal 19 ayat 1).

Konsep hak asasi manusia ini, menurut Ari Wibowo (2008:5) memiliki dua dimensi (dimensi ganda), yaitu: 1) Dimensi universalitas, yakni substansi hak-hak asasi manusia itu pada hakekatnya bersifat umum dan tidak terikat oleh waktu dan tempat. Hak asasi manusia akan selalu dibutuhkan oleh siapa saja dan dalam aspek kebudayaan dimana pun itu berada, entah itu dalam kebudayaan barat maupun timur. Dimensi hak asasi manusia seperti ini pada hakekatnya akan selalu dibutuhkan
40

dan menjadi sarana bagi individu untuk mengekspresikan secara bebas dalam ikatan kehidupan kemasyarakatan. Dengan kata lain hak asasi itu ada karena yang memiliki hak-hak itu adalah manusia sebagai manusia. 2) Dimensi kontekstualitas, yakni menyangkut penerapan hak asasi manusia bila ditinjau dari tempat berlakunya hakhak asasi manusia tersebut. Maksudnya adalah ide-ide hak asasi manusia dapat diterapkan secara efektif, sepanjang “tempat” ide-ide hak asasi manusia itu memberikan suasana kondusif untuk itu. Dengan kata lain ide-ide hak asasi manusia akan dapat dipergunakan secara efektif dan menjadi landasan etik dalam pergaulan manusia, jikalau struktur kehidupan masyarakat entah itu di barat ataupun di timur sudah tidak memberikan tempat bagi terjaminnya hak individu yang ada di dalamnya. Dua dimensi inilah yang memberikan pengaruh terhadap pelaksanaan ide-ide hak asasi manusia di dalam komunitas kehidupan masyarakat, bangsa dan negara. Oleh sebab itu dengan adanya dua dimensi ini, maka perdebatan mengenai pelaksanaan ide-ide hak asasi manusia yang diletakkan dalam konteks budaya, suku, ras maupun agama sudah tidak mempunyai tempat lagi atau tidak relevan dengan wacana publik masyarakat modern.

41

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful