TINJAUAN ANALISIS SISTEM PEMBERIAN KREDIT PADA KOPERASI BUDAYA PRIMA

HAQI FADILLAH

PROGRAM KEAHLIAN AKUNTANSI DIREKTORAT PROGRAM DIPLOMA INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2011

PERNYATAAN
DENGAN INI SAYA MENYATAKAN KARYA ILMIAH INI ADALAH KARYA SENDIRI DAN BELUM DIAJUKAN DALAM BENTUK APAPUN KEPADA PERGURUAN TINGGI MANAPUN. SUMBER INFORMASI

YANG BERASAL ATAU DIKUTIP DARI KARYA YANG DITERBITKAN DARI PENULIS LAIN TELAH DISEBUTKAN DALAM TEKS DAN DICANTUMKAN DALAM DAFTAR PUSTAKA DI BAGIAN AKHIR LAPORAN INI.

Bogor,

Juni 2011

Haqi Fadillah J3N108158

ABSTRAK
HAQI FADILLAH. Tinjauan Analisis Sistem Pemberian Kredit pada Koperasi Budaya Prima. Dibimbing oleh MADSARI Sistem tidak dapat dipisahkan dari suatu unit usaha organisasi. Sistem yang dirancang dan dijalankan dengan baik begitu pula pengendalian intern yang diterapkan mencerminkan kualitas organisasi dalam mengelola usahanya. Penelitian ini mengambil objek unit usaha Koperasi Budaya Prima yang terdiri dari: penjualan non tunai, pinjaman insidentil dan pinjaman jangka panjang. Hipotesis dari penelitian ini bahwa Koperasi Budaya Prima menerapkan sistem yang sangat baik. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi literatur, wawancara, dan observasi lapangan. Berdasarkan hasil analisis data yang diperoleh dapat disimpulkan bahwa untuk koperasi kecil seperti Koperasi Budaya Prima sistem yang diterapkan pada pemberian pinjaman dan penjualan kebutuhan bahan pokok sudah dapat dikatakan baik. Dari sistem pengendalian intern pada Koperasi Budaya Prima terjalin dengan baik. Dan juga ketentuan dan persyaratannya pun tidaklah sulit sehingga hal ini benar-benar membantu anggota yang rata-rata adalah para pensiunan Bank Bumi Daya. Kata Kunci: Sistem, Pengendalian Intern, Kredit

ABSTRACT
HAQI FADILLAH. Analysis Observation of Credit Gift System at Koperasi Budaya Prima. Chaired by MADSARI System can¶t be separated from an organization business unit. System which designed and managed well and also with good internal control can reflection a quality of organization in managing their business. This research took object business unit¶s Koperasi Budaya Prima that consist of: non cash sales, incidental loan, and long term loan. Hypothesis of this research is Koperasi Budaya Prima apply has a very well system. The method which used in this research are literature study, interview, and observation. According to the result of data analysis, it can be concluded that for little cooperation like Koperasi Budaya Prima system which applied to gift loan and the basic requirement sales already can be said well. From internal control system to Koperasi Budaya Prima tied well. And also about its certainty and regulation are not difficult so that it can help members which most of them are pensions of Bank Bumi Daya. Key words: System, Internal Control, Credit

RINGKASAN
HAQI FADILLAH. Tinjauan Analisis Sistem Pemberian Kredit pada Koperasi Budaya Prima. Dibimbing oleh MADSARI Koperasi adalah suatu perkumpulan atau organisasi ekonomi yang beranggotakan orang-orang atau badan-badan, yang memberikan kebebasan masuk dan keluar sebagai anggota menurut peraturan yang ada; dengan bekerja sama secara kekeluargaan menjalankan suatu usaha, dengan tujuan mempertinggi kesejahteraan jasmaniah para anggotanya. Sistem adalah sekelompok unsur yang saling berhubungan satu dengan yang lain untuk mencapai suatu tujuan tertentu. Suatu unit organisasi²dalam hal ini koperasi²dapat dikatakan baik apabila memiliki sistem dan prosedur yang baik dalam menjalankan kegiatan usahanya. Tidak hanya itu, suatu unit organisasi pun perlu menerapkan suatu pengendalian. Hal ini dimaksudkan untuk mencegah terjadinya penyimpangan yang mungkin dilakukan baik dari sisi intern maupun ekstern. Tujuan dari penelitian ini antara lain: 1) Mengetahui ketentuan dan syaratsyarat pemberian kredit yang ditetapkan Koperasi Budaya Prima kepada anggotanya; 2) Mengkaji sistem akuntansi pemberian kredit yang ditetapkan Koperasi Budaya Prima kepada anggotanya yang dilihat dari: prosedur, fungsi yang terkait, catatan akuntansi, serta dokumen-dokumen yang terkait; dan 3) Mengkaji pengendalian intern yang diterapkan Koperasi Budaya Prima. Metode yang digunakan dalam kajian penelitian ini terdiri dari: 1) Studi Literatur, 2) Wawancara, dan 3) Observasi Lapangan. Berdasarkan pengamatan dan hasil kajian mengenai sistem pengajuan pinjaman dan penjualan non tunai yang dilakukan oleh penulis di Koperasi Budaya Prima, penulis dapat menarik beberapa kesimpulan berikut ini: 1) Koperasi Budaya Prima telah memenuhi tujuan dari pembentukan koperasi sendiri, yaitu untuk meningkatkan usaha dan kesejahteraan para anggotanya. Koperasi Budaya Prima memberikan jasa pemberian pinjaman guna membantu para anggotanya yang sedang kesulitan finansial. Ketentuan dan persyaratannya pun tidaklah sulit sehingga hal ini benar-benar membantu anggota yang rata-rata adalah para pensiunan Bank Bumi Daya; 2) Untuk koperasi kecil seperti Koperasi Budaya Prima sistem yang diterapkan pada pemberian pinjaman dan penjualan kebutuhan bahan pokok sudah dapat dikatakan baik. Masing-masing fungsi memiliki tugas dari setiap prosedur unit usaha. Aliran dokumen ke setiap fungsi berjalan dengan baik serta pengarsipan dokumen tersebut disesuaikan dengan nama anggota masing-masing. Hal ini dapat mengurangi terjadinya kehilangan dokumen sebagai bukti otentik timbulnya transaksi; dan 3) Sistem pengendalian intern pada Koperasi Budaya Prima terjalin dengan baik. Untuk mengurangi risiko kredit macet, pembayaran pinjaman dan penjualan dilakukan dengan pemindahbukuan manfaat pensiun anggota yang berada di rekening Bank Mandiri ke rekening Koperasi Budaya Prima setiap tanggal 25 bulan bersangkutan.

TINJAUAN ANALISIS SISTEM PEMBERIAN KREDIT PADA KOPERASI BUDAYA PRIMA

HAQI FADILLAH

Laporan Praktik Kerja Lapangan Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar A.Md. pada Program Diploma Keahlian Akuntansi

PROGRAM KEAHLIAN AKUNTANSI DIREKTORAT PROGRAM DIPLOMA INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2011

Judul

: Tinjauan Analisis Sistem Pemberian Kredit pada Koperasi Budaya Prima

Nama NIM Program Keahlian

: Haqi Fadillah : J3N108158 : Akuntansi

Menyetujui, Dosen Pembimbing

Madsari, SE, MM NIP : 19640225 198703 1 002

Mengetahui, Direktur Program Diploma Koordinator Program Keahlian

Prof. Dr. Ir. M. Zairin Junior, M. Sc NIP : 19590218 198601 1 001

Drs. Iman Firmansyah, M. Si NIP : 19620301 198803 1 001

Tanggal Lulus :

PRAKATA

Assalammu¶alaikum Wr. Wb. Alhamdulillah, puji syukur kehadirat Alloh SWT atas rahmat dan karuniaNya sehingga penulis mampu menyusun Tugas Akhir (TA) ini dengan judul ³Tinjauan Analisis Sistem Pemberian Pinjaman pada Koperasi Budaya Prima´. Sholawat serta salam semoga selalu tercurahkan kepada junjungan

Baginda Nabi Muhammad SAW beserta para keluarganya, sahabatnya, dan terakhir kepada kita selaku pengikutnya hingga akhir zaman. Penulisan laporan Praktik Kerja Lapang (PKL) ini disusun untuk memenuhi salah satu persyaratan kelulusan dalam menyelesaikan pendidikan Program Keahlian Akuntansi di Direktorat Program Diploma Institut Pertanian Bogor (IPB) serta untuk memperoleh gelar Ahli Madya (A. Md.). Dalam menyusun TA ini banyak rintangan dan hambatan yang penulis hadapi, namun semua itu dapat penulis lalui karena bantuan dari pihak-pihak yang terlibat. Pada kesempatan kali ini izinkanlah penulis untuk memberikan

penghargaan yang setinggi-setingginya kepada: 1. Orang tua tercinta: H. Efendi Partasasmita dan Hj. Dedeh Siti Hadiah atas segala doa dan semangat yang tidak pernah berhenti mengalir untuk penulis. 2. Madsari, SE, MM selaku dosen pembimbing yang telah memberikan bimbingan dan arahan sehingga penulis mampu menyelesaikan TA ini tepat pada waktunya. 3. Seluruh dosen D3 Akuntansi IPB yang tidak lelah memberi semua ilmunya kepada penulis. 4. Drs. Entjep Sukandar, BcAN, Pak Moelyono Ardi, Pak Syarif Hidayat, Pak Sukarni, beserta seluruh pengurus Persatuan Pensiunan Bank Bumi Daya dan Koperasi Budaya Prima yang telah memberikan banyak bantuannya selama penulis melakukan PKL. Tidak ketinggalan juga semua anggota Koperasi Budaya Prima.

5.

Kedua kakakku: Mochammad Rizalah dan Citra Haerani yang mau membantu dalam mengedit TA ini. Tidak lupa keponakan kecilku Nuzulla Wadha Maritza.

6.

Keempat sahabatku: Ahmad Fahmi Athaillah, Amelia Fitriani, Ayu Wahyuni dan Rahma Hidayati.

7.

Teman-teman PKL: Titin Setya Ning Tyas dan Eva Kipayatur Ramdaniyah atas kebersamaannya selama PKL ini.

8.

Terakhir untuk Reni Setiani Sujana, Musthafa El Kamil, dan seluruh pejuang Akuntansi 45 yang tidak bisa disebutkan satu persatu. Tak ada gading yang tak retak. Mungkin pepatah itulah yang

menggambarkan TA ini. Segala masukan²baik itu kritik maupun saran²penulis harapkan demi penyempurnaan TA ini. Akhir kata semoga TA ini bermanfaat bagi semua pihak. Wassalamu¶alaikum Wr. Wb.

Bogor,

Juni 2011

Haqi Fadillah

MOTTO DAN LEMBAR PERSEMBAHAN
³Belajar adalah sikap menantang segala ketidakmungkinan. Ilmu yang tidak dikuasai akan menjelma dalam diri manusia menjadi sebuah ketakutan. Belajar dengan keras hanya bisa dilakukan oleh seorang yang bukan penakut.´ (Andrea Hirata) ³Kita tidak mesti menjadi sempurna tapi sebisa mungkin mendekati kebenaran.´ (Pak Syarif Hidayat²Koperasi Budaya Prima) ³Orang yang sukses adalah orang yang mampu melawan rasa malas dengan semangat juang tinggi.´ (Haqi Fadillah)

Kupersembahkan karya ini untuk: Papah, atas kebesaran jiwanya Mamah, yang percaya bahwa saya adalah jimatnya Aa dan Teteh, atas segala pertolongan Malaikat dan keponakan kecilku

RIWAYAT HIDUP
Haqi Fadillah lahir di Bogor, 31 Mei 1990. Anak terakhir dari tiga bersaudara dari pasangan H. Effendi Partasasmita dan Hj. Dedeh Siti Hadiah ini menempuh pendidikan formal di SD Cimanggu Kecil (1996-2002), SLTP Al-Ghozaly (2002-2005), MA Negeri 2 Bogor (2005-2008) dan D3 Akuntansi IPB (2008-2011). Pada tahun 2010, penulis ditahbiskan menjadi Mahasiswa Terbaik Akuntansi dalam ajang Diploma Awards 2010.

DAFTAR ISI

DAFTAR TABEL ......................................................................................... xiii DAFTAR GAMBAR .................................................................................... xiv DAFTAR LAMPIRAN ................................................................................. I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang ............................................................................... 1.2. Tujuan ............................................................................................ 1.3. Lokasi dan Waktu .......................................................................... 1.4. Pengumpulan Data ......................................................................... 1 3 3 3 xv

II

TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Koperasi ......................................................................................... 2.1.1. Pengertian Koperasi ............................................................ 2.1.2. Jenis Koperasi di Indonesia ................................................. 2.2. Kredit ............................................................................................. 2.2.1. Pengertian Kredit ................................................................ 2.2.2. Unsur-Unsur Kredit ............................................................ 2.2.3. Tujuan Kredit ..................................................................... 2.2.4. Prinsip-Prinsip Perkreditan ................................................. 2.3. Sistem Akuntansi ........................................................................... 2.3.1. Pengertian Sistem dan Prosedur .......................................... 2.3.2. Pengertian Akuntansi .......................................................... 2.3.3. Sistem Akuntansi ................................................................ 2.4. Sistem Pengendalian Intern ............................................................ 2.4.1. Unsur Sistem Pengendalian Intern ...................................... 2.4.2. Perlunya Sistem Pengendalian Intern bagi Koperasi............ 5 5 7 7 7 8 8 9 11 11 13 13 13 15 17

III KERAGAAN KOPERASI BUDAYA PRIMA 3.1. Sejarah Singkat Koperasi Budaya Prima ......................................... 3.1.1. Anggota Koperasi Budaya Prima ........................................ 18 19

x

3.1.2. Modal Koperasi Budaya Prima ........................................... 3.2. Struktur Organisasi......................................................................... 3.3. Kegiatan Koperasi Budaya Prima ...................................................

19 20 24

IV

TINJAUAN ANALISIS SISTEM PEMBERIAN KREDIT PADA .KOPERASI BUDAYA PRIMA 4.1. Ketentuan Mengenai Pemberian Kredit .......................................... 4.1.1. Jenis-Jenis Kredit Koperasi Budaya Prima .......................... 4.1.2. Maksimum Plafon Kredit .................................................... 4.1.3. Biaya Provisi ...................................................................... 4.1.4. Agunan ............................................................................... 4.1.5. Persyaratan Pengajuan Kredit ............................................. 4.1.6. Ketentuan Mengenai Angsuran dan Bunga Kredit ............... 4.2. Sistem dan Prosedur Pemberian Kredit ........................................... 4.2.1. Fungsi yang Terkait ............................................................ 4.2.2. Dokumen yang digunakan................................................... 4.2.3. Catatan Akuntansi............................................................... 4.2.4. Jaringan Prosedur yang Membentuk Sistem Akuntansi «««««..Kredit ................................................................................. 4.2.5. Bagan Alir Sistem Akuntansi Kredit ................................... 4.3. Sistem Pengendalian Intern ............................................................ 4.3.1. Struktur Organisasi ............................................................. 4.3.2. Sistem Otorisasi dan Prosedur Pencatatan ........................... 4.3.3. Praktik yang Sehat .............................................................. 4.3.4. Karyawan yang Mutunya Sesuai Tanggung Jawabnya ........ 4.4. Analisis .......................................................................................... 4.4.1. Sistem Akuntansi Kredit ..................................................... 4.4.2. Sistem Pengendalian Intern ................................................. 4.4.3. Keragaan Koperasi Budaya Prima ....................................... 4.4.4. Umur Anggota .................................................................... 4.4.5. Kebijakan Koperasi Budaya Prima ...................................... 40 45 54 54 54 55 56 56 56 57 57 57 58 27 27 28 29 29 30 31 34 34 36 39

xi

V

KESIMPULAN DAN SARAN 5.1. Kesimpulan .................................................................................... 5.2. Saran .............................................................................................. 59 60

DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN

xii

DAFTAR TABEL

1 2

Tabel 1. Daftar Angsuran Pinjaman Jangka Panjang................................. Tabel 2. Analisa Kredit ............................................................................

33 44

xiii

DAFTAR GAMBAR

1 2 3 4 5 6 7 8 9

Prosedur Pengajuan Kredit ....................................................................... Tujuan Pokok Sistem Pengendalian Intern ............................................... Unsur Pokok Sistem Pengendalian Intern ................................................. Lambang Koperasi Budaya Prima ............................................................ Struktur Organisasi Koperasi Budaya Prima............................................. Simbol-Simbol Standar untuk Pembuatan Bagan Alir Dokumen .............. Bagan Alir Penjualan Non Tunai.............................................................. Bagan Alir Penjualan Non Tunai (Lanjutan) ............................................ Bagan Alir Pinjaman Insidentil ................................................................

12 14 15 18 21 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54

10 Bagan Alir Pinjaman Insidentil (Lanjutan) ............................................... 11 Bagan Alir Pinjaman Jangka Panjang ....................................................... 12 Bagan Alir Pinjaman Jangka Panjang (Lanjutan 1) ................................... 13 Bagan Alir Pinjaman Jangka Panjang (Lanjutan 2) ................................... 14 Bagan Alir Pinjaman Jangka Panjang (Lanjutan 3) ................................... 15 Bagan Alir Pinjaman Jangka Panjang (Lanjutan 4) ...................................

xiv

DAFTAR LAMPIRAN

1 2 3 4 5 6 7 8 9

Nota Penjualan.......................................................................................... Formulir Pengajuan Pinjaman Insidentil.................................................... Surat Permohonan Pinjaman Jangka Panjang ............................................ Formulir Permohonan Kredit .................................................................... Surat Persetujuan Suami/Istri/Ahli Waris .................................................. Surat Pengajuan Permohonan Pinjaman Kepada Puskoppen ...................... Laporan Pemeriksaan Badan ..................................................................... Surat Persetujuan Pinjaman dari Puskoppen .............................................. Perjanjian Kredit antara KBP dan Puskoppen ............................................

63 64 65 66 67 68 69 74 75 79 83 84 85

10 Perjanjian Kredit antara KBP dan Anggota ............................................... 11 Surat Pencairan Dana ................................................................................ 12 Tanda Bukti Pencairan .............................................................................. 13 Standing Order .........................................................................................

xv

BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Sejak dilahirkan, manusia telah menghadapi masalah untuk bisa tetap hidup dan akan berusaha untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya. Untuk

mencukupi kebutuhan hidupnya dan untuk bisa mempertahankan kelangsungan hidupnya manusia harus selalu berusaha. Hal ini disebabkan karena tidak

sesuainya jumlah barang dan jasa yang tersedia dibandingkan dengan jumlah kebutuhan manusia. Manusia tidak pernah merasa puas dengan apa yang mereka peroleh dan dengan apa yang telah mereka capai. Jika semula untuk mempertahankan hidupnya seseorang bekerja

menghasilkan suatu barang untuk digunakan sendiri atau untuk keluarganya, maka dalam perkembangannya, usaha manusia untuk mempertahankan hidupnya dan untuk mencapai keinginannya itu bukan lagi sebagai individu, tetapi sebagai anggota dari suatu kelompok dalam masyarakat, di mana mereka harus bekerja sama dalam melaksanakan kegiatan sehari-harinya. Berbagai cara telah digunakan manusia untuk memecahkan permasalahan ekonomi yang mereka hadapi. Sebagaimana telah dijelaskan, bahwa jika semula dalam pemecahan kebutuhan hidupnya, manusia melakukannya secara individual, maka dalam perkembangannya cara pemecahan masalah tentang pemenuhan kebutuhan hidupnya itu manusia berusaha melakukannya secara bersama-sama dan dalam perkembangannya lebih lanjut, cara-cara yang digunakan oleh masyarakat untuk memecahkan permasalahan ekonomi yang mereka hadapi itu berbeda-beda, seirama dengan berkembangnya zaman. Salah satu cara yang digunakan oleh manusia untuk memecahkan permasalahan ekonomi ialah dengan mendirikan koperasi. Koperasi merupakan kumpulan orang dan bukan kumpulan modal. Koperasi harus betul-betul

mengabdi kepada kepentingan perikemanusiaan semata-mata dan bukan kepada kebendaan. Kerja sama dalam koperasi didasarkan pada rasa persamaan derajat, dan kesadaran para anggotanya. Koperasi merupakan wadah demokrasi ekonomi

2

dan sosial.

Koperasi adalah milik bersama para anggota, pengurus maupun

pengelola. Usaha tersebut diatur sesuai dengan keinginan para anggota melalui musyawarah rapat anggota. Dalam menjalankan kegiatan usaha koperasi, koperasi dapat melaksanakan kegiatan usaha simpan pinjam sebagai salah satu ataupun satu-satunya kegiatan usaha yang dilakukannya. Kegiatan usaha simpan pinjam ini dilakukan dengan menghimpun dana dari anggota koperasi, kemudian menyalurkan kembali dana yang dihimpun tersebut kepada anggota koperasi bersangkutan atau menghimpun dana dari koperasi lain dan/ atau anggotanya, kemudian menyalurkannya kembali kepada koperasi lainnya tersebut dan/ atau anggotanya. Pengertian anggota

koperasi di sini adalah termasuk juga calon anggota yang memenuhi syarat. Sedangkan yang menyangkut koperasi lain dan/ atau anggotanya, ketentuan yang berlaku dilandasi oleh perjanjian kerja sama yang dilakukan oleh antar koperasi bersangkutan. Artinya antar koperasi dapat melakukan kerja sama usaha dalam usaha simpan pinjam, dengan jalan menghimpun dana dan menyalurkannya kembali dari dan untuk mereka dan/ atau anggotanya. Namun demikian, sesuai dengan ketentuan dalam undang-undang yang mengatur tentang Perbankan, usaha simpan pinjam ini diatur secara khusus dalam undang-undang tersebut. Koperasi Budaya Prima Bogor yang menjadi tempat Praktek Kerja Lapang (PKL) penulis merupakan koperasi yang terbentuk dari perkumpulan pensiunan Bank Bumi Daya. Selain usaha menyediakan kebutuhan bahan pokok (sembako) untuk para anggotanya²baik penjualan dilakukan secara tunai maupun non tunai; kegiatan utamanya ialah menyalurkan kredit berupa uang (modal) yang dibutuhkan untuk para anggotanya. Untuk mengetahui ketentuan apa saja yang ditetapkan dalam permohonan kredit pada Koperasi Budaya Prima, bagaimana sistem pemberian kredit serta sistem pengendalian intern yang ada di dalamnya, maka penulis mengkaji masalah ini secara mendalam sebagai bahasan dalam Tugas Akhir (TA) penulis yang berjudul ³TINJAUAN ANALISIS SISTEM PEMBERIAN KREDIT PADA KOPERASI BUDAYA PRIMA.´

3

1.2. Tujuan Tujuan dari penulisan Tugas Akhir (TA) adalah untuk mengkaji sistem pemberian kredit oleh Koperasi Budaya Prima yang dapat dijabarkan sebagai berikut: 1. Mengetahui ketentuan dan syarat-syarat pemberian kredit yang ditetapkan Koperasi Budaya Prima kepada anggotanya; 2. Mengkaji sistem akuntansi pemberian kredit yang ditetapkan Koperasi Budaya Prima kepada anggotanya yang dilihat dari: prosedur, fungsi yang terkait, catatan akuntansi, dan dokumen-dokumen yang terkait; dan 3. Mengkaji pengendalian intern yang diterapkan Koperasi Budaya Prima.

1.3. Lokasi dan Waktu Praktik Kerja Lapangan (PKL) dilaksanakan di Koperasi Budaya Prima Kota Bogor yang terletak di bilangan Jalan Kapten Muslihat No. 17, Bogor. Waktu pelaksanaan PKL berlangsung selama dua bulan dari tanggal 8 Maret hingga 29 April 2011.

1.4. Pengumpulan Data 1. Studi Literatur. Teknik studi literatur dilakukan dengan kegiatan pengumpulan data berupa dokumen, catatan akuntansi, arsip, keterangan dan informasi. Selain itu mengumpulkan teori-teori dari buku-buku ilmiah, perundang-undangan dan bahan-bahan tertulis lainnya yang relevan dengan penelitian.

2.

Penelitian Lapangan Penelitian lapangan dilaksanakan dengan cara pengamatan langsung terhadap objek penelitian yang terdiri dari: a. Wawancara Wawancara yaitu suatu teknik pengumpulan data dengan cara mengadakan tanya jawab langsung kepada narasumber yang berkompeten dengan menyiapkan daftar pertanyaan terstruktur yang

4

disiapkan oleh penulis. Dengan metode wawancara diharapkan dapat diperoleh keterangan-keterangan yang dibutuhkan.

b.

Observasi Observasi dilakukan dengan cara mengamati dan mencatat secara sistematis segala kegiatan yang dilakukan di tempat praktik lapang. Penulis mengamati dan mencatat kegiatan yang terjadi di koperasi serta melibatkan diri dalam aktivitas koperasi di mana praktik kerja dilaksanakan.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Koperasi 2.1.1. Pengertian Koperasi Dilihat dari segi bahasa, secara umum koperasi berasal dari kata-kata Latin yaitu Cum yang berarti ³dengan´ dan Aperari yang berarti ³bekerja´. Dari dua kata ini, dalam bahasa Inggris dikenal dengan istilah Co dan Operation, yang dalam bahasa Belanda disebut dengan istilah Cooperatieve Vereneging yang berarti bekerja bersama dengan orang lain untuk mencapai suatu tujuan tertentu. Kata CoOperation kemudian diangkat menjadi istilah ekonomi sebagai Kooperasi yang dibakukan menjadi suatu bahasa ekonomi yang dikenal dengan istilah Koperasi, yang berarti organisasi ekonomi dengan keanggotaan yang sifatnya sukarela. Dari hal tersebut dapat disimpulkan bahwa koperasi adalah suatu perkumpulan atau organisasi ekonomi yang beranggotakan orang-orang atau badan-badan, yang memberikan kebebasan masuk dan keluar sebagai anggota menurut peraturan yang ada; dengan bekerja sama secara kekeluargaan menjalankan suatu usaha, dengan tujuan mempertinggi kesejahteraan jasmaniah para anggotanya (Nindo Pramono 1986 : 9 di dalam buku Sutyanta R 2000 : 2). Di dalam Undang-Undang Koperasi Nomor 12 Tahun 1967 pada Pasal 3 dinyatakan bahwa Koperasi Indonesia adalah organisasi ekonomi rakyat yang berwatak sosial, beranggotakan orang-orang atau badan hukum koperasi yang merupakan tata susunan ekonomi sebagai usaha bersama berdasarkan asas kekeluargaan. Sedangkan menurut Undang-Undang Nomor 25 Tahun 1992 tentang Perkoperasian, pada Bab I Ketentuan Umum Pasal 1 Bagian Kesatu, dinyatakan bahwa koperasi adalah badan usaha yang beranggotakan orang seorang atau badan hukum koperasi dengan melandaskan kegiatannya berdasarkan prinsip koperasi sekaligus sebagai gerakan ekonomi rakyat yang berdasarkan atas asas kekeluargaan.

6

Landasan Koperasi di Indonesia terdiri dari: 1. 2. Landasan Idiil/Idiologi/Dasar adalah Pancasila. Landasan Struktural UUD 45 Pasal 33 Ayat 1 yang berbunyi, ³Perekonomian disusun sebagai usaha bersama atas asas kekeluargaan.´ 3. 4. Landasan Operasional adalah GBHN tentang arah pembangunan koperasi. Landasan Mental adalah setia kawan dan kesadaran pribadi.

Koperasi Indonesia mempunyai ciri-ciri seperti berikut: 1. Koperasi ialah suatu badan usaha yang pada dasarnya untuk mencapai suatu tujuan untuk memperoleh keuntungan ekonomis. Oleh karena itu, koperasi diberi peluang pula untuk bergerak di segala sektor perekonomian, di mana saja, dengan mempertimbangkan kelayakan usaha. 2. Tujuannya harus berkaitan langsung dengan kepentingan anggota, untuk meningkatkan usaha dan kesejahteraannya. Oleh karena itu, pengelolaan usaha koperasi harus dilakukan secara produktif, efektif dan efisien, sehingga mampu mewujudkan pelayanan usaha yang dapat meningkatkan nilai tambah dan manfaat sebesar-besarnya pada anggota. 3. Keanggotaan koperasi bersifat sukarela tidak boleh dipaksakan oleh siapapun dan bersifat terbuka, yang berarti tidak ada pembatasan atau diskriminasi dalam bentuk apapun juga. 4. Pengelolaan koperasi dilakukan atas kehendak dan keputusan para anggota yang memegang serta melaksanakan kekuasaan tertinggi dalam koperasi. Karena pada dasarnya anggota koperasi adalah pemilik sekaligus pengguna jasa koperasi. 5. Pembagian pendapatan atau Sisa Hasil Usaha (SHU) dalam koperasi ditentukan berdasarkan perimbangan jasa usaha anggota kepada koperasi dan balas jasa terhadap modal yang diberikan kepada para anggota adalah terbatas. Artinya, tidak melebihi suku bunga yang berlaku di pasar dan tidak semata-mata didasarkan atas besarnya modal yang diberikan. 6. Koperasi berprinsip mandiri. Ini mengandung arti bahwa koperasi dapat berdiri sendiri tanpa tergantung pada pihak lain, memiliki kebebasan yang bertanggung jawab, memiliki otonomi, swadaya, berani

7

mempertanggungjawabkan perbuatan sendiri dan kemampuan mengelola diri sendiri.

2.1.2. Jenis Koperasi di Indonesia Dalam ketentuan Pasal 16 UU No. 25 Tahun 1992 dinyatakan bahwa jenis koperasi didasarkan pada kesamaan kegiatan dan kepentingan ekonomi anggotanya. Sedangkan dalam penjelasan pasal tersebut, mengenai jenis koperasi ini diuraikan antara lain: Koperasi Simpan Pinjam, Koperasi Konsumen, Koperasi Produsen, Koperasi Pemasaran, dan Koperasi Jasa. Untuk koperasi-koperasi yang dibentuk oleh golongan fungsional, seperti pegawai negeri, anggota ABRI, karyawan dan sebagainya, bukanlah merupakan suatu jenis koperasi tersendiri.

2.2. Kredit 2.2.1. Pengertian Kredit Kata kredit berasal dari bahasa Yunani, credere, yang berarti kepercayaan. Sementara itu, menurut Munir Fuady (2008 : 111) yang dimaksud dengan perkreditan adalah suatu penyediaan uang atau yang dipersamakan dengannya, yang didasari atas perjanjian pinjam-meminjam antara pihak kreditur (bank, koperasi, perusahaan atau perorangan) dan pihak debitur (peminjam), yang mewajibkan pihak debitur untuk melunasi hutangnya dalam jangka waktu tertentu, di mana sebagai imbalan jasanya, kepada pihak kreditur (pemberi pinjaman) diberikan hak untuk memberikan bunga, imbalan atau pembagian hasil keuntungan selama masa kredit tersebut berlangsung. Sedangkan menurut Pasal 1 UU No. 10 Tahun 1998 yang dimaksud kredit adalah penyediaan uang atau tagihan yang dapat dipersamakan dengan itu, berdasarkan persetujuan atau kesepakatan pinjam meminjam antara bank (atau dalam hal ini koperasi) dengan pihak lain yang mewajibkan pihak peminjam untuk melunasi utangnya setelah jangka waktu tertentu dengan pemberian bunga.

8

2.2.2. Unsur-Unsur Kredit 1. Kepercayaan Keyakinan pihak koperasi selaku pemberi kredit terhadap prestasi yang diberikan kepada anggota untuk melunasi cicilan sesuai jangka waktu yang telah ditentukan.

2.

Jangka Waktu Adanya jangka waktu yang telah disepakati bersama mengenai pemberian kredit oleh pihak koperasi dan pelunasan kredit oleh pihak anggota.

3.

Prestasi Prestasi boleh dikatakan sebagai objek berupa bunga atau imbalan yang telah disepakati koperasi dan anggota.

4.

Risiko Untuk menghindari risiko buruk dalam perjanjian kredit, diadakan pengikatan agunan atau jaminan yang dibebankan pada pihak anggota atau peminjam.

2.2.3. Tujuan Kredit Berikut ini merupakan beberapa tujuan kredit: a. Koperasi selaku pemberi kredit mendapatkan keuntungan berupa bunga, biaya administrasi, imbalan, provisi, dan biaya-biaya lain yang dibebankan pada nasabah debitur atau peminjam. b. Usaha nasabah debitur atau anggota akan meningkat. Dengan pemberian kredit investasi maupun kredit modal, peminjam diharapkan dapat meningkatkan usahanya. c. Banyaknya kredit yang disalurkan koperasi mampu meningkatkan pelaksanaan pembangunan di sektor ekonomi. pemberian kredit dapat membantu tugas pemerintah. Dengan demikian,

9

2.2.4. Prinsip-Prinsip Perkreditan Di dalam pertimbangan pemberian kredit di lingkungan koperasi dapat ditinjau dari prinsip-prinsip berikut ini: 1. Prinsip Kepercayaan Karena kredit berarti kepercayaan, maka hal pemberian kredit²maupun pembiayaan²haruslah ada kepercayaan dari kreditur bahwa dana tersebut akan bermanfaat bagi debitur dan kepercayaan dari kreditur bahwa debitur dapat mengembalikan dana tersebut.

2.

Prinsip Kehati-hatian Agar kredit atau pembiayaan tidak menjadi macet, maka dalam memberikan kredit dan pembiayaan haruslah cukup kehati-hatian dari pihak kreditur dengan menganalisis dan mempertimbangkan semua faktor yang relevan. Untuk itu perlu dilakukan pengawasan terhadap suatu pemberian kredit.

3.

Prinsip Sinkronisasi Prinsip Sinkronisasi (matching) merupakan prinsip yang mengharuskan adanya sinkronisasi antara pinjaman/pembiayaan dan asset/income dari debitur. Misalnya, jangan diberikan kredit/pembiayaan jangka pendek untuk keperluan investasi jangka panjang.

4.

Prinsip Kesamaan Valuta Dalam hal ini yang dimaksud adalah sedapat-dapatnya adanya kesamaan antara jenis valuta untuk kredit/pembiayaan dan penggunaan dana tersebut, sehingga risiko fluktuasi mata uang dapat dihindari.

5.

Prinsip Perbandingan antara Pinjaman dan Modal Dalam hal ini yang dimaksud adalah perbandingan antara pinjaman dan modal dalam rasio wajar.

10

6.

Prinsip Perbandingan antara Pinjaman dan Aset Dalam hal ini yang dimaksud adalah perbandingan antara pinjaman dan aset dalam rasio wajar.

Selain prinsip-prinsip tersebut ada lagi prinsip yang sangat umum diketahui, yaitu Prinsip 5C: 1. Character (Kepribadian) Karakter berarti bahwa para peminjam adalah orang-orang yang dapat memegang teguh setiap perkataan mereka. Mereka harus memiliki

kejujuran dan dapat dipercaya. Pun mereka akan melakukan segala sesuatu untuk membayar kembali pinjaman mereka baik hutang pokoknya maupun bunganya.

2.

Capacity (Kemampuan) Kapasitas digunakan untuk mengukur keuangan dan sejarah seseorang secara menyeluruh. Penilaian terhadap kapasitas ini dimaksudkan untuk menilai sampai sejauh mana hasil usaha (kemampuan) yang akan diperolehnya tersebut akan mampu untuk melunasi pinjamannya tepat waktu sesuai dengan perjanjian yang telah disepakati antara pihak koperasi dan pihak peminjam.

3.

Capital (Modal) Modal yang dimiliki oleh pengusaha di dalam perusahaannya sangatlah penting. Untuk pertimbangan tersebut, para pejabat koperasi akan lebih berkeyakinan untuk meminjamkan uangnya kepada orang-orang yang mempunyai kekuatan keuangan yang cukup kuat dibandingkan dengan mereka yang banyak berutang. Bila keuangan yang dimiliki mereka cukup baik, akan memberikan gambaran kelangsungan usahanya untuk

berkelanjutan dan juga dapat menjaga dalam menghadapi masalah keuangan.

11

4.

Condition of Economy (Kondisi Ekonomi) Situasi dan kondisi politik, sosial, ekonomi, budaya dan lain-lain yang memengaruhi keadaan perekonomian pada suatu saat dalam kurun waktu tertentu kemungkinan akan dapat memengaruhi kelancaran usaha dari perusahaan (anggota) yang memperoleh pinjaman.

5.

Collateral (Agunan) Agunan atau jaminan kebendaan merupakan salah satu pengamanan untuk pengembalian pinjaman bilamana pinjaman tersebut bermasalah dan macet. Oleh karena itu, peminjam uang diminta untuk memberikan agunan atau jaminan kebendaan atau melengkapinya dengan perlindungan tambahan sebagai garansi untuk koperasi. Jika peminjam mengalami kesulitan dalam membayar kembali pinjamannya, maka jaminan tersebut akan dijual dan uang yang diperoleh dari hasil penjualan tersebut akan digunakan untuk melunasi pinjamannya.

2.3. Sistem Akuntansi 2.3.1. Pengertian Sistem dan Prosedur Sistem dapat didefinisikan sebagai kumpulan dari bagian atau komponen baik fisik ataupun non fisik yang saling berhubungan satu sama lain dan bekerja sama secara harmonis untuk mencapai satu tujuan tertentu (Tim Dosen SIA 2009 : 11). Menurut Mulyadi (2001 : 31), sistem pada dasarnya adalah sekelompok unsur yang erat berhubungan satu dengan lainnya, yang berfungsi bersama-sama untuk mencapai tujuan tertentu. Sistem diciptakan untuk menangani sesuatu yang berulang kali atau yang secara rutin terjadi. Setiap sistem terdiri dari subsistem. Subsistem menjalankan peran yang lebih terspesialisasi jika dibandingkan dengan peran sistemnya. Pada saat suatu sistem menjadi pembahasan maka subsistem tersebut menjadi sistem dan di dalam sistem ini terdapat subsistem yang lebih kecil, sedangkan sistem yang sebelumnya dimana subsistem yang kini menjadi sistem berada disebut sebagai supersistem.

12

Sistem terdiri dari jaringan prosedur. Prosedur adalah suatu urutan kegiatan klerikal, biasanya melibatkan beberapa orang dalam suatu departemen atau lebih, yang dibuat untuk menjamin penanganan secara seragam transaksi perusahaan yang terjadi berulang-ulang (Mulyadi 2001 : 5).
Permohonan Calon Debitur Penelitian data oleh Bagian Kredit

Dipertimbangkan untuk Dilanjutkan

DITOLAK

Kelengkapan Data

Wawancara

Informasi

Pinjaman Setempat ke Lokasi Anggota

Analisa Kredit

DISETUJUI
Surat Persetujuan Kredit Perjanjian Kredit Pengikatan Agunan/Jaminan

Gambar 1: Prosedur Pengajuan Kredit Sumber: Entjep Sukandar, Modul Bank dan Lembaga Keuangan

13

2.3.2. Pengertian Akuntansi Akuntansi adalah seni pencatatan, penggolongan dan pengikhtisaran dengan cara tertentu dan dalam ukuran moneter, transaksi, dan kejadian-kejadian yang umumnya bersifat keuangan dan termasuk menafsirkan hasil-hasilnya (Sofyan Syafri Harahap 2003 : 4 di dalam Abdul Hafiz Tanjung 2008 : 29).

2.3.3. Sistem Akuntansi Setelah diuraikan pengertian sistem dan akuntansi secara umum, pengertian dari sistem akuntansi sendiri adalah organisasi formulir, catatan, dan laporan yang dikoordinasi sedemikian rupa untuk menyediakan informasi keuangan yang dibutuhkan oleh manajemen guna memudahkan pengelolaan perusahaan (Mulyadi 2001 : 3).

2.4. Sistem Pengendalian Intern Di dalam sistem perlu adanya sistem pengendalian intern. Sistem

pengendalian intern meliputi struktur organisasi, metode dan ukuran-ukuran yang dikoordinasikan untuk menjaga kekayaan organisasi, mengecek ketelitian dan keandalan data akuntansi, mendorong efisiensi dan mendorong dipatuhinya kebijakan manajemen. Definisi sistem pengendalian intern tersebut menekankan tujuan yang hendak dicapai dan bukan pada unsur-unsur yang membentuk sistem tersebut. Dengan demikian, pengertian pengendalian intern tersebut di atas

berlaku baik dalam perusahaan/organisasi yang mengolah informasinya secara manual, dengan mesin pembukuan, ataupun dengan komputer. Tujuan dari sistem pengendalian intern adalah:

14

Menjaga kekayaan organisasi

Tujuan Pengendalian Intern Akuntansi

Mengecek ketelitian dan keandalan data akuntansi Tujuan Pokok Sistem Pengendalian Intern Mendorong efisiensi Tujuan Pengendalian Intern Akuntansi Mendorong dipenuhinya kebijakan manajemen

Gambar 2: Tujuan Pokok Sistem Pengendalian Intern Sumber: Mulyadi, Sistem Akuntansi

1.

Menjaga kekayaan perusahaan: a. Penggunaan kekayaan perusahaan hanya melalui sistem otorisasi yang telah ditetapkan; dan b. Pertanggungjawaban kekayaan perusahaan yang dicatat dibandingkan dengan kekayaan yang sesungguhnya ada.

2.

Mengecek ketelitian dan keandalan data akuntansi: a. Pelaksanaan transaksi melalui sistem otorisasi yang telah ditetapkan; dan b. Pencatatan transaksi yang terjadi dalam catatan akuntansi.

3. 4.

Mendorong efisiensi; dan Mendorong dipatuhinya kebijakan manajemen.

15

2.4.1. Unsur Sistem Pengendalian Internal Unsur pokok sistem pengendalian intern adalah:

Organisasi yang memisahkan tanggung jawab dan wewenang secara tegas

Sistem Otorisasi dan Prosedur Pencatatan Unsur Pokok Sistem Pengendalian Intern Praktik yang Sehat

Karyawan yang mutunya sesuai dengan tanggung jawabnya

Gambar 3: Unsur Pokok Sistem Pengendalian Intern Sumber: Mulyadi, Sistem Akuntansi

1.

Struktur Organisasi Struktur Organisasi merupakan rerangka (framework) pembagian tanggung jawab fungsional kepada unit-unit organisasi yang dibentuk untuk melaksanakan kegiatan-kegiatan pokok perusahaan. Pembagian tanggung jawab fungsional dalam organisasi ini didasarkan pada prinsip-prinsip berikut ini: a. Harus dipisahkan fungsi-fungsi operasi dan penyimpanan dari fungsi akuntansi. Fungsi operasi adalah fungsi yang memiliki wewenang

untuk melaksanakan suatu kegiatan. b. Setiap fungsi tidak boleh diberi tanggung jawab penuh untuk melaksanakan semua tahap transaksi.

16

2.

Sistem Otorisasi dan Prosedur Pencatatan Dalam organisasi, setiap transaksi hanya terjadi atas dasar otorisasi dari pejabat yang memiliki wewenang untuk menyetujui terjadinya transaksi tersebut. Oleh karena itu, dalam organisasi harus dibuat sistem yang

mengatur pembagian wewenang untuk otorisasi atas terlaksananya setiap transaksi.

3.

Praktik yang Sehat Pembagian tanggung jawab fungsional dan sistem wewenang dan prosedur pencatatan yang telah ditetapkan tidak akan terlaksana dengan baik jika tidak diciptakan cara-cara untuk menjamin praktik yang sehat dalam pelaksanaannya. Adapun cara-cara yang umumnya ditempuh oleh

perusahaan dalam menciptakan praktik yang sehat adalah: a. Penggunaan formulir bernomor urut tercetak yang pemakaiannya harus dipertanggungjawabkan oleh yang berwenang. b. Pemeriksaan mendadak (surprised audit). Pemeriksaan mendadak

dilaksanakan tanpa pemberitahuan terlebih dahulu kepada pihak yang akan diperiksa, dengan jadwal yang tidak teratur. c. Setiap transaksi tidak boleh dilaksanakan dari awal sampai akhir oleh satu orang atau satu unit organisasi, tanpa ada campur tangan dari orang atau unit organisasi lain. d. Perputaran jabatan (job rotation). Perputaran jabatan yang diadakan secara rutin akan dapat menjaga indepedensi pejabat dalam

melaksanakan tugasnya. e. f. Keharusan pengambilan cuti bagi karyawan yang berhak. Secara periodik diadakan pencocokan fisik kekayaan dengan

catatannya.

4.

Karyawan yang Mutunya Sesuai Tanggung Jawabnya Bagaimana pun baiknya struktur organisasi, sistem otorisasi dan prosedur pencatatan, serta berbagai cara yang diciptakan untuk mendorong praktik yang sehat, semuanya tergantung pada manusia yang melaksanakannya.

17

2.4.2. Perlunya Sistem Pengendalian Intern bagi Koperasi Sebagai organisasi di bidang ekonomi dan sosial, koperasi sangat rawan terhadap risiko kerugian. Kerawanan tersebut dapat bersumber dari unsur intern maupun ekstern. 1. Unsur-unsur intern. a. Adanya sifat manusia yang curang, ambisi, malas, ceroboh, mau menang sendiri, dan sekongkol; b. Organisasi melibatkan banyak orang yang mempunyai karakter yang berbeda, otoriter, demokratis, independen, dan sebagainya; c. Harta kekayaan koperasi relatif besar nilainya sehingga perlu diamankan; dan d. Kegiatan usaha koperasi semakin kompleks sehingga perlu diatur prosedur, pelaksanaan, dan otoritasnya secara baik.

2.

Unsur-unsur ekstern a. Adanya pihak-pihak atau oknum yang kurang menyukai kegiatan usaha koperasi karena persaingan atau faktor-faktor lain; dan b. Adanya kecenderungan dari oknum anggota koperasi yang ingin mendahulukan kepentingannya antara lain dengan cara: (1) Memanfaatkan celah-celah aturan yang lemah; (2) Memanfaatkan kelemahan kepemimpinan koperasi; dan (3) Memanfaatkan kelemahan manajemen koperasi.

BAB III KERAGAAN KOPERASI BUDAYA PRIMA

3.1. Sejarah Singkat Koperasi Budaya Prima Pada awal mulanya pada tahun 1995 dibentuk suatu perkumpulan para pensiunan Bank Bumi Daya di Kota Bogor yang dinamakan Persatuan Pensiunan Bank Bumi Daya (PP BBD). Perkumpulan yang pada awal pendiriannya

beranggotakan 20 orang tersebut bertujuan untuk mengikat tali silaturahim antar sesama para pensiunan Bank Bumi Daya. Sejalan dengan perjalanan waktu,

timbul gagasan dari para anggota untuk mendirikan koperasi yang bertujuan guna mensejahterakan para pensiunan Bank Bumi Daya Bogor. PP BBD menunjuk anggotanya untuk menjadi pengurus dalam hal pembentukan koperasi yang dilakukan di kantor notaris dengan Akta Pendirian No. 416/BH/KWK10/VIII/1997. Kemudian setelah itu mengajukan segala administrasi ke

Deperindakop (Departemen Perindustrian dan Koperasi) yang beralamat di Jalan Dadali No. 4 Bogor untuk perizinan operasional koperasi. Tepat pada tanggal 20 Agustus 1997, koperasi yang kemudian diberi nama Koperasi Persatuan Pensiunan Bank Bumi Daya Budaya Prima (yang selanjutnya disebut Koperasi Budaya Prima) tersebut resmi dibentuk dengan anggota awal sebanyak 50 orang. Koperasi Budaya Prima menggunakan lambang berupa gambar berbingkai yang di dalamnya terdapat lambang Persatuan Pensiunan Bank Bumi Daya (huruf PP) yang dihiasi setangkai padi bewarna kuning dan kapas bewarna putih; serta di atasnya terdapat bintang bewarna kuning emas dengan warna dasar biru muda.

Gambar 4: Lambang Koperasi Budaya Prima Sumber: Koperasi Budaya Prima Pada tahun 2008, Koperasi Budaya Prima menorehkan prestasi yang sangat membanggakan, yaitu ditahbiskan menjadi koperasi berprestasi se-Kota Bogor.

19

3.1.1. Anggota Koperasi Budaya Prima Keanggotaan Koperasi Budaya Prima terdiri dari: a. Anggota Biasa: Pensiunan eks Bank Bumi Daya yang berdomisili di Kotamadaya dan Kabupaten Bogor. b. Anggota Luar Biasa: Pegawai eks Bank Bumi Daya Cabang Bogor atau yang pernah bekerja pada Bank Bumi Daya dan para pegawai Bank Bumi Daya yang mengambil uang pensiunan secara langsung (tidak termasuk dalam daftar pensiunan Bank Bumi Daya).

3.1.2. Modal Koperasi Budaya Prima Modal Koperasi Budaya Prima berasal dari: 1. Simpanan Pokok Simpanan pokok adalah sejumlah uang yang wajib dibayarkan pada saat masuk menjadi anggota oleh setiap anggota kepada koperasi, yang besarnya untuk masing-masing anggota adalah sama. Simpanan pokok ini tidak dapat diambil kembali oleh anggota, selama yang bersangkutan masih menjadi anggota koperasi. Simpanan pokok yang dibayarkan oleh setiap anggota baru adalah sebesar Rp 200.000. Mengenai cara penyerahan/penyetoran simpanan pokok dari anggota kepada koperasi ini, dapat diatur di dalam setiap Anggaran Dasar ini, yaitu dilakukan dengan cara diangsur. Hak anggota akan timbul setelah yang bersangkutan memenuhi minimal 25% dari kewajibannya sebagai anggota.

2.

Simpanan Wajib Simpanan wajib adalah sejumlah simpanan tertentu yang wajib dibayar oleh setiap anggota kepada koperasi dalam waktu dan kesempatan tertentu, yang nilainya setiap anggota tidaklah harus sama. Dengan

demikian anggota yang lebih mampu dari segi keuangan, dapat memberikan lebih kepada koperasi dibanding anggota lainnya, sebagai simpanan wajibnya. Simpanan wajib ini tidak dapat diambil kembali oleh anggota, selama yang bersangkutan masih menjadi anggota koperasi tersebut.

20

Adapun simpanan wajib yang dibayarkan oleh anggota yang dibayarkan setiap bulan adalah sebesar Rp 20.000.

3.

Simpanan Sukarela Di Koperasi Budaya Prima juga terdapat simpanan sukarela. Simpanan sukarela adalah simpanan yang besarnya tidak ditentukan, tetapi bergantung kepada kemampuan anggota. disetorkan dan diambil setiap saat. Simpanan sukarela dapat

4.

Dana Cadangan Dana cadangan adalah sejumlah uang yang diperoleh dari penyisihan Sisa Hasil Usaha, yang dimaksudkan untuk memupuk modal sendiri dan untuk menutup kerugian koperasi jika diperlukan. Sehubungan dengan itu, dana cadangan koperasi ini tidak boleh dibagikan kepada anggota, meskipun terjadi pembubaran koperasi. Penyelesai Pembubaran, Karena pada masa pembubaran ini, oleh cadangan tersebut dipakai untuk

dana

menyelesaikan hutang-hutang koperasi, kerugian-kerugian koperasi, biayabiaya penyelesaian dan lain sebagainya. Adapun dana cadangan yang disisihkan dari sisa hasil usaha²setelah dikurangi dengan pajak²sesuai anggaran dasar koperasi adalah sebesar 25%. Selanjutnya sebesar 75% SHU didistibusikan untuk: 1) Anggota: 50%; 2) Pengurus: 7%; 3) Pengawas: 4%; 4) Pendidikan: 4%; 5) Kesejahteraan Pegawai: 5%; 6) Pemerintahan Daerah: 2,5%; dan 7) Sosial: 2,5%.

3.2. Struktur Organisasi Sebagai suatu badan usaha yang berstatus badan hukum (rechts persoon), maka keberadaan koperasi diakui seperti manusia atau subjek hukum yang memiliki kecakapan bertindak, memiliki wewenang untuk mempunyai dan mencari harta kekayaan, serta dapat melakukan perbuatan-perbuatan hukum. Sebagai suatu subjek hukum, koperasi merupakan subjek hukum abstrak yang keberadaannya berdasar atas bentukan/rekayasa dari manusia, untuk

21

memenuhi kebutuhan itu sendiri dibidang ekonomi.

Oleh karena koperasi

merupakan subjek hukum abstrak, maka untuk melaksanakan/menjalankan kegiatan usahanya atau untuk mengelola jalannya koperasi, perlu kehadiran subjek hukum manusia. koperasi. Adapun perangkat organisasi Koperasi Budi Daya Budaya Prima beserta job description-nya dapat digambarkan sebagai berikut: Mereka itu disebut sebagai perangkat organisasi

Rapat Anggota

Pengawas Ketua

Sekretaris

Bendahara

Pegawai

Gambar 5: Struktur Organisasi Koperasi Budaya Prima Sumber: Koperasi Budaya Prima

1.

Rapat Anggota Rapat Anggota adalah pemegang kekuasaan tertinggi dalam koperasi dan merupakan perwujudan kehendak dari para anggota koperasi untuk membicarakan segala sesuatu menyangkut kehidupan serta pelaksanaan koperasi. Koperasi Budi Daya Prima melakukan Rapat Anggota tiga tahun sekali saat akan terjadinya pergantian kepengurusan lama dengan yang baru. Adapun Rapat Anggota mempunyai fungsi-fungsi sebagai berikut: a. Menetapkan Anggaran Dasar (AD) dan Anggaran Rumah Tangga (ART) Koperasi; b. Menetapkan kebijakan umum koperasi;

22

c. d.

Memilih, mengangkat, dan memberhentikan Pengurus; Menetapkan dan mengesahkan rencana kerja ataupun rencana Anggaran Pendapatan dan Belanja Koperasi;

e.

Menetapkan dan mengesahkan kebijakan pengurus dalam bidang organisasi ataupun bidang usaha;

f.

Mengesahkan laporan pertanggungjawaban Pengurus dan Badan Pemeriksa; dan

g.

Menyelenggarakan Rapat Anggota.

2.

Pengawas Pengawas dipilih dari dan oleh anggota koperasi dalam rapat anggota. Pengawas bertanggung jawab kepada rapat anggota. Persyaratan untuk

dapat dipilih dan diangkat sebagai anggota pengawas ditentukan dalam Anggaran Dasar. Dalam hal koperasi yang mengangkat pengelola pengawas dapat diadakan secara tetap atau pada waktu diperlukan sesuai dengan keputusan rapat anggota. Hal ini tidak mengurangi arti pengawas sebagai perangkat organisasi dan memberikan kesempatan kepada koperasi untuk memilih pegawas secara tetap atau pada waktu diperlukan sesuai dengan keperluannya. Pengawas yang diadakan pada waktu diperlukan tersebut melakukan pengawasan sesuai dengan penugasan yang diberikan oleh Rapat Anggota. 1) Pengawas bertugas: a. Melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan kebijakan dan pengelolaan koperasi; dan b. Membuat laporan tertulis tentang hasil pengawasannya.

2)

Pengawas berwenang: a. b. Meneliti catatan yang ada pada koperasi; dan Mendapatkan segala keterangan yang diperoleh.

23

3)

Pengawas harus merahasiakan hasil pengawasannya kepada pihak ketiga.

3.

Ketua mempunyai tugas: a. Memimpin, mengkoordinasi, mengawasi pelaksanaan tugas anggota pengurus; b. c. Memimpin Rapat Anggota/Rapat Anggota Tahunan; Atas nama pengurus memberikan laporan pertanggungjawaban kepada Rapat Anggota/Rapat Anggota Tahunan; d. e. Memimpin rapat pengurus; Memberikan keputusan terakhir dalam kepengurusan koperasi dengan memerhatikan lainnya; f. Mengesahkan surat masuk dan keluar bersama Sekretaris untuk kegiatan dalam bidang ideal koperasi, tata usaha, personalia, dan sebagainya; g. Mengesahkan surat masuk dan keluar bersama bendahara untuk kegiatan bidang keuangan; h. i. Mengatur tata kerja pengurus dan anggota; Mengadakan lobi dengan koperasi-koperasi perusahaan lain untuk memperoleh tambahan pendapatan; dan j. Mencari peluang-peluang untuk menambah kesejahteraan koperasi. usul/saran/pertimbangan dari anggota pengurus

4.

Sekretaris a. b. Menyelenggarakan dan memelihara buku organisasi dan semua arsip; Memelihara tata kerja, merencanakan peraturan khusus serta ketentuan lain; c. Merencanakan kegiatan operasional bidang ideal meliputi program pendidikan, penyuluhan, dan sebagainya; d. Mengesahkan semua surat dan buku yang menyangkut bidang kesejahteraan bersama Ketua; e. Mengajukan pinjaman ke PUSKOPPEN;

24

f. g.

Melakukan analisis kelayakan pinjaman anggota; Bertanggung jawab dalam bidang administrasi organisasi kepada ketua; dan

h.

Mengadakan hubungan dengan bendahara dalam bidang yang berkaitan.

5.

Bendahara a. b. c. d. Merencanakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Koperasi; Mencari dana baik dari anggota yang berupa simpanan; Memelihara harta kekayaan koperasi; Mengatur pengeluaran uang (biaya) agar tidak melampaui anggaran yang telah ditetapkan; e. Mempersiapkan data dan informasi bidangnya dalam rangka menyusun laporan organisasi baik untuk rapat anggota tahunan maupun untuk pihak yang diperlukan; f. Melakukan pemeriksaan secara langsung jumlah uang kas dan jumlah persediaan barang dan disesuaikan dengan catatan; g. Mengambil langkah pengamanan tertentu untuk mencegah kerugian koperasi; dan h. Membuat pertanggungjawaban keuangan koperasi (data-data

diperoleh dari pegawai).

6.

Karyawan a. b. Menerbitkan neraca harian (keluar masuk barang); dan Mencatat semua kegiatan keuangan koperasi.

3.3. Kegiatan Koperasi Budaya Prima Koperasi primer adalah koperasi yang beranggotakan orang seorang terdiri dari sekurang-kurangnya 20 orang yang telah memenuhi keanggotaan sebagaimana ditentukan dalam undang-undang. Koperasi simpan pinjam merupakan badan usaha yang dimiliki oleh warga masyarakat, yang diikat oleh satu ikatan pemersatu, bersepakat untuk menyimpan syarat-syarat

25

dan menabungkan uang mereka pada badan usaha tersebut, sehingga tercipta modal bersama untuk dipinjamkan kepada sesama selaku anggota koperasi untuk tujuan produktif dan kesejahteraan (Bunyamin 2009). Sementara, pengertian koperasi simpan pinjam menurut Sutantya Rahardja Kusumah (2000 : 65) adalah koperasi yang anggota-anggotanya terdiri dari orangorang yang mempunyai kepentingan langsung dalam soal-soal perkreditan atau simpan pinjam. Pengertian simpanan adalah dana yang dipercayakan oleh anggota kepada koperasi dalam bentuk simpanan pokok, simpanan wajib dan tabungan. Sedangkan pinjaman adalah penyediaan uang kepada anggota berdasarkan kesepakatan pinjam meminjam, yang mewajibkan kepada peminjam melunasi hutangnya dalam jangka waktu tertentu, disertai dengan pembayaran sejumlah imbalan yang dapat berbentuk bunga atau bagi hasil. Pada dasarnya koperasi simpan pinjam menjalankan fungsi yang hampir sama dengan bank, yaitu sebagai badan usaha yang melakukan penggalian atau mobilisasi dana dari masyarakat dan menyalurkannya kembali dalam bentuk kredit kepada warga masyarakat yang membutuhkan. Yang membedakannya adalah bahwa koperasi dimiliki secara bersama oleh anggotanya dengan hak dan kedudukan yang sama dan hanya memberikan pelayanan kredit kepada anggotanya. Sedangkan bank dimiliki oleh sejumlah orang atau badan sebagai pemegang saham, memobilisasi dana dari masyarakat luas untuk menyimpan uang di bank tersebut, namun hanya menyalurkan dana yang terhimpun kepada warga masyarakat yang mampu memenuhi persyaratan teknis bank. Koperasi Budaya Prima termasuk koperasi primer yang kegiatannya terdiri dari simpan pinjam dan penyediaan kebutuhan pokok untuk para anggotanya. Untuk kegiatan simpan pinjam, Koperasi Budaya Prima menyediakan dua jenis pinjaman, yaitu pinjaman insidentil dan pinjaman jangka panjang. Yang

dimaksud pinjaman insidentil adalah pinjaman jangka pendek (hanya + 12 bulan) untuk memenuhi kebutuhan mendesak. Plafon untuk pinjaman insidentil hanya Rp 2.000.000 dengan bunga 1,5%/bulan. Sementara plafon untuk pinjaman

jangka panjang sebesar Rp 10.000.000 dengan bunga 9% p.a.. Namun untuk pinjaman jangka panjang mesti diajukan terlebih dahulu ke Puskoppen²selaku

26

penyandang dana pinjaman jangka panjang²untuk pemberian dana setelah syarat-syaratnya terpenuhi. Ketentuan pemberian pinjaman di atas hanya berlaku kepada anggota koperasi. Untuk anggota luar biasa Koperasi Budaya Prima

memiliki ketentuannya tersendiri yang akan dijelaskan pada BAB IV. Untuk penambahan modal, Koperasi Budaya Prima juga melakukan penjualan bahan-bahan pokok. Penjualan bahan pokok tersebut terdiri dari: teh, gula, kecap, sikat dan pasta gigi, sabun mandi, mie instan, minyak goreng serta susu manis. Selain itu, koperasi menerima barang konsinyasi dari para anggota. Barang konsinyasi yang berasal dari anggota berupa obat-obatan tradisional bahkan sampai ke helm. Penjualan barang-barang tersebut tidak hanya dijual untuk anggota namun masyarakat umum pun dapat membelinya. Sebelumnya pada tahun 2006 Koperasi Budaya Prima juga menyediakan jasa cleaning service untuk Bank Mandiri Cabang Bogor yang terletak di bilangan Jalan Ir. H. Djuanda dan Jalan Kapten Muslihat dengan jumlah pegawai sebanyak enam orang ditambah satu pengawas. Namun tahun 2008, jasa cleaning service dialihkan ke Plaza Bumi Daya.

BAB IV TINJAUAN ANALISIS SISTEM PEMBERIAN KREDIT PADA KOPERASI BUDAYA PRIMA

Koperasi dapat melakukan usaha-usaha sebagaimana badan usaha lain, seperti di sektor perdagangan, industri manufaktur, jasa keuangan dan pembiayaan, jasa asuransi, jasa transportasi, jasa profesi serta jasa lainnya. Koperasi Persatuan Pensiunan Bank Bumi Daya Budaya Prima (atau yang selanjutnya disebut Koperasi Budaya Prima) merupakan koperasi yang beranggotakan para pensiunan Bank Bumi Daya. Selain penyediaan bahan pokok, kegiatan utama dari Koperasi Budaya Prima adalah pemberian pinjaman kepada para anggotanya. Pada hakikatnya Koperasi Budaya Prima menyediakan dua jenis kredit yang terdiri dari: 1) Kredit barang, yaitu berupa penjualan non tunai; dan 2) Kredit uang (modal), yaitu pinjaman insidentil dan pinjaman jangka panjang. Untuk lebih jelasnya akan dideskripsikan sebagai berikut.

4.1. Ketentuan Mengenai Pemberian Kredit 4.1.1. Jenis-Jenis Kredit Koperasi Budaya Prima 1. Kredit Barang Selain penjualan secara tunai Koperasi Budaya Prima juga menyediakan penjualan secara non tunai. Penjualan²baik tunai maupun non tunai²tidak hanya untuk para anggota, selain anggota pun dapat membeli kebutuhan bahan pokok di koperasi ini. Salah satu contoh non anggota (rekanan) yang selalu membeli bahan pokok di Koperasi Budaya Prima adalah Bank Mandiri Cabang Bogor yang berada di Jalan Ir. H. Djuanda dan di Jalan Kapten Muslihat.

28

2. a.

Kredit Uang (Modal) Pinjaman Insidentil Yang dimaksud pinjaman insidentil adalah pinjaman khusus jangka pendek (periode + 12 bulan) untuk memenuhi kebutuhan yang mendesak dari para anggota. Untuk pinjaman insidentil, pemberian pinjaman kepada anggota bisa diberikan secara langsung (tunai) atau ditransfer ke rekening anggota bersangkutan.

b.

Pinjaman Jangka Panjang Adalah pinjaman yang diberikan dengan jangka waktu lebih dari satu tahun (maksimum lima tahun). Jangka waktu pemberian pinjaman jangka panjang bisa selama 24, 36, 48, dan 60 bulan (= lima tahun) tergantung kebutuhan anggota itu sendiri. Khusus untuk pinjaman jangka panjang,

koperasi Budaya Prima mengajukan kembali pinjaman anggota kepada Puskoppen BBD (Pusat Koperasi Pensiunanan Bank Bumi Daya) selaku penyandang dana pinjaman jangka panjang.

Berbeda dengan penjualan non tunai, pemberian pinjaman²baik pinjaman insidentil maupun pinjaman jangka panjang²hanya dapat diberikan khusus kepada anggota yang masih menerima manfaat pensiun dari Dana Pensiun I Mandiri atau yang disebut juga dengan Anggota Biasa. Hal ini merupakan salah satu bentuk pengendalian internal yang ada di Koperasi Budaya Prima.

4.1.2. Maksimum Plafon Kredit Yang dimaksud dengan plafon kredit adalah berapa besar maksimum kredit yang dapat diberikan kepada setiap anggota koperasi. Besarnya plafon setiap kredit adalah sebagai berikut: a. Penjualan Non Tunai Tidak ada maksimum plafon untuk penjualan non tunai.

29

b.

Pinjaman Insidentil Maksimum pinjaman yang diberikan adalah Rp 2.000.000 yang bersifat plafon menurun. Namun bisa juga melebihi sesuai keadaan anggota yang bersangkutan dan juga sesuai ketentuan kebijakan pengurus koperasi.

c.

Pinjaman Jangka Panjang Maksimum pinjaman yang diberikan adalah Rp 10.000.000 yang bersifat plafon menurun.

Namun, apabila ada anggota mengajukan pinjaman²baik pinjaman insidentil maupun pinjaman jangka panjang²sesuai maksimal plafon belum tentu diberikan sesuai dengan yang diajukan. Ada beberapa hal yang harus

dipertimbangkan sebelum diberikan atau disetujui dana pinjaman tersebut.

4.1.3. Biaya Provisi Biaya provisi adalah biaya yang diberikan kepada peminjam (anggota) pada saat pencairan pinjaman. Koperasi Budaya Prima tidak membebankan biaya Namun untuk pinjaman

provisi atas pinjaman yang diberikan sehingga 0%.

jangka panjang ada biaya materai dan biaya lain-lain sebesar Rp 125.000.

4.1.4. Agunan Agunan adalah jaminan berupa hak dan kekuasaan yang diserahkan oleh peminjam kepada pemberi pinjaman sebagai jaminan apabila peminjam tidak dapat melunasi utang-utangnya atau melakukan wanprestasi. Agunan untuk semua jenis pinjaman adalah SK Pensiun anggota²yang di mana anggota tersebut masih menerima manfaat pensiun tiap bulan. Dokumendokumen SK Pensiun anggota yang asli disimpan save locket pada Bank CIMB cabang Ir. H. Djuanda Bogor. Sedangkan kopian SK Pensiunan diserahkan

kepada Puskoppen pada setiap mengajukan permohonan pinjaman jangka panjang.

30

4.1.5. Persyaratan Pengajuan Kredit Sebenarnya tidak ada persyaratan khusus dalam pengajuan semua jenis kredit yang ada di Koperasi Budaya Prima, asalkan terdaftar menjadi anggota. Sebagai pengendalian, pada pinjaman insidentil diberikan ketentuan persyaratan maksimum, yaitu 30% x manfaat gaji pensiun x 12 bulan. Sebagai ilustrasi, Tuan A telah meminjam uang kepada Koperasi Budaya Prima sebesar Rp 2.000.000 pada tanggal 2 Januari 2011. Selang dua bulan kemudian, Tuan A kembali

meminjam kepada koperasi sebesar Rp 1.500.000. Pihak koperasi²dalam hal ini bendahara²kemudian menghitung masa manfaat gaji pensiun Tuan A, yaitu 30% x Rp 2.000.000 x 12 bulan = Rp 7.200.000. Tuan A masih memiliki kelonggaran tarik sebesar Rp 5.200.000 (Rp 7.200.000 ± Rp 2.000.000) dan masih bisa diberikan pinjaman insidentil. Jadi, apabila ada anggota yang telah meminjam pinjaman insidentil dan bermaksud untuk meminjam kembali maka harus melihat ketentuan prasyaratan tersebut. Sementara untuk pinjaman jangka panjang, terdapat persyaratan

permohonan pinjaman anggota koperasi kepada pihak Puskoppen, yaitu: 1. 2. Menjadi anggota Persatuan Pensiunan BBD setempat; Menjadi anggota Koperasi Budaya Prima minimal sudah membayar lunas simpanan pokok dan wajib untuk pengajuan pinjaman sebesar Rp 10.000.000; 3. 4. 5. 6. Saldo pinjaman lama masih terdapat sisa 30% atau telah melunasi pinjaman; Mengajukan surat permohonan pinjaman kepada Koperasi Budaya Prima; Mengisi formulir permohonan pinjaman; Menyerahkan asli kutipan SK Pensiun dari PT Bank Bumi Daya atau dari PT Bank Mandiri. 7. 8. 9. Melampirkan surat persetujuan suami/istri/ahli waris; Menyerahkan foto copy KTP dan pas foto suami/istri/ahli waris; dan Apabila permohonan pinjaman telah ditandatangani anggota harus membawa SK Pensiunan asli beserta kopiannya untuk dijaminkan.

Syarat untuk penjualan non tunai hanya diberikan kepada Anggota Luar Biasa, yakni pembayarannya melalui pemindahbukuan pada rekening Bank

31

Mandiri dengan jaminan Anggota Luar Biasa tersebut memiliki saldo. Alternatif apabila Anggota Luar Biasa tidak memiliki rekening pada Bank Mandiri, yaitu dengan transfer langsung ke rekening Koperasi Budaya Prima setiap bulannya.

4.1.6. Ketentuan Mengenai Angsuran dan Bunga Pinjaman Untuk pinjaman jangka pendek dan insidentil ditetapkan suku bunga yang berbeda. Bunga untuk pinjaman insidentil lebih besar dari pinjaman jangka Sementara itu, untuk pinjaman jangka Namun,

panjang, yakni sebesar 1,5%/bulan.

panjang ditetapkan sebesar 9% p.a. atau sama dengan 0,75%/bulan.

bunga 9% p.a. tersebut dirinci dengan ketentuan 3% p.a. untuk Puskoppen dan 6% p.a. untuk Koperasi Budaya Prima. Pada pinjaman insidentil dan jangka panjang, Koperasi Budaya Prima menggunakan anuitas biasa. Yang dimaksud dengan anuitas adalah suatu

rangkaian pembayaran/penerimaan sejumlah uang, umumnya sama besar, dengan periode waktu yang sama untuk setiap pembayaran. Persamaan yang dipakai dalam anuitas biasa ada dua, yaitu untuk nilai sekarang (present value) dan untuk nilai akan datang (future value). Persamaan untuk nilai akan datang dapat

digunakan untuk mencari nilai akhir suatu tabungan atau nilai tabungan pada saat tertentu, lamanya waktu yang diperlukan untuk bisa mencapai jumlah tabungan tertentu dan besarnya tabungan yang harus dilakukan setiap periode untuk bisa memperoleh jumlah tertentu. Sedangkan persamaan untuk nilai sekarang dapat digunakan untuk menghitung besarnya cicilan per bulan Kredit Pemilikan Rumah (KPR), cicilan utang sewa guna usaha (leasing), tingkat bunga efektif dari suatu pinjaman, lamanya periode waktu yang diperlukan, nilai sekarang dari rangkaian pembayaran di kemudian hari dan saldo pinjaman pada saat tertentu²termasuk dalam hal ini pembayaran kredit jangka panjang pada Koperasi Budaya Prima. Rumus untuk perhitungan persamaan anuitas nilai sekarang.

32

Keterangan: PV i n A = nilai di awal periode atau nilai sekarang (present value) = tingkat bunga per periode = jumlah periode = anuitas atau pembayaran per periode

dalam persamaan ini disebut faktor anuitas nilai sekarang dan dinotasikan dengan
.

Contoh kasus: Koperasi Budaya Prima memberikan pinjaman K.U.K kepada anggotanya, yaitu Nyonya A dengan plafon sebesar Rp 10.000.000, jangka waktu 36 bulan dan tingkat bunga sebesar 9%. Hitung besarnya angsuran pokok dan angsuran

bunga²untuk Koperasi Budaya Prima serta Puskoppen²yang harus dibayar Tuan A setiap bulan! Jawab: PV n i = Rp 10.000.000 = 36 bulan = 9%/12 = 0,75% = 0,0075

A

= Rp 317.997

33

Tabel 1. Daftar Angsuran Pinjaman Jangka Panjang
JADWAL ANGSURAN KUK PENSIUNAN Nama Peminjam Jumlah Pinjaman Jangka Waktu Tingkat Bunga Angsuran/Bulan Periode 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 Saldo Rp 10.000.000 Rp 9.757.003 Rp 9.512.184 Rp 9.265.528 Rp 9.017.022 Rp 8.766.653 Rp 8.514.406 Rp 8.260.267 Rp 8.004.222 Rp 7.746.257 Rp 7.486.357 Rp 7.224.507 Rp 6.960.694 Rp 6.694.902 Rp 6.427.117 Rp 6.157.323 Rp 5.885.506 Rp 5.611.651 Rp 5.335.741 Rp 5.057.762 Rp 4.777.698 Rp 4.495.534 Rp 4.211.254 Rp 3.924.841 Rp 3.636.280 Rp 3.345.555 Rp 3.052.650 Rp 2.757.548 Rp 2.460.232 Rp 2.160.687 Rp 1.858.895 : Nyonya A : Rp 10.000.000 : 36 bulan : 9% : Rp Angsuran Pokok Rp 242.997 Rp 244.819 Rp 246.656 Rp 248.506 Rp 250.369 Rp 252.247 Rp 254.139 Rp 256.045 Rp 257.965 Rp 259.900 Rp 261.849 Rp 263.813 Rp 265.792 Rp 267.785 Rp 269.794 Rp 271.817 Rp 273.856 Rp 275.910 Rp 277.979 Rp 280.064 Rp 282.164 Rp 284.280 Rp 286.413 Rp 288.561 Rp 290.725 Rp 292.905 Rp 295.102 Rp 297.315 Rp 299.545 Rp 301.792 Rp 304.055 317.997 Bunga Puskoppen (3%) Rp 25.000 Rp 24.393 Rp 23.780 Rp 23.164 Rp 22.543 Rp 21.917 Rp 21.286 Rp 20.651 Rp 20.011 Rp 19.366 Rp 18.716 Rp 18.061 Rp 17.402 Rp 16.737 Rp 16.068 Rp 15.393 Rp 14.714 Rp 14.029 Rp 13.339 Rp 12.644 Rp 11.944 Rp 11.239 Rp 10.528 Rp 9.812 Rp 9.091 Rp 8.364 Rp 7.632 Rp 6.894 Rp 6.151 Rp 5.402 Rp 4.647 Bunga Koperasi (6%) Rp 50.000 Rp 48.785 Rp 47.561 Rp 46.328 Rp 45.085 Rp 43.833 Rp 42.572 Rp 41.301 Rp 40.021 Rp 38.731 Rp 37.432 Rp 36.123 Rp 34.803 Rp 33.475 Rp 32.136 Rp 30.787 Rp 29.428 Rp 28.058 Rp 26.679 Rp 25.289 Rp 23.888 Rp 22.478 Rp 21.056 Rp 19.624 Rp 18.181 Rp 16.728 Rp 15.263 Rp 13.788 Rp 12.301 Rp 10.803 Rp 9.294 Saldo Akhir Rp 9.757.003 Rp 9.512.184 Rp 9.265.528 Rp 9.017.022 Rp 8.766.653 Rp 8.514.406 Rp 8.260.267 Rp 8.004.222 Rp 7.746.257 Rp 7.486.357 Rp 7.224.507 Rp 6.960.694 Rp 6.694.902 Rp 6.427.117 Rp 6.157.323 Rp 5.885.506 Rp 5.611.651 Rp 5.335.741 Rp 5.057.762 Rp 4.777.698 Rp 4.495.534 Rp 4.211.254 Rp 3.924.841 Rp 3.636.280 Rp 3.345.555 Rp 3.052.650 Rp 2.757.548 Rp 2.460.232 Rp 2.160.687 Rp 1.858.895 Rp 1.554.840

34

32 33 34 35 36
*

Rp 1.554.840 Rp 1.248.504 Rp 939.871 Rp 628.923 Rp 315.643

Rp 306.336 Rp 308.633 Rp 310.948 Rp 313.280 Rp 315.643

Rp Rp Rp Rp Rp

3.887 3.121 2.350 1.572 776*

Rp Rp Rp Rp Rp

7.774 6.243 4.699 3.145 1.578

Rp 1.248.504 Rp 939.871 Rp 628.923 Rp 315.643 Rp 0

Rounding (pembulatan) Sumber: Koperasi Budaya Prima Besar angsuran bunga akan menurun setiap bulannya (periode), ini dikarenakan tingkat bunga²baik itu untuk puskoppen atau koperasi sendiri² dikalikan sisa saldo pokok pinjaman bukan senilai nominal plafon. Sehingga berpengaruh pula terhadap angsuran pokok yang mesti dibayar oleh anggota.

4.2. Sistem dan Prosedur Pemberian Kredit 4.2.1. Fungsi yang Terkait 1. Fungsi yang terkait dalam penjualan non tunai: a. Ketua Dalam sistem penjualan non tunai, fungsi ini bertanggungjawab untuk menandatangani surat tagihan dari setiap anggota.

b. Sekretaris Dalam sistem penjualan non tunai, fungsi ini bertanggung jawab untuk membuat surat daftar tagihan dan memberikannya kepada anggota.

c. Bendahara Dalam sistem penjualan non tunai, fungsi ini bertanggung jawab untuk membuat daftar tagihan.

d. Karyawan Dalam sistem penjualan non tunai, fungsi ini bertanggung jawab untuk memasukkan data transaksi penjualan ke dalam jurnal serta merekap nota penjualan tersebut.

35

2.

Fungsi yang terkait dalam pinjaman insidentil: a. Ketua dan Sekretaris Dalam sistem pinjaman insidentil, fungsi ini bertanggung jawab untuk mengotorisasi/menandatangani setiap pinjaman insidentil yang diajukan oleh anggota.

b. Bendahara Dalam sistem pinjaman insidentil, fungsi ini bertanggung jawab untuk menerima pengajuan pinjaman insidentil, menghitung kelonggaran tarik yang dimiliki oleh anggota, menyerahkan uang pinjaman langsung kepada anggota atau via ATM, dan juga memasukkan data transaksi ke dalam jurnal.

c. Karyawan Dalam sistem pinjaman insidentil, fungsi ini bertanggung jawab untuk memasukkan data transaksi tersebut ke dalam jurnal.

3.

Fungsi yang terkait dalam pinjaman jangka panjang: a. Ketua Koperasi Budaya Prima dan Ketua Persatuan Pensiunan Dalam sistem pinjaman jangka panjang, fungsi ini bertanggung jawab untuk mengotorisasi setiap pengajuan pinjaman jangka panjang, menandatangani Perjanjian Kredit (PK) baik PK kepada anggota maupun kepada Puskoppen.

b. Sekretaris Dalam sistem pinjaman jangka panjang, fungsi ini bertanggung jawab untuk menganalisis kelayakan pinjaman anggota; membuat dokumendokumen, seperti surat permohonan pinjaman ke koperasi dan surat persetujuan suami/istri/ahli waris, surat permohonan pengajuan pinjaman ke Puskoppen, formulir analisa pinjaman, dan surat usulan kredit. Selain itu, Bagian Sekretaris membuat Perjanjian Kredit (PK) untuk anggota,

36

membuat tanda bukti pencairan dan juga membuat standing order kepada Bank Mandiri.

c. Bendahara Dalam sistem pinjaman jangka panjang, fungsi ini bertanggung jawab untuk menerima uang dari Puskoppen serta mentransfer dana pinjaman ke rekening anggota.

d. Puskoppen Dalam sistem pinjaman jangka panjang, fungsi ini bertanggung jawab untuk memberikan dana pinjaman sesuai dengan prosedur yang telah dijalankan.

4.2.2. Dokumen yang Digunakan 1. Dokumen yang digunakan dalam sistem penjualan non tunai: a. Nota/faktur penjualan Dalam pencatatan piutang, dokumen ini merupakan tanda bukti sebagai timbulnya piutang. Dokumen ini dibuat dua rangkap yang di mana satu diberikan kepada anggota dan satunya lagi untuk koperasi sebagai dasar pembuatan surat tagihan.

b. Surat tagihan Surat tagihan ini berisi semua utang²penjualan non tunai, pinjaman insidentil, dan pinjaman jangka panjang²yang dimiliki oleh anggota dan diberikan pada setiap akhir bulannya.

2.

Dokumen yang digunakan dalam sistem pinjaman insidentil: a. Formulir pengajuan pinjaman insidentil Adalah formulir yang harus diisi oleh anggota yang mengajukan pinjaman jangka panjang.

37

b. Struk ATM Struk ATM ini menandakan bahwa pinjaman yang diajukan telah ditransfer ke rekening anggota yang bersangkutan²apabila pemberian pinjaman tidak dilakukan secara kas.

c. Standing order Dokumen ini berisi pernyataan anggota kepada Bank Mandiri untuk memindahbukukan sejumlah uang sebesar angsuran setiap bulan ke rekening Koperasi Budaya Prima.

3.

Dokumen yang digunakan dalam sistem pinjaman jangka panjang: a. Surat permohonan pinjaman Surat permohonan pinjaman ini berisi pernyataan anggota Koperasi Budaya Prima yang akan mengajukan pinjaman jangka panjang. Surat ini pun berisi pernyataan kesanggupan anggota untuk melampirkan: fotocopy KTP, SK Pensiun asli, dan manfaat pensiun.

b. Formulir permohonan kredit Adalah formulir yang harus diisi oleh anggota yang mengajukan pinjaman jangka panjang. Formulir ini berisi mengenai identitas

anggota, seperti nama, pangkat terakhir, tanggal lahir, jumlah kredit yang diminta serta tujuan penggunaan kredit. Selain itu, ada kolom khusus mengenai pekerjaan/usaha anggota yang dirinci: jenis pekerjaan, jenis wiraswasta, posisi pekerjaan, pengalaman kerja/usaha, sumber pendapatan dan total pendapatan per bulan.

c. Surat persetujuan suami/istri/ahli waris Surat ini berisi pernyataan dari suami/istri/ahli waris dari anggota mengenai persetujuan untuk mendapatkan pinjaman Koperasi Budaya Prima dengan segala persyaratannya.

38

d. Surat pengajuan permohonan pinjaman kepada Puskoppen Surat ini berisi pernyataan permohonan pinjaman kepada Puskoppen² selaku penyandang dana²oleh Koperasi Budaya Prima.

e. Laporan pemeriksaan badan Laporan pemeriksaan badan berisi riwayat kesehatan anggota yang mengajukan pinjaman dari pihak Asuransi Bumi Putera.

f. Surat persetujuan pinjaman dari Puskoppen Surat ini berisi pernyataan dari pihak Puskoppen untuk meminta anggota melakukan tes pemeriksaan kesehatan dan tes urin.

g. Perjanjian Kredit (PK) antara Koperasi Budaya Prima dan Puskoppen Dokumen ini berisi pasal-pasal mengenai ketentuan perjanjian pinjaman yang harus disepakati dan dijalankan bersama antara Koperasi Budaya Prima dan Puskoppen.

h. Perjanjian Kredit (PK) antara Koperasi Budaya Prima dan anggota Dokumen ini berisi pasal-pasal mengenai ketentuan perjanjian pinjaman yang harus disepakati dan dijalankan bersama antara Koperasi Budaya Prima dan anggota.

i.

Surat pencairan dana Surat ini berisi tentang persetujuan pinjaman dana oleh Puskoppen beserta besarnya premi yang dibebankan kepada anggota.

j.

Tanda bukti pencairan Dokumen ini menandakan bahwa uang pinjaman telah ditransfer ke rekening anggota.

39

k. Struk ATM Struk ATM ini menandakan bahwa pinjaman yang diajukan telah ditransfer ke rekening anggota yang bersangkutan.

l.

Standing order Dokumen ini berisi pernyataan anggota kepada Bank Mandiri untuk memindahbukukan sejumlah uang sebesar angsuran setiap bulan ke rekening Koperasi Budaya Prima.

4.2.3. Catatan Akuntansi Catatan akuntansi untuk penjualan non tunai, pinjaman insidentil dan jangka panjang hanyalah jurnal umum yang kemudian diteruskan ke dalam buku besar. Jurnal umum adalah catatan akuntansi permanen yang pertama, yang digunakan untuk mencatat transaksi keuangan secara umum. 1. Jurnal umum yang digunakan untuk mencatat transaksi penjualan non tunai: Piutang dagang (d) Pendapatan penjualan (k) Rp 50.000 Rp 50.000

2.

Jurnal umum yang digunakan untuk mencatat transaksi pinjaman insidentil: Pinjaman insidentil (d) Kas/Bank (k) Rp 2.000.000 Rp 2.000.000

3.

Jurnal umum yang digunakan untuk mencatat pinjaman transaksi jangka panjang: Ada dua jurnal yang dicatat oleh Koperasi Budaya Prima. Berikut contoh jurnal dengan ilustrasi pinjaman jangka panjang anggota sebesar Rp 10.000.000 dan dengan sisa pinjaman yang dimiliki sebesar Rp 1.000.000. (1) Jurnal pada saat pemberian dana atau pinjaman disetujui oleh pihak Puskoppen: Bank (d) Premi asuransi (d) Puskoppen/pinjaman (k) Rp 9.500.000 Rp 500.000 Rp 10.000.000

40

(2)

Jurnal pada saat pemberian pinjaman kepada anggota: Pinjaman (d) Premi asuransi (k) Biaya adm. materai (k) Pelunasan kewajiban (k) Bank (k) Rp 10.000.000 Rp Rp 500.000 125.000

Rp 1.000.000 Rp 8.375.000

4.2.4. Jaringan Prosedur yang Membentuk Sistem Akuntansi Kredit 1. Penjualan non tunai Prosedur untuk penjualan non tunai sangatlah sederhana, baik Anggota Biasa maupun Anggota Luar Biasa yang ingin membeli kebutuhan pokok dapat langsung memesan barang yang dibutuhkan. Kemudian pihak

koperasi membuat nota/faktur penjualan sebagai catatan timbulnya hutang. Pada akhir bulan²tepatnya tanggal 25²pihak koperasi akan memberikan surat tagihan. Surat tagihan tersebut berisi tidak hanya hutang penjualan non tunai tetapi juga hutang terhadap pinjaman insidentil dan jangka panjang.

2.

Pinjaman insidentil Prosedur untuk pinjaman insidentil tidaklah sekomplek bila

dibandingkan pinjaman jangka panjang.

Prosedur pinjaman insidentil

dimulai dari anggota menyampaikan pengajuan pinjaman insidentil dengan mengisi formulir pengajuan permohonan pinjaman. koperasi melakukan analisis kelayakan dengan Selanjutnya pihak melihat persentase

maksimum manfaat pensiun (lihat kembali Persyaratan Pengajuan Kredit halaman 30). Apabila dinyatakan layak, sebelum dana diberikan ternyata anggota masih mempunyai kewajiban hutang lainnya dengan koperasi, dimusyawarahkan terlebih dahulu apakah hutang tersebut akan dilunasi atau tidak. Jika akan dilunasi, hutang tersebut akan dikurangi dengan besarnya jumlah pinjaman yang baru. Pada pinjaman insidentil, terdapat dua cara dalam pemberian pinjaman: bisa secara tunai atau melalui transfer ke rekening anggota²dilihat dari

41

mendesaknya kebutuhan anggota dan ketersediaan uang koperasi pada hari yang bersangkutan. . 3. Pinjaman jangka panjang Prosedur pinjaman jangka panjang dimulai dari anggota menyampaikan pengajuan pinjaman jangka panjang dengan membawa surat permohonan pinjaman ke koperasi dan surat persetujuan suami/istri/ahli waris. Namun biasanya surat permohonan pinjaman ke koperasi dan surat persetujuan suami/istri/ahli waris dibuatkan oleh pihak koperasi²dalam hal ini adalah Bagian Sekertaris²agar lebih seragam surat tersebut dengan anggota lainnya. Anggota hanya perlu membawa foto kopi KTP, SK Pensiun

anggota, pas foto berwarna dirinya dan suami/istri/ahli waris untuk melengkapi data-data yang dibutuhkan. Selanjutnya Bagian Sekretaris akan melakukan analisis kelayakan dari anggota tersebut sesuai dengan Tabel 2 di bawah. Sebagai ilustrasi, Tuan A meminjam uang kepada Koperasi Budaya Prima sebesar Rp 10.000.000. Setelah dokumen yang diserahkan oleh anggota tersebut lengkap, Bagian Sekretaris melakukan analisis kredit dengan melihat data diri Tuan A. Saat ini Tuan A berusia 60 tahun. Setelah pensiun, Tuan A melakukan

wiraswasta dengan memiliki usaha kecil, yaitu toko kelontong. Usaha ini baru dijalankan selama dua tahun terakhir. Penghasilan dari toko kelontong ditambah manfaat pensiun selama satu bulan sebesar Rp 3.500.000. Sehingga Tuan A memiliki nilai sebesar 260 yang artinya patut untuk dipertimbangkan oleh ketua Koperasi Budaya Prima. Apabila hasil dari analisis tersebut dinyatakan layak, maka Bagian Sekretaris menyiapkan beberapa dokumen²termasuk surat permohonan pinjaman ke koperasi dan surat persetujuan suami/istri/ahli waris²untuk dikirimkan ke Puskoppen, meliputi: surat permohonan pengajuan pinjaman ke Puskoppen, formulir analisa pinjaman, dan surat usulan kredit. Sebelum dikirim ke Puskoppen, semua dokumen tersebut diotorisasi oleh Ketua Koperasi Budaya Prima dan Ketua Persatuan Pensiunan. Semua dokumen tersebut harus sampai ke Puskoppen sebelum tanggal 14 pada bulan yang

42

bersangkutan. Kalau tidak dapat dikirim pada tanggal tersebut maka dikirim pada bulan berikutnya. Setelah dilakukan pemeriksaan kelengkapan dokumen oleh Puskoppen, kemudian Puskoppen memberikan surat persetujuan pinjaman yang di dalam surat tersebut berisi syarat untuk anggota melakukan pemeriksaan kesehatan dan tes urin serta Perjanjian Kredit (PK) yang berisi pasal-pasal mengenai ketentuan yang harus disepakati oleh kedua belah pihak. Anggota tersebut kemudian membawa hasil pemeriksaan kesehatan dan juga hasil dari tes urin. Selanjutnya diserahkan kepada koperasi untuk Kemudian Puskoppen menyerahkan

diteruskan ke pihak Puskoppen.

dokumen tersebut kepada pihak Asuransi Bumi Putera. Hasil pemeriksaan kesehatan dan tes urin bertujuan untuk menentukan berapa besarnya premi yang harus dibayar oleh anggota. Biasanya pada awal bulan, apabila hasil kesehatan layak untuk dipertimbangkan maka pinjaman uang tersebut akan ditransfer ke rekening Koperasi Budaya Prima sebesar jumlah pinjaman yang diajukan anggota dikurangi premi asuransi (lihat kembali jurnal umum pada pinjaman jangka panjang halaman 39 nomor 1).

Pelaksanaan di koperasi Tahap selanjutnya, Koperasi Budaya Prima membuat pula Perjanjian Kredit (PK) antara pihak koperasi dan anggota yang juga berisi pasal-pasal mengenai ketentuan yang harus disepakati oleh kedua belah pihak. Tidak hanya itu pihak Koperasi pun membuat standing order kepada Bank Mandiri untuk memindahbukukan rekening anggota yang bersangkutan sebesar angsuran yang harus dibayar setiap bulannya. Dokumen terakhir yang dibuat adalah Tanda Bukti Pencairan. Tidak hanya dipotong premi asuransi, anggota pun dikenakan pula kewajiban untuk membayar biaya materai dan adiministrasi sebesar Rp 125.000. Biaya tersebut sudah dipotong dari besarnya jumlah yang dipinjam oleh anggota.

43

Sebelum benar-benar dana pinjaman tersebut diberikan kepada anggota²sama seperti pinjaman insidentil²apabila anggota masih

mempunyai kewajiban hutang lainnya dengan koperasi, dimusyawarahkan terlebih dahulu apakah hutang tersebut akan dilunasi atau tidak. Jika

dilunasi, hutang tersebut akan dikurangi dengan besarnya jumlah pinjaman yang baru. Setelah selesai semua dan Perjanjian Kredit (PK) tersebut

ditandatangani oleh kedua belah pihak, barulah dana pinjaman tersebut dipindahbukukan dari rekening koperasi ke rekening anggota yang bersangkutan via ATM (bisa dilihat kembali jurnal umum pada pinjaman jangka panjang halaman 40 nomor 2).

Tabel 2: Analisa Kredit
NO 1 PRIBADI 1 USIA PEKERJAAN/USAHA 2 3 4 PEKERJAAN WIRASWASTA POSISI 3 1 0.8 1 0.8 1.7 1.7 10.00 56-74 thn Usaha kecil Perdagangan Pemilik > 5 tahun PEND. GAB > 4 juta 45 40 25 40 35 60 49-55 thn Tidak bekerja Jasa Karyawan 2-5 tahun PEND. TETAP 2-4 juta 35 35 20 30 35 40 25 1-2 juta 25 0.5-1 juta 15 < 0.5 juta 5 38-48 thn Lainnya Industri Lainnya 1-2 thn 20 25 20 30 25 < 1 tahun 5 Profesional 20 Lainnya 15 > 74 thn 0 45 40 25 40 25 60 25 260 KRITERIA 2 BOBOT 3 KLASIFIKASI NILAI 4 a b c d e NILAI ANGGOTA 5

5 PENG. KERJA/USAHA PENDAPATAN (INCOME) 6 7 SUMBER PENDAPATAN TOTAL PEND. PER BULAN TOTAL

Sumber: Koperasi Budaya Prima
Keterangan Jumlah Nilai: < 207.5 207.5-300 > 300 Ditolak Dipertimbangkan Disetujui

44

45

4.2.5. Bagan Alir Sistem Akuntansi Kredit Sistem akuntansi dapat dijelaskan dengan menggunakan bagan alir dokumen. Sebelum digambarkan bagan alir untuk sistem pemberian pinjaman pada Koperasi Budaya Prima, akan dijelaskan terlebih dahulu makna atau arti dari beberapa simbol yang akan digunakan untuk menggambar bagan alir.
Ya

Dari anggota
Tidak

Masuk ke sistem Dokumen Keterangan, komentar Keputusan
Diberikan kepada anggota

Catatan

Arsip sementara

Garis alir

Keluar ke sistem lain

Penghubung pada halaman yang sama

Persimpangan garis alir Arsip permanen

Mulai/berakhir

Penghubung pada halaman yang berbeda

Kegiatan manual

Pertemuan garis alir

Gambar 6: Simbol-simbol Standar untuk Pembuatan Bagan Alir Dokumen Sumber: Mulyadi, Sistem Akuntansi

46

1.

Penjualan non tunai KBP Karyawan Bendahara

NP = Nota Pembelian

Gambar 7: Bagan Alir Penjualan Non Tunai Sumber: Data diolah

47

Sekretaris

Ketua

Gambar 8: Bagan Alir Penjualan Non Tunai (Lanjutan) Sumber: Data diolah

48

2.

Pinjaman insidentil Bendahara

FPP = Formulir Pengajuan Pinjam an MP = Manfaat Pensiun

Gambar 9: Bagan Alir Pinjaman Insidentil Sumber: Data diolah

49

Ketua + Sekretaris

Karyawan

Gambar 10: Bagan Alir Pinjaman Insidentil (Lanjutan) Sumber: Data diolah

50

3.

Pinjaman jangka panjang Sekretaris

SKP = SK Pensiun MP = Manfaat Pensiun NA = Diarsipkan berdasarkan Nama Anggota ««.dalam satu berkas

Gambar 11: Bagan Alir Pinjaman Jangka Panjang Sumber: Data diolah

51

Sekretaris (Lanjutan)

SO = Standing order TBP = Tanda Bukti Pencairan PK2 = Perjanjian Kredit antara Koperasi Budaya Prima dan anggota

Gambar 12: Bagan Alir Pinjaman Jangka Panjang (Lanjutan) Sumber: Data diolah

52

Ketua

Gambar 13: Bagan Alir Pinjaman Jangka Panjang (Lanjutan) Sumber: Data diolah

53

Puskoppen

PK1 = Perjanjian Kredit antara Koperasi Budaya Prim a dan Puskoppen SPP = Surat Persetujuan Pinjaman LPB = Laporan Pemeriksaan Badan SPD = Surat Pencairan Dana

Gambar 14: Bagan Alir Pinjaman Jangka Panjang (Lanjutan) Sumber: Data diolah

54

Bendahara

Karyawan

Gambar 15: Bagan Alir Pinjaman Jangka Panjang (Lanjutan) Sumber: Data diolah

4.3. Sistem Pengendalian Intern 4.3.1. Struktur Organisasi Setiap fungsi dari struktur organisasi Koperasi Budaya Prima melakukan pemisahan wewenang: 1) Ketua: bertanggung jawab mengotorisasi setiap transaksi pinjaman; 2) Sekretaris: bertanggung jawab mengurusi setiap dokumen yang diperlukan dalam perjanjian pinjaman dan juga melakukan analisis pinjaman; 3) Bendahara: bertanggung jawab mengotorisasi keluar masuknya uang; dan 4) Karyawan: yang bertanggung jawab untuk melakukan pembukuan jurnal dari setiap transaksi yang timbul.

4.3.2. Sistem Otorisasi dan Prosedur Pencatatan Setiap transaksi tidak akan pernah terjadi tanpa ada otorisasi dari pihak/pejabat yang berwenang. Pada Koperasi Budaya Prima setiap perjanjian

55

pinjaman tidak akan terlaksana tanpa otorisasi dari Ketua dan Sekretaris. Untuk pinjaman jangka panjang, perlu mendapat persetujuan dari Puskoppen.

4.3.3. Praktik yang Sehat Pembagian tanggung jawab fungsional dan sistem wewenang dan prosedur pencatatan yang telah ditetapkan tidak akan terlaksana dengan baik jika tidak diciptakan cara-cara untuk menjamin praktik yang sehat dalam pelaksanaannya. Adapun cara-cara yang ditempuh oleh Koperasi Budaya Prima dalam menciptakan praktik yang sehat terdiri dari dua: 1. Dari sisi intern a. Semua dokumen mengenai pinjaman jangka pendek, pinjaman jangka panjang, dan penjualan non tunai disusun dan disimpan berdasarkan nama anggota masing-masing. b. Semua dokumen sebagai timbulnya transaksi disusun berdasarkan nomor urut tercetak. c. Melakukan perputaran jabatan (job rotation) atau pergantian pengurus setiap tiga tahun sekali saat Rapat Anggota Tahunan. Hal ini bertujuan untuk mencegah terjadinya penyimpangan. d. Setiap tiga bulan sekali dilakukan pemeriksaan oleh Kepala Pengawas Koperasi Budaya Prima.

2.

Dari sisi ekstern a. Untuk Anggota Luar Biasa tidak dapat mengajukan pinjaman insidentil dan juga pinjaman jangka panjang dikarenakan anggota luar biasa tidak memiliki agunan jaminan berupa SK Pensiunan yang memiliki masa manfaat gaji. b. Anggota Luar Biasa mesti memiliki rekening pada Bank Mandiri sebagai syarat untuk melakukan transaksi penjualan non tunai. Meskipun demikian apabila Anggota Luar Biasa tidak memiliki rekening pada Bank Mandiri, pembayarannya dapat dilakukan dengan transfer langsung ke rekening Koperasi Budaya Prima setiap bulannya.

56

c.

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya pinjaman insidentil diberikan ketentuan persyaratan maksimum, yaitu 30% x manfaat gaji pensiun x 12 bulan.

d.

Sebelum pemberian dana pinjaman insidentil ataupun jangka panjang diberikan, apabila anggota masih mempunyai kewajiban hutang lainnya dengan koperasi, dimusyawarahkan terlebih dahulu apakah hutang tersebut akan dilunasi atau tidak. Hal ini bertujuan untuk mencegah terjadinya penumpukan hutang anggota dan terhindar dari kredit macet.

4.3.4. Karyawan yang Mutunya Sesuai Tanggung Jawabnya Koperasi Budaya Prima merupakan koperasi para pensiunan dari Bank Bumi Daya. Begitu pun pengurusnya pastilah berasal dari pensiunan BBD sehingga memiliki pengetahuan dan pengalaman yang lebih dalam mengurus masalah kredit pada Koperasi Budaya Prima.

4.4. Analisis Koperasi Budaya Prima bukanlah suatu unit koperasi besar yang di mana membutuhkan banyak karyawan dalam mengelola usahanya. Meskipun demikian, para pengurus Koperasi Budaya Prima mampu me-manage koperasi dengan sangat baik. Hal itu dapat dibuktikan dengan terpilihnya Koperasi Budaya Prima sebagai koperasi berprestasi se-Kota Bogor pada tahun 2008.

4.4.1. Sistem Akuntansi Kredit Koperasi Budaya Prima menerapkan sistem akuntansi pada pemberian kredit kepada anggota yang membutuhkan. Dilihat dari fungsi yang terkait masingmasing memiliki tanggung jawab tersendiri. Dokumen yang digunakan telah

mampu menunjukkan keandalan bukti transaksi yang timbul untuk kemudian diteruskan melakukan pembukuan. Sementara apabila dilihat dari sisi catatan akuntansi, Koperasi Budaya Prima hanya menggunakan jurnal umum yang kemudian diteruskan ke dalam buku besar. Prosedur penjualan non tunai,

pinjaman insidentil, dan jangka panjang telah menggambarkan fungsi, dokumen, dan catatan akuntansi yang ada di Koperasi Budaya Prima.

57

4.4.2. Sistem Pengendalian Intern Seperti halnya perusahaan besar ataupun unit organisasi lain, dalam menjalankan unit usahanya yang terdiri dari: penjualan kebutuhan bahan pokok (dalam kajian ini hanya membahas penjualan non tunai), pinjaman insidentil, dan pinjaman jangka panjang, Koperasi Budaya Prima juga menerapkan sistem pengendalian. Ini dilakukan untuk mencegah terjadinya penyimpangan yang

dilakukan baik dari sisi intern (misalkan terjadi kecurangan oleh pihak intern) maupun ekstern (misalkan anggota yang meminjam dana kepada koperasi tidak membayar kewajibannya atau kredit macet). Bentuk pengendalian yang

dilakukan oleh Koperasi Budaya Prima dapat dilihat di pembahasan sebelumnya. Pada pinjaman jangka panjang, pinjaman insidentil dan penjualan non tunai, untuk mencegah terjadinya kredit macet adalah memberikan ketentuan bahwa setiap tanggal 25 dilakukan pemindahbukuan dari manfaat pensiun masingmasing anggota yang berada di Bank Mandiri ke rekening Koperasi Budaya Prima sebesar hutang yang ditanggungnya.

4.4.3. Keragaan Koperasi Budaya Prima Pada tahun 2006 Koperasi Budaya Prima juga menyediakan jasa cleaning service untuk Bank Mandiri Cabang Bogor. Namun saat ini usaha cleaning

service sudah tidak ada. Sehingga kegiatan dari Koperasi Budaya Prima hanya bertumpu pada penjualan kebutuhan bahan pokok dan pemberian pinjaman. Menurut Undang-Undang Nomor 25 Tahun 1992 tentang Perkoperasian, pada BAB VI mengenai Perangkat Organisasi Pasal 26 Ayat 1, bahwa Rapat Anggota dilakukan paling sedikit sekali dalam satu tahun. Kemudian untuk

penilaian koperasi yang bagus menurut Deperindakop (Departemen Perindustrian dan Koperasi) adalah Rapat Anggota diadakan dalam waktu paling lambat tiga bulan sesudah tutup tahun buku. Sementara Koperasi Budaya Prima melakukan Rapat Anggota minimal tiga tahun sekali yaitu pada saat pemilihan pengurus baru.

4.4.4. Umur Anggota Koperasi Budaya Prima merupakan koperasi yang beranggotakan para pensiunan Bank Bumi Daya. Risiko atas umur anggota yang lanjut usia menjadi

58

perhatian tersendiri. Apabila ada anggota berusia + 74 tahun ingin mengajukan pinjaman jangka panjang, maka pihak koperasi tetap memberikannya dalam jangka waktu yang diberikan bisa selama 60 bulan dengan syarat premi yang ditanggung akan lebih besar. Risiko ini masih akan sangat berat meskipun jangka waktu yang diberikan kurang dari 60 bulan. Jika kita telaah kembali pada

pembahasan analisis kredit (lihat kembali Tabel 2 halaman 44) di atas menunjukkan untuk usia anggota yang lebih dari 74 tahun diberi poin analisis sebesar nol. Hal ini menunjukkan akan semakin kecilnya nilai analisis yang mengakibatkan anggota tersebut akan ditolak atau dipertimbangkan kembali pengajuan kreditnya. Namun secara umum kondisi anggota dengan usia tersebut tidak berpengaruh kepada penjualan non tunai dan pinjaman insidentil. Karena jangka waktu sangat sebentar dan jumlah pinjamannya pun tidaklah besar.

4.4.5. Kebijakan Koperasi Budaya Prima Tidak selamanya pengendalian atau prinsip-prinsip perkreditan seperti yang telah dibahas sebelumnya dapat diterapkan Koperasi Budaya Prima. Koperasi tentulah berbeda dengan bank yang di mana prosedur dan pengendalian pemberian kredit sangat ketat. Seperti contoh, sebelum memberikan kredit

kepada nasabah, bank harus melakukan analisis kelayakan berdasarkan prinsip 5C sehingga tidak semua nasabah dapat menerima kredit. Sedangkan di dalam

koperasi ini tidak seluruhnya berdasar pada 5C, di mana umumnya setiap anggota koperasi akan mendapat kredit sesuai yang dibutuhkan. Hal ini berdasar jumlah dana yang tersedia di koperasi masih cukup banyak dan pembayaran dari anggota lancar karena secara otomatis akan dipotong dari gaji pensiun mereka. Dalam kasus lain apabila anggota koperasi masih memiliki hutang yang harus dibayar ia tidak dapat melakukan pinjaman lainnya. Namun kebijakan ini tidaklah baku jika kebutuhan anggota tersebut sangatlah mendesak, seperti contoh ada anggota koperasi atau keluarganya yang membutuhkan pengobatan. Dari hal di atas

menunjukkan bahwa Koperasi Budaya Prima sudah dapat meningkatkan kesejahteraan anggota sesuai dengan tujuan dari koperasi secara umum.

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

5.1. Kesimpulan Berdasarkan pengamatan dan hasil kajian mengenai sistem pengajuan pinjaman dan penjualan non tunai yang dilakukan oleh penulis di Koperasi Budaya Prima, penulis dapat menarik beberapa kesimpulan berikut ini: 1. Koperasi Budaya Prima telah memenuhi tujuan dari pembentukan koperasi sendiri, yaitu untuk meningkatkan usaha dan kesejahteraan para anggota. Koperasi Budaya Prima memberikan jasa pemberian kredit guna membantu para anggota yang sedang kesulitan finansial. Ketentuan dan persyaratannya pun tidaklah sulit sehingga hal ini benar-benar membantu anggota yang ratarata adalah para pensiunan Bank Bumi Daya. 2. Untuk koperasi kecil seperti Koperasi Budaya Prima sistem yang diterapkan pada pemberian pinjaman dan penjualan kebutuhan bahan pokok sudah dapat dikatakan baik. Masing-masing fungsi memiliki tugas dari setiap

prosedur unit usaha. Aliran dokumen ke setiap fungsi berjalan dengan baik serta pengarsipan dokumen tersebut disesuaikan dengan nama anggota masing-masing. Hal ini dapat mengurangi terjadinya kehilangan dokumen sebagai bukti otentik timbulnya transaksi. 3. Sistem pengendalian intern pada Koperasi Budaya Prima terjalin dengan baik. Untuk mengurangi risiko kredit macet, pembayaran pinjaman dan penjualan dilakukan dengan pemindahbukuan manfaat pensiun anggota yang berada di rekening Bank Mandiri ke rekening Koperasi Budaya Prima setiap tanggal 25 bulan bersangkutan.

60

5.2. Saran Berdasarkan pengamatan dan hasil kajian yang dilakukan oleh penulis di Koperasi Budaya Prima, penulis memberikan beberapa saran demi kemajuan Koperasi Budaya Prima di masa depan. 1. Sebaiknya Koperasi Budaya Prima memenuhi Undang-Undang Nomor 25 Tahun 1992 tentang Perkoperasian, pada BAB VI mengenai Perangkat Organisasi bahwa melaksanakan Rapat Anggota diadakan dalam waktu paling lambat tiga bulan sesudah tutup tahun buku. Hal ini dapat

memengaruhi kriteria penilaian yang dilakukan oleh Deperindakop. 2. Setelah tidak lagi melakukan usaha jasa cleaning service, praktis usaha Koperasi Budaya Prima hanya tergantung pada sektor penjualan bahan pokok dan pemberian pinjaman. Sebaiknya Koperasi Budaya Prima

mengembangkan usaha baru dengan melakukan kerja sama dengan koperasi atau pihak lain.

DAFTAR PUSTAKA

Bunyamin. 2009. Koperasi Simpan Pinjam Sebagai Solusi. http://ceritabunyamin.blogspot.com/2009/03/koperasi-simpan-pinjam-sebagai-solusi.html. [22 Maret 2011]

Frensidy, Budi. 2007. Matematika Keuangan, Edisi 2. Jakarta: Salemba 4

Fuady, Munir. 2008. Pengantar Hukum Bisnis Menata Bisnis di Era Global. Bandung: PT Citra Aditya Bakti Hadhikusuma, Sutantya Rahardja. 2000. Hukum Koperasi Indonesia. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada Hendrojogi. 2007. Koperasi: Asas-asas, Teori, dan Praktik. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada Mulyadi. 2001. Sistem Akuntansi. Jakarta: Salemba Empat

Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan No. 27 (Revisi 1998) Akuntansi Perkoperasian Sukandar, Entjep. 2010. Modul Kuliah: Bank dan Lembaga Keuangan. Bogor: Direktorat Program Diploma IPB Tim Dosen SIA. 2010. Sistem Informasi Akuntansi. Bogor: Direktorat Program Diploma IPB Tunggal, Widjaja Amin. 1995. Akuntansi Untuk Koperasi. Jakarta: PT Rineka Cipta Undang-Undang Republik Perkoperasian Indonesia Nomor 25 Tahun 1992 Tentang

LAMPIRAN

63

1.

Penjualan Non Tunai Lampiran 1: Nota Penjualan

64

2.

Pinjaman Insidentil Lampiran 2: Formulir Pengajuan Pinjaman Insidentil

65

3.

Pinjaman Jangka Panjang a. Lampiran 3: Surat Permohonan Pinjaman Jangka Panjang

66

b. Lampiran 4: Formulir Permohonan Kredit

67

c. Lampiran 5: Surat Persetujuan Suami/Istri/Ahli Waris

68

d. Lampiran 6: Surat Pengajuan Permohonan Pinjaman kepada Puskoppen

69

e. Lampiran 7: Laporan Pemeriksaan Badan

70

71

72

73

74

f. Lampiran 8: Surat Persetujuan Pinjaman dari Puskoppen

75

g. Lampiran 9: Perjanjian Kredit antara KBP dan Puskoppen

76

77

78

79

h. Lampiran 10: Perjanjian Kredit antara KBP dan Anggota

80

81

82

83

i.

Lampiran 11: Surat Pencairan Dana

84

j.

Lampiran 12: Tanda Bukti Pencairan

85

k. Lampiran 13: Standing order

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful