Jurgen Habermas Jurgen Habermas merupakan seorang filsuf dan sosiolog dari jerman.

Ia dilahirkan pada 18 Juni 1929 di Dusseldorf , Jernan. Masa remajanya berada pada akhir Perang Dunia II, dan ia menyadari kejahatan rezim nasionalis-sosialis di bawah pimpinan Hitler. Ia melanjutkan studi di Universitas Gottingen, ia mempelajari kesusastraan, sejarah, dan filsafat serta mengikuti kuliah psikologi dan ekonomi. Setelah itu ia meneruskan studi filsafat di Universitas Bonn pada tahun 1954 ia mendapatka gelar dokter dalam bidang filsafat dengan disertasi berjudul Das Absolute und die Geshichte (Yang Absolu dan Sejarah) Jurgen Habermas adalah generasi kedua Mazhab Frankfurt yang merupakan penerus dari teori kritis yang ditawarkan pendahulunya (Max Horkheimer, Theodor Adorno, Herbert Marcuse). Terori kritis ditinggalkan begitu saja dan berakhir dengan kepesimisan, dan Habermas datang dengan membawa paradigm baru. Teori Komunikasi A. Gagasan tentang Pragmatika Universal Teori kompetensi komunikatif merupakan suatu pendekatan baru terhadap persoalan yang sudah dikenal sejak lama yaitu bagaimana mengartikulasikan dan membumikan konsepsi rasionalitas yang diperluas. Teori kompetensi komunikatif adalah usaha terencana untuk memikirkan ulang landasan-landasan persoalan teori praktik. Tujuan teori kritis adalah membentuk suatu kehidupan yang bebas dari dominasi dalam segala bentuknya. Konsep Habermas tentang pragmatika universal terletak pada penekanan bahwa bukan hanya ciri forensic, sinaksis dan semantik kalimat saja, namun ciri pragmatis tuturan tertentu artinya bukan hanya bahasa melainkan tuturan, bukan hanya kompetensi linguistic namun kompetensi komunikatif juga memungkinkan adanya rekonstruksi rasional secara universal. Pragmatika universal mentematisaikan unit dasar tuturan dengan cara yang sama bagaimana yang dilakukan linguistic terhadap dasar bahasa (kalimat). Tujuan analisis linguistic rekonstruktif adalah mendeskripsikan secara eksplisit aturan-aturan yang harus diikuti penutur agar dapat membentuk kalimat gramatikal dan mengucapkannya dengan cara yang dapat diterima. Di sini asumsinya adalah bahwa kompetensi omunikatif memiliki inti yang sama universalnya dengan kompetensi linguistik. Suatu teori umum suatu tuturan kemudian akan secara jelas medeskripsikan system aturan yang berhasil didikuti penutur dewasa ketika mereka dapat memenuhi syarat-syarat bagaimana memakai bahasa dengan baik dalam ujaran. Pendekatan pragmatis yang paling menjanjikan menurut Habermas adalah teori Speech Acts dari Austin dan Searler, dan inilah yang dijadikan pijakan awal bagi teori kompetensi komunikasi. Speech Acts merupakan dasar komunikasi linguistik. Speech acts bukan symbol, kata,atau kalimat atau bahkan wakil dari symbol, kata atau kalimat, dia adalah produksi atau keluaran dari satu kalimat di bawah kondisi tertentu, pemakain kalimat dalam suatu tuturan. Tuturan secara umum dapat dianalisis di dalam suatu muatan proposional dan kekuatan ilukosioner. Setiap tuturan terdiri dari dua kalimat: satu kalimat yang mendominasi dan kalimat yang berisi muatan proposional. Kalimat yang mendominasi memapankan kekuatan ilukosioner tututan dan cara berkomunikasi antara penutur dan pendengar dan juga situasi pragmatis kalimat tergantung. Kalimat tergantung secara umum terdiri dari satu frase yang mengidentifikasi dan frase predikat, memapankan hubungan komunikasi dengan dunia objek dan peristiwa. Prinsip-prinsip utama konsep pragmatika universal.

mengetahui segala sesuatu yang mendasari kemampuan subjek menciptakan ekspresi bermakna. ³jika penutur dan pendengar mencapai pemahaman. Metodologi Ilmu Rekonstruktif Pemahaman yang mengarah padaa perekonstruksian pengetahuan prateoritis secara eksplisit dan sistematis. dan dapat dibandingakn dengan cakupan dan teori-teori umum 4. suatu dunia yang dimiliki bersama yang didasarkan atas resiprositas harapan. Teori tindakan sosial dalam hal ini aspek ketiga komunikasi penempatan relasi interpersonal menduduki posisi sentral. Point penting metodologi Ilmu Rekonstruktif 1. melalui tindakan illocutionary. Wicara adalah media yang khas dan luas dalam kehidupan manusia. Tujuan rekonstruksi rasional adalah menjelaskan secara eksplisit. dan dibentuk secara praktis. struktur dan unsur pengetahuan bagaimana yang prateoritis. Hipotetis rekostruktif memperjelas pengetahuan prateoritis 5. mereka pasti berkomunikasi secara simultan pada dua level: a. 3. Level intersubjekvitas dimana penutur dan pendengar. Tujuan ilmu rekonstruktif adalah menemukan pengetahuan eksplisit tentang aturan dan struktur. kemampuan untuk menumbuhkan bahasa dalam suatu jaringan hubungan dengan tatanan realitas yang berbeda akan menyediakan kerangka kerja yang menyatukan berbagai kajian teoritis yang mencakup teori pengetahuan dan tindakan hingga teori sosiologi dan ideologi.o Fungsi Reprensentatif (klaim kebenaran secara implisit dalam wicara) adalah analisis tentang syarat universal dan wajib dalam membuat pernyataan tentang dunia o Fungsi Ekspresif (klaim keterpercayaaan dan ketulusan hati) adalah analisis tentang syarat universal dan wajib dalam mengekspresikan pengalaman intensional dunia milik seseorang. Objek ilmu rekonstruktif berada di dalam realitas yang terstruktur secara simbolis dari dunia social 2. Tugas ilmu rekonstrukti memiliki dua dimensi: rekonstruksi horizontal dari beberapa kompetensi mendasar dan kompetensi vertical logika perkembangan kompetensi ini. menjalani hubungan yang memungkinkan mereka sampai pada pemahaman satu sama lain . o Fungsi Interaktif (klaim kebenaran dan ketepatan) adalah analisis tentang syarat universal dan wajib bagi penempatan secara linguistik hubungan interpersonal yang melanggengkan dunia kita. maka teori komunikasi menjadi studi paling penting bagi ilmu-ilmu manusia. Rekonstruksi rasional tergantung pada pengetahuan aposteriori Analisis kompetensi komunikatif perlu menjelaskan kemampuan pengetahuan bukan hanya dalam menghasilkan kalimat gramtikal namun: ‡ Untuk memilih muatan proposional sehingga penutur bisa mempresentasikan suatu pengalaman atau fakta sehingga pendengar bisa memperoleh pengetahuan ‡ Untuk mengekpresikan maksud sehingga ekspresi linguistik dapat menunjukkan maksud yang bersangkutan secara akurat sehingga pendengar dapat mempercayai penutur ‡ Untuk melakukan suatu speech acts sehingga dapat memenuhi norma-norma dan citra diri yang diikuti sehingga pendengar dapat setuju dengan penutur dalam hal nilai-nilai yang dianutnya Teori kompetensi komunikasi. 6. secara kategoris. Ciri komunikasi dalam bahasa biasa yang paling menonjol adalah struktur gandanya. Rekonstruksi diarahkan pada kompetensi spesies manusia.

peringatan. permohonan. rekomendasi. Habermas meringkas hasil penyelidikan tentang kekuatan ilokusioner sebagai berikut 1. dimana kita menandai perbedaan antara keberadaan dan ilusi. menyampaikan. Dengan tindakan illutionary seorang penutur menawaekan sesuatu yang dapat diterima atau ditolak. secara tematis menekankan klaim kebenaran dan kesesuain ‡ Speech acts representative (misalnyamengungkapkan. nasihat) dimana kita menandai perbedaan antara apa yang sebenarnya dengan apa yang seharusnya. landasan teori speech acts adalah penjelasan tentang kekuatan illocutionary yang sesuai dengan tuturan performatif. permohonan maaf. Kekuatan iokusioner adalah kekuatan untuk melahirkan hubungan yang dimaksud oleh penutur Beberapa kasus dalam speech acts ‡ Speech acts terikat secara institusional. 4. secara tematis menekankanklaim atas kebenaran ‡ Speech acts regulative (seperti perintah. melaporkan. kekuatan illutonary justru berasal dari kemauan yang jujur yang dapat dirasakan dari si penutur untuk memasuki suatu hubungan. Keberterimaan speech acts terutama bergantung pada dipenuhinya dua presuposisi pragmatis yaitu: o Adanya konteks yang secara khas tergantung kepada speech acts o Keterlibatan secara sadar penutur dalam mengemban kewajiban yang secara khas tergantung pada aturan. memperkirakan. mengisahkan. menerima kewajiban. Suatu speech acts dibilang berhasil. 3. Penutur dan pendengar secara resiprokal dapat menggerakkan satu sama lain untuk mengenali validitas klaim karena muatan keterlibatan penutur ditentukan oleh referensi spesifik terhadap validitas klaim yang ditekankan secara tematis. Level pengalaman dan kejadian dimana mereka mencapai kesepahaman dalam fungsi komunikatif yang ditentukan oleh level intersubjekvitas Dari sudut pandang teori tindakan komunikatif. yakni berhasil melahirkan relasi interpersonal yang memang dimaksud S jika: o Komprehensif dan dapat diterima o Diterima oleh pendengar 2. secara sistematis menekankan klaim atas kejujuran atau ketulusan. menjelaskan. berpura-pura.b. dan menanggung akibat dari tindakan yang dilakukannyamanakala suatu jawaban yang memuaskan telah diberikan. menipu atau mengekspresikan) dimana kita menandai perbedaan antara diri yang sebenarnya dengan ekspresi yang muncul. ‡ Speech acts kostantif (seperti mengatakan. sementara itu penutur dalam melakukan pengujian secara kognitif mengasumsikan . menyangkal. ‡ Speech acts tidak terikat institusonal. mengakui. Kekuatan tindak-wicara ilokusioner terdapat dalam kemampuan menggerakkan pendengar agar bertindak berdasarkan pengandaian bahwa keterlibatan yang disyaratkan oleh penuturbenar-benar bermaksud: o Dalam kasus speech acts yang terikat secara institusional penutur dapat meminjam kekuatan dari norma-norma megikat yang tersedia o Dalam kasus speech acts yang tidak terikat secara institusional penutur dapat mengembangkan kekuatan ini dengan mencari sendiri pengakuan atas validitas perkataannya. kekuatan ilokusioner dapat langsung dilacak pada norma-norma pengikat yang telah mapan. memperdebatkan). menjelaskan. yaitu kekuatannya untuk membentuk interpersonal yang dimaksud oleh penutur.

Dengan demikian syarat kesetaraan diperlukan wicara yang ekspresif dan interaktif hanya mengacu secara tidak langsung kepada diskursus dan secara langsung kepada penataan interaksi: pada diskursus. Bukan hanya memastikan diskusi berlangsung tanpa kekangan namun juga bebas dari pengaruh distorsif. dengan tujuan mencapai kesepakatan tentang kevalidan atau ketidakvalidan klaim-klaim yang jadi persoalan. Namun kondisi yang memungkinkan adanya konsensus rasional. Kalau validitas klaim yang niscaya muncul dalam setiap speech acts dapat diterima begitu saja dalam interaksi sehari-hari. perasaan dan maksudnya dan lain sebagainya sehingga partisipan dapat dipercaya ketika berhubungan dengan diri mereka sendiri dan isi batin mereka dapat dilihat jelas oleh orang lain pada diskursus sejauh penutur sebagai aktor diberi kesempatan yang sama melakukan speech acts regulative. manakala. Dengan demikian diskursus memperlihatkan ketidaknyambungan dengan konteks normal interaksi. maka validitas klaim itu akan berpegang pada hipotesis dan ditematisasikan secara eksplisit dalam diskursus. menerima atau menyangkal penyataan. prilaku strategis secara sadar. Situasi Wicara Ideal Struktur yang bebas dari kendala manakala setiap partisipan memperoleh peluang yang sama unutk memilih dan melakukan speech acts mereka. melarang. Teori kebenaran Habermas sebenarnya adalah versi revisi dari teori opini Pierces: ³Opini yang disetujui oleh smua orang yang ikut menyelidikilah yang kita sebut dengan kebenaran´ sedangkan versi Habermas sendiri adalah saya baru bisa memberi predikat pada suatu objek jika dan hanya jika orang yang dapat berdialog dangan saya juga akan meletakkan predikat yang sama dengan objek tersebut. Untuk membedakan penyataan yang benar dan salah. sejauh penutur sebagai aktor diberi kesempatan yang sama melakukan speech acts representatifnya. apakah yang berasal dari dominasi terbuka. Diskursus adalah bentuk komuniasi yang aneh dan tidak nyata dimana partisipan mengikatkan diri mereka pada kekuatan argument yang lebih baik tanpa ada paksaan. mengijinkan. Selain memiliki kesempatan yang sama (kesetaraan). partisipan juga harus punya kesempatan yang sama unutk melakukan tuturan konstatif yaotu mengemukankan atau mempertanyakan.o Berdasarkan klaim kebenaran. Maka yang harus diklarifikasi adalah makna kebenaran yang muncul dalam pragmatika pernyataan itu. adanya kewajiban untuk membuktikan secara terus terang B. mengekspresikan sikap. Syarat agar sebuah pernyataan bisa benar adalah adaya kemungkinan persetujuan dari orang lain.yang harus diuji bukan hanya syarat-syarat yang memungkinkan sebuah pernyataan jadi benar namun juga syarat-syarat dimana dimana kita dibenarkan untuk mengklaim suatu pernyataan sebagai sesuatu yang benar. atau kendalakomunikasi yang lebih halusyang berasal dari penipuan diri. sehingga dalam jangka panjang tidak ada pernyataan yang disingkirkan daroi telaah kritis. adanya kewajiban untuk menjustifikasi o Berdasarkan klaim kejujuran. kita mengklaim bahwa pernyataan yang diungkapkan itu adalah benar adanya. Kebenaran harus dilihat dalam konteks pragmatis sebagai validitas klaim yang kita kaitkan dengan pernyataan dengan cara mengungkapkannya. penjelasan dan seterusnya. dan seterusnya sehingga hak-hak istimewa . Logika Diskursus Teoritis: Kebenaran Habermas membedakan dua bentuk komunikasi : tindakan komunikatif dan diskursus. adanya kewajiban untuk menyediakan landasan o Berdasarkan klaim ketepatan. menentang. saya mengacu pada penilaian pihak lain. memerintah.

kesalahpahaman dan ketidakmengertian. Spiral kekerasan berawal dari spiral komunikasi yang terdistorsi yang melalui spiral ketidakpercayaan menuju terblokirnya komunikasi . ANALISIS PERMASALAHAN KOMUNIKASI DI INDONESIA Terorisme muncul sebagai akibat dari macetnya µtindakan komunikatif´ Pertentangan ditimbulkan oleh distorsi dalam komunikasi.yang mengikat sepihak bisa disingkirkan dan kesetaraan formal dalam hal kesempatan untuk memulai dan melukan komunikasi bisa benar-benar dipraktikkan. ketidakjujuran dan penipuan.