1

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Sehari sesudah merdeka, Negara Kesatuan RI pada dasarnya telah menetapkan pilihannya secara formal pada dianutnya asas desentralisasi dalam penyelenggaraan pemerintahan, dengan memberikan kesempatan dan keleluasaan kepada daerah untuk menyelenggarakan otonomi daerah. Hal itu dapat disimpulkan dari bunyi Bab IV, pasal 18 UUD 1945 dan penjelasannya. Dalam pasal 18 UUD 1945, antara lain dinyatakan bahwa ³pembagian daerah Indonesia atas daerah besar dan kecil, dengan bentuk dan susunan pemerintahannya ditetapkan dengan undang-undang´. Sementara, dalam penjelasan pasal tersebut antara lain dikemukakan bahwa : ³«oleh karena negara Indonesia itu suatu ³eenheidsstaat´, maka Indonesia tak akan mempunyai daerah di dalam lingkungannya yang bersifat staat juga. Daerah Indonesia akan dibagi dalam daerah propinsi dan daerah yang lebih kecil. Daerah itu bersifat otonom (streck dan locale rechtsgemeenchappen) atau bersifat daerah administrasi belaka, semuanya menurut aturan yang akan ditetapkan dengan undang-undang´. Dalam amandemen kedua UUD 1945, ketentuan tersebut mengalami perubahan. Perubahan tersebut tidak merubah esensinya, tapi lebih bersifat mempertegas, memperjelas dan melengkapi. Disebutkan, misalnya, ³Negara Kesatuan RI dibagi atas daerah-daerah provinsi dan daerah provinsi itu dibagi atas kabupaten dan kota, yang tiap-tiap provinsi, kabupaten, dan kota itu mempunyai pemerintahan daerah´ (pasal 18 ayat 1). Pemerintah daerah tersebut mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan menurut asas otonomi dan tugas pembantuan (pasal 18 ayat 2). Selanjutnya, dikatakan bahwa pemerintahan daerah menjalankan otonomi seluas - luasnya, kecuali urusan pemerintahan yang oleh undang - undang ditentukan sebagai urusan Pemerintah Pusat (pasal 18 ayat 5 UUD 1945). Secara etimologi, perkataan otonomi berasal dari bahasa latin ³autos´ yang berarti sendiri dan ³nomos´ yang berarti aturan. Dengan demikian, mula-mula otonomi berarti mempunyai ³peraturan sendiri´ atau mempunyai hak/kekuasaan/kewenangan untuk membuat peraturan sendiri. Kemudian arti ini berkembang menjadi

2

³pemerintahan sendiri´. Pemerintahan sendiri ini meliputi pengaturan atau perundang-undangan sendiri, pelaksanaan sendiri, dan dalam batas-batas tertentu juga pengadilan dan kepolisian sendiri (Josep Riwu Kaho,1991:14). Sementara itu, dalam UU No. 32/ 2004 tentang Pemerintah Daerah ditegaskan bahwa otonomi daerah adalah hak, wewenang dan kewajiban daerah otonom untuk mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan dan kepentingan masyarakat setempat sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Urusan pemerintahan dan kepentingan masyarakat setempat yang diatur dan diurus tersebut meliputi kewenangan-kewenangan yang diserahkan oleh pemerintah pusat kepada daerahdaerah untuk diselenggarakan menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi masyarakat. Josef Riwu Kaho (1991:15-17) menyebutkan berbagai teknik untuk menetapkan bidang mana yang menjadi urusan pemerintah pusat dan mana yang merupakan wewenang pemerintah daerah, yaitu (a) sistem residu, (b) sistem material, (c) sistem formal, (d) sistem otonomi riil, dan (e) prinsip otonomi yang nyata, dinamis dan bertanggung jawab. Dalam sistem residu, secara umum telah ditentukan lebih dahulu tugas-tugas yang menjadi wewenang pemerintah pusat, sedangkan sisanya menjadi urusan rumah tangga daerah. Kebaikannya terutama terletak pada saat timbulnya keperluan-keperluan baru, pemerintah daerah dapat dengan cepat mengambil keputusan dan tindakan yang dipandang perlu, tanpa menunggu perintah dari pusat. Sebaliknya, sistem ini dapat pula menimbulkan kesulitan mengingat kemampuan daerah yang satu dengan yang lainnya tidak sama dalam pelbagai lapangan atau bidang. Akibatnya, bidang atau tugas yang dirumuskan secara umum ini dapat menjadi terlalu sempit bagi daerah yang kemampuannya terbatas. Sementara, dalam sistem material, tugas pemerintah daerah ditetapkan satu persatu secara limitatif atau terinci. Di luar tugas yang telah ditentukan, merupakan urusan pemerintah pusat. Kelemahannya, sistem ini kurang fleksibel karena setiap perubahan tugas dan wewenang daerah harus dilakukannya melalui prosedur yang lama dan berbelit-belit. Akibatnya, memghambat kemajuan daerah, karena mereka harus menunggu penyerahan yang nyata bagi setiap urusan. Kadang-kadang suatu urusan menjadi terbengkelai, tidak diurus oleh pemerintah pusat dan tidak pula oleh pemerintah daerah. Sedangkan dalam sistem formal, daerah boleh mengatur dan mengurus segala sesuatu yang

3

dianggap penting bagi daerahnya, asal saja tidak mencakup urusan yang telah diatur dan diurus oleh pemerintah pusat atau pemerintah daerah yang lebih tinggi tingkatannya. Dengan kata lain, urusan rumah tangga daerah dibatasi oleh peraturan perundang- undangan yang lebih tinggi tingkatannya. Dalam sistem otonomi riil, penyerahan urusan atau tugas dan kewenangan kepada daerah didasarkan pada faktor yang nyata atau riil, sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan yang riil dari daerah maupun pemerintah pusat serta pertumbuhan kehidupan masyarakat yang terjadi. Karena pemberian tugas dan kewajiban serta wewenang ini didasarkan pada keadaan riil di dalam masyarakat, maka kemungkinan yang dapat ditimbulkannya ialah bahwa tugas atau urusan yang selama ini menjadi wewenang pemerintah pusat dapat diserahkan kepada pemerintah daerah dengan melihat kepada kemampuan dan keperluannya untuk diatur dan diurus sendiri. Sebaliknya, tugas yang kini menjadi wewenang daerah, pada suatu ketika, bilamana dipandang perlu dapat diserahkan kembali kepada pemerintah pusat atau ditarik kembali dari daerah . Prinsip otonomi yang nyata, dinamis dan bertanggung jawab dikenal dalam UU No.5 tahun 1974 sebagai salah satu variasi dari sistem otonomi riil. Agar otonomi daerah dapat dilaksanakan sejalan dengan tujuan yang hendak dicapai, Pemerintah wajib melakukan pembinaan yang berupa pemberian pedoman seperti dalam penelitian,

pengembangan, perencanaan dan pengawasan. Di samping itu diberikan pula standar, arahan, bimbingan, pelatihan, supervisi, pengendalian, koordinasi, pemantauan dan evaluasi. Bersamaan dengan itu, Pemerintah wajib memberikan fasilitasi berupa pemberian peluang, kemudahan, bantuan, dan dorongan kepada daerah agar dalam melaksanakan otonomi dapat dilakukan secara efisien dan efektif sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Konsekuensi logis dari Undang-Undang dan Peraturan Pemerintah tersebut adalah bahwa manajemen pendidikan harus disesuaikan dengan jiwa dan semangat otonomi. Penyesuaian dengan jiwa dan semangat otonomi itu, antara lain terwujud dalam bentuk perubahan arah paradigma pendidikan, dari paradigma lama ke paradigma baru, yang tentu juga berdampak pada paradigma perencanaan pendidikannya. Secara ideal, paradigma baru pendidikan tersebut mestinya mewarnai kebijakan pendidikan baik kebijakan pendidikan yang bersifat substantif maupun

4

implementatif. Seperti yang dinyatakan oleh Azyumardi Azra (2002: xii) bahwa dengan era otonomi daerah : ´lembaga-lembaga pendidikan, seperti sekolah, madrasah, pesantren, universitas (perguruan tinggi), dan lainnya ± yang terintegrasi dalam pendidikan nasional- haruslah melakukan reorientasi, rekonstruksi kritis, restrukturisasi, dan reposisi, serta berusaha untuk menerapkan paradigma baru pendidikan nasional´. Selain itu, implementasi kebijakan tersebut diharapkan berdampak positif terhadap kemajuan pendidikan di daerah dan di tingkat satuan pendidikan. Agar dampak positif dapat benar-benar terwujud, kemampuan perencanaan pendidikan yang baik di daerah sangatlah diperlukan. Dengan kemampuan perencanaan pendidikan yang baik diharapkan dapat mengurangi kemungkinan timbulnya permasalahan yang serius. Fiske (1996) menyatakan bahwa berdasarkan pengalaman berbagai negara sedang berkembang yang menerapkan otonomi di bidang pendidikan, otonomi berpotensi

memunculkan masalah: perbenturan kepentingan antara Pemerintah Pusat dan Daerah, menurunnya mutu pendidikan, inefisiensi dalam pengelolaan pendidikan, ketimpangan dalam pemerataan pendidikan, terbatasnya gerak dan ruang partisipasi masyarakat dalam pendidikan, serta berkurangnya tuntutan

akuntabilitas pendidikan oleh pemerintah serta meningkatnya akuntabilitas pendidikan oleh masyarakat. Selain itu, dengan perencanaan yang baik, konon, merupakan separoh dari kesuksesan dalam pengelolaan dan penyelenggaraan pendidikan yang telah diotonomikan di daerah. Sayangnya, kata Abdul Madjid dalam tulisannya ´Pendidikan Tanpa Planning´ (Kedaulatan Rakyat, 2006), bahwa rendahnya mutu pendidikan kita disebabkan oleh belum komprehensifnya pendekatan perencanaan yang digunakan. Perencanaan pendidikan, katanya, hanya dijadikan faktor pelengkap atau dokumen ´tanpa makna´ sehingga sering terjadi tujuan yang ditetapkan tidak tercapai secara optimal. Dapat juga terjadi, seperti dinyatakan H. Noeng Muhadjir (2003:89), bahwa ´pembuatan

implementasi kebijakan berupa perencanaan, mungkin saja dilakukan oleh para eksekutif tanpa penelitian lebih dahulu. Kemungkinan resikonya beragam, misalnya membuat kesalahan yang sama dengan eksekutif terdahulu, tidak realistis, tidak menjawab masalah yang dihadapi masyarakat, sampai ke dugaan manipulatif ± koruptif´. Berdasarkan masalah yang ada maka peneliti akan

5

melaksanakan satu penelitian tentang : IMPLEMENTASI PELAKSANAAN OTONOMI DAERAH DALAM KONTEKS DESENTRALISASI PENDIDIKAN DI

PEMBANGUNAN

TERHADAP

PERENCANAAN

KABUPATEN KEPULAUAN SANGIHE.

1.2 Fokus penelitian Sebagai patokan dalam penelitian ini maka penulis membatasi permasalahan pada penelitian ini hanya terfokus pada Implementasi Pelaksanaan Otonomi Daerah Dalam Konteks Desentralisasi Pembangunan Terhadap Perencanaan Pendidikan Di Kabupaten Kepulauan Sangihe.

1.3 Rumusan Masalah Bagaimana pelaksanaan Otonomi Daerah Dalam Konteks Desentralisasi Pembangunan Terhadap Perencanaan Pendidikan Di Kabupaten Kepulauan Sangihe ?

1.4 Tujuan Penelitian Agar penelitian ini dapat memberikan arah yang baik, maka penelitian dilaksanakan dengan tujuan : 1. Untuk mengetahui pelaksanaan otonomisasi daerah dalam konteks

desentralisasi pembangunan. 2. 3. Untuk mengetahui perencanaan pendidikan diera otonomi daerah Untuk mengetahui pelaksanaan otonomisasi daerah dalam konteks

desentralisasi pembangunan terhadap perencanaan pendidikan

1.5 Manfaat Penelitian 1. Manfaat Teoritis Bermanfaat bagi pengembangan ilmu pendidikan, khususnya ilmu manajenen pendidikan. Hal ini disebabkan karena penelitian ini menganalisis mengenai kebijakan pemerintah dibidang pendidikan diera otonomi daerah dalam kaitannya dengan perencanaan pendidikan.

6

2. Manfaat praktis 1. Bermanfaat bagi pemerintah dalam menetapkan kebijakan pemerintah dibidang pendidikan. 2. Bermanfaat bagi penyelenggara pendidikan, lebih khusus dinas

pendidikan nasional dalam perencanaan pendidikan.

7

BAB II ACUAN TEORITIK

2.1 Otonomi Daerah A. Konsep Otonomi Daerah Otonomi daerah dapat diartikan sebagai hak, wewenang, dan kewajiban yang diberikan kepada daerah otonom untuk mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan dan kepentingan masyarakat setempat menurut aspirasi masyarakat untuk meningkatkan daya guna dan hasil guna penyelenggaraan pemerintahan dalam rangka pelayanan terhadap masyarakat dan pelaksanaan pembangunan sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Sedangkan yang dimaksud dengan daerah otonom adalah kesatuan masyarakat hukum yang mempunyai batas-batas wilayah yang berwenang mengatur dan mengurus urusan pemerintahan dan kepentingan masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi masyarakat. Pelaksanaan otonomi daerah selain berlandaskan pada acuan hukum, juga sebagai implementasi tuntutan globalisasi yang harus diberdayakan dengan cara memberikan daerah kewenangan yang lebih luas, lebih nyata dan bertanggung jawab, terutama dalam mengatur, memanfaatkan dan menggali sumber-sumber potensi yang ada di daerahnya masing-masing. Otonomi Daerah adalah wewenang untuk mengatur dan mengurus rumah tangga daerah, yang melekat pada Negara kesatuan maupun pada Negara federasi. Di Negara kesatuan otonomi daerah lebih terbatas dari pada di Negara yang berbentuk federasi. Kewenangan mengantar dan mengurus rumah tangga daerah di Negara kesatuan meliputi segenap kewenangan pemerintahan kecuali beberapa urusan yang dipegang oleh Pemerintah Pusat seperti 1. Hubungan luar negeri 2. Pengadilan 3. Moneter dan keuangan 4. Pertahanan dan keamanan

B. Dasar Pelaksanaan Otonomi

8

Terselenggaranya Otonomisasi Daerah ternyata didasari oleh beberapa hal berikut ini : 1. Bahwa sistem ketatanegaraan Indonesia tidak menganut paham sentralisme, tetapi membagi daerah Indonesia ke dalam katagori daerah besar dan kecil yang akan diatur dengan undang-undang.; 2. Pengaturan dalam UU tersebut harus berlandaskan g pada permusyawaratan dalam sistem pemerintahan negara, dan mempertimbangkan hak-hak, asal-usul dalam daerah-daerah yang bersifat istimewa.; 3. Daerah besar dan kecil bukan merupakan µnegara bagian¶, melainkan daerah yang tidak terpisahkan dan dibentuk dalam kerangka yang tidak terpisahkan, serta dalam kerangka ³negara kesatuan´ (eenheidstaat); 4. Corak daerah besar dan kecil itu ada yang bersifat µotonom¶ (streek en locale rechtsgemeenschappen),dan ada yang bersifat daerah administrasi belaka.; 5. Sebagai konsekuensi daerah yang bersifat otonom, akan dibentuk Badan Perwakilan Daerah (BPD) karena di daerah pun pemerintahan akan bersendikan atas azas permusyawaratan; 6. Daerah yang hak-hak asal-usul yang bersifat istimewa adalah µswapraja¶ (zelfbesturende landschappen), dan µdesa¶ atau nama lain semacam itu yang disebut volksgemeenchappen; 7. Negara Republik Indonesia akan menghormati kedudukan daerah-daerah yang mempunyai hak-hak asal-usul yang bersifat istimewa; 8. Batas-batas, isi dan luas otonomi yang diberikan kepada daerah, kebijakan dasarnya merujuk kepada prinsip-prinsip yang terkandung dalam alinea pertama penjelasan pasal 18 kitab UUD/1945.

C. Prinsip Otonomi Daerah Pelaksanaan Otonomi daerah dapatberjalan dengan baik harus sesuai dengan prinsip ± prinsip Otonomisasi Daerah, yaitu : 1. Otonomi seluas-luasnya. Daerah diberikan kewenangan mengurus dan mengatur semua urusan pemerintahan di luar yang menjadi urusan pemerintah. Di samping itu, daerah memiliki kewenangan membuat kebijakan daerah untuk memberi pelayanan, peningkatan peran serta, prakarsa dan

9

pemberdayaan masyarakat yang bertujuan pada peningkatan kesejahteraan rakyat; 2. Otonomi yang nyata dan bertanggung jawab. Nyata dalam arti prinsip untuk menangani urusan pemerintahan dilaksanakan berdasarkan tugas, wewenang dan kewajiban yang senyatanya telah ada dan berpotensi untuk tumbuh, hidup, dan berkembang sesuai dengan potensi dan kekhasan daerah. Bertanggung jawab adalah otonomi yang dalam penyelenggaraannya harus benar-benar sejalan dengan tujuan dan maksud pemberian otonomi, yang pada dasarnya memberdayakan daerah termasuk meningkatkan kesejahteraan rakyat; 3. Keserasian hubungan. Bahwa otonomi yang dilaksanakan harus mampu membangun kerjasama antar daerah untuk meningkatkan kesejahteraan bersama dan mencegah ketimpangan antar daerah. Di samping itu, keserasian hubungan antar daerah tersebut harus serasi pula dengan Pemerintah dalam memelihara dan menjaga keutuhan wilayah NKRI; 4. Pemerintah wajib memberikan pembinaan yang berupa pemberian pedoman seperti dalam penelitian, pengembangan, perencanaan dan pengawasan, melalu penetapan standar, arahan, bimbingan, pelatihan, supervisi,

pengendalian, koordinasi, pemantauan, dan evaluasi. Karena itu, Pemerintah wajib pula memberikan fasilitasi yang berupa pemberian peluang kemudahan, bantuan dan dorongan kepada daerah agar dalam melaksanakan otonomi dapat dilakukan secara efisien dan efektif sesuai dengan peraturan perundang-undangan.

2.2 Konsep Desentralisasi Pendidikan Bila otonomi daerah menunjuk pada hak, wewenang dan kewajiban daerah otonom untuk mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan dan kepentingan masyarakat, maka hal tersebut hanya mungkin jika Pemerintah Pusat mendesentralisasikan atau menyerahkan wewenang pemerintahan kepada daerah otonom. Inilah yang disebut dengan desentralisasi. Mengenai asas desentralisasi, ada banyak definisi. Secara etimologis, istilah tersebut berasal dari bahasa Latin ³de´, artinya lepas dan ³centrum´, yang berarti pusat, sehingga bisa diartikan

10

melepaskan dari pusat. Sementara, dalam Undang-undang No. 32 tahun 2004, bab I, pasal 1 disebutkan bahwa desentralisasi adalah penyerahan wewenang pemerintahan oleh Pemerintah kepada daerah otonomi untuk mengatur dan mengurus urusan pemerintahan dalam sistem Negara Kesatuan RI. Sedangkan menurut Jose Endriga (Verania Andria & Yulia Indrawati Sari,2000:iii) desentralisasi diartikan sebagai ³systematic and rasional dispersal of

governmental powers and authority to lower level institutions so as to allow multi±sectoral decision making as close as possible to problem area´. Lain halnya dengan Nuril Huda (1998:4), dia mengartikan desentralisasi sebagai ³delegations of responsibilities and powers to authorities at the lower levels´. Secara konseptual, penerapan asas desentralisasi didasari oleh keinginan menciptakan demokrasi, pemerataan dan efisiensi. Diasumsikan bahwa

desentralisasi akan menciptakan demokrasi melalui partisipasi masyarakat lokal. Dengan sistem yang demokratis ini diharapkan akan mendorong tercapainya pemerataan pembangunan terutama di daerah pedesaan dimana sebagian besar masyarakat tinggal. Sedangkan efisiensi dapat meningkat karena jarak antara pemerintah lokal dengan masyarakat menjadi lebih dekat, penggunaan sumber daya digunakan saat dibutuhkan dan masalah diidentifikasi oleh masyarakat lokal sehingga tak perlu birokrasi yang besar untuk mendukung pemerintah lokal. Sementara itu, Kotter (1997) dalam buku ³Leading Change´, menyatakan bahwa lembaga yang terdesentralisasi memiliki beberapa keunggulan, antara lain : (1) lebih fleksibel, dapat memberikan respon dengan cepat terhadap lingkungan dan kebutuhan yang selalu berubah, (2) lebih efektif, (3) lebih inovatif, dan (4) menghasilkan semangat kerja yang lebih tinggi, lebih komitmen dan lebih produktif. Sedangkan Achmad Budiono, M.Irfan & Yuli Andi (1998:216) menyatakan bahwa dengan pengambilan keputusan dalam organisasi ke tingkat yang lebih rendah maka akan cenderung memperoleh keputusan yang lebih baik. Desentralisasi bukan saja memperbaiki kualitas keputusan tetapi juga kualitas pengambilan keputusan. Dengan desentralisasi, pengambilan keputusan lebih cepat, lebih luwes dan konstruktif. Istilah desentralisasi muncul dalam paket UU tentang otonomi daerah yang pelaksanaannya dilatarbelakangi oleh keinginan segenap lapisan masyarakat untuk melakukan reformasi dalam semua bidang

11

pemerintahan. Menurut Bray dan Fiske (Depdiknas, 2001:3) desentralisasi pendidikan adalah suatu proses di mana suatu lembaga yang lebih rendah kedudukannya menerima pelimpahan kewenangan untuk melaksanakan segala tugas pelaksanaan pendidikan, termasuk pemanfaatan segala fasilitas yang ada serta penyusunan kebijakan dan pembiayaan. Senada dengan itu, Husen & Postlethwaite (1994:1407) mengartikan desentralisasi pendidikan sebagai ³the devolution of authority from a higher level of government, such as a departement of education or local education authority, to a lower organizational level, such as individual schools´. Sementara itu, menurut Fakry Gaffar (1990:18) desentralisasi pendidikan merupakan sistem manajemen untuk mewujudkan pembangunan pendidikan yang menekankan pada keberagaman, dan sekaligus sebagai pelimpahan wewenang dan kekuasaan dalam pembuatan keputusan untuk memecahkan berbagai problematika sebagai akibat ketidaksamaan geografis dan budaya, baik menyangkut substansi nasional, internasional atau universal sekalipun. Bila dicermati, esensi terpenting dari berbagai pengertian di atas adalah otoritas yang diserahkan. Williams (Depdiknas, 2001:3-4) membedakan adanya dua macam otoritas (kewenangan dan tanggung jawab) yang diserahkan dari pemerintah pusat ke pemerintah yang lebih rendah, yaitu desentralisasi politis (political decentralization) dan desentralisasi administrasi (administrative decentralization). Perbedaan antar keduanya terletak dalam hal tingkat kewenangan yang dilimpahkan. Pada desentralisasi politik, kewenangan yang dilimpahkan bersifat mutlak. Pemda menerima kewenangan melaksanakan tanggung jawab secara menyeluruh. Ia memegang otoritas untuk menentukan segala kebijakan tentang penyelenggaraan pendidikan untuk masyarakatnya. Hal itu mencakup kewenangan untuk menentukan model, jenis, sistem pendidikan, pembiayaan, serta lembaga apa yang akan melaksanakan kewenangankewenangan tersebut. Sedangkan dalam desentralisasi administrasi, kewenangan yang dilimpahkan hanya berupa strategi pelaksanaan tugas-tugas pendidikan di daerah. Dengan kata lain, kewenangan yang diserahkan berupa strategi pengelolaan yang bersifat implementatif untuk melaksanakan suatu fungsi pendidikan. Dalam desentralisasi model ini, pemerintah pusat masih memegang kekuasaan tertinggi dalam menentukan kebijakan makro, sedangkan pemerintah

12

daerah mempunyai kewajiban dan kewenangan untuk merencanakan, mengatur, menyediakan dana dan fungsi-fungsi implementasi kebijakan lainnya. Mengapa bidang pendidikan didesentralisasikan? Tentang hal itu, ada berbagai pendapat dari para ahli. Husen & Postlethwaite (1994:1407) menguraikan mengenai alasan desentralisasi (reasons for decentralization), yaitu : (a) the improvement of schools, (b) the belief that local participation is a logical form of governance in a democracy, dan (c) in relation to fundamental values of liberty, equality, fraternity, efficiency, and economic growth. Sementara itu, setelah melakukan studi di berbagai negara, Fiske (1998:24-47) menyebutkan sekurang-kurangnya ada empat alasan rasional diterapkannya sistem desentralisasi, termasuk pendidikan, yaitu (a) alasan politis, seperti untuk mempertahankan stabilitas dalam rangka memperoleh legitimasi pemerintah pusat dari masyarakat daerah, sebagai wujud penerapan ideologi sosialis dan laissez-faire dan untuk menumbuhkan kehidupan demokrasi, (b) alasan sosio-kultural, yakni untuk memberdayakan masyarakat lokal, (c) alasan teknis administratif dan paedagogis, seperti untuk memangkas manajemen lapisan tengah agar dapat membayar gaji guru tepat waktu atau untuk meningkatkan antusiasme guru dalam proses belajar mengajar, (d) alasan ekonomis-finansial, seperti meningkatkan sumber daya tambahan untuk pembiayaan pendidikan dan sebagai alat pembangunan ekonomi. Sementara itu, Kacung Marijan (Abdurrahmansyah, 2001:58) melihat penerapan desentralisasi pendidikan di Indonesia justru sebagai gejala keputusasaan pemerintah dalam menghadapi persoalan keuangan. Sedangkan Arbi Sanit (2000:1) memandang penerapan desentralisasi secara umum sebagai ³jalan keluar´ bagi problematik ketimpangan kekuasaan antara pemerintah nasional dan pemerintah lokal. Karena itu, menurutnya, konsep desentralisasi bertolak dari asumsi pemberian sebagian kekuasaan pemerintah pusat kepada pemerintah lokal atau yang lebih rendah dalam rangka mencapai tujuan nasional. Pemberian sebagian kekuasaan tersebut untuk mengatasi kekecewaan daerah terhadap pemerintah pusat, yang berakar pada persoalan: (1) ketimpangan struktur ekonomi Jawa-Luar Jawa, (2) sentralisasi politik, (3) korupsi birokrasi, (4) eksploitasi SDA, (5) represi dan pelanggaran HAM, dan (6) penyeragaman politik hingga kultural. Tujuan desentralisasi pendidikan adalah untuk memperbaiki proses

13

pengambilan keputusan dengan melibatkan lebih banyak stakeholders di daerah, untuk menghasilkan integrasi sekolah dengan masyarakat lokal secara terus menerus, untuk mendekatkan sekolah dengan kebutuhan dan kondisi masyarakat, dan akhirnya untuk memperbaiki motivasi, kehadiran dan pencapaian murid. Selain itu, desentralisasi tersebut juga dalam rangka memberi kesempatan kepada rakyat atau masyarakat luas untuk berpartisipasi secara aktif dan kreatif sehingga pendidikan mampu menghasilkan sumber daya manusia yang berkualitas yang akan bermanfaat bagi pembangunan daerah.

2.2.1 Paradigma Baru Pendidikan. Era otonomi daerah telah mengakibatkan terjadinya pergeseran arah paradigma pendidikan, dari paradigma lama ke paradigma baru, meliputi berbagai aspek mendasar yang saling berkaitan, yaitu (1) dari sentralistik menjadi desentralistik, (2) dari kebijakan yang top down ke kebijakan yang bottom up, (3) dari orientasi pengembangan parsial menjadi orientasi pengembangan holistik, (4) dari peran pemerintah sangat dominan ke meningkatnya peranserta masyarakat secara kualitatif dan kuantitatif, serta (5) dari lemahnya peran institusi non sekolah ke pemberdayaan institusi masyarakat, baik keluarga, LSM, pesantren, maupun dunia usaha (Fasli Jalal, 2001: 5). Agak berbeda dengan hal tersebut, dalam buku Depdiknas (2002:10) tentang Materi Pelatihan Terpadu untuk Kepala Dinas Kabupaten/Kota, selain perubahan paradigma dari ³sentralistik ke desentralistik´ dan orientasi pendekatan ³dari atas ke bawah´ (top down approach) ke pendekatan ³dari bawah ke atas´ (bottom up approach) sebagaimana yang sudah disebut dalam buku Fasli Jalal, juga disebutkan tiga paradigma baru pendidikan lainnya, yaitu dari ³birokrasi berlebihan´ ke ³debirokratisasi´, dari ³Manajemen Tertutup´ (Closed Management) ke ³Manajemen Terbuka´ (Open Management), dan pengembangan pendidikan, termasuk biayanya, ³terbesar menjadi tanggung jawab pemerintah´ berubah ke ³sebagian besar menjadi tanggung jawab orang tua siswa dan masyarakat (stakeholders).

Bila kedua pendapat di atas dianalisis dan disintesakan, maka wujud pergeseran paradigma pendidikan tersebut meliputi sebagai berikut : A. Dari sentralisasi ke desentralisasi pendidikan

14

Sebelum otonomi, pengelolaan pendidikan sangat sentralistik. Hampir seluruh kebijakan pendidikan dan pengelolaan pelaksanaan pendidikan diatur dari Depdikbud. Seluruh jajaran, tingkat Kanwil Depdikbud, tingkat Kakandep Dikbud Kabupaten/Kota, bahkan sampai di sekolah-sekolah harus mengikuti dan taat terhadap kebijakan-kebijakan yang seragam secara nasional, dan petunjukpetunjuk pelaksanaannya. Kakandep dan sekolah-sekolah tidak diperkenankan merubah, menambah dan mengurangi yang sudah ditetapkan oleh

Depdikbud/Kanwil Depdikbud, sekalipun tidak sesuai dengan kondisi, potensi, kebutuhan sekolah dan masyarakat di daerah. Dalam era reformasi, paradigma sentralistik berubah ke desentralistik. Desentralistik dalam arti pelimpahan sebagian wewenang dan tanggung jawab dari Depdiknas ke Dinas Pendidikan Propinsi, dan sebagian lainnya kepada Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota, bahkan juga kepada sekolah-sekolah. Pada perguruan tinggi negeri/swasta dilimpahkan kepada rektor, bahkan juga pada fakultas, dan juga pada jurusan/program studi. Dengan UU dan Peraturan Pemerintah mengenai otonomi daerah,

Kabupaten/Kota dan DPRD Kabupaten/Kota, diberi wewenang membuat Peraturan-Peraturan Daerah, mengenai pendidikan tingkat Kabupaten/Kota. Dengan desentralisasi manajemen pendidikan tersebut, Dinas Pendidikan tingkat Kabupaten/Kota sebagai perangkat pemerintah Kabupaten/Kota yang otonom, dapat membuat kebijakan-kebijakan pendidikan, masing-masing sesuai wewenang yang dilimpahkan kepada pemerintah Kabupaten/Kota dalam bidang pendidikan. Bahkan dalam pengelolaan pendidikan pada tingkat Kabupaten/Kota, setiap sekolah juga diberi peluang untuk membuat kebijakan sekolah (school policy) masing-masing atas dasar konsep ³manajemen berbasis sekolah´ dan ³pendidikan berbasis masyarakat´ Dengan demikian, sebagian perubahan dan kemajuan pendidikan tingkat Kabupaten/Kota sangat bergantung pada kemampuan mengembangkan kebijakan pendidikan dari masing-masing Kepala Dinas Pendidikan tingkat Kabupaten/Kota. Desentralisasi manajemen pendidikan tersebut, dilaksanakan sejalan dengan proses demokratisasi, sebagai proses distribusi tugas dan tanggung jawab dari Depdiknas sampai di unit-unit satuan pendidikan. Iklim dan suasana serta mekanisme demokratis bertumbuh dan berkembang pada seluruh tingkat dan jalur pengelolaan pendidikan, termasuk di

15

sekolah-sekolah dan di kelas-kelas ruang belajar. Dari kebijakan yang top down ke kebijakan yang bottom up; Sebelum otonomi, pendekatan pengembangan dan pembinaan pendidikan dilakukan dengan mekanisme pendekatan ³dari atas ke bawah´ (top down approach) Berbagai kebijakan pengembangan/ pembinaan pendidikan hampir seluruhnya ditentukan oleh Depdikbud, dan dalam hal khusus di Propinsi ditentukan oleh Kanwil Depdikbud, dan dalam hal khusus lainnya di Kabupaten/Kota ditentukan oleh Kakandepdikbud, untuk dilaksanakan oleh seluruh jajaran pelaksana di wilayah, termasuk di sekolah-sekolah. Lain halnya dalam era reformasi, sebagian besar upaya pengembangan pendidikan dilakukan dengan orientasi pendekatan ³dari bawah ke atas´ (bottom up approach). Pendekatan bottom up harus terjadi dalam pengambilan keputusan di setiap level instansi, misalnya sekolah, Dinas Kabupaten/Kota, yayasan penyelenggara pendidikan, dan sebagainya. Berbagai aspirasi dan kebutuhan yang menjadi kepentingan umum, sesuai kondisi, potensi dan prospek sekolah, diakomodasi oleh Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota, sesuai wewenang dan tanggung jawabnya. Dan hal-hal lainnya yang menjadi wewenang dan tanggung jawab Dinas Propinsi diselesaikan pada tingkat Depdiknas. Oleh karenanya, tidak heran bila di Kabupaten/Kota sering terjadi ³unjuk rasa´ para guru, siswa, orang tua siswa, dan masyarakat menuntut perbaikan kebijakan pendidikan yang tidak sesuai dengan harapan mereka. Dan berbagai aspirasi yang baik sudah seyogyanya diterima oleh Kepala Dinas Kabupaten/Kota untuk ditindak lanjuti.

B. Dari orientasi pengembangan yang parsial ke orientasi pengembangan yang holistik Sebelum otonomi, orientasi pengembangan bersifat parsial. Misalnya, pendidikan lebih ditekankan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi,

menciptakan stabilitas politik dan teknologi perakitan (Fasli Jalal, 2001:5). Pendidikan juga terlalu menekankan segi kognitif, sedangkan segi spiritual, emosional, sosial, fisik dan seni kurang mendapatkan tekanan (Paul Suparno, 2003:98). Akibatnya anak didik kurang berkembang secara menyeluruh. Dalam pembelajaran yang ditekankan hanya to know (untuk tahu), sedangkan unsur pendidikan yang lain to do (melakukan), to live together (hidup bersama), to be

16

(menjadi) kurang menonjol. Di Indonesia kesadaran akan hidup bersama kurang mendapat tekanan, dengan akibat anak didik lebih suka mementingkan hidupnya sendiri. Selain itu, pendekatan dan pengajaran di sekolah kebanyakan terpisahpisah dan kurang integrated. Setiap mata pelajaran berdiri sendiri, seakan tidak ada kaitan dengan pelajaran lain. Berbeda dengan itu, setelah reformasi orientasi pengembangan bersifat holistik. Pendidikan diarahkan untuk pengembangan kesadaran untuk bersatu dalam kemajemukan budaya, menjunjung tinggi nilai moral, kemanusiaan dan agama, kesadaran kreatif, produktif, dan kesadaran hukum (Fasli Jalal, 2001:5). Menurut Paul Suparno (2003:100), pendidikan holistik dipengaruhi oleh pandangan filsafat holisme, yang cirinya adalah keterkaitan (connectedness), keutuhan (wholeness), dan proses menjadi (being). Konsep saling keterkaitan mengungkapkan bahwa saling keterkaitan antara suatu bagian dari suatu sistem dengan bagian-bagian lain dan dengan keseluruhannya. Maka tidak mungkin suatu bagian dari suatu sistem lepas sendiri dari sistem itu dan lepas dari bagian-bagian yang lain. Saling keterkaitan dapat dijabarkan dalam beberapa konsep berikut, yaitu interdependensi, interrelasi, partisipasi dan non linier (Hent, 2001). Interdependensi adalah saling ketergantungan satu unsur dengan yang lain. Masing-masing tidak akan menjadi penuh berkembang tanpa yang lain. Ada saling ketergantungan antara guru dengan siswa, antara siswa dengan siswa lain, antara guru dengan guru lain, dan lain-lain. Interrelasi dimaksudkan sebagai adanya saling kaitan, saling berhubungan antara unsur yang satu dengan yang lain dalam pendidikan. Ada hubungan antara pendidik dengan yang dididik, antara siswa dengan siswa lain, antara pendidik dengan pendidik lain. Relasi ini bukan hanya relasi berkaitan dengan pengajaran tetapi juga relasi sebagai manusia, sebagai pribadi. Partisipasi dimaksudkan sebagai keterlibatan, ikut andil dalam sistem itu. Dalam pendidikan secara nyata siswa hanya akan berkembang bila terlibat, ikut aktif didalamnya. Non linier menunjukkan bahwa tidak dapat ditentukan secara linier serba jelas sebelumnya. Ada banyak hal yang tidak dapat diprediksikan sebelumnya dalam pendidikan, meski kita telah menentukan unsur-unsurnya. Kita dapat membantu anak-anak dengan segala macam nilai yang baik, namun dapat terjadi mereka berkembang tidak baik. Pendekatan pendidikan yang mekanistis tidak tepat lagi. Pendidikan tidak

17

dipikirkan lagi secara linier, seakan-akan bila langkah-langkahnya jelas lalu hasilnya menjadi jelas; tetapi lebih kompleks dan ada keterbukaan terhadap unsur yang tidak dapat ditentukan sebelumnya. Prinsip keutuhan menyatakan bahwa keseluruhan adalah lebih besar daripada penjumlahan bagian-bagiannya. Prinsip keutuhan sangat jelas diwujudkan dengan memperhatikan semua segi kehidupan dalam membantu perkembangan pribadi siswa secara menyeluruh dan utuh. Maka, segi intelektual, sosial, emosional, spiritual, fisik, seni, semua mendapat porsi yang seimbang. Salah satu unsur tidak lebih tinggi dari yang lain sehingga mengabaikan yang lain. Kurikulum dibuat lebih menyeluruh dan memasukkan banyak segi. Pendekatan terhadap siswapun lebih utuh dengan memperhatikan unsur pribadi, lingkungan dan budaya. Pembelajaran lebih menggunakan inteligensi ganda, dengan mengembangkan IQ, SQ, dan EQ secara integral. Prinsip ´proses menjadi´ mengungkapkan bahwa manusia memang terus berkembang menjadi semakin penuh. Dalam proses menjadi penuh itu unsur partisipasi, keaktifan, tanggung jawab, kreativitas, pertumbuhan, refleksi, dan kemampuan mengambil keputusan sangat penting. Proses itu terus-menerus dan selalu terbuka terhadap perkembangan baru. Dalam pendidikan, prinsip kemenjadian ini ditonjolkan dengan pendekatan proses, siswa diaktifkan untuk mencari, menemukan dan berkembang sesuai dengan keputusan dan

tanggungjawabnya. Dalam proses itu, siswa diajak lebih banyak mengalami sendiri, berefleksi dan mengambil makna bagi hidupnya. Dalam proses ini siswa dibantu sungguh menjadi manusia yang utuh, bukan hanya menjadi calon pekerja atau pengisi lowongan kerja. C. Dari peran pemerintah yang dominan ke meningkatnya peranserta masyarakat secara kualitatif dan kuantitatif. Sebelum otonomi, peran pemerintah sangat dominan. Hampir semua aspek dari pendidikan diputuskan kebijakan dan perencanaannya di tingkat Pusat, sehingga daerah terkondisikan lebih hanya sebagai pelaksana (Sumarno, 2001:3). Pendidikan dikelola tanpa mengembangkan kemampuan kreativitas masyarakat, malah cenderung meniadakan partisipasi masyarakat di dalam pengelolaan pendidikan. Lembaga pendidikan terisolasi dan tanggung jawab sepenuhnya ada pada pemerintah pusat. Sedangkan masyarakat tidak mempunyai wewenang untuk

18

mengontrol jalannya pendidikan. Selain itu, dengan sendirinya orang tua dan masyarakat, sebagai constituent dari sistem pendidikan nasional yang terpenting, telah kehilangan peranannya dan tanggung jawabnya. Mereka, termasuk peserta didik, telah menjadi korban, yaitu sebagai obyek dari sistem yang otoriter. (Tilaar, 1999:113) Sesudah otonomi, ada perluasan peluang bagi peran serta masyarakat dalam pendidikan baik secara kualitatif maupun kuantitatif. Oleh karena itu, untuk mendorong partisipasi masyarakat, di tingkat Kabupaten/Kota dibentuk Dewan Pendidikan, sedangkan di tingkat sekolah dibentuk komite sekolah. Pembentukan komite sekolah didasarkan pada keputusan Mendiknas No.044/U/2002 tentang panduan pembentukan komite sekolah. Menurut panduan, pembentukan komite sekolah dilakukan secara transparan, akuntabel, dan demokratis. Transparan berarti bahwa komite sekolah harus dibentuk secara terbuka dan diketahui oleh masyarakat secara luas mulai dari tahap pembentukan panitia persiapan, proses sosialisasi oleh panitia persiapan, kriteria calon anggota, proses seleksi calon anggota, pengumuman calon anggota, proses pemilihan, dan penyampaian hasil pemilihan. Akuntabel berarti bahwa panitia persiapan pembentukan komite sekolah hendaknya menyampikan laporan pertanggungjawaban kinerjanya maupun penggunaan dan kepanitiaan. Sedangkan secara demokratis berarti bahwa dalam proses pemilihan anggota dan pengurus dilakukan dengan musyawarah mufakat. Jika dipandang perlu, dapat dilakukan melalui pemungutan suara. D. Dari lemahnya peran institusi non sekolah ke pemberdayaan institusi masyarakat. Sebelum era otonomi, peran institusi non sekolah sangat lemah. Dalam era otonomi, masyarakat diberdayakan dengan segenap institusi sosial yang ada di dalamnya, terutama institusi yang dilekatkan dengan fungsi mendidik generasi penerus bangsa. Berbagai institusi kemasyarakatan ditingkatkan wawasan, sikap, kemampuan, dan komitmennya sehingga dapat berperan serta secara aktif dan bertanggung jawab dalam pendidikan. Institusi pendidikan tradisionil seperti pesantren, keluarga, lembaga adat, berbagai wadah organisasi pemuda bahkan partai politik bukan hanya diberdayakan sehingga dapat mengembangkan fungsi pendidikan dengan lebih baik, melainkan juga diupayakan untuk menjadi bagian

19

yang terpadu dari pendidikan nasional. Demikian juga, ada upaya peningkatan partisipasi dunia usaha/industri dan sektor swasta dalam pendidikan karena sebagai pengguna sudah semestinya dunia usaha juga ikut bertanggung jawab dalam penyelenggaraan pendidikan. Apabila lebih banyak institusi

kemasyarakatan peduli terhadap pendidikan maka pendidikan akan lebih mampu menjangkau berbagai kelompok sasaran khusus seperti kelompok wanita dan anak-anak kurang beruntung (miskin, berkelainan, tinggal di daerah terpencil dan sebagainya). Dalam upaya pemberdayaan masyarakat, perlu dilakukan

pembenahan sebagai kebijakan dasar, yaitu pengembangan kesadaran tunggal dalam kemajemukan, pengembangan kebijakan sosial, pengayaan berkelanjutan (continuous enrichment) dan pengembangan kebijakan afirmatif (affirmative policy) (Fasli Jalal, 2001:72-73). E. Dari ´birokrasi berlebihan´ ke ´debirokratisasi´. Sebelum otonomi, berbagai kegiatan pengembangan dan pembinaan diatur dan dikontrol oleh pejabat-pejabat (birokrat-birokrat) melalui prosedur dan aturanaturan (regulasi) yang ketat, bahkan sebagiannya sangat ketat dan kaku oleh Kandepdikbud/Kanwildikbud. Hal ini mempengaruhi pengelolaan sebagian sekolah-sekolah, dalam iklim ´birokrasi berlebihan´. Dalam kondisi yang demikian, tidak jarang ditemukan adanya ´kasus birokrasi yang berlebihan´ dari sebagian pejabat birokrat yang menggunakan ´kekuasaan berlebihan´ dalam pembinaan guru, siswa, dan pihak-pihak lainnya. Keadaan ini telah mematikan prakarsa, daya cipta, dan karya inovatif di sekolah-sekolah. Dalam era reformasi, terjadi proses ´debirokratisasi´ dengan jalan memperpendek jalur birokrasi dalam penyelesaian masalah-masalah pendidikan secara profesional, bukan atas dasar ´kekuasaan´ atau peraturan belaka. Hal ini sesuai dengan prinsip profesionalisme dalam pendidikan, dan juga pelimpahan wewenang dan tanggung jawab dalam desentralisasi. Di samping itu juga dilakukan ´deregulasi´, dalam arti ´pengurangan´ aturan-aturan kebijakan pendidikan yang tidak sesuai dengan kondisi, potensi, dan prospek sekolah, dan kepentingan masyarakat (stakeholders) untuk berpartisipasi terhadap sekolah, dalam bentuk gagasan penyempurnaan kurikulum, peningkatan mutu guru, dana dan prasarana/sarana untuk sekolah.

20

F. Dari ´manajemen tertutup´ (close management) ke ´management terbuka´ (open management). Sebelum otonomi, diterapkan bentuk-bentuk ´manajemen tertutup´, sehingga tidak transparan, tidak ada akuntabilitas kepada publik dalam pengelolaan pendidikan. Dalam era reformasi, manajemen pendidikan menerapkan

´manajemen terbuka´ dari pembuatan kebijakan, pelaksanaan kebijakan sampai pada evaluasi, bahkan perbaikan kebijakan. Seluruh sumber daya yang digunakan dalam pendidikan dipertanggungjawabkan secara terbuka kepada seluruh kelompok masyarakat (stakeholders), dan selanjutnya terbuka untuk menerima kritikan perbaikan bila ditemukan hal-hal yang tidak dapat

dipertanggungjawabkan. G. Dari pengembangan pendidikan ´terbesar menjadi tanggung jawab pemerintah´ berubah ke ´sebagian besar menjadi tanggung jawab orang tua siswa dan masyarakat (stakeholders) Sebelum otonomi, pengembangan pendidikan, termasuk pembiayaan, terbesar menjadi tanggung jawab pemerintah, dibandingkan dengan menjadi tanggung jawab orang tua siswa dan masyarakat (stakeholders). Dalam era reformasi, pengembangan pendidikan, termasuk pembiayaan pendidikan, berupa gaji honorarium/tunjangan mengajar, penataran/pelatihan, rehabilitasi gedung dan lain-lain, diupayakan supaya sebagian besar akan menjadi tanggung jawab orang tua siswa dan masyarakat (stakeholders). Kemajuan pendidikan tingkat Kabupaten/Kota akan banyak bergantung pada partisipasi orang tua siswa dan masyarakat serta pemerintah Kabupaten/Kota masing-masing, di samping proyekproyek khusus, dan juga kemudahan dan pengendalian mutu dan hal-hal kepentingan nasional lainnya dari DEPDIKNAS, dan dari Dinas Propinsi.

2.2.2 Paradigma Baru Perencanaan Pendidikan diera Otonomi Dengan terjadinya perubahan paradigma baru pendidikan, maka sistem perencanaan pendidikan dalam iklim pemerintahan yang sentralistik, sudah tidak sesuai lagi dengan kebutuhan perencanaan pendidikan pada era otonomi daerah, sehingga diperlukan paradigma baru perencanaan pendidikan. Menurut Mulyani A. Nurhadi (2001:2), perubahan paradigma dalam sistem perencanaan pendidikan

21

di daerah setidak-tidaknya akan menyentuh lima aspek, yaitu sifat, pendekatan, kewenangan pengambilan keputusan, produk serta pola perencanaan anggaran. Dari segi sifat perencanaan pendidikan, maka perencanaan pendidikan pada tingkat daerah sebagai kegiatan awal dari proses pengelolaan pendidikan termasuk kegiatan yang wajib dilaksanakan oleh daerah. Sementara itu, Pemerintah Pusat berkewajiban merumuskan kebijakan tentang perencanaan nasional, yang dalam pelaksanaannya telah dituangkan dalam bentuk Undang-Undang RI No.25 tahun 2000 tentang Program Pembangunan Nasional. Pada tingkat Departemen, Propenas ini dijabarkan lebih lanjut ke dalam dokumen Rencana Strategis (Renstra) yang memuat strategi umum untuk mencapai tujuan program pembangunan di bidang masing-masing dan dituangkan dalam Keputusan Menteri. Berdasarkan Renstra itu, Pemerintah Pusat menyusun Program pembangunan tahunan yang disingkat Propeta yang dituangkan dalam Keputusan Menteri, sesuai dengan lingkup tugas dan kewenangan masing-masing. Selain itu, pada era otonomi daerah diharapkan akan lebih tumbuh kreativitas dan prakarsa, serta mendorong peran serta masyarakat sesuai dengan potensi dan kemampuan masing-masing daerah. Ini berarti bahwa dalam membangun pendidikan di daerah Kabupaten/Kota perlu dilandasi dengan perencanaan pendidikan tingkat daerah yang baik dan distinktif, tidak hanya bertumpu kepada perencanaan nasional yang makro, tetapi juga dapat mempertimbangkan keunikan, kemampuan, dan budaya daerah masing-masing sehingga mampu menumbuhkan prakarsa dan kreativitas daerah. Perencanaan program pendidikan di daerah bukan lagi merupakan bagian atau fotokopi dari perencanaan program tingkat nasional maupun propinsi, tetapi merupakan perencanaan pendidikan yang unik dan mandiri sehingga beragam, walaupun disusun atas dasar rambu-rambu kebijakan perencanaan nasional. Dari segi pendekatan perencanaan pendidikan, era otonomi telah merubah paradigma dalam pendekatan perencanaan pendidikan di daerah dari pendekatan diskrit sektoral menjadi integrated dengan sektor lainnya di daerah. Sebelum otonomi, sistem alokasi anggaran pendidikan di daerah diperoleh dari APBN pusat secara sektoral pada sektor pendidikan, Pemuda dan Olahraga, serta Kepercayaan Kepada Tuhan Yang Maha Esa, namun setelah otonomi diperoleh dari APBD yang berasal dari berbagai sumber sebagai bagian dari dana Daerah untuk seluruh

22

sektor yang menjadi tanggung jawab daerah. Sumber-sumber itu meliputi dana bagi hasil, dana alokasi umum, dana dekonsentrasi, dana perbantuan, pendapatan asli daerah, dan bantuan masyarakat. Dengan demikian, telah terjadi perubahan sumber anggaran yang semula bersifat tunggal-hierarkhi-sektoral sekarang menjadi jamak-fungsional-regional, tetapi dalam persaingan antar sektor. Dari segi kewenangan pengambilan keputusan, sistem perencanaan pendidikan yang sentralistik telah menutup kewenangan Daerah dalam pengambilan keputusan di bidang pendidikan baik pada tataran kebijakan, skala prioritas, jenis program, jenis kegiatan, bahkan dalam hal rincian alokasi anggaran. Namun, dalam era otonomi Daerah dapat dan harus menetapkan kebijakan, program, skala prioritas, jenis kegiatan sampai dengan alokasi anggarannya sesuai dengan kemampuan Daerah, sepanjang tidak bertentangan dengan kebijakan nasional yang antara lain dalam bentuk Standar Pelayanan Minimal (SPM) yang ditetapkan. Sementara dari segi produk perencanaan pendidikan, pada era desentralisasi produk perencanaan pendidikan diharapkan merupakan bagian tak terpisahkan dari perencanaan pembangunan Daerah secara lintas sektoral. Oleh karena itu, produk Dalam UU tersebut, yang dimaksud dengan Sistem Perencanaan Pembangunan Daerah adalah satu kesatuan tata cara perencanaan pembangunan untuk menghasilkan rencana-rencana pembangunan dalam jangka panjang, jangka pendek, dan tahunan yang dilaksanakan oleh unsur penyelenggara negara dan masyarakat di tingkat Pusat dan Daerah. Dalam penjelasan UU tersebut, perencanaan partisipatif disebut hanya sebagai salah satu dari lima pendekatan dalam Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional. Keempat pendekatan lainnya adalah pendekatan politik, teknokratik, atas-bawah (top-down) dan bawah-atas (bottom±up). Perencanaan dengan pendekatan partisipatif dilaksanakan dengan melibatkan semua pihak yang berkepentingan (stakeholders) terhadap pembangunan. Pelibatan mereka adalah untuk mendapatkan aspirasi dan menciptakan rasa memiliki perencanaan pendidikan yang dihasilkan harus mencakup seluruh komponen perencanaan pendidikan yang meliputi: kebijakan, rencana strategis, skala prioritas, program, sasaran dan kegiatan, serta alokasi anggarannya dalam konteks perencanaan pembangunan Daerah secara terpadu. Semua komponen itu perlu dikembangkan secara spesifik sesuai dengan kemampuan dan kharakteristik Daerah, sejauh tidak

23

bertentangan dengan kebijakan umum, prioritas nasional, dan program-program strategis yang ditetapkan oleh Pemerintah Pusat.

2.3 Perencanaan Pendidikan 2.3.1 Konsep Perencanaan Pendidikan

Adapun defenisi Perencanaan Pendidikan menurut para ahli atau para pakar manajemen adalah antara lain : a. Menurut, Prof. Dr. Yusuf Enoch Perencanaan Pendidikan, merupakan suatu proses yang yang mempersiapkan seperangkat alternative keputusan bagi kegiatan masa depan yang diarahkan kepadanpencapaian tujuan dengan usaha yang optimal dan mempertimbangkan kenyataan-kenyataan yang ada di bidang ekonomi, sosial budaya serta menyeluruh suatu Negara. b. Beeby, C.E. Perencanaan Pendidikan merupakan suatu usaha melihat ke masa depan ke masa depan dalam hal menentukan kebijaksanaan prioritas, dan biaya pendidikan yang mempertimbangkan kenyataan kegiatan yang ada dalam bidang ekonomi, social, dan politik untuk mengembangkan potensi system pendidikan nasioanal memenuhi kebutuhan bangsa dan anak didik yang dilayani oleh system tersebut. c. Menurut Guruge (1972), Perencanaan Pendidikan merupakan proses mempersiapkan kegiatan di masa depan dalam bidang pembangunan pendidikan. d. Menurut Albert Waterson (Don Adam 1975) Perencanaan Pendidikan adalah investasi pendidikan yang dapat dijalankan oleh kegiatan-kegiatan

pembangunan lain yang di dasarkan atas pertimbangan ekonomi dan biaya serta keuntungan sosial. e. Menurut Coombs (1982), Perencanaan pendidikan suatu penerapan yang rasional dianalisis sistematis proses perkembangan pendidikan dengan tujuan agar pendidikan itu lebih efektif dan efisien dan efisien serta sesuai dengan kebutuhan dan tujuan para peserta didik dan masyarakat. f. Menurut Y. Dror (1975), Perencanaan Pendidikan merupakan suatu proses mempersiapkan seperangkat keputusan untuk kegiatan-kegiatan di masa depan yang di arahkan untuk mencapai tujuan-tujuan dengan cara-cara

24

optimal untuk pembangunan ekonomi dan social secara menyeluruh dari suatu Negara.

Jadi, definisi perencanaan pendidikan apabila disimpulkan dari beberapa pendapat tersebut, adalah suatu proses intelektual yang berkesinambungan dalam menganalisis, merumuskan, dan menimbang serta memutuskan dengan keputusan yang diambil harus mempunyai konsistensi (taat asas) internal yang berhubungan secara sistematis dengan keputusan-keputusan lain, baik dalam bidang-bidang itu sendiri maupun dalam bidang-bidang lain dalam pembangunan, dan tidak ada batas waktu untuk satu jenis kegiatan, serta tidak harus selalu satu kegiatan mendahului dan didahului oleh kegiatan lain. Secara konsepsional, bahwa perencanaan pendidikan itu sangat ditentukan oleh cara, sifat, dan proses pengambilan keputusan, sehingga nampaknya dalam hal ini terdapat banyak komponen yang ikut memproses di dalamnya. Adapun komponen-komponen yang ikut serta dalam proses ini adalah : 1. Tujuan pembangunan nasional bangsa yang akan mengambil keputusan dalam rangka kebijaksanaan nasional dalam rangka kebijaksanaan nasional dalam bidang pendidikan. 2. Masalah strategi adalah termasuk penanganan kebijakan (policy) secara operasional yang akan mewarnai proses pelaksanaan dari perencanaan pendidikan.

Maka ketepatan pelaksanaan dari perencanaan pendidikan. Dalam penentuan kebijakan sampai kepada palaksanaan perencanaan pendidikan ada beberapa hal yang harus diperhatikan, yaitu : siapa yang memegang kekuasaan, siapa yang menentukan keputusan, dan faktor-faktor apa saja yang perlu diperhatikan dalam pengambilan keputusan. Terutama dalam hal pemegang kekuasaan sebagai sumber lahirnya keputusan, perlu memperoleh perhatian, misalnya mengenai system kenegaraan yang merupakan bentuk dan system manajemennya, bagaimana dan siapa atau kepada siapa dibebankan tugas-tugas yang terkandung dalam kebijakan itu. Juga masalah bobot untuk jaminan dapat terlaksananya perencanaan pendidikan. Hal ini dapat diketahui melalui output atau hasil system

25

dari pelaksanaan perencanaan pendidikan itu sendiri, yaitu dokumen rencana pendidikan. Dari beberapa rumusan tentang perencanaan pendidikan tadi dapat dimaklumi bahwa masalah yang menonjol adalah suatu proses untuk menyiapkan suatu konsep keputusan yang akan dilaksanakan di masa depan. Dengan demikian, perencanaan pendidikan dalam pelaksanaan tidak dapat diukur dan dinilai secara cepat, tapi memerlukan waktu yang cukup lama, khususnya dalam kegiatan atau bidang pendidikan yang bersifat kualitatif, apalagi dari sudut kepentingan nasional. A. Tujuan Perencanaan Pada dasarnya tujuan perencanaan adalah sebagai pedoman untuk mencapai sasaran yang telah ditetapkan. Sebagai suatu alat ukur di dalam membandingkan antara hasil yang dicapai dengan harapan. Dilihat dari pengambilan keputusan tujuan perencanaan adalah : 1. Penyajian rancangan keputusan-keputusan atasan untuk disetujui pejabat tingkat nasional yang berwenang. 2. Menyediakan pola kegiatan-kegiatan secara matang bagi berbagai

bidang/satuan kerja yang bertanggung jawab untuk melakukan kebijaksanaan.

B. Fungsi Perencanaan Fungsi perencanaan adalah sebagai pedoman pelaksanaan dan pengendalian, sebagai alat bagi pengembangan quality assurance, menghindari pemborosan sumber daya, menghindari pemborosan sumber daya, dan sebagai upaya untuk memenuhi accountability kelembagaan. Jadi yang terpenting di dalam menyusun suatu rencana, adalah berhubungan dengan masa depan, seperangkat kegiatan, proses yang sistematis, dan hasil serta tujuan tertentu.

C. Proses Perencanaan Perencanaan merupakan siklus tertentu dan dan melalui siklus tersebut suatu perencanaan bias dievaluasi sejak awal persiapan sampai pelaksanaan dan penyelesaian perencanaan. Dan secara umum, ada beberapa langkah penting yang perlu diperhatikan di dalam perencanaan yang baik, yaitu :

26

1. Perencanaan yang efektif dimulai dengan tujuan secara lengkap dan jelas. 2. Adanya rumusan kebijaksanaan, yaitu memperhatikan dan menyesuaikan tindakan-tindakan yang akan dilakukan dengan factor-faktor lingkungan apabila tujuan itu tercapai. 3. Analisis dan penetapan cara dan sarana untuk mencapai tujuan dalam kerangka kebijaksanaan yang telah dirumuskan. 4. Penunjukan orang - orang yang akan menerima tanggung jawab pelaksanaan (pimpinan) termasuk juga orang yang akan mengadakan pengawasan. 5. Penentuan system pengendalian yang memungkinkan pengukuran dan pembandingan apa yang harus dicapai, dengan apa ya ng telah tercapai, berdasarkan criteria yang telah ditetapkan.

2.3.2 Isu-Isu Perencanaan Pendidikan A. Perencanaan Pendidikan itu baik yang buruk adalah implementasinya. Sebelum kita bahas masalah tersebut, ada baiknya kita pahami terlebih dahulu pengertian atau definisi dari perencanaan tersebut, ada beberapa pengertian atau definisi dari perencanaan yaitu : Seperangkat tindakan untuk memecahkan berbagai permasalahan, khususnya masalah sosial dan ekonomi pada satu periode rencana, yang berorientasi pada horison waktu µyang akan datang¶, pada jenis dan tingkatan perencanaan tertentu, di masa yang akan datang (Alden, 1974: 1-2), Cara berpikir tentang masalah-masalah sosial dan ekonomi, yang berorientasi pada waktu yang akan datang, terkonsentrasi pada suatu tujuan dan keputusan bersama, serta berusaha untuk mewujudkan program dan keputusan bersama (Friedmann,1964) ‡ Sebuah proses untuk menentukan tindakan-tindakan bagi masa depan yang diinginkan melalui serangkaian pilihan-pilihan yang logis (Davidoff,1962 in Faludi, 1983: 11) Sebuah proses untuk mengarahkan aktivitas manusia dan kekuatan alam dengan mengacu pada kondisi masa depan yang diinginkan (Branch, 1998: 2) Suatu lingkaran proses yang berulang dari

serangkaian tahapan-tahapan yang logis (Meise and Volwahsen, 1980: 3-5) Dari sekian banyak definisi atau pengertian tentang perencanaan, dapat disarikan sebagai berikut : Perancanaan adalah seperangkat prosedur untuk memecahkan permasalahan fisik, sosial, dan ekonomi, yang harus meliputi prinsip-prinsip

27

sebagai berikut:± Seperangkat tindakan ± Upaya untuk memecahkan masalah ± Memiliki dimensi waktu dan berorientasi ke masa yang akan datang ± Suatu proses berputar dengan adanya umpan balik ± Melibatkan beberapa alternatif untuk mencari pemecahan. Dari definisi atau pengertian tentang perencanaan tersebut, maka dapat kita simpulkan bahwa perencanaan tersebut disusun agar dapat menuju kearah yang lebih baik, walaupun demikian tidak semua perencanaan tersebut berjalan sesuai rencana, terkadang sesuatu yang telah kita perhitungkan dengan matang, tapi pada kenyataanya kadang kala terdapat masalah yang diluar perkiraan kita, oleh karena itulah perencanaan tersebut akan terus dievaluasi dalam kurun waktu tertentu agar tujuan yang ingin dicapai dapat terwujud dan terlaksana dengan baik. Berkaitan dengan isu-isu atau pendapat tentang perencanaan pendidikan yang dikatakan baik, tapi buruk dalam implementasinya, mungkin ada benarnya pendapat tersebut jika dilihat dari hasil yang terjadi yang berkaitan dengan perencanaan pendidikan tersebut, salah satu diantara perencanaan pendidikan yang implementasinya tidak sesuai dengan perencanaan adalah Program Wajib Belajar 9 tahun misalnya, dimana pada Program Wajib Belajar 9 tahun ini, pemerintah pusat dalam hal ini Departeman Pendidikan Nasional, untuk menuntaskan progam wajar 9 tahun ini, pemerintah pusat memberikan bantuan pendidikan kepada siswa yang dikenal dengan BOS (Bantuan Operasional Sekolah), harapan dari Pemerintah Pusat dengan adannya program ini, maka seluruh anak bangsa yang ada diseluruh pelosok negeri ini dapat

menikmati/mengenyam pendidikan minimal pendidikan dasar 9 tahun, tapi kenyataannya program BOS tersebut, belum menunjukkan hasil yang sangat signifikan, karena masih banyak siswa-siswa usia sekolah yang belum dapat menikmati pendidikan sampai 9 tahun tersebut, hal ini mungkin disebabkan oleh belum mencukupinya biaya BOS yang digunakan buat siswa dalam melaksanakan pendidikannya, sehingga siswa masih dibebani biaya lagi untuk menutupi kekurangan dari dana BOS tersebut, akibatnya banyak siswa-siswa yang putus sekolah karena tidak sanggup menanggung biaya tambahan tersebut. Mungkin pemerintah harus memikirkan kembali besaran dana BOS tersebut, hingga dana

28

tersebut

benar-benar

dapat

digunakan

untuk

mencukupi

siswa

dalam

melaksanakan pendidikan dasar 9 tahun itu.

B. Mutu Pendidikan rendah karena kebijakan yang berganti-ganti. Kebijakan yang sering berganti-ganti bukanlah satu-satunya penyebab rendahnya mutu pendidikan saat ini, ada banyak faktor yang dapat mempengaruhi rendahnya mutu pendidikan, diantara faktor-faktor tersebut misalnya adalah rendahnya kualitas/profesionalisme guru selaku tenaga pendidik, kurangnya sarana prasarana pendidikan, kurangnya perhatian orang tua/partisipasi

masyarakat juga dapat menyebabkan rendahnya mutu pendidikan. Rendahnya kualitas/profesionalisme guru dapat disebabkan karena banyak sekali guru yang tidak fokus kepada profesinya dikarenakan rendahnya income yang diperoleh guru tersebut, hingga mereka mengajar hanya untuk memenuhi kewajiban saja, mereka tidak mempunyai beban moral atau tanggung jawab untuk mencerdaskan anak didik mereka, karena yang terpenting bagi mereka adalah bagaimana mereka dapat mencari penghasilan tambahan untuk mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari. Kurangnya sarana prasarana juga menjadi salah satu faktor yang menyebabkan rendahnya mutu pendidikan, hal ini disebabkan terbatasnya anggaran pendidikan, hingga saat ini pemerintah belum sanggup untuk merealisasikan anggaran pendidikan sebesar minimal 20% dari APBN

sebagaimana diamanatkan dalam Undang-Undang, hingga banyak sekali programprogram yang tidak dapat direalisasikan karena terbatasnya anggaran pendidikan tersebut.Mungkin salah satu penyebab dari kebijakan pemerintah yang sering berganti-ganti, hingga menyebabkan rendahnya mutu pendidikan adalah adannya kebijakan dalam hal kurikulum yang selalu berubah-ubah hingga menyebabkan ketidakpastian/kebingunan dalam melaksanakan kurikulum tersebut, seringkali guru menjadi bingung dengan adanya kurikulum yang berubah-ubah tersebut, karena dengan pergantian kurikulum tersebut, secara otomatis guru tersebut harus menyesuaikan kembali dengan kurikulum yang baru itu, proses penyesuaian ini memerlukan waktu yang cukup lama, karena guru-guru tersebut harus memahami isi dari kurikulum tersebut, agar dapat di implementasikan dalam kegiatan belajar

29

mengajar. Karena itulah perubahan kebijakan yang dilakukan ditengah jalan sebaiknya seminimal mungkin kalau bisa dihindarkan, hingga tidak menjadikan salah satu penyebab rendahnya mutu pendidikan.

C. Visi Diknas : Insan Cerdas dan Kompetitif Sesuai dengan Renstra Departemen Pendidikan Nasional tahun 2005-2009, bahwa Depdiknas memiliki Visi yaitu : Terwujudnya Sistem Pendidikan Nasional sebagai pranata sosial yang kuat dan berwibawa untuk memberdayakan semua warga negara Indonesia, berkembang menjadi manusia yang berkualitas sehingga mampu dan proaktif menjawab tantangan jaman yang selalu berubah-ubah. Dalam pembangunan jangka panjang tahun 2025 telah dicanangkan visi yang lebih spesifik yaitu : Insan Indonesia yang Cerdas dan Kompetitif. Yang dimaksud dengan Insan Indonesia Cerdas adalah insan yang cerdas secara komprehensif yang meliputi : a. Cerdas Spiritual, yang dapat diaktualisasikan melalui hati untuk

menumbuhkan dan memperkuat keimanan, ketaqwaan, akhlak mulia termasuk didalamnya budi pekerti yang luhur. b. Cerdas Emosional, yang dapat diaktualisasikan melalui rasa untuk meningkatkan sensitivitas dan apresiatif akan keindahan seni. c. Cerdas Sosial, dapat diaktualisasikan melalui interaksi sosial untuk membina dan memupuk hubungan timbal balik, simpatik, demokratis dan lain-lain. d. Cerdas Intelektual, dapat diaktualisasikan melalui olah pikir supaya menjadi insan kreatif, berpengetahuan dan mempunyai daya imajinatif. e. Cerdas Kinetis, dapat diaktualisasikan melalui olahraga untuk

memuwujudkan insan yang sehat, bugar dan berdaya tahan.

Sedangkan makna Kompetitif adalah : a. Berkepribadian unggul. b. Bersemangat tinggi. c. Mandiri. d. Pantang Menyerah. e. Membangun dan membina jejaring.

30

f.

Bersahabat dengan perubahan.

g. Inovatif dan menjadi agen perubahan. h. Produktif dan sadar mutu. i. j. Berorientasi global. Pembelajaran sepanjang hayat.

Pada dasarnya visi Depdiknas tersebut menekankan pada pendidikan yang dapat mentransformasikan dari masyarakat yang sedang berkembang menuju ke masyarakat madani, pendidikan harus terus menerus dilakukan dengan mengikuti perkembangan dan perubahan jaman.Untuk mewujudkan visinya Departemen Pendidikan Nasional memiliki 3 pilar pembangunan pendidikan yaitu :1). Pemerataan dan perluasan akses. 2). Peningkatan mutu dan relevansi serta daya saing keluaran pendidikan. 3). Peningkatan tata kelola, akuntabilitas dan citra publik pengelolaan pendidikan. Pendidikan yang berkualitas dapat diwujudkan jika ditopang oleh beberapa faktor yaitu :1). Kurikulum yang berkelanjutan. 2). Kualitas guru yang memadai. 3). Prasarana dan sarana terbangun terjaga dan berkembang terus 4). Manajemen pengelolaan yang baik, transparan dan akuntabel sehingga menimbulkan pencitraan publik yang positif. Dengan adannya visi dari Depdiknas tentang Insan Cerdas yang Kompetitif, saya setuju dengan visi tersebut jika dapat dilaksanakan dan di implementasikan dengan baik, karena visi itu dapat mengarahkan bangsa Indonesia kearah yang lebih dan memiliki daya saing yang tinggi dengan bangsa lain.

31

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Pendekatan yang digunakan Fokus penelitian ini adalah untuk mengungkap sejauh mana Implementasi Pelaksanaan Otonomi Daerah Dalam Konteks Desentralisasi Pembangunan Terhadap Perencanaan Pendidikan Di Kabupaten Kepulauan Sangihe. Oleh karena itu untuk mendapatkan data yang lengkap, mendalam dan memberi jawaban yang tepat terhadap masalah yang akan diteliti digunakan penelitian kualitatif. Gambaran karakteristik yang dijelaskan tersebut sesuai dengan maksud dari penelitian ini, karena yang diamati adalah Implementasi Pelaksanaan Otonomi Daerah Dalam Konteks Desentralisasi Pembangunan Terhadap Perencanaan Pendidikan Di Kabupaten Kepulauan Sangihe. Hal ini apabila menggunakan pendekatan kuantitatif kurang sesuai karena penelitian ini bersifat independent, tidak berintegrasi langsung dengan subyek sehingga akan sangat sulit sekali diungkapkan proses kegiatan yang berlangsung. Nasution (1992) mengemukakan bahwa ³ Pada hakekatnya penelitian kualitatif mengamati orang dalam lingkungannya, berinteraksi dengan mereka dan berusaha memahami bahasa serta tafsiran mereka sendiri tentang dunia yang ada disekitarnya. Dengan menggunakan metode kulitatif, dapat ditemukan data yang tidak teramati dan terukur secara kuantitatif, seperti nilai, sikap mental, kebiasaan, keyakinan dan budaya yang dianut oleh seseorang atau kelompok dalam lingkungan tertentu. Demikian pula Mc. Cracken ( 1988 ) dalam Julia Brannen ( 1997 ) mengemukakan bahwa : ³ Di dalam penelirtian kualitatif konsep dan kategorilah yang dipersoalkan bukan kejadian atau frekuensinya. Dengan kata lain penelitian kualitatif tidak meneliti suatu lahan kosong, tetapi ia menggalinya. Dalam hal ini peneliti akan mengumpulkan data dalam situasi yang wajar, langsung apa adanya tanpa dipengaruhi oleh unsur-unsur lain dari luar lingkungan. Untuk itu peneliti berhubungan langsung dengan situasi dan sumber data yang akan diselidiki. Peneliti tidak menggunakan angka-angka, tetapi mengumpulkan data deskriptif dalam bentuk laporan dan uraian untuk mencari makna, walaupun tidak menolak angka-angka sebagai penunjang penelitian.

32

Penelitian

kualitatif

menggunakan

pendekatan

analisis

induktif

dengan

mengesampingkan hipotesis awal penelitian, tetapi mencari pola , bentuk dan tema-tema untuk dapat mengungkapkan data secara sistematis.

3.2 Tempat dan waktu penelitian Penelitian ini dilaksanakan di kantor dinas DIKPORA Kabupaten Kepulauan Sangihe yang teletek dikelurahan Tona 2 kecamatan Tahuna Timur Kabupaten Kepulauan Sangihe dengan alasan perencanaan pendidikan di Kabupaten kepulauan sangihe seluruhnya terpusat dikantor yang dimaksud dengan demikian peneliti dapat melakukan analisis kebijakan pemerintah dibidang pendidikan dalam kaitan perencanaan pendidikan yang dilakukan kantor dinas DIKPORA Kabupaten kepulauan Sangihe. Penelitian ini akan dilaksanakan pada minggu kedua bulan Januari 2012 sampai bulan Juni 2012. Peneliti mengawali penelitian ini dengan observasi langsung dilokasi penelitian kantor dinas DIKPORA Kabupaten kepulauan Sangihe. Waktu penelitiansampai dengan penulisan laporan dilaksanakan selama lima bulan dengan tidak mengganggu keja pegawai dikantor dinas DIKPORA Kabupaten kepulauan Sangihe.

3.3 Data dan Sumber data Informan atau subjek penelitian ada kepala dinas DIKPORA Kabupaten kepulauan Sangihe, sekretaris dinas DIKPORA Kabupaten kepulauan Sangihe, dan kepala bidang perencanaan dinas DIKPORA Kabupaten kepulauan Sangihe. Penelitiakan berusaha mencermati para informan dengan teliti dengan cara berupaya menemukan informasi dari informan yang paling mengetahui pokok masalah yang akan diteliti.

3.4 Teknik Pengumpulan Data Metode yang paling umum digunakan dalam penelitian kualitatif adalah wawancara dan observasi. Kemampuan melakukan wawancara dan observasi merupakan kemampuan dasar yang perlu dimiliki oleh peneliti kualitatif. Dasar ketrampilan wawancara dan observasi berperan besar dalam pelaksanaan

33

metodemetode yang lebih praktis (Poerwandari, 2001, h. 64). Di dalam penelitian ini, akan digunakan empat macam metode pengumpulan data, yaitu: wawancara, observasi, materi audiovisual, dan dokumen. Berikut ini adalah penjelasan dari masing-masing metode yang akan digunakan dalam penelitian ini. 1. Wawancara Wawancara adalah percakapan dan tanya jawab yang diarahkan untuk mencapai tujuan tertentu. Wawancara kualitatif dilakukan bila peneliti bermaksud untuk memperoleh pengetahuan tentang makna-makna subjektif yang dipahami individu berkaitan dengan topik yang diteliti (Poerwandari, 2001, h. 75). Wawancara pada dasarnya dibagi menjadi tiga, yaitu: wawancara terstruktur, semi-terstruktur, dan tidak terstruktur. Di dalam penelitian ini, akan digunakan wawancara dengan bentuk semi-terstruktur. Wawancara untuk penelitian ini akan dilakukan dengan cara berhadapan langsung dengan subjek penelitian. Di dalam proses wawancara ada pedoman wawancara yang sangat umum, dengan mencantumkan hal-hal penting yang harus ditanyakan tanpa menentukan urutan pertanyaan. Pedoman wawancara ini digunakan untuk mengingatkan mengenai aspek-aspek yang harus dibahas sekaligus menjadi daftar pengecek aspek relevan yang perlu dibahas atau ditanyakan (Patton dikutip dalam Poerwandari, 2001, h. 76). Guba dan Lincoln (dikutip dalam Moleong, 2002, h. 137) menyatakan bahwa untuk penelitian kualitatif sebaiknya digunakan wawancara terbuka. Wawancara terbuka maksudnya adalah subjek mengetahui bahwa mereka sedang

diwawancarai dan mengetahui pula apa maksud wawancara tersebut. Di dalam penelitian ini akan digunakan jenis wawancara tersebut. Menurut Smith et al (dikutip dalam Poerwandari, 2001, h. 77) di dalam menyusun pertanyaan untuk wawancara, harus diperhatikan beberapa aspek, antara lain: pewawancara harus bersifat netral, tidak diwarnai nilai-nilai tertentu, dan tidak mengarahkan. Kemudian juga perlu dihindari penggunaan istilah-istilah yang canggih, resmi, ataupun tinggi, serta perlunya menggunakan pertanyaan terbuka, bukan pertanyaan tertutup. Pertanyaan perlu diformulasikan secara jelas, sederhana, singkat, dan tidak mengandung beberapa pesan pertanyaan sekaligus. Di dalam pelaksanaan wawancara, ada beberapa hal yang juga harus diperhatikan, yaitu: menyiapkan diri menjadi penerima informasi yang baik; menghindari banyak

34

bicara; mencoba untuk melakukan probe, yaitu teknik tersamar untuk memancing subjek berbicara, probe ini harus bersifat netral atau tidak mengarahkan jawaban subjek, peneliti juga perlu untuk bersikap peka dalam menghadapi subjek. Di dalam pengambilan data nantinya, perlu menjalin rapport (hubungan baik) dengan orang yang akan diwawancarai sekaligus menjaga netralitas data.

2. Observasi Observasi dikaitkan dengan kegiatan memperhatikan secara akurat, mencatat fenomena yang muncul, dan mempertimbangkan hubungan antar aspek dalam fenomena tersebut (Poerwandari, 2001, h. 70). Observasi sering dianggap mudah oleh para peneliti, padahal sebenarnya dibutuhkan latihan agar bisa mahir dalam observasi. Alat perekam pun tidak sepenuhnya sempurna, karena kadang-kadang ada proses yang tidak terekam kamera atau tape recorder. Kesulitan ini bisa diatasi dengan menyediakan lembaran - lembaran khusus untuk dicatat di lapangan. Memori peneliti sangat terbatas dan mudah terganggu dengan banyaknya informasi dari luar sehingga perlu untuk dilakukan pencatatan langsung setelah observasi. Buford Junker (dikutip dalam Moleong, 2002, h. 127) membagi peran pengamat dalam sebuah observasi penelitian menjadi tiga. Peran yang akan digunakan adalah peran yang ketiga, yaitu subjek mengetahui bahwa dirinya sedang diobservasi untuk sebuah penelitian. Oleh karena itu, diharapkan subjek tetap bisa berlaku seperti adanya dan memberikan informasi yang diperlukan oleh pengamat sekaligus peneliti. Catatan observasi akan dilaporkan secara faktual, deskriptif dan akurat. Hasil observasi dicatat pada catatan lapangan dengan menuliskan pula tanggal dan waktu pencatatan.

3. Materi audiovisual Materi audiovisual adalah salah satu metode penunjang wawancara dan observasi yang sangat penting yang digunakan untuk menyimpan apa yang dilihat dan didengarkan agar lebih awet dan bisa diulang kapan saja. Peralatan audiovisual yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah recorder dan kamera. Recorder akan digunakan untuk merekam wawancara dengan subjek maupun dengan narasumber secara audio, sedangkan kamera akan digunakan

35

untuk mengambil beberapa foto subjek. Satu hal yang penting dalam penyiapan alat audiovisual adalah dengan benar-benar memeriksa dan menguji coba alat tersebut terlebih dahulu agar nantinya dalam pelaksanaan wawancara dan observasi tidak terjadi kesalahan-kesalahan yang akan merugikan peneliti sendiri.

4. Dokumen Metode pengumpulan data yang keempat adalah penggunaan dokumen. Dokumen yang akan digunakan adalah dokumen publik yang sifatnya resmi, seperti SK pengangkatan CPNS, SK pengangkatan PNS, SK kenaikan pangkat dan golongan, dan juga ijazah tanda lulus kuliah. Penggunaan dokumen bisa digunakan untuk bukti keberadaan subjek dan analisis data (Poerwandari, 2001, h. 69).

3.5 Analisis Data Data penelitian kualitatif tidak berbentuk angka, melainkan narasi, deskripsi,cerita, dokumen tertulis dan tidak tertulis, ataupun bentuk-bentuk data nonangka lainnya. Ketika wawancara dan observasi, maka akan didapatkan data mentah yang harus dianalisis. Analisis data ini akan tergantung pada pengetahuan yang dimiliki oleh masing-masing peneliti. Pengetahuan kita nantinya akan menunjuk pada empat arah, yaitu: pengetahuan teoretis, pengalaman di lapangan, pengetahuan akan konteks, dan pengetahuan teknik analisis data (Moleong, 2002, h. 190). Di dalam analisis data, ada urutan-urutan yang bisa dilakukan untuk menganalisis data. Urutan-urutan tersebut adalah sebagai berikut: 1. Membuat dan mengatur data yang sudah dikumpulkan Pengolahan atau analisis data dimulai dengan mengorganisasikan atau mengatur data. Pengaturan data yang sistematis akan menguntungkan karena akan diperoleh kualitas data yang baik. Proses selanjutnya adalah mendokumentasikan analisis yang dilakukan, serta menyimpan data dan analisis yang berkaitan dalam penyelesaian penelitian. Hasil wawancara danobservasi akan ditranskripsikan dan dalam transkrip hasil wawancara dituliskan dengan teratur. Pengaturan data inilah yang bisa membantu dalam analisis data berikutnya.

36

2.

Membaca dengan teliti data yang sudah diatur Transkrip yang telah disusun dibaca dan diperiksa kembali. Proses ini

umumnya disebut koding. Koding dimaksudkan untuk dapat mengorganisasi dan mensistemasikan data secara lengkap dan mendetail sehingga data dapat memunculkan gambaran tentang topik yang dipelajari. Oleh karena itu, akan didapatkan insight tentang tema-tema penting dalam pernyataan subjek. Semua peneliti kualitatif menganggap bahwa koding ini sebagai tahap yang penting, karena dengan demikian bisa didapatkan makna dari data yang dikumpulkannya.

3. Deskripsi pengalaman peneliti di lapangan Pada bagian awal analisis, akan dideskripsikan pengalaman peneliti di lapangan. Deskripsi pengalaman ini dimaksudkan untuk menggambarkan situasi penelitian dan konteks yang dapat membantu dalam memahami pernyataanpernyataan subjek.

4. Horisonalisasi Langkah yang berikutnya dilakukan adalah dengan memeriksa kembali transkrip wawancara yang telah dibuat. Pemeriksaan ini dilakukan untuk mengidentifikasikan ucapan-ucapan yang relevan dan tidak relevan bagi penelitian ini. Salah satu cara yang nantinya akan digunakan adalah dengan menebalkan ucapan-ucapan subjek yang sesuai dengan penelitian ini. Hasil identifikasi ini nantinya akan ditulis terpisah dalam kolom yang lain.

5. Unit-unit makna Unit-unit makna akan terus ditentukan dengan terus melakukan dan merevisi hasil koding. Berdasarkan keseluruhan transkrip, diharapkan bisa ditemukan beberapa unit makna.

6. Deskripsi tekstural Unit-unit makna yang telah ditemukan, nantinya akan dideskripsikan. Deskripsi pertama yang akan dilakukan adalah deskripsi tekstural, yaitu deskripsi

37

yang didasarkan pada ucapan subjek yang asli/orisinil/harfiah/verbatim. Ucapanucapan subjek ini bisa didapatkan dari horisonalisasi.

7. Deskripsi struktural Deskripsi struktural adalah deskripsi kedua yang harus dilakukan dalam melakukan analisis data penelitian kualitatif. Deskripsi struktural nantinya akan berisi interpretasi atau penafsiran peneliti terhadap ucapan/perkataan subjek yang verbatim. Oleh karena itu, deskripsi struktural ini bisa juga ditulis sesudah ucapan verbatim subjek.

8. Makna/esensi Pada bagian ini, yang akan dilakukan adalah mencari inti atau makna atau esensi dari pengalaman subjek. Pemberian makna atau inti ini didapatkan darikeseluruhan unit-unit makna, deskripsi tekstural, dan deskripsi struktural. Dengan demikian, diri pengalaman subjek dapat dipahami sebenar-benarnya.

3.6 Verifikasi Data Verifikasi mempunyai makna yang hampir sama dengan konsep validitas dan reliabilitas dalam penelitian kuantitatif. Verifikasi merupakan upaya untuk menunjukkan bahwa penelitian ini sudah berjalan dengan benar. Verifikasi disebut juga trustworthiness (kelayakan data) atau keabsahan data. Lincoln dan Guba (Moleong, 2002, h. 173) mengemukakan empat macam standar verifikasi, yaitu: kredibilitas, transferabilitas, dependabilitas, dan konfirmbilitas. Dalam tiap standar itu, ada beberapa teknik yang digunakan untuk menunjangnya. Berikut ini adalah teknik yang akan digunakan peneliti dalam verifikasi data. 1. Kredibilitas Kredibilitas disebut juga sebagai taraf kepercayaan. Kredibilitas ini digunakan untuk melihat apakah penelitian yang dilakukan sudah berjalan dengan benar atau belum. Ada beberapa hal akan dilakukan untuk menunjang kredibilitas, yaitu:

38

a. Keterlibatan dan pengalaman berkesinambungan Pada bagian ini, ada beberapa kegiatan yang perlu dilakukan untuk memenuhi kredibilitas. Kegiatan tersebut antara lain: 1) Survai dan terlibat langsung di lapangan untuk membangun rapport dengan subjek penelitiannya. 2) Mempelajari lingkungan sosial dan budaya di lingkungan subjek. 3) Merasa yakin pada diri sendiri bahwa penelitian yang akan dilakukan benarbenar bisa dilanjutkan. b. Triangulasi Triangulasi berarti bahwa peneliti berusaha mencari sumber dari berbagai sudut pandang. Hal ini diperlukan untuk melakukan pengecekan mengenai kebenaran penelitian yang dilakukan. Berbagai macam sudut pandang ini akan diperoleh dari: buku-buku, para tokoh/pakar yang berkompeten, peneliti-peneliti lain, dan keluarga subjek. c. Peer debriefing atau p eer review Peer sering diartikan sebagai teman sejawat atau teman sebaya, maka peer debriefing atau peer review dapat diartikan sebagai pengecekan hasil penelitian oleh teman sebaya. Teman sebaya yang diharapkan adalah teman yang bisa memeriksa persepsi, insight, dan analisis yang dibuat oleh peneliti. Oleh karena itu, akan dibutuhkan teman yang mempunyai pandangan atau pemahaman umum akan penelitian ini. d. Cek anggota ( m ember check ) Cek anggota dilakukan dengan cara peneliti kembali datang menemui responden atau subjek penelitiannya untuk memeriksa kebenaran data dan interpretasi yang dilakukan oleh peneliti. Cara ini diperlukan agar tidak terjadi kekeliruan peneliti dalam mengartikan dunia pengalaman subjek. Kekeliruan penafsiran ini terjadi karena ketidaksesuaian peneliti dalam mengartikan dunia pengalaman subjek dengan kejadian atau apa yang benar-benar dialami oleh subjek.

39

2.

Transferabilitas Transferabilitas disebut juga daya transfer atau kemampuan hasil penelitian

untuk ditransfer pada situasi lain. Manfaat dari transferabilitas ini adalah peneliti dapat membantu pembaca untuk melihat kemungkinannya menerapkannya dalam situasi lain yang mirip. Oleh karena itu, tranferabilitas sering disebut generalisabilitas, yaitu kemampuan hasil penelitian untuk digeneralisasikan pada subjek lain yang mirip. Ada beberapa cara yang akan dilakukan peneliti untuk menunjang transferabilitas, yaitu: a. Deskripsi yang tebal Penelitian kualitatif membutuhkan deskripsi yang mendetail, oleh karena itu laporannya biasanya lebih tebal. Deskripsi yang mendetail ini akan memberi lebih banyak kesempatan pada hasil penelitian kita untuk ditransfer pada situasi lain yang mirip.

b.

Sampling purposif dengan karakteristik subjek yang jelas Jika karakteristik subjek dibuat dengan jelas, maka hasil penelitian kita akan

semakin mungkin ditransfer atau digeneralisasikan pada subjek lain yang mempunyai karakteristik yang hampir sama.

3.

Dependabilitas Dependabilitas adalah daya konsistensi dari hasil penelitian kita. Standar ini

penting karena digunakan untuk menyakinkan pembaca bahwa penelitian kita konsisten. Dependabilitas diartikan bahwa penelitian kita dapat diulang pada subjek yang sama/mirip dalam konteks yang sama/mirip dan dengan hasil yang sama/mirip pula. Ada satu hal yang penting untuk dilakukan untuk menunjang dependabilitas, yaitu audit eksternal. Audit eksternal dilakukan dengan cara menemui konsultan atau auditor, yang memahami metode penelitian kualitatif, untuk memeriksa proses dan hasil penelitian kita agar penelitian ini tidak dianggap subjektif. Audit eksternal yang akan dilakukan adalah dengan dosen pembimbing.

40

4. Konfirmabilitas Konfirmabilitas disebut juga daya kenetralan. Konsep konfirmabilitas diusulkan untuk mengganti konsep tradisional tentang objektivitas (Poerwandari, 2002, h. 174). Secara sederhana, konfirmabilitas dapat diartikan sebagai kemampuan hasil penelitian untuk disetujui atau dinyatakan tidak bias. Ada beberapa penunjang konfirmabilitas agar penelitian ini dikatakan tidak bias, yaitu: a. Data mentah hasil wawancara yang meliputi hasil rekaman dan catatan ± catatan di lapangan. Data mentah ini digunakan sebagai bukti yang akan ditunjukkan pada dosen pembimbing. b. Proses analisis yang benar dari horisonalisasi sampai makna/esensi. c. Pembahasan yang benar dalam Bab 5, untuk menghadapkan hasil analisis penelitian ini pada teori atau penelitian lain. Hasil analisis dari penelitian ini, bisa menguatkan atau bahkan melemahkan hasil penelitian lain. d. Pemeriksaan materi audiovisual yang berkaitan dengan proses wawancara dan observasi. e. Pemeriksaan asumsi pribadi, yaitu dosen pembimbing melihat apakah peneliti telah berhasil melakukan bracketing atau belum. Ada satu cara yang bisa digunakan untuk memeriksa asumsi pribadi itu, yaitu dengan analisis kasus negatif. Analisis kasus negatif dilakukan dengan mencari - cari kelemahan dari hasil pekerjaan peneliti sendiri.

41

DAFTAR PUSTAKA

Abdurrahmansyah. (2001). Desentralisasi: Harapan dan tantangan bagi dunia pendidikan. Achmad Budiyono, M. Irfan, &Yuli Andi. (1998). Evaluasi pelaksanaan kebijakan uji coba otonomi daerah. Jurnal Penelitian Ilmu -Ilmu Sosial, PPS Universitas Brawijaya,2, 209-218. Alisjahbana, A.S. (2000). Otonomi daerah dan desentralisasi pendidikan. Jurnal Analisis Sosial, AKATIGA,1,29-38. Arbi Sanit. Et al. (2000). Penelitian paradigma baru hubungan pusat daerah di Indonesia: Format otonomi daerah masa depan.Jakarta: Laporan penelitian. Azyumardi Azra. 2002. Paradigma Baru Pendidikan Nasional. Jakarta: Penerbit Buku Kompas. Depdiknas. (2001). Desentralisasi Pendidikan. Jakarta: Komisi Nasional Pendidikan. ________. 2002. Memiliki Wawasan Tentang Model-Model Perencanaan Tingkat Kabupaten/Kota. (Materi Pelatihan Terpadu Untuk Kepala Dinas Kabupaten/Kota). ________. 2002. Menyerasikan Perencanaan Pendidikan Tingkat Mikro dan Makro. ________. 2002. Mengembangkan Kabupaten/Kota. Kebijakan Pendidikan Tingkat

Dodi Nandika. 2007. Pendidikan di tengah gelombang perubahan. Jakarta: LP3ES. Djaenuri. 2003. Hubungan Pusat dan Daerah, Pusat Penerbitan Universitas Terbuka : Jakarta. Engkoswara, H., & Komariah, A. 2010. Administrasi Pendidikan. Alfabeta : Bandung. Fattah, Nanang (2000), Manajemen Berbasis Sekolah : Strategi Pemberdayaan Sekolah dalam Rangka Peningkatan Mutu dan Kemandirian Sekolah. Bandung : CV Andira _____________ 2004. Konsep Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) dan Dewan Sekolah. Bandung: Pustaka Bani Quraisy.

42

_____________ (2000) Manajemen Berbasis Sekolah : Ekonomi dan Pembiayaan Pendidikan. Bandung : Rosda Karya ____________. (2004) Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) dan Dewan Sekolah. Bandung : Pustaka Bani Quraisy ____________. (2006) Landasan Manajemen Pendidikan. Bandung : Rosda Karya George R. Terry & Leslie W. Rue (1999), Dasar-Dasar Manajemen, Alih Bahasa G. A. Ticoalu. Jakarta : Bumi Aksara Hasbullah (2006). Otonomi Pendidikan : Kebijakan Otonomi Daerah dan Implikasinya terhadap Penyelenggaraan Pendidikan. Jakarta : Rajawali

Hadi, Sutrisno. 1991. Metodologi Research Jilid I. Yogyakarta: Yayasan Penerbitan Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada. Hadiyanto. (2004), Mencari Sosok Desentralisasi Manajemen Pendidikan di Indonesia. Jakarta : Rineka Cipta Hasibuan, Malayu S.P. 1989. Manajemen: Dasar, Pengertian, dan Masalah. Jakarta: Haji Masagung. Himpunan Peraturan Perundang ± undangan. 2008. Standar Nasional Pendidikan. Fokusmedia : Bandung Himpunan Peraturan Perundang ± undangan. 2000. UU Otonomi Daerah 1999. Citra Umbara : Bandung. Husaini, Usman. 2006. Manajemen Teori, Praktik, dan Riset Pendidikan. Bumi Aksara, Jakarta. Ihsan, F. 2010. Dasar ± dasar Kependidikan komponen MKDK. Rineka Cipta : Jakarta. .............. 2010. Filsafat Ilmu. Rineka Cipta : Jakarta. Kambey, D. 2010. Landasan Teori Administrasi/Manajemen. Ganesha Nusantara : Jakarta Katono, K. 1997. Tinjauan Politik mengenai Sistem Pendidikan Nasional, Pradnya Paramita : Jakarta Ranupandojo. H, 1987.Teori dan konsep Manajemen.UPP AMPYKPN : Yogyakarta

43

Rifa'i, M. 2011. Sejarah Pendidikan Nasional dari Masa Klasik hingga Modern, Ar-RUZZMEDIA : Yogyakarta Rohman, A. 2009. Politik Ideologi Pendidikan. Laksbang Mediatama : Yogyakarta Rosyada, D. 2004. Paradigma Pendidikan Demokratis, Kencana Tirtarahardja, U., dan La Sulo L. 2008. Pengantar Pendidikan. Rineka Cipta : Jakarta. Widjaya. 1995. Administrasi Kepegawaian. Rajawali Pers : Jakarta. Wiiliams, Gareth. 1977. Towards Lifelong Education: A New Role for Higher Education Institutions. Paris : UNESCO

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful