P. 1
Budaya Bangsaku, Keberagaman-dd to Ali m

Budaya Bangsaku, Keberagaman-dd to Ali m

5.0

|Views: 132|Likes:
Published by komunitas_refki

More info:

Published by: komunitas_refki on Nov 11, 2008
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/09/2014

pdf

text

original

BUDAYA BANGSAKU: KEBERAGAMAN Kamana Arah Perjuangan Kita Indonesia, bangsa kita, ternyata banyak diminati oleh penduduk

dunia. Tidak hanya orang-orang Eropa (baca;Barat), atau orang Timur (china) tetapi juga oleh kawasan pusat kebudayaan Islam (baca;Timur Tengah). Mereka memandang bangsa kita sebagai bangsa yang menghargai budaya/multikultural. Inilah yang kemudian menjadi kekaguman mereka. Yang lalu oleh the funding father kita diterjemahkan dengan ideologi Pancasila. Sebagai Negara yang kaya budaya, Indonesia dianggap menjadi sumber investasi dalam pengertiannya yang luas. Baik investasi politik, ekonomi maupun budaya. Mereka pun memandang bahwa bangsa Indonesia memiliki banyak potensi. Karena itu bangsa kita menjadi perhatian utama dalam kasus/isu global. Teroris, misalnya, yang sekarang ramai dibicarakan jelang eksekusi Amrozi cs di Nusakambangan. Terbukti, negara kita menjadi tempat persemaian para teroris, sekalipun sampai hari ini kita tak tahu di mana gembong teroris itu. Atau, isu-isu lain yang pengaruhnya terhadap dunia cukup signifikan. Mungkin, kita pun masih ingat sejarah berdarah di negeri kita, peristiwa G/30 SPKI. Yang sesungguhnya sebuah ideologi luar yang mencoba masuk lewat jalur politik. Yang pengaruhnya sampai hari ini masih menyisakan kenistaan hidup bagi sebagian saudara kita karena dituduh komunis dan atau keturunannya. Belakangan, gelombang ideologi-ideologi dari luar itu semakin menjadi. Saking maraknya, hingga telah menjadi peristilahan kita sebagai ideologi trans-nasional (ideologi lintas negara). Layaknya seorang tamu Negara, ada tempat translit, penginapan (baca;pengembangan) sampai ke gerakan-gerakan akar rumput/masyarakat bawah. Yang menjadi percepatan berkembangnya ideologi trans-nasional ini adalah bergerak dalam ranah keagamaan, pemikiran dan budayanya. Yang pada gilirannya akan sama dengan gerakan komunis yang berujung pada kekuasaan (politik). Padahal, pada awalnya mengusung kemandirian ekonomi rakyat, tetapi berubah haluan sesuai hasrat para petingginya. Politik global, memang sedikit banyak telah mengajari kita tentang pentingnya menjaga keutuhan NKRI dengan pondasi keberagaman budaya. Tetapi, pada kenyataannya justru melemahkan kita (merugikan?). Bukankah Kemerdekaan bangsa kita tertunda oleh sebab itu?. Dan, pula insiden-insiden yang sekiranya menghambat proses kemajuan bangsa. Kadang kita pun latah. Kita terlampau membanggakan-banggakan isu seperti yang digulirkan oleh, misalnya, kelompok-kelompok gerakan, tanpa melakukan upaya-upaya dialogis sebagai dasar keberagaman bangsa kita. Warisan yang Terkoyak Padahal, perjuangan para pendahulu selalu mengedepankan kebersamaan untuk kepentingan negara-bangsa ini dalam menghadapi penjajah/kolonial yang berbagai jenisnya. Konferensi meja bundar, perjanjian linggarjati dan lain-lain adalah salah satu contoh nyata bahwa setiap kepentingan luar negeri harus secara terbuka dijelaskan kepada seluruh warga bangsa dalam melakukan kontrak politiknya. Hal ini demi keutuhan negara yang baru saja merdeka. Dalam hal apapun, selalu mendialogkan dengan semangat kebanggaan atas keragaman budaya dan tentu pula beragam pemikiran-pemikiranya. Inilah modal termahal utuhnya NKRI yang sekarang kita pun masih merasakannya. Bangsa Indonesia sekarang diakui sebagai bangsa yang paling demokratis ke 3 seluruh dunia. Subhanallah. Itu artinya keberagaman yang telah lama dibangun, diperjuangkan, dan dilestarikan, di negeri ini merupakan maha karya dari pejuang-pejuang dahulu kita. Islam pun Mengakui dan Menghargai Keberagaman Peristiwa besar Fathu Makkah telah menjadi bukti nyata dalam sejarah Islam untuk menegaskan pengakuan dan penghargaannya terhadap keragaman budaya, pemikiran dan kreasi lainnya. Bahkan Ibn Taymiyah pun mempertaruhkan Tuhan vis a vis sistem kenegaraan, beliau alih-alih berkata bahwa :”Tuhan menegakkan negara yang adil meskipun kafir, dan tidak akan bertahan dengan kezaliman sekalipun Islam”. (Al Amr bi Al Ma’ruf wa al Nahy ‘an al Munkar. hlm.64-65) Dr. Ir. ‘Imaduddin ‘Abdul Rahim (cendekiawan muslim Indonesia terkenal) mengumpamakan hubungan antara agama dan sosial sebagaimana hubungan antara petir dan masjid. Beliau menggambarkan sebuah kasino dengan penangkal petir yang baik akan lebih selamat dari kemungkinan disambar petir daripada sebuah masjid yang tanpa penangkal petir. Artinya, seorang kafir yang paham Sunnatullah dan melaksanakannya akan lebih terjamin memperoleh keselamatan dan sukses di dunia daripada seorang yang beriman yang tidak tahu Sunatullah dan karena itu tidak dapat melaksanakannya. Ibn Rusyd, dalam Fath al Maqal wa Taqrir ma bayn al Hikma wa al Syari’ah menjelaskan bahwa: ”Nabi pernah mengirim beberapa sahabat beliau ke Jundishapur, Persia, untuk belajar ilmu kedokteran dari kaum Hellenis di sana. Garis besar pokok pandangan ini”. Budaya global dan Tantangan Identitas Bangsa Agama dan negara meski tidak bisa dipisahkan tetapi dapat dibedakan. Indonesia bukan sekuler, tetapi juga tidak bisa dikatakan teokrasi. Dalam masalah agama, kita harus berpegang pada sumber-sumber yang suci, baik al Qur’an atau as Sunnah. Sementara itu, pada masalah keduniaan seperti kenegaraan, kita hendak mencapai sebuah kondisi yang madaniy seperti kala nabi berdiam di Madinah. Di sana nabi merayakan pluralitas dan menghayati pluralisme dengan keterbukaan, mengadakan public share,

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->