Selama kita tidak mampu untuk membela mempertahankan Sudan tetap bersatu, maka barangkali ini memberikan pelajaran

bagi kita. Barangkali pemisahan Sudan Selatan ini bukanlah akhir dari segalanya, namun ia bagian dari silsilah pemecahan dunia Islam-Arab dan pengepungan terhadap Mesir. (1) Sejak awal, para pemimpin gerakan Zionisme tahu bahwa minoritas di dunia Islam-Arab menjadi sekutu bagi Israel. Dengan begitu mereka merencanakan untuk membuat jembatan penghubung dengan kelompok minoritas ini. Orang-orang Zionis melakukan kontak dengan suku Kurdi di Irak, dengan penduduk Sudan Selatan, dengan Kristen Maronit Lebanon, suku Kurdi di Suriah dan Kristen Koptik di Mesir. Dalam rancangan tersebut, Zionisme berpegang pada prinsip sebagaimana ungkapan orang Arab, ³pecah belah, Anda akan berkuasa´ (sebagaimana yang dulu digunakan oleh penjajah Belanda menjajah Indonesia dengan nama politik devide et ampere, politik memecah belah, pent.). Para pemimpin Zionis memandang cara itu adalah cara yang paling jitu untuk memecah-belah dunia Islam-Arab dengan menciptakan sejumlah eksistensi separatis didalamnya. Dengan tujuan untuk membagi kekuatan di kawasan sehingga bisa membentuk negara-negara kecil yang menggerogoti persatuan dan kekuasaan kawasan. Untuk mempermudah bagi Israel bekerjasama dengan negara-negara tetangga non Arab. Yang kemudian dikuasainya satu demi satu. Hal ini dipertegas bahwa semua gerakan separatis yang dipelopori oleh kelompok-kelompok etnis di dunia Islam-Arab mendapat dukungan dan bantuan dari aparat Israel yang diberikan tugas sebagai penanggungjawab bagi gerakan-gerakan separatis tersebut. Sebagaimana yang terjadi dengan suku Kurdi di Irak dan gerakan separatis di Sudan Selatan. Sikap ini bisa membantu memahami strategi Israel terhadap kawasan Arab yang dijadikan target mendorong kelompok-kelompok minoritas untuk menampakkan jati dirinya, yang pada akhirnya bisa menentukan sendiri berpisah dari negara induk. Kondisi ini didukung lagi oleh situasi kawasan Arab, berbeda dengan apa yang diklaim oleh orang Arab sendiri, tidak memiliki kesatuan kebudayaan dan peradaban. Akan tetapi bercampur

Bahkan pada dasarnya tidak ada istilah semacam itu. Masih menurut mereka. dalam pandangan Israel. Biasanya Israel memandang kawasan Arab ini sebagai mozaik menggabungkan banyak suku. Hal itu dikarenakan nasionalisme Arab. Persia. Kurdi. adalah sebuah ide yang tidak jelas. kesatuan Arab itu cerita khayalan belaka. Protestan. Syi¶ah. Alawi. Israel akan memperoleh legalitasnya. Sunnah dan lain-lain. sesuai dengan orientasi di atas . Armenia. Dua hal ini yang menyatukan bangsa-bangsa yang menggunakan bahasa Inggris dan Spanyol tanpa harus menciptakan bangsa yang satu. Karena. Memang benar. Kedua: Pembenaran bagi legalitas eksistensi Zionis Israel di kawasan. akan tetapi berperilaku sebagai negara-negara yang terpisah. maka Israel menjadi kesatuan dari kebangsaan dan bahasa. Sehingga histori yang sesungguhnya adalah sejarah minoritas masing-masing. etnis dan sekte. Maronit. orang Arab berbicara tentang bangsa yang satu. Peta kawasan di mata Israel adalah sebuah tanah dihuni oleh sekelompok minoritas yang tidak memiliki sejarah yang bisa menyatukannya. karena menjadi salah satu negara nasionalis di kawasan. namun penulis ingin mengutip teks dari buku berjudul ³Israel dan gerakan pembebasan Sudan Selatan´ yang diterbitkan tahun 2003 oleh pusat kajian timur tengah dan afrika ³Dayan´.dan beragam kebudayaan. Menurut Israel. Dari sisi ini. Yahudi. yang menyatukan mereka adalah bahasa dan agama. mantan kanselir dinas intelijen luar negeri Israel. memiliki rasa tersendiri. bukan kesatuan di kawasan tersebut. ditulis oleh Moshe Fergi. Ada Arab. Tujuan dari itu adalah mewujudkan dua target utama. . Mossad. agama dan etnis. Baha¶i. Israel. Turki. Maka suatu hasil yang masuk akal adalah menjadikan setiap bangsa mempunyai negaranya sendiri-sendiri. Penulis sudah sering mengutip tulisan Moshe. Druz. (2) Penulis bukan pemilik paragraf-paragraf lama. yaitu: Pertama: Menolak pemahaman nasionalisme Arab yang menyerukan kesatuan Arab. akan tetapi penulis menilai mengulang kembali tulisan itu di saat penting sekarang ini. Sementara membayangkan adanya satu kesatuan antara Israel dengan negara-negara Arab adalah suatu hal yang mustahil. bahasa.

Disana ada prediksi Israel sejak kemerdekaan Sudan di pertengahan tahun 50-an bahwa negara ini tidak diizinkan. Ketika ditanya tentang masa depan Sudan. untuk menjadi kekuatan tambahan bagi kekuatan dunia Arab. Karena situasi di Sudan Selatan . Perlu juga diketahui Sudan pernah mengirim ke wilayah Qina ketika perang habis-habisan yang dikumandangkan oleh Mesir melawan Israel tahun 1968 dan 1970.´Disana ada kekuatan dunia yang dipimpin oleh Amerika bersikeras untuk melakukan campur tangan intensif di Sudan agar wilayah Sudan Selatan bisa merdeka. Dalam kesaksian itu menyebut Sudan dalam ceramahnya di tahun 2008 di depan sekolah tinggi riset keamanan nasional Zionis. tambah Dighter. Teman kita ini bercerita tentang Sudan seperti berikut. Avi Dighter. Karena sumber alamnya. Dalam kaitan prediksi itu. Penulis meminta izin sementara memasukan ³iklan singkat´ dari tulisan Fergi untuk kita membaca teks lain mengutip kesaksian mantan menteri keamanan dalam negeri Israel. (Perlu dicatat bahwa ceramah itu disampaikan pada tahun 2008 setelah sekitar 30 tahun dari perjanjian damai antara Mesir dan Israel tahun 1979). krisisnya tajam susah untuk dicarikan solusinya. Israel harus berusaha untuk melemahkan Sudan dan mencabut inisiatif dari Sudan karena ketidakmampuannya membangun negara kuat bersatu. jika terus berjalan dalam kondisi stabil. Israel berikut kekuatan dan aparat yang dimilikinya akan mengarah ke wilayah Sudan untuk memperbesar dan mempertajam krisis di negara itu. dalam pandangan Israel merupakan wilayah strategis bagi Mesir.Karena kita tengah menanti panen yang sudah ditanam oleh Israel dan pasukan dunia yang mendukungnya sejak tahun 50-an abad lalu. walaupun jauh dari kita. Jika memang terjadi krisis. Sudan. Prespektif strategis Israel ini akan membentuk salah satu kebutuhan mendukung dan mengorganisasi keamanan nasional Israel. ia akan menjadi kekuatan yang patut diperhitungkan. orang Israel ini menjawab dengan mengatakan. Begitu juga wilayah Darfur. sama seperti yang terjadi dengan Kosovo. Mesir dan Libya berubah menjadi markas latihan dan tempat penyimpanan senjata pasukan udara dan darat Mesir. Atas kedua alasan di atas. Hal ini nampak jelas pascaperang tahun 1967 dimana Sudan.

Israel konsen pada bantuan kemanusiaan (obatobatan. Pada fase ini juga Israel sengaja memperluas jaringan dukungannya kepada kelompok separatis yaitu dengan mensiplai senjata kepada mereka melalui wilayah Uganda. sebagian besar adalah senjata-senjata ringan buatan Rusia yang diperoleh Israel dari sisa-sisa rampasan perang dengan Mesir tahun 1956. Padahal target utamanya adalah menggalang kelompok-kelompok yang berpengaruh di masyarakat untuk dilatih melanggengkan ketegangan. dilakukan melalui 5 fase. Israel konsen dengan unsur-unsur militer rakyat dan melatihnya seni berperang di markas-markas khusus yang dibangun di Ethiopia. dalam catatan Fergi. Fase Kedua: (awal tahun 60). yaitu: Fase Pertama: dimulai pada tahun 50-an. langsung setelah berdirinya negara Israel. (3) Dukungan Israel kepada kelompok separatis Sudan Selatan. Sejumlah komandan intelijen Israel yang bermarkas di Uganda membuka kontak hubungan dengan kepala-kepala suku untuk mengkaji peta penduduk di kawasan. upaya pertama kali untuk menciptakan friksi antar suku di Sudan Selatan untuk memperuncing konflik. Pada fase ini. yang mencapai hampir satu dekade. Pada fase ini.tidak banyak berbeda dengan kondisi di Kosovo karena kedua wilayah ini sama-sama ingin merdeka dan menentukan nasib sendiri setelah penduduk kedua wilayah tersebut berperang demi merebut kemerdekaan tadi. pemerintah Israel memiliki keyakinan bahwa melibatkan Sudan dalam perang internal sudah cukup merepotkan mereka daripada membantu Mesir dalam konflik dengan Israel. Perjanjian pertama untuk pengiriman senjata diteken tahun1962. Aksi-aksi . Organisasiorganisasi misionaris melakukan aktivitas yang kentara di Sudan Selatan. Dengan demikian bisa mendorong Sudan Selatan untuk pisah. Selama masa itu. bahan-bahan makanan dan dokter) juga konsen memberikan pelayanan kepada pengungsi yang kabur ke Ethiopia. Hal ini mendorong Israel untuk mengirimkan unsur-unsur intelijennya ke selatan dibawah naungan lembagalembaga bantuan kemanusiaan untuk memberikan bantuan kemanusiaan.

Disambut di Tel Aviv dan dibekali dana serta senjata. Pada awal 70-an jendela lain secara resmi dibuka untuk menyampaikan bantuan Israel ke Sudan Selatan melalui Uganda. Dalam fase ini suplai senjata ke orangorang Selatan terus berdatangan melalui kurir penjual senjata Israel bernama Gabi Shavin yang bekerja untuk pihak intelijen. Israel juga mendirikan sekolah bagi komandan invanteri di (Wanji ± Kabul) untuk mencetak kader-kader terbina untuk memimpin faksi-faksi separatis. Sebelumnya beberapa kelompok Israel ikut serta dalam sejumlah perang untuk menampilkan pengalaman mereka kepada orangorang selatan. Israel bersikeras untuk melatih pendukung Garang dengan berbagai seni perang. Pada fase ini juga beberapa kelompok separatis selatan dikirim ke Israel untuk mendapatkan latihan militer. Ethiopia dan Kenya. Mereka mengirimkan truk-truk kontener berisikan senjata buatan Rusia ke kelompok separatis selatan yang mereka peroleh dari rampasan perang dengan Mesir tahun 1967. . Kemudian mendorong mereka untuk ikut serta dalam perang di perbatasan Sudan. Bantuan dan dukungan semakin bertambah setelah Ethiopia menjadi perlintasan terorganisir untuk suplai senjata ke Sudan Selatan. Pesawat-pesawat cargo Israel menjatuhkan senjata dan alat-alatnya itu ke lapangan markas separatis di Orang K Bol. Fase Keempat: dimulai akhir 70-an hingga tahun 80-an didalamnya terjadi berbagai perubahan di benua Afrika yang tak menghentikan dukungan Israel bagi kelompok separatis. Ketika nampak gerakan separatis ini hampir habis tahun 1969. Di antara mereka yang dilatih adalah para pilot menggunakan pesawat-pesawat tempur ringan. Pada fase ini muncul sosok John Garang sebagai pemimpin yang didukung penuh oleh Israel. Mereka menggunakan segala cara dan makar yang bertujuan meyakinkan orang-orang selatan bahwa mereka tengah terlibat konflik kebangsaan yang menentukan antara utara yang berkebangsaan Arab muslim lagi penjajah dengan selatan yang berkebangsaan negro Afrika Kristen dan tak beragama yang mengalami berbagai penderitaan akibat perampasan serta ketidakadilan.pelatihan pasukan Sudan Selatan terus berlangsung di Uganda. Israel habis-habisan mendorong kelompok separatis melanjutkan peperangannya. Fase Ketiga: yaitu dari pertengahan 60-an hingga 70-an.

) telah mencakup berbagai sektor. Pihak Israel membekali orang-orang selatan dengan senjata-senjata berat anti tank dan pelontar anti pesawat. Israel tidak pernah meninggalkan Sudan Selatan sedikitpun sejak separuh abad lamanya. Catatan lain yang perlu diperhatikan adalah gerakan separatis di Sudan Selatan itu mulai muncul tahun 1955.Fase Kelima: dimulai awal tahun 1990 dan di fase ini dukungan Israel terus berlanjut dan diperluas jangkauannya. Juga perjanjian Mashcos I itu atas inisiatif yang diajukan oleh Amerika. (4) Seperti yang pembaca lihat. Sejak lebih dari separuh abad. Truk-truk kontener mulai masuk ke selatan melalui Kenya dan Ethiopia. persenjataan. informasi atau mengawasi pelatih-pelatih Israel dalam aksi-aksi militer. Perjanjian Nevasha yang ditandatangani oleh pemerintahan Khartoum dengan kelompok separatis yang dimediasi oleh pemerintah Amerika. Norwegia. . Naerobi dan Aboja ibukota Nigeria. Israel telah mempersiapkan pemisahan Sudan Selatan dengan suplai senjata di satu sisi dan di sisi lain dengan tekanan serta berbagai permainan kotor. Perjanjian damai ini berhasil dilakukan melalui serangkaian perundingan-perundingan alot di Adis Ababa. Di antara catatan yang lain adalah di saat Israel mendukung penuh kepada orang-orang Selatan dengan suplai senjata. tapi haram bagi orang Palestina. pent. Baik yang berkenaan dengan pendanaan. dengan kesaksian mereka sendiri. Bersamaan awal tahun 1993 koordinasi antara Israel dengan militer rakyat (Gerakan Rakyat untuk Pembebasan Sudan/SPLM pimpinan John Garang. maka negara-negara Barat terus berupaya melalui upaya diplomatik untuk merancang pemisahan Sudan Selatan dengan cara referendum. Itu berarti bahwa separatisme saat muncul tidak ada hubungannya dengan ide penerapan syariat Islam yang didengungkan oleh pemerintahan penyelamatan Sudan (Bashir dan Turabi) tahun 1989. Jika seperempat upaya dunia ini dikerahkan untuk mencarikan solusi bagi Palestina tentu sudah selesai isu tersebut dan orang-orang Palestina bisa mendapatkan hak-haknya kembali sejak dari dulu. yaitu satu tahun sebelum pengumuman kemerdekaan tahun 1956. pelatihan. Inggris dan organisasi Egad. Akan tetapi keputusan untuk menentukan nasib sendiri dan merdeka adalah halal bagi orang-orang Sudan Selatan.

sesungguhnya siapa saja yang menanam pasti akan mendapatkan hasil kemerdekaan. Sedangkan siapa yang hanya bisa menjadi penonton dan putus asa akan mendapatkan kekecewaan. Sementara bangsa Arab hanya bisa menjadi penonton saja dan putus asa melihat apa yang terjadi itu. Intinya.Mereka sudah merencanakan untuk pemisahan dan sudah bisa mewujudkan apa yang mereka inginkan. . yang ini penulis harapkan tidak terulang kembali di tahun baru ini.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful