BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah Bahwa qias adalah hukum syar’i yang dapat menjadi hujjah dalam menetapkan suatu hukum. Qias adalah membandingkan sesuatu kepada yang lain dengan persamaan illatnya.

B. Tujuan Qias dipergunakan untuk menetapkan hukum suatu masalah, jika tidak terdapat dalam Al-Qur’an dan hadis dapat ditetapkan dengan mempergunakan Qias. Illat merupakan penyebab adanya hukum; artinya suatu illat menyebabkan munculnya hukum.

1

BAB II LANDASAN TEORI

A. Qiyas 1. Pengertian Qias adalah membandingkan sesuatu kepada yang lain dengan persamaan illatnya. Menurut istilah agama, qias yaitu mengeluarkan (mengambil) suatu hukum yang serupa dari hukum yang telah disebabkan (belum mempunyai ketetapan) kepada hukum yang telah ada / telah ditetapkan oleh kitab dan sunnah, disebabkan sama ‘illat antara keduanya (asal & furu). 2. Kedudukan Qias Menurut jumhur ulama qias adalah hukum syara’ yang dapat menjadi hujjah dalam menetapkan suatu hukum dengan alasan-alasan. a. Firman Allah SWT





Artinya : Maka ambillah (Kejadian itu) untuk menjadi pelajaran, Hai orang-orang yang mempunyai wawasan. (Q.S. Al-Hasyr : 2) Kalimat yang menunjukkan di atas dalam ayat ini menjadi pandangan berarti membandingkan antara hukum yang tidak disebutkan dengan hukum yang telah ada ketentuannya.

2

b.

Firman Allah SWT

Artinya : “Sesungguhnya Allah menyuruh dengan cara yang adil dan cara yang baik”. (QS. An Nahl : 9) Yang menjadi qias dalam ayat di atas ini yaitu kalimat “al adli” berarti membandingkan suatu hukum dengan yang lain karena adanya persamaan antara keduanya, sebab : adil = sama dan qias = sama antara keduanya. 3. a. Macam-Macam Qias Qias Aula Yaitu illat yang terdapat pada qias (furu’) lebih aula daripada illat yang ada pada tempat mengqiaskan. Oleh sebab itu, hukum yang diqiaskan lebih aula (besar) dari hukum yang ada pada tempat mengqiaskan, seperti mengqiaskan memukul kepada kata-kata yang kurang terhadap ibu bapak, karena illatnya menyakiti maka hukumnya maka hukumnya sama-sama berdosa.

       
Artinya : Maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya Perkataan "ah". (Q.S Al-Isra’ : 23) b. Qias Musaway Yaitu illat yang terdapat pada yang diqiaskan (faru’) sama dengan illat yang ada pada tempat mengqiaskan (asal) karena itu hukum keduanya sama. Seperti mengqiaskan membakar harta anak

3

yatim dengan memakannya karena illatnya sama-sama menghabiskan (melenyapkan).

                   
Artinya : Sesungguhnya orang-orang yang memakan harta anak yatim secara zalim, sebenarnya mereka itu menelan api sepenuh perutnya dan mereka akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala (neraka). (Q.S.An-Nisa : 10) c. Qias dhalalah Yaitu illat yang ada pada qias menjadi dalil (alasan) bagi hukum tetapi tidak diwajibkan baginya (furu’) seperti mengqiaskan wajib zakat pada harta anak-anak kepada orang dewasa yang telah sampai senisab, tetapi bagi anak-anak tidak wajib mengeluarkan zakatnya diqiaskan pada haji tidak diwajibkan atas anak-anak. d. Qias syabah Yaitu menjadikan yang diqiaskan (furu’) dikembalikan kepada antara dua asal yang lebih banyak persamaan antara keduanya. Seperti mengqiaskan budak dengan orang yang merdeka, karena sama-sama manusia. e. Qias Adwan Yaitu yang diqiaskan (furu’) terhimpun pada hukum yang ada pada tempat mengqiaskan, seperti mengqiaskan memakai perak bagi laki-laki kepada memakai emas.

4

B. Illat 1. a. Pengertian Secara etimologi adalah nama bagi sesuatu yang

menyebabkan berubahnya keadaan sesuatu yang lain dengan keberadaannya. b. Secara terminologi

1. Imam Al-Ghazali mengemukakan Illat, yaitu : Sifat yang bepengaruh kepada terhadap hukum bukan karena zatnya melainkan atas perbuatan syar’i. Illat hanya merupakan penyebab adanya hukum artinya adanya suatu illat menyebabkan munculnya hukum. 2. Al-Amidi Motif terhadap hukum artinya illat itu mengandung hikmah yang layak menjadi tujuan syar’i dalam menetapkan suatu hukum. 3. Mu’tazilah Sifat yang secara langsung mempengarui hukum bukan atas kehendak atau perbuatan Allah. Kesimpulan illat adalah sesuatu yang menyebabkan timbulnya atau munculnya hukum. 2. Macam-Macam Illat 1. Dari segi mendapatkan

5

a.

Al Mansbushash yaitu illat yang dikandung oleh nash,

seperti larangan menyimpan daging kurban. b. Mustanbatbab yaitu illat yang digali oleh mujtahid dari

nash sesuai dengan kaidah-kaidah yang ditentukan dan sesuai dengan kaidah-kaidah bahasa arab. Seperti, potong tangan untuk pencuri. 2. Dari segi cakupan a. Al-Muta’addiyab yaitu illat yang ditetapkan suatu nash dan

bisa ditetapkan pada kasus hukum lainnya. Misalnya, unsur memabukkan dalam wisky dan khamar. b. Al Qasbirab yaitu illat yang terbatas pada suatu nash saja

tidak terdapat dalam kasus lain seperti : riba dalam memperjual belikan yang sejenis adalah nilainya. 3. Syarat-syarat Illat 1. Illat itu mengandung motivasi hukum bukan sekedar tanda-tanda atau indikasi hukum. 2. Illat itu dapat di ukur dan berlaku untuk semua orang. 3. Illat itu jelas, nyata dan bisa ditangkap indera manusia karena illat merupakan pertanda adanya hukum. 4. Illat itu merupakan sifat yang sesuai dengan hukum. 5. Illat itu tidak bertentangan dengan nash atau ijma’. 6. Illat itu bersifat utuh dan berlaku secara timbal balik. 7. Illat itu tidak datang belakangan dari hukum asli.

6

8. Hukum yang mengandung illat tidak mencakup hukum furu’. 9. Illat itu terdapat dalam hukum syara’. 10. Illat itu tidak bertentangan dengan illat yang lain yang posisinya lebih kuat. 11. Apabila illat itu diistimbatkan dari nash, maka ia tidak menambah nash itu sendiri. 12. Illat itu bisa ditetapkan dan diterapkan dalam kasus lain. 4. Cara mencari Illat 1. Melalui nash 2. Melalui ijma 3. Melalui al ma’wa al-tanbih yaitu penyertaan sifat dengan hukum dan disebutkan dalam lafaz. 4. Melalui al-sibr wal al taqsim Sibr yaitu penelitian dan pengujian yang dilakukan mujtahid terhadap beberapa sifat yang terdapat dalam suatu hukum. Taqsim adalah upaya mujtahid dalam membatasi illat pada satu sifat dari beberapa sifat yang dikandung oleh suatu nash. 5. Munasabah yaitu sifat nyata yang terdapat pada suatu hukum, dapat di ukur dan dapat di nalar, merupakan tujuan yang dikandung oleh hukum itu, yaitu berupa pencapaian terhadap suatu kemaslahatan atau penolakan terhadap kemudharatan, contoh : perbuatan zina.

7

6. Melalui tanqib al manath yaitu upaya seorang mujtahid dalam menentukan illat dari berbagai sifat yang dijadikan illat oleh syar’i dalam berbagai hukum. 7. Al-tbard yaitu pernyataan hukum dengan sifat tanpa adanya keserasian antara keduanya, contoh; dikatakan hukumlah yang pincang itu. 8. Al-Syabab yaitu sifat yang mempunyai keserupaan. 9. Dauran yaitu suatu keadaan dimana ditemukan hukum apabila bertemu sifat dan tidak terdapat hukum ketika sifat itu ditemukan. 10. Ilgha al farid yaitu terdapat titik perbedaan antara sifat dengan hukum tetapi titik perbedaan itu dibuang sehingga yang tinggal hanya kesamaannya.

8

BAB III PENUTUP

A.

Kesimpulan

1. Qiyas adalah perbandingan, yaitu membandingkan sesuatu kepada yang lain dengan persamaan illatnya. 2. Macam-macam Qiyas : a. b. c. d. e. Qias aula Qias musaway Qias dhalalah Qias shabah Qias adwah

3. Illat adalah sesuatu yang menyebabkan timbulnya hukum. 4. Macam-macam illat a. Dari segi cara mendapatkan b. Dari segi cakupan

B.

Saran

9

Kami sebagai penulis mencukupkan makalah ini dan mengharapkan kritikan, saran-sarannya terhadap kekurangan makalah ini. Semoga makalah ini bermanfaat khususnya bagi penulis dan kita semua pada umumnya. Dan penulis memanjatkan puji syukur kepada Allah SWT dan atas rahmatNya dan ridhoNya penulis dapat menyelesaikan makalah ini. Terima kasih kepada teman-teman yang telah memberikan petunjuk yang bermanfaat sehingga mempermudah dalam menyelesaikan makalah “ushul fiqh” yang berjudul qiyas dan Illat.

10

DAFTAR PUSTAKA

Prof. Dr. H. Nazar Bakry. Fiqh & Ushul Fiqh. 2003. PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta. Prof. Dr. Rachmat Syafei, MA. Ilmu Ushul Fiqh. 2007. Pustaka Setia, Bandung.

11

KATA PENGANTAR

Alhamdulillah Puji dan syukur penulis ucapkan kepada Allah SWT yang telah memberikan taufik dan hidayahNya. Shalawat dan salam penulis haturkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW dan atas keluarga dan sahabatnya serta orang-orang yang mengikuti perjuangan mereka akhir zaman. Dengan rahmat dan karuniaNya penulis dapat menyelesaikan makalah ini yang berjudul “Qiyas dan Illat”. Penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu penulisan makalah ini. Semoga makalah ini menjadi amal baik yang mendapatkan balasan kebaikan yang tiada hentinya dari Allah SWT Amin. Semoga segala amal baik ini mendapat pahala yang berlipat ganda dari Allah SWT dan mudah-mudahan makalah ini bemanfaat bagi banyak orang membacanya dan penulis sendiri.

Pariaman, Desember 2009 Tertanda

12

Kelompok VII

DAFTAR ISI i KATA PENGANTAR ....................i DAFTAR ISI ........................................................................................................ii BAB I PENDAHULUAN ....................................................................................1 A. Latar Belakang Masalah ..................................................................................1 B. Tujuan ..............................................................................................................1 BAB II LANDASAN TEORI ..............................................................................2 A. Qiyas ................................................................................................................2 B. Illat ...................................................................................................................5 BAB III PENUTUP ..............................................................................................9 A. Kesimpulan ......................................................................................................9 B. Saran ................................................................................................................9 DAFTAR PUSTAKA

13

MAKALAH ii Tentang QIYAS DAN ILLAT

DISUSUN OLEH : MURNI NURJANID LELI HAFNI NURSAID KEMAL RATNA PUSPITA DEWI

DOSEN PEMBIMBING : SUDIRMAN, S.Ag

14

SEKOLAH TINGGI ILMU TARBIYAH SYEKH BURHANUDDIN PARIAMAN (STIT-SB) 2010

15

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful