P. 1
SKRIPSIQ

SKRIPSIQ

|Views: 1,439|Likes:
Published by Unik Saguni

More info:

Published by: Unik Saguni on Jan 24, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

08/09/2013

pdf

text

original

Sections

  • BAB 1
  • PENDAHULUAN
  • A. Latar Belakang
  • B. Rumusan Masalah
  • C. Batasan Masalah
  • D. Tujuan penulisan
  • E. Manfaat Penelitian
  • F. Tinjauan Penelitian terdahulu
  • G.Metodologi Penelitian
  • 1. Heuristik
  • 1.1 Penelitian lapangan
  • 1.2 Penelitian kepustakaan
  • 2. Kritik sumber
  • 3. Interpretasi
  • 4. Historiografi
  • BAB II
  • GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN
  • A. Sejarah Tana Toraja
  • B. Letak Geografis
  • C. Agama dan kepercayaan
  • D. Sistem Sosial Masyarakat
  • BAB III
  • PEMERINTAHAN TONGKONAN ADAT SEBELUM MASUKNYA
  • BELANDA
  • A. Karakteristik Pemerintahan Tongkonan Adat sebelum masuknya Belanda
  • B. Peranan Tongkonan Adat Dalam Kehidupan Masyarakat
  • BAB IV
  • PEMERITAHAN TONGKONAN ADAT SETELAH MASUKNYA
  • A. Latar Belakang Masuknya Belanda di Tana Toraja
  • 1. Perlawanan Pong Tiku
  • 2. Perang Benteng Alla¶ dan Ambeso
  • 3. Perlawanan Pong Simping
  • B. Penataan Kembali Wilayah Pemerintahan di Tana Toraja
  • C. Struktur Pemerintahan Tana Toraja setelah masuknya Kolonial Belanda
  • D. Kehidupan Sosial Masyarakat Tana Toraja
  • 1. Bidang ekonomi
  • 2. Dalam bidang pendidikan
  • 3. Bidang sosial budaya
  • BAB V
  • PENUTUP
  • A. Kesimpulan
  • B. Saran

1

BAB 1 PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Pada awal tahun 1905 Pemerintahan Hindia Belanda berusaha memperluas kekuasaanya yang sasaranya adalah daerah luar Pulau Jawa seperti Sulawesi Selatan, Bali, Tapanuli, Lombok, Kalimantan. Belanda mulai menuju Luwu tahun 1905 setelah menaklukan Kerajaan Bone, Gowa, Soppeng, Sidenreng, dan Kerajaan Rappang. Pada waktu itu Luwu berada di bawah kekuasaan Andi Kambo Opu Daeng Risompa. Tentara Belanda menggunakan bantuan kaki tangan bernama Daeng Paroto,untuk maksud berdamai didalam perdagangan tetapi disambut dengan senapan oleh Datu Luwu karena keinginan Belanda untuk menguasai daerah Kerajaan Luwu sudah diketahui oleh rakyat Luwu melalui informasi dari daerah yang pernah didudukinya (Idwar,2005:73). Tana Toraja pada awal 1905 merupakan bagian dari Kerajaan Luwu sebagaimana yang diungkapkan oleh (Mattata,1962:125) bahwa; ³Setelah Belanda dapat mematahkan perlawanan Andi Tadda Opu Papalai Punjalae dan melumpuhkan perlawanan Opu Topawennei Ma Kole Baebunta,kemudian Belanda mengarahkan dari Palopo , satuan tentara yang kuat menuju Tanah Toraja yang indah alamnya itu untuk menggempur Pong Tiku gelar Ne Baso,seorang bangsawan Toraja dan Pahlawan Luwu di Bagian Tanah Toraja ,yang juga menentang dan tidak mau tunduk kepada Belanda.´

2

Setelah melalui berbagai peperangan,militer Belanda berhasil menguasai kerajaan-kerajaan di Sulawesi Selatan dengan mengeluarkan perjanjian Korte Verklaring (Pernyataan Pendek) yang isinya agar semua kerajaan tunduk dan patuh pada Pemerintahan Hindia Belanda serta bersedia meniadakan kekuatan militer mereka.(Tangdilintin,2009:69) Usaha perluasan kekusaan Belanda sampai ke Sulawesi Selatan termasuk Tana Toraja yang dulunya dikenal dengan nama ³Tondok Lepongan Bulan Tana Matarik Allo´. Belanda melakukan perluasan khususnya ke Tana Toraja karena daerah ini merupakan daerah yang potensial untuk penanaman modal dibidang pertanian khususnya perkebunan kopi. Setelah Luwu dikuasai,maka tentara pendudukan Kolonial

Belanda,menganggap Daerah Tana Toraja dapat dikuasai dengan mudah,tetapi ternyata usaha untuk menguasai Daerah Tana Toraja mendapat perlawanan yang cukup sengit oleh masyarakat Tana Toraja terutama oleh Siambeq Pong Tiku atau yang lebih dikenal dengan nama Ne Basoq, seorang diantara pemimpin atau penguasa adat tertinggi di Daerah Bagian Utara Tana Toraja dan Ma¶dika Bombing bersama adiknya Uaq Saruran,seorang penguasa atau pemimpin tertinggi di Daerah Bagian Selatan Tana Toraja.(Mappangara,2004:74) Tana Toraja pada permulaan Tahun 1905 belum mengenal bagaimana bentuk dan cara dari Pemerintahan Belanda itu sendiri, tetapi bagi raja-raja yang ada di sekitar pantai telah mengetahui bagaimana watak dan karakter dari penjajah

Belanda tersebut. Oleh sebab itu dengan segala cara dan kemampuan yang

3

dimiliki mereka bertekad melawan Belanda jika kedaulatan mereka dilanggar oleh pemerintah Belanda tersebut. (Tangdilintin,1978:217) Akhir tahun 1905 Belanda memasuki Daerah Bugis antara lain Enrekang dan Luwu,sementara Pong Tiku dan Pong Maramba yang dikenal sebagai

pasukan penghancur Belanda dan beberapa Raja-Raja Bugis lainya mengadakan pertemuan rahasia di Rantepao untuk menyusun strategi manghadapi Belanda. (Zainuddin,2004;158). Dari Rantepao serangan dilancarkan terhadap pertahanan Pong Tiku,pada bulan April 1906 di Daerah Panggala.Pada bulan Juni 1907 Pong Tiku ditembak oleh pasukan Belanda di pinggir Sungai Sa¶dan di Rantepao,ketika sedang mandi (Abduh,1981;154). Dengan meninggalnya Pong Tiku berarti perlawanan terhadap Belanda semakin kendor,dengan demikian peluang Belanda menanamkan kekuasaanya di Tana Toraja semakin terbuka. Setelah situasi di Tana Toraja dirasa cukup baik, maka Belanda mulai menata pemerintahanya dengan baik. Setelah Pemerintah Belanda menguasai seluruh kerajaan di Sulawesi Selatan, Belanda membuat perubahan-perubahan atas Negeri yang sudah dikuasai,daerahdaerah yang sudah dikuasai oleh Belanda dinamakan Onder Affdeling wilayahnya meliputi , Balanipa, Bikeheru, Bulukumba, Bantaeng, Binamu , Bangkala ,Takalar , Tallo, ParaloE, Maros , Pangkajene dan Selayar. (Mattulada,1988:382). Tana Toraja dalam perjalanan sejarahnya mengalami beberapa perubahan penting yaitu tahun 1909-1942 Tana Toraja dibawah Pemerintahan Kolonial Belanda ,tahun 1942-1945 berstatus Onder Affdeling, 1949-1951 terbentuk sebagai Tongkonan

yang berarti bahwa dalam satu perkampungan akan dihuni oleh orang-orang yang berasal dari satu leluhur atau nenek moyang.4 adat atau pemerintahan sendiri. untuk Lembang yang dianggap sebagai lembang pertama dibangun di antara Lembang lainya.dan peranan tongkonan dengan jabatan adat itu diterapkan dengan sistem kekeluargaan dan kegotongroyongan maka dikenallah gelar jabatan adat yang umum didalam masyarakat Tana Toraja ialah Toparenge¶ (Pemikul tanggung jawab). Kondisi alam Tana Toraja yang berada di daerah pegunungan dengan topografi dan geologis yang bervariasi menyebabkan pola pemukiman suku Toraja sangat bervariasi.tahun 1951-1957 berkedudukan sebagai Lenschap atau kewedanan.1978:11) .maka Tongkonan yang ada di Lembang tersebut dinamakan Tongkonan Layuk yang berarti Tongkonan yang pertama di bangun. Pola pemukiman masyarakat Toraja membentuk Lembang yang berpatokan pada Tongkonan.(Tangdilintin. Pusat dari Lembang tersebut adalah Tongkonan yang dipimpin oleh seorang kepala suku atau to Parengngek. Tongkonan pada zaman dahulu dianggap sebagai pusat pemerintahan adat. Masyarakat yang bermukim di daerah lembah dan daerah yang relative datar. pola pemukimanya adalah mengelompok secara terpusat dan Tongkonan sebagai titik pusat yang dikelilingi rumah dan bangunan-bangunan Sosial lainya.2003:3) Sebelum Tana Toraja dikuasai oleh Belanda struktur kelompok suku Toraja yang mempunyai bentuk tersendiri yaitu seluruh peranan dan kekuasaan adat itu berpusat atau terpancar dari peranan tongkonan. (Hasanuddin. Sejak zaman dahulu Lembang orang Toraja dibangun berdasarkan adanya hubungan kekerabatan.Aturan-aturan .

1986:23) Dari ketiga daerah persekutuan adat ini masing-masing mempunyai lagi beberapa kelompok adat yang dikuasai oleh suatu badan yang dinamakan kombongan ada¶.Ketiga daerah ini masing-masing berdiri sendiri tapi merupakan satu kesatuan dalam persekutuan kombongan basse lepongan bulan yang ketiganya mempunyai kedudukan yang sama. Dari daerah lembang masingmasing mempunyai pula satu badan kombongan yang dinamakan kombongan . termasuk bidang kepemimpinan oleh sebab itu sistem pemerintahan dan kekuasaan tradisional di Tana Toraja dapat disebut sebagai sistem pemerintahan dan kekuasaan Tongkonan. Daerah adat bagian timur yang dinamakan daerah adat Diambe¶i atau sekarang dinamakan daerah adat pekamberan Daerah adat bagian tengah dinamakan daerah adat dipuangi atau yang sekarang dinamakam daerah adat kapuangan Daerah adat bagian barat yang dinamakan daerah adat Dima¶dikai atau sekarang dinamakan pula daerah adat kama¶dikaan. Adapun sistem pemerintahan Tongkonan terbagi dalam tiga daerah adat besar sejak terciptanya Aluk Sanda Saratu dan Aluk 7777 dari Banua Puan(Tongkonan pertama) sebagai landasan terbaginya Tondok Lepongan Bulan Tana Matarik Allo. Sistem ini membagi wilayah adat dalam tiga daerah yaitu. 3. 1.(Tandilintin.5 Sistem dan struktur pemerintahan tradisional di Tana Toraja dapat dilihat pada Tongkonan yang merupakan gambaran dalam sistem pemerintahan maupun dalam berbagai aspek kehidupan baik secara individu atau pun masyarakat. 2. Dari tiap-tiap kombongan ada¶ mempunyai beberapa pemerintahan adat kecil yang dinamai lembang.

3. Mengapa penulis memilih judul ³Pemerintahan Tongkonan Adat Pada Masa Kolonial Belanda di Tana Toraja (1905-1942)´ mengingat bahwa Tana Toraja adalah bagian dari bangsa dan Negara Republik Indonesia yang memiliki . 2.6 lembang yang sewaktu-waktu dapat bersidang untuk membicarakan kepentingan lembang yang dihadiri oleh seluruh penguasa adat.Dalam seluruh daerah Tana Toraja dewan pemerintahan penanian bernama to Parengnge¶ artinya orang yang memikul tanggung jawab adapun ketua-ketua dewan pemerintahan penanian sama saja dengan gelar daerah bua¶ atau lembang yaitu: 1. Dibawah penguasa Bua¶ terdapat sekurang kurangnya daerah Penanian yang terdiri dari seorang ketua dan tiga orang anggota. Daerah adat ma¶dika memakai gelar ma¶dika untuk daerah adat penanian. Tana Toraja masuk ke dalam Afdeeling Luwu dengan nama Onder Afdeeling Makale Rantepao. Daerah adat Pekamberan memakai gelar sokkong bayu untuk ketua dewan penanian dan to parengnge¶ sebagai anggota dewan Sejak Belanda menguasai Tana Toraja daerah ini terbagi dalam 3 daerah yang digabungkan dengan satu daerah lain dalam bentuk pemerintahan OnderAfdeeling. Daerah adat kapuangan memakai gelar puang untuk ketua dewan penanian. Dibawah pemerintahan Puang Lembang atau daerah Lembang masih terdapat pemerintahan wilayah yang dinamakan Bua¶tetapi ada yang berstatus desa dengan pemerintahan sendiri.

pemerintahan atau sistem kekuasaan tradisional dan lain-lain tentang Tana Toraja.akan tetapi masalah-masalah yang menyangkut masyarakat tradisional Tana Toraja sangat menarik. Meskipun sudah banyak tulisan yang mengkaji berbagai masalah sekitar kebudayaan . Bahkan pada masa pendudukan Belanda pengusa .peranan tokoh adat dalam "kombongan" yakni sebagai media pengambilan keputusan tertinggi di tingkat Lembang. Pada masa sekarang sistem pemerintahan adat seperti Lembang masih kita temukan di Tana Toraja dan lembaga-lembaga adat yang masih berfungsi sampai sekarang.adat istiadat. dan keputusan tidak akan sah tanpa kehadiran seluruh warga Lembang termasuk kaum perempuannya. secara perlahan diambil alih oleh lembaga desa. kombongan telah kehilangan kekuatannya sebagai mekanisme pengambilan keputusan dan digantikan perannya oleh Lembaga Masyarakat Desa yang terdiri dari sejumlah posisi-posisi penting dalam desa yang umumnya lelaki Selain itu para penguasa adat masih memegang peranan yang sangat penting dalam berbagai upacara adat di Tana Toraja misalnya acara rambu solo¶dan uapacara rambu tuka¶. Pada uraian ini penulis berusaha menguraikan beberapa catatan berdasarkan tinjauan dari sudut sejarahnya sehingga kita dapat melihat bahwa pada dasarnya dan sejak semula ada perbedaan sistem pemerintahan dan kepemimpinan dalam masyarakat tradisional Tana Toraja.amat kompleks dan masih belum terungkap secara utuh. Meskipun lembaga ± lembaga adat tersebut telah mengalami perubahan karena ada pengaruh dari luar dan perkembangan zaman yang begitu cepat misalnya.7 kebudayaan dan merupakan salah satu warisan dunia yang sangat menarik untuk dikaji.

maka titik berat pembahasan difokuskan pada bagaimana gambaran Pemerintahan Tongkonan adat sebelum masuknya Kolonial Belanda dan setelah masuknya Kolonial Belanda. Bagaimana bentuk pelaksanaan Pemerintahan Adat setelah masuknya Kolonial Belanda? C. B.8 adat masih berperan dalam membuat peraturan meskipun ada aturan tersendiri dari Belanda. Padahal sebelumnya tokoh adatlah yang sangat berperan. Hal ini dimaksudkan untuk menghindarkan kesalah pahaman dalam penafsiran sebagai salah satu pokok permasalahan dalam penulisan proposal penelitian ini. Bagaimana latar belakang masuknya Hindia Belanda di Tana Toraja? 3. Bagaimana bentuk pelaksanan Pemerintahan Tongkonan Adat sebelum masuknya Kolonial Belanda? 2. Namun begitu banyaknya pengaruh yang datang dari luar mengakibatkan peranan penguasa di tingkat desa sudah berubah termasuk semua sistem pengambilan keputusan di tingkat desa. Rumusan Masalah Adapun rumusan masalah dalam tulisan ini yaitu: 1. Oleh sebab itu penulis tertarik untuk mengkaji bagaimana sistem pemerintahan tradisional di Tana Toraja pada masa Kolonial Belanda. serta latar . Pada masa sekarang sudah ditentukan oleh Pemerintah Pusat. Batasan Masalah Pemberian batasan masalah terhadap suatu masalah adalah sangat penting karena mrupakan titik tolak dari pembahasan selanjutnya.Untuk menghindari meluasnya pembahasan dalam penelitian ini.

Tujuan penulisan Berdasarkan beberapa pokok permasalahan yang telah dikemukakan sebelumnya.9 belakang masuknya Belanda di Tana Toraja dan bagaimana pengaruh kebijakan pemerintah kolonial terhadap pemerintahan adat di Tana Toraja. Batasan spasial dalam penulisan skripsi ini adalah Kabupaten Tana Toraja khusunya di Kecamatan Rembon Kelurahan Banga. dan batas pada tahun 1942 karena pada tahun ini Pemerintahan Belanda diambil alih oleh Jepang di Tana Toraja . 3. mengapa penulis mulai pada tahun 1905 karena dilandasi dengan pikiran bahwa pada tahun inilah Pemerintah Kolonial Belanda mulai masuk ke Tana Toraja. Untuk mengetahui latar belakang kedatangan Kolonial Belanda di Tana Toraja. D. Untuk mengetahui bentuk gambaran masuknya Kolonial Belanda. Batasan tematis dalam penulisan skripsi ini adalah bagaimana gambaran umum Pemerintahan Tongkonan Adat sebelum masuknya Kolonial Belanda dan setelah masuknya Kolonial Belanda di Tana Toraja.sedangkan batasan temporalnya yaitu pada tahun 1905-1942. 2.maka tujuan penelitian ini adalah: 1. serta bagaimana latar belakang kedatangan Belanda di Tana Toraja. Pemerintahan Tongkonan Adat setelah . Untuk mengetahui bentuk pelaksanaan Pemerintahan Tongkonan Adat sebelum masuknya Kolonial Belanda.

sedangkan buku yang ditulis oleh Mohammad Natsir Sitonda (2005). sejarah dan pola-pola kahidupan masyarakat dalam buku ini lebih banyak dijelaskan tentang bagaimana sejarah dan pola kehidupan masyarakat Toraja yang berdasarkan pada kepercayaan alluk todolo dengan berpegangan pada alluk sanda saratu di mana penguasa±penguasa adat sangat berperan penting dalam berbagai aktifitas manusia. Hasil penulisan ini dapat memperdalam pengetahuan tentang sejarah lokal khususnya daerah Kabupaten Tana Toraja 3.10 E.budaya maupun pariwisatanya. Tinjauan Penelitian terdahulu Sebelumnya telah banyak buku-buku yang menulis tentang daerah Tana Toraja baik dari agama.kepercayaan. yaitu Toraja Warisan Dunia lebih banyak dijelaskan mengenai berbagai informasi tentang keberadaan tana toraja dilihat dari sudut pandang kelyakan untuk dinominasikan dalam upaya penetapan sebagai Warisan Budaya Dunia (World Cultural Heritage).Sedangkan dalam buku .Selain itu buku ini juga di lengkapi dengan bacaan mengenai proses dan tahapan pelaksanan upacara rambu solo¶sebagaimana yang dilaksanakan sekarang ini. Manfaat Penelitian Dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai berikut: 1. Diharapkan dengan adanya penulisan ini dapat dijadikan bahan perbandingan atau referensi bagi penulisan selanjutnya yang tertarik untuk mengkaji Daerah Tana Toraja F. Dapat memberikan pemahaman dan wawasan yang berkenan dengan sistem pemerintahan tradisional di Tana Toraja 2. Seperti buku yang ditulis oleh Tandilintin (1978).

menjadi sumber pelaksana peraturan adat dan sebagai wadah pemersatu masyarakat dalam melawan Belanda. Fakultas Arkeologi Universitas Hasanuddin dengan judul Sejarah Pemerintahan .Di dalam skripsi ini lebih banyak dijelaskan bagaimana bentuk peranan \Tongkonan adat dalam melawan Belanda. Dari beberapa buku diatas yang menulis tentang Tana Toraja belum ada yang memaparkan secara detail bagaimana pengaruh Pemerintahan Kolonial Belanda terhadap pemerintahan Tongkonan Adat di Tana Toraja. Sebelumnya telah ada skripsi yang menulis tentang peranan tongkonan adat dalam menentang pengaruh Kolonial Belanda yaitu.11 yang ditulis oleh Abdul Aziz Said (2004) yang berjudul Toraja (Simbolisme Unsur Visual Rumah Tradisional) dalam buku ini lebih banyak menulis tentang Tongkonan adat sebagai rumah adat Tana Toraja yang sudah mengalami perubahan dalam desainya karena adanya pengaruh-pengaruh dari luar. Disini Tongkonan lebih diartikan sebagai pusat bertingkah laku sosial warga. Buku ini banyak menulis mengenai bagaimana rakyat petani dengan pengesahan tongkonan sehingga mereka dapat melawan Belanda dengan menggunakan senjata yang masih tradisional.masyarakat masih hidup dalam bentuk kelompok-kelompok dengan adanya Tongkonan itu mereka bersatu untuk melawan Belanda.skripsi yang ditulis oleh Nonci (2000). Dalam buku dijelaskan bagaimana Tongkonan menjadi alat pemersatu masyarakat dalam melawan Belanda karena pada waktu itu .Sedangkan dalam skripsi yang ditulis oleh Ayyub Salasa (1990). Fakultas Sastra Universitas Hasanuddin dengan judul skripsi Peranan tongkonan adat dalam perlawanan rakyat Benteng Alla¶terhadap Kolonial Belanda pada tahun 1905-1907.

Dalam skripsi ini lebih banyak dijelaskan mengenai Tongkonan yang berfungsi sebagai gambaran proyeksi pemerintahan dalam berbagai bidang aspek kehidupan individu dan masyrakat Toraja yang diaplikasikan melalui pranata Tongkonan. Meskipun sudah ada skripsi yang membahas tentang pemerintahan tradisional di Tana Toraja. . akan tetapi penulis belum menemukan karya yang membahas secara khusus bagaimana pemerintahan tradisional (Tongkonana adat) sebelum masuknya Belanda dan setelah Pemerintahan Kolonial Belanda di Tana Toraja. serta gambaran Pemerintahan Kolonial Belanda di Tana Toraja.termasuk dalam bidang pemerintahan dan kepemimpinanya.Berawal dari gambaran itulah penulis ingin mencoba memaparkan bagaimana bentuk Pemerintahan Tongkonan Adat pada masa Kolonial Belanda di Tana Toraja dengan mengambil batas spasial kabupaten Tana Toraja khususnya di Kecamatan Rembon Kelurahan Banga.Tak dapat dipungkiri bahwasanya kehadiran beberapa buku atau hasil penelitian tersebut di atas menjadi sumber informasi dan referensi bagi penulis dalam menambah perbendaharaan informasi mengenai Pemerintahan Tongkonan Adat di Tana Toraja tersebut yang akan dibahas dalam skripsi ini.12 Tradisional Tana Toraja 1900-1979.lebih lanjut dalam skripsi ini dijelaskan bahwa sistem pemerintahan dan kekuasan Tradisional Tana Toraja dapat disebut sistem pemerintahan dan kekuasaan Tongkonan.

Heuristik Heuristik atau pengumpulan data merupakan tahap awal dalam proses penulisan ini.tulisan dan benda. yaitu heuristik (pengumpulan sumber). kritik sumber (eksternal/bahan dan internal/isi). melalui empat tahapan kerja. Bentuk dari pengumpulan data yang dilakukan oleh peneliti dibedakan atas sumber lisan. interpretasi (penafsiran) dan historiografi (penulisan kisah sejarah). Berdasarkan pada cara atau teknik dalam merekonstruksi peristiwa masa lampau di atas maka penyusunaan skripsi ini melalui empat tahapan kerja yakni sebagai berikut: 1.Metodologi Penelitian Sebagai salah satu karya tulis yang tentunya di sertai dengan kajian ilmiah. tentunya memiliki kerangka yang mengacu pada aturan-aturan yang didasarkan pada objek kajian dan latar belakang keilmuannya. Oleh sebab itu teknik pengumpulan data yang dilakukan penulis dalam menyusun tulisan ini yaitu: 1.1 Penelitian lapangan Dalam penelitian lapangan penulis menempuh dengan cara wawancara.13 G. Kegiatan diarahkan pada pencarian dan pengumpulan sumber yang berkaitan dengan masalah atau objek yang ditulis. Ketiga sumber ini dapat dilakukan dalam penulisan peristiwa sejarah tetapi tidak semua peristiwa sejarah meninggalkan tiga sumber dari suatu peristiwa. Peneliti melakukan wawancara terhadap orang-orang yang dianggap dalam objek yang diteliti ini. Peneliti melakukan wawancara kepada masyarakat yang berada di . Peristiwa sejarah adalah cara atau teknik dalam merekonstruksi peristiwa masa lampau.

Peneliti tidak boleh memaksakan kehendaknya atau keinginanya untuk merekam hasil wawancara dan dicatat untuk selanjutnya diperbaiki pada saat penulisan skripsi ini. Wawancara yang dilakukan oleh peneliti yaitu .14 sekitar lokasi penelitian yaitu Tana Toraja khususnya di keluragan Banga karena daerah ini merupakan salah satu pusat dari Pemerintahan Tongkonan Adat pada masa lampau. maupun perpustakaan yang berkaitan dengan Pemerintahan Tongkonan Adat di Tana Toraja dan pengaruh kebijakan Tongkonan Adat di Tana Toraja. Sumber-sumber tersebut dapat diperoleh pada toko buku. sebelum melakukan wawancara terlebih dahulu peneliti melakukan penelusuran informasi dan seleksi terhadap informan yang akan diwawancarai yang pada dasarnya bertujuan menciptakan hubungan yang bebas dan wajar dengan para informan. Arsip. 1. Hal ini dimaksudkan agar para informan tidak merasa terpaksa memberikan keterangan yang diperlukan oleh penulis. Hal tersebut dilakukan agar data yang diperoleh peneliti sifatnya objektif dan dapat dipertanggungjawabkan. Kolonial Belanda terhadap Pemerintahan . Karena itu terlebih dahulu informan dimintai persetujuan dalam hal perekaman dari data yang dibutuhkan.2 Penelitian kepustakaan Penulis juga berusaha mengumpulkan sumber-sumber pustaka berupa buku-buku yang relevan atau erat kaitannya dengan objek yang ditulis oleh peneliti. Seorang penulis harus tetap kaidah normatif dalam penelitian.

Tahapan kritik ini tentu saja memiliki tujuan tertentu dalam pelaksanaannya. Dari sumber sejarah yang diperoleh oleh peneliti tidak semuanya langsung dipakai dalam penulisan sejarah tetapi perlu dilakukan verifikasi atau penyeleksian sumber Pada tahap kritik.15 2. buku-buku yang relevan dengan masalah yang diangkat. Salah satu tujuan yang dapat diperoleh dalam tahapan kritik ini adalah otentitas (authenticity) jika data tersebut benar-benar bersumber dari orang yang terlibat langsung dalam suatu peristiwa atau kejadian.tahap selanjutnya adalah kritik sumber untuk menentukan otensitas dan kredibilitas dari sumber sejarah. internet. Interpretasi Setelah melalui tahapan sumber. Kritik sumber ini dibedakan antar kritik internal dan kritik eksternal. Dalam penulisan skripsi ini penulis berusaha melakukan kritik eksternal dan kritik internal. Kritik sumber Setelah sumber dikumpulkan. 3. semua sumber dan data yang telah dikumpulkan dalam kegiatan heuristik diadakan penyeleksian atau pengujian data agar memperoleh data yang lebih akurat. maupun hasil wawancara langsung dengan para tokoh yang pernah terlibat langsung dengan peristiwa yang diteliti atau saksi sejarah dan tokoh lainnya yang memiliki pengetahuan tentang masalah yang diteliti dalam bentuk penjelasan seobjektif mungkin. kemudian dilakukan interpretasi atau penafsiran terhadap fakta sejarah yang diperoleh dari arsip. Tahap penyeleksianya harus dilakukan secara sistemastis yaitu dimulai dengan melakukan kritik eksternal dan kemudian kritik internal. Tahapan ini menuntut .

Subjektif yang dimaksud disini adalah subjektifitas yang berlebihan sehingga keaslian dari tulisan kita jauh dari fakta yang ada. 4. Dalam melakukan interpretasi kita harus bersifat objektif. mengaitkan antara fakta yang satu dengan fakta yang lainnya. Dalam hal ini tidak semua fakta kita masukan.Hal lain bahwa tidak semua fakta sejarah tersebut penting untuk dimasukkan sebagai sumber yang relevan. perlu analisis penuslis sebagai subjek agar bisa berlaku seobjektif mungkin. baik pengetahuan dalam ilmu sejarah maupun pengetahuan dalam disiplin ilmu lainnya. agar dapat memberikan interpretasi yang tepat di dalam sumber sejarah. Perlunya interpretasi yang objektif adalah agar tidak meninggalkan sifat yang ilmiah dan memberi nilai tambah setiap aspek yang diteliti.16 kehati-hatian dan integritas penulis untuk menghindari interpretasi yang subjektif terhadap fakta. Historiografi merupakan puncak dari segala-galanya dalam metode penelitian sejarah. Dalam konteks ini sejarawan tidak hanya menjawab pertanyaan ´apa´. Dalam hal ini dibutuhkan pengetahuan yang luas dari sejarawan. agar ditemukan kesimpulan atau gambaran sejarah yang ilmiah. ´kapan´. ´siapa´. tetapi kita hanya mengambil fakta yang relevan dengan karya yang kita ingin tulis. Sejarawan pada fase ini mencoba menangkap dan memahami realita sejarah. Hal ini dimaksudkan untuk memberi arti terhadap aspek yang diteliti. Historiografi Tahapan keempat adalah historiografi yang merupakan tahapan terakhir dari seluruh rangkaian prosedur kerja metode sejarah. Hal ini dimaksudkan untuk menghindari adanya interpretasi yang bersifat subjektifitas. dan ´bagaimana´ .

. Adapun tujuan dari penulisan yang telah dilakukan yaitu menciptakan kembali totalitas dari pada fakta sejarah dengan sesuatu cara dengan menulis kejadian atau peristiwa masa lampau yang sesungguhnya.17 tetapi melakukan suatu eksplanasi secara kritis tentang ´ bagaimana´. penulis berusaha merekonstruksi kembali jalannya peristiwa dalam bentuk kisah sejarah secara menyeluruh menurut urutan kejadiannya. dan ´ mengapa´. Pada tahap akhir ini. Pada tahap ini penulis mencoba memaparkan dalam bentuk deskriptif naratif yaitu menguraikan peristiwa dalam bentuk kisah sejarah dengan memperhatikan urutan kronologis peristiwa. Pada tahap ini. fakta-fakta yang telah dirumuskan atau diinterpretasikan itu selanjutnya dirangkaikan untuk mengungkapkan kisah sejarah yang menjadi topik dalam penelitian ini secara kronologis dan menjelaskan maknanya. Hal ini dimaksudkan agar tulisan yang disajikan dapat lebih sistematis dan dapat dipahami oleh pembaca.

Penaman tersebut mengandung pula arti simbolik bahwa Tana Toraja adalah sebuah Negeri yang bentuk Pemerintahan atau kemasyarakatanya merupakan suatu kesatuan yang utuh dan bulat ibarat matahari dan bulan.kampung = Kebulatan. penulis tidak bermaksud mambahas mengenai keseluruhan Pemerintahan Tongkonan Adat di Tana Toraja. Sejarah Tana Toraja Dalam skripsi ini . Asal usul nama Tondok Lepongan Bulan Tana Matarik Allo tersebut dilandaskan pada faktor kesatuan agama dan keyakinan yang bersumber dari kepercayaan tradisional . meskipun demikian ada baiknya jika penulis menggungkapkan latar belakang sejarah Tana Toraja secara umum dan ringkas sebagai berikut.negeri = Berbentuk = Matahari Berdsarkan uraian diatas maka Tondok Lepongan Bulan Tana Matarik Allo berarti ³Negeri atau Perkampungan yang Bulat Bagaikan Bulan Purnama´.kesatuan = Bulan = Tana. Nama daerah tersebut merupakan gabungan dari enam buah kata yang berasal dari bahasa daerah Tana Toraja yaitu: 1) 2) 3) 4) 5) 6) Tondok Lepongan Bulan Tana Matarik Allo = Negeri. Sebelum wilayah pemukiman suku Toraja bernama Tana Toraja daerah ini bernama ³Tondok Lepongan Bulan Tana Matarik Allo´. Melainkan hanya terbatas pada sebuah kelurahan yaitu Kelurahan Banga Kecamatan Saluputti.18 BAB II GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN A.

Aluk Pitung Sa¶bu Pitu Ratu¶pitung Pulo Pitu. Hal ini sesuai dengan kenyataan bahwa masyarakat Toraja sejak dahulu terkenal dengan masyarakat yang menganut sistem kepercayaan Aluk Pitung Sa¶bu Pitu Ratu¶ Pitung Pulo Pitu (Aluk 7777) . atau juga disebut sebagai Aluk sanda pituna.yang dinamakan Aluk Tallu Oto¶na serta 4 (empat) asas aturan tata masyarakat atau tata cara hidup dan kebutuhan manusia yang dikenal dengan Aluk atau aturan Ada¶ A¶pa Oto¶na.percaya dan memuja kepada Deata-deata sebagai sang pemelihara ciptaan Puang Matua yang terdiri dari dewa-dewa yang terdapat diatas langit.1978:18) Ada¶ a¶pa oto¶na yaitu ajaran tata kehidupan manusia yang terdiri dari 4 (empat) proses kehidupan dari manusia di dalam dunia ini. .dan dewa-dewa yang ada di dalam tanah. Mereka juga percaya dan meSmuja Tomembalai Puang yaitu arwah nenek moyang yang sudah selesai seluruh proses penobatanya menjadi setengah dewa dengan tugas memperhatikan serta memberi berkat karunia turunanya.(Tangdilintin.19 masyarkat Tana Toraja yaitu Aluk Todolo.dewa-dewa yang ada di permukaan bumi. ini adalah salah satu ajaran hidup dan kehidupan yang didalamya berisi 7(tujuh) prinsip / asas sebagai dasar falsafah hidup yaitu terdiri dari 3 (tiga).sesuai dengan yang diturunkan kepada manusia yang pertama yang bernama Datu La Ukku. 1995:139) Alluk Tallu Oto¶na adalah ajaran falsafah kepercayaan 3 (tiga) ajaran ketuhanan/keyakinan dalam Aluk Pitung Sa¶bu Pitu Ratu Pitung Pulo yang percaya dan menyembah kepada Puang Matta sebagai sang pencipta semesta alam yang tunggal .(Limbonglala.

menurut mereka nama Toraja digunakan untuk mengganti nama Alfuru yang mulanaya sering digunakan sebagai nama kolektif dari penduduk pedalaman Sulawesi Selatan pada masa itu. dan Padang Dimakdikai. Orang Toraja sendiri pada zaman dahulu menyebut kelompoknya berdasarkan tempat tinggal. Adriani dan Albert. nama yang diberikan oleh kerajaan Bugis Sidenreng (Hasanuddin. Kemudia Kruyt dan Adriani menggunakan nama Toraja yang telah disadur dari kata To Riaja. yang belum menganut agama Islam maupun agama Kristen akan tetapi telah menganut suatu kepercayaan asli dari nenek moyang mereka yaitu Aluk Todolo. Hal ini sesuai dengan keadaan Tana Toraja yang terbagai dalam tiga wilayah adat. Dalam hal ini nama Toraja juga pernah dipopulerkan oleh N.yaitu Kombongan Basse Lepongan Bulan Limbu¶kalua¶na Tana Matarik Allo. 2003:4). pada akhir abad ke-19. dari nama sebuah sungai yang mengalir . Kata Toraja berasal dari kata Toriaja (To. Walaupun demikian ketiga wilayah adat tersebut tetap merupakan satu kesatuan adat yang terselenggara di bawah koordinasi lembaga musyawarah adat yang sampai sekarang mendapat dukungan dari masyarakat Toraja. Padang Diambe¶i. Kruyt. yaitu Sa¶dan.yaitu Padang Dipuangngi. Riaja. C. Nama Toraja mulai dikenal setelah adanya hubungan Tondok Lepongan Bulan Tana Matarik Allo dengan daerah luar seperti Bugis makassar.20 Tondok Lepongan Bulan Tana Matarik Allo juga merupakan penamaan daerah Tana Toraja yang berdasarkan kepada simbol kesatuan adat.di atas) artinya orang yang berdiam di atas pegunungan sebelah utara daerah Sidenreng. orang. Nama ini diberikan oleh orang Bugis Sidenreng dan daerah bugis lainnya.

Kelompok-kelompok yang datang tidak sekaligus tetapi . Menurut sejarah. karena perahu itu dijadikan rumah sebagai tempat berdiam salama belum ada rumah mereka dan Arroan kemudia berjalan kaki menuju tempat-tempat tinggi di pegunungan kemudian menetap disana. Mereka datang dalam bentuk-bentuk kelompok yang dalam sejarah Tana Toraja dinamai Arroan (kelompok manusia) dan menyusuri sungai-sungai dengan mempergunakan perahu dan setelah mereka tidak dapat lagi melayarkan perahunya karena air deras dan beerbatu-batu. Enrekang sekarang) menuju ke utara (Toraja) dengan menggunakan perahu (lembang) yang di sebut dengan To Lembang. Satu kelompok perahu tersebut merupakan simbol sebuah kelompok masyarakat (komunitas) yang didalamnya memiliki kapten kapal (pimpinan) serta para awak dan masyarakat itu sendiri. Dan jika dilihat dari bahasa mereka disebut juga orang Toraja Tae.1978:5) Kelompok dalam tiap Arroang dipimpin oleh seorang pemimpin yang dinamai Ambe¶ Aroang.Toke¶: digantung). (Tangdilintin. To Lembang tersebut pertama datang di Enrekang. Karena itu sering juga disebut Toraja Sa¶dan. maka mereka menambat perahuperahunya di pinggir-pinggir sungai dan tebing-tebing gunung yang dilalui sungai dan karena itulah maka dalam sejarah Toraja dan dongeng Toraja sangat terkenal dengan nama Banua di toke¶ (Banua: rumah. awal adanya masyarakat Toraja berdasarkan cerita rakyat yaitu diawali oleh kedatangan satu kelompok manusia yang berlayar dari selatan (Kab. Pada masa sekarang orang Toraja berdiam di daerah yang termasuk dalam wilayah Kabupaten Tana Toraja.21 di wilayah mereka.

Kemudian masing-masing kelompok membentuk suatu persekutuan keluarga dibawah pimpin Ambe¶ Arroang.misalnya Si Ambe¶Pong Simpi.Si Ambe¶maramba Sisa-sisa masyarakat yang ada di Toraja membangun Tongkonan (rumah adat) untuk membangun komunitas yang akhirnya berkembang dalam kelompokkelompok yang menimbulkan persaingan sehingga terjadi perang. Dan perkawinan ini dijadikan simbol dari cikal bakal lahirnya suku Mamasa. yang tidak ada yang dapat mendamaikannya.To Manurung menikah dengan Sundiwai (Dewi Air) di Enrekang yang melahirkan anak laki-laki yang bernama Padada yang setelah dewasa merantau dengan menggunakan burung garuda menuju Kabupaten Gowa. Kelompok-kelompok tersebut lama kelamaan bertambah banyak dan mereka menyebar mencari tempat yang lebih luas untuk kediaman mereka dengan keturunan selanjutnya.22 datangnya secara berangsur-angsur. Mandar. To Manurung dianggap sebagai nenek moyang dari bangsawan yang ada sampai sekarang. dan menikah dengan anak dari raja Gowa. Sehingga lahir falsafah .Si Ambe¶ Pongtiku. Dalam kondisi tersebut maka Dewa menurunkan aturan Sanda Saratu (Serba seratus) tetapi tidak ada yang mentaatinya maka diturunkannlah To Manurung dari langit dengan nama Puang Tamboro Langi sebagai pelaksana aturan diatas dan mendamaikan masyarakat yang berperang.dengan bentuk keluarga kecil yang dalam bahasa Toraja dikenal dengan istilah Pararrak yang dipimpin oleh seorang kepala yang dinamai Pong pararrak. Mamuju dan Majene. Kemudian dari Siambe¶serta gelar Pong yang tersebar luas di Tana Toraja yang kemudian dalam perkembangan selanjutnya kedua gelar ini dipadukan menjadi gelar bagi penguasa adat.

28 Juli 2011) B. Pembagian distrik tersebut memperhatikan juga kepala persekutuan adat yang telah ada.23 pitu ulunna salu. Setelah menguasai Sulawesi Selatan pemerintah Hindia Belanda mulai menata wilayah administrasi kekuasaannya. Dengan adanya pembagian wilayah tersebut di atas maka Tana Toraja atau yang pada waktu itu dikenal dengan Onderafdeeling Makale-Rantepao ditetapkan berada dibawah wilayah Afdeeling Luwu. Status Tana Toraja sebagai onderafdeeling ini bermula dari upaya Belanda untuk menanamkan kekuasaannya di seluruh wilayah Nusantara. Afdeeling dikepalai oleh seorang berpangkat asisten residen. Onderafdeeling. Pemerintah sipil di Onderafdeeling MakaleRantepao oleh pemerintah Belanda juga dibagi dalam beberapa distrik. Letak Geografis Dalam sejarah pemerintahan Hindia Belanda. Adapun Onderafdeeling dikepalai oleh seorang controleur. Papa tettu ( Wawancara. 1971: 5). dan dalam tingkat distrik dikepalai oleh regent (Tampubolon. pitu ba¶banna binangnga (tujuh kerajaan di gunung dan tujuh kerajaan dari pantai). Afdeeling. Onderafdeeling Makale-Rantepao dikepalai oleh seorang Controleur. . Tana Toraja dulu merupakan sebuah wilayah administratif dengan kedudukan sebagai Onderafdeeling di bawah Afdeeling Luwu. Wilayah administrasi Hindia Belanda di Sulawesi Selatan dibagi atas Gewest. dan Distrik. Gewest berkedudukan di provinsi dan dipegang oleh seorang gubernur yang juga bertindak sebagai kepala pemerintahan.

Distrik Mengkendek 3. Distrik Mappu 13. Distrik Tikala 3. Distrik Sa¶dan 13. Distrik Talion 6. Distrik Nanggala 11. . Distrik Rano 11. Distrik Balopa 14. Distrik Rantebua 14. Distrik Pali 17. Distrik Balusu 12. Distrik Palossom 9. Distrik Kesu¶ 2. Distrik Salu 18. Distrik Se¶seng Distrik di Makale yaitu: 1. Distrik Simbuang Jarak ibukota Tana Toraja dengan ibukota Propinsi Sulawesi Selatan mencapai 329 km yang dapat ditempuh dengan kendaraan beroda empat dan beroda dua ataupun melalui jalur udara yang melalui Kabupaten Enrekang.24 Adapun distrik-distrik di Wilayah Onderafdeeling Makale-Rantepao (A. Distrik Buntao 15. Distrik Bua 12. Distrik Ulusalu 6. Distrik Malimbong 7. Distrik Makale 2. Distrik Kurra 8. Distrik Bua Kayu 10. Distrik Pangala 5. Distrik Sangalla¶ 4. Distrik Piongan 9. Distrik Banga 5. Distrik Dende¶ 10. Tampubolon 1971:7) adalah sebagai berikut: Distrik di Rantepao yaitu: 1. Distrik Tondon 7. Distrik Tapparan 8. Distrik Madandan 4. Distrik Bittuang 16.

.dan terdiri dari kelompok daerah kekuasaan dimana daerah tersebut diperintah oleh salah seorang yang berwibawa dan bijaksana yang bersal dari Tongkonan layuk. Maroson. Agama dan kepercayaan Sebagai Bangsa yang memiliki falsafah Pancasila dimana Ketuhanan Yang Maha Esa merupakan sila pertama. (BPS Tana Toraja 2010) Sedangkan yang menjadi pusat dalam penelitian ini yaitu Kelurahan Banga Kecamatan Rembon. Buri. Setelah masuknya Kristen di daerah ini keadaan berangsur-angsur berubah baik dalam sikap dan tata cara hidup dalam masyarakat. dan Rembon. C. maka sudah sewajarnya setiap individu melaksanakan kewajibannya sesuai dengan agama dan kepercayaannya. Kabupaten Barru. Surakan.25 Kabupaten Sidrap. Mebali. Kelurahan Banga yang menjadi tempat dalam pengambilan informasi terletak di Kecamatan Rembon pada Daerah Barat yang terkenal dengan daerah adat Kama¶dikaan (Padang di Ma¶dikai). Sebelum masuknya Belanda Kecamatan Rembon yang sebelumnya masih bagian dari Kecamatan Saluputti yang terdiri dari 6 lingkungan yaitu. Tandingan. Namun demikian tidak berarti bahwa masyarakat sudah seluruhnya meninggalkan tata cara hidup yang berbau tradisional. kota Pare-pare. Kabupaten Pangkep. dan kabupaten Maros. Masyarakat Tana Toraja sebelum mengenal agama Islam maupun agama Kristen sudah mengenal suatu kepercayaan yang bersifat animisme yang bersumber dari leluhur mereka yang disebut Aluk Todolo.

Aturan diturunkan pada Datu La Ukku yang berisi aturan agama bahwa manusia dan segala isi bumi harus menyembah kepada puang matua sebagai sang pencipta yang diwujudkan dalam bentuk sajian.(Tangdilintin.26 Aluk todolo adalah salah satu kepercayaan atau keyakinan yang diturunkan oleh puang matua (sang pencipta). Dalam kehidupan beragama. terutama dalam kerukunan hidup beragama dan bermasyarakat. masyarakat Tana Toraja adalah penganut agama yang taat melaksanakan ibadahnya. Di dalam Islam mengajarkan bahwa manusia adalah bersaudara yang dapat menyatukan masyarakat yang terdiri dari berbagai agama. Puang matua memberi kekuasaan kepada deata-deata (sang pemelihara). Deata kapadanganna sang pemelihara bumi. Deata tanggana padang pemelihara menguasai segala isi tanah. Hal ini dapat dibuktikan dengan kehadiran tempat peribadatan seperti Gereja dan Masjid yang tersebar di kota sampai ke desa-desa. golongan suku di Tana Toraja dapat mencapai kehidupan yang aman. tenteram dan damai.hari baik dan buruk. .seperti kepercayaan tentang hari. Kehidupan beragama dapat dimanivestasikan dalam tingkah laku sehari-hari. Hal ini disebabkan karena adanya sifat saling pengertian dan rasa saling menghargai dan menghormati kepercayaan diantara mereka. 17) Kehadiran agama dalam kehidupan masyarakat masih tetap berdampingan dengan kabiasan-kebiasan yang diturunkan oleh leluhur mereka.1978. Dalam kehidupan sehari hari kemajemukan penganut selalu terlihat kerukunan dan tidak terlihat benturan antara pemeluk agama dan kepercayaan tersebut. Dalam ajaran Aluk Todolo dikenal 3(tiga ) golongan deata yaitu. Deata tangga langi¶ sang pemelihara langit.

yaitu lapisan bangaswan tinggi sebagai pewaris yang dapat menerima sukaran aluk atau kepercayaan untuk dapat mengatatur aturan hidup dan menciptakan aturan-aturan dalam masyarakat yang kemudian menjadi ketua pemerintahan adat Toraja yang tertinggi dalam masing-masing daerah adat ataupun kelompok adat. Sistem Sosial Masyarakat Masyarakat Tana Toraja sejak dahulu mengenal lapisan masyarakat yang bersumber dari ajaran dan kepercayaan Aluk Todolo.27 D. Tana¶ Bassi (Tomakaka). Hal ini akan menimbulkan perbedaan-perbedaan dalam kehidupan masyarakat Toraja. yaitu lapisan bangsawan menengah sebagai pewaris yang dapat menerima kepercayaan untuk mengatur . b. Kedudukan seseorang yang diatur sesuai dengan tingkat strata yang dimiliki sangat mempengaruhi dalam berinteraksi dengan masyarakat yang lain. Tana¶ Bulaan (Tokapua). Strata inilah yang mengatur berbagai aspek dalam kehidupan masyarakat terutama dalam berinteraksi dengan masyarakat yang lain dalam kehidupan sehari-hari.Tingkatan sosial dalam masyarakat Toraja disebut sebagai Tana¶(kasta).sehingga sangat tampak adanya perbedaan dalam berpakaian maupun perilaku mereka dalam pergaulan sehari hari. Dalam masyarakat Toraja Tana¶ (kasta) dapat dibagi dalam beberapa tingkatan yaitu: a. Tana¶ Bulaan merupakan golongan bangsawan tertinggi yang memegang peranan dalam masyarakat Tana Toraja dan mereka yang menguasai tanah persawahan di Tana Toraja.

yaitu Lapisan hamba sahaya sebagain pewaris yang harus menerima tanggung jawab sebagai pengabdi kepada para bangsawan.Dari golongan ini sering dipilih petugas-petugas pemakaman yang dinamakan to Mebalun atau to Ma¶kayo (orang yang membungkus orang mati) . hal ini sangat tampak pada upacara .kua. Tana¶ Karurung. yaitu lapisan rakyat kebanyakan yang dinamakan Bulo¶di¶a¶pa (golongan masyarakat yang diatur secara teratur).upacara dengan pengurbanan hewan dalam jumlah yang banyak. Tingakatan ± tingkatan sosial tersebut masih berlaku dalam masyarakat Tana Toraja. Pada umumnya mereka tidk mempunyao tanah persawahan sendiri. Mereka bekerja sebagai penggarap tanah bangsawan. c. Golongan ini yang dapat menerima kepercayan sebagai tukang atau orang ± orang yang terampil.upacara adat. Golongan sosial yang sangat berperan dalam setiap upacara keagamaan adalah Tana¶ Bulaan. apalagi yang berhubungan dengan upacara .Dalam bidang pemerintahan tingkatan .28 kepemimpinan atau pembantu dari ketua pemerintahan/ penguasa adat tertinggi. Pelapisan sosial untuk Tana¶ bulaan selalu diidentikan dengan kekayaan dan kekuasaa. Lapisan ini memiliki tugas ± tugas tertentu yang pada umumnya mereka mendeapat tugas pada upacara ± upacara sebagai pembantu seperti upacara rambu Solo¶ atau rambu Tuka¶. d. yang kemudian dibagi-bagikan kepada masyarakat yang berhak menerimanya. Tana¶ kua.

akan tetapi dalam masyarakat Toraja.menyebabkan susunan masyarakat Toraja berkekerabatan yang bilateral yang . Nama tersebut biasanya diambil dari keturunan Ayah maupun Ibu. dan anak.Wawancara. Falsafah hidup dan kehidupan masyarakat Toraja yang telah membentuk masyarakat yang berdasar kepada kesatuan. walaupun dalam pelaksanaanya tidak seperti pada zaman dahulu. Dalam sebuah keluarga rumah tangga terdapat beberapa sanak saudara (family) dari pihak Ayah atau pihak Ibu.anak yang belum kawin . begitupun dalam bidang pemerintahan yang sudah diatur oleh pemerintahan pusat (Petrus.mereka tinggal dalam sebuah rumah menyiapkan makanan pokok seharihari dalam satu dapur. 30 Juli 2011).melainkan pada tingkat pendidikan dan kemampuan dalam bidang ekonomi. Sistem kekerabatan dalam masyarakat masih memegang peranan penting dalam mewujudkan kehidupan bermasyarakat yang harmonis.Namun pada masa dewasa ini strata sosial ini lambat laun mulai berubah yang tidak lagi didasarkan pada keturunan ataupun kedudukan. Sistem kekerabatan tersebut berkembang dari suatu unit atau kelompok kekerabatan yang paling kecil yakni keluarga Bathi (Tosiendaporan) suatu keluarga Bathi merupakan segi tiga abadi yang terdiri dari Ayah Ibu. kekeluargaan dan kegotong-royongan .anggota keluarga tidak hanya terdiri dari anak-anak kandung dan istri. Pelapisan sosial dapat dilihat pada penggunaan nama seseorang. Anggota keluarga tinggal dalam sebuah rumah yang disebut Missa¶banua (serumah).29 inilah yang memiliki peranan penting.

dapat mempersatukan turunanya. juga mengharuskan keturunanya menghadiri upacara Rambu solo¶ atau upacara penyembahan kepada leluhur dan upacara Rambu tuka¶atau penyembahan kepada dewa-dewa.dengan mengambil bagian dalam membangun rumah Tongkonan dengan segala kegiatanya dan kegiatan dalam masyarakat.Pemilik Tongkonan menjadi warisan Tongkonan untuk dimanfaatkan bersama oleh seluruh keturunan suami istri pendiri Tongkonan. . Dalam masyarkat Toraja kedudukan seorang suami dan seorang istri adalah sama.30 berbeda dengan sistim kekerabatan di daerah yang lain. Tongkonan menjadi rumah yang telah diwarisi secara turun temurun.berusaha membina keturunanya dengan menceritakan asal usul para leluhurnya serta mitos-mitos Tongkonan .namun ada kewajiban-kewajiban yang Mengikat mereka. Tongkonan merupakan sumber aluk dan sumber kehidupan bagi keturunanya. Semua anggota tongkonan bertanggung jawab dalam pemeliharaan Tongkonan dan menjaga nama baik Tongkonan.Begitu pun sebaliknya kedudukan anak laki-laki dan anak perempuan sama dalam segala hal termasuk dalam hukum warisan yaitu semua anak mempunyai kedudukan yang sama sebagai pewaris.

sudah ada pembagian wilayah pemerintahan menurut adat yang dipegang teguh oleh masyarakat Toraja.31 BAB III PEMERINTAHAN TONGKONAN ADAT SEBELUM MASUKNYA BELANDA A. namun semuanya terikat dalam satu perikatan adat besar (federasi) yang dinamakan Kombongan Ada¶. Tana Toraja yang dahulunya dikenal dengan nama Tondok Lepongan Bulan Tana Matarik Allo dibagi dalam tiga daerah adat besar sejak terciptanya Aluk Pitung Sa'bu Pitu Ratu' Pitung Pulo Pitu (Aluk Sanda Pitunna/Aluk Pitung Sa'bu Pitu Ratu' Pitung Pulo Pitu 7777) dari Banua Puan (Tongkonan pertama ) sebagai landasan terbaginya Tondok Lepongan Bulan Tana . Sebelum kedatangan Pemerintahan Kolonial Belanda di Tana Toraja. Karakteristik Pemerintahan Tongkonan Adat sebelum masuknya Belanda Pemerintah Kolonial Belanda secara resmi menguasai seluruh Tana Toraja pada akhir tahun 1906 yaitu pada saat seluruh bangsawan dan penguasa adat Toraja sudah mengakui atau tunduk pada Pemerintah Kolonial Belanda tersebut. Kombongan adat yang tertinggi itu dinamakan Kombongan Ada¶ Basse Lepongan Bulan Limbu Kalua¶na Tana Matarik Allo (badan musyawarah perikatan lepongan Bulan atau Tana Toraja). dan daerah-daerah adat itu berdiri sendiri otonom. namun sebelumnya seluruh daerah adat Toraja dikuasai oleh penguasa adat atau dikuasai / diperintah oleh bangsawan ± bangsawan yang sistem pemerintahannya dikatakan Ada¶ dan orangnya bernama Tongkonan Ada¶.

Daerah adat bagian timur yang dinamakan daerah adat Diambe¶i atau sekarang dinamakan daerah adat pekamberan. Daerah adat Ma¶dika memakai gelar Ma¶dika dan daerah adat pekamberan memakai gelar So¶kong Bayu. 3. Daerah adat kapuangan mengunakan gelar puang. Daerah adat bagian barat yang dinamakan daerah adat Dima¶dikai atau sekarang dinamakan pula daerah adat kama¶dikaan.32 Matarik Allo.daerah yang begitu luas seperti yang telah disebutkan diatas sejak dahulu merupakan tiga daerah adat toraja yang masih sangat jelas dalam perkembanganya sampai sekarang. Sebelah Timur dengan batas daerah kerajaan Luwu . 1.batas dari daerah Tondok Lepongan Bulan Tana Matarik Allo (Tombe. b. d. c. Daerah adat bagian tengah dinamakan daerah adat dipuangi atau yang sekarang dinamakam daerah adat kapuangan. Ketiga daerah ini masing-masing berdiri sendiri tapi merupakan satu kesatuan dalam persekutuan Kombongan Basse lepongan bulan yang ketiganya mempunyai kedudukan yang sama. Sebelah Barat dengan batas dataran Sulawesi Selatan.yaitu dataran pantai teluk Bone termasuk daerah kerajaan Luwu. Tiga daerah adat itu bersatu atau merupakan . Daerah. Sebelah utara berbatasan dengan Poso dan Donggala. Daerah ± daerah adat tersebut masing ± masing mempunyai pemimpin yang diberi gelar berdasarkan daerah yang dipimpin.1986:23) Adapun batas .(Tandilintin.dan pada bagian pegununganya termasuk daerah Tondok Lepongan Bulan. Sebelah Selatan dengan batas gunung sinaji Membujur ke sebelah Barat melalui Enrekang terus ke Mandar.2000:47) yaitu sebagai berikut. Sistem ini membagi wilayah adat dalam tiga daerah yaitu. Pada bagian pegununganya dan dataran pantai termasuk daerah kerajaan Mandar. a. 2.

28 Juli 2011). Tiap-tiap Kombongan Ada¶ itu mempunyai pemerintahan kecil sebagai pemerintahan yang juga berdaulat ke dalam yang bernama Lembang (berasal dari kata Lembang = perahu) yang artinya mempunyai kesatuan dan penanggung jawab sendiri dari tiap lembang yaitu satu daerah tertentu dimana lembang ini sudah diperintah oleh seorang penguasa lembang yang masing-masing Daerah Adat mempergunakan gelar masing-masing sesuai pembahagian. 3. Ambe¶ Lembang untuk Daerah Adat Pekamberan.misalnya Daerah Adat Pekamberan dikuasai dan dibina oleh Kombongan Ada¶ Ambe¶ dan Daerah Adat Kapuangan dikuasai dan dibina oleh Kombongan Ada¶ Puang serta Daerah Adat Kama¶dikaan dikuasai dan dibina oleh Kombongan Ada¶ Ma¶dika. Tiap-tiap Daerah Adat itu masih terbagi atas beberapa kelompok adat yang namanya Kombongan Ada¶. Puang lembang untuk Daerah Adat Kapuangan 2. Ketiga daerah adat besar itu masing-masing berdiri sendiri dan berdaulat ke dalam tetapi keluar merupakan satu kesatuan dalam persekutuan Kombongan Basse Lepongan Bulan yang ketiganya mempunyai kedudukan yang sama (Papa tettu. 1.Wawancara. Penggunaan gelar untuk masing ± masing lembang seperti yang dikemukakan oleh (Papa tettu. Wawancara.33 satu kesatuan negeri. karena adanya kesatuan sosiologis dan kesatuan kultural sebagai satu bangsa. Ma¶dika Lembang untuk Daerah Adat Kama¶dikaan .28 Juli 2011) yaitu.

34 Masing-masing daerah lembang di atas itu mempunyai badan musyawarah yang membantu penguasa adat lembang yang dinamakan Kombongan LembangLembang untuk tiap Daerah Adat. yang dalam tiap lembang itu terdiri beberapa Daerah Bua¶ sesuai dengan kepentingannya. Keputusan musyawarah lembang adalah merupakan garis pemerintahan dari penguasa adat lembang masing-masing daerah adat atau kelompok adat. Pemerintah dari daerah Bua¶ itu adalah penguasa Bua¶ yang masing-masing Daerah Adat sebagai berikut: 1) Daerah Bua' dari Daerah Lembang kapuangan dikuasai oleh penguasa adat bergelar Puang Bua¶. Di bawah pemerintahan lembang masih terdapat beberapa daerah kerja yang merupakan pembantu pelaksana kerja dari lembang dan daerah bagian pemerintahan atau wilayah ini dinamakan Daerah Bua¶ yang dikuasai oleh seorang penguasa adat Bua¶ dan langsung bertanggung jawab kepada lembang. Ada kalanya 2 atau 3 daerah Bua¶ untuk satu daerah lembang. 3) Daerah Bua' dari Daerah Lembang Kama¶dikaan dikuasai oleh penguasa adat bergelar Ma¶dika Bua¶ Dari daerah Bua' ini di dalamnya masih terdiri dari beberapa daerah dengan pemerintahan wilayah kecil yang disebut desa pada waktu sekarang dan . 2) Daerah Bua' dari Daerah Lembang pekamberan dikuasai oleh penguasa adat bergelar Ambe¶ Bua¶.

Daerah adat Pekamberan memakai pula gelar To Parengnge¶ dan Sokkong Bayu untuk ketua dewan adat penanian.35 dikoordinir oleh Bua¶. Tiap Penanian ini diperintah oleh satu badan pemerintahan adat yang umumnya terdiri dari Toparengnge¶. dan orang . ada pula yang menamainya Anak patalo (to=orang. Di dalam satu Daerah Penanian terdapat pula pembantu-pembantu pemerintahan adat yang masing-masing Daerah Adatnya memberi nama masingmasing sesuai dengan kepentingannya dan keadaan setempat seperti ada yang menamainya To Bara¶. Bua¶ dan untuk Daerah Penanian sebagai berikut: a. Toparenge¶(pemikul tanggung jawab) merupakan dewan pemerintahan adat yang berlaku umum di seluruh Daerah Tondok Lepongan Bulan sejak dahulu yang disebarkan oleh penguasa Aluk Pitung Sa'bu Pitu Ratu' Pitung Pulo Pitu dari Banua Puang Marinding pada waktu pembagian Daerah Adat . . salah seorang dari Toparengnge¶ itu sebagai ketua(PetrusWawancara. patalo = menang sendiri). Daerah adat Kama¶dikaan memakai pula gelar Ma¶dika untuk ketua dewan adat Penanian. c. Daerah adat Kapuangan memakai pula gelar untuk ketua dewan adat Penanian. bara¶= angin ribut yang tak dapat ditahan.30 Juli 2011). dan gelar Tongkonan Parengnge¶ ini berlaku pada semua Daerah Adat termasuk daerah adat yang ada di Banga. dan daerah ini bernama Daerah Penanian. yaitu tiap-tiap Bua¶ terdiri dari beberapa Penanian. anak = anak.Untuk ketua-ketua dewan adat penanian juga ada nama atau gelar masing-masing daerah adat seperti daerah adat Lembang. b.orang inilah yang mendampingi To Parengnge¶ dalam membina masyarakat dan pemerintahan adat daerah Penanian.

30 Juli 2011). Daerah penanian yang disebutkan diatas terdiri dari kelompok daerah kerja atau kesatuan yang dinamakan tepo padang (tepo=seperempat. Jabatan seperti yang disebutkan di atas seluruhnya berpusat atau bersumber dari masing-masing Tongkonan dengan dukungan dari semua keluarga yang lahir dan berasal dari Tongkonan itu yang sangat susah dipatahkan karena merupakan . Puang lembang.id/lembaga adat.Wawancara. Koordinator dari Tepo Padang bukan jabatan adat tetapi adalah jabatan yang diangkat sendiri secara langsung oleh dewan Pemerintahan adat yang sewaktu-waktu pula dapat diganti. Setelah pemerintahan kolonial Belanda masuk di Tana Toraja. jadi seluruh daerah penanian harus terbagi atas 4 (empat) Tepo Padang dan Tepo Padang ini dikordinir oleh seorang terkemuka dalam daerah Tepo Padang tersebut yang memimpin seluruh anggota masyarakat dalam menyelesaikan pekerjaanpekerjaan desa secara gotong-royong.html diakses pada 26 Juli 2011) Seluruh masalah yang terjadi dalam daerah Penanian harus setahu ketua dewan adat Penanian kemudian diteruskan kepada penguasa Bua¶ dan seterusnya kepada penguasa adat Lembang sebagai pemerintahan adat yang tertinggi ialah penguasa lembang. maka dengan demikian Tepo Padang dikatakan kesatuan Gotong-royong. maka tetap mempergunakan penguasa adat yang tertinggi ialah pemerintahan lembang namun namanya dirubah tetapi statusnya tetap sebelum datangnya pemerintah Belanda(Petrus.go. Ambe¶ Lembang dan Ma¶dika Lembang.36 (http://www.toraja. padang=tanah) ada pula yang mengatakan tepo Tondok Lepongan Bulan Tana Matarik Allo.

Pemerintahan adat Toraja yang tersebut di atas sampai datangnya Pemerintah Belanda masih tetap berlaku dan terpelihara yaitu dengan memberikan tugas kepada masing-masing Tongkonan.Untuk gelar jabatan lembang yang sudah menjadi distrik atau kecamatan sekarang diganti dengan nama jabatan parengnge¶. namun telah disesuaikan dengan susunan pemerintahan dari Pemerintah Belanda dimana kelihatannya sangat serasi terutama yang menyangkut pembinaan masyarakat tetap memegang paranan penguasa-penguasa adat. Bua¶ dan Penanian sebagai susunan pemerintahan adat dalam 3 (tiga) tingkatan diseragamkan yang kelihatannya sangat baik dan harmonis masing-masing: 1.Bahwa gelar Parengnge¶ itu berasal dari kata/gelar To Parengnge¶ yaitu adalah satu gelar yang sama dan berlaku umum di Tana Toraja yang artinya pemikul tanggung jawab. Dari hasil wawancara dengan Papa tettu. Daerah Lembang diganti dengan nama distrik atau sekarang dinamakan kecamatan.37 tanggung jawab bersama keluarga sekalipun jabatan itu hanya dijabat oleh satu orang anggota keluarga.28 Juli 2011 (kepala Kampung Banga ) pemakaian gelar jabatan pengusa lembang. . maka pemerintah Belanda mempergunakan itu sesuai dengan tugas dari penguasa distrik sebagai pemerintah yang memikul tanggung jawab dan tidak lagi sepenuhnya berstatus penguasa adat seperti sebelum pemerintahan Belanda.

Untuk daerah Penanian digantikan dengan nama desa atau kampung. Daerah Bua¶ masih tetap dipergunakan dengan nama daerah Bua¶ sekalipun oleh pemerintahan Belanda menyebut dengan nama Onder Distrik (distrik bawahan). dan daerah Bua¶ ini sama statusnya dengan daerah dan pemerintahan Bua¶ sebelum Belanda.38 2. Jadi hanya nama jabatan dan penguasa adat Penanian yaitu To Parengnge¶ dan To Bara¶ tetap ada namun oleh pemerintah Belanda mengangkat pula seorang kepala desa atau kepala kampung sebagai aparat langsung dari pemerintah Belanda yang bersama-sama dengan dewan adat penanian melaksanakan pembinaan masyarakat dalam satu daerah Penanian atau kampung tersebut. 3. karena To Parengnge¶-To Parengnge¶ itu berstatus otonom dalam pembinaan masyarakat. yang juga diperintah oleh seorang penguasa distrik bawahan dinamakan kepala distrik muda. . hanya saja dewan pemerintahan adat Penanian tetap ada dan melaksanakaan tugas serta kewajibannya.

Penanian Toparengge¶ To Bara Anak Patalo Tepo Padang Saroan saroan Saroan Saroan . Kombongan Padang Dipuangi Lembang Dipuangi Lembang Dipuangi Lembang Dipuangi Bua¶ Dipuangi Puang Bua¶ Puang Bua¶ Puang Bua¶ Penanian .39 Adapun struktur Pemerintahan Adat Tana Toraja atau Tondok Lepongan Bulan Tana Matarik Allo sebelum masuknya Kolonial Belanda seperti yang disebutkan diatas dapat digambarkan sebagai berikut.

Inilah awalnya Tongkonan itu sebagai singgasana dan tempat kekuasaan adat yang tetap terbina.Tongkonan ini mulamula didirikan oleh pangala tondok (penguasa).Mereka datang dan duduk mendengar serta duduk menyelesiakan masalah mereka di rumah pengusa tersebut. Tongkonan berasal dari kata Tongkon adalah tempat duduk mendengarkan perintah dan penjelasan serta duduk menyelesaikan masalah.40 B. 28 Juli 2011). Akan tetapi perkembangan jaman yang semakin cepat yang mempengaruhi banyak sistem kehidupan rakyat sehingga Bulo dia¶pa¶ atau rakyat biasa juga mendirikan Banua Tongkonan yang dahulunya rumah mereka tidak disebut Tongkonan. . Banua Tongkonan adalah rumah adat keluarga Toraja sebagai simbol kekerabatan yang mempunyai peranan yang sangat penting bagi kehidupan orang Toraja.dan menentukan tempat tinggalnya sebagai tempat memberi perintah kepada masyarakat yang dikuasainya. Terjadinya Tongkonan pada awalnya dibentuk ketika datangnya penguasapenguasa dari luar Tana Toraja yang menguasai daerah dan penduduk Tana Toraja. Peranan Tongkonan Adat Dalam Kehidupan Masyarakat Dalam masyarakat adat Tana Toraja pada umumnya ada 2 (dua) pranata yang dapat menggambarkan perwujudan suatu kekerabatan orang Toraja. sebagai tempat untuk menjalankan pemerintahan dan tempat membuat peraturan peraturannya (Papa tettu . tetapi hanya disebut Banua (rumah). yaitu Banua Tongkonan (rumah adat) dan liang (kuburan keluarga).Wawancara.

Suatu pertemuan khusus dari para pejabat yang ditunjuk kepada pihak tertentu.Wawancara.41 Tongkonan pada awalnya adalah tempat penguasa dan sumber perintah dari penguasa yang pertama mendirikan Tongkonan itu dan diwariskan kepada keturunanya secara turun-temurun . maksudnya mereka yang berselisih diadili dan diperiksa secara bersama. para pejabat berkumpul dan menyelesaikannya sesuai dengan peraturan yang berlaku.maka tempat sumber kekuasaan itupun merupakan warisan bagi seluruh penguasa yang mula-mula mendirikan tongkonan tersebut dan sejak itu tongkonan sebagai sumber perintah dan kekuasaan adat yang menjadi tempat pertalian dari semua keluarga atau orang yang mendirikan Tongkonan itu pertama kalinya (Deppong. demikian pula halnya jika terjadi pertikaian antara anggota masyarakat.30 Juli 2011).Wawancara. maksud dan fungsi pertemuan tersebut berbeda sehingga diberi penamaan yang berbeda pula. Berkumpul bermusyawarah/rapat. maka para pejabat dari tongkonan berkumpul memusyawarakannya. pelanggaran dan sebagainya (Petrus. Jadi meskipun yang menyelenggarakan pertemuan ± pertemuan adalah pejabat-pejabat yang sama.Oleh sebab itu kekuasaan tersebut merupakan hak dan tugas warisan kepada keturunan penguasa. memeriksa perkara. yang disebut dikombongan. dilain pihak ternyata pula bahwa kedua badan . Hal ini menggambarkan bahwa pada hakekatnya msyarakat tradisional Tana Toraja sudah membedakan fungsi dan peranan badan pemerintahan dan badan peradilan. 26 Juli 2011). Dalam merumuskan setiap kebijaksanaan untuk kepentingan bersama.

. Jadi yang ada pada zaman dahulu adalah Tongkonan pusat pemerintahan adat dan pusat persatuan dari keturunan yang mewarisi kekuasaan adat. 2. Sebagai lambang kebesaran dan tempat sumber kekuasaan dan peraturan pemerintahan adat. 1983:32-33) Dari hasil wawancara dengan beberapa pemuka adat dan tokoh masyarakat Banua Tongkonan (rumah adat) ini mempunyai beberapa fungsi yaitu : 1.maka rumah turunnya itu dinamakan pula tongkonan dan sejak itu tongkonan bukan saja berfungsi sebagai sumber perintah dan kekuasaan adat saja tetapi juga berfungsi sebagai sumber perintah dan singgasana penguasa tetapi telah berfungsi pula sebagai pusat pembentukan kesatuan keluarga dari keturunan yang membangun Tongkonan atau rumah itu. pembuatan irigasi dan sebagainya. misalnya dalam menghadapi peperangan.maka terjadilah tongkonan yang tidak mempunyai tugas dan kewajiban adat tetapi hanya semata-mata sebagai pusat persatuan dan pertalian dari satu rumpun keluarga yang berketurunan dari yang pertama mendirikan tongkonan tersebut yang juga mempunyai keturunanketurunan dari tongkonan yang berkuasa atau mempunyai fungsi adat.(Tangdilintin. merencanakan pesta tahunan. Pertemuan untuk merumuskan suatu kebijaksanaan demi kepentingan bersama mutlak dihadiri oleh semua pejabat.tetapi setelah keturunan dari tongkonan itu berkembang dan bertambah banyak sedangkan tugas dan kewajiban adat hanya satu. Sebagai istana atau tempat tinggal.42 terssebut berada dalam tongkonan dan ditangani secara bersama oleh tongkonantongkonan jabatan.

Sebagai lambang persatuan dan pusat pembinaan keutuhan keluarga dari tongkonan tersebut.43 3. 6. Sebagai tempat duduk bermusyawarah dan meyelesaikan persoalan keluarga maupun masyarakat. Sebagai pusat tempat melaksakan setiap kegiatan adat atau upacara adat baik rambu solo¶ maupun rambu tuka¶ oleh keluarga atau keturunan dari tongkonan tersebut. 4. Jadi ayah maupun ibu biasanya mempunyai Tongkonan dari nenek moyangnya dan sebagai ahli waris atau rapu mereka mempunyai kewajiban untuk menjaga Tongkonan dari pihak ayah atau pihak ibu. yang berarti bahwa orang-orang yang berhak atas tongkonan adalah keluarga atau keturunannya atau bisa disebut dengan ahli waris. Sebagai tempat menyimpan dan membina warisan keluarga (mana¶) baik warisan berupa hak dan kekuasaan maupun warisan berupa harta pusaka. Pengabdian orang Toraja terhadap Tongkonannya diwujudkan dalam bentuk tetap turut Mangngiu¶ artinya tetap memberikan bantuan dan sumbangan sesuai dengan kemampuannya untuk memelihara dan memperbaiki atau . Sebagai tempat berkumpul masyarakat untuk mendengarkan perintah adat dari pemangku adat di Tongkonan tersebut. 8. Setiap rapu dari Tongkonan mempunyai kewajiban untuk tetap mengabdi kepada Tongkonannya. 5. baik Tongkonan dari pihak ibu maupun Tongkonan dari pihak ayah. 7. Keluarga atau keturunan dari Tongkonan-tongkonan tersebut di atas disebut rapu termasuk juga anak angkat. Sebagai tempat menuturkan silsilah keluarga dari Tongkonan tersebut.

Suami atau isteri dari keturunan yang membangun liang tersebut tidak dapat dikuburkan dalam liang itu. Kesadaran sikap pengabdian orang Toraja pada Tongkonan dalam bentuk adat Mangngiu¶ ini. Pranata yang kedua yang menjadi lambang dari kesatuan keluarga adalah liang (kuburan) dari suatu keluarga besar (rapu) yang biasa juga disebut Tongkonan tang merambu (rumah tak berasap = tidak mempunyai dapur) sama halnya dengan Banua Tongkonan. SemuaTongkonan ini harus mendapat perhatian yang sama dari keluarga atau rapunna. Liang sebagaimana halnya dengan Tongkonan.Barang siapa yang melalaikan adat Mangngiu¶ ini terhadap Tongkonan berarti orang tersebut telah menyangkali dan melalaikan pula orang tua serta leluhurnya. Sehingga bisa saja hak warisnya dalam segala bentuk menjadi hilang karena dianggap telah murtad kepada orang tua dan leluhurnya serta perbuatan ini dianggap perbuatan tercela.44 membangun kembali Tongkonan. Jika terjadi hal yang demikian yaitu suami atau isteri dari rapu Tongkonan tang merambu (liang) yang akan dikubur dalam liang itu maka harus melalui musyawarah keluarga besar dari Tongkonan tang merambu tersebut. juga dipelihara secara gotong-royong . hanya anak laki-laki (keturunan) mereka yang dapat dikuburkan pada liang tersebut.dianggap oleh masyarakat suatu keharusan. maupun Tongkonan yang hanya sebagai Tongkonan persatuan dan pertalian keluarga.Setiap orang Toraja harus mengenal semua Tongkonan baik Tongkonan yang mempunyai peranan dan fungsi adat. liang itu juga dimulai oleh leluhur dan yang berhak dikuburkan dalam suatu liang tertentu adalah semua keturunan leluhur yang membangun liang tersebut.

Berdasarkan aturan ± aturan adat yang berlaku di Daerah Rembon khususnya dan wilayah Tana Toraja umumnya.45 dari seluruh keluarga (to ma¶rapu) dan upacara-upacara yang berhubungan dengan arwah leluhur diadakan dekat liang.sedangkan gelar masing-masing pemimpin tersebut berbeda-beda menurut jenjang kepemimpinanya . Padang Diambe¶i. Bentuk pengabdian ini pulalah yang menjadi landasan sehingga hubungan kekeluargaan. Jadi dasar pengabdian orang Toraja pada Tongkonannya. kesatuan dan kegotongroyongan rapu Tongkonan secara khusus dan masyarakat Toraja secara umum tetap terpelihara. Ketiga hal tersebut dapat dilihat pada saat pelaksanaan upacara rambu solo¶ maupun rambu tuka¶. Jaringan sistem . Daerah Rembon termasuk dalam wilayah adat Padang Dima¶dikai dengan sistem pemerintahan yang tersusun mulai dari tingkat yang tinggi yang disebut Ma¶dika sampai pada tingkat rendah yang disebut Ambe¶saroan. Sistem jenjang kepemimpinan tradisional itu sendiri tersusun secara teratur . baik Tongkonan merambu maupun Tongkonan tang merambu karena adanya prinsip cinta kasih dan tetap menjunjung tinggi rasa hormat kepada orang tua dan leluhurnya. Kepemimpinan tradisional masyarakat Toraja di zaman lampau merupakan suatu jaringan sistem yang meliputi tiga wilayah adat yaitu. 30 Juli 2011).Padang Dima¶dikai yang berada di daerah bagian Barat .sesuai dengan struktur organisasi adat yanmg berlaku diseluruh Tana Toraja yang dulu disebut ³Tondok Lepongan Bulan Tana Matarik Allo´.dan Padang Di Puangi yang berada didaerah bagian Timur(Petrus .Maka seluruh pemimpin tradisional disebut to ada¶(pemangku adat) .Wawancara.

Tominaa ( Imam pelaksana) 6. To Mebalun. To Bara¶.adalah pemimpin tertinggi di seluruh wilayah adat Padang Dima¶dikai . Sedangkan sebelum masuknya Belanda pemilihan kepala adat haruslah dipilih berdasarkan Tongkonan.namun ditingkat lembang Dima¶dikai. Unsur pimpinan penanian terdiri dari tiga pemangku adat yaitu To Parenge¶. 4. Anak Patalo. yaitu pemimpin aluk todolo yang terdiri dari.termasuk mengafani jenazah. 2. misalnya dalam pemilihan kepala lembang yang sudah di atur oleh pemerintahan pusat. Ambe¶ saroan. 3. 5.179) Semua jabatan kepemimpinan dalam masyarakat Tana Toraja adalah jabatan yang diwarisi secara turun temurun dari satu rumpun keluarga yang bersumber dari Tongkonan. Tominaa Burake. 7. adalah pemimpin tradisional yang berkedudukan di wilayah Tepopadang atau Tepo Tondok. kecuali kepemimpinan Ambe¶ saroan yang dapat . Daerah Bua¶ini setingkat dengan Distrik dimana sistem aturan yang berlaku terpisah dengan sistem aturan adat. Puang Bua¶ termasuk pejabat yang berdaulat dalam wilayah masing-masing yang bersifat otonom . Pejabat tersebut termasuk sebagai anggota dewan adat yang mengeluarkan aturan. (Limbonglala.Tominaa Sando. Puang Ma¶dika di bantu oleh to ada¶ yang berkedudukan sebagai pemimpin pada wilayah adat yang lebih rendah.1995.adalah pemimpin masyarakat pada wilayah adat di bawah kekuasaan Puang Bua¶. Dalam menjalankan kepemimpinanya maka para Puang Penanian tersebut dibantu oleh tenaga koordinator yang menduduki jabatan sebagai Ambe¶saroan. Puang Ma¶dika . Tominaa. yaitu pemimpin yang bertugas mengatur penyelenggaraan pemakaman. Dalam menjalankan segenap tugas pemerintahan dan kemasyarakatan yang menjadi kewenangan dan tanggung jawabnya.46 kepemimpinan tradisional di daerah Rembon secara umum dapat digambarkan sebagai berikut: 1. Tugas mereka adalah mengkoordinasikan anggota masyarakat Toraja di dalam kegiatan sosial kemasyarakatan yang berkaitan dengan urusan gotong royong. Pada masa kekuasaan Belanda Puang Bua¶ menjadi kepala Bua¶ dengan beberapa daerah Bua¶ yang digabungkan. yaitu pemimpin yang bertugas melaksanakan pembinaan urusan tanaman dan ternak. Puang Bua¶ . To Indo¶ yang disebut pula Indo padang. Puang Penanian.adalah pemimpin tertinggi dalam wilayah pemerintahan di bawah kekuasaan Puang Lembang. jadi yang berhak dipilih hanya mereka yang termasuk kedalam keluarga yang memiliki Tongkonan atau bangsawan.

25 Juli 2011). Namun aturan yang ada dalam masyarakat masing memegang teguh atauran yang diwariskan oleh nenek moyang mereka yaitu Aluk Todolo karena menurut mereka hukum adat itu sangat arif dan bijaksana (Petrus. Sedangkan upacara sering dilakukan karena hal tersebut merupakan suatu tradisi dalam masyarakat Tana Toraja. jika orang tersebut tidak memiliki keluarga atau bukan keturunan dari Tongkonan yang berkuasa maka tidak dapat diangkat menjadi kepala Lembang. Misalnya dalam pemilihan kepala Lembang pada zaman dahulu harus sesuai dengan Tongkonan orang yang diangkat menjadi kepala Lembang.Wawancara.Hal ini sangat berbeda dengan keadan yang sekarang dimana pemilihan kepemimpinan di tingkat kecamatan maupun lembang diatur oleh pemerintah pusat yang terpisah dari pemerintahan adat. Namun pada zaman sekarang kepemimpinan tidak lagi didasarkan pada Tongkonan namun di pilih langsung oleh pemerintah pusat. 30 Juli 2011). Masyarakat Toraja mengatakan . Deppong ( Wawancara. Dalam sistem pengangkatan dan penggantian pimpinan tradisional ditetapkan oleh dewan adat berdasarkan ³aluk ma¶lolo tua´. Dalam kegiatan upacara adat yang sering dilakukan masyarakat Tana Toraja seorang pemimpin sangat berperan aktif didalamnya.47 diganti. Upacara dalam masyarakat Tana Toraja memiliki pengertian sama dengan kepercayaan.Wawancara. 26 Juli 2011). Dalam hal ini kepercayaan jika tidak dilaksanakan maka yang bersangkutan takut akan adanya akibat yang akan menimpa mereka.apabila mereka tidak melakukan upacara tersebut maka mereka merasa tidak puas (Kondo. yaitu aturan dan agama yang menyangkut pemeliharaan kehidupan manusia.

30 Juli 2011). Seluruh jabatan dalam pemerintahan adat Toraja tersebut di atas adalah jabatan± jabatan turun±temurun dari satu rumpun keluarga yang bersumber dari masing ±masing Tongkonan. Upah atau jaminan pada tiap-tiap pejabat penguasa adat Toraja tidak mendapat upah tetap secara materil.Wawancara . Dalam bidang keagamaan .Petrus (Wawancara.maka akan mendapatkan pahala dari Tuhan karena memberikan kepada orang lain berarti memberikan kebaikan pada diri sendiri.48 bahwa seorang pemimpin menjadi tempat bergantung dan berlindung dari masyarakat . pemimpin atau pemuka masyarakat memiliki peran yang penting karena tanpa kehadiran mereka dalam hal keagamaan maka masyarakatnya pun tidak akan mengikuti acara keagaman tersebut. . tetapi upahnya atau gajinya itu hanyalah merupakan jaminan jasa dalam artian bahwa ketika pemimpin adat akan menyelesaikan pekerjaanya seperti mengolah sawah. Dalam kitap suci masyarakat Tana Toraja baik itu kitap suci agama Kristen.tetapi apabila terjadi suatu masalah atau konflik diantara keluarga atau kerabat konflik tersebut tidak dapat diselesaikan jika tidak ditangani oleh seorang pemimpin(Petrus. membangun rumah. Seorang pemimpin merupakan panutan dalam masyarakat. Jabatan ±jabatan tersebut sewaktu-waktu dapat diganti oleh keturunan yang berhak atas jabatan itu karena jabatan tersebut merupakan jabatan warian pada masing ±masing keluarga.30 Juli 2011).islam maupun Alukta dikatakan bahwa siapapun yang beramal baik kepada sesama manusia termasuk musuh .

antara kedua badan dalam daerah kampung yaitu penguasapenguasa adat dan pemerintahan yang ditunjuk oleh pemerintah. . Sampai sekarang ini jabatan-jabatan adat dalam masyarakat Toraja masih tetap ada dan bekerja sama dengan pejabat-pejabat yang ditunjuk oleh pemerintah RI yang kelihatannya sangat harmonis hubungannya karena setiap akan mengerjakan atau menyelesaikan satu masalah masyarakat dikerjakan dengan musyawarah . pejabat-pejabat adat masih mempunyai kesempatan lain menerima upah atau balas jasa mereka dalam memimpin masyarakat yaitu pemberian daging pada waktu pelaksanaan upacara baik Rambu Solo¶ maupun Rambu Tuka¶ dimana dikurbankan babi dan kerbau.49 dikerjakan oleh masyarakat secara gotong ±royong tanpa memberi upah kepada masyarakat. Kecuali dalam hal aturan dan pembinaan agama sudah banyak berubah karena adanya desakan dan pengaruh dari agama Islam dan agama Kristen yang mempunyai petugas-petugas agama masing-masing. daging ini selain sebagai upah juga berstatus sebagai penghargaan atas jasa. Di samping upah jasa yang sudah disebutkan di atas.jasa para peminpin adat. pada waktu itu penguasa-penguasa adat menentukan pembagian daging itu melalui petugas pembagi daging dengan ketentuan bahwa semua petugas adat dan penguasa adat mendapat bagian lebih besar dan tertentu dari pada bangsawanbangsawan lain. dan inilah upah atau balas jasa mereka secara langsung dalam memimpin dan membina masyarakat.

1942 di wilayah Sulawesi Selatan merupakan masa pemerintahan dan kekuasaan Belanda yang seutuhnya dan menyeluruh.50 BAB IV PEMERITAHAN TONGKONAN ADAT SETELAH MASUKNYA BELANDA Sebelum penulis menguraikan gambaran Pemerintahan Tongkonan Adat setelah masuknya Tentara Kolonial Belanda. ada baiknya penulis menguraikan terlebih dahulu mengenai latar belakang kedatangan tentara Belanda di Tana Toraja dan beberapa peristiwa yang terjadi di Tana Toraja sebelum kedatangan Tentara Kolonial Belanda. Kalimantan yang pada waktu itu berkedudukan sebagai daerah berdaulat sejalan dengan Belanda. patuh dan menyerahkan kekuasaan sepenuhnya kepada Pemerintah Hindia Belanda .2004:2) Kehadiran pemerintah Hindia Belanda di Tana Toraja tidak lepas dari kebijakan pemerintah Belanda yang berusaha mewujudkan imperium Hindia Belanda pada permulaan abad ke 20 yang sasaranya adalah daerah luar Jawa seperti Sulawesi Selatan. Lombok . Bali. melalui penandatanganan Pernyataan Pendek (Korte Verklaring) yang disodorkan. Tapanuli. untuk memaksa penguasa ± penguasa di wilayah itu khususnya dan di Sulawesi Selatan pada umumnya untuk tunduk. Penguasaan wilayah ini dicapai setelah dilancarkan pengiriman pasukan pendudukan (militaire expeditie) Sulawesi pada tahun 1905.(Poelinggomang. A. Usaha . Latar Belakang Masuknya Belanda di Tana Toraja Masa Pemerintahan Hindia Belanda antara tahun 1906.

Adanya persaingan diantara kalangan bangsawan di Tana Toraja yaitu sejak selesainya perang kopi yang dalam sejarah Toraja terjadi dari tahun 18891890 merupakan kesempatan bagi bangsawan untuk mengumpulkan senjata api .2004:360) Keinginan Belanda untuk menguasai daerah Tana Toraja karena didorong oleh dua hal yaitu untuk menguasai wilayah Indonesia secara utuh .51 perluasan kekusaan Belanda sampai ke Sulawesi Selatan termasuk Tana Toraja yang dulunya dikenal dengan nama ³Tondok Lepongan Bulan Tana Matarik Allo´ penduduk yang menguasai atau menduduki negeri Tondok Lepongan Bulan Tana Matarik Allo yang diperkirakan datang pada sekitar abad VIII.Senjata ini di impor dari Singapura dan dibawa oleh Pedagang Bugis Makassar ke Tana Toraja.yakni orang-orang yang datang secara berkelompok di mana pada umumnya berasal dari arah selatan. (Mappangara . Pada awal tahun ke-20 kopi merupakan salah satu komoditi utama Hindia Belanda.2004:496) Belanda melakukan perluasan khususnya ke Tana Toraja karena daerah ini merupakan daerah yang potensial untuk penanaman modal dibidang pertanian khususnya perkebunan kopi. Dengan mempergunakan perahu menyusuri aliran sungai-sungai besar. Di Tana Toraja senjata ini ditukar dengan kopi dan budak (Mappangara.dan yang kedua adalah karena Tana Toraja merupakan penghasil kopi yang cukup besar. Tana Toraja adalah penghasil kopi sejak dahulu dimsana terbukti dengan adanya perang kopi antara tahun 1860-1898 pada waktu itu terjadi perang saudara dengan menggunakan senjata api (Bedil).

( Tangdilintin. .kn penyerangan kepada seluruh penguasa adat dan raja. dimana seluruh pasukanya yang berada di Tana Toraja kembali hal ini merupakan bukti bahwa tentara Belanda sudah mulai menentang raja.raja Bugis yaitu raja Bone dan raja Gowa. Tentara kolonial Belanda yang sudah lama berada di daerah Sulawesi Selatan mulai mengatur dan merencanaka. Raja Bone pada waktu itu adalah Lapawawoi Karaeng Sigeri yang mendapat tekanan dari Belanda pada tanggal 1 Juli 1905.raja yanga ada di Tana Toraja.1978:217 ).1982:137) Keberhasilan Belanda menaklukkan Kerajaan Bone membuka peluang yang baik untuk menyerang Kerajaan Luwu termasuk Daerah Tana Toraja.52 yang didapatnya dari pedagang ± pedagang Bugis atau pemimpin Bugis.(Abduh. Sebelum Luwu ditaklukan Belanda belum bersedia menyerang Luwu. ketika mereka mendegar bahwa kolonial Belanda sudah masuk ke Tana Toraja maka masyarakat dan pemimpin adat akan melakukan perlawanan jika kedaulatan mereka diganggu oleh Pemerintah Kolonial Belanda. Setelah Bone ditaklukkan Belanda menyerang Gowa di bawah pemerintahan raja I Makkkulau Daeng Serang Karaeng Lembang Parang Sultan Husain yang dilakukan pada Bulan Oktober 1905. Tana Toraja yang pada permulaan abad ke 20 belum mengenal bagaimana bentuk dan cara pemerintahan Belanda itu . Sejak kembalinya panglima besar kerajaan Bone Petta Ponggawae dari Tana Toraja sejak berakhirnya perang kopi pada tahun 1890. kerjaan itu dapat memberikan bantuan kepada kerajaan lain bila diserang Belanda . Pada awal tahun 1905 Tana Toraja merupakan bagian dari Kerajaan Luwu sebagaimana yang dikemukakan penulis sebelumnya. kerena jika Bone masih kuat .

Sejak berakhirnya perang kopi terjadi perang saudara di berbagai tempat di Tana Toraja dari tahun 1890 . Bombing dan Uwa¶ Saruran Ne¶ Matandung. Masing ± masing penguasa adat ini menyusun perang untuk melawan serangan dari tentara Belanda. mereka meninggalkan senjata ± senjatanya kepada sekutunya yaitu Siambe¶ Pong Maramba . Puang Tarongko. maka perang kopi yang terjadi tidak ada pernyataan siapa yang menang atau kalah. Keadaan ini belangsung hingga datangnya tentara Belanda di Tana Toraja pada permulaan Tahun 1905. .53 Namun penguasa ± penguasa adat di Tana Toraja yang berada di daerah pedalaman belum merasakan dan menduga akan adanya kemungkian yang akan dilakukan oleh Belanda di daerah Sulawesi Selatan khusunya di Tana Toraja. Setelah tentara Bone meninggalkan Tana Toraja yang biasa dikenal dengan Songko¶ Borrong (topi merah).penguasa adat yang lain yaitu. begitu pula dengan tentara Bugis setelah perang kopi selesai mereka meningalkan senjata ± senjatanya kepada sekutunya yaitu Siambe¶ Pong Tiku.tetapi pada kenyataanya pedagang Sidenreng dan Sawitto tetap menguasai seluruh daerah perdagangan kopi. Puang Padanan . setelah perang kopi selesai maka ada dua penguasa adat yang sangat menonjol dan kuat dalam mayarakat Tana Toraja dengan persenjatan yang lengkap dan dalam jumlah yang banyak. Setelah tentara Bone meninggalkan Tana Toraja yang biasa dikenal dengan Songko¶ Borrong (topi merah). Puang Sanggalla.1905. Selain itu adapula penguasa. Perang ini sebagai perang persaingan harta benda dan perang persaingan kekuatan karena perang yang terjadi bukan perang perebutan kekuasaan.

54 Pada tahun 1905 Ma¶Dika Bombing yang merupakan seorang bangsawan di perbatasan Tana Toraja bersama saudaranya Uwa¶ Saruran menerima utusan dari dari raja Gowa I Makkulau Daeng Serang Karaeng Lembang Parang yang datang dari Sidenreng melalui Enrekang maka Ma¶Dika Bombing dan saudaranya segera mengadakan kunjungan kepada semua pemimpin dan bangsawan di Tana Toraja untuk menyampaikan kabar dan amanat tersebut agar mereka mengetahui tentang kedatangan Belanda dan melakukan persiapan untuk melawan kompeni Belanda. Setelah mendengar kabar dari Ma¶ Dika Bombing para pemimpin adat mengadakan musyawarah besar di Buntu Pune Rantepao untuk membahas bagaimana cara menghadapi kedatangan tentara Belanda. Pertemuan ini dilakukan pada bulan November 1905. 3.masing penguasa adat atau pemimpin rakyat memperkuat angkatan perangnya dan memperkuat benteng ± benteng pertahanan disetiap tempat. . Supaya masing . Sebelum Ma¶ Dika Bombing datang mengunjungi Pong Maramba¶ ia telah mengirim utusanya ke Bone untuk melihat keadaan yang telah diberitakan. 2. Adapun isi dari keputusan tersebut adalah: 1. keputusan dalam pertemuan ini diambil secara bersama. Supaya kita melepas semua pertentangan dan mengakhiri perang saudara dan semua pemimpin serta penguasa adat sebagai saudara kandung menghadapi musuh dari luar.Setelah mendengar berita tentang kedatangan tentara Belanda maka Siambe¶ Pong Tiku bertekad untuk melakukan perlawanan terhadap tentara Belanda tersebut dan sama sekali tidak membiarkan siapa pun datang menjajah di daerah Tana Toraja.karena tanpa persatuan kita pasti dikalahkan dan dihancurkan oleh tentara Belanda seperti kerajaan Bone yang kuat hanya beberapa hari saja dapat dikuasai oleh tentara kompeni Belanda. Kita harus mempersatukan kekuatan untuk melawan tentara Belanda tersebut.

Rakyat semakin sadar bahwa serbuan pasukan kompeni Belanda untuk menguasai Tana Toraja hanya akan mendatangkan malapetaka dan penderitaan bagi masyarakat Tana Toraja. .(Passanda. Keputusan diatas membuktikan bahwa tetap tingginya semangat juang dan jiwa patriotisme rakyat Tana Toraja dalam meghadapi serangan dari Kolonial Belanda . 5. Artinya Pong Tiku panen pertama dan Pong Maramba panen raya bersama seluruh rakyat tana toraja. dan pada saat itu disetujui dua pengasa adat terkuat di Tana Toraja yaitu Pong Tiku sebagai pemimpin penyerang dan Pong Maramba sebagai pemimpin penghancuran terhadap tentara Belanda yang dalam bahasa Toraja dinamakan ³Toraja pong Tiku Mangrakan.1995.masing dengan bekal keputusan dari pertemuan tersebut dan mempersiapkan segala sesuatu yang sudah disepakati bersama dalam pertemuan di Buntu Pune.55 4.dan pemimpin pasukan penghancuran . Agar supaya semua benteng dimasukkan persedian makanan agar kita tidak mengalami kesulitan makanan dalam mengadakan perlawanan karena tentara Belanda harus dilawan lama sampai mereka itu kehabisan makanan. Maka ditetapkan pemimpin ± pemimpin sebagai komando dengan pasukan .maksudnya Pong Tiku menentang musuh dan Pong Maramba bersama pasukanya dan rakyat menyelesaikanya.pasukan penyerang.29 ) Setelah selesai melakukan pertemuan para pemimpin dan penguassa adat kembali ke daerahnya masing. Anna pong Maramba¶ Mepare Sola Sang Torayaan´. Upaya Belanda untuk menanamkan kekuasaanya di Tana Toraja mendapat perlawanan dari masyarakat yang dipimpin oleh Pong Tiku sebagai tokoh mayarakat dan pemangku adat serta beberapa pejuang lainya. kesepakatan ini memberikan dorongan yang sangat kuat kepada seluruh dewan adat dan penguasa adat bersama rakyat Tana Toraja dalam melakukan persiapan yang sebaik baiknya dan membangun pertahanan yang tangguh.

56 1. pernyataan Pong Tiku dalam balasan surat dari tentara Belanda akan adanya perang terbuka antara tentara Belanda dengan Pong Tiku tidak bisa di tawar. maka tentara Belanda mulai melakukan persiapan untuk mengahdapi pertahanan Pong tiku. Tentara Belanda mengatur segala persiapan untuk melakukan serangan kepada Pong Tiku dengan mendapat bantuan dari mata ± mata yang sudah berpihak kepada mereka.bahwa Pong Tiku tidak mau menerima kedatangan Belanda di Tana Toraja dan bersiap mengadakan perang dengan tentara kolonial Belanda Dengan adanya surat dari Pong Tiku tersebut.maka pimpinan Belanda yaitu kapten Galian memanggil semua pemimpin dan penguasa adat Tana Toraja untuk datang berkenalan dengan tentara Belanda dan menerima kedatangan Belanda. Akan tetapi panggilan tersebut tidak Ditanggapi oleh Pong Tiku.namun banyak penguasa adat yang tidak datang Seperti Siambe¶ Pong Tiku. demikian juga dengan Pong Tiku telah melakukan persiapan ± persiapan seperti mengumpulkan bahan makanan kedalam benteng.tawar lagi karena isi dari surat tersebut memberikan gambaran kepada tentara Belanda. Perlawanan Pong Tiku Pada bulan Maret 1906 pasukan Belanda dengan kekuatan satu batalyon berangkat dari Palopo melalui Batu Sitanduk menuju tana toraja dengan sasaran utama dalah rantepao. namun hal itu tidak langsung dilakukan karena pemerintah Belanda menunggu waktu yang tepat. Ma¶ Dika Bombing dan Uwa¶ Saruran (Tandilintin.Setelah beberapa hari di Rantepao .benteng .1978:223 ). Oleh karena itu tentara kolonial Belanda mengirimkan surat kepada Siambe¶ Pong Tiku untuk datang ke Rantepao menemui tentara Belanda.

maka pada bulan April tahun 1906 tentara Belanda mengirim 2 kompi besar sebagai ekspedisi I pada daerah kekuasaan Pong Tiku di Panggala¶ dalam perjalanan tersebut mereka tidak mendapat perlawanan dari pasukan Pong Tiku maupun rakyatnya. Serangan dari pasukan Pong Tiku membuat tentara Belanda harus meninggalkan Panggala¶ pada tengah malam karena serangan yang tak henti ± hentinya dari pasukan Pong Tiku. setelah semua persiapan sudah siap Belanda mengirimkan kekuatanya pada bulan Juni ke Benteng Lali¶ Tondong yaitu salah satu benteng Pong Tiku yang terletak . (Tangdilintin. Namun ternyata apa yang dipikirkan Belanda itu salah. Adanya situasi seperti ini maka pimpinan ekspedisi Belanda mengangap bahwa Pong Tiku dan rakyatnya mau berunding dengan mereka. Ketika tengah malam sekitar jam 10.00 dengan tidak disangka sangka serangan besar.57 pertahanan. akan tetapi tidak adanya perlawanan dari Pong Tiku dan rakyatnya sedang melakukan persiapan dan rencana penyerangan kepada tentara Belanda.1978:225) Setalah tentara Belanda meninggalkan Panggala¶ mereka mulai mempersiapkan bantuan yang kuat dan dengan persenjatan yang modern. Tentara Belanda yang ada di Panggala¶ membuat perkemahan dengan tenang mengangap bahwa tidak akan ada pasukan dari Pong Tiku yang akan menyerang mereka. Dalam perjalanan meninggalkan Panggala¶ tentara Belanda mendapat bantuan dari rakyat Dende¶sehingga mereka bisa lolos dari serangan pasukan Pong Tiku. Karena Pong Tiku tetap pada pendirianya tidak mau tunduk pada tentara Belanda.besaran secara tiba ±tiba dari pasukan Pong Tiku pada markas tentara Belanda dan terjadi pertempuran dimalam yang sudah sangat gelap.

Pasukan Pong Tiku mengganggu tentara Belanda yang sedang membuat perkemahan dalam pertempuran ini tidak ada yang menjadi korban di kedua belah pihak. pasukan Belanda menggunakan tembakan meriam dan mengunakan tali tambang untuk memanjat benteng namun pasukan Pong Tiku mau menyerah. Benteng Kaddo dan Tondok mendapat serangan pihak Belanda. Jika ada pasukan Belanda yang ingin memanjat dinding benteng pasukan Pong Tiku menggelindingkan batu kepada mereka. sedangkan Pong tiku menjadi khawatir akan kebobolan pertahanan. Atas gangguan itu. Namun seberapa pun kuatnya pertahanan pasukan Pong Tiku. Berbagai cara telah dilakukan tentara Belanda untuk menangkap Pong Tiku seperti. namun dengan bantuan mata ± mata bernama Tappa¶ Pong Tiku berhasil . mengeluarkan pernyataan bahwa barang siapa yang berhasil menangkap Pong Tiku akan mendapat imbalan. Demikianlah dengan segala macam cara yang dilakukan kolonial Belanda untuk menangkap Pong Tiku.58 disebelah Barat daerah Panggala¶.( Abduh. memasang mata. mereka bisa dikalahkan oleh pasukan Belanda. Belanda mulai merasa putus asah .1982:153) Perang yang terjadi di Benteng Koddo ini melelahkan kedua belah pihak. pasukan Belanda mulai mempersiapkan diri untuk berperang di bawah pimpinan Letnan Satu Einthoven Pada tanggal 18 Juli 1906. Pada saat belanda istrahat dan mengundurkan diri dari medan perang. mengadakan pertemuan ± pertemuan dengan para pemimpin ada lainya.mata untuk mengintai keberadan Pong Tiku. Pada peperangan ini . pong tiku memindahkaan pasukanya ke benteng Rinding Allo.

maka benteng pertahanan yang masih tinggal yaitu Benteng Alla¶ dan Benteng Ambeso yang terletak antara Kabupaten Enrekang dan Tana Toraja sekarang. demikian juga dengan pasukan Pong Tiku yang telah disapu bersih oleh tentara Belanda pada bulan Oktober 1906.(Abduh.Massimau¶. Ambe¶ Daini.1982:154). Kedua Benteng pertahanan ini digempur oleh tentara Belanda. Pada akhir Bulan Januari 1907 Pong Tiku menggabungkan diri dengan pertahanaan di Benteng Ambeso dan Benteng Alla¶. maka mulailah tentara Belanda datang dari berbagai daerah. Pada tanggal 10 Juli 1907 Pong Tiku ditembak oleh pasukan Belanda di pinggir sungai Sa¶dan di Rantepao ketika sedang mandi. Setelah Pong Tiku berada di Benteng Ambeso. Puang Sossok. Payung. 1978:235).( Tangdilintin.59 ditangkap dan ditawan di markas yang ada di Rantepao. Selain Pong tiku para pemimpin ±pemimpin rakyat dari berbagai daerah dang ke benteng ini karena kedua Benteng ini yang belum jatuh ketangan tentara Belanda. Yang sudah sejak bulan Oktober 1906 sudah didatangi oleh tentara kolonial Belanda. Dengan meninggalnya pongtiku berarti perlawanan terhadap Belanda semakin kendor. Puang Alla¶. Puangna Mattti¶. Perang Benteng Alla¶ dan Ambeso Setelah jatuhnya seluruh daerah pantai yang pada akhir tahun 1906 tidak ada lagi yang bertahan diseluruh daerah pantai.dengan demikian peluang Belanda menanamkan kekuasaanya di Tana Toraja semakin terbuka. 2. Namun karena begitu kuatnya pertahanan .para pemimpin benteng ini seperti. Puang Matarru¶. Semua pemimpin Benteng Ambeso dan Alla¶ berusaha mempertahankan kedua benteng ini.

Pada tanggal 26 Maret 1907 serangan yang paling hebat dikerahkan dengan tiada henti.hentinya. sedangkan benteng Alla¶ hanya menggunakan senjata berupa gulingan batu besar namun senjata ini sangat ditakuti oleh tentara Belanda (Tandilintin.(Tandilintin.60 kedua benteng ini sehingga tentara Belanda harus mendatangkan bantuan untuk menyerang kedua Benteng ini. Benteng Alla merupakan benteng pertahanan diseluruh dataran selebes Selatan yang sedang dalam pengepungan tentara Belanda.1978:236). Hal ini menyebabkan pasukan benteng selalu kalah apalagi setelah batu gulingan mereka sudah habis . Maka terjadilah perkelahian yang sangat hebat yaitu pasukan benteng menggunakan .1978:236). Pada bulan Maret 1907 Benteng Ambeso jatuh ketangan Belanda dan seluruh anggota pasukan benteng Ambeso melarikan diri dan bergabung lagi dengan pasukan Benteng Alla¶. Tembakan meriam dari berbagai pihak dan berbagai jenis ukuran tetap menghujani benteng Alla¶disertai dengan serangan granat tangan sebagai selingan dari tembakan meriam. pada penyerangan ini banyak tentara Kolonial Belanda yang mati karena gulingan batu. Penyerangan kepada kedua Benteng ini dihadiri oleh pembesar ± pembesar dari tentara Belanda dari Makassar. Tentara Belanda pertama ± tama melakukan penyerangan terhadap benteng Ambeso di bagian utara. namun karena tentara Belanda memiliki alat persenjatan yang moderen seperti meriam dan menghancurkan seluruh pinggiran benteng. Beberapa hari pertempuran yang sengit tak henti hentinya dari pasukan tentara Belanda.maka tentara Belanda tidak ragu ± ragu lagi memanjat ke atas Benteng .

tiba muncul nama Pong Simping dari kampung Pantilang yang melakukan perlawanan.pemimpin ini sehingga mereka tidak mendapatkan tempat lagi untuk bertemu setelah pertemuan singkat di daerah Mundan.masing pergi mencari jalanya sendiri . Namun karena pemerintah Belanda yang terus mencari tahu tempat pertemuan pemimpin. 3. Para pemimpin ini memutuskan untuk berpisah dan masing. juga ingin melumpuhkan perlawanan masyarakat di daerah Tana Toraja. tiba.sendiri. Semua pasukan benteng yang masih hidup dengan pemimpin ± pemimpin benteng meninggalkan Benteng dengan tetap diburu oleh tentara Belanda. . Dengan persenjatan yang sangat sederhana pasukan benteng harus mengakui kekuatan dan kelebihan tentara Belanda. Ketika Pong Simping melakukan perlawanan di kampung Pongkatapi (10 km dari selatan Palopo). Pada akhir Bulan Maret 1907 pertahanan Benteng Alla¶ berhasil ditaklukkan oleh tentara Belanda. Tapi ternyata keliru. sehingga mereka harus berpisah untuk mencari tempat persembunyian serta tempat menyusun kekuatan kembali. Belanda mengira Tana Toraja berhasil ditaklukkan dan tidak ada lagi pahlawan . tokoh masyarakat yang dinggap menentang kebijakanya di singkirkan dan ada yang mati teraniaya.61 sangkur dan pedang sedangkan tentara Belanda menggunakan granat tangan. Perlawanan Pong Simping Kedatangan Belanda di Tana Toraja pada tahun 1914 selain bermaksud menguasai semua hasil bumi . Hasil bumi kaum tani secara paksa diambil oleh tentara kolonial Belanda .

Selain melakukan perang gerilya juga mengadakan sabotase sehingga sangat memusingkan pihak Belanda. Oleh sebab itu Belanda. tidak setianya sebagian pemimpin suku adat Tana Toraja pada ikrar musyawarah besar di Buntu Pune bulan September 1905. Kedua. Setelah pasukan dari Pantilang di taklukan sasaran selanjutnya yaitu menangkap Pong Simping.(Syam. Peperangan berkobar dimana. sedangkan beberapa pucuk senjata lainya di rampas kemudian dibagi ± bagikan kepada pejuang. Berbagai perjuangan yang dilakukan mayarakat dan pemimpin adat dalam menentang kehadiran kolonial Belanda di Tana Toraja pada akhirnya gagal.62 berhasil menewaskan komandan sersan stout.´siapa yang berhasil menagkap Pong Simping hidup atau mati belanda akan memberinya kehormatan´ .mana dan banyak menelan korban di kedua belah pihak. Melihat keadaan itu tidak ada jalan lain bagi Belanda kacuali melakukan perang terhadap rakyat Toraja. politik pecah belah dan adu . pertama.2010:74) Atas tindakanya itu pasukan gerilya pimpinan Pong Simping semakin kuat karena dilengkapi persenjataan dan banyak mendapat dukungan dari masyarakat utamanya kepala suku dan tokoh. selain meningkatkan bantuan personilnya juga melakukan propaganda pada masyarakat yang berisikan tulisan .namun propaganda tersebut tidak mendapat tanggapan yang serius dari masyarakat malah lebih cenderung mendukung gerakan dari Pong Simping. politik devide et impera .tokoh masyarkat. Kegagalan ini disebabkan karena. Namun seberapa kuatnya Pong Simping melakukan perlawanan akhirnya Belanda berhasil melumpuhkan perlawananya dan Pong Simping berhasil di tangkap.

kadang kontrolir menjadi sekretaris afdeeling. Onderafdeeling. Maluku. yang berada langsung di bawah Gubernemen. kadang. Sejak tahun 1938 terdapat 3 wilayah Gubernemen yaitu. dan Timur Besar (Grote Oost) yang mencakup Sulawesi. penggunaan senjata yang tidak seimbang kedudukanya. tiap distrik dibagi lagi dalam beberapa kecamatan yang dikepalai oleh camat. Keempat. distrik yang dikepalai oleh seorang gubernur sekaligus sebagai kepala pemerintahan. dan Irian Barat. Afdeeling dikepalai oleh seorang asisten residen yang mempunyai tugas untuk memimpin dan mengawasi penyelenggaraan urusan pemerintahan di wilayah afdeling. Penataan Kembali Wilayah Pemerintahan di Tana Toraja Secara umum seluruh wilayah administrasi Pemerintah Hindia Belanda di Sulawesi Selatan terbagi dalam lingkungan kerja yang disebut gewest (wilayah). yang terbagi atas gewestafdeling. kolonial Belanda menggunakan senjata modern dan banyak jumlahya sedangkan rakyat menggunakan persenjataan yang tradisional yaitu senjata api yang tidak cukup. B.63 domba yang dilakukan dengan cerdik oleh kolonialisme Belanda terhadap pemimpin suku adat di Tana Toraja. sebelum 1938 terdapat 17 gewesten.(Surianingrat. kalimantan (Borneo). Distrik dikepalai oleh seorang wedana. Kepulauan Sunda. Sumatera . Tiap gubernemen dikepalai oleh seorang Gubernur.1981:53) . Ketiga. Tipu daya yang dilakukan kolonialisme Belanda secara licik dengan berunding dan berdamai dengan Pong Tiku dengan tujuan menangkap hidup Pong Tiku. Onderafdeeling dikepalai oleh kontrolir (controleur).

1981:64) Daerah Tondok Lepongan Bulan Tana Matarik Allo segerah berubah pada masa pemerintahan Belanda . dimana perjanjian ini sebetulnya adalah aturan yang mengatur dan menerangkan bahwa kerajaan pribumi ada di bawah kekuasaan Negara Belanda. Daerah swaparaja ini berhak untuk mengatur dan mengurus rumah tangganya sendiri. Setelah Belanda menaklukkan kerajaan. di daerah Toraja dibentuk Onder Afdeeling Makale & Rantepao yang secara administratif berada di bawah satuan wilayah yang lebih luas yang disebut Swaparaja Luwu.kerajaan Sulawesi Selatan seperti Bone. Keadaan ini berlangsung hingga tahun 1967.1982:149). maka pemerintah Belanda dengan leluasa akan menata administrasi pemerintahannya di Sulawesi Selatan dan khusunya di Tana Toraja. yang diperintah oleh pembesar peribumi (pemimpin adat). Daerah Tana Toraja dimasukkan dalam Afdeeling Luwu.64 Sietem pembagian wilayah diatas berlaku secara umum diwilayah yang telah dikuasai oleh Kolonial Belanda termasuk daerah Tana Toraja yang merupakan daerah swaparaja atau daerah yang berpemerintahan sendiri. Antara Pemerintah Hindia Belanda dan raja atau pembesar pribumi ada perjanjian. Sejak tahun 1905 Belanda mulai menanamkan kekuasaan kolonialnya di Tana Toraja. Pada tahun 1926.karena pada tahun ini Tana Toraja mulai menjadi kabupaten yang terpisah dari Luwu (Abduh.(Surianingrat. . Gowa dan terakhir melakukan penghukuman kepada pemimpin perlawanan Tana Toraja yaitu Pong Tiku. dalam artian bahwa wilayah swaparaja ini mempunyai wewenang untuk menyelenggarakan pemrintahan sendiri yang diserahkan kepada raja (pribumi) yang dituangkan dalam suatu keteranagan atau pernyataan (Verklaring).

Dengan demikian Tana Toraja dijadikan Onder afdeeling yang dikepalai oleh seorang kontrolir atau controleur. 3.masing sebagai berikut: 1. Pada saat Belanda melakukan penataan pemerintahan di Tana Toraja. Onder Afdeeling Makale yaitu daerah yang ada di bagian Utara Tondok Lepongan Bulan. maka Tana Toraja dijadikan sebagai Onder Afdeeling Rantepao dan Makale . Onder Afdeeling Enrekang yaitu bagian selatan daerah Tondok Lepongan Bulan.menandakan bahwa Rantepao dan Makale masing ± masing berdiri sendiri sebagai satu Onder Afdeeling atau dengan kata lain dipisahkan. (Tandilintin.65 Sehubungan dengan penataan wilayah ini maka. 1. Penggabungan Tana Toraja ke dalam Afdeeling Luwu merupakan usaha Belanda untuk menata pemerintahan dengan baik.( Arsip Tana Toraja) Berdasarkan penatan kembali wilayah yang dilakukan Belanda pada masa kekuasanya di Sulawesi Selatan. namun tetap berada dalam suatu Afdeeling yaitu Afdeeling Luwu. Kemudian Onder Afdeeling diatas digabungkan dalam beberapa Afdeeling yang dikepalai oleh asisten residen sebagai berikut. Onder Afdeeling Enrekang digabungkan dalam Afdeeling Pare ± Pare 2. . Onder Afdeeling Mamasa yaitu daerah yang berada di bagian Barat Tondok Lepongan Bulan. termasuk daerah Basse Sangtempe dan daerah adat seko dan Rongkong. 2.Rantepao digabungkan pada Afdeeling Luwu.2009:72-73) Penggabungan tersebut menandakan bahwa Tana Toraja yang kita kenal sekarang pada masa kolonial Belanda termasuk kedalam daerah Afdeeling Luwu. Onder Afdeeling Mamasa digabungkan pada Afdeeling Mandar 3. Onder Afdeeling Makale. Tana Toraja ( Tondok Lepongan Bulan Tana Matarik Allo) terbagi atas beberapa daerah Onder Afdeeling masing.

Ma¶dika). Hal ini dilakukan oleh pemerintahan kolonial Belanda demi kelancaran dan kemudahan dalam mengatur administrasi pemerintahanya. Parengge¶. Pada saat Belanda belum masuk ke Tana Toraja kecamatan Rembon terdiri dari kelompok daerah ± daerah kekuasaan dimana daerah tersebut diperintah oleh salah seorang yang berwibawa dan bijaksana yang berasal dari Tongkonan layuk atau Tongkonan yang pertama dibangun. Salah satu daerah yang menjadi daerah penelitian sehubungan dengan pengaruh kebijakan pemerintahan kolonial Belanda terhadap pemerintahan tongkonan adat yaitu daerah Banga yang berada di kecamatan Rembon.masing dipimpin oleh penguasa setempat (Puang. Pemerintah Belanda mulai mengatur dan menyusun pemerintahanya yang terdiri dari Distrik . Papa Tettu (Wawancara tanggal 28 Juli 2011 ).Petrus (Wawancara 30 Juli 2011). Pada daerah Barat yang terkenal dengan daerah adat Kama¶dikaan atau Padang di Ma¶dikai. seluruh daerah ± daerah yang sudah ditaklukan di Sulawesi Selatan semakin ditata dengan baik. Dengan demikian Tongkonan layuk meskipun terbatas tetap merupakan pusat kegiatan dan membimbing seluruh masyarakat berdasarkan peraturan yang . Pada zaman pemerintahan Belanda daerah kekuasaan Tongkonan layuk diambil oleh pemerintahan Belanda dengan membentuk sejumlah Distrik yang berdasarkan daerah kekuasaan setiap Tongkonan layuk. Tana Toraja sebagai daerah terakhir yang ditaklukan mendapat penataan yang mapan. Bua¶ dan Kampung yang masing.66 Langkah selanjutnya yang dilakukan oleh pemerintah Belanda dalam menetapkan pemerintahanya yaitu.

Dalam pemilihan Parengge¶ semua lapisan masyarakat dan lapisan hamba diperlakukan sama .setelah Buttu Batu kawin dengan Bura mereka hidup sebagai suami istri dan menjadi penjaga Tongkonan Banga. Parenge¶ di Banga secara turun temurun berasal dari tongkonan Banga yaitu keturunan Buttu Batu. Distrik Balepe¶ 9. Adapun Distrik . Distrik Banga 2. Di daerah Banga yang berkuasa pada saat itu adalah keturunan Tamboralangi dari Ullin yaitu Buttu Batu. Distrik Se¶seng 7.67 telah ditetapkan oleh pemerintahan adat sendiri. Distrik Bittuang 11. Distrik Ulu Salu 6. 28 Juli 2011). Distrik Patsa 5.2000:23) yaitu. Kemudian istilah to Parenge¶ dibawa ke Banga. Pada masa Belanda berkuasa di Tana Toraja istilah Parenge¶ pertama kali digunakan di Rantepao. jika ada keturunan yang memenuhi syarat untuk menjabat jabatan Parengge¶. Distrik Talion 4.Distrik yang dibentuk oleh pemerintah Belanda dalam (Toding. 1. Distrik Tapparan 3.Papa Tettu (Wawancara. hanya saja lapisan hamba tidak berhak dipilih. Distrik Malimbong 8. karena Belanda mula ± mula mendarat di Rantepao dan kemudian ke Banga. Struktur Pemerintahan Tana Toraja setelah masuknya Kolonial Belanda Masa pertengahan abad ke-20 dapat dikatakan awal dari pemerintahan dan kekuasaan Pemerintah Hindia Belanda di wilayah Sulawesi pada umumnya dan . C. Distrik Balla 10. pada saat pengangkatan Parengge¶ baru maka akan diadakan juga pemilihan umum . Distrik Pali.

Daerah ± daerah yang telah dikuasai dijadikan wilayah pemerintahan dan kekuasaan langsung Pemerintah Hindia Belanda. Kontrolir merupakan pejabat terendah dari jenjang kepangkatan Pemerintahan Belanda. masing-masing dijabat oleh regen dan kepala kampung.68 Tana Toraja pada khususnya. Tingkat daerah adat dan kampung berada di bawah pejabat pemerintah bumuputera. daerah adat (adatgemeenschap) dan kampung (kampung).Wilayah yang berbentuk kerajaan dan kesatuan kecil dari satu kelompok yang berpemerintahan sendiri dihapuskan. peraturan dan ketentuan pemerintah. . cabanga pemerintahan (onderafdeeling).2004:3) Tingkat bagian pemerintahan dan cabang berada di bawah pimpinan pejabat pemerintah Belanda. masing ± masing secara berurutan oleh pejabat asisten residen (assistent resident) dan kontrolir(controleur). Pemerintah Hindia Belanda mengajukan suatu susunan pemerintahan baru di daerah itu dalam penataan dan pelaksanaan pemerintah. karena merupakan barisan terdepan dan yang berhubungan langsung dengan pejabat pemerintah bumiputera dan berperan sebagai pelaksana dan pengawas Pemerintahan Hindia Belanda dalam mengatur pelaksana aturan. Pemerintahan sulawesi dan daerah bawahanya diatur secara bertingkat ke bawah bagian pemerintahan (afdeeling). Aturan yang lama diganti dengan aturan yang baru yang ditetapkan Pemerintah Belanda.(Poelinggomang. Pada dasarnya dapat dikatakan pada masa itu terjadi perubahan politik dalam bidang penataan dan pelaksanaan pemerintahan. penetapan dan penerimaan kebijaksanaan. Meskipun demikian kedudukanya sangat penting.

Dalam sistem Pemerintahan Kolonial Belanda jabatan yang dianggap penting semua berada ditangan pegawai Belanda. merupakan wilayah Hindia Belanda struktur birokrasi pemerintahan kolonialnya dibagi dalam dua pembagian administratif yaitu.masing dikepalai oleh seorang bumiputera (bangsawan). Pemerintah Belanda mengadakan registrasi kependudukan di setiap kampung. sedangkan jabatan ± jabatan yang dianggap oleh Pemerintah Belanda langsung berhubungan dengan masyarakat diserahkan kepada golongan pribumi. menyusun aparat pemerintahan sipil dengan mengangkat kepala ± kepala Distrik pertanian.1995:181) di setiap wilayah dan pendataan tanah . Kehidupan Sosial Masyarakat Tana Toraja Setelah kepahlawanan Pong Tiku dan jatuhnya Benteng Ambesso. dan Alla yang diikuti oleh pembersihan terhadap sisa ± sisa para pejuang kompeni Belanda maka cengkraman kekuasaan kolonalisme Belanda atas wilayah Tana Toraja kian melengkapi kekuasaan kolonialisme untuk mengukuhkan kekuassaan administrassi pemerintahanya.(Pasanda. Selama Pemerintahan Kolonial Belanda di Tana Toraja kepemimpinan masih dipegang oleh masyarakat yang statusnya lebih tinggi atau dari kalangan bangsawan yang berasal dari keturunan pemimimpin Tongkonan. pertama sebagai Onderafdeeling MakaleRantepao yang dikepalai oleh seorang controleur.sedangkan daerah kedua adalah di bawah Onderafdeeling yang terdiri dari distrik ± distrik dan kampung-kampung atau lembang yang masing. D.69 Tana Toraja yang dijadikan sebagai Onderafdeeling di bawah Afdeeling Luwu.

kantor. Mereka seolah olah berkompetisi untuk mendapatkan hasil dari penarikan pajak yang lebih besar pula.kejar penagih pajak. Kepada penduduk yang tidak dapat membayar pajak seperti yang telah ditentukan mendapat sangsi yaitu pajak atau kerja rodi yang lamanya berlangsung . 1995:182) Keadaan tersebut dapat memberikan dampak yang tidak menguntungkan bagi masyarakat Tana Toraja dalam berbagai bidang kehidupan yaitu. (Pasanda.70 Kemudian pemerintah sipil dan militer Belanda dengan mengerahkan rakyat secara paksa dalam bentuk kerja rodi untuk membangun jalan. Akibatnya rakyat semakin diperas dan menderita karena dikejar. Bidang ekonomi Secara ekonomi masyarakat tidak mempunyai waktu dalam menjalankan usahanya karena mendapat perintah dari atasanya yaitu Belanda. Mereka mengangkat petugas ± petugas pajak dengan memberikan premi sebagai imbalanya. 1. Adanya praktek sistem premi akan menimbulkan rangsangan yang sangat tinggi bagi penarik pajak. Kesempatan yang seharusnya digunakan untuk pemenuhan kebutuhanya . Besar kecilnya premi yang diterima ditentukan jumlah uang hasil penarikan pajak yang diperoleh dari rakyat. karena pemerintah kolonial Belanda menyadari bahwa biaya untuk menumpas perlawanan rakyat Tana Toraja khusunya di Sulawesi Selatan pada umumnya telah menelan biaya yang tidak sedikit jumlahnya. Untuk memperlancar rencana tersebut pemerintah Kolonial Belanda tidak dapat sepenuhnya membebankan biaya kepada anggaran pemerintahnya semata mata. rumah ± rumah pejabat pemerintah sipil. terpaksa digunakan untuk kepentingan kolonial Belanda.kantor pemerintah.

Pada pendekatan . Pemerintah Belanda dalam memperoleh pajak harus melalui perantara. Hal ini berlaku selama pemrintahan kolonial Belanda di Tana Toraja. Sebagai konsekuen dari penyelewengan ini adalah masyarakat yang mengalami penderitaan sedangkan pelaksananya atau pegawainya yang menerima keuntungan. dengan demikian sistem yang seperti pihak yang ditugaskan untuk menagih pajak ini seakan akan menyelewengkan wewenag yang diberikan dari pemerintah Belanda. Hal ini dilakukan oleh penguasa Belanda dengan bantuan pribumi dalam menagih pajak. maka kebutuhan pelayanan rohani mereka dilayani oleh pendeta yang didatangkan dari bantaeng. maupun pemuka masyarakat dan pemuda. maka timbul ketidakpuasan bagi rakyat Tana Toraja dan berkembang dalam bentuk gagasan±gagasan pembangkangan dan pemberontakan dikalangan masyarakat yang menjadi kepala Distrik. Masyarakat Tana Toraja mengalami keterpurukan sehingga masyarakat banyak yang menderita akibat kebijakan yang diterapkan tentara kolonial Belanda.71 beberapa hari. Karena penindasan dan pemerasan yang tinggi dan di luar batas kemanusiaan. Dalam bidang pendidikan Setelah berfungsinya sekolah ± sekolah pada tahun 1908 dengan tenaga guru yang kebanyakan beragama Kristen.kepala keluarga dan yang dianggap dewasa. 2.tetapi juga baagi semua penduduk terutama kepala . Wajib rodi ini tidak hanya berlaku sebagai hukuman bagi rakyat yang tidak mampu membayar pajak. Kampung.

Namun pendidikan ini belum merata di seluruh Tana Toraja . Bidang sosial budaya Dalam bidang sosial. Dengan bekal pengetahuan yang diberikan oleh pemerintah kolonial Belanda. maka secara lambat laun masyarakat menyadari sifat kolonialisme dari tentara kolonial Belanda yang sesungguhnya di Tana Toraja. Pendidikan yang dilakukan oleh zending sangat erat hubunganya dengan usaha penyebaran agama Kristen di Tana Toraja sehingga pusat pendidikan zending sampai tahun 1914 sudah berjumlah 11 sekolah. berarti bahwa masyarakat Toraja mulai mengenal sistem pendidikan. 3. Dibangunya sekolah ± sekolah oleh pemerintahan Belanda .72 untuk penyebaran injil melakukan pendekatan yang pertama kepada pemuka ± pemuka elit setempat.Kedua meyebarkan pendidikan agar dapat menghindari benturan langsung dengan nilai tradisional baik agama (aluk) maupun adat. ahli agama dengan maksud pemuka agama tersebut dapt mewariskanya kepada anak cucu mereka bahkan masyarakat lainya. . sehubungan dengan diterapkanya politik etis yang membawa angin baru bagi kehidupan masyarakat Tana Toraja memahami bahwa Dengan dibukanya sarana ± sarana pendidikan oleh pemerintahan kolonial Belanda maka sebagai masyarakat Tana Toraja merupakan kesempatan untuk mendapatkan pengetahuan yang luas. Masyarakat Tana Toraja tidak semua ikut dalam sistem pendidikan ini karena disesuaikan dengan keadaan ekonomi dan sosial masyarkat.

73

Pemerintahan tradisional setelah kekuasaan Belanda memang banyak mengalami perubahan ± perubahan tetapi tidak begitu berpengaruh terhadap

sistem pemerintahan yang ada, karena pada kenyataanya sampai sekarang pemerintahan tradisional itu masih tetap nampak dalam masyarakat dan masih berlaku dalam kehidupan masyarakat Tana Toraja pada umumnya.Deppong ( wawancara, 26 Juli 2011) Terlebih masih sangat jelas terlihat dalam kegiatan upacara rambu tuka¶ dan rambu solo¶. Dimana dalam kegiatan upacara tesebut yang bertindak sebagai pengatur jalanya pesta upacara adalah penguasa adat. Disini terlihat bahwa sistem pemerintahan tradisional itu masih tetap lestari sampai sekarang karena masih tetap berperan dan berfungsi dalam masyarakat Toraja. Namun meskipun demikian pada kenyataanya mengenai kekuasaan dan pemerintahan tradisional ini ,tidak mungkin tetap menutup diri dan mau tidak mau harus menerima penyeragaman dari pemerintahan pusat, karena mengingat bahwa Tana Toraja adalah bagian yang tidak dapat dipisahkan dari Negara kesatuan Republik Indonesia. Oleh sebab itu akan tetap menerimanya dan menjalankan pemerintahan yang dicanangkan oleh pemerintah pusat.

74

BAB V PENUTUP A. Kesimpulan 1. Sebelum Tana Toraja dikuasai oleh Belanda bentuk pelaksanaan pemerintahan memang sudah ada dan mempunyai sistem dan struktur pemerintahan tradisional yang berpusat pada tongkonan. Sistem ini membagi wilayah adat dalam tiga daerah adat yaitu,Padang Diambe¶i, Padang Dima¶dikai, dan Padang Dipuangi. Sistem pemerintahan dan kekuasaan tradisional Tana Toraja dapat disebut sistem pemerintahan dan kekuasaan tongkonan atau sistem pemerintahan yang berlaku di masyarakat adalah sistem pemerintahan adat. Setiap wilayah adat

memiliki struktur pemerintahan sendiri yang bersumber dari masing ± masing Tongkonan. 2. Keinginan Belanda untuk menguasai Daerah Tana Toraja karena didorong oleh dua hal yaitu untuk menguasai wilayah Indonesia secara utuh ,dan yang kedua adalah karena Tana Toraja merupakan penghasil kopi yang cukup besar. Kehadiran Kolonial Belanda di Tana Toraja mendapat reaksi keras dari masyarakat dan pemimpin ± pemimpin adat di Tana Toraja seperti Pong Tiku. Namun usaha Pong Tiku akhirnya gagal dan pemerintahan Belanda dengan leluasa menyusun pemerintahanya. Selama Pemerintahan Kolonial Belanda di Tana Toraja kepemimpinan masih dipegang oleh masyarakat yang statusnya lebih tinggi atau dari kalangan bangsawan yang berasal dari keturunan pemimimpin Tongkonan.

75

pendudukan Belanda di Toraja sangat lancar karena tetap memberikan kekuasaan adat kepada tiap bangsawan penguasa daerah adat, namun harus tunduk kepada Kontroleur Belanda sebagai Kepala Daerah Onder Afdeeling. Sejak pendudukannya, Belanda membagi daerah Toraja dalam 3 daerah yang digabungkan dengan satu daerah lain dalam bentuk pemerintahan OnderAfdeeling. 3. Setelah perlawanan masyarakat Tana Toraja dirasakan kolonial Belanda sudah mengendor sebagai akibat dari ditangkapnya beberapa pemimpin perlawanan terhadap Kolonial Belanda maka, mereka mulai menata sistem pemerintahannya. Tana Toraja dijadikan sebagai Onder Afdeeling Makale ± Rantepao. Pemerintah Belanda mulai menyusun tata pemerintahan Tana Toraja yang dibagi menjadi, Distrik, Bua¶, Kampung yang masing ± masing dipimpin oleh penguasa setempat yaitu; Puang, Parengge¶, dan Ma¶dika. Pemerintahan tradisional setelah kekuasaan Kolonial Belanda memang banyak mengalami perubahan ± perubahan tetapi tidak begitu berpengaruh terhadap sistem pemerintahan tradisional , karena pada kenyataanya penguasa adat atau para pemimpin adat masih tetap berperan dalam kehidupan masyarakat. Peran mereka masih sangat jelas terlihat dalam kegiatan upacara adat yang dilakukan masyarakat Tana Toraja seperti upacara rambu tuka¶ dan upacara rambu solo¶.

maka penulis memberikan himbauan berupa saran sebagai berikut: 1. 3. 2. Kepada segenap masyarakat dan pejabat pemerintahan di Tana Toraja pada masa sekarang dan masa yang akan datang hendaknya tetap mempertahankan keutuhan daerah Tana Toraja dan mengatur jalanya roda pemerintahan sesuai dengan cita ± cita para pendahulu msyarakat Toraja yang telah memperjuangan Tana Toraja dari Kolonialisme Belanda. sehingga menghasilkan karya yang sederhana yang tak luput dari kekurangan. Oleh sebab itu pada kesempatan ini penulis mengharapkan masukan dari berbagai pihak. Keterbatasan kemampuan yang dimiliki penulis dalam penulisan ini. utamanya pada sejarawan yang ingin mengkaji lebih mendalam tentang Pemerintahan Tongkonan Adat pada masa Kolonial Belanda sehingga dapat menghasilkan karya yang lebih bermutu dan obyektif. Saran Dengan berdasar pada hasil penelitian di atas. Untuk lebih mengembagkan daerah Tana Toraja kearah yang lebih baik .76 B. diharapkan kerja sama dari segenap lapisan masyarakat melalui pembangunan dalam era otonomi daerah sekarang ini sehingga tercipta daerah mandiri yang mampu mengurus rumah tangganya sendiri. .

Mappangara.Dr. Suriadi. Luwu Dalam Revolusi. Akin Duli.A.Perpustakaan Setwilda Tk Sulawesi-Selatan.yayasan perguruan kristen Nonci.H.Jakarta:Gramedia pustaka utama. Jakarta : Dep.2000. Madjid.Skripsi Peranan Tongkonan Adat Dalam Perlawanan Rakyat Benteng Alla¶ Terhadap Kolonial Belanda Pada Tahun 1905-1907.Makassar.van Morris. Pendekatan Ilmu Sejarah. Sosial Dalam Metodologi Kadir.Taufik Abdullah. 1995.Fakultas sastra UNHAS. .F.Pendidikan dan Kebudayaan Direkrorat Jenderal Kebudayaan. 1982. Makassar: Pustaka Refleksi. Laporan Penelitian Sistem Kepemimpinan Tradisional Masyarakat TanaToraja.Mengenal Toraja.2005. Abdurracman. 2003.1984. Idwar.harun.Surjomiharjo.2007.. Luwu:Komunitas Kampung Sawerigading. Muhammad.Sejarah Perjuangan Kemerdekaan Republik Indonesia di Sulawesi Selatan (1945.Jakarta:Gramedia Sejarah Dan Hasanuddin. Marampa.77 Daftar pustaka Abduh.Makassar: Hasanuddin University press Sulawesi- Matatta. Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Sulawesi Selatan. Pengantar Ilmu Sejarah.Emiaty. Sejarah Perlawanan terhadap Imperialisme dan Kolonialisme di Sulawesi Selatan. dkk.M.Rantepao. Makassar: toACCAe Publishing Mattulada.1982.T.Anwar.A. Mappasanda . Tana Toraja.Dep.Dg Sanusi.Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional Ujung Pandang. M. 2004. Ensiklopedia Sejarah Sulawesi Selaatan sampai tahun 1905.1993.Toraja Dulu dan Kini.1985.Kerajaan Luwu Dalam Catatan Gubernur Celebes 1888 D.Ilmu Historiografi arah dan Perspektif.Sejarah Mayarakat dan Kebudayaan Selatan. Saleh. Limbonglala.A. Makassar: Raihan Intermedia.1998.H. Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional Proyek Inventarisasi Sejarah Nasional.Ensiklopedi Sejarah Luwu. Kartodirdjo.1962.Makassar:BAPPEDA Sulawesi Selatan.1950).Sartono. 2008.

Makassar: Pustaka Refleksi.Bandung:Alfabeta. 1981. A.Kualitatif dan Surianingrat.Drs bayu. Sugiyono.Profil Raja cet. Tana Toraja: Yayasan Lepongan Bulan.1942.Makassar: Balai pelestarian sejarah dan nilai tradisional Makassar. __________. Pangerang. Sejarah Kabupaten Tana Toraja. Penelitian Kuantitatif. Mohammad Natsir. __________.M. Tana Toraja(1900- Sitonda.Rimba Alam A. Salassa.78 Pasanda. 2005. Tana Toraja: Yayasan Lepongan Bulan. .2004.Metode R&D. Sejarah dan pola-pola hidup Toraja.2010.Pustaka refleksi:Makasaar. T . dan Pejuang Sulawesi Selatan Tampubolon.Sejarah Perjuangan Pahlawan Pongtiku. Toraja Warisan Dunia.Pongtiku Pahlawan Tana Toraja Anti Kolonial Belanda.2009. Perubahan Politik dan Hubungan Kekuasaan Makassar 1906.2010.Prof Dr. 1978. Edward L. Toraja sebuah penggalian sejarah dan budaya.1976.Jakarta:Dewaruci Press. L. __________.Makassar:Fakultas Sastra UNHAS. 1975. Toraja dan Kebudayaannya.Jakarta:Fajar Baru Sinar Pratama.Tana Toraja.Skripsi Sejarah Pemerintahan 1979).Ridwan. Tana Toraja: Pemerintah Kabupaten Tana Toraja.Yogyakarta: Ombak.Ayub.1995. Poelinggomang.Sejarah pemerintahan Di Indonesia Babak Hindia Belanda dan Jepang.2. Syam.Yayasan Lepongan Bulan.Makassar:Dinas Kebudayan dan Pariwisata Provinsi Sulawesi Selatan. 1971. Tangdilintin .Allo Arrang.2009.Sejarah Singkat Kerajaan di Sulawesi Selatan.Dkk.1990.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->