P. 1
Revisi SKRIPSI

Revisi SKRIPSI

|Views: 2,557|Likes:
Published by khoirulhud

More info:

Published by: khoirulhud on Jan 25, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/07/2013

pdf

text

original

Sections

  • 1.1 Latar Belakang
  • 1.2 Tujuan Penelitian
  • 1.3 Hipotesa
  • 2.1. Klasifikasi Tanaman Jagung
  • 2.2 Botani Tanaman Jagung
  • 2.3.1. Jagung Hibrida
  • 2.3.2. Non Hibrida
  • 2.4 Syarat Tumbuh Tanaman Jagung
  • 2.5 Pupuk organik
  • 2.6 Fugisida
  • 2.7 . Penyakit pada tanaman jagung
  • 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian
  • 3.2.1. Alat
  • 3.2.2. Bahan
  • 3.3.1 Persiapan lahan
  • 3.3.2. Pengolahan Tanah
  • 3.3.3. Penanaman
  • 3.3.4. Pemberian pupuk organik dan fungisida Demorf
  • 3.3.5. Pemeliharaan
  • 3.3.6. Analisa Data
  • 4.1.1 Tinggi Tanaman
  • 4.1.2. Jumlah Daun
  • 4.1.3. Panjang Daun
  • 4.1.4. Serangan Hama
  • 4.2. Pembahasan
  • 5.1. Kesimpulan
  • 5.2. Saran

I.

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Jagung (Zea mays L.) merupakan salah satu tanaman pangan dunia yang terpenting, selain gandum dan padi. Penduduk di indonesia, amerika tengah dan selatan jagung di gunakan sebagai makanan pokok selain itu jagung juga di gunakan sebagai pakan ternak, di ambil minyaknya dan akhir akhir ini di gunakan sebagai bahan Bio Etanol. Dan beberapa penduduk daerah di Indonesia (misalnya di Madura dan Nusa Tenggara) juga menggunakan jagung sebagai pangan pokok. Selain sebagai sumber karbohidrat, jagung juga ditanam sebagai pakan ternak (hijauan maupun tongkolnya), diambil minyaknya (dari biji), dibuat tepung (dari biji, dikenal dengan istilah tepung jagung atau maizena), dan bahan baku industri (dari tepung biji dan tepung tongkolnya). Tongkol jagung kaya akan pentosa, yang dipakai sebagai bahan baku pembuatan furfural. Jagung yang telah direkayasa genetika juga sekarang ditanam sebagai penghasil tanaman farmasi. Jagung (Zea mays. L.) merupakan kebutuhan yang cukup penting bagi kehidupan manusia dan hewan. Jagung mempunyai kandungan gizi dan serat kasar yang cukup memadai sebagai bahan makanan pokok pengganti beras. Selain sebagai makanan pokok, jagung juga merupakan bahan baku makanan ternak. Kebutuhan akan konsumsi jagung di Indonesia terus meningkat. Hal ini didasarkan pada makin meningkatnya tingkat konsumsi perkapita per tahun dan semakin meningkatnya jumlah penduduk Indonesia. Jagung merupakan bahan 1

2

dasar / bahan olahan untuk minyak goreng, tepung maizena, ethanol, asam organic, makanan kecil dan industri pakan ternak. Pakan ternak untuk unggas membutuhkan jagung sebagai komponen utama sebanyak 51, 4 % ( Subandi et al.1988). Areal dan agroekologi pertanaman jagung sangat bervariasi, dari dataran rendah sampai dataran tinggi, pada berbagai jenis tanah, berbagai tipe iklim dan bermacam pola tanam. Tanaman jagung dapat ditanam pada lahan kering beriklim basah dan beriklim kering, sawah irigasi dan sawah tadah hujan, toleran terhadap kompetisi pada pola tanam tumpang sari, sesuai untuk pertanian subsistem, pertanian komersial skala kecil, menengah, hingga skala sangat besar. Menurut Subandi et al suhu optimum untuk pertumbuhan tanaman jagung rata-rata 26300C dan pH tanah 5,7-6,8. Produksi jagung berbeda antardaerah, terutama disebabkan oleh perbedaan kesuburan tanah, ketersediaan air, dan varietas yang ditanam. Variasi lingkungan tumbuh akan mengakibatkan adanya interaksi genotipe dengan lingkungan (Allard and Brashaw 1964), yang berarti agroekologi spesifik memerlukan varietas yang spesifik untuk dapat memperoleh produktivitas optimal.

1.2 Tujuan Penelitian Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian

penambahan pupuk organik dan fungisida terhadap tingkat serangan penyakit bulai pada tanaman jagung.

3

1.3 Hipotesa • Diduga dengan pemberian atau penambahan pupuk organic dan fungisida bisa mengurangi tingkat serangan bulai pada tanaman jagung

Diduga dengan pemberian fungisida yang berbahan aktif Dimetomorf 10 gram dalam 1 kg benih jagung dapat menekan tingkat serangan penyakit bulai pada tanaman jagung.

II.

TINJAUAN PUSTAKA.

2.1. Klasifikasi Tanaman Jagung Tanaman jagung dalam bahasa ilmiahnya disebut Zea mays L. adalah salah satu jenis tanaman biji-bijian dari keluarga rumput-rumputan

(Graminaceae). Jagung hibrida merupakan generasi pertama atau F1 dari persilangan antara dua galur. Jagung hibrida dapat diperoleh dari hasil seleksi kombinasi atau biasa disebut hibridisasi. Hibridisasi merupakan perkawinan silang antara tanaman satu dengan tanaman yang lain dalam satu spesies untuk mendapatkan genotipe (sifat-sifat dalam) yang unggul. Hal ini dapat menciptakan suatu jenis atau spesies baru yang dapat meningkatkan produksi, tahan terhadap serangan hama dan penyakit serta berumur pendek. Tanaman jagung (Zea mays L.) dalam tata nama atau sistematika (taksonomi) tumbuh-tumbuhan dimasukkan dalam klasifikasi sebagai berikut : Divisi Sub divisi Kelas Ordo Famili Genus Spesies : Spermatophyta : Angiospermae : Monocotyledoneae : Graminae : Graminaceae : Zea : Zea mays L.

(Warisno, 2009).

4

Persarian tanaman jagung pada umumnya dibantu oleh angin. persariannya adalah persarian bersilang. (Nurmala. 1988). pada bunga betina terdapat sejumlah rambut yang jumlahnya cukup banyak (sesuai dengan jumlah biji yang ada dalam tongkol). Suhu yang dikehendaki tanaman jagung berkisar antara 21°C – 30°C. 2008). Bunga pada tanaman jagung terdiri dari bunga jantan dan bunga betina yang letaknya terpisah. 2000). Ditambahkan oleh Warisno (2009) bunga betina pada tanaman jagung biasa disebut tongkol. selalu dibungkus oleh kelopak-kelopak bunga yang jumlahnya sekitar 6–14 helai. Biji jagung tersusun dalam janggel adalah tongkol yang dibentuk pada bunga betina setelah terjadi pembuahan terjadi perkembangan biji 7 hari sampai 10 hari. (Syukur. Selain itu.5 Tanaman jagung merupakan tanaman berumah satu (monoecious) dimana bunga jantan (staminate) terbentuk pada ujung batang. Bunga jantan yang terdapat di ujung tanaman masak lebih dahulu daripada bunga betina. Bunga betina (tongkol) hanya siap dibuahi 5 dalam waktu tiga hari saja. Suhu sekitar 25°C akan mengakibatkan perkecambahan biji jagung lebih cepat dan suhu tinggi lebih dari 40°C akan mengakibatkan kerusakan embrio sehingga tanaman tidak jadi berkecambah. yang pertama perkembangannya lambat. . sedangkan bunga betina (pistilate) terletak pada pertengahan batang (Muhadjir. Akan tetapi untuk pertumbuhan yang baik tanaman jagung khususnya jagung hibrida suhu yang optimal adalah 23°C – 27°C. sedangkan bunga betina terdapat pada tongkol jagung.

(Harsono. umumnya berkisar 100 – 300 cm. (Sunarti. Sekitar 4 cm di bawah permukaan tanah. seminal tumbuh dari radikma dan embiro.5 – 7. 2008). akar adventif dan akar udara. Jagung hibrida akan tumbuh dengan baik di daerah yang ketinggiannya lebih dari 5000 m di atas permukaan laut. Pada buku ruas akan muncul tunas yang berkembang menjadi tongkol. 2000) . fungsi Ligula adalah mencegah air masuk ke dalam kelopak daun dan batang. Daun jagung memanjang dan keluar dari buku-buku batang. Curah hujan yang normal untuk pertumbuhan tanaman jagung yang ideal adalah sekitar 250 mm/tahun sampai 2000 mm/tahun. 2008). (Efendi. Akar adventif disebut juga akar tunjang. Antara kelopak dan helaian terdapat lidah daun yang disebut Ligula. 2008) Batang jagung tidak bercabang. Jagung termasuk tanaman akar serabut yang terdiri dari tipe akar yaitu akar dan seminal. Tanaman jagung sangat bermanfaat bagi kehidupan manusia ataupun hewan. (Nurmala. Tinggi jagung tergantung variates. Akar ini dari buku paling bawah. jagung merupakan salah satu bahan makanan yang mengandung hidrat arang.8 terutama pada saat berbunga dan pengisian biji. produksi jagung kini dapat dikonsumsi oleh manusia dalam bentuk penyajian.6 Kondisi pH yang baik untuk pertumbuhan jagung hibrida berkisar antara 5. jagung merupakan makanan pokok kedua setelah padi. berbentuk silinder.0 dan pH optimal 6. yang dapat digunakan untuk menggantikan (mensubtitusi) beras. Akar udara adalah akar yang keluar dari dua atau lebih dari buku terbawah dekat permukaan tanah. Jumlah daun terdiri dari 8-48 helaian tergantung varietasnya.

3. pada bunga betina terdapat sejumlah rambut yang jumlahnya cukup banyak (sesuai dengan jumlah biji yang ada dalam tongkol). sedangkan bunga betina (pistilate) terletak pada pertengahan batang (Muhadjir. 2. Bunga betina (tongkol) hanya siap dibuahi dalam waktu tiga hari saja. Jagung gigi kuda ( Zea Mays Indentata ) Jagung mutiara ( Zea Mays Indurata ) Jagung manis ( Zea Mays Saccharata ) Jagung berondong ( Zea Mays Everta) Jagung tepung ( Zea Mays Amylaceae ) Jagung polong ( Zea Mays Tunicata ) Jagung ketan ( Zea Mays ceratina ) . 5. 6.3 Jenis – jenis Tanaman Jagung Menurut (Rahmat. persariannya adalah persarian bersilang. Ditambahkan oleh Warisno (2009) bunga betina pada tanaman jagung biasa disebut tongkol. 1988). selalu dibungkus oleh kelopak-kelopak bunga yang jumlahnya sekitar 6–14 helai. 2004) jenis tanaman jagung pada dasarnya bentuk yang tumbuh di dunia dibedakan atas tujuh jenis sebagai berikut : 1. Persarian tanaman jagung pada umumnya dibantu oleh angin. Neni Iriany. Selain itu. 2. Tanaman jagung merupakan tanaman berumah satu (monoecious) dimana bunga jantan (staminate) terbentuk pada ujung batang.2 Botani Tanaman Jagung. 7. Bunga jantan yang terdapat di ujung tanaman masak lebih dahulu daripada bunga betina. (R. 2009).7 2. dkk. 4.

(Subekti. tepung sari tidak harus menempel pada kepala putik. dkk. Tangkai putik berupa rambut jagung bila ditempel tepung sari. yaitu dengan cara menebarkan tepung sari kemudian menjatuhkan pada tangkai. Stadia vegetatiF Pada stadia vegetatif ini melalui fase kecambah. 2008 ) . Perlu dijaga kemurnian biji dari varietas yang dibudidayakan dan juga terjadinya penyerbukan silang pada tanaman jagung. Proses penyerbukan. Stadia generatif Pada stadia ini dinamai dengan pembentukan primordia. Perkembangan dan pertumbuhan serbuk sari berlanjut. akar batang daun yang cepat pada akhirnya pertumbuhan vegetatif menjadi lambat sehingga dinamainya stadia generatif. dilanjutkan dengan fase pertumbuhan vegetatif. Karena tangkai putik dapat menyebabkan proses penyerbukan tetap berlangsung. Letak bunga jantan dan betina tidak berada di satu tempat. dkk. Bunga jantan pada ujung batang yang sedang berbunga. Proses pembungaan yang mencakup peristiwa penyerbukan dan pembuahan. Kemudian saluran-saluran tangkai putik bertemu sel telur. 2008) 2. Proses pertumbuhan merupakan kelanjutan peristiwa penyerbukan dapat berlangsung selama serbuk sari menempel pada putik. ( Subekti.8 Pada proses tumbuh tanaman jagung dibedakan dalam dua stadia yaitu: 1. sedangkan bunga betina berada di pertengahan batang atau tongkol. Penyerbukan yang terjadi pada tanaman jagung biasanya dibantu dengan angin.

(ii) warna biji. Jagung umur genjah adalah jagung yang dipanen pada umur kurang dari 90 hari. yaitu (a) pericarp. mineral. (ii) dataran rendah subtropik dan mid-altitude (1. dinding ovari atau perikarp menyatu dengan kulit biji atau testa. membentuk dinding buah. berupa lapisan luar yang tipis.000 m dpl). (iii) lingkungan tempat tumbuh. Jagung hibrida mempunyai komposisi genetic yang heterosigot homogenus. dan stabil disebut sebagai varietas atau kultivar. sebagai miniatur tanaman yang terdiri atas plamule. Kelompok genotipe dengan karakteristik yang spesifik (distinct). ( Junita. scutelum dan koleoptil. jagung umur dalam dipanen pada umur lebih dari 90 hari. (b) endosperm. sedangkan jagung bersari bebas memiliki komposisi genetik heterosigot heterogenus. dan (iii) dataran tinggi tropik (>1. jenis jagung dapat dibedakan berdasarkan komposisi genetiknya. Neni Iriany. akar radikal.600 m dpl). mengandung 90 % pati dan 10 % protein. Sejalan dengan perkembangan pemuliaan tanaman jagung. jenis jagung dapat diklasifikasikan berdasarkan: (i) sifat biji dan endosperm. Jenis jagung berdasarkan umur panen dikelompokkan menjadi dua yaitu jagung umur genjah dan umur dalam. 2009). seragam (uniform).600 m dpl).9 Biji jagung disebut kariopsis. Biji jagung terdiri atas tiga bagian utama. Jenis jagung berdasarkan lingkungan tempat tumbuh meliputi: (i) dataran rendah tropik (<1. dan (v) kegunaan (R.000-1. mencapai 75 % dari bobot biji yang. minyak dan (c) embrio (lembaga). . 2009 ). berfungsi mencegah embrio dari organisme pengganggu dan kehilangan air. Selain itu. dkk. (iv) umur panen. yaitu jagung hibridadan jagung bersari bebas. sebagai cadangan makanan.

Jagung Hibrida di peroleh dari hasil seleksi kombinasi atau biasa di sebut hibridisasi. Hibridisasi dalam pengertian sederhana ialah menyerbuki bungabunga yang telah di kebiri dengan tepung sari dari jenis jagung yang yang di kehendaki sebagai bapak.1. kokoh dan tegak : Hijau daun. . 2009). 2. Secara konvensional hibridisiasi bisa juga di sebut perkawinan silang antara tanaman yang satu dengan tanaman yang lain dalam satu spesiesies untuk mendapatkan genotipa (sifat-sifat dalam) yang unggul. yakni susunan kromoom yang mempunyai lebih dari dua set kromosom dalam sel somatisnya. Hal ini dapat menciptakan suatu jenis atau sepesies baru yang dapat meningkatkan produksi tahan terhadap serangan hama dan penyakit.dan biasa disebut breeding. umur lebih pendek dan sebagainya (Wariso. Dengan breding (hibridisasi) di harapkan bisa membentuk suatu jenis tanaman yang mempunyai kromosom yang polyploidy.120/2/2009 Umur Tinggi Tanaman Batang Warna Daun : 102 hari : 217 cm.000 varietas jagung. Jagung Hibrida. Diperkirakan di seluruh dunia terdapat lebih dari 50. : Besar. dkk. 2009 ). Keputusan Mentri Pertanian Nomor : 606/kpts/SR. Deskripsi Jagung Hibrida Varietas Bisi 222.3. Neni Iriany.10 yaitu kelompok genotipe dengan sifat-sifat tertentu yang dirakit oleh pemulia jagung. (R.

: 14 – 16. MD.Bisi International. : Ungu kemerahan. tahan penyakit bulai (Peronosclerospora maydis). kokoh dan tegak : Hijau daun. tahan terhadap penyakit karat daun (Puccinia sorghi) dan hawar daun (Helminthosporium maydis). : Merah : Silindris. : 16 – 18. : Kuning kemerahan : Silindris. : Ungu kehijauan. Keputusan Mentri Pertanian Nomor : 606/kpts/SR. : Ungu kehijauan. tahan penyakit bulai . Tbk. 2009 ) Deskripsi Jagung Hibrida Varietas Bisi 816. : Besar. ( Sumber : Putu Darsana. : 13. PT. : Ungu kemerahan.120/2/2009 Umur Tinggi Tanaman Batang Warna Daun Warna malai(anther) Warna sekam(glume) Warna rambut Warna tongkol Bentuk tongkol Jumlah Baris Potensi hasil Rata-rata Ketahanan terhadap hama dan penyakit : 99 hari : 214 cm.11 Warna malai(anther) Warna sekam(glume) Warna rambut Warna tongkol Bentuk tongkol Jumlah Baris Potensi hasil Rata-rata Ketahanan terhadap hama dan penyakit : Ungu kemerahan. : Ungu kemerahan.65 ton pipil kering : Tahan terhadap penyakit busuk pucuk tongkol (Gibberella zeae).71 ton pipil kering : Tahan terhadap penyakit busuk pucuk tongkol (Gibberella zeae). : 13.

2007 ) 2. : Ungu kemerahan. MD. : 12. tahan penyakit bulai (Peronosclerospora maydis).12 (Peronosclerospora maydis). Jagung Non Hibrida adalah merupakan jagung lokal asli indonesia yang sudah di budidayakan sejak zaman nenek moyang kita secara sederhana dengan . Non Hibrida.Bisi International. : Kuning kemerahan : Silindris. Keputusan Mentri Pertanian Nomor : 102/kpts/SR. : Besar. Tbk. tahan terhadap penyakit karat daun (Puccinia sorghi) dan hawar daun (Helminthosporium maydis). : Ungu kemerahan.3.Bisi International. PT.84/3/2007 Umur Tinggi Tanaman Batang Warna Daun Warna malai(anther) Warna sekam(glume) Warna rambut Warna tongkol Bentuk tongkol Jumlah Baris Potensi hasil Rata-rata Ketahanan terhadap hama dan penyakit : 99 hari : 205 cm. tahan terhadap penyakit karat daun (Puccinia sorghi) dan hawar daun (Helminthosporium maydis). 2009 ) Deskripsi Jagung Hibrida Varietas Bisi 12. kokoh dan tegak : Hijau daun. MD. ( Sumber : Putu Darsana.2. Tbk.40 ton pipil kering : Tahan terhadap penyakit busuk pucuk tongkol (Gibberella zeae). : Ungu kehijauan. : 14 – 16. PT. ( Sumber : Putu Darsana.

13 bentuk yang kecil ada yang berwarna kuning atau merah hati . Perubahan tubuh tanaman secara kimi. Dkk. Secara umum ada beberapa persyaratan kondisi yang dikehendaki tanaman jagung anatara lain sebagai berikut. diantaranya temapat tumbuh atau tanah. . (Arifin c. Keadaan Tanah Tanah merupakan media tanam tanaman jagung. fisik dan biologi akan berpegaruhi fungsi dan kekuatan akar dalam menopang pertumbuhan serta produktifitas tanaman. Pemberian pupuk. 2005 ). Akar tanaman berpengang kuat pada tanah serta mendapatkan air dan unsur hara dari tanah. mungkin dulu pernah ada dengan nama Jagung ARJUNA-1 dan ARJUNA-2.yang mana setelah masak di biarkan di lahan sampai 5-6 bulan karna umurnya yang sangat panjang 200-240 hari baru bisa di panen terus cara penyimpanan nya sangat sederhana setelah panen kira-kira umur 200-240 hari panen diambil tanpa di buang kulit luar atau klobot nya terus di simpan di atas rumah atau di gubuk bisa awet sampai 3-4 tahun kemudian bisa di tanam kembali. 2009) 2.4 Syarat Tumbuh Tanaman Jagung Produktifitas tanaman jagung sangat dipengaruhi oleh beberapa fakto. akan memberikan dan menambah kesuburan tanah sehingga pertumbuhan dan produktifitas tanaman jagung dapat di penenuhi dengan seimbang ( Purwono. 2005 ) Menurut ( Rudi. air dan iklim. 1.

Tanah-tanah berat masih dapat di tanami jagung dengan pengerjaan tanah lebih sering selama pertumbuhannya. pada daerah dengan tingkat kemiringan 5 – 8 % . Jagung dapat tumbuh baik pada berbagai macam tanah. Tanah dengan kemiringan lebih dari 8 % kurang sesuai dengan penanaman jagung.6 – 7.5.14 a. c. Hal ini dikarenakan kemungkinan terjadi erosi tanah sangat kecil. Jenis tanah andosol merupakan tanah yang berasal dari gunung berapi.5 tanaman jagung tidak bisa tumbuh maksimal karena keracunan oim alumanium. b. Kemiringan tanah yang optimal untuk tanaman jagung maksimum 8%. Sebagian terdapat juga di daerah pegunungan pada ketinggian 1000 – 1800 m di atas permukaan air laut. d. karena tanaman jagung memerlukan aerasi dan pengairan yang baik. lotosol merupakan tanah tekstur lepung atau liat berdebu dan grumosol merupakan tanah tekstur berat. Keasaman tanah erat berhubungan dengan ketersediaan unsur hara tanaman. Pada tanah yang memiliki pH kurang dari 5. sehingga aerasi dalam tanah berlangsung dengan baik. Tanah yang di kehendaki adalah gembur dan subur. Keasaman yang ideal untuk pertumbuhan tanaman jagung antara 5. Air tanah yang berlebihan dibuang melalui saluran pengairan yang dibuat diantara . Tanah lempung berdebu adalah yang paling baik bagi pertumbuhannya. sebaiknya dilakukan pembentukan teras. Tanaman jagung membutuhkan tanah dengan aerasi dan ketersediaan air dalam kondisi baik.

5 – 7. Keadaan Iklim Tanaman jagung berasal dari daerah tropis dan dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan di luar daerah tersebut. 2007) Faktor iklim yang terpenting adalah jumlah dan pembagian dari sinar matahari dan curah hujan.0.kelembapan dan angin.(Radmat. curah hujan yang ideal bagi pertumbuhan jagung yaitu 85 – 200 mm/bulan dengan . dengan maksud untuk mencegah keganasan erosi yang terjadi pada waktu turun hujan besar 2.15 barisan jagung. temperatur . Bila tidak terdapat penyinaran dari matahari. Ikilim yang di kehendaki tanaman jagung sebagian besar daerah beriklim sedang hingga daerah beriklim subtropics dan tropis. Tanah dengan kemiringan tidak lebih dari 8% masih dapat ditanami jagung dengan arah barisan tegak lurus terhadap miringnya tanah.800 m di atas permukaan laut. (Dahlan M 1992). Kemasaman tanah (pH) yang terbaik untuk jagung adalah sekitar 5. Tempat penanaman jagung harus mendapatkan sinar matahari cukup dan jangan terlindung oleh pohon pohonan atau bangunan. hasilnya akan berkurang. Tanaman Jagung dapat tumbuh dengan baik di dataran rendah maupun ketinggi 1000 – 1. Curah hujan merupakan faktor pendukung dalam pertumbuhan dan produksi tanaman jagung. Temperatur optimum untuk pertumbuhan jagung adalah antara 23 – 27 C. Pertumbuhan tanaman dan produksi membutuhkan penyinaran matahari atau intensitas yang baik mencapai 100% areal terbuka.

0 t/ha (Didi Ardi Suriadikarta dan R. ( Rahmat. 2007 ) 2. Pada proses perkecambahan benih jagung memerlukan suhu berkisar antara 30°C ( Purnomo.D. 2004 ).5-3. 2006) . terutama pada saat pertumbuhan awal. Kebutuhan jumlah air setiap varietas sangat beragam.5 Pupuk organik Pupuk organik/pupuk kandang (khusus untuk lahan kering masam dianjurkan pupuk kandang yang digunakan adalah kotoran ayam ras/petelor karenacukup mengandung unsur kapur). 3. diaplikasikan pada saat tanam sebanyak segenggam (25-50 g) per lubang penempatan benih (sebagai penutup benih). saat berbunga dan saat pengisian biji. Hasil penelitian di amerika menunjukkan bahwa kekurangan air pada saat 3 minggu setelah keluar rambut tongkol akan menurunkan hasil hingga 3 % sementara kekurangan air selama pembungaan akan menguragi junlah biji yang terbentu.16 suhu 27 – 32°C. Kebutuhan Air Tanaman jagung membutuhkan air cukup banyak.setara dengan 1. Simanungkalit. Kekurangan air pada stadium tersebut akan menyebakan produksi menurun.M. namun secara umum tanaman jagung membutuhkan 2 liter air pertanaman perhari saat kondisi panas dan berangin.

Umbi transplant akar dan organ propagatif lainnya. Perusahaan penghasil benih biasanya menggunakan fungisida pada benih.wikipedia. mengganggu pembelahan sel. quinon heterosiklik) dan non selektif (fungisida hidrocarbona aromatik. dan menghambat kerja enzim tertentu yang menghambat proses metabolisme cendawan (Lee et al. antara lain dengan merusak dinding sel.17 2.org/wiki/fungisida) Fungisida sistemik local. organofosfat. Fungisida dapat berbentuk cair (paling banyak digunakan). untuk membunuh cendawan pada bahan yang akan ditanam dan melindungi tanaman muda dari Cendawan pathogen Selain itu. 1992). (http://id. dan serbuk. oxathiin. gas. Contoh: simoksanil dan dimetomorf. memmpengaruhi permeabilitas membrane sel. penggunaan fungisida dapat digunakan melalui injeksi pada batang semprotan cair secara langsung. butiran. . dan dalam bentuk fumigan(berbentuk gas yang disemprotkan).6 Fugisida Fungisida adalah pestisida yang secara spesifik membunuh atau menghambat cendawan penyebab penyakit.tembaga. tetapi tidak ditranslokasikan ke bagian tanaman lainnya. diabsorbsi oleh jaringan tanaman. Fungisida demetomorf adalah salah satu fungisida yang berfungsi mengendalikan atau mematikan cendawan dengan beberapa cara. Fungisida dapat diklasifikasikan menjadi dua golongan. yaitu fungisida selektif (fungisida sulfur. anti-oomycota. fungisida yang menghambat sintesis seterol serta fungisida sistemik lainnya).

sorghi (Sorghum downy mildew) P. heteropogoni (Rajasthan downy mildew) Sclerophthora macrospora (Crazy top) S. dan kehilangan hasil yang ditimbulkannya dapat mencapai 100% pada varietas jagung yang rentan(Sudjono. 8. Thailand. Peronosclerospora maydis (Java downy mildew) P. 2. Indonesia. miscanthi (Miscanthi downy mildew). 6. rayssiae var. dan Amerika (Shurtleff. 1988) Shurtleff (1980). 4. Wakman dan Djatmiko (2002). zeae (Brown stripe) graminicola (Graminicola downy mildew) 10. 1993). 5. India. philippinensis (Philippine downy mildew) P. Sclerospora . 9. Penyakit pada tanaman jagung a.18 2. Penyakit Bulai ( Downy mildew ) Penyakit bulai pada jagung merupakan penyakit utama yang paling berbahaya karena sebarannya yang sangat luas meliputi beberapa negara penghasil jagung di dunia seperti Filipina. 3.7 . spontanea (Spontanea downy mildew) P. serta Rathore dan Siradhana (1988) melaporkan bahwa penyakit bulai pada jagung dapat disebabkan oleh 10 spesies dari tiga generasi yaitu: 1. sacchari (Sugarcane downy mildew) P. 1980) dan hampir di semua propinsi di Indonesia (Semangun. P. Afrika. 7. 1973.

19 Penyakit bulai di Inonesia di sebabkan oleh 3 spesies cendawan dari genus cendawan Peronosclero Spora Maydis dan P. dan bagian daun yang masih sehat berwarna hijau normal. (2) pada tanaman berumur 3-5 minggu. Tanaman jagung mengalami periode kritis antara umur 1 minggu hingga 5 minggu. warna menguning. tampak dengan jelas pada pagi hari. Gejala lain juga dapat diamati (1) pada tanaman berumur 2-3 minggu. apabila selama periode kritis tersebut tanaman tidak menimbulkan gejala serangan maka tanaman jagung akan tumbuh normal dan bisa menghasilkan tongkol. dengan batas yang jelas. Gejala lainnya adalah terbentuk anakan yang berlebihan dan daun-daun menggulung dan terpuntir. Daun yang khlorotik sistemik menjadi sempit dan kaku. Tanaman menjadi terhambat pertumbuhannya dan pembentukan tongkol terganggu sampai tidak bertongkol sama sekali. Warna putih seperti tepung pada permukaan bawah maupun atas bagian daun yang berwarna khlorotik. sisi bawah daun lapisan spora cendawan warna putih . Gejala daun yang terinfeksi berwarna khlorotik. bunga jantan berubah menjadi massa daun yang berlebihan dan daun sobek-sobek. daun runcing dan kecil.spora Philipinensis. tanaman yang terserang mengalami gangguan . Gejala sistemik terjadi bila infeksi cendawan mencapai titik tumbuh sehingga semua daun terinfeksi. biasanya memanjang sejajar tulang daun. kaku dan pertumbuhan batang terhambat.spora Javanica serta P. Yang akan merajalela pada suhu udara 27 derajat C ke atas serta keadaan udara lembab . Tanaman yang terinfeksi sistemik sejak muda di bawah umur 1 bulan biasanya mati.

maka daun kotiledon selalu terinfeksi. dan S. graminicola 17-34°C. macrospora 24-28°C. P. Beberapa jenis serealia yang dilaporkan sebagai inang lain dari patogen penyebab bulai jagung adalah Avena sativa (oat). .20 pertumbuhan.menanam Varietas unggul dan tahan terhadap bulai contoh Bisi 816 (3) dilakukan pencabutan tanaman yang terserang. daun berubah warna dan perubahan warna ini dimulai dari bagian pangkal daun. Heteropogon contartus. S. Infeksi dari konidia yang tumbuh di permukaan daun akan masuk jaringan tanaman melalui stomata tanaman muda dan lesio lokal berkembang ke titik tumbuh yang menyebabkan infeksi sistemik. (2) Pola tanam dan pola pergiliran tanam. sorghi 2426°C. namun tidak begitu penting sebagai sumber inokulum. Euchlaena spp. gelap. S. Digitaria spp. (3) pada tanaman dewasa. daun kotiledon tetap sehat. (jagung liar). (jampang merah). Konidiofor dan konidia terbentuk keluar dari stomata daun pada malam hari yang lembab. tetapi jika inokulum berasal dari spora. tongkol berubah bentuk dan isi. terdapat garis-garis keclokatan pada daun tua. dan suhu tertentu. Pembentukan konidia jamur ini menghendaki air bebas. P. Pengendalian (1) Penanaman dilakukan menjelang awal musim penghujan. P. philippinensis 21-26oC. P. Siklus Hidup Jamur dapat bertahan hidup sebagai miselium dalam biji. sacchari 20-25°C. kemudian dimusnahkan. Panicum spp. maydis di bawah suhu 24°C. rayssiae 20-22°C. Apabila bijinya yang terinfeksi.

. 5). Saccharum spp. namun tidak banyak yang memanfaatkannya karena adanya fungisida barbahan aktif metalaksil yang selama ini efektif mengendalikan penyakit bulai melalui perlakukan biji. . dan Zea mays (jagung). Komponen pengendalian penyakit bulai yang umum dilakukan selama ini adalah perlakuan benih dengan fungisida saromil atau ridomil yang berbahan aktif metalaksil. Varietas tahan bulai.(tebu). dalam pelepasan varietas jagung harus memiliki sifat ketahanan terhadap penyakit bulai. 4). apabila tidak tahan bulai tidak akan tersebar luas karena bisa gagal panen akibat penyakit bulai yang telah tersebar luas di seluruh wilayah Indonesia.(pokem/seperti gandum). Pennisetum spp. varietas tahan bulai sebenarnya sudah lama diteliti. 3). Setaria spp. karena praktis dan mudah dilakukan. jewawut).(rumput gajah). Dalam penerapan varietas tahan bulai untuk pengendalian penyakit bulai. Sorghum spp. hanya menanam benih jagung yang sudah diberi perlakuan fungisida. Eradikasi tanaman terserang bulai.21 (millet. dan juga baru-baru ini diketahui telah terjadinya resistensi P. pemerintah Indonesia telah membuat aturan. kewaspadaan terhadap penyakit bulai perlu mendapat perhatian serius dengan berpegang pada 5 komponen pengendalian yaitu : 1) Periode bebas tanaman jagung. Selain pengendalian dengan fungisida. Oleh karena itu dalam pengembangan jagung di Indonesia. Tanam serempak. Hal ini amat penting karena sekalipun telah dilepas. Fungisida berbahan aktif metalaksil (Bisa menggunakan Demorf berbahan aktif Dimethomorp). bahkan petani tidak perlu melakukan tindakan apapun. 2).

Pengembangan varietas tahan bulai merupakan langkah yang perlu dilakukan untuk pengembangan tanaman jagung di Indonesia. Dengan varietas jagung tahan bulai petani akan lebih untung karena resiko gagal panen kecil dan biaya perawatan lebih murah karena penggunaan fungisida lebih sedikit. Oleh karenanya komponen pengendalian bulai lainnya perlu digalakkan. Ketahanan terhadap penyakit bulai dipengaruhi oleh banyak gen (polygenic) dan bersifat aditif. di Kediri dan Jombang (Jawa Timur). Penyakit bercak daun ( Leaf bligh ) Merupakan penyakit pada tanaman jagung yang disebabkan oleh Cendawan Helminthosporium turcicum. dan Medan (Sumatera Utara) yang sekalipun diberi perlakuan dengan fungisida berbahan aktif metalaksil. hal ini disebabkan fungisida metalaksil tidak efektif lagi digunakan dalam pengendalian penyakit bulai. 2008). Adanya resistensi P. maydis terhadap metalaksil yang telah terbukti terjadi di Kalbar.22 maydis terhadap fungisida metalaksil di Kabupaten Bengkayang. b. Kalimantan Barat (Wakman. merupakan indikasi telah terjadinya perubahan ketahanan yang meningkat dari Peronosclerospora penyebab penyakit bulai. Terjadinya outbreak atau wabah penyakit bulai di beberapa daerah penghasil jagung seperti di Bengkayang (Kalbar). merupakan ancaman bagi pengembangan jagung di Indonesia. Gejala pada daun tampak bercak .

kemudian akhirnya karat dapat berubah menjadi bermacam-macam bentuk. Pengendalian: (1) pergiliran tanaman hendaknya selalu dilakukan guna menekan meluasnya cendawan: (2) mekanis dengan mengatur kelembaban lahan agar kondisi lahan tidak lembab: (3) kimiawi dengan pestisida antara lain: Daconil 75 WP. kemudian berubah warna menjadi coklat kekuning kuningan. . semula bercak basah. (3) melakukan sanitasi pada areal pertanaman jagung. Penyakit Karat ( Rust ) Merupakan cendawan Puccinia sorghi Schw dan Puccinia polypora Underw. serbuk cendawan ini kemudian berkembang dan memanjang. Pengendalian: (1) mengatur kelembaban pada areal tanam. (2) menanam varietas unggul atau varietas yang tahan terhadap penyakit. kemudian menjadi coklat tua. bercak berkembang dan meluas dari ujung daun hingga ke pangkal daun. c. Difolatan 4 F.23 memanjang dan teratur berwarna kuning dan dikelilingi warna coklat. Akhirnya seluruh permukaan daun berwarna coklat. (4) kimiawi menggunakan pestisida seperti pada penyakit bulai dan bercak daun. Gejala: pada tanaman dewasa yaitu pada daun yang sudah tua terdapat titik-titik noda yang berwarna merah kecoklatan seperti karat serta terdapat serbuk yang berwarna kuning kecoklatan.

Uredo zeae Schw. e. Pengendalian: (1) mengatur kelembaban areal pertanaman jagung dengan cara pengeringan dan irigasi: (2) memotong bagian tanaman kemudian di bakar: (3) benih yang akan di tanam di campur dengan fungisida secara merata hingga semua permukaan benih terkena.24 d. dilakukan pergiliran tanam. mengatur jarak tanam. pembengkakan ini menyebabkan pembungkus terdesak hingga pembungkus rusak dan kelenjar keluar dari pembungkus dan spora akhirnya tersebar. . dkk. Gibberella fujikuroi (Schw). 2009 ). Gejala: pada tongkol di tandai dengan masuknya cendawan ini ke dalam biji sehingga terjadi pembengkakan dan mengeluarkan kelenjar ( gall ). Uredo maydis DC. Neny Irianty. perlakuan benih: (2) Penyemprotan fungisida setelah di temikan gejala serangan ( R. biji-biji jagung berwarna merah jambu atau merah kecoklatan kemudian berubah menjadi coklat sawo matang. Pengendalian: (1) menanam jagung Varietas unggul. Gibberella moniliforme. Penyakit gosong benkak ( Corn smut/boil smut ) Merupakan penyakit pada tanaman jagung yang disebabkan oleh Cendawan Ustilago maydis (DC) Cda. Gejala: dapat diketahui setelah membuka pembungkus tongkol. Ustilago zeae (Schw) Ung. Penyakit busuk tongkol dan busuk biji Merupakan penyakit pada tanaman jagung yang disebabkan oleh Cendawan Fusarium atau Gibberella antara lain Gibberella zeae (Schw).

Hama pada tanaman Jagung. Ulat tanah sangat cepat pergerakannya dan dapat menempuh jarak puluhan meter. Hama yang sering menyerang tanaman jagung antara lain : 1. Seekor larva dapat merusak ratusan tanaman muda. sehari kemudian juga menggigit permukaan daun. . Hama pada tanaman jagung seringkali menyebabkan pertumbuhan tanaman terganggu.25 II. larva membuat jalan menuju titik tumbuh dan memakan pucuk daun pada bagian pangkal sebelah bawah. larva yang baru menetas. Lalat Bibit (Antherigona exigua Stein) Menyerang tanaman yang masih muda umur 7 hari atau bibit (jumlah daun 2-3 helai). 2. Telur lalat bibit berwarna putih bentuknya lonjong.8. Pangkal batang yang digigit akan mudah patah dan mati. Di samping menggigit pangkal batang. Hama disebabkan oleh hewan kelas rendah sampai tinggi dan penyakit disebabkan oleh bakteri dan jamur. Ulat Tanah (Agrotis epsilon) Gejala serangan Larva aktif pada malam hari untuk mencari makan dengan menggigit pangkal batang.

26 3. Serangan berat menyebabkan tanaman gundul karena daun habis dimakan ulat. menyerang secara serentak berkelompok. umumnya terjadi pada musim kemarau. selain menggerek batang ulat ini juga dapat masuk dan merusak tongkol yang masih muda. 4. Penggerek Batang Telur yang baru menetas akan memakan permukaan helaian daun yang masih lunak sehingga nampak bintik-bintik berwarna putih pada daun. . Tanaman diserang sejak umur 1 bulan sampai terbentuk tongkol. Ulat Grayak (Spodopthera Litura) Gejala Serangan Larva yang masih kecil merusak daun dengan meninggalkan sisa-sisa epidermis bagian atas. Larva instar lanjut merusak tulang daun. Biasanya larva berada di permukaan bawah daun. transparan dan tinggal tulang-tulang daun saja.

tugal. Rafia. Ember.1 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di desa Jombok Kecamatan Ngoro dengan ketinggian 100 di atas permukaan air laut dengan curah hujan 200 ml per jam dengan pH tanah adalah 7 pada Bulan April sampai Bulan Juni 2011.2.2. BAHAN DAN METODE 3. 3.alat tulis.1. Bahan Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Benih jagung.buku.27 III.2.timbangan.pupuk organik. Gejik. 3.hands sprayer. 3. Demorf (bahan aktif Dimetomorf).jangka sorong. Cangkul.12. Alat Peralatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pH meter.2 Alat dan Bahan Penelitian 3.Sabit.meteran.Bisi816.222 .3 METODE PENELITIAN Metode penelitian ini merupakan percobaan Faktorial yang di susun dalam rancangan Acak Kelompok ( RAK ) yang terdiri dari dua faktor dan di ulang tiga kali adapun faktur kedua tersebut adalah : .

P2 D0 1 . P3 D0 1 . P3 D1 II . P2 : Dosis pupuk Petroganik 200 gr per tanaman.1 Persiapan lahan KONDISI LAHAN IDEAL : – – Tanah gembur. Memiliki cukup bahan organik. P2 D1 II . P1 D1 II . P3 : Dosis pupuk Petroganik 300 gr per tanaman. tidak mudah tergenang air. Penempatan 14 kombinasi perlakuan pada masingmasing ulangan di lakukan secara acak ( Gambar 1 ). P1 : Dosis pupuk Petroganik 100 gr per tanaman. subur. P0 D1 II .3. P0 D2 III P1 D2 III P2 D2 III P3 D2 III Kombinasi antara perlakuan di atas sebanyak tiga kali sehingga di peroleh 42 petak perlakuan.28 Faktor I : Dosis pupuk Petroganik yang terdiri dari empat taraf yaitu : P0 : Tanpa pupuk Organik. D1 : Dosis fungisida Demorf 5 gr per 2 kg benih D2 : Dosis fungisida Demorf 10 gr per 2 kg benih D3 : Dosis fungisida Demorf 15 gr per 2 kg benih Denganq demikian akan di peroleh 14 kombinasi yaitu : P0 D0 I . 3. Faktor II : Dosis fungisida Demorf yang terdiri dari empat taraf yaitu : Do : Tanpa fungisida Demorf. P1 D0 I . .

Ketinggian 0 – 700 meter dpl. Areal yang memiliki persediaan air yang cukup dan curah hujan merata 200 mm/bulan Sinar Matahari penuh.5 – 7). agar tanah menjadi gembur dan tanaman bisa tumbuh dengan baik. Jenis tanah liat berlempung.2. Penanaman Jarak Tanam yang dianjurkan 70 x 20 cm (1 tnm/lubang) Cara penanaman : . tanah lempung atau tanah lempung berpasir. Kemiringan tanah tidak lebih dari 8%. Pengolahan Tanah Melakukan pengolahan tanah dengan baik. 3. Tujuan pengolahan tanah adalah : • • • • • • Memperbaiki TeksturTanah.29 – – – – – – pH netral sampai agak asam (5.3. Membunuh Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) Menghambat tumbuhnya gulma.3. Memperbaiki Aerasi Tanah.3. Melancarkan Drainase (pemasukan dan pembuangan air) Mengatur jarak tanam 3.

agar tanaman tidak mengalami tekanan kekurangan air.3.4. penyulaman di laksanakan pada waktu tanaman ber umur 7-9 HST.30 • Buat 2 (dua) lubang dengan kedalaman 5 cm dengan jarak antar lubang ± 5 cm. agar di dapat kan pertumbuhan yang seragam dan optimal pada semua tanaman jagung. satu lubang untuk benih dan satunya untuk pupuk. yang di hentikan apabila tanah sudah basah.5. pemberian demorf dilakukukan dengan cara benih jagung di tuangkan keember yg telah disediakan dan diberi air 240/2kg benih dengan ketentuan dosis sebagai berikut : 3. . fase penumbangan dan waktu pengisian biji. Pemeliharaan. • Tanam benih tiap lubang 1 biji kemudian tutup lubang dengan tanah 3. Pemberian pupuk organik dan fungisida Demorf Pemberian pupuk organik dilakaukan dengan cara menyebarkan pupuk tersebut secara merata.3. Pengairan di lakukan dengan cara penggenangan (leb). Pemberian pupuk di lakukan dengan cara di tugal pada saat tanam dengan jarak 5cm dari tanaman. Penyulaman di maksudkan untuk menggantikan tanaman yang pertumbuhannya terganggu dan mati. Pengairan di berikan pada awal pertumbuhan .

1.3. Prosentase tingkat serangan penyakit bulai 3. yaitu uji F dengan taraf 1% dan 5% selanjutnya apabila terjadi perbedaan nyata atau sangat nyata di lanjutkan dengan uji Duncan dengan taraf signifikansi 5%.6. dimulai tanaman berumur 7 hari sampai 37 hari dengan interval 5. Analisa Data Data di analisa menggunakan uji ragam. maka di lakukan penyemprotan dengan Winder 100 EC atau Raydock 25 EC atau Marsal 25 ST.31 Penyiangan di lakukan pada saat tanaman berumur 25-30 HST dan umur 65 HST secara mekanis dengan menggunakan tangan dan cangkul atau herbisida jika perlu. Tinggi tanaman di ukur dari permukaan tanah sampai titik tumbuh 2.pembumbunan dilaksanakan langsung setelah pemupukan ke dua sekaligus untuk mengurangi pertumbuhan gulma Pengendalian hama dan penyakit dilakukan dengan cara monitoring apabila keadaan sudah di ambang batas ekonomi. 3. 4. 5. Panjang daun di ukur dari pangkal daun sampai ujung daun.3. . 3. Pengamatan Pengamatan dilakukan selama 37 hari. Jumlah daun di hitung dari jumlah daun yang telah membuka sempurna dan masih hijau sampai ujung daun.

Ngasem.Pageng.Jombok. 1.antaralain Jatirejo.Bicek. Desa Jombok Kecamatan Ngoro Kabupaten Jombang terdiri dari delapan (8)Dusun. Letak desa di batasi oleh : - Sebelah Utara Sebelah timur : Desa Pulurjo : Desa Genukwatu - Sebelah Selatan : Wilayah Kecamatan Badas Kab.Jembaran.32 IV. Dengan di adakan penelitian tersebut kami ingin agar imet petani terhadap penyakit bulai tidak di anggap momok yang selalu menghambat keberhasilan petani khususnya pada hasil dan produksi jagung pada saat ini dengan menggunakan organk atau perlakuan fungisida demorf.Kediri . HASIL DAN PEMBAHASAN 4.Sumberejo. Keadaan di daerah tersebut adalah daerah yang Endemik Bulai yaitu tanah nya lempung berpasir maka dengan adanya kami adakan penelitian tersebut guna untuk mengatasi masalah yang mana para petani menganggapnya suatu momok bagi pertumbuhan tanaman jagung.Dawuhan. Keadaan Wilayah.1. Keadaan Umum Daerah Penelitian.Kediri Sebelah Barat : Wilayah Kecamatan Kunjang Kab.

1.10% : 13.7% : 1.07% 2. Jombang) 4. Data Curah Hujan 4 (empat) tahun Terakhir: Tabel Data Curah Hujan Desa Jombok Kec Ngoro Kab. Tinggi permukaan air tanah 100 m diatas permukaan laut. Tahun 1 2007 2008 2009 2010 2 3 4 5 6 11 9 - 7 2 2 8 - 9 4 4 10 2 2 11 12 Jumlah 137 172 110 182 37 102 148 214 107 31 246 251 216 129 48 217 185 107 135 24 131 187 958 115 134 866 127 226 1252 162 176 1008 535 723 4084 Rerata 602 756 647 553 140 20 (Sumber : PPL Kec . Pembagian lahan adalah sebagai berikut: Sawah Tegal Pekarangan : 83.Ngoro dan Dinas Pertanian Kab. Mata pencarian pokok penduduk sebagian besar adalah petani. Rata-rata tinggi tanaman ( cm ) pada berbagai umur pengamatan . Topografi dan iklim.1.1 Tinggi Tanaman Tabel 2.33 2. Jombang Tahun 2010.

dilakukan uji F.406 1.20 22.93 32. Dari sini tampak tidak adanya perbedaan hasil tinggi tanaman pada perlakuan yang berbeda.30 59.12 50.30 12.35 32.23 128.87 13.92 23.53.195 F .86 . Jadi ratarata tertinggi adalah P1.802 0. rata-rata P2 (Pemberian Pupuk2) = 45.09 13.34 Perlakuan P0 P1 P2 P3 Rata-rata tinggi tanaman (cm) 7 HST 12.001 Sig. dengan SPSS dengan hasil : ANOVA Tinggi Tanaman (cm) Sum of Squares Between Groups 5.38 27.1886.92 128.001 2.78 50.85 27. rata-rata P1 (Pemberian Pupuk1) = 46.43 23.37 43. dan uji Duncan.40 26.41 12 HST 22.02 44. 1.40 127.075 df 3 24 27 Mean Square 1. rata-rata P3 (Pemberian Pupuk3) = 45.000 SV Db JK KT F hitung F-tabel 5% Perlakukan 3 5. Untuk membuktikan ada tidaknya perbedaan.802 1497.72 17 HST 26.83.38 Hasil perhitungan SPSS diperoleh bahwa rata-rata tinggi tanaman tanpa perlakukan = 46.43 32 HST 59.71.45 32.68 22 HST 32.406 Within Groups 35932.72 44.81 27 HST 43.670 Total 35938.42 37 HST 127.

78 33. Untuk membuktikan ada tidaknya perbedaan.63 43.35 Galat Total 24 7 35932. dan uji Duncan.26 Hasil perhitungan SPSS diperoleh bahwa rata-rata tinggi tanaman tanpa perlakukan (D0) = 46.48.15.37 26.98 128. dengan SPSS dengan hasil : .20 22.62 26. Tabel 3.97 32.16 23.23 13. rata-rata D2 (Dosis fungisida2)) = 46.27 60.11 43.84 26. dilakukan uji F.72 23.40 127.35 32. rata-rata D1 (Dosis fungisida1) = 46. Rata-rata tinggi tanaman ( cm ) pada berbagai umur pengamatan D0 D1 D2 D3 12.51 32.67 60.91 44.29 59.37 43.30 59.88.49 13.075 F hitung lebih kecil dari F table sehingga tidak ada perbedaansehingga tidak perlu dilanjutkan dengan uji Duncan. Jadi rata-rata tertinggi adalah P3.40 26. Namun dDari sini tampak tidak adanya perbedaan hasil tinggi tanaman pada perlakuan yang berbeda.42 127.2. D3 (Dosis fungisida3) = 47.72 127.64 22.38 12.670 35938.

732 36284.483 KT 1. Dari sini terlihat bahwa sebaran data baik perlakukan terhadap pupuk maupun dosis fungisida tidak menunjukkan perbedaan yang berarti pada masingmasing perlakukan.2.865 F . 1.36 ANOVA Tinggi Tanaman (Cm/Dosis) Sum of Squares Between Groups 3.751 Total 36288.1.000 SV Perlakukan Galat Total Db 3 24 7 JK 3. Rata-rata Jumlah daun diambil dari daun yg masih produktif atau yang masih keadaan hijau dari mulai batang yang paling bawah sampai atas atau di bawah bunga.244 F hitung 0.483 df 3 24 27 Mean Square 1.86 F hitung lebih kecil dari F table sehingga tidak ada perbedaansehingga tidak perlu dilanjutkan dengan uji Duncan. Jumlah Daun Tabel 4.001 Sig.751 36288. Perlakuan P0 Rata-rata Jumlah daun 7 HST 3 12 HST 5 17 HST 7 22 HST 9 27 HST 11 32 HST 13 37 HST 15 .244 1511. 4.732 Within Groups 36284.001 F-tabel 5% 2.

8 9.3.6. dan uji Duncan. Sedangkan jumlah daun pada dosis fungisida tanpa perlakukan (D0) = 9.7 5.55 15. rata-rata P3 (Pemberian Pupuk3) = 9.7 7.6.50 11.6.37 P1 P2 P3 D0 D1 D2 D3 3 3. Namun dari sini tampak tidak adanya perbedaan hasil tinggi tanaman pada perlakuan yang berbeda Untuk membuktikan ada tidaknya perbedaan.50 11.6. D3 (Dosis fungisida3) = 9.55 13. .7 5 5 5.7 7 7.55 15. Dari sini tampak tidak adanya perbedaan hasil jumlah daun pada perlakuan yang berbeda.7 9 9. dilakukan uji F.830 450.660 F . Jadi rata-rata tertinggi adalah P2.7 7 7 7. rata-rata P2 (Pemberian Pupuk2) = 9.4 5 5.4 3.8 9.50 13 13.4 3. rata-rata D1 (Dosis fungisida1) = 9.4 3 3 3.045 Sig.55 Hasil perhitungan SPSS diperoleh bahwa rata-rata jumlah daun tanpa perlakukan = 9.7 5. rata-rata P1 (Pemberian Pupuk1) 9.55 15 15.55 15 15 15.520 447.8 9 9 9.350 df 3 24 27 Mean Square .55 13 13 13. rata-rata D2 (Dosis fungisida2) = 9.840 18.987 Between Groups Within Groups Total . Jadi rata-rata tertinggi adalah P2 dan P3.8 11 11. dengan SPSS dengan hasil : ANOVA Jumlah daun (P) Sum of Squares 2.7 7.55 13.50 11 11 11.

Panjang Daun Tabel 5.520 447.71 32 HST 83.67 15. 2.32 83.45 10.86) sehingga dapat disimpulkan tidak ada perbedaan antar pelakukan dan tidak perlu dilanjutkan pembuktian perbedaan dengan uji Duncan. .32 83.49 12 HST 15.86)sehingga dapat disimpulkan tidak ada perbedaan antar pelakukan dan tidak perlu dilanjutkan pembuktian perbedaan dengan uji Duncan. Perlakuan (D) diperoleh F hitung (0.840 18.47 31.45 10.72 17 HST 24 .69 15.045 Sig.83 75.39 37 HST 75.83 75.3.87 75.61 42.350 df 3 24 27 Mean Square .045) lebih kecil dari F table (2.89 .68 42.43 31.67 15.660 F . 4.28 24.31 22 HST 31.43 31.36 83. Jadi baik dari perlakukan pupuk maupun dosis fungisida tidak ada perbedaan signifikan terhadap jumlah daun.38 ANOVA Jumlah daun (D) Sum of Squares 2.48 10.1.830 450.045) lebih kecil dari F table (2. Perlakuan P0 P1 P2 P3 Rata-rata Panjang daun (cm) 7 HST 10.25 24.61 42.25 24 . Perlakuan (P) diperoleh F hitung (0.987 Between Groups Within Groups Total 1. Rata-rata Panjang daun diambil dari mulain tumbuh sempurna yang paling bawah sampai yang paling atas ato di bawah bunga.49 27 HST 42.

49 11.67 15. dengan SPSS dengan hasil : ANOVA Panjang Daun (P) Sum of Squares Between Groups .544 F . Jadi ratarata tertinggi adalah P2 dan P3.47 31.43 31. Untuk membuktikan ada tidaknya perbedaan.46 10. Sedangkan jumlah daun pada dosis fungisida tanpa perlakukan (D0) = 40.33 83.28 24 . Dari sini tampak adanya sedikit perbedaan hasil panjang daun tanaman pada perlakuan yang berbeda.68 15.73. 1.83 75.71 15.84 75.73.26 24 . rata-rata P3 (Pemberian Pupuk3) = 40.25 24 . rata-rata P2 (Pemberian Pupuk2) = 40.51.080 df 3 24 27 Mean Square .44 31.32 83. Namun dari sini tampak sedikit adanya perbedaan hasil panjang daun pada perlakuan yang berbeda. rata-rata D1 (Dosis fungisida1) = 40.38 83. rata-rata P1 (Pemberian Pupuk1) = 40.92 76.62 42.5.35 31.42 75. Jadi ratarata tertinggi adalah P3.39 D0 D1 D2 D3 10.007 825.61 42.66 42. dilakukan uji F. D3 (Dosis fungisida3) = 40. rata-rata D2 (Dosis fungisida2) = 40.46 10.69 83.78 24 .55.000 Sig.060 Total 19813.23 Hasil perhitungan SPSS diperoleh bahwa rata-rata panjang daun tanpa perlakukan = 40.51.000 .020 Within Groups 19813.51.5. dan uji Duncan.51 42.18 15.

Serangan Hama Tabel 6.40 ANOVA Panjang Daun (D) Sum of Squares Between Groups .000 Sig.000) lebih kecil dari F table (2. Rata-rata diambil dari prosentase dari serangan awal sampai dengan yang sudah mengering bahkan bahkan sampai tumbuhannya mati Perlakuan P0 P1 P2 Prosentase Tingkat serangan Penyakit Bulai (%) 7 HST 0 0 0 12 HST 0 0 0 17 HST 2 2 2 22 HST 3 3 3 27 HST 3 3 3 32 HST 0 0 0 37 HST 0 0 0 . Perlakuan (D) diperoleh F hitung (0.773 Total 19797.86) sehingga dapat disimpulkan tidak ada perbedaan antar pelakukan dan tidak perlu dilanjutkan pembuktian perbedaan dengan uji Duncan. Jadi baik dari perlakukan pupuk maupun dosis fungisida tidak ada perbedaan signifikan terhadap jumlah daun. 1.079 824.4.000 1. Perlakuan (P) diperoleh F hitung (0. 2.1.010 df 3 24 27 Mean Square .000) lebih kecil dari F table (2. 4.237 Within Groups 19796.866 F .86)sehingga dapat disimpulkan tidak ada perbedaan antar pelakukan dan tidak perlu dilanjutkan pembuktian perbedaan dengan uji Duncan.

Perlakuan (P) diperoleh F hitung (0.857 35. 1.41 P3 D0 D1 D2 D3 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 2 2 2 1 1 3 3 3 2 1 3 3 3 2 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 Untuk membuktikan ada tidaknya perbedaan serangan hama. dilakukan uji F.429 df 3 24 27 Mean Square .143 F .000 51.857 1.571 32.000 2.429 51.626 Sig.000 Between Groups Within Groups Total ANOVA Serangan hama (D) Sum of Squares 2.369 F .000) lebih kecil dari F table (2.429 df 3 24 27 Mean Square .605 Between Groups Within Groups Total 1. .000 Sig.86) sehingga dapat disimpulkan tidak ada perbedaan antar pelakukan dan tidak perlu dilanjutkan pembuktian perbedaan dengan uji Duncan. . dan uji Duncan. dengan SPSS dengan hasil : ANOVA Serangan hama (P) Sum of Squares .

Hasil penelitian juga menunjukan bahwa tidak ada perbedaan tingkat serangan hama antara yang diberi pupuk dan fungisida. 2.42 2. Dengan pemberian fungisida yang berbahan aktif Dimetomorf 10 gram dalam 1 kg benih jagung tidak dapat menekan tingkat serangan penyakit bulai pada tanaman jagung 4. jumlah daun dan panjang daun pada jagung yang diberi pupuk dengan perlakuan berbeda dan fungisida dengan perlakuan berbeda pual.86)sehingga dapat disimpulkan tidak ada perbedaan antar pelakukan dan tidak perlu dilanjutkan pembuktian perbedaan dengan uji Duncan.2. sehingga perlu ditingkatkan intensitas pemberian pupuk dan dosis . Dengan pemberian atau penambahan pupuk organic dan fungisida tidak bisa mengurangi tingkat serangan bulai pada tanaman jagung.626) lebih kecil dari F table (2. Jadi baik dari perlakukan pupuk maupun dosis fungisida tidak ada perbedaan signifikan terhadap jumlah daun. Dengan demikian hasil penelitian ini membuktikan bahwa : 1. Hal ini terjadi dikarenakan mewabahnya hama pada musim panen yang menyeluruh pada tananam. Pembahasan Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan panjang batang. Perlakuan (D) diperoleh F hitung (0.

43 fungisida. Hal ini terjadi dikarenakan mewabahnya hama pada musim panen yang menyeluruh pada . Dengan pemberian atau penambahan pupuk organic dan fungisida tidak bisa mengurangi tingkat serangan bulai pada tanaman jagung. Kesimpulan Hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa : 1. V. PENUTUP 5. Saran Hasil penelitian juga menunjukan bahwa tidak ada perbedaan tingkat serangan hama antara yang diberi pupuk dan fungisida. 2.1. Dengan pemberian fungisida yang berbahan aktif Dimetomorf 10 gram dalam 1 kg benih jagung tidak dapat menekan tingkat serangan penyakit bulai pada tanaman jagung. 5. selain itu diperlukan kajian-kajian terhadap faktor lain selain pupuk dan fungsida.2.

org/wiki/fungisida) dan . Ir. National Coordinated Research Program: Corn. Bogor. Pembentukan benih jagung Hibrida. p. Bradshaw. 1988. Blumenschein. 2009. 1992) R. 4: 503-507 Didi Ardi Suriadikarta dan R.M. selain itu diperlukan kajian-kajian terhadap faktor lain selain pupuk dan fungsida. DAFTAR PUSTAKA Allard. Simanungkalit. H. 2009.wikipedia.1964. Departemen Kehutanan Bogor. Manwan. Tumbuhan Berguna Indonesia-I. Implication of genotype-environment interaction in applied plant breeding. Central Research Institute for Food Crops. and A.D. Juanda No.D. Yasin H. 2006. Jl. R.net Dahlan M. Neni Iriany. Warsino. hal 1-13 (Malang: Balai penelitian tanaman pangan. Maros Subandi. (http://id.83. Balai Penelitian Pengembangan Kehutanan.W.98 Bogor 16123 Jawa Barat Telp. Crop Sci. 0251-336757. Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian. Balai Penelitian Tanaman Serealia. dan Andi Takdir M. sehingga perlu ditingkatkan intensitas pemberian pupuk dan dosis fungisida. and A.44 tananam. I. Risalah lokakarya produksi benih hibrida. M.G. Fax: 062-0251-321608 E_mail: soil_ri@indo..

.............................. I.......................... II..........................2... PENDAHULUAN Latar Belakang.......3..... ..................... Penyakit Bulai Pada Tanaman Jagung ..... Hipotesa....... Jenis – Jenis Tanaman Jagung ...............6.................. II............................ Syarat Tumbuh Tanaman Jagung ............. II.......................... Botani Tanaman Jagung .2... 2..45 DAFTAR ISI Halam an I.......... Fungisida ....3................... II...........3..................................... 4 5 6 7 9 10 36 11 12 1 2 3 II................................ Pupuk Organik .............................................3......... II....................................................................... II....1...... TINJAUAN PUSTAKA Klasifikasi Tanaman Jagung ... I........................................1................... II............................................2..........................7......4.............5.... Tujuan Penelitian.............. I........ Non Hibrida .......................................................................1..... 2............... .................................... Hibrida.......

............Alat .......... Analisa Data .... III........................................................................................... 3....... ..3............ 3.................... IV...... Pemberian Pupuk Organik dan Fungisida Demorf ... 3...1.... 3............................ ......1.....3............ HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil penelitian .... Hama pada tanaman jagung .................................... 3..............7.........................1.............. 3..................................... IV...............Bahan ........ IV.......................... 3............. Panjang daun..................................2.2................... 3............................................ 14 17 17 17 17 17 17 18 19 19 20 20 21 21 3........................................1........ Persiapan Lahan ..................................................................................... Tempat dan Waktu Penelitian ................... Alat dan Bahan ..............5........1...............3....................3...........2........4..........................3..........3................... BAHAN DAN METODE ......................6...............................3...................... IV................ IV...........3.1.........4....1............................................................................... IV........................................ 3..............................................46 II..........1....1........................ Pemeliharaan .8......................2......... Pengamatan .2.....2.............................3.................................................... Jumlah daun . Metode Penelitian .................................... Pengolahian Tanah .........2.............. ......... IV... 22 24 27 29 31 33 Tinggi tananaman .... Pembahasan .......... 3................... 3....................................................................................3.................. Penanaman ................... Serangan Hama ........................

..........1..KES IMPULAN DAN SARAN V..................... Saran ......................................................................................)................... V............................ 34 34 PENGARUH PEMBERIAN PUPUK ORGANIK DAN FUNGISIDA (DIMETOMORF ) TERHADAP TINGKAT SERANGAN PENYAKIT BULAI (Downy Mildew) PADA TANAMAN JAGUNG (Zea mays L..... Kesimpulan ........47 V..................................................2... SKRIPSI Oleh : .....................................

48 Aam Muzakkir NIM : 09810484 JURUSAN BUDI DAYA PERTANIAN FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS DARUL ‘ULUM JOMBANG 2011 .

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->