P. 1
BATU EMPEDU

BATU EMPEDU

|Views: 190|Likes:
Published by Dede Yusuf F

More info:

Published by: Dede Yusuf F on Jan 28, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/05/2015

pdf

text

original

BATU EMPEDU Batu empedu merupakan gabungan dari beberapa unsur yang membentuk suatu material mirip batu

yang dapat ditemukan dalam kandung empedu (kolesistolitiasis) atau di dalam saluran empedu (koledokolitiasis) atau pada kedua-duanya. 8 Penyakit kandung empedu merupakan satu dari gangguan gastrointestinal yang paling sering di United States. Spektrum dari enyakit kanung empedu bervariasi dari cholelithiasis asimptomatik kandung empedu ( atau biliar) kolik. Cholesistitis, choledocholithiasis, dan cholangitis. Kompliaksi lebih jauh dari penyakit kandung empedu ini termasuk batu pancreatitis, batu ileus, cirrhosis bilier dan kanker kandung empedu. 8 Cholelithiasis menunjukkan adanya batu di kandug empedu. Nyeri kolik bilier biasanya disebabkan oleh obstruksi sewaktu batu di duktus sistikus. Cholesistitis merupakan inflamasi kandung empedu dari obstruksi di duktus sistikus. Choledocholithiasis menunjukkan adanya batu di ductus biliaris komunis. Cholangitis timbul ketika batu merusak ductus hepatic atau empedu, menyebabkan inflamasi dan infeksi. 8 Anatomi kandung empedu Kandung empedu merupakan kantong berbentuk alpukat yang terletak tepat dibawah lobus kanan hati. Kandung empedu mempunyai fundus, korpus, infundibulum, dan kolum. Fundus bentuknya bulat, ujung nya buntu dari kandung empedu. Korpus merupakan bagian terbesar dari kandung empedu. Kolum adalah bagian yang sempit dari kandung empedu. 8 Empedu yang di sekresi secara terus menerus oleh hati masuk ke saluran empedu yang kecil dalam hati. Saluran empedu yang kecil bersatu membentuk dua saluran yang lebih besar yang keluar dari permukaan hati sebagai duktus hepatikus komunis. Duktus hepatikus bergabung dengan duktus sistikus membentuk duktus koledokus. 8 Gambar 2.1. Gambaran anatomi kandung empedu (Emedicine, 2007) Fisiologi Hati & Empedu Salah satu fungsi hati adalah untuk mengeluarkan empedu, normalnya antara 600-1200 ml/hari6. Kandung empedu mampu menyimpan sekitar 45 ml empedu5. Diluar waktu makan, empedu disimpan untuk sementara di dalam kandung empedu, dan di sini mengalami pemekatan sekitar 50 %. Fungsi primer dari kandung empedu adalah memekatkan empedu dengan absorpsi air dan natrium. Kandung empedu mampu memekatkan zat terlarut yang kedap, yang terkandung dalam empedu hepatik 5-10 kali dan mengurangi volumenya 80-90%8. Menurut Guyton &Hall, 1997 empedu melakukan dua fungsi penting yaitu : ‡ Empedu memainkan peranan penting dalam pencernaan dan absorpsi lemak, karena asam empedu yang melakukan dua hal antara lain: asam empedu membantu mengemulsikan partikelpartikel lemak yang besar menjadi partikel yang lebih kecil dengan bantuan enzim lipase yang disekresikan dalam getah pankreas, Asam empedu membantu transpor dan absorpsi produk akhir lemak yang dicerna menuju dan melalui membran mukosa intestinal. 8 ‡ Empedu bekerja sebagai suatu alat untuk mengeluarkan beberapa produk buangan yang penting dari darah, antara lain bilirubin, suatu produk akhir dari penghancuran hemoglobin, dan kelebihan kolesterol yang di bentuk oleh sel- sel hati. 8 Pengosongan kandung empedu dipengaruhi oleh hormon kolesistokinin, hal ini terjadi ketika

protein (semua immunoglobulin. lesitin. dan garam anorganik. normalnya kandung empedu kosong secara menyeluruh dalam waktu sekitar 1 jam. mikrotubulus. dimana masuk kedalam duodenum (setelah bergabung dengan duktus pankreatikus) melalui ampula vateri. asam lemak. 1 Total sekresi basal perharinya dari empedu hepatic adalah ~500±600 mL. banyak substansi yang diambil atau disintesis oleh hepatosit yang disekresikan kedalam kanalikuli empedu. Sisanya adalah bilirubin. dan elemen kontraktile lainnya. saluran empedu yang lebih kecil. dan seringkali obat dan metabolitnya. Membran kanalikuli membentuk mikrovili dan berkaitan dengan mikrofilamen aktin.0%). lesitin dan komponen lain dari phospolipid (16%). sementara yang lainnya seperti fospolipid. Saluran empedu interlobular ini bergerak untuk membentuk saluran empedu yang lebih besar yang bergabung untuk membentuk saluran hepatica kanan dan kiri. metabolit hormone. Konstituen lain termasuk bilirubin konjugasi. dan beberapa kolesterol disintesis secara de novo di hepatosit. Pengaturan produksinya dipengaruhi mekanisme umpan balik yang dapat ditingkatkan sampai 20 kali produksi normal kalau diperlukan8 Komposisi Empedu dan Alirannya Empedu dibentuk di lobules hepatic dan disekresikan kedalam jaringan kompleks kanalikuli. dimana sebaliknya akan bergabung membentuk duktus hepatikus kommunis. elektrolit. Garam empedu adalah steroid yang dibuat oleh hepatosit dan berasal dari kolesterol. banyak substansi lain yang diambil oleh hepatosit. pengosongan kandung empedu berlangsung buruk. Dasar yang menyebabkan pengosongan adalah kontraksi ritmik dinding kandung empedu. dan protein lain yang dimetabolisir di hati). albumin. tetapi efektifitas pengosongan juga membutuhkan relaksasi yang bersamaan dari sfingter oddi yang menjaga pintu keluar duktus biliaris komunis kedalam duodenum. 1 Empedu hepatic merupakan cairan isotonic dengan komposisi elektrolit dan cairan darah. bagian dari asam empedu primer. Komposisi elektrolit berbeda dari duktus hepatic karena kebanyakan anion inorganic. kandung empedu juga dirangsang kuat oleh serat-serat saraf yang menyekresi asetilkolin dari sistem saraf vagus dan enterik. tetapi bila terdapat jumlah lemak yang adekuat dalam makanan. 8 Garam empedu. dan kolesterol merupakan komponen terbesar (90%) cairan empedu. Saat lemak tidak terdapat dalam makanan. dan saluran empedu yang lebih besar yang berjalan dengan limfatik dan cabang dari vena portal dan arteri hepatica di traktus portal diantara lobules hepatic. Dalam keadaan lithogenic nilai kolesterol dapat sama tinggi hingga 8-10%. Tiga mekanisme yang . Sebagai hasil dari penyerapan air. Ductus hepatikus komunis bergabung dengan duktus sistikus dari kandung empedu untuk membentuk duktus biliaris komunis. konsentrasi cairan total dari empedu meningkat dari 3±4 g/dL di empedu hepatic dan kandung empedu1 Komponen cairan utama dari empedu adalah mol persent termasuk asam empedu (80%). mucus. Selain kolesistokinin.makanan berlemak masuk ke duodenum sekitar 30 menit setelah makan. Kandung empedu mengosongkan simpanan empedu pekatnya ke dalam duodenum terutama sebagai respon terhadap perangsangan kolesistokinin. kolesterol tidak teresterifikasi (4. Sebelum disekresikan kedalam empedu. klorida dan bikarbonat. telah dipindahkan dengan reabsorbsi melalui epitel kandung empedu.

Selama pencernaan dari makanan. sphincter oddi menawarkan zona tekanan tinggi akan resistensi terhadap aliran empedu dari ductus empedu komunis kedalam duodenum. asam empedu memfasilitasi penyerapan diet normal usus lemak. sementara ratios abnormal menyebabkan kristal kolesterol dalam empedu melalui tahap intermediate kristal cair. dan sedikit juga gelar conjugated. 1 Normal asam empedu ukuran sekitar 2-4 g. asam empedu akan diserap oleh difusi pasif di seluruh usus. Rasio glycine ke taurine konjugasi dalam empedu adalah ~ 3:1. Empedu Berpartisipasi seperti deterjen-molekul seperti dan campuran konsentrasi kritis sekitar 2 mm dalam bentuk molekular aggregates disebut micelles. termasuk deoxycholate dan lithocholate. tergantung pada ukuran dan komposisi hidangan. (3) sekresi kolangio selular. dan daya larut dalam empedu tergantung pada konsentrasi total lipid dan relatif molar persentase asam empedu dan lecithin. adalah mekanisme untuk transportasi aktif conjugated asam empedu distal di bagian usus yg paling bawah. asam empedu sekunder lainnya. Asam empedu sekunder. reconjugated.4 g / d. sebuah stereoisomer dari CDCA.20. 1 Selain memfasilitasi kotoran biliary dari kolesterol. 1 Sphincter Kandung Empedu dan Fungsi Dalam keadaan pasa. Biasanya. yang dibentuk di dalam usus besar sebagai metabolites bacterial dari asam empedu utama. Secara kuantitatif garam empedu lebih penting untuk recirculation. Bile acid juga menjadi penggerak utama faali untuk berhubungan dengan empedu hati dan bantuan dalam transportasi air dan elektrolit di usus kecil dan usus besar. terutama kolesterol dan lemak-larut vitamin. dikonjugasikan dengan glycine atau taurine. 1 Asam Empedu Asam empedu utama. adalah synthesis dari kolesterol dalam hati. bagaimanapun. sehingga kehilangan fecal bile acids berada di kisaran 0. asam empedu yang bersirkulasi ~ 5-10 kali setiap hari. Ratios normal konstituen ini pembentukan solubilizing dicampur micelles. ditemukan dalam konsentrasi rendah.penting dalam aliran regulasi empedu : (1) transport aktif asam empedu dari hepatosit kedalam kanalikuli empedu. Kolesterol larut dalam lingkungan cair. Yang terakhir adalah mediasi sekretin dan mekanisme dependent dari siklik AMP yang menghasilkan dalam sekresi cairan kaya sodium dan bikarbondat kedalam saluran empedu. 1 Sirkulasi Enterohepatic Empedu Berpartisipasi dengan efisien dalam kondisi normal. asam kolat dan asam chenodeoxycholic (CDCA). asam empedu yang direabsorpsi masuk dalam portal darah dan diambil pesat oleh hepatocytes. 1 Namun. melalui mekanisme micellar transportasi. Unconjugated. dan disekresikan ke dalam empedu. Penyerapan Usus sekitar 95% efisien. dan disekreskan kembali ke dalam empedu (enterohepatic sirkulasi). adalah ursodeoxycholic Asam (UDCA). Kontraksi tonik ini untuk (1) mencegah refluks dari isi duodenum kedalam ductus bilier dan pankras dan (2) mengusahakan . maka asam empedu melalui setidaknya satu atau lebih siklus enterohepatic. asam lithocholic jauh lebih kurang efisien diserap dari usus besar daripada asam deoxycholic. (2) transport aktif dari anion organic lain.

3. Sementara di Indonesia jumlah penderita wanita lebih banyak dari pada laki-laki2. sehingga pada usia 90 tahun kemungkinannya adalah satu dari tiga orang2. dan juga mengurasi garam empedu serta mengurangi kontraksi/ pengosongan kandung empedu. Batu empedu lebih sering ditemukaan pada orang kulit putih dibandingkan kulit hitam. Kecenderungan membentuk batu empedu bisa berjalan dalam keluarga2. Chili dan Swedia2. Peningkatan insiden batu empedu dapat dilihat dalam kelompok resiko tinggi yang disebut ´5 Fs´ : female (wanita). 2.4. Genetik Batu empedu memperlihatkan variasi genetik. semakin besar pula kemungkinan untuk terjadinya kolelitiasis2.5.5. Orang dengan Body Mass Index (BMI) tinggi. dan forty (empat puluh tahun)2.pengisian kandung empedu. Hormon peptide kolesistokinin menghasilkan (1) kontraksi yang kuat dari kandung empedu.4.3. Batu empedu juga sering ditemukan di negara lain selain USA. 1 Empedu hepatic dikonsentrasikan dalam kandung empedu dengan absorbsi transmukosal tergantung energy air dan elektrolit. setelah itu dengan semakin bertambahnya usia semakin besar kemungkinan untuk mendapatkan batu empedu. semakin banyak faktor resiko. Sangat sedikit penderita batu empedu yang dijumpai pada usia remaja. 3. Makanan.4. Ini karenakan dengan tingginya BMI maka kadar kolesterol dalam kandung empedu pun tinggi. di USA 10-20 % lakilaki dewasa menderita batu kandung empedu. fertile (subur)-khususnya selama kehamilan.3. Jenis Kelamin Batu empedu lebih sering terjadi pada wanita dari pada laki-laki dengan perbandingan 4 : 1. Faktor resiko tersebut antara lain: 1.5. Umur Usia rata-rata tersering terjadinya batu empedu adalah 40-50 tahun. 1 Epidemiologi Insiden kolelitiasis di negara barat adalah 20% sedangka angka kejadian di Indonesia tidak berbeda jauh dengan negara lain di Asia Tenggara (syamsuhidayat).3.5 5.3.4. (2) penurunan resistensi dari sphincter oddi. Namun. fat (gemuk).20 % laki-laki dewasa menderita batu kandung empedu. 4.5. Kebanyakan pool asam empedu keseluruhan disequestrasikan dalam kandung empedu sepanjang malam untuk dihantarkan kedalam duodenum dengan makanan pertama setiap harinya. fair.4.3. Kolelitiasis dapat terjadi dengan atau tanpa faktor resiko. Di negara Barat penyakit ini sering dijumpai. Kapasitas normal kandung empedu adalah sebanding 30 mL empedu. sementara di Italia 20 % wanita dan 14 % laki-laki. dimana dilepaskan dari mukosa duodenal sebagai repon terhadap penyerapan lemak dan asam amino. Berat badan (BMI). 2. . Di USA 10.4. Faktor utama dalam mengontrol evakuasi kandung empedu adalah hormone peptide kolesistokinin. mempunyai resiko lebih tinggi untuk terjadi kolelitiasis.5. dan (3) mendukung aliran dari isi bilier kedalam duodenum.

akan mudah mengalami perkembangan batu empedu6. Nutrisi intravena jangka lama. terlalu banyak absorbsi garam-garam empedu dan lesitin dari empedu. menyebabkan pembentukan batu empedu.4.Intake rendah klorida.4. batu akan tetap berada disana sebagai batu duktus sistikus6 Patofisiologi batu empedu Batu Kolesterol Empedu yang di supersaturasi dengan kolesterol bertanggung jawab bagi lebih dari 90 % kolelitiasis di negara Barat. Kurangnya aktifitas fisik berhungan dengan peningkatan resiko terjadinya kolelitiasis. dan ileus paralitik 2. faktor predisposisi yang paling penting tampaknya adalah gangguan metabolisme yang disebabkan oleh perubahan susunan empedu. batu tersebut dapat menimbulkan sumbatan aliran empedu secara parsial atau komplet sehingga menimbulkan gejalah kolik empedu.4. Batu kandung empedu dapat berpindah kedalam duktus koledokus melalui duktus sistikus. perubahan susunan kimia. kolesterol dapat mengendap. akan tetapi. Kalau batu terhenti di dalam duktus sistikus karena diameternya terlalu besar atau tertahan oleh striktur. terlalu banyak sekresi kolesterol dalam empedu. Ini mungkin disebabkan oleh kandung empedu lebih sedikit berkontraksi 2. Jumlah kolesterol dalam empedu sebagian ditentukan oleh jumlah lemak yang dimakan karena sel-sel hepatik mensintesis kolesterol sebagai salah satu produk metabolisme lemak dalam tubuh. Penyakit yang dilaporkan berhubungan dengan kolelitiasis adalah crohn disease.3. Pada kondisi yang abnormal. melalui peningkatan dan deskuamasi sel dan pembentukan mukus6. trauma. Stasis empedu dalam kandung empedu dapat meningkatkan supersaturasi progesif. Aktifitas fisik. Etiologi batu empedu masih belum diketahui dengan sempurna. kehilangan berat badan yang cepat (seperti setelah operasi gatrointestinal) mengakibatkan gangguan terhadap unsur kimia dari empedu dan dapat menyebabkan penurunan kontraksi kandung empedu 2. Berbagai kondisi yang dapat menyebabkan pengendapan kolesterol adalah : terlalu banyak absorbsi air dari empedu.5 6.4. Untuk alasan inilah.3. dan pengendapan unsur tersebut. Nutrisi intravena jangka lama mengakibatkan kandung empedu tidak terstimulasi untuk berkontraksi. Sebagian besar empedu ini merupakan batu kolesterol campuran . anemia sel sabit.5 Patogenesis Batu empedu hampir selalu dibentuk dalam kandung empedu dan jarang pada saluran empedu lainnya dan diklasifikasikan berdasarkan bahan pembentuknya. stasis empedu dan infeksi kandung empedu. diabetes.3. Sehingga resiko untuk terbentuknya batu menjadi meningkat dalam kandung empedu 2.5 7. karena tidak ada makanan/ nutrisi yang melewati intestinal. Sekresi kolesterol berhubungan dengan pembentukan batu empedu. Penyakit usus halus. Didalam perjalanannya melalui duktus sistikus. Infeksi bakteri dalam saluran empedu dapat berperan sebagian dalam pembentukan batu. orang yang mendapat diet tinggi lemak dalam waktu beberapa tahun.5 8.3. Perubahan susunan empedu mungkin merupakan yang paling penting pada pembentukan batu empedu. karena terjadi pengendapan kolesterol dalam kandung empedu.

Kolesterol dilarutkan di dalam empedu dalam daerah hidrofobik micelle. lowest in .3.2. greater in Northern Europe and North America than in Asia. Sirosis dan stasis biliaris merupakan predisposisi pembentukan batu pigmen. Ini dapat dinyatakan oleh grafik segitiga. Predisposing Factors for Cholesterol and Pigment Gallstone Formation Cholesterol Stones 1. ‡ Pembentukan nidus. lazim membentuk batu pigmen murni. multipel.3. sehingga kelarutannya tergantung pada jumlah relatif garam empedu dan lesitin.6 Batu pigmen Batu pigmen merupakan sekitar 10 % dari batu empedu di Amerika Serikat. senyawa organik dan inorganik lain. Didaerah Timur.coli membentuk B-glukoronidase yang dianggap mendekonjugasikan bilirubin di dalam empedu.2. Di negara Timur. Kemungkinan mencakup sekresi pigmen dalam jumlah yang meningkat atau pembentukan pigmen abnormal yang mengendap dalam empedu. pigmen empedu.3. Khusus mengenai nukleasi cepat. batu ini bersifat majemuk. berwarna coklat tua.3.2. polimer bilirubin.yang mengandung paling sedikit 75 % kolesterol berdasarkan berat serta dalam variasi jumlah fosfolipid. tingginya insiden batu kalsium bilirubinat bisa berhubungan dengan invasi bakteri sekunder dalam batang saluran empedu yang di infeksi parasit Clonorchis sinensis atau Ascaris Lumbricoides. sangat keras dan penampilan hijau sampai hitam. Chilean Indians.6. sekarang telah terbukti bahwa empedu pasien dengankolelitiasis mempunyai zat yang mempercepat waktu nukleasi kolesterol (promotor) sedangkan empedu orang normal mengandung zat yang menghalangi terjadinya nukleasi. Batu ini sering ditemukan hampir sekitar 90 % pada penderita kolelitiasis. asam empedu dalam jumlah kecil kolesterol (3 sampai 26%) dan banyak senyawa organik lain. Demographic/genetic factors: Prevalence highest in North American Indians. Batubatu tersebut mengandung dalam jumlah bervariasi kalsium bilirubinat.6. ‡ Pertumbuhan batu oleh agregasi/presipitasi lamelar kolesterol dan senyawa lain yang membentuk matriks batu. ‡ Kristalisasi/presipitasi. Proses fisik pembentukan batu kolesterol terjadi dalam empat tahap: ‡ Supersaturasi empedu dengan kolesterol. Ada dua bentuk yaitu batu pigmen murni yang lebih umum dan batu kalsium bilirubinat. batu kalsium bilirubinat dominan dan merupakan 40 sampai 60 % dari semua batu empedu. yang bisa menyokong pembentukan kalsium bilirubinat yang tak dapat larut1. lesitin dan kolesterol1. yang koordinatnya merupakan persentase konsentrasi molar garam empedu. and Chilean Hispanics.6. Batu campuran Merupakan batu campuran kolesterol yang mengandung kalsium. E. Batu pigmen murni lebih kecil (2 sampai 5 mm). berwarna kecoklatan sampai hitam1. 1. Pasien dengan peningkatan beban bilirubin tak terkonjugasi (anemia hemolitik).6 Patogenesis batu pigmen berbeda dari batu kolesterol.2.2. Sebagian besar dari batu campuran mempunyai dasar metabolisme yang sama dengan batu kolesterol1.3. Batu ini lebih rapuh.

decreased secretion of bile salts 6. Miscellaneous a. High-calorie. Clofibrate therapy: Increased biliary secretion of cholesterol 8. Chronic hemolysis 3. hereditary aspects 2. Obesity: Normal bile acid pool and secretion but increased biliary secretion of cholesterol 3. Ileal disease. mual. Dapat memberikan gejala nyeri akut akibat kolesistitis. and increase biliary cholesterol secretion b.Japan. Weight loss: Mobilization of tissue cholesterol leads to increased biliary cholesterol secretion while enterohepatic circulation of bile acids is decreased 4. Asimtomatik Batu yang terdapat dalam kandung empedu sering tidak memberikan gejala (asimtomatik). Drugs such as octreotide 7. high-fat diet b. ileal resection or bypass Manifestasi klinis Batu Kandung Empedu (Kolesistolitiasis) 1. Genetic defect of the CYP7A1 gene 9. Decreased phospholipid secretion: Genetic defect of the MDR3 gene 10. Kurang dari 25 % . Spinal cord injury Pigment Stones 1. Primary biliary cirrhosis b. Chronic biliary tract infection. Increasing age 8. Decreased bile acid secretion a. Pernicious anemia 5. familial disposition. increase uptake of dietary cholesterol. decreased size of bile acid pool. Gallbladder hypomotility leading to stasis and formation of sludge a. other estrogens. Prolonged parenteral nutrition b. adalah asimtomatik. Estrogens stimulate hepatic lipoprotein receptors. nyeri abdomen kronik berulang ataupun dispepsia. Demographic/genetic factors: Asia. tanpa mempertimbangkan jenisnya. Cystic fibrosis 6. Fasting c. Studi perjalanan penyakit sampai 50 % dari semua pasien dengan batu kandung empedu. parasite infections 7. Increasing age: Increased biliary secretion of cholesterol. rural setting 2. nyeri bilier. and oral contraceptives lead to decreased bile salt secretion and decreased conversion of cholesterol to cholesteryl esters 5. Alcoholic cirrhosis 4. Female sex hormones a. Natural estrogens. Pregnancy d.

dan ikterus. Peradangan akut dari kandung empedu.6. Mual dan muntah sering kali berkaitan dengan serangan kolik biliaris1. Apabila timbul serangan kolangitis yang umumnya disertai obstruksi. baik berupa serangan akut ataupun didahului sebelumnya oleh rasa tidak nyaman di daerah epigastrium post prandial.3. nyeri didaerah hati. seperti demam dan menggigil bila terjadi kolangitis. berakhir setelah beberapa jam dan kemudian pulih. Batu Saluran Empedu (Koledokolitiasis) Pada batu duktus koledokus. biasanya dipresipitasi oleh makanan berlemak. Tersangkutnya batu empedu dalam ampula akan menyebabkan ikterus obstruktif10. nyeri tekan pada kanan atas abdomen dan tanda klasik ´Murphy sign´ (pasien berhenti bernafas sewaktu perut kanan atas ditekan). Episode parah kolangitis akut dapat menyebabkan abses hati. 3.6. akan timbul 5 gejala pentade Reynold. berkaitan dengan obstruksi duktus sistikus atau dalam infundibulum. Tidak ada data yang merekomendasikan kolesistektomi rutin dalam semua pasien dengan batu empedu asimtomatik1. Koledokolitiasis sering menimbulkan masalah yang sangat serius karena komplikasi mekanik dan infeksi yang mungkin mengancam nyawa. terjadi 30-60 menit setelah makan.3. Gambaran tipikal dari kolesistitis akut adalah nyeri perut kanan atas yang tajam dan konstan.6. Apabila terjadi kolangiolitis. Pada pemeriksaan dapat dijumpai tanda toksemia. Keluhan ini dapat disertai mual. nyeri pascaprandial kuadran kanan atas.dari pasien yang benar-benar mempunyai batu empedu asimtomatik akan merasakan gejalanya yang membutuhkan intervensi setelah periode wakti 5 tahun.2. muntah dan penurunan nafsu makan. Kolangitis akut yang ringan sampai sedang biasanya kolangitis bakterial non piogenik yang ditandai dengan trias Charcot yaitu demam dan menggigil. Kolik biliaris. akan ditemukan gejala klinis yang sesuai dengan beratnya kolangitis tersebut. dirujuk sebagai kolik biliaris. Kebanyakan pasien akhirnya akan mengalami kolesistektomi terbuka atau laparoskopik1. Nyeri ini bertambah saat inspirasi atau dengan pergerakan dan dapat menjalar kepunggung atau ke ujung skapula. yang dapat berlangsung berhari-hari. disebabkan oleh batu empedu. berupa tiga gejala trias Charcot. dan kadang baru menghilang beberapa jam kemudian.2. Simtomatik Keluhan utamanya berupa nyeri di daerah epigastrium. Batu duktus koledokus disertai dengan bakterobilia dalam 75% persen pasien serta dengan adanya obstruksi saluran empedu. khususnya diantara wanita usia pertengahan dan manula. 2. Diagnosis . Rasa nyeri lainnya adalah kolik bilier yang berlangsung lebih dari 15 menit. Masa yang dapat dipalpasi ditemukan hanya dalam 20% kasus. Migrasi batu empedu kecil melalui ampula Vateri sewaktu ada saluran umum diantara duktus koledokus distal dan duktus pankreatikus dapat menyebabkan pankreatitis batu empedu. kuadran kanan atas. dan kekacauan mental atau penurunan kesadaran sampai koma3. dapat timbul kolangitis akut. ditambah syok. biasanya berupa kolangitis piogenik intrahepatik.3. riwayat nyeri atau kolik di epigastrium dan perut kanan atas disertai tanda sepsis.2. Komplikasi Kolesistitis akut merupakan komplikasi penyakit batu empedu yang paling umum dan sering meyebabkan kedaruratan abdomen.

Tanda Murphy positif apabila nyeri tekan bertambah sewaktu penderita menarik nafas panjang karena kandung empedu yang meradang tersentuh ujung jari tangan pemeriksa dan pasien berhenti menarik nafas (3). Pada yang simtomatis. 3. akan ditemukan kenaikan ringan bilirubin serum akibat penekanan duktus koledukus oleh batu. Batu kandung empedu Apabila ditemukan kelainan. Keluhan yang mungkin timbul adalah dispepdia yang kadang disertai intoleran terhadap makanan berlemak. Pada peradangan akut dengan kandung empedu yang membesar atau hidrops. gejal ikterik tidak jelas.Ultrasonografi (USG) Ultrasonografi mempunyai derajat spesifisitas dan sensitifitas yang tinggi untuk mendeteksi batu kandung empedu dan pelebaran saluran empedu intrahepatik maupun ekstra hepatik. Kalau terjadi kolelitiasis. akan timbul ikterus klinis (3). Anamnesis Setengah sampai duapertiga penderita kolelitiasis adalah asintomatis. Pemeriksaan radiologis . Apabila terjadi sindroma mirizzi.Foto polos Abdomen Foto polos abdomen biasanya tidak memberikan gambaran yang khas karena hanya sekitar 1015% batu kandung empedu yang bersifat radioopak. hidrop kandung empedu. Rasa nyeri lainnya adalah kolik bilier yang mungkin berlangsung lebih dari 15 menit. Pemeriksaan Penunjang 1. dapat terjadi leukositosis. keluhan nyeri menetap dan bertambah pada waktu menarik nafas dalam (3). 2. Pada pemeriksaan ditemukan nyeri tekan dengan punktum maksimum didaerah letak anatomis kandung empedu. Kadang teraba hatidan sklera ikterik. . Kadar bilirubin serum yang tinggi mungkin disebabkan oleh batu di dalam duktus koledukus. empiema kandung empedu. Dengan USG juga dapat dilihat dinding kandung empedu yang menebal karena fibrosis atau udem yang diakibatkan oleh peradangan maupun sebab lain. Pemeriksaan laboratorium Batu kandung empedu yang asimtomatik umumnya tidak menunjukkan kelainan pada pemeriksaan laboratorium. kuadran kanan atas atau perikomdrium. 2. Kadang kandung empedu yang mengandung cairan empedu berkadar kalsium tinggi dapat dilihat dengan foto polos. Pemeriksaan Fisik 1. skapula. biasanya berhubungan dengan komplikasi. kandung empedu kadang terlihat sebagai massa jaringan lunak di kuadran kanan atas yang menekan gambaran udara dalam usus besar. Timbulnya nyeri kebanyakan perlahan-lahan tetapi pada 30% kasus timbul tiba-tiba (3). Batu yang terdapat pada duktus koledukus distal kadang sulit dideteksi karena terhalang oleh udara di dalam usus. Perlu diktahui bahwa bila kadar bilirubin darah kurang dari 3 mg/dl. Kadar fosfatase alkali serum dan mungkin juga kadar amilase serum biasanya meningkat sedang setiap setiap kali terjadi serangan akut (3). dan kadang baru menghilang beberapa jam kemudian. Lebih kurang seperempat penderita melaporkan bahwa nyeri berkurang setelah menggunakan antasida. keluhan utama berupa nyeri di daerah epigastrium. Penyebaran nyeri pada punggung bagian tengah. seperti kolesistitis akut dengan peritonitis lokal atau umum. Batu saluran empedu Baru saluran empedu tidak menimbulkan gejala dalam fase tenang. disertai mual dan muntah. Apabila terjadi peradangan akut.1. atau pangkretitis. Apabila sumbatan saluran empedu bertambah berat. di fleksura hepatika (3). atau ke puncak bahu. 2. Dengan USG punktum maksimum rasa nyeri pada batu kandung empedu yang ganggren lebih jelas daripada dengan .

muntah. DIDA. pancreas ³Real-time´ scanning allows assessment of GB volume. The arrow points to the ampulla of Vater. pregnancy May detect very small stones Bowel gas Massive obesity Ascites Procedure of choice for detection of stones Plain Abdominal X-Ray Low cost Readily available Relatively low yield ? Contraindicated in pregnancy Pathognomonic findings in: calcified gallstones Limey bile. common bile duct (cbd). kolesistografi dengan kontras cukup baik karena relatif murah. Diagnostic Evaluation of the Gallbladder Diagnostic Advantages Diagnostic Limitations Comment Gallbladder Ultrasound Rapid Accurate identification of gallstones (>95%) Simultaneous scanning of GB. B. especially if given with CCK to assess gallbladder emptying Note: GB. CCK. gallbladder ultrasound. and pancreatic duct (pd) are shown. Examples of ultrasound and radiologic studies of the biliary tract. less sensitive and less specific in chronic cholecystitis.) Accurate identification of cystic duct obstruction Simultaneous assessment of bile ducts ? Contraindicated in pregnancy Serum bilirubin >103±205 mol/L (6±12 mg/dL) Cholecystogram of low resolution Indicated for confirmation of suspected acute cholecystitis. kadar bilirubun serum diatas 2 mg/dl. etc.Kolesistografi Untuk penderita tertentu. C. cholecystokinin. The biliary tract is dilatated and contains multiple radiolucent calculi. okstruksi pilorus. dan cukup akurat untuk melihat batu radiolusen sehingga dapat dihitung jumlah dan ukuran batu. bile ducts. sederhana. Endoscopic retrograde cholangiogram (ERC) showing choledocholithiasis. Kolesistografi oral akan gagal pada keadaan ileus paralitik. In addition to the endoscope and large vertical gallbladder filled with contrast dye. the common hepatic duct (chd). An ultrasound study showing a distended gallbladder containing a single large stone (arrow) which casts an acoustic shadow. gallbladder. Pemeriksaan kolesitografi oral lebih bermakna pada penilaian fungsi kandung empedu (3). . . dan hepatitis karena pada keadaan-keadaan tersebut kontras tidak dapat mencapai hati. contractility Not limited by jaundice. A. porcelain GB Emphysematous cholecystitis Gallstone ileus Oral Cholecystogram: Replaced by GBUS Radioisotope Scans (HIDA. D. GBUS. useful in diagnosis of acalculous cholecystopathy. liver.palpasi biasa (1). Endoscopic retrograde cholangiopancreatogram (ERCP) showing normal biliary tract anatomy.

9. Kolesistektomi laparoskopik Kelebihan tindakan ini meliputi nyeri pasca operasi lebih minimal. meliputi trauma CBD. Efektifitas ESWL memerlukan terapi adjuvant asam ursodeoksilat10. bocor stump duktus sistikus dan trauma duktus biliaris.5±1%. besar. Litotripsi (Extarcorvoral Shock Wave Lithotripsy =ESWL) Litotripsi gelombang elektrosyok meskipun sangat populer beberapa tahun yang lalu. tidak terdapat nyeri. dan semua otot abdomen utuh sehingga dapat digunakan untuk aktifitas . analisis biaya-manfaat pada saat ini hanya terbatas untuk pasien yang benar-benar telah dipertimbangkan untuk menjalani terapi ini. Disolusi kontak Metode ini didasarkan pada prinsip PTC dan instilasi langsung pelarut kolesterol ke kandung empedu. b). Indikasi yang paling umum untuk kolesistektomi adalah kolik biliaris rekuren.5 %4. Penatalaksanaan Konservatif a). Komplikasi yang terjadi berupa perdarahan.9. pemulihan lebih cepat. Dengan menggunakan teknik laparoskopi kualitas pemulihan lebih baik. hasil kosmetik lebih baik. perdarahan. kembali menjalankan aktifitas normal dalam 10 hari. pankreatitis. Data baru-baru ini menunjukkan mortalitas pada pasien yang menjalani kolesistektomi terbuka pada tahun 1989. b). namun umumnya berkisar antara 0. c). Terapi disolusi dengan asam ursodeoksilat untuk melarutkan batu empedu kolesterol dibutuhkan waktu pemberian obat 6-12 bulan dan diperlukan monitoring hingga dicapai disolusi. The common bile duct shows areas that are strictured and narrowed. Terapi efektif pada ukuran batu kecil dari 1 cm dengan angka kekambuhan 50 % dalam 5 tahun1. Indikasi tersering adalah nyeri bilier yang berulang. angka kematian secara keseluruhan 0. Komplikasi yang berat jarang terjadi. cepat bekerja kembali.2. dan komposisi batu tidak berhubungan dengan timbulnya keluhan selama pemantauan.03 % sedangkan pada penderita diatas 65 tahun angka kematian mencapai 0. Kontra indikasi absolut serupa dengan tindakan terbuka yaitu tidak dapat mentoleransi tindakan anestesi umum dan koagulopati yang tidak dapat dikoreksi. Resiko trauma duktus biliaris sering dibicarakan. Penanganan operatif a). Lisis batu dengan obat-obatan Sebagian besar pasien dengan batu empedu asimtomatik tidak akan mengalami keluhan dan jumlah. diikuti oleh kolesistitis akut. menyingkatkan perawatan di rumah sakit dan biaya yang lebih murah.2.17 %. Kalaupun nanti timbul keluhan umumnya ringan sehingga penanganan dapat elektif. pada pasien kurang dari 65 tahun angka kematian 0.ERCP showing sclerosing cholangitis. Prosedur ini invasif dan kerugian utamanya adalah angka kekambuhan yang tinggi1. dan infeksi. Open kolesistektomi Operasi ini merupakan standar untuk penanganan pasien dengan batu empedu simtomatik.

17th edition. 2008 . Strasberg. 1028-1029. Harrison¶s Principle of Internal Medicine. Braunwald. Kolesistektomi minilaparatomi. Updated: Dec 29.olahraga1. Edisi 3.com/emerg/Gastrointestinal/topic97. Management of gallstones and their complication. MD. Sjamsuhidayat R. Batu Empedu dalam Buku Ajar Penyakit Dalam Jilid 1. Cheung R.9. M. 1995. Nelson textbook of paediatric. Avaliable from : http://www. Wilson LM.H.D. Ahmed A. Jakarta : EGC. Kolelitiasis dan Kolesistisis dalam : Patofisiologi. 570-9. Jakarta: EGC. Avaliable from : http://www. 1999 3. Kasper. 9. n engl j med 358.aafp. de Jong W. 8. 430-44. Fauci.org/afp/20000315/contents. Buku Ajar Ilmu Bedah. 6.htm.380-4. 2008 2.html. Guyton AC. RECREATIONAL PHYSICAL ACTIVITY AND THE RISK OF CHOLECYSTECTOMY IN WOMEN. Jakarta: Balai Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. 7. Modifikasi dari tindakan kolesistektomi terbuka dengan insisi lebih kecil dengan efek nyeri paska operasi lebih rendah. William K Chiang. Suchy. M. 1997. Edisi 2. Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit. c). 10. M. Frederick J. MICHAEL F.emedicine.26. Acute Calculous Cholecystitis. LEITZMANN. Price SA.2. Hauser. The New England Journal of Medicine. Diseases of the Gallbladder. Steven M. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC. American Family Physician.2.P.D. Cholelithiasis. 2008 5. Edisi ke-9. 2005. Sistem Saluran Empedu dalam: Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. june 26. edisi 4. Hall JE. 17th edition. Lesmana L.9 DAFTAR PUSTAKA 1. 2004 4. 2005.. 1.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->