PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA JUVENILE LAW PSHICOLOGY E- CONCEPT (JLPEC), SUATU STRATEGI MENUJU HUKUM KONSTRUKTIF DALAM PENYELESAIAN

PERKARA PIDANA ANAK DI KOTA SEMARANG UNTUK MENDUKUNG PROGRAM KELOMPOK KERJA PERADILAN ANAK PBB

BIDANG KEGIATAN: PKM-GT Diusulkan oleh: Ika Dian Anggraeni (B2A007156/ Angkatan 2007) Muhammad Nirwan Farbianto (B2A007231/ Angkatan 2007) Friendy Hadi Irmansyah (B2A008092/ Angkatan 2008) UNIVERSITAS NEGERI DIPONEGORO SEMARANG 2010 HALAMAN PENGESAHAN USUL PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA

1. Judul Kegiatan : JUVENILE LAW PSHICOLOGY E- CONCEPT (JLPEC), SUATU STRATEGI MENUJU CONSTRUCTIVE LAW DALAM PENYELESAIAN PERKARA PIDANA ANAK DI KOTA SEMARANG UNTUK MENDUKUNG PROGRAM KELOMPOK KERJA PERADILAN ANAK PBB 2. Bidang Kegiatan : PKM-GT
3. Ketua Pelaksana Kegiatan 0 1 2 3 a. Nama lengkap b. NIM c. Jurusan d. Universitas/Institut e. Alamat Rumah dan HP : Ika Dian Anggraeni : B2A007156 : Ilmu Hukum : Universitas Diponegoro : Jl. Kluwihan 1 No.16 Ungaran, Semarang, 085727242417 f. Alamat Email 5. Dosen Pendamping 0 a. Nama lengkap dan Gelar : Aditya Yuli Sulistyawan, SH., MH b. NIP : 198407092008121002 :Email/FB=anggraeni_90@yahoo.ac.id

0
1

1

4. Anggota Pelaksana Kegiatan/Penulis : 2 orang

4
5

c. Alamat Rumah dan Tel./HP : . HP : 085640061702

Semarang, 18 Maret 2010

Menyetujui, Pembantu Dekan III FH Undip Ketua Pelaksana Kegiatan

Dadang Siswanto, S.H.,MHum. NIP. 196111131987031002

Ika Dian Anggraeni NIM. B2A007156

Pembantu Rektor III Undip

Dosen Pendamping

Sukinta, S.H., M.Hum. NIP.196006271990011001

Aditya Yuli S., S.H., M.H. NIP. 198407092008121002

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT yang maha besar bahwasanya atas rahmat, karunia dan hidayah-Nya penulis dapat menyelesaikan proposal Program Kreativitas Mahasiswa bidang Gagasan Tertulis (PKM-GT) ini dengan tanpa suatu halangan yang berarti. Proposal Program Kreativitas Mahasiswa ini ditujukan untuk mengikuti Program Kreativitas Mahasiswa bidang Gagasan Tertulis (PKM-GT) yang diadakan Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DP2M), Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional Jakarta 2010. Selain itu penulis juga berharap dengan karya tulis ini, penyelesaian perkara pidana anak dapat dilakukan dengan konstruktif yang memperhatikan psikologi anak. Ucapan terima kasih tak lupa penulis sampaikan kepada pihak-pihak yang telah membantu penulis dalam penyusunan karya tulis ini diantaranya:  Bapak Prof. Dr. Arief Hidayat, S.H., M.S. selaku Dekan Fakultas Hukum Universitas Diponegoro; 

Bapak Dadang Siswanto, S.H., M.H. selaku Pembantu Dekan III bidang Kemahasiswan; Bapak Aditya Yuli Sulistyawan, S.H., M.H. selaku dosen pembimbing; Ayah dan ibu tercinta, teman-teman dan semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu. Proposal Program Kreativitas Mahasiswa ini telah penulis susun dengan usaha yang

maksimal meskipun dengan keterbatasan-keterbatasan yang ada. Untuk itu saran dan kritik yang bersifat membangun tetap penulis harapkan demi kesempurnaan proposal. Akhirnya, penulis berharap Proposal ini dapat bermanfaat bagi kita semua. Semoga proposal Program Kreativitas Mahasiswa bidang Gagasan Tertulis (PKM-GT) ini menjadi bagian dari upaya mengkonstruksikan penyeleseaian perkara pidana anak yang tetap memperhatikan

psikologis anak di negeri ini. Semarang, 18 Maret 2010 Penulis

DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL …………………………………………………………………… KATA PENGANTAR ………………………………………………………………….. i ii

DAFTAR ISI ……………………………………………………………... ……….…… iii RINGKASAN ……………………………………………………………………………. 1

PENDAHULUAN A. B. C. Latar Belakang …………………………………………………………. Tujuan dan Manfaat Penelitian ………………………………………….. Metode Penelitian ……………………………………………………….. 2 3 4

GAGASAN Konstruksi Sistem Penyelesaian Perkara Pidana Anak yang Ideal dengan Memperhatikan Aspek Psikologis Anak Menuju Hukum yang Berkeadilan
A. Paradigma Konstruktivisme Sebagai Kerangka Teoritis……………… 4 B. Restorative Justice System Sebagai Konstruksi dalam Penyelesaian Perkara

Pidana Anak yang Berkeadilan…………………………

5

C. Kondisi kekinian pencetus gagasan dapat diperbaiki melalui gagasan yang diajukan…………………………………………………… 7 D. Langkah Strategis……………………………………………….
KESIMPULAN ………………………………………………………………

8
9

DAFTAR PUSTAKA………………………………………………………... DFTAR RIWAYAT HIDUP

11

RINGKASAN Akhir- akhir ini, sering kita temui kasus- kasus kenakalan anak yang di dalam penanganannya kurang memperhatikan aspek psikologis anak. Model peradilan anak yang diterapkan sekarang, sebagaimana diatur dalam undang-undang nomor 3 tahun 1997 tentang peradilan anak, hanya mentitikberatkan pada sifat represif, dan cenderung mengarahkan penyelesaian kasus kenakalan anak melalui sarana penal atau jalur litigasi di pengadilan dimana seringkali menimbulkan stigmatisasi pada diri anak. Oleh karena itu perlu adanya “Konstruksi Penyelesaian Perkara Pidana Anak, sebagai Suatu Tinjauan Konstruktif dalam Mencapai Hukum yang Berkeadilan dengan Memperhatikan Aspek Psikologis Anak”, demi tercapainya yang berkeadilan. Proses peradilan yang diharapkan adalah proses yang dapat memulihkan, artinya perkara betul-betul ditangani aparat penegak hukum yang mempunyai minat, pehatian, dedikasi, dan memahami masalah anak, dan telah mengikuti pelatihan restorative justice, serta penahanan dilakukan sebagai pilihan terakhir dengan mengindahkan prinsip-prinsip dasar dari Konvensi Hak-hak Anak yang telah diadopsi ke dalam UU Perlindungan Anak. paradigma konstruktivisme menjelaskan bahwa hukum yang ideal itu adalah yang bersifat bottom up. Pertimbangan psikologis anak dan berbagai macam perkara anak yang tentu saja tidak dapat disamakan akan memerlukan penanganan penyelesaian yang berbeda-beda sehingga diperlukan dialog antar pihak yang terkait kasus pidana anak. Penyelesaian dengan model ini akan lebih memuaskan para pihak. Beberapa langkah strategis dalam upaya pembaharuan penyelesaian perkara pidana anak antara lain: Sosialisasi kegiatan Juvenile Law Phsicology E-Concept (JLPEC) berbasis kelompok masyarakat, pengembangan berbagai pedoman, baik pedoman teknis, petunjuk pelaksanaan maupun SOP (Standar Operasional Prosedur) dalam pelaksanaan riset, diskusi publik, kerjasama dengan LSM maupun para pakar, serta reformasi peraturan dan kebijakan (UU Perlindungan anak dan UU Pengadilan Anak) dengan Restorative Justice System sebagai konstruksi penyelesaian perkara pidana anak yang memperhatikan psikologi anak, hasil bahan masukan ke naskah akademik atas Juvenile Law Phsicology E-Concept (JLPEC), dimana hal tersebut dapat dijabarkan dalam beberapa langkah- langkah konkret yang akan dijelaskan dalam proposal program kreatifitas mahasiswa ini. hukum

PENDAHULUAN A.Latar Belakang Anak sebagai bagian dari generasi muda merupakan penerus cita-cita perjuangan bangsa dan sumber daya manusia bagi pembangunan nasional. Dalam rangka mewujudkan sumber daya manusia Indonesia yang berkualitas dan mampu memimpin serta memelihara kesatuan dan persatuan bangsa yang berbhineka tunggal ika, diperlukan pembinaan secara terus menerus demi kelangsungan hidup, pertumbuhan dan perkembangan fisik, mental, dan psikologis serta perlindungan dari segala kemungkinan yang akan membahayakan mereka dan bangsa di masa depan. Namun sering kita temukan kasus-kasus kenakalan anak yang di dalam penanganannya kurang memperhatikan aspek psikologis anak. Contohnya, dalam kasus Raju, siswa berusia delapan tahun yang berkelahi karena diejek oleh temannya yang berusia empat belas tahun. Ironisnya, hal ini tidak hanya terjadi pada Raju, namun banyak anak yang mengalami hal serupa. Kondisi perkara pidana anak di Indonesia salah satunya dapat dilihat dari hasil pengamatan kami di Bapas (Balai Pemasyarakatan) kota Semarang, melalui wawancara dengan Ibu Sudiastuti (Pegawai Bapas) dengan kumpulan data perkara pidana anak menunjukkan bahwa di daerah wilayah Semarang pada tahun 2007 terdapat 231 perkara, tahun 2008 dengan 278 perkara serta tahun 2009 sebanyak 303 perkara. Dengan rincian pada tahun 2009 sebagai berikut, tidak siding 55 perkara, diversi 14 perkara, anak sudah dewasa 3 perkara, pembatalan asimilasi 2 perkara, dari BAPAS lain 16 perkara serta pengusulan pembebasan bersarat 11 perkara”. Secara terpisah Bapak Asif Sutomo (Pegawai Bapas) mengatakan,” terlepas dari putusan hakim perkara pidana anak, sering BAPAS dikatakan tidak optimal dikarenakan sumber daya yang tidak mendukung, juga banyaknya KLIEN yang mengulang tindakannya ditengah peran Masyarakat yang kurang responsive atau kurang kerja sama dalam mengatasi kenakalan anak” Penyelesaian perkara pidana anak di Indonesia, menurut Bapak Yoyok (Ketua LSM Setara Semarang),” Dalam perkembangannya sudah ada perubahan paradigma meski belum menyentuh arti korban dan pelaku, di lapangan kepolisian masih memakai pola-pola militer sedangkan kami sebagai LSM terbatas memonitoring dan pendampingan psikologi atas perkara pidana anak ”

Model peradilan anak yang diterapkan dan berkembang sekarang, sebagaimana diatur dalam undang-undang nomor 3 tahun 1997 tentang peradilan anak, hanya mentitikberatkan pada sifat represif, dan cenderung mengarahkan penyelesaian kasus kenakalan anak melalui sarana penal atau jalur litigasi di pengadilan dimana seringkali menimbulkan stigmatisasi pada diri anak. Dalam menghadapi dan menanggulangi berbagai perbuatan dan tingkah laku anak nakal, perlu diperhatikan adanya suatu strategi secara konstruktif mengenai kebijakan restoratif yang mentitikberatkan pada sifat preventif dalam penanggulangan kejahatan jalur nonpenal yang memperhatikan kedudukan anak dengan segala ciri dan sifatnya yang khas. Oleh karena itu, dalam proposal program kreativitas mahasiswa ini kami mengangkat tema tentang “ JUVENILE
LAW PSHICOLOGY E- CONCEPT (JLPEC), SUATU STRATEGI MENUJU HUKUM KONSTRUKTIF PBB”. DALAM PENYELESAIAN PERKARA PIDANA ANAK DI KOTA SEMARANG UNTUK MENDUKUNG PROGRAM KELOMPOK KERJA PERADILAN ANAK

B.Tujuan dan Manfaat Penelitian
Perumusan tujuan penulisan merupakan pencerminan arah agar penulisan karya tulis ini tidak menyimpang dari tujuan semula. Adapun tujuan penulis dalam penyusunan karya tulis ini adalah sebagai berikut: 1. Untuk menganalisis upaya penyelesaian perkara anak di Indonesia saat ini 2. Untuk mengetahui hambatan- hambatan dan kelemahan dalam penyelesaian perkara anak di

Indonesia selama ini.
3. Mencari dan merumuskan konstruksi penyelesaian perkara hukum anak yang ideal dalam

mencapai hukum yang berkeadilan dengan memperhatikan psikologis anak sebagai bahan masukan pra-naskah akademik undang-undang.

C.Metode Penelitian Dalam pembuatan PKM ini, kami menggunakan metode studi pustaka yaitu dari beberapa literatur-literatur terkait dengan penyelesaian perkara hukum anak dan melalui browsing internet sebagai sumber informasinya. Selain itu yang utama dengan menggunakan

metode field research, yaitu kami akan melakukan riset, diskusi public, kerjasama dengan LSM serta pakar untuk pencarian fakta-fakta dan rekomendasi-rekomendasi dari berbagai pihak terkait dalam menyusun dan mengaplikasikan suatu konstruksi penyelesaian perkara pidana anak yang memperhatikan aspek psikologis anak menjadi bahan masukan naskah akademik perubahan UU. GAGASAN Konstruksi Sistem Penyelesaian Perkara Pidana Anak yang Ideal dengan Memperhatikan Aspek Psikologis Anak Menuju Hukum yang Berkeadilan Paradigma Konstruktivisme Sebagai Kerangka Teoritis Di dalam komunitas ilmiah, pemahaman tentang paradigma merupakan masalah yang sangat kompleks. Paradigma antara lain dipandang sebagai keseluruhan konsep yang diterima oleh sebagian besar anggota suatu komunitas intelektual sebagai sebuah ‘sain’ (science), dikarenakan keefektifannya di dalam menjelaskan suatu proses, ide, atau sekumpulan data yang kompleks.1 Konstruktivisme merupakan salah satu paradigma yang dikemukakan oleh Guba dan Lincoln sejak 1994. Menurut Denzin dan Lincoln (1994), ontologi (yakni bentuk, sifat dan ciri realitas) dari konstruktivisme pada dasarnya adalah relativis yang diwarnai pula oleh unsur humanis. Artinya segala realitas dipahami sebagai konstruksi mental atau persepsi yang majemuk dan beragam serta intangible; berlandaskan pengalaman sosial maupun individual; bersifat dan berciri lokal serta spesifik; serta bentuk dan isinya bergantung pada masing-masing individu ataupun kelompok masyarakat penganut faham ini. Epistemologi (yakni bentuk, sifat dan ciri hubungan antara individu atau kumpulan individu dengan realitas) dari konstruktivisme adalah transaksional dan subjektivis. Sedangkan metodologi (yakni cara bagaimana individu menemukan, mendapatkan atau men-canggih’-kan realitas yang diyakininya) dari paradigma ini adalah hermeneutikal dan dialektikal.2 Dalam kerangka konstruktivisme ini, hukum karenanya adalah sesuatu yang relative yang terbentuk lalu terbangun dan dipahami secara transaksional dan subjektif, serta hermeneutik dan dialektik. Konstruktivisme sangat menentang objektivisme, empirikal-realisme, kebenaran
1 2

Webster’s New World Dictionary – Third College Edition Erlyn Indarti, Menjadi Manusia Merdeka : Menggagas Paradigma Baru Pendidikan Hukum untuk Membangun Masyarakat Madani, (Orasi Ilmiah dalam rangka Dies Natalis FH Undip: 8 Januari 2001), halaman 30.

objektif, dan esensialisme. Konstruktivisme percaya bahwa manusia pada dasarnya aktif mengkonstruksi dan memodifikasi konsep, model, realitas, termasuk pengetahuan dan kebenaran, hukum; dan bukan sekedar menemukannya. Realitas hukum tersebut merupakan keluaran dari perspektif manusia itu sendiri. Disini hukum dianggap plural dan plastik. Hukum dikatakan plural karena ia diekspresikan ke dalam begitu banyak dan beragam simbol, bahasa dan wacana. Sedangkan plastiknya hukum diartikan sebagai sifat dan ciri hukum yang dapat direntangkan dan dibentuk sesuai dengan kebutuhan manusia.3 Dalam kaitannya dengan penulisan ini, paradigma konstruktivisme menjelaskan bahwa hukum yang ideal itu adalah yang bersifat bottom up. Pertimbangan psikologis anak dan berbagai macam perkara anak yang tentu saja tidak dapat disamakan akan memerlukan penanganan penyelesaian yang berbeda-beda sehingga diperlukan dialog antar pihak yang terkait kasus pidana anak. Penyelesaian dengan model ini akan lebih memuaskan para pihak. Restorative Justice System Sebagai Konstruksi dalam Penyelesaian Perkara Pidana Anak yang Berkeadilan Implementasi UU No.3 tahun 1997 tentang Pengadilan Anak dalam prakteknya cenderung memberikan stigma atas diri anak. Dari kajian kriminologi mengisyaratkan bahwa stigmatisasi atas diri anak pelaku delinkuen disamping akan membekas bagi jiwa anak, juga sangat potensial sebagai factor kriminogen.- melalui proses yang disebut “self-fulfiling prophecy”. Keadilan restoratif merupakan suatu konsepsi pemikiran yang merespons pengembangan sistem peradilan pidana dengan menitikberatkan pada pelibatan masyarakat dan korban dalam penyelesaian perkara pidana. Model keadilan restoratif tidak saja mengakomodasi kepentingan masyarakat ”rentan hukum”, melainkan juga mencegah penumpukan perkara di Mahkamah Agung (MA).4 Prinsip yang menjadi dasar dan tujuan utamanya adalah perbaikan luka yang diderita oleh korban, pengakuan pelaku terhadap luka yang diakibatkan oleh perbuatannya dan konsiliasi
3 4

Ibid.

serta rekonsiliasi dikalangan korban, pelaku dan masyarakat. Proses restorative justice pada dasarnya dilakukan melalui diskresi (kebijaksanaan) dan diversi sebagai pengalihan dari proses peradilan pidana ke luar proses formal untuk diselesaikan secara musyawarah. Penyelesaian melalui musyawarah sebetulnya bukan hal baru bagi bangsa Indonesia. Sebelum pendudukan Belanda, bangsa kita sudah memiliki hukum sendiri, yaitu hukum adat. Strategi musyawarah, diutamakan dan didasarkan kesepakatan para pihak atas perkara tersebut. Sedangkan pengutamaan rekonsiliasi ditujukan sebagai realitas hukum keluaran dari perspektif manusia itu sendiri.untuk perbaikan keadaan yang justru lebih baik dari proses hukum positif yang ada. Kritik atas model pembinaan pelaku yang tidak memadai dan jaminan hukumnya lemah, bahkan keputusannya ambivalen dan tak taatazas (inconsistent) cenderung menyembunyikan maksud pemidanaan dengan mengatasnamakan keselamatan publik.5 Keadilan sampai sekarang masih dipahami sebagai terbuktinya dakwaan dan penjatuhan pidana kepada pelaku oleh negara sebagai pemegang kedaulatan dalam menjatuhkan pidana. Otoritas demikian pada akhirnya justru berimbas pada kondisi tidak terwakilinya kepentingan korban dan masyarakat dalam sistem.
Beranjak dari kritik tersebut, model peradilan restoratif hadir dengan tidak berdimensi tunggal dan pengendalian pelaku delinkuen melainkan berdemensi jamak pelaku , korban dan masyarakat, tidak punitive, tidak membebaskan stigma, tidak mengaliensikan anak pelaku dengan keluarga dan peergroup nya perlu dipertimbangkan dalam konstruksi penyelesaian perkara pidana anak yang berkeadilan.6 Model peradilan restoratif ini merupakan sejalan dengan semangat berkeadilan. paradigma konstruktif yang

Kondisi kekinian pencetus gagasan dapat diperbaiki melalui gagasan yang diajukan

Kondisi perkara pidana anak di Indonesia salah satunya dapat dilihat dari

hasil

pengamatan kami di Bapas (Balai Pemasyarakatan) kota Semarang, melalui wawancara dengan Ibu Sudiastuti (Pegawai Bapas) dengan kumpulan data perkara pidana anak menunjukkan bahwa di daerah wilayah Semarang pada tahun 2007 terdapat 231 perkara, tahun 2008 dengan 278 perkara serta tahun 2009 sebanyak 303 perkara. Dengan rincian pada tahun 2009 sebagai berikut,
5 6

Pak paulus Pak paulus

tidak siding 55 perkara, diversi 14 perkara, anak sudah dewasa 3 perkara, pembatalan asimilasi 2 perkara, dari BAPAS lain 16 perkara serta pengusulan pembebasan bersarat 11 perkara”. Ditambahkan pula atas wawancara dengan Bapak Yoyok (Ketua LSM Setara Semarang) mengatakan,” Dalam perkembangannya sudah ada perubahan paradigma meski belum menyentuh arti korban dan pelaku, di lapangan kepolisian masih memakai pola-pola militer sedangkan kami sebagai LSM terbatas memonitoring dan pendampingan psikologi atas perkara pidana anak ”. Konsep restorative justice telah muncul lebih dari 20 tahun yang lalu sebagai alternatif penyelesaian perkara pidana dengan pelaku anak. Kelompok Kerja Peradilan Anak Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) mendefinisikan restorative justice sebagai suatu proses semua pihak yang berhubungan dengan tindak pidana tertentu duduk bersama-sama untuk memecahkan masalah dan memikirkan bagaimana mengatasi akibat di masa yang akan datang. Atas kritis keterdesakan pemahaman konstruksi penyelesaian perkara pidana anak, Juvenile Law Phsicology E-Concept (JLPEC) merupakan strategi menuju hukum penyelesaian perkara anak yang konstruktif melalui kegiatan-kegiatan yang berujung pada pemasukan bahan-bahan naskah akademik menuju reformasi peraturan perkara pidana anak di kota Semarang. Secara tidak langsung ikut mendukung program kelompok kerja peradilan anak PBB. Perlindungan Khusus bagi anak yang berhadapan dengan hukum merupakan kewajiban dan tanggung jawab pemerintah dan masyarakat berdasarkan undang- undang no. 23 Tahun 2002 tentang perlindungan anak. Juvenile Law Phsicology E-Concept (JLPEC) sangat sesuai dengan hal tersebut. Juvenile Law Phsicology E-Concept (JLPEC), mewujudkan pemahaman hukum konstruktivisme atas salah satu paradigma yang dikemukakan oleh Guba dan Lincoln sejak 1994. Menurut Denzin dan Lincoln (1994), ontologi (yakni bentuk, sifat dan ciri realitas) dari konstruktivisme pada dasarnya adalah relativis yang diwarnai pula oleh unsur humanis. Artinya segala realitas dipahami sebagai konstruksi mental atau persepsi yang majemuk dan beragam serta intangible; berlandaskan pengalaman sosial maupun individual; bersifat dan berciri lokal serta spesifik; serta bentuk dan isinya bergantung pada masing-masing individu ataupun kelompok masyarakat penganut faham ini.

Paradigma konstruktivisme menjelaskan bahwa hukum yang ideal itu adalah yang bersifat bottom up. Pertimbangan psikologis anak dan berbagai macam perkara anak yang tentu saja tidak dapat disamakan akan memerlukan penanganan penyelesaian yang berbeda-beda sehingga diperlukan dialog antar pihak yang terkait kasus pidana anak. Penyelesaian dengan model ini akan lebih memuaskan para pihak. Lembaga-lembaga yang berwenang dalam penyelesaian perkara hukum anak meliputi, Kepolisian dalam hal penyidikan, kejaksaan dalam hal penuntutan, peradilan, dalam hal mengadili dan menjatuhkan putusan, penasihat hukum, dalam hal pembelaan atau pendampingan terhadap anak yang berhubungan dengan hukum, serta pembimbing kemasyarakatan, dalam hal pendampingan. Langkah Strategis Dalam penerapan Juvenile Law Phsicology E-Concept (JLPEC) Langkah-langkah strategis yang harus dilakukan untuk mengimplementasikannya sehingga tujuan atau perbaikan yang diharapkan dapat tercapai meliputi strategi menuju hukum penyelesaian perkara anak yang konstruktif melalui kegiatan-kegiatan yang berujung pada pemasukan bahan-bahan naskah akademik menuju reformasi peraturan perkara pidana anak di kota Semarang. Secara tidak langsung ikut mendukung program kelompok kerja peradilan anak PBB. Secara spesifiknya Juvenile Law Phsicology E-Concept (JLPEC) akan dilakukan melalui kegiatan riset, diskusi publik, kerjasama dengan LSM serta pakar untuk pencarian fakta-fakta dan rekomendasi-rekomendasi dari berbagai pihak terkait dalam menyusun dan mengaplikasikan suatu konstruksi penyelesaian perkara pidana anak yang memperhatikan aspek psikologis anak menjadi bahan masukan naskah akademik perubahan UU Hasil dari setiap rancangan masing-masing kegiatan Juvenile Law Phsicology E-Concept (JLPEC) diharapkan secara tidak langsung sebagai upaya pelibatan mahasiswa dalam menyerap semangat konstruksi hukum atas reformasi perundang-undangan perkara pidana anak. Rancangan masing-masing kegiatan JLPEC menjadi suatu strategi menuju pemahaman hukum yang konstruktif terutama mengenai penyelesaian perkara pidana anak di kota Semarang. Rancangan masing-masing kegiatan JLPEC secara tidak langsung juga mendukung program kerja peradilan anak PBB dalam hal ini upaya menuju restorative justice system.

KESIMPULAN Dalam upaya penyelesaian perkara pidana anak di Indonesia sekarang ini masih terdapat banyak kekurangan dan harus dilakukan reformasi pemahaman keadilan yang lebih sesuai dengan semangat memperhatikan psikologi anak yang berperkara. Dari hal tersebut dapat disimpulkan sebagai berikut : 1.Upaya penyelesaian perkara pidana anak di Indonesia hingga saat ini masih belum optimal. Hal ini diperlihatkan dari prosedur penyelesaian perkara, upaya perlindungan serta lembagalembaga yang berwenang dari keputusannya yang cenderung menyembunyikan maksud pemidanaan
dengan mengatasnamakan keselamatan publik.

2.Masih terdapat kelemahan dan hambatan dalam penyelesaian perkara pidana anak di Indonesia saat ini. Hal ini dibuktikan atas kelemahan dan hambatan dalam UU Pengadilan serta penyelesaian perkara pidana anak dengan adanya kasus-kasus seperti Raju dan DDY. 3.Restorative Justice System sebagai konstruksi penyelesaian perkara pidana anak yang berkeadilan. Hal ini sejalan dengan paradigma konstruktivisme menjelaskan bahwa hukum yang ideal itu adalah yang bersifat bottom up. Pertimbangan psikologis anak dan berbagai macam perkara anak yang tentu saja tidak dapat disamakan akan memerlukan penanganan penyelesaian yang berbeda-beda sehingga diperlukan dialog antar pihak yang terkait kasus pidana anak. Penyelesaian dengan model ini akan lebih memuaskan para pihak. Rekomendasi Dalam upaya penyelesaian perkara hukum anak yang telah berlangsung di selama ini masih banyak kekurangan dan harus dilakukan pembaharuan konstruksi hukum penyelesaian perkara hukum anak. Konstruksi itu idealnya dilakukan melaui. Juvenile Law Phsicology E-Concept (JLPEC). Oleh karena itu, perlu adanya strategi operasional dalam pelaksanaan kegiatannya. Adapun strategi pelaksanaan kegiatan tersebut dapat dirinci sebagai berikut : 1. Rencana Jangka Pendek Sasaran konstruksi pemprograman jangka pendek yaitu adanya stimulan percontohan pelibatan mahasiswa dalam melakukan riset, diskusi publik, kerjasama dengan LSM maupun

para pakar melalui Juvenile Law Phsicology E-Concept (JLPEC) law psychology education. Bentuk kegiatan tersebut berupa pilot percontohan dan dalam rangka pencarian bahan-bahan hukum baru menuju reformasi perundang-undangan. Rancangan sistem yang diusulkan dalam penerapan Juvenile Law Phsicology E-Concept (JLPEC) adalah rancangan yang bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan persepsi masyarakat untuk mengubah konsep pemahaman dan partisipasi dalam penyelesaian perkara hukum anak yang memperhatikan psikologi anak secara umumnya serta pencarian bahan-bahan masukan perubahan perundang-undangan yang sesuai restoratif justice system dan paradigma konstruktivisme. 2. Rencana Jangka M.enengah dan Panjang Rencana jangka menengah dan panjang memiliki sasaran, meluasnya peran serta mahasiswa dalam Juvenile Law Phsicology E-Concept (JLPEC) law psychology education meliputi:
a.

Sosialisasi kegiatan Juvenile Law Phsicology E-Concept (JLPEC) berbasis kelompok

masyarakat (tingkat RT, Dharma wanita dll) dalam pemahaman penyelesaian perkara pidana anak yang memperhatikan psikologi anak. b. Pengembangan berbagai pedoman, baik pedoman teknis, petunjuk pelaksanaan maupun SOP (Standar Operasional Prosedur) dalam pelaksanaan riset, diskusi publik, kerjasama dengan LSM maupun para pakar..
c.

Reformasi peraturan dan kebijakan (UU Perlindungan anak dan UU Pengadilan Anak)

dengan Restorative Justice System sebagai konstruksi penyelesaian perkara pidana anak yang memperhatikan psikologi anak, hasil bahan masukan ke naskah akademik atas Juvenile Law Phsicology E-Concept (JLPEC). Melalui pendekatan tersebut diatas, diharapkan penanganan penyelesaian perkara hukum anak di masyarakat, dapat dilaksanakan bukan saja melalui proses hukum semata yang masih kurang memperhatikan psikologi anak, tetapi juga akan dilaksanakan oleh masyarakat itu sendiri. Dengan demikian mahasiswa sebagai bagian integral dari pembangunan konstruksi hukum penyelesaian perkara hukum anak yang memperhatikan psikologi anak bukan merupakan jargon belaka, tetapi benar-benar merupakan ujung tombak pembangunan konstruksi hukum penyelesaian perkara hukum anak yang memperhatikan psikologi anak..

DAFTAR PUSTAKA Muchtar, Fatudin.2006.Situasi Anak yang Berkonflik dengan Hukum di Daerah Istimewa Yogyakarta dan Semarang.Yogyakarta:Yayasan Setara Indarti, Erlyn. Menjadi Manusia Merdeka : Menggagas Paradigma Baru Pendidikan Hukum untuk Membangun Masyarakat Madani. Orasi Ilmiah dalam rangka Dies Natalis FH Undip: 8 Januari 2001. halaman 30. Rahardjo, Satjipto.2006. Membedah Hukum Progresif. Jakarta: Kompas Indarti, Erlyn. Menjadi Manusia Merdeka : Menggagas Paradigma Baru Pendidikan Hukum untuk Membangun Masyarakat Madani. Orasi Ilmiah dalam rangka Dies Natalis FH Undip: 8 Januari 2001. DAFTAR RIWAYAT HIDUP

I

Nama Tempat/Tanggal Lahir

: Ika Dian Anggraeni : Semarang/ 1 Juni 1990

Karya-karya ilmiah yang pernah dibuat: -Karya Tulis KONSTRUKSI HUKUM UPAYA PEMBERANTASAN KORUPSI DI INDONESIA YANG TERINTEGRASI MENUJU HUKUM YANG BERKEADILAN Penghargaan-penghargaan ilmiah yang pernah diraih: -Juara II LKTI Universitas Gajah Mada Tahun 2009 II Nama Tempat/Tanggal Lahir : Muhammad Nirwan Farbianto : Jepara, 1 Mei 1989 :

Karya-karya ilmiah yang pernah dibuat

-Karya Tulis (Menggagas Konsep Lembaga Independen, Upaya Sertifikat HKI Sebagai Bank Guarantee Dalam Pembangunan Hukum HKI yang Berintikan Kesejahteraan)

Penghargaan-penghargaan ilmiah yang pernah diraih III Nama Tempat/Tanggal Lahir : Friendy Hadi Irmansyah : Magelang, 20 Maret 1990 :-

:-

Karya-karya ilmiah yang pernah dibuat

Penghargaan-penghargaan ilmiah yang pernah diraih

:-

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful