P. 1
Kliping Berita Perumahan Rakyat Online 31 Januari 2012

Kliping Berita Perumahan Rakyat Online 31 Januari 2012

|Views: 18|Likes:
Published by KlipingDigital
Kliping Berita Perumahan Rakyat Online 31 Januari 2012
Kliping Berita Perumahan Rakyat Online 31 Januari 2012

More info:

Published by: KlipingDigital on Jan 31, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/25/2012

pdf

text

original

Industri Senin, 30 Januari 2012 | 01:30:29 WIB

250 Ribu Rumah Tidak Layak Huni Akan Dibedah

antaranews.com JAKARTA - Pemerintah, melalui Kementerian Perumahan Rakyat (Kemenpera), menargetkan renovasi dan rehabilitasi terhadap 250 ribu unit rumah yang terangkum dalam program bedah rumah pada 2012 ini. Menteri Perumahan Rakyat (Menpera) Djan Faridz mengatakan upaya tersebut dilakukan sebagai salah satu strategi pemerintah dalam memberikan bantuan kepada masyarakat bawah agar memiliki rumah yang lebih layak huni. "Jika ditambah partisipasi dari pemda serta dana yang terkumpul dari partisipasi swadaya masyarakat melalui zakat, bantuan yang diberikan kepada orang miskin akan lebih banyak lagi," kata Menpera di Jakarta, akhir pekan lalu. Menurut Djan, dalam program tersebut, salah satu upaya yang dilakukan pemerintah adalah memberikan bantuan sekitar 6 juta rupiah per unit bagi rumah yang dianggap kurang layak. Dana itu digunakan untuk memperbaiki atap, lantai, atau dinding rumah masyarakat bawah yang rusak melalui penyaluran Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya (BSPS). Lebih jauh, Menpera mengungkapkan program bedah rumah itu harus dapat disosialisasikan secara luas kepada masyarakat miskin di seluruh Indonesia. Pemda dan orang kaya di daerah setidaknya bisa ikut membantu Kemenpera dengan menginventarisasi dan membuat data orang-orang miskin yang rumahnya memang perlu mendapat bantuan.

"Saya juga berharap orang-orang kaya bisa memperhatikan lingkungan sekitarnya supaya terwujud lingkungan yang nyaman dan bebas kumuh, dan saya minta wali kota dan bupati berinisiatif melakukan perbaikan rumah masyarakat dengan program bedah rumah ini," jelas Menpera. had/E-6 http://koran-jakarta.com/index.php/detail/view01/82173

KPR Murah Terealisasi Februari
Padang Ekspres • Senin, 30/01/2012 10:38 WIB • (esg/adv) • 148 klik Jakarta, Padek—Keresahan pengembang dan masyarakat soal tertundanya akad kredit pemilikan rumah (KPR) skema fasilitas likuiditas pembiayaan perumahan (FLPP), bakal segera teratasi. Kementerian Perumahan Rakyat (Kemenpera) menargetkan perjanjian baru kerja sama operasional (PKO) dengan perbankan, terkait suku bunga FLPP bakal terealisasi Februari nanti. Saat ini, Kemenpera bersama Persatuan Perusahaan Real Estate Indonesia (REI) masih berjuang menurunkan suku bunga FLPP. ”Menpera dan kami dari REI masih negosiasi dengan perbankan untuk memperjuangkan, agar suku bunga KPR skema FLPP bisa diturunkan dari 8,25 persen menjadi hanya 6 sampai 5,5 persen,” ujar Ketua DPD REI Sumbar Alkudri usai bertemu Menpera Djan Faridz di Kantor Kemenpera, Jakarta, akhir pekan lalu. Sejauh ini, kata Alkudri, baru beberapa bank pelaksana FLPP yang mengajukan proposal baru penurunan suku bunga Kemenpera. Seharusnya, bank cepat merespons sehingga tidak mengganggu program percepatan pembangunan perumahan murah. Apalagi, suku bunga acuan (BI rate) sudah rendah. Penurunan suku bunga FLPP tersebut sangat penting bagi masyarakat berpenghasilan rendah, agar bisa membeli rumah sederhana tapak (RST) dengan bunga lebih rendah dan cicilan murah, karena disubsidi pemerintah. ”Dengan turunnya suku bunga FLPP, maka semakin banyak pula masyarakat berpenghasilan rendah bisa membeli rumah dan menikmati cicilan KPR terjangkau. Kita mohon rekan-rekan pengembang dan masyarakat bersabar. Menpera menargetkan paling lambat bulan depan (Februari, red) PKO untuk suku bunga baru yang lebih murah, bisa direalisasikan,” jelas putra asli Pauh, Padang itu. Diperkirakan Alkudri, jika suku bunga FLPP turun, maka angsuran RST bisa mencapai Rp600 ribu. Pada kesempatan itu, Alkudri kepada Menpera juga menyampaikan usulan agar masyarakat berpenghasilan tidak tetap, seperti pedagang kaki lima (PKL), pegawai honorer, tukang, buruh, petani, tukang ojek, dan lainnya, diberikan fasilitas KPR. Pasalnya, kata Alkudri, perbankan ketika memproses permohonan KPR biasanya hanya memberikan kredit kepada orang yang memiliki pekerjaan atau penghasilan tetap, dengan menunjukkan SK dan rekening koran atau wirausaha dengan menunjukkan SIUP, NPWP dan sebagainya. ”Usulan tersebut direspons Menpera. Namun, polanya belum diputuskan. Terbuka kemungkinan Kemenpera bekerja sama dengan pemerintah daerah dan REI. Misalnya, pemda membuat suatu BUMD yang khusus mengelola itu, dan Kemenpera

memberikan dukungan pendanaannya. Atau bisa juga bekerja sama dengan koperasikoperasi. Petugas dari BUMD atau koperasi itulah nantinya yang menagih KPR kepada nasabah,” jelas Alkudri. Dengan begitu, kata Alkudri, PKL dan pedagang kecil di pasar-pasar tradisional yang selama ini kesulitan mendapatkan KPR bisa terakomodir. ”Hal itu tentu saja juga sangat mendukung program 10 ribu rumah yang kita targetkan tahun ini. Sebab, dari 129 ribu warga Sumbar yang belum memiliki rumah, sekitar 80 persen merupakan pekerja tidak tetap. Nah, ini yang harus kita bantu. Padahal, masyarakat berpenghasilan tidak tetap itu, kadangkala pendapatan bulanannya bisa lebih dari cukup untuk membayar angsuran KPR,” kata Alkudri. Alkudri juga membahas persiapan penandatanganan MoU antara Menpera, REI dan gubernur untuk merealisasikan pembangunan kawasan ”kota baru mandiri” di Padang. Padang dijadikan kota tempat pengembangan kawasan permukiman baru atau kota baru. Permukiman itu untuk mendukung kegiatan ekonomi utama sektor perkebunan sawit, karet dan batu bara yang terkoneksi di Sumatera, seperti tempat pelayanan dan jasa serta jadi lokasi industri pengolahan hasil bumi. Sebelum bertemu Menpera, Alkudri bersama Ketua DPD REI se-Indonesia dan Ketua Umum DPP REI Setyo Maharso bertemu dengan pimpinan Bank Indonesia, di Menara Radius Prawiro Lt. 25 Bank Indonesia Jakarta. Pada kesempatan itu, kata Alkudri, hadir Deputi Gubernur Muliaman D Hadad, Deputi Bidang Pembiayaan Kemenpera, Sri Hartoyo, pimpinan perbankan seperti dari BTN, BNI, Bukopin, dan Bank CIMB Niaga. ”Selain bicara terkait suku bunga FLPP, dalam pertemuan itu juga dibahas soal kerja sama yang selama ini terjalin antara pengembang dengan perbankan di seluruh Indonesia,” jelas bos Almara Grup itu. (esg/adv) http://padangekspres.co.id/?news=berita&id=22552

FLPP DISETOP: 10.000 rumah tak terjual di Jabar & Banten
29 Januari , 2012 | Oleh:: JIBI Oleh Irsad Sati

(jibiphoto) JAKARTA: Asososiasi Pengembang Perumahan dan Permukiman Seluruh Indonesia (Apersi) di Jabar dan Banten menyatakan sedikitnya 10.000 unit rumah sederhana tapak tipe di bawah 36 m2 macet penjualannya disebabkan dihentikannya program KPR FLPP.

Untuk itu, Apersi di kedua provinsi tersebut mendesak Kementerian Perumahan Rakyat untuk segera memberlakukan lagi program pembiayaan FLPP agar unit yang telah ready stock itu bisa diserap pasar kalangan masyarakat menengah bawah. Ketua Apersi Banten Vidi Surfiadi mengatakan 10.000 unit itu ada di Banten sebanyak 4.000 unit dan Jabar sebanyak 6.000 unit. “Terhentinya penjualan rumah yang sudah ready stock itu dampaknya sangat krusial karena ada rentetan transaksi yang terputus. Bagaimana caranya pengembang harus bayar kontraktor, cicilan kredit konstruksi dan komitmen dengan mitra yang lain,” ujarnya, Jumat. Dia menambahkan macetnya penjualan untuk 10.000 unit itu memiliki nilai transaksi sekitar Rp700 miliar. Menurut dia, masalah ini menjadi keprihatinan bagi pihaknya karena hampir 100% pengembang yang tergabung Apersi menggarap segmen program pembiayaan FLPP tersebut. Sementara itu, Sekretaris Apersi Jabar Wawan Darmawan mengatakan yang lebih meresahkan bagi pengembang menengah bawah terkait kebijakan Kemenpera yang mewajibkan minimal unit 36 m2. Dalam hal ini, lanjutnya, unit yang telah dibangun di Jabar kebanyakan unit tipe 22 m2, 27 m2 dan 32 m2. “Kalau tipe di bawah 36 m2 tidak lagi dapat program pembiayaan FLPP. Kami tidak lagi menjual dan masyarakat menengah bawah tak mendapat subsidi.” Ketua Apersi Banten Vidi mengatakan kalau persoalan program pembiayaan FLPP terus menyulitkan maka pengembang siap meninggalkan program perumahan rakyat dan beralih pada rumah komersial. “Kalau makin sulit untuk ikut program FLPP ya kami akan banting stir ke rumah komersial. Sekarang kami ragu-ragu untuk garap proyek karena ada potensi perubahan kebijakan yang merugikan proyek kami yang masuk di segmen menengah bawah,” katanya lagi. Saat ini, lanjutnya, upaya yang ditempuh Apersi dengan melakukan judicial review UU No.1/2011 tentang Perumahan. Menurut dia, saat ini tengah menunggu panggilan dari Mahkamah Konstitusi setelah memasukan gugatan pada 26 Januari.(yri)

Property Monday, 30 01 2012 More in Property Pengembang Banten dan Jawa Barat Ancam Stop Pembangunan Rumah Sederhana Tapak BY MUHAMMAD RINALDI

Ba nyak regulasi yang mengatur perumahan rakyat membingungkan pengembang. (IFT/DINUL MUBAROK)

JAKARTA (IFT) - Kalangan pengembang di Provinsi Banten dan Jawa Barat mengancam menghentikan pasokan rumah sederhana tapak (RST) jika regulasi yang dibuat pemerintah tidak jelas. Pengembang siap menyerahkan kembali tugas pembangunan rumah rakyat kepada pemerintah.

Plafon Pembiayaan Perumahan Dikurangi
30 January, 2012 JAKARTA-Kementerian Perumahan Rakyat (Kemenpera) akan mengurangi plafon dana Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) yang ditempatkan di perbankan. Dengan demikian pihak perbankan akan lebih berperan dalam program penyediaan rumah bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR). “Sejak FLPP dijalankan, dana yang ditempatkan pemerintah di bank lebih dari 60 persen. Ini karena kita masih menarik minat bank untuk bekerja sama dengan Kemenpera. Alhamdulillah, makin banyak saja bank maupun BPD/BPR yang mau ikut berpartisipasi dalam program ini,” ungkap Menteri Perumahan Rakyat Djan Faridz dalam keterangan persnya, beberapa hari lalu. Kedepan plafon dan FLPP 50 persen saja. Dengan plafon 50 persen itu, Djan Faridz berharap, perbankan akan lebih banyak berperan aktif. Sebab, dana yang dikeluarkan bank juga banyak. “Bank akan semakin selektif memilih siapa yang berhak diberi dana FLPP. Pemerintah tidak akan ikut campur, karena risiko kredit macetnya lebih banyak ditanggung bank,” ucapnya. Dia menambahkan, kebijakan baru ini akan dinegosiasikan dengan pihak bank. Namun dia optimis bisa terlaksana karena pemerintah tidak melakukan intervensi ke bank dalam menentukan masyarakat mana yang layak dapat kredit perumahan tersebut. Menpera mengatakan, pada Februari mendatang akan dilakukan penandatanganan perjanjian kerja sama operasional (PKO) dengan perbankan tentang program FLPP. Saat ini, Kemenpera masih menunggu pengajuan proposal baru dari perbankan agar dilakukan penurunan suku bunga FLPP. “Nantinya perbankan akan mengajukan besaran suku bunga di bank pelaksana, jumlah unit KPR yang disanggupi dan disalurkan disalurkan pada 2012 per triwulan. Bila pekan ini seluruh proposal sudah masuk dan sesuai keinginan Kemenpera agar suku bunga FLPP bisa diturunkan, pelaksanaan PKO tersebut bisa lebih dipercepat pelaksanaannya,” tuturnya. Dijelaskannya, permintaan penurunan suku bunga FLPP seharusnya sesuai penurunan suku bunga Bank Indonesia. Apabila saat penandatanganan PKO terdahulu besaran SBI sekitar delapan persen, maka tahun ini turun menjadi enam persen sehingga suku bunga FLPP bisa ikut diturunkan. “Bank-bank penyalur FLPP sudah kita surati terkait pelaksanaan program FLPP tahun 2012. Saya berharap seluruh proposal besaran suku bunga bisa dari bank seperti BTN, Bukopin, BNI 46 dan Bank Pembangunan Daerah bisa segera diterima,” ujarnya. (esy/jpnn) http://www.hariansumutpos.com/2012/01/25059/plafon-pembiayaan-perumahan-dikurangi.htm

Jamsostek Bantu Uang Muka Angsuran Rumah Tipe 22 Rp633 Ribu
30 January, 2012 JAKARTA-Peminat rumah murah tipe 22 untuk karyawan outsourcing Bank Indonesia cukup besar. Program rumah murah seharga Rp67 juta itu cukup ringan karena cicilannya hanya Rp633 ribu tanpa uang muka. Direktur Utama Jamsostek, Hotbonar Sinaga menjelaskan para debitur rumah murah mendapat beragam fasilitas menarik. Selain harga Rp67 juta untuk tipe 22/60, uang muka (dp) rumah dibayar terlebihdahulu oleh Jamsostek. Sehingga secara berkala, debitur membayar cicilan selama 15 tahun dengan jumlah tetap. Sehingga debitur membayar cicilan dengan total sekitar Rp 633 ribu per bulan, tanpa uang muka. Sementara Deputi Gubernur BI, Ardayadi menjelaskan, dari 600 peminat rumah murah, hanya 150 karyawan yang bisa mendapatkannya.”Dari 2.000 outsourcing, 600 peminat, yang dapat 150,” kata Ardayadi di kantornya, Jalan MH Thamrin, Jakarta, Senin (16/1). Pada hari ini dilaksanakan acara serah terima kunci secara simbolik antara karyawan dengan BI yang dihadiri Bank Tabungan Indonesia (BTN) dan PT Jamsostek sebagai lembaga penyedia uang muka dan fasilitas kredit. Menurut Ardayadi, program tersebut bisa saja dilanjutkan namun harus mendapat persetujuan dahulu dari bank sentral. Saat ini PT Jamsostek (Persero) siap menyediakan dana tambahan, sekitar Rp500 miliar dalam rangka pembiayaan uang muka bagi masyarakat yang juga anggotanya. “Target Jamsostek tahun ini Rp220 miliar dalam menyalurkan uang muka. Kalau semua terserap, kami siapkan Rp500 miliar lagi,” kata Hotbonar Sinaga. Target pembiayaan uang muka bagi anggota Jamsostek tergolong tinggi. Pasalnya, pencapaian tahun 2011 hanya Rp95 miliar.”Tahun lalu terealisir Rp95 miliar. Makanya kita memperbanyak sosialisasi dan iklan di TV bahwa kita ada pinjaman uang muka perumahan,” terangnya. (net/jpnn) http://www.hariansumutpos.com/2012/01/23966/jamsostek-bantu-uang-muka-angsuranrumah-tipe-22-rp633-ribu.htm

Rumah Rp88 Juta ke Bawah Bebas Pajak
30 January, 2012 JAKARTA-Kementerian Perumahan Rakyat (Kemenpera) mengupayakan agar harga rumah bebas Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dinaikkan dari Rp70 juta per unit menjadi maksimal Rp88 juta per unit.

Hal ini juga sebagai solusi terkait kewajiban batas minimal ukuran rumah 36 m2 agar masyarakat berpenghasilan rendah masih bisa berpeluang memiliki rumah. “Kita sedang upayakan, sekarang lagi proses di Menteri Keuangan. Upaya untuk menaikan harga itu salah satunya meminta Menkeu membebaskan PPN (pajak pertambahan nilai). Jika PPN nol, maka harga rumah bisa Rp 88 juta per unit dari sebelumnya Rp 70 juta per unit,” ujar Deputi Bidang Perumahan Formal Kemenpera, Pangihutan Marpaung, Rabu (25/1). Kementerian Keuangan juga bisa memberikan dana PSU (prasarana, sarana, dan utilitas) ke pengembang perumahan yang nilainya sekitar Rp 6,5 juta per unit. Selain itu pemerintah daerah bisa membantu kemudahan kementeriannya dan pengembang, dalam menyelesaikan berbagai izin. “Jika Pemerintah Daerah menghilangkan biaya perizinannya, maka produksi rumah bisa hanya Rp80 juta dan pengembang bisa makin tertarik. Apalagi ada dana dari Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) sebesar Rp288 miliar untuk sambungan daya listrik bagi rumah sederhana,” ungkapnya. Namun menurut Pangihutan, bantuan dana sambungan daya listik tadi bisa diberikan selama pengembang dapat menentukan lokasinya di tahun 2012. “Dana bantuan sambungan daya listrik bisa diberikan selama pengembang bisa menentukan lokasinya dimana saja di tahun ini,” tandas-nya. (net/jpnn) http://www.hariansumutpos.com/2012/01/24812/rumah-rp88-juta-ke-bawah-bebaspajak.htm

Pemda Diminta Atur Hunian Berimbang
30 January, 2012 JAKARTA-Sekretaris Kementerian Perumahan Rakyat Iskandar Saleh meminta pengembang perumahan menerapkan pola hunian berimbang. Ini sesuai amanat UU No 1 Tahun 2011 tentang Perumahan dan Kawasan Permukiman yang mewajibkan badan hukum melakukan pembangunan perumahan untuk mewujudkan perumahan dengan hunian berimbang. “Dengan hunian berimbang backlog (kekurangan kebutuhan) perumahan khususnya bagi masyarakat berpenghasilan menengah ke bawah yang mencapai 13,6 juta unit dapat diatasi,” kata Iskandar di Jakarta.

Saat ini, lanjutnya, sedang dilakukan finalisasi Peraturan Menteri Perumahan Rakyat terkait hunian berimbang sebagai implementasi UU Nomor 1/2011 tentang Perumahan dan Kawasan Permukiman. Prinsip dasar regulasi ini adalah memberikan kesempatan yang sama dan berkeadilan bagi masyarakat untuk memiliki rumah serta hunian yang proporsional. “Kami menargetkan Permenpera Hunian Berimbang dapat terbit akhir bulan ini. Salah satu poinnya adalah penentuan komposisi pola hunian berimbang 1:2:3. Ini merupakan kesepakatan dari hasil konsultasi dengan para stakeholder perumahan. Di antaranya unsur pemkab/ pemkot, pemprov, perguruan tinggi, DPP/DPD REI, DPP/ DPD APERSI, Perum Perumnas, dan lainlain,” tandasnya. Lebih lanjut dikatakan, rancangan Permenpera tersebut juga mengamanatkan kepada pemda untuk mengatur pelaksanaan pembangunan perumahan dengan hunian berimbang sesuai rencana tata ruang wilayah kabupaten/kota, rencana pembangunan serta pengembangan perumahan. (esy/jpnn) http://www.hariansumutpos.com/2012/01/23751/pemda-diminta-atur-hunianberimbang.htm

57 Juta Orang Miskin Belum Punya Rumah
30 January, 2012
Jakarta- Asosiasi Pengembang Perumahan dan Permukiman Seluruh Indonesa (APERSI) mencatat masih ada 57 juta orang Indonesia yang belum bisa memiliki rumah. Angka ini merupakan akumulasi penduduk miskin dan hampir miskin. Ketua DPP APERSI Eddy Ganefo menuturkan dengan melihat fakta itu maka aturan membangun rumah menimal tipe 36 m2 oleh pengembang sangat tidak tepat. Aturan yang diatur dalam UU No 1 Tahun 2011, tentang Perumahan dan Pemukiman itu juga dianggap merugikan pengembang skala kecil. “Jadi total 57 juta. Setara 14 juta rumah. Ini masih masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) dan tidak mampu beli tipe 36. Belum lagi masyarakat miskin kota yang punya tanah warisan 30 m2. Apa mungkin bangun, bisa tapi ke atas. Dan mereka nggak mampu,” katanya dalam diskusi ‘Menggugat Pembatasan Luas Lantai Rumah’ di Gedung Waskita Karya, Jakarta, Rabu (18/1). Ketentuan wajib rumah minimal tipe 36 pada Undang-Undang (UU) Perumahan Rakyat, secara langsung merampas hak masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) untuk memiliki hunian. Pasalnya, harga jual tipe 36 tidak mampu diserap oleh MBR. “Dengan UU No 1 Tahun 2011 pada pasal 22 ayat 3, meniadakan atau melarang masyarakat untuk membangun rumah dengan luas lebih kecil dari 36 m2. Padahal pada UU setiap orang

bisa bertempat tinggal, dan lingkungan yang layak. Ini berarti hak MBR telah dirampas,” jelasnya. Rencananya ketentuan wajib hunian minimal tipe 36 akan berlaku Januari 2012. Hal ini berdasarkan UU No 1 Tahun 2011 soal perumahan pasal 22 ayat 3 berbunyi Luas lantai rumah tunggal dan rumah deret memiliki ukuran paling sedikit 36 (tiga puluh enam) meter persegi. Untuk implementasinya akan dikeluarkan Peraturan Pemerintah (PP) pada Januari 2012. Namun konsumen masih bisa menikmati membeli rumah dibawah 36 seperti tipe 22, tipe 27 asalkan izin mendirikan bangunan (IMB) yang dimiliki pengembang keluar sebelum lahirnya PP tersebut. Pemerintah melalui kementerian perumahan rakyat akan mencoba mencari jalan keluar, rencananya dalam PP soal penyelenggaraan perumahan terkait batas minimal tipe 36 adalah pengembang tetap diwajibkan membangun rumah dengan luas lantai minimal 36 m2, namun luasan dindingnya bisa dibawah itu, seperti 27 m2 dan 22 m2. (net/bbs) http://www.hariansumutpos.com/2012/01/24175/57-juta-orang-miskin-belum-punya-rumah.htm

FLPP Mandek, Ribuan Rumah Batal Dibangun
Posted by Eri Irawan on 28 January, 2012 in Properti | 0 Comment

MAPPI Jatim: Mandeknya Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) sejak awal Januari 2012 kian meresahkan pengembang dan masyarakat. Dewan Pimpinan Daerah (DPD) RealEstate Indonesia (REI) Jawa Timur (Jatim) menghitung ada sekitar 2.000 lebih unit Rumah Sederhana Tapak (RST) yang tidak terealisasi sepanjang Januari akibat berhentinya fasilitas tersebut. “Ya kita hitung saja, kalau target kita untuk pembangunan RST selama tahun 2012 sebesar 25.000, maka sepanjang Januari ini ada sekitar 2.000 unit RST yang tidak bisa terealisasi di seluruh Jatim,” ungkap Wakil Ketua DPD REI Jatim Nurwakhid. Nantinya, unit tersebut, menurut Nurwakhid, akan diakumulasikan pada realisasi di Februari. Namun hal ini akan menjadi sangat sulit ketika FLPP masih belum dilaksanakan di awal Februari.

“Kabarnya sih awal Februari depan diberlakukan kembali. Tapi kami tidak tahu kejelasannya. Kalau sampai Februari tidak terealisasi, ya ini akan menjadi sangat sulit mencapai target,” keluhnya. Sebenarnya, lanjut Nurwakhid, pembangunan RST ini adalah kepentingan pemerintah. REI hanya membantu merealisasikannya dengan menentukan target pembangunan. Ironisnya, pemerintah justru membuat kebijakan atau aturan yang berbelit. “Tidak hanya FLPP yang mandek, kondisi ini juga diperparah dengan adanya kebijakan baru RTS yang dibangun minimal tipe 36. Ini akan sangat menyulitkan masyarakat bawah untuk mampu menjangkaunya,” terang Nur. Akibat adanya kebijakan tersebut, pasar akan tergerus seiring dengan turunnya daya beli pasar bawah sekitar 30%. “Ujung-ujungnya ya target realisasi RST per bulan tidak akan tercapai. Bahkan jauh dari realisasi tahun lalu yang mencapai 1.500 unit per bulan. Dan ini akan mengakibatkan angka backlog RST bakal membengkak dari posisi akhir 2011 sebesar 590.000 unit,” pungkasnya. http://www.mappijatim.or.id/properti/flpp-mandek-ribuan-rumah-batal-dibangun.html

Khusus Golongan Rendah dan Belum Memiliki Rumah Sendiri

Asyik! Rusunawa Gunungsari Boleh Dihuni Para PNS
Minggu, 29 Januari 2012 16:29 WIB

Rusunawa Gunungsari BERITA TERKAIT LENSAINDONESIA.COM : Setelah sebelumnnya Rusunawa Gunungsari mendapat protes dari sebagian penghuni karena fasilitas yang tidak memadai, kini ditemukan beberapa Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang tinggal disana. Padahal, seharusnya, rusunawa tersebut diperuntukkan bagi bekas korban gusuran stren kali Jagir Wonokromo. Kepala Dinas Pekerjaan Umum (Kadis PU) Cipta Karya dan Tata Ruang (CKTR) Provinsi Jatim Gentur Prihantono mengungkapkan, hal tersebut bukan merupakan penyalahgunaan. Karena selain korban gusuran stren kali jagir, rusunawa tersebut juga boleh ditinggali masyarakat yang belum memiliki rumah dan memenuhi kriteria yang sudah ditentukan.

“Sah-sah saja masyarakat umum tinggal disana termasuk PNS yang masuk dalam golongan rendah misalnya gol II A,” kata Gentur, Minggu (29/01). Awalnya, ungkap Gentur, rusunawa Gunungsari yang kualitasnya baik memang untuk antisipasi korban gusuran stren kali Jagir, tapi belakangan rusunawa tersebut boleh ditinggali warga umum. “Yang penting memenuhi persyaratan untuk bisa tinggal di rusunawa,” paparnya. Dia menjelaskan, rusunawa adalah tempat tinggal sementara, sebelum punya rumah permanen. “Hal ini karena rusunawa bukanlah hak milik,” tegas dia. Berdasarkan catatan, diketahui saat ini sebagian kamar yang sudah disewa tidak ditempati. Selain itu, dari sekitar 268 unit kamar, sebanyak 30 persennya masih kosong dan belum berpenghuni. “Karena 15 KK dari total 385 KK korban gusuran stren kali yang belum menghuni rusunawa. Padahal, mereka sudah diberi tahu saat rusunawa akan dibuka. Tapi tampaknya tidak ada respon,” ungkap Gentur lagi. Seperti diketahui, belum genap setahun dihuni korban gusuran stren kali, atap Rusunawa (rumah susun sederhana sewa) Gunungsari Surabaya sudah alami kebocoran air hujan. Padahal, Gubernur Jatim Soekarwo dan Menteri Perumahan Rakyat (PR) Suharso Monoarfa ketika itu saat meresmikan pengoperasian Rusunawa Gunungsari Surabaya, 28 Mei 2011, menganggap sebagai rusunawa terbaik di Indonesia. *anne Editor: Rizal Hasan http://www.lensaindonesia.com/2012/01/29/asyik-rusunawa-gunungsari-boleh-dihunipara-pns.html

Sunday, 29 January 2012 20:28 Media Online Bhirawa

30 Persen Unit Rusunawa Gunungsari Belum Berpenghuni

Pemprov, Bhirawa Dari jumlah 268 unit kamar di Rusunawa Gunungsari, saat ini masih ada 30 persen yang masih kosong dan belum berpenghuni. Selain itu, ada juga ada 15 KK dari total 385 KK eks-korban gusuran stren kali yang belum masuk rusunawa (masuk daftar tunggu). "Mereka kan sudah diberi tahu dan sosialisasi saat rusunawa menjelang dibuka, tapi mereka tidak merespon ketika itu," kata Kepala Dinas PU Cipta Karya dan Tata Ruang (DPU CKTR), Ir Gentur Prihantono. Gentur juga menegaskan, kalau rusunawa merupakan tempat tinggal sementara dan statusnya juga bukan hak milik. Permasalahannya, berdasar catatan dari DPU CKTR Jatim, saat ini banyak kamar di rusunawa yang sudah disewa (membayar administrasi), tapi tidak ditempati. Selain itu, banyak juga yang membayar uang sewanya seringkali nunggak hingga tiga bulan lamanya. Banyaknya kamar yang kosong dan tidak berpenghuni juga seringkali membuat pengelola Rusunawa merasa kesulitan melakukan perbaikan, seperti adanya kebocoran di atap. "Kami minta mereka pindah sementara ke kamar yang masih kosong di lantai atas. Tapi kendalanya, kami kesulitan melakukan perbaikan, karena banyak kamar terkunci dan penghuninya tidak di tempat (bekerja, red)," katanya. Sedangkan, Sekretaris Dinas PU CKTR Jatim Farich Amin mengatakan, berdasarkan Pergub 36/2011 tertanggal 6 Juli 2011 maka telah diberitahukan pada seluruh penghuni Rusunawa Gunungsari yang belum menempati hingga 25 Oktober 2011, maka hak hunian dianggap gugur. Tapi, hingga akhir Januari 2012 ini, belum ada satupun penghuni yang diusir keluar. "Sebenarnya kami serba salah, kalau berdasar aturan tegas, memang mereka harus diusir keluar. Tapi kami masih miliki rasa kemanusiaan. Tapi bagaimana lagi masih ada waiting list masyarakat yang ingin menempati rusunawa. Untuk itu, deadline 3 bulan jika tidak bayar sewa akan diterapkan," katanya.

Sebelumnya, penghuni rusunawa mengeluhkan pada pengelola Rusunawa, utamanya DPU CKTR Jatim agar segera memperbaiki kebocoran yang ada diatap beberapa kamar para penghuni rusun. Untuk diketahui, Rusunawa Gunungsari ini berupa bangunan 2,5 twin blok dengan 5 lantai, dibangun di lahan seluas 6.799 meter persegi, 268 unit dengan tipe 34 meter persegi dan dilengkapi ruko 22 unit. Gubernur mengumumkan harga sewa untuk rusun tersebut, yakni Rp235 ribu/bulan untuk lantai dasar, Rp215 ribu/bulan untuk lantai dua, Rp195 ribu/bulan untuk lantai 3, lantai 4 Rp175 ribu/bulan dan lantai 5 Rp156 ribu/bulan. [rac]

http://www.harianbhirawa.co.id/eksekutif/41800-30-persen-unit-rusun-gunungsaribelum-berpenghuni

Senin, 30 Januari 2012

Cipta Karya Telah Bangun 222 “Twin Block” Rusun

Jakarta, Pelita Direktorat Jenderal Cipta Karya Kementerian Pekerjaan Umum terus mengevaluasi pembangunan, pengembangan perumahan, kawasan permukiman dan rumah susun (rusun) dalam meningkatkan kualitas kawasan permukiman kumuh. Hal tersebut sesuai dengan penerapan Undang-Undang (UU) No 1 Tahun 2011 tentang Perumahan dan Kawasan Permukiman dan UU No 20 Tahun 2011 tentang Rumah Susun. “Selama 2005-2011, Cipta Karya telah membangun rusun sebanyak 222 twin block sebagai solusi penanganan kawasan kumuh. Dari jumlah tersebut, baru 122 twin block yang dihuni karena masih dalam proses penyiapan prasarana umum (PSU),” kata Dirjen Cipta Karya Budi Yuwono, DI Jakarta, Minggu (29/1). Hingga tahun 2011, infrastruktur kawasan permukiman perkotaan telah mencapai 640 kawasan. Angka tersebut melebihi total Rencana Strategis (Renstra) PU 2010-2014 yang ditargetkan sebesar 447 kawasan. Untuk kawasan permukiman pedesaan juga telah melebihi jumlah 322 kawasan yang ditargetkan, yaitu mencapai 355 kawasan. Sedangkan rusunawa beserta infrastruktur pendukungnya sampai dengan 2011 baru mencapai 42 kawasan dari jumlah 270 kawasan yang ditargetkan dalam renstra. Sementara Direktur Pengembangan Permukiman Ditjen Cipta Karya Amwazi Idrus mengatakan, penyediaan lokasi pembangunan rumah susun datang dari pemerintah daerah. Kemudian disusun peren-canaan kawasan perkotaannya dan dikoordinasikan dengan Kementerian Perumahan Rakyat (Kemenpera). Sebelumnya, Wakil Ketua Pimpinan Komisi V DPR-RI Mulyadi mengatakan, untuk menyempurnakan UU No 1 Tahun 2011 dan No 20 Tahun 2011, maka perlu dibuat Rancangan Peraturan Pemerintah sebagai implementasinya. “Perlu implementasi yang dtuangkan dalam PP terkait kedua UU tersebut agar pemerintah daerah segera menyesuaikan peraturan yang baru. Selain itu, agar ada koordinasi antara pemda, pemprov dengan pusat,” tuturnya. Di sisi lain, Deputi Bidang Perumahan Formal Kemenpera Paul Marpaung menjelaskan, ke depan rumah susun sederhana milik (rusunami) akan berubah nama menjadi Rumah Susun Umum sesuai dengan yang tertuang dalam UU No 20 Tahun 2011 tentang Rumah Susun.(oto)

http://www.pelitaonline.com/read-cetak/14854/cipta-karya-telah-bangun-222-twin-blockrusun/

Dua Rusunawa Dioperasikan Maret
Senin, 30 Januari 2012 06:47 WIB Berita Terkait

TRIBUNJATIM.COM,SURABAYA - Dua rumah susun sederhana sewa (rusunawa) ditargetkan beroperasi setidaknya Maret mendatang. Yakni, rusunawa Grudo dan Tanah Merah II. Secara tampilan luar, dua rusunawa tersebut memang sudah tampak bagus dan selesai dibangun. Bahkan, untuk yang di tanah merah, sejak 2010 lalu konstruksi bangunannya sudah tampak bagus. "Tapi, instalasi air dan listriknya masih belum sempurna," kata Kabid Permukiman Dinas Cipta Karya dan Tata Ruang (DCKTR) Muhammad Aminuddin. Dia memperkirakan, setidaknya dalam triwulan pertama tahun ini, dua perumahan vertikal itu sudah dapat dipakai. Sekadar diketahui, pemkot tidak mengeluarkan dana besar untuk pembangunan. Sebab, anggaran berasal dari APBN. Namun, setelah beroperasi, pemkot lah yang melakukan pengelolaan. Leading sectornya adalah Dinas Pengelolaan Bangunan dan Tanah (DPBT). Sedangkan DCKTR adalah semacam pengawas atau kepanjangan tangan pemerintah pusat dalam proses pembangunan saja. Selama ini, sistem pembangunan rusunawa memang seperti itu. Dana bersumber dari APBN, lantas diserahkan pada pemkot. Selain Grudo dan Tanam Merah II, ada pula Wonorejo, Penjaringansari, Sumbo dan lain sebagainya (selengkapnya lihat grafis) yang telah lebih dulu beroperasi "Untuk siapa warga yang akan mendiami rusunawa baru, sudah dikoordinasikan oleh DPBT. Sepengetahuan saya yang mengantri sudah banyak," kata Aminuddin. Kepala DPBT Djumadji membenarkan. Dia menyatakan, mereka yang belum memiliki rumah dan tergolong berpenghasilan akan menjadi prioritas sebagai penghuni rusunawa Tanah Merah II. Menariknya, khusus Grudo, akan diprioritaskan bagi PNS yang belum memiliki rumah. "Kami sudah memiliki daftar antrean. Yang daftar memang banyak," kata Djumadji. Dia menyampaikan, lahan di Grudo dulunya adalah komplek rumah dinas pekerja di lingkungan Dinas Bina Marga dan Pematusan serta Dinas Kebersihan dan Pertamanan. Ada sekitar 23 keluarga yang menghuni kompleks itu dan selama pembangunan rusunawa, mereka "diungsikan" di tempat kos terlebih dahulu. Namun, mereka dipastikan sudah mendapat jatah rusunawa di sana.

"Kalau kami ini, asal DCKTR sudah bilang kalau rusunawa siap dipakai lalu diserahterimakan ke kami, Insya Allah penghuninya sudah ada dan bisa langsung masuk," kata dia. Sumber : Surya Penulis : Hadi santoso

Editor : yoni http://surabaya.tribunnews.com/2012/01/30/dua-rusunawa-dioperasikan-maret

RUMAH SUSUN Rp 7 Triliun untuk Rusunawa di Bantaran Ciliwung
M.Latief | Latief | Jumat, 27 Januari 2012 | 16:05 WIB

KRISTIANTO PURNOMO/KOMPAS IMAGES Pemerintah akan menggulirkan dana sebesar Rp 7 triliun untuk membangun rumah susun umum sewa (rusunawa) di bantaran Sungai Ciliwung. TERKAIT: JAKARTA, KOMPAS.com - Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat Agung Laksono menyatakan, pemerintah akan menggulirkan dana sebesar Rp 7 triliun untuk membangun rumah susun umum sewa (rusunawa) di bantaran Sungai Ciliwung. Total anggaran sebesar Rp7 triliun dengan metode tahun jamak atau multiyears. -- Agung Laksono "Total anggaran sebesar Rp7 triliun dengan metode tahun jamak atau multiyears," kata Agung Laksono usai memimpin rapat koordinasi tingkat menteri terkait penataan pemukiman di bantaran Sungai Ciliwung di Jakarta, Kamis (26/1/2012) kemarin. Agung menjelaskan, anggaran tersebut berasal dari APBN sejumlah kementerian terkait dengan metode tahun jamak mulai dari 2012 hingga 2014. Dia menambahkan, pemukiman kumuh di bantaran Sungai Ciliwung juga merupakan salah satu jawaban dari Gerakan Indonesia Bersih (GIB) yang baru diluncurkan pemerintah. "GIB adalah program sangat strategis dan harus dilaksanakan sebagai salah satu upaya untuk meningkatkan kesejahteraan dan kesehatan masyarakat," katanya. Dia menambahkan, rapat koordinasi tingkat menteri diharapkan bisa mempercepat implementasi program penataan pemukiman kumuh di bantaran Sungai Ciliwung diantaranya memperbaiki kualitas lingkungan melalui konsep "membangun tanpa menggusur". Program ini juga akan mengamankan daerah bantaran sungai dalam rangka menjaga kesinambungan daerah aliran sungai Ciliwung serta melakukan perancangan struktural terhadap daerah bantaran sungai yang menjadi kawasan pemukiman dengan tetap memperhatikan karakteristik dasar sungai.

Selain itu, membangun rumah susun umum sewa di bantaran sungai untuk menggantikan perumahan yang tidak layak. Dia mengatakan, rencana kegiatan untuk menata pemukiman kumuh di bantaran Sungai Ciliwung antara lain melakukan relokasi penduduk sebanyak 34.051 kepala keluarga. Pemerintah juga akan membangun rumah susun umum sewa sebanyak 22.806 unit di tujuh lokasi yang direncanakan. Ditambah lagi, membangun dua sudetan di lokasi Kebon Baru dan Kalibata dengan total luasan perolehan 2,93 hektar. Sumber : ANT http://properti.kompas.com/read/2012/01/27/16054351/Rp.7.Triliun.untuk.Rusunawa.di. Bantaran.Ciliwung

Headline Sabtu, 28 Jan 2012 07:27 WIB

Bunga Kredit Rumah Subsidi Turun Jadi 6,5%
MedanBisnis – Jakarta. Perjanjian Kerja Sama Operasional (PKO) Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) akhirnya akan ditandatangani awal Februari 2011, padahal sebelumnya tak ada titik temu kesepakatan suku bunga baru antara bank pelaksana dengan kementerian perumahan rakyat ditetapkan sekira 6,5%-7%. Penetapan bungan kredit ini sudah mengalami penurunan dibandingkan tahun sebelumnya yang ditetapkan sebesar 8,15%."Iya sudah disepakati bunganya sekitar itu, 6,5%-7%," kata Deputi Bidang Perumahan Formal Kemenpera, Pangihutan Marpaung

di Jakarta, Jumat (27/1). Dia mengaku kesepakatan ini adalah win-win solution antara pemerintah dengan perbankan. Pemerintah awalnya ngotot menetapkan suku bunga FLPP sebesar 5%6%, meski bank mengaku akan merugi dengan permintaan ini."Ini menjadi win-win. Karena mereka berhitung dengan risk. Nggak bisa langsung dibagi dua, ada faktorfaktor lain yang bank hitung. Lagi pula belum pernah ada suku bunga (FLPP) yang di bawah BI Rate. Sekarang kan 6%. Suku bunga yang disepakati juga sudah dengan asuransi Askrindo," tambah Pangihutan. Kesepakatan ini kemudian akan disusun, dan menjadi Peraturan Menteri (Permen) yang baru. "Semua lagi disusun, Permen nanti diserahkan ke Kementerian Hukum dan HAM," tegasnya. Pengamat ekonomi dari Universitas HKBP Nommensen, Dr Parulian Simanjuntak, mengatakan, bunga FLPP diturunkan cukup bagus dan akan menarik masyarakat. "Itu sudah pasti. Tapi apakah menarik? Itu tergantung kondisi ekonomi. Apa bisa pendapatan masyarakat untuk itu. Kalau masih susah ekonomi, maka bunga yang diturunkan belum tentu menarik. Tapi tak bisa dipungkiri, penurunan ini akan membuat permintaan kredit perumahan akan meningkat," katanya kepada MedanBisnis, Jumat (27/1). Namun, dengan penurunan ini, perlu juga diperhatikan apakah masyarakat sudah berkeinginan memiliki rumah dengan kredit atau masih suka kontan. Sebab, ini berkaitan dengan budaya masyarakat. Menurutnya, masih ada kecenderungan di dalam masyarakat untuk membeli rumah dengan kontan. Ekonom dari Universitas Sumatera Utara, Jhon Tafbu Ritonga, mengatakan, meski sekarang bunga FLPP 6,5%-7%, namun masih ada potensi untuk turun. Sebab, bank umum masih berencana menurunkan bunga. "Nanti bunga kredit rumah juga bisa turun. Tapi harga akan naik karena margin bisa naik di tengah kennaikan permintaan. Ada banyak elemen ongkos yang masih bisa ditekan seperti birokrasi," kata Jhon. Ia menambahkan, pengadaan rumah itu lambat terutama karena faktor bunga yang masih cukup tinggi. Namun begitupun, penurunan bunga FLPP ini akan membuat permintaan kredit perumahan meningkat karena saat ini masih banyak masyarakat Sumut yang belum punya rumah. ( dtf/elvidaris) http://www.medanbisnisdaily.com/news/read/2012/01/28/78481/bunga_kredit_rumah_s ubsidi_turun_jadi_65persen/

REI : Kebijakan Perumahan Indonesia Mal Adaptedâ
Senin , 30 Januari 2012 06:13:14 Oleh : Agus K Supono KBRN, Jakarta : Dewan Pimpinan Pusat Realestate Indonesia (REI) menilai, terjadi salah penerapan atau "mal adapted" yang akut pada kebijakan perumahan saat ini sehingga ancaman ketidaktersediaan rumah (backlog) secara nasional diperkirakan makin memburuk. "Sudah ‘mal adapted’` atau setara dengan `mal praktik` dalam dunia kedokteran. Alih-alih mau

mengurangi `backlog` perumahan nasional yang angkanya di bawah 10 juta beberapa tahun lalu, saat ini malah sudah 13-14 juta unit tahun ini," kata Wakil Ketua DPP REI Bidang Rusunami, M Nawir ketika menghadiri pemancangan proyek Apartemen Senopati Penthouse, di Jakarta, akhir pekan lalu. Penegasan tersebut disampaikan terkait dengan kekisruhan program penyaluran Fasilitas Likuiditas Pembangungan Perumahan (FLPP) yang belum berakhir hingga kini karena sesuai Pasal 22 ayat (3) UU No 1/2011 tentang Perumahan dan Kawasan Permukiman, perutukkannya hanya bagi pengembang perumahan yang membangun rumah dengan tipe 36. Sementara itu, katanya, hingga saat ini masih banyak pengembang yang menyediakan perumahan untuk Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR) di bawah tipe 36. "Jadi, kebijakan ini, tentu tidak berpihak kepada mereka. Ribuan rencana akad kredit akhirnya ditunda. FLPP pun dihentikan," katanya Pada sisi lain, gebrakan pemerintah untuk menyediakan rumah susun murah milik (rusunami) beberapa tahun lalu, hingga kini juga tidak jelas. "Peraturan Gubernur DKI pada tahun ini melalui Pergub DKI Nomor 19, juga sudah menghentikan anggaran untuk Rusunami," katanya. Pendapat senada disampaikan Direktur Utama PT Senopati Aryani Prima, Lukman Purnomosidi. Menurut dia, kekisruhan kebijakan sektor perumahan di Indonesia tidak akan terjadi jika ada kedekatan tiga pilar utama seperti Kemenpera, BTN dan REI. "Rumah di Indonesia `kan terbagi dua, yakni subsidi dan non subsidi atau komersial. Untuk yang subsidi, diperlukan kedekatan ketiga pilar tadi," katanya. Artinya, tambahnya, apa pun kebijakannya, mestinya untuk kebijakan perumahan subsidi, harusnya berpihak kepada MBR. "Jika sebaliknya, berarti ada yang salah," katanya. Sebelumnya, Asosiasi Pengembang Perumahan dan Permukiman Seluruh Indonesia (Apersi) secara terbuka menolak ketentuan bahwa penyaluran kredit FLPP hanya diperuntukan bagi pengembang perumahan yang membangun rumah dengan tipe 36 seperti yang tercantum dalam Pasal 22 Ayat (3), UU 1 / 2011 tentang Perumahan dan Kawasan Permukiman. "Kami menolak ketentuan itu karena tidak realistis. Peminat rumah di daerah itu, didominasi untuk mencicil rumah di bawah tipe tersebut seperti tipe 30, 21 dan sebagainya," kata Ketua Umum Edi Ganefo. Edi memperkirakan, jika kebijakan itu diteruskan maka hampir bisa dipastikan akan banyak anggota Apersi yang umumnya membangun rumah untuk MBR akan gulung tikar karena umumnya mereka berkemampuan membangun rumah tipe kecil di bawah tipe 36. Selain itu, ketentuan ini akan membuat MBR akan semakin sulit memiliki rumah karena dana yang mereka keluarkan menjadi lebih besar. "Untuk mencicil rumah tipe dibawah 36 saja, masih banyak yang belum mampu. Apalagi jika harus mencicil rumah tipe 36 meter persegi," katanya.

Karena itu, Edi makin yakin jika ini tetap dijalankan berarti "backlog" bukan lagi sebesar 13 juta tetapi bisa lebih dari jumlah itu. "Ketentuan ini akan menjauhkan mimpi MBR untuk bisa memiliki rumah," katanya. (AKS/Antara) (Editor : Agus K Supono) http://rri.co.id/index.php/detailberita/detail/8624

50 Rumah Masuk Program Rumah Swadaya
Senin, 30 Januari 2012 03:07 WITA | Daerah Bantaeng, Sulsel (ANTARA News) - Sebanyak 50 unit rumah di Desa Papanloe, Kecamatan Pajukukang, Kabupaten Bantaeng, Sulawesi Selatan, dimasukkan dalam program rumah swadaya yang merupakan tahap awal dari program berjumlah 1.000 unit untuk tahun 2012. Bupati Bantaeng HM Nurdin Abdullah mengatakan hal itu pada Musyawarah Rencana Pembangunan Desa (Musrembangdes) Desa Papanloe, Kecamatan Pajukukang, di Bantaeng, Minggu. Musrembangdes tersebut dihadiri Kepala Dinas Pertanian Syamsu Alam, Staf Ahli Bupati bidang Pertanian Dr Mokhtar Nawir, Kepala Bapedalda Abdullah Taibe, Dirut PDAM Andi Nurjaya, Camat Pajukukang Ahmad Salam dan sejumlah tokoh masyarakat di desa itu. Menurut Bupati, program rumah swadaya memberikan kewenangan kepada pemilik rumah untuk mengerjakan sendiri sedang modalnya dari pemerintah melalui lembaga yang sudah ditunjuk. Saat mengerjakan rumah tersebut, si pemilik juga mendapat upah kerja. Selain perbaikan rumah, juga dilengkapi program pembangunan jalan lingkungan. Ia berharap, melalui program ini, akan menekan rumah kumuh dan tak layak huni di kabupaten berjarak 120 kilometer arah selatan Kota Makassar ini.

Selain program rumah swadaya, Pemda juga telah membangun pipanisasi air dari Batu Massong ke Papanloe hingga Taricco. Pipanisasi ini mampu mengaliri sawah tadah hujan seluas 1.600 Ha. "Bila pipanisasi ini rampung yang dijadwalkan dalam waktu yang tidak terlalu lama lagi, lahan tadah hujan diharapkan menjadi lahan produktif sehingga tidak ada lagi masyarakat yang menganggur," ucapnya. Selain digunakan untuk mengairi areal persawahan, air dari Batu Massong tersebut juga bisa digunakan untuk kebutuhan air bersih. Selain kebutuhan air, Pemda juga memberi perhatian terhadap kebutuhan penerangan listrik dan jalan. Bupati berharap, kebutuhan penting untuk masyarakat ini rampung dalam waktu yang tidak terlalu lama. "Tahun ini juga air bersih sudah masuk ke Papanloe," ucap Dirut PDAM Andi Nurjaya seraya mengemukakan pembangunan instalasi pengolahan air bersih (IPA) yang kini sudah berjumlah empat unit. Sedang untuk mempercepat masuknya penerangan listrik, Bapedalda akan berkoordinasi dengan PLN karena tiangnya sudah dibangun, tambah Kepala Bapedalda Abdullah Taibe. Kadis Pertanian dan Peternakan Syamsu Alam mengemukakan rencana optimalisasi lahan dengan menanam jagung dan padi gogo sehingga petani bisa menikmati hasil dua kali dalam sekali tanam.(T.KR-DF/F003) http://www.antara-sulawesiselatan.com/berita/35927/50-rumah-masuk-program-rumahswadaya

LINTAS : Wali Kota Suntik Modal
Top of Form Bottom of Form

Senin, 30 January 2012 00:00

BANDAR LAMPUNG—Wali Kota Bandar Lampung Herman H.N. memberikan suntikan modal Rp50 juta kepada SMKN 3 Bandar Lampung. Bantuan yang diserahkan awal Februari ini bagi pengembangan kreasi kue dan makanan ringan siswa-siswi sekolah kejuruan. "Rencananya bantuan Rp50 juta kami serahkan bulan Februari. Saya sudah ketemu dengan kepala sekolah mengenai hal ini, bantuannya memang belum diserahkan," ujar Herman H.N. ketika meninjau SMKN 3 Bandar Lampung, Jumat (27-1). Dana bantuan yang akan diserahkan itu diharapkan dimanfaatkan untuk menambah modal pembuatan kue dan makanan ringan hasil kreasi siswa-siswi SMKN 3. Ke depan, hasil karya siswa tersebut dapat dijadikan potensi pendapatan, baik bagi sekolah maupuun siswa-siswi bersangkutan. Herman juga mengatakan pihaknya secara bertahap akan merenovasi gedung SMKN 3 Bandar Lampung. Hal itu dinilai perlu demi meningkatkan kenyamanan siswa-siswi dalam menimba ilmu. (VER/K-1) Pemkot Bantu Perumahan Swadaya BANDAR LAMPUNG—Pemkot Bandar Lampung menyerahkan bantuan stimulan pembangunan perumahan swadaya (BSP2S) di Kelurahan Kotakarang, Kecamatan Telukbetung Barat, untuk rehabilitasi 100 rumah warga belum mampu, Jumat (27-1). Bantuan dana Rp2,5 juta yang merupakan 50% dari dana seluruhnya diharapkan dapat membantu warga menciptakan rumah tinggal yang nyaman, bersih, dan sehat. Penyerahan dana bantuan digelar di halaman PT Sulfa, Dusun Sukabanjar, Kotakarang, untuk 100 warga dengan dana APBD 2011. Ketua Lembaga Pemberdayaan Masyarakat

(LPM) Karang Mandiri, Zainal Arifin, mengatakan secara keseluruhan warga yang berhak mendapatkan bantuan dana sebanyak 311 orang. Warga sisanya telah diajukan untuk anggaran 2012. Camat Telukbetung Barat Zainuddin menuturkan penyerahan dana bantuan dilaksanakan dalam dua termin. Pertama, pada awal pembangunan yang diserahkan secara simbolis Wali Kota. Kemudian dana berikutnya diserahkan setelah pembangunan setengah berjalan dan dilaporkan kepada Dinas Sosial. Wali Kota Bandar Lampung Herman H.N. berharap dana yang didapat dapat dimaksimalkan. Sementara bagi warga yang belum mendapatkan dana bantuan harus bersabar. Sebab, pembagian dana dilaksanakan secara bergilir. (VER/K-1) http://lampungpost.com/bandarlampung/23214-lintas-wali-kota-suntik-modal.html

REI: Kebijakan Perumahan Indonesia "Mal Adapted"
Senin, 30 Januari 2012 14.37 WIB (Vibiznews-Property) Dewan Pimpinan Pusat Realestate Indonesia (REI) menilai, terjadi salah penerapan atau "mal adapted" yang akut pada kebijakan perumahan saat ini sehingga ancaman ketidaktersediaan rumah (backlog) secara nasional diperkirakan makin memburuk. "Sudah 'mal adapted' atau setara dengan 'mal praktik' dalam dunia kedokteran. Alih-alih mau mengurangi 'backlog' perumahan nasional yang angkanya di bawah 10 juta beberapa tahun lalu, saat ini malah sudah 13-14 juta tahun ini," kata Wakil Ketua DPP REI Bidang Rusunami, M Nawir ketika menghadiri pemancangan proyek Apartemen Senopati Penthouse, di Jakarta, akhir pekan lalu. Penegasan tersebut disampaikan terkait dengan kekisruhan program penyaluran Fasilitas Likuiditas Pembangungan Perumahan (FLPP) yang belum berakhir hingga kini karena sesuai Pasal 22 ayat (3) UU No 1/2011 tentang Perumahan dan Kawasan Permukiman, perutukkannya hanya bagi pengembang perumahan yang membangun rumah dengan tipe 36. Sementara itu, katanya, hingga saat ini masih banyak pengembang yang menyediakan perumahan untuk Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR) di bawah tipe 36. "Jadi, kebijakan ini, tentu tidak berpihak kepada mereka. Ribuan rencana akad kredit akhirnya ditunda. FLPP pun dihentikan," katanya Pada sisi lain, gebrakan pemerintah untuk menyediakan rumah susun murah milik (rusunami) beberapa tahun lalu, hingga kini juga tidak jelas. "Peraturan Gubernur DKI pada tahun ini melalui Pergub DKI Nomor 19, juga sudah menghentikan anggaran untuk Rusunami," katanya.

Pendapat senada disampaikan Direktur Utama PT Senopati Aryani Prima, Lukman Purnomosidi. Menurut dia, kekisruhan kebijakan sektor perumahan di Indonesia tidak akan terjadi jika ada kedekatan tiga pilar utama seperti Kemenpera, BTN dan REI. "Rumah di Indonesia 'kan terbagi dua, yakni subsidi dan non subsidi atau komersial. Untuk yang subsidi, diperlukan kedekatan ketiga pilar tadi," katanya. Artinya, tambahnya, apa pun kebijakannya, mestinya untuk kebijakan perumahan subsidi, harusnya berpihak kepada MBR. "Jika sebaliknya, berarti ada yang salah," katanya. Sebelumnya, Asosiasi Pengembang Perumahan dan Permukiman Seluruh Indonesia (Apersi) secara terbuka menolak ketentuan bahwa penyaluran kredit FLPP hanya diperuntukan bagi pengembang perumahan yang membangun rumah dengan tipe 36 seperti yang tercantum dalam Pasal 22 Ayat (3), UU 1 / 2011 tentang Perumahan dan Kawasan Permukiman. "Kami menolak ketentuan itu karena tidak realistis. Peminat rumah di daerah itu, didominasi untuk mencicil rumah di bawah tipe tersebut seperti tipe 30, 21 dan sebagainya," kata Ketua Umum Edi Ganefo. Edi memperkirakan, jika kebijakan itu diteruskan maka hampir bisa dipastikan akan banyak anggota Apersi yang umumnya membangun rumah untuk MBR akan gulung tikar karena umumnya mereka berkemampuan membangun rumah tipe kecil di bawah tipe 36. Selain itu, ketentuan ini akan membuat MBR akan semakin sulit memiliki rumah karena dana yang mereka keluarkan menjadi lebih besar. "Untuk mencicil rumah tipe dibawah 36 saja, masih banyak yang belum mampu. Apalagi jika harus mencicil rumah tipe 36 meter persegi," katanya. Karena itu, Edi makin yakin jika ini tetap dijalankan berarti "backlog" bukan lagi sebesar 13 juta tetapi bisa lebih dari jumlah itu. "Ketentuan ini akan menjauhkan mimpi MBR untuk bisa memiliki rumah," katanya.

http://property.vibiznews.com/news/rei-kebijakan-perumahan-indonesia-maladapted/4896

REI: Ancaman Backlog Nasional Makin Mmburuk
Senin, 30 Januari 2012 | 0:47 Sejumlah pekerja menyelesaikan proyek hunian vertikal di kawasan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Rabu (25/1). REI memprediksi kapitalisasi penyaluran kredit property akan mencapai Rp 320 triliun sepanjang 2012, naik 10-15% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp 280,5 triliun. Kenaikan ini didorong pertumbuhan ekonomi, sehingga mendongkrak daya beli masyarakat. Foto: Investor Daily/EKO S HILMAN JAKARTA - Dewan Pimpinan Pusat Realestate Indonesia (REI) menilai, terjadi salah penerapan atau "mal adapted" yang akut pada kebijakan perumahan saat ini sehingga ancaman ketidaktersediaan rumah (backlog) secara nasional diperkirakan makin memburuk. "Sudah mal adapted atau setara dengan mal praktik dalam dunia kedokteran. Alih-alih mau mengurangi backlog perumahan nasional yang angkanya di bawah 10 juta beberapa tahun lalu, saat ini malah sudah 13-14 juta tahun ini," kata Wakil Ketua DPP REI Bidang Rusunami, M Nawir ketika menghadiri pemancangan proyek Apartemen Senopati Penthouse di Jakarta, akhir pekan lalu. Penegasan tersebut disampaikan terkait dengan kekisruhan program penyaluran Fasilitas Likuiditas Pembangungan Perumahan (FLPP) yang belum berakhir hingga kini karena sesuai Pasal 22 ayat (3) UU No 1/2011 tentang Perumahan dan Kawasan Permukiman, perutukkannya hanya bagi pengembang perumahan yang membangun rumah dengan tipe 36. Sementara itu, katanya, hingga saat ini masih banyak pengembang yang menyediakan perumahan untuk Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR) di bawah tipe 36. "Jadi, kebijakan ini, tentu tidak berpihak kepada mereka. Ribuan rencana akad kredit akhirnya ditunda. FLPP pun dihentikan," katanya. Pada sisi lain, gebrakan pemerintah untuk menyediakan rumah susun murah milik (rusunami) beberapa tahun lalu, hingga kini juga tidak jelas. "Peraturan Gubernur DKI pada tahun ini melalui Pergub DKI Nomor 19, juga sudah menghentikan anggaran untuk Rusunami," katanya.

Pendapat senada disampaikan Dirut PT Senopati Aryani Prima, Lukman Purnomosidi. Menurut dia, kekisruhan kebijakan sektor perumahan di Indonesia tidak akan terjadi jika ada kedekatan tiga pilar utama seperti Kemenpera, BTN dan REI. "Rumah di Indonesia 'kan terbagi dua, yakni subsidi dan non subsidi atau komersial. Untuk yang subsidi, diperlukan kedekatan ketiga pilar tadi," katanya. Artinya, tambahnya, apa pun kebijakannya, mestinya untuk kebijakan perumahan subsidi, harusnya berpihak kepada MBR. "Jika sebaliknya, berarti ada yang salah," katanya. (gor/ant) http://www.investor.co.id/property/rei-ancaman-backlog-nasional-makinmmburuk/28917

EKONOMI - PROPERTI Senin, 30 Januari 2012 , 19:38:00

Pemda Diminta Kirim Data Bedah Rumah
JAKARTA--Kementerian Perumahan Rakyat (Kemenpera) meminta dukungan Pemda mulai tingkat kabupaten/ kota hingga provinsi dalam melaksanakan program bedah rumah. Staf Khusus Menteri Perumahan Rakyat Bidang Hubungan Antar Lembaga Imam M Achid menjelaskan, saat ini bedah rumah merupakan salah satu program unggulan Kemenpera dalam meningkatkan kesejahteraan rakyat. Selain membantu masyarakat untuk memiliki rumah yang layak huni, juga memperbaiki kualitas lingkungan tempat tinggal masyarakat. "Masalah perumahan tidak bisa diselesaikan pemerintah saja, tapi lintas sektor. Apalagi anggaran yang dimiliki Kemenpera tidak cukup banyak untuk membuat seluruh masyarakat sejahtera melalui sektor perumahan," ujar Imam Achid dalam keterangan persnya, Senin (30/1). Diapun mengimbau Pemda serta masyarakat dapat berpartisipasi aktif dalam program bedah rumah ini. Salah satunya dengan membuat data rumah masyarakat yang kondisinya benar-benar rusak atau membutuhkan perbaikan baik atap, lantai maupun dindingnya. Data tersebut berisi nama pemilik rumah, alamat serta foto kondisi rumah yang akan diperbaiki. "Pemda dapat mengusulkan ke Menpera apabila di daerahnya ada masyarakat yang membutuhkan bantuan bedah rumah. Selain itu, Pemda juga bisa menjalin kerja sama dengan warga NU di daerah untuk membantu pelaksaan program tersebut," tandasnya Dia menyebutkan, Jawa Timur (Jatim) menjadi salah satu sasaran lokasi bedah rumah. "Kemenpera akan menjadikan Provinsi Jawa Timur sebagai salah satu sasaran lokasi bedah rumah," ujarnya.(esy/jpnn)

http://www.jpnn.com/read/2012/01/30/115776/Pemda-Diminta-Kirim-Data-BedahRumah-

Jawa Timur Jadi Sasaran Program Bedah Rumah
Jan 30, 2012 - Rumah.com
RumahCom (Surabaya) Kemenpera akan menjadikan Jawa Timur sebagai salah satu sasaran lokasi bedah rumah. Untuk itu, Kemenpera berharap adanya partisipasi aktif pemerintah daerah, mulai tingkat kabupaten/kota hingga provinsi untuk mendukung pelaksanaan program tersebut. Hal tersebut disampaikan Staf Khusus Menteri Perumahan Rakyat Bidang Hubungan Antar Lembaga, Imam M Achid, dalam kegiatan Seminar Rembug Nasional Saudagar NU Expo 2012 yang diselenggarakan di Surabaya beberapa waktu lalu. “Program bedah rumah merupakan salah satu program unggulan Kemenpera dalam upaya meningkatkan kesejahteraan rakyat Indonesia. Selain dapat membantu masyarakat untuk memiliki rumah layak huni, program tersebut secara tidak langsung akan memperbaiki kualitas lingkungan tempat tinggal masyarakat,” papar Imam. Dari 14 indikator kemiskinan, imbuh Imam, enam diantaranya terkait masalah perumahan. “Jika masyarakat Indonesia bisa memiliki rumah yang layak huni, tentunya mereka bisa lebih sejahtera,” tandasnya. Untuk mensukseskan program ini, Kemenpera berharap Pemda serta masyarakat dapat berpartisipasi aktif, salah satunya dengan membuat data rumah yang rusak atau membutuhkan perbaikan. “Data tersebut berisi nama pemilik rumah, alamat, serta foto kondisi rumah yang akan diperbaiki,” jelas Imam yang mengatakan bantuan yang akan disalurkan sebesar Rp6 juta per unit. Menurut Imam, para Kepala Daerah juga dapat mengusulkan kepada Kemenpera apabila di daerahnya ada masyarakat yang membutuhkan bantuan bedah rumah. “Selain itu, Pemda juga bisa menggandeng seluruh elemen masyarakat, termasuk warga NU di Jawa Timur untuk pelaksanaan program bedah rumah ini,”

pungkasnya. Anto Erawan

http://www.rumah.com/berita-properti/2012/1/233/jawa-timur-jadi-sasaran-programbedah-rumah

Jatim Jadi Sasaran Bedah Rumah Kemenpera
Tribunnews.com - Senin, 30 Januari 2012 18:23 WIB TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA -Kementerian Perumahan Rakyat (Kemenpera) akan menjadikan Jawa Timur (Jatim) sebagai salah satu sasaran lokasi bedah rumah. "Kemenpera akan menjadikan Provinsi Jawa Timur sebagai salah satu sasaran lokasi bedah rumah," ujar Staf Khusus Menteri Perumahan Rakyat Bidang Hubungan Antar Lembaga Imam M Achid, dalam rilis yang diterima Tribunnews.com, di Jakarta, Senin (30/1/2012). Untuk itu, Kemenpera berharap adanya partisipasi aktif pemerintah daerah (pemda) mulai dari tingkat kabupaten/ kota hingga provinsi untuk mendukung pelaksanaan program bedah rumah tersebut. Program bedah rumah saat ini merupakan salah satu program unggulan Kemenpera dalam upaya meningkatkan kesejahteraan rakyat Indonesia. Sebab, selain membantu masyarakat untuk memiliki rumah yang layak huni, program tersebut secara tidak langsung akan memperbaiki kualitas lingkungan tempat tinggal masyarakat. Masalah perumahan, imbuh Imam, memang tidak bisa diselesaikan pemerintah saja melainkan juga lintas sektor. Apalagi anggaran yang dimiliki Kemenpera tidak cukup banyak untuk membuat seluruh rakyat Indonesia menjadi lebih sejahtera melalui sektor perumahan. Untuk itu, Kemenpera berharap pemda serta masyarakat dapat berpartisipasi aktif dalam program bedah rumah ini. Salah satunya dengan membuat data rumah masyarakat yang kondisinya benarbenar rusak atau membutuhkan perbaikan baik atap, lantai maupun dindingnya. Data tersebut berisi nama pemilik rumah, alamat serta foto kondisi rumah yang akan diperbaiki. "Pemda bisa membuat data atau inventarisasi rumah masyarakat yang rusak dan membutuhkan bantuan perbaikan baik atap, lantai maupun dindingnya. Bantuan bedah rumah yang akan disalurkan oleh Kemenpera sekitar Rp 6 juta per unit rumah," tandasnya. "Pemda bisa menggandeng seluruh elemen masyarakat termasuk warga NU di Provinsi Jawa Timur untuk pelaksanaan program bedah rumah ini," katanya.(*) http://www.tribunnews.com/2012/01/30/jatim-jadi-sasaran-bedah-rumah-kemenpera

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->