3 BAB II TINJAUAN PUSTAKA A.

Definisi Diabetes mellitus merupakan suatu kelompok penyakit metabolik dengan karakteristik hiperglikemia yang terjadi karena kelainan sekresi insulin, kerja insulin, atau kedua-duanya. Akibatnyaialah glukosa bertumpuk di dalam darah (hiperglikemia) dan akhirnya diekskresikan lewat kemih tanpa digunakan (glycosuria). Oleh karena itu, produksi kemih sangat meningkat dan pasien harus sering kencing, merasa sangat haus, berat badan menurun, dan merasa lelah (5).

Gambar 2.1. Kerja hormon insulin (6) B. Klasifikasi Klasifikasi DM yang dianjurkan oleh PERKENI (Perkumpulan Endokrinologi Indonesia) adalah yang sesuai dengan anjuran klasifikasi DM menurut American Diabetes Association (ADA) 1997, sebagai berikut : 1. Diabetes Melitus tipe 1 Umumnya timbul pada anak-anak dan dewasa muda. DM tipe I terjadi karena destruksi sel-sel pembuat insulin (sel beta Langerhans pancreas) melalui mekanisme imunologik dan idiopatik sehingga menyebabkan hilangnya hampir

4 seluruh insulin endogen. Penderita DM tipe I mengalami ketergantungan terhadap insulin eksogen untuk menurunkan kadar glukosa plasma dan menghindari ketoasidosis (KAD) serta untuk mempertahankan hidupnya. 2. Diabetes Melitus tipe 2 Jenis diabetes melitus ini bervariasi mulai dari yang terutama dominan resistensi insulin disertai defisiensi insulin relatif sampai yang terutama defek sekresi insulin disertai resistensi insulin. Biasanya timbul pada usia lebih dari 40 tahun. Pada DM tipe II sel β pankreas tidak rusak tetapi terjadi resistensi terhadap kerja insulin. 3. Diabetes Melitus tipe lain : A. Defek genetik fungsi sel beta :   B. C. Maturity Onset Diabetes of the Young (MODY) 1,2,3. DNA mitokondria

Defek genetik kerja insulin Penyakit endokrin pankreas :    pankreatitis tumor pankreas /pankreatektomi pankreatopati fibrokalkulus     akromegali sindrom Cushing feokromositoma hipertiroidisme    vacor, pentamidin, asam nikotinat glukokortikoid, hormon tiroid tiazid, dilantin, interferon alfa dan lain-lain  Rubella kongenital, Cytomegalovirus (CMV)  antibodi anti insulin

D.

Endokrinopati :

E.

Karena obat/zat kimia :

F. G.

Infeksi : Sebab imunologi yang jarang :

Akibatnya. Sindrom genetik lain yang berkaitan dengan DM :  sindrom Down.(7) Dalam diabetes tipe 1. dan lainlain. Diabetes Melitus Gestasional (DMG) Diabetes melitus tipe gestasional yaitu diabetes yang timbul selama kehamilan. dan sel-sel beta pankreas gagal untuk menanggapi semua rangsangan sekresi insulin. dan sang ibu memiliki resiko untuk dapat menderita penyakit diabetes mellitus yang lebih besar dalam jangka waktu 5 sampai 10 tahun setelah melahirkan. sindrom Kleinfelter. Patogenesis 1. tetapi sel-sel tubuh tidak menyerap dengan benar dan tidak menanggapinya. Diabetes tipe 1 terjadi ketika pankreas memproduksi jumlah normal hormon insulin. pankreas mulai memproduksi insulin sedikit atau tidak ada. glukagon plasma meningkat. 4. Seperti diabetes tipe 1. biasanya pada trimester kedua atau ketiga. Pasien perlu insulin eksogen . sindrom Turner. artinya kondisi diabetes atau intoleransi glukosa yang didapati selama masa kehamilan. C. Disarankan oleh patofisiologi diabetes mellitus tipe 1 bahwa sebenarnya penyakit autoimun dimana sistem kekebalan penderita itu mengeluarkan zat yang menyerang dan menghancurkan sel-sel dalam pankreas yang seharusnya untuk memproduksi insulin. Diabetes mellitus gestasional berhubungan dengan meningkatnya komplikasi perinatal (di sekitar waktu melahirkan). Diabetes Melitus tipe 1 Diabetes mellitus tipe 1 (DM) adalah suatu kelainan katabolik dimana insulin yang beredar sangat rendah atau tidak ada.5 H. pankreas tidak membuat sebagai insulin sebanyak tubuh memerlukan. ini juga menyebabkan kelebihan glukosa untuk membangun dalam aliran darah. menyebabkan kekurangan insulin. Pankreas menunjukkan infiltrasi limfositik dan kerusakan sel-pensekresi insulin dari pulau Langerhans.

Hashimoto tiroiditis. autoimunitas dianggap sebagai faktor utama dalam patofisiologi DM tipe 1. Kebanyakan antibodi sel islet secara langsung melawan dekarboksilase asam glutamat (GAD) dalam sel beta pankreas. (7) . sistem kekebalan tubuh memicu untuk mengembangkan suatu respon autoimun terhadap antigen sel beta pankreas atau molekul dalam sel beta yang menyerupai protein virus.2 Patogenesis DM tipe 1(9) Saat ini. mencegah ketosis. dan menormalkan metabolisme lemak dan protein.8) Gambar 2. (8) Salah satu teori mengenai etiologi DM tipe 1 adalah hasil dari kerusakan sel beta pankreas dari agen infeksi atau lingkungan. seperti penyakit Graves. dan kebanyakan dapat dideteksi antibodi anti-insulin sebelum menerima terapi insulin. tipe 1. Dalam individu yang rentan secara genetik. HLA-DQS dianggap penanda khusus kecurigaan DM. Sekitar 85% dari pasien DM tipe 1 memiliki antibodi sel islet.(7. Prevalensi meningkat pada pasien dengan penyakit autoimun lainnya.6 untuk membalikkan kondisi katabolik. menurunkan hyperglucagonemia. Sekitar 95% dari pasien dengan DM tipe 1 memiliki antigen leukosit manusia (HLA)-DR3 maupun HLA-DR4. dan penyakit Addison.

Oleh karena itu. ketoasidosis diabetik tidak terjadi pada diabetes tipe II. keadaan ini terjadi akibat sekresi insulin yang berlebihan. Diabetes Melitus tipe 2 Pada diabetes tipe II terdapat dua masalah utama yaitu yang berhubungan dengan insulin. namun terdapat jumlah insulin yang adekuat untuk mencegah pemecahan lemak dan produksi badan keton. maka awitan diabetes tipe II dapat berjalan tanpa terdeteksi. maka kadar glukosa akan meningkat dan terjadi diabetes tipe II.(7) Bukti terbaru menunjukkan peran vitamin D dalam patogenesis dan pencegahan diabetes mellitus. Kekurangan vitamin D juga merupakan prediktor independen penting dari pengembangan kalsifikasi arteri koroner pada individu dengan DM tipe 1.(11) Meskipun terjadi gangguan sekresi insulin yang merupakan ciri khas diabtes tipe II. Meskipun demikan. Namun untuk mengimbangi peningkatan kebutuhan akan insulin. . gejalanya sering bersifat ringan dan dapat mencakup kelelahan. Hal ini dapat membantu menjelaskan lebih lanjut bagaimana diabetes berkembang. dengan demikian insulin menjadi tidak efektif untuk menstimulasi pengambilan glukosa oleh jaringan. diabetes tipe II yang tidak terkontrol dapat menimbulkan masalah akut lainnya yang dinamakan sindrom hiperglikemik hiperosmoler nonketotik. Normalnya insulin akan terikat dengan reseptor khusus pada permukaan sel. harus terdapat peningkatan jumlah insulin yang disekresikan pada penderita toleransi glukosa terganggu. yaitu : resistensi insulin dan gangguan sekresi insulin.(7) 2. sebagai akibat terikatnya insulin dengan reseptor tersebut. Akibat intoleransi glukosa yang berlangsung lambat dan progresif. dan kadar glukosa akan dipertahankan pada tingkat yang normal atau sedikit meningkat.(10) Untuk mengatasi resistensi insulin dan mencegah terbentuknya glukosa dalam darah. terjadi suatu rangkaian reaksi dalam metabolisme glukosa di dalam sel. Profil asam amino bisa membantu menilai risiko diabetes. Resistensi insulin pada diabetes tipe II disertai dengan penurunan reaksi intrasel.7 Metabolisme asam amino juga memainkan peran penting dalam patogenesis diabetes.

juga kadar insulin tinggi atau normal. Mutasi genetik (autosomal atau . (10) 3. poliuria. polidipsia. Reseptor insulin ini diibaratkan sebagai lubang kunci pintu masuk ke dalam sel. Dengan demikian keadaan ini sama dengan pada DM Tipe 1. infeksi dan pandangan yang kabur. Pada keadaan tadi jumlah lubang kuncinya yang kurang.(11) Gambar 2.3 Patogenesis DM tipe 2. maka glukosa yang masuk sel akan sedikit. Keadaan ini disebut resistensi insulin. tetapi karena lubang kuncinya (reseptor) kurang. Diabetes Melitus tipe lain Beberapa kasus diabetes disebabkan oleh reseptor jaringan tubuh tidak merespon insulin. hingga meskipun anak kuncinya (insulin) banyak.8 iritabilitas. bahkan mungkin lebih banyak tetapi reseptor insulin yang terdapat pada permukaan sel kurang. Perbedaanya adalah DM Tipe 2 disamping kadar glukosa tinggi. Pada DM Tipe 2 jumlah insulin normal. namun ini sangat jarang. luka pada kulit yang tidak sembuh-sembuh. sehingga sel akan kekurangan glukosa dan glukosa di dalam darah akan meningkat.

9 mitokondria) dapat mengakibatkan abnormalitas pada fungsi sel beta. Abnormal fungsi insulin mungkin juga telah ditentukan secara genetis dalam beberapa kasus.6-38%. Prevalensi autoantibodi islet. Selain itu. penyakit yang berhubungan dengan sekresi berlebihan dari hormon antagonis insulin dapat menyebabkan diabetes. seperti progesteron. Para wanita mungkin menghadapi risiko untuk mengembangkan bentuk autoimun . Ada subset dari wanita dengan DM gestasional yang memiliki bukti autoimun sel islet. dan hormon pertumbuhan. Prevalensi dilaporkan antibodi sel islet pada wanita dengan DM gestasional berkisar 1. termasuk autoantibodi insulin dan antibodi asam glutamat dekarboksilase. merupakan penyebab utama resisten insulin terlihat dalam kehamilan. khususnya fase pertama sekresi insulin. Penurunan dalam fase pertama rilis insulin mungkin penanda untuk kerusakan fungsi sel β. Selain itu. plasenta. Plasenta mensekresi hormon. Resistensi insulin biasanya dimulai pada trimester kedua dan kemajuan seluruh sisa dari kehamilan. Setiap penyakit yang menyebabkan kerusakan luas pankreas dapat menyebabkan diabetes. misalnya pankreatitis kronis dan fibrosis kistik. Wanita dengan DM gestasional memiliki keparahan yang lebih besar dalam resistensi insulin dibandingkan dengan kehamilan normal. Diabetes Melitus tipe Gestasional Kehamilan adalah suatu kondisi diabetogenic ditandai dengan resistensi insulin dengan peningkatan kompensasi respon sel β dan hiperinsulinemia. mereka menemukan bahwa wanita dengan DM gestasional mengalami penurunan 67% untuk kompensasi sel β mereka dibandingkan dengan normal peserta kontrol hamil. Sensitivitas insulin berkurang sebanyak 80%. kortisol laktogen. juga berbeda. Xiang et al menemukan bahwa pada wanita Latin dengan DM gestasional meningkatkan resistensi terhadap pengaruh insulin pada clearance glukosa dan produksi dibandingkan dengan wanita hamil normal. prolaktin. (12) 4. Banyak obat yang merusak sel sekresi insulin dan beberapa kerusakan racun beta pankreas. Mereka juga memiliki penurunan dari peningkatan kompensasi dalam sekresi insulin.

10 diabetes kemudian di hidupnya. (13) D. Gejala Tidak Klasik Gejala tidak khas berupa: • • • • • • • • • Kesemutan Gatal-gatal di daerah genital Penglihatan kabur Impotensi Keputihan Infeksi sulit sembuh Bisul yang hilang timbul Cepat lelah Mudah mengantuk . ketidakmampuan sel β untuk mengkompensasi resistensi insulin adalah hasil dari cacat di sel β. seperti mutasi pada glukokinase. Akhirnya. Gejala Klinis Gejala penyakit DM dapat dibagi menjadi 2 yaitu gejala klasik dan tidak klasik. pada 5% dari semua kasus DM Gestasional. (14) 1. Gejala Klasik Gejala khas (klasik) berupa: • • • • • Poliuria Polidipsia Polifagia Lemah Penurunan berat badan tanpa sebab yang diketahui 2.

Saat ini banyak dipasarkan alat pengukur kadar glukosa darah cara reagen kering yang umumnya sederhana dan mudah dipakai. Dalam menegakkan diagnosis DM harus diperhatikan asal bahan darah yang diambil dan cara pemeriksaan yang dipakai. pemeriksaan yang dianjurkan adalah pemeriksaan glukosa dengan cara enzimatik dengan bahan glukosa darah plasma vena. hasil pemantauan dengan cara reagen kering perlu dibandingkan dengan cara konvensional. Secara berkala. (15) . Diagnosa Diagnosis DM harus didasarkan atas pemeriksaan kadar glukosa darah. tidak dapat ditegakkan hanya atas dasar adanya glukosuria saja. Untuk memantau kadar glukosa darah dapat dipakai bahan darah kapiler.11 Gambar 2. Hasil pemeriksaan kadar glukosa darah memakai alatalat tersebut dapat dipercaya sejauh kalibrasi dilakukan dengan baik dan cara pemeriksaan sesuai dengan cara standar yang dianjurkan. Untuk diagnosis DM.4 Gejala-gejala DM E.

lemah. Langkah-langkah penegakan diagnosa Diagnosis klinis DM umumnya akan dipikirkan bila ada keluhan khas DM berupa poliuria. polidipsia. adanya pemeriksaan penyaring untuk DM dalam rangkaian pemeriksaan tersebut sangat dianjurkan. rencana tindak lanjut bagi mereka yang positif belum ada. Bagi mereka yang mendapat kesempatan untuk pemeriksaan penyaring bersama penyakit lain (general check up). yaitu : • • • • • • • • kelompok usia dewasa tua ( > 45 tahun ) kegemukan {BB (kg) > 120% BB idaman atau IMT > 27 (kg/m2)} tekanan darah tinggi (> 140/90 mmHg) riwayat keluarga DM riwayat kehamilan dengan BB lahir bayi > 4000 gram riwayat DM pada kehamilan dislipidemia (HDL < 35 mg/dl dan atau Trigliserida > 250 mg/dl pernah TGT (Toleransi Glukosa Terganggu) atau GDPT (Glukosa Darah Puasa Terganggu) Tabel 2.12 1. polifagia.1. Pemeriksaan Penyaring Pemeriksaan penyaring yang khusus ditujukan untuk DM pada penduduk umumnya (mass-screening = pemeriksaan penyaring) tidak dianjurkan karena disamping biaya yang mahal. Kadar glukosa darah sewaktu dan puasa sebagai patokan penyaring dan diagnosis DM (mg/dl) 2. Pemeriksaan penyaring perlu dilakukan pada kelompok dengan salah satu faktor risiko untuk DM. dan penurunan berat badan yang .

mikroangiopati maupun dan enak. serta pruritus vulvae pada pasien wanita. seperti yang biasa dilakukan puasa semalam. • Dikatakan DM bila kadar glukosa plasma > 200 mg/dl pada 2 jam sesudah beban glukosa 75 gram pada TTGO. Menghilangkan keluhan/gejala DM dan mempertahankan rasa nyaman Mencegah penyulit baik makroangiopati. (15) Cara pelaksanaan TTGO (WHO 1985) • • • • • • 3 (tiga) hari sebelumnya makan seperti biasa kegiatan jasmani secukupnya. gatal. kadar glukosa darah sewaktu > 200 mg/dl pada hari yang lain. belum cukup kuat untuk menegakkan diagnosis klinis DM. mata kabur dan impotensia pada pasien pria. neuropati dengan tujuan akhir menurunkan morbiditas dan mortalitas. atau dari hasil tes toleransi glukosa oral (TTGO) yang abnormal. air 250 ml dan diminum selama/dalam waktu 5 menit selama pemeriksaan subyek yang diperiksa tetap istirahat dan tidak merokok.13 tidak dapat dijelaskan sebabnya. Untuk kelompok tanpa keluhan khas DM.75 gram/kgBB. Penatalaksanaan DM Tipe 2 Pada hakikatnya penatalaksanaan diabetes mellitus pada umumnya mempunyai tujuan yaitu : 1. 2. dilarutkan dalam diperiksa kadar glukosa darah 2 (dua) jam sesudah beban glukosa. F. pemeriksaan glukosa darah sewaktu > 200 mg/dl sudah cukup untuk menegakkan diagnosis DM. Diperlukan pemastian lebih lanjut dengan menddapatkan sekali lagi angka abnormal. selama 10-12 jam kadar glukosa darah puasa diperiksa diberikan glukosa 75 gram atau 1. Hasil pemeriksaan kadar glukosa darah puasa > 126 mg/dl juga digunakan untuk patokan diagnosis DM. Keluhan lain yang mungkin dikemukakan pasien adalah kesemutan. hasil pemeriksaan glukosa darah yang baru satu kali saja abnormal . . baik kadar glukosa darah puasa > 126 mg/dl. Jika keluhan khas.

Kebutuhan kalori wanita sebesar 25kal/kg BB dan untuk pria sebesar 30kal/kg BB. Penyakit DM Makna dan perlunya pengendalian dan pemantauan DM Penyulit DM Intervensi farmakologis dan non-farmakologis Hipoglikemia Masalah khusus yang dihadapi Cara mengembangkan sistem pendukung dan mengajarkan keterampilan Cara mempergunakan fasilitas perawatan kesehatan 2. g. Bila kurus ditambah sekitar 20-30% sesuatu dengan kebutuhan untuk meningkatkan BB. Untuk tujuan penurunan berat badan jumlah kalori . 30% dengan aktivitas sedang. c. dan intervensi farmakologis. . b.Umur Untuk pasien usia diatas 40 tahun.Jenis kelamin Kebutuhan kalori pada wanita lebih kecil daripada pria. f. e. kebutuhan kalori dikurangi 5% untuk dekade antara 40 dan 59 tahun.14 Ada 4 pilar dalam penatalaksanaan diabetes mellitus. 20% pada pasien dengan aktivitas ringan. terapi gizi medis.Aktivitas fisik atau pekerjaan Kebutuhan kalori dapat ditambah sesuai dengan intensitas aktivitas fisik. Penambahan sejumlah 10% dari kebutuhan basal diberikan pada keadaan istirahat. latihan jasmani. h. . dan dikurangi 20% diatas 70 tahun.Berat badan Bila kegemukan dikurangi sekitar 20-30% bergantung kepada tingkat kegemukan. yaitu edukasi. Edukasi Edukasi tersebut meliputi pemahaman tentang : a. d. (16) 1. dikurangi 10% untuk usia 60 sampai dengan 69 tahun. Terapi Gizi Medis Faktor-faktor yang menentukan kebutuhan kalori antara lain (16): . . dan 50% dengan aktivitas sangat berat.

siang (30%). Untuk meningkatkan kepatuhan pasien. Gambar 2.15 yang diberikan paling sedikit 1000-1200 kkal untuk wanita dan 1200-1600 kkal untuk pria. Untuk penyandang diabetes yang mengidap penyakit lain. pola pengaturan makan disesuaikan dengan penyakit penyertanya. yaitu : I. Makanan sejumlah kalori terhitung dengan komposisi tersebut di atas dibagi dalam 3 porsi besar untuk makan pagi (20%). II. III. Latihan Jasmani .5 Piramida Makanan 3. buah 2-4 porsi/penukar sehari. Sumber protein : lauk hewani 3 porsi/penukar. sejauh mungkin perubahan dilakukan sesuai dengan kebiasaan. dan sore (25%) serta 2-3 porsi makanan ringan (10-15%) diantaranya. Sumber karbohidrat dikonsumsi 3-7 porsi/penukar sehari (tergantung status gizi). Pilihan makanan untuk penyandang diabetes dapat dijelaskan melalui piramida makanan untuk penyandang diabetes. lauk nabati 2-3 porsi/penukar sehari. Batasi konsumsi gula. lemak/minyak dan garam. Sumber vitamin dan mineral : sayuran 2-3 porsi/penukar.

dan berenang. merupakan salah satu pilar dalam pengelolaan DM tipe 2. jogging. Latihan jasmani selain untuk menjaga kebugaran juga dapat menurunkan berat badan dan memperbaiki kendali glukosa darah. bersepeda santai. sementara yang sudah mendapat komplikasi DM dapat dikurangi. penghambat absorpsi glukosa: penghambat glukosidase (Obat Hipoglikemik Oral) dibagi (18) belum . pemicu sekresi insulin ( insulin secretagogue): sulfonilurea dan glinid tiazolidindion alfa B. Obat Hipoglikemik Oral (OHO) Berdasarkan cara kerjanya. intensitas latihan jasmani bias ditingkatkan. menggunakan tangga. Latihanja jasmani yang bersifat aerobik seperti : jalan kaki. C. penambah sensitivitas terhadap insulin: metformin. Latihan jasmani sebaiknya disesuaikan dengan umur dan status kesegaran jasmani. Intervensi Farmakologis Intervensi farmakologis ditambahkan jika sasaran glukosa darah tercapai dengan pengaturan makan dan latihan jasmani.(17) 4. 1. berkebun harus tetap dilakukan. HIndarkan kebiasaan hidup yang kurang gerak atau bermalas-malasan.16 Kegiatan jasmani sehari-hari dan latihan jasmani secara teratur (3-4 kali seminggu selama kurang lebih 30 menit). Untuk mereka yang relatif sehat. OHO menjadi 4 golongan: A. penghambat glukoneogenesis (metformin) D. Kegiatan sehari-hari seperti berjalan kaki ke pasar.

2 Mekanisme Kerja. stroke) Kehamilan dengan DM/diabetes melitus gestasional yang Gangguan fungsi ginjal atau hati yang berat tidak terkendali dengan perencanaan makan . efek samping utama. Insulin Insulin diperlukan pada keadaan : • • • • • • • • • Penurunan berat badan yang cepat Hiperglikemia berat yang disertai ketosis Ketoasidosis diabetik Hiperglikemia hiperosmolar non ketotik Hiperglikemia dengan asidosis laktat Gagal dengan kombinasi OHO dosis hampir maksimal Stres berat (infeksi sistemik. dan pengaruh terhadap HbA1c 2.17 Tabel 2. IMA. operasi besar.

18 • a. Efek samping yang lain berupa reaksi imunologi terhadap insulin yang dapat menimbulkan alergi insulin atau resistensi insulin 3. d. b. yaitu : Tabel 2. Terapi Kombinasi . Kontraindikasi dan atau alergi terhadap OHO insulin kerja cepat (rapid acting insulin) insulin kerja pendek (short acting insulin) ins ulin kerja menengah (intermediate acting insulin) insulin kerja panjang (long acting insulin) Berdasar lama kerja.3 Farmakokinetik insulin eksogen Efek samping terapi insulin adalah terjadinya hipoglikemia. insulin terbagi menjadi empat jenis. c.

Bersamaan dengan pengaturan diet dan kegiatan jasmani. kemudian dilakukan evaluasi dosis tersebut dengan menilai kadar glukosa darah puasa keesokan harinya. dapat pula diberikan kombinasi tiga OHO dari kelompok yang berbeda atau kombinasi OHO dengan insulin. Terapi dengan OHO kombinasi. Penatalaksanaan DM tipe 1 Perbedaan utama antara penatalaksanaan DM tipe 1 yang mayoritas diderita anak dibanding DM tipe 2 adalah kebutuhan mutlak insulin. bila diperlukan dapat dilakukan pemberian OHO tunggal atau kombinasi OHO sejak dini. 2. untuk kemudian dinaikkan secara bertahap sesuai dengan respons kadar glukosa darah. Fase akut/ketoasidosis Pada keadaan koma dan dehidrasi. Penatalaksanaan DM tipe 1 menurut Sperling dibagi dalam 3 fase yaitu : 1. (lihat bagan 2 tentang algoritma pengelolaan DM tipe-2). harus dipilih dua macam obat dari kelompok yang mempunyai mekanisme kerja berbeda. Bila sasaran kadar glukosa darah belum tercapai. Fase subakut/transisi . elektrolit dan pemakaian insulin. Bila dengan cara seperti di atas kadar glukosa darah sepanjang hari masih tidak terkendali. Pada pasien yang disertai dengan alasan klinik di mana insulin tidak memungkinkan untuk dipakai dipilih terapi dengan kombinasi tiga OHO. Terapi DM tipe 1 lebih tertuju pada pemberian injeksi insulin.00. maka obat hipoglikemik oral dihentikan dan diberikan insulin saja. yang banyak dipergunakan adalah kombinasi OHO dan insulin basal (insulin kerja menengah atau insulin kerja panjang) yang diberikan pada malam hari menjelang tidur. dengan pemberian cairan.(20) G. Dengan pendekatan terapi tersebut pada umumnya dapat diperoleh kendali glukosa darah yang baik dengan dosis insulin yang cukup kecil. memperbaiki keseimbangan asam basa. Dosis awal insulin kerja menengah adalah 6-10 unit yang diberikan sekitar jam 22.19 Pemberian OHO maupun insulin selalu dimulai dengan dosis rendah. Untuk kombinasi OHO dan insulin.

5. 5. 6. ada beberapa tujuan khusus dalam penatalaksanaannya. menyusun pola diet. 3. keluarga. (19-20) . Untuk itu WHO mengemukakan beberapa sasaran yang ingin dicapai dalam penatalaksanaan penyandang DM tipe 1. Pemberian insulin Penatalaksanaan dietetik Latihan jasmani Edukasi Home monitoring (pemantauan mandiri). Bebas dari gejala penyakit Dapat menikmati kehidupan sosial sepenuhmya Dapat terhindar dari komplikasi penyakitnya Pada anak. Stabilisasi penyakit dengan insulin. 3. urin. diantaranya : 1. 4. 3. Dapat tumbuh dan berkembang secara optimal Mengalami perkembangan emosional yang normal Mampu mempertahankan kadar glukosuria atau kadar glukosa darah Tidak absen dari sekolah akibat penyakit dan mampu berpartisipasi dalam Penyakitnya tidak dimanipulasi oleh penyandang DM. 2. pemakaian insulin dan komplikasinya serta perencanaan diet dan latihan jasmani.20 Bertujuan mengobati faktor-faktor pencetus. maupun Mampu memberikan tanggung jawab kepada penyandang DM untuk serendah mungkin tanpa menimbulkan gejala hipoglikemia kegiatan fisik maupun sosial yang ada oleh lingkungan mengurus dirinya sendiri sesuai dengan taraf usia dan intelegensinya Untuk mencapai tujuan ini penatalaksanaan dibagi menjadi : 1. 3. 2. dan penyuluhan kepada penyandang DM/keluarga mengenai pentignya pemantauan penyakitnya secara teratur dengan pemantauan glukosa darah. Fase pemeliharaan Pada fase ini tujuan utamanya ialah untuk mempertahankan status metabolik dalam batas normal serta mencegah terjadinya komplikasi. misalnya infeksi. 4. 2. yaitu diusahakan supaya anak-anak : 1.

Tampaknya semua pendekatan mempunyai landasan program edukasi nutrisi dan penatalaksanaan diet. Pendekatan diet yang dapat menurunkan konsentrasi glukosa serum maternal meliputi pembatasan asupan (intake) karbohidrat sampai 40 persen dari total kalori. The American Diabetes Association (ADA) menganjurkan pemberian jumlah kalori dan nutrien (zat gizi) yang cukup untuk memenuhi kebutuhan kehamilan dan meminimalkan hiperglikemia maternal.(16) Sekali terapi nutrisi dimulai. Ini hanya dapat dicapai apabila keadaan normoglikemia dapat dipertahankan selama kehamilan sampai persalinan. Keperluan harian pada wanita dengan berat badan normal pada kehamilan trimester kedua adalah 30-32 kkal/kgBB. Penatalaksanaan DM tipe Gestasional 1. dua pendekatan umum dapat digunakan untuk mengidentifikasi wanita yang mempunyai fetus berada dalam risiko tinggi untuk mendapat penatalaksanaan yang lebih intensif lagi. spesialis obstetri ginekologi. yaitu pengukuran . penatalaksanaan DMG sebaiknya dilaksanakan secara terpadu oleh spesialis penyakit dalam. penyediaan karbohidrat yang mempunyai indeks glikemia yang rendah dan penurunan intake total untuk wanita yang kelebihan berat badan sampai 25 kkal/kgBB. Satu studi menunjukkan bahwa wanita yang mendapatkan kurang dari 40% total kalori dari karbohidrat mempunyai bayi dengan berat lahir yang lebih rendah dan frekuensi persalinan sectio secarea yang lebih sedikit daripada wanita dengan asupan yang besar. kesakitan dan kematian perinatal. Tujuan penatalaksanaan adalah menurunkan angka kesakitan dan kematian ibu. ahli gizi dan spesialis anak.21 H. Penatalaksanaan Metabolik Antepartum Penatalaksanaan antepartum wanita Diabetes Mellitus Gestasional (DMG) harus difokuskan pada pencegahan komplikasi fetus. Oleh karena itu penting sekali penatalaksanaan medis untuk mencapai sasaran normoglikemia. Sasaran normoglikemia DMG adalah kadar glukosa darah puasa ≤ 95 mg/dl dan 2 jam sesudah makan ≤ 120 mg/dl.(22) Menurut Konsensus pengelelolaan diabetes mellitus yang diterbitkan oleh PERKENI tahun 2006.

(23) Sekalipun demikian. Hiperglikemia postprandial lebih dekat berhubungan dengan makrosomia fetus daripada hiperglikemia preprandial pada kehamilan yang perberat oleh diabetes yang sudah ada. dapat meningkatkan angka kelahiran bayi kecil sesuai masa kehamilan. Satu pendekatan tersebut menggunakan pemeriksaan konsentrasi fruktosamin serum untuk mengidentifikasi wanita dengan kehamilan risiko renda. Karena tidak terdapat ambang glikemik maternal untuk risiko fetus. The Fourth International Workshop-Conference on Gestational Diabetes Mellitus. beberapa peneliti telah mengkombinasikan pemeriksaan glikemia maternal dengan pemeriksaan fetus untuk mengidentifikasi kehamilan yang berada dalam risiko morbiditas perinatal.3 mmol per liter) sebelum makan dan kurang dari 140 dan 120 mg/dL (7. walaupun penatalaksanaan yang terlalu agresif tanpa preseleksi ibu dengan janin besar. Pendekatan lain menggunakan pengukuran glukosa serum puasa yang didapatkan setiap satu sampai dua minggu . pengukuran insulin dalam cairan amnion dapat mengidentifikasi janin dengan hiperinsulinisme.(24) Pemantauan glukosa darah di rumah dengan memory-capable meters tampaknya lebih unggul daripada pemantauan dengan strip baca (read strips) dalam mengidentidikasi konsentrasi gula darah yang tetap meningkat ketika mereka menjalani terapi diet. ajuran difokuskan pada mempertahankan konsentrasi gula darah pada kisaran nornal untuk semua wanita hamil. Hal itu merupakan alasan untuk pemantauan gula darah pada wanita DMG. Beberapa klinis menggunakan target glikemia yang lebih ketat lagi.(25) Karena hanya sebagian kecil kasus janin yang dilahirkan dari ibu penderita DMG berada pada risiko morbiditas yang disebabkan hiperglikemia. Pendekatan yang paling sering dilakukan pada pengalaman klinis adalah pemantauan konsentrasi gula darah yang intensif yang merupakan indikasi pada fetus-fetus risiko tinggi.7 mmol per liter) pada saat satu dan dua jam setelah makan. menganjurkan mempertahankan konsentrasi gula arah pada kurang dari 95 mg/dL (5. Selanjutnya.22 konsentrasi gula darah maternal secara teratur dan penilaian perkembangan fetus.8 dan 6. Penatalaksanaan berdasarkan hiperglikemia maternal sendiri telah dihitung mempunyai biaya yang efektif.

8 mmol per liter) ketika mendapatkan terapi diet. Peningkatan tersebut mungkin disebabkan oleh peningkatan jumlah janin dengan makrosomia. dapat meningkatkan kesempatan sectio secarea.(26) Lebih jauh dari itu. waktu pengukuran glukosa darah.(26) Wanita yang pada dirinya terdapat tanda morbiditas janin (menurut pendekatan yang berdasarkan pada karakteristik fetus) atau yang pada dirinya terdapat konsentrasi gula dara melebihi sasaran) dapat ditangani dengan lebih intensif. besarnya persalinan sectio secarea di antara wanita penderita DMG lebih besar dua kali lipat daripada wanita bukan penderita DMG. Namun. Pengukuran sirkumferensia abdomen janis pada awal trimester ketiga digunakan untuk mengidentifikasi sebagian kecil fetus yang berada pada risiko makrosomia pada masa aterm.(28) 2. pengetahuan bahwa ibunya menderita DMG atau telah ditangani dengan insulin.(27) Pilihan lain untuk mengintensifkan penatalaksanaan meliputi modifikasi diet yang telah disebutkan di atas dan latihan aerobik. rute persalinan pada wanita yang . Sekalipun demikian. Pada pertimbangan ini. sasaran glukosa darah yang hendak dicapai dan karakteristik pertumbuhan janin semuanya harus dipertimbangkan dalam merencakanan terapi insulin. Rute dan Waktu Kelahiran Diabetes mellitus gestasional bukan merupakan indikasi persalinan sectio secarea. terapi insulin untuk mencapai konsentrasi glukosa darah post prandial kurang dari 140 mg/dL memberikan kadar gula darah rata-rata yang lebih rendah dan keadaan klinis perinatal yang lebih baik dari pada terapi untuk mempertahankan konsentrasi gula darah preprandial kurang dari 105 mg/dL. Terapi insulin menurunkan frekuensi makrosomia fetus dan morbiditas perinatal. biasanya menggunakan insulin. Untuk mengurangi morbiditas iatrogenik tersebut. kasus makrosomia telah menurun dengan pemberian insulin dengan cara mengurangi konsentrasi gula darah preprandial kira-kira sebesar 80 mg/dL (.23 untuk mengidentifikasi wanita yang mempertahankan konsentrasi glukosa kurang dari 105 mg/dL (5.4 mmol per liter) pada wanita yang janinnya telah teridentifikasi berada pada risiko makrosomia dengan pemeriksaan USG janin. Dengan demikian. Besarnya kasus makrosomia dan komplikasi perinatal menurun dengan dilakukannya pendekatan ini.

Pasca Kelahiran Terdapat bukti epidemiologi bahwa seorang janin yang terpajan DMG intra uterin memiliki risiko yang tinggi terkena obesitas dan tolerasi glukosa terganggu pada saat anak-anak dan dewasa. Pada salah satu studi. pemberian diet yang tepat dan aktivitas fisik yang benar untuk mengurangi kecenderungan munculnya obesitas. maupun frekuensi distosia bahu yang jumlahnya besar.24 ditangani secara baik seharusnya berdasarkan pertimbangan yang sama antara ibu dan janin yang dapat diterapkan pada wanita hamil bukan penderita diabetes. seharusnya berdasarkan pola pertumbuhan janin dan risiko yang berhubungan dengan induksi persalinan dan kelahiran prematur. Di antara wanita yang persalinannya diinduksi.(29) Waktu persalinan. Anjuran untuk perawatan anak-anak meliputi evaluasi teratur tinggi badan. Wanita penderita DMG mempunyai risiko diabetes melitus non gestasional (DMNG) sebesar 17-63% dalam waktu 5-16 tahun setelah kehamilan. wanita yang gemuk dan wanita yang menderita DMG yang didiagnosis sebelum masa kehamilan 24 minggu. konsentrasi glukosa darah. Tidak terdapat intervensi yang dapat dilakukan untuk mencegah komplikasi jangka panjang. induksi persalinan rutin pada masa gestasi 38 minggu lengkap menyebabkan kelahiran yang lebih awal dan proporsi bayi yang lebih kecil lebih masa kehamilan daripada menunggu persalinan secara spontan menjelas masa gestasi 41 minggu lengkap. Uji maturasi paru janin tidak dianjurkan setelah masa kehamilan 38 minggu pada kasus di mana terdapat perhitungan masa kehamilan yang dapat dipercaya dan kontrol gula darah maternal yang baik.(32) .(31) 3. berat badan. tidak ada satu pun jumlah sectio secarea (25 persen vs 31 persen di antara wanita yang persalinannya tidak diinduksi).(30) Surfactant-deficient respiratory distress syndrome jarang pada bayi cukup umur yang dilahirkan dari ibu DMG. pada ketiadaan masalah pada ibu dan janin. Risiko diabetes terutama tinggi pada wanita yang menderita hiperglikemia yang nyata selama atau segera seteralah kehamilan. Hubungan yang dilaporkan tidak hanya pada wanita penderita diabetes tipe 1 atau 2 namun juga pada wanita penderita DMG.

wanita dengan riwayat DMG harus menggunakan kontrasepsi yang efektif untuk mengurangi kemungkinan kehamilan yang disertai hiperglikemia yang tidak ditangani dengan baik. Sekresi insulin yang buruk selama kehamilan bernilai prediktif selama persalinan. ahli gizi serta tenaga kesehatan lain. Defek sel beta dapat disebabkan otoimunitas terhadap pankreas pada sejumlah kecil kasus.(33) Pertambahan berat badan dan jumlah kehamilan dalam meningkatkan risiko diabetes setelah DMG. peran pasien dan keluarga menjadi sangat penting. kebanyakan penyebabnya masih tidak diketahui. mengisyaratkan bahwa resistensi insulin dapat mempercepat penurunan fungsi sel beta yang cenderung menyebabkan diabetes. Edukasi kepada pasien dan keluarganya guna memahami lebih jauh tentang perjalanan . Pemeriksaan harus dilakukan lebih sering pada wanita yang mempunyai gangguan gula darah puasa atau konsentrasi gula darah setelah pembebanan. Dalam pengelolaan penyakit tersebut selain dokter.(34) 4. Intra uterin device (IUD) merupakan kontrasepsi yang paling efektif yang secara metabolik bersifat netral. yang akan meningkatkan risiko defek lahir pada janin mereka. Penanganan wanita yang mempunyai riwayat DMG harus meliputi usaha untuk mengurangi resistensi insulin (olahraga.25 Pemeriksaan fisiologik pada wanita penderita DMG menunjukkan kapasitas yang terbatas pada sel beta pankreas untuk meningkatkan sekresi insulin dalam mengkompensasi resistensi insulin. Penatalaksanaan jangka panjang dengan kontrasepsi oral kombinasi dosis rendah tampaknya tidak meningkatan risiko diabetes setelah DMG. Konsentrasi glukosa darah harus dinilai kembali setelah persalinan dan sedikitnya setiap tiga tahun setelah persalinan sesuai anjuran American Diabetes Association untuk mendeteksi diabetes pada subjek yang berisiko tinggi. mempertahankan berat badan normal dan menghindari obat-obat yang menginduksi resistensi insulin). Prognosis Diabetes melitus merupakan penyakit menahun yang akan diderita seumur hidup. Akhirnya. Sebaliknya penggunaan kontrasepsi yang mengandung progestin selama masa menyusui dapat meningkatkan risiko diabetes. perawat.

17) . olahraga dan dengan menggunakan obat antidiabetik. dengan cara: diet. Sampai saat ini memang belum ditemukan cara atau pengobatan yang dapat menyembuhkannya diabetes secara total.(16. penyulit DM. tidak hanya untuk mengontrol kadar glukosa darah namun bila diterapkan secara umum diharapkan dapat menurunkan prevalensi Diabetes melitus baik di Indonesia maupun di dunia di masa yang akan datang. Namun harus diingat Diabetes dapat dikendalikan. Modifikasi gaya hidup sangat penting untuk dilakukan. Diabetes melitus memang merupakan penyakit metabolik yang dapat menimbulkan berbagai komplikasi yang tentunya akan mempengaruhi kualitas hidup penyandangnya sehingga perlu mendapatkan perhatian serius dari semua pihak. Pengobatan Diabetes ini sangat spesifik dan individual untuk masingmasing pasien.26 penyakit DM. pencegahan. dan penatalaksanaannya akan sangat membantu meningkatkan keikutsertaan mereka dalam usaha memperbaiki hasil pengelolaan.